“ PANGERAN MENJANGAN” – “ LU DING JI “ 31

menantang istri mudanya menyambit juga? Dan kau telah menyiram wajahnya dengan
arak Hal ini kan berarti kau bersedia menjadi istri mudanya?”
Sekarang giliran Siau Po yang tertawa.
“Tepat Tepat” katanya lantang, “istri tuaku sungguh cinta dan sayang sekali
kepadaku, Baiklah Kalian berdua boleh menenteramkan hati. Tidak mungkin aku main
gila dengan perempuan lain”
Diam-diam Pui Ie berpikir dalam hatinya.
“Dia seorang thay-kam, tidak mungkin bisa menjadi suami yang sebenarnya,
Tentunya dia hanya bergurau, Lidahnya memang tajam”
Pui Ie sudah mempunyai kesan baik terhada Siau Po. Mengenai ucapannya tentang
istri tua dan istri muda, tentunya dia hanya iseng, Bukankah thay-kam cilik itu jenaka
sekali?
Demikianlah mereka bertiga terus bersenda gurau, sampai akhirnya Pui Ie berkata:
“Kemari kau” dia memeriksa luka di dahi Si Po. Dia khawatir masih ada sisa beling
yang menancap di dalam dagingnya, sementara itu dia juga membersihkan darahnya
dan ditaburi obat agar darahnya tidak mengalir terus.

Ketiga-tiganya tidak suka minum arak, Karena itu sampai selesai makan, arak yang
disajikan masih utuh, Tidak ada seorang pun yang menyentuhnya.
Habis bersantap, Siau Po menguap.
“Bagaimana malam ini? Apakah aku tidur dengan istri tuaku atau istri mudaku?”
tanyanya.
Pui Ie memperlihatkan mimik serius,
“Kalau bergurau, kau harus tahu batasnya” katanya garang, “Apabila kau naik lagi ke
atas tempat tidur, awas Aku akan membunuhmu dengan bacokan golok ini”
Siau Po tertawa, Dia meleletkan lidahnya.
“Hebat” serunya, “Pada suatu hari nanti, mungkin nyawaku bisa melayang di
tanganmu”
Kedua gadis itu jadi tertawa lagi mendengar perkataannya, Siau Po segera menelan
sebutir pil yang dihadiahkan ibu suri, Setelah itu dia membuka pintu kamarnya untuk
mengeluarkan meja hidangan Selesai bekerja dia menggelar tikar di atas lantai lalu
tanpa mengganti pakaiannya lagi, dia berbaring di sana. Rupanya dia sudah letih sekali,
Dalam sekejap mata dia sudah tertidur dengan pulas.
Ketika keesokan paginya dia terbangun dari tidur, Dia merasa tubuhnya hangat Di
saat dia membuka matanya, ternyata tubuhnya telah ditutupi sehelai selimut. Kepalanya
juga beralas bantal Kemudian dia bangkit duduk dan mengawasi tempat tidurnya.
Di balik kelambu yang tipis, tampak secara samar-samar Pui Ie dan Kiam Peng tidur
berdampingan Siau Po berdiri, dengan mengendap-endap dia menghampiri tempat tidur
itu. Dengan perlahan dan hati-hati dia menyingkapkan kelambunya kemudian melongok
ke dalamnya.
Tampak olehnya Pui Ie dan Kiam Peng sama-sama ayu dan anggun Kedua gadis
cantik itu tidur dengan hampir berdempetan Sungguh mempesona pemandangan yang
ada di hadapannya, Tanpa sadar dia mendekati wajahnya untuk mencium kedua nona
itu, tapi tiba-tiba saja timbul perasaan khawatir mereka akan terjaga karenanya.
“Oh” serunya dalam hati, “Seandainya kedua gadis cantik ini bisa menjadi istriku,
tentu hidupku akan menyenangkan sekali, Di rumah pelesiran seperti Li Cun-wan, mana
ada gadis-gadis yang secantik dan seayu mereka?”
Perlahan-lahan Siau Po berjalan mendekat pintu, tapi baru saja dia membukanya,
suara gerakan pintu itu ternyata membangunkan Pui Ie Gadis itu langsung membuka
matanya dan memperhatikan Siau Po. Bibirnya menyunggingkan senyuman.
“Kui… Kui… Oh, kau sudah bangun?” sapany dengan suara halus.

“Kui… Kui apa?” sahut Siau Po sembari tertawa “Apa kau keberatan memanggilku
suami yang baik?”
“lngat” sahut Pui Ie, “Kau toh belum menolong orang yang kau janjikan itu”
“Jangan khawatir” kata Siau Po. “Sekarang juga aku akan membebaskan mereka “
Tepat pada saat itu terdengar suara bersin Kiam Peng.
“Hei, pagi-pagi begini apa yang kalian bicarakan?” tanyanya.
“Kami berdua tidak tidur sepanjang malam” sahut Siau Po. Banyak sekali yang kami
bicarakan.” Kemudian dia menguap dan menambahkan “Oh, aku mengantuk sekali,..
aku ingin tidur…”
Wajah Pui Ie jadi merah padam.
“Orang memang tidak bisa bicara baik-baik denganmu,” katanya, “kenapa kau
mengatakan kita tidak tidur sepanjang malam?”
Siau Po tidak memberikan komentar, dia hanya tertawa.
“Nah, istriku yang baik,” katanya kemudian “Sekarang mari kita bicara serius, Kau
tulislah sepucuk surat, nanti aku bawa kepada Lau sukomu itu agar dia percaya
kepadaku dan bersedia mengikut aku keluar dari istana ini. Tanpa surat darimu, aku
khawatir dia akan curiga dan takut dirinya ditipu, Kemungkinan dia berkeras
mengatakan bahwa dirinya adalah orangnya Go Sam-kui”
“Kau benar,” kata Pui Ie. “Tapi, apa yang harus kutulis?”
“Kau boleh tulis apa saja” sahut Siau Po. “Umpamanya kau bisa mengatakan bahwa
aku adalah suamimu, suami yang paling baik di kolong langit ini Ada baiknya kau juga
menyebut kebaikanku karena menikahi dirimu, aku bersedia menolongnya
membebaskan diri dari tempat tahanan”
Sembari berbicara, Siau Po mengambil alat tulis milik Hay kongkong. semuanya
dipindahkan ke depan tempat tidur, kemudian dia juga menggosok bak tinta nya agar
menjadi kental. Tidak kepalang tanggung, dia juga mengambil sehelai kertas lalu
dibeberkannya di atas meja, dan pitnya disediakan
Pui le bergerak bangun untuk duduk, Ketika menerima pit dari tangan Siau Po, tibatiba
dia menangis terisak-isak. Air matanya mengucur dengan deras.
“Apa yang harus kutulis?” tanyanya denga tersengguk-sengguk,
“Apa pun boleh,” kata Siau Po. Dia merasa kasihan juga melihat kesedihan gadis itu.
“Aku toh buta huruf, apa pun yang kau tulis, aku tidak bisa membacanya. Karena itu kau

tidak perlu khawatir Tapi sebaiknya jangan kau katakan bahwa kau telah menikah
denganku, nanti Lau sukomu menjad gusar dan tidak sudi ditolong olehku”
“Kau buta huruf?” tanya Pui le menegaskan “Kau tidak membohongi aku?”
“Kalau aku mengerti membaca, biarlah aku menjadi si anak kura-kura” sahut Siau
Po. “Aku bukan suamimu, akulah anakmu, akulah cucumu”
Pui le dapat melihat kesungguhan Siau Po dan dia mempercayainya. Sembari
mengangkat pit, dia terus berpikir Tapi sampai sekian lama dia masih tidak tahu apa
yang harus ditulisnya.
“Sudah, sudah” seru Siau Po yang mulai kehabisan sabar, “Baik, nanti kalau aku
sudah berhasil membebaskan Lau It-cou, kau boleh menikah dengannya, Aku tidak
akan merebutmu Lagipula, kau tidak bersungguh hati ingin menikah denganku dengan
demikian kelak di kemudian hari aku juga tidak perlu merasakan dikhianati. Lebih baik
sejak sekarang aku mengalah, Biar kau senang dapat menikah dengan Lau It-cou Apa
pun yang ingin kau tulis, tulislah jangan khawatir, aku tidak takut”
Pui le memperhatikan Siau Po lekat-lekat. Air matanya masih mengambang,
kemudian dia menundukkan kepalanya, Kali ini tampaknya dia bersyukur dan senang,
dia juga langsung menggerakkan pit nya. Beberapa kali dia menambahkan air di bak
tintanya, akhirnya selesai juga pekerjaannya.
“Nah, ini” katanya, Dia menyodorkan surat itu kepada Siau Po. “Tolong kau
sampaikan kepadanya “
“Hm Kau…” maki Siau Po dalam hati. “Mengapa kau tidak memanggil aku toako,
tapi membahasakan kau saja?”
Hatinya memang mendongkol juga, tapi dia ingin bersikap sebagai seorang laki-laki
sejati, Karenanya dia menahan kekesalan hatinya dan tidak mengatakan apa-apa lagi.
Dia mengulurkan tangannya untuk menyambut surat yang disodorkan si nona
kemudian ia masukkan ke dalam sakunya, namun dalam hatinya dia masih berkata
juga. “lstri yang cantik dan baik malah diserahkan kepada orang lain…”
Setelah menutup pintu kamarnya, Siau Po berjalan menuju tempat para siwi, Kali ini
yang mendapat bagian meronda adalah Tio Kong-lian. Dia sudah mendapat kisikan dari
To Lung, atasannya untuk membantu Kui kongkong membebaskan ke tiga orang
tahanan, namun dia juga mendapat pes untuk berhati-hati agar ketiga tawanan itu tidak
menjadi curiga atau mempunyai dugaan bahwa mereka dilepaskan dengan sengaja.
Begitu melihat Siau Po, Kong Lian segera menghampiri untuk menyambutnya.
Sembari tertawa dia mengedipkan matanya, setelah itu dia mengajak thay-kam cilik itu
ke samping gunung buatan.

Siau Po mengikuti.
“Kui kongkong, dengan cara bagaimana kongkong akan menolong mereka?” tanya
Kong Lian,
Siau Po jadi berpikir setelah melihat keramahan siwi ini.
“Sri Baginda berpesan agar aku membunuh satu dua orang siwi yang menjaga, agar
aku dapat membebaskan para tahanan” pikirnya, “Tapi orang she Tio ini begini baik,
tegakah aku membunuhnya?”
“Nanti aku periksa lagi ketiga tahanan itu, katanya setelah berpikir sejenak. “Aku
akan kerja dengan melihat situasinya.”
“Terima kasih, kongkong,” sahut Kong Lian,
“Untuk apa kau mengucapkan terima kasih kepadaku?” tanya Siau Po heran.
“Hamba ingin bekerja dengan Kui kongkong.” sahut Kong Lian, “Hamba harap untuk
selanjutnya hamba akan mendapat bantuan dari kongkong agar dapat memperoleh
kedudukan yang lebih tinggi”
Siau Po tersenyum mendengar ucapan siwi itu.
“Kau bekerja dengan setia kepada Sri Baginda, hanya satu hal yang aku
khawatirkan…”
Kong Lian terkejut mendengar kata-kata Siau Po.
“Apa itu, kongkong?” tanyanya khawatir.
“Aku takut kalau kau terus memperoleh kemajuan, gudang uangmu tidak akan muat
lagi karena hartamu sudah berlebihan…” sahut Siau Po.
Pertama-tama Kong Lian bingung, namun akhirnya dia tertawa, Kemudian, setelah
tawanya berhenti, dia berkata dengan suara perlahan.
“Kongkong, hamba sudah berunding dengan para siwi lainnya yang berjaga di sini
bahwa kami semua akan bekerja dengan segenap kemampuan untuk membantu
kongkong, Kami yakin kelak kongkong akan menjadi kepala atau pemimpin para thaykam
di sini”
“Bagus” kata Siau Po. “Hal itu mungkin harus menunggu beberapa tahun lagi kalau
usiaku sudah agak dewasa.”
Siau Po segera berjalan ke dalam tempat tahanan, Baru satu malam saja tampak
jelas Lou It-cou bertiga sudah jauh lebih lesu. Memang mereka tidak disiksa lagi, tapi

karena perasaannya yang sumpek dan rasa nyeri masih nyut-nyutan, mereka tidak ada
selera mengisi perut. Sudah dua hari dua malam mereka tidak makan apa-apa.
Di dalam kamar tahanan, terdapat delapan siw yang menjaga, Melihat kedatangan
Siau Po, merek segera memberi hormat dengan menjura.
Siau Po sudah mempertimbangkan apa yang harus diperbuatnya, Dia segera berkata
dengan suara lantang.
“Sri Baginda sudah mengeluarkan firman Ke tiga pemberontak ini besar sekali
dosanya, Mereka harus segera dihukum mati di hadapan khalayak ramai. Karena itu
lekas kalian siapkan hidangan biar mereka bisa makan sampai kenyang, Dengan
demikian, setelah mati mereka tidak akan menjadi setan kelaparan”
Serentak para siwi itu menyahut. “Baik”
Gouw Lip-sin, tahanan yang bertubuh besar serta berewokan langsung berteriak:
“Kami mati demi Peng Si-ong, nama kami akan harum untuk selamanya, Kami lebih
hebat berkali-kali lipat daripada kalian segala anjing buduk yang menjadi budak bangsa
Tatcu”
“Kurang ajar” damprat salah seorang siwi yang menjadi gusar, ia menyabet satu kali
dengan cambuknya, “Gouw Sam-kui adalah si pemberontak. Dia juga akan dihukum
mati berikut seluruh anggota keluarganya”
Sebaliknya, Lau It-cou tidak mengatakan apa-apa. Dia mendongakkan kepalanya ke
atas seperti sedang memikirkan sesuatu, Bibirnya bergerak-gerak, tapi tidak jelas apa
yang dikatakannya, sedangkan kawannya yang satu lagi juga membungkam saja.
Dengan cepat barang hidangan sudah dibawa datang, jumlahnya cukup untuk tiga
orang lengkap dengan araknya pula.
“Ketiga pemberontak ini mendengar kepala mereka akan dipenggal sebentar lagi,
mungkin karena terkejut setengah mati sehingga tubuh mereka gemetar Aku khawatir
mereka tidak berselera untuk makan, Oleh karena itu, saudara sekalian, sukalah
kiranya kalian melelahkan diri untuk menyuapi mereka dan bantu mereka minum arak
barang dua tiga cawan. Tapi ingat, jangan lolohi terlalu banyak. Kalau mereka sampai
mabuk, tentu mereka tidak akan merasa enaknya kepala dipenggal. Mereka tidak akan
merasa sakit dan ini pasti terlalu enak bagi mereka yang dosanya demikian besar Lagipula,
sesampainya di alam baka, Giam lo-ong akan berhadapan dengan tiga setan
pemabukan dan Giam Lo-ong akan marah lalu mencambuki mereka dengan rotan
sebanyak tiga kali Bukankah hal ini menambah penderitaan mereka?”
Para siwi tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Siau Po. Mereka merasa thaykam
cilik ini lucu sekali, mereka menghampiri ketiga tawanan itu untuk menyuapi
mereka.

Gouw Lip-sin tidak sungkan-sungkan lagi, Dia segera meneguk arak yang disodorkan
dan menikmati hidangan yang disuapkan.
Go Piu juga makan, tapi setiap kali disuapi, dia selalu memaki, “Budak anjing”
Lau It-cou tampak pucat sekali wajahnya. Baru makan satu sendok, dia tidak
sanggup lagi membuka mulutnya, Kepalanya digeleng-gelengkan.
“Baiklah” kata Siau Po yang memperhatika ketiga tahanan itu diberi makan,
“Sekarang kalia semua boleh keluar dulu, Aku ingin memeriksa mereka lagi Masih ada
beberapa hal yang ingin diketahui oleh Sri Baginda, Setelah diperiksa, baru mereka
dibawa untuk menjalani hukuman mati”
Tio Kong-lian segera mengiakan. Dia segera mengajak rekan-rekannya
meninggalkan kamar tahanan itu. Setelah keluar mereka pun merapatkan pintunya.
Siau Po menunggu sampai para siwi itu sudah keluar semua, Dia segera
menghampiri Gouw Li sin bertiga, Dia memperhatikan mereka denga senyumnya yang
aneh.
Thay-kam anjing, apa yang lucu sehingga kau tersenyum-senyum?” bentak Gouw
Lip-sin.
Siau Po tertawa.
“Aku tersenyum sendiri” sahutnya tenang. “Apa hubungannya denganmu?”
Tepat pada saat itulah, Lau It-cou berkata.
“Kongkong, a…ku… akulah Lau It-cou.”
Siau Po heran sehingga dia tertegun, Dia tidak menyangka Lau It-cou akan
mengaku. Belum lagi dia sempat memberikan jawaban, Gouw Lip-sin dan Go Piu sudah
membentak kawannya.
“Apa yang kau ocehkan?”
“Kongkong.,.” kata Lau It-cou tanpa memperdulikan kedua rekannya, “Kau…
tolonglah a.,.ku, tolonglah ka…mi”
“Hei, manusia pengecut” bentak Gouw Lip-sin. “Kau tamak kehidupan, kau takut
mampus, apakah itu perbuatan seorang enghiong? Mengapa kau mementang bacot
memohon pertolongan orang?”
“Tapi…” kata It Cou gugup, “Dia bilang bahwa Siau ongya dan guruku… yang
meminta dia menolong kita….”

“Apakah kau percaya ocehannya yang hanya kebohongan belaka?” tanya Lip Sin
garang.
Siau Po tersenyum melihat orang yang adatnya keras kepala itu.
“Yau Ta’u Saycu Gouw loyacu,” panggilnya, “Dengan memandang mukaku ini,
bolehkah kau kurangi gelengan kepalamu itu?”
Gouw Lip-sin terkejut setengah mati.
“Kau.. kau…?” matanya menatap Siau Po dengan pandangan keheranan
Siau Po kembali tertawa.
“Aku kenal baik dengan kalian bertiga,” sahutnya. “Saudara ini bernama Go Piu dan
julukannya Chi Mo houw, Go toako ini adalah murid kesayanganmu Seorang guru yang
tersohor pasti mempunyai murid yang lihay, aku merasa kagum sekali”
Gouw Lip-sin terdiam. Matanya menatap thaykam cilik itu lekat-lekat Dia merasa
terkejut dan heran. Bagaimana bocah ini bisa mengetahui namanya dan julukannya?
Dengan demikian, bukankah rahasia mereka sudah terbongkar? Hal ini pula yang
membuatnya jadi sangsi.
Ketika orang itu sedang berdiam diri, Siau Po merogoh ke dalam sakunya, Dia
mengeluarkan surat Pui Ie, kemudian membukanya dan merentangkannya di hadapan
pemuda She Lau.
“Kau lihat surat ini, siapa yang menulisnya? tanyanya.
It Cou memperhatikan tulisan dalam surat dan membacanya, tiba-tiba dia
memperlihatkan kegirangan yang luar biasa.
“lni tulisan Pui sumoay” serunya, suaranya terdengar gemetar “Gouw susiok, adik
seperguruanku mengatakan bahwa Kui kongkong ini dapat untuk menolong kita, Kita
diharapkan menurut apa pun katanya”
Gouw Lip-sin merasa heran.
“Mari aku ihat” katanya.
Tanpa mengatakan apa-apa, Siau Po membawa surat itu kepada si bewok, Dia harus
memberikan bantuannya karena kedua tangan It Cou terik sehingga tidak dapat
menyodorkannya sendiri, Bahkan untuk membaca pun, harus Siau Po yang megangi
surat itu. Diam-diam si bocah berpikir dalam hati.
“Entah apa yang ditulis nona Pui dalam suratnya ? Mungkinkah urusan asmara,
Kalau benar, sungguh istriku itu tidak tahu malu”

Ketika itu Gouw Lip-sin sudah membaca surat Pui Ie. isinya sebagai berikut:
“Lau suko, Kui kongkong ini adalah orang sendiri, Dia baik hati, Ditempuhnya bahaya
untuk menolongi kalian, Kau harus dengar apa yang dikatakan oleh Kui kongkong agar
kalian semua bisa terbebas dari bahaya”
“Adikmu, Pui Ie.”
“Ah” seru Lip Sin. Dia merasa heran sekali, “Surat ini memakai kode rahasia Bhok
onghu kita, Jadi surat ini tentu bukan surat palsu”
Siau Po senang mendengar bunyi surat itu.Ternyata tidak ada kata-kata mesra yang
ditulis Pui Ie.
“Tentu saja, Mana ada surat yang palsu?” katanya.
“Kongkong,” kata It Cou. “Dimana sumoayku sekarang?”
“Dia ada di atas tempat tidurku,” kata Siau Po, tentu saja hanya dalam hati, “Dia
sekarang sedang bersembunyi di tempat yang aman,” sahutnya, “Setelah berhasil
menolongi kalian, baru aku menolongnya, Dengan demikian kalian bisa berkumpul
bersama lagi”
It cou merasa terharu mendengar kata-kata Siau Po. Air matanya sampai mengucur.
“Kongkong, budi besarmu ini, entah kapan dan bagaimana baru aku dapat
membalasnya…”
Sebenarnya It Cou gagah berani, tapi barusan ketika Siau Po mengatakan mereka
akan dihukum penggal kepala setelah mereka selesai bersantap tiba-tiba saja hatinya
menjadi goyah karena terguncang.
Tanpa berpikir panjang lagi dia mengaku dirinya sebagai Lau It-cou. Karena hal itu
pula di dibentak oleh Gouw Lip-sin. sekarang bukan main girang perasaannya, sebab
Pui Ie sudah mengatakan dalam surat bahwa thay-kam di hadapannya ini akan
menolongi mereka.
Gouw Lip-sin tetap berani dan tenang. Kecurigaannya tidak langsung terhapus.
“Tuan, aku mohon tanya she dan namamu ya mulia?” tanyanya kepada Siau Po.
“Mengapa tua mau menolong kami?”
“Baiklah Aku akan berkata terus-terang” sahut Siau Po. “Di mata sahabatsahabatku,
aku bernama Lay Lie-tau Siau samcu. Kalian tidak usah heran, Dulu
kepalaku memang kurapan, tetapi sekarang tidak lagi, Aku mempunyai seorang
sahabat Dia seorang hiocu bagian Ceng-bok tong dari perkumpulan Tian-te hwe
Namanya Wi Siau-po. . mengatakan bahwa dalam perkumpulan Tian-te hwe terjadi

kesalah pahaman karena salah seorang anggotanya membunuh Pek Han-siong dari
Bhok onghu kalian, Hal ini membuat Bhok siau ongya tidak mau mengerti. Bukankah
sulit sekali, karena orang yang sudah mati kan tidak bisa hidup kembali? Apa yang
harus dilakukan? itulah sebabnya Wi Siau-po datang kepadaku dan meminta tolong
agar aku membebaskan kalian bertiga, Dengan demikian, pihak Tian-te hwe tidak
berhutang nyawa kepada kalian dan hubungan antara Bhok onghu dan Tian-te hwe pun
dapat berlangsung terus”
Gouw Lip-sin tahu benar urusan kematian Pek Han-siong. sekarang ia percaya
penuh terhadap Siau Po, Dia menganggukkan kepalanya dan berkata.
“Aku tahu urusan itu Dan aku minta maaf atas kelakuan kasarku barusan”
Siau Po tertawa.
“Tidak apa, tidak apa” katanya, “sekarang urusan kita, Bagaimana cara yang baik
agar kalian dapat membebaskan diri dari tempat ini?”
“Tentunya Kongkong sudah mendapatkan cara yang bagus” kata Lau It-cou. “Kami
hanya menurut saja, silahkan kongkong katakan apa yang harus kami lakukan”
“Aku belum mendapat akal apa-apa,” sahut Siau Po. “Bagaimana dengan kau, Gouw
loyacu?” tanyanya kepada Lip Sin kemudian.
“Di dalam istana ada banyak siwi anjing Tatcu” kata si bewok, “Oleh karena itu,
rasanya kita tidak dapat meloloskan diri di siang hari. Menurutku, lebih baik, kita tunggu
sampai hari sudah gelap saja”
Siau Po menganggukkan kepalanya.
“Nanti tolong kongkong lepaskan ikatan kami. Dengan demikian kita bisa menerobos
keluar kata Lip Sin selanjutnya.
Sekali Siau Po menganggukkan kepalanya.
“Cara ini cukup baik,” sahutnya, “Tapi belum seratus persen aman dan selamat”
Siau Po berjalan mondar-mandir dengan kepala ditundukkan
“lya, lebih baik kita menerobos keluar saja” kata Go Piu ikut memberikan
pendapatnya. “Syukurlah kalau kita berhasil, kalau sampai gagal paling-paling mati”
“Go suko,” tegur Lau It-cou.”jangan kau mengganggu kongkong yang sedang
mencari akal”
Go Piu menoIeh, Dia menatap rekannya dengan pandangan sinis, Diam-diam dia
berpikir dalam hati.

Sementara itu, otak Siau Po juga sedang be putar.
“Paling bagus kalau aku mempunyai obat bius dengan demikian aku bisa membuat
para siwi tidak sadarkan diri dan tidak perlu jatuh korban”
Dengan membawa pikiran demikian, dia segera keluar dari tempat tahanan untuk
mencari Ko Lian.
Tio toako, aku memerlukan obat Bong ho yok. Dapatkah kau mencarinya segera?”
“Bisa, bisa” sahut Tio Kong-lian, “Saudara ini selalu menyediakan obat itu. Nanti aku
akan mengambilnya”
“Tio toako mempunyai obat bius itu?” tanyanya ke orang yang keheranan “Buat apa
kau selalu menyediakannya?”
“Sebenarnya begini,” sahut Tio Kong-lian. “Kemarin ini Sui hu congkoan menyuruh
kami menawan dua orang yang berkepandaian tinggi Kalau kami menggunakan
kekerasan pasti ada korban jatuh, Dan lagipula kita tidak bisa menawan orang yang
hendak ditangkap itu hidup-hidup, Karena itu saudara Cio segera mencari obat itu untuk
kami gunakan”
Mendengar penjelasan itu, diam-diam Siau Po berpikir dalam hati.
“Apanya yang jatuh korban dan tidak dapat menawan orang-orang itu hidup-hidup?
Yang jelas pasti kalian tidak sanggup melawan mereka” Lalu dia bertanya: “Bagaimana
kesudahannya?”
Tio Kong-lian tertawa.
“Kami berhasil, orang-orang itu telah tertawan” katanya.
Nada suaranya menunjukkan kebanggaan dan kegembiraan Karena hal itu
menyangkut Sui Tong, maka Siau Po bertanya lagi.
“Siapa orang-orang yang ditangkap itu? Dan apa kesalahan mereka ?”
“Mereka adalah dua orang Tong-nia dari Cong jinhu. Katanya mereka bersalah
terhadap thayhou,
Setelah mereka ditawan, Sui hu congkoan memaka mereka mengeluarkan satu
perangkat kitab, Kemudian hidung dan mulut mereka ditempel deng kertas perekat agar
mereka tidak dapat bernafas sama sekali kemudian akhirnya mati konyol…”
Disebut tentang seperangkat kitab, suatu ingatan segera melintas di benak Siau Po.

“Oh, rupanya si nenek sihir itu berusaha mendapatkan sejilid kitab Si Cap Ji cin-keng
yang lain, tapi mengapa setelah mendapatkannya, Sui To tidak segera
menyerahkannya kepada ibu suri. Kenapa kitab itu disimpan dalam tubuhnya?
Mungkinkah dia ingin mengangkanginya sendiri?”
Kemudian dia bertanya lagi: “kitab apakah itu? Mengapa kitab itu demikian penting?”
“Aku tidak tahu kitab apa,” sahut Kong Lian “Baiklah, sekarang juga aku akan
mengambilkan obat bius itu.”
“Oh ya, sekalian saja kau minta orang di Sian sian tong menyediakan hidangan untuk
dua meja kata Siau Po menitahkan. “Aku ingin menjamu para siwi”
“0h. Lagi-lagi kongkong akan menjamu kami.” sahut Kong Lian dengan nada riang,
pendek kata asal mengikuti Kui kongkong, kami tidak akan kekurangan makan dan
minum”
Tidak lama setelah berlalunya, Tio Kong-li sudah kembali lagi dengan membawa satu
bungkus besar obat bius Bong hoan-yok, beratnya mungkin ada satu kati, Dia
menyerahkannya kepada Siau Po sembari tersenyum dan berkata dengan perlahan.
“Obat ini cukup untuk merobohkan seribu orang, Kalau sasarannya hanya satu
orang, cukup seujung kuku saja dimasukkan ke dalam teh atau arak”
Selesai berkata, Kong Lian menemui rekan-rekannya untuk meminta mereka
menyiapkan meja dan kursi untuk bersantap seraya memberitahukan.
“Kui kongkong akan menjamu kita semua”
Para siwi itu senang sekali, Mereka segera bekerja dengan perasaan gembira.
“Meja harus diatur dalam kamar tahanan,” kata Siau Po. “kita berpesta pora, biar
para tahanan itu melihatnya sehingga mata mereka menjadi merah dan air liur mereka
bercucuran”
Dalam waktu yang singkat, meja telah diatur rapi, Menyusul datangnya barangbarang
hidangan yang langsung disajikan di atas meja oleh beberapa thay-kam yang
bertugas di dapur Cara kerja mereka cekatan sekali.
“Lihat” kata Siau Po kepada Gouw Lip-sin bertiga, “Kalian adalah para pemberontak
yang bekerja dengan Go Sam-kui. Sampai detik menjelang kematian, kalian masih
besar kepala, sekarang kalian boleh menyaksikan bagaimana kami akan berpesta pora.
Andaikata kalian tidak dapat menahan keinginan kalian, kalian boleh menggonggong
seperti anjing, nanti kami akan melemparkan sepotong tulang untuk kalian”
Para siwi mendengar ucapan si thay-kam yang jenaka, Gouw Lip-sin segera
mendamprat.

“Siwi anjing Thay-kam bau kalian semua waspadalah Akan datang harinya Peng
Sin-ong membalaskan sakit hati kami, Kelak dia akan bergerak dari Inlam untuk
menyerang kota Peking ini dan meringkus kalian semua, Waktu itu kalian akan
diceburkan ke dalam sungai dan dijadikan umpan ikan dan buaya”
Ketika Gouw Lip-sin memaki-maki dan para siwi memperhatikannya, secara diamdiam
Siau Po sudah mengeluarkan obat biusnya, Kemudian sem bari membawa poci
arak di tangan kiri, dia menghampirkan tawanan yang bengis itu.
“Eh, Pemberontak Apakah kau ingin mimu arak?” tanyanya sembari mengangkat
poci ara tinggi, dia tertawa terbahak-bahak, Lagaknya se akan sedang mengejek,
Gouw Lip-sin tidak tahu apa maksud Siau Po Sahutannya semakin keras:
“Minum atau tidak, sama saja Kalau angkatan perang Peng Si-ong sampai di sini,
kau si thay-kam cilik yang pertama-tama akan menerima kematian.”
“Ah Belum tahu” sahut Siau Po sambil tertawa, Pocinya yang diangkat tinggi lalu
ditunggin kan sedikit sehingga araknya mengucur turun dalam mulutnya yang
menganga.
“Sedap” pujinya seakan ingin membuat para tahanan itu ngiler,
Sembari berkata, dia menurunkan pocinya ke bagian dada, tangannya yang sebelah
diangkat ke atas untuk menyingkapkan tutup poci lalu jari tangannya yang lain
memasukkan obat bius yang telah disediakan sebelumnya, Setelah itu dia mengangkat
pocinya lagi dan digoyang-goyangkannya agar obat bius itu larut, Kemudian sambil
tertawa dia berkata.
“Pemberontak, kematianmu sudah dekat, kau masih berani mengoceh yang tidaktidak”
Ketika dia memasukkan Bong hoan-yok ke dalam poci, tidak ada orang lain yang
melihatnya kecuali Gouw Lip-sin. Laki-laki brewokan itu segera sadar. Diam-diam dia
merasa senang, tetapi dengan berpura-pura dia membentak.
“Seorang laki-laki kalau harus mati, ya mati Apa kami harus meratap memohon
pengampunan? Orang yang demikian tidak patut disebut orang gagah Mari arakmu,
biar aku minum”
Siau Po tertawa.
“Kau mau minum arak?” ejek Siau Po, “Oh, tidak nanti kuberikan kepadamu Ha…
ha… ha… ha.,.” Thay-kam cilik ini lalu memutar tubuhnya dan berjalan kembali ke meja,
Kemudian dia sendiri yang menuangkan arak ke dalam cawan para siwi.
Kong Lian bangkit berdiri Demikian pula siwi-siwi lainnya.

“Terima kasih” katanya, “Mana berani kami menerima penghormatan seperti ini?
Kenapa harus kongkong sendiri yang menuangkan arak bagi kami?”
“Jangan sungkan” kata Siau Po tertawa, “Tidak ada halangannya, Kita semua sudah
seperti saudara antara satu dengan yang lainnya” kemudian dia mengangkat
cawannya sendiri, “Silahkan Mari kita minum”
Tepat di saat para siwi mengangkat cawannya masing-masing, tiba-tiba dari luar
kamar terdengar suara lantang.
“Firman Hong thayhou memanggil Siau Kui cu Apakah Siau Kui cu berada di sini?”
Siau Po terkejut setengah mati. Dia tidak menyangka akan terjadi hal seperti ini.
“Ya, di sini” sahutnya cepat Dia meletakkan cawannya sambil berpikir “Mau apa si
nenek sihir itu mencariku?” Terus dia berjalan ke depan untuk menyambut utusan ibu
suri itu. semuanya terdiri dari empat orang thay-kam sedangkan yang satu nya, yakni
yang menjadi pemimpin segera maju sambil membusungkan dadanya.
Siau Po menjatuhkan dirinya berlutut seraya berkata.
“Hamba Siau Kui cu menerima firman thayhou”
Thay-kam yang menjadi utusan ibu suri segera menyahut.
“Hong thayhou mempunyai urusan yang penting sekali. Kau diperintahkan datang
secepatnya ke keraton Cu-Leng kiong”
“Ya, ya” sahut Siau Po yang terus berdiri. Dalam hatinya diam-diam dia berkata.
“Boan Hoa yok sudah dicampur ke dalam arak, kalau aku berlalu dari sini, tentu para
siwi akan meminumnya…. Benar-benar sial Rencanaku bisa berantakan”
Pikirannya bekerja dengan cepat Dia langsung tertawa dan berkata.
“Kongkong, apakah she kalian yang mulia? Kenapa dulu-dulunya kita belum pernah
bertemu?”
“Hm” suara thay-kam itu tawar sekali “Aku Tang Kim-kwe Mari kita jalan, Thayhou
sudah menunggu Kau tahu, sudah setengah harian ini aku berputaran mencarimu”
Siau Po tidak menjawab, Dia justru menarik tangan thay-kam itu.
“Tang kongkong, mari aku ajak kau melihat sesuatu yang menarik”
Tang Kim-kwe berjalan mengikuti Siau Po yang menariknya. Dia ingin tahu apa yang
akan ditunjukkan bocah tanggung itu. Di dalam ruangan, dia segera melihat dua meja
penuh hidangan langsung saja dia berseru.

“Bagus Oh, Siau Kui cu, kau sungguh beruntung Thayhou menugaskan kau
mengurus Siang-sian tong, Siapa tahu, di balik maksud baikmu, kau malah
menghamburkan uang negara untuk berfoya-foya”
Siau Po tertawa.
“Para saudara siwi ini sudah berjasa mengusir dan meringkus pemberontak yang
menyerbu istana,” katanya, “Karena itu Sri Baginda menyuruh aku menjamu mereka.
Mari Tang kongkong Mari kau juga minum bersama, Juga ketiga kongkong itu”
“Aku tidak bisa minum” sahut Tang Kim-ko sembari menggelengkan kepalanya,
“Thayhou memanggilmu, mari kita pergi”
Siau Po tidak segera pergi, dia tertawa lagi.
“Semua siwi Tayjin adalah sahabat-sahabat kami. katanya pula, “Kalau satu cawan
arak saja kau tidak sudi minum, berarti kau benar-benar tidak memandang muka para
saudara ini”
“Aku tidak bisa minum” kata Kim Kwe dengan suara keras.
Siau Po mengedipkan matanya kepada Tio Ko lian.
“Nah, Tio toako, kau lihat Kongkong ini terlalu angkuh, dia tidak mau minum
bersama kita”
Kong Lian mengerti maksud Siau Po. Dia segera mengangkat cawannya dan
mengambil sebuah cawan lagi untuk disodorkan kepada Tang Ki kwe, utusan ibu suri
itu. Sembari tertawa ramah berkata:
“Kongkong, mari kita minum Untuk kebahagiaan kalian juga kita semua”
Kim Kwe didesak sedemikian rupa sehinga tidak enak hati, Terpaksa dia menerima
cawan berisi arak yang disodorkan kemudian diteguk sekaligus sampai kering.
“Nah, ini baru namanya sahabat” puji Siau Po. “Nah, ketiga kongkong, kalian juga
harus ikut minum”
Ketiga thay-kam yang lainnya disodori tiga cawan arak oleh para siwi, mereka segera
menyambutnya dan meneguknya sampai kering,
“Bagus” seru Siau Po. “Ayo, semua minum”
Cepat-cepat dia mengisi lagi keempat cawan yang sudah kosong, Para siwi juga ikut
minum, Siau Po juga, Tapi dia memang cerdik. Dia mengangkat cawannya tinggi-tinggi,
Dengan demikian wajahnya jadi terhalang dan dengan mudah dia menuangkan araknya
ke dalam lengan baju.

“Mari kita minum lagi” katanya menawarkan Dia khawatir satu cawan arak masih
belum cukup untuk membius para thay-kam dan para siwi itu.
Seorang siwi segera mendahului Siau Po mengangkat cawan arak.
“Kongkong, biar aku yang mengisinya”
Tang kongkong mengerutkan sepasang alisnya.
“Kui kongkong, aturan dalam istana sangat ketat. Sekali thayhou memanggil, orang
harus langsung menghadap, Malah kalau bisa lari secepatnya, Tapi kau, sekarang kau
malah merepotkan diri dengan minum arak, perbuatanmu sungguh tidak menghormati
thayhou”
Siau Po tertawa.
“Sebetulnya hal ini ada sebabnya…” katanya sengaja mengulur waktu, “Mari Mari
kita minum satu cawan lagi, nanti aku akan menjelaskannya kepada kalian” Dia
langsung mengangkat cawannya.
Tio Kong-lian juga ikut mengangkat cawannya.
“Tang kongkong, mari kita minum lagi” ajaknya.
“Aih Aku tidak boleh minum lagi” sahutnya sambil memutar tubuh untuk berlalu,
Tapi tiba-tiba saja gerakannya jadi limbung.
Siau Po tahu thay-kam itu sudah jadi korban obat biusnya, tiba-tiba saja ia
meringkukkan tubuhnya dan pura-pura memegangi perutnya.
“Aduh 0h… Aduh Perutku sakit” serunya berulang-ulang,
Para siwi yang lainnya juga terkejut Apalagi secara tiba-tiba, mereka merasa kepala
mereka pusing sekali.
“Ah, celaka” seru mereka, “Arak ini tidak beres”
“Tang kongkong” kata Siau Po dengan suara lantang, “Apakah kau sedang
menjalakan perintah thayhou untuk meracuni kami semua? Benarkah?”
“Kenapa kau mencampurkan racun ke dalam arak?”
Tang Kim kwe terkejut setengah mati. Tuduhan Siau Po merupakan fitnah yang keji
sekali
“Ma…na… mana mungkin?” teriaknya gugup.

“Ah Kau tentu ingin membalas sakit hati ke-empat thay-kam yang mati kemarin,
bukan?” desak Siau Po. “Betul Dan sekarang kau memasukkan racun dalam arak kami
Ayo, para siwi Bekuk mereka”
Para siwi itu menjadi bingung, sementara itu, mereka merasakan kepala mereka
semakin pusing.
Dua orang thay-kam tidak dapat mempertahankan diri lagi, Mereka segera terkulai di
atas tanah. Disusul dengan robohnya Tang Kim-hwe, kemudian Tio Kong-lian. Thaykam
yang terakhir semakin takut Dia roboh bertepatan dengan para siwi lainnya. situasi
dalam ruangan itu jadi berantakan. Meja dan kursi terbalik di sana-sini karena tertimpa
tubuh para siwi.
Menyaksikan keadaan itu, Siau Po segera menghambur ke depan Tang Kim hwe
kemudian mendepak pantat thay-kam itu keras-keras, tapi Tang Kim-hwe tidak berkutik
sama sekali, Matanya juga terpejam.
Siau Po senang sekali melihat kenyataan ini. Dia berani dan gesit sama sekali tidak
takut, meskipun dia sudah mencelakai keempat thay-kamnya ibu suri. Cepat-cepat dia
lari ke pintu dan menutupnya. Setelah itu dia menghunus pisau belatinya dan menikam
Tang Kim-hwe serta ketiga thay-kam lainnya masing-masing satu kali.
Gouw Lip Sin dan yang lainnya heran menyaksikan perbuatannya, Bahkan Lau It-cou
sampai mengeluarkan seruan tertahan. Mereka merasa perbuatan thay-kam cilik ini
sungguh luar biasa.
Siau Po bekerja dengan cekatan Dia membaw pisau belatinya yang tajam kemudian
ditebasnya urat kerbau yang mengikat tangan Gouw Lip-sin bertiga, Dengan demikian
mereka jadi bebas.
“Kongkong,” kata Lau It-cou. “Bagaimana caranya kami menyingkir dari sini?”
“Gouw loya cu, Go suheng,” kata Siau Po ke pada kedua orang itu. “Cepat kalian
pilih pakaian seragam siwi yang cocok dengan bentuk tubuh kalian Dan kau, Lau
suheng, kau tidak mempunyai kumis, sebaiknya kau menyamar menjadi thay-kam saja,
Pakailah seragamnya Tang kongkong itu”
“Biar aku menyamar jadi siwi saja” sahut La It-cou.
“Tidak bisa,” kata Siau Po. “Kau harus menjadi thay-kam”
Terpaksa It Cou menurut Dia menganggukkan kepalanya,
Segera ketiga orang itu bekerja, Dalam waktu yang singkat mereka sudah menyamar
menjadi siwi dan thay-kam.

“Mari kalian ikut aku” kata Siau Po. “Kalau kita bertemu dengan siapa pun dan ada
yang menegur kalian, jangan memberikan jawaban, kalian harus pura-pura bisu”
Selesai berkata, Siau Po mengeluarkan obat mukjijatnya. Dia mengguyurnya di atas
luka Tang Kim-hwe dan menambahkan beberapa tikaman lagi agar daging dan tulang di
tubuh thay-kam itu semakin cepat lumernya.
“Mari” ajaknya kepada Gouw Lip-sin bertiga.
Sekeluarnya dari kamar tahanan, Siau Po mendorong ketiga orang itu menuju dapur
kemudian pintunya ditutup kembali.
Jarak antara siwi pong dengan Siang-sian tong berdekatan. Dalam waktu yang
singkat, mereka sudah sampai di tempat di mana Cian laopan dan beberapa kawannya
sudah menunggu. Mereka membawa dua ekor babi yang sudah disembelih dan
dibersihkan Sikap mereka tampak menghormati sekali.
“Hai, Lao Cian, kau berani main gila” bentak Siau Po tiba-tiba. “Aku memesan babi
yang besar, gemuk dan masih muda, sekarang kau membawakan babi yang kurus dan
tua pula Kau…. Apakah kau masih mau makan nasi?”
Cian laopan tampak ketakutan. Tubuhnya membungkuk dalam-dalam.
“I… ya… iya…” sahutnya gugup,
Beberapa thay-kam di Siang-sian tong melihat kedua ekor babi itu besar dan gemuk,
tapi merupakan kebiasaan bagi mereka bila tidak ada uang pelicin, apapun dicela,
Melihat pemimpin mereka membentak dengan suara keras, mereka pun sege meniru.
“Lekas bawa pergi” bentak mereka.
Siau Po tampak semakin gusar, Dia menoleh kepada Gouw Lip-sin bertiga dan
memerintahkan
“Kedua siwi toako dan kau juga kongko kalian gusur orang itu dari tempat ini Lain
kali jangan biarkan dia masuk ke dalam istana lagi”
Cian laopan mengerutkan sepasang alisnya.
“Kongkong, maaf… maaf.,.” katanya, “Baik Hamba akan tukar babi ini dengan yang
lebih gemuk dan besar Aku akan membawakan yang lain lagi, Ha…rap… kongkong
su..ka memaafkan aku kali ini.”
“Kalau aku membutuhkan babi, nanti aku akan suruh orangmu membawakannya
Sekarang cepat kau pergi dari sini”
Cian laopan segera menjura dalam-dalam.

“lya, iya…” sahutnya kemudian sambil memutar tubuhnya untuk pergi.
Lip sin bertiga mengikuti Tubuh Cian lao didorongnya berkali-kali,
Siau Po juga ikut, setibanya di lorong, dia tidak ada seorang pun di sana, Siau Po
berkata dengan suara perlahan.
“Cian toako, ketiga

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s