“ PANGERAN MENJANGAN” – “ LU DING JI “ 30

Siau Po berpikir dengan cepat.
“Kalau aku bilang berhasil, rasanya terlalu cepat” karena itu dia menjawab: “Hamba
belum berhasil, Sri Baginda, karena itu besok pagi hamba akan melakukan penyelidikan
kembali”
“Kalau kau menyelidiki dengan caramu itu, belum tentu akan ada hasilnya,” kata
kaisar Kong Hi. “Kau seperti mengukur jalanan saja, Nah, aku mempunyai sebuah
akal”

Siau Po menunjukkan mimik kegirangan.
“Apa itu, Sri Baginda?” tanyanya, “Tentunya sebuah akal yang bagus, bukan?”
Kaisar Kong Hi tertawa.
“Barusan To Lung datang memberikan laporan,” katanya, “Menurutnya, para
tawanan itu menutup mulutnya rapat-rapat, Mereka tidak mempan bujukan maupun
siksaan, Satu-satunya keterangan yang mereka berikan hanya menyatakan bahwa
mereka adalah orang-orangnya Go Sam-kui. karena itu, aku rasa, percuma saja mereka
dijatuhi hukuman mati. sekarang aku justru menganggap ada baiknya, mereka
dibebaskan saja…”
“Di bebaskan saja?” tanya Siau Po seakan tidak percaya dengan pendengarannya
sendiri. “Bukankah terlalu enak bagi mereka?”
Kaisar Kong Hi tersenyum.
“Kita melepaskan anak srigala,” katanya, “Dan anak srigala pasti pulang mencari
induknya”
Mendengar keterangan itu, Siau Po senang sekali, Dia bersorak sambil bertepuk
tangan.
“Bagus Bagus sekali” serunya, “ltu artinya lepas para penyerbu itu secara diamdiam
kita mengikuti mereka, Bukankah dengan demikian kau akan bertemu dengan
pemimpinnya? Sri Baginda akal Sri Baginda ini bagus sekali, Kecerdasan Baginda
masih memang tiga kali lipat dari pada Cukat Liang”
Raja tertawa.
“Apanya yang menang tiga kali lipat daripada Cukat Liang? Oh, kau sedang
menepuk punggung ku, tapi sayangnya kelebihan. Kau tahu, masih kesulitan lainnya?
Setelah kita membebaskan para penyerbu itu, kita masih harus berusaha mengikuti
mereka tanpa disadari orang-orang itu Siau Kui cu, aku ingin memberikan sebuah tugas
kepadamu, pergilah kau ke penjara dan pura-pura jadi orang baik yang berniat
menolong mereka membebaskan diri, Setelah itu, kau pasti dianggap sebagai dewa
penolong dan kemungkinan kau akan diajak ke sarang mereka….”
Siau Po pura-pura bimbang.
“Ini… ini.,.” katanya gugup.
“Memang siasat ini berbahaya sekali dijalankan,” kata Sri Baginda. Dia mengira Siau
Po mengkhawatirkan keselamatan dirinya sendiri, “Asal mereka tahu siapa dirimu, pasti
jiwamu akan melayang, Sayang aku adalah seorang raja, kalau tidak, aku pasti akan
melakukannya sendiri, Aku yakin tugas seperti ini pasti menarik sekali…”

“Sri Baginda,” kata Siau Po, “Kalau Sri Baginda menitahkan, hamba pasti
menjalankannya, Tugas yang jauh lebih berbahayapun akan hamba laksanakan”
Senang sekali hati raja mendengar kata-kata Siau Po. Dia menepuk-nepuk pundak
bocah itu.
“Memang aku tahu kau cerdas dan bernyali besar” katanya, “Aku juga tahu kau akan
melakukan apa pun untukku, Kau seorang bocah, para penyerbu itu pasti tidak
mencurigaimu Tadinya aku berpikir untuk mengirim dua orang pahlawan yang lihay, tapi
aku khawatir rahasia mereka akan terbongkar sebab para penyerbu itu pasti bukan oran
orang tolol yang bisa menaruh kepercayaan begitu saja. Mereka pasti curiga. Sekali
gagal, siasat ini tidak terpakai lagi, Siau Kui cu, kau saja yang melakukan tugas ini,
anggaplah kau sebagai pengganti diriku”
Semenjak belajar ilmu silat, Kaisar Kong ingin sekali menjajal kepandaiannya sendiri,
sayangnya kedudukannya terlalu tinggi. Dia tidak bisa melakukan keinginan hatinya
seenaknya, Apalagi melakukan sesuatu yang bisa membahayakan dirinya. Karena itu
pula, sekarang terpaksa dia menyerahkan tugas ini kepada thay-kam cilik kepercayaan
ini.
“Kau harus pandai-pandai membawa diri,” pesan raja itu kepada hambanya,
“sikapmu harus wajar mungkin, Ada baiknya kalau di depan mereka kau membunuh
satu dua orang siwi, Dengan demikian mereka tidak akan sangsi kepadamu, Akan
kupesan To Lung agar memperlunak penjaga sehingga kau dapat mengajak mereka
melolosk diri”
“Baiklah” sahut Siau Po. “Tapi para siwi jauh lebih gagah daripada hamba, Hamba
khawatir untuk melawan mereka saja tidak ada kesanggupan, apalagi hendak
membunuh satu dua orang diantaranya”
“Tentang itu tidak perlu kau cemaskan,” kata kaisar Kong Hi. “Kau harus bekerja
dengan melihat situasinya, terutama kau harus berhati-hati, jangan sampai kau yang
terbunuh dulu di tangan para siwi itu”
Siau Po menjulurkan lidahnya.
“Kalau hamba sampai terbunuh lebih dulu, sungguh hamba akan mati kecewa”
katanya, “Pasti hamba akan dituduh sebagai antek-anteknya para penyerbu itu”
Kaisar Kong Hi mengibaskan tangannya dengan maksud mencegah Siau Po berkata
lebih jauh.
“Siau Kui cu, seandainya kau bisa melakukan tugas itu dengan baik, Hadiah apakah
yang kau inginkan dariku?”
Nada suara raja menunjukkan hatinya sedang gembira.

“Kalau tugas itu dapat hamba selesaikan dengan baik, pastilah Sri Baginda akan
senang,” sahutnya, “Asal Sri Baginda senang, hal itu jauh lebih besar artinya dari apa
pun di dunia ini, kegembiraan Sri Baginda tidak dapat dibandingkan dengan hadiah apa
pun. Sri Baginda, kalau nanti ada tugas lain yang lebih menarik dan penuh bahaya,
harap Sri Baginda menugaskan hamba yang menyelesaikannya. itulah hadiah yang
hamba minta pada Sri Baginda”
Hati kaisar Kong Hi semakin senang mendengar ucapan Siau Po.
“Pasti Pasti” katanya berulang-ulang. “Siau Kui cu, sayang kau seorang thay-kam
kalau tidak, aku akan memberi pangkat kepadamu” Hati Siau Po tercekat, ada sesuatu
yang melintas dalam benaknya.
“Banyak-banyak terima kasih, Sri Baginda” Tapi dalam hatinya dia justru berpikir:
“Suatu hari nanti kau pasti tahu aku seorang thay-kam gadungan mungkin waktu itu kau
akan marah sekali terhadapku” Karena itu, dia menambahkan: “Sri Baginda, hamba
ada sedikit permohonan”
Raja tertawa.
“Kau ingin mendapat pangkat?” tanyanya.
“Bukan” sahut Siau Po. “Hamba sudah lama bekerja pada Sri Baginda, Selama ini
hamba setia dan bersedia melakukan tugas apa saja, Karena itu hamba mohon, bila
kelak hamba melakukan suatu yang menimbulkan bencana, Hamba mohon, sudilah
kiranya Sri Baginda mengampuni jiwa hamba supaya hamba jangan sampai mendapat
hukuma penggal kepala.”
“Asal kau tetap setia padaku, asal kau bekerja dengan kesungguhan hati, maka
kepalamu akan tetap kokoh di atas batang lehermu” kata Kaisar Kong Hi sambil
tertawa terbahak-bahak.
“Terima kasih, Sri Baginda” kata Siau Po kembali, Setelah itu dia memberi hormat
dan memohon diri dari hadapan raja.
Sekeluarnya dari Gi-Si pong, dia melangkah dengan perlahan, otaknya bekerja.
“Aku bermaksud menolong Pui Ie dan Siau kuncu keluar dari istana ini, siapa sangka
sekarang aku justru mendapat perintah untuk membebaskan para penyerbu itu. Kalau
demikian, aku tidak perlu terburu-buru melepaskan kedua nona itu. Lebih baik aku
menunaikan dulu tugasku ini, Aneh bukan? Barusan aku berkumpul dan berpesta
dengan pemimpin para penyerbu itu, Hm Apakah aku harus melaporkan pada Sri
Baginda perihal si kura-kura cilik Bhok Kian-seng dan si kura-kura tua Liy Tay-hong?
Tapi, kalau aku melakukan hal itu, pasti kesudahannya suhu tidak akan mengampuni
aku. sebetulnya aku masih ingin menjadi hiocu Tian-te hwe atau tidak?”

Siau Po sadar kedudukannya dalam istana, Se-mua orang sangat menghormatinya,
Bahkan Sri Baginda pun sangat menyayanginya, Malah pernah dia berpikir untuk
menjadi thay-kam saja untuk selamanya, alangkah senangnya hidup seperti ini
Tapi sekarang, ada satu hal yang merisaukannya, Mengenai masalah thayhou,
Setiap kali dia ingat si nenek sihir itu, hatinya langsung terguncang
“Perempuan tua jalang itu sangat membenciku Setiap saat ada kemungkinan dia
ingin merenggut nyawaku,” pikirnya kemudian “Karena itulah aku tidak bisa berdiam
lama-lama dalam istana”
Demikianlah sambil berjalan otak Siau Po terus berputar Ketika dia tiba di depan siwi
pong, yaitu kamar para siwi yang letaknya di sebelah barat keraton Kian-ceng kiong,
seorang siwi langsung menghambur ke depannya untuk menyambut. Orang itu
memamerkan tertawa yang ramah.
“Oh, Kui kongkong Angin apa yang membawa kongkong berkunjung kemari?”
Siau Po segera mengenali siwi itu sebagai pemimpin di tempat itu. Dia tidak lain dan
tidak bukan dari Tio Ci-hian yang mendapat uang dari Siau Po dan mendapat persenan
dari To Lung. Dia tahu semua ini karena Kui kongkong sudah mengatakan hal yang
baik-baik tentang mereka di depan Baginda.
Setelah berhadapan dengan siwi itu, Siau Po segera tertawa lebar.
“Aku datang untuk melihat beberapa penyerbu yang tertawan itu,” sahutnya. “Mereka
adalah para pemberontak yang bernyali besar.” Setelah berkata demikian dia segera
berbisik kepada orang itu: “Baginda menitahkan aku untuk memeriksa mereka. Aku
harus mendapatkan pengakuan mereka tentang orang yang mendalangi perbuatan
mereka itu,”
Ci Hian menganggukkan kepalanya.
“Baiklah,” sahutnya sebagai tanda mengerti. Dia menjawab dengan nada berbisik
juga, “Mulut ketiga pemberontak itu benar-benar tertutup rapat. mereka telah dihajar
dengan empat batang rotan yang menjadi patah, tapi mereka tetap tidak bersedia
memberikan keterangan apa-apa, Mereka hanya mengaku sebagai orang-orang yang
dikirim oleh Go Sam-kui”
Siau Po mengangguk.
“Biarlah aku coba menanyakan lagi para tawanan itu,” katanya,
Tio Ci-hian mengantarkan Siau Po ke tempat para tahanan. Letak ruangannya di
sebelah barat Di dalamnya ada tiga orang yang terpancang pada tiang kayu, Tubuh
bagian atas mereka telanjang dan penuh dengan bekas pecutan rotan sehingga

menimbulkan noda yang mengerikan. Kulit dan daging mereka terkelupas dan darah
pun, memenuhi seluruh tubuh.
Yang seorang bertubuh besar serta berewokan, Dua orang lainnya adalah pemudapemuda
berusia kurang lebih dua puluhan tahun, Pemuda yang satu berkulit putih
bersih, wajahnya juga tampan sedangkan seorang lainnya lagi lebih angker
tampangnya..
Dadanya ditato dengan gambar seekor harimau yang tampak ganas.
“Di antara kedua pemuda ini, entah mana yang namanya Lau It-cou?” tanya Siau Po
dalam hati, Dia memperhatikan mereka lekat-lekat Dia tidak langsung menanyakan
apa-apa kepada para tawanan itu, tapi malah menoleh kepada Tio Ci-hian sambil
berkata.
“Tio toako, mungkin kau keliru menawan orang Coba toako mundur sebentar”
Ci Hian segera mengiakan Dia segera mengundurkan diri dan menutup pintu tempat
tahanan ini rapat-rapat.
Siau Po langsung menghampiri ketiga tawan itu,
“Tuan-tuan sekalian, siapakah nama dan she tuan bertiga yang mulia?” tanyanya
dengan nada ramah.
Orang yang bertubuh besar dan berewok langsung mendelikkan matanya lebarlebar.
“Thay-kam anjing” dampratnya, “Kau kira dengan derajatmu ini, kau pantas
menanyakan nama dari she-ku yang mulia?”
Kata-katanya itu merupakan penghinaan dan hal ini membuat Siau Po menjadi
kurang senang, tapi dia mengerti bahwa hal ini terjadi karena orang gagah itu telah
disiksa sedemikian rupa dan merasakan penderitaan sehingga menjadi gusar.
“Kedatanganku ini atas permintaan seseorang. katanya, “Aku datang untuk menolong
seorang sahabat yang bernama Lau It-cou”
Begitu kata-katanya diucapkan, ketiga orang itu langsung tampak terkejut saking
herannya, untuk sesaat mereka saling mengawasi lalu ketiga menoleh kepada si thaykam
cilik.
“Kau menerima permintaan dari siapa?” tany bewok.
“Apakah di antara kalian ada yang bernama Lau It-cou?” Siau Po malah menanya
lagi tanpa menghiraukan si bewok, “Kalau ada, aku ingin bicara dengannya, Kalau tidak
ada, ya sudah”

Kembali ketiga orang itu saling melirik sekilas. Terbukti mereka ragu-ragu karena
curiga, tampaknya mereka tidak ingin tertipu oleh siasat lawan.
“Siapa kau?” kembali si bewok yang bertanya.
Siau Po tidak menjawab pertanyaan itu, dia hanya berkata.
“Orang-orang yang meminta pertolonganku itu, satu she Bhok, sedangkan yang
satunya lagi she Liu. Kenalkah kalian pada orang yang berjuluk Tiat Pwe-cong Liong?”
Si Bewok menjawab dengan suara lantang.
“Tiat-Pwe cong Liong Liu Tay-hong terkenal di tiga propinsi Inlam, Kui Cui dan
Sucoan, Siapa yang tidak tahu atau mendengar namanya? Dan orang she Bhok itu
pasti Bhok Kiam-seng, putera Bhok Tian-po yang namanya sudah tersohor Namun saat
ini Bhok Kiam-seng sedang merantau di dunia kangouw, entah sudah mati atau masih
hidup,.,.”
Kembali Siau Po mengangguk.
“Kalau tuan-tuan bertiga tidak kenal Siau ongya dari keluarga Bhok serta Liu loyacu
maka terbukti kalian bukan sahabat-sahabatnya, Dengan demikian kalian juga tidak
mengenal dua jurus ilmu ini….”
Tanpa menunggu sahutan dari ketiga orang itu, Siau Po langsung menjalankan
kedua jurus Heng-Sau Ciang Kun dan Kao-San Liu Sui, Kedua jurus itu adalah ilmu
keluarga Bhok, Di saat dia masih mempertunjukkan kedua jurus tersebut, si pemuda
dengan tato harimau di dadanya mengeluarkan seruan tertahan.
“Aih…”
Mendengar suara itu, Siau Po menghentikan gerakannya.
“Eh, kenapa?” tanyanya.
“Ah… tidak apa-apa,” sahut orang itu jengah.
“Siapa yang mengajarkan kedua jurus itu?” tany si bewok.
Siau Po tertawa.
“lstriku” sahut Siau Po.
“Cis” si bewok meludah. “Bagaimana mungkin seorang thay-kam bisa punya istri?”
Hampir dia mengejek Siau Po dengan kata-kata “thay-kam anjing” lagi. sedangkan
Siau Po hany tersenyum.

“Memangnya kenapa thay-kam tidak boleh punya istri?” tanyanya, “Kalau orang suka
menikah denganku, kenapa kau yang usil? istriku itu she Pui dengan nama tunggal Ie”
Belum berhenti gema suara si thay-kam cilik, pemuda yang berkulit putih langsung
membentak.
“Ngaco kau”
Siau Po menatap pemuda itu, urat-urat di dahinya menonjol sehingga tampak
berwarna biru kehijauan dan matanya mendelik dengan cahaya merah membara. Hal ini
membuktikan bahwa dia gusar sekali mendengar ucapan Siau Po.
Dengan demikian Siau Po segera bisa menduga bahwa dialah yang bernama Lau It
cou. Dia melihat pemuda tampan dan gagah. Di saat marah, tampangnya berwibawa
dan garang.
“Ngaco apanya?” dia balik bertanya, Dia tidak merasa takut sama sekali meskipun
orang itu tampak angker “Kau tahu, istriku itu adalah keturunan dari salah satu ke-ciang
keluarga Bhok yang tersohor yakni salah satu dari keluarga Pek, Pui, Sou dan Lau
Ketika kami menikah, salah satu saksinya ialah seseorang yang bernama Sou Kong, dia
berjuluk Sin Jiu kisu. Ada seorang lagi yang bernama Pek Han-hong, yakni saudara Pek
Han-siong yang belum lama ini mati dihajar orang, Kalian tahu, Pek Han-hong ini miskin
sekali, sehingga untuk memakamkan saudaranya dia terpaksa menjadi comblang demi
mendapatkan sedikit uang”
Mendengar ucapannya, si anak muda itu semakin gusar.
“Kau… kau” saking kesalnya dia tidak sanggup mengatakan apa-apa.
“Saudara, bersabarlah,” kata si bewok menenangkan rekannya, Kemudian dia
menoleh kepada Siau Po. “Sahabat, tampaknya kau banyak tahu tentang keluarga
Bhok?”
“Aku toh termasuk menantu dari keluarga Bhok,” sahut Siau Po. “Sebagai seorang
menantu, mana mungkin aku tidak tahu segala sesuatu yang menyangkut keluarga
mertuaku? Nona Pui Ie itu tadinya tidak sudi menikah denganku, Katanya dia sudah
berjanji akan menikah dengan kakak seperguruannya, Lau It cou. sekarang pikirannya
berubah karena dia mendengar kekasihnya itu manusia yang tidak berguna sebab dia
datang ke Go Sam-kui si pengkhianat bangsa itu dan sudi menjadi bawahannya,
bahkan mau saja disuruh menyerbu istana untuk membunuh kaisar Kong Hi. Nah, coba
kau pikir, setiap bangsa Han toh benci sekali kepada Go Sam-kui yang telah menjual
negaranya sendiri…”
Bicara sampai di situ, Siau Po merendahkan suaranya, Kemudian dia melanjutkan
kembali: “Go Sam-kui sudah berpihak pada orang Tatcu, bangsa yang menjadi musuh
negara kita, Dia takluk dan bersedia bekerja bagi musuh kita itu. Go Sam-kui berpihak
pada Tatcu dengan mempersembahkan negara kita yang indah dan permai, Siapa saja

orang Han, membenci Go Sam-kui sehingga ingin sekali membeset kulitnya dan makan
dagingnya, sedangkan It Cou, si bocah busuk itu, dia boleh menghamba pada siapa
saja, tapi mengapa dia justru memilih Go Sam-kui sebagai tuannya? Tentu saja karena
hal ini nona Pui marah sekali, di mana dia harus menaruh mukanya bila bertemu
dengan orang-orang gagah se tanah air? itulah sebabnya dia mengambil keputusan
untuk tidak menikah dengan kakak seperguruannya itu”
Mendengar sampai di sini, tiba-tiba anak muda itu berteriak.
“Aku… aku… aku.,.” tapi lagi-lagi dia tidak sanggup melanjutkan kata-katanya karena
emosinya yang berlebihan
“Sabar” seru si bewok, Dia menatap Siau Po lekat-lekat lalu berkata: “Tuan, setiap
orang mempunyai cita-cita tersendiri. Kau telah menjadi thay-kam dalam istana Ceng,
bukankah itu suatu pekerjaan yang merendahkan dirimu sendiri?”
“Tepat Tepat” sahut Siau Po tanpa merasa malu sedikit pun. “Memang pekerjaan ini
membuat pamorku jatuh. Tapi sekarang, mari kita bicarakan saja urusan ini. istriku
teringat akan bekas kekasihnya, dia meminta aku mencari tahu tentangnya, Dia ingin
mendapat kepastian apakah kekasihnya itu sudah mati atau belum, Dia berkata begini,
kalau benar Lau It-cou itu sudah mati, maka dia dapat menikah denganku tanpa
merasakan susah, Nah, sahabat bertiga, benarkah di antara kalian tidak ada yang
bernama Lau It-cou? Kalau benar, aku akan pergi sekarang, Nanti malam kami akan
mengadakan upacara pernikahan dengan bersembahyang pada langit dan bumi”
Begitu selesai berkata, Siau Po segera membalikkan tubuhnya untuk meninggalkan
tempat itu,
“Aku…lah” kata si anak muda berkulit bersih dengan penuh semangat.
“Sabar” lagi-lagi si bewok mencegah rekannya berbicara lebih jauh, “Jangan sampai
kena terpedaya”
Si anak muda itu meronta-ronta.
“Dia… dia.,.” serunya tersendat-sendat, kemudian dia meludahi Siau Po.
Si bocah cilik sempat melihat hal itu, dia sege mengelakkan diri, Dia juga melihat
para tawana nya itu diikat dengan tali yang terbuat dari urat kerbau, Meskipun meronta
dengan sekuat tenaga tidak mungkin mereka sanggup meloloskan diri. Diam-diam dia
berpikir dalam hati.
“Sudah pasti dialah Lau It-cou. Dia sudah mau mengaku, tapi sayangnya selalu
dicegah oleh temannya, si bewok, Bagaimana baiknya sekarang?”
Setelah berpikir sejenak, bocah yang cerdik ini segera menemukan akal yang bagus.

“Kalian di sini dulu untuk sementara, aku aka pulang dan meminta keterangan dari
istriku”
Memang luar biasa watak bocah yang satu ini. Dia menyebut Pui Ie sebagai istri. Dia
juga mengatakan akan mengadakan upacara pernikahan dengan bersembahyang pada
langit dan bumi, Kali ini dia benar-benar meninggalkan tempat para tahanan itu,
sesampainya di pelataran depan, dia berbisik kepada Ci Hian yang sedang
menunggunya.
“Aku telah mendapat suatu keterangan. Mulai sekarang, jangan kau siksa lagi
mereka. Sebentar aku akan kembali lagi”
Tio Ci-hian mengangguk dan Siau Po pun segera melangkah pergi.
Ketika Siau Po kembali ke kamarnya, hari su dah gelap, Dia ingat kedua nona yang
terseka dalam kamarnya, Pasti mereka sudah lapar, Karena itu dia tidak langsung
masuk ke dalam kamarnya tapi berjalan menuju Siang-sian tong untuk memesan
barang hidangan, Dia mengatakan ingin menjamu para siwi yang malam sebelumnya
telah berjasa meringkus para penyerbu, Dia juga berpesan bahwa perjamuannya nanti
tidak perlu dilayani para thay-kam, karena sembari bersantap, dia ingin membicarakan
urusan rahasia.
Ketika kembali ke kamarnya, Siau Po disambut oleh Kiam Peng,
“Kenapa kau baru pulang?”
“Kau tentunya kebingungan setengah mati menantikan aku, bukan?” sahut Siau Po
sambil tertawa “Kau tahu, aku telah menyelidiki dan aku memperoleh kabar gembira”
Pui Ie yang berbaring di atas tempat tidur segera mengangkat kepalanya.
“Kabar apa?” tanyanya cepat.
Siau Po menyalakan lilin agar kamar menjadi terang dan dia dapat melihat wajah si
nona yang bersemu dadu, matanya membengkak sebagai tanda bahwa dia baru saja
menangis. Pasti hatinya sedih sekali memikirkan kekasihnya, Lau It-cou. Siau Po
menarik nafas panjang.
“Kabar yang aku bawa itu pasti membuat hatimu gembira namun sayangnya
merupakan malapetaka untukku” sahutnya, “Karena istri yang baru aku dapatkan akan
melayang lagi Benar, budak Lau It-cou itu memang belum mati”
“Ah” Pui Ie mengeluarkan seruan tertahan. Untuk sesaat dia tidak dapat menahan
keguncang” hatinya yang gembira sekali mendengar berita d Siau Po.
Kiam Peng juga senang sekali.

“Oh” serunya, “Jadi, Lau suko selamat dia tidak kurang apa pun?”
“Mati sih belum,” sahut Siau Po. “Tapi untuk hidup terus, sukarnya bukan main. Dia
sudah tertawan oleh para siwi dan sekarang sedang diperiksa. Dia kukuh mengaku
sebagai orangnya Go Sam-kui dan mengatakan bahwa ia mendapat perintah untuk
membunuh kaisar Kong Hi. Begitulah, dia masih hidup sekarang, tapi sedang
menantikan hukum kematiannya Kalau perbuatannya ini tersiar diluaran, pasti
namanya akan busuk dan dicela oleh para orang gagah karena dikenal sebagai anjing
pengkhianat Go Sam-kui. Apalagi setelah dia menjalankan hukuman mati, Namanya
akan semakin bau”
Pui Ie berusaha bergerak bangun Saat ini dia sudah dapat mengendalikan
perasaannya.
“Sebelum datang menyerbu ke istana ini, kami sudah mempertimbangkan bahwa
kami bisa ditahan dan dihukum mati, Kami tidak memperdulikan hal itu, asal dapat
merobohkan Go Sam-kui, pengkhianat bangsa Cita-cita kami hanya membalaskan
sakit hati raja kami”
Siau Po mengacungkan jempolnya.
“Bagus Penuh semangat” katanya memuji, “Aku si Kui kongkong merasa kagum
sekali Sekarang, nona Pui, ada satu urusan penting yang harus kita rundingkan Mari
aku tanya dulu, seandainya aku bisa membebaskan kakak seperguruanmu itu, apa
yang akan kau lakukan? Bagaimana dengan engkau sendiri?”
Mata Pui Ie menyorotkan sinar berkilauan wajahnya merah padam.
“Apakah kau benar-benar sanggup menolong kakak seperguruanku itu?” tanyanya
menegaskan “Kalau benar, bi.,.arlah a.,.ku menjadi budakmu seumur hidup Dengan
kata lain, pekerjaan apa pun dan sesulit apa pun, asal kau perintahkan aku Pui Ie, akan
melakukannya tanpa mengerutkan sepasang alisku”
“Bagaimana kalau kita membuat perjanjian?” tanya Siau Po. “Bisa? Dalam hal ini,
biar Siau kuncu menjadi saksinya Kalau aku berhasil menolong Lau sukomu itu, akan
kuserahkan dia kepada Siau ongya Bhok Kiam seng dan Tiat Pwe-cong Liong Liu
loyacu….”
“Eh, kau tahu tentang kokoku dan Liu suhu?” tukas Kiam Peng keheranan.
“Siau ongya dari Bhok onghu serta Tiat Pwe-cong Liong Liu Tay-hong merupakan
orang-orang yang sudah terkenal sekali, Siapa yang tidak pernah mendengar nama
mereka?”
“Kau memang orang baik. Setelah kau berhasil membebaskan Lau suko, kami
semua pasti berterima kasih dan bersyukur atas jasa-jasamu itu kata Kiam Peng.

Siau Po menggelengkan kepalanya,
“Aku bukan orang baik,” sahuthya. “Sekarang aku sedang mengadakan transaksi
jual-beli dengan kalian, Lau It-cau merupakan orang yang luar biasa. Dia telah
melanggar undang-undang negara sehingga dosanya berat sekali, Kalau aku hendak
menolongnya, aku juga harus berani mengorbankan diri, Aku bisa menghadapi bencana
besar. Kalau perbuatanku itu sampai ketahuan, seluruh keluagaku, termasuk nenek,
kakek, paman tua, pam muda, bibi tua, bibi muda, kakak adikku yang jumlahnya
sepuluh orang bisa terancam hukuman penggal kepala, Setelah itu, rumahku, harta
benda berupa emas, perak, tembaga, uang, barang-bara antik semuanya akan disita
oleh negara, Nah, coba kau bayangkan beratnya tanggung jawab yang harus kupikul”
Setiap kali Siau Po berkata sampai pada bagi tertentu, Kiam Peng selalu
menganggukkan kepalanya. Ucapan Siau Po memang berlebihan, tapi bukan berarti
tidak mengandung kebenaran Perbuatannya mengandung resiko yang besar Katakatanya
memang harus dibenarkan, meskipun Siau Po sampai membawa nama kakek
dan neneknya.
Pui Ie juga membenarkan kata-kata Siau Po.
“Memang benar perbuatan ini memerlukan tanggungjawab yang tidak kepalang
besarnya, Baiklah, aku tidak jadi meminta bantuanmu Bagiku, kalau Lau suko diancam
hukuman mati, aku juga tidak sudi hidup lebih lama lagi. Terpaksa kita menyerah pada
suratan nasib saja….”
Selesai berkata, Pui Ie langsung menangis. Air matanya mengucur deras.
“Jangan mudah bersedih, jangan asal mengalirkan air mata saja” kata Siau Po. “Kau
begitu cantik dan manis, Begitu indahnya sehingga mirip batu kumala dan bunga
bermekaran, Melihat air matamu mengalir, hatiku pun ikut hancur luluh. Nona Pui, demi
engkau, aku akan melakukan apa saja, Aku akan menolong kakak seperguruannya Dan
aku pasti akan berhasil Nona Pui, mari kita mengadakan perjanjian Kalau aku gagal
menolong Lau sukomu itu, biarlah seumur hidupku aku menjadi budakmu, Sebaliknya,
andaikata aku berhasil menolong Lau sukomu keluar dengan selamat dari istana ini,
maka untuk seumur hidup, kau harus menjadi istriku, Seorang laki-laki sejati, asal katakatanya
sudah tercetus keluar, entah empat kuda apa pun sukar mengejarnya Nah,
demikianlah janji kita”
Pui Ie memandangi Siau Po dengan pandangan tertegun wajahnya sebentar merah
sebentar pucat, Kemudian dengan perlahan dia berkata.
“Kui toako, demi… keselamatan Lau suko, a… ku akan melakukan apa saja,
seandainya kau… berhasil membebas.,.kannya, apabila kau ingin aku melayanimu, se.,,
umur hidup, sebetul.,.nya bukan tidak bi… sa, tapi….”
Tiba-tiba Pui Ie menghentikan kata, karena di saat itu juga terdengar suara dari luar
kamar.

“Kui kongkong, barang hidangan sudah siap”
“Bagus” sahut Siau Po yang langsung membuka pintu kamarnya dan
merapatkannya kembali Dia membiarkan empat orang thay-kam mengantarkan barang
hidangan ke dalam ruang tamu, semuanya diatur dengan rapi di atas meja.
“Sekarang pergilah kalian, kalian tidak perlu melayani aku,” kata Siau Po kemudian.
“Baiklah, kongkong” sahut salah satu thay-kam, “Apakah masih ada yang kurang?”
“Sudah cukup” kata Siau Po. Dia melihat barang hidangan itu cukup untuk delapan
orang
“lngat Kalau aku tidak panggil, jangan ada yang datang kemari”
Dia memberi persen kepada mereka itu masing masing lima tail perak, Tentu saja
para thay-kam itu kegirangan menerimanya.
Begitu para thay-kam itu berlalu, Siau Po mengunci pintu kembali Setelah itu dia
menggeser meja yang penuh hidangan itu ke dalam kamar. Dia mengisi tiga mangkok
nasi dan juga menuangkan tiga cawan arak.
“Nona Pui,” panggilnya seraya tertawa, Hidangan semua sudah tersedia dan tinggal
menyantapnya saja, Tadi nona mengatakan tapi, apa maksudnya?”
Saat itu Pui Ie sedang dibantu bangun oleh Kiam Peng, Mendengar pertanyaan Siau
Po, wajahnya jadi merah jengah sehingga cepat-cepat dia menundukkan kepalanya,
Untuk sekian lama dia berdiam diri.
“Sebetulnya, aku ingin mengatakan,” akhirnya dia menyahut juga, “Kau bekerja
sebagai thay-kam di istana, mana… mungkin kau bi.,.sa mempunyai istri? Tapi, tak
perduli bagaimana caranya, asal kau bisa menolong Lau suko meloloskan diri dari
tempat tahanan, untuk seumur hidup, aku akan melayanimu….”
Sinar lilin menerangi wajah si nona, kecantikannya semakin kentara ketika tersipusipu.
Siau Po masih anak bau kencur, tapi dia juga merasa tertarik dengan kecantikan
gadis itu.
“Oh, rupanya karena kau mengetahui aku seorang thay-kam?” kata si bocah sembari
tertawa, “Karena aku orang kebiri, jadi aku tidak bisa mempunyai istri Ah… itu urusanku
sendiri, tidak perlu kau khawatirkan. Sekarang aku tanya dulu, bersediakah kau menjadi
istriku?”
Sepasang alis Pui Ie mengernyit, wajahnya merah kembali, Namun sekarang
emosinya meluap Dia merasa gusar, tapi beberapa saat kemudian pikirannya jernih
kembali.

“Jangan kata hanya menjadi istrimu, meskipun kau jual aku ke rumah pelesiran
menjadi perempuan penghibur atau pun perempuan jalang, aku rela”
Ucapan itu hebat sekali, Apabila orang lain yang mendengarnya, pasti akan marah
karena tersinggung, Tidak demikian halnya dengan Siau Po. Sejak kecil dia dibesarkan
dalam rumah pelesiran Baginya kata-kata itu biasa-biasa saja.
“Baiklah” sahutnya. “Dengan demikian kita sudah mengadakan perjanjian Nah, istri
dan adikku yang manis, mari kita keringkan cawan kita”
Sejak melihat gerak-geriknya Siau Po dua hari ini, Pui Ie tidak menganggapnya
sebagai thay-kam lagi, Dalam pandangannya, Siau Po sangat cekatan dan cerdik,
Dengan mudah dia berhasil membunuh Sui Tong dan membuat tubuhnya lumer tinggal
cairan.
Dia juga mendapat kenyataan bahwa para thay-kam lainnya di istana ini sangat
menghormati bocah, dia masih sangat muda, dan mulai timbul kesan baik dalam
hatinya. Diam-diam Pui Ie juga mengaguminya.
Di lain pihak, Pui Ie juga ingat akan Lau It-cou kakak seperguruan yang dikenalnya
sejak kecil. Mereka berlatih silat bersama-sama, Hubungan mereka sudah erat sekali,
Meskipun keduanya tidak pernah mengatakan apa-apa, namun jauh di dasar lubuk hati,
mereka telah sepakat untuk menikah kelak.
Malam itu mereka bekerja sama menyerbu istana kerajaan Ceng ini, Bahkan dia
menyaksikan Lau It-cou tertawan Dia ingin memberikan bantuan tetapi kondisinya tidak
memungkinkan, sebab dia sendiri sudah terluka. Dia menduga, karena tertawan oleh
pihak musuh, nyawa Lau It-cou tidak mungkin dipertahankan lagi.
Di luar dugaannya, si thay-kam cilik ini mengatakan kekasih hatinya belum mati,
Bahkan Siau Po juga berjanji untuk menolongnya meloloskan diri. Karena itu pula,
benaknya segera berputar.
“Biarlah Lau suko bebas dan selamat,” demikian pikirnya dalam hati, Tidak apa-apa
kalau hidupku selanjutnya akan menderita, malah aku bersyukur kepada Thian yang
maha kuasa, Apakah thay-kam cilik ini mempunyai maksud tertentu?
Ah Mungkin dia hanya mengoceh sembarangan Mustahil seorang thay-kam bisa
beristri Ya, dia tentu bicara seenaknya untuk menggoda aku Biarlah, aku menerima
baik saja permintaannya…”
Demikianlah dia mengambil keputusannya. Karena itu dia langsung mengembangkan
seulas senyuman Dia mengangkat cawan araknya dan dibawa ke bibirnya.

“Sekarang aku minum arak bersamamu, tapi kau harus ingat baik-baik. Kalau kau
tidak mamp menolongi Lau suko, maka kau tidak akan lolos dari goIokku”
Siau Po tersenyum, senang hatinya meliha wajah si nona berseri-seri, wajahnya
tampak semakin manis kalau tersenyum. Dia mengangka cawannya dan berkata:
“Janji kita merupakan kepastian yang tidak dapat diingkari lagi. Karena itu aku juga
ingi bertanya, seandainya aku sudah berhasil menolong Lau sukomu, lalu kau merasa
menyesal, bagaimana? Mungkin saja kau mengingkari kata-katamu sendiri dan tetap
ingin menikah dengannya, Kalau kalia bekerja sama mengepung aku seorang diri, lalu
di menbacok aku satu kali dan kau pun menebas aku satu kali, bukankah tubuh aku, si
Kui kongkong akan terbelah menjadi dua bagian? Nah, inilah yan harus aku jaga”
Pui Ie memperlihatkan tampang serius.
“Raja langit di atas, Ratu bumi di bawah, seandainya Kui kongkong benar-benar
berhasil menolong Lau suko meloloskan diri dengan selamat maka Siauli (sebutan
untuk diri sendiri bagi anak perempuan) Pui Ie bersedia menikah dengan Kui kongkong
dan menjadi istrinya serta melayaninya seumur hidup, Siauli akan setia dan tidak nanti
berhati dua. Apabila Siauli mengingkarinya, biarlah siauli tersiksa di alam baka nanti
dan tidak akan menjelma lagi untuk selama-lamanya” Selesai berkata dia menunjuk
kepada Siau kuncu, “Nah, Siau kuncu menjadi saksinya”
Bukan main senangnya hati Siau Po mendengar nona itu bersumpah berat, Dia
segera menoleh kepada Kiam Peng dan bertanya.
“Adikku yang baik, apakah kau mempunyai kekasih hati yang harus kutolong?”
“Tidak” sahut nona Bhok.
“Sayang Sayang” kata Siau Po. “Kalau kau juga mempunyai kekasih hati, aku akan
menolongnya sekalian. Dengan demikian, kau juga akan bersumpah menikah
denganku, bukan?”
“Fui” Kiam Peng pura-pura meludah. “Sudah mendapatkan seorang istri, masih
belum merasa puas Rupanya dikasih hati, kau malah minta ampela”
Siau Po tertawa.
“Jangan heran” katanya, “Bukankah ada pepatah yang mengatakan “si katak buduk
berkhayal ingin makan daging angsa khayangan Eh, iya, istriku… bersama-sama
dengan Lau sukomu itu, ada tertawan dua orang lainnya, Yang satunya berewokan,
siapakah dia?”
“ltu Gouw susiok” sahut Kiam Peng, Susiok artinya paman guru,

“Siapakah yang lainnya?” tanya Siau Po kembali “Di dadanya ada tato harimau yang
buas.”
“Dia berjuluk Chi Mo houw (Si harimau hijau) Go piu,” sahut Bhok Kiam-peng kembali
“Di murid Gouw susiok”
“Siapa nama lengkap Gouw susiok itu?” tany Siau Po.
“Nama lengkap Gouw susiok ialah Gouw Lip sin,” sahut Kiam Peng, “Julukannya Yau
Tau Say (Singa menggoyangkan kepala).”
Siau Po tertawa.
“Julukannya bagus sekali,” kata Siau Po. “Apa pun yang dikatakan orang, dia pasti
selalu menggelengkan kepalanya.”
“Kui toako,” kata Bhok Kiam-peng sambil tersenyum, Dia merasa thay-kam cilik ini
jenaka sekali “Kau toh ingin menolong Lau suko, sekalian saja kau tolong Gouw susiok
dan Go Piu meloloskan diri dari tempat tahanan”
“Gouw susiok dan Go Piu itu apakah mempunyai puteri atau kenalan gadis-gadis
cantik?” tanya Siau Po.
“Aku tidak tahu,” sahut Kiam Peng. “Untuk apa kau menanyakan hal itu?”
Bagian 23
“Aku ingin menanyakan dulu tentang kenal gadis mereka yang manis-manis itu. ingin
kutegaskan, apabila aku menolong Gouw susiok dan Piu, apakah mereka juga bersedia
menjadi istriku. Coba bayangkan saja, aku akan menghadapi bahaya besar untuk
menolong orang, masa aku harus kerja bakti tanpa pamrih apa-apa?”
Selesai Siau Po berbicara, sebuah benda dengan bayangan kehitaman melayang ke
arah kepalanya, Siau Po sempat melihat dan berusaha menghindarkan diri, tapi dia
kalah cepat. Begitu dia menundukkan kepalanya, benda itu dengan telak menghajar
dahinya.
“Aduh” jerit Siau Po. Disusut dengan sebuah cawan yang jatuh di atas tanah dan
hancur dengan menerbitkan suara nyaring, sedangkan dahinya mengucurkan darah
yang terus mengalir sampai matanya dan membuat pandangannya menjadi samar.
“Pergi kau, bunuh saja Lau It-cou” Terdengar suara teriakan Pui Ie. “Nonamu juga
tidak mau memikirkannya lagi, Tidak nanti aku sudi dihina sedemikian rupa selamanya
olehmu”

Ternyata Pui Ie yang menyambit cawan arak ke kepala Siau Po. Dia kehilangan
sabarnya mendengar ocehan si bocah, hatinya panas sekali, Untung saja luka Pui Ie
belum sembuh sehingga tenaganya jauh berkurang dibandingkan biasanya, Kalau
tidak, serangannya itu pasti luar biasa dan Siau Po bisa celaka karenanya.
Mula-mula Kiam Peng juga ikut terkejut, namun akhirnya perasaannya lebih tenang
setelah tahu apa yang terjadi.
“Kui toako” katanya, “Ke sini Aku periksa lukamu, jangan sampai ada pecahan
beling yang menancap di dalam dagingmu”
“Aku tidak mau mendekatimu” teriak Siau Po. “lstriku saja sudah berusaha
membunuh suaminya sendiri”
“Siapa suruh kau mengoceh yang bukan-bukan?” kata Kiam Peng. “Kenapa kau ingin
mengganggu anak istri orang? Aku sendiri merasa panas mendengar kata-katamu tadi”
Siau Po tertawa.
“Oh, aku mengerti sekarang” katanya, “Rupanya kalian cemburu dan iri. Iya, baru
mendengar aku akan mencari perempuan lain saja, istriku yang tua dan istri yang muda
sudah lantas cemburu”
Kiam Peng menyambar lagi sebuah cawan arak.
“Kau panggil aku apa?” bentaknya dengan nada keras, “Awas kalau kuhajar sekali
lagi kau denga cangkir ini”
Siau Po mengusap darah yang mengalir di matanya. Dia dapat melihat wajah si nona
yang sedang marah. wajahnya semakin manis dan cantik, Karena itu dia malah
tersenyum, Setelah itu, dia melirik ke arah Pui Ie. Nona itu tampak menyesal Siau Po
merasa lukanya perih, tapi dia toh merasa senang.
“lstri tuaku telah menimpuk aku dengan cawan arak, karena itu, kalau istriku yang
muda tidak diijinkan menyambit juga, namanya tidak adil.” Diapun berjalan mendekati
Kiam Peng kemudian melanjutkan kembali. “Nah, istri mudaku, kau juga boleh
menyambit aku sekarang”
“Baik” seru Kiam Peng. ia segera menyiram arak di cawannya yang masih sisa
setengah ke arah Siau Po
Si bocah berusaha mengelak, tapi wajahnya basah juga tersembur air arak yang
disiramkan itu, Namun dasar bocah nakal, dia malah mengulurkan lidahnya mencicipi
arak yang manis itu.

“Sedap. Sedap” katanya berulang kali, “lstri tua menghajar aku sehingga dahiku
mengucurkan darah. sekarang istri mudaku malah menyiram arak ke wajahku, Darah
dan arak bercampur menjadi satu, aih Lama-lama aku bisa mati juga”
Mendengar kata-katanya lucu, Kiam Peng dan Pui Ie jadi tertawa juga.
“Dasar manusia tidak punya guna” maki Pui Ie sembari mengeluarkan sapu tangan
yang kemudian diangsurkan kepada Kiam Peng. “Kau bersihkan darahnya”
Kiam Peng tertawa.
“Kau yang menghajarnya sehingga terluka, mengapa aku yang harus membersihkan
darahnya?” tanyanya.
Pui Ie membekap mulut Kiam Peng.
“Kau toh istri mudanya?” katanya menggoda.
Sekali lagi Kiam Peng tertawa.
“Cis Barusan kaulah yang menerima baik syarat yang diajukannya, Bukan aku”
“Siapa bilang kau tidak menerima?” kata Pui Ie tidak mau kalah, “Bukankah dia

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s