“ PANGERAN MENJANGAN” – “ LU DING JI “ 29

khawatirkan, mau tidak mau kita harus menjaganya”
“Jadi kita pergi ke sana tanpa menyentuh makanannya sama sekali?” tanya Siau Po.
“Di sana toh ada masakan yang terkenal di Inlam dan kita harus mencicipinya”
Para hadirin saling menatap sekilas, Siau Po menjadi heran, Tidak ada seorang pun
yang membuka suara sampai sekian lama.
“Kami semua mohon petunjuk dari Wi hiocu,” kata Hian Ceng tojin akhirnya.
Siau Po tertawa. “Ada arak yang harus, ada hidang yang lezat Malam ini kita harus
mencicipinya, Untuk berjaga-jaga, sebaiknya kalian mengangkat aku sebagai ketua,
Setelah kenyang bersantap, kita bisa berjudi dan berpelesiran dengan nona-nona
manis Aku yang menanggung seluruh biayanya Tapi, kalau kalian ingin membantu aku
berhemat, mari kita semua penuhi undangan keluarga Bhok itu”
Lucu sekali cara bicara Siau Po, tapi dengan demikian ucapannya jadi tidak jelas, Dia
tidak memberikan keputusan apakah mereka harus memenuhi undangan keluarga Bhok
atau tidak.
“Hiocu,” kata Hoan Kong, “Menggembirakan sekali hiocu bersedia mengajak kami
menghadiri pesta perjamuan undangan keluarga Bhok ini memang harus kita terima
baik, Sebab kalau kita menolak, pasti akan mempengaruhi nama baik Tian-te hwe. Bisa
timbul anggapan kita ini pengecut dan nama baik perkumpulan kita akan runtuh….”
“Jadi kau setuju kita pergi?” tanya Siau Po menegaskan. Kemudian dia menoleh
kepada Hian Cen tojin, Hong Ci-tiong, si Cian dan Kho Gan-tiau, Semua rekannya itu
menganggukkan kepalanya, “Kalau semua sudah menyatakan persetujuan nya, nah…
marilah kita makan barang hidangan, ada meneguk arak yang mereka sajikan nanti”
kata Sia Po akhirnya, “lni yang dinamakan, musuh datang kita hadang, air datang kita
bendung, teh datan kita teguk Dan nasi datang, kita lahap semuanya Kalau racun yang
datang, ya terpaksa kita telan juga Kita adalah orang-orang gagah yang tidak takut
mati. Siapa takut mati, tidak pantas disebut seorang laki-laki sejati”
“Yang penting kita semua meningkatkan kewaspadaan,” kata Hian Ceng tojin
kemudian, “Kita akan tahu bagaimana kenyataannya nanti, Di antara kita, ada yang
minum teh, ada pula yang tidak, Juga tidak semuanya minum arak, Ada juga di antara
kita yang tidak makan daging maupun ikan. Dengan demikian, biarpun mereka menaruh
racun, toh tidak mungkin pada semua makanan dan minuman Kita juga tidak akan mati
semua Kalau kita datang tapi menolak makan dan minum, kita pasti jadi bahan
tertawaan….”
Dengan demikian, keputusan sudah diambil, untuk menghadiri perjamuan Bhok
Kiam-sen Siau Po melepaskan seragam thay-kamnya, Dia berdandan sebagai seorang
pemuda gagah, Untuknya, Kho Gan-tiau telah menyediakan seperangkat pakaian

lengkap dengan kopiahnya, Dia juga pergi dengan naik joli, anggota Tian-te hwe yang
lainnya hanya berjalan kaki.
Demikianlah mereka menuju lorong Si kongcu ho tong.
Di tengah jalan Siau Po berpikir. Di dalam istana, siang dan malam aku selalu
khawatir memikirkan si nenek sihir yang jahat itu. Aku takut dia akan mencari
kesempatan untuk membunuhku Tapi sekarang, keadaannya berbeda sekali, Di dalam
istana mana mungkin aku sebebas dan sesenang ini? Namun aku harus ingat pesan
Suhu, Aku berdiam di dalam istana untuk menyelidiki situasi kerajaan Ceng, Kalau aku
lancang mengundurkan diri, bukan saja aku tidak berhasil mendapatkan informasi apaapa.
Mungkin nyawaku sendiri tidak terjamin. Biar-lah, sebaiknya aku lihat dulu
perkembangannya.
Lorong Si kongcu jaraknya dua li 1ebih. setibanya rombongan, Siau Po langsung
keluar dari jolinya. Mereka segera mendengar suara tetabuhan yang riuh rendah.
“Apakah ada pesta pernikahan sehingga suasananya demikian meriah?” tanya Siau
Po dalam hati.
Di depan mereka tampak sebuah rumah besar dengan halaman yang luas, Di situ
terlihat belasan orang, dandanan mereka rapi, mereka maju untuk melakukan
penyambutan di depan pintu gerbang Yang berdiri paling depan adalah seorang
pemuda berusia kurang lebih dua puluh tahun, Tubuhn kurus tinggi, tampangnya
tampan dan gagah, Dia segera memperkenalkan diri.
“Aku yang rendah bernama Bhok Kiam-sen Dengan segala kehormatan menyambut
kedatang Wi hiocu yang terhormat beserta rombongannya”
Pergaulan Siau Po dengan para pembesar negeri sudah luas sekali. Karena itu dia
menganggap penyambutan yang dilakukan tuan rumah wajar saja, Dengan mudah dia
dapat membawa diri. Kalau perlu dia dapat menunjukkan tampang anggun. Bhok Kiamseng
ini memang pangeran muda, tapi kalau dibandingkan dengan Kong Cin ong, dia
masih kalah satu tingkat, pangeran Kong, baik raja sendiri sangat akrab dengannya.
Meskipun demikian, dengan sopan dia membalas penghormatan orang itu sambil
berkata.
“Siau ongya terlalu banyak peradatan, tak sanggup aku menerimanya”
Sementara itu, secara diam-diam Siau Po memperhatikan pangeran muda ini. Dan
dia melihat kenyataan bahwa wajahnya memang mirip deng Kiam Peng, Tidak salah
lagi mereka memang kak beradik.
Bhok Kiam-seng sudah tahu bahwa hiocu Ceng-bok tong dari Tian-te Hwe yang
berkedudukan di kota Peking usianya masih muda, dan dari Pek Han hong dia juga
mendengar kepandaian bocah ini masih rendah sekali, namun mulutnya si hiocu lihay
sekali.

Dia pandai memojokkan orang dengan kata-katanya, Tampangnya seperti orang
kasar dan kemungkinan dia diangkat sebagai hiocu hanya memandang muka gurunya
yang menjadi ketua pusat Tian-te hwe.
Sekarang, melihat ketenangan dan kewibawaan Siau Po, dia menjadi heran, Diamdiam
dia berpikir.
“Mungkin bocah ini mempunyai keistimewaan tersendiri…”
Dia segera mengundang tamu-tamunya masuk ke dalam di mana setiap kursi diberi
alas merah yang tebal.
Para tamu itu pun mengambil tempat duduk dan begitu pun tuan rumahnya. Di
sampingnya berdiri Sinjiu kisu Sou Kong. Pek Han-hong dan belasan orang lainnya,
Mereka berdiri tegak dengan tangan di luruskan kebawah.
Setelah semuanya duduk, Kedua belah saling berkenalan Sampai di situ, diam-diam
Hoan Kong berpikir dalam hati.
“Pangeran Bhok itu sikapnya tidak dibuat-buat dan tidak angkuh. Dia mengenal
sekali aturan dunia kangouw”
Para pelayan pun menyuguhkan teh, Pemainan musik memperdengarkan lagu
sebagai penyambutan atas tamu-tamunya, Kemudian barang hidangan pun disajikan
Bhok Kiam-seng memberikan isyarat dengan tangan sebagai tanda perjamuan dimulai
Dia juga mengajak para tamunya menuju meja makan
“Silahkan Wi hiocu mengambil tempat duduk.” katanya mempersilahkan. Nadanya
ramah sekali.
Siau Po menerima undangan itu dengan sikap hormat. Dia pun mengucapkan terima
kasih. Setelah dia duduk, Bhok Kiam Seng memilih tempat di sebelahnya.
“Undang suhu” kata tuan rumah setelah semua orang duduk,
Sou kong dan Pek Han-hong pergi ke dalam, tidak lama kemudian mereka keluar lagi
dengan mengiringi seorang tua. Kiam Seng segera menyambutnya sambil berkata.
“Suhu, hari ini hiocu Ceng-bok tong, Wi hiocu dari Tian-te hwe telah sudi berkunjung
ke tempat kita, Dengan demikian beliau telah memberikan muka terang kepada kami”
kemudian dia berpaling kepada Siau Po dan berkata kembali “Wi hiocu inilah Liu suhu,
guru aku yang rendah”
Siau Po segera memberi hormat seraya memuji orang itu yang menurutnya sudah
lama dia mendengar nama besarnya.

Orang tua itu bertubuh tinggi besar, wajahnya kemerah-merahan, kumis dan
janggutnya sudah memutih. sedangkan kepalanya botak, Usianya kira-kira tujuh puluh
tahun namun tampaknya masih sehat dan sepasang matanya menyorotkan sinar yang
tajam
Justru dia sedang menatap tamunya yang masih muda lekat-lekat Kemudian sambil
tertawa dia berkata.
“Belakangan ini nama Tian-te hwe semakin terkenal saja”
Suara si orang tua juga lebih keras dari orang kebanyakan Setelah itu dia
menambahkan “Usia Wi hiocu masih muda sekali, Benar-benar orang yang sulit
ditemukan keduanya dalam dunia persilatan”.
Siau Po tertawa dan menyahut. “Aku bukan orang pandai, justru tolol sekali, Barubaru
ini tanganku telah tercekal oleh Pek suhu sehingga tidak dapat berkutik Hampir
saja aku berkaok-kaok kesakitan ilmu silatku benar-benar rendah sekali”
Selesai berkata, si hiocu muda malah tertawa terbahak-bahak Dia tidak merasa malu
atau jengah sedikit pun sehingga semua orang menatapnya dengan heran, Malah Pek
Han-hong sendiri yang merasa malu.
Si orang tua sebaliknya ikut tertawa lebar.
“Wi hiocu orangnya benar-benar polos” katanya memuji.”Hm, demikianlah sikap
seorang Iaki-laki sejati, Hiocu, lohu kagum tiga bagian terhadapmu.”
Kembali Siau Po tertawa.
“Kagum tiga bagian, itu sudah terlalu banyak, Syukur aku yang rendah tidak
dipandang sebagai pengemis cilik yang tidak punya kebisaan apa-apa.”
Mendengar kata-katanya, orang tua itu tertawa lagi.
“Oh, hiocu sungguh pandai bergurau” katanya.
Sampai di situ, Hian Ceng tojin turut bicara,
“Locianpwe, apakah locianpwe ini Tiat Pwe-cong liong Si naga berpunggung besi Liu
loeng-hiong yang namanya sudah sangat terkenal di dalam dunia kangouw, khususnya
wilayah selatan?”
“Tidak salah” sahut si orang tua. bibirnya menyunggingkan senyuman, “Syukur Hian
Ceng tojin masih mengingat nama hina aku si orang tua.”
Di dalam hatinya Hian Ceng tojin terkejut sekali.

“Belum lagi aku memperkenalkan diri, dia sudah tahu siapa aku. Dari sini dapat
dibuktikan bahwa persiapan Bhok Kiam-seng ini sempurna sekali. Dengan hadirnya
orang tua ini, pangeran muda ini tidak perlu menggunakan racun. Dengan
mengandalkan ilmu silatnya saja, mungkin kami bukan tandingannya”
Meskipun dia berpikir demikian, tapi imam itu tetap menjura dan berkata.
“Liu loenghiong, ketika tempo dulu Liu Loenghiong menghajar tiga penjahat di sungai
Nou kang serta melabrak tentara Boan, nama besar loenghiong langsung
menggetarkan dunia kangouw, setiap orang muda dari dunia persilatan memuji tinggi
dan sangat menghormati Liu Loenghiong”
“ltu kan urusan lama, untuk apa diungkit kembali?” kata Lio Loenghiong sambil
tertawa, tapi nada suaranya menandakan dia senang mendengar pujian itu.
Jago tua itu bernama Liu Tay-hong. Namanya sudah terkenal sekali, Dan dulunya dia
sangat dihargai oleh keluarga Bhok, yakni semasa Bhok Tian-po masih hidup, Ketika
pasukan Boanciu menggempur wilayah Inlam, dialah yang berjasa menyelamatkan
keluarga Bhok. sedangkan Bhok Kiam-seng diangkatnya sebagai murid. Karena itu, di
dalam keluarga tersebut, kecuali, sang pangeran, dialah orang yang paling dihormati
“Suhu,” kata Bhok Kiam-seng. “Tolong Suhu temani Wi hiocu”
“Baik” sahut Tay Hong yang terus duduk di sisi Wi Siau-po, hiocu dari Ceng-bok tong
itu.
Meja itu berbentuk astakona atau segi delapan, ada juga yang menyebutnya Patkua,
Di kursi pertama duduk Siau Po dan Liu Tay-hong. Di sisinya duduk Sou Kong dan
Hong Ci-tiong, sedangkan di sebelah kanan, duduk Bhok Kiam-seng, Di situ masih ada
sebuah kursi yang kosong.
Sejak semula pihak Tian-te hwe sudah melihat kursi yang kosong itu, Mereka pun
menerka-nerka dalam hati.
“Entah tokoh lihay mana lagi yang diundang oleh pihak keluarga Bhok ini?” Sebab di
meja itu seharusnya ditempati orang-orang yang terhormat.
Mereka tidak perlu menanti terlalu lama, karena segera terdengar suara tuan rumah
yang memerintahkan.
“Harap bimbing Ci suhu keluar untuk duduk bersama-sama di sini” demikianlah kata
si tuan rumah, “Biar para tetamu kita menemuinya dan semoga hati mereka menjadi
tenang karenanya”
“Ya” sahut Sou Kong yang terus pergi ke dalam. Sejenak kemudian dia muncul
kembali sambil membimbing seseorang yang disebut sebagai Ci suhu itu.

Melihat orang yang dibawa keluar oleh Sou Kong, Hoan Kong dan yang lainnya
menjadi terkejut dan girang bukan main.
“Ci toako” tanpa dapat menahan diri mereka semuanya berseru.
“Orang she Ci itu tubuhnya bungkuk, bukan lain dari Patjiu Wan kau Ci Tian-coan
yang belum lama ini diculik orang, wajahnya kuning dan pucat, menandakan
kesehatannya belum pulih sekali. Yan penting dia sudah bebas dari ancaman maut.
Semua orang Tian-te hwe langsung mengerumuninya untuk memberi hormat dan
menanyakan keadaannya.
“Ci suhu, mari duduk sini” ajak Kiam Seng sambil menunjuk kursi yang masih
kosong tadi,
Ci Tian-coan menghampiri Wi Siau-po dan menjura dalam-dalam kepadanya,
“Apakah Wi hiocu baik-baik saja?”
Siau Po membalas hormat.
“Ci samko, semoga kau juga baik-baik saja” katanya, “Bagaimana dengan usaha
obat koyomu? Apakah banyak kemajuan?”
Ci Tian-coan menarik nafas panjang.
“Aku tidak berdagang lagi,” sahutnya gundah, “Sebawahanmu ini telah diculik oleh
begundalnya Go Sam-kui. Hampir saja nyawa ini melayang. untung ada Bhok Siau
ongya dan Liu Loenghiong yang datang memberikan pertolonganku.
Mendengar keterangannya, orang-orang Tian-te hwe langsung tertegun,
“Oh, Ci samko, rupanya hari itu kau diserbu orangnya pengkhianat bangsa Go Samkui
itu…” seru Hoan Kong.
“Benar Rombongan pengkhianat itu menyerbu toko obatku dan menawan aku,” kata
Tian Coan memberikan keterangan lebih jauh, “Yo It-hong si anjing buduk itu mencaci
maki aku dengan serabutan dan mulutku juga ditempel dengan koyo, katanya biar aku
si kunyuk tua mati kelaparan”
Mendengar disebutnya nama Yo It-kong, Hoan Kong dan yang lainnya tidak sangsi
lagi bahwa perbuatan itu dilakukan oleh begundalnya Go Sam-kui. Mereka langsung
menghadap Sou Kong dan Pek Han-hong untuk menyatakan maaf.
“Kami mohon maaf atas kelancangan kami yang sembarang menuduh kemarin ini
Kenyataannya kalian demikian baik hati. Kami pihak Tian-te hwe sangat bersyukur
karenanya”

Tidak apa-apa,” sahut Sou Kong, “Kami tidak berani menerima pernyataan maaf
kalian, Kami hanya bekerja atas perintah Siau ongya dan kami tidak berani menyebut
diri kami telah berjasa dalam hal ini.”
Suara Han Hong terdengar tawar, Hal ini membuktikan dia sendiri tidak puas
menolong Ci Tian-coan, Rupanya dia masih ingat kematian saudaranya, Pek Hansiong.
“Siau ongya cerdas sekali,” pikir Siau Po dalam hatinya, Dia sudah mengerti
duduknya persoalan Ci Tian-coan yang menyebabkan kesalahpahaman dengan pihak
Bhok ongya, “Aku telah menahan adik perempuannya, sekarang dia menolong Ci
samko. Apakah dia mempunyai maksud tertentu agar aku melepaskan adiknya?
sementara ini, biarlah aku pura-pura tidak tahu, biar aku lihat dulu perkembangannya..”
Karena itu, dia hanya berdiam diri, Ketika itu para pelayan, mulai menyuguhkan arak
dan hidangan, Kiam Seng mempersilahkan para tamu untuk mulai bersantap. Pihak
Tian-te hwe menerima baik serta mengucapkan terima kasih.
Mereka langsung minum dan bersantap tanpa ragu-ragu lagi, Apalagi di sana ada
Tian Coan dan Liu Tay-hong, tidak mungkin mereka berniat buruk.
Setelah minum tiga cawan, Liu Tay-hong mengelus kumis dan janggutnya, Kemudian
terdengar dia bertanya.
“Para laote sekalian, siapakah yang menjadi pemimpin kalian di kotaraja ini?”
“Di kotaraja ini,” sahut Hoan Kong. “Orang kami yang paling tinggi kedudukannya
ialah Wi hiocu”
“Bagus” kata Liu Tay-hong. Dia meneguk araknya kembali “Sekarang aku ingin tahu,
apakah Wi hiocu dapat bertanggung jawab dalam urusan perselisihan yang terjadi
antara pihak Tian-te hwe dengan kami?”
Siau Po belum paham apa maksud pihak Bhok ong-ya, karena itu dia segera
mendahului menjawab.
“Lopek, kalau kau hendak membicarakan sesuatu, utarakanlah langsung Aku, Wi
Siau-po, bahkan masih kecil, kalau urusan kecil aku bisa bertanggung jawab, tapi kalau
urusan besar, aku tidak sanggup memikulnya”
Mendengar kata-kata Siau Po, kedua pihak sama-sama terkejut Mereka
mengerutkan alisnya sambil berpikir.
“Cara omong bocah ini benar-benar serampangan Sudah tentu dia ingin
mengingkari kebaikan orang, ucapannya tidak seperti orang gagah”
Terdengar Liu Tay-hong berkata lagi.

“Kalau kau tidak bisa bertanggung jawab, urusan ini tidak dapat diselesaikan Oleh
karena itu, laote, harap kau sampaikan kata-kataku kepada gurumu, Tan congtocu,
Supaya gurumu itu yang datang sendiri untuk membereskannya”
“Untuk urusan apakah Lopek ingin bicara dengan guruku?” tanya Siau Po. “Tapi,
baiklah, Lopek tulis saja sepucuk surat, nanti kami menyuruh orang
menyampaikannya.”
Orang tua she Liu itu tertawa datar.
“Kau ingin tahu apa urusannya?” tanyanya menegaskan, “Urusan kematian saudara
Pek Han-siong di tangan Ci samya Bagaimana urusan ini harus diselesaikan? Dalam
hal ini, kami ingin meminta pendapat Tan congtocu, itulah maksud kami
mengundangnya”
Mendengar sampai disini, Ci Tian Coan langsung berdiri.
“Bhok siau ongya dan Liu Loenghiong,” katanya dengan suara gagah. “Kalian telah
menolong aku dari tangannya si pengkhianat bangsa. Dengan demikian aku terbebas
dari siksaan, Bagiku, hal ini membuat aku bersyukur dan berterima kasih sebanyakbanyaknya,
Mengenai urusannya Pek taihiap, dia terbinasa di tanganku, Dalam hal ini,
aku bersedia mengganti satu jiwa dengan satu jiwa pula. Aku bersedia menyerahkan
jiwa tuaku ini, karena itu, aku minta Siau ongya dan Liu loenghiong jangan menyulitkan
Wi hiocu dan Tan cong-tocu kami. Saudara Hoan, pinjamkanlah golokmu padaku” dia
mengulurkan tangannya untuk menyambut golok Hong Kong.
Rupanya Ci Tian-coan ingin membunuh diri untuk menyelesaikan urusan ini.
“Tahan” cegah Wi Siau-po. “Ci samko, sabarlah Kau duduklah dulu jangan samko
emosi, Kau toh sudah berusia lanjut, mengapa pikiranmu begitu pendek? Aku menjadi
hiocu Ceng-bok tong dari perkumpulan Tian-te hwe, bukan? Kalau kau tidak mendengar
kata-kataku, berarti kau melanggar perintah dan kau tidak menghormati aku sebagai
ketuamu”
Orang-orang Tian-te hwe paling takut mendengar kata “tidak mendengar perintah”
Tidak terkecuali Ci Tian-coan yang sudah berusia lanjut itu, Bergegas dia menjura
kepada Siau Po dan berkata,
“Ci Tian-coan sadar atas dosanya, sekarang Tian Coan akan mendengar perintah
hiocu”
Siau Po merasa puas. Terdengar dia berkata.
“Pek tayhiap sudah menutup mata, seandainya Ci samko mengganti dengan
selembar jiwanya, Pek tayhiap tetap tidak akan hidup kembali. Karena itu, kalau kita
bicara soal ganti mengganti urusan ini tetap saja tidak dapat diselesaikan”

Pandangan semua orang segera beralih kepada Siau Po. Kata-katanya sungguh luar
biasa, Mereka ingin tahu apa lagi yang akan dikatakannya,
“Mungkinkah nanti dia mengoceh tidak karuan?” Tentu saja pihak Tian-te hwe yang
paling mengkhawatirkan hal ini, Malah ada seseorang yang berkata dengan suara lirih:
“Nama Tian-te he dalam dunia kangouw sudah terkenal sekali. Tidak sepantasnya
hancur di tangan hiocu cilik yang belum tahu apa-apa ini. Kalau dia mengoceh
sembarangan, kelak di kemudian hari, kita tentu tidak mempunyai muka lagi untuk
bertemu dengan orang lain”
Siau Po seakan tidak memperdulikan sikap para hadirin ataupun rekan-rekannya
yang menatap kepadanya dengan pandangan cemas, Dia melanjutkan kata-katanya,
kali ini kepada Bhok Kiam Seng.
“Siau ongya,” demikian katanya, “Kali ini Sia ongya datang ke kotaraja dari Inlam
yang jauh berapa orangkah yang Siau ong-ya bawa? Apakah semuanya sudah hadir di
sini? Bukankah masih ada kurang beberapa orang?”
Kiam Seng merasa heran mendengar kata-ka si bocah.
“Hm” Dia mendengus dingin, “Wi hiocu, apa maksud kata-katamu barusan?”
“Tidak banyak artinya, Siau ong-ya,” sahut bocah cilik seenaknya. “Jiwa Siau ongya
san berharga, lain dengan jiwaku, Wi Siau-po yang tidak ada artinya ini, Karena jiwa
Siau ongya sangat berharga, berbahaya sekali kalau Siau ongya mebawa orang yang
terlalu sedikit untuk melindungimu. Bagaimana kalau kurang waspada, Siau ongya
ditawan oleh penjahat bangsa Tatcu? Bukankah hal ini akan menjadi kerugian besar
dan sama sekali tidak boleh terjadi?”
Bagian 22
Bhok Kiam-Seng menatap bocah di depannya dengan pandangan tajam, Alisnya
menjungkit ke atas,
“Kawanan anjing bangsa Tatcu hendak menawan aku?” tanyanya dengan nada sinis.
Tidak semudah apa yang kau katakan, Wi hiocu”
Siau Po tertawa.
“Memang ilmu silat Siau ongya tinggi sekali,” katanya, “Di seluruh negeri ini, mungkin
sulit lagi dicari tandingannya, jarang sekali ada orang yang sanggup melawan Siau
ongya. Mungkin bangsa Tatcu tidak sanggup menawan Siau ongya, tapi bagaimana
dengan orang lainnya? Anggota lain dari Bhok onghu maupun sahabat-sahabat Siau
ongya belum tentu selihay Siau ongya sendiri Nah, bagaimana kalau di antara mereka

ada yang terjatuh ke tangan bangsa Tatcu? Bukankah kejadian itu akan membawa
kesusahan dalam hati Siau ong-ya?”
Wajah si pangeran muda itu langsung berubah hebat. Dia pasti tidak merasa puas.
“Wi hiocu” bentaknya dengan suara keras “Apakah hiocu sedang menyindiri aku?”
“Tidak, Siau ongya, Sekali-sekali tidak” sahu Siau Po tenang, “Bukan begitu
maksudku, seumurku ini, aku sudah sering dihina orang, tetap aku sendiri tidak pernah
menghina siapa pun Orang telah mencekal lenganku Nah, lihatlah sendiri buktinya,
Ketika itu aku benar-benar kesakitan sehingga seperti mengalami kematian lalu hidup
kembali, itulah akibat perbuatan Pek jihiap yang tenaga dalamnya tidak ada
tandingannya. Lebih-lebih dua jurus Heng-sau Ciang kun da Kao-san Liu Sui yang
hebat luar biasa Kala kedua jurus ini dipakai untuk menolong sahabat kalian, tentu
sangat tepat dan akan berhasil dengan baik. Apalagi kalau dipakai untuk menyambar
sesuatu, misalnya kambing atau kerbau, tentu lebih berhasil lagi”
Wajah Pek Han-hong menjadi merah padam. Dia merasa malu sekaligus
mendongkol. Hamp saja dia mengumbar hawa amarahnya, tetapi untunglah dia masih
bisa mengendalikan diri.
Bhok Kiam-seng segera menolehkan kepalanya dan melirik sekilas kepada Liu Tayhong.
Dia merasa ucapan hiocu dari Tian-te hwe ini mengandung makna yang dalam.
“Saudara kecil,” Liu Tay-hong segera berkata “perkataanmu itu mempunyai maksud
yang dalam sekali sehingga sukar bagi kami untuk menjajaki-nya. Saudara kecil,
maafkan kami yang masih kurang mengerti”
Sebaliknya, Wi Siau-po tetap tertawa, “Liu loyacu terlalu sungkan” sahutnya, “Tidak
sanggup aku menerima penghargaan yang terlalu tinggi, sebetulnya ucapanku dangkal
sekali dan tidak berarti apa-apa”
“Saudara kecil,” kata Liu Tay-ong kembali “Kalau tidak salah, kau bermaksud
mengatakan bahwa ada orang kami yang telah ditawan oleh bangsa Tatcu, bukankah
begitu? Atau, kau mempunyai maksud yang lain?”
“Tidak ada maksud lainnya sama sekali,” sahut Siau Po. “Bhok siau ongya, Liu
loenghiong, anggap saja aku sudah minum arak terlalu banyak sehingga mabuk dan
ucapanku jadi ngelantur yang bukan-bukan”
“Hm” terdengar lagi Bhok Kiam-seng mendengus dingin, “Wi hiocu, kedatanganmu
kemari ternyata hanya untuk bergurau dan menyakiti orang? Atau kau sedang mencari
hiburan?”
“Oh, Siau ongya,” sahut Siau Po. “Rupanya Siau ongya hendak mencari hiburan?
Apakah di kotaraja ini Siau ongya belum pernah berpelesiran kemana-mana?”

Kiam Seng semakin heran.
“Bagaimana? Apa yang kau maksudkan?” tanya-nya.
“Kotaraja ini luas sekali,” kata Siau Po. “Di kota Kun Beng di propinsi Inlam kalian
tidak seluas kotaraja ini, bukan?”
Hati pangeran muda ini semakin panas.
“Memangnya kenapa?” tanyanya dengan nada jengkel.
Hoan Kong juga bingung mendengar kata-kata ketuanya yang tidak karuan, Karena
itu dia membuka suara.
“Memang kota Peking ini merupakan kota yang besar dan indah sekali, sayangnya
telah diduduki oleh bangsa Tatcu Kita adalah orang-orang yang berdarah panas, tidak
ada seorang pun di antara kita yang tidak menjadi marah karenanya”
Siau Po telah mengundang kami menghadiri perjamuan ini, kebaikan ini tidak dapat
kami m ba1asnya. Karena itu, kami ingin melakukan suatu, Kapankah kiranya Siau
ongya mempunyai waktu luang? Aku ingin mengajakmu berpesiar. Kalau ada orang
yang kenal baik wilayah ini, tentu Siau ongya tidak akan kesasar, sebaliknya kalau Siau
ongya pergi sendiri berjalan-jalan, lalu tak sengaja salah masuk ke dalam istana raja, oh
walaupun Siau ongya berkepandaian tinggi, urusannya bisa gawat sekali….”
“Saudara kecil, di dalam kata-katamu tersembunyi maksud lainnya” tukas Liu Tay-h
“Saudara kecil, kita adalah orang-orang sendiri. Ada apa-apa, silahkan kau katakan
terus-terang saja”
Orang tua yang lihay ini menerka ada sesuatu yang penting, karena itu dia bersikap
sabar.
Tidak ada yang lebih jelas lagi dari kata-kataku ini” sahut Siau Po. “Para sahabat
dari Bhok Siau ongya sangat lihay kepandaiannya, terlebih-lebih kedua jurus Heng-Sau
Ciang Kun dan Kao-San Liu Sui, Tidak ada yang sanggup menandinginya, Tapi, di
kotaraja, kalau orang pergi berpesiar tapi tidak tahu jalan, mungkin dia bisa keliru
masuk Ci-kim Sia, kota terlarang itu”
Liu Tay-hong dan Bhok Kiam-seng saling menatap sekilas. Mereka mengganggap
tamunya ini agak aneh.
“Lalu bagaimana baiknya?” tanya Tay Hong.
“Menurut apa yang kudengar,” sahut Siau Po. “Kota terlarang mempunyai banyak
pintu, Satu per satu seperti jumlah pendopo-pendopo di dalamnya. Siapa yang jalan di
dalam Kota Terlarang, apabila tanpa Raja atau permaisuri yang menunjukkan jalan,
mudah sekali orang tersesat Bahkan ada kemungkinan kesasar dan tidak bisa keluar

lagi untuk seumur hidup Aku adalah seorang bocah yang tidak berpengalaman karena
itu aku juga tidak tahu, ada atau tidak kemungkinan Raja ataupun permaisuri menjadi
penunjuk jalan di malam gelap gulita…. Bisa jadi, dengan nama besar Bhok siauong-ya,
si raja cilik atau si nenek sihir menjadi ketakutan dan bersedia menjadi petunjuk jalan,
Ha ini sukar dikatakan”
Siau Po sudah biasa memaki ibu suri sebagai nenek sihir atau perempuan jalang,
tapi baru kali ini dia mengatakannya di depan umum, Hal ini justru membuat hatinya
menjadi senang,
Sedangkan para hadirin yang lain justru merasa heran mendengar Siau Po menyebut
ibu suri s bagai si nenek sihir. Baru kali ini mereka mendengar ada orang yang
menyebut kata-kata itu terhadap ibu suri. Tanpa dapat mempertahank diri lagi, Hoan
Kong dan anggota Tian-te hwe lainnya jadi tertawa geli.
Terdengar Liu Tay-hong berkata, “Orang-orang sebawahannya Siau ongya bia
bekerja dengan teliti, Tidak mungkin mereka nyasar masuk ke dalam kota Terlarang,
Menurut kabar yang kami dapatkan, Go Sam-kui mengutus puttranya datang ke
kotaraja, bisa jadi ia memerintah orang-orangnya membuat kekacauan, Kemungkinan
seperti ini ada saja bukan?”
Siau Po menganggukkan kepalanya.
“Apa yang Liu loyacu katakan memang tidak salah, Aku mempunyai seorang teman
berjudi yang menjadi pengawal dalam istana, Dia mengatakan tadi malam terjadi
penyerbuan di istana oleh sekelompok penjahat.” Dia menghentikan kata-kata-nya
sejenak,
“kemudian mereka mengenali orang-orang itu sebagai bawahan Bhok siau ongya…”
Bhok Kiam-seng mengeluarkan seruan tertahan. Terang dia terkejut sekali.
“Apa?” tangan kanannya bergetar, sehingga cawan araknya terlepas dan jatuh pecah
di atas lantai.
“Tadinya aku juga tidak percaya, tapi aku berpikir lagi, Keluarga Bhok terdiri dari para
patriot pecinta bangsa, Mereka memgirim orang untuk membunuh raja Tatcu, hal itu
perlu dikagumi sekarang mendengar ucapan Liu loyacu, ternyata mereka adalah orangorang
kiriman Go Sam-kui, kalau begitu, orang-orang itu tidak boleh diampuni. Nanti
aku harus mengatakan kepada temanku itu, agar para penyerbu itu diberi hukuman
berat, Coba bayangkan saja, orang-orang Go Sam-kui pasti bukan terdiri dari manusia
baik-baik Karena itu, mereka harus disiksa biar kapok”
“Saudara kecil,” tanya Liu Tay-hong, “Siapakah nama sahabatmu itu? Apa
pangkatnya dalam istana?”
Siau Po menggelengkan kepalanya.

“Dia hanya seorang siwi yang pangkatnya rendah sekali, malah dia merupakan orang
baru dan belum diberikan kepercayaan penuh, Tugasnya kebanyakan melayani para
siwi yang sudah senior, Dia tidak mempunyai she atau pun nama, Kami biasa
memanggilnya Lay Li-tau siau Samcu atau si Kepala Kurapan Menurutnya, para
tawanan itu dibelenggu Tadinya aku berpikir untuk menyuruh Siau Samcu memberi
makan kepada mereka, tapi sekarang Liu loenghiong mengatakan bahwa mereka
adalah kaki tangan bangsa pengkhianat, Nanti aku minta sahabatku itu membacok kaki
mereka agar tidak dapat melarikan diri”
“Aku cuma menerka,” kata Liu Tay-hong cepat, “Tidak berani aku memastikannya,
Karena mereka itu berani menyerbu istana, boleh dibilang mereka juga terdiri dari
orang-orang yang bernyali besar Karena itu, Wi hiocu, ada baiknya kau minta
sahabatmu itu memperlakukan mereka secara baik-baik saja.”
“Sahabatku itu baik sekali kepadaku,” kata Siau Po. “Sering dia mengajak aku
bermain judi, Kalau kehabisan uang, aku suka meminjamkan barang delapan atau
sepuluh tail Dan aku tidak pernah memintanya kembali Karena itu, apa pun
permintaanku dia tidak pernah menolaknya”
“Baguslah kalau begitu,” sahut Liu Tay-hong. “Sebenarnya berapa jumlah orang yang
ditawan dan siapa saja nama mereka itu? Mereka bernyali besar sehingga kami merasa
kagum. Bagaimana perlakuan yang mereka terima sekarang ini? Baik atau buruk? Wi
hiocu, kami bersyukur sekali andaikata kau dapat menolong kami mencari keterangan
tersebut.
Siau Po menepuk dadanya.
“Gampang Tidak ada urusan yang lebih gampang lagi daripada itu” kata Siau Po
mengagulkan diri, “Sayang mereka bukan orang-orangnya Siau ongya, Kalau tidak, aku
pasti mencari jalan membebaskan mereka, Dengan demikian kita bisa menukar satu
jiwa dengan satu jiwa pula, Dan urusan Ci samko pun bisa diselesaikan.”
Liu Tay-hong menoleh kepada Bhok Kiam-seng, sembari menatap, dia
menganggukkan kepalanya sedikit.
“lya, Kami tidak tahu siapa para penyerbu itu,” kata si pangeran muda. Tetapi karena
mereka berusaha membunuh raja bangsa Tatcu, pasti mereka juga terdiri dari orangorang
gagah pecinta negara, Mereka bisa dihitung sebagai rekan kami yang ingin
menjatuhkan kerajaan Ceng dan membangun kembali kerajaan Beng, Karena itu, Wi
hiocu, kalau bisa mencari jalan untuk membebaskan mereka, tidak perduli berhasil atau
tidak, Untuk selamanya Bhok Kiam-seng merasa bersyukur dan urusan Ci samya tidak
akan diperpanjang Iagi…”
Siau Po menoleh ke arah Pek Han-hong, namun mulutnya menjawab ucapan sang
pangeran.

“Kalau tidak mendengar Siau ongya mengatakannya sendiri, kemungkinan Pek jihiap
tidak mau mengerti,” katanya, “Apabila lain kali Pek jihiap mencekal tanganku kembali
dan meremasnya keras-keras, aku bisa menangis berkaok-kaok saking sakitnya, Hebat
sekali penderitaan itu, mungkin aku tidak sanggup menahannya…”
Mendengar ucapan tamunya itii, Pek Han-hong berdiri dari tempat duduknya dan
berkata denga nada serius:
“Andaikata Wi hiocu dapat menolong orang kami, eh, menolong orang-orang gagah
yang tertawan bangsa Tatcu itu, aku si orang she Pek tanganku yang telah bersalah ini,
bersedia dikutungkan sebagai pernyataan maafku”
“Tidak perlu, tidak perlur kata Siau Po. “Meskipun kau mengutungkan sebelah
tanganmu untukku, tapi apa gunanya bagiku? Lagipula, apakah sahabatku itu bisa
menolong mereka atau tidak sekarang masih sulit dipastikan Kawanan penyerbu itu
ingin membunuh raja. Dosa mereka tidak palang tanggung beratnya, sedangkan
mereka kemungkinan dibelenggu dengan beberapa rantai yang tebal dan dijaga ketat
oleh banyak pengawal Kalau aku tadi bicara soal menolong orang, sebetulnya aku
hanya membual saja untuk membanggak diriku sendiri…”
“Menolong orang yang tertawan di dalam istana memang merupakan hal yang sulit
sekali,”
Bhok Kiam-seng. “Kami juga tidak berani yakin akan hasilnya, Meskipun dengan
sungguh-sungguh. Dengan kata lain, berhasil atau tidak, kami tetap berterima kasih
kepadamu.” Dia menghentikan kata-katanya sejenak, seakan ada sesuatu yang dipertimbangkannya,
Kemudian baru dia melanjutkan kata-katanya kembali: “Ada satu
persoalan lagi, Aku mempunyai seorang adik perempuan yang ikut datang ke kotaraja,
tetapi beberapa hari yang lalu tiba-tiba saja dia menghilang, Kami tahu pergaulan Wi
hiocu dan anggota Tian-te hwe yang lainnya sangat luas di kotaraja ini. Kami harap
saudara sekalian bersedia menolong kami mencari keterangan tentang adikku itu.”
“Oh, urusan itu mudah sekali, Kami akan membantu sekuat tenaga, Baiklah,
sekarang kami sudah cukup makan dan minum. sekarang juga aku akan menemui
sahabatku Siau Samcu untuk merundingkan hal ini, Neneknya Paling tidak aku harus
mengajaknya berjudi dan membuatnya kalah habis-habisan” selesai berkata, Siau Po
segera bangkit untuk memohon diri, “Terima kasih sekali lagi atas perjamuan ini.
sekarang aku ingin mengajak Ci samko pulang bersama kami, bolehkah?”
Bhok Kiam-seng tidak melarang, Dia sendiri mengantarkan Siau Po dan rombongan
anggota Tian-te hwe sampai depan pintu gerbang.
“Wi hiocu, jangan sungkan-sungkan, Terima kasih atas kedatangan Wi hiocu dan
para saudara Tian-te hwe yang lainnya,” katanya,
Mereka kembali ke tempat semula, Hoan Kong yang tidak sabaran langsung
bertanya.

“Hiocu, apakah benar tadi malam istana di datangi penyerbu? Kalau dilihat dari
gerak-gerik Bhok siau ongya tadi, kemungkinan para penyerbu memang orang-orang
mereka”
“Memang benar ada kawanan pemberontak yang menyerbu istana tadi malam, tapi
urusan dirahasiakan. Tidak boleh ada yang menyiarkan karena itu tidak ada orang yang
tahu kecuali orang yang bersangkutan dan petugas dalam istana, Kalau menilik dari
sikap mereka tadi, sudah terang kawanan penyerbu itu memang orang-orang Bhok
onghu”
“Mereka berani menyerbu istana untuk membunuh Raja, nyali mereka memang
besar sekali.” kata Hian Ceng tojin ikut memberikan pendapatnya. “Mereka harus
dihormati dan dikagumi Hi apakah mereka bisa ditolong? Bukankah sebenarnya urusan
ini sukar sekali dilaksanakan?”
Sebenarnya ketika perjamuan sedang berlangsung di tempat Bhok Kiam-seng, Siau
Po su menyadari bahwa tentunya sulit menolong penyerbu itu. Akan tetapi dia ingat
bahwa di dalam kamarnya tersembunyi dua orang nona keluarga Bhok, Nona Bhok
sebetulnya adalah tawanan orang Tian-te hwe yang diselundupkan ke dalam istana
mana mereka anggap sebagai tempat penyekapan yang aman.
Tidak demikian halnya dengan Pui Ie. Dia termasuk salah seorang penyerbu dan
tidak begitu sulit meloloskannya dari istana, itulah sebabnya dia tertawa mendengar
pertanyaan Hian Ceng tojin.
“MenoIong orang banyak tentu saja sulit, tapi kalau seorang saja bisa lolos, itu kan
sudah cukup? Bukankah Ci samko hanya membunuh seorang Pek Han-Siong? Tidak
ada salahnya kalau kita juga cuma membebaskan satu orang saja. Bukankah satu jiwa
ditukar dengan satu jiwa? Dengan demikian, kita sama-sama tidak rugi,
Sebaliknya, modal kita beranak, Bahkan kita juga bisa mengembalikan si nona yang
dibawa Cian laopan sekalian Apa yang akan mereka katakan setelah mendapatkan
Siau Kuncu kembali? Nah, Cian laopan, besok pagi kau boleh mengantar seekor babi,
tidak. dua ekor babi ke dalam kamarku, Di dapur nanti aku akan marah-marah padamu
dengan mengatakan babi yang kau bawa itu jelek sekali dan kau terpaksa
membawanya pulang lagi”
Cian Laopan tertawa sambil tertepuk tangan.
“Bagus Akal Wi hiocu memang selalu jitu. Babi mati untuk memasukkan si nona cilik
sudah ada. Tinggal cari lagi seekor babi yang ukurannya super”
Wi Siau-po menghibur Ci Tian-coan beberapa patah kata.
“Ci samko, jangan banyak pikiran Semuanya pasti beres, Mengenai Yo It-hong yang
telah menyusahkan Ci samko, aku akan meminta Go En him mematahkan kakinya biar
Ci samko senang”

“lya, iya. Terima kasih atas perhatian Wi hiocu” sahut Ci Tian-coan, tapi dalam
hatinya dia berkat “Bocah ini pembual juga Go Eng-him adalah putera Peng Si-ong,
mana mungkin dia mendengarkan kata-katamu?”
Wi Siau-po berjanji akan menyelesaikan masalah terbunuhnya Pek Han siong tanpa
sengaja tangannya, Meskipun hatinya merasa berterima kasih, tapi Ci Tian-goan tidak
percaya sepenuhnya bahwa bocah cilik tersebut mempunyai kepandai demikian lihay.
Baru saja Siau Po sampai di dalam istana, dua orang thay-kam segera
menyambutnya.
“Kui kongkong, cepat Sri Baginda mencarimu.” kata mereka.
“Apakah ada urusan yang penting?” tanya Si Po.
“Entahlah Tapi Sri Baginda telah memanggil mu beberapa kali, Kemungkinan
memang ada urusan yang penting. sekarang Sri Baginda ada di kamar tulisnya,” sahut
salah seorang thay-kam itu.
Siau Po mengiakan. Dia langsung pergi ke pong, Di dalam kamar tulisnya, tampak
Sri Baginda sedang berjalan mondar-mandir dengan kepala tundukkannya, Begitu
melihat Siau Po, dia sangat senang, Dia langsung menegur dengan cepat.
“Aih, celaka Kau pergi kemana saja?”
Siau Po merasa kaisar Kong Hi berbicara dengan gayanya sendiri seperti biasa bila
berduaan dengannya, Hatinya menjadi lega.
“Sri Baginda, hamba baru saja kembali dari luar, Hamba memikirkan urusan
penyerbuan tadi malam, Kawanan penyerbu itu benar-benar bernyali besar, Kalau tidak
ditumpas, mereka bisa menjadi ancaman bahaya Terutama kita harus mencari biang
keladinya Karena itulah hamba mengganti pakaian seperti orang biasa lalu keluar
mengadakan penyelidikan Hamba putar-putar dalam kota, setiap gang dan jalan besar
hamba masuki Hamba ingin tahu siapa pemimpin para pemberontak itu dan apakah
mereka masih ada di kota raja….”
“Bagus” puji kaisar Kong Hi. Dia merasa puas sekali, “Lalu, bagaimana hasilnya?”

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s