“ PANGERAN MENJANGAN” – “ LU DING JI “ 28

jadi agak lega. Tapi dia tidak mau memanggil kongkong yang baik, dia
hanya berkata.

“Kau selalu bicara tidak karuan sebaiknya kau katakan terus terang saja Katakanlah
yang sebenarnya”
Siau Po tidak menjawab kata-katanya. Dia malah ngelantur,
“Hm Kalau Lau It-cou itu jatuh ke tanganku, mula-mula aku akan meringkusnya
kemudian aku hajar habis-habisan, Aku akan menanyakan kepada-nya, dengan rayuan
manis apa dia dapat menipu serta mencuri jantung hatiku Setelah itu aku akan
mengangkat golokku tinggi-tinggi dan aku bacok-kan kepadanya, suaranya begini:
Creppp”
Kiam Peng merasa tercekat hatinya.
“Apa?” tanyanya, “Apakah kau hendak membunuhnya?”
“Bukan, bukan” sahut Siau Po. “Aku hanya ingin membacok kantong telurnya,
dengan demikian dia akan menjadi orang kebiri”
Nona Bhok masih terlalu kecil, dia tidak mengerti apa yang dimaksudkan Siau Po,
tapi Pui Ie langsung merah padam wajahnya. Dia merasa jengah mendengar kata-kata
seperti itu.
“Kau mengoceh sembarangan” katanya.
“Lau sukomu itu kemungkinan sudah tertawan,” kata Siau Po sambil tertawa, “Aku,
Kui kongkong memang tukang bicara, tapi banyak orang yang suka mendengarkan
perkataanku Nah, nona Pui, sekarang kau katakan, apakah kau ingin memohon
bantuan dariku?”
Kembali wajah gadis itu merah padam, Thay-kam cilik ini benar-benar jahil, pikirnya,
“Eh, Kui toako,” kata Kiam Peng turut memberi suara, “Kalau kau memang sudi
memberikan bantuan, tidak perlu menunggu orang memintanya. Bantuan yang tulus
barulah tindakan seorang yang gagah”
Siau Po mengibaskan tangannya.
“Tidak Kata-katamu salah” sahutnya. “Aku justru paling senang mendengar
permohonan orang, Kalau orang memanggilku suamiku yang baik, apalagi dengan
nada yang mesra, semakin suka aku membantunya”
Pui Ie menatap Siau Po lekat-lekat Dia benar-benar kewalahan menghadapi orang
yang satu ini.
“Kui toako… akhirnya dia memanggil “Toako yang baik, aku memohon bantuanmu”
Kembali timbul rasa iseng dalam hati Siau Po. Dia menggoda lagi

“Kau harus memanggil suami padaku” katanya sambil tersenyum.
“Bicaramu keliru, Kui toako” kata Kiam Peng. “Suciku ini akan menikah dengan Lau
suko, Karena itu Lau suko yang akan menjadi suaminya, Mana boleh suci memanggil
suami kepadamu?”
“Tidak bisa” kata Siau Po. “Kalau dia menikah dengan Lau It-cou, lohu cemburu Iya,
aku merasa tidak puas, aku iri”
“Kau tidak tahu, Kui toako,” kata nona Bhok kembali. Nadanya setengah membujuk
“Lao suko itu orangnya baik sekali…”
“Tidak” bentak si bocah cilik. “Justru karena dia baik, aku semakin iri Aku cemburu
sekali”
Berkata begitu, Siau Po tetap tertawa, Sembari meraih bungkusannya di atas meja,
dia berjalan keluar, pintu kamarnya dikunci.
Dengan mengajak empat orang thay-kam sebagai pengiring, dia menunggang kuda
menuju jalan Tiang An barat, istana yang dihadiahkan Raja untuk Peng Si ong,
Ketika Go Eng-him mengetahui kedatangan utusan raja, dia segera keluar dan
menjatuhkan dirinya berlutut.
“Sri Baginda menitahkan aku membawa beberapa barang untuk diperlihatkan
kepadamu” kata Siau Po langsung, “Siau ongya, nyalimu besar atau tidak?”
“Nyali Pi cit (hamba yang berpangkat rendah) kecil sekali Pi cit tidak boleh terkejut
sedikit pun,” sahut Go Eng-him.
Siau Po menunjukkan mimik heran.
“Nyalimu kecil sekali sehingga tidak boleh terkejut sedikit pun?” tanyanya, “Tapi, apa
yang kau lakukan justru begitu besar dan mengejutkan”
“Kongkong, Pi cit tidak mengerti apa yang kongkong maksudkan,” sahut Go Eng-him.
Tolong kongkong jelaskan”
Ketika bertemu dengan Siau Po di istana Kong Cin ong, Go Eng-him tidak
membahasakan dirinya Pi cit atau aku yang berpangkat rendah, Kalau sekarang dia
menyebut dirinya demikian, karena Siau Po sebagai utusan raja, Lagipula dia dapat
merasakan suasana yang kurang menguntungkan dirinya.
Siau Po tidak memberikan penjelasan Dia berkata lagi dengan tampang serius,
“Tadi malam kau telah mengirim beberapa perusuh untuk menyerbu istana sekarang
Sri Baginda menitahkan aku menanyakan persoalan ini”

Sejak pagi harinya Go Eng-him sudah mendengar kabar tentang serbuan tadi malam.
sekarang mendengar kata-kata Siau Po, otomatis dia terkejut setengah mati. Dari
berlulut, tanpa sadar dia berdiri kemudian berlutut kembali sambil menyembah berulang
kali menghadap arah istana kerajaan.
“Sri Baginda Sri Baginda telah menurunkan budi yang besar kepada kami ayah dan
anak, Meskipun menjadi kerbau atau kuda, sulit rasanya membalas budi yang demikian
besar itu, Sri Baginda, budak Go Sam-kui dan Go Eng-him bersedia me ngorbankan
jiwa dan raga untuk bekerja demi Sri Baginda, Tidak nanti hati kami berani bercabang
dua”
Siau Po tertawa menyaksikan sikap orang itu.
“Bangun Bangunlah” katanya ramah, “Perlahan-lahan saja kau menyembah,
semuanya masih belum terlambat Siau ongya, mari Kau lihat dulu barang-barang yang
aku bawa ini”
Sembari berkata, Siau Po membuka bungkusan nya. Go Eng-him lantas bangkit
untuk melihat is bungkusan yang terdiri dari senjata dan pakaian pakaian dalam
otomatis dia jadi menggigil dan gemetar.
“Ini… ini.,.” suaranya bergetar dan ia tidak dapat melanjutkan kata-katanya ketika
membaca surat pengakuan para busu, Dia memaksakan dirinya membaca sampai
habis, isinya ternyata pengakuan orang-orang yang tertawan, bahwa kedatangan
mereka menyerbu istana adalah atas perintah Go Sam-kui. Dengan demikian kelak Go
Sam-kui akan mendapat dukungan untuk menggantikan kaisar Kong Hi yang harus
dibunuh.
Meskipun otaknya cerdas, Go Eng-him tetap terkejut dan ketakutan Kedua kakinya
jadi lemas dan sekali lagi dia jatuh berlutut
“Kui…. Kui… kongkong…” panggilnya dengan suara bergetar “lni tidak benar pastilah
orang-orang itu sudah dihasut supaya memfitnah kami ayah,., dan anak Kongkong, aku
harap kau sudi menghadap Sri Baginda dan menuturkan urusan yang sebenarnya. Sri
Baginda cerdas dan bijaksana, Pasti kata kongkong akan didengarnya….”
“Urusan ini sudah tersiar luas,” kata Siau Po. “So tayjin dan To tayjin telah
menghadap Sri Baginda dan melaporkan pengakuan para penyerbu itu, Kau tahu
sendiri, ini namanya pemberontakan durhaka terhadap junjungannya siapakah yang
bernyali demikian besar membicarakan urusan kepada Sri Baginda? Kau minta aku
menghadap Sri Baginda, sebetulnya bukan tidak bisa, tapi untuk itu aku harus
memikirkan cara yang sempurna. Alasan apa yang bisa kukemukakan untuk
membelamu, Sulit bukan?”

Bagian 21
Mendengar suara bimbang, Go Eng-him sepert mendapat sedikit harapan, Hatinya
senang sekali.
“Biar bagaimana, Pi cit mengharapkan bantua kongkong,” katanya, “Ya, Pi cit hanya
mengandalkan kongkong seorang”
“Kau bangunlah” kata Siau Po. “Mari kita bicara sembari berdiri”
Eng Him menurut, dia bangkit.
“Benarkah para penyerbu itu bukan orang orang suruhanmu?”
“Pasti bukan” sahut Go Eng-him tegas. “Man berani Pi cit melakukan perbuatan
durhaka dan memberontak seperti itu? Bukankah itu merupaka dosa tidak
terampunkan?”
“Baik,” kata Siau Po. “Aku senang bersahabat dengan mu. Aku percaya padamu,
Tapi ingat, kalau mereka memang orang-orangmu, selain menjerumuskan dirimu
sendiri, kau juga menyeret aku”
“Aku tahu, kongkong. Mereka pasti bukan orang-orangku” kembali Eng Him
memberikan kepastiannya.
“Siapa kira-kira orang yang ingin memfitnah kalian ayah dan anak?” tanya Siau Po.
“Sulit bagiku untuk menunjuknya, Kami mempunyai banyak musuh” sahut Go Enghim
bingung
“Untuk memberikan penjelasan kepada Sri Baginda, kau harus menyebut nama
salah seorang musuhmu,” kata si kongkong, “Dengan begitu Baginda baru bisa
menaruh kepercayaan atas apa yang kukatakan.”
“lya, kongkong memang benar. Ayah Pi cit telah bekerja banyak demi kerajaan Ceng,
tidak sedikit lawan yang telah ia robohkan, Karena itu bisa di mengerti kalau sisa-sisa
lawannya masih membencinya sampai sekarang, Tentu saja mereka juga berusaha
mengadakan pembalasan, Umpamanya sisa orang-orangnya Lie Cong, pangeran Tong
Ong, Kui ong, Juga keluarga Bhok dari Inlam, Mereka-mereka itu pasti bisa melakukan
hal apa saja.”
Siau Po menganggukkan kepalanya.
“Sekarang coba kau terangkan kepadaku tentang sisa-sisanya Lie Cong dan
keluarga Bhok itu, Bagaimana tentang ilmu silat mereka? Dapatkah kau
memperlihatkan beberapa jurus di antaranya agar aku dapat tuturkan di depan Sri

Baginda nanti? Aku akan mengatakan kepada Sri Baginda bahwa itulah ilmu silat para
penyerbu yang kau lihat tadi malam. Dengan demikian kata-kataku disertai bukti.”
Eng Him senang sekali mendengar ucapan Siau Po. Dia yakin cara itu memang
bagus sekali.
“Pemikiran kongkong ini baik sekali” pujinya, “Mengenai ilmu silat, kepandaian aku
yang rendah masih terbatas, Karena itu, biarlah Pi cit tanyakan dulu kepada orangorangku,
silahkan kongkong duduk menunggu, sebentar Pi cit akan kembali lagi”
Go Eng-him memberi hormat kemudian masuk ke dalam, Tidak lama kemudian, dia
sudah muncul kembali bersama salah satu orangnya, yakni Yo Ek-ci, orang yang
kemarin dibantu Siau Po untuk memenangkan perjudian sebanyak seribu enam ratus
tail.
Ek Ci mengenali thay-kam cilik ini. Cepat-cepat dia memberi hormat. wajahnya
tampak kelam. Mungkin Eng Him sudah memberitahukan maksud kedatangan si thaykam
cilik sebagai utusan raja ini.
Siau Po tertawa dan berkata.
“Yo toako, jangan khawatir Tadi malam kau berjudi di istana Kong Cin ong, tidak
sedikit orang yang melihatmu Tidak mungkin kau disangka sebagai penyerbu gelap di
istana”
“ltu memang benar Tapi aku takut ada orang jahat yang ingin memfitnahku,” kata Ek
Ci. Di adalah kepala pengawal Go Eng-him, karenanya dia juga bertanggung jawab atas
para bawahannya, “Aku khawatir ada orang yang mengatur cerita burung bahwa
sengaja Go sicu mengajak aku ke istana Kong Cin ong, tetapi di belakangnya aku justru
telah mengatur penyerbuan ke istana raja….”
“Iya…. Kekhawatiranmu memang beralasan juga.” kata Siau Po.
“Kongkong, kaulah yang dapat menolong kami.” kata Ek ci kemudian, “Menurut Go
sicu, kongkong sudah memberi penjelasan kepada Sri Baginda tentang bebasnya kami
dari sangkaan, Kami benar-benar berterima kasih atas kebaikan kongkong, Musuh
Peng Si ong banyak sekali, Pihak-pihak itu juga mempunyai aneka ragam ilmu silat
yang berlainan namun ilmu keluarga Bhok istimewa serta mudah dikenali…”
“Aih Sayang sekali” kata Siau Po yang cerdik, Sayang di sini tidak ada orang
keluarga Bhok, kalau tidak, kita dapat memintanya menjalankan beberapa jurus ilmu
keluarga itu”
“llmu tangan kosong dan ilmu pedang keluarga Bhok sangat terkenal dan sudah
tersiar luas di wilayah Inlam,” kata Ek Ci. “Karena itu, hamba ingat beberapa jurus di
antaranya, kalau kongkong suka, hamba akan berusaha menjalankannya, kawanan

penyerbu itu datang membawa golok serta pedang, Bagaimana kalau hamba tunjukkan
beberapa jurus ilmu pedang Keng Hong kiam?”
Siau Po memperlihatkan mimik gembira.
“Bagus sekali kalau Yo toako mengenal ilmu silat keluarga Bhok, Aku tidak mengerti
ilmu pedang dan untuk mempelajarinya juga memerlukan waktu yang cukup lama,
sebaiknya kau mainkan jurus tangan kosong saja, nanti aku akan mencobanya.”
“Kongkong telah berhasil membekuk Go Pay, nama kongkong terkenal di empat
penjuru dunia” kata Ek Ci. “Aku yakin ilmu silat kongkong pasti lihay sekali, Kongkong,
mana yang aku tidak paham,harap Kongkong sudi memberikan petunjuk”
Yo Ek-ci segera menuju tengah ruangan dan mulai bersilat dengan perlahan.
Maksudnya agar si thay-kam cilik dapat melihat dengan jelas.
Ilmu silat keluarga Bhok memang terkenal sejak dua ratus tahun yang lalu, itulah
sebabnya, meskipun belum lancar sekali, tapi Yo Ek-ci mengenalnya dan dapat
menjalankan nya dengan baik, Pada dasarnya dia memang lihay, Banyak sudah dia
mendengar dan mengalami sendiri, pengetahuan nya pun luas sekali.
“Sungguh bagus” kata Siau Po memuji ketika melihat Ek Ci menjalankan jurus
“Heng-sau cian kun” Begitu pun ketika orang itu menjalankan juru Kao-san Liu Sui.
“Bagus sekali” pujinya sekali lagi ketika Ek Ci berhenti menunjukkan permainannya,
“Dalam waktu yang sesingkat ini, aku tidak dapat mempelajari semuanya sekaligus.
Karena itu, di depan Sri Baginda nanti, aku akan menunjukkan dua jurus itu saja,
Dengan demikian Sri Baginda bisa menanyakan kepada para siwi, apakah mereka
mengenal jurus tersebut. Coba kau katakan, apakah kau tahu asal-usuI kedua jurus
tadi?”
Selesai berkata, Siau Po pun segera menjalan kan kembali kedua jurus Heng-sau
Ciang kun da Kao-san Liu Sui tersebut.
“Bagus Kongkong bagus sekali” seru Ek memuji “Kongkong dapat menjalankan
kedua jurus tadi dengan baik sekali Setiap ahli silat tentu akan mengenalnya,
Kongkong memang cerdas sekali, Dengan sekali lihat saja kongkong dapat
mengikutinya. Kongkong, dengan demikian keluarga Go pasti luput dari ancaman
bahaya”
Go Eng-him berulang kali menjura kepada Siau Po seraya berkata.
“Kongkong, keluarga Go yang terdiri dari seratus jiwa lebih semuanya mengandalkan
pertolongan kongkong untuk menyelamatkannya”
Mendengar ucapan Go Eng-him, Siau Po berpikir dalam hati.

“Keluarga Go ibarat mempunyai gunung emas dan bukit permata, Dengannya aku
tidak perlu membicarakan harga” Dia pun menganggukkan kepalanya dan berkata,
“Bukankah kita adalah sahabat sejati? Siau ongya, jangan bicara soal budi pertolongan
Dengan berkata demikian, kau menganggap aku seperti orang luar saja, Lagipula, Siau
ongya, aku memang berusaha menoIongmu, tapi berhasil atau tidaknya toh masih
belum ketahuan”
“Baiklah, kongkong, Aku mengerti…” kata Eng Him.
Siau Po berdiri, dia mengambil bungkusaan berisi senjata dan pakaian dalam tadi,
Diam-diam dia berpikir.
“Barang-barang ini untuk sementara tidak boleh aku serahkan kepadanya.”
Kemudian dia pun bertanya, “Sri Baginda, juga berpesan agar aku bertanya kepadamu,
bukankah dari sekian pembesar Inlam ada seorang yang bernama Yo It-kong?”
Go Eng-him tertegun saking herannya.
“Yo It-kong adalah seorang pembesar yang pangkatnya masih rendah,” pikirnya
dalam hati. Di memang datang ke kotaraja, tapi belum sempat menghadap Sri Baginda,
mengapa Sri Baginda bisa mengetahui tentang dirinya?”
Tapi secepatnya di menjawab: “Yo It-kong adalah seorang camat yang baru diangkat
untuk kecamatan Kiokceng di Inlam sekarang dia memang ada di kotaraja menunggu
kesempatan untuk bertemu dengan Sri Baginda,”
“Sri Baginda menyuruh aku menanyakan Sia ongya tentang orang itu,” kata Siau Po.
“Beberap hari yang lalu Yo It-kong telah berbuat sewenang-wenang dalam sebuah
rumah makan di kotaraja ini, dia membiarkan para pengikutnya menghajar orang. Sri
Baginda ingin tahu apakah tabiatnya sekarang sudah berubah atau belum?”
Mendengar pertanyaan itu, Go Eng-him terkejut setengah mati. Yo It-kong mendapat
pangkat camat karena menyogok uang sebanyak empat laksa tail kepada Go Sam-kui.
Dari jumlah itu, Go En him sendiri menarik sebanyak tiga ribu tail. Ini yang membuatnya
terperanjat, cepat-cepat menjawab.
“Nanti Pi cit memberikan pelajaran kepadanya” kemudian dia menoleh kepada Yo
Ek-ci dan berkata, “Kau segera perintahkan orang memanggil Yo It-kong. Pertamatama,
hajar dia dengan rotan sebanyak lima puluh kali” Setelah itu dia berkata lagi
kepada Siau Po. “Kongkong, tolong laporkan kepada Sri Baginda bahwa Go Sam-kui
kurang teliti dalam memilih pejabat. Karena itu Go Sam-kui minta maaf dan bersedia
diturunkan pangkatnya Tentang Yo It-kong dia akan segera dipecat dan untuk selamalamanya
tidak akan terpilih kembali. Sebagai penggantinya akan diminta Lie Pou tayjin
memilih orang yang cakap”
Siau Po tertawa. “Ah, dia tidak perlu dihukum demikian berat”

“Tapi Yo It-kong sungguh lancang dan nyalinya besar sekali, perbuatannya ini
sampai diketahui Sri Baginda,” kta Go Eng-him. “Sebenarnya hukuman itu malah terlalu
ringan, seharusnya dia mendapatkan hukuman kematian. Nah, Yo Ek-ci, hajar lah dia
yang keras”
“Baik, Siau ongya” sahut Yo Ek-ci.
Siau Po tertawa.
“Aku rasa jiwa orang she Yo itu bisa tidak ketolongan,” pikirnya dalam hati, Kemudian
dia berkata kepada Go Eng-him: “Baiklah, Siau ongya, sekarang juga aku hendak
kembali ke istana untuk memberikan laporan kepada Sri Baginda, Terutama aku harus
melatih dulu kedua jurus Heng-sau ciang kun dan Kao-san Liu Sui itu”
Selesai berkata, thay-kam cilik itu memberi hormat kemudian membalikkan tubuhnya
untuk berjalan pergi.
Go Eng-him mengiakan dan membalas penghormatannya, Kemudian dengan sigap
dia mengeluarkan sebuah bungkusan besar dari balik pakaiannya dan dengan kedua
tangannya dia angsurkan kepada Siau Po seraya berkata.
“Kui kongkong, budimu yang besar sulit Pi cit balas, Begitu pula kebaikan congkoan,
So tayjin beserta beberapa siWi Tayjin. Karena itu, Pi cit harap kongkong sudi
membantu bicara dengan mereka dan sekalian tolong sampaikan bingkisan Pi cit yang
tidak berharga ini. Kalau nanti Sri Baginda menanyakan apa-apa kepada kongkong,
harap mereka sudi membantu kongkong bicara sehingga dapat mencuci rasa
penasaran ayah Pi cit”
Siau Po menyambut bungkusan itu yang berupa uang, Sembari tertawa dia berkata.
“Siau ongya hendak meminta bantuanku, boleh saja”
Sudah satu tahun lebih Siau Po berdiam dalam istana, Meskipun usianya masih
muda, tapi di sudah mengerti banyak cara bicaranya seorang thay-kam dan dia dapat
bersikap baik dalam hal ini
Eng Him beserta Ek Ci mengantarkan Siau Po keluar Sikap mereka menghormat
sekali.
Ketika Siau Po sudah berada di dalam joli, di mengeluarkan bungkusan yang
diberikan Go Eng him. Ketika dia membukanya, ternyata isinya uang kertas senilai
sepuluh laksa tail.
“Hm” pikirnya dalam haii, “Dari jumlah ini, lohu harus mengambil setengahnya”
Benar saja, Dia segera menyisihkan lima laksa tail dan disusupkannya ke dalam saku
pakaian, sedangkan isinya yang lima laksa tail lagi disusun rapi kemudian dibungkus
kembali.

Setibanya di istana, mula-mula dia menemui raja di kamar tulis Gi Si pong, Dia
memberi laporan tentang Go Eng-him yang menurutnya sangat menghormati dan
memuji kebijaksanaan junjungannya itu dan pangeran itu merasa bersyukur sekali.
Kaisar Kong Hi tertawa. “Hal ini pasti membuatnya terkejut sekali”
“Ya, dia memang kaget dan ketakutan” sahut Siau Po ikut tertawa, “Setelah itu
hamba bicara tentang para penyerbu yang ilmu silatnya telah Sri Baginda ketahui
berasal dari keluarga Bhok. Mendengar itu, Go Eng-him heran sekaligus gembira.”
Raja tertawa lagi, Siau Po segera mengeluarkan bungkusan berisi uangnya sambil
berkata.
“Ya, Go Eng-him sangat bersyukur Dia memberikan sejumlah uang kertas yang
katanya satu laksa buat hamba sendiri, sedangkan sisanya untuk dihadiahkan kepada
para siwi yang telah berjasa menghadang dan menumpas para penyerbu, Nah, Sri
Baginda, Dengan demikian, bukankah kami telah memperoleh untung besar?”
Siau Po memperlihatkan uang kertas itu, semuanya berjumlah seratus lembar dan
nilai masing-masingnya lima ratus tail.
Kaisar Kong Hi tertawa dan berkata:
“Kau masih sangat muda, selaksa tail pasti tidak habis kau pakai seumur hidup,
sisanya boleh kau bagi rata kepada para siwi itu”
Senang hati Siau Po mendengar keputusan junjungannya itu, tapi dia masih berpikir:
“Sri Baginda memang cerdas sekali, tapi dia sama sekali tidak menyangka kalau aku Wi
Siau-po telah mempunyai uang sebanyak berpuluh laksa tail.” Kemudian dia berkata
kepada Raja: “Sri Baginda, perkenankanlah hamba mengatakan sesuatu, Bagi hamba,
apa yang tidak tersedia? Asal hamba setia kepada Sri Baginda dan melayani dengan
baik, Sri Baginda dapat memberi kehidupan mewah kepada hamba. Karena itu, biarlah
uang sebanyak lima laksa tail ini, semuanya dibagikan saja kepada para siwi dan
kepada mereka nanti hamba akan mengatakan bahwa se mua ini adalah persenan dari
Sri Baginda sendiri Mengapa kita harus memberi muka kepada orang seperti Go Enghim?”
Sebenarnya tidak ada niat raja menghapus jasa orang. Dalam hal ini yang
dimaksudkan adalah kebaikan Go Eng-him. Tapi setelah mendengar kata-kata Siau Po
yang mengatakan “memberi muka” kepada Go Eng-him,” hatinya tercekat. Meman
benar, bila dikatakan uang sebanyak itu adala hadiah dari Go Eng-him, para siwi pasti
senantia mengingat kebaikan pembesar dari Inlam itu.
Melihat Raja diam saja, Siau Po dapat menebak isi hatinya, Tanpa menanti rajanya
berbicara, Siau Po segera berkata lagi.

“Sri Baginda, ketika Go Sam-kui menyuruh putranya datang ke kotaraja ini, dia pasti
membekal uang dalam jumlah yang banyak sekali, Dan setiap bertemu orang, putranya
itu pasti memberikan persenan, Karena itu, bukan tidak mungkin dia sengaja menanam
kebaikan untuk mengambil hati.
Bukanlah dalam satu negara, meskipun seseorang itu uangnya banyak sekali, tetapi
sebetulnya merupakan milik Sri Baginda? Maka itu, hamba pikir Go Sam-kui itu rada
aneh, Dia seperti menganggap Inlam sebagai miliknya sendiri…”
Kaisar Kong hi mengangguk mendengar kata-kata Siau Po.
“Baiklah” katanya kemudian “Kau boleh katakan bahwa uang itu merupakan
persenan dariku”
Siau Po merasa puas, Dia memohon diri terus keluar dari kamar tulis raja dan
menuju tempat para siwi di mana di sana dia juga bertemu dengan To Lung.
“To Congkoan, Sri Baginda menitahkan agar para siwi yang tadi malam telah berjasa
dibagikan uang sebanyak lima laksa tail ini” katanya sambil menyerahkan uang itu.
To Lung senang sekali, Dia menerima uang itu dengan berlutut dan mengucapkan
terima kasih.
Siau Po tertawa.
“Sekarang Sri Baginda sedang gembira hatinya, Karena itu, sebaiknya kau
menghadap sendiri dan ucapkan terima kasih secara langsung”
To Lung menurut Bersama Siau Po, dia menuju kamar tulis raja, ia berlutut di
hadapan kaisar Kong Hi sambil berkata.
“Sri Baginda telah menghadiahkan uang, karenanya hamba beserta para siwi
menghaturkan banyak terima kasih”
Kong Hi menganggukkan kepalanya sembari tertawa. Siau Po segera mewakili
rajanya bicara.
“To congkoan, Sri Baginda menitahkan supaya semua uang yang jumlahnya lima
laksa tail harus kau bagikan kepada para siwi yang telah berjasa tadi malam, Bahkan
siwi yang terluka karena tugasnya diberi lebih banyak dari yang lainnya”
“Baik Hamba menurut perintah” sahut To Lung.
Melihat sikap Siau Po yang demikian cerdas, kaisar Kong Hi berpikir dalam hatinya.

“Siau Kui cu sangat setia dan pandai bekerja, otaknya cerdas sekali, Dia juga tidak
tamak oleh harta. Diberikannya semua uang yang berjumlah lima laksa tail itu kepada
para siwi, sedangkan dia tidak memungut satu ci pun”
Sementara itu, Siau Po dan To Lung segera mengundurkan diri.
To congkoan menyisihkan uang sejumlah selaksa tail dan diserahkannya kepada
Siau Po sambil berkata.
“Kui kongkong, sudilah kiranya kongkong menerima uang ini untuk dihadiahkan
kepada para kongkong sebagai tanda bukti kami para siwi terhadap kongkong”
Siau Po tertawa.
“Oh, To congkoan, kata-katamu menandakan kau kurang bersahabat Aku Siau Kui
cu, seumur hidup paling menghormati sahabat-sahabat yang berkepandaian tinggi,
Kalau saja uang yang lima laksa tail tersebut dihadiahkan Sri Baginda kepada para
pembesar sipil, biar bagaimana aku pasti akan mengambil barang satu atau dua laksa
tail. Tapi uang itu diberikan kepadamu, To congkoan, karena itu, biar kau memberikan
setengahnya pun kepadaku, aku tidak akan menerimanya”
To Lung mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tertawa.
“Para siwi mengatakan di antara para kongkong, hanya Kui kongkong yang paling
muda juga paling bersahabat Ternyata kata-kata mereka bukan bualan belaka”
Siau Po tersenyum.
“To congkoan,” katanya seperti tiba-tiba teringat akan suatu hal, “Dapatkah kau
memberitahukan kepadaku, apakah di antara para penyerbu yang tertawan itu ada
seseorang yang bernama Lau It-cou atau tidak? Kalau ada, kita dapat mengorek
keterangan darinya”
“Aku belum tahu, kongkong,” sahut To Lung, “Baiklah nanti aku akan
menyelidikinya.”
“Baiklah” kata Siau Po yang terus mengundurkan diri.
Baru saja dia sampai di depan pintu kamarnya, seorang thay-kam datang
memberikan laporan kepadanya.
“Kui kongkong, orang she Cian datang lagi membawa seekor babi yang diberi nama
Te Hong jinsom ti. Katanya sebagai hadiah untuk kongkong, Sekarang dia ada di dapur
menunggu kedatangan kongkong,”
Siau Po mengernyitkan alisnya, pikirnya diam-diam:

“Babi yang dulu, hoa tiau hokleng ti masih belum selesai urusannya, sekarang dia
mengantarkan seekor lagi, Huh Apa kau kira istana ini tempat penyimpanan babi-babi?
Tapi dia toh sudah datang, bagaimana aku harus menolaknya?”
Sembari berpikir demikian, Siau Po segera pergi ke dapur Di sana ia melihat wajah
orang she Lian yang ramai dengan senyuman itu. Malah ketika melihat Siau Po, dia
langsung berkata:
“Kui kongkong, babi hoa tiau hokleng ti itu benar-benar daging babi yang berkhasiat
Lihatlah, setelah kongkong makan daging babi itu, wajah kongkong jadi bercahaya
menandakan kesehatannya yang baik, Kongkong, aku bersyukur kongkong sudi
membeli daging babi dariku, Karena itu sekarang aku membawakan lagi seekor babi
yang diberi nama Te hong jinsom ti, ini dia babinya” katanya sambil menunjuk ke
samping.
Kali ini babi hidup yang dibawanya, BuIunya putih mulus dan bersih sekali di dalam
kurungan-nya, babi itu jalan berputar-putar.
Siau Po menganggukkan kepalanya, Dia tahu orang itu sedang memberikan kisikan
kepadanya, Sebab kedatangan Cian ini tidak mungkin tanpa maksud apa-apa.
Orang she Cian itu segera menghampiri Siau Po sambil mencekal tangannya,
Sembari tertawa dia berkata:
“Benar hebat pengaruh daging babi yang hamba antarkan tempo hari, Lihat, tenaga
kongkong jadi besar dan nadinya berdenyut kencang”
Begitu kedua tangan mereka saling menyentuh, Siau Po dapat merasakan ada kertas
yang dipindahkan ke tangannya, Dia segera menyambut kertas yang dirasa ada
maknanya itu, namun dia masih buta apa kira-kira persoalannya, sedangkan di muka
umum dia juga tidak ingin menanyakan apa-apa.
“Babi Te hong Jinsom ini lain lagi cara memakannya,” kata Si Cian, “Tolong
kongkong pesankan kepada perawat babi agar binatang itu diberi makan ampas arak
selama sepuluh hari berturut-turut, Sampai waktunya aku akan datang lagi untuk
menyembelih dan memasaknya buat kongkong”
Siau Po menjungkitkan sepasang alisnya.
“Babi hoa tiau hokleng saja sudah membuat seluruh tubuhku panas tidak karuan,”
sahutnya “Bagaimana lagi dengan jinsom ti ini? Nanti kau bawakan aku lagi Yan Oh ti
Saudara Cian, biar ka sendiri saja yang memakan nya, aku tidak mau”
Orang she Cian itu tertawa.

“Oh, kongkong, inilah tanda buktiku terhadap kongkong,” katanya, “Lain kali aku tidak
berani memusingkan kongkong lagi” Dia lantas memberi hormat kemudian
membalikkan tubuhnya untuk pergi.
Siau Po membiarkan orang itu berlalu, Dia berpikir keras.
“Pasti kertas ini ada tulisannya, Tapi, sekalipun hurufnya sebesar semangka, aku
juga tidak mengenalnya, Bagaimana baiknya sekarang?”
Siau Po tidak putus asa, Setelah memesan bawahannya untuk memelihara babi itu
baik-baik, dia kembali ke kamarnya, Dia berkata lagi dalam hati “Si Cian ini sangat
cerdik, pertama kali dia mengantar babi, di dalam babi itu dia menyembunyikan Siau
kuncu, sekarang dia membawa babi hidup. Hanya saja suratnya ini…. Mau tidak mau
aku harus minta bantuan Siau kuncu, Dasar celaka orang s Cian itu? Memangnya dia
tidak bisa bicara langsung? Mengapa harus tulis surat segala?”
Setelah membuka pintu, Siau Po masuk dalam kamarnya.
“Kui toako,” kata Kiam Peng begitu melihat thaykarn cilik, “Tadi ada orang
membawakan barang hidangan, Tapi rupanya dia melihat pintu kamar yang terkunci jadi
dia pergi lagi tanpa mengetuk pintu.”
“Mengapa kau bisa tahu kalau dia datang mengantarkan barang hidangan?” tanya
Siau Po sembari tertawa, “Ah Tentu hidungmu mencium bau masakan yang lezat
bukan? sekarang tentunya kau sudah lapar? Kenapa kau tidak makan kue saja?”
Bhok Kiam Peng tertawa.
“Aku tidak malu-malu” sahutnya, “Tadi aku sudah makan kue itu”
Siau Po tersenyum.
“Kui,., Kui toako.,.” panggil Pui Ie. “Apakah kau,.,?”
Tiba-tiba si nona menghentikan kata-katanya. Dia menjadi jengah.
“Tentang Lau sukomu itu, aku belum berhasil memperoleh keterangan apa pun,” shut
Siau Po yang mengerti arah pertanyaan si nona.”Kata para siwi dalam istana, mereka
tidak menangkap orang she Lau….”
“Terima kasih” kata Pui Ie. “Syukurlah kalau dia memang tidak sampai tertawan”
“Meskipun demikian, ada baiknya bagi kalian,” sahut Siau Po. “Dia ada di luar istana
walaupun mungkin dia memikirkan dirimu, Sebaliknya, kau merindukan dia, tapi kau
ada di dalam istana, Sepasang kekasih untuk selamanya tidak dapat bertemu,
bukankah hal itu mengecewakan sekali ?”

Wajah nona Pui jadi merah padam.
“Aku toh tidak mungkin berada dalam istana ini seumur hidup?” katanya.
“Seorang nona, begitu dia masuk ke dalam istana, mana ada kesempatan untuk
keluar lagi?” sahut Siau Po. Dia memang iseng dan suka menggoda, “Apalagi nona
secantik dan semanis dirimu ini, Aku Siau kui cu, begitu melihat kau saja, hatik sudah
kepincut, Timbul keinginan dalam hatiku untuk mengambil kau sebagai istri, Demikian
pula Sri Baginda, Kalau beliau melihatmu, pasti dia aka memilihmu menjadi ratu
Karena itu, nona Pui, aku ingin memberi nasehat kepadamu, Ada baiknya kau menjadi
ratu saja”
Hati si nona merasa mendongkol dan tidak puas.
“Tidak sudi aku bicara panjang lebar denganmu” katanya, “Setiap ucapanmu hanya
membuat aku jengkel dan membuat habis kesabaranku”
Siau Po tidak menggubrisnya, dia hanya te tawa, Kemudian dia serahkan kertas di
tangann kepada si nona cilik,
“Siau kuncu, tolong kau bacakan surat ini katanya.
Kiam Peng menyambut kertas itu kemudi membacanya.
“Di kedai kopi Kho Seng ada nyanyian dan cerita dengan judul Eng Liat-toan.”
“Eh, apa artinya ini?” tanya si nona bingung.
Mendengar bunyi surat itu, Siau Po lantas mengerti.
“Pihak Tian-te hwe ada urusan ingin bertemu denganku Aku diundang ke kedai kopi
untuk mendengar cerita tentang kisah kaisar Beng thaycou dulunya, Kecewa kau
menjadi keluarga Bhok kalau kisah Eng Liat-toan saja kau tidak tahu.”
“Sudah tentu aku tahu kisah Eng Liat-toan itu,” kata Bhok Kiam-peng. “ltu kan cerita
bagaimana mula-mulanya kaisar Beng thayou membangun kerajaan Beng”
“Bagus” kata Siau Po. “Sekarang aku akan menanyakan kepadamu, tahukah kau
kisah Bhok ongya dengan tiga kali memanah mengukuhkan kedudukannya di Inlam
serta Kui kongkong dengan sepasang tangannya memeluk si nona cantik?”
“Fui” ejek si nona dengan keras, “Ketika kakekku mengukuhkan kedudukannya di
Inlam, tentu saja dalam kisah Eng Liat-toan ada disebut juga, Tapi tentang Kui
kongkong dengan sepasang… tangannya… tangannya….”
Siau Po memperhatikan si nona cilik lekat-lekat Lalu dia berkata dengan serius.

“Coba kau katakan Ada tidak kisah tentang Kui kongkong yang dengan sepasang
tangannya memeluk sepasang nona cantik?”
“Sudah tentu tidak ada” sahut Kiam Peng. “ltu kan hanya karanganmu sendiri”
“Bagaimana kalau kita bertaruh?” tanya Sia Po. “Bagaimana kalau ada? Dan
bagaimana kalau tidak ada?”
“Kisah Eng Liat-toan itu, aku sudah hapal luar kepala” sahut Kiam Peng. “Aku juga
sudah mendengar cerita itu berulang kali, Bertaruh apa pun aku berani Cici Pui,
bukankah tidak ada cerita tentang Kui kongkong seperti yang dikatakannya?”
Belum sempat Pui Ie memberikan jawaban, Siau Po sudah melompat naik ke atas
tempat tidur. Tanpa membuka sepatu lagi, dia menyusup ke dalam selimut dan
berbaring di tengah-tengah kedua nona itu. Sepasang tangannya merangkul nona Pu
dan nona Bhok
Saking kagetnya, kedua nona itu sampai menjerit tertahan, namun tidak sempat
menyingkirkan diri. Hanya Kiam Peng yang masih berusaha memberontak.
Siau Po menggunakan kesempatan itu untuk memiringkan tubuhnya ke arah Pui Ie.
Dengan demikian bibirnya segera menyentuh pipi si gadi yang halus, Dia juga
menciumnya satu kali.
“Sungguh harum…” kata si bocah ceriwis.
Nona Pui terkejut setengah mati, Dia ingin meronta, namun dia hanya mengeluarkan
jerita tertahan saking nyerinya. Lukanya memang masih belum sembuh dan tidak boleh
sembarangan bergerak, Meskipun demikian, tangan kirinya masih melayang juga ke
pipi si bocah.
Plok Terdengar suara gaplokan yang keras.
“Ah Kau hendak membunuh suamimu? Kau tidak takut menjadi janda?” goda Siau
Po sambil membalikkan tubuhnya dan terus mencium pipi Kiam Peng yang putih dan
halus, “Hm Sama harumnya
Setelah itu si thay-kam cilik melompat turun dari tempat tidur Terus dia berlari keluar
dari kamarnya dan mengunci pintunya dari luar.
Kamar Siau Po terletak disisi ruang makan Raja, di sebelah selatan gudang, Karena
itu dia berjalan menuju utara untuk mengitari pendopo Yang Sim-tian, kemudian belok
ke kiri melintasi tiga ruangan kemudian melewati pintu Yang Hoa mui.
Pintu Sin An mui dan maju terus melalui keraton Siu an kiong yang terletak di sisi
pendopo Eng Hoa tian, Lantas memutar lagi lewat pintu Si Tiat mui dan akhirnya keluar

dari Sin Bu mui di sebelah utara. Pintu adanya di bagian belakang Ci Kiam sia, kota
terlarang, sekeluarnya dari istana dia langsung menuju kedai Kho Seng.
Begitu Siau Po duduk, seorang pelayan segera menghampirinya dan menyuguhkan
teh hangat, setelah itu, Kho Gan-tiau berjalan perlahan mendekatinya dan melewatinya.
Namun ketika lewat dia mengedipkan matanya, Siau Po mengangguk. Dibiarkannya
orang itu berlalu.
“Kau pasti menunggu aku,” pikirnya dalam hati, Dia meneguk tehnya beberapa kali,
terus dilemparkannya uang di atas meja sembari berkata.
“Hari ini tidak ada tukang cerita.,.” ia pun bangkit dan berjalan dengan tenang seperti
Kho Gan-tiau tadi.
Di jalan raya, di sebelah ujungnya tampak Kh Gan-tiau berdiri menunggu.
Siau Po berjalan terus menghampiri Di samping ada dua buah joli,
“Silahkan naik” kata Go Tiau kepada Siau Po Kemudian dia naik ke atas joli lainnya,
Dia berbuat demikian setelah menoleh ke sekitarnya dan yakin tidak ada seorang pun
yang melihatnya.
Gerakan kaki si tukang gotong joli cepat sekali, mereka seperti dibawa terbang,
Dalam sekejap mata mereka sudah sampai di tempat tujuan.
Siau Po melihat tempat itu merupakan halaman sebuah rumah, Di sini Gan Tiau
masuk terlebih dahulu, dan dia pun mengikuti dari belakang, Begitu melintasi dinding
berbentuk rembulan, di sana tampak berkumpul sejumlah anggota perkumpula Tian-te
hwe, semuanya segera memberi hormat dengan menjura, Di antaranya terdapat, Hoan
Kon Hong Ci-tiong, Hian Ceng tojin serta orang she Cian yang mengantarkan babi ke
istana.
“Eh, Cian laopan” sapa Siau Po sambil tertawa “Sebenarnya siapakah she dan
nama besarmu?”
Orang ditanya ikut tertawa.
“Sesungguhnya sebawahanmu ini memang she Cian, sedangkan nama belakangnya
Lao Pun (ua pokok).”
Siau Po tertawa tergelak.
“Kenyataannya kau memang cerdas dan pandai bekerja,” puji Siau Po. “Kalau
berdagang, kau pasti untung terus”

“Ah…. Wi hiocu hanya memuji saja…” kata si Cian tersenyum para anggota yang
lainnya segera mengundang Siau Po masuk ke ruang tengah dan semuanya langsung
duduk berkumpul.
“Wi hiocu, silahkan lihat” kata Hoan Kong yang tidak sabaran. Dia segera
memperlihatkan sehelai kartu nama berwarna merah yang lebar.
“Tulisan itu.,.” Siau Po berkata terus terang, tapi sikapnya memang jenaka,” Mereka
semua bisa melihat aku, tapi aku tidak mengenal mereka sama sekali Bahkan inilah
pertemuan kita yang pertama”
“Hiocu, kartu itu merupakan sehelai surat undangan.” kata Cian laopan menjelaskan
“Kita diundang untuk menghadiri sebuah pesta perjamuan.
“Bagus” sahut Siau Po. “Pihak mana yang memberi muka terang kepada Tian-te
hwe dengan undangannya itu?”
“Menurut huruf-huruf yang tertera di atas surat undangan ini, orang yang
mengundang kami adalah Bhok Kiam-seng” kata Cian Lao Pun memberikan
keterangan.
Siau Po langsung tertegun.
“Bhok Kiam-seng?” dia mengulangi nama itu sekali lagi.
“lya,” sahut si Cian, “Dia adalah Siau ongya atau pangeran muda dari Bhok onghu.”
Sekarang Siau Po baru menganggukkan kepalanya.
“Oh, jadi dia itu kakaknya si babi hoa tiau hokleng itu?”
“Benar” kata si Cian.
“Dia mengundang kita semua?” tanya Siau Po kembali
“Dalam surat undangan dia menulis dengan sungkan, Dia mengundang hiocu dari
Ceng bo tong dan sekalian orang-orang gagah dari Tian Te Hwe untuk menghadiri
perjamuannya, Waktunya malam ini, sedangkan tempatnya di lorong Si Kang cu ho
tong.”
“Coba kau katakan, apa maksud undangannya ini?” tanya Siau Po kepada si Cian,
“Mungkinkah dia mencampurkan obat bius dalam barang hidangannya nanti?”
“Menurut tata krama, tidak mungkin dia melakukan perbuatan serendah itu,” kata si
Cia “Nama Bhok onghu dalam dunia kangouw sangat terkenal sedangkan Bhok Kiamseng
juga seorang pangeran muda, Boleh bilang derajatnya sama dengan Tan Cong
tocu kita, Meskipun demikian, ada pepatah yang mengatakan, rapat tiada yang

sempurna, pesta tidak ada yang baik akhirnya, Karena itu, hiocu, apa yang hiocu

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s