“ PANGERAN MENJANGAN” – “ LU DING JI “ 27

kepadamu? Kutit
mukamu benar-benar tebal”
Biar bagaimana, ibu suri merasa puas juga. Bukankah Siau Kui cu mengatakan dia
tidak akan membuka rahasia seumur hidupnya? Karena itu, dia merasa tidak ada
halangan untuk memikirkan urusan itu perlahan-lahan.
Siau Po juga merasa puas, Kata-katanya thayhou menyatakan bahwa pikirannya
sudah berubah.
“Hamba tidak mengharapkan apa-apa,” kata Siau Po kemudian, “Asal thayhou dan
Sri Baginda senantiasa dalam keadaan sehat wal afiat dan bergembira, sebagai
seorang hamba, aku juga ikut merasa senang Harap thayhou tidak perlu khawatir
Besok hamba akan pergi ke Tian Kiou untuk mencari penghubung itu dan meminta dia
menyampaikan kepada Sui congkoan supaya dia menutup mulut rapat-rapat, Aku juga
akan menitipkan uang sebanyak tiga ribu tail, dengan mengatakan bahwa itulah persen
dari thayhou untuknya.”
“Hm” thayhou mendengus dingin, “Orang semacamnya yang bekerja tidak sungguhsungguh,
Karena rasa takut, dia melarikan diri, Sudah bagus batang lehernya tidak
kukutungkan, mana mungkin aku memberinya persen? Ngaco”
“lya, iya, Thayhou benar juga” kata Siau Po. “Lagipula uang itu toh milikku, memang
thayhou tidak sepatutnya memberi persen kepada orang itu.”
Baru sekarang thayhou melepaskan cekalannya pada bahu Siau Po. ia
melepaskannya dengan perlahan-lahan.

“Siau Kui cu,” katanya kemudian, “Apakah kau benar-benar setia padaku?”
Siau Po segera menjatuhkan dirinya berlutut di depan wanita itu, Dia tidak takut akan
dihajar oleh thayhou iagi. Dia juga menyembah berkali-kali.
“Iya. Hamba akan setia kepada thayhou” demikian katanya, “Dalam hal ini, hamba
akan mendapat keuntungan besar, Hamba berjanji, kalau hamba sampai tidak setia,
biarlah Siau Kui cu rela kepalanya dikutungkan, walaupun hamba orang bodoh, tapi
hamba masih tahu bagaimana harus menyayangkan batok kepala ini.”
Ibu suri menganggukkan kepalanya.
“Bagus, bagus sekali” katanya, tapi tangannya tidak henti menepuk bahu bocah itu.
jumlah keseluruhannya tiga kali, Siau Po merasa tercekat hatinya. Tiba-tiba dia merasa
kepalanya pusing dan perutnya mual pandangan matanya berkunang-kunang,
Kerongkongannya mengeluarkan suara yang aneh, sebab dia ingin muntah tapi tidak
dapat.
Terdengar thayhou berkata kembali.
“Siau Kui cu, kau ingat kan belum lama ini ketika Hay tayku si bangsat tua
mengatakan ada sejenis ilmu yang namanya Hoa Kut-bian ciang. ilmu itu bila dipelajari
sampai mencapai taraf kesempurnaan maka siapa yang terserang akan remuk seluruh
tulang belulangnya, ilmu itu sulit sekali dipelajari aku juga tidak bisa memahaminya.
walaupun demikian, otakmu sangat cerdas, Hatimu baik, lagipula penurut Aku hanya
menepuk bahumu tiga kali dengan maksud bergurau, Hal ini menyenangkan sekali….”
Siau Po tidak sanggup mengatakan apa-apa. Dia merasa dada dan isi perutnya
bergolak dan darahnya seakan mengalir dua kali lebih cepat daripada biasanya, Tanpa
dapat mempertahankan diri lagi, dia memuntahkan darah yang bercampur dengan air.
“Terbukti perempuan hina ini tidak percaya kepadaku,” pikirnya dalam hati,
“Sekarang dia telah menurunkan tangan jahatnya terhadapku”
Lalu terdengar ibu suri berkata.
“Siau Kui cu, jangan takut Aku tidak akan memukulmu sampai mati, Sebab kalau kau
sampai mati, siapa nanti yang akan pergi ke Tian Kio untuk mencari si penjual buli-buli
gula batu? Besok pagi-pagi, pertama-tama kau harus ke keraton Cu Leng kiong, di sana
aku akan memberikan tiga butir pil kepadamu, Setiap hari kau harus menelan satu butir.
Setelah tiga puluh hari kemudian, jiwamu tidak akan terancam bahaya lagi, Kalau kau
telah menghabiskan tiga puluh butir, nanti aku akan mengantarkan tiga puluh butir lagi
untukmu”
Terima kasih untuk kebaikan thayhou,” kata Siau Po. Kemudian perlahan-lahan dia
menggerakkan tubuhnya untuk berdiri. Namun kepalanya pusing sekali sehingga dia
terhuyung-huyung lalu roboh kembali, Lalu dia muntah darah beberapa kali, tapi dia

masih bisa berkata: “Thayhou, setiap hari hamba akan memuja Pou Sat yang maha suci
agar thayhou dilindungi dan panjang umur, Sebab, seandainya thayhou batuk-batuk
atau masuk angin saja, tentu hamba tidak akan mendapatkan obat dan bukankah
hamba akan menjadi setan berumur pendek? Ya, hamba akan menjadi si kura-kura
yang pendek usianya.”
Thayhou tertawa terbahak-bahak.
“Bagus kalau kau menyadari hal itu” katanya keras, Setelah itu tubuhnya berkelebat
dan menghilang di balik gerombolan bunga-bunga yang lebat.
Dengan susah payah Siau Po bangkit untuk berdiri tegak, Saat itu dia sudah berhasil
menenangkan hatinya, perlahan dia mengambil jalan memutar untuk sampai di jendela
belakang kamarnya, tapi dia tidak sanggup melompati bahkan untuk sesaat dia harus
mendekam di bawah jendela untuk mengatur pernafasannya, Setelah beristirahat
sejenak, baru dia merayap naik untuk masuk lewat jendela.
“Kui toakokah itu?” terdengar Kiam Peng bertanya.
“Kalau bukan aku, siapa lagi?” sahut Siau Po dengan nada bentakan, Hal ini
membuktikan hatinya sedang tidak senang.
“Kuncu menanya kau secara baik-baik, mengapa kau menjawabnya dengan begitu
kasar?” tanya Pui Ie yang merasa tidak puas mendengar nada suara Siau Po.
“Iya…” sahut Siau Po, tapi baru sepatah kata saja, tubuhnya sudah terguling ke
dalam kamar. Dia tidak sanggup memegang kusen jendela untuk mempertahankan diri,
Tenaganya sudah habis, nafasnya pun memburu. Dia terkulai di atas lantai tanpa
sanggup bergerak, bahkan duduk pun tidak bisa.
Bhok Kiam Peng terkejut setengah mati melihat keadaannya.
“Oh” serunya gugup. “Kenapa kau?”
“Apakah kau terluka?” Pui Ie juga ikut khawatir.
Kedua nona itu merasa tercekat hatinya, Siau Po telah terkena pukulan Hoa Kut-bian
ciang milik Hong thayhou, walaupun untuk sementara, dia tidak akan langsung mati,
tapi keadaannya cukup parah: tapi dia tidak takut, Dasar bocah nakal, mendengar
pertanyaan kedua nona itu, dia malah tertawa lebar.
“Ah Adikku yang manis dan istriku yang cantik Kalian berdua toh dalam keadaan
terluka, Kalau aku tidak ikut terluka, mana tepat dikatakan susah dan senang dicicipi
bersama-sama?”
“Oh, kau terluka, Kui toako?” tanya Kiam Peng, “Bagian manakah yang terluka?
Apakah kau merasa sakit sekali?”

“Oh, adikku… hatimu baik sekali, Aku memang sedang kesakitan tadinya, Mendengar
pertanyaanmu yang mengandung kecemasan hatimu itu, rasa sakit itu jadi langsung
hilang, Nah, coba kau bilang, aneh bukan?”
Bhok Kiam Peng tertawa.
“Ah, kau paling pandai membohongi orang” sahutnya.
Siau Po berpegangan pada kaki meja, Dia berusaha berdiri Dalam hati dia berkata.
“Aku masih bisa hidup sampai sekarang, semua ini berkat nama Sui congkoan, Coba
seandainya thayhou mengetahui pengawalnya itu sudah mati, Tentu nyawaku akan
amblas juga malam ini”
Perlahan-lahan Siau Po mendekati kotak obatnya. Dia buka kotak itu dan mencari
obat yang dibutuhkannya, Di dalamnya terdapat banyak botol obat, tetapi dia
mengambil sebuah yang bentuknya segi tiga dan warna dasarnya hijau keputihan. Di
antara sekian banyaknya obat milik Hay kongkong, hanya obat itu yang dikenalinya.
itulah bubuk Hoa Si-hun, obat untuk mencairkan mayat. Obat itu pernah dia gunakan
untuk menghancurkan mayat Siau Kui cu, thay-kam cilik yang namanya dia pakai
sekarang,
Setelah mendapatkan obat itu, Siau Po berusaha menarik keluar mayat Sui Tong dari
kolong tempat tidur Lalu dia mengeluarkan uang kerta serta benda-benda berharga
yang tadi dia masukkan ke dalam pakaian orang itu.
“Ketika kau pergi, mayat ini terus ada di kolong tempat tidur, Kami takut sekali,” kata
Kiam Peng.
Siau Po tertawa.
“Kalau kalian berdua sampai mati, bukankah mayat ini malah akan mendapatkan
kawan?”
“Cis” bentak Pui Ie. “Kuncu, jangan bicara dengannya”
Siau Po tidak memperdulikan nona itu.
“Aku akan bermain sulap, apakah kalian mau melihatnya?”
Tidak” sahut nona Pui singkat.
“Siapa yang tidak suka melihat, boleh memejamkan matanya” kata Siau Po kembali.
Pui Ie menurut Dia segera memejamkan matanya rapat-rapat Kiam Peng juga ikut
memejamkan matanya, tapi hanya sebentar Kemudian dia melihat Siau Po

mengeluarkan sebotol kecil dan kemudian menuangkan isinya ke dalam sendok, lalu
ditaburkan di atas luka Sui Tong.
“Kalian lihat.” katanya.
Tidak lama kemudian, tampak asap mengepul dari bekas luka yang ditaburkan bubuk
obat itu, lalu tercium bau tidak sedap yang disusul dengan keluarnya cairan berwarna
kuning dari luka yang menguak semakin besar itu.
“Ah” seru Kiam Peng keheranan.
Pui Ie penasaran melihat seruan adik seperguruannya, Dia segera membuka
matanya, Ketika dia melihat apa yang disaksikan Kiam Peng, sepasang mata gadis itu
sampai membelalak lebar-lebar dan tidak dipejamkan lagi. Seperti Siau kuncu, dia juga
keheranan.
Asal terkena cairan berwarna kuning tersebut, luka di tubuh mayat itu semakin
meluas, Dagingnya meleleh menjadi cairan kuning pula. Menyaksikan keadaan itu,
kedua nona itu sampai tertegun sekian lama.
“Kalian berdua, awas Siapa yang tidak mau menuruti kata-kataku, wajahnya akan
kutaburi dengan obat ini, sehingga jelek seperti mayat ini” gertak Siau Po.
“Kau… kau jangan menakut-nakuti orang” bentak Kiam Peng.
Sebaliknya Pui Ie menatap Siau Po dengan tajam dan sorot matanya menunjukkan
kemarahan. Hatinya juga tercekat dan khawatir.
Senang hati Siau Po melihat kedua nona itu ketakutan. Dengan hati-hati dia
menyimpan obatnya kembali Kemudian dia mengambil sebuah kursi dan mendorong
mayat Sui Tong yang terbagi menjadi dua bagian karena gerakan cairan yang tidak
merata, Akhirnya seluruh mayat itu lumer menjadi cairan kuning dan menyebarkan bau
yang tidak enak.
Melihat keadaan itu, lega rasanya hati Siau Po.
“Biar si nenek sihir itu mengirim lima laksa pengawalnya ke Ngo Tay san, tetap saja
dia tidak berhasil menemukan Sui Tong” Setelah itu Siau Po mengambil air dari dalam
gentong untuk mencuci bersih cairan kuning tersebut Setelah membersihkan lantai, dia
membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, Dia merasa lelah sekali, matanya
langsung dipejamkan Sekejap kemudian dia suda tertidur pulas.
Sampai fajar tiba, baru Siau Po mendusin dari tidurnya, Dia langsung merasakan
nyeri di dadanya Bahkan dia juga merasa perutnya mual dan ingin muntah, tapi sampai
sekian lama dia mencoba, tetap saja tidak ada sebutir nasi pun yang dimuntahkannya.
Kiam Peng dan Pui Ie merasa heran melihatnya.

“Kui toako, apa yang kau rasakan?” tanyany prihatin
Siau Po bangun dan duduk di atas tempat tidur. Dia melihat kedua nona itu dan tidur
di antar keduanya, Kedua nona itu tidak membuka pakaian luarnya, Ketika dia melihat
waktu sudah tidak pagi cepat-cepat dia bangun dan turun dari tempat tidur.
“Kalian berbaring saja, jangan bergerak” katanya kepada kedua nona itu, “Aku ingin
menemui Sri Baginda secepatnya”
Tadinya Siau Po berniat keluar dari kamarnya lewat jendela, tapi tenaganya masih
1emah. Akhirnya terpaksa dia keluar dari pintu depan kemudian menguncinya dari luar.
Belum berapa lama Siau Po berada di kamar tulis kaisar Kong Hi, junjungannya itu
sudah mengundurkan diri dari ruang sidang seperti biasanya. Begitu melihat Siau Po,
kaisar Kong Hi tertawa lebar dan berkata pada thay-kam cilik kesayangannya itu.
“Siau Kui cu, lagi-lagi kau membunuh orang tadi malam.”
Siau Po cepat-cepat memberi hormat dan mengucapkan selamat pagi pada
junjungannya itu.
“Kau sungguh beruntung” kata kaisar Kong Hi kembali “Kembali kau dapat
menempur para penyerbu itu. Aku sendiri, melihat wajah penyerbu itu saja tidak
Bagaimana kepandaian para pemberontak itu? Dengan jurus apa kau
merobohkannya?”
Siau Po berpikir dengan cepat Kaisar Kong Hi pandai ilmu silat Tidak mungkin dia
memberikan keterangan secara sembarangan Sebenarnya, dia tidak bertempur
melawan seorang pun di antara penyerbu tadi malam. Tapi dia teringat pertempuran
yang berlangsung di rumah keluarga Pek ketika Hong Ci-tong melawan Pek Han-tiong.
“Pertempuran itu terjadi di saat gelap,” sahutnya, “Tiba-tiba hambamu melihat kaki
kiri orang itu menyapu ke kanan dan tangan kanannya menyambar ke kiri, Kemudian…”
dia pun menjelaskan tipu silat lawannya,
“Bagus” seru kaisar Kong Hi seraya bertepuk tangan. “Tepat sekali tipu yang kau
gunakan itu”
Thay-kam gadungan itu tertegun.
“Oh, Sri Baginda, apakah kau tahu jurus silat yang digunakan para pemberontak itu?”
“lya,” sahut kaisar Kong Hi. Bibirnya menyunggingkan senyuman, Tahukah kau apa
nama jurus itu?”
Siau Po tahu jurus silat yang diperlihatkannya bernama Heng-Sau ciangkun, tapi dia
pura-pur tidak tahu.

“Hamba tidak tahu….”
Raja tertawa.
“Kalau kau tidak tahu, biar aku beritahukan, katanya, “Jurus itu bernama Heng-sau
ciang kun”
“Bagus sekali nama itu” puji Siau Po pura-pur terkesima.
“Dia menggunakan jurus itu, lalu bagaimana kau menghadapinya?”
“Untuk sesaat hamba sempat kebingungan sahut Siau Po. “Lalu tiba-tiba saja hamba
ingat tipu silat yang pernah digunakan Sri Baginda ketika dulu kita berlatih bersama,
Ketika itu hamba kena dibuat terpental sehingga melewati kepala Sri Baginda. Kalau
tidak salah itu adalah, itu adalah tipu ilmu Hui In-jiu dari Butong paimu….”
Senang sekali hati kaisar Kong Hi mendengar jawaban Siau Po.
“Jadi kau menggunakan tipu silatku untuk memunahkan jurus Heng-sau ciang kun
itu?”
“Benar, Sri Baginda,” sahut Siau Po. “sebenarnya kepandaian hamba belum berarti
apa-apa, tetapi untungnya Sri Baginda sering mengajak hamba berlatih bersama
sehingga ada sebagian besar ilmu silat Sri Baginda yang masih hamba ingat dan
hamba manfaatkan begitu menghadapi musuh….”
Kaisar Kong Hi tambah senang hatinya,
“Bagus Bagus sekali kau masih mengingatnya”
Siau Po juga gembira melihat kaisar Kong Hi berseri-seri wajahnya.
“Untung saja ocehanku tepat” pikirnya, Tidak sia-sia dia mengangkat rajanya itu
tinggi-tinggi. Kemudian dia menambahkan kembali “Hanya ada satu hal yang patut
disayangkan, yakni tenaga dalam hamba masih cetek sekali, Akhirnya penjahat itu
berhasil juga meloloskan diri.”
“Ya, sayang Sayang” kata raja. “Sebenarnya kau harus langsung menotok jalan
darah hwe Cong dan Gwe Kuan penjahat itu, Kalau kau melakukan hal itu, tentu
penyerbu tersebut tidak dapat meloloskan diri lagi”
Sembari berkata, kaisar Kong Hi segera mencekal lengan Siau Po dan menunjukkan
cara bagaimana menekan lawannya.
Siau Po berusaha meronta, tapi dia tidak berhasil membebaskan dirinya.

“Ah” serunya penuh penyesalan “Coba kalau dari siang-siang Sri Baginda
mengajarkan tipu ini, tentu hamba tidak perlu melalui saat-saat yang membahayakan
jiwa.”
Kaisar Kong Hi tertawa.
“Lalu, bagaimana kelanjutannya?”
“Begitu berhasil membebaskan diri, orang itu lari ke belakang hamba dan berhasil
menghajar punggung hambamu dengan kedua telapak tangannya”
“Itulah jurus Kao-san Liu Sui” seru Sri Baginda memberikan keterangan mengenai
jurus yang digunakan pihak lawan.
“Oh, itukah jurus Kao-san Liu Sui?” tanya Siau Po pura-pura terkejut “Sayang aku
tidak tahu….”
“Benar-benar manusia tidak berguna” maki kaisar Kong Hi, tapi sembari tertawa,
“Mengapa waktu bertempur kau tidak menggunakan ilmu yang diajarkan gurumu?
Mengapa kau selalu meniru gerakan ilmu silatku?”
“Entahlah, Sri Baginda” sahut Siau Po. “Setiap jurus silat yang guru hamba ajarkan,
dapat hamba gerakkan dengan baik di saat berlatih, namun apabila menghadapi
pertempuran seperti tadi malam, tiba-tiba semuanya jadi menguap dan tidak ada
satupun yang teringat dalam benak hambamu ini. sebaliknya semua gerak tipu silat Sri
Baginda justru terbayang jelas di pelupuk mata sehingga tanpa berpikir panjang lagi
hamba menirukannya, Begitu pula ketika punggung hamba terhajar Tiba-tiba saja
hamba mengelit ke samping kanan.”
“ltulah jurus Keng Hong-pou,” kata Sri Baginda yang menjelaskan tipu silat miliknya
yang berarti “Gerakan angin puyuh.”
“Benar” sahut Siau Po. “Setelah berkelit, hamba segera mencabut pisau belati dan
membalas menyerang musuh sambil hamba berteriak dengan keras “Hai, Siau Kui cu,
menyerah tidak?” Raja tertawa terbahak-bahak, “Aih Kau ini benar-benar aneh”
katanya, “Mengapa kau justru memanggil namamu sendiri?”
“Saat itu hamba tidak sempat berpikir dan menyebut nama hamba secara tanpa
sadar Hamba ingat, ketika baru-baru ini Sri Baginda mengadakan latihan dengan
hamba. Bukankah Sri Baginda selalu menyerukan kata-kata itu?”
“Bagus, bagus” kata kaisar Kong Hi memuji, “Ternyata kau masih ingat semuanya”
Kaisar Kong Hi merasa puas sekali, “Kalau demikian, para pemberontak itu mempunyai
nyali yang besar tapi kepandaiannya tidak seberapa lihay” tambahnya kemudian.
“Sebetulnya, Sri Baginda,” kata Siau Po. “Ada juga beberapa di antara para
pemberontak itu yang ilmu kepandaiannya cukup tinggi, Buktinya ada beberapa siwi

yang tewas dan terluka, Dasar hamba berpanjang umur, hamba telah mendapat
pelajaran dari Sri Baginda sehingga hamba sanggup menjaga diri. Kalau tidak, terpaksa
Sri Baginda hari ini mengeluarkan firman agar semua orang membaca doa untuk
menghibur arwahnya Siau Kui cu yang sudah berpulang ke alam baka serta
menghadiahkan uang sebanyak seribu tail….”
Raja tertawa.
“Seribu tail tidak sebanding dengan jasamu. seharusnya selaksa”
Siau Po juga tertawa, Senang dia dapat bergurau dengan junjungannya itu.
“Eh, Siau Kui cu… apakah kau dapat menduga asal-usul para pemberontak itu?”
tanya kaisar Kong Hi kembali
“Memalukan sekali Hamba tidak tahu” sahut Siau Po. “Sri Baginda, kalau ditilik dari
tipu silat yang mereka gunakan, dapatkah Sri Baginda menerka asal-usul mereka?”
“Mula-muIa aku masih bimbang, tetapi keteranganmu telah memperkuat dugaanku”
sahut sang raja, Kemudian dia bertepuk tangan dan menurunkan perintah kepada salah
seorang pelayannya, “Pergi kau panggil So Ngo-tu dan To Lung untuk datang kemari”
Kedua pelayan itu menunggu Sri Baginda di luar kamar tulisnya, Mendengar perintah
junjungannya itu, mereka segera berlalu untuk melaksanakan tugas tersebut.
To Lung adalah orang Boanciu asli. Pangkatnya Tou Tong atau gubernur militer, dan
termasuk golongan Bendera bersulam biru, Ketika angkatan perang Boan menyerbu ke
selatan, dia telah membangun jasa yang tidak kecil Kepandaiannya juga cukup tinggi,
namun karena terdesak oleh Go Pay, dia tidak mendapat kedudukan yang setimpal di
kota raja, Setelah Go Pay jatuh, oleh raja dia dinaikkan pangkatnya menjadi Gi Cian
siwi Tou congkoan atau Kepala barisan pengawal Raja.
Namun apa mau dikata, belum lama dia menjabat kedudukan itu, telah terjadi
penyerbuan oleh para penjahat. Dengan demikian dia jadi tidak enak hati, sepanjang
malam dia tidak dapat tidur, Dia khawatir ibu Suri atau Sri Baginda akan menegurnya
dan atau menghukumnya.
Ketika Tou congkoan itu muncul, tampak matanya merah sekali. “Apakah para
penjahat yang tertawan itu sudah dimintakan keterangannya?” tanya Sri Baginda,
“Harap Sri Baginda ketahui,” sahut kepala siwi itu, “Penjahat yang tertawan
jumlahnya ada tiga orang, Hamba telah memeriksanya. Dan hamba melakukannya
dengan cara terpisah-pisah untuk mencocokkan ucapan mereka nantinya, Pertamatama
mereka tidak mau mengaku, Belakangan karena tidak tahan menghadapi siksaan,
barulah mereka mengaku, Benar saja…. Mereka adalah orang-orangnya… Peng Si
ong…”

Kaisar Kong Hi menganggukkan kepalanya, “Begitu?” tanyanya agak heran “Semua
senjata para penjahat itu ada ukiran yang merupakan tanda dari Peng Si onghu,” kata
To Lung menjelaskan “Sedangkan di dalam baju mereka juga terdapat tanda dari Peng
Si ong juga Dengan demikian terbukti bahwa pemberontak pemberontak itu adalah
orang-orangnya Go Sam kui. seandainya bukan sekalipun, Go Sam-kui past tidak
terlepas dari keterlibatan.”
Kaisar Kong Hi kembali menganggukkan kepalanya, Kemudian dia menoleh kepada
So Ngo-tu “Apakah kau juga telah melakukan pemeriksaan?”
“Hamba telah memeriksa semua senjata dan pakaian para penjahat, Memang cocok
dengan apa yang dikatakan To congkoan” sahut To Lung.
“Coba bawa kemari senjata-senjata dan pakaian para pemberontak itu” perintah
kaisar Kong Hi. To Lung segera mengiakan Dia langsung k luar untuk mengambil
barang-barang yang diperintahkan kaisar Kong Hi. Dia tahu rajanya itu masi muda
sekali, tetapi otaknya cerdas dan juga sikapnya teliti. Dia memang sudah menduga raja
aka memeriksa sendiri semua senjata dan pakaian itu. Karenanya, sebelum mendapat
panggilan dia sudah mempersiapkan semuanya.
Tidak lama kemudian dia sudah kembali ia. Segera dibukanya bungkusan yang ia
bawa dan membeberkan isinya di atas meja, Setelah itu dia mengundurkan diri
beberapa tindak.
Kaisar-kaisar Boanciu terdiri dari orang-orang gagah dan tidak pantang menghadapi
senjata, Tetapi dalam sebuah kamar tulis di istana, semua pembesar dilarang
membawa senjata menghadap Sri Baginda, Untuk menghindarkan diri dari kecurigaan
To Lung segera mengundurkan diri agak jauh.
Raja mengangkat sebatang golok dan memeriksanya, Memang benar dia melihat
ukiran huruf-huruf “Tay Beng sanhay kwan coanpeng hu” Kaisar Kong Hi langsung
tersenyum dan berkata.
“Urusan ini agak mencurigakan Kalau ada rencana terselubung, seharusnya semua
bukti-bukti ini dihilangkan terlebih dahulu, tapi ini malah sebaliknya”
Kaisar Kong Hi menoleh kepada So Ngo-tu. “kalau Go Sam-kui mengutus orang ke
istana untuk melakukan pembunuhan, seharusnya dia sudah merencanakannya
matang-matang, Senjata apa yang tidak boleh digunakannya? Mengapa dia justru
memakai senjata yang ada tanda jati dirinya? Mereka toh datang ribuan li dari propinsi
Inlam, masa di tengah jalan tidak pernah terpikir bahwa ada kemungkinan senjata
mereka bisa tertinggal di dalam istana di saat melakukan penyerbuan?”
“Ya, ya Sri Baginda benar sekali” puji So Ngo-tu. “Sri Baginda cerdik dan dapat
memandang urusan sampai jauh, hamba benar-benar takluk”
Raja menoleh kepada thay-kamnya yang masih muda.

“Siau Kui cu,” panggilnya, “llmu silat apakah yang digunakan penjahat yang berhasil
kau bunuh itu?”
“llmu Heng-sau ciang kun dan Kao-san Li Sui” sahut si bocah cilik yang ditanyai.
“Nah, ilmu dari manakah itu?” tanya kaisar Kong Hi kepada To Lung.
Walaupun kepala pengawal ini asli orang Boan tapi To Lung kenal banyak macam
ilmu silat, Karena itu pula tidak heran kalau dia mengenal kedua macam ilmu silat yang
disebut Siau Po.
“Mirip dengan ilmu silat keluarga Bhok di Inlam” sahutnya,
Raja menepuk tangan keras-keras.
“Tidak salah Memang tidak salah” puji kaisar Kong Hi. “To Lung, pandanganmu luas
sekali”
Puas rasanya hati To Lung mendengar pujian junjungannya, Dia segera menjatuhkan
diri berlutut untuk memberi hormat dan mengucapkan kata-kata merendah, serta
mengucapkan terima kasih,
“Coba kalian pikir,” kata kaisar Kong Hi kembali. “Kalau benar Go Sam-kui
menitahkan orang-orangnya datang ke kotaraja untuk menyerbu istana, tidak mungkin
dia memilih saat yang sama mengutus puteranya datang berkunjung ke kota Peking ini
Para penyerbunya toh bisa datang setiap waktu, kenapa dia memilih waktu ketika
puteranya ada di sini? inilah hal pertama yang menimbulkan kecurigaan. Go Sam-kui
pandai mengatur tentara, orangnya teliti dalam mengambil setiap tindakan Mengapa dia
bisa mengirim orang-orang semacam ini untuk melakukan tugas yang dititahkannya?
Bukankah jumlahnya terlalu kecil dan kepandaian mereka tidak seberapa tinggi? Tapi
mengapa dia mengirimkannya juga? Hal inilah yang disebut kecurigaan kedua, Ada lagi
yang ketiga, Taruh kata, benar dia mengirim orang untuk membunuh raja-nya, apa
manfaat bagi dirinya? Mungkinkah dia ingin memberontak dengan menimbulkan huruhara?
Kalau dia benar ingin memberontak mengapa dia mengirim puteranya ke kota
raja? Bukankah itu berarti dia mengantarkan puteranya menuju ambang pintu
kematian?”
Tatkala Siau Po mendengar dari Pui Ie, perihal muslihat yang mereka gunakan untuk
memfitnah Go Sam-kui, dia merasa siasat itu bagus sekali, Sekarang, setelah
mendengar keterangan Sri Baginda, baru dia merasa siasat itu terlalu banyak
kelemahannya. Diam-diam dia merasa kagum terhadap Raja muda yang cerdik itu.
So Ngo-tu juga memuji sang raja yang dikatakan cerdas sekali.
“Nah, mari kita pikirkan lebih jauh” kata kaisar Kong Hi. “Seandainya para penyerbu
itu bukan orang-orang Go Sam-kui, tetapi mereka menggunakan senjata dan pakaian
yang bertanda Peng Si orujhu itu, apakah maksudnya? Apakah hal ini mempunyai arti

tersendiri? Terang ada orang yang ingin memfitnah Go Sam-kui, Peng Si ong telah
membantu kita merampas seluruh tanah Tionggoan. Sudah tentu tidak sedikit orang
yang membencinya, Nah, penjahat itulah yang harus kita cari Siapa kira-kira orang itu?
Atau dari pihak manakah ? Hal inilah yang harus kita pikirkan dengan seksama”
“Sri Baginda benar” sahut So Ngo-tu dan To Lung serentak “Kalau seandainya Sri
Baginda tidak berpandangan demikian jauh, mungkin kami sekalian sudah kena
dikelabui, Bukankah itu berarti kami mencelakai orang baik-baik dan memfitnah tidak
karuan?” kata To Lung menambahkan.
“Memfitnah orang baik-baik Hm” kata Raja, Setelah itu kaisar Kong Hi berdiam diri.
Karena itu, So Ngo-tu dan To Lung pun segera memohon diri.
Raja membiarkan kedua orang itu pergi, Dia justru memandangi Siau Kui cu lekatlekat
kemudian berkata.
“Siau Kui cu, coba kau terka, bagaimana aku bisa mengetahui kedua jurus Heng-sau
ciang kun dan Kao-san Liu Sui?”
“Hambamu justru sejak tadi, dilanda keheranan,” sahut Siau Po. “Apa sebabnya Sri
Baginda bisa tahu?”
“Tadi pagi-pagi sekali, aku telah memanggil beberapa orang siwi untuk menghadap.
Lalu aku menanyakan soal penyerbuan tadi malam, terutama tentang ilmu silat yang
mereka gunakan, Ternyata ada beberapa jurus ilmu silat yang merupakan ciri khas
keluarga Bhok, Kau tahu, keluarga ini turun temurun menguasai wilayah Inlam, Hanya
setelah masuknya kerajaan Ceng kita, propinsi itu langsung diserahkan kepada Go
Sam-kui. Tentu saja karena itu keluarga Bhok menjadi gusar dan sakit hati.
Selain itu, Bhok Tian-po pangeran terakhir Bhok onghu justru tewas di tangan
bawahan Go Sam-kui. Hal ini menambah kebencian di hati mereka. Aku juga menyuruh
beberapa orang siwi itu menjalankan ilmu silat keluarga Bhok, ternyata di antaranya
memang ada Heng-sau ciang kun dan Kao-san Liu Sui”
“Sungguh Sri Baginda pandai berpikir dan menerka” puji Siau Po. Di dalam hati dia
justru merasa gundah dan khawatir sekali, Dia berpikir: “Di dalam kamarku tersembunyi
dua orang nona dari keluarga Bhok. Entah Sri Baginda mengetahuinya atau tidak?”
Ketika Siau Po masih bingung, kaisar Kong Hi tersenyum dan berkata kepadanya.
“Eh, Siau Kui cu, apakah ada pikiranmu untuk mendapatkan rejeki besar?” tanyanya.
Siau Po menoleh kepada Raja dan menatap dengan pandangan tidak mengerti.
“Kalau Sri Baginda tidak memberikan, mana berani hamba memintanya,” sahut
bocah itu, Dia kurang mengerti apa yang dimaksudkan oleh junjungannya, karena itu

dia hanya dapat menduga-duga saja, “Sebaliknya, apabila Sri Baginda bersedia
memberikannya, hamba pun tidak berani menerimanya”
Raja tertawa.
“Bagus” katanya, “Aku akan memberikan rejeki besar untukmu sekarang kau
kumpulkan semua senjata dan pakaian dalam ini. Juga surat-surat pengakuan para
penyerbu yang kena ditawan lalu bawa semuanya kepada seseorang, Aku yakin kau
akan memperoleh harta karun”
Siau Po tertegun, tapi sejenak kemudian dia tersadar.
“Oh, dia pasti Go Eng-him” serunya.
“Kau memang cerdas sekali” kata Raja, “Nah, kau bawalah semua barang-barang ini
kepadanya”
“Sungguh besar rejeki Go Eng-him” kata Siau Po. “Ha… ha… ha.,. sekarang jiwa dia
beserta keluarganya, semua ada di tangan Sri Baginda, Bahkan seluruhnya juga
merupakan hadiah dari Sri Baginda”
“Bagaimana nanti kau berbicara dengannya?” tanya Sri Baginda.
“Akan hamba katakan begini kepadanya: “Eh, orang she Go, junjungan kita sangat
cerdas dan berpandangan jauh, Sri Baginda dapat mengetahui apa saja yang kalian
ayah dan anak lakukan di Inlam. Tidak ada satu hal pun yang tidak beliau ketahui Kalau
kalian hendak memberontak, Sri Baginda sudah dapat menduganya dari jauh hari Oleh
karena itu, kalian harus baik-baik dan menuruti perkataanku”
Kaisar Kong Hi tertawa.
“Kau cerdas sekali” katanya, “Meskipun kau tidak bersekolah, kau buta huruf dan
kata-katamu kasar, tetapi alasannya selalu tepat Memang mereka ayah dan anak harus
tunduk sepenuhnya kepadaku”
Senang Siau Po mendengar nada junjungannya. Dia segera membungkus seluruh
senjata dan pakaian dalam yang berserakan di atas meja, Juga surat pengakuan para
siwi, Kemudian dia memberi hormat kepada Raja untuk memohon diri. Setelah itu dia
memutar tubuhnya untuk meninggalkan kamar tulis Raja itu, Namun tepat pada saat itu
juga, dia merasa punggungnya nyeri sekali.
“Celaka” gerutunya dalam hati Mendadak saja kepalanya terasa pusing dan
perutnya muak. Dia merasa ingin muntah, “Ah, aku harus menemui nenek sihir itu
secepatnya agar diberikan obat”
Di samping Siau Po ada seorang thay-kam, sembari mengasongkan bungkusannya
yang akan menjadi harta karun, dia berkata.

“Kau pegang dulu barang ini Aku akan ke keraton Cu Leng hiong untuk
mengucapkan selamat pagi kepada thayhou”
Thay-kam itu mengangguk Dia menyambut bungkusan itu. Siau Po bergegas pergi
ke keraton Cu Leng hiong, kamarnya ibu suri, sesampainya d sana dia meminta
seorang thay-kam mengabarkan kedatangannya.
Tidak lama kemudian muncullah Lui Cu, s dayang cilik. Melihat Siau Po, dia berkata
dengan suara lirih,
“Kui kongkong, thayhou sedang marah. Katanya beliau tidak ada waktu menemui
mu. Kalau ka ada urusan apa-apa, besok saja kau datang lagi.”
Siau Po jadi tertegun.
“Besok baru datang lagi?” pikirnya dalam hati “Entah besok aku masih hidup atau
tidak? Terang terangan kemarin thayhou sendiri yang mengatakan agar aku datang hari
ini untuk mengambil obat sekarang dia sengaja mempermainkan aku. Ak benar-benar
tidak menyangka”
“Adik kecil,” katanya kemudian kepada Lui Cu “Tolong kau kembali lagi kepada
thayhou dan kata kan bahwa kemungkinan besok aku tidak bisa hidup lagi, Tapi, Siau
Kui cu menganggap jiwanya kecil karena itu aku tidak perlu minum obat lagi”
Lui Cu bingung, Untuk sesaat dia menatap Sia Po dengan tatapan heran.
“Eh, apa yang kau katakan?” tanyanya, “Bagaimana aku bisa menyampaikan katakatamu
kepad thayhou, sedangkan ucapanmu itu begitu tidak sopan?”
“Hm” Siau Po mengeluarkan suara yang tawar. “Karena aku akan mati, perduli apa
kata-kataku ini sopan atau tidak”
Selesai berkata, dia langsung membalikkan tubuhnya dan pulang ke kamarnya
sendiri Dia langsung memalang pintu kamarnya itu setelah sebelumnya mengambil dulu
bungkusan yang dititipkan tadi, Dia duduk di atas kursi dengan nafas tersengal-sengal.
Biar bagaimana, pikirannya bingung dan hatinya mendongkol.
“Apa kau kurang sehat?” tanya Kiam Peng.
“Meiihat wajahmu yang cantik, kesehatanku pun pulih kembali,” sahut Siau Po, “Kau
begitu cantik sehingga bunga dan rembulan pun merasa malu memandangmu”
Kiam Peng tertawa.
“Suciku baru termasuk gadis cantik yang bisa membuat bunga-bunga malu dan
rembulan menutup diri, Di wajahku ada kura-kura kecil sehingga buruk sekali….”

Mendengar gurauan si nona cilik, hati Siau Po terasa lega juga,
“Eh, kenapa di wajahmu ada kura-kura?” tanyanya sambil tertawa. “Oh, aku tahu
sekarang, Adikku yang baik, wajahmu begitu bersih dan mulus sehingga bila kau
berkaca, kau akan melihat bayangan seekor kura-kura cilik,”
Kiam Peng heran, Dia menatap Siau Po tajam.
“Apa katamu? Mengapa kau berkata demikian.”
“Kau lihat, dengan siapa kau tidur?” kata Siau Po. “Wajahmu berpotongan telur mirip
sebuah cermin Dan di sana terbayang wajahnya seseorang yang tampak mirip seekor
kura-kura kecil”
“Cis” Pui le yang sejak tadi diam saja jadi sengit karena merasa disindir oleh Siau
Po. “Nih, kau lihat sendiri wajahku”
Siau Po tertawa.
“Kalau aku melihatnya dari dekat, maka di wajah adikku yang manis pasti terpantul
tampang seorang tuan besar yang tampan dan gagah”
Kiam Peng tertawa, Pui le juga ikut tertawa, Mereka merasa thay-kam cilik ini
memang lucu sekali.
“Kalau seekor kura-kura kecil bisa jadi tuan besar, lalu tuan besar yang bagaimana
itu?” sindir Pui Ie.
Siau Po tertawa, Juga Kiam Peng dan Pui le, tap mereka tidak berani tertawa keraskeras.
“Sekarang mari kita bicara yang serius,” kata Pu Ie. “Kami harus menyingkir dari sini
Bagaimana caranya? Kau harus memikirkan jalannya bagi kami”
Di dalam istana, Siau Po selalu dihormati oleh para thay-kam dan para siwi,
Berhadapan dengan raja, dia juga merasa gembira. Tapi begitu kembali ke kamarnya,
dia akan merasa sepi Sejak adanya kedua nona dari keluarga Bhok, dia tidak lagi
kesepian.
Memang dia khawatir mereka bisa kepergok, namun dia tetap tidak ingin cepat-cepat
berpisah dengan kedua nona itu. Mendengar ucapan Pui le, dia jadi berpikir.
“Kita harus pikirkan dengan seksama, Kalian sedang terluka, Apabila kalian keluar
dari kamar ini, ada kemungkinan kalian akan kepergok dan ditawan kembali Bukankah
hal itu membahayakan sekali?” katanya.
Pui le dan Kiam Peng terdiam, Kata-kata Siau Po memang benar.

“Coba kau beritahukan kepadaku,” kata Pui Ie. “Di antara kawan-kawanku yang
datang menyerbu tadi malam, ada berapa yang mati dan berapa pula yang tertawan?
Apakah kau mengetahui nama-nama mereka?”
Siau Po menggelengkan kepalanya.
“Aku tidak tahu,” sahutnya, “Kalau kau ingin mencari keterangan itu, nanti aku akan
menanyakannya….”
“Terima kasih,” kata Pui Ie.
Siau Po merasa senang dan juga heran. Barukali ini dia mendengar suara si gadis
yang demikian lembut, bahkan gadis itu pun mengucapkan terima kasih.
“Yang paling penting kau selidiki, apakah di antara orang yang tertawan itu ada
seorang she Lau atau tidak?” kata Kiam Peng ikut bicara.
“Seorang she Lau?” tanya Siau Po menegaskan “Siapa nama belakangnya?”
“Dia adalah kakak seperguruan kami,” sahut Bhok Kiam-peng. “Namanya It Cou,.,
dan dia… juga kekasih… hati kakak Pui.,,.”
Tiba-tiba Kiam Peng berhenti bicara dan tertawa, karena Pui Ie menggelitiknya
sehingga dia kegelian.
“Oh, Lau It-cou” seru Siau Po tertahan “Dia…”
“Dia apa?” tanya Pui Ie panik, “Ada apa dengan dia?”
“Bukankah dia bertubuh tinggi, berwajah putih dan tampan? Usianya sekitar dua
puluh lebih?” tanya Siau Po, “Bukankah ilmu silatnya cukup tinggi?”
sebenarnya Siau Po tidak tahu siapa Lau It-cou. Dia juga belum pernah melihatnya,
tetapi karena pemuda itu adalah kekasih Pui Ie, dia dapat menerka bahwa pemuda itu
pasti tampan Padahal dia hanya asal menebak dan sebagai kakak seperguruan Pui Ie,
pasti ilmu silatnya juga cukup tinggi Di luar perkiraannya, dugaan Siau Po tepat.
“Tidak salah lagi Memang dia orangnya Kenapa dia?” tanya Kiam Peng.
Siau Po tidak langsung menjawab Dia menarik nafas panjang terlebih dahulu.
“Aih.,, rupanya Lau suhu itu kekasih nona Pui,” katanya kemudian
Tepat pada saat itu dari luar kamar terdengar suara panggilan.
“Kui kongkong, ada hadiah dari thayhou”

Mendengar itu, Siau Po menjadi senang, Dia berkata dalam hati,
“Oh, dasar perempuan lacur Dia toh tidak sudi menemui aku, untuk apa aku
menemuinya? sekarang lohu tidak takut mati, dia justru yang merasa khawatir”
walaupun berpikir demikian, dia tetap menjawab: Terima kasih atas hadiah itu”
Dan dia membuka pintu lalu menjatuhkan diri berlutut dan mengangguk kepada
orang yang membawakan hadiah itu, seorang thay-kam Dia pun mengucapkan terima
kasih kepada thay-kam tersebut.
Hadiah itu berupa sebuah kotak kayu yang berukiran indah, Ketika Siau Po membuka
tutup-nya, dia melihat isinya adalah sebotol obat Dia segera mengeluarkan selembar
uang kertas bernilai lima puluh tail dan diberikan kepada si thay-kam sebagai persenan.
Thay-kam itu senang sekali, dia tidak menyangka akan mendapatkan hadiah sebesar
itu, Dia mengucapkan terima kasih berulang kali.
Setelah kembali ke dalam kamarnya, tanpa ragu-ragu lagi Siau Po menelan sebutir
obat itu.
“Kui toako” panggil Pui Ie. “Bagaimana dengan Lau su… ko?”
“Oh, dasar perempuan bau” maki Siau Po dalam hati, “Biasanya kau tidak pernah
bersikap ramah kepadaku, sekarang kau melakukannya sebab ingin menanyakan
keadaan sukomu, Malah kau memanggil aku Kui toako, sebaliknya aku gertak dulu dia”
Thay-kam gadungan inipun segera menggeleng kan kepalanya sambil menarik nafas
panjang.
“Sayang… sayang sekali.,.” katanya.
Pui Ie terkejut setengah mati.
“Bagaimana?” tanyanya gugup, “Apakah dia terluka atau sudah mati? Cepat
katakan”
Tiba-tiba si bocah nakal itu tertawa lebar-lebar
“Oh, orang yang bernama Lau It-cou itu,., katanya memperlihatkan tampang
cengengesan “Aku tidak kenal dengannya dan aku tidak pernah melihatnya. Tapi kalau
kau menanyakan tentang dia, baiklah sekarang kau panggil dulu aku kong kong yang
baik sebanyak tiga kali, Nanti aku past sudi melelahkan diri mencari tahu soal orang
itu”
Pertama-tama Pui Ie memang terkejut sekali namun setelah mendengar nada suara
Siau Po hatinya

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s