“ PANGERAN MENJANGAN” – “ LU DING JI “ 26

Tong.
“Aku akan memberikan laporan kepada Sri Baginda, Aku akan mengatakan bahwa
Sui Tong adalah anteknya para penyerbu malam ini. Bukankah senjata tadi akan
menjadi suatu bukti?” Tapi Pui Ie menggelengkan kepalanya, “Sebetulnya huruf apakah
yang terukir di golok-golok itu?” tanya Siau Po. Dia merasa dirinya toh buta huruf, buat
apa dia melihat sendiri huruf-huruf itu.
“Tadi aku toh sudah mengatakan bahwa bunyi-nya Tay Beng Sanhay kwan hu
congpeng. sedangkan Sui Tong adalah orang Boan, tidak mungkin dia menghamba
pada seorang congpeng dari dinasti Beng”
“lya, benar juga yang kau katakan,” kata Siau Po. Cepat-cepat dia mengambil
kembali golok kecil yang diselipkan dalam pakaian Sui Tong, “Sekarang barang apa
yang harus kita masukkan ke dalam pakaian orang ini?” tanyanya kemudian.
Tapi sebelum Kiam Peng atau Pui Ie sempat menjawab, sebuah ingatan sudah
melintas di benaknya.
“Oh, ya Ada”

Siau Po segera mengeluarkan barang-barang hadiah Go Eng-him, yakni dua
renceng mutiara, sepasang ayam-ayaman dari batu kumala dan beberapa helai uang
kertas, semuanya dia masukkan ke dalam pakaian Sui Tong, Dia merasa barangbarang
itu akan menjadi bukti yang kuat sekali, terutama uang kertasnya.
“Nah, Go sicu,” kata Siau Po dalam hatinya, “Lohu harus meninggalkan tempat ini.
Yang lainnya terserah padamu, Maafkan tindakan lohu ini.”
Kemudian Siau Po mengangkat tubuh itu untuk diletakkan dalam taman, namun
belum sempat dia membuka pintu, tiba-tiba telinganya mendengar suara langkah kaki
mendatangi ia terkejut sekali, Dengan cepat dan berhati-hati, dia meletakkan tubuh itu
kembali. Setelah itu dia memasang telinganya.
Dari luar kamar terdengar seseorang berseru. “Sri Baginda menitahkan agar Siau Kui
cu datang melayaninya”
Senang sekali hati Siau Po mendengarnya.
“Aku justru khawatir tidak sempat bertemu dengan Sri Baginda lagi. Siapa sangka Sri
Baginda sendiri yang mencari aku. Apalagi baru saja timbul keonaran, tentu merupakan
saat yang tepat bila aku bertemu dengannya sekarang, Tapi, untuk sementara terpaksa
aku tidak dapat membawa tubuh Sui Tong ini,” pikirnya dalam hati.
“lya, hambamu sudah mengerti” sahut Siau Po cepat “Hambamu hendak mengganti
pakaian terlebih dahulu, sebentar lagi hamba akan menghadap.”
Sembari berbicara, Siau Po mendorong tubuh Sui Tong ke kolong tempat tidur,
Kemudian dia menggerak-gerakkan tangannya kepada kedua nona di atas tempat tidur
agar mereka jangan bangun, Ketika dia akan meninggalkan kamarnya, tiba-tiba dia
berpikir: “Nona Pui itu tidak dapat dipercaya sepenuhnya, Celaka kalau dia mencuri
harta bendaku…” Karena itulah dia lalu mengambil kedua kitab serta semua uangnya
dan disimpan dalam pakaiannya, Setelah memadamkan lilin, baru dia membuka pintu
dan berjalan keluar.
Di luar pintu berdiri menunggu empat orang thay-kam yang semuanya tidak ada yang
dikenalnya, Diam-diam dia menjadi heran, Thay-kam yang menjadi pemimpin segera
tertawa dan berkata.
“Kui kongkong, tengah malam buta seperti ini Sri Baginda masih memanggilmu juga,
Hal ini memperlihatkan bagaimana sayangnya junjungan kita kepada Kui kongkong”
Siau Po bersikap tenang.
“lstana telah diserbu orang. Karena itu, aku sendiri ingin secepatnya bertemu dengan
Sri Baginda untuk menanyakan keselamatannya serta menghiburnya, Tapi, justru
karena belum ada panggilan, aku tidak berani lancang menjenguk beliau di tengah
malam….”

“Kau begitu setia terhadap Raja, tidak heran Sri Baginda menyayangimu…” kata
thay-kam tadi. “Sekarang, mari kau ikut dengan kami.” Dia memutar tubuhnya dan
melangkahkan kaki untuk berjalan di depan Siau Po.
Siau Po heran sekali, Diam-diam dia berpikir di dalam hati,
“Aku adalah kepala para thay-kam di Siang Sian tong, berarti kedudukanku lebih
tinggi daripada kedudukanmu Mengapa kau malah jalan di depanku? Usia thay-kam ini
sudah tidak muda lagi. Tidak mungkin kalau dia tidak tahu aturan.” Dengan membawa
pikiran demikian, dia segera bertanya:
“Kongkong, siapakah nama dan she kongkong yang mulia? Rasanya kita jarang
bertemu…”
Thay-kam itu tertawa dan berkata.
“Kongkong menjadi orang kesayangan Sri Baginda, sebaliknya kami hanya para
thay-kam biasa, Sudah tentu kongkong tidak kenal dengan kami.”
“Tapi,” kata Siau Po. “Sri Baginda menitahkan kalian memanggilku, berarti kalian
bukan thay-kam biasa”
Ketika berbicara, lagi-lagi Siau Po dilanda keheranan Thay-kam yang menjemputnya
itu mengajaknya ke arah timur, sedangkan kamar raja letaknya di Tenggara.
“Eh, eh Kau salah jalan” tegur Siau Po sembari tertawa, Dia memang merasa
heran, tapi tidak curiga. Dia malah menertawakan thay-kam itu begitu tolol sehingga
dimana letak kamar raja pun lupa,
“Tidak salah” sahut thay-kam itu. “Sri Baginda sedang menjenguk thayhou, Agar kita
tidak mengganggunya, kita langsung saja menuju kamar ibu suri”
Mendengar thay-kam itu menyebut ibu suri, Siau Po terkejut setengah mati,
Mendadak dia menghentikan langkah kakinya, justru karena dia berhenti, ketiga thaykam
yang mengiringinya langsung melompat dengan posisi mengurungnya, Siau Po
tambah tercekat hatinya.
“Celaka” pikirnya, “lni pasti bukan panggilan dari Sri Baginda, Tentu thayhou yang
menitahkan mereka untuk membekukku” Dia pun bingung, Dia tidak tahu apakah
keempat thay-kam itu mengerti ilmu silat atau tidak, Tapi satu lawan empat saja, Siau
Po sudah sangsi. Lagipula, bila sampai terjadi pertempuran, pasti para siwi akan
bermunculan dan pada saat itu semakin kecil kesempatannya untuk melarikan diri.
Meskipun hatinya tercekat, tapi pada dasarnya Siau Po memang cerdas sekali,
Dengan cepat dia berhasil menguasai dirinya, Setelah tertegun sejenak, dia segera
tertawa dan berkata.

“Ke kamarnya thayhou? Bagus Setiap kali ke kamar thayhou, aku selalu diberinya
hadiah, Kalau bukan uang emas, sedikitnya kembang gula serta kue yang lezat Dalam
hal memperlakukan para hambanya, thayhou memang yang paling baik hatinya. Dia
suka mengatakan aku sebagai budak yang mulutnya paling rakus”
Sembari berkata, Siau Po melangkahkan kakinya menuju arah kamar tidur ibu suri.
Melihat keadaan itu, keempat thay-kam yang mengiringinya tidak mengatakan apaapa
lagi, Mereka berjalan kembali seperti posisi semula, Satu di depan, tiga lagi
mengintil di belakang.
Siau Po berkata kembali.
“Belum lama ini ketika aku menghadap thayhou, rejekiku bagus sekali, Aku dipersen
uang emas sebanyak lima ribu tail dan uang perak dua laksa tail, Tenagaku masih kecil,
mana kuat aku mengangkat uang sebanyak itu. Tapi thayhou memang sangat baik, dia
mengatakan, kalau aku tidak kuat mengangkatnya sekaligus, aku boleh membaginya
beberapa kali angkat Kemudian thayhou juga bertanya kepadaku: “Eh, Siau Kui cu,
uang sebanyak itu akan kau gunakan untuk apa?” Aku pun menjawab: “Harap thayhou
ketahui, hambamu gemar mengikat persahabatan dengan para thay-kam di istana,
Mana saja yang baik, pasti hambamu akan menghadiahkan uang agar dapat mereka
gunakan untuk bersenang-senang”
Sembari berbicara, sebetulnya otak Siau Po juga bekerja mencari akal agar
mendapat kesempatan untuk meloloskan diri, Kata-katanya membuat mereka jadi ragu.
“Mana mungkin thayhou memberi persen dalam jumlah yang demikian banyak?” kata
salah seorang thay-kam yang mengiringinya dari belakang.
“Apa? Kau tidak percaya?” tanya Siau Po. “Nih, kau lihat sendiri”
Siau Po merogo kantongnya serta mengeluarkan uangnya, Ada uang emas, ada juga
uang perak, Nilainya paling kecil lima ratus tail, Melihat uang sebanyak itu, keempat
thay-kam itu jadi terpaku
Siau Po memperhatikan mereka lekat-lekat Dia menarik empat lembar uang
kertasnya kemudian tersenyum.
“Sri Baginda dan thayhou tidak henti-hentinya menghadiahkan uang kepadaku, Mana
mungkin aku bisa menghabiskannya? Di sini ada empat lembar uang kertas, ada yang
nilainya seribu tail, ada juga yang nilainya dua ribu tail, sekarang coba kalian uji
peruntungan saudara sekalian Masing-masing menarik sehelai”
Keempat thay-kam itu merasa heran, Untuk sesaat mereka jadi bimbang.
“Walaupun kau seorang dermawan, tidak mungkin kau menghadiahkan uang
sebanyak itu” kata para thay-kam itu.

Siau Po tersenyum
“Uangku banyak sekali, kemana aku harus menghamburkannya? Bahkan
kadangkala aku di-repotkan oleh uang-uang itu. Sekarang aku akan menghadap Sri
Baginda dan thayhou, entah berapa banyak lagi hadiah yang akan kuterima” Dia
mengangkat uangnya tinggi dan mengibar-ngibarkannya.
Seorang thay-kam menatapnya dengan tajam, Kemudian dia tertawa dan bertanya.
“Kui kongkong, benarkah kau hendak memberi persen kepada kami? Apakah kau
tidak sedang bermain-main?”
“Siapa yang main-main?” kata Siau Po. “Dari semua saudara-saudaraku di Siang
sian tong, siapa yang belum pernah menerima hadiah sebanyak delapan ratus atau
seribu tail dariku? Nah, saudara-saudara sekalian, mari Cobalah peruntungan kalian
dengan masing-masing menarik selembar uang ini. Ayo, siapa yang mengundi terlebih
dahulu?”
Salah seorang thay-kam tertawa, “Aku” katanya.
“Tunggu sebentar” kata Siau Po kembali “Kalian harus melihat dulu biar tegas”
Lalu keempat lembar uang kertas itu didekatkan pada lentera, Keempat thay-kam itu
mengerumuni untuk memperhatikan Ternyata memang benar, uang kertas itu bernilai
seribu serta dua ribu tail, Hati mereka sampai berdenyutan melihatnya. Watak para
thay-kam memang aneh.
Mereka tidak mempunyai anak isteri. Juga tidak dapat menjabat pangkat yang tinggi,
tapi mereka selalu tergila-gila akan uang, Mungkin harta benda merupakan satusatunya
hiburan bagi mereka dalam dunia, Meskipun tinggal dalam istana, gaji seorang
thay-kam sangat kecil, belum pernah mereka melihat uang yang nilainya sampai ribuan
tail.
Sekarang, melihat uang kertas di tangan Siau Po, iman mereka menjadi goyah.
Siau Po mengibas-ngibaskan uang kertasnya, “Nah, saudara-saudara, Saudara
inilah yang akan mencoba peruntungannya terlebih dahulu” katanya pada thay-kam
yang mengajukan dirinya tadi.
Thay-kam itu segera mengulurkan sebelah tangannya, Siau Po tidak menunggu
sampai tangan itu berhasil menyentuh uang kertasnya, Secara tiba-tiba dia
mengendorkan genggamannya sehingga uang-uang kertas itu terlepas dan
berterbangan terbawa angin, Lalu dia sengaja berseru.

“Ah Kenapa kau tidak bertindak cepat dia mencekalnya erat-erat? Lekas, lekas rebut
kembali Siapa yang dapat, dia yang berhak memilikinya”
Keempat thay-kam itu adalah orang-orangnya ibu suri, Mereka mendapat perintah
menyusul Sui Tong, Tugas mereka ialah memanggil Siau Po atas nama Sri Baginda,
Kalau thay-kam cilik itu membangkang, mereka harus membekuknya.
Ibu suri melakukan hal ini karena merasa khawatir Meskipun Sui Tong
berkepandaian tinggi, tapi takutnya dia kalah cerdas dengan Siau Po. Dia sendiri
pernah ditusuk oleh Siau Po sehingga tangannya terluka parah.
Keempat orang itu tidak mendapat perintah untuk membunuh bocah cilik itu,
karenanya mereka hanya bersikap mengurung. Tapi sekarang mereka disodori uang
sebanyak ribuan tail, sehingga mereka lupa akan tugas yang sedang dijalankan Mereka
juga tidak curiga, karena si thay-kam cilik yang seharusnya mereka bekuk, tidak
mengadakan perlawanan sama sekali. Karena itu pula, melihat uang kertas yang
berterbangan mereka segera berlarian mengejarnya.
“Lekas Lekas” seru Siau Po menambah semangat mereka, Namun, mulutnya
berteriak, kaki-nyapun digerakkan juga. Dia berlari meninggalkan tempat itu dan masuk
dari sebuah gunung buatan yang telah ia kenal baik situasinya. Memang dari tadi dia
sudah memikirkan jalan untuk menyelamatkan diri, di dalam taman itu banyak gunung
buatan, banyak juga gua buatan yang berliku-liku, Siapa pun yang lari bersembunyi di
tempat itu, tentu tidak mudah ditemukan.
Dari keempat thay-kam itu, ada satu yang berhasil mendapatkan dua lembar uang
kertas, salah satunya malah tidak mendapatkan apa-apa, karena itu dia meminta bagian
pada temannya yang mendapat dua lembar, Tapi permintaannya sudah tentu ditolak
sehingga timbullah pertengkaran di antara mereka.
“Bukankah tadi Kui kongkong telah mengatakan bahwa siapa yang mendapatkan
berhak memilikinya?” kata thay-kam yang beruntung itu, “Maka kedua lembar uang
kertas ini adalah milikku”
“Tapi tadi juga sudah dijelaskan bahwa setiap orang mendapat satu helai” kata
kawannya berkeras, “Kau bagi selembar kepadaku Cukup yang seribu tail saja”
“Apa Seribu tail?” bentak thay-kam yang beruntung itu, “Enak saja Satu tail pun
tidak akan kuberikan”
Kawan itu menjadi panas mendengarnya, dia segera menjambak dada rekannya.
“Kau mau memberikan atau tidak?” tanyanya dengan sikap mengancam.
“Mari kita minta Kui kongkong yang menentukan” kata si thay-kam yang beruntung
itu, Dia segera memutar tubuhnya dan saat itu juga dia menjadi tertegun.

Siau Po tidak ada lagi di antara mereka.
“Lekas cari dia Lekas” teriak thay-kam itu.
Tapi thay-kam yang tidak mendapatkan uang kertas tidak mau mengerti Dia masih
mencekal baju depan orang itu.
Siau Po sudah lari sejauh belasan tombak, tapi dia masih mendengar suara
pertengkaran di antara kedua orang, Diam-diam dia menertawakan dalam hati,
Kemudian dia berpikir.
“Aku akan bersembunyi di sini sampai fajar menyingsing Aku akan menyingkir dari
pintu samping. Aku tidak akan kembali ke sini lagi”
Ketika itulah terdengar suara langkah kaki ramai mendatangi, disusul dengan suara
percakapan.
“Malam ini datang pemberontak yang menyerbu, besok kita pasti mendapat teguran
Mungkin juga ada yang kena hukuman,” kata salah seorang di antaranya.
Siau Po mengenali mereka sebagai para pengawal istana, Lalu terdengar seorang
yang lainnya berkata.
“Semoga besok Kui kongkong membantu kita berbicara beberapa patah kata di
depan Sri Baginda….”
Kemudian terdengar lagi suara siwi yang ketiga,
“Kui kongkong masih muda sekali, tapi baik dan bijaksana, Sungguh sukar
menemukan orang seperti dia”
Mendengar suara mereka, senang sekali hati Siau Po. Segera dia keluar dari tempat
persembunyiannya.
“Hu Saudara-saudara sekalian jangan bersuara keras-keras” katanya.
Dua orang yang berjalan di depan segera mengangkat lenteranya tinggi-tinggi.
“Oh, Kui kongkong” seru mereka perlahan
Siau Po melihat belasan siwi yang tadi ada di luar kamarnya, Dia bahkan masih ingat
nama-nama mereka.
“Tio toako” katanya, “Di sana ada empat orang thay-kam yang bersekongkol dengan
kawanan pemberontak yang menyerbu malam ini. Lekas kalian bekuk mereka, pasti
kalian bernyali besar sekali” Kemudian dia menoleh kepada siwi lainnya, “Dan kau,
Ong toako, Cio toako, kalian totok saja otot gagu mereka atau hajar rahang mereka

agar tidak bisa berkaok-kaok, dengan demikian kalian tidak perlu mengejutkan Sri
Baginda”
Sekalian siwi itu percaya penuh dengan ucapan Siau Po. Mereka juga tidak perlu
merasa khawatir karena antek-antek para penjahat itu hanya terdiri dari empat orang
thay-kam. Segera mereka menghentikan pembicaraan lentera juga dipadamkan
Dengan mengendap-endap mereka menuju tempat yang ditunjuk oleh Siau Po.
Keempat thay-kam itu masih mencari-cari Siau Po. Tegasnya dua orang yang
mencari, sedangkan dua yang lainnya masih bertengkar Dalam sekejap mata keempat
thay-kam itu sudah didekati dan dengan mudah berhasil dibekuk.
Di antara mereka ada yang tidak mengerti ilmu menotok, Karena itu mereka
menghajar muka keempat thay-kam itu sehingga mereka tidak sanggup berteriak
Suaranya hanya terdengar desahan saja.
“Bawa mereka ke kamar itu” kata Siau Po seraya menunjuk sebuah kamar yang
letaknya d samping, “Paksa mereka berkata sejujurnya”
Dia sendiri juga ikut masuk ke dalam kamar itu Bahkan dia duduk di tengah ruangan
begitu lentera dinyatakan kembali.
Para pengawal itu menyuruh keempat thay-kam tersebut untuk bertekuk lutut, tetapi
mereka membangkang karena menganggap mereka adalah orang orangnya ibu suri
dan tidak pantas diperlakukan seperti itu, itulah sebabnya mereka kembali mendapat
hajaran keras. Para pengawal itu menampar meninju juga menendang serta memaksa
mereka bertekuk lutut.
“Barusan kalian berempat kasak-kusuk, jika kalian mencurigakan Lagak kalian
seperti pencuri dan terus bertengkar,” kata Siau Po yang mulai dengan gayanya yang
khas, “Kalian juga menyebu nyebut jumlah uang, Kalau tidak salah, seribu tahil milik si
anu, dua ribu tail milik si ini Mengapa kalian juga mengatakan bahwa kawan-kawan
kalia dari luar itu tidak bagus peruntungannya karena ada beberapa yang terluka dan
mati di tangan para si anjing?”
Mendengar kata-kata Siau Po, para siwi itu menjadi marah sekali, Lagi-lagi mereka
mengirimkan tendangan dan tinju kepada keempat thay-kam tersebut.
Para thay-kam itu berteriak-teriak penasaran tapi suara mereka tidak jelas
kedengaran karena rahang mereka sulit digerakkan
“Kalian tahu, aku telah menguntit kalian” kata Siau Po kembali, Dia terpaksa
memfitnah untuk membela dirinya sendiri Dia juga merasa tidak ada salahnya bersikap
keras terhadap orang-orangnya ibu suri yang ingin mencelakakan dirinya.

“Lekas bicara Aku dengar tadi kau mengatakan: “Akulah yang menunjukkan jalan
untuk mereka dan uang ini adalah pemberian mereka, karena itu mana boleh aku
membagikannya kepadamu?”
Sembari berbicara, Siau Po menunjuk pada kedua lembar uang kertas yang
diperebutkan tadi, Lalu dia menuding kepada thay-kam yang tidak berhasil
mendapatkan apa-apa.
“Bukankah tadi kau mengatakan bahwa perbuatan kalian ini dapat membuat batok
kepala kalian pindah rumah dan dosa yang harus dipikul sama beratnya sehingga uang
itu harus dibagi sama rata? Kau juga mengatakan biar bagaimana pun kau harus
mendapat bagian?”
“Mereka menjadi musuh dalam selimut, dosa mereka memang besar sekali, Ada
kemungkinan batok kepala mereka memang bisa pindah rumah” kata beberapa siwi
memberikan pendapatnya. “Ter-bukti mereka sedang membagi hasil, mari kita geledah
pakaian mereka”
Kata-kata itu segera dibuktikan Ternyata selain kedua lembar uang kertas yang
sedang diperebutkan pada kedua thay-kam ditemukan dua lembar uang kertas lainnya,
Karena itu, para siwi itu jadi gaduh. Mereka tahu gaji seorang thay-kam sebulannya
hanya dua sampai tiga tail perak. Tapi sekarang mereka mempunyai uang kertas senilai
seribu dan dua ribu tail”
“Bagus” kata seorang siwi, “Para penyerbu itu pasti memberikan uang ini sebagai
hadiah mereka yang telah menjadi pemasuk atau penunjuk jalan, Sialnya mereka juga
mengejek kita sebagai siwi anjing Sekarang biar mereka mendapatkan bagian masingmasing”
Saking sengitnya para siwi itu menendang dengan hebat, salah seorang thay-kam
langsung terguling di atas tanah dan nyawanya pun melayang seketika.
“Jangan sembrono” kata seorang siwi lainnya, “Mereka harus diperiksa dengan
seksama”
Rupanya siwi yang satu ini lebih sabar wataknya. Dia malah menolong seorang thaykam
untuk bangkit dan mengurut-urut rahangnya agar dapat berbicara.
“Ayo katakan” bentak Siau Po. “Siapa yang menyuruh kalian melakukan perbuatan
nekat ini? Nyalimu sungguh besar sekali. Cepat katakan”
“Aku merasa penasaran” teriak thay-kam itu. “Kami adalah thay-kam thayhou dan
kami sedang menjalankan perintah..”
“Ngaco” bentak Siau Po sambil menerjang ke depan, Dengan tangan kirinya dia
membekap mulut thay-kam itu, sedangkan tangan kanannya menghajar batok kepala
orang sehingga thay-kam itu jatuh tidak sadarkan diri, Kemudian dia berkata kepada

para siwi: “Saudara sekalian, dia menyebut-nyebut nama thayhou, Hal ini bisa
membahayakan kita”
Para siwi itu terkejut setengah mati. Untuk sesaat mereka mempunyai pikiran yang
sama.
“Mungkinkah mereka sedang menjalankan perintah thayhou untuk menjadi penunjuk
jalan bagi para pemberontak itu?”
Para siwi itu mengetahui bahwa Sri Baginda bukan putra kandung thayhou yang
sekarang, ibu suri juga sangat cerdik. Karena itu, mereka langsung menduga bahwa
ada kemungkinan Raja telah melakukan suatu perbuatan yang menyalahi thayhou
sehingga ibu tirinya itu mengambil tindakan sedemikian rupa. Mereka juga sadar dalam
istana segala hal apa pun dapat terjadi Karena itu, hati mereka menjadi was-was.
Siau Po melanjutkan pemeriksaannya.
“Benarkah kalian sedang menjalankan titah thayhou?” tanyanya pada salah seorang
thay-kam. Urusan ini hebat sekali, Kalian tidak boleh sembarangan bicara Benarkah
kamu dititahkan oleh thayhou?”
Thay-kam itu tidak dapat berbicara, Karena itu dia hanya menganggukkan
kepalanya.
“Apakah uang ini juga pemberian ibu suri?” tanyanya kembali.
Thay-kam itu menggelengkan kepalanya, Siau Po tahu apa yang harus dia katakan,
“Kalian sedang menjalankan perintah Karena itu apa yang kalian lakukan bukan
keinginan kalian sendiri, bukan?” demikian dia bertanya.
Thay-kam itu kembali menganggukkan kepalanya, “Sekarang katakan Kalian ingin
hidup atau mati?”
Tentu saja pertanyaan itu menyulitkan kedua thay-kam tersebut Untuk sesaat mereka
bingung, Yang pingsan tadi juga sudah sadar Dia menganggukkan kepalanya
sedangkan yang lain menggeleng, Lalu ketiga-tiganya mengangguk serentak dan
akhirnya menggeleng bersama-sama pula.
“Jadi kalian mau mati?” tanya Siau Po menegaskan.
Ketiga thay-kam itu menggelengkan kepalanya, “Oh, jadi kalian ingin hidup?” tanya
Siau Po. Mereka segera menganggukkan kepala, Siau Po segera menarik tangan dua
orang siwi yang menjadi pemimpin lalu mengajaknya keluar dari kamar itu. Di sana
dengan suara lirih dia berkata kepada kedua orang itu.
“Tio toako, Cio toako, kepala kita juga bisa pindah rumah”

Kedua siwi itu, yakni Tio Kong-lian dan Cio Ci-hian terkejut setengah mati mendengar
perkataannya.
“Lalu… apa yang harus kita lakukan?” tanya mereka gugup,
“Aku juga bingung” kata Siau Po. “Kakak berdua, bagaimana pendapat kalian?”
“Celakalah kalau urusan ini sampai tersiar Aku pikir, sebaiknya kita cari akal untuk
menutupinya.,.” sahut Tio Kong-lian.
“Benar begitu,” timpal Cio Qi-hian. “Bagaimana kalau mereka bertiga dibebaskan dan
kita pura-pura tidak tahu saja?”
“Tapi, bagaimana kalau mereka berniat mencelakai kita?” tanya Tio Kong-Iian.
“Salah satu rekan mereka telah kita bunuh….”
“Memang ada baiknya kalau mereka dibebaskan tapi khawatirnya mereka akan
mengadu kepada thayhou,” kata Siau Po. “Bukankah hal itu berbahaya sekali? Apa
yang harus kita lakukan agar mereka tidak berani mengadu? Ada bagusnya apabila
thayhou langsung membunuh mereka saja guna membungkamkan mereka, Tapi
bagaimana kalau thayhou marah dan urusan diperpanjang? Tamatlah riwayat kita”
Tubuh kedua siwi itu menggigil saking takutnya. Tapi akhirnya Kong Lian berhasil
menguasai hatinya, Dia mengangkat tangannya kemudian menghajar sasaran kosong
Siau Po mengerti Dia menoleh kepada Ci Hian.
“Bagus juga” kata Ci Hian sambil mengangguk “Tapi bagaimana dengan uangnya?”
“Mudah” kata Siau Po. “Uang itu boleh saudara ambil dan dibagi rata, Aku takut
sekali, Yang penting aku tidak terlibat dalam urusan ini”
Mendengar uang sebanyak enam ribu tail diserahkan kepada mereka, para siwi itu
menjadi senang sekali, Berarti mereka masing-masing akan mendapatkan empat ratus
tail apabila dibagi rata, Karena itu mereka segera mengambil keputusan, Mereka
kembali ke dalam dan berbisik kepada tiga orang siwi yang dapat dipercaya penuh.
Ketiga siwi itu menganggukkan kepalanya mendengarkan bisikan pemimpinnya, Salah
satu dari mereka segera berkata kepada tiga thay-kam tadi.
“Kalian adalah orang-orangnya thayhou, Karena itu kami tidak ingin memperpanjang
urusan ini. Kalian pergilah”
Bukan main senangnya hati ketiga thay-kam itu. Mereka langsung berjalan keluar
tanpa mengatakan apa-apa lagi. sedangkan ketiga siwi tadi mengikuti dari belakang.
Begitu mereka berada di luar, segera terdengar suara jeritan yang menyayat hati dari
ketiga thay-kam tersebut, kemudian disusul dengan teriakan salah seorang siwi tadi.

“Ada pembunuh gelap Ada pembunuh gelap”
“Celaka Penyerbu gelap sudah membunuh empat orang thay-kam” teriak siwi
lainnya.
Setelah itu, ketiga siwi tadi berlari ke dalam kamar sambil berteriak.
“Kui kongkong Celaka Ada orang jahat yang menyerbu lagi Empat orang kongkong
terbunuh”
“Sayang sekali” kata Siau Po sambil menarik nafas panjang, “Cepat kalian tawan
para penjahat itu jangan sampai ada yang lolos”
“Salah seorang penyerbu telah berhasil kami bunuh” teriak seorang siwi lainnya.
“Bagus.” kata Siau Po, “Sekarang cepat kalian laporkan kepada siwi congkoan
tentang kematian keempat kongkong itu”
“Baik” sahut para siwi sambil menahan tawa, Mereka menganggap sandiwara
mereka bagus sekali, sebaliknya Siau Po sendiri tidak dapat menahan rasa gelinya, dia
tertawa cekikikan, Melihat hal itu, para siwi jadi ikut tertawa. Kemudian dia memberi
hormat seraya berkata.
“Kakak semua, aku ucapkan selamat kepada kalian yang telah mendapatkan hadiah,
Nah, sampai jumpa besok”
Tanpa menunda waktu lagi, Siau Po segera kembali ke kamarnya, Tapi baru dia
sampai di pintu, tiba-tiba dia mendengar suara dingin yang datangnya dari gerombolan
pohon bunga.
“Siau kui cu, tindakanmu bagus sekali, ya?”
Bukan main terkejutnya hati Siau Po, Dia mengenali suara orang itu sebagai suara
ibu suri, Dia segera memutar tubuhnya untuk melarikan diri, Tapi baru kira-kira enam
langkah, dia merasa bahu kirinya tercekal keras, tubuhnya gemetar Di samping tidak
dapat bergerak, dia juga terpaksa membungkuk Namun pada saat itu juga, dia
berusaha mencabut pisau belatinya, Sebuah pukulan yang keras langsung mengenai
tangannya sehingga dia menjerit kesakitan.
“Eh, Siau Kui cu” terdengar kembali suaranya Hong thayhou, Kali ini lebih
menyerupai bisikan, “Kau masih sangat muda, tapi kau sudah pandai bekerja, Dengan
mudah kau berhasil membunuh keempat orang thay-kam, malah kau menjatuhkan
fitnah kepada diriku. Berani-beraninya kau mempermainkan aku Hm”
Siau Po takut setengah mati, Dia juga menyesal sekali sehingga dia memaki dirinya
sendiri dalam hati.

“Siau Po, kau benar-benar kura-kura cilik To-lol Ingat, kalau kali ini kau tidak dapat
meloloskan diri, mana namamu bukan Wi Siau Po lagi”
Tapi pada dasarnya dia memang cerdik sekali, Dalam keadaam terdesak, dia segera
mengambil keputusannya.
Thayhou sangat membenci aku. Percuma bila aku merengek memohon
pengampunannya, Baiklah. Aku akan bersikap keras, Aku harus bertaha terus sampai
mendapat kesempatan untuk kabur Hm… dia harus digertak” Karena itu dia langsung
berkata:
“Thayhou, kalau sekarang kau ingin membunuh aku,sayang sekali sudah terlambat”
“Apanya yang patut disayangkan?” tanya thayhou heran.
“Kau hendak membunuh aku agar mulut ini bungkam,” kata Siau Po. “Sayang kau
terlambat satu langkah. Bukankah tadi kau sudah mendengar apa yang dikatakan oleh
para siwi?”
“Kau mengatakan aku telah mengirim empat orang kongkong yang tak punya guna
untuk bersekongkol dengan kawanan para pemberontak dan mengajak mereka masuk
ke dalam istana Benar bukan Untuk apa aku bersekongkol dengan para pemberontak
itu?”
“Mana aku tahu apa maksudmu?” kata Siau Po dengan berani, “Mungkin Sri Baginda
bisa menduganya” Thay-kam gadungan ini benar-benar sudah nekat.
Ibu suri merasa gusar sekali tapi dia masih bisa menguasai dirinya.
“Kalau sekarang aku menyerangmu dengan satu kali hantaman saja, kau akan
mampus” kata-nya. “Tapi kalau benar demikian, peruntunganmu terlalu bagus”
Siau Po benar-benar berani.
“Kalau sekarang kau membunuh aku Siau Kui cu, besok seluruh istana akan tahu”
katanya, “Pasti setiap orang akan bertanya: “Kenapa Siau Kui cu bisa mati?” Dan
jawabannya adalah: “Pasti thayhou yang membunuhnya” Lalu ada lagi yang bertanya:
“Mengapa thayhou harus membunuh Siau Kui cu?” Yang lain pun menyahut: “Karena
Siau Kui cu telah mengetahui rahasia thayhou” Lalu ada lagi pertanyaan “Rahasia apa
yang telah diketahui oleh Siau Kui cu?” Aih Bicara soal itu”, ceritanya pasti panjang
sekali. Karena itu, mari Mari masuk ke dalam kamarku, Nanti aku akan menjelaskan
kepadamu “
Thayhou terdiam beberapa saat. Dalam hatinya dia berkata:

“Apa yang diucapkan bocah ini ada benarnya juga” Hatinya mendongkol sekali.
Saking menahan emosinya, tangan wanita itu sampai gemetaran. Lalu dia berkata,
“Biar bagaimana pun, kau harus dibunuh Apa artinya belasan siwi? Besok aku akan
menyuruh Sui Tong membekuk mereka dan dihukum mati Setelah itu, aku akan
terbebas dari ancaman”
Mendengar kata-katanya, Siau Po tertawa terbahak-bahak.
“Kematianmu sudah di depan mata, Apa lagi yang kau tertawakan?” bentak ibu suri
yang hatinya panas bukan main melihat lagak Siau Po.
Lagi-lagi Siau Po tertawa.
“Ah Thayhou, kau hendak menyuruh Sui Tong membunuh para siwi itu?” Tawa Siau
Po semakin keras. “Dia… dia…. Ha… Ha… ha…”
“Kena… pa dia?” tanya thayhou.
“Ha… ha… ha… ha.,.” Siau Po kembali tertawa pula, “Dia telah aku.,,.”
Tadinya Siau Po ingin mengatakan “dia telah aku bunuh,” tapi tiba-tiba dia mendapat
akal yang bagus. Setelah tertawa sejenak, dia terus berdiam diri.
Thayhou heran Dia menatap bocah itu lekat-lekat.
“Apa yang kau lakukan pada dirinya?” tanyanya.
Lagi-lagi si thay-kam cilik yang cerdik ini tertawa.
“Dia telah aku tundukkan” katanya, “Dia sekarang menurut sekali sehingga tidak
sudi lagi mendengar kata-katamu”
Thayhou tertawa dingin Dia tidak percaya kata-kata Siau Po.
“Kau setan cilik Sampai di mana kehebatanmu?” tanyanya dengan nada mengejek
“Bagaimana mungkin kau bisa membuat Sui congkoan tidak sudi mendengar lagi katakataku?”
Siau Po terus memutar lidahnya yang tajam.
“Aku adalah seorang thay-kam cilik, tentu dia tidak mungkin menurut padaku,”
katanya, “Tapi di sana ada seseorang lainnya yang dia takuti”
Thayhou terkejut.
“Dia… dia…” katanya dengan suara bergetar “Dia takut kepada Raja?”

“Kami semua adalah para budak, siapa yang tidak takut kepada Sri Baginda?” kata
Siau Po. “Hal itu tidak perlu diherankan, bukan?”
Thayhou penasaran sehingga tanpa sadar dia jadi terlibat pembicaraan dengan si
bocah cilik.
“Apa saja yang kau katakan kepada Sui Tong?”
“Semuanya telah kukatakan kepada Sri Baginda…” sahut Siau Po.
“Semuanya telah kau katakan?” Tanpa sadar thayhou mengulangi ucapan bocah itu,
Unluk sesaat dia berdiam diri, Sesaat kemudian baru dia bertanya lagi, “Di… mana dia
sekarang?”
Yang di maksudkan nya tentu saja Sui Tong.
“Dia telah pergi jauh” sahut Siau Po. “Ya, dia telah pergi jauh sekali dan tidak akan
kembali lagi Thayhou, kalau kau hendak menemuinya, rasanya tidak begitu mudah “
Hati thayhou tercekat.
“Maksudmu, dia sudah meninggalkan istana ini?”
“Tidak salah Dia berkata kepadaku bahwa di takut kepada Sri Baginda dan dia juga
takut kepadamu Dia juga mengatakan bahwa sulit sekali hidup di antara dua orang
yang terus menekannya, Dia khawatir suatu hari jiwanya akan melayang. Karena itu, dia
menganggap pergi jauh-jauh adalah jalan yang terbaik baginya”
Bagian 20
“Jadi dia sudah melarikan diri?” tanya thayhou “Benar Eh, thayhou, bagaimana kau
bisa tahu Apakah kau telah mendengar sendiri apa yang dikatakannya? Ya Dia sudah
pergi jauh, jauh sekali.”
“Hm” Thayhou mendengus dingin, “Jadi pangkatnya pun tidak ia kehendaki lagi?
Kemana tujuannya?”
“Dia.,, dia… pergi ke….”
Baru berkata sampai disini, tiba-tiba sebuah ingatan melintas lagi di benak Siau Po.
Karena itu dia langsung melanjutkan kata-katanya. “Katanya dia akan pergi ke… entah
apa Tay san… Liok Tay… Cit Tay… Eh, bukan Kalau tidak salah Pat Tay san.”
“Mungkin Ngo Tay san?” kata thayhou.

“Benar Benar” Tiba-tiba Siau Po berseru, “Memang benar gunung Ngo Tay san Oh,
thayhou, kau seperti dewa yang bisa tahu segala hal”
“Apa lagi yang dikatakannya?” tanya thayhou tanpa memperdulikan pujian orang. Dia
juga tidak sadar bahwa bocah itu sedang mempermainkannya.
“Dia tidak mengatakan apa-apa lagi,” sahut Siau Po. “Hanya… hanya….”
“Hanya apa?” tanya thayhou cepat.
“Dia hanya mengatakan bahwa dia mengerti perasaanku dan biar bagaimana dia
akan melakukan sekuat kemampuan agar berhasil walaupun dia akan dihukum mati, dia
akan melakukan nya”
“Apa yang kau pinta dia lakukan untukmu?” tanya thayhou.
“Ah Tidak apa-apa, Sui congkoan berkata padaku bahwa baginya, tidak memangku
jabatan bukanlah persoalan dan dia juga dapat melakukan perjalanan tanpa uang
sepeser pun. Toh, kepergiannya ini bukan untuk setengah atau satu tahun Karena itu,
aku telah memberikan uang kertas kepadanya sebesar dua puluh ribu taiI….”
“Banyak sekali uangmu” sindir thayhou, “Dari mana kau mendapatkannya?”
“Semua uang itu aku peroleh dari orang lain sahut Siau Po. “Aku mendapatkannya
dari Kong Ci ong, So Ngo-tu tayjin, Di dalam Siangsian tong juga banyak orang yang
sering menghadiahkan uang kepadaku”
Thayhou tahu jawabannya itu bukan bualan belaka.
“Kau begitu baik. Tanganmu terbuka lebar, wajar kalau Sui Tong ingin membalas
kebaikan hatimu, Sebenarnya, apa yang kau suruh dia laku kan? Apa yang kau
pesankan padanya?” tanya thayhou kembali
“Hambamu tidak berani mengatakannya” sahu Siau Po.
“Kau katakan atau tidak?” bentak Thayho garang.
Siau Po menarik nafas panjang, Dia masih membawa lagaknya seperti orang yang
dipaksa keadaan.
“Sui Tong telah berjanji kepadaku,” sahutnya kemudian. “Seandainya hambamu ini
mati dicelakai orang dalam istana, dia akan menghadap Sri Baginda untuk
membeberkan duduk persoalannya sebenarnya, Dia mengatakan bahwa dia akan
menulis laporan dan akan dibawanya ke mana-mana, Dia juga berjanji setiap dua bulan
akan mengadakan pertemuan denganku agar….”
“Agar apa?” bentak thayhou dengan suara sinis tapi nadanya bergetar.

“Agar setiap dua bulan sekali, aku harus menemuinya….”
“Bagaimana cara pertemuan itu?” tanya thayhou.
“Setiap dua bulan, aku harus pergi ke Tian Kio,” kata Siau Po. “Di sana aku harus
menemui seorang… pria penjual buIi-buli gula batu, Aku harus bertanya kepadanya
apakah dia menjual buli-buli batu akik? Mendengar pertanyaanku orang itu akan
mengatakan bahwa harga serencengnya seratus tail, Aku harus bertanya mengapa
harga itu demikian tinggi, Orang itu bukannya menjawab tapi bertanya kepadaku,
apakah aku sudah pernah pulang ke langit? Aku harus mengatakan padanya agar dia
pulang ke rumah orang tuanya Dengan demikian dia akan menyampaikan kabarku
kepada Sui congkoan.”
Dalam waktu yang singkat, Siau Po tidak menemukan jawaban atas pertanyaan
Thayhou tadi, Karena itu dia mengubah sedikit ajaran yang dianjurkan oleh Tan Kin-lam
untuk bertemu dengan Ci Tian-coan.
Hati thayhou tercekat Dia tahu cara itu sering digunakan orang-orang kangouw untuk
berhubungan dengan rekannya, Dia jadi percaya thay-kam cilik ini bukan hanya
mengada-ada. Semakin dipikirkan hatinya semakin ciut. Dia tidak menyangka bocah
cilik ini bisa membuat Sui Tong melarikan diri, Tidak heran kalau Sui Tong menjadi
ketakutan dan melarikan diri, juga tidak aneh kalau tujuannya Ngo Tay san, yakni
tempat di mana bekas kaisar kerajaan Ceng menyucikan diri.
Dalam waktu yang singkat, banyak sekali yang terlintas dalam benak thayhou,
otaknya semaki ruwet, Setelah lewat sejenak lagi, baru dia berkat lagi.
“Bagaimana kalau dalam waktu dua bulan seperti yang dijanjikan lalu kau tidak
datang mencari penjual buli-buli gula batu itu?” tanya thayho kemudian.
“Sui congkoan mengatakan kepadaku bahwa dia akan menunggu sampai sepuluh
hari lamanya Andaikata aku tetap tidak kelihatan, dia akan mempunyai dugaan bahwa
aku sedang terancam bahaya atau kemungkinan sudah mati, maka itu dia akan..
memikirkan jalan bagaimana caranya agar dapat menghadap Sri Baginda untuk
menyampaikan laporannya, Sampai waktu itu, hambamu memang sudah mati, Tidak
ada urusan apa-apa lagi, Namun aku tetap setia kepada junjunganku, Aku sudah
menyadarkan Sri Baginda agar penasaran dibalas dengan penasaran, permusuhan
dibalas dengan permusuhan, Sri Baginda tidak boleh sekali-kali diperdaya oleh orang
jahat, Dengan demikian hamba beserta Sui congkoan sudah membuktikan
kesetiaannya”
Terdengar suara perlahan dari mulut thayhou yang seperti orang gerutuan.
“Penasaran dibalas dengan penasaran, permusuhan dibalas dengan permusuhan….
Ya, itu memang bagus sekali”

Siau Po tidak menghiraukan wanita itu. Terdengar dia seakan menggumam seorang
diri.
“Selama beberapa hari belakangan ini, hamba akan tetap melayani Sri Baginda
sebagaimana biasanya. Hamba tidak akan membocorkan rahasia apa pun. Asal hamba
tetap hidup dan bisa merawat Sri Baginda, urusan ini tidak nanti hamba bongkar sampai
kapan pun juga”
Mendengar kata-katanya, thayhou agak lega sedikit.
“Kalau benar demikian, kau memang baik hati”
“Sri Baginda memperlakukan aku dengan baik,” kata Siau Po kembali “Dan thayhou
juga tidak berlaku buruk terhadapku Karena itu, terhadap thayhou, hamba juga akan
bersetia, Siapa tahu, kalau hati thayhou sedang senang, hamba akan mendapat hadiah
yang berharga, seandainya demikian, bukankah kita sama-sama merasa senang?”
Thayhou tertawa dingin.
“Apakah kau masih mengharap aku akan memberikan hadiah kepadamu?

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s