“ PANGERAN MENJANGAN” – “ LU DING JI “ 25

diperlakukan seperti istri kalian sendiri”
Mendengar kata-katanya, para siwi tertawa geli.
“lya Iya” jawab mereka serentak, Mereka merasa thay-kam cilik itu benar-benar lucu
dan suka bergurau.
“Sekarang, tolong kalian singkirkan mayat ini,” pinta Siau Po kemudian.
“Baik,” sahut para siwi itu yang terus berebutan mengangkat mayat itu. Lalu mereka
pun memohon diri untuk mengundurkan diri.
Siau Po mengawasi kepergian mereka dan menutup pintu kamarnya kembali Setelah
itu dia menghampiri tempat tidur serta menyingkapkan kelambunya.
“Kau benar-benar biang iseng” kata Siau kun-cu. “Kau benar-benar membuat kami
terkejut”. Tapi ketika dia menoleh kepada kakak seperguruannya, gadis cilik itu terkejut
setengah mati, Tanpa dapat menahan diri lagi dia mengeluarkan seruan tertahan, wajah
nona itu pucat pasi, napasnya juga lemah sekali.
“Bagian manakah yang terluka?” tanya Siau Po. “Dia harus cepat ditolong supaya
darahnya berhenti mengucur.”
“Kau… menyingkirlah jauh-jauh…” kata si nona yang sedang terluka itu, “Kuncu, a…
ku terluka di…
Sebenarnya Siau Po masih ingin menggoda, tetapi ketika melihat darah nona itu
mengucur semakin banyak, dia membatalkan niatnya, Dia khawatir nona itu akan mati
karena lukanya yang terlalu parah, tapi di mulutnya dia malah berkata.
“Baru darah yang mengalir, apa bagusnya sih dilihat? Eh, kuncu, apakah kau
mempunyai obat luka?”
“Aku tidak punya,” sahut si kuncu cilik.
“ltu si perempuan bau, dia membawa obat luka atau tidak?” tanya Siau Po kembali.

“Tidak” sahut si nona yang sedang terluka, “Dan kaulah yang bau”
Si kuncu cilik tidak berdiam diri. Dia segera merobek baju dalamnya nona yang
sedang terluka itu. Tiba-tiba dia terkejut dan berseru.
“Aduh Bagaimana ini?”
Mendengar seruan si kuncu, Siau Po segera menolehkan kepalanya, ia melihat dua
liang kecil tanda luka di dada gadis itu, Luka itu masih mengucurkan darah.
Kuncu kebingungan sampai menangis.
“Kau…. Lekas tolongi kakakku ini… Cepat” katanya panik.
Tapi si nona yang terluka itu justru merasa jengah dan berusaha bangkit untuk duduk
di atas tempat tidur.
“Jangan jangan biarkan dia melihat aku” katanya bingung dan malu.
“Fuh” Siau Po membuang ludah, “Aku juga tidak sudi melihatnya”
Meskipun demikian, bocah cilik itu tetap menoleh ke kiri dan ke kanan untuk mencari
kapas atau barang lainnya yang dapat digunakan untuk menyumbat luka yang berdarah
itu, Dia melihat Bit-hu, bahan pelekat dari madu,
“Nah, itu obat menghentikan darah yang manjur.” katanya, Dia segera mengambil
bahan perekat itu dan kemudian bekerja dengan gesit, Dioleskannya perekat itu di
lubang luka, Ketika melihat buah dada gadis itu, timbul lagi rasa isengnya. Dia sengaja
menggeser tangannya dan meraba-raba susu si nona.
Bukan main malu dan gusarnya hati si nona itu.
“Kuncu, bunuh dia” katanya kepada Siau kuncu dengan suara keras.
“Tapi, suci… dia sedang mengobatimu….”
Saking kesalnya, si nona tidak banyak bicara lagi, Dia hampir pingsan diperlakukan
sedemikian rupa oleh Siau Po. Sayang dia tidak dapat bergerak, kalau tidak,
kemungkinan Siau Po benar-benar akan dibunuhnya.
“Lekas totok jalan darahnya” kata Siau Po kemudian “Dia tidak boleh bergerak terus,
nanti darahnya tidak akan berhenti mengalir dan jiwanya akan terancam bahaya”
“lya” sahut Siau kuncu yang langsung menotok kakak seperguruannya di bagian
perut, iga dan pahanya beberapa kali.

“Suci, jangan sembarangan bergerak” Tidak lupa dia memesankan kepada kakak
seperguruannya.
Sementara itu, Siau kuncu sendiri sampai meneteskan air mata karena baru
sekarang dia merasakan bahwa lukanya sendiri menimbulkan rasa sakit, Dia terluka di
bagian pahanya.
“Kau juga sebaiknya berbaring saja,” kata Siau Po yang terus menggantikannya
memberikan pertolongan.
Ketika di Yang-ciu, Siau Po sering melihat orang memberikan pertolongan kepada
orang lain yang terluka di bagian kakinya. sekarang sebisanya dia mengikuti cara
tersebut, Dia mencari dua helai papan kemudian dijepit dan diikatkan pada kaki si nona,
setelah itu dia menjadi bingung sendiri.
“Kemana aku harus mencari obat?” tanyanya tidak kepada siapa pun. Sesaat
kemudian, dia menemukan akal yang bagus.
“Kau berbaring saja di sini,” katanya kepada Siau kuncu, jangan sekali-sekali
bersuara” Dia menurunkan kelambu dan kemudian berjalan menuju pintu.
“Kau mau kemana?” tanya Siau kuncu ketika si bocah membuka pintu.
“Aku akan mencari obat untuk mengobati kakimu”
“Jangan lama-lama” pesan si kuncu khawatir.
“Aku tahu” sahut Siau Po. Dia merasa puas, karena dari nada suara si nona, Siau Po
yakin dia mempercayainya, Dia segera memalangkan pintunya kembali, Dia merasa
tenang, sebab dia tahu, kecuali Sri Baginda atau ibu suri, tidak ada orang lain lagi yang
berani sembarangan masuk ke kamarnya.
Baru berjalan beberapa langkah, Siau Po merasakan pinggangnya agak nyeri.
“lbu suri, si perempuan jalang itu sungguh kejam” pikirnya dalam hati, “Dia telah
menghajar aku Kalau begini, aku tidak bisa berdiam terlalu lama lagi di istana ini. Siang
atau pun malam, nyawaku selalu terancam maut. Ya, aku harus pergi secepatnya “
Thay-kam gadungan ini segera menuju tempat di mana terlihat cahaya api. Di sana
beberapa siwi tengah meronda. Ketika melihat Siau Po, semuanya segera menghampiri
untuk menyambutnya.
“Berapa jumlah siwi yang terluka?” tanyanya prihatin
“Harap kongkong ketahui,” sahut salah seorang pengawal itu. “Ada delapan orang
yang luka parah dan lima belas orang yang luka ringan.”

“Di mana mereka dirawat?” tanya Siau Po kembali. “Tolong kalian antarkan aku
menjenguknya.”
“Terima kasih, kongkong. Kami sangat menghargai kebaikan kongkong,” kata siwi itu
yang kemudian meminta dua orang kawannya mengantarkan Siau Po ke tempat di
mana para pengawal istana itu sedang dirawat, Di sana tampak dua puluh orang lebih
siwi yang sedang terluka dan ada empat orang thay-kam yang repot memberikan
pertolongan.
Siau Po segera menghampiri dan menghibur semuanya dengan memuji keberanian
mereka menghalau para penyerbu, Dia juga tidak lupa menanyakan nama para siwi itu
untuk dilaporkan kepada Sri Baginda.
Puas hati para siwi tersebut mendapat perhatian begitu besar dari thay-kam
kesayangan Sri Baginda, Hal ini bahkan membuat rasa nyeri yang mereka rasakan
hilang sebagian besar.
“Apakah kalian tahu dari pihak mana kawanan pemberontak yang menyerbu itu?”
tanya Siau Po. “Mungkinkah mereka antek-anteknya Go Pay?”
“Entah mereka dari pihak mana? Tapi kami yakin mereka orang-orang bangsa
Han…” sahut siwi yang ditanya dan dibenarkan oleh rekan-rekannya yang lain, “Kami
juga tidak tahu apakah ada di antara mereka yang tertangkap hidup-hidup atau tidak?”
Ketika pembicaraan berlangsung, Siau Po memperhatikan cara pengobatan yang
dilakukan para thay-kam. Mereka menggunakan obat buatan tabib istana, semuanya
merupakan obat luka, ada obat luar dan ada juga obat dalam.
“Obat semacam itu harus kusediakan,” kata Siau Po. “Kalau ada saudara siwi yang
terluka dan tabib belum sempat datang, mereka dapat menggunakan obat
persediaanku, Oh, kawanan penyerbu itu benar-benar ganas dan nyalinya besar sekali
Malam ini mereka tidak dibasmi semuanya, mungkin lain kali mereka akan datang lagi”
Beberapa siwi menganggukkan kepalanya.
“Kongkong baik sekali, kami bersyukur,” kata mereka.
“Kita harus saling prihatin,” kata Siau Po yang langsung memohon diri. sebelumnya
dia telah meminta tabib istana membungkuskan sejumlah obat, Dia juga menanyakan
sampai jelas cara pemakaiannya.
Biarpun bocah ini tidak berpendidikan tapi pengalamannya banyak sekali akibat
pergaulannya di rumah pelesiran dulu, Karena itu bahasanya juga kasar. Untung saja
para siwi itu juga bukan semuanya berasal dari orang-orang golongan atas, itulah
sebabnya mereka tidak memperhatikannya.

Siau Po langsung pulang ke kamarnya, Sebelum masuk, dia memasang telinga dulu
di depan jendela, Setelah mendapat kepastian kamarnya sunyi saja seperti semula, dia
baru mengeluarkan suara dengan lirih sekali.
“Kuncu, aku pulang” Dia berkata demikian karena khawatir Siau kuncu mengira
orang lain yang datang serta langsung mengirimkan serangan kepadanya.
“Oh” Terdengar suara si gadis cilik, “Sudah cukup lama aku menunggumu”
Siau Po menolakkan daun jendela dan lalu melompat ke dalam Setelah itu dia
menyulut lilin dan menyingkapkan kelambu tempat tidurnya.
Kedua nona itu tampak berbaring berdampingan. Gadis yang terluka itu sedang
membuka matanya lebar-lebar, namun ketika dia melihat Siau Po, cepat-cepat dia
memejamkan matanya, Mungkin dia masih jengah atau malu.
Lain dengan Siau kuncu, dia malah menatap si bocah cilik dengan matanya yang jeli
dan indah, Sinar matanya menunjukkan hatinya terhibur dan senang dapat melihat Siau
Po lagi.
“Kuncu, sini aku obati lukamu” kata Siau Po.
“Tidak” sahut Siau kuncu, “Kau obati dulu kakak seperguruanku. Kesinikan obatnya,
biar aku yang memakaikannya”
“Kau selalu berbahasakan aku dan kau, apakah tidak ada sebutan lainnya yang lebih
enak didengar ?” goda Siau Po.
Siau kuncu tertawa, Rupanya dia merasa bocah ini lucu sekali.
“Siapa namamu yang sebenarnya? Aku selalu mendengar orang-orang
memanggilmu Kui kong-kong”
“Kui kongkong adalah panggilan orang lain,” sahut Siau Po. “Kau sendiri, bagaimana
kau memanggilku?”
Siau kuncu berdiam diri beberapa saat, Matanya dikedap-kedipkan.
“Di dalam hatiku.,.” katanya kemudian “Aku… memanggilmu kakak yang… baik.
Tetapi di mulut, terasa… aneh untuk menyebutkan… nya.”
“Baik, baik Kita atur begini saja,” kata Siau Po. “Di depan orang lain, aku
memanggilmu Siau kun cu, dan kau memanggilku Kui toako, Tetapi kalau hanya kita
berdua yang ada, aku akan memanggilmu adik dan kau harus memanggilku kakak yang
baik.”

Belum lagi Siau kuncu sempat memberikan jawabannya, si nona yang sedang
terluka sudah mencibirkan bibirnya sambil mengejek.
“Manis benar kedengarannya Siau kuncu, jangan kau ladeni dia. Aku tahu dia
sedang mengambil hatimu”
“Hm” Siau Po mendengus dingin. “Aku toh tidak suruh kau yang memanggil aku?
Untuk apa kau usil? seandainya kau yang memanggil aku, tentu aku tidak sudi
mendengarnya”
Siau kuncu tertawa mendengar pertengkaran di antara kedua orang itu.
“Lalu, kau mau dia memanggil apa kepadamu?” tanyanya.
Siau Po juga tertawa.
“Aku ingin dia memanggilku suami yang baik Ya, suami yang terbaik” sahutnya.
Wajah si nona jadi merah padam mendengarnya.
“Kalau kau ingin menjadi suami orang, kau harus menjelma sekali lagi pada
penghidupan mendatang” katanya sengit dan wajahnya memperlihatkan mimik
mencemooh.
“Sudah, sudah” Siau kuncu segera menengahi.
“Kalian berdua kan bukan musuh bebuyutan? Kenapa baru bertemu sudah
bertengkar terus? Kui toako, aku harap kau bersedia memberikan obatnya kepadaku”
“Baik” sahut Siau Po. “Tapi biarkan aku mengobati lukamu terlebih dahulu”
Dia segera menyingkap selimut yang menutupi tubuh kedua nona itu, Kemudian dia
menggulung celana Siau kuncu dan memakaikan obat di kakinya yang terluka.
“Terima kasih” kata Siau kuncu tanpa malu-malu, Nada suaranya juga mengandung
ketulusan.
“Siapa nama istriku?” tanya Siau Po.
Siau kuncu tertegun.
“lstrimu?” tanyanya bingung.
“lya, istriku” kata Siau Po. Kepalanya menoleh kepada nona yang sedang terluka itu
dengan bibir dimonyongkan.

Siau kuncu tertawa, Dia mengerti kakak seperguruannya itulah yang dimaksudkan
thay-kam cilik itu.
“Aih Kau memang suka bercanda” katanya.
“Kakak seperguruanku ini she Pui dan namanya….”
“Jangan beritahukan kepadanya” tukas si nona yang terluka gugup.
Begitu mendengar nona itu she Pui, Siau Po segera teringat ketika mengadakan
perjalanan di Kangsou utara, dia bertemu dengan dua orang anak muda, Seorang pria
dan seorang wanita. Mereka adalah orang-orang dari Bhok onghu. Mereka juga yang
membuat Mau Sip-pat segan serta menghajarnya setengah mati, Namun nona yang
mereka lihat hari itu, sedikit lebih tua dari nona Pui.
“Oh, dia she Pui. Aku tahu Di sana aku masih mempunyai seorang toa-ku dan toaie,”
katanya kemudian. Toa-ku dan toa-ie adalah ipar laki-laki dan ipar perempuan.
“Aneh Apa yang kau maksud dengan toa-ku dan toa-ie?” tanya Siau kuncu bingung.
“Dia mempunyai, seorang kakak laki-laki dan seorang kakak perempuan, bukan?
Mereka itulah ipar-iparku” sahut Siau Po seenaknya.
Siau kuncu semakin heran.
“Oh, jadi di antara kalian masih ada hubungan keluarga?” Tampaknya dia percaya
saja dengan ocehan si thay-kam cilik.
“Siau kuncu, jangan layani dia bicara” kata nona Pui. “Bocah itu benar-benar busuk
hatinya, Dia tidak ada hubungan keluarga denganku. Benar-benar sial kalau aku
memilikinya”
Siau Po tidak marah, Dia malah tertawa lebar Cepat dia menyerahkan obat pada
Siau kuncu sambil berbisik di telinganya.
“Adikku yang baik, coba kau katakan siapakah nama belakangnya istriku itu?”
Jarak antara kedua gadis itu dekat sekali, Meskipun Siau Po berbicara dengan suara
berbisik, tetapi nona Pui dapat mendengarnya dengan jelas, Karena itu dia segera
berkata.
“Jangan beritahukan”
Siau Po tertawa lagi.
“Tidak apa-apa kalau kau tidak mau memberitahukannya, Tapi aku ingin menciummu
dulu satu kali, Pertama-tama, aku akan mencium pipi kirimu, lalu aku akan mencium pipi

kananmu dan terakhir bibirmu. Nah, sekarang kau katakan terus terang, kau lebih suka
dicium atau memberitahukan namamu saja?”
Nona itu tidak bergerak, pikirannya bingung, Thay-kam cilik ini benar-benar iseng dan
agak ceriwis. Selain bingung, nona Pui juga kesal sekali, Untung saja Siau Po masih
seorang bocah cilik dan tadi dia juga mendengar para siwi memanggilnya kongkong.
Siau Po seakan ingin membuktikan ancamannya. Dia menggerakkan tubuhnya dan
kepalanya dicondongkan ke depan seperti ingin mendekatkan bibirnya ke wajah nona
itu. Tentu saja nona Pui itu berdebaran jantungnya melihat perbuatan Siau Po.
“Baik, baik” kata si nona Pui cepat dan gugup. “Baik, setan cilik Aku akan
memberitahukan namaku”
Siau kuncu tertawa
“Seperti apa yang kukatakan barusan, Kakakku she Pui, sedangkan nama suci
hanya satu huruf Ie, jadi namanya Pui ie.”
Siau Po buta huruf, dia tidak tahu bagaimana tulisan nama itu, namun dia
menganggukkan kepalanya juga.
“Ah…. Nama yang dipilih secara sembarangan, sama sekali tidak bagus” katanya,
“Sekarang giliran kau, Siau kuncu, siapakah namamu?”
“Aku she Bhok, namaku Kiam Peng. Kiam artinya pedang, Peng artinya tirai,” sahut
Siau kuncu.
“Namamu lebih bagus” kata Siau Po kembali Tapi sayangnya bukan dari kelas satu”
“Tentu namamu baru nama dari kelas satu, bukan?” sindir Pui Ie. “Siapa she dan
namamu? Sampai mana bagusnya?”
Ditanya sedemikian rupa, untuk sesaat Siau Po tertegun Dia sadar dirinya dijebak
oleh ucapannya sendiri.
“Aku tidak boleh menyebutkan nama asli,” pikirnya dalam hati, Tapi Siau Kui cu
bukan nama yang dapat dibanggakan Biar bagaimana, dia harus menyebutkan sebuah
nama, Akhirnya dia berkata:
“Aku she Go, karena aku seorang thay-kam, orang-orang memanggil aku Go
laokong….”
“Go laokong…. Go laokong…” Pui Ie mengulangi nama itu beberapa kali, “Ah
Namamu itu….” Mendadak kata-katanya terhenti, wajahnya menjadi merah padam,
Sebab dia sadar bahwa yang disebut Siau Po bukan nama orang, Go laokong artinya
mertuaku.

“Cis” seru si nona kemudian. “Kau hanya mengoceh sembarangan.”
“Aih Lagi-lagi kau menggoda orang” kata Bhok Kiam Peng, “Aku dengar orangorang
memanggilmu Kui kongkong, kau bukan she Go”
Siau Po tidak mau kalah.
“Kalau laki-laki, mereka memanggilku Kui kongkong, tapi kalau perempuan, dia
memanggilku Go laokong.”
“Aku tahu siapa namamu” kata nona Pui Ie yang mulai banyak bicara, Hal ini karena
dia merasa tidak mau kalah dan ingin membalas ejekan Siau Po.
Siau Po agak terkejut mendengar kata-katanya.
“Kau tahu? Bagaimana kau bisa tahu?” tanyanya heran,
“Aku tahu namamu yang sebenarnya adalah Ho Pat-to” kata nona itu.
Siau Po tertawa terbahak-bahak, Nama yang disebut nona itu hanya sebuah sindiran
yang artinya “Ngaco belo.”
Setelah Siau Po tertawa terbahak-bahak, tiba-tiba saja tampak nafas Pui Ie
memburu. Rupanya hati gadis itu mendongkol sekali dan sejak tadi dipendam, lagipula
dia juga terlalu banyak bicara.
“Oh, adikku yang baik” kata Siau Po kepada Kaim Peng, “Cepat kau pakaikan obat
yang kuberikan. jangan membiarkan dia mati karena aku Aku Go laokong hanya
mempunyai dia seorang istri. Kalau dia sampai mati, kemana lagi aku bisa mencari istri
yang kedua?”
Kiam Peng tersenyum.
“Kakakku mengatakan kau senang mengoceh yang bukan-bukan, ucapannya
memang tepat,” katanya, Dia segera menurunkan kelambu kemudian mengobati luka
Pui Ie.
“Apakah darahnya sudah berhenti mengalir?” tanya Siau Po.
“Sudah berhenti,” sahut Kiam Peng.
“Bagus Memang obatku mujarab sekali, Bahkan melebihi obatnya Pou sat. sekarang
baru kau percaya, Nanti, sesudah lukanya sembuh, dadanya tidak akan meninggalkan
bekas cacat sedikit pun sehingga bunga dan rembulan pun merasa malu terhadapnya.”
“Aih Kau memang paling bisa” Kiam Peng tertawa mendengar ucapan si bocah
yang lucu.

“Setelah lukanya tidak mengeluarkan darah lagi, kau pakaikan lagi obat luar,” kata
Siau Po.
“lya,” sahut Kiam Peng.
Tepat pada saat itu, dari luar terdengar suara panggilan
“Kui kongkong Kui kongkong Apakah Kui kongkong sudah tidur?”
“Sudah?” sahut Siau Po namun ia bertanya juga. “Siapa? Kalau ada urusan apa-apa,
tunggu besok pagi saja”
Orang di luar rnenjawab, “Aku yang rendah Sui Tong” Nama itu membuat Siau Po
terkejut “Oh, Sui congkoan Entah ada keperluan apakah ?” tanyanya cepat.
Bagian 19
Rupanya Sui Tong itu adalah Hu congkoan, pemimpin muda dari Gi Cian siwi,
pasukan pengawal pribadi Raja, Siau Po sering mendengar nama orang itu yang
menurut para siwi ilmu silatnya tinggi sekali.
Hanya selama beberapa tahun belakangan ini, dia sering bertugas di luar istana,
Karena itu Siau Po belum pernah bertemu dengannya.
” Aku yang rendah mempunyai urusan yang penting” terdengar Sui Tong berkata
kembali. “Kui kongkong, harap maafkan, Aku yang rendah telah mengganggu
ketenangan kongkong, Tapi aku yang rendah ada urusan yang penting hendak
dibicarakan.
Nyali Siau Po menjadi ciut. Diam-diam dia berpikir
Tengah malam begini dia datang kemari, entah apa yang diinginkannya?
Mungkinkah dia tahu kalau aku menyembunyikan kawanan pemberontak dan sekarang
dia datang untuk memeriksa dan menggeledah kamarku? Bagaimana baiknya
sekarang? Kalau aku tidak membukakan pintu, dia tentu akan memaksa masuk.
sedangkan kedua perempuan bau yang sedang terluka ini tidak bisa melarikan diri,
sebaiknya aku pandai-pandai melihat situasi. Kalau ditilik dari suara langkah kaki di luar
pintu, tampaknya Sui Tong hanya seorang diri.
“Ah… mengapa aku tidak mencari kesempatan membokongnya saja? Memang tidak
ada jalan lain kecuali membunuhnya” pikirnya kemudian.
Dari luar kamar kembali terdengar suara Sui Tong.

“Urusan ini penting sekali, Kalau tidak, nanti aku yang rendah berani mengganggu
kongkong yang sedang bermimpi indah”
“Baiklah,” sahut Siau Po. “Nanti aku akan membukakan pintu”
Tapi, bukannya membukakan pintu, dia malah menyusupkan kepalanya ke dalam
kelambu dan berbisik kepada Kiam Peng serta Pui Ie.
“Kalian jangan bersuara” Nadanya serius, tampangnya juga bersungguh-sungguh.
Setelah itu baru dia berjalan menuju pintu, Siau Po menenteramkan hatinya agar dia
tampak tenang, kemudian baru dia membuka pintu.
Di depan pintu berdiri seorang siwi yang tubuhnya tinggi besar, Kepala Siau Po
paling-paling sampai dadanya saja.
Orang itu, Hu congkoan Sui Tong, segera menjura ketika melihat Siau Po.
“Maaf, kongkong,” katanya, “Aku telah mengganggu kongkong”
“Tidak apa-apa” sahut Siau Po sambil mengangkat wajahnya untuk memperhatikan
orang di depannya, Dia melihat seraut wajah yang tidak menyiratkan mimik perasaan
apa-apa. Wajah itu begitu kaku, sehingga orang sulit menerka apa yang dipikirkannya.
“Sui congkoan, ada keperluan apakah?” tanyanya dengan sikap wajar, Dia sengaja
tidak mengundang orang itu masuk ke dalam kamarnya karena khawatir congkoan itu
akan curiga dan memergoki Kiam Peng serta Pui Ie.
“Aku yang rendah baru saja menerima perintah dari ibu suri,” katanya, “Menurut surat
titah yang diturunkan ibu suri itu, kawanan pemberontak yang menyerbu istana malam
ini berhasil masuk karena ajakan Kui kongkong”
Mendengar ucapan “titah ibu suri,” Siau Po sudah terkejut setengah mati, inilah
pertanda buruk, Apalagi mendengar tuduhan yang dijatuhkan pada dirinya. pikirannya
bekerja dengan cepat Berkat kecerdasannya dia segera mendapat akal.
Pertama-tama dia menunjukkan mimik keheranan
“Aneh sekali Aku baru saja menghadap Sri Baginda untuk menanyakan
keselamatannya, Di sana aku mendengar beliau berkata: “Ah Sungguh besar nyali si
budak Sui Tong, Baru pulang ke istana, dia sudah… hm”
Mendengar keterangan itu, Sui Tong terkejut setengah mati. Untuk sesaat dia berdiri
terpaku, Dia justru menerima titah ibu suri untuk membekuk thay-kam cilik ini sebab
menurut ibu suri, dia telah membawa kawanan pemberontak menyelundup ke dalam
istana.

Sekarang mendengar kata-kata Siau Po, ia percaya sekali, sebab dia tahu bocah di
hadapannya ini merupakan thay-kam cilik kesayangan raja.
“Apakah Sri Baginda ada mengatakan hal lainnya?” tanya Sui Tong seakan
melupakan tugasnya sendiri, sebenarnya ibu suri malah mengatakan kalau perlu dia
boleh membinasakan bocah ini. Sekarang dia malah sudah ketakutan lebih dulu…
Siau Po berbicara demikian sebetulnya untuk mengulur waktu agar ia mendapat
kesempatan untuk meloloskan diri. Tentunya dia senang sekali melihat sikap pengawal
ibu suri yang begitu ketakutan Dia pun segera menjawab pertanyaan Hu congkoan itu.
“Setelah berkata demikian, Sri Baginda menurunkan perintah agar besok pagi, begitu
fajar menyingsing, aku harus mencari keterangan dari para siwi, mengapa Sui Tong
bisa membawa kawanan pemberontak itu masuk ke dalam istana dan apa maksudnya
yang sebenarnya serta perintah siapa yang dijalankannya, Sri Baginda ingin tahu apa
rencana berikutnya dan siapa saja konco-konconya”
Begitu khawatir dan terkejutnya Sui Tong sehingga pertanyaan berikutnya menjadi
gugup dan tersendat-sendat.
“Ke… napa…. Sri Ba… ginda mengatakan a…ku yang membawa… ka… wanan
pemberon… tak menyerbu ke… mari? Sia… pa yang mengo,., ceh semba… rangan di…
hadap… an beliau? Bukan… kah fitnah i… tu hebat se… kali?”
Sebetulnya Sui Tong gagah dan cerdas otaknya, Namun dalam keadaan seperti ini,
otaknya seakan menjadi keruh dan tidak sanggup berpikir secara normal, sebab ucapan
Sri Baginda bagaikan penentuan hukuman mati baginya.
“Sri Baginda menugaskan aku untuk mencari keterangan secara teliti,” kata Siau Po
kemudian, “Sri Baginda juga berpesan bahwa aku harus berhati-hati. Katanya, “kalau
budak Sui tong mengetahui tugasmu ini, mungkin dia akan mencarimu dan
membunuhmu”
Tapi aku meminta Sri Baginda agar menentramkan hatinya. Karenanya aku berkata
kepada Sri Baginda: “Meskipun Sui Tong bernyali besar, tidak akan dia berani lancang
melakukan pembunuhan di dalam istana Sri Baginda tidak percaya, Beliau berkata:
“Hm Hal itu bukan tidak mungkin, Dia berani membawa kawanan pemberontak
menyerbu istana untuk mencelakai junjungannya, perbuatan apa lagi yang tidak berani
dilakukannya?”
“Kau ngaco” Tiba-tiba Sui Tong menukas dengan nada membentak “A… ku… aku
tidak mengajak orang menyerbu istana Tidak mungkin Sri Baginda berani
sembarangan menuduh”
Di saat Sui Tong berkata demikian, pikiran Siau Po kembali bekerja dengan cepat.

“Aku harus mendahuluinya menghadap Sri Baginda untuk menuduhnya Setelah
terang tanah, aku harus segera meninggalkan tempat ini Tapi, bagaimana dengan Siau
kuncu serta nona Pui itu? Huh Perduli amat dengan mereka Yang penting ialah
menyelamatkan jiwa sendiri Bukankah aku berada di bawah ancaman maut?”
Setelah berpikir demikian, Siau Po berkata lagi kepada Sui Tong,
“Kalau begitu, bukan engkau yang membawa kawanan pemberontak itu menyerbu
istana?”
“Sudah tentu bukan” sahut Sui Tong tegas, “lbu suri sendiri mengatakan bahwa
kaulah yang membawa kawanan pemberontak itu menyelundup ke sini”
“Kalau begitu, kita berdua sama-sama kena difitnah” kata Siau Po kemudian “Sui
congkoan, kau tidak perlu takut Nanti aku akan menghadap Sri Baginda untuk
membelamu. Asal kau memang jujur Meskipun Sri Baginda masih muda sekali, namun
beliau bijaksana dan cerdas, Beliau juga sangat mempercayai aku. Aku yakin katakataku
akan didengarnya dan urusan ini segera dapat diselesaikan dengan mudah”
“Baik” sahut Sui Tong, “Sebelumnya aku mengucapkan terima kasih kepadamu
sekarang kau ikutlah aku menemui ibu suri”
Tidak berani Sui Tong membunuh Siau Po, meskipun ibu suri sudah memberikan
ijinnya, Biar bagaimana, hatinya merasa bimbang mengingat bocah ini adalah thay-kam
kesayangan raja. Apalagi setelah mendengarkan ocehan ini.
Nyalinya semakin ciut Setidaknya, kalau Siau Po tidak mati, dia masih mempunyai
seorang yang dapat diandalkan untuk membelanya.
Siau Po berlagak pilon.
“Sekarang kan sudah tengah malam, buat apa aku menghadap ibu suri?” tanyanya,
“Aku rasa sebaiknya besok pagi-pagi aku menghadap Sri Baginda terlebih dahulu,
Siapa tahu sekarang beliau sudah menurunkan titah untuk membekuk dan
menghukummu? Ya… Sui congkoan, aku ingin memberitahukan suatu hal kepadamu
Nanti kalau ada siwi dari Sri Baginda yang ingin menawanmu, jangan sekali-sekali kau
melakukan perlawanan Sebab, sekali kau melawan, berarti kau telah membangkang
perintah raja dan hal ini membuat fitnah atas dirimu susah dicuci bersih kembali”
Biar bagaimana Sui Tong jadi bingung, sebenarnya dia meragukan juga kata-kata
Siau Po, namun hatinya dilanda kebimbangan Rasa takut membuat pikirannya kacau,
Bukankah dia membutuhkan keterangan bocah ini di hadapan Sri Baginda nanti?
pikirannya lantas bekerja keras.
“Memang aku membutuhkannya untuk memberikan keterangan tentang
kebersihanku di hadapan Sri Baginda, Tapi aku sedang menjalankan titahnya thayhou,
Dan ibu suri telah mengancamku bahwa aku berbuat kesalahan besar apabila Siau Kui

cu sampai lolos. Tidak bisa tidak pokoknya aku harus membawa bocah ini menghadap
Hong thay-hou terlebih dahulu, dengan demikian aku telah menunaikan tugasku….”
Dengan membawa pikiran demikian, Sui Tong segera berkata kepada Siau Po.
“Aku toh tidak bersalah, mengapa Sri Baginda harus menawanku? sekarang
sebaiknya kau ikut aku dulu menghadap ibu suri”
Siau Po menggeser tubuhnya ke samping, Sui Tong mengulurkan sebelah tangan
untuk menariknya. Sembari menyingkir dia berkata dengan suara perlahan.
“Kau lihat Di sana datang beberapa orang yang hendak menawanmu”
Sui Tong terkejut setengah mati, wajahnya menjadi pucat pasi. Dengan cepat dia
menolehkan kepalanya.
Tepat di saat Sui Tong menoleh, bocah yang cerdik itu langsung memutar tubuhnya
dan mencelat ke dalam kamar, justru di saat itulah Sui Tong menggerakkan tangannya
menyambar sebab dalam sekejap mata dia sudah melihat bahwa pada arah yang
ditunjuk Siau Po tidak ada seorang pun yang mendatangi.
Siau Po takut tertangkap oleh siwi itu. Dia telah menyembunyikan dua orang nona
dalam kamarnya dan dia menduga rahasia itu sudah bocor, Kalau dia sampai diringkus
dan dibawa ke hadapan Hong thayhou, pasti sulit baginya untuk meloloskan diri dari
bahaya.
Kalau saja dia bisa lari sampai ke taman, tentu banyak tempat baginya untuk bermain
petak umpet dengan orang itu, Namun dia tidak menyangka gerakan Sui Tong begitu
cepat.
Setelah berhasil menghindarkan diri dari sambaran tangan Sui Tong, Siau Po
mencelat dan sampai di depan jendelanya, Tapi Sui Tong telah mengejarnya, Sebelum
dia sempat melompat keluar lewat jendela, tangan pengawal muda itu telah mengenai
punggungnya sehingga kedua kakinya lemas dan tubuhnya roboh seketika
Sui Tong mengulurkan tangan kirinya untuk menyambar pinggang Siau Po. Dia tidak
ingin thay-kam cilik itu meloloskan diri.
Siau Po berusaha membela diri, Kedua tangannya digerakkan, dia mengerahkan
jurus Kim Na jiu-hoat. Sayangnya, tubuh bocah itu jauh lebih kecil sehingga kalah
tenaga, Karena dia mengadakan perlawanan, tubuhnya terdorong dan jatuh ke dalam
gentong air.
Gentong air itu milik Hay kongkong yang digunakan untuk merendam diri mengobati
penyakitnya. Sampai sekarang memang Siau Po belum sempat membuangnya.

Melihat bocah itu tercebur, Sui Tong tertawa terbahak-bahak, Tangannya diulurkan
kembali untuk mencekal bocah yang hendak melarikan diri itu, tapi dia hanya berhasil
mencengkeram batang leher Siau Po.
Di dalam gentong air, Siau Po mengerutkan tubuhnya, Namun gentong itu memang
tidak terlalu dalam, Sesaat kemudian tangan Sui Tong sudah berhasil mencekiknya
kemudian dia diangkat ke atas dalam keadaan basah kuyup.
Siau Po masih mencoba melawan, Ketika di dalam gentong, dia menyedot air cukup
banyak dan sisanya masih dibiarkan berkumur dalam mulut Setelah kena dicekal,
wajahnya berhadapan dengan wajah Sui Tong, Dia menyemburkan air itu sekeraskerasnya
ke arah matanya
Sui Tong terkejut setengah mati. Dia juga gelagapan karena air masuk ke dalam
mata, hidung dan juga mulutnya
Dalam waktu yang bersamaan, Siau Po menerjang tubuh orang itu, tangan kirinya
meluncur ke leher Sui Tong untuk dipelintir.
Sui congkoan terperanjat Dia berseru tertahan, tubuhnya menggidik beberapa kali,
Lambat laun cekalan tangannya jadi kendor, kedua matanya mendelik dan wajahnya
menyiratkan rasa nyeri. sedangkan dari mulutnya meluncur kata-kata atau lebih tepat
gumaman yang tidak jelas.
Hal ini disebabkan oleh pisau mustika Siau Po yang telah menancap di tubuh Sui
Tong ketika dia menerjang ke depan, Dan tidak kepalang tanggung, Begitu berhasil
menusuk dada lawannya, Siau Po segera menghentakkan pisaunya ke bawah sampai
terkoyak ke bagian perut.
Hal ini pula yang menyebabkan Sui Tong tidak berdaya, Dia tidak menyadari dari
mana datangnya bokongan itu, juga tidak sanggup mempertahankan diri terlebih lama,
Darah menyembur dengan deras dari bekas lukanya, tubuhnya terjengkang ke
belakang dan nyawanya pun melayang Dapat dikatakan bahwa dia mati penasaran
“Hm” Siau Po mendengus dingin, Setelah itu dia mencabut pisau belatinya.
Meskipun kepandaian Sui Tong sangat tinggi namun sayangnya kecerdasannya masih
kalah dengan Siau Po. Karena itulah, dengan akal yang licik, bocah kita sanggup
membunuhnya.
Selama Siau Po melompat ke dalam kamar dan akhirnya tercekal oleh siwi yang
kemudian mati itu. Kiam Peng dan Pui Ie dapat melihat jelas dari balik kelambu. Hanya
saja mereka tidak tahu bagaimana caranya Siau Po membinasakan orang itu,
Karenanya mereka menjadi heran.
Siau Po sendiri menjadi gugup setelah melakukan perbuatan itu, Untuk sesaat dia
tidak sanggup mengatakan apa-apa. Ketika dia membuka mulut akhirnya, suaranya
terdengar tidak jelas.

“A…ku… a… ku….”
“Terima kasih kepada Langit dan Bumi. Akhirnya kau berhasil juga membunuh orang
itu” kata Kiam Peng.
“Sui Tong ini mempunyai julukan Tian-Ciang Bu tek (Tangan besi tanpa lawan).” Pui
Ie turut memberikan keterangan “Tadi dia sudah membinasakan tiga orang anggota
Bhok onghu, perbuatanmu berarti telah membalaskan sakit hati mereka bertiga. Bagus
Bagus?”
Dengan cepat Siau Po berhasil menenteramkan hatinya.
“Dia dijuluki Tangan besi tanpa lawan, tapi dia tidak sanggup berhadapan dengan
aku, Wi Siau Po” katanya senang, Rasa bangga membuatnya jadi sombong. “Akulah
jago silat nomor satu yang lain dari umumnya”
Selesai berkata, Siau Po memeriksa kantong Sui Tong dan akhirnya dia berhasil
menarik sebuah buku kecil yang penuh dengan huruf-huruf kecil. juga didapatkan
beberapa helai surat, Tapi karena dia buta huruf, dia meletakkan semuanya di samping,
Ketika dia memeriksa lagi, tangannya menyentuh sesuatu yang agak keras di pinggang
korban. Dengan pisaunya dia merobek jubah orang itu, akhirnya dia menemukan
sebuah bungkusan yang dipak rapi dengan kain minyak.
“Entah mustika apa yang ada di dalamnya, Penyimpanannya saja demikian
sempurna,” pikirnya dalam hati.
Kembali dia menggunakan pisaunya untuk memutuskan tali pengikat bungkusan
tersebut setelah dibukanya, dia mendapatkan sejilid kitab Si Cap Ji cin-keng yang
ukurannya dan bentuknya sama dengan yang pernah ia lihat sebelumnya.
“Ah” serunya girang, Lekas-lekas ia mengeluarkan bukunya yang sama, Untung saja
tidak ikut basah karena dirinya tercebur ke dalam gentong air tadi, Diletakkannya kedua
kitab itu secara berdampingan .Ternyata tidak ada bedanya.
“Pasti ada sesuatu yang aneh dalam kitab ini,” pikirnya kemudian “Sayangnya aku
buta huruf, Kalau aku meminta penjelasan dari kedua nona ini, tentu mereka mengerti
Tapi mereka pasti jadi tidak memandang sebelah mata terhadapku”
Setelah berpikiran demikian, Siau Po membatalkan niatnya dan menyimpan kedua
jilid kitab tersebut di dalam lacinya.
“Bagaimana sekarang?” terdengar Kiam Peng bertanya, “Kau sudah membunuh
orang ini, pasti sebentar lagi ada orang yang menyusulnya kemari”
Pikiran Siau Po bekerja dengan cepat, Tadi thayhou sendiri datang kemari untuk
membunuhku Hal ini pasti disebabkan rahasianya yang telah diketahui olehku dan dia
khawatir aku akan membocorkannya.

Setelah gagal, dia mengirim Sui Tong melanjutkan keinginannya yang tidak
kesampaian perempuan tua itu sungguh lihay Bagaimana dia mendapat akal
menuduhku sebagai konconya para pemberontak yang menyerbu istana malam ini?
Bukankah itu fitnahan yang sadis?
Biar bagaimana, aku harus mendahuluinya turun tangan Tindakan inilah yang paling
tepat Aku harus menghadap Sri Baginda selekasnya untuk memberikan penjelasan.
Begitu fajar menyingsing, aku harus meninggalkan tempat ini dan tidak akan kembali
lagi untuk selama-lamanya”
Setelah berpikir demikian, Siau Po langsung mengambil keputusan Dia berkata
kepada Pui Ie. “Aku harus mengarang cerita bahwa Sui Tong telah bersekongkol
dengan pihak Bhok onghu kalian Maka itu, nona Pui…. Tolong kau jelaskan apa maksud
kalian yang sebenarnya menyerbu istana malam ini?” Siau Po menatap si nona cantik
lekat-lekat.
“Karena kami sudah menganggap kau seperti orang sendiri, rasanya tidak apa-apa
kalau kami bicara terus terang kepadamu,” sahut nona Pui Ie. “Kami menyamar sebagai
orang-orangnya Go Eng-him, putera dari Go Sam-kui. penyerbuan kami kemari
bermaksud melakukan pembunuhan gelap terhadap Raja. Kami pikir, syukur kalau kami
berhasil. Andaikata tidak sekalipun, kami bisa menimpakan kesalahan ini kepada pihak
Go Sam-kui, Bahkan apabila Sri Baginda gusar, ada kemungkinan Go Sam-kui
sekeluarga akan dihukum mati”
Siau Po menarik nafas panjang, Hatinya lega mendengar keterangan Nona Pui itu.
“Bagus, bagus” katanya memuji “Tapi, dengan bukti apa kalian memfitnah Go Samkui?”
“Sengaja kami meninggalkan tanda di baju-baju kami,” sahut Pui Ie. “Tanda itu akan
memberikan bukti bahwa kami orang-orang dari pihak Peng Si ong. Beberapa senjata
kami juga sengaja diukir huruf “Tay Beng Sanhay kwan hu congpeng”.
Siau Po tertawa, Sebelum berpihak pada kerajaan Ceng, Go Sam-kui memang
menjabat sebagai congpeng di Sanhay kwan pada masa kerajaan dinasti Beng.
“Akal itu bagus sekali”
“Ketika kami merencanakan penyerbutan ke istana ini, kami sudah berpikir bahwa
ada kemungkinan beberapa di antara orang-orang kami yang akan tertawan atau
terluka sehingga tidak sempat melarikan diri Tapi, demi bangsa dan negara, kami siap
mengorbankan diri Kami sudah menerka, apabila ada orang kami yang tertangkap,
tanda-tanda itu pasti ditemukan Mulanya kami pasti tidak mau mengaku. Setelah
disiksa beberapa hari, barulah kami menyerah dan menyatakan bahwa kamilah orangorang
yang dikirim oleh Peng Si ong untuk membunuh Raja. Begitu masuk ke dalam
istana, kami melemparkan beberapa senjata dengan tanda khusus itu secara

sembarangan Maksud kami, apabila kami beruntung bisa lolos semuanya, bukti itu toh
sudah tertinggal.”
Nona Pui berbicara dengan serius, nafasnya sampai memburu saking
bersemangatnya. wajahnya sampai bersemu dadu.
“Jadi kedatangan kalian bukan untuk menolong Siau kuncu?” tanya Siau Po kembali.
“Bukan” sahut Pui Ie. “Kami toh bukan dewa.” Bagaimana kami bisa tahu Siau kuncu
ada di dalam istana?”
“Apakah kau pun membawa senjata yang telah diberi tanda bukti itu?” tanya Siau Po.
“Ada” sahut Pui Ie yang segera menyusupkan tangannya ke dalam selimut dan
mengeluarkan sebatang gotok. Karena tenaganya sudah lemah sekali, dia tidak
sanggup mengangkat golok itu tinggi-tinggi.
Siau Po tertawa melihatnya.
“Untung aku tidak tidur di sampingmu, kalau tidak, tentu mudah bagimu untuk
menikam aku sampai mati”
Wajah nona itu menjadi merah padam karena jengahnya.
“Fui” serunya dengan mata mendelik
Siau Po tersenyum Dia menerima golok kecil itu kemudian disembunyikan di balik
pakaian Sui

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s