“ PANGERAN MENJANGAN” – “ LU DING JI “ 24

pernah
dia diperlakukan orang sedemikian rupa, Biasanya dia justru dimanjakan sekali.
Siau Po menambah tenaganya, Dia menarik tangan gadis cilik itu keras-keras.
“Aduh” jerit si nona, Mau tidak mau air matanya mengalir karena rasa sakit yang
tidak tertahankan.
Selama Siau Po berlatih gulat dengan kaisar Kong Hi, belum pernah ada satu pihak
pun yang menjerit kesakitan, apalagi nenangis, Biasanya kalau salah satunya sudah
berteriak: “Menyerah tidak?” asal yang lainnya menyerah, pergulatan pun selesai,
Apabila masih ingin dilanjutkan perkelahian pun dimulai lagi dari awal. Siapa sangka si
kuncu cilik ini malah menangis saking sakitnya.
“Hah Budak tidak ada gunanya” kata Siau Po sambil tertawa, Dia pun lalu
melepaskan cekalannya.
Kuncu itu bergerak bangun, tiba-tiba tangan kirinya melayang ke depan

Hal ini tidak disangka-sangka oleh si bocah, Tinju itu sempat mampir juga di
hidungnya, sedangkan tangan si nona yang satunya lagi telah meluncur dengan jurus
“Sepasang walet terbang”. Bahu kanannya sudah terhajar, sekarang bahu kirinya
terkena hantaman pula,
Bocah itu jadi jatuh terduduk Dengan demikian Kuncu itu pun segera lari ke pintu. Dia
bermaksud menyingkirkan kayu palangnya dan lari keluar.
Dengan menahan rasa sakitnya, Siau Po melompat mengejar Disambarnya nona
cilik itu kemudian dirangkulnya lehernya, Si nona cilik itu pun menggerakkan kedua
sikutnya untuk menghajar dada si bocah. Sekali lagi Siau Po kena batunya Untung saja
tenaga si nona sudah jauh berkurang sehingga akibatnya tidak begitu hebat.
Siau Po sadar, seandainya si nona berhasil lolos dari kamarnya, mereka berdua akan
tertimpa bencana, karena itu dengan menahan rasa sakit, dia terus merangkul
sedangkan si nona tidak henti-hentinya meronta.
Satu kali si kuncu berhasil memuntir batang leher Siau Po sehingga wajah mereka
berhadapan. Tapi dia menjadi terkejut sekali begitu melihat wajah si bocah berlumuran
darah.
“Eh, kenapa kau?” tanyanya kaget, “Kau berdarah sebetulnya tinju si nona yang
mampir di hidung Siau Po yang menyebabkan darah mengalir Namun Siau Po tidak
sempat memperdulikannya. Lukanya tidak berarti, rasa sakitnya pun sudah hilang.
Hanya darahnya saja yang masih mengucur terus, meskipun tidak terlalu banyak.
“Kau tidak boleh pergi dari sini?” kata Siau Po yang tidak memperdulikan pertanyaan
itu “Lekas lepaskan aku” teriak si nona.
“Tidak” sahut Siau Po, yang tetap merangkul erat-erat.
Si nona mulai kebingungan melihat darah dari hidung Siau Po yang terus mengalir.
“Apakah kau merasa sakit?” tanyanya kemudian.
“Aku merasa kesakitan, malah sudah hampir mati” sahut si bocah yang masih tidak
lupa bergurau “Biarlah kali ini kau hajar aku sampai mampus sekalian”
Bocah ini memang cerdik, Dia mencekal kedua tangan si nona sehingga tidak dapat
digerakkan untuk menotoknya.
“Kau tidak akan mati” kata si nona, “Meskipun hidungmu terhajar dan mengeluarkan
darah, kau tetap tidak akan mati”
“Darahku masih belum berhenti mengucur Kalau nanti sudah berhenti, aku pasti akan
mati, Biar sudah menjadi mayat, aku akan memelukmu terus, Apapun yang kau
katakan, pokoknya aku tidak mau melepaskan”

“Biarkan aku mengambil kapas untuk menyumbat hidungmu Dengan demikian
darahnya tidak akan mengalir terus,” kata si nona kemudian.
“Biarkan saja, Aku lebih suka darahku mengalir terus, semakin deras dan semakin
banyak, semakin baik. Biar aku cepat menjadi mayat”
Si kuncu cilik jadi kewalahan.
“Kau tidak boleh mati,” katanya kemudian. “Aku minta jangan kau menjadi mayat”
“Aku tidak akan mati kalau kau berjanji tidak akan pergi dari sini” kata Siau Po.
“Baik, aku tidak akan pergi” sahut si nona, Namun dalam hatinya dia berpikir “Kau
tidak akan mati”
“Asal kau melangkah keluar dari pintu kamar, aku akan bunuh diri” kata Siau Po
mengancam Kemudian dia mengendorkan cekalannya pada tangan si nona sehingga
dapat bergerak bebas, Si kuncu cilik menarik nafas lega.
“Kau berbaringlah dulu, nanti aku bantu kau menghentikan darah yang mengalir dari
hidungmu. Pemah satu kati aku tersandung dan hidungku juga berdarah, tapi aku toh
tidak mati.”
Selesai berkata, si nona cilik itu segera memegang tangan Siau Po dengan maksud
memayangnya. Siau Po pura-pura limbung sehingga tubuhnya menabrak dan saling
menempel dengan si kuncu, Tapi si nona cukup sigap, dia berhasil memegangi tubuh
Siau Po dan membawanya ke atas pembaringan setelah itu dia lalu mengambil sehelai
sapu tangan yang kemudian ia celupkan ke air yang kemudian digunakannya untuk
mengompres dahi si bocah.
Di samping itu, dia menggunakan sapu tangan lainnya untuk menyusut darah di
hidung Sia Po. Dia bekerja dengan hati-hati namun cekatan, “Kau berbaringlah dan
istirahat sebentar,” kat si nona, “Darah di hidungmu akan berhenti mengalir. Barusan
aku telah menghajarmu Aku merasa menyesal sekarang aku benar-benar akan pergi.
jangan kau halang-halangi aku. Kalau tidak, aku akan memukulmu lagi”
“Aduh” Tiba-tiba Siau Po menjerit “Bagian belakang telingaku sakiti”
Si nona cilik terkejut setengah mati, Dia menoleh kan kepalanya dan membatalkan
niatnya keluar Segera dia menghampiri Siau Po.
“Benar?” tanyanya sambil membungkukkan tubuhnya untuk melihat keadaan bocah
itu.
Begitu si nona mendekati mendadak Siau Po menyambar pinggang gadis itu sambil
mengerahkan tenaganya, Si nona cilik terkejut. Dia meronta-ronta namun tidak berdaya.

Rangkulan Siau Po kali ini menggunakan jurus Tenglo Si atau Lilitan rotan yang
membuat orang tidak bisa mengerahkan tenaga nya.
Ketika si kuncu masih berusaha memberontak tiba-tiba terdengar sebuah suara di
jendela.
“Diam” bisik Siau Po. “Ada setan”
Kuncu itu tercekat hatinya. Dia segera diam, Gagallah usahanya untuk meronta lebih
jauh. sedangkan tadinya dia berniat menghajar wajah si bocah untuk membuatnya
kesakitan sehingga rangkulannya terlepas.
Kembali terdengar suara di jendela yang seakan ada seseorang sedang
mendorongnya. Siau Po terperanjat Sejak Hay kongkong sakit, jendela itu sudah
dipantek dengan paku dan terus dibiarkan dalam keadaan demikian saja. Hal ini untuk
mencegah apabila ada orang yang hendak mengintai Tapi sekarang, untuk pertama kali
ada orang yang berusaha membongkarnya.
Bagian 18
“Benar-benar setan?” tanya Siau Po seakan pada dirinya sendiri
Kuncu tadi semakin ketakutan. Dia yang tadinya berdiri di sisi tempat tidur segera
naik ke atasnya, Kepalanya menyusup ke dalam selimut dan bersandar di dada si
bocah cilik, Tubuhnya gemetar
“Siau Kui cu… Siau Kui cu….” Terdengar panggilan dari luar jendela, Suara seorang
wanita.
“Ah Setan perempuan” kata Siau Po.
Kuncu tersebut semakin takut Dia merangkul si thay-kam gadungan erat-erat Tibatiba
terasa angin berhembus, lilin dalam kamar jadi padam, Tahu-tahu di dalam kamar
telah bertambah seseorang yang suaranya terdengar kembali.
“Siau Kui cu…. Siau Kui cu… Giam Lo ong (raja akherat) telah memanggilmu Kata
Giam Lo ong, kau telah menganiaya Hay kongkong sampai mati.”
“Aku tidak menganiaya Hay kongkong.,.” kata Siau Po tapi hanya dalam hati
“Siau Kui cu…. Giam Lo ong akan meringkusmu” kata si setan, “Kau akan
dilemparkan ke gunung golok dan dimasukkan ke dalam kuali panas Kau tidak mungkin
lolos lagi”

Sampai di situ, hilang sudah perasaan terkejut di hati Siau Po. sebaiknya dia merasa
terkesiap, karena dia mengenali suara wanita itu sebagai suara Hong thayhou. Baginya,
ibu suri ini justru lebih menakutkan dari setan mana pun, sebab Hong thayhou bisa
merenggut nyawanya dengan mudah
Tadinya perasaan Siau Po sudah agak tenang, Dia mengira Hong thayhou sudah
percaya sepenuhnya kepada dirinya karena sudah sekian lama tidak pernah mengambil
tindakan apa-apa. Dia juga mempunyai dugaan bahwa ibu suri tidak berani
mencelakainya karena dia sangat disayang oleh Sri Baginda.
Padahal, alasan mengapa ibu suri selama ini tidak melakukan tindakan apa-apa,
adalah karena harus merawat lukanya yang cukup parah akibat bentrokan dengan Hay
kongkong tempo hari. Dia juga penasaran mengapa si bocah tidak mati oleh pukulan
Hay kongkong yang lihay itu. Karena itu pula dia menduga tenaga dalam si thay-kam
cilik sudah mencapai taraf yang tinggi sekali, sedangkan untuk membunuh si bocah,
selama lukanya belum sembuh, ibu suri enggan menggunakan tangan orang lain. Kalau
saja dia mau menggunakan tenaga orang lain, dia tinggal mengeluarkan perintahnya
dan bereslah sudah.
Malam ini tiba saatnya bagi Hong thayhou untuk menghabisi duri dalam mata yang
satu ini. sebetulnya dia belum sehat betul, tapi dia tidak bisa bersabar lebih lama, itulah
sebabnya dia mendatangi kamar si thay-kam cilik dan membongkar jendelanya. Sama
sekali tidak terbayangkan oleh ibu suri bahwa di dalam kamar itu ada orang lainnya…
Tenaga dalam sudah dikerahkan pada lengan kanannya, setindak demi setindak
thayhou berjalan mendekati tempat tidur. Kepandaiannya tidak terpaut jauh dengan Hay
kongkong, Dapat dibayangkan apabila serangannya mencapai sasaran
Siau Po sendiri diam-diam sudah mempertajam pandangan matanya, Meskipun
keadaan di dalam kamar remang-remang, namun dia bisa melihat gerak-gerik ibu suri.
Dia tidak berani mengadakan perlawanan juga tidak terpikir olehnya untuk melarikan
diri, Mungkin karena dia merasa sia-sia. Dia hanya menggeser tubuhnya agar tertutup
oleh kasur. Tapi karena tubuhnya bergerak, otomatis tubuh si kuncu cilik ikut tergeser
juga.
Thayhou segera melancarkan serangan. Dia tidak ingin kepalang tanggung dalam
turun tangan
Namun Siau Po tidak terhajar telak, Hanya ada sedikit nyeri yang dirasakannya,
Tubuhnya pun sudah bergeser dari tengah-tengah tempat tidur.
Thaybpu masih belum puas, Dia tidak mendengar suara apa pun dan juga tidak bisa
melihat keadaan musuhnya, Dia segera melancarkan serangan untuk kedua kalinya.
Tepat ketika dia meluncurkan tangannya, di saat itu juga Hong thayhou
mengeluarkan seruan terkejut namun perlahan Dalam waktu yang bersamaan dia

merasa sakit juga heran. Tinjunya seakan mengenai benda yang tajam. Sambil menjerit
dia mencelat ke belakang
Tepat pada saat itu juga, di luar kamar terdengar suara teriakan-teriakan gaduh.
“Ada pembunuh gelap Ada pembunuh gelap” Hati thayhou benar-benar tercekat
“Mengapa ada orang yang tahu perbuatanku?” tanyanya dalam hati. Dengan gesit dia
melompat keluar lewat jendela.
Dia adalah seorang ibu suri, meski para bawahannya sendiri sekalipun, tidak boleh
ada seorang pun yang memergokinya. Dia kabur tanpa sempat mencari tahu apakah
Siau Po masih hidup atau sudah mati. Dia juga dibingungkan oleh rasa nyeri di
tangannya.
Tepat di saat ibu suri melompat keluar dan kakinya belum sempat menginjak lantai,
tiba-tiba ada seseorang yang menyerangnya, Dia terkejut namun cukup waspada.
Matanya juga sempat melihat sehingga kedua belah tangannya segera menangkis
datangnya serangan bokongan itu, Akibatnya penyerang itupun terhajar mundur.
Di saat thayhou masih kebingungan dari kejauhan terdengar orang berteriak.
“Pasukan pertama dan kedua melindungi Sri Baginda Pasukan ketiga kanan lekas
melindungi thayhou Ingat, jangan sampai ada yang meninggalkan pos masing-masing”
Menyusul itu, dari sebelah kanan di mana terdapat gunung-gunung buatan terdengar
lagi teriakan.
“Awas Di sini ada orang jahat Dia ingin mencelakai Kui kong kong”
Thayhou segera mengetahui bahwa teriakan teriakan itu merupakan suara dari para
siwi atau pengawal istana, Dia tidak ingin dipergoki oleh mereka. Lekas-lekas dia
melompat ke taman untuk bersembunyi di antara pepohonan bunga.
Dia bingung sekali karena tangannya terasa sakit sekali Dari sana dia dapat
menonton serombongan orang yang tengah bertempur sengit juga terdengar bentrokan
senjata tajam yang nyaring dan bising.
“0h… Rupanya ada pemberontak yang menyerbu istana” pikir Hong thayhou, “Entah
mereka ini antek-anteknya Hay kongkong atau Go Pay?”
Thayhou hanya menduga tentang kemungkinan salah satu di antara kedua orang
tersebut.
Dari kejauhan masih terdengar suara-suara teriakan. Kali ini diiringi munculnya sinar
obor serta lentera di sana-sini yang semuanya mendekati arena pertempuran.

“Ah Kalau aku tidak cepat-cepat kembali ke istanaku, pasti aku akan celaka,” pikir
ibu suri kemudian Dia pun langsung berjalan dengan mengendap-endap lalu lari menuju
kamarnya.
Baru beberapa tombak dia berlari, tiba-tiba ada sesosok bayangan yang
menghadangnya. Sambil membentak orang itu lantas melancarkan serangan.
“Pemberontak Berani kau menyerbu istana?”
Thayhou menggeser tubuhnya, tangan kanannya bersikap menangkis sedangkan
tangan kirinya menghantam ke pundak penyerangnya itu.
Si penyerang menghindarkan diri, Dia menggunakan sebatang senjata yang mirip
dengan garpu raksasa, Dia balas menyerang kembali sehingga kali ini giliran Hong
thayhou yang harus mengelakkan diri. Dengan demikian terjadilah pertempuran yang
sengit di antara mereka berdua.
Thayhou bingung juga jengkel Siwi yang satu ini lihay sekali, ia sanggup melayani ibu
suri sebanyak dua puluh jurus lebih, Malah dia sempat membentak:
“Oh Kiranya pemberontak perempuan Bagaimana kau begitu berani mati menyerbu
ke dalam istana?”
Thayhou sadar, untuk merobohkan siwi itu setidaknya dia memerlukan tiga puluhan
jurus lagi, sedangkan dia tidak menginginkan hal itu terjadi, karena penundaan waktu
merupakan bencana baginya. Bagaimana kalau para siwi yang lainnya sempat
berdatangan? Celakalah kalau dia sampai terkurung. Rahasianya pasti akan
terbongkar.
Pada saat itu dia melihat kurungan ke arah dirinya semakin merapat.
“Hei, budak celaka” akhirnya dia memutuskan untuk membuka suara. Dia sadar
bahwa dia tidak dapat melayani siwi itu bertempur lebih lama lagi, Dia juga sengaja
tidak merubah suaranya.
Bukan main terkejutnya hati si pengawal Dia membatalkan penyerangannya sambil
mencelat ke belakang sejauh dua tindak.
“Apa katamu?” tanyanya bimbang, Dia merasa kenal dengan suara itu, tapi dalam
keadaan gelap dia tidak dapat melihat dengan jelas.
“Aku ibu suri” bentaknya sambil melancarkan serangan dengan menggunakan
kesempatan ketika si pengawal sedang tertegun, Orang itu pun segera terjengkang
roboh dengan nyawa melayang.
Demi keselamatan dirinya sendiri, thayhou terpaksa menurunkan tangan kejam,
Setelah itu, di langsung melarikan diri ke kamarnya.

Sementara itu, Siau Po masih merasa terkejut karena hajaran thayhou tadi
membawa rasa sakit tapi kesadarannya masih utuh dan untung saja dia ingat untuk
membela dirinya sendiri. Menjelang saat-saat genting, dia mengeluarkan pisau belati
dan kemudian mengangsurkan pisau tersebut ke atas menembus kasur.
Sungguh kebetulan, tepat pada saat itu tinjunya ibu suri datang menyambut pisau
tersebut. Karena itulah Hong thayhou sampai terkejut kesakitan dan langsung lari pergi.
Apalagi dalam waktu yang bersamaan terdengar suara-suara teriakan yang gaduh,
sedangkan pisau Siau Po sempat menembus telapak tangannya dari sisi yang satu ke
sisi yang lainnya.
Kepergian Hong thayhou menguntungkan Siau Po, kalau tidak, dia tentu akan terus
terancam bahaya, Cepat-cepat dia menyingkap kasur dan seIimutnya. sekarang dia
juga dapat mendengar dengan jelas suara berisik di luar. Namun dia masih belum
mengerti apa yang telah terjadi.
“Celaka, thayhou pasti mengirim orang untuk menangkapku” Hal inilah yang
pertama-tama teringat olehnya.
“Cepat kita lari” katanya kepada si kuncu cilik.
Tapi nona itu malah menangis.
“Aduh Aduh” keluhnya.
Rupanya pukulan Hong thayhou yang mengenai pinggang Siau Po sempat
menyerempet si kuncu cilik, Dia merasa sakit sekali, namun saking takutnya sejak tadi
dia diam saja. Setelah mendengar kata-kata Siau Po, dia baru berani mengeluarkan
suara.
“Kenapa kau?” tanya Siau Po terkejut sekaligus heran, Dia menarik leher baju nona
cilik itu untuk membangunkannya, “Mari kita lari secepatnya Cepat”
Tubuh kuncu itu tertarik bangun, tapi sebelum sempat menginjak lantai, dia terjatuh
kembali sehingga kembali dia merintih kesakitan Pahanya terasa nyeri sekali Dia tidak
sanggup berdiri.
“Pahaku sakit” katanya kemudian “Tulang pahaku mungkin patah.” Siau Po menjadi
kebingungan
“Setan alas Celaka” serunya sambil mendamprat “Kenapa tulangmu justru patah
pada saat seperti ini? Aih PerduIi amat Yang penting aku harus menyingkir dari sini”
katanya dalam hati. Dia melompat ke jendela untuk mengintai keluar Dia bermaksud
kabur lewat jendela itu.

Namun pada saat itulah Siau Po sempat melihat ibu suri merobohkan seorang
penghadang yang dikenalinya sebagai salah seorang pengawal istana, karena baju
seragamnya terlihat jelas, Dia menjadi heran.
“Ah Kenapa thayhou membunuh pengawalnya sendiri?” pikirnya diam-diam. Dia
juga melihat thayhou bersembunyi di dalam taman.
Setelah itu, Siau Po juga melihat serombongan orang sedang bertempur dengan
sengit tidak jauh dari tempat persembunyian Hong thayhou, Disusul dengan suara
teriakan di sana-sini, bocah yang cerdik ini langsung dapat menduga bahwa istana telah
kedatangan penyerbu.
“Tangkap pembunuh gelap Tangkap pembunuh gelap” demikian suara teriakan
yang terdengar olehnya.
Mendengar suara-suara itu, hati Siau Po menjadi lega seketika. Jadi, bukan dia yang
hendak ditangkap, hanya para siwi yang sedang bertempur melawan pemberontak yang
datang menyerbu.
Ketika itu Siau Po sempat juga melihat Hong thayhou merobohkan seorang siwi
lainnya, Dia melihat pertempuran itu berjalan seru, Setelah si pengawal roboh, thayhou
lari kembali, kemudian menghilang di balik kegelapan.
“Para siwi bukan hendak menangkap aku, Mungkinkah mereka mendapat titah Sri
Baginda untuk meringkus thayhou?” pikirnya kemudian, “Kalau begitu, aku tidak perlu
pergi dulu”
Dia segera menolehkan kepalanya melihat si kuncu, Nona itu duduk di lantai sembari
merintih perlahan Dia berjalan mendekati Sekarang hatinya sudah Iega, tidak ada lagi
yang perlu dikhawatirkannya.
“Bagaimana? Apakah kau merasa sakit sekali? jangan membuka suara Di luar ada
orang yang menawanmu”
Kuncu itu takut sekali sehingga dia terus menghentikan rintihannya, Tiba-tiba dari
luar kamar terdengar suara seruan seseorang.
“Giginya si anjing kaki hitam ini lihay sekali, sebaiknya kita bergegas mendaki
gunung Cong san”
Mendengar suara itu, Si kuncu terperanjat.
“Ah itulah orang-orang kami” serunya perlahan
“Apa? orang-orang kalian?” tanya Siau Po he-ran. “Pagaimana kau bisa tahu?”

“Kata-kata rahasia yang mereka ucapkan adalah kata sandi keluarga Bhok kami,”
sahut si nona, Cepat Cepat Aku ingin melihat mereka”
“Apakah kedatangan mereka kemari memang untuk menoIongmu?” tanya Siau Po
kembali.
“Aku tidak tahu, Apakah ini istana raja?” si nona malah balik bertanya.
Siau Po tidak menjawab, Diam-diam dia berpikir.
“Kalau rombongan penyerbu itu mengetahui kuncu mereka berada di sini, mungkin
mereka akan menyerbu ke kamarku ini. Mana mungkin dengan seorang diri aku
melawan mereka yang jumlahnya begitu banyak?”
Karena itu dia mengulurkan tangannya membekap mulut si nona sembari berkata:
“Kau jangan bicara duIu, Kalau sampai ada orang yang mendengarnya, pasti ada
orang lain lagi yang datang ke sini untuk menghajar kakimu yang sebelah lagi, Aku tidak
sampai hati melihatnya”
Tiba-tiba terdengar suara teriakan di luar, disusul dengan suara jeritan dan
seseorang pun berseru.
“Dua orang pembunuh gelap telah terbunuh”
Ada lagi seruan yang lainnya.
“Sisa kawanan penyerbu melarikan diri ke arah timur Lekas kejar”
Segera terdengar suara langkah kaki yang ramai berlari serabutan, Suara itu
semakin lama semakin jauh.
“Orang-orangmu sudah kabur…” kata Siau Po yang kemudian melepaskan bekapan
tangannya pada mulut si nona.
“Mereka bukan kabur,” sahut si kuncu, “Tadi mereka mengatakan akan mendaki
gunung Cong San, itu artinya mereka hendak mundur untuk sementara waktu.”
“Lalu apa yang dimaksud dengan anjing kaki hitam?” tanya Siau Po.
“Anjing kaki hitam itu adalah para pengawal Raja.”
Dari kejauhan masih terdengar sayup-sayup suara perintah-perintah. Siau Po
menduga pastilah para penyerbu itu masih terus diserang atau mungkin sedang
dikepung.

Tepat pada saat itulah, terdengar suara rintihan lemah dari luar pintu, Suara seorang
perempuan.
“Masih ada pembunuh gelap yang belum sempat kabur,” kata Siau Po. “Biar aku
keluar untuk membacoknya dua kali lagi,”
Siau Po dapat menduga bahwa orang yang ada di luar pintu kamarnya pasti
rombongan penyerbu, karena para siwi di istana itu terdiri dari kaum pria.
“Jangan jangan kau membunuhnya Mungkin dia salah satu dari anggota
keluargaku” cegah si kuncu.
Dengan berpegangan pada lengan Siau Po, si kuncu berusaha berdiri Dia bertumpu
pada bahu bocah cilik itu. Tanpa menghiraukan pahanya yang sakit, dia melompatlompat
dengan kaki kirinya menuju jendela kemudian melongok keluar.
“Apakah langit selatan dan bumi utara?” tanyanya.
Siau Po segera membekap mulut gadis cilik itu sehingga suaranya jadi tertahan. Dari
luar jendela terdengar sahutan seorang perempuan.
“Sebawahannya Kong Ciak-Beng ong, Apakah Siau kuncu di sana?”
“Perempuan ini berhasil menemukan tuan putrinya, ini berbahaya sekali,” pikir Siau
Po. Dia segera mengangkat pisaunya untuk menimpuk kepala perempuan itu. Tapi tibatiba
tangannya yang membekap mulut si kuncu terlepas karena lengan nya terasa nyeri.
Rupanya si kuncu sudah berhasil mencek lengan kanannya itu sehingga seluruh
tubuhny kesemutan dan tenaganya lenyap.
“Apakah suci di sana?” tanya kuncu tersebu pada perempuan yang ada di Iuar.
“Benar,” sahut perempuan itu dengan nada keheranan, “Kenapa kau ada di sini?”
Belum lagi si kuncu menjawab, Siau Po sudah mendamprat perempuan itu terlebih
dahulu.
“Setan alas Kau sendiri kenapa kau ada di situ?”
“Jangan… kau maki dia” kata si kuncu kepada Siau Po cepat, “Dia adalah suci-ku
(kakak seperguruan) Suci… kau terluka, bukan? Eh… eh, lekas cari akal untuk
menolongnya Kakak seperguruanku yang satu ini paling baik terhadapku” kata si
kuncu panik.
Kali ini giliran Siau Po yang tidak sempat memberikan sahutan, sebab perempuan itu
sudah menukas.

“Aku tidak sudi ditolong olehnya, Lagipula, belum tentu dia mempunyai kesanggupan
untuk memberikan pertolongan”
Siau Po meronta dari cekalan si kuncu,
“Perempuan bau” dampratnya, “Aku tidak sanggup memberikan pertolongan? Hm
Kau budak perempuan yang ilmu silatnya dari golongan kelas sembilan? Asal aku
mengeluarkan sebuah telunjukku saja, aku bisa menolong orang sebangsamu
sebanyak dua atau tiga puluh orang, mungkin malah lebih”
Pada saat itu dari kejauhan masih terdengar suara teriakan-teriakan.
Tangkap pembunuh gelap Tangkap pembunuh gelap”
Kuncu cilik mendengar suara-suara itu, dia menjadi bingung sekali.
“Cepat kau tolongi suci-ku itu. Aku akan memanggilmu tiga kali “Kakak yang baik,
kakak yang baik,., kakak yang baik.,.”
Sebetulnya Siau kuncu atau si kuncu cilik tidak suka memanggil Siau Po dengan
sebutan itu. Tapi sekarang keadaan sedang gawat-gawatnya dan dia berusaha
membaiki hati Siau Po agar mau menolong kakak seperguruannya.
Siau Po tertawa terbahak-bahak, Dia merasa puas dan gembira sekali.
“Oh, adikku yang baik,” katanya, “Adikku, apakah yang kau ingin kakakmu ini
lakukan?”
Wajahnya si kuncu jadi merah padam, Dia merasa jengah sekali.
“Aku minta agar kau mau menolong kakak seperguruanku itu…” sahutnya dengan
terpaksa.
Dari luar jendela, terdengar si perempuan menukas,
“Siau kuncu, jangan minta pertolongannya Bocah itu belum tentu dapat menolong
dirinya sendiri dalam marabahaya”
“Hm” Siau Po mendengus dingin, “Justru karena memandang muka adikmu, aku
baru berniat menolongmu Adikku, apa yang telah kita ucapkan, tidak boleh kita ingkar.
Kau meminta aku menolong dia, baik Aku akan menolongnya. Tapi kau sendiri, jangan
kau ingkari janjimu. Untuk selama lamanya kau harus memanggil aku kakak yang baik”
“Apa pun aku bisa memanggilmu Aku bisa memanggilmu paman yang baik,
kongkong yang baik” sahut si nona.
Siau Po tertawa lagi.

“Cukup kau memanggilku kakak yang baik” katanya, “Orang yang memanggilku
kongkong, sudah kelewat banyak”
“Ya, ya” sahut si nona, “Baik Untuk selama-lamanya aku memanggil kau…”
“Kau apa?” goda Siau Po.
“Ka… kak yang baik.,.” kata si kuncu sambil mendorong tubuh Siau Po sehingga
bocah itu terpaksa melompat keluar jendela.
Seorang perempuan dengan pakaian serba hitam sedang meringkuk di bawah
jendela, Kepada nona itu, Siau Po berkata:
“Para siwi di istana ini sebentar lagi akan berdatangan Mereka akan meringkusmu
kemudian mencincang tubuhmu sampai hancur untuk dijadikan bakso dan dimasukkan
ke dalam air mendidih Eh, mungkin juga kau akan dijadikan bakpao”
“Masa bodoh” bentak perempuan itu. “Pasti akan datang orang yang membalaskan
sakit hati ku”
“Dasar budak bau Mulutmu pintar sekali bicara, ya? Bagaimana kalau para siwi itu
tidak langsung membunuhmu? Bagaimana kalau mereka membuka dulu seluruh
pakaianmu sehingga kau telanjang bulat kemudian mereka semua akan,., akan.,,
mengambil kau sebagai istri mereka?”
Sembari berkata, Siau Po membungkukkan tubuhnya untuk membopong nona itu, Si
nona terkejut setengah mati, Tanpa sadar tangannya melayang untuk menampar pipi
bocah tanggung itu. Untungnya nona itu sudah kehabisan tenaga sehingga Siau Po
seperti merasa pipinya sedang dieIus. Karena itu dia tertawa lebar dan berkata:
“Aih Kau sungguh keterlaluan Belum lagi menjadi istriku sudah hendak menampar”
Tanpa menunggu jawaban, dia langsung membawa si nona dan melompat ke dalam
kamar, Si kuncu cilik gembira bukan main. Dia menyambut kakak seperguruannya itu
kemudian meletakkannya di atas tempat tidur.
Tepat pada saat itu dari luar pintu terdengar suara yang perlahan sekali
“Kui… kong… kong, pe… perempuan i… tu tidak dapat ditolong. Dia a… dalah
rombongan… pe… njahat yang ta… di menyer… bu is… tana”
Siau Po terkejut setengah mati.
“ltu suara siwi yang dihajar oleh thayhou tadi. Rupanya dia tidak mati” pikirnya dalam
hati.
“Siapa kau?” tanyanya untuk meyakinkan dirinya sendiri.

“Aku… adalah salah seorang pengawal dalam istana,” sahut orang itu.
Siau Po sudah mendapat kepastian dari keterangan orang itu, Dia juga menduga
bahwa siwi itu pastinya sedang terluka parah. pikirannya bekerja dengan cepat.
“Kalau aku menyerahkan perempuan berpakaian hitam ini kepadanya tentunya
perbuatanku ini merupakan sebuah jasa besar Tapi bagaimana dengan Siau kuncu?
Apabita rahasia si nona cilik ini bocor, celakalah aku”
“Apakah kau terluka?” tanyanya sembari melompat keluar lewat jendela.
“Da… daku…” sahut pengawal itu.
“Coba aku lihat” tukas Siau Po sambil maju mendekati orang itu, Dia bukan
memeriksa luka siwi itu, malah ia menikam dada pengawal itu. Hanya satu kali orang itu
sempat mengeluarkan seruan tertahan, kemudian nyawanya pun putus.
“Maaf, aku terpaksa melakukannya demi menjaga keselamatan diriku sendiri,” kata si
bocah dalam hatinya.
Setelah itu, dia masih melihat-lihat keadaan di sekitar kamarnya kalau-kalau masih
ada siwi lainnya yang melihat apa yang dilakukannya..Ia menemukan lima sosok mayat
Tiga di antaranya adalah para siwi istana tersebut, sedangkan dua lainnya tidak
dikenalinya, pasti orang-orang dari pihak pemberontak yang menyerbu.
Siau Po segera memondong seorang pengawal kemudian meletakkannya di bawah
kusen jendela, Kepalanya dibiarkan terkulai di bagian dalam, Punggung siwi itu
ditikamnya beberapa kali agar terdapat bekas luka.
Kuncu terkejut sekali.
“Dia… adalah orang onghu kami” katanya marah. “Mengapa orang yang sudah mati
kau tikam lagi dengan pisau?”
“Kau tahu apa Dengan cara ini aku justru menolong kakak seperguruanmu yang bau
itu” sahut Siau Po.
“Kaulah yang bau” si nona yang terbaring dalam keadaan terluka balas memaki. Dia
tidak senang dikatakan bau oleh Siau Po.
Si bocah nakal tertawa lebar.
“Kau kan tidak pernah mencium aku?” tanyanya. “Bagaimana kau bisa tahu kalau
aku bau?”
“Karena di kamar ini ada bau busuk” kata si nona kembali.

Kembali bocah yang nakal dan banyak akal ini tertawa.
“Sebenarnya kamarku ini baunya harum,” katanya. “Setelah kau masuk kemari,
barulah timbul bau tidak sedap ini”
“Hai,” Si kuncu menghadang di tengah, “Kalian berdua toh belum saling mengenal?
Kenapa datang-datang kalian bertengkar? Ayo, berhenti jangan mengadu mulut lagi
Suci, kenapa kau bisa datang kemari?” tanya kuncu kepada kakak seperguruannya.
“Apakah kalian ingin menolong aku?”
“Kami sama sekali tidak tahu kau berada di sini,” sahut nona itu, “Kami tidak berhasil
menemukanmu. Kami sudah mencari kemana-mana. Karena itulah kami mempunyai
dugaan kemungkinan bahwa kau sudah ditawan oleh bangsa Tatcu”
Nona itu hanya sanggup mengucapkan beberapa patah kata itu saja lalu berdiam diri
karena kehabisan tenaga. Siau Po segera berkata.
“Kalau kau sudah kehabisan tenaga dan tidak sanggup bicara lagi, jangan paksakan
dirimu untuk berbicara”
“Aku justru mau bicara,” teriak si nona memaksakan diri, “Kau mau apa?”
“Kalau kau memang sanggup, bicaralah terus,” kata Siau Po sambil tersenyum datar,
“Lihat orang lain, nona bangsawan, luwes, lemah lembut, beda bagai bumi dan langit
dengan kau perempuan galak, cerewet”
“Tidak” tukas si kuncu cepat “Kau belum kenal suci-ku ini. sebenarnya dia baik
sekali jangan kau sindir dia terus, pasti dia tidak akan marah, Suci, bagian mana yang
terluka? Parahkah?”
“Dasar ilmu silatnya yang masih cetek,” kata Siau Po ikut bicara, “Tidak tahu diri
Berani-beraninya datang menyatroni istana ini. Sudah pasti dikalahkan dan terluka
parah, Tampaknya dia malah tidak akan hidup lebih lama lagi, Tidak sampai besok pagi,
mungkin dia sudah berpulang ke alam baka”
“Tidak Tidak mungkin” tukas kuncu kembali, “Ka… kak ya,., ng baik, carilah akal
untuk menolong suciku”
Si nona yang menjadi kakak seperguruannya Siau kuncu itu justru kesal sekali.
Kegusarannya seakan hampir meledak dalam dadanya.
“Biarkan saja aku mati Tidak sudi aku ditolong olehnya” katanya ngotot “Siau kuncu,
binatang kecil ini mulutnya jahat sekali, Mengapa kau malah memanggiI… nya dengan
sebutan itu tadi?”

“Memangnya Siau kuncu memanggil apa padaku?” tanya Siau Po yang semakin
senang menggoda nona itu.
Nona itu tidak mau mengulangi panggilan Siau kuncu, dia sengaja berkata dengan
sengit.
“Dia memanggilmu si kunyuk kecil”
“Bagus Bagus Aku memang si kunyuk kecil, Tapi aku ini kunyuk laki-Iaki,
sedangkan kaulah kunyuk betinanya”
Dalam hal bersilat lidah, Siau Po memang ahlinya. Sejak kecil dia sudah terlatih
dalam pergaulannya sehari-hari, baik di rumah pelesiran maupun dengan segala bujang
dan kuli setempat.
Mendengar orang bicara sekasar itu, si nona tidak sudi melayaninya lagi, Dia
mengatur nafasnya yang masih memburu karena tadi tidak sanggup mengendalikan
emosi dalam hatinya, Lagipula dia menahan rasa sakitnya yang terasa berdenyutan.
Setelah si nona berdiam diri, Siau Po mengangkat lilin lalu menghampirinya.
“Mari kita periksa lukanya,” katanya kepada Siau kuncu, “Di bagian mana dia
terluka?”
“Jangan periksa lukaku jangan periksa Iuka-ku” teriak si nona yang merasa kesal
juga malu.
“Hus jangan berteriak-teriak” bentak Siau Po.”Apa kau memang ingin suaramu
terdengar kemudian diringkus untuk dijadikan istri sekalian para siwi?” Dia tetap
membawa lilinnya dan mendekati nona yang terluka itu, Lalu dia menyalakannya.
Wajah nona itu penuh dengan noda darah. kemungkinan usianya sekitar tujuh atau
delapan belas tahun. wajahnya berbentuk kuaci, Meskipun wajahnya kotor oleh darah,
tapi kecantikannya masih kentara jelas.
Diam-diam Siau Po mengagumi keelokan paras si nona.
“Oh, rupanya nona bau ini seorang gadis yang cantik sekali” katanya.
“Jangan menyindir ciciku, dia memang sangat cantik” tukas Siau kuncu.
“Kalau begitu,” kata Siau Po dengan suara sungguh-sungguh. “Biar bagaimana aku
harus mengambilnya sebagai istri”
Nona itu terkejut setengah mati, Dia berusaha untuk bangun, Tangannya bergerak
dengan maksud menghajar mulut si bocah yang ceriwis, Tapi terdengar mulutnya
mengeluarkan seruan

“Aduh” karena tubuhnya langsung terguling jatuh dari atas tempat tidur Lukanya
yang cukup parah membuat dia tidak sanggup mengendalikan gerakan tubuhnya.
Melihat gadis itu jatuh terguling, Siau Po tidak membantunya bangun tapi malah
menertawakannya.
“Jangan terburu nafsu” katanya, Semakin senang hatinya menggoda gadis itu. “Kau
harus dapat bersabar Kita belum lagi menjalankan upacara pernikahan, mana mungkin
langsung menjadi suami istri? Oh Lukamu mengeluarkan darah lagi, Lihat, kau
mengotori tempat tidurku”
Darah memang masih mengalir dari luka si nona, Hal ini menandakan bahwa lukanya
memang tidak ringan.
Tepat pada saat itu terdengar suara langkah kaki dari orang banyak yang
mendatangi dengan tergesa-gesa, Kemudian terdengar suara seruan yang
mengandung kepanikan.
“Kui kongkong, Kui kongkong Apakah kau baik-baik saja?”
Ketika itu para siwi sudah berhasil mengusir penyerbu. Mereka segera melindungi Sri
Baginda dan Ibusuri serta para selir Raja, juga thay-kam dari tingkat atas, Karena Siau
Po adalah thay-kam kesayangan Raja, maka dia juga butuh perlindungan itulah
sebabnya belasan siwi langsung mendatanginya untuk menjaga keselamatannya.
Sebelum menjawab pertanyaan para siwi itu, Siau Po berkata terlebih dahulu kepada
Siau kuncu.
“Kuncu, naiklah ke atas tempat tidur.” Dia langsung mengangkat nona yang terluka
itu kemudian menutupi mereka dengan selimut Setelah tu dia juga menurunkan
kelambu lalu berkata dengan suara lantang.
“Kalian cepat masuk. Di sini ada orang jahat”
Nona yang terluka kaget sekali, Dia ingin ber-gerak, tapi tenaganya sudah lemah
sekali, Si kuncu ikut khawatir Dia segera berkata kepada Siau Po.
“Jangan bersuara Nanti ciciku akan kepergok dan tertawan”
Siau Po tertawa.
“Dia toh tidak sudi menjadi istriku, Mengapa aku harus berbuat kebaikan
kepadanya?”
Pada saat itu, belasan siwi sudah sampai di luar jendela.

“Di sini ada orang jahat” Salah satu di antaranya berseru, Rupanya tadi dia yang
mendengar suara si thay-kam cilik.
Siau Po mengeluarkan suara tertawa.
“Kalian tidak perlu khawatir, atau pun bingung, Barusan memang ada penjahat yang
datang kemari, namun aku sudah berhasil merobohkannya” ia menunjuk kepada mayat
penyerbu yang sengaja dicantolkannya pada kusen jendela, Darah mayat itu sampai
berceceran mengotori jendela dan lantai kamarnya.
“Aih Kongkong pasti terkejut sekali” kata beberapa siwi.
“Tidak Kui kongkong tidak akan terkejut,” sahut seorang siwi lainnya, “llmu silat Kui
kongkong tinggi sekali, Dengan sekali gerakan saja, dia berhasil merobohkan seorang
penyerbu, Kalau saja tadi ada beberapa orang jahat yang menyatroninya, mereka pasti
akan mati juga”
“lya, kongkong memang lihay” kata beberapa lainnya lagi memuji, Mereka ingin
mengambil muka si thay-kam gadungan itu. “Jasa kongkong besar sekali “
“Aih, tidak dapat dikatakan jasa,” kata Siau Po sambil tertawa, “Sebenarnya penjahat
itu sampai di kamarku memang dalam keadaan sudah terluka, sehingga dengan mudah
aku dapat menghabisinya”
“Sie loliok dan Him loji gugur dalam melaksanakan tugas.,.” kata seorang siwi yang
menarik nafas panjang pertanda menyesalkan kejadian itu.
“Kawanan pemberontak yang menyerbu itu benar-benar lihay sekali”
“Sekarang, silahkan kalian mengundurkan diri,” kata Siau Po, “Pergilah kalian
melindungi Sri Baginda, Aku di sini sudah tidak ada urusan apa-apa”
“Sekarang tempat Sri Baginda sudah dijaga oleh dua ratus lebih pengawal,” kata
seorang siwi Iainnya, “Kawanan penyerbu itu sudah kabur dengan meninggalkan
teman-temannya yang mati maupun terluka, Seluruh istana sudah aman kembali.”
“Bagus” puji Siau Po. “Mengenai para siwi yang sudah mengorbankan diri itu
sebaiknya kalian memohon pada Sri Baginda untuk mengubur dan memberi hadiah
kepada keluarga yang ditinggalkan. Kalian juga sudah mengeluarkan jasa, tidak
mungkin Sri Baginda melupakan kalian.”
Rombongan siwi itu senang sekali Tidak lupa mereka mengucapkan terima kasih.
Melihat sikap para siwi itu, Siau Po berkata dalam hatinya.
“Peduli amat Toh, bukan aku yang mengeluarkan uang untuk hadiah kalian, Tidak
ada ruginya bagiku berbuat kebaikan ini” Karena itu dia berkata lagi: “Tuan-tuan

sekalian, aku sudah lupa nama besar kalian, Tolong disebutkan sekali lagi semuanya
agar aku bisa melaporkan apabila Sri Baginda menanyakan siapa saja yang berjasa
malam ini.”
Para siwi itu senang sekali, Cepat-cepat mereka menyebutkan nama masing-masing
dan Siau Po mengulanginya beberapa kali sampai hapal betul.
“Sekarang kalian meronda lagi, Siapa tahu masih ada orang jahat yang bersembunyi
di tempat-tempat gelap atau di antara pohon-pohon yang rimbun, Andaikata berhasil
meringkus penjahat, yang laki-laki harus dirangket dengan rotan dan yang perempuan
harus ditelanjangi dan

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s