“ PANGERAN MENJANGAN” – “ LU DING JI “ 23

menang.
“Ah, tidak benar kalau begini, Kasihan, apalagu Yo toako sampai kalah, Buat aku sih
tidak apa-apa…” pikir Siau Po dalam hati, Karena itu memasang lagi lalu melemparkan
dadunya sambil berseru: “Bayar”
Kali ini keluar angka dobel enam, Si bandar kalah dan dia harus membayar dua kati
lipat, ratus tail jadi dua ratus. Dua ratus jadi empat dan empat ratus tail jadi delapan
ratus.
“Kui kongkong mujur sekali” kata si bandar seraya tertawa lebar, Dia kalah, tapi ia
masih tersenyum.
Siau Po juga ikut tertawa.
“Kau mengatakan aku mujur? Bagaimana kita main dua kali lagi?” Dia pun
mengambil kembali uangnya yang delapan ratus tail itu.
Apa daya si bandar memang sedang apes kalah lagi. Dengan demikian uang Siau Po
meneribu enam ratus lail
“Bagaimana, Yo toako?” tanya bocah itu pada kongsiannya, “Apakah kita lanjutkan
lagi permainan ini?”
“Terserah Kui kongkong,” sahut Yo Ek-ci, tapi di dalam hatinya dia berpikir: “Kau toh
sudah menang banyak, buat apa main terus?”
Pada saat itu sudah banyak orang yang mengerumuni tempat Siau Po berjudi, Sebab
jarang ada orang yang menang sampai seribu tail lebih.
Siau Po masih memegang dadu, sambil melemparkan dadunya dia berseru, Dadu itu
berputaran yang satu berhenti angkanya enam. Tinggal yang satu masih terus
berputaran Dadu itu bukan miliknya, karena itu dia belum bisa menguasainya dengan
baik. Akhirnya dadu itu berhenti Angkanya dua.

sekarang giliran bandar yang melemparkan dadunya, Seperti Siau Po tadi, dadu itu
terus ber-utaran, Yang satu berhenti lebih dahulu, angkanya lima.
Si bandar tertawa.
“Kongkong, mungkin kali ini kau bisa kalah” katanya, Dadu yang satu masih
berputar.
“Dua Dua” teriak Siau Po.
Apabila keluar angka tiga, empat atau lima, dia pasti kalah, Kalau keluar angka dua,
bandarlah yang harus mengganti pasangannya, sedangkan kalau dapat angka tiga,
berarti jumlahnya delapan, Sama dengan angka yang didapatkan oleh Siau Po, Tapi
dalam permainan ini, tetap si bandar yang menang, itulah sebabnya Siau Po meminta
angka dua.
Tampaknya kemujuran memang sedang berada di pihak si thay-kam cilik, Dadu itu
bolak-balik beberapa kali kemudian berhenti, Ternyata memang yang muncul dua titik,
Siau Po pun bersorak gembira, selekasnya.
“Ciangkun, kau benar-benar apes”
“Betul, kongkong, Hari ini kau memang mujur sekali” kata bandar itu sambil
menghitung uang untuk membayar pasangan Siau Po.
Siau Po menerima uang yang disodorkan itu.
“Terima kasih…” katanya sambil tertawa, Dia lalu menoleh kepada rekannya, “Yo
toako, ambillah uang ini semuanya”
Ek-ci terperanjat juga gembira, Di samping itu dia juga merasa heran, seakan tibatiba
dia menemukan harta karun.
“Kongkong, apa artinya Ciangkun?” tanyanya dengan nada berbisik, “Apa
pangkatnya?”
Sekarang giliran Siau Po yang menjadi heran mendengar pertanyaan itu, Dia
menoleh kepada si bandar yang dipanggil Ciangkun itu.
“Ciangkun, bolehkah aku menanyakan she dan namamu yang mulia?”
Bandar itu berdiri dan tertawa, Dengan penuh hormat dia menjawab.
“Aku yang rendah bernama Ouw Pek-seng. Aku adalah Cong peng dari Thian Cin
dan merupakan bawahan langsung dari Kong Cin ong.”

Cong peng setingkat dengan Brigadir Jendral, Siau Po tertawa dan berkata,
“Ciangkun, aku yakin dalam peperangan, seratus kali terjun, seratus kali pula kau
mendapat kemenangan sayangnya dalam perjudian, nasibmu kurang beruntung.”
Nama ciangkun itu Pek Seng, artinya memang seratus kali perang seratus kali
menang. Ouw Pek seng tertawa mendengar kata-kata Siau Po.
“Kongkong, sebetulnya dalam perjudian pun, biasanya seratus kali main, aku juga
seratus kali menang, Tapi ada pepatah yang mengatakan di atas gunung masih ada
gunung iainnya, Kita jago, ada lagi yang lebih jago, Karena itu, hari ini bertemu dengan
kongkong, aku seperti membentur batu. Seratus kali berjudi, aku pun seratus kali
kalah,” katanya sambil tertawa terbahak-bahak.
Siau Po juga tertawa, Kemudian dia mengundurkan diri, tiba-tiba sebuah ingatan
melintas di benaknya, “Akh” Tidak mungkin Cong peng itu kalah Melihat caranya
melempar dadu, dia sebenarnya seorang ahli, tapi kenyataannya dia kalah, Hal ini
membuktikan bahwa dia sengaja mengalah, Tapi, kenapa? Oh, aku mengerti Tentu
karena kedudukanku yang lebih mantap daripadanya”
Siau Po merasa puas. Akhirnya dia kembali ke dalam ruangan dan duduk di
tempatnya semula.
Pada saat itu seorang wanita sedang bernyanyi dan banyak penonton yang memuji
keindahan suaranya.
Siau Po merasa heran mengapa dirinya sendiri tidak tertarik mendengarkan nyanyian
itu? Kemudian dia bangun kembali.
Melihat gerak-gerik thay-kam muda itu, KongCin ong tersenyum.
“Saudara Kui, apa yang kau pikirkan? Apakah kau ingin berjalan-jalan? Pergilah,
jangan sungkan-sungkan.
“Terima kasih,” sahut Siau Po gembira karena Kong Cin ong bisa memahaminya.
Kemudian dia meninggalkan ruangan tersebut Ketika melihat orang-orang masih asyik
bermain judi, hampir dia kepincut kembali. Untung akhirnya dia dapat mengendalikan
diri. ia terus menuju belakang, masih diingatnya jalan-jalan dalam istana Cin ong itu. Di
mana-mana tampak sinar lilin menerangi.
Setiap orang istana itu yang melihat Siau Po selalu memberi hormat Selagi berjalan,
tiba-tiba Siau Po merasa ingin buang air kecil Dia berjalan terus kekiri menuju taman
bunga, Disana ada sebuah jendela, dia lalu menolakkan daun jendela dan pergi ke
sudut yang gelap.
Ketika bermaksud membuka ikat pinggangnya, tiba-tiba dia mendengar suara orang
sedang berbicara dengan lirih sekali di balik pepohonan.

“Uangnya dulu nanti baru aku mengantarkan engkau,” kata orang yang pertama.
“Kau antarkan aku duIu” sahut orang yang kedua. “Setelah mendapatkan barang itu,
jangan khawatir uangnya berkurang sepeser pun”
“Uangnya dulu” Terdengar orang yang pertama berkata kembali “Kalau kau sudah
mendapatkan barang itu, tapi uangnya tidak kau serahkan, kemana aku harus
mencarimu?”
“Baiklah” sahut orang kedua yang akhirnya mengalah juga. “Nah, ini kau terima dua
ribu duIu. sisanya belakangan”
Siau Po merasa heran, Ribuan tail bukan jumlah yang sedikit Barang apakah yang
demikian mahal harga? Ditundanya keinginan untuk membuang air kecil,
pendengarannya dipertajam untuk mencuri dengar pembicaraan antara kedua orang
itu.”
“Dua ribu duIu? Tidak” kata orang yang pertama, “Aku tidak setuju Kau toh tahu,
urusanya bisa membuat kepalaku pindah rumah. Kutakut main-main?”
Orang yang kedua rupanya merasa terdesak. “Baiklah Nih, kau terima selaksa tail”
katanya.
“Terima kasih” sahut orang-yang pertama. “Sekarang ikutlah denganku”
Siau Po semakin heran, perhatiannya menjadi tertarik, Urusan apakah yang dapat
membuat kepala pindah?
“Aku akan mengintai mereka” ia memutuskan dalam hati. Dia pun lalu mengikuti
kedua orang itu secara diam-diam.
Kedua orang itu menuju ke barat Mereka berjalan di balik pepohonan Setelah
berjalan kira-kira dua tombak, mereka berhenti Kemudian keduanya celingak-celinguk
ke sekelilingnya.
“Gerak-gerik mereka sangat mencurigakan, tentunya mereka mengandung niat tidak
baik,” pikir bocah dalam hatinya, “Kong Cin ong memperlakukan aku dengan baik,
sebaiknya aku intil kedua orang ini untuk mengetahui apa yang akan mereka lakukan,
Kalau benar maksudnya memang jahat, biar mereka kenal kehebatan aku, si Kui
kongkong.
Kedua orang itu berjalan lagi, Siau Po terus mengintil di belakang, Namun sekarang
dia sudah mengeluarkan pisau belatinya yang tajam itu. Dengan demikian perasaan
takutnya jadi berkurang.

Kedua orang itu kemudian masuk ke dalam sebuah ruangan kecil, cepat-cepat Siau
Po menghampiri jendela, Dilihatnya ada cahaya dari dalam nya, Dengan hati-hati dia
mengintai
Rupanya kamar itu merupakan sebuah Hu-tong (Tempat memuja sang Buddha).
Patungnya terletak di atas meja, di depannya ada sebuah pelita minyak, Apinya
bergerak-gerak karena hembusan angin.
Seseorang yang berdandan seperti pelayan berkata dengan perlahan.
“Sudah satu tahun lebih aku mengadakan penelitian sekarang aku baru tahu tempat
penyimpanan barang itu. pokoknya tidak sia-sia kau mengeluarkan uang sebanyak
selaksa tail”
“Oh ya, di mana tempatnya?” tanya seorang lainnya, punggungnya menghadap Siau
Po, “Sini” kata orang yang pertama, Orang yang kedua pun menoleh, Kali ini Siau Po
dapat melihat wajah orang itu dengan jelas, dia merasa heran karena ia mengenalinya
sebagai Gi Goan-Kay.
“Sini apa?” Pelayan itu tertawa.
“Ci suhu memang paling bisa berpura-pura Tentu saja kurangnya yang selaksa tail
lagi”
“Kau sungguh cerdik, sobat” kata Ci Goan-kay sambil merogoh sakunya untuk
mengeluarkan uang sisanya yang selaksa tail lagi, Kemudian dia menghitung uang itu.
jantung Siau Po berdebar-debar. Bukan karena jumlah uang yang banyak itu, tapi
karena dia insyaf kelihayan Ci Goan-kay. Apabila dia sampai kepergok, pasti celakalah
dia. Sudah barang tentu Ci Goan-kay akan curiga padanya dan menduga yang bukanbukan.
Setelah menerima uang sisanya, pelayan itu tertawa lagi
“Betul” katanya, kemudian ia berbisik di telinga Cia Goan-kay.
Goan Kay menganggukkan kepalanya berkali-kali Siau Po berusaha menerka, tapi
dia tidak tahu apa yang dibisikkan pelayan itu.
Tiba-tiba Goan Kay melompat naik ke atas meja, dia melihat ke belakang namun
tangannya terulur ke atas untuk meraba telinga kiri sang patung Buddha.
Setelah berhasil meraba sesuatu, Goan Kay mencelat turun kembali sekarang
tangannya memegang suatu benda kecil. Di bawah cahaya pelita, dia memeriksanya
dengan teliti. Siau Po tidak mengerti Dia melihat Ci Goan-kay menggenggam sebuah
kunci emas yang cahayanya berkilauan.

Setelah memeriksa anak kunci itu, Ci Goan-kay lalu menunduk Dia segera
menghitung batu lantai, yang melintang jumlahnya ada beberapa puluh, sedangkan
yang memanjang hanya belasan. Dari sela kaos kakinya dia mencabut sebilah golok
kecil yang kemudian digunakan untuk mencungkil batu tersebut Setelah berhasil,
terdengar dia berseru gembira.
“Itu kan barang asli dan harganya sesuai” kat si pelayan “Kau lihat, aku tidak
berbohong kan?”
Goan Kay tidak menjawab Dia memasukkan anak kunci nya, terdengar suara
kelotekan. Tampak dia tercengang.
“Kenapa tidak bisa dibuka? Apakah kuncinya tidak cocok?” tanyanya.
“Mana mungkin?” sahut si pelayan “Ongya sendiri yang membukanya dengan kunci
itu dan ternyata bisa, Ketika itu aku mengintip dari jendela. Aku dapat melihatnya
dengan jelas” Pelayan itu.
Lalu membungkuk dan tangannya menjulur ke depan Tentu dia merasa tidak percaya
dan ingin membuktikannya sendiri Tampak tangannya menarik sesuatu.
Tapi, tepat pada saat itu juga, terdengar suara angin berkesiur, Tahu-tahu sebatang
anak panah melesat ke atas.
“Aduh” jerit si pelayan karena anak panah itu tepat menancap di dadanya, Tubuhnya
roboh ke belakang, Tangannya yang memegang tutup besi menyebabkan tutup itu
terlepas dan terpental.
Goan Kay terkejut, tetapi dia tabah dan gesit. Dia berhasil menyambar tutup besi itu,
Kalau tutup besi itu sampai terjatuh di atas lantai pasti menimbulkan suara berisik.
Setelah itu dia berjongkok untuk memeriksa keadaan si pelayan Dia membekap
mulutnya agar jeritannya tidak terdengar orang lain Kemudian dia menggunakan tangan
orang itu untuk meraba-raba ke dalam lubang batu.
“Rupanya masih ada alat rahasia lainnya.” pikir Siau Po dalam hati, Dia terus
mengintai “Sungguh lihay orang she Ci itu….”
Ternyata kali ini tidak ada alat rahasia lainnya. Karena itu Goan Kay lalu
memasukkan tangannya sendiri dan menarik keluar sebuah bungkusan. Tangan
kanannya mengibas sehingga si pelayan terguling, Dia sendiri langsung bangun, Kaki
kanannya menekan mulut si pelayan agar tidak bersuara.
Dengan sedikit memiringkan tubuhnya, Goan Kay meletakkan bungkusan itu di atas
meja, Lalu dia membukanya sehingga isinya terlihat Rupanya sebuah kitab, Tampak Ci
Goan-kay menghembuskan nafas lega.

“Kitab itu rupanya Si Cap Ji Cin-keng dan merupakan kitab ke empat yang pernah
dilihat oleh Siau Po. Persis sama dengan yang pernah didapatkannya dari rumah Go
Pay. Bedanya hanya kain suteranya berwarna biru dan ikatannya dari sutera merah.
Dengan gesit Goan Kay membungkus lagi kitab itu kemudian memasukkannya ke
dalam saku. setelah itu dia mengangkat kakinya dan menginjak anak panah yang
menancap di dada si pelayan itu sehingga tembus ke dalam, tanpa sempat bersuara
sedikit pun, pelayan itu menghembuskan nafas terakhir.
Siau Po terperanjat melihat apa yang terjadi di hadapannya, Sungguh licik orang she
Ci itu, ia bekerja tidak kepalang tanggung, Setelah itu ia merogoh saku pelayan itu
untuk mengambil uangnya kembali. Sembari tertawa ia berkata:
“Sekarang kau sudah mendapatkan bagianmu” Sesaat kemudian dia mencelat
keluar.
Siau Po berpikir dengan cepat
“Dia mau kabur Apakah aku harus berteriak?” pikirnya ragu.
Tepat di saat pikiran si bocah masih bekerja, sesosok bayangan melesat naik ke atas
genting, Dia adalah Ci Goan-kay.
Siau Po mengerutkan tubuhnya, jangan sampai dirinya terlihat oleh orang itu, Dia
mendengar suara perlahan dari atas genting, tidak lama kemudian, suara itu lalu
lenyap, Setelah itu tampak Ci Goan-kay melompat turun. Kali ini ia berjalan dengan
tenang kembali ke ruangan dalam, di mana perjamuan sedang berlangsung.
“Tidak salah” pikir Siau Po. “Pasti dia menyembunyikan kitab itu di atas genting, Lain
kali kalau ada kesempatan dia bisa mengambilnya kembali Hm Tidak semudah yang
kau bayangkan, sobat”
Siau Po menunggu lagi beberapa saat sampai dia yakin Goan Kay sudah pergi jauh,
Setelah itu baru dia keluar dari tempat persembunyiannya dan bergegas naik ke atas
genting untuk mencari kitab itu, Dia berusaha keras mengira-ngira di mana Goan Pay
menyembunyikannya seperti tadi dia mendengar suaranya dari bawah.
Setelah menyingkap belasan potong genting, akhirnya Siau Po berhasil
mendapatkan bungkusan yang berisi kitab Si Cap Ji Cin-keng tersebut. Dia ambil
bungkusan itu dan kemudian merapikan kembali genting-genting yang terbuka, Malam
itu cuaca cukup gelap, keadaan di sekitar hanya remang-remang.
“Mengapa kitab ini demikian berharga sehingga banyak orang yang
menginginkannya?” pikirnya dalam hati, “Mula-mula si kura-kura tua, lalu ibu suri, Ada
lagi Go Pay, Kong Cin ong dan sekarang si orang she Ci Kalau aku sekarang tidak
mengambilnya, aku pantas disebut orang tolol Percuma aku she Wi”

Dia segera membuka bungkusan itu dan lalu memasukkan kitab tersebut ke dalam
sakunya, Karena dia mengenakan jubah yang longgar, dari luar tidak kentara kalau dia
menyembunyikan sesuatu, Bungkusannya sendiri dilemparkan ke atas pohon, lalu
cepat-cepat dia kembali ke ruangan besar untuk mengikuti perjamuan yang masih
berlangsung.
Pesta masih dilanjutkan Demikian pula orang-orang yang berjudi, mereka masih
asyik dengan permainan itu, pertunjukan sandiwara juga masih berlangsung dan sang
wanita masih bernyanyi terus.”
“Apakah peran wanita yang menyamar sebagai biarawati itu?” tanya Siau Po kepada
So Ngo-tu.
Orang yang ditanya tertawa.
“Dalam cerita dikisahkan bahwa biarawati itu merindukan seorang pria, Dia
bermaksud melarikan diri ke bawah gunung untuk menikah dengan pria pujaannya, Kau
lihat, bukankah wajahnya menyiratkan kalau dia sedang dirundung asmara?”
Berkata sampai di situ, tiba-tiba So Ngo-tu menghentikan kata-katanya. Dia teringat
bahwa yang diajaknya berbicara adalah seorang thay-kam, Thay-kam itu seperti juga
sebangsa pendeta yang tidak suka membicarakan soal perempuan.
“Cerita itu tidak menarik. Nanti aku pilihkan sebuah kisah yang bagus untuk
kongkong” katanya kemudian.
Mereka berdua telah mengangkat saudara, tapi hal ini masih dirahasiakan itulah
sebabnya di depan umum mereka tetap saling menyebut dengan formalitas.
Selesai berkata, So Ngo-tu memerintahkan pada tukang cerita untuk mengganti
pertunjukannya dengan kisah “Nge Koan Lau”, cerita tentang Lie Cun-houw yang
memukul harimau. Setelah selesai, pertunjukan diganti lagi dengan “Ciong Hiok
menikah”. Seru sekali jalan ceritanya di mana kelima pembantu si Raja setan bertempur
dengan sengit.
Siau Po bertepuk tangan dan berseru menyatakan pujiannya, Setelah itu dia
menambahkan:
“Aku harus segera kembali ke istana, Maaf kalau aku tidak dapat menonton lebih
lama lagi.”
Ketika dia menoleh, dilihatnya Ci Goan-kay sedang bermain teka-teki tangan dengan
asyiknya bersama dua orang pengawal justru saat itu terdengar Ci Goan-kay bertanya.
“Sin Ciau siangjin, di mana orang she Long tadi?”

“Sudah agak lama juga aku tidak melihat, kemungkinan dia sedang keluar.,.” sahut
beberapa pengawal lainnya.
Sin Ciau siangjin lantas tertawa.
“Orang itu tidak tahu kebaikan orang, Mungkin dia malu berada di sini lama-lama,”
katanya.
“Betul. Kemungkinan dia sudah menyingkir dari sini, Sikap orang itu mencurigakan
dan dia juga dikenal licik, bisa jadi dia mencuri sesuatu…” kata Ci Goan-kay.
“Mungkin saja,” sahut seorang pengawal lainnya.
“Orang she Ci ini sungguh cerdik, cara kerjanya juga sempurna, Belum apa-apa dia
sudah menimpakan kesalahan kepada orang lain, Kalau kitab itu ketahuan hilang, tentu
orang she Long itulah yang akan dicurigai Apalagi kalau pelayan itu diketemukan sudah
jadi mayat, Bisa jadi mereka menduga si Long yang membunuhnya. Cara kerjanya
orang she Ci ini bagus sekali. Lain kali bila aku ingin melakukan sesuatu, aku harus
mencari kambing hitamnya dulu,” pikir Siau Po dalam hati.
Karena malam sudah mulai larut, Siau Po pun segera memohon diri pada tuan
rumah.
Kong Cin ohg tahu thay-kam cilik ini bisa di kunci dari dalam apabila pulang terlalu
malam.
Karena itu dia tidak menahannya lagi. Dia hanya tertawa dan mengantarkan Siau Po
sampai di depan pintu.
Go Eng-him dan So Ngo-tu serta yang lainnya juga ikut mengantarkan. Ketika Siau
Po naik ke atas joli. Yo Ek-ci segera menghampirinya.
“Kongkong, tuan muda kami menghadiahkan barang yang tidak berharga ini. Harap
kongkong sudi menerimanya.”
Siau Po tertawa.
“Terima kasih” katanya sembari menerima bungkusan itu, “Yo toako, kita baru
pertama kali bertemu, tetapi hubungan kita sudah seperti sahabat lama, Senang
rasanya aku bergaul denganmu, Kalau aku menghadiahkan uang untukmu, mungkin
kau akan merasa terhina, Karena itu, sebaiknya lain kali aku mentraktirmu saja”
Yo Ek-ci tertawa, Dia senang sekali mendengar ucapan Siau Po.
“Kongkong sudah menghadiahkan aku seribu enam ratus tail, apakah itu masih
belum cukup?”

“ltu kan hadiah dari orang lain, tidak masuk hitungan” tukas Siau Po dengan cepat.
Tidak lama kemudian joli itu sudah sampai di depan istana, Siau Po segera
membuka bungkusan yang diserahkan Yo Ek-ci. Dia sudah tidak sabar ingin
mengetahui isinya, isinya tiga kotak yang diberi tali emas, Kotak pertama berisi sebuah
ayam-ayaman dari batu kumala hijau, semuanya terdiri dari sepasang, buatannya halus
sekali, Kotak kedua berisi dua renceng mutiara, Memang mutunya tidak sebagus yang
dia tumbuk buat si kuncu cilik, tapi ukurannya sama, jumlahnya dua ratus butir.
“Aku berbohong pada si kuncu akan membeli mutiara guna meracik obatnya, Siapa
sangka Go Eng-him benar-benar menghadiahkan mutiara untukku sehingga dustaku
menjadi kenyataan Tentu si kuncu jadi percaya karenanya,” pikirnya dalam hati.
Kemudian dia membuka kotak yang ketiga, Ternyata isinya dua puluh lembar cek
yang nilainya masing-masing sepuluh tail uang emas, jumlahnya jadi dua ratus tail uang
emas, sedangkan cek itu tertera toko emas Ju Liong Seng yang sangat terkenal di
kotaraja.
Untung saja pintu istana belum dikunci. Siau Po langsung kembali ke kamarnya,
Setelah memalang pintu kamarnya, dia menyulut lilin lalu menyingkap kelambu.
“Tentu kau sudah tidak sabar menunggu kepulanganku,” katanya sambil tertawa, Dia
melihat si nona cilik itu masih berbaring tanpa berkutik sedikit pun.
Mulutnya masih tersumpal kue yang belum dimakannya, dia segera mengeluarkan
dua renceng mutiaranya yang indah, Sembari tertawa dia berkata kembali: “Kau lihat,
aku membelikan kau dua renceng mutiara yang sangat indah, Nanti aku akan
menumbuknya untuk dijadikan bedak agar wajahmu sepuluh kali lipat lebih cantik dari
sekarang, Kau akan menjadi nona yang tercantik di kolong langit ini Kalau gagal, a… ku
bukan orang she Kui lagi, Wah, aku sampai lupa. Kau lapar tidak? Kenapa kau tidak
makan kue itu? Mari, aku bantu kau agar bisa bangun dan duduk….”
Tiba-tiba kata-kata Siau Po terhenti. Dia mengeluarkan seruan tertahan, sebab
mendadak tulang rusuknya terasa seperti kebal dan disusul dengan rasa nyeri di
dadanya.
“Aduh” Dia menjerit saking kagetnya, Kemudian dia merasa seluruh tubuhnya
menjadi lemas. Lututnya terkulai dan dia pun roboh ke depan pembaringan Dia merasa
tidak mempunyai tenaga sehingga tidak dapat berkutik sama sekali.
Tiba-tiba terdengar si kuncu tertawa sambil menyingkap selimut yang menutupi
tubuhnya. Kemudian dia turun dari tempat tidur dan berkata.
“Jalan darahku sudah bebas Sudah cukup lama aku menantikan kepulanganmu
Kenapa kau baru datang sekarang?”

Siau Po heran. “Siapa yang membebaskan jalan darahmu?” tanyanya tanpa
menjawab pertanyaan si nona.
“Tentu saja bebas sendiri” sahut si nona cilik. “Setelah kau membebaskan jalan
darah gaguku, maka jalan darah yang lainnya juga akan bebas setelah waktunya
sampai. Aku tidak membutuhkan pertolonganmu lagi sekarang, Aku akan membantumu
naik ke atas tempat tidur agar bisa berbaring dengan enak, Aku sendiri akan
meninggalkan tempat ini….”
Siau Po terperanjat setengah mati.
“Tidak bisa” katanya cepat, “Kau belum boleh pergi, Wajahmu belum pulih secara
keseluruhan. Kau masih membutuhkan obat agar dapat sembuh dari lukamu dan bersih
kembali seperti sediakala”
Si nona tertawa geli.
“Kau memang manusia licin dan busuk” katanya. “Kau pintar membohongi orang
Kapan kau mengukir wajahku? Tadinya aku memang kaget dan ketakutan mendengar
kata-katamu yang ternyata hanya bualan belaka”
“Oh, bagaimana kau bisa tahu?” tanya Siau Po semakin bingung.
“Tadi aku sudah turun dari tempat tidurku dan bercermin,” sahut si nona cilik.
“Ternyata di wajahku tidak ada ukiran apa pun….”
Siau Po memperhatikan wajah si nona yang memang sudah tampak putih bersih. Dia
merasa menyesal.
“Dasar aku yang teledor,” katanya, “Kenapa aku tidak memeriksa wajahmu terlebih
dahulu? Kalau tidak, mana mungkin aku kena ditipu olehmu, Bila demikian halnya, buat
apa aku pergi membeli mutiara yang begitu mahal? Kau lihat, aku sudah menjelajahi
seluruh kota untuk mencari barang-barang ini, Selain kalung mutiara, aku juga membeli
sepasang barang mainan lainnya”
Si nona cilik masih kekanak-kanakan, mendengar barang mainan hatinya jadi
tertarik.
“Barang mainan apa?”
“Kau bebaskan dulu jalan darahku, Nanti aku perlihatkan kepadamu,” sahut Siau Po.
Dia memang ditotok oleh si nona sehingga tidak dapat berkutik sama sekali.
“Baik” sahut si nona cilik yang langsung mengulurkan tangannya, Tapi tiba-tiba dia
menghentikan karena sinar matanya bertemu pandang dengan bola mata Siau Po yang
jelalatan sehingga kecurigaannya jadi timbul .

Siau Po tidak mengerti mengapa si nona tak jadi membebaskan jalan darahnya, Dia
memperhatikan gadis cilik itu lekat-Iekat.
Si nona tertawa.
“Aih Hampir saja aku kena kau kelabui lagi Begitu aku membebaskanmu, tentu kau
akan melarang aku pergi,” katanya.
“Tidak, tidak akan” sahut Siau Po. “Kalau seorang laki-Iaki sudah mengeluarkan
kata-kata-nya, entah kuda apa pun tidak bisa mengejarnya”
“Empat ekor kuda sulit mengejarnya” kata si nona membetulkan “Mana ada kuda
apa yang tidak bisa mengejarnya?”
“Tapi kuda yang kumaksudkan ini lebih cepat dari keempat kudamu” kata Siau Po
berkeras.
“Kalau kudaku saja tidak dapat mengejar, apalagi ke empat ekor kudamu itu.”
Si nona tersenyum, Dia tidak mengerti apa yang dimaksud dengan “kuda apa pun”,
karena itu dia lalu menatap Siau Po lekat-lekat kemudian berkata.
“Baru kali ini aku mendengar kalimat kuda apa pun tidak bisa mengejarnya.”
“ltulah sebabnya aku mengajari kau hari ini,” kata Siau Po yang kecerdikannya luar
biasa itu. Dia juga nakal sekali dan suka bergurau “Hari ini aku ingin menyenangkan
hatimu, Barang mainan ini indah sekali, terdiri dari sepasang jantan dan betina.”
“Apakah itu sepasang kelinci ?” tebak si nona cilik yang semakin penasaran dan
tertarik.
Siau Po menggelengkan kepalanya.
“Bukan Tentunya lebih menarik sepuluh kali lipat daripada kelinci”
“Mungkinkah ikan mas?” tanya si nona lagi, Dia semakin ingin tahu.
Sekali lagi Siau Po menggelengkan kepalanya.
“Apa sih?” tanya si nona. Dia bingung sekali, Disebutnya beberapa jenis binatang
dan benda lain nya, tapi Siau Po tetap menggelengkan kepalanya.
“Ayo, keluarkanlah” kata si nona akhirnya, Di merasa kewalahan “Barang apa sih
sebetulnya yang kau beli?”
“Cepat kau bebaskan dulu diriku,” kata Siau Po “Setelah bebas, aku akan perlihatkan
kepadamu”

“Tidak bisa” kata si nona cilik sambil menggelengkan kepalanya, “Sekarang juga aku
akan meninggalkan tempat ini, Sudah lama kakakku tidak melihat aku, pasti dia
khawatir dan bingung sekali”
Siau Po menatap gadis cilik itu lekat-lekat.
“Kau mengatakan bahwa kau telah bebas, bukan? Kau juga mengatakan akan
meninggalkan tempat ini? Nah, mengapa kau tidak pergi dari tadi saja? Mengapa harus
menunggu sampai aku pulang?”
“Kau baik sekali terhadapku. Kau ingin membelikan aku barang permata, Karena itu,
aku harus mengucapkan terima kasih kepadamu, Dan aku harus pamitan kepadamu,
Kalau aku pergi begitu saja, bukankah aku bisa dikatakan tidak tahu sopan santun dan
tidak menghargaimu sama sekali?”
Mendengar ucapan si nona cilik, Siau Po segera berpikir dalam hati.
“Ah, dasar nona toloI Kalau aku mengatakan keluarga Bhok itu keluarga kayu,
perkiraanku memang tidak salah, Nama keluarga mereka salah”
Meskipun dalam hati dia berpikir demikian, namun mulutnya berkata lain:
“Kau tahu, aku mencemaskan keadaanmu, sepanjang jalan aku tidak dapat tenang,
Aku terburu-buru memasuki toko-toko emas intan untuk mencari barang yang aku
inginkan, Di beberapa toko, barang itu tidak ada. Aku menjadi bingung karena sudah
terlalu lama di luaran, Ketika sudah mendapatkannya, aku berlari-lari pulang, sampai
aku tersandung jatuh beberapa kali.”
“Oh” seru si nona cilik. “Kau tentu merasa kesakitan, bukan?”
Siau Po sengaja meringis. “Sekali aku terjatuh sehingga dadaku kebentok kayu,”
sahutnya, “Ketika itu aku merasa bukan main sakitnya….”
“Apakah sekarang kau masih merasa sakit?” tanya si nona.
Siau Po mengeluarkan suara mirip erangan.
“lya, sekarang aku masih merasa sakit,” sahutnya.
“Kau menotok jalan darahku dan membuat aku ih, rasa, nyerinya semakin
bertambah, Kau.,., aku,.,.” suaranya semakin perlahan, nona cilik itu
memperhatikannya, Dia melihat Siau Po seperti benar-benar kesakitan.
Tiba-tiba dia melihat sepasang mata bocah itu membelalak ke atas, sehingga yang
tampak hanya bagian yang putihnya saja, Kemudian mata itu dipejamkan rapat-rapat
dan orangnya pun diam saja, Tampaknya bocah cilik itu hampir jatuh pingsan.

Si putri bangsawan itu terkejut sekali melihat keadaan Siau Po.
“Eh… kau… kenapa?” tanyanya gugup, “Apakah… kau merasa sakit sekali?”
Dengan suara yang lemah sekali, Siau Po menjawab
“Mungkin a… ku akan ma… ti. Tapi… aku tidak takut, Hanya ada satu hal yang
mencemaskan hatiku, mem… buat perasaanku tidak tenang…”
“Apa itu?” tanya si nona, “Katakanlah”
“Tempat ini sangat berbahaya,” kata Siau Po yang seakan memaksakan dirinya
untuk berbicara: “Kalau aku mati, tidak ada orang yang membantumu. Kau tahu, ada
orang-orang yang ingin menawanmu, mereka hendak membunuhmu…”
“Kau tidak akan mati,” kata si nona, “Kau tidurlah, sebentar kau akan sehat kembali
Aku akan pergi sekarang”
“Tapi… aku sukar ber… nafas.,.” sahut Siau Po, suaranya demikian lemah,
Tampaknya dia sedih sekali, Nafasnya tertahan.
Nona Bhok lantas mengulurkan tangannya ke depan hidung bocah itu. Dia terkejut
sekali karena tidak merasakan hembusan nafas.
“Oh” serunya tertahan, Air matanya langsung menetes keluar.
Diam-diam Siau Po melirik. Dia melihat keadaan si nona dan mendengar isak
tangisnya, Dalam hati dia malah menertawakan, “Dasar nona kelas sembilan
Tampaknya dia belum pengalaman sama sekali…”
“Apakah kau pingsan?” tanya si nona, “Kau tidak boleh mati”
Siau Po menatap si nona dengan sinar mata sayu.
“Kau tidak boleh mati” seru si nona cilik sekali lagi.
“Tapi… kau menotok… jalan da… rah yang salah,” kata si bocah dengan suara lemah,
“Ta… hukah kau, yang… kau to… tok itu jalan… darah ke… matianku?”
Kuncu cilik itu tampak terkejut setengah mati.
“Tidak mungkin” katanya bingung, “Kau tidak mungkin mati Aku tidak mungkin salah
menotok Ajaran guruku tidak mungkin keliru Kau, tahu barusan aku menotok kedua
jalan darah Leng Hi dan Pou Long, kemudian aku juga menotok jalan darah Thian ti di
tubuhmu.”

“Tapi, kau sedang bingung, pikiranmu sedang ka… lut,” sahut Siau Po. “Karena
pikiranmu bingung dan kacau, kau… salah menotok, Aduh Rasanya,., da… rahku…
bergolak… aduh”
“Apakah jalan darahmu tersesat?” tanya si non cemas.
“Ya,., ter… sesat” sahut Siau Po tersendat sendat “Aih… ilmu menotok… mu
be.,.lum sem purna, Kenapa kau… sembarangan me… notokku Kau bukan menotok…
jalan darah Thian ti dan Po long, tapi ja… lan darah kematianku yang kau totok”
Sebetulnya Siau Po tidak tahu nama-nama jala darah, dia hanya meniru kata-kata si
nona cilik saja. Untungnya si nona cilik juga belum begitu paham semua jalan darah,
jumlahnya memang banyak sekali sehingga timbul kesangsian dalam hati si gadis cilik
bahwa ada kemungkinan memang dia sudah salah menotok.
“Aih” serunya kemudian, “Mungkinkah aku telah menotok jalan darah Tan tiong?”
“lya, tidak salah lagi” kata Siau Po cepat, Tapi… kuncu,., sudahlah, Kau tidak perlu
khawatir atau menyesal Aku tidak menyalahkan engkau. Aku tahu kau tidak sengaja
menotokku, Niatmu baik, Kalau aku sudah mati nanti, dan ditanyakan oleh penjaga
Akherat, aku tidak akan mengatakan bahwa kau yang menotokku sampai mati, Aku
akan katakan bahwa aku menotok diriku sendiri”
Kuncu cilik itu tercekat hatinya ketika mendengar Siau Po menyebut-nyebut penjaga
akherat, tapi di samping itu dia juga agak lega mendengar bocah itu berjanji tidak akan
menyeret-nyeret dirinya.
“Begini saja,” kata si nona cepat, “Nanti aku akan menotokmu lagi untuk
membebaskanmu, Aku harap akan berhasil..”
Benar saja, nona bangsawan itu segera meraba-raba dada Siau Po kemudian
menotok beberapa kali, Juga bagian iga dan bawah ketiaknya.
Siau Po merintih.
“Aih, jalan darahku sudah tertotok, Pasti jiwaku tidak bisa tertolong lagi,” katanya.
“Belum tentu,” sahut si nona, “Aku menyesal telah salah menotokmu.”
“Aku tidak menyalahkan engkau, Aku tahu kau baik hati, Kalau aku sudah mati nanti,
dari alam baka aku akan melindungimu dari pagi sampai malam, arwahku akan selalu
mengikutimu Aku bisa mencegah apabila ada orang yang akan mencelakaimu
Si nona semakin tercekat hatinya, dia jadi bingung sekali.
“Apa katamu?” tanyanya menegaskan “Arwahmu akan mengikutiku terus?”

“Jangan takut, kuncu,” kata Siau Po. “Arwahku tidak akan mengganggumu, Hanya
ada satu hal yang harus kau ketahui, siapa yang membunuhmu, setan-ku akan terus
mengikutinya.” . Si nona masih bingung.
“Sesungguhnya aku tidak berniat menceIakaimu….”
Siau Po menarik nafas panjang.
“Kuncu, sebenarnya siapakah namamu?” tanyanya kemudian.
“Untuk apa kau menanyakan namaku?” tanya si nona cilik dengan menatap tajam
pada Siau Po. “Apakah kau ingin menuntutku di akherat nanti? Tidak Aku tidak akan
memberitahukan namaku kepadamu”
“Kalau aku tahu siapa namamu, di akherat nanti aku bisa memberikan keterangan,”
sahut Siau Po “Di sana aku akan memohon para iblis untuk melindungimu Di sana ada
setan-setan yang mati gantung diri Ada setan yang tadinya pendeta, juga ada setan
tanpa kepala Akan kusuruh mereka mengiringi kau setiap waktu”
Si nona jadi ketakutan mendengar kata-katanya.
“Tidak Tidak” serunya. “Aku tidak sudi diikuti mereka”
“Habis bagaimana?” tanya Siau Po. “Bagaimana kalau yang mengikutimu hanya satu
setan saja?” Nona cilik itu bimbang beberapa saat, “Kau… kau…” katanya kemudian.
“Kalau kau yang mengikutiku, asal kau berjanji tidak akan membuat aku kaget…”
“Sudah pasti aku tidak akan membuat kau kaget janji Siau Po. “Siang hari di saat kau
duduk… duduk, aku akan menemanimu mengusir lalat. Di malam hari kalau kau sedang
tidur, aku akan membantumu membasmi nyamuk yang nakal, Kalau kau sedang kesal
atau berduka, arwahku akan mengirimkan mimpi tentang dongeng yang menarik agar
hatimu terhibur.”
“Mengapa kau memperlakukan aku begini baik?” tanya si nona sambil menarik nafas
panjang, “Kalau demikian, lebih baik kau jangan mati…”
“Dalam satu hal kau telah berjanji padaku…” kata Siau Po. “Kalau kau tidak
menepatinya, bukankah aku bakal mati dengan mata melek?”
“Apa itu?” tanya si nona cilik, “Apa yang telah kujanjikan kepadamu.”
“Kau pernah berjanji akan memanggil aku kakak yang baik sebanyak tiga kali,” sahut
si bocah. “Tapi kau baru memanggilnya satu kali. Kalau di saat sebelum menutup mata
kau memanggilku lagi, barulah aku dapat mati dengan tenang.”
Puteri ini hidup di Propinsi Inlam dan leluhurnya turun temurun merupakan raja
muda. Begitu pula ayah bundanya, saudara-saudaranya semua memperlakukannya

dengan baik sekali. Dia sangat disayangi Meskipun belakangan negara runtuh dan
keluarganya ikut tertimpa musibah, keagungannya tetap tidak berubah.
Semua Ke Ciang, pengawal maupun sekalian budak-budaknya tetap
memperlakukannya sebagai keluarga bangsawan Selama hidupnya, belum pernah ada
orang yang berani mendustainya atau menggertaknya dengan kata-kata yang tidak
benar, itulah sebabnya ketika mendengar ucapan Siau Po, dia percaya sepenuhnya.
Padahal ketika berbicara, dia melihat sinar mata si bocah yang mengandung
kelicikan, tetapi pada dasarnya hati si nona cilik ini memang masih polos dan belum
mengerti apa arti keculasan, atau tepatnya dia sendiri masih hijau, dia jadi tidak
mengambil hati, Namun akhirnya dia tersadar juga.
“Kau sedang berbohong” katanya, “Kau tidak bakalan mati”
Siau Po pun tertawa.
“Andaikata benar aku tidak mati sekarang, toh lewat beberapa hari lagi aku akan mati
juga,” sahutnya.
“Lewat beberapa hari nanti juga kau tidak akan mati” kata si nona tegas.
Siau Po kembali tertawa.
“Seandainya lewat beberapa hari aku tidak mati, tapi lama kelamaan aku toh akan
mati juga” kata Siau Po berkeras, “Kalau kau tetap tidak sudi memanggil aku kakak
yang baik, kalau aku sudah mati nanti, setiap hari arwahku akan memanggilmu… adik
yang ba… ik”… a… dik yang ba… ik….”
Sengaja Siau Po membuat ucapannya menjadi panjang dan menyeramkan nadanya
seperti ratapan sehingga si nona menjadi ketakutan dan tubuhnya gemetar Siau Po
malah sengaja menjulurkan lidahnya keluar seperti mayat yang mati menggantung diri.
“Oh” jerit si nona yang langsung hendak lari keluar kamar.
Siau Po lompat menyusul, sebelah tangannya menjambret pinggang gadis cilik itu
dan kemudian merangkulnya, sedangkan sebelah tangannya yang lain digunakan untuk
memalang pintu.
“Kau tidak boleh keluar” kata Siau Po. “Di luar banyak setan jahat”
“Lepaskan aku” teriak si nona. “Aku mau pulang”
“Kau tidak boleh keluar” kata Siau Po ngotot.
Kuncu itu marah sekali, Dia menghajar tangan Siau Po yang merangkulnya, Tapi,
bocah itu menangkis sekaligus mencekal tangan nona cilik itu.

Kuncu tersebut semakin gusar, Dia menggunakan tangan yang satunya lagi untuk
menghajar kepala bocah itu. Namun Siau Po dapat menghindarkan diri dengan
merendahkan tubuhnya, Tangannya yang sebelah digunakan untuk merangkul paha
gadis cilik itu, sehingga si kuncu tidak dapat menggerakkan kakinya.
Kuncu itu penasaran, dia menyerang kembali, Kali ini Siau Po tidak sempat
mengelak, bahunya terhajar, tapi dia dapat menahan rasa sakitnya, Ditariknya kaki si
nona cilik yang dirangkulnya itu sehingga si kuncu terjatuh, kemudian dia menerjang
dengan maksud hendak menindihnya.
Kuncu itu mengadakan perlawanan Dia mengirimkan sebuah tendangan dengan
gerakan Wan yo Tui mengarah muka orang, Untuk itu, si bocah memiringkan wajahnya
sedikit dan di samping itu dia masih mencekal tangan si nona keras-keras.
Sebenarnya dalam hal ilmu silat, si kuncu masih menang jauh daripada Siau Po.
Kalau sekarang dia tidak berdaya, hal ini karena Siau Po mengajaknya bergumul,
dengan tanpa memperdulikan tata krama. Apalagi tangannya sudah kena dicekal Bocah
itu malah tertawa dan berkata,
“Nah, kau menyerah tidak?”
“Tidak” sahut si nona berkeras.
Siau Po mengangkat kaki kirinya. Dengan dengkulnya dia menekan punggung nona
cilik itu.
“Menyerah tidak?” bentaknya.
“Tidak” sahut si nona ketus, Dia mendongkol sekali, Seumur hidupnya belum

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s