“ PANGERAN MENJANGAN” – “ LU DING JI “ 22

orang kangouw yang suka menjual silat
di depan umum. Kalau para hadirin sekalian ingin menonton pertunjukan topeng
monyet, mengapa tuan-tuan tidak pergi ke Tiankio saja? Maaf, ijinkanlah aku yang
rendah memohon diri”

Selesai berkata, orang itu meng angkat tangan kirinya dan terdengarlah suara
“Plok”, hancurlah bagian belakang kursinya, kemudian dia melangkah lebar-lebar
keluar dari ruangan pesta itu.
Melihat keadaan itu, para hadirin jadi tertegun Seorang laki-laki tua yang bertubuh
kurus bangkit dari tempat duduknya dan mencegah busu setengah tua yang hendak
berlalu itu dengan berkat “Long suhu, kata-katamu itu tidak memakai aturan. Ongya
sangat menghargai kepandaian kita. Ongya ingin menyaksikan kepandaian kita,
sebenarnyalah kita menyambut dengan baik. Andaika Long suhu tidak setuju, tidak
mungkin ong-ya memaksamu, Tapi kenapa kau harus menghancurkan kursi di tempat
pesta ini? Seumpamanya ong-ya sangat bijaksana dan tidak menyalahkan kau, tapi
kami semua, di mana kami harus meletakkan muka ini?”
Orang she Long itu langsung tertawa dingin. “Setiap orang mempunyai pendirian
tersendiri, To suhu, kalau kau suka menunjukkan kepandaianmu, silahkan, Tapi, maaf,
aku tidak dapat menemani kalian lebih lama” katanya sambil berjalan pula.
Terdengar orang tua she To berkata:
“Kalau kau memang hendak pergi juga, seharusnya kau memberi hormat kepada
ongya dengan menyembah dan mengangguk Apabila ongya sudah menyatakan
persetujuannya, baru kau boleh meninggalkan tempat ini”
Kembali orang she Long itu tertawa dingin.
“Aku toh tidak menjual diriku menjadi budak onghu” katanya sengit “Bukankah
sepasang kakiku ini menempel di tubuhku sendiri? Kalau aku ingin pergi, aku bebas
untuk berjalan. Siapa yang berani melarang aku?”
Selesai berkata, dia berjalan lagi. Tampaknya si orang tua she To masih tidak mau
mengalah, Ketika melihat orang she Long itu hampir menubruknya, dia langsung
mencekal lengan kiri orang itu sambil membentak dengan suara keras.
“Tidak bisa tidak Aku memang hendak melarangmu”
Orang she Long ingin menghindarkan diri dari cekalan orang she To. Tubuhnya
berputar dan tinjunya meluncur ke pinggang orang she To, Dan lawannya
mendahuluinya dengan mengirimkan sebuah tendangan ke arah dada.
Long suhu ternyata lincah sekali, Dia mengangkat tangan kanannya dan menyambut
tendangan itu. Karena gerakannya yang cepat, dia berhasil menyanggah bagian dalam
lutut lawannya kemudian dia mengerahkan tenaganya untuk mendorong dari bawah ke
atas.
Orang she To tidak dapat melepaskan diri dari cekalan itu. Tubuhnya kena
dipentalkan ke belakang. Namun dia juga cukup gesit, dia sempat membuang diri

sehingga tidak sampai terjatuh. Namun dia sudah kalah angin sehingga wajahnya
menjadi merah padam saking malunya.
Orang she Long juga tidak menunda waktu, dia segera menghambur ke pintu
ruangan. Tiba-tiba muncullah rintangan yang lain, seseorang yang bertubuh kurus tahutahu
sudah menghadang di-depannya. Orang itu tidak menyerang, hanya
merangkapkan sepasang tangannya memberi hormat seraya berkata:
“Long toako, harap kau kembali ke dalam ruangan”
Orang she Long itu sedang menghambur ke depan, sulit baginya untuk
mengendalikan gerakan tubuhnya, Namun si orang bertubuh kurus juga tidak mau
menyingkir Karena itu keduanya jadi beradu, Lebih tepat lagi bila mengatakan orang
she Long itu menubruk tubuh si kurus.
Kesudahannya sungguh luar biasa, Bukannya orang yang bertubuh kurus itu
terdorong atau terpental ke belakang. Namun malah si orang she Long yang tersurut
mundur sejauh tiga langkah. Tubuhnya terhuyung-huyung, sulit baginya untuk menjaga
keseimbangan. Dia limbung ke kanan, bukannya berhenti atau berdiam diri, dia terus
berlari menuju jendela, jelas dia tidak sudi berdiam lebih lama dalam ruangan itu.
Si kurus itu ternyata hebat sekali, Tahu-tahu dia sudah ada di depan jendela dan
menghadang kepergian si orang she Long.
Busu setengah baya itu sadar bahwa lawannya lihay sekali, Benturan tadi
membuatnya insaf dan dia tidak ingin kejadian itu terulang kembali. Dia menahan
gerakan tubuhnya sedemikian rupa sehingga ketika luncurannya terhenti jarak mereka
hanya tinggal dua dim saja.
Si kurus berdiam diri, sepasang matanya menatap si orang she Long tanpa berkedip
sekali pun.
Orang she Long itu tetap berusaha mencapai luar ruangan agar dapat melarikan diri,
namun si kurus tampaknya tidak sudi memberinya kesempatan sama sekali. Ketika si
orang she Long mengirimkan tinjunya ke depan, dia hanya mengangkat tangannya dan
mendorong dengan asal-asalan, namun akibatnya sekali lagi si orang she Long
terhuyung mundur ke belakang.
“Hebat” seru beberapa tamu yang memuji kepandaian si kurus.
Si Long berdiam diri, wajahnya pucat dan merah secara bergantian, dia merasa
terkejut juga bingung. Tampaknya sulit baginya untuk keluar dari istana tersebut,
akhirnya terpaksa dia berdiam diri saja.
Si orang kurus memberi hormat kepadanya.

“Saudara Long, silahkan duduk Ongya mengharapkan kita menunjukkan sedikit
kepandaian bukankah kita sudah melakukannya?”
Kali ini, selesai berkata, si kurus kembali ke tempat duduknya semula. Dengan
perasaan malu, si orang she Long terpaksa kembali ke tempat duduknya dengan kepala
tertunduk Dia masih merasa kesal juga gundah.
Para hadirin bersorak menyaksikan peristiwa itu, yang memang merupakan sebuah
pertunjukan.
Kongcin ong sendiri sebetulnya merasa tidak enak hati, karena orang she Long
menentangnya di depan umum, tapi perbuatan si kurus juga mengembalikan pamornya.
Karena itu dia segera menitahkan pelayannya mengambil uang sebesar lima puluh tail
perak.
“llmu silat suhu itu hebat sekali.” kata Go Eng-him. “Siapakah namanya? Mudah saja
dia menghadang kepergian orang.”
Pangeran itu tidak langsung menjawab, Dia juga tidak kenal siapa adanya orang
bertubuh kurus itu. Dia juga tidak tahu kapan orang itu datang. Tapi tentunya tidak baik
baginya untuk mengatakan terus-terang.
“Siau ong sungguh pelupa, tidak ingat lagi siapa namanya” sahut Kongcin-ong asalasalan,
Pelayan yang disuruh tadi sudah kembali lagi dalam waktu singkat, dia membawa
sebuah nampan yang di atasnya terdapat uang goanpo masing-masing senilai dua
puluh lima tail.
Kong Cin-ong tertawa sambil berkata:
“Para busu telah memperlihatkan kepandaiannya. Karena itu harus ada orang yang
pertama-tama menerima hadiah, Sahabat, silahkan kemari, Ambillah sepotong goanpo
ini”
Yang dipanggil adalah orang yang bertubuh kurus tadi. Dia segera menghampiri si
pangeran dan menyambut sepotong goanpo yang disodorkan kepadanya.
“Sahabat,” panggil Siau Po. “Siapakah she dan namamu yang mulia?”
“Aku yang rendah bernama Ci Goan-kay,” sahut orang itu, “Terima kasih tuan besar
telah sudi menanyakannya”
“Memang lihay kepandaian busu Ongya,” kata To Lung kemudian “Sekarang aku
ingin sekali menyaksikan kepandaian para pengawal Siau tianhe Siau ong-ya, tolong
tunjuk salah seorang pengawalmu untuk bermain-main sejenak dengan Ci suhu ini”

Go Eng-him tidak segera menjawab, tampaknya dia sedang merenung. Melihat
keadaan itu, To Lung berkata kembali:
“lni hanya pertunjukan saja, batasnya saling menowel. Juga tidak perlu hadiah segala
macam. Dengan demikian persahabatan kita tidak akan terganggu. Siapa yang menang
atau kalah tidak menjadi masalah”
“Pikiran Te tok baik sekali” Kongcing ong yang suka keramaian ikut berbicara, Tapi
sebaiknya para busu semua mendapat sesuatu, Aku akan menghadiahkan goanpo
bernilai besar pada yang menang namun yang kalah juga mendapat bagian, hanya
nilainya lebih kecil sebagai tanda penghargaan, Kong Cin ong menoleh kepada
pelayannya tadi, “Ambillah lagi sejumlah goanpo bernilai dua puluh lima tail.”
Pelayan tadi masuk ke dalam ruangan, tidak lama kemudian dia sudah keluar lagi
dengan membawa dua nampan besar uang goanpo yang berkilauan.
“Pihak kami mengajukan Ci Goan-kay,” kata Kongcin ong. “Busu manakah yang
mula-mula akan mewakili pihak Peng-si ong?”
Para hadirin senang mendengar kata-kata si tuan rumah, perhatian mereka segera
beralih pada keenam belas orang yang mengawal kedatangan Go Eng-him.
Mereka tahu, meskipun pertandingan ini hanya pertandingan persahabatan tetapi
kedua pihak itu justru Kongcin ong dan Peng-si ong, Rata-rata mereka mengharap
pihak tuan rumahlah yang akan meraih kemenangan.
Di saat Go Eng-him masih memikirkan jalan keluar terbaik, salah seorang
pengawalnya segera melangkah ke depan kemudian memberi hormat kepada pihak
tuan rumah seraya berkata:
“Harap ong-ya ketahui, ketika mengikuti sicu berangkat ke kotaraja, Kami telah
dipesan untuk menjaga dan merawat sicu sebaik-baiknya, Peng Si-ong juga telah
memesan berulang kali bahwa selama di kotaraja kami dilarang berbentrokan dengan
siapa pun. Pesan beliau sama sekali tidak boleh dilanggar.”
Kongcin ong tertawa:
“Peng-si ong sungguh teliti dan waspada” puji-nya, “Tapi ini bukan bentrokan, hanya
pertandingan bermain-main, anggaplah kalian sedang berlatih. Apabila Peng-si ong
sampai menanyakan katakan saja aku yang memintanya”
Orang itu menjura sekali lagi.
“Maaf, ong-ya,” sahutnya, “Dengan sesungguhnya kami tidak berani menerima
perintah ong-ya ini”
Kongcin ong menjadi kurang senang, hatinya mulai marah, diam-diam dia berpikir:

“Kau selalu menyebut Peng-si ong, seakan-akan aku tidak dipandang sebelah mata
olehmu Mungkin perintah Sri Baginda sekalipun akan kau abaikan” Saking sengitnya,
dia segera berkata:
“Tidak mungkin kalau kau akan diam saja apabila orang menghajarmu”
Orang itu menjura kembali.
“Sewaktu kami berada di Inlam, kami sudah mendengar bahwa semua pembesar
negeri, tentara bahkan rakyat di kotaraja sangat tahu aturan. Kalau kita tidak melakukan
kesalahan terhadap orang lain, tidak mungkin orang sengaja mencari perkara dengan
kita”
Pengawal Go Eng-him itu bertubuh tinggi besar, tampaknya cerdik, suaranya tajam.
seandainya Kongcin ong memaksakan kehendaknya, berarti dia tidak tahu aturan.
Karenanya dia jadi mendongkol sekali, akhirnya dia menoleh kepada Sin Ciau siangjin
sembari berkata:
“Sin Ciau siangjin, Ci suhu, sahabat-sahabat dari Inlam itu tidak sudi memberi muka
kepada kita, Karenanya kita juga tidak bisa berbuat apa-apa”
Mendengar kata-kata pangeran itu, Sin Ciau siangjin segera bangkit.
“Ongya,” katanya, “Sahabat-sahabat dari Inlam itu justru ketakutan kalah, dengan
demikian mereka akan kehilangan muka. Toh, tidak mungkin mereka mendiamkan saja
apabila ada orang yang menyerang pada bagian tubuh mereka yang menbahayakan”
Begitu suaranya berhenti, biku itu langsung mencelat ke samping pengawalnya Go
Eng-him itu kemudian tertawa lebar.
“Tenaga tangan aku, si biku biasa-biasa saja, dibandingkan orang she Long tadi,
mungkin aku hanya menang satu tingkat Ongya, pinceng ingin merusak sebuah batu di
tempat ong-ya ini. Apaka ong-ya akan berkecil hati karenanya?”
Kongcin ong tahu, di antara orang-orang barunya, Sin Ciau siangjin terhitung yang
paling lihay, sekarang mendengar kata-kata biku itu, dia tahu orang ingin menunjukkan
kepandaiannya. Karena itu, dia langsung menganggukkan kepalanya, Hati-nya senang
sekali.
“Silahkan, siangjin Rusak sepotong batu saja tidak menjadi masalah” katanya.
Sin Ciau siangjin menganggukkan kepalanya, Tubuhnya membungkuk sedikit,
tangannya terulur ke bawah menekan lantai, ketika dia mengangkat tangannya kembali
Tangan itu sudah bertambah sepotong batu hijau berukuran satu kaki lebih. Batu itu
bukan dipegangnya, tetapi menempel pada telapak tangannya sebagai bukti tenaga
dalamnya hebat sekali

“Bagus” seru Siau Po yang disusul dengan tepukan tangan dan sorak memuji yang
lainnya.
Sin Ciau siangjin tersenyum, batu itu diangkat ke atas. Tenaga hisapannya pun
buyar, namun sebelum batu itu sempat terjatuh ke lantai, Sin Ciau siangjin bergerak
dengan cepat. Sepasang tangannya kembali menjepit batu itu kemudian ditekannya
keras-keras sehingga batu itu menjadi hancur dan abunya jatuh di atas lantai.
Kembali para hadirin bersorak, Sin Ciau siangjin segera menghampiri pengawalnya
Go Eng-him yang berbicara tadi
“Tuan, bolehkah aku mengetahui she dan nama tuan yang mulia?”
“Tenaga dalam siangjin besar dan mengagumkan,” kata pengawal itu. “Dengan
demikian mataku yang rendah jadi terbuka, Aku hanya orang kecil dari tanah
perbatasan Hanya seorang tidak ternama….”
Sin Ciau siangjin tertawa.
“Meskipun orang liar dari tanah perbatasan tidak mungkin tanpa she atau nama,
bukan?”
Sepasang alis pengawal itu menjungkit ke atas. Hal ini membuktikan hatinya mulai
marah, namun dalam sekejap mata wajahnya pulih kembali seperti tidak terjadi apapun
dia menyahut:
“Orang liar dari tanah perbatasan, seandainya punya nama pun tidak lebih dari Amau
atau A-ku (kucing atau si anjing) Karena itu, tidak ada gunanya meskipun taysu
mengetahuinya”
“Tuan, kau sungguh sabar sekali,” kata Sin Ciau siangjin sambil tertawa, Hari ini
Kong cing ong mengadakan pesta, tamu-tamunya banyak, 6 kota Peking, jarang ada
pesta semeriah ini sekarang ongnya menyuruh kami mengadakan pertunjukan,
maksudnya untuk menggembirakan para tamunya, Dengan demikian semuanya dapat
merasa senang, Karena itu, kalau tuan tidak suka memberikan pelajaran, bukankah
tuan mengangkat dirimu terlalu tinggi?”
“Aku yang rendah hanya pernah mempelajari beberapa jurus petani pedesaan yang
kasar, mana mungkin aku sanggup menandingi Sin Ciau siangjin dari kuil Tiat-hud Si di
kota Congciu? Kalau taysu tetap ingin bertanding, biarlah di sini juga aku yang rendah
mengaku kalah dan silahkan taysu mengambil goanpo yang besar itu….” Setelah
berkata orang itu memutar tubuhnya untuk mengundurkan diri.
“Tunggu dulu” seru Sin Ciau siangjin, “Pokok-nya pinceng harus mencoba
kepandaian tuan Ke-dua tanganku akan bergerak dalam waktu yang bersamaan
seperti memukul tambur Aku akan mengincar kedua pelipismu, silahkan tuan
membalasnya”

Orang itu tidak menjawab, hanya kepalanya saja yang di gelengkan.
Sin Ciau siangjin membentak lantang, tiba-tiba tubuhnya seperti melar menjadi
besar, Hal itu membuktikan bahwa dia sedang mengerahkan tenaga dalamnya,
kemudian kedua tangannya bergerak menyambar ke arah kepala orang itu. Benar saja
Dia mengincar bagian pelipis seperti yang dikatakannya barusan.
Para hadirin terkejut. Kepala orang itu pasti remuk apabila terkena hantaman pukulan
Sin Ciau siangjin, sedangkan sebuah batu hijau saja sampai hancur lebur karenanya.
Pengawalnya Go Eng-him sungguh luar biasa.
Dia tetap berdiri tanpa bergeming sedikit pun. Apalagi menangkis atau
menghindarkan diri. sikapnya lebih mirip sebuah patung pajangan.
Sin Ciau siangjin sengaja menyerang agar orang itu terpaksa melayaninya, tetapi
melihat orang hanya berdiam diri, terpaksa dia mengubah pikirannya. Tidak mungkin
dia menyerang orang yang tidak melakukan perlawanan, apalagi orang itu bawahannya
Peng-Si ong.
Kalau orang itu sampai celaka, bagaimana dia harus bertanggung jawab? Bukankah
perbuatannya bisa berarti mengajukan tantangan perang? Karena itu, dia menaikkan
tangannya ke atas sehingga hanya ujung jubahnya saja yang mengenai kepala orang.
Si pengawal tersenyum. “Sungguh hebat tenaga dalam taysu”
Mata semua orang membelalak saking kagumnya, orangnya Peng-Si ong itu benarbenar
tabah dan sabar. Karena itu, orang-orangnya mempunyai dugaan bahwa dia pasti
bukan orang sembarangan.
Kalau tadi dia sampai terhajar, bukankah dia akan mati konyol? Mengapa dia
memandang nyawanya sendiri sedemikian tidak berharga ? Lagaknya ini orang edan.
Sin Ciau siangjin menarik kedua tangann kembali. Dia memandangi orang di
depannya lekat-lekat. Dia juga merasa heran dan menduga-duga dalam hatinya, Orang
itu memang tolol atau justru terlalu angkuh? Dia juga menjadi bingung, dia merasa tidak
enak mengundurkan diri begitu saja, Akhirnya dia berkata:
“Tuan, rupanya tuan tidak sudi memberi muka kepadaku. Baiklah, sekarang pinceng
akan menyerangmu dengan jurus Hek-hou tau sim (harimau hitam mencuri jantung).”
Siapa saja yang pernah belajar ilmu silat, pasti mudah menghindari serangan itu,
Sebab jurus itu sangat umum. Apalagi sebelumnya telah diberitahu akan diserang
dengan jurus yang satu ini Dengan serangan semacam itu bisa timbul anggapan bahwa
lawan tidak memandang sebelah mata kepadanya.

Orang itu masih tidak memberikan jawaban, bibirnya hanya tersenyum. Semakin
tidak puas rasanya hati si biku. “Seandainya aku menghajar kau, tentu kau hanya akan
terluka, tidak mungkin begitu mudah untuk mati. Dengan demikian aku juga tidak
melakukan kesalahan besar terhadap Peng-Si ong, pikirnya dalam hati
Karena itu dia segera memasang kuda-kudanya dan terus mengirimkan sebuah
serangan. Orang itu tetap tidak menangkis ataupun menghindarkan diri Blam
Terdengarlah suara yang keras karena dadanya terkena hantaman Sin Ciau siangjin.
Tubuhnya juga tersurut satu tindak, Namun dia segera tertawa dan berkata:
“Nah, taysu sudah menang Aku telah tergeser mundur satu langkah” Sin Ciau
siangjin jadi heran. Walau pun serangannya tadi tidak merupakan pukulan yang
mematikan, tetapi cukup keras juga. Siapa sangka orang itu sanggup menerimanya
seperti tidak merasakan apa-apa, bahkan masih sempat tertawa dan berbicara.
Bagi pembesar negeri yang bukan golongan tentara, hal itu memang terasa aneh.
Tidak demikian halnya dengan para perwira atau jenderal, mereka ini melihat tegas
bahwa pengawal si raja muda dari Inlam justru sengaja mengalah.
Demikian pun si biku, sehingga dia menjadi kurang senang. Rasanya sudah habis
kesabarannya wajahnya menjadi merah padam.
“Sebaiknya kau terima satu kati lagi tinjuku ini” katanya sengit Dan dia langsung
menyerang kembali dada orang itu. Dan kali ini dia menggunaka tenaga dalam
sebanyak tujuh bagian, Dia tidak perduli lagi walaupun orang bisa muntah darah karena
pukulannya.
Para hadirin yang mengerti ilmu silat dapat melihat bahwa si biku telah menggunakan
tenaga dalam yang besar. Mereka juga menduga orang yang terkena pukulan itu bisa
celaka, mereka memperhatikan jalannya peristiwa itu sambil berdiam diri
mengkhawatirkan keselamatan pengawal Pe Si ong itu.
Tapi, pengawal itu memang sungguh luar biasa, tatkala serangan itu tiba, dadanya
diciutkan dalam dan tubuhnya mencelat ke belakang sejauh setengah tombak,
sepertinya dia kena terhajar dalam waktu yang bersamaan dia bergerak mundur. Siapa
yang ilmunya tanggung-tanggung tentu tidak dapat melihat cara mengelakkan diri yang
istimewa itu, caranya itu meminta ketajaman mata dan kelincahan tubuh.
Si biku benar-benar marah ketika mengetahui serangannya kembali gagal, dia
segera membentak keras dan menyerang kembali Kali ini dia mengirimkan tendangan
kaki kanannya yang secara tiba-tiba mengarah perut lawan.
“Aduh Celaka” seru si pengawal dari Inlam, Dalam waktu yang bersamaan,
tubuhnya menghempas ke belakang sehingga posisinya lurus, sedangkan kedua
lututnya ditekuk sehingga telapak kakinya masih memijak tanah seperti semula,
sungguh suatu cara pengelakkan diri yang luar biasa. Namanya Tiat-poan kio

(Jembatan papan besi), Dengan demikian, perutnya terhindar dari tendangan Sin Ciau
siangjin.
Ketegangan di hati para hadirin menjadi mengendur dan berganti dengan perasaan
kagum, sungguh hebat pengawal itu, dia selalu mengalah dan menghindarkan diri dari
ancaman maut.
Sin Ciau siangjin jadi penasaran, tanpa menunda waktu dia mengulangi
serangannya, kali ini dengan tendangan berantai Tipu silat yang digunakannya adalah
Wan-yo lian hong (tindakan berantai si burung Wan Yo).
Begitu tendangan tadi meleset, si pengawal segera bangkit kembali Namun tepat
pada saat itu datanglah serangan susuIan dari Sin Ciau siangjin, sebenarnya dia baru
saja menegakkan tubuhnya, jadi tidak sempat lagi dia menghindarkan diri. Tapi dia
memang lihay sekali, kembali dia dapat meluputkan diri-sekali lagi dia menggunakan
jurus silat Tiat-poan kio tadi.
Meledaklah suara sorak dan tepukan dari para hadirin, mereka merasa kagum sekali,
sekalipun seorang ahli silat jarang menyaksikan pertunjukan langka semacam ini.
Sampai di sini, hilang sudah rasa penasaran di hati Sin Ciau siangjin. Dia sadar ilmu
silatnya masih kalah dengan pengawal itu. Karena itu dia segera memberi hormat.
“Kepandaianmu hebat sekali Aku sungguh kagum” katanya.
Pengawal itu membalas hormat sikapnya teta tenang seperti semuIa.
Taysu hanya memuji saja” sahutnya sabar
Kongcin ong segera berkata:
“Kedua pihak sama-sama lihay, Siau tianhe pengawalmu itu sabar sekali. Dia tidak
mau membalas serangan. Karena itu, pertandingan kali ini tidak dapat disamakan
dengan pertandingan biasa Mari Kedua-duanya sama-sama memperoleh potong
goanpo”
Pengawal itu menjura.
“Hamba yang rendah tidak berjasa apa-apa karenanya hamba tidak berani menerima
hadiah dari Kongcin ong” katanya.
Menyaksikan pengawal itu tidak mau menerima hadiah dari tuannya, Sin Ciau
siangjin juga malu maju ke depan. Kongcin ong segera berkata kepada seorang
pelayannya.
“Kau antarkan dua potong goangpo kepada kedua orang itu”

Karena didesak sedemikian rupa, si pengawal terpaksa menerima juga hadiah itu
sambil mengucapkan terima kasih. Karena itu, Sin Ciau siangjin juga menerima
sepotong goanpo dan menghaturkan terima kasih puIa.
Kongcing ong mengerti pertandingan barusan berakhir dengan kekalahan dipihak Sin
ciau siang-jin. Dia berbuat demikian hanya demi menjaga pamornya saja, Dalam hati
dia merasa penasaran Diam-diam dia berpikir:
Pengawalnya Go Eng-bim itu lihay sekali, Entah bagaimana dengan yang lain-
Iainnya, kemungkinan di antara mereka ada juga yang kepandaiannya rendah. Orangorangku
mempunyai kepandaian tersendiri Umpamanya Ci Goan-kay, tentunya dia
tidak kalah dengan Sin Ciau siangjin, sebaiknya aku mencoba lagi.”
Raja muda itu penasaran Dengan cepat dia mengambil keputusan. Kemudian dia
berkata kepada orangnya.
“Barusan pibu gagal, itu artinya ada keretakan di dalam kesempurnaan Karena itu, Ci
suhu, kau mengajak lima belas rekanmu dan siapkan senjata masing-masing lalu
memohon pertandingan kepada keenam belas pengawal Peng-Si ong. Nah, saudara
Go, kau perintahkan seluruh pengawalmu untuk menyiapkan senjata masing-masing”
Go Eng-him mengawasi tuan rumah, “Kami adalah tamu-tamu Kongcin ong, mana
berani kami membawa senjata tajam ke dalam istana ini” sahutnya saban Kongcin ong
tertawa.
“Siau tianhe selalu sungkan” katanya, “Ayah Siau tianhe yang terhormat beserta aku
adalah sama-sama panglima perang, Seumur hidup kita, sudah biasa bercampur
dengan segala macam senjata tajam, Karena itu, tidak usahlah kita perdulikan
pantangan orang…. Mana orang? Bawa kemari delapan belas alat senjata supaya para
pengawal Siau tianhe dapat memilihnya sendiri”
Memang Kongcin ong adalah seorang panglima perang, Sejak mulai berangkat dari
Kwan gwa yakni Manchuria, sampai menyerang serta menduduki wilayah Tionggoan,
Dia selalu menyiapkan delapan belas macam senjata di istananya, Oleh karena itu
mendengar perintahnya, beberapa orang pelayannya segera mengiakan serta
melaksanakan tugas.
Dalam waktu singkat, semua senjata telah tersedia kemudian dikumpulkan di
hadapan orang-orangn Go Eng-him.
Ci Goan-kay sendiri sudah memilih empat belas orang busu, sebab dia, meminta Sin
Ciau siangjin yang memimpin kelompok itu.
Sin Ciau siangjin sendiri sebetulnya masih penasaran, dia merasa inilah kesempatan
yang baik untuk mengembalikan pamornya yang sempat jatuh tadi, tetapi agar tidak
menyolok dia mencoba menolak Setelah didesak berkali kali barulah dia menerima

dengan baik tugas itu, dengan demikian orang akan mengira dia menerimanya karena
terpaksa.
“Biar bagaimana, aku harus sanggup melukai beberapa orang pengawal dari Inlam
ini,” katanya dalam hati, Sekarang dia tidak perduli lagi apakah perbuatannya menyalahi
Peng Si ong.
Kelompok Ci Goan-kay sudah siap dengan senjatanya masing-masing, Sin Ciau
siangjin sendiri memegang sepasang golok. Sambil menggenggam senjatanya itu, dia
memberi hormat kepada sang pangeran.
Kong Cin ong juga membalas penghormatannya, Senang hati Siau Po melihat
keadaan itu, Diam-diam dia berkata dalam hatinya.
“Hebat orang-orang ini. Mereka semua berkepandaian tinggi, nama mereka terkenal,
namun mereka bersikap hormat kepada si pangeran, Dengan memberi hormat kepada
Kong Cin ong, mereka juga seperti menghormati aku. Bukankah mereka menghadap ke
arahku?”
Setelah Itu, Sin Ciau siangjin memutar tubuhnya menghadap para pengawal dari Inlam.
Dia berkata dengan suara lantang.
“Sahabat-sahabat dari Inlam, silahkan kalian memilih senjata masing-masing”
Pengawal yang tadi melayani si biku segera menjawab dengan sopan.
“Kami sudah menerima perintah dari Yang Mu-lia Peng Si ong, bahwa sesampainya
di kotaraja, kami tidak boleh bertempur dengan siapa pun”
“Bagaimana seandainya ada orang yang bermaksud memenggal batok kepala
kalian? Apakah kalian akan menjulurkan leher panjang-panjang dan membiarkannya
saja?” tanya Sin Ciau siangjin yang hatinya mulai panas.
“Atau mungkin kalian akan menyembunyikan kepala kalian dalam-dalam sehingga
tidak terlihat?” Kata-katanya yang terakhir merupakan penghinaan sebab di dunia ini
hanya kura-kura yang suka menyembunyikan kepalanya.
Mendengar ucapan itu, para pengawal Go Eng-him segera memperlihatkan tampang
marah. Akan tetapi, pemimpin mereka yang bertubuh kurus menjawab dengan datar.
Titah Peng Si ong berat bagaikan gunung, jikalau kami sampai melanggarnya, begitu
kemb ke Inlam, kami semua akan mendapat hukuman mati”
Sin Ciau siangjin tetap tidak mau mengerti.
“Baiklah kalau begitu. Kita coba-coba saja” katanya, Biku ini lalu mengumpulkan
rekan-rekannya di sudut ruangan untuk mengajak mereka berunding. Dia berbicara

dengan nada berbisik: “Kita serang bagian tubuh yang berbahaya, Kita lihat, apakah
mereka akan memberikan perIawanan….”
“Kalau mereka sampai terluka, tidak jadi masalah,” kata Ci Goan-kay ikut
memberikan pendapatnya, “Lebih baik kita panas-panasi hati mereka agar memberikan
perlawanan..”
“Tapi, kita harus berhati-hati,” kata seorang lainnya.
“Baiklah Mari kita mulai” kata Sin Ciau siangjin akhirnya, Kali ini si biku tidak berayal
lagi, Selesai berseru, dia segera maju ke depan bersama kelima belas rekannya dan
menyerang orang-orang Go Eng-kim.
Para pengawal Peng Si ong berdiri tegap tanpa bergerak sedikit pun. Tangan mereka
lurus ke bawah seperti tidak bermaksud menghindarkan diri sama sekali. Hanya mata
mereka yang menatap mereka sudah terkurung.
Para hadirin merasa heran dan juga tercekat hatinya, bahkan ada yang berseru:
“Hati-hati”
Para jago yang diundang Kong Cin ong menggerak-gerakkan senjatanya ? sehingga
ada yang saling bentrok dan ada juga yang secara tidak langsung mengenai para
pengawal dari Inlam itu. Ada seorang yang terluka bagian bahunya dan seorang lagi
gerluka wajah nya. Darah mengalir dengan deras. Tampaknya luka kedua orang itu
tidak ringan, tapi mereka tetap berdiri tegak seperti posisi semula bahkan merintih pun
tidak
Kong Cin ong menyaksikan semuanya dengan seksama, Dia sadar apabila
pertandingan yang tidak seimbang ini dilanjutkan, pasti akan jatuh korban, sebab orangorang
Peng Si ong terang-terangan tidak mau mengadakan perlawanan Karena itu,
segera dia berseru:
“Bagus Berhentilah semuanya”
Perintah itu dilaksanakan Sin Ciau siangjin mengiakan kemudian bergerak mundur,
tetapi sebelumnya dia mengibas jatuh topi salah seorang pengawal itu, perbuatannya
diikuti oleh rekan rekannya yang lain. Setelah itu, dia tertawa dengan gembira.
Siau Po melihat di antara para pengawal itu, ada tujuh orang yang kepalanya plontos
sehingga tampak licin mengkilap, Dia langsung bertepuk tanga sambil berseru:
“Tetok, matamu tajam sekali. Lihat, kepala mereka benar-benar botak”
Belum habis kata-katanya, dia melihat wajah keenam belas pengawal itu berubah
demikian kelam. Mata mereka menyorotkan sinar kemaraha dia pun jadi urung
melanjutkan ucapannya.

Di samping itu, dia sendiri merasa perbuatan Sin Ciau siangjin dan rekan-rekannya
memang rada keterlaluan. Dia sendiri, kalau sedang bermain judi, tidak pernah
membuat lawannya kalah habis-habisan.
Karena itu ia segera bangun dari tempat duduknya dan menghampiri para pengawal
yang kesabarannya luar biasa itu, Dipungutnya topi yang dikibaskan Sin Ciau siangjin
tadi kemudian dipakaikannya kembali kepada pengawal yang tinggi kurus itu.
“Tuan, kau lihay sekali”
“Terima kasih” sahut pengawal itu singkat Siau Po kembali memungut semua topitopi
yang tergeletak di atas tanah dan menyerahkannya kembali kepada sisa lima belas
pengawal itu.
“Perbuatan mereka agak keterlaluan ya?” katanya sambil tertawa ramah.
Para pengawal itu memilih topi masing-masing lalu mengenakannya kembali
“Terima kasih” kata mereka serentak “Tidak pantas kami menerima kehormatan ini.”
Mereka berkata demikian karena yakin bocah tanggung ini berkedudukan tinggi,
Kalau tidak, mana mungkin bocah ini bisa duduk berdampingan dengan Kong Cin ong
dan Go Eng-him tuan muda mereka. Sekali lagi para pengawal itu mengucapkan terima
kasih sembari menjura.
Sebetulnya Siau Po tidak mempunyai kesan baik terhadap para pengawal Peng Si
ong, maupun puteranya, Go Eng-him. Alasannya berbuat demikian, hanya karena
merasa tindakan Sin Ciau siangjin dan yang lainnya memang rada keterlaluan.
“Ongya,” katanya kepada Kong Cin ong. “Bolehkah aku meminjam beberapa tail
perak?” Kong Cin ong tertawa.
“Saudara Kui, ambillah sesukamu” sahutnya ramah. “Apakah sepuluh laksa tail
cukup?”
“Tidak perlu begitu banyak,” kata Siau Po sambil tersenyum Dia lalu menoleh kepada
pelayan pangeran itu dan memerintahkan “Cepat kau pergi membeli topi yang harganya
paling mahal semakin cepat semakin baik”
Pelayan itu segera mengiakan dan kemudian mengundurkan diri. Melihat gerak-gerik
si thay-kam cilik, Go Eng-him segera memberi hormat.
“Terima kasih, kongkong” katanya, “Kongkong baik sekali. Kami merasa bersyukur,”
katanya.

Bagian 17
“Terima kasih apa? Kau sebenarnya anak kura kura” maki Siau Po dalam hati.
Kong Cin ong sendiri sebetulnya merasa tidak enak hati melihat Sin Ciau siangjin
dan yang lainnya menjatuhkan topi para pengawal dari Inlam. Dia khawatir Go Eng-him
bakal tersinggung, Tetapi untuk meminta maaf, dia merasa gengsi Biar bagaimana dia
lebih tua ketimbang anak muda itu dan kedudukannya setingkat dengan ayahnya.
Karena itu pula, dia senang melihat tindakan Siau Po yang sesuai dengan keinginan
hatinya, Dia menggunakan kesempatan yang baik itu untuk berkata.
“Mana orang? Cepat hadiahkan lima puluh tail perak kepada masing masing
pengawal Go sicu juga masing-masing lima puluh tail untuk orang-orang kita”
Hadiah untuk Sin Ciau siangjin dan rekan-rekannya memang disengaja agar mereka
tidak merasa dibedakan atau diperlakukan tidak adil, Tindakannya itu justru
mengundang sorak riuh dan tepuk tangan dari para hadirin.
To Lung juga ikut berdiri, dia menuangkan arak ke dalam cawan para hadirin,
kemudian dia berkata kepada para tamu tersebut.
“Sicu tianhe, Ayah sicu adalah seorang panglima yang sudah terkenal sekali,
sekarang barulah kita membuktikannya dengan mata kepala sendiri. Lihatlah para
pengawalmu itu, mereka begitu taat pada perintah sehingga tidak takut menghadapi
kematian Tidak heran setiap kali maju di medan perang, mereka selalu memperoleh
kemenangan. Nah, mari kita minum bersama untuk menghormati Peng Si ong yang
berjasa itu.
Go Eng-him bangkit sambil mengangkat cawannya.
“Aku mewakili ayahku minum arak ini. Terima kasih untuk kebaikan tuan-tuan
sekalian”
Para hadirin pun mengangkat cawannya dan mengeringkan isi nya. Setelah itu Go
Eng-him berkata kembali.
“Ayah berkedudukan di wilayah selatan dan keselamatannya terjamin, Semua ini
berkat rejeki besar junjungan kita Yang Mulia serta bantuan para menteri dalam istana,
Ayah hanya ingat untuk bersedia terhadap Sri Baginda, tidak berani dia bermalasmalasan.
jadi dalam hal ini, sebetulnya ayah tidak berjasa apa-apa.”
Tidak lama kemudian, pelayan yang diperintahkan oleh Siau Po telah muncul
kembali. Dia membawa enam belas topi yang paling mahal harganya dan
menyerahkannya kepada thay-kam cilik kita.
Siau Po menghadap Kong Cin ong.

“Ongya, barusan para suhu telah menjatuhkan topi para pengawal dari Inlam, Karena
itu sudah selayaknya Ongya menggantikan kerugian mereka dengan topi yang baru,”
katanya.
Kong Cin ong lantas tertawa.
“ltu sudah selayaknya Kau benar-benar pandai berpikir, saudara Kui Kau bisa
mengingat sampai ke sana” Kemudian dia menyuruh pelayannya untuk menyerahkan
topi-topi itu kepada para pengawal dari Inlam.
Orang-orang Go Eng-him menerima hadiah itu. Mereka menjura dalam-dalam serta
menyatakan terima kasih sekali lagi, Setelah itu mereka melipat topi itu dan
menyimpannya dalam saku, sedangkan kepala mereka masih tetap mengenakan topi
yang lama.
Kong Cin ong dan Siau Po saling pandang sekilas, Mereka mengerti apa sebabnya
para pengawal dari Inlam itu bersikap demikian. Tentu karena mereka tidak mau
berlaku lancang.
Perjamuan diteruskan sampai tiba saatnya pertunjukan dimulai Kong Cing ong
meminta tamunya memilih cerita yang disukai Go Eng-him menyebut kisah “Ban Cong
Hud” atau Kisah Jenderal Kwe Cu-gi mengadakan pesta ulang tahun di mana hadir
ketujuh putera dan delapan menantunya yang datang mengucapkan selamat
kepadanya, Jenderal itu hidup berbahagia, jasanya banyak sekali Pangkat-nya tinggi,
panjang umur serta mempunyai keluarga besar.
Selesai pertunjukan itu, Kong Cin ong menoleh kepada Siau Po.
“Saudara Kui, ayo Kau juga memilih cerita kesukaanku”
Siau Po tertawa dan berkata.
“Aku tidak bisa memilih, biar Ongya saja yang pilihkan Yang penting ceritanya seru
dan ada perkelahiannya”
“Kalau begitu kau pasti suka cerita mengenai kegagahan,” kata Kong Cin ong seraya
tertawa. . “Baiklah Aku pilihkan kisah seorang pemuda yang mengalahkan seorang tua,
seperti waktu kau membekuk Go Pay Kisah Pek Sui-tha”
Setelah kedua kisah yang diminta selesai dipertunjukkan tukang cerita menyambung
lagi sebuah kisah yang berjudul “Yu Wan Keng-Bong” yang mengisahkan seorang
pemuda yang berjalan-jalan di taman bunga di mana dia tertidur dan tersentak bangun
oleh mimpinya.
Siau Po tidak sabaran, Karena perannya kebanyakan menyanyi dan berpantun, hal
ini tidak disukainya, Kemudian dia berdiri dan menuju paseban belakang di mana dia
melihat ada beberapa meja yang dipenuhi oleh orang-orang yang sedang berjudi. Ada

yang main dadu, juga ada yang main kartu ceki. Dia merasa tertarik sayangnya dia tidak
membawa dadunya yang istimewa.
Tapi tidak apa-apa, karena dia membawa uang dalam jumlah yang cukup banyak,
Dia melihat di meja yang satunya sang bandar sudah menang banyak, Uang di
depannya sudah bertumpuk tinggi.
“Eh, Kui kongkong” sapa sang bandar sambil tertawa. “Apakah kongkong berminat
ikut mengambil bagian dalam permainan ini?”
“Baik” sahut Siau Po tanpa bimbang lagi.
Saat itu juga, dia melihat ada seorang yang bertubuh kurus tinggi, yakni pengawal Go
Eng-him yang sabar luar biasa itu. Dia menaruh kesan baik terhadap orang yang satu
ini. Dia hanya menonton permainan dari samping. Siau Po segera melambai kepadanya
dan menyapanya.
Pengawal itu segera menghampiri si bocah dan memberi hormat dengan menjura
daIam-dalam.
“Entah ada perintah apa, Kui kongkong?” tanyanya ramah.
Siau Po tertawa.
“Di meja judi tidak ada perbedaan derajat, baik ayah dan anak sama saja, karena itu
janganlah kau bersikap sungkan, Toako, siapakah she dan namamu yang mulia?”
Tadi ketika ditanya oleh Sin Ciau siangjin, pengawal ini tidak memberikan jawaban,
Tapi keramahan Siau Po membuat perasaannya jadi tidak enak.
“Hamba she Yo bernama Ek-ci”
“Oh, nama yang bagus sekali Nama yang bagus sekali” kata Siau Po yang
sebetulnya buta huruf dan tidak tahu apa arti nama itu. “Banyak orang gagah yang
berasal dari keluarga Yo. Umpamanya Yo Leng-kong, Yo Lak-say, Yo Cong-po, Yo
kong Nah, Yo toako, mari kita main bersama-sama”
Senang sekali hati Ek-ci mendengar para leluhur yang bermarga sama dengannya
mendapat pujian tinggi dari thay-kam cilik ini. Lekas-lekas dia menyahut.
“Maaf, kongkong. Hamba tidak bisa berjudi.”
“Tidak bisa berjudi?” tanya Siau Po. “Tidak apa-apa jangan takut. Aku akan
mengajarimu Keluarkanlah uang goanpo milikmu yang besar itu.”

Ek-ci menurut. Dia mengeluarkan uang goanpo hadiah Kong Cin ong. Siau Po sendiri
mengeluarkan selembar cek kemudian meletakkannya di atas meja, Sembari tertawa
dia berkata:
“Aku akan berkongsi dengan Yo toako, jumlah modalnya seratus tail.”
Bandar itu pun ikut tertawa. “Bagus Makin besar jumlahnya, makin baik” sahutnya
sambil melempar dadu. Setelah itu giliran Siau Po, dia mendapat angka titik tujuh, Dan
demikian seratus tail itu melayang ke tangan bandar karena dia kalah.
“Aku pasang lagi seratus tail” katanya kemudian. Kali ini dialah yang mcnang,
selanjutnya permainan seri, Tidak ada yang kalah atau pun

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s