“ PANGERAN MENJANGAN” – “ LU DING JI “ 21

si nona malah mengatupkannya erat-erat, Si bocah
memang jahil, dia sengaja mengoleskan ham yang berminyak itu ke bibir si nona kecil
itu.
“Makanlah Setelah makan, nanti aku akan membuka ikatanmu” katanya membujuk.
Memang nona cilik itu baru bisa berbicara, Anggota tubuh lainnya belum bisa
bergerak karena belum terbebas dari totokan, Nona itu tidak mengatakan apa-apa,
hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.

Siau Po menaruh potongan ham kembali ke piring, dia mengangkat mangkok sup
yang isinya masih mengepul saking panasnya.
“Kau lihat sup ini masih panas sekali Kalau kau makan, aku menyuapimu sesendok
demi sesendok, tapi kalau kau tidak sudi, hm” katanya kesal.
Tanpa menanti jawaban, dia memencet hidung si nona cilik kemudian menyendok
kuah sup dan menyodorkannya ke mulut si nona, Dalam keadaa terpaksa, mau tidak
mau si nona membuka mulutnya.
“Kau lihat, bagaimana panasnya sup ini Perut mu bisa melepuh karenanya” kata
Siau Po sambi menyuapi sup ke mulut si nona, Kemudian di melepaskan pencetannya
di hidung agar nona itu dapat bernafas.
Setelah menarik nafas panjang beberapa kali nona itu menangis lagi.
“Kau… kau telah menggores wajahku” katany jengkel “Aku tidak mau hidup lagi
Wajahku jadi jelek…”
“Oh, kiranya kau menyangka aku benar-benar mengukir wajahmu dengan pisau”
pikir Siau Po Kemudian dia tertawa lebar dan berkata, “Biarpun wajahmu telah diukir,
tapi gambar kura-kura itu mungil dan indah sekali Kalau kau berjalan depan umum, aku
yakin setiap orang akan menatapmu dengan terpesona dan tidak henti-hentinya
memujimu”
“Mereka menatapku seperti makhluk aneh dan bersorak karena wajahku yang jelek”
teriak si nona sembari menangis terus, “Aku lebih suka mati saja….”
“Aih Rupanya kau tidak suka gambar kura-kura yang demikian mungil,” kata Siau Po
menggoda, “Kalau begitu, buat apa tadinya aku mengasah otak capek-capek, Lebih
baik aku mengukir sekuntum bunga saja.”
“Mengukir sekuntum bunga? Bunga apa? Aku toh bukannya kayu” sahut si nona
kesal
“Bagaimana bukan kayu kalau margamu saja Bhok?” sepertinya telah terangkan
sebelumnya bahwa lafal huruf Bhok sama artinya dengan kayu.
“Memang benar aku she Bhok, tapi bukan Bhok” kayu” sahut si nona membantah
“Marga Bhok keluarga kami ada tiga titik air di sampingnya.”
Siau Po buta huruf, Dia tidak tahu bagaimana bentuk huruf Bhok, tapi mendengar
marga nona itu ada tiga titik air di sampingnya, timbul lagi rasa isengnya.
“Kalau kayu di rendam dalam air, lama-lama kan akan menjadi kayu busuk?”

Nona cilik itu menangis lagi, Dia benar-benar kewalahan adu mulut dengan si thaykam
gadungan,
“Aih Kenapa harus menangis? Lebih baik kau panggil aku kakak yang baik sebanyak
tiga kail Nanti aku akan menghapus kura-kura di wajahmu sehinga bersih kembali dan
dijamin tidak ada bekasnya sedikit pun”
Wajah si nona menjadi marah karena jengahnya.
“Mana mungkin bisa dihapus?” sahutnya lirih, “Kalau kau menghapusnya lagi, bisa
jadi apa wajahku ini?”
“Kau jangan khawatir..” kata Siau Po senang karena kata-katanya mulai termakan
oleh gadis cilik itu. “Aku mempunyai obat penghapus yang mujarab, kalau bagi seorang
dari golongan tingkat atas, bekas luka kura-kura seperti wajahmu ini pasti sulit
dihapuskan lagi, tapi bagi budak kelas sembilan seperti kau ini, tidak menjadi
persoalan”
“Aku tidak percaya kata-katamu. Kau memang manusia paling jahat” sahut si nona.
Siau Po tidak melayaninya. “Ayo, kau,mau panggil aku kakak yang baik atau tidak?”
Wajah si nona semakin merah, dia merasa malu namun kepalanya menggeleng.
Siau Po gadis cilik itu merasa jengah, Dia tertarik melihat tampang si gadis yang
lugu. Semakin suka dia menggodanya.
“Kura-kura kecil itu baru diukir, masih mudah menghapusnya,” katanya kembali.
“Tapi kalau dibiarkan terlalu lama, pasti sudah meresap, Apala kalau ekornya sudah
tumbuh, Wah Kau pasti menyesal karena sudah terlambat”
Para gadis umumnya menyukai kecantikan. Tidak terkecuali si nona bangsawan dari
keluarga Bhok, Meskipun dia merasa bingung dan ragu-ragu, tapi ia memperhatikan
Siau Po lekat-lekat.
Agaknya dia mulai termakan kata-katanya thay-kam gadungan itu. Dia juga merasa
takut kalau kura-kura di wajahnya benar-benar tumbuh ekor.
“Apa… kau tidak berbohong?” tanyanya kemudian.
“Membohongimu?” kata Siau Po dengan tampang serius, “Untuk apa? Malah
semakin cepat kau memanggilku kakak yang baik, aku akan segera menghapus kurakura
di wajahmu itu agar terlihat cantik kembali seperti sediakala, Nah, sebaiknya kau
cepat-cepat memanggil aku kakak yang baik”
Tapi… kalau… kalau.,, kau menghapusnya kurang sempurna. Dengan apa kau akan
mengganti kerugianku?” tanya si nona cilik sangsi.

“Jangan khawatir Aku akan menggantimu dua kali lipat” sahut si bocah nakal “Betul
Aku akan memanggilmu adik yang baik sampai enam kali berturut-turut”
Wajah si nona kembali merah padam Dia merasa malu sekali.
“Ah, kau memang busuk Aku tidak mau…”
“Aih Kau masih saja sangsi Sayang sekali..”
Nona itu memperhatikan si thay-kam cilik Iekat-lekat, sedangkan Siau Po juga
sedang menatapnya.
“Bagaimana kalau kita atur begini saja. sekarang kau memanggil aku satu kali dulu
kakak
yang baik, Setelah selesai menghapus kura-kura di wajahmu itu, kau memanggil lagi
satu kali. Berarti keseluruhannya sudah dua kali, Pada waktu itu aku akan mengambil
cermin untuk kau lihat sendiri hasilnya, Kalau kau sudah merasa puas dengan hasil
kerja ku, kau boleh memanggil aku kakak yang baik sekali lagi, Mungkin pada waktu itu,
kau akan kegirangan setengah mati sehingga kau akan memanggil aku kakak yang baik
sampai belasan kali”
“Tidak Tidak” sahut si nona cilik, “Kau suda bilang tiga kali, mana boleh ditambah
lagi?”
Siau Po tertawa.
“Baiklah Tiga kali, ya tiga kali” katanya, “Nah, cepatlah kau memanggil aku
sekarang”
Si nona menatap Siau Po. Bibirnya bergerak gerak namun tidak ada sedikitpun suara
yang keluar.
“Ayo” desak si bocah nakal, “Panggillah aku kakak yang baik Apa sih susahnya?
Aku toh tida menyuruh kau memanggil aku, paman yang baik atau paman yang tua.
Cepat Kalau kau masih berlama-lama, nanti harganya akan kunaikkan lagi”
Nona itu kena digertaknya, Dia merasa takut.
“Baiklah sekarang aku akan memanggil kau satu kali terlebih dahulu,” katanya
kemudian. “Setelah selesai kau memperbaiki wajahku, nanti aku akan memanggil dua
kali lagi”
Siau Po pura-pura menarik nafas panjang.
“Kau benar-benar pandai menawar” katanya, “Baiklah, Aku terima tawaranmu itu,
Aku adalah seorang pedagang yang baik, bayar di muka atau belakangan sama saja”

Nona cilik itu memejamkan matanya.
“Kakak,.,” terdengar suaranya yang merdu dan lirih, tapi dia tidak melanjutkan katakatanya.
wajahnya semakin merah saking jengahnya.
“Kenapa kau memanggilnya setengah jalan?” tanya Siau Po menggoda, “Mana
sambungannya?”
Wajah si nona semakin merah.
“Aku pasti memanggilnya,” sahutnya, “Aku tidak akan membohongimu….”
Siau Po tertawa.
“Yang… baik” kata si nona melanjutkan panggilannya.
“Bagus” seru Siau Po. “Kau tidak mengelabui aku. sekarang juga aku akan
memperbaiki wajahmu Akan kulakukan dengan mengerahkan segenap kemampuanku
agar kau tambah manis”
“Sudahlah” kata si nona. “Jangan mengoceh yang bukan-bukan lagi, Bukankah aku
sudah memanggilmu kakak?”
Kembali Siau Po tertawa, Dia langsung membuka kotak obat peninggalan Hay
kongkong, Di dalamnya terdapat banyak botol-botol kecil, Satu per satu botol-botol itu
dikeluarkannya kemudian dituangkan isinya sedikit demi sedikit Lagaknya seperti
seorang tabib yang sedang meracik obat.
Si nona memperhatikan dengan diam-diam Melihat begitu banyaknya jenis obat yang
dicampurkan, timbullah keyakinannya,
Siau Po berhenti meracik obat. Dia mengambi beberapa potong kue yang terbuat dari
bahan kacang hijau, kacang kedelai dan lain-lainnya. Setela dicuci bersih sehingga
tepung bagian luarnya tida ada lagi, dia menumbuk kue-kue itu untuk dicampur dengan
obat-obatan tadi. Dia juga menambahka gula madu serta diludahinya racikan obat itu
sebanyak dua kali tanpa sepengetahuan si nona.
“Nah, obatnya sudah selesai” katanya kemudian, inilah obat yang mujarab sekali,
Tapi, mungkin kau belum mempercayainya sepenuhnya, Akan kubuktikan nanti,
Bukankah kau ingin wajahmu pulih kembali seperti sediakala?”
Siau Po mengambil topinya yang dikelilingi empat butir mutiara, ia melepaskan
mutiara-mu tiara itu kemudian diletakkan dalam telapak kirinya.
“Lihat ini” katanya, “Apa pendapatmu tentang mutiara ini?”

“Bagus” sahut si nona tanpa ragu sedikit pun “Ukurannya sama besar, jarang ada
mutiara yang ukurannya persis sama”
Gembira sekali hati thay-kam gadungan itu mendengar ucapan si nona, itu
merupakan pujian baginya.
“Mutiara ini kubeli kemarin dengan harga dua ribu sembilan ratus tail perak,” katanya
kemudian, “Mahal, bukan?”
Sengaja Siau Po meninggikan harga mutiara itu sebanyak seribu tail, Padahal dia
membelinya dengan harga seribu sembilan ratus tail, Dimasukkannya keempat butir
mutiara itu ke dalam lumpang dan ditumbuk sehingga hancur.
“Aih” kata si nona menyesal, “Mengapa mutiara seindah itu kau tumbuk?”
Puas sekali Siau Po melihat si nona yang tercengang. itu memang yang
diharapkannya, Dia tidak menjawab tapi terus menumbuk keempat butir mutiara itu
sampai halus sekali.
“Kalau aku hanya memulihkan wajahmu, tak akan terbukti bahwa aku Wi…” Tiba-tiba
dia menghentikan kata-katanya karena mengingat sudah kelepasan bicara, Cepat-cepat
dia mengalihkannya dengan berkata, “Takkan terbukti kelihayan si kongkong Siau Kui
cu Aku akan membuat kau sepuluh kali lipat lebih cantik dari sebelumnya, Dan
panggilanmu kakak yang baik sebanyak sepuluh kali lipat akan membuat hatiku puas”
“Eh, kenapa sepuluh kali?” tanya si nona, Tanpa disadari, dia ikut terhanyut
kejenakaan si bocah dan suka melayaninya berbincang-bincang, “Tadi kau sudah
mengatakan tiga kali”
Siau Po tidak menjawab, Dia menyendoki mutiara yang sudah halus itu dengan
racikan obatnya.
Si nona merasa heran, Dia memperhatikan dengan seseorang matanya yang indah
dibelalakkan lebar-lebar. Biar bagaimana, dia menyayangkan ke empat butir mutiara itu.
Tapi, di samping itu, di semakin yakin dengan khasiat obat buatan Siau Po
“Meskipun keempat butir mutiara ini sanga mahal, tapi nilainya tidak seimbang
dengan kemanjuran obatku ini. wajahmu sebenarnya tidak cantik. Kau hanya tergolong
kelas delapan atau mungki malah sembilan, tetapi setelah menggunakan obat ku ini,
peringkatmu akan naik menjadi sedikitnya kelas dua. Malah ada kemungkinan kau akan
menjadi nona tercantik seluruh antero dunia ini Mempesona bagai bulan purnama”
“Bagai bulan purnama?” tanya si nona.
“lya Kau akan menjadi luar biasa cantiknya”

Selesai berkata, Siau Po langsung mengamb obat racikannya kemudian diolesi ke
seluruh waja si nona berulang kali.
Nona bangsawan itu diam saja. Dia membiarkan Siau Po memoles wajahnya. Dalam
sekejap mata wajahnya sudah tertutup oleh racikan obat istimewa Siau Po. Bahkan
telinganya juga diolesi oleh Siau Po. Namun satu hal yang membuatnya gembira obat
itu tidak bau, malah menyiarkan keharuman.
Siau Po tertawa melihat gadis cilik itu ke dikelabuinya, Diam-diam dia berkata dalam
hati.
“Masih untung obat ini tidak kucampurkan dengan air kencing, Soalnya aku merasa
malu sendiri. Setidaknya aku masih menghargai leluhurmu, paduka Bhok Eng yang
mulia, Dia adalah pembangun negara dan aku Siau Po sangat menghormatinya”
Selesai memoles wajah nona itu. Siau Po mencuci tangannya sampai bersih.
“Tunggu sampai obat ini kering, Nanti aku akan pakaikan bedak yang istimewa Kau
harus memakai obat ini sebanyak tiga kali, Mencucinya harus tiga kali juga, setelah itu
wajahmu akan menjadi cantik seperti bulan purnama”
Si nona merasa heran juga.
“Mengapa obatnya harus dipakai sampai tiga kali?”
“Sebenarnya tiga kali masih terlalu sedikit Un-tuk membuat kecap saja, kacang
kedelainya harus dijemur sampai sembilan kali, Merebus daging anjing pun harus tiga
kali sampai benar-benar empuk dan gurih”
“Masa kau samakan wajahku dengan kacang kedelai dan daging anjing?”
“Pokoknya kalau mau wajahmu pulih kembali atau tidak?” tanya Siau Po kesal. Dia
mengambil sepotong ham kemudian disodorkannya ke depan mulut si nona.
Si nona tidak berani menolak lagi. Pertama karena dia takut akan digoda lagi oleh
Siau Po, kedua dia juga melihat bocah itu tidak menyayangkan keempat butir
mutiaranya yang mahal untuk racikan obat pemulih wajahnya. Karena itu di membuka
mulutnya dan mengunyah daging ham itu.
“Adik manis, ini baru anak pintar” puji Siau Po gembira.
“A.,.ku bukan adikmu yang manis?”
“Kalau begitu, kau adalah ciciku yang baik” goda Siau Po.
“Bukan juga” sahut si nona cilik.

“Kalau begitu, kau adalah ibuku yang kusayangi” kata Siau Po.
Si nona cilik jadi geli sehingga tertawa. “Mana… bisa aku menjadi ibu….”
Sejak dibawa oleh si Cian sampai sekarang, baru sekali ini Siau Po mendengar suara
tawa si non cilik itu. Sayang wajahnya tertutup racikan obat sehingga tidak dapat dilihat
bagaimana bentuk bibirnya yang sedang tersenyum, hanya suaranya yang merdu
seperti keliningan di pagi hari.
Siau Po menyebutnya ibu yang kusayangi, sebetulnya dia mengejek nona itu sebagai
perempuan pelesiran. Tapi mendengar suara tawanya yang begitu polos Siau Po
merasa agak menyesal juga. Dia berpikir dalam hati, “Aih Masa bodoh Jadi pelacur
juga bukan tidak baik. Mungkin uang yang dihasilkan ibu jauh lebih banyak dari ibunya
yang kawin dengan segala manusia kayu”
Dia mengambil lagi beberapa potong ham lalu disuapkannya lagi ke mulut nona cilik
itu.
“Kalau kau berjanji tidak melarikan diri, aku akan membebaskan totokan di
tanganmu,” katanya kemudian.
“Untuk apa aku melarikan diri? Lagipula kau sudah mengukir seekor kura-kura di
wajahku, sebelum pulih kembali aku tidak berani keluar di jalan raya”
Diam-diam Siau Po berpikir dalam hatinya.
“Kalau nanti kau tahu di wajahmu tidak ada ukiran kura-kura, tentu kau akan
melarikan diri, sedangkan si Cian tidak mengatakan kapan dia akan menjemputmu Aku
menyembunyikan seorang nona asing di dalam istana, Kalau sampai ketahuan,
celakalah aku Apa yang harus kulakukan?”
Ketika pikirannya melayang-layang, tiba-tiba terdengar ketukan di pintu, Kemudian
ada seseorang yang berkata.
“Kui kongkong, hambamu adalah pesuruh dari Kong cin-ong Hamba datang karena
ada urusan penting”
“Baik” sahut Siau Po. Kemudian dia berkata kepada si nona cilik dengan nada
direndahkan, “Ada orang jangan bersuara Tahukah kau tempat apa ini?”
Si nona menggelengkan kepalanya.
“Kalau aku beritahukan kepadamu, mungkin kau bisa melompat bangun saking
terkejutnya” kata Siau Po. “Di sini, setiap orang berniat mencelakakan dirimu, Hanya
aku seorang yang iba melihat nasibmu, Karenanya aku bersedia menampung kau di
sini, tapi kalau kau sampai kepergok, hm…” Siau Po mengasah otak memikirkan katakata
yang bisa menggertak si nona cilik ini. Sesaat kemudian dia baru berkata lagi.

“Kalau kau sampai kepergok, kau akan ditelanjangi, Setelah itu kau akan dirangket
sehingga kau merasa sakit yang tidak terkirakan”
Si nona cilik benar-benar ketakutan. Wajahnya pucat pasi seketika, Diam-diam Siau
Po merasa senang, Kemudian dia membuka pintu dan berjalan keluar. Orang itu juga
thay-kam, Usianya kuran lebih tiga puluh tahun. Dia segera berkata.
“Ongya kami mengatakan bahwa sudah lama beliau tidak bertemu dengan
kongkong, Ong-ya merasa rindu sekali, Karena itu, sengaja hari ini ong-ya mengundang
kongkong datang untuk menonton pertunjukan sekaligus minum arak.” Orang itu
membungkukkan tubuhnya memberi hormat.
Mendengar dia diundang untuk menonton pertunjukan, hati Siau Po senang sekali.
Tetapi mengingat bahwa di kamarnya tersembunyi seorang dari keluarga Bhok, hatinya
menjadi ragu, Bagaimana kalau jejak nona itu ketahuan?
Melihat Siau Po agak bimbang, thay-kam itu berkata kembali.
“Ongya berpesan bahwa bagaimana pun kongkong harus berhasil diundang datang,
karena pertunjukan hari ini ramai sekali, Juga ada berbagai jenis perjudian”
Hati Siau Po semakin tertarik mendengar adanya perjudian Sejak berkenalan dengan
Sri Baginda, dia tidak pernah berjudi lagi dengan kawan-kawannya. Mereka tidak berani
datang ke istana, Dan sekarang merupakan kesempatan baik baginya untuk meraih
keuntungan. Saking gembiranya dia jadi lupa tentang si nona cilik yang disembunyikan
dalam kamarnya.
“Baiklah” sahutnya kemudian “Tunggu sebentar Nanti aku akan ikut denganmu”
Bagian 16
Siau Po kembali ke dalam kamar. SeteIah itu dia mengangkat tubuh si nona untuk
direbahkan di atas tempat tidur. Dia mengikat kaki dan tangan gadis cilik itu kemudian
ditutupnya dengan sehelai selimut. Nona itu menatapnya dengan perasaan bingung,
Siau Po berkata.
“Aku ada urusan sedikit Karena itu aku harus keluar sebentar saja aku sudah kembali
lagi”
Nona itu tidak memberikan komentar. Matanya memperhatikan thay-kam gadungan
itu lekat-lekat, Siau Po segera menambahkan, “Mutiaranya masih kurang, Aku harus
membelinya lagi, Dengan demikian aku bisa memakaikannya padamu dan kau akan
menjadi sepuluh kail lipat lebih cantik dari sebelumnya”

“Jangan… pergi,” kata si nona cilik yang percaya dengan kata-katanya Siau Po.
“Harganya mahal sekali”
“Tidak apa-apa” sahut Siau Po. “Aku mempunyai banyak uang, Aku ingin membuat
kau menjadi luar biasa cantik sehingga rembulan maupun bunga di taman merasa malu
meihatmu. Apa artinya menghamburkan uang beberapa ribu tail?”
“Aku… di sini sendirian Aku… takut” kata si nona pula.
Sebenarnya Siau Po merasa iba melihat tampang si nona cilik yang benar-benar
ketakutan. Hampir saja dia membatalkan kepergiannya, Tapi membayangkan perjudian
yang digemarinya, terpaksa dia mengeraskan hati, Dia segera menyuapkan ikan ke
dalam mulut nona itu.
“Kau makanlah” katanya. “Hati-hati jangan sampai berjatuhan”
Si nona cilik ingin berbicara, tapi suaranya tidak terdengar jelas karena tersumpal
ikan.
“Kau… ja…ngan… pergi”
Siau Po tetap meninggalkan si nona cilik dalam kamarnya, Dia membawa sejumlah
uang kemudian mengunci pintu kamarnya dari luar dan mengikuti thay-kam tadi.
Di depan istana Kong cin ong sudah berbaris dua deretan siwi, pasukan pengawal si
raja muda. seragamnya rapi serta mewah, selanjutnya ada golok, juga pedang,
Tampang mereka gagah, Tampaknya barisan itu lebih rapi daripada ketika dia datang
untuk pertama kalinya. Kemungkinan penjagaan lebih ketat setelah penyerbuan orangoran
dari Tian-te hwe.
Baru Siau Po melangkah di ambang pintu, Kong Cin ong sendiri sudah keluar
menyambutnya. Dia langsung merangkul Siau Po berkata.
“Oh, saudara Kui. Sudah beberapa hari kita tidak bertemu, Kau tampak semakin
tinggi dan tampan”
“Aih Ongya hanya memujiku saja” sahut Siau Po. “Bagaimana kabar Ongya
sendiri?”
“Terima kasih atas perhatianmu Aku baik-baik saja,” sahut si pangeran tertawa lebar,
“Kau jarang datang ke rumahku, Kalau sering melihat kau, hatiku tentu senang sekali,
Tapi jarang melihat saudara, hatiku menjadi gundah”
Siau Po tertawa. “itu tandanya ong-ya mengharap aku dapat sering-sering kemari,
sebetulnya aku tidak berani mengharapkan hal ini”

“Nah, kau harus ingat janjimu sendiri, Sebetulnya sudah beberapa kali aku meminjam
saudara dari Sri Baginda agar kita dapat bersenang-senang selama beberapa hari. Tapi
aku khawatir Sri Baginda tidak akan mengijinkannya walaupun untuk sehari saja.”
Selesai berkata dia menggandeng Siau Po dan mendampinginya masuk ke ruangan
dalam.
Hati Siau Po senang sekali, Meskipun dalam istana dia juga sering dihormati, tapi
biar bagaimana kedudukannya tetap seorang thay-kam, sedangkan di sini dia dianggap
saudara oleh seorang pangeran, bayangkan saja
Sesampainya di ruangan dalam, dia disambut lagi oleh dua orang. Yang pertama
adalah To Lung, kepala siwi yang baru diangkat menggantikan orangnya Go Pay yang
sudah digeser dan ditangkap, Yang kedua adalah saudara angkatnya Sou Ngo-tu.
Orang itu langsung melompat bangun dari tempat duduknya dan memegang tangan
Siau Po erat-erat.
“Mendengar ong-ya mengundangmu kemari, aku juga langsung datang, Dengan
demikian kita bisa bersenang-senang sama-sama” katanya sambil tertawa terbahakbahak.
Berempat mereka melangkah ke dalam ruangan Segera terdengar musik
penyambutan Siau Po merasa bangga sekali. Dia belum pernah mendapat
penyambutan yang demikian meriah, Untuk sesaat dia menjadi gugup. sesampainya di
ruangan dalam, sudah ada dua puluhan perwira dan pembesar yang sedang
menantikannya.
Tepat pada saat itu, seorang thay-kam melangkah masuk dengan tergesa-gesa.
“Ong-ya, putra Peng si ong tiba” katanya melaporkan.
Kongcin ong tertawa lebar.
“Bagus Saudara Kui, kau tunggu sebentar di sini, Aku akan menyambut kedatangan
tamu”
“Putra Pengsi ong?” pikir Siau Po dalam hatinya, “Bukankah dia putera Go Sam-kui?
Untuk apa dia datang ke sini?”
So Ngu-tu segera berbisik di telinga Siau Po.
“Hari ini kau akan mendapat keuntungan besar”
Siau Po tertegun.
“Keuntungan besar apa?”

“Go-Sam-kui menitahkan puteranya datang ke Kotaraja untuk mengantarkan upeti.
Karena itu, semua pembesar dan para menteri pasti akan mendapat bagian” bisik So
Ngu-tu kembali.
“0h. puteranya Go Sam-kui datang ke kotaraja untuk mengantar upeti? Tapi, aku kan
bukan menteri atau pembesar negeri?” tanya Siau Po.
“Kau terhitung seorang pembesar negeri dalam istana” kata So Ngu-tu. “Kau malah
lebih penting daripada para menteri. Puteranya Go Sam-kui itu, namanya Go Eng-him,
otaknya cerdas sekali dan banyak urusan yang diketahui” So Ngu-tu menghentikan
kata-katanya sejenak.
Dia kemudian berbisik lebih perlahan lagi, “Nanti kalau Go Eng-him memberikan
hadiah kepadamu, biar nilainya besar atau kecil, jangan kau perlihatkan tampang
gembira. Kau boleh berbicara dengannya secara datar saja. Begini: Oh, Sicu datang
dari tempat yang jauh, lentunya letih dalam perjalanan, bukan?” Kalau dia melihat
tampangmu senang, selanjutnya pasti tidak ada apa apa lagi, sebaliknya kalau sikapmu
dingin, dia pasti menganggap hadiahnya terlalu sedikit dan esok pasti dia akan
menambahkan lebih banyak lagi”
Siau Po tertawa. “Kiranya ajaran toako ini ajaran memeras orang” katanya.
So Ngu-tu juga tertawa. “Bodoh namanya kalau tidak bisa menggenggam
kesempatan baik-baik. Bukankah ayahnya menguasai wilayah Inlam, Kui ciu dan lainlainnya
juga? Coba bayangkan berapa banyak uang rakyat yang sudah masuk ke
kantong orang itu Kalau kita tidak membantunya menghamburkan ke satu kita tidak
menghormati ayahnya, Kedua, kita tidak menghargai jerih payah rakyat Inlam dan Kui
ciu serta sekitarnya”
Siau Po tertawa geli mendengar kata-katanya.
“Kau benar” sahutnya kemudian.
Tepat pada saat itu, Kong cin ong sudah kembali lagi bersama Go Eng him.
Puteranya Peng si ong itu berusia sekitar dua puluh lima tahunan Tampangnya
gagah dan wajahnya tampan, Langkahnya tegap, Sungguh pantas menjadi putera
seorang jenderal besar.
Mula-mula Kong cin ong menarik tangan Siaui Po kemudian berkata kepada
tamunya.
“Siau tianhe, inilah Kui kongkong, kongkong yang paling disayangi oleh Sri Baginda,
Kelika terjadinya penangkapan atas diri Go Pay di kamar tulis raja, jasa kongkong inilah
yang paiing besar”

Siau tianhe adalah panggilan untuk pangeran muda, Kong cin ong adalah seorang
pangeran, tapi Go Sam-kui adalah seorang panglima besar yang dianugerahi jabatan
sebagai raja muda di beberapa propinsi. Karena itu puteranya harus dipanggil Tianhe.
Go Sam-Kui mempunyai banyak mata-mata di kotaraja. Sedikit gerakan saja yang
terjadi di kota Peking, pasti segera ada yang melaporkan kepadanya. Karena itu, baik
dia sendiri ataupun puteranya, Go Eng-him juga sudah mendengar prihal tertangkapnya
Go Pay oleh beberapa orang thay-kam cilik.
Dan ada satu di antaranya yakni Siau Kui cu yang mempunyai jasa besar, itulah
sebabnya, sebelum datang ke Kotaraja sebagai utusan, kedua ayah dan anak itu sudah
merundingkan tindakan apa saja yang harus dilakukan Go Eng-him selama di Kotaraja.
Biar bagaimana, Go Sam-kui merasa segan terhadap kaisar Kong Hi yang meskipun
masih muda namun cerdas sekali itu. otomatis dia ingin menggunakan segala macam
cara untuk mempertahankan kedudukannya yang tinggi.
Karena itu pula, Go Sam-kui mengirim puteranya ke kotaraja untuk menyelidiki
gerak-gerik kaisar Kong Hi dan kaki tangannya, Eng Him harus mengetahui segala
sesuatu yang dapat memperkokoh kedudukan mereka.
Bukan main senangnya hati Go Eng-him yang datang berkunjung ke Kong cin ong
dan mendapat kesempatan bertemu dengan kongkong kesayangan Sri Baginda itu, Dia
langsung mengulurkan tangannya dan menjabat tangan Siau Po erat-erat dan berkata:
“Kui kongkong, aku… yang rendah selama di Inlam sudah sering mendengar nama
besarmu, Kami ayah dan anak sungguh mengagumi Sri Baginda dan kongkong, Usia
kongkong masih muda sekali, tapi sudah sanggup menanam jasa besar bagi negara.
Karena itu ayahku juga menitipkan sedikit hadiah bagi kongkong, Tapi ada peraturan
bahwa pembesar di luar kota dilarang berhubungan erat dengan menteri-menteri
ataupun orang penting istana, Meskipun ada niat dalam hati, tapi aku tidak berani
mengajukan permohonan tersebut, maka sungguh kebetulan kita dapat bertemu di
istana Kongcin ini, Aku benar-benar gembira sekali”
Puas hati Siau Po mendengar kata-kata pangeran itu. Ternyata dia pandai bicara,
Dia juga merasa bangga mengetahui Go Sam-kui yang ada pada jarak ribuan li juga
telah mendengar namanya, tetapi pada dasarnya Siau Po memang cerdik, apalagi dia
sudah mendapat petunjuk dari So-Ngu-tu. Karena itu dia sengaja bersikap tawar.
“Kami yang menjadi budak hanya melakuka perintah Sri Baginda, Yang penting,
pertama, jangan takut menderita, Kedua, jangan takut mati, Mana ada kebiasaan atau
jasa apa-apa? Siau ong-ya hanya memuji saja”
Di samping itu, diam-diam di berpikir dalam hatinya, “So toako benar-benar dapat
menyimak urusan ibarat dewa. Begitu sampai, kunyuk kecil itu langsung saja menyebut
urusan hadiah”

Go Eng-him adalah tamu dari jauh, Dia juga putera sulung Peng si ong. Karenanya
Kongcin ong mempersilahkan dia duduk di kursi pertama, sedangkan Siau Po
dipersilahkan menduduki kursi kedua.
Di dalam ruangan itu hadir banyak perwira serta pembesar lainnya, Meskipun Siau
Po brandal, tapi dia tidak berani duduk di kursi kedua itu. Berulang kali dia menolak
dengan halus, Kongcin ong tertawa lebar “Saudara Kui, kau adalah tangan kanan Sri
Baginda, Semua orang menghormatimu juga berarti menunjukkan kesetiaan kepada
Raja kita, Harap kau tidak sungkan-sungkan lagi”
Selesai berkata dia menekan bahu bocah itu dan memaksanya duduk, Setelah itu
para perwira lainnya juga ikut mengambil tempat duduk masing-masing, sedangkan So
Ngu-tu tentu memilih duduk di samping Siau Po.
Diam-diam Siau Po berpikir dalam hati. “Neneknya Ketika di Li cun-wan, sering ibu
menyuruh aku berdiri di belakangnya dan secara mengumpat menyodorkan makanan
kepadaku, itu saja aku sering diusir oleh para putera hartawan yang lagaknya setinggi
langit. Pada waktu itu, aku hanya berpikir kapan bisa menjadi orang kaya agar para
putera hartawan dan hidung belang itu menjadi iri melihat aku dilayani oleh seluruh
wanita penghibur dari Li Cun-wan, Tidak tahunya hari ini aku duduk di sini ditemani
Kongci ong, pangeran serta menteri dan pembesar negeri, sayangnya para kutu busuk
di Yang-ciu tidak melihat pamorku hari ini”
Para hadirin duduk menikmati arak, Ke enam belas pengawal yang mengiringi Go
Eng-him berbaris di depan jendela, mata mereka sekali-sekali melirik ke arah para
pelayan yang mengantarkan hidangan ke dalam ruangan.
Siau Po memperhatikan semua itu secara diam-diam. Otaknya yang cerdas bekerja
dengan cepat.
“Hm Keenam belas orang itu pasti jago-jago yang ditugaskan melindungi Siau ongya
ini. Kemungkinan besar orang-orang dari Bhok onghu juga sudah menantikan di luar
istana Kong cin ong, Paling baik apabila terjadi perkelahian sengit di antara kedua belah
pihak, ingin aku lihat, apakah pihak Go Sam-kui yang menang atau pihak Bhok onghu
yang berjaya?”
Perutnya terasa panas mengingat perlakuan yang diterimanya dari Mau Sip-pat garagara
orang dari Bhok onghu yang mereka temui dalam perjalanan di Kangouw, Dia
berharap kedua belah pihak akan sama-sama terluka parah dalam perkelahian.
Kongcin ong sendiri juga memperhatikan gerak gerik keenam belas pengawal Go
Eng-him. Dia tahu mereka takut tuan mudanya diracuni atau dicelaka. Tapi sebagai
tuan rumah yang baik, dia juga tidak dapat mengatakan apa-apa yang dapat membuat
tamunya tersinggung.
Si kepala siwi, To Lung mempunyai watak yang polos dan suka berterus-terang,
Setelah meneguk beberapa cawan arak, terdengar dia berkata.

“Siau ong-ya, orang-orang yang mengiringimu itu pasti tergolong dari perwira pilihan
yang mempunyai kepandaian tinggi, bukan?”
Go Eng-him tersenyum.
“Memangnya mereka punya kebisaan apa? Mereka tidak lebih dari para prajurit yang
biasa mengikuti aku kemana-mana, Mereka semua tahu watakku yang buruk, Kalau
ada mereka di samping, seandainya aku mabuk, kan ada orang yang menggotong”
To Lung ikut tertawa.
“Siau ong-ya benar-benar pandai merendah. Coba lihat kedua orang itu. Keningnya
terang bercahaya, hal ini menunjukkan tenaga dalamnya sudah mencapai taraf
kesempurnaan Dan dua orang yang lainnya, mempunyai wajah yang kencang dan
berminyak, menandakan dia seorang gwakang (tenaga luar) yang sudah tinggi sekali
kepandaiannya. sedangkan sisanya, coba suruh mereka buka topi, pasti kepala mereka
botak semua”
Go Eng-him tidak memberikan komentar, namun bibirnya tersenyum, sedangkan So
Ngo-tu langsung tertawa dan berkata:
“Tadinya aku mengira Ciangkun hanya pandai maju ke medan perang sehingga
selalu merebut kemenangan Ternyata Ciangkun juga pandai melihat wajah orang
seperti peramal.”
To Lung tertawa.
“So tayjin tidak tahu, sudah lama Peng-si ong menetap di San-hay kwan. Banyak
perwiranya yang berasal dari perguruan Kim-teng bun kota Kimciu, sedangkan
umumnya murid-murid Kim-teng bun yang ilmunya sudah mencapai taraf yang tinggi,
wajahnya selalu berminyak bahkan kepalanya botak.”
Kong Cin-ong tertarik mendengar keterangan itu. Dia tersenyum.
“Bolehkah tianhe menyuruh mereka membuka topi supaya kita bisa membuktikan
kata-katanya Te tok (jenderal yang menjadi kepala siwi) benar atau tidak?” tanyanya.
“Mata Te tok sungguh tajam, Kata-katanya memang tepat,” sahut Eng Him.
“Beberapa pengiringku ini memang orang-orang dari perguruan Kim-ten bun, hanya
saja kepandaian mereka belum sampai taraf kesempurnaan sehingga kepalanya tidak
seratus persen botak, masih ada sisa rambutnya sedikit, Kalau menyuruh mereka
membuka topi akhirnya hanya menjadi bahan tertawaan saja.”
Mendengar keterangan itu, para hadirin tertawa, Karena si pangeran sudah menolak
secara halus, tentu tidak enak bagi mereka apabila maksakan kehendaknya.

Justru di saat itu Siau Po memperhatikan para pengiring putera Peng-si ong itu, Di
dalam hatinya dia berkata: “Entah ada berapa helai rambut di atas kepala orang yang
tinggi besar itu? Dan yang tubuhnya kurus kering mungkin kalah lihay, Pasti rambutnya
masih cukup banyak.”
Dengan berpikir demikian, thay-kam gadungan itu teringat sesuatu hal, sehingga
tanpa disadari dia tertawa.
Kongcin ong merasa heran.
“Mengapa kau tertawa, saudara Kui?” tanyanya, “Coba kau terangkan agar para
tamu sekalian bisa mendengar dan ikut mengetahui apanya yang lucu”
“Aku sedang berpikir bahwa para suhu dari Kim-teng bun itu pasti mempunyai sifat
yang penyabar sekali,” sahut Siau Po, “Mereka pasti jarang berkelahi dan malah
mungkin tidak bisa melakukannya”
Cing ong tidak mengerti maksudnya.
“Mengapa kau bisa mempunyai pendapat seperti itu, saudara Kui?”
Siau Po tertawa kembali.
“Sebab kalau mereka pemarah, tentu mata mereka akan mendelik dan menantang
lawannya untuk menghitung jumlah rambut mereka, Di samping itu, mereka juga akan
menyuruh lawan mereka membuka topi serta akhirnya bertanding rambut siapa yang
lebih banyak, dialah yang kalah. sedangkan rambutnya yang lebih sedikit, dialah yang
menang”
Kata-katanya Siau Po membuat orang-orang dalam ruangan itu merasa geli dan
tertawa. ucapannya dianggap lucu sekali.
Terdengar Siau Po berkata kembali:
“Aku yakin para suhu dari Kim-teng bun itu selalu membawa suipoa (papan yang
berbiji-biji dan digunakan sebagai alat hitung pada jaman itu), Ke mana-mana, Sebab
tanpa alat itu, tentu sulit menghitung rambut.”
Lagi-lagi para hadirin tertawa.
“Kong ong-ya.” Kemudian terdengar To Lung berkata, “Setelah tempo hari sisa
antek-anteknya Go Pay mengacau di istana ini, menurut kabar, ong-ya banyak
mengundang tokoh-tokoh lihay. Benarkah?”
Kongcin ong memilin kumisnya sembari menjawab, wajahnya menunjukkan
perasaannya yang bangga.

“Tidak mudah mengundang tokoh-tokoh yang sudah punya nama dan berkepandaian
tinggi, Hanya beberapa gelintir pesilat-pesilat kelas dua dan kelas tiga saja,” sahutnya
merendah.
Kemudian baru melanjutkan kembali “Tapi peruntunganku memang cukup bagus,
Selain gaji yang tinggi, aku juga membantu mereka menyelesaikan beberapa
persoalan, karena itu mereka sudi datang kemari memberi muka kepadaku untuk
menggebah para pemberontak,”
“Bolehkah tayjin memberitahu, kiat apa yang digunakan untuk mengundang para
jago ini?” tanya To Lung.
“Kepandaian Te tok sendiri sudah terhitung jago kelas satu. Untuk apalagi
mengundang orang luar?” kata Kong Cin-ong tersenyum.
“Terima kasih atas pujian ong-ya,” sahut To Lung, “Menurut selentingan di Iuaran,
ilmu memanah ong-ya tinggi sekali Tempo hari ketika para pemberontak datang
mengacau, katanya ong-ya telah menggunakan panah membidik mati dua puluh orang
lebih anggota pemberontak itu.”
Kongcin-ong hanya tersenyum, Dia tidak memberikan komentar Kenyataannya,
tempo hari dia memang memanah mati anggota Tian-te-hwe, tetapi jumlahnya hanya
dua orang. Cerita di luaran hanya dtbesar-besarkan saja.
“Saat itu aku memang menyaksikan dengan mata kepala sendiri,” kata Siau Po ikut
berbicara, “Aku merasa tiba-tiba deru angin berkesiur, Kemudian di depanku terdengar
suara “Aduh Aduh” dan di belakang ada beberapa orang yang memuji, panah bagus”
“bidikan hebat”
Go Eng-him segera mengangkat cawan araknya tinggi-tinggi.
“Hebat sekali ilmu memanah Cin ong Boan-seng kagum sekali. Dengan ini
Boanseng ingin mengulanginya”
Para hadirin ikut mengangkat cangkirnya dan meneguk arak bersamaan, Kongcin
ong senang sekali, Diam-diam dia berpikir dalam hati:
“Siau Kui cu ini sungguh pandai mengikuti perkembangan. Tidak heran Sri Baginda
begitu menyayanginya”
“Ongya,” kata To Lung kembali “Ongya telah mempekerjakan begitu banyak busu,
Bagaimana kalau mereka itu diundang keluar agar kita dapat berkenalan satu dengan
lainnya?”
Kongcin ong suka membanggakan diri, ia langsung menerima baik permintaan
Kiubun Te tok itu. Segera dia menurunkan perintah kepada seorang bawahannya.

“Lekas siapkan dua buah meja perjamuan di sebelah sana dan undang Sin Ciau
siangjin serta yang lainnya hadir di sini”
Perintah itu langsung dilaksanakan. Pelayan-pelayan bekerja dengan gesit, sebentar
saja meja perjamuan sudah tersedia, Di lain saat muncul dua puluh orang lebih busu
yang dipimpin seseorang berjubah merah, Tubuhnya tinggi besar dan gemuk, Dia
seorang biku.
Kong Cing-ong bangun dari tempat duduknya.
“Para sahabat sekalian, mari kita duduk dan minum bersama”
Melihat tuan rumah berdiri, yang lainnya pada ikut bangkit untuk menyambut
rombongan yang baru masuk itu.
“Terima kasih Terima kasih” kata si biku yang merangkapkan sepasang tangannya
sambil tertawa.
“Tayjin sekalian, silahkan duduk”
Suara si biku nyaring dan lantang. Menandakan tenaga dalamnya sudah mencapai
taraf yang tinggi sekali. Rekan-rekannya yang lain ikut memberi hormat, mereka juga
mengucapkan terima kasih kemudian mengambil tempat duduk di dua meja yang baru
selesai diatur itu.
To Lung paling suka ilmu silat, wataknya juga polos dan suka terus-terang, Tanpa
menunggu para busu itu meneguk kering cawannya masing-masing, dia sudah berkata:
“Ongya, menurut penglihatan siau-ciang, para busu itu gagah-gagah, Kepandaian
mereka pasti tinggi sekali, Bolehkah ong-ya menyuruh mereka mempertunjukkan sedikit
kelihayannya? Kebetulan disini ada Go sicu dan Kui kongkong, mereka tentu ingin
melihat kepandaian orang-orang ong-ya”
Kongcin ong tertawa.
“Tuan-tuan yang terhormat,” katanya pada rombongan Sin Ciau siangjin “Banyak
tamu agung di sini ingin menyaksikan kepandaian kalian. Bolehkah kalian
mempertunjukkanya sedikit?”
Seorang busu setengah tua yang duduk di sebelah kiri, langsung bangun. Dia
berkata dengan suara lantang:
“Aku kira ong-ya menghargai kepandaian orang sehingga mengundang aku datang
kemari, Siapa sangka kami dipandang sebagai

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s