“ PANGERAN MENJANGAN” – “ LU DING JI “ 20

para thay-kam sudah tertawa geli, Sebab
pemeliharaan babi dengan cara demikian sungguh luar biasa. jangan kata menemui,
mendengar saja baru kali ini, bahkan ada yang bertanya.
“Mengapa harus memelihara babi dengan cara sesusah itu? Biayanya saja sudah
ratusan tail”
“Ongkosnya tidak menjadi persoalan,” sahut Cian laopan, “Yang menjadi masalah
justru diperlukan ketekunan khusus dan cara perawatan yang memakan waktu lama.”
“Bagus” seru Siau Po. “Biar bagaimanapun daging babi seperti itu harus kucicipi”
“Baik, kongkong,” sahut Cian laopan “Eh, nanti siang kira-kira jam berapa aku boleh
mengantar babi itu ke kamar kongkong?”
Siau Po berpikir sebentar.
“Antara jam Bi-sie dan Sin-sie saja,” sahutnya kemudian, Maksudnya kurang lebih
pukul tiga siang.
“Baik, kongkong” kata Cian laopan yang kembali memberi hormat lalu memohon diri.
“Kongkong,” kata thay-kam tadi. “Kalau nanti kongkong bertemu dengan Sri Baginda,
harap kongkong tidak mengungkit urusan ini…”
“Kenapa?” tanya Siau Po.
“Ada peraturan dalam istana yang melarang disuguhkannya barang-barang makanan
yang langka terhadap keluarga raja, Sebab apabila ada yang sakit karena makanan itu,
kitalah yang terancam bahaya, bisa-bisa batok kepala kita menggelinding dari
tempatnya.”
Siau Po menganggukkan kepalanya. “Baik”
“Lagipula,” lanjut thay-kam tadi kembali, “Kalau seandainya Sri Baginda menjadi
ketagihan, di mana lagi kita harus mencari babi yang dipelihara dengan berbagai
keistimewaan itu? Bukankah kita hanya mencari penyakit bagi diri kita sendiri?”
Siau Po tertawa. “Pikiranmu tepat sekali”

“Sedangkan ada peraturan turun temuran bahwa sayur mayur maupun hidangan
yang disajika untuk ibu suri maupun Sri Baginda tidak boleh yang baru atau segar,” kata
thay-kam itu kembali
Siau Po sampai tertegun mendengar keterangannya.
“Kalau tidak boleh makan yang segar, apakah Sri Baginda dan ibu suri harus
menyantap hidangan yang sudah disimpan satu hari atau satu malam? Sudah beberapa
bulan dia menjadi kepala Siang-sian tong, tapi baru hari dia mendengar ada peraturan
seperti itu
“Bukan begitu, kongkong,” kata thay-kam tadi tertawa. “Yang kumaksudkan bukan
demikian, Hanya beberapa macam makanan, umpamanya yang dalam satu tahun
hanya bermusim satu atau dua kali, seperti rebung. itu juga bisa terancam hukum
gantung.”
Tidak mungkin Bukankah Sri Baginda dan ibu suri sangat bijaksana dan adil?” kata
Siau Po.
“Tapi peraturan itu sudah ada sejak jaman dinasti Beng, Kami hanya bekerja menurut
peraturan yang ada.”
Siau Po heran sekali, Namun dia tidak mengatakan apa-apa lagi, segera dia menuju
kamar tulis untuk melayani Sri Baginda, Selesai bertugas, dia kembali ke dapur.
Tidak lama kemudian Cian laopan muncul bersama empat orang pegawainya yang
menggotong dua ekor babi yang besarnya memang luar biasa, Mungkin berat masingmasing
mencapai tiga kwintaj.
Setelah memberi hormat kepada Siau Po, Cian laopan berkata.
“Kongkong, kalau setiap pagi kongkong makan daging babi Hok-Ieng hoa-tiau ini,
pasti baik sekali untuk kesehatan apalagi yang dipanggang Yang seekor ini akan
kuantar ke kamar kongkong agar besok pagi dapat dipotong-potong dan dimasak,
sisanya bisa diawetkan”
Bagian 15
Siau Po segera mempunyai dugaan. Dia menganggukkan kepalanya.
“Baik” katanya, “Pikiranmu benar-benar sempurna, sekarang kau ikut denganku”
Cian laopan mengangguk Seekor babi ditinggalkan di dapur dan seekor lagi bersama
tiga orang pegawainya digotong ke kamar Siau Po. sesampainya di sana, ketiga

pegawainya disuruh pergi kembali ke dapur untuk menunggu di sana. Dia sendiri
langsung merapatkan pintu kamar thay-kam gadungan itu.
“Wi hiocu,” katanya setelah mereka tinggal berdua. “Apakah di sini tidak ada orang
lain lagi?”
Siau Po yang sejak tadi memperhatikan gerak-gerik Cian laopan itu segera
menggelengkan kepalanya.
Cian laopan langsung membalikkan tubuh babi yang besar itu. Ternyata di bagian
bawah perutnya terdapat jahitan yang ditempel lagi dengan selapi kulit babi lainnya.
“Di dalam perut babi itu pasti tersimpan sesuat yang aneh….” pikir Siau Po dalam
hati, Kemudian dia memperhatikan dengan seksama, Sekian lama dia berdiam diri. Dia
menduga benda yang te( simpan dalam perut babi itu kemungkinan senjati senjata
tajam. “Mungkinkah orang-orang Tian-te hwe berencana untuk menyerbu istana?”
Karena mempunyai pikiran seperti itu, jantungnya jadi berdebar-debar dengan
kencang.
Cian laopan segera memutuskan benang jahit pada perut babi itu, Dari dalamnya dia
mengeluarkan sebuah bungkusan yang besar sekali, kemudian diangkatnya dan
kemudian di buka.
“Akh” Mulut Siau Pb sampai mengeluarkan jeritan tertahan, ketika matanya sudah
melihat dengan tegas.
Rupanya dalam bungkusan besar itu berisi tubuh seseorang. Tubuhnya kecil dan
kurus, rabutnya panjang, Usianya sekitar dua atau tiga belas tahun. pakaiannya tipis
sekali.
Dia seorang bocah perempuan, matanya terpejam dan tubuhnya tidak bergerak tapi
dadanya naik turun menandakan bahwa dia masih hidup.
“Siapa nona ini?” tanya Siau Po. suaranya perlahan karena khawatir terdengar
orang, “Untuk apa kau membawanya kemari?”
“Dia kuncu dari Bhok onghu,” sahut Cian laopan dengan suara yang sama pelannya.
Kuncu adalah puteri bangsawan.
Siau Po semakin heran. Matanya membelalak lebar-lebar.
“Kuncu dari Bhok onghu?” tanyanya menegaskan.
“Benar” sahut Cian Iaopan, “Dialah adik kandung dari Siau ongya dari Bhok onghu
Mereka menculik Ci toako kita, maka kita pun menculik putri kecil ini sebagai sandera.
Dengan demikian mereka tentu tidak berani mengganggu keselamatan jiwa Ci toako”

Siau Po bingung sekaligus gembira, memang hanya inilah satu-satunya jalan untuk
menjamin keselamatan Ci Tian-coan.
“Bagus Tapi, bagaimana kau bisa menculik kuncu ini?”
“Kemarin, ketika Wi hiocu dan yang lainnya menuju keluarga Pek, kami berdiam di
rumah, justru saat itulah kami mendengar kedatangan Go Eng-him di kotaraja, Dia
adalah putra sulungnya Go Sam-kui si pengkhianat bangsa”
“Aneh” pikir Siau Po dalam hatinya, “Ada keperluan apa putra Go Sam-kui datang ke
kotaraja?
“Kemudian kami masih menerima berita lainnya.” Cian laopan melanjutkan
keterangannya “Yakni kabarnya putra Bhok ongnya, si pangera muda yang datang
dengan serombongan orang.”
Siau Po menganggukkan kepalanya.
“Tentunya mereka ingin membunuh putranya Go Sam-kui, bukan?”
“Benar” sahut Cian Iaopan, Tapi si pengkhianat cilik itu di jaga dengan ketat, Dia
dilindungi beberapa pengawal yang kepandaiannya tinggi. Dengan demikian tidak
mudah apabila ingin mem-bunuhnya, setelah mendapat kabar itu, kami segera mencari
keterangan lebih jauh.
Kami pergi ke tempat persinggahan keluarga Bhok ong-ya itu. Tempat itu kosong.
Rupanya mereka juga sedang menyelidiki Go Eng-him. Yang ada hanya si kuncu cilik
beserta dua orang budak perempuan. Sungguh merupakan saat yang tepat untuk turun
tangan….”
“Karena itu, kau langsung membekuknya, begitu?”
Cian laopan menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
“Betul” sahutnya. “Nona ini masih kecil, tapi bagi Bhok onghu, dia bagaikan si
burung Hong, Asal dia ada dalam genggaman kita, Ci toako pasti akan dilayani secara
baik-baik”
“Cian toako, jasamu ini besar sekali” kata Siau Po memuji.
“Terima kasih atas penghargaan hiocu.”
“Sekarang kita sudah berhasil menawan si kuncu cilik apa yang selanjutnya harus
kita lakukan ?” tanya Siau Po.
“Urusan ini kalau dibilang besar, sebetulnya tidak, tapi dibilang kecil tidak juga.
Terserah hiocu saja bagaimana menanganinya”

Siau Po merenung beberapa saat, tetapi dia tidak menemukan jalan keluarnya,
Karena itu, dia bertanya kepada si Cian.
“Bagaimana menurut pendapatmu sendiri?” “Untuk sementara sebaiknya nona ini
disembunyikan di tempat yang aman,” kata si Cian mengemukakan pendapatnya,
“Tempat itu harus sedemikian rahasianya sehingga tidak dicurigai oleh pihak Bhok ongya.
Juga harus dijaga baik-baik agar tidak ditemukan. Tidak sedikit jumlah orang Bhok
onghu yang datang ke kota ini. Selain keempat orangnya diandalkan, yakni dari
keluarga Lau, Pek. Pui dan Sou masih ada sejumlah orang lainnya.
Lagipula mereka mengetahui persis setiap pangkalan kita dan pasti akan terus di
awasi. Asal ada sedikit saja gerak gerik kita yang mencurigakan mereka pasti akan
mendatangi kita dan meminta pertanggungan jawab kita.”
Siau Po tertawa, Si Cian ini jenaka juga dan cocok dengan wataknya sendiri Karena
itu, Siau Po langsung menyukainya.
“Cian toako, mari duduk,” katanya ramah, “Biarlah kita berbincang-bincang sejenak”
“Baik, terima kasih” sahut si Cian, Dia langsung duduk di atas sebuah kursi.
Kemudian dia berkata kembali “Aku sengaja membawa nona ini dalam perut babi agar
dapat mengelabui para siwi serta menjaga dari mata-mata Bhok onghu, Ada beberapa
orangnya yang lihay sekali sehingga kita harus berhati-hati. Apabila kuncu tidak
disembunyikan dalam istana, mereka pasti akan berhasil menemukannya”
“Jadi kau ingin agar si kuncu cilik disembunyikan di sini?” tanya Siau Po.
“Tidak berani aku yang rendah mengatakan demikian,” sahut si Cian. “Hal ini
terserah hiocu sendiri Aku yang rendah memang menganggap istana adalah tempat
yang paling aman. Biarpun orang-orang Bhok ong-ya lihay sekali, mereka pasti tidak
sanggup melawan para siwi istana, Kalau kuncu ini disembunyikan di sini, jangan kata
mereka tidak akan menduganya, seandainya pun mereka bisa menerkanya, tidak
mungkin mereka berani datang menyerbu kemari untuk menolongnya, seandainya
mereka berani, tentu Sri Baginda bangsa Tatcu sudah kena diculik oleh mereka. Hanya
ada satu hal yang aku mohon hiocu dapat memaafkan, yakni aku telah membawa si
kuncu cilik ini kemari sehingga hiocu akan menemui banyak kesulitan…”
Diam-diam Siau Po berpikir dalam hati.
“Sudah tahu akan menyulitkan aku, tapi kau masih melakukannya juga. Buat apa kau
meminta maaf? Tapi, pikirannya memang bagus, istana merupakan satu-satunya
tempat yang paling aman, Tinggal kesulitannya saja… Eh, mungkinkah kau ingin
menguji keberanianku? Kita lihat saja nanti”
Siau Po segera mengembangkan senyuman yang lebar dan berkata, “Pendapatmu
bagus sekali Baiklah, kau boleh sembunyikan kuncu cilik ini di sini”

“Bagus, hiocu Asal hiocu sudah menyanggupi tentu akan kuselesaikan urusan
lainnya, Aku yakin pihak Bhok onghu juga tidak kecewa apabila putri kesayangan ini
disembunyikan dalam istana, tentu lain halnya kalau disembunyikan dalam tempat
pembantaian yang bau amis serta banyak darah terceceran”
Siau Po tertawa.
“Betul Lagipula setiap hari dia bisa diberi makan Hok-leng, tongsom dan Hoa-tiau
seperti babi peliharaanmu”
Si Cian tertawa geli walaupun wajahnya agak merah karena jengah.
“Lagipula sebagai seorang putri bangsawan, tentu namanya akan tercemar kalau
setiap hari dia berkumpul dengan pria-pria tukang jagal babi, sebaliknya di sini, dia akan
aman bersama hiocu”
“Kenapa begitu?” tanya Siau Po bingung.
“Bukankah hiocu masih muda sekali dan bekerja dalam istana pula?” sahut si Cian
agak gugup, itulah sebabnya aku mengatakan aman….”
Bocah cilik itu memperhatikan lekat-lekat. Di melihat si Cian agak risih, dia langsung
dapat menerka apa alasannya berkata demikian.
“Maksudmu, karena aku seorang thay-kam, bukan? Dengan demikian nama baik
kuncu ini tidak akan tercemar?”
Tentu saja Siau Po dapat menerka jalan pikirannya si Cian. Karena selain Kin-Iam,
tidak ada seorang pun yang tahu bahwa dia adalah seoran thay-kam gadungan. Bahkan
saudara angkatnya sendiri, Mau Sip-pat mengira bahwa dia sudah dikebiri oleh Hay
kongkong dalam keadaan terpaksa.
“Ketika aku membawa kuncu kemari,” kata si Cian mengalihkan bahan pembicaraan
“Aku sudah menotok jalan darah Sin-tong hiat dan Yang-tong hiat di punggungnya, juga
jalan darah Tian-cu hiat di belakang tengkuknya, Karena itu dia tidak dapat bergerak
serta tidak dapat berbicara, jikalau hiocu akan memberinya makanan, jalan darahnya
harus dibebaskan terlebih dahulu, Namun sebelumnya kau harus menotok dulu jalan
darah Hoan-tiau hiat di pahanya agar dia tidak dapat melarikan diri, orang-orang Bhok
onghu lihay-lihay. Meskipun nona ini masih kecil dan lemah lembut, tapi sebaiknya kita
berjaga-jaga.”
Siau Po tidak paham jalan darah yang diuraikan si Cian, Tapi dia merasa gengsi
untuk mengakuinya, Dia pikir, tentunya memalukan apabila dia mengakui bahwa
sebagai seorang hiocu dia masih belum mengerti ilmu menotok jalan darah, bahkan
membebaskan totokan pun belum bisa.

“Pasti dia akan memandang hina padaku?” pikir bocah itu selanjutnya, “Lagipula, apa
susahnya mengurus seorang nona cilik?” Karena itu dia langsung menganggukkan
kepalanya dan berkata: “Baiklah, aku sudah tahu”
“Hiongcu, tolong pinjamkan sebatang goIok” kata si Cian, – “Untuk apa dia
meminjam golok?” tanyanya dalam hati, namun ia mengeluarkan juga pisau belatinya
dan menyodorkannya kepada si Cian.
Si Cian menerima pisau itu kemudian menggunakannya untuk menggores daging
babi. Dia langsung terkesima karena tanpa perlu mengerahkan tenaga ia bisa
memotong tubuh babi yang gemuk itu dengan mudah.
“Sungguh pisau yang luar biasa tajamnya” puji si Cian yang segera mengutungkan
kedua kaki depan babi itu. “Hiocu, simpanlah kaki babi in untuk dipanggang. sisanya
boleh kau serahkan kepada tukang masak. sekarang aku ingin mohon diri. Lain hari,
apabial ada berita dari perkumpulan kita aku akan datang memberitahukannya kepada
hiocu”
“Baik” kata Siau Po sambil menyimpan kembali pisau belatinya, Dia memperhatikan
si kuncu cilik itu sekilas lalu bertanya: “Kapan kau akan datang lagi untuk menjemput
nona ini?” sebenarnya di ingin mengatakan bahwa terlalu berbahaya apabila si nona
ditinggalkan agak lama dalam istana.
Ya sebagai seorang hiocu dari Tian-te hwe, dia malu dikatakan penakut Dia juga
tidak ingin wibawanya jatuh di mata orang lain.
Si Cian tidak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan itu.
“Lihat saja perkembangannya nanti” katanya kemudian sambil mengundurkan diri.
Siau Po segera mengunci pintu kamarnya rapat-rapat, Dia juga memeriksa seluruh
jendelanya dengan teliti, Setelah itu dia duduk di sisi tempat tidur untuk memperhatikan
si kuncu cilik.
Sebenarnya si nona cilik itu juga sedang mengawasi Siau Po. Ketika mengetahui si
bocah menoleh kepadanya, dia segera memejamkan matanya, namun pandangan
mereka sudah sempat bentrok.
Siau Po tertawa.
“Kau tidak dapat bergerak maupun berbicara, sebaiknya kau rebah saja dengan
tenang, ini merupakan jalan terbaik untukmu”
Pakaian si nona tampak bersih. Rupanya si Cian memperhatikan pembungkusnya
baik-baik dan babinya juga pasti sudah dicuci berkali-kali.

Siau Po menarik selimut untuk menutupi tubuh gadis cilik itu. Kemudian dia
memperhatikan lekat-lekat wajahnya pucat pasi, sepasang alisnya justru lentik sekali,
dan terus bergerak-gerak, Mungkin karena perasaannya yang takut atau cemas.
“Jangan takut” kata Siau Po. “Aku tidak akan membunuhmu Lewat beberapa hari
nanti, aku akan membebaskanmu”
Nona itu membuka matanya sekejap lalu di pejamkan kembali, Siau Po merasa puas,
Diam diam dia berpikir dalam hati, “Kau berasal dari keluarga Bhok yang menggetarkan
seluruh dunia kangouw, Lihat saja ketika melakukan perjalanan di wilayah Kangouw,
hanya karena ucapan sedikit saja, aku dianggap bersalah oleh seorang turunan Keciang
sehingga Mau Sip-pat, si setan bernyali kecil mencambuki aku setengah mampus
Dasa neneknya”
Siau Po memperhatikan tangannya yang memar karena cekalan Pek Han-hong yang
keras, Dia menggumam seorang diri.
“Han Hong, manusia celaka Kakakmu yang mati, kau mengumbar kemarahannya
malah kepadaku. Lihat Sampai detik ini tanganku masih biru matang akibat
perbuatanmu Malah rasa nyerinya sampai berdenyut-denyut.
Siapa nyana, putri kesayangan keluarga Bhok ini malah terjatuh ke tanganku,
sekarang apa pun yang kuinginkan baik mencaci maki atau merotaninya, aku dapat
melakukannya sesuka hatiku. Dia toh tidak sanggup berkutik sedikit pun” Membawa
pikiran demikian dia tertawa sendiri.
Si nona cilik membuka matanya kembali ketika mendengar suara tawa Siau Po. Dia
memperhatikan orang di hadapannya, Sekali lagi Siau Po tertawa dan berkata.
“Betul, kau adalah seorang putri bangsawan, lalu kau menganggap dirimu hebat,
bukan? Tapi aku tidak takut padamu” Tanpa berpikir panjang lagi, dia menampar pipi
gadis cilik itu berkali-kali.
Wajah si kuncu itu jadi merah dan bengap, Air matanya juga langsung bercucuran
Rupanya dia sangat kesakitan.
“Jangan menangis” bentak Siau Po. “Kau harus mendengar apa pun laranganku”
Namun nona itu tidak dapat menahan rasa sakit di pipi dan juga rasa sedih di
hatinya, air matanya justru mengucur semakin deras.
Siau Po menjadi marah.
“Nona bandel dan bau” bentaknya sekali lagi. Kembali dia menampar pipinya,
Kemudian dia menjambak rambut gadis itu lalu menariknya sehingga tubuh si nona
terangkat “Ayo, kau masih berani menangis atau tidak?”

Air mata si nona masih terus mengalir. “Buka matamu” kata Siau Po ketus, “Lihat
aku”
Si nona malah memejamkan matanya erat-erat.
“Hai, kau kira ini istanamu ini bukan Bhok onghu, tahu? Biarpun keempat pengawal
keluargamu lihay-lihay, tapi suatu hari nanti mereka akan bertemu denganku, Saat itu
aku akan membunuh serta mencincang tubuh mereka sehingga berkeping-keping. Ayo,
buka matamu tidak?”
Siau Po seperti orang kalap, Tapi si nona tidak mau menggubrisnya. Matanya tetap
terpejam
“Baik” kata si bocah cilik kemudian jambakannya dilepas, “Kau tetap tidak mau
membuka matamu? Lalu buat apa kau memiliki mata yang jelek itu? Lebih baik dikorek
keluar saja dan akan kujadikan santapan dengan arak”
Dia langsung mengeluarkan pisau belatinya dan menggerak-gerakkannya di depan
wajah gadis cilik itu.
Tubuh si nona gemetar namun dia tidak membuka matanya, Siau Po kewalahan
juga, Ternyata si nona tidak mempan ancaman.
“Kau tetap tidak mau membuka matamu?” tanyanya dengan nada keras, “Aku justru
ingin kau membukanya Ayo kita mengadu kelihayan, lihat apakah kau putri bau yang
menang dan aku, Kui kongkong yang kalah? sekarang aku tidak jadi mengorek biji
matamu. Kautahu yang menang apabila aku melakukannya, Untuk selamanya kau tidak
bisa melihat aku lagi, sekarang aku ingin menggorek wajahmu terlebih dahulu, seperti
memotong telur rebus, Aku bisa membuat gambar bermacam-macam, umpamanya pipi
kiri kuukirkan seekor kura kura dan di pipi kanan aka kugambar setumpukan tahi
kerbau Nanti kalau lukanya sudah kering bekas tidak dapat dihilangkan lagi, Kalau kau
berjalan keluar rumah, kau akan menjadi tontona ratusan bahkan ribuan orang, Saat itu
pasti semua orang akan memuji kecantikanmu, Betapa man dan mempesonanya putri
cilik Bhok onghu, Nah kau hendak membuka matamu atau tidak?”
Tubuh si nona semakin gemetar, tetapi matanya masih dipejamkan juga.
Melihat keadaan itu, Siau Po langsung menggumam seorang diri perlahan-lahan.
“Oh, rupanya nona ini menganggap wajahnya kurang cantik dan ingin aku meriasnya
agar mencapai kesempurnaan Baiklah, aku akan melaku-kannya, Sekarang, pertamatama
aku akan melukis seekor kura-kura”
Di atas meja ada tersedia alat-alat tulis, Siau Po segera mempersiapkan bak tinta
serta pitanya, Semua itu peninggalan Hay kongkong yang tidak pernah dikutakkutiknya,
Seumur hidupnya baru kali ini Siau Po memegang sebatang pit. Karena itu,
cara menggenggam nya seperti memegang sumpit makan.

Sesaat kemudian si nona cilik merasa ujung pit bergerak-gerak di pipinya, Siau Po
sedang mencoba melukis seekor kura-kura, Air matanya mengalir semakin deras
sehingga warna tinta hitam mencair dan wajahnya jadi kotor tidak karuan.
“Sekarang aku sedang melukis seekor kura-kura” kata Siau Po kembali, Dia tidak
menghiraukan perasaan takut si gadis cilik itu, “Nanti kalau aku sudah selesai melukis,
aku akan mengukirnya dengan mengikuti garisnya, Pisauku sangat tajam, kau tidak
perlu khawatir gambarku gagal, Nah, kalau sudah selesai dan kering, aku baru
membawamu berjalan-jalan di muka umum agar semua orang bisa memuji
kecantikanmu. Di depan pintu kota Tiang-An aku akan berteriak-teriak sekeraskerasnya:
Tuan-tuan sekalian, siapa yang ingin mempunyai lukisan kura-kura?
Harganya murah sekali Sehelai hanya tiga bun. Dengan demikian aku bisa
menghasilkan uang. Melukisnya juga tidak susah, Mungkin satu hari aku sanggup
melukis seratus helai gambar kura-kura. Mudah bukan mencari uang tiga ratus bun
untuk berfoya-foya setiap hari?”
Selesai berkata, Siau Po memperhatikan wajah si nona. Dia melihat alis orang itu
bergerak-gerak dan matanya berkedip-kedip menandakan hatinya, yang sedang
ketakutan Siau Po menjadi puas dan girang sekali Mulutnya tertawa lebar.
“Nah, sekarang giliran pipi kanan” katanya kemudian “Tapi, kalau aku melukis
setumpuk kotoran kerbau, siapa yang sudi membelinya? Ah? sebaiknya aku melukis
gambar seekor babi. Ya, babi yang gemuk dan buntek, Pasti laris” Lalu dia mencoretcoret
ujung pitnya di pipi si nona yanf satunya lagi. Dia menggambar binatang berkaki
empat, tapi tampangnya tidak mirip babi maupu anjing
“Selesai” katanya, Dia meletakkan pitnya di atas meja kemudian diambilnya sebuah
guntin yang ujungnya runcing dan dingin di pipi nona itu dan tentu saja dia hanya
menempelkannya saja.
“Ayo, kau buka matamu atau tidak?” bentakn sekali lagi “Kalau tidak, aku akan mulai
mengukir”
Air mata si nona masih mengalir namun matanya tetap dipejamkan.
“Kau masih membandel juga?” kata Siau Po. Dia segera membalikkan guntingnya
dengan bagian pegangan di bawah dan diletakkannya ke pipi si gadis untuk
menggertaknya. Kuncu cilik merasa pipinya dingin dan agak sakit, Saking takutnya,
bukannya membuka mata, dia malah jatuh pingsan
Siau Po terperanjat setengah mati. Dia khawatir gadis itu akan mati ketakutan Cepatcepat
dia meletakkan ujung jarinya di bawah hidung si nona yang bangir dan dia
merasa ada pernafasan yang lemah sekali. Hatinya lega sekali ketika mengetahui si
nona masih hidup.

“Ah, dia hanya pura-pura mati,” pikirnya dalam hati Kemudian dia berkata keraskeras,
“Sampai pingsan dia masih tidak mau membuka matanya juga, apakah aku Wi
Siau-po harus mengalah? Tidak Tidak sudi aku kalah olehmu”
Siau Po segera mengambil sehelai sapu tangan yang kemudian dibasahkan dengan
air lalu digunakan untuk membasuh wajah si nona, Dalam sekejap mata wajah si nona
jadi bersih kembali Siau Po dapat melihat selembar wajah yang putih dan cantik Bulu
matanya lentik, alisnya panjang, hidungnya mancung dan bentuk bibirnya mungil.
Terdengar dia menggumam seorang diri. “Kau seorang kuncu, sedangkan aku hanya
rakyat jelata, Tapi, bukankah kita sama-sama manusia?”
Rupanya karena terkena sentuhan air dingin, si nona siuman dari pingsannya,
otomatis dia membuka matanya, Mungkin untuk sesaat dia lupa telah terjatuh ke tangan
Siau Po. Ketika dia membuka matanya dan mendapatkan wajah thay-kam cilik itu begitu
dekat dengannya, dia terkejut setengah mati, Apalagi mata mereka sempat berpadu,
Cepat-cepat dia memejamkan matanya kembali.
“Ha.,, ha… ha… ha… ha” Siau Po tertawa terbahak-bahak. “Akhirnya kau membuka
matamu juga Ya, kau sudah melihat aku Dengan demikian, akulah yang menang,
Benar kan?”
Puas rasanya hati Siau Po. Tapi hanya untuk sekejapan saja, Akhirnya dia kecewa
juga, Karena nona itu tidak membuka matanya lagi. Dia berpikir untuk membebaskan
totokan gadis cilik itu tetapi dia tidak mempunyai kesanggupan
“Aih, celaka.” pikirnya dalam hati, Kemudian dia berkata kepada si gadis cilik, “Nona,
jalan darahmu telah ditotok oleh orang, tapi ia tidak membebaskannya ketika
menyerahkan kau padaku, Bukankah kau jadi tidak bisa makan dan bakal mati
kelaparan? Aku ingin menolongmu, tapi aku tidak bisa. Dulu aku pernah belajar ilmu
totokan, tapi sekarang aku sudah lupa Bagaimana dengan kau Apakah kau mengerti
ilmu silat? Kalau kau tidak bisa, terpaksa kau harus menerima nasib dengan berbaring
di sini sampai kematian menjemputmu Tapi kalau kau bisa kedipkanlah matamu tiga
kali”
Selesai berkata, Siau Po memperhatikan gadis cilik itu lekat-lekat untuk menunggu
reaksinya.
Sesaat kemudian tampak sulit wajah gadis itu bergerak dan dia mengedipkan
matanya tiga kali. Bukan main girangnya hati si thay-kam gadungan, Dia segera
berkata.
“Tadinya aku kira orang-orang keluarga Bhok semuanya terdiri dari boneka kayu,
manusia-manusia tolol, otak udang. Apa pun tidak bisa. Kiranya kau berbeda, kayu cilik
untunglah kau mengerti ilmu totokan”

Siau Po mengatakan boneka kayu dan menyebut si nona dengan panggilan kayu cilik
sebab marga keluarga nona itu Bhok yang nada suaranya seperti dengan kayu.
Saking senangnya, Siau Po segera mengangkat tubuh si nona cilik kemudian
didudukannya di atas sebuah kursi.
“Sekarang kau lihat aku” kataya dengan nada ramah, “Aku akan meraba seluruh
tubuhmu untuk membebaskan jalan darahmu, Kalau aku menunjuk bagian yang tepat
kau harus mengedip tiga kali, Kalau salah, kau harus membelalakkan matamu lebarlebar,
Dengan demikian aku baru bisa membebaskanmu, mengerti? Kalau kau paham
apa yang kumaksudkan kedipkanlah matamu tiga kali.”
Nona itu dapat mendengar kata-katanya dengan jelas, Karena itu dia mengedipkan
matanya tiga kali.
“Bagus” seru Siau Po senang, “Sekarang aku akan mulai mencari jalan darahmu
yang tertotok”
Bocah ini bengal dan nakal, Kebiasaannya ini sudah sulit diubah, Begitu juga kali ini,
meskipun dia baru pertama kali bertemu dengan puteri bangsawan itu, tapi dia sudah
mengganggunya sedemikian rupa, Dia juga berani sekali sehingga perbuatannya mirip
dengan anak yang genit
Siau Po segera mengulurkan tangannya dan meraba payudara sebelah kanan gadis
cilik itu.
“Di sini bukan?” tanyanya.
Wajah si nona cilik jadi merah padam Dia membelalakkan matanya lebar-lebar tanpa
berani berkedip sedikit pun.
Siau Po kembali menekan dada sebelah kiri gadis cilik itu.
“Apakah di sini?” tanyanya lagi.
Wajah si nona semakin jengah, Tapi karena sudah cukup lama dia membelalakkan
matanya, di tidak dapat bertahan lagi, tanpa dikehendaki mata nya berkedip satu kali.
“Oh, di sini rupanya” kata Siau Po.
Tapi si nona segera membelalakkan matanya kembali. Dia merasa malu sekali, Tapi
mulutnya tidak dapat berbicara untuk menjelaskan kepada Siau Po. Dia malah jadi
kebingungan
Kedua anak itu masih di bawah umur, Tetapi biasanya memang anak perempuan
lebih cepat matang daripada anak Iaki-laki. sedangkan Siau Po dibesarkan dalam
rumah pelacuran. Meskipun belum mengerti, tetapi dia sering melihat perbuatan apa

saja yang sering dilakukan para laki-laki hidung belang bersama nona-nona yang
disewanya.
Senang hati Siau Po melihat si nona merasa malu dan kebingungan. Tiba-tiba dia
teringat ke-pahitan yang pernah dialaminya di Kangou juga cekalan tangan Pek Hanhbng
yang menjadi Ke-cing keluarga Bhok.
Tnilah waktu yang tepat untuk membalas dendam” pikirnya dalam hati.
Sebetulnya Siau Po tidak genit, tetapi dia sering dipengaruhi wataknya yang usil dan
suka mengganggu Karena itu dia sengaja meraba tubuh nona itu kesana kemari
sehingga si kuncu cilik tidak berani mengedipkan matanya sekalipun. Bahkan keringat
dingin mulai membasahi seluruh tubuhnya.
Tepat pada saat itu Siau Po menotok iga kiri-nya. Si nona kegelian sekaligus senang,
karena kali ini Siau Po menotok dengan tepat, Karena itu pula cepat-cepat dia
mengedipkan matanya tiga kali lalu menarik nafas panjang pertanda kelegaan hatinya.
Siau Po tertawa lebar sembari berkata.
“Nah, benar di sini sebetulnya bukan aku tidak tahu jalan darah ini, tapi entah
kenapa aku sampai melupakannya”
Tiba-tiba sebuah ingatan melintas dalam benaknya.
“Sekarang jalan darahnya sudah bebas, Entah sampai di mana tingginya kepandaian
nona cilik ini. Yang pasti ilmu silatku sendiri masih rendah sekali sebaiknya aku
meningkatkan kewaspadaan sebab ada kemungkinan dia akan menyerang aku secara
mendadak”
Siau Po bekerja dengan gesit. Dia segera mengambil dua buah ikat pinggang.
Kemudian dia melipatkan sepasang kaki gadis cilik itu erat-erat dan kedua tangannya
pun dilipatkan ke bagian belakang kursi.
Kuncu cilik itu tidak memberontak meskipun diperlakukan sedemikian rupa, Dia
hanya merasa khawatir sebab tidak tahu hinaan apa lagi yang akan ditimpakan Siau Po
pada dirinya, Karena itu dia memandangi Siau Po dengan sinar mata ketakutan.
Siau Po tertawa.
“Kau takut padaku, bukan?” tanyanya, “Karena kau takut, baiklah Lohu akan
membebaskan totokanmu” Lalu dengan seenaknya dia meraba ketiak kiri nona itu
kemudian ditekan-tekannya.
Si nona tercekat hatinya, apalagi dia memang mudah geli, wajahnya menjadi merah
padam karena menahan rasa ingin tertawa, Dalam keadaan demikian mana mungkin

dia tersenyum? Hatinya merasa mendongkol malu juga takut, Namun karena ia tidak
dapat bergerak, terpaksa dia mendiamkan saja orang mempermainkannya.
Siau Po yang jahil berkata kembali.
“Sebetulnya aku seorang ahli dalam ilmu totokan maupun membebaskannya. Hanya
saja akhir-akhir ini aku repot sekali sehingga aku sampai hampir lupa semuanya, Tapi
ini kan urusan kecil, betul tidak? Nah, sekarang kau katakan, benarkah ini cara
membebaskanmu dari totokan?”
Dia meraba lagi dan sekaligus mengge1ktik.
Kuncu cilik itu merasa kehilangan namun dia bertahan sekuatnya, Dalam hati dia
memaki, “Dasar kau yang tidak becus Tapi kau masih mengoceh sembarangan Mana
ada orang yang membebaskan totokan dengan cara konyol seperti ini?”
Tentu saja Siau Po tidak tahu jalan pikiran si nona cilik itu. Dia berkata kembali:
“Memang ilmu totokanmu ini sangat istimewa dan hanya bisa memperlihatkan hasil
apabila dilakukan pada diri orang dari kalangan atas, Kau hanya seorang budak kecil,
bukan keturunan luhur atau kalangan atas, jadi ilmuku ini tidak membawa faedah
padamu, Baiklah, sekarang kita coba ilmu yang nomor dua”
Kembali Siau Po meraba ketiak si nona dan menekan-nekannya, Nona cilik itu
sungguh menderita. Di samping geli, dia juga merasa sakit. Air matanya sampai
bercucuran Rasa nyeri membuatnya sukar tertawa.
“Ah Masih tidak jalan juga” kata Siau Po. “llmu yang nomor dua tidak membawa
hasil juga, Benar-benar hebat Mungkinkah kau hendak kelas tiga? Tidak ada jalan lain
kecuali mencoba ilmuku yang ketiga”
Ucapannya dibuktikan Si nona kembali merasakan siksaan. Tangan si bocah kembali
menggerayangi seluruh tubuhnya, tetapi hasilnya tetap tidak menggembirakan
Ilmu totokan harus dipelajari dengan tekun dan memakan waktu, Demikian juga ilmu
membebaskannya, Orang harus memahami seluruh jalan darah yang ada dalam tubuh
serta tidak boleh melakukan kesalahan. Mending kalau membebaskan, boleh
sembarang memijit di sana-sini, tapi kalau menotok, harus mengetahui jalan darah yang
tepat.
Sebab bila salah melakukannya, bisa mengakibatkan kematian Siau Po mengalami
kegagalan berkali-kali. Meskipun dia mengerti sedikit ilmu silat, tapi dia buta sama
sekali dalam ilmu totokan Dia hanya main terka saja.
“Kurang ajar” katanya sengit “Aku sudah mencoba sampai ilmuku yang kedelapan
namun masih tidak juga berhasil Eh, mungkinkah kau ini budak kelas sembilan? Aku
orang yang berderajat tinggi, tidak bisa aku menggunakan ilmuku yang kesembilan

sembarangan Rupanya kalian orang-oran dari Bhok onghu hanya bangsa kutu busuk,
Ya… ap boleh buat Aku tidak bisa memperdulikan rasa harga diriku, Akan kucoba
ilmuku yang ke sembilan”
Kali ini Siau Po tidak menekan-nekan lagi, dimenyentilkan jari tangannya kesana-sini
sambil ber-kata,
“lni yang disebut ilmu bunga kapas” Dia mengulangi sampai belasan kali.
Mendadak si nona menjerit keras dan menangis sesenggukkan Bukan main
girangnya hati Siau Po sampai dia berjingkrakan.
“Nah, apa kataku?” serunya, “Oh, anak manis, Kiranya anggota keluarga Bhok ongya
hanya budak kelas sembilan Pantas saja kau hanya bisa dibebaskan dengan ilmuku
yang ke sembilan pula”
“Kau.,, kaulah budak… dari keas… sem… bilan” Seru gadis cilik itu terbata-bata, Dia
merasa mendongkol sekali tetapi dia berteriak sembari menangis sehingga ucapannya
tidak lancar
“Kau…. kaulah… budak… ke.,.las sembilan” ucap Siau Po meniru kata-kata gadis
cilik itu, setelah itu dia tertawa terbahak-bahak.
Selagi si nona masih terisak-isak, Siau Po berkata kembali “Aku sudah lapar,
Tentunya kau ingin makan juga, Baiklah Aku akan mencarikan makanan untukmu”
Untuk mencari makanan, tidak ada kesulitan sama sekali bagi Siau Po. Dia adalah
kepala bagian Siang-sian tong. Dia tinggal membuka mulut dan memintanya dari koki
istana.
Dia memang sering dimanjakan para koki dan sering dibawakan makanan yang lejat-
Iezat, sebelumnya dia juga senang keluyuran sehingga tahu nama hidangan yang ter
kenal dan disukainya, Dia juga banyak tahu tentan kue dan roti, Dia tidak menemukan
kesulitan karena uangnya banyak.
Itulah sebabnya tidak lama kemudian dia sudah kembali lagi ke kamar dengan
membawa beberap macam kue.
“Nah, mari kita makan ini” ajak Siau Po. “lni kue kacang hijau dengan aroma bunga
mawar Rasanya lezat sekali. Cobalah”.
Si kuncu cilik menggelengkan kepalanya.
“Bagaimana dengan yang ini?” Siau Po menunjuk kue lainnya. “lni kue kacang
kedelai, tempatmu, Inlam, kue semacam ini pasti tidak ada Cobalah”

“Aku… aku tidak… ingin ma… kan apa-apa” sahut si nona cilik yang akhirnya
membuka suara juga. Namun setelah itu, kembali dia menangis terisak-isak.
Mendengar suara tangisan itu, kekesalan dalam hati Siau Po agak berkurang.
“Kalau kau tidak makan, tentunya kau akan kelaparan Hal itu membahayakan” kata
Siau Po dengan nada sabar.
“A…ku tidak la.,.par,” sahut si nona.
“Nanti kau sakit”
“Tidak, aku tidak sakit….”
“Ah… aku tidak percaya,” kata Siau Po yang suka melayani nona cilik itu berbicara
sebab setiap ucapannya mendapat sambutan.
“Perduli apa aku sakit? Aku lebih suka mati”
“Tidak Kau tidak akan mati”
Tepat pada saat itu, di pintu terdengar suara ketukan. Suaranya perlahan sekali, tapi
Siau Po dapat mendengarnya dengan jelas. Dia tahu saatnya thay-kam datang
mengantarkan makanan, Dia khawatir nona itu akan menjerit Karena itu dia segera
mengeluarkan sehelai sapu tangan yang kemudian digunakan untuk menyumpal mulut
si nona cilik. Setelah itu baru dia berjalan menuju pintu dan membukanya sedikit.
“Hari ini aku ingin mencoba masakan In lam. Beritahukan kepada koki istana, minta
dia menyediakannya”
“Baik” sahut si thay-kam kecil yang langsung mengundurkan diri.
Di dalam istana, terdapat banyak pelayan, semuanya dilakukan serba cepat. Karena
itu sebentar saja pesanan Siau Po sudah diantarkan.
Siau Po sendiri yang mengatur hidangan di atas meja yang ada di hadapan si nona.
Dia sendiri langsung duduk di depannya, Terlebih dahulu dia melepaskan sapu tangan
yang menyumpal mulut gadis cilik itu.
“Mari makan” katanya.: “lni daging kambing, ikan dan daging babi Nah, itu sup yang
enak sekali….” Siau Po langsung menyendoknya untuk dicicipi Mulutnya
memperdengarkan suara seperti sedang menikmati dengan Iahapnya.
Secara diam-diam Siau Po melirik ke arah gadi cilik itu. Si kuncu duduk berdiam diri.
Malah air matanya masih menetes sekali-sekali, Tampaknya dia benar-benar belum
lapar.

“Aih” kata Siau Po yang mulai kehilangan rasa sabarnya. “Mungkinkah seorang
budak kelas sembilan tidak bisa menikmati hidangan nomor wahid dan harus
menyantap ikan busuk dan daging basi Lihat Semur hidangan ini termasuk kelas satu.
Tapi, tidak apa-apa. sebentar aku akan menyuruh orang menyediakan daging basi dan
ikan busuk saja. Mungkin kau mau memakannya”
“Aku tidak makan hidangan busuk” sahut nona yang akhirnya membuka mulut juga.
“Tentu kau suka ikan busuk dan daging bau” kata Siau Po sengaja memanaskan hati
orang.
“Jangan sembarangan bicara” teriak nona itu “Aku tidak suka makanan bau”
Siau Po mengambil sepotong kepiting kemudian dimasukkan ke dalam mulutnya.
“Sedap” katanya, tapi ketika si kuncu masih juga belum memperlihatkan reaksi apaapa,
d meletakkan sumpitnya kembali lalu duduk merenung, otaknya bekerja
memikirkan akal apa yang harus digunakannya untuk menghadapi si putri bangsawan
ini.
Tidak lama kemudian, thay-kam kecil yang mengantarkan hidangan tadi datang
kembali. Kali ini dia membawa masakan khas Inlam sepoci teh keluaran wilayah itu. Dia
juga menyebutkan namanya satu per satu.
“Mari makan” kata Siau Po setelah mengunci pintu rapat-rapat, Dia kembali
mengatur hidangan yang baru dibawakan di atas meja. “Semua ini masakan ala In lam.
silahkan kau mencobanya”
Kuncu tertarik. Semua hidangan itu berasal dari kampung halamannya, Dia
menyukainya. Tiba-tiba saja seleranya muncul, Tetapi, ketika dia ingat perbuatan bocah
itu terhadapnya, hatinya menjadi sebal. “Tidak Aku tidak mau makan Biar dia
membujukku dengan cara apa pun” janjinya diam-diam.
Siau Po menjemput sepotong ham dengan sumpitnya kemudian disodorkannya ke
mulut si nona.
“Bukalah mulutmu” katanya sembari tertawa.
Bukannya membuka mulut,

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s