“ PANGERAN MENJANGAN” – “ LU DING JI “ 19

(pengurus rumah tangga) yang sudah berusia lanjut, Kho Gan-tiau segera menyodorkan
lima lembar kartu nama sembari berkata:
“Beberapa tuan serta saudara dari Bu-seng piaukiok, Tan-twi bun dan Tian-te hwe
datang mengunjungi Pek thayhiap dan Pek jihiap”
Mendengar disebutnya nama Tian-te hwe, sepasang alis orang tua itu langsung
menjungkit ke atas. Matanya mendelik lebar-tebar kepada para tamunya. Setelah itu dia
berlalu tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Ma Pok-jin sudah tua, namun sikapnya berangasan. “Budak tidak tahu diri” katanya
sengit.
“Ma loya benar” sahut Siau Po.
Tidak lama kemudian muncullah seorang pria berusia kurang lebih tiga puluh tahun.
Tubuhnya tinggi besar dan mengenakan pakaian berkabung, matanya masih merah dan
membengkak, bekas air mata masih terlihat jelas. Dia merangkapkan kedua tangannya
untuk menjura.
“Wi Hiocu, Ma loyacu, Ong Cong piautau serta tuan-tuan semua, terimalah hormatku
Aku Pek Han-hong menyatakan maaf karena tidak dapat menyambut dari jauh”
Ma Pok-jin yang tidak sabaran langsung bertanya:

“Pek Jihiap sedang berkabung, Bolehkah kami tahu siapa dalam keluarga jihiap yang
mengalami kemalangan?”
“Itulah kakakku Pek Han-siong” sahut Pek Han-hong.
“Aih, sayang sekali Pek tayhiap adalah panglima yang sangat diandalkan oleh Bhok
onghu, Namanya dalam dunia kangouw sudah terkenal sekali, Namun beliau toh masih
muda dan perkasa, penyakit apakah yang dideritanya sehingga tidak tertolong lagi?”
tanya Ma Pok-jin kembali.
Mendengar pertanyaan itu, tidak terduga-duga Pek Han-hong menatap lawannya
dengan sorot mata gusar.
“Ma loya, aku menghargai kau sebagai seorang tokoh tua dalam dunia persilatan.
Aku juga menyambut kedatanganmu dengan hormat, Tapi sekarang kau sengaja
menghina kami, padahal kau sudah tahu, tapi kau masih pura-pura menanyakannya?”
teriaknya sinis.
Siau Po bingung mengapa orang itu tiba-tiba menjadi marah, Saking terkejutnya dia
sampai menyurut mundur satu Iangkah.
Ma Pok-jin mengusap-usap janggutnya.
“Heran Benar-benar heran” katanya setelah tertegun “Justru karena lohu tidak tahu,
maka lohu bertanya, Kenapa lohu malah dikatakan sudah tahu masih pura-pura
bertanya? Apa maksudmu? walaupun jihiap sedang berduka karena kehilangan
saudara, tidak sepatutnya menimpakan kesedihan dengan marah kepada orang lain”
“Ma loyacu dan tuan-tuan yang lainnya, silahkan duduk dulu” kata Pek Han-hong
berusaha meredam emosinya.
“Duduk ya duduk” kata Ma Pok-jin yang masih mendongkol “Memangnya kami
takut?” Dia menoleh kepada Siau Po dan berkata, “Wi hiocu, silahkan duduk di atas”
“Tidak” sahut Siau Po. “Silahkan Ma loyacu saja.”
Pek Han-hong sudah melihat kartu nama yang dibawakan oleh pengurus rumah
tangganya. Memang ada sehelai diantaranya yang bertuliskan nama Wi hiocu dengan
nama lengkapnya Siau Po.
Tapi dia tidak menyangka orangnya masih seorang bocah cilik yang kekanakkanakan,
tiba-tiba dia menyambar tangan Siau Po dan membentak dengan suara
garang.
“Kaukah Wi hiocu dari Tian-te hwe?”

Siau Po terkejut setengah mati. Tanpa dapat mempertahankan diri lagi dia
mengeluarkan seruan tertahan Dia tidak menyangka akan diserang secara mendadak
sehingga dia tidak sempat menghindarkan diri.
Tangannya langsung terasa nyeri dan panas karena cekalan Pek Han-hong yang
keras, Bahkan dia hampir jatuh semaput dan air matanya langsung mengucur keluar.
“Kami semua merupakan tamu-tamu Anda, Pek jihiap, Harap jangan terlalu
menghina” bentak Hian Ceng tojin sambil meluncurkan sebuah serangan ke iga
lawannya.
Pek Han-hong heran mendapat kenyataan bahwa seorang hiocu dari Ceng-bok tong
ternyata demikian lemah, Cepat-cepat dia melepaskan cekalan tangannya dan
menyurut mundur sehingga terhindar dari serangan Hian Ceng tojin.
“Maaf” katanya.
Siau Po berdiri terpaku, Sebagian tubuhnya terasa kelu, Alisnya mengerut dan
wajahnya menyeringai menahan sakit, diam-diam dia menyusut air matanya.
Bukan hanya Pek Han-hong saja yang terkejut melihat Siau Po demikian tidak
berdaya, bahkan Ma Pok-jin, Ong Bu-seng dan lainnya juga merasa heran. Bukankah
bocah ini muridnya ketua Tian-te hwe, Tan Kin-lam? Mengapa ia tidak sanggup
menghindarkan diri dari serangan Pek Han-hong malah menjerit kesakitan dan
meneteskan air mata
Wajah Hian Ceng dan anggota Tian-tc hwe lainnya jadi jengah serta merah padam
saking malunya.
“Maaf” kata Pek Han-hong kembali “Sungguh malang nasib kakakku yang mati di
tangan anggota Tian-te hwe. itulah sebabnya aku tidak bisa mengendalikan diri
sehingga….”
“Apa?” tanya Ma Pok-jin dan yang lainnya setelah mendengar kata-kata itu.
“Apa? Pek tayhiap mati di tangan anggota Tian-te hwe? Tidak mungkin” teriak yang
lainnya.
Pek Han-hong kesal sekali sampai membanting-banting kakinya di atas tanah.
“Kalian bilang tidak mungkin?” tanyanya gusar. “Lalu kalian kira kakakku hanya purapura
mati? silahkan kalian lihat sendiri, Mari” Kemudian dia pun mengulurkan
tangannya kembali untuk mencekal Siau Po.
Kali ini Hian Ceng dan Hoan Kong sudah berjaga-jaga. Begitu si tuan rumah
menggerakkan tangannya, merekapun mengirimkan serangan ke arah dada dan
punggung Pek Han Hong.

Han Hong melihat datangnya serangan, batal dia mencekal tangan Wi Siau-po. justru
dia segera menangkis untuk melindungi diri. Hian Ceng menarik kembali tangan kirinya
lalu menyerang dengan tangan kanannya, sementara itu, tangan Hoan Kong beradu
dengan tangan Pek Han-hong.
Laki-laki she Pek ini menggeser tubuhnya sedikit untuk menghindarkan diri dari
serangan Hian Ceng, tanpa menunda waktu lagi dia mengirimkan sebuah totokan ke
arah kerongkongan Hoan Kong.
Hian Ceng menghindarkan diri, sedangkan Hoan Kong juga menyurut mundur tiga
tindak sehingga punggungnya membentur dinding. Sungguh hebat kepandaian Pek
Han-hong, dalam waktu yang bersamaan dia sanggup mendesak Hoan Kong
mengundurkan diri sekaligus membuat Hian Ceng kerepotan melindungi diri.
“Apakah kau benar-benar ingin berkelahi?” bentak Hoan Kong yang gusar karena
tangannya masih terasa nyeri akibat beradu dengan tangan lawan, dia maju lagi dengan
niat melakukan penyerangan.
“Kakakku sudah mati. Aku pun enggan hidup lebih lama lagi” teriak Pek Han-hong
tak kalah kalapnya, “Kawanan anjing Tian-te hwe, majulah kalian semuanya”
“Tahan” seru Yau Cun si tabib yang mempunyai kesabaran luar biasa, “Mungkin
dibalik semua ini telah terjadi kesalahpahaman Bukankah Pek jihiap menuduh bahwa
kakaknya telah dibunuh oleh anggota Tian-te hwe? Bagaimana duduk persoalan yang
sebenarnya? Dapatkah Pek jihiap menjelaskan lebih lanjut?” tanyanya.
“Mari kalian ikut denganku” ajak Pek Han-hong sambil mendahului yang lainnya
masuk ke ruangan dalam dengan langkah lebar.
Yau Cun beserta yang lainnya segera mengikuti. Mereka tidak merasa takut
meskipun sadar telah masuk ke dalam sarang harimau, sesampainya di dalam ruangan,
mereka menghentikan langkal kakinya karena melihat sebuah peti mati di kamar
belakang di mana di dalamnya terlihat sesosok tubuh yang membujur dan bagian
kepala serta kakinya tampak jelas.
Pek Han-hong menyingkap tirai kemudian berteriak dengan keras:
“Toako, kau mati penasaran sekarang aku hendak membunuh beberapa ekor anjing
Tian-te hwe untuk membalaskan sakit hatimu” Meskipun suaranya keras, namun agak
serak karena sudah terlalu banyak menangis.
Yau Cun beserta Ma Pok-jin, Lui It-siau dan Ong Bu-seng maju menghampiri peti
mati itu. Mereka dapat melihat dengan tegas bahwa mayat yang terbujur di dalamnya
memang Pek Han-sing. Yau Cun mendekati mayat itu dan memegang lengannya.
Han Hong tertawa dingin. “Kalau kau sanggup menghidupkan kakakku kembali, aku
akan menyembah sebanyak selaksa kali di hadapanmu”

Yau Cun menarik nafas panjang. “Pek Jihiap,” katanya sabar. “Seseorang yang
sudah meninggal, tidak mungkin bisa dihidupkan kembali, Aku harap kau bisa
mengendalikan kesedihanmu…. sekarang ada sesuatu yang ingin kutanyakan
kepadamu, benarkah orang Tian-te hwe yang membunuh kakakmu? Apakah dugaanmu
itu tidak keliru?”
“Aku… keliru?” Pek Han-hong mengulangi pertanyaan itu dengan mata mendelik,
Yau Cun merasa terharu, dia tahu Pek Han-hong benar-benar sedih atas kematian
kakaknya, bahkan Hoan Kong pun menahan emosinya, sehingga dia dapat berpikir
dengan kepala dingin.
“Dia baru saja kehilangan kakaknya, tidak heran dia sampai tidak dapat
mempertahankan kemarahan hatinya.”
Pek Han-hong berdiri tegak di depan peti mati kakaknya sambil bertolak pinggang.
Dia berteriak dengan suara lantang:
“Orang yang membunuh kakakku adalah Ci lautao si penjual koyo dari Tian-te hwe.
Aku pernah dengar bahwa nama asli orang itu ialah Ci Tian-coan. julukannya Pat-pek
Wan-kau (Si kera bertangan delapan) dan merupakan anggota Cam-tay tong di Tian-te
hwe Benar bukan? Apakah kalian masih ingin menyangkal?”
Hoan Kong dan yang lainnya saling menatap dengan perasaan bingung, kedatangan
mereka justru untuk mencari keadilan bagi Ci tian-coan, rekan mereka sendiri, Siapa
nyana, justru mereka mendengar kabar kematian Han Siong yang menurut adiknya
binasa di tangan Ci itu.
Saking gundahnya, Hoan Kong menarik nafas panjang dan berkata:
“Pek loji, Ci Tian-coan yang kau sebutkan itu memang benar orang Tian-te hwe, tapi
dia… dia….”
“Ada apa dengan dia?” tanya Han Hong,
“Dia telah terluka parah oleh toakomu,” sahut Hoan Kong yang masih merasa sedih,
“Keadaannya sangat mengenaskan bahkan nafasnya tinggal satu-satu, Bahkan
sekarang kami sendiri tidak tahu apakah dia masih hidup atau sudah mati, justru
kedatangan kami ingin menanyakan mengapa kau sampai menyerang kakak kami
sedemikian rupa, siapa sangka… aih”
Tapi Pek Han-hong sedang dilanda kesedihan yang tidak terkatakan, mana mungkin
dia bisa mengendalikan kemarahannya?
“Jangan kata kakak kalian itu belum mati, biar sudah mampus sekalipun, selembar
jiwa anjingnya tidak cukup untuk mengganti jiwa toako kami”

Hoan Kong menjadi gusar sekali melihat orang tidak dapat diajak berkompromi
secara baik-baik.
“Bicaramu sungguh kotor” tegurnya keras. “Apakah kau pantas disebut sebagai
orang rimba persilatan? sekarang katakan, apa sebenarnya yang kau inginkan?”
“Aku… tak tahu…,” teriak Pek Han-hong. “Aku hendak membasmi kamu orang-orang
Tian-te hwe yang mirip anjing pun tidak Aku ingin membunuh kalian semua, semua”
Selesai berkata, tuan rumah itu langsung menyambar sebatang golok yang
menggeletak di sisi mayat kakaknya.
Seiring dengan berkelebatan sinar golok, tubuh Pek Han-hong pun menerjang ke
arah para tamunya. Hoan Kong dan lainnya yang menyaksikan keadaan itu, segera
menghunus senjata masing-masing untuk berjaga-jaga.
“Jangan bergerak” Tiba-tiba terdengar teriakan yang memekakkan telinga.
Lui It-siau segera mencelat maju ke depan peti mati. sepasang kapaknya diangkat
tinggi-tinggi.
“Pek Jihiap, bila kau berniat membinasakan orang, bunuhlah aku terlebih dahulu”
katanya lantang.
Sesuai dengan namanya, yakni Lui yang berarti guntur dan Siau yang berarti siulan,
suaranya memang seperti geledek yang mengejutkan.
Pek Han-hong demikian kalapnya sehingga lupa diri, teriakan itu menyadarkannya
kembali.
“Untuk apa aku membunuhmu? Kau toh bukan pembunuh kakakku”
“Begitu pula dengan sahabat-sahabat dari Tian-te hwe ini. Mereka juga bukan orang
yang membunuh kakakmu, Lagipula anggota Tian-te hwe paling tidak berjumlah lima
puluh laksa jiwa, apakah kau sanggup membunuh semuanya?” sahut Lui It-siau.
“Aku tidak perduli” teriak Han Hong. “Ketemu satu akan kubunuh satu, ketemu dua
aku bunuh dua”
Tepat pada saat itu, di luar rumah terdengar suara derap kaki kuda yang sedang
mendatangi.
Sesaat kemudian suaranya berhenti di depan rumah tersebut.
“Mungkin tentara kerajaan” kata Yau Cun, “Simpan senjata kalian”

Hoan Kong semua menurut, mereka mendekati Lui It-siau. Han Hong pun terpaksa
menyimpa kembali senjatanya, namun dia masih berkata dengan garang.
“Sekalipun yang datang raja langit, aku tidak takut”
Sekejap kemudian terdengar suara ketukan pintu, lalu disusul teriakan seseorang,
“Pek jite (adik kedua) aku yang datang” Seiring suaranya, tampak seseorang
meloncati tembok pekarangan kemudian menerjang ke dalam rumah.
Orang yang datang usianya kurang lebih empat puluh tahun, pakaiannya berwarna
ungu, tampangnya gagah namun wajahnya pucat sekali.
“0h… benar rupanya Pek Toate…. Pek toate.,” serunya dengan suara bergetar.
Han Hong melempar golok di tangannya lalu menghambur ke depan.
“Oh, Sou siko, toako… dia… dia….” Tanpa dapat menahan kepedihan hatinya lagi, dia
menangis meraung-raung.
Kho Gan-tiau langsung bisa menduga siapa adanya orang itu.
“Kemungkinan besar dia inilah sin Jiu kisu Soukong yang termasuk salah satu
keciang keluarga Bhok….”
Pada saat itu pintu telah dibuka dan muncullah belasan orang yang serombongan
dengan orang she Sou itu. Di antara mereka terdapat beberapa perempuan, mereka
langsung mendekati peti mati Pek Han-Siong dan beberapa perempuan itupun
menangis tersedu-sedu.
Rupanya di antara mereka adalah istri-istrinya Pek Han-siong dan Pek Han hong.
Menyaksikan situasi itu, Hoan Kong jadi tida enak hati, Mereka menjadi malu sendiri
Lagipula dalam keadaan seperti ini, tentu mereka tidak bisa bicara secara baik-baik.
Karena itu, mereka saling lirik dengan yang lainnya, kemudian masing-masing
melangkahkan kaki dengan maksud meninggalkan tempat itu.
“Eh, kalian mau kabur?” bentak Pek Han-hong yang melihat gerak-gerik para
tamunya. “Tidak bisa” Dia langsung menerjang ke arah Hoan Kong yang
membelakanginya.
“Siapa yang mau kabur?” bentak Hong Kong marah. Dia menoleh serta menangkis,
Ketika melangkah, dia memang sudah meningkatkan kewaspadaan. Karena itu, dia
tahu dirinya diserang,
Yan Cun dan yang lainnya juga melihat keadaan itu, mereka terpaksa menghentikan
langkah kakinya. Tampak orang she Sou itu maju ke depan.

“Siapakah tuan-tuan ini?” tanyanya, “Maaf, aku belum mengenal mereka”
“Merekalah anjing-anjing dari Tian-te hwe” teriak Han Hong gusar “Toako justru
dibunuh oleh mereka.”
Mendengar kata-kata itu, orang-orang yang sedang menangis dengan sedih segera
mencelat ke depan dan menghunus senjata masing-masing. Mereka mengambil posisi
mengurung, semuanya menatap dengan pandangan bengis dan penuh kebencian.
Ong Bu-seng tertawa lebar.
“Ma toako, saudara Lui, Yau tayhu, kapan kita masuk menjadi anggota Tian-te hwe?
Orang-orang semacam kita, meskipun kita memohon, rasanya juga belum tentu
diterima”
Orang she Sou itu menjura kepada empat orang itu.
“Oh, rupanya tuan-tuan ini bukan orang dari Tian-te hwe? Dan yang dipanggil Yau
tayhu ini kalau tidak salah bernama Yau Cun, bukan? Aku yang rendah Sou Kong, kami
baru mendapat kabar bahwa adik Pek yang besar sudah menutup mata. itulah
sebabnya kami segera datang dari Wanpeng. Saking berduka, kami jadi lupa
berkenalan dengan tuan-tuan sekalian Harap maafkan” katanya sambil menjura sekali
lagi.
Ong Bu-seng membalas hormat sambil tersenyum. “Selamat berjumpa sungguh
bukan nama kosong julukan Sin Jiu kisu. pandanganmu jauh dan jiwamu gagah
perkasa”
Selesai berkata, piautau ini segera memperkenalkan rekan-rekannya, Pertama-tama
dia menunjuk kepada Wi Siau-po.
“lnilah Wi hiocu bagian Ceng-bok tong dari Tian-te hwe”
Sou Kong tahu bahwa Tian-te hwe mempunyai sepuluh bagian atau tong dan setiap
tong dipimpin oleh seorang hiocu yang gagah, Karena itulah dia menatap Siau Po
dengan heran, karena hiocu yang satu ini masih terlalu muda. Dia juga bingung melihat
dandanan bocah itu yang demikian mentereng.
“Maaf Sudah lama kami mendengar nama besarmu” katanya sambil menjura.
Selesai Ong Bu-seng memperkenalkan diri, Sou Kong juga memperkenalkan
rombongannya, Di antaranya terdapat dua orang adik seperguruannya, sedangkan
mereka bertiga juga termasuk saudara seperguruan dengan kakak adik she Pek. Ada
lagi muridnya Sou Kong serta nyonya Han Siong dan nyonya Han Hong.
“Pek jihiap” kata Yau Cun dengan nada lembut “Sebenarnya persoalan apa yang
membuat kalian berkelahi dengan anggota Tian-te hwe? Aku harap kau sudi

menjelaskan. Nama Bhok onghu dari Inlam sangat terkenal di dunia persilatan
sedangkan peraturan Tian-te hwe juga keras sekali, Tidak biasanya mereka bertindak
kasar atau berlaku kurang sopan terhadap sesama pecinta negara.
Menurut pendapatku yang rendah, urusan ini tidak boleh kita selesaikan dengan
kekerasan. Kami berempat yakni Ma loyacu, Lui toako, Ong piautau dan aku sendiri,
pada hakekatnya tidak mempunyai hubungan apa-apa dengan Tian-te hwe. Dan kami
juga tidak bersahabat akrab dengan pihak kalian.
Tetapi justru kami bersedia menjadi orang tengah bagi kalian. Karena itu, sudi
kiranya kalian memandang muka kami dengan memberi penjelasan selengkapnya,
Kami benar-benar bermaksud baik. Bahkan kalau bisa kami ingin mendamaikan.”
Ong Bu-seng juga langsung memberikan pendapatnya sebelum pihak tuan rumah
sempat mengatakan apa-apa.
“Bicara sejujurnya, Pek jihiap sekalian, sahabat-sahabatnya dari Tian-te hwe ini
sesungguhnya tidak tahu bahwa Pek tayhiap telah tiada, Kalau tidak, mana mungkin
mereka berani datang mengganggu kalian yang sedang tertimpa kemalangan…”
“Lalu, apa sebenarnya maksud kedatangan Wi hiocu dan tuan-tuan semuanya ke
tempat kami ini?” tanya Sou Kong.
Ong Bu-seng tersenyum lagi.
“Kami tidak berani berdusta, Kedatangan kami ini disebabkan pihak Tian-te hwe yang
mengatakan bahwa saudara mereka yakni Ci Tian-coan telah terluka parah di tangan
kedua saudara Pek. Kami para orang tua ini diminta untuk mewakilkan mereka
menanyakan duduk persoalan yang sebenarnya…”
“Kalau begitu, kalian datang kemari untuk menegur dan menghukum kami semua?”
“Kami tidak berani.” sahut Ong Bu-seng cepat. “Kami adalah orang-orang kangouw
yang hidup mengandalkan rasa persahabatan Kami tidak berani sembarangan
mengambil tindakan. Dalam urusan ini, siapa benar dan siapa salah, biarlah keadilan
yang menentukan dan keadilan adalah suara terbanyak. Kita tidak berbicara tanpa
mengandalkan hati nurani kita”
Sou Kong menganggukkan kepalanya.
“Ong Cong piautau benar, Nah, silahkan kalian duduk dulu” katanya sambil memberi
isyarat kepada rekan-rekannya untuk menyimpan kembali senjata masing-masing.
Kecuali Pek Han-hong, semuanya menuruti nasehat Sou Kong, Kemudian kedua
belah pihak mengambil tempat duduk masing-masing. Sou Kong juga duduk, tetapi
beberapa rekannya tidak, karena kekurangan kursi.

“Pek jite,” kata Sou Kong pada tuan rumah, “Coba kau jelaskan duduk persoalan
yang sebenarnya agar orang-orang dalam ruangan ini dapat mengerti.”
Pek Han-hong menarik nafas panjang.
“Kemarin dulu, kurang lebih menjelang siang hari….” Baru berkata sampai di sini,
kemarahannya meluap lagi. Tangannya bergerak, goloknya dilemparkan ke atas lantai
sehingga ada dua potong ubin yang somplak.
Setelah itu dia mengatur pernapasannya sebentar kemudian baru melanjutkan
kembali, “Siang itu aku duduk bersama kakak di sebuah kedai arak dekat Thianko, Tibatiba
datanglah seorang pembesar negeri bersama empat orang pengikutnya. Keempat
pengikutnya itu sungguh tidak enak dilihat.
Cara bicaranya kasar dan tidak bersopan-santun sedikitpun Mereka memesan arak
dan makanan dengan lagak seperti tuan besar, Mereka juga berbicara dengan aksen
Inlam.”
“Oh, mereka berbicara dengan aksen Inlam?” tanya Sou Kong.
“lya,” sahut Han Hong. “ltulah sebabnya aku dan kakak segera memasang telinga.”
Hoan Kong tahu bahwa keluarga Bhok berkuasa di Inlam, Kedua keluarga Sou dan
Pek juga berasal dari Inlam, Tentu saja mereka menaruh perhatian pada orang-orang
propinsi itu.
“Sembari minum arak, si pembesar berkali-kali mencela barang hidangan yang
menurutnya tidak lezat. Dan keempat pengikutnya segera meniru, Toako merasa
tertarik, otomatis dia ikut bicara, Mengetahui bahwa kita pun berasal dari Inlam,
pembesar itu mengundang kami bersantap ber-sama-sama. Karena itu kami pindah
duduk, Toako ingin mendengar segala sesuatu yang berkaitan dengan Inlam, karena
kita sudah lama sekali pindah kemari.
Kemudian diketahui bahwa pembesar itu bernama Yo It-hong dan atas keputusan Go
Sam-kui, dia telah diangkat menjadi camat wilayah Kiokceng”
“Tadi kau mengatakan bahwa mereka berbicara dengan aksen Inlam?” tanya Sou
Kong.
“lya, tapi dia berasal dari Tayli, Menurut peraturan, orang Inlam tidak boleh
memangku jabatan di wilayahnya sendiri, namun Yo It-hong mengatakan bahwa dia
tidak memperdulikan segala macam peraturan itu karena ia diangkat langsung oleh
Peng See-ong”
“Oh, nenek moyangnya” seru Hoan Kong sengit “Baru diangkat oleh si pengkhianat
Go Sam-kui saja, sudah begitu sombong”

Han Hong melirik ke arah tamunya itu dan mengangguk perlahan.
“Saudara… Hoan, kau benar,” katanya kemudian. “Ketika itu aku pun mempunyai
pikiran yang sama denganmu, namun Toako ingin mendengar kabar tentang Inlam,
itulah sebabnya dia pura-pura senang menemani pembesar itu berbicara. Bahkan toako
sengaja mengangkat-angkatnya, pembesar itu senang sekali, Semakin kata-katanya
mengenai Go Sam-kui. sekarang ini, semua pembesar yang pangkatnya tinggi maupun
rendah, adalah hasil pengangkatan Go Sam-kui. Bahkan banyak pembesar di ketiga
propinsi sucoan, Kwisay dan Kuiciu juga hasil pemilihan wilayah baratnya Go Sam-kui.
Katanya, biasanya bila raja mengangkat seorang pembesar, Go Sam-kui langsung
menempatkan orangnya terlebih dahulu, sehingga pembesar yang dipilih raja itu
ketinggalan Menurut Go Sam-kui jasanya sangat besar. Karena dialah, bangsa Boanciu
dapat merampas seluruh Tionggoan, itulah sebabnya dia sangat dipercaya dan
apapun usulnya tidak pernah ditolak oleh raja?”
“Apa yang dikatakan pembesar itu memang benar,” Ong Bu-seng turut memberikan
komentar “Ketika aku pergi ke beberapa propinsi barat daya untuk mengantar barang, di
Inlam dan Kuicu aku dengar sendiri, orang-orang di sana hanya tahu Go Sam-kui,
mereka tidak pernah tahu titah dari raja”
“Menurut pembesar itu,” kata Pek Han-hong melanjutkan kisahnya, “Menurut
peraturan yang ada, siapa yang menjadi camat, dia harus pergi dulu ke kotaraja untuk
menghadap raja dan nanti Sri Bagindalah yang akan mengangkatnya secara sah.
Tetapi kalau camat yang diangkat oleh Go Sam-kui, kedatangannya hanya untuk
formalitas saja, semakin banyak orang itu minum, ucapannya juga semakin jumawa,
Toako sengaja mengatakan bahwa dengan pembesar Yo yang menjadi camat, berarti
orang Inlam mengepalai orang Inlam sendiri, Tentu penduduk Inlam sangat berbahagia
karenanya, Mendengar kata-kata toako, pembesar Yo itu tertawa terbahak-bahak. Dia
berkata: “Hal itu sudah tentu” justru tepat pada saat dia mengucapkan kata-kata itu, di
meja lain ada seseorang yang berteriak.
“Oh, bangsat tua. Dia benar-benar musuh kita semua” Terus orang itu melompat
bangun, Tampak wajahnya merah padam karena menahan kemarahan.”
“Apakah kata-kata itu diucapkan oleh Pat-pil Wan-kan Ci Tian-coan, setan tua itu?”
tanya Sou Kong.
“Memang dia” sahut Han Hong. “Bangsat tua itu duduk di dekat jendela sembari
minum arak, dia terus menambahkan, katanya kalau orang setempat memangku
jabatan di asalnya sendiri, rakyat semakin diperas habis-habisan, Sebetulnya, kita toh
sedang berbicara, siapa suruh dia banyak mulut?”
Hian Ceng tertawa datar.
“Pek jihiap, kata-katanya Ci samko kami tidak salah, bukan?”

Han Hong terdiam sejenak, sulit baginya untuk menjawab pertanyaan itu, Sesaat
kemudian dia baru berkata kembali.
“Kata-katanya memang tidak salah, aku juga tidak mengatakan dia salah,.. tapi,
untuk apa dia ikut campur dalam pembicaraan orang lain? Coba kalau dia diam saja,
tentu tidak akan timbul urusan sepelik ini di antara kita.”
Melihat hati Han Hong masih panas, Hian Cen pun tidak mengatakan apa-apa lagi.
Pek Han-hong melanjutkan keterangannya.
“Yo It-hong marah sekali mendengar kata-kata orang itu, Dia menggebrak meja
keras-keras dan menoleh ke arah orang yang berbicara, Dia melihat orang itu sudah tua
dan punggungnya bungkuk, di sampingnya ada sebuah kotak obat yang sudah kumal
dan kotor.
Mengetahui bahwa orang itu hanya seorang penjual obat, pembesar itu langsung
menyentaknya dengan suara bengis: “Tua bangka tidak tahu mampus, apa yang kau
katakan. Keempat pengikutnya pun menghampiri dan mendamprat bahkan salah
satunya langsung merenggut leher pakaian orang itu.
Ketika itu mataku benar-benar lamur, aku tidak tahu orang itu mengerti ilmu silat
karenanya aku maju untuk memisahkan mereka, Maksudku hanya untuk meredakan
suasana yang mulai panas,”
“Pek jihiap, tindakanmu benar sekali, Kau patut disebut pemuda yang gagah perkasa
dan berhati mulia,” kata Hian Ceng memuji. Dia memang sengaja berkata demikian,
agar hatinya tuan rumah itu tidak panas terus.
Dengan demikian mereka bisa mencari penyelesaiannya, Bukakah pihaknya yang
meraih kemenangan? Pek Han-siong sudah mati, sedangkan ci Samko hanya terluka
parah, sebaiknya mereka bisa berdamai saja.
Tapi ternyata Han Hong tidak kena diangkat-angkat, dia malah tambah marah.
Matanya menatap ke arah Hian Ceng dengan mendelik.
“Orang gagah apanya? Aku justru menyesal mataku tidak mengenal orang, Aku tidak
melihat bahwa bangsat tua itu sangat licik malah aku menyangkanya manusia baikbaik.
Ketika itu Yo It-hong sudah berkaok-kaok bahwa orang itu berani memberontak
serta mencaci-maki dengan kalang kabut. Dia mengatakan bahwa orang kota raja
kebanyakan licik dan harus dihukum”
“Pembesar anjing itu sungguh keterlaluan” maki Hoan Kong yang mendongkol
“Sudah di Inlam berani memeras rakyat, di kota raja pun dia hendak mengunjuk
kuasanya”

“Buat menghina, pembesar itu tidak dapat berbuat sesukanya. Dia mengatakan
bahwa dia ingin meringkus orang itu untuk diserahkan kepada pembesar setempat
supaya dihukum rangket empat puluh rotan, Dia akan mengalungi leher orang itu
kemudian digiring di jalan raya agar dapat disaksikan oleh orang banyak,
Mendengar ucapan si pembesar itu, si bangsat tua itu tertawa terbahak-bahak, Dia
malah berkata: Tuan camat yang mulia, dari tadi mulutmu berkaok-kaok terus, apakah
kau tidak merasa letih? Biar aku yang hina memberimu selembar koyo agar mulutmu itu
tertutup rapat” Habis berkata dia membuka kotak obatnya dan mengeluarkan sehelai
koyo yang langsung di sobek lapisannya”
Semua orang yang ada dalam ruangan itu jadi tertarik hatinya dan ikut
mendengarkan dengan perhatian penuh.
“MuIanya aku heran melihat orang she Ci itu tidak takut terhadap pembesar negeri,”
kata Pek Han-hong melanjutkan penuturannya, “Aku bersama toako hanya
memperhatikan saja. Biasanya, kalau koyo akan ditempelkan harus digarang di atas api
dulu agar obatnya meleleh. Tetapi tidak demikian halnya dengan bangsat tua itu. Dia
menjepit koyo itu dengan kedua telapak tangannya dan obat itu langsung lumer.
Tenaga dalamnya hebat sekali, sementara itu, Yo It-hong masih juga memerintahkan
orangnya untuk meringkus si bangsat tua”
Bagian 14
Selama Pek Han-hong bercerita, Siau Po berpikir “Bagus, tentu pertunjukannya
bagus sekali, Aku akan mendengarkan dengan seksama”
“Menduga bahwa bangsat tua itu pasti sangat lihay, aku membiarkan saja tindakan
pembesar dan keempat pengikutnya itu, Salah seorang sok jago, dia mengatakan
bahwa dia akan maju sendiri menghadapi lawan, dia benar-benar maju ke depan
bangsat tua itu”
“Kau mau beli obat?” tanya bangsat tua itu, “Nah, ini obatnya” Dia pun meletakkan
obat itu di tangan si pengikut.”
“Pengikut itu menjadi gusar.”
“Hai, anjing tua Apa sebenarnya yang kau inginkan? bentaknya, sambil maju terus
ke depan.”
“Orang tua itu mendorong perwira atau mungkin tukang pukul tersebut, tangannya
yang satu tetap meluncur ke depan dan koyo yang masih panas itu langsung
ditempelkan di mulut pembesar itu. Karena nyeri, pembesar itu sampai berkaok-kaok,
namun karena mulutnya tersumpal, tidak ada suara yang keluar dari kerongkongannya
kecuali Akkk…. Uuukkkkk”

Mendengar cerita yang seru itu, Siau Po sampai tidak dapat menahan rasa gelinya
sehingga tertawa terpingkal-pingkal dan tepuk tangan keras-keras.
Pek Han-hong menolehkan kepalanya dan mendelik kepada si bocah, Siau Po jadi
ngeri melihat sinar matanya yang bengis sehingga tawanya tidak dapat dilanjutkan lagi.
“Bagaimana kelanjutannya?” tanya Sou Kong.
“Pembesar itu jadi kelabakan dan berusaha melepaskan koyo panas yang
menyumpal bibirnya. Si bangsat tua itu tidak berdiam diri, Tangannya bergerak dengan
cepat menyambar ke empat pengikut itu satu per satu kemudian melempar mereka
sambil berteriak: “Cepat kau bantu pembesarmu itu” Entah bagaimana cara bangsat
tua itu melakukannya, tahu-tahu tangan ke empat pengikut itu meluncur ke depan dan
menampar muka pembesar itu secara bergantian pembesar itu semakin kesakitan,
suaranya seperti ayam disembelih dan dalam sekejap mata kedua pipinya sudah
bengap tidak karuan dan merah padam”
Kembali Siau Po tertawa geli, Dia lupa sikap garang Pek Han-hong dan matanya
sengaja dialihkan ke tempat lain sehingga tidak perlu melihatnya.
Sou Kong menganggukkan kepalanya.
“Orang tua itu dijuluki Pat-pi Wan-hau, tidak heran kalau gerakan tangannya lihay
sekali, Konon ilmu Kim na-tay hoat nya hebat sekali, Ternyata sekarang telah terbukti.”
Pek Han-hong melanjutkan cerita nya.
“Kakakku tertawa menyaksikan peristiwa itu. Pada saat itu, penonton mulai ramai,
sebab rumah makan itu memang cukup laris, Si bangsat tua terus bergaya. Dia sengaja
berteriak-teriak seakan-akan membela pembesar itu, “Jangan jangan kalian pukuli
atasanmu itu” katanya. Tubuhnya mencelat ke sana ke mari, Tampaknya dia sedang
menghindarkan diri dari sasaran keempat pengikut tersebut, tetapi sebetulnya dia
malah menambah tamparan pada Yo It-hong. Dia baru berhenti setelah pembesar itu
roboh pingsan di atas tanah. Sibuklah keempat pengikut itu menolong junjungannya.
Namun sebetulnya mereka masih bingung, apa yang telah terjadi, Malah mereka
menduga sedang diganggu setan usil.
Tanpa banyak bicara lagi, mereka menggotong si pembesar dan meninggalkan
rumah makan itu dengan terbirit-birit. Pemilik rumah makan hanya bisa menggelenggelengkan
kepalanya sambil mengelus dada, Tentu saja dia tidak berani meminta ganti
rugi kepada pengikut pembesar itu”
“Bagus Bagus” seru Hong Kong tertawa terbahak-bahak. “Segala pembesar anjing
memang harus diberi pelajaran Terutama kaki tangannya Go Sam-kui. perbuatan Ci
samko sama artinya dengan melampiaskan kejengkelan di hati rakyat Eh, Pek jihiap….
Mengapa waktu itu kau tidak membantu Ci samko menghajar anjing pembesar itu
dengan beberapa bogem mentahmu?”

Pek Han-hong semakin mendongkol mendengar pertanyaan yang bersifat sindiran
itu.
“Bangsat tua itu kan hanya ingin memamerkan kepandaiannya, buat apa aku ikut
campur? Lagi pula dia yang sedang menghajar orang bukan dirinya yang sedang
dihajar, untuk apa aku membantu nya?” sahutnya kesal.
“Pek jihiap benar” kata Hian Ceng ikut memberi komentar.
“Huh” Pek Han-hong mendengus dingin. “Setelah rombongan pembesar itu berlalu,
toako memanggil pemilik rumah makan dan mengatakan bahwa dia akan menggantikan
semua kerugiannya, Bangsat tua itu tertawa dan mengucapkan terima kasih atas
ucapan toako itu.
Kemudian toako mengundang bangsat tua itu untuk minum bersama. Tahu apa yang
dikatakannya? Dia berbicara dengan suara perlahan. Terima kasih Terima kasih
Memang sudah lama aku dengar nama besar kalian berdua. Sungguh beruntung hari ini
kita dapat berjumpa
Mendengar kata-katanya, toako terkejut Rupanya dia sudah tahu dengan jelas siapa
kami adanya, sebaliknya kami justru tidak tahu siapa orang itu.
Lalu toako pun berkata: “Kami benar-benar merasa malu, Bolehkah kami mengetahui
siapa nama loyacu yang mulia?” Bangsat tua itu tertawa dan menjawab “Aku yang
rendah bernama Ci Tian-coan. Harap maafkan. Karena tidak dapat menahan emosi,
aku telah menunjukkan lagak yang berlebihan di hadapan saudara berdua, ilmu yang
buruk dan hanya membuat bahan tertawaan saja.”
Saat itu kami masih belum tahu siapa adanya Ci Tian-coan itu. Namun karena dia
memberi pelajaran pada pembesar musuh, kami yakin bahwa kami merupakan orangorang
dari golongan yang sama, Mungkin kalau bangsat tua itu tidak turun tangan, lama
kelamaan kami akan menghajarnya juga. setelah itu kami duduk bersama-sama dan
berbincang-bincang sembari menikmati arak.
Tampaknya ada kecocokan di antara kami, Karena merasa kurang leluasa berbicara
di rumah makan itu, toako langsung mengundang orang she Ci itu ke rumah kami,”
“Ah” seru Hong Kong tertahan, “Jadi Ci samko telah datang ke tempat ini dan
akhirnya berkelahi dengan kalian?”
“Siapa bilang kami berkelahi di sini?” kata Pek Han-hong dengan mata mendelik.
“Mana mungkin kami membiarkan orang mengacau di rumah kami sendiri? itu namanya
penghinaan”
Hian Ceng tojin menganggukkan kepalanya dan berkata: “Pek-si Siang-eng adalah
orang-orang gagah didunia kangouw, Tidak mungkin mereka berkelahi dengan orang di
rumahnya sendiri”

Pek Han-hong tersenyum kecil mendengar pendeta itu memujinya, Dia sempat
mengucapkan terima kasih, Kemudian dia melanjutkan ceritanya.
“Dengan segala kehormatan dan keramah tamahan kami mengundang bangsat tua
itu singgah di rumah kami. Setelah itu kami menanyakan bagaimana dia bisa mengenali
kami berdua, Bangsat tua itu tidak menutupi dirinya.
Dia mengatakan dengan terus terang bahwa dia adalah anggota Tian-te hwe. Dan
sejak kami datang ke kotaraja dia sudah tahu siapa adanya kami berdua, Menurutnya,
dia memang bermaksud berkenalan dengan kami dan kalau bisa menjadi sahabat kami.
Bangsat tua itu benar-benar pandai bicara sehingga kami percaya sepenuhnya, Dia
juga mengatakan bahwa dia memang sengaja menghajar pembesar anjing itu agar
perhatian kami tertarik dan dia menggunakan kesempatan itu untuk berkenalan dengan
kami.
Kami hampir menganggapnya sebagai orang baik-baik, Karena itu pula kami
membicarakan usaha kita menentang pemerintah Boan. Kami juga merundingkan
kemungkinan membangkitkan kembali kerajaan Beng, Kami bertiga, Bukan Hanya
berdua serta seekor anjing, semakin lama semakin merasa cocok satu dengan lainnya”
Siau Po mendongkol juga mendengar ucapan Pek Han-hong. Terang-terangan dia
sudah mengatakan “kami bertiga,” eh… tiba-tiba malah mangganti ucapannya dengan
“hanya dua orang dan seekor anjing” Kata-katanya itu benar-benar merupakan
penghinaan bagi Ci lautao, Bocah itu tidak dapat menahan dirinya lagi dan berkata.
“Dua orang manusia dan seekor anjing, mereka langsung merasa cocok satu dengan
lainnya”
Mendengar ucapannya si thay-kam cilik, Hoan Kong tersenyum, Yang lainnya juga
merasa geli sehingga rasanya ingin tertawa tapi akhirnya ditahan juga karena tidak
enak dengan tuan rumah yang sedang berduka.
Pek jihiap benar-benar marah mendengar kata-kata Siau Po. Matanya menyorotkan
sinar kebencian.
“Setan cilik, kau sengaja mengoceh sembarangan.”
Mendengar teguran yang kasar itu, Hoan Kong merasa tidak puas. Biar bagaimana
pun Siau Po adalah ketuanya.
“Pek jihiap, ini adalah hiocu kami, Biar usianya masih muda, dia tetap merupakan
ketua dari Ceng-bok tong. Dan semua anggota perkumpulan kami, tanpa ada yang
terkecuali, harus menghormatinya”
“Kalau memang hiocu, kenapa?” tanya Pek Han-hong seakan menantang.

Sou Kong cepat-cepat menengahi.
“Saudaraku ini sedang berduka, Karena itu belum bisa mengendalikan emosinya
ketika berbicara, Harap Wi hiocu memakluminya.”
Orang she Sou ini sudah banyak pengalaman dan dia tahu sampai di mana tingginya
kedudukan seorang hiocu dalam perkumpulan Tian-te hwe.
Pek Han-hong sendiri juga langsung tersadar. Dia sengaja memalingkan wajahnya
ke arah lain agar tidak perlu bertemu pandang dengan Siau Po. Terdengar dia
melanjutkan kata-katanya kembali.
“Setelah itu, kami bertiga….”
“Bukan bertiga” tukas Siau Po. “Hanya dua orang dan seekor anjing”
Han Hong benar-benar marah, meskipun kata-kata itu dia sendiri yang
mengucapkannya, Wajahnya sampai marah padam dan telunjuknya menuding Siau Po.
“Kau Kau” Pek Han-hong tidak meneruskan kata-katanya karena tiba-tiba dia dapat
menguasai dirinya kembali Dia segera menarik nafas panjang-panjang kemudian baru
melanjutkan ceritanya,
“Kita lantas membicarakan urusan menentang kerajaan Ceng dan membangun
kembali kerajaan Beng. Kita juga membayangkan setelah kerajaan Ceng dibasmi, kami
akan mengangkat kembali keturunan Sri Baginda Hong Bu untuk menduduki tahta
kerajaan Kata toako, setelah Sri Baginda wafat, hanya ada satu turunannya yang
cerdas dan pandai dan sekarang sedang menyembunyikan diri di daerah pegunungan.
Bangsat tua itu malah menyahut bahwa raja yang sah ada di Taiwan dan dalam
keadaan baik-baik saja.”
Ketika Pek Han-hong bercerita sampai di sini, baik Sou Kong, Yaou Cun, Ong Buseng
dan yang lainnya baru mengerti apa yang menjadi pokok perselisihan antara
kedua saudara Pek dan Ci Tian-coan. Rupanya kedua belah pihak sama-sama
berkeras bahwa junjungannyalah raja yang sah.
Tatkala Kaisar Cong

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s