“ PANGERAN MENJANGAN” – “ LU DING JI “ 18

bersembunyi dibalik pepohonan yang lebat sampai
akhirnya dia berhasil mencuri seekor kuda dan kabur pulang ke istana dengan jalan
memutar
Cerita karangannya dikisahkan dengan bagus sehingga kaisar Kong Hi tidak curiga
sedikit pun. Bahkan kaisar Kong Hi merasa gembira sekali sehingga dia menepuk bahu
thay-kam gadungan itu berkali-kali.
“Hebat kau, Siau Kui cu, Tentunya kau sudah banyak mengalami penderitaan” kata
raja itu.
“Tidak apa, Sri Baginda,” sahut bocah yang cerdik itu, “Sri Baginda, antek-anteknya
Go Pay banyak sekali, Mereka harus dicari dan ditumpas, Hamba tahu di mana
letaknya sarang persembunyian mereka. Bagaimana kalau sekarang juga kita
membawa pasukan untuk menyerang dan sekaligus menumpas mereka?”
“Bagus” seru kaisar Kong Hi, “Lekas kau ajak So Ngo-tu dan pimpin lima ribu tentara
berkuda untuk menawan para pemberontak itu”
Siau Po menerima baik perintah itu. Dia tidak beristirahat lagi. ia segera menyuruh
bawahannya menyampaikan perintah itu kepada So Ngo-tu. setelah itu dia segera
mengganti pakaiannya.
Sekejap kemudian dia sudah berjalan bersama So Ngo-tu untuk menjalankan tugas
yang diberikan kaisar Tentu saja dia bertindak sebagai penunjuk jalan.
Di tengah jalan pasukan tersebut disusul oleh orang suruhannya Kong cin ong,
karena pangeran itu bermaksud mengirimkan kuda Giok-ho cong yang sudah
dihadiahkan kepada Siau Po. Ketika sudah naik ke atas punggung kuda, penampilan
Siau Po jadi berwibawa sekali.
Tatkala pasukan tentara itu tiba di tempat Siau Po tertawan, sarang itu sudah kosong
melompong. Namun, atas anjuran si thay-kam gadungan, So Ngo-tu memerintahkan
orangnya untuk mengadakan pemeriksaan.
Kepala Go Pay digali dari dalam tanah kebun belakang, Di sana terdapat sebuah
lengpai yang bertuliskan Tempat bersemayamnya arwah Yang MuIia Go Pay
berpangkat Siau Po dari kerajaan Ceng yang Maha Besar.”
Di sana juga terdapat beberapa batang kayu yang berukir kata-kata pujian untuk
orang gagah nomor satu dari bangsa Boan, dapat dipastikan bahwa Tan Kin-Iam telah
mengatur semuanya dengan seksama demi memperkuat ceritanya Siau Po.

Mereka pun kembali ke istana. Meski tidak ada seorang tawanan pun yang berhasil
didapatkan, tapi So Ngo-tu dapat menghaturkan kepalanya Go Pay serta lengpai dan
beberapa batang kayu berukir huruf-huruf itu. Kaisar Kong Hi merasa puas sekali dan
menganggap panglimanya sudah berjasa besar kali ini.
“Selidikilah terus urusan ini” katanya kepada So Ngo-tu.
Siau Po juga senang sekali, Apalagi membayangkan bahwa raja pun telah kena
diperdaya olehnya. Begitu masuk ke dalam kamarnya sendiri, Siau Po langsung
menghitung uang yang diberikan So Ngo-tu kepadanya, jumlahnya mencapai empat
puluh enam laksa enam ribu lima ratus tail perak, semestinya dia menerima jumlah
yang kurang satu laksa, tapi So Ngo-tu memang ingin menyenangkan hatinya dengan
mengurangi bagiannya sendiri, dan Siau Po memang senang sekali menerimanya
Setelah menyimpan uangnya, Siau Po segera mengeluarkan kitab kecil pemberian
Tan Kin-lam. Kitab itu berisi ilmu tenaga dalam. Dia langsung duduk bersila dengan
sikap orang bersemedi. Tapi belum sampai setengah jam, dia sudah letih dan
mengantuk. Karena itu dia pun tertidur pulas.
Keesokan paginya, setelah terjaga dari tidurnya dan membasuh muka serta
mengganti pakaiannya kembali, Siau Po pun menghadap raja, Dia menyelesaikan tugas
cepat-cepat.
Siang hari dia kembali ke kamarnya sendiri untuk melatih diri, Tapi, seperti juga
kemarin, belum lama berlatih, dia sudah merasa capek dan tertidur
Rupanya kitab ilmu tenaga dalam yang diberikan Tan Kin-lam sangat sulit dipelajari.
Untuk berhasil, orang yang mempelajarinya harus mempunyai minat, tekad serta
ketekunan yang besar Siau Po cukup cerdas, minat pun ada, sayangnya ketekunannya
kurang.
Ketika Siau Po terjaga kembali, hari sudah larut malam, Diam-diam ia berpikir dalam
hati.
“Suhu menyuruh aku mempelajari kitab ini, tetapi isinya sama sekali tidak menarik”
Siau Po segera membalikkan halaman kitab itu. Selain gambar orang masih terdapat
banyak huruf-huruf di dalamnya, Sayangnya, Siau Po tidak bisa membaca, seandainya
bisa, kata-kata dalam kitab itu tentu akan memberikan bantuan kepadanya, Akhirnya
Siau Po menarik nafas panjang dan menyimpan kembali kitab itu.
Ketika menerima Siau Po sebagai murid, Tan Kin-lam melakukan satu kesalahan.
Dia tidak menanyakan apakah muridnya itu bisa membaca atau tidak. Mungkin bukan
hanya Kin Lam yang tidak terpikir sejauh itu.

Mengingat Siau Po sangat disayangi oleh Sri Baginda dan thayhou, orang lain pasti
tidak mempunyai keraguan terhadapnya, sebenarnya semua penjelasan itu tidak sulit di
mengerti, sayangnya Siau Po memang tidak bisa
“Bagaimana kalau aku bertemu lagi dengan suhu kelak?” pikirnya sambil rebah di
tempat tidur Bagaimana kalau suhu ingin melihat sampai di mana kemajuanku? Tentu
suhu akan kecewa….
Kemudian dia bangkit kembali dan mengeluarkan kitab pemberian Tan Kin-lam
kemudian dia duduk bersila lagi. Belum berapa lama rasa kantuknya sudah menyerang
lagi. Siau Po berusaha mempertahankan diri sekuatnya biarpun matanya terasa berat
dan sulit diajak berkompromi.
“Aih keluh Siau Po dalam hati, “Suhu orangnya baik dan kepandaiannya tinggi
sekali, sayang sekali pelajarannya tidak menarik sebagaimana halnya pelajaran Hay
kongkong”
Teringat akan pelajaran Hay kongkong, semangat Siau Po terbangkit kembali, cepat
dia mengambil kitab ilmu silat si thay-kam tua itu. Dia segera membukanya dan berlatih
menurut gambar yang tertera dalam kitab itu.
Baru bersila tidak berapa lama, Siau Po sudah merasa ada hawa hangat yang
mengalir dalam tubuhnya, diam-diam dia berkata dalam hati.
“Menurut keterangan suhu, habis berlatih hawa hangat memang akan keluar Karena
kalau aku mempelajari kitab yang diberikan suhu, hawa hangat itu tidak terasa?
Mengapa justru terasa begitu cepat kalau aku mempelajari ilmu si kura-kura tua?”
Siau Po juga merasa tubuhnya nyaman sekali.
Mempelajari kedua kitab tersebut, ilmu kepandaian Siau Po maju pesat, Tanpa
disadarinya, dia menggabungkan kedua macam ilmu tersebut, Kalau pelajaran yang
satu mengalami kesulitan, dia akan beralih kepada pelajaran yang lainnya, demikian
pula sebaliknya.
Dalam waktu sembilan hari, Siau Po sudah selesai mempelajari gambar pertama dari
kitab Hay kongkong, sementara itu, dia juga tetap dibantu oleh kitab dari gurunya.
Setiap kali berlatih, seluruh tubuh Siau Po pasti basah oleh keringat dan terasa nyaman
sekali, Namun dia sendiri tidak menyadari kemajuan yang diperolehnya dari gabungan
kedua pelajaran itu.
Semakin hari Siau Po semakin bersemangat, asal dia sudah selesai melayani Sri
Baginda, dia akan mengunci diri di kamar untuk berlatih. Setiap tanggal dua dan enam
belas ada pula thay-kam yang datang mengantarkan uang perak sebesar dua ribu tail
untuknya.

So Ngo-tu mengeluarkan uang yang tidak sedikit dan membagi-bagikannya kepada
beberapa selir raja, thay-kam dan siwi yang berpengaruh atas nama Siau Po.
Hal ini membuat kedudukan thay-kam gadungan itu semakin kuat, dalam waktu
beberapa bulan saja Siau Po sudah disukai oleh berbagai kalangan dalam istana, Di
mana saja dia muncul, selalu disambut dengan ramah. Bahkan raja sendiri juga
semakin menyayanginya.
Musim gugur telah berlalu, datanglah musim dingin. Suatu hari, di saat Siau Po
selesai melayani raja, tiba-tiba dia teringat akan gurunya.
“Suhu telah berpesan, apabila aku mempunyai urusan yang ingin dibicarakan dengan
suhu, aku boleh mencari si Ci, penjual koyo di Thianko, walaupun aku tidak mempunyai
urusan apa-apa, tapi sekarang aku mempunyai waktu senggang, ada baiknya aku ke
tempat itu. Siapa tahu suhu ada di sana Aku harus bertemu secepatnya, agar
kepandaianku mengalami kemajuan”
Dengan membawa pikiran demikian, Siau Po keluar dari istana, Setelah jalan
berputaran beberapa kali, dia mampir di sebuah kedai teh, Di sana ada tukang dongeng
yang sedang bercerita, Siau Po duduk menikmati secawan teh panas sambil memasang
telinga mendengarkan Kisah yang dituturkan adalah “Eng Liat-toan.” sebetulnya Siau
Po sudah sering mendengar cerita yang satu ini, tapi karena tukang dongengnya pintar
mengisahkan cerita itu, perhatian Siau Po sampai terpusat penuh.
Dia terus mendengarkan dan tidak disadari bahwa hari sudah menjelang malam,
dengan demikian hari itu dia tidak jadi menemui si Ci penjual koyo tersebut.
Di hari kedua kembali Siau Po keluar dari istana, tapi dia hanya berputar-putar saja,
kemudian mendengarkan cerita lagi, Hari itu, pikirannya juga dilanda kebimbangan Dia
merasa rindu kepada gurunya, namun dia juga khawatir dirinya akan ditegur, karena
pelajarannya yang tidak mengalami kemajuan, bisa-bisa dia dipecat dari jabatannya
sebagai hiocu dari Ceng-bok tong….
“Bukankah lebih enak jadi thay-kam saja?” pernah tersirat pikiran itu dalam
benaknya, Tapi dia merasa kehidupan seperti ini tiada artinya, meskipun dia bebas
melakukan apa saja.
Namun, dia juga tidak ingin menjabat sebagai seorang hiocu untuk selamanya, Dia
memang ingin bertemu dengan gurunya, namun tidak ada kepentingan apa-apa yang
harus dibicarakan “Buat apa aku mencari si Ci penjual koyo itu? Kalau sampai mulutku
kelepasan bicara atau membocorkan rahasia Tian-te hwe dan menimbulkan bencana
bagi perkumpulan itu, celakalah aku” pikirnya kemudian.
Satu bulan lebih kembali berlalu, dari tujuh puluh dua gambar yang tertera dalam
kitab Hay kongkong, dia sudah menguasai dua puluh satu di antaranya. Dia merasa
tubuhnya segar dan ringan, gerakan kakinya cepat dan ini membuat hati Siau Po
menjadi gembira.

Pada suatu hari, Siau Po pergi lagi ke kedai teh. Dia ingin mendengar kisah yang
dituturkan si tukang dongeng, Kisah yang dituturkannya masih “Eng Liat-toan” Pelayan
kedai itu sudah menyediakan tempat duduk karena mereka semua tahu bahwa dia
adalah thay-kam kesayangan Sri Baginda, Siau Po selalu disajikan teh yang baik. Dia
juga merasa senang karena orang-orang di sana sangat menghormatinya, Sedikitsedikit
dia dipanggil Kongkong,
Siau Po sedang mendengarkan dengan asyik, ketika ada seseorang yang berdiri di
sisinya sambil berkata:
“Numpang duduk”
Siau Po menolehkan kepalanya dan dia melihat seseorang sudah duduk di
sebelahnya. Bocah itu jadi kurang senang, sepasang alisnya menjungkit ke atas.
Orang itu tidak menghiraukan sikap kurang senang yang diperlihatkan Siau Po. Dia
malah berkata dengan suara perlahan:
“Aku yang rendah mempunyai koyo yang mujarab dan ingin kujual kepada kongkong.
Coba kongkong lihat dulu”
Siau Po memperhatikan, dia melihat orang itu meletakkan koyo di atas meja. Yang
aneh, koyo itu warnanya separuh merah dan separuhnya lagi hijau, Siau Po langsung
bertanya:
“Obat apakah itu?”
“Ini obat untuk menghilangkan racun dan menyembuhkan mata yang buta sehingga
melek kembali sahut orang itu, Dengan suara yang lirih dia menambahkan “Ada
namanya, Ki-ceng Hok-beng”
“Ki-ceng hok-beng”, adalah kata-kata sandi perkumpulan Tian-te hwe Arti
sebenarnya memang memusnahkan racun dan membuat mata buta melek kembali
Tetapi bagi perkumpulan Tian-te hwe sendiri artinya lain lagi, yaitu mengusir Ceng dan
membangun kembali Beng.
Siau Po memperhatikan orang itu Iekat-lekat. Usianya sekitar tiga puluh tahun,
tampangnya gagah, dengan demikian orang itu berbeda dengan apa yang pernah
dilukiskan oleh gurunya. Menurut gurunya Ci lotau orangnya sudah tua, Tapi dia
bertanya juga.
“Berapa harga obatmu ini?”
“Tiga tail uang perak dan tiga tail uang emas.”
“Apakah kau mau menjualnya dengan harga lima tail uang perak dan lima tail uang
emas?”

“Apakah tawaran itu tidak terlalu tinggi?”
“Tidak tinggi, tidak tinggi Asal obatnya benar-benar manjur, dapat menghilangkan
segala macam racun dan dapat pula membuat mata yang buta melek kembali. Bahkan
jika benar-benar demikian manjur, aku bersedia menjadi kerbau atau kudamu Sama
sekali tidak mahal” sahut Siau Po.
Orang itu mendorong obatnya ke hadapan Siau Po sambil berkata lagi dengan suara
lirih:
“Kongkong… aku ingin bicara denganmu.” Tanpa menunggu sahutan dari Siau Po,
dia langsung ngeloyor pergi.
Siau Po segera meletakkan uang dua ratus bun di atas meja, Setelah itu dia bangun
dan berjalan pergi, Orang itu berdiri di depan kedai, Melihat Siau Po melangkah keluar,
dia segera menuju ke arah timur. Kemudian dia menikung ke sebuah gang kecil, Di
tengah jalan dia menghentikan langkah kakinya.
“Bumi bergetar, tanjakan tinggi, parit di pegunungan indah,” kata nya.
Mendengar ucapannya, Siau Po langsung menyahut.
“Pintu menghadap laut besar. Tiga sungai mengalir menjadi satu laksaan tahun
lamanya.” Tan-pa menanti jawaban orang itu, dia bertanya, “Tuan, ini paseban merah,
tuan dari ruang yang mana?”
“Aku dari Ruang Bunga Merah.”
“Berapa hio yang disulut dalam ruangan itu?” tanya Siau Po kembali.
“Tiga batang” sahut orang itu.
Bagian 13
Siau Po menganggukkan kepalanya, Diam-diam dia berpikir dalam hati,
kedudukanmu lebih rendah dua tingkat daripadaku.
Terdengar orang itu bertanya lagi:
“Kakak, apakah kakak ini Wi hiocu yang menyulut lima batang hio dari Ruang Kayu
Hijau?”
“Benar” sahut Siau Po. Diam-diam dia berpikir kembali “Usiamu lebih jauh tua, tapi
kau memanggilku kakak. Enak sekali didengarnya Mengapa tidak sekalian saja
memanggil kakek atau paman ?”

“Aku yang rendah she Kho bernama Gan-tiau dari Hong-hua tong. Sudah lama aku
mendengar nama besar Wi hiocu, namun sampai sekarang baru sempat bertemu muka,
ini benar-benar keberuntungan bagiku” kata orang itu.
Tentu saja Siau Po senang sekali, tapi dia memang pandai menutupinya.
“Kakak Kho hanya memuji saja Kita toh orang-orang sendiri, jangan kau sungkan”
“Wi hiocu, di dalam tong kakak ada seorang saudara Ci yang biasa menjual koyo di
Thianko, Hari ini dia telah diserang oleh seseorang sehingga terluka parah. Karena
itulah aku sengaja datang untuk melaporkan kepada kakak” kata orang she Kho itu.
Siau Po terkejut setengah mati.
“Aku tahu saudara Ci itu,” katanya, “Selama ini aku selalu sibuk sehingga belum
sempat aku menemuinya. Bagaimana lukanya dan siapa yang menyerangnya ?”
“Kita tidak bisa berbicara di sini.” kata orang she Kho itu. “Silahkan hiocu ikut
denganku”
Siau Po menganggukkan kepalanya. Dia langsung mengikuti di belakang orang itu.
setelah melewati tujuh delapan gang, Gan Tiau sampai di sebuah lorong kecil, Mereka
masuk ke dalam sebuah toko obat yang atasnya terdapat tiga huruf besar namun tidak
dimengerti oleh Siau Po.
Di dalam Kho Gan-tiau berbisik kepada seseorang yang tubuhnya gemuk. Terdengar
orang itu menyahut: “Ya, ya” beberapa kali, Setelah itu dia mengangguk kepada para
tamunya dan berkata:
“Tuan sekalian ingin membeli obat pilihan, silahkan masuk ke dalam” Dia pun
mengantarkan tamu-tamunya ke dalam setelah merapatkan pintu.
Di dalam ruangan, orang itu membuka papan lantai yang kemudian terlihatlah
sebuah celah gelap. Setelah itu dia turun ke bawah lewat undakan batu yang terdapat di
dalamnya.
Ruangan bawah tanah itu demikian gelap sehingga Siau Po merasa curiga, Diamdiam
dia berkata dalam hatinya.
“Benarkah mereka ini orang-orang Tian-te hwe? Celaka kalau tempat ini rumah
jagal…” Meskipun demikian, dia tetap mengikuti di belakang Kho Gan-tiau.
Untunglah setelah berjalan sepuluh langkah, mereka sudah sampai di depan sebuah
pintu, Si pengantar membuka pintu tersebut kemudian mengajak mereka masuk ke
dalamnya, Ruangan itu mempunyai penerangan sehingga semuanya dapat terlihat
jelas.

Ukurannya kecil, jumlah orang di dalamnya ada lima, sedangkan orang keenam
sedang terbaring di atas sebuah balai-balai yang rendah. Dengan bertambahnya tiga
orang, ruangan itu menjadi sesak
“Saudara-saudara, inilah Wi hiocu dari Ceng-bok tong” kata Kho Gan-tiau
memperkenalkan.
Kelima orang itu segera bangkit dan memberi hormat serta menyambut kedatangan
Siau Po dengan gembira, Siau Po merangkapkan sepasang tangannya dan membalas
dengan menjura.
Gan Tiau menunjuk kepada orang yang terbaring di atas balai-balai.
“ltu kakak Ci, karena sedang terluka dia tidak dapat memberi hormat kepada hiocu”
“Tidak apa, tidak apa,” sahut Siau Po yang segera menghampiri orang itu.
Wajah si Ci pucat sekali, seperti tidak ada darah yang mengalir dalam tubuhnya,
sepasang matanya dipejamkan rapat-rapat. Nafasnya perlahan sekali, ada noda darah
di permukaan kumisnya yang sudah memutih.
“Siapakah yang melukai kakak Ci ini?” tanya Siau Po. “Apakah begundal Tatcu?”
“Bukan,” sahut Gan Tiau sambil menggelengkan kepalanya, “Yang melukainya
adalah orangnya Bhok ong-ya dari Inlam.”
Hati Siau Po benar-benar tercekat mendengarnya. Dia benar-benar tidak habis
mengerti dibuatnya.
“Orangnya Bhok ong-ya dari Inlam? Bukankah keluarga itu juga para pecinta negara
seperti halnya kita?” tanyanya kemudian.
Gan Tiau menggelengkan kepalanya.
“Menurut kakak Ci, ketika dengan susah payah dia berhasil kembali ke rumah obat
Hwe-cun tong ini, dengan terputus-putus dia sempat mengatakan bahwa orang yang
melukainya adalah dua anak muda she Pek dari Bhok ong-ya.”
“She Pek?” tanya Siau Po menegaskan “Bukankah mereka adalah putra-putra salah
satu dari keempat Keciang keluarga Bhok?”
“Bisa jadi.” sahut Gan Tiau. “Menurut kakak Ci, pertikaian mula-mula terjadi karena
kedua pihak berdebat soal Tong dan Kui. Saking sengitnya, mereka bercekcok,
akhirnya mereka jadi menggunakan kekerasan otomatis dengan seorang diri kakak Ci
tidak sanggup melawan dua pengeroyoknya itu.”

“Dua orang mengeroyok seorang lawan bukanlah perbuatan yang gagah” kata Siau
Po. “Tapi, apakah Tong dan Kui itu?”
Kho Gan-tiau segera menjelaskan: “Bhok ong-ya termasuk keluarga yang
mendukung Kui ong. sedangkan kami dari pihak Tian-te hwe dulunya merupakan
bawahan Tong ong. Kakak Ci bertempur justru karena ingin membela pangeran
junjungannya.”
Siau Po masih belum mengerti juga, “Apa yang dimaksud dengan orang-orangnya
Kui ong dan Tong ong?”
Kho Gan Tiau menjelaskan lebih lanjut “Kui ong bukanlah raja yang sah. Tong ong
kami barulah raja yang sesungguhnya”
Di antara kelima orang yang sejak semula sudah ada dalam ruangan itu, terdapat
seorang tojin berusia kurang lebih lima puluh tahun. Dia merasa keterangan yang
diberikan Kho Gan-tiau kurang jelas, karena itu dia segera menukas:
“Wi hiocu, ketika dulu Lie Cong menyerbu ke kota raja Peking dan memaksakan
kematian kaisar Cong Ceng dari dinasti Beng, Go Sam-kui juga memimpin angkatan
perang kerajaan Ceng menyerbu ke Tionggoan, Dalam hal ini dia berhasil, sehingga
seluruh Tionggoan kena dirampas lalu diduduki tentara musuh.
Pada saat itulah, para menteri yang setia dan para orang-orang gagah mendukung
anak cucunya Sri Baginda Beng thay-cou menjadi raja, Pertama-tama Hok ong dari
Lam-khia yang menjadi raja. Ketika Hok ong berhasil dibunuh oleh bangsa Tatcu, di
propinsi Hokkian, orang-orang mendukung Tong ong.
Tong ong didukung oleh keluarga Kok-sing ya, dengan demikian dialah raja yang
resmi, sementara itu, di dua propinsi Kwisay dan Inlam, ada kelompok lainnya yang
mendukung Kui ong serta ada lagi kelompok ketiga di Ciatkang yang mendukung Lau
ong. Merekalah raja-raja yang palsu”
Mendengar keterangan itu, Siau Po langsung memberikan komentar.
“Langit tidak mungkin dihuni dua matahari dan rakyat pun tidak bisa di bawah
pimpinan dua orang raja, Kalau sudah ada Tong ong, maka Kui ong dan Lau ong tidak
boleh dipilih lagi.”
“Memang” kata Gan Tiau, “Apa yang dikatakan hiocu tepat sekali”
“Tapi pihak Kwisay dan Ciatkang mempunyai pikiran yang berbeda, mereka tamak
akan kedudukan tinggl, mereka berkeras bahwa pangeran-pangeran yang didukung
oleh pihak masing-masinglah raja yang sah” Tojin itu menghentikan kata-katanya
sejenak, setelah mengatur pernafasan, dia baru melanjutkan kembali:

“Apa yang terjadi kemudian? Baik Tong ong, Kui ong maupun Lau ong mengalami
kegagalan. Tapi sampai sekarang semua orang masih tidak mau berhenti berusaha,
mereka sibuk mencari turunan dari ketiga raja tersebut untuk dipilih kembali. Bangsa
Han tetap ingin membangun kerajaan Beng, untuk itu tentu saja kerajaan Ceng harus
diusir dulu.
Ketiga pihak tetap mendukung junjungan masing-masing, Pihak yang pro kepada Kui
ong dan Lau ong mengatakan Tian te hwe sebagai pendukung Tong ong. Hal ini
memang tidak salah, karena kitalah sah. Pihak yang mendukung Kui ong dan Lau ong
hanya ingin merebut kedudukan saja,”
“Oh sekarang aku mengerti…,” kata Siau Po menganggukkan kepalanya. “Jadi pihak
Bhok ong-hu merupakan kelompok yang mendukung Kui ong, bukan?”
“Benar” sahut tojin itu. “Selama belasan tahun, tiga kelompok ini terus berebutan
satu dengan lainnya.”
Siau Po teringat ketika-mengadakan perjalanan dengan Mau Sip-pat, di sebelah
utara Kangou mereka bertemu dengan kedua kakak beradik she Pek. Di sebabkan
sedikit ucapannya, Siau Po sampai kena dicambuki Mau Sip-pat habis-habisan. Sejak
itu kesannya kepada kedua saudara Pek sudah kurang baik.
“Kalau Tong ong adalah raja yang sah, kedua kelompok lainnya tidak patut
memperebutkannya lagi, Bukankah menurut kata orang Bhok ong-ya itu berhati mulia?
Aku khawatir, kalau suatu hari beliau menutup mata, mungkin orang-orangnya akan
main gila”
“Apa yang dikatakan Wi hiocu memang benar.” kata Gan Tiau dan yang lainnya
serentak.
“Sebenarnya para orang-orang gagah dalam dunia kangouw selalu menghormati
Bhok ong-ya.” kata tojin itu melanjutkan keterangannya. “Buktinya kalau ada yang
melihat bendera putih dengan sulaman biru, orang selalu mengalah. Mungkin hal itulah
yang membuat orang-orang Bhok ong-ya menjadi besar kepala, sehingga sikap mereka
menjadi garang, itulah sebabnya kesabaran kakak Ci jadi habis.
Sejak dulu sampai sekarang, kakak Ci memang sangat menghormati Tong ong, tentu
dia tidak senang pangeran pujaannya dicela orang lain. Perasaan kakak Ci sangat
halus, mendengar orang menyebut nama almarhum Sri Baginda saja, air matanya
langsung menetes.”
“Tadi kakak Ci sempat tersadar sebentar dan mengharap kita semua akan
membalaskan sakit hatinya.” tukas Kho Gan-tiau. “Sekarang, orang yang berwenang di
wilayah ini hanya Wi hiocu seorang. Karena itu pula, menurut peraturan, kami harus
melaporkan hal ini kepadamu. Yang menjadi masalah, justru yang kita hadapi adalah
pihak Bhok onghu yang merupakan pecinta negara seperti haInya kita, Coba kalau
orang lain yang menjadi lawan kita, urusannya tentu tidak sepelik ini.”

Siau Po hanya mendengarkan dengan berdiam diri.
“Kata kakak Ci, sebetulnya sudah sejak beberapa bulan yang lalu dia mengharapkan
kedatangan Wi hiocu, Dia melihat hiocu berbelanja atau mendengar cerita di kedai
teh….”
“Oh rupanya dia telah melihat aku….”
“Ya,” kata Gan Tiau, “Menurut kakak Ci, apabila Wi hiocu mempunyai keperluan,
tentu akan menemuinya sesuai dengan apa yang telah dikatakan Cong tocu. itulah
sebabnya, meskipun dia melihat Wi hiocu, tidak berani sembarangan menyapa.”
Siau Po menganggukkan kepalanya, Dia memperhatikan si Ci lekat-lekat, kemudian
dia berpikir dalam hati.
“Kiranya si rase tua ini sudah mengenaliku dan sering menguntitku kemana-mana
sehingga dia tahu apa saja yang kulakukan. Bagaimana kalau dia bertemu dengan suhu
lalu mengoceh yang bukan-bukan? Ah, lebih baik dia tidak dapat disembuhkan lagi dan
langsung mati, Dengan demikian bereslah semuanya”
“Setelah kami berunding, akhirnya kami bersepakat untuk mengundang Wi hiocu
kemari.” kata si imam kembali “Kami berharap Wi hiocu dapat menyelesaikan urusan
ini.”
Mendengar kata-kata tojin itu, kembali Siau Po berpikir.
“Aku toh masih bocah cilik, memangnya apa yang bisa kulakukan?” Biarpun begitu,
Siau Po merasa bangga karena orang-orang menghormatinya.
Kemudian terdengar salah satu dari kelima orang yang mula-mula ada dalam
ruangan berkata:
“Pihak kami sering mengalah, karena kami menghormati Bhok ong-ya. Tapi kalau
bicara tentang membela negara, Kok-sing ya kami telah membangun jasa yang banyak
sekali.”
“Kalau kita mengalah lima bagian, mereka harus membalasnya sepuluh bagian,” kata
seorang lainnya sengit. “Tapi justru karena kita mengalah, mereka jadi besar kepala.
Apakah kita harus berlaku sungkan terus menerus? Kalau urusan ini tidak dapat
diselesaikan, apa yang akan terjadi kelak?
Pasti kita akan digilas habis-habisan dan diinjak-injak sampai kita tidak sanggup
mengangkat wajah lagi di kalangan masyarakat. Lalu, pada saat itu, bagaimana kita
harus melewati hari-hari? Dengan mengurung diri?”
Ketiga orang lainnya juga ikut menyatakan perasaan kurang puasnya, “Karena itu,
apa yang harus kita lakukan, terserah hiocu saja” kata tojin tadi kembali.

Pandangan mata orang-orang dalam ruangan terpusat pada diri hiocu yang masih
muda itu.
Siau Po sendiri kebingungan Kalau urusan lain, mungkin tidak sulit baginya untuk
mengambil keputusan. Tetapi urusan ini menyangkut perkumpulan Tian-te hwe,
masalah besar, Siau Po sendiri tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Apalagi dia
tidak mempunyai pengalaman sama sekali. Dia berbalik mengawasi orang-orang itu
dengan tajam.
Tiba-tiba orang yang barusan berbicara dengan suara lantang mengembangkan
senyuman, Siau Po heran. Tadi dia sengit sekali, kenapa sekarang dia tersenyum, apa
yang sedang tersirat dalam benaknya ? Dia juga melihat sinar mata orang itu yang
menyorotkan kelicikan.
Siau Po bukanlah Siau Po kalau dia tidak bisa menebak apa yang sedang terpikir
oleh orang itu.
“Ah Rupanya mereka bermaksud menyeret aku ke dalam lumpur supaya kelak
apabila ada apa-apa, aku yang bertanggung jawab, seandainya ada teguran dari Cong
tocu, mereka tentu akan lepas tangan. Mereka toh sudah melaporkan hal ini kepadaku
dan meminta saran dariku? Tidak Aku tidak akan membiarkan diriku terjerumus dalam
siasat mereka” katanya dalam hati.
Bocah yang cerdik ini pura-pura menundukkan kepalanya untuk berpikir, sesaat
kemudian dia baru mengangkat wajahnya dan berkata:
“Saudara sekalian, walaupun aku menjadi hio-cu, tapi jabatan itu kudapatkan secara
kebetulan karena aku berhasil membunuh Go Pay. Sesungguhnya aku tidak
mempunyai kepandaian apa-apa dan tidak sanggup mengajukan pemikiran apapun
Lebih baik totiang saja yang mencari akal, Totiang sekalian pasti jauh lebih pintar dari
aku.”
Tojin itu bernama Hian Ceng, Bibirnya tersenyum kemudian menoleh kepada
seorang laki-laki berusia setengah baya yang kumisnya sudah beruban.
“Hoan samko, kau lebih cerdas daripadaku, coba kau bilang, apa yang harus kita
lakukan?” tanyanya.
Orang yang dipanggil Hoan samko itu bernama Hoan Kong. orangnya jujur lagi
polos.
“Menurut pendapatku, tidak ada jalan lain kecuali langsung menemui orang she Pek
itu, Dia harus minta maaf pada kakak Ci, barulah urusan ini bisa diselesaikan. Kalau
tidak, tidak mempan menggunakan tata krama, kita terpaksa menggunakan kekerasan”

Beberapa orang yang lain juga sudah mempunyai pikiran yang sama sejak tadi,
tetapi mereka tidak berani mengutarakannya, sekarang mendengar Hoan Kong
mengatakannya, mereka segera menyatakan setuju.
“Hoan ko benar, paling baik kalau tidak perlu menggunakan kekerasan. Tapi kalau
tidak bisa dikompromikan baik-baik, kita harus menunjukkan bahwa pihak Tian-te hwe
bukan orang-orang yang mudah dipermainkan. Kakak Ci sudah dihina seperti ini, kita
tidak boleh berdiam diri” kata mereka serentak.
Siau Po menoleh kepada Gan Tiau dan Hian Ceng. “Nah, bagaimana pendapat
kalian berdua?”
“Apalagi yang dapat kita lakukan?” sahut Gan Tiau.
Hian Ceng hanya tersenyum, dia tidak memberikan komentar apa-apa. Siau Po
memperhatikan tojin itu lekat-lekat. Diam-diam dia berpikir dalam hati.
“Dia tidak mengatakan apa-apa, kelak apabila terjadi sesuatu, tentu mudah baginya
untuk menyangkal Baik Aku justru akan mendesaknya terus”
“Toatiang, apakah kau menganggap pendapat kakak Hoan masih kurang
sempurna?” Sengaja dia mengajukan pertanyaan itu.
“Bukannya kurang sempurna, tapi biar bagaimana kita harus berhati-hati, untuk
menempur pihak Bhok onghu, pertama kita tidak boleh kalah. Kedua, kita tidak boleh
membunuh orang, kalau pihak sana sampai ada yang jatuh korban, urusannya bisa
gawat” sahut Hian Ceng.
“Lalu, bagaimana kalau kakak Ci tidak bisa sembuh lagi?”
Hian Ceng menganggukkan kepalanya. “ltulah yang aku khawatirkan”
“Kalau begitu, pikirkanlah cara yang lebih bermanfaat, kalian toh lebih
berpengalaman dari aku.”
“Sebenarnya hiocu hebat sekali” kata Hian Ceng.
“Totianglah yang terlalu merendahkan diri sendiri” sahut Siau Po tidak mau kalah.
Keduanya pun tertawa lebar. Akhirnya mereka berunding, kebanyakan menyetujui
usul Hoan Kong tadi, Kemudian Siau Po diminta untuk memimpin mereka menuju Bhok
onghu.
Mereka ingin menegur serta meminta keadilan dari pihak pangeran itu, mereka
menyembunyikan senjata masing-masing. Siau Po memesan kepada mereka agar
bersabar seandainya harus terjadi bentrokan, biarkan pihak sana yang memulainya
terlebih dahulu.

“Namun kita membutuhkan beberapa orang lagi yang kepandaiannya tinggi,” kata
Hian Ceng. Dia mengusulkan beberapa busu sebagai saksi agar jangan sampai dituduh
Tian-te hwe yang sengaja mencari keributan.
“Kita juga harus berjaga-jaga agar kelak tidak disalahkan oleh Cong tocu”
“Lebih baik mengundang orang-orang yang kepandaiannya benar-benar tinggi.” kata
Siau Po yang terpaksa menurut pada suara orang banyak, Dia yakin orang-orang Bhok
onghu pasti lihay sekali, buktinya Mau Sip-pat pun segan kepada mereka.
Hian Ceng tersenyum.
“Kita mengundang orang yang mempunyai nama dan sudah lanjut usia saja, Yang
penting mereka menjadi saksi, bukan membantu kita berkelahi.”
“Yang sudah tua dan mempunyai nama, otomatis kepandaiannya tinggi juga, jadi kita
mendapatkan semuanya” kata Gan Tiau.
“Lalu, siapa yang akan kita undang?” tanya Hoan Kong.
Mereka berunding kembali, saksi itu harus mempunyai nama besar, tidak bersahabat
dengan pembesar negeri dan harus mempunyai kesan yang baik terhadap Tian-te hwe.
“Ja… ngan un… dang o… rang… lu… ar,” tiba-tiba Ci lautau yang baru tersadar
berkata dengan suara dipaksakan.
“Apakah saudara Ci tidak setuju kalau kita mengundang orang luar?” tanya Hoan
Kong.
“Ya… Wi hiocu… bekerja di istana… tidak boleh ada yang mengetahui… bahwa dia…
kenal dengan kita. Bi,., sa membahaya…kannya. Urusan…nya juga… ga… wat….”
Baru sekarang mereka ingat bahwa Siau Po adalah mata-mata perkumpulan Tian-te
hwe yang disengajakan berdiam di istana untuk mengintai gerak-gerik musuh. Rahasia
ini sekali-sekali tidak boleh bocor Cong tocu juga menugaskannya untuk urusan besar,
bukan urusan remeh seperti ini.
“Kalau begitu, sebaiknya hiocu tidak ikut dengan kami. Biar kami saja yang berbicara
dengan orang she Pek itu, bagaimana hasilnya akan kita laporkan kepada hiocu
kemudian.” justru sekarang Siau Po berkeras untuk ikut.
“Aku harus ikut. Untuk mencegah agar rahasia ini jangan bocor. kita tidak usah
mengundang saksi….” Siau Po memang agak jeri terhadap orang-orang Bhok onghu,
tapi dia penasaran ingin menyaksikan jalannya peristiwa itu.
“Kalau begitu, sebaiknya kita atur begini saja. Hiocu adalah atasan kami, hiocu mau
ikut, kita tidak boleh melarang atau mencegahnya. Kami yang bawahan harus turut apa

yang dikatakan sang ketua, sekarang sebaiknya hiocu merubah dandanannya sedikit
agar tidak ada orang yang mengenali.,.,” kata Hian Ceng.
Siau Po setuju dengan pikirannya. “Bagus-bagus sekali”
Ci lautau juga setuju, bahkan dia berkata:
“Kalau diatur dengan cara demikian, kita boleh mengundang saksi, cuma kalian
harus waspada, Nah, hiocu hendak menyamar sebagai apa?”
Pandangan setiap orang tertuju pada Siau Po. Bocah itu pun berpikir: “Lebih baik
menyamar sebagai pengemis atau anak hartawan?” Dia memang kagum sekali melihat
dandanan anak-anak orang kaya di Yang-ciu dan ingin sekali menirunya, Apalagi
sekarang dia mempunyai banyak uang.
Dengan cepat dia mengambil keputusan Siau Po langsung mengeluarkan uang
sejumlah seribu lima ratus tail, masing-masing terdiri dari uang kertas senilai lima
ratusan, Kemudian dia menyodorkan uang itu sambil berkata:
“Nah, siapa saudara yang bersedia menolong aku membeli seperangkat pakaian
yang indah?”
Semua orang merasa heran karena jumlah uang itu terlalu banyak.
“Jangan khawatir soal uang. Aku punya banyak,” kata Siau Po. “Yang penting
pakaiannya, makin bagus makin baik. Beli juga beberapa permata agar tidak ada orang
yang menyangka aku ini thay-kam.”
“Hiocu benar” kata Hian Ceng. “Saudara Kho, tolong kau pergi membelikan
keperluan Wi hiocu”
Gan Tiau menerima baik tugas ini.
Siau Po sendiri menambahkan lagi sepuluh tail, “Tidak apa kita mengeluarkan uang
sekali-sekali” katanya, Tindakannya itu membuat orang-orang dalam ruangan itu jadi
heran, Siau Po mengeluarkan uang lagi sebanyak tiga ribu lima ratus tail kemudian
disodorkan kepada Hian Ceng.
“Kita baru berkenalan belum sempat aku membelikan tanda mata apa-apa. Harap
totiang sudi menerima sedikit uang ini. Uang ini aku dapat dari bangsa Tatcu, boleh
dibilang perak haram”
Bocah ini ingin mengatakan “uang yang tidak halal,” tapi dia jaga ucapan itu.
Karenanya dia mengatakan “perak haram.”
Tian-te Hwe melarang anggotanya menerima uang tidak halal, itulah sebabnya Gan
Tiau dan yang lainnya termasuk orang miskin, Melihat jumlah uang yang begitu banyak,

mereka sampai terkesima. Memang Siau Po bermaksud mengatakan uang yang tidak
halal, tapi kata-kata yang tercetus dari mulutnya justru perak haram, Dengan demikian
berarti haram bagi bangsa Tatcu namun halal bagi mereka. Karena itu dengan senang
hati mereka menerimanya.
“Kita harus berpencar untuk mengundang beberapa orang saksi,” kata Hian Ceng.
“Karena itu, hari ini tidak sempat lagi kita pergi ke tempat Bhok ong-ya. Besok saja kita
tunggu kedatangan Wi hiocu, Jam berapa kira-kira hiocu bisa datang kemari?”
“Pagi aku banyak pekerjaan. selewatnya tengah hari baru sempat.” sahut Siau Po.
Dengan demikian mereka pun bubar.
Malam itu, Siau Po senang sekali sehingga di lupa berlatih, Besok paginya dia
menuju ke kama tulis raja untuk menyelesaikan pekerjaannya. Siang harinya dia
membawa uang cukup banyak, lalu per ke toko emas dan membeli sebuah cincin
bermata hijau dan sebuah kopiah yang dihiasi sebutir batu kumala putih yang besar
dengan dikelilingi empat butir mutiara.
Siau Po menghabiskan delapan ribu tail perak untuk semua itu, Dari toko mas
tersebut, ia langsung menuju toko obat di mana Gan Tiau yang lainnya sedang
menunggu.
Di sana dia diberitahukan bahwa mereka telah berhasil mengundang empat orang
saksi yang terdiri dari busu, guru silat ternama. Seorangnya dihadiahkan seratus tail,
Siau Po merasa jumlah itu terlalu kecil. Lima ratus tail perorangnya baru selesai
Setelah itu giliran Gan Tiau menunjukkan belanjaannya, Dia membeli seperangkat
pakaian yang lengkap dengan kaos kaki bahkan sepatunya, Juga baju luar yang
panjang serta rompi dari kulit rusa.
Bagian lehernya dihiasi bulu yang indah. Menurut Gan Tiau, baju itu merupakan
pesanan khusus yang dikerjakan sampai larut malam, Ongkosnya saja hampir lima tail
perak.
“Tidak mahal, tidak mahal” kata Siau Po yang mendapatkan pakaian yang indah itu,
Malah uangnya masih lebih banyak.
Setelah itu cepat-cepat dia berdandan. Kemudian mereka berangkat. Siau Po naik
joli, hal ini memang disengaja agar dalam perjalanan dia tidak terlihat oleh siapa pun.
Pertama-tama mereka menuju sebelah timur kota di mana terdapat sebuah ekspedisi
bernama Bu seng piaukiok untuk menjemput keempat orang saksi yang telah diundang.
Mereka terdiri dari Ma Pok-jin, guru silat Tan Twi, Yau Cun Tay-i, tabib yang mengobati
Ci lautau, Lui It-siau ahli ilmu kebal dari Tiatpou san, dan Ong Bu-seng, kepala Piau su
(piautau) dari Bu-seng piaukiok.

Empat ahli silat itu sudah mendengar bahwa hiocu dari Tian-te hwe itu seorang yang
usianya masih muda sekali, namun mereka tidak menyangka begitu mudanya sehingga
masih seorang bocah cilik. Mana tampangnya juga mirip seorang anak hartawan atau
putera orang berpangkat, Mereka semua mengagumi nama Tan kin-lam dan mereka
percaya muridnya pasti bukan orang sembarangan Karena itu tidak berani mereka
memandang sebelah mata.
Hanya sejenak mereka duduk untuk saling berkenalan, kemudian mereka-langsung
berangkat menuju tempat orang she Pek di Yangciu, Selain Siau Po yang naik joli, Ma
Pok-jin, Yau Cun juga demikian sedangkan Lui It-siau dan Ong Bu-seng menunggang
kuda. sisanya berjalan kaki.
Setibanya di depan rumah orang she Pek yang dindingnya berwarna merah, Kho
Gan-tiau bermaksud mengetuk pintu, namun saat itu juga dari dalam rumah
berkumandang suara tangisan.
Semua menjadi heran sekarang mereka baru melihat di kanan kiri pintu tergantung
lampion pintu dari kain putih, tanda berkabung, Melihat hal itu, Kho Gan-tiau tidak
berani mengetuk pintu tersebut keras-keras.
Beberapa saat kemudian pintu gerbang gedung itu baru dibuka oleh seorang koanke

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s