“ PANGERAN MENJANGAN” – “ LU DING JI “ 17

mengenai pertempuran di
Tinkang itu, Tapi kalau kau cerita terus, mungkin tiga hari tiga malam juga tidak akan
selesai. Bisa-bisa sampai kumis saudara Wi sudah tumbuh.”
Tiba-tiba Ma Tiau-hin menghentikan kata-katanya, Sebab dia teringat bahwa seorang
thay-kam tidak mungkin tumbuh kumis, diam-diam dia melirik ke arah Siau Po. Untung
saja bocah itu memperlihatkan wajah kurang senang, Dia khawatir bocah itu akan
tersinggung karenanya.

Tepat pada saat itu, Lie Lek-si muncul dan melaporkan bahwa meja sembahyang
telah selesai diatur Tan Kin-lam langsung mengajak semuanya menuju pendopo
belakang.
Siau Po melihat di atas meja sembahyang ada dua buah Cengpai (tanda peringatan)
yang masing-masing bertulisan “Tanda peringatan arwah kaisar dinasti Beng dan tanda
peringatan Jenderal besar Ciau Tou-tay ciangkun merangkap pangeran Yan Peng-kun
dari dinasti Beng, The Seng-kong.”
Di atas meja juga teratur rapi berbagai macam persembahan, misalnya kepala babi,
kambing, ayam dan ikan. Dalam tempat perabuan tertancap tujuh batang hio.
Semua orang langsung menjatuhkan diri berlutut memberi hormat pada kedua
lengpai tersebut, sementara itu, Coa Tek-tiong mengambil sehelai kertas dari atas meja
sembahyang kemudian membacanya.
“Langit dan bumi saksinya, kami bersumpah akan membangun kembali kerajaan
Beng, Kami akan membasmi bangsa Tatcu, Kami bersedia hidup dan mati bersama,
seperti tiga saudara dari zaman tiga Negara. Kami berjanji akan menjadi saudara antara
yang satu dengan yang Iainnya, kami mengakui langit sebagai ayah dan bumi sebagai
ibu, matahari sebagai saudara laki-laki dan rembulan sebagai saudara perempuan.
Kami juga menghormati Ngo-cou dan Si-cou Ban In-liong serta keluarga Hong
Hari lahir kami jatuh pada jam cu-sie tanggal dua puluh lima bulan ketujuh tahun
Khe-in. Kami semua, baik dari dua kota raja maupun tiga belas propinsi, kami tetap satu
hati satu tubuh. Bagi pemerintah sekarang, kami bukanlah apa-apa.
Kalau hati kami tergerak, semua hanya karena ingin membangun kembali kerajaan
Beng yang maha besar. Kami berjanji akan melaksanakan apa pun perintah Tan Kin-
Iam, kami akan menjelajahi lima sungai dan mengarungi empat lautan, demi
menemukan rekan-rekan sejiwa dalam perjuangan. Dengan ini kami meneteskan darah
kami sebagai penguat sumpah dan para malaikatlah yang menjadi saksinya”
Selesai membacakan kertas ikrar itu, Coa Tek-tiong berkata kepada Siau Po.
“Saudara Wi, kita mencontoh apa yang dilakukan tiga saudara angkat dari jaman
Sam Kok (tiga negara) kau mengerti bukan?”
“Aku mengerti,” sahut Siau Po. Tiga saudara angkat dari jaman Sam Kok adalah Lau
Pi, Kwan Kong dan Tio Hui. Mereka tidak terlahir dalam hari bulan dan tahun yang
sama namun bersedia mati dalam hari bulan dan tahun yang sama”
“Betul” kata Coa Tek-tiong. “Sekarang kau masuk menjadi anggota Tian-te hwe,
dengan demikian kita menjadi saudara satu dengan yang Iainnya, Kami juga menjadi
saudara dari Cong tocu, dan karena kau sudah menjadi murid beliau, otomatis kami
semua sekaligus juga menjadi pekhu dan siok-siokhu-mu.

Dulu, kalau bertemu dengan kami, kau harus berlutut dan menyembah, nanti setelah
masuk menjadi anggota yang berarti kita bersaudara, kau tidak perlu lagi melakukan
peradatan seperti itu”
“Baik” sahut Siau Po. Dalam hatinya dia berkata sendiri, “Bagus sekali”
Coa Tek-tiong berkata kembali: “Kita orang-orang dari Tian-te hwe juga disebut kaum
Hong Bun. Kata Hong diambil dari tahun kerajaan Sri Baginda Beng Thaycou, yakni
Hong Bu. Pemimpin kita yang pertama, seperti yang sudah kau ketahui adalah Kok
Sing-ya atau Ban In-liong.
Kita tidak berani sembarang menyebut nama asli Kok Sing-ya karena hal itu
berbahaya sekali, Bisa-bisa kita diringkus bangsa Tatcu Itulah sebabnya kami
menyebut Kok Sing-ya dengan panggilan Ban In-liong. Ban artinya laksa, di sini
mempunyai makna sebagai rakyat negeri kita yang jumlahnya ratusan ribu laksa jiwa,
sedangkan In-liong berarti mega mengiringi naga.
Dengan demikian Ban In-liong bisa berarti rakyat seluruh negeri mengiringi pemimpin
sesakti naga, Saudara Wi, ini adalah rahasia perkumpulan kita, jangan sekali-sekali kau
menyampaikannya kepada siapa pun, termasuk Mau Sip-pat saudara angkatmu sendiri.
Harap kau ingat baik-baik pesanku ini”
Siau Po menganggukkan kepalanya: “Aku mengerti”
“Yang dimaksudkan dengan jam cu-sie tanggal dua puluh lima bulan ketujuh tahun
Khe-in adalah waktu lahirnya perkumpulan kita ini. Ngo-cou adalah lima leluhur
perkumpulan kita, mereka adalah lima tokoh gagah perkasa yang telah mengorbankan
nyawanya demi kepentingan negara.
Leluhur kami yang pertama adalah Kam Hui. Sewaktu pasukan perang kami
menyerang Kangleng, aku memimpin sepasukan tentara Tin-peng, Atas titahnya Cong
tocu, aku bersembunyi di luar pintu kota sebelah barat Bangsa Tatcu….”
“Coa hiocu” tukas Ma Tiau-hin tiba-tiba. “Urusan pertempuran di kota Kangleng, kau
bisa ceritakan perlahan-lahan kelak, tentu masih belum terlambat.”
Coa Tek-tiong tersenyum meskipun ceritanya diputus oleh Ma Tiau-hin. Perlahanlahan
dia menepuk dahinya sendiri.
“Benar Benar Menceritakan pengalaman seru yang telah berlalu pasti tidak habishabisnya,
Baik-nya sekarang aku jelaskan saja soal peraturan dan segala larangan
yang ada dalam perkumpulan kita,” Coa Tek-tiong langsung menjelaskan hal-hal yang
perlu kepada Siau Po. Siau Po pun mendengarkan dengan penuh perhatian.
“Baiklah” kata Siau Po. “Aku telah mengerti dan akan mentaati semuanya”

Ma tiau-hin segera mengambil sebuah mangkok yang telah diisi dengan arak. Setiap
orang yang ada dalam ruangan itu menusuk jari tengah tangan mereka dengan sebuah
jarum, kemudian meneteskan darahnya ke dalam mangkok berisi arak itu. perbuatan ini
diikuti oleh Siau Po.
Kemudian mereka meminum satu teguk arak yang telah bercampur dengan darah
tersebut, dengan demikian berarti upacara telah selesai dan mereka pun sudah menjadi
saudara antara satu dengan yang lainnya, semuanya merangkul Siau Po dan memberi
hormat sekali lagi kepadanya.
Setelah itu, terdengar Tan Kin-lam berkata lagi: “Partai kami terdiri dari sepuluh tong.
Di depan ada lima pong dari lima tong dan demikian pula di belakang, Kelima tong
depan adalah Kian Hong-tong, Hong Sun-tong, Ki Hou-tong, Cam Tay-tong dan Hung
Hua-tong.
Kelima tong di belakang terdiri dari Ceng-bok tong, Cik Hwe-tong, Pek Kim-tong, Han
Sui-tong dan Oey Tou-tong. sembilan hiocu dari sembilan tong telah berkumpul di sini,
kecuali Ceng-bok tong yang tidak mempunyai hiocu karena In hiocu telah mati di tangan
Go Pay.
Sampai sekarang lowongan ini belum terisi. Setelah kematian In hiocu, para saudara
dari Ceng-bok tong pernah mengangkat sumpah di depan abu penghormatan saudara
Ban In-liong, bahwa siapa pun yang dapat membinasakan Go Pay, berarti dia telah
membalaskan sakit hati In hiocu dan orang itu akan diangkat menjadi hiocu Ceng-bok
tong sebagai pengganti In hiocu, Nah, saudara sekalian, benarkah kalian pernah
mengucapkan sumpah seperti itu?”
Serentak semua anggota Ceng bok-tong membenarkan kata-kata Cong hiocu
mereka.
“Benar”
Dengan sorot mata yang tajam, Tan Kin-lam mengedarkan pandangannya ke
sekeliling ruangan, Kemudian dia berkata lagi dengan nada lembut:
“Bukankah pernah terjadi perselisihan antara para saudara dari Ceng-bok tong
pemilihan seorang ketua sebagai pengganti In hiocu? Bukankah perselisihan itu jadi
reda karena kalian semua mengingat kepentingan perkumpulan ini? Nah, sampai
sekarang masalah itu masih terkatung-katung.
Bagaimana hal ini dapat dibiarkan saja? Tentu tidak baik akibatnya nanti, Bukankah
Ceng-bok tong merupakan bagian yang penting dalam perkumpulan Tian-te hwe, sebab
bagian inilah yang mengepalai seluruh saudara-saudara kita dari wilayah di sekitar
Kanglam. Kekosongan ini akan merugikan kita dan menguntungkan pihak musuh”
Semua anggota perkumpulan itu terdiam mendengar kata-kata ketua mereka, karena
apa yang dikemukakannya memang beralasan

“Sekarang aku ingin tanya, benarkah musuh besar kita Go Pay dibunuh oleh saudara
Wi Siau Po? Apakah benar saudara sekalian telah mengetahui bahkan beberapa di
antaranya menyaksikan dengan mata kepala sendiri?” tanya Tan Kin-Iam kembali.
“Ya, benar,” sahut Lie Lek-si dan Kwan An-ki. Lie-Lek-si malah menambahkan. “Kita
semua sudah mengangkat sumpah di depan abu penghormatan Ban In-Iiong, kita tidak
boleh mengingkari apa yang pernah kita ucapkan.
Kalau sumpah itu hanya angin busuk belaka, untuk apa lain kali kita mengangkat
sumpah lagi? Saudara Wi Siau Po memang masih muda, tapi aku Lie Lek-si bersedia
mengangkatnya sebagai hiocu kami, hiocu dari Ceng-bok tong”
Tentu saja Lie Lek-si paham apa arti ucapan Cong tocu tadi, karena itu dia langsung
mendahului menyatakan pendapatnya.
Kwan An-ki juga ingin memberikan pendapatnya, tetapi sudah didahului oleh Lie Leksi.
Diam-diam dia berpikir dalam hati:
“Bocah itu telah menjadi murid Cong tocu, dengan demikian dia bukan orang
sembarangan. Lie Lek-si tidak berbeda dengan aku yang menginginkan kedudukan
hiocu, namun sekarang ini kesempatan sudah tidak ada. Mendengar kata-kata Cong
tocu barusan, Lie Lek-si menyadari maksud hati Cong tocu tersebut Sungguh pandai
dia mengikuti perkembangan sehingga langsung mengemukakan pendapatnya,
semestinya aku tidak boleh kalah dengannya”
Itulah sebabnya Kwan An-ki segera berkata: “Benar sekali apa yang dikatakan Lie
toako, saudara Wi sangat cerdas. Di bawah bimbingan Cong tocu, kelak dia akan
menjadi seorang pemuda yang bisa menggemparkan dunia kangouw, Ya Kwan An-ki
juga bersedia mengangkatnya sebagai ketua Ceng-bok tong”
Mendengar kata-kata itu, Wi Siau Po langsung mencelat bangun, dia
menggoyangkan tangannya berulang kali.
“Tidak bisa Tidak bisa Apa itu hiocu atau joucu? Aku tidak sudi” katanya,
Sebetulnya hiocu berarti seorang ketua dari suatu seksi dalam sebuah perkumpulan
namun dalam kata-kata sehari-harinya hiocu juga bisa berarti tuan yang harum itulah
sebabnya Siau Po yang bengal mengatakan hiocu atau joucu “tuan yang bau.”
Sepasang mata Tan Kin-lam mendelik lebar-lebar dan mimik wajahnya menyiratkan
kewibawaan.
“Apa yang kau ocehkan?” bentaknya, Siau Po pun tidak berani mengatakan apa-apa
lagi.
Tan Kin-lam melanjutkan kata-katanya kembali. “Bocah ini telah membunuh Go Pay.
Hal ini tidak pernah terlintas dalam bayangan kita, namun ternyata toh terjadi. Oleh

karena itu, sudah sepantasnya kita menepati sumpah yang pernah kita ucapkan di
hadapan abu penghormatan toako Ban In-liong Bukankah kita telah bersumpah akan
mengangkat orang yang berhasil membunuh Go Pay sebagai hiocu Ceng-bok tong?
Justru karena ingin mengangkatnya sebagai hiocu, aku baru menerimanya sebagai
murid. Jadi bukan sebaliknya, Anak ini mempunyai bakat besar, juga cerdik. Di
kemudian hari entah berapa banyak kesulitan yang harus kuhadapi karenanya”
“Cong tocu, kami semua mengerti maksud hati tocu yang memikirkan kepentingan
kita semua,” kata Pui Tay-cong ketua dari Hong Sun-tong, “Bukankah Cong tocu
tadinya tidak mengenal saudara Wi, sebagaimana halnya saudara Wi juga tidak
mengenal Cong tocu? Kedua pihak tidak ada hubungan apa-apa sampai bisa bertemu
dihari ini. Memang sikap Cong tocu yang lain dari biasanya cukup mengejutkan, namun
kami mengerti semua ini demi kepentingan kita bersama.
Karena itu pula harap Cong tocu tidak perlu khawatir, meskipun usia saudara Wi
masih sangat muda, tapi kami yakin dia tidak akan melakukan sesuatu yang tidak
diharapkan Apalagi dengan adanya Lie toako dan Kwan hucu yang membantu sekuat
tenaga.”
Tan Kin-lam menganggukkan kepalanya, “Kita memilih Wi Siau-po sebagai hiocu
hanya untuk mewujudkan sumpah yang telah kita ikrarkan di hadapan arwah Ban In-
Liong toako,” katanya kemudian “Apakah saudara Wi bisa menjadi hiocu untuk
selamanya atau hanya untuk satu kali saja, masalahnya lain lagi. Yang penting kita
telah memenuhi sumpah yang telah kita ucapkan, seandainya besok dia berani main
gila atau menghalang-halangi pekerjaan kita yang ingin mengusir bangsa Boan, kita
boleh segera memecatnya tanpa ragu-ragu Lie toako, saudara Kwan, aku harap kalian
bersedia membantunya. Andaikata anak ini melakukan sesuatu yang tidak benar,
jangan segan-segan meIaporkannya kepadaku, jangan kalian menutupinya” Lie Lek-si
dan Kwan An-ki menganggukkan kepalanya serentak.
“Baik, Cong tocu,” sahut mereka bersamaan, Tan Kin-lam memutar tubuhnya
kemudian menjatuhkan diri berlutut di depan meja abu. Dia mengambil tiga batang hio
yang kemudian disulutnya lalu diangkatnya tinggi ke atas.
“Sebawahan Tan Kin-lam dengan ini bersumpah di hadapan toako Ban In-liong,
apabila murid kami yang baru Wi Siau-po melanggar aturan serta kurang bijaksana
dalam mengambil tindakan, kami akan segera memecatnya, Kami mengangkatnya
sebagai hiocu karena ingin mewujudkan sumpah yang telah kami ucapkan. Apabila Tan
Kin-lam tidak mentaati sumpah itu, biarlah arwah Ban toako menurunkan kutukannya
kepadaku”
Selesai berkata, Tan Kin-lam segera menyembah beberapa kali lalu menancapkan
hio di tempat dupa sembahyang dan menganggukkan kepalanya lagi sebanyak belasan
kali.

“Dengan berbuat demikian, Cong tocu telah menunjukkan kebijaksanaannya yang
tidak mementingkan diri sendiri, Kami semua menjunjung tinggi Cong tocu” terdengar
suara banyak orang mengomentari.
Siau Po justru mempunyai pandangan yang berbeda, Diam-diam dia berpikir dalam
hati:
“Bagus Aku kira kalian bermaksud baik mengangkat aku sebagai hiocu, tidak
tahunya kalian hanya menjadikan aku jembatan penyeberangan. Apabila kalian sudah
sampai di tujuan, jembatan pun akan dirobohkan kembali. Hari ini kalian mengangkat
aku sebagai hiocu yang untuk mewujudkan sumpah yang telah kalian ucapkan, besok
kalian bisa mencari seribu satu alasan untukk memecatku. Yang penting kalian tidak
mengingkari sumpah kalian sendiri, dan pada waktu itu, mungkin Lie toako atau Kwan
hucu yang akan menggantikan kedudukanku. Dengan demikian kalian tidak menyalahi
aturan”
Berpikir sampai di sini, dia segera berkata dengan suara lantang. “Suhu, aku tidak
mau menjadi hiocu”
Suaranya memang lantang, namun menyiratkan ketenangan sehingga Tan Kin-lam
menatap muridnya itu dengan heran. Bahkan orang yang ada di dalam ruangan itu ikut
menjadi bingung.
“Apa katamu?” tanya Tan Kin-Iam.
“Aku tidak bisa menjadi hiocu” sahut Siau Po tegas, “Aku juga tidak menginginkan
jabatan tersebut “
“Kalau merasa tidak sanggup, kau bisa belajar perlahan-lahan,” kata Tan Kin-lam
“Aku dapat membantumu, demikian juga saudara Lie serta saudara Kwan. Mereka telah
memberikan kesanggupannya untuk membantumu, jabatan hiocu dari Tian-te hwe
adalah sebuah kedudukan yang tinggi, Mengapa kau malah menolaknya?”
Siau Po menggelengkan kepalanya, “Aku tidak suka kedudukan itu, Sebab hari ini
aku diangkat menjadi hiocu, mungkin besok kau akan memecatku. Daripada mendapat
malu, lebih baik aku tolak jabatan itu, tanpa kedudukan, aku dapat melakukan apa pun
yang aku inginkan Begitu aku menjadi hiocu, aku seumpama telur yang didatangi setiap
orang untuk dicari tulangnya DaIam sekejap mata telur itu akan pecah dan habislah
semuanya”
“Telur ayam kan tidak ada tulangnya?” tanya Tan Kin-lam. “Biar pun orang
mencarinya, tetap saja mereka tidak bisa menemukannya.”
“Tapi telur dapat menetas menjadi anak ayam,” sahut Siau Po. “Sedangkan anak
ayam pasti ada tulangnya, Taruhlah tidak ada tulangnya, tapi asal orang mengambil
telur itu lalu dipecahkan dan bagian merah serta putih telurnya diaduk menjadi satu,
maka habislah sudah”

Para hadirin menjadi tertawa mendengarkan kata-katanya yang lucu.
Tan Kin-lam tetap bersikap sabar: “Kau kira usaha kami perkumpulan Tian-te hwe
seperti permainan anak-anak? Asal kau tidak melakukan kesalahan, setiap orang akan
menghormatimu sebagai seorang ketua yang bijaksana dari Ceng-bok tong. Siapa yang
berani memperlakukan kau dengan kurang hormat? Taruh kata mereka tidak
menghargai kau sebagai seorang ketua, mereka tetap akan menghormati kau sebagai
muridku “
Siau Po merenung sejenak.
“Baiklah” kata bocah itu akhirnya, “Sebaiknya sekarang kita bicara dulu secara
terus-terang. Kalau di kemudian hari kalian tidak menyukai aku menjadi ketua hiocu
Ceng-bok tong, aku harap kalian bicara sejujurnya, aku akan mengundurkan diri secara
sukarela, Aku tidak mau kalau kalian sampai sembarangan menuduh aku berbuat
kesalahan, atau menyeret aku tanpa alasan yang pasti lalu memenggal kepalaku”
Tan Kin-lam mengernyitkan keningnya, “Kau benar-benar suka saling tawar. Seperti
apa yang telah kukatakan sebelumnya, Asal kau tidak berbuat kesalahan, siapa yang
akan menuduhmu sembarangan atau memenggal kepalamu? justru sebaliknya, apabila
bangsa Tatcu menghajar atau membunuhmu, maka seluruh anggota perkumpulan Tiante
hwe akan membelamu dan membalaskan sakit hatimu Siau Po, seorang laki-laki
sejati, berani berbuat harus berani bertanggung jawab. Demi keadilan, dia tidak akan
mundur atau menyerah begitu saja. Sekali kau masuk menjadi anggota Tian-te hwe,
maka kau harus berani dan pantang mundur demi membela kepentingan negara, Siapa
yang hanya mengutamakan dirinya pribadi, apakah pantas dia disebut orang gagah?”
Mendengar diungkitnya soal orang gagah, hati Siau Po jadi tertarik. Dia teringat
tukang dongeng yang sering mengisahkan cerita-cerita tentang orang-orang gagah di
zaman dulu.
“Benar sekali, suhu Paling-paling juga batok kepalaku ini dipenggal, toh delapan
belas tahun kemudian aku akan menjelma lagi menjadi manusia.”
Kata-kata yang diucapkan Siau Po biasanya dicetuskan oleh orang yang sedang
digiring algojo menuju tiang gantungan atau akan menjalani hukuman mati dengan
kepalanya dipenggal orang-orang dalam ruangan itu langsung memberikan sambutan
meriah atas ucapannya itu
Tan Kin-lam juga ikut tertawa dan berkata: “Menjadi hiocu adalah suatu hal yang
menggembirakan, mana dapat disamakan dengan orang yang akan menjalani hukuman
mati? Lihatlah ke sembilan hiocu yang lain, mereka menjalankan tugas dengan senang
hati, Kau seharusnya mencontoh mereka”
Kwan An-ki segera menghampiri Siau Po lalu memberi hormat dengan
membungkukkan tubuhnya rendah-rendah.

“Sebawahan Kwan An-ki menghadap hiocu” katanya.
Mendapat penghormatan seperti itu, Siau Po tidak menolak atau membalas. Dia
langsung menoleh kepada Tan Kin-lam sambil bertanya:
“Suhu, apa yang harus tecu lakukan?”
“Kau harus membalas hormat” sahut Tan Kin-lam.
“Kwan hucu, apa kabar?” kata si bocah sambil merangkapkan kedua tangannya
menjura,
Tan Kin-lam tersenyum mendengar ucapan Siau Po.
“Sebutan Kwan hucu hanya panggilan umum karena itulah julukannya saudara
Kwan, Tapi di saat melangsungkan upacara seperti ini, kau harus memanggilnya Kwan
jiko”
Siau Po menurut, sekali lagi dia menjura sambil berkata. “Kwan jiko, apa kabar?”
Kwan An-ki hanya tersenyurn, sementara itu, Lie Lek-si menyesal karena telah
didahului oleh Kwan An-ki. Bergegas dia juga maju ke depan dan memberi hormat
kepada hiocu barunya itu. Setelahnya, sembilan hiocu yang lain pun melakukan hal
yang sama.
Selesai upacara, mereka duduk berkumpul di aula pertemuan. Cong tocu dan
sepuluh hiocu dari perkumpulan itu pun terlibat pembicaraan yang berkaitan dengan
urusan partai.
Ceng-Bok tong adalah seksi pertama dari kelima hou-tong atau tong belakang, Dan
terhitung bagian keenam dalam perkumpulan Tian-te hwe itulah sebabnya Siau Po
duduk di kursi deretan pertama sebelah kanan, Dan rasanya lucu melihat di sebelahnya
duduk orang yang sudah tua dan janggutnya sudah memutih semua.
Lie Lek-si, Kwan An-ki dan yang lainnya segera mengundurkan diri. Di dalam
ruangan itu hanya tinggal Tan Kin-lam dan sepuluh orang hiocu dari sepuluh bagian
perkumpulan Tian-te-hwe.
Di tengah ruangan ada sebuah kursi kosong, Tan Kin-lam menunjuk ke arah kursi itu
dan berkata kepada Siau Po.
“Kursi itu adalah kursi kedudukan Cu Sam thaycu” Dia menunjuk lagi ke kursi
kosong lainnya yang terletak di sebelah kursi pertama tadi, “Dan itulah kursi kedudukan
yang disediakan bagi The ongya dari Taiwan, Kalau kita sedang mengadakan rapat dan
keduanya tidak dapat hadir, maka kedua kursi itu dibiarkan kosong.,.”

Tan Kin-Iam menghentikan kata-katanya sejenak kemudian baru melanjutkan
kembali, “Saudara-saudara sekalian, silahkan saudara sekalian melaporkan dahulu
segala sesuatu yang menyangkut wilayah kalian masing-masing.”
Ada baiknya kita jelaskan terlebih dahulu mengenai perkumpulan Tian-te hwe.
Kelima tong di depan yaitu Lian-hoa tong mempunyai kekuasaan di propinsi Hokkian,
Tong kedua, yakni Hong-sun tong berkuasa di propinsi Kwitang, Tong ketiga, Ki-hou
tong menguasai propinsi Kwisai, Tong ke-empat, Cam-tay tong bermarkas di dua
propinsi, yakni Ouwlam dan Ouwpak, sedangkan tong kelima, Hong-hoa tong
menguasai propinsi Ciatkang.
Kemudian kelima houtong, yakni tong belakang, Ceng-bok tong berkuasa di
Kangsou, Cik-hwe tong di Kwiciu, Si-kim tong di Sicuan, Hian-sui tong di Inlam dan
Oey-tou tong di Tiong ciu, Hoalam,
Pertama-tama hiocu Coa tek-tiong yang melaporkan usaha mereka di Hokkian,
kemudian menyusul hiocu Pui Tay-hong dari Kwitang.
Tidak tertarik hati Siau Po mendengarkan laporan itu, kesatu karena dia memang
tidak mengerti kedua dia juga tidak tertarik terhadap masalah itu. Dia lebih senang
membicarakan soal perjudian Sampai giliran hiocu keempat yakni Lim Eng-tiau dari
Hian-sui tong, baru hatinya tergerak.
Lim Eng-tiau memberikan laporan dengan penuh nafsu sekali, Kadang-kadang dia
malah menyelipkan umpatan serta cacian, itulah sebabnya Siau Po tambah tertarik
mendengarkan kata-katanya.
“Go Sam-kui, penjahat besar itu, dia sangat menentang kita bangsa Han. Dia
memusuhi kita di mana saja. semenjak tahun yang lalu sampai sekarang, belum ada
sepuluh bulan namanya, sudah ada seratus tujuh puluh sembilan anggota perkumpulan
kita yang mati di tangannya.
Dia benar-benar telur busuk, induk kambing Dialah musuh dari keturunanku Tiga
kali berusaha membunuhnya secara diam-diam, selalu aku menemui kegagalan. Dia
mempunyai banyak pembantu yang lihay.
Terakhir malah aku sendiri yang turun tangan, celakanya bukan hanya tidak berhasil
bahkan lengan kiriku jadi kutung Manusia itu benar-benar raja kejahatan. Pada suatu
hari nanti, pasti dia beserta seluruh keturunannya akan jatuh dalam genggaman kita,
Pada waktu itu, aku ingin menghancur leburkan seluruh tubuhnya”
Mendengar disebutnya nama Go Sam-kui, para hiocu yang lain juga ikut marah dan
panas, Siau Po sendiri pernah mendengar nama Go Sam-kui ketika di Yangciu, Dialah
pengkhianat bangsa Han yang telah memimpin pasukan Boanciu masuk ke Tiong-goan
untuk menyerang, kemudian merampas kerajaan.

Go Sam-kui juga si raja jahat yang menjadi biang keladi pembunuhan di Yangciu,
Entah berapa banyak rakyat yang dikorbankannya di saat itu. Berkat jasanya ini pula,
dia diangkat menjadi Peng-seng ong, raja muda yang menguasai wilayah barat,
tepatnya di propinsi Inlam.
Setiap menyebut nama Go Sam-kui, rakyat bangsa Han pasti akan mengepalkan
tinjunya dan mengkertakkan gigi erat-erat karena mereka membenci orang itu sampai
ke tulang sumsum. Karena itu, Siau Po juga tidak heran mendengar hiocu Hian-sui tong
memaki dengan demikian hebatnya.
Dipelopori oleh hiocu Lim Eng-tiau, kedelapan hiocu yang lainnya segera membuka
suara ikut mencaci Go Sam-kui. Untung saja di sana terdapat Tan Kin-lam, kalau tidak,
mungkin mereka sudah mengeluarkan segala macam cacian terkotor yang pernah ada.
Siau Po senang sekali mendengar caci maki mereka, baginya semua kata-kata itu
adalah makanan sehari-hari. Tanpa dapat mempertahankan diri lagi, dia ikut memaki.
Akhirnya gaduhlah ruangan itu karena caci maki yang keras dan saling sahut menyahut.
“Cukup Cukup” seru Tan Kin-lam sambil mengibaskan tangannya berkali-kali, “Di
seluruh negara, bangsa Han setiap hari mencaci dan mengutuk Go Sam-kui, tapi
sampai hari ini dia masih tetap sehat wal “afiat dan bahkan masih menjadi seorang raja
muda, sedangkan percobaan pembunuhan atas dirinya selalu gagal”
Mendengar kata-kata sang ketua, Lie Si-kay dari Hong-hoa tong yang tubuhnya
pendek kecil dan agak pendiam ikut memberikan pendapatnya:
“Menurut pandanganku yang rendah, seandainya kita menyerang ke Inlam dan
menghabisi Go Sam-kui, tindakan itu masih belum berarti banyak bagi perkumpulan
kita, apalagi orang ini adalah pengkhianat besar bangsa, satu kali bacokan terlalu enak
baginya.Dia pantas menjalani berbagai siksaan berat seperti yang dialami tawanantawanan
yang pernah jatuh ke tangannya”
Tan Kin-lam menganggukkan kepalanya.
“Hiocu memang benar, Sekarang, dapatkah hiocu memberikan pendapatmu yang
berharga?”
“Urusan ini besar sekali, Lebih baik kita rundingkan bersama-sama. Aku sendiri tidak
mempunyai pandangan apa-apa. Cong tocu saja yang memberikan petunjuk”
“Memang urusan ini bukan main besamya, maka benarlah bahwa kita harus
merundingkannya bersama…” kata Tan Kin-lam. “Siapa juga tahu, pikiran satu orang
pendek, pikiran dua orang panjang. sedangkan jumlah kita ada sepuluh, ch… bukan,
sebelas Tentu kita bisa memikirkan sebuah akal yang baik.”

Tan Kin-lam menghentikan kata-katanya sejenak, pandangannya mengedarkan
orang-orang yang berkumpul dalam ruangan itu, baru dia kemudian melanjutkan
kembali.
“Kita ingin membunuh Go Sam-kui, tujuannya bukan hanya untuk membalas sakit
hati para saudara kita, tetapi untuk rakyat yang tercekam olehnya Kedudukan Go Samkui
di Inlam kuat sekali Mungkin Tian-te hwe kita tidak sanggup membasminya….”
“Biar bagaimanapun kita toh harus berusaha menghancurkannya” kata Lim Eng-tiau.
“Kita bisa mengadu jiwa dengannya”
“Sampai sebegitu jauh, buktinya kau belum berhasil, bahkan kau kehilangan sebelah
lenganmu” tukas Coa Tek-tiong.
“Apakah kau sengaja menghina aku atau ingin menertawakan kegagalanku?” tanya
Lim Eng-tiau dengan wajah kurang senang.
“Aku hanya bercanda,” sahut Coa Tek-tiong yang sadar telah kelepasan bicara, dia
segera menoleh kepada Tan Kin-lam dengan bibir tersenyum. “Cong tocu, harap
maafkan sikapku barusan.”
Kin-lam mengetahui bahwa hati Lim Eng-tiau masih panas mendengar ucapan Coa
Tek-tiong. Dia tidak ingin urusan ini jadi berkepanjangan.
“Saudara Lim,” katanya dengan nada sabar. “Membunuh Go Sam-kui adalah cita-cita
setiap bangsa Han. Orang terus berharap bahkan sampai memimpikannya, Jadi bukan
berarti hanya tugasmu seorang saja. Kalau bicara terus terang, kita semua juga belum
tentu bisa berhasil membunuhnya, namun kita toh tidak boleh putus asa begitu saja”
Kemarahan dalam hati Lim Eng-tiau sirap mendengar ucapan Cong tocunya.
“Apa yang Cong tocu katakan memang benar”
Terdengar Tan Kin-lam berkata kembali: “Untuk membunuh Go Sam-kui rasanya kita
harus bekerja sama dengan partai persilatan lainnya, dengan demikian baru kita bisa
mempunyai kekuatan yang besar. Di Inlam, Go Sam-kui mempunyai pasukan perang
yang jumlahnya laksaan jiwa, belum lagi pendamping-pendampingnya yang berilmu
tinggi, inilah yang membuat kita menghadapi kesulitan untuk membasminya…”
Terutama Siaulim pai dan Butong pai, kita harus berupaya untuk mengajak mereka
bekerja sama, karena selain murid-murid mereka banyak, kepandaian mereka juga
tinggi-tinggi” tukas Coa Tek-tiong.
“Aku ragu kalau pihak Siaulim pai bersedia bekerja sama dengan kita, menurut apa
yang kuketahui ketua Siaulim pai, yakni Beng Seng taisu, lebih mengutamakan soal
agama daripada urusan politik…” kata Yau Pit-tat, hiocu dari Oey-tou tong,

“Sejak beberapa tahun yang lalu, dia malah mengeluarkan peraturan baru. Para
murid kuil itu, baik yang hwesio atau yang preman, tidak boleh sembarangan terjun ke
dunia kangouw, Hal ini disebabkan kekhawatiran si taisu tua itu bahwa akan terbit
keonaran yang tidak diinginkan, Karena itu, aku rasa tidak mudah bagi kita untuk
mengharapkan dukungannya.”
“Pihak Butong juga bersikap hampir tidak berbeda dengan Siaulim pai,” kata Ouw
Tek-ti, hiocu dari Cam-tay tong di wilayah Ouwkong.
“In Gan tojin, pengurus kuil Cin-bu-koan, sudah lama tidak akur dengan kakaknya, In
Ho tojin, Di antara murid kedua belah pihak pun seperti ada ganjalan apa-apa. Aku
khawatir…”
Hiocu itu tidak dapat melanjutkan kata-katanya, tapi semua orang sudah maklum
memang sulit mengharapkan kerja sama dari pihak Siau lim pai maupun Bu tong pai.
“Kalau memang sulit mengharapkan kerja sama dari kedua partai itu, tidak ada
salahnya kalau kita bergerak sendiri saja” kata Lim Eng-tiau.
“Biar bagaimana, kita tidak boleh terburu nafsu…” tukas Tan Kin-lam. “Kita toh tahu
bahwa di dunia ini, partai persilatan tidak terdiri dari Siaulim pai dan Butong pai saja.”
Mendengar kata-kata ketua mereka, beberapa hiocu langsung mengajukan nama
Gobi pai dan Kaypang, Terutama Kaypang yang terkenal setia kawan serta jujur.
“Pokoknya, kalau kita belum mendapat kepastian, sebaiknya kita jangan
sembarangan membicarakan urusan, hal tersebut merupakan rahasia yang harus kita
jaga baik-baik” kata Tan Kin-lam.
“BetuI” sahut Pui Tay-hong. “Jangan kita memaksakan kehendak dan jangan sampai
kita kena batunya atau mendapat malu”
“Yang penting kita harus bisa menyimpan rahasia.” Sekali lagi Tan Kin-Iam
menegaskan “Kalau rahasia kita bocor, Go Sam-kui pasti akan membuat penjagaan
yang ketat…”
“Karena itu, mulai sekarang kita tidak boleh lancang. Untuk mendapatkan kerja sama
dari pihak lain, kita tidak boleh gegabah, Harus ada persetujuan terlebih dahulu dari
Cong tocu, jangan sekali-sekali mengambil keputusan sendiri” kata Lie Si-kay.
“ltu benar” seru beberapa orang lainnya sepakat.
“Sekarang kita belum bisa mengambil keputusan, karena itu, tiga bulan kemudian
kita berkumpul lagi di Tiangsi, OuwIam, dan kau, Siau Po, kau kembalikan ke istana,
Urusan Ceng-Bok tong boleh diserahkan saja kepada Lie toako dan Kwan hucu. Dalam
rapat di Tiangsi kau juga tidak usah hadir,” kata Tan Kin-lam selanjutnya.

“Baik,” sahut sang murid.
Tan Kin-lam menarik tangan Siau Po kemudian mengajaknya masuk ke dalam kamar
tadi.
“Kau dengar kata-kataku ini,” katanya kepada Siau Po. “Di dalam kota Peking, ada
seorang kakek penjual koyo (obat tempel) di sebuah tempat yang bernama Thiankio,
orang itu she Ci. Kalau orang lain menjual koyo berwarna hitam, koyonya justru
berwarna separuh hijau dan separuh lagi merah seandainya hendak menghubungi aku,
kau pergi saja ke Thiankio dan temui si Ci itu.
Agar tidak terjadi kesalahan dan dapat saling percaya, ada pembicaraan yang telah
diatur begini: Kau harus menanyakan kepada dia, apakah dia menjual koyo pembasmi
racun dan obat yang dapat membuat mata buta menjadi melek kembali. Nanti dia akan
menjawab, “obatnya ada, tapi harganya mahal sekali, YAKNI TIGA TAIL UANG EMAS
DAN TIGA TAIL UANG PERAK” Kau tawar, apakah dia menjualnya dengan harga lima
tail uang emas dan lima tail uang perak, Setelah itu dia pasti tahu siapa dirimu.”
Hati Siau Po jadi tertarik Dia tertawa lebar “Orang minta harga tiga tail, kita malah
menawar lima tail, di dunia ini mana ada peraturan seperti itu?”
“ltu merupakan isyarat kita, mendengar kau menawar lebih tinggi, dia tentu akan
menanyakan apa alasannya, Kau harus mengatakan bahwa tawaran itu sama sekali
tidak mahal. Malah kalau mata yang buta bisa melek kembali, kau bersedia menjadi
kerbau atau kuda baginya.
Nanti dia akan berkata, “Bumi bergetar, tanjakan tinggi dan parit di gunung indah.”
Dan kau harus menjawab: “Pintu menghadap laut besar, tiga sungai mengalir menjadi
satu laksaan tahun lamanya.”
Dia akan bertanya lagi: “Di sisi paseban bunga merah, di ruangan yang mana?”
Kau harus menjawab, “Ruang kayu hijau, yakni Ceng-bok tong.”
Kemudian dia tentu bertanya lagi “Berapa batang hio yang disulut dalam ruangan
itu?”
Kau jawab: “Lima batang hio.” Lima batang hio artinya kelima hiocu. Dalam
perkumpulan kedudukanmu jauh lebih tinggi daripadanya. Karena itu, bila ada urusan
apa-apa, kau boleh perintahkan dia untuk melaksanakannya.”
“Siau Po mengingat baik-baik semua tanya jawab yang aneh itu. Kin-lam juga
mengujinya beberapa kali sampai dia hapal betul.”
“Meskipun orang tua she Ci itu kedudukannya rendah, tapi kepandaiannya justru baik
sekali, Karena itu, jangan sekali-sekali kau bersikap kurang ajar kepadanya”

“Baik, suhu” sahut Siau Po.
Kin Lam menerangkan beberapa teori ilmu silat yang harus dilatih oleh Siau Po.
Kemudian baru dia berkata kembali:
“Siau Po, kita mempunyai tugas masing-masing yang harus dilaksanakan. Karena
itu, kita tidak dapat berkumpul lama-Iama. Nanti sesampai di istana, kau boleh
melaporkan bahwa kau telah diculik para penjahat, kemudian di malam hari kau
berhasil meloloskan diri dengan membunuh penjagaan.
Juga kau mengatakan boleh bahwa mereka datang ke tempat di mana kau ditahan,
yakni tempat ini. Kepala Go Pay akan kupendam di kebun sayur belakang rumah ini.
Kau boleh gali dan ambil kepala itu sebagai bukti. Dengan demikian kau tidak akan
dicurigai.”
Siau Po menganggukkan kepalanya, “Bagaimana dengan suhu dan yang lainnya?
Apakah suhu ingin menyingkir dari tempat ini?”
Tan Kin-lam mengangguk “Kalau kau sudah pergi, kami pun akan berlalu dari sini,
kau tidak perlu khawatir” Tan Kin-lam membelai kepala muridnya itu. “Siau Po, aku
harap kau akan menjadi anak yang baik. Bila ada waktu luang, aku akan datang ke kota
raja dan mengajarkan ilmu silat kepadamu.”
Siau Po mengangguk “Ya, Suhu,” katanya.
“Bagus, Nak. Pergilah, Kau harus berhati-hati, Bangsa Tatcu sangat licik, meskipun
otakmu cerdas sekali, tapi kau masih kurang pengalaman.”
“Suhu” panggil Siau Po sambil menundukkan kepalanya, “Sebetulnya aku tidak
kerasan lama-lama di istana, kapan kiranya aku bisa ikut suhu mengembara?”
Tan Kin-lam memperhatikan muridnya lekat-lekat.
“Sabarlah kau untuk beberapa tahun. Berusahalah untuk membuat jasa bagi
perkumpulan kita, Nanti setelah kau agak dewasa di mana suaramu sudah pecah dan
kumismu mulai tumbuh, tentu kau tidak dapat menyamar sebagai thay-kam lagi, itulah
saatnya kau meninggalkan istana”
Siau Po juga memperhatikan gurunya lekat-lekat, diam-diam dia berpikir dalam hati.
“Baiklah, aku akan berdiam di dalam istana saja, di sana aku bebas melakukan apa
pun yang aku suka, kalian toh tidak mungkin mengetahuinya. Dengan demikian, kalian
juga tidak menemukan alasan untuk memecat aku sebagai hiocu.
Setelah lewat beberapa tahun, kepandaianku juga akan bertambah tinggi. Kalau aku
sudah lihay, kalian belum tentu berani menentangku lagi”

Oleh karena itu, pikirannya yang tadi gundah menjadi gembira. Sebelum berangkat,
Siau Po menemui Mau Sip-pat untuk mengucapkan selamat berpisah.
Siau Po tidak menceritakan apa-apa, meskipun Mau Sip-pat banyak bertanya. Laki-
Iaki itu tidak tahu kalau adik angkatnya sudah menjadi hiocu Ceng-bok tong, bahkan
diterima sebagai murid oleh Tan Kin-lam. Hatinya prihatin sekali.
Di samping itu, Siau Po juga telah mendapatkan semua barangnya kembali, juga
pisau belatinya yang luar biasa tajamnya itu, Ketika ia akan berangkat, Siau Po
diberikan seekor kuda dan diantarkan oleh Tan Kin-lam sampai di depan pintu.
sedangkan Kwan An-ki, Lie Lek-si serta yang lainnya mengantar sampai sejauh tiga li.
Siau Po menanyakan sampai jelas jalan menuju kota raja, Kemudian dia melarikan
kudanya dengan cepat ke tempat tujuannya itu, Ketika dia sampai dikota raja, hari
sudah menjelang malam, Tanpa menunda waktu lagi, dia menuju istana dan
menghadap kaisar Kong Hi.
Kaisar Kong Hi telah menerima laporan dari anak buahnya bahwa Siau Po diculik
oleh antek-antek Go Pay. Dia menduga bahwa thay-kam kesayangannya itu telah
dicelakai oleh mereka.
Dia juga sudah menitahkan seorang jenderal, dengan membawa pasukan pergi
mencari orang-orang yang bertanggung jawab atas kejadian ini. Meskipun puluhan
orang telah ditangkap dan diinterogasi, tetap saja tidak ada hasilnya.
Justru tepat di saat kaisar Kong Hi pusing memikirkan keselamatan thay-kam
gadungan itu, tiba-tiba dia mendapat laporan bahwa Siau Po sudah pulang, bukan main
gembiranya hati raja cilik itu.
“Lekas perintahkan dia menghadap secepatnya”
Tidak lama kemudian, Siau Po pun menghadap dan memberi hormat kepada sang
raja.
“Oh Siau Kui cu… bagaimana kau bisa meloloskan diri dari tangan musuh?”
tanyanya dengan nada terharu.
Siau Po telah diajari bagaimana harus berdusta, dia juga sudah memikirkan katakata
yang harus diucapkannya sepanjang perjalanan. Karena itu dia tidak mendapat
kesulitan sedikit pun dalam mengisahkannya.
Dia menceritakan bagaimana dia ditawan oleh pihak musuh, bagaimana dia dibawa
dengan dimasukkan ke dalam sebuah drum lalu dijejali buah tho. Dia juga menceritakan
bahwa dia akan dibunuh untuk menjadi korban, bahkan meja sembahyang sudah
disediakan.

Sampai akhirnya ada salah seorang dari rombongan penjahat itu yang mengusulkan
agar hukumannya ditunda duIu, dia pun dikurung dalam sebuah kamar gelap. Dia
kemudian berhasil meloloskan diri setelah membunuh seorang penjaga.
Siau Po mengatakan bahwa dia

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s