“ PANGERAN MENJANGAN” – “ LU DING JI “ 16

dengan harapan ada panggilan lagi dari tocu atau ketua pusat
mereka.
Kali ini muncul empat orang penunggang kuda, salah satunya yang menjadi
pemimpin langsung menghampiri Mau Sip-pat kemudian menjura daIam-dalam.
“Cong tocu mengundang tuan Mau Sip-pat dan tuan Wi Siau Po untuk bertemu
muka”
Bukan main senangnya hati Mau Sip-pat. Dia sampai meloncat turun dari
usungannya, namun sesaat kemudian dia langsung menjerit keras dan roboh jatuh.
Kegembiraan yang meluap-luap membuat dirinya lupa bahwa tubuhnya masih
menderita sakit, tapi dia menahan rasa nyeri itu.
“Mari kita pergi” katanya penuh semangat. Wi Siau Po juga senang sekali Tapi
alasannya lain dengan Mau Sip-pat.

“Orang biasanya memanggil aku dengan sebutan kongkong, sehingga aku merasa
sebal, Baru kali ini ada yang memanggil aku tuan. Ya, baru pertama kali Tuan Wi Siau
Po” pikirnya antusias.
Mau Sip-pat mengucapkan terima kasih. Dua orang segera menggotongnya ke atas
usungan. sedangkan seorang lainnya menyodorkan seekor kuda kepada Siau Po agar
bocah itu menungganginya.
Sejenak kemudian semuanya berjalan beriringan, mereka membelok ke kanan di
mana ada sebuah jalan kecil. Di antara jarak tertentu, selalu ada dua atau tiga orang
yang melakukan penjagaan Ada yang berdiri dan ada juga yang duduk.
Setiap melewati orang-orang itu, utusan yang ditugaskan menjemput Mau Sip-pat
dan Siau Po selalu menunjukkan dua atau tiga jari tangannya. Hanya saja gerakan
tangannya berbeda-beda, Rupanya itu semacam kode di antara mereka.
Baik Mau Sip-pat maupun Siau Po sama-sama tidak mengerti arti kode itu, yang jelas
itulah tanda rahasia dari perkumpulan Tian-te hwe.
Mereka berjalan terus sejauh dua belas atau tiga belas li. akhirnya mereka tiba di
depan sebuah gedung yang besar dengan pekarangan yang luas sekali, Di sana juga
terdapat puluhan penjaga.
Orang yang menjadi utusan itu segera melompat turun dari kudanya dengan diikuti
rekan-rekannya yang lain, mereka menggerakkan tangannya memberi isyarat. Melihat
itu, seorang penjaga langsung berkata dengan suara Iantang, “Tamu-tamu sudah
datang”
Pintu gerbang pun segera dibuka, muncullah Lie Lek-si bersama Kwan An-ki dan dua
orang lainnya yang belum pernah dilihat oleh Mau Sip-pat maupun Siau Po. Mereka
semua menjura dengan merangkapkan kedua tangannya dan salah satu dari kedua
orang itu segera berkata.
“Tuan Mau, Tuan Wi, selamat datang Cong tocu kami sudah menunggu kalian
berdua”
Bukan main senangnya hati Siau Po. Diam-diam dia berpikir dalam hati.
“Ah, benar-benar aku sudah tua” sementara itu, Sip Pat berusaha untuk bangkit, tapi
dia langsung terjatuh kembali sambil menahan nyeri.
“Aduh, bagaimana aku harus memberi hormat kepada Tocu…. Aduh”
“Sudahlah, Tuan Mau,” kata Lie Lek-si. “Kau toh sedang terluka, Tidak usah banyak
peradatan”

Siau Po bergegas membalas penghormatan mereka, Sip Pat langsung digotong
kembali menuju aula pertemuan.
Sampai di sana, seorang penjaga berkata kepada Siau Po.
“Tuan Wi, harap tunggu sebentar di sini Cong tocu ingin berbicara lebih dulu dengan
Tuan Mau”
Siau Po mengangkat bahunya dengan tampang apa boleh buat, Mau Sip-pat
langsung diusung ke dalam, Siau Po dipersilahkan duduk, teh dan beberapa macam
kue segera disajikan di depannya, Siau Po mencicipi sepotong kue. Dia berkata dalam
hati.
“Kue ini lain sekali rasanya dengan kue yang dihidangkan dalam istana.”
Karena kue yang tidak lezat itu, pandangan Siau Po terhadap Cong tocu
perkumpulan Tian-te hwe agak meremehkan Tapi karena perutnya lapar, dia makan
cukup banyak juga.
Kurang lebih setengah kentungan kemudian, Lie Lek-si dan yang lainnya muncul lagi,
Kali ini yang mengiringinya ada seorang kakek yang janggutnya sudah memutih dan
panjang sekali. Dia mengatakan kepada Siau Po bahwa ketua mereka sudah
menunggu di dalam.
Saat itu Siau Po sedang makan sepotong kue, mendengar kata orang tua itu, dia
repot membersihkan mulutnya dan mengelapkan tangannya di pakaian lalu menjura
kepada beberapa orang itu. Akhirnya dia diajak ke ruangan dalam.
Sampai di depan sebuah ruangan, orang tua itu langsung menyingkap tirai
penyekatnya sambil berkata.
“Siau Pek-liong Wi Siau-Po sudah datang”
Mendengar kata-kata itu, hati Siau Po merasa heran juga senang, Tadi dia dipanggil
dengan sebutan tuan, sekarang malah ada yang menyebut julukannya Siau Pek-liong
atau si naga kecil putih.
“Pasti Mau toako sudah menceritakan semuanya sehingga mereka tahu julukanku”
pikirnya dalam hati.
Di dalam ruangan tampak seorang laki-laki setengah baya bangun dari duduknya
dan menyambut Siau Po dengan senyuman Iebar. “Silahkan masuk” katanya, Siau Po
langsung masuk ke dalam kamar Kwan An-ki segera memperkenalkan inilah Tan Cong
tocu kami”

Siau Po mendapat kenyataan bahwa orang ini mempunyai sifat penyabar namun
sepasang matanya menyorotkan kewibawaan besar Diam-diam hatinya tercekat dan
tanpa disadari dia menjatuhkan diri berlutut dan memberi hormat.
Laki-laki setengah baya dengan dandanan sastrawan itu tersenyum ramah.
“Bangunlah” katanya sambil mencekal lengan Siau Po. “Tidak perlu banyak
peradatan”
Siau Po terkejut juga heran, Cekalan tangan ketua perkumpulan Tian-te hwe itu
membuat tubuhnya terasa panas dan bergetar Dia tidak sanggup berlutut lebih lama.
“Saudara kecil, kau telah membinasakan Go Pay yang terkenal sebagai orang gagah
nomor satu bangsa Boanciu. Dengan demikian berarti kau telah membalaskan sakit hati
orang banyak yang menjadi korban keganasan si jahat itu. Karena itu pula, dalam waktu
yang singkat namamu sudah terkenal kemana-mana, Kau benar-benar orang langka
yang sulit dicari duanya di dunia ini”
Sebetulnya Siau Po termasuk manusia kulit badak, Biasanya dia akan menerima
pujian seperti itu dengan bangga, Tapi kali ini, mendengar suara Tan Cong tocu yang
demikian lantang dan berwibawa, wajahnya jadi merah padam.
Laki-laki setengah baya itu menunjuk ke arah sebuah kursi.
“Silahkan duduk”
Siau Po menurut, dia duduk di tempat yang ditunjuk sambil mengucapkan terima
kasih. Sementara itu, Lie Lek-si dan yang lainnya tetap berdiri dengan tangan lurus ke
bawah.
Cong tocu itu tersenyum dan berkata kemba “Menurut tuan Mau Sip-pat, saudara
kecil telah membinasakan seorang kepala siwi di gunung Te Seng San wilayah
Yangciu, Untuk seorang yang baru tampil di dunia kangouw, jasamu ini sudah terhitung
besar sekali, Saudara kecil, dapatkah menceritakan bagaimana caranya kau dapat
membunuh Go Pay, si manusia dorna itu?”
Perlahan-lahan Siau Po mengangkat kepala, ketika pandangan matanya bertemu
dengan sinar mata tokoh Tian-te hwe itu, jantungnya langsung berdegup-degup dengan
keras. Dia tidak berani berbohong.
Karena itu, dia segera menceritakan dengan terus-terang perihal terbekuknya Go
Pay dan bagaimana dia berhasil membunuhnya ketika masih berada dalam kamar
tahanan, Dia juga tidak menutupi bahwa dia disayang oleh kaisar kerajaan Ceng.
Ketua Tian-te hwe itu menganggukkan kepalanya berkali-kali mendengarkan
penuturan Siau Po.

“Kiranya begitu Saudara kecil, dengan demikian berarti ilmu silatmu lain alirannya
dengan tuan Mau. Di luar tampaknya kau seperti menguasai ilmu Siaulim pai,
sedangkan di dalamnya kau memahami ilmu Kong tong pai Saudara kecil, bolehkah
aku mengetahui siapa gurumu itu?”
Diam-diam Siau Po merasa terkejut dan kagum.
“Benar-benar tajam mata Cong tocu ini. Dari ceritaku saja dia dapat menebak aliran
ilmu yang kupelajari pikirnya.
Cong tocu tersenyum melihat Siau Po yang terdiam.
“Aku dapat melihatnya dari gerak-gerikmu. caramu berjalan menunjukkan bahwa kau
adalah orang Siau lim pai. Aku tidak dapat menduga sampai mana dasar tenaga dalam
yang kau miliki. Tapi dari cckalanku tadi, aku tahu kau mempelajari inti tenaga dalam
Kong tong pai. Terus-terang saja, aku juga heran dengan bercampur aduknya ilmu yang
kau pelajari itu.”
“Sebenarnya si kura-kura tua itu tidak mengajarkan aku ilmu silat yang sejati, hanya
mengajarkan dengan keliru saja,” sahut Siau Po.
Pengetahuan Cong tocu dari perkumpulan Tian-te hwe ini luas sekali, tapi dia tidak
pernah mendengar adanya orang yang dijuluki si kura-kura. Karena itu dia memandang
Siau Po dengan heran.
“Siapa si kura-kura tua itu?”
Siau Po tertawa.
“Si kura-kura tua adalah Hay kongkong Nama aslinya Hay Tai-hu, Aku dan Mau
toako ditawan olehnya kemudian dibawa ke istana.” Berkata sampai di situ, Siau Po
terkejut sendiri. Dia khawatir Mau Sip-pat sudah menceritakan semuanya denga terusterang
kepada Cong tocu ini. Apalagi sebelumnya dia mengaku ditangkap oleh Go Pay
namun sekarang dia mengatakan bahwa Hay kon kong yang menawannya.
Otaknya bekerja dengan cepat Dia segera menambahkan. “Kura-kura tua itu
mendapat perintah dari Go Pay, dialah yang menawan kami. Go Pay adalah seorang
menteri yang kedudukannya tinggi sekali, Tentu dia merasa gengsi turun tangan
sendiri”
Cong tocu diam-diam berpikir dalam hatinya, “Hay Tai-hu? Hay Tai-hu? Apakah di
dalam partai Kongtong pai ada tokoh sehebat itu?”
“Eh, saudara kecil, coba kau mainkan beberapa jurus ilmu yang diajarkannya
kepadamu,” kata tocu itu kemudian

Siau Po merasa malu menunjukkan ilmu yang belum matang itu. Karena itu dia
berkata.
“Si kura-kura tua hanya mengajarkan aku ilmu palsu, Dia sangat membenci aku,
sebab aku telah membuat matanya menjadi buta, itulah sebabnya dia menggunakan
akal apa saja untuk mencelakakan aku, ilmu ajarannya tidak pantas dilihat orang”
Cong tocu tidak memaksa, dia hanya mengibaskan tangannya, Kepalanya manggut
beberapa kali, Dia mengerti Siau Po tidak ingin menunjukkannya di hadapan orang
banyak.
Tentu saja Kwan An-ki dan yang lainnya juga maklum. Mereka segera
mengundurkan diri. Pintu ruangan itu pun ditutup rapat, Cong tocu bertanya lagi kepada
Siau Po.
“Bagaimana caranya kau membutakan mata si kura-kura tua itu?”
Siau Po merasa serba salah menghadapi orang yang mempunyai wibawa besar
seperti Cong tocu ini, karenanya dia mengambil keputusan untuk berbicara sejujurnya,
Dia pun menceritakan bagaimana dia meracuni Hay kongkong sehingga matanya buta.
Dia juga menceritakan tentang Siau Kui cu yang dibunuhnya kemudian dia menyaru
sebagai si thay-kam cilik itu.
Cong tocu terkejut sekaligus merasa lucu, Dia menganggap bocah ini memang luar
biasa, otaknya cerdik dan nyalinya pun besar, Tapi dia masih ingin menguji apakah
bocah ini bicara sejujurnya atau tidak. Tiba-tiba tangannya menjulur ke depan secepat
kilat ke arah selangkangan Siau Po. Dalam sekejapan mata dia sudah menarik
tangannya kembali sambil menghela nafas lega. Ternyata bocah ini memang belum
dikebiri.
“Bagus Bagus” katanya kemudian sambil tertawa, “Tadinya aku masih ragu
sehingga sulit rasanya mengambil keputusan, ternyata kau memang belum dikebiri,
saudara kecil” Tangan kirinya menepuk meja seakan teringat sesuatu yang penting.
“Aih inilah yang harus aku lakukan, Ya, dengan demikian saudara In ada
keturunannya dan Cen bok tong pun ada yang memimpin.”
Siau Po bingung, Dia tidak mengerti apa ya dikatakan Cong tocu itu. Karenanya dia
hanya memperhatikan dengan seksama. Hatinya lega melihat wajah Cong tocu itu
berseri-seri. Kalau laki-laki itu berwajah kelam, hatinya pasti akan gentar
menghadapinya.
Cong tocu itu memangku tangannya sambil berjalan mondar-mandir. Terdengar dia
menggumam seorang diri.
“Apa yang dilakukan oleh perkumpulan Tian-hwe adalah perbuatan yang tidak
pernah dilakukan orang lain sebelumnya. semuanya boleh dibilang akulah yang

bertindak, segala perbuatan yang mengejutkan orang banyak, Namun, apa artinya
semua ini?”
Siau Po masih memperhatikan terus, Dia benar-benar tidak mengerti apa yang
dimaksudkan oleh Cong tocu itu.
“Di sini hanya ada kita berdua, Kau tidak perlu malu-malu. Coba kau mainkan seluruh
ilmu silat yang pernah diajarkan Hay Tai-hu kepadamu, Aku ingin melihatnya, tidak
perduli ilmu itu asli atau palsu,” katanya kemudian.
Baru sekarang Siau Po mengerti mengapa Kwan An-ki dan yang lainnya disuruh
mengundurkan diri.
“Kalau ajaran Hay kongkong tidak benar, harap jangan ditertawakan,” kata bocah itu.
“Tentang itu kau tidak perlu khawatir,” sahut Cong tocu sambil tersenyum.
Siau Po tidak berani banyak bicara lagi, Dia segera menjalankan Taycu Taypi Cianyap
jiu yang diajarkan oleh Hay kongkong, Cong tocu memperhatikan dengan seksama
sejak awal sehingga selesai Kepa-lanya manggut-manggut,
“Bagus Rupanya kau juga pernah mempelajari ilmu Taykim-na hoat dari Siaulim pai,
benar kan?”
Siau Po menganggukkan kepalanya, tadinya dia tidak berniat menunjukkan tetapi
ternyata Cong tocu ini dapat mengetahui segalanya dengan tepat. Dia pun tidak berani
menutupi lagi,
“Tujuan si kura-kura tua mengajarkan ilmu padaku hanya untuk menguji ilmu kaisar,”
katanya, Dia pun segera memainkan jurus-jurus ilmu Taykim-na hoat tersebut.
Cong tocu tertawa. “Bagus”
“Sudah sejak semula aku tahu akan ditertawakan” sahut Siau Po setengah
menggerutu.
“Aku tidak menertawakan, justru aku senang melihatnya,” kata Cong tocu sambil
tersenyum. “Daya ingatmu baik sekali dan kecerdasan otakmu juga sukar dicari
tandingannya. Kau seorang anak yang berbakat. Barusan kau memainkan jurus Pek be
huan te (Kuda putih mengais tanah) sebetulnya Hay kongkong memang sengaja
mengajarkanmu secara keliru, tapi ketika kau menjalankan sampa jurus Le-hi toksu
(lkan lele melompat-lompat) kau dapat mengikuti perubahannya, Bagus sekali”
Mendengar kata-kata Cong tocu itu, Siau Po berpikir dalam hatinya.

“Rupanya ilmu Cong tocu ini jauh lebih tinggi dari Hay kongkong. Kalau dia sudi
mengajarkan ilmu silat kepadaku, tentu aku akan lihay sekali. Tidak perlu lagi aku
menjadi pahlawan gadungan, aku bisa menjadi seorang pendekar besar.”
Tanpa terasa dia melirik ke arah Cong tocu, tidak tahunya saat itu sang ketua
perkumpulan Tian-te hwe itu juga sedang mengawasinya dengan tajam.
Biasanya Siau Po sangat berani, meskipun terhadap kaisar Kong Hi maupun Hong
thayhou dia juga tidak merasa takut, namun menghadapi tokoh yang satu ini, entah
mengapa dia tidak tahan menatap sinar matanya yang tajam dan mengandung wibawa
itu.
“Tahukah kau apa tujuan utama Tian-te hwe?” tanya Cong tocu dengan nada sabar.
“Tian-te hwe ingin membantu bangsa Han membasmi bangsa Tatcu, Bahkan kalau
mungkin ingin membangkitkan kembali kerajaan Beng” sahut Siau Po.
Cong tocu menganggukkan kepalanya berkali-kali. “Benar sekarang aku ingin
bertanya, maukah kau masuk menjadi anggota Tian-te hwe dan menjadi saudara kami
semua?”
Siau Po senang sekali mendengar tawaran itu, “Bagus Bagus sekali” Selama di
Yangciu, sudah sering Siau Po mendengar sepak terjang yang dilakukan perkumpulan
itu. Dan sebenarnya perkumpulan itu bukan rahasia lagi bagi rakyat maupun pihak
kerajaan, Semua orang sudah mengetahuinya. Dan Siau Po sendiri sudah Iama sekali
mengaguminya, “Cuma, aku khawatir… aku tidak mempunyai peruntungan untuk masuk
sebagai anggotanya.”
“Kalau ada niatmu untuk masuk menjadi anggota perkumpulan kami, sebetulnya
tidak sulit, hanya ada satu hal yang harus kau ketahui, perkumpulan kami mempunyai
peraturan yang keras. Siapa yang melanggarnya, baik sengaja atau tidak, akan
mendapat hukuman berat. Karena itu kau harus mempertimbangkannya matangmatang”
“Mengenai hal itu, aku sudah tahu, Karena nya aku tidak perlu pertimbangkan lagi,”
sahut Siau Po. “Apa pun peraturan kalian, akan kutaati semuanya. Cong tocu, asal kau
bersedia menerima aku menjadi anggota, sulit rasanya melukiskan kegembiraan hatiku
ini.”
Senyum di wajah Cong tocu sirna seketika, “Urusan ini sangat penting. Menyangkut
soal mati dan hidup, bukan sebuah permainan seperti yang kau bayangkan” kata Cong
tocu dengan tampang serius.
“Aku mengerti, Cong tocu, Aku pun tidak berani menganggapnya sebagai permainan,
Sudah lama aku mendengar tentang perkumpulan Tian-te hwe yang melakukan
berbagai perbuatan mulia, Sepak terjangnya selalu menggetarkan langit dan bumi Hal
sepenting ini mana boleh dianggap permainan anak kecil?”

“Bagus kalau kau memang mau tahu?” kat Cong tocu itu kembali Bibirnya tersenyum.
“Untuk masuk menjadi anggota Tian-te hwe ada dua puluh enam sumpah yang harus
kau ucapkan dan sepuluh larangan yang tidak boleh kau langgar, kalau tidak, maka bisa
mendapat hukuman berat”
Sewaktu mengucapkan kata-kata ini, suara Cong tocu itu serius dan berwibawa
sekali, Terdengar dia menambahkan kembali: “Di antaranya ada beberapa aturan yang
belum berlaku padamu, mengingat usiamu yang masih kecil, namun ada satu peraturan
yang harus kau ingat baik-baik, bunyinya begini: Seorang anggota perkumpulan kami
harus jujur dan lurus, tidak boleh berdusta atau berpura-pura Nah, dapatkah kau
mentaati peraturan yang satu ini?”
Siau Po tertegun, Dia menatap ketua pusat itu lekat-lekat.
“Terhadap Cong tocu sendiri, sudah pasti aku tidak berani berdusta, Tetapi
bagaimana dengan saudara-saudara yang lain? Toh, tidak mungkin aku bicara
sejujurnya sampai ke hal-hal yang paling kecil?”
“Tentu saja urusan kecil tidak masuk hitungan, Yang dimaksudkan di sini adalah
urusan penting dan yang menyangkut orang banyak” sahut Cong tocu.
“Baik” sahut Siau Po. “Ada lagi, bolehkah aku berjudi dengan saudara-saudara yang
lain? Bolehkah aku menggunakan cara-cara tertentu untuk mengakali orang lain?”
Cong tocu memperhatikan Siau Po dengan tajam. Dia tidak menyangka bocah
sekecil itu akan mengajukan pertanyaan demikian, namun dia tetap tersenyum.
“Berjudi itu tidak, meskipun perkumpulan kami tidak memiliki aturan khusus yang
melarangnya. Demikian pula dengan mengakali orang, perkumpulan kami juga tidak
memiliki larangan untuk hal yang satu ini. Tapi kau harus ingat, apabila kebohongan
atau kecuranganmu diketahui oleh saudara yang lain, ada kemungkinan kau akan
dihajar setengah mati. Apakah kau mau kepalamu dikemplangi orang banyak hanya
karena hal yang tidak berarti?”
Siau Po tertawa lebar mendengar kata-kata Cong tocu itu. Hal ini membuktikan
bahwa bagaimanapun Siau Po masih seorang bocah yang polos namun keberaniannya
patut dipuji
“Pasti mereka tidak tahu kalau telah diakali. Lagipula, dalam berjudi, aku tidak perlu
menggunakan akal apa pun karena sembilan puluh persen uang mereka akan pindah
ke kantongku”
Cong tocu itu enggan membicarakan soal perjudian Hal itu memang tidak dilarang,
Demikian juga minum arak. Kedua hal itu memang suka dilakukan orang-orang gagah
meskipun dia sendiri kurang menyenanginya.

“Sekarang ada satu hal lagi yang ingin kutanya kan kepadamu, maukah kau
mengangkat aku sebagai guru?” tanya Cong tocu.
Siau Po tertegun, tapi hanya sebentar, hatinya senang tidak terkatakan.
“Oh” Dia langsung menjatuhkan diri berlutut di depan Cong tocu kemudian
menyembah berkali-kali dan memanggil: “Suhu”
Kali ini Cong tocu membiarkan saja. Setelah Siau Po menyembah sampai belasan
kali, baru dia menghentikannya. “Sudah cukup”
Siau Po pun berdiri, wajahnya berseri-seri menunjukkan hatinya yang gembira sekali.
“Sekarang kau dengar baik-baik,” kata Cong tocu, “Aku she Tan bernama Kin-lam.
Nama Tan Kin-Iam ini hanya nama yang dipakai dalam perkumpulan kita, Kau telah
menjadi muridku, ada baiknya kau tahu namaku yang asIi, yaitu Tan Eng-hoa.”
Ketika menyebut nama aslinya, Tan Kin-lam sengaja merendahkan suaranya
sehingga hanya Siau Po yang dapat mendengarnya.
“Baik, suhu” sahut Siau Po penuh hormat “Tecu akan mengingatnya baik-baik dan
tidak akan membocorkan rahasia ini kepada siapa pun”
Tan Kin-lam menatap muridnya lekat-lekat kemudian berkata dengan nada sabar.
“Sekarang hubungan kita adalah guru dan murid. Kita juga harus berhati tulus antara
satu dengan yang lainnya, terus terang saja aku katakan, otakmu itu terlalu cerdik,
bahkan banyak bicara dan menjurus ke licik. sifatmu itu tidak cocok dengan watakku
sendiri Tapi mengapa aku mengambilmu sebagai murid? Tentu saja ada alasannya,
yakni demi kepentingan perkumpulan kita ini”
“Suhu, tecu berjanji akan merubah sifat buruk ini agar kelak dapat menjadi orang
baik-baik” sahut Siau Po.
“Negara bisa diubah, mengubah watak seseorang justru lebih sulit dari menemukan
jarum di tengah samudera, Kau sadar dan kau berjanji, tapi aku tahu kau tidak dapat
berubah banyak, Tapi aku sudah mengeluarkan ucapanku. Baiklah… kau masih muda,
perasaanmu mudah berubah atau terpengaruh. Lagipula kau belum pernah melakuka
perbuatan-perbuatan yang tercela. Karena itu, kau harus mengingat kata-kataku baikbaik,
Terhadap murid, aku mempunyai peraturan yang keras. Kalau kau sampai
melanggar peraturan, terutama mengkhianati perkumpulan kita, aku tidak segan-sega
mencabut nyawamu. Ingat, aku dapat melakukannya semudah membalikkan telapak
tangan dan dalam hal ini aku juga tidak mengenal belas kasihan kata Tan Kin-lam
serius.

Selesai berkata, Tan Kin-lam menggebrak meja di hadapannya sehingga ujungnya
menjadi gompal kemudian dia meremas pecahan kayu itu sehing hancur seperti debu
yang bertaburan.
Mata Siau Po membelalak lebar saking kagumnya. Tanpa dapat ditahan lagi dia
menjulurkab lidahnya. Sungguh hebat gurunya ini, Namun sejenak kemudian dia
merasa gembira sekali atas peruntungannya yang bagus.
“Suhu, aku berjanji tidak akan melakukan perbuatan yang tercela, seandainya satu
kali saja aku melakukan perbuatan jahat, kau boleh pelintir batang leherku ini sampai
putus. Tapi suhu, sebelumnya aku ingin mengatakan terlebih dahulu, Kalau leherku
putus, tentu tidak bisa lagi menerima ajaran ilmu darimu”
“Ya, kau ingat baik-baik” kata Tan Kin-lam. “Satu kali saja kau melakukan kejahatan,
kita bukan lagi guru dan murid”
“Bagaimana kalau dua kali?”
“Diam jangan memutar lidah Kita membicarakan hal yang serius” hardik Tan Kinlam
yang mulai kewalahan menghadapi muridnya yang satu ini.
“Baik, suhu,” sahut Siau Po, Namun dalam hatinya dia berkata, “Bagaimana kalau
aku hanya berbuat setengah kesalahan?”
“Dengar” kata Tan Kin-lam kembali “Sekarang aku telah menerima kau sebagai
murid, tapi aku tidak mempunyai banyak peluang untuk mengajarkan ilmu kepadamu,
Karena itu….” Laki-laki setengah baya itu mengeluarkan sejilid kitab tipis dari dalam
saku bajunya. “Kitab ini berisi inti ilmu tenaga dalam, Kau bacalah dengan teliti,
kemudian ikuti gambar-gambar petunjuk yang ada di dalamnya.”
Siau Po menganggukkan kepalanya.
Tan Kin-lam segera membalikkan halaman kitab itu satu persatu dan menunjukkan
cara berlatih menurut gambar yang ada. Dia menjelaskannya dengan terperinci sampai
Siau Po mengerti.
Tetapi Siau Po masih kecil, lagipula dia belum begitu paham ilmu silat, jadi sulit
baginya untuk memahaminya secara keseluruhan Namun dia berusaha memusatkan
segenap perhaliannya.
Hampir satu jam lamanya Tan Kin-lam memberikan penjelasan, kemudian ia berkata:
“Pelajaran ini mempunyai syarat yang terpenting, yakni kesungguhan hati, Hal ini
memang akan menimbulkan kesulitan untukmu karena dasar ilmu yang kau pelajari
sudah berbeda dengan yang tertera dalam kitab ini. Tapi asal kau belajar dengan tekun,
bersungguh-sungguh, tetap akan membawa faedah yang tidak kecil bagimu, Dan
apabila sedang berlatih kau merasakan kepalamu pusing atau matamu berkunangTiraikasih
website http://cerita-silat.co.cc/
kunang, kau harus segera menghentikannya. Sampai perasaanmu sudah membaik
kembali, baru kau boleh melatihnya kembali. Apabila kau berkeras melanjutkan di saat
kau merasa sakit kepala atau tidak enak badan, akibatnya bisa berbahaya sekali ingat
baik-baik”
“Baik, suhu,” sahut Siau Po sambil mengucapkan terima kasih dengan menjatuhkan
diri berlutut dan menyembah tiga kali, setelah itu baru memasukkan kitab itu ke dalam
saku bajunya.
“Kau terhitung muridku yang keempat,” kata Tan Kin-lam menjelaskan selanjutnya,
Mungkin kau juga akan menjadi muridku yang terakhir dan termuda. Urusan Tian-te
hwe yang harus ditanggulangi masih menumpuk, karena itu aku tidak bisa menerima
murid terlalu banyak.
Kau harus ingat, dalam dunia persilatan, derajatku tidak rendah, namaku juga tidak
pernah cacat, karena itu sebagai muridku, jangan sekali-sekali kau melakukan
perbuatan yang dapat membuat aku kehilangan muka”
“Baik, suhu,” sahut Siau Po. “Tapi….”
“Tapi apa?”
“Memang aku tidak akan mencemarkan nama baik suhu, tapi bagaimana kalau hal
itu terjadi di luar kehendakku? Umpamanya aku dikalahkan orang dalam perkelahian
lalu aku kena ditawan dan diangkat kesana kemari seperti layaknya benda mati. Kalau
hal itu sampai terjadi, aku mohon suhu dapat memaafkannya….”
Tan Kin-lam mengerutkan keningnya, bocah ini memang luar biasa, Ada-ada saja
pertanyaan yang terpikirkan olehnya, Untuk sesaat dia merasa lucu, sekaligus diamdiam
mengeluh dalam hati, Akhirnya dia menarik nafas panjang.
“Aku telah menerimamu sebagai murid. Mungkin ini merupakan suatu kesalahan
terbesar yang pernah aku lakukan seumur hidup. Tapi, biar bagaimana aku tetap akan
menjalaninya. Semua ini demi kepentingan perkumpulan kita, Siau Po, sebentar lagi
kau harus berhadapan dengan berbagai urusan perkumpulan ingat baik-baik apa yang
telah aku katakan kepadamu tadi, Asal kau pandai membawa diri, jangan banyak mulut
atau bicara sembarangan aku yakin tidak ada masalah bagimu”
“Baik, suhu” sahut Siau Po. Matanya menatap Tan Kin-lam lekat-lekat
“Apa yang ingin kau katakan?” tanya Tan Kin-lam yang dapat menerka ada sesuatu
yang ingin dibicarakan oleh muridnya itu.
Tecu ingin menjelaskan Apabila tecu berbicara, tecu akan berbicara hal-hal yang
beralasan, tidak nanti Tecu berbicara sembarangan.”
“Bagus Mulai sekarang kau harus kurangi bicaramu” kata sang guru.

Diam-diam Tan Kin-lam berpikir dalam hati, “Entah berapa banyak orang-orang
gagah berbicara denganku, Biasanya mereka selalu berpikir dahulu matang-matang
sebelum mengemukakan pikirannya, Tidak seperti bocah ini yang ceplas-ceplos
seenaknya, Dia sungguh berani dan juga bandel sekali.” Kemudian dia berdiri dan
berjalan menuju pintu, Setelah itu dia menoleh dan berkata: “lkutlah denganku”
Siau Po segera menghambur ke depan dan membukakan pintu serta
mempersilahkan gurunya keluar terlebih dahuln Setelah itu baru dia mengikuti dari
belakang terus menuju aula pertemuan.
Di dalam aula sudah berkumpul dua puluh orang lebih, ketika mereka melihat
kehadiran Tan Kin-Iam, semuanya langsung berdiri dengan sikap hormat.
Tan Kin-lam menganggukkan kepalanya kemudian duduk di atas kursi yang kedua,
Siau Po merasa heran mengapa seorang ketua duduk di kursi yang kedua dan bukan
yang pertama. Diam-diam dia berpikir dalam hati:
“Mungkinkah suhu bukan tokoh yang kedudukannya paiing tinggi dalam perkumpulan
ini? Apakah masih ada orang yang lebih tinggi lagi kedudukannya daripada suhu?”
Sementara itu, terdengar Tan Kin-lam berkata: “Saudara-saudara Hari ini aku telah
menerima seorang murid yang paiing kecil” Tangannya menunjuk kepada Siau Po, “lni
dia orangnya”
Seluruh anggota perkumpulan itu langsung mengucapkan selamat dengan menjura.
“Selamat, Cong tocu” Mereka juga memberi selamat kepada Siau Po.
“Sekarang giliranmu memberi hormat kepada para pekhu dan sidehu-mu” kata Kin
lam kepada Siau Po.
Siau Po menurut, dia segera menjatuhkan diri berlutut di atas tanah serta memberi
hormat kepada para pamannya sekalian dan mengucapkan terima kasih.
Setelah itu, Lie Lek-si mengenalkannya kepada sembilan hiocu dari perkumpulan itu,
Hiocu adalah ketua dari setiap seksi. Selain itu masih ada Hu hiocu, yakni wakil ketua
setiap seksi.
Siau Po jadi repot berlutut dan menyembah ke sana-sini. untung saja ketika memberi
hormat kepada para Hu hio cu, belum sempat menyembah, mereka sudah
mencegahnya.
“Jangan sungkan, saudara kecil silahkan bangun” Mereka juga memberi hormat
dengan berlutut Siau Po segera menghambur ke depan untuk mencegah mereka,
peraturan pada zaman itu memang demikian.
Jumlah para paman tua muda itu semuanya ada dua puluh orang lebih, Siau Po tidak
dapat mengingat mereka satu per satu. Karena itu dia berkata kepada dirinya sendiri:

“Mereka adalah orang-orang penting, Biar nanti perlahan-lahan aku akan mengingat
nama mereka satu per satu.”
Setelah upacara perkenalan selesai, Tan Kin-lam baru berkata kembali.
“Saudara sekalian, aku telah menerima Siau Po sebagai murid, harap kalian pun
dapat menerimanya sebagai saudara kita dalam perkumpulan Tian-te hwe”
“Bagus” Orang banyak menyatakan persetujuannya.
Bahkan Coa tek-tiong, yakni hiocu dari Lian hoa tong yang rambut dan kumis serta
janggutnya sudah memutih langsung berkata.
“Sejak jaman dulu kala, guru yang pandai selalu menghasilkan murid yang hebat,
Murid Cong tocu ini akan menjadi seorang pendekar muda dan akan membuat jasa
besar bagi perkumpulan kita, aku yakin sekali akan hal itu”
Hiocu dari Ki-hou tong, yakni Ma Tiau-hin mempunyai wajah yang selalu berseri-seri,
tubuhnya gemuk pendek, dan sekarang dia ikut memberikan komentar.
“Hari ini kita berkenalan dengan saudara Wi, tapi kami tidak memberikan tanda mata
apa pun. Karena itu, aku mengajukan diri sebagai pengantar bersama-sama Coan hiocu
untuk menjadi perantara bagi saudara kecil yang mengajaknya masuk menjadi anggota
Tian-te hwe. Entah bagaimana pendapat Coa hiocu?”
Coa Tek Tiong langsung tertawa lebar.
“Bagus Aku setuju sekali Cara ini juga tidak perlu mengorek kantong mengeluarkan
uang” katanya.
Mendengar ucapan itu, orang banyak merasa lucu dan tertawa.
“Siau Po. Cepat bilang terima kasih kepada kedua pamanmu” kata Tan Kin-lam
kepada muridnya. “lni merupakan suatu keberuntungan bagimu”
Siau Po menurut, dia segera menjatuhkan diri berlutut kemudian menganggukkan
kepalanya serta menyatakan rasa terima kasih kepada kedua hiocu tersebut.
“Saudara sekalian, peraturan kita sangat keras, sedangkan muridku ini masih terlalu
muda dan kelewat cerdik, Aku khawatir dia akan ceroboh dalam mengambil tindakan
atau melakukan suatu yang keliru. Oleh karena itu, saudara Ma dan saudara Coa,
kalian adalah perantara, aku harap selanjutnya kalian bersedia mengawasi muridku ini
dan memberikan petunjuk kepadanya agar jangan salah jalan. Kalau ada urusan apaapa,
jangan kalian sungkan-sungkan menegurnya” kata Tan Kin-lam kembali.
“Cong tocu terlalu merendah, mana mungkin murid Cong tocu melakukan hal yang
keliru?” sahut Coa Tek-tiong.

“Aku tidak merendahkan diri, justru apa yang kukatakan adalah hal yang sejujurnya.
Terhadap muridku ini, perasaanku selalu khawatir saja. Andaikata kalian beramai-ramai
sudi mengawasi dan memberikan petunjuk kepadanya, berarti kalian juga membantu
aku menenangkan perasaan ini sehingga tidak ada yang perlu dikhawatirkan.” kata
Cong tocu.
Ma Tiau-hin tertawa lebar.
“Kalau mengawasi saudara Wi, kami tidak berani. Tetapi mengingat usianya yang
memang masil muda, kalau ada urusan apa-apa, kami akan bicar terus-terang saja dan
memberikan petunjuk dengan sejelas-jelasnya”
Siau Po mendengarkan semua pembicaraan itu, diam-diam dia mendumel dalam
hati.
“Memangnya kesalahan apa yang aku lakukan? Mengapa suhu terus khawatir aku
akan melakukan hal yang keliru? Si kura-kura tua toh bukan guruku, itulah sebabnya
aku membuat kedua matanya buta. Tetapi suhu justru guruku yang sejati, tidak mungkin
aku mencelakakan dirinya, Kalau begini banyak orang yang mengawasiku, bagaimana
aku bisa berkutik lagi?”
Melihat muridnya diam saja dan hiocu lainnya juga tidak memberikan komentar lagi,
Tan Kin-lam baru berkata lagi.
“Saudara Lie, aku minta sudi kiranya kau mengatur meja sembahyang, Hari ini juga
kita akan melakukan upacara menerima Wi Siau-po sebagai anggota Tian-te hwe”
“Baik, Cong tocu” sahut Lie Lek-si.
“Menurut peraturan kita, seandainya ada seorang yang ingin masuk menjadi
anggota, setelah ada orang yang menjadi perantaranya, kita masih harus menyelidiki
asal-usulnya dan perbuatan apa saja yang pernah dilakukannya di masa lalu. Paling
tidak kita memerlukan waktu setengah sampai satu tahun untuk memperoleh kepastian
apakah dia pantas masuk menjadi anggota perkumpulan kita, Dalam hal ini, Wi Siau Po
mendapat pengecualian Kedudukannya dalam istana kerajaan Ceng dan rasa
sayangnya kaisar terhadap anak ini, membuat dirinya patut mendapat keistimewaan
sebelumnya, aku ingin mengatakan, bahwa bukan aku memanjakannya, tapi karena
aku yakin, hubungannya yang erat dengan kaisar kerajaan Ceng akan membawa
manfaat bagi kita.”
“Kami mengerti,” sahut beberapa hiocu, Mereka merasa Siau Po memang patut
mendapat keistimewaan. Apalagi dia telah membangun jasa besar meskipun
dilakukannya tanpa sengaja untuk perkumpulan mereka.
Hiocu dari Hong Sun-tong yang tubuhnya tinggi besar dan janggutnya hitam pekat,
Pui Tay-hong, ikut memberikan suara.

“Semua ini merupakan kemurahan hati Thian yang kuasa dengan memberikan kita
seseorang saudara yang menjadi orang kepercayaan kaisar bangsa Tatcu. Mungkin
memang sudah takdir bahwa kerajaan Ceng akan hancur dan kerajaan Beng kita akan
bangkit kembali ini yang dinamakan, “paham diri sendiri, tahu diri lawan,” dengan
demikian seratus kali berperang, seratus kali pula kita akan meraih kemenangan. Siapa
di antara kita yang tidak mengerti isi hati Cong tocu?”
Siau Po sangat cerdik, dari pembicaraan yang berlangsung dia maklum apa yang
terkandung dalam benak Tan Kin-lam. Diam-diam dia berpikir.
“Kalian semua memperlakukan aku demikian baik, ternyata ada udang dibalik batu.
Rupanya kalian ingin menjadikan aku mata-mata di kerajaaa musuh. Lalu, apa yang
harus kulakukan? Apakah aku harus menuruti keinginan mereka?”
Sementara itu, Coa Tek-Liong langsung menuturkan sejarah berdirinya perkumpulan
Tian-te hwe. Juga mengenai peraturan-peraturannya yang harus ditaati.
“Pendiri perkumpulan kami berjuluk Kok Sing-ya. Nama aslinya The Seng-kong.
Mula-mula Kok Sing-ya memimpin pasukan perangnya menyerbu wilayah Kanglam,
namun ketika menderita kegagalan beliau mengundurkan diri ke kepulauan Taiwan.
Sebelum mengundurkan diri, Kok Sing-ya menerima usul Cong tocu kita untuk
membuat sebuah perkumpulan, dengan demikian berdirilah Tian-te hwe. Saat itu Cong
tocu kita masih menjadi penasehat perang Kok Sing-ya, sedangkan aku bersama
saudara Pui, saudara Ma, saudara Ouw, saudara Lie serta saudara In almarhum yang
merupakan hiocu dari Ceng-bok tong masih menjadi perwira dalam pasukan Kok Singya.”
Mengenai Kok Sing-ya, Siau Po memang pernah mendengarnya. Dia tahu Kok Singya
adalah The Seng-kong yang mendapat anugerah marga “Cu” dari kaisar dinasti
Beng.
“Cu” adalah marga dari pendiri kerajaan Beng, itulah sebabnya dia mendapat julukan
Kok Sing-ya (tuan agung yang menggunakan marga negara) Nama Kok Sing-ya paling
terkenal di propinsi Kangsou, Ciatkang, Hokkian dan Kwitang, Beliau menutup mata di
permulaan dinasti Ceng, tidak lama setelah kaisar Kong Hi naik tahta.
Meskipun beliau telah tiada, tapi rakyat masih menghormatinya karena semangatnya
yang menyala-nyala membela kepentingan negara.
“Tentara kita sendiri berpusat di Kanglam, Karena tidak mungkin semuanya
mengundurkan diri ke Taiwan, maka sebagiannya ada yang mundur ke Emui. Atas titah
Kok Sing-ya, Cong tocu tidak ikut mengundurkan diri, sebab Tian-te hwe tidak boleh
tanpa pemimpin, Cong tocu diperintahkan untuk menghubungi semua bekas pengikut
Kok Sing-ya.

Mereka pun menjadi anggota Tian-te hwe, mereka tidak perlu melalui tentara lagi,
sebab asal-usul dan riwayat hidup mereka telah diketahui dengan jelas, sedangkan
penelitian terhadap orang luar hanya untuk berjaga-jaga agar jangan sampai ada matamata
musuh yang menyusup ke dalam.”
Bagian 12
Penuturan hiocu itu tidak ditukas oleh siapa pun. Siau Po juga mendengarkan
dengan penuh perhatian. Ketika melanjutkan kembali ceritanya, wajahnya tampak
penuh semangat.
“Ketika angkatan perang kita keluar dari Tai-wan dulu, jumlah semuanya mencapai
tujuh belas laksa jiwa, yang terbagi sebagai berikut: Lima laksa pasukan berkuda, lima
laksa pasukan bahari, dan lima laksa pasukan jalan, sedangkan dua pasukan lainnya
terdiri dari selaksa pasukan gerilya, Selaksa lagi disebut pasukan orang besi, Hal ini
karena mereka mengenakan baju besi dan menggunakan tombak panjang sebagai
senjata. Tugas mereka khususnya untuk mengait kaki lawan dan kaki kuda tunggangan
musuh, sedangkan mereka tidak akan terluka oleh anak panah karena mengenakan
baju besi, itulah sebabnya ketika terjadi pertempuran di bukit Yanghong dan wilayahnya
Tinkang, dengan dua ribu tentaranya, Cong tocu berhasil melabrak musuh yang
jumlahnya delapan belas ribu jiwa, Saat itu aku sendiri menjadi tentara pasukan ke
delapan. Sewaktu kami menyerang musuh, kami mendengar mereka berteriak, “Malu…
malu, chihu… chihu….”
Siau Po menjadi tertarik, tapi dia mengerti apa yang dimaksud dengan kata-kata
terakhir hiocu itu.
“Apa artinya “malu dan chihu?”
“Malu artinya mama, sedangkan chihu artinya kabur. Jadi tentara musuh berteriak,
Mama… mama… kabur… kabur”
Orang-orang dalam ruangan itu ikut tertawa mendengar ceritanya yang lucu.
“Coa hiocu, ceritamu memang menyenangkan, apalagi

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s