“ PANGERAN MENJANGAN” – “ LU DING JI “ 15

juga bukan guru besar kita Kong Hu Zu yang bisa bicara soal filsafah maupun etiket,
Bangsa Tartar tidak dapat diusir dengan nama besar saja. Orang yang kau katakan tadi
banyak bisa dijumpai di mana-mana”
Para hadirin tertawa mendengar kata-katanya yang kocak. Lalu seseorang bertanya:
“Kalau begitu, Saudara, menurutmu siapakah yang pantas dipilih menjadi ketua kita?
Apakah kita akan memilih orang yang gagah dan pandai melaksanakan kewajibannya?”
“Menurut pinto.,.” tukas seorang pendeta agama To. “Orang yang gagah dan pandai
itu memang hanya Lie toako seorang”

“Kami memilih Kwan hucu” seru berpuluh-puluh orang lainnya, “Kepandaian Lie
toako tidak dapat menandingi Kwan hucu”
“Kwan hucu selalu serius dalam menangani persoalan apa pun. Semua orang
mengetahui hal ini dan semua juga mengaguminya” kata seorang tosu.
“Benar Benar” Berpuluh orang tadi segera memberikan sambutan yang meriah,
“Nah, apalagi yang akan kalian katakan?”
“Sabar Sabar” teriak si tosu yang pertama, “Dengar dulu kata-kataku ini, Satu hal
yang harus kalian ingat adalah watak Kwan hucu, Dia terlalu berangasan. Asal kurang
senang, seenaknya dia mencaci orang, Di matanya, kalian hanya bawahannya,
sedangkan terhadap dia, kalian merasa segan. Karena itu, apabila dia menjadi hiocu,
dikhawatirkan semuanya menjadi tidak tenang”
“Tapi belakangan ini watak Kwan Hucu sudah jauh lebih baik, Aku yakin bila dia
sudah memangku jabatan sebagai hiocu, sifatnya akan berubah semakin baik”
seseorang ikut memberikan tanggapan.
Tosu itu menggelengkan kepalanya.
“Negara mudah dirubah, tidak demikian halnya dengan watak seseorang, Tabiat
Kwan hucu adalah bawaan sejak lahir. Mungkin sekali-sekali dia bisa mengendalikan
dirinya, tetapi apakah dia juga bisa mengendalikan dirinya setiap saat? Belum tentu
sedangkan kedudukan hiocu bukan untuk sehari dua, namun untuk selamanya
Karena itu kita harus menjaga, jangan karena watak buruk seseorang, terjadi
perpecahan di antara kita, Sekali saja terjadi keributan di antara kita, maka usaha yang
telah dipupuk sekian lama, usaha yang mempunyai cita-cita luhur akan menjadi
berantakan”
Ki lao-liok ikut membuka suara.
“Kou Yao totiang, menurut pandanganku sifatmu sendiri belum sempurna”
Mendengar sindiran itu, Kau Yap tojin, si tosu tadi tertawa lebar.
“Benar apa yang dikatakan orang bahwa urusan pribadi masing-masing, diri
sendirilah yang paling paham. perangai pinto memang tidak baik, Sering pinto berbuat
kesalahan itulah sebabnya pinto berusaha untuk mengurangi pembicaraan tetapi dalam
hal pengangkatan hiocu ini, pinto tidak bisa berdiam diri, Karena hal ini menyangkut
kepentingan Ceng-bok tong kita, Terpaksa pinto mengungkapkan isi hati. Tabiat pinto
tidak baik, pinto juga tidak tertarik menjadi hiocu. Kalau ada saudara yang tidak puas
dan tidak memilih pinto, maka suatu hal yang kebetulan Menjauhkan diri dari pinto
memang merupakan hal yang terbaik, Tetapi apabila pinto yang menjadi hiocu, tentu
pinto tidak mau tidak dihiraukan sebawahannya atau pun tidak dipandang sebelah
mata”

Ki lao-liok menjadi tidak puas mendengar ucapannya.
“Toh tidak ada orang yang mengajukan dirimu sebagai hiocu, Mengapa sekarang kau
banyak bacot ?”
Tiba-tiba tosu itu menjadi marah. “Ki lao-liok” teriaknya, “Sahabat-sahabatnya dari
dunia kangouw, apabila bertemu dengan pinto, mereka menyebut pinto dengan
panggilan totiang, Bahkan Cong tocu sendiri, ketua pusat kita juga masih sungkan
terhadapku Mana ada orang yang begitu tidak tahu aturan seperti engkau? Biar pinto
katakan terus-terang kepadamu, apabila Kwan hucu diajukan sebagai hiocu Ceng-bok
tong, pintolah orang yang pertama yang menyatakan tidak setuju, Kalau dia
memaksakan diri juga, dia harus memenuhi sebuah syarat”
Ki lao-liok mendongkol sekali mendengar ucapan tosu itu, tapi dia berusaha untuk
mengendalikan emosinya.
“Apa yang kau maksudkan? Bicaralah yang jelas agar kita semua bisa
mempertimbangkannya”
Kou Yap tojin menatap Ki lao-liok dengan tajam, kemudian baru dia berkata:
“Syarat yang harus dipenuhi oleh Kwan hucu ialah harus bercerai dengan Sip Ciok
Cin-kim Ki Kim-to”
Mendengar jawaban rahib itu, orang-orang yang ada di dalam ruangan itu tertawa
terpingkal-pingkal karena merasa lucu sekali.
Hat ini disebabkan Sip Ciok Cin-kim (Seratus persen emas murni) Ki Kim-to adalah
istrinya Kwan hucu, Dia adalah kakak perempuannya Ki lao-liok, julukannya itu didapat
karena dia menggunakan senjata yang merupakan sepasang golok emas.
Sekarang Kou Yap tojin justru mengajukan syarat yang aneh itu. Tentu saja orangorang
yang mendengarnya jadi geli.
Sebetulnya Ki Kim-to adalah seorang wanita yang baik. wataknya jujur, Ki lao-liok
juga cukup baik, sayangnya dia terlalu menyanjung cihunya sendiri.
Padahal watak Kwan hucu justru mudah marah dan berangasan, Karena itu banyak
orang yang membicarakan perangainya yang buruk.
Kwan hucu yang mendengar ucapan Kou Yap tojin terus berdiam diri, ia tidak ingin
berdebat dengan siapa pun. Tosu itu juga tidak mau memperpanjang urusan, Dia
tertawa lebar.
“Kwan hucu, kita adalah saudara angkat, berbagai bahaya telah kita lalui bersama.
Oleh karena itu, jangan karena perdebatan sesaat, persaudaraan kita menjadi hancur
karenanya, Barusan pinto hanya bergurau, harap kau maafkan aku. Nanti kala kau

kembali ke rumah, harap jangan sampaikan apa yang kukatakan kepada enso, Kalau
tidak, mungkin dia akan datang kemari dan menarik kumis dan jenggotku ini sampai
putus”
Kembali orang-orang yang ada dalam ruangan tertawa terbahak-bahak, Imam itu
memang jenaka sekali, Kwan An-ki juga segan terhadap tosu itu. Dia tidak berkata-kata
hanya bibirnya saja yang tersenyum.
Pemilihan hiocu masih menjadi bahan pembicaraan, ada yang memuji Lie toako yang
sudah tua dan bijaksana, ada yang memilih Kwan hucu yang gagah, Sampai cukup
lama masalah ini masih belum bisa dipecahkan.
Selagi orang ramai masih membicarakan persoalan itu, tiba-tiba terdengar seseorang
menangis meraung-raung sambil berkata.
“ln hiocu, oh, In hiocu Semasa hidupmu, kami dari Ceng-bok tong selalu rukun satu
sama lainnya, Semua saudara tua dan muda tidak ada perbedaannya. Kita selalu
bersatu dalam menghadapi apa pun. Kita bercita-cita merobohkan kerajaan Ceng dan
membangun kembali kerajaan Beng kita Siapa nyana kau justru mati di tangan Go Pay
si jahanam
Sampai sekarang tidak ada orang yang hebat seperti toako Oh, In hiocu, kecuali kau
hidup kembali, kami pasti tidak bisa rukun seperti dulu, Kami akan seperti pasir yang
buyar terhempas ombak, Kita tidak bisa kompak lagi seperti semasa hidupmu”
Mendengar kata-kata itu, orang-orang lainnya pun teringat kepada In-hiocu. Mereka
sedih sekali, Bahkan sebagian di antaranya ikut menangis dengan pilu.
Tepat pada saat itu, terdengar seseorang lainnya berkata.
“Lie toako mempunyai kebaikan tersendiri demikian pula dengan Kwan hucu. Keduaduanya
merupakan saudara kita, Karena itu, jangan karena urusan mereka berdua,
masalah pemilihan hiocu ini jadi kacau, Dengan demikian tali persaudaraan kita bisa
kendor dan kita pun tidak dapat hidup rukun lagi sebagaimana biasanya. Menurutku,
lebih baik kita serahkan urusan ini kepada In hiocu. Kita undang arwahnya, Kita tulis
nama Lie toako dan Kwan hucu, kemudian kita memasang hio bersembahyang kepada
In hiocu dan memohon keputusannya. Bukankah cara ini yang paling bagus?”
Beberapa orang segera menyatakan persetujuannya.
“Cara itu tidak bagus” bantah Ki lao-liok.
“Kenapa tidak?” tanya seseorang.”
“Siapa yang akan mengundi nama-nama itu?”
“Bersama-sama kita pilih seseorang untuk menjadi pengundinya.”

“Bagaimana kalau orang itu tidak jujur?”
“Benar Bagaimana kalau ada yang berani main gila?”
“Tidak mungkin” teriak Cui tou cu. “Di depan arwahnya In hiocu, siapa yang berani
main gila?”
“Hati manusia sulit diterka, biar bagaimana kita harus berjaga-jaga terhadap segala
kemungkinan” kata Lao-liok yang kukuh pada pendiriannya.
“Kau benar-benar edan Siapa yang berani main gila kecuali kau?” bentak Cui tocu.
Lao-liok menjadi gusar mendengar kata-katanya. “Siapa yang kau maki?”
“Aku memaki kau, bocah cilik” sahut Cui toucu terus-terang, “Mau apa kau?”
“Sebenarnya aku sudah berusaha untuk sabar, tetapi kali ini habisIah kesabaranku”
bentak Ki lao-liok.
Ki lao-liok langsung menghunus goloknya dan berkata.
“Cui toucu, mari kita pergi ke halaman luar untuk mengadu kepandaian” tantangnya.
Dengan tenang Cui toucu juga menghunus senjatanya.
“Kau yang menantang aku, terpaksa aku melayani” Dia menolehkan kepalanya
kemudian berkata, “Kwan hucu, kau lihat sendiri”
“Kita semua merupakan saudara, jangan karena urusan ini timbul perselisihan Cui
toucu, tanpa sebab musabab kau memaki iparku, Kesalahan ada padamu”
“Aku sudah menduga bahwa kau akan membela iparmu itu dan menyalahkan aku,
Kwan hucu, belum jadi hiocu saja pertimbanganmu sudah berat sebelah, Apalagi kalau
kau benar-benar terpilih menjadi hiocu?”
Kwan An-ki marah sekali.
“Apa orang yang sembarangan memaki itu kelakuannya benar? Apalagi kau
mengucapkan kata-kata yang kasar, lalu maumu, aku harus bagaimana?”
Ucapan Kwan hucu dianggap lucu, sehingga orang-orang yang mendengarkan jadi
tertawa.
Lao-liok yang mendapat pembelaan dari cihu-nya semakin besar kepala, Dia segera
beranjak dari tempatnya dan menantang.
“Cui toucu, silahkan”

Ada seseorang yang segera memegangi tangannya dan mencegah.
“Lao-liok, kau ingin cihumu menjadi hiocu, pemikiran ini memang tidak salah, Tapi
kau jangan melakukan kesalahan terhadap orang lain, Apalagi di hadapan orang
banyak, seharusnya dalam segala hal kau bisa mengalah”
Perlahan-lahan Cui toucu memasukkan goloknya ke dalam sarung.
“Bukannya aku takut kepadamu,” katanya kepada Ki lao-liok. “Aku hanya
memandang saudara-saudara kita yang lainnya. Tapi aku tegaskan sekali lagi, apabila
Kwan hucu ingin menjadi hiocu, biar bagaimana aku orang she Cui tidak setujui
wataknya Kwan hucu masih lumayan, tapi lain halnya dengan Ki lao-Iiok. Lebih baik
bertemu dengan Giam lo-ong daripada algojonya”
Siau Po berdiri di samping, Dia dapat mendengar semuanya dengan jelas, Tanpa
terasa dia menjadi tertarik. Rasa takutnya sudah hilang karena tahu dirinyalah yang
salah sangka, Tadinya dia mengira orang-orang itu adalah antek-anteknya Go Pay,
ternyata bukan, malah sebaliknya merekalah musuh bangsa Boan.
Tapi masih juga terselip kekhawatiran di hatinya, yakni orang-orang itu merupakan
patriot pecinta negeri sedangkan saat ini dia sendiri menyaru sebagai thay-kam cilik dari
istana kerajaan musuh.
“Mana mungkin mereka percaya kalau aku bukan seorang thay-kam?” pikirnya dalam
hati, “Sebentar lagi, apabila mereka sudah mengambil keputusan, mungkin aku akan
dibunuhnya, Apalagi aku sudah mendengar rahasia mereka. Pasti mereka akan
membungkam mulutku untuk selamanya, Taruh kata aku tidak dibunuh, mereka pasti
akan mengurung aku untuk selamanya, Satu-satunya jalan yang paling baik adalah
menyingkirkan diri selagi masih ada waktu”
Perlahan-lahan Siau Po bergerak mundur untuk mencapai pintu, Dia berharap akan
terjadi kekacauan di antara mereka sendiri sehingga dia dapat melarikan diri dari
tempat itu.
“Mengundi hanya permainan anak-anak” Terdengar seseorang memberikan
komentar “Menurut aku, paling baik kita gunakan cara yang singkat dan tegas, yakni
membiarkan Lie toako dan Kwan hucu mengadu kepandaian, boleh dengan tangan
kosong maupun senjata tajam, tapi sebatas saling menotol saja. Dengan demikian tidak
ada pihak yang sampai terluka, Kita semua menonton dari samping, siapa yang
menang atau kalah, kita putuskan bersama, Bagaimana?”
Ki lao-liok setuju, Dialah yang pertama-tama menganggukkan kepalanya.
“Bagus Begitu saja keputusannya, Kita gunakan cara mengadu kepandaian. Kalau
Lie toako yang menang, aku akan menghormatinya sebagaimana layaknya seorang
hiocu”

Mendengar ucapannya, Siau Po berpikir dalam hati.
“Belum tentu apa yang kau katakan jujur, Siapa tahu kau memang sudah yakin
cihumu yang bakal meraih kemenangan? Kalau begitu, buat apa mereka mengadu
kepandaian?”
Kalau Siau Po saja bisa mempunyai pikiran seperti itu, tidak heran yang lainnya juga
berpikiran sama, Buktinya banyak orang yang memprotes usul itu, Bahkan ada yang
mengatakan.
“Untuk menjadi seorang hiocu, harus ada dukungan dari kita semua, Bukankah kita
semua terdiri dari saudara? persaudaraan tidak ada hubungannya dengan kepandaian.
Tidak perduli siapa yang kepandaiannya lebih tinggi atau lebih rendah”
“Kalau kita mengambil keputusan berdasarkan pibu, taruh kata Kwan hucu berhasil
menang, lalu ada orang lagi yang menentangnya dan orang itu menang, Dengan
demikian bukankah orang itu yang pantas menjadi hiocu? Sampai kapan urusan ini baru
bisa diselesaikan?”
“ltu bukan cara untuk memilih hiocu tapi pertandingan di atas panggung, Kalau
demikian, lebih baik Kwan hucu membangun panggung saja dan menentang setiap
orang untuk mengadu kepandaian ” kata yang lain.
“Andaikata Go Pay belum mati, mungkin Kwan hucu sendiri tidak sanggup
mengalahkannya. Lalu apabila hal ini sampai terjadi, seandainya Go Pay tidak mati,
apakah kita harus memilihnya sebagai hiocu kita?” tukas orang yang lain.
Mendengar pertanyaan itu, orang banyak langsung tertawa geli, justru di saat itu
terdengar pula ratapan seseorang.
“Oh, In hiocu Setelah engkau menutup mata, orang tidak menghormatimu Iagi In
hiocu dengar sendiri, apa yang mereka ucapkan di depan meja sembahyangmu
Sumpah yang pernah mereka ucapkan sekarang hanya angin busuk belaka”
Siau Po mengenali suara orang itu sebagai Ki losam yang paling pandai menyindir
dengan ucapannya yang tajam.
Begitu suara itu terdengar suara bising pun sirap seketika, Ruangan itu menjadi sunyi
seketika, Semua orang dapat merasakan tajamnya kata-kata itu.
“Eh, Ki losam apa maksud ucapanmu itu?” tanya beberapa orang.
“Hm” Ki losam mendengus dingin, “Dulu ketika In hiocu meninggalkan, aku juga ikut
berlutut menyembah di depan peti matinya, Aku juga menusuk jari tanganku dan
dengan darah sendiri-sendiri kita bersumpah akan membalas sakit hati bagi In hiocu,
Aku ingat apa yang pernah kita ucapkan waktu itu, siapa pun yang berhasil membunuh
Go Pay, kita akan mengangkatnya sebagai hiocu, Aku masih mengingat dengan baik

sumpah itu dan aku tidak mau mengingkarinya, Apa yang telah kuucapkan bukan
sekedar angin busuk”
Semua orang terdiam mendengar kata-katanya. Sumpah itu memang bukan hanya
diucapkan oleh Ki losam, tetapi mereka semua juga mengucapkannya, dan sebetulnya
mereka tidak mungkin melupakannya.
Sesaat kemudian baru terdengar Ki lao-liok berkata.
“Ki samko, apa yang kau katakan memang tidak salah, bukan hanya engkau yang
mengucapkan sumpah itu, aku juga, bahkan kita semua juga mengucapkannya. Tapi
kau tahu, aku juga tahu, kita semua tahu bahwa yang membunuh Go Pay adala bocah
itu….”
Dia menoleh, tepat pada saat Siau Po sampai di ambang pintu, Ki lao-liok terkejut
sekali dengan gugup dia berseru, “Tangkap dia Jangan biarkan dia lolos”
Siau Po juga terkejut Dia ingin lari tetapi jalannya langsung dihadang beberapa
orang. Dengan demikian gagallah niatnya itu, Siau Po kena dicekal dengan mudah dan
ditenteng kembali ke dalam ruangan.
“Hai kura-kura sekalian” teriak Siau Po dengan berani, “Kura-kura Mau apa kalian
menyeret-nyeret lohu?”
Siau Po menganggap dirinya tidak mungkin dibiarkan hidup, karena itu sebelum mati
dia ingin berteriak sepuas-puasnya, Dia ingin memaki mereka habis-habisan.
“Eh, eh. Saudara kecil, jangan sembarangan memaki orang Tunda dulu cacianmu
itu” kata seorang laki-laki berdahdanan siu cai.
Siau Po menolehkan kepalanya, dia mengenali orang yang berbicara.
“Kau toh Ki losam?” tanyanya.
Ki losam yang bernama Ki Pu-ceng menatapnya dengan heran. “Eh, kau kenal aku?”
“Kau tanya aku kenal denganmu?” kata Siau Po. “Tidak. Aku kenal dengan ibumu”
Losam tambah bingung, Tampangnya seperti orang pandir.
“Bagaimana kau bisa kenal dengan ibuku?”
“Tentu saja aku kenal dengan ibumu, Malah kami bersahabat karib” kata Siau Po
seenaknya, Orang-orang yang mendengarkan ucapannya jadi tertawa geli.
“Aih Lidah bocah ini sungguh tajam” Terdengar komentar beberapa orang.

Wajah Ki Piu-ceng merah padam seketika, .
“Aih Saudara kecil ini memang suka bergurau” Tampangnya menjadi serius,”
Saudara kecil, bolehkah aku tahu mengapa kau membunuh Go Pay?”
Siau Po segera mendapat akal yang bagus, pada dasarnya dia memang cerdik sekali
dan pandai mengikuti perkembangan di sekitarnya.
“Go Pay si jahanam” katanya dengan sepasang tinju dikepalkan. “Dia manusia
terkutuk yang telah banyak melakukan kejahatan Terutama dia telah membunuh banyak
patriot pecinta negara? Dialah musuh besarku Aku Wi Siau-po telah bersumpah tidak
sudi hidup dalam satu jaman dengannya, Aku, seorang rakyat jelata, tapi dia membekuk
aku dan membawaku ke istana, Di sana aku dipaksanya menjadi thay-kam. Sungguh
menyesal aku tak sempat mencincang tubuhnya atau melemparkan tubuhnya menjadi
mangsa buaya di sungai”
Sengaja Siau Po mengucapkan kata-katanya dengan keras dan penuh semangat
agar semua orang mendengarnya.
Ternyata semua orang yang hadir dalam ruang an itu jadi tertarik perhatiannya,
mereka bahka saling pandang dengan terkesima.
“Sudah lamakah kau menjadi thay-kam?” tanya Ki Piu-ceng.
“Lama? setengah tahun pun belum Aku berasal dari Yangciu, dibekuk oleh Go Pay
kemudian dibawanya ke istana dengan paksa, Si jahat, Go Pay Kalau dia mati,
mayatnya harus dibawa ke gunung golok, arwahnya akan menerima siksaan dalam
kuali panas Batok kepalanya dipantek dengan tusuk konde” Selama berbicara, Siau
Po sengaja mengeluarkan logat Yangciu,
“Benar Dia memang orang Yangciu” kata seorang wanita yang berasal dari daerah
yang sama.
“Bibi, kita sama-sama orang Yangciu,” kata Siau Po yang akalnya banyak dan
rasanya tidak pernah kekurangan itu. “Dulu sungguh mengenaskan nasib kita orang
Yangciu Kita telah disembelih oleh orang-orang Mancu tanpa belas kasihan sedikit
pun Sampai sepuluh hari berturut-turut anjing-anjing Manchu melakukan pembunuhan
Kakek kita, nenek kita habis dibunuh Tidak ada satu pun yang dibiarkan hidup Iblisiblis
itu menyerbu dari pintu timur menuju pintu barat Dari pintu selatan menerjang ke
pintu utara Semua itu atas perintah Go Pay Karena itulah aku membencinya dan
menganggap nya sebagai musuh besar. Tak sudi aku hidup bersama-sama
dengannya”
Hebat sekali ucapan bocah cilik ini. orang-orang yang berkumpul dalam ruangan itu
langsung menganggukkan kepalanya berulang kali, Hati mereka tergerak dan ikut
tegang membayangkan kembali peristiwa yang dikatakan bocah itu barusan.

“Tidak heran Tidak heran” seru Kwan An-ki saking kagumnya.
“Bukan hanya kakek dan nenekku yang menjadi korban, Bahkan ayahku juga mati
karena Go Pay” kata Siau Po kembali
“Kasihan… kasihan…” kata Ki losam, “Saudara kecil, berapa usiamu tahun ini? tanya
Cui toucu,
“Empat belas tahun…” sahut Siau Po.
“Eh peristiwa yang terjadi di Yangciu suda berselang dua puluh tahun dari sekarang,
Bagaimana ayahmu bisa dibinasakan oleh Go Pay?” tanya Cui toucu kembali.
Siau Po terkejut sekali ketika merasa kebohongannya mulai dirasakan oleh Cui
toucu, Tapi dasar bocah cerdik, dia sengaja berlagak pilon.
“Memang Mana aku tahu? Saat itu aku pun belum lahir, ibulah yang
menceritakannya kepadaku”
“Andai pun ketika itu kau masih dalam kandungan, waktunya tetap saja kurang
tepat”
“Saudara Cui kata-katamu sendiri yang kurang tepat, Saudara kecil ini hanya
mengatakan bahwa ayahnya telah dibunuh oleh Go Pay. Dia tidak mengatakan
kematiannya tepat pada peristiwa Yangciu itu. Bukankah selama jabatan Go Pay, tidak
ada sehari pun dia tidak melakukan kejahatan?” kata Ki losam.
“Oh ya… ya” Cui toucu pun menganggukkan kepalanya berkali-kali.
“Eh, sahabat kecil, tadi kau mengatakan bahwa Go Pay telah banyak membunuh
patriot pecinta negara. Apa hubungannya denganmu?” tanya Ki losam.
“Tentu saja ada hubungannya,” sahut Siau Po. “Aku mempunyai seorang sahabat
yang ditangkap oleh Go Pay dan dibawa ke istana kerajaan Ceng kemudian dianiaya
sampai mati. sebenarnya aku ditangkap sama-sama dengan sahabatku itu”
Para hadirin menjadi heran, mereka menatap bocah itu dengan penuh perhatian.
“Siapakah sahabatmu yang ditangkap dan dicelakai oleh Go Pay itu?” tanya
seseorang.
“Sahabatku itu seorang tokoh yang sudah mempunyai nama di dunia kangouw, Dia
bernama Mau Sip-pat” sahut Siau Po dengan perasaan bangga.
Para hadirin terbelalak mendengar kata-kata bocah itu. Bahkan ada beberapa di
antaranya yang bertanya. “Mau Sip-pat itu sahabatmu?”

“Tapi, dia kan belum mati?” kata ki Lao-liok bingung.
Sekarang gantian Siau Po yang membelalakkan matanya lebar-lebar.
“Apa? Dia belum mati? Benarkah dia belum mati? Oh, aku ingin bertemu
dengannya” Kali ini apa yang dikatakan Siau Po memang keluar dari hatinya yang
paling tulus.
“Bagus” seru Kwan An-ki. “Dengan demikian kita bisa membuktikan apakah saudara
kecil ini sebenarnya kawan atau lawan? Nah, Lao-liok. Ce-pat kau ajak beberapa
saudara kita untuk mengundang saudara Mau Sip-pat ke sini, Coba kita lihat apakah dia
kenal dengan bocah ini”
Ki Lao-liok segera mengiakan dan berlalu dari tempat tersebut sementara itu, Ki Piuceng
menarik sebuah kursi.
“Saudara kecil, silahkan duduk,” katanya mempersilahkan.
Tanpa sungkan-sungkan lagi, Siau Po langsung duduk di kursi yang telah
disediakan, setelah itu ada orang yang datang mengantarkan semangkuk bakmi dan
secawan teh dan meletakkannya di depan Siau Po.
Bocah itu memang sudah lapar, tanpa malu-malu lagi dia melahap habis makanan
yang disajikan. Setelah itu, Kwan An-ki menemaninya duduk sambil berbincangbincang,
Masih ada beberapa orang yang ikut bergabung. Di antaranya ada Piu-ceng
dan orang yang dipanggil Lie toako, nama sebenarnya Lie Lek-si. Mereka bicara
dengan sungkan, padahal diam-diam atau dengan cara halus mereka sedang mengorek
keterangan dari Siau Po untuk menyelidiki asal-usul bocah itu yang sebenarnya.
Bagian 11
Siau Po menceritakan dengan terus-terang, sekali-sekali dia menyelipkan caci maki
kepada Go Pay yang dibencinya itu, dia menceritakan bagaimana dia membantu kaisar
Kong Hi membekuk pengkhianat yang terkenal sebagai jago nomor satu bagi bangsa
Boan itu.
Yang ditutupinya hanyalah urusan Hay kongkong yang mengajarnya ilmu silat dan
kaisar Kong Hi yang ikut membokong Go Pay. Kwan An-ki dan yang lainnya percaya
penuh dengan cerita dari Siau Po, sebelumnya mereka memang sudah mendengar
tentang seorang thay-kam cilik yang dengan berani ikut membekuk Go Pay. Saking
kagumnya, dia sampai menarik nafas panjang dan berkata:
“Go pay terkenal sebagai orang gagah nomor satu bangsa Boan. Kau bukan hanya
berhasil membunuhnya, bahkan sebelumnya kau membekuknya terlebih dahuIu, ini

yang dinamakan takdir Nasib telah menentukan jalan hidupnya harus berakhir seperti
itu”
Tepat pada saat itu, pintu ruangan terbuka, tampak masuk dua orang anggota
perkumpulan itu dengan menggotong sebuah usungan Di belakangnya mengiringi Ki
Lao-Iiok. Dia segera berkata:
“Cihu, saudara Mau Sip-pat telah diundang datang….”
Siau Po langsung bangun dari tempat duduknya, dia melihat Mau Sip-pat yang
terbaring di atas sebuah usungan, pipinya cekung dan matanya celong, wajahnya
suram.
“Saudara, a… pakah kau sakit?” tanya Siau Po. perasaannya sedih dan heran
melihat keadaan sahabatnya.
Mau Sip-pat diundang oleh Ki Lao-liok, dia menduga ada urusan penting yang terjadi
di Ceng-bok tong dan dia akan diajak berunding. Tidak disangka-sangka dia melihat
Siau Po dan langsung mengenalinya, hatinya gembira sekali.
“Hai, Siau Po” serunya, “Kau… kau juga berhasil lolos Oh, betapa aku
memikirkanmu Tadinya aku bermaksud menunggu sampai sembuh kemudian
menyelinap ke dalam istana untuk menolongmu “
Hanya beberapa patah kata yang diucapkan oleh Mau Sip-pat, hilanglah kecurigaan
orang-orang dalam ruangan itu. Mereka percaya sekarang bahwa bocah itu bukan
orang kerajaan Ceng.
Sebetulnya Mau Sip-pat bukan anggota Tian-te hwe, tetapi namanya sudah terkenal
di dunia kangouw sebagai seorang laki-laki yang gagah dan jujur. Mau Sip-pat juga
seorang buronan kerajaan Ceng dengan demikian berarti mereka berada di pihak yang
sama.
“Mau toako, apakah kau terluka?” tanya Siau Po khawatir.
Sip-pat menarik nafas dalam-dalam agar dadanya terasa lega.
“Malam itu, ketika aku berniat melarikan diri dari istana, begitu sampai di halaman
depan, aku kepergok para siwi, sendirian aku dikeroyok lima siwi tersebut. Dua di
antaranya berhasil kubunuh, tapi aku sendiri juga kena terbacok sebanyak dua kali, aku
kabur dengan dikejar para siwi itu. sebenarnya aku hampir tidak punya kesempatan lagi
untuk menyelamatkan diri, untung saja datang saudara-saudara dari Tian-te hwe ini
yang memberikan bantuan. Apakah kau juga ditolong oleh saudara-saudara dari Tian te
hwe ini?”

Pertanyaan itu membuat Kwan An-ki dan yang lainnya menjadi malu hati, mereka
jengah sebab bukan mereka menolong Siau Po melarikan diri dari istana, tetapi mereka
justru membekuk dan menculiknya dari sana….
Namun, tidak disangka-sangka Siau Po tidak mempermalukan mereka.
“Benar Di istana, si thay-kam tua memaksa aku menjadi thay-kam cilik seperti dia
sendiri. Baru hari ini aku mendapat kesempatan meloloskan diri, untunglah aku bertemu
dengan bapak-bapak dari Tian-te hwe ini”
Semua anggota Tian-te hwe menghembuskan nafas lega mendengar ucapan Siau
Po. Muka mereka benar-benar dibuat terang, mereka menjadi bersyukur karena
kehebatan bocah ini.
“Mari kita istirahat di dalam,” ajak Ki Lao-liok kemudian. Mereka berbicara di ruang
sembahyang bersama yang lainnya.
Lukanya Mau Sip-pat parah sekali, meskipun selama setengah tahun ini dia sudah
berobat dengan berganti-ganti tabib, tapi masih belum sembuh secara keseluruhan.
Ketika dia digotong keluar barusan, usungannya berguncang-guncang sehingga
lukanya terasa nyeri kembali.
Saking menahan rasa nyeri itu, Mau Sip-pat sampai tidak sanggup berbicara,
padahal banyak yang ingin dibicarakannya dengan Siau Po. Mereka telah terpisah
begitu lama dan selama ini mereka saling memikirkan sehingga perasaan mereka tidak
pernah tentram.
Hati Siau Po justru yang paling lega, “Biar bagaimana, tidak mungkin mereka
membunuhku.,.” pikirnya dalam hati, Tadinya dia cemas orang-orang perkumpulan
Tian-te hwe itu tidak percaya kepadanya dan menganggapnya sebagai seorang thaykam
bangsa Boan.
Ketika Sip Pat beristirahat dengan menahan rasa nyerinya, Siau Po sudah tertidur
pulas di atas kursi, Tubuhnya meringkuk.
Tengah malam, Siau Po merasa tubuhnya dibopong kemudian dipindahkan ke atas
pembaringan lalu ditutupi sehelai selimut. Ketika dia terjaga dari tidurnya yang nyenyak,
segera muncul seseorang yang membawakan sebaskom air untuk membasuh muka,
Kemudian dia juga dibawakan semangkuk bakmi dan secawan teh.
“Semakin lama semakin baik perlakuan mereka terhadapku,” pikir Siau Po. “Senang
sekali diperlakukan seperti orang dewasa.” Namun ketika dia membuka pintu kamar,
hatinya langsung tercekat Di luar kamar ada orang yang berdiri tegak, demikian pula di
luar jendela, Apakah orang-orang itu sedang mengawasinya secara diam-diam karena
khawatir dia akan melarikan diri? Tapi Siau Po memang cerdik, dia pura-pura tidak
melihat mereka.

“Kalau mereka benar-benar menganggap aku sebagai tamu, mengapa aku harus
diawasi?” pikirnya lagi, Tapi Siau Po tidak takut Dia berkata dalam hati, “Hm Kalian
ingin menjaga aku, Wi Siau-po? Aku mau keluar, ingin kulihat bagaimana caranya
kalian empat manusia tolol bisa mencegahku?”
Diam-diam Siau Po mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar itu, dia segera
mendapatkan akal yang bagus. Tiba-tiba dia membentangkan jendela sebelah timur
keras-keras sehingga menimbulkan suara yang gaduh.
Ke empat penjaga itu terkejut setengah mati. Serempak mereka menoleh ke arah
sumber suara. Tepat pada saat itu Siau Po menghentak pintu kamarnya lalu
membantingnya dengan keras dan secepat kilat dia menyusup ke kolong tempat tidur.
Kembali keempat orang itu terkejut. Apalagi setelah melihat bahwa jendela dan pintu
kamar sudah terbuka lebar, hati mereka tercekat Mereka ditugaskan untuk mengawasi
bocah itu, tetapi sekarang mereka yakin Siau Po sudah kabur.
“Ayo” teriak mereka serentak, dengan gugup mereka lari ke dalam kamar.
Mau Sip-pat masih tertidur dengan nyenyak namun bocah itu sudah tidak kelihatan.
“Bocah itu pasti belum jauh Lekas kalian berpencar mengejarnya” kata penjaga
yang satu. “Aku akan memberikan laporan”
“Baik” sahut ketiga kawannya, kemudian mereka pun berpencaran yang satu menuju
luar dan dua lagi naik ke atas genteng, sedangkan yang satu lagi segera masuk ke
dalam.
Begitu orang-orang itu meninggalkan kamarnya, Siau Po segera keluar dari kolong
tempat tidur. Sengaja dia mengeluarkan suara batuk-batuk kemudian dengan tenang
melangkah ke arah aula.
Dia membuka pintu dan tampaklah Kwan An-ki sedang duduk bersama Ki Lek-si,
sedangkan penjaga tadi sedang memberikan laporan. Tampaknya orang itu panik sekali
sampai-sampai bicaranya pun tersendat dan tiba-tiba ucapannya terhenti ketika dia
melihat si bocah muncul di depan pintu.
Mulutnya mengeluarkan seruan tertahan da matanya menatap dengan membelalak.
Sikap Siau Po tenang sekali, dia menganggukkan kepalanya pada kedua tokoh
Ceng-bok tong itu.
“Lie toako Kwan hucu selamat pagi Apa kabar?” seenaknya saja Siau Po
memanggil Lie toako dan Kwan hucu seperti anggota Tian-te hwe lainnya.
Kwan An-ki dan Lie Lek-si saling pandang sejenak.

“Sudah pergi” bentak Kwan An-ki pada si penjaga. “Dasar manusia tidak berguna”
Penjaga itu menganggukkan kepalanya berkali-kali dan cepat-cepat keluar dari
ruangan aula, Kwan An-hi menoleh kepada Siau Po dan berusaha bersikap sewajar
mungkin.
“Silahkan duduk Apakah tidurmu nyenyak tadi malam?”
“Terima kasih, Kwan hucu,” sahut Siau Po sambil tersenyum, “Tidurku nyenyak”
Tepat pada saat itu jendela aula tersebut tiba-tiba terpentang lebar, dua orang
melompat ke dalam sambil berseru.
“Kwan hucu, bocah itu kabur entah kemana”
Kata-katanya mendadak berhenti sebab dia melihat Siau Po sudah duduk di dalam
ruangan bersama para pemimpinnya.
“Dia… dia” Satu di antaranya menunjuk ke arah Siau Po dengan sikap gugup dan
bingung.
Siau Po tidak dapat menahan kegelian hatinya, Dia tertawa terpingkal-pingkal.
Menurutnya, kejadian itu lucu sekali.
“Kalian empat orang dewasa benar-benar tidak ada gunanya Seorang bocah cilik
pun tidak sanggup diawasi. Kalau aku memang berniat melarikan diri, sejak tadi aku
sudah menghilang”
Ta… pi, tapi bagaimana caranya kau bisa keluar dari kamar itu? Apakah mata kami
yang sudah kabur?” kata salah seorang penjaga itu keheranan “Kami tidak melihat
bayangan siapa-siapa dan tahu-tahu kau sudah lenyap. Aneh sekali” Siau Po tertawa.
“Aku menguasai ilmu melenyapkan diri tanpa terlihat oleh siapa pun, sayangnya ilmu
itu tidak bisa aku ajarkan kepada kalian”
Kwan An-hi mengernyitkan keningnya mendengar pembicaraan mereka, Kemudian
dia mengibaskan tangannya.
“Kalian boleh mundur sekarang” katanya, “Tidak heran pantas” seru kedua orang
itu dengan pandangan kagum, Mereka percaya dengan penuh ocehan bocah itu.
Setelah itu mereka memberi hormat kepada Kwan An-ki dan Lie Lek-si, lalu
mengundurkan diri.
Lie Lek-si tertawa lebar. “Saudara kecil, usiamu masih muda sekali, tapi otakmu
sungguh cerdik. Kami benar-benar kagum kepadamu”

Belum sempat Siau Po memberikan komentar tiba-tiba terdengar sayup-sayup suara
derap kuda, Dapat diduga bahwa ada serombongan orang berkuda yang sedang
mendatangi ke arah tempat tersebut.
Kwan An-ki dan Lie Lek-si langsung melompat bangun dari tempat duduknya.
“Mungkinkah pasukan Boan yang datang?” tanya Lie lek-sie dengan suara Iirih.
Kwan An-ki menganggukkan kepalanya, dia segera menyelipkan kedua jari telunjuk
dan jempolnya disela-sela bibir kemudian bersuit tiga kali. Lima anggota Tian-te hwe
segera menghambur ke dalam.
“Semua bersiap” kata Kwan An-hi “Lie Iao-liok, kau lindungi saudara Mau Sip-pat.
Kalau pasukan itu jumlahnya besar, jangan lawan mereka dengan kekerasan. Kita
mundur teratur seperti rencana semula.”
Kelima orang itu segera mengiakan lalu mundur, semua anggota Ceng-bok tong
segera bersiap sedia.
“Saudara kecil, mari ikut denganku” kata Kwan An-ki.
Tepat pada saat itulah, seorang penunggang kuda menghambur datang dengan
cepat sambil berseru:
“Cong tocu tiba”
“Apa?” Kwan An-ki dan Lie Lek-si terhenyak seketika, Yang di maksud dengan Cong
tocu adalah ketua dari markas pusat.
“Cong tocu datang bersama kelima tongcu lainnya,” kata pembawa berita itu
menerangkan “Mereka datang dengan menunggang kuda”
Dari terkejut, Kwan An-ki dan Lie Lek-si menjadi senang sekali.
“Bagaimana kau bisa tahu?”
“Aku bertemu dengan Cong tocu di tengah jalan, dan aku diperintahkan untuk
berjalan duluan agar dapat memberi kabar kepada kalian,” sahut orang baru datang itu.
Tampaknya dia melakukan perjalanan dengan tergesa-gesa sehingga nafasnya
masih tersengal sengal.
“Kau istirahatlah” perintah Kwan An-ki yang kemudian memanggil orang-orangnya
dan lalu menjelaskan “Yang datang bukan pasukan Boan, tetapi Cong tocu dengan
kelima tongcu lainnya, Sekarang kalian bersiap-siap untuk mengadakan penyambutan”

Perintah itu segera disiarkan Para anggota perkumpulan itu pun sibuk mengadakan
penyambutan, sementara itu, Kwan An-ki menarik tangan Siau Po.
“Saudara kecil, Cong tocu kami datang. Mari kita menyambutnya”
Bocah itu hanya mengangguk lalu mengikutinya, Lie Lek-si dan yang lainnya pun ikut
keluar. Dalam sekejap mata, orang-orang dari bagian Ce bok tong perkumpulan Tian-te
hwe yang jumlahnya tiga ratus orang lebih sudah berbaris rapi, semuanya tampak
bersemangat.
Mau Sip-pat ikut menyambut, dia digotong oleh dua orang.
“Saudara Mau, kau adalah tamu kami, seharusnya tidak perlu sungkan seperti ini,”
kata Lie Lek-si.
“Tapi, aku sudah lama mendengar nama besar Cong tocu yang ibarat petir
menyambar di angkasa, Sudah selayaknya kalau hari ini aku menemuinya, Aku sudah
merasa puas dapat bertemu dengannya walaupun setelahnya aku akan mati” sahut
Mau Sip-pat antusias.
“Lie Lek-si terharu mendengar ketulusan Mau Sip-pat. Suara derap kaki kuda
semakin jelas, tampaklah belasan penunggang kuda sedang mendatangi. Tiga di
antaranya segera mendahului yang lainnya, Begitu tiba, mereka langsung melompat
turun dari kuda masing-masing.
Lie Lek-si menyambut ketiga orang itu, mereka langsung berjabat tangan dengan
akrab sekali, Siau Po mendengar seseorang berkata.
“Cong tocu ada di depan menunggu, Lie toako, Kwan hucu dan saudara-saudara
yang lain, mari kita menyambutnya”
Lie Lek-si menganggukkan kepalanya, Bersama-sama Kwan An-ki, Ki Piu-ceng, Cui
toucu beserta yang lainnya segera keluar. Mau Sip-pat merasa kecewa.
“Apakah Cong tocu tidak datang kemari?” tanyanya pada seseorang, Dia tidak
memperoleh jawaban, tampang yang lainnya juga menyiratkan kekecewaan yang sama
sepertinya.
Sesaat kemudian, datang lagi seorang penunggang kudanya yang langsung
menyebutkan nama tiga belas orang, ketiga belas orang inilah yang sedang dinantikan
oleh Cong tocu mereka.
“Mau toako,” panggil Siau Po. “Bukankah usia Cong tocu itu sudah lanjut sekali?”
Mau Sip-pat tidak diajak oleh rombongan yang menyambut ke depan.

“A… ku belum pernah melihatnya,” sahut Ma Sip-pat dengan nada kecewa, “Berapa
banyak orang dunia kangouw yang ingin bertemu dengannya namun ini memang bukan
hal yang mudah…”
Siau Po merasa tidak puas melihat sikap Ma Sip-pat.
“Huh Banyak amat lagaknya Apanya yang hebat? Lohu sih tidak berniat bertemu
dengannya.” katanya terus-terang.
Tiga ratusan anggota Ceng-bok tong masih berbaris menanti, namun ada beberapa
di antaranya yang sudah merasa pegal sehingga duduk berjongkok.
“Tuan Mau,” kata seseorang di antaranya, ” baiknya tuan Mau istirahat saja di dalam,
kalau Cong tocu datang, nanti kami akan kirim orang untuk memberitahukannya
kepadamu.”
“Tidak” sahut Sip pat sambil menggeleng kepalanya, pada dasarnya adat orang
yang satu ini memang keras sekali Siau Po yang paling tahu persis.
“Biar aku menunggu di sini sampai Cong tocu datang, Kalau aku tidak berbuat
demikian, itu namanya aku tidak menghormatinya, Entahlah, apakah dalam hidup ini
aku mempunyai peruntungan untuk bertemu dengannya atau tidak.”
Siau Po hanya mendengarkan dengan berdiam diri, memang sejak di Yang-ciu, Mau
Sip-pat sudah menyatakan kekagumannya kepada Tocu perkumpulan Tian te hwe ini,
itulah sebabnya dia mendumel terus karena keinginannya untuk bertemu demikian kuat.
Beberapa saat kemudian, kembali terdengar suara derap kaki kuda, serentak semua
orang yang sedang duduk maupun berjongkok langsung berdiri, mereka menjulurkan
kepalanya ke depan

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s