“ PANGERAN MENJANGAN” – “ LU DING JI “ 14

sekali” puji Siau Po.
“Beginilah makanan orang tahanan, Tidak ada yang lezat?” sahut si pengurus dapur.
“Sri Baginda memerintahkan aku memeriksa hidangan untuk orang tahanan ini. Tidak
boleh sembarangan memberikan makanan kepadanya”
“Harap kongkong jangan khawatir, dia tidak bakal kelaparan Ongya juga berpesan
agar setiap hari dia dimasakkan sekati daging.”
“Ambilkan mangkuk, aku akan mencicipi makanan ini. Kalau kau berbuat yang
bukan-bukan akan kuadukan kepada Ongya agar kau dihajarnya habis-habisan”
Pelayan itu ketakutan setengah mati.
“Hamba tidak berani main gila” sahutnya sambil memgambilkan sebuah mangkuk
dan menyendokkan masakan ke dalamnya, Kemudian disodor-kannya kepada Siau Po
dengan penuh hormat.
Siau Po mencicipi satu sendok kuah masakan itu, dia tidak memberikan komentar
apa-apa, hanya berkata:
“Apakah setiap hari kau memberinya sekati daging? Jangan-jangan kau
menyisihkannya untuk mengenyangkan perutmu sendiri”
Pelayan itu menggelengkan kepalanya berkali-kali.

“Tidak, tidak Hamba mana berani melakukan perbuatan itu? sekarang juga… hamba
akan menyuguhkan makanan kepada tahanan itu,” katanya gugup.
Dia segera menyendokkan semangkuk besar masakan dan tiga mangkuk nasi, Siau
Po mengangkat sumpit yang tergeletak di samping dan memperhatikannya dengan
seksama.
“Sumpit ini kotor sekali, Kau cuci dulu biar bersih”
“Baik, baik.” sahut pelayan itu yang langsung membawa sumpit itu untuk dicuci di
pancuran air di luar.
Di saat pelayan itu sudah pergi, Siau Po segera mengeluarkan sebungkus bubuk
berisi obat, dituangkannya setengah ke dalam masakan daging kemudian sisanya
disimpan kembali. Kemudian dia mengaduk-aduk masakan itu agar obatnya larut.
Siau Po tahu Sri Baginda ingin membunuh Go Pay, itu sebabnya dia membuka peti
obat milik Hay kongkong untuk mencari racun yang mematikan. Tapi dia tidak tahu yang
mana obat beracun yang diinginkannya, akhirnya dia mencampur beberapa macam
obat menjadi satu, karena dia yakin beberapa di antaranya pasti ada obat yang
mengandung racun mematikan sekarang obat itulah yang dimasukkan ke dalam
masakan yang akan dihidangkan untuk Go Pay.
Sesaat kemudian pelayan tadi sudah kembali lagi dengan sumpit yang sudah dicuci
bersih.
“Ya, dagingnya memang tidak sedikit. Tapi, apa sehari-harinya selalu begini? Apa
kau tidak mencuri makanannya?”
“Tidak, tidak, kongkong”
“Nah, pergilah kau antarkan makanan ini”
“Baik, kongkong” sahut pelayan itu yang segera membawa makanan yang telah
disiapkan.
Siau Po puas sekali, sembari mengetuk-ngetuk mangkuk dengan sumpit, ia berpikir.
“Kalau Go Pay sudah menyantap hidangan itu, tentu darah akan mengalir dari mulut
hidung dan telinganya” Dengan membawa pikiran itu, Siau Po segera berjalan keluar
menemui para penjaga.
“Go Pay sedang makan, mari kita lihat,” katanya kepada kepala wisu.
“Mari” sahut orang itu.

Siau Po dan wisu kepala itu jalan berdampingan. Baru melangkah masuk pintu, tibatiba
terdengar suara yang gaduh, Terdengar seseorang membentak.
“Siapa? Berhenti” Kemudian disusul dengan suara sambaran anak panah.
Wisu kepala itu terkejut sekali. “Kongkong, kau duluan, Nanti aku lihat apa yang
terjadi” serunya sambil menghambur keluar
Siau Po juga mengikuti di belakangnya, segera terdengar suara keras seperti
bentrokan senjata tajam.
Ternyata ada belasan orang berpakaian hijau yang sedang berkelahi melawan para
wisu. Melihat hal itu, hati Siau Po tercekat.
“Ah Mungkinkah mereka konco-konconya Go Pay yang datang untuk
menolongnya?” tanyanya dalam hati.
Si wisu kepala langsung menghunus senjatanya dan memegang tampuk pimpinan.
Dia memberikan petunjuk-petunjuk kepada anak buahnya namun pada saat itu, dia
diserang oleh seorang laki-Iaki dan perempuan dari kedua sisinya.
Empat siwi yang mengawal Siau Po ada di dekatnya, mereka segera memberikan
bantuan kepada para wisu.
Dalam sekejap mata dua orang wisu sudah berhasil dirobohkan oleh rombongan
orang berpakaian hijau itu.
Siau Po segera menyusup ke dalam ruangan dan menutup pintunya rapat-rapat. Tapi
baru saja di mengangkat palang pintu itu, titta-tiba terasa ada serangkum angin tolakan
yang keras sehingga tubuh bocah itu terpental ke belakang, setelah itu tampak empat
orang berpakaian hijau meloncat ke dalam sambil berteriak:
“Go Pay Di mana Go Pay?”
Malah seorang laki-laki yang usianya agak lanjut dan wajahnya dipenuhi janggut
langsung mencekal Siau Po sebelum bocah itu sempat melakukan apa-apa.
“Di mana Go Pay ditahan?” bentaknya garang.
“Di luar, dalam kamar ada ruangan bawah tanah,” sahut Siau Po sambil menunjuk
keluar.
Dua orang berpakaian hijau segera menghambur keluar, sebaliknya dari luar ada
empat orang lainnya yang menerjang masuk terus menuju belakang.
“Di sini” Terdengar teriakan salah satu di antaranya.

Orang tua yang mencekal Siau Po marah sekali, dia langsung mengirimkan sebuah
bacokan ke arah Siau Po yang untung sudah terlepas dari cekalannya. Siau Po
menghindarkan diri dengan gesit. Namun dari sisi kirinya ada seorang berpakai hijau
lainnya yang langsung menyerangnya.
Dukk punggungnya terhajar. Sekali lagi tubuhnya terpental ke halaman belakang,
namun kali ini dia tidak sanggup bangun lagi.
Enam orang berpakaian hijau menyerbu ke dalam penjara, tetapi pintu besinya kokoh
sekali, tidak mudah dijebol.
Sementara itu di luar terdengar suara gong yang bising. Rupanya para wisu sedang
meminta bala bantuan.
“Cepat” gertak salah seorang berpakaian hijau itu.
“Ngaco” Sahut yang tidak tahu “kita tidak boleh menunda waktu lama-Iama di sini?”
bentak si orang tua tadi.
Seorang berpakaian hijau kewalahan menggempur pintu besi yang kokoh itu. Dia
segera menuju jeruji jendela dan menghajarnya dengan senjata ruyungnya. Baru
beberapa kali hantaman, besi jeruji jendela itu sudah melengkung.
Jumlah mereka semuanya menjadi enam orang, sedangkan ruangan itu cukup
sempit sehingga mereka harus berdesak-desakan. Ketika mereka semua sedang
mengepung kamar tahanan itu, Siau Po mulai dapat merangkak.
Dia berniat menyingkir dari tempat itu, tapi belum beberapa tindak, seseorang telah
memergokinya, orang itu langsung menikam ke arahnya.
Untung saja Siau Po waspada, dia segera menggulingkan tubuhnya, namun
meskipun demikian ujung pedang itu sempat juga mengoyakkan pakaiannya dan
menyayat bagian iganya, Siau Po tidak memperdulikan nyeri yang dirasakannya, Yang
paling utama baginya hanya menyelamatkan diri. Dia terus melompat sekuat tenaga
dan menghambur.
“Setan cilik” damprat seseorang yang melompat sambil membacokkan goloknya.
Siau Po terdesak, tidak ada tempat baginya untuk meloloskan diri, akhirnya dengan
nekat dia menerobos ke dalam dua jeruji jendela yang sudah dilengkungkan oleh
kawanan berpakaian hijau itu.
Seorang berpakaian hijau berusaha menahannya dengan serangan, tetapi dia hanya
berhasil menghajar jeruji besi karena tubuh Siau Po sudah nyeplos ke dalamnya.
“Biarkan aku masuk Biarkan aku masuk” teriak salah seorang dari kawanan
berpakaian hijau itu. Dia bermaksud menyelusup ke dalam jeruji besi seperti halnya

Siau Po. Sayang tubuh orang itu terlalu besar, hanya bagian kepalanya saja yang bisa
masuk lewat jeruji itu.
Siau Po segera mengeluarkan belatinya dan menggenggamnya erat-erat, Dengan
panik dia berteriak.
“Lekas panggil bala bantuan Lekas panggil bala bantuan”
Dari luar terus berkumandang suara pukulan gong dan bentrokan senjata, Ketika
Siau Po sedang berteriak-teriak, tiba-tiba ada angin keras yang menyambar ke arahnya.
Belum sempat dia mengetahui apa yang telah terjadi, tahu-tahu tubuhnya sudah
terpelanting kemudian bergulingan beberapa kali.
Kemudian dia juga mendengar suara keras yang memekakkan telinga, cepat ia
menolehkan kepalanya. Dilihatnya Go Pay sedang menyerang kesana kemari dengan
tangan tetap terbelenggu kata-katanya tidak jelas lagi, hanya suaranya keras dan tidak
enak didengar.
Bagian 10
Tepat pada saat itu seorang berpakaian hijau menyelusup lewat jeruji jendela.
Rupanya orang yang satu ini memiliki tubuh yang kecil dan ramping, tapi baru saja
tubuhnya meluncur masuk, rantai borgol di tangan Go Pay sudah menyambutnya
dengan keras sehingga batok kepalanya pecah tidak karuan.
Siau Po terkejut dan heran menyaksikan hal itu.
“Eh, kok dia menyerang temannya sendiri? padahal mereka berniat menolongnya
keluar dari tahanan, Ah Aku tahu Celaka Obat yang kuberikan padanya tidak
membunuh mati orang itu, justru membuatnya jadi gila. Pasti aku memberikan obat
yang salah” pikirnya dalam hati.
Siau Po menjadi bingung, di luar kamar suara gaduh semakin menjadi-jadi dan
berbaur dengan suara bising yang diterbitkan rantai borgol Go Pay yang menghajar
kesana-kemari.
“Kalau dia sampai berbalik dan menghajar aku, tamatlah riwayatku” pikir si thay-kam
gadungan ini.
Tapi pada dasarnya otak Siau Po memang cerdik dan nyalinya juga besar. Dalam
keadaan bingung, dia berusaha menenangkan dirinya. Diam-diam dia menghampiri Go
Pay dari belakang dan tiba-tiba menikam punggungnya dengan belatinya yang tajam
bukan main itu. Tenaganya cukup kuat ketika melakukannya sehingga seluruh gagang
belati itu amblas ke dalam punggung Go Pay.

Sebetulnya Go Pay mempunyai tenaga yang kuat dan pendengaran yang tajam,
tetapi karena menelan cukup banyak obat yang dicampurkan Siau Po dalam
makanannya, pikirannya jadi terganggu dan perasaannya jadi kurang peka.
Dia baru tahu ada yang membopongnya ketika punggungnya terasa nyeri. Dia
mengibaskan rantai di tangannya dengan kencang tapi luput pada sasarannya.
Hebat sekali serangan Siau Po barusan, bukan hanya belatinya saja yang luar biasa
tajamnya, tetapi, begitu menghunjamkan dia langsung menariknya ke luar lalu ditekan
ke bawah sehingga tulang punggung Go Pay putus seketika.
Hanya satu kali orang itu sempat mengeluarkan jeritan histeris, kemudian roboh
bermandikan darah di atas tanah, suara borgolnya menimbulkan suara gemuruh.
Kawanan pakaian hijau yang ada di luar jendel menjadi terkejut dan heran, mereka
juga gusar karena kematian teman mereka di tangan Go Pay. Mereka menyaksikan
perbuatan Siau Po terkesima.
Mereka benar-benar tidak mengerti….
Begitu tersadar dari rasa terkejut seseorang diantaranya langsung berteriak:
“Bocah itu membunuh Go Pay Bocah itu membunuh Go Pay”
Terdengar suara yang berwibawa dari mulut si orang tua.
“Bongkar jendela periksa apakah Go Pay benar-benar sudah mati?”
Tampak dua orang dari kawanan itu mendekati jeruji jendela kemudian
menghajarnya dengan ruyung besi. Dua orang lainnya berusaha membongkar kusen
jendela itu.
Tepat pada saat itu dua orang wisu menerjang ke arah mereka, tapi ditahan oleh si
orang tua, dalam dua kali gebrakan, kedua wisu itu sudah roboh mati di atas tanah.
Tidak lama kemudian, jeruji jendela itu sudah berhasil dibongkar.
“Biar aku yang masuk” kata seorang wanita bertubuh kecil, dia langsung masuk ke
dalam dan disambut oleh belati Siau Po yang mengangkat kawanan berpakaian hijau itu
adalah musuhnya.
Wanita itu lincah sekali, Goloknya diangkat ke atas untuk menahan serangan Siau
Po. Namun dia sampai terkejut ketika mendapatkan goloknya terkutung menjadi dua
bagian terkena tebasan belati Siau Po.
Wanita itu sempat mengeluarkan seruan tertahan, tetapi secepat kilat dia
menyambitkan kutungan goloknya ke arah Siau Po.

Siau Po melihat datangnya serangan, dia bermaksud menghindarkan diri. Dia
menundukkan tubuhnya sedikit dan mengira golok itu akan melintas lewat di atas
kepalanya, ternyata dugaannya keliru, Golok itu bukan mengincar kepalanya tapi malah
mengarah dadanya. Begitu cepat golok itu meluncur sehingga tahu-tahu dadanya sudah
tertancap.
Siau Po merasa terkejut dan juga kesakitan, belum sempat dia berbuat apa-apa,
wanita itu sudah menerjang lagi ke arahnya dan dalam sekejap mata kedua tangannya
sudah ditelikung ke belakang sehingga Siau Po tidak berdaya. Wanita itu juga langsung
mengirimkan sebuah totokan ke iganya sehingga dia merasa nyeri sekali.
Setelah jeruji jendela berhasil dibongkar, si orang tua tadi pun bisa meloncat ke
dalam, dia segera mengangkat tubuh Go Pay dan memeriksanya dengan teliti.
“Memang benar Go Pay” kata orang tua itu sambil mengangkat tubuh itu ke atas
dengan maksud menyodorkannya kepada rekannya yang masih di luar jendela, retapi
gerakannya tertahan karena rantai masih memborgol tangan Go Pay.
Wanita yang membuat Siau Po tidak berdaya itu teringat pisau belati si bocah yang
tajam, dia segera mengambilnya dan berkata.
“Belati ini tajam sekali, Biar aku coba” Ditebasnya rantai pengikat Go Pay dengan
belati milik Siau Po, ternyata dengan sekali tebas saja rantai itu sudah putus.
Sejenak kemudian tubuh Go Pay sudah dilemparkan lewat jeruji jendela yang
langsung disambut kawanan berpakaian hijau itu. Terdengar si orang tua berkata:
“Bawa bocah itu sekalian, sekeluarnya dari istana ini, kita berpencar jangan lupa,
nanti malam kita bertemu di tempat semula” Dia pun mendahului yang lainnya
menyelusup keluar lewat jeruji jendela.
Kawan-kawannya juga ikut keluar dan wanita tadi langsung mengempit tubuh Siau
Po sembari mengiakan. Mereka pun meninggalkan tempat itu. Tapi belum sampai di
luar istana, mereka sudah diserang oleh anak panah. Bahkan Kong cin ong dengan
membawa sebatang golok langsung memegang tampuk pimpinan
Siau Po diserahkan kepada seorang berpakaian hijau lainnya, Wanita itu
menggunakan belati Siau Po untuk mengibaskan setiap batang anak panah yang
meluncur ke arahnya.
“Mari ikut aku” teriak salah-seorang dari kawanan itu yang memanggul mayat Go
Pay. Dia menggunakan tubuh Go Pay sebagai kitiran untuk menahan datangnya
serangan.
Kong cin ong tidak tahu Go Pay sudah mati atau masih hidup, dia tidak berani
mengambil resiko.

“Jangan memanah” Di lain saat, dia juga melihat Siau Po dipanggul oleh kawanan
itu. Dia segera menambahkan “jangan memanah Nanti melukai Kui kongkong”
Siau Po dapat mendengar suaranya dengan jelas, diam-diam dia berterima kasih:
“Ongya, kau sungguh baik, Siau Po tidak akan melupakan budimu ini” janjinya
dalam hati.
Tukang panah istana segera menghentikan aksinya. Kesempatan itu digunakan
kawanan berpakaian hijau yang tampaknya hampir semua memiliki kepandaian cukup
tinggi. Mereka segera menyerbu keluar istana, Si orang tua mengulapkan tangannya,
Tampak empat orang di antara kawanan itu segera melancarkan serangan kepada
Kong cin ong, para siwi istana terkejut setengah mati.
Sebetulnya apa yang dilakukan orang tua itu hanya merupakan bagian dari
siasatnya, Salah seorang di antara rekannya menyambitkan sebatang pisau yang
langsung menancap di lengan Kong cin ong.
Para pengawal semakin panik. Tidak ada lagi yang mengurus kawanan berpakaian
hijau itu. Mereka segera mengerumuni Kong cin ong untuk memberikan pertolongan
sementara itu, para penyerbu sudah menerjang keluar dan dalam sekejap mata tidak
terlihat bayangannya lagi.
Kawanan berpakaian hijau itu lari masuk dalam sebuah rumah yang letaknya tidak
jauh dari istana Kongcin ong. Mereka segera mengunci pintunya rapat-rapat. Tapi
anehnya mereka tidak berdiam di dalam rumah itu malah lari lagi lewat belakang.
Rupanya mereka sudah merencanakan semuanya matang-matang sehingga jejak
mereka tidak mudah diketahui oleh musuh. Mereka menggunakan cara yang sama
sampai berkali-kali. Di rumah terakhir, mereka mengganti pakaian dengan macammacam
dandanan sehingga tampak seperti rakyat biasa.
Sebuah kereta telah disiapkan Dua orang yang mendorongnya, Di dalam kereta
terdapat dua buah drum besar, Mayat Go Pay diselusupkan ke dalam drum yang
satunya dan Siau Po juga dimasukkan ke dalam drum yang lainnya.
“Setan alas” maki Siau Po dalam hati ketika mendengar suara kereta bergerak. Dia
merasa mendongkol sekali karena tidak bisa melakukan apa-apa. Kepalanya dipenuhi
buah tho sehingga bagian dalam drum itu tidak kelihatan sama sekali.
Untungnya, Siau Po masih bisa bernafas walaupun menemui sedikit kesulitan.
Lambat laun dia mulai bisa menenangkan hatinya dan berpikir dengan kepala dingin.
“Mereka ini tentunya antek-antek Go Pay. Mereka menawan aku setelah mengetahui
aku yang membunuh pengkhianat itu. Jangan-jangan perutku akan dibelek dan
jantungku akan dikorek untuk menyembahyangi arwah penjahat itu.

Celaka Semoga saja di tengah jalan kereta ini bertemu dengan tentara kerajaan.
Pada saat itu, aku akan berusaha menggulingkan drum ini supaya mereka menjadi
curiga dan aku bisa tertolong” pikirnya diam-diam.
Siau Po lupa tubuhnya dalam keadaan tertotok, dia tidak dapat bergerak sama sekali
seandainya di tengah jalan mereka bertemu dengan tentara kerajaan sekalipun, tidak
mungkin dia bisa menggulingkan drum itu.
Dia hanya mendengar suara roda kereta yang berputar dan tubuhnya yang
terguncang-guncang. Sampai sekian lama mereka meneruskan perjalanan dengan
tenang. Tidak ada tentara kerajaan yang menghadang….
Perasaan Siau Po semakin kesal, rasanya ingin dia memaki sepuas-puasnya, tapi
tidak bisa melakukan hal itu, bahkan mulutnya pun sulit dibuka untuk menggigit buah
tho yang memenuhi seluruh kepala dan wajahnya itu. Akhirnya dia hanya dapat
mencaci dalam hati.
Lambat laun, saking letihnya Siau Po pun tertidur pulas, entah berapa lama waktu
telah berlalu, ketika ia tersadar kembali, kereta masih melaju, dia tetap tidak dapat
bergerak, malah merasa sekujur tubuhnya ngilu dan kesemutan.
“Aih Kali ini mungkin aku tidak dapat lolos lagi dengan selamat. Biar nanti aku akan
mencaci maki mereka sepuas-puasnya. Biarlah aku mati, dua puluh tahun kemudian toh
aku akan menjelma lagi sebagai seorang bayi laki-laki.
Untung saja aku berhasil membunuh Go Pay. Coba kalau tidak, Setelah tertawan
oleh kawan-kawannya ini, aku pasti akan mengalami berbagai siksaan dahulu sebelum
mati dibunuh, sekarang aku dapat mati dengan puas, Go Pay toh berpangkat tinggi,
sedangkan aku hanya seorang kacung dari rumah pelesiran. selembar nyawanya
ditukar dengan nyawaku ini, rasanya masih tidak rugi” pikirnya dalam hati.
Sungguh Siau Po seorang bocah yang hebat, dalam keadaan seperti itu dia masih
sanggup menghibur hatinya sendiri.
Beberapa saat kemudian, kembali Siau Po tertidur, malah kali ini lebih lama dari yang
pertama, Akhirnya setelah terbangun, dia merasa kereta itu melaju di jalan yang licin.
Dalam hati dia bertanya-tanya, kemana mereka akan membawanya.
Lalu, saat yang ditunggu sampai juga, kereta itu berhenti Siau Po masih terus
menunggu, namun tidak ada seorang pun yang mengeluarkannya dari dalam drum.
Dia merasa heran dan juga gundah, terus dia berdiam diri sampai sayup-sayup
didengarnya suara orang mendatangi. Dia agak terkejut ketika seseorang membuka
tutup drum itu, buah tho yang menutupinya dikeluarkan sehingga Siau Po dapat
bernafas lebih Iega.

Ketika dia membuka matanya kembali, mula-mula pandangan terasa gelap, lambat
laun dia baru mulai terbiasa, kali ini ada orang yang mengangkatnya dari dalam drum
kemudian mengempitnya di bawah ketiak dan membawanya pergi Ada seorang lainnya
yang berjalan di samping dengan membawa sebuah lentera. Rupanya malam sudah
mulai menjelang.
Siau Po dapat melihat bahwa orang yang membawanya adalah seorang tua yang
wajahnya berwibawa, sikapnya pendiam karena dia tidak bicara sama sekali. Ketika itu
mereka berada dalam sebuah taman, tapi orang itu masih membawanya menuju
ruangan belakang.
Pembawa lentera langsung mementangkan daun jendela.
“Celaka aku” keluh Siau Po dalam hati.
Ruangan itu penuh dengan orang, jumlahnya mungkin mencapai seratus lebih.
Pakaian mereka seragam, semuanya berwarna hijau, Kepala masing-masing dibalut
dengan sabuk putih, Bagian pinggang dililit dengan kain putih juga. Hal ini membuktikan
bahwa mereka mengenakan pakaian berkabung.
Di tengah ruangan telah diatur sebuah meja sembahyang. Di sekelilingnya menyala
delapan batang lilin.
Ketika di Yangciu, Siau Po pernah menghadi upacara sembahyang seperti ini.
Karenanya di tahu dan hatinya takut sekali Tubuhnya gemetar, dia khawatir dirinya akan
menjadi korban untuk upacara itu. Mungkin dadanya akan dibelek untuk di keluarkan
jantungnya.
Si orang tua menurunkan Siau Po dan membiarkannya berdiri dengan sebelah
lengannya tetap tercekal. Dia lalu menepuk dada dan punggung bocah itu agar jalan
darahnya yang tertotok dapat bebas, tapi Siau Po tetap tidak dapat berdiri tegak karena
kedua lututnya terasa lemas sehingga dia terpaksa dipapah oleh orang tua itu.
“Bagaimana aku dapat meloloskan diri dari tempat ini?” Hal inilah yang pertama-tama
timbul dalam benaknya. Sebab dia sadar, yang paling utama saat ini hanyalah lari.
Semua orang yang ada dalam ruangan ini tentu berkepandaian tinggi inilah kesulitan
yang harus dihadapinya. Tidak mungkin dia sanggup menandingi mereka. Tapi
totokannya sudah bebas, Biar bagaimana, dia tetap akan berusaha, Dia terus mencoba
“Bagaimana aku harus bersikap agar orang tua ini tidak terus menerus memegangi
aku?” pikirnya kembali “Kalau aku lolos, pertama-tama yang kulakukan adalah
memadamkan semua lilin di atas meja itu agar ruangan ini menjadi gelap gulita,
Dengan demikian akan ada kesempatan bagiku untuk meloloskan diri.”

Diam-diam Siau Po memperhatikan orang-orang yang ada dalam ruangan itu.
Kebanyakan terdiri dari laki-laki, ada beberapa hwesio dan tosu di antaranya. Juga
terdapat beberapa wanita yang membawa senjata di pinggangnya.
Tampak seorang laki-laki berusia setengah baya muncul dari kerumunan orang
kemudian menghampiri meja sembahyang. Di samping meja itu dia berkata dengan
suara keras.
“Ha… ri ini sakit hati yang da… lam telah terbalas Toa… ko, semoga arwah mu
tenang di alam baka”
Hanya berkata sampai di sini, dia sudah menangis menggerung-gerung, tubuhnya
mendekam di atas meja sembahyang dan berguncang-guncang karena tangisannya
yang mengharukan Semua orang yang hadir dalam ruangan itu ikut menangis dengan
sedih.
“Kurang ajar orang-orang ini” pikir Siau Po yang mendongkol sekali, “Mereka harus
didamprat” Baru berpikir sampai di sini, tiba-tiba dia merasa apabila dia benar-benar
melakukan hal itu, berarti dia membahayakan dirinya sendiri.
“Asal aku membuka mulut, mereka tentu akan menyerbu aku Bagaimana aku dapat
meloloskan diri?” Dia melirik ke kiri kanan orang-orang itu memang sedang menangis,
tetapi dia tidak mempunyai kesempatan untuk melarikan diri. Takutnya asal dia
bergerak sedikit saja, tentu mereka akan mengejarnya dan akibatnya bisa lebih runyam
Iagi.
“Upacara sembahyang dimulai” Terdengar seseorang berteriak dengan lantang,
rupanya dialah pemimpin upacara itu, suaranya menunjukkan usianya tidak muda lagi.
Mendengar suara itu, keluarlah seorang laki-laki yang bertelanjang dada, kepalanya
dibalut dengan sabuk putih, tangannya terangkat tinggi ke atas sambil menggenggam
sebuah nampan. Dan di atas nampan terdapat kepala seseorang yang dialasi dengan
kain merah dan darahnya masih bercucuran. Hampir Siau Po semaput melihat kepala
orang itu.
“Celaka” gerutunya dalam hati, “Jangan-jangan mereka juga akan mengutungi
kepalaku Tapi, kepala siapakah itu? Kong cin ong atau saudara angkatku, So Ngo-tu?”
Karena nampan itu diangkat tinggi ke atas, Siau Po tidak dapat melihat kepala siapa
yang berada di atasnya, Nampan itu lalu diletakkan di atas meja sembahyang,
Pembawanya segera menjatuhkan diri berlutut. Orang-orang lainnya yang sedang
menangis juga mengikuti perbuatannya.
“Kapan lagi aku menyingkir kalau bukan sekarang?” pikir Siau Po dalam hati, Dia
segera menggerakkan kakinya, Belum sempat bertindak lebih jauh, orang tua di
sampingnya sudah menyambar tangannya dan menariknya kuat-kuat sehingga Siau Po
terjatuh berlutut di sisinya.

Saking sengitnya, Siau Po memaki-maki dalam hati.
“Go Pay bangsat Kura-kura Awas kau, di neraka pun lohu tidak akan mengampuni
dirimu”
Beberapa orang bangun, namun sebagian masih berlutut, suara tangisan masih
terdengar.
“Tidak tahu malu” maki Siau Po dalam hati, “Masa laki-laki menangis seperti ini?
Memangnya siapa Go Pay, si manusia busuk itu? Apa sih kehebatannya sampai perlu
ditangisi seperti ini? Dia toh sudah mati, apanya lagi yang perlu disayangkan? Kenapa
kalian harus menangis terus untuknya?”
Sesaat kemudian, seorang tua berjalan menuju samping meja dan berkata dengan
suara lantang:
“Saudara sekalian, sakit hatinya In hiocu kita sudah terbalaskan Akhirnya si jahanam
Go Pay telah menerima bagiannya, kepalanya sudah dipenggal. Hal ini tentu saja
merupakan berita gembira bagi Ceng-bok tong dari Tian-te hwe kita”
Tian-te hwe adalah perkumpulan langit dan bumi.
Siau Po heran mendengar bahwa kepala Go Pa telah dipenggal.
“Eh, apa artinya ini?” tanyanya dalam hati, Di merasa heran sekaligus terkejut juga
gembira. “Apakah mereka bukan antek-anteknya Go Pay? Jadi mereka ini malah
musuhnya si jahanam itu?”
Orang tua itu tetap berbicara, tetapi Siau Po sedang sibuk dengan pikirannya sendiri.
Sekian lama dia berdiam diri merenungkan apa yang sedang dihadapinya.
Terdengar orang tua itu berkata lagi:
“Hari ini kita menyerbu istana Kong cin ong, Syukur kita berhasil membekuk Go Pay
dan membawanya pulang kemari Dengan demikian nyali bangsa Tartar pasti ciut ini
merupakan keuntungan bagi perkumpulan kita yang bercita-cita menentang dan
merobohkan kerajaan Ceng. Kita akan membangun kembali kerajaan Beng Kalau
bagian lain dari perkumpulan kita mengetahui apa yang telah dilakukan oleh Ceng-bok
tong kita, tentu mereka akan merasa kagum”
“Benar Benar” sahut yang lainnya serentak.
“Memang Ceng-bok tong kita telah berhasil memperlihatkan kehebatannya” teriak
seseorang.
“Pihak Ang-hoa tong yang biasa suka mengagulkan diri, tentu akan iri dengan
keberhasilan kita kali ini” seru yang lainnya tidak mau ketinggalan.

“Peristiwa ini tentu akan menjadi bahan percakapan di mana-mana. Apalagi kalau
kita berhasil mengusir bangsa Tartar, tentu nama Ceng-bok tong akan semakin harum”
“Memang bangsa Tartar harus diusir Tapi lebih bagus lagi kalau kita bisa membasmi
mereka”
Suasana dalam ruangan itu jadi gaduh karena teriakan di sana sini. Ucapan mereka
penuh semangat sehingga kesedihan pun mulai terhapus karenanya.
Sekarang Siau Po sadar bahwa orang-orang itu adalah bangsa Han yang terdiri dari
patriot-patriot pecinta negara dan sedang berusaha menentang pemerintah Boan, Siau
Po masih muda dan belum banyak pengalaman, tetapi dia sering mendengar orang
menyebut nama perkumpulan Tian-te hwe perkumpulan ini mempunyai cita-cita untuk
menghancurkan kerajaan Ceng dan membangkitkan kembali kerajaan Beng.
Dia juga sering mendengar berbagai usaha yang dilakukan perkumpulan itu. Bangsa
Boan terkenal dengan kekejamannya, Ke-tika terjadi penyerbuan di kota Yangciu, entah
berapa banyak rakyat yang menjadi korban.
Dia juga pernah mendengar tentang Suko hoat yang dengan berani menentang
pemerintah Boan, bahkan sampai mengorbankan nyawanya sendiri.
Mendengar suara orang banyak itu, terbangkit juga semangat Siau Po sehingga
untuk sesaat dia lupa bahwa saat ini dia sedang menyamar sebagai si thay-kam cilik.
Setelah suara teriakan agak mereda, orang tua itu baru melanjutkan kata-katanya
kembali.
“Selama dua tahun kita selalu teringat sakit hati In hiocu, kita juga sudah
mengucapkan sumpah bahwa kita akan membunuh Go Pay dan memenggal kepalanya
sebagai korban sembahyang upacara arwah In hiocu, Sampai sekarang maksud kita
baru tercapai. Hari ini melihat adanya kepala Go Pay di atas nampan, tentu arwah In
hiocu akan tertawa senang di alam baka”
“Benar Benar” seru yang lainnya serentak.
Terdengar seorang lainnya berkata. “Dua tahun sudah sejak kita mengangkat
sumpah akan membalaskan sakit hati In hiocu, Saat itu pula kita berjanji, apabila kita
gagal, kita semua akan bunuh diri, Sebab, apabila kita mengalami kegagalan, kita yang
dari bagian Ceng-bok tong bukanlah manusia tapi anjing-anjing buduk, tidak ada muka
lagi bagi kita untuk hidup lebih lama, untunglah akhirnya sakit hati ini dapat terbalas
juga.
Aku orang she Pwe sudah dua tahun lamanya tidak enak makan dan tidak enak tidur
karena memikirkan pembalasan dendam bagi In hiocu, tidak disangka-sangka kalau
hari gembira ini tiba juga akhirnya”

Saking gembiranya orang she Pwe itu sampai tertawa terbahak-bahak, setelah itu
masih ada beberapa orang lagi yang memberi komentar Siau Po yang menyaksikan hal
itu diam-diam berpikir.
“Aneh kalian semua, sebentar menangis, sebentar tertawa, benar-benar mirip anak
kecil”
Suara gaduh pun reda. Tiba-tiba terdengar seseorang berkata dengan nada dingin:
“Apakah kita yang membunuh Go Pay”
Pertanyaan itu tajam sekali, orang-orang yang ada dalam ruangan itu membungkam
seketika.
Pertanyaan itu juga tepat menikam ulu hati mereka, karena semuanya tahu bahwa
yang membunuh Go Pay adalah seorang thay-kam cilik. Beberapa pentolan bagian
Ceng-bok tong sendiri yang menjadi saksinya.
Sampai sekian lama baru ada seseorang yang mengomentari pertanyaan itu.
“Memang bukan kita sendiri yang membunuh Go Pay. Tapi hal itu terjadi tepat ketika
kami menyerbu ke istana pangeran itu. Orang yang membunuhnya justru menggunakan
kesempatan ketika kekacauan terjadi sehingga dia berhasil”
“Oh, begitu rupanya” tanggap orang yang pertama dengan nada yang sedingin
semula.
Orang yang kedua langsung bertanya dengan suara lantang. “Ki losam, apa maksud
kata-katamu itu?”
“Apa maksudku? Tidak ada Aku hanya ingin bertanya, apabila ada orang dari Cengbok
tong yang mengaku dirinyalah yang membunuh Go Pay, aku ingin tahu siapa
orangnya?”
Sungguh sebuah pertanyaan yang sulit dijawab, memang tajam dan menyakitkan
namun merupakan kenyataan yang tidak dapat disangkal.
Terdengar si orang tua yang bertubuh kurus berkata. “Sebetulnya orang yang
membunuh Go Pay adalah si thay-kam cilik dari istana Sri Baginda, tetapi dia juga
berhasil karena kebetulan dan mendapat kesempatan yang baik. Aku yakin arwah In
hiocu yang membimbing bocah itu membunuh Go Pay, Kita semua merupakan laki-laki
sejati Kita tidak boleh mengakui jasa orang lain”
Semuanya terdiam semangat mereka menjadi kendur, kegembiraan sebelumnya
sirna entah ke-mana. Ternyata Go Pay dibunuh oleh orang lain.

“Selama dua tahun Ceng-bok tong tidak mempunyai pimpinan, Orang banyak
mengangkat aku sebagai wakil ketua untuk sementara, Aku berusaha segenap
kemampuanku karena aku terus teringat sakit hati In hiocu, sekarang Go Pay sudah
mati.
Tugasku juga sudah selesai. Karena itu aku akan mengembalikan lencana Tong pai
kita kepada In hiocu, Setelah itu, silahkan saudara-saudara pilih seorang ketua yang
pandai dan bijak.”
Selesai berkata dia mengeluarkan lencana perkumpulan mereka kemudian
meletakkannya di atas meja sembahyang. Lalu dia menjatuhkan diri berlutut dan
menyembah tiga kali.
“Lie toako” Terdengar seseorang berkata, “Selama dua tahun ini, kau telah
membimbing kami dengan baik. Karena itu, selain engkau, tidak ada orang lagi yang
lebih cocok menduduki jabatan ini, Harap toako jangan sungkan lagi, ambillah kembali
lencana itu”
Untuk beberapa saat semuanya terdiam, sampai terdengar seseorang berkata.
“Kedudukan hiocu tidak dapat ditentukan oleh kita sendiri, tidak bisa sembarangan
memilih satu orang kemudian menyiarkannya menjadi ketua Ceng-bok tong.
Kedudukan itu harus ditentukan oleh Ketua pusat”
“Memang benar” kata orang yang pertama, “Tapi, jangan lupa, biasanya setelah
calon itu terpilih dan diajukan kepada pusat, tidak pernah ada tentangan, jadi penetapan
dari pusat hanya formalitas saja.”
“Menurut apa yang aku ketahui,” kata seorang lainnya, “Setiap hiocu yang baru
dipilih oleh hiocu yang lama.”
“ltu terjadi apabila hiocu yang lama sudah tua atau sakit dan tidak dapat menjalankan
tugas lagi, Tapi, itu juga atas dasar kesepakatan semua orang, bukan satu orang saja,”
sahut yang lainnya.
Terdengar orang yang pertama berkata kembali. “Sungguh sayang hiocu yang
dahulu yakni In hiocu telah dibunuh oleh Go Pay, Dengan demikian tidak ada pesan
terakhir dari beliau. Ki lao-liok, hal ini kau bukannya tidak tahu, mengapa sekarang kau
berlagak bodoh? Aku tahu maksudmu Kau menentang Lie toako sebagai hiocu, karena
kau mempunyai niat buruk, kau sudah merencanakan sesuatu”
Orang yang dipanggil Ki lao-liok menjadi marah mendengar ucapan tadi.
“Apa niat burukku? Apa yang kurencanakan? Cui toucu bicaralah yang jelas, jangan
sembarangan memfitnah”

Orang yang dipanggil Cui toucu juga jadi gusar. “Hm” Terdengar dia mendengus
dingin, “MariIah kita bicara blak-blakan, Di dalam Ceng-bok tong kita, siapa yang tidak
tahu bahwa kau ingin menunjang kau punya cihu (kakak-ipar), Bi-jiam kong Kwan hucu
sebagai hiocu? Apabila Kwan hucu menjadi hiocu, otomatis kau sendiri akan menjadi
Kok-kiu loya (Tuan besar ipar ketua). Dengan demikian kau akan mendapat kedudukan
tinggi dan kau bisa berbuat suka hatimu, ingin angin, angin pun datang, ingin hujan,
hujan pun turun?”
“Kwan hucu itu kebetulan kakak iparku atau bukan, adalah masalah Iain” bentak Ki
lao-liok. “Tapi kalian harus ingat, dalam penyerbuan ke istana Kong cin ong, yang
memimpin adalah Kwan hucu. Dia berhasil pulang dengan membawa kemenangan.
Menilik kepandaiannya, bukankah dia pantas menjabat sebagai hiocu? Li toako
memang berhak, dia juga memenuhi syarat, orangnya baik, aku tidak menentangnya
secara pribadi. Akan tetapi kalau bicara tentang kepandaian Kwan hucu masih berada
di atasnya”
Mendengar kata-kata itu, Cui toucu langsung tertawa terbahak-bahak, nada suaranya
mengandung ejekan. Hal ini membuktikan bahwa dia tidak memandang sebelah mata
pun.
“Apa yang kau tertawakan?” bentak Ki lao-liok yang menjadi semakin marah, “Apa
ada kata-kataku yang salah?”
Cui toucu kembali tertawa. “Kau tidak salah, Ucapan Ki lao-liok mana mungkin
salah? Aku hanya merasa kepandaian Kwan hucu memang luar biasa, sebab kota
besar mana pun sudah dia lalui, tetapi tidak ada satu pun panglima besar musuh yang
sanggup dibinasakannya. Bahkan akhirnya seorang Go Pay yang sudah dipenjarakan
juga mati di tangan seorang bocah cilik”
Tiba-tiba seseorang keluar dari kerumunan Siau Po mengenalinya sebagai orang tua
berjenggot yang memimpin penyerbuan ke istana Kongcin ong dia memang tampak
gagah. Tapi dikala hatinya sedang marah seperti sekarang ini, wajahnya kelihatan
berwibawa sekali.
Sebenarnya dia bernama Kwan An-ki, tetapi karena kumis dan jenggotnya yang
panjang, orang menjulukinya Kwan kong. Kebetulan she-nya juga sama. itulah
sebabnya orang-orang menyebutnya Kwan hucu (Nabi Kwan).
Tampak Kwan hucu mendelikkan matanya lebar dan berkata dengan suara lantang.
“Saudara Cui, kau boleh berdebat dengan lao-Iiok, kau juga bebas menyebutkan apa
pun yang kau sukai. Tapi aku tidak bersalah apa-apa padamu, jangan kau seret aku
dalam perselisihan ini, Bukankah kita semua telah bersumpah dan mengangkat
saudara di hadapan para dewa untuk hidup dan mati bersama? Mengapa sekarang kau
bersikap demikian terhadapku apa maksudmu sebenarnya?”

Si orang she Cui itu ngeri juga melihat kemarahan Kwan hucu, kakinya sampai
menyurut mundur satu langkah.
“A… aku tidak bermaksud… mencela engkau…. Tapi, Kwan toako, apabila kau setuju
Li toako yang menjadi ketua Ceng-bok tong, aku akan berlutut di hadapanmu dan minta
maaf atas kata-kataku tadi”
Kwan An-ki menatapnya dengan sorot mata garang.
“Aku juga tidak berani menerima penghormatan yang demikian besar darimu, Tapi
kau harus mengerti, siapa pun yang akan menjadi hiocu, aku tidak berhak mengatakan
apa-apa, Dan kau, saudara Cui, kau juga belum menjadi ketua pusat, jadi… siapa pun
yang menjadi ketua Ceng-bok tong ini, belum giliranmu untuk menentukannya”
Cui tou cu menyurut mundur lagi satu langkah.
“Kwan jiko, apakah kata-katamu juga tidak menyinggung perasaan orang? Aku Cui
toucu, mempunyai kesadaran sendiri Meskipun aku menjelma delapan belas kali lagi,
tetap saja tidak pantas menjadi ketua Tian-te hwe. Aku hanya mengatakan bahwa singan
Kim Ci (Mata Malaikat bersayap emas) Lie toako adalah seorang tokoh yang
dihormati kalangan kita, Usianya sudah tua, tindakannya bijaksana, Apabila beliau yang
terpilih menjadi ketua Ceng-bok tong, aku yakin sembilan bagian orang-orang kita akan
menyetujuinya”
Di antara para hadirin terdengar seseorang menukas.
“Cui toucu, kau bukan mereka, kau tidak bisa menyusup ke dalam jiwa delapan
sembilan bagian dari orang-orang Ceng-bok tong, bagaimana kau bisa mengatakan
mereka semua akan menyetujui nya? Lie toako memang orangnya baik, kita bisa
mengajaknya minum arak bersama-sama, dapat pula mengajaknya bercerita atau
bersenda gurau tetapi untuk mengangkatnya sebagai hiocu, mungkin delapan bagian
atau sembilan bagian dari kita tidak menyetujuinya”
“Kalau menurut aku, kata-kata saudara Ti memang tepat sekali” tukas seorang
lainnya. “Kita tidak bisa memandang tinggi satu orang yang menjadi pujaan kita, Kita
ingin menghancurkan kerajaan Ceng dan membangun kembali kerajaan Beng kita, Kita

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s