“ PANGERAN MENJANGAN” – “ LU DING JI “ 13

tanya thayhou.
“Ah Mulutnya hanya sembarangan mengoceh, tidak pernah hamba mengingatnya
dengan serius
“Kau anak yang baik,” puji ibu suri. “Apa keperluanmu malam-malam di taman
bungaku?”
Otak Siau Po bekerja dengan cepat
“Ketika baru tertidur, hamba mendengar tua bangka itu membuka pintu kamar,
Hamba takut dia akan mencelakai hamba, maka diam-diam hamba bangun dan
mengikutinya. Ternyata hamba mengikutinya sampai di sini”
“Tadi dia juga mengoceh sembarangan di ha dapanku, apakah kau dengar apa yang
dikatakannya?” tanya thayhou, “Hal ini membuat perasaannya menjadi khawatir,
Apalagi Siau Kui cu dekat sekali dengan Sri Baginda.
“Ucapan orang tua itu seperti kentut busuk. Maaf, hamba sampai berkata kasar di
hadapa thayhou, Hal ini karena hamba benci sekali kepadanya. Setiap hari dia mencaci
hamba sebagai anak kura-kura. Dia juga memaki leluhur hamba, karena itu hamba tidak
pernah menanggapi apa pun yang diocehkannya.”
“Kau dengar” Tiba-tiba nada suara thayhou berubah jadi dingin, “Aku hanya
bertanya, apakah kau dengar apa yang dikatakannya kepadaku malam ini?”
Siau Po cepat-cepat menggelengkan kepalanya.
“Tadi hamba bersembunyi jauh di luar taman, Tidak berani hamba berada pada jarak
yang terlalu dekat dengannya, meskipun mata tua bangka itu sudah buta, telinganya
justru semakin tajam. Hamba takut dia tahu akan kehadiran hamba. sebenarnya hamba
ingin sekali mendengar apa yang diocehkannya kepada thayhou, tetapi sayang
jaraknya terlalu jauh sehingga tidak dapat mendengar sepatah kata pun.
Sampai lama sekali hamba mengintai dari kejauhan, setelah tua bangka itu
menyerang thayhou, baru hamba berani mendekat. Tujuan hamba ingin
membokongnya, sayangnya hamba gagal. Hamba yakin ia tentu menjelek-jelekkan
hamba di depan thayhou, Hamba mohon thayhou jangan percaya pada apa yang
dikatakannya” sahutnya cerdik.
“Hm” Thayhou mendengus dingin sekali lagi, “Apa benar kau tidak mendengar apa
yang dikatakannya? Syukurlah kalau memang benar, Kau anak yang cerdik juga berani,
tapi awas kalau kelak dikemudian hari aku tahu kau berdusta”

“Thayhou memperlakukan hamba dengan baik, Kalau sampai dia bicara yang tidak
genah mengenai thayhou, tentu hamba akan mengadu jiwa dengannya”
“Bagus kalau kau bisa mempunyai pikiran seperti itu Sebenarnya, aku tidak merasa
telah memperlakukan kau dengan baik….”
“Thayhou benar-benar memperlakukan hamba dengan baik. Hamba sudah berani
berkelahi dengan Sri Baginda, walaupun saat itu hamba tidak tahu bahwa beliau adalah
sang Raja, tetapi thayhou tidak menyalahkan hamba sedikit pun juga, ini yang disebut
budi kebaikan Dengan matinya si tua bangka, berarti thayhou telah membebaskan
hamba dari cengkeraman hatinya yang jahat”
“Bagus, kau mengerti budi, Nah, sekarang nyalakan lilin di atas meja”
Siau Po mengiakan, dia segera melaksanaka perintah itu.
“Ke sini Aku ingin melihat wajahmu” kata thayhou kemudian.
Perlahan-lahan Siau Po menghampiri, dia melihat wajah ibu suri pucat sekali.
Matanya setenga dipicingkan, Sinar matanya tajam sekali dan mengandung pengaruh
yang besar, jantung Siau Po berdebar-debar melihatnya.
“Mungkinkah dia ingin membunuhku agar aku bungkam untuk selamanya? Kalau
sekarang aku lari, dia pasti akan meringkusku, Tapi, belum tentu dia bisa mengejar
aku….” pikir Siau Po ragu-ragu untuk sejenak, “Tapi kalau aku sampai tertawan, matilah
aku”
Ketika bocah itu masih dilanda kebimbangan tiba-tiba tangannya telah dicekal oleh
thayhou. Siau Po terkejut sekali, sampai dia mengeluarkan seruan tertahan.
“Kau takut? Apa yang kau takutkan?” tanya thayhou datar.
“Ham… ba tidak takut, namun….”
“Namun apa?”
“Budi thayhou besar laksana gunung, apa pun keputusan thayhou, hamba akan
menerimanya…” Siau Po jadi gugup, dia tidak ingat lagi apa yang ingin dikatakannya.
“Kenapa kau gemetaran?” tanya thayhou.
“Ti… dak….”
Thayhou menyalurkan tenaga pada lengan kirinya. Dia ingin menghajar Siau Po
sampai mati. Dia takut kelak bocah ini akan menimbulkan bencana baginya, “Apabila
bocah ini mampus, rahasia tidak akan terbongkar lagi untuk selamanya,” pikirnya dalam
hati.

Tapi barusan dia berkelahi melawan Hay kongkong, tenaganya sudah terkuras habis,
seandainya Siau Po meronta sedikit saja, pasti dia akan bebas, namun dia tidak berani
melakukan hal itu.
“Luar biasa anak ini. Tadi si thay-kam tua bangka itu menendangnya dengan keras,
tapi dia tida apa-apa. ilmu apakah yang dipelajarinya? Sekarang tenagaku sudah habis,
lebih baik aku bersabar beberapa hari dan mencari kesempatan Iainnya, pikir thayhou
dalam hati.
“Malam ini kau telah berjasa, Aku akan memberikan hadiah besar kepadamu” Kata
thayhou sambil tersenyum.
“Sebetulnya tua bangka itu ingin membunuh ku” kata Siau Po yang pandai
menempatkan diri, “Thayhou telah membunuhnya, berarti thayho yang telah menolong
hamba. Hamba sendiri tida berjasa apa-apa.”
Senang hati thayhou mendengarkan kata-kata itu, tetapi dia tidak mengutarakannya.
“Kau tahu diri, kelak aku tidak akan menyia-nyiakanmu, sekarang kau boleh
mengundurkan diri” Perlahan-lahan thayhou melepaskan cekalannya pada tangan
bocah itu.
Siau Po menjatuhkan dirinya berlutut, dia mengangguk-anggukkan kepala untuk
memberi hormat dan menyatakan perasaan terima kasihnya. Kemudian dengan
setengah merangkak dia mengundurkan diri.
Thayhou memperhatikan dengan seksama, Dia melihat pakaian bocah itu penuh
bercak darah, hal ini membuktikan bahwa tadi Siau Kui cu sudah muntah darah cukup
banyak, tetapi gerak-geriknya tetap gesit, dia jadi heran karenanya.
Ketika berjalan keluar, Siau Po melirik ke arah Lui Cu. Dada nona itu bergerak turun
naik, tanda nafasnya masih bekerja. sedangkan mata nona itu terpejam, wajahnya
bersemu dadu seperti orang yang sedang tertidur nyenyak Hati Siau Po agak lega
melihatnya.
“Lain kali aku akan membelikan buah-buahan dan kue untukmu,” janjinya dalam hati.
Sekejap kemudian Siau Po sudah kembali ke kamarnya, Dia segera menutup pintu
dengan palangnya, setelah itu baru dia bisa bernafas lega. Sejak tadi hatinya merasa
tidak tenang, dia ingat selama setengah tahun lebih dia hidup bersama Hay kongkong,
hatinya selalu was-was karena takut Hay kongkong mengetahui samarannya dan akan
mencelakai dirinya.
“Sekarang si kura-kura tua sudah mampus. Tidak ada lagi yang perlu kutakutkan”
Namun baru berpikir sampai di sini, tiba-tiba dia teringat wajah thayhou dengan
senyumnya yang menggidikkan hatinya, “Ah istana ini tetap tidak aman bagiku, Lebih
baik aku… aku….”

Hatinya ragu sejenak, dia memikirkan apa yang harus dilakukannya, kemudian dia
tersenyum lebar “Lebih baik aku bawa uangku yang empat ratus lima puluh ribu tail itu,
Aku akan pulang ke Yangciu dan hidup senang sampai di hari tua bersama ibuku”
Berpikir sampai di situ, hati Siau Po senang sekali, dia berjingkrak-jingkrak seorang
diri, Hampir saja dia tidak bisa mengendalikan kegirang hatinya untuk berteriak sekeraskerasnya.
Tiba-tiba Siau Po teringat tendangan keras Hay kongkong. Sampai sekarang
dadanya masih terasa agak nyeri, Cepat-cepat dia menuju peti penyimpanan obatobatan.
Di dalamnya terdapat banyak botol-botol kecil dari berbagai jenis warna, Juga
ada yang bertulisan sayangnya Siau Po buta huruf, tidak tahu botol mana yang berisi
obat luka dalam.
“Ah Sudahlah, Apa artinya sedikit rasa sakit ini? Bukankah selama ini tubuhku kuat,
Jarang sakit dan ilmuku juga sudah sempurna?” katanya kepada diri sendiri.
Dia menutup kembali peti obat itu, dia merasa setelah kematian Hay kongkong sudah
pantasnya dia mewarisi barang-barangnya itu. Maka dia pun membongkar sana sini dan
ingin tahu apa saja yang bisa ditemukannya, Di dalam laci masih ada uang kontan
senilai dua ratus tahil. Siau Po tidak terlalu memperhatikan uang itu, Bukankah dia
mempunyai banyak uang simpanan di tangan Ngo-tu, saudara angkatnya?
Dia membongkar laci yang terakhir Tiba-tiba dia menemukan sebuah bungkusan
yang tidak seberapa besar dari kain berwarna hijau, Ketika di membukanya, hati Siau
Po langsung berdegup ke cang.
Isinya dua buah kitab, judulnya Si Cap Ji Ci keng
Untuk sesaat Siau Po tertegun. Buku itu dibungkus kain hijau yang sudah kumal dan
tua sekali.
“Aneh si kura-kura tua itu Dia toh sudah memiliki buku ini, mengapa masih mencari
yang lain? Mengapa dia menyuruh aku mencuri milik ibu suri? Mengapa thayhou juga
mempunyai pikiran yang sama dengan kura-kura tua itu? Untuk apa sebenarnya buku
ini? Segala buku tua dan bau apek diperebutkan Lebih baik berjudi agar bisa
memenangkan uang banyak”
Meskipun berpikiran demikian, Siau Po tetap memegangi buku itu, dia membalikkan
halamannya sehingga terlihatlah huruf-huruf yang padat, dia memperhatikannya
dengan seksama.
“Kalian mengenal aku Wi Siau-po, sayangnya aku justru tidak mengenal kalian”
gerutunya dalam hati, Dia membungkus kembali buku itu untuk memeriksa buku yang
satunya lagi, Dia mengenalinya sebagai kitab yang sama.
“Dasar celaka Tuan besar tidak ingin mengenalmu” makinya.

Dia menduga bahwa kitab itu pasti berisi ajaran Buddha, tapi dia toh membalikkan
halamannya satu per satu. Kemudian dia menemukan bahwa setiap halaman dari kitab
itu berisi gambar laki-Iaki bertubuh telanjang dan penuh dengan garis-garis kecil
berwarna merah mirip benang halus.
Tanpa terasa, perhatiannya jadi tertarik maka dia membuka lagi halaman berikutnya
dan memperhatikan dengan seksama.
Gambar orang-orang yang ada dalam kitab itu dalam posisi yang berbeda, Ada yang
duduk, ada yang berdiri, ada yang setengah berlutut, ada yang berbaring dengan posisi
miring. Bahkan ada yang bersikap kepala di bawah dengan kaki di atas.
“Ah ini pasti gambar cara melatih ilmu silat.” pikir Siau Po yang berotak cerdas, “llmu
silat kura-kura tua lihay sekali, mungkin dia mempelajarinya dari kitab ini, Hm… dia
mengajarkan ilmu silat Siaulim pai palsu kepadaku, isi kitab ini pasti asli. Kalau aku
mempelajari satu dua tiga halaman saja, mungkin dalam setengah sampai satu tahun
aku sudah berhasil menguasai semuanya dan aku pun akan lihay seperti si kura-kura
tua. pada saat itu, tidak ada lagi orang yang sanggup menandingi aku. Aku pun menjadi
si kura-kura kedua Ai” Tidak betul Kalau aku menjadi kura-kura kedua bukankah
artinya aku menjadi kura-kura cilik?”
“Ha… ha… ha… ha…” Saking gelinya, Siau Po jadi tertawa sendiri, dengan perasaan
gembira, segera membolak-balik halaman kitab itu. Dilihatnya gambar seorang Iaki-laki
sedang duduk bersila. Dia segera meniru gambar itu dengan duduk bersila juga.
Tapi, baru saja dia duduk sebentar, dari depan pintu terdengar suara yang nyaring.
“Kui kongkong, Kui kongkong Selamat Selamat Lekas buka pintu”
Siau Po meloncat bangun, cepat-cepat dia menyimpan kembali kedua kitab tadi dan
menutup lacinya dengan rapi, setelah itu dia juga mengenakan sehelai jubah lain untuk
menutupi tubuhnya yang telanjang, pakaiannya sudah dilepaskan dan dicuci bersih dari
noda darah. Setelah itu baru dia berjalan menuju pintu dan membukanya.
“Hei, hei Tunggu dulu Urusan apa yang begitu menggembirakan?” tanyanya ramah.
Di depan pintunya berdiri empat orang thay-kam. Mereka langsung menjura memberi
hormat kepada Siau Po seraya berkata.
“Selamat, Kui kongkong, Selamat”
Siau Po tersenyum.
“Apa-apaan ini? Pagi-pagi kalian sudah muncul di sini dan berteriak-teriak, Ada apa
kah ?”
Salah seorang thay-kam berusia setengah baya segera menyahut

“Tadi thayhou telah mengeluarkan firman kepada Lwe buhu, bunyinya menyatakan:
“Oleh karena Hay tayhu Hay kongkong telah menutup mata akibat sakit yang
berkepanjangan, maka jabatannya sebagai Hu congkoan diserahkan kepada Kui
kongkong sekarang kongkong naik lagi pangkatnya”
Seorang thay-kam yang lain tidak mau ketinggalan Dia tersenyum kemudian berkata.
“Tanpa menunggu Lwe buhu datang kemari menyampaikan firman tersebut, kami
mendahuluinya memberi selamatl Senang sekali mengetahui bahwa Kui kongkong yang
akan memimpin Siang-sian tong mulai hari ini”
Siau Po sendiri tidak terlalu antusias mendengar kenaikan pangkatnya, diam-diam
dia berpikir dalam hati.
“Kenaikan pangkatku ini pasti karena thayhou takut aku membocorkan rahasia tadi
malam. Sebenarnya, biar tidak dinaikkan pangkat, lohu juga tidak berani sembarangan
bicara, bisa-bisa kepala ku pindah rumah dan mulutku disumpal untuk selamanya
Mana mungkin aku begitu bodoh berani mengoceh? sekarang thayhou telah menaikka
pangkatku, aku yakin dia tidak akan membunuhku Hatiku boleh lega sekarang.”
Sebelum Siau Po sempat mengatakan sesuatu thay-kam yang ketiga juga ikut
menimbrung.
“Di dalam istana ini, sebelumnya tidak pernah ada seorang pun Hu congkoan yang
usianya semuda Kui kongkong, jumlah keseluruhan congkoan di istana ini ada empat
belas orang, sedangkan wakil nya ada delapan orang, Di antara mereka, tidak ada satu
pun yang usianya kurang dari tiga puluh tahun, sekarang Kui kongkong menggantikan
kedudukan Hay kongkong, berarti mulai besok kedudukanmu sudah sama dengan Tio
congkoan dan Ong cong koan”
Thay-kam yang keempat pun ikut memberika komentar.
“Kami semua tahu Kui kongkong sangat disayangi Sri Baginda. Tidak disangka kau
juga dihargai oleh thayhou, Kami yakin tidak sampai setengah tahun lagi, Kui kongkong
akan dinaikkan pula pangkatnya menjadi congkoan Kongkong, kami harap kelak
kongkong tidak lupa kepada kami dan mau menolong kami”
Senang juga hati Siau Po mendengar nada suara keempat thay-kam yang demikian
hormat kepadanya. Bibirnya langsung menyunggingkan senyuman.
“Kita semuanya merupakan saudara. jangan bicara soal lupa atau toIong. Sudah
sepatutnya kita saling memperhatikan. Dan kenaikan pangkatku itu adalah berkat
kebaikan thayhou, Apalah jasa lohu?”
Tampaknya sudah menjadi kebiasaan bagi Siau Po untuk menyebut dirinya sendiri
lohu, meskipun orang yang dihadapinya jauh lebih tua daripadanya sendiri.

“Nah, mari kalian masuk Di dalam kamar kita minum teh” ajak Siau Po.
Thay-kam yang berusia setengah baya tadi segera berkata.
“Firman thayhou mungkin akan disampaikan oleh Lwe buhu setidaknya siang nanti,
Karena itu Kui kongkong, sebaiknya kita minum teh bersama merayakan kenaikan
pangkat kongkong ini, semoga tidak lama lagi pangkat kongkong akan naik pula, Kui
kongkong, kau sekarang terhitung pembesar tingkat lima. Untuk orang seusiamu,
benar-benar luar biasa”
Thay-kam lainnya ikut memberikan pujian. Bahkan ada yang ingin mengundang
“Siau Po minum arak. Karena malu hati, akhirnya Siau Po mengganti pakaian yang
lebih pantas, kemudian mengunci pintu kamarnya dan ikut dengan keempat thay-kam
tersebut
Dua dari keempat thay-kam itu adalah pelayannya thayhou. Mereka yang
menyampaikan firman thayhou kepada Lwe buhu dan juga merupakan dua orang
pertama yang mendengar kabar gembira itu.
Dua yang lainnya adalah petugas Siang-sian tong yang bertugas membeli beras dan
barang-barang makanan, ketika mendengar berita kematian Hay kongkong, pagi-pagi
sekali mereka sudah berkumpul di depan kantor Lwe buhu untuk mendengar siapa yang
akan menggantikan kedudukan thay-kam tua itu.
Dengan demikian sejak dini mereka bisa memberi selamat kepada orang yang
beruntung karena hal ini penting demi menjaga kelangsungan kedudukan mereka
sendiri.
Mereka mengajak Siau Po ke dapur, di sana bocah itu dipersilahkan duduk dan
semuanya pun repot melayani. Mereka menyiapkan santapan yang paling lezat, bahkan
lebih hebat dari hidangan yang biasa disajikan untuk Sri Baginda maupun thayhou.
Siau Po tidak suka minum arak, dia hanya menemani keempat thay-kam itu
bercakap-cakap.
“Sebenarnya Hay kongkong cukup baik. Hanya saja belakangan ini kesehatannya
memburuk, apalagi matanya sudah buta, Menurut kabar, dia mati karena penyakit
batuknya yang sudah parah sekaii,” kata salah seorang thay-kam itu.
“Benar, penyakit batuk Hay kongkong memang sudah kronis, kalau lagi batuk,
kadang-kadang dadanya sampai sesak karena sulit bernafas,” sahut SiauPo.
“Tadi pagi-pagi,” kata thay-kam yang melayani thayhou, “Lie Taiie, si tabib istana
datang melaporkan bahwa penyakit yang diderita oleh Hay kongkong adalah sakit paruparu
yang sudah menyusup ke dalam tulang dan sakit beri-beri yang sudah naik ke
jantung. sedangkan penyakit lamanya kumat pula, Karena itu dia tidak dapat
disembuhkan lagi, Bahkan karena takut penyakitnya bisa menular, jenasahnya

langsung dibakar. Mendengar laporan itu, thayhou sampai menarik nafas panjang
sekali-sekali, Thayhou menyayangkan kematian Hay kongkong yang katanya baik dan
pekerjaannya bagus.”
Siau Po tidak memberikan komentar. Sehabis pesta, dia kembali lagi ke kamarnya,
Ketika dia mohon diri, seorang thay-kam menjejalkan sebuah bungkusan kecil ke dalam
genggaman tangannya.
Begitu sampai di kamar dia segera membuka bungkusan itu, isinya ternyata uang
kertas masing-masing senilai seribu tail. Diam-diam dia berkata dalam hati.
“Belum lagi aku menjabat kedudukan yang baru, uang sudah masuk kantong,
Lumayan juga”
Tengah hari, Siau Po dipanggil oleh Sri Baginda untuk menghadap ke kamar
tulisnya. Ketika bocah itu melangkah masuk, kaisar Kong Hi langsung menyambutnya
dengan senyuman yang meriah.
“Siau Kui cu, menurut thayhou, kemarin kau berjasa besar. Karena itu pula
pangkatmu dinaikkan”
“Hamba telah mengetahuinya,” sahut Siau Po yang pandai membawa diri. Dia segera
menjatuhkan diri berlutut dan menyatakan terima kasihnya. “Sebenarnya hamba tidak
berjasa apa-apa. Semuanya karena budi kebaikan thayhou belaka”
Kaisar Kong Hi tertawa.
“Siau Kui cu, walaupun usia kita masih muda, tapi kita harus bisa melakukan usaha
besar agar para menteri tidak berani mencemooh kita atau mengejek kita sebagai
bocah cilik yang tidak ada gunanya”
“Benar” sahut Siau Po. “Asal Sri Baginda sudah mempunyai rencana yang matang,
apa pun akan hamba laksanakan dengan senang hati”
“Bagus Kau tahu Go Pay si menteri celaka itu bukan? Dia telah berani menentang
aku sebagai junjungannya, meskipun sekarang dia sedang menjalani hukuman, tetapi
antek-anteknya masih banyak, Aku khawatir mereka akan memberontak. Kalau hal itu
sampai terjadi, negara bisa dilanda kekacauan yang tidak berani kubayangkan”
“Benar” sahut Siau Po setuju.
“Tadi Kong cin ong datang melaporkan bahwa Go Pay dipenjarakan di istana
pangeran, tetapi setiap hari dia berteriak-teriak tidak karuan, Kata-katanya tidak enak
didengar.” Kaisar Kong Hi merendahkan suaranya, “Dia mengatakan bahwa aku telah
menikam punggungnya satu kali.”

“Tapi, mana mungkin? Bukankah lidahnya sudah kita kutungkan?” tanya Siau Po
dengan suara yang tidak kalah lirihnya.
“Rupanya hari itu kita kurang seksama, lidahnya tidak sampai putus. Tapi hanya
terluka saja. Setelah beberapa hari lukanya sudah sembuh dan dia bisa berkaok-kaok
lagi.”
“Tapi kata-katanya tidak benar Untuk menghadapi seorang Go Pay saja, tidak
mungkin Sri Baginda harus turun tangan sendiri kan? sebetulnya hambalah yang
menikamnya, Ada baiknya hamba datang ke Kong cin ong untuk menjelaskan hal ini.”
Sebetulnya memang kaisar Kong Hi yang membokong Go Pay. Tetapi apabila hal ini
sampai tersiar di luaran, tentu nama baiknya akan tercemar. Karena itu hatinya gembira
mendengar Siau Po langsung mengakui bahwa dialah yang melakukan bokongan itu.
“Memang paling bagus kalau kau yang menjelaskannya sendiri,” kata kaisar Kong Hi.
Kepalanya manggut-manggut, “Kau boleh pergi ke istana pangeran itu dan lihat kira-kira
kapan jahanam itu akan menemui kematiannya.”
“Baik” sahut Siau Po.
“Tadinya aku mempunyai keyakinan bahwa dia akan langsung mati setelah terkena
tikaman itu. Siapa sangka tubuhnya begitu kuat dan bisa bertahan sampai hari ini. Aih
Kalau tahu begini..” Wajah kaisar Kong Hi tampak sedih dan gelisah memikirkan hal itu.
Siau Po dapat menduga apa yang menjadi pikiran kaisar Kong Hi. Dia bermaksud
membunuh Go Pay secara diam-diam.
“Menurut penglihatanku, orang itu tidak mungkin hidup lewat hari ini” kata bocah itu
sambil mengedipkan matanya.
Kaisar Kong Hi senang sekali mendengarnya, kemudian dia berkata dengan suara
berbisik.
“Dia lihay sekali. Meskipun sudah dipenjarakan, dia ibarat seekor harimau yang
ganas, itulah sebabnya kau harus berhati-hati, jangan sampai dirimu yang dilukai atau
sampai terbunuh olehnya”
“Hamba mengerti” sahut Siau Po dengan suara Iirih.
“Nah, sekarang kau pergilah” kata kaisar Kong Hi yang kemudian menitahkan empat
orang pengawalnya mengantarkan Hu congkoan itu.
Siau Po pergi ke istana Kongcin ong dengan menunggang kuda yang tinggi dan
besar, Dia di kawal oleh empat orang siwi, dua di depan dan dua lagi di belakang. Di
sepanjang jalan dia selalu menoleh ke kiri dan kanan, sikapnya menunjukkan dia
bangga sekali dengan kedudukannya itu.

Tiba-tiba terdengar seseorang berkata.
“Apakah benar kabar yang tersiar di luaran bahwa orang yang membekuk Go Pay
adalah seorang kongkong kecil yang berusia sepuluh tahun lebih?”
“Benar” Terdengar sahutan seorang lainnya, “Sri Baginda masih muda, sekarang
thay-kam yang disayangnya juga hampir sebaya dengan beliau.”
“Apakah kongkong yang dimaksud bukan kongkong yang sedang menunggang kuda
ini?” tanya yang satu lagi.
“Entah”
Keempat pengawal itu mendengar pembicaraan mereka, Salah satunya ingin
mengambil hati Siau Po. Dia segera berkata.
“Ketika terjadi penangkapan atas diri Go Pay, si pengkhianat, Kui kongkong inilah
yang berjasa”
Go Pay memang sangat dibenci oleh orang-orang Han sebab sikapnya yang sadis
dan sering membunuh rakyat tanpa alasan yang tepat. Ketika para penduduk Peking
mengetahui bahwa dia telah tertawan karena berani menghina Sri Baginda, seluruh
kota menjadi gempar. Mereka senang sekali, bahkan ada yang mengadakan pesta
untuk merayakan kehancurannya.
Berita itu tersebar luas, mereka pun mengetahui bahwa yang menangkap Go Pay itu
adala seorang thay-kam cilik yang menjadi kesayangan Sri Baginda, sebagaimana
biasanya gosip-gosip yang disiarkan, kasus yang satu ini pun dibumbui oleh orang yang
satu ke orang yang lainnya, cerita itu jadi semakin seru.
Malah kalau ada seorang thay-kam yang lewat di pasar atau jalan raya, dia
dihentikan orang hanya untuk ditanyakan kebenaran cerita itu karena mereka merasa
penasaran sekali.
Begitu juga kali ini, begitu si pengawal mengatakan bahwa Kui kongkong inilah yang
meringkus Go Pay, Siau Po langsung dikerumuni orang banyak. Ada yang menanyakan
ini itu seperti wartawan, ada pula yang bersorak-sorak memuji kegagahannya,
jumlahnya sampai ratusan orang.
Kalau tidak ada keempat pengawal yang menguakkan kerumunan orang banyak itu,
mungkin sampai sore Siau Po masih terkurung terus, Di lain pihak, dia senang
diperlakukan seperti orang penting oleh rakyat.
Setibanya di istana Kong cin ong, sang pangeran yang sudah mendengar berita
tentang datangnya utusan Sri Baginda, segera membuka pintu tengah dan keluar
menyambutnya sendiri, Kongcin ong bermaksud mengatur meja sembahyang dan

memasa hio untuk menerima firman Sri Baginda, Siau Po langsung mengulapkan
tangannya sambil berkata.
“Ongya, kedatangan hamba hanya menjalankan tugas Sri Baginda untuk melihat
keadaan Go Pay, Bukan untuk hal penting apa-apa.”
“Baiklah kalau begitu,” sahut sang pangeran yang sikapnya ramah sekali terhadap si
thay-kam gadungan, Dia tahu Siau Po selalu mendampingi raja yang sudah membuat
jasa besar dengan meringkus Go Pay.
“Kui kongkong,” katanya kemudian, “Kedatangan kongkong merupakan suatu
kehormatan bagi kami. Nah, mari kita minum dulu satu dua cawan, setelah itu kita baru
lihat Go Pay.”
Siau Po menerima baik undangan itu, sesaat kemudian dia sudah duduk bersama
Kong cin ong. Keempat pengawal yang mengiringinya juga diajak duduk bersama.
Perjamuan itu dilakukan dalam taman bunga, Kong cin ong menanyakan apa
kesukaan kongkong kecil itu, Siau Po berpikir dalam hati.
“Kalau aku mengatakan bahwa kegemaran ku berjudi, mungkin pangeran ini akan
menemaniku bermain dan aku pun akan memenangkan uang yang banyak. Tapi cara
itu kurang baik apabila sampai didengar oleh raja…” karena itu dia segera menjawab
“Hamba tidak mempunyai kesukaan apa-apa.”
Kongcin ong menguras otaknya, Dia ingin menyenangkan hati Siau Po.
“Orang yang sudah tua suka uang, orang yang usianya setengah baya biasanya suka
perempuan tapi kongkong ini justru masih kecil lagipula dia seorang thay-kam, mana
mungkin tertarik dengan wajah cantik? Lalu, apa kira-kira kesukaannya? Barang apa
yang harus kuhadiahkan kepadanya.
Dia pandai silat, tentu suka dengan golok atau pedang mustika, tetapi di dalam istana
tidak boleh sembarangan menyimpan senjata tajam. Kalau sampai terjadi apa-apa, aku
yang tertimpa bencan Ah… ya… aku tahu sekarang” pikirnya dalam hati.
Pangeran itu pun tertawa lebar
“Kui kongkong, di dalam istalku ada beberapa ekor kuda pilihan, Karena kita sudah
menjadi sahabat karib, harap kongkong sudi memilih beberapa di antaranya sebagai
hadiah dan kenangan untukmu.”
Siau Po senang mendengar Kongcin ong menawarkan hadiah itu kepadanya, tapi dia
pura-pura berkata.
“Ongya, mana boleh ongya memberikan hadiah kepada hamba.”

“Kita adalah orang sendiri, jangan sungkan” kata Kong Cin-ong, “Mari, kita lihat kudakuda
itu dulu, nanti kita teruskan lagi perjamuan ini”
Kong cin ong langsung menggandeng tangan Siau Po dan mengajaknya menuju
istalnya, Pangeran itu segera menitahkan orangnya untuk mengeluarkan beberapa ekor
kuda kecil.
Mendengar pangeran itu mengatakan “kuda kecil,” hati Siau Po merasa kurang puas.
“Mengapa kuda kecil yang akan dihadiahkan kepadaku? Apakah karena dia
menganggap aku masih kecil sehingga tidak sanggup menunggang kuda yang besar?”
gerutunya dalam hati.
Saat itu juga dia melihat seorang pegawai Kongcin ong menuntun enam ekor kuda ke
hadapan mereka, Siau Po menatapnya sekilas kemudian tertawa lebar sambil berkata.
“Ongya, tubuh hamba memang tidak tinggi, tapi hamba senang menunggang kuda
yang besar. Dengan demikian hamba tidak akan terlihat kecil”
Kong cin ong mengerti. Dia menepuk pahanya dan tertawa terbahak-bahak.
“Aih Kenapa aku sampai lupa” katanya, kemudian dia pun memerintahkan
orangnya, “Kau bawa kemari kuda Giok Hoa-cong Biar Kui kongkong melihatnya”
Perawat kuda itu mengiakan, dia segera pergi dan sejenak kemudian sudah kembali
lagi dengan menuntun seekor kuda yang tinggi dan besar. Bulunya berwarna merah
dan tubuhnya bertotolan, Ketika kuda itu mengangkat kepalanya tinggi-tinggi, sikapnya
gagah sekali.
Sedangkan pakaiannya terbuat dari emas dan batu permata yang bertaburan, jangan
kata kudanya, pakaiannya saja sudah tidak ternilai harganya.
“Bagus” puji Siau Po. sebenarnya dia tidak bisa membedakan mana kuda bagus dan
mana kuda jelek, dia hanya memuji karena tampangnya saja yang kelihatannya gagah.
Kong cin ong tertawa.
“Kuda ini berasal dari wilayah barat, jenis kuda Ferghana, jangan kau lihat tubuhnya
yang tinggi besar, padahal usianya masih muda, baru dua tahun lewat beberapa bulan.
Kuda yang bagus harus di tunggangi oleh orang yang gagah. Nah, saudara Kui
bagaimana kalau kau memilih kuda ini saja?”
Dari kongkong, sebutan pangeran terhadap si bocah cilik berubah menjadi “saudara”,
Hal ini membuktikan bahwa perasaan Kong Cin-ong sudah akrab sekali dengan si thaykam
cilik palsu ini.

“Ta… pi, ini kan kuda ongya sendiri? Mana berani hamba menerimanya? Lagipula
hadiah ini terlalu istimewa bagi hamba.,.” kata Siau Po.
“Aih, Saudara Kui. jangan menganggap aku sebagai orang luar, Kalau kau menolak,
berarti kau tidak memandang mata kepada ku. Apakah saudara memang keberatan
bersahabat denganku?”
“Ongya, di dalam istana kedudukan hamba rendah sekali, Mana pantas hamba
bersahabat dengan ongya.”
“Kami bangsa Boanciu adalah orang-orang yang terbuka, Kalau kau memang
menganggap aku sebagai sahabat, terimalah kuda ini, MuIai sekarang tidak ada
perbedaan derajat lagi di antara kita. Kalau tidak, aku benar-benar marah….” Wajah
Kong Cin-ong tampak serius sekali ketika mengucapkan kata-kata itu.
Siau Po merasa simpatik terhadap pangeran ini.
“Ongya, kau… begitu baik terhadap hamba… entah bagaimana hamba harus
membalasnya….”
Mendengar kata-kata Siau Po, wajah Kong Cin-ong berubah berseri-seri seketika.
“Jangan bicara soal budi, kalau kau sudi menerima kuda ini, berarti kau benar-benar
menghargai aku.”
“Kong Cin-ong menghampiri kudanya kemudian menepuk-nepuknya dengan lembut.
“Giok Hoa, Giok Hoa,” katanya kepada kuda itu, “Mulai sekarang kau ikut dengan Kui
kongkong, Harap kau melayaninya dengan baik.”
Kemudian Kong cin ong menoleh kembali kepada Siau Po dan berkata.
“Saudara Kui, cobalah menunggangnya.”
“Baik” sahut Siau Po tertawa.
Siau Po langsung memegangi pelana kuda itu kemudian loncat ke atasnya, dia
menggunakan ilmu yang diajarkan oleh Hay kongkong.
“Bagus” puji Kong cin ong. Dia melihat gerakan Siau Po yang lincah sekali.
Siau Po menunggangi kuda itu berkeliling beberapa saat, ketika dia menarik tali
kendalinya, kuda yang jinak itu langsung berhenti, Hatinya senang sekali mendapatkan
kuda yang cerdas.
“Bagus Bagus” puji Kongcin ong sambil bertepuk tangan.

“Ongya, hamba mengucapkan banyak-banyak terima kasih atas hadiah yang tidak
ternilai ini, Nah, sekarang sudah waktunya hamba melihat Go Pay. sekembalinya nanti,
hamba akan menemani Ongya lagi”
Hal ini membuktikan bahwa Siau Po tidak melupakan tugasnya meskipun hatinya
yang kekanak-kanakan masih ingin bermain-main dengan kuda yang luar biasa itu.
“Baiklah,” sahut Kongcin ong. “Tugas memang harus diutamakan, Namun saudara
Kui, apabila kau kembali ke istana nanti, tolong sampaikan pada Sri Baginda bahwa aku
akan menjaga si pengkhianat itu baik-baik, meski dia mempunyai sayap sekalipun,
jangan harap dapat meloloskan diri dari tempat ini”
“Tentu” kata Siau Po.
“Apakah saudara ingin kutemani?” tanya Kongcin ong.
“Terima kasih, Hamba tidak ingin mencapaikan Ongya,” kata Siau Po.
Sebetulnya Kongcin ong juga tidak suka bertemu dengan Go Pay. Setiap kali dia
melihatnya, orang itu selalu mencaci-makinya habis-habisan sampai dia merasa
kehilangan muka di depan para bawahannya. Karena itu, dia menugaskan delapan
orang siwi untuk mengawal Siau Po menjenguk orang yang di penjara dalam kamar
tahanan itu.
Siau Po segera diantar ke sebuah rumah batu yang letaknya terpisah dari bagian
yang lain, Di depannya menjaga enam belas orang wisu. Tangan mereka masingmasing
menggenggam sebatang golok yang berkilauan saking tajamnya, Dua orang di
antaranya berjalan mondar-mandir untuk menjaga-jaga terhadap kemungkinan adanya
orang yang bisa menyelinap.
Salah seorang siwi segera menemui wisu kepala, dia melaporkan bahwa Kui
kongkong sebagai utusan raja datang untuk melihat Go Pay. Semua wisu segera
menjura dalam-dalam kepada Siau Po.
Setelah itu kepala wisu mengeluarkan kunci untuk membuka pintu kamar tahanan
dan mempersilahkan kongkong kecil itu masuk ke dalam.
Kamar tahanan itu gelap gulita, Di sudut ruangan ada dapur dan seorang petugas
sedang menanak nasi.
“Pintu penjara ini tidak pernah dibuka, barang makanan dapat diselusupkan lewat
celah yang ada. Petugas itulah yang biasa melayaninya,” kata si kepala wisu
menerangkan.
“Bagus Ketat sekali penjagaan di sini, Asal pintu besi itu tidak dibuka, otomatis
tahanan pun tidak dapat melarikan diri” sahut Siau Po sambil menganggukkan
kepalanya.

Wisu itu ikut mengangguk.
“Ongya telah berpesan wanti-wanti, apabila tahanan ini sampai lolos, semuanya akan
mendapat hukuman mati”
Wisu itu mengajak Siau Po masuk ke halaman dalam. Mereka sampai di sebuah
ruangan kecil, dari situ sudah terdengar suara teriakan Go Pay rupanya dia tengah
mencaci maki Sri Baginda.
“Roh nenek moyangmu akan mendapat ganjaran Locu sudah mengalami kematian
berkali-kali, Locu telah membuat jasa yang tidak terkirakan banyaknya, semuanya demi
para leluhurmu. Demi ayahmu Karena jasaku, dia mendapat negara yang kaya dan
luas ini.
Sekarang kau, setan cilik yang bejat Usiamu masih muda, tapi hatimu sudah busuk
Kenapa kau mencelakai locu dengan cara membokong? Ingat Kalau locu mati, biar jadi
setan pun, locu tidak akan mengampunimu”
Wisu kepala yang mendengar dampratan yang tidak enak itu langsung
mengernyitkan keningnya.
“Dengarlah kata-kata jahanam itu Matanya benar-benar sudah tidak memandang
tingginya langit dan undang-undang kerajaan Dia pantas mendapat hukuman penggal
kepala”
Siau Po tidak memberikan komentar, dia melangkah perlahan menuju kamar penjara
yang kecil. Dari jendela yang ada di dalam ruangan ada sinar suram yang menyorot
masuk, Siau Po dapat melihat keadaan Go Pay.
Tangannya dibelenggu oleh borgol yang besar, rantainya cukup panjang sehingga
dia dapat berjalan mondar-mandir di kamar itu. Suara bising terpancar dari rantai yang
diseret-seret itu terdengar jelas.
Ketika dia mengangkat kepalanya dan melihat Siau Po, Go Pay langsung berteriak
seperti orang kalap.
“Kau… Kau setan cilik yang harus mampus beribu kali, Masuklah kemari Lihat
bagaimana locu akan mencekik lehermu sampai mampus” Matanya mendelik dan
memancarkan sorot kegusaran yang tidak terlukiskan.
Dengan sengit, dia maju ke depan dan menghantam borgol tangannya ke jeruji besi
penyekat jendela tahanannya, suaranya sampai memekakkan gendang telinga.
Meskipun sudah berusaha menenangkan dirinya semaksimal mungkin, Siau Po tetap
terkejut. Kakinya sampai surut ke belakang dua langkah, matanya menatap Go Pay
dengan sorot ngeri karena orang itu memang garang sekali.

“Jangan takut” hibur si wisu kepala, “Dia tidak dapat menerjang keluar.”
“Mengapa harus takut?” sahut Siau Po sok gagah, “Sekarang harap kalian
menunggu di luar, menurut perintah yang diberikan oleh Sri Baginda, ada beberapa
pertanyaan yang harus aku ajukan kepadanya”
Wisu itu mengiakan. Dia segera mengajak rekan-rekannya keluar dari ruangan
tersebut.
Go Pay masih tetap mencaci maki dengan nada lantang, setelah berada berduaan,
Siau Po tertawa lebar.
“Go siaupo” sapanya ramah, Dia sengaja nyebut siaupo yang artinya pelindung raja,
Sedangkan jabatan Go Pay telah dicopot “Siaupo, Baginda menitahkan aku datang
menjengukmu, beliau ingin tahu apakah kau dalam keadaan baik-baik saja atau tidak.
Tapi kalau mendengar suara caci makimu yang demikian bersemangat, tampak
kesehatanmu baik sekali. Kalau Sri Baginda mengetahuinya, tentu beliau akan senang
sekali.”
Go Pay mengangkat kedua tangannya, rantai penyambung borgolnya dihantamkan
ke jeruji jendela.
“Setan gentayangan Anak turunan anjing, sana beritahukan kepada Raja, tidak usah
pura-pura kasihan. Kalau mau bunuh silahkan, apa kira Go Pay akan merasa takut?”
Siau Po menyurut mundur dua langkah, khawatir jeruji besi itu akan jebol terkena
hantaman Go Pay. Bibirnya kembali menyungging senyuman.
“Sri Baginda memang sangat membencimu, dia tidak ingin kau mati cepat-cepat, Sri
Baginda malah berharap kau akan berumur panjang hingga dapat menikmati kehidupan
di sini selama dua puluh atau tiga puluh tahun lamanya, apabila kau benar-benar sudah
menginsyafi kesalahanmu dan merangkak di depan Sri Baginda sambil membenturkan
kepalamu di atas tanah sampai beratus kali, dan memohon pengampunan mu.
Mengingat jasa yang telah kau dirikan, Sri Baginda akan membebaskan kau dari
penjara ini. Tapi, jabatanmu yang telah dicopot tidak dapat kau peroleh kembali.”
Mendengar kata-kata Siau Po, diam-diam Go Pay berpikir dalam hati.
Tentu sengsara sekali dikurung dalam tahanan ini sampai puluhan tahun, dengan
demikian mati atau hidup hampir tidak ada bedanya, Bahkan lebih menderita daripada
mendapat hukuman penggal kepala”
Biarpun benaknya berpikir demikian, tapi pada dasarnya Go Pay beradat keras, dia
tidak sudi menyerah pada Sri Baginda begitu saja. Dia tidak mau berlutut atau
memohon pengampunan justru kepada orang yang dibencinya dan tidak dipandang
sebelah mata olehnya.

“Beritahukan kepada raja agar dia jangan bermimpi di siang bolong Mungkin tidak
sulit baginya untuk membunuh Go Pay, tapi jangan berharap mudah menyuruh Go Pay
berlutut memohon pengampunan”
Tawa Siau Po semakin lebar mendengar ucapan nya.
“Kita lihat saja nanti” katanya “Tiga atau empat tahun kemudian, asal Sri Baginda
teringat kepadamu, tentu beliau akan mengutus orang kemari untuk menjengukmu Go
tayjin, jagalah kesehatanmu baik baik. Hati-hati agar jangan sampai masuk angin dan
terserang penyakit batuk.”
“Kau benar-benar anak haram” maki Go Pay “Sri Baginda sebenarnya cukup baik,
tapi dia mudah dipengaruhi kalian, orang-orang Han yang berhati busuk Kalau sejak
semula Raja mendengarkan nasehatku, tentu istana tidak ada seorang menteri pun di
istana yang berbangsa Han, bahkan seekor anjing Han pun dilarang masuk ke dalam,
Kalau perkataanku diikuti, tentu keadaannya tidak menjadi kacau seperti sekarang ini”
Siau Po tidak memperdulikan umpatannya, Di berjalan ke arah dapur dan membuka
tutup kuali, di dalamnya terdapat masakan daging dengan sawi putih.
“Baunya sedap

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s