“ PANGERAN MENJANGAN” – “ LU DING JI “ 12

yang masih sanak famili ibunya, tentu saja pengangkatan itu karena
persetujuan ibunda raja, Raja merasa tidak puas.
Belakangan, setelah putera mahkota Kong Hi diangkat menjadi kaisar untuk
menggantikannya, permaisuri itu baru diangkat menjadi ibu suri atau Hong thayhou.
Dua permaisuri lainnya, yang pertama adalah ibu kandung kaisar Kong Hi sendiri.
Dia asalnya orang Han, ayahnya bernama Tong To-Lai itulah sebabnya kaisar Kong Hi
berdarah campuran, separuh Han dan separuh Boan.
Hong hau adalah seorang selir, tetapi karena anaknya diangkat menjadi kaisar,
akhirnya dia pun diangkat menjadi permaisuri, namun di saat pemerintahan Kong Hi

tahun kedua dan bulan kedua juga, permaisuri itu wafat. Setelah itu dia pun dianugerahi
gelar Hau hong Hong hou.
Yang satunya lagi adalah Tang Gok-hui. Setelah wafat, dia dianugerahi gelar Haulian
Hong hou dan Toankeng Hong hou.
Siau Po tidak tahu bahwa Haukeng Hong hou adalah ibu kandung kaisar Kong Hi, ia
hanya menjadi heran ketika mendengar perubahan suara thay-hou.
Terdengar Hay kongkong berkata kembali.
“Orang yang mengurus jenasah Haukeng Hong hou sama orangnya dengan yang
memeriksa jenazah Tang Gok-hui serta Ceng-hui”
“0h… tentunya orang itu, mengoceh yang bukan-bukan lagi bukan? Dia benar-benar
pandai memfitnah, sepatutnya mendapat hukuman mati” kata thayhou.
“Kalau thayhou bermaksud membunuhnya, sekarang sudah terlambat”
ibu Suri merasa heran.
“Apakah kau telah membunuhnya?”
“Bukan” sahut Hay kongkong, “Tahun yang lalu hamba sudah menitahkan orang itu
pergi ke Ceng-liang si untuk menuturkan apa yang ditemukannya kepada junjungan
kita. Setelah itu, dia mendapat perintah untuk menyingkir ke luar perbatasan (Kwan
gwa), di sana dia harus mengganti she dan nama aslinya untuk menghindarkan diri dari
ancaman bencana.”
“Kau… kau…” ibu suri marah sekali Suaranya sampai bergetar “Kau kejam sekali”
“Yang kejam bukan hamba, tapi orang lain, Hamba merasa malu tidak mendapat
kehormatan demikian besar,” sahut Hay kongkong.
Thayhou terdiam beberapa saat. “Kalau begitu, apa tujuanmu datang kemari malam
ini?”
“Hamba datang untuk menanyakan satu hal kepada thayhou, Harap Hong thayhou
sudi berterus-terang, agar hamba bisa pulang ke Ngo-tai san dan memberikan laporan
kepada junjungan kita. Toankeng Hong Hou, Tang Gok-hui dan Ceng hui mati
penasaran itulah sebabnya junjunganku sampai meninggalkan istana dan mencukur
rambutnya menjadi hwesio. Hamba ingin mengetahui siapa orangnya yang menurunkan
tangan jahat kepada mereka, Tentunya dia seorang yang berkepandaian tinggi dan
bersembunyi di dalam istana ini, bukan Siapa dia? Hamba sudah tua, penyakit batuk ini
pun semakin hari semakin parah dan tidak mungkin bisa disembuhkan lagi, Hamba
ibarat lilin yang hampi padam. Kalau hamba tidak tahu siapa orangnya yang telah

menurunkan tangan jahat, biar mati pun hamba tidak bisa memejamkan mata dengan
tenang.”
“Sekarang sepasang matamu sudah buta. Kau tidak bisa melihat lagi, Untuk apa kau
bertemu dengan orang itu?” tanya thayhou.
“Meskipun mata hamba sudah buta, tetapi hati hamba masih terang”
“Kalau hatimu masih terang, mengapa kau harus bertanya padaku, mengapa kau
tidak mencari jawabannya sendiri?”
“Lebih baik ditanyakan agar semuanya menjadi jelas dan hamba tidak perlu
menduga-duga sekenanya. Sudah berapa bulan hamba menyelidiki masalah ini. Siapa
kira-kira orang berilmu tinggi yang bersembunyi di dalam istana, sebetulnya hal ini sulit
sekali, sampai suatu hari terjadi peristiwa yang kebetulan sekali, Hamba berhasil
mengetahui bahwa Sri Baginda mengerti ilmu silat”
Thayhou tertawa dingin.
“Kenapa kalau Sri Baginda mengerti ilmu silat? Apakah dia yang membunuh ibu
kandungnya sendiri?” sindirnya tajam.
“Maaf Dosa, dosa kalau hamba berani mengatakan demikian, Hamba malah patut
mendapat hukuman mati apabila mempunyai pikiran seperti itu saja. Tidak mungkin Sri
Baginda melakukan perbuatan yang demikian durhaka”
Hay kongkong terbatuk-batuk sedikit, kemudian melanjutkan kembali kata-katanya.
“Hamba mempunyai seorang pelayan bernama Siau Kui cu….”
Siau Po terkejut sekali mendengar ucapan thay-kam tua itu.
“Nah, si kura-kura tua mulai menyebut-nyebut namaku,” pikirnya was-was.
“Siau Kui cu lebih muda dua tahun dari Sri Baginda,” kata Hay kongkong melanjutkan
kata-katanya. “Sri Baginda sangat menyukainya, Sering mereka berlatih gulat bersama
dan berlatih ilmu silat juga, Kepandaian Siau Kui cu, hamba yang mengajarkannya, Dia
belum terhitung orang gagah nomor satu, tapi mengingat usianya, tidak mudah
sembarangan orang mengalahkannya.”
Senang juga hati Siau Po mendengar pujian yang secara tak langsung itu.
“Guru yang hebat pasti membuahkan murid yang pandai, sama seperti panglima
yang gagah memimpin tentara yang perkasa” kata ibu suri.
“Terima kasih atas pujian thayhou. Tapi, kenyataannya apa yang terjadi, setiap Siau
Kui cu berkelahi melawan Sri Baginda, dalam sepuluh kali bertanding, dia pasti kalah
sembilan kali, Tipu jurus apa pun yang hamba ajarkan, selalu dapat dipecahkan oleh Sri

Baginda, Karena itu pula, hamba berpendapat bahwa guru Sri Baginda mempunyai
kepandaian yang lebih tinggi daripada hamba, Hamba juga yakin bahwa di antara para
pesilat di dalam istana ini, guru Sri Baginda itulah yang berkepandaian tertinggi itulah
sebabnya hamba juga mempunyai keyakinan bahwa tidak sulit menemukan siapa
orangnya yang telah membunuh dua orang permaisuri dan seorang putera mahkota itu.”
“Oh, begitu…” kata ibu suri, “Kau berbicara dengan berbelit-belit, apakah hanya ini
yang ingin kau katakan kepadaku?”
“Barusan thayhou mengatakan bahwa di bawah bimbingan seorang guru yang hebat,
pasti membuahkan seorang murid yang pandai, Demikian juga kebalikannya, Apabila
ada seorang murid yang hebat, gurunya pasti terlebih lihay lagi, Sri Baginda paham ilmu
Patkua Yu-liong ciang yang terdiri dari enam puluh empat jurus. Hamba yakin guru Sri
Baginda juga paham ilmu Hoa-hut Bian ciang.”
“Apakah kau telah berhasil mengetahui siapa adanya orang itu?” tanya thayhou
tenang.
“Ya, hamba telah mengetahuinya”
Thayhou tertawa dingin.
“Harus kuakui kehebatanmu Kau dapat mempertimbangkan segalanya sampai jauh,
Sengaja kau mengajarkan ilmu silat kepada Siau Kui cu agar dia dapat melayani Sri
Baginda, rupanya kau menggunakan kesempatan itu untuk menyelidiki siapa adanya
guru Sri Baginda,”
Hay kongkong menarik nafas panjang. “Hamba melakukannya karena terpaksa.” Dia
menghentikan kata-katanya sejenak untuk merenung, Kemudian baru dia melanjutkan
kembali “Siau Kui cu adalah telur busuk yang paling licik dan jahat yang hamba temui,
dia telah meracuni hamba sehingga kedua mata hamba menjadi buta, seandainya
hamba tidak ada keperluan memanfaatkan dirinya, mungkin sudah sejak lama hamba
membunuhnya “
Thay hou tertawa terbahak-bahak.
“Siau Kui cu memang bocah yang cerdik, dia telah membutakan kedua matamu,
Bagus Besok aku akan memberikan hadiah besar kepadanya”
“Terima kasih, thayhou, seandainya thayho mengeluarkan perintah untuk
menguburkannya dengan upacara kebesaran, tentu arwahnya akan ber syukur kepada
thayhou di alam baka,” kata Ha kongkong memberitahukan.
“Apakah kau telah membunuhnya?”
“Hamba sudah bersabar terlalu lama, Apalagi sekarang hamba tidak memerlukan
tenaganya lagi.”

Siau Po terkejut juga gusar sekali, Diam-diam dia berpikir dalam hati.
“Kampret Rupanya sejak dulu kura-kura tua ini sudah tahu bahwa aku adalah Siau
Kui cu gadungan, bahkan dia juga tahu bahwa kedua matanya dibutakan olehku. Dan
dia hanya memperalat aku untuk menyelidiki ilmu silat Sri Baginda, itulah sebabnya dia
belum membunuhku sampai hari ini. Dia mengajari aku ilmu silat untuk mengetahui
siapa yang menjadi gurunya Sri Baginda, Celaka Kalau aku tahu, tentu aku tidak akan
menceritakan denga jujur jurus-jurus yang digunakan Sri Baginda, Hm sekarang kurakura
tua ini mengira aku sudah mati. Pasti akan datang saatnya di mana dia akan
terkejut setengah mati mengetahui aku masih hidup”
Hay kongkong terbatuk-batuk, kemudian di menarik nafas dalam-dalam.
“Watak junjungan kita tidak sabaran, Apa pun yang diinginkannya, harus
dilaksanakan pada saat itu juga, sayangnya beliau merasa kecewa menjadi raja, karena
orang yang dicintainya tidak sanggup beliau lindungi. Junjunganku sudah menjadi
hwesio, tetapi dia tidak dapat melupakan Tang Gok-hui dan Ceng-hui. Ketika hamba
berangkat menuju istana ini, junjunganku telah menitipkan selembar surat sebagai
firman agar hamba menyelidiki siapa pembunuh Toankeng Hong hou, Ceng-hui dan
putera mahkota yang masih bayi, Hamba mendapat kuasa untuk membunuh pembunuh
itu apabila berhasil ditemukan”
“Hm” Thayhou mendengus dingin, “Dia kan sudah mencukur rambut menjadi
hwesio, mengapa otaknya masih dipenuhi urusan membunuh dan mencelakai orang?
Kan tidak sepatutnya seorang yang menyucikan diri mempunyai pikiran kotor?”
Hay kongkong tidak memberi tanggapan atas ucapan thayhou itu, Dia hanya berkata.
“Hamba telah memikirkan baik-baik bahwa hamba mungkin bukan tandingan guru Sri
Baginda yang lihay itu, Karena itu diam-diam hamba mempelajari sebuah ilmu baru, tapi
sayangnya hamba terlalu terburu nafsu, sehingga salah jalan dan menderita penyakit
batuk yang tidak bisa disembuhkan ini, Di samping itu, mata hamba juga sudah buta,
Tampaknya hamba tidak mempunyai harapan untuk….”
“Benar” tukas thayhou, “Kau sudah kena penyakit yang parah dan matamu pun
sudah buta pula, Meskipun seandainya kau mendapat firman rahasia, kau tidak
sanggup menyelesaikannya lagi”
Hay kongkong menarik nafas panjang.
“Memang benar…” Tampangnya seperti menderita sekali “Nah, sekarang juga
hambamu ingin mohon diri” Selesai berkata, orang tua itu langsung membalikkan
tubuh, kemudian berjalan perlahan-lahan menuju luar.
Melihat keadaan itu, lega rasanya hati Siau Po.

“Asal kura-kura tua itu pergi, aku akan bebas. Dia mengira aku sudah mati, tidak
mungkin di mencari aku lagi” pikirnya dalam hati.
“Tunggu dulu” teriak ibu suri, “Hong thayhu kau hendak kemana?”
“Hamba sudah menceritakan semuanya kepada thayhou, sekarang hamba akan
pergi untuk menunggu saat kematian….”
“Jadi kau tidak melakukan tugas yang dititahkan kepadamu?”
“Hamba mempunyai keinginan, tetapi tenaga sudah tidak memungkinkan Lagipula
hamba juga tidak berani melakukan perbuatan yang kuran sopan terhadap Yang MuIia.”
“Hm Kau sungguh tahu diri Tidak sia-sia kau melayani kami sekian tahun” kata
thayhou denga nada sinis.
“Ya, ya Terima kasih atas budi kebaikan thay hou, Dendam kesumat ini biar
ditangguhkan saja sampai Sri Baginda dewasa dan beliau yang akan
menyelesaikannya.”
Terdengar dia batuk-batuk beberapa kali. Lalu melanjutkan kembali “Kabarnya Sri
Baginda telah berhasil membekuk Go Pay. sungguh perbuatannya hebat sekali
sikapnya gagah, ibunya sendiri tewas dianiaya orang. Hamba yakin tidak lama lagi
beliau akan curiga dan akan menyelidikinya sampai tuntas, sayangnya hamba tidak
dapat menunggu begitu lama sampai semua misteri ini disingkapkan”
Thayhou melangkah maju beberapa tindak.
“Hay tayhu, kembali”
Thay-kam tua menghentikan langkah kakinya. “Ya, thayhou, ada perintah apa?”
“Barusan kau sudah berkata panjang lebar di hadapanku Semua ucapanmu itu tidak
bisa dipegang, Apakah kau sudah menyampaikannya kepada Sri Baginda?” Suara
wanita itu jadi meninggi.
“Belum, thayhou, Hamba berencana untuk mengatakannya besok pagi sekarang
hamba mohon diri dulu….”
“Bagus Bagus” kata thayhou, namun tepat pada saat itu juga, terdengar suara angin
berkesiur sebanyak dua kali.
Siau Po terkejut sekali, dia sampai melongokkan kepalanya untuk melihat apa
gerangan yang terjadi.
Tampak tubuh thayhou berkelebat dengan gesit ke arah Hay kongkong? sepasang
tangannya secara bergantian mengirimkan serangan ke arah thay-kam tua itu.

Hay kongkong sendiri tetap berdiri tegak, tangannya bergerak menangkis serangan
yang gencar itu. Matanya memang buta, tapi kepandaiannya tinggi sekali, biar diserang
dari mana pun, dia sanggup menghindarkan diri.
Diam-diam Siau Po merasa kagum, namun dia juga berpikir “Mengapa thayhou
menyerang kura-kura tua ini? Ah Rupanya thayhou pandai bersilat”
Thayhou bergerak dengan lincah, setiap pukulannya mengandung tenaga yang
dahsyat, tetapi Hay kongkong tetap berdiri tegak dan dapat mengimbangi setiap
serangannya dengan baik, Angin yang terbit dari pukulan thayhou dapat terdengar jelas,
tapi sambutan tangan Hay kongkong justru tidak terdengar sama sekali.
Sesaat kemudian, tibalah saat yang membahayakan, tiba-tiba tubuh thayhou
mencelat ke atas, sebelah kakinya mengirimkan sebuah tendangan. Hay kongkong
menangkis, tangan dan kaki mereka lantas beradu, akibatnya tubuh thayhou terpental
ke belakang dan mendarat di atas tanah dalam keadaan limbung.
Di pihak lain, Hay kongkong juga terhuyung-huyung ke belakang beberapa tindak.
“Budak yang baik” bentak thayhou, Nada suaranya gusar dan kesal “Sungguh
pandai kau berpura-pura. Kau mengajarkan ilmu SiauIim pai kepada Siau Kui cu agar
aku menduga bahwa kau adalah orang dari partai itu. Tetapi kenyataannya kau orang
Kongtong pai”
“Maaf, thayhou, Sama saja, tidak ada perbedaannya di antara kita, Thayhou sendiri
mengajarkan ilmu Bu tong pai untuk menipu hambamu ini. Namun, ilmu Hoa-hut Bian
ciang adalah ilmu istimewa dari Coa To (Pulau Ular). sebenarnya hal ini sudah hamba
ketahui sejak dua tahun yang silam….”
Siau Po dapat menyaksikan apa yang berlangsung di antara mereka. Dia juga dapat
mendengar semuanya dengan jelas, Dia menjadi heran dan kagum terhadap kedua
orang itu, namun karena otaknya yang cerdik, sekejap saja dia sudah paham.
“Kura-kura tua ini sungguh licik, Dia mengajarkan aku ilmu Taykim Na hoat dan
Taycu Taypi Cian-Yap jiu, semua merupakan ilmu Siau lim pai. Dia melakukannya agar
thayhou bisa dikelabui, Dan kenyataannya dia orang Kong tong pai. sayangnya ilmu
Patkua Yu-Liong ciang justru tidak berhasil mengelabui kura-kura tua ini. Ah Rupanya
ilmu silat Sri Baginda diajarkan oleh thayhou”
Berpikir sampai di sini, tiba-tiba seluruh tubuhnya dingin karena berkeringat.
Mendadak dia ingat suatu hal yang penting, “Celaka Thayhou mengerti ilmu silat Hoahut
Bian ciang, Mungkinkah para permaisuri dan putera mahkota yang mati adalah
korban-korban thayhou sendiri? Kalau benar, gawat Bahkan ibu kandung kaisar pun
dibunuhnya Bagaimana kalau Hay kongkong menyampaikan rahasia itu kepada Sri
Baginda? Hebat akibatnya Kalau Sri Baginda berniat menghukum mati ibu suri,
thayhou pasti akan membunuhnya pula, Bagaimana baiknya?”

Pada saat itu, satu-satunya yang menjadi pikiran Siau Po adalah segera angkat kaki
dari tempat itu, Dia merasa dirinya terancam bahaya besar. Namun dia masih ketakutan
sehingga kedua lututnya terasa lemas, dia tidak kuat melangkahkan kakinya sama
sekali. Keadaannya tidak berbeda seperti orang yang tengah bermimpi buruk.
Saat itu pula terdengar suara ibu suri.
“Setelah urusannya menjadi begini, kau masih berharap dapat meninggalkan tempat
ini?”
Tampaknya Hay kongkong tidak takut terhadap ancaman itu. “Thayhou boleh
dipanggil semua siwi, makin banyak makin baik. Dengan demikian hamba bisa
membeberkan semuanya kepada mereka, Hamba yakin pasti ada salah satunya yang
bisa menyampaikan apa yang hamba katakan kepada Sri Baginda”
Thayhou tertawa. suaranya melengking dan nyaring.
“Hm jalan pikiranmu hebat sekali” Bicaranya perlahan, Hal ini membuktikan bahwa
dia sedang mengatur pernafasannya yang memburu.
“Harap thayhou jaga diri baik-baik. jangan sampai thayhou tersesat seperti hamba”
“Kau baik sekali” sindir thayhou sinis.
“Thayhou justru manusia paling baik di dunia ini” Hay kongkong tidak mau kalah set.
Sebetulnya kepandaian Hay kongkong dengan thayhou berimbang, tetapi karena
matanya buta, dia merasa tidak bisa menandingi ibu suri itu. Dia menyadari kehebatan
Hoa-hut Bian ciang wanita itu, ilmu itu merupakan ilmu simpanan dari Coa To.
Untuk menghadapi ilmu tersebut, diam-diam dia mempelajari sebuah ilmu baru.
Ketika itu dia masih belum tahu siapa pembunuh Tang Gok-hui, Ceng-hui dan putera
mahkota yang masih bayi itu.
Setelah mengetahui bahwa kaisar Kong Hi dan Siau Kui cu senang bertanding ilmu
silat, dia mulai mempunyai dugaan dari mana Sri Baginda mempelajari ilmu silat, Hay
kongkong yakin pembunuh para permaisuri dan putera mahkota adalah guru Sri
Baginda. Dia juga membayangkan bahwa pada suatu hari kelak dia akan berhadapan
dengan tokoh yang lihay itu.
Di samping itu, berkat kecerdikannya Hay kongkong juga berhasil mengetahui
penyamaran Siau Po. Dia yakin Siau Kui cu yang asli sudah dibunuh oleh bocah itu dan
si setan cilik itu pula yang membutakan kedua matanya.
Tetapi, karena Siau Kui cu palsu hanya seorang bocah cilik, dia menduga ada orang
lain yang menjadi dalang dibalik semuanya, itulah yang membuatnya bertekad untuk
menyelidiki siapa adanya dalang itu.

Dalam hal ini, dugaanya salah, Siau Po melakukan apa-apa hanya berdasarkan
nalurinya sendiri, tidak ada orang yang menyuruh ataupun menasehatinya untuk
melakukan apa saja, dengan demikian Hay kongkong tidak bisa membuktikan apa-apa.
Terpaksa dia menggunakan akal, Dia mengajarkan Siau Po ilmu-ilmu Siau lim pai
dengan harapan lawan bisa dikelabui, ternyata siasatnya berhasil.
Sejak setengah tahun yang lalu, thayhou sudah menduga bahwa Hay kongkong
adalah tokoh dari Siaulim pai. Sebaliknya, Hay kongkong dapat mengira dengan tepat
bahwa thayhou bukan orang dari Bu tong pai. Karena itu, dalam pemikiran, ternyata
thayhou masih kalah satu tingkat dengan Hay kongkong.
Hay kongkong juga mempunyai pikiran jauh. Karena matanya buta, dia sudah kalah
selangkah itulah sebabnya dia harus memancing agar lawan menyerangnya terlebih
dahulu.
Dia juga harus mendapat kepastian atas dugaannya bahwa thayhou adalah sang
pembunuh, dia masih menyimpan keraguan sebab bagaimana caranya thayhou bisa
menguasai ilmu Hoa-hut Bian ciang yang merupakan ilmu simpanan Coa to.
Ilmu itu harus ditekuni setidaknya selama dua puluh lima tahun, walaupun ada
kemungkinan di masa muda thayhou pernah pergi ke Coa To, namun rasanya tidak
mungkin mempunyai begitu banyak waktu untuk melatihnya, karena itu pula dia
mempunyai dugaan bahwa di samping thayhou masih ada seorang tokoh lihay lainnya.
Untuk mendapat kepastian itu, sengaja dia mengoceh bahwa akan membawa
persoalan itu kepada Sri Baginda, kali ini dia berhasil, thayhou menjadi panik, tanpa
disadari dia mengakui bahwa dialah pembunuhnya.
Pertempuran masih berlangsung, Dalam tiga gebrakan, thayhou menderita luka
dalam. Hay kongkong tahu hal itu dan dia merasa puas, Dia beranggapan bahwa
setelah terluka, thayhou tidak bisa berbuat banyak lagi terhadapnya.
Luka thayhou tidak ringan, dia menjadi cemas dan bingung, diam-diam dia berpikir
dalam hati.
“Celaka kalau thay-kam tua ini berhasil meloloskan diri, kalau dia sampai
membeberkan urusan ini kepada Sri Baginda, aku dan sahabat-sahabatku tentu akan
terjerumus dalam bencana besar. Si rase kecil centil yang ada dalam penjara tentu
akan bersorak kegirangan mengetahui berita ini….”
Hati ibu suri menjadi panas apalagi setelah membayangkan arwah Tang Gok-hui
akan senang melihat keruntuhannya, dia menarik nafasnya dalam-dalam kemudian
berkata dengan suara Iantang.
“Malam ini aku akan mengadu jiwa denganmu agar kita mati bersama-sama”

Kalau ditinjau dari kedudukannya, sebetulnya tidak pantas seorang ibu suri berkelahi
dengan seorang thay-kam, akan tetapi keadaannya membuat dia terpaksa melakukan
hal ini.
Belum sempat si thay-kam tua mengatakan apa-apa. thayhou sudah melanjutkan
kata-katanya kembali, cuma nadanya kali ini agak lunak.
“Hay tayhu, kau memang suka mengarang-ngarang. pergilah kau, beberkan kepada
Sri Baginda, Usia Sri Baginda memang masih muda, tetapi otaknya cerdas sekali. Coba
kita lihat, siapa yang akan dipercayainya, kau atau aku”
Hay kongkong tetap bersikap tenang.
“Pertama-tama Sri Baginda tidak akan percaya dengan kata-kata hamba, malah ada
kemungkinan hamba akan segera ditawan dan dihukum mati. Tetapi beberapa tahun
kemudian, beliau pasti dapat berpikir kembali dan insaf bahwa hamba benar. Bila saat
itu tiba, kehancuran akan terjadi pada diri thayhou beserta kerabat thayhou yang
lainnya”
Mendengar kata-kata itu, thayhou jadi tercekat, karena apa yang diucapkannya
memang bisa menjadi kenyataan, apabila Sri Baginda berpikir dengan tenang,
berdasarkan kecerdasan otaknya dia memang bisa membuktikan kebenarannya katakata
si thay-kam tua ini.
Hay kongkong tidak menunggu jawaban Ibu suri, dia segera melanjutkan katakatanya.
“Junjunganku telah berpesan, apabila hamba sudah berhasil menyelidiki siapa
adanya pembunuh itu, hamba berhak melakukan tindakan apa saja terhadapnya,
sayangnya keadaan hamba tidak memungkinkan, itulah sebabnya hamba terpaksa
menempuh jalan lain, yakni memberitahukannya kepada Sri Baginda” selesai berkata,
kembali thay-kam tua itu melangkah pergi.
Diam-diam thayhou mengerahkan tenaga dalamnya untuk menghajar thay-kam
kurang ajar itu. Tetapi, belum sempat dia mengambil tindakan apa-apa, tiba-tiba Hay
kongkong membalikkan tubuhnya dan mengirim sebuah serangan. Kedua tangannya
meluncur ke depan dengan cepat.
Hay kongkong mendapat tugas dari junjungannya, yakni kaisar Sun Ti. Dia
diharuskan menyelidiki siapa pembunuh kedua permaisuri dan putera mahkotanya,
Kata-katanya akan mengadu kepada Sri Baginda hanya gertakan belaka agar perhatian
thayhou teralihkan.
Secara tiba-tiba dia menyerang thayhou yang dianggapnya lawan tangguh itu,
sebelumnya dia juga sudah menghimpun seluruh tenaga dalamnya dan menduga
dengan tepat di mana posisi berdirinya thayhou agar dia bisa menyerang dengan telak.

Kedua matanya memang buta, tetapi selama ini dia sudah melatih pendengarannya
dengan baik sehingga dia dapat melancarkan serangannya ke dada ibu suri.
Ibu suri ingin mengirimkan serangan, tetapi ternyata dia yang diserang terlebih
dahulu, untuk sesaat hatinya terkesiap, sebenarnya dia sudah menghitung matangmatang
posisinya apabila serangannya menderita kegagalan. Dia yakin, dengan
matanya yang buta, thay-kam tua itu tidak akan sanggup menandinginya, Siapa nyana
kepandaian thay-kam itu memang tinggi sekali.
Untuk sesaat thayhou sempat kewalahan diserang sedemikian rupa oleh si thay-kam
tua. Namun belakangan di bisa juga menguasai dirinya sehingga mulai balas
menyerang.
Ketika mengadu tenaga dalam, Hay kongkong yakin dia akan meraih kemenangan
karena thayhou sudah terluka, ia akan bertahan terus sampai lawannya kehabisan
tenaga.
Siau Po dapat melihat semuanya dengan tegas dari tempat persembunyiannya, Dia
melihat thay hou mengadu tenaga dengan sebelah tangannya. Tampaknya keadaan
mereka biasa-biasa saja, tetapi sebenarnya tidak, karena dengan lewatnya waktu
tenaga dalam Hay kongkong akan semakin kuat.
Thay-hou heran ketika merasakan perubahan pertahanan thay-kam tua itu. Dia juga
merasa terkejut.
“Untung sejak semula aku sudah bersiap-siaga. Coba kalau tidak, mungkin sekarang
aku sudah celaka. Malam ini mungkin nyawaku bisa amblas tangannya,” pikir thayhou
dalam hati.
Ibu suri bukan orang bodoh, ia tahu apa yang harus dilakukannya, Di saat tangannya
menahan serangan orang tua itu, tangan kirinya meraba dalam saku untuk
mengeluarkan senjatanya yang istimewa, Ngo-bi ci, sejenis ujung tombak dari baja
berlapis platina.
Secara diam-diam dia mengarahkan bagian yang runcing dari senjata itu ke dada
lawan.
Siau Po dapat melihat gerak-gerik thayhou, Dia masih mengintai karena belum
menemukan kesempatan yang baik untuk melarikan diri. Melihat berkilaunya sinar putih
di tangan wanita itu, diam-diam dia merasa senang. Biar bagaimana, dia lebih berpihak
kepada thayhou.
“Bagus, bagus Biar bagaimana, tampaknya si kura-kura tua malam ini terpaksa
berpulang ke alam baka” serunya dalam hati.

Tetapi, ketika senjata thayhou mengulur ke depan secara perlahan-lahan, tiba-tiba
gerakannya terhenti. Hal ini disebabkan tenaga dalam Hay kongkong yang mulai
mendesak ibu suri. Tenaga wanita itu sendiri semakin melemah.
Karena terdesak, thayhou terpaksa harus menggunakan tangan yang satunya. Tapi
dia menggerakkannya dengan perlahan, agar senjatanya tidak diketahui oleh pihak
lawan, namun karena kelambatannya, dia berhasil didahului oleh lawan. Siau Po
melihat tangan kiri thayhou gemetar, dia melihat senjata wanita itu tidak dapat
digerakkan. Dia tidak tahu apa sebabnya.
Sesaat kemudian, senjata itu bukan saja tidak bisa bergerak ke depan malah
perlahan-Iahan mulai mundur, thayhou masih bertahan tetapi keadaannya mulai
terdesak.
Saat itulah Siau Po baru mulai tersadar, hatinya tercekat.
“Ah Celaka Thayhou tidak sanggup melawan kura-kura tua itu Kalau aku tidak
menyingkir sekarang juga, nanti tentu tidak ada kesempatan Iagi” pikirnya dalam hati,
ia segera membalikkan tubuhnya dan melangkah dengan mengendap-endap. Dia tidak
ingin mengambil resiko sedikit pun. Dia juga yakin setelah agak jauh, baru dirinya
aman.
Tepat ketika dia sampai di depan pintu dan mengulurkan tangan untuk membukanya,
dia mendengar seruan tertahan dari mulut Hong thayhou. Hatinya terperanjat dan cepat
dia menolehkan kepalanya.
“Celaka Thayhou telah dibunuh oleh kura-kura tua itu” keluhnya dalam hati.
Justru pada saat itulah terdengar suara Hay kongkong. “Thayhou, kau ibarat lampu
yang sudah mula kehabisan minyak, sebentar lagi pelitamu akan padam dan habislah
semuanya, kecuali kalau ada orang yang datang menolongmu atau mendadak menikam
punggungku yang mana akan membuat aku mati karenanya”
Siau Po mendengar kata-katanya thay-kam tua itu dengan jelas.
“Oh, kiranya thayhou belum mati, Tapi apa yang dikatakan kura-kura tua itu ada
benarnya juga, dia sedang menghadapi thayhou dengan kedua tangannya. Kalau aku
membokongnya, tentu di tidak dapat berbuat apa-apa. Kau sendiri yang memancing
orang mencelakainya, maka jangan kau salahkan aku” katanya dalam hati.
Dalam keadaan yang demikian kritis, Siau Po langsung mengambil keputusan. Dia
ingin membantu thayhou, dia juga ingin membunuh thay-kam tua itu, sekarang ada
kesempatan yang baik, dia harus menggenggamnya erat-erat.
Siau Po segera membungkuk dan mencabut belati yang terselip di kaos kakinya,
setelah itu dia melompat keluar dari tempat persembunyiannya sambil berteriak.

“Hei, Kura-kura tua jangan celakai thayhou” Dia langsung menerjang ke depan
untuk menikam punggung thay-kam tua itu.
Hay kongkong memang hebat sekali, ketika dia sedang melayani ibu suri, telinganya
yang tajam dapat mendengar suara langkah kaki yang lirih sekali.
Tiba-tiba saja ingatannya melayang kepada Siau Kui cu. Dia langsung menduga
bocah itu pasti belum mati, Dia takut Siau Kui cu gadungan itu akan meminta bantuan
para pengawal untuk membekuknya, karena itu dia segera memancing Siau Po dengan
kata-katanya dan bocah itu langsung keluar dari tempat persembunyiannya untuk
menyerangnya.
Siau Po tertipu, Dadanya terkena tendangan Hay kongkong, Tubuhnya langsung
terpental juga ke belakang dan memuntahkan segumpal darah segar, serangan yang
dahsyat itu telah menggagalkan bokongannya.
Ketika menyerang si bocah yang datang dari belakang, Hay kongkong sudah
menduga thayho akan berusaha menyelamatkan diri. Kemungkinan dia akan diserang
oleh tangan kiri lawan, cepat di berjaga-jaga, tangan kanannya mendekap bagian perut.
Namun tepat pada saat itu si thay-kam tu terkejut setengah mati. Dia merasa telapak
tangannya tersentuh benda yang dingin dan perutnya terasa nyeri seketika, karena
matanya buta, dia tidak dapat melihat keadaan lawan.
Dia mengira thayhou akan menyerangnya dengan tangan kosong, tidak diduga sama
sekali bahwa wanita itu telah menyiapkan senjata yang luar biasa tajamnya perutnya
langsung terkena tikaman. Saking nyeri dan terkejutnya, Hay kongkong menghantamka
tangan kirinya.
Thayhou sedang menikam tidak sempat di membela diri, Hantaman thay-kam tua itu
langsung membuat tubuhnya terpental ke belakang beberapa tindak, untung saja dia
masih sempat mengendalikan gerakan tubuhnya dengan kaki kiri sehingga tidak sampai
jatuh roboh terguling.
Dadanya teras sesak, darah di dalamnya terasa bergejolak, hampir saja dia semaput.
Dia juga khawatir si thay-kam tua itu akan menyerang terus, karenanya dia menyurut
mundur dua langkah kemudian bersandar pada tembok.
Terdengar Hay kongkong mengeluarkan suara tawa yang melengking dan
menyeramkan.
“Nasibmu mujur sekali Benar-benar mujur” Secara berturut-turut dia melancarkan
tiga buah serangan. Setiap kali menyerang, kakinya pun turut melangkah maju ke
depan sehingga jaraknya dengan ibu suri semakin dekat.

Menghadapi serangan yang demikian beruntun, thayhou melompat ke kanan, namun
apa daya kakinya tergelincir sehingga tubuhnya melorot turun terkulai di atas tanah.
Tepat pada saat itu, tembok di mana thayhou bersandar tadi terhantam pukulan Hay
kongkong sehingga timbullah suara yang bergemuruh.
Wajah thayhou pucat pasi.
“Tamatlah riwayatku” pikirnya dalam hati, Dia tidak dapat bergerak lagi, sedangkan
jarak antara Hay kongkong dengannya semakin dekat
Tapi, setelah menyerang secara beruntun, Hay kongkong tidak bergerak lagi,
tubuhnya menopang pada reruntuhan tembok, Ternyata setelah perutnya tertikam,
orang tua itu sudah menggunakan sisa tenaganya yang terakhir untuk melakukan
serangan.
Dengan penuh kebencian, orang tua itu melancarkan pukulannya, Keadaannya
sudah mendekati kalap. Namun sayangnya, serangan yang terakhir itu hanya mengenai
tembok yang hancur seketika.
Dengan berhentinya serangan yang gencar itu, berhenti pula denyut jantung thaykam
tua itu.
Thayhou melihat orang tua itu mendekam sekian lama, dia mulai dapat menduga apa
ya terjadi, Thayhou berusaha untuk bangun, namu dia mengalami kegagalan Dalam
keadaan bingung dia bermaksud memanggil dayangnya agar membimbingnya kembali
ke kamar, namun saat itu juga dari kejauhan dia mendengar sayup-sayup orang ramai
mendatangi.
“Mungkin para penjaga sudah mendengar suara perdebatan dan perkelahianku
dengan thay-kam tua itu, suara runtuhnya tembok yang dihajar orang juga keras sekali.
Bagaimana kalau para siwi atau thay-kam istana datang kemari dan menyaksikan aku
rebah tidak berdaya sedangkan tidak jauh dariku ada mayat thay-kam tua dan thay-kam
muda itu pikirnya dalam hati.
Thayhou menjadi panik. Dikiranya Siau Kui cu juga sudah mati. Dia bertekad untuk
mencoba bangun kembali, namun lagi-lagi dia gagal. Pikirannya tambah bingung,
sedangkan suara orang yang mendatangi semakin dekat.
Tiba-tiba terdengar suara seseorang menyapanya.
“Apakah thayhou baik-baik saja?”
Thayhou menolehkan kepalanya dan melihat seseorang sedang menghampiri.
“Bagaimana kalau hamba membantu thayhou berdiri?” tegur orang itu kembali.

Ibu suri langsung mengenalinya sebagai Siau Kui cu.
“Oh, Kau… kau tidak mati ditendang thay-kam jahat itu?”
“Dia mana sanggup menendang mati hamba,” sahut si thay-kam cilik.
Ketika tertendang oleh Hay kongkong, Siau Po langsung muntah darah, namun
sesaat kemudian dia bisa mempertahankan diri dan merayap bangun kembali, Karena
itu dia melihat semuanya dengan jelas.
Sampai si thay-kam tua roboh terkulai di atas reruntuhan tembok, dia masih berdiam
diri sejenak, kemudian dia memungut sebutir batu kecil yang lalu disambitkannya ke
kepala Hay kongkong, tidak ada reaksi apa-apa meskipun sambitannya mengenai
kepala thay-kam tua itu dengan jitu.
Hati Siau Po agak lega karena dia yakin setidaknya orang tua itu pasti tidak sadarkan
diri seandainya tidak mati, dia pun berjalan perlahan-lahan mendekati Hay kongkong
dan menyepaknya satu kali. Tetap tidak ada reaksi, sekarang Siau Po yakin bahwa
thay-kam tua itu memang sudah mati. Dia segera mendekati thayhou dan menawarkan
jasanya.
Otak Siau Po memang cerdik, dia juga sudah mendengar sayup-sayup orang ramai
mendatangi. Apabila dia kepergok begitu saja, tentu dia tidak bisa meloloskan diri, itulah
sebabnya dia mengambil keputusan untuk menolong thayhou. Dengan demikian dia jadi
punya alasan apabila di tanyai apa yang telah terjadi.
Bagian 09
“Oh, anak yang baik Lekas kau bimbing aku ke dalam kamar” kata thayhou setelah
mengenali Sia Po.
Dia juga tidak perlu merasa malu, memang Sia Kui cu seorang bocah laki-laki, tapi
dia toh seorang thay-kam yang sudah dikebiri.
“Baik” sahut Siau Po yang langsung memegang lengan wanita itu dan
membimbingnya masuk ke dalam kamar. Dia juga membantu thayhou berbaring di atas
tempat tidurnya.
Siau Po sendiri sudah terlalu letih, selesai membantu ibu suri, dia sendiri jatuh
terkulai di ata permadani yang tebal, nafasnya tersengal-sengal.
“Kau berbaring saja,” kata thayhou, “Nanti kalau ada yang datang, jangan
mengeluarkan suara sedikit pun.”
“Ya,” sahut Siau Po mengangguk lemah.

Sejenak kemudian terdengarlah suara yang riuh rendah di luar kamar thayhou.
Rupanya sudah banyak orang yang berkumpul di sana, Ada yang membawa obor dan
ada juga yang membawa lentera.
“Eh, ada thay-kam mati di sini” teriak seseorang dengan nada terkejut.
“Dia Hay kongkong dari ruang Siang-sian tong” seru yang lainnya begitu mengenali
siapa adanya mayat itu.
Seorang lainnya segera berteriak dengan suara lantang.
“Lapor Harap thayhou ketahui bahwa di dalam taman ini telah terjadi sesuatu,
semoga thayhou dalam keadaan baik-baik saja”
“Urusan apa yang telah terjadi?” tanya thayhou pura-pura tidak tahu apa-apa.
Jawaban itu melegakan hati para siwi dan thay-kam yang berdatangan di taman itu.
Kalau thayhou dalam keadaan selamat, berarti mereka pun aman. Meskipun peristiwa
itu terjadi di dalam keraton Cu-Ceng kiong.
“Kemungkinan hanya para thay-kam yang berkelahi, bukan urusan penting, silahkan
thayhou beristirahat peristiwa ini akan segera diurus dan besok baru hamba
memberikan laporan selengkapnya,” sahut siwi tadi.
“Baiklah”
Suara yang bising pun mereda, mereka bekerja dengan hati-hati. Mayat Hay
kongkong diangkat kemudian reruntuhan tembok dirapikan kembali.
“Di sini masih ada mayat seorang dayang cilik”
Tiba-tiba terdengar seseorang berteriak “Eh,., Dia masih belum mati hanya
pingsan….”
“Syukurlah kalau belum mati. Nanti kalau sadar, kami bisa mendapat keterangan
yang jelas darinya….”
Thayhou mendengar pembicaraan itu, dia segera menukas.
“Apa? Ada dayang kecil yang tidak sadarkan diri? Cepat pondong dia masuk ke
dalam kamarku”
Thayhou tahu satu-satunya dayang cilik yang melayaninya hanya Lui Cu. Dia harus
mendapatkan nona cilik itu agar setelah sadar, Lui Cu tidak sembarangan berbicara.

Perintah thayhou segera dilaksanakan. Dua orang pengawal segera memondong
tubuh Lui Ci kemudian memasukkannya ke kamar ibu suri, setelah itu mereka langsung
keluar lagi.
Sampai saat itu, para dayang yang lainnya serta beberapa thay-kam yang melayani
ibu suri baru berdatangan. Mereka hanya berdiri di depan pintu kamar menunggu
perintah. Tidak ada seorang pun yang berani lancang masuk ke dalam.
Ibu suri tahu para pelayannya sudah berdatangan, dia segera memberi perintah.
“Kalian tidak perlu menunggu di sini, istirahatlah”
Seperti mendapat pengampunan, berbondong-bondong pelayan itu menyatakan
terima kasih lalu meninggalkan keraton Cu-ceng kiong.
SebetuInya, memang tidak ada dayang yang tahu thayhou mengerti ilmu silat. Kalau
ia berlatih, selalu dilakukannya dalam keadaan seorang diri, baik di dalam kamar
ataupun di luar, Dia melarang dayang, siwi atau thay-kam sembarangan menyentuh
pintu kamarnya.
Sementara itu, thayhou segera memejamkan matanya untuk beristirahat setengah
kentungan kemudian, keadaannya mulai membaik. Tenaga Siau Po sendiri sudah mulai
pulih sebagian, dia bisa duduk tegak bahkan berdiri.
Thayhou bingung melihat keadaan Siau Po yang baik-baik saja, Kalau menurut
pendapatnya sendiri, tendangan Hay kongkong tadi cukup dahsyat, apalagi bagi
seorang bocah berusia belasan tahun. Meskipun tidak sampai mati, dapat dipastikan
tulang di dadanya bisa patah, tapi kenyataannya tidak, sebab thay-kam cilik ini masih
kuat memondongnya masuk ke dalam kamar.
Hal mana tidak mungkin dilakukan seseorang yang terluka parah atau tulangnya
patah, Dia menerka-nerka ilmu apa yang dipelajari bocah cilik ini.
“Selain Hay kongkong, siapa lagi yang mengajarkan ilmu silat kepadamu?” tanya
thayhou dengan perasaan ingin tahu.
“Hamba hanya belajar setengah tahun dari thay-kam tua itu,” sahut Siau Po.
“Thayhou, dia jahat sekali. Setiap hari yang dipikirkannya hanya bagaimana membunuh
hamba….”
“Oh” seru ibu suri, “Apa benar kau yang membutakan kedua matanya?”
“Tua bangka yang jahat itu siang malam terus memaki thayhou,” sahut Siau Po yang
cerdik dan pandai mengikuti situasi yang ada di hadapannya “Dia juga mencaci maki Sri
Baginda sehingga hamba tidak tahan mendengarnya, sayangnya hamba tidak
mempunyai keberanian untuk membunuhnya, hamba takut”

“Bagaimana dia mencaci maki raja dan aku?”

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s