“ PANGERAN MENJANGAN” – “ LU DING JI “ 11

Sembari tertawa, Siau Po menundukkan tubuhnya dan mencabut belati yang terselip
di kaos kakinya, Dia melakukannya dengan hati-hati. Dan dia yakin, meskipun timbul
sedikit suara, tapi suara tawanya itu akan menutupinya.
“Dalam urusan apa aku dikelabui olehmu?”
Sengaja Siau Po mengarang-ngarang cerita agar perhatian thay-kam tua itu
teralihkan.
“Sejak semula aku sudah tahu bahwa sup itu beracun, Aku langsung
membicarakannya dengan Siau Hian cu….”
“Apa katanya?”
“Dia mengatakan bahwa kau ingin mencelakai aku”
Hay kongkong tidak dapat menutupi rasa terkejutnya. “Oh Jadi Sri Baginda menduga
demikian?”
“Kenapa tidak? Cuma waktu itu aku masih belum tahu bahwa Siau Hiancu adalah Sri
Baginda. Dia menganjurkan aku agar pura-pura tidak tahu demi menjaga diri terhadap
hal yang tidak diinginkan. Dia menyuruh aku setiap hari minum sup itu kemudian
dimuntahkan kembali. Kau kan tidak melihatnya, bukan?”
Sembari berkata begitu, pisau belatinya telah terhunus, bagian yang tajamnya di
arahkan ke Hay kongkong. Diam-diam dia berpikir dalam hati. “Aku harus menikamnya
dengan tepat Kalau dia tidak langsung mati, tentu aku yang akan dibunuhnya”
Dalam usia tiga atau empat belas tahun, Siau Po sudah bisa menggunakan otaknya
mencari akal dan pemecahan bagaimana harus berbuat otaknya cerdas, apa pun dapat
dipelajarinya dengan cepat.
Hay kongkong setengah percaya setengah tidak dengan ucapan Siau Po itu.
Terdengar dia tertawa dingin.
“Kalau kau tidak makan sup itu, bagaimana kau bisa merasa nyeri di perutmu
barusan?”
Siau Po menarik nafas panjang.
“Masaiahnya begini, meskipun aku sudah muntahkan sup itu kembali, tetapi aku tidak
sempat langsung mencuci mulut Karena itu, sedikit banyak racun itu menempel
dilidahku, Lama-lama toh akan membawa pengaruh juga di tubuhku ini.”
Jarak Siau Po dengan thay-kam tua itu tinggal setengah tindak. Dia tinggal
menunggu kesempatan yang baik untuk menyerangnya tepat di tengah jantung.

“Bagus” kata Hay kongkong. “Racunku itu tidak ada obatnya, Kau makan sedikit
reaksinya memang menjadi lambat, namun penderitaan yang akan kau rasakan juga
semakin hebat”
Siau Po tertawa terbahak-bahak. Tenaga dalamnya dikerahkan ke tangan kanan,
tiba-tiba saja dia menikam ke jantung thay-kam tua itu
Hay kongkong tercekat hatinya, namun dia memang lihay sekali, begitu merasakan
adanya serangkum angin dingin yang menyambar, dia langsung mempunyai dugaan
buruk.
Dengan gerakan spontan, tubuhnya maju ke depan, tangannya menangkis sekaligus
mengirimkan serangan. Tangan kiri menangkis, tangan kanan menyerang.
Buk Blam Terdengar suara keras yang saling susul, dalam sekali gerak, kedua
tangannya sudah memperlihatkan hasil.
Tubuh Siau Po terpental ke belakang dan menghantam daun jendela sehingga jebol
seketika kemudian melayang keluar dan jatuh di atas tanah dengan menerbitkan suara
keras, Siau Po merasa lengan dan seluruh tubuhnya nyeri bukan main.
Di pihak lain, Hay kongkong juga merasa terkesiap sebab telapak tangannya terasa
bukan main nyerinya, Ternyata keempat jari tangannya telah terkutung akibat
tangkisannya pada belati mustika Siau Po tadi.
Bahkan kalau reaksinya tadi kurang cepat, pasti saat ini dadanya sudah tertikam,
namun sekarang hanya kulit luarnya saja yang tersayat.
Seandainya belati yang digunakan Siau Po bukan barang langka, ke empat jari
tangannya sendiri juga tidak perlu terkutung karena tenaga dalamnya sudah mencapai
taraf yang tinggi sekali.
Terdengar Hay kongkong tertawa dingin, suaranya itu sungguh menggidikkan hati,
Dalam dugaannya, mungkin Siau Po tidak dapat bertahan lebih lama lagi karena
lukanya yang kelewat parah.
“Sungguh kematian yang terlalu enak baginya” Thay-kam tua itu mendumel sendiri,
Setelah itu dia mengoyak kain sprei untuk membalut luka di tangannya.
Setelah selesai, dia menggumam lagi seorang diri.
“Entah senjata apa yang digunakan bocah sialan itu. Mengapa bisa begitu tajam? Eh,
jangan-jangan yang digunakannya adalah senjata mustika”
Dengan membawa pikiran itu dia segera keluar dari jendela untuk mencari bocah itu.
Tapi, meskipun sudah meraba kesana kemari, dia tetap tidak berhasil menemukan Siau
Po, apalagi senjata mustikanya.

Hay kongkong sempat bingung. Karena meskipun matanya buta, dia dapat menduga
dengan tepat di mana jatuhnya tubuh Siau Po tadi. Dia juga masih hapal di luar kepala
mana letak taman dan setiap pepohonan yang ada di sana. Tapi meskipun sampai
kewalahan dia mencarinya, tetap saja dia tidak menemukan apa-apa.
“Mungkinkah ada orang yang langsung menyingkirkan mayatnya?” tanyanya dalam
hati, “Siapa orang itu dan kemana mayatnya disingkirkan? Mengapa aku tidak berhasil
menemukannya?”
Si thay-kam tua tetap yakin bahwa pukulannya sudah berhasil membunuh Siau Po.
Padahal, kenyataannya Siau Po memang belum mati, Dia hanya merasakan nyeri di
seluruh tubuhnya, dadanya sesak.
Memang ketika terpanting keluar, dia sendiri mempunyai dugaan bahwa jiwanya
akan melayang, Hampir saja ia putus asa. Karena apabila hal itu terjadi, dendamnya
karena dicelakai thay-kam tua itu pasti tidak bisa dibalas lagi.
Namun ketika menyadari dirinya tidak mati, cepat-cepat dia menggulingkan tubuhnya
menjauhi tempat jatuhnya tadi, Hal ini karena mendadak ia ingat ada kemungkinan Hay
kongkong tidak yakin akan kematiannya dan akan keluar untuk memastikannya.
Mengingat bahaya yang dihadapinya, dia segera menggulingkan tubuhnya,
kemudian merayap beberapa tindak, namun dia roboh kembali, Dan kebetulan tanah
tempatnya roboh itu cukup landai, sehingga dia bergulingan ke bawah.
Sampai sejauh belasan tombak, gerakan tubuhnya baru terhenti Akhirnya dia dapat
berdiri juga walaupun seluruh tubuhnya masih terasa ngilu. Untungnya belati mustika
yang didapatkan dari rumah Go Pay masih tergenggam erat di tangannya.
“Sayang si tua bangka itu tidak sampai mampus di ujung belatiku ini. Dasar nasibnya
lagi terang” gerutunya dalam hati.
Diam-diam dia juga bersyukur bahwa dirinya sendiri masih hidup, setelah
menyelipkan kembali belatinya ke dalam kaos kaki, Siau Po berpikir kembali.
“Rahasiaku sudah terbongkar Aku tidak bisa tinggal lagi dengan kura-kura tua itu.
Berbahaya sekali jiwaku bisa diincarnya setiap saat. Sayang uangku masih belum
diberikan oleh So toako. Aih Sudahlah, anggap saja aku sudah menghamburkannya
dalam satu malam sehingga ludes Tapi, bagaimana dengan dayang cilik itu?” Tiba-tiba
ingatannya kembali pada Lui Cu.
“Pasti dia sedang menunggu aku Hampir saja Siau Po menjerit kecewa ketika
mendapatkan manisan buahnya sudah hancur semua.” Aku harus menemuinya dan
memperlihatkan manisan ini kepadanya, Biar bagaimana, manisan ini masih harum dan
rasanya masih bisa dimakan….”

Membawa pikiran demikian, Siau Po cepat-cepat melangkah keluar sesampainya di
depan pintu pendopo, lagi-lagi nyaris dia berteriak saking kesal Ternyata pintu itu
terkunci Mana mungkin dia bisa masuk ke dalam?
Siau Po berdiri termangu-mangu. pikirannya bingung. Dia merasa gundah, Beberapa
saat kemudian tiba-tiba pintu itu terbuka, lalu menyembullah sebuah kepala.
Ketika Siau Po memperhatikan dengan seksama, hatinya menjadi senang, Dia
mengenali orang itu sebagai si dayang cilik yang mengadakan perjanjian dengannya.
Lui Cu sedang menggapai kepadanya sambil tersenyum manis, Tanpa berpikir
panjang lagi Siau Po segera menghambur ke depan dan menyelinap masuk lewat celah
pintu yang tersingkap.
“Aku khawatir kau tidak dapat masuk, Karena itu aku menunggumu di sini,” kata si
dayang cilik yang bibirnya tetap mengembangkan senyuman menawan “Sudah cukup
lama juga aku menunggumu.”
“Maafkan keterlambatanku,” sahut Siau Po. “Di tengah jalan aku bertemu seekor
kura-kura tua yang baunya bukan main. Batoknya keras sekali Aku ditabraknya
sehingga jatuh terguling.”
Lui Cu jadi tertegun mendengar keterangannya.
“Apakah di taman ini ada kura-kura yang begitu besar? Aih Aku, kok belum pernah
melihatnya, Lalu, apakah sakit sekali tubuhmu sekarang?”
Siau Po sedang menghampiri nona cilik itu, ketika dia bertanya, Tiba-tiba saja
dadanya terasa nyeri kembali, untuk sejenak dia sudah melupakannya tadi karena
terlalu gembira melihat si nona membukakan pintu untuknya, dia sampai mengeluarkan
suara erangan.
Lui Cu dapat melihat keadaan bocah itu, Cepat-cepat dia menghampiri Siau Po dan
membimbingnya agar tidak sampai terguling.
“Masih sakit?” tanyanya lembut.
Baru saja Siau Po hendak menjawab pertanyaannya, tetapi gerakan bibirnya terhenti
karena saat itu juga dia melihat sesosok bayangan yang berkelebat.
Bayangan itu besar dan gerakannya cepat, sehingga mirip dengan burung garuda,
namun ketika bayangan itu berdiam diri, Siau Po dapat melihat tegas bahwa itu
merupakan seseorang yang tubuhnya kurus dan membungkuk. Malah Siau Po
langsung mengenalinya sebagai Hay kongkong, si thay-kam tua. jantungnya berdebardebar
dengan kencang.

Lui Cu juga sudah melihat orang itu. sementara itu, Hay kongkong menatap ke arah
mereka dengan pandangan mata yang garang, sayangnya dia suda buta, Kalau tidak,
tentu dia bisa mengenali Siau Po dan dayang cilik itu. Padahal jarak mereka hany
terpaut dua kaki saja.
“Jangan bersuara” bentak Hay kongkong garang, “Kalau tidak menurut apa kataku,
kau akan mati jawab perlahan-lahan, siapa kau?”
“Aku… aku….” Lui Cu menjadi gugup karena takut.
Thay-kam tua itu mengulurkan tangannya meraba kepala nona cilik itu, Dia juga
mengusap wajahnya.
“Kau dayang keraton, bukan?”
“Be… nar,” sahut si nona cilik.
“Sekarang sudah tengah malam, apa yang kau lakukan di sini?” suaranya perlahan,
tapi sinis sekali.
“A… ku,., sedang men… cari udara segar….”
Hay kongkong tersenyum, namun senyumannya itu benar-benar menggidikkan bagi
siapa pun yang melihatnya, rembulan menyembunyikan dirinya sebagian sehingga
cuaca tampak kelam.
“Dengan siapa kau di sini?” tanya Hay kongkong kembali. Dia menoleh, telinganya
dipasang, Dia dapat mendengar deru nafas seseorang yang lain.
Tadi, karena terkejut, nafas Lui Cu memburu, itulah sebabnya Hay kongkong bisa
mengetahui bahwa di sana ada orang, sedangkan Siau Po berdiri di samping nona cilik
itu, tentu saja suara nafasnya juga tidak luput dari telinga thay-kam tua yang tajam itu.
Mendengar pertanyaan Hay kongkong, Siau Po terkejut setengah mati, Dia ingin
memberi isyarat kepada si nona, tapi dia tidak berani bersuara atau menggerakkan kaki
tangannya karena takut ketahuan Untung Lui Cu juga cerdik sekali, dia dapat menduga
isi hati Siau Po dari sinar matanya.
“Ti… tidak…” sahutnya cepat.
“Di mana Hong thayhou sekarang?” tanya Hay kongkong kembali “Antar aku
menemuinya”
“Kong.,, kong… kau,., aku ha… rap kau jangan ber… kata apa-apa kepada ibu suri,
lain kali… aku tidak berani lagi,” kata Lui Cu panik.

Nona cilik ini menyangka Hay kongkong sudah memergoki perbuatannya dan akan
diadukan kepada Hong thayhou.
“Kau tidak perlu memohon apa-apa kepadaku. Kalau kau tidak antar aku sekarang,
aku akan membunuhmu”
Hay kongkong mencekal tangan nona itu erat-erat, sebelah tangannya lagi mencekik
leher dayang itu. Wajah si nona cilik jadi merah padam karena nafasnya sesak.
Siau Po juga terkejut setengah mati, Hampir saja dia mengeluarkan seruan. Untung
saja dia dapat mengendalikan perasaannya.
“Lekas jawab” bentak Hay kongkong, Cekikannya pada leher si nona dikendurkan.
“A… ku akan mengajakmu Ma… ri,” sahut Lui Cu lirih.
Terpaksa dayang cilik itu mengajak Hay kongkong masuk ke dalam pendopo yang
mana merupakan tempat tinggal ibu suri, Tetapi si nona sempat mengedipkan matanya
kepada Siau Po agar dia segera meninggalkan tempat itu.
“Thayhou berada di kamar tidur,” katanya perlahan.
Hay kongkong mengikutinya, tapi tangan kirinya tetap mencekal nona itu. Otak Siau
Po bekerja keras, Dia mengkhawatirkan Lui Cu, juga mencemaskan ibu suri, Diam-diam
dia berpikir dalam hati.
“Pasti si kura-kura tua ini akan mengadukan samaranku kepada Hong thayhou, dia
juga akan menceritakan kematian Siau Kui cu dan kebutaan matanya yang disebabkan
olehku, Dia akan meminta kepada Hong thayhou untuk memerintahkan para pengawal
menangkap aku.
Bahaya sekali, Tapi, mengapa ia tidak mengadu kepada Sri Baginda saja? Apakah
karena tahu aku bersahabat baik dengan Raja dan kaisar Kong Hi akan membela aku?
Apa yang harus kulakukan sekarang? Ah Aku harus segera melarikan diri, Tapi, mana
mungkin? Pintu istana sudah dikunci, lagipula di depan banyak pengawal sebentar lagi
Hong thayhou pasti akan menitahkan mereka menangkapku, Biarpun seandainya punya
sayap, rasanya sulit untuk meloloskan diri dari tempat ini…”
Ketika Siau Po masih bingung untuk mengambil keputusan Tiba-tiba terdengar suara
seorang wanita.
“Ah Hay tayhu Akhirnya kau datang juga mencariku”
Siau Po terkesiap, Suara itu sinis dan menggidikkan hati orang yang mendengarnya,
namun yang paling membuat dia terkejut justru karena dia mengenalinya sebagai suara
Hong thayhou, Rasanya dia ingin sekali mengambil langkah seribu meninggalkan
tempat itu.

Tepat pada saat itu juga, terdengarlah suara Hay kongkong.
“Benar Hambamu ini memang Hay tayhu, Hambamu datang kemari untuk memberi
hormat kepada kau orang tua” Nada suara thay-kam tua itu tak kalah sinis dan
menyeramkan. Tampaknya dia mengandung niat yang kurang baik.
Siau Po keheranan, diam-diam dia berpikir dalam hati.
“Eh, siapa kiranya si kura-kura tua ini dalam anggapannya? Mengapa bicaranya
begitu kurang ajar kepada thayhou? Nada suaranya juga tidak enak didengar. Mungkin
thayhou juga tidak menyukainya, Eh, bukankah aku sudah tidak mungkin melarikan diri
dari tempat ini? Mengapa aku tidak coba menentangnya saja? Bukankah aku baru
mendapat pujian dari Sri Baginda dan Hong thayhou karena jasaku yang besar? Apa
artinya membunuh seorang Siau Kui cu dan membutakan matanya thay-kam tua itu?
Aku rasa itu bukan kesalahan besar. Kalau perlu, mungkin saudara So Ngo Ta bisa
membantuku. Tapi kalau aku kabur, kemudian si kura-kura tua ini mengoceh
sembarangan siapa yang berani menentang atau menyangkalnya? Pasti kesalahanku
akan dibesar-besarkan olehnya” pikir Siau Po dalam hatinya.
Otaknya terus bekerja, “Bagaimana kalau thay-hou menanyakan alasanku
membunuh Siau Kui cu? Apa yang harus kujawab? Aku… akan mengatakan… aku akan
mengatakan… oh ya, aku akan mengatakan bahwa aku mendengar Siau Kui cu dan si
kura-kura tua ini memburuk-burukkan thayhou dan Sri Baginda. Karena mendengar
kata-kata yang kotor, sehingga aku tidak dapat menahan diri, lalu kubunuh Siau Kui cu
dan kubutakan mata si kura-kura tua.
Bagaimana kalau aku ditanya apa saja kata-kata kotor yang dilontarkannya? Ah, aku
toh dapat mengarangnya, Kalau berkelahi dengan kura-kura tua itu, aku memang bukan
tandingannya, Tapi kalau adu bicara, hm… dia harus belajar sepuluh tahun lagi untuk
menandingi aku. Lihat saja nanti”
Dengan berpikiran demikian, perasaan Siau Po jadi agak Iega. Dia juga menjadi
berani, Dibatalkannya niat untuk meninggalkan tempat itu, karena resikonya toh terlalu
besar.
Namun masih ada satu hal yang menjadi pemikirannya, yakni kepandaian Hay
kongkong yang tinggi sekali, “Dalam satu gebrakan saja dia sanggup membunuh diriku,
sebaiknya aku mencari posisi yang tersembunyi dengan demikian bila dia menyerang
aku, dia tidak akan berhasil mencapai maksud hatinya itu,” demikian pikir Siau Po.
Terdengar suara ibu suri yang berkata. “Kau ingin memberi selamat kepadaku?
Mengapa tidak datang di siang hari, malah di tengah malam begini, Aturan dari mana
itu?”
“Aku mempunyai sebuah rahasia yang ingin kuceritakan kepada thayhou, siang hari
terlalu banyak orang dan banyak telinga, kalau sampai rahasia ini diketahui tentu tidak
baik,” sahut si thay-kam tua.

“Nah, ini dia” kata Siau Po dalam hati, “Sekarang dia pasti ingin membeberkan
kesalahanku Biar aku dengarkan dulu apa yang akan diocehkannya, kalau sudah
setengah nanti, baru aku menukasnya, tentu belum terlambat untuk menyangkalnya”
Siau Po menoleh ke kanan kiri, dia ingin mencari sebuah tempat yang aman dan
leluasa untuk mendengarkan percakapan itu, Kemudian dia melihat sebuah gunung
buatan di samping kolam ikan emas, dia segera menuju ke tempat itu yang
dianggapnya cukup bagus.
“Kalau si kura-kura tua menyerang, aku akan loncat ke dalam koIam, Lalu berenang
ke seberang dan menerjang masuk ke dalam kamar thayhou, Meskipun kura-kura tua
itu mempunyai sembilan nyawa, tentu dia tidak berani menyerbu masuk.”
“Hm” Terdengar thayhou mendengus dingin “Rahasia apakah yang ingin kau
sampaikan? Katakan saja sekarang”
“Apakah di sini tidak ada orang lainnya?” tanya Hay kongkong, “Apa yang ingin
hamba sampaikan adalah sebuah rahasia besar”
“Apakah kau ingin masuk ke dalam untuk memeriksanya? Bukankah ilmu silatmu
sudah mencapai taraf yang tinggi sekali? Apakah kau tidak bisa mendengar bahwa di
sini tidak ada orang lainnya?” tantang thayhou.
“Mana berani hamba masuk ke dalam kamar thayhou? Bolehkah thayhou keluar ke
sini, sebab ada rahasia besar yang ingin hamba utarakan.”
“Huh Semakin lama nyalimu semakin besar saja siapakah yang kau andalkan
sehingga sikapmu demikian kurang ajar?” tegur thayhou.
Mendengar teguran ibu suri, hati Siau Po merasa puas. “Memang kura-kura tua ini
sudah keterlaluan, beraninya bersikap demikian tidak sopan terhadap Hong thayhou”
batinnya.
Sementara itu, terdengar sahutan Hay kong-kong. “Hambamu mana berani….”
“Hm” suara Hong thayhou semakin dingin, “Kau… kau memang sudah lama tidak
memandang sebelah mata terhadapku Malam ini, tanpa terduga-duga kau datang
kemari, sebetulnya niat busuk apa yang terkandung dalam hatimu?”
Semakin puas hati Siau Po mendengarnya, “Oh, dasar kura-kura tua. Ketemu
batunya kau kali ini Rasanya aku tidak perlu campur tangan lagi, Thay-hou sendiri bisa
memakimu sepuas hati”
Terdengar suara Hay kongkong yang tetap tenang.

“Kalau thayhou memang tidak mau mendengarnya, tidak apa-apa. sebetulnya aku
mempunyai berita tentang orang itu. Nah, aku pergi saja” Orang tua itu berlagak
seakan ingin meninggalkan tempat itu dengan membalikkan tubuhnya.
Sedangkan Siau Po yang mengira bahwa si thay-kam tua hendak berlalu, belum apaapa
sudah kegirangan “Ah, kau mau pergi? Pergilah Lebih cepat lebih baik”
Bagian 08
Namun saat itu juga terdengar suara Hong thayhou yang agak gugup.
“Kau mempunyai berita apa?”
“Berita dari gunung Ngo-tay san”
“Dari Ngo-tay san?” tanya ibu suri menegaskan suaranya agak bergetar “Apa
maksudmu?”
Tiba-tiba Hay kongkong menggerakkan tangannya dan terkulailah tubuh Lui Cu.
Siau Po yang melihat itu terkejut setengah mati “Aih, si kura-kura membunuh nona
yang manis itu. Pasti thayhou akan marah sekali Dengan demikian ucapannya yang
menyalahkan aku, tentu tidak akan dipercaya lagi” pikir si bocah dalam hati.
“Siapa yang kau lukai?” tanya thayhou gugup.
“Salah seorang dayangmu,” sahut si thay-kam tua. “Hamba tidak membunuhnya,
hanya menoto jalan darahnya saja agar dia tidak dapat mendengar pembicaraan kita
nanti.”
Mendengar keterangan itu, lega juga perasaan Siau Po. Namun di pihak lain, dia juga
mengkhawatirkan dirinya kembali.
Kemudian terdengar kembali suara Hong thay-hou. “Kau menyebut-nyebut Ngo-tay
san, Kenapa?”
“Karena di puncak Ngo-tay san ada seseorang yang sangat memperhatikan
thayhou,” sahut Hay kongkong dengan suara datar.
“Maksudmu… dia sudah pergi ke Ngo-tay san?” tanya Hong thayhou dengan
suaranya yang bergetar kembali.
“Kalau thayhou ingin mendapatkan keterangan yang lebih jelas, ada baiknya thayhou
keluar saja dari kamar, Di tengah malam begini, tidak leluasa hamba masuk ke dalam
kamar, sedangkan jika hamba bicara keras-keras, orang lain pasti mendengarnya.”

Thayhou terdiam, tampaknya dia ragu-ragu.
“Baik” katanya sesaat kemudian.
Terdengar suara pintu dibuka dan seseorang melangkah keluar, Siau Po mengintai
dari tempat persembunyiannya, Dia bisa melihat orang itu memang ibu suri adanya.
Ternyata wanita itu mempunyai bentuk tubuh yang agak gemuk dan pendek. Dua kali
dia pernah melihat ibu suri, tetapi posisi wanita itu selalu dalam keadaan duduk.
Terdengar ibu suri bertanya kembali. “Barusan kau mengatakan dia telah pergi ke
Ngo-tay san. apakah benar yang kau katakan itu?”
“Hambamu tidak mengatakan siapa yang pergi ke gunung Ngo-tay san. Hamba
hanya mengatakan bahwa di puncak gunung Ngo-tay san, ada seseorang yang
mungkin masih menaruh perhatian kepada thayhou.”
Thayhou terdiam pula sejenak. “Baik. Anggap saja kau memang mengatakan begitu,
Dia… maksudku, orang itu, untuk apa dia pergi ke Ngo-tay san? Apakah dia berdiam di
dalam kuil?”
Sikap Hong thayhou biasanya tenang sekali, tetapi kali ini begitu mendengar katakata
Hay kongkong, penampilannya jadi seperti orang yang gelisah, sebaliknya sikap
Hay kongkong malah berubah semakin tenang.
“Orang itu memang berdiam di kuil Ceng-Lian si yang letaknya di puncak gunung
Ngo-tay san.”
Mendengar kata-katanya, thayhou menarik nafas dalam-dalam seakan perasaannya
menjadi agak lega.
“Terima kasih kepada langit dan bumi Akhirnya aku bisa juga mendapat berita
tentang dirinya..” Thayhou tidak dapat melanjutkan kata-katanya, suaranya bergetar
mungkin karena kelewa terharu.
Siau Po justru semakin bingung mendengar percakapan mereka.
“Siapa orang itu? Mengapa thayhou begitu memperhatikannya?” tanyanya dalam
hati. perasaannya menjadi kacau, Dia hanya dapat menerka-nerka, “Apakah orang itu
ayah atau sanak saudaranya ibu suri? Atau kekasihnya? Ya, pasti kekasihnya, Kalau
memang ayah atau sanak saudaranya, toh bukan hal yang perlu dirahasiakan itulah
sebabnya rahasia itu takut diketahui orang, Tapi, mengapa si kura-kura tua bisa
mengetahui rahasia ini? Mungkinkah thay-kam tua itu ingin menggunakannya untuk
memaksa thayhou menghukum mati diriku? Celakalah aku Untung saja aku
mendengarkan pembicaraan ini, Kalau perlu, aku akan membeberkannya agar dapat
meloloskan diri dengan selamat dari tempat ini.”
Terdengar suara pernafasan thayhou yang agak memburu.

“Apa yang dilakukannya di kuil Ceng-Liang si?” tanyanya kemudian.
“Apakah thayhou benar-benar ingin mengetahuinya?”
“Untuk apa kau bertanya terus? Tentu aku ingin mengetahuinya.” bentak thayhou
dengan nada tidak sabar.
“Junjungan kita itu sudah mencukur rambutnya menjadi hwesio.”
“Oh” Thayhou mengeluarkan seruan tertahan “Dia… benarkah dia sudah menjadi
hwesio? Apa kau tidak mengelabui aku?”
“Tidak berani hambamu berdusta pada thayhou, Lagipula, hamba rasa juga tidak ada
perlunya,” sahut Hay kongkong ketus.
“Benar-benar tega dia” seru thayhou sengit. “Tentunya dia selalu memikirkan si rase
centil, sampai-sampai dia mengabaikan usaha yang telah dibangun leluhurnya dengan
susah payah. Dia juga tinggalkan kami, ibu dan anaknya”
Siau Po semakin bingung.
“Apa yang dimaksud dengan usaha leluhurnya?” Mengapa si kura-kura tua menyebut
orang itu sebagai junjungannya, mungkinkah dia bukan kekasih thayhou?” tanyanya
dalam hati, semakin penasaran ia.
“Hati junjungan kita telah tawar melihat dunia yang penuh kepalsuan ini. Dia sudah
sadar apa artinya kehidupan. Karena itu dia tidak ingin memikirkan negara, istri maupun
anaknya lagi, Menurut beliau, semuanya bagai awan gelap yang telah berlalu”
Mengapa dia tidak menyucikan diri di masa dulu atau kelak, tetapi justru sekarang?
Mengapa dia harus menunggu sampai si rase centil itu mati baru mencukur rambutnya
menjadi hwesio? Mengapa negara yang diusahakan leluhur, istri dan anaknya masih
kalah dibandingkan dengan si rase genit itu? Sekarang, kalau kenyataannya dia sudah
menyucikan diri, kenapa pula dia meminta kau datang menemuiku?” pertanyaan
thayhou datang bertubi-tubi, seakan semuanya membingungkan hatinya.
Semakin lama suaranya pun semakin keras, Siau Po yang mendengarkan jadi
cemas.
“Siapa orang itu sebenarnya?”
“Junjungan kita telah berpesan wanti-wanti. Biar bagaimana, hambamu dilarang
membuka mulut, agar urusannya tidak menjadi bocor. Terutama agar Hay thayhou dan
Sri Baginda mengetahuinya. junjungan kita juga mengatakan, dengan putra mahkota
menggantikan kedudukannya, negara akan menjadi aman dan damai, Beliau benarbenar
merasa puas.”

“Kalau begitu, mengapa baru sekarang kau mengatakannya kepadaku?” suara
thayhou semakin sengit “Sebetulnya aku sudah tidak ingin memikirkannya kembali, Aku
tidak ingin mengetahuinya, Bukankah di dalam hatinya hanya ada si rase centil?”
Siau Po masih heran. “Mungkinkah orang itu ayah Sri Baginda?” tanyanya pula
dalam hati. “Tapi, kaisar Sun Ti, ayah Sri Baginda kan sudah meninggal lama? justru
karena ayahnya wafat, baru Sri Baginda menggantikannya, Mungkinkah Sri Baginda
masih mempunyai ayah yang lain?”
Siau Po bingung karena memang dia tidak begitu paham silsilah kerajaan. Yang ia
tahu, Kaisar Sun Ti adalah ayah dari si raja cilik sekarang.
Mungkin, bila thayhou dan Hay kongkong berbicara lebih jelas lagi, dia juga belum
bisa mengerti.
“Junjunganku sekarang sudah menjadi hwesio, semestinya aku juga menyucikan diri
di Ceng-Liang si untuk melayani beliau, tetapi masih ada satu hal yang membuat
junjunganku tidak tenang, itulah sebabnya hamba ditugaskan kembali ke istana untuk
menyelidikinya….”
“Urusan apa yang membuatnya risau?” tanya thayhou cepat.
“Menurut junjunganku, meskipun Tang Gok hui….”
“Di hadapanku, aku larang kau menyebut nama si rase centil itu?” tukas thayhou
bengis.
“Ah Rupanya yang dimaksud dengan rase centil adalah Tang Gok-Hui. Tentunya dia
seorang selir raja, Dan kemungkinan kekasih thayhou menyukainya dan tidak suka lagi
kepada thayhou, Itulah sebabnya thayhou menjadi iri hati dan marah”
“Baik, baik,” sahut si thay-kam tua. “Kalau thay hou tidak menyukainya, tentu hamba
tidak akan menyebutnya lagi.”
Nafas ibu suri tersengal-sengal, dia masih penasaran.
“Apa katanya mengenai si rase centil itu?”
“Hambamu tidak mengerti apa yang kau maksudkan, thayhou, Setahu hamba,
junjunganku tida pernah menyebut si rase centil….”
Thayhou marah sekali melihat sikap Hay kongkong yang berlagak pilon.
“Sudah tentu dia tidak akan menyebutnya demikian Di dalam hatinya cuma ada
permaisuri Toan-keng. Setelah si rase centil mati, dia langsung menganugerahkan
gelarnya itu. Tong keng Hong hou. Langsung saja para budak dan pelayan yang pandai
menjilat menyebutnya permaisuri yang baik hati.”

“Thayhou benar, Setelah Tang Gok-hui meninggal hamba seharusnya memanggilnya
dengan sebutan Toankeng Hong hou. permaisuri itu meninggalkan buku catatannya
yang berjudul Toankeng Hou Gi-lok. Apakah thayhou ingin membacanya? Hamba
selalu membawanya kemana-mana”
Hawa amarah dalam hati thayhou semakin meluap-Iuap mendengar kata-kata Hay
kongkong.
“Kau Kau” Untuk sesaat dia sampai tidak sanggup mengatakan apa-apa, Namun
kemudian dia sadar bahwa thayhou tua itu memang sengaja memancing
kemarahannya. Karena itu dia segera mengeluarkan suara tertawa dingin sambil
berkata.
“Ya, sekarang ini zaman memang sudah berubah, Penjilat ada di mana-mana,
karena itu banyak orang yang senang membaca buku yang isinya ngaco itu. Kecuali
satu jilid yang ada padamu dan beberapa jilid yang ada pada junjunganmu, siapa lagi
yang masih memiliki buku-buku itu?”
“Thayhou telah mengeluarkan perintah secara diam-diam untuk memusnahkan bukubuku
itu. Siapa lagi yang berani menyimpannya? Junjunganku memang memiliki buku
itu, namun sebetulnya tidak membawa arti apa-apa. Karena apa yang ditulis oleh
Toankeng Hong hou dalam buku itu sudah dihapal luar kepala oleh junjunganku, Hal ini
sudah melebihi hanya memiliki buku tersebut.”
Thayhou memperhatikan thay-kam tua itu lekat-lekat.
“Untuk menyelidiki urusan apakah sehingga dia menitahkan kau kembali ke istana?”
“Sebetulnya untuk dua macam urusan, tetapi setelah hamba menyelidikinya, ternyata
hanya terdiri dari satu urusan saja.”
“Dua urusan jadi satu, apakah itu?” tanya thay-hou.
“Yang pertama mengenai kematian putera mahkota Eng Cin ong….”
“Yang kau maksudkan puteranya si rase centil?”
“Yang hamba maksudkan puteranya Toankeng Hong hou….”
“Hm Binatang cilik itu mati ketika usianya baru empat bulan, Umurnya memang
sudah ditakdirkan pendek, Apa yang aneh?”
“Tapi junjunganku mengatakan, ketika pangeran Eng Cin ong mendadak jatuh sakit,
tabib istana langsung dipanggil. Dan tabib itu mengatakan penyebab kematiannya aneh
sekali….”

“Hm Tabib istana mana yang begitu pandai memeriksa penyakit? Mungkin kau
sendiri yang mengada-ada”
Hay kongkong tidak menyangkal, dia hanya melanjutkan kata-katanya.
“Ketika Toankeng Hong hou wafat, banyak yang menduga bahwa kematiannya
disebabkan tekanan batin karena kehilangan puteranya yang masih bayi itu. Menurut
tabib istana, kematian Eng Cin ong disebabkan dua ototnya putus karena hantaman
seseorang, karena itu isi perutnya menjadi hancur.”
“Apakah junjunganmu itu mempercayai ocehanmu?” tanya thayhou dengan nada
dingin.
“Pertama-tama junjunganku memang tidak percaya, tetapi pikirannya berubah
setelah hambamu memberikan faktanya. Dalam waktu satu bulan, hamba mencoba
penemuan ini pada lima orang dayang, hasilnya… sebab kematian mereka persis
dengan kematian Toankeng Hong hou. Kalau hanya satu yang kematiannya sama,
mungkin masih bisa dikatakan bahwa perkiraan hamba itu salah, Tapi kalau limalimanya
sama, tentu persoalannya lain lagi, Akhirnya junjunganku jadi percaya.”
“Oh Hebat sekali Sungguh mengagumkan di dalam istana ada seorang ahli
penyelidik seperti engkau ini,” sindir thayhou.
“Terima kasih atas pujian thayhou,” sahut Hay kongkong yang sikapnya tidak
berubah meskipun sadar dirinya disindir.
Untuk sesaat keduanya membungkam. Hanya sekali-sekali terdengar suara
batuknya si thay-kam tua itu. Sejenak kemudian baru Hay kongkong melanjutkan katakatanya.
“ltulah alasan mengapa junjunganku menitahkan aku kembali ke istana ini, yakni
untuk menyelidiki sebab musabab kematian Toankeng Hong hou dan Eng Cin ong”
Thay hou tertawa dingin.
“Untuk apa diperiksa? Di dalam istana ini, mana ada orang yang kepandaiannya
begitu tinggi.”
“Biar bagaimana, hambamu yakin orang berkepandaian tinggi itu pasti ada” sahut
Hay kongkong berkeras, “Sehari-harinya sikap Toankeng Hong hou terhadap hamba
sangat baik, Hamba selalu mendoakan agar beliau panjang umur dan hidup sejahtera
sampai hari tua. seandainya saja sejak semula hamba tahu ada orang yang bernia
membunuh beliau, tentu hamba akan mengerahkan segenap kemampuan untuk
melindunginya, Hamba rela mengorbankan selembar jiwa tua ini demi keselamatan
beliau”

“Sungguh setia” ejek thayhou, “Seharusnya dia bersyukur mempunyai seorang
anjing pengawal seperti engkau”
“Sayangnya hamba tidak becus, akhirnya tidak sanggup melindungi permaisuri….”
Thayhou tertawa datar.
“Tentunya setiap pagi kau bersembahyang dan membaca kitab suci agar arwah
Tongkeng Hong hou segera mencapai surga….”
Nada suaranya masih mengandung ejekan, tetapi Hay kongkong tidak
memperduIikannya.
“Kalau hanya bersembahyang atau membaca kitab suci saja, tidak ada gunanya, Di
dalam dunia ini sepertinya ada sebuah pernyataan, yang baik akan mendapat kebaikan,
yang jahat akan mendapat balasan” Hay kongkong menghentikannya kata-katanya
sejenak. “Kalaupun pembalasan sampai tidak terjadi, hal ini hanya soal waktu saja….”
Sekali lagi thayhou mendengus dingin, “Perlu thayhou ketahui, junjunganku
menitahkan aku menyelidiki dua macam urusan, ternyata hanya terdiri dari satu, Namun
di samping itu, tanpa terduga-duga ada sebuah persoalan lainnya yang justru dari satu
menjadi dua.”
“Rupanya banyak sekali urusan yang berhasil kau selidiki Urusan apa lagi?”
“Urusan yang ada kaitannya dengan selir Hui”
Ibu Suri tersenyum datar.
“Dia? Dia kan adiknya si rase centil, pantasnya dia menjadi si rase centil kecil, Untuk
apa kau menyebut-nyebutnya?”
“Ketika junjunganku meninggalkan istana, beliau meninggalkan sepucuk surat yang
menyatakan bahwa beliau tidak akan kembali lagi untuk selama-lamanya, Berhubung
thayhong dan thayhou sadar bahwa suatu negara tidak boleh tanpa pemimpin, itulah
sebabnya kalian membuat pengumuman bahwa raja telah mangkat dan putera mahkota
Kong Hi diangkat untuk menggantikannya. Kekuasaan akhirnya jatuh di tangan Sri
Baginda yang sekarang dan thayhou sendiri, Ketika itu junjunganku sudah mencukur
rambutnya menjadi hwesio, Hal ini hanya lima orang yang mengetahuinya, termasuk
Gio Lim taisu dan hambamu, Hay tayhu.”
Mendengar sampai di situ, Siau Po baru mengerti duduk persoalannya, Rupanya
“orang” yang mereka sebut-sebut memang kaisar Sun Ti yang sudah mencukur rambut
menjadi hwesio dan kemudian dinyatakan telah mangkat oleh Hong thayhou. Kaisar
Sun Ti mengundurkan diri karena sedih sekali ditinggal mati oleh selir kesayangannya,
Sedangkan menurut Hay kongkong, kematian selir ini akibat diserang secara gelap oleh
seseorang berkepandaian tinggi.

Senang sekali hati Siau Po ikut mendengar pembicaraan mereka, Diam-diam dia
berkata dalam hati.
“Si kura-kura tua tadi mengatakan bahwa rahasia ini hanya diketahui oleh lima orang,
Dia tidak tahu jumlah sebenarnya adalah enam, berikut diriku”.
Baru saja berpikir demikian, tiba-tiba timbul rasa jeri dalam hati Siau Po. Sebab dia
baru saja mendengar sebuah rahasia besar, apabila si thay-kam tua sampai
mengetahui hal ini, tamatlah riwayatnya, dan kalau ibu suri yang mengetahuinya,
akibatnya sama saja.
Karena takutnya, gigi Siau Po sampai berbunyi gemeretuk, Untung saja baik Hay
kongkong maupun Hong thayhou sedang hanyut dalam pikiran masing-masing
sehingga tidak memperhatikannya. Apalagi suara batuk Hay kongkong memang sudah
cukup membisingkan.
Beberapa saat kemudian si thay-kam tua baru berkata lagi.
“Ketika Ceng-hui bunuh diri demi junjunganku, seluruh istana memujinya. Tetapi di
pihak lain, ada beberapa orang yang mengatakan bahwa kematian Ceng-hui karena
dipaksa seseorang, bukan atas kehendaknya sendiri.”
“ltu pasti fitnahan para menteri durhaka yang tidak menghormati kaisar ataupun para
atasannya, Cepat atau lambat, orang-orang seperti itu tidak boleh dibiarkan hidup”
“Tapi, apa yang mereka katakan memang benar, Ceng-hui mati bukan atas
kehendaknya sendiri” kata Hay kongkong.
“Apa kau ingin mengatakan bahwa kematian Ceng-hui karena dipaksa olehku?”
tanya thayhou dengan nada sinis.
“Kata-kata paksa, hamba tidak berani ucapkan,” sahut thay-kam itu.
“Lalu apa maksudmu?”
“Ceng-hui mati karena dibunuh, bukan dipaksa mati, Hambamu sudah
menanyakannya kepada pemeriksa jenasah, Ketika mayatnya dibersihkan kemudian
dimasukkan ke dalam peti, ternyata tulang-tulang di tubuh Ceng-hui telah berpatahan,
bahkan batok kepalanya juga remuk, itu merupakan hasil pukulan ilmu Hoa-hut Bian
ciang (Pukulan lembut meremukkan tulang) bukan?”
“Mana aku tahu?”
“Hamba pernah mendengar bahwa di dunia ini memang ada ilmu yang lihay itu.
Apabila seseorang dihantam oleh pukulan tersebut, dari luar memang tidak terlihat
perubahan apa-apa, tapi tidak demikian dengan tulang-tulang dalam tubuhnya. Menurut
selentingan, orang yang menjadi korban pukulan itu, dalam tiga atau empat tahun,

barulah tulang tulang dalam tubuhnya menjadi hancur. Mungkin orang yang mencelakai
Ceng-hui ilmunya belum sempurna, sehingga perubahannya lebih cepat, yakni sore itu
juga. Hal inilah yang ditemukan oleh pemeriksa jenasah, Dia terkejut setengah mati,
namun tidak berani mengutarakannya kepada siapa pun. Belakangan, setelah hamba
memaksanya dengan berbagai cara, baru dia terpaksa mengatakannya. Nah, thayhou,
bagaimana tanggapanmu sendiri, benarkah orang itu masih belum sempurna ilmu Hoahut
Bian ciong-nya?”
Terdengar ibu Suri menyahut dengan suara yang menyeramkan.
“Walaupun belum sempurna, tapi sudah membawa manfaat juga, bukan?”
“Bicara soal bermanfaat, memang benar, Karena setelah dipakai untuk membunuh
Ceng-hui, dapat pula digunakan atas diri Haukong Hong hou” sahut Hay kongkong.
“Ah, benar-benar edan Kenapa selir raja begitu banyak?” kata Siau Po dalam hati,
“Sekarang ada lagi seorang Hau-kong Hong hou, Mungkin permaisurinya lebih banyak
daripada nona-nona penghibur di Li Cun-wan.”
Dasar bocah nakal, Mungkin hanya dia seorang yang bisa membandingkan jumlah
selir raja dengan perempuan-perempuan penghibur di rumah pelesiran.
Sebenarnya kaisar Sun Ti mempunyai empat orang permaisuri yang mana
permaisuri pertama telah dipecat. Dia adalah keponakan ibunya sendiri.
Kaisar Sun Ti sangat mencintai Tang Gok-hui, ratu jadi cemburu karenanya dia
sering mencari keributan dengan suaminya, itulah sebabnya permaisuri pertama itu
dipecat.
Para menteri memprotes perbuatannya, Perkara ini memakan waktu sepuluh tahun,
namun akhirnya permaisuri dipecat juga. Kaisar Sun Ti ingin mengangkat Tang Gok-hui
sebagai permaisuri, namun sayangnya wanita itu bukan turunan bangsawan, sehingga
hal itu tidak memungkinkan.
Akhirnya seorang perempuan lain yang diangkat jadi permaisuri, dia adalah Hau hui
Hong Hou

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s