“ PANGERAN MENJANGAN” – “ LU DING JI “ 10

barang apa yang kau sukai, aku yakin kau tidak akan salah memilih,” kata So
Ngo-tu sambit tersenyum.
Siau Po ikut tertawa.
“Jangan sungkan, Kau juga pilih saja”
Baru mengucapkan dua patah kata, tiba-tiba Siau Po mengeluarkan seruan tertahan,
karena tangannya menggenggam sebuah bungkusan dari kain sutera berwarna putih,
Di atasnya tersulam lima huruf dengan indah, “Si Cap Ji Cinkeng.”
“Nah, itu dia” seru So Ngo-tu.
Kemudian dia mengambil lagi bungkusan lain yang terbuat dari sutera berwarna
kuning, “Bagus, Kui kongkong Kita berhasil mendapatkan kedua jilid kitab ini, Hong
thayhou pasti senang sekali dan kita bakal mendapat hadiah besar”
Sikap Siau Po tetap tenang, “Mari kita periksa dulu buku ini,” katanya sembari
membuka bungkusan yang pertama.”
“Kongkong, ada sesuatu yang ingin kukatakan, aku harap kongkong tidak menjadi
salah paham karenanya.”

Siau Po senang menghadapi sikap So Ngo-tu yang berpangkat tinggi namun selalu
mengucapkan kata-kata yang sopan kepadanya, Selama di Yang-ciu, setiap hari dia
dihina para tamu dan kebanyakan memanggilnya dengan sebutan yang tidak enak
didengar, umpamanya kura-kura kecil atau anak haram. Belum ada yang
memperlakukannya sebaik itu. Kadang-kadang dia merasa heran atas perubahan
menyolok yang dialaminya.
“Ada perintah apa, So tayjin? silahkan utarakan saja,” kata Siau Po.
“Memerintah? Mana aku berani?” sahut So Ngo-tu tersenyum, “Begitu, aku lebih tua
beberapa tahun darimu, dan tiba-tiba saja terlintas sebuah ingatan di benakku, Kui
kongkong, kitab-kitab ini merupakan permintaan Hong thayhou dan Go Pay punya
menyimpannya di tempat yang demikian rahasianya, pasti kitab ini penting sekali,
Namun di mana letak pentingnya? Aku juga ingin sekali melihat isinya, tapi aku khawatir
kalau isinya tidak disukai oleh Hong thayhou, sedangkan kita sudah mendahului beliau
membukanya, bukankah kita akan celaka karenanya?”
Siau Po terkejut setengah mati. Cepat-cepat dia letakkan kembali kitab itu.
“Kau benar, So tayjin, Terima kasih atas nasehatmu Kalau tidak, kemungkinan kita
berdua akan tertimpa bencana,” kata Siau Po.
“Jangan berkata demikian, kongkong, Kita dititahkan untuk bekerja sama, Di antara
kita tidak ada perbedaan derajat, Kalau aku tidak memandang kongkong sebagai orang
sendiri, mana mungkin aku berani bicara terus-terang, iya kan?”
“Tapi, tayjin, Kau adalah seorang menteri besar, sedangkan aku hanya seorang
budak hina. Mana boleh dianggap sebagai orang sendiri?” kata Siau Po.
So Ngo-tu mengibaskan tangannya.
“Kalian keluar duu” perintahnya kepada para bawahannya.
Para pengawal itu segera mengiakan sambil menjura, begitu orang-orang itu
mengundurkan diri, Hay So Ngo-tu segera menarik tangan Siau Po sambil berkata.
“Kongkong, jangan kau ucapkan kata-kata itu lagi, bahkan kalau kongkong tidak
keberatan, aku ingin mengikat tali persaudaraan denganmu.”
Siau Po tertegun.
“Kita mengangkat jadi saudara? Mana mungkin?”
“Sudah kukatakan, kongkong jangan mengucapkan kata-kata itu. Sama saja
kongkong tidak memandang sebelah mata kepadaku, Entah mengapa, mungkin karena
jodoh, begitu pertama kali melihat kongkong, aku langsung mempunyai perasaan akrab,
Senang sekali rasanya dapat bergaul denganmu, Nah, kalau kau memang tidak

keberatan, kita pergi ke ruang sembahyang untuk mengangkat sumpah di sana.
Dengan demikian kita mengangkat persaudaraan Asal Sri Baginda tidak tahu, tentu
tidak ada yang berani mengatakan apa-apa.”
So Ngo-tu menggenggam tangan Siau Po erat-erat, sikapnya serius sekali, Dia
memang seorang menteri yang berpandangan jauh dan pengamatannya tajam sekali.
Dia sadar bahwa bersahabat dengan si thay-kam cilik akan membawa manfaat besar
baginya, Bukankah thay-kam cilik ini sangat disayang oleh Sri Baginda dan juga ibu
suri?
Meskipun Siau Po juga seorang bocah yang cerdas, tapi dalam soal kelicikan dia
masih kalah jauh dengan So Ngo-tu, Karena itu pula dia mudah terbujuk mulut manis.
“Mari” kata So Ngo-tu sambil menarik tangan Siau Po.
Bangsa Boanciu memuja sang Budha, itulah sebabnya dalam setiap rumah para
pembesar, menteri maupu orang sipil terdapat ruang pemujaan. Demikian pula dengan
gedung kediaman Go Pay ini.
So Ngo-tu langsung mengambil hio yang mana kemudian disulutnya dan diajaknya
Siau Po menjatuhkan diri berlutut bersama-sama.
“Murid bernama So Ngo-tu, hari ini murid bersama….”
“Kui Siau-Po” kata Siau Po menyebut namanya, tapi dia menggunakan she Kui.
“Benar-benar edan Aku sampai lupa menanyakan nama lengkapmu” Seru So Ngotu
sambit menepuk kepalanya sendiri, “Siau Po…. Nama yang bagus, kau memang
mustika di antara manusia”
Siau Po artinya mustika kecil, Dan saat itu, ketika mendengar ucapan So Ngo-tu,
Siau Po justru berkata dalam hatinya.
“Hm, itu katamu, Di Yang-ciu, orang justru memanggilku si kura-kura kecil”
So Ngo-tu melanjutkan sumpahnya.
“Murid, So Ngo-tu. Hari ini, murid mengangkat saudara dengan Kui Siau Po, untuk
selanjutnya kami akan hidup bahagia dan sengsara bersama-sama, Siapa tidak jujur
atau tuus, biarlah dia diku-tuk, untuk selamanya tidak bisa maju dan akan mendapat
celaka di akhir nanti.”
Selesai bersumpah, dia menyembah tiga kali, kemudian berkata kepada Siau Po.
“Nah, sekarang giliranmu”

Bagian 07
Siau Po menurut, dia juga memasang hio dan menjatuhkan diri berlutut serta
menyembah Namun sebelum mengucapkan sumpahnya, diam-diam dia berkata dalam
hati.
“Aku lebih muda, tak sudi aku mati bersama-sama denganmu Lagipula namaku
bukan Kui Siau Po”
Setelah itu baru dia bersumpah “Murid Kui Siau Po, thay-kam dalam istana dan
sehari-harinya dipanggil Siau Kui cu, hari ini mengangkat saudara dengan So Ngo-tu
tayjin. Kami ingin hidup bahagia dan sengsara bersama-sama, Kami tidak terlahir dalam
hari, bulan dan tahun yang sama, tapi ingin mati bersama dalam hari, bulan serta tahun
yang sama, jikalau Siau Kui cu tidak jujur dan setia, biarlah Siau Kui cu terkutuk Tidak
akan berumur panjang dan selamanya tidak mendapat rejeki.”
Selesai bersumpah, dia menyembah lagi tiga kali, otaknya memang cerdik Dia terus
menyahut nama Siau Kui cu, dengan demikian yang bersumpah itu bukan dia, tapi Siau
Kui cu adanya.
Setelah itu, keduanya saling memberi hormat dengan berlutut dan menganggukkan
kepala sebanyak delapan kali.
“Saudara Kui, sekarang kita telah mengangkat saudara, kita harus bergaul lebih
daripada saudara kandung sendiri, Lain kali, bila kau memerlukan bantuan, silahkan
katakan saja terus-terang. jangan sungkan-sungkan.”
Siau Po tertawa.
“Hal itu tidak usah dibicarakan lagi, Sejak dilahirkan, aku memang tidak tahu apa arti
sungkan.”
Kembali So Ngo-tu tersenyum.
Tentang pengangkatan saudara ini, ada baiknya jangan diketahui pihak ketiga agar
tidak menimbulkan kesirikan orang lain, menurut peraturan kerajaan, kami dari menteri
pihak luar tidak boleh bergaul akrab dengan pembesar dalam istana, Karena itu,
sebaiknya urusan ini diketahui kita berdua saja.”
“Benar” sahut Siau Po menyetujui pendapat itu,
“Saudara Kui, di hadapan umum aku tetap memanggilmu Kui kongkong, dan kau
tetap menyebutku So tayjin, ini demi kebaikan kita masing-masing, Beberapa hari lagi,
aku akan mengundangmu ke rumahku untuk minum arak sambil menonton Dengan
demikian kita dua bersaudara dapat merasakan saat-saat menyenangkan bersamasama.”

Siau Po senang sekali, Dia tidak suka minum arak, tapi nonton wayang merupakan
kegemaran utamanya, Dia langsung bertepuk tangan sambil tertawa gembira.
“Bagus Aku memang suka nonton. Kapan?”
“Kalau kau memang suka nonton, aku bisa mengundangmu setiap waktu. sebaiknya
kau yang tentukan sendiri kapan waktu senggangmu.”
“Bagaimana kalau besok?”
“Baik Besok pun jadi. Siang-siang aku akan menunggumu di depan pintu,” sahut So
Ngo-tu.
“Tapi bagaimana dengan aku? Apakah seorang thay-kam dapat keluar masuk istana
dengan leluasa?”
“Mengapa tidak? Asal kau sudah selesai melayani Sri Baginda, tidak ada pekerjaan
lagi yang harus kau lakukan. Kau kan Sieceng thay-kam dan kau juga sangat disayang
oleh Sri Baginda, Siapa yang berani melarangmu?”
Siau Po tersenyum Dalam hati dia sudah mengambil keputusan untuk meninggalkan
istana dan tidak akan kembali lagi, Tetapi kalau dipikir-pikir lagi sekarang, dia tidak
berniat meninggalkan istana itu cepat-cepat karena rupanya dia dapat keluar masuk
dengan bebas.
“Baiklah, demikian saja kita tetapkan, Kita adalah saudara, senang sama-sama,
nonton pun harus sama-sama,” katanya kemudian.
So Ngo-tu segera menarik tangannya. “Nah, mari kita kembali ke kamar Go Pay”
Siau Po menurut. Di kamar Go Pay, So Ngo-tu mulai memeriksa daftar barangbarang
dan meneliti benda-benda lainnya yang dikeluarkan dari dalam gudang rahasia.
“Saudara, apa yang kau inginkan?” tanyanya kepada Siau Po.
“Aku tidak tahu barang apa yang paling berharga, Toako, kau saja yang pilihkan
buatku.”
“Baik” sahut So Ngo-tu yang segera mengambil dua rangkaian mutiara dan sebuah
kuda-kudaan dari batu kumala, “Kedua barang ini sangat berharga, kau menyukainya
bukan?”
“Aku sih suka saja,” kata Siau Po. Dia langsung menerima benda-benda yang
disodorkan itu kemudian dimasukkan ke dalam saku pakaiannya.

Setelah itu, Siau Po iseng-iseng menjamah barang-barang lainnya, tangannya
secara sembarangan mengambil sebilah pisau belati yang panjangnya kurang lebih
lima dim. sarungnya terbuat dari kulit ikan.
Beratnya tidak berbeda dengan belati lainnya, Tanpa disengaja dia mencabut belati
itu, tiba-tiba dia merasa ada serangkum hawa dingin yang menerpa.
Siau Po mengeluarkan seruan tertahan, Dia segera memperhatikan belati itu dengan
seksama, Anehnya, tubuh belati itu berwarna hitam pekat dan tidak mengkilap, malah
warnanya agak kusam.
Dia menduga belati itu tentunya sejenis senjata pusaka, sebab Go Pay
menyimpannya di gudang rahasia. Namun bentuknya tidak jauh dengan belati biasa,
dengan ayal-ayalan dia melemparkan pisau itu, tetapi dia dikejutkan suara yang keras.
Rupanya pisau itu menancap di ujung meja sampai sebatas gagangnya.
“Ah” So Ngo-tu juga mengeluarkan seruan terkejut.
Keduanya mengawasi dengan mata terbelalak, lebih-lebih Siau Po, karena dia tahu
bahwa dia melemparkan sembarangan tetapi ternyata sanggup menembus meja itu.
“Aneh Belati itu tajam sekali, sehingga meja itu seperti sepotong tahu saja”
Cepat-cepat Siau Po mengambil belati itu dan memperhatikannya dengan teliti.
“Pisau belati ini aneh sekali”
Pengalaman So Ngo-tu sudah banyak sekali, suatu ingatan melintas di benaknya.
“Mari kita coba lagi” katanya sambil mengambil sebatang golok Go Pay yang
tergantung di dinding kamar, Ketika dia menghunusnya, golok itu mengeluarkan cahaya
berkilauan yang menandakan tajamnya yang luar biasa.
Dia merentangkan golok itu kemudian berkata kepada Siau Po. “Saudara, coba kau
tebas golok ini dengan belati itu”
Siau Po menurut. Dia mengayunkan belati ditangannya untuk menebas gook.
Keduanya pun jadi tertegun seketika. Karena kenyataannya golok itu terkutung menjadi
dua bagian begitu saja oleh tebasan belati tersebut.
“Bagus” seru mereka serentak Golok itu terkutung seperti kayu yang dibelah, tidak
terdengar suara dentingan logam sebagaimana biasanya, Hal ini membuktikan bahwa
senjata belati itu memang benda mustika yang langka.
“Saudaraku, selamat” kata So Ngo-tu kepada Siau Po. Bibirnya ramai dengan
senyuman, “Beruntung sekali kau mendapatkan senjata pusaka itu, Menurut
pendapatku di antara semua benda-benda milik Go Pay, mungkin belati ini yang paling
berharga”

Tentu Siau Po senang sekali. “Toako, kalau kau menginginkannya, ambillah”
So Ngo-tu segera mengibaskan tangannya. “Tidak Kakakmu ini pembesar militer,
sekarang menjadi pembesar sipil, perang sudah selesai, kami tidak membutuhkan
senjata tajam lagi, sebaiknya yang simpan kau saja belati itu.”
Siau Po menganggukkan kepalanya, Dia segera menyelipkan pisau itu di
pinggangnya.
“Saudara, ukuran belati itu pendek sekali. sebaiknya kau selipkan dari kaos kakimu
saja. Lagi-pula menyelipkan di pinggang mudah terlihat, nanti timbul banyak
pertanyaan.”
Memang ada peraturan dalam istana kaisar Ceng, kalau bukan siwi tingkat satu,
siapa pun dilarang membawa senjata tajam.
Siau Po segera mengiakan dan menyelipkan belatinya dalam kaos kaki. Dia sudah
mendapatkan pisau pusaka itu, hal lain tidak menarik perhatiannya lagi, Dia terus
memikirkan pisau itu sementara yang lainnya bekerja.
Di keluarkannya lagi pisau belati itu dan dicobanya untuk menebas tombak yang ada
di sudut ruangan. Ternyata tombak itu juga terkutung jadi dua bagian, Setelah itu dia
seperti ketagihan, apa saja yang ditemuinya, dibabat seenaknya.
Terakhir dia malah menggurat gambar seekor kura-kura di atas meja. Setelah
selesai, jatuhlah bagian yang di guratnya ke atas lantai dengan bentuk seekor kurakura.
Sementara itu, So Ngo-tu yang asyik memeriksa barang-barang, melihat sepotong
pakaian yang tipis sekali, Dia merasa heran karena pakaian itu mengeluarkan cahaya
seperti perak.
Dia segera mengambil pakaian itu dan mengangkatnya, terasa ringan seperti kapas,
pakaian itu bukan terbuat dari bahan sutera, entah dari bahan apa, pokoknya halus
sekali, “Saudaraku, kemarilah” So Ngo-tu memanggil Siau Po.
Dia ingin mengambil hati adik angkatnya itu, Karena itu, barang bagus yang
ditemukannya, langsung dia serahkan kepada Siau Po agar hati bocah itu senang.
“Adik, coba kau pakai baju ini, rasanya pasti hangat sekali, buka dulu baju luarmu
dan pakai ini di bagian dalam.”
“Apakah itu juga baju pusaka? Apakah mengandung keajaiban?” tanya Siau Po.
“Entahlah, kau pakai saja,” sahut So Ngo-tu.
“Baju ini kebesaran….”

“Tidak apa-apa. Baju ini kan tipis dan lemas, longgar sedikit tidak menjadi masalah.”
Siau Po menerima baju itu. Memang ringan sekali. Dia teringat ketika di Yang-ciu,
ibunya juga membuatkan sehelai baju hangat untuknya, tetapi sebelum selesai, dia
sudah pergi.
“Ada baiknya aku pakai baju ini, Nanti kalau pulang ke Yang-ciu, aku akan
memperlihatkannya kepada ibu,” pikirnya dalam hati.
Siau Po langsung membuka baju luarnya dan mengenakan baju tipis itu. Baju itu
memang kebesaran tetapi empuk dan hangat.
Kemudian So Ngo-tu meminta daftar yang telah dicatat orang-orangnya. Dia
mendapatkan jumlah yang besar sekali, Untuk beberapa saat dia sampai terkesima
karenanya.
“Sungguh luar biasa kekayaan Go Pay ini, Harta bendanya melebihi dugaanku.” So
Ngo-tu memberi isyarat dengan gerakan tangan agar orang-orangnya mengundurkan
diri. Setelah itu baru dia berkata lagi kepada Siau Po.
“Saudara, ada pepatah bangsa Han yang mengatakan “merantau sejauh ribuan li
untuk memperkaya diri.” sekarang kebetulan kita mendapat tugas yang menyenangkan
Kita ambil saja sebagian harta ini, nanti akan kuubah daftarnya. Bagaimana menurut
pendapatmu?”
“Aku tidak mengerti hal semacam ini,” sahut Siau Po. “Urusan ini aku serahkan
kepada toako saja.”
So Ngo-tu tertawa.
“Jumlah kekayaan Go Pay seluruhnya ada 2.353.481 taiI. Bagaimana kalau kita main
sulap sedikit dengan merubah angka dua di depan menjadi satu? Setuju?”
Siau Po terperanjat.
“Maksud toako…?” Dia bingung, sebab jumlah yang hendak dikurangkan So Ngo-tu
mencapai satu juta tail, Kemudian jumlah itu akan dibagi rata dengannya.
So Ngo-tu tertawa lebar. “Saudara, apakah kau menganggap jumlah itu terlalu
sedikit?”
“Bu… bukan begitu,” sahut Siau Po gugup, “Hanya… saja aku masih kebingungan.”
“Begini, saudara, Dari jumlah itu kita ambil satu juta tail yang kemudian kita bagi dua.
Dengan demikian, satu orang mendapatkan lima ratus tail, Tapi kalau kau
menganggapnya masih kurang, kita bisa atur lagi.”

Wajah Siau Po menjadi pucat pasi seketika, Ketika di Yang-ciu, apabila dia
mendapatkan uang sebanyak lima atau enam tail saja, dia sudah merasa dirinya tibatiba
menjadi orang terkaya di dunia, Tapi sekarang dia justru ditawarkan harta senilai
lima ratus tail. Bayangkan Siau Po hampir tidak percaya pada pendengarannya sendiri.
Sebetulnya Siau Po masih terlalu muda untuk memahami tujuan So Ngo-tu yang
sebenarnya. Menteri itu ingin memenuhi kantongnya sendiri, tapi dia khawatir Siau Po
akan mengadukannya kepada Sri Baginda.
Karena itu, dia menawarkan “bocah itu untuk mengambil apa saja yang ia sukai dan
diberi bagian setengah dari jumlah harta yang akan disulapnya. Dengan demikian, Siau
Po tentu tidak berani berkata apa-apa kepada kaisar Kong Hi.
“Eh, saudara, ada apa denganmu? Kau tahu aku akan menuruti apa pun
kehendakmu,” kata So Ngo-tu heran.
Siau Po menghembuskan nafas lega.
“Toako, aku toh sudah mengatakan bahwa terserah kau saja, Kau ingin membagi aku
setengah dari jumlah itu, rasanya terlalu banyak….”
“Tidak, tidak terlalu banyak, Begini saja, kalau adik merasa jumlahnya terlalu banyak,
Bagaimana kalau kita kurangi sejumlah seratus ribu tail untuk dibagikan rata kepada
orang-orangku ini. Jadi kita masing-masing mendapat empat ratus lima puluh ribu tail.”
“lde bagus, Tapi sayangnya aku tidak tahu bagaimana cara membaginya,” sahut Siau
Po.
“Mudah, serahkan saja pada toakomu ini. Maka kubagi sama rata dan mengatakan
kau yang menghadiahkannya, Dengan demikian, mereka akan tunduk dan menurut apa
pun yang kau katakan. Dalam urusan apa pun, kau bisa mengandalkan mereka….”
“Baiklah kalau begitu.”
“Sekarang saudaraku, tentunya repot bagimu untuk membawa barang-barang ini
pulang ke kamarmu Ada baiknya sebagian kita jadikan uang kontan dulu, sehingga
jumlahnya tidak menyolok dan bisa kau bawa kemana-mana. Tentu tidak ada orang
yang menyangka bahwa kita ini sebenarnya kaya raya.”
Siau Po tersenyum, Dia merasa cara ini memang bagus sekali Namun dia masih
ragu dengan semuanya ini. Benarkah aku mempunyai harta sebanyak empat ratus lima
puluh ribu tail? Uang begitu banyak, bagaimana cara memakainya? Kalau hanya untuk
makan enak, tidak memerlukan uang sebanyak itu, Lebih baik aku kembali ke Yangciu
saja dan membuka sepuluh rumah pelesiran di sana, ibu tidak usah bekerja lagi. Dialah
yang akan mengelola tempat itu menjadi besar dan menjadi saingan utama Li Cu-wan.
Hm Aku ingin sekali melihat tampang-tampang orang yang menghinaku dulu. Nama-ku

tentu akan menjadi terkenal kemana-mana, Sungguh suatu kenyamanan yang tidak
terlukiskan dengan kata-kata.
So Ngo-tu melihat Siau Po berdiri terpaku, wajahnya termangu-mangu. Dia berusaha
menduga apa yang sedang dipikirkan bocah itu.
“Saudara, Sri Baginda dan Hong thayhou menunggu kitab ini. sebaiknya kita
antarkan secepatnya. Mengenai harta Go Pay, nanti akan ku urus.”
Siau Po tersentak dari lamunannya. Dia menganggukkan kepalanya, So Ngo-tu
segera membungkus rapi kedua jilid kitab Si Cap Ji Cing-keng. Dengan masing-masing
membawa satu jilid, mereka kembali ke istana,
Begitu bertemu dengan raja, keduanya segera memberikan laporan sekalian
menyerahkan kedua jilid kitab itu. Kaisar Kong Hi senang sekali, setelah itu dia
mengajak Siau Po menyertainya membawa kitab itu ke kamar ibu suri, So Ngo-tu tidak
masuk ke dalam. Dia mengundurkan diri dan mengemukakan alasan bahwa dia akan
membereskan harta benda Go Pay.
Ketika berjalan masuk, Raja menanyakan berapa jumlah harta Go Pay, Siau Po
menjawab satu juta lebih seperti yang dikatakan So Ngo-tu. Dia mengatakan demikian
untuk berjaga-jaga apabila di kemudian hari hal ini terbongkar oleh kaisar Kui Kong Hi,
Dia bisa menimpakan kesalahan kepada saudara angkatnya itu.
“Huh” Kong Hi mendengus dingin, “Telur busuk itu, begitu banyak dia memeras
rakyat, Coba bayangkan nasib rakyat jelata yang diperasnya”
“Kau tidak tahu hampir sebagian dari jumlah sebenarnya telah dimanipulasikan oleh
So Ngo-tu dan dibagi ramai-ramai” kata Siau Po dalam hati-nya. Dia juga
menertawakan kaisar yang ternyata begitu mudah dikelabui.
Sejenak kemudian mereka sudah sampai di kamar thayhou, Raja segera
menyerahkan kedua jilid kitab tersebut sambil menjelaskan bahwa Siau Kui cu dan So
Ngo-tu yang menemukannya di kediaman Go Pay.
“Siau Kui cu, pekerjaanmu bagus sekali” puji Hong thayhou, Dia langsung
menyambut kedua jilid kitab itu. wajahnya berseri-seri.
Siau Po menjatuhkan diri berlutut dan menyembah Dia mengatakan bahwa
semuanya berkat keberuntungan ibu suri sendiri.
Di samping ibu suri ada seorang dayang kecil, permaisuri berkata kepadanya.
“Lui Cu, ajaklah Siau Kui cu ke belakang, Dan berikan manisan buah untuknya.”
Dayang itu berusia sekitar tiga atau empat belas tahun, wajahnya manis dan
menawan, Dia tersenyum sambil berkata, “Baik”

Siau Po langsung mengucapkan terima kasih kepada Hong thayhou.
“Siau Kui cu,” kata Kong Hi. “Setelah menikmati manisan buah, kau boleh langsung
kembali ke kamarmu, Aku ingin berdiam di sini bersama thayhou, Kau tidak perlu
menunggu lagi.”
Siau Po mengiakan, kemudian mengikuti Lui Cu. Mereka menuju sebuah dapur kecil
yang letaknya di bagian dalam. Nona cilik itu membuka sebuah lemari di mana di
dalamnya terdapat berpuluh macam manisan buah. Ada juga beberapa macam kue.
Sambil tersenyum dia berkata kepada Siau Po.
“Kau bernama Siau Kui cu, karena itu kau harus makan dulu manisan Kui hoa siongci.
Dia mengeluarkan sebuah dus yang berisi manisan Kui-hoa campur Siong-ci.
Baunya harum sekali.
Siau Po tertawa.
“Cici yang baik, kau juga makanlah bersama.”
“Thayhou menghadiahkannya untukmu, bukan untukku, Kami yang menjadi pelayan,
mana boleh mencuri makanan?” katanya terus-terang.
“Kalau kita makan secara diam-diam, tidak ada orang yang mengetahuinya, bukan?”
Wajah si nona menjadi merah jengah, Dia menggelengkan kepalanya.
“Aku tidak bisa makan”
“Kalau tidak, begini saja, aku akan menunggu sampai kau selesai melayani thayhou,
manisan ini aku bungkus dan nanti kita makan bersama-sama,” kata Siau Po.
“Lebih baik kau makan sekarang saja. Atau kalau memang kau ingin
membungkusnya, boleh juga, Kau bisa nikmati di kamarmu, Tapi jangan kau tunggu
aku, sebab selesai melayani thayhou, waktunya pasti sudah tengah malam,” sahut Lui
Cu malu-malu.
“Memangnya kenapa kalau tengah malam. Malah bagus karena tidak ada yang tahu?
Bukan? Cici katakan, di mana kau akan menunggu aku?”
Melihat sikap Siau Kui cu yang demikian serius, Hati Lui Cu ikut tertarik. Di antara
beberapa dayang ibu suri, Usianya memang paling muda, wajahnya cantik dan manis,
sayangnya dia tidak begitu akrab dengan kawan-kawannya dan tidak pernah bisa
terbuka seperti terhadap Siau Kui cu sekarang. Sikap bocah ini menarik simpatinya, Dia
memperhatikannya lekat-lekat.
“Bagaimana kalau di taman luar?” tanya Siau Po.

Gadis cilik itu ragu-ragu sejenak, tetapi akhirnya mengangguk juga, Bukan kepalang
senangnya hati Siau Po.
“Bagus, kita sudah mengadakan perjanjian sekarang kau ambilkan manisannya, pilih
saja yang kau sukai,” kata Siau Po kembali.
Lui Cu tersenyum.
“Kan bukan aku yang makan, Kok, aku yang disuruh pilih? Kau suka makan manisan
apa?”
“Apa pun yang kau suka, aku pasti suka juga,” sahut Siau Po. Nada suaranya manis
sekali sehingga hati Lui Cu jadi berbunga-bunga.
Gadis cilik itu segera memilihkan beberapa macam manisan kemudian dusnya
diserahkan kepada Siau Po.
“Nanti kentungan ketiga, aku menunggumu diluar pendopo, jangan lupa” kata Siau
Po. Lui Cu menganggukkan kepalanya, “Kau harus berhati-hati” pesannya.
“Kau juga harus hati-hati” kata Siau Po yang segera meninggalkan tempat itu.
Kalau ditilik dari usianya, Siau Po belum mengenal kata asmara, Dia masih seorang
bocah cilik yang gemar bermain-main. Baginya, penyamaran sebagai Siau Kui cu
adalah sebuah permainan yang menyenangkan.
Apalagi sampai sekian jauh, tidak ada seorang pun yang mencurigainya, namun
kegembiraannya agaknya berkurang ketika mengetahui bahwa teman berkelahinya
Siau Hian cu adalah sang Raja.
Di samping itu, kedudukannya tiba-tiba saja meningkat banyak, tapi dia tidak merasa
puas, bukan itu tujuannya menyamar sebagai Siau Kui cu di istana ini, itulah sebabnya
dia merasa bersemangat kembali mendapat teman baru seperti Lui Cu.
Padahal dia sadar sedang bermain api, bila ketahuan, jiwanya bisa celaka, namun
dia tetap nekad melakukannya karena hal ini membangkitkan kegembiraannya.
Sesampainya di kamar, Hay kongkong menanyakan apa saja yang dilakukannya hari
ini.
Siau Po menceritakan bahwa dia dititahkan Sri Baginda untuk ikut dengan So Ngo-tu
menggeledah rumah Go Pay, tujuannya untuk menyita harta benda orang itu. Tentu
saja dia tidak menceritakan soal harta yang disulap, serta pisau belati dan baju tipis
yang diambilnya, Dia hanya mengatakan.

“Kongkong, thayhou menyuruh aku mengambil kitab Si Cap Ji Cin-keng. Ternyata di
rumah Go Pay, aku menemukan dua jilid kitab tersebut, persis dengan yang ada di
samping meja thayhou….”
Tampaknya Hay kongkong terkejut setengah mati mendengar keterangan Karena dia
sampai terlonjak bangun.
“Di dalam gedung Go Pay, ada dua jilid kitab yang sama?”
“Benar” sahut Siau Po menegaskan “Thayhou dan Sri Baginda yang menitahkan aku
mengambil kedua kitab itu, Kalau tidak, sudah kubawa kemari untuk kongkong.”
Wajah Hay kongkong berubah menjadi kelam.
“Hm Hm Bagus sekali” Nada suaranya agak menyeramkan.
Dapat dipastikan bahwa hati Hay kongkong tidak senang mendengar berita itu.
Ketika Siau Po menyuguhkan bubur untuknya, orang tua itu hanya makan sedikit.
Kedua matanya mendelik ke atas sehingga yang terlihat hanya bagian yang putih
saja, tampaknya dia sedang menguras otaknya memikirkan sesuatu.
Siau Po tidak memperdulikan thay-kam tua itu, selesai makan dia langsung beranjak
tidur, dia ingat janjinya pada kentungan ketiga tengah malam nanti, pikirannya terus
membayangkan wajah Lui Cu sehingga dia tidak dapat pulas.
Ketika bangun, dia berjinjit perlahan-lahan menuju pintu, Dia tidak ingin mengejutkan
thay-kam tua itu. Tapi, baru saja dia membuka daun pintu, Hay kongkong sudah
menegurnya.
“Siau Kui cu, hendak ke mana kau?”
“Aku ingin buang air kecil.” sahutnya.
“Kenapa tidak di dalam kamar saja?” tanya Hay kongkong dengan suara tajam.
“Aku tidak dapat tidur, aku ingin mencari udara segar di taman”
Siau Po khawatir dia akan dicegah oleh Hay kongkong, Tanpa membuang waktu lagi
dia segera melangkah keluar, tapi baru kakinya maju satu tindak, tahu-tahu kerah
lehernya telah tercekat kemudian dia ditenteng masuk oleh Hay kongkong.
Saking terkejutnya, Siau Po sampai menjerit, diam-diam dia berpikir dalam hati.
“Apakah dia tahu aku ada janji dengan dayang cilik itu dan dia hendak
mencegahnya?”

Belum selesai pikirannya melayang, tubuhnya sudah dibanting ke atas tempat tidur,
otak Siau Ku cu bekerja kilat, cepat dia berkata.
“Ah, kongkong,” katanya sembari tertawa, “kenapa kongkong masih suka bercanda?
Sudah beberapa hari kongkong tidak mengajarkan ilmu silat kepadaku, jurus apakah
yang kongkong mainkan barusan?”
“Hem” Hay kongkong mendengus dingin. “Ini jurus “Menangkap biawak” yang tidak
pernah gagal. Lihatlah, sekarang biawak tua akan meringkus biawak kecil”
“Huh Biawak tua meringkus biawak kecil?” dalam hati Siau Po jengkel sekali otaknya
segera bekerja, sepasang matanya mengedar, dia ingin meloloskan diri, karena ingat
janji dengan Lui Cu. Dia juga memikirkan manisan buahnya, Pasti dus-nya sudah
ringsek karena tertindih tubuhnya ketika dibanting Hay kongkong tadi.
Hay kongkong menghenyakkan pantatnya di atas tempat tidur.
“Kau memang berani, juga sangat berhati-hati. Apalagi kau juga cerdas, ilmu silatmu
masih belum cukup berarti, tapi kau mempunyai bakat besar. Sayang… Sayang….”
Siau Po tertawa,
“Kongkong, apanya yang disayangkan?” Dia bersikap seakan-akan hatinya sedang
gembira sekali.
Hay kongkong tidak langsung menjawab dia menarik nafas dalam-dalam, Sesaat
kemudian dia baru berkata lagi.
“Aksen suara Peking-mu sudah maju banyak, kalau delapan bulan yang lalu,
aksenmu sudah sebaik sekarang, tentu tidak mudah aku mengetahuinya….”
Siau Po terkejut setengah mati, tubuhnya menggigil, keringat dingin membasahi
seluruh wajahnya. Tapi dia memaksakan dirinya untuk tertawa.
“Kongkong, kau…”
“Anak, berapa tahun usiamu sekarang?” Siau Po dapat mendengar nada suaranya
yang tidak sekeras tadi lagi, hatinya menjadi lega. Rasa takutnya agak berkurang, Dia
berusaha untuk bersikap tenang.
“Tahun… ini usiaku empat… belas.”
“Mengapa jawabanmu ragu-ragu?”
“A… ku tidak tahu berapa usiaku yang sebenarnya. Ibu… juga tidak mengingatnya,”
sahut Siau Po.

Sebenarnya jawaban Siau Po itu bukan asal mengoceh saja. Dia memang tidak tahu
berapa usianya yang sebenarnya.
Hay kongkong menganggukkan kepalanya, ia juga terbatuk-batuk.
“Dulu ketika belajar ilmu silat, aku pernah tersesat. Maksudku, salah latihan. Akhirnya
timbullah penyakit batuk ini. Kemudian aku tahu penyakit ini tidak dapat disembuhkan
lagi….”
“Sebaliknya, kongkong, Aku rasa batukmu malah sudah membaik….”
Hay kongkong menggelengkan kepalanya.
“Membaik? Tidak Sedikit pun tidak Aku merasa dadaku semakin nyeri, hal ini
memang tidak pernah aku katakan padamu, karena itu kau pun tidak mengetahuinya….”
“Sekarang bagaimana? Apakah kongkong ingin aku mengambilkan obat?” tanya
Siau Po.
“Mataku fidak bisa melihat, aku tidak mau sembarangan minum obat”
Siau Po terdiam. Tidak berani dia bicara sembarangan Menurutnya, watak Hay
kongkong malam ini aneh sekali, dia merasa perasaannya tidak enak.
“Jodoh mu bagus sekali, Nak. Kau sudah menjadi sahabat Raja, Kelak di kemudian
hari, banyak hal yang dapat kau lakukan, Kau pun belum membersihkan tubuh,
sebetulnya aku dapat melakukannya, hanya saja… sekarang ini rasanya sudah
terlambat.”
Siau Po bingung, dia tidak mengerti apa yang dimaksudkan thay-kam tua itu. Dia
tidak tahu yang dimaksudkan dengan membersihkan tubuh adalah dikebiri, Dia hanya
merasa kata-kata orang tua itu aneh sekali.
“Kongkong, sekarang sudah larut malam, sebaiknya kongkong beristirahat saja,” kata
Siau Po.
“Tidur, ya tidur sebetulnya waktu tidur sudah terlalu banyak, Pagi tidur, siang tidur,
malam juga tidur. Kalau orang kebanyakan tidur, untuk selamanya dia tidak akan
terjaga lagi, Anak, kalau seseorang tertidur untuk selamanya, bukankah dia tidak akan
merasakan penderitaan lagi? Dia juga tidak akan mengalami sengsaranya batuk-batuk
seperti ini. Bukankah bagus sekali?”
Siau Po membungkam, dia tidak berani memberi komentar apa-apa. Hatinya
tercekat, dia merasa kata-kata Hay kongkong malam ini semakin lama semakin aneh.
“Anak” Terdengar Hay kongkong berkata kembali “Masih ada siapa di rumahmu?”

Sebetulnya pertanyaan itu sederhana sekali Sering diajukan oleh siapa pun juga,
tetapi masalahnya Siau Po menyamar sebagai Siau Kui cu. sedangkan dia tidak pernah
tahu riwayat hidup thay-kam cilik itu, Bagaimana kalau dia salah bicara? Namun, biar
bagaimana pun, dia tidak bisa mengabaikan pertanyaan itu.
“Di rumahku masih ada seorang ibu saja, tentang yang lainnya, entahlah, aku
merasa tidak bergairah membicarakannya.”
“0h… jadi hanya tinggal ibumu seorang, Kalian orang Hokkian, Biasanya bagaimana
kalian menyebut ibu?” tanya Hay kongkong.
Sekali lagi Siau Po terkesiap.
“Mengapa dia bisa mengatakan aku orang Hok-kian? Apakah karena Siau Kui cu
memang orang suku itu? Mungkinkah si kura-kura tua ini sudah mengetahui
samaranku? Kalau benar, apakah dia juga tahu bahwa akulah yang membutakan kedua
matanya?”
Pikiran Siau Po terus bekerja, sedangkan mulutnya menjawab dengan gugup.
“Aih Un… tuk apa kau menanyakan hal itu?”
Hay kongkong menarik nafas daIam-dalam.
“Usiamu masih begitu muda, tapi mengapa hatimu begitu jahat? sebenarnya kau
menuruni watak ibumu atau ayahmu?”
Rasa terkesiap dalam hati Siau Po jangan ditanyakan lagi. Tapi pada dasarnya dia
memang berani, Dalam keadaan seperti ini, dia masih bisa tertawa.
“Aku tidak mirip dengan siapa pun. Watakku tidak terlalu bagus, tetapi juga tidak
terlalu buruk.”
Hay kongkong kembali terbatuk-batuk.
“Kau tahu, sejak masih muda aku sudah dikebiri, karena itulah aku menjadi thaykam….”
Hampir saja Siau Po mengeluarkan seruan terkejut, sekarang dia baru mengerti apa
maksudnya membersihkan diri. Diam-diam dia berpikir dalam hati, “Aku belum dikebiri,
dan aku pun tidak mau. Pokoknya aku harus mencari akal untuk meloloskan diri dari
tempat ini”
“Sebenarnya aku mempunyai seorang anak Iaki-laki.” Thay-kam tua itu melanjutkan
kata-katanya. “Sayangnya, ketika berusia delapan tahun, dia meninggal. Kalau tidak,
mungkin cucuku saja sudah seusiamu sekarang, Eh, laki-laki she Mau itu, apakah dia
itu ayahmu ?”

Jantung Siau Po berdebar-debar. “Bukan Bukan” sahutnya cepat.
Tanpa terasa nada suara atau dialek Siau Po kembali sebagaimana dulunya, yakni
aksen orang Yangciu.
“Aku juga mempunyai dugaan demikian seandainya kau adalah anakku tidak nanti
aku tinggalkan kau dalam bahaya untuk melarikan diri sendiri. Biar bagaimana, aku
pasti berusaha menyelamatkanmu”
“Sayangnya aku tidak mempunyai ayah yang sebaik dirimu,” kata Siau Po dengan
suara yang manis sekali.
“Aku sudah mengajarkan dua macam ilmu kepadamu Yang pertama Tay Kim-na hoat
dan Taycu Taypi Cian-yap jiu Tentunya kedua ilmu itu sudah kau pahami dengan baik,
bukan?” kata Hay kongkong kembali.
“Ya, Tapi ada baiknya kongkong mengajarkan aku ilmu lainnya, Kepandaian
kongkong terhitung nomor satu di dunia, tentu baik sekali apabila ada yang
mewariskannya, Dengan demikian nama kongkong akan terangkat sehingga menjadi
terkenal,” kata Siau Po memuji.
Hay kongkong menggelengkan kepalanya.
“Nomor satu di dunia? Aku tidak berani menerimanya, Kau tahu, orang yang
berkepandaian tinggi di dunia ini banyak sekali, Bahkan tidak terhitung.,.” Hay kongkong
menghentikan kata-kata-nya sejenak, seakan sedang mempertimbangkan sesuatu,
Kemudian baru dia melanjutkan kata-katanya. “Coba kau tekan perutmu, kurang lebih
tiga dim dari pusar dan katakan apa yang kau rasakan?”
Siau Po tidak mengerti mengapa dia disuruh melakukan hal itu, tetapi dia menurut.
Tanpa dapat dipertahankan lagi, dia mengeluarkan seruan tertahan karena bagian yang
ditekan itu terasa nyeri, Nafasnya tersengal-sengal dan keringat dingin bercucuran.
“Bagaimana? Enak bukan?” suara Hay kongkong benar-benar tidak enak didengar.
Panas sekali hati Siau Pp disindir sedemikian rupa, Dia pun memaki dalam hatinya.
“Dasar kura-kura tua tidak tahu mampus Kura-kura tua busuk” mulut dia menyahut
dengan tenang. “Oh, memang enak sekali, hanya sedikit nyeri saja, kok”
“Setiap hari kau pergi berjudi dan berkelahi dengan Sri Baginda, sebelum kau
pulang, hidangan sudah diantarkan kemari, aku merasa supnya kurang lezat, setiap hari
dari dalam peti aku mengeluarkan sebotol obat yang lantas aku campurkan dalam sup
itu. Dosisnya sedikit sekali sebab kalau banyak-banyak, reaksinya pada tubuhmu bisa
membahayakan.

Aku sadar tidak boleh melakukan hal itu, kau seorang bocah yang sangat cerdik, kau
pasti akan curiga, dengan menaruh obat itu sedikit demi sedikit, kau tidak
menyadarinya, bukan?”
Siau Po semakin terperanjat jantungnya berdegup semakin kencang.
“A… ku… aku kira kau tidak suka makan sup….”
“Sebenarnya aku suka, tapi karena, di dalam sup ada racunnya biarpun hanya
sedikit, aku jadi tidak suka, Siapa yang memakannya, lama-lama akan menjadi
penyakit. Benar kan?”
Semakin kesal hati Siau Po. “Benar-benar sekali” Dia mengangkat jempol
tangannya. “kongkong, kau memang lihay sekali”
Thay kam tua itu menarik nafas panjang, “Bukan, bukan begitu, Untuk melatih ilmu
Tay-cu Taypi cian-yap Jiu, orang juga harus melatih pernafasannya, ini yang dinamakan
latihan tenaga dalam. Latihan itu dapat menahan racun dalam tubuhmu, Kalau kau tidak
melatih ilmu itu, mungkin sejak empat lima bulan yang lalu, kau sudah dilanda sakit
yang tidak tertahankan.
Sampai satu tahun kemudian, kau tidak dapat menahan nyeri itu lagi sehingga kau
akan membenturkan kepalamu ke dinding atau menggigit tanganmu sendiri”
Berkata sampai di sini, dia berhenti sejenak untuk mengatur pernafasannya yang
mulai memburu, “Yang harus disayangkan justru aku, penyakit ini membuat aku
semakin lama semakin tidak berdaya, itulah sebabnya aku tidak bisa menunggu lebih
lama lagi….”
Perasaan Siau Po menjadi agak lega mendengar kata-katanya. Di samping itu dia
juga memikirkan untuk mencari akal guna meloloskan diri dari cengkeraman thay-kam
tua yang licik ini.
“Biarlah, meskipun ilmunya tinggi sekali, tapi toh matanya sudah buta, Kalau aku
menyembunyikan diri, mana mungkin dia bisa mencari aku?” pikirnya dalam hati.
Tiba-tiba sebuah ingatan yang bagus melintas di benak Siau Po. “Baru saja aku
mendapatkan sebilah belati mustika yang tajamnya luar biasa, Kenapa aku tidak
mencobanya saja?”
Membawa pikiran ini, dia segera berkata, “kongkong, kiranya sejak semula kau
sudah tahu bahwa aku bukan Siau Kui cu yang asli, itukah sebabnya kau ingin
menyiksa aku dengan cara ini? Ha… ha… ha… ha… sayangnya kau juga telah kena
dikelabui olehku, Ha,., ha… ha… ha.,.” Siau Po tertawa terbahak-bahak.

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s