“ PANGERAN MENJANGAN” – “ LU DING JI “ 09

 

katanya kepada Siau Po.
“Baik” sahut Siau Po yang langsung keluar menjalankan titahnya.
Kembali raja tertawa lebar, Kemudian dia berkata lagi kepada Go Pay.

“Go siau-po, pernah kau menganjurkan kepadaku agar jangan banyak membaca
buku-buku bangsa Han. sekarang aku pikir nasehatmu memang tepat sekali, sekarang
kita pergi ke kamar tulisku saja dan bermain-main di sana. Dengan demikian tidak ada
orang yang mengetahuinya. Apabila hal ini sampai diketahui oleh Thay hou (ibu suri)
tentu aku akan dipaksanya membaca buku pula.”
Senang sekali hati Go Pay mendengar kata-kata sang Raja kecil ini.
“Betul, betul. Segala buku bacaan bangsa Han memang tidak ada manfaatnya”
Raja tertawa, sementara itu Siau Po sudah kembali Dia melaporkan.
“Semua siwi sudah mengundurkan diri. Mereka menghanturkan terima kasih buat
kebaikan Sri Baginda.”
“Bagus” seru kaisar Kong Hi sambil tersenyum “Nah, sekarang kita mulai bermainmain,
Para thay-kam cilik, kalian memencarkan diri dan menjadikan kelompok yang
terdiri dari dua orang.”
Kedua belas thay-kam itu segera mengiakan Kemudian mereka mengatur diri
masing-masing.
Go Pay tertawa menyaksikan gerak-gerik para thay-kam cilik itu. Terang dia tidak
memandang mata pada mereka. Dia yakin kepandaian mereka masih belum berarti
Tampak dia menggelengkan kepalanya berulang kali.
Raja diam-diam memperhatikan gerak-gerik Go Pay. Dia mengangkat cawannya
kemudian minum seteguk.
“Go siau-po, apakah kau menganggap kepandaian anak-anak ini biasa-biasa saja?”
“Mungkin lumayan juga,” sahut Go Pay tersenyum, agak sinis tampaknya.
Raja pun ikut tertawa.
“Jikalau dibandingkan dengan Go siau-po, mereka pasti tidak ada apa-apanya,”
katanya sambil menggeser tubuhnya sedikit dan menjatuhkan cawannya sambil
berseru, “Sekarang”
“Sri Baginda?” seru Go Pay terkejut Tapi hanya sepatah sempat dia bersuara, karena
di lain waktu dia sudah diterjang oleh kedua belas thay-kam cilik itu. Ada yang
menyerempet bahunya, ada yang mencekal kaki dan tangannya malah ada pula yang
menghajar dengan tinjunya.
Raja tertawa terbahak-bahak kemudian berkata dengan lantang. “Go siau-po, awas”

Go Pay terkejut, tapi dia masih belum sadar. Dia masih mengira Sri Baginda hanya
menyuruh para thay-kam itu mengujinya. Atau dia yang menguji para thay-kam itu.
Tenaganya kuat sekali, begitu dia mengerahkannya, empat orang thay-kam langsung
terpental mundur Dia tidak mengerahkan seluruh tenaganya karena khawatir ada yang
terluka, Dia menendang dan kembali dua orang thay-kam terpelanting jatuh.
Para thay-kam terus mengingat ucapan Raja, Kalau mereka kalah, mereka akan
dihukum penggal, tapi kalau menang akan mendapatkan hadiah besar Karena itu
mereka menjadi nekat, Yang jatuh segera merangkak bangun dan menerjang kembali
Apalagi yang memeluk pinggang serta mencekal betisnya, mereka benar-benar sudah
nekat.
Siau Po tahu tugasnya, ketika orang-orang itu sedang bergumul, diam-diam dia
menghampiri dari belakang, Tujuannya untuk menotok jalan darah I-Sia hiat, Kalau
orang biasa yang terkena totokan di jalan darah itu, pasti akan roboh seketika atau
setidaknya pingsan. Tetapi menteri yang satu ini memang luar biasa, dia hanya merasa
tubuhnya kesemutan dan diam-diam dia berpikir dalam hati.
“Siapa tokoh lihay yang paham ilmu menotok ini?”
Menteri itu langsung mengibaskan lengan kirinya sehingga tiga orang thay-kam
roboh terpelanting, Dia bermaksud membalikkan tubuh untuk melihat siapa orang yang
menyerangnya.
Tetapi tiba-tiba dia merasa dadanya nyeri karena Siau Po sudah menyerangnya
kembali sekarang dia terkejut sekali begitu mengetahui bahwa yang menyerangnya
bukan lain thay-kam cilik yang selalu menyertai kaisar, Dia juga merasa heran dan
aneh, walaupun demikian, dia masih tidak dapat mempercayai bahwa raja memang
sengaja menitahkan para thay-kam itu untuk membekuknya.
Dengan satu luncuran tangan kiri, Go Pay menyerang Siau Po. Maksudnya ingin
menekan bahu si bocah tetapi Siau Po berkelit ke kiri sembari membalas sebuah
serangan.
Bahkan Siau Po menggunakan kedua tangannya, tangan kirinya meninju sedangkan
tangan kanan mengirimkan totokan.
Siau Po menggunakan tipu jurus “Kiak Hou Kong Kong (Setelah sadar ternyata
kosong) Tangan kirinya tidak menyerang terus, hanya gertakan belaka. Go Pay berkelit,
tahu-tahu dia mendupak lawannya dengan mencelat ke atas.
Go Pay terkejut setengah mati. Namun tiba-tiba Siau Po menjerit keras-keras, karena
kakinya seperti membentur dinding yang kokoh,sekarang Go Pay bukan hanya terkejut
saja, dia juga gusar sekali Sudah berkali-kali orang menyerangnya di bagian yang
berbahaya, sedangkan para thay-kam mengerubutinya seperti semut merubung gula.

Dia juga tidak dapat menerka apa maksud Raja yang sebenarnya, Timbul niatnya
untuk menghalau kawanan thay-kam itu, tapi masih saja tangan dan kakinya dicekal
Dua terlepas yang lain segera menerjang lagi.
Raja menonton sambil bersorak-sorak dan menepuk tangan dengan keras.
“Go siau-po, aku khawatir kau akan kalah” katanya sambil tertawa terbahak-bahak.
Go Pay justru bermaksud menghajar kepala Siau Po ketika dia mendengar kata-kata
raja, Hilanglah kecurigaannya.
“Ah, kiranya raja sedang bercanda denganku, Dasar adatnya masih kekanakkanakan,
Mana boleh aku mempunyai pikiran yang sama” Maksudnya ia tidak boleh
melayani anak-anak itu dengan sungguh-sungguh.
Kembali menteri itu meluncurkan tangan kirinya. Kali ini Siau Po terhajar bahu
kanannya, Dia terhajar dengan tenaga sebanyak tiga bagian, tapi sudah terhitung hebat
sebab tubuh orang itu besar sekali Tubuhnya terhuyung-huyung seketika. Tapi dia
memang lihay, karena terhuyung ke samping, maka dari tempat itu kembali dia
melakukan penyerangan.
Bukan main kagetnya Go Pay, hatinya juga jadi mendongkol Dia membentak keras
kemudian meluncurkan kedua tangannya untuk mencekik batang leher Siau Po.
Dalam keadaan kritis, Kong Hi tidak dapat berdiam diri lagi. Kalau tidak usahanya
pasti mengalami kegagalan pisau belatinya sudah siap di tangan. Begitu terjun ke
arena, dia langsung mengincar punggung lawannya.
Go Pay terkejut setengah mati melihat keadaan ini. sekarang dia sadar bahwa raja
memang menghendaki nyawanya. Ditinggalkannya Siau Po dan berbalik untuk
menyerang kaisar Kong Hi.
Dengan gesit bocah yang menjadi raja itu dapat menghindarkan diri, Go Pay jadi
gusar Diangkatnya dua orang thay-kam terdekat, kepala keduanya diadu dengan keras
sehingga otaknya berceceran Kemudian dia menghajar seorang thay-kam lainnya
dengan tangan kiri dan menendang empat orang thay-kam lagi yang merangkul
betisnya.
Para thay-kam itu terpental ke belakang sehingga membentur tembok, Tulang
mereka berpatahan dan roboh di atas tanah tanpa berkutik lagi, mereka sudah mati
karena hajaran yang keras itu.
Delapan thay-kam dalam sekejap mata sudah dibuat tidak berdaya dan empat
lainnya sampai termangu-mangu, Kong Hi dan Siau Po terus menyerang dengan belati
di tangan masing-masing, Go Pay semakin gusar.

Dia membentak keras, kemudian menghajar dengan kalap, Beberapa kali hampir
saja serangannya mengenai tubuh kedua bocah yang mengeroyoknya, semakin lama
mereka semakin kewalahan.
Go Pay mendongkol sekali melihat serangannya gagal, dengan tendangan berantai
dia menyerang tubuh rajanya. Namun justru tepat pada saat itu, terlihat asap mengepul
dan debu beterbangan percuma saja Go Pay bermaksud mengibas dengan kedua
tangannya, sebab abu kayu cendana yang halus sudah masuk ke dalam matanya.
Rupanya Siau Po kembali menggunakan cara yang licik itu untuk menghadapi
lawannya.
Tanpa menunda waktu lagi, dia mengangkat hiolo tempat kayu cendana untuk
mengharumkan ruangan Diangkatnya hiolo itu ke atas kemudian dihajarnya ke kepala si
menteri laknat.
Hiolo jatuh di atas tanah dan pecah berantakan, tetapi Go Pay tidak apa-apa. Sesaat
kemudian tampak tubuhnya terhuyung-huyung kemudian jatuh terkulai di atas tanah.
Rupanya kepalanya hanya pusing dihajar terlalu keras oleh Siau Po dan lantas jatuh
semaput.
Cepat Siau Po dan kaisar Kong Hi mengambil tali untuk mengikat tubuh orang itu
kuat-kuat.
“Siau Kui cu, kau hebat sekali” puji kaisar.
Tidak lama kemudian Go Pay sudah sadar kembali Dia terkejut menyaksikan dirinya
telah terikat ketat.
“Aku adalah menteri setia Aku tidak berdosa Mengapa aku dicelakai sedemikian
rupa? Aku tidak puas”
“Jangan cerewet.” bentak Siau Po. “Kau justru brengsek dan bermaksud berkhianat.
Rupanya sudah lama kau merencanakan maksud jahatmu ini. Hayo kalau tidak,
mengapa kau masuk ke dalam Gi Si Pong dengan membawa senjata tajam? Kau
berdosa sekali sehingga patut mendapat hukuman mati selaksa kali”
“Aku tidak membawa golok ataupun senjata tajam apa-apa” bantah Go Pay.
“Sudah terang kau membawa senjata tajam” bentak Siau Po tidak kalah bengisnya.
“Lihatlah, di punggungmu ada sebatang pisau belati, Demikian pula di tanganmu. Masih
mau menyangkal?”
Padahal itulah pisau belati yang diserahkan Kong Hi kepadanya, Go Pay penasaran
sekali, Dia berteriak-teriak menyangkalnya.
Raja mengawasi sisa thay-kam yang masih hidup, jumlahnya hanya tinggal empat
orang.

“Kalian lihat sendiri, bukan? Go Pay sudah berani kurang ajar dan berniat jahat, Dia
mau membunuh aku”
Sisa para thay-kam itu memang sedang kebingungan apa sebenarnya yang telah
terjadi. Mereka juga tidak tahu apa yang harus dilakukan. Mendengar kata-kata raja,
mereka hanya bisa menganggukkan kepalanya berulang kali.
“Ya… ya….”
“Sekarang kalian keluar…” kata Raja kepada keempat thay-kam itu. “Lekas kalian
panggil orang Kong Cin-ong, Kiat Si dan Ngo Tu berdua datang kemari” Raja
mengawasi mereka dengan tajam.
“Apa yang terjadi di sini, aku larang kau bicarakan dengan siapa pun juga, Kalau
peristiwa ini sampai tersiar, hati-hati dengan batok kepala kalian”
Keempat thay-kam itu segera mengiakan Setelah memberi hormat, bergegas mereka
keluar dari kamar tulis raja.
“Penasaran Penasaran” teriak Go Pay seperti orang kalap, “Sri Baginda sendiri
ingin membinasakan aku, padahal aku adalah menteri yang setia, Kalau mendiang Sri
Baginda mengetahui hal ini, pasti arwah nya tidak akan tenang.”
Wajah Kong Hi menjadi merah padam, Dia memandang kepada Siau Po sambil
berbisik.
“Kita harus mencari jalan agar dia tidak mengoceh terus.”
“Ya” sahut Siu Kui cu palsu, Dia segera menghampiri Go Pay dan memencet
hidungnya, Dengan demikian mulut menteri itu jadi terbuka. Kemudian dia memberi
isyarat kepada Siau Hian cu. Tentu saja Raja yang cerdik itu mengerti Dia segera
mengambil pisau belati dari tangan Go Pay dan digunakan untuk memotong lidahnya,
Go Pay meronta-ronta kemudian terdiam karena saking sakitnya, dia pun lantas
semaput.
Siau Po menancapkan kedua bilah belati itu di atas meja, Kong Hi senang sekali
melihat tindakan sahabatnya itu. Kalau tidak ada bantuan Siau Po yang cerdik, tentu
tadi dia sudah mati di tangan Go Pay.
Tidak lama kemudian keempat thay-kam tadi sudah balik lagi dengan Kong Cin-ong,
Kiat Si dan So Ngo Ta. Mereka melihat mayat-mayat yang bergelimpangan dan
keadaan Go Pay yang mengenaskan, Keduanya sampai berdiri termangu-mangu
beberapa saat.
Raja segera menjelaskan kepada mereka berdua.

“Go Pay mempunyai niat memberontak. Dia datang kemari dengan membawa
senjata tajam, dengan berani dia mencoba menyerangku untuk membunuhku.
Syukurlah roh para leluhurku masih melindungi aku sehingga niatnya itu tidak tercapai
juga ada thay-kam cilik dari Siang Sian Tong ini bersama para thay-kam muda lainnya
sehingga penjahat besar ini dapat dibekuk, sekarang aku serahkan pada kalian untuk
mengurus hal selanjutnya.”
Kong Cin-ong dan So Ngo Ta memang biasanya tidak cocok dengan Go Pay.
Mereka merasa tidak puas dengan tindak-tanduk menteri itu, sekarang menghadapi
kenyataan ini, tentu saja mereka menjadi senang bukan main. Tanpa diperintahkan
untuk kedua kalinya, mereka langsung menjatuhkan diri berlutut memberi hormat
kepada raja.
Terdengar raja berkata pula.
“Tentang Go Pay yang menyelinap kemari untuk membunuhku, sebaiknya jangan
kalian beritahukan kepada siapa pun juga, dengan demikian Hong thay hou serta Thay
hong tidak akan terkejut dan ketakutan. Lagipula hal ini bisa menjadi bahan tertawaan
rakyat dan bangsa Han. Go Pay memang jahat, meskipun tidak ada kejadian ini, sudah
sejak dulu dia patut dihukum mati”
Kedua menteri itu mengangguk-anggukkan kepalanya ke atas lantai.
“Ya… ya…” sahut mereka serentak.
Meskipun demikian, dalam hati mereka sebetulnya timbul juga kecurigaan.
Kekuataan Go Pay luar biasa, lagipula dia juga tokoh nomor satu bangsa Boan Ciu,
Bagaimana dia dapat dikalahkan dengan mudah oleh beberapa orang bocah cilik?
Di balik semua ini pasti ada apa-apanya, pikir kedua menteri itu. Tetapi mereka tidak
berani meminta keterangan dari raja. Bahkan mereka sudah merasa senang karena
satu saingan sudah tergeser.
Terdengar Kiat Si berkata. “Perlu Baginda ketahui bahwa Go Pay mempunyai banyak
antek di dalam istana, kalau perlu kita harus sapu bersih seluruh antek-anteknya. Kita
harus mencegah apabila mereka berbalik pikiran, Hamba rasa sebaiknya Ngo tayjin
tetap di sini saja untuk melindungi Baginda, jangan sampai berpisah satu tombak pun
darinya. Hamba sendiri akan menurunkan titah untuk menawan seluruh antek Go Pay.”
“Baik” kata Raja menganggukkan kepalanya.
Kong Cin-ong memberi hormat kemudian mengundurkan diri. sementara itu So Ngo
Ta memperhatikan Siau Kui cu sambil tersenyum.
“Saudara cilik, hari ini kau berjasa telah menyelamatkan nyawa Sri Baginda, Kau
sungguh hebat”

Siau Po merendah. “Semua ini berkat rejekinya Sri Baginda yang besar, Kami yang
menjadi budak-budak, mana bisa berbuat jasa apa-apa”
Kong Hi senang mendengar Siau Po tidak mengharap apa-apa, terutama dia tidak
menceritakan perihal berkelahinya melawan Go Pay.
“Sayang sekali dia hanya seorang thay-kam sehingga tidak bisa dihadiahkan
kedudukan yang tinggi. Baiknya ku hadiahkan jumlah uang yang besar saja,” pikir Kong
Hi dalam hatinya.
Sementara itu, Kong Cin-ong bekerja dengan tangkas. Dalam sekejapan saja seluruh
antek Go Pay sudah dibekuknya, Dia kembali dengan membawa sejumlah menteri dan
pangeran yang semuanya meminta maaf atas keteledoran mereka dan juga
mengucapkan selamat kepada Sri Baginda yang terlepas dari marabahaya.
Akhirnya Raja dipersilahkan memilih pemimpin siwi yang baru dan sekaligus
beberapa siwi lainnya untuk menggantikan antek-antek Go Pay yang tertangkap.
“Kalian pasti sudah letih sekali,” kata Raja, sementara itu, para pangeran dan menteri
itu menjadi bergidik melihat mayat para thay-kam yang berserakan dalam keadaan
mengenaskan. Bahkan ada beberapa orang yang mencaci maki Go Pay karena
kekejamannya itu.
Setelah itu Heng Pou Siang Si segera membawa Go Pay untuk dipenjarakan,
sedangkan para pangeran dan menteri masih menghibur Raja dengan beberapa patah
kata sebelum mengundurkan diri ke tempat masing-masing.
Kong Cin-ong juga menyampaikan pesan Raja agar tidak menyiarkan maksud jahat
Go Pay supaya tidak membuat terkejut permaisuri atau ibu suri. Cukup disalahkan
karena kekurangajarannya dan tidak becus dalam pemerintahan saja.
Para pangeran itu memuji kebijaksanaan kaisar Kong Hi mengingat kejahatan Go
Pay itu besar sekali, padahal selama Kong Hi memerintah, meskipun belum terlalu
lama, tetapi juga bukan baru beberapa bulan, tampuk pemerintahan yang sebenarnya
diatur oleh Go Pay, jadi raja cilik itu hanya mendengarkan apa yang dikatakan
menterinya itu, sekarang melihat kebijaksanaannya, otomatis mereka merasa kagum
dan tidak henti-hentinya memuji.
Kaisar Kong Hi sendiri merasa puas atas apa yang dilakukannya, rasanya baru
sekarang dia dapat mencicipi bagaimana menjadi raja yang sesungguhnya. Diam-diam
dia melirik kepada Siau Kui cu. Didapatinya bocah itu hanya berdiri diam di pojok,
Kaisar Kong Hi berkata dalam hati: “Aih jasa bocah ini benar-benar sulit dibalas”
Begitu para pangeran dan menteri-menteri sudah keluar semua, So Ngo Ta berkata
kepada kaisar Kong Hi.

“Sri Baginda kamar tulis ini harus dibersihkan Keadaannya benar-benar tidak enak
dilihat Sebaiknya Sri Bagihda kembali dulu ke kamar sendiri untuk beristirahat”
Kong Hi mengangguk mengiakan Dia lantas mengundurkan diri. Kong Cin-ong dan
So Ngo Ta mengantarnya sampai di luar kamar Ketika raja hendak berlalu, Siau Kui cu
masih berdiri di sudut dengan termangu-mangu.
Karena tidak mendapat perintah apa-apa, dia menjadi bingung apa yang harus
dilakukannya. Raja segera mengangguk kepadanya dan berkata, “Mari ikut aku”
Siau Po sudah menduga bahwa kamar raja itu pasti luar biasa indahnya, dia memang
ingin sekali melihat kamar raja, tetapi begitu masuk ke dalam, dia jadi melongo. Sebab
kamar raja itu demikian sederhana sehingga hampir tidak berbeda dengan kamar rakyat
umumnya. Hanya bantal dan spreinya yang terbuat dari sutera bersulaman indah.
Kong Cin-ong dan So Ngo Ta tidak ikut masuk ke dalam kamar. Mereka hanya
mengantarkan dan kemudian mengundurkan diri. Sebab kamar raja tidak boleh
dimasuki orang lain kecuali para thay-kam, dayang-dayang, ratu serta selir-selir.
Sehabis minum ramuan Som Tung yang disajikan dayangnya, Kong Hi berkata
kepada Siau Kui cu palsu.
“Siau Kui cu, mari kau ikut aku menghadap Hong thayhou”
Kaisar Kong Hi belum menikah, kamarnya terpisah tidak jauh dari kamar Hong
thayhou, Begitu sampai di sana, Kong Hi langsung masuk ke dalam, Siau Po disuruh
nya menunggu di luar.
Berdiri menunggu di depan seorang diri, pikiran Siau Kui cu alias Siau Po melayanglayang.
“llmu Taycu Taypi Cian Yap-jiu telah aku kuasai demikian pula dengan ilmu Pat Kua
Yu-Ciong ciang milik raja, Untuk apa aku terus menyamar sebagai thay-kam di sini?
Setiap hari aku harus berlutut memberi hormat dan munduk-munduk kepada Siau Hian
cu. Hal ini membuat pikiranku jadi mumet, Go Pay telah berhasil dibekuk, Siau Hian cu
tidak memerlukan bantuanku lagi sebaiknya besok aku lari saja dari istana ini dan tidak
perlu kembali lagi pikirnya dalam hati.
Selagi pikirannya bekerja, seorang thay-kam tua berjalan keluar dan
menghampirinya.
“Saudara Kui, Hong thayhou menitahkan saudara masuk ke dalam untuk
menyampaikan hormat kepada beliau,” katanya sembari tersenyum.
Mendengar keterangannya, lagi-lagi hati Siau Po mengeluh.

“Celaka dua belas Kembali aku harus bertekuk lutut dan mengangguk-angguk
sehingga dahiku sakit karena membentur lantai terus menerus. Dan kau, Hong thayhou,
mengapa bukan kau saja yang menjatuhkan diri berlutut dan mengangguk terhadap aku
Wi Siau-po?”
Meskipun dia berpikir demikian, tetapi dengan sikap hormat dia mengiakan.
Kemudian dia mengiringi thay-kam itu masuk ke dalam kamar.
Mereka melewati dua buah ruangan, sampai di depan sebuah pintu, thay-kam tua
tadi menyingkapkan tirai penyekat sambil berkata.
“Lapor kepada thayhou, Siau Kui cu telah datang menghadapi Selesai berkata, dia
memberi isyarat kepada Siau Po.
Siau Po mengerti. Dia melangkah masuk, Di bagian dalam masih ada selapis tirai
lainnya yang bertaburkan batu manikam, sinarnya berkilauan. Sungguh indah, Tirai itu
disingkap oleh seorang dayang.
Sambil menunduk, Siau Po melangkahkan kakinya. Diam-diam dia melirik ke atas,
dilihatnya seorang wanita cantik berusia kurang lebih tiga puluh enam tahun duduk di
sebuah kursi. Dia langsung menduga bahwa wanita itulah Hong thayhou atau ibu suri.
Tanpa menunda waktu lagi, dia segera menjatuhkan diri berlutut dan memberi hormat.
Hong thayhou tersenyum sembari mengangguk kecil.
“Bangunlah” perintahnya, Ketika Siau Po bangkit, dia berkata kembali “Sri Baginda
mengatakan bahwa hari ini kau telah membuat jasa besar dengan membantu menawan
Go Pay….”
“Harap thayhou ketahui bahwa hamba hanya tahu bagaimana bersetia kepada Sri
Baginda dan melindunginya. Apa pun yang Sri Baginda titahkan, hamba hanya
menjalankan. Usia hamba masih muda, karena itu pengetahuan hamba pun dangkal
sekali”
Belum ada satu tahun Siau Po menjadi thay-kam gadungan dalam istana, tetapi
karena otaknya cerdas, dengan cepat ia dapat mengerti adat istiadat yang berlaku di
tempat itu.
Selama dia bermain judi, kawan-kawannya sering bercerita tentang pengalaman
mereka dan dia mendengarkan dengan seksama. Dia tahu bahwa raja maupun ibu suri
tidak suka pada orang yang mengagul-agulkan jasanya.
Semakin besar pahalanya, orang itu harus bersikap pura-pura bodoh agar tidak
timbul masalah yang tidak diinginkan jangan sekali-kali bersikap congkak dan angkuh,
pasti usianya tidak bakal panjang. Apalagi orang yang tidak disukai oleh junjungannya.

Ternyata ibu suri senang sekali dengan sikap Siau Po. Terdengar dia berkata
kembali.
“Kau masih muda, tetapi kau sudah tahu aturan dan setia, Kegagahanmu melebihi
Go Pay yang telah menjadi siau-po. Aih, anak Hadiah apakah yang pantas kita berikan
kepadanya?” tanya ibu suri kepada Sri Baginda.
Kong Hi menjawab dengan hormat. “Silahkan thayhou saja yang memutuskannya.”
Hong thayhou berpikir sejenak, terdengar dia seperti menggumam seorang diri.
“Di dalam Siang-sian tong, apakah tingkatanmu?” tanyanya kepada Siau Po. “Ah,
sudahlah, sekarang aku akan mengangkat kau menjadi thay-kam tingkat enam dan
kepala thay-kam, Kau harus selalu mendampingi Sri Baginda”
Mendengar kata-kata ibu suri, Siau Po ngedumel dalam hati.
“Masa bodoh kau mau mengangkat aku menjadi thay-kam tingkat satu sekalipun
Tidak nanti aku akan menerimanya” Meskipun hatinya berkata demikian, dia langsung
bertekuk lutut dan menganggukkan kepalanya seraya berkata.
“Terima kasih atas kebaikan thayhou” Dalam istana Ceng, tingkatan para thay-kam
dibagi dalam kelompok congkoan (pengurus) yang semuanya berjumlah empat belas
orang, Siuceng thay-kam seratus delapan puluh sembilan orang, jumlah thay-kam tidak
terbatas, Mula-mula jumlahnya hanya beberapa orang, sekarang mungkin sudah lebih
dari dua ribu orang.
Thay-kam tingkat empat menduduki jabatan tertinggi. Ada pula tingkat yang paling
rendah, yakni tingkat delapan, Siau Po dari thay-kam tanpa tingkat tiba-tiba dinaikkan
kedudukannya menjadi thay-kam tingkat enam. Kejadian ini bukanlah suatu hal yang
mudah, boleh dibilang sangat jarang terjadi.
Ibu suri mengangguk-anggukkan kepalanya, “Baik-baiklah kau menjalankan
tugasmu”
“Ya… ya” sahut Siau Po berulang-ulang, Dia pun lalu bangkit untuk mengundurkan
diri, namun pada saat itulah dia melihat di samping meja ibu suri ada sejilid kitab yang
diatasi kain kuning, Di atasnya tertulis “Si Cap Ji cing-keng Siau Po jadi tertegun, Diamdiam
dia berpikir dalam hati.
“Monyet Lohu mencarinya dalam Gi-Si pong sampai berbulan-bulan, tapi tidak
berhasil menemukannya, Tahu-tahu kitab itu ada di kamar ibu suri, Tentu saja sampai
botak pun aku tidak akan mendapatkan hasil apa-apa”
Hong thayhou tersenyum ketika mengetahui Siau Po sedang memperhatikan
kitabnya.

“Eh, Siau Kui cu, apakah kau bisa membaca?”
“Hamba belum pernah bersekolah,” sahut Siau Po cepat “Hamba hanya mengenal
beberapa huruf saja.”
“Kalau begitu, bila ada kesempatan, ada baiknya kau belajar menulis dan membaca
dari beberapa thay-kam tua.”
“Baik,” sahut Siau Po sambil mengundurkan diri.
Ketika seorang dayang menyingkapkan tirai, diam-diam Siau Po memperhatikan ibu
suri, Dia melihat wajah wanita itu agak pucat namun sepasang matanya sangat tajam
dan alisnya berkerut Tampaknya ada sesuatu yang menyusahkan hatinya.
“Dia kan ibu suri, apa yang membuat pikirannya susah?” tanyanya dalam hati.
Sesampainya di kamar, Siau Po menceritakan semua yang dialaminya kepada Hay
kongkong, Ternyata Hay kongkong menyambut ceritanya dengan tawar.
“Sebetulnya sejak beberapa waktu yang lalu, hal itu sudah akan dilakukannya.
Siau Po terkejut.
“Kongkong, apakah kau sudah tahu rencana Sri Baginda ini?”
“Sri Baginda belajar gulat, ini merupakan permainan yang paling digemari anak-anak,
tapi dia belajar dengan serius, Apalagi dia juga mempelajari Patkua Yu-ciong ciang,
tentu dia mengandung maksud tertentu, Dia juga menunggu sampai kau berhasil
mempelajari Cian-yap jiu, baru dia mengajakmu membekuk Go Pay. Sungguh harus
dikagumi kesabarannya itu.”
Siau Po memalingkan kepalanya dan menatap Hay kongkong dengan perasaan
heran.
“Kura-kura tua ini matanya sudah buta, tetapi urusan apa pun tidak dapat
mengelabuinya,” pikirnya dalam hati
Terdengar Hay kongkong bertanya kepada Siau Po.
“Bukankah Sri Baginda telah mengajakmu menemui Hong thayhou?”
“Benar” sahut Siau Po yang semakin heran, “Lagi-lagi dia tahu”
“Apa yang dihadiahkan Hong thayhou kepadamu?”
“Aku tidak diberikan hadiah apa-apa. Hanya dianugerahi pangkat sebagai thay-kam
tingkat enam dan Siuceng thay-kam…”

Hay kongkong tertawa terbahak-bahak. “Bagus Dibandingkan diriku, kau hanya
kalah satu tingkat. Aku memerlukan waktu tiga puluh tahun baru mencapai tingkat ini,
sedangkan kau hanya dalam waktu beberapa bulan saja.”
Siau Po memperhatikan orang tua itu lekat-lekat.
“Besok aku toh akan meninggalkan istana ini, Kau telah mengajarkan aku berbagai
iimu, tetapi aku malah membutakan kedua matamu, Dalam hal ini, akulah yang bersalah
seharusnya aku mencuri kitab Si Cap Ji cing-keng itu sebagai balas budimu tetapi
sayangnya buku itu sedang dibaca oleh ibu suri. Mana mungkin aku bisa mencurinya,
Ada baiknya aku beritahukan saja kepadamu agar kau mencari jalan sendiri”
Membawa pikiran demikian, dia segera berkata kepada Hay kongkong.
“Kongkong, ketika hendak meninggalkan kamar ibu suri, aku melihat suatu benda
yang menurutku cukup aneh.”
“Apa itu?” tanya si thay-kam tua cepat.
“Kitab Si Cap Ji cing-keng yang kau ingin aku mencurinya, kongkong.”
“Apa?” Hay kongkong terperanjat sikapnya yang tenang sebagaimana biasanya tidak
terlihat lagi. “Apa kata-katamu benar?” Tampangnya penuh semangat. Dia langsung
menghambur ke depan untuk menyambar tangan Siau Po.
Bocah itu terkejut setengah mati, Dia berniat menghindarkan diri, tapi baru kakinya
menggeser sedikit, tahu-tahu tangannya sudah tercekal.
“Buat apa aku berbohong?” sahutnya gugup, “Kitab itu berada di samping meja ibu
suri. Aku juga melihat kain pembungkus yang terbuat dari sutera berwarna kuning, Di
atasnya terdapat lima huruf dengan sulaman indah, Si Cap Ji cin-keng.”
Untuk beberapa saat Hay kongkong berdiam diri.
“Kongkong,” kata Siau Po kembali “Kalau kau hendak mencuri kitab itu dari kamar
ibu suri, tentunya sulit sekali. Kalau menurutku, sebaiknya kau berterus-terang saja
kepada Sri Baginda, apabila ibu suri telah selesai membacanya, kau ingin
meminjamnya sebentar, Atau kau minta saja terang-terangan.”
“Tidak, tidak bisa” sahut Hay kongkong cepat, “Jangan kau bicara yang tidak-tidak”
Untuk beberapa saat Hay kongkong berdiam diri. Sejenak kemudian baru dia berkata
lagi: “Tidak mungkin… tidak mungkin….”
Tidak sanggup dia meneruskan kata-katanya, Celakanya pada tangan Siau Po
dilepaskan. Dia duduk kembali, tiba-tiba dia batuk-batuk dengan keras sampai-sampai
tubuhnya meringkuk.

Melihat keadaan orang tua itu, timbul rasa iba dalam hati Siau Po.
“Tua bangka ini sungguh aneh,” katanya dalam hati.
Malam itu Hay kongkong terus terbatuk-batuk, bahkan dalam keadaan tertidur Siau
Po masih bisa mendengarnya.
Besok paginya Siau Po pergi ke Gi si pong untuk melayani Sri Baginda, Dia melihat
para siwi yang menjaga di luar sudah diganti dengan orang baru.
Tidak lama kemudian, muncullah Sri Baginda di dalam kamar tulisnya, Kemudian
menyusul Kongcin ong Kiat-si dan So Ngo-tu, Mereka berdua memberikan laporan
bahwa setelah bekerja sama dengan para pangeran dan menteri lainnya, didapatkan
kesalahan Go Pay berjumlah tiga puluh macam.
“Tiga puluh macam?” Kaisar Kong Hi sampai berseru saking terkejutnya, Hal ini
benar-benar di luar dugaannya, “Masa begitu banyak?”
Kongcin ong segera menjura dan berkata.
“Pada dasarnya dosa Go Pay memang banyak sekali, bukan hanya tiga puluh
macam saja, jumlah ini dikumpulkan berdasarkan pertimbangan dan kebijaksanaan Sri
Baginda agar dia mendapat keringanan.”
“Baiklah Apa saja ketiga puluh macam dosa itu?” tanya Kong Hi.
Kongcin ong mengeluarkan sehelai kertas dari dalam lengan pakaiannya dan
membacakannya keras-keras.
“Rupanya kejahatan orang itu demikian banyak Lantas hukuman apa yang pantas
diberikan kepadanya?” tanya Kong Hi kembali.
“Seharusnya dia dijatuhi hukuman picis, tetapi sekarang dia mendapat keringanan,
yakni hukuman dicopot pangkatnya serta penggal kepala, sedangkan seluruh antekanteknya
seperti Pi Lung, Panpu Erl Shan dan Ho shasia sekalian….”
Raja merenung sesaat, kemudian dia mengangkat tangannya menahan ucapan
menterinya.
“Dosanya Go Pay memang besar sekali tetapi dia adalah seorang menteri besar dan
telah banyak berjasa pada kerajaan sebaiknya dia dibebaskan dari hukuman mati.
Hukumannya dipecat serta dipenjarakan saja, tetapi untuk selama-lamanya dia tidak
boleh dibebaskan ataupun dikunjungi. Mengenai kaki tangannya boleh turuti
pertimbangan kalian tadi, yakni dihukum mati agar tidak ada lagi yang berani
mendengar hasutan orang lain untuk berkhianat.”

Kong cin ong segera berlutut dan menerima baik titah Sri Baginda, dia memuji
kebijaksanaan rajanya itu.
Diam-diam Siau Po yang menyaksikan dari samping menertawakan dalam hati “Luka
di punggung Go Pay yang terkena tikaman cukup parah, umurnya juga tidak bakal
panjang lagi. Dihukum mati atau tidak, apa bedanya ?”
“Bendera sulam kuning adalah salah satu dari tiga bendera utama, Karena itu
meskipun Go Pay berdosa dan patut menerima hukuman, tapi kesalahannya tidak boleh
mengaitkan bendera lainnya. Dalam urusan ini kita harus bertindak adil,” kata Kong Hi
selanjutnya.
“Baik” sahut Kiat Si dan yang lainnya.
Siau Po hanya mendengarkan dari samping. Dia belum paham persoalan mengenai
bangsa Boanciu yang terpecah di antara beberapa bendera, Dia hanya mendengar
bahwa Go Pay menjadi pemimpin oey-ki (bendera kuning) dan Suke Shasia menjadi
pemimpin pek-ki (bendera putih). Kedua pemimpin itu tidak akur satu dengan lainnya.
“Sekarang kalian boleh pergi Biar So Ngo-tu tetap di sini. Masih ada masalah yang
ingin kubicarakan dengannya,” kata kaisar Kong Hi.
Kiat Si dan yang lainnya mengiakan, dia mengajak rekan-rekannya memberi hormat
kepada Sri Baginda kemudian mengundurkan diri.
“Ketika Suke Shasia dibunuh oleh Go Pay, tentunya semua harta benda juga disita
bukan?” tanya Kong Hi kepada So Ngo-tu.
“Semua harta benda Suke Shasia berikut tanah dan sawahnya telah disita untuk
negara, tetapi saat itu Go Pay juga menggeledah seluruh isi rumah Suke Shasia dan
merampas emas intan dan permatanya.”
“ltu sudah kuduga,” kata kaisar Kong Hi. “Sekarang kau ajak beberapa orangmu ke
rumah Go Pay, cari harta bendanya Suke Shasia untuk dikembalikan pada anak
cucunya.”
“Baik, Sri Baginda” sahut So Ngu-tu. Dia segera mengundurkan diri karena raja tidak
mengatakan apa-apa lagi.
Tapi ketika menteri itu melangkah perlahan menuju pintu, terdengar Kong Hi berkata
kembali.
“Masih ada lagi pesan dari Hay Hong thayhou, Seperti kalian ketahui, ibu suri senang
membaca kitab Buddha, Konon di tangan kedua pemimpin pek-ki dan oey-ki masingmasing
menyimpan sejilid kitab Si Cap Ji cin-keng….”

Siau Po terkesiap mendengar kata-kata kaisar Kong Hi. Kitab itulah yang dicari Hay
kongkong, Dia segera memasang telinganya mendengarkan
Kaisar Kong Hi melanjutkan kata-katanya.
“Kedua kitab itu dibungkus dengan kain sutera, Kitab bendera putih dibungkus
dengan sutera putih. sedangkan kitab bendara kuning dibungkus dengan kain sutera
berwarna kuning, Di rumah Go Pay, sekalian kau cari kitab itu dan bawa kemari apabila
kau menemukannya.”
So Ngo-tu menerima baik titah itu. Dia tahu raja masih muda sekali, tetapi sangat
berbakti kepada Hong thayhou, Apa pun kehendak ibu suri selalu diturutinya.
“Siau Kui cu” kaisar Kong Hi menoleh kepada Siau Po. “Kau ikutlah dengan So Ngotu,
kalau kitab itu berhasil diketemukan, bawalah kemari.”
Siau Po senang sekali mendapat tugas itu. Hanya diam-diam dia berpikir dalam hati.
“Kitab itu aneh sekali, Jadi jumlahnya ada tiga? Biar bagaimana aku harus
memeriksanya nanti, lagipula sudah lama aku berdiam di dalam istana dan tidak pernah
pergi ke mana-mana. perasaanku memang sudah jenuh, walaupun aku sudah
mengambil keputusan untuk meninggalkan istana besok, tapi kalau ada kesempatan
niat ini boleh dipercepat Ada baiknya aku menggunakan peluang ini untuk pergi dari
sini”
So Ngo-tu berjalan di samping Siau Po. Dia sadar thay-kam cilik itu gagah perkasa
dan sangat disayangi Raja, Apalagi dia telah membuat jasa besar dengan membantu
membekuk Go Pay.
Dia menduga Kaisar tentunya mempunyai maksud tertentu karena untuk mengambil
kitab saja, toh tidak perlu diiringi si thay-kam cilik ini. Dia sendiri juga dapat
menyelesaikan tugasnya. Sebuah ingatan melintas dalam benaknya.
“Hm Aku mengerti sekarang, Pasti Sri Baginda ingin menghadiahkan sesuatu
kepada bocah ini. Go Pay mempunyai harta benda yang banyak dan inilah kesempatan
untuk memenuhi saku, tetapi Sri Baginda mencurigai aku sehingga mengutus thay-kam
ini untuk mengawasi aku….”
Dengan berpikir demikian, So Ngo-tu segera memaklumi apa yang harus
dilakukannya, Mereka berdua pun keluar dari istana, Di luar telah menunggu beberapa
orang pengawal.
Sesampainya di luar, So Ngo-tu berkata kepada Siau Po sambil tersenyum.
“Kui kongkong, silahkan naik kuda” Di dalam hatinya, dia menduga thay-kam cilik ini
pasti tidak bisa menunggang kuda, karena itu dia berjaga-jaga di sampingnya. Tetapi

kenyataannya, meskipun belum mahir, Siau Po pernah belajar silat, kuda-kudanya
sudah cukup mantap, dia dapat naik ke punggung kuda dengan baik.
Tidak lama kemudian mereka sudah sampai di rumah Go Pay. Tanpa menunggu
waktu lagi, mereka langsung masuk ke dalam, So Ngo Ta tertawa dan berkata kepada
Siau Po.
“Kui kongkong, lihat barang-barang ini. Mana yang kau suka, silahkan ambil saja, Sri
Baginda menttahkannya kongkong ikut denganku mengambil kitab, sebenarnya beliau
mempunyai maksud tertentu, yakni ingin memberikan hadiah untukmu. Apa juga yang
kongkong ambil di sini, Sri Baginda pasti tidak perduli.”
Bukan main ramahnya sikap So Ngo-tu terhadap si bocah cilik, Dia selalu
memanggilnya dengan sebutan kongkong.
Sementara itu, Siau Po masih terkesima melihat barang-barang yang ditunjukkan
kepadanya, semuanya terdiri dari harta benda yang tidak terkirakan nilainya, Ada batu
permata yang indah, emas, berlian dan lain-lainnya.
Dia juga melihat bahwa semua perabotan yang ada di dalam rumah Go Pay lebih
indah dari Li Cun-wan, rumah pelesiran di Yang-ciu.
Dia menjadi bingung, barang apa yang harus diambilnya? Namun Siau Po juga
teringat bahwa dia sudah mengambil keputusan untuk meninggalkan istana besok,
tentu tidak leluasa baginya membawa barang banyak-banyak dalam perjalanan.
Ketika So Ngo-tu mencatat barang-barang yang ada di dalam rumah itu, Siau Po
mengambil salah satu di antaranya, Batu permata itu sudah dicatat oleh bawahan So
Ngo-tu. Begitu melihat si bocah mengambil salah satunya, orang itu segera menghapus
tulisannya untuk dikurangi jumlahnya, tetapi Siau Po meletakkannya kembali dan orang
itu pun terpaksa menulis sekali lagi.
Berdua mereka memeriksa gudang itu, seorang bawahan So Ngo-tu menghampiri
atasannya dan memberikan laporan.
“Harap tayjin berdua ketahui, di dalam kamar Go Pay ada sebuah gudang
penyimpanan barang-barang, Hamba tidak berani lancang, karena itu harap tayjin
berdua memeriksanya sendiri.”
So Ngo-tu senang menerima laporan itu.
“Bagus Sebuah gudang? Tentu digunakannya untuk menyimpan barang-barang
berharga, Bagaimana dengan kedua kitab yang dikatakan Sri Baginda, Apakah kalian
sudah berhasil menemukannya?”

“Dalam berpuIuh-puluh kamar yang ada di gedung ini, kedua jilid kitab itu tidak
diketemukan. Yang ada hanya buku-buku perhitungan saja. Tapi kami masih mencari
terus,” sahut bawahannya.
Dengan menuntun tangan Siau Po, So Ngo-tu mengajaknya ke kamar tidur Go Pay.
Di kamar yang sebelumnya terdapat banyak uang serta batu permata dan harta lainnya,
namun di kamar tidurnya sendiri, perabotannya cukup sederhana, Lantainya ditutupi
dengan lempengan besi yang ditutup dengan kulit harimau, sedangkan di tembok
tergantung busur yang lengkap dengan anak panahnya, Ada juga golok dan pedang,
Hal ini membuktikan bahwa penghuninya seorang yang gemar berburu.
Karena kulit harimau dan lempengan besi penutup lantai telah dibuka, maka
terlihatlah sebuah celah yang cukup Iebar, Dua orang pengawal berdiri di kedua sisi
celah itu.
“Bawa keluar semua barang yang ada di dalamnya” perintah So Ngo-tu kepada
pengawal itu.
Keduanya segera mengiakan dan masuk ke dalam celah tersebut Mereka tidak lama
di dalam celah itu, barang-barang pun mulai disodorkan dari bawah yang mana
kemudian disambut oleh pengawal lainnya di atas. mereka menyusunnya di atas kulit
harimau,
“Semua barang berharga Go Pay pasti disimpan dalam lubang ini. Kui kongkong, kau
pilih saja

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s