“ PANGERAN MENJANGAN” – “ LU DING JI “ 07

cepat-cepat dia berlari kemudian bersembunyi di
balik rak buku.
Sekejap kemudian orang itu sudah masuk ke dalam kamar, dia tidak langsung duduk,
tetapi berjalan hilir mudik, seolah sedang gelisah menunggu sesuatu.
Gawat Tentu ada siwi yang lagi meronda” pikir Siau Po dalam hatinya, “Apakah tadi
ada orang yang melihat aku tusuk ke ruangan ini?” Keringat dingin langsung
membasahi kening Siau Po. Dia sadar, kalau sampai kepergok, tamatlah riwayatnya.

Selagi orang itu berjalan mondar mandir di dalam ruaagan, tiba-tiba di luar ada
seseorang yang berkata.
“Sri Baginda yang mulia, Gak siau-po datang karena ada urusan yang penting sekali.
Sekarang Gak siau-po sedang menunggu di depan pintu”
“Oh” Terdengar seruan terkejut Sri Baginda.
Siau Po terkejut sekaligus senang. Dia ingat siapa Gak siau-po, Diam-diam dia
berpikir dalam hati.
“Jelas orang di dalam ruangan ini Raja dan yang di luar Gak siau-po. Dan Gak siaupo
itu orang lihay nomor satu bangsa Boanciu yang hendak dicari oleh Mau toako,
Entah bagaimana tampangnya, aku harus melihatnya”
Siau Po langsung mengintai dari tempat persembunyiannya. sementara itu, Sri
Baginda sudah memberi ijin kepada Gak Siau-po untuk masuk ke dalam, Langsung
terdengar suara langkah kaki yang masuk ke dalam. Orang itu lantas memberi hormat
sambil berlutut
“Go Pay menghadap Sri Baginda”
Siau Po mengintip, Dia melihat seseorang bertubuh tinggi besar, Tidak berani dia
memperhatikan lama-lama karena khawatir orang itu akan mengangkat wajahnya dan
melihatnya.
“Kau menganggukkan kepala kepada Raja, sama saja kau memberi hormat
kepadaku Begini rupanya tampang tokoh nomor satu bangsa Boan ciu, apanya yang
hebat” makinya dalam hati.
“Cukup” sementara itu terdengar suara sahutan Sri Baginda.
Go Pay langsung bangun dan berkata. “Harap Sri Baginda ketahui bahwa Suke
Shasia bermaksud mengkhianati, sarannya sungguh kurang ajar, Bagaimana pun dia
harus mendapat hukuman yang berat”
“Begitu?” sahut Raja datar.
“Ya, Sri Baginda, Dia juga mengusulkan agar hamba ditugaskan menjaga makam
kerajaan”
“Oh, begitu,” sahut Raja singkat, kembali tanpa emosi.
“Oleh karena itu hamba sudah merundingkannya bersama para raja muda, para
pangeran dan menteri-menteri besar yang mana akhirnya ditarik kesimpulan bahwa
Suke Shasia mempunyai dua puluh empat dosa besar, termasuk berhati licik serta
berniat mengkhianati dan menghina Sri Baginda. Dia harus dihukum picis bersama

putra bungsunya, Suke Tan, yang menjabat sebagai menteri besar urusan negara, Dan
keenam orang anak angkatnya, seorang cucu, dua orang anak saudaranya harus
dihukum mati, sedangkan sanaknya Tongnia Pai-erl Hetu dan siwi Ngo Tu juga harus
dihukum mati” kata Go Pay kembali.
“Apakah hukuman demikian tidak terlalu berat?” tanya Raja.
Siau Po heran mendengar suara raja itu. Diam-diam dia berkata dalam hati: “Suara
Raja seperti suara anak kecil dan mirip dengan suara Siau Hian cu, aneh sekali?”
Terdengar Go Pay berkata kembali “Sri Baginda masih terlalu muda, mungkin Sri
Baginda masih kurang jelas mengenai urusan pemerintahan, Suke Shasia telah
mendapat pesan terakhir dari almarhun Sri Baginda sebelumnya bahwa dia beserta
hambamu yang lainnya harus membantu dalam urusan negara, seharusnya dia merasa
gembira mendengar Sri Baginda sendiri yang akan memegang tampuk pimpinan. Tetapi
dia malah memberikan saran yang menghina, hatinya jahat. Karena itu hamba mohon
Sri Baginda menerima saran hamba ini agar dia segera ditawan dan dijatuhi hukuman
berat, Sri Baginda baru mulai memerintah sudah sepatutnya Sri Baginda menunjukkan
kewibawaan agar semua menteri merasa segan jikalau Suke Shasia diampuni atas
kesalahannya ini, kelak di kemudian hari sulit bagi Sri Baginda untuk mengendalikan
pemerintahan di negara ini, apalagi yang berani meniru perbuatan Suke Shasia itu”
Kesal hati Siau Po mendengar suara Go Pay yang angkuh itu.
“Kura-kura tua ini sangat tidak tahu diri. Dia berani menghina Raja yang menurutnya
masih muda sekali. Tetapi apakah benar Raja ini masih kecil? Tidak heran, suaranya
mirip Siau Hian cu. Menarik sekali,” pikirnya.
Kemudian dia mendengar suara Raja, “Mungkin perbuatan Suke Shasia memang
kurang tepat, tetapi dia adalah seorang menteri besar yang ditugaskan membantu
kerajaan. Sama seperti kau dan menteri-menteri lainnya yang dihargai oleh mendiang
Sri Baginda, Kalau baru mulai memerintah saja aku sudah menghukum mati seorang
menteri besar, mungkin arwah mendiang Sri Baginda di dunia lain akan menjadi tidak
senang.”
Go Pay tertawa.
“Sri Baginda, ucapan Sri Baginda seperti kata-kata seorang anak kecil saja,
mendiang Sri Baginda menugaskan Suke Shasia membantu pemerintahan itu artinya,
dia harus baik-baik memberikan bantuan kepada Sri Baginda, tetapi dia justru
sebaliknya, Dia berhati serong juga menghina Sri Baginda Hal ini membuktikan bahwa
dia tidak menghormati mendiang Sri Baginda, juga Sri Baginda sendiri ” Habis berkata,
menteri itu tertawa lebar.
“Go siau-po, apakah yang lucu sehingga kau tertawa?” tanya Raja, Tawa Go siau-po
seperti dibuat-buat, sikapnya benar-benar tidak sopan Lagipula memang tidak ada yang
lucu.

Go Pay tertegun, dia baru sadar bahwa sikapnya kurang pantas,
“Ya… ya…” katanya bingung, perasaannya mendadak jadi tidak enak.
“Lagi pula, kalau dia sampai dihukum mati, hilanglah kharisma serta kebijaksanaan
Raja yang terdahulu. Apa kata rakyat nanti apabila aku keliru menghukum seorang
menteri besar? Dia dianggap banyak dosanya, tetapi mengapa mendiang Sri Baginda
mau menggunakan jasanya seperti halnya engkau yang bahkan bertugas
bersamanya?”
“Sri Baginda hanya ketahui satu hal, tapi tidak tahu yang lainnya, Kalau rakyat
mempunyai pemikiran tersendiri biarkan saja. Hamba yakin tidak ada yang berani
sembarangan berbicara, Sebenarnya, memang siapa yang berani mencela mendiang
Sri Baginda? Orang yang berani berbuat demikian, memangnya punya batok kepala
berapa buah?”
“Akan tetapi, kita harus ingat apa yang dicatat dalam kitab tua. yakni menjaga mulut
rakyat seperti menjaga sungai yang mengalir Kalau kita sembarangan menghukum mati
saja, sedangkan rakyat dilarang bicara, aku rasa bukanlah hal yang bijaksana.”
Diam-diam Siau Po merasa kagum terhadap raja ini. “Memang benar apa yang
dikatakannya.” katanya dalam hati.
“Itulah tulisan dari kitab tua zaman Beng yang paling tidak bisa dipercayai kata Go
Pay kembali “Kalau orang Han itu benar, kenapa kerajaannya bisa jatuh ke tangan, kita
bangsa Boanciu, Hamba ingin menasehati Sri Baginda agar mengurangi bacaan tidak
bermanfaat yang bahkan bisa membuat otak kita menjadi butek itu.”
“Hm” Raja hanya berdehem.
“Begitu juga ketika hamba mengikuti mendiang Sri Baginda Thay Cong dan
mendiang Sri Baginda menyerang ke timur serta barat, Ketika dari Kwan gwa
menerjang masuk ke Kwan-lai, berapa banyak jasa besar yang telah hamba bangun,
semuanya menggunakan cara kita bangsa Boanciu,” kata Go Pay kembali.
“Ya, jasa Siau-Po memang besar sekali, kalau tidak, mana mungkin mendiang Sri
Baginda bisa menghargaimu”
“Hambamu hanya tahu bagaimana harus setia mengikuti Sri Baginda menjalankan
pemerintahan, Hamba sudah mengabdi dari zaman Thay Cong sampai Si Cou malah
sampai Sri Baginda sekarang Kita bangsa Boanciu, kita biasa melakukan apa pun
seadanya, Setiap perbuatan ada pahalanya dan ada hukumannya, tergantung dari apa
yang kita lakukan. Suke Shasia tidak setia, karena itu dia harus mendapat hukuman
berat”
“Sungguh jahat, Dari suaramu saja, aku tahu bahwa kaulah sendiri yang
pengkhianat” maki Siau Po dalam hatinya.

“Sejak tadi kau berkeras agar Suke Shasia mendapat hukuman berat, sebetulnya
apa alasan utamanya ?” tanya Raja.
“Alasannya? Mungkin Sri Baginda menganggap aku mempunyai persoalan pribadi
dengannya” suara menteri itu semakin keras. Setelah itu dia malah berkata lagi:
“Hamba bekerja untuk bangsa Boanciu, usaha yang telah dibangun oleh Thay cou dan
Thay cong tidak dapat disia-siakan oleh anak cucunya. Sungguh hamba tidak mengerti
apa maksud pertanyaan Sri Baginda tadi?”
Siau Po terkejut setengah mati mendengar suaranya yang begitu sinis dan tajam Dia
mengintai lagi, Kali ini dia dapat melihat dengan tegas. Ternyata bukan hanya tubuhnya
saja yang besar, Go Pay juga memiliki kulit wajah yang kasar.
Alisnya menjungkit ke atas, tebal tapi mengesankan kebengisan Dia berbicara
dengan sepasang tangannya dikepal-kepalkan, bahkan dapat terdengar suara
peletekan tulang belulangnya.
Tepat pada saat itu seorang bocah tanggung melompat turun dari kursi yang
bersulaman indah itu, Ketika Siau Po menegaskan pandangan matanya, hatinya
terkesiap, Mulutnya melongo dan tanpa sadar dia mengeluarkan seruan tertanam.
Sebab sekarang dia dapat melihat tegas bahwa orang itu memang Siau Hian cu yang
mengajaknya berkelahi setiap hari.
Setelah pulih kesadarannya, Siau Po bermaksud melarikan diri dari tempat itu. Tetapi
sebuah ingatan melintas di benaknya.
“Siau Hian cu lebih hebat daripada aku. Apalagi saat ini ada Go Pay, si tokoh nomor
satu dari bangsa Boanciu….”
Berpikir demikian, tiba-tiba Siau Po tahu apa yang harus dilakukannya, Dia
mengurungkan niatnya untuk menyingkir atau bersembunyi kembali, dengan nekat dia
malah melompat turun, kemudian menghambur ke depan Siau Hian cu dan
menghadang Go Pay.
“Go Pay” Dia langsung menegur Raja Muda itu. “Apa yang kau inginkan? Beraniberaninya
kau bersikap kurang ajar terhadap Sri Baginda jikalau kau benar berniat
memukul atau membunuh beliau, kau harus langkahi dulu aku sebagai penghalang
pertama”
Go Pay terkejut dan heran. Dia adalah seorang menteri besar, Dia juga panglima
perang yang gagah. Terhadap kaisar Kong Hi (Siau Hian cu) yang masih muda, dia
berani bicara keras, Tidak ada orang lain yang ia takutkan. Dia benci sekali kepada
Suke Sashia, karena itu ia memfitnahnya sampai-sampai dia bersikap keras terhadap
junjungannya itu.

Tidak terduga sama sekali olehnya bahwa tiba-tiba akan muncul seorang thay-kam
cilik yang tidak dikenalnya, Begitu terkejutnya sampai-sampai dia menyurut mundur dua
langkah. Tidak jadi dia mendekati rajanya.
“Siapa kau?” bentaknya, “Mengapa kau mengoceh sembarangan? Aku sedang
berbicara dengan Sri Baginda, mengapa kau berani mencela seenaknya?” sepasang
kepalan Go Pay sudah dibentang.
Sekarang kenyataan bahwa bocah cilik yang setiap hari mengadu ilmu dengan Siau
Po memang Kaisar Kong Hi, raja Boan yang masih muda sekali, Nama aslinya Hian
Yap. Dia melihat Siau Kui cu tidak mengenalinya sebagai raja, sengaja dia
menggunakan nama Siau Hian cu. Dasar masih kecil, timbul gairahnya untuk bermainmain
sebagaimana layaknya bocah-bocah seusianya.
Dia juga tertarik sekali kepada Siau Po. Seperti halnya orang-orang bangsa Boanciu,
kaisar Kong Hi juga senang bergulat, Dia juga telah mempelajarinya.
Sebetulnya dapat saja dia berlatih bersama para siwi, tetapi dia tidak bersemangat
sebab mereka semua takut kepadanya dan selalu mengalah untuknya. Memperoleh
kemenangan dengan cara demikian tidak seru rasanya.
Sampai dia bertemu dengan Siau Kui cu yang dianggapnya lawan setimpal, Siapa
sangka di dalam Gi Si Pong ini dia dapat bertemu dengan Siau Kui cu pula, Bahkan
bocah itu berani menantang Go Pay demi membelanya.
Sebenarnya kaisar Kong Hi sudah tahu apa sebabnya Go Pay mendesaknya agar
menghukum Suke Shasia, sebab mereka memang bermusuhan pertentangan mereka
disebabkan kedudukan mereka berdua sebagai orang-orang golongan bendera kuning
dan bendera putih. Karena itu dengan enggan dia menerima usul Go Pay dan tidak
disangka Raja Muda itu berani menunjukkan kegarangannya.
Sebenarnya perasaan Kaisar agak ngeri juga, Di sana tidak ada thay-kam atau
pengawal. Kalau terjadi apa-apa, tidak ada yang bisa menolongnya. Siapa nyana dalam
keadaan terdesak, tahu-tahu Siau Po muncul di hadapannya.
Sementara itu, keberanian Siau Po semakin terbangun melihat Go Pay menyurut
mundur.
“Urusan menghukum Suke Shasia adalah haknya Sri Baginda, Mengapa kau justru
bersikap kurang ajar terhadap junjunganmu? Kenapa kau hendak menyerang Sri
Baginda? Apakah tidak takut seluruh keluargamu akan mendapat hukuman mati?”
Go Pay terperanjat. Kata-kata itu tepat menikam jantungnya, Keringat dingin sampai
membasahi seluruh tubuhnya, Dia sadar perbuatannya tadi terlalu kasar Tapi dia
memang pandai mengikuti perkembangan cepat dia berkata:

“Sri Baginda, harap Sri Baginda jangan mendengarkan ocehan thay-kam cilik ini.
Hambamu adalah seorang menteri yang sangat setia.”
Kaisar Kong Hi tahu apa yang harus dilakukannya. Dia merasa belum saatnya
menelanjangi menterinya yang berkepandaian tinggi ini, lagipula menteri itu sudah
mundur teratur.
“Siau Kui cu, kemarilah,” katanya kepada Siau Po.
Siau Po segera menjura sambil mengiakan, dia pun menyurut mundur beberapa
langkah.
“Go siau-po, aku tahu kau adalah seorang menteri yang setia dan telah banyak
berjasa, Aku tidak akan menyalahkanmu dalam urusan kecil ini” Go Pay girang
mendengar suaranya itu.
“Ya… ya….”
“Mengenai urusan Suke Shasia, Aku setuju denganmu, pokoknya kau tidak perlu
khawatir Hanya tinggal waktunya saja, Dalam hal menghukum ataupun memberikan
hadiah, aku tahu kewajibanku sendiri.”
“Bagus” sahut Go Pay senang, “Sekarang ternyata pandangan Sri Baginda sudah
terbuka, Untuk selanjutnya hambamu akan mengabdi dengan setia demi negara dan Sri
Baginda”
“Bagus Bagus Akan kami laporkan kepada Thay hou supaya besok kau akan
mendapat hadiah yang berarti”
“Terima kasih, Sri Baginda,” kata Go Pay sembari menjura.
“Sekarang apa kau masih mempunyai urusan lain yang ingin dibicarakan?” tanya raja
kemudian,
“Tidak.” sahut Go Pay. “Hamba mohon diri.”
Kaisar mengangguk.
Dengan wajah berseri-seri Go Pay meninggalkan kamar tulis Raja, Begitu orang itu
keluar, Kong Hi langsung menghambur ke depan Siau Po.
“Siau Kui cu, sekarang kau sudah tahu rahasiaku…”
“Sri Baginda…. Waktu itu a… ku… hamba… tidak tahu, A… ku patut mendapat
hukuman mati. Sampai sekian lama masih tidak tahu bahwa kaulah Sri Baginda Raja
yang diperagungkan,., malah aku melayani kau berkelahi….”

Mendengar kata-kata Siau Po, Kaisar Kong Hi menarik nafas panjang.
“Aih setelah tahu siapa aku, tentu kau tidak berani lagi berkelahi denganku, Hatiku
jadi gundah karenanya…”
Siau Po tertawa lebar.
“Asal kau tidak keberatan, lain kali aku tetap akan melayanimu, buatku tidak ada
halangan apa-apa.”
Kaisar Kong Hi senang mendengar janji yang diucapkan Siau Po.
“Bagus Kita akan berjanji Siapa yang tidak sungguh-sungguh berkelahi maka dia
bukanlah seorang Ho han, laki-laki sejati”
Selesai berkata, raja mengulurkan tangannya, Siau Po tidak tahu aturan dalam
istana, dia juga tidak kenal takut. Karena itu dia juga mengulurkan tangannya dan
keduanya pun berjabatan dengan erat. Kemudian keduanya tertawa terbahak-bahak.
Merupakan kebiasaan bagi Kaisar Kong Hi untuk bersikap serius bila berhadapan
dengan ibunya atau para bawahannya, Kadang-kadang dia sengaja menonjolkan
kewibawaan dirinya. Namun bagaimana pun dia masih seorang bocah cilik yang belum
hilang sifat kekanak-kanakannya. Begitu berhadapan dengan Siau Po, dia merasa
dirinya tidak berbeda dengan yang Iainnya, yakni rakyat jelata.
Sejak kecil kaisar Kong Hi dipingit, namun sejak ayahnya meninggal dan dia
diharuskan menggantikannya, dia sudah mendapat kebebasan. Namun kemana saja
masih ada para thay-kam ataupun dayang yang mengiringi. Kadang-kadang dia
memerintahkan mereka meninggalkannya, itulah sebabnya dia bisa bertemu dengan
Siau Po seorang diri.
Sambil menggenggam erat-erat tangan Siau Po, Kaisar Kong Hi bertutur:
“Di hadapan orang lain, kau harus memanggilku Sri Baginda, tetapi di tempat yang
tidak ada orangnya, kau dapat memanggil aku sebagaimana biasanya. Kita dapat
bergaul erat seperti yang sudah-sudah.”
“Baik,” sahut Siau Po sambil tersenyum, “Sebenarnya aku tidak menyangka akan
menghadapi keadaan seperti ini. Mimpi pun aku tidak menduga bahwa kaulah sang
raja. Tadinya aku mengira raja itu seorang thay-kam tua yang seluruh janggutnya sudah
memutih”
Raja juga ikut tertawa. “Apakah Hay kongkong pernah membicarakan urusanku
denganmu?”
“Tidak, Dia cuma mengajarkan aku ilmu silat Oh ya, Sri Baginda, siapa yang
mengajari kau ilmu silat?”

Raja tertawa Iagi.
“Aku sudah mengatakan di tempat yang sepi di mana hanya ada kita berdua, kau
tidak perlu memanggil aku dengan sebutan itu, baru beberapa menit kau sudah
melupakannya kembali.”
Siau Po menjadi jengah, namun dia tertawa juga. “Aku bingung.”
Raja menarik nafas panjang.
“Sudah aku bayangkan, asal kau sudah tahu siapa aku ini. Kau pasti tidak bisa
berkelahi denganku lagi seperti yang sudah-sudah.”
“Akan kuusahakan, tetapi aku takut gagal,” kata Siau Po. “Eh, Siau Hian cu, siapa
yang mengajarkan ilmu silat kepadamu?”
“Bukannya aku tidak mau memberitahu tetapi apa gunanya kau ketahui hal itu?”
tanya Kaisar Kong Hi.
“Begini, Go Pay menganggap ilmunya luar biasa sehingga dia berani bersikap kurang
ajar kepadamu. Malah tadi tampaknya dia hampir memukulmu Apabila gurumu memang
lihay sekali, mengapa kau tidak memintanya untuk melabrak Go Pay.”
Kong Hi tersenyum. “Tidak, Guruku tidak bisa melakukan hal itu.”
Siau Po terdiam, untuk beberapa saat dia menguras otaknya.
“Sayangnya guruku, Hay kongkong, sudah buta kedua matanya, Kalau tidak, aku
dapat meminta bantuannya untuk menghajar Go Pay. Dia tentu akan menang, Taph.,
ada jalan lainnya…. Kita berdua menghadapinya bersama, Bagaimana pendapatmu?
Meskipun dia tokoh nomor satu di istana ini, kalau kita mengeroyoknya, mustahil kalau
kita tidak bisa menang”
Dasar masih bocah, Raja menyetujui pemikirannya itu.
“Bagus.” serunya, tetapi sekejap kemudian dia menggelengkan kepalanya. “Ah….
Tidak dapat aku melakukan hal itu. Raja menempur menterinya sendiri, tidak lucu.”
Siau Po memperhatikan Kong Hi lekat-lekat. “Coba kalau kau bukan raja….”
Kong Hi mengangguk, tidak sepatah kata pun sanggup diutarakannya, Dalam hati dia
sangat menyukai Siau Po yang dianggapnya cerdas juga polos, Juga suka melakukan
apa yang terpikirkan olehnya.
Di lain pihak, hatinya panas mengingat sikap Go Pay terhadapnya, Diam-diam dia
mendumel dalam hati, “Benar-benar tidak tahu aturan? Mengapa dia begitu kurang ajar
terhadapku? Sedikit pun dia tidak memandang mata kepadaku.

Sebenarnya, dia atau akukah yang menjadi raja di istana ini? Apa kira-kira yang
dapat aku lakukan terhadapnya? Dia adalah kepala pasukan pengawal di dalam istana.
Dia juga memimpin pasukan tentara Pat Ki. Kalau aku mengeluarkan perintah untuk
menawannya, dan menghukum mati padanya, mungkin dia akan memberontak Dan
apabila dia melakukan perlawanan, kemungkinan akulah orang pertama yang akan
dibinasakannya.
Biar bagaimana, aku harus mencari akal untuk melepaskan jabatannya dan mencari
kesalahannya agar bajingan itu dapat dihukum mati. Dia harus diseret ke pingu Ngo-mui
untuk ditebas batang lehernya di hadapan rakyat”
Hanya sejenak kemudian pikiran raja berubah lagi, Dia menganggap keputusannya
kurang tepat. Akhirnya dia mengambil keputusan untuk tidak melakukan tindakan apaapa
dulu sekarang ini, Dia ingin mencari jalan yang paling sempurna.
Tentu saja pikirannya ini tidak diutarakannya kepada Siau Po.
“Sekarang kau kembali dulu kepada Hay kong-kong” perintahnya kepada kacung
yang sudah dijadikannya sahabat itu. “Belajarlah dengan giat, besok kita akan
bertanding lagi”
Siau Po menurut. “Baik”
“lngat, urusanku dengan Go Pay ini jangan kau ceritakan kepada siapa pun juga”
“Baik”
“Di sini tidak ada orang lain, begitu aku mau pergi, aku langsung pergi. Aku tidak
perlu menekuk lutut” kata Siau Po terus terang.
Kong Hi tersenyum. “Ya, tidak usah bertekuk lutut. Pergilah”
Siau Po tersenyum dan berlalu, begitu bertemu dengan si thay-kam tua, dia tidak
mengatakan apa-apa. Keesokan harinya kembali dia berkelahi dengan Kong Hi. Dia
mengira dirinya dapat berlaku wajar, tetapi ternyata tidak. Setelah mengetahui siapa
adanya Siau Hian cu, hatinya menjadi tidak tenang apabila berhadapan langsung, Dia
tidak seperti sebelumnya yang berani menjotos atau menghajar betulan, Tanpa terasa
seperti yang lainnya, dia pun selalu mengalah.
Kaisar Kong Hi menghentikan pertempuran Dia juga tidak bersemangat lagi untuk
berkelahi terus, Diajaknya Siau Po ke sebuah ruangan khusus untuk berlatih gulat, Di
sana dia menyuruh salah seorang bawahannya untuk menghadapi Siau Po.
Demikianlah hari-hari terus berlalu.
Lama-lama Hay kongkong menjadi curiga, sekarang Siau Po tidak banyak bercerita
lagi bila kembali ke kamar Karena itu dia berniat menyelidiki sebabnya.

“Bagaimana dengan Siau Hian cu?” tanyanya ketika mendengar suara langkah kaki
Siau Po masuk ke dalam kamar.
“Biasa, Hanya kurang bersemangat.”
“Apakah dia sakit?” tanya Hay kongkong kembali
“Tidak.”
“Coba kau jelaskan jalannya pertempuran”
Siau Po kehabisan akal, Terpaksa dia menceritakan apa yang dilihatnya di ruang
berlatih gulat, Dan dia mengaku bahwa dia yang kalah.
“Kau sengaja mengalah?” tanya Hay kongkong,
“Tidak, Aku hanya merasa sungkan karena aku telah menjadi sahabatnya,” sahut
Siau Po.
“Oh, kau telah menjadi sahabatnya, Aku tahu, sebenarnya kau tidak berani berkelahi
lagi dengannya, karena kau sudah tahu….”
Siau Po terperanjat.
“Tahu apa?” tanyanya gugup.
“Coba katakan. Dia yang mengaku sendiri atau kau yang mengetahuinya?”
“Apa yang kau maksudkan kongkong? Aku tidak mengerti”
“Ayo, katakanlah terus terang, Cepat katakan, bagaimana kau bisa mengetahui
perihal Siau Hian cu?”
Sembari berkata, thay-kam tua itu langsung menyambar tangan kiri Siau Po
kemudian menekannya sehingga bocah itu menjerit kesakitan.
“Aku menyerah”
“Cepat katakan” bentak Hay kongkong garang.
“Aku toh sudah menyerah, mengapa kau tidak melepaskan cekalanmu?”
“Aku bertanya kepadamu dan kau harus menjawabnya baik-baik”
“Baik. Kalau kau memang sudah tahu siapa Siau Hian cu, aku akan menjelaskannya.
Tapi jangan main paksa, kalau tidak, mati pun aku tidak akan mengatakan apa-apa”

“Kau kira apanya yang mengherankan? Siau Hian cu adalah raja, Sejak semula aku
memang sudah mengetahuinya.”
Senang hati Siau Po mendengar kata-kata thay-kam tua itu.
“Rupanya sejak semula kau sudah mengetahuinya. Baiklah, aku akan bicara, Tidak
apa-apa, bukan?”
Siau Po langsung menceritakan semuanya, Termasuk sikap Go Pay terhadap raja.
Hay kongkong mendengarkan dengan seksama, Beberapa kali dia bertanya kembali
untuk mendapat penegasan.
“Tapi Sri Baginda telah berpesan bahwa aku tidak boleh membuka rahasianya, kalau
tidak, dia akan menghukum mati aku,” kata Siau Po mengakhiri ceritanya.
“Kau toh sahabatnya, mana mungkin dia menghukum mati padamu? seandainya
akan dihukum mati, pasti akulah orangnya”
“Syukurlah kalau kongkong sudah tahu.”
Hay kongkong berdiam diri sekian lama, Terdengar dia bergumam seorang diri.
“Buat apa raja melatih tiga puluh thay-kam cilik? Apakah dia menyesal tidak dapat
berkelahi lagi denganmu sehingga memerintahkan orang dari ruang berlatih untuk
mendidik tiga puluh thay-kam cilik yang kemudian akan dijadikan lawannya? Aih
Sungguh sukar ditebak kemauannya, Eh, Siau Kui cu, inginkah kau menjadi orang
kesayangan raja?”
Siau Po heran, Dia menatap thay-kam tua itu lekat-lekat.
“Dia adalah sahabatku, sudah sepatutnya aku membuatnya bahagia,” sahut Siau Po.
“Bagaimana caranya aku bisa membuat diriku disukainya?”
“Sekarang kau dengar kata-kata ku baik-baik selanjutnya kalau Sri Baginda
menyebutmu sahabat, jangan mau. Coba bayangkan, sekarang usianya masih kecil,
sikapnya masih kekanak-kanakan, kalau hatinya senang, apa pun dapat dikatakannya,
Tetapi setelah dia dewasa nanti, asal kau salah bicara sedikit saja, dia akan membuat
kepalamu pindah dari batang lehermu itu.”
Siau Po cerdas, dia mengerti apa yang dimaksudkan oleh Hay kongkong. “Ya, aku
tahu, selanjutnya aku akan ingat kata-kata kongkong baik-baik”
“Hm” Thay-kam tua itu mendengus dingin, “Sekarang aku tanya lagi, apakah kau
ingin mempelajari ilmu silat yang hebat?”

“Tentu saja aku mau. Apakah kongkong mau mengajarkan? sesungguhnya aku
merasa heran, kepandaian kongkong tinggi sekali, mengapa kongkong tidak menerima
seorang murid saja?”
“Di dalam dunia ini banyak manusia licik dan jahat, Bagaimana kalau aku keliru
memilih? Bukankah aku mencari penyakit untuk diriku sendiri?”
Siau Po terkesiap, Diam-diam dia berpikir dalam hati.
“Apakah dia sudah tahu samaranku dan tahu aku yang menyebabkan kedua
matanya buta?” Tapi Siau Po menekan perasaan curiganya. Cepat-cepat dia berkata:
Tapi aku setia kepadamu, Kau sendiri toh tahu bagaimana aku berani menempuh
bahaya pergi ke Gi Si Pong untuk mencuri sebuah kitab untukmu, sayangnya jumlah
buku di sana terlalu banyak dan aku tidak bisa membaca….”
“Kau tidak bisa membaca?” tanya Hay kongkong heran.
Sekali lagi jantung Siau Po berdenyut dengan kencang, Dia tidak tahu apakah Siau
Kui cu pernah belajar ilmu surat atau tidak, Kalau Siau Kui cu bisa, celakalah dia.
“Karena itu, cepat-cepat dia menambahkan “Berulang kali aku mencari kitab itu, tapi
sejauh ini aku belum berhasil menemukannya, Biarlah, waktu toh masih banyak,
Apalagi sekarang aku sudah menjadi sahabat raja, Setiap waktu aku bisa menghadap
ke kamar tulisnya. Suatu hari aku pasti akan menemukan kitab itu.”
“Asal kau tidak melupakannya saja”
“Mana mungkin aku melupakan bahwa Kong-kong memperlakukan aku dengan baik.
Budi besar itu belum sempat aku balas, Kalau aku sampai melupakannya, sungguh aku
tidak patut disebut manusia”
“Hm.,, kalau kau tidak tahu membalas budi, memang sungguh kau bukan seorang
manusia” kata Hay kongkong mengulangi ucapan Siau Po.
Hati Siau Po tercekat, namun sesaat dia telah pulih kembali.
“Sekarang aku akan mengajarkan kau ilmu Tay Cu, Tay Pi, Cian Yap-jiu”
Hati Siau Po masih was-was, dia takut Hay kongkong akan mencelakainya, tetapi
ternyata orang tua itu sungguh-sungguh mengajaknya ilmu silat, Siau Po pun
memperhatikan dengan seksama kemudian menirunya.
“Perlu kau ketahui bahwa jurus ilmu ini sangat banyak, jumlahnya seribu jurus sesuai
dengan namanya, tidak lebih tidak kurang. Maka kau jangan berharap dapat
menguasainya dalam waktu singkat
“Baik, aku akan belajar sungguh-sungguh, Tidak perduli berapa lama waktunya”

Hari itu Siau Po berlatih sampai jauh malam, Keesokan harinya dia menemui Kong
Hi, Ditemuinya Kaisar itu sedang meninju bangku kulit dengan kesal setelah melihat
kehadiran Siau Po, baru dia tersenyum.
“Hatiku sedang jengkel, Mari kau temani aku bermain-main”
“Kong kong baru mengajari aku sebuah ilmu baru. Namanya Tay cu, Taypi Cian Yapjiu.
Katanya ilmu ini lebih hebat dari Toa kim na-hoat. Kalau aku sudah berhasil
menguasainya, kau tidak akan sanggup melawanku lagi”
“Ilmu yang bagaimana?” tanya Kong Hi penasaran, “Coba kau tunjukkan kepadaku”
“Baik” Siau Po pun bergerak menuruti ajarkan Hay kongkong.
Kong Hi memperhatikan dengan seksama. semua serangan Siau Po ditujukan
kepadanya, Kong Hi tidak sempat berkelit Dia kena diserang sebanyak lima kali, tapi
karena serangannya perlahan, dia tidak merasa nyeri ataupun terjatuh karenanya.
“Aih Sungguh bagus ilmu yang kau tunjukkan itu. Baik Aku akan menemui guruku
dan memintanya untuk mengajarkan ilmu lain yang dapat melawan ilmu barumu itu”
Siau Po kembali ke kamarnya, dia menceritakan kepada Hay kongkong apa yang
dialaminya bersama Kong Hi.
“Entah ilmu apa yang akan diajarkan gurunya? Sudahlah, sekarang kau harus
berlatih jurus lainnya.”
Siau Po menurut Hay kongkong langsung bergerak perlahan-lahan agar Siau Po
dapat melihatnya dengan teliti, mulutnya pun terus memberikan penjelasan mengenai
tipu daya jurus itu. Tetapi ilmu itu memang terlalu rumit Tidak seluruhnya dapat
dimengerti oleh Siau Po. Dia hanya dapat meniru gerakannya saja.
Besoknya seperti dijanjikan, Siau Po langsung menuju Gi Si Pong, ia heran sewaktu
mendapatkan ada empat siwi yang menjaga di depan pintu. Satu di antaranya malah
tersenyumn simpul sambil menyapa.
“Kau tentunya Kui kongkong, bukan? Sri Baginda Raja menitahkan agar kau masuk
saja”
Siau Po terkejut Siapa itu Kui kongkong? Tetapi sesaat kemudian dia mengerti, tentu
dia sendiri yang dimaksud dengan Kui kongkong, Mungkin siwi itu tahu bahwa dia
sudah menjadi orang kepercayaan Kaisar sehingga bersikap sungkan terhadapnya.
“Selamat bertemu” Dia segera menjura kepada para siwi itu.
Mereka membalasnya dengan hormat Siau Po dipersilahkan masuk ke dalam kamar
tulis. Melihat kehadirannya, kaisar Kong Hi langsung meloncat turun dari kursinya.

“Kelima tipu jurusmu kemarin sudah diajarkan pemecahannya oleh guruku, Mari kita
coba sekarang”
Bagian 06
Siau Po hendak menolak, tapi dia tidak berani Terpaksa dia mengiringi kemauan
sang raja, Hari ini benar saja kelima tipuannya berhasil dipecahkan oleh Kong Hi.
“Kemarin aku mempelajari lagi enam jurus baru, mari kau coba”
Siau Po langsung menyerang, Dia sempat membuat lawannya kerepotan
“Baiklah, Aku akan mempelajari cara untuk memecahkannya” Mereka berpisah puIa,
Demikianlah setiap hari Siau Po mempelajari jurus baru lalu dicobanya untuk
menyerang kaisar Kong Hi, setelah kewalahan, raja itu akan mencari pemecahannya
pula dari gurunya.
Sekarang bukan hal aneh lagi bila semua thay-kam maupun siwi dan para dayang
tahu bahwa thay-kam cilik dari Siang sian tong ini adalah anak kesayangan raja, Sikap
mereka juga jadi hormat.
Di pihak lain, Siau Po juga ingin memperoleh perhatian khusus dari Hay kongkong,
Dia tidak lupa mencari kitab Si Cap Ji cing-keng, tapi sampai sejauh ini dia masih belum
berhasil menemukannya, Sedikit-sedikit dia sudah mengerti ilmu surat karena Hay
kongkong juga mengajarinya.
Pada suatu hari Kong Hi berkata kepada Siau Po.
“Siau Kui cu, besok kita akan melakukan satu pekerjaan besar, Pagi-pagi kau harus
sudah datang dan tunggu aku di kamar tulis”
“Baik” sahut Siau Po singkat. Dia tahu Raja tidak suka banyak bicara, Karena kaisar
Kong Hi tidak menjelaskan dia juga tidak menanyakan.
Keesokan harinya, pagi-pagi Siau Po sudah muncul di kamar tulis raja, Begitu dia
muncul Kong Hi segera berbisik kepadanya.
“Aku ingin kau melakukan sesuatu, entah kau berani atau tidak?”
“Kalau kau yang menyuruh, apa yang harus kutakutkan?” sahut Siau Po sok gagah.
“Tapi urusan ini hebat sekali. Kalau kau gagal, bukan hanya jiwamu saja yang
terancam bahaya, jiwaku juga”
Siau Po terkejut juga, Tetapi sesaat kemudian dia bertekad bulat.

“Paling juga aku kehilangan selembar nyawa, tapi kau adalah raja, siapa yang berani
mencelakaimu.”
Melihat sikap Siau Po, Kong Hi pun berterus terang.
“Go Pay si menteri celaka itu sudah jelas berniat jahat. Hari ini aku ingin
menawannya, Kita bekerja sama, Beranikah kau?”
Mendengar keterangan itu, bukan main senangnya hati Siau Po. Memang selama ini,
kecuali menemani raja berlatih silat, dia tidak mempunyai kegiatan apa-apa yang
menggairahkan sekarang pun dia tidak pernah berjudi lagi, sedangkan hatinya memang
membenci Go Pay yang dianggapnya congkak dan tidak tahu diri, Tentu dia senang
diajak bekerja sama untuk menawannya.
“Bagus Bagus Aku toh pernah mengatakan bahwa kita berdua pasti bisa
melawannya, Tidak perlu kita risaukan bahwa dialah tokoh nomor satu bangsa Boanciu,
Bukankah kita berdua telah memperoleh banyak kemajuan Tidak perlu kita takut
kepadanya”
Namun kaisar Kong Hi menggelengkan kepalanya.
“Bukan begitu maksudku, Kita memang bekerja sama, tapi bukan berarti kita turun
tangan bersama menghadapinya, Kau harus tahu bahwa aku adalah seorang raja, aku
tidak dapat turun tangan sendiri Go Pay mempunyai pengaruh yang besar dalam istana.
Dia juga pemimpin dari para pengawal dan pasukan tentara, Di dalam istana banyak
siwi yang menjadi orang kepercayaannya. Bila ia sampai memberontak, pasti sebagian
besar berpihak kepadanya, jangan kata kita berdua, bahkan permaisuri dan ibu suri pun
akan terancam bahaya…”
Siau Po benar-benar tidak takut, dia malah menepuk dada.
“Kalau begitu, sebaiknya aku tunggu dia di luar istana, Secara tidak terduga-duga di
mana dia tidak bersiap sedia, aku akan menyerangnya, Dengan sebatang golok, aku
akan menikamnya, Syukur kalau aku berhasil, tapi kalau gagal, dia toh tidak akan tahu
bahwa aku disuruh olehmu”
“Dia sangat gagah perkasa, sedangkan kau masih terlalu kecil Mungkin kau bukan
tandingannya, LagipuIa di luar istana juga banyak pengawal Mana mungkin kau bisa
mendekatinya? Taruh kata, kau bisa membunuhnya, tapi kau sendiri juga akan mati
dikeroyok para siwi,” kata Kong Hi panjang lebar “Aku mempunyai jalan lain yang lebih
baik….”
“Baik, apa itu?” Siau Po pun penasaran.
“Sebentar dia akan datang melaporkan sesuatu, Sebelum itu aku akan menitahkan
para thay-kam kecil berkumpul di sini. Kau harus memperhatikan aku. Asal cawan teh di

tanganku terlepas jatuh, langsung saja kau maju menotok jalan darahnya, Dalam waktu
yang bersamaan, seluruh thay-kam cilik akan menyerangnya sehingga dia kerepotan.
Kalau kau gagal juga, terpaksa aku turun tangan membantumu”
“Bagus akalmu itu” kata Siau Po. “Apakah kau mempunyai golok? Usaha ini harus
berhasil Kalau rencana kita sampai gagal, terpaksa aku harus membunuhnya”
Kong Hi menganggukkan kepalanya, Dari kaos kakinya dia mengeluarkan dua bilah
pisau belati. Yang satu diserahkannya kepada Siau Po, sedangkan yang lainnya dia
simpan sendiri.
“Tenangkan hatimu,” kata Siau Po.
“Sekarang kau pergilah dan panggillah kedua belas thay-kam cilik kemari” perintah
kaisar Kong Hi.
Siau Po menurut, Tidak Iama kemudian dia sudah kembali lagi dengan para thaykam
cilik itu.
Kedua belas thay-kam cilik itu sudah berlatih ilmu gulat selama beberapa bulan atas
titah kaisar Kong Hi. Mereka memang tidak mengerti ilmu silat, tapi untuk menerjang,
cengkeram kaki tangan, mereka sudah cukup pandai.
Raja segera berkata kepada mereka.
“Kalian sudah belajar beberapa bulan, entah sampai di mana kemajuan kalian?
sebentar akan datang seorang jago gulat kami, aku menyuruh dia menguji kalian, Nanti
kalau cawanku jatuh ke atas lantai, kalian harus menyerangnya serentak, Gunakan
segenap kepandaian kalian, Siapa yang berhasil mencekalnya erat-erat, akan
kuberikan hadiah besar.”
Selesai berkata, kaisar Kong Hi menarik lacinya dan mengeluarkan setumpuk uang
Goan Po senilai lima puluh tail masing-masing lembarannya, dia menunjuk ke arah
tumpukan uang itu kemudian berkata dengan nada berwibawa.
“Siapa yang menang, masing-masing akan mendapat selembar Goan Po ini. Kalau
kalian kalah, dua belas orang akan dipenggal batang lehernya, orang yang malas dan
tidak berguna, tidak perlu dibiarkan hidup terus”
Kedua belas thay-kam itu langsung menjatuhkan dirinya berlutut dan berkata
serentak.
“Budak sekalian akan bekerja dengan sepenuh hati bagi Sri Baginda”
“SebetuInya ini bukan tugas apa-apa. Aku hanya ingin menguji kepandaian dan ingin
mengetahui apakah selama ini kalian belajar dengan rajin atau hanya bermalasmalasan.
Nah, bangunlah.”

Menyaksikan gerak-gerik raja dan kata-katanya, hati Siau Po kagum sekali.
“Kaisar memang cerdik sekali Dengan demikian orang tidak akan curiga bahwa dia
memang berniat menghancurkan Go Pay,” pikirnya dalam hati.
Para thay-kam itu memberi hormat kemudian bangkit kembali Raja membalik
lembaran bukunya dan membaca dengan suara kurang jelas, Siau Po memperhatikan
dengan seksama, Raja itu tabah dan tenang, suaranya tidak gemetar sedangkan dia
sendiri merasa kaki dan tangannya mulai berkeringat dingin.
“Ah, Siau Kui cu,” katanya kepada diri sendiri “Kalau dibandingkan dengan Siau Hian
cu, hari ini kau kalah semuanya, Kau kalah tenang dan kalah gagah”
Namun sesaat kemudian dia berpikir lagi Siau Hian cu adalah seorang raja, pantas
dia mempunyai sikap demikian. Umpama dia sendiri yang menjadi raja, dia juga yakin
akan mempunyai ketenangan seperti Siau Hian cu.
Tidak lama kemudian, di luar kamar terdengar suara tindakan sepatu, disusul dengan
suara seorang pengawal
“Go siau-po datang menghadap Sri Baginda Dia memujikan agar Sri Baginda dalam
keadaan sehat wal’afiat dan berbahagia”
“Go siau-po, masuklah” sahut Raja memberi ijinnya.
Tirai disingkapkan dan Go Pay melangkah masuk. Dia memberi hormat dengan
menekuk lututnya.
Kong Hi tertawa.
“Go siau-po, kebetulan sekali kau datang,” katanya. “Di sini ada dua belas orang
thay-kamku, semuanya belajar ilmu guIat, Mereka ingin aku memberi petunjuk kepada
mereka, sedangkan kau adalah orang kuat nomor satu bangsa Boanciu, Entah
bagaimana pendapatmu?”
“Apabila Sri Baginda mempunyai kegembiraan untuk menyaksikan tentu hamba
bersedia melayani.” sahut Go Pay sambil memberi hormat sekali lagi.
Kong Hi tertawa.
“Siau Kui cu, kau perintahkan semua siwi di luar sini untuk beristirahat, tanpa ada
titah dariku, mereka tidak boleh datang kemari”

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s