“ PANGERAN MENJANGAN” – “ LU DING JI “ 06

janjinya, kali ini dia berhasil kembali ke kamar Hay kongkong sebelumnya
dia mengingat baik-baik jalannya agar besok-besok tidak lupa lagi.
Baru sampai di depan pintu, dia sudah mendengar suara batuknya Hay kongkong.
“Apakah keadaanmu sudah agak baik?” tanyanya.
“Baik, kentut busukmu Cepat masuk”
Siau Po masuk ke kamar, dia melihat thay-kam tua itu duduk di kursi samping meja.
“Apakah kau menang hari ini”
“Menang tiga puluh tail, tapi….”
“Tapi apa?”
“Aku pinjamkan kepada Lao Go.”
“Apa gunanya kau meminjamkan uang kepada Lao Go? Dia bukan orang dari Gi Si
Pong, Mengapa tidak kau pinjamkan saja kepada kedua saudara Un?”

Siau Po kebingungan. “Mereka tidak meminjam uang kepadaku.”
“Mereka tidak meminjam, tapi apakah kau tidak bisa mencari akal agar mereka
meminjamnya?” bentak Hay kongkong, “Apakah kau sudah lupa dengan pesanku?”
Siau Po tertegun.
“Kemarin aku baru membunuh orang, aku masih takut, aku jadi lupa pada pesan
Kong kong.”
“Bunuh satu jiwa adalah hal yang lumrah, tetapi kau masih kecil sehingga dapat
dimaklumi. Apalagi kau belum pernah membunuh orang sebelumnya, sekarang ada
satu hal yang akan kutanyakan apa kau sudah lupa mengenai buku itu?”
“Aku… aku….”
“Ah Kau pasti sudah lupa”
“Kong kong, kepa… laku pu… sing, a… ku sampai me… lupakannya.”
“Baik, nah, kau kemarilah”
Siau Po maju ke depan beberapa langkah.
“Aku akan menjelaskan sekali lagi, Kalau kau sampai lupa lagi, aku akan
membunuhmu”
“Ya… ya,” sahut Siau Po. Diam-diam dia berkata dalam hatinya, “Kau kira aku Siau
Kui cu, kalau kau katakan sekali saja, sampai seratus tahun pun aku tidak akan lupa.”
“Begini, kau harus mengalahkan kedua saudara Un, kemudian kau tawarkan
pinjaman uang kepada mereka. Lebih banyak lebih bagus. Lalu lewat beberapa hari,
kau minta mereka mengantar kau ke Gi Si Pong.
Karena mereka ada hutang denganmu, tak mungkin mereka menolak, seumpamanya
mereka menolak, kau ancam akan mengadukannya kepada Ouw kongkong, congkoan
dari Gi Si Pong.
Kalau mereka tidak dapat membayar, otomatis mereka akan mengajak kau ke Gi Si
Pong. Asal kebetulan Sri Baginda sedang tidak ada di dalam kamar tulis nya itu….”
“Sri Baginda Raja?” tanya Siau Po mengira telinganya salah dengar.
“Apa katamu?”
“Oh, tidak,” sahut Siau Po cepat.

“Mereka tentu akan menanyakan untuk apa kau ke Gi Si Pong. Kau katakan saja
bahwa Sri Baginda adalah manusia agung, kau ingin melihatnya, dan kau berharap
dapat bekerja di sana. Dengan demikian dapat dipastikan bahwa kedua saudara Un
tidak akan mengijinkan kau melihat raja. Apabila mereka mengajakmu, tentu dipilihnya
waktu ketika Sri Baginda sedang tidak ada di kamarnya, kau harus menggunakan
kesempatan baik itu untuk mencuri sebuah kitab.”
Mendengar disebutnya Sri Baginda, perasaan Siau Po menjadi heran, Dia tahu Sri
Baginda itu raja, tapi dia tidak tahu apa artinya Gi Si Pong.
“Oh, kalau begitu ini pasti istana kerajaan, Kalau bukan istana, tentu tidak seindah
dan semegah ini. itulah sebabnya orang-orang di sini semuanya terdiri dari para thaykam
yang biasa melayani di istana raja,” pikirnya dalam hati.
Tampang dan suara para thay-kam biasanya berbeda dengan orang umum,
sayangnya Siau Po kurang pengalaman sehingga tidak mengetahuinya. Dia pernah
mendengar tentang raja, putera mahkota, pangeran ataupun puteri.
Juga tentang thay-kam dan para dayang, tetapi semua belum pernah dilihatnya
dengan mata kepala sendiri ia telah bergaul dengan Hay kongkong, Lao Go, serta
kedua saudara Un, tetapi dia baru menyadari bahwa mereka adalah para thay-kam,
Sekarang, mendengar kata-kata Hay kongkong, dia baru mengerti.
“Celaka, Kalau begini, bukankah aku juga menjadi thay-kam cilik?” pikirnya dalam
hati.
“Eh, kau mengerti apa tidak?” Hay kongkong segera menegur melihat Siau Po tidak
menyahut dari tadi.
“Ya, ya… aku mengerti,” sahut Siau Po. “Aku harus ke kamar tulisnya raja”
“Untuk apa kau ke kamar tulisnya raja?” uji Hay kongkong, “Apakah untuk bermainmain?”
“Untuk mencuri sebuah kitab….”
“Kitab apa?” tanya Hay kongkong mendesak. “Aku… aku… entah kitab apa? aku…
lupa….”
“Akan ku ulangi sekali lagi, ingat baik-baik Kitab itu kitab agama Budha yang
judulnya Si Cap Ji cing-keng, jumlahnya beberapa jilid, Kitab itu sudah tua sekali,
Mengerti? Nah, apa nama kitab itu?”
“Aku ingat Namanya kitab Si Cap Ji cing-keng” seru Siau Po girang.
Hay kongkong merasa heran mengapa nada suara Siau Po begitu gembira.

“Kenapa kau begitu senang?”
“Karena kongkong mengingatkan sekali lagi, sehingga aku tidak akan lupa lagi”
sahut Siau Po cepat.
Padahal bukan itu alasan mengapa hatinya merasa senang, Dia tidak pernah
sekolah jadi dia tidak bisa membaca, yang dikenalnya hanya huruf angka san dan kitab
itu kebetulan berjudul Si Cap Ji cing-keng (Empat puluh dua kitab Buddha) Dengan
demikian tidak ada kesulitan baginya untuk menemukan kitab itu.
“Mencuri kitab dalam istana Gi Si Pong harus cekatan, kalau kau sampai kepergok,
biarpun nyawamu ada seratus, kau pasti mati juga,” kata Hay kongkong mengingatkan.
“Aku mengerti. Asal kepergok, matilah aku”
“Kalau kau sudah berhasil, ajaklah kedua saudara Un kemari Aku akan
menghadiahkan mereka semacam barang permainan yang berharga sekali.”
“Baik, kongkong, Tapi bolehkah aku tahu barang mainan apakah itu?”
“Sampai waktunya kau akan tahu sendiri,” sahut thay-kam tua itu. “Apakah dadumu
sudah ada?”
“Ada”
“Kalau begitu, jangan bermalas-malasan. Mulailah berlatih”
Siau Po mengiakan dan kemudian masuk ke dalam, Di atas meja, hidangan masih
utuh.
“Kong kong belum makan, nanti aku sendoki nasinya.”
“Tidak usah, aku belum lapar” sahut orang tua itu. “Kau makanlah dulu”
Siau Po mengiakan, tanpa sungkan-sungkan lagi dia makan dengan lahap. Meskipun
makanan itu sudah agak dingin, Siau Po tetap merasakan kelezatannya yang luar
biasa, sembari menikmati santapannya, dia berpikir:
“Kalau ini istana, sudah dapat dipastikan kalau Lao Go, kedua saudara Un dan yang
lainnya adalah para thay-kam, entah bagaimana tampang Raja dan permaisurinya ?
Senang sekali kalau bisa melihat mereka Aih… entah bagaimana nasib Mau toako?
Berhasilkah dia meloloskan diri? Tetapi ketika berjudi, tidak ada seorang pun yang
membicarakan tentangnya, Mungkin dia memang sudah berhasil membebaskan diri.”
Selesai makan, Siau Po mulai berlatih, dia khawatir Hay kongkong curiga kepadanya
kalau dia diam saja, Suara dadunya di dalam mangkuk berisik sekali. Padahal sejak dua

tahun yang lalu, Siau Po sudah lihay bermain dadu, jadi dia tidak perlu berlatih lagi Dia
melakukannya hanya karena tidak ingin Hay kongkong curiga.
Karena itu, tidak lama berlatih, rasa kantuk pun menyerangnya, maklumlah
sepanjang malam dia tidak tidur. Sesaat kemudian dia sudah pulas.
Di waktu magrib, Siau Po terbangun, dia melihat seorang thay-kam cilik
mengantarkan makanan Tampangnya kebodoh-bodohan. Dia tidak mengucapkan
sepatah kata pun. Setelah menyajikan makanan, dia langsung pergi. Tentunya dengan
membawa piring mangkuk kotor siangnya.
Siau Po melayani Hay kongkong bersantap terus merapikan tempat tidurnya agar
orang tua itu dapat beristirahat. Dia sendiri berbaring di tempa tidur pikirannya
melayang-layang.
“Besok aku akan melawan Siau Hian cu. Bi bagaimana pun aku harus menang” Dia
memejamkan matanya sambil membayangkan cara Mau Si pat menghadapi lawannya
di bukit Tek Seng Sa
“Lebih baik aku tiru saja gerakan mereka, Sayang sekali ketika itu Mau toako ingin
menerima aku sebagai murid dan mengajarkan aku ilmu silat, aku mengabaikannya.
Kalau besok aku kena tindih lagi oleh Siau Hian cu, sungguh memalukan, mengapa
aku tidak minta si kura-kura tua ini mengajarkan ilmu silat kepadaku, bukankah
kepandaiannya tinggi sekali?”
Siau Po segera mengambil keputusan.
“Kong kong,” panggil Siau Po. “Besok aku harus ke Gi Si Pong untuk mencuri sebuah
kitab, tapi aku mempunyai sedikit kesulitanku.”
“Apa itu?” tanya Hay kongkong.
“Begini, kongkong, tadi sepulang bermain dadu, aku dicegat oleh seorang thay-kam
cilik. Dia memaksa meminta uang meskipun aku tidak sudi memberikannya. Akhirnya
kami berkelahi. Dia bilang, asal aku bisa mengalahkannya, dia akan mengijinkan aku
lewat, itulah sebabnya aku sampai tidak sempat makan karena melayani dia
berkelahi….”
“Kau kalah, bukan?”
“Tubuhnya lebih tinggi dan lebih besar, Dia menantang aku berkelahi setiap hari
Ketika aku kalah, dia membiarkan aku lewat…”
“Siapa nama bocah itu? Dia orang dari mana?”
“Namanya Siau Hian cu, entah dari kamar mana.”

“Mungkin karena kau menang judi sehingga lagakmu menjadi sombong dan orangorang
tidak menyukaimu…”
“Tapi aku tidak puas, pokoknya besok aku akan melawannya lagi, entah menang
atau kalah….”
“Hm… rupanya kau minta aku mengajarkan ilmu silat kepadamu Kalau aku
mengatakan tidak, percuma biar kau merongrong sepanjang hari”
“Dasar kura-kura tua, benar-benar tidak dapat diperdaya gerutu Siau Po dalam
hatinya. Tetapi di luar dia hanya berkata: “Siau Hian cu tidak mengerti ilmu silat, untuk
mengalahkannya aku pun tidak perlu belajar ilmu silat, Siapa yang ingin diajari olehmu?
Tadi aku berhasil menindihnya, justru karena tenaganya kuat dan tubuhnya besar, dia
berhasil membalikkan aku pula. Tapi besok aku akan menindihnya kembali. Aku yakin
seperti seekor kura-kura, dia tidak bisa membalik lagi”
Sebenarnya Siau Po sudah mencoba mengendalikan kata-katanya agar jangan
berbicara kasar, tetapi dia kelepasan juga.
“Tidak sulit apabila kau ingin membuat dia tidak bisa membalik diri,” kata Hay
kongkong.
“Aku juga berpikir demikian. Besok aku akan menekan bahunya sekuat tenaga”
“Percuma kalau kau menekan bahunya, untuk membalikkan tubuh, tenaga pinggang
harus kuat. Karena itu kau harus menindih pinggangnya dengan Iututmu. Mari aku
ajarkan”
Siau Po senang sekali ia melompat turun dari pembaringannya dan menghampiri
Hay kongkong, orang tua itu langsung menyambar pinggang Siau Po kemudian
menekannya sehingga bocah itu merasa lemas.
“lni dia jalan darahnya, ingat baik-baik”
“Baik, besok akan kucoba, Entah berhasil atau tidak?”
“Berhasil atau tidak? Harus berhasil” Hay kongkong menekan sedikit sisi leher Siau
Po, sehingga bocah itu menjerit kesakitan Dadanya terasa sesak. “Kalau kau menekan
dia dua bagian itu, dia pasti akan lemas dan tidak dapat berkelahi lagi”
Siau Po semakin senang.
“Bagus Besok aku akan melawannya lagi dan pasti aku yang menang” Dia kembali
ke pembaringannya dan tidur pulas.
Keesokan paginya, Lao Go datang menjemput Siau Po untuk diajak berjudi. Hari itu
bandarnya ialah kedua saudara Un, yakni Yu To dan Yu Hong.

Siau Po menghadapinya dengan cara licik, Dalam sekejapan saja dia sudah menang
empat puluh tail. Setelah bermain agak lama, habislah uang kedua saudara Un yang
menjadi bandar itu. Mereka kalah sebanyak seratus tail.
“lni, pakai saja uangku” kata Siau Po menawarkan. Mereka meminjam lima puluh tail
darinya, namun akhirnya ludes juga.
Siau Po ingat janjinya dengan Siau Hian cu. permainan pun dihentikan, bergegas dia
menuju kamar yang kemarin. Di atas meja kembali tersedia barang makanan Tanpa
berpikir panjang lagi Siau Po langsung meraihnya dan makan sampai kenyang, Ketika
mendengar suara langkah kaki, cepat-cepat dia bersembunyi di bawah kolong meja
untuk mengintai Siau Po khawatir yang datang bukan Siau Hian cu.
“Siau Kui cu Siau Kui cu” Terdengar suara panggilan dari luar
Siau Po mengenali suara itu, segera ia keluar dari kolong meja dan menghampiri
orang yang memanggilnya. Bibirnya langsung tersenyum.
“Kita sudah berjanji kemarin, sebelum bertemu, aku pasti tidak akan pergi,” katanya.
Ketika sudah berhadapan, Siau Po dapat melihat pakaian Siau Hian cu mentereng
sekali, Siau Po merasa kagum. Diam-diam dia berpikir dalam hati.
“Rupanya dia thay-kam kesayangan Raja, Biar sebentar nanti aku sengaja merobek
pakaiannya agar hatinya kecewa”
Tanpa menunda waktu lagi, Siau Po langsung mulai menyerang.
“Bagus” kata Siau Hian cu yang menyambut serangannya.
Kedua tangan mereka pun saling mencekal, Ketika kaki Siau Hian cu maju ke depan
mengait, robohlah tubuh lawannya, tapi Siau Po sempa menarik tubuh Siau Hian cu
sehingga keduanya jatuh bersama-sama.
Dengan gesit, Siau Po membalikkan tubuhnya menindih tubuh lawan, Dia berniat
menotok tubuh lawannya menurut ajaran Ha kongkong, sayangnya dia belum mengerti
ilmu totokan, terlalu lambat baginya untuk mencari jalan darah mana yang dimaksudkan
sehingga dia kena didahului oleh Siau Hian cu yang dengan tangan membalikkan
tubuhnya, Sekejap mata mereka pun terpisah.
“Eh, kau pun mengerti ilmu Hui in-jiu (Tipu awan terbang)?” tanya Siau Hian cu
heran.
Sebetulnya Siau Po sendiri tidak tahu apa nama tipu gerakan itu, tetapi otaknya
cerdas sekali, dia langsung berkata.

“Hui In-jiu masih belum seberapa Aku masih mengerti banyak tipu daya lainnya”
Siau Hian cu tertawa. “Tidak mungkin Mari kita coba lagi”
Siau Po tidak menolak. Kembali mereka berkelahi Kali Siau Hian cu juga
menggunakan tipu daya sehingga Siau Po roboh dan kena ditindihnya.
“Nah, menyerah tidak?” tanyanya.
“Tidak” sahut Siau Po sambil meronta dengan penasaran. Tetapi tiba-tiba dia
terdiam, rupanya dia telah ditotok terlebih dahulu oleh Siau Hian cu sehingga tenaganya
lemas.
“Baik, kau menyerah kali ini” katanya kemudian. Dia tahu yang digunakan oleh Siau
Hian cu adalah totokan yang diajarkan Hay kongkong, tetapi dia sendiri tidak tahu cara
memainkannya.
Siau Hian cu tertawa, Dia bangkit berdiri, Tiba-tiba kakinya dikait oleh Siau Po
sehingga terjungkal jatuh dan terus dihantam sekali sehingga tidak dapat melakukan
pembalasan.
“Nah, menyerah tidak?” tanya Siau Po.
“Hm” Siau Hian cu mendengus dingin. Kedua tangannya langsung bergerak, Siau
Po terkejut setengah mati, Dadanya terhajar Dia merasa kesakitan sehingga menjerit
kemudian roboh.
Dengan demikian mereka sudah saling merobohkan Tapi seperti sebelumnya, Siau
Po terpaksa mengakui keunggulan lawan, Ketika Siau Hian cu bangkit kembali, dia
merasa tubuhnya sudah letih sekali Demikian pula Siau Po, dia sampai terhuyunghuyung.
“Sampai besok. Kita akan melanjutkan kembali, Biar bagaimana pun kau harus
ditaklukkan”
Siau Hian cu tertawa.
“Biar sepuluh atau seratus kali, kau tetap kalah olehku, Kalau kau memang berani,
besok kau datang lagi”
“Asal kau juga mempunyai nyali Janji sampai mati” sahut Siau Po.
“Janji sampai mati” Siau Hian cu mengikuti kata-katanya,
Mereka pun berpisah, Sampai di kamarnya, Siau Po langsung berkata kepada si
thay-kam tua.

“Kong kong, ilmu totokmu payah, Nyatanya tidak berhasil”
“Dasar kau yang tidak becus Pasti hari ini kau kalah lagi” sahut Hay kongkong.
“Kalau aku pakai caraku sendiri, meskipun belum tentu menang, tapi mungkin tidak
akan menderita kekalahan juga, justru karena memakai cara yang kau ajarkan, aku jadi
ka1lh. ilmu itu terlalu sederhana, dia pun bisa”
“Oh? Dia juga mengerti ilmu totokan? Coba kau tiru kasih aku lihat”
“Matamu kan buta, bagaimana bisa melihat?” pikir Siau Po dalam hatinya. Tapi dia
menyerang orang tua itu dengan jurus yang digunakan Siau Hian cu. “Nah, begini
caranya dia menyerang aku”
“Akh itu tipu jurus I Te-tui (Menyikut ketiak).”
“Ada lagi.” kata Siau Po sambil menirukan gerak lainnya.
“ltu tipu jurus Hui In-jiu”
“Dan ini” Sekali lagi Siau Po memberikan contoh.
“ltu tipu jurus To-ki Bwe (Merobohkan pohon Bwe)”
“Rupanya semua jurus itu ada namanya,” pikir Siau Po dalam hati.
“Kau tentu dikalahkan dengan cara seperti ini,” kata Hay kongkong sambil melakukan
gerakan.
“Ya,” sahut Siau Po mengakui.
Hay kongkong menarik nafas panjang, “ltulah jalan darah Ci Hiat-kong. Kalau begitu,
guru bocah itu pasti lihay sekali”
“Masa bodoh pokoknya besok aku harus mengalahkannya” kata Siau Po ngotot.
“Bocah itu menggunakan ilmu partai Bu Tong pai.” Hay kongkong seperti
menggumam seorang diri, “Siapa sangka di dalam istana ini, ada jago yang demikian
lihay, Apa maksudnya? Sulit menebaknya… Eh, berapa kira-kira usia Siau Hian cu itu?”
“Mungkin lebih tua sekitar dua tahun dariku, kurang lebih lima enam belas tahun, tapi
tubuhnya lebih tinggi….”
“Berapa lama kau berkelahi dengannya?”

Bagian 05
“Kira-kira satu jam….”
“Jangan mengoceh sembarangan Berapa lama sebenarnya ?”
“Tidak ada satu jam, mungkin setengahnya,.,.”
“Kalau aku bertanya, jangan kau jawab asal-asalan saja. Kau harus mengatakan
yang sebenarnya. Dia belajar silat, kau tidak, Kalah pun tidak perlu malu, Apalagi
usianya dan tubuhnya lebih besar dari kau. Tidak apa meskipun kau kalah seratus kali,
yang penting akhirnya kau bisa menang Dengan demikian lawan akan menyerah dan
mengakui kau sebagai seorang enghiong”
“Benar Dulu Han Kho cou telah melabrak Co Pa Ong sehingga Raja Cou itu
menggantung diri di sungai Ouw Kang,.,.”
“Apa? Menggantung diri di sungai? Bukan membunuh diri”
“Menggantung diri atau membunuh diri di sungai Ouw Kang sama saja pokoknya dia
kalah da membunuh diri sendiri”
“Baiklah, sekarang aku tanya lagi, Sebenarnya berapa kali kau kalah?”
“Paling-paling cuma dua atau tiga kali”
“Pasti empat kali.”
“Yang benar-benar kalah cuma dua kali, yang dua kali aku dikelabui olehnya, tidak
masuk hitungan”
Hay kongkong tersenyum.
“Anak ini keras kepala tapi jujur,” pikirnya dalam hati, “Otaknya juga cerdik sekali,”
kemudian dia berkata, “Kau tidak mengerti sekolah ilmu silat, Siau Hian cu pasti akan
mengganggumu terus sampai kau benar-benar takluk Tapi aku percaya dia juga baru
belajar, Kau jangan takut, nanti aku ajarkan kau ilmu Tay kim na-hoat. Asal kau
mengingatnya baik-baik, besok kau pasti dapat melawannya”
Siau Po kegirangan. “Ya, aku akan belajar sungguh-sungguh. Akan kujatuhkan dia”
“Masih belum tentu, Nak. Tergantung dari latihanmu ilmu itu terdiri dari delapan belas
jurus, dan setiap jurusnya ada tujuh delapan gerak perubahan. Tidak mungkin bisa kau
pelajari dalam waktu satu hari, sekarang kau perhatikan baik-baik, begini caranya”
Hay kongkong berdiri. Sebelah kakinya diangkat ke atas sedikit untuk memasang
kuda-kuda. Kemudian kedua tangannya mulai bergerak perIahan-lahan.

“Kau perhatikan ingat baik-baik kemudian kau ikuti, Setelah kau bisa
menjalankannya dengan baik, nanti aku beberkan setiap perubahannya.”
Siau Po menurut, dia langsung bersilat otaknya memang cerdas sekali, ingatannya
kuat Dia dapat menirukan gerakan orang tua itu. Setelah menjalankan tujuh delapan
kali, dia langsung berteriak.
“Sekarang aku bisa”
“Mari kita coba” kata Hay kongkong yang langsung duduk di kursi, “Kau boleh mulai
menyerang”
Siau Po menurut, baru tangannya bergerak, tahu-tahu bahunya telah terpegang.
“Kau belum bisa” kata Hay kongkong, “Ayo latihan lagi”
Siau Po tertegun, tapi dia mengerti ia meneruskan latihannya, tapi ketika dia
mencobanya untuk kedua kali, kembali dia gagal
“Huh Bocah tolol Kau benar-benar kutu kecil yang bebal”
“Dasar kura-kura tua” maki Siau Po dalam hati, namun dia terus berlatih, pikirannya
dilanda kebingungan.
Walaupun kau berlatih tiga tahun lagi, tetap saja kau tidak dapat menghindarkan diri
dari seranganku seharusnya ketika aku menyambar, kau langsung menyambuti dengan
menghajar tanganku. Sebab seranganku ini tidak dapat ditangkis, itu namanya diserang
namun menyerang”
Senang hati Siau Po memperoleh keterangan dari si orang tua.
“Begitu rupanya, nah sekarang aku akan memulai” Dia lantas menyerang, Dia
disambar, tetapi tahu-tahu telinganya kena ditampar
Dia menjadi terkejut dan panas hatinya dan bermaksud membalas menampar telinga
si orang tua, tapi dia gagal. Tangannya malah kena dicengkeram kemudian disentakkan
sehingga tubuhnya terpelanting.
Hay kongkong tertawa terbahak-bahak.
“Dasar kutu kecil bebal, otak lembu, Nah, sekarang kau ingat baik-baik”
Siau Po terlempar ke sudut tembok dan jatuh terbanting. Hampir saja dia semaput.
Hatinya semakin panas, Hampir saja dia mencaci Untung saja dia masih bisa
mengendalikan mulutnya, malah diam-diam dia berpikir “Betul Tipu gerakan ini bagus
sekali, Aku akan mencobanya besok”

Dia langsung merayap bangun dan terus latihan lagi.
Bocah ini memang keras kepala, Dia terus berlatih, berkali-kali dia gagal, namun dia
terus mencoba, Hatinya merasa penasaran, bagaimana mungkin seorang yang sudah
buta masih begitu lihay?
“Kong kong, bagaimana sebenarnya ini? Mengapa aku tidak bisa menghindar dari
seranganmu?”
Hay kongkong tersenyum.
“Beberapa kali aku menyerangmu dengan perlahan Kalau aku mau, kapan saja aku
bisa mencelakaimu. Biar pun belajar sepuluh tahun lagi, tetap saja kau tidak bisa
menghindarkan diri dari seranganku sekarang kita kembalikan saja pada urusanmu
sendiri”
Siau Po menurut. Dalam hatinya dia ingin sekali mengalahkan Siau Hian cu,
karenanya dia lalu berlatih sungguh-sungguh. Dia berlatih dari siang sampai sore, Hay
kongkong juga melayaninya.
Malam itu Siau Po tidur dengan menahan rasa nyeri bekas pukulan dan jatuh, Tapi
dia tidak menghiraukannya, sebab semua itu toh tidak membahayakan nyawanya.
Besok paginya, kembali dia pergi berjudi. Siang harinya dia mencari Siau Hian cu,
yang dia temukan dengan pakaian baru, Hatinya sengit sekali. Lupa ia akan ajaran Hay
kongkong, tanpa berpikir panjang dia menyerang bocah itu.
Sekali renggut dia berhasil mengoyak pakaian Siau Hian cu, tapi bocah itu tidak
memperduIikannya, tinjunya menghajar ke pinggang Siau Po sehingga thay-kam
gadungan itu menjerit-jerit kesakitan. Tangan Siau Hian cu juga menotok paha kirinya
sehingga di lain saat dia telah ditunggangi seperti seekor kuda.
“Ya, aku menyerah”
Siau Hian cu bangkit, memberi kesempatan kepada lawannya agar dapat berdiri Siau
Po memperhatikannya lekat-lekat. Dia sudah bersiap.
“Majulah” tantangnya.
Siau Hian cu maju, tapi kali ini dia gagal Sebab satu jurus dari Toa Kim na-hoat
membuatnya menjerit-jerit kemudian terpaksa mengaku kalah.
Bukan kepalang girangnya hati Siau Po, ini merupakan kemenangannya yang
pertama, dia menjadi lupa daratan dan sombong, Dan ketika mereka bergebrak
kembali. Dia jadi kena dirobohkan.

“Celaka” pikirnya dalam hati, dia pun meningkatkan kewaspadaan dan berkelahi
dengan penuh perhatian. Pada babak keempat, mereka seri. Mereka sudah bergumul
cukup lama sehingga keduanya sama-sama merasa letih, permainan pun dihentikan
“Hari ini kau maju banyak sekali” kata Siau Hian cu sambil tertawa. Pertempuran ini
sangat menarik hati. siapakah yang mengajari kau?”
“lnilah kepandaianku sendiri,” sahut Siau Po berbohong. “Selama dua hari ini aku
memang sengaja menyembunyikannya, Besok-besok masih banyak kejutan yang akan
kuperlihatkan kepadamu. Kau mau coba atau tidak?”
“Tentu aku suka mencobanya” kata Siau Hian cu, “Awas, jangan sampai kau
berkaok-kaok mengaku kalah dan takluk kepadaku”
“Hal itu tidak akan terjadi Besok kaulah yang akan mengaku kalah”
Sampai di situ keduanya berpisah, Siau Po kembali ke kamarnya, pekerjaannya
sekarang rutin sekali, bermain judi dan melawan Siau Hian cu.
Tanpa terasa dua bulan sudah dia menetap di istana itu, Dia mendapat berbagai
pengalaman baru dan pengetahuannya pun semakin bertambah sekarang dia tahu
bahwa ilmu silat Hay kongkong berasal dari Siau lim pai. sedangkan Siau Hian cu dari
Bu Tong pai.
Sementara itu, hutang kedua saudara Un semakin bertumpuk Siau Po sengaja
menawarkan jasanya kepada mereka. Rasanya kesempatannya untuk masuk ke kamar
tulis raja guna mencuri kitab yang dimaksudkan Hay kongkong tidak lama lagi akan
datang.
Jumlah hutang keduanya sudah mencapai dua ratus tail lebih, Belakangan mereka
kalah habis-habisan. Keduanya saling lirik sekilas, kemudian Yu To berkata kepada
Siau Po.
“Saudara Kui, kami ingin membicarakan sesuatu, sudikah saudara ikut dengan
kami?”
“Baik,” sahut Siau Po santai, “Kalau kalian masih membutuhkan uang, katakan saja”
Terima kasih,” kata Yu To. Mereka terus berjalan mengikuti Siau Po, ketiganya
menuju rumah sebelah.
“Saudara Kui, kau masih begitu muda, namun hatimu mulia sekali, Sukar mencari
orang baik sepertimu di zaman ini,” kata Yu To memuji
Tentu Siau Po senang dipuji, tetapi dia tetap merendah.

“Ah, saudara hanya memuji, di antara orang sendiri tidak perlu sungkan-sungkan.
Soal pinjam meminjam tidak menjadi masalah” kata Siau Po sambil mengeluarkan
uang sebanyak tiga puluh tail dan diserahkannya kepada kedua saudara itu. “Kalian
butuh uang? Ambillah ini”
“Kau baik sekali, saudara, cuma hati kami jadi tidak enak,” kata Yu To. “Hutang kami
sudah banyak…”
“Saudara, semakin lama kau semakin maju saja, sedangkan modal kami pun sudah
amblas, bahkan hutang kami menumpuk, entah sampai kapan baru kami bisa
melunasinya? perasaan kami jadi bingung….”
Siau Po tersenyum.
“Hutang tidak terbayar padahal hal yang biasa, sudahlah, tak usah saudara
menyebut-nyebutnya lagi.”
Yu To menarik nafas panjang.
“Saudara, kau sungguh baik, jadi maksudmu, sampai kapan pun hutang kami itu
tidak perlu dipikirkan?”
“Memang begitulah maksudku, Tidak apa-apa, meskipun sampai dua ratus tahun”
“Sampai dua ratus tahun? Mana ada manusia yang umurnya sepanjang itu?” tukas
Yu Hong sambil menoleh kepada kakaknya dan Yu To pun menganggukkan kepalanya,
“Saudara Kui, setahu kami, majikanmu itu hebat sekali”
“Maksudmu, Hay kongkong?”
“Benar,” sahut Yu Hong, itulah yang mengkhawatirkan kami. Meskipun kau tidak
menagih hutang itu, tapi bagaimana dengan majikanmu? Kami akan mencari akal untuk
membayarnya.”
Otak Siau Po bergerak cepat, pikirnya dalam hati.
“Hay kongkong memang cerdik, Kura-kura tua itu bisa memandang jauh, Entah apa
yang dipikirkannya sekarang?” Selama ini dia repot bertanding dengan Siau Hian cu,
sehingga lupa urusannya mencari kitab.
“Baiklah, sekarang aku ingin mendengar apa yang akan dikatakan kedua bersaudara
ini.” Karena itu pun, dia memperhatikan kedu orang di hadapannya.
“Saudara Kui, setelah berpikir sekian lama kami rasa hanya ada satu jalan, yakni
jangan kau beritahukan kepada Hay kongkong mengenai hutang kami, Kami berjanji,
kalau nanti menang main kami akan melunasi hutang itu.”

“Kalian berdua memang kura-kura. Boleh saja kalian berjanji, tapi mana mungkin
kalian bisa melunasi hutang kalian itu? Kalian toh tidak mungkin mengalahkan aku”
makinya dalam hati.
Namun di luar dia berkata: “Sayang sekali…” Siau Po pura-pura menyesal “Hal itu
justru sudah diketahui oleh kongkong, Majikanku itu pernah mengatakan, bahwa hutang
harus dilunasi, tetapi waktunya boleh diperpanjang sedikit.”
Mendengar kata-katanya, kedua saudara itu terkejut setengah mati, Mereka saling
melirik sekilas. Tampaknya mereka memang takut terhadap Hay kongkong.
“Tapi, saudara muda, tidak dapatkah kau membantu kami? Begini, kalau kau
menang lagi nanti, uang kemenangan itu kau serahkan kepada kongkong dan katakan
sebagai cicilan hutang kami”
“Ah Kalian memang Iicik” maki Siau Po dalam hati, “Apakah kalian mengira aku ini
bocah usia tiga tahun?” gerutunya lagi diam-diam.
“Caramu itu bisa juga dilakukan, tetapi apakah tidak akan menimbulkan kesulitan
bagiku?” katanya kepada kedua saudara Un itu.
“Saudara Kui, kau memang baik sekali, Terima kasih untuk kebaikanmu itu,” kata
kedua saudara Un dengan perasaan lapang.
“Kami tidak akan melupakan budimu untuk selamanya” kata Yu Hong.
“Kalau kalian sudah mengambil keputusan seperti itu, baiklah, cuma ada satu
permintaanku. Dapatkah kalian memberikan bantuan kepadaku?”
“Mudah Mudah” sahut kedua orangku serentak “Bantuan apa yang dapat kami
Iakukan?”
“Begini, sudah banyak hari aku berdiam dalam istana. tetapi selama ini aku belum
pernah melihat wajah Sri Baginda, Berbeda dengan kalian, sebab di dalam Gi Si Pong,
kalian senantiasa melayani junjungan kita itu. Aku bermaksud meminta kalian mengajak
aku melihat Sri Baginda.”
Yu To dan Yu Hong terkejut sekali.
“Ini… ini” Sikap mereka gugup sekali, Untuk sesaat mereka sampai tidak dapat
mengatakan apa-apa.
“Jangan salah paham, Aku hanya ingin melihat wajah Sri Baginda, Aku bukan
hendak mengajukan sesuatu, Kalau aku berada dalam Gi Si Pong, tentu aku bisa
melihat beliau Betapa puas hatiku nanti Andaikata gagal, aku juga tidak akan
menyalahkan kalian”

Kedua saudara itu berdiam diri sejenak untuk berpikir Kemudian terdengar Yu To
berkata.
“Kalau tujuan Saudara hanya untuk melihat wajah Sri Baginda, siang nanti aku akan
menjemput saudara dan mengajak saudara ke Gi Si Pong, ItuIa saatnya Sri Baginda
berada di kamar tulisnya untuk menulis sajak atau yang lainnya, Di saat itu lebih banyak
kesempatan saudara untuk melihatnya.” selesai berkata Yu To pun melirik ke arah
saudaranya sekali lagi.
Siau Po melihat sikap kedua orang itu dan diam-diam ia berkata dalam hatinya.
“Kura-kura, kalian memang banyak lagak. Mungkinkah di siang hari Sri Baginda
justru tidak berada di kamar tulisnya? Tapi, apa perduliku? Tujuanku toh bukan untuk
melihat Raja, tapi untuk mencuri kitab, Namun, bagaimana kalau aku bertemu dengan
raja? Apa yang harus kukatakan? Kalau rahasiaku ketahuan, aku bisa dihukum mati
sekeIuarga…. Kalau aku berhasil mencuri kitab itu, mungkin kongkong akan
mengajarkan aku ilmu silat yang sebenarnya, Selama ini aku masih sering dikalahkan
oleh Siau Hian cu.”
Membawa pikiran demikian, Siau Po segera menjura kepada kedua saudara Un.
“Terima kasih, saudara sekalian, Pada dasarnya kita semua memang para budak,
tetapi kalau seumur hidup kita tidak bisa melihat wajah Sri Baginda, tentu di akherat
nanti kita akan dicaci maki Raja Akherat.”
Sampai di situ, mereka pun berpisah.
Kedua saudara Un memenuhi janji, Baru lewat jam Bi si, mereka sudah menjemput
Siau Po. padahal waktu perjanjian masih kurang satu kentungan.
Di luar kamar, Yu Hong bersiul perlahan sebagai tanda dan Siau Po pun segera
menghampirinya, kedua saudara itu memberi isyarat dengan gerakan tangan, kemudian
mereka bertiga menuju ke arah barat.
Kali ini Siau Po mengingat-ingat setiap jalan yang dilaluinya, dia terasa diajak cukup
jauh berjalan Tiba-tiba Yu To menghentikan langkah kakinya dan berkata perlahan.
“Sudah sampai inilah Gi Si Pong Kau harus berhati-hati”
“Aku mengerti,” sahut Siau Po.
Dua saudara Un mengajak Siau Po ke belakang, jalannya memutar. Di situ ada
sebuah pintu kecil yang kemudian mereka masuki setelah melintasi dua buah taman
kecil mereka sampai di sebuah ruangan yang besar. Di dalamnya terdapat beberapa
rak besar yang penuh dengan berbagai kitab, jumlahnya mungkin mencapai ribuan jilid.

Melihat buku-buku itu, Siau Po diam-diam menarik nafas panjang, Dia merasa kagum
juga bingung.
“Kalau aku memiliki buku sebanyak ini dan diharuskan membacanya. Mana ada
waktu lagi untuk berjudi? Kongkong menyuruh aku mencuri sebuah kitab, tetapi kitab
yang mana? Bagaimana aku mencarinya?” gerutunya dalam hati.
Siau Po hanya mengenal huruf angka seperti 123 dan seterusnya, sekarang dia
harus mencari sebuah kitab di antara ribuan jilid, bagaimana kepalanya tidak menjadi
pusing? Rasanya dia ingin membalikkan tubuh untuk kabur dari tempat itu
“Sebentar lagi Sri Baginda akan datang ke kamar tulisnya ini. Dia biasa duduk di
belakang meja itu,” bisik Yu To sambil menunjuk
Siau Po memperhatikan keadaan dalam ruangan. Di tengah-tengah ada sebuah
meja besar, terbuat dari kayu mahoni dan pinggirannya dilapisi emas.
Meja itu sangat indah, dan harganya pasti mahal sekali, kecuali beberapa jilid buku,
di atas meja juga terdapat beberapa macam peralatan tulis. Kursinya memakai alas dan
sarung yang bersulamkan naga dari benang emas.
Meskipun nyalinya besar sekali, tetapi melihat perabotan dalam kamar itu, jantung
Siau Po bertebaran juga, Di dalam hati kembali dia memaki “Raja kura-kura ini, bahagia
sekali hidupnya”
“Kau bersembunyi di belakang rak buku itu,” kata Yu To, “Nanti kau bisa melihat Sri
Baginda raja, Selagi Sri Baginda menulis, kau jangan bersuara sedikit pun. juga jangan
batuk-batuk atau berdehem, Kalau kau sampai kepergok dan Sri Baginda gusar,
mungkin beliau akan memanggil para siwi (pengawal) dan kau pun akan diringkus untuk
dipenggal batang lehermu”
“Aku tahu” sahut Siau Po. “Tak nanti aku bersuara ataupun terbatuk-batuk.”
Kedua saudara Un segera bekerja, mereka membersihkan debu-debu dari meja dan
kursi, juga menyapu lantai sehingga semuanya bertambah mengkilap, Cermin muka
pun dilap sehingga menjadi terang.
“Saudara, kalau lohor ini Sri Baginda raja tidak datang, berarti hari ini beliau tidak
akan datang lagi, sebentar lagi akan ada siwi yang meronda, kalau kita sampai
kepergok, habislah semuanya” kata Yu To.
“Aku tahu,” sahut Siau Po. ” sekarang kalian boleh pergi dulu, aku akan menunggu
sebentar lagi.”
“Tidak bisa, Kau tentu tahu peraturan di dalam istana, bukan? Baik para thay-kam
dan dayang-dayang tidak dapat sembarangan saja menghadap raja.”

“Betul, saudara Kui,” kata Yu Hong menambahkan. “Bukannya kami tidak suka
membantumu, tapi berdiamnya kami di sini ada batas waktunya. Kami hanya boleh
berada di sini selama setengah jam. Selesai menjalankan tugas, kami harus keluar lagi,
jikalau kami berayal, dan kena dipergoki para siwi, setidaknya kami bisa dirotani atau
beratnya dihukum mati”
“ltu toh tidak berarti?” kata Siau Po seenaknya.
Yu Hong membanting kaki.
“Saudara Kui, di sini kita tidak bisa main-main. Untuk melihat Sri Baginda, besok
masih ada kesempatan kita datang lagi saja besok,”
“Baiklah,” sahut Siau Po akhirnya, “Mari kita pergi”
Bukan kepalang leganya hati kedua saudar Un. Mereka segera keluar dari ruangan
itu sambi mendampingi Siau Po dari kanan kiri, justru pada saat itu, tiba-tiba Siau Po
berkata. “Kalian juga belum pernah melihat Raja, bukan?”
Yu Hong tertegun.
“Kau… kau… bagaimana….” sikapnya gugup, Sudah tentu dia ingin bertanya,
“Bagaimana kau bisa tahu?” Tetapi belum sempat dia menyelesaikan ucapannya, Yu
To sudah menukas.
“Mana mungkin kami belum pernah melihatnya ?” Yu To lebih pandai berpura-pura,
“Sudah sering kami melihat beliau.”
Siau Po tidak mau memojokkan mereka. Dia berjanji kepada kedua saudara Un
bahwa dia akan menggunakan uang kemenangannya sebagai pembayar hutang
kepada Hay kongkong.
Kedua saudara itu langsung mengucapkan terima kasih berulangkali, serta
mengatakan kelak mereka akan membalas budi kebaikan Siau Po.
Sekejap saja mereka sudah sampai kembali di pintu samping, Siau Po berkata. “Lain
kali kalian ajak lagi aku kemari, lihatlah peruntunganku”
“Ya, ya” sahut kedua saudara Un.
Mereka pun berpisah, Siau Po berjalan dengan cepat, setelah melintasi dua buah
lorong, dia menghentikan langkah kakinya dan menolehkan kepala untuk melihat kedua
saudara Un itu.
Dia bersembunyi sebentar, begitu kedua orang itu pergi jauh, dia langsung kembali
lagi, tujuannya sudah pasti kamar tulis raja. Sempat dia merasa kecewa, karena
ternyata pintunya dikunci. Untuk sesaat Siau Po tertegun.

“Pintu kamar tulis ini sudah dikunci, ternyata kedua saudara Un itu tidak berbohong,
pasti barusan ada siwi yang meronda kemari, tetapi, kemana perginya mereka
sekarang?” pikirnya dalam hati.
Siau Po memasang telinganya di depan pintu, Dia tidak mendengar suara apa pun.
Hatinya penasaran dia mengintai dari lubang kunci, tidak terlihat seorang pun di dalam
kamar tulis itu. Akhirnya dia mengeluarkan pisau belati yang digunakannya untuk
membunuh Siau Kui cu.
Kepalanya melongok ke kanan kiri. Setelah yakin tidak ada orang, dia congkelkan
pisaunya ke dalam celah pintu sehingga palangnya terbuka, Dengan gesit dia membuka
pintu itu dan kemudian menyelinap ke dalamnya, pintu itu pun lalu dipalang kembali
Ternyata Gi Si Pong itu nama kamar tulis Raja dan di dalam tidak ada siapa-siapa.
Melihat kursi yang bersulaman indah itu, Siau Po tidak dapat menahan keinginan
hatinya, Dia berjalan menghampiri kursi itu kemudian duduk di atasnya.
“Gila, Raja dapat duduk di sini, mengapa aku tidak?” meskipun mulutnya berkata
demikian, ketika dia menghenyakkan pantatnya di atas kursi itu, jantungnya berdegup
dengan kencang.
“Ah, kursi ini tidak seberapa nyaman diduduki, kalau begitu jadi Raja juga belum
tentu enak,” pikirnya kembali.
Tidak berani dia duduk lama-lama, cepat-cepat dia mendekati rak besar dan mencari
kitab Si Cap Ji cin-keng. Namun dia menemui kesulitan, jumlah bukunya terlalu banyak,
sedangkan dia tidak bisa membaca.
Dia mencari judul buku dengan huruf “Si” sebagai permulaan Dia menemukannya,
tetapi huruf keduanya bukan Cap. Kemudian dia mencari buku yang huruf keduanya
“Cap”, kembali dia menemui kegagalan sebab yang ada bukan Cap Ji tapi Cap Sha tiga
belas.
Ah, dimanakah letaknya kitab itu, tanyanya berulang-ulang dalam hati, Tepat pada
saat itulah dia mendengar suara langkah kaki di luar pintu.
“Celaka ada orang” hatinya terkesiap, “Bagaimana baiknya? Tidak dapat dia berlari
keluar sebab pintunya hanya ada satu,

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s