“ PANGERAN MENJANGAN” – “ LU DING JI “ 05

berani menentang Tan hiocu. Hampir saja dia tidak
percaya dengan pendengarannya sendiri. Dia berdiri dari tempat duduknya, tetapi tetap
berdiri di tempat. Dia merasa ragu untuk melangkah.
“Apa lagi yang kau tunggu? Mengapa masih belum pergi?” tanya Hay kongkong.
“Baik” sahut Mau Sip-pat sembari membalikkan tubuhnya dan menarik tangan Siau
Po. Bibirnya bergerak-gerak, seakan ada sesuatu yang ingin dikatakannya, tetapi tidak
ada sedikit pun suara yang tercetus dari mulutnya.
Hay kongkong menarik nafas panjang.
“Percuma kau menjadi orang kangouw sampai berpuluh tahun lamanya. Masa kau
tidak tahu peraturan sedikit pun? Apakah kau akan meninggalkan tempat ini begitu saja
tanpa meninggalkan apa-apa sebagai tanda mata?”
Sip-pat menggigit bibirnya keras-keras.
“Benar, Aku orang she Mau sampai melupakan hal itu. Saudara cilik, pinjam pisaumu
sebentar. Aku akan mengutungkan tangan kiriku sebagai tanda mata” katanya.
Ucapan Mau Sip-pat ditujukan kepada si thay-kam cilik yang menggenggam sebilah
pisau belati sepanjang delapan dim yang tadi digunakan untuk memutuskan tali
pengikat mereka berdua.
“Tangan kiri saja masih belum cukup” kata Hay kongkong.
Wajah Mau Sip-pat langsung merah padam saking gusarnya.
“Kau menginginkan tangan kananku juga?”
Hay kongkong menggelengkan kepalanya, “Dua belah tangan dan dua biji mata”
Sip-pat tercekat hatinya, Tanpa dapat ditahan lagi, kakinya menindak mundur dua
langkah, cekalannya pada Siau Po dilepaskan.
Dengan gerakan cepat tangan kanan dan tangan kirinya bergerak serentak, Tangan
kiri diangkat ke atas, tangan kanan bergerak ke samping, itulah jurus Ti-gu Bong Goat”
(Badak menengadah menghadap rembulan).
Dalam hatinya dia berpikir “Bagaimana mungkin kau menginginkan kedua belah
tangan dan kedua biji mataku? Tanpa lengan dan mata, apa gunanya aku menjadi
manusia? Lebih baik aku mengadu jiwar biarlah aku mati di tanganmu”
Hay kongkong tidak menolehkan kepalanya atau memperhatikan gerak-gerik Mau
Sip-pat, dia sibuk mengurus batuknya yang semakin lama semakin menjadi-jadi,

nafasnya seperti sesak, Hay kongkong berdiri sambil memegangi tenggorokannya
seperti ingin mengurut-urut agar pernafasannya menjadi lega.
Melihat penderitaan taykam tua itu, Mau Sip-pat berpikir dalam hati.
“Kalau tidak lari sekarang, mau kapan lagi?” Tubuhnya langsung bergerak, bukan
untuk menyerang thay-kam tua itu, tetapi untuk menarik tangan Siau Po agar dapat
diajaknya berlari bersama.
Tepat pada saat tubuh Sip-pat bergerak, Hay kongkong menurunkan tangan dan
kedua jarinya seperti memotes ujung meja, potongan meja itu disambitkannya ke
depan.
Sip-pat baru sampai di ambang pintu ketik potongan kayu itu menghajar betis
kanannya, tepat di jalan daerah Hok-tut hiat. Tenaganya punah seketika, kemudian ia
terjatuh dalam posisi bertekuk Iutut. Satu serangan lain mengenai betis kirinya sehingga
Siau Po pun ikut terguling jatuh.
Sementara itu, suara batuk Hay kongkong masih terdengar terus, Terdengar pula
Siau Kui cu berkata:
“Makan lagi obatnya setengah bungkus, mungkin batuknya bisa reda….”
Terdengar sahutan si thay-kam tua.
“Baik, baik. Tambah sedikit tidak apa. Tetapi kalau lebih bisa membahayakan.”
“Baiklah.” Terdengar Siau Kui cu berkata. Thay-kam cilik itu merogoh sakunya untuk
mengambil obat, kemudian dia menuju ke dalam untuk mengambil secawan arak.
Sesaat kemudian dia sudah kembali lagi, dibukanya bungkusan obat itu ia dikoreknya
sedikit dengan ujung kelingking.
“Ter… lalu ba… nyak….”
“Baik,” sahut Siau Kui cu. Dia menuangk kembali setengah bubuk itu ke dalam
bungkusannya. Matanya menatap Hay kongkong seakan ingin menanyakan apakah
takarannya sudah cukup.
Hay kongkong menganggukkan kepalanya. Tiba-tiba punggungnya membungkuk,
batuknya semakin menjadi-jadi. Kemudian mendadak saja tubuhnya roboh tengkurap di
lantai, tubuhnya kelojotan.
Siau Kui cu terkejut setengah mati, Dia menubruk Hay kongkong kemudian
memapahnya bangun.
“Kongkong Kongkong” panggilnya berkali-kali, “Kenapa kau, kongkong?”

“Panas… panas…” kata Hay kongkong kalang kabut, “Papah aku ke dalam gentong
air itu, aku ingin berendam…”
“Ya” sahut Siau Kui cu yang langsung mengerahkan tenaganya untuk membimbing
Hay kongkong, Sesaat kemudian terdengar Burrr Tubuh thay-kam tua itu pun
dicemplungkan ke dalam gentong air.
Bagian 04
Semua itu diperhatikan oleh Siau Po. Diam-diam dia berdiri lalu berjalan menuju
meja, dengan ujung kelingking dia mengorek obat dari bungkusan tadi dan lalu
menuangkannya ke dalam cawan arak. Setelah mengorek tiga kali, Siau Po khawatir
dosisnya masih kurang keras, dia menambah dua korekan lagi.
Dari dalam kamar terdengar suara Sau Ku cu.
“Kong kong, apakah kau sudah merasa baikan? jangan berendam terlalu lama”
“Baik… baik” sahut si thay-kam tua. “Panas… panas seperti terbakar api.”
Sementara itu Siau Po melihat pisau belati di atas meja, diambilnya pisau itu,
kemudian ia rebah kembali di samping Mau Sip-pat dalam posisi semula. Terdengarlah
suara air dari dalam kamar, kemungkinan Hay kongkong sudah selesai berendam.
Dia keluar dengan dipapah oleh Siau Kui cu. Suara batuknya masih belum berhenti.
Siau Kui cu mengambil cawan arak kemudian membawanya ke dekat mulut Hay
kongkong, orang tua itu masih terbatuk-batuk sehingga dia tidak dapat meminum arak
itu. Siau Po memperhatikan dengan seksama, hatinya tegang bukan main, jantungnya
berdebar-debar. Dia berharap Hay kongkong meneguk arak itu.
“Lebih baik tidak usah minum obat, tidak usah minum obat.,.” kata Hay kongkong.
“Ya…” sahut Siau Kui cu. Diletakkannya cawan arak di atas meja, kemudian dia
membungkus rapi obat tadi dan memasukkannya ke dalam saku bajunya.
Masih saja thay-kam tua itu terbatuk-batuk, akhirnya dia menunjuk ke arah cawan
arak di atas meja, Siau Kui cu segera mengambilnya dan kembali membawanya ke
depan mulut Hay kongkong. Kali ini si thay-kam meneguk seluruh isinya hingga kering.
Sementara itu Mau Sip-pat sudah habis kesabarannya, nulutnya mengeluarkan
erangan sedikit.
“Kau berharap… dapat… hidup terus, bukan?” tanya Hay kongkong.

Baru dia selesai bertanya, tiba-tiba terdengar suara: Buk Kursi yang didudukinya
rubuh terguling, tangannya sempat memegangi ujung meja, tetapi tekanannya terlalu
keras, sehingga meja itu tidak kuat bertahan, tubuh Hay kongkong pun bergulingan di
atas tanah.
“Kongkong Kongkong” panggil Siau Kui cu yang terkejut sekali, serta merta dia
menghambur ke depan untuk memapah tubuh orang tua itu, posisinya sekarang
memunggungi Mau Sip-pat dan Siau Po.
Wi Siau Po maklum apa yang harus dia lakukan, wataknya memang berani sekali,
dia bangkit dan tiba-tiba dia menerjang ke arah Siau Kui cu, sebelum thay-kam cilik itu
menyadari apa yang sedang terjadi, punggungnya sudah tertikam pisau belati di tangan
Siau Po. Hanya satu kali dia sempat menjerit kemudian tubuhnya roboh terguling,
otomatis tubuh Hay kongkong pun jatuh kembali.
Siau Po menghampiri thay-kam tua itu. Pisau belati masih digenggamnya erat-erat.
Dia bermaksud menikam orang tua itu, tetapi tiba-tiba Hay kongkong membuka
matanya dan berkata kepada pelayannya.
“Eh, eh…. Siau Kui cu, kok, rasanya obat ini kurang beres…?”
Siau Po terkejut sekali, dia batal menikam, Hay kongkong tidak hanya bertanya, dia
memutar tubuhnya sambil mengulurkan tangannya. Tangannya malah membentur
pergelangan tangan Siau Po yang mana langsung dicekalnya.
“Siau Kui cu, a… pakah… barusan kau tidak salah menakar obat?”
“Ti… dak sa… lah” sahut Siau Po dengan membuat suaranya kurang jelas, Dia
merasa cekalan pada tangannya nyeri sekali sehingga rasa sakitnya menghebat, tetapi
dia tidak berani menjerit karena takut suaranya dikenali.
“Cepat… cepat nyalakan lilin” seru Hay kongkong gugup. “Gelap sekali, apa pun
tidak terlihat”
Siau Po bingung sekali, api lilin menyala dengan terang, mengapa thay-kam tua itu
mengatakan keadaannya gelap gulita. Suatu ingatan melintas dalam benaknya,
“Jangan-jangan matanya menjadi buta sehingga yang dilihatnya hanya kegelapan?”
Siau Po ingin mendapatkan kepastian.
“Lilin masih menyala, Kong kong, apakah kau tidak melihatnya?”
Suaranya Siau Po berbeda dengan suara Siau Kui cu. Hal ini karena Siau Po orang
Yang-ciu, sedangkan Siu Kui cu adalah bangsa Boan ciu, tetapi dia berusaha
menirukan suaranya, agar tidak dikenali oleh Hay kongkong.
“Aku tidak melihatnya…” sahut Hay kongkong. “Siapa bilang lilin itu dalam keadaan
menyala Lekas sulut” teriaknya sambil melepaskan cekala pada tangan Siau Po.

“Ya… ya” sahut Siau Po. Cepat-cepat dia menjauhkan diri, dia berjalan menuju
dinding dan sengaja membenarkan tubuhnya satu kali agar bersuara, “Lilin telah
dinyalakan”
“Apa? Ngaco Kenapa kau masih belum menyalakan lilinnya?”
Baru berkata sampai di sini, tiba-tiba tubuhnya terguling jatuh kembali Hay kongkong
rebah dalam posisi terlentang. Melihat keadaan itu, Siau Po segera memberi isyarat
dengan tangan agar Mau Sip-pat segera meninggalkan tempat itu, tetapi Sip-pat justru
menggapaikan tangannya karena dia ingin mengajak Siau Po.
Bocah cilik itu berpikir dalam hatinya, “Dua orang minggat bersama lebih berbahaya,
mudah dipergoki orang. Lebih baik mereka memencarkan diri, karena itu dia memberi
isyarat kepada kawannya agar lari terlebih dahulu.
Mau Sip-pat sempat bimbang sejenak, Terdengar Hay kongkong merintih.
“Siau… Kui cu…. Siauw.. Kui… cu”
“Ya, aku di sini,” sahut Siau Po sambil mengibaskan tangannya menyuruh Mau Sippat
meninggalkan tempat itu.
Mau Sip-pat tidak bisa kabur, kedua kakinya masih tertotok, Dengan kedua
tangannya dia memijit dan mengurut bagian pinggang dan kedua betisnya, sebegitu
jauh, dia masih belum berhasil.
“Aku tak dapat berjalan, memang tidak mudah aku mengajak Siau Po. ia masih kecil
tapi juga cerdik sekali, mungkin dengan mudah dia dapat meloloskan diri, tetapi kalau
kita lari bersama, lebih gawat lagi kalau kita dihadang oleh para pengikut Hay kongkong
yang lainnya,” pikirnya dalam hati.
Membawa pikiran demikian, Mau Sip-pat pun merayap meninggalkan tempat itu.
sebelumnya dia memberi isyarat kepada Siau Po. Dengan kedua tangan dia menyeret
tubuh serta kakinya.
Hay kongkong masih merintih terus, Siau Po tidak berani meninggalkannya. Dia
sadar, apabila Hay kongkong mengetahui bahwa Siau Kui cu sudah mati, orang tua itu
pasti akan berteriak sekeras-kerasnya sehingga orang-orang berdatangan dan pada
saat itu, tamatlah riwayat Siau Po.
“Mau toako kena masalah karena ulahku, Kedua kakinya terluka. Entah sampai
kapan baru bisa sembuh dan bagaimana caranya meloloskan diri dari tempat ini. Lebih
baik aku menunggu di sini saja, Yang penting si tua bangka ini tidak tahu kalau aku
bukan Siau Kui cu. Keadaannya parah sekali, kalau dia pingsan, aku bunuh saja
sekalian, baru melarikan diri,” pikir Siau Po.

Beberapa saat kemudian terdengar suara kentungan dipukul satu kali. Hal ini
menandakan bahwa saat itu sudah masuk kentungan pertama. Tampak sinar lilin
berkelebat, Siau Po menoIehkan kepalanya, rupanya salah satu lilin di ruangan itu
sudah tersulut habis, dan saat itu juga dia melihat mayat Siau Kui cu masih
menggeletak di sana, Tiba-tiba saja perasan bocah itu jadi takut.
“Aku yang membunuhnya, bagaimana kalau tiba-tiba dia menjadi setan dan minta
pertanggungan jawab dariku?” pikirnya dalam hati.
Siau Po berdiam diri sejenak, kemudian dia mengambil keputusan untuk melarikan
diri selagi masih tengah malam. Suara rintihan Hay kongkong masih terdengar
membuktikan bahwa thay-kam tua itu tidak pingsan.
Biarpun nyali Siau Po cukup besar, tetapi dia tidak berani terlalu dekat thay-kam tua
itu untuk menikamnya, Dia sadar ilmu orang tua itu tinggi sekali, salah sedikit saja dia
pasti mengetahui apa yang akan dilakukannya.
Bila dia menggerakkan kaki atau tangannya saja, celakalah Siau Po, apalagi kalau
bagian kepalanya yang kena, bisa-bisa remuk karena tenaga dalam thay-kam tua yang
kuat sekali itu.
Tidak lama kemudian, padamlah dua batang lilin yang lainnya, pandangan mata Hay
kongkong sudah rusak, ada lilin atau tidak tentu bukan persoalan lagi baginya, berbeda
dengan Siau Po, hatinya semakin kebat-kebit mengingat mayat Siau Kui cu dan bisa
tersentuh apabila dia mengulurkan tangannya.
“Ah, sebaiknya aku cepat-cepat pergi dari tempat ini,” pikirnya kembali.
Tiba-tiba terdengar suara rintihan Hay kong-kong.
“Siau Kui… cu… Siau.,., Kui… cu, di mana kau?”
“Aku di sini” sahut Siau Po sambil perlahan-lahan melangkah ke pintu.
“Siau Kui cu, kau… hendak… ke mana?”
“Aku… ingin buang air… kecil.”
“Kenapa tidak di kamar saja?” tanya Hay kong-kong kembali
“Ya… ya…” sahut Siau Po, Dia pun lalu pergi ke dalam kamar. Baru berjalan dua
tindak, ttba-tiba kepalanya membentur daun pintu.
“Eh, Siau Kui cu, ada apa?” tanya Hay kongkong bercuriga.
“Ti… tidak apa-apa.” Kepala Siau Po terasa sakit, dia merogoh sakunya untuk
mengeluarkan peletekan api. Dia melihat beberapa batang lilin di atas meja. Diambilnya

sebatang kemudian dinyala kannya lilin itu sehingga suasana kamar itu menjadi terang
kembali.
Di dalam terdapat dua buah tempat tidur, yang satu ukurannya besar dan yang
satunya lagi kecil. Siau Po tahu itu merupakan tempat tidurnya si thay-kam tua dan Siau
Kui cu. Ada sebuah meja da. sebuah lemari, juga beberapa peti, entah apa isinya.
Sebuah kamar yang perabotannya sederhana sekali, di sebelah kanan ada sebuah
gentong besar dan airnya bercipratan ke mana-mana.
“Apakah sebaiknya aku kabur lewat jendel saja?” pikir Siau Po dalam hatinya.
Tiba-tiba dia mendengar suara Hay kongkon bertanya kembali. “Eh, Siau Kui cu,
kenapa kau masih belum buang air juga?”
“Heran, Tidak henti-hentinya dia menanyaka aku, apakah dia sudah curiga kalau aku
bukan Sia Kui cu?”
Siau Po menjadi khawatir, dia segera mengambil pispot dari kolong tempat tidur,
sementara itu, matanya mengawasi jendela yang tertutup rapat dengan kertas
tempelan, mungkin khawatir Hay kongkong yang batuk-batuk terus bisa masuk angin
kalau dibiarkan terbuka.
“Kalau aku membuka jendela dengan paksa, suaranya pasti berisik dan si tua
bangka itu pasti akan mendengarnya, dia pun akan masuk ke dalam kamar untuk
meringkus aku,” pikirnya lagi.
Siau Po menguras otaknya habis-habisan, tapi dia tidak menemukan jalan lain, Di
dekat kolong tempat tidur Siau Kui cu ada seperangkat pakaian baru. Melihat itu, tibatiba
Siau Po mendapat sebuah ingatan, cepat-cepat dia membuka bajunya sendiri, lalu
menggantinya dengan pakaian itu.
“Siau Kui cu, sedang apa kau?” tanya Hay kongkong kembali.
“Tidak apa-apa.” Siau Po bergegas mengancingkan bajunya dan berjalan ke luar. Dia
sempat meraih kopiah Siau Kui cu dan mengenakannya sekalian.
“Lilinnya mati lagi,” katanya, “Aku mau ambil lagi satu batang.” ia kembali ke kamar,
diambilnya dua batang lilin sekalian merenggut bajunya sendiri.
Hay kongkong menarik nafas dalam-dalam agar dadanya lega. “Benarkah kau sudah
menyalakan lilin?”
“Benar, Apakah kongkong tidak melihatnya?” tanya Siau Po.
Thay-kam tua itu tidak memberikan komentar apa-apa. Beberapa kali dia terbatukbatuk
akhirnya baru berkata.

“Sejak dulu aku sadar obat itu tidak boleh diminum terlalu banyak, Rasanya pahit
sekali, Ya, memang makannya sedikit-sedikit, tetapi lama-lama akan menjadi bukit,
setelah bertahun-tahun racunnya mulai memperlihatkan reaksi sehingga timbullah efek
sampingannya di mata….”
Mendengar ucapannya, perasaan Siau Po menjadi agak lega. Hal ini membuktikan
bahwa orang tua itu benar-benar sudah buta, “Untung dia tidak tahu bahwa aku yang
menambah takaran obatnya, dalam anggapannya dia sudah minum obat itu terlalu lama
dan banyak….”
“Siau Kui cu” Tiba-tiba orang tua itu memanggil pula, “Bagaimana aku
memperlakukan dirimu selama ini?”
“Baik sekali,” sahut Siau Po. Dia tidak tahu bagaimana sikap Hay kongkong terhadap
Siau Ku cu sehari-harinya, tetapi dia merasa jawaban itu paling aman.
“Aih sekarang mata Kong koag sudah buta, dalam dunia ini hanya kau seorang yang
dapat kuandalkan untuk merawat aku. maukah kau untuk tidak meninggalkan aku?
Bagaimana kalau suatu hari nanti kau tidak memperdulikan aku lagi” suaranya
terdengar pilu dan mengenaskan.
“Tidak akan, Kong kong.-.”
“Sungguh?”
“Sungguh” sahut Siau Po. otaknya memang cerdas sekali, Dia dapat memberikan
jawaban dengan cepat dan pandai berpura-pura pula, nada suaranya begitu tegas
sehingga orang tidak akan mengetahui apakah dia serius atau memang berdusta,
“Kong kong, kau toh tidak memiliki orang lain lagi untuk melayanimu, kalau bukan
aku yang menemanimu, siapa lagi? Aku yakin lewat beberapa hari mata Kong kong
pasti akan sembuh kembali Kong kong tidak usah khawatir.”
“Tidak, Siau Kui cu. Mataku ini tidak mungkin bisa sembuh lagi” Hay kongkong
termenung sesaat, Kemudian baru berkata lagi, “Apakah orang she Mau itu sudah
kabur?”
“lya, Kongkong.”
“Bocah yang bersamanya itu telah kau bunuh bukan?”
Siau Po heran bagaimana Hey kongkong bisa mengetahuinya, Mungkinkah suara
jeritan tertahan dari Siau Kui cu dikira orang tua itu sebagai suaranya sendiri? Tapi dia
menjawab juga.
“Ya, kongkong, Bagaimana dengan mayatnya ?”

“Aih Kalau ketahuan kita membunuh orang di dalam kamar, urusannya bisa jadi
panjang, Siau Kui cu, ambil peti obatku”
“lya,” sahut Siau Po sambil langsung masuk ke kamar, tetapi dia tidak tahu di mana
letak peti obat. Lemari dibukanya, dia menarik setiap laci yang ada.
Tidak disangka-sangka, karena perbuatannya Hay kongkong tiba-tiba saja menjadi
marah.
“Siau Kui cu, apa yang kau lakukan?” bentak orang tua itu, “Mengapa kau membuka
lemari dan laci? Siapa yang menyuruhmu?”
Siau Po terkesiap, jantungnya berdebar-debar.
“Rupanya kotak-kotak ini tidak boleh sembarangan dibuka,” pikirnya, Cepat-cepat dia
menjawab “Aku lagi mencari peti obat, entah di mana letaknya?”
“Ngaco Masa peti obat saja kau lupa di mana letaknya?” bentak Hay kongkong.
“Kong kong, mungkin aku baru saja membunuh orang sehingga pikiranku menjadi
kacau. Apalagi mata kongkong sekarang sudah buta,” sahut Siau Po. Selesai berkata,
terdengarlah suara tangisannya yang terisak-isak.
“Aih Anak, apa artinya membunuh orang? Kau toh sudah biasa melihat orang
dibunuh? Peti obatku ada di dalam kotak pertama yang besar”
“Ya… ya” sahut Siau Po. “Aku… hanya takut….” Selesai berkata, dia segera
memperhatikan tumpukan kotak yang jumlahnya ada dua dan terkunci Entah di mana
anak kuncinya, Siau Po menghampiri kotak itu dan iseng-iseng menggerakkan
tangannya, ternyata kotak itu tidak terkunci.
“Bagus, Aku harus hati-hati agar setan tua itu tidak mencurigaiku”
Dia segera membuka peti itu. isinya terdiri dari berbagai jenis barang, tetapi peti kecil
yang berisi obat ada di sebelah kiri. Siau Po segera mengeluarkannya.
“Ambil sedikit bubuk Hoa si-hun, lalu taburkan pada bocah itu agar tubuhnya lumer
dan musnah”
“lya” Siau Po segera membuka peti obat di mana di dalamnya terdapat botol-botol
kecil dengan berbagai warna, tetapi tidak ada satu pun yang bertulisan Siau Po menjadi
bingung, yang mana bubuk Hoa si-hun?
“Botolnya yang mana?” tanyanya kemudian.
“Bagaimana sih kau hari ini? Apa benar pikiranmu begitu kacau?” Hay kongkong
balik bertanya.

“Aku takut, kongkong,” sahut Siau Po pura-pura bergetar “Apakah matamu benarbenar
tidak dapat disembuhkan lagi?” kata-kata itu penuh perhatian Si thay-kam tua itu
jadi terharu, dia meng-usap-usap kepala Siau Po.
“Botol itu bentuknya segi tiga, warnanya hijau berbintik-bintik putih, Obat itu sangat
manjur, sedikit saja sudah cukup.”
“Ya, ya…” sahut Siau Po yang langsung mengambil botol yang disebutkan tadi,
Dibukanya tutup botol itu, kemudian dari dalam laci diambilnya sehelai kertas, Obat itu
dituangkannya sedikit ke atas kertas, kemudian dituangkannya ke tubuh Siau Kui cu.
Sampai beberapa saat kemudian tidak ada perubahan apa-apa. Siau Po merasa
heran, sedangkan Hay kongkong menunggu laporan darinya.
“Bagaimana?” Akhirnya Hay kongkong tidak sabaran.
“Tidak ada perubahan apa-apa,” sahut Siau Po jujur.
“Di mana kau taburkan bubuk itu? Bukan di darahnya?” tanya orang tua itu.
“Oh, aku lupa” kata Siau Po yang segera menuangkan lagi bubuk obat itu ke luka
Siau Kui cu yang masih berdarah.
“Hari ini tingkahmu agak janggal,” kata Hay kongkong sambil menggelengkan
kepalanya, “Sampai-sampai suaramu ikut berubah”
Tepat pada saat itu terdengar suara peletekan dari tubuh Siau Kui cu, kemudian
tampak asap mengepul, lalu keluar semacam nanah yang terus mengalir Setiap kali
asap mengepul semakin tinggi, nanahnya pun keluar semakin banyak, sedangkan
bagian yang terluka juga menguak semakin lebar.
Heran Siau Po menyaksikan perubahan itu. Dia memperhatikan dengan seksama.
Dia dapat melihat bahwa daging di tubuh Siau Kui cu yang terkena rembesan nanah itu
langsung musnah. Bahkan baju dan celananya pun perlahan-lahan termakan habis.
Cepat-cepat Siau Po melemparkan baju luarnya sendiri ke cairan itu, ia juga membuka
sepatunya sendiri untuk ditukar dengan sepatu Siau Kui cu.
Kurang lebih satu jam kemudian, habislah seluruh tubuh Siau Kui cu, yang tersisa
hanya cairan berwarna kuning.
“Kalau si tua bangka ini pingsan, bagus sekali, Sekalian saja kububuhkan obat ini
agar tubuhnya juga lumer seperti mayat Siau Kui cu tadi,” pikir Siau Po dalam hati.
Hay kongkong masih terbatuk-batuk. Berulang kali dia menarik nafasnya dalamdalam,
tetapi tidak pernah jatuh pingsan.

Sementara itu, di jendela terlihat sinar matahari mulai menyorot, tandanya sang fajar
telah menyingsing. Ternyata waktu berlalu tanpa terasa.
“Sekarang aku telah mengganti pakaian, rasanya tidak perlu takut lagi untuk keluar
berjalan-jalan, siapa yang akan mengenali aku?” pikir Siau Po kembali dalam hatinya.
“Siau Kui cu” tiba-tiba Hay kongkong memanggilnya, “Hari sudah terang, bukan?”
“Ya,” sahut Siau Kui cu palsu ini dengan cepat.
“Kalau begitu, cepat kau ambil air dan bersihkan cairan kuning itu. Baunya tidak enak
sekali”
Siau Po mengiakan, dia bekerja dengan gesit. Sejenak kemudian cairan kuning di
atas lantai tidak bersisa Iagi.
“Sebentar lagi, habis sarapan, kau boleh berjudi dengan mereka…” kata Hay
kongkong,
Siau Po merasa heran, Hatinya bertanya-tanya.
“Berjudi? Aku tidak mau Matamu sudah buta, Mana bisa aku meninggalkanmu
hanya untuk ber-main-main?” sahutnya.
“Bermain-main? Siapa bilang bermain-main?” tegur Hay kongkong marah. “Kau lupa
apa yang aku pesankan? BerbuIan-bulan aku mengajarimu, berapa ratus tail uang yang
telah kau habiskan semuanya demi urusan besar kita, Apakah kau tidak mau
mendengar perintahku lagi?”
“Bukan,., bukan begitu.,,.” Siau Po benar-benar bingung. Dia hanya dapat mengikuti
perkembangannya saja, “Kesehatanmu sedang terganggu, batukmu semakin menjadijadi.
Kalau aku pergi, siapa yang akan merawatmu?”
“Kau harus menyelesaikan tugas yang aku perintahkan itu, urusan ini lebih penting
dari segalanya” kata Hay kongkong, “Sekarang coba kau main lagi”
“Bagaimana caranya?” tanya Siau Po.
“Bagaimana? Ambil dadunya” kata Hay kongkong sengit, “Kau membantah saja, hal
ini membuktikan bahwa selama ini kau tidak belajar dengan sungguh-sungguh, Sudah
begitu lama kau belajar, mengapa masih belum juga terlihat kemajuan apa-apa?”
Mendengar disebutnya tentang dadu, hati Siau Po langsung tertarik, Selama di Yangciu,
dia sudah kenal baik dengan permainan ini, bahkan merupakan salah satu
permainan favoritnya, selain mendengarkan kisah-kisah pahlawan-pahlawan besar si
tukang cerita.”

“Wah, kacau, Di mana lagi disimpannya dadu itu?” pikirnya bingung, Lalu dia berkata
kepada Hay kongkong, “Aduh, mengapa otakku hari ini kacau sekali? Di mana ya
kusimpan dadu itu?”
“Benar-benar manusia tidak berguna” bentak Hay kongkong, “Kenapa kau takut
bermain dadu? Taruh kata kau kalah, toh bukan uangmu yang dipertaruhkan. Dadu itu
disimpan dalam peti”
“Aku sendiri tidak mengerti” sahut Siau Po sambil menghampiri peti yang dimaksud
dan dia mendapatkan dadu itu tersimpan dalam sebuah guci kaca. Dia sampai
mengeluarkan seruan gembira, Siau Po menganggap dadu sebagai sahabatnya dan dia
cepat-cepat memberikan dadu itu kepada si thay-kam tua.
“Benarkah kongkong mengharapkan aku berjudi?” tanyanya meminta penegasan.
“Apakah kalau aku pergi, kongkong tidak akan kesepian ?”
“Sudahlah, jangan cerewet” bentak Hay kongkong, “Aku jamin, kalau aku yang
mengajari, kau akan pandai sekali bermain dadu”
“Ya… ya” sahut Siau Po. Baginya permainan dadu di mana pun sama saja, Toh,
buahnya hanya empat, Dia mencoba melemparkan dadu itu dan dia mendapatkan
empat dadu angka enam “Bagus” katanya, “Aku mendapat empat dadu angka enam”
“Coba aku periksa” kata Hay kongkong, Matanya sudah buta, dia tidak bisa melihat
sehingga terpaksa merabanya dengan tangan.
“Coba lagi” katanya,
Siau Po siap melemparkan dadunya kembali, tiba-tiba sebuah ingatan melintas di
benaknya, dia tidak tahu sampai di mana kehebatan Siau Kui cu bermain dadu, tetapi
kalau mendengar nada bicara Hay kongkong tadi, tampaknya si bocah cilik masih
kurang mahir.
Akhirnya dia mengambil keputusan untuk berpura-pura, jangan sampai kedoknya
terbuka. Dia melemparkan dadunya sembarangan kali ini dia mendapat 2 angka 3, satu
angka 4 dan satu lagi angka 5.
“Tidak apa-apa” kata Hay kongkong, “Coba lagi”
Sampai tujuh delapan kali Siau Po melemparkan dadunya namun gagal terus,
Sampai lemparan ke sepuluh baru dia mendapatkan kembali empat angka 6.
“Nah, sudah ada kemajuan” Hay kongkong senang sekali setelah memeriksa.
“Sekarang pergilah kau untuk mencoba peruntunganmu, Hari ini kau bawa lima puluh
tail perak”

Berjudi memang kegemaran Siau Po. Mendengar saja dia sudah senang, apalagi
disuruh memainkannya, tadi selagi membuka peti di kamar dia melihat ada beberapa
potong uang Goan po senilai dua puluh lima tail. Dia memang sudah mengambil dua
potong uang itu.
Tepat pada saat itu di luar kamar terdengar panggilan. “Siau Kui cu Siau Kui cu”
“Ya” sahut Siau Po.
“Siapa yang memanggil kau? Pergilah” kata Hay kongkong.
Senang sekali Siau Po mendengar perintah thay-kam tua itu. Baru saja dia berniat
melangkah keluar, sekonyong-konyong sebuah ingatan melintas lagi di benaknya, “Ah…
orang bisa mengenali bahwa aku bukan Siau Kui cu. Aku harus menutupi wajahku
ini….”
Dia memang cerdik, Diambilnya sehelai saputangan yang kemudian ia gunakan
untuk menutupi wajahnya sehingga yang terlihat hanya matanya saja.
“Kong kong, aku pergi” katanya berpamitan kepada si orang tua. Lalu bergegas dia
keluar dari kamar itu. Di luar kamar telah menunggu seorang thay-kam cilik. Dia
memperhatikan Siau Po dengan heran.
“Kemarin aku kalah, sehingga dihajar oleh Kongkong,” kata Siau Po memberikan
alasan.
Thay-kam kecil itu tertawa.
“Sekarang kau berani main lagi? Tentu kau ingin mendapat pulang modalmu, bukan”
Siau Po menarik tangan thay-kam cilik itu lalu mengajaknya menjauh dari pintu
kamar.
“Hussh jangan berisik, nanti terdengar oleh kongkong” kata Siau Po pura-pura takut,
“Tentu saja aku ingin modalku kembali”
“Kalau begitu, kau memang benar-benar berani Hayo kita ke sana” Kedua anak itu
jala berdampingan.
Kedua kakak beradik Un sudah datang, biar bagaimana hari ini kau harus menang”
“Gawat kalau aku sampai kalah lagi.”
Mereka melintasi beberapa serambi dan koridor panjang, kagum sekali Siau Po
melihat tempat itu. Dia berpikir dalam hati. “Sungguh hebat pemilik tempat ini. Dia
sanggup membangun gedung yang luas dan demikian indah.”

Siau Po melihat tiang-tiang penglari yang terukir indah. Seumur hidupnya belum
pernah dia melihat gedung seindah ini. Mereka melintasi sebuah taman kecil di mana di
dalamnya ada sebuah paviliun, Setelah melewati dua buah kamar, thay-kam cilik
mengetuk sebuah pintu, pertama tiga kali, kemudian disusul dengan dua kali ketukan
terakhir tiga kali.
Sesaat kemudian pintu pun terbuka, terdengar suara suatu benda yang bergerak di
dalam mangkuk, di situ terdapat enam orang yang dandanannya berseragam. Rupanya
mereka sedang bermain dadu.
“Ada apa dengan Siau Kui cu?” tanya seseorang yang usianya kurang lebih dua
puluh tahun,
“Dia kena dihajar oleh Hay kongkong karena kekalahan kemarin,” sahut si thay-kam
cilik yang menjemput Siau Po.
Orang itu pun tertawa, Siau Po berdiri di belakang mereka, Dia melihat ada yang
memasang satu tail ada pula yang memasang lima Ci, tidak tentu jumlah taruhannya, ia
ikut, dia memasang lima ciam.
“Lihat Siau Kui cu” kata seorang lainnya, “Entah berapa banyak uang yang dicurinya
hari ini?”
“Kau mengatakan aku mencuri? Tidak enak didengar kata-katamu itu” Hampir saja
Siau Po mencaci maki kalau saja dia tidak ingat siapa statusnya sekarang dan di mana
dia berada. Untung pula dia ingat bahwa suaranya sekarang sudah tidak sama seperti
yang orang-orang itu ketahui sementara itu, dia memperhatikan aksen suara orang itu
baik-baik dengan harapan dapat menirunya kelak.
“Eh, Lao Go, bandar lagi apes, berapa pasanganmu sekarang?” tanya seorang pada
thay-kam cilik yang mengajak Siau Po.
“Dua tail” sahut Lao Gao, dia menoIehkan kepalanya kepada Siau Po. “Siau Kui cu,
bagaimana denganmu?”
Siau Po lantas berpikir “Untuk sementara sebaiknya aku jangan menang banyakbanyak,
mereka bisa curiga.” itulah sebabnya dia hanya memasang lima Ci. Orang lain
tidak ada yang menggubrisnya, Setelah itu Siau Po berpikir kembali bahwa sebaiknya
dia rela kalah dulu, nanti baru dia akan merebut kemenangan.
Perjudian pun berlangsung, orang lainnya bertaruh semakin besar, hanya Siau Po
yang tetap pada patokan semula, akhirnya sang bandar berkata.
“Paling sedikit satu tail, Lima Ci tidak boleh ikut”

Siau Po memang berat gengsinya, dia langsung menerima tantangan itu. Dia
memasang dua tail. Baik kalah ataupun menang, sikapnya cuek saja, Dia tidak ingin
menimbulkan kecurigaan orang lain.
“Ah, sialan, Apes benar aku hari ini” gerutu Lao Go. Dia sudah kalah tiga puluh tail.
Tampaknya dia kesal sekali.
“Pakailah uang ini untuk menebus kekalahanmu,” kata Siau Po kepada sahabat
barunya. Dia menyodorkan uang senilai tiga puluh tail.
“Saudara, kau baik sekali” kata Lao Go sambi menepuk bahu Siau Po.
Melihat keadaan itu, semua orang menjadi senang, Bahkan si bandar berkata:
“Hebat, Siau Kui cu Hari ini jiwamu besar”
Permainan itu pun dilanjutkan, Ketika Siau Po sudah menang sepuluh tail, seseorang
berkata: “Sudah waktunya bersantap, besok kita sambung lagi.”
Permainan pun dihentikan, Semua lantas menukar Ciam dengan uang kontan.
“Entah di mana tempat bersantap?” tanya Siau Po dalam hati.
Sedang Lao Go kalah lagi dua puluh tail. “Saudara, besok saja kuganti uangmu itu,”
katanya kepada Siau Po.
“Tidak perlu dipikirkan urusan kecil,” sahut rekannya.
“Kau benar-benar baik sekali, cepatlah kau pulang, sudah saatnya Hay kongkong
bersantap” kata Lao Go pula.
“Oh, rupanya semua orang bersantap di tempat masing-masing,” kata Siau Po dalam
hatinya, ia senang sekali, Dia memang berniat kembali ke kamar secepatnya, “Sampai
besok” katanya kepada Lao Go.
Mereka pun berpisah, Siau Po berniat meninggalkan tempat itu, tapi tidak tahu arah
mana yang harus diambilnya untuk menuju kamar Hay kongkong.
“Wah, celaka” pikirnya. Dia berputaran di tempat itu, tetapi ia malah kesasar, tidak
mudah menemukan kamar si thay-kam tua, Akhirnya dia sampai di depan sebuah pintu
modet rembulan, disebelah kiri ada sebuah kamar yang dari dalamnya terpancar bau
makanan.
Pintu kamar itu tidak tertutup rapat, mengendus makanan itu, perutnya langsung
terasa lapar, Siau Po menghampiri pintu kamar dan mendorongnya sedikit. Tidak ada
seorang pun di dalamnya, Dia memberanikan diri untuk masuk ke dalam.

Di atas meja terdapat beberapa macam kue, diambilnya kue itu lalu dimasukkannya
ke dalam mulut, kue itu rasanya enak sekali dan baunya harum. Dia makan lagi
beberapa potong, tetapi jenisnya berlainan dan Siau Po sadar dia sedang mencuri.
Tidak mau dia makan satu macam saja, agar tidak diketahui si empunya.
Tiba-tiba terdengar suara tindakan sepatu di luar kamar Tampaknya ada seseorang
yang sedang mendatangi Siau Po menyambar sepotong kue kemudian menyusup ke
kolong meja. Kamar itu kosong, tidak ada tempat lain yang dapat dijadikan tempat
persembunyian.
Tak lama muncullah orang yang suara langkahnya terdengar itu, Siau Po melihat
seorang bocah sebaya dengannya masuk ke dalam kamar. Dia mengambil sepotong
kue lalu memakannya.
“Ah, rupanya dia juga pencuri” pikir Siau Po dalam hati, “Seandainya aku berteriak,
tentu dia akan terkejut dan lari ketakutan Pada saat itu aku bisa makan kue sepuasnya,”
tapi Siau Po tidak melakukan hal itu, Sebaliknya, dia merasa menyesal mengapa tidak
mengambil kue lebih banyak lalu membawanya ke taman dan di sana dia bisa makan
dengan puas?
Tidak lama kemudian terdengar suara sesuatu yang dipukul Dia merasa heran,
cepat-cepat dia mengintai, rupanya bocah itu sedang memukuli sebuah boneka kulit.
Kelakuannya aneh sekali sebentar dia memeluk, kemudian mendorong lalu
dibantingnya.
Tapi pada dasarnya Siau Po memang cerdas, sejenak saja dia sudah mengerti apa
yang sedang dilakukan bocah itu, Ya, dia pasti sedang berlatih diri.
Siau Po menjadi tertarik, sembari tertawa dia keluar dari kolong meja.
“Boneka hanya barang mati, mana menarik diajak berlatih, Mari aku temani kau”
Berani sekali bocah ini. Begitu keluar dia langsung menantang
Anak kecil itu terkejut sehingga dia terlonjak dan memperhatikan Siau Po dengan
tertegun, dia melihat wajah orang di hadapannya tertutup sehelai sapu tangan putih. Di
saat lain, rasa terkejutnya sudah hilang, dia tersenyum sambil berkata:
“Baik, mari maju”
Siau Po menyeruduk ke depan untuk mencekal tangan bocah itu, namun lawannya
segera menggeser tubuhnya ke samping, kedua tangannya digerakkan kakinya
mengait, tubuh Siau Po pun bergulingan jatuh, Terdengar bocah itu berkata:
“Ah, kau tidak mengerti ilmu gulat”

“Siapa bilang aku tidak bisa?” teriak Siau Po yang langsung bangun kembali dan
menerjang ke arah kaki lawan untuk dipeluknya. Dengan demikian bocah itu gagal
menyambar punggungnya, malah sebaliknya Siau Po yang meluncur terus ke depan
dan lalu meninju dagu bocah itu.
Anak itu terkejut sekali, tetapi dalam sekejap dia sudah pulih kembali. Dia menyerang
lagi ke arah Siau Po, kali ini mereka bergumul Keduanya sama-sama jatuh di atas
lantai, sayangnya Siau Po kena ditindih oleh bocah itu.
Dia terus memberontak dan berusaha mengadakan perlawanan Akhirnya dia berhasil
pula membalikkan tubuhnya sehingga posisinya berada di atas, namun keduanya
sudah lelah sekali.
“Ha… ha… ha… ha…” Keduanya tertawa terbahak-bahak, pergumulan pun
dihentikan. Namun rupanya bocah itu jail juga, mendadak dia menarik sapu tangan
yang menutupi wajah Siau Po.
Siau Po terkejut, dia tidak sempat berkelit. “Ah.,., Rupanya kau yang mencuri
makanan” kata si bocah sambil tertawa lebar.
Siau Po memperhatikan dengan seksama, sekarang dia dapat melihat bahwa bocah
itu sangat tampan, wajahnya bersih serta menimbulkan kesan baik.
“Siapa namamu?” tanya bocah itu.
“Siau Kui cu. Kau sendiri?”
Anak itu bimbang sejenak, kemudian dia menjawab juga, “Aku Siau Hian cu. Kau
orangnya kongkong yang mana?”
“Aku melayani Hay kongkong….”
Siau Hian cu mengangguk-angguk, Dia menyeka keringat yang membasahi
wajahnya dengan kain penutup wajah Siau Po lalu diambilnya sepotong kue untuk
dimakan, Siau Po juga ikut makan.
“Kau belum belajar ilmu gulat, tapi gerakanmu cukup gesit sehingga tidak dapat
ditindih Iama-lama Kalau kita bergumul lagi, akhirnya kau akan kalah”
“Ah, belum tentu” kata Siau Po alias Siau Kui cu palsu.
“Kau tidak percaya? Baik, mari kita coba lagi”
Siau Po menerima tantangan itu dan mereka kembali bergumul Benar seperti apa
yang dikatakan anak itu, baru beberapa gebrakan saja Siau Po telah dirobohkan
kemudian ditindihnya.

“Nah, menyerah atau tidak?” tanya Siau Hian cu.
“Tidak” sahut Siau Po yang keras kepala.
Siau Hian cu bangun, Siau Po ingin menyerang kembali, tetapi bocah itu
mencegahnya.
“Cukup dulu Kau bukan tandinganku”
“Tidak” kata Siau Po penasaran “Besok kita lanjutkan lagi” ia menunjukkan
uangnya, “Besok kita bertaruh”
Siau Hian cu tertawa. “Baik Besok aku akan membawa uang Nah, sampai jumpa
besok siang”
“Baik, sampai besok Ingat, seorang laki-laki sejati, bila sudah mengeluarkan
ucapannya, kuda pun sukar mengejarnya”
“Ya,” sahut bocah itu. “Kuda pun sukar mengejarnya” Dia mengikuti ucapan Siau Po
kemudian meninggalkan kamar itu.
Siau Kui cu alias Siau Po juga ikut keluar sebelumnya dia meraup beberapa potong
kue kemudian memasukkannya ke dalam saku, Di tengah jalan dia mengingat kembali
saat Mau Sip-pat yan memenuhi perjanjian untuk mengadu ilmu.
Meskipun keadaannya sedang terluka saat itu, dia berpikir bahwa dia pun harus
memenuhi

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s