“ PANGERAN MENJANGAN” – “ LU DING JI “ 04

Au-ong Tung Ho yang merupakan sahabat karibnya Tay cou, tapi usianya lebih
tua. Teng Ji sudah lama mengenal Sri Baginda, Dia selalu mengambil bagian dalam
setiap peperangan Lie Bun Tiong adalah keponakan luar Sri Baginda, sedangkan Bhok
Eng adalah anak angkatnya, karena itu dia diijinkan memakai she rangkap.”
“0h… begitu rupanya Lalu apa artinya terompet tembaga dan panah api yang kau
katakan tadi?” tanya Sip-pat.

“Belakangan hanya tinggal Raja Muda Lian-ong dari In Lam dan Kui Ciu yang belum
tertaklukkan, Liang-ong itu bernama Colikuluhua. Dia keponakan Goan Sun-te, yakni
Kaisai terakhir dari kerajan Goan.”
Sebetulnya Siau Po hanya mendengar kisah yang dituturkan oleh tukang cerita.
Nama Raja Muda itu terlalu aneh sehingga dia tidak dapa mengingatnya. Karena itu dia
sembarangan menciptakan sebuah nama, padahal nama Raja Muda itu PacaIawaerimi.
Untung saja Mau Sip-pat memang tidak tahu apa-apa.
“Tay cou gusar sekali karena Raja Muda itu masih belum mau takluk juga, Akhirnya
dia mengirim pasukan perang besar berjumlah tiga puluh laksa jiwa untuk
menumpasnya, Panglimanya ialah Bhok ongya yang bersama Kwe Eng dan Yu Ti serta
Lie Giok Eng dari In Lam. Angkatan perang itu bertemu dengan pasukan Goan yang
dipimpin Jenderal Talima, panglima itu memiliki tubuh yang tingginya mencapai sepuluh
tombak dan kepala sebesar kuali….”
“Mana ada orang yang tingginya sepuluh tombak?” tukas Mau Sip-pat.
Siau Po mencibirkan bibirnya.
“Orang Tatcu memang jauh lebih jangkung daripada bangsa kita, bangsa Han,”
katanya tak kalah, “Jenderal Talima mengenakan seragam besi dan bertombak
panjang. Di tepi sungai Pek Sek di wilayah Tiok Ceng itu, dia berteriak bagai guntur,
Kemudian terdengar suara jeburan air dan percikannya muncrat ke mana-mana. Kau
tahu apa sebabnya?”
“Bagaimana aku bisa tahu?”
“Suara tawa itu terdengar sampai ke tepi sungai lainnya. Belasan prajurit Beng tak
sanggup mendengar suara itu, Mereka terkejut setengah mati dan roboh terjungkal dari
kudanya kemudian terjebur sungai. Bhok ongya sempat kebingungan. Gawat kalau
suara itu diperdengarkan terus, bisa-bisa seluruh tentaranya roboh dan kalah dengan
mengenaskan. Dia segera mencari akal untuk mengatasinya. BegituIah, ketika Talima
mau membuka mulut lagi, Bhok ongya segera memanahnya.
Dia lihay sekali, dengan sebat dia menghindar Memang dia berhasil menyelamatkan
diri, tapi di belakangnya terdengar suara jeritan saling susul menyusul. Jenderal Talima
terkejut setengah mati. Kiranya anak panah Bhok ongya telah menembus badannya
puluhan perwira sehingga tewas seketika.”
“Ah, mana mungkin ada tenaga yang demikian tangguh,” kata Sip-pat.
“Tapi kau harus ketahui, Bhok ongya merupakan bintang di langit yang menjelma ke
dunia untuk mendampingi Tay cou. jadi dia bukan manusia sembarangan panahnya
saja bernama Coan In-ciang (Panah penembus langit).”
“Kemudian bagaimana?” tanya Sip-pat yang sebetulnya ragu-ragu dengan cerita itu.

“Talima merasa penasaran. Dia balas memanah, tapi Bhok ongya berhasil
menangkap panah itu dengan kedua jari tangannya, Tepat pada saat itu, di angkasa
terbang serombongan burung belibis yang mendatangi Rombongan burung itu terbang
di atas kepala mereka, Bhok ongya mengatakan akan memanah mata sebelah kiri
burung yang ke-tiga, Jenderal Talima tidak percaya. Untuk memanah burung yang
ketiga saja sukar, apalagi matanya yang sebelah kiri. Bhok ongya segera memanah,
bukan ke arah burung tetapi ke arah Jenderal Talima.”
“Bagus” seru Sip-pat sambil menepuk pahanya, “Itu yang dinamakan siasat
bersuara di timur, menyerang di barat”
“Masih terhitung bagus nasib Jenderal Talima. Mata kirinya tertembus panah,
tubuhnya langsung terjungkal di atas tanah, Dengan demikian panah kedua dan ketiga
hanya mengenai bawahan. Delapan belas perwira orang Tatcu berbulu tubuhnya.
Pasukan tentara Beng menamakan mereka Mau-ciang dan Mau-peng, yakni prajurit
dan tentara berbulu. Akhirnya pihak Tatcu kehilangan delapan belas orangnya, Lantas
ada sebutan yang mengatakan dengan tiga batang anak panah, Bhok ongya
membunuh Mau Sip-pat”
Mau Sip-pat langsung tertegun.
“Apa katarnu?” Harnpir dia tidak percaya dengan pendengarannya sendiri Mau Sippat
yang diucapkan Siau Po artinya “delapan belas si berbulu” tapi nadanya sama
dengan namanya sendiri.
Siau Po memberikan penjelasan sampai beberapa kali, Akhirnya Mau Sip-pat tertawa
terbahak-bahak. Biar bagaimana, itu merupakan sindiran baginya. Mau Sip-pat
mendelikkan matanya sambil menggerutu.
“Ngaco Ada juga Bhok ongya memanah ke seberang, yang kena Wi Siau Po.”
Siau Po tertawa terbahak-bahak.
“Waktu peristiwa itu terjadi, aku masih belum lahir, bagaimana Bhok ongya bisa
memanah aku?”
Sip-pat juga tertawa.
“Lalu bagaimana kelanjutannya setelah panglima musuh terpanah mata kirinya?”
“Tentara musuh jadi kalang kabut setelah panglima dan perwira-perwiranya terluka,
Bhok ongya ingin mengejar ke seberang sungai Tiba-tiba dari seberang terdengar suara
riuh terompet. Rupanya bala bantuan musuh telah tiba. Mereka langsung menyerang
dengan anak panah. Waktu itu malam telah tiba. Bhok ongya kembali mencari akal,
Empat panglima bawahannya diperintahkan membawa pasukan tentara ke hilir, Dengan
diam-diam mereka menyeberang secara memutar sesampainya di sana, mereka
diperintahkan untuk membunyikan terompet tembaga dengan riuh.”

“Ke empat panglima itu pasti Lau, Pek, Pui dan Sou, bukan?”
Sebetulnya Siau Po tidak tahu siapa keempat panglima itu, tetapi dia tidak ingin Mau
Sip-pat menebaknya dengan tepat, karena itu dia berkata:
“Bukan, Mereka adalah Ciu, Go, Tan dan Ong, sedangkan Lau, Pek, Pui dan Sou
selalu mengiringi Bhok ongya”
“Oh, begitu,” sahut Sip-pat yang kena dibodohinya.
“Sampai di situ, Bhok ongya menitahkan si Lau berempat memberi titah kepada para
tentaranya agar berteriak-teriak dengan bising. Di lain pihak, seribu prajurit telah
disiapkan dan diperintahkan menyeberangi sungai dengan rakit serta sampan.”
“Musuh melihat mereka, yang mana lantas memanah secara serabutan, Wah, entah
berapa banyak ikan dan udang yang mati terpanah”
“Ngaco ikan masih bisa dipanah, udang mana mungkin? Ukurannya terlalu kecil”
“Kalau kau tidak percaya, coba kau ke pasar beli ikan, udang dan kepiting, kau
gantungkan dengan disusun lalu kau panah, coba mati apa tidak?”
“Sip-pat tahu Siau Po hanya sembarangan mengoceh, tetapi dia tetap ingin tahu
kelanjutannya.
“Lalu bagaimana akhirnya?”
“Akhirnya tentara Bhok ongya mengambil delapan belas ekor ikan yang terpanah,
Ikan-ikan dipanggang lalu dimakan beramai-ramai, habis” sahut si bocah yang cerdik.
“Dasar setan cilik, kutu kupret Kau memang pandai menyindir orang dengan cerita
yang diputar balikkan” gerutu Mau Sip-pat sambil tertawa, “Hayo cepat katakan
bagaimana keterusannya mengenai Bhok ongya dapat menyeberangi sungai?”
“Bhok ongya menunggu sampai si Ciu dan kawan-kawan sudah sampai di belakang
musuh dan membunyikan terompet tembaga, baru dia menyeberangi sungai. Bersama
sisa pasukannya, dia naik rakit dan sampan, tangan masing-masing menggenggam
sebuah perisai, dengan demikian panah musuh tidak bisa mengenai mereka, sementara
itu bangsa Tatcu sudah kekurangan anak panah karena tadinya terlalu dihamburhamburkan,
Mereka kena dilabrak sehingga lari kocar-kacir. Di antara musuh ada
seseorang yang rebah di atas punggung kuda serta dilindungi para perwira. Diduga,
dialah Jenderal Talima. Bhok ongya mengejar sambil menyerukan agar Talima
menyerah, tetapi pihak musuh menyangkal bahwa orang itu adalah Jenderal Talima,
Namun ia tetap dapat dikenali karena di mata kirinya masih menancap anak panah.
Kemudian orang itu diringkus oleh si Lau berempat. Dengan demikian bangsa Tatcu

pun menderita kekalahan. Banyak prajuritnya yang mati, sebagian di darat, sebagian
lagi di air. Yang di air menjadi santapan ikan-ikan….”
“Lalu?”
“Kemudian Bhok ongya dari Kiok Ceng maju terus sampai di luar tembok kota raja.
Musuh menggantungkan pengumuman agar peperangan ditunda, permintaan itu
diterima baik karena tidak ingin timbulnya banyak korban.
Malam harinya, ketika Bhok ongya sedang membaca kitab Cun Ciu, tiba-tiba
terdengar suara yang bising dan aneh dari dalam kota, Bukan suara harimau ataupun
serigala, Bhok ongya terkejut setengah mati sehingga ber-teriak….”
“Suara apa itu?” tanya Sip-pat
“Coba kau tebak”
“Tentunya suara jeritan Jenderal Talima dan anak buahnya”
“Bukan, Bhok ongya segera mengadakan rapat darurat, Lau Ciang Kun diperintahkan
membawa serdadunya yang berjumlah tiga ribu orang malam itu juga untuk mencari
tikus sawah, Siapa yang tidak berhasil mendapatkan akan diberi hukuman, sebaliknya
yang bisa mendapatkan akan diberi hadiah….”
“Untuk apa tikus sawah?” tanya Sip-pat bingung.
“Bhok ongya seorang ahli siasat perang. Rahasianya tidak boleh sembarangan
dibeberkan. Orang pun tidak boleh bertanya apa-apa. Kalau dia sampai marah,
seandainya kau adalah bawahannya, maka delapan belas batok kepalamu akan
diremukkan seketika.”
“Masa bertanya saja tidak boleh?”
“Tidak dalam keadaan seperti itu, Setelah itu, Bhok ongya menitahkan Pek ciangkun
membawa dua laksa serdadunya pergi ke tembok kota sejauh lima li untuk menggali
tanah sepanjang satu Ii. Dalamnya tiga tombak, penggalian itu harus sudah selesai
dalam waktu satu malam. Kemudian kubu-kubu pertahanan dimundurkan sejauh satu li,
jadi jaraknya dengan tembok kota kurang lebih enam li.”
“Aneh sekali Untuk apa lubang sepanjang dan sedalam itu?”
“Hm Kalau siasat perang Bhok ongya dapat diterka olehmu, maka Bhok ongya bisa
berubah menjadi Mau Sip-pat dan Mau Sip-pat berubah saja menjadi Bhok ongya.”
Sip-pat membungkam. Lagi-lagi Siau Po menyindirnya.

“Keesokan subuhnya, kedua panglima pulang dengan membawa laporan masingmasing,
bahwa sudah didapatkan tikus sawah sebanyak satu laksa lebih, dan
penggalian tanah pun sudah selesai Bhok ongya mengatakan “bagus” lalu beberapa
mata-matanya dikirim untuk mengintai gerak-gerik musuh.
Siang harinya, di dalam kota terdengar suara riuh rendah, terutama suara tambur
perang, Si mata-mata segera lari pulang menyampaikan berita, Tingkahnya panik sekali
dan berkali-kali menyerukan celaka, Bhok ongya menjadi gusar dan membentaknya
sambil menggebrak meja, Dia menanyakan apa yang telah terjadi, Mata-mata itu segera
melaporkan bahwa musuh telah membuka gerbang sebelah utara dan dari sana muncul
beberapa ratus kerbau siluman, Dikatakan siluman sebab hidungnya panjang, kawanan
binatang itu sedang menyerbu datang.”
“Binatang apa itu?” tanya Bhok ongya tersenyum, “Mustahil ada kerbau berhidung
panjang, Coba kau selidiki sekali lagi, Cepat”
Mata-mata itu mengiakan lalu berlalu menjalankan perintah Bhok ongya, walaupun
memberikan perintah demikian, tetapi Bhok ongya tetap memimpin pasukannya maju
ke depan, Dia mengawasi dari kejauhan sehingga dia dapat melihat debu-debu
beterbangan dari pihak musuh, Setelah itu beberapa ratus ekor “kerbau berhidung
panjang” seperti yang dilaporkan oleh mata-matanya datang menerjang.
Kiranya yang dimaksud adalah ratusan ekor gajah yang di bagian kepalanya
dikaitkan golok yang tajam, Gajah-gajah itu menerjang datang seperti kalap, sebab di
bagian ekornya diikat obor api yang menyala Liang-ong membeli beberapa ratu ekor
gajah itu dari Birma dan menjadikannya pasukan gajah api untuk menyerbu lawan.
Obor itu terbuat dari kayu cemara, saking kagetnya gajah gajah itu kabur ketakutan.
Gajah binatang yang besar dan kuat, kulitnya tebal, anak panah hanya dapat
melukainya karena sulit membunuhnya.
Kalau tentara Beng sampai kena diserbu pasukan gajah itu, mereka pasti akan
menderita kekalahan. Malah para tentara Beng yang asalnya dari Utara itu, boleh
dibilang mereka tidak pernah melihat gajah, itulah sebabnya hati mereka pun tercekat.”
“Pasukan gajah memang hebat sekali”
“Tetapi Bhok ongya tidak gentar. Bahkan sikapnya tenang sekali, Begitu pasukan
gajah itu mendekat, Bhok ongya segera memerintahkan bawahannya untuk
melepaskan semua tikus hasil tangkapan tadi malam. Dalam sekejap mata ribuan
bahkan laksaan ekor tikus sawah lari serabutan ke segala penjuru.
Gajah tidak takut harimau, singa ataupun beruang, tetapi takut tikus. Melihat binatang
kecil yang suka seradak-seruduk itu, kawanan gajah tersebut jadi terkejut. Semua
lantas membalikkan tubuhnya menerjang ke arah pasukan bangsa Tatcu sendiri.
Kacaulah tentara musuh. Sebaliknya, setiap gajah yang sampai di lubang penggalian,
semua tercebur roboh tanpa berdaya, Setelah itu Bhok ongya mengeluarkan perintah

lagi, yakni melepaskan panah api. Dengan demikian di udara segera terlihat ribuan
percikan api yang meleset ke arah musuh.”
“Bagaimana panah bisa berapi?” tanya Mau Sip-pat penasaran.
Siau Po tersenyum.
“Namanya saja panah api, sebetulnya bukan panah, Sejenis mesiu yang
ditembakkan dengan meriam dan terselubung sehingga suaranya bising dan
melesatnya jauh sekali, Gajah-gajah jadi ketakutan dan lari serabutan, sementara itu
Bhok ongya memerintahkan pasukannya menyerbu masuk ke kotaraja pihak musuh.
Saat itu Lian-Ong dan permaisurinya sedang berpesta, mereka sedang menantikan
berita kemenangan dalam peperangan tersebut Tidak disangkanya bahwa yang datang
menyerbu justru tentara musuh. Bukan main terkejutnya hati Lian-Ong dan
permaisurinya, Dia berteriak sekeras-kerasnya “Kuluaputuliwa KuIuapu-tuliwa”
“Apa artinya?” tanya Sip-pat kebingungan.
“Tentu saja yang digunakan adalah bahasa bangsa Tatcu yang artinya “Celaka,
pasukan gajah berontak” Dengan panik dia menyeret tangan permaisurinya melompati
tembok kota dan lari, Dia melihat sebuah sumur dan tanpa berpikir panjang lagi dia
langsung terjun ke dalamnya, Ternyata lubang sumur itu terlalu kecil sehingga hanya
sepasang kakinya yang masuk, sedangkan tubuhnya tertahan di luar Dengan demikian,
Bhok ongya jadi mudah meringkusnya.”
“Bocah, ceritamu bagus sekali” kata Mau Sip-pat sambil tersenyum. Dia tidak perduli
cerita Siau Po benar atau tidak, yang penting hatinya merasa senang dan perjalanan
pun tidak begitu membosankan.
Mau Sip-pat menggunakan kesempatan ini untuk menceritakan segala sesuatu yang
berkaitan tentang dunia kangouw kepada Siau Po, terutama mengenai apa saja yang
tidak pantas dilakukan.
“Kau tidak mengerti ilmu silat, tidak mungkin orang melakukan kekejaman atas
dirimu, tetapi jangan sekali-sekali kau berpura-pura, akibatnya malah gawat”
Siau Po hanya tersenyum.
“Aku kan Siau Pek-Iiong Wi Siau Po, aku bisa menyelam dalam air selama tiga hari
tiga malam dan makan ikan serta udang mentah-mentah.”
Sip-pat tertawa, Sahabat ciliknya itu memang lucu sekali, sepanjang jalan, tidak
pernah mereka bertemu lagi dengan keluarga Bhok. Selama itu pula luka di kaki Mau
Sip-pat berangsur-angsur sembuh, setibanya di Pe King, yakni kota raja, Mau Sip-pat
kembali memperingatkan Siau Po agar berhati-hati.

“Aku tidak takut, kaulah yang harus waspada”
Mereka menuju ke Se Sia, sebelah barat kota, Kemudian mereka masuk ke sebuah
rumah makan. Ketika mereka sedang menikmati hidangan, mereka melihat masuknya
dua tamu lain, Yang satu sudah tua, usianya sekitar enam puluh tahun lebih, sedangkan
yang satunya, bocah berusia sebelas atau dua belas tahun.
Siau Po merasa heran, karena dia melihat pakaian mereka aneh sekali.
Sip-pat yang sudah banyak pengalaman segera mengetahui bahwa kedua orang itu
merupakan para thay-kam (pelayan istana yang dikebiri). Si thay-kam tua berwajah
kekuning-kuningan, pucat dan tubuhnya bungkuk. Tak henti-hentinya dia mengeluarkan
suara batuk. Tampaknya orang itu sedang menderita sakit Si thay-kam cilik
memapahnya, Mereka duduk di meja sebelah timur.
“Bawakan arak” kata si thay-kam tua yang ternyata suaranya tajam sekali.
Pelayan bergegas datang dan melayani dengan hormat Tampaknya dia gentar
menghadapi kedua thay-kam tersebut. Si thay-kam tua lalu mengeluarkan sebuah
bungkusan dan membukanya, Isinya semacam bubuk.
Dia mengendus bubuk itu lalu dengan jari tangan diambilnya sedikit kemudian
dimasukkan ke dalam arak. Perlahan-lahan dia meneguk araknya itu.
Tak lama kemudian, mendadak thay-kam itu menggigil seperti orang kedinginan.
Pelayan rumah makan itu terkejut setengah mati dan menanyakan dengan panik.
“Ada apa? Ada apa?”
“Minggir” hardik si thay-kam cilik. “Buat apa kau mengoceh di sini?”
Kedua belah tangan thay-kam tua itu memegangi meja. Giginya gemerutukan
tubuhnya semakin bergetar. Bahkan sejenak kemudian, meja pun ikut bergetar, sampaisampai
cawan arak dan supit berjatuhan ke lantai.
Si cilik jadi kebingungan.
“Makan obat lagi…” katanya, “Kongkong, makan obat lagi saja”
“Tidak usah, tidak usah” sahut si thay-kam tua. suaranya masih setajam tadi, tapi
wajahnya menyiratkan ketegangan.
Si thay-kam cilik berdiri mematung dengan tangan masih menggenggam bungkusan
obat. Tepat pada saat itu terdengar suara langkah kaki yang ramai, muncullah tujuh
orang Iaki-laki bertubuh kekar. Mereka semua bertelanjang dada. Tubuh mereka
berminyak, dari muka sampai ke kaki.

Tubuh mereka juga berotot, sedang di bagian dada dipenuhi bulu hitam. Tangan
mereka kasar dan besar-besar. Mereka segera duduk memenuhi dua buah meja dan
berteriak meminta arak serta daging.
“Cepat” teriak beberapa orang.
“Ya Ya Tuan ingin memesan sayur apa saja?”
“Dasar budek” bentak salah satunya. Bahkan seorang rekannya yang lain langsung
menyambar pinggang pelayan itu dan mengangkatnya tinggi-tinggi, Pelayan itu
meronta-ronta sambil berkaok-kaok.
Ke tujuh orang itu tertawa terbahak-bahak, kemudian tubuh pelayan itu dilempar
keluar sehingga jatuh terbanting dan menjerit kesakitan orang-orang itu kembali
menertawakannya.
“ltulah ilmu gulat” bisik Sip-pat kepada Siau Po. “Setelah lawan tercekal kemudian
diangkat ke atas, lalu dibanting dengan keras agar lawan tidak bisa segera membalas
menyerang.”
“Apakah kau mengerti ilmu itu?” tanya Siau Po penasaran
“Tidak ilmu semacam itu tidak ada gunanya bagi seorang ahli silat.”
“Dapatkah kau melawan mereka?”
“Tidak ada gunanya”
“Seorang diri melawan mereka bertujuh, pasti kau kalah.”
“Mereka bukan tandinganku”
Sifat ugal-ugalan Siau Po timbul lagi, tiba-tiba dia berteriak kepada ketujuh orang itu.
“Eh, sahabat Kawanku ini mengatakan bahwa kalian bertujuh bukan tandingannya”
Mau Sip-pat terkejut setengah mati.
“Jangan mengacau” cegahnya.
Sip-pat tidak tahu bahwa hati Siau Po penasaran sekali melihat pelayan itu dibanting
tanpa melakukan kesalahan apa-apa. Dia merasa ketujuh orang itu perlu diajar adat.
Mendengar teriakannya, ketujuh orang itu menolehkan kepalanya serentak.
“Eh, bocah cilik, Apa yang kau katakan barusan?” tegur salah satunya.

“Kata kawanku ini, seenaknya kalian menghina pelayan itu, kelakuan kalian itu bukan
perbuatan orang-orang gagah” sahut Siau Po. “Kalau kalian memang berani, lawanlah
dia”
“Benarkah katamu itu, manusia hina?” salah seorang lantas maju memukul.
Sebetulnya Mau Sip-pat tidak berniat mencari keributan, tetapi hatinya panas melihat
kegarangan orang-orang itu, Apalagi dia memang benci sekali kepada bangsa Boan ciu,
teguran itu pun membuatnya gusar. Dia langsung mengangkat tangannya menangkis
sehingga orang itu menjerit kesakitan karena tulang lengannya patah.
Seorang lainnya menjadi gusar. Dia langsung menerjang ke arah Sip-pat untuk
melakukan serangan, tetapi dia langsung disambut dengan sebuah tendangan yang
mengenai perutnya, tubuhnya langsung terpental dan rubuh bergulingan.
Kelima orang lainnya langsung kalap, mereka mencaci maki dengan kalang kabut,
serentak mereka maju menerjang. Sip-pat menyambut dengan gerakan Kim Na hoat,
dengan mudah dia dapat merobohkan mereka.
Salah satu di antaranya langsung diangkat ke atas, diputar-putar dan baru kemudian
dilemparkan ke depan, Kepalanya jatuh karena posisi jatuhnya memang di bagian
kepala dulu.
Seorang lainnya maju menerjang tapi dia juga disambut dengan sebuah tendangan
di dadanya, nafasnya jadi sesak kemudian memuntahkan darah segar. Ketika ada lagi
yang maju, Sip-pat menghajar lengan orang itu sampai patah
Tanpa menunda waktu lagi, Sip-pat segera menarik tangan Siau Po.
“Lagi-lagi kau menimbulkan keonaran, mari kita pergi”
Tentu saja Siau Po mengerti. Dia pun mandah saja ditarik oleh Mau Sip-pat. Di luar
dugaan, tepat di depan pintu rumah makan itu mereka sudah dihadang oleh si thay-kam
tua.
Sip-pat mengulurkan tangannya dengan maksud mendorong agar orang memberi
jalan untuknya, tetapi saat tangannya menyentuh tubuh orang itu, hatinya langsung
tercekat. Tubuhnya tergetar kemudian terhuyung-huyung. Kakinya sampai menyurut
mundur dua tindak, pinggangnya membentur meja sehingga terbalik. Bahkan Siau Po
sampai ikut terpental dan jatuh ke dalam gentong air
Si thay-kam tua sendiri masih berdiri tegak di tempat semula, Hanya suara batuknya
yang tidak berhenti-henti.
Saat itu juga, Mau Sip-pat menyadari bahwa dia berhadapan dengan seorang
berkepandaian tinggi. Bahkan mungkin mengerti ilmu gaib. Kalau tidak, tak mungkin dia
kena terhantam balik oleh tenaga pantulannya sedemikian rupa.

Mau Sip-pat dapat merasakan gelagat yang kurang baik, cepat-cepat dia
mengangkat tubuh Siau Po dari dalam gentong air terus membawanya lari lewat bagian
belakang rumah makan itu. Baru saja melangkah tiga tindak dia sudah terkejut
setengah mati. Tahu-tahu thay kam tua itu sudah menghadang di hadapannya
Suara batuknya masih belum berhenti, Mau Sip-pat penasaran sekali. Dia menabrak
thay-kam tua itu, namun kembali tubuhnya terpental ke belakang sehingga dia harus
berjungkir balik di udara untuk menjaga keseimbangan agar tidak terguling jatuh,
sementara itu, tangannya masih tetap membopong Siau Po.
Baru saja kaki Mau Sip-pat mendarat di atas tanah, dia merasa punggungnya seperti
tersentuh sedikit, Di saat dia bermaksud menepis tangan itu, keadaan sudah kasip.
Tubuhnya langsung roboh, untung saja dia jatuh di atas tubuh kedua lawannya tadi
sehingga tidak sampai menderita sakit.
Kedua orang Boan ciu itu patah kakinya, tepi tangannya masih kuat sebagaimana
halnya para pegulat. Mereka langsung mencekal Mau Sip-pat erat-erat Sip-pat
mencoba mengadakan perlawanan tetapi tenaganya punah karena totokan si thay-kam
tua.
Tubuhnya ditekan ke bawah dalam posisi tengkurap sehingga dia tidak bisa melihat
apa-apa, tetapi telinganya masih mendengar suara batuk si thay-kam tua yang tidak
berhenti-henti.
“Kau terus menyuruhku minum obat, berarti kau memang menginginkan aku cepat
mampus, bukan?” bentaknya pada si thay-kam cilik. “Kalau kau menambah setengah
bungkus lagi saja, aku bisa mati konyol. Aih Anak, kau benar-benar ceroboh”
“Anak… anak benar-benar tidak tahu,” sahut si thay-kam kecil gugup, “Lain kali tidak
akan terulang lagi”
“Lain kali?” kata si thay-kam tua sambil tertawa getir, “Anak, kau toh tahu hidupku
tidak akan lama lagi”
“Kongkong, siapa orang ini? Mungkinkah salah seorang pemberontak atau
pembangkang Kerajaan?”
Si thay-kam tidak menyahut, dia malah bertanya kepada rombongan pegulat.
“Kalian ini fuku dari mana?”
“Kami dari istana The ongya, Terima kasih Kongkong, Apabila tidak ada bantuan dari
Kong kong, kami pasti sudah kehilangan muka.”
“Hm Hanya kebetulan saja”

Orang Boan ciu gemar bergulat, setiap Pwe le atau pangeran biasa memelihara
pegulat yang di namakan fuku, Begitu pula The ongya.
“Jangan menimbulkan keributan lagi, Sekaran kalian bawa laki-laki serta bocah ini ke
Tay lwe Siang Sian Kam. Katakan bahwa mereka adalah orang-orangnya Hay
kongkong”
“Baik, Kongkong,” sahut beberapa fuku itu. Mereka segera membereskan mayatmayat
teman mereka dan dibawanya sekalian bersama Mau Si pat dan Siau Po.
“Mengapa kau masih diam saja?” tanya thay-kam kepada bocah cilik itu. “Bukannya
cepat panggil joli, kau kan tahu aku tidak bisa berjalan”
“Ya, ya, Kongkong” sahut si thay-kam cilik sambil berlari keluar.
Thay-kam tua itu kembali mendekam di atas meja sambil terbatuk-batuk, sementara
itu, Siau Po dan Mau Stp-pat benar-benar tidak berdaya.
Malah Siau Po kena batunya, ketika dia berusaha meloloskan diri, tahu-tahu betisnya
terserang sebatang sumpit sehingga dia terguling jatuh, Dalam hati dia mencaci maki.
“Bapaknya Jin Setan tua itu pasti menggunakan ilmu siluman Mungkin dia memang
jelmaan siluman kura-kura yang hampir mampus” sebetulnya Siau Po memang ingin
kabur secara diam-diam, dia ingat tukang cerita di tempat tinggalnya sering mengatakan
“Selagi gunung masih menghijau, jangan takut kehabisan kayu bakar”,
Tidak lama kemudian, si thay-kam cilik sudah kembali dengan sebuah joli, Kemudian
si thay-kam tua digotong pergi, batuknya masih belum reda juga.
Di lain pihak, Siau Po dan Mau Sip-pat juga diangkut ke atas joli Iainnya. Tubuh
mereka diikat erat-erat dan mulut mereka juga disumpal dengan kain. Bahkan Siau Po
sudah dihajar beberapa kali karena tadinya mulut bocah itu tidak hentinya memakimaki.
Joli itu ditutup dengan tirai hitam sehingga orang di dalamnya tidak dapat melihat
apa-apa. Beberapa kali joli dihentikan kemudian terdengar suara orang bertanya,
namun akhirnya joli itu diberi jalan setelah salah seorang fuku menjawab.
“Kami mendapat perintah Hay kongkong dari Siang Sian Kam”
Siau Po bingung, Dia tidak tahu apa itu Siang Sian Kam. Tapi dia dapat menduga
bahwa thay-kam tua itu mempunyai pengaruh yang kuat di dalam istana kerajaan Boan.
Seumur hidupnya, baru dua kali Siau Po naik joIi, Yang pertama ketika dia ikut
dengan ibunya bersembahyang di kelenteng, Saat itu dia hampi tertidur pulas, ia
merasa joli dihentikan dan salah seorang fuku berkata.

“Orang yang dibutuhkan Hay kongkong suda tiba”
“Ya,” sahut seorang bocah cilik, “Hay kongkong sedang beristirahat. Biarkan saja
orang itu menunggu di sini”
Dari suaranya, Siau Po segera mengetahui bahwa yang berbicara barusan adalah si
thay-kam ciiik. Lalu dia merasa jolinya diangkat dan digotong menuju suatu tempat
kemudian berhenti lagi. Terdengar seseorang berkata:
“Kami akan pulang sekarang. Akan kami laporkan urusan ini kepada The ongya,
pasti ongya akan mengirimkan wakilnya untuk mengucapkan terima kasih kepada Hay
kongkong”
Terdengar lagi sahutan si thay-kam cilik.
“Kalian melakukan hal yang tepat. Memang kalian harus melaporkan urusan ini
kepada The ongya dan tolong sampaikan salam kongkong kepadanya.”
Sementara itu, hidung Siau Po juga mengendus bau obat. Diam-diam dia berpikir
dalam hati.
“Setan tua itu tampaknya sudah parah sekali penyakitnya, tapi mengapa dia tidak
cepat-cepat mampus saja? Celakanya kami justru sudah terjatuh ke dalam
genggamannya.”
Ruangan itu begitu hening. Hanya sekali-sekali terdengar suara batuk Hay kongkong.
Siau Po kesal sekali, dia merasa urat tangan dan kakinya mulai kaku. Dia juga tidak
dapat bersuara karena mulutnya tersumpaj sedangkan Hay kongkong seperti sudah
lupa kepada mereka berdua.
Entah berapa lama kemudian, tiba-tiba terdengar suara panggilan si thay-kam tua.
“Siau Kuicu”
Segera terdengar sahutan si thay-kam cilik, Siau Po berpikir dalam hati.
“Ah… dia juga memakai huruf Siau di depan namanya, sama dengan namaku”
“Lepaskan ikatan mereka, Ada beberapa pertanyaan yang ingin aku ajukan” perintah
Hay kongkong.
Siau Kui cu segera melaksanakan perintah itu, tidak lama kemudian penutup mata
Mau Sip-pat dan Siau Po telah dibuka, mereka melihat bahwa mereka berada dalam
sebuah ruangan yang besar, tapi perabotannya sedikit sekali.

Yang ada hanya sebuah meja dan kursi, Di atas meja tersusun beberapa jilid buku,
Hay kongkong duduk di atas kursi dengan posisi setengah menyandar, kedua pipinya
cekung, matanya setengah dipejamkan.
Sumpalan kain di mulut Sip-pat dilepaskan ketika Siau Kui cu akan melepaskan
sumpalan pada mulut Siau Po, Hay kongkong segera mencegahnya.
“Tunggu dulu, mulut bocah itu kotor sekali, Biar tersumbat agak lama”
Siau Po hanya dapat memaki kalang kabut dalam hati. ikatan kedua tangannya telah
dibebaskan tetapi dia tidak berani melepaskan sumpal mulutnya sendiri karena dia tahu
thay-kam tua itu lihay sekali, usahanya pasti sia-sia. Dia hanya dapat memperhatikan
sembari memasang telinga mendengarkan.
“Ambil kursi dan suruh dia duduk” perintah Hay kongkong.
Siau Kui cu segera menuruti perintah, Diambilnya sebuah kursi dari ruangan sebelah
kemudian dipersilahkannya Sip-pat untuk duduk, Siau Po tidak disediakan kursi. Tanpa
sungkan lagi dia duduk di atas tanah.
“Kalau tidak salah tuan ini she Mau dan ahli ilmu Ngo-houw toan bun to, bukan?”
tanya Hay kongkong.
Di dalam hatinya, Mau Sip-pat terkejut setengah mati, “Rupanya thay-kam tua ini
sudah mengetahui siapa diriku” Karena itu dia juga merasa tidak perlu berdusta lagi.
“Benar” sahutnya tanpa ragu.
“Menurut selentingan yang kudengar, katanya tuan melakukan perampokan di kota
Yang-ciu dan akhirnya setelah tertangkap, kau buron dari penjara setelah membunuh
beberapa hamba kerajaan, Banyak juga perbuatan onar yang telah kau terbitkan, ya?”
“Memang benar” sahut Sip-pat. Dia mengagumi kepandaian si thay-kam tua yang
tinggi, karena itu dia tidak mau berlaku kurang sopan.
“Sekarang tuan telah sampai di kota raja, dapatkah tuan memberitahukan apa
keperluanmu?” tanya Hay kongkong kembali.
“Aku toh sudah terjatuh dalam genggamanmu, mau bunuh, mau siksa silahkan, Aku
orang she Mau adalah seorang laki-laki sejati, tak bakal aku mengerutkan keningku.
Tapi kalau kau bermaksud mencari keterangan dari mulutku, sasaranmu salah”
Hay kongkong tersenyum.
“Siapa yang tidak tahu Mau Sip-pat adalah seorang laki-laki sejati? Untuk memaksa
kau, tentu aku orang tua tidak berani, tapi menurut kabar yang kuterima, katanya kau ini
orangnya Peng Si-ong….”

Belum selesai ucapan Hay kongkong, Mau Sip-pat sudah menukas dengan marah.
“Siapa yang mengatakan bahwa aku orangnya Go-sam Kui si pengkhianat bangsa?
Kata-katamu itu sungguh menghina”
Peng Si-ong adalah pangkatnya Go-sam Kui, yakni seorang Raja Muda yang
menaklukkan wilayah barat.
Thay-kam tua itu terbatuk-batuk beberapa kali, kemudian tersenyum lagi.
“Peng Si-ong telah berjasa besar terhadap kerajaan Ceng yang maha agung, Sri
Baginda sangat mengandalkannya, Kalau tuan memang orangnya Peng Si-ong,
sebaiknya katakan terus terang saja, Dengan memandang muka raja muda itu, aku
orang tua juga tidak akan memperpanjang persoalan.”
“Bukan Mau Sip-pat dengan jahanam Go-sam Kui tidak ada hubungannya sedikit
pun” teriak Mau Sip-pat. “Aku tidak sudi memperoleh keuntungan dari keparat itu.
Kalau kau memang mau membunuh aku, silahkan jangan membuat keluarga Mau sial
karena tuduhanmu itu”
Wi Siau Po juga pernah mendengar nama Peng Si-ong Go-sam Kui, orang itu yang
membawa pasukan bangsa Boan ciu memasuki gerbang perbatasan sehingga dinasti
Beng jatuh, Sejak itu pula kerajaan Ceng berkuasa di daratan cina. Dia maklum
mengapa Mau Sip-pat marah sekali dikatakan orangnya Peng Si-ong, sebab Go-sam
Kui dikenal sebagai pengkhianat bangsa Han atau Han Kan.
Sebetulnya ia kurang setuju dengan sikap Mau Sip-pat, pikirnya dalam hati.
“Si kura-kura tua ini pasti sedang membujuk sahabatku ini untuk mengaku, Mengapa
dia tidak mengakuinya saja, dengan demikian bukankah kita akan dibebaskan?
Sesudah bebas kita dapat memikirkan akal untuk melarikan diri dari kota raja, sekarang
saudara Mau malah berkeras. Bagaimana kalau dia sampai disiksa? Bukankah dia
hanya mencari penyakit? Sesudah bebas, kita bisa mencaci maki pengkhianat itu”
Sejak dibebaskan, Siau Po dapat menggerakkan kaki dan tangannya dengan
leluasa. Hanya mulutnya yang tetap tersumpal, Diam-diam dia mengangkat tangannya
ke atas untuk melepaskan sampai mulutnya itu.
Hay kongkong sedang berbicara dengan Sip-pat, dia tidak memperhatikan tingkah si
bocah, bibirnya malah menyunggingkan senyuman mendengar suara Sip-pat yang
semakin keras.
“Tadinya aku mengira tuan datang ke kota raja atas perintah Peng Si-ong, rupanya
aku keliru,” katanya.
“Biarlah aku katakan terus terang padamu, Kedatanganku ke kota raja ini sebetulnya
untuk mencari Go Pay. Aku dengar dia adalah tokoh nomor satu dari bangsa Boan Ciu,

katanya dia dapat membunuh seekor kerbau gila dengan kepalannya, Mendengar cerita
itu, aku tidak puas, Aku sengaja mencarinya untuk mengadu kepandaian”
Hay kongkong menarik nafas panjang mendengar kata-kata Mau Sip-pat.
“Kau hendak mengadu kepandaian dengan Go siau-po? sekarang kedudukannya
tinggi sekali, di bawah satu orang tetapi di atas laksaan orang, Bagaimana mungkin dia
dapat bertanding denganmu?”
Sementara itu, otak Sip-pat bekerja keras. Di sudah dikalahkan oleh thay-kam tua ini,
Kalau Hay kongkong saja dia tidak dapat menandingi apalagi Go Pay? Bukankah Go
Pay dikenal sebagai orang kuat nomor satu bagi bangsa Boan ciu? Sementara itu,
secara diam-diam dia juga telah membebaska dirinya dari totokan Hay kongkong.
Dia berpikir dalam hati, apakah dirinya sanggup melawan thay-kam tua ini? padahal
ketika di Te Seng San, dia tidak mempunyai rasa gentar sedikit pun. Setelah berdiam
diri sekian lama, terdengar Hay kongkong menarik nafas panjang kembali.
“Tuan, apakah kau masih berniat mengadu kepandaian dengan Go Pay?”
“Ada satu hal yang ingin kutanyakan terlebih dahulu, Bagaimana sebenarnya
kepandaian itu? Kalau dibandingkan dengan kau orang tua, berapa tingkat
kemenangannya?”
Hay kongkong tersenyum.
“Go Pay adalah seorang menteri yang sangat dihormati. Di dalam rumah, tugasnya
menjadi menteri, di luar dia dapat merangkap menjadi panglima besar. Kekayaannya
jangan ditanyakan lagi, Pangkatnya juga hampir tiada tandingannya, Berbeda dengan
aku, kedudukanku di istana sangat rendah, Apabila dibandingkan dengan Go siau-po,
ibarat bintang di langit dengan pasir di tanah”
Thay-kam tua itu sepertinya mengelakkan pertanyaan Sip-pat dengan membicarakan
soal lainnya, tapi Sip-pat tetap penasaran.
“Kalau kepandaian Go Pay ada setengahnya darimu saja, dapat dipastikan bahwa
aku bukanlah lawannya”
“Tuan terlalu merendah,” kata Hay kongkong sambil tersenyum. Tampaknya sikap
orang tua ini sangat ramah, “Sekarang aku tanyakan dulu kepadamu menurut
penglihatanmu bagaimana ilmu silatku kalau dibandingkan dengan Tan Eng Hoa?”
Mau Sip-pat terperanjat setengah mati.
“Apa katamu?”

“Aku menanyakan tentang hiocu tertinggi dari partai kalian. Aku mendengar Tan
hiocu telah mempelajari ilmu tenaga dalam Liong-kian Kong Khi (Naga menggulung
hawa) yang hebat sekali. Sayangnya, aku yang rendah tidak mempunyai kesempatan
untuk bertemu dengannya.”
Sip-pat merasa heran. Semakin lama, thay-kam tua ini semakin membingungkan Dia
bukan hanya mengetahui siapa dirinya, tapi juga banyak tahu tentang Tan Eng Hoa,
ketua Tian-te Hwe. Mulutnya melongo, sampai sekian lama dia tidak sanggup
mengatakan apa-apa.
Kembali Hay kongkong menarik nafas panjang, Tampaknya dia memang paling ahli
dalam menarik nafas dan batuk-batuk.
“Saudara Mau, sejak semula aku sudah tahu bahwa kau adalah seorang laki-laki
sejati, ilmumu cukup tinggi, mengapa kau tidak mengabdi saja pada Sri Baginda kami?
Tidak sulit bagimu mendapatkan kedudukan Te-tok atau ciangkun. Tapi kau justru
mengikuti Tan hiocu mengadakan perlawanan… aih”
Tampak Hay kongkong menggelengkan kepalanya berulang kali kemudian
menambahkan kembali, “Kau akan mendapatkan akibat yang tidak menyenangkan.
Karena itu, dengan hati tulus aku menasehatimu, Lebih baik kau pertimbangkan kembali
dan rubah pendirianmu sebelum semuanya terlambat, undurkan diri dari Tian-te Hwe…”
“Tian-te Hwe.,.? Aku tidak tahu apa-apa tentang partai itu…” sahut Sip-pat, tetapi
pada dasarnya dia seorang jujur yang tidak pernah berdusta sekalipun Tingkahnya jadi
gugup, Akhirnya dia menjadi nekad, Dia tahu orang pasti tidak akan mempercayai katakatanya.
“Tidak salah Aku memang anggota Tian-te Hwe Kami telah bersatu hati serta jiwa
untuk membangun kembali kerajaan Beng. Mana mungkin aku mengabdi kepada
bangsa Boan? Bukankah aku akan menjadi seorang Han-kan? Nah, sekarang
semuanya sudah jelas bagimu, Terserah apa yang akan kau lakukan kepadaku”
Hay kongkong tidak ada maksud membunuhnya. Dia malah berkata dengan nada
sabar.
“Kalian orang-orang Han memang merasa tidak senang karena bangsa Boan telah
merampas negaramu, pendapat kalian itu keliru sekali, Karena itulah aku menghargai
kegagahanmu yang cinta pada negara, sekarang begini saja, aku tidak akan
membunuhmu, tetapi tolong sampaikan kata-kataku kepada Tan hiocu bahwa Hay
kongkong ingin sekali bertemu dengannya.
Dengan demikian aku bisa menguji sampai di mana ketinggian ilmunya, Lian-kian
Kong Khi. Aku harap dia datang secepatnya ke kota raja. Aih Umurku tidak seberapa
lama lagi, itulah sebabnya, bila Tan hiocu tidak lekas datang, aku tentu tidak
mempunyai kesempatan untuk bertemu dengannya lagi. Sungguh harus disesalkan bila
aku mati tanpa sempat bertemu dengan orang yang demikian gagah”

Sip-pat benar-benar bingung dengan sikap thay-kam tua itu. Bukan saja dia akan
membebaskan mereka, dia juga

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s