“ PANGERAN MENJANGAN” – “ LU DING JI “ 03

dalam perutnya, Aku tidak tahu jurus apa.”
Mau Sip-pat tertawa lebar.
“Go loya cu, Ong heng, terima kasih atas bantuan kalian sehingga selembar
nyawaku ini dapat dipertahankan. Bagaimana selanjutnya setelah musuh-musuh sudah
mati dan sebagian kecilnya kabur, Apakah kita akan melanjutkan pertarungan kita yang
tertunda tadi?”
Go Tay Peng ikut tertawa.
“Mau heng, jangan bicara soal menolong jiwa.” Dia menolehkan kepalanya kepada
rekannya sambil berkata, “Saudara Ong, bukankah lebih baik kita sudahi saja
urusannya sampai di sini?”
“Ya, memang, Lebih baik tidak usah berkelahi Iagi. sebenarnya antara aku dengan
Mau heng juga tidak ada permusuhan apa-apa. Bukankah sebaiknya kita mengikat tali
persahabatan saja?”

“Baiklah kalau itu kemauan saudara Ong,” kata Go Tay Peng kemudian menjura
kepada Mau Sip-pat “Selama gunung masih menghijau dan sungai masih mengalir,
pasti ada saatnya kita akan berjumpa pula”
Go Tay Peng adalah seorang hartawan di wilayah Utara. Untuk membantu
sahabatnya Ong Tan, dia ikut datang mencari Mau Sip-pat. Tidak disangka akhirnya
malah memberikan bantuan kepada Mau Sip-pat untuk mengusir prajurit kerajaan. Dia
merasa agak menyesal membiarkan sisa musuh melarikan diri, sebab buntutnya bisa
berbahaya.
Begitu selesai memberi hormat kepada Mau Sip-pat, dia segera membalikkan
tubuhnya untuk meninggalkan tempat itu. Tetapi, sembari melangkahkan kakinya,
sepasang telapak tangannya juga menghantam ke sana kemari.
Tanpa memperdulikan pihak musuh yang masih hidup atau sudah mati, pukulannya
membuat tubuh mereka hancur tidak karuan, Dia menggunakan ilmu andalannya yakni
Mo In-Jiu (tangan meraba awan) yang membuat namanya menjulang tinggi di dunia
kangouw.
“Hebat sekali” puji Mau Sip-pat yang menyaksikan perbuatannya. Setelah itu dia
memerintahkan Siau Po menuntun seekor kuda ke hadapannya.
Siau Po menurut. Dia menghampiri salah satu kuda yang ditinggalkan musuh.
“Tuntunnya dari depan, Kalau dari belakang, kau bisa disepaknya” kata Sip-pat
menasehati.
Siau Po menurut. Segera dia membawa kuda itu ke hadapan Mau Sip-pat sementara
itu, Sip-pat merobek ujung bajunya untuk membalut luka di lengannya. Setelah itu dia
menjejakkan kakinya ke atas tanah dan lalu melompat ke atas kuda.
“Pulanglah kau sekarang” katanya kepada Siau Po.
“Kau akan kemana?” tanya si bocah.
“Untuk apa kau menanyakan hal itu?”
“Kita kan sudah menjadi sahabat, sudah sepatutnya aku menanyakan tujuanmu”
Wajah Mau Sip-pat tiba-tiba berubah menjadi garang. “Sinting Siapa yang menjadi
sahabatmu?”
Siau Po menyurut mundur satu tindak, Wajahnya langsung merah padam dan air
matanya bercucuran. Dia tidak dapat menahan keperihan hatinya. Dia juga tidak
mengerti mengapa tiba-tiba saja Sip-pat marah kepadanya.

“Mengapa tadi kau menyemburkan semen ke mata Su Siong?” bentak Mau Sip-pat
ketus.
Siau Po menjadi tercekat. Kakinya menyurut mundur satu langkah lagi.
“A… ku… aku….” suaranya gemetar dan tersendat-sendat saking gugupnya, “Aku,.,
lihat dia ingin membunuhmu”
“Dari mana kau mendapatkan semen itu?”
“Dari pasar. Aku membelinya sekalian ketika membeli bakpau dan arak. Aku dengar
kau akan berkelahi sedangkan kau sedang terluka….”
“Anak haram Dari mana kau mempelajari akal yang begitu rendah?”
Siau Po memang anak seorang wanita penghibur, ia tidak pernah tahu siapa
ayahnya, Karena itu pula dia paling benci bila ada orang yang menyebutnya sebagai
anak haram, Kemarahannya jadi meluap seketika.
“Nenekmu yang haram” Tanpa memperdulikan hal lainnya, dia langsung balas
memaki. “Perduli apa aku mempelajarinya dari mana? Manusia bau yang tidak tahu
mampus” Setelah memaki, hatinya tergetar juga, cepat-cepat dia bersembunyi ke balik
pohon,
Sip Pat menggerakkan kudanya maju ke depan, Sebelah tangannya terulur dan
dalam sekejap mata si bocah sudah kena dicekalnya lalu diangkatnya ke atas.
“Setan cilik, coba apa kau masih berani memaki?”
Siau Po meronta-ronta. sepasang kakinya menendang kalang kabut. Kedua
tangannya juga dige rakkan kesana kemari.
“Kura-kura hitam Babi mandul Kampret Mulutnya masih terus memaki.
Sejak kecil Siau Po tinggal di rumah pelesiran. Sudah biasa dia mendengar cacian
yang kotor dan bukan baru pertama kali ini dia mengucapkannya.
Sip-pat gusar sekali melihat keberanian bocah itu. Dia menempeleng pipinya bolakbalik.
Tetapi Siau Po memang keras kepala, Meskipun air matanya mengalir dengan
deras, mulutnya tidak berhenti mencaci. Dia baru berhenti ketika menggigit tangan Mau
Sip-pat.
Sip-pat terperanjat juga kesakitan Tanpa sadar cekalannya terlepas dan tubuh Siau
Po pun terbanting ke atas tanah. Siau Po langsung merangkak bangun kemudian berlari
sambil mencaci maki.

Sip-pat mendongkol sekali Dia segera mengejar. Dengan menunggang kuda tentu
tidak sukar baginya mengejar. Siau Po lari belum berapa jauh tahu-tahu sudah tersusul
oleh Mau Sip-pat. Nafasnya tersengal-sengal. Tanpa menoleh dia tahu Mau Sip-pat
sudah ada di belakangnya. Tiba-tiba kaki terpeleset talu jatuh bergulingan, namun
mulutnya masih berkaok-kaok.
“Bangun” bentak Mau Sip-pat. “Aku mau bicara”
“Aku tidak mau bangun, Biar aku mati di sini”
“Baik Biar kau mampus terinjak kaki kuda”
Siau Po memang bandel, Semakin diancam, dia semakin sengaja, Sembari
menangis, dia berteriak keras-keras.
“Ada orang mau membunuh Ada orang mau membunuh Tua bangka menghina
anak kecil Dasar kura-kura kolot Orang dulu memperumpamakan germo sebagai kurakura
Dia naik kuda, dia mau menginjak orang sampai mati”
Kuda yang ditunggangi Mau Sip-pat dihentakkan sehingga sepasang kakinya
berjingkrak ke atas, Siau Po segera menggulingkan tubuhnya menghindar.
“Hah Setan cilik, ternyata kau takut mampus juga, bukan?”
“Kalau aku takut padamu, biarlah aku menjadi anak kura-kura, turunan anjing buduk
Aku tidak pantas disebut orang gagah”
Kewalahan juga Mau Sip-pat menghadapi bocah yang mulutnya lancang itu, akhirnya
dia malah tertawa geli.
“Kau seorang enghiong?” tanyanya tersenyum. “Baik, Kau bangunlah. Aku tidak akan
menghajarmu lagi Aku akan pergi sekarang”
Siau Po berdiri, wajahnya masih basah oleh air mata.
“Tidak apa-apa kalau kau ingin menghajarku, tapi jangan panggil aku anak haram”
katanya.
“Kau toh sudah memaki aku sepuluh kali lipat Sudahlah, kita tidak usah
memperpanjang persoalan ini lagi.”
“Kau menghajar telingaku dan aku sudah menggigit tanganmu, Berarti kedudukan
kita seri Baik, semuanya selesai sampai di sini saja, Tapi, ngomong-ngomong, ke mana
sih tujuanmu sebenarnya?” tanya Siau Po sambil menyusut air matanya.
“Ke Pe King, kota raja”

“Ke kota raja?” tanya Siau Po dengan amat terbelalak “Bukankah para pembesar
negeri sedang mencarimu? Mengapa kau malah mengantar diri ke sana?”
“Aku ingin mencari Go Pay. Dia merupakan tokoh nomor satu dari bangsa Boanciu.
Malah dia mengaku dirinya sebagai jago nomor satu di kolong langit Aku tidak puas
Aku ingin mencarinya untuk mengadu kepandaian”
Siau Po tertarik sekali dengan keterangan ini, karena berarti akan ada suatu
pertunjukan yang menarik.
“Mau toako, aku mempunyai permintaan. Sebetulnya sederhana sekali, tetapi aku
tidak tahu apakah kau akan mengabulkannya?”
Mau Sip-pat orangnya gengsian, dia tidak mau dianggap berjiwa picik, Ucapan si
bocah membuatnya penasaran.
“Apa itu? Katakan saja, aku pasti akan mengabulkannya”
“Bagus Tapi kau tidak boleh menyesal”
“Tentu tidak”
“Aku minta kau mengajak aku ke kota raja”
“Ke kota raja? Untuk apa?” tanya Mau Sip-pat bingung.
“Aku ingin menonton pertandingan antara kau dan Go Pay”
Mau Sip-pat menggelengkan kepalanya berulang kali:
“Tidak mungkin. Jarak dari Yang-ciu ke Pe King jauhnya ribuan Ii. Lagipula para
pembesar negeri menjanjikan hadiah besar bagi siapa pun yang dapat menawanku,
perjalanan ini berbahaya sekali.”
“Memang aku sudah menyangka bahwa kau akan menyesal dan menarik kembali
janjimu sendiri. Lagipula dengan mengajak aku, kau pasti mudah dikenali. Pasti kau
tidak berani mengajak aku” kata si bocah.
Hati Mau Sip-pat panas mendengarnya. “Kenapa aku tidak berani?”
“Kalau memang berani, ajaklah aku” tantang si bocah.
“Sebenarnya bukan apa-apa, tapi aku repot membawa kau serta, sedangkan kau
belum memberitahukan kepada ibumu, Nanti dia akan mencemaskan dirimu,” sahut
Mau Sip-pat berusaha mengemukakan alasan.

“Tidak mungkin ibu mencemaskanku, Lagipula beberapa hari lagi aku toh sudah
pulang.”
“Setan cilik, banyak benar sih kemauanmu?”
“Aku tahu, kau tidak berani mengajak aku karena takut kalah dan jadi malu.”
Kemarahan dalam hati Mau Sip-pat membara kembali. “Siapa bilang aku kalah
kepada Go pay?”
“Aku yang bilang, Sebab kau takut kalah dan malu, Bagaimana kalau aku
menyaksikan kau berlutut di depan kaki Go Pay dan meratap-ratap meminta ampun
sambil menyebutnya, tuanku… tuanku?”
Mau Sip-pat tambah mendongkol. Dia memajukan kudanya kemudian
mencengkeram kerah baju bocah itu dan kemudian menaikkannya ke atas kuda.
“Baiklah Aku akan membawa kau ke Pe King, Lihat siapa nanti yang akan berlutut
dan memohon pengampunan”
Diam-diam hati Siau Po girang sekali, tetapi dengan licik dia berkata.
“Kalau aku tidak melihat dengan mata kepala sendiri, tentu aku hanya bisa mendugaduga,
Dan dalam bayanganku, kaulah yang akan berlutut dan memohon ampunannya”
Plak Plok Sip-pat menghajar pantat Siau Po berulang kali.
“Sekarang aku yang akan menyuruh kau berteriak-teriak minta ampun terlebih
dahulu”
Siau Po mengaduh-aduh, tetapi dia tidak menangis malah tertawa cekikikan. Mau
tidak mau, Sip-pat jadi ikut tertawa geli. Bocah itu sungguh nakal, jenaka juga keras
kepala dan akal busuknya banyak
“Eh, setan cilik, Kau memang hebat”
“Eh, setan tua, aku juga kewalahan menghadapinya.” sahut Siau Po dengan berani.
“Sekarang aku akan mengajak kau ke kota raja. Tapi ingat, sepanjang jalan kau
harus menuruti apa pun kataku. jangan sekali-sekali menimbulkan keonaran.”
“Siapa sebenarnya yang membuat keonaran? Kau sendiri MuIa-mula kau
dimasukkan ke dalam penjara, kemudian kau buron, Lantas kau melabrak kawanan
penyelundup garam. Dan baru saja kau membunuh beberapa orang petugas kerajaan.
Bukankah itu yang disebut menimbulkan keonaran?”
“Kau memang pandai bicara,” kata Mau Sip-pat. “Baiklah, aku mengaku kalah”

Bocah itu membetulkan duduknya di atas pelana. Tali kendali kuda pun di hentakkan
sehingga melesatlah mereka menuju Utara.
Pertama-tama Siau Po takut akan terjungkir balik, maklumlah seumur hidup dia
belum pernah menunggang kuda. Dia merapatkan tubuhnya dan memeluk Mau Sip-pat
erat-erat. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih lima enam li, perasaannya pun
agak tenang dan dia dapat duduk dengan nyaman.
“Bagaimana kalau aku menunggang kuda yang satu itu?” tanya Siau Po setelah
keberaniannya terbangku.
Memang sejak semula Mau Sip-pat menuntun seekor kuda lainnya milik pihak
petugas kerajaan. Tampaknya kuda-kuda itu memang sangat jinak, meskipun
penunggangnya sudah mati ataupun melarikan diri, mereka tidak menjadi panik.
“Kalau kau sanggup, silahkan Awas kalau kau tidak sanggup, nanti kau bisa
terjungkal dan kakimu patah” sahut Mau Sip-pat.
“Aku pernah menunggang kuda sebanyak puluhan kali, masa bisa terjungkal.W sahut
Siau Po menyombongkan diri, Dia langsung melompat turun dari kuda Mau Sip-pat.
Dipegangnya tali kendali kemudian ia menginjakkan kakinya di sangurdi dan lalu
mencelat naik.
Melihat cara Siau Po naik ke atas kuda, Sip-pat tertawa geli, Sebab posisinya salah,
sehingga tubuhnya bukan menghadap ke depan malah menghadap ke ekor kuda.
“Hushhh” seru Mau Sip-pat setelah selesai tertawa, Tali kendali dihentakkannya,
kuda itu pun terkejut dan lari terpontang-panting,
Siau Po tercekat bukan main. Dia dibawa kabur oleh kuda itu. Cepat-cepat dia
mencekal pelana kuda itu erat-erat. Hampir saja dia terjungkal jatuh.
Siau Po dapat mendengar suara hembusan angin yang menerpa lewat di telinganya.
Lewat tiga li, sampailah mereka di jalanan yang menanjak, Kuda masih lari terus. Di
waktu yang bersamaan, di tengah jalan mendatangi sebuah kereta yang rodanya
sedang menggelinding perlahan. Di belakangnya mengiringi seorang penunggang kuda
yang usianya masih muda sekali, paling banter enam atau tujuh belas tahun.
Ketika melihat seekor kuda sedang berlari dengan kalap, kusir kereta itu berteriakteriak
dengan panik.
“Kuda ngamuk Kuda ngamuk”
Tepat di saat tabrakan hampir terjadi, si anak muda yang mengiringi di belakang
langsung menerjang ke depan sembari mengulurkan tangannya mencekal tali kendali,

sehingga gerakan kuda itu pun terhenti seketika. Hal ini membuktikan tenaga dalam
anak muda itu luar biasa sekali.
Tampak perut kuda itu kembang kempis dan mulutnya berbusa karena tadi sudah
berlari melebihi takarannya. Dari dalam kereta terdengar suara halus menyapa.
“Adik Ceng, ada apa?”
“Ada kuda ngamuk,” sahut si anak muda. “Penunggangnya seorang bocah cilik,
entah masih hidup atau sudah mati.”
“Tentu saja masih hidup” Siau Po pun segera menegakkan tubuhnya dengan gaya
digagah-gagahkan. “Masa mati?”
Anak muda tadi memperhatikan Siau Po sekilas, wajahnya putih bersih, sepasang
matanya jeli dengan alis yang bagus bentuknya. Dia mengenakan jubah panjang
sedangkan kopiahnya penuh dengan sulaman benang emas dan di tengah-tengahnya
terhias sepotong batu kumala putih. Dari penampilannya dapat diduga bahwa anak
muda itu berasal dari keluarga hartawan
Siau Po juga memandang pemuda itu lekat-lekat. Dia tahu pemuda di hadapannya
dari keluarga berada. Tapi dia justru paling benci kaum hartawan, itulah sebabnya dia
langsung membuang ludah dan berkata dengan sinis.
“Sungguh busuk Lohu sedang melakukan perjalanan sejauh seribu li dan sedang
gembira-gembiranya, siapa sangka bertemu dengan mayat perintang jalan, sehingga
lohu tidak bisa meneruskan perjalanan.”
Si pemuda tampaknya kurang senang. Dia sebal melihat bocah itu bersikap sok tua
dengan menyebut diri sendiri “lohu”, Apalagi lagaknya sombong dan menghina sekali.
Sepasang alisnya menjungkit ke atas, Hampir dia mengumbar hawa amarahnya,
tetapi ketika memperhatikan Siau Po dengan seksama, dia melihat tampangnya yang
dekil dan tubuhnya yang kurus kering. Dia tidak jadi marah, bibirnya malah
menyunggingkan senyuman dan segera menggeser untuk memberi jalan kepada Wi
Siau Po.
Siau Po menarik tali kendali kudanya sembari berkata.
“Celaka benar Mengapa di kolong langit ini banyak pemuda bau yang usil saja
dengan urusan orang lain?”
Tepat pada saat itu, Mau Sip-pat pun sudah menyusul tiba.
“Eh, setan cilik, Apakah kau tidak jatuh pingsan?”

“Pingsan? Sudah barang tentu, tidak” sahut si bocah seenaknya, “justru ketika lohu
sedang enak-enak melakukan perjalanan, lohu dirintangi oleh bocah bau ini, Sungguh
menyebalkan”
Mau Sip-pat tertawa geli mendengar kata-kata-nya. Tetapi sesaat kemudian dia
tertegun ketika menoleh kepada si anak muda, Dia melihat di bagian depan kereta
tertancap sebatang bendera kecil berwarna putih dengan sulaman biru di tepiannya.
Di tengah-tengahnya terdapat huruf “Pui”. Tanpa ayal lagi, dia segera menarik
tangan bocah itu ke pinggir jalan. Dan pada saat itu Siau Po masih mendumel
“Dasar bocah busuk tidak tahu diri”
“Tutup mulutmu” bentak Mau Sip-pat sambil mengayunkan cambuk ke bagian
kepala Siau Po.
Untung Siau Po sempat melihatnya dan menghindarkan diri, Tetapi kepalanya
selamat, bahunyalah yang kena terhajar. Seperti orang kalap, Mau Sip-pat terus
mencambukinya, hingga akhirnya seluruh tubuh Siau Po terhajar berdarah dan
pakaiannya koyak-koyak.
Siau Po tidak menyangka akan berakibat seperti ini. Dengan menahan sakit, dia
mendekam di punggung kudanya, Tepat pada saat itu, dari dalam kereta terdengar lagi
suara halus tadi.
“Apakah di sana tuan Mau dari Cong Ciu? Sudahlah, jangan kau hajar lagi bocah itu”
Mau Sip-pat mencelat turun dari kudanya, Dengan bantuan tangan kirinya dia
mendeprok di atas tanah.
“Mau Sip-pat sedang terluka kakinya sehingga tidak dapat memberi hormat secara
layak kepada nona Kou dan Pui siauhiap, Harap tidak menjadi gusar karenanya”
“Terima kasih Tidak berani kami menerima penghormatan demikian besar” sahut si
nona dalam kereta, sedangkan anak muda yang menunggang kuda hanya
menganggukkan kepalanya sedikit, Setelah itu dia memecut kudanya agar keret
berjalan lagi. Dia sendiri tetap mengikuti dari belakang.
Setelah kereta itu pergi jauh, Mau Sip-menekan tanah pula kemudian mencelat ke
atas kuda. Lalu dia menyambar tubuh Siau Po dan memeluknya.
“Sungguh berbahaya Sungguh berbahaya” Mau Sip-pat menyusuti peluh yang
memenuhi wajah dan tubuhnya, “Kau tahu, jiwamu baru kutarik kembali dari pintu
neraka”
Terdengar dia menarik nafas panjang.

“Kalau hajaran cambukku terlalu perlahan, maka kita berdua pasti sudah menjadi
mayat sekarang ini.” Dengan kasih sayang dia membersihkan wajah Siau Po.
Suara Siau Po lirih sekali.
“Aku… mati juga tidak apa-apa… aku tidak… takut mati” Hanya beberapa patah kata
yang sempat diucapkannya, kemudian dia jatuh tidak sadarkan diri.
Siau Po sendiri tidak tahu berapa lama dia pingsan, hanya ketika tersadar kembali,
dia merasa seluruh tubuhnya nyeri dan ngilu. Tanpa dapat menahan diri lagi, dia
mengerang kesakitan.
“Eh, setan cilik, akhirnya kau siuman juga” seru Sip-pat dengan nada lega. wajahnya
berseri-seri.
Siau Po membuka matanya dan menatap Mau Sip-pat. Dia mendapatkan sahabatnya
itu sedang memandangnya dengan penuh perhatian.
“Kalau kau memang menginginkan kematianku, bunuh saja aku dengan golok mu.
Buat apa kau harus menyiksaku dengan cambuk?”
“Kenapa aku menginginkan kematianmu? Kemarin aku mencambukmu justru untuk
menolong selembar nyawamu”
“Celaka Terang-terang kau menyiksaku sampai sedemikian rupa, kau masih
mengatakan telah menolong nyawaku” Siau Po mendongkol sekali karena
menganggap dirinya dipermainkan, karena itu suaranya juga ketus sekali.
“Kau benar-benar tidak tahu tingginya langit, tebalnya bumi” bentak Mau Sip-pat tak
kalah garangnya, “Bagaimana kau berani sembarangan mencaci keluarga Bhok dari In
Lam? Kau benar-benar sudah bosan hidup rupanya”
Siau Po tidak tahu siapa keluarga Bhok dari In Lam.
“Apa bedanya? pokoknya aku menganggapnya sebagai anak kura-kura dan telur
busuk”
“Tutup mulutmu Apa masih belum cukup banyak keonaran yang kau timbulkan?”
Melihat kegusaran Mau Sip-pat, Siau Po tidak berani banyak bicara lagi. Tapi dasar
anak bandel dia masih mendumel juga.
“Kau sepertinya tidak takut terhadap raja, juga tidak takut kepada Go Pay, kenapa
sebaliknya kau malah takut terhadap dua bocah bilik dari keluar Bhok? Benar-benar
bisa membuat orang tertawa hingga giginya copot.”

“Aku bukannya merasa takut Aku hanya malu hati terhadap orang-orang gagah
lainnya dari dunia kangouw, apabila kita berbuat salah terhadap keluarga Bhok. Hilang
nyawa masih lumayan, tetapi yang membuat kita tidak tahan justru caci maki mereka.”
“Siapa sebenarnya keluarga Bhok itu?” tanya Siau Po. “Apakah mereka memang
lihay sekali?”
“Kau bukan orang dunia persilatan, meskipun aku memberitahukan belum tentu kau
bisa mengerti,” sahut Sip-pat.
“Begitu rupanya? Tapi aku tidak perduli” kata si bocah masih dengan nada
penasaran. Tetapi dia tidak berani mengejek keluarga Bhok lagi, “Tadi kau
mencambukku, katamu demi menolong selembar nyawaku, apa artinya?”
“Perbuatanmu itu benar-benar kurang ajar. sembarangan kau mencaci maki pemuda
berbaju hijau itu. Dia itu dari keluarga Pui, salah satu dari empat keluarga yang menjadi
Ke Ciang bagi keluarga Bhok, Kalau aku tidak menghajar kau agar kemarahannya reda,
sekali cekal saja kau bisa di-pencet mati seperti semut.”
Ke Ci maksudnya pelindung keluarga.
“Huh” Siau Po mendengus dingin, “Aku tidak percaya dia demikian lihay”
Di luar dia menyangkal, di dalam hati diam-diam dia mengakui.
“Kalau dia sampai memencet mati aku, apakah kau akan diam saja? Dengan
demikian, mana bisa kita disebut sebagai sahabat sejati yang senang dan susah kita
cicipi bersama?” kata Siau Po.
Mau Sip-pat seperti disudutkan oleh kata-kata-nya, dia menarik nafas panjang.
“Di dalam dunia kangouw, asal orang yang mempunyai pengetahuan sedikit saja,
pasti tahu siapa adanya keluarga Bhok, Bila mereka bertemu atau melihat orang-orang
dari keluarga itu, mereka pasti akan menepi untuk memberi jalan dengan sikap hormat
Tidak ada seorang pun yang berani demikian lancang seperti kau, seandainya dia
berniat turun tangan, meskipun ada maksudku untuk menolongmu, tetap saja aku tidak
sanggup melakukannya.”
“Jadi pemuda itu benar-benar demikian lihay?” tanya Siau Po seperti masih kurang
yakin.
Mau Sip-pat menggelengkan kepalanya. “Mengenai hal itu, aku tidak tahu, Mungkin
aku sanggup menghadapinya, mungkin juga tidak. Tapi yang jelas aku tidak dapat
melawannya”
“Kenapa harus takut? Bunuh saja pemuda berkuda dan perempuan dalam kereta itu,
siapa yang bakal tahu? Dengan demikian, semuanya beres, bukan?”

“Enak saja kau bicara, tahukah kau, bahkan seorang kusir kereta pun mempunyai
kepandaian yang tinggi dalam keluarga Bhok”
“Kalau begitu, kau memang sudah paham, Kau sengaja mencambuki aku untuk
memuaskan hati pemuda itu, Dengan demikian bukan aku saja yang terhindar dari
kematian, kau sendiri juga akan selamat” kata Siau Po.
“Siapa yang aku takutkan? Siapa?” kata-kata yang terakhir justru diucapkan dengan
suara rendah. Hal ini membuktikan keraguannya, Mungkin hatinya agak gentar juga,
cuma saja dia malu mengakuinya, Dari penasaran dia jadi marah, dan lantas
menghardik dengan suara keras: “Sejak semula aku sudah mengatakan agar kau
jangan mengikuti aku, tapi kau memaksa Baru satu hari saja kau sudah menimbulkan
keonaran, Siapa yang suruh kau menyembur mata orang dengan semen? Dalam dunia
kangouw, itu merupakan perbuatan manusia rendah, tahu? Lebih rendah dari orang
yang menggunakan obat bius. Aku lebih suka mati di tangan Su Siong dari pada
ditolong dengan cara demikian Dasar bocah setan, melihat lagakmu, semakin lama aku
semakin kesal saja”
Saat itu Siau Po baru menyadari, rupanya hal itu yang membuat Mau Sip-pat kurang
senang. Dia sungguh-sungguh tidak tahu kalau apa yang dilakukannya adalah
perbuatan rendah. Tetapi pada dasarnya, adat Siau Po memang keras, Meskipun salah
tetap dia tidak sudi mengalah
“Apa bedanya membunuh orang dengan menyemburkan semen atau membacok
dengan golok?” tanyanya penasaran “Kalau aku tidak menggunakan cara itu, tentu
sekarang kau sudah terkapar menjadi bangkai Kalau kau memang tidak suka aku ikut
denganmu, katakan saja terus terang. Mulai sekarang kita ambil jalan sendiri-sendirj.
Anggap saja kita tidak pernah saling mengenal, beres”
Mau Sip-pat memperhatikan Siau Po yang sudah terluka karena cambukannya,
Hatinya merasa iba. Lagipula sekarang mereka sudah jauh dari kota Yang-ciu, mana
tega dia meninggalkan bocah cilik itu di tempat seperti ini. Lagipula, biar bagaimanapun
sudah dua kali Siau Po menyelamatkan nyawanya, dia tidak bisa menjadi manusia
rendah yang tidak ingat budi.
Demikianlah, katanya kemudian “Aku akan mengajak kau ke kota raja tapi kau harus
menerima tiga buah syaratku”
Hati Siau Po girang sekali.
“Apa ketiga syarat itu? Aku tidak perduli Seorang laki-laki sejati, begitu kata-kata
sudah meluncur keluar dari mulutnya, entah kuda apa pun sukar mengejarnya”
Siau Po suka mendengar cerita tukang-tukang dongeng. Untuk sesaat dia lupa katakata
“enam ekor kuda”, sehingga dia mengatakan entah kuda apa pun, tapi Sip-pat
tidak memperdulikan kesaIahannya. Dia hanya berkata:

“Pertama, aku larang kau menimbulkan keonaran, jangan sembarangan mengoceh
atau memaki orang, Mulutmu harus dijaga”
“Gampang” sahut Siau Po. “Tidak memaki juga tidak apa-apa, Tapi aku mau tanya
dulu, bagaimana kalau orang lain yang memaki duluan?”
“Kalau kita benar, mana mungkin orang mengganggu kita tanpa sebab musabab,
Syarat yang kedua, kalau kau berkelahi, aku larang kau main gigit, apalagi
menggunakan semen. juga main bergulingan di atas tanah dan sembarangan
memencet alat vital orang. seandainya kau kalah, jangan pura-pura mati atau berteriakteriak
seperti orang gila, semuanya itu bukan perbuatan orang gagah, hanya membuat
dirimu sendiri menjadi malu dan tidak dihargai oleh orang lain.”
“Tapi, kalau aku kalah, masa aku tidak boleh menggunakan salah satu dari ketiga
cara itu untuk membela diri?” tanya Siau Po kurang puas.
“Tentu boleh membalas, tetapi dengan kepandaian sejati, bukan dengan cara yang
rendah, jangan membuat diri kita jadi bahan tertawaan orang. Di Li Cun Wan, kau boleh
berbuat apa saja yang kau anggap baik. Tetapi bila kau ingin ikut aku mengembara, kau
harus menggunakan cara yang lain.”
Diam-diam Siau Po menggerutu dalam hati.
“Kau bisa saja mengatakan berkelahi dengan menggunakan kepandaian. Tapi
bagaimana dengan aku? Aku toh masih kecil Tidak mengerti ilmu silat pula, Kalau
begini dilarang, begitu salah, sama saja artinya kau mau aku terima gebukan dengan
berdiam diri?”
Di luarnya dia hanya berkata, “Aku toh tidak mengerti ilmu silat, Bagaimana melawan
orang dengan kepandaian sejati?”
“llmu silat dapat dipelajari apabila kita mempunyai kemauan Siapa yang sejak lahir
sudah mengerti ilmu silat? Mumpung kau masih kecil, justru sekarang merupakan
kesempatan yang baik bagimu untuk belajar. Kau berlutut di hadapanku dan
menyembah aku sebagai gurumu, Selama ini aku hidup tidak menentu, ada baiknya
juga bila aku mengangkat seorang murid, Kau beruntung bisa menjadi muridku, asal
kau berlatih dengan giat serta tekun kelak di kemudian hari kau bisa memiliki
kepandaian yang lumayan tinggi.”
Siau Po cepat-cepat menggelengkan kepalanya.
“Tidak bisa Kita kan bersahabat, berarti kedudukan kita sama, Kalau sekarang aku
menyembahmu sebagai guru, itu kan berarti derajatku lebih rendah satu tingkat darimu?
Dasar setan tua, niat mu tidak baik, licik, egois”
Siau Po lupa diri, kembali mulutnya mengoceh sembarangan Tentu saja Sip-pat
menjadi tidak senang, Banyak orang yang ingin menjadi muridnya justru dia tolak

mentah-mentah. Selalu saja timbul perasaan bahwa niat mereka itu tidak tulus atau ada
beberapa orang di antaranya yang mempunyai bentuk tubuh kurang bagus dan kurang
sesuai untuk belajar ilmu golok Ngo-Houw Koan Bun (Lima harimau menutup pintu),
LagipuIa sebelumnya dia sibuk, tidak ada kesempatan atau waktu luang untuk mendidik
seorang murid, sekarang dia tertarik kepada Siau Po dan berniat mengangkatnya
sebagai murid, eh… malah bocah ini yang menolaknya.
Saking kesalnya hampir saja tangannya melayang untuk menampar pipi anak itu,
tetapi untung saja dia melihat bekas luka cambukannya sehingga dia membatalkan
niatnya.
“Biar aku beritahu kepadamu” katanya kemudian “Sekarang ini perasaanku sedang
senang, maka aku suka menerima kau sebagai murid. Tetapi kelak, meskipun kau
berlutut di hadapanku dan memohon-mohon, pasti aku akan menolaknya”
“Tidak jadi masalah” sahut si bocah yang tetap ugal-ugalan, “Kelak, meskipun kau
berlutut dan menyembah padaku sampai ratusan kali bahkan dengan suara meratapratap,
tetap saja aku tidak sudilmenjadi muridmu. Kalau aku menjadi muridmu, berarti
dalam hal apa pun aku harus menuruti kata-katamu, mana enak? Tidak Aku-tidak mau
belajar ilmu silat”
Bagian 03
Mau Sip-pat mendongkol sekali, Hatinya juga mulai marah.
“Baiklah, urusanmu sendiri mau belajar silat atau tidak, Tetapi kalau kau sampai
tertangkap lawan dan disiksa sehingga hidup tidak mati pun tidak, waktu itu kau jangan
menyesali.”
“Apa yang harus disesalkan? Lagipula, apa hebatnya belajar ilmu silat darimu?
Buktinya kau bisa dililit oleh Su Siong begitu saja, dan ketika melihat dua bocah dari
keluarga Bhok, kau langsung ketakutan Aku tidak mengerti ilmu silat, tapi aku tidak
ketakutan seperti kau. Hal ini membuktikan bahwa bisa ilmu silat saja belum tentu
hebat”
Kemarahan dalam hati Mau Sip-pat benar-benar meluap. Tanpa dapat
mengendalikan emosinya lagi, dia melayangkan tangannya menampar pipi Siau Po
keras-keras. Tetapi bocah itu bukannya menangis kesakitan malah tertawa terbahakbahak.
Benar-benar anak yang kuat, juga bandelnya tidak ketulungan
“Nah, benar kan? Aku sudah membuka rahasia hatimu sehingga kau menjadi marah
dan melampiaskan kekesalan pada diriku, Coba kalau kau benar-benar tidak takut,
tentu kau tidak akan begini marah hanya karena ucapanku tadi”

Sip-pat membungkam. Dia benar-benar kehabisan akal menghadapi bocah yang
satu ini. Ditegur salah, dihajar kasihan, ingin meninggalkannya begitu saja, dia tidak
sampai hati padahal adatnya juga keras sekali, tetapi kali ini dia terpaksa mengekang
diri.
“Huh” Dia hanya mendengus satu kali, kemudian berdiri termangu-mangu.
Siau Po yang melihat keadaannya juga turut berdiam diri, pikirannya melayanglayang,
dia ingat ibunya di rumah pelesiran, Sejak mengenal Mau Sip-pat, dia bertekad
untuk menjadi orang gagah.
Ternyata tidak mudah. Dia juga tahu hilang sudah kesempatan baginya unjuk belajar
silat, tapi dia tidak menyesal. Dia meraba-raba mukanya yang bengap parah di sudut
bibirnya sudah kering.
Tiba-tiba sebuah ingatan melintas di benaknya, pikirnya dalam hati.
“Tidak apa-apa aku tidak jadi belajar ilmu silat darimu, yang penting aku bisa ikut
terus mengembara. Pasti aku bisa memperhatikan gerak-gerikmu ketika kau berkelahi,
apa aku tidak bisa menirunya sedikit demi sedikit? Bahkan aku bisa melihat gerakan
musuh. Dengan demikian aku bukan hanya belajar ilmu silatmu saja, ilmu silat orang
lain juga bisa kucuri belajar. Dengan memiliki kepandaian beberapa orang sekaligus,
bukankah lama kelamaan aku bisa mempunyai kepandaian yang lebih tinggi dari
padamu? Hm
Sementara itu, Mau Sip-pat merasa perutnya lapar sekali.
“Mari kita pergi” katanya sambil langsung mengangkat tubuh Siau Po.
Siau Po tidak membantah. Mereka mencari tempat untuk beristirahat. Keduanya
mengisi perut, membersihkan tubuh, mengganti pakaian juga mengoles obat.
Kemudian, untuk melanjutkan perjalanan, Sip-pat menyewa kereta. Kakinya terluka,
gerakannya tidak leluasa, Kedua ekor kuda rampasannya ditinggalkan begitu saja.
Dengan menumpang kereta, dirinya juga tidak mudah terlihat orang. Bukankah dia
seorang pelarian dari kota Yang-ciu?
Tujuan mereka tetap utara, Pada suatu siang, mereka sampai di propinsi Soa Tang,
Ketika mereka menempuh perjalanan, tiba-tiba terdengar suara derap kaki kuda, Siau
Po melongokkan kepalanya, Dia melihat tiga kereta mendatangi dengan perlahan. Pada
bagian depan kereta terdapat sehelai bendera kecil atau panji yang warna dasarnya
putih dan tepiannya bersulamkan benang biru.
Di tengah-tengahnya tertera huruf “Sou” Persis sama dengan bendera kecil yang
mereka lihat tempo hari. Tanpa berpikir panjang lagi, Siau Po segera membangunkan
Mau Sip-pat yang sedang tidur.

“Coba lihat”
Mau Sip-pat membuka matanya. Ketika melihat kereta dengan benderanya itu,
wajahnya menyiratkan ketegangan. Sekejap kemudian, kereta itu telah melewati
mereka dan terus melaju menuju selatan. Tampak Mau Sip-pat menghela nafas lega.
“Apakah yang lewat barusan juga kereta keluarga Bhok dari In Lam?” tanya Siau Po.
“Mengapa kau bisa mempunyai dugaan itu?”
“Karena aku melihat semangatmu seperti terbang melihat kereta itu, itulah sebabnya
aku bisa menduga demikian.”
“Kapan semangatku terbang? jangan sembarangan mengoceh” bentak Mau Sip-pat.
Meskipun mulutnya berkata demikian, tapi Sip-pat menyadari bahwa suaranya rada
bergetar.
“Kau tidak takut aku justru sebaliknya,” sahut Siau Po.
“Apa yang kau takutkan?”
“Aku takut kau tidak sanggup menahan perasaan terkejut sehingga sakit parah,”
sahut Siau Po seenaknya, “Bisa juga kau mati kaget. Kalau hal itu sampai terjadi,
bagaimana dengan aku?”
“Celaka Gawat” Terdengar Mau Sip-pat menggerutu. Dia tidak menggubris ucapan
Siau Po.
Mungkin telinganya sudah kebal, Dia hanya menggumam seorang diri, “Keluarga
Sou pun berangkat ke selatan. Pasti di sana telah terjadi sesuatu yang hebat”
“Apa sebenarnya arti huruf “Sou” itu?” tanya Siau Po penasaran
“Di samping huruf “Sou” masih ada tiga huruf lainnya, yakni huruf “Lau”, “Pui” dan
“Pek” Mereka adalah nama keluarga yang menjadi Ke Ciang bagi keluarga Bhok,
sedangkan keluarga Bhok itu keluarga bangsawan, tingkat Kim Kok-kong.”
“Kim Kok-kong itu sejenis makhluk aneh atau hantu?”
“Tampaknya mulutmu memang harus dicuci biar bersih, Di dalam dunia kangouw,
nama Kim Kok-kong bahkan lebih menciutkan nyali dari pada makhluk aneh atau hantu
apa pun.”
“Oh, begitu rupanya.”

“Hm…” kata Mau Sip-pat. “Pada waktu Baginda Beng Tay-cou mengerahkan
angkatan perangnya menentang kerajaan Goan, Bhok ongya, Bhok Eng telah membuat
jasa besar, sebab dia berhasil merampas propinsi In Lam, Karena itu Sri Baginda
mengangkatnya sebagai penguasa di wilayah In Lam turun temurun.
Setelah dia meninggal dia dianugrahkan gelar kehormatan Raja Muda Kim Len ong,
sedangkan keturunannya mendapat gelar kehormatan Kim Kok-kong.
“Di zaman akhir pemerintahan Kerajaan Beng ketika Kaisar Kui-ong menyingkir ke In
Lam, Kim Kok-kong Bhok Tian Po dengan setia melindunginya, Kim Kok-kong bahkan
mengajak Kui-ong menyingkir ke Birma.”
“Celakanya di sana Kui-ong dibunuh oleh orang jahat, sehingga Kim Kok-kong turut
menjadi korban, jarang ada panglima merangkap menteri yang demikian setia kepada
junjungannya.”
“0h…. Kalau begitu yang dipanggil loya Bho Tian Po itu merupakan cucu Bhok Eng
seperti yang dikisahkan dalam cerita Eng Liat Toan. Memang Bhok ongya itu gagah
sekali dan menjadi panglima kesayangan Baginda Raja.”
Siau Po dapat mengatakan hal itu karena dia sudah terlalu sering mendengar
legenda-legenda tukang cerita seperti Eng Liat Toan yang di dalamnya dikisahkan para
pemeran utamanya, yakni Bhok Eng, Ci Tat, Siang Oi Cun, dan Oh Toa Hay. Mereka
semua terdiri dari para panglima yang perkasa.
“Aih Kenapa kau tidak menjelaskannya dari semula?” gerutu Siau Po seakan
menyalahkan Sip-pat. “Kalau aku tahu keluarga Bhok dari In Lam itu masih keturunan
Bhok ongya, Bhok Eng. Tentu aku akan bersikap lebih sopan sedikit. Coba kau
ceritakan orang-orang seperti apakah keempat keluarga Lau, Pek, Pui dan Sou itu?”
Mereka adalah para Ke Ciang dari keluarga Bhok. Leluhur mereka turut mengambil
bagian ketika Kim Leng-ong menaklukkan In Lam dan ketika Kim Kok-kong Bhok Tian
Po melindungi raja menyingkir ke Birma, hampir seluruh keturunan para Ke Ciang itu
ikut tewas. Hanya beberapa yang sempat meloloskan diri.
Di kemudian hari keturunan dari keempat keluarga itu dihadiahkan masing-masing
sebuah panji kecil berwarna putih dengan alas biru oleh Tan Ho cu dari Tian-te hwe
sebagai lambang. Siapa pun tokoh persilatan yang melihat panji kecil itu, wajib
memberikan bantuan atau pun melindungi mereka. itulah sebabnya aku juga menaruh
hormat melihat panji kecil itu.
Bukan takut, hanya sungkan, kalau aku sampai membuat kesalahan, tentu aku akan
menjadi orang terhina di dunia ini” sahut Mau Sip-pat yang tampaknya senang
menerangkan secara panjang Iebar,
“Oh, begitu, Memang benar, bila bertemu dengan keturunan panglima atau menteri
yang setia sudah selayaknya kita berlaku hormat.”

“Sejak berkenalan dengan kau, baru kali ini ak mendengar-ucapan yang tepat” kata
Sip-pat sambil menganggukkan kepalanya berkali-kali.
“Aku sendiri, entah kapan pernah mendengar kau mengucapkan kata-kata yang
pantas seperti sekarang ini” sahut Siau Po tidak mau kala “Siapakah yang tidak
menghormati Bhok ongya yang hanya dengan terompet tembaga dapat menyeberangi
sungai dan dengan sebatang panah dapat membunuh gajah?”
Mau Sip-pat kebingungan mendengar ucapannya, Diperhatikannya bocah itu lekatlekat.
“Apa yang dimaksud dengan terompet tembaga dapat menyeberangi sungai dan
dengan sebatang panah api dapat membunuh gajah?”
Siau Po tertawa lebar.
“Kau cuma tahu bagaimana harus menghormati keluarga Bhok, tetapi kau tidak tahu
sampai mana kegagahannya, Tahukah kau ada hubungan apa antara Bhok ongya
dengan Sri Baginda Raja.”
“Siapa yang tidak tahu bahwa dialah panglimanya Raja.”
“Panglima? Ya, ya betul. Memang panglima,” kata Siau Po dengan nada mengejek,
“Panglima juga bukan sembarang panglima Kau tahu, di bawah raja ada enam orang
Ong atau Raja Muda: Tentunya kau pernah mendengar Tiong San-ong Ci Tat serta Kay
Peng-ong Siang Gi Cun bukan? Tetapi tahukah kau siapa Raja Muda lainnya?”
Sip-pat paling buta soal riwayat kerajaan. Dia memang pernah mendengar orang
menyebut nama Ci Tat maupun Siang Gi Cun, tetapi dia tidak tahu bahwa mereka juga
termasuk Raja Muda. Apalagi bahwa mereka mendapat gelar Tiong San-ong dan Kay
Peng-ong.
Lain halnya dengan Siau Po yang sering mendengar legenda atau sejarah si tukang
cerita, Dia menatap Mau Sip-pat dengan perasaan puas karena menganggap dirinya
lebih banyak tahu.
“Empat Raja Muda lainnya ialah Ki Yang-ong Lie Bun Tiong, Leng Ho-ong Teng Ji,
Tong

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s