“ PANGERAN MENJANGAN” – “ LU DING JI “ 02

lainnya yang akan datang mencari aku. Kami sudah mengadakan perjanjian
untuk bertemu di bukit Tek Seng san. perjanjian mati, sebelum bertemu siapa pun tidak
boleh memisahkan diri”
Siau Po sudah lelah dan mengantuk. Dia tidak begitu ambil perhatian atas kata-kata
Mau Sip-pat. Begitu menyenderkan tubuhnya pada sebatang pohon, dia langsung
tertidur pulas.
Keesokan paginya ketika dia terbangun, Siau Po melihat Mau Sip-pat sedang berdiri
menghadap matahari terbit sepasang telapak tangannya merangkap di depan dada dan
nafasnya teratur sekali. Kemungkinan dia sedang melatih diri untuk menyembuhkan
luka dalamnya.
Sampai cukup lama Mau Sip-pat melakukan hal itu, Ketika membuka mata, dia
melihat Siau Po sedang memandanginya dengan terkesima. Bibirnya langsung
menyunggingkan seutas senyuman.
“Kau sudah bangun?”
Siau Po menganggukkan kepalanya.
“Sekarang kau seret dulu mayat kedua orang itu ke balik pohon besar itu, Kemudian
asahlah ketiga batang golok itu agar menjadi tajam,” kata Mau Sip-pat selanjutnya.
Siau Po mengiakan ia melakukan perintah sahabatnya dengan gesit. Saat ini dia
baru memperhatikan dengan jelas bahwa usia Mau Sip-pat sekitar empat puluhan
tahun. Tubuhnya kekar, tampangnya gagah.
Setelah selesai mengasah golok, Siau Po berkata. “Aku akan pergi membeli bakpau.”
“Di mana kau bisa membeli bakpau di tempat seperti ini?”
“Tidak jauh di bawah sana ada sebuah kedai makanan. Mau toako, kau kan
mempunyai uang, bolehkah aku pinjam sedikit?”

“Kita sudah menjadi saudara satu dengan lainnya. Milikku adalah milikmu juga.
Mengapa harus menyebut kata-kata pinjam?”
Diam-diam Siau Po berpikir dalam hati. “Dia sudah menganggap aku sebagai
sahabat sejatinya, meskipun ada hadiah sebesar tiga ribu tail, tidak boleh aku
melaporkan keberadaannya kepada pembesar negeri. Tapi bagaimana kalau nilainya
satu laksa tail, pusing juga mengambil keputusan.
Dia begitu baik kepadaku, Tidak Aku tidak boleh mengkhianatinya Karena itu, Siau
Po segera menerima uang yang disodorkan Mau Sip-pat sambil bertanya: “Mau toako,
apakah aku perlu membelikan obat luka untukmu?”
“Tidak usah. Aku punya,” sahut Sip-pat.
“Baiklah, Aku pergi dulu,” kata Siau Po. “Mau toako, kau tidak perlu khawatir
seandainya aku sampai tertangkap, meskipun batok kepalaku ini akan dipenggal aku
tidak akan mengaku di mana adanya engkau.”
Mau Sip-pat menganggukkan kepalanya, Dia percaya penuh dengan ucapan Siau
Po. Terdengar Wi Siau Po seperti menggumam seorang diri.
“Mau toako masih mempunyai dua orang sahabat yang akan datang, sebaiknya aku
membeli sepoci arak dan beberapa kati daging rebus.”
Mau Sip-pat senang sekali mendengarnya. “Bagus sekali, Paling cocok kalau ada
arak dan daging, sesudah perut kenyang, berkelahi pun jadi penuh semangat”
“Berkelahi? Mengapa kau harus berkelahi?” tanya Siau Po bingung.
“Kau kira untuk apa aku datang kemari tanpa juntrungan? justru aku berjanji dengan
orang untuk bertanding di bukit Tek Seng san ini”
“Ah Mau toako sedang terluka, bagaimana bisa berkelahi? Tidak bisakah kau
menundanya sampai lukamu itu sembuh? Atau pihak sana yang tidak bersedia
mengundurkan waktunya?”
“Aih. Kau tidak tahu,” sahut Mau Sip-pat. “Pihak sana terdiri dari orang-orang gagah,
mana mungkin mereka tidak setuju apabila tahu aku sedang terluka, justru aku yang
tidak ingin menunda waktunya.”
Mau Sip-pat merenung sejenak, kemudian baru melanjutkan kata-katanya kembali:
“Hari ini bulan tiga tanggal dua puluh bukan? janji hari ini sudah kami tetapkan sejak
setengah tahun yang lalu, Sempat aku tertangkap oleh pembesar negeri dan dipenjara.
Tapi aku terus mengingat perjanjian itu. Janji yang sudah diucapkan oleh seorang lakilaki
sejati tidak boleh diingkari. Karena itulah aku kabur dari penjara untuk datang
kemari.

Selagi melarikan diri, aku sempat membunuh beberapa orang petugas, itulah
sebabnya kota Yang-ciu jadi gempar dan para pembesar negeri pun mencari aku. Akhirnya
kau tentu sudah tahu, yakni terjadi keributan di rumah pelesiran itu. Celakanya aku
jadi terluka gara-gara urusan itu.”
Siau Po diam saja mendengarkan. Setelah Mau Sip-pat menyelesaikan kata-katanya,
baru dia membuka suara. “Baiklah, Aku akan pergi sekarang juga dan kembali
selekasnya agar kau sempat mengisi perut sampai kenyang.” Wi Siau Po langsung
membalikkan tubuh dan berlari meninggalkan tempat itu.
Pasar atau kedai makanan yang dimaksudkannya terletak pada jarak kurang lebih
tujuh delapan li, sebentar saja dia sudah sampai di sana, tetapi otaknya terus digelayuti
tentang apa yang dikatakan sahabatnya.
“Aih Mau toako sedang terluka, mana bisa dia berkelahi dengan orang? jalan saja
sukar. Tetapi, apa akal ku untuk membantunya?”
Dengan pikiran melayang-layang, Siau Po membeli belasan butir bakpau dan
delapan cakwe, harganya hanya dua puluh bun lebih. Di sakunya masih tersisa banyak
uang. jangan kata memilikinya, memegangnya saja baru sekarang ini.
Hatinya jadi bingung bagaimana harus menggunakan uang sebanyak itu. Siau Po
pergi ke toko daging, Dia membeli sekati daging kerbau yang sudah matang dan seekor
bebek panggang, Sebotol arak Hong ciu. Sisa uangnya masih cukup banyak.
Akhirnya sebuah ingatan melintas di benak Wi Siau Po.
“Akh, sebaiknya aku membeli tambang. Nanti aku akan membuat jerat untuk
dibentangkan di atas tanah, Apabila pihak sana kurang berhati-hati ketika berkelahi, dia
bisa tersandung jatuh, sehingga Mau toako mudah mengalahkannya.”
Siau Po teringat akan cerita dongeng yang sering didengarnya, yakni menjatuhkan
atau membuat kuda musuh terjungkal oleh tali panjang yang direntangkan itulah
sebabnya ia cepat-cepat menuju toko kelontong.
Di depan toko itu, Siau Po melihat empat buah guci besar, Yang pertama berisi
beras, yang kedua berisi kacang kedelai, yang ketiga berisi garam dan yang terakhir
berisi semen.
Melihat bubuk semen itu, Siau Po teringat suatu peristiwa yang sempat dilihatnya
tahun lalu, Dia berpikir dalam hati: “Di tepi jembatan Sian li Ki waktu itu terjadi
pertempuran antara para penyelundup garam dari dua sindikat yang berlainan. Salah
satu pihak menggunakan timpukan semen sehingga dari keadaan kalah dia menjadi
menang. Kenapa aku tidak mengingat akal itu sejak tadi?”

Membawa pikiran itu, Siau Po tidak jadi membeli tambang, sebaliknya ia membeli
dua kantong semen yang lantas dibawanya ke bukit Tek Seng San di mana Mau Sip-pat
menunggu.
Mau Sip-pat sedang tertidur nyenyak ketika Siau Po kembali Mendengar suara
langkah kaki, dia langsung tersentak bangun. Tanpa berbasa-basi lagi dia meraih botol
arak dan meneguk isinya beberapa kali.
“Arak bagus” pujinya, “Apakah kau sendiri tidak merasa haus?”
Sebetulnya Siau Po tidak biasa minum arak, tapi untuk menjaga gengsinya sebagai
orang gagah, dia menyambut juga botol yang disodorkan oleh Mau Sip-pat dan
meneguk isinya satu kali.
Serangkum hawa panas yang seperti api membakar tenggorok-annya. Tanpa dapat
ditahan lagi Siau Po terbatuk-batuk. Mau Sip-pat tertawa terbahak-bahak.
“He, enghiong cilik, kau belum cukup mahir minum arak” katanya menggoda.
Tepat pada saat itu terdengar sebuah suara menyapa.
“Hai, Sip-pat heng, sudah lama kita tidak berjumpa, bagaimana kabarmu sejak
perpisahan kita?”
Sip Pat memalingkan kepalanya. “Oh, rupanya Go heng dan Ong heng sudah
datang,” sahutnya, “Tentunya kalian berdua sehat-sehat saja bukan?”
Siau Po yang mendengar tegur sapa itu merasa terkejut sekali. Untuk sesaat dia jadi
tertegun sampai-sampai bakpau di tangannya pun lupa dicaploknya.
Cepat dia menoleh ke arah sumber suara. Dia melihat dua orang tengah mendatangi
dengan cepat. Anehnya, mereka tidak berlari, hanya melangkah tapi gerakan mereka
bagaikan kilat. Dalam sekejap mata mereka sudah sampai di depan Mau Sip-pat dan
Siau Po.
Yang satu merupakan seorang tua, kumis dan janggutnya panjang sekali menjuntai
sampai di depan dada, wajahnya belum keriput, bahkan kulitnya berwarna kemerahmerahan
seperti anak gadis berusia lima enam belasan tahun, sedangkan yang satu
lagi berusia kurang lebih empat puluhan tahun. Tubuhnya pendek dan buntek,
Kepalanya botak dengan kuncir kecil yang lucu sekali.
Mau Sip-pat menjura sambil tetap mendeprok di atas tanah.
“Kakiku ini sedang kurang leluasa, tidak bisa memberi hormat sebagaimana
layaknya,” katanya.

Si botak sepertinya kurang puas dengan tindakan Mau Sip-pat, tapi rekannya segera
berkata. “Tidak apa-apa, jangan sungkan.”
Diam-diam Siau Po menggerutu dalam hati. “Mau toako terlalu jujur, kakinya sedang
terluka pun diberitahukan kepada pihak lawan.”
Terdengar Mau Sip-pat berkata kembali “Di sini kebetulan ada arak dan daging,
maukah kalian mencicipinya sedikit?”
“Maaf kalau kami telah mengganggu keasyikan Mau heng.,.” kata si orang tua
langsung ikut mendeprok di sisi Mau Sip-pat dan mengulurkan tangan menyambuti
botol arak.
Menyaksikan hal itu, hati Siau Po menjadi girang, Tadinya dia masih bingung dan
khawatir.
“Oh kiranya mereka ini sahabat-sahabat Mau toako, Kedatangan mereka bukan
untuk berkelahi. Bagus sekali. Dengan demikian Mau toako berarti mendapat bantuan
dua tenaga apabila sebentar lagi lawannya datang, sayangnya mereka tidak membawa
senjata. Eh, apakah mereka mengerti ilmu silat atau tidak ya?”
Si orang tua mengangkat botol arak ke dekat mulutnya, Ketika dia ingin meneguknya,
terdengar si botak berkata. “Go toako, sebaiknya kau jangan minum arak itu”
Suaranya keras sekali sehingga Siau Po terperanjat. Tanpa dapat menahan diri lagi,
kakinya menyurut mundur dua langkah.
Orang tua itu sempat tertegun sejenak, kemudian dia tertawa terbahak-bahak.
“Tidak perlu berprasangka buruk. Sip-pat heng adalah seorang laki-laki sejati Tak
nanti dia menaruh racun dalam arak.” ia terus meneguk arak itu sebanyak dua kali.
Kemudian dia menyodorkan botol itu ke hadapan rekannya. “Kalau kau tidak sudi
meneguk arak ini, berarti kau tidak menghargai sahabatmu.”
Si botak ragu-ragu sejenak, tapi tampaknya dia tidak berani menentang ucapan si
orang tua. Tangannya segera menjulur ke depan untuk menyambut botol arak, tapi baru
saja dia hendak meneguknya, botol arak itu sudah direbut oleh Mau Sip-pat
“Araknya kurang banyak. Lagipula Ong heng tidak gemar minum, lebih baik hemat
sedikit untuk diriku sendiri” katanya sambil menenggak habis isi botol itu.
Wajah si botak menjadi merah padam seketika, Tapi dia tidak berkata apa-apa.
Diambilnya sepotong daging lalu dikunyahnya, Terdengar Mau Sip-pat berkata kembali.
“Tuan-tuan, mari aku kenalkan dulu pada sahabat baikku ini” tangannya menunjuk
kepada si orang tua kemudian berkata lagi kepada Siau Po, “lni tuan Go Tay Peng,

orang kangouw menjuIuki-nya Mo In-Jiu (tangan meraba mega/awan), ilmu silatnya
tinggi sekali hampir tanpa tandingan.”
Si orang tua yang bernama Go Tay Peng langsung tertawa lebar.
“Mau heng, kau sungguh pandai membuat kepalaku besar” tetapi ketika
memperhatikan keadaan sekitarnya, dia menjadi heran karena di tempat itu tidak ada
orang lain kecuali Mau Sip-pat dan rekannya yang she Ong, Lalu siapa sahabat yang
dimaksudkannya?
Sip-pat kembali menunjuk kepada si botak.
“Yang ini Ong suhu yang bernama tunggal Tan. Beliau mendapat julukan Siang Pit
Kay-San (sepasang pit pembuka gunung), ilmunya lihay sekali.”
“Mau heng hanya berkelakar saja. justru aku pernah dikalahkan olehmu dan hal itu
membuat aku malu sekali….”
“Saudara Ong tidak perlu merendah,” tukas Mau Sip-pat. Dia terus menunjuk ke arah
Siau Po dan berkata kembali “inilah sahabat baruku….”
Go Tay Peng dan Ong Tan jadi tertegun serentak. Sesaat kemudian tampak
keduanya saling pandang, mereka benar-benar bingung, Setelah itu mereka
menolehkan kepalanya memperhatikan si bocah laki-laki yang usianya paling banter
dua belas tahun itu, Tubuhnya kurus kering pula.
“Siapakah bocah ini?” pikir mereka dalam hati.
Sementara itu, terdengar Mau Sip-pat melanjutkan kata-katanya. “Sahabat kecilku ini
she Wi, namanya Siau Po. Orang kangouw menjulukinya…” Mau Sip-pat menghentikan
kata-katanya sejenak seakan sedang berpikir. “Siau pek-liong (Si Naga putih yang
keciI). ilmu berenangnya istimewa sekali. Dia sanggup menyelusup di dalam air selama
tiga hari tiga malam. Untuk mengisi perut dia makan udang dan ikan mentah”
Sengaja Mau Sip-pat berkata demikian, walaupun dia tahu Siau Po tidak mengerti
ilmu silat sama sekali. Kedua sahabatnya merupakan tokoh-tokoh dunia kangouw yang
ilmunya tinggi sekali, tentu saja tidak mudah dikelabui. Tapi kedua orang itu tidak bisa
berenang, karena itu dia memakai alasan itu untuk meninggikan derajat Wi Siau Po.
Dengan demikian mereka juga sukar membuktikan kebenaran kata-katanya.
“Nah, aku harap kalian bertiga dapat mengikat persahabatan yang kekal.”
Go Tay Peng dan Ong Tan segera menjura kepada Wi Siau Po sambil berkata:
“Telah lama kami mendengar nama besarmu, saudara muda.”
Siau Po tidak mau kalah set. sembari membalas hormat, dia pun berkata: “Aku juga
sudah lama mengagumi kalian.”

Dalam hati Siau Po justru mengeluh “Mau toako bisa saja, Orang seperti aku ini
mana pantas disebut tokoh kangouw? lagipula aku tidak bisa berenang, bagaimana
kalau hal ini ketahuan kelak?”
Perjamuan istimewa itu pun dilanjutkan sampai akhirnya arak habis, daging serta
bakpau tidak bersisa lagi, Ong Tan mula-mula yang paling malu, tapi belakangan dia
yang justru paling banyak gegares.
Mau Sip-pat menyeka mulutnya dengan ujung bajunya, kemudian berkata: “Go loya
cu, sahabat cilikku ini pandai berenang dan menyelam. Tetapi dia tidak mengerti ilmu
silat sama sekali, Karena itu, dalam pertempuran kali ini, hanya satu lawan dua. Hal ini
bukan semata-mata karena aku memandang rendah kalian berdua….”
Go Tay Peng memperhatikan Mau Sip-pat lekat-lekat. “Aku rasa sebaiknya
perkelahian ini kita tunda setengah tahun lagi saja.”
“Kenapa?” tanya Mau Sip-pat heran.
“Kau sedang terluka, Mau heng. Tentu kau tidak bisa mengerahkan ilmumu dengan
baik,” sahut Go Tay Peng. “Andaikata aku si orang tua meraih kemenangan, tidak ada
yang dapat kubanggakan. Tetapi kalau aku sampai kalah, habislah pamorku selama
ini.”
“Bagiku, terluka atau tidak, tak banyak bedanya,” kata Mau Sip-pat sambil tertawa
terbahak-bahak “Kalau kita harus menunggu setengah tahun, apakah usus kita tidak
jadi melilit dan putus?”
Dengan tangan kiri menopang pada batang pohon dan tangan kanan menggunakan
golok sebagai tongkat, Mau Sip-pat berdiri perlahan-lahan.
“Go loya cu, kau memang selamanya tidak pernah menggunakan senjata. Saudara
Ong, keluarkanlah andalanmu itu” katanya.
Bagian 02
“Baik” seru Ong Tan sambil mengeluarkan sepasang boan-koan pit dari selipan
pinggangnya, Senjata inilah yang membuat nama orang ini jadi terkenal dan mendapat
julukan Siang Pit Kay-San.
“Baiklah, Mau heng, bila kau tetap memaksakan kehendakmu Ong te, kau bersiap
sedia saja, sebentar kalau aku menderita kekalahan, baru kau maju.”
Sebagai seorang tokoh dunia kangow yang sudah mempunyai nama, Go Tay Peng
tidak mau menghadapi lawan dengan cara mengeroyok.

“Baik” sahut Ong Tan kemudian menyurut mundur tiga langkah.
Go Tay Peng sudah bersiap sedia, pergelangan tangannya memutar. Tangan
kanannya melingkar, terus diluncurkan kepada lawan. Dia menyerang sambil
melindungi dirinya sendiri.
“Serrr Sip-pat menebaskan goloknya. Dia tidak menangkis atau menebas tangan
kanan lawan, yang diincarnya justru tangan kiri
Sungguh suatu serangan balasan yang hebat sekali
Go Tay Peng menangkis dengan tangan kirinya. Kepala dan bahunya dimiringkan
sedikit. Gerakannya bukan hanya menghindarkan diri dari serangan lawan, tapi tangan
kirinya sekaligus menyambar ke arah tangan kanan Mau Sip-pat yang menggenggam
golok.
Mau Sip-pat menghindar dengan memutar tubuhnya, pukulan lawannya mengenai
batang pohon, Terasa getaran yang kuat dan dedaunan dari pohon itu pun rontok
sebagian.
“PukuIan yang hebat” puji Mau Sip-pat. Diam-diam dia mengakui bahwa julukan
lawannya bukan nama kosong belaka.
Mau Sip-pat sendiri bukan hanya memuji, dia juga maju menyerang, menebas
pinggang lawan dengan goloknya, Go Tay Peng menutulkan sepasang kakinya di atas
tanah sehingga dengan gerakan indah tubuhnya mencelat ke atas. Bahkan jenggotnya
sampai melambai-lambai karena hembusan angin.
Sungguh di luar dugaan, meskipun usianya sudah lanjut, gerakan Mo In-Jiu Go Tay
Peng ternyata masih demikian lincah dan gesit. Wi Siau Po merasa kagum sekali.
Seumur hidup dia belum pernah melihat perkelahian yang demikian seru.
Namun dia juga mengkhawatirkan keadaan Mau Sip-pat. Diam-diam dia berpikir,
“Bisa celaka kalau Mau toako sampai terhajar pukulannya yang lihai itu.”
Pertempuran berlangsung semakin sengit, golok Mau Sip-pat memutar ke sanakemari
sehingga timbul cahaya yang berkilauan Semua serangan lawan dapat
dihadapinya dengan baik.
Tepat pada saat pertarungan masih berlangsung, tiba-tiba terdengar suara derap
kaki kuda. Ke empat orang itu menoleh serentak. Mereka melihat belasan penunggang
kuda sedang mendatangi dan begitu tiba di dekat mereka lantas memencarkan diri
mengambil posisi mengepung.
Dari pakaian seragamnya dapat diketahui bahwa mereka terdiri dari tentara Boan.
sedangkan orang yang menjadi pimpinannya segera berteriak dengan lantang.

“Berhenti semua Kaml mendapat perintah menangkap penjahat besar Mau Sip-pat.
Kalian yang tidak ada sangkut pautnya, harap segera mengundurkan diri”
Mendengar kata-kata itu, Go Tay Peng menghentikan serangannya kemudian
mencelat mundur. Sikap Mau Sip-pat berani sekali. Dia segera berkata kepada
rekannya.
“Go loya cu, kawanan kuku garuda ini muncul lagi. Tujuan mereka kemari hanya
mencari aku, sebaiknya kau tidak usah perdulikan mereka. Kita lanjutkan saja
pertarungan kita.”
Go Tay Peng tidak menggubris ucapan Mau Sip-pat. Dia menatap para tentara itu
dengan mengedarkan pandangan matanya kemudian berkata kepada si pemimpin.
“Mau Sip-pat adalah seorang rakyat jelata, bagaimana kalian bisa menganggapnya
sebagai penjahat besar? Mungkinkah kalian mencari orang yang salah?”
Si perwira tertawa dingin.
“Dia rakyat jelata?” sikapnya seperti mengejek “Kalau orang seperti dia dapat disebut
rakyat yang baik-baik, entah berapa banyak orang baik di dunia ini?”
Matanya melirik ke arah Mau Sip-pat kemudian melanjutkan kata-katanya kembali
“Sahabat Mau, bukankah kau telah menerbitkan keonaran besar di kota Yang-ciu?
Seorang yang gagah pasti bertanggung jawab atas hasil perbuatannya, sebaiknya
secara baik-baik saja kau turut dengan kami”
“Boleh kau tunggu dulu sebentar,” sahut Mau Sip-pat seenaknya, “Kau saksikan dulu
bagaimana aku melayani Go loya cu ini sampai ada yang menang atau kalah”
Kemudian dia menoleh kepada Go Tay Peng sambil berkata pula: “Go loya cu, biar
bagaimanapun hari ini kita harus bertempur sampai ada hasilnya, Kalau kita menunda
lagi sampai setengah tahun lamanya, siapa yang berani memastikan di saat itu Mau
Sip-pat masih bernafas?”
Si perwira yang mendengar ocehannya mulai kehabisan rasa sabar.
“Kamu bertiga, kalau kalian memang bukan sekongkolan Mau Sip-pat, sebaiknya
lekas tinggalkan tempat ini jangan mencari penyakit bagi diri kalian sendiri”
Mau Sip-pat gusar sekali. Tanpa takut sedikit pun dia mendamprat. “Nenek nyinyir
Buat apa kau begitu bawel?”
Si perwira semakin gusar. Dia mengalihkan pandangannya kepada Go Tay Peng dan
Ong Tan.

“Kalian berdua bertarung dengannya. Hal ini membuktikan bahwa kalian bukan
konconya, Dan kau, Loya cu, janggutmu sudah memutih dan wajahmu bersemu dadu,
apakah kau ini yang mendapat julukan Mo In-Jiu, Go Tay Peng?”
“Tak berani aku menerima pujian saudara yang demikian tinggi. Tapi memang benar,
akulah Go Tay Peng” sahutnya merendah.
Si perwira menunjuk lagi ke arah Ong Tan. “Dan itu yang kepalanya botak, pasti
saudara Ong yang mendapat julukan Siang Pit Kay-San, bukan?”
“Hm” Ong Tan menjawab dengan singkat.
Sementara itu, Go Tay Peng memperhatikan si perwira dengan seksama, usianya
mungkin sekitar empat puluhan tahun, suaranya cukup lantang, menandakan tenaga
dalamnya yang cukup kuat.
Diam-diam Go Tay Peng merasa aneh bahwa di dalam pimpinan ketentaraan Boan
ada orang pandai seperti dia. sedangkan rekan-rekannya yang lain juga tampaknya
bukan orang sembarangan.
Kemudian dia melihat si perwira menggunakan senjata joan-pian, yakni semacam
ruyung yang lunak mirip cambuk yang dapat dilipat dan di pinggang kirinya
bergelantung sebuah senjata seperti boIa yang berduri. Dengan demikian dia langsung
dapat menduga siapa adanya perwira itu, Terdengar dia berkata.
“Kabarnya Hek Liong-pian Su Siong adalah seorang tokoh yang mencintai
kegagahan di dunia kangouw, entah sejak kapan menjadi hamba pemerintah musuh?”
Memang benar, perwira itu bukan lain dari Hek Liong-pian Su Siong atau si Cambuk
Naga Hitam. wajahnya menjadi merah padam mendengar sindiran Go Tay Peng.
“Go Siau-Po yang ada di kota Pe King sangat bijaksana, Dia juga mempunyai
pergaulan yang luas serta pandai menghormati orang-orang pintar dan gagah. Aku
yang bodoh saja telah diundangnya untuk menjadi perwira bagi Sri Baginda Raja, Dan
beberapa sahabatku ini juga merupakan undangan Go Siau-Po.”
Hek Liong-Pian menghentikan kataku tanya sejenak, “Kami dari kota raja yang jauh
sengaja datang kemari karena mendapat tugas untuk mengajak pulang sahabat Mau ini
ke kota Pe King, Siapa sangka, sahabat ini telah melakukan keonaran di kota Yang-ciu,
bahkan melarikan diri dari penjara. Sungguh kebetulan kita dapat berjumpa di sini”
“Begitu rupanya,” sahut Go Tay Peng tawar.
Terdengar Mau Sip-pat berkata.
“Go Pay mengaku dirinya sebagai jago nomor satu dari suku bangsa Boan-ciu,
sebetulnya sampai di mana tingginya ilmu silat orang itu?”

“Go siau-po mempunyai tenaga alamiah, kekuatannya hebat sekali,” sahut Su Siong,
“llmu silatnya memang patut disebut nomor satu di dunia ini. pernah satu kali di kota Pe
King dia membunuh seekor kerbau dengan menghantamkan kepalannya. Bukankah
kau yang seorang penjahat besar pun sudah mengetahuinya?”
Mau Sip-pat marah sekali diejek sebagai penjahat besar.
“Makmu Aku tidak percaya Go Pay sedemikian lihay, Aku justru ingin pergi ke Pe
King untuk menghadapinya”
Su Siong tertawa dingin.
“Orang semacam kau hendak melawan Go siau-po ? Hm Asal kena tinjunya satu kali
saja, kau pasti akan terkapar mampus di atas tanah”
Hek Liong-pian menoleh kepada Go Tay Peng dan Ong Tan.
“Go loya cu, saudara Ong, harap kalian menggeser sedikit”
Tiba-tiba Ong Tan yang sejak tadi diam saja berkata.
“Apa yang kau katakan tadi mengenai kepalaku ? Bukankah kau mengejek aku
sebagai si botak?”
Sejak muda Ong Tan paling keki kalau orang mengungkit soal kepalanya yang botak,
Kepekaannya langsung tergores.
“0h… tidak,” sahut Su Siong sambil tertawa, “Aku tidak ber….”
Semakin meluap kemarahan Ong Tan. Hek Liong-pian bukannya minta maaf malah
tertawa.
“Lalu, apa maksudmu? Mengapa kau tertawa barusan?” bentak Ong Tan.
“Mengapa aku tidak boleh tertawa, Yang botak kan kau sendiri, apa urusannya
dengan kami?”
Rasanya seperti ada bara api yang berkobar di dada Ong Tan. Langsung saja dia
mengirimkan sebuah serangan ke depan, jurus yang digunakannya adalah ilmu totokan
yang istimewa, yakni Ular naga mencelat ke atas, burung Hong terbang di udara”
Su Siong tertawa terbahak-bahak. Kakinya menyurut mundur dan dengan secepat
kilat Joanpian-nya sudah tercekal di tangan, senjatanya yang istimewa itu melayang ke
pinggang lawan.
Ong Tan menghindarkan diri sambil dengan Boan-koan pit kirinya, Kedua senjata itu
langsung beradu, sementara itu, duri-duri yang tajam dari Joanpian Hek Liong-pian

mengancam bagian belakang kepala Ong Tan sehingga terpaksa dia menangkis pula
dengan Boan-koan pit kanannya.
Su Siong segera menarik senjatanya ke beIakang, tetapi sekejap kemudian dia
mengasongkan kembali ke muka lawan, Dia tidak menyerang dengan sungguhsungguh,
hanya menggerakkannya ke depan dan kemudian ditarik kembali, lalu
diselipkan di pinggangnya, Dalam segebrakan dia sudah membuat Ong Tan kerepotan.
Melihat kehebatannya, para pengikutnya langsung memberi sambutan yang meriah.
“Saudara Su, ternyata ilmumu memang hebat sekali, jurus yang kau gunakan
barusan tentunya Sin-liong Sam-pa bwe (Naga sakti menggoyangkan ekornya).”
“Tak berani aku menerima pujian setinggi itu, Harap jangan ditertawakan” sahut Hek
Liong-pian.
Sementara itu, Ong Tan masih ragu apakah harus meneruskan serangannya atau
tidak, Su Siong sendiri tidak menggubris Ong Tan lagi. Sembari tertawa lebar dia
memalingkan kepalanya kepada Mau Sip-pat.
“Orang she Mau, bangunlah? ikut kami meninggalkan tempat ini”
“Tidak demikian mudah, sahabat” Sahut Mau Sip-pat dengan datar “Kalian
berjumlah tiga belas orang, sedangkan aku hanya sendiri. Meskipun rasanya tidak
masuk akal satu sanggup melawan tiga belas orang, tapi aku ingin mencobanya juga.”
Mendengar kata-katanya Go Tay Peng langsung tersenyum.
“Mau heng, mengapa kau menganggap kami ini seperti orang luar saja? Kau bukan
melawan mereka seorang diri, tetapi empat melawan tiga belas”
Mau Sip-pat tertegun sejenak, kemudian dia menoleh kepada Ong Tan.
“Saudara Ong, kau membantu pihak yang mana?”
“Sudah tentu aku berpihak padamu” sahut Ong Tan tegas.
“Tuan berdua, harap kalian jangan ceroboh, Siapa yang berani melawan pemerintah
yang agung, urusannya bisa gawat sekali”
Go Tay Peng kembali tersenyum, dia berkata.
“Dikatakan memberontak, tentu kami tidak berani, Yang benar, menentang pihak
yang sewenang-wenang”
“Apa bedanya? Orang she Go, apakah kau sudah bertekad untuk membantu
pemberontak ini?”

“Harap tuan jangan salah duga, sebaiknya kau memaklumi dulu duduk persoalannya,
Setengah tahun yang lalu, saudara Mau dan saudara Ong ini sudah mengikat perjanjian
untuk melakukan pertandingan persahabatan hari ini. Di dalam urusan ini, aku yang
rendah juga telah diikutsertakan. Tetapi nyatanya, apa yang terjadi kemudian?
pembesar negeri benar-benar memperlihatkan kesan yang kurang baik. Mereka telah
menangkap saudara Mau, kemudian memenjarakannya, sedangkan Mau adalah
seorang laki-laki sejati, tidak nanti dia mengingkari janjinya sendiri. Bisa-bisa jatuh
nama baiknya di dunia kangouw dan dianggap sebagai pengecut.
Untuk menghindarkan hal yang tidak di’inginkan, terpaksa Mau heng melarikan diri
dari penjara guna memenuhi perjanjian ini, Dalam hal ini, pembesar negerilah yang
memaksa rakyat memberontak Sekarang, jika saudara sudi memandang mukaku,
silahkan kau menarik pasukanmu dari tempat ini. Biarkan kami menyelesaikan dulu
urusan ini. Besok kau boleh kembali lagi. Pada saat itu kau hendak menawan Mau heng
atau tidak, bukan urusan kami lagi”
“Tidak bisa” sahut Su Siong tegas.
Salah seorang rekannya segera maju ke depan dan berkata dengan suara keras.
“Sahabat Su, buat apa banyak bicara?” Orang itu menghunus goloknya. setibanya di
depan Go Tay Peng, dia langsung mengirimkan serangan.
Tentu saja Go Tay Peng mendongkol sekali. Dia segera menggeser kakinya ke
samping kemudian mencelat ke atas. Sebelah tangannya menjulur ke depan, dalam
sekejap mata dia sudah berhasil mencengkeram orang yang masih duduk di ataskuda
itu dan membantingnya dengan keras ke tanah.
“Pemberontak Pemberontak” Para prajurit lainnya segera berteriak sambil mencelat
turun dari kuda masing-masing dengan kalang kabut, Mereka segera mengepung Go
Tay Peng dan yang lainnya.
Dengan demikian, terpaksa Go Tay Peng dan Ong Tan melakukan perlawanan.
Tidak terkecuali Mau Sip-pat, meskipun keadaannya masih terluka dan terpaksa
melawan dengan punggung bersandar pada sebatang pohon, tetapi serangannya lihai
sekali. Dua orang musuh yang menerjang ke arahnya langsung tertebas bagian
pinggangnya sehingga menemui ajal seketika.
Su Siong masih belum turun tangan. Dia menyaksikan jalannya pertempuran dari
atas kudanya, sementara itu, Wi Siau Po yang cerdik mengerahkan akalnya, Diam-diam
dia menggeser tubuhnya sedikit demi sedikit sehingga keluar dari kancah pertempuran.
Rupanya karena dia hanya seorang bocah cilik, pihak lawan tidak begitu
memperhatikannya, Lagi-pula sejak perdebatan terjadi, dia sudah menyembunyikan diri
di belakang sebatang pohon yang jaraknya kurang lebih satu tombak. Di sana diamdiam
dia berpikir “Sebaiknya aku kabur saja atau menonton terus jalannya
pertempuran?” Hatinya diliputi kebimbangan.

“Mau toako cuma bertiga, sedangkan lawan jauh lebih banyak, Mana mungkin
mereka bertahan terus, bisa-bisa malah tewas di tangan para prajurit ini. Apakah
perwira itu akan melepaskan aku kalau yang lainnya sudah mati? Tapi, Mau toako
sudah menganggap aku sebagai sahabat sejatinya. Lagi-pula aku sendiri yang
mengatakan senang dan susah dicicipi bersama. Kalau sekarang aku diam-diam kabur,
tentu aku malu pada diriku sendiri. Tidak pantas lagi aku disebut sebagai sahabat
sejati”
Tepat pada saat itu, terdengar suara bentakan Go Tay Peng, seorang lawannya
roboh binasa karena terhantam pukulannya, sementara itu, Ong Tan masih dikeroyok
tiga orang lainnya.
Mau Sip-pat sendiri sudah berhasil menebas kutung kaki salah seorang lawannya
yang kini terkulai di atas tanah, merintih kesakitan sembari mencaci maki dengan katakata
yang kotor.
Tidak urung hati Su Siong tercekat juga melihat keadaan ini. Dua orangnya sudah
tidak berdaya dan tiga lainnya sudah binasa, sekarang sisanya tinggal tujuh orang lagi.
Memang kalau ditilik dari keadaannya, posisi mereka masih di atas angin, tapi siapa
yang berani menjamin apa yang akan terjadi nanti?
“Tidak boleh aku berdiam diri terlalu lama” katanya dalam hati, Terdengar dia
mengeluarkan suara bentakan keras lalu melompat turun dari kudanya. Yang diincarnya
sudah barang tentu Mau Sip-pat. Begitu sampai di hadapan orang itu, dia langsung
menyerang dengan gencar
Mau Sip-pat mengadakan perlawanan dengan goloknya, Setiap serangan
dihadapinya dengan hati-hati, dia mengerahkan jurus Ngo-Houw Toan Bun To (llmu
golok lima harimau).
Tepat pada saat itu, kembali terdengar suara bentakan Go Tay Peng yang disusul
dengan robohnya seorang lawan lagi. Dengan demikian pihak prajurit kerajaan itu
berkurang satu tenaga lagi.
Ong Tan masih kelabakan menghadapi tiga lawannya, Pahanya telah terluka karena
bacokan golok musuh, tapi dia tetap mempertahankan diri.
Tiga lawan Go Tay Peng lainnya mempunyai kepandaian yang lumayan, itulah
sebabnya mereka masih sanggup bertarung terus, Beberapa kali serangan Go Tay
Peng dapat mereka hadapi dengan baik.
Sementara itu, diam-diam Su Siong merasa kagum melihat kepandaian Mau Sip-pat.
Musuhnya itu sedang terluka, kedua kakinya tidak dapat bergerak dengan leluasa pula,
tapi serangan tangannya lihai sekali. Terutama tangan kanan yang menggenggam
golok, Sampai sekian lama, belum sempat Joan-pian lawan mengenai tubuhnya.

“Untung saja kakinya terluka, kalau tidak tentu sejak tadi aku sudah berhasil
dikalahkan olehnya,” pikir Su Siong dalam hatinya. Segeralah ia menguras otaknya
mencari akal untuk menghadapi lawan. Tiba-tiba sebuah ingatan melintas dalam
benaknya.
Dengan jurus Pek-Coa Tou Sin (Ular putih menyemburkan racun) ia menyambar
bahu kanan lawannya. Mau Sip-pat langsung menangkis. Tidak dinyana, ternyata
serangan itu hanya tipuan belaka, Tangan lawan berubah saat itu juga. Dengan
menggunakan siasat “Bersuara di timur, menyerang dari barat, Hek Liong-pian
menyerang kembali dengan jurus “Giok-Tai Wi Yau” (Sabuk kumala melilit pinggang)”
Joan-pian bergerak dari kiri ke kanan mengincar pinggang lawan. seandainya
sepasang kaki Mau Sip-pat dapat digerakkan, pasti dia akan bergerak maju ke depan
atau mencelat mundur ke belakang.
Tetapi keadaannya justru tidak mengijinkan mau tidak mau dia terpaksa menyambut
serangan lawannya dengan kekerasan
Gerakan tubuh Su Siong cepat sekali. Ujung senjatanya tidak dapat tersentuh oleh
golok lawan, Malah dia berhasil melilit tubuh lawannya sehingga melingkar tiga kali
sehingga terikat di batang pohon. Kemudian dia mengirimkan serangan ke arah dada
lawan.
Mau Sip-pat terperanjat setengah mati, dadanya tertusuk oleh duri-duri yang terdapat
di ujung Joan-pian.
Ketika mendapatkan perintah dari atasannya, Su Siong sudah dipesan wanti-wanti
untuk membawa Mau Sip-pat dalam keadaan hidup, Biar bagaimana dia harus menuruti
perintah itu.
Sekarang, setelah berhasil melumpuhkan Mau Sip-pat, dia akan membantu rekannya
membereskan Go Tay Peng dan Ong Tan. Dengan demikian tugasnya sudah selesai
dan dia dapat kembali ke kota raja dengan tenang.
Itulah sebabnya dia segera membungkuk dengan maksud mengambil golok Mau Sippat
dan mengutungkan lengan kanannya sehingga menjadi cacat untuk selamanya.
Tentunya niat perwira itu sudah kesampaian, apabila tiba-tiba tidak meluncur
bayangan putih yang melesat ke arahnya sehingga dia jadi terkesiap dan panik.
Ternyata bayangan putih itu adalah sejenis bubuk yang langsung menerpa matanya
sehingga tidak dapat dibuka. Ada sebagian pula yang tersedot ke dalam hidung dan
masuk atau tertelan ke dalam mulut, sehingga tenggorokannya bagai tercekat.
Tapi yang paling hebat justru bubuk yang masuk ke dalam kelopak malanya. Bukan
saja dia tidak bisa melek, namun juga merasa perih sekali, sedangkan mulutnya tidak
dapat mengeluarkan suara sedikit pun disebabkan tenggorokannya yang tersumbat.

Terpaksa Su Siong membatalkan niatnya untuk memungut golok, Dia mengucekucek
matanya, semakin dikucek semakin perih, Saat itulah Su Siong sadar bahwa
musuh sudah menyerangnya dengan bubuk semen. Hanya dia tidak dapat menduga
musuh mana yang membokongnya.
Hatinya juga terkejut setengah mati Sebab dia ingat bahwa semen tidak dapat
dibersihkan dengan air, karena semakin melarut dan dapat mengakibatkan kebutaan,
justru di saat pikirannya sedang bingung. Dia merasa ada suatu benda dingin yang
masuk ke dalam perutnya, lalu rasa perih yang tidak terkirakan menyerangnya.
Rupanya sebatang golok telah ditikam ke dalam perut orang itu
Mau Sip-pat yang mengetahui tubuhnya terlilit senjata lawan merasa terkesiap.
Bagian dadanya langsung terasa perih karena duri-duri joanpian yang menusuk bagian
dadanya.
Di saat hatinya masih dilanda kebingungan tiba-tiba dia melihat ada semacam bubuk
putih yang menyerang mata lawannya, sehingga lawan langsung mengucek-kucek
matanya, Kemudian dia melihat Siau Po memungut golok di atas tanah dan lalu
menancapkannya ke perut Su Siong.
Selesai menikam dengan golok, Siau Po kembali ke balik pohon untuk bersembunyi,
sedangkan Su Siong sempat terhuyung-huyung sejenak sebelum akhirnya rubuh di atas
tanah. Rekan-rekan yang melihat keadaan itu jadi panik. Beberapa orang di antaranya
segera berteriak-teriak manggil.
“Su Siwi Su Siwi”
Tepat pada waktu itu pula Go Tay Peng meluncurkan pukulan kirinya membuat
seorang musuhnya terpental beberapa tombak, Mulut orang itu mengeluarkan seruan
tertahan, kemudian tubuhnya jatuh berguling dan mulutnya memuntahkan darah segar.
Dari pihak musuh, masih tersisa lima orang, tetapi mereka sudah ciut nyalinya.
Tanpa menunda waktu lagi mereka lari terbirit-birit Tidak perduli rekannya masih hidup
atau sudah mati, Bahkan kuda tunggangan mereka pun ditinggalkan begitu saja
Go Tay Peng tidak berniat bermusuhan dengan petugas kerajaan, Karena itu dia
biarkan sisa lima orang itu lari pergi, Dia membalikkan tubuhnya dan berkata kepada
Mau Sip-pat.
“Mau heng, hebat sekali Kau telah berhasil merobohkan Hek Liong-pian”
Orang tua itu melihat Su Siong sudah terkapar mati, dia mengira Mau Sip-pat yang
melakukannya, Tetapi tampak Sip-pat menggelengkan kepalanya, wajahnya merah
karena jengah.
“Sungguh malu, Go loya cu, sebenarnya Su Siong dibunuh oleh Saudara Wi”

Go Tay Peng dan Ong Tan langsung termangu-mangu mendengar keterangan itu.
“Bocah itu yang membunuhnya?” tanya mereka serentak.
Tadi Ong Tan juga tidak sempat melihat siapa yang membunuh Su Siong, sebab dia
sendiri sedang kelabakan menghadapi lawan-lawannya, Mayat-mayat musuh terkapar
di antara genangan darah. sedangkan yang terluka masih dalam keadaan sekarat. Di
atas tanah juga terdapat semen berserakan, tetapi tidak ada yang memperhatikannya.
Mau Sip-pat menggenggam joanpian milik Su Siong. Dengan menahan rasa nyeri,
dia menarik keluar duri-duri yang menancap di dadanya, otomatis sedikit ujung
dagingnya ikut tertarik, dapat dibayangkan bagaimana rasa sakitnya. Seluruh baju
langsung dipenuhi noda darah.
Begitu senjata lawannya sudah berhasil dicabut, Mau Sip-pat langsung
menghantamkan duri tajam itu ke arah Su Siong yang saat itu belum mati. Orang itu
sempat berkelojotan beberapa kali sebelum nyawanya melayang dengan kepala
hancur.
“Saudara Wi. Kau lihay sekali” seru Mau Sip-pat.
Wi Siau Po muncul dari balik pohon. MuIutnya membungkam karena tidak tahu apa
yang harus dikatakannya, Go Tay Peng dan Ong Tan memperhatikan Siau Po dengan
heran.
“Saudara cilik,” tanya Go Tay Peng, “Jurus apa yang kau gunakan untuk membunuh
orang she Su itu?”
“Aku cuma menancapkan golok ke

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s