“ PANGERAN MENJANGAN” – “ LU DING JI “ 01

Kaki-Tiga-Menjangan

“ PANGERAN MENJANGAN”
“ LU DING JI “
Judul Inggeris : Duke Of Moon Deer
Karya : Chin Yung

Bagian 01
Bagian pertama
Sejak masa purbakala, kota Yang-ciu sudah terkenal sebagai daerah istimewa.
Apalagi sekarang, sepanjang hari kota Yang-ciu selalu ramai, Berbagai toko memenuhi
sepanjang jalan.
Tahun pertama kedudukan kaisar Kong Hi dari dinasti Ceng, Di samping telaga Siu
Sai, Yang-ciu, ada sebuah bangunan besar tempat hiburan. Saat ini baru masuk musim
semi, lentera-lentera tergantung menerangi seluruh tempat itu.
Bangunan yang bernama Li Cun Goan mengumandangkan berbagai jenis suara. Ada
ketukan bambu, ada suara teriakan para laki-Iaki yang sedang bertaruh kepalan tangan.
Ada pula suara tertawa cekikikan.

Maklumlah, Li Cun Goan memang menyediakan banyak wanita penghibur. Ada juga
yang sudah setengah mabuk sehingga bernyanyi-nyanyi dengan suara sumbang,
Pokoknya suasana bising sekali sampai di taman pun terdengar jelas.
Tiba-tiba, dari arah utara dan selatan terdengar suara bentakan serentak.
“Para sahabat yang ada di dalam gedung, para nona-nona cantik dan teman-teman
yang sedang menghamburkan uang, harap dengarkan: Kami ingin mencari seseorang
Tidak ada urusannya dengan kalian semua. Siapa pun tak boleh berkoar-koar atau
ribut-ribut, siapa yang tidak mendengar perintah kami, jangan salahkan apabila kami
mengambil tindakan keras”
Suasana hening seketika. Tetapi sesaat kemudian terdengarlah suara jeritan
beberapa orang wanita dan suara teriakan laki-Iaki yang keras. Keadaan di tempat itu
jadi kacau tidak karuan.
Di tengah-tengah ruangan Li Cun Goan itu ada belasan laki-laki yang duduk
mengitari tiga buah meja, Di samping masing-masing ditemani seorang wanita
penghibur. Mendengar suara bentakan tadi, wajah mereka semuanya berubah.
“Ada apa?”
“Siapa?”
“Apakah ada pemeriksaan dari pihak kerajaan?” Berbagai pertanyaan tercetus
serentak.
Dalam waktu yang bersamaan terdengar suara ketukan keras di pintu, para pelayan
dan wanita penghibur jadi bingung. Untuk sesaat mereka tidak tahu apa yang sebaiknya
dilakukan. Apakah harus membuka pintu atau membiarkannya saja?
Terdengar suara benturan yang keras, rupanya pintu ruangan itu sudah didobrak
sehingga terbuka. Disusul dengan masuknya belasan laki-laki bertubuh kekar.
Para laki-laki itu mengenakan pakaian yang ringkas, kepala diikat dengan selendang
putih. Tangan masing-masing membawa golok yang berkilauan menandakan tajamnya.
Ada pula beberapa orang yang membawa pentungan besi.
Sekali lihat saja para tamu maupun wanita penghibur di dalam gedung itu sudah
mengenali mereka sebagai para begajul yang biasa malang melintang di sekitar wilayah
itu.
Agaknya mereka tidak dapat disamakan seperti begajuI-begajuI biasanya, karena
rombongan itu berkumpul di bawah naungan seorang pemimpin dan mereka hanya
mengadakan jual beli garam selundupan.

Pada zaman itu, baru terjadi peralihan dinasti, harga garam tinggi sekali. Siapa yang
bisa menyelundupkan garam dan kemudian menjualnya dengan harga di bawah
pasaran, akan menjadi kaya raya. Rombongan inilah penyelundup garam tersebut
kecuali itu mereka tidak pernah merampok ataupun melakukan kejahatan lainnya.
Meskipun demikian, kegarangan mereka kali ini berbeda dengan biasanya. Hal ini
membuat para tamu maupun wanita-wanita penghibur di Li Cun Goan itu bertanyatanya
apa kemauan mereka sebenarnya.
Seorang laki-laki berusia kurang lebih lima puluhan tahun segera keluar dari
rombongan itu.
“Para sahabat sekalian, maafkan gangguan kami ini” Selesai berkata, dia segera
menjura ke kiri dan kanan, kemudian berteriak lagi dengan suara Iantang. “Sahabat she
Ci dari Tian-te hwe, Cia lao-liok apakah ada di sini?” Matanya mengedar di antara para
tamu.
Para tamu yang bertemu pandang dengan sinar matanya, langsung ciut hatinya.
Tetapi mereka berpikir dalam hati, Mereka toh hanya mencari orang yang
berkecimpungan dunia kangouw, pasti tidak mencampur adukkan urusannya dengan
orang lain yang tidak bersangkutan.
Laki-laki setengah baya tadi berteriak sekali dengan suara keras.
“Cia lao-liok, sore ini di tepi telaga Siu Sai, kau mengoceh sembarangan mengatakan
bahwa kami para penyelundup garam Yang-ciu terdiri dari orang-orang yang tidak
berguna. Tidak berani membunuh petugas kerajaan, hanya berani main belakang.
Mengadakan usaha yang pengecut. Di sana kau berteriak-teriak seenak perutmu
dengan mengatakan bahwa apabila kami tidak puas, boleh datang ke Li Cun Goan
untuk mencarimu Nah, sekarang kami sudah datang, Cia lao-liok, kau toh seorang
pentolan dari Tian-te hwe, mengapa sekarang menjadi anak kura-kura yang
menyurutkan kepalanya?”
Para laki-laki yang datang bersamanya seperti beo yang latah berteriak serentak:
“Pentolan dari Tian-te hwe, mengapa jadi kura-kura yang menyurutkan kepalanya?”
“Eh, kalian semua sebetulnya kalian dari Tian-te hwe atau Sut-thau hwe
(perkumpuIan menyurutkan kepala)?” teriak yang lainnya.
“Kata-kata itu hanya diucapkan oleh Cia lao-liok seorang, tidak ada urusannya
dengan orang lain. Meskipun kami hanya mencari sesuap nasi dari beberapa patah kata
dan tidak sanggup bersaing dengan segala Tian-te hwe, tapi setidaknya kami bukan
orang-orang seperti kura-kura yang hanya bisa menyusutkan kepalanya dalam batok”
kata laki-laki setengah baya yang pertama tadi.
Setelah menunggu beberapa lama, masih tidak terdengar sahutan dari orang yang
dipanggil Cia lao-liok, laki-laki setengah baya tadi membentak lagi.

“Cari ke setiap bagian bangunan ini, Kalau bertemu dengan Cia lao-liok, undang dia
keluar Diwajah orang ini ada bekas bacokan golok yang cukup panjang, mudah
dikenali”
Tiba-tiba dari kamar sebelah timur berkumandang suara yang serak tapi gagah.
“Siapa yang pentang mulut keras-keras di sini, mengganggu ketenangan lohu saja?”
“Cia lao-liok ada di sini”
“Cia lao-liok, cepat menggelinding keluar” teriak rekan-rekan laki-laki setengah baya
tadi.
“Maknya Anjing tua itu nyalinya sungguh besar” teriak yang lainnya.
Orang di dalam kamar sebelah timur itu tertawa terbahak-bahak,
“Lohu bukan she Cia, tetapi mendengar kalian memaki-maki Tian-te hwe, telinga tua
ini jadi gatal. Meskipun lohu bukan orang Tian-te hwe, tapi maklum bahwa setiap
anggota Tian-te hwe terdiri dari laki-laki sejati. Kalian yang bermulut ember bocor masih
tidak pantas menenteng sepatu mereka atau menceboki pantat mereka sekalipun”
Rombongan yang datang itu marah sekali, mereka memaki-maki serabutan. Tiga di
antaranya langsung mengayunkan golok dan menerjang ke kamar sebelah timur.
Sesaat kemudian terdengarlah suara mengaduh dan mengerang dari mulut mereka.
Satu per satu melayang keluar lalu terbanting di atas tanah, Golok seorang di
antaranya membentur kepala sendiri sehingga darah segar bercucuran, kemudian ia
pun semaput seketika.
Enam orang lainnya ikut-ikutan menerjang ke dalam kamar sebelah timur, tapi
mereka menemukan nasib yang sama dengan rekan-rekannya. Semua terpental
kembali dengan mulut mengerang-erang.
Yang lainnya semakin berang, mereka memaki dengan kata-kata yang kotor, tetapi
tidak ada seorang pun yang berani menerjang ke dalam kamar itu lagi.
Laki-laki setengah baya yang menjadi pimpinan rombongan itu segera melangkah ke
depan dan melongokkan kepalanya ke dalam kamar. Dia melihat seorang laki-laki
brewokan sedang duduk di atas tempat tidur kepalanya terikat dengan selendang putih.
Di wajahnya tidak ada bekas bacokan golok, ternyata ia memang bukan Cia lao-liok.
Laki-laki setengah baya itu bertanya dengan lantang.
“Kepandaian saudara sungguh hebat, bolehkah kami tahu siapa she dan nama anda
yang mulia?”

Orang di dalam kamar itu menyahut dengan setengah mengomel.
“Siapa she dan nama bapakmu, itu pula she dan namaku, Anak kurang ajar Masa
nama bapak tua sendiri tidak tahu?”
Tiba-tiba salah satu dari para wanita penghibur yang berdiri di samping tidak dapat
menahan kegelian hatinya mendengar ucapan orang dalam kamar, dia tertawa
cekikikan.
Salah seorang laki-laki tinggi besar dari rombongan para penjual garam itu segera
maju ke depan dan menempeleng pipi wanita yang tertawa tadi sebanyak dua kali,
“Perempuan lacur Apa yang kau tertawakan?” makinya garang.
Wanita itu ketakutan setengah mati dan otomatis tidak berani bersuara sedikit pun,
Tiba-tiba dari samping ruangan menghambur keluar seorang bocah laki-laki berusia dua
belasan tahun, Begitu sampai dia langsung memaki.
“Kau berani memukul ibuku Kura-kura busuk, kakeknya kura-kura Kusumpahi biar
tanganmu budukan, korengan, bernanah, lama-lama jadi kutung. Kumannya menyebar
ke mulutmu, tenggorokanmu, biar tertelan nanah busuknya dan ususmu ikut busuk”
Laki-laki bertubuh kekar itu berang sekali. Tangannya terulur ke depan untuk
mencengkeram anak kecil itu. Ternyata gerakan tubuh si bocah gesit sekali, sekali
kelebat dia sudah menyelinap di balik rekan laki-laki itu.
Laki-laki tadi segera menggeser rekannya ke samping sehingga terhuyung-huyung,
kemudian tangan kanannya mengirimkan sebuah pukulan ke arah bocah kecil itu.
Wanita penghibur yang kena tempeleng tadi langsung menjerit histeris.
“Ampun, toaya”
Dalam waktu yang bersamaan, si bocah cilik sudah merundukkan tubuhnya, tangan
kanannya menjulur ke depan dan mencengkeram bagian selangkangan laki-laki itu,
otomatis si tubuh kekar itu menjerit kesakitan.
Kemarahannya semakin meluap-Iuap, tapi si bocah sudah mengelit ke samping,
Kemarahan laki-laki itu belum terlampiaskan, Tinjunya melayang ke depan,
menghantam wajah wanita penghibur tadi, wanita itu pun pingsan seketika.
Bocah cilik itu langsung menghambur ke depan dan memeluk wanita tadi.
“Mak Mak” Laki-laki bertubuh kekar tersebut segera mengulurkan tangannya
mencengkeram kerah belakang bocah itu. Baru saja dia ingin mengangkatnya ke atas
dan ingin membantingnya keras-keras, tindakannya sudah dicegah oleh pemimpinnya.

“Jangan bikin onar, lepaskan anak itu”
Meskipun kurang senang, laki-laki itu tidak berani membantah. Dia meletakkan bocah
tadi di atas tanah lalu menendang pantatnya keras-keras sehingga menggelinding
beberapa kali lalu membentur tembok.
Pemimpinnya melirik laki-laki kekar itu sekilas lalu berkata dengan lantang.
“Kami adalah para saudara dari Ceng Fang, Karena salah seorang anggota Tian-te
hwe, yakni Cia lao-liok menghina perkumpulan kami, bahkan menantang kami dengan
mengatakan akan menunggu di sini, maka kami datang ke tempat ini. seandainya
saudara memang bukan orang dari Tian-te hwe dan tidak pernah mempunyai
perselisihan dengan Ceng pang kami, mengapa saudara mengeluarkan kata-kata yang
menyakitkan hati? Harap saudara meninggalkan she dan nama, agar kami bisa
memberikan tanggung jawab apabila ditanyakan oleh Pangcu kami”
Orang di dalam kamar itu tertawa terbahak-bahak.
“Kalian ingin membuat perhitungan dengan orang Tian-te hwe, apa urusannya
denganku? Aku hanya ingin menyenangkan hati di tempat ini, kalau kalian mengatakan
tidak ada perselisihan di antara kita, terlebih-lebih kalian tidak boleh mengganggu
kesenangan lho. Tapi ada sepatah kata yang ingin aku nasehatkan kepada loheng.
Kalian pasti tidak sanggup menghadapinya. Karena terlanjur di maki orang, terima saja
dalam hati, Toh, kenyataannya memang begitu.”
Laki-laki yang menjadi pimpinan rombongan marah sekali mendengar ocehannya.
“Aneh, di dunia masa ada orang yang begitu tidak tahu aturan seperti Anda ini?”
“Tahu aturan atau tidak, toh bukan urusanmu, Memangnya kau sedang mencari
suami untuk kakak atau adikmu?”
Tepat pada waktu itu juga, dari luar melesat masuk tiga orang lainnya. Dandanannya
sama seperti rombongan penyelundup garam tersebut. Salah satunya yang membawa
pecut segera berbisik di telinga si laki-laki setengah baya.
“Siapa orang itu?”
“Dia tidak mau mengatakannya, tetapi sedikit-sedikit dia sesumbar tentang
kehebatan Tian-te hwe, kemungkinan besar Cia lao-liok memang bersembunyi di dalam
kamar itu,” sahut si orang tua.
Orang yang bertubuh kurus itu memberikan isyarat tangan kepada kedua rekannya.
Bersama-sama si orang tua yang sudah mengeluarkan sebatang pedang pendek dari
selipan pinggangnya, mereka menerjang ke arah kamar sebelah timur itu.

Terdengar suara benturan senjata dari dalam kamar Ruangan di gedung Li Cun
Goan seluruhnya terdiri dari kamar-kamar yang mempunyai perabotan lengkap,
sekarang terdengar suara gedebak-gedebuk yang tidak beraturan.
Dapat dibayangkan bahwa kursi dan meja di dalamnya pasti menjadi sasaran
amukan beberapa orang itu. Wajah pemilik gedung yang gemuk itu terus berkerut-kerut,
hatinya terasa sakit membayangkan barang-barangnya hancur berantakan. Mulutnya
berkomat-kamit mengucapkan nama Buddha.
Ke empat laki-laki yang terdiri dari para penyelundup garam itu membentak dengan
suara keras, seperti sedang berlangsung suatu pertarungan yang berlangsung sengit
sekali, tetapi tidak terdengar sedikit suara pun dari mulut si tamu itu sendiri.
Para tamu menepi jauh-jauh, mereka tidak ingin terkena getahnya. Tiba-tiba
terdengar suara jeritan histeris dari mulut seseorang, agaknya salah satu dari keempat
orang yang menyerbu masuk.
Si bocah kecil yang ditendang oleh laki-laki bertubuh kekar tadi tentu saja kesakitan
setengah mati, Bagian selangkangannya benar-benar terasa ngilu dan perih. Dalam
keadaan marah, dia melihat si bocah berusaha merangkak bangun, tinjunya segera
menghantam kedepan. Bocah itu mengelak ke samping untuk menghindarkan diri.
Laki-laki kekar itu mana sudi menyudahi urusannya begitu saja, dia segera
melayangkan dua kali tamparan ke pipi kiri kanan bocah itu. Tubuh sang bocah sampai
melintir saking tidak dapat menahan diri.
Para tamu yang lain serta wanita-wanita penghibur di gedung itu dapat melihat
sepasang mata si laki-iaki kekar yang beringas. Kalau dia memukul terus beberapa kali
lagi, sang bocah pasti akan terkapar mati. Tapi tidak ada satu pun yang berani
mencegah atau menasehatinya.
Tampak laki-laki kekar itu kembali mengangkat tangannya ke atas dan siap
dihantamkan ke bawah. Bocah laki-laki itu nekad menerjang ke depan, tapi tidak ada
jalan lagi baginya untuk meloloskan diri. Akhirnya dia terpaksa mendorong pintu kamar
sebelah timur itu dan menerobos ke dalam.
Para tamu dan yang lainnya mengeluarkan seruan tertahan Laki-Iaki itu berniat
mengejarnya, tapi akhirnya niatnya ia batalkan, mungkin karena takut menjadi sasaran
perkelahian di dalam.
Begitu menyelinap ke dalam kamar, si bocah tidak dapat melihat jelas pemandangan
di dalamnya. Hanya terdengar suara benturan senjata yang nyaring. Trang Timbul
beberapa percik bunga api, tampak seorang laki-laki brewokan sedang duduk di atas
tempat tidur.

Kepalanya diikat dengan sehelai selendang putih, tampangnya menyeramkan. Si
bocah sampai mengeluarkan seruan tertahan Begitu percikan bunga api padam,
keadaan di dalam kamar menggelap kembali.
Hanya sinar lentera dari luar kamar yang menyorot suram Perlahan-lahan
pandangan mata baru terbiasa dan mulai dapat melihat keadaan di dalam kamar
tersebut.
Di antara keempat orang yang menyerbu masuk, sekarang hanya tinggal dua orang
yang masih bertahan, yakni laki-laki yang membawa pecut dan si orang tua yang
menggunakan sebatang pedang pendek.
Mereka sedang berkelahi dengan seru. Si bocah berpikir dalam hati: “Bagian kepala
orang itu sudah terluka, berdiri saja tidak genah, pasti ia tidak akan sanggup melawan
para penyelundup garam ini lebih Iama. sebaiknya cepat-cepat melarikan diri, tapi entah
bagaimana keadaan mak?”
Mengingat ibunya yang dihina sedemikian rupa, kemarahan dalam hatinya meluap
lagi. Tanpa sadar dia memaki-maki seenaknya
“Penjahat busuk Turunan banci Aku sumpahi agar delapan belas keturunanmu
berbau busuk Garam selundupanmu pasti banyak sekali. Kalau istri, nenek, emakmu
mati, kuburkan saja dengan garam. Kalau dagingnya sudah asin, bawa ke pasar untuk
dijual, satu kilo tiga picis pun tidak ada yang sudi membeli daging busuk keluargamu
itu…”
Laki-laki bertubuh kekar yang terdiri di luar kamar jadi gusar mendengar makian si
bocah yang kasar, tapi dia tetap tidak berani menerjang masuk ke dalam kamar.
Orang yang duduk di atas tempat tidur itu tiba-tiba menggerakkan goloknya ke
depan. Bacokannya tepat menikam ke bahu kiri si taki-laki kekar yang membawa pecut,
akibatnya tulang pundak si kekar itu tertebas putus seketika.
Dalam waktu bersamaan, si orang tua juga maju ke depan satu tindak, pedang
pendeknya dihunjamkan ke dada orang yang duduk di atas tempat tidur.
Dengan sigap orang itu mencabut goloknya dari bahu si laki-laki kekar kemudian
mengayunkannya ke samping untuk menangkis serangan pedang pendek si orang tua,
sekaligus tangan kirinya mengirimkan pukulan sebanyak tiga kali berturut-turut.
Si orang tua rupanya tidak menyangka dalam keadaan terdesak seperti itu, si brewok
itu masih sempat menyerangnya. Dadanya langsung terhantam, mulutnya
memuncratkan darah segar dan tubuhnya terpental keluar kamar.
Laki-laki bertubuh kekar yang tulang pundaknya hancur memang sudah terluka
parah, tapi masih nekad juga. Dia ayunkan pecut bajanya ke depan.

Kali ini si brewok yang duduk di atas tempat tidur tidak melakukan gerakan apa-apa,
kemungkinan tenaganya sudah habis terkuras. Bila pecut itu sampai mengenai
tubuhnya, tidak ayal lagi pasti selembar nyawanya sulit dipertahankan.
Melihat situasi yang demikian kritis, timbul perasaan senasib sependeritaan dalam
hati si bocah cilik. Tanpa berpikir panjang dia langsung menerkam sepasang kaki si lakilaki
kekar itu dan menariknya erat-erat.
Bayangkan saja, tubuh laki-laki itu paling tidak ada dua ratusan kati, sedangkan si
bocah cilik itu kurus kering, Dalam keadaan biasa, mana mungkin dia sanggup
menahan tubuh orang itu, tetapi laki-laki kekar itu memang sudah terluka parah.
Serangannya ini juga menggunakan sisa tenaga yang terakhir. Begitu ditarik oleh si
bocah cilik, tubuhnya langsung terjengkang ke belakang dan tidak bergerak lagi.
Laki-laki brewokan di atas tempat tidur itu segera berseru dengan lantang.
“Kalau memang bernyali, masuklah kalian semua ke dalam”
Bocah cilik itu menggoyangkan tangannya berkali-kali, maksudnya agar laki-laki itu
tidak menentang penyelundup garam lainnya yang ada di Iuar.
Pada saat si orang tua terpental keluar, pintu kamar itu sempat terbuka sekejap lalu
mengatup kembali. Sampai sekarang pintunya masih bergerak kesana kemari. Dengan
bantuan sorotan lemah dari lentera yang tergantung di luar, orang-orang dapat melihat
seluruh wajah si brewok penuh dengan noda darah, tampangnya sungguh
menyeramkan.
Tetapi mereka hanya dapat melihat sekelebatan, apa sebenarnya yang terjadi di
dalam kamar mereka tidak tahu, Beberapa orang penyelundup garam lainnya hanya
saling pandang dengan bimbang. Terdengar si brewok berkata lagi dengan keras.
“Anak kura-kura, kalau kalian tidak berani masuk ke dalam, sebentar lagi lohu akan
keluar dan membantai kalian satu per satu”
Mendengar kata-kata itu, orang-orang yang masih berdiri di luar segera mengangkat
tubuh rekannya yang terluka dan lari meninggalkan gedung itu dengan terbirit-birit.
Si brewok tertawa terbahak-bahak, kemudian berkata dengan suara perlahan:
“Anak, cepat kau rapatkan pintu kamar”
Si bocah memang sudah mempunyai pikiran yang sama. Karena itu dia segera
mengiakan dan merapatkan pintu. Setelah itu perlahan-lahan dia menghampiri tempat
tidur, samar-samar tercium bau amis darah.

“Kau… kau…” Si brewok seperti ingin mengatakan sesaatu, tetapi kekuatannya sudah
hampir habis, tubuhnya limbung beberapa kali dan hampir saja terjerembab jatuh di
tanah.
Si bocah terkejut setengah mati, cepat-cepat dia menghambur ke depan dan
menahan tubuh si brewok. Tubuh orang itu sangat berat Dengan segenap tenaga si
bocah meletakkan kepala orang itu di atas bantal.
Si brewok mengatur pernafasannya beberapa kali. Tampaknya dia merasa agak
baikan. Sesaat kemudian baru dia berkata.
“Aku sudah membunuh beberapa orang penyelundup garam itu, sekarang tenagaku
masih belum puIih. Kalau rombongan itu datang lagi membawa tenaga bantuan, bahaya
sekali, sebaiknya aku menyingkir dulu, ya… menyingkir dulu.”
Agaknya dia merasa menyesal dengan keadaannya sendiri. Dia mencoba
menggerakkan tubuhnya untuk bangun, tapi rasa sakit segera menyerangnya, sehingga
mulutnya mengeluarkan suara erangan.
Si bocah cerdik sekali, dia mengerti apa keinginan orang itu. Dia segera
membantunya agar dapat duduk tegak.
“Ambil golok” kata orang itu, “Berikan padaku”
Anak itu menuruti permintaannya, ia mengambil golok dan menyodorkannya ke
hadapan orang itu. Orang itu menggunakan goloknya sebagai tongkat dan turun dari
pembaringan perlahan-lahan, Bocah itu masih membimbing tangannya. Untuk sesaat,
tubuhnya masih terhuyung-huyung.
“Aku akan keluar sekarang,” kata orang itu, “Tak perlu kau bimbing aku terus. Kalau
rombongan penjahat itu datang kembali dan melihat kita bersama. Kau bisa celaka, kau
akan mereka bunuh”
“Maknya Aku tidak takut Kalau mereka mau membunuh aku, silahkan Kita adalah
sepasang sahabat yang harus menjunjung kegagahan, pokoknya bagaimana pun aku
harus membantu kau”
Orang itu tertawa terbahak-bahak. Karena tubuhnya masih lemah, dia sampai
terbatuk-batuk.
“Kau membicarakan soal kegagahan?”
“Kenapa tidak boleh. Sahabat sejati harus senang dirasakan bersama, menderita
dicicipi bersama puIa”

Di kota Yang-ciu banyak tukang cerita yang menceritakan berbagai kisah tentang
Sam Kok, Sui Hu Coan, dsbnya, Bocah itu memang keranjingan cerita-cerita itu,
karenanya dia dapat mengucapkan kata-kata senang dan menderita dicicipi bersama.
“Kata-kata yang bagus Aku berkelana di dunia bulim ini sudah dua puluh tahun
Iebih, kata-katamu tadi aku juga sudah mendengarnya ribuan kali. Teman yang mau
diajak bersenang-senang di mana-mana pun ada, tapi yang mau diajak menderita
bersama, sampai sekarang baru beberapa gelintir yang kutemukan Mari kita
berangkat”
Bocah itu terus membimbing tangan orang itu dan mengajaknya keluar dari kamar.
Tiba di ruangan tengah, orang-orang yang melihat mereka jadi terkejut dan menyingkir
karena takut.
Terdengar ibu si bocah memanggil-manggil.
“Siau Po, Siau Po, mau kemana kau?”
“lbu, aku akan mengantarkan sahabatku ini dulu, sebentar aku kembali lagi”
Mendengar kata-kata si bocah, orang itu tertawa terbahak-bahak.
“Bagus-bagus… sahabat, iya sahabat Aku memang sudah menjadi sahabatmu”
“Jangan kau pergi, nak. sebaiknya kau bersembunyi saja,” kata sang ibu khawatir. Si
bocah hanya tersenyum, bersama sahabat barunya dia meninggalkan Li Cun Goan,
rumah pelesiran itu.
Keadaan di luar gang, sunyi senyap. Tampaknya kawanan penyelundup itu memang
sudah pergi, atau mungkinkah mereka sedang mencari bala bantuan? Tiba di sebuah
gang kecil, orang itu mendongakkan wajahnya menatap langit, dia memandangi
bintang-bintang yang bertaburan.
“Mari kita menuju ke barat” katanya.
Si bocah menurut. Mereka berjalan bersama-sama. Lewat beberapa tombak, di
depan tampak sebuah kereta keledai sedang bergerak ke arah mereka.
“Lebih baik kita naik kereta saja,” kata orang itu kembali, Kemudian dia berteriak
dengan suara lantang, “Pak Kusir Pak Kusir Ke sini”
Kusir kereta itu segera menghentikan keIedainya. Dia terperanjat melihat wajah
orang itu yang penuh luka. Diam-diam timbul kecurigaan dalam hatinya. Orang itu
rupanya segera maklum arti pandangan kusir kereta itu. Dia segera mengeluarkan uang
perak seberat lima tail dan menyodorkannya kepada si kusir kereta.
“Ambillah uang ini”

Pikiran sang kusir bekerja cepat “Masa bodoh urusan lainnya, uang paling penting”
Karena itu, dia segera menganggukkan kepalanya sambil menyambut uang yang
disodorkan itu.
Dengan bantuan si bocah, orang itu perlahan-lahan naik ke atas kereta, Kembali dia
mengeluarkan uang goanpo yang besar jumlahnya kemudian menyerahkan kepada si
bocah.
“Sahabat cilik, aku akan berangkat sekarang. Uang sekedar ini harap kau simpan
baik-baik.”
Melihat jumlah uang besar itu, si bocah meneguk air liurnya. Tapi dia teringat kembali
kisah cerita yang sering di dengarnya bahwa orang-orang gagah hanya mementingkan
persahabatan uang atau harta tidak ada artinya.
Dengan susah payah hari ini dia sudah berhasil menampilkan dirinya sebagai
seorang gagah, biar bagaimana usaha itu tidak boleh tandas di tengah jalan hanya
karena harta yang tidak seberapa dan sebentar saja sudah habis itu. Karena itu dia
segera menggelengkan kepalanya dan berkata dengan nada tegas.
“Kita membicarakan soal persahabatan sejati. Kau memberikan uang kepadaku, itu
tandanya kau tidak menghargai aku. Lukamu masih belum sembuh, aku akan
mengantar kau lebih jauh sedikit”
Orang itu melengak, kemudian dia menengadahkan kepalanya dan tertawa terbahakbahak.
“Bagus Bagus” serunya, “Kau memang sahabat sejati” ia pun menyimpan uangnya
kembali.
Si bocah pun langsung melesat naik ke atas kereta dan duduk di samping orang itu.
“Ke mana tujuan kita, tuan?” tanya si kusir kereta yang sejak tadi diam saja.
“Ke bukit Tek Seng san, di sebelah barat kota” sahut orang itu.
“Ke Tek Seng san? Tengah malam begini?” tanya si kusir kereta yang menganggap
telinganya salah dengar.
“Benar” sahut orang itu tegas sembari mengetuk-ngetukkan ujung goloknya ke alas
kereta.
“Baik-baik,.,” kata si kusir yang ketakutan. Cepat-cepat dia menurunkan tirai,
kemudian memecut keledainya sehingga kereta itu langsung melaju ke depan.
Bukit Tek Seng san letaknya di sebelah barat kota Yang-ciu, tepatnya di dusun Pek
Gi Hiang, kurang lebih tiga puluh li dari kota.

Di zaman dinasti Lam Song, Song selatan, Jenderal Han Se-Tiong pernah
menggempur prajurit Kim habis-habisan, karenanya bukit Tek Seng san jadi terkenal.
Kereta terus bergerak, kurang lebih satu jam kemudian, mereka sudah sampai di kaki
bukit.
“Tuan, kita sudah sampai di bukit Tek Seng san” kata si kusir.
Si brewok melongokkan kepalanya, ia melihat gundukan tanah setinggi tujuh delapan
tombak, sebenarnya tidak cocok disebut bukit, tapi gunung-gunungan.
“lnikah Tek Seng san?” tanyanya bimbang.
“Benar tuan,” sahut si kusir.
“Ya, ini memang bukit Tek Seng san, ibu dan para cici lainnya sering datang ke bukit
ini untuk bersembahyang di kuil Eng Liat hujin, Aku pernah ikut dan bermain-main di
situ.”
“Kalau kau yang mengatakannya, pasti tidak salah lagi”
Mereka segera turun dari kereta, Si bocah mencelat turun terlebih dahulu. Dia
memperhatikan keadaan di sekitar tempat itu yang sunyi senyap dan remang-remang
karena hari sudah senja, Diam-diam dia berpikir di dalam hati.
“Tempat ini cocok sekali untuk menyembunyikan diri. Kawanan penyelundup garam
itu pasti tidak akan mencari sampai ke tempat ini.”
Kusir kereta itu masih merasa khawatir. Rasanya ingin dia cepat-cepat berlalu dari
tempat itu, namun si brewok berkata lagi padanya.
“Tunggu, kau antar dulu bocah ini kembali ke kota”
“Baik, Tuan.”
“Tidak, Aku akan menemanimu beberapa saat lagi,” kata si bocah. “Besok pagi aku
bisa membelikan bakpau untuk mengganjal perut.”
Si brewok memperhatikan sang bocah lekat-lekat. “Benarkah kau akan
menemaniku?”
“Tidak baik sendirian berada di tempat seperti ini, apalagi lukamu masih belum
sembuh” sahut si bocah tegas.
Si brewok tertawa lebar. Dia menoleh kepada kusir kereta tadi. “Kau boleh pergi
saja”

“Baik, tuan,” sahut si kusir kereta yang sejak tadi memang sudah menunggu-nunggu
perintah itu.
Si brewok berjalan menuju sebuah batu besar dan duduk di sana. Kereta keledai itu
sudah melaju pergi. Keadaan di sekitar sunyi senyap. Tiba-tiba si brewok membentak:
“Anak kura-kura berdua yang bersembunyi di balik pohon Liu cepat menggelinding
keluar”
Si bocah terkejut setengah mati. Diam-diam dia berpikir dalam hati, “Benarkah di sini
ada orang lain?” hal ini benar-benar di luar dugaannya.
Ternyata dari balik sebatang pohon besar muncul dua sosok bayangan hitam.
Mereka melangkah maju beberapa tindak, tetapi berhenti kembali. Si bocah tidak dapat
melihat jelas wajah kedua orang itu, namun mereka mengenakan sabuk putih di kepala,
pertanda bahwa mereka adalah rombongan para penyelundup garam.
Tangan masing-masing mencekal sebatang golok. Melihat sikap mereka yang hanya
maju beberapa langkah, kemudian berhenti lagi, tampaknya hati mereka dilanda
kebimbangan.
Si brewok membentak lagi dengan suara yang garang.
“Hei, anak kura-kura Kalian mengintil aku dari Li Cun Goan, kenapa sekarang malah
ragu-ragu mendekatiku? Bukankah kalian memang sengaja datang untuk mengantar
jiwa?”
Mendengar kata-katanya, diam-diam si bocah membenarkan dalam hati, Tentunya
kedua orang itu memang sengaja menguntit sampai di tempat ini, kemudian mereka
bisa mendatangkan bala bantuan untuk mengeroyok si brewok.
Tampak kedua orang itu saling berbisik beberapa patah kata, tiba-tiba mereka
membalikkan tubuhnya kemudian lari meninggalkan tempat itu.
“Eh” seru si brewok yang berusaha bangun, maksudnya ingin mengejar kedua orang
itu. Tetapi tiba-tiba dia mengaduh, tentu rasa sakit di lukanya kumat lagi.
Si bocah segera memapah tubuh orang itu. Diam-diam dia berpikir dalam hati
“Gawat, Kereta tadi sudah pergi jauh, sedangkan kita tidak bisa berdiam terus di sini.
Untuk menyingkir sahabatku ini tampaknya tidak kuat berjalan. Bagaimana kalau kedua
orang itu kembali lagi dengan membawa konco-konconya?”
Sekonyong-konyong bocah itu menangis meraung-raung. “Aduh, kenapa kau jadi
mati? Tidak Kau tidak boleh mati”
Suara tangisannya semakin keras. Kedua anggota penyelundup garam yang baru
berjalan tidak seberapa jauh menjadi terhenyak seketika. Tentu saja mereka

mendengar suara tangisan si bocah, serentak mereka membalikkan tubuhnya dan
mendengar si bocah meratap dengan sedih.
“Hu… hu… hu…. Kenapa kau mati begitu saja?”
Kedua orang itu saling pandang sejenak. Yang satu langsung berkata.
“Kau dengar suara tangisan anak laki-laki itu. Pasti si bangsat itu sudah mati.”
“Benar Pasti lukanya terlalu parah sehingga ia tidak dapat menahan diri lagi,” sahut
yang lainnya.
Keduanya segera menoleh dan dari kejauhan terlihat bayangan tubuh yang
menggumpal, Keduanya mengira pasti si anak kecil sedang mendekap tubuh si brewok
sambil menangis pilu.
“Mari kita hampiri,” kata salah seorangnya, “Taruh kata dia belum mampus, tetapi
keadaannya sudah terlalu lemah untuk mengadakan perlawanan. Kita tebas saja
batang lehernya, sekaligus batok kepala si anak celaka itu”
“lde bagus” sahut rekannya setuju. Kedua orang itu berjalan ke arah semula dengan
mengendap-endap. Si bocah masih menangis sedih. Dia memukuli dadanya sendiri
sambil membanting-banting kakinya di atas tanah.
“Oh, saudaraku… mengapa kau diam saja? Kalau kawanan penjahat itu sampai balik
lagi, bagaimana aku sanggup melawan mereka?” teriak bocah itu sambil meraungraung.
Mendengar kata-kata si bocah, kedua anggota penyelundup garam itu semakin
senang hatinya. Mereka segera mempercepat Iangkahnya. Kemudian keduanya
menerjang ke hadapan si bocah sambil mengayunkan goloknya…
Si bocah sepertinya terkejut setengah mati, matanya membelalak lebar. Dalam waktu
yang bersamaan tampaklah sinar lain yang berkelebat lebih cepat lagi. Tahu-tahu
batang leher si penjahat yang pertama sudah terbabat putus, kemudian disusul dengan
rekannya yang koyak perutnya sehingga ususnya amburadul keluar.
Saat itu juga si brewok bangkit dan tertawa terbahak-bahak. Si bocah sebaliknya
masih menggerung-gerung sambil berkata.
“Aduh, sahabat-sahabatku, kasihan sekali nasib kalian, Mengapa kepalamu
menggelinding? Dan kau… mengapa perutmu terbuka lebar? Mengapa kalian
menghadap raja Giam lo-ong? Siapa yang akan menyampaikan kabar baik ini kepada
keluarga dan rekan-rekanmu? Celaka?”
Berkata sampai di sini, bocah itu tidak dapat menahan kegelian hatinya sehingga
tertawa terbahak-bahak. Si brewok ikut-ikutan tertawa. “Hai setan cilik, kau memang

cerdas sekali. Kalau kau tadi tidak pura-pura menangis tadi, tentu kedua telur busuk ini
tidak akan kembali lagi menyerahkan jiwanya”
“Apa susahnya pura-pura menangis? biasanya kalau emak akan menghajar dengan
rotan, cepat-cepat aku menangis sekeras-kerasnya sehingga emak tidak tega
menghajar aku keras-keras,” kata si bocah.
“Kenapa ibumu suka memukulmu?”
“Sebabnya tidak pasti. Kadang-kadang karena aku mencuri uangnya. Kadangkadang
karena aku mempermainkan bibi Bin dan paman Yu…”
Si brewok menarik nafas panjang.
“Kalau kedua mata-mata ini tidak mati, urusannya pasti gawat. Eh, kenapa ketika
menangis tadi kau tidak memanggil aku tuan atau paman, tapi hanya saudara saja?”
“Kau kan sahabatku, sudah seharusnya aku memanggilmu saudara Tuan, apa kau
kira dirimu? Kalau kau ingin aku memanggilmu tuan, setanlah yang akan melayanimu”
Si brewok tertawa tergelak-gelak.
“Benar, benar Eh, sahabat cilik, siapakah namamu?”
“Kau menanyakan she dan namaku yang mulia? Aku bernama Siau Po”
“Bagus, Nama besarmu Siau Po, lalu apa she-mu yang mulia?”
“She… she mu… yang mulia…” Bocah itu tergagap-gagap, “She Wi.”
Si brewok tertawa semakin geli, Bocah itu mengatakan she-mu yang muIia, Hal itu
membuktikan bahwa dia tidak tahu apa artinya, seperti burung yang membeo saja.
Sebetulnya bocah ini lahir di rumah pelesiran, ibunya bernama Wi Cun Hoa. Siapa
ayahnya, jangan kata dia, bahkan ibunya sendiri mungkin tidak tahu.
Sampai sebesar ini, tidak pernah ada yang menanyakan asal-usulnya, baru hari ini si
brewok menanyakannya, Karena bingung, dia pun menggunakan she ibunya sendiri.
Bocah ini tidak pernah belajar membaca menulis. Dia mengetahui sebutan she dan
nama yang mulia dari cerita-cerita kepahlawanan yang sering didengarnya,
“Dan… kau sendiri… siapa… nama besarmu dan… she-mu yang mulia?” tanya si
bocah kemudian.
Si brewok tersenyum. “Kau sudah menjadi sahabatku, tidak perlu aku
menyembunyikan she dan namaku terhadapmu. Aku bernama Mau Sip-pat. Mau dari
Mau rumput dan Sip-pat berarti delapan belas.”

Bocah itu mengeluarkan seruan tertahan dan langsung melonjak bangun.
“Aku… pernah mendengar bahwa pembesar negeri sedang mencarimu. Mereka
ingin… menangkapmu karena dianggap penjahat besar”
“Benar, Apakah kau takut kepadaku?” tanya Mau Sip-pat terus terang.
“Takut? Kenapa aku harus merasa takut? Lagi-pula aku tidak mempunyai harta
ataupun uang, Apa sih artinya seorang penjahat? Bukankah Lim Ciong dan Bu Song
dari cerita Sui Hu Coan juga orang-orang gagah yang terdiri dari para perampok?”
Mau Sip-pat senang sekali mendengar kata-kata Siau Po.
“Kau samakan aku dengan Lim Ciong dan Bu Song, orang-orang gagah yang
terkenal itu? Bagus sekali,.,” katanya, “Sekarang coba kau beritahu kepadaku, siapa
yang mengatakan bahwa ada pembesar negeri yang ingin menangkapku?”
“Di dalam kota Yang-ciu penuh dengan selebaran yang mencari Mau Sip-pat.
Dijelaskan pula, barang siapa yang dapat membunuhmu, hadiahnya lima ribu tail,
sedangkan bila hanya memberikan informasi tentang di mana dirimu berada, hadiahnya
tiga ribu tail, Tapi jumlahnya juga sudah terhitung besar juga, bukan?”
Mau Sip-pat memperhatikan Siau Po dengan tajam. Bibirnya mencibir seperti
memandang rendah. Tiba-tiba saja, timbul pikiran Siau Po. “Kalau aku mempunyai uang
sebesar tiga ribu tail, tentu aku bisa menebus ibuku dari Li Cun Wan. seandainya ibu
tidak bersedia keluar dari tempat hina itu, uang sebanyak itu pun cukup untuk membeli
baju bagus dan hidup mewah selama beberapa tahun”
Melihat Siau Po diam saja, pandangan mata Mau Sip-pat semakin tajam dan
memperhatikan mimik wajahnya lekat-lekat. Siau Po dapat merasakan pandangannya
yang mengandung kecurigaan Hatinya menjadi kurang senang.
“Kenapa kau mengawasi aku seperti itu? 0h… kau pasti mengira aku akan
melaporkan kau ke pembesar negeri agar mendapatkan hadiah besar itu, bukan?”
Mau Sip-pat menganggukkan kepalanya. “Memang benar jumlah hadiah itu begitu
besar dan siapa orangnya di dunia ini yang tidak suka uang?”
“Sinting Menjual sahabat. Buat apa kita membicarakan kegagahan?”
“Lho itu kan tergantung prinsipmu sendiri”
“Kalau kau memang tidak percaya padaku, mengapa kau memberitahukan nama
aslimu, Dandananmu sekarang jauh berbeda dengan selebaran yang tertempel di
dalam kota. Kalau kau sendiri tidak mengatakannya, siapa yang bisa mengenalimu
sebagai Mau Sip-pat?” teriak si bocah kurang senang.

“Bukankah kau sendiri yang mengatakan bahwa senang dan menderita harus kita
cicipi bersama? Kalau nama saja perlu disembunyikan, bagaimana bisa disebut sebagai
sahabat sejati?”
Mendengar kata-kata itu, perasaan jengkel dalam hati Siau Po terhapus seketika.
“Kau benar. Bagiku, jangan kata baru tiga ribu tail, tiga laksa tail pun tidak akan aku
menjual sahabatku”
Meskipun mulutnya berkata demikian, tetapi namanya juga anak-anak, ia tetap
membayangkan betapa senangnya memiliki uang sebesar tiga ribu tail.
“Baiklah,” kata Mau Sip-pat. “Sekarang kita tidur dulu. Besok pagi ada dua orang
sahabatku

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s