Sin Tiauw Thian Lam (Pendekar Rajawali Sakti Langit Selatan) :Lanjutan Yo Ko

ImageImageImage

 

Seperti kita ketahui, dalam novel Condor Trilogy, Jin Yong cuma nulis 3 cerita sbb :

– She Diao Ying Xiong Zhuan (Hokkian : Sia Tiauw Eng Hiong)
The Legend of Condor Heroes
– Shen Diao Xia Lu (Hokkian : Sin Tiauw Hiap Lu)
Return of the Condor Heroes

******* (terpisah jauh)
– Yi Tian Tu Long Chi (Hokkian :To Liong To)
Heaven Sword & Dragon Sabre

nahh..saat di akhir cerita To Liong To,kita menemukan benang merah,denga kemunculan Gadis Berbaju Kuning yg mengucapkan “pernah mendengar dua pasang pendekar Rajawali” kalo begitu,siapa gadis itu,ada hubungan apa dia dengan Sin Tiauw Taihiap Yo Ko & Shiauw Liong Lie..??

coba kita liahat novel Sin Tiauw ThianLam

Jilid 1

ANGIN Lamciu (Selatan) mendesir lembut,
Bunga rontok keindahan bumi,
Halimun lembut ringan sejuk,
Mega tersenyum memandang gadis cantik,
Baju merah, ikat pinggang kuning rambut disanggul,
Sepalu rumput tipis membungkus kaki yang kecil mungil,
Tali khim, (Kecapi) tergetar oleh jari-jari lentik,
Suara merdu mengiringi kicau burung,
Senyum gadis cantik mekarnya bunga,
Ciulong  menangis haru,  Sunglie tersenyum bahagia,
Dewa-dewi di-selatan.
Bahagia dan abadi . . . . ,

Syair diatas merupakan hasil sastra tulisan pujangga terkenal diawal pemerintahan dinasti Song, yang namanya dikagumi oleh rakyat Tionggoan karena keakhliannya untuk melukiskan suasana dan peristiwa dengan penuh kelembutan. Disamping terdapat selipan nada-nada yang mengandung kegagahan dan keabadian. Pujangan itu berasal dari keturunan keluarga Hoan dan bernama Lie Khie meninggal
tepat dihari ulang tahunnya yang ketujuh puluh empat. Sejak peristiwa terbunuhnya Kaisar Mangu yang bergelar Hian Cong oleh timpukan batu besar kepalan tangan oleh Yo Ko dengan mempergunakan ilmu menimpuk “Tan Gie Sin
Thong” menyebabkan Kublai memimpin mundur tentaranya kenegerinya. Dengan mundurnya tentara perang Mongolia itu, bebaslah kota “Hapciu, Cung king dan Siangyang. Telah tercatat dalam sejarah betapa Kaisar Hian Cong mengepung kota” Siangyang selama puluhan tahun tanpa berhasil untuk merebut kota tersebut, walaupun telah terjadi pertempuran yang hebat sekali dimuka kota siangyang yang dimulai pengepungannya oleh putera sulung Kaisar Yong Cong
(Tuli) dibulan dua, tahun ke-9, phiacu.

Penyerangan dilancarkan keberbagai pintu kota mendaki tembok dan membunuh banyak tentara kerajaan Song Walaupun diserang berulang-ulang. kota tersebut tidak dapat dirampas. Di tahun kui-hay, disaat itulah Kaisar Mangu ( Hian Cong ) terbunuh oleh Yo Ko, dan para menteri maupun Kublai telah membawa jenasah Mangu pulang keutara, maka kota Siangyang bebas dari pengepungan pasukan tentara perang Mongolia. Rakyat menyelenggarakan pesta besar atas kemenangan
tersebut, dengan nama “Yo Ko yang disanjung-sanjung sebagai Dewa Pembebasan yang maha sakti. Tetapi Yo Ko menampik segala penghormatan seperti itu, dengan orang-orang gagah akhirnya Yo Ko pamitan kepada Lu Boan Hoan, dan keberangkatan mereka itu dirahasiakan oleh Lu Boan Hoan atas permintaan pendekar gagah tersebut, karena rombongan orang-orang gagah tersebut tidak ingin diganggu oleh rakyat dan pasukan tentara yang pasti akan menimbulkan
kerewelan oleh sanjungan-sanjungan mereka. Dan dengan bebasnya kota Siangyang, suasana aman dan tenang kembali, rakyat bisa hidup layak dan wajar, walaupun Banyak puing-puing yang berserakan akibat dari pertempuran yang pernah terjadi selama puluhan tahun itu.

Disaat rakyat berhasil hidup tenteram maka disaat seperti itulah banyak syair-syair bernada lembut dan jauh dari nada-nada kekerasan maupun peperangan, telah bermunculan. Dan yang terbanyak syair-syair lembut itu, adalah buah kalam dari
Hoan Lie Khe, pujangga besar itu. Dan seperti yang terdapat dalam syair yang ditulis oleh pujangga besar itu; “Ciulong menangis haru, Sunglie tersenyum bahagia. Dewa-dewi di Selatan, bahagia dan abadi maka rakyat Siangyang pun
menghendaki kemenangan yang telah diperoleh tentara kerajaan Song itu bahagia tenteram dan kekal-abadi.

Entah darimana asalnya, diluar kampung Wucuan-cung tampak seorang tojin (imam) yang tengah duduk dibawah sebatang pohon yang tumbuh rindang disebelah kanan dari pintu kampung tersebut. Sebetulnya, tidaklah luar biasa dengan adanya imam itu ditempat tersebut, karena memang biasa jika seorang yang tengah melakukan perjalanan dan beristirahat ditempat-tempat sejuk. Namun yang agak luar biasa adalah keadaan imam itu.

Sanggulnya yang digantung merupakan sebuah sanggul kecil berbentuk bulat itu, tidak teratur rapi, rambutnyapun tampak agak kusut tidak karuan. Yang luar biasa adalah wajahnya imam ini tidak memelihara jenggot, juga tidak memelihara kumis, dari kulit wajahnya yang sudah keriput itu, mungkin dia berusia empat puluh tahun lebih, raut wajahnya buruk sekali, karena imam tersebut memiliki sepasang mata yang bulat dan bibir yang lebar. Giginya tampak tumbuh tidak rata, disamping itu
agak menarik perhatian orang yang melihatnya adalah kulit muka imam itu kuning pucat dan dingin tidak memantulkan perasaan apapun juga. Matanya itu yang menatap lurus kedepan tidak bersinar, bagaikan mata ikan yang telah mati.
Jubah pendeta itu juga telah buruk sekali, walaupun belum ada yang robek atau pecah, namun jubah itu tampaknya telah berusia sekitar tiga atau empat tahun dan jarang sekali dicuci. Hudtim yang tercekal ditangan kirinya, tampak sudah agak kusut bulu-bulunya dan sudah banyak yang rontok.

Diantara desir angin yang sejuk, terdengar imam itu menggumam perlahan sekali; “telah sepuluh jiwa…… telah sepuluh jiwa…… dan yang kesebelas akan tiba……”
Setiap kali mengucapkan kata-katanya seperti itu bibirnya gemetar, bagaikan ada sesuatu yang ditakutinya, dan matanya yang tidak bersinar seperti mata ikan itu bergerak-gerak tanpa arah.

Dari arah pintu kampung tampak dua orarig anak lelaki kecil yang tengah main kejar-kejar an, suara mereka lantang dan nyaring sekali di selingi oleh suara tawa gelak diantara keduanya. Tetapi imam itu tidak menoleh sedikitpun juga. Dan
ketika kedua anak lelaki yang masing masing berusia diantara delapan atau sembilan tahun itu melihat imam tersebut, mereka jadi tertarik, keduanya berhenti berlari dan mengawasi siimam dengan perasaan heran. Semakin lama, selangkah
demi selangkah, mereka telah mendekati, dan akhirnya jarak mereka dengan imam itu hanya terpisah kurang lebih satu tombak. „Totiang……” panggil salah seorang anak itu. “Apakah totiang sudah makan?” Imam itu melirik sejenak, dia menggeleng.
“Apakah totiang mau memakan kuwe keras ini ?” tanya anak itu lagi sambil merogoh sakunya dan mengeluarkan sebungkah kuwe kering, yang diangsurkan kepada Imam tersebut.

Imam itu tidak menyahuti, dia menyambut pemberian itu, lalu dimakannya, Dia pun tidak mengucapkan terima kasihnya. Sekejap mata saja kuwe itu telah dimakannya habis. Kedua anak lelaki kecil itu saling tatap satu dengan yang lainnya, dan yang tadi memberi kan kuwe itu kepada si-imam telah, bertanya lagi. „Kalau totiang masih lapar, kami masih memiliki satu lagi ….. ” kata-kata itu disusul dengan dirogoh saku kawannya, dan mengeluarkan sebungkah kuwe kering lainnya. Dan kuwe kering itu telah diberikan kepada imam itu lagi. Imam itu telah menyambuti, dan seperti tadi dia telah memakan kuwe kering itu tanpa mengucapkan sepatah
katapun juga.

Tetapi baru memakan setengah kuwe tiba-tiba mukanya telah berubah pucat, tubuhnya agak menggigil. Sisa kuwe yang separuh ditangan nya itu telah dilemparkannya kesamping. „Akhh, dia telah datang menyusul…!” menggumam imam itu. Kedua anak lelaki itu tidak mengetahui apa yang dimaksud siimam hanya merasa sayang kuwe yang masih separuh itu telah dibuang begitu saja. Si-imam telah berdiri dengan cepat, tetapi sepasang kakinya agak menggigil gemetar.
„Anak-Anak, engkau baik sekali, kalau memang aku masih ada umur nanti aku akan mencari kalian untuk menyatakan terima kasihku. Dan imam itu telah mengibaskan hudtimnya kejubahnya yang dipenuhi runtuhan kuwe kering, katanya lagi seperti kepada dirinya sendiri; “Tetapi harapan hidup tipis sekali mungkin akulah yang kesebelas …” Dan suaranya itu belum lagi habis diucapkan maka disaat itu dari arah t e l a h terdengar suara siulan yang panjang dan menusuk pendengaran. Suara siulan yang panjang itu berasal dari luar perkampungan di sebelah barat dari arah tegalan yang luas.

Kedua anak itu jadi heran bukan main mereka telah menoleh kearah datangnya suara siulan itu, tetapi mereka tidak melihat siapapun juga. Siimam telah berdiri tegak, rupanya dia telah berhasil menguasai goncangan hatinya. Dengan m-ia yang bersinar mati itu, dia telah memandang jauh ketengah tegalan. Suara siulan itu terdengar semakin keras dan dalam sekejap mata, dari arah. tengah tegalan itu telah berlari-lari seperti bayangan sesosok tubuh, dan hanya beberapa detik
saja sudah berada dihadapan siimam.Gerakan orang yang baru datang itu sangat cepat, karena disaat dia mengeluarkan suara siulan yang panjang tadi. tubuhnya belum tampak dan hanya diseling oleh sebuah siulan lagi, dia sudah berada dihadapan siimam.

Dengan sendirinya, hal itu membuktikan orang yang baru datang itu memiliki ilmu meringankan tubuh yang sempurna sekali. Kedua anak lelaki kecil penduduk kampung itu melihat, orang yang baru datang itu seorang gadis yang memiliki raut
wajah sangat cantik memakai baju warna hijau dengan ikat pinggang merah dan rambut disanggul tinggi. Ditangan. gadis itu tercekal sepotong kayu panjang, yang ujungnya telah hitam seperti terbakar. „Kui Im Cinjin ! Akhirnya engkau berhasil kucari !” kata gadis itu dengan suara yang nyaring. Muka imam itu tampak berobah muram, tampaknya disamping ketakutan, juga gusar dan penasaran, tengah
mengaduk menjadi satu didalam hatinya. „San Ciam Liehiap Bong Cun Lie !” kata siimam akhirnya dengar suara berputus asa „Aku memang menyadari tidak
mungkin lolos dari tanganmu. Kau terlalu mendesak, pinto memang tolol dan tidak memiliki kepandaian apa-apa, tetapi jika demikian, baiklah, silahkan . . silah kan maju, mari kita mengadu jiwa !”.

Sigadis yang dipanggil dengan sebutan San Ciam Lie Hiap (Pendekar wanita Penyebar Jarum) itu telah tertawa, merdu sekali suara tertawanya itu, enak untuk didengar. „Kui Im Cinjin, ” katanya kemudian sambil memperlihatkan sikap yang bersungguh-sungguh. Memang selama ini kalian pihak Ngociat-kauw (perkumpulan Lima Penjahat) ingin membela diri dengan segala macam alasan yang engkau miliki
namun sekarang, walaupun bagaimana engkau seperti yang lain-lainnya tak mungkin ter-lolos dari tanganku. Kematian Hoan Lian Taisu harus dipertanggung jawabkan oleh kalian . .”

Muka Kui Im Cinjin jadi berobah ketika mendengar perkataan tersebut, dia rupanya sudah tidak dapat menahan kemurkaan yang bergolak dihatinya, mukanya yang memang telah kuning pucat itu jadi semakin pucat dan kehijau-hijauan. „Baiklah, pinto ingin mengadu jiwa dengan kau, perempuan siluman !” bentak imam itu, dan tanpa membuang waktu lagi, hudtim ditangan kirinya telah bergerak menuju kearah
pinggang sigadis. Hudtim merupakan senjata yang dapat dipergunakan oleh jago yang telah memiliki lwekang sempurna, karena bulu-bulu Hudtim itu dapat dibuat keras seperti godam kalau bulu-bulu itu bergabung menjadi satu, dan dapat di pergunakan juga untuk menotok, disamping itu bisa dibuyarkan sehingga bulu-bulu hudtim itu menyambar sekaligus keperbagai jalan darah di-sekujur tubuh lawan yang diserang.

Tetapi gadis itu, Bong Cun Lie, rupanya juga memang hebat, dia melihat datangnya sambaran hudtim siimam kearah pinggangnya, yang akan menotok jalan darah Sun-kie-hiatnya, cepat luar biasa dan mudah sekali, dia mengelakkan dengan menggerakkan pinggulnya sedikit saja, di susul dengan kayu yang ada ditangannya itu terayun akan menggempur batok kepala dari imam tersebut. Kui Im Cinjin jadi mengeluarkan seruan tertahan, cepat sekali dia membatalkan serangannya dengan menarik pulang hudtimnya dan memiringkan kepalanya berkelit dari samberan kayu sigadis. Tetapi serangan yang dilancarkan oleh San Ciam Liehiap Bong Cun Lie benar-benar luar biasa, karena disaat siimam berkelit dari serangannya jatuh disasaran yang kosong, cepat bukan main dia telah memutar tangannya, sehingga kayu di tangannya ikut berputar, dan berbalik arah menyambar kearah dada imam itu.

Serangan serupa itu memang merupakan serangan yang sangat luar biasa, tidak mudah dilakukan oleh orang-orang yang belum memiliki kepandaian sempurna. Tetapi sigadis yang rupanya telah memiliki ilmu meringankan tubuh dan lwekang yang sempurna dapat melakukan serangan seperti itu dengan baik sekali. Tentu saja siimam tidak menduga sama sekali bahwa dirinya akan diserang begitu rupa, maka dia telah merasakan semangatnya seperti terbang meninggalkan tubuhnya. Mati-Matian imam itu telah berusaha mengelak serangan tersebut, karena imam itu menyadarinya jika sampai diri nya terserang, niscaya iga-iganya akan menjadi patah dan remuk. Dengan mempergunakan “Tiat Pian Ko „ (Jembatan Besi), dia telah merubuhkan dirinya kebelakang, dan kedua kakinya tetap menempel ditanah, tetapi tubuhnya terlentang sampai punggungnya hampir menyentuh tanah. Kayu sigadis telah lewat dua dim dari dadanya dan keringat dingin mengucur deras dari siimam dan dia cepat-cepat melompat berdiri begitu dirinya berhasil lolos dari serangan dahsyat tersebut.

Tetapi Bong Cun Lie tidak bekerja hanya sampai disitu saja, ketika melihat lawannya ber hasil mengelakkan serangannya itu dengan caranya yang manis, maka sigadis telah mengeluarkan suara dengusan mengejek, dan dia telah melancarkan kembali dengan mempergunakan kayu ditangan kanannya itu, disusul Oleh seruan: „Terimalah ini. ” Imam itu baru saja berhasil berdiri tetap, atau serangan sigadis she Bong telah tiba lagi, sehingga dia mengeluarkan seruan putus asa. Tidak ada harapan lagi baginya untuk mengelakkan diri dari segala serangan k a y u sigadis yang menyambar kearah dada sebelah kirinya berarti jika dia tergempur oleh serangan yang disertai oleh tenaga dalam yang kuat seperti itu jika tidak binasa sedikitnya dia akan bercacad.

Karena terlalu terdesak demikian rupa, akhirnya tojin itu menjadi nekad. Dia tahu-tahu telah memutar Hudtimnya dengan gerakan yang cepat kearah atas, maksudnya mengibas kearah kayu Bong Cun Lie, menyusul mana tangan kanannya tahu-tahu akan mencengkeram dada sebelah kiri sigadis, yang akan dicengkeram keras dari kuat jalan darah Pai sie-hiatnya. Kalau memang jalan darah Pai-sie-hiat didada kiri sigadis berhasil dicengkeram, walaupun sigadis memiliki kepandaian sepuluh kali lebih tinggi dari sekarang jelas, gadis itu akan rubuh binasa. Sigadis telah mendengus ketika melihat cara menyerang imam itu, Dia berkelit kesamping kanan dengan gerakan mundur kebelakang beberapa dim, sehingga berhasil mengelakan serangan siimam. „Serangan yang kejam!” dia berseru dengan suara yang dingin. „Dan, rasakanlah jarum ku ini” Sigadis telak membarengi suaranya itu dengan menggerakkan tangan kirinya, maka disaat itulah tampak empat sinar emas, meluncur kearah empat jalan darah terpenting ditubuh Kui Im Cinjin, yaitu Bong-su-hiat, Tiang-he-hiat, Kwan lu-hiat dan Tie-pie-hiat. Dua jalan darah yang pertama terletak dibagian ketiak kanan, sedang kan kedua jalan darah lainnya terletak masing-masing dipinggang kiri dan kanan; Sigadis juga bukan hanya menyerang dengan jarumnya itu, dia telah membarengi dengan serampangan kayunya kearah batok kepala imam itu. „Ahh” berseru imam itu putus asa. Umpama kata dia memiliki kepandaian lima kali lebih hebat dari sekarang tentu dia tidak mungkin mengelakkan diri dari serangan Bong Cun Lie, karena serangan yang dilancarkan oleh sigadis she Bong itu benar-benar telah menutup jalan mundurnya imam itu. Untuk menangkis, Kui lm Cinjin juga sudah tidak memiliki kesempatan. „tidak kusangka akhirnya aku harus binasa dengan cara demikian penasaran !” mengeluh imam itu, dan dengan putus asa dia memejamkan matanya, dia pasrah untuk menerima kematiannya, disaat mana tongkat kayu tengah meluncur . akan menghantam batok kepalanya, sedangkan keempat jarum emas yang dilontarkan San Ciam Liehiap tengah menyambar kearah empat jalan-darah terpenting ditubuhnya. Kedua anak lelaki kecil itu yang berdiri dipinggiran hanya menyaksikan tanpa mengetahui bahwa siimam telah terancam kematian, keduanya hanya heran, tadi siimam dan sigadis telah bergerak-gerak cepat sekali bagaikan dua sosok bayangan, sehingga mereka jadi bengong enyaksikan dengan mata berkunang-kunang, mau mereka duga bahwa disaat itu mereka tengah menyaksikan tarian seorang dewa dan dewi yang turun dari kahyangan.

San Ciam Liehiap Bong Cun Lie melihat seranganya akan mencapai sasarannya, dia jadi girang bukan main, terlebih lagi dia melihat imam itu telah memejamkan matanya rapat-rapat. justru dia telah menambahkan tenaga serangannya. Sehingga jika kayu ditangannya itu berhasil mencapai sasaran, tentu kepala imam itu akan hancur lebur… „Sungguh serangan yang baik sekali…” tiba-tiba terdengar suara seruan nyaring yang terdengar disaat itu, disusul oleh suara “tring, tring tring”, empat kali, lalu disusul terpentalnya sesosok tubuh. Semua peristiwa itu terjadi hanya sekejap mata, sigadis she Bong itu jadi terkejut bukan main, karena tahu-tahu si imam telah lenyap dari hadapannya sehingga kayunya jatuh ditempat kosong. Dan begitu juga keempat batang jarum emasnya itu telah runtuh diatas tanah. Dengan gusar sekali, sigadis telah menoleh kesampingnya, dilihatnya Kui Im Cinjin tengah merayap berdiri, karena tadi disaat jiwanya tengah terancam bahaya kematian imam itu merasakan menyambarnya angin serangan yang kuat sekali sehingga tubuhnya terpental dan terpelanting ditanah, yang membuat dia terhindar dari sambaran kayu sigadis she Bong itu, dan terhindar dari keempat batang jarum maut lawannya.

Apa yang terjadi itu benar-benar diluar dugaan Kui Im Cinjin maupun Beng Cun Lie. Begitu pula kedua anak lelaki yang sempat menyaksikan pertempuran itu diliputi keheranan yang mencengangkan mereka, sebab mereka melihat tahu-tahu siimam telah terlempar dan jatuh bergulingan ditanah. Sungguh peristiwa yang membuat anak itu jadi memandang tertegun tanpa mengerti mengapa siimam telah membuang diri seperti itu. Dengan sorot mata yang tajam, gadis itu telah menoleh ke sampingnya, kini baru dilihat nya seorang pemuda berpakaian sebagai Siucai ( pelajar ) warna putih, dengan kopiah hitam dan ditangannya tercekal kipas terbuat dari sutera, tengah duduk ditanah dengan sikap yang manis, karena selain wajahnya tampan dan senyumannya manis, matanya bersinar cemerlang. „Jangan menurunkan kematian……dosa besar apakah yang telah dilakukan totiang itu sehingga nona demikian ganas ingin mengambil jiwanya ?” sapa pemuda itu, manis cara menegur gadis itu, Dia bertanya sambil menggerak-gerakkan kipasnya dan kepalanya kekiri dan kekanan. Muka Bong Cun Lie berobah merah padam dia lalu mendengus dengan gusar. „Mengapa kau begitu usil mencampuri urusan kami ?” tanyanya dengan suara tak senang, “urusan ini urusan penasaran, yang tidak ada sangkut paut dan hubungannya dengan kau … harap engkau tidak mencampurinya.. .”. Pemuda pelajar itu telah tersenyum sabar, manis sekali sikapnya waktu dia bangkit perlahan-lahan. “Kamu demikian cantik gagah dan perkasa, tidak kusangka jiwa dan hatimu kejam sekali, dalam urusan itu aku memang tidak memiliki hubungan apa-apa, kenalpun tidak tetapi masakan aku harus berpeluk tangan mengawasi sepotong jiwa manusia yang ingin dibinasakan ? bukankah jiwa harus dibuat sayang.? “baik, baik.” berseru sigadis dengan murka. “Jika memang kau merasa sebagai pendekar yang baik hati dan tidak bisa menyaksikan kematian seorang bangsat, biarlah engkaupun bersama-sama dia pergi menghadap Giam-Ong!” Dan sigadis bukan hanya membentak, karena tahu-tahu kayu yang ditangannya telah melayang, menyambar kearah dada pelajar itu dengan gerakan yang cepat luar biasa, karena sigadis telah menimpuk. Begitu pula menyusul lima batang jarum emas menyambar lima jalan darah ditubuh pelajar itu.

Serangan yang dilancarkan oleh gadis itu luar biasa, karena, dia mengetahui pelajar itu memiliki kepandaian tinggi, yang telah disaksikannya tadi, dengan sendirinya dia tidak tanggung-tanggung dalam melancarkan serangan. Tetapi pelajar itu berdiri tenang ditempat nya, dia hanya mengawasi datangnya serangan. Disaat kayu yang meluncur itu hampir tiba, hanya terpisah beberapa dim lagi dari dadanya, pelajar itu mengibaskan lengan bajunya, maka se-perti terdorong sebuah tenaga yang kuat, kayu itu telah terlontar mental kesamping menghantam batang pohon, sedangkan dengan kipasnya dia mengebut kelima jarum emas yang menyambar kearahnya. Kui Im Cinjin mengawasi peristiwa itu dengan mulut yang terpentang, karena dia kagum bukan main melihat kepandaian yang diperlihatkan oleh pemuda itu dengan sempurna sekali, walaupun usia pelajar itu mungkin baru dua puluh tahun, namun lwekangnya benar-benar sempurna. Sigadis tidak kurang kagetnya, untuk sejenak dia jadi memandang tertegun ditempatnya. Pelajar itu tersenyum, dia menggerak-gerakan kipasnya seperti juga tengah menikmati sejuknya angin dari kipasnya tersebut. „Tidak mudah untuk membinasakan manusia.” Kata pelajar itu dengan suara yang tetap sabar. “sayang sekali, sungguh sayang….” Sigadis she Bong tersadar dengan murka. „Apanya yang sayang ?” bentaknya dengan, bengis. “nona demikian cantik, dan yang jelas tentu banyak pria yang bermimpi untuk mempersunting nona. Tetapi jika adat nona begitu buruk tentu mereka akan mundur sendiri dan tidak berani mendekati nona, Nah, jika terjadi begitu. bukankah harus dibuat sayang?”

Muka Bong Cun Lie jadi merah padam dan tubuhnya gemetar karena murka, yang tidak kepalang, dia menyadari pemuda pelajar itu tengah mengejek dia. „Cisss !” dia telah meludah, dan membarengi dengan itu, tangannya bergerak lagi disusul oleh suara “serrr, serrr” berulang kali, kali ini dia melepaskan senjata rahasianya itu dengan mempergunakan kedua tangannya, belasan sinar kuning telah menyambar mengurung pelajar itu. Tetapi pelajar itu membawa sikap yang tenang sekali, dia menggerak-gerakkan kipasnya berulang kali, maka setiap jarum yang menyambar kearah dirinya semua berhasil dipukul runtuh ketanah. Hebat cara pemuda pelajar itu melayani serangan sigadis, Semakin lama, sigadis menyerang semakin penasaran, dan akhirnya dia berdiri diam tidak melancarkan serangan lagi, mengawasi mendelik lawannya, karena seluruh persediaan jarumnya telah habis, tidak satupun jarum emasnya berhasil mengenai sasaran. Wajah sigadis jadi agak lucu, dibilang tertawa bukan tertawa, disebut menangis juga tidak menangis. Waktu tadi dirinya diserang terus menerus oleh sigadis, pelajar itu sambil berkelit dan mengibas dengan kipasnya tidak hentinya dia telah memuji dengan ejekannya ; „Serangan yang bagus, sungguh berbahaya ! Bagus sekali ! Oh, benar-benar indah serangan ini !” tetapi begitu sigadis berhenti menyerangnya, sipemuda telah berhenti dengan guraunya itu, dia telah merangkapkan ke dua tangannya memberi hormat kepada sigadis. „Aku yang rendah memang telah lancang mencampuri urusan nona, seharusnya memang itu adalah urusan nona selama tidak menyangkut urusan jiwa. Maafkanlah, Siauwte (adik) tidak memiliki kepandaian apa-apa dan bodoh, telah begitu lancang menyambuti serangan nona” yang ternyata hebat luar biasa. Jika nona tidak berlaku murah hati, tentu jiwaku telah melayang….” Waktu berkata-kata, pelajar itu memperlihatkan sikap yang bersungguh-sungguh. „Bolehkah Siauwte mengetahui she dan nama nona yang harum ?”, Si gadis mendongkol bercampur gusar, tetapi pelajar itu memiliki kepandaian yang hebat sekali, maka walaupun dia ingin berlaku nekad, tetapi tentu tidak ada faedahnya apa-apa. Maka akhirnya dia hanya dapat membanting-banting kakinya. „Tidak perlu kau mengetahui namaku, tinggalkan namamu, kelak aku akan mencarimu untuk menyelesaikan urusan ini !” kata sigadis akhirnya. „Siauwte she Cu dan bernama Kun Hong,” menyahuti pelajar itu. „Perkataan” kelak akan mencari itu terlalu berat, Siauwte tidak berani menerimanya, karena pertama Siauwte dari golongan muda, juga bodoh dan tidak memiliki kepandaian istimewa.”

Dada sigadis seperti ingin meledak mendengar jawaban pemuda pelajar itu. Karena jelas pelajar itu ingin mempermainkan dirinya dan mengejeknya, sigadis maksudkan dengar „Kelak akan mencari” dia maksudkan untuk mencari pemuda itu guna menuntut balas. Tetapi sipemuda sengaja pura-pura tidak mengerti maksud perkataan sigadis dengan „kelak akan mencari” itu seperti juga sigadis dari golongan muda ingin menyampaikan hormatnya kepada golongan tua. Tentu saja sigadis jadi murka bukan main. Pemuda pelajar itu Cu Kun Hong telah tertawa lagi. „Baiklah, jika nona keberatan menyebutkan she dan memperkenalkan nama, Siauwte juga tidak memaksa, tetapi maukah nona memberitahu kan murid siapa ?” tanyanya lagi. „Apa perdulimu, tunggu saja dalam satu bulan, aku pasti akan mencarimu . . . ! dan setelah berkata begitu, sigadis menoleh kepada Kui Im Cinjin yang tengah mengawasi dengan tertegun, mata sigadis mendelik lebar penuh kebencian, lalu dia memutar tubuhnya dengan beberapa kali lompatan dia telah berlalu dan lenyap dari penglihatan Imam itu cepat-cepat menghampiri penolongnya. „Terima kasih atas pertolongan Siangkong, budi yang besar ini entah bagaimana caranya pinto membalas …” kata Kui Im Cinjin sambil membungkukan tubuhnya dalam menjura memberi hormat kepada pemuda pelajar itu. “Pinto Kui Im Cinjin tentu tidak akan melupakan budi besar itu….” Sipelajar tersenyum, dia mengelakkan pemberian hormat dari siimam. „Jangan berkata seberat itu, Totiang. Bukan kah sudah selayaknya jika “kita tolong menolong?” kata pelajar itu. „Siauwte tidak memiliki kepandaian apa-apa dan bodoh, hanya mengerti cara mengipas untuk meruntuhkan jarum, itu tidak berarti apa-apa . . . . ” „Jika tidak ada Siangkong, mungkin pinto sudah tidak jadi manusia . . . . ” kata si imam. „Sungguh memalukan! Kalau diceritakan memang sungguh memalukan . . . ” kata imam itu. „Mari kita masuk kekampung ini untuk mencari kedai arak, nanti disana pinto akan menjelaskan duduknya persoalan.” Pelajar itu mengangguk menyetujui usul dari si imam, dia telah mengiringi imam itu memasuki perkampungan itu. Dan kedua anak lelaki yang tadi menyaksikan pertandingan yang terjadi diantara jago-jago r imb a persilatan itu, telah cepat-cepat memunguti jarum-jarum emas milik Bong Cun Lie yang banyak berserakan ditanah, yang mereka simpan disaku dan kemudian melanjutkan permainan petak mereka saling kejar….

Tojin yang bergelar Kui Im Cinjin telah mengajak pelajar yang mengaku bernama Cu Kun Hong itu kesebuah kedai arak yang berada didekat pintu kampung. Imam itu memesan dua kati arak untuk Sipelajar sedangkan dia sendiri duduk dengan sikap tenang, sambil sekali-kali melirik ke jendela. Melihat sikap si-imam, Kun Hong jadi memandang heran, dia menduga tentu ada sesuatu yang menggelisahkan imam itu. „Totiang” panggilnya dengan disertai suara tertawanya. „Sesungguhnya siapakah gadis yang tadi mengejar-ngejar Totiang?” Siimam telah menghela napas dalam tampaknya dia benar-benar berduka sekali: „Gadis itu bergelar Sam Ciam Liehiap, namanya Bong Cun Lie.” siimam mulai dengan ceritanya „Sam Ciam Liehiap Bong Cun Lie?” berseru sipelajar dengan terkejut. „Itulah seorang pendekar yang cukup terkenal dengan sepak terjangnya, terlebih lagi untuk bilangan Kwiecu. Mengapa dia bisa memusuhi totiang ?” Siimam telah menghela napas panjang lagi, dia mengambil cawannya dan meneguk araknya perlahan-lahan. „Sebetulnya, memang peristiwa ini diawali oleh sesuatu kesalah pahaman saja, sehingga akhirnya keempat saudara angkatku harus buang jiwa cuma-cuma dan enam sahabat karib harus menemui kematian dengan penasaran sekali……”

Datar suara siimam waktu berkata-kata, mungkin dia tengah diliputi oleh kesedihan yang sangat, tetapi cara dia berkata-kata begitu mengesankan, sehingga menimbulkan kesan bahwa urusan yang telah menimpanya merupakan urusan yang agak luar biasa, terlebih lagi dengan disebut-sebut jumlah sepuluh jiwa yang telah meninggal ..! Cu Kun Hong jadi tertarik, dan dia memasang telinganya baik-baik. Rupanya yang akan dikisahkan oleh imam itu merupakan urusan penasaran. „Seperti diketahui oleh sababat-sababat rimba persilatan, bahwa pinto berasal dari pintu perguruan Ngo-ciat-kauw, yang semuanya berjumlah lima orang. Keempat saudara seperguruan pinto itu, semuanya juga mensucikan diri, masing-masing bergelar Kui San Cinjin, Kui Lie Cinjin, Kui Li-ong Cinjin. Kui Ban Cinjin dan pinto sendiri bergelar Kui Im Cinjin Kami walaupun menamakan pintu perguruan kami dengan nama yang kurang sedap didengar, yaitu Ngo-Ciat-kauw, tetapi hati kami berlima tidak buruk dan selalu berusaha mendirikan pahala dengan memberantas kejahatan dan membela yang tertindas. “Tetapi, seperti juga urusan didalam dunia ini, yang selalu ada Im dan ada pula Yang, ada yang mencinta kami, tetapi ada juga yang tidak menyukai kami.”

Sesungguhnya jika saja kami tidak terlalu usil, tentu kamipun tidak akan terlibat dalam urusan seperti hari ini. Disaat mana kebetulan kami tengah berada di Kanglam, maksud kamimemang ingin berpelesiran untuk menikmati keindahan daerah Kanglam. Tetapi ketika tiba di pintu kota Wai-siang-kwan disebelah barat justru kami menyaksikan urusan yang tidak adil, yang mengganggu mata kami. Disaat itu, kami melihat diluar pintu kota terjadi suatu pertempuran yang janggal bagi pendapat kami, yaitu seorang tosu tua yang telah lanjut usianya tengah dikepung oleh lima-orang hweeshio dan dua orang wanita, wanita yang seorangnya telah lanjut usianya, sedangkan wanita yang seorang lagi merupakan gadis cantik jelita. Kami tidak bisa menyaksikan tosu tua, itu dikeroyok beramai-ramai seperti itu, jika akhirnya kami turun tangan juga, bukan berarti disebabkan si tosu sama-sama menganut agama To. dengan kami, melainkan karena keadilan belaka. Salah seorang diantara kelima orang hwe-shio itu ada yang bergelar Hoan Lian Taisu yang memiliki kepandaian tertinggi diantara kawan-kawannya itu. Dialah yang tergarang dan sulit diajak bicara. Walaupun kami berusaha untuk mendamaikan dengan cara baik, namun mereka tidak mau mengerti dan akhirnya melibatkan kami dalam suatu pertempuran. Begitu hebat pertempuran yang terjadi tidak bisa dicegah lagi, sehingga akhirnya terjadi suatu peristiwa yang tidak diinginkan, kami kesalahan tangan sehingga Hoan Lian Taisu terbinasa. Sejak saat itulah rombongan hweshio itu melakukan pengejaran terhadap kami!
Telah berulang kali kami berusaha untuk memberikan pengertian bahwa kematian Hoan Lian Taisu tidak disengaja, tetapi mereka itu tidak mau mengerti. Dan setahun yang lalu itulah rom bongan hweshio itu memperoleh bantuan seorang gadis yang bergelar Sam Ciam Liehiap, yang ke pandaiannya luar biasa, sehingga sulit untuk kami tempur keempat saudaraku telah dibinasakan dengan mudah dan menyedihkan sekali, dan aku yang berhasil meloloskan diri meminta bantuan Shantung Liokhiap (Enam Pendekar dari Shantung), namun keenam sahabat itupun terbinasa ditangan Sam Ciam Liehiap, dan tadi giliran pinto yang dikejar terus olehnya untung saja ada Siangkong yang telah menolongi”. Setelah bercerita imam itu menghela napas sambil mengambil cawan, lalu menghirup araknya perlahan-lahan dengan mata yang kosong, karena dia teringat kematian saudara-saudara seperguruannya dan bagaimana menderitanya dia yang dikejar-kejar oleh lawan-lawannya, sehingga tidak sempat merawat dirinya yang menjadi mesum dan kumal begitu, karena dia selalu dikejar oleh perasaan ketakutan terus menerus. „Lalu bagaimana dengan tosu tua yang kalian tolong itu?” tanya Kun Hong yang tertarik mendengar kisahnya siimam. „Entahlah waktu kami menghadapi Hoan Lian Taisu dan kawan-kawannya dia telah mempergunakan kesempatan itu untuk melarikan diri. Justru sampai saat sekarang ini aku masih belum mengetahui sesungguhnya tersangkut urusan apakah antara rombongan Hoan Lian Taisu dengan tosu tua itu, yang menjadi sesalanku adalah Kematian Hoan Lian Taisu yang menyebabkan salah paham ini semakin mendalam.

Baru saja Kun Hong ingin bertanya lagi, tiba-tiba dia mendengar ada orang yang memasuki ruang kedai. Dia menoleh kearah pintu, dilihatnya seorang wanita setengah baya tengah melangkah masuk kedalam ruangan kedai dengan diikuti oleh seorang lelaki setengah baya juga, yang tubuhnya tegap dan gagah. Wajahnya tampan dan memancarkan sinar yang gagah disamping sepasang matanya yang tajam bersinar, memperlihatkan bahwa lelaki setengah baya itu memiliki lwekang yang sempurna. Disamping itu, siwanita setengah baya yang berjalan didepannya juga memperlihatkan sikap yang gagah, rambutnya di sanggul menjadi satu, walau usianya sudah cukup tinggi, namun wajahnya masih cantik, di samping itu dia memakai pakaian polos warna merah muda, dengan angkin putih. Keduanya mengambil meja disebelah kanan terpisah tiga meja dengan Kun Hong dan Kui Im Cinjin. Tetapi sama-sama Kun Hong masih sempat mendengar wanita itu berkata perlahan waktu ingin duduk dikursinya ; „Engko Ceng, malam ini biarlah kita beristirahat disini saja dulu, besok baru melakukan pengejaran lagi ……..”.

Lelaki setengan baya yang dipanggil engko itu mengangguk tanpa bilang apa-apa. kepada pelayan dia memesan arak dan makanan. Sejak dua orang memasuki kedai arak ini, hati Kun Hong terkejut bukan main. Begitu juga saat dia mendengar wanita setengah baya itu memanggil silelaki setengah baya itu dengan sebutan ‘engko Ceng’, maka yakinlah Kun Hong kedua orang itu memang merupakan dua orang jago yang diduganya, “Totiang, engkau akan tertolong dari kesulitanmu, tidak perlu kau bersedih terus” kata Kun Hong Kemudian, perlahan suaranya, “hanya mau atau tidak mereka menolongmu, totiang….”. „Si . . . siapa ?” tanya sitojin dengan sikap setengah percaya dan setengah tidak. Dia menyaksikan kepandaian pemuda ini yang hebat sekali, yang berhasil merubuhkan Sam Ciam Liehiap tetapi jika pendekar wanita penyebar jarum itu datang bersama-sama dengan beberapa orang kawannya urusan menjadi lain dan belum tentu Kun Hong sanggup melindunginya. „Engkau mendengar Kwee Ceng Taihiap?” tanya Kun Hong dengan suara yang perlahan juga. „Ihh, pendekar besar itu?” tanya siimam terkejut. „Ya, rupanya Thian mengetahui kesulitanmu sehingga orang gagah itu berada disini bersama isterinya,” menyahuti Kun Hong. „Kau ,kau maksudkan Oey Yong Liehiap?” tanya siimam.
Kun Hong mengangguk, dia bangkit berdiri. „Kau tunggu dulu disini, biar aku menemui mereka,” katanya. Siimam jadi mengawasi tertegun, dia melihat sipemuda pelajar menghampiri tamu yang baru datang tadi, seorang pria setengah baya bersama wanita setengah baya. „Merekakah Kwee Ceng Taihiap dan isterinya Oey Yong Liehiap ?” menduga-duga Kui Im Cinjin dengan hati tergoncang. Dia memang telah mendengar kebesaran nama Kwee Ceng dan Oey Yong yang seperti menggetarkan jagad yang merupakah jago tiada tandingan dimasa ini. Tetapi siimam tidak mengenal kedua pendekar besar itu. Cu Kun Hong telah menghampiri meja pria dan wanita setengah baya itu, dia merangkap kedua tangannya dan menjura memberi hormat. “Boanpwe (tingkatan yang muda) Cu kun Hong mengunjuk hormat kepada kepada Kwee Taihiap dan Oey Liehiap.” katanya dengan sikap yang hormat sekali. Lelaki setengah baya itu cepat bangkit mencegah hormat pemuda itu. “Jangan banyak peradatan, jangan banyak peradatan,” katanya cepat. „Engko Ceng kulihat engko kecil ini walau pun dari kalangan Boanpwe tetapi dia agak luar biasa” bilang siwanita setengah baya sambil tersenyum.

Pria setengah baya itu memang tidak lain, adalah Kwee Ceng dan wanita setengah baya yang bersamanya memang isterinya yaitu Oey Yong. Mereka tengah melakukan pengejaran terhadap seseorang, dan kebetulan lewat dikampung ini, sehingga mereka singgah untuk minum dan mengisi perut. Waktu itu Kwee Ceng telah mendorong perlahan agar Kun Hong batal memberi hormat kepadanya, tetapi akhirnya Kwee Ceng terkejut sendirinya, sebab tubuh Kun Hong tidak bergeming dan meneruskan gerakannya untuk membungkuk memberi hormat. „Benar apa yang dibilang Yongjie, pemuda ini memiliki lwekang yang lumayan,” dan setelah berpikir begitu Kwe Ceng menambahkan sedikit tenaga mendorongnya, tubuh Kun Hong seperti terangkat sedikit, dan hampir terhuyung kebelakang.

Hati Kun Hong tambah kagum kepada pendekar besar tersebut, karena walaupun dia telah mengerahkan lwekangnya, tetap saja dengan mudah Kwe Ceng membatalkan pemberian hormatnya. „Siapa gurumu tanya Kwee Ceng, dia memang polos dan tidak pandai bicara, maka setelah membatalkan sipemuda dengan hormatnya itu., dia langsung menanyakan guru sipemuda. „Insu Bong Kwei Siansu, dimana dulu Insu sering menceritakan kegagahan Taihiap dan Liehiap. Sungguh beruntung hari ini Boanpwe bisa bertemu dengan jiewie locianpwe.” menyahuti Kun Hong dengan sikap menghormat.” Kwee Ceng tak kenal guru pemuda itu, yang gelarnya baru didengarnya sekali ini. Tetapi sebagai basa-basi, dia telah menyatakan bahwa telah lama dia mendengar nama terkenal Bong Kwei Siansu. Senang hati Kun Hong karenanya. „Apakah ada sesuatu yang bisa Boanpwe bantu jika Taihiap ada suatu urusan didaerah ini ?” tanya Kun Hong pula. Kwee Ceng menggeleng sambil mengucapkan terima kasih. Tetapi berlainan dengan Oey Yong yang lincah telah menepuk lututnya sambil katanya dengan suara riang; „Engko Ceng, mengapa kita tidak menanyakan kepada Cu Siangkong mengenai tosu Itu ?”. Kwee Ceng mengangguk, kemudian katanya; „Cu Siangkong, sesungguhnya kami tengah mengejar seseorang, tetapi kami kehilangan jejak. Kami tengah mengejar seorang tosu yang memiliki urusan penting dengan kami, dan menurut penyelidikan yang kami lakukan, tosu tua, itu mengambil arah keutara, maka pasti diapun lewat dikampung ini. Apakah Siangkong pernah melihat disekitar daerah ini seorang tosu tua dengan cacad bekas bacokan dipipi kanannya, dan tanda-tanda lainnya yang menyolok adalah punggung nya yang agak bungkuk ?”. Cu Kun Hong seperti berpikir sejenak, lalu kitanya : „Sayang sekali boanpwe belum pernah, bertemu dengan tosu yang taihiap maksudkan itu” Suara sipemuda mengandung penyesalan. „Biarlah, kami yakin akan berhasil menemui jejaknya.” kata Kwee Ceng. Sebetulnya Kun Hong tertarik ingin mengetahui urusan apakah yang tengah dihadapi pendekar besar ini sehingga mengejar-ngejar seorang tosu tua yang bercacad mukanya itu, namun Kun Hong tidak berani terlalu bertanya melit-melit, „Kwee Taihiap dan Oey Liehiap,” kata Kun Hong kemudian, „Sesungguhnya boanpwe ingin menyampaikan sesuatu yang tidak pantas, entah boanpwee boleh terus mengatakannya atau tidak?” kata sipemuda. ‘Kwee Ceng tertawa manis. „Katakanlah apakah kau tengah menghadapi kesulitan; engko kecil?” tanyanya. „Sebetulnya bukan urusan boanpwe; tetapi totiang itu…..” kata Kun Hong sambil menunjukkan kearah Kui Im Cinjin, Siimam yang ditunjuk segera menghampiri hormat kepada Kwee Ceng dan Oey Yong.

Sedangkan Kun Hong telah menceritakan urusan yang telah menimpa diri Kui Im Cinjin, sehingga tosu itu selalu dikejar-kejar oleh lawan-lawannya yang terlalu mendesak, yang menyebabkan dia jadi tidak berdaya dan selalu ketakutan saja. „Mungkin satu dua hari lagi Sam Ciam Liehiap akan datang mencari Kui Im totiang, maki bisakah Taihiap dan Liehiap mendamaikan urusan mereka ?” „Sam Ciam Liehiap ? Akh, nama itu baru kudengar,” kata Kwee Ceng. „Nah engko Ceng, apa kubilang,” kata Oey Yong sambil tertawa. „Bukankah sering sekali kukatakan bahwa angkatan muda yang sekarang telah bermunculan banyak sekali jago-jago muda yang penuh harapan ?” Kwee Ceng hanya tersenyum, dia tidak tertarik dengan gurau istrinya, dengan bersungguh-sungguh dia telah menoleh kepada Kui Im Cinjin, katanya „Totiang. sungguh menyesal bahwa justru kami tengah mengejar waktu untuk membekuk seseorang . . . tetapi kami bukan berarti tidak mau menolong kesulitan totiang. Begini saja kita atur, aku akan menulis sepucuk surat meminta kepada Sam Ciam Liehiap dan kawan-kawannya, meminta agar mereka mau memandang muka kami dan untuk mengambil jalan bijaksana dalam urusan mereka dengan totiang. Kukira jika mereka ingin memberi muka kepadaku tentu bisa menghabiskan permusuhan dengan totiang sampai disini saja “.

Tentu saja Kui Im Cinjin girang bukan main. Nama Kwee Ceng telah menggetarkan seluruh rimba persilatan, siapapun tentu mengenal dan mengetahuinya. Dengan ditulisnya surat pengantar oleh Kwee Ceng, jelas Sam Ciam Liehiap dan kawan-kawannya bersedia menyudahi permusuhannya dengan Kui Im Cinjin. Itulah suatu pertolongan yang mimpipun sulit diharapkan. Berulangkali Kui Im Cinjin menyatakan terima kasihnya. Kwee Ceng meminta pelayan mempersiapkan kertas dan pit, lalu menulis sepucuk surat. Sedangkan Oey Yong yang sejak mudanya memang terkenal nakal dan periang, telah mengajak Kun Hong bercakap. Ada saja yang dibicarakannya, masalah-masalah rimba persilatan dikalangan golongan muda, Kun Hong pun senang sekali menjawab setiap pertanyaan nyonya yang hebat sekali kepandaiannya itu. Selesai menulis suratnya, Kwee Ceng menyerahkannya kepada Kui Im Cinjin, yang menerimanya sambil mengucapkan terima kasihnya berulang kali. Surat itu disimpannya baik-baik disakunya, karena surat itu merupakan surat wasiat yang bisa membeli jiwanya. Dengan surat inilah Kui Im Cinjin bisa mengharapkan untuk hidup terus.

Kwee Ceng dan Oey Yong bersantap, selesai itu merekapun telah melanjutkan perjalanan mereka Sedangkan Kui Im Cinjin juga telah mengucapkan terima kasihnya kepada Cu Kun Hong pemuda pelajar itu, karena lewat pemuda inilah Kui Im Cinjin berhasil memiliki surat wasiat yang besar faedahnya, kemudian diapun pamitan Kun Hong telah melanjutkan sendiri meneguk araknya, hatinya senang sekali bisa menolong kesulitan yang tengah dihadapi Kui Im Cinjin. Hari mulai gelap, dan setelah membayar harga makanan dan arak yang diminumnya, Kun Hong pun berlalu dari kedai arak itu. Sambil bersiul-siul perlahan, dia menyusuri lorong yang akan menuju kerumah penginapan nya yang terletak dipintu selatan kampung tersebut.

Wu Cuan Cung merupakan perkampungan yang cukup padat penduduknya, meliputi hampir seribu kepala keluarga, keadaannya yang ramai dan padat seperti itu memang Wu Cuan Cung menyerupai sebuah kota kecil. Terlebih lagi letak Wu Cuan Cung merupakan lintas hidup untuk orang-orang yang berlalu lintas dari Kang-lam menuju Phangciu maupun Hangciu, tidak mengheran kan jika perkampungan tersebut ramai sepanjang hari. Sedangkan Kun Hong menikmati keramaian jalan yang dilaluinya, tiba-tiba didengar suara ..Trak, trukk, trukk,” tidak hentinya waktu pemuda she Cu tersebut, mengangkat kepalanya, dia melihat pemandangan yang benar-benar mengherankan hatinya karena dari jurusan depan tampak mendatangi seorang wanita berpakaian compang camping tengah jalan dengan kaki diseret, dan sepatu rombengnya yang terseret itu menimbulkan suara „trakk, trukk,” tidak hentinya. Keadaan wanita itu mesum dan kotor sekali, karena takut bertabrakan dengan wanita mesum itu, Kun Hong telah melompat ketepi jalan. Saat itu jarak antara wanita yang berpakaian seperti pengemis itu, dengan rambut yang diriap turun terurai dibahunya dan sebagian menutupi mukanya, hanya terpisah satu tombak lebih dengan tempat dimana Kun Hong berada tentu saja gerakan pemuda itu dilihatnya dengan jelas.

Setelah berjalan beberapa langkah lagi, disaat berada dihadapan Kun Hong, wanita berpakaian seperti pengemis itu menghentikan langkah kakinya berdiri tegak dan mengeluarkan suara haha hihi. „Anak yang cakap, anak yang tampan.” kata wanita yang jorok itu sambil mengulurkan tangannya yang kotor penuh daki dan debu itu ingin mengusap muka Kun Hong. Pemuda she Cu itu mendongkol bukan main, mana mau dia membiarkan mukanya diusap oleh tangan yang kotor seperti itu? Dengan cepat Kun Hong telah memiringkan kepalanya kekiri dengan gerakan yang gesit sekali. Tetapi diluar dugaan pemuda she Cu itu. di saat Kun Hong berkelit dengan gesit, tangan wanita itu lebih gesit lagi, tahu-tahu telah berhasil mengusap muka Kun Hong, keruan Kun Hong menggidik karena tangan wanita itu bukan hanya kotor, tetapi dingin lengket seperti tangan mayat. „Kurang ajar . . . !” bentak Kun Hong sambil melompat mundur kaget. „Jangan kurang ajar . . ” „Hihihi, anak manis, aku tidak akan galak-galak kepadamu ” Dan wanita itu telah maju lagi dua langkah, dia mengulurkan tangannya untuk mengusap pula. Kun Hong jadi kelabakan sendiri, dia kewalahan menghadapi wanita yang seperti sinting ini tanpa berpikir lagi dia memutar tubuhnya sambil mementang kaki lebar-lebar untuk berlalu dengan cepat meninggalkan wanita sinting itu. Tetapi Kun Hong jadi tambah terkejut, karena walaupun bergerak cepat, tangan wanita itu bergerak lebih cepat lagi, tahu-tahu ujung baju nya telah berhasil dicekal oleh wanita sinting itu, dan yang mengejutkan Kun Hong bercampur malu justru disaat itu wanita sinting tersebut telah menjerit-jerit sambil menangis. „Jangan tinggalkan aku . . . . ooohh, koko. cakap, engko yang manis, jangan kau tinggalkan aku mengapa kau demikian kejam ?”
Muka Kun Hong jadi berobah merah dan panas, darahnya jadi meluap naik karena dia malu sekali ditonton oleh beberapa orang penduduk yang kebetulan berada dijalan tersebut, yang telah berhenti sejenak untuk menyaksikan peristiwa tersebut. Mereka tertarik karena mendengar tangisan perempuan sinting itu. Dengan cepat Kun Hong telah menabas dengan tangan terbuka, tabasannya walaupun di sertai hanya tiga bagian tenaga dalamnya, tetapi hebat sekali. Dia yakin jika tangan wanita itu berhasil ditabas, tentu cekalannya akan dilepaskannya dan dia akan segera meninggalkannya secepat mungkin. Tetapi Kun Hong kembali kaget bukan main, karena justru disaat tangannya hampir tiba disasaran, tahu-tahu wanita sinting itu telah melepaskan cekalannya dan dia telah menarik tangannya, sehingga tabasan Kun Hong mengenai tempat kosong. Namun membarengi dengan itu, disaat itulah dia telah mengulurkan tangan pula untuk menjambret dan mencekal ujung baju Kun Hong, yang dicekalnya lagi dengan kuat dan tetap menangis.

Tentu saja Kun Hong jadi penasaran sekali dengan cepat dia menambah tenaganya dan telah menjejakkan kakinya; dia melompat untuk menarik jubahnya yang tercekal wanita sinting itu, kemudian jika digentak dengan sentakan. keras, niscaya cekalan wanita itu akan terlepas. Tetapi yang membuat Kun Hong jadi lebih kaget lagi, justru disaat dia melompat, tubuhnya tidak bisa bergerak, dan dia hanya melompat tetap ditempatnya, karena cekalan tangan dari wanita sinting itu tidak bergeming sedikit pun juga, sangat kuat sekali. Kenyataan seperti ini benar-benar telah mengejut kan hati Kun Hong. Disaat itulah dia yakin bahwa wanita sinting yang tengah dihadapinya ini bukan wanita sinting sembarangan, karena dari cara-cara dia mengelakkan tabasan tangan Kun Hong dan cekalannya yang kuat itu, dia tentu memiliki kepandaian yang luar biasa. Orang-Orang yang menyaksikan peristiwa tersebut jadi tertawa. Jumlah orang yang menonton semakin lama jadi semakin banyak, dan Kun Hong merasakan pipinya seperti terbakar panas sekali. Tetapi disamping gusar, Kun Hong juga jadi penasaran sekali. Dia telah mengeluarkan kipasnya, yang tahu-tahu telah menyambar kearah mata wanita sinting itu, Untuk menggertaknya, untuk mengancam biji mata dari perempuan sinting itu, memaksanya agar wanita sinting itu melepaskan cekalannya. Kipas dalam keadaan tertutup seperti itu, memang ujungnya bisa dipergunakan menohok jalan darah, dan Kun Hong dalam bertindak kali ini tidak tanggung-tanggung, karena dia tengah gusar sekali, disaat ujung kipas itu menyambar mengancam biji mata kanan darir wanita sinting itu maka gagang kipas yang ada didalam cekalannya itu dapat pula menotok jalan darah ditenggorokkan wanita sinting itu jika dia berhasil mengelakkan diri dari totokan ujung kipas tersebut.

Tetapi wanita sinting itu rupanya tidak memperdulikan serangan pemuda itu, dia masih tetap. mencekal baju sipemuda she Cu itu dengan, disertai rengekannya „Jangan, tinggalkan aku anak tampan…jangan kejam begitu…!” dan disaat ujung kipas hampir sampai disasaran, dengan gerakan yang wajar, bagaikan tidak disengaja wanita sinting itu menengadahkan kepalanya, tahu-tahu dia telah menggigit ujung kipas itu. Kun Hong jadi terkejut sekali, dia telah mengeluarkan seruan tertahan. Dan dia berusaha menarik kipasnya itu, namun sudah terlambat, karena kipas itu telah tergigit dan tidak bisa di tarik kembali, karena gigitan dari wanita sinting itu kuat sekali. Dengan penasaran Kun Hong telah mengerahkan tenaga dalamnya dilengannya. dia menarik sekali lagi. Disaat itulah wanita sinting itu melepaskan gigitannya, maka tidak ampun lagi tubuh Kun Hong terhuyung hampir terjengkang kebelakang.

Untung saja dia bergerak gesit, dia berusaha menguasai kuda-kudanya agar tidak tergempur berdiri tidak sampai rubuh ditanah. Justru dalam keadaan seperti itu, Kun Hong lebih kaget lagi, karena tiba-tiba wanita sinting itu telah menubruk memeluk Kun Hong. tentu saja, gerakan seperti itu telah membuat Kun Hong jadi menitikkan keringat dingin, kalau sampai dirinya terpeluk oleh wanita sinting yang mesum dan kotor itu, alangkah malunya dia. Dan disamping itu, bau busuk yang keluar dari tubuh perempuan mesum itu benar-benar membuat dia hampir muntah, karena jarak mereka memang terpisah tidak jauh. Mati-Matian Kun Hong menjatuhkan dirinya ditanah kemudian bergulingan untuk menjauhkan diri dari wanita sinting itu.

Karena pelukannya gagal, wanita itu tidak mengejarnya hanya menjatuhkan dirinya duduk sambil menangis terisak-isak seperti seorang anak kecil kehilangan mainannya. „Kau kejam . . kau kejam . . !” samar terdengar suara keluhan wanita sinting itu. Kun Hong sudah tak memperdulikan sesuatu apapun lagi, dia telah mementang langkah secepat mungkin, dengan mempergunakan ilmu meringankan tubuh; dia telah berlari sekuat tenaganya. Setelah sampai di tikungan dengan hati yang masih tergoncang dia telah melirik dan melihat wanita sinting itu tidak mengejarnya, hatinya baru lega, dan dia menyusut keringat dinginnya. Tetapi walaupun wanita sinting itu tidak mengejarnya, Kun Hong tidak berani berhenti dia berlari terus dan akhirnya tiba dirumah penginapannya, langsung masuk kamarnya, dan rebah dipembaringan dengan hati yang masih tergoncang. Kun Hong juga tidak habis mengerti, sesungguhnya siapakah wanita sinting itu, yang telah mengganggunya tanpa sebab. Jika melihat cara wanita itu mengelakkan serangannya dan juga telah mencekal bajunya, maka terlihat jelas bahwa wanita itu bukan wanita sembarangan. Tetapi jika dia memiliki kepandaian yang lumayan tingginya seperti itu, mungkinkah dia sinting? Dilihat dari gerakannya mengelakkan totokan ujung kipas Kun Hong dan digigitnya. Setidak-tidaknya kepandaian wanita sinting itu berimbang dengan kepandaian Kun Hong. siapa dia ?

Disaat Kun Hong tengah rebah dengan pikiran yang melayang-layang seperti itu, tiba-tiba dia mendengar; “Anak yang manis . . anak yang tampan, anak cakap, jangan tinggalkan aku . . jangan kejam begitu, anak . . . !” Darah Kun Hong seperti berhenti, mendesir jantungnya berdegup keras sekali, karena dia segera mengenali bahwa suara itu adalah suara wanita sinting yang telah mengganggunya beberapa saat yang lalu. Tentu saja Kun Hong tidak berani untuk keluar dari kamarnya, setidak-tidaknya bukan disebabkan perasaan takut, tetapi dia tidak ingin berurusan dengan wanita sinting yang mesum seperti itu. Perlahan-lahan Kun Hong turun dari pembaringanny tetapi baru kakinya menyentuh lantai justru disaat itu dia telah mendengar lagi, „Anak manis, ahh, anak manis ………”, sehingga Kun Hong telah ragu-ragu untuk menuju kepintu, untuk mengintai. Namun disaat itu Kun Hong mendengar suara tertawa yang riuh dari orang-orang yang mungkin tengah menonton tingkah laku wanita sinting itu Kun Hong perlahan-lahan mendekati pintu kamar nya, dia telah membukanya dan mengintai keluar dengan membuka sedikit daun pintu kamarnya.

Dugaan Kun Hong memang tidak meleset, karena dilihatnya wanita sinting itu tengah meng usap-usap muka seorang pelayan yang tertawa lucu mempermainkan wanita sinting itu, diiringi oleh suara ramai dari pelayan-pelayan lainnya maupun pengunjung rumah penginapan tersebut. Disaat itu Kun Hong melihat ada seorang pelayan yang tengah mendatangi kearah kamarnya dengan membawa satu baskom dan handuk. Dan pelayan itu mengetuk kamar Kun Hong. Pemuda itu dengan cepat membuka pintu kamarnya. „Siapa wanita sinting itu tanya Kun Hong setelah pelayan itu meletakkan tempat air mencuci muka diatas meja. “Wanita gila anak, Kongcu.” menyahut pelayan itu. „Nasibnya memang harus dikasihani, karena semula dia adalah seorang nyonya kaya raya, pandai silat, namun suatu malam rumahnya didatangi perampok yang telah membunuh suaminya dan puteranya, sehingga dia menjadi gila, dan justru selalu gila akan anak yang cakap anak yang manis……”

Kun Hong mengangguk tidak tertarik untuk mendengari terus cerita pelayan itu. Setelah pelayan itu keluar dari kamarnya Kun Hong mengunci pintu kamarnya kembali. Untuk segera mencuci muka dia masih malas, maka dia telah rebah dipembaringannya tanpa memperdulikan lagi suara tertawa wanita sinting itu karena wanita itu memang benar-benar seorang wanita gila. Dengan dia berada dikamar dan pintu terkunci, bukankah berarti dia aman dari gangguan wanita sinting dan mesum itu. Tetapi, tiba-tiba mata Kun Hong jadi terpentang lebar-lebar dan mengeluarkan seruan tertahan. Ada suatu yang luar biasa telah dilihatnya. Seraut wajah yarg menyeringai dengan gigi yang kuning dan muka yang kotor serta rambut yang riap-riapan, tengah memandangi dia lewat jendela kamarnya. Wanita sinting itu! Dengan gusar Kun Hong telah melompat dari pembaringannya, dia telah mundur akan lari lewat pintu kamarnya. „Anak manis, mengapa kau takut bertemu dengan ibumu?” tegur wanita sinting itu yang memang berdiri diluar jendela kamar Kun Hong. Munculnya wanita sinting itu yang demikian tiba-tiba benar-benar membuat Kun Hong jadi kaget dan ketakutan, takut diusap dan dipeluk lagi…..

Cepat sekali Kun Hong menyambar pintunya tetapi disaat itu dengan gerakan yang ringan sekali, wanita sinting itu telah melompat lewat jendela kamarnya. Dalam sekejap mata dengan, kegesitan yang luar biasa tahu-tahu dia telah berada didepan Kun Hong. sehingga pemuda she Cu itu mengeluarkan seruan kaget dan tangan kanannya telah mendorong sekuat-kuatnya dengan mempergunakan tenaga lwekangnya.
Namun wanita sinting, itu tidak mengelak, dan tangan Kun Hong meluncur terus. Tetapi justru, disaat itulah Kun Hong yang jadi kaget sendirinya, karena jika serangannya itu diterus kan dan wanita itu tidak berkelit, berarti dada wanita sinting akan didorong oleh tangannya. Itulah yang tidak dikehendaki oleh Kun Hong, maka dengan cepat dia telah menarik pulang tenaga dan tangannya. Wanita sinting itu justru tidak memperdulikan sikap Kun Hong, dia telah mengulurkan tangannya mencekal lengan Kun Hong, katanya „Anak, engkau jangan takut, ibu tidak akan mengganggumu Tubuh Kun Hong menggidik. Biasanya, walaupun harus menghadapi jago yang bagaimana hebat sekalipun kepandaiannya Kun Hong tidak pernah merasa takut namun justru terhadap wanita sinting ini, mengingat wanita itu memang gila, dia jadi takut, ngeri dan gugup disamping jijik sekali… “Anak…..tidakkah kau merasakan penderitaan ibu? Mengapa kau begitu kejam ingin meninggalkan ibu?” tegur wanita itu lagi, suaranya halus. Hati Kun Hong jadi luluh dia tidak tega untuk meronta, akhirnya dia menyahuti; „Tetapi aku bukan anakmu….” „Jangan berkata begitu anakku…. jangan kau lukai pula hati ibu,” berkata wanita sinting itu cepat. Dan setelah itu, wanita sinting tersebut besenandung dengan suara penuh kasih sayang, seperti juga tengah menina bobokan anaknya, senandungnya itu antara lain :
Kain sutera merah,
Pasangan Wanyoh (walet terbang),
Langit biru tertawa cerah,
Simungil yang menarik hati,
Buah hatiku.
Tumpahan kasih,
Angin membawa bisikan: Tidurlah anakku.
Mengapa kau menangis saja ?
Tidurlah anakku . . .

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s