Sin Tiauw Thian Lam (Jilid : 9)

JILID 9
LO HIM menghela napas. „Dialah ayahku …!!” menyahuti
Lo Him akhirnya dengan wajah yang pucat, tubuhnya
menggigil.
„A….ayahmu?” tanya Siauw Liong Lie tertegun Karena
kaget dan heran.
“Yal” mengangguk Lo Him,
„Jika dia ayahmu, mengapa dia membinasakan ibu dan
isterimu” tanya Siauw Liong Lie lagi.
Untuk sejenak Lo Him tidak menjawab, dia seperti tengah
meng-ingat2 pengalamannya yang telah lalu itu.
Akhirnya setelah menghela napas, dia telah menyahuti;
„Ya, inilah kejadian yang benar2 menyayaykan hati dan
mengesankan sekali……..!
justru yang menjadi musuh besarku adalah, ayahku sendiri-
– ! Hanya disebabkan dia takut malu, maka dia telah
membinasakan isteri dan ibuku —dan jika disaat itu aku tidak
keburu lari, jiwaku juga tidak akan lolos dari kematian!”
„Mengapa begitu ?” tanya Siauw Liong Lie semakin tertarik.

„Karena dia gagal memperkosa isteriku !” menyahuti Lo
Him sambil menunduk.
„Ha ?” teriak Siauw Liong Lie kaget, mukanya sampai
berobah pucat.
Lo Him menunduk dalam2. dia tidak berani menatap mata
Siauw Liong Lie yang saat itu tengah terpentang lebar2,
menatap kearahnya dengan sikap tidak mengerti diliputi
perasaan kaget.
„Dia ingin memperkosa isteriku, tetapi usahanya itu gagal,
karena ibuku kebetulan memergokinya ….sehingga ayahku
jadi nekad, dia takut menderita malu, dia merencanakan
pembunuhan yang kejam seperti itu -—”.
„Akhh, mungkinkah ada manusia sebejat itu !”
menggumam Siauw Liong Lie.
“Tetapi justeru aku telah mengalami sendiri, yang telah
membuat aku jadi putus asa dan tidak memiliki gairah untuk
menempuh hidup pula …. justru aku yang telah melihat dan
menyaksikan kebiadaban seperti itu……! Tetapi aku memang
manusia terkutuk, hanya disebabkan aku tidak bertindak
tegas, dan memang aku seorang pengecut akhirnya urusan
yang menyedih kan dan mendukakan hati harus terjadi”!
Siauw Liong Lie hanya diam mengawasi saja. dia melihat
butir2 air mata menitik turun dipipi Lo Him.
Hati nyonya Yo jadi ikut terharu, dia bisa merasakan
kedukaan hati Lo Him.
„Dan disaat itu, ayahku juga telah berusaha membinasakan
diriku, dia telah mencariku kesegala penjuru, namun usahanya
itu tidak berhasil ! Aku telah menyembunyikan diri dengan
ketakutan yang hebat, karena aku mengetahui walaupun
bagaimana aku tidak bisa melawan ilmu silatnya yang telah
sempurna itu ! Itulah kepengecutanku . . yang harus kukutuk
!” berkata Lo Him.

Siauw Liong Lie bertambah bingung, karena Lo Him telah
menceritakan bencana yang menimpa keluarganya itu justru
sepotong2 dan tidaK berujung pangkal. Tetapi dilihat demikian
dan perkataan2nya, mungkin juga Lo Him memang mengalami
peristiwa yang hebat dan mengenaskan sekali………
Siauw Liong Lie jadi mengawasi Lo Him dengan tatapan
mata merasa kasihan.
Tetapi kebetulan sekali disaat itu Lo Him juga memanjang
kearahnya sehingga dia melihat sinar mata Siauw Liong Lie
yang demikian, dia tiba2 telah mendengus dingin, katanya
dengan suara mengandung kegusaran : „Aku tidak perlu
dikasihani, memang nasibku yang terkutuk !”
Dan setelah berkata begitu Lo Him berdiri serta
memandang kearah yang jauh. Wajahnya tidak memantulkan
perasaan apapun juga.
Siauw Liong Lie yang penasaran sekali karena Lo Him tidak
mau menyebut nama ayahnya itu, telah bertanya lagi :
„Siapakah nama ayahmu itu ?” tanya Siauw Liong Lie
kemudian.
Lo Him diam saja, sampai akhirnya dia menghela napas
dan katanya; „Sudahlah itu urusan yang telah lewat tidak
perlu kita membicarakannya lagi.
Dan setelah berkata begitu dia telah melangkah pergi
meninggalkan Siauw Liong Lie yang mengawasi kepergiannya
dengan tatapan mata mengandung tanda tanya dan
keheranan yang sangat.
Sejak hari itu Lo Him tak mau di singgung2 lagi urusannya,
dia hanya lebih mengutamakan memasakan Siauw Liong Lie
obat2an dan juga memanggangkan daging kelinci atau daging
burung untuk nyonya Yo itu makan.
Siauw Liong Lie juga menyadari bahwa Lo Him tidak
gembira jika membicarakan urusan nya itu maka Nyonya Yo

tidak pernah menanyakan lagi walaupun sesungguhnya siauw
Liong Lie masih ingin mengetahui siapakah sesungguhnya
nama ayah dari Lo Him, tetapi nyonya Yo fikir masih ada
waktu dihari mendatang, dia nanti menanyakannya per
lahan2.
Tanpa terasa dua bulan lagi telah lewat, selama itu Siauw
Liong Lie ber-angsur2 mulai sembuh, dan tenaga dalamnya
mulai pulih.
Luka didalam tubuhnya mulai tidak memperlihatkan gejala
apa2 lagi. Hanya yang sering mengganggu adalah sakit
dipinggangnya dengan perut yang semakin membesar itu.
Juga Siauw Liong Lie seringkali merasakan urat2
dipinggangnya seperti ditarik, jika bayi didalam kandungannya
bergerak mengganti kedudukan…..
Selama berada didalam lembah itu, Siauw Liong Lie merasa
kesepian sekali
Jika dulu, dimana dia berdiam didalam kuburan Mayat
Hidup, dia bisa hidup didalam ketenangan karena memang
merupakan intisari dari pelajaran yang diterima dari gurunya.
Dan juga waktu berpisahan dengan Yo Ko selama enam
belas tahun dia masih bisa hidup dengan tenang ditempat
sunyi dibawah jurang, walaupun disaat itu seringkali dia
diliputi kedukaan.
Tetapi sekarang ini disaat dia tengah mengandung, justru
dia membutuhkan sekali Yo Ko berada disampingnya, dengan
sendirinya pula diapun sangat merindukan Yo Ko.
Tetapi untuk menghibur hatinya, Siauw Liong Lie sering
ber-main2 dengan macan tutul peliharaan Lo Him. Siauw
Liong Lie memberikan nama Sin Kim (Emas Sakti) kepada
macan tutul itu yang seringkah mengajaknya ber-putar2
dilembah itu. dengan Siauw Liong Lie duduk di punggungnya.

Begitu pula Sintauw, sering mengajak Siauw Liong Lie
dengan kelakarnya, yaitu dia sering kali terbang me-nyambar2
dengan gerakan seperti menari2 bagaikan rajawali tersebut
mengetahui bahwa nyonya majikannya ini tengah dalam
kesepian yang sangat.
Memang Sintiauw sengaja tidak terbang meninggalkan
lembah itu, sebab dia kuatirkan Siauw Liong Lie akan
mengalami ancaman bahaya yang tidak diduga, maka dia
terus menemaninya jika memang Siauw Liong Lie terancam
sesuatu tentu dia bisa segera memberikan pertolongan
segera.
Hari demi hari telah lewat dengan cepat, dan akhirnya
tanpa terasa kandungan Siauw Liong Lie telah memasuki
bulan yang kesembilan.
Dan nyonya Yo ini hanya tinggal menunggu hari dari
kehadiran anaknya tersebut.
Tetapi akhir2 ini Siauw Liong Lie merasakan napasnya lebih
pendek dari sebelumnya, dia pun lebih cepat lelah. Sedangkan
Lo Him sendiri kini lebih memperhatikan keperluannya, bahkan
memberikan daging kelinci bakar dalam jumlah yang lebih
banyak untuk memupuk tenaga.
Juga Lo Him sering menanyakan kepada Siauw Liong Lie,
apakah dia membutuhkan sesuatu, yang pasti akan dituruti
oleh Lo Him.
Namun Siauw Liong Lie selalu mengatakan dengan
menerima perlayanan yang demikian baik dari Lo Him, dia
sudah berterima kasih sekali dan juga berjanji tidak akan
melupakan budi dan kebaikan penolongnya.
„Jangan kau berpikir yang tidak2, yang terpenting kini kau
harus bersikap tenang dan tabah menghadapi kelahiran
anakmu, agar kalian ibu dan anak selamat —- !” Kata Lo Him
sambil tersenyum.

Hari yang di-nanti2kan itupun tibalah…,.
Sejak pagi hari, disaat fajar mulai menyingsing Siauw Liong
Lie merasakan perutnya sakit bukan main, dia merintih tidak
hentinya.
Sedangkan Lo Him jadi kebingungan tidak keruan, dia jalan
mundar-mandir diluar rumah kayu yang sederhana itu.
Sedangkan Sin Kim dan Sintiauw masing2 berdiam dimuka
rumah itu, yang satu dipinggir kanan, sedangkan Sintiauw
dipinggir kiri.
Siauw Liong Lie merasakan perutnya bagaikan di-aduk2,
sakitnya luar biasa. Keringat juga membanjir keluar.
Bagaimana hebatnya lwekangnya, tenaga dalamnya, didetik2
seperti itu percuma saja tidak bisa dipergunakannya.
Dan akhirnya Siauw Liong Lie merasakan parutnya seperti
ringan dan mendadak lapang, dia juga merasakan napasnya
agak lapang, disusul dengan suara tangis bayi yang keras dan
lantang.
Sambil bangun duduk per-lahan2 Siauw Liong Lie telah
melihat, betapa didekat kakinya menggeletak seorang bayi
yang putih dan manis yang tengah menangis mengeyak2
nyaring sekali.
sekaliTidak hentinya Siauw Liong Lie mengucap syukur dan
segera dia mengangkat bayi itu, dia menggigit tali pusarnya
dan kemudian merangkul sibayi dengan perasaan bahagia
sekali. Dua butir air mata tanpa dirasakannya telah menitik
turun. Kebahagiaan itu me-luap2 ketika dia mengetahui bahwa
bayi itu seorang bayi lelaki …… seorang putera…
Lo Him yang menunggu gelisah diluar rumah ketika
mendengar tangis bayi itu, jadi melompat berjingkrakan tidak
hentinya.
Tetapi tiba2 Lo Him teringat sesuatu, dia jadi tertegun.

“akhh. lelaki atau perempuan ?” gumamnya dengan suara
perlahan.
Dan dia jadi tegang sendirinya, sedangkan suara tangis
bayi itu masih terdengar nyaring dan lantang.
Sintiauw juga tampaknya girang sekali waktu mendengar
suara tangis bayi itu, dia telah terbang keudara dan berulang
kali mendengarkan suara pekikannya, tampaknya diapun ikut
girang bahwa sang bayi telah lahir.
Sedangkan Sin Kim berulang kali mengeluarkan suara
mengerang perlahan. menunjukkan kegembiraannya juga.
Lo Him berjingkat mendekati pintu rumah, dia kemudian
bertanya dengan suara serak ; „Perempuan …. atau lelaki ?”
dan waktu bertanya begitu, Lo Him merasakan ketegangan
yang sangat, jantungnya juga berdebar keras.
„Lelaki….!” menyahuti Siauw Liong Lie disertai suara
tertawa bahagianya.
„Ha !” untuk sejenak sepasang mata Lo Him terpentang
lebar2, dan ketika dia telah kembali kesadarannya, tahu2 dia
mengeluarkan suara teriakan yang nyaring melompat ber
guling2 di tanah sambil mengeluarkan teriakan2 gembira.
Tetapi tidak lama kemudian dia telah menangis sambil duduk
dan tubuhnya gemetar.
„Ohhhh Thian rupanya telah memenuhi permitaanku !
Syukur ! Syukur !” teriaknya keras.
Begitulah, kehadiran bayi tersebut dengan kegembiraan
yang sangat oleh semua penghuni lembah tersebut.
Tiba2 Lo Him mendengar Siauw Long Lie memanggilnya,
lelaki kasar ini ragu2 sejenak, dia menghampiri pintu dan
kemudian berdiri tertegun disitu sesaat lamanya.
„Him-heng ?” terdengar Siauw Liong Lie memanggil lagi.
„Aku ada disini !” menyahuti Lo Him.

„Masuklah !” kata Siauw Liong Lie.
„Sudah beres ?” tanya Lo Him canggung.
„Semuanya sudah dibereskan !” menyahuti Siauw Liong Lie
disertai oleh suara tertawanya.
Lo Him mendorong pintu dan melangkah masuk. Dia
melihat Siauw Liong Lie tengah duduk setengah rebah disudut
pembaringan rumput nya dan tengah menggendong bayinya.
„akhh !” berseru Lo Him waktu melihat, raut wajah bayi itu
yang tampan putih. „Anak yang manis ! Anak yang manis !”.
„Him-heng, karena kau telah meminta untuk mengangkat
anak ini sebagai putera angkatmu, maka silahkan kau
memilihkan nama yang baik untuknya !”.
Lo Him jadi kelabakan, dia berpikir keras. Tetapi akhirnya
d:a bertanya. „Ayahnya she apa?” “she Yo!”
“Bagaimana kalau aku memberi nama Him ?” tanyanya.
“Ihhh, itu tokh namamu sendiri?” tanya Siauw Liong Lie
tertawa. „Apakah kau ingin mempersamakan namanya dengan
namamu?”
„Bukan begitu! Bukan begitu!” kata Lo Him cepat.
„Walaupun dia telah menjadi anak angkatku, tetapi
……tetapi…” dan Lo Him tidak meneruskan perkataannya lagi.
„Kenapa?” tanya Siauw Liong Lie yang heran melihat sikap
Lo Him.
„Bukankah setelah lewat empat puluh hari kau akan
meninggalkan lembah ini, dan berarti anak itu … anak itu akan
ikut bersama kau ? Nah, nama Him itu kelak akan
mengingatkan-nya kepadaku. Mudah2an saja kelak jika dia
telah dewasa, dia bisa teringat kepada ayah angkat nya dan
datang menjenguk kemari”

„Oohh, itu sudah jelas”, kata Siauw Liong Lie tertawa.
„Walaupun tanpa menanti dewasa kami, ayah ibunya, tentu
akan sering2 menjenguk kau, Him Toako !” dan Siauw Liong
Lie telah berobah sebutan “heng” (saudara) dengan perkataan
“Toako” (kakak).
Bukan main girangnya Lo Him, dia sampai berjingkrak.
„Huss ! Jangan ribut Him Toako, nanti si Him kecil ini kaget
oleh tingkahmu itu!,, Siauw Liong Lie memperingati sikap dari
si Biruang Tua yang tengah kegirangan itu.
Lo Him tertegun, namun cepat sekali dia me-nepuk2
kepalanya
„Memang aku tidak tahu diri, nanti si Him kecil kaget
disebabkan aku . . . !”
Dan Lo Him telah pergi keluar, cepat2 dia pergi mencari
buah2an dan kelinci, untuk dibakar dagingnya.
HARl2 lewat dengan cepat sekali, tanpa terasa telah empat
puluh hari.
Siauw Liong Lie menyampaikan kepada Lo Him bahwa
besok dia bersama anaknya akan meninggalkan lembah itu,
untuk mencari Yo Ko, ayah dari anaknya itu.
Lo Him jadi duduk termenung, sampai akhirnya setelah
Siauw Liong Lie menghiburnya bahwa dia bersama suaminya
akan sering2 mengajak si Him kecil itu menjenguki Lo Him,
barulah Lo Him mengangguk sambil katanya dengan sikap
yang tetap lesu. „Biarlah hari ini aku akan menangkap dua
ekor kelinci, aku akan menjamu kau, anggap saja sebagai
pesta perpisahan —”.
Siauw Liong Lie terharu melihat Lo Him, hampir saja Siauw
Liong Lie menitikkan air mata. Namun karena dia menyadari

kalau menangis akan menambah kesedihan Lo Him, sehingga
Siauw Liong Lie tertawa.
Memang Lo Him pergi tidak lama, dia telah berhasil
membawa dua ekor kelinci buruannya yang tadi dijanjikan.
Dibakarnya kedua ekor kelinci itu untuk menjamu Siauw Liong
Lie.
Bukan main perasaan terima kasih dihati Siauw Liong Lie
atas kebaikan tuan penolongnya ini.
Malam itu Siauw Liong Lie tidur dengan nyenyak sekali
disamping bayinya.
Tetapi berbeda dengan Siauw Liong Lie justru Lo Him yang
akan mengalami perpisahan dengan anak angkatnya, dan
nanti juga akan hidup sendiri pula dilembah itu menderita
kesepian, dengan sendirinya dia jadi gelisah dan tidak bisa
tidur, Akhirnya menjelang tengah malam Lo Him telah keluar
dari goanya.
Dengan hati yang berduka, dia telah berjalan perlahan2
mendatangi rembulan yang memancarkan cahayanya yarg
terang tergantung dilangit.
Akhirnya, dia duduk bengong disebuah batu gunung yang
agak menonjol letaknya.
Disaat Lo Him sedang duduk terpekur begitu, tiba2 dia
mendengar suara berkeresek.
Menyusul mana Sin Kim. macan tutul yang menjadi
sahabatnya, yang saat itu tengah rebah tidur digoanya
melompat bangun.
Lo Him dan macan tutul itu telah saling pandang sejenak,
kemudian Lo Him mengangguk, membenarkan bahwa ada
orang yang berkeliaran didalam lembah itu.

Dengan gesit Lo Him melompat Kebalik batu gunung itu
untuk menyembunyikan diri. sedangkan Sin Kim, simacan tutul
itu telah masuk kedalam goa.
Keadaan sunyi sekali, tidak terdengar sesuatu apapun juga
selain angin yang tengah mempermainkan daun2 pohon
dengan hembusannya yang lembut.
Lo Him telah memasang mata dengan sinarnya yang
bengis, karena dia menduga bahwa orang yang tengah
berkeliaran dilembahnya ini adalah orang2 yang tidak
bermaksud baik. Didengar dari suara langkah kakinya, Lo Him
meng hitungnya orang yang tengah mendatangi kemulut
lembah berjumlah empat orang.
„Siapa mereka ?” berpikir Lo Him dengan gelisah, karena
itu dia segera menguatirkan ke selamatan Yo Him, si Him kecil
yang menjadi anak angkatnya.
Dia mendengar suara langkah kaki keempat orang yang
tengah mendatangi itu ringan sekali, hampir tidak terdengar,
suara berkeresek itupun sama halusnya seperti suara angin
yang menghembus daun2 pohon.
Tetapi telinga Lo Him yang terlatih dan tajam bukan main
telah mendengarnya dengan jelas, terlebih lagi Sin Kim yang
memiliki penciuman sangat tajam.
Keduanya seorang manusia dan seekor macan tutul, bersiap2
untuk menyambut kedatangan “tamu” tidak diundang
tersebut.
Menanti tidak lama. dari arah mulut lembah tampak
melangkah mendatangi empat sosok tubuh dengan gerakan
yang ringan sekali.
Keempat tubuh itu, yang semuanya lelaki telah berhenti
dan berbisik2.
Malah Lo Him mendengar antara lain perkataan , „Dia
menghilang disekitar tempat ini… dan kita harus mencarinya

terus! Sejak tadi ku lihat bahwa disekitar tempat ini ada
kehidupan pasti lembah ini memiliki penghuninya…”
Hati Lo Him tergoncang, entah siapa orang yang dicari oleh
keempat “tamu” tidak diundang tersebut?
Tetapi Lo Him tidak mau terlalu lama berpikir, dia telah
mengawasi dengan ber-siap2 kalau saja keempat orang itu
menghampiri lebih jauh dan melihat rumah kayu yang
dibangunnya, yang didiami oleh Siauw Liong Lie dan Yo Him,
maka disaat itulah Lo Him akan segera keluar untuk
melancarkan serangan.
„Apakah kau yakin dia belum meninggalkan tempat ini ?”
tanya salah seorang lainnya.
„Hemm — dia tengah hamil, dan mungkin bulan ini
perutnya tengah besar2nya. Kita tawan dan usahakan jangan
sampai dia bisa meloloskan diri pula…”.
Dan baru saja orang itu berkata demikian tiba2 kawannya
yang lain telah menunjuk.
„Lihat ! Ada rumah !” berseru orang itu dengan suara
gembira.
Hati Lo Him jadi tambah tegang sendirinya. Dia mengawasi
lebih tajam.
Dilihatnya keempat oraug itu telah melangkah menghampiri
rumah kayu dimana didalamnya berada Siauw Liong Lie dan
Yo Him.
Ketika keempat orang itu baru melangkah lima tindak, Lo
Him sudah tidak bisa menahan hatinya lagi, dengan cepat dia
telah mengeluarkan suara seruan keras, tubuhnya tahu2
melompat keluar, menghadang dihadapan keempat orang
itu.
„Berhenti!” bentaknya bengis. „Apa yang ingin kalian
lakvkan ditempatku ini?”

Keempat orang itu jadi terkejut, tetapi setelah melihat
orang yang menegur mereka seperti „orang hutan”, mereka
jadi tertawa.
Karena jarak mereka sudah dekat, dibawahi sinarnya
rembulan Lo Him bisa melihat diantara keempat orang itu
terdapat seorang Lhama merah dua orang berpakaian sebagai
guru silat, dan seorang pendeta Mongolia yang bertubuh
tinggi besar bermuka kejam.
Mereka telah membalas memandang Lo Him, dengan suara
mengejek Lhama itu telah menegur „Engkaukah yang menjadi
penghuni lembah ini?”
„Tepat !” menyahuti Lo Him dengan ketus
„Hmmmmm, apakah engkau pernah melihat seorang
wanita cantik yang tengah hamil dan seekor burung rajawali
berukuran besar enam atau tujuh bulan yang lalu?” tanya
Lhama itu lagi.
„Kalau melihat bagaimana dan kali tidak bagaimana ?”
tanya Lo Him dengan mendongkol karena dia melihat keempat
tamu tidak diundang ini angkuh sekali.
„Ihh ?” berseru Lhama itu kaget. Tetapi kemudian dia jadi
marah. „Engkau kurang ajar sekali. Tahukah engkau siapa
kami ?”.
“Aku tidak perlu tahu !” berseru Lo Him. Mendengar
jawaban Lo Him, rupanya Lhama itu jadi meluap darahnya.
„Aku Chiluon selamanya belum pernah bertemu dengan
manusia kurang ajar seperti kau rupanya engkau perlu dihajar
agar dilain waktu tahu menghormati orang !” dan setelah
berkata begitu, Lhama tersebut maju selanjutnya dia
mengulurkan tangannya dengan maksud akan mencengkeram
bahu Lo Him, yang niatnya untuk dibanting.
Tetapi Lo Him dengan mudah menggerakkan bahunya,
sehingga cengkeraman Lhama itu lolos.

„Ihh !” Lhama itu, Chiuluon , jadi mengeluarkan seruan
kaget.
Tetapi tidak lama, sebab dengan mengeluarkan seruan
mengguntur, dia mengulangi mengulur tangannya.
Kali ini berbeda dengan tadi. Jika tadi Chiuluon
melancarkan serangan dengan seenaknya saja, karena dia
menduga lawannya tidak memiliki kepandaian apa2. Namun
sekarang setelah dia mencela begitu, dia melancarkan
cengkeraman selain cepat juga disertai oleh kekuatan tenaga
lwekang yang hebat sekali.
Angin cengkeraman itupun telah menyambar datang
sebelum jari2 tangan Chiuluon tiba, sehingga Lo Him juga
terkejut dan tidak berani memandang enteng terhadap
serangan tersebut, maka dari itu dengan cepat dia telah
melompat untuk mengelakkan diri.
Namun Chiuluon yang telah mengetahui bahwa Lo Him
memiliki kepandaian yang tinggi, telah melancarkan serangan
yang tidak main2 lagi setiap serangannya selain cepat juga
mengandung tenaga serangan yang bisa mematikan.
Maka dari itu tidak mengherankan jika serangan itupun
telah mengejutkan Lo Him, yang cepat2 telah bersilat dengan
gerakan2 yang gesit sekali, diapun telah memusatkan tenaga
sakti dikedua telapak tangannya.
Latihan lwekang yang dimiliki Lo Him ini bukan
sembarangan tenaga dalam, angin serangannya men deru2
dengan hebat sekali, sehingga membuat Chiluon terkejut
bukan main dan telah menambah tenaga serangannya.
Begitu pula dengan ketiga orang kawannya, yang
memandang dengan tatapan mata heran, karena mereka tidak
menyangka ditempat seperti ini mereka bisa bertemu dengan
orang yang berkepandaian tinggi seperti Lo Him. Dalam
sekejap mata saja telah dua puluh jurus mereka bertanding.

Pendeta Mongolia itu tidak lain Tiat To Hoat-ong. Dia yang
mengajak ketiga kawannya itu, karena Chiluon memiliki
kepandaian yang tinggi sekali, hanya berada setingkat
dibawah-nya, dan juga kedua orang sahabatnya yang
berpakaian sebagai busu, guru silat itu, merupakan pengawal2
pribadi Kaisar Kublai Khan, adalah pengawal kelas satu dalam
istana. Keduanya masing2 bernama Turkichi dan Talengkie.
Jika Turkichi memiliki kepandaian mencengkeram yang
dahsyat sekali, yang sekali mencengKeram dapat
menghancurkan batu dan baja, karena kesepuluh jari
tangannya itu telah dilatih dengan sempurna sekali. Ilmu
cengkeram yang dimiliki Turkichi mirip2 dengan ilmu
mencengkeram „Kiu Im Pek Kut Jiauw (Cengkeraman Tulang
Putih) yang pernah dilatih Bwee Tiauw Hong. Maka dari itu
bisa dibayangkan betapa hebatnya ilmu cengkeram yang
dimiliki Turkichi.
Sedangkan Talengkie juga memiliki ilmu Siang to (
sepasang golok ) yang luar biasa, sekali tabas dapat
merubuhkan belasan lawan. Di negerinya, Mongol, dia
merupakan pahlawan istana raja kelas satu yang disegani.
Dengan mengajak ketiga orang kawannya itu,
sesungguhnya Tiat To Hoat-ong bermaksud mencari Siauw
Liong Lie, Dia yakin Siauw Liong Lie masih berada disekitar
tempat tersebut, dan terlebih pula memang Siauw Liong Lie
tengah hamil, dengan mudah pasti akan dapat dicarinya.
Umpama kata Siauw Liong Lie telah pergi meninggalkan
tempat tersebut, tentu mereka bisa mengikuti jejaknya.
Tiat To Hoat-ong juga merasa yakin bahwa dia telah
berhasil melukai Siauw Liong Lie dengan pukulannya yang
dahsyat, se-tidak2nya Siauw Liong Lie tentunya telah terluka
berat.

Tetapi begitu jauh, dia masih belum berhasil menemuinya,
bahkan mereka telah memasuki lembah dan bertemu dengan
Lo Him.
Disaat itu, dikala Lo Him tengah didesak hebat sekali oleh si
Lhama Chiuluon, tiba2 dari dalam sebuah goa terdengar suara
mengereng yang menggetarkan lembah itu.
Dengan cepat Tiat To Hoat ong menoleh, dan mereka,
sipendeta dengan kedua kawannya melihat sesosok bayangan
panjang yang menerjang kearah mereka.
Tiat To Hoat ong mengerutkan alisnya, dia mengibaskan
lengan bajunya.
Serangkum angin serangan yang kuat sekali menghantam
keras kearah sosok bayangan tajam yang panjang itu.
Seketika itu juga sosok bayangan tersebut telah terpental
dan bergulingan ditanah sambil mengeluarkan suara meraung
yang keras sekali.
Ternyata sosok bayangan itu tidak lain dari simacan tutul
Sin Kim.
Akibat kibasan lengan baju Tiat To Hoat-ong dia telah
terlempar dan terguling hebat, namun cepat sekali dia telah
melompat bangun dan menerkam lagi kearah sipendeta.
Turkichi melihat itu segera mewakili Tiat To Hoat ong
menyambuti serangan yang dilancarkan oleh macan tutul
tersebut, dia mengulurkan kedua tangannya dan “ceppp”
kesepuluh jari tangannya telah menancap diperut macan itu
dalam2, sehingga Sin Kim meraung dan telah mencakar dan
menggigit kearah depan sekenanya.
Tetapi Turkichi menggeser kedua kakinya, tubuhnya
dimiringkan sehingga dia berhasil mengelakkannya dan tidak
kena dicakar dan digigit oleh macan tutul itu.

Setelah mengeluarkan suara raungan yang keras, akhirnya
tubuh Sin Kim rubuh tidak bergerak lagi. Putus napasnya
Sin Kim telah mati dan mitra kematiannya itu menggema
dilembah tersebut sedangkan Turkichi telah menyusut darah
dikesepuluh jari tangannya sambil memperlihatkan sikap yang
sangat angkuh.
Suara raungan Sin Kim. yang merupakan raung kematian.
telah mengejutkan Lo Him. Dia menoleh dengan muka pucat
dan tubuhnya menggigil melihat nasib macan tutulnya itu,
Disaat itulah walaupun hanya beberapa detik saja, telah
dipergunakan oleh Chiluon dengan sebaik mungkin, dia telah
menghantam kearah dada Lo Him sehingga tubuh Lo Him
terpental akibat serangan yang tepat itu.
Disaat tubuh Lo Him terpental begitu, Sauw Liong Lie baru
keluar dari rumah kayu itu, karena dia mendengar suara
meraung dari Sin Kim yang keras sekali.
Betapa terkejutnya Siauw Liong Lie, dia keluar sambil
menggendong anaknya, Yo Him, dan tangannya gemetar
waktu melihat keadaan Lo Him yang menggeletak ditanah
sambil memuntahkan darah segar dan juga Sin Kim
yang telah binasa dengan keadaan yang mengenaskan,
dengan perutnya yang berlobang berlumuran darah.
Disaat itu juga Siauw Liong Lie telah melihat diantara
empat orang yang tengah berdiri dengan sikap yang angkuh
itu, terdapat Tiat To Hoat-ong
Dengan gusar Siauw Liong Lie membuka ikat pinggangnya,
tubuhnya dengan ringan telah melompat menerjang sambil
memutar ikat pinggangnya.
„Dia orangnya!” berseru Tiat To Hoat ong dengan girang.
„Tangkap, jangan biarkan dia lolos.”
Dan Tiat To Hoat ong bukan hanya berteriak belaka, karena
dia telah melompat dan mendahului untuk menyerang. Hebat

sekali terjangannya karena dia telah melancarkan serangan
yang dahsyat.
Siauw Liong Lie tidak jeri terhadap siapa pun juga, dia
hanya merasa kuatir kalau2 sipendeta nanti mempergunakan
tabung gasnya.
Turkichi dan Talengkie juga telah melompat sambil
melancarkan serangan, Talengkie telah mencabut sepasang
senjata goloknya yang bentuknya aneh panjang bergigi, dia
melancarkan serangan dengan hebat sekali.
Chiluon juga telah mengeluarkan suara bentakan, ikut
melancarkan serangan Kepada Siauw Liong Lie.
Nyonya Yo Ko merasakan serangan datang ber tubi2 dan
hebat sekali.
Dia memutar ikat pinggangnya, tetapi tenaganya belum
pulih keseluruhannya, dia baru saja melahirkan dan dengan
sendirinya menghadapi serangan keempat lawannya yang
masing2 memiliki kepandaian yang demikian tinggi Siauw
Liong Lie jadi terdesak juga.
Diam2 Siauw Liong Lie mengeluh dia melihat Lo Him
terluka parah dan tidak bisa berdiri, hanya mengerang2
kesakitan karena luka yang dideritanya bukan main hebat.
Tiat-To-Hoat-Ong girang sekali sebab dia yakin Siauw Liong
Lie akan dapat ditawannya kembali. Sekali2 sipendeta Mongol
itu telah memandang sekelilingnya, dia melihat kalau Sin-tiauw
pun berada disekitar tempat itu, tetapi nyatanya bayangan
burung rajawali itu tidak berada ditempat keadaan tersebut
sehingga sipendeta ber-tanya2, entah kemana perginya
burung rajawali yang sakti itu. Keringat dingin mulai menitik
deras ditubuh Siauw Liong Lie.
Dia hanya bisa bertempur dengan mempergunakan tangan
kanan belaka, karena tangan kirinya tengah menggendong
anaknya. Sehingga kegesitan Siauw Liong Lie juga berkurang

akibat perhatiannya yang terpecah, sebab walaupun
bagaimana dia kuatir kalau2 anaknya nanti terluka.
Tiat To Hoat ong yang licik telah dapat melihat kekuatiran
nyonya Yo itu.
Dengan cepat dia telah merobah cara ber tempurnya. Hoatong
ini telah membiarkan kawan2nya mendesak sinyonya,
sedangkan dia sendiri berulang kali telah melancarkan
serangan yang dahsyat, ditujukan kepada anaknya sinyonya
yang berada dalam gendongan.
Tentu saja hal itu membuat Siauw Liong Lie jadi panik, dia
memang tengah mempergunakan ilmu silat Giok Lie Kiamhoat.
ilmu silat bidadari, dan dia mempergunakan ikat
pinggangnya sebagai pengganti pedang, dengan sendirinya
gerak-geriknya tidak leluasa.
Dan kini disaat Tiat To Hoat ong melancarkan serangan
yang ber-tubi2 kearah anaknya keruan saja membuat dia jadi
tambah sibuk.
Berulang kali Siauw Liong Lie telah berusaha bersiul
nyaring, memanggil Sin Tiauw tetapi burung itu tidak juga
terlihat.
Saat itu desakan keempat lawannya semakin lama jadi
semakin hebat, dan yang menguatirkan Siauw Liong Lie
justeru disaat itu Tiat To Hoat-ong telah beberapa kali
berusaha merogoh sakunya.
Siauw Liong Lie bisa menduga bahwa pendeta Mongol ini
tentu ingin mengambil tabung gas nya.
Mati2an Siauw Liong Lie menghantam kan ikat
pinggangnya, yang sebentar lunak dan sebentar keras dia
melancarkan serangan yang dahsyat sekali. Hal itu agar
mencegah sipendeta mengambil tabung gasnya itu.

Kenyataan seperti itu tentu saja membuat Tiat ToHoat ong
jadi mendongkol.
Dia telah memperhebat serangannya. Suatu kali, terdengar
jeritan Siauw Liong Lie, karena bahu kanannya telah kena
dicengkeram oleh Turkichi, sehingga mengucurkan darah.
Dan golok Talengkie juga telah berhasil melukai lengan
nyonya itu. Setelah lewat empat jurus lagi, lengan kirinya juga
telah dilukai.
Melihat keadaan demikian, seketika itu juga Siauw Liong Lie
menyadari bahwa dia tidak mungkin dapat menghadapi
lawan2nya itu dengan keadaan demikian, karena walaupun
terlambat, tetapi dirinya akan dirubuhkan. Terlebih lagi jika
sipendeta telah mempergunakan tabung gasnya.
Maka dengan cepat dia telah memutar ikat pinggangnya
dengan mengerahkan tenaganya, sehingga memaksa keempat
lawannya melompat mundur.
Disaat itulah Siauw Liong Lie menjejakkan kakinya
tubuhnya telah melambung keudara, dan dengan
mengerahkan seluruh kekuatannya dia lari dengan
mempergunakan ilmu meringankan tubuh untuk meninggalkan
tempat itu.
„Kejar?” teriaknya Tiat To Hoat-ong dengan gusar.
Keempat orang itu segera juga melakukan pengejaran.
Bahkan Talangkie telah menggerakan tangan kanannya.
„Serrr. serrr,” dua sinar hijau telah menyambar kearah
Siauw Liong Lie.
Tetapi nyonya itu telah berhasil mengelakan dua serangan
paku beracun yang dilontarkan lawannya.
Karena berkelit begitu, maka Siauw Lion Lie jadi terlambat
dalam gerakannya.

Sehingga keempat lawannya telah menyusul kian dekat
saja.
Tetapi dengan mengerahkan seluruh kekuatan yang ada
padanya Siauw Liong Lie telah berlari pula, dia telah berusaha
untuk meninggalkan keempat lawannya itu. sebab walaupun
bagaimana Siauw Liong Lie berusaha untuk menyelamatkan
bayinya,
Karena tergoncang2, bayi yang semulanya tengah tertidur
nyenyak itu jadi tersentak bangun dan menangis. Suara
tangisannya itu telah mengema disekitar lembah tersebut.
Dikejauhan segera terdengar suara pekik yang nyaring, dan
sebuah titik hitam tampak mendekati kearahnya.
Siauw Liong Lie jadi girang, semangatnya jadi terbangun,
dia telah mengempos kekuatannya dan berusaha berlari
lebih cepat lagi.
Suara pekikan itu adalah suara pekikan Sin Tiauw. Jika
memang rajawali sakti itu berada di tempat tersebut, tentu si
bayi dapat diselamatkan
Sintiauw rupanya tadi tengah ber keliling2 disekitar Kun
Lun. Burung ini mengetahui bahwa besok dia bersama Siauw
Liong Lie akan meninggalkan tempat tersebut, dia bermaksud
megelilingnya untuk melihat terakhir kalinya.
Dan suara tangisan sibayi itulah yang telah didengarnya,
maka cepat2 Sintiauw telah terbang menghampiri dengan
tergesa. Waktu tiba didekat tempat Siauw Liong Lie berada,
Tiat To Hoat-ong yang melihat burung rajawali itu, telah
mempercepat dia mengeluarkan tabung gasnya.
Gerakan sipendeta telah dilihat oleh Siauw Liong Lie. dia
tlba2 berseru : „Terimalah Tiauwheng !”
Sambil berseru dia melontarkan bayinya. Rajawali sakti itu
seperti mengerti, dia mencengkeram hati2 pembalut tubuh
sibayi, dan kemudian dibawanya terbang tinggi sekali.

Dengan berhasilnya diselamatkan bayinya Siauw Liong Lie
jadi tenang, disamping itu dia pun bisa bergerak lebih leluasa
dan dapat mencurahkan seluruh perhatiannya untuk
menghadapi lawan2 itu.
Waktu tiba dihadapan Siauw Liong Lie, Tiat To Hoat ong
tengah gusar dan mendongkol karena dia melihat bayi Siauw
Liong Lie telah dapat diselamatkan oleh rajawali itu. Karena
mendongkolnya dia telah menyemprotkan gas dalam
tabungnya kearah Siauw Liong Lie.
Mengetahui hebatnya gas tabung itu, Siauw Liong Lie
cepat2 menahan pernapasannya, dia mengibas dengan lengan
bajunya lalu memutar tubuhnya dan berlari secepat
mungkin.
Tiat To Hoat-ong tambah gusar, dengan segera dia
mengejar pula disertai oleh teriak2annya.
Ketiga kawan sipendeta juga telah ikut mengejar terus.
Tidak hentinya Talengkie menghujani Siauw Liong Lie dengan
paku2 beracunnya, dan dua diantara sekian banyak paku
beracun itu telah menancap dipunggung sinyonya,
Semula Siauw Liong Lie memang tidak merasakan apa2
selain perasaan sakit, tetapi racun dari paku itu bekerja cepat
sekali, sehingga dalam sekejap mata seluruh punggungnya
telah ke semutan dan kaku.
Siauw Liong Lie jadi terkejut, tubuhnya terhuyung.
Disaat itu mereka telah kejar mengejar di tepi jurang, dan
keadaan disitu sangat berbahaya sekali.
Dengan mengeraskan hati Siauw Liong Lie mengempos
semangatnya, dia berlari terus. Sedangkan Sin Tiauw telah
terbang tinggi sekali dengan membawa sibayi.
Tiat To Hoat-ong dan kawan2nya semakin penasaran saja,
mereka mengejar terus. Semakin lama jarak mereka semakin
pendek saja. hanya terpisah tiga tombak lebih. Akhirnya Siauw

Liong Lie putus asa, Daripada aku mati ditangan mereka lebih
baik aku mati didasar jurang!” dan setelah berpikir begitu,
Siauw Liong Lie melirik kearah jurang yang dalam itu. yang
tidak terlihat dasarnya. Hatinya jadi menggidik, dia juga jadi
teringat kepada Yo Him, anaknya. Dengan sendirinya Siauw
Liong Lie jadi ragu2.
Namun akhirnya, karena dia telah melihat lawannya
semakin dekat dan tidak akan melepaskan dirinya, dia jadi
nekad, dengan tidak ber pikir apapun juga, dia melompat
kedalam jurang itu.
Tiat To Hoat ong terkejut, pendeta itu yang telah datang
menyusul dekat sekali, telah mengulurkan tangannya untuk
menjambret, namun gagal.
Tubuh Siauw Liong Lie meluncur terus dengan cepat
kebawah dan lenyap dalam kegelapan. Ditengah udara,
terdengar suara pekik Sintiauw.
Tiat To Hoat ong dan ketiga lawannya jadi menghela napas
penasaran.
Mereka memandang kearah Sintiauw.
„Kita harus menangkap anaknya itu. . –!” menggumam
Chiluon dengan suara perlahan.
Tiat To Hoat-ong dan kedua kawan lainnya telah
mengangguk mengiyakan.
Tetapi Sintiauw yang cerdik itu terbang tinggi ditengah
udara, sama sekali tidak mau terbang merendah. Bagaimana
menangkapnya?
Disamping mendongkol, Tiat To Hoat ong juga jadi
berputus asa.
Disaat itu Sintiauw telah melayang turun di seberang jurang
dan berdiri sejenak disana seperti tengah ragu2, Apakah ikut

turun kedasar jurang atau membawa pergi anaknya Siauw
Liong Lie yang berada dalam cengekeramannya.
Tetapi Sintiauw yang cerdik itu menyadarinya, jika dia
terbang turun kebawah jurang itu, sedangkan keempat orang
musuh Siauw Liong Lie masih berada di tepi jurang itu, maka
dengan mudah dia akan diserang dengan senjata rahasia,
Itulah berbahaya, karena jika dia kebetulan terserang dan
menderita kesakitan, sehingga cekatannya terhadap bayi
didalam cengkeramannya itu terlepas bukankah
membahayakan jiwa sibayi yang akan terbanting didasar
jurang?
Hal itulah yang telah membuat Sin Tiauw ragu2 sehingga
akhirnya dia telah terbang lagi, tinggi sekali ditengah angkasa
dengan sekali2 memperdengarkan suara pekikannya.
Tiat To Hoat ong dan ketiga kawannya yang masih
penasaran tetap menanti ditepi jurang Tetapi Sintiauw telah
terbang jauh dan tidak terlihat bayangannya lagi sambil
membawa bayinya Siauw Liong Lie.
Sipendeta Mongolia itu bersama kawannya jadi berputus
asa dan akhirnya telah meninggal kan tempat tersebut dengan
tangan kosong.
Keadaan disekitar tepi jurang didekat lereng gunung Kun
Lun San tersebut jadi sepi sekali, hanya sekali2 dikejauhan
terdengar suara raungan binatang buas.
LO HIM yang terluka parah akibat serangan yang
meremukkan beberapa tulang iga di dadanya telah berusaha
menyalurkan tenaga murninya.
Namun usahanya itu gagal dan perasaan sakit luar biasa
menyerangnya, sehingga Lo Him merintih beberapa kali.
Per-lahan2 dia telah merangkak karena dia sangat
menguatirkan sekali keselamatan Siauw Liong Lie.

Tetapi dalam keadaannya yang tengah terluka parah, mana
dapat dia menyusul Siauw Liong Lie dan keempat orang
lawannya ?
Dalam keadaan segerti itulah, dia melihat Tiat To Hoat-Ong
dan ketiga kawannya telah berjalan mendatangi.
Tentu saja Lo Him jadi terkejut, karena dia tidak melihat
Siauw Liong Lie diantara mereka. Dalam keadaan septrii itu,
diapun girang, karena dia bisa menduga Siauw Liong Lie tentu
ber hasil meloloskan diri dari keempat lawannya tersebut, dia
jadi lapang hatinya.
tetapi Tiat To Hoat-ong dan ketiga kawannya yang tengah
dalam keadaan murka dan mendongkol telah melihat Lo Him,
maka kemarahan mereka telah ditumpahkan kepada Lo Him.
dihampirinya Lo Him, lalu tanpa mengenal kasihan sedikitpun
juga dia telah mengayunkan tangan kanannya “plaak” kepala
Lo Him telah dihantamnya hancur. Sedangkan Talengkie,
Turkichi dan Chiluon telah ikut menghajar orang yang malang
itu, sehingga tubuh Lo Him hancur remuk dan napasnya sudah
siang2 putus…
Setelah puas menumpahkan kemarahan didiri Lo Him,
keempat orang Mongolia itu telah meninggalkan tempat
tersebut.
Mayat Lo Him dan Sin Kim, simacan tutul menggeletak
tanpa napas keadaan mereka mengenaskan sekali.
Udara dingin sekali dan keadaan sunyi sepi, hanya rumah
kayu yang kosong tidak ber-penghuni yang tetap utuh
ditempat tersebut…..
0000O0000
SETELAH TERBANG berputaran sekian lama Sintiauw
kembali ketepi jurang itu. Dia melibat keempat orang musuh
Siauw Liong Lie telah pergi tidak terlihat bayangannya lagi,

maka burung rajawali tersebut telah meluncur terbang
kedalam jurang itu.
Tetapi ketika Sintiauw tiba didasar jurang binatang sakti ini
tidak melibat tubuh Siauw Liong Lie, hanya tumpukan pakaian
dari Siauw Liong Lie yang dilihatnya. Tentu saja Sin Tianw jadi
bingung, dia telah terbang berputaran didasar jurang itu,
mengeluarkan suara pekikan yang keras bagaikan tengah memanggil2
Siauw Liong Lie.
Namun Siauw Liong Lie tetap tidak terlihat mata hidungnya,
telah lenyap bagaikan di telan bumi.
Tentu saja Sin Tiauw jadi bingung bukan main, pakaian
Siauw Liong Lie dilihatnya ada didekat tempat itu, tetapi
kemana perginya Siauw Liong Lie ?
Sin Tiauw meletakan bayi didalam cengkeramannya dengan
hati2, dia telah mencakari tanah, menggali sebuah liang,
untuk mengubur barang2 Siauw Liong Lie. Kemudian Sin
Tiauw terbang berputaran lagi sambil me mekik2, me
manggil2 Siauw Liong Lie Tetapi nyonya Yo Ko itu tetap telah
lenyap tidak terlihat mata hidungnya lagi.
Inilah yarg sangat mengherankan sekali kemana perginya
Siauw Liong Lie? Jika dia mati terbanting didasar jurang
tentunya terlihat tubuh atau mayatnya dan jika dia berhasil
menyelamatkan dirinya dari kematian terbanting didasar
jurang ini, tentu dia akan mendengar suara pekikan Sin Tiauw
dan keluar untuk menemuinya, Namun kini Siauw Liong Lie
tetap lenyap tidak terlihat mata hidungnya? Kemana nyonya
Yo itu?
Selesai mengubur seluruh barang2 Siauw-Liong Lie yang
beihasil ditemuinya ditempat itu, Sin Tiauw telah terbang
mencari seekor kambing hutan, yang dibawanya hidup2 untuk
di pergunakan oleh sibayi menyusui.
Begitulah untuk selanjutnya Sin Tiauw telah merawat
sibayi Yo Him. Didasar jurang itu. Selama itu pula Siauw Liong

Lie tidak pernah terlihat bayangannya, entah kemana
lenyapnya, nyonya Yo Ko itu…
Memang cukup berat rajawali itu merawat Yo Him, namun
dia telah berusaha untuk merawatnya sebaik mungkin. Untuk
membawa Yo Him, membawa terbang meninggalkan Kun Lun
San mencari Yo Ko, juga bukan suatu pekerjaan yang mudah,
karena tidak mungkin rajawali ini membawa sibayi terbang,
berkeliling mencari ayah nya, sedangkan Yo Ko tidak diketahui
berada dimana. Semula Sin Tiauw ingin mengajak Yo Him
terbang ke Siauw hong, tempat dimana Yo Ko dan Siauw
Liong Lie semula menetap, tetapi akhirnya Sin Tiauw
memutuskan untuk merawat dulu sibayi selama beberapa
tahun dilembah ini.
Waktu dengan cepat beredar, dari bulan ke bulan dan
akhirnya Yo Him telah berusia dua tahun lebih.
Sintiauw sering mengajak anak itu terbang keatas jurang,
dengan Yo Him duduk dipunggung rajawali tersebut. Dan
diatas jurang itu, Sintiauw mengajak Yo Him ber-main2
dengan gembira. Tidak jarang pula, Sintiauw sengaja
meninggalkan Yo Him didekat permukaan sebuah
perkampungan dikaki gunung, sehingga Yo Him bisa bermain2
dengan beberapa orang anak kampung lainnya, tidak
mengherankan jika Yo Him pun bisa ber cakap2 seperti anak2
yang lainnya. Jika sore hari, barulah Sintiauw menjemput Yo
Him kembali.
Akhirnya, karena terlampau seringnya Sin Tiauw
mengantarkan Yo Him kemulut perkampungan tersebut,
banyak anak2 kampung itupun yang telah menyenangi
sirajawali dan sering mengajaknya bermain bersama.
Betapa gembiranya anak2 kampung itu jika diajak terbang
oleh rajawali tersebut, dengan mereka duduk dipunggung
burung tersebut.

Semula orang tua anak2 kampung itu merasa kuatir kalau2
rajawali itu masih ganas dan liar, atau setidaknya anak2
mereka jatuh dari punggung Sintiauw, namun setelah hampir
satu tahun lebih tanpa terjadi urusan apa2, orang2 kampung
itupun jadi biasa dengan sendirinya.
Sedangkan Sintiauw memang sengaja mengajak Yo Him
Kepermukaan kampung itu, untuk bermain dengan anak2
diperkampungan tersebut, agar Yo Him belajar bicara dan
senang2 ikut bermain2 dengan anak2 dikampung itu. Walau
pun Sintiauw seekor binatang belaka, namun dia memiliki
pikiran yang bijaksana.
Setelah Yo Him berusia dua tahun lebih, dia mulai dididik
oleh Sintiauw melatih tenaga dalam dan ilmu pukulan.
Seperti diketahui, disaat Yo Ko dibuntungi tangannya oleh
Kwee Hu (Sia Tiauw Hiap Lu menceritakan perihal itu) maka
Sintiauw ini yang telah mendidik Yo Ko untuk mempergunakan
goloknya yang berat itu.
Dan kini dibawah bimbingan Sintiauw, Yo Him memang bisa
memperoleh didikan yang kuat, namun karena usianya yang
masih terlampau kecil itu, ilmu silat dan tenaga dalam itu tidak
berarti apa2, hanya bisa menyebabkan tubuh anak tersebut
sehat dan kuat saja.
Menjelang usia tiga tahun lebih, Yo Him bisa bermain
dengan lincah, dan dia mulai dapat mendaki tempat2 yang
agak tinggi.
Terlebih lagi Sintiauw dalam menurunkan ilmunya selalu
teratur, yaitu setiap tengah malam tentu dia akan
membangunkan Yo Him dari tidurnya dan memaksa anak itu
melatih diri.
Tetapi yang membuat Yo Him tidak mengerti, anak2
kampung lainnya memiliki ibu dan ayah, sedangkan dia tidak.

Begitu juga Sintiauw tidak menjelaskan siapa ayah dan
ibunya, karena memang rajawali itu walaupun sangat cerdik
dan pandai tetapi tidak bisa bicara. Hanya rajawali itu
seringkali menunjuk kearah gundukan tanah dimana pakaian
Siauw Liong Lie dikuburkan.
Anak kecil Yo Him belum mengerti urusan apa2, dia selalu
hanya mengangguk2kan kepala belaka jika memang Sintiauw
tengah menunjuk gundukan tanah pakaian Siauw Liong Lie.
Waktu beredar cepat sekali, dan pagi itu, sejak matahari
belum memperlihatkan diri, Sin Tiauw tampak berdiri diam
saja, tidak seperti biasanya dia terbang berputaran mencari
mangsanya.
Sikap burung itu lesu sekali, seperti ada yang menyusahkan
hatinya.
Sedangkan Yo Him telah menghampiri dan merangkul leher
burung itu.
„Tiauwya (ayah rajawali) apakah yang tengah kau
risaukan?” tanyanya.
Rajawali itu hanya menggeleng perlahan, dia
menggesekkan kepalanya per-lahan2 dilengan Yo Him dengan
penuh kasih sayang. Lalu dengan ujung sayapnya dia telah
menunjuk ke-punggungnya.
Yo Him mengerti, dia melompat naik ke punggung rajawali
itu. Usianya yang empat tahun lebih itu telah menyebabkan
anak ini bisa melompat dengan gesit sekali. Sintiauw telah ber
jalan kesudut dasar jurang, dengan cakarnya dia mengorek
tanah, dan dari dalam tanah itu dia mengeluarkan beberapa
barang, yang ternyata milik Siauw Liong Lie, yang telah
dikeluarkan oleh rajawali itu.
Tentu saja sibocah tidak mengerti, Yo Him hanya
mengawasi saja.

Disaat itu Sintiauw telah memberi isyarat dengan sayapnya,
agar barang2 itu dimasukkan Yo Him kedalam sakunya.
Yo Him mengerti dan menuruti keinginan Sintiauw. Dan
setelah Yo Him memasukkan beberapa macam barang bekas
milik Siauw Liong Lie, sibocah diperintahkan Sintiauw naik kepunggungnya.
Dia mengajak Yo Him terbang ke atas jurang,
menurunkan Yo Him dipintu kampung yang biasa dimana Yo
Him ber-main2 dengan beberapa orang anak kampung
lainnya, Setelah meng-gesek2kan kepalanya beberapa kali
dilengan Yo Him, burung rajawali itu terbang tinggi sekali
berputaran tidak hentinya. Yo Him yang berdiri dimuka
kampung itu jadi heran. Belum pernah dia melihat sikap
Sintiauw seperti itu.
Maka dari itu dengan sendirinya dia tidak mengerti
mengapa hari ini Sintiauw membawakan sikap seperti itu.
Lama juga Sintiauw berkeliling berputaran ditengah udara,
lalu dengan mengeluarkan suara pekik yang nyaring sekali,
rajawali itu telah menukik masuk kedalam jurang dan lenyap
tidak muncul kembali.
Yo Him jadi bingung ketika sore harinya rajawali itu tidak
menjemputnya.
Dan beberapa orang kawannya telah mengajak Yo Him
untuk menginap saja.
Begitu pula di-hari2 berikutnya Sintiauw tidak datang
menjemput, sehingga akhirnya Yo Him telah diambil sebagai
anak angkat oleh keluarga Ciang, dikampung tersebut.
Ternyata Sintiauw sesunguhnya ingin merawat Yo Him
sampai dewasa.
Namun disebabkan usianya yang telah lanjut, dia tidak bisa
melaksanakan tugasnya. Karena Sintiauw memiliki kepandaian
yang luar biasa, lain dari rajawali lainnya, terlebih lagi
memang diapun merupakan rajawali sakti, maka dia

mengetahui bahwa putus napas dan kematiannya sudah tiba.
karena usianya telah lanjut. Dengan demikian tidak
mengherankan jika seharian itu dia memperlihatkan sikap
yang lesu.
Setelah membawa Yo Him keatas jurang dan meninggalkan
di mulut perkampungan itu, Sintiauw menukik kembali kedasar
jurang dan menemui kematian disitu, melepaskan napasnya
yang terakhir.
Se-tidak2nya Sintiauw telah melakukan tugasnya yang
terakhir, sehingga dia telah bisa mengantarkan Yo Him
keperkampungan dikaki gunung Kun Lun itu agar sibocah
tidak terkurung didalam jurang itu.
Sedangkan Yo Him yang belum mengerti urusan apa2
hanya menganggap bahwa Sintiauw telah mengalami
kecelakaan sesuatu atau memang telah pergi
meninggalkannya.
Hari demi hari lewat cepat sekali, bulan demi bulan juga
telah lewat pesat Yo Him akhirnya telah berusia tujuh tahun
kini dia merupakan seorang anak yang tampan sekali.
mukanya yang kecil itu cakap dan halus. Tidak
mengherankan karena Yo Him memiliki kakek yaitu Yo Kong
seorang pria yang tampan, kemudian ayahnya Yo Ko, juga
berparas tampan, ibunya Siauw Liong Lie juga cantik, maka
tidak mengherankan jiwa Yo Him memiliki paras yang amat
tampan sekali.
Namun dalam usia tujuh tahun seperti itu Yo Him perlahan2
mulai mengerti urusan. Dia mulai dapat berpikir dan
sering datang ketepi jurang, berdiam disana sampai
menjelang sore.
Dia jadi sering memikirkan rajawali sakti, yang tidak pernah
muncul itu, dan diapun sering menangis sedih disana. Yo Him
telah melihatnya semua anak2 kampung itu memiliki ayah dan

ibu, tetapi dia? Mana ayahnya? Mana ibunya! Dan perasaan
sedih itu telah melanda hatnya.
Keluarga Ciang memang memanjakannya, menganggap Yo
Him sebagai anak kandungnya sendiri, karena keluarga Ciang
tidak memiliki anak, mereka hanya merupakan pasangan
suami-isteri yang telah lanjut usianya itu.
namun Yo Him tetap merasakan adanya sesuatu
kekurangan didirinya…
Beberapa orang anak kampung telah datang ketepi jurang
itu, mengajak Yo Him untuk bermain2.
Tetapi Yo Him selalu dilanda oleh kemuraman belaka.
Sampai akhirnya, suatu sore disaat Yo Him tengah duduk
dibawah sebatang pohon yang tumbuh dimulut kampung itu
dan menyaksikan anak2 kampung yang bermain petak, tiba2
dari jurusan utara lampaulah dua orang penunggang kuda
yang melarikan kuda tunggakannya dengan cepat sekali. Anak
kampung yang melihat datangnya dua orang asing, telah
berhenti bermain dan memandang heran kepada kedua orang
penunggang kuda itu yang telah melompat turun.
Kedua orang itu berpakaian sebagai tosu, imam, usia
mereka diantara tiga puluhan, wajah mereka ramah, salah
seorang imam itu telah mendekati Yo Him, mereka bertanya
ramah; „Adik, bisakah kau memberitahukan pinto jalan yang
menuju ke Kun Lun Pai ?”
„Ohhh, Kun Lun Sie ( kuil Kun Lun ) ?” tanya Yo Him.
„Benar, tahukah engkau kearah mana jalan yang harus
kami ambil ?”
„Terus saja menuju keselatan, dan dipuncak yang ketiga itu
terletak kuil keramat itu !” menjelaskan Yo Him.

Tosu itu tampak girang, bersama dengan tosu lainnya telah
melompat kekuda mereka dan membalapnya kejurusan yang
diberitahukan oleh Yo Him.
Tidak lama kemudian tampak beberapa orang penunggang
kuda lagi yang menanyakan jalan yang menuju ke Kun Lun
Sie, maka hal itu telah menarik perhatian anak2 kampung
tersebut, termasuk Yo Him.
Bahkan Tiang Hu, seorang anak kampung berusia sembilan
tahun yang terkenal sangat nakal telah menarik ujung tangan
Yo Him.
„Ada apa ramai2 ? Tentunya dikuil Kun Lun Sie tengah
diselenggarakan pesta !” katanya,
„Mungkin !” sahut Yo Him tidak tertarik.
Tetapi tidak lama kemudian telah datang beruntun
puluhan penunggang kuda lainnya yang juga menanyakan
jalan ke Kun Lun Sie yaitu kuil dimana pusatnya partai
persilatan Kun Lun Pai.
Tiang Hu jadi tambah tertarik dia telah mengajak Yo Him
untuk pergi kekuil itu.
„Kita melihat keramaian ….!” ajaknya. Tetapi Yo Him
menggeleng.
„Kita tidak boleh pergi jauh2 …..Ciang Pehu (paman Ciang)
melarang aku pergi jauh2, karena kuatir kena dicelakai orang
jahat ..!”.
„Hu, hu, mengapa harus takut ? Bukankah kuil Kun Lun Sie
tidak jauh ? Kita bisa me-lihat keramaian, nanti kita segera
pulang, tentu Ciang Pehumu itu tidak mengetahui…..ayo !”.
Dan sambil berkata begitu Tiang Hu menarik lengan baju
Yo Him.
Sebetulnya Yo Him tidak tertarik dengan ajakan kawannya
ini, namun karena sejak tadi dia melihat puluhan orang yang

semuanya menuju kearah Kun Lun Sie, juga dari pakaian
mereka yang ketat dan memperlihatkan mereka dari rimba
persilatan Yo Him jadi diliputi perasaan heran dan ingin
mengetahui juga sesungguhnya apa yang hendak mereka
lakukan. Terlebih lagi dia melihat, diantara rombongan itu
terdapat macam2 orang dari berbagai golongan, ada
imamnya, ada hweshionya, ada gadis, ada lelaki kasar dan
ada juga wanita tua— semuanya memperlihatkan sikap
mereka yang berlainan dan aneh2.
Akhirnya Yo Him tertarik juga untuk melihatnya ketika
Tiang Hu mengajaknya berulang kali.
Dengan cepat kedua anak itu ber-lari2 menaiki Kun Lun
San.
Beberapa orang anak kampung lainnya telah mencegah Yo
Him, tetapi Tiang Hu telah mengawasi mendelik kearah
mereka, sehingga anak kampung itu tidak berani melarang Yo
Him lagi
Dengan berlari2 Yo Him dan Tiang Hu telah tiba dimuka
kuil Kun Lun Sie. Diluar kuil itu tampak banyak sekali kuda2
yang tertambat dan imam2 dari kuil itu berdiri dipintu gerbang
kuil tersebut, yang rupanya menjadi barisan penyambut tamu.
Disaat itu Yo Him dan Tiang Hu mendekati pintu kuil untuk
melihat keadaan didalam kuil yang tampaknya telah ramai
oleh tamu2.
Suara dari tamu2 dikuil itu terdengar ramai sekali,
disamping itu imam2 kecil juga sibuk sekali menyediakan
makanan tidak berjiwa untuk para tamu tersebut
Melihat suasana seperti itu, Yo Him dengan Tiang Hu
menduga pasti akan ada keramaian dikuil tersebut.
Kedua anak itu hanya berdiri dimuka kuil tersebut, karena
mereka sama sekali tidak diijinkan untuk ikut masuk.
„Kita masuk dari belakang—!” bisik Tiang Hu.

Tetapi lengan baju Tiang Hu telah dicekal Yo Him.
„Jangan…!” katanya dengan cepat mencegah. „Nanti kalau
diketahui totiang penjaga kuil, kita bisa dimarahi !”
„Mereka sedang sibuk, tentu tidak mengetahui perbuatan
kita”, kata Tiang Hu.
Tetapi Yo Him telah menggeleng.
„Jangan……aku takut”.
“Pengecut.”
“Kalau diketahui oleh totiang penjaga kuil kita bisa
dihukum.”
„Ayo, aku yakin tidak akan diketahui! Kita bukan hendak
mencuri, kita hanya ingin menyaksikan keramaian belaka.”
„Tidak — aku tidak mau, pergilah kau saja aku tidak mau
ikut!” Kata Yo Him sambil menggeleng, „Aku cukup
menyaksikan dari sini saja”
Muka Tiang Hu berobah dia membentak ; „Mengapa kau
pengecut demikian? Ayo cepat, kau ikut tidak?”
Yo Him diam saja.
„Kalau kau tidak mau menyaksikan keramaian, mengapa
tadi engkau bersedia ikut? Kalau memang tidak berani katakan
saja sejak tadi agar aku bisa mengajak yang lainnya!”
Yo Him jadi ragu2, tetapi akhirnya karena dia melihat Tiang
Hu seperti marah, dia takut kalau2 nanti Tiang Hu
memukulnya, akhirnya Yo Him mengangguk juga.
„Baiklah, tetapi jangan lama2…!” katanya dan dia telah
mengikuti Tiang Hu memutari kuil itu. untuk mengambil jalan
dipintu belakang kuil.

Memang seperti yang diduga oleh Tiang Hu imam2 kuil itu
tengah sibuk melayani tamu sehingga mereka tidak
memperhatikan kedua anak itu.
Saat itu Tiang Hu telah menarik tangan Yo Him, menyelinap
kedalam kuil melewati dapur dan terus menuju keruang Thia,
ruangan depan kuil itu Dipendopo tampak telah berkumpul
banyak sekali orang2 dari berbagai golongan, yang
pakaiannya juga ber-macam2.
Tiang Hu mengajak Yo Him mengambil tempat sudut
ruangan, dekat tirai, sehingga kehadiran mereka berdua tidak
diperhatikan orang2 yang tengah berkumpul disana.
„Kita jangan terlalu lama disini”, kata Yo Him dengan suara
yang berbisik. „Nanti kalau diketahui totiang penjaga kuil, kita
bisa celaka . . . !”
Tiang Hu hanya mendengus saja, dia telah berdiam diri
tidak melayani bisikan Yo Him.
„Pergilah kau pulang jika kau takut”, akhirnya Tiang Hu
telah berkata jengkel waktu Yo Him masih juga sering
menarik ujung bajunya mengajak keluar.
Yo Him jadi ragu2. Dia menyadari jika dia meninggalkan
Tiang Hu seorang diri didalam kuil ini, kalau terjadi suatu
kecelakaan apa2 tentu dia yang akan disesali.
Maka akhirnya Yo Him hanya berdiam diri dengan hati yang
tidak tenang.
Saat itu tampaklah para imam2 kuil tersebut mulai sibuk
menyediakan minuman untuk para tamunya, suara tamu yang
kian memenuhi ruangan tersebut semakin ramai saja.
Diantara suara orang ber-cakap2, suara tertawa, suara ber
seru2 karena tengah bercerita dengan asyik sekali, maka
keadaan benar2 sangat ramai sekali.

Ketika “itu diantara sibuknya para imam yang melayani,
tiba2 terdengar suara tambur di pukul ter talu2.
Dan keadaan disaat itu telah berobah menjadi sepi dan
hening sekali, karena memang di saat itu sudah tidak
terdengar lagi orang ber cakap2 dan tidak ada pula orang
yang berseru atau tertawa.
Semua mata telah ditujukan kearah pintu itu yang bisa
menembus keruang dalam. Semuanya duduk diam dikursinya
masing2 yang berjajar didalam ruangan itu. dan saat itu, dari
balik pintu ruangan dalam tampak telah melangkah keluar tiga
orang imam yang berusia lanjut, yang telah berusia diantara
enam atau tujuh puluh tahun.
Imam yang berjalan didepan yang memelihara jenggot
panjang dan telah memutih itu, tidak lain dari Ciangbunjin Kun
Lun Pai yang bergelar Ma Liang Cinjin. Sedangkan kedua tojin,
dikiri kanannya yang mengiringi Ma Liang Cinjin itu adalah
kedua adik seperguruannya, yang masing2 bergelar Uh Pie
Cinjin dan Tui Ho Cinjin.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s