Sin Tiauw Thian Lam (Jilid : 6)

JILID 6
TIAT TO HOAT-ONG penasaran bukan main, disamping itu
dia juga kaget melihat Hweshio dihadapannya ini merupakan
seorang hweshio yang memiliki kepandaian hebat, maka dia
bersikap hati2, lebih waspada.
Waktu mendengar sihweshio mengatakan ”Akhh, sayang,
sayang…”, Tiat To Hoat ong telah menangguhkan serangan
susulan yang tadinya akan dilancarkan.
„Sayang apa ?” tegurnya bengis. „Taisu memiliki
kepandaian demikian tinggi, tetapi justru Taisu telah
mempergunakannya untuk melakukan perbuatan salah !
Bukankah itu harus dibuat sayang?”.
,,Mengapa kau bisa menyebut aku ini telah melakukan
perbuatan salah?” bentak Tiat To-Hoat-ong dengan murka.
„Hudya telah menangkap wanita berdosa itu, dan rajawali
pembawa malapetaka itu apakah itu suatu perbuatan yang
salah?”

“Wanita berdosa dan rajawali pembawa malapetaka?”
mengulang hweshio itu sambil mengerutkan sepasang alisnya,
wajahnya berobah, Akhh, Siancai! Siancai! Setahu Siauwceng
nyonya itu seorang yang berbudi, dialah seorang pendekar
wanita nomor satu di jaman ini. Bagaimana mungkin Taisu
mengatakannya nyonya itu sebagai wanita berdosa? Dan juga
mengenai rajawali sakti itu merupakan binatang peliharaan
nyonya ini dan suaminya, yang selalu patuh terhadap perintah
majikannya…jika tidak diganggu seseorang, tentu rajawali itu
tidak akan menimbulkan kerusuhan, Bagaimana Taisu bisa
mengatakannya juga bahwa rajawali itu, adalah rajawali
pembawa malapetaka? Mungkin Taisu telah salah menilai…”
Muka Tiat To Hoat-ong telah berobah merah padam, dia
murka bukan main, tetapi pendeta Mongolia ini berusaha
menindih kegusarannya itu karena dia melihat hweshio
dihadapannya ini bukan hweshio sembarangan.
„Siapa kau sesungguhnya?” bentak Tiat To Hoat-ong.
„Sancai! Siancai!” memuji hweshio itu. “Sahabat2
memberikan julukan kepadaku sebagai Lim Ceng, si pendeta
dari Selatan. Siauw Ceng she Toan dan bernama Tie Hin, dan
memiliki gelaran ringan It Teng Taisu..!”
Jika yang mendengar kata2 itu Kim Lun Hoat-ong, mungkin
tubuh Kim Lun Hoat-ong akan gemetar, karena nama itu
bukan sembarangan nama, nama dan gelaran yang telah
menggetarkan jagad dan diakui oleh orang2 rimba persilatan,
dalam kalangan Kangouw!
Memang Hweshio itu tidak lain dari Toan Hongya, bekas
kaisar Taili, yang telah mensucikan diri dan bergelar It Teng
Taisu.
Seperti diketahui, bahwa diantara lima Ngo ciat. Hanya
tinggal dua saja yang
masih hidup yaitu Lam Ceng It Teng Taisu dan Lo shia Oey
Yok Su, sedangkan Ang Cit Kong, Auwyang Hong dan Tiong

Sin Thong telah meninggal dunia. Maka bisa dimengerti,
sesungguhnya dalam urutan angkatan tua, yaitu angkatan
cianpwe, It Teng Taisu dan Oey Yok Su merupakan dua jago
tanpa tanding lagi yang kepandaiannya sudah sulit diukur.
Namun untuk melengkapi kedudukan Ngo-ciat itu, telah
diambil Yoko, yang menggantikan See Tok Auwyang Hong,
tetapi huruf “Tok” (racun) telah diganti dengan Kong, sedangkan
kedudukan Pak Kay Ang Cit Kong telah diisi oleh
Kwee Ceng, dengan huruf “Kay” (pengemis) diganti dengan
huruf “Hiap’” (pendekar). Lalu kedudukan Tiong Sin Thong
yang kosong diisi oleh Ciu Pek Thong, dengan mengganti
huruf “Sin” ditengah dengan huruf “Boan” maka lengkap
kembalilah urutan Ngo-ciat. Ketika orang jago pengganti Sek
Tok, Pak Kay dan Tiong Sin Thong, bukanlah jago2 lemah,
kepandaian merekapun berimbang dengan kepandaian It Teng
Taisu maupun Oey Yok Su.
Tiat To Hoat-ong yang memang belum menginjak daratan
Tionggoan, belum mengetahui hebatnya It Teng Taisu, Waktu
di Tibet, dia telah mendengarnya bahwa didataran Tionggoan
terdapat lima jago yang luar biasa, yaitu See-Tok, Lam Tee
Kaisar dari Selatan, yang akhirnya diganti menjadi Lam Ceng
karena It Teng Taisu tidak menjadi Kaisar lagi, Thong Shia,
Pak Kay dan Tiong Sin Thong.
Tetapi Tiat To Hoat-ong mana bermimpi bahwa kepandaian
kelima jago yang terkenal itu luar biasa sekali? Karena
dinegerinya dia disanjung dan merupakan jago nomor satu di
samping adik seperguruannya, yaitu Kim Lun Hoat-ong, maka
sudah menjadi kebiasaan Tiat To Hoat-ong tidak pernah
memandang sebelah mata kepada si apapun juga.
Dan juga Tiat To Hoat-ong tidak pernah me rasa takut
terhadap siapapun juga, bahkan Kaisarnya yaitu Kaisar Mangu
yang telah wafat, maupun Kaisar Mongolia yang sekarang
pengganti Kaisar Mangu, Yaitu Kublai, tidak dipandang sebelah
mata olehnya.

„Hemm….” mendengus Tiat To Hoat-ong dengan suara
yang tawar. „Memang telah cukup lama kudengar bahwa
didaratan Tionggoan terdapat lima jago yang memiliki
kepandaian lumayan, salah seorang adalah kau ! Tetapi Hudya
ingin menasehatimu, mengingat usiamu yang telah lanjut
seperti itu, lebih baik kau menggelinding pergi sebelum Hudya
marah dan merobah keputusan, dan jangan sekali2
mencampuri urusan Hudya……..”.
It Teng Taisu memang sabar luar biasa, dia tidak gusar
walaupun Tiat To Hoat-ong mengeluarkan kata2 yang kasar
seperti itu.
„Siancai—siancai—” It Teng Taisu telah memuji kebesaran
sang Budha sambil merangkapkan sepasang tangan nya.
„Rupanya kedatangan Taisu memiliki maksud tertentu. Jika
Siauw Ceng boleh mengetahui, sesungguhnya apakah tujuan
Taisu yang telah melakukan perjalanan jauh datang ke
Tionggoan? Apakah Taisu diperintah oleh Kublai ?”.
Muka Tiat To Hoat-ong jadi berobah merah karena murka
dan mendongkol.
„Kalau benar aku diperintah Kublai kenapa? Dan jika
kedatanganku ini bukan diperintah oleh Kublai, juga kenapa?
Apakah kau memiliki hak untuk mengurusi diri Hudya?”
Disanggapi seperti itu lt Teng Taisu tersenyum ramah dan
sabar, katanya kemudian dengan suara yang sabar serta
perlahan, namun tegas „Dengarlah Taisu, jika kedatangan
Taisu berkunjung kedaratan Tionggoan hanya sekedar jalan2
untuk menikmati keindahan alam yang terdapat disini, tentu
saja kami akan menyambutnya dengan senang hati…kami
akan menghormati Taisu asal Taisu tidak mengandung
maksud2 tertentu, maksud yang buruk….! Tetapi sebaliknya.
jika kedatangan Taisu atas perintah rajamu, hanya sekedar
untuk sengaja mengacau disini, tidak dapat hal itu kami
biarkan…!”

Waktu ber-kata2 seperti itu, wajah It Teng Taisu angker
sekali, se tidak2nya dia adalah bekas seorang Kaisar, yang
pernah memegang tampuk pimpinan sebuah negara,
walaupun sebuah negara kecil di Selatan. Sabar suaranya,
lembut tutur katanya, tetapi angker sekali pengaruhnya.
Diantara wajahnya yang welas asih dan sabar itu tampak
matanya memancarkan sinar yang ber pengaruh sekali.
Tiat To Hoat-ong yang melihat itu, diam2 tergetar hatinya,
karena dia merasakan hatinya tergoncang. Tetapi cepat sekali
dia dapat menguasai dirinya. Dan dengan segera juga dia
menjadi murka.
„Pendeta busuk, ternyata engkau terlalu banyak tingkah
dan cerewet……!” katanya dengan gusar. dan membarengi
perkataamya itu, dengan cepat sekali Tiat To Hoat ong telah
melancarkan serangannya dengan kepalan tangannya yang
besar dan mengandung angin serangan yang kuat sekali, yang
dahsyatnya luar biasa.
Tetapi It Teng Taisu membawa sikap yang tenang sekali,
sedikitpun dia tidak takut menghadapi pendeta Mongolia itu.
Bahkan It Teng Taisu telah melihatnya bahwa Tiat To Hoatong
bukanlah sebangsa manusia baik2.
Maka dari itu, dengan tenang dia mengawasi datangnva
serangan pendeta Mongolia itu. Dengan berani dia
mengulurkan tangan kanannya tahu2 dengan telapak
tangannya dia telah menahan majunya kepalan tangan Tiat To
Hoat-ong.
‘Kita bicara dengan mulut, bukan dengan kepalan!” kata It
Teng Taisu dengan suara yang sabar sekali.
Tiat To Hoat-ong kembali kaget setengah mati, karena dia
telah melancarkan serangan dengan mengerahkan enam
bagian tenaga dalamnya, kenyataannya ketika membentur
telapak tangan si pendeta dari Selatan itu, dia merasakan
telapak tangan It Teng Taisu lunak sekali sepert i kapas, dan

tenaga serangan yang dilancarkan jadi lenyap tidak karuan,
Dengan cepat Tiat To Hoat-ong menarik pulang tangannya.
„Taisu, bebaskanlah kedua tawannanmu itu, dan pergilah
dari tempat ini ! Karena Taisu ingin pergi, Taisu dapat pergi
dengan bebas, dan aku situa Lam Ceng tidak akan
mengganggumu …..!” sabar suara It Teng Taisu. Seumurnya
belum pernah It Teng Taisu berlaku demikian tegas, dia selalu
bersikap ramah dan sabar luar biasa, tetapi karena
mengetahui bahwa Tiat To Hoat-ong ber kunjung ke
Tionggoan dengan maksud buruk dan juga karena melihat
Siauw Liong Lie serta Sin Tiauw diperlakukan begitu rupa oleh
sipendeta, maka murkalah bekas Kaisar dari negeri Taili itu.
Tiat To Hoat-ong jadi penasaran Dia telah mengeluarkan
suara tertawa dingin yang menyeramkan, mukanya bengis
sekali.
„Hemmm, enak sekali kau bicara ” bentaknya dengan suara
mengandung hawa pembunuhan. „Sedangkan rajaku sendiri
tidak berani mengeluarkan kata2 kasar dan kurang ajar seperti
itu.”
„Tepat !” mengangguk It Teng Taisu dengan sabar, tetapi
mukanya angker sekali. “Justru Siauwceng bukan rajamu dan
Taisu bukan sebawahan Siauwceng, masih mau Siauwceng
berlaku murah hati membebaskan Taisu begitu saja asalkan
tidak mengganggu kedua sahabat Siauwceng …..!’ pedas dan
tegas sekali kata2 It Teng Taisu, karena dia ingin
mengartikan, jika saja dia kaisarnya dan Tiat To Hoat-ong
bawahannya, mungkin dia telah menghukumnya, dengan
hukuman yang berat…
Tubuh Tiat To Hoat-ong jadi menggigil karena sangat
murka, dia merasakan dadanya seperti ingin meledak oleh
kemarahannya itu.
Dengan mengeluarkan suara teriakan yang mengguntur
dan mengandung kemarahan yang sangat, tampak Tiat To

Hoat-ong telah melompati menubruk kearah It Teng Taisu
dengan serangan yang luar biasa dahsyatnya.
Dalam kemarahan yang seperti itu, ternyata Tiat To Hoatong
telah melancarkan serangan dengan ilmu Yoganya
ditingkat kesebelas, merupakan jurus yang sangat hebat.
Harus diketahui bahwa ilmu Yoga yang dilatih oleh Tiat To
Hoat-ong berbeda dengan ilmu2 Yoga umumnya, karena
latihan Yoga pendeta itu telah digabung dengan ilmu silat
„Liong Cio Poan Kouw-kang” yang semula berasal dari India.
Maka bisa dibayangkan betapa hebatnya ilmu Yoga yang
dilatih oleh Tiat To Hoat ong. terlebih lagi disaat itu dia telah
mempergunakan sekaligus ditingkat kesebelas.
Tenaga serangan yang dilancarkan oleh Hiat To Hoat-ong
beratnya ribuan kati, memang benar tenaga serangan itu
bukannya tenaga naga atau gajah seperti namanya itu Liong
Cio Poan Kouw Kang, akan tetapi itulah serangan yang
mustahil sekali dilawan oleh tubuh manusia !.
Tetapi menghadapi It Teng Taisu yang memiliki ilmu yang
telah mencapai tingkat puncak kesempurnaan dan sulit diukur,
terutama dia lah jago tertua diantara Ngo Ciat serangan Tiat
To Hiat-ong selalu jatuh di tempat kosong, karena pendeta
Mongolia itu seperti juga selalu memukul tempat kosong dan
It Teng dapat berkelit atau mengelakkannya dengan langkah2
yang ampuh, sehingga kedudukan tubuhnya sulit diterka
oleh Tiat To Hoat-ong sendiri.
sedangkan It Teng Taisu sendiri telah melihatnya dan
mengetahui bahwa tenaga yang dimiliki Tiat To Hoat-ong luar
biasa besarnya, seumurnya dia belum pernah menghadapi
lawan seperti itu. Akan tetapi walaupun demikian It Teng
Taisu tidak gentar menghadapi serangan2 seperti itu, karena
dia telah memiliki kepandaian yang sempurna sekali, dan juga
kepandaiannya sudah mencapai tingkat yang sulit diukur lagi.

Melihat lawannya melancarkan serangan2 yang gencar
sekali, juga serangan itu mengincar bagian2 yang mematikan
ditubuh It Teng Taisu dengan kejamnya, si pendeta dari
selatan itu berulang kali menghela napas sambil memuji
kebesaran sang Buddha.
Akhirnya disaat Tiat To Hoat-ong melancarkan serangan
dengan cara yang serentak mempergunakan kedua
tangannya. yang seperti juga runtuhnya langit atau seperti
sebuah gunung, It Teng Taisu telah menggerakkan kaki
kanannya setengah lingkaran, lalu dengan membarengi seruan
perlahan It Teng Taisu telah memapaki serangan itu dengan
jari telunjuknya.
Luar biasa sekali, tenaga serangan yang hebat dari Tiat To
Hoat-ong jadi musnah sama sekali, dan yang lebih celaka lagi
justru tubuh Tiat To Hoat-ong telah terhuyung kebelakang
dengan muka yang pucat.
Ternyata It Teng Taisu telah mempergunakan It Yang
Cienya, ilmu jari tunggal yang sakti itu.
Karena telah mencapai kesempurnaan yang luar biasa
dalam meyakini ilmu jari saktinya itu, It Teng Taisu
sesungguhnya telah berjanji kepada dirinya sendiri, jika tidak
diperlukan sekali. dan tidak dalam keadaan terdesak yang
sangat, ilmu yang liehay luar biasa itu tidak ingin
dikeluarkannya.
Tetapi disebabkan desakan2 yang gencar dari Tiat To Hoatong,
dengan sendirinya hal itu Lam Ceng mengambil
keputusan untuk merubuh kan pendeta dari Mongolia itu.
karena dia perlu memberikan pertolongan kepada Siauw Liong
Lie dan Sin Tiauw.
Apa lagi mata It Teng Taisu sangat tajam dan awas sekali,
Siauw Liong Lie yang tengah rebah dalam keadaan seperti
tidur atau pingsan itu, sesungguhnya tengah hamil, membuat
It Teng Taisu tambah berkuatir.

Lam Ceng menduga didalam persoalan ini tentu terselip
sesuatu yang agak luar biasa, karena tidak biasanya Siauw
Liong Lie rubuh ditangan seseorang, Walaupun orang yang
menawannya itu selihay Tiat To Hoat-ong. Karena Siauw Liong
Lie memiliki kepandaian yang hebat sekali, yang tidak berada
disebelah bawah dari dia. Dan juga, kemana perginya Yo Ko.
suami dari nyonya itu ? Mengapa tidak terlihat mata hidungnya
? Apakah Yo Ko telah dicelakai seseorang juga ?
Berpikir begitu, tentu saja It Teng Taisu jadi tambah
berkuatir, dan akhirnya terpaksa harus mempergunakan ilmu
saktinya itu yaitu It Yang Cie, ilmu yang semula diterima dari
Tiong Sin Thong Ong Tiong Yang. terlebih lagi selama puluhan
tahun It Teng Taisu telah melatih ilmu itu mencapai puncak
kesempurnaan. ditambah dengan lwekangnya yang
memperoleh kemajuan pesat sekali.
Tiat To Hoat-ong sendiri tadi menjadi terkejut karena disaat
kedua tangannya dihantamkan kearah It Teng Taisu dia yakin
akan dapat mendesak pendeta itu. karena dia telah mengerahkan
delapan bagian tenaga dalamnya yang dipusatkan
dikedua kepalan tangannya.
Menurut keyakinan Tiat To Hoat-ong, jika saja tidak
berhasil memukul rubuh It Teng Taisu se-tidaknya dia bisa
mendesak pendeta itu dengan hebat.
Tetapi siapa duga. hanya mempergunakan jari tangannya
saja, It Teng Taisu justru telah berhasil menyambuti serangan
dari Tiat To-Hoat ong bahkan juga telah membuat tenaga Tiat
To Hoat-ong menjadi lenyap, dan pendeta Mongolia itu
merasakan mengalirnya se macam hawa yang halus
menyelusup kedalam tubuhnya, sehingga seperti seorang
yang kontak oleh aliran listrik, membuat Tiat To Hoat ong jadi
mundur dengan terhuyung.
Itupun masih untung Tiat To Hoat-ong hanya
mempergunakan delapan bagian dari tenaga dalamnya, coba

kalau dia memusatkan seluruh kekuatannya, niscaya pendeta
Mongolia itu akan celaka sendirinya.
Seperti diketahui, It Yang Cie merupakan ilmu jari tunggal
yang sakti, yang bisa dipergunakan sebagai ilmu menotok
yang tiada taranya didalam dunia ini. Tetapi disamping itu,
karena It Teng Taisu telah melatihnya sedemikian sempurna,
membuat ilmu itu benar merupakan ilmu menotok yang tiada
lawannya.
Tadi waktu menyambuti serangan dari Tiat To Hoat-ong,
disaat dia menyambuti serangan itu justru dia menotok
pergelangan tangan pendeta tersebut, sehingga sipendeta
selain tertotok tenaga serangannya juga jadi lenyap. Dan juga
disamping itu, dia telah terkena oleh dorongan tenaga
membalik dari serangannya sendiri. Semakin kuat seorang
menghantam, semakin kuat teraga menolak dari It Yang Cie.
„Kau … ?” Tiat To Hoat-ong tak bisa mengucapkan sesuatu
apapun juga, karena dia terkejut sekali.
It Teng Taisu telah merangkapkan sepasang tangannya, dia
mengucapkan pujian atas kebesaran Sang Buddha dengan
wajah yang sabar.
„Siancai, siancai.” ujarnya. “Maafkan Siauwceng, terpaksa
harus mempergunakan kekerasan menerima serangan
Taisu…!”
Mata Tiat To Hoat ong tampak terpentang lebar2, dia
mengawasi bengis kepada It Teng Taisu.
Setelah berdiam diri sejenak, dia telah berhasil
mengendalikan ancaman dihatinya.
Disaat itulah Tiat To Hoat ong baru menyadarinya bahwa It
Teng Taisu ternyata merupakan jago yang hebat sekali, yang
tidak mungkin dirubuhkan dengan cepat.

Dalam hatinya, Tiat To Hoat ong jadi tergetar juga, karena
dia menyadarinya bahwa di-Tionggoan ternyata terdapat
banyak sekali orang pandai.
Seperti pertama kali dia tiba didataran Tionggoan, dimana
dia telah bertemu dengan Ciu Pek Thong, yang tidak bisa
dirubuhkan, kemudian Yo Ko dan Siauw Liong Lie, yang juga
memiliki kepandaian yang hebat sekali, yang tidak mungkin
dirubuhkan dengan mempergunakan ilmu silatnya,
Hanya Cu Kun Hong yang bisa dipukul rubuh dengan
mempergunakan ujung lengan jubah nya.
„Jika dilihat demikan, Tionggoan merupakan gudangnya
para jago2 silat kelas utama….,” berpikir Tiat To Hoat-ong,
dan dia jadi gentar juga.
Tetapi karena disamping memiliki kepandaian yang telah
sempurna, Tiat To Hoat ong juga merupakan seorang jago
yang cerdik sekali, tentu saja dia tidak mau menyerah begitu
saja.
Dilihatnya, sejak tadi It Teng Taisu memperlihatkan sikap
yang sabar dan menurut penglihatannya hweshio itu mudah
untuk diajak bicara.
Maka. sambil merangkapkan tangannya, Tiat To Hoat-ong
telah memberi hormat.
„Ternyata Lam Ceng It Teng Taisu bukan nama kosong
belaka …..!” kata Tiat To Hoat-ong sambil menjura. „Dan,
Hudya cukup kagum melihatnya Tetapi, Hudya harap, Taisu
jangan mencampuri urusan Hudya, bukankah lebih baik jika
diantara kita berdua diikat tali persahabatan?”
Tendengar itu, It Teng Taisu telah tersenyum sabar.
Mencari lawan memang mudah, tetapi justru untuk mencari
sahabat sejati itulah yang sulit . …!” sahut sihwesio.

Muka Tiat To Hoat-ong jadi berobah merah karena dia
merasa seperti juga disindir oleh It Teng Taisu,
Saat itu Lain Ceng telah melanjutkan per kataannya lagi.
„Dan jikalau Taisu memiliki pikiran bagus seperti itu, mengapa
pula Siauwceng harus menolaknya? Bukankah bersahabat itu
merupakan suatu hal yang menggembirakan?
Dan tentu saja Siauwceng merasa berterima kasih atas
maksud baik Taisu yang sudah bersedia bersahabat dengan
Siauwceng yang masih miskin dan melarat, yang tidak
memiliki kuil dan nama …..!”
„Itulah kata2 yang terlampau merendah” kata Tiat To
Hoat-ong. „sungguhnya, jika memang Taisu menghendaki,
dalam sekejap mata kedudukan dan harta akan datang
kepangkuan Taisu …! Dan jika Taisu kehendaki, dapat juga
Taisu ikut Hudya ke Utara, bukankah Taisu pun mergetahui,
Khan yang besar cerdik dan hebat sekali, tidak seperti
pemerintahan negeri Song yang tolol dan bodoh ini?”
Mendengar perkataan Tiat To Hoat-ong yang terakhir, yang
terang-terangan begitu muka It Teng Taisu jadi berobah
merah karena gusar.
Dia gusar, justru Tiat To Koat-ong telah mengajaknya
untuk menjadi pengkhianat, mengkhianati negerinya sendiri
dengan tawaran pangkat dan harta…
„Terima kasih atas tawaran Taisu……Siauwceng belum
terpikir untuk mencampuri urusan2 negara, karena kini,
Siauwceng justru hanya, menghendaki kedua sahabat
Siauwceng itu !”
Muka Tiat To Hoat-ong jadi berobah dan baru saja dia
ingin membuka mulut lagi, It Teng Taisu telah berkata lagi :
„Silahkan Taisu meninggalkan kedua sahabat Siauwceng
ini, kelak jika ada umur panjang, Siauwceng It Teng Taisu

tentu akan datang mencari Taisu untuk menyatakan terima
kasih “
Sesungguhnya, didengar dari kata2nya itu yang
diucapkannya dengan sabar It Teng Taisu seperti juga
merendah dan menghormati Tiat To Hoat-ong, namun
sesungguhnya perkataannya yang terakhir itu merupakan
suatu perkataan mengusir untuk Tiat To Hoat-ong.
Melihat demikian, Tiat To Hoat-ong jadi murka bukan main,
tetapi dia tidak memperlihatkan dimukanya, bahkan Tiat To
Hoat-ong telah tersenyum lebar, sambil katanya: „Hudya
datang dari jauh, dan secara kebetulan hari ini beruntung
bertemu dengan salah seorang diantara kelima Ngo Ciat,
maka untuk menyatakan rasa kagum dan mengikat tali
persahabatan, Hudya ingin menghadiahkan sebuah tanda
mata untuk kenang2an… !”
Sambil berkata demikian, Tiat To Hoat-ong telah merogoh
sakunya, dia telah mengeluarkan sebuah tabung yang
berukuran tidak begitu besar, yang ujungnya terdapat
tangkainya.
It Teng Taisu jadi mengawasi heran, dia bercuriga atas
sikap lawannya.
Sedangkan Tiat To Hoat-ong tanpa memperdulikan
perasaan heran It Teng Taisu, telah melanjutkan kata2nya
lagi;
„Tabung kecil ini merupakan hadiah dari Khan yang agung,
yang telah diberikan untuk dipergunakan sebagai tanda
kebesaran. Jika tabung ini diperlihatkan, dimana saja,
diberbagai tempat dimana kekuasaan Khan Agung berada,
maka orang yang memegang tabung ini akan di perlakukan
dengan hormat, sama hormatnya dengan melihat seorang raja
muda !”
Sambil ber-kata2 Tiat To Hoat-ong telah me-megang2
tangkainya, mempermainkannya yang di-putar2nya,

Sedangkan It Teng Taisu hanya mengawasi sambil
tersenyum sabar, bahkan waktu Tiat To Hoat-ong ber-kata2
sampai disitu, it Teng telah menjura membungkukkan
tubuhnya memberi hormat :
„Sayang Siauwceng tidak pernah berhasrat mencampuri
urusan negara dan juga Siauwceng tidak berniat untuk segala
penghormatan yang tidak2 simpanlah barang itu. Taisu..
maafkan Siauwceng tidak dapat menerima hadiah yang besar
itu.”
Tetapi Tiat To Hoat-ong tidak menyahuti hanya sambil
melangkah dua tindak, tahu2 „Pssssst !” dia telah
menyemburkan gas dari tabung ditangannya.
It Teng Taisu sesungguhnya telah berwaspada sejak tadi.
Semula dia menduga bahwa tabung yang berisi senjata
rahasia, yang diperlengkapi dengan alat2nya, namun diwaktu
Tiat To Hoat ong menyemburkan gas didalam tabung itu,
itulah diluar dugaannya, karena bukan senjata rahasia yang
menyambar kearahnya, melainkan uap yang harum sekali !
Hati It Teng Taisu terkejut bukan main, dia melompat
kebelakang dua tindak sambil mengibaskan lengan jubahnya,
dan segera juga menutup jalan pernapasannya, tetapi karena
tadi terlambat, dia telah menyedot beberapa kali sedotan gas
itu, sehingga seketika itu juga kepala nya menjadi pening dan
matanya ber-kunang2.
Dalam hal ini, It Teng Taisu merupakan seorang jago tua
yang jujur dan penyayang
terhadap siapa saja, diapun seorang jago tua yang sabar.
Tetapi menghadapi kelicikan Tiat To Hoat ong yang telah
menyemburkan gas tidurnya itu yang dianggap oleh It Teng
merupakan perbuatan rendah, It Teng sudah tidak bisa
menahan diri lagi.

Dengan mengeluarkan seruan yang sangat dahsyat,
tampak It Teng Taisu telah melompat menubruk kearah Tiat
To Hoat-ong, sambil mengulurkan tangan kanannya, dia telah
melancarkan serangan dengan mempergunakan It Yang Cie
nya.
Gerakan yang dilakukannya itu luar biasa sekali, memiliki
tenaga menggempur yang dahsyat.
It Yang Cie sudah merupakan ilmu yang tiada taranya
dalam dunia ini, terlebih lagi di pergunakannya disaat It Teng
Taisu tengah dalam keadaan murka seperti itu, maka bisa
dibayangkan bahaya yang mengancam untuk Tiat To Hoatong.
Tetapi pendeta dari Mongolia itu justru liehay sekali, dia
tidak takut. Bahkan kedatangan It Teng Taisu yang tengah
menubruk kearahnya telah disambut dengan sprotan gas
dalam tabungnya, sebanyak dua kali sehingga uap putih
tampak mengurung It Teng.
Sambil menyemprotkan gas dalam tabungnya itu, Tiat To
Hoat-ong juga telah melompat dengan gesit kepinggir, dia
telah berkelit dari serangan lawannya.
It Teng Taisu mencelos hatinya waktu disemprot dengan
gas tidur itu lagi, walaupun dia telah menutup pernapasannya,
namun disebabkan tadi dia telah terlanjur menyedot dan kini
juga uap dari gas tidur itu sangat ketat mengurung nya,
dengan sendirinya kepalanya jadi pening sekali.
Namun serangan yang dilancarkannya dengan tenaga
sembilan bagian itu tidak berhasil di tarik pulang, karena
waktu yang sangat mendesak itu, tanpa ampun lagi dinding
batulah yang menjadi sasarannya menjadi jebol dan runtuh
dengan mengeluarkan suara yang berisik sekali.
Tiat To Hoat-ong terkejut bukan main, dia jadi
mengucurkan keringat dingin.

Tadi masih untung dia bisa mengelakkan serangan It Teng
Taisu, coba kalau tidak, mana mungkin dia sanggup menerima
serangan yang begitu hebat?
Karena kuatir It Teng Taisu melancarkan serangan lagi,
maka dengan cepat Tiat To Hoat ong menyemprotkan kembali
gas dalam tabung nya itu sebanyak tiga kali.
It Teng Taisu tengah berdiri dengan tubuh yang terhuyung2,
dan kepalanya disamping pening, pandangan
matanya juga gelap sekali.
Tanpa ampun lagi, tubuh It Teng Taisu jatuh numprah
diatas lantai, tetapi berkat lwekangnya yang tinggi, It Teng
Taisu tidak sampai tertidur, dia hanya merasakan betapa
tubuh nya menjadi lemas tidak bertenaga sama sekali. Tanpa
membuang waktu, It teng Taisu telah mengerahkan
lwekangnya dia telah mengerahkan tenaga untuk memulihkan
peredaran darahnya dan mengusir uap beracun itu dari dalam
tubuhnya.
Tiat To Hoat-ong tidak mau membuang2 kesempatan yang
ada, dia telah melompat menyambar tubuh Siauw Liong Lie
dan Sin Tiauw kemudian dengan menggerakkan ilmu
meringankan tubuhnya dia menurunkan undakan tangga dan
keluar dari rumah penginapan itu, terus berlari meninggalkan
rumah penginapan itu,
Karena telah melihat lawannya hebat luar biasa Tiat To
Hoat-ong tidak berlari berlaku ayal, dengan cepat sekali dia
berlari2 terus meninggalkan kota itu, hanya didalam waktu
yang sangat singkat dia sudah melewati puluhan lie,
Tadi waktu dia turun dari undakan tangga diruang bawah,
pelayan maupun kuasa rumah penginapan serta beberapa
orang tamu yang berada disitu, telah tertidur semuanya.
It Teng Taisu yang tengah mengerahkan tenaga dalamnya
untuk mengatur peredaran darahnya dan berusaha mengusir

uap beracun dari dalam tubuhnya itu merasakan kepalanya
sangat pening.
Tetapi pendeta sakti dari Selatan itu menyadari, bahwa gas
yang terlanjur tersedot
oleh pernapasannya, bukanlah semacam racun yang bisa
mematikan, hanya lebih mirip sebagai uap tidur, yang akan
merubuhkan lawannya, sehingga It Teng Taisu agak tenang.
Setelah mengerahkan dan menyalurkan tenaga saktinya
kesekujur tubuhnya selama satu jam, akhirnya It Teng Taisu
pulih kembali ke-segarannya. Dia melompat berdiri dan
mengibas kan lengan jubahnya berulang kali, karena dia ingin
membersihkan udara yang masih diliputi oleh gas tidur itu.
Dilihatnya diruangan bawah beberapa orang pelayan dan
kuasa rumah dengan beberapa orang tamu, telah tertidur
nyenyak. Rupanya mereka telah menyedot uap tidur yang
dilepaskan oleh Tiat To Hoat-ong yang berimbas keruang
bawah dan lewat melalui pernapasan mereka . . . . It Teng
Taisu jadi menghela napas jengkel, karena dia melihat Siauw
Liong Lie dan Sin Tiauw sudah tidak berada ditempatnya
semula.
Sewaktu ingin bersemedhi untuk memulihkan kesegaran
tubuhnya, It Teng Taisu telah berpikir bahwa Tiat To Hoat-ong
pasti akan mempergunakan kesempatan itu untuk melarikan
Siauw Liong Lie dan Sin Tiauw, namun It Teng benar2 tidak
berdaya, karena tubuhnya dalam keadaan yang lemah sekali,
mengantuk terpergaruh oleh uap racun yang dilepaskan oleh
Tiat To Hoat-ong.
Semula It Teng Taisu bermaksud menotok beberapa orang
yang tidur terpengaruh uap beracun itu, untuk menyadari
mereka. Tetapi karena mengingat akan keselamatan Siauw
Liong Lie dan Sin Tiauw yang jauh lebih penting, maka It Teng
Taisu dengan mempergunakan ilmu lari cepatnya, telah

mengejar keluar kota untuk merampas dan menolong Siauw
Liong Lie dari tangan Tiat To Hoat-ong,
Untung saja kota tersebut hanya memiliki satu pintu,
sehingga It Teng Taisu dapat segera mengejar dengan
mengambil jurusan yang pasti diambil oleh Tiat To Hoat-ong
juga, yaitu kearah barat.
Tetapi waktu berada diluar pintu kota, disaat itulah It Teng
tertegun sejenak, karena dia tidak mengetahui lagi harus
mengejar kemana. Jika dia mengambil kearah kiri, berarti dia
akan tiba dikota Phiang sie-kwan, tetapi jika dia mengambil
arah kanan, tentu akan tiba dikota Tiang-lu-kwan.
Kedua kota itu masing2 terpisah dari tempat tersebut
ribuan lie jauhnya, dan It Teng Taisu tidak mengetahui, entah
arah mana yang diambil oleh Tiat To Hoat-ong, apakah
sipendeta Mongolia itu akan melarikan diri ke Tiang-lu-kwan
atau mengambil arah kekota Phiang-sie-kwan.
Dalam keadaan terdesak oleh waktu seperti itu, dan
mengingat pula akan keselamatan Siauw Liong Lie, yang
dilihatnya tengah berisi. It-Teng Taisu tidak bisa ragu2,
akhirnya untung2 an dia telah mengambil arah kekota Tianglu-
kwan.
Dengan mempergunakan ilmu larinya yang telah sempurna
sekali, tubuh It Teng Taisu ber-kelebat2 secepat kilat
berusaha mengejar lawan nya. tetapi setelah melalui seratus
lie lebih dia masih tetap tidak melihat bayangan Tiat To Hoat
ong.
„Apakah aku salah mengambil arah mengejarnya?” berpikir
It Teng Taisu ragu2.
Tetapi untuk kembali mengambil arah yang satunya, tentu
telah membuang waktu terlalu banyak dan belum tentu Tiat
To Hoat-ong mengambil arah yang satu itu. Maka karena
merasa terlanjur, It Teng Taisu bermaksud untuk mencapai

dulu kota Tiang lu-kwan, untuk melihatnya apakah Tiat To
Hoat-ong mengambil arah kota tersebut.
Juga It Teng Taisu menyadari, dengan membawa bebannya
seekor barung rajawali dan seorang wanita, jelas keadaan Tiat
To Hoat-ong akan menarik perhatian orang banyak, dan dia
bisa ber-tanya2 kepada penduduk, apakah mereka melihat
pendeta yang membawa rajawali dan seorang wanita.
Dengan mengempos semangatnya, It Teng Taisu telah
meneruskan pengejarannya, tubuhnya cepat sekali ber lari2
bagaikan bayangan yang terlihat hanyalah gumpalan putih
saja……
000O000
Yo Ko dan Ciu Pek Thong penasaran sekali karena
walaupun mereka telah melakukan pengejaran dengan cepat
sekali, tokh Tiat To Hoat-ong tetap saja belum terlihat
bayangannya.
Kekuatiran Yo Ko semakin hebat, dia kuatir kalau2 isterinya
dicelakai oleh pendeta Mongolia itu.
Sesungguhnya Yo Ko telah menduga bahwa Tiat To Hoatong
tentu akan berusaha mencari tempat persembunyian yang
aman, sehingga kelak dapat mempergunakan Siauw Liong Lie
sebagai alat perisainya, untuk keselamatannya. Hanya saja,
yang belum dimengerti oleh Yo Ko sesungguhnya apa maksud
dari To Hoat ong ber keliaran didaratan Tionggoan ?
Setelah ber-lari2 bersama Ciu Pek Thong kurang lebih
sejauh lima ratus lie dan belum melihat sipendeta Mongolia,
Yo Ko jadi putus asa.
„Akhh Liongjie, kita ternyata harus berpisah pula……
dan……dan kau tengah mengandung anak kita—-!’

menggumam Yo Ko dengan suara mengandung nada
perasaan, marah, kuatir dar kecewa.
Ciu Pek Thong yang Jenaka, waktu melihat Kesedihan yang
hebat dari Yo Ko, cepat2 tertawa.
„Yo Hiante, kau tidak perlu terlalu kuatir seperti itu, Yo
Hujin memiliki kepandaian yang tinggi dan tidak berada
disebelah bawahmu, tidak mungkin dia dicelakai dengan
mudah oleh pendeta itu . . . !”
Yo Ko mengangguk, wajahnya tetap muram.
„Tetapi Ciu Toako……. menurut keterangan yang diberikan
Cu Kun Hong Siangkong, bahwa pendeta itu telah berhasil
menawan Liongjie dan Tiauwheng ….!
Ciu Pek Thong jadi tertegun, dan dia jadi tidak bisa
mengatakan apa2 lagi.
Bukankah dengan telah tertawannya Siauw Liong Lie dan
Sin Tiauw, berarti keduanya berada dalam ancaman bahaya
besar ditangan Tiat To Hoat-ong ?
Waktu itu mereka telah berada diperbatasan kota Suan
liang-kwan sebuah kota kecil yang penduduknya hanya lima
ratus kepala keluarga,
Yo Ko dan Ciu Pek Thong memasuki kota kecil itu.
kemudian memasuki sebuah rumah makan.
Ciu Pek Thong memesan beberapa macam sayur dan lima
kati arak. Tetapi Yo Ko tidak memiliki selera untuk menikmati
semua itu, dia hanya duduk termenung menguatirkan
keselamatan isterinya dan Sin Tiauw.
Ciu Pek Thong telah dahar dengan lahap nya karena
hampir sehari suntuk dia belum makan dan perutnya lapar
sekali.
„Ciu Toako,” kata Yo ko waktu melihat Ciu Pek Thong telah
selesai dengan santapannya „Kita hanya memiliki satu hari lagi

untuk mencari Liong-jie, karena lusa kita sudah harus berada
di Hoa-san, sebab It Teng Taisu dan yang lainnya pasti telah
berkumpul disana!”
Ciu Pek T hong mengangguk cepat.
„Benar, dan kita bisa meminta bantuan mereka untuk ikut
mencari Yo Hujin! katanya. Yo Ko menghela napas.
kini mereka belum berhasil mencari Tiat To Hoat-ong, yang
seperti telah menghilang, lenyap seperti tertelan bumi
bersama Siauw Liong Lie dan Sin Tiauw.
Jelas jika besok lusa, sipendeta sudah semakin jauh
melarikan diri, dengan sendirinya tidak mudah untuk
mencarinya lagi.
Yo Ko yakin bahwa isterinya memiliki kepandaian yang
tinggi. Namun yang mengherankannya, mengapa Siauw Liong
Lie bisa tertawan oleh Tiat To Hoat ong? Dan begitu halnya
dengan Sin Tiauw, mengapa bisa di tawan oleh pendeta dari
Mongolia.
Yo Ko mengetahui bahwa kepandaian Siauw Liong Lie tidak
berada disebelah bawah dari Tiat To Hoat ong karena Yo Ko
telah bergebrak satu dua jurus dengan pendeta itu telah
berhasil menjajagi ilmunya pendeta tersebut.
„Jelas sipendeta mempergunakan akal licik” berseru Yo Ko
tiba2 sambil memukul meja, sehingga menimbulkan suara
yang keras sekali.
Ciu Pek Thong melihat kegusaran dan kedukaan Yo Ko,
telah menghela napas.
„Yo Hiante, mari kita lanjutkan pengejaran kita, mungkin
sipendeta masih belum begitu jauh dari tempat ini!” ajak Ciu
Pek Thong.
Yo Ko menggelengkan kepalanya perlahan, diapun telah
menghela napas.

Walaupun kita mengejar lagi, jelas usaha kita tidak akan
berhasil. Kita telah
ber-tanya2 kepada penduduk disepanjang jalan yang kita
lalui, tetapi tidak seorangpun yang pernah melihat sipendeta
Mongolia. Hal itu membuktikan bahwa sipendeta tidak
mengambil arah tempat ini, karena dengan membawa
Tiauwheng dan Liongjie, se-tidak2nya sipendeta akan
menarik perhatian orang2 yang melihatnya. sangat mustahil
tidak seorangpun melihatnya jika dia benar2 telah mengambil
jalan ini !”
„Benar !” Ciu Pek Thong membenarkan pikiran Yo Ko itu.
„Apakah dia harus mengejar nya kearah lain ?”
„Dengan me raba2 dan men duga2 saja, jelas kita akan
semakin kehilangan jejak……. “ kata Yo Ko. „Dan satu2nya
yang terbaik, kita kembali ke Hoa San, untuk
merundingkannya dengan It Teng Taisu dan yang lain !’’
Ciu Pek Thong menyetujui saran Yo Ko, setelah membayar
harga makanan, mereka segera kembali ke Hoa San….
Hoa san tetap tenang dan sunyi. Ditempat itu belum
terlihat muncul seorang jagopun juga, waktu Yo Ko dan Ciu
Pek Thong tiba dikedua kuburan Auwyang Hong dan Ang Cit
Kong yang telah kosong itu, Kwee Ceng, It Teng Taisu mau
pun yang lainnya belum tampak.
Dengan kedukaan yang menyesakkan dadanya, Yo Ko telah
duduk dibatu yang terdapat disamping kuburan Auwyang
Hong.
Ciu Pek Thong sibuk mengawasi sekitar tempat itu, kakek
jenaka itu, walaupun dalam keadaan seperti itu, ternyata tidak
bisa berdiam diri, dia sibuk sekali jalan kesana kemari, tampaknya
jika tidak bergerak atau berjalan, kaki nya menjadi
gatal.

Ada saja yang diperhatikan oleh Ciu Pek Thong, sampai
akhirnya ketika dia tengah memandang kearah selatan dari
gunung tersebut, yang menghadap kesebuah lembah, muka
Ciu Pek Thong jadi berobah.
„Ada orang datang !” katanya dengan wajah girang, karena
dia melihat sesosok tubuh bayangan berkelebat-kelebat dari
kaki lembah itu menuju keatas, menghampiri kearah tempat di
mana mereka berada.
Yo Ko telah melompat cepat sekali dan memperhatikan
sosok tubuh itu.
Tetapi waktu mereka telah melihat tegas, mereka jadi
kaget dan heran sendirinya.
Orang yang tengah mendatangi itu bukan salah seorang
dari sahabat2 mereka. Orang itu ternyata seorang wanita
setengah baya, bermuka cantik dan tubuhnya ramping,
mengenakan baju berwarna merah mudi. angkin kuning dan
rambutnya disanggul cucup tinggi. Ditangan kanan nya
tampak menggendong seorang anak lelaki berusia empat atau
lima tahun, yang duduk tenang2 walaupun siwanita berlari
cepat dan gesit sekali, “Siapa dia?” tanya Ciu Pek Thong,
“Apa maksudnya datang kemari?” Yo Ko juga heran, dia tidak
bisa menjawab karena Yo Ko pun tidak mengenal orang itu.
Tidak berselang lama, karena Wanita itu berlari dengan
gesit sekali, telah tiba dihadapan Yo Ko dan Ciu Pek Thong
berada.
Namun wanita setengah baya, yang masih terlihat sisa2
kecantikan wajahnya itu. seperti tidak mengacuhkan Yo Ko
dan Ciu Pek Thong yang hanya diliriknya saja. Wanita itu
membawa anak lelaki yang berada dalam rangkulannya itu
menghampiri kedua kuburan Ang Cit Kong dan Auwyang
Hong.
Namun waktu melihat kedua kuburan itu telah kosong
dengan tanah yang berserakan, wanita setengah baya

tersebut mengeluarkan seruan tertahan, mukanya seketika
menjadi pucat dan dia berdiri mematung.
“Ma, apa yang terjadi ?” tanya anak lelaki itu dengan suara
yang nyaring, rupanya dia heran melihat Wanita itu, yang
dipanggilnya Ma (ibu) berdiri mematung begitu.
„Diam Phu-jie ! Ada orang jahat yang mengganggu
ayahmu” menyahuti wanita setengah baya itu dengan suara
yang mengambang.
Yo Ko dan Ciu Pek Thong hanya mengawasi saja kelakuan
Wanita setengah baya itu dengan anak lelaki kecilnya itu.
Yo Ko dan Loo Hoan Tong menjadi heran, karena kini jelas
bahwa wanita itu ingin menyambangi kuburan Auwyang Hong
dan Ang Cit Kong, Siapakah wanita itu ? Masih ada hubungan
apakah antara wanita itu dengan kedua orang yang telah
meninggal itu? Apakah dia kerabatnya Auwyang Hong ? Atau
memang wanita setengah baya itu sanak familinya Ang Cit
Kong ? Yo Ko sama sekali tidak mengetahuinya.
lama juga wanita itu mengawasi kedua kuburan yang telah
kosong itu, dan sianak lelaki kecil dalam gendongannya,
seperti juga mengerti akan perintah ibunya, selanjutnya
diapun hanya berdiam saja tidak bersuara, Selang sejenak
lagi, wanita itu berjongkok memeriksa kuburan Auwyang Hong
yang telah kosong itu tanpa mengacuhkan kuburan Ang Cit
Kong.
Melihat ini, menunjukkan bahwa wanita tersebut memiliki
hubungan dengan Auwyang Hong, tetapi pernah apakah
wanita setengah baya itu dan sianak lelaki kecil itu, dengan
Auwyang Hong.
Tadi wanita setengah baya itu me-nyebut2 ayah, apakah
wanita setengah baya itu maksudkan Auwyang Hong ayah
sianak lelaki kecil itu ? Bukankah Auwyang Hong hanya
memiliki seorang anak, yaitu Auwyang KongCu, yang telah
meninggal ? Dan juga, bukankah Auwyang Hong telah

meninggal banyak tahun? Tidak mungkin anak lelaki kecil yang
baru berusia kurang tebih lima tahun itu adalah puteranya
Auwyang Hong; Lalu siapa mereka itu ?
Belum lagi Yo Ko dan Ciu Pek Thong bisa memecahkan
teka-teki yang membingungkan seperti itu, justru wanita
setengah baya itu telah menoleh dan berdiri menghadapi Yo
Ko dan Ciu Pek Thong.
Tangan kanannya masih menggendong sianak lelaki kecil
itu, tetapi matanya menatap Yo Ko dan Ciu Pek Thong
bergantian dengan memancar kan sinar yang sangat tajam
sekali.
“Hanya kalian berdua yang berada ditempat ini” kata
Wanita setengah baya itu dengan suara yang menyeramkan
sekali, bengis dan mengandung hawa pembunuhan.
„Dan aku, Cek Tian berani memastikan bahwa kalianlah
yang telah merusak kuburan itu…”
Yo Ko cepat2 merangkapkan tangannya menjura. Namun
berbeda dengan Yo Ko justru Ciu Pek Thong jadi gusar bukan
main ditatap begitu rupa oleh nyonya setengah baya tersebut
dan juga kata2nya itu telah membuat Ciu Pek Thong
mendongkol sekali.
„Ehhh, nyonya!” katanya dengan suara nyaring. „Jangan
seenaknya saja engkau menuduh orang! Kamipun bisa saja
menuduhmu yang telah merusak dan membongkar kuburan
itu! Apa kah dengan beradanya kami disini engkau bisa
menuduh yang tidak2? Aku Loo Boan Thong juga bisa
menuduh engkau yang melakukannya, karena bukankah
engkaupun berada disini?”
Muka wanita itu jadi berobah hebat waktu mendengar
sikakek tua berjenggot panjang itu menyebut dirinya sebagai
Loo Boan Thong, bahkan mungkin karena terkejutnya dia
telah mundur dua langkah, memperhatikan Ciu Pek Thong
dengan sorot mata yang jauh lebih tajam dan juga sering

beralih mengawasi Yo Ko, terutama tangan kanan Yo Ko yang
telah buntung itu, dimana lengan bajunya terjuntai kosong
lemas tidak ada isinya itu … .
„Hemm, engkau Loo Boan Tong Ciu Pek Thong ? Bagus !
Dengan demikian, semakin kuatlah dugaanku bahwa kuburan
suamiku itu dirusak oleh kalian ! Dan melihat tangan
sibuntung itu, mau kuduga bahwa dialah Sin Tiauw Taihiap Yo
Ko, yang menurut cerita orang dialah pendekar nomor satu
dibawah jagad ini . . – ! Benarkah itu ?”
„Hujin (nyonya). aku yang rendah Yo Ko tidak berani
menerima pujian seberat itu, sedang kan itu hanya gurauan
dari sahabat2ku saja…!” kata Yo Ko dengan suara yang sabar,
sedangkan dihatinya Yo Ko tengah diliputi tanda tanya besar
yang tidak terjawab mengenai diri nyonya Ini. „Jika memang
Hujin tidak keberatan, boleh kah kami mengetahui she dan
nama Hujin yang mulia. Dan . . . masih pernah apakah antara
Hujin dengan Auwyang Yaya ?”
Yo Ko membahasakan Auwyang Hong dengai sebutan
Auwyang Yaya (ayah she Auwyang), karena Yo Ko anak
angkatnya Auwyang Hong di muka orang2 gagah Yo Ko
menyebut Auwyang Hong dengan sebutan Auwyang Peehu
(paman Auwyang), tetapi karena melihat wanita yang
setengah baya ini seperti memiliki hubungan sesuatu dengan
Auwyang Hong, sengaja Yo Ko menyebutnya dengan Auwyang
Yaya. Muka wanita itu berobah.
„Auwyang Yaya ? Jadi kau ingin maksudkan See Tok adalah
kakekmu ?” tegurnya dingin dan bengis. .. “Bukan kakek,
tetapi ayahku “.
„Mengapa kau menyebutnya dengan panggilan Yaya
(engkong) ? Engkau ingin mempermainkan aku ?”
„Mana berani Yo Ko main2 dengan Hujin ?’ Aku bicara yang
sesungguhnya, walaupun Kang-thia (ayah angkat) ku itu
senang mengambil aku sebagai anak angkatnya namun

peradatannya tidak disenangi, sehingga dia menganjurkan
agar aku tidak memanggilrya dengan Kang-thia, melainkan
Yaya, Bahkan di-saat2 menjelang tutup usianya, Auwyang
Kang-thia telah meminta kepadaku agar memanggilnya atau
menyebutnya kelak dengan sebutan Peehu (paman) saja,,
karena menurut Kang-thia, bakti atau tidak sama semua
hanya tergantung didalam hati, bukan merupakan bahasa
panggilan yang merupakan topeng belaka…”
Telah diceritakan dalam Sin Tiauw Hiap Lu, disaat Auwyang
Hong dan Ang Cit Kong ber tempur, yang akhirnya
menyebabkan mereka meninggal.
Disaat itu Yo Ko yang mendampingi kedua tokoh persilatan
itu.
Muka wanita itu telah berobah hebat. Dia telah mendengus
dingin.
„Lalu siapa yang telah merusak makamnya” bentaknya
dengan suara yang tetap bengis.
„Justru kamipun belum mengetahuinya…” menyahuti Yo
Ko. “Akupun tengah menyelidiki untuk membekuk penjahat
yang harus mempertanggung jawabkan perbuatannya itu.”
Cek Thian, nyonya itu, telah menghela napas.
„Engko Hong! engko Hong! ternyata sampai didalam
tanahpun engkau tidak bisa beristirahat dengan tenang dan
selalu dimusuhi ……
Akhhh, nasibmu benar2 harus dikasihani!”
Melihat wanita yang mengaku bernama Cek Thian itu ber
kata2 dengan suara yang mengandung kedukaan,
kekecewaan, perasaan mencinta yang luar biasa dalamnya, Yo
Ko tadi teringat lagi kepada isterinya yang baru saja lenyap
tertawan lawan.

Tanpa merasa menitik butir2 air mata kedukaan, seperti
diketahui Yo Ko memiliki perasaan yang lembut sekali,
selembut awan, dan keras sekeras baja.
Tentu saja Ciu Pek Thong pun kelabakan melihat kedua
orang yang tengah berduka itu, sehingga Loo Boan Tong telah
memandang Yo Ko dan Cek Thian ber-ganti2an.
„Hai. hai, mengapa kalian sama2 menangis”! tegurnya,
karena dia melihat Cek Thian, nyonyas itu. menitikkan air
mata juga.
Disaat itulah. Cek Thian telah menyusut air matanya,
kemudian dia telah berkata kepada anak lelaki kecil yang
berada digendongannya. „Phujie (anak Phu), kuburan ayahmu
telah dirusak orang, turunlah, ibu ingin menghajar penjahat
dulu.”
Anak lelaki itu seperti mengerti, dia telah mengiyakan dan
melompat turun dari tangan ibunya.
Yang membuat Yo Ko dan Ciu Pek Thong jadi terkejut
adalah gerakan anak lelaki itu.
Usia anak itu baru lima tahun, tetapi tubuhnya telah
melompat turun dari tangan ibunya bagaikan segumpal kapas
yang ringan sekali, ke dua kakinya Waktu menyentuh tanah,
tidak menimbulkan suara sedikitpun. Hal itu tentu saja
membuktikan bahwa anak lelaki itu telah memiliki ilmu
meringankan tubuh yang cukup tinggi, walaupun tentu saja
diimbangi dengan bentuk tubuhnya yang kecil dan berat
tubuhnya yang ringan.
Begitu turun, anak lelaki itu telah jongkok dan men cari2
semut yang ada diatas permukaan tanah, untuk lekas-lekas
dipermainkankannya, seperti juga tidak mengacuhkan
keadaan sekitarnya, tidak mau menperdulikan Yo Ko, Ciu Pek
Thong dan Cek Thian, ibunya itu.

Wanita setengah baya itu telah berdiri tegak dengan wajah
yang muram memandang kearah Yo Ko dan Ciu Pek Thong.
„Hemmm, engkau mengakui secara sembarangan bahwa
Auwyang Hong adalah ayah angkatmu, tetapi aku ingin
mengetahui, apakah kau berani mempertanggung jawabkan
kelancangan mu itu ? Apakah kau menduga bahwa aku tidak
mengetahui semua yang pernah dilakukan Engko Hong
semasa hidupnya ?”
Yo Ko berusaha bersikap tenang dan sabar, walaupun
nyonya itu tidak hentinya me-maki2 dia seperti itu. Tetapi
belum lagi dia menjawab Loo Boan Tong telah melompat
kedepannya menghadapi Cek Thian.
„Wanita busuk seperti kau ini apa gunanya diajak bicara,
karena engkau selalu bicara tidak keruan ” bentak Ciu Pek
Thong. „Jika engkau tidak mempercayai perkataan Yo Hiante
lalu siapa lagi yang ingin kau percayai ?”
„Aku hanya percaya mata dan diriku sendiri !” menyahuti
Cek Thian. „Seperti hari ini, aku melihat sendiri kuburan Engko
Hong telah dibongkar seseorang, telah dirusak. Dan membuat
arwah Engko Hong tentunya tidak tenang ! Hemmm, Hemmm,
tetapi walaupun bagaimana tetap saja aku tidak bisa
melepaskan dugaan bahwa kalian yang telah merusak kedua
kuburan itu !”
Dan setelah berkata begita, tahu2 sinyonya berjongkok
dengan gerakan yang sangat gesit sekali, diapun
memperdengarkan suara krokkkk, kroookkk ! lalu mendorong
kedepan kedua tangannya, kearah Yo Ko dan Ciu Pek Thong !
„Ha-mo-kang teriak Yo Ko dan Ciu Pek Thong terkejut
bukan main.
Yo Ko merasakan samberan angin serangan yang dahsyat
luar biasa, walaupun dia terpisah beberapa tombak, tetapi
angin serangan dari Ha mo-kang yang dilancarkan oleh
nyonya itu menyesakan napasnya.

Dengan cepat dia telah melompat tinggi sekali untuk
menghindarkan serangan itu, sedang kan Ciu Pek Thong telah
melompat kesamping.
Karena tidak mengenai sasaran, maka angin serangan
tersebut menghantam sebungkah batu gunung, dengan
mengeluarkan suara benturan keras batu itu hancur remuk
menjadi tumpukan abu.
Yo Ko dan Ciu Pek Thong disamping heran juga jadi
menggidik.
Yo Ko menjadi heran melihat wanita setengah baya itu
menguasai ilmu tunggal Auwyang Hong demikian hebatnya,
mungkin jika ingin di perbandingkan tidak berada disebelah
bawahnya Auwyang Hong sendiri.
Siapakah wanita setengah tua itu ? Tidak mungkin dia isteri
Auwyang Hong, karena Auwyang Hong telah meninggal
puluhan tahun yang lalu.
Saat itu, Cek Thian ketika melihat serangannya gagal
karena berhasil dihindarkan oleh Yo Ko dan Ciu Pek Thong,
jadi semakin gusar.
Dengan gerakan yang aneh, dia menggeser sedikit
kedudukan kakinya, dimana dia masih dalam posisi berjongkok
seperti itu, tahu2 kedua tangannya telah didorong pula kearah
Yo Ko dan, Ciu Pek Thong.
bahkan dari mulutnya telah mengeluarkan suara „Krokkk,
krokkkk!” berulang kali.
Yang mengejutkan lagi, justru kali ini Cek Thian
melancarkan serangan dengan Ha-mo kang nya itu bukan
dengan kedua tangan sekaligus, melainkan tangan kanannya
mendorong kearah Yo Ko. sedangkan tangan kirinya
mendorong ke arah Ciu Pek Thong.
Dengan sendirinya, hal ini telah membuat Yo Ko dan Ciu
Pek Thoag kagum bukan main, karena tenaga serangan itu

sama kuatnya seperti serangan pertama, walaupun sepasang
tangan itu dipisahkan.
Tetapi kali ini, Yo Ko tidak berkelit lagi dia tetap berdiri
ditempatnya. Dengan mempergunakan pukulan Kie An Cie Bie
atau Mengangkat Meja sampai di Alis, tepat sekali Yo Ko
mengibas dengan lengan tangan kanannya yang kosong itu.
Lengan jubah yang lemas itu menimbulkan tenaga kibasan
yang luar biasa kuatnya, karena Yo Ko telah mengerahkan
empat bagian tenaga dalamnya.
Dua kekuatan tenaga raksasa saling bentur lalu dengan
menerbitkan suara benturan keras keadaan disekitar tempat
itu jadi tergetar.
Tetapi Yo Ko kembali terkejut, sebab tubuh Cek Thian sama
sekali tidak bergeming. Dan Yo Ko merasakan tenaga
pertahanan dari Ha mo kang yang dimiliki Cek Thian kuat
sekali.
Sedangkan serangan tangan kiri Cek Thian kepada Ciu Pek
Thong telah dikelit oleh kakek tua jenaka itu. Namun Ciu Pek
Thong pun tidak tinggal diam, dia menganggap nyonya ini
keterlaluan sekali.
Dengan cepat Loo Boan Thong melancarkan serangan
membalas dengan telapak tangannya kearah pundak Cek
Thian.
Tetapi Cek Thian dengan gerakan yang aneh pula, dengan
masih berjongkok pula, tahu2 melejit kesamping, dia telah
berpindah tempat. Dan tahu2 kedua telapak tangannya
mendorong kearah Ciu Pek Thong.
Itulah ilmu Ha-mo-kang tingkat kesembilan serangan yang
sangat hebat sekali. Dan Yo Ko yang pernah memperoleh
pelajaran ilmu Ha mo kang dari Auwyang Hong mengetahui
hebatnya serangan itu.

Dengan cepat dia telah menjejakan kakinya tangannya
mendorong tubuh Ciu Pek Thong sambil meneriakinya: „Ciu
Toako mundur….”
Yo Ko melakukan hal itu karena dia menyadari jika Ciu Pek
Thong menyambuti, tentu se-tidak2nya Loo Boan Tong akan
terluka didalam karena tenaga gempuran Ha-mo-kang tingkat
ke sembilan tersebut memiliki dua macam kekuatan “keras”
dan “lunak”. Yang keras untuk menghantam dan menggempur
tenaga lawan yang mengunakan tenaga lawan yang keras.
Dan kini yang luar biasa, justeru Cek Thian telah mempergunakan
sekali gus kedua macam kekuatan itu.
Yo Ko mengenal sifat Ciu Pek Thong yang selalu tidak
pernah mengenal takut penasaran, maka Loo Boan Tong pasti
akan melancarkan tangkisannya. Itulah yang membuat Yo Ko
ber-kuatir, kalau Ciu Pek Thong tidak dapat bertahan dari
gelombang hebat yang memiliki dua macam kekuatan.
Ciu Pek Thong melihat Yo Ko mendorongnya dan meminta
dia menyingkir, jadi tertegun. Tetapi dia tidak mau mengalah
terhadap Cek Thian, sedangkan serangan wanita itu
menyambar datang akan mengenai dirinya, Tetapi Yo Ko yang
mendorongnya dengan disertai lwekang yang telah
diperhitungkan, membuat tubuh Ciu Pek Thong bergoyang
dan terhuyung kesamping, sedangkan lengan kanannya yang
kosong itu telah dikibaskan menghantam kearah tenaga
serangan Ha-mo-kang Cek Thian.
Benturan yang terjadi diantara kekuatan Cek Thian dengan
Yo Ko tidak menimbulkan suara apa2.
Tetapi sesungguhnya benturan kekuatan tenaga itu
menghadang seekor gajah, maka gajah itu akan binasa
dengan tubuh yang hancur.
Dan jika saat itu benturan tersebut tidak mengeluarkan
suara benturan yang keras, hal itu memperlihatkan bahwa

disaat itu Yo Ko berhasil menindih kekuatan Ha-mo-kang
yang dilancarkan oleh Cek Thian.
Kenyataan seperti itu tentu saja membuat Cek Thian gusar
sekali, dia merasakan tenaga-nya seperti tenggelam kedalam
lautan.
Dengan mengeluarkan seruan keras, dia tidak menarik
pulang tenaga serangannya, hanya dengan mengibaskan
kesamping, lalu mendorong lagi, serangan pertama itu telah
dibantu oleh dorongan tenaga kedua. Maka bisa dibayangkan
serangan yang kali ini dilancarkan oleh Cek Thian.
Yo Ko terkejut sekali, dia mengeluarkan seruan tertahan.
Saat itu dia baru saja mendorong Ciu Pek Thong, se-tidak2nya
dia telah memecahkan perhatian dan tenaga dalamnya,
membuat dia tidak sepenuhnya dapat menangkis serangan itu.
Dan kini serangan kedua telah tiba, mendorong tenaga
serangan pertama yang belum lenyap keseluruhannya,
membuat Yo Ko terancam bahaya yang tidak kecil.
Tetapi diwaktu kecil Yo Ko pernah memperoleh didikan
Auwyang Hong, bahkan kini yang tengah dihadapinya adalah
sesuatu ilmu terhebat dari Auwyang Hong sendiri, yang
dilancarkan oleh Cek Thian.
Dalam keadaan yang terdesak begitu maka Yo Ko tidak
menjadi gugup. Dengan cepat sekali dia telah menggerakkan
pinggangnya, tahu2 sepasang kakinya telah terangkat dan
kepalanya langsung menempel ditanah, dia jadi berdiri di atas
kepalanya dan kedua kakinya itu tergantung ditengah udara.
Lalu dengan tubuh yang berputar seperti gasing tahu2
tangan Yo Ko meluncur kedepan kearah Cek Thian, menangkis
serangan yang di lancarkan oleh wanita setengah baya itu.
Bukan main dahsyatnya tangkisan yang dilakukan oleh Yo
Ko, karena disamping Yo Ko juga mempergunakan ilmu HaTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
mo-kang, juga dia memiliki lwekang yang sudah mencapai
puncak kesempurnaan, yang sulit untuk diukur lagi.
Angin tangkisan yang dilakukannya begitu halus, tetapi
memiliki tenaga menolak yang dahsyat sekali.
Dengan mengeluarkan seruan kaget, Cek, Thian tahu2
telah terpental, tubuhnya terapung ke tengah udara.
Nyonya setengah baya itu berusaha berjumpalitan ditengah
udara, tetapi usahanya itu gagal.
Hal itu disebabkan tenaga menolak yang ke luar dari
telapak tangan tunggal yang kiri dari Yo Ko telah
menghantamnya kuat sekali, kare na disamping tenaga dalam
Yo Ko sendiri, juga tenaga serangan Cek Thian telah terbalik
meng hantam majikannya. Tanpa ampun, tubuh Cek Thian
rubuh bergulingan diatas tanah.
Yo Ko telah melompat berdiri dengan kedua kakinya pula,
dia telah menghampiri Cek Thian yang duduk bersila ditanah,
karena wanita setengah baya itu tidak bisa cepat2 berdiri,
tubuhnya dirasakan kaku sebagian akibat gempuran yang
diterimanya dari Yo Ko.
„Hujin, maafkan aku terpaksa menurunkan tangan agak
keras. Apakah kau terluka ?” tanyanya halus.
Nyonya setengah baya itu mendelik, tetapi kemudian
menundukkan kepalanya. Beberapa butir air mata telah
menitik turun ketanah, merembes kedalam tanah, lenyap.
Tetapi tidak terdengar suara tangisan nyonya setengah
baya itu, tampaknya dia menitikan air mata dengan kedukaan
yang sangat. Yo Ko melihat nyonya setengah baya menangis,
jadi ikut berduka. Dia bisa membayangkan, betapa penasaran
nyo nya itu, karena justeru disaat dia memperguna kan Hamo-
kang, ilmu yang sangat sakti ini, malah telah dirubuhkan
oleh ilmu serupa itu pula . . .

Yo Ko telah mengulurkan tangannya untuk merabah nadi
ditangan sinyonya setengah baya, tetapi belum lagi berhasil
memegang pergelangan tangan Cek Thian, tangannya telah
dikibaskan sehingga Yo Ko mundur.
„Kurang ajar……kau telah merubuhkan aku sekarang kau
ingin berbuat kurang ajar menghinaku pula, heh ?” bentak
nyonya setengah baya itu dengan suara yang bengis.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s