Sin Tiauw Thian Lam (Jilid : 5)

JILID 5

PEMUDA itu tengah ketakutan setengah mati ditanya
demikian segera juga dia menangis.
„Ampun…ampunilah aku, Liehiap…aku……aku tidak
sengaja bersembunyi disitu. Tadi secara kebetulan aku tiba
ditempat ini dan mendengar suara yang ribut-ribut, kukira ada
serombongan Ouw pak (perampok), maka cepat-cepat aku
bersembunyi”
Siauw Liong Lie tersenyum tawar, dia mengetahui pemuda
itu bicara justa. Tetapi karena nyonya Yo tengah memikirkan
suaminya dan Ciu Pek Thong yang belum juga kembali dan

juga melihat orang itu hanya merupakan seorang muda yang
tidak memiliki kepandaian apa-apa maka dia telah menendang
dengan ujung sepatunya membuka totokan jalan darah
pemuda itu.
„Pergilah kau !” katanya dengan suara yang dingin.
Pemuda itu tanpa sempat mengucapkan terima kasih telah
cepat-cepat pentang langkah lebar untuk berlalu dari tempat
itu.
Siauw Liong Lie menghela napas sambil kembali
menghampiri Sin Tiauw. kemudian duduk disamping rajawali
itu.
Tetapi disaat itu telah terdengar suara seseorang yang
berkata dingin sekali. „Sungguh perbuatan mulia…buaya darat
kejam dilepas begitu saja, sedangkan tikus botak ditangkap !”
Siauw Liong Lie terkejut sekali dia seperti mengenal suara
itu. tetapi nyonya Yo sudah tidak mengingatnya lagi entah
dimana.
„Siapa yang bicara ? Mengapa tidak memperlihatkan diri ?”
dari mana datangnya suara itu.
„Ha, ha, kita sahabat-sahabat lama, mustahil nyonya sudah
lupa kepadaku “ terdengar lagi suara itu, dingin dan seperti
juga mengejek.
Dan membarengi dengan selesainya suara tersebut,
tampak berkelebat keluar sesosok tubuh dari balik sebuah
batu gunung yang cukup besar, yang berada disebelah kanan
dari kuburan Auwyang Hong. Gerakan orang itu ringan sekali
dan dalam sekejap mata saja dia telah berdiri dihadapan
Siauw Liong Lie sambil tertawa tidak sedap didengar. Waktu
kedua kakinya menyentuh tanah, tidak terdengar suara
sedikitpun juga hal itu menunjukkan bahwa orang tersebut
memiliki ilmu meringankan tubuh yang tinggi.

Siauw Liong Lie mengawasi orang yang baru datang, dia
jadi terkejut sendirinya, karena segera juga dia mengenali,
bahwa orang tersebut tidak lain dari Tiat To Hoat-ong.
Tubuhnya yang besar, dengan jubah kependetaannya dan
kepala yang gundul dengan kuncup emas diatas kepalanya
serta jenggot yang tipis panjang tanpa kumis, merupakan raut
wajah yang sulit di lupakan walaupun baru bertemu satu kali.
Dengan mengeluarkan seruan tertahan Siauw Liong Lie
telah melompat mundur dua langkah.
„Mengapa kaget nyonya ?” sapa Tiat To Hoat-ong
dengan disertai tertawanya yang mengejek. „Bukankah
kita sahabat-sahabat lama ? walaupun kita baru pertama
kali bertemu, tetapi melihat kepandaianmu dan juga
kepandaian suamimu si buntung itu, maka dapat kuduga
kalian adalah manusia-manusia pandai didaratan
Tionggoan ini, maka jelas pula kalianpun mengetahui
siapa adik seperguruanku yang bernama Kim Lun Hoatong.
Bukankah begitu ?”
Siauw Liong Lie mengerutkan alisnya. dia telah
mengetahui dari Ciu Pek Thong yang menceritakan
bahwa Tiat To Hoat-ong tengah men cari-cari Kim Lun
Hoat-ong.
Justru Kim Lun Hoat-ong telah terbinasa diatas
panggung yang dibangunnya sendiri untuk membakar
Kwee Siang guna menekan Kwee Ceng dan Oey Yong
agar menyerah.
Tetapi oleh Yo Ko justru Kim Lun Hoat-ong telah
tertendang jalan darah Tan Tiong Hiat didadanya
sehingga dia memuntahkan darah segar, tubuhnya rubuh
kegumpalan api yang membakar panggung itu, kemudian
oleh Ciu Pek Thong dipeluk dengan keras, sehingga siasia
Kim Lun Hoat ong berusaha untuk meronta, dia telah

dirubuhkan dan hanya disaat itulah Kim Lun Hoat-ong
harus menjerit hebat, sebab tubuhnya telah tertusuk
oleh baju lapis duri yang dikenakan Ciu Pek Thong disaat
itu, sehingga pendeta dari Tibet yang bekerja untuk
Kaisar Mangu telah terbinasa disaat itu, habis nyawanya.
Peristiwa mana diketahui oleh Kaisar Mangu dan Kublai,
hanya disaat itu Kaisar Mangu terbinasa oleh timpukan
batu Yo Ko. Kublai telah menggunakan kecerdikannya,
dan disaat Tiat To Hoat ong menanyakan perihal Kim
Lun Hoat-ong, pada saat itu Kublai yang cerdik tidak
memberikan keterangan yang sesungguhnya. Kublai
hanya mengatakan Kim Lun Hoat-ong masih berkeliaran
didaratan Tionggoan. Tidak menceritakan perihal
kematian Kim Lun Hoat-ong yang mengenaskan itu.
Siauw Liong Lie yang mengetahui bahwa kematian Kim Lun
Hoat-ong menjadi kalap dan murka, telah berwaspada, karena
dia mengetahui pendeta ini memiliki kepandaian yang luar biasa.
Waktu Yo Ko menyatakan Kim Lun Hoat-ong memang
telah mati,.Tiat To Hoat-ong pernah memperlihatkan sikap
yang menakutkan sekali.
Tetapi Siauw Liong Lie tidak takut, bahkan dia telah tertawa
dingin.
„Hemmm, rupanya kau masih penasaran” kata Siauw Liong
Lie. „Bukankah suamiku telah memberitahukan bahwa Kim
Lun Hoat-ong memang benar-benar telah binasa?”
Muka Tiat To Hoat-ong tidak berobah sedikitpun. dia hanya
tertawa mengejek.
„Andaikata memang keterangan suami nyonya itu benar,
maka kalian tentu mengetahui di mana terbunuhnya adik
seperguruanku itu. Dengan matinya adik seperguruanku yang
liehay itu, tentu ada orang yang membunuhnya, maka siapa
pembunuhnya itu?”

Siauw Liong Lie merasa sebal melihat tingkah pendeta itu.
Dia mendongkol sekali, maka dia menyahut sekenanya „Aku
yang telah membinasakannya… “
Mata Tiat To Hoat-ong tampak bersinar sepasang alisnya
berkerut dan keningnya yang meng kilap itu ber gerak-gerak.
„Hemm … rupanya memang nyonya tidak mau
menghormati sedikitpun kepada seorang tamu jauh ! Kau
telah bicara secara bergurau, maka Hudyamu juga jadi raguragu,
apakah benar adik seperguruanku itu telah
terbunuh……”
Dalam partai Kouw Bok Pay terdapat aturan yang
dipandang dan dianggap sebagai pantangan semuanya ada
dua macam dan masing-masing terdiri dari dua belas macam
intinya adalah “Kurang” dan “Lebih” seperti kurangi pikiran,
kurangi kemauan kurangi urusan, kurangi bicara, kurangi
tertawa, kurangi marah, kurangi kegembiraan, kurangi
perbuatan jahat sebaliknya jangan lebih berpikir, jangan lebih
keinginan, jangan lebin banyak urusan, jangan lebih bicara,
jangan lebih tertawa, jangan lebih berduka, jangan lebih
bergirang, jangan lebih jahat.
Semua pantangan itu, kalau tidak dilawan artinya
disingkirkan, bisa mencelakai diri Sendiri Siauw Liong Lie dapat
mentaati ajaran tersebut, maka dia bebas, tidak bergirang,
tidak berpikir, tidak berduka, bahkan kemurnian yang dimiliki
Siauw Liong Lie tidak bisa ditandingi oleh kakek gurunya, Lim
Tiauw Eng.
Adalah kemudian, kedatangan Yo Ko dikuburan mayat
hidup itu, yang telah membuat mereka bergaul erat, mulai
lowonglah dan tidak se ketat lagi pantangan “Kurang” dan
“Lebih” itu, sedangkan enam belas tahun setelah mereka
menikah, pengalaman dan penderitaan Yo Ko jadi bertambah
banyak, sebaliknya Siau Liong Lie tetap tinggal menyendiri
ditempat sepi, memang dia sering memikirkan Yo Ko tetapi
berkat latihan sebelumnya yang selama dua puluh tahun

lamanya, hatinya jadi lebih mantep dia terpengaruh pula
pantangan itu.
Begitulah sekarang, setelah lewat beberapa tahun lagi,
kenyataannnya Siauw Liong Lie semakin tidak dapat mentaati
sepenuhnya peraturan tersebut. Terlebih sekarang di saat dia
tengah isi, sehingga sering diganggu oleh kekuatiran,
kebahagiaan yang berkelebihan, kekalutan pikiran yang
berkelebihan, kegembiraan yang berkelebihan, membuat
Siauw Liong Lie mulai tersisih latihan selama puluhan tahun
itu.
Namun menghadapi Tiat-To Hoat-ong yang kurang ajar dan
bicara seenaknya, Siauw, Liong Lie bisa mempertahankan hati
dan diri, untuk tidak terlalu berkelebihan marah, tidak terlalu
berkelebihan kuatir. Dia memandang pendeta Mongolia.
tersebut dengan sorot mata yang tajam, dingin, wajahnya
juga dingin tidak berperasaan sehingga Tiat To Hoat-ong jadi
terkejut.
Namun pendeta itu sengaja untuk menutupi keheranannya
itu dengan tertawanya yang keras.
„Sebagai seorang pendeta tentunya kau memegang patuh
peraturan dan bicaramu, apakah kau anggap aku bicara
ngawur dan sembarangan” tegur Siauw Liong Lie dengan
suara yang dingin.
„Baiklah, jika nyonya mengatakan bahwa adik
seperguruanku Kim Lun Hoat-Ong memang telah mati, maka
silahkan nyonya mengantarkan aku untuk menjenguk
kuburannya.. !”.
„Kim Lun Hoat-ong tidak memiliki kuburan, dia mati tanpa
diterima bumi……!” dingin luar biasa suara nyonya Yo, dia jadi
muak ter hadap sikap Tiat To Hoat-ong.
„Apa…apa kau bilang ?„ Tiat To Hoat-ong tampaknya
terkejut bukan main. sehingga dia memandang tertegun
kepada Siauw Liong Lie.

„Dengarlah Kim Lun Hoat-ong mati tanpa diterima oleh
bumi..,!” mengulang Siauw Liong Lie, suaranya tetap dingin
tidak mengandung perasaan.
Muka Tiat To Hoat-ong jadi berobah tidak sedap
dipandang, dia telah beringas dan mukanya bengis sekali di
samping sepasang matanya memancarkan sinarnya yang
tajam luar biasa.
„Memang sesungguhnya engkau pembunuh adik
seperguruanku itu…?” menegasi sipendeta,
„Tidak salah !” mengangguk Siauw Liong Lie tegas. Dia
mengakui begitu, karena suaminya Yo Ko, yang telah
membinasakan Kim Lun Hoat ong, yang dibantu oleh Ciu Pek
Thong. Tetapi karena kedua orang itu tengah pergi, Siauw
Liong Lie menghadapi sendiri sipendeta. Dia memang melihat
kepandaian Tiat To Hoat-ong liehay sekali, namun dia tidak
takut sedikit pun juga,
„Hemmm, jika memang demikian baiklah!” kata Tiat To
Hoat-ong kemudian. „Nah kau harus ikut bersamaku untuk
mempertanggung jawabkan perbuatanmu itu..,.”
Dan sipendeta bukan hanya bicara sampai disitu saja,
karena dia telah membarengi dengan mengulurkan tangan
kanannya, yang maksudnya ingin mencengkeram nadi Wuelu-
hiat dipergelangan tangan Siauw Liong Lie.
Jalan, darah Wue lu-hiat merupakan jalan darah yang
cukup penting, merupakan urat utama dipergelangan tangan.
Jika memang jalan darah itu berhasil dicengkeram, atau
ditotok niscaya tubuh korban totokan itu akan lemas tidak
bertenaga.
Siauw Liong Lie mana mau membiarkan pergelangan
tangannya dicengkeram oleh pendeta itu. Maka dengan
miringkan sedikit tubuhnya, pergelangan tangannya telah
bebas dari cengkeraman sipendeta.

Tetapi Tiat-To Hoat-ong yang pernah merasakan hebatnya
Yo Ko, dan juga melihat cara berkata dan sikap sinyonya Yo
itu, siang-siang dia telah mengetahui Siauw Liong Lie memiliki
kepandaian yang tinggi, maka dari itu walaupun serangannya
berhasil dielakkan oleh Siauw Liong Lie, tidak menjadi heran
karenanya. Begitu serangannya berhasil dielakkan, begitu dia
susuli oleh serangan berikutnya, yaitu tangannya dibalik
membarengi mana dia telah mencengkeram kearah bahu
Siauw Liong Lie.
Nyonya Yo Ko telah mengeluarkan suara dengusan dingin
tubuhnya bagaikan seekor kupu-kupu berkelit indah dan
ringan sekali kesamping. Waktu tubuhnya mengelak
kesamping begitu, justru siaat itulah dia melihat punggung
Tiat To Hoat ong maju kedepan, maka tanpa membuangbuang
kesempatan yang ada, dia telah mengayunkan
tangannya untuk menotok, jalan darah Siang kuhiat yang
terletak dipunggung sipendeta, yang berdekatan dengan
tulang piepe pendeta tersebut.
Jalan darah Tiat To Hoat-ong berhasil ditotok dengan
tepat, namun pundak sipendeta seperti juga berminyak jari
tangan Siauw Liong Lie seperti melejit.
Tetapi Siauw Liong Lie penasaran sekali, dengan serentak
dia telah menyusuli totokan lainnya, yang menotok telak sekali
jalan darah Pie-hong-hiat dipinggang sipendeta.
Totokan itu tepat dan jitu sekali, tetapi di saat itulah
sipendeta telah melompat kedepan dua langkah, seperti juga
sedikitpun dia tidak merasakan hasil totokan Siauw Liong Lie.
Nyonya Yo Ko juga mengerutkan sepasang alisnya, dia
kagum atas keliehayan lawannya ini, yang dilihatnya memang
jauh diatas kepandaian Kim Lun Hoat-ong.
Jelas totokannya tadi telah berhasil mengenai sasarannya
dengan jitu, tetapi kenyataannya pendeta itu tidak rubuh dan
tidak kurang suatu apapun juga.

Siauw Liong Lie mau menduga, bahwa Tiat To Hoat-ong
tentunya mempelajari ilmu Yoga sama halnya seperti Kim Lun
Hoat-ong, melatih telah sampai kepuncak kesempurnaan,
sehingga pendeta itu berhasil memindahkan otot dan tulang
sekehendak hatinya.
Tidak mengherankan, walaupun totokan dari Siauw Liong
Lie menghantam dengan jitu sekali, namun tidak ada hasilnya.
Tiat To Hoat-ong tertawa nyaring, sambil memutar
tubuhnya.
„Nyonya, lebih bijaksana jika nyonya secara baik-baik ikut
bersama Hudya, sehingga nyonya tak menemui kesulitan
suatu apapun juga…!” kata Tiat To Hoat-ong pula. Dan dia
bukan hanya berkata-kata, karena dengan cepat sekali kedua
tangannya telah digunakan untuk menangkap tangan Siauw
Liong Lie dengan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya
akan menotok jalan darah Su Sing Hiat dipinggang sinyonya
Yo.
Siauw Ling Lie jadi gusar, karena pendeta itu benar-benar
terlalu mendesaknya.
“Walaupun bagaimana kepandaian Siauw Liong Lie
berimbang dengan Yo Ko, maka bisa di mengerti bahwa
nyonya itu memang memiliki ke pandaian yang sangat lihay.
Dan mungkin didaratan Tionggoan hanya Kwee Ceng dan Oey
Yok Su yang bisa menghadapinya berimbang.
Tetapi pendeta ini, yang tangannya lancang dan hatinya
bengis kejam, rupanya tidak memandang sebelah mata
kepada nyonya tersebut. Dia telah berulang kali melancarkan
serangan.
Tetapi Siauw Liong Lie juga tidak ingin membuang-buang
waktu, dengan cepat sekali dia telah mengeluarkan seruan
kecil membarengi tangan kirinya mengibas dengan ujung
lengan tangannya menyampok tangan kiri sipendeta, seTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
dangkan tangan kanannya tahu-tahu menyambar akan
menampar kepala botaknya sipendeta.
Tamparan yang dilakukan oleh Siauw Liong Lie bukan
merupakan tamparan biasa, karena sambil menampar dengan
telapak tangannya itu, sinyonya Yo telah mengarahkan tenaga
dalamnya maka bisa dibayangkan hebatnya tamparan itu.
Tiat To Hoat-ong juga mengetahui hebatnya tamparan
yang dilancarkan oleh Siauw Liong Lie. Lebih-Lebih dia
merasakan sampokan ujung lengan baju sinyonya yang
menghantam telak sekali tangannya, sehingga merasakan
tangannya itu kesemutan, maka tamparan yang dilancarkan
oleh, Siauw Liong Lie tidak berani dipandangnya remeh.
Dengan gerakan yang aneh sekali, seperti juga gerakan
seorang pendeta yang tengah bersemedhi, tahu-tahu
tubuhnya jadi pendek kebawah karena sepasang kakinya telah
ditekuknya dalam-dalamdan masih tetap dalam keadaan
seperti itu, disaat dia seperti tengah berjongkok Tiat To Hoatong
mengulurkan kedua tangannya lurus-lurus kedepan, akan
memegang dan merangkul pinggang Siauw Liong Lie.
Serangan yang dilancarkan oleh Tiat To Hoat-ong
sesungguhnya merupakan serangan yang biasa saja, tetapi
bagi Siauw Liong Lie tidak mau tubuhnya disentuh oleh tangan
pendeta itu. Dengan cepat Siauw Liong Lie menjejak tanah,
tubuhnya melompat kebelakang dengan gesit sekali
menjauhkan diri. Dengan sendirinya serangannya terhadap
sipendeta jadi batal.
Tiat To Hoat-ong berdiri sambil tertawa ter gelak-gelak
nyaring sekali.
Siauw Liong Lie jadi mengerutkan sepasang alisnya. Dia
melihat kepandaian Tiat To Hoat-ong memang luar biasa
hebatnya, dan diam-diam Siauw Liong Lie jadi mengharapkan
Yo Ko dan Ciu Pek Thong kembali cepat-cepat, karena jika
bertempur terus menerus dengan cara seperti itu, dan juga

memakan waktu yang panjang. pasti lama kelamaan sinyonya
akan kehabisan napas dan letih. Walaupun dia liehay, tetapi
bukankah Siauw Liong Lie tengah mengandung ?
Itulah sebabnya, Siauw Liong Lie pun tidak berani terlalu
mengerahkan seluruh tenaganya, dan tidak berani bergerak
terlalu gesit, sebab dia kuatir kalau-kalau mengganggu
kesehatan bayinya. Maka dari itu, dengan cepat sekali Siauw
Liong Lie merobah cara bertempurnya itu, tidak bisa dia selalu
mempergunakan kekerasan dan kekuatan tenaganya,
walaupun bagaimana dia harus mengandalkan kegesitannya
belaka dan memancing agar sipendeta tidak menurunkan
tangan keras kepadanya, sampai akhirnya nanti Yo Ko dan Ciu
pek Thong kembali.
Tetapi Tiat To Hoat-ong juga rupanya mengetahui jalan
pemikiran dari Yo Hujin ini. karena dengan cepat sekali, dialah
beruntun melancarkan serangan yang kuat sekali.
dengan disertai oleh kekuatan tenaga lweekang yang
dahsyat bukan main.
Dan didalam waktu yang singkat, Siauw Liong Lie jadi sibuk
sekali untuk mengelakkan diri dari serangan-serangan
lawannya.
Tetapi Siauw Liong Lie sebagai seorang pendekar wanita
yang terhebat dijaman itu. mana bisa dirubuhkan dengan
mudah oleh Tiat To Hoat-ong ?
Disaat itulah, Sin Tiauw yang sejak tadi mengawasi nyonya
majikannya yang tengah bertempur begitu hebat, dan juga
lama kelamaan terdesak karena lawannya liehay sekali, tidak
tinggal diam. Dengan Cepat bukan main, Sin Tiauw telah
mementang sayapnya melayang ditengah udara, dan
menukik-nukik berusaha untuk mencengkeram dan mematuk
kepala Tiat To Hoat-ong.
Tiat To Hoat-ong gusar sekali, suatu kali dengan sengit dia
telah menggerakkan tangan kanannya, dia melancarkan

serangan kearah rajawali itu. Dia menduga, dengan sekali
pukul, dengan pukulan yang disertai oleh tenaga dalam
rajawali itu pasti akan dapat dibinasakannya.
Tetapi diluar dugaannya, mimpipun Juga tidak, bahwa
pukulannya itu ternyata tidak berarti apa-apa bagi Sin
Tiauw, karena disaat tenaga serangan Tiat to Hoat-ong
hampir tiba, disaat itulah Sin Tiauw yang tengah
melayang diatas kepala Tiat To Hoat-ong telah mengibas
dengan sayapnya yang kanan, yang seketika
menyebabkan Tiat To Hoat-ong merasakan tangannya
kesemutan dan telah tersampok kesamping!
Itulah suatu urusan yang benar-benar tidak pernah
dipikirkannya bahwa seekor burung rajawali dapat
menangkis serangan hebat dari seorang pendekar
tangguh seperti dia yang kekuatan tenaga
menyerangnya itu meliputi lima ratus kati lebih.
Di Tibet, Tiat To Hoat-ong dihormati dan disegani
melebihi raja, dan di mongolia diapun disamping
dihormati, juga telah merupakan penasehat raja. Kaisar
Mangu sebelum meninggal juga sangat segan dan
menghormatinya, disamping Kim Lun Hoat-ong.
Begitu pula Kublai yang telah menjadi Khan yang
telah dipilih oleh para menteri
Mongolia untuk menggantikan kedudukan Khan, raja
setelah kakaknya itu terbinasa dalam peperangan, sangat
menghargai Tiat To Hoat ong.
Dengan sendirinya kini seekor burung rajawali dapat
memunahkan pukulannya. Dapat juga melancarkan serangan
kepadannya, membuat Tiat To Hoat ong jadi takjub dan
kagum disamping murka.
Tiat To Hoat ong tidak mengetahui bahwa sesungguhnya
Kim Lun Hoat ong pun sangat takut dan jeri berurusan dengan

Sin Tiauw ini. Karena Kim Lun Hoat ong pernah merasakan
kehebatan sang Rajawali Sakti.
Toat To Hoat ong sangat penasaran sekali dia sampai
melupakan Siauw Liong Lie untuk sejenak lamanya dia telah
melancarkan serangan yang beruntun kearah burung rajawali
itu.
Luar biasa hebatnya serangan-serangan yang dilancarkan
oleh Tiat To Hoat ong karena dia melancarkan serangannya
itu dengan mengerahkan lima bagian tenaga dalamnya. Bisa
dibayangkan hebatnya serangan itu, karena sebagai jago yang
nomor satu dinegerinya, dimana kini dia melancarkan
serangan-serangan dengan mengerahkan lima bagian tenaga
dalamnya, hanya untuk sekedar melayani seekor burung
rajawali. Siauw Liong Lie girang melihat Sin Tiauw telah
membantuinya, dia yakin, dengan dibantu oleh Sin Tiauw dia
tentu bisa mengusir pendeta asing itu.
Bukankah serangan-serangan Sin Tiauw yang dilancarkan
oleh rajawali itu dari tengah udara, telah mempersibuk
pendeta itu, yang perhatian nya jadi terpecah hebat?
Tanpa membuang-buang waktu dan kesempatan yang
ada, tampak Siauw Liong Lie telah melompat ketengah
gelanggang, dan disaat tubuhnya masih melayang di tengah
udara, kedua tangannya telah mendorong dengan keras.
Dari kedua telapak tangannya itu telah meluncur
serangkum angin serangan yang dahsyat sekali, yang
menghantam keras luar biasa ke arah Tiat To Hoat ong.
“Bruaakk” Tiat To Hoat ong telah sempat menangkisnya
sehingga dua kekuatan raksasa dari dua macam tenaga dalam
yang terlatih sempurna telah saling bentur ditengah udara.
Yang hebat adalah tekanan dari tenaga serangan Siauw
Liong Lie yang sudah menyebabkan tubuh Tiat To Hoat-ong
jadi ter huyung2 mundur beberapa langkah kebelakang

dengan muka yang telah berobah pucat sedangkan Siauw
Liong Lie juga tergetar tubuhnya.
Waktu itu Siauw Liong Lie telah mengempos semangatnya
lagi untuk melancarkan serangannya. tetapi tiba2 pandangan
matanya jadi gelap dan ber kunang2 kepalanya pusing dan
pinggangnya sakit seperti ditarik. Serangan seperti itu
datangnya demikian tiba2, sehingga Siauw Liong Lie mengeluh
sendirinya dan membatalkan maksudnya untuk melancarkan
serangan kepada lawannya dan cepat2 menyenderkan tubuh
nya disebuah batang pohon karena dia kuatir rubuh pingsan.
Hal itu disebabkan Siauw Liong Lie tadi telah
mempergunakan tenaga yang melebihi takaran, dia telah
mengempos semangatnya melebihi batas, sehingga
mengalami goncangan pada kandungannya.
Sin Tiauw yang melihat keadaan Siauw Liong Lie, jadi
terkejut bukan main, dia telah mengeluarkan suara pekikan
yang nyaring sekali dan telah mempergencar serangan2nya,
dengan mempergunakan paruh dan kedua cakarnya.
Tiat To Hoat-ong yang tadi telah terkejut bukan main, dan
semula bermaksud untuk, mengundurkan diri meninggalkan
tempat itu saja karena merasa tidak ungkulan, ketika. melihat
keadaan Siauw Liong Lie, dia jadi girang bukan main, dengan
mengeluarkan suara seruan; yang mengguntur, dia telah
melancarkan serangan yang jauh lebih kuat dan hebat
kepada Sin Tiauw, sehingga memaksa Sin Tiauw terbang lebih
tinggi ketengah udara.
Mempergunakan kesempatan yang hanya beberapa detik
itu. Tiat To Hoat-ong yang liehay luar biasa, telah melompat
menubruk ke arah Siauw Liong Lie. Tangan kanannya tahu2
telah melayang menotok kearah jalan darah Su-suan-hiat
didekat iga ketujuh dari tubuh nyonya Yo, jari tangannya itu
meluncur cepat dan ber tenaga sekali.

Siauw Liong Lie melihat datangnya serangan itu: namun dia
tidak berdaya sama sekali untuk menangkisnya, karena disaat
itu tubuhnya tengah ber-goyang2 seperti akan rubuh pingsan
tenaganya seperti lenyap dan juga sekelilingnya seperti
lenyap. Maka tanpa ampun lagi totokan sipendeta Tiat To
Hoat-ong tidak berhasil di elakkannya dan tubuh Siauw Liong
Lie terjungkel rubuh ditanah.
Sin Tiauw yang menyaksikan itu mengeluar kan pekikan
dan cepat2 menyambar kearah Tiat To Hoat-ong, melancarkan
serangan kepada Tiat To Hoat-ong dengan sayap kanan dan
kirinya mengibasnya, maka kekuatan angin serangan ribuan
kati menerjang sipendeta.
Tentu saja Tiat To Hoat ong terkejut sekali dia telah
menyingkir kesamping. Itulah yang dikehendaki oleh Sin
Tiauw karena dengan menyingkirnya Tiat To Hoat ong, berarti
si pendeta tidak bisa mengganggu Siauw Liong Lie lebih jauh.
Burung rajawali itu telah hinggap turun di tanah, disamping
Siauw-Liong Lie untuk melindunginya.
Si pendeta mendengus tertawa dingin. Dia telah berhasil
menotok rubuh Siauw Liong Lie tetapi disebabkan rajawali itu
maka usahanya terancam gagal, jika sampai Yo Ko dan Ciu
Pek Thong sempat datang, niscaya akan menyebabkan gagal
rencananya.
Disaat Tiat To Hoat-ong berdiri bimbang seperti itu, tiba2
dikejauhan, dari arah puncak Giok Lie Hong terdengar suara
pekik seperti menangis yang menyayatkan hati, yang panjang
dan terdengar samar sekali …….. itulah suara wanita yang
rambutnya telah ubanan, yang telah berhasil di serang sampai
dirubuhkan Yo Ko dan disaat akan berlalu nenek ubanan itu
telah mengeluarkan suara tangisan yang di dengar oleh Tiat
To Hoat ong.

Dengan sendirinya, ketika mendengar suara tangisan yang
panjang seperti itu, Tiat To Hoat ong jadi berkuatir kalau2 Yo
Ko dan Ciu Pek Thong akan segera kembali.
Dia cepat2 merogoh saku jubahnya, mengeluarkan sebuah
tabung kecil, yang ujungnya terdapat tangkai, sehingga
tampaknya seperti semprotan.
Dengan cepat tabung itu ditujukan kepada Sin Tiauw.
dengan mendorong tangkainya, dari ujung tabung itu muncrat
semacam uap putih yang cukup tebal, menyambar kearah Sin
Tiauw.
Burung rajawali itu menjadi terkejut. karena jika senjata
rahasia atau benda yang bersifat keras, tentu dengan mudah
dia bisa membebaskan diri atau menangkisnya. Tetapi
sekarang justru yang menyambar kearahnya itu adalah
semacam uap yang telah memenuhi sekitar dirinya. Bahkan
Sin Tiauw seketika itu rasakan betapa kepalanya pusing dan
matanya gelap. Seperti akan rubuh. Dengan cepat burung
rajawali itu meng gerak2kan kedua sayapnya kemudian dia
melompat untuk terbang.
Tetapi baru dua tombak lebih dia terbang ketengah udara,
tubuhnya telah rubuh kembali menggeletak ditanah tanpa
bergerak lagi. Ternyata tabung yang dimiliki oleh Tiat To Hoat
ong merupakan tabung uap yang bisa dipergunakan untuk
merubuhkan lawan, karena gas uap terdapat didalam tabung
itu seperti juga gas tidur. Yang sekarang mungkin dikenal
dengan chloroform.
Tentu saja Sin Tiauw tidak sanggup untuk melawannya,
matanya yang tiba2 menjadi berat dan mengantuk begitu juga
tubuhnya lemas tidak bertenaga dan burung itu telah
menggeletak tidur nyenyak. Siauw Long Lie yang dalam
keadaan tertotok tidak pingsan, dia bisa menyaksikan semua
peristiwa itu. Semula atas pertolongan Sin Tiauw, dia
mengharapkan sipendeta Mongolia itu berhasil diusir, namun

kenyataannya Sin Tiauw pun akhirnya telah rubuh, disamping
dirinya sendiri juga tertotok tanpa bisa bergerak lagi.
Habislah harapan Siauw Liong Lie, lebih2 Yo Ko dan Loo
Boan Tong belum juga datang.
Dengan cepat Tiat To Hoat-ong telah melompat
menghampiri untuk menotok lagi beberapa jalan darah
ditubuh Siauw Liong Lie. Kemudian diapun mengeluarkan
seutas tali yang kuat sekali, dia menelingkung kedua sayap
Sin Tiauw keatas, lalu mengikatnya kuat2. Begitu pula kedua
kaki burung dan paruh burung itu, yang diikatnya sama kuat.
Umpama kata Sin Tiauw beberapa saat lagi terlepas dari
pengaruh obat tidur itu, dia tidak bisa menggerakkan kedua
sayapnya untuk terbang, tidak bisa mempergunakan kedua
cakarnya dan tidak bisa mempergunakan paruhnya untuk
mematuki tali yang mengikat kedua kaki dan sayapnya…..
Tiat To Hoat-ong bekerja cepat sekali, dia telah
mengangkat tubuh Siauw Liong Lie
dan kemudian memanggul Sin Tiauw, berlalu dari tempat
itu, Sebelumnya Tiat To Hoat-ong mempergunakan sepatunya
menghapus jejak2 yang terdapat ditanah.
Itulah sebabnya, tidak mengherankan jika Yo Ko dan Loo
Boan Thong akhirnya tidak melihat sedikitpun tanda2 apapun
disekitar tempat itu.
CU KUN HONG menunggangi kudanya yang dilarikan cukup
keras dijalur jalan yang terdapat dibawah kaki gunung Hoasan.
Memang pemuda pelajar she Cu tersebut bermaksud
mendatangi Hoa-san untuk menyaksikan keramaian, karena
dia mendengar bahwa Cu Pek Thong. Yo Ko dan Siauw Liong
Lie ingin pergi ke Hoa San memenuhi undangan It Teng Taisu
yang akan datang kegunung itu juga. Karena memang tidak
memiliki urusan lainnya, maka pemuda she Cu itu telah
menuju ke Hoa San dengan harapan bisa bertemu dan bercakap2
dengan tokoh2 terkenal rimba persilatan itu.

Jago2 silat mana yang tidak akan merasa bangga jika bisa
berjumpa dengan Yo Ko atau Siauw Liong Lie, sepasang
pendekar besar dijaman itu ? Dan terlebih lagi jika bisa
bertemu dengan It Teng Taisu, Oey Yok Su, Kwee Ceng, Oey
Yong dan jago2 lainnya.
Maka dari itu, dengan tidak memikirkan sulitnya perjalanan,
Cu Kun Hong telah melakukan perjalanan ke Hoa San.
Telah belasan hari dia melakukan perjalanannya dengan
kudanya itu, dan selama itu dia telah berusaha untuk
melakukan perjalanan dengan cepat, karena pemuda pelajar
tersebut takut datang terlambat.
Hari masih cukup terang, walaupun senja mulai
menyelimuti daerah pegunungan Hoa San.
Sedang Cu Kun Hong melarikan kudanya, tiba2 dari arah
depannya dia melihat sesuatu yang mengejutkan hatinya. Dia
melihat sesosok tubuh yang tinggi dan besar tengah berlari
menghampiri kearahnya.
Setelah Cu Kim Hong menghentikan kuda nya dan
memperhatikan baik2, dan sosok tubuh yang baru turun dari
atas gunung itu semakin dekat, barulah Kun Hong
mengetahuinya itulah seorang yang tengah memanggul
seorang manusia lainnya dan memanggul juga seekor rajawali
berukuran raksasa, sebesar satu setengah manusia
dewasa. Yang membuat Cu Kun Hong lebih kaget lagi
adalah orang yang tengah ber lari2 itu tidak lain dari Tiat To
Hoat-ong, Sipendeta Mongolia yang liehay luar biasa
kepandaiannya. Sedangkan orang yang dipanggulnya, tidak
lain dari Yo Hujin, yaitu Siauw Liong Lie.
Tentu saja Cu Kun Hong jadi duduk diatas kudanya dengan
sikap tertegun. Dia hanya mengawasi saja.
Saat itu Tiat To Hoat-ong telah ber-lari2 semakin dekat
juga, dan gerakannya yang secepat angin itu menyebabkan

pandangan mata Kun Hong kabur dan tidak bisa melihat jelas.
Belum lagi dia mengetahui sesuatu apa, tiba2 dia melihat
pendeta itu menggerakkan tubuhnya dengan sentakan yang
kuat, membuat ujung lengan jubahnya itu menghantam muka
Kun Hong, disaat sipendeta itu lewat disisinya.
Gerakan sipendeta itu luar biasa sekali, karena ujung
jubahnya itu mengandung tenaga lweekang yang dahsyat
sekali, sehingga waktu ujung jubah itu menghantam muka
Kun Hong, sipemuda seperti dihantam oleh lempengan besi.
Sesungguhnya Kun Hong telah melihat menyambarnya
ujung lengan jubah pendeta itu, dan dia juga bermaksud
mengelakkan diri. Namun rupanya gerakan Tiat To Hoat-ong
memang cepat luar biasa, sehingga sebelum dia mengetahui
sesuatu apapun juga, disaat itulah mukanya telah terhajar jitu
sekali oleh ujung lengan jubah sipendeta.
Tanpa ampun lagi seketika itu juga tubuh Cu Kun Hong
terpental dari atas kudanya, ambruk diatas tanah, dan rebah
pingsan tidak sadarkan diri dengan hidungnya mengucurkan
darah.
Sambil mengeluarkan suara tertawa yang ber-gelak2
menyeramkan, Tiat To Hoat-ong telah melanjutkan larinya
dengan cepat, sambil tetap membawa Siauw Liong Lie dan Sin
Tiauw Sama sekali pendeta Mongolia itu tidak ber maksud
untuk merampas kuda Cu Kun Hong karena dengan
menunggang kuda dibandingkan larinya, memang jauh lebih
cepat dia mempergunakan kedua kakinya sendiri, yang bisa
lari secepat angin.
Lama Kun Hong rebah pingsan tidak sadarkan diri. sampai
akhirnya dia merasakan kepala nya diusap seseorang.
„Akhhhh, lukanya tidak berat, hanya disebabkan hantaman
yang keras, menyebabkan dia pingsan sementara waktu . ..!”
Kun Hong mendengar seseorang berkata dengan suara sabar.

Kun Hong membuka matanya, pandangan matanya masih
kabur dan dia belum bisa melihat jelas, hanya terasa ada dua
bayangan manusia berdiri dihadapannya, segera juga Kun
Hong memejamkan matanya kembali.
Disamping itu, Kun Hong merasakan dirinya tengah rebah
dipembaringan, dan luka dimuka-nya, akibat kebutan ujung
jubah dari Tiat To Hoat-ong, telah menimbulkan perasaan
sakit yang luar biasa.
Setelah berdiam diri sejenak lagi, akhirnya Kun Hong
membuka matanya pula.
Segera juga dia jadi girang, karena orang yang tengah
duduk ditepi pembaringan, yang tadi juga telah mengusap
keningnya tidak lain dari Yo Ko, Sin Tiauw Taihiap !
Sedangkan orang yang satunya lagi, yang berdiri dipinggir
pembaringan dengan berdiam diri, ternyata Ciu Pek Thong,
Loo Boan Tong situa nakal jenaka,
„Kau telah siuman, engko kecil !” kata Loo Boan Tong
dengan gembira. „Ahhh, siapa yang telah melukaimu demikian
macam ?”
„Tiat…Tiat. To Hoat-ong.. yang pernah bertempur dengan
locianpwe ! kata Cu Kun Hong dengan suara yang tak lampias.
„Toat To Hoat-ong, pendeta Mongolia bangsat itu ?” tanya
Ciu Pek Thong dengan sengit. „Be…..nar…. !” menyahuti Cu
Kun Hong
„Dan….,dia juga membawa seorang wanita, kalau tidak
salah Yo…..Ko Hu-jin (nyonya Yo) locianpwe…”
Yo Ko dan Ciu pek Thong telah saling tatap.
Memang dipuncak Hoa San, Yo Ko dan Ciu Pek Thong telah
mengelilingi gunung itu mereka men-cari2 Siauw Liong Lie dan
Sin Tiauw tanpa hasil.

Dan akhirnya ketika mereka tengah mencari dikaki gunung
Hoa San, disitulah justru mereka menemui Cu Kun Hong yang
tengah pingsan.
Dengan sendirinya, hal itu telah membuat mereka terkejut
karena keduanya mengenali pemuda tersebutlah yang pernah
bertemu dengan mereka.
Segera Yo Ko mengangkat tubuh Cu Kun Hong dan
Ciu Pek Thong menuntun kuda pemuda itu. Mereka
membawa Cu Kun Hong kerumah seorang penduduk
minta bermalam disitu. Dengan mempergunakan
lweekangnya dan menotok beberapa jalan darah ditubuh
Cu Kun Hong, Yo Ko telah menyadarkan Cu Kun Hong
dari pingsannya. Dan Yo Ko maupun Ciu Pek Thong tidak
menduga bahwa dari mulut pemuda inilah akhirnya dia
mengetahui Siauw Liong Lie dan Sin Tiauw telah ditawan
oleh Tiat To Hoat-ong.
Segera juga Yo Ko telah menanyakan persoalannya
kepada Cu Kun Hong, sebetulnya menyadari bahwa Cu
Kun Hong yang baru tersadar dari pingsannya itu masih
lemah, karena darah yang mengucur keluar dari
hidungnya sangat banyak sekali. Tetapi karena urusan
itu menyangkut keselamatan isterinya dan Sin Tiauw. Yo
Ko sudah tidak menantikan waktu terlebih lama lagi dan
menanyakan disaat itu juga.
Cu Kun Hong telah menceritakan semua yang
dialaminya dikaki gunung Hoasan, menceritakan juga apa
yang telah dilihatnya.
Yo Ko jadi mengerutkan sepasang alisnya, Dia tidak
mengerti mengapa Siauw Liong Lie. sampai bisa rubuh dan
ditawan oleh Tiat To Hoat-ong. Sedangkan Siauw Liong Lie
memiliki kepandaian yang sama tinggi dan tidak lebih rendah
darinya, Sedangkan Sin Tiauw pun memiliki kepandaian yang
sangat hebat mengapa dapat dirubuhkan oleh Tiat To Hoatong.
Sedang kan menurut cerita Cun Kun Hong, Sin Tiauw

telah diikat kedua sayap, kedua kaki dan paruh nya. Tentu
saja keadaan Sin Tiauw seperti itu mengherankan dan
membingungkan sekali hati Yo Ko dan Ciu Pek Thong.
„Apakah Tiat To Hoat-ong memang sedemi kian hebat…?”
menggumam Ciu Pek Thong setelah tertegun sejenak.
Yo Ko tambah berkuatir saja, terlebih lagi dia teringat
bahwa isterinya tengah hamil.
„Mari kita susul sikepala gundul itu, ajak Ciu Pek Thong
dengan bersemangat.
Yo Ko mengangguk.
Pergilah locianpwe mengejarnya, aku bisa merawat diriku
sendiri, lebih lagi akupun tidak terluka berat….. yang
terpenting jiwie lociapwe menolongi dulu Yo Hujin dan rajawali
sakti itu …” bilang Kun Hong ber sungguh2.
Yo Ko mengangguk dan memandang pemuda itu dengan
sorot mata memancarkan perasaan berterima kasih. Saat itu
Ciu Pek Thong sedah tidak sabar, dia menepuk perlahan bahu
pemuda she Cu itu.
“engko kecil terpaksa kami meninggalkanmu, karena kami
harus mengejar sigundul itu dulu… !” kata situa jenaka itu.
Kun Hong mengiakan cepat2 sambil meng ucapkan terima
kasihnya.
Disaat itu, tampak Yo Ko masih ragu2, tetapi karena Ciu
Pek Thong telah melangkah ke luar Yo Ko pun setelah
mengucapkan beberapa kata2 hiburan kepada Kun Hong, lalu
keluar dari kamar itu.
Kepada tuan rumah, Yo Ko memberikan dua tail perak, dan
terpesan agar merawat Kun Hong. Setelah itu, berdua dengan
Ciu Pek Thong, Yo Ko telah berlari pesat sekali mengambil kejurusan
yang diberitahukan oleh Cu Kun Hong…

Tiat To Hoat-ong terus ber-lari2 dengan mempergunakan
ilmu berlari cepatnya yang Sempurna sekali. Walaupun dia
membawa beban yang cukup berat, yaitu Siauw Liong Lie dan
Sin Tiauw, namun kenyataannya sedikitpun tidak mengganggu
atau memperlambat larinya.
Kebetulan sekali disaat itu hari mulai malam, sehingga Tiat
To Hoat-ong yang memanggul Sin Tiauw dan mengempit
Siauw Liong Lie tidak menarik perhatian orang, sebab jalan2
telah sepi dan pendeta itu dapat ber-lari2 lebih leluasa.
Memang luar biasa pendeta itu, diwaktu menjelang tengah
malam, dia telah berhasil ber-lari2 sejauh empat ratus lie
lebih, dan tiba dikota Lung-siu-kwan, diluar perbatasan Kangciu.
Suasana kota saat itu sangat sepi sekali, dan pintu kota
juga telah ditutup. Tetapi Tiat To Hoat ong telah
menjejakkan kakinya ditanah; dengan membawa beban yang
berat seperti itu, tubuhnya melompat setinggi lima tombak,
lalu dengan cepat sekali, disaat tubuhnya tengah terapung di
tengah udara, Tiat To Hoat ong menendang dinding tembok
pintu kota itu, sehingga tubuhnya terpental lebih tinggi lagi,
dan dengan melakukan gerakan seperti itu yang diulanginya,
beberapa kali akhirnya Tiat To Hoat-ong berhasil mencapai
puncak pintu kota. Dengan mudah dia telah masuk kedalam
kota tanpa seorang penjaga kotapun yang melihat
perbuatannya” itu.
Dengan mengelilingi kota, akhirnya dia melihat ada sebuah
rumah penginapan yang masih buka, cepat2 Tiat To Hoat
ong memasukinya dan meminta dua kamar kepada pelayan
yang menyambutnya.
Semula pelayan itu mengawasi bengong kepada pendeta
dihadapannya, ini yang mengepit Seorang wanita cantik dan
menggotong seekor burung rajawali raksasa, Tetapi pelayan
itu segera menduga bahwa pendeta itu seorang manusia luar
biasa, setidaknya seorang manusia setengah dewa.

Lebih2 setelah Tiat To Hoat-ong memberi kan sepotong
goanpo kepadanya, maka pelayan itu tidak berani banyak
tanya dan cepat2 mempersiapkan, dua buah kamar yang
berdampingan, waktu Tiat To Hoat-ong memasuki rumah
makan itu, ada beberapa orang2 yang belum tidur, mereka
semuanya takjub melihat pendeta itu bersama seorang wanita
cantik dan seekor burung rajawali raksasa. Dengan sendirinya,
peristiwa tersebut merupakan peristiwa yang aneh.
Jika memang Hiat To Hoat-ong hanya membawa Siauw
Liong Lie, mungkin orang hanya menduga bahwa pendeta itu
adalh pendeta cabul. Tetapi dengan membawa juga seekor
burung rajawali raksasa seperti itu, keruan saja telah
menyebabkan tamu2 yang berada didalam penginapan
tersebut ingin menduga si pendeta se tidak2nya telah
mencapai kesempurnaannya dalam mensucikan dirinya, telah
menjadi setengah dewa, karena seekor burung rajawali
berukuran begitu besar, dengan mudah digotongnya dan juga
tidak berdaya ditangannya.
Tetapi Tiat To Hoat-ong tidak memperduli kan tatapan
heran dari orang2 itu, dengan membawa kedua bebannya itu
Tiat To Hoat-ong telah menaiki undakan anak tangga, dia
memasuk kan Siauw Liong Lie dan Sin Tiauw itu kesebuah
kamar, sedangkan dia sendiri telah tidur dikamar yang
satunya lagi. Sebelum tidur, Tiat-To Hoat ong telah berpesan
kepada pelayan, agar mereka jangan mengganggu
ketenangannya.
Waktu pendeta itu telah masuk tidur, gemparlah orang2
yang berada dirumah penginapan tersebut. Untuk bicara apa
saja dengan berterang mereka tidak berani, akhirnya mereka
telah bisik2 saja, dari mulut yang seorang menjalar keseorang
lainnya sehingga keesokan harinya berita mengenai pendeta
aneh itu telah tersebar diseluruh kota.
Pagi dan siang itu Tiat To Hoat ong tidak keluar dari
kamarnya. Dia hanya meminta pelayan mengantarkan

masakan untuknya dikamarnya. selangkah pun dia tidak
keluar dari kamarnya Tiat To Hoat ong memang bermaksud
melanjutkan perjalanannya dimalam hari agar tidak menarik
perhatian orang banyak dalam perjalanannya.
Sepanjang hari Tiat To Hoat ong mengurung diri dikamar.
Sedang Siauw Liong Lie dan Sin Tiauw tetap dikurung dikamar
yang satunya lagi yang dikuncinya dari luar dan melarang
siapa saja mengganggunya.
Sepanjang satu hari itu, sejak pagi sampai sore itu
penduduk kota selalu memperbincangkan perihal seorang
pendeta aneh tersebut dengan rajawalinya yang luar biasa itu
dan wanita cantik seperti bidadari.
Banyak penduduk kota yang berdatangan ke rumah
penginapan itu ingin melihat si pendeta luar biasa tersebut,
tetapi kuasa rumah penginapan tersebut telah melarang
mereka menimbulkan suara ribut2.
“Jika Hudya itu marah, hemnm celakalah kita semua. Dia
bukan pendeta biasa, se tidak2nya telah menjadi setengah
dewa. Maka kalian jangan mencari penyakit untuk diri sendiri
!, kata kuasa rumah penginapan itu dengan berkuatir, karena
penduduk kota yang memenuhi dimuka rumah penginapannya
justru menimbulkan suara berisik sekali. Sedangkan disaat itu
tampak seorang pendeta tua yang berpakaian sebagai seorang
hwesio telah melangkah memasuki rumah penginapan
tersebut, karena rumah penginapan tersebut merangkap
sebagai rumah makan. Pendeta tua itu telah lanjut usianya,
memakai jubah khase yang sederhana, dengan kepalanya
yang licin dan janggutnya maupun kumis yang tumbuh
panjang telah putih.
Wajahnya memancarkan sifatnya yang welas asih, dan
ramah sekali. Dia memilih sebuah meja didekat jendela dan
duduk tenang2 disitu. Dipesannya beberapa macam sayur
tanpa daging dan dua kati arak.

Semula pendeta tua itu merasa heran sekali melihat banyak
orang yang bisik2, seperti tengah membicarakan sesuatu yang
luar biasa. Tentu saja hal ini menarik perhatiannya, sehingga
ketika seorang pelayan mengantarkan pesanannya, dia
menarik tangan pelayan itu, memberikan dua tail perak dan
menanyakan sesungguh nya apa yang telah terjadi ditempat
tersebut.
Pelayan itu segera memperlihatkan wajah yang bersungguh2.
„Taisu mungkin baru sampai dikota ini, sehingga belum
mengetahui . . . !” kata pelayan itu. „Benar2 aneh! Benar2
hebat!”
„Apanya yang aneh? Apanya yang hebat?”, tanyanya
pendeta itu sabar.
„benar2 luar biasa, Taisu …. seorang pendeta, yang
pakaiannya sangat aneh sekali
yang kepalanya memakai kopiah kecil terbuat dari emas,
bertubuh gemuk dan besar kepalanya …..kepalanya botak
seperti . . . . seperti Taisu . . . dan juga kalau tidak salah
dia berasal dari Mongolia !”
Sipendeta tua tersenyum sabar mendengar itu.
„Itu tidak perlu dibuat heran, bukan ?” tanyanya walaupun
negeri ini telah aman dan tentara Mongolia dipukul mundur
pulang ke-negerinya, dan kini ada seorang pendeta dari
Mongolia yang berkeliaran didaratan Tionggoan hal itu
tidaklah perlu dibuat heran atau aneh. Bukankah kini bukan
jaman perang ? Mengapa kita harus memberikan kesan yang
tidak baik sebagai tamu, pendeta Mongolia itu harus dihormati
!”
„Ohhh. Taisu belum tahu !” berseru pelayan itu sambil
memperlihatkan wajah yang ber-sungguh2. „Jika dia sebagai
pendeta Mongolia saja. hal itu memang tidak perlu dibuat

heran . . tetapi justru yang luar biasa, pendeta itu membawa
seorang Wanita cantik seperti bidadari, yang mukanya merah
sehat, rambutnya dikonde ujungnya terurai memakai baju
merah dan angkin hijau, cantik luar biasa.,.”
„Apakah kauingin mengartikan pendeta Mongolia itu adalah
pendeta cabul?” tanya pendeta tua itu sambil mengerutkan
alisnya.
“BUKAN!” menyahut pelayan itu cepat. „Wanita cantik Ini
dikurung disebuah kamar se dangkan pendeta Mongolia itu
tidur di kamar lainnya”,
„Apa maksud pendeta itu?” tanya si hweshio , tambah
tidak mengerti „Dan tahukah engkau siapa gelarnya?”
Sipelayan menggelengkan kepalanya. „Tidak, tidak tahu”.
jawabnya. Tetapi menurut keterangan tuan kuasa rumah
penginapan ini yang memiliki pengetahuan luas ragam
pergaulannya dengan orang2 rimba persilatan, bahwa pendeta
Mongolia itu adalah seorang pendeta setengah dewa”.
Si Hweshio tersenyum mendengar perkataan sipelayan,
yang dianggapnya lucu.
„Lalu, apa yang luar biasa lagi didiri pendeta Mongolia itu ?’
tanya si Hwesio.
“Diapun membawa seekor rajawali yang besar sekali, yang
mulutnya diikat, sepasang kakinya diikat, dan kedua sayapnya
juga diikat. Besar sekali ukuran rajawali itu, lebih besar dari
manusia dewasa !”
Kali ini muka si Hwesbio jadi berobah mendengar
disebutnya soal rajawali itu. Dia jadi teringat kepada seorang
sahabatnya yang juga memiliki seekor rajawali yang besarnya
melebihi ukuran manusia dewasa.
“Mengapa rajawali itu diikat ?” tanya si-Hweshio akhirnya.

„Entahlah kata orang yang mengerti, tentunya pendeta itu
telah menaklukan rajawali itu, sedangkan burung rajawali itu
adalah rajawali siluman ” menyahuti si pelayan.
Mendengar pelayan itu mulai bicara tidak karuan persoalan
takhayul, pendeta tersebut sudah tidak berpikir untuk
mendengar keterangannya, dia telah perintahkan
pelayan Itu agar pergi meninggalkannya, dan si hweshio
bersantap menghabiskan makanannya.
Setelah itu dia meminta kepada kuasa rumah penginapan
agar mempersiapkan sebuah kamar, karena diapun akan
bermalam dirumah penginapan tersebut.
Dihatinya si hweshio jadi tertarik untuk menyelidiki
persoalan tersebut, dia ingin mengetahui siapakah pendeta
Mongolia yang disebut sebagai pendeta setengah dewa itu
oleh sipelayan rumah penginapan tersebut.
Tetapi ketika si Hweshio hendak menaiki undakan anak
tangga. disaat itulah dari atas loteng tengah menuruni anak
tangga tersebut seorang pendeta. Waktu itu si Hweshio
melihat pendeta itu seorang pendeta Mongolia, dia tercekat
hatinya, dia sampai memandang tertegun „Kim Lun Hoat-ong”
pikirnya. Namun akhirnya si Hweshio berhasil menindih
goncangan hatinya, dia menundukkan kepalanya agar tidak
menimbulkan kecurigaan pendeta Mongolia itu, yang telah
turun Lewat disampingnya.
„Kim Lun Hoat-ong telah meninggal…pendeta ini bukan dia,
karena wajahnya lain, hanya jubah dan bentuk tubuhnya yang
gemuk itulah yang mirip2 dengan Kim Lun Hoat-ong” berpikir
hweshio itu, sambil terus menaiki undakan anak tangga dan
memasuki kamarnya.
Didalam kamar, sipendeta jadi mengerutkan, alisnya dan
tampaknya tengah berpikir keras.

„Apa maksudnya pendeta Mongolia itu ber keliaran
didaratan Tionggoan lagi…pasti dibalik semua ini terdapat
persoalan yang besar…seperti yang baru beberapa saat yang
lalu ketika ada urusan yang tengah kuhadapi…!” dan si
Hweshio-telah menghela napas lagi, wajahnya jadi murung.
„Dilihat demikian., tampaknya kerajaan song sulit untuk
dilindungi, para pembesarnya gentong nasi semua, sedangkan
pihak Mongolia tetap gigih berusaha mengincar untuk
mencaplok daratan Tionggoan. Terlebih lagi Kublai Khan
tampaknya lebih cerdik dari Kaisar Mangu. Ai, Ai, memang
sudah takdir, sulit mengelak takdir…..!”
Berulang kali hweshio itu menghela napas panjang pendek,
sampai akhirnya dia duduk diam dikursi dalam kamarnya itu,
dia terus memuji sang Budha. Sampai akhirnya si hweshio
mendengar suara langkah kaki yang berat di undakan anak
tangga, dia menduga bahwa pendeta mongolia itu tentu
tengah menaiki pula undakan anak tangga untuk kembali
kekamarnya.
Memang tadi pendeta Mongolia itu Tiat To Hoat-ong telah
turun keruang bawah untuk membereskan sewa kamarnya,
karena dia bermaksud begitu hari mulai gelap dia ingin
melanjutkan perjalanannya.
Si Hweshio cepat2 membuka sedikit daun pintunya, yang
kebetulan berhadapan dengan tikungan anak tangga diloteng
itu. dia mengintai keluar dilihatnya Tiat To Hoat ong
melangkah menuju kearah kamarnya langkah2 lebar, setelah
tiba dimuka kamarnya, pendeta Mongolia itu berhenti sejenak,
tampaknya dia ragu2 untuk segera memasuki kamarnya dia
menoleh memandang kearah kamar disebelahnya yang
pintunya tertutup rapat. Setelah tersenyum sejenak, pendeta
Mongolia itu membuka pintu kamarnya dan melangkah masuk,
lenyap dibalik pintu kamarnya.
Sihweshio yang telah mengintai memperhatikan gerak-gerik
pendeta Mongolia itu, jadi mengerutkan sepasang alisnya yang

telah putih itu. Perlahan sekali, seperti berbisik dia telah
memuji kebesaran sang Budha.
Ditutupnya kembali pintu kamarnya dan duduk dikursinya
semula.
„Hai, jika dilihat tindakan kakinya, matanya dan
keadaannya, pendeta Mongolia itu memiliki kepandaian yang
tidak berada dibawahnya Kim Lun Hoat-ong. Siapakah dia?
Apa maksudnya datang ke Tionggoan? Tadi pelayan
mengatakan bahwa wanita cantik dan burung rajawali yang
diikatnya telah dikurung dikamar sebelahnya yang tadi
diawasinya. Siapakah wanita cantik itu ? apakah mungkin dia ?
dan apakah burung rajawali yang dibawanya itu mungkin Sin
Tiauw milik dia ?, mengapa aku tidak coba2 melihatnya ?”
karena berpikir begitu, dengan cepat si Hweshio membuka
pintu kamar disebelah kamar si pendeta Mongolia itu.
Pintu itu ternyata terkunci dari luar, tetapi hweshio itu telah
mendengarkan dulu sejenak, lalu mengulurkan tangannya
yang ditempelkannya didaun pintu dikerahkan tenaga
lwekangnya. Luar biasa sekali dengan mengeluarkan suara
“takkk” yang perlahan sekali, besi engsel itu telah berhasil
dipatahkannya dengan mudah. Dengan hati2 si Hweshio telah
mendorong daun pintu itu sehingga terpentang.
Sesosok tubuh wanita tampak menggeletak dilantai.
Sedangkan disampingnya mengeletak seekor burung rajawali
berukuran besar, keduanya tampaknya tengah tertidur
nyenyak sekali.
Melihat wanita itu, dan melihat rajawali itu, hampir saja si
hweshio mengeluarkan seruan tertahan karena sangat
terkejut. Dia kenal dengan baik wanita yang menggeletak
dilantai itu, dan mengenali dengan baik pula rajawali
disamping wanita cantik tersebut, karena wanita cantik itu
tidak lain dari Siauw Liong Lie dan rajawali itu tidak lain dari
Sin Tiauw.

Muka si hweshio jadi berobah merah padam, tampaknya
dia murka bukan main.
Namun disaat si hweshio mau melangkah menghampiri
untuk menolongi Siauw Liong Lie dan Sin Tiauw, justru disaat
itulah dia merasa kan dari belakangnya meluncur angin
serangan yang kuat sekali, yang berat luar biasa, mungkin
seribu kati.
Tetapi hweshio itu tidak menjadi gugup, dengan mengucap
„Siancai” berulang kali, dia telah mengempos semangatnya,
mengerahkan tenaga murninya dipunggungnya itu menjadi
kebal untuk menerima serangan dahsyat itu.
“Buuuukkk’” terdengar suara benturan yang keras sekali
waktu punggung si Hweshio itu terhajar oleh serangan dari
belakang. Tubuh hweshio tersebut ber goyang2 tetapi
sepasang kakinya seperti terpantek dilantai. Tidak bergeser
sedikitpun.
Sedangkan orang yang melancarkan serangan gelap itu.
Mengeluarkan seruan tertahan Jangan kan manusia,
sedangkan batu saja jika terhajar oleh serangannya dengan
kekuatan seperti tadi, niscaya batu itu akan remuk hancur
menjadi bubuk. Tetapi hweshio itu justeru dapat diserang nya
dengan jitu, namun tidak mengalami sesuatu kerugian apapun
juga.
Saat itu sihweshio dengan tenang dan gesit sekali telah
memutar tubuhnya. Segera dilihatnya, yang melancarkan
serangan tadi adalah si-imam Mongolia itu.
„Siancai! Siancai” si hweeshio menyebut ke besaran sang
Buddha. „Sungguh hebat sekali ke pandaian yang kau miliki,
Taisu.
Orang yang melancarkan serangan itu memang Tiat To
Hoat ong, dia menduga bahwa dengan sekali serang tentu
dia akan dapat merobohkan hweshio itu.

Tadi waktu dia memasuki kamarnya dan ingin merebahkan
tubuhnya dipembaringan, dia mendengar samar sekali suara
langkah kaki yang ringan. Dia jadi bercuriga, terlebih lagi
suara langkah kaki itu mendekati kamar disebelah kamarnya.
Dengan cepat Tiat To Hoat-ong telah melompat turun dari
pembaringannya, dia menghampiri pintu kamarnya, berdiri
disitu untuk memasang pendengarannya lebih tajam.
Disaat itulah dia mendengar lagi suara “tak” yang halus,
suara patahnya benda logam, menyebabkan pendeta Mongolia
ini tambah gusar, karena dia dapat menduga suara apa itu,
yaitu patahnya engsel pintu.
Dengan hati2 Tiat To Hoat-ong telah membuka pintu
kamarnya dan keluar ber indap2 dengan langkah yang ringan,
dan disaat itu kebetulan dia melihat seorang hweshio tengah
memandang kedalam dengan tubuh mematung.
Sebetulnya, sihweshio pasti mengetahui kedatangan Tiat
To Hoat-ong di belakangnya kalau saja dia tidak tengah
diliputi keterkejutan yang hebat melihat Siauw Liong Lie dan
Sin Tiauw tertawan begitu rupa.
„Apa maksudmu memasuki kamar ini?” bentak Tiat To Hoatong
dengan aseran dan kasar, “Siancai, Siancai, semula waktu
mendengar cerita pelayan, Siauwceng (aku pendeta kecil)
telah menduga bahwa wanita dan rajawali yang berada
bersama Taisu adalah sahabat Siauwceng. Setelah Siauwceng
melihat sendiri, memang Hujin (nyonya) itu bersama rajawali
tersebut ialah sahabat baik Siauwceng. Sesungguhnya ada
persengkataan apakah antara Taisu dengan mereka?…”
Saat itu muka Tiat To Hoat ong sudah berobah tidak sedap
dipandang, dia mendengar bahwa hweshio dihadapannya ini
adatah sahabat Siauw Liong Lie dan rajawali itu. keruan saja
dugaannya bahwa kedatangan hweshio tersebut pasti ingin
menolongi kedua tawanannya itu.

Maka tanpa menanti habisnya perkataan si hweshio,
dengan cepat sekali tangan kanannya telah diulurkan akan
menghajar dada si hweshio, juga tangannya yang kiri teluh
mencengkeram jalan darah Pie-tu-hiat dipangkal lengan si
hweshio.
Namun hweshio tersebut juga memiliki kepandaian yang
luar biasa hebatnya, dengan mengeluarkan suara dengusan
perlahan, dan kemudian memuji kebesaran Sang Buddha
karena melihat serangan pendeta Mongolia itu terlalu kejam,
dia berkelit kesamping, Dengan sendirinya serangan Tiat To
Hoat-ong telah jatuh ditempat kosong.
„Akhhh, sayang, sayang …. !” berkata si hweshio.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s