Sin Tiauw Thian Lam (Jilid : 3)

JILID 3

DIJURUS terakhir itu, yaitu „To Heng Cok Sie” Ciu Pek
Thong telah melancarkan serangan dengan hebat sekali,
tubuhnya seperti ber gerak-gerak sempoyongan seperti
ingin rubuh, lagaknya itu seperti orang pemabokan dan
kedua tangannya melancarkan serangan kesebelas jalan
darah lawannya.
Keruan saja Tiat To Hoat-ong jadi mengeluarkan
seruan kaget dan berusaha untuk menangkis dengan
tabasan tangannya.
Walaupun dia menabas dengan mempergunakan
tangannya tetapi gerakannya itu seperti juga gerakannya
menabas dengan gerakan ilmu golok nya yang tangguh
dan hebat sekali, angin serangannya berkesiuran lambat,
tetapi dahsyat luar biasa.
Ciu Pek Thong mengeluh sendiri, jika dia meneruskan
serangannya, memang. Loo Boan Tong bisa menghantam
telak jalan darah Bian-kie-hiat sipendeta asing itu, tetapi
dirinya sendiri tidak akan lolos dari tabasan yang
mematikan pendeta tersebut.
Dengan mendongkol Ciu Pek Thong telah menarik
pulang serangannya, dia melompat mundur.
Tiat-To Hoat ong yang telah menyaksikan hebatnya
sikakek tua yang dipanggilnya sebagai si-”monyet” itu

tidak mengejarnya, dia berdiri tegak sambil mendelik
mengawasi lawannya itu.
„Katakan, siapa kau sesungguhnya ! Apakah adik
seperguruanku. dibinasakan oleh kau?. Jika bukan siapa
pembunuhnya ?”. tegur pendeta asing itu dengan murka.
Ciu Pek Thong memiliki sifat yang kekanakan dan
gemar sekali bergurau, walaupun tengah menghadapi
lawan berat, seperti Tiat To Hoat-ong. Ciu Pek Thong
masih sempat berjenaka.
„Jika aku yang membunuhnya, apa yang kau inginkan
? Kalau bukan, apa yang kau kehendaki ?. tanyanya
sambil nyengir mentertawai sipendeta asing, membuat Tiat
To Hoat-ong merasakan dadanya seperti mau meledak.
„Baiklah, kalau kau tidak, mau membuka mulut itupun
tidak menjadi soal. Biarlah aku kirim kau menemui adik
seperguruanku dulu.”
„Mungkin juga engkau sendiri yang akan
menengokinya ke Imkan (neraka) !” mengejek Ciu Pek
Tong, „Bukankah engkau tengah mencarinya”
Tentu saja kemarahan yang bergolak didada pendeta
tidak terkiraan. Dengan murka dia telah melompat dan
melancarkan serangan dengan kedua tangan yang
diputar kekuatan tenaga serangannya itu sama beratnya
seperti runtuhnya gunung.
Tetapi Ciu Pek Thong tidak takut, diapun tidak
mengelakkan diri melihat serangan yang hebat seperti
itu, bahkan dia memusatkan tenaga nya, untuk mencoba
kembali sampai di mana ke kuatan pendeta asing itu.
Tangan mereka saling bentur, tubuh mereka
bergoyang-goyang, tenaga mereka yang saling bentur
itu merupakan tenaga benturan yang luar biasa sekali,

dan keduanya diam bagaikan patung, dengan sepasang
matanya terpentang lebar-lebar.
Ciu Pek Tbong memang nakal, jiwanya jenaka,
sesungguhnya dia ingin mengeluarkan ejekan pula
tetapi disebabkan tenaga menindih dari Tiat To Hoat-ong
luar biasa kuatnya, membuat Ciu Pek Thong tidak bisa
berkata-kata, sebab jika dia bicara berarti pemusatan
tenaganya akan ter pecah dan dirinya bisa tergempur
oleh tenaga lawannya. Karena tidak bisa memaki dan
memperolok-olok pendeta asing itu, hati Ciu Pek Thong
jadi gatal sendirinya, dan akhirnya dia hanya bisa
mengejek, lawannya dengan mendeliki mata
menyipitkan, melirik kekiri dan kekanan dengan
memperlihatkan mimik muka yang membadut.
Keruan Tiat To Hoat-ong tambah murka, dadanya
bergelombang turun naik karena menahan kemurkaan
yang seperti ingin meledakkan dadanya itu. Dengan
bergelombang dia telah menambah tenaga menindihnya
semakin lama semakin kuat.
Ciu Pek Thong juga telah mengerahkan seluruh
kekuatan tenaga dalamnya, dia telah memusatkan
lwekangnya dikedua lengannya, dan berusaha untuk
menolak tenaga menindih dari sipendeta asing. Keduanya
berdiri berhadapan seperti patung dengan kedua tangan
mereka saling menempel satu dengan lainnya. Dari
tubuh dan kepala kedua jago tersebut telah mengepul
semacam uap tipis.
Kun HONG YANG MENYAKSIKAN jalannya pertemPURAN
TERSEBUT JADI tergoncang batinnya. Itulah pertempuran
yang terdasyat yang baru pernah disaksikan seumur
hidupnya.
P U N C A K Siauw-hong yang merupakan rangkaian
gunung-gunung disekitar pegunungan Thian-san : di
mana letak puncak Siauw-hong berada disebelah barat

daya dari pegunungan Thian san. Walaupun tidak
setinggi puncak-puncak Bie hong dan Sian-hong, tetapi
puncak-puncak Bie-hong-pun menembusi mega serta
tinggi sekali, tidak mudah didaki oleh manusia. Disamping
itu, udara disekitar puncak Siauw-hong dingin luar biasa
dengan salju yang tebal membeku menutupi sebagian
puncak itu, yang tidak pernah mencair sepanjang jaman.
Disamping salju yang membeku sepanjang jaman itu,
juga Siauw-hong memiliki lembah dan jurang yang
banyak jumlahnya, disamping keadaan alamnya yang
masih buas dan liar sehingga sangat berbahaya sekali bagi
orang-orang yang tidak memiliki kepandaian apa-apa.
Bahkan penduduk, kampung Siauw-wie cung yang
terletak dikaki gunung Thian san sebelah utara, yang
umumnya memiliki pencaharian sebagai pemburu dan
pencari kayu bakar, tidak berani mendatangi Siauw Hong
Terlalu dekat, mereka hanya berani mencari kayu bakar
dikaki SiaUW hong, sedangkan pemburunya hanya berani
sampai dilamping gunung itu tidak berani mereka
memburu sampai dipuncak Siauw hong.
Mereka menyadari bahaya dan buasnya alam dipuncak
Siauw hong akan menulikan pendengarannya, disamping
mengeluarkan darah dari telinga, hidung dan mata.
bahkan jika memaksakan diri bisa membawa kematian.
Belum juga perjalanan yang sulit, Untuk mendaki
puncak Siauw-hong diantara dinding-dinding jurang dan
lembah yang curam sekali disamping sangat berbahaya.
ltulah sebabnya boleh dibilang disekitar Siauw hong
tidak pernah terlihat seorang manusiapun juga. Setiap
hari disekitar Siauw-hong sepi dan sunyi sekali;
suasananya begitu tenang dan liar hanya diselingi, oleh
suara binatang-binatang liar yang memang banyak
memenuhi ditempat itu.

Pagi itu diantara kelenggangan yang ada, tiba-tiba
terdengar suara kepak-kepak sayap burung yang keras
sekali disertai oleh pekik yang nyaring, disusul terlihat
disebelah selatan puncak Siauw hong me layang-layang
seekor burung rajawali, yang berukuran sangat besar
sekali.
Burung itulah yang telah mengeluarkan suara,
memekik-mekik nyaring dan suara kepak-kepak yang
terdengar adalah suara sayapnya yang lebar yang
hampir selebar dua meter. Ukuran burung rajawali itu
luar biasa tetapi justru bentuk burung rajawali yang
agak luar biasa.
Setiap kali dia terbang, dia menukik, dan kedua
sayapnya digerakkan. justru gerakannya itu dilakukan
seperti juga seorang manusia yang tengah bersilat,
karena kedua kaki burung rajawali itu telah ber gerakgerak
dengan jurus-jurus ilmu silat.
Setelah berputar-putar sekian lama akhirnya burung
rajawali itu menukik dan menyambar cepat sekali
kebawah kearah sesuatu yang berwarna putih.
Ternyata yang diincar oleh burung rajawali itu tidak
lain dari seekor kelinci putih, yang telah berusaha berlari
untuk mencari tempat persembunyian mengelakkan diri
dari sambaran burung rajawali. Namun gerakan yang
dilakukan oleh rajawali itu benar-benar luar biasa, dia
menukik dengan kecepatan seperti kilat dan berbeda
dengan burung rajawali lainnya yang biasanya menyambar
mangsanya dengan secara menuju kesasaran nya,
tetapi burung rajawali tersebut tidak segera menerjang
mangsanya hanya mengikuti dan melewati diatasnya,
dan disaat kelinci itu memutar tubuhnya untuk berlalu,
dengan kecepatan yang seperti kilat, tahu-tahu tubuh
rajawali tersebut telah menerjang dan mencengkeram

mangsa nya itu dan kelinci tersebut tak bisa melolos kan
diri.
Dengan membawa mangsanya itu burung rajawali
tersebut telah terbang menuju keangkasa dan menuju
kepuncak Siauw hong yang tertinggi.
Ketika bagian kanan dari barat daya puncak Siauwhong
burung rajawali tersebut telah mengeluarkan suara
pekikan yang nyaring dan meluncur turun menuju
kesebuah lembah. Rajawali itu terbang semakin rendah
dan akhirnya ber henti dimuka sebuah rumah yang
sederhana namun bersih.
„Ahhh, Tiauw-heng (Saudara Rajawali) telah kembali!”
terdengar suara seorang, wanita yang merdu dan lembut
sekali. Anehnya wanita ia memanggil si rajawali dengan
sebutan Tiauw heng yaitu saudara Rajawali, panggilan
yang agak luar biasa.
Dari dalam rumah itu, siwanita yang ber kata-kata
tadi telah melompat keluar dan dia telah menerima
kelinci yang menjadi mangsa dari rajawali tersebut, dan
sirajawali yang dipanggil dengan sebutan Tiauw-heng
itu, telah terbang ringan dan hinggap di sebuah batu
gunung yang ter letak disebelah kanan.
Pemandangan yang terdapat dilembah itu memang
agak luar biasa. disamping indah, juga keadaannya
tenang sekali. Pohon-Pohon bunga tampak memenuhi
sekitar lembah tersebut, disamping itu rumah yang
dibangun dengan cara sederhana itu terawat dengan
rapi dan bersih sekali.
„Kojie, lihatlah !” berseru wanita yang ke luar dari
dalam rumah itu dengan suara yang riang, wajahnya
cantik luar biasa dengar kulit nya yang halus, sepasang
mata yang indah, di samping itu senyum yang selalu

menghiasi bibir nya itu demikian menawan. Dialah Siauw
Liong Lie !
„Tiauw-heng memang pandai mencari mangsa, kita
setiap hari tentu akan bersantap lezat” menyahuti suara
lelaki dari dalam rumah.
“Liongjie, engkau harus memasakan Tiauw heng sayur
kelinci yang lezat”.
Siauw Liong Lie tertawa riang, dia membawa kelinci
itu kebelakang. Dengan cepat dia telah melihat suaminya
Yo Ko, tengah duduk mengasah pedangnya, sehingga
pedang itu berkilauan.
„Lihatlah Kojie” kata Siauw Liong Lie sambil
mengacungkan kelinci yang diperoleh rajawali itu.
„Betapa besarnya kelinci ini”.
Yo Ko mengangguk sambil tersenyum. „Untuk Tiauwheng
kau harus memanggangnya yang wangi” katanya
kemudian.
Siauw Liong Lie hanya mengangguk dan telah cepatcepat
menuju kebelakang untuk mempersiapkan
masakannya.
Sedangkan Yo Ko masih terus juga mengasah
pedangnya, hari ini dia mengenakan baju berkembang
yang dibuat oleh Siauw Liong Lie, tampaknya dia
bahagia sekali hidup berdampingan dengan isterinya
yang cantik jelita dan gagah ilmunya.
Yo Ko dan Siauw Liong Lie memang telah menetap
dilembah itu. Semula Yo Ko hendak mengajak Siauw
Liong Lie menetap di Giok Lie Hong yang terletak
dipuncak Hoasan, dimana dipuncak bidadari itu terdapat
sebuah kuil kecil yang kosong, yang ingin dipergunakan
oleh Yo Ko sebagai tempat tinggal mereka.

Tetapi Siauw Liong Lie telah berpikir jauh, dia
berpandangan luas, maka Siauw Liong Lie yang telah
memberikan saran kepada suaminya agar tidak
mengambil tempat Giok Lie Hong sebagai tempat
pengasingan mereka, karena tempat itu sering didatangi
oleh orang-orang yang bermaksud untuk sujud
bersembahyang di kuil.
Belum lagi banyak orang-orang rimba persilatan yang
mengunjungi mereka untuk mengunjuk hormat, yang
berarti bagi mereka tidak akan dapat menikmati hidup
tenang selamanya.
Akhirnya bersama Yo Ko, Siauw Liong Lie menjelajahi
beberapa buah gunung yang terdapat didaratan
Tionggoan bahkan tadinya mereka bermaksud untuk
melihat-melihat puncak Himalaya, yaitu Longmo Cunglo
yang terdapat di Himalaya namun terlalu dingin. Udara
dingin memang tidak menjadi persoalan mereka, tetapi
justru yang mereka pikirkan adalah calon anak mereka
kelak jika mereka memiliki anak.
Dan setelah menjelajahi berbagai tempat sekian
lamanya, akhirnya Yo Ko dan Siauw Liong Lie merasa
cocok untuk menetap dilembah yang terletak dipuncak
Siauw-hong dari pegunungan Thiansan.
Dengan tenang mereka hidup bahagia ditempat
mereka yang baru itu, ditemani oleh Tiauw-heng itu,
yaitu sirajawali sakti, yang biasa disebut oleh orangorang
rimba persilatan dengan nama Sin Tiauw. Sin
Tiauw itulah yang setiap hari mencarikan makanan untuk
suami isteri tersebut dan tidak jarang pula Siauw Liong
Lie bergurau dengan rajawali tersebut, dengan cara
melatih ilmu silat dan Yo Ko hanya menyaksikan sambil
tersenyum.
Tetapi dengan menetapnya mereka ditempat yang
seperti itu. Pasangan suami isteri tersebut dibantu oleh

Sin Tiauw telah melatih diri terus, sehingga tanpa
mereka ketahui kepandaian dan tenaga dalam mereka
telah sempurna sekali.
Telah dua tahun lebih Yoko dan Siauw Liong Lie
menetap dilembah tersebut. Dan mereka selalu melewati
hari-hari dengan gembira dan bahagia.
Sejak berpisah dengan sahabat mereka di gunung
Hoa-san setelah menjengguk makam Ang Cit Kong dan
Auwyang Hong, serta mengambil selamat berpisah dengan
Kwee Siang dimana telah bertemu juga Kak Wan Siansu yang
kehilangan kitab mujijad Kui Im Cin Keng serta Kui Yang Cin
Keng, yang dicuri oleh In Kek See dan Siauw Siang Cu, Yo Ko
telah berhasil mengecap kemesraan berdua dengan isterinya.
Perpisahan selama enam belas tahun yang pernah
terjadi beberapa saat yang lalu, justru telah
menyebabkan Yo Ko maupun Siauw Liong Lie menyadari
bahwa cinta mereka merupakan cinta yang kekal dan
abadi, cinta yang tulus dan sejati.
Usia Yo Ko yang telah duduk sebagai See Kong dalam
urutan Ngo Ciat, telah mencapai hampir tiga puluh tiga
tahun dan Siauw Liong Lie lebih tua beberapa tahun dari
dia. Tetapi karena sejak kecil Siauw Liong Lie memang
telah dididik oleh gurunya didalam kuburan mayat hidup,
maka kecantikannya tetap utuh dan awet muda, terlebih
lagi sekarang, disaat mana lwekangnya telah sempurna.
Sedangkan Yo Ko selama hidupnya, sejak sampai
akhirnya menikah dengan Siauw Liong Lie, selalu
menghadapi urusan-urusan yang mendukakan hatinya,
walaupun tetap tampan luar biasa tetapi tampaknya
telah dewasa sekali.
Jika dilihat selintas mereka tampak berimbang usia
maupun ketampanan dan kecantikan mereka.

Mengenai Wajah Yo Ko yang tampan itu tidak perlu
dikatakan lagi karena Kwee Siang selalu memimpikan Yo
Ko (Telah diceritakan dalam kisah Membunuh Naga,

jilid1, 2 dan 3) dan memang Yo Ko memiliki lwekang yang
telah mencapai puncak kesempurnaannya, sehingga
disamping awet muda, kulit mukanya itu bersih dan
bercahaya gemilang.
Seperti diketahui jika seseorang melatih lwekang
(tenaga dalam) yang berpusat dipusar maka jika hawa
murni di Tantian telah naik sampai keotak, maka baik
umur maupun kesehatan bisa ditentukan dan
diperintahkan oleh orang yang bersangkutan, (Mirip juga
dengan latihan Yoga yang telah sempurna, dapat menentukan
usia dan otot-otot diseluruh tubuh dapat
diperintahkan)
Begitu pula Yo Ko, walaupun usianya telah tiga puluh
tahun lebih, tetapi raut wajahnya sepertl seorang
pemuda yang berusia dua puluh tahun.
Penghidupan yang tenang, jauh dari keramaian yang
m e m u s i n g k a n kepala, dan juga hidup tenteram
babagia disamping isterinya yang cantik, namun Yo Ko
manusia juga. Akhirnya timbul rindunya kepada Kwee
Ceng, Oey Yok Su, Ciu Pek Thong, Oey Yong, Kwee
Siang dan sahabat-sahabat lainnya.
Walaupun bagaimana memang kenyataan-nya Yo Ko
akhirnya tidak bisa menahan keinginannya itu, tidak
berhasil melenyapkan rindunya dia semalam telah
menyampaikan hasratnya kepada Siauw Liong Lie, untuk
turun gunung selama tiga bulan, guna mencari sahabatsahabatnya
itu. Dan Siauw Liong Lie lebih suka
menyendiri, tetapi setelah menikah dengan Yo Ko
dengan sendirinya sifat dan wataknya jadi berobah banyak.

Kini selain periang, Siauw Liong Lie pun lincah
walaupun belum lenyap sifat-sifatnya yang dingin jika
tengah menghadapi urusan yang rumit dan penting.
Mendengar Yo Ko ingin mengunjungi sahabatsahabatnya
itu, Siauw Liong Lie jadi girang sekali.
Dia telah bersyukur bahwa suaminya bermaksud
mengajak dia.
„Tentu aku bisa menyaksikan keramaian lagi” kata
nyonya Yo itu sambil tersenyum,
Dan itulah sebabnya hari itu Yo Ko, sibuk mengasah
pedang, milik Siauw Liong Lie; Sedangkan golok
pusakanya telah diasahnya malam tadi.
Mereka telah ber siap-siap untuk berangkati pagi ini,
tetapi Siauw Liong Lie tiba-tiba sekali telah sakit. Sejak
fajar dia telah muntah-muntah dan perut maupun
pinggangnya sakit Dia memberitahukan Yo Ko, sehingga
suaminya itu membatalkan keberangkatan mereka dan
menganjurkan isterinya untuk beristirahat.
Disaat Siauw Liong Lie tengah rebah dipembaringan,
Sin Tiauw justeru telah pergi memburu mangsa, untuk
santapan sahabat-sahabatnya itu, pasangan suami isteri
tersebut, yang telah memper lakukan mereka sebagai
sahabat.
Disaat Sin Tiauw kembali dengan kelinci buruannya
itu, justeru Siauw Liong Lie telah sembuh dari sakitnya,
pinggangnya sudah TIDAK SAKIT LAGI, DAN dia bisa
mengerjakan masakan UNTUK suaminya DAN Sin Tiauw.
Tetapi, selama didapur, mukanya sebentar-sebentar
berobah merah, karena sebagai seorang ahli lwekhe.
segera dia telah mengetahui bahwa penyakit yang tadi
menyerangnya bukan penyakit sembarangan, melainkan
gejala-gejala bahwa dia telah hamil.

Justeru untuk memberitahukan kepada suami nya dia
merasa malu, walauoun ditempat tersebut hanya mereka
berdua. Dan Siauw Liong Lie bermaksud
memberitahukan suaminya nanti malam,
Tetapi ketika Siauw Liong Lie tengah menyelesaikan
masakannya, tiba-tiba dia mendengar samar-samar
suara siulan yang cukup panjang.
Muka Siauw Liong Lie berobah, saat itu Yo Ko telah
mendatangi dan bertanya kepada isterinya. “Liongjie,
kau dengar siulan itu?” Isteri tersebut mengangguk.
“Dua tahun lebih kita menetap ditempat ini. belum
pernah didatangi orang, tetapi suara orang bersiul itu …..
jelas yang bersiul merupakan orang yang memiliki lwekang
sangat tinggi dan sempurna!”
,Ya….. sapakah dia?” mengumam Siauw Liong Lie.
„Hmmmm …..apakah mungkin salah seorang sahabat
lama ?” menggumam Yo Ko.
“tetapi suara siulan itu aneh dan belum pernah kita
dengar, Kojie kau harus hati-hati nanti tidak mungkin
sahabat lama yang datang…!”
Yo Ko tersenyum, dia mendekati isterinya dan
mencekal tangan Siauw Liong Lie dengan lembut dan
mesra sekali.
Muka Siauw Liong Lie jadi berobah merah, dia telah
menunduk dalam-dalam dengan sikap kemalu-maluan,
tanpa mengucapkan sepatah katapun juga.
Yo Ko jadi heran melihat sikap isterinya seperti itu,
belum pernah Siauw Liong Lie membawakan sikap
seperti itu.
„Liongjie, apakah ada sesuatu… ?” tanya Yo Ko halus
sambil mengusap-usap lembut tangan isterinya.

Siauw Liong Lie mengangkat kepalanya menatap
suaminya mesra sekali.
„Kojie, kau harus dapat menjaga diri dengan baik,
karena karena.. .” suara Siauw Liong Lie semakin lama
semakin perlahan, dan akhirnya tidak terdengar, dan
juga Siauw Liong Lie telah menunduk lagi.
„Karena…apa Liongjie?” Tanya Yo Ko jadi heran
melihat sikap isterinya tersebut.
„Karena….” dan Siauw Liong Lie menubruk memeluk
Yo Ko, kemudian sambil tertawa dengan pipi yang
merah, dia telah meneruskan perkataannya: „Mari
kubisiki.”
Yo Ko mendekati telinganya kebibir isteri nya dan
Siauw Liong Lie telah membisikan beberapa patah kata.
Muka Yo Ko berobah menjadi berseri-seri. dia berseru
girang dan melompat-lompat dengan riang. „Hus ! Anak
edan !” bentak Siauw Liong Lie sambil tersenyum.
„Apakah kau tidak malu jika didengar orang ?”
Yo Ko masih melompat-lompat sesaat lamanya lagi,
setelah itu dia lagi menyahuti,
„Malu? Bukankah disini hanya kita berdua? Malu
kepada siapa?”
Muka Siauw Liong Lie telak berobah merah lagi,
diapun baru teringat bahwa mereka memang hanya
berdua. Muka Siauw Liong Lie jadi bertambah merah
karena malu waktu Yo Ko mengawasi saja perutnya.
“Sudahlah kau lihat siapa yang datang itu!” Siauw
Liong Lie memperingati suaminya. Tetapi baru berkata
sampai disitu Siauw Liong Lie jadi kaget sendirinya,
karena tiba-tiba dia mencium kan sesuatu

“Akhh!” berseru Siauw Liong Lie. Daging panggangku
hangus” dan ketika dia menoleh, benar saja daging
kelinci yang tengah dipanggangnya itu telah hangus
separuh.
Disaat itu, waktu Siauw Liong Lie ingin menyesali
suaminya, justru telah terdengar lagi suara siulan itu
yang panjang dan didengar dari kerasnya suara siulan
itu, tentu orang yang bersiul itu telah berada dekat
sekali dengan rumah mereka, setidak-tidaknya telah
berada disekitar daerah tersebut.
“Liongjie kau baik-baik rawat diri, jangan bekerja
terlalu capai, setelah, memanggang daging kelinci itu,
pergilah kau tidur, biarlah aku yang melihat keluar…!”
kata Yo Ko dengan perasaan menyayang sekali.
„Anak sinting mana mungkin siang-siang tidur!”
mengomel Siauw Liong Lie. Tetapi hatinya bahagia
bukan main, sangat bersyukur, karena memang dia
bahagia sekali mempunyai suami seperti Yo Ko.
Justeru Yo Ko sendiri setelah dia mengetahui dia akan
segera menjadi calon ayah dia girang luar biasa.
Dengan, gerakan yang lincah dia telah melompat
keluar. Disaat itu Yo Ko melihat Sin Tiauw sudah tidak
berada ditempatnya. Dikejauhan terdengar suara
pekikan Sin Tiauw.
Bagaikan terbang Yo Ko telah berlari meng hampiri
kearah suara pekikan itu lengan baju kanannya yang
kosong melampaui lambaian tertiup angin.
Seperti diketahui lengan kanan Yo Ko telah tertabas
buntung akibat tingkah dan ulah Kwee Hu, puteri Kwee
Ceng.
Setelah berlari-lari sekian lama, Sin Tiauw Taihiap tiba
dibalik mulut lembah, dia melihat diangkasa Sin Tiauw

tengah terbang melayang tidak hentinya mengeluarkan
suara pekikan. Rupanya tadi Sin Tiauw juga telah
mendengar suara siulan itu, dan segera terbang
ketengah udara untuk melihat siapakah yang telah
datang itu, sitamu yang tidak diundang.
Yo Ko tiba ditempat itu segera dapat melihat jelas
tamunya. Ternyata orang tersebut hanya seorang diri,
memakai pakaian bulu yang tebal untuk mencegah hawa
udara yang dingin, memelihara kumis yang panjang dan
mukanya berbentuk segi tiga, sinar matanya agak licik.
Melihat Yo Ko, orang itu telah cepat-cepat
menghampiri, dia menjatuhkan dirinya ditanah Berlutut
dihadapan Yo Ko.
„Sin Tiauw Taihiap Locianpwe.. boanpwe menghunjuk
hormat ..!” kata orang itu, yang membahasakan Yo Ko
dengan sebutan Locianwe (yang tingkatan tua) dan
membahasakan dirinya sendiri dengan sebutan Boanpwe,
tingkatan muda. Boanpwe Liang Ie Tu membawa titipan
pesan untuk locianpwe”.
Yo Ko mengawasi tamu tidak diundang tersebut
dengan sorot mata yang tajam, sepasang alisnya agak
mengkerut, karena tidak senang dia melihat bentuk
muka orang itu yang amat licik.
„Siapa yang telah menitipkan pesan untukku ?
Mengapa kau mengetahui bahwa aku menetap disini ?”
tegur Yo Ko sambil memandang penuh kecurigaan ,
Orang itu telah cepat-cepat mengangguk-anggukkan
kepalanya. Dia juga telah berkata setelah memberi
hormat begitu. „Sesungguhnya Boanpwe memang
lancang telah datang kemari tanpa meminta ijin dari Sin
Tiauw Taihiap Locianpwe, tetapi karena dalam keadaan
terdesak, maka terpaksa Boan pwe harus melakukan
perbuatan lancang seperti ini, yang layak dihukum” dan

setelah berkata begitu, Liang Ie Tu telah merogoh
sakunya mengeluarkan sepucuk surat, yang diberikan
kepada Yo Ko dengan sikap yang menghormat sekali,
disusuli kata-katanya. „lt Teng Taisu Locianpwe telah
perintahkan Boanpwe untuk menyampaikan suratnya ini
kepada Sin Tiauw Taihiap Locianpwe.. “.
Yo Ko menyambuti surat itu, hatinya terkejut sekali
setelah mengetahui bahwa surat tersebut adalah kiriman
It Teng Taisu. Cepat-Cepat dia telah membacanya, bunyi
surat itu lebih mengejutkan Yo Ko, antara lain berbunyi :
Yo Hiante (adik)
Sebetulnya lolap bermaksud datang sendiri untuk
menjumpai kalian suami isteri, namun berhubung
timbulnya urusan yang demikian tiba-tiba, terpaksa lolap
harus memecahkan perhatian dan hanya bisa
mengirimkan berita melalui sepucuk surat ini. Bagaimana
keadaan kalian ? Tentu baik-baik saja bukan?. Maksud
sesungguhnya suatu peristiwa aneh yang akhir-akhir ini
telah terjadi didalam rimba persilatan. Selama tiga tahun
kita telah berpisah, sesungguhnya bukanlah waktu yang
terlalu lama, namun dalam tiga tahun itu justeru didalam
rimba persilatan muncul urusan-urusan yang aneh-aneh
luar biasa. Sedangkan saudara Kwee Ceng dan Kwee Hu
jin (Oey Yong), telah ikut membantu lolap untuk
menyingkap tabir rahasia yang tengah terjadi ini.
Sesungguhnya Lolap mau menceritakan panjang lebar
urusan itu, namun lolap kuatir jika surat ini jatuh
ketangan yang tidak berkepentingan, akan menimbulkan
urusan yang jauh lebih hebat lagi. Biarlah kelak Lolap
akan menceriterakannya langsung kepada Yo Hiante.
Maka jika memang Yo Hiante dan Yo Hujin tidak
keberatan, Lolap menantikan kedatangan Yo Hiante di
Hoasan, dimakam saudara Ang Cit Kong dan Auwyang
Hong, tepat ditanggal Cit Gwee Cesah ( bulan tujuh

tanggal tiga ) dimana sahabat-sahabat lain-lain-nya juga
akan berkumpul. Kami menantikan kedatangan Yo Hiante,
salam kepada Yo-Hujin.
Dan surat tersebut telah ditanda tangani oleh It Teng
Siansu pendekar Lam Ceng, pendekar dari selatan.
YO KO MEMANG mengenali tulisan It Teng Taisu, begitu pula
tanda tangannya, tidak mungkin surat itu surat palsu
Tetapi yang membuat Yo Ko tidak mengerti justeru
mengapa It Teng Taisu menitipkan suratnya tersebut
kepada seorang manusia bermuka licik seperti itu yang
mengaku bernada Liang IE Tu.
Ada hubungan apakah antara Liang Ie Tu dengan It
Teng Taisu ?. Sebelumnya Yo Ko belum pernah bertemu
dengan orang she Liang ter sebut ?
„Masih ada sangkutan apa antara Liang-heng dengan
It Teng Taisu ?” tanya Yo Ko sambil melipat surat itu dan
memasukan kedalam saku
Liang It Tu masih berlutut, cepat sekali dia menyahut :
„It Teng Taisu pernah paman dengan Boanpwe. dan
menurut pesan yang diberikan oleh It Teng Taisu
locianpwe, bahwa urusan yang sekarang muncul ini
merupakan urusan yang luar biasa sekali, urusan yang
membingungkan…”
„Urusan luar biasa dan membingungkan : Urusan
apakah itu ?”
„It Teng Locianpwee tidak menjelaskan, hanya
meminta kepada boanpwe secepatnya menyampaikan
surat tersebut kepada Yo Locianpwe tempat berdiamnya
Yo Locianpwe juga diberitahukan oleh It Teng
Locianpwe.”

Yo Ko mengangguk, setidak-tidaknya dia merasa tidak
enak hati jika membiarkan orang bermuka licik itu tetap
berlutut, maka diperintahkannya Liang Ie Tu berdiri.
„Dari sini Liangheng bermaksud pergi kemana lagi ?”
tanya Yo Ko kemudian.
„Boanpwe telah melakukan perjalanan tidak hentinya
selama setengah bulan, maka jika Locianpwe tidak
berkeberatan, disaat tugas yang diberikan It Teng
Locianpwe berhasil boanpwe laksanakan dengan baik,
maka boanpwe meminta ijin Locianpwe untuk bermalam
disini !”
Yo Ko jadi mengerutkan alisnya, tetapi setelah raguragu
sejenak, tidak dapat dia menolak atas keinginannya
Liarg Ie Tu bukankah orang she Liang itu utusan It Teng
Taisu, dan masih pernah keponakan pula dengan Lam
Ceng tersebut ?
„Baiklah, tetapi maafkan tempat kami buruk sekali…”
kata Yo Ko sambil mengangguk.
Liang Ie Tu tampak gembira sekali, dia menyatakan
terima kasihnya, berulang kali
Yo Ko mengajak Liang Ie Tu kerumahnya,
diperkenalkan kepada Siauw Liong Lie. isterinya.
Sama halnya dengan Yo Ko, malam itu ketika berada
dikamar mereka, Siauw Liong Lie menyampaikan
perasaan tidak senangnya melihat lelaki bermuka licik
itu, walaupun bagaimana wajah Liang Ie Tu
memancarkan kelicikan yang tidak menyenangkan sekali.
„Biarlah, hanya malam ini saja, besok kita bisa
memintanya untuk meninggalkan tempat ini, dengan
alasan kitapun akan segera berangkat untuk memenuhi
undangan It Teng Taisu”.
Siauw Liong Lie hanya mengangguk saja.

Tetapi diluar dugaan mereka tepat menjelang tengah
malam, Liang Ie Tu yang diberi kamar dibelakang rumah
mereka, telah turun dari pembaringan, dengan hati-hati
dia telah berjingkat kepintu dan memasang
pendengarannya baik-baik. Sunyi dan sepi sekali .
Dengan hati-hati sekali, Liang Ie Tu membuka daun
pintu dan melangkah keluar. Dia berada di pekarangan
belakang rumah Yo Ko, dengan hati-hati Liang Ie Tu
melompat kebalik batu gunung-gunungan yang terdapat
disitu, dia bersembunyi agak lama ditempat tersebut.
sampai akhirnya setelah melihat keadaan aman, orang
she Liang tersebut keluar dari tempat persembunyiannya
itu. Diawasinya keadaan disekitar tempat itu, dan
tampaknya dia tidak memperoleh apa yang
diinginkannya. Maka dia telah melangkah lagi dan terus
menghampiri keruang tengah rumah tersebut, keadaan
sepi, Yo Ko dan Siauw Liong Lie tidak dilihatnya. Orang
she Liang itu dengan berhati-hati sekali t e l a h menuju
kepintu ruang tengah. Dia membuka sedikit dan mengintai.
Sunyi dan sepi, tidak ada siapapun diruang dalam.
Dia kemudian memasuki ruang dalam. Dilihatnya
sebatang pedang dan sebatang golok ter gantung
didinding matanya bersinar, Namun dia tidak segera
mengambil kedua benda itu, melainkan telah
mengeluarkan semacam bungkusan kecil dari sakunya,
dia mendekati pintu kamar Yo Ko. berjongkok disitu
dengan hati-hati sekali dia membakar bungkusan kecil
itu asap segera memenuhi ruangan. Itulah dupa tidur
yang bisa membuat seseorang yang menyedotnya akan
tidur dengan nyenyak.
Setelah menanti sekian lama dan yakin bahwa dupa
tidur itu telah memasuki kamar Yo KO maka Liang Ie Tu
baru mendekati golok dan pedang yang tergantung
didinding.

Diulurkan tangannya untuk mengambil kedua benda
itu, dengan wajah yang berseri-seri dan mulut
tersungging senyuman licik.
Namun belum lagi tangannya semua menyentuh kedua
benda itu, justeru tahu-tahu Liang Ie Tu merasakan
punggungnya seperti dijambak keras sekali oleh sesuatu.
Belum lenyap kagetnya dan belum lagi mengetahui
apa yang terjadi, justru disaat itu tubuhnya telah
terangkat keatas dan terbanting di-lantai, sehingga
Liang Ie Tu menjerit kesakitan punggungnya dirasakan
pecah dan matanya berkunang-kunang.
Dengan memaksakan diri dia merayap untuk bangun,
disaat itupun dia melihat seseorang berdiri didekatnya,
seorang lelaki bermuka tampan, dengan mata yang
bersinar tajam penuh kejengkelan dan dengan lengan
baju sebelah kanan berkibar-kibar lemas karena tidak
ada lengannya.
„Sin Tiauw Taihiap……..” mengeluh Liang Ie Tu
dengan suara putus asa.
Dan Liang Ie Tu jadi mengeluh lagi waktu melihat
dipintu berdiri seorang wanita cantik, yang tengah menatap
kearahnya dengan wajah yang dingin sekali. Wanita itu
tidak lain dari Yo Hujin Siauw Liong Lie.
Tanpa berpikir lagi. Liang Ie Tu telah ber lutut
menganggukkan kepalanya sampai kening nya
menghantam lantai berulang kali, menimbulkan suara
yang beledak-beleduk. Dan orang she Liang itupun telah
menangis sambil sesambatan karena ketakutan sekali :
„Ampun, ampunilah hamba, Sin Tiauw Taihiap dengan
memandang It Teng Locianpwe suka mengampuni
jiwaku yang tidak berharga ini”
Yo Ko yang sejak tadi hanya mengawasi dengan sorot
mata yang dingin telah mendengus.

„Hmmm, memang sejak semula aku telah mencurigai
kau bukan sebangsa manusia baik-baik” katanya dengan
suara yang tawar.
„Ternyata kedatanganmu hanya untuk mencuri
senjata kami berdua! Kini bicaralah terus terang, sekali
saja kau berdusta, jangan harap bisa lolos dari tangan
kami!”
Liang Ie Tu mengiakan berulang kali, diam-diam dia
mendongkol juga, karena dia telah memasang dupa tidur
di muka pintu kamar tidur Yo Ko dan Siauw Liong Lie
tetapi kenyataannya Yo Ko dan Siauw Liong Lie telah
keluar dari jendela dan mengambil jalan memutar tahutahu
telah berada dibelakang pintu ruang dalam.
,Siapa yang perintahkan kau datang kemari? Dan
mengapa surat It Teng Taisu bisa jatuh ketanganmu?”
tanya Yo Ko dengan suara yang dingin.
„Boanpwe berani bersumpah surat itu benar surat It
Teng Taisu …” Kata Liang Ie Tu dengan menganggukkan
kepalanya dalam keadaan berlutut seperti itu.
„Hemmm, akupun mengetahui bahwa surat itu
memang surat It Teng Taisu. Tetapi mengapa bisa
terjatuh ditanganmu ?” tanya Yo Ko lagi.
„Bukankah kemarin sore boanpwe telah menceritakan
bahwa boanpwe pernah paman dengan It Teng
Locianpwe” menyahuti orang she Liang itu.
„Jangan kau bicara dusta, belum pernah aku
mendengar It Teng Taisu menyebut perihal diri mu”,
kata Yo Ko bengis.
„Sungguh, memang boanpwe pernah paman dengan It
Teng Taisu dan surat itupun It Teng Locianpwe yang
berikan, meminta agar boanpwe menyampaikannya
kepada Yo Locianpwe……”

Berkeras Liang Ie Tu dengan suara yang perlahan,
tampaknya dia ketakutan sekali.
Yo Ko telah maju akan mengorek terus keterangan
dari orang she Liang itu, karena dia penasaran bukan
main menghadapi urusan hari ini. Tetapi disaat itu,
Siauw Liong Lie, merasakan pinggangnya sakit kembali,
kepalanya pening dan matanya ber kunang-kunang,
perutnya mual seperti ingin muntah dan mukanya pucat
pias, dia telah menyender ditiang pintu sambil
memegangi kepalanya.
„Kojie……..usirlah orang itu !” katanya dengan suara
yang agak tergetar.
Yo Ko terkejut melihat keadaan isterinya, dengan
cepat dia telah menjambret dan mencekal punggung
Liang Ie Tu, dengan cepat sekali dia mengangkat tubuh
orang she Liang itu, dan melontarkan kedepan.
Walaupun hanya mempergunakan tangan kirinya, tetapi
tenaga melempar Yo Ko hebat luar biasa. Bukankah
Kaisar Mangu terbinasa akibat timpukan batu oleh Yo Ko
yang mempergunakan tangan kirinya juga, dengan ilmu
“Tan Cie Sin Thong ?” Maka dari itu bisa dibayangkan.
betapa hebat dan kerasnya lemparan Yo Ko terhadap
Liang Ie Tu, lebih-lebih Yo Ko tengah dalam keadaan
kuatir dan gusar melihat isterinya yang mendadak pucat
pias seperti itu.
Tubuh Liang Ie Tu yang terlempar belasan tombak itu,
telah terbanting keras.
Tetapi setelah mengeluarkan suara seruan kesakitan,
tanpa berani menoleh, lagi dia telah pentang kaki untuk
kabur secepatnya.
Tetapi baru berlari belasan langkah, tahu-tahu dari
atas menyambar bayangan hitam yang sangat besar,

tahu-tahu tubuh Liang Ie Tu telah melayang dan
kemudian meluncur jatuh lagi.
Rupanya Sin Tiauw pun mengetahui bahwa Liang Ie
Tu bukan sebangsa rnanusia baik-baik,. tadi dia yang
menyambar dengan, cengkeramannya dan membawa
terbang yang cukup tinggi, lalu melepaskannya kembali.
Semangat Liang Ie Tu seperti terbang meninggalkan
raganya tanpa berani bersuara dia telah melarikan diri
secepat mungkin karena takut tersiksa lagi.
Yo Ko telah cepat-cepat menghampiri Siauw Liong Lie,
menanyakan dengan halus apa yang dirasakan oleh
isterinya tersebut. Setelah mendengar bahwa isterinya
mabuk, dan pinggangnya yang sakit, Yo Ko cepat-cepat
mengangkat, isterinya dan dibawa kekamarnya lalu
merebahkan isteri nya dipembaringan dengan penuh
kasih sayang.
Dengan kuatir sekali Yo Ko duduk menunggui Siauw
Liong Lie. Dilihatnya berangsur-angsur wajah” isterinya
memerah kembali dan Siauw Liong Lie pun telah dapat
tersenyum lagi.
„Itulah gangguan anak kita yang nakal….” kata Siauw
Liong Lie dengan manja.
Yo Ko mengusap-usap kening isterinya dengan tangan
tunggal kirinya, mereka bahagia sekali.
Tetapi ketika Yo Ko rebah dipembaringan dan Siauw
Liong Lie telah tertidur nyenyak, kembali pikiran Yo Ko
jadi melayang-melayang diliputi kekuatiran terhadap It
Teng Taisu.
Sesungguhnya peristiwa hebat apakah yang telah
terjadi ? Dan mengapa surat It Teng Taisu bisa terjatuh
ketangan orang she Liang ini? Siapakah orang she Liang
itu yang mengakui dirinya pernah paman dengan It Teng
Taisu.

Bermacam-macam pertanyaan. meng aduk-aduk, dalam
hati dan otak Yo Ko dan Pendekar berlengan tunggal
yang sakti itu telah memutuskan besok untuk berangkat
ke Hoa San untuk melihat sesungguhnya urusan apakah
yang telah terjadi dan melanda dunia persilatan, Setelah
mengambil keputusan seperti itu, barulah Yo Ko dapat
memejamkan matanya dan tidur.
Keesokan harinya. Setelah mempersiapkan keperluan
dalam perjalanan, Yo Ko dan Siauw Liong Lie turun
gunung, meninggalkan puncak Siauw-hong untuk menuju
Hoa aan memenuhi undangan It Teng Taisu.
Sedangkan Sin Tauw ikut bersama mereka, terbang
ditengah udara, dengan sekali mengeluar kan suara
pekikkan yang nyaring.
Setelah melakukan perjalanan hampir sepuluh hari
lamanya, suatu sore m e r e k a tiba
dimuka perkampungan Lu-yang cung. Waktu itu baru
saja Yo Ko ingin memberitahukan Siauw Liong Lie bahwa
mereka akan bermalam di-kampung tersebut, karena
Siauw Liong Lie tengah berisi, jelas tidak boleh terlalu
letih dan harus Banyak istirahat, Tetapi belum saja Yo-Ko
membuka mulut, justeru Sin Tiauw yang berada diatas
mereka telah memekik dan terbang cepat sekali kearah
depan.
Yo Ko, Siauw Liong Lie beran sekali melihat sikap Sin
Tiauw mereka menduga tentu ada urusan sesuatu yang
luar biasa. Lama juga menanti, akhirnya pasangan suami
isteri itu tidak dapat menahan hati lagi dan mengejar
kearah mana tadi Sin Tiauw terbang.
Disaat mereka tiba didekat tanah datar yang tidak jauh
dari tempat mereka berada tampak dua sosok tubuh yang
tengah berdiri kaku berhadapan saling mengadu
kekuatan tenaga dalam kelas tinggi.

Dan yang membuat mereka lebih terkejut justru salah
seorang diantara kedua orang itu adalah Loo Boan Tong,
sedangkan seorang lainnya, seorang berpakaian pendeta
Mongolia yang mengingatkan suami isteri itu kepada Kim
Lun Hoat Ong.
Disamping gelanggang pertempuran itu tampak
seorang pemuda pelajar tengah menyaksikan jalannya
pertarungan tenaga dalam kelas satu itu dengan mata
terpentang lebar-lebar memancarkan ketakjubannya.
Yoko dan Siauw Liong Lie tidak mengenal pemuda
pelajar itu.
Tetapi tampak Ciu Pek Thong telah mulai kewalahan
menahan tenaga dalam dari lawannya sepasang kakinya
telah melesak kedalam tanah sedalam empat cun karena
terlampau kuatnya dia menahan sanggahan dari tindihan
tenaga dalam pendeta mongolia itu.
„Liongjie, kau tunggu disini, biar kubereskan dulu
urusan Ciu Toako.. !” kata Yo Ko.
Siauw Liang-Lie mengangguk, dan Yo Ko secepat
terbang telah melompat ketengah gelanggang,
sedangkan mulutnya telah berteriak nyaring : „Loo Boan
Thong, jangan takut, aku akan membereskan imam ini !”
Ciu Pek Thong kaget bercampur girang. Kaget karena
sahabatnya yang sakti itu bisa muncul disitu secara
kebetulan, girang karena dengan kedatangan Yo Ko, Tiat
To Hoat ong yang menjadi lawannya itu akan dibereskan
dengan cepat.
Tetapi Ciu Pek Thong tidak bisa menyahuti karena
sekali saja dia membuka suara, berarti pecahlah
perjalanan tenaga dalamnya, yang tengah dikerahkan
mencapai puncaknya. Ciu Pek Thong hanya berdiam diri
saja.

Saat itu Yo Ko secepat kilat telah menggerakkan
lengan kanan jubahnya yang “kosong” dan serangkum
angin yang luar biasa telah menyambar kearah Loo
Boan Tong dan Tiat To Hoat ong, kesudahannya hebat
sekali, karena baik Ciu Pek Thong maupun Tiat To Hoat
ong keduanya telah terdorong mundur terpisah satu
dengan yang lainnya.
Yang paling terkejut adalah Tiat To Hoat-ong. Dia bisa
mengetahui betapa hebat dan luar biasanya tenaga
dalam Yo Ko yang sempurna karena tidak mudah
memisahkan doa tenaga raksasa yang tengah mengukur
kekuatan satu dengan yang lainnya.
Tetapi Yo Ko justru dengan hanya sekali mengibas
saja, dia telah berhasil membuat kedua orang itu terpisah.
Yo Ko mengawasi pendeta Mongolia itu. Kemudian dia
membungkukkan tubuhnya sedikit sambil tanyanya ;
„Jika aku yang bodoh Yo Ko tidak salah mata, Taisu tentu
seorang Lhama dari Mongolia . . . . ?
„Tepat!” berseru Tiat To Hoat ong dengan bengis.
matanya masih mengawasi lengan baju Yo Ko yang
kosong maka dia mengetahui, pemuda dihadapannya
yang tampaknya berusia muda sekali dan memiliki
kepandaian luar biasa disamping sangat tampan itu,
ternyata hanya memiliki tangan tunggal, karena tidak
memiliki tangan kanan, yang ternyata telah buntung.
Melihat cara pendeta itu menatap tangan kanan yang
buntung itu Yo Ko tidak tersinggung hanya dengan
tersenyum sabar dia telah menegur; „Peperangan telah
berakhir, pasukan tentara perang negeri Taisu telah
ditarik pulang oleh Kublai ke-Utara, mengapa Taisu
masih berkeliaran disini? Dilihat dari kepandaian yang
Taisu miliki, jelas Taisu bukan orang sembarangan
dinegerimu, “

Tiat To Hoat-ong yang tengah murka, dan memang
tidak mengenal Yo Ko, telah mendengus, dia telah
mengawasi mendelik dan menunjuk kearah Loo Boan
Thong.
Dia mencari mampus. Hudya telah bertanya secara
baik. apakah dia mengenal atau mengetahui dimana
adanya sute (adik seperguruan) Hudya yang bernama
Kim Lun Hoat-ong namun sungguh tidak tahu mati, dia
telah mempermain kan Hudya dengan olok-olokannya
yang tidak lucu”.
Mendengar Loo Boan Tong mempermainkan pendeta
Mongolia itu. dan melihat pendeta itu murka sekali, Yo
Ko tak heran, justeru dia berpikir jika Loo Boan Tong
tidak nakal, tentunya dia bukan Loo Boan Tong.
Tetapi yang membuat Yo Ko jadi terkejut, justru
pendeta Mongolia itu telah menyebut-nyebut Kim Lun
Hoat-ong sebagai adik seperguruannya, disamping itu
juga Yo Ko melihat kepandaian pendeta ini tidak boleh
dibuat main-main. Maka sambil tersenyum Yo Ko telah
berkata. Taisu, sungguh malang nasib Kim Lun Hoat
ong, dia telah binasa karena dosanya yang terlalu melebihi
takaran…!”
Muka Tiat To Hoat ong jadi berobah hebat, „Jadi
memang benar Kim Lun Hoat ong telah meninggal?”
tanyanya serak suaranya. Yo Ko mengangguk.
„Hmm, pendeta tak tahu malu!” memaki Loo Boan
Tong. „aku Loo Boan Tong seumurnya belum pernah
berdusta…. bukankah tadi aku telah bicara benar bahwa
si bangsat gundul Kim Lun telah mampus? Dan juga,
mengapa tak hujan tak angin tahu-tahu engkau
memanggil aku si monyet? Siapa yang tidak membalas
dengan guyon pula. Jika engkau ingin menyusul Kim
Lun si gundul bangsat itu, pergilah ke Im Lau tetapi

jangan mengajak aku, aku sudah bilang tadi, aku masih
mau makan nasi….”
Mendengar dan melihat lagak Ciu Pek Thong maka Yo
Ko mau tidak mau jadi tertawa juga, karena sikap situa
yang kekanak-kanakan memang lucu
Tetapi bagi Tiat To Hoat ong, sikap Ciu Pek Thong
merupakan hinaan yang sangat hebat sekali, dengan
mengeluarkan suara mengerang menyeramkan, dia telah
melompat menubruk Ciu Pek Thong sambil melancarkan
serangan dan gempuran telapak tangan hebat sekali.
Namun Yo Ko telah bergerak cepat, dengan lengan
jubah sebelah kanan yang kosong, Yo Ko mengibas
sehingga kembali serangkum angin yang menerjang Tiat
To Hoat-ong memaksa pendeta Mongolia itu mau tidak
mau harus mundur beberapa langkah.
Tentu saja Tjat To jadi terkejut sekali.
„Bocah busuk, siapa kau sesungguhnya ?’ bentak Tiat
To Hoat-ong setelah berhasil menguasai tubuhnya.
“Hm, jika memang benar apa yang Taisu katakan tadi
bahwa kedatangan Taisu untuk mencari adik
seperguruan Taisu, maka setelah Taisu mengetahui dan
mendengar keterangan mengenai diri adik seperguruan
Taisu itu, mengapa Taisu tidak berlalu ?”.
Tajam kata-kata Yo Ko, yang sama juga seperti
mengusir pendeta itu.
Tubuh Tiat To Hoat-ong gemetar keras, dia murka
bukan main, jenggotnya itu sampai bergetar ber gerakgerak.
Tetapi, disaat itu hatinya ragu-ragu. Dia melihat
pemuda ini masih berusia muda sekali, tetapi
kepandaiannya luar biasa, lwekangnya pun mungkin
berimbang dengannya.

Maka mau Tiat To Hoat-ong menduga bahwa tidak
jauh dari tempat ini pasti ada guru dari pemuda
berkepandaian hebat itu.
Maka berpikir begitu, akhirnya Tiat To Hoat-ong
mengambil keputusan untuk mengalah saja dulu. Dia
memang bukan hanya memiliki kepandaian yang hebat,
memiliki ilmu golok gubahan yang tangguh sekali, yang
belum digunakan, tetapi otaknya cerdik sekali. Maka
akhirnya dia telah mengangguk !
„Baiklah”, katanya. „Kelak Hudya tentu akan
mencarimu untuk melihat berapa tinggikah
sesungguhnya kepandaianmu. Sekarang Hudya tengah
sibuk karena memiliki urusan penting, maka tidak bisa
menemanimu untuk main-main” dan setelah berkata
begitu, ia lalu menoleh dan mendelik satu kali lagi
kepada Ciu Pek Thong, Tiat To Hoat-ong melompat
ringan keatas kudanya yang kemudian dilarikan
ketengah tegalan dengan cepat sekali, dalam sekejap
mata telah lenyap dari pandangan mata Yo Ko, Ciu Pek
Thong, Siauw Liong Lie maupun Cu Kun Hong.
„Ahaa, untung saja kau datang Yo Hiante!” berseru
Ciu Pek Thong memecahkan kesunyian tempat itu.
„Kalau tidak, hu, hu, kalah sih belum tentu, tetapi yang
jelas harus membuang banyak tenaga sia-sia”.
Yo Ko dan Siauw Liong Lie tertawa waktu mendengar
perkataan Ciu Pek Thong yang jenaka itu.
Cu Kun Hong cepat-cepat menghampiri mereka, dia
memberi hormat sambil katanya: „Boanpwe Cu Kun Hong
sangat beruntung hari ini dapat bertemu dengan Samwie
Taihiap Locianpwe”.
Yo Ko cepat-cepat mencegah pemuda itu lebih hormat
kepada mereka. Sebagaimana lazimnya Yo Ko bertiga Ciu
Pek Thong dan Siauw Liong Lie melayani hasrat Cu Kun

Hong untuk berkenalan, dan setelah basa-basi sejenak,
akhirnya Yo Ko bertiga Siauw Liong Lie dan Ciu Pek
Thong berlalu.
Cu Kun Hong mengawasi kepergian ketiga pendekar
gagah itu dengan sorot mata kosong, hatinya kagum
sekali akan kepandaian ketiga orang gagah itu. Gurunya
sendiri belum tentu dapat menandingi seperlima dari
kepandaian salah seorang ketiga pendekar itu.
Maka dari itu, Kun Hong lama berdiri tertegun
ditempatnya, walaupun bayangan ketiga pendekar itu
sudah tidak terlibat. Dan akhirnya sambil menghela
napas, Kun Hong juga telah melanjutkan perjalanannya.
Hanya satu yang menghibur hatinya, tidak mudah
orang berjumpa dengan Yo Ko dan Siauw Liong Lie,
tetapi hari ini dia telah berhasil sekaligus bertemu muka
dan menghunjuk hormat kepada Yo Ko, Siauw Liong Lie
dan Ciu Pek Thong.
KINI Ciu Pek Thong melakukan perjalanan bersama Yo
Ko dan Siauw Liong Lie, Jarak ke Hoa San dari tempat
mereka berada sudah tidak terpisah terlalu jauh. Setelah
melakukan perjalanan kurang lebih sepuluh hari,
akhirnya mereka tiba dikaki gunung Hoasan sebelah
selatan.
Dari jauh, baik Yo Ko maupun Siauw Liong Lie dan Ciu
Pek Thong telah melihat menjulangnya puncak Giok Lie
Hong yang tinggi dan megah.
Yo Ko menjelaskan kepada Ciu Pek Thong dan Siauw
Liong Lie, dia merasa heran bukan main atas adanya
peristiwa seperti ini karena walaupun bagaimana dia
merasakan bahwa didalam urusan yang tengah terjadi ini
pasti terselip suatu urusan yang mencurigai dan tidak
beres.

It Teng Taisu merupakan salah seorang dari Ngo Ciat,
lima jago luar biasa, dan mungkin diantara kelima jago
dalam urutan Ngo Ciat tersebut, It Teng Taisu yang
memiliki kepandaian yang tertinggi dengan „It Yang
Cie”nya,
Umpama kata memang terjadi suatu urusan yang
hebat bagaimanapun, dengan mengandalkan
kepandaiannya yang telah mencapai puncak
kesempurnaannya, It Teng Taisu tentu akan berhasil
menghadapi dan menyelesaikannya sendiri.
Yang mengherankan justru kini It Teng Taisu telah
mengundang Yo Ko dan Siauw Liong Lie, mengundang
Ciu Pek Thong, ahkan didalam surat It Teng Taisu
kepada Yo Ko telah dijelaskan pendeta dari Selatan
itupun telah mengundang Kwee Ceng dan Oey Yong
yang menurut suratnya telah berangkat dan akan
berkumpul di Hoa San. didekat makam Auwyang Hong
dan Ang Cit Kong.
Entah urusan besar yang bagaimana sehingga seorang
It Teng Taisu perlu mengundang jago-jago Ngo Ciat
untuk bantu menyelesaikan urusannya itu.
Tetapi yang lebih mendatangkan kecurigaan dihati Yo
Ko bertiga, justru surat yang disampaikan untuk Yo Ko
itu diantar oleh seorang yang mencurigakan sekali, yang
mengaku bernama Liang Ie Tu itu, yang akhirnya
berusaha mencuri pedang dan golok Yo Ko.
Waktu Yo Ko menanyakan kepada Ciu Pek Thong,
siapakah orangnya yang telah mengantar kan surat It
Teng, yang ditujukan untuk Loo Boan Thong tersebut,
Ciu Pek Thong menjelaskan diapun menghadapi teka-teki
yang membinggungkan, karena pembawa surat It Teng
Taisu untuknya itu adalah seorang wanita pengemis yang
pakaiannya pecah dan robek-robek mesum sekali,
berusia diantara dua puluh tujuh tahun dan nampaknya

agak sinting. Dengan lagaknya yang edan-edanan seperti
itu, tentu saja Ciu Pek Thong tidak bisa mengorek
keterangan apa-apa dari pembawa surat.
Namun disebabkan pemikiran Ciu Pek Thong memang
sederhana dan polos, setelah membaca isi surat It Teng
Taisu, yang sebagian besar, bunyinya itu mirip dengan
surat yang diterima Yo Ko, Loo Boan Tong hanya berpikir
untuk cepat-cepat melakukan perjalanan ke Hoa san untuk,
memenuhi undangan It Teng Taisu disamping itu
dia juga memang bermaksut untuk bertemu dengan
sabahat-sabahatnya yang telah dirindukan nya. Tetapi
dalam perjalanan justru dia telah dapat bertemu dengan
Yo Ko dan Siauw Liong Lie.
Pertemuan itu memang menggembirakan. Tetapi
dengan munculnya persoalan Tiat To Hoat-ong.
membuat mereka harus berpikir keras, bahwa urusan
yang tengah dihadapi It Teng Taisu justru memiliki
hubungan yang erat dengan pihak orang-orang
Mongolia.
Walaupun bagaimana, memang kenyataannya mereka
belum bisa menjawab sendiri teka-teki yang tengah
mereka hadapi, disamping itu urusan belum pula
menjadi jelas dengan hanya men duga-duga. Dan jika
kelak telah bertemu dengan pendeta dari selatan itulah
baru persoalan menjadi jelas.
Akhirnya Yo ko, Siauw Liong Lie dan Ciu Pek Thong
memutuskan tidak ingin memusing kan pikiran mereka
dengan persoalan tersebut bukankah dalam beberapa
hati lagi mereka segera akan bertemu dengan It Teng
Taisu.
Maka pada waktu-waktu luang yang mereka miliki
telah dipergunakan untuk pesiar menikmati keindahan
yang terdapat di Hoasan, bahkan Siauw Liong Lie dan Yo
Ko tidak lupa mendatangi kuil kecil yang berada

dipuncak Giok Lie Hong, puncak Bidadari i t u , dimana
terdapat patungnya “bidadari” yaNG pahatannya dan
bentuknya mirip dengan Cauwsu (nenek guru) mereka.
Kenyataan seperti itu memang lebih menggembirakan,
karena tanpa memikirkan persoalan-persoalan yang tidaktidak
dan belum pasti mereka dapat menikmati keindahan
yang terdapat di Hoa San. Memang Hoa San terkenal
sekali memiliki banyak tempat-tempat yang indah. dan
keindahan yang terdapat di Hoa San tidak kalah jika
dibandingkan dengan keindahan di Himalaya maupun
Thian san.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s