Sin Tiauw Thian Lam (Jilid : 25 s/d selesai) —- “Tamat” —-

JILID 25 JANGAN terlalu terkebur, Hengtai, “kata pendeta itu: Jangankan engkau yang hanya memiliki kepandaian bisa dihitung dengan jari, sedangkan Ciangbunjin2 dari berbagai perguruan silat ternama, seperti Siauw Lim Sie dan lainnya tidak ada yang berani membentur Sin Tiauw Taihiap Apalagi yang memiliki kepandaian sedikit, tentunya sekali saja Yo Taihiap menggerakan lengan baju kanannya yang tidak berlengan itu, engkau sudah akan me-raung2 meminta ampun.” Muka pelajar yang wajahnya kasar itu jadi berobah tidak senang, tangan kanannya telah dipergunakan untuk memukul meja, sehingga ada dua cawan yang terbentur dan jatuh kelantai menimbulkan suara berisik karena cawan2 yang jatuh itu telah hancur. “Sabar Hiantee (adik), engkau tampaknya begitu bernapsu sekali ingin menguji ilmumu dengan Sin Tiauw Taihiap. Jika memang telah bertemu dengannya, engkau tentu akan cepat2 ambil langkah seribu.” „Jangan terlalu menghina begitu Totiang”, kata pelajar muka kasar itu. „Aku Bong Siu Kang, tidak pernah mengenal apa itu perkataan takut. Dalam hal ini memang engkau belum pernah menyaksikan aku bertempur Totiang ! Nanti jika aku bisa mencari jejak sibuntung itu akan ku . . , haappppp !” dan orang she Bong itu telah menjerit terkejut, karena tahu2 ada sebatang sumpit yang telah menyamar dan menghantam giginya. Tepat sekali hantaman itu karena sumpit tersebut telah menghantam terlepas gigi didepan pemuda itu. sehingga gigi itu rontok menimbulkan perasaan Sakit yang bukan main. Ternyata Phang Kui In yang melihat kekurang ajaran orang she Bong itu, karena mendongkol sekali dia telah menyambitkan sumpit nya kedalam mulut pemuda sombong itu. Setelah tersadar dari sakit dan terkejutnya, Bong Siu Kang telah melompat berdiri dengan muka merah padam karena marah. „Siapa yang lancang mempermainkan aku Bong Siu Kang. jago tanpa tanding ini !” teriak Bong Siu Kang dengan suara yang garang. „Aku …. !” menyahuti Phang Kui In dengan suara yang dingin. “apakah engkau tidak senang ?’ Muka Bong Siu Kang semakin merah, karena dia sangat gusar sekali. Kemudian dia melangkah dengan kaki lebar menghampiri Phang Kui In, sedangkan Yo Ko dan yang lainnya hanya mengawasi saja Merekapun sebal sekali melihat sikap sombong Bong Siu Kang, hanya mereka menahan tertawa sendiri, sebab melihat betapa mulut Bong Siu Kang telah berlumuran darah merah dari giginya yang copot. „Kamu lancang tangan berani menghina tuan besarmu, heh ?” sambil membentak begitu, tangan Bong Siu Kang telah bergerak melancarkan serangan. Dia mempergunakan jurus “Mie Hong Ciu Tang atau Mie Hong gemar arak dewa “, kedua kepalan tangannya itu bergerak seperto orang yang tengah menyuguhi persembahan arak, yang diincernya adalah punggung Phang Kui In. Tetapi Phang Kui In tetap duduk diam sama sekali tidak bergerak. Dia membiarkan pukulan Bong Siu Kang mengenai punggungnya, diam2 dia telah mengerahkan tenaga lwekangnya yang disalurkan kepunggungnya. “Bukk !” Suara benturan antara kepalan tangan Bong Siu Kang dengan punggung Phang Kui In terdengar keras dan disaat itu juga terdengar jeritan dari Bong Siu Kang, karena tubuhnya telah terlempar kelantai. Rupanya walaupun Phang Kui In tidak mengadakan penangkisan terhadap serangan lawannya. Tetapi dia telah mengembalikan tenaga serangan lawannya melalui tenaga lwekangnya yang memenuhi pundaknya. Maka tidak mengherankan ketika kepalan tangan Bong Siu Kang menghantam, segera tenaga serangan itu berbalik kembali, sehingga tubuh orang she Bong itu terlempar bergulingan di lantai. Tetapi Bong Siu Kang penasaran sekali dan tidak pernah mengenal menyerah. Walau pun dia telah kena diserang dengan cara mengembalikan tenaga lweekang, membuktikan bahwa tenaga serangan itu sangat kuat, dan tentu pemiiiknya memiliki kepandaian yang sangat tinggi sekali. Dengan mempergunakan gerakan „Lee Ie Ta Teng” atau „Ikan Gabus Meletik”, tubuh Bong Siu Kang telah melompat tinggi dan berada didekat Phang Kui In. „Kau . . . mempergunakan ilmu siluman! Jika memang engkau seorang hohan, layanilah seranganku dengan jujur”. Phang Kui In jadi tambah sebal kepada orang she Bong tersebut, yang dianggapnya tidak tahu diri. Dengan ayal2an Phang Kui In berdiri dari duduknya, sedangkan Yo Ko hanya tersenyum2 saja dan Yo Him bersama Kwee Siang tidak memperdulikan semua itu, mereka tengah bicara dengan asyik. „Apa yang kau kehendaki lagi ?” tanya Phang Kui In dengan suara yang dingin, dia juga sengaja membuka matanya lebar2 untuk menyelidiki lawannya itu. “Aku menghendaki kau melayani aku dengan cara hohan “ kata Bong Sui Kang. “Caranya?” “Engkau harus mempergunakan kedua tanganmu, tidak seperti tadi engkau mempergunakan ilmu siluman” “Ilmu Siluman >” “ya engkau memiliki ilmu siluman, tidak keruan !, aku yang memukul dirimu, tetapi toh justru aku yang telah terpental. Bukankan dengan demikian membuktikan bahwa engkau mempergunakan ilmu siluman ?” Mendengar perkataan Bong Siu Kang, nampak Phang Kui In tertawa tergelak2. Muka Bong Siu Kang jadi berobah merah padam karena dia merasa tersinggung. “apa yang kau tertawakan ?” Bentaknya dengan suara yang aseran, karena dia mengetahui Phang Kui In tertawa begitu tentunya dengan maksud mengejeknya. Phang Kui In telah berhenti tertawa. Kemudian dengan muka yang sungguh2 dia berkata : “engkau terlalu takabur !. tadi aku bukan mempergunakan ilmu siluman, tetapi justru kepandaianmu yang masih terlalu rendah ! aku tadi telah mempergunakan lwekangku untuk mengembalikan tenaga seranganmu, sehingga engkau jadi jungkir balik begitu rupa ! Hemm, karena itu engkau harus melatih diri selama dua puluh tahun lagi barulah engkau bisa memahami ilmu itu !” Keruan saja Bong Siu Kang jadi tambah marah. “Bangsat kecil, kau ingin menggertakku dengan ilmu silumanmu itu ? Hemm, Hemm, aku Bong Siu Kang tidak akan takut menghadapi siapapun juga, terimalah seranganku yang kali ini…!” dan dia bukan hanya berkata karena dia telah mengerakkan tangan kirinya dengan jurus air terjun menimpa bumi, dan disusul dengan jurus terjangan badai mengamuk pada naga, merupakan jurus kedua yang cukup lumayan kerasnya. Tetapi buat Phang Kui In mana dia memandang sebelah mata kepandaian orang she Bong itu. Dengan mengeluarkan seruan kecil dia berkelit kesamping, tahu2 dia telah berada dibelakangnya Bong Siu Kang. dan kemudian menepuk bahu orang she Bong itu perlahan sekali. „Aku disini…!” katanya sambil tersenyum lagi. Semangat Bong Sui Kang seperti terbang meninggalkan raganya, cepat2 dia memutar tubuhnya dan menggerakkan kedua tangannya berulang kali untuk mencecar diri Phang Kui In. Tetapi Phang Kui In dengan mudah bisa mengelakkan diri dari serangan2 lawannya, sama sekali dia tidak membalas menyerang. Bong Siu Kang jadi tambah penasaran, berulang kali dia mengamuk sambil mengulangi serangan2nya seperti juga orang kesurupan hantu saja. Namun Phang Kui In tetap tidak mau membalas menyerang. Namun setelah lebih dari empat puluh jurus, disaat itulah dengan cepat sekali Phang Kui In mencengkeram tangan kanan orang she Bong itu. „Aduhhh… !” menjerit Bong Siu Kang ketika tangannya dicekal dengan keras sekali. Tetapi suara jeritan kesakitan itu belum lagi habis diucapkannya, tiba2 tubuhnya telah diangkat oleh Phang Kui In, lalu dilemparkannya dengan kuat sekali melambung ketengah udara, Lemparan Phang Kui In itu cukup keras, karena telah disertai oleh tenaga Iwekangnya sebanyak empat bagian. Dalam keadaan demikian, Bong Siu Kang hanya bisa menjerit saja, dan tuhuhnya terbanting keras diatas lantai, diam tidak berkutik la gi karena dia telah rubuh pingsan. Semua tamu2 lainnya jadi berdiam diri dengan tertegun karena dikota mereka ini, Bong Siu Kang boleh dibilang sebagai jagonya dan tidak ada orang yang berani berurusan dengannya. tetapi kini dengan begitu mudah telah dirubuhkan oleh Phang Kui In, sehingga mereka jadi duduk bengong saja ditempat masing2 sambil memandang kepada Phang Kui in dengan sorot mata menunjukan kekaguman. Waktu itu Phang Kui In telah memutar tubuhnya hendak kembali kekursinya. Tetapi belum lagi dia duduk, telah ada yang berseru kepadanya: „Tahan dulu, sahabat …. !” Phang Kui In telah menoleh dan mengawasi orang yang menegurnya itu. Dilihatnya orang yang menegurnya itu tidak lain dari pada si tojin yang tadi ber-cakap2 dengan Bong Siu Kang. Cepat2 Phang Kui In telah berkata dengan suara yang ramah: ,,Ada petunjuk apakah totiang.,..” Tojin itu tidak segera menyahuti, dia telah mengawasi Phang Kui In beberapa saat lamanya, sampai Phang Kui In tidak sabar sendirinya „Katakanlah Totiang jika memang engkau memiliki petunjuk. Kalau engkau tidak memiliki urusan apa2, maafkan aku akan kembali kemejaku.” Tojin itu telah tersenyum mengejek. „Aku bergelar Cing Siu Cinjin.” katanya “Cing Siu Cinjin”? tanya Phang Kui-In. „Aku serasa pernah mendengar gelaran Totiang.” kemudian dia memperhatikan baik2 tojin itu. dia melihat orang memiliki muka berbentuk segi tiga, dadanya dada burung, membusung keluar dan tubuhnya tidak gemuk juga tidak kurus. Matanya yang agak luar biasa, memandang Phang Kui In dengan sinarnya yang tajam sekali. „Tadi pinto telah beruntung bisa menyaksikan kiesu (orang gagah), merubuhkan Bong Siu Kang, anak itu memang suka sekali berlaku sombong dan takabur. Tetapi, sebagai orang rimba persilatan jika melihat ada orang yang memiliki kepandaian tinggi membuat tangan menjadi gatal karenanya. Maka jika kiesu tidak keberatan, pinto ingin minta beberapa jurus petunjuk dari kiesu !” Cepat2 Phang Kui In merangkapkan tangannya, dia telah menjura memberi hormat kepada tojin tersebut. “Maafkan totiang, kepandaianku tidak berapa tinggi, aku hanya mengerti satu dua jurus saja,” katanya merendahkan diri dengan sikap yang manis sekali. “Maka dari itu aku mana bisa menghadapi Totiang “ Tojin itu tertawa tawar. „Biar saja Kiesu merendahkan diri! Tadi aku telah sempat menyaksikan kepandaian Kiesu ini, mungkin juga lebih tinggi dibandingkan dengan kepandaianku, tetapi karena aku tertarik sekali dan ingin men-coba2 dengan kepandaian kiesu, hendaknya kiesu tidak keberatan dan tidak menolaknya . . . !” Selesai berkata, dengan gerakan yang ayal2 an dia telah mencabut pedangnya yang diatas punggungnya, dan kebutan hudtimnya itu dicekal ditangan kiri. „Majulah Kiesu, mari kita coba2 ..!” kata tojin itu. Phang Kui In jadi kikuk juga. Dia tidak mengenal siapa adanya tojin itu, tetapi orang ini telah mendesak dia terus menerus, sehingga membuat dia tidak memiliki pilihan lainnya. Hanya disaat itu Phang Kui In menoleh dulu kepada Yo Ko, dimana Sin Tiauw Taihiap telah mengangguk perlahan, tanda setuju Phang Kui In bertempur dengan tojin itu. „Baiklah Totiang”, kata Phang Kui In kemudian: „Karena Totiang mendesak terus, terpaksa aku memberanikan diri untuk menerima petunjuk …. !” Kemudian tangan kanannya mencekal gagang goloknya dan „Sreenggg !”, golok itu telah dicabutnya keluar dari serangkanya. ,,Mulailah !” kata tojin itu seperti tidak sabar. Phang Kui In tidak menunda2 lagi, karena dia juga telah habis sabar melihat tingkah dari tojin itu. Dengan mengeluarkan suara teriakan „Awas serangan!”, tampak golok Phang Kui In secepat kilat membacok kearah lengan si tojin. Tetapi tojin itu memiliki kepandaian tidak rendah, begitu melihat datangnya serangan golok lawannya, dia telah mengeluarkan suara tertawa mengejek dan menangkis dengan, pedangnya. Tojin itu bukan hanya menangkis saja, karena dengan cepat sekali hudtim ditangan kiri nya telah dikebutkan kemuka Phang Kui In. Kebutan itu terdiri dari bulu2 yang halus, tetapi ditangan seorang akhli lwekang seperti tojin itu, bulu2 hudtim yang terbuat dari benang2 emas campuran baja itu, jadi luar biasa kerasnya. Hudtim itu merupakan senjata lemas sekali, tetapi jika dikerahkan tenaga lwekang pada bulu2 itu, maka hudtim itu bisa tegak lurus kaku, sehingga bisa dipergunakan juga untuk menotok jalan darah lawan. Dalam keadaan demikianlah tampak Cing Siu Cinjin telah menggerakkan Hudtimnya itu mengincer jalan darah yang mematikan diperut Phang Kui In. Yo Ko yang menyaksikan pertempuran itu jadi terkejut juga, karena tojin itu telah mempergunakan gerakan yang mematikan. Maka dari itu, dapat diduga bahwa tojin ini bukan dari golongan baik2 se tidak2nya dia merupakan tojin dari golongan hitam. Waktu itu Phang Kui In tidak menjadi gugup karenanya, dia telah mengeluarkan suara bentakan nyaring sambil mengelakkan diri dari totokan hudtim si tojin. Lalu dengan tidak membuang waktu lagi tampak Phang Kui In telah memutar goloknya akan menabas leher si tojin. Melihat datangnya serangan yang begitu hebat dan kuat, Cing Siu Cinjin tidak berani berlaku ayal. Dia telah menarik pulang hudtimnya dan kemudian mempergunakan pedangnya menangkis serangan yang dilancarkan Phang Kui In. Phang Kui In tidak ingin membenturkan goloknya pada pedang lawan, sebelum pedang dan golok saling bertemu. Phang Kui In telah menarik pulang kembali goloknya itu, tojin tersebut juga telah menyadari bahwa dirinya kali ini telah bertemu dengan lawan berat. Dengan mengeluarkan suara siulan nyaring tampak tojin itu telah meng-gerak2kan kedua senjatanya, yaitu hudtim dan pedang itu bergantian. Cara menyerangnya juga cepat, sinar pedang itu telah berkelebat2 mencari sasaran yang mematikan, terlebih lagi de3ngan dibantu oleh hudtimnya yang setiap kali mengancam akan menotoknya membuat Phang Kui In jadi terdesak hebat. Telah lebih dari lima puluh jurus mereka bertempur, dan Phang Kui In tampak berada dibawah angin. Yo Ko sedang menyaksikan pertempuran itu dan ketika melihat keadaan Phang Kui In, dia telah menoleh kepada Yo Him. ,,Him jie, coba engkau yang menghadapi tojin itu, aku ingin melihat sampai dimana ke pandaianmu !” Tentu saja perintah ayahnya itu menggembirakan hati Yo Him. „Baik ayah . aku akan coba2 minta pengajaran dari totiang itu.. !” Waktu Yo Him berdiri dari duduknya, di saat itu Yo Ko telah berteriak nyaring :„Saudara Phang, kau mundur, biarkan Himjie yang menghadapinya . . . !” Phang Kui In yang sedang terdesak begitu hebat, tidak berani membantah perintah Sin Tiauw Taihiap Yo Ko. Dia telah menggerakkan goloknya yang menyambar cepat sekali kearah leher lawannya dengan gerakan yang menyimpang, menabas dari kiri kekanan. Gerakan yang dilakukan Phang Kui In memaksa Cin Siu Cinjin melompat mundur mengelakkan diri untuk menyelamatkan lehernya dari sambaran golok jago she Phang tersebut, dan kesempatan seperti itu telah dipergunakan sebaik mungkin oleh Phang Kui In untuk melompat mundur menjauhi diri dari tojin itu. Yo Him juga tidak tinggal diam, waktu melihat Phang Kui In melompat mundur, dengan cepat anak itupun telah melompat ketengah gelanggang. Dia telah merangkapkan kedua tangannya sambil katanya: “Totiang aku yang muda ingin meminta petunjuk dari kau !” ,,Hati2 Him-jie dia memiliki Kepandaian yang tinggi sekali…!” Phang Kui In telah memperingatinya. Yo Him hanya mengangguk Sedangkan Cin Siu Cinjin telah berobah mukanya menjadi merah padam, karena dengan majunya Yo Him yang masih begitu muda, juga pipi siimam telah ditampar oleh Yo Him. ,.Bocah tidak mengenal mampus, apakah engkau memang ingin mengantarkan jiwa ?” tegurnya dengan suara yang menggeletar keras. Lalu Cing Siu Cinjin telah menoleh memandang kepada Phang Kui In. “Hey orang she Phang rnengapa engkau memajukan anak kecil ini. apakah engkau tidak merasa kasihan jika dia binasa ditanganku ?” bentakan itu keras, dan mata Cing Siu Cinjin juga merah, menunjukkan bahwa dia tengah diliputi kemarahan yang sangat. Disaat itu Yo Him telah berkata dengan suara yang dingin : “Walaupun aku masih berusia muda, belum tentu dapat dirubuhkan oleh Totiang…!” Mendengar perkataan Yo Him, imam itu bertambah marah, dengan me-ngangguk2an kepalanya dia telah berkata: “Baik, baik, baik! Engkau sendiri yang telah mencari mampus dengan mengantarkan jiwamu secara cuma2!” Setelah berkata begitu, dengan sikap yang mengancam tampak pendeta itu telah menggerakan kebutan Hudtimnya dan mengibaskan pedangnya. “Srinnng…..!” pedang tojin itu telah menyambar dengan cepat kearah dada Yo Him. Gerakan itu tetah membuat Yo Him jadi kagum juga, karena dengan melihat jurus yang dipergunakan oleh Cing Siu Cinjin segera diketahui bahwa kepandaian imam itu telah tinggi. Tetapi sebagai seorang pemuda yang telah menerima gemblengan dari tokoh2 sakti Yo Him tidak gentar menghadapi serangan seperti itu. Dengan tenang dia menantikan tibanya serangan pedang lawan, itu dengan gesit, sekali dia menyentil pedang sitojin dengan gerakan It Cie Cut Hun atau satu jari mencabut jiwa maka dengan terdengarnya suara ‘tranggg’ yang cukup nyaring pedang imam itu telah terlepas dari cekalannya. Muka sipendeta jadi berobah pucat dan dia telah berdiri tertegun mengawasi kearah lawannya yang masih muda sekali. Dia tidak habis mengerti waktu pedangnya tadi disentil oleh pemuda itu, dia merasakan betapa pedangnya itu tergetar dan juga telapak tangannya pedih sekali, lalu tanpa dikehendakinya pedangnya terlepas dan menancap dilantai. Keruan saja Cing Siu Cinjin jadi terkejut dan dia berdiri bengong sesaat lamanya, Waktu itu Yo Him telah berkata lagi dengan suara yang dingin: „Ehmm, apakah kita akan meneruskan pertempuran ini?” Si Tojin jadi tersadar karenanya dia telah menganggukkan kepalanya. „Ya….” dan tahu2 Hudtimnya telah menyambar akan menghantam muka Yo Him. Dia penasaran sekali, dan saat itu kemendongkolan dan penasaran tengah mengamuk, menjadi satu didadanya, dengan sendirinya serangan yang kali ini dilakukannya merupakan serangan yang dahsyat sekali, karena si tojin seperti juga tidak ingin memberiku kesempatan kepada Yo Him guna menangkis serangannya itu. Yo Him juga terkejut melihat cara menyerang lawannya, jika dia terlambat mengelakkan diri tentu matanya yang akan menjadi korban dan menjadi buta. Phang Kui In dan Kwee Siang yang menyaksikan hal itu jadi gugup dan berkuatir. Bahkan Yo Ko telah berseru “Him-Jie”, hati2. „Adik Him, cepat berkelit ..!” teriak Kwee Siang dengan hati berdebar gelisah. Sedangkan Phang Kui In yang tengah gugup melihat jiwa dan keselamatan, Yo Him terancam, jadi berdiri diam tak bisa mengeluarkan suara apa… Tetapi walaupun terkejut, Yo Him tidak menjadi gugup. Dia telah mengeluarkan suara seruan yang nyaring sekali dan disaat itu telah menggerakan tangan kanannya kearah ulu hati lawannya, mengincer jalan darah Ma-tiong-hiatnya si tojin. Gerakannya itu mempergunakan jurus Ma Sai Tung Cie atau Kuda Terbang Dimusim Dingin. Waktu itu si Tojin tengah gembira sekali melihat serangannya akan berhasil dan juga tampaknya Yo Him sudah tidak keburu untuk mengelakkan diri, maka dia telah menambah tenaga serangannya itu, dengan maksud untuk menghancurkan batok kepala Yo Him. Tetapi alangkah terkejutnya dia waktu melihat tangan Yo Him diulurkan akan menyerang jalan darah Ma Tioog Hiatnya, yang berarti jika terserang dia akan terbinasa disaat itu juga. Walaupun dia bisa berhasil dengan serangannya tetapi jika diapun harus terserang pada jalan darah terpenting ditubuhnya itu, tentu saja si tojin tidak mau. Dengan mengeluarkan suara seruan yang keras dia telah melompat mundur sambil menarik pulang hudtimnya. Gerakan tojin itu memang sangat cepat sekali, sehingga serangan Yo Him jatuh ditempat kosong. „Mari diteruskan !” tantang Yo Him sambil tertawa mengejek. Tojin itu tidak menyahuti, dia hanya ber jongkok mengambil pedangnya, kemudian pedang itu telah dikibaskannya dengan kuat, sehingga menimbulkan suara Siut…sringg !!” Hari ini biarlah aku mengadu jiwa dengan kau, karena jikalau aku sampai dikalahkan olehmu, tentu saja akan membuar aku malu …! Terimalah seranganku “ Dan benar saja tojin ini telah malancarkan serangan lagi dengan pedangnya, mata pedangnya menuju kebahu Yo Him, sedangkan hudtimnya telah menyambar kearah tenggorokan Yo Him. Keruan saja hal ini memaksa Yo Him harus me lompat2 beberapa kali, dia telah berhasil mengelakkan dari setiap serangan yang dilancarkan oleh lawannya. Tetapi karena tojin itu melancarkan serangan dengan gencar dan ber tubi2 maka dia tidak sempat membalas menyerang dan hanya berkelit dengan tidak henti2nya. Yo Him setelah berkelit berulang kali sebanyak enam jurus, disaat itu dia telah mengeluarkan suara jeritan yang nyaring sambil kedua tangannya disilangkan didepan dadanya, rupanya Yo Him baru ingin mencoba mempergunakan gerakan2 ilmu silat yang diturunkan oleh Lie Bun Hap. Si Tojin heran melihat sikap Yo Him, dia men duga2 entah ilmu silat jenis apa yang ingin dipergunakan oleh Yo Him. Sekarang telah cukup aku mengalah hanya menerima serangan tanpa balas menyerang, tetapi sekarang sudah tiba saatnya engkaupun harus menerima serangan2ku ..!” Dan selesai berkata Yo Him telah mengerakkan dua tangannya sekaligus, dia telah menyerang dengan gerakan kera memanjat pohon dan kemudian disusul dengan gerakan, kera memetik buah dimana jurus itu merupakan jurus2 istimewa yang diciptakan oleh Lie Bun Hap. Sedangkan Cing Siu Cinjin yang melihat datangnya serangan yang aneh seperti itu, cepat2 melompat mundur menjauhi Yo Him. Tetapi Yo Him tidak mau sudah hanya sampai disitu saja dengan mengeluarkan suara tertawa mengejek dia telah meloncat mengejar dan kedua tangannya itu tetap melancarkan yang cukup kuat kepada tojin itu. Melihat gesitan Yo Him yang menyamai gesitan dirinya, tojin itu tambah terkejut dan heran, mengapa pemuda semuda itu sudah memiliki kepandaian yang demikian tinggi. Tetapi disebabkan Yo Him telah mendesaknya terus dan diapun telah diliputi kenekadan pula, maka tojin itu sudah tidak mengelakkan diri pula dari serangan yang dilancarkan Yo Him, melainkan dengan mengeluarkan suara bentakkan mengandung marah, dia telah melancarkan serangan balasan dengan mempergunakan hudtimnya. Yo Him tidak mau membiarkan tangannya dilibat oleh bulu hudtim, maka dengan cepat sekali dia telah menarik pulang kedua tangannya, dan kaki kirinya telah bekerja menyepak pergelangan lawannya. Sepakan itu merupakan tendangan yang disertai tenaga dalam, maka tidak ampun lagi tojin itu meraung mengeluarkan suara jerit kesakitan waktu pergelangan tangannya telah kena ditendang oleh Yo Him. Sedangkan kebutan ditangannya juga telah terlepas dan melayang jatuh kelantai. Untuk seketika itu, Tojin tersebut berdiri dengan muka pucat bagaikan patung, mulutnya ternganga karena merasa heran dan takjub disamping marah dan mendongkol. Yo Him tidak mendesak lagi, dia telah merangkap tangannya memberi hormat. ,,Terima kasih atas petunjuk Totiang…!” Muka tojin itu jadi berobah merah karena malu bercampur marah. “baiklah hari ini nasibku benar2 sial karena telah rubuh ditangan seorang anak yang masih bau pupuk seperiti kau ini tetapi jika dilain waktu ada kesempatan tentu aku akan mencarimu untuk meminta pengajaran, dari kau…..!” Satelah berkata begitu, tampak Cing Siu Cinjin telah mengambil pedang dan hudtimnya tanpa menoleh lagi kepada Yo Ko dan yang lainnya dia telah melangkah keluar pintu. Tetapi waktu sampai dimuka pintu, dia telah menoleh lagi dan bertanya kepada Yo Him. “Siapa namamu …. aku belum lagi mengetahuinya” Yo Him menjura „Aku she Yo dan bernama Him.” „Yo Him….? Hemmm, engkau she Yo, tentunya engkau ada hubungan dengan Yo Ko bukan?” “ Itulah ayahku “ „Apa?” „Sin Tiauw Taihiap Yo Ko adalah ayah kandungku!” menyahuti Yo Him. Dan dalam terkejutnya itu, Cing Siu Cinjin telah melirik kepada Phang Kui In bertiga. Dia melihat Yo Ko, yang lengan baju kanannya kosong lemas tidak ada isinya, seketika itu juga dia telah dapat menduganya bahwa orang itu adalah Yo Ko, pendekar sakti yang tiada duanya. Cepat2 dia menghampiri dan berlutut di hadapan Yo Ko sambil katanya : „Ampunilah aku, Sin Tiauw Taihiap…!” katanya dengan suara yang berat tersendat. Aku…aku memang bersalah…aku terlalu usil… jika sejak tadi aku mengetahui bahwa engko kecil itu adalah puteramu, tentu aku tidak akan mengganggunya…!” Yo Ko tersenyum manis dan sabar sekali, dia perintahkan tojin itu berdiri. „Engkau tidak tersalah, karena hanya penasaran melihat kawanmu dirubuhkan, maka engkau ingin membelanya. Sebetulnya engkau sama sekali tidak bersalah. Asal diingat, dilain waktu engkau tidak boleh terlalu usil seperti itu. Sekarang untung hanya bertemu dengan putraku yang tidak menurunkan tangan keras karena dia rupanya menghormati kau juga.coba kalau bertemu dengan orang yang bertangan telengas, bukankah engkau bisa celaka ?” „Terima kasih atas petunjuk yang diberikan Taihiap, tentu aku akan menyimpan baik2 nasehat itu ” kata Cing Siu Cinjin. „Ya, itulah yang kuharapkan.” „Tetapi Taihiap…” ,.Apa lagi?” „Bisakah Taihiap menolongku?” „Jika memang beralasan dalam batas2 kemampuanku, tentu aku bersedia untuk membantumu…..” „Tadi.” kata tojin itu ragu2, „Taihiap telah melihat betapa aku dirubuhkan Siauw-enghiong itu…maka bisakah Taihiap memberikan petunjuk yang berharga, dimanakah letak kesalahan dan letak kekurangan sempurna dalam mempertahankan diriku…?” Yo Ko telah tersenyum, „Sebetulnya kepandaianmu telah cukup hanya yang kurang pengertian dan yang paling pokok sekali, engkau jangan disertai oleh hawa amarah saja bila bertempur, karena akan merugikan engkau sendiri, dengan mengikuti hawa amarah, penasaran atau mendongkol, engkau telah kehilangan separoh dari ilmumu ! Dari jalan Pang membelok kejalan Tu, dan dari jalan Tu menuju lurus kejalan Lin, dan menyusul jalan Kong, Pat dan Cie.” Mendengar keterangan Sin Tiauw Taihiap seperti itu, tampak muka tojin itu jadi pucat, dia tampaknya terkejut bercampur girang. Cepat sekali tojin itu telah menekuk kedua kakinya, dia telah berlutut dlhadapan Yo Ko lagi. „Terima kasih banyak atas nasehat2 yang diberikan, oleh taihiap … aku baru mengetahui dimana letak kesalahanku…terima kasih Taihiap aku minta diri.” Dan setelah berkata begitu, tampak tojin itu telah memberi hormat sekali lagi kepada Yo Ko, kemudian kepada yang lainnya barulah dia memutar tubuhnya untuk berlalu. Yo Him heran, dia melihat ayahnya hanya menyebutkan jalan2 Tu, Kong,Pat, Cie dan yang lain2nya, tetapi tojin itu jadi girang bukan main, karena ingin mengetahuinya, maka Yo Him telah menanyakan kepada ayahnya, apakah sesungguhnya yang diberitahukan Yo Ko itu. Yo Ko tertawa, dia bilang : „Sebetulnya aku hanya memberikan kunci ilmu silatnya itu, yaitu menurut jalan2 patkwa, dimana jika dia bisa menguasai dan mengenal jalan patkwa itu secara baik, tentu dia akan bertambah ilmunya menjadi dua kali lipat, dan jika tadi sebelumnya dia telah mengerti jalan2 Tu, Kong, dan Pat itu belum tentu engkau bisa menjatuhkannya ! Yo Him meleletkan lidahnya. „Untung saja tadi aku tidak sampai dihajar babak belur olehnya . . . !” Yang lainnya jadi tertawa juga. Mereka telah melanjutkan makannya kembali. Selesai bersantap, mereka lalu mencari rumah penginapan. Dikota ini mereka, bermalam selama dua hari. Setelah itu mereka melanjutkan pula perjalanannya dengan mempergunakan jalan darat, kuda mereka dapat berlari cepat sekali. Hanya empat bulan saja, kemudian mereka telah tiba dikaki gunung Kun Lun San. Yo Ko mengangkat kepalanya mengawasi puncak gunung yang tinggi itu dia menghela napas., “Jika memang Liongjie binasa digunung ini, betapa remuknya hatiku !” Dia telah melahirkan seorang anak untukku, tetapi dia menghilang tidak keruan paran. Inilah peristiwa yang harus diselidiki baik2. Mudah2an saja Liongjie dalam keadaan sehat2. Melihat puncak gunung itu, Yo Him lalu mengangkat tangannya menunjuk kearah puncak gunung itu. „Thia (ayah), dipuncak gunung itu terdapat sebuah kuil disitu banyak murid-muridnya. Tetapi waktu aku belum turun gunung dan masih kecil sekali, aku telah menyaksikan pembunuhan besar2an, seluruh penghuni kuil itu telah dibinasakan oleh beberapa orang jahat. Salah seorang diantara mereka terdapat seorang pendeta yang kepalanya memakai kuncung “ Setelah berkata begitu. Y o Him menceritakan apa yang dialaminya waktu kecil. Mendengar cerita dan gambaran mengenai pendeta mongol itu, tubuh Yo Ko gemetar dan tangan kanannya telah digerakkan untukmemukul batu yang ada didekatnya. “Brukkk” batu itu telah hancur. “Memang dia. Memang dia ! sudah kuduga” berseru Yo Ko. Yang lainnya jadi terkejut melihat sikap Yo Ko, mereka memandang Yo Ko dengan sorot mata bertanya2. Yo Him sendiri tidak bisa menahan perasaan ingin tahunya, dia telah bertanya : “Thia kenapa kau ?” “memang aku telah duga pembunuh dan penculik ibumu adalah dia” kata Yo Ko “Dia ? Siapa ?” tanya Yo Him. „Pendeta Mongolia itu….!” “Mengapa ayah mengetahuinya?” ,,Dia adalah Tiat To Hoat-ong, justru waktu dia menculik ibumu. dia telah bersembunyi dari kejaran kami. Dan tentunya digunung Kun Lun San ini terjadi sesuatu yang tidak disangka oleh pendeta itu, yang menyebabkan ibumu lolos dan bisa melahirkan engkau tetapi mengapa hanya engkau sendiri, sedangkan ibumu tidak muncul ? Jika dia masih hidup, tentu dia akan berusaha mencariku .tapi ahhh, Liong jie bagaimanakah sesungguhnya nasibmu …. !” dan setelah berkata begitu Yo Ko menitikkan dua butir air mata. „Sudahlah ayah …. mari kita mendaki gunung ini. Mungkin sore nanti kita baru sampai !” kata Yo Him, berusaha untuk mengalihkan kesedihan ayahnya. Yo Ko hanya mengangguk. Begitulah mereka berempat mendaki gunung Kun Lun San. Yo Ko berjalan perlahan, matanya memandang kesekelilingnya dan dia telah melihatnya betapapun juga pemandangan di Kun Lun ini sangat menarik hati. Se tidak2nya telah mengurangi kesedihan hatinya. Menjelang sore hari mereka tiba disebuah kuil yang sudah tidak terurus lagi. Yo Ko mengerutkan alisnya Inilah kuil kun Lun Sie pusat dari perguruan silat Kun Lun Pay. Tetapi menurut engkau bahwa, semua penghuni ini telah dibinasakan oleh pendeta jahat itu ber sama kawan2nya?” „Benar ayah…..” „Aneh sekali….Kun Kun Pai sebetulnya merupakan pintu perguruan yang tua dan memiliki banyak sekali anak muridnya yang memiliki kepandaian tinggi, menjadi tokoh2 rimba persilatan. Apakah si pendeta dan kawan2nya itu memang memiliki kepandaian yang tinggi sekali, sehingga mereka telah berhasil membasmi Kun Lun Pai?” Waktu menggumam begitu, Yo Ko melangkah terus mendekati pintu gerbang kuil itu. Matanya yang tajam telah melihat sesuatu didekat pintu gerbang itu. Cepat2 Yo Ko telah mengambil barang itu, Yo Him dan yang lainnya jadi heran, mereka telah menghampiri untuk melihatnya benda apa yang diambil Sin Tiauw Taihiap. Ternyata barang yang diambil oleh Sin Tiauw Taihiap Yo Ko tidak lain dari sebuah gelang emas yang berukuran cukup besar. Mata Yo Ko jadi berair dan menitikkan air mata, karena dia telah mengenali gelang itu. „Inilah gelang milik ibumu !” kata Yo Ko dengan suara terperanjat. Yo Him dan yang lainnya jadi terkejut, mereka, sampai mengeluarkan suara seruan tertahan. Sedangkan Yo Him yang telah menerima gelang itu dan mengamat2inya, tidak bisa mempertahankan kesedihan hatinya, dia telah menangis meng gerung2 sambil menciumi gelang emas itu, yang menurut Sin Tiauw Taihiap adalah milik ibunya. Phang Kui In dan Kwee Siang hanya bisa berdiam diri dengan kepala tertunduk, karena mereka terharu dan tidak mengetahui dengan cara bagaimana harus menghiburnya. Waktu itu, Yo Ko telah menghapus air matanya „Jika melihat ada gelang ibumu ditempat ini, tentunya Liong-jie masih hidup..,!” kata Yo Ko dengan penuh keyakinan. Setelah berkata begitu, Yo Ko mementang mulutnya lebar2 dan dengan suara yang keras dia telah berteriak : „Liong-jie… ! Liong jie… dimana ksu ?!” teriakan yang dilakukan oleh Sin Tiauw Taihiap bukan merupakan teriakan biasa saja, karena teriakan itu telah disaluri oleh tenaga lwekangnya yang sempurna, sehingga suara teriakan itu menggema disekitar pegunungan Kun Lun San, suara itu telah bergema berulang kali, sehingga memekakkan anak telinga. Tetapi tidak terdengar suara sahutan dari siapapun juga, selain suara Yo Ko yang berkumandang kembali menggema disekitar pegunungan itu. Dalam keadaan demikian, Yo Ko telah mengulangi terus teriakan2nya dan dalam waktu yang singkat telah puluhan kali Yo Ko berteriak begitu, tetapi orang yang diharapkannya tidak juga terlihat, sehingga akhirnya Yo Ko berhenti berteriak dengan hati penasaran sekali. Phang Kui In telah menghampiri : „Yo Taihiap, sudahlah, nanti kita bisa mencarinya per-lahan2. Bukankah Yo Him mengatakan bahwa ada lembah disebelah barat gunung ini, dimana dia dibesarkan Sin Tiauw sampai beberapa tahun didalam lembah itu. Disana kita bisa menyelidikinya…!” Yo Ko mengangguk lesu, dia telah berkata dengan suara yang ragu2 „Ya… tetapi lenyapnya Liong- jie telah ber-tahun2, bahkan belasan tahun…jika memang dia terbinasa ditangan Tiat To Hoat-ong, walaupun pendeta itu melarikan diri ke ujung bumi, aku akan mengejarnya… !” Begitulah mereka berempat memasuki kuil itu, dimana diantara debu dilantai, tampak tengkorak2 manusia. Tengkorak2 manusia itu tentunya tengkorak tojin2 yang telah menjadi korban keganasan Tiat To Hoat Ong … Setelah membersihkan lantai didekat meja sembahyang yang penuh debu, lalu mereka merebahkan tubuhnya dan mengaso. Esok pagi barulah mereka akan menuju kelembah, dimana Yo Him pernah dirawat oleh rajawali sakti itu. Tetapi Yo Ko tidak bisa tertidur nyenyak, dia hanya memejamkan mata, namun pikirannya telah me-layang2 terus memikirkan isterinya. Ada semacan pertanyaan dihati Yo Ko, yaitu mengapa Yo Him bisa dilahirkan dan kemudian besar, tetapi Siauw Liong Lie ? Bukankah jika Siauw Liong Lie telah binasa ditangan Tiat To Hoat-ong, maka Yo Him juga tidak bisa selamat? Begitulah ber macam2 pertanyaan telah meng-aduk2 pikiran nya. Dalam waktu yang singkat sekali telah lewat belasan tahun. Yo Ko juga teringat waktu dia mengejar Tiat To Hoat-ong, dan ketika dia melakukan pekerjaan menghimpun orang2 gagah untuk menyelamatkan negeri dari tangan kotor, dimana banyak para menteri dan pembesar yang bekerja untuk pihak Mongolia. Sehingga Yo Ko selama belasan tahun repot mengurus perkembangan dari persatuan para pendekar gagah didaratan Tionggoan. Sekarang, diwaktu dia bertemu dengan puteranya telah meningkat dewasa. Disamping itu Yo Him juga telah memiliki kepandaian yang tinggi sekali. Diam 2, terhibur juga hati Yo Ko. Akhirnya menjelang subuh, barulah Yo Ko bisa tidur. MATAHARI pagi baru saja muncul diufuk timur, dan menyinari bumi dengan sinarnya yang ke-emas2an, Waktu itu Yo Ko berempat telah ber siap2 untuk berangkat kelembah yang dimaksud oleh YoHim Mereka mendaki lebih tinggi lagi puncak gunung Kun Lun San. Dalam perjalanan itu tidak henti2nya Phang Kui In memberikan pujian2nya atas keindahan alam, yang terdapat dipegunungan Kun Lun San ini. Tetapi Yo Ko tetap berdiam diri dengan murung, semakin dekat dengan lembah itu. Semakin tidak keruan hatinya karena jika dia menghadapi kenyataan isterinya telah meninggal bukankah itu merupakan suatu kenyataan pahit yang harus diterimanya? Setelah berjalan setengah hari mereka tiba detepi jurang, dimana lembah yang dimaksudkan oleh Yo Him berada dibawah tebing itu. „Perjalananan yang cukup sulit !” kata Yo Ko perlahan. Jurang itu lurus tegak dan licin sekali tampaknya. Untuk Yo Ko memang tidak apa2, Phang Kui In dan Kwee Siang juga mungkin masih bisa menuruni tebing itu Tetapi Yo Him ? Kepandaian Yo Him walaupun tampaknya lebih tinggi dari Phang Kui In dan Kwee Siang, namun dia masih terlalu kecil dan kurang latihan serta pengalaman. Maka dari itu dengan menuruni tebing setinggi itu, jika gagal berarti membuang jiwa secara cuma2. Disaat mereka tengah ragu2 begitu, Yo Him telah berkata : „Ayah . . kita buatkan tali yang cukup panjang, dimana aku diturunkan dengan tali diikat dipinggang, lalu menyusul Kwee Cici. Phang Susiok, dan kemudian barulah ayah ! kepandaian ayah telah mencapai tingkat yang sempurna sehingga tidak memerlukan tali itu untuk turun kebawah lembah !” Yo Ko dan yang lainnya menganggap perkataan Yo Him ada benarnya. Mereka setuju. Segera juga mereka bekerja. Dengan kulit pohon yang mereka rajut akhirnya terbuatlah seutas tambang yang cukup panjang. „Kukira telah cukup panjang!” kata Yo Ko setelah tambang itu terbuat sepanjang seratus meter lebih. „Mari kita coba!” kata Phang Kui In. Ujung yang satunya diikatkan kesebungkah batu, lalu dilemparkan masuk kedalam lembah. Belum sampai seratus meter, tali itu telah mengendur memperlihatkan bahwa batu yang diikatkan diujung tambang itu telah sampai menyentuh dasar jurang. “Cukup panjang !” kata Phang Kui In. Yo Ko girang melihat lembah itu tidak begitu dalam, berarti tambang itu sudah cukup untuk menurunkan Yo Him dan kedua orang lainnya. Per-tama2 yang diturunkan kedalam lembah itu Phang Kui In. jika nanti dibawah lembah itu terdapat sesuatu yang diluar dugaan, Phang Kui In bisa menghadapinya Sedangkan Yo Him diturunkan setelah Phang Kui In. Dan menyusul Kwee Siang. Semua berjalan lancar tidak ada sesuatu rintangan. Setelah Kwee Siang diturunkan, Yo Ko mengikat ujung tali itu dibatang pohon, dan membiarkan ujung yang satunya lagi berada didalam lembah, hal ini untuk dipergunakan kelak jika mereka ingin naik keatas pula. Dengan mudah Yo Ko meluncur turun dengan mempergunakan ginkangnya yang telah sempurna. Cepat sekali Yo Ko tiba didasar lembah itu. Sebuah lembah yang besar dan menarik. Tetapi per-tama2 yang dilihat oleh Yo Ko adalah setumpukan tulang belulang yang tidak berjauhan dari tempat mereka berada. Seketika itu juga Yo Ko mengucurkan air matanya, sebab dia mengenali itulah tulang belulang seekor burung rajawali yang berukuran besar. Dan siapa lagi kalau bukan rajawali peliharaannya yang setia, yang menurut Yo Him burung itu telah terjun kedasar lembah itu dan menghilang… ! Dengan masih menitikkan air mata, tampak Yo Ko telah mengubur tulang belulang burung rajawali yang setia itu. Kemudian dia mulai menyelidiki keadaan disekitar lembah itu. Phang Kui In, Kwee Siang dan Yo Him juga telah bantu memeriksa keadaan didasar lembah itu. Tidak ada sesuatu yang istimewa mereka jumpai, hanya rumput2 hijau yang tumbuh begitu segar. Seluruh lembah itu telah diperiksa oleh mereka, tetapi tidak ada tanda2 bahwa lembah ini ditinggali orang. Yo Ko jadi putus asa. Yo Him juga jadi kecewa. „Ibumu tentu telah binasa ditangan Tiat To Hoat-ong, sakit hati ini harus dibalas . . . . !” kata Yo Ko. Yo Him mengangguk. „Pendeta yang ayah maksudkan” itu memang bukan seorang pendeta yang baik. karena seluruh anggota Kun Lun Pai juga dibinasakannya . . . !!” kata Yo Him. Kwee Siang telah menangis ter-isak2, dia mencintai Siauw Liong Lie dan Yo Ko seperti cinta antara sesama saudara, kini melihat kenyataan sudah tidak ada harapan untuk bertemu pula dengan Siauw Liong Lie, tentu saja Kwee Siang jadi sedih sekali, Phang Kui In juga telah menarik napas berulang kali. Tetapi waktu mereka tengah berdiri tertegun ter mangu2, tiba2 pendengaran Yo Ko yang sangat tajam, yang bisa mendengar suara dari jarak sejauh ratusan tombaK, telah mendengar suara tertawa kecil dari seorang gadis cilik. Disamping itu Yo Ko juga mendengar suara berkesiuran pedang men-deru2. „Ada orang!” bisik Yo Ko dengan suara perlahan.Cepat bersembunyi.” Phang Kui In bertiga dengan Kwee Siang dan Yo Him jadi heran. Mereka tidak mendengar sesuatu, tetapi karena Yo Ko telah memberikan isyarat agar bersembunyi, maka Phang Kui in bertiga menuruti saja. Mereka bersembunyi dibalik gunung2an. Yo Ko sendiri dengan gerakan tubuh yang ringan sekali telah melompat keatas batu yang cukup besar dan bercokol disitu sambil memasang mata. Tidak mungkin orang dari bawah bisa melihatnya. Setelah lewat sekian lama, barulah Phang Kui In Kwee Siang dan Yo Him mendengar suara tertawa gadis kecil dari kejauhan. Mereka jadi berdebar dan ter goncang hatinya. Mereka memasang mata, dan akhirnya dari balik tikungan dilembah itu muncul sesosok tubuh yang berlari2 sambil menyanyi dan diselingi tertawanya. Gadis kecil itu, mungkin baru berusia dua belas tahun, tetapi gerakannya gesit dan lincah, disamping itu mukanya yang bulat itu sangat manis sekali. Rambutnya dikepang dua matanya jeli sekali, dan dia ber lari2 sambil menggerakkan tangan kanannya yang memegang pedang, yang dikibas2kannya. Tiba2 dia berhenti berlari, dan matanya yang bening itu telah mengawasi tambang yang menjuntai dari atas, Segera disimpannya pedang kecil itu ke dalam serangka dipinggangnya, kemudian dia telah mendekati tambang itu dengan ragu2. Di-pegang2 dan di-tariknya tambang itu sampai akhirnya dia mengeluarkan seruan tertahan yang perlahan: „Ahhh, tentu orang asing yang turun kelembah ini ! katanya perlahan. “aku harus cepat2 memberitahukan suhu !” Dan setelah menggumam begitu, tampak sigadis kecil yang mengenakan pakaian serba kuning itu telah membalikkan tubuhnya, untuk kembali dari arah mana tadi dia datang. „Tunggu dulu nona kecil! ” Phang Kui In yang sudah tidak bisa menahan perasaannya telah meloncat keluar. Dan Yo Ko menyesali tindakan sahabatnya itu yang terlalu ceroboh. Bukankah jika membiarkan gadis itu pergi berarti mereka biia mengikutinya dari mana datangnya gadis kecil itu? karena gadis tersebut ingin memberitahukan gurunya perihal tambang itu. tentu suhunya itu mengenal benar keadaan disekitar lembah ini. Tetapi Phang Kui In telah terlanjur keluar, sehingga tidak bisa bersembunyi lagi. Gadis kecil yang ditegurnya itu menjadi kaget, mukanya sampai berubah menjadi pucat. Namun hal itu hanya sejenak saja kemudian wajahnya telah merah kembali, dengan berani dia menatap kepada Phang Kui In. Waktu itu Phang Kui In tengah mendekati, dan gadis kecil tersebut melihat langkah kaki Phang Kui In yang dengklok. yaitu jalannya timpang, dia menjadi heran! “Siapa kau ? Mengapa berada disini ?” bentak gadis kecil itu, berani sekali sikapnya dan suaranya juga sangat nyaring. Phang Kui In tersenyum, dia telah berkata hati2 sekali agar tidak menimbulkan perasaan takut pada diri gadis itu. „Nona, siapakah namamu ? Dan tadi kau mengatakan ingin memberitahukan kepada gurumu. apakah gurumu dan engkau tinggal dilembah ini ?” Sigadis kecil tertawa lucu, berani sekali sikapnya, sedikitpun tidak memperlihatkan rasa takut. „Cepat kau pergi meninggalkan lembah ini, jika terlihat oleh guruku, jangan harap kau bisa melarikan diri. Tentu suhuku akan membinasakan engkau !” Mendengar sampai disitu, Phang Kui In tersenyum lagi sambil melangkah satu tindak mendekati sigadis. „Nona kecil…..aku tersesat tidak mengetahui jalan, sehingga telah lancang datang dilembah ini. Untuk kesalahanku ini tentu engkau mau memaafkannya, bukan? “ Sigadis kecil kembali tertawa geli, kemudian katanya lagi: “Maafkan orang seperti engkau sebetulnya tidak mudah, karena aku belum mengetahui ini jahat atau baik. Tetapi jalan terbaik hanya satu, cepat engkau tinggalkan lembah ini, jangan sampai guruku mengetahui, tentu sekali sentil saja engkau akan binasa. “Ohhh, begitu hebat gurumu itu?” tanya Phang Kui In sambil memperlihatkan perasaan kagum untuk menyenangkan hati gadis tersebut. „Tentu saja, menurut guruku, hanya ada dua orang yang bisa. menandingi kepandaiannya, yaitu Sin Tiauw Taihiap Yo Ko dan Oey Yok Su, selain dari kedua tokoh itu tidak ada yang sanggup menghadapi ilmu guruku…. !” Muka Phang Kui In berobah ketika mendengar disebut sebutnya nama Sin Tiauw Taihiap Yo Ko dan Oey Yok Su, tetapi Phang Kui In berusaha bersiap sewajar mungkin menyembunyikan keterkejutan itu. „Begitu hebatnya kepandaian gurumu, sehingga tidak ada yang bisa menandinginya. Bolehkah aku mengetahui siapakah gurumu yang tentunya sangat terkenal dan mulia itu?” Gadis kecil itu termakan umpan yang disebar Phang Kui In, senang hatinya mendengar umpakan Phang Kui In yang me muji2 gurunya. „Guruku itu sangat liehay, ilmu pedangnya juga merupakan ilmu pedang nomor satu didaratan Tionggoan, namanya. .. “ tetapi baru saja sigadis kecil itu berkata sampai disitu, dari kejauhan terdengar suara seruling yang ditiup dengan irama yang lembut. Muka gadis kecil itu jadi berobah, dia telah meneruskan kata2nya: „Guruku telah memanggilku pulang….!” katanya. „Tunggu dulu…. aku bolehkah ikut bersamamu untuk mengenal dan memberi hormat kepada gurumu? “tanya Phang Kui In. „Mana boleh begitu”?” kata sigadis cilik tersebut sambil tersenyum. Sudah kukatakan, jika kalian terlihat oleh guruku, tentu kalian akan celaka….!” Disaat itu telah terdengar lagi suara seruling yang terdengar lembut, tetapi nadanya kadang2 berobah menjadi meninggi. sigadis cilik itu rupanya sudah tidak sabar, dia membalikkan tubuhnya untuk berlari meninggalkan phang Kui In. Tetapi tiba2 dari atas batu telah meluncur turun sesosok bayangan yang menghadang jalan sigadis. „Katakan dulu siapa nama gurumu ?” tanya orang yang baru muncul itu, yang tidak lain adalah Yo Ko. Gadis kecil itu jadi terkejut, dia telah memandang Yo Ko dalam2 dan tajam, kemudian katanya dengan tidak senang : „Hem, rupanya kalian datang bukan hanya seorang diri ? Kalian datang be-ramai2″ „Katakan, siapa nama gurumu ?” tanya Yo Ko dengan suara dan sikap yang tegas, karena dia sudah tidak sabar, sebab hatinya tengah diliputi perasaan gelisah dan juga duka. „Nama guruku ? Dia she Tam dan bernama Hu !” kata gadis kecil itu. Lemaslah seluruh tubuh Yo Ko. Tadinya dia masih mengharapkan gadis kecil itu menyebut nama Siauw Liong Lie. Maka sekarang setelah mengetahui bahwa guru gadis itu ber nama Tam Hu, Yo Ko jadi putus asa, jadi Siauw Liong Lie memang telah lenyap tidak keruan parannya. „Buka jalan untukku” kata gadis kecil itu dengan suara yang nyaring, dia juga mendongkol. Jika kalian menghinaku, tentu guruku tidak akan membiarkan kalian pulang dengan jiwa yang masih utuh” „Aduh, galaknya !” tiba2 terdengar seseorang berkata dan sesosok tubuh yang tidak begitu besar telah melompat keluar dengan ringan, berdiri disamping Sin Tiauw Taihiap Yo Ko. Dialah. Yo Him. „Mengapa harus galak2 begitu, bukankah kami datang secara baik2? Jika memang kami kurang disegani, bukankah kami bisa diusir pergi saja dari tempat ini, mengapa harus diancam2 dengan urusan jiwa segala ?” Gadis kecil itu melengak sejenak, tetapi kemudian pipinya jadi memerah dan tampak manis sekali. Dia mendongkol Yo Him menegurnya begitu rupa. Saat itu Kwee Siang juga telah melompat keluar dari tempat persembunyiannya. Melihat jumlah orang yang kini berempat gadis kecil itu mulai berkuatir. „Cepat buka jalan untukku . . kalau tidak aku akan menjerit sekuat tenagaku dan guruku tentu akan datang dengan segera “ Tetapi ancaman gadis-kecil itu tidak diperdulikan oleh Yo Ko, yang telah tersenyum sambil katanya : ,.Nah, kau teriaklah . . . !” Tetapi gadis itu bukannya berteriak, dalam keadaan mendongkol dan marah, dia telah mencabut pedangnya dan menusukkan keperut Yo Ko. „Awas pedang . : . !” dia masih memperingatinya.Yo Ko jadi senang melihat keberanian gadis kecil ini. Dia main kilat saja, tetapi tetap menutupi jalan perginya gadis kecil itu. Telah beberapa jurus serangan yang dilancarkan gadis kecil itu, tetapi belum juga dapat mengenai sasarannya dengan tepat. Yo Him dan yang lainnya hanya menyaksikan saja, karena mereka mengetahui sigadis kecil itu tidak mungkin bisa mencelakai Sin Tiauw Taihiap Yo Ko. Tetapi sigadis kecil itu justru jadi semakin marah, karena dia tidak bisa melampiaskan kemarahannya yang semakin membakar hati nya, akhirnya gadis kecil itu telah menangis dan dia telah berteriak dengan keras : „Suhu ada orang jahat !!!?? Tetapi seruan itu tidak begitu keras, maka Sengaja Yo Ko telah juga, sehingga suaranya berpantulan didalam lembah. Suara seruling terhenti, hening sekali keadaan disekitar tempat ini. Semua orang menanti dengan perasaan tegang. Gadis kecil itu juga berdiam diri, tetapi kemudian dia telah berkata: „Suhu tidak lama lagi akan datang, rasakan nanti kalian akan dihajar babak belur oleh suhuku…..” Setelah berkata begitu, dengan mengeluar kan suara mengejek dan tertawa, gadis itu mengawasi Yo Ko berempat bergantian. „Bolehkah aku mengetahui, gurumu itu seorang kakek2 atau nenek2?” tanya Phang Kui In untuk menutupi keheningan itu. Muka gadis kecil itu berobah jenaka sekali, matanya mendelik lebar2, bukannya galak tetapi justru sebaliknya menjadi lucu. „Siapa yang bilang guruku nenek2? Kawan wanitamu itu saja masih kalah cantiknya dengan guruku… !” lantang bukan main suara gadis kecil itu. Mendengar jawaban gadis kecil tersebut, Yo Ko berempat segera mengetahuinya bahwa guru sigadis kecil itu tentunya seorang wanita. „Berapa usianya?” tanya Yo Him yang jadi ingin mengetahui juga. „Sudah empat puluh tahun lebih!” menyahuti gadis itu. „Tetapi wajahnya cantik sekali. dan walaupun usianya telah tinggi, paras mukanya masih muda dan cantik sekali …!” „Siapa namanya tadi kau bilang” tanya Yo Ko penasaran. „Apakah telingamu tuli !” „Aku tidak mengingatnya…..! Coba kau beri tahukan lagi siapa namanya, mungkin aku kenal dengannya !” „Kenal dengan guruku?” tanya gadis cilik itu dengan aseran. „Hem. cisss, tidak tahu malu! Guruku mana mau berhubungan dan ber sahabat dengan manusia seperti engkau?” “Oh begitu! Baiklah, aku hanya ingin mendengar satu kali saja nama gurumu itu….!” kata Yo Ko yang tidak marah. Gadis kecil itu mencebikan bibirnya, dia telah mengawasi langit sejenak, seperti sedang berpikir keras. „Nama guruku….. nama guruku…. dia she .. she apa ya? Tadi aku sebut nama guruku she apa ??” tanya sigadis kemudian setelah Ragu2 Yo Ko jadi tertawa gelak. Karena gadis kecil ini ternyata telah berdusta padanya dengan menyebutkan nama yang sembarangan untuk gurunya. “aku tahu ” kata Yo Ko setelah puas tertawa „Gurumu itu she Siauw dan bernama Liong Lie. bukankah begitu?” Muka gadis kecil itu jadi pucat, untuk sejenak da tidak bisa berkata apa2. „Dimana gurumu, sekarang berada, mari antarkan kami menemuinya, percayalah gurumu tidak akan memarahimu!” kata Yo Ko. Mengapa engkau bisa mengetahui nama guruku selengkap itu?” tanya gadis kecil itu. “Karena dia adalah suamiku…” tiba2 terdengar suara yang halus sekali. Semua mata lalu memandang kearah datangnya suara itu dan kemudian Yo Ko telah mengeluarkan suara seruan: Liong-jie…!! Engkau masih hidup?..kau masih hidup? Ohh, Liong-jie… !” dan tanpa memperdulikan ditempat itu terdapat banyak orang Yo Ko telah mengulurkan tangan tunggalnya merangkul Siauw Liong Lie. Siauw Liong Lie juga telah menyenderkan kepalanya didada Yo Ko. Dia telah menangis ter-isak2. ,.Ko-jie….engkau Akhirnya datang juga!!” kata Siauw Liong Lie. Mereka berdua masing masing saling menangis, sehingga dalam suasana yang mengharukan itu bercampur perasaan yang menggelikan, menggelitik hati untuk ter tawa. Phang Kui In telah menundukkan kepalanya dalam2 tidak mau melihat hal itu. Sedang kan Kwee Siang telah melompat mendekati pasangan suami istri yang baru ketemu kembali itu. ,,Enci Liong Lie….engkau rupanya masih dilindungi Thian sehingga kita bisa bertemu kembali….!” dan Kwee Siang telah menjura memberi hormat! Siauw Liong Lie girang sekali, dalam girang dan terharu, dia jadi mengucurkan air mata yang banyak sekali. „Adik Siang, apakah selama ini engkau baik2 saja tidak kurang suatu apapun?” tanyanya. “Belasan tahun aku men-cari2 kalian, encie Liong Lie, selama belasan tahun pula aku berusaha mencari di berbagai daratan Tionggoan, tetapi usahaku itu tidak berhasil, jangankan menjumpai kalian berdua, untuk bertemu dengan salah satu diantara kalian berdua saja sulit sekali! Dan hari ini aku girang sekali Thian telah mempertemukan kita !! “ Phang Kui In saat itu telah membisiki sesuatu ditelinga Yo Him. “Dia ibumu.. cepat kau memberi hormat. .. !” kata Phang Kui In perlahan. Yo Him jadi tertegun dan dia mengawasi saja dengan sorot mata yang memancarkan dihatinya tengah bergolak berbagai perasaan. Tetapi setelah berdiri diam sejenak lamanya, Yo Him telah menyerbu dan berlutut dikaki ibunya. . „Ibu. . anakmu menghunjuk hormat !” katanya dengan suara tersendat oleh tangis. Siauw Liong Lie cepat2 membangunkan Yo Him, yang diawasi sekian lama, akhirnya dia telah memeluknya sambil menangis terharu. ,.0h Thian, Kau demikian adil, akhirnya Kau mempertemukan aku dengan suami dan anakku. ..!” seru Siauw Liong Lie. “Yo Ko juga terharu sekali bercampur girang. „Pertemuanku dengan Yo Him juga terjadi secara kebetulan sekali…..!” dan Yo Ko menceritakan segalanya Begitu juga Yo Him telah, menceritakan riwayatnya. Siauw Liong Lie setelah mendengarkan cerita dari suami dan anaknya, dia mulai menceritakan pengalamannya. WAKTU Siauw Liong Lie terjun kedalam lembah itu karena dia tidak bermaksud Untuk tertawan ditangan Tiat To Hoat Ong. Tubuh nya meluncur dengan cepat sekali dan melayang2, pandangan matanya gelap, dan di antara sadar dan tidak, tubuhnya dirasakan telah terbanting kedalam air. Siauw Liong Lie segera pingsan, dia tercebur didalam kolam kecil yang terdapat disitu. Tetapi karena lwekangnya telah sempurna maka Siauw Liong Lie tidak mengalami hal yang tidak diinginkan, walaupun tubuhnya terbanting dipermukaan air dari jarak ketinggian yang demikian tinggi, tetapi otot2nya secara ssrentak telah bekerja sendiri, sehingga dia tidak menderita didalam, “Tubuhnya juga telah mengapung. melambung dipermukaan air. Rupanya dengan terendam muka dan kepalanya diair seperti itu, membuat Siauw Liong Lie tersadar kembali dari pingsannya, hanya beberapa detik saja dia pingsan. Begitu tersadar Siauw Liong Lie telah naik kedaratan, kemudian dia duduk termenung ditepi kolam kecil itu. Hatinya pedih dan sakit, karena telah berpisah dengan suami, dan kini berpisah pula dengan anaknya. Setelah mengatur pernapasannya, dan juga merasa tubuhnya segar, Siauw Liong Lie menyusuri jalan didalam lembah itu. Tetapi tidak ada sesuatu yang menarik. Akhirnya karena tenang, Siauw Liong Lie telah membuka pakaiannya, ditumpuk ditepi jurang itu, dia bermaksud ingin mandi, agar tubuhnya segar kembali !. Sebelum mandi Siauw Liong Lie mengawasi keatas ingin melihat apakah ada jalan yang bisa dipergunakannya untuk mendaki naik.” Tetapi tebing itu licin dan tajam sekali tegak berdiri, sehingga tidak mungkin didaki Siauw Liong Lie jadi putus asa. Tetapi sejak kecil dia telah dilatih dengan ilmu Kouw Bok Pay, ilmu kuburan hidup, yaitu rnembuang kegembiraan yang berlebihan, membuang kesedihan, membuang kemendongkolan, dan lain lain nya. Maka dalam keadaan demikian Siauw Liong Lie bisa menguasai jiwa dan hatinya, sehingga tidak perlu dia panik. Setelah meletakan bajunya ditepi kolam, Siauw Liong Lie terjun kedalam kolam itu, dia telah berenang kesana kemari. Memang kesegaran tubuhnya pulih kembali. Suatu kali Siauw Liong Lie telah menyelam kedalam kolam. Air yang bening sejuk itu mengembirakan hatinya, sehingga disaat itu kesedihan tidak merajai hati pendekar wanita nomor satu dijaman ini. Tetapi waktu Siauw Liong Lie tengah berenang dengan gembira didalam air kolam itu, dan bermaksud untuk menyelam kedasar kolam itu. tahu2 dia merasakan ada semacam arus air memutar. Tentu saja hal ini mengejutkan hati Siauw Liong Lie, cepat? dia memutar tubuhnya untuk berenang keatas lagi, tetapi rupanya usaha Siauw Liong Lie telah terlambat, karena kedua kakinya telah kena terlibat oleh gulungan arus air itu. Siauw Liong Lie mengerahkan tenaga dalamnya, dia telah berusaha melepaskan diri dari jerat arus air yang bergulung itu. Tetapi usahanya itu selalu gagal. Hal ini bukan disebabkan lwekang Siauw Liong Lie kurang kuat, tetapi berbeda sekali, jika membandingkan antara didarat dengan diair. Didalam air tenaga lwekang Siauw Liong Lie seperti lenyap setengahnya, dimana daya tahannya berkurang banyak. Mati2an Siauw Liong Lie berusaha melepaskan diri dari arus air itu tetapi semakin dia meronta, gulungan air itu semakin keras dan kuat. Bahkan suatu saat. Siauw Liong Lie telah kehabisan napas dan tidak berdaya lagi. Tubuh Siauw Liong Lie terhisap oleh arus air itu, dia sendiri sudah tidak tahu karena Siauw Liong Lie telah pingsan akibat terseret arus air tersebut. Ketika Siauw Liong Lie tersadar dari pingsannya, dia mendapatkan dirinya terhampar dipermukaan goa yang cukup besar, sedangkan kakinya masih terendam diair. Rupanya kolam itu memiliki cabang yang berhubungan dengan goa tersebut. –ooo0dw0ooo– Jilid 26 Siauw Liong Lie telah bangun berdiri. Dia merasa dingin sekali, karena dia tidak berpakaian. sedangkan hawa disitu sangat dingin sekali. Untuk menguatkan tubuh, Siauw Liong Lie telah memasuki goa itu. Hawa hangat bisa melindungi tubuhnya juga, maka Siauw Liong Lie telah berdiam disitu sambil mengawasi kalau2 ada tempat yang bisa didaki untuk kembali kelembah dimana pakaian dan seluruh barang2nya ditinggalkan ditepi kolam. Tetapi letak goa itu sangat terpencil sekali. Sekelilingnya merupakan dinding2 batu gunung yang licin sekali. Siauw Liong Lie berulang kali telah menghela nafas. Selalu akhir2 ini dia mengalami banyak perobahan saja. Perlahan-lahan. Siauw Liong Lie memasaki terus goa itu, dia melangkah dengan langkah yang satu2. karena keadaan didalam goa itu sangat gelap, tidak terlihat apapun juga. Dengan tangannya Siauw Liong Lie telah meraba2 kedepan. dan semakin lama goa itu semakin sempit, akhirnya Siauw Liong Lie harus menyusurinya dengan merangkak. dia merasakan lututnya sakit sekali. Tetapi ketika itu Siauw Liong Lie berhasil tiba disebuah ruangan. Ruangan yang tidak begitu besar, tetapi memiliki hawa yang sejuk dan hangat yang bergabung menjadi satu. mendatangkan perasaan segar. Dan ruangan ini memiliki sinar dari matahari lewat beberapa lobang yang mungkin sengaja dibuat atau memangnya sudah ada. Dengan adanya sinar matahari yang bisa menerobos masuk, Siauw Liong Lie bisa melihat jelas keadaan didalam goa itu. Dengan adanya sinar matahari yang bisa menerobos masuk, Siauw Liong Lie bisa melihat jelas keadaan didalam goa itu. Pertama tama yang dilihatnya adalah dua buah bangku dari batu yang dibuat bundar dengan ditengah2 dasarnya diratakan untuk dipergunakan duduk. Disebelah kanannya terdapat sebuah meja batu pula. Setelah itu Siauw Liong Lie melihat pembaringan batu juga, dan terakhir kali dia jadi terkejut dan mengeluarkan seruan tertahan, waktu dia melihat diatas ranjang batu itu duduk bersemadhi tengkorak manusia yang masih memakai baju! Keadaan seperti itu tentu saja menimbulkan perasaan ngeri. Tetapi setelah Siauw Liong Lie mengetahui bahwa yang duduk bersemadhi itu hanyalah tengkorak manusia yang telah meninggal dunia, hati Siauw Liong Lie jadi tenang kembali. Dia menghampirinya lalu menyentuh sedikit pakaian tengkorak itu. Seketika pakaian itu meluruk jatuh! Rupanya telah berlalu lama sekali orang tersebut meninggalkan dunia. Siauw liong Lie menghela napas. Disaat itu, antara cahaya matahari yang samar2 masuk dari lobang2 dibatu dinding itu, Siauw Liong Lie melihat sesuatu didekat kaki tengkotak itu. Ternyata didekat kaki tengkorak itu terdapat beberapa baris kata2 yang diukir didalam batu tersebut. Tentu saja yang membuat Siauw Liong Lie jadi kagum adalah huruf2 itu diukir dengan mempergunakan jari telunjuk tangan tengkorak itu. Bunyinya sebagai berikut: “Kepada orang yang berjodoh denganku. kupersembahkan kitab pusaka ilmu silat yang tidak ada duanya didalam dunia ini. Tetapi wahai orang yang berjodoh denganku, engkau kuburkan dulu tulang2ku.” Surat yang mirip2 ‘surat wasiat’ itu sama sekali tidak meninggalkan nama atau gelaran. Siauw Liong Lie menghela napas. “Mungkin orang ini sebelum meninggal merupakan jago yang hebat sekali dan akhirnya menjelang kematiannya justru dia kuatir tidak ada orang yang bersedia menguburkan tulang2nya, maka dia membuat surat ‘wasiat’ seperti itu.” Setelah menghela napas berulang kali, Siauw Liong Lie mengambil batu gunung yang agak besar. dia telah mulai menggali tanah dalam goa itu. Setelah bekerja seorang diri cukup lama, maka Siauw Liong Lie telah berhasil membuat sebuah lobang yang cukup besar, dia mengangkat tengkorak orang itu. berikut bajunya yang banyak telah meluruk menjadi abu, dikuburkan semuanya didalam lobang ini, kemudian dia telah menutupi lobang itu dengan tanah yang tadi digalinya. Siauw Liong Lie letih sekali, dia ingin beristirahat dulu, tetapi waktu mau duduk dikursi batu, dia melihat di tempat tadi tengkorak itu duduk, terdapat beberapa huruf. Maka Siauw Liong Lie telah menghampiri pembaringan batu itu, dia telah membaca huruf2 yang tertulis disitu yang bunyinya sebagai berikut : “Orang yang berjodoh denganku, Engkau ternyata sangat baik sekali telah menguburkan mayatku… untuk itu aku dari akhirat menghujuk hormat kepadamu … arwahku tentunya bisa beristirahat dengan tenang. Dengan jiwa yang tulus dan baik, engkau memang pantas menjadi muridku. Dan kukira kitab pusaka itu pantas jatuh ditanganmu, untuk mendapat kitab itu, engkau mulai melangkah dari sudut kanan pembaringan ini, melangkah limba belas tindak dan setelah itu kau akan melihat batu gunung yang menonjol dalam bentuk segi tiga, disaat itulah engkau tendang batu segi tiga itu, maka engakau akan memperoleh kitab pusaka ilmu sati yang tiada duanya didalam rimba persilatan!” Sebetulnya Siauw Liong Lie tidak tertarik dengan kitab ilmu silat yang dijanjikan itu. Tadi dia menguburkan mayat dari orang yang tidak diketahui siapa namanya itu hanyalah didorong oleh perasaan kasihan saja. Tetapi sekarang karena ingin mengetahui kitab ilmu silat apakah yang disebut sebagai kitab ilmu silat pusaka oleh pemiliknya, Siauw Liong Lie mengikuti petunjuk2 itu. diamna dari sisi pembaringan batu itu dia telah melangkah lima belas tindak dan benar saja didekat kakinya terdapat batu berbentuk segi tiga. Dia tanpa berpikir lagi telah menendangnya. “Tukkk!” batu itu tertendang dan tahu2 tgerjadi suatu yang tidak pernah dimimpikan oleh Siauw Liong Lie, suatu peristiwa yang sangat mentakjubkan sekali. Batu yang tertendang oleh Siauw Liong Lie jadi terpental dan dinding batu disebelah kanannya tahu2 menggeser terbuka seperti juga pintu rahasia. Siauw Liong Lie berdiri tertegun mengawasi dinding ayng tengah menggeser itu. Semakin lama dinding itu terbuka, semakin lebar sehingga terlihat dibalik dinding batu itu terdapat sebuah ruangan lainnya yang snagat gelap. namun masih bisa terlihat samar2 keadaan didalam ruangan itu. Siauw Liong Lie melihatnya bahwa didalam ruangan itu terdapat sebuah kursi batu pembaringan dari batu juga dan sebuah meja dari kayu. dari semula Siauw Liong Lie hanya melihat seluruh barang2 yang terdapat didalam goa ini terbuat dari batu tetapi hanya meja itu saja yang terbuat dari kayu! Setelah berdiri ragu2 akhirnya Siauw Liong Lie memasuki ruangan itu. Dia melihat disekeliling tembok terukir manusia dalam gerakan2 bersilat. Keras sekali ukiran itu, namun sebagai seorang akhli silat yang telah berpengalaman, Siauw Liong Lie bisa mengerti makna dari lukisan2 itu. Yang membuat Siauw Liong Lie jadi berdiri takjub, karena dia melihat gerakan- dari manusia ukiran didinding itu selain merupakan ukiran yang menarik justru mengemukakan gerakan dari ilmu silat kelas tinggi. Tetapi disaat itulah Siauw Liong Lie melihat didinding sebelah kanan tampak barisan huruf2 yang diukir juga dibatu dinding itu. Siauw Liong Lie memperhatikan huruf2 itu, dia membacanya sepatah demi sepatah, karena dengan diukir didinding itu, huruf2 tersebut kasar sekali coretannya. Tetapi masih bisa dibaca, yang bunyinya sebagai berikut: “Engkau telah menguburkan tulang2ku, terimakasih wahai orang yang berjodoh denganku….” Dan disamping tulisan itu terdapat beberapa baris tulisan lagi, yang bunyinya sebagai berikut “Wahai orang yang berjodoh denganku, Engkau memang berjodoh denganku. dan menjadi muridku, Seluruh kepandaianku telah kuukir didinding kamar ini, dan engkau bisa mempelajarinya mulai dari gambar pertama yang ada disebelah kiri, terus mempelajari gerakan2 yang saling susul menuju kekanan. Ilmu silat yang kutuliskan itu merupakan ilmu silat kelas satu, karena dimasa aku hidup, aku telah merubuhkan seluruh orang2 persilatan tanpa pernah kalah satu kalipun juga. hal itu membuktikan bahwa kepandaianku telah mencapai tingkat yang cukup sempurna. Maka jika engkau mempelajari baik2, tentu engkau bisa memiliki kepandaian yang tinggi dan menjagoi rimba persilatan. Ilmu yang keturunkan padamu itu kunamakan sebagai ilmu Pek Lui Eng atau Pukulan Tangan Geledek. Jika engkau telah mempelajari baik2 setiap pukulan, tanganmu sama hebat seperti petir. Pelajaran itu di bagi menjadi tujuh bagian dan masing2 terbagi lagi dari tujuh jurus. Setiap jurus dibagi pula menjadi tujuh gerakan. Maka jika engkau telah bisa mempelajarinya dengan baik. tentu engkau bisa menjagoi rimba persilatan dengan ilmu pukulan Pek Lui Eng itu. Sebagai muridku, tentu saja engkau harus mengetahui siapa adanya aku. Aku bernama Tang Cia Sie, bergelar Bu Beng Kun Hoat (Jago Pukulan Tangan Kosong Tidak bernama). Nah, muridku, kuharap saja engkau mempelari ilmu yang kuwariskan itu sebaik mungkin dan engkau harus mempergunakannya untuk keadilan, tidak boleh sekali mengandalkan ilmu itu untuk melakukan tindakan sewenang2 dan jahat. Aku mendoakan semoga saja engkau tidak mengecewakan hati dan keinginanku, agar aku bisa mati dengan mata yang meram.” Setelah membaca surat itu, Siauw Liong Lie menghela napas. “Tang Cia Sie….dialah seorang pendekar di jaman seratus tahun yang lalu…..dia telah meninggal dengan tenang ditempat ini tentunya dia merupakan jago yang hebat sekali, karena guruku pernah menceritakan, dijamannya Tang Cie Sie itu kepandaian jago-she Tang tersebut sangat tinggi sekali. Maka dari itu jika aku bisa mempelajari ilmunya itu, niscaya aku bisa memiliki kepandaian yang lebih tinggi… !” Tetapi berpikir sampai disitu, Siauw Liong Lie telah menghela napas lagi, karena dia teringat betapa dirinya sekarang berada didalam goa yang terpisah dengan kolam yang memiliki arus yang sangat kuat, sehingga tidak mungkin dia bisa menerobos keluar ! Hai ! Hai! Sekarang jika aku mempelajari ilmu itu, untuk apa? Aku telah terpisah dari suami dan anakku …” Terkenang kepada anaknya, yang harus berpisah dengannya disaat anak itu masih merah, Siauw Liong Lie jadi menitikkan sir mata. Siauw Liong Lie memang telah memiliki latihan yang kuat dari ilmu Kouw-bok-pay, dia juga telah menguasai hati sehingga dirinya tidak pernah dihinggapi perasaan gembira, sedih atau juga marah. Tetapi waktu teringat kepada anaknya itu, justru Siauw Liong Lie sebagai wanita wajar seperti lainnya, jadi menangis menitikkan air mata dengan hati yang berduka sekali. Sekian lama Siauw Liong Lis menangis, sampai akhirnya dia telah menghela napas dan menyusut air matanya. Semula memang Siauw Liong Lie tidak bermaksud mempelajari ilmu warisan Tang Cia Sie, tetapi setelah dia berdiam agak lama digoa itu. mungkin sudah lewat dua hari atau lebih, iseng2 ia mulai mempelajari gerakan yang terakhir didinding. Hal itu hanya untuk mengisi waktunya yang luang. Tetapi ketika dia mulai menjalankan gerakan yang pertama dan pecahan dari jurus2nya, dia jadi tambah tertarik, karena selain tubuhnya jadi bertambah segar, juga Siauw Liong Lie mengetahui bahwa jurus2 yang dipelajarinya itu merupakan ilmu pukulan yang benar2 hebat! Apalagi memang Siauw Liong Lie sendiri telah memiliki kepandaian yang, sangat tinggi sekali, dengan sendirinya dia dapat mempelajari ilmu itu dengan, mudah. Tenaga yang muncul dari setiap gerakan yang dilakukan oleh Siauw Liong Lie mendatangkan sambaran angin yang kuat sekali. Ilmu pukulan itu benar2 hebat sekali, dan pukulan dari ilmu Pek Lui Eng itu bisa menghancurkan batu yang bagaimana besar sekalipun juga Siauw Liong Lie yang memiliki Iwekang sangat tinggi telah merasakan Iwekangnya seperti tersalurkan keluar dan menjadi semakin kuat. Maka dari itu Siauw Liong Lie jadi semakin rajin belajar dan mengikuti setiap gerakan dari ukiran2 ilmu pukulan Pek Lui Eng itu. Semakin dipelajari ilmu itu semakin mendatangkan kekaguman dihati Siauw Liong Lie. Bahkan Siauw Liong Lie telah mempelajari jurus yang keenam, dia jadi bertambah kagum sekali kepada Bu Beng Kun Hiap. karena ilmu itu benar2 merupakan ilmu kelas tinggi, mungkin berada diatas dari kepandaian yang dimiliki Siauw Liong Lie sendiri. Setelah mempelajari seluruh gerakan-gerakan yang terukir didinding, terakhir Siauw Liong Lie melihat ukiran untuk melatih Iweekang. yaitu dengan kedua kaki yang berjingkat, berdiri sambil bersedekap, menyalurkan jalan pernapasannya mengikuti petunjuk2 yang diberikan oleh tulisan dibatu itu. Siauw Liong Lie semula merasakan diperutnya seperti ada sebuah bola api yang berputar-putar dan hangat sekali. Siauw Liong Lie meneruskan latihannya. Entah sudah lewat beberapa hari, Siauw Liong Lie tidak mengetahui karena selama itu dia tidak melihat matahari danjuga dia tidak mengenal waktu, hanya sinar matahari yang sedikit sekali masuk keruangan itu. Dengan memperhatikan lenyap dan timbulnya sinar matahari, Siauw Liong Lie hanya bisa menduga bahwa dai telah berada diruangan tertutup itu hampir satu bulan. Semakin dipelajari Iweekang yang terukir dibatu itu, Siauw Liong Lie merasakan tenaga dalamnya bertambah hebat. Waktu dia mencoba memegang sebuah batu yang cukup besar, mengerahkan setengah tenaga Iweekangnya batu dalam cengkraman tangannya itu telah hancur menjadi bubuk. Peristiwa ini mengejutkan dan membuat Siauw Liong Lie jadi girang bukan main. Karena dengan hasil yang telah didapatnya itu membuktikan bahwa dia telah memiliki iweekang yang lebih kuat dibandingkan dengan beberapa waktu lalu. Saat itu juga Siauw Liong Lie telah beristirahat sambil memikirkan cara untuk mencari jalan keluar dari kurungan goa itu. Tetapi dia tidak juga menemui bagian bagian dinding yang tipis dan bisa diterobos keluar. Setelah memeriksa kesana kemari, tiba2 Siauw Liong Lie tertarik melihat sebuah kotak besi yang cukup besar yang berada didekat batu yang menonjol keluar. Barang itu menarik sekali. Jika memang Siauw Liong Lie bukan sedang memperhatikan keadaan disekitar situ, memerika untuk mencari jalan keluar, tentu dia tidak akan menemui kotak peti tersebut. Cepat2 Siauw Liong Lie telah mengambil kotak itu. ternyata kotak tersebut terkunci. Tetapi Siauw Liong Lie yang memiliki lwekang telah sempurna, tidak merasa dipersulit dengan tidak ada kunci kelotok itu. Dia mengerahkan tenaga Iwekangnya dikedua jari tangannya, kemudian dengan jari telunjuknya dia menyentil kelotok itu. “Tuk …!” Kelotok itu telah terbuka putus oleh sentilan jari Siauw Liong Lie. Keruan saja Siauw Liong Lie tambah girang, karena dengan sekali menyentil dia bisa mematahkan kelotok besi. berarti dia benar2 telah memiliki tenaga lwekang yang menakjubkan sekali. Dan Siauw Liong Lie lebih girang lagi, ketika dia melihat didalam kotak peti itu terdapat beberapa perangkat pakaian. Cepat2 Siauw Liong Lie mengambilnya sepotong dan mengenakannya. Karena selama selama sebulan lebih itu Siauw Liong Lie bertelanjang. disebabkan pakaiannya ditinggalkan di tepi kolam. Walaupun pakaian yang dikenakannya itu merupakan pakaian seorang pria tetapi lebih lumayan dari pada tidak mengenakan pakaian sama sekali sebagai penutup tubuhnya. Peti itu telah disimpan lagi oleh Siauw Liong Lie, diletakkan ditempat semula. Tetapi swaktu Siauw Liong Lie meletakkan peti itu, matanya yang jeli dan tajam telah melihatnya ada beberapa ukiran huruf2 dibawah tempat dia meletakkan kotak besi itu. Bunyi surat ukiran itu sebagai berikut. “Muridku…. Engkau kini telah memiliki kepandaian juga pakaianku, engkau bisa menemukannya, Aku gembira bahwa engkau seorang yang baik, yaitu setelah engkau mengangkat peti itu, engkau meletakkan kembali peti tersebut ketempatnya semula, sehingga engkau jadi bisa melihat huruf2 yang kuukir dibawah peti ini. Coba kalau engkau telah mengambil peti itu dan engkau tidak bermaksud meletakkan kembali ditempatnya semula, engkau tentu tidak akan melihat huruf2 yang kuukir ini. Ketahuilah muridku, bahwa aku mengetahui cara untuk keluar dari goa ini yaitu dengan menuruti gambaran yang kulukiskan ini! Per-tama2 engkau terjun keair yang ada dimuka goa ini, dan berenang sejauh mungkin, jika user2 air mulai menyambut kau dan menariknya, engkau kerahkan lwekang yang engkau pelajari, sehingga user2 air itu tentu tidak sanggup untuk menyeret dirimu, engkau bisa berenang terus untuk mencapai tepi kolan diatas lembah itu …. Muridku yang baik. Engkau harus ketahui juga, bahwa ketiga perangkat pakaianku yang ada didalam peti itu merupakan pakaian yang memiliki khasiat sangat besar dan bukan pakaian biasa, ketiga perangkat pakaian itu merupakan pakaian mustika. Kukatakan pakaian mustika karena jika seseorang mengenakan pakaian itu, tentu orang tersebut tidak dapat ditikam oleh senjata tajam, dan juga tidak perlu takut oleh kobaran api. Pakaian itu kubuat dari benang2 yang dibuat dari besi hitam yang dicampur dengan emas, sehingga ulet sekali. Ketika perangkat pakaiau itu merupakan tiga perangkat pakaian mustika yang jarang sekali dimiliki orang dan kuberi nama Kim-joan-kha (pakaian emas). Nah muridku, engkau harus mempelajari seluruh pelajaran yang ada didinding goa ini sebaik mungkin, karena aku tidak menghendaki muridku nanti memiliki kepandaian separoh2 saja, sehingga nanti jika bertemu dengan musuh yang kuat akan roboh dan tidak berdaya, Itulah yang tidak kukehendaki……! Dari gurumu. Tang Cia Sie, Bu Beng Kun Hiap.” Setelah membuka semua surat itu, Siauw Liong Lie cepat2 menekuk kedua kakinya dia berlutut memberi hormat kepada ukiran2 surat itu. “Suhu. tecu Siauw Liong Lie menghunjuk hormat kepada suhu. Tenangkanlah hati suhu didalam baka, karena murid tentu tidak akan melalaikan pesan Suhu untuk berdiri tegak di garis keadilan…..terima kasih atas warisan yang telah diberikan Suhu….. Tecu tentu akan berusaha untuk melaksanakan semua pesan Suhu, tenangkanlah hati Suhu…..!’” Dan setelah berkata begitu Siauw long lie me-ngangguk2an kepalanya tiga kali. Waktu itu Siauw Liong Lie tengah gembira bukan main, karena dia telah memperoleh petunjuk bagaimana harus keluar dari kolan itu meninggalkan goa tersebut. Dengan mempergunakan lwekang yang baru diperolehnya tentu dia bisa meloloskan diri dari user2 air dikolam itu, seperti apa yang dijelaskan oleh gurunya. Tetapi karena Siauw Liong Lie masih harus mempelajari ilmu meringankan tubuh dan lwekang agar lebih sempurna lagi, dia berdiam digoa dibawah kolam itu. Kepandaian Siauw Liong Lie mengalami kemajuan yaug pesat sekali, yang membawa dia ketaraf yang lebih sempurna dibandingkan dengan beberapa waktu yang lalu. Setengah bulan kemudian, Siauw Liong Lie telah dapat menguasai semua ilmu2 itu. Selama terkurung digoa itu, Siauw Liong Lie selalu makan daging ikan, karena dimuka goa itu, dimana tampak air yang menggenang berasal dari kolam yang diatas itu banyak sekali terdapat ikan2 yang bentuknya sangat besar. Setiap hari Siauw Liong Lie memakan ikan itu, yang dipanggangnya. Menangkap ikan2 itu juga tidak sulit, karena ikan2 itu tampaknya jinak sekali. Setelah lewat lagi beberapa hari, Siauw Liong Lie merasakan bahwa dia telah selesai mempelajari seluruh kepandaian yang ditinggalkan Tang Cia Sie, dia bermaksud untuk mencoba berenang keatas kolam dilembah itu. Siauw Liong Lie menekuk kedua kakinya, dia berkata “Suhu… tecu ingin meninggalkan tempat ini. Sebetulnya Tecu tidak ingin meninggalkan goa ini tetapi berhubung Tecu memikirkan anak Tecu yang diculik orang juga suami yang belum diketahui bagaimana nasibnya, maka tecu terpaksa harus meninggalkan tempat ini! Terima kasih atas petunjuk2 suhu yang sangat berharga…!” dan setelah berkata begitu, tampa Siauw Liong Lie mengangguk2kan kepalanya dua belas kali, sebagai penghormatan murid kepada gurunya. Kedua perangkat pakaian yang ada dipeti itu, juga tidak diambil oleh Siauw Liong Lie, sebab dia beranggapan bahwa satu perangkat pakaian mustika itu telah cukup. Karena kelak jiga dia telah berada dialam bebas kembali dia bisa membeli pakaian. Dan juga bukankah pakaian dan perhiasannya ditinggalkan ditepi kolam itu?” Dengan mempergunakan jari telunjuknya Siauw Liong Lie telah mengukir batu itu menuliskan beberapa patah kata.. “Tecu Siauw Liong Lie telah menyelesaikan pelajaran dari kepandaian suhu Tang Cia Sie. Dengan ini tecu menyatakan terima kasih yang sebesar2nya kepada suhu Tang Cia Sie. Semoga saja arwahnya tenang dialam baka. Tecu akan mempergunakan kepandaian yang tecu peroleh ini untuk melakukan kebaikan dan membela yang lemah…” Hebat sekali jari telunjuk Siauw Liong Lie, karena dia bisa mengukir dan menulis didinding dengan mempergunakan jari telunjuk itu, setiap kali dia mencoret, maka luluhlah batu itu. sehingga terlihat nyata sekali. huruf yang ditulisinya itu jelas dan kuat sekali setiap tarikan huruf itu. Siauw Liong Lie sendiri merasa kagum dan girang terhadap kepandaian yang diperolehnya dari Tang Cia Sie, karena jia dulu dia memiliki kepandaian yang tinggi dan sempurna, tetapi Siauw Liong Lie belum berhasil menulis didinding batu dengan mempergunakan jari telunjuknya! Tetapi sekarang, setelah dia berhasil mempelajari Iwekang peninggalan Tang Cia Sie, ia mampu menulis surat dengan jari telunjuknya itu seperti juga menulis di atas lumpur. Karena terlalu gembira, Siauw Liong Lie jadi menangis terisak-isak. Dihatinya telah muncul harapan dia bisa keluar dari kolam itu, dan juga bisa mendaki dinding tebing dilembah itu. Setelah paikui tiga kali lagi, Siauw Liong Lie kemudian keluar dari goa itu. Pintu goa ditutupnya dengan menarik kembali batu yang menonjol di muka goa tersebut. Dan Siauw Liong Lie kemudian menyusuri goa yang satunya lagi, sehingga dia telah tiba di depan goa itu, melihat air yang bening dan cabang kolam diatas lembah itu Siauw Liong Lie memandang air yang bening itu dengan tertegun. Dia membayangkan, dibawah air kolam itu terdapat user2an air yang menggulung kuat sekali. Jika dia menyelam kembali, mungkinkah dia kuat melawan arus user2an air iiu? Sedangkan dulu saja dia bukannya tidak memiliki kepandaian, didalam rimba persilatan mungkin Siauw Liong Lie merupakan jago wanita yang paling ternama. Namun dia tidak berdaya menghadapi user2 air didalam kolam itu. Tetapi menurut pesan yang ditinggalkan oleh ‘guru’nya yaitu Tang Cia Sie, dengan mempergunakan lwekang yang diturunkan oleh Tang Cia Sie. tentu dia bisa menghadapi arus user2an air itu. Maka setelah keragu2annya berkurang banyak, Siauw Liong Lie telah terjun berenang diair dimuka goa itu. Dia menyelam beberapa kali, tetapi disaat itulah dia mulai merasakan air seperti tergoncang keras. Dengan demikian Siauw Liong Lie mengetahui bahwa arus user2 air itu telah mulai datang menyerang dirinya. Itulah hal yang cukup mengerikan. Ketika Siauw Liong Lie merasakan gulungan air semakin keras, dia mengerahkan Iweekang ayng diperolehnya dari catatan Tang Cia Sie. Kedua tangannya ditekuk dengan gerakan seperti seekor kodok, tampak Siauw Liong Lie telah berenang terus. Memang meletihkan melawan tekanan dari tenaga arus air yang bergulung2 seperti tidak terkendalikan lagi. Beberapa kali tubuh Siauw Liong Lie terpental kembali terbawa arus. Tetapi Siauw Liong Lie tabah sekali, dia telah menggerakkan terus kedua tangannya dan kakinya melawan terjangan gulungan arus itu. Walaupun sedikit demi sedikit dan meletihkan sekali, kenyataannya Siauw Liong Lie telah bisa maju menerobos arus air itu. Akhirnya Siauw Liong Lie terlepas juga dari gulungan arus air itu, sehingga dia bisa berenang terus menuju kepermukaan kolam. Tadi waktu melawan arus air yang ber-gulung2 itu, Siauw Liong Lie merasa letih sekali dan ketika dia tiba dipermukaan kolam dan berhasil naik kedarat. dia telah merebahkan tubuhnya ditepi kolam itu untuk beristirahat. Sambil mengatur pernapasannya, Siauw Liong Lie juga mengawasi sekitar tempat itu. Tidak ada seorang manusiapun di sini dan juga pakaiannya telah lenyap! Siauw Liong Lie jadi heran, dia menyelidiki seluruh lembah itu, tetapi dia tetap tidak menemui seorang manusiapun juga ! Waktu Siauw Liong Lie tiba dipermukaaa kolam itu, hari menjelang sore, dan ketika matahari telah turun diufuk barat, Siauw Liong Lie berusaha menaiki tebing itu, dia merayap dengan ilmu cecak dan berhasil mencapai atas lembah itu. Dengan hati2 Siauw Liong Lie menghampiri sebuah perkampungan, Dengan gerakkannya yang ringan dan gesit sekali, tidak ada seorang manusiapun yang mengetahui bahwa ada seorang pendekar wanita yang tengah berkeluyuran, memperhatikan satu persatu rumah penduduk, karena memang Siauw Liong Lie bermaksud untuk mencari rumah seorang hartawan. Dan akhirnya Siauw Liong Lie dapat menemukan sebuah rumah yang diinginkannya. Dia telah melihat rumah yang mewah dan besar, sebagian dari pekarangan rumah itu diterangi oleh lampu, sehingga disekitar tempat itu jadi terang benderang. Siauw Liong Lie tampak telah melompati dinding tembok pekarangan, kemudian dia mencari sebuah kamar, dengan mudah dia menemukan apa yang dicarinya, yaitu tempat simpanan uang dari pemilik gedung tersebut. Di ambilnya uang perak sebanyak seribu tail, lalu dia kembali ketepi lembah dan melompat kebawah lembah itu. Malam itu Siauw Liong Lie tidur dengan nyenyak, keesokan paginya ketika dia terbangun dari tidurnya, dia melihat sesuatu yang agak ganjil, yaitu tanah kuburan yang masih merah. “Rupanya sebelum aku datang kemari telah ada orang lainnya ,..!!” pikir siauw Liong Lie yang menduga bahwa kuburan itu adalah kuburan dari seorang manusia. Pada hal sebenarnya, jika saja Siauw Liong Lie mau membongkar kuburan itu, tentu dia akan mengetahui bahwa kuburan itu adalah kuburan dari pakaian dan barangnya yang telah dikubur oleh Sin Tiauw. Setelah cuci muka ditepi kolam Siauw Liong Lie mendaki keatas tebing itu untuk keluar dari lembah itu. Dia memperhatikan keadaan sekitarnya, kemudian berlari2 kearah barat, dia telah tiba disebuah kampung kecil, Siauw Liong Lie membeli beberapa perangkat pakaian dan bermacam2 kuwe dan daging kering. Setelah membayar barang yang di belinya itu, Siauw Liong Lie bermaksud kembali ke-lembah. Tetapi baru saja dia melangkah beberapa langkah, dia mendengar suara seorang gadis kecil yang menangis sedih sekali. Usia gadis kecil itu belum lagi ada setahun, masih merah, dan tangisnya juga sangat nyaring sekali. Bayi kecil itu tergeletak di muka warung barang2 dimana dia tadi berbelanja. Melihat bayi itu tanpa ada yang mengurusi dan tergeletak di situ, Siauw Liong Lie merasa heran bercampur marah. Cepat2 Siauw Liong Lie menggendongnya. apa lagi dia teringat pada anaknya sendiri, yang sekarang ini berada entah dimana, masih hidup atau memang telah binasa. Dan perasaan kasihan pada gadis cilik yang masih merah itu membuat dia menggendongnya untuk menghangati tubuh bayi kecil tersebut. Siauw Liong Lie memasuki toko kelontong itu, kemudian bertanya kepada pemilik toko itu. “Hengtai, siapa orang tua anak ini? Mengapa ditinggalkan begitu saja dan Hengtai tidak merasa kasihan dan hanya membiarkan saja? Bukankah jika kelak matahari telah naik tinggi dan panas sekali, akan membuat bayi itu tersiksa lalu mati?” Pemilik toko itu jadi serba salah tingkahnya, tetapi tokh akhirnya dia telah berkata:”Bukan kami tidak merasa kasihan kepada gadis kecil itu…. tetapi kedua orang tuanya, ayah dan ibunya adalah penjahat2 besar yang tidak berampun dan kejam sekali. Telah ratusan orang2 yang menjadi korbannya. Maka waktu tadi kedua orang tuanya itu, ditangkap dan dihukum mati dengan pancung kepala. Memang kami merasa kasihan pada bayi yang sebatang kara itu. tetapi kami tidak berani mengambil dan melihatnya, seluruh penduduk kampung juga begitu, mereka takut kalau nanti setelah anak itu besar akan menimbulkan kesulitan yang tidak kecil, apa lagi anak ini keturunan dari penjahat kejam seperti ayah dan ibunya….!” Siau Long Lie menghela napas. “Kasihan anak ini…..seharusnya dia tidak diperlakukan begitu! Bukankah yang bersalah dan berdosa adalah kedua orang tuanya? Mengapa pula anak ini yang harus menjadi sasarannya? Hemmm, memang kadang kala manusia itu jahat dan bersembunyi dibalik kebaikan! Biarlah anak ini kuambil untuk dipelihara olehku!” “Terserah kepada nyonya, karena memang kami sekampung telah memutuskan tidak akan mengambil anak itu, dan meletakan begitu saja. Untung ada nyonya, sehingga anak itu tidak perlu sampai mati…..!” Siauw Liong Lie menghela napas dan dengan membawa barang2 yang baru dibelinya itu dalam jumlah yang cukup banyak, juga tangan kanannya menggendong bayi perempuan itu dengan penuh kasih sayang, dia telah pergi ketepi tebing dan dengan ginkangnnya yang sempurna, dia berlari2 menuruni tebing itu. Dalam waktu yang singkat sekali dia telah berada dilembah itu lagi. Siau long lie karena teringat bahwa ditempat itu ada gundukan tanah seperti kuburan, maka dia tidak bermaksud berdiam dilembah itu lama2. Dia telah mengikat kepala bayi perempuan itu dengan sehelai kulit dan kemudian barang2 belanjaannya itu diikat pula didalam sepotong kulit. kemudian dia menyelam melawan arus air. dia telah berenang dengan kedua tangannya membawa sibayi dan bahan makanannya. Usaha siau long lie berjalan lancar dan tidak menemui halangan apapun juga. Dan mereka, siau long lie bersama bayi kecil itu tiba di goa tersembunyi itu. Demikianlah siau long lie telah merawat bayi kecil itu. “karena engkau kutemui dalam keadaan yang menderita dan sengsara, maka engkau kunamakan Goat Lan. Sedangkan she mu bisa mempergunakan she-ku, yaitu she Siauw! Untuk selanjutnya engkau bernama Siauw Goat Lan.” Bayi yang masih kecil seperti itu tidak mengetahui apa2, dia hanya sibuk dengan susu yang diberikan Siauw Liong Lie. Karena sejak kedua orang tuanya dihukum mati, dia telah menderita kelaparan. Siauw Liong Lie juga bertekad untuk merawat Siauw Goat Lan dan anak yatim piatu itu akan diperlakukan seperti anaknya sendiri. Dengan adanya Siauw Goat Lan, hati Siauw Liong Lie jadi terhibur juga. Pendekar wanita ini juga bermaksud menutup riwayat hitam dan kedua orang tua Siauw Goat Lan. karena dia tidak menghendaki nanti Siauw Goat Lan setelah meningkat dewasa akan memiliki dendam. Siauw Liong Lie menganggap urusan Siauw Goat Lan telah habis, karena dengan demikian Siauw Goat Lan terbebas dari jerat dendam yang bisa merusak gadis ini. Dengan demikian Siauw Liong Lie bisa benar2 menganggap bahwa Siauw Goat Lan adalah puterinya sendiri. Begitulah dari hari kehari Siau Long lie telah merawat Siauw Goat Lan. Ketika Siauw Goat Lan telah berusia empat tahun, gadis kecil itu mulai diberi pelajaran silat. Ternyata Siauw Goat Lan cerdas sekali, dia bisa menerima pelajaran2 yang diturunkan padanya dalam waktu yang singkat sekali. Siau long lie jadi girang melihat kenyataan itu. Apa lagi kemajuan yang pesat telah diperoleh seorang Siauw Goat Lan. Sedangkan Siauw Goat Lan sendiri selalu memanggil Siau long lie dengan sebutan suhu, karena dia telah dibiasakan oleh Siau long lie sejak kecilnya untuk memanggil dengan sebutan suhu. Maka dalama keadaan demikian dari tahun demi tahun Siauw Goat Lan juga diberi pelajaran dasar dari Iweekang dan Ginkang. Kepandaian yang diturunkan oleh Siau long lie merupakan kepandaian kelas tinggi, jika saja Siauw Goat Lan melatih diri dengan baik, kelak jika dia telah dewasa tentu jarang sekali ada orang yang bisa menandinginya. Tahun demi tahun lewat dengan cepat dan akhirnya Siauw Goat Lan telah berusia sebelas tahun dengan memiliki kepandaian yang tinggi, dan yang kurang hanyalah pengalamannya saja. Sejak berusia sebelas tahun Siauw Goat Lan sering diajak Siauw Liong Lie keluar dari goa untuk pergi ke kampung2 yang terdekat guna memberikan pakaian dan makanan. Walaupun masih kecil, tetapi Siauw Liong Lie sering kali berenang melawan arus kolam itu, sehingga dia bisa berenang pula pergi melalui kolam yang memiliki user2 air dengan mudah sekali. Hari itu, waktu Siauw Goat Lan berusia sebelas tahun, Siauw Liong Lie mengatakan bahwa dia ingin tinggal dilembah itu, sehingga tidak perlu setiap kali keluar dari kolam itu tubuh mereka basah kuyup. Siauw Liong Lie juga telah menguasai sepenuhnya ilmu silat Tang Cia Sie, sehingga dia tidak perlu berdiam lebih lama lagi di goa tersebut. Dengan tinggal dilembab yang indah dan banyak pohonnya yang beraneka warna, Siauw Goat Lan jadi girang sekali. Begitulah guru dan murid telah tiba di lembah itu dan menetap disana. Siauw Liong Lie mendirikan sebuah rumah kecil, untuk mereka tinggal dan menghindari hujan dan angin. Siauw Goat Lan ternyata seorang anak yang rajin, lincah dan gesit. Setiap hari dengan tekun dia mempelajari ilmu silat yang diajarkan oleh gurunya. Namun hari itu justru Siauw Goat-Lan telah bertemu dengan Yo Ko beramai. Dan pertemuan itu akhirnya membuat Yo Ko dan Siauw Liong Lie berkumpul kembali. ooo00d0w00ooo SIUAW LIONG LIE telah menyelesaikah ceritanya sambil menghela napas. Tetapi Yo Him heran sekali, ada sesuatu yang tidak dimengerti olehnya. “Bu” katanya kepada siau long lie “Aku sudah pernah dirawat oleh Sin Tiauw beberapa tahun di dalam lembah itu, mengapa tidak bertemu denganmu bu?” Siau long lie tersenyum, katanya: “Mungkin juga waktu aku keluar dari lembah itu untuk mencuri uang yang seribu tail itu. Justru engkau tidak ada disitu dan telah diajak bermain oleh Sin Tiauw… Itulah suatu kebetulan saja. seingga kita bertemu setelah belasan tahun, dan engkau kini telah menjadi seorang pemuda yang gagah dan tampan.” Yo Him jadi malu dan menundukkan kepala dengan pipi yang berobah merah. “Ah. ibu bisa saja” katanya Yo Ko dan yang lainnya jadi tertawa geli karena mereka melihat Yo Him kemalu2an begitu rupa digoda oleh ibunya. Begitulah, mereka telah bercakap2 dengan gembira. Tiba2 Yo Ko teringat sesuatu. “Liong Jie… ada sesuatu yang tidak kumengerti!” katanya. “Apa itu Ko jie?” “Mengenai rangka dari tengkorak Sin-Tiauw, yaitu burung rajawali kita itu…mengapa masih tetap menggeletak ditempatnya berhampar, bukankah menurutmu tadi engkau sering keluar dari air kolam dan tentunya melihat kerangka burung itu….,” “Benar, memang aku melihatnya, tetapi tentu saja Sin Tiauw tidak akan senang jika kita mengubur tulang2nya. Bukankah letak dari tulang belulang itu dengan sikap kedua sayapnya yang terpentang lebar2….! Hemm, jika kita menguburnya tentu akan membuat dia tidak senang, maka aku membiarkan saja dengan menggeletak begitu, bukankah sangat indah dilihat?” Yo Ko dan lain2nya mengangguk2 tanda setuju. “Tetapi sayang sekali aku tidak mengetahui maksudmu yang sebenarnya itu, sehingga aku telah mengubur tulang2nya,” kata Yo Ko “Ya, jika memang telah dikubur itupun tidak apa2 bukan?” kata Siauw Liong Lie tertawa. “Akhirnya kita berkumpul juga….inilah anugerah Thian yang maha pengasih dan penyayang….” dan Siauw Liong Lie menghela napas panjang2, karena saking girang dan juga terharu dengan adanya pertemuan ini. Siauw Liong Lie juga menceritakan bahwa dia senang sekali dilembah ini, karena pemandangannya indah dan udaranya nyaman. “Yang mencelakai aku adalah Tiat To Hoat ong si pendekat dari Mongol itu..!” kata Siau long lie sejenak kemudian “Maka kalau aku memiliki kesempatan, tentu aku akan mencarinya untuk mengadakan perhitungan dengannya..!” Yo Ko mengangguk. “Benar, selama belasan tahun ini aku sibuk sekali mengumpulkan sahabat2 yang cinta negeri, sehingga waktu sangat sedikit sekali, dimana aku selalu gagal mencari pendeta Mongol itu.” Yo Ko menghela napas panjang, kemudian katanya lagi. “Keadaan kerjaan Song tengah terancam oleh musuh yang ingin menyerang kedaratan tionggon, disamping itu juga banyak menteri2 dorna yang telah menghasut Sri Baginda. sehinggal pucuk pimpinan kerajaan sudah goyah dan mungkin satu atau dua tahun mendatang ini pasukan Mongolia itu akan menyerbu kedaratan Tionggoan.” Disaat itu siau long lie mendengarkan baik2 dan waktu suaminya berkata sampai disitu, dia telah memotongnya, “Inilah urusan yang tidak kecil. selama belasan tahun aku mengurung diri dilembah ini. tidak tahunya diluar telah terjadi pergolakan yang tidak kecil. Suamiku apakah kita lebih baik meninggalkan lembah ini untuk membantu para orang gagah menghadapi musuh dari luar?” Yo Ko mengangguk. “Memang aku bermaksud begitu, apa lagi sekarang kita telah berkumpul kembali” kata Yo Ko.”Dan kita bisa menghadapai musuh yang paling tangguh sekalipun! Disamping itu kita harus mencari jejak Tiat To Hoat Ong untuk membalas sakit hati kita..!” Waktu berkata sampai disitu Yoko berhenti sejenak samabil menunjuk ke Yo Him, katanya. “Anak kita, Him Jie juga telah memiliki kepandaian yang tinggi, selain dia memiliki tenaga Iweekang yagn tinggi, juga dia pun telah menjadi murid dari orang luar biasa Lie Bun Hiap.” Siauw Liong Lie memandang setengah percaya kepada anaknya dan kemudian dia menghampiri Yo Him sambil bertanya : “Benarkah Him-jie apa yang dikatakan oleh ayahmu?” Yo Him tersenyum sambil berkata : “Ayah tengah bergurau…ibu jangan mempercayainya….!” Kwee Siang dan Phang Kui In juga berkata: “Apa yang dibilang Yo Ko Taihiap memang benar…!” Siauw Liong Lie tersenyum, dia telah berkata dengan suara yang mengandung kasih sayang seorang ibu: “Syukurlah jika memang Yo Him bisa memiliki kepandaian yang tinggi, tidak percuma dia jadi anak dari Sin Tiauw Taihiap!!” dan berbareng dengan perkataannya itu tampak Siauw Liong Lie telah menghampiri Yo Him dekat sekali. Diluar dugaan tiba2 Siauw Liong Lie mengulurkan tangan kanannya, dan tangan Yo Him yang kanan telah dicekalnya. Gerakan yang dilakukannya itu luar biasa cepat dan kuatnya, karena begitu Siauw Liong Lie menghentak, sebelum Yo Him tahu apa yang terjadi, tubuhnya telah dilemparkan keras sekali oleh Siauw Liong Lie. Semua orang yang melihat itu jadi terkejut sampai mengeluarkan suara seruan yang nyaring, dan muka mereka masing2 menjadi pucat. “Liong-jie, jangan..!” Yo Ko masih sempat berteriak dengan suara mengandung ke-kuatiran yang sangat. Tubuh Yo Him telah melayang cepat sekali ketengah udara, tetapi Yo Him sekarang memang telah memiliki kepandaian yang cukup tinggi, walaupun dia terkejut diperlakukan begitu oieh ibunya, namun dia bisa bergerak cepat sekali berjumpalitan ditengah udara. Gerakan yang dilakukan oleh Yo Him sangat gesit, sehingga sewaktu tubuhnya meluncur turun kedua kakinya yang lebih dulu hinggap ditanah. “bagus,” berseru Siauw Liong Lie dengan suara yang mengandung kegembiraan dan wajah yang berseri2. Yo Him dan lainnya baru mengetahui bahwa Siauw Liong Lie hanya ingin menguji anaknya itu. “kepandaianmu cukup tinggi, Yo Him….. tidak sembarangan pemuda sebaya engkau yang bisa memiliki ilmu silat setinggi kau sekarang ini” Yo Him mengucapkan terima kasih “Siapa yang mengajarimu?” tanya Siauw Liong Lie lagi sambil menghampiri anaknya “Suhu Lie Bun Hiap. ma!” “Lie Bun Hiap?” “Ya……..” “Aku belum pernah mendengar namanya” “Kedua kakinya buntung sebatas lutut, dia berjalan dengan mempergunakan dua batang tongkat..,.” “Tetapi kepandaian yang diturunkan kepadamu semuanya itu merupakan ilmu yang tinggi sekali. jika engkau mau berlatih diri dalam dua atau tiga tahun, tentu engkau akan menjadi jago yang memiliki kepandaian sangat tinggi sekali.” Senang Yo Him mendengar pujian ibunya dia telah mengucapkan terima kasihnya. “Tetapi anehnya, gurumu itu belum pernah kudengar didalam rimba persilatan. Tentunya dia seorang jago tua yang hidup mengasingkan diri…..” “Mungkin juga, ma, Katanya telah puluhan tahun dia berada dipulau terpencil itu “ Phang Kui In lalu menceritakan apa yang telah terjadi. Yo Ko juga jadi heran, karena dia belum pernah mendengar nama Lie Bun Hiap diantara jago2 lainnya. Tetapi akhirnya mereka tidak membicarakan soal Lie Bun Hiap lagi, karena mereka telah merencanakan untuk naik keatas dinding yang mengurung lembah itu. “Aku dan muridku bisa saja keluar dengan mudah, karena kami memang telah biasa keluar lembah, naik dan turun dengan mudah. Sekarang bagaimana dengan yang lainnya.” Yo Ko menunjuk kearah tambang yang masih tergantung itu. “Yo Him, nona Kwee dan Phang Enghi-ong, naik dengan mempergunakan tambang itu sedangkan aku dengan kau Liong-jie naik dengan mempergunakan ilmu cicak Sedangkan muridmu, menurut kau telah biasa naik turun tebing itu, maka diapun bisa naik sendiri. Bagaimana, kalian setuju ?” Siauw Liong Lie dan yang lain2nya menyatakan setuju. Begitulah Siauw Goat Lan, Siauw Liong Lie dan Yo Ko telah menaiki tebing itu dengar, mudah tanpa memerlukan bantuan dan tambang itu. Yo Him naik melalui tambang, kemudian menyusul Kwee Siang lalu Phang Kui In. Disaat itulah terlihat mereka telah berkumpul diatas tebing. Semuanya girang bukan main karena mereka bisa berkumpul kembali. “Tugas kita masih banyak, yaitu menghimpun orang2 gagah dan mencari musuh kita, Tiat To Hoat ong.” kata Yo Ko. Dan usul Yo Ko itu disetujui oleh semua orang. Begitulah mereka memutuskan untuk pergi Siang-yang, karena Siang yang merupakan perbatasan dimana jika tentara Mongolia ingin menyerbu kedaratan Tionggoan, maka mereka harus melewati Siangyang dulu. Waktu itu telah tiba musim semi, sehingga keadaan dalam perjalanan mereka sangat menggembirakan sekali. ooo00d0w00ooo SIANGYANG adalah ibukota kerajaan Song, dan merupakan kota yang sangat rapat penduduknya karena dikota tersebut rumah juga dibangun ber-tingkat dan tampaknya serba mewah. Saat itu, banyak orang yang tengah menjajakan barang2 dagangan mereka sambil memuji2 akan kebaikan dan bagusnya barang mereka masing2, sehingga keadaan dikota Siangyang pada sore hari itu sangat ramai sekali. Diantara keramaian suasana sepert1 itu, tampak seorang anak lelaki berusia enam belas tahun, telah berlari2 dengan ketakutan dan dia berlari terus merobos keramaian orang yang berada ditempat itu. Semua orang hanya memandang acuh tak acuh, mereka melihat dibelakang anak itu berlari2 puluhan orang yang berteriak dengan suara yang sangat keras sekali mengandung kemarahan: “Tangkah malingi Tangkap! Tangkap.. Jangan dibiarkan lolos,..,..” Semakin lama anak kecil itu semakin ketakutan. Dia berlari terus, dia seorang pemuda yang masih sangat muda usianya, dan mendengar suara orang2 yang melakukar pengejaran itu yang menarik anak itu sebagai maling. semua orang jadi tidak senang kepada anak itu. bahkan mereka telah mensyukurkan bahwa anak itu akan segera tertangkap. Tidak mungkin anak itu bisa meloloskan diri dari kejaran orang2 itu. Tampak anak itu berlari dengan lebih cepat lagi. napasnya memburu dan juga mukanya pucat dengan bibir gemetar karena ketakutan. Akhirnya waktu dia melihat para pengejarnya telah semakin dekat, maka dia mengeluarkan suara bentakan yang keras, sambil memutar tubuhnya dia berjongkok lalu tangannya dilonjorkan kedepan. Waktu para pengejarnya itu telah datang semakin dekat. Anak itu mengeluarkan suara grookk.. grookk… beberapa kali. para pengejar itu agak tertegun melihat sikap anak itu yang jongkok seperti hendak buang hajat. Kelakuannya benar aneh dan mulutnya mengeluarkan suara grook.. grookk.. berulang kali. Tetapi tak lama kemudian mereka berteriak-teriak lagi sambil menyerbu untuk menangkap anak itu. “Tangkap! Jangan sampai lolos!” teriak salah seorang diantara pengejar itu. “Pukuli saja biar mati.. !,” “Ya, hantam saja !”‘ “Bekuk dia … !” “Tangkap … “ Ramai sekali suara teriakan2 mereka sehingga anak itu jadi ketakutan. Tetapi dalam keadaan terjepit seperti itu, anak ini menjadi nekad. Dia menghentakkan kedua tangannya seperti mendorong, disamping itu mulutnya telah mengeluarkan suara “grooookkk. grroookkk !” Aneh sekali… Empat orang pengejarnya yang berada di depan telah mengeluarkan suara jeritan yang sangat menyayatkan hati, tubuh mereka bergulingan ditanah sambil meng-geliat2, akhirnya diam. Mereka telah binasa. Sisa kawannya yang melihat kawan mereka mengalami kematian hanya dengan dorongan tangan anak itu, tentu saja jadi tercengang. Tetapi tidak lama kemudian terdengar suara teriakan mereka: “Tangkap! Tangkap! Tangkap pembunuh !” Teriakan mereka berisik sekali, tetapi tidak ada seorangpun diantara mereka berani maju, karena mereka kuatir nanti mengalami nasib seperti kawan2nya itu. Anak itu, yang tadi telah menyerang dengan ilmu “Ha-mo kang” (ilmu kodok), ketika melihat lawannya sudah tidak mengejar dan mendesaknya lagi, dia bangkit dan melarikan diri pula. Semua sisa pengejaran itu tetap mengejarnya sambil berteriak2 dengan suara yang membisingkan pendengaran. Anak itu tidak memperdulikan lagi dia berlari terus dengan cepat, walaupun dirinya dibayangi oleh para pengejarnya, namun anak itu dapat bersikap lebih tenang, karena dilihatnya para pengejarnya itu tidak seorangpun yang berani menerjang maju untuk melakukan penyerangan. Tetapi jumlah pengejarnya semakin lama semakin banyak, membuat anak itu jadi jeri juga, karena biarpun dia memiliki ilmu yang bisa diandalkan, tetapi jika dia telah dikeroyok beramai2 tentu dia tidak bisa meloloskan diri. Anak itu sangat cerdik sekali, dia berlari2 di lorong2 kecil. Setelah mengejar semakin lama, banyak para pengejarnya merasa letih. Kemudian anak itu telah tiba diluar pintu kota, dia berdiri mengasoh, sedangkan para pengejarnya yang berada dekat sekali, tidak ada seorangpun yang berani maju melancarkan serangan, mereka hanya berdiri berteriak2 saja. Anak itu tertawa mengejek. “Untung saja aku masih kecil, coba aku telah dewasa, hemmm, kalian satu persatu akan kubereskan….!” “Tangkap maling! Tangkap pembunuh! Tangkap pembunuh!” teriak semua orang itu, tapi tidak ada seorangpun yang berani mendekati pemuda tanggung itu. anak itu berkata lagi mengejek dengan suara yang perlahan. “Hmm…..sekarang mengapa kalian tidak maju…..? Mari! Mari kita bertempur!” dan berbareng dengan perkataannya itu, tampak anak lelaki itu telah berjongkok lagi sambil memperlihatkan gerakan seperti akan menyerang dengan kedua tangannya sendiri. Keruan saja orang2 yang berdiri tidak berjauhan dengannya telah cepat menyingkir diri, karena mereka takut begitu anak itu mendorong dengan kedua tangannya maka mereka akan terdorong binasa juga. “Ayoh maju…. !!” tantang anak lelaki itu. Tetapi tetap saja tidak ada seorangpun yang berani maju. Anak lelaki itu kembali tertawa mengejek, dia telah berdiri sambil katanya: “Baiklah…… aku permisi saja!” dan dia memutar tubuhnya untuk berlalu. Pengejarnya tidak berani mengejarnya lagi, karena mereka anggap anak itu memiliki ilmu siluman yang bisa mematikan orang dengan hanya dorongan tangannya saja. Dari pada mati konyol’, maka lebih baik mereka tidak mengejarnya lagi. Namun baru beberapa langkah anak itu berjalan, disaat itulah tampak seseorang membentaknya: “Tahan, tunggu dulu…,!” Anak itu relah mengerutkan alisnya, dia memutar tubuhnya.. Dihadapannya berdiri seotang lelaki berusia tiga puluh enam tahun yang tengah mengawasinya. Orang itu memakai baju yang agak longgar, sedangkan tangan kanannya baju itu berkibar2 kosong, menunjukkan bahwa orang itu tidak memiliki tangan kanan. Sedang orang yang menegur itu, yang tidak lain dari Yo Ko telah tersenyum sambil katanya:” Engko kecil, bukankah engkau yang bertemu, denganku belasan tahun yang lalu “ “Engkau ternyata Sin Tiauw Taihiap, bukan?” tanya anak itu tidak menyahuti pertanyaan Yo Ko. “Tidak salah….! Dan engkau pernah mengatakan bahwa dirimu adalah putranya Auwyang Hong…. benarkah ini? Tadi aku melihat engkau mempergunakan ilmu Ha mo kang, tetapi keterlaluan sekali, lima jiwa engkau binasakan….!” Anak lelaki itu telah tertawa dingin. “Benar aku anak Auwyang Hong …dan engkau mau apa menegurku, apakah engkau tidak senang dan ingin membela orang2 jahat itu yang tadi ingin mengeroyok dan membinasakan aku !” “Aku bukan hendak memihak ke-mana2 tetapi justru aku ingin memberitahukan kepadamu agar lain waktu engkau, jangan menurunkan tangan sekeras itu…..karena kasihan orang2 yang tidak tahu apa2 itu harus mengalami kematian dengan cara yang begitu menggenaskan sekali … ! Dan mana ibumu …? Atau nenekmukah wanita tua itu ?” “Hemmm, itu ibuku ..!” menyahuti anak iiu, yang mengaku sebagai anaknya Auwyang Hong! Ada sesuatu yang membuat Yo Ko heran, Auwyang Hong telah meninggal lama sekali, dia meninggal dunia hampir dua puluh lima tahun. Mana mungkin anak kecil ini bisa- mengaku sebagai anaknya tokoh sesat Auwyang Hong itu. “Siauwko (adik kecil), ada sesuatu yang kuherankan dan tidak mengerti. Auwyang Hong telah meninggal puluhan tahun yang lalu, tetapi sekarang engkau baru berusia baru lima belas atau enam belas tahun, bagaimana mungkin, Apakah Auwyang Hong setelah di-Akherat itu masih bisa menikah dan memiliki anak?” Muka anak itu jadi berobah. “Engkau jangan menghina aku…. dengan kau menyebut2 nama ayahku saja dan mengolok2 ayahku kau harus mati…. walaupun engkau sebagai Taihiap yang terkenal sekali dijaman ini, tetapi aku tidak takut.” Yo Ko tertawa. “Jika aku maju menyerang dirimu, tentu akan banyak orang yang mengatakan bahwa aku menghina yang kecil… maka ada lawan yang sebanding dengan kau, dimana kalian boleh main2 beberapa jurus!” Setelah berkata begitu Yo Ko memandang kesampingnya sambil berkata: “Him jie keluarlah….! Temani engko kecil bermain2 beberapa jurus. Anaknya Auwyang Hong itu heran melihat anak sebaya dia telah mendatangi dengan sikap yang tenang sekali. Dia jadi mengerutkan alisnya, pikirnya : “Hemm. usianya sebaya denganku, tentunya dia tidak memiliki kepandaian yang tinggi, sebab dengan mengandalkan Ha-mo-kang. maka aku tidak perlu takut padanya “ Ternyata rombongan Yo Ko, Kwee Siang, Siauw Liong Lie, Siauw Goat Lan, Phang Kui In dan Yo Him, telah tiba dikota Siangyang beberapa saat yang lalu, dan mereka telah melihat anak lelaki itu yang di-kejar2 oleh belasan bahkan puluhan orang. Yang mengejutkan Yo Ko adalah anak itu tiba2 mengeluarkan ilmu Ha mo-kang dan membinasakan lima orang pengejarnya. Yo Ko mengenali ilmu itu, karena dia sendiri waktu kecil pernah mempelajari ilmu Ha mo-kang. tetapi sekarang anak kecil itu telah melancarkan serangan2 yang dahsyat dengan Ha-mo-kang. Maka tidak puas hati Yo Ko, karena anak itu sangat kejam sekali dalam turun tangannya. Saat itu Yo Him telah berdiri disisi Yo Ko, ayahnya, sambil tanyanya “Apa yang harus kulakukan, ayah?” “Anak itu sebaya dengan kau, maka engkaulah yang menghadapinya”, kata Yo Ko. “Baik ayah …” “Tapi hati2, dia memiliki ilmu ha- mo-kang warisan dari Auwyang Hong”, kata sang ayah itu. “Baik ayah, aku akau menghadapinya dengan hati2″ “Bagus…” kata Yo Ko. “Nah, sekarang pergilah engkau bermain2 dengan engkoh kecil itu … !” Yo Him melangkah maju mendekati anak yang sebaya dengannya dan waktu itu anak lelaki yang mengakui dirinya sebagai puteranya Ouw yang Hong, telah mengeluarkan suara sinis “Engkau sekecil ini ingin melawanku? Hemm, tadi saja kelima orang yang mengejarku telah mati tanpa mereka berdaya untuk mengelakkan diri atau juga memberikan perlawanan atas seranganku itu. Apa lagi sekarang hanya engkau, mana bisa engkau melawanku, engkau hanya mencari penyakit untuk mampus.” Tetapi Yo Him bersikap sangat sabar sekali, dia telah berkata manis: “Jangan berkata begitu engko kecil, karena walaupun engkau memiliki kepandaian setinggi itu, belum tentu engkau bisa mengangap dirimu sebagai jago yang tiada lawan, Sekarang aku membuktikan betapa kepandaianmu itu sebetulnya tidak berarti….. marilah engkau mulai menyerang padaku!” kata Yo Him lagi. Anak itu tertegun sejenak, tetapi kemudian dia jadi marah: “Baik! Baik! Engkau sambutlah seranganku ini!” Dan setelah berkata begitu, cepat sekali anak itu menekuk kedua kakinya berlutut. Dia menggerakan kedua tanganya yang didorongkan kedepan dengan serentak. Dari kedua telapak tangannya itu meluncur keluar angin serangan yang sangat kuat sekali. Yo Him berdiam diri dengan tenang sekali dia melihat saja datangnya serangan itu, kemudian dia mengeluarkan suara siulan yang nyaring dan melompat mundur dengan tubuh yang agak doyong kesamping, sehingga serangan anak itu yang mengaku sebagai puteranya Auwyang Hong telah jatuh ditempat kosong. Membarengi dengan kesempatan itu, tampak Yo Him tidak tinggal diam, karena dia juga telah mengeluarkan suara bentakkan keras sambil jari telunjuk tangan kanannya mengincer jalan darah sebelah pundak yang kiri anak itu. Itulah jurus “Menulis sejak dimusim semi”, yang mendatangkan angin sangat kuat dan jika menyentuh jalan darah dengan tepat disaat itu juga korban totokan itu akan segera binasa !! Puteranya Auwyang Hong itu jadi terkejut sekali, karena dia telah merasakan angin serangan yang mantap dari musuhnya menerjang dirinya, disamping itu dia kecewa karena tenaga Ha-mo-kangnya tidak berhasill mengenai korbannya. Dengan memiringkan tubuhnya tampak puteranya Auwyang Hong telah berkelit dari totokan Yo Him. Waktu itu, Yo Him telah menyusuli lagi dengan serangan lainnya, dia menyerang lawannya dengan beruntun dan tidak segan2 lagi, sebab dia tadi telah menyaksikan betapa anak ini memiliki watak yang buruk dan kejam, sehingga Yo Him jadi mengambil keputusan untuk melukai berat anak ini dan kemudian melenyapkan kepandaiannya, agar kelak anak ini jangan menimbulkan urusan dan kerusuhan pula. Telah lima kali Yo Him melancarkan serangannya, tetapi selama itu anak yang mengaku sebagai putranya AuWyang Hong itu telah dapat mengelakkannya. Rupanya kesadaran anak itu juga habis, dia telah menekuk kedua kakinya berjongkok, dan berulang kali dia mengeluarkan suara! Krokkk,… Krokkk! seperti suara kodok yang tengah berdendang. Membarengi dengan suara ! ‘Krokkk, Krokkk ‘ itu tampak kedua tangan anak tersebut juga telah bergerak2 mendorong kearah Yo Him. Gerakan itu sangat baik sekali, dan mengandung kekuatan tenaga dalam yang cukup tangguh. Tetapi disebabkan tenaga lwekang dari anak itu belum sampai pada puncaknya, maka serangan yang kali inipun tidak bisa merubuhkan Yo Him. Bahkan dengan mempergunakan kesempatan itu, kaki kanan Yo Him telah bergerak dengan cepat sekali menendang lambung lawan nya. Anak itu tengah mengerahkan tenaga dalamnya melancarkan serangan kepada Yo Him dan kali ini dia telah diserang begitu rupa oleh lawannya, keruan saja anak itu tidak bisa menarik pulang tenaganya dalam waktu yang sangat singkat. Dengan mati2an dia berusaha untuk mengelakkan diri dengan membuang dirinya bergulingan kesamping. Setelah itu dia lompat berdiri dengan cepat. Tetapi Yo Him tidak memberikan napas lawannya ini, dia menyerang pula dengan jurus “Bunga rontok dimusim dingin”, tubuhnya berkelebat2 bagaikan bayangan saja dan dari sepasang tangannya meluncur angin serangan yang menderu2. Anak yang mengaku sebagai putera Auw-yang Hong itu jadi semakin kelabakan. Melihat seranngan Yo Him yang kali ini tidak keburu dikelitnya, anak itu jadi nekad, dia menangkisnya dengan mempergunakan salah satu jurus dari Hang Mo Kang, Diantara suara benturan yang terjadi, tampak tubuh anak lelaki yang mengaku sebagai putranya Auwyang Hong itu telah terjungkel rubuh bergulingan diitas tanah. Yo Him tidak melancarkan seraaan lagi, karena dia melihat mukanya anak itu telah pucat dan dari bibirnya mengalir darah yang cukup banyak. Sedangkan anak itu telah berdiri dan memutar tubuhnya untuk meninggalkan tempat itu. “Sudahlah Him jie, tidak perlu engkau mengejarnya.!” kata Siauw Liong Lie, yang merasa kasihan melihat anak lelaki itu telah berlumuran darah. Yo Him memang tidak ingin mengejar dia telah mengejar, dia telah menghampiri ibu-nya Sambil ber-cakap2 dan tertawa, mereka mencari sebuah rumah penginapan untuk mengasoh, Akhirnya mereka memilih rumah pengina pan ‘Cungsielouw’ rumah penginapan y»ng cukup mewah. Yo Ko meminta dua buah kamar. Kamar yang satu untuk dia, Yo Him dari Phang Kut In, sedangkan Siauw Liong Lie, Goat Lan dan Kwee Siang tidur dikamar lainnya. Mereka telah menceritakan pengalamannya niasing2 sampai jauh malam. Akhirnya setelah puas saling bercerita, mereka telah tidur. Keesokan paginya mereka turun kebawah loteng dimana ada rumuh makan. Memang penginapan ini membuka juga rumah makan se hingga tamu2nya tidak perlu sulit lagi menca ri makanan, karena penginapan itu bisa menyediakan berbagai masakan yang enak2. Yo Ko telah memesan beberapa macam sayuran yang lezat, daging asap, lidah kodok dan lidah bebek, Mereka juga memesan beberapa kati arak. Tampaknya mereka begitu riang gembira. karena kini mereka telah bisa berkumpul kembali. Dengan sendirinya penderitaan mereka dimasa lalu telah menghilang dan tidak mereka ingat2 lagi, karena sekarang mereka tengah menghadapi kebahagiaan, Phang Kui In dan Kwee Siang juga ikut gembira melihat ayah, ibu, anak dan murid telah berkumpul kembali. Tetapi waktu mereka sedang asyik ber-cakap2 dengan diselingi gurau dan tawa, tiba2 mata Yo Ko yang tajam telah melihat sesuatu dipintu rumah penginapan itu. “Tundukan kepala!” kata Yo Ko cepat dengan suara berbisik. –ooo0dw0ooo– Jilid 27 SEMUA telah menundukkan kepala mereka, walaupun mereka tidak mengetahui apa sebabnya Sin Tiauw Taihiap memerintahkan mereka untuk menunduk, Kwee Siang dan Phang Kui In telah melirikan matanya, dia melihat seorang pendeta asing. seperti pendeta dari Mongolia tengah memasuki ruangan itu. “Tiat To Hoat Ong..!” bisik Siauw Liong Lie dengan suara yang perlahan. Semua orang terkejut, termasuk Yo Him, Phang Kui In dan Kwee Siang, karena mereka justru telah mendengarnya bahwa musuh besar Sin Tiauw Taihiap suami isteri adalah pendeta Mongolia itu. Diam2 Yo Him telah melirik juga, dilihatnya tubuh pendeta itu tinggi besar dan tegap dengan diatas kepalanya yang gundul itu terlihat sekumtum tugu yang terbuat dari emas murni. Dengan sikap yang angkuh pendeta itu telah memasuki ruangan makan itu, dia tidak mengacuhkan sekelilingnya, memilih sebuah meja dan duduk dengan berdiam diri. Seorang pelayan telah menghampirinya. “Ingin dahar apa. Taisu?” tanya pelayan itu. “Plakkk!” tahu2 tangan pendeta itu telah menempeleng muka sipelayan. Keras sekali tamparan itu sampai kedua gigi didepan bagian atas telah copot karenanya. Pelayan itu seperti disamber setan, dia telah memandang bengong kepada pendeta itu. sampai akhirnya dia baru meringis sambil memegangi pipinya yang sakit sekali. “Kau…. kau….” suara pelayan itu tergagap mengandung kemarahan, karena tidak hujan tidak angin pendeta itu telah main pukul padanya. “Kau, kau. apa” bentak sipendeta. “Cepat sediakan makanan dan minuman, mengapa engkau harus banyak cerewet, bukankah setiap tamu yang masuk kerumah makan ini untuk bersantap?” Pelayan itu tampaknya mendongkol, takut dan marah menjadi satu, karena pendeta yang menjadi tamunya itu sangat galak sekali. “Taisu…tadi aku hanya menanyakan makanan apa yang menjadi selera Taisu…,” sipelayan berusaha menjelaskan. Tetapi …. “Ploook! Ploockk” keras sekali muka pelayan itu ditempeleng lagi, malah kali ini lebih keras dari yang tadi, karena begitu ditempeleng bukan hanya tiga buah giginya yang rontok, tetapi tubuhnya telah terguling dilantai. Pelayan itu menjerit kesakitan. “Jika kau masih rewel, maka aku tidak akan mengampunimu.. !” kata pendeta itu yang tidak lain adalah Tiat To Hoat ong. Pelayan itu tidak berani terlalu lama berada disitu, sambil menahan sakit dan berulang kali menyahuti: “Ya! Ya! Ya!” dia cepat cepat pergi kebelakang ruangan, ketempat masak. untuk memesan beberapa masakan yang enak-enak untuk Tiat To Hoat-ong. Waktu sayurnya sudah mateng dan selesai disiapkan, pelayan yang melayani pendeta itu pelayan yang lainnya, sedangkan pelayan yang tadi ditempiling oleh Tiat To Hoat ong, telah bersembunyi dibelakang saja tidak berani keluar. Pelayan yang kali ini melayani Tiat To Hoat ong juga tidak berani terlalu banyak bicara, dia telah mempersiapkan makanan dimeja sipendeta. “Kau membisu seperti itu seperti orangg gagu!” bentak Tiat To Hoat ong dengan mendongkol. “Tidak Taisu…. aku tidak gagu….!” “Apa kau bilang?” bentak sipendeta. Muka pelayan itu seketika menjadi pucat pias karena hatinya jadi ciut waktu dibentak oleh sipendeta, “Aku memberitahukan bahwa aku bukan seorang yang gagu, Taisu….” “Tapi tadi. mengapa engkau berdiam diri saja seperti orang bisu?” bentak sipendeta itu lagi. Pelayan itu jadi serba salah. “Aku. ..aku tidak bermaksud banyak rewel kepadamu Taisu… !” “Hmmm…..pergilah !”kata Tiat To Hoat Ong sambil mengebutkan lengan jubahnya. Yo Ko melihat itu jadi terseyum sendirinya, ternyata pendeta itu keterlaluan sekali memperlakukan pelayan2 yang lemah tidak berdaya. Dan disaat itu dendam dan sakit hati yang tersimpan dihati Siauw Liong Lie dan Yo Him jadi meledak. Bahkan Yo Ko juga tidak bisa mengendalikan perasaannya, dia meletakan sumpitnya, dia berdiri menghampiri Tiat To Hoat-ong. Tiat To Hoat-ong waktu itu tengah duduk menikmati santapannya dengan membelakangi Yo Ko. Maka ketika Yo Ko telah berada dekat dengannya, pendekar sakti Yo Ko telah mengulurkan tangan kananrya sambil menepuk dengan perlahan. “Apa kabar Taisu.. ..?” tegurnya. Pendeta itu tampaknya jadi terkejut tetapi tepukan Yo Ko tidak berhasil mengenai pundak pendeta itu. Sebagai seorang yang memiliki kepandaian sangat tinggi, tentu saja Tiat To Hoat-ong tidak bisa diserang dengan cara seperti itu. dia telah menggerakau pundaknya dan bahunya itu jadi licin seperti berlemak. Yo Ko memang telah menduganya begitu. tidak mungkin dia bisa menyerang si pendeta itu, walaupun pendeta tersebut tengah duduk membelakanginya. Maka Yo Ko bersiap sedia untuk menghadapi segala kemungkinan yang bakal terjadi. Benar saja, Tiat To Hoat ong setelah berhasil begitu, tanpa menoleh lagi dia telah menggerakkan sumpitnya ke arah belakang. Cepat sekali sumpit itu menyambar dengan kekuatan yang mentakjubkan. Jika orang lain yang diserang dengan cara demikian, tentu biji matanya akan ditembusi sumpit. Dan juga akan membuat mereka bisa binasa jika sampai dikening. Karena sumpit itu walaupun terbuat dari kayu, tokh tenaga timpukannya sangat besar, sehingga merupakan sumpit baja yang memiliki kekuatan tidak terhingga. Tetapi Yo Ko yang memiliki kepandaian sangat tinggi mana bias diserang mendadak begitu? Dengan tidak merobah kedudukannya, dia telah membuka mulutnya dan “Tapp..!” ujung sumpit telah digigitnya dengan mempergunakan giginya, sehingga sumpit tidak bisa bergerak lagi. Sesungguhnya apa yang dilakukan oleh Yo Ko sangat berbahaya sekali, kalau tadi itu gagal menerima sumpit itu dengan mulutnya dan tidak sempat untuk mengigit, jelas sumpit itu akan menerobos kelubang tenggorokan di lehernya. Tetapi berhubung Yo KO memang memiliki kepandaian yang sempurna, dia bisa melakukan gigitan pada sumpit itu dengan baik. Tiat To Hoat Ong menyadari juga bahwa serangannya tidak berhasil, karena dia tidak mendengar suara kesakitan dari orang yang berada dibelakangnya. Maka dia mengulurkan tangannya ke atas meja didepannya kemudian dia telah melompat beridiri memutar tubuhnya dan mengawasi dengan sorot mata yang tajam kepada orang yang mencoba membokongnya itu. Ketika mengenali orang yang membokongnya tak lain dari pada Yo Ko, pendeta itu agak melengak sesaat, tetapi kemudian dia tertawa bergelak2. “Oh, kiranya seorang pendekar besar yang telah muncul disini? Ha.. Ha.. Ha..! Engakau sibuntung mengapa tidak hujan tidak angin telah menyerang diriku?” Mendongkol sekali Yo Ko mendengar dirinya disebut sibuntung, dia telah tertawa dingin sambil katanya dengan suara yang tawar, “Sudah cukup lama engkau bersembunyi dari kejaranku. maka hari ini aku orang she Yo bermaksud meminta petunjukmu lagi! Keluarkanlah golok besimu itu..!” dan nada suara Sin Tiauw Tayhiap Yo Ko begitu tegas, seperti juga dia ingin mengatakan bahwa akan mampertaruhkan jiwanya untuk membinasakan Tiat To Hoat-ong. Tiat To Hoat-ong bersikap tenang saja, dia malah tersenyum2. Tetapi didalam hatinya pendeta ini tengah diliputi ketegangan menghadapi jago nomor wahid tersebut. “Aku tidak ingin bertempur sekarang, karena aku sedang memiliki tugas penting, maka jika engkau seorang hohan, biarkan aku pergi dulu, nanti tiga bulan lagi kita bertemu lagi disini..!” Yo Ko terfawa dingin: “Melepaskan engkau yang telah mencelakai isteri dan Sin Tiauwku itu….!” kata Yo Ko dengan suara yang dingin. “Untung saja kami masih bisa saling bertemu. dengan isteri dan anakku. itulah mereka!” Sambil berkata begitu, Yo Ko telah menunjukkan ke mejanya, dimana Siauw Long Lie, Phang Kui In, Kwee Siang dan Goat Lan sedang duduk sambil bersantap sedikit2 dan tenang sekali, seperti juga tidak terjadi sesuatu. Tetapi bagi Tiat To Hoat Ong malah lain, dia jadi begitu terkejut. dia sampai mengeluarkan seruan tertahan, mukanya pun berubah menjadi agak pucat. Dengan adanya Siauw Long Lie bersama Yo Ko, sulit sekali dia meloloskan diri, karena tidak ada harapan lagi baginya ditangan suami isteri yang merupakan pasangan pendekar yang memiliki nama yang sangat terkenal, bahkan Yo Ko telah diakui sebagai pendekar sakti nomor satu oleh seluruh jago2 persilatan. Nyali sipendeta menjadi ciut. “jika sekarang kau merintangi aku, sama juga engkau seorang pengecut karena dikala aku tidak ber-siap2 engkau mengajak aku untuk bertempur! Jika memang kalian seorang Hohan, lepaskan aku dulu, tiga bulan mendatang aku pasti akan datang kemari untuk bertemu dengan kalian.” Yo Ko tersenyum mengejek, “Tidak bisa!” katanya tegas. “Mengapa tidak bisa?” “Aku tidak mau perduli kepada pekerjaanmu, aku juga tidak akan tahu pekerjaan apa yang sedang engkau jalankan. Tetapi yang terpenting, engkan adalah musuhku! Orang yang telah mencelakai Liong-jie, isteriku. dan bahkan sampai anakku. Yo Him hampir saja binasa! Maka sekarang juga aku ingin memperhitungkan segalanya!” Muka Tiat To Hoat ong jadi berobah tidak enak dilihat. Walaupun dimukanya dia tidak memperlihatkan sesuatu apapun juga, namun dihatinya kebat-kebit. Hal itu disebabkan Tiat To Hoat ong memang mengetahuinya bahwa ilmu pedang gabungan yang dimiliki Yo Ko dan Siauw Liong Lie, yang diberi nama Giok Lie Kiam Hoat merupakan ilmu pedang yang sulit sekali dihadapi, karena ilmu pedang bidadari itu meiupakan ilmu pedang yang seragam diantara kedua pedang, dapat bekerja sama dengan baik. jika yang satu tengah terdesak, pedang yang satunya lagi dapat segera membantuinya. Jika hanya merghadapi Yo Ko seorang diri,atau juga Siauw Liong Lie seorang diri, tentu Tiat To Hoat ong tidak jeri, karena kepandaian mereka hampir berimbang. Tetapi kini kenyataan yang ada kedua2nya berada di tempat ini. Bahkan Yo Ko tampaknya telah bernapsu sekali akan menyerang dirinya, Tiat To Hoat Ong tidak memiliki pilihan lain, karena walaupun bagaimana dia harus berani menghadapi pasangan suami isteri yang terkenal kegagahannya itu. “Baiklah!” kata Tiat To Hoat-Ong sambil memperlihatkan sikap yang angkuh. “Aku akan menghadapimu dulu, sibuntung sombong…..!” Dan setelah berkata begitu, Tiat To Hoat Ong telah mencabut golok besinya, dia membulang balingkan beberapa kali, sehingga golok yang berwarna hitam itu memantulkan cahaya yang berkilauan. Itulah senacam golok mustika yarg jarang sekali terdapat didaratan Tionggoan. “Ayoh mulai….!” tantang Tiat To Hoat Ong sambil tertawa mengejek, sikapnya tenang sekali. Tetapi sesungguhnya otaknya tengah bekerja mencari jalan untuk dapat meloloskan diri dari pasangan suami isteri yang tangguh itu. Yo Ko juga telah mencabut keluar It Thian Kiamnya. dia membulang balingkau juga pedang itu dengan tangan kiri tunggalnya. Pedang It Thian Kiam adalah pedang mustika yang baik sekali, yang memiliki bobot sangat berat, dibantu lagi oleh lwekang Yo Ko yang memang telah mencapai tingkat sempurna, sehingga menimbulkan kembali keragu2an Tiat To Hoat Ong. Belasan tahun yang lalu dia pernah merasakan hebatnya Yo Ko, walaupun tangan kanannya telah buntung dan hanya memliki tangan kiri saja.Kemudian dia berhasil menculik Siauw Liong Lie dengan mempergunakan bubuk obat tidur, sehingga ia bisa menangkap Siauw Liong Lie dan burung rajawali saktinya. Selama belasan tahun Tiat To Hoat ong melatih diri dengan giat karena dia menghendaki supaya kepandaiannya jauh lebih tinggi dari yang sudah2. Disampihg itu Tiat To Hoar ong juga tengah sibuk mencari pembesar2 negara Song yang bisa diajak bekerja sama untuk menyambut kedatangan pasukan Mongolia yang dipimpin Kubilai Khan dari dalam. Dan memang usaha Tiat To Hoat ong berhasil memuaskan, karena dia telah melihat banyak pembesar2 penting dari negara Song itu yang mengadakan kontak dengan Kubilai Khan. Hasil yang dicapai olah Tiat To Hoat ong menggembirakan hati Khannya yang agung, dia dipuji sebagai guru negara yang banyak jasanya. Dan kini setelah belasan tahun sibuk mengatur segala2nya. Tiat To Hoat ong kembali kedaratan Tionggoan, karena dalam rencana yang telah digariskan, pasukan tentara Mongol, ia itu akan menyerbu daratan Tionggoan dalam tahun-2 mendatang. Tetapi siapa tahu waktu dia berada dirumah makan, justru dia telah berpapasan dengan Yo Ko dan Siauw Liong Lie. Hatinya jadi ciut duluan. Walaupun bagaimana Tiat To hoat ong memang mengakui bahwa kepandaian Yo k o masih berada satu tingkat diatasnya, maka dia mesti berlaku hati2. “Ayo mulai buka serangan…!” seru Yo Ko menantang. Tiat To Hoat ong tidak segan2 lagi, dia telah mengerahkan kekuatan tenaga Iwekangnya sebanyak tujuh bagian yang disalurkan kepada golok besinya. “Wuttt,..!” golok besi itu menyambar ke dada Yo Ko. Tetapi Yo Ko tidak berkelit, dia menggunakan It Thian Kiam-nya untuk menangkis “Tranggg…!” benturan kedua senjata mustika itu terdengar keras sekali. Tubuh Tiat To Hoat-ong tergoncang keras, dia jadi terkejut karena dalam satu gebrakan itu saja Tiat To Hoat ong telah dapat menduga bahwa tenaga lwekaag Yo Ko lebih tinggi dari dia. Jalan satu2nya untuk menyelamatkan jiwa nya, Tiat To Hoat ong harus mencari usaha meloloskan diri. Tetapi Yo Ko saat itu telah melancarkan serangan lagi dengan menggunakan salah satu jurus dari ilmu silat Giok Lie Kiam Hoat(Ilmu pedang Bidadari) yang dinamakan “Bidadari menari, senjata bertebaran”, pedang It Thian Kiam itu telah berkelebat2 cepat sekali. Aneh bear cara menyerang Yo Ko, dalam sekejab mata telah seratus geraka yang digunakan mengincar bagian yang mematikan ditubuh Tiat To Hoat ong. Tiat To Hoat Ong, walaupun sangat terdesak dan sukar mengelakkan diri, kenyataannya dia bisa juga membela diri agar tidak sampai rubuh dipedang Yo Ko. Akibat perasaan sakit hati dan dendam, kali ini Yo Ko bertempur berlainan dari biasanya. Karena dalam pertempuran2 dimasa lalu, Yo Ko tidak begitu mendesak lawannya. namun kini berhadapan dengna Tiat To Hoat ong justru dia bermaksud untuk secepat mungkin merubuhkan Tiat To Hoat Ong. Lama kelamaan Tiat To Hoat Ong jadi semakin sibuk dan terdesak hebat. Karena Tiat To Hoat ong tidak memiliki jalan lain lagi, mau atau tidak, dia harus menghadapi Yo Ko. Dengan mengeluarkan suara bentakan yang bengis mengandung kenekadan, tampalk Tiat To Hoat-ong menggerakkan golok hitamnya itu, dia telah menyerang dengan jurus “Setan Akherat Datang Mengisap Darah”, dimana golok hitamnya itu seperti juga seekor naga hitam yang menerjang kepada Yo Ko. Yo Ko sendiri dalam kemarahannya menghadapi musuhnya yang benar2 hampir merusak rumah tangganya, dimana dia harus berpisah dengan Siauw Liong Lie dan puteranya, yaitu Yo Him, kali ini dia bertempur tidak berlaku segan2 lagi. It Thian Kiam-nya digerakkan dengan ber-tubi2 melakukan tikaman dan tabasan yang tidak hentinya. Gerakan kedua orang yang tengah bertempur itu semakin lama semakin cepat dan akhirnya mereka hanya tampak merupakan dua sosok tubuh yang tengah ber-kelebat2 dengan cepat sekali, juga kedua senjata mereka setiap kali saling bentur telah menimbulkan suara “Trang. trang, trang,” tidak hentinya. Untung saja Tiat To Hoat Ong mempergunakan golok pusaka, sehingga goloknya itu tidak sampai tertabas kutung atau semplak. Disaat itu tampak Yo Ko telah mengeluarkan suara bentakan yang nyaring sekali. setiap kali pedangnya meluncur menyerang Yo Ko selalu berseru : “Awas pedang!!” Untuk mendesak Yo Ko, Tiat To Hoat Ong tidak bisa dan tidak sanggup, karena Yo Ko justru telah mengurung diri sipendeat dengan pedangnya yang berkelebat dengan rapat sekali. Tetapi Hiat To Hoat Ong keras hati. “Biarlah kau mati bersama2 dengan dia!” serut hati kecil Hiat To Hoat Ong. “Hemm, sekarang aku baru menghadapi sibuntung ini, aku sudah terdesak, bagaimana jika nanti isterinya itu, Siauw Liong Lie ikut bertempur mengeroyok diriku, tentu aku akan sibuk sekali mengelakkan diri dari serangan2 mereka. Hemm, walaupun bagaimana aku harus berusaha untuk mencari jalan keluar meloloskan diri dari mereka…” Dan setelah berpikir begitu, didalam hatinya, Tiat To Hoat ong memutar golok besinya. dia telah mengerahkannya dengan gerakan2 yang sangat cepat dan menerjang kuat sekali. Yo Ko serrentara waktu harus melompat mundur mengelakkan serangan dan terjangan nekad dari lawannya ini. Tetapi begitu golok hitam itu berhasil dielakkannya. dengan mengeluarkan suara siulan yang sangat nyaring sekali tampak Yo Ko telah melancarkan serangan yang bertubi2 ke diri sipendeta. Sehingga kali ini Tiat Hoat Ong harus melompat mundur. Yo Ko tidak berhenti sampai disitu saja. dengan gerakan yang manis dari jurus “Bidadari mempersembahkan Arak,” tempat pedangnya itu telah menuju kearah batang leher Toat To Hoat Ong. Waktu itu tampak Tiat To Hoat Ong telah terhuyung mundur dengan muka yang sangat pucat. Mati2an dia berusaha menggerakkan golok besinya untuk menangkis. Pedang Yo Ko memang bisa ditangkisaya dengan kuat, tetapi pedang ditangan kiri Yo Ko itu tidak bergeming sedikitpun juga, dan tidak berobah arahnya. Bahkan golok hitamnya Tiat To Hoat ong itu sendiri yang telah terpental dan hampir terlepas dari cekalannya, Sedangkan mata pedang Yo Ko masih terus meluncur menusuk kearah batang lehernya pendeta itu. Tiat To Hoat ong merasakan seperti juga semangatnya telah terbang melayang meninggalkan raganya dia juga mengeluarkan seruan tertahan. Namun sebagai koksu negara yang memiliki kepandaian sangat tinggi, dengan sendirinya dia tidak diliputi kegugupan saja. Dalam keadaan terdesak seperti itu dia tidak dapat berdiam diri saja. dengan cepat dia membuang diri ke belakang, lalu bergulingan ditanah beberapa kali, menjauhi Yo Ko. Tiat To Hoat ong bergerak sangat cepat sekali, tetapi gerakan Yo Ko lebih cepat lagi. Dengan mengeluarkan suara bentakan yang bengis, Tiat To Hoat ong jadi nekad dan telah menggerakkan pula pedang hitamnya sambil tubuhnya bergulingan. Dia menggunakan jurus “Menabas Ular diEkornya” sehingga pedang Yo Ko yang tengah menyambar datang itu telah kena ditangkisnya dengan kuat sekali. “Tranggg…!” Karena Tiat To Hoat ong memusatkan seluruh kekuatan tenaganya dipergelangan tangannya dan menyalurkan lewat golok hitamnya itu, maka benturan itu tidak merugikan apa2 baginya. Sedangkan Yo Ko telah menarik pulang pedangnya, kemudian dia berkata dengan suara yang tawar: “Berdirilah, aku tidak bisa membinasakan manusia yang sudah tidak berdaya..!” Muka Tiat To Hoat ong menjadi berobah merah, dengan marah dia balas membentak. “Jangan sombong… Engkau belum tentu dapat merubuhkan diriku..!” Dan sambil berkata begitu, Tiat To Hoat Ong merangkak bangun. Tiba-tiba dia mengeluarkan serangan dan tahu-tahu golok hitamnya itu telah dilemparkannya dengan cepat sekali. Itulah salah satu jurus simpanan Tiat To Hoat-Ong bernama “Tenggeret menubruk mangsanya”. Yo Ko juga terperanjat melihat cara menyerang lawannya yang agak aneh, dengan mata golok mengincar batang lehernya. Sebagai seorang pendekar sakti, Yo Ko tentu saja tidak menjadi gugup. Dengan cepat pedangnya diputar, dan pergelangan tangan kanan jubahnya yang kosong itu telah dikebutkan. Kemudian lengan jubahnya yang dikebutkan itu telah melibat batang golok lawan, dan pedangnya meluncur terus dengan cepat sekali. Gerakan yang terjadi itu semuanya berlangsung sangat cepat sekali, sehingga Tiat To Hoat Ong sendiri seperti tertegun. Tetapi segera dia tersadar, karena saat itu justru mata pedang Yo Ko tengah menyambar secepat kilat kearah dadanya. Dengan mengeluarkan seruan tertahan, tampak Tiat To Hoat-Ong mengeluarkan iwekangaya untuk menarik terlepas goloknya dari libatan lengan baju Yo Ko. Tetapi usahanya itu gagal. Sedangkan Pedang Yo Ko terus menyambar ke diri Tiat To Hoat Ong. Tidak ada pikiran lainnya lagi bagi Tiat To Hoat Ong selain melepaskan goloknya. karena jika tidak, dia tentu akan memerima bahaya yang tidak kecil. Sambil melepaskan cekalan tangannya pada goloknya itu. Tiat To Hoat Ong melompat kebelakang, dia telah menjauhi Yo Ko dengan mengorbankan goloknya itu. Yo Ko tidak melanjutkan serangannya itu dan tertawa sinis. “Apakah sekarang engkau menyerah?” tanyanya. ” kalau kau mau meminta maaf tentu kami bersedia memaafkan kesalahanmu asal kau berjanji tidak akan melakukan perbuatan2 jahat lagi.” Muka Tiat To Hoat Ong jadi berubah merah padam. karena selain mendongkol sekali dirinya dihina, juga dia marah bukan main goloknya sampai terlepas dari tangannya hanya akibat gulungan lengan jubah Yo Ko. “Hemm.. sekarang belum tentu engkau bisa merubuhkan diriku… kembalikan golokku itu dan kita main2 lagi seribu jurus..!” kata Tiat To Hoat Ong. Yo Ko tertawa dingin. “Dulu adik seperguruanmu Kim Lun Hoat ong telah terbinasa karena dirinya terlalu membela kerajaan Mongolia sehingga dengan akal liciknya beberapa kali telah mencelakai orang2 Han kami.dia menemui ajalnya dengan cara yang pantas karena kesalahan dan dosa Kim Lun Hoat Ong telah luber melwati takaran! dan kini Engkau.. Jika engkau masih tidak mengenal selatan. itu terserah kepadamu… nah terimalah golokmu..!” Sambil berkata dingin, Yo Ko mengebutkan lengan kanannya yang kosong itu, golok menyambar kearah Tiat To Hoat Ong dengan membawa kesiuran angin yang keras sekali. sehingga membuat Tiat To Hoat ong jadi terkejut. Tetapi sebagai seorang jago yang memiliki kepandaian tinggi, Tiat To Hoat Ong tidak gugup. Dengan mengeluarkan suara “Ughh!” tampak Tiat To Hoat-Ong menggerakkan tangan kanannya, dan “Tap!” goloknya telah dapat diraihnya, hanya dia merasakan tangannya kesemutan, karena tenaga samberan itu meluncur sangat kuat sekali. Tubuh Tiat To Hoat-Ong juga terhuyung mundur beberapa langkah. Hal ini membuktikan bahwa kekuatan lwekang Yo Ko masih berada diatasnya. Hati pendeta ini jadi ciut, karena dia menyadari menghadapi Yo Ko seorang saja belum tentu dia bisa mengatasinya, apa lagi jika memang nanti Siauw Liong Lie ikut campur turun tangan, tentu dia lebih repot lagi. Tetapi belum sempat pendeta itu berkata apa2, Yo Ko telah berkata: “Hayo kita mulai lagi….?” Tiat To Hoat ong tidak memiliki pilihan lainnya, dia telah mengeluarkan suara seruan yang sangat keras dan tampak goloknya berkelebat2 dengan cepat sekali serta kuat. Beruntun dia mengeluarkan jurus2nya cukup ampuh yaitu “Kelabang Mencari Mangsa” kemudian di susul dengan jurus “Kuda Putih Melompati Bukit”. Kedua seangan itu menyambar datang dengan cara yang beruntun, sehingga Yo Ko untuk sementara walaupun menghadapi serangan Tiat To Hoat ong dengan ginkangnya Tetapi waktu pendeta itu inpin menyusulkan lagi dengan jurus yang ketiga, tampak Yo Ko mengeluarkan suara seruan yang sangat nyaring sekali dan pedangnya itu telah berkelebat dengan jurus “Bidadari Berkawan Dengan Naga”, maka pedang It Thian Kiam-nya itu bergerak dengan cepat sekali menangkis golok hitam Tiat To Hoat ong “Tranggg. .!” Suara benturan itu sangat keras sekali dan mengandung dua kekuatan yang saling tindih. Tiat To Hoat-ong juga merasakan betapa telapak tangannya itu pedih sekali, mendatangkan perasaan sakit, maka diam2 dia mengakui bahwa lwekang yang dimiliki Yo Ko masih berada setingkat diatas dirinya Sedangkan saat itu, dengan mengeluarkan siulan nyaring, Yo Ko telah meneruskan serangannya dengan jurus “Bidadari Bergurau Dengan Kelinci,” di mana pedangnya telah menyambar lebih cepat dari semula. Perasaan sakit pada telapak tangannya Tiat To Hoat Ong masih pedih sekali, tetapi dia telah mempertahankan diri dan menahan perasaan sakit itu dengan memegang keras gagang goloknya. Namun sekarang Tiat To Hoat Ong tidak berani menangkis dengan goloknya dia hanya mengandalkan gingkangnya untuk mengelakkan diri dari serangan- pedang Yo Ko. Suara berkesiuran dari pedang Yo Ko keras sekali, sehingga membuat Tiat To Hoat ong semakin lama semkin terdesak dan semakin ripuh, karena walaupun bagaimana dia sekarang tengah menghadapi lawan yang sangat berat, seorang pendekar sakti yang jarang tandingannya. Yo Ko juga menyadari, jika ia memberikan kesempatan kepada lawannya berdapat, tentu akan sulit lagi mendesak lawannya ini. Tetapi suatu kali, karena pedang Yo Ko menyambar dengan gerakan “Bidadari Bergurau Di pelangi”, di mana pedang Yo Ko telah berkelebat dengan cepat sekali seperti juga sinar pedang itu menjadi pelangi yang menyilaukan mata menyambar kearah kepala lawannya. Tiat To Hoat-ong jadi kikuk sendirinya. Tidak mungkin dia meloloskan diri lagi, dengan mengelakan diri dari serangan tersebut Jalan mundur baginya telah tertutup oleh kilauan cahaya pedang Yo Ko. Terpaksa Tiat To Hoat ong mengangkat goloknya untuk menangkis. “Tranggg…..!” kali ini suara benturan dari kedua senjata tajam itu lebih nyaring lagi. Dalam keadaan itu, Tiat To Hoat-ong tidak mem-buang2 kesempatan yang ada, dia telah membarengi lagi dengan bacokan kearah perut Yo Ko, memaksa Yo Ko mundur dua langkah kebelakang. Kesempatan itulah telah dipergunakan..Tiat To Hoat ong untuk melompat mundur dengan cepat, dia memutar tubuhnya untuk keluar dari ruangan rumah makan ini. Yo Ko tidak mengejarnya, dia hanya memperdengarkan suara dengusan saja. Disaat itu. tampak Yo Ko telah memasukkan pedangnya kembali dalam sarungnya. “Sungguh pengecut.. ” menggumam Siauw Liong Lie dengan tersenyum ketika suaminya telah kembali kemeja mereka dan bersantap. Mereka mengasoh tiga hari dirumah penginapan tersebut, dan hari keempat sebetulnya mereka ingin melanjutkan perjalanan mereka. Tetapi dimalam yang ketiga itulah terjadi sesuatu peristiwa yang tidak pernah mereka duga. Malam itu menjelang tengah malam yang larut, Yo Ko dan yang lainnya telah tertidur nyenyak sekali. Tetapi menjelang kentongan ketika mereka mendengar suara berkelisik diatas genting walaupun bunyi itu perlahan, bagi Yo Ko yang telah mencapai kesempurnaan ilmunya, dia dapat menduganya bahwa orang yang datang itu tentunya ingin menyelidiki sesuatu. Suara langkah perlahan yang semula itu telah disusul pula dengan langkah kaki lainnya. Gerakan 0rang2 itu ringan sekali membuktikan bahwa mereka memang memiliki kepandaian yang telah sempurna. “Siapa mereka ?” berpikir Yo Ko didalam hatinya. Dia melirik kepada Yo Him dan Phang Kui In yang telah tertidur nyenyak. Yo Ko tidak bermaksud mengganggu kenyenyakan tidur mereka. Diam2 Yo Ko melompat turun dari pembaringannya, dia telah menghampiri jendela kamar, dibukanya dan dia melompat keluar dengan ringan sekali. Ketika dia tiba diluar kamarnya, dia tidak melihat seorang manusiapun juga. Yo Ko memandang sekelilingnya, tetap dia tidak melihat seorang manusiapun juga. Diam2 Yo Ko jadi berpikir, mungkinkah dia salah mendengar dari suara tadi, yang hanya jatuhnya daun kering belaka? Yo Ko melompat naik keatas genting, dia ingin memandang kesekelilingnya dari tempat yang cukup tinggi. Tetapi waktu tubuh Yo Ko melambung di tengah udara, belum lagi kedua kakinya menginjak genting, dirasakannya telah menyambar segumpalan angin yang sangat kuat. Disamping itu Yo Ko mencium juga bau harum memeningkan kepalanya. Yo Ko terkejut, dia telah mendengar cerita Siauw Liong Lie bahwa Tiat To Hoat-ong memiliki semacam tabung asap, yang jika di semburkan kepada korbannya, maka korbannya akan lemas tidak bertenaga dan terkulai pingsan. Teringat itu, Yo Ko cepat2 menutup pernapasannya, dia telah mengerahkan lwekang-nya untuk mempertahankan diri dan semburan asap itu. yang tentunya semacam asap beracun. Lengan kanannya yang kosong tidak bertangan itu telah dtkebutkannya, sehingga asap terbawa oleh ingin keras itu membuyar kembali. Waktu itu Yo Ko telah mengeluarkan suara siulan dan tubuhnya hinggap diatas genteng membarengi mana ketika kakinya hinggap diatas genting, dia menggerakkan tangannya, mengebut pula dengan lengan jubah kanannya itu yang melambai2 karena tidak berlengan. Tetapi walaupun demikian, kebutan yang dilakukan oleh Yo Ko itu mengandung tenaga Iwekang yang luar biasa kuatnya. Serangan lawan rupanya tidak hanya sampai disitu saja, karena beruntun telah menyambar lagi asap yang harum itu. Yo Ko memang telah sempurna melatih tenaga Iweekangnya, maka dia dapat menutup jalan pernapasannya untuk menghindarkan diri dari segala pengaruh racun berasap itu. Mata Yo Ko yang jeli telah dapat melihatnya bahwa diatas genting itu berdiri enam orang, yang salah seorang diantaranya dikenal Yo Ko sebagai Tiat To Hoat Ong. “Hemmmm….. engkau kembali lagi ingin mencari kematian” tegur Yo Ko dengan suara yang bengis, karena dia jadi mendongkol. Tiga hari yang lalu dia memberikan pengampunan kepada Tiat To Hoat Ong, tetapi ternyata justru pendeta ini telah menyatroni dia lagi dengan membawa lima orang sahabatnya. Jika dilihat dari keadaan mereka, tentu kelima kawan Tiat To Hoat Ong merupakan jago2 yang memiliki kepandaian tinggi. Diantara kelima orang itu terdapat Te-lengki dan Turkichi, kedua jago yang dulu bersama2 Tiat To Hoat Ong memunahkan murid2 Kun Lun Pai. Tiat To Hoat Ong melihat bahwa semburan asap beracunnya itu (yang kini dikenal sebagai Chroloform) tidak memberikan hasil seperti yang diharapkannya, telah mengeluarkan suara bentakan : “Serang….!” Dan golok hitam dari pendeta itu telah menyerang Yo Ko dengan samberan yang kuat sekali. Tampak Yo Ko melayani mereka dengan mencabut pedangnya, dia memutarnya dengan cepat sehingga terdengar suara “Trangggg, tranggg, tranggg…..” beberapa kali, disertai dengan seruan tertahan dari lawan2nya itu. Tetapi Tiat To Hoat-ong dengan kelima kawannya juga bukan orang2 lemah. Jika tadi siang Tiat To Hoat-ong berhasil dirubuhkan oleh Yo Ko, karena dia tengah gugup melihat ditempat itu ada Siauw Liong Lie, dan perasaan gugupnya itu membuat permainannya jadi terpecah. Sekarang setelah datang bersama kelima orang kawannya yang masing2 memiliki kepandaian sangat tinggi, dia jadi mantap dan hatinya jauh lebih tenang. Maka dari itu Tiat To Hoat ong bisa melakukan perlawanan dengan gigih. Suara senjata tajam yang saling bentur itu, sehingga mengeluarkan suara “trang, trang” tidak hentinya telah membuat Siauw Liong Lie terbangun dari tidurnya. Begitu pun Kwee Siang, Phang Kui In dan Yo Him juga telah terbangun dan tidurnya Cepat sekali Siauw Liong Lie dan lain lainnya keluar dari kamar mereka dan melompat keatas genteng. Segera mereka melihat bahwa Yo Ko tengah dikepung oleh lawan2-nya yang berjumlah enam orang. Siauw Liong Lie juga mengenalinya dua orang diantara orang2 yang mengeroyok suaminya itu tidak lain dari Talengki dan Turkichi, dua orang yang dulu bersama2 dengan Tiat To Hoat-Ong telah mendesaknya, sehingga dia menerjunkan dirinya kedalam jurang. Seketika itu juga amarah Siauw Liong Lie tidak bisa ditahan lagi, dia telah mengeluarkan suara bentakan yang sangat keras : “Ko-jie, mundurlah, biarlah sekarang aku yang menghadapi mereka…!” “Tetapi Liong-jie, tidakkah lebih baik jika kita mengepung mereka dengan mempergunakan Giok Lie Kiam Hoat?” kata Yo Ko. “Aku ingin mencoba khasiat dari ilmu pukulanku yang baru kuperoleh….!!” dan setelah berkata begitu, tampak Siauw Liong Lie melompat kesamping Yo Ko, lalu tangan kanannya itu digerakkan menghantam dengan kuat sekali, sehingga angin serangan itu berkesiuran dengan keras menyambar kepada Tiat To Hoat Ong dan Turkichi. Gerakan dan serangan yang dilakukan oleh Siauw Liong Lie bukan serangan yang sembarangan, karena dia telah mempergunakan ilmu pukulan “pek Lui Kun Hoat” atau ilmu pukulan petir. Tiat To Hoat Ong dan Turkichie yang diserang dengan mempergunakan ilmu pukulan petir itu, jadi terkejut bukan main. Walaupun mereka berhasil mengelakkan diri, tetapi mereka masih merasakan ada hawa panas yang menyeramkan pada tubuh mereka. “Hebat perempuan siluman ini…. ternyata dia tidak hanya memiliki nama kosong saja…. karena dia memang memiliki kepandaian yang sangat tinggi sekali.” Karena berpikir begitu, tampak Tiat To Hoat ong berlaku lebih hati2 lagi. Sedangkan mulutnya telah berteriak:” Hati2, siluman ini hebat sekali ilmunya….” teriakan yang dilakukannya oleh -Tiat To Hon Ong itu ditujukan kepada kawan2nya, karena Tiat To Hoat ong yang kuatir kawan2nya itu tidak mengetahui kelihayan Siauw Liong Lie, main semberono saja sehingga bisa mencelakai mereka. Yo Ko telah melompat mundur kesamping Yo Him, dia memang ingin menyaksikan betapa tinggi kepandaian ilmu pukulan petir yang dimiliki istrinya ini, Siauw Liong Lie tidak menunda2 waktu lagi. dengan mengeluarkan seruan yang nyaring sekali, dia menggerakkan tangan kanannya, dari telapak tangannya itu telah menyambar angin serangan yang luar biasa kuatnya, karena Siauw Liong Lie telah melancarkan serangan dengan mempergunakan jurus “Petir menyambar Harimau” yang kemudian disusul dengan “Petir Bergelimang Dilaut”, gerakan mana sangat hebat, karena panas seperti api petir, dan tangannya bergelombang seperti gelombang air laut. Sehingga kepandaian yang telah dipeliharakan oleh Siauw Liong Lie mengejutkan semua orang. Yo Ko sendiri telah menyaksikan betapa istrinya kini memiliki kepandaian yang mungkin lebih tinggi dari kepandaiannya sendiri. Dengan sendirinya Yo Ko jadi berdiri tertegun menyaksikan pertempuran yang tengah berlangsung itu. Siauw Liong Lie mengeluarkan jurus2 dari ilmu Pukulan Petir yang dimilikinya itu secara teratur, yaitu sejurus demi sejurus dijalankannya dengan baik sekali. Terlebih lagi memang sebelumnya Siauw Liong Lie merupakan seorang pendekar wanita yang memiliki kepandaian tertinggi dibandingkan dengan kepandaian para pendekar wanita lainnya yang ada di jaman ini. Sampat Kwee Siang sendiri merasa kagum sekali melihat kehebatan ilmu pukulan yang dimiliki Siauw Liong Lie. Dijaman ini mungkin sudah tidak ada orang yang bisa menandingi Siauw Liong Lie, karena jika ditilik dari kepandaian yang dimilikinya itu, mungkin Oey Yong pun masih berada dibawahnya. Siauw Goat Lan sendiri berulang kali telah bersorak2 girang. “Hajar mereka itu semuanya, suhu!” teriak Siauw Goat Lan dengan suara yang nyaring, tampaknya dia senang sekali melihat gurunya menang diatas angin, sehingga berulang kali dia telah berteriak2 dengan suaranya yang nyaring sekali. Tiat To Hoat-ong dan kelima kawannya jadi terkejut, karena mereka tidak menyangka baru belasan tahun mereka berpisah dengan Siauw Liong Lie, yang semula mereka sangka telah mati terbanting didasar jurang itu, kini ternyata Siauw Liong Lie. telah mencapai kepandaian yang jauh lebih tinggi daripada dahulu. Tetapi sebagai tokoh2 persilatan yang memiliki kepandaian tinggi, mereka tidak pernah mengenal arti kata ‘menyerah’, mati2an mereka mengepung dengan ketat sekali. Walaupun telah memperoleh kepandaian ilmu pukulan “Petir” itu, tetapi menghadapi sekaligus enam orang tokoh persilatan yang memiliki kepandaian sangat tinggi, tentu saja Siauw Liong Lie tidak bisa memperoleh kemenangan dalam waktu yang sangat singkat saja. Karena teringat beberapa Waktu yang lalu justru disaat anaknya baru berusia empat puluh hari lebih, dia telah dikepung Tiat To Hoat-ong, Turkichie dan Talengkie, membuat dia terpisah dari suami dan anaknya. Hal itu membuat hawa amarah yang timbul dihati Siauw Liong Lie jadi semakin berkobar. Pendekar wanita tersebut melakukan pukulan2 jarak jauh yang lebih kuat lagi kepada Tiat To Hoat ong dan kawan2nya, sehingga udara disekitar gelanggang pertempuran itu terasa sangat panas sekali. Berulang kali Tiat To Hoat-ong dan kawan2nya berusaha untuk mendesak Siauw Liong Lie, tetapi mereka tidak berdaya sama sekali. Bahkan biarpun mereka berjumlah enam orang, kenyataannya tetap saja mereka berada dibawah angin dan selalu terdesak oleh pukulan2 petir yang dilakukan oleh Siauw Liong Lie. Siauw Goat Lan telah mengeluarkan suara seruan2 girang sambil ber-tepuk2 tangan tidak hentinya, untuk mengacaukan perhatian Tiat To Hoat-ong berenam. Yo Ko terus memperhatikan cara menyerang Siauw Liong Lie. Dihatinya diam diam dia telah menuji akan kehebatan pukulan Petir istrinya yang diperolehnya dari warisan Bu Beng KunHiap Tang Cia Sie. “Ilmu pukulan petir yang sekarang dimilikie Liong-Jie memang benar2 merupakan ilmu yang langka. Jika memang Liong-Jie berlatih diri dengan tekun beberapa saat lagi, tentu kelemahan2 yang ada pada ilmu itu akan berkurang dan tertutup..!” pikir Yo Ko didalam hatinya. Waktu itu Tiat To Hoat Ong dengan meraung keras menggerakkan goloknya kearah leher Siauw Liong Lie. Tetapi justru yang dihadapinya itu adalah Siauw Liong Lie, pendekar wanita nomor wahid jaman itu. Dengan mudah Siauw Liong Lie dapat mengelakkan diri dari serangan2 lawannya. dan waktu Tiat To Hiat Ong melompat mundur menghindarkan diri dari serangan Siauw Liong Lie, disaat itulah telah dipergunakan oleh Siauw Liong Lie dengan cepat sekali. “Bukkk !” salah seorang lawannya yang memelihara jenggot tipis telah terpental dan ambruk diatas genting sehingga memecahkan genteng itu, tubuhnya menggelinding jatuh ketanah dan binasa….! Tiat To Hoat-ong, Turkichi, Talengki dan kedua kawan Tiat To Hoat-ong jadi berdiri tertegun sejenak lamanya. Mereka tampaknya terkejut bercampur marah melihat kawan mereka telah terbinasa. Tetapi disamping itu juga di hati mereka muncul perasaan takut. Rupanya Siauw Liong Lie juga telah habis sabar, dengan gerakan “Harimau mengaum memanggil petir”, cepat sekali kedua tangannya itu ber-gerak2, terdengar suara berkerontangan. Ternyata senjata Tiat To Hoat-ong dan keempat orang kawannya telah berhasil direbut oleh Siauw Liong Lie dalam segebrakan, lalu Siauw Liong Lie telah melemparkan senjata lawan2nya itu kebawah. Tiat To Hoat-ong berobah mukanya menjadi merah padam, dan dia telah membentak; “Kembalikan senjata kami!” Siauw Liong Lie mengeluarkan suara tertawa dingin, sahutnya : “Bukankah tadi kalian melihat senjata kalian telah kubuang kebawah? jika kalian menghendakinya pergilah kalian mengambilnya sendiri,…!” dan setelah berkata begitu. tampak Siauw Liong Lie mengeluarkan suara tertawa dingin yang sinis. “Hemm, engkau memang siluman wanita yang tidak tahu diri…kami tidak akan menyerah, kalau tubuh kami belum menjadi mayat, engkau jangan bersenang2 dulu.” Dan selesai berkata, dia merogoh saku jubahnya, tahu2 pendeta Mongolia ini mengeluarkan sesuatu dari sakunya, Waktu melihat benda itu, Siauw Liong Lie terkejut juga, karena segera dia mengenalinya bahwa benda adalah benda yang bisa menyemburkan asap yang bisa memusingkan dan membuat seseorang menjadi pingsan karenanya. Tiat To Hoat ong tidak memberikan kesempatan kepada Siauw Liong Lie, karena dia telah menyemprotkannya dengan cepat, “Seeerrr… seerrr …!” suara air tabung itu muncrat keluar menyambar kemuka Siauw Liong Lie. Tetapi kali ini Siauw Liong Lie telah menutup pernapasannya, karena itu asap- semburan dari senjata aneh Tiat To Hoat Ong tidak berhasil mengenai sasarannya. Tampak Tiat To Hoat Ong berulang kali telah melancarkan semburan yang tidak hentinya. Siauw Liong Lie bergerak kekiri dan kekanan mengelakkan diri dari semburan2 tabung gas itu. Yo Ko yang menyaksikan hal itu jadi terkejut juga, karena kalau sampai Siauw Liong Lie pingsan karena obat tidur itu. tentu jiwa isterinya terancam bahaya yang tidak kecil. Siauw Liong Lie telah melompat tinggi ketengah udara, dan waktu tubuhnya itu meluncur turun, kedua tangannya tergerak dengan serentak akan menghantam betok kepala Tiat To Hoat Ong berdua dengan Talengkit. Gerakan yang dilakukan oleh Siauw Liong Lie itu merupakah jurus “Sin Tiauw Tiauw Kut Rajawali Sakti menyambar tulang” yang mengincar tulang tempurung dari Tiat To Hoat ong, Tiat To Hoat-ong dan Talengki yang diserang begitu hebat oleh Siauw Liong Lie, tidak berani menangkiskan, mereka melompat mundur menjauhi diri dari Siauw Liong Lie. Melihat serangannya yang kali ini gagal, Siauw Liong Lie tidak menarik pulang tangannya, justeru begitu kakinya menginjak genting kembali, segera kedua tangannya bergerak saling susul mempergunakan jurus: “Rajawali Sakti menari” dan “Rajawali Sakti Menerkam” kedua jurus ini sangat sulit dielaki oleh lawan. karena ilmu itu hasil ciptaan dari Siauw Liong Lie bersama dengan Yo Ko, dan diberi nama Sin Tiauw Kun Hoat atau Ilmu pukulan Rajawali Sakti. Yo Ko juga heran melihat kemajuan yang di peroleh oleh Siauw Liong Lie. Siauw Liong Lie terus juga mendesak lawan lawannya itu, sampai akhirnya Tiat To Hoat Ong merasa jeri untuk bertempur terus, dia telah mengeluarkan suara teriakan :”Angin keras-… !” Teriakan Tiat To Hoat Ong itu dimaksudkan untuk melarikan diri. Kawannya juga mengetahui percuma saja jika mereka melanjutkan pertempuran itu. Begitu mereka melihat Siauw Liong Lie melompat kebelakang mengelakkan serangan Tiat To Hoat Ong, maka kawan2 Tiat To Hoat Ong telah melompat turun mengambil senjatanya, begitu juga Tiat To Hoat Ong, dengan menahan perasaan malu dia harus melarikan diri, karena disaat itu Tiat To Hoat Ong yakin bahwa dia ber-sama2 kawannya tidak mungkin dapat menandingi Siauw Liong Lie. Dengan melupakan malu dan martabat dirinya. dia telah berusaha melarikan diri. Waktu dia mengambil goloknya dengan tangan kanan sedangkan tangan kirinya telah menyambar mayat kawannya yang sudah binasa. Dalam waktu itu yang singkat, keadaan di tempat itu menjadi sepi kembali. Tamu2 yang berada dirumah penginapan itu bukan tidak mengetahui terjadinya keributan seperti itu, tetapi mereka menduga bahwa ada kawanan rampok yang tengah menyatroni salah seorang tamu dirumah makan itu. Mereka anggap paling selamat jiak tidak memperlihatkan diri keluar dari kamar mereka dan berdiam diri dibawah selimut saja. Yo Ko telah menghampiri Siauw Liong Lie. “Hebat sekali kemajuan yang engkau peroleh Liong Jie…!” pujinya. “Ibu, nanti ajarkan aku ilmu itu!” kata Yo Him dengan manja. Sang ibu mengusap kepala anaknya, dia terus berkata “Tentu saja anakku, asal engkau rajin2 belajar dan melatih diri, tentu kau juga akan memiliki kepandaian setinggi ini.!” Rupanya Goat Lan juga tidak mau ketinggalan, dia pun berkata: “Suhu, aku juga ingin sekali mempelajari ilmu seperti itu…” katanya. “Tentu saja muridku….engkau akan ber-sama2 Him jie melatih diri, kini engkau memiliki sahabat untuk melatih diri.” Yo-Him dan Goat Lan telah menjura memberi hormat kepada Siauw Liong Lie, hati kedua remaja ini girang bukan main. Mereka memang tertarik sekali untuk mempelajar1 ilmu silat yang dimiliki oleh Siauw Liong Lie. Saat itu Phang Kui In telah menghampiri dan merangkapkan kedua tangannya, bilangnya: “Aku Phang Kui In mengucapkan syukur kepada kalianselain telah memiliki kepandaian yang jauh lebih tinggi dan sempurna juga kalian telah berkumpul kembali.” “Phang Toako, engkau terlalu memuji….. sesungguhnya kami tidak memiliki kepandaian apa2, tadi hanya kebetulan anku bisa merubuhkan lawan2ku….!” “Sekarang jika Tiauw Taihiap dengan Siauw Liehiap bergabung, mungkin didunia ini sudah tidak ada yang bisa, menandingi lagi.” Puji Phang Kui In tanpa memperdulikan sikap merendahkan diri dari Siau Liong Lie. Siau Liong Lie menghela napas panjang2. “Apa sih itu ayng dinamakan tinggi dan tidak tertandingkan? Semuanya hanya omong kosong saja! Diatas orang yang tinggi masih ada orang yang lebih pandai.. Diatas puncak gunung yang tinggi tentu ada pula puncak gunung yang jauh lebih tinggi..maka tidak bisa seseorang itu selalu menganggap dirinya yang tertinggi kepandaiannya dari yang lainnya dengan sendirinya orang itu tidak akan mengalami kemajuan apa2 lagi..” Muka Phang Kui In jadi berobah merah. “Benar apa yang dikatakan oleh Liehiap, memang kita sebagai manusia tidak boleh sombong!, terima kasih atas nasihat berharga yang diberikan oleh Liehiap!” dan setelah berkata demikian, Phang Kui In telah memberi hormat lagi. Siauw Liong lie cepat2 menyingkir untuk menolak penghormatan dari orang she Phang tersebut. Setelah bercakap2 sejenak lamanya lagi. barulah mereka berpisah untuk kembali kekamarnnya masing2. Malam itu Yo Ko tidur nyenyak sekali, begitu juga dengan yang lainnya. Saat itu, malam telah lewat tanpa terjadi sesuatu apa2 lagi. Keesokan harinya, dihari keempat Yo Ko mengajak Phang Kui In dan yang lainnya untuk melakukan perjalanan pula. “Kita harus menemui para orang2 gagah untuk merundingkan cara bagaimana mereka harus berusaha membantu pihak negara mempertahankan tanah air dari serangan tentara musuh, yaitu Kublai Khan, yang kabarnya dalam tahun ini akan melancarkan gempuran secara besar2- an. Terlebih lagi Kublai Khan seorang pemimpin orang2 Mongol yang bekerja dengan mempergunakan otak. maka kami kuatir justru sekarang ini Kerajaan Song sulit untuk dipertahankan….!” “Kita harus menggalang persahabat dan kekuatan nanti baru kita bicarakan dengan para orang gagah, rencana manakah yang hendak mereka jalankan.” “Dimanakah para pendekar gagah itu akan berkumpul ?” tanya Siauw Liong Lie. “Kami berjanji akan bertemu digunung Hoa san, juga kita harus menyelidiki siapakah yang telah menggali dan membongkar kuburan Auwyang Hong. Disamping itu, kita pun harus menyelidiki siapakah sebenarnya anak kecil yang mengaku sebagai anaknya Auwyang Pehpek (paman Auwyang) itu, yang datang kekuburan Auwyang Hong bersama seorang wanita setengah baya. Semua itu masih merupakan teka-teki yang belum juga terjawab sampai sekarang ini,” Siauw Liong Lie mengangguk. “Aku juga heran sekali akan hal ini, Tetapi Ko jie, apakah selama enam belas tahun ini engkau masih belum berhasil menyelidikinya” Yo Ko menggeleng “Belum….semuanya masih merupakan teka-teki belaka. Aku baru bertemu dengan anak lelaki yang waktu dulu itu bertemu digunung Hoasan dan mengaku sebagai anaknya Auwyang Pehpeh. kini dia telah dewasa dan menjadi pemuda yang tegap..” Siauw Liong Lie menghela napas. “Lalu bagaimana dengan surat yang dipalsukan yang pernah dikirimkan kepada kita dan jago2 lainnya?” tanya Siauw Liong Lie lagi. “Itupun masih merupakan tanda tanya juga. karena sampai detik ini belum lagi diketahui siapakah yang telah berbuat seperti itu. Tetapi keras dugaan kami, juga pendapat It Teng Taysu, bahwa surat pemalsuan itu di lakukan oleh orang2 Mongolia dibantu oleh beberapa penghianat dalam negeri. Tujuannya hendak mengadu domba diantara para jago2 di dataran Tionggoan, Untung saja kami selalu berlaku waspada, sehingga usaha-mereka gagal” “Apakah tidak mungkin semua itu dilakukan oleh Tiat To Hoat ong bersama anak buahnya, yaitu mengadu domba diantara sesama jago2 dataran Tionggoan, dan kelak jika mereka tidak perlu menghadapi rintangan yang berarti lagi……” “Tepat! Aku juga berpikir begitu.” Siauw Liong Lie menghela napas lagi. “Sayang sekali, disaat negeri tengah kacau dan terancam seperti ini, Kaisar kita hanya berfoya2 dengan pesta2 yang mentereng sekali, disekelilingnya wanita2 caatik melupakan pemerintahnya yang tengah terancam kehancuran…!” “Ya, disitulah letak kesalahan dari raja kita !” membenarkan Yo Ko. “Tetapi kita bukan membela raja itu, tetapi kita berjuang untuk kepentingan tanah air kita, kita harus mencegah walaupun harus mengorbankan jiwa dan tenaga, demi kepentingan negara kita jangan samapi di-injak2 oleh kaum penjajah itu..!” Siauw Liong Lie mengangguk. “Ya, yang kita bela bukan kaisar yang tidak memiliki tanggung jawab, tetapi kita berjuang untuk kepentingan semua rakyat dinegeri kita ini. jangan sampai kita dijajah oleh Mongolia itu…!” “Kapan kita berangkat, Yo Taihiap ?” tanya Phang Kui In. “Hari ini juga kita harus menuju ke Hoa San. Mungkin para orang2 gagah yang dihubungi olehku telah berkumpul disana… Dari tempat ini menuju ke Hoa San mungkin memakan waktu empat bulan…!” Begitulah, akhirnya mereka telah mempersiapkan barang2 yang perlu mereka bawa. Hari itu juga mereka berangkat menuju Hoa San. ooo00d0w00ooo GUNUNG Hoa San merupakan gunung yang paling seringkali menampung pertemuan dan jago2 didaerah Tionggoan. Karena gunung tersebut pernah dijadikan tempat pertemuan dari jago2 luar biasa, dimana pernah terjadi pertemuan Hoa San Lun Kiam. Dan lima jago luar biasa dijaman itu telah mengadu Kepandaian, jago2 yang termasuk dalam pertemuan itu adalah Oey Yok Su, Ang Cit Kona. Auwyang Hong, Ong Tiong Yang dan It Teng Taisu. Pertempuran yang terjadi disaaat itu merupakan pertempuran yang paling hebat dibandingkan dengan pertempuran2 lainnya. Dan sekarang justru Yo Ko telah menghimpun para jagojago berkumpul di Hoa San juga guna mengadakan Hoa San Taihwee atau pertemuan besar di Hoa San. Sepanjang perjalanan Yo Ko dan kawan2nya melihat telah banyak tentara mongolia yang berkeliaran dipinggiran perbatasan. Bahkan Yo Ko seringkali menyaksikan penduduk yang lemah sering kali di siksa oleh tentara2 mongolia itu. sehingga membangkitkan kemarahan di hati Yo Ko dan yang lain2nya. Sering Yo Ko turun tangan membela yang lemah dan membuat tentara Mongolia yang apes nasibnya karena harus bertemu dengan jago sakti seperti Yo Ko, Siauw Liong Lie dan yang lainnya. jadi babak belur. Selama dalam perjalanan itu, Yoko dan Siauw Liong Lie tidak hentinya mendidik Yo Him, anaknya. Yo Ko dan isterinya telah menurunkan seluruh kepandaian mereka. Walaupun dalam waktu hanya empat bualan itu Yo Him tidak bisa mempelajari semua ilmu yang diajarkan kepadanya, namun Yo Him telah berhasil menjadi seorang jago yang memilikie kepandaian yang tinggi sekali. Jika lawannnya itu hanya seorang jagoan biasa dan tanggung2, jangan harap bisa menandingi kepandaian Yo Him. Kwee Siang dan Phang Kui In sendiri sering menceritakan kepada Yo Ko dan Siauw Liong Lie, betapa kepandaian mereka bedua juga tidak bisa menandingi Yo Him. Diceritakan juga bagaimana Yo Him telah berguru kepada Lie Bun Hiap, orang yang berkaki buntung dan menjadi pemilik dari pulau kecil itu. Memang keadaan Yo Him seperti itu telah menggembirakan hati mereka. Penderitaan selama belasan tahun yang lalu mereka rasakan seperti lenyap diganti dengan kegembiraan yang sekarang mereka peroleh karena telah berkumpul kembali. Waktu tiba di kaki gunung Hoa San, mereka beristirahat dulu dengan menyewa dirumah penduduk, kamar yang mereka butuhkan. Selama sehari itu, Siauw Liong Lie telah memberikan pelajaran pukulan “Petir” yang dimilikinya, sehingga kepandaian Yo Him kian tinggi lagi. Yang kurang hanyalah pengalaman bertempurnya saja serta latihannya. Yo Him juga merasakan kemajuan yang telah didapatnya, karena dari Yo Ko, ayah kandungnya telah diterima bermacam2 kepandaian dan dari Siauw Liong Lie dia juga menerima ilmu yang hebat2. Dengan gabungan kepandaian yang ditururunkan oleh Yo Ko, Siauw Liong Lie dan Lie Bun Hiap, membuat Yo Him benar2 menjadi seorang jago muda yang jarang ada tandingannya. Walaupun usianya masih muda seklai, tetapi ekpandaiannya melebihi orang yan belatih diri dua atau tiga puluh tahun. Kemajuan yang diperoleh Yo Him juga menggembirakan hati Phang Kui In dan Kwee siang serta Goat Lan. Kepandaian yang dimiliki Siauw Goat Lan juga tidak lemah, karena sejak kecil dia telah dididik sunguh2 oleh Siauw Liong Lie. Tetapi ada suatu keanehan yang cukup menyolok pada diri Siauw Goat Lan, karena dia selalu senang memakai baju warna kuning, sehingga hal itu sering membuat Siauw Liong Lie menertawakan padanya. Tetapi Siauw goat Lan tetap senang memakai baju warna kuning, dan warna kuning itu merupakan kesayangannya. (Didalam kisah Membunuh Naga, Goat Lan pernah muncul sekali waktu diadakannya pertemuan orang2 gagah di Siauw Sit San, dimana pihak Siauw Lim Sie telah menghimpun para orang2 gagah dalam suatu pertemuan besar, yaitu Enghiong Taihwe. Dan semua orang yang turut dalam Eng-Hiong Taihwee itu tidak seorangpun mengetahui siapa gadis itu, dan siapa pula namanya. Karena Goat Lan yang pada saat itu telah memiliki kepandaian sangat tinggi telah datang dan pergi tanpa diketahui sepak terjangnya luar biasa, kepandaiannya jauh lebih tinggi dari Ciu Cie Jiak… penulis). Setelah istirahat cukup semalamam dan tubuh mereka juga sudah segar kembali, Yo Ko mengajak mereka untuk, melanjutkan perjalanannya. Mendaki gunung Hoa San untuk mencapai puncaknya gunung tersebut. Tetapi berhubung mereka semuanya memang memiliki ginkang yang tinggi sekali, maka mereka bisa berlari2 mendaki gunung Hoa-san itu dengan mudah. Yo Him juga bisa berlari2 dengan cepat dan ringan, karena Yo Him yang sekarang berbeda dengan Yo Him tiga tahun yang lalu dengan mudah dapat melompati jurang2 yang cukup lebar. Menjelang sore, mereka tiba dipuncak gunung Hoa San, dan kuburan Auwyang Hong yang telah kosong dan rata kembali itu tampak tidak terurus. Yo Ko memandang disekelilingnya. dia belum melihat orang yang diundangnya untuk berkumpul disitu. Yo Ko jadi menduga2 apakah semua orang2 itu tidak datang karena menemui sesuatu yang tidak terduga. “Mengapa mereka belum datang?” tanya Siauw Liong Lie, yang juga heran melihat para pendekar yang diundang suaminya belum terlihat batang hidungnya walaupun seorang. “entahlah, mungkin ada sesuatu yang diluar dugaan” menyahuti Yo Ko. “Tetapi sebetulnya aku telah menjanjikan Capgo Chit Gwee yaitu besok disaat rembulan bersinar penuh kami akan berkumpul disini.. Tetapi anehnya justru sekarang ini mereka belum juga terlihat batang hidungnya.” Yo Him memandang sekelilingnya, dimana selain merupakan tempat yang sunyi dengan lapangan rumput yang luas dan tebing yang tinggi2 juga diselingi oleh pohon2 yang tumbuh tingg menunjukkan usia pohon itu telah tua sekali. “Mari kita beristirahat dulu…!” aja Yo Ko. semuanya setuju. Mereka telah duduk dibawah pohon pohon itu. Tetapi mengaasoh tak lama, justru dari arah bawah terdengar seseorang tengah bernyanyi dengan nada dan irama yang lucu sehingga bisa membuat orang geli didalam hati. “Tung Pak, Tung Pak, Tung Pak, Eh Kudanya lari. Ting Ting, Ting Ting Eh kucingnya nyolong ikan. Teng teng, Teng Teng, Centengnya mengantuk disamber angin, Bom Bom. Bom Bom, Tidurnya tidak bisa karena memikirkan sidia, Trak, trak, trak, trak, Pedangnya telah patah, Sembunyi ekor dari persilatan, Ditertawai orang karena kebodohan yang ada, Dimaki orang karena tindakan kita yang salah, Breng-greng, Breng-greng. Aku ingin tidur, nyamuk datang mengganggu.” Setelah bernyanyi seperti itu, terdengar suara tertawanya hahahaha yang panjang sekali.. Yo Ko dan yang lainnya jadi heran mendengar suara nyanyian seperti itu, mereka mau menduga tentu orang yang tengah bernyanyi itu adalah seorang yang kurang pikirannya, karena kata2 lagunya itu tidak keruan. Tetapi Yo Him lain, dia mendengarkannya baik2 otaknya yang cerdas segera dapat menangkap arti dari nyanyian itu, makna yang sesungguhnya tersimpan didalam nada dan kata2 dari nyanyian itu. “Ayah..” kata Yo Him kemudian, “Bukankah orang yang bernyanyi itu tengah memberitahukan jurus2 penting dari ilmu silat pedang dan pukulan yang terdapat dalam Kiu Im Cin Keng?” Yo Ko jadi terkejut. “Mengapa engkau bisa berpikir sampai disitu?” tanya sang Ayah ini. “Coba ayah pikirkan kata2 “Tung Pak Tung Pak Tung Pak, Eh kudanya lari itu bukankah berarti bahwa jurus pertama dari Kiu Im Cin Keng harus bergerak seperti seekor kuda yang menyepak da kemudian menjauhkan diri dari lawan kemudian baru menyerang lagi. Dan kata2 menyerang kembali terselip pada baris kedua yang berbunyi.”Ting Ting Ting.. Ting Tong.. -oo0dw0oo- Jilid 28 “EH KUCINGNYA nyolong ikan, yang berarti setelah kita memancing lawan seperti juga ingin melarikan diri, kemudian diwaktu musuh lengah, kita harus menggunakan jurus ‘colongan’ menghantam musuh! Kata Teng. Teng, Teng Centengnya mengantuk disamber angin, berarti kita harus seperti angin, membuat lawan menjadi bingung, berarti itupun gerakan yaag dinamakan “Liu Liu Ie Ie” atau Samberan Angin dan Hujan. Nah coba ayah pikir bukankah itu merupakan kunci rahasia ilmu yang hebat sekali?” Mendengar Yo Him bicara sampai disitu tampak Yo Ko telah memukul lututnya sambil berseru: „Tepat. Mengapa aku sendiri tidak berpikir sampai sejauh itu? Sedangkan engkau dalam usia semuda ini telah bisa memecahkan teka-teki seperti itu! Sungguh mengagumkan sekali…,” Siauw Liong Lie juga memuji kecerdasan anaknya itu. Phang Kui In, Kwee Siang dan Siauw Coat juga merasa kagum. Tetapi belum sempat mereka bicara lebih jauh, dari jurusan bawah tampak sesosok tubuh tengah berlari cepat «ekali naik keatas gunung, ketempat dimana mereka berada. Gerakan orang itu sangat ringan sekali menandakan ginkangnya benar2 sangat sempurna karera tubuhnya itu telah ber-kelebat2 dengan gesit sekali, hanya dalam sekejap mata saja dia telah berada dihadapan Yo Ko dan yang lainnya. Waktu melihat orang itu, Sin Tiauw Taihiap Yo Ko telah tertawa. „Kukira siapa, tidak tahunya engkau Ciu Pek Thong sinakal” Orang yang baru tiba itu memang Ciu-Pek Thong adanya. Siauw Liong Lie melihatnya walaupun msreka telah berpisah lebih dari lima belas tahun, tetapi keadaan Ciu Pek Thong tetap tidak berobah. dengan jenggotnya yang memutih panjang dan alisnya juga telah memutih. Tetapi sikapnya yang senang berguyon iru tidak juga lenyap. Karena justru Ciu Pek Thong inilah yang telah bernyanyi dengan suara dan kata2 yang kocak itu. Tetapi didalam kekocakannya itu justru terdapat inti ilmu silat yang luar biasa hebatnya. ,,Kau kira siapa ? Ya, tentu saja aku ! Tidakkah kau melihat si Loo Boan Thong yang jenggotnya ini telah putih ? Apakah ada dua orang Loo Boan Thoag ?” dan setelah berkata begitu dia tertawa ber-gelak2. Tiba2 matanya melihat Yo Him dan Siauw Goat Lan, kemudian Kwee Siang dan Phang Kui In. ,,Eh, nona Kwee, engkau berada disini ?” tegur Loo Boan Thong seperti terkejut. Seperti diketahui bahwa Kwee Siang pernah bersahabat intim dengan Ciu Pek Thong, maka dari itu begitu melihat Kwee Siang, segera Ciu Pek Thong meagenalinya. Cepat2 Krwee Ceng menghampiri sambil mengangkat tangannya, dia telah menjura memberi hormat kepada Ciu Pek Thong. „Engko tua juga datang kemari ?” membaliki Kwee Siang. Ciu Pek Thong melengak sejenak, tetapi kemudian di tertawa ter-gelak2 lagi, serunya dengan suara yang nyaring : “Setan kecil! Memang dasar cucunya, engkau menuruti adat kakekmu yang selalu tidak mau kalah dan terlalu licik ,,..!” Kwee Siang tidak menjadi mendongkol atau marah, karena dia telah mengetahui akan tabiat dari Ciu Pek Thong yang gemar sekali berkelakar. Kemudian Ciu Pek Thong telah menoleh kepada Goat Lan, tanyanya kepada Kwee Siang: ,,Apakah nona kecil ini adikmu ?” Muka Kwee Siang jadi berobah merah dia menggelengkan kepalanya. „Bukan, adik Lan ini adalah “murid dari enci Siauw Liong Lie . . . !” dia menjelaskan. „Oh. nona kita itu telah menerima murid !” kata Ciu Pek Thong sambil tertawa. “Dan engko kecil itu siapa…?” sambil bertanya Ciu Pek Thong telah menunjuk kepada Yo Him. „Yo Him “adalah putera Engkoh Yo dan Encie Siauw !” menjelaskan Kwee Siang lagi. „Ohhh, anak mereka ? Aduhh, kenapa waktu melahirkan anakmu engkau tidak mengundang aku ?’ tanya Ciu Pek Thoag kepada Siauw Liong Lie. Muka Siauw Liong Lic jadi berobah merah. „Mana bisa begitu ?” tanya Siauw Liong Lie. „Mengapa tidak bisa ?” „Engkau lelaki, mana mungkin waktu aku melahirkan aku memberitahukan kepadamu…..’tentu saja. engkau tidak boleh melihatnya…..!” dan Siauw Liong Lie telah tersenyum malu. Ciu Pek Thocg berdiri bengong tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh Siauw Lioug Lie. Yo Ko dan yang lain2nya jadi tertawa, dan Ciu Pek Thong jadi salah tingkah lagi. „Eh..eh, apa yang kalian tertawakan ?” tanya Ciu pek Thong ter-heran2, mukanya juga telah berobah, tampaknya dia mendongkol seperti dipermainkan oleh orang2 itu. Tetapi Yo Ko dan yang lainnya jadi tertawa lebih geli lagi melihat tingkah laku Ciu Pek Thong. Ciu pek Thong jadi banting2 kakinya dengan jengkel. “Cepat katakan, apa yang kalian tertawakan?” bentak Ciu Pek Thong dengan sakit.” Jika tidak, jangan harap kalian bisa menertawai aku pula. karena aku akan menangis sekeras suara….!” Mendengar ancaman Ciu Pek Thong itu. semua orang bukannya menghentikan tertawa, mereka, bahkan semakin men-jadi2, suara Phang Kui In terdengar paling keras katrena dia tidak bisa menahan perasaan lucu dihati-nya. Ciu Pek Tbong mengawasi mendelik kepada Phang Kui In, dia telah berkata: “Apa aku salah bicara sehingga kalian tertawakan aku seperti itu! Sudahlah! Sudahlah! Aku tidak mau bersahabat lagi dengan kalian….!” dan setelah berkata begitu Ciu pek Thong memutar tubuhnya untuk berlalu. „Tunggu duIu Lo-boan thong teriak Yo Ko. Ciu Pek Thong menghentikan langkah kakinya. dia telah membalikkan tubuhnya untuk bertanya . ,Kau mau memberitahukan apa salahku ? tanyanya dengan mata tetap rnengawasi YoKo yang lainnya dengan bergantian. “Ya aku akan memberitahukannya !” menyahut Yo Ko. ,.Hayo cepat memberitahukan Mengapa engkau seperti kakek2 saja yang meng-ulur2 waktu.?” “Sabar…..” “Sabar” Mengapa harus sabar. Bukankah tadi engkau mengatakan ingin memberitahukan kepadaku apa kesalahanku sehingga kalian tertawa begitu ?” Tampaknya Cui Pek Thong tidak senang. „Sabar aku pasti akan menjelaskan segalanya kepadamu.” „Aku telah cukup sabar, tetapi sampai sekarang ini engkau masih juga belum memberi tahukan kepadaku persoalan apa yang hendak kau sampaikan ?” „Tunggu dulu Lo Boan Ihong aku pasti akan memberitahukan segalanya kepadamu…. tetapi ada syaratnya, jika aku memberitahukan kepadamu peristiwa tadi, engkau juga harus bernyanyi sekali lagi lagu yang tadi engkau bawakan !” „Oh syaratnya itu ? Mudah sekali! Aku bisa dan menyanggupinya !” „Tetapi karena adatmu agak aneh dan angin2an, maka aku meminta engkau memenuhi dulu syarat itu, setelah engkau bernyanyi, aku akan memberitahukan urusan itu ke padamu…!” Ciu Pek Thong diam sejenak, tampaknya dia ragu2, tetapi kemudian katanya: “Tetapi engkau juga tidak boleh ingkar janji, jika aku telah bernyanyi engkau harus memberitahukan kepadaku apa sebabnya kalian tertawa ter-pingkal2 sambil memandang padaku ?” “Itu sudah pasti, apakah kau anggap aku ini manusia hina dina ? Aku tidak akan menjilat kembali ludah yang lelah kubuang…..!” „Baik! Sekarang kalian dengarkanlah aku bernyanyi sangat merdu!” kata Ciu Pek Thong. Dan diapun mulai membuka mulutnya; membawakan lagu yang. tadi dinyanyikannya : “Tung Pak Tung Pak, Tung Pak Eh kudanya lari, Ting, Tang, Ting, Ting Eh kucing nyolong ikan Teng Teng Teng teng, Centengnya mengantuk disamber angin, Bom Bom Bom Bom Tidurnya tidak bisa karena memikirkan si dia, Trak, trak, trak trak, Pedangnya telah patah, Sembunyi ekor dari persilatan, Ditertawai orang karena kebodohan yang ada Dimaki orang karena tindakan kita yang salah Brwng – greng, Breng greng, Aku ingin tidur, nyamuk datang mengganggu “Nah, sekarang aku telah selesai menyanyikan lagu itu, engkau harus segera memberitahukan padaku, apa kesalahanku sehingga kalian mentertawaiku!” Yo Ko mengangguk „Sekarang coba kau jelaskan dulu, lagu yang engkau nyanyikan i{u tadi bukankah merupakan kunci dari Kiu Im Cin Keng dan Kiu Yang Cin Keng?” Ciu Pek Thong tampak terkejut, tetapi akhirnya dia mengangguk. „Benar.. .. tidak salah !” katanya kemudian. „Tetapi…. dari mana engkau mengetahui bahwa laguku itu merupakan lagu yang berisikan pelajaran Kiu Im dan Kiu Yang Cin Keng ? ‘ „Kau heran bukan ? Kami yang tua2 tidak mengetahui jika tidak diberitahu oleh anak kami ini, Yo Him….!” Kembali Ciu Pek Thong berdiri dengari muka yang bengong dan mata tidak bergeming mengawasi Yo Him. „Anak luar biasa ! Anak luar biasa!” menggumam Ciu Pek Thong dengan suara yang samar2 hampir tidak terdengar, sampai akhirnya dia telah mendelikkan matanya kepada Yo Him, sambil katanya: „Apakah engkau mengerti ilmu Kiu Im dan Kiu Yang Cin Keng ? Mengapa engkau mengetahui bahwa laguku itu adalah kunci dari Kiu Im dan Kiu Yang Cin Keng ?’ Yo Him cepat2 menghampiri Ciu Pek Thong. dia telah merangkapkan kedua tangannya menjura memberi hormat kepada Ciu Pek Thong» „Engkong Ciu, aku menghunjuk hormat kepadamu….” kata Yo Him. “Cisss. siapa yang ingini hormatmu?” kata Ciu Pek Thong.sambit meludah. Yo Him jadi terkejut, tetapi kemudian tersenyum. ,.Aku justru menghendaki keteranganmu bagaimana engkau bisa mengengetahui bahwa lagu yang kugubah itu merupakan kunci dari Kui Im Cin Keng dan Kiu Yang Keng?” kata Ciu Pek Thong lagi. Yo Him tersenyum. „Itu mudah saja, bukankah engkong Ciu hanya membalik kata2nya saja dan mengambil perumpamaan. Seperti kata2 ‘Ditertawai orang karena kebodohan yang ada’ tentunya berarti jika kita tidak memiliki kepandaian silat yang tinggi dan bertempur dengan lain kalah hal itu hanya disebabkan kebodohan kita. Dan perkataan ‘Kebodohan’ itu diumpamakan juga sebaliknya, yaitu cambuk untuk mengejar ke pandaian agar tidak menjadi bodoh, bukan??” Ciu Pek Thong jadi bengong. Muka Ciu Pek Thong dalam keadaan heran seperti itu membuat dia tampaknya lucu sekali. Memang Ciu Pek Thong walaupun telah lanjut usianya, namun kelakuannya seperti anak2 saja. Semua orang yang melihat sikap Ciu Pek Thong jadi tersenyum geli lagi. Ciu Pek Thong telah menoleh kepada Yo-Ko. katanya ‘ dengan ter-heran2 „Mengapa anakmu ini begitu cerdik bisa menerka lagu yang kugubah itu?”- Yo Ko mengangkat babunya. „Entahlah, aku sendiri raengetahuinya diberi tahukan oleh Yo Him.” Ciu Pek Thong jadi penasaran sekali. „Eh, bocah, engkau jangan main2 denganku. Katakan terus terang siapa yang telah memberitahukan kepadamu tentang makna dari lagu ini.” „Aku hanya men-duga2 sendiri saja, karena aku memang baru mendengarnya sekarang ini,” menyahuti Yo Him sambil tersenyum. „Baiklah! Sekarang coba kau jelaskan lagi kata2 ‘Dimaki orang karena tindakan kita yang salah !, nah apa makna dari perkataan itu ?” Setelah berkata begitu Ciu Pek Thong mengawasi Yo Him dengan tajam. Begitu juga yang lainnya, telah mengawasi dengan tanda tanya dihati mereka, bagaimana Yo Him yang masih demikian muda bisa memiliki pengetahuan demikian luas ? Yo Him telah menjura sambil katanya : Sebetulnya Boanpwee tidak mengetahui apa2 engkong Ciu, tadi hanya kebetulan saja ,. . . *’ Yo Him merendahkan diri. karena dia kuatir justru Ciu Pek Thong akan mendongkol dia mengetahui rahasia lagunya itu. „Aku tidak mau tahu !”’ kata Ciu Pek Thong. „Yang penting, sekarang engkau harus mengemukakan apa artinya ‘Dimaki orang karena tindakan kita yang salah !,’ Cepat kau katakan !” Yo Him menghela napas. .«Maafkan kebodohan Boanpwee, jika salah jangan engkong Ciu memarahi dan mentertawai aku…” kata Yo Him, „Sudahlah! Hiyo Cepat, cepat beritahukan apa yang kau ketahui.. !” seru Ciu pek Thong tidak sabar. ,.Arti dan perkataan! Dimaki orang karena tindakan kita yang salah, berarti jika kita tidak memiliki kepandaian tinggi dan dirubuhkan orang. berarti kepandaian kita masih rendah sekali. Jika memang dikalahkan lawan, kita tidak boleh kecewa dan melatih diri lagi.” ,,Aneh! Mengapa engkau mengetahuinya demikian jelas?” kata Ciu Pek Thong. Bagaimana Loo Boan Thong, apakah anakku itu benar atau tidak kata2nya.” Siauw Liong Lie sambil tersenyum. Ciu Pek Thong menunjukkan ibu jari tangannya, sambil katanya: “Jempol ! Hebat ! Kalian berdua ternyata menyetak anak yang telah berhasil sekali, anak itu memiliki otak yang cerdas.” Mendengar perkataan Ciu Pek Thong yang itu. pipi Siauw Liong Lie jadi berobah merah. “Tetapi sekarang belum selesai. Hai bocah, coba kau terka lagi arti kata2: ‘Aku ingin tidur, nyamuk datang mengganggu ..!’ Nah apa itu artinya.” Yo Him tersenyum sambil katanya: “Artinya itu memang mudah…. Jika seseorang yang tidak memiliki kepintaran apa2, mungkin bisa diganggu oleh serangan orang2 jahat. Tetap maksud sesungguhnya dari perkataan itu adalah seseorang harus bisa mengosongkan pikiran dan keinginan sehingga hawa jahat tidak mungkin mengganggu dia pula. Hawa jahat itu diumpamakan dalam lagumu sebagai nyamuk! Bukankah begitu engkong Ciu?” “Luar biasa sekali! Tepat benar !” kata Ciu Pek Thong sambil geleng-gelengkan kepalanya dan memandang takjub kepada Yo Him. Yo Ko dan Siauw Liong Lie jupa bangga sekali melihat anak mereka itu adalah seorang yang cerdas sekali dan dalam usia hanya enam belasan tahun itu dia telah memiliki kepandaian yang tinggi sekali. Setelah me-muji2 Yo Him beberapa kali Ciu Pek Thong menoleh kepada Yo Ko. „Nah sekarang giliranmu untuk menjelaskan mengapa kau mentertawai aku ….?” katanya. “Bukankah tadi engkau bernyanyi jika aku telah menyanyikan lagu itu, engkau akan memberitahukan apa kesalahanku!” Yo Ko tersenyum. „Sebenarnya engkau tidak bersalah, hanya salah bicara saja’” ‘ „Salah bicara?” „Ya, salah bicara!” „Mengapa bisa salah bicara?” tanya Ciu Pek Thong penasaran „Itulah disebabkan kecerobohanmu, sehingga engkau bisa salah bicara! Tadi engkau mengatakan, mengapa Liongjie tidak memberi tahukan kepadamu waktu ingin melahirkan? Apakah engkau seorang tabib yang mengurusi orang beranak? Lagi pula, disaat isteriku melahirkan, mana boleh dilihat sembarangan orang? Apalagi seorang pria…..! Genit sekali rupanya engkau, Pek Thong !” Ciu Pek Thong jadi kaget setengah mati, sampai dia berjingkrak2. „Hai ! Hai! Bukan itu maksudku..-!” teriaknya dengan muka yang berobah merah. Yo Ko tersenyum, begitu juga dengan yang lainnya. „Memang sudah kukatakan, hatimu tentu tidak berpikir sebegitu jauh, tetapi tadi kau telah salah dalam meigucapkan kata, sehingga artinya menjadi lain dengan apa yang engkau maksudkan!’ Ciu Pek Thong telah mempergunakan kedua tangannya untuk, memukul-mukul keningnya. ..Anak tolol! Anak tolol !” katanya mamaki dirinya sendiri, sehingga yang lainnya melihat kelakuan Ciu Pek Yhong jadi tertawa lagi. “Maafkanlah Yo Hujin (nyonya Yo), memang tadi aku salah bicara. Percayalah, aku tidak memiliki maksud kotor sedikit pun juga….!” Siauw Liong Lie cepat2 menghindar dari pemberian hormat Ciu Pek Thong….. „Jangan berlaku begitu, Pek Thong….., aku niemang mengetahui engkau tidak bersalah, hanya engkau keseleo lidah saja. Ko jie juga hanya bergurau saja . . . !” Ciu Pek Thong tersenyum lagi dengan sikap yang jenaka kembali. Rupanya peristiwa yang baru saja lewat itu tidak diingatnya lagi. ..Engko kecil!” katanya kepada Yo Him. ” ,.Mari kita main2 … !” “Main2 apa ?” tanya Yo Him heran. “Main2 kuda2an . ..! Kita bertempur dalam sepuluh jurus, siapa yang kalah harus menjadi kuda, menggendong yang menang berlari sepuluh lie ! Bagaimana, engkau setuju atau tidak ?” ‘ . Yo Him jadi geli sendirinya, karena dia jadi heran, usia Ciu Pek Thong telah lanjut dan pantas jadi engkongnya tetapi ternyata masih memiliki sifat seperti anak kecil saja. ..Hei, jangan bengong saja !” bentak Ciu Pek Thong mendongkol waktu melihat Yo Him hanya berdiam diri saja. “Setuju sih setuju, tetapi yang pasti tentu saja aku akan rubuh di tanganmu dan menjadi kuda menggendong kau, engkong Ciu !” Yang lainnya tertawa mendengar perkataan Yo Him, yang seperti hendak mengelak pertempuran main2 itu. “Begitu?” tanya Ciu Pek Thong. „Baik! Aku hanya mempergunakan tangan kananku., sedangkan tangan kiriku akan diikat tidak di pergunakan . , . kau setuju?” „Itu namanya tidak adil?” „Apanya yang tidak adil?” tanya Ciu Pek Thong dengan aseran dan tidak sabar. „Engkau mengatakan ingin mempergunakan satu tangan saja, yaitu tangan kananmu, sedangkan aku mempergunakan kedua tanganku, bukankah itu tidak adil?”’ Ciu Pek Thong jadi banting2 kakinya. „Habis dengan cara apa yang kau kehendaki? Bukankah tadi engkau mengatakan jika bertempur dengan aku berarti engkau akan kalah dan aku memberi peringatan dengan janji bahwa aku melayani engkau dengan mempergunakan tangan kanan saja dan tangan kiriku tidak dipergunakan! Tetapi sekarang kau ada alasan saja mengatakan tidak adil dengan cara seperti itu,…” Yo Him tersenyum. „Tetapi mana pantas sih seorang kakek yang sudah pantes menjadi engkongku bertempur dengan golongan muda yang tidak bisa apa2?” kata Yo Him „Tidak mungkin! Aku tidak percaya engkau tidak memiliki kepandaian!” Yo Ko telah tertawa katanya. „Himjie, pergilah kau temani Pek Thong main2 beberapa jurus…..” ,.Nah! Nah!” kata Ciu Pek Thong kemudian kegirangan. „Lihat ayahmu sendiri memerintahkan engkau uniuk melayani aku…..!” Dan Ciu Pek Thong telah berdiam diri menanti dengan sikap tidak sabar, seperti seorang anak kecil yang akan menerima hadiah.,; Mendengar ayahnya juga menyetujui unuk dia main2 dengan Ciu Pek Thong. Yo-Him mengangguk sambil berkata: „Tetapi Ciu Koogkong jangan turunkan tangan keras kepadaku.-,.*’ „Bocah cilik, engkau anggap aku ini seorang bebodoran yang tidak mengenal peri kemanusiaan?” kata Ciu Pek Thong. Yo Him tersenyum, dia bilang kemudian: “Bukan begitu Ciu kongkong…. tetapi memang aku tidak memiliki kepandaian apa2. Maka dari itu aku hanya meminta belas kasihan dari Ciu Kongkong agar tidak menurunkan tangan keras kepadaku….!” „Sudah jangan bawel seperti nenek2 saja!” bentak Ciu Pek Thong tidak sadar.”Hayoh cepat buka serangan….!” Sambil membentak begitu tampak Ciu Pek Thong telah mengawasi Yo Him dengan sikap tidak sabar, Dan waktu itu. tampak dia telah mem-banting2 kakinya, karena memang dia sudah tidak sabaran. Yo Him juga tidak berani berayal lebih jauh lagi, disaat itu dia telah mengerahkan tenaga dalamnya pada kedua tangannya. Dengan mengeluarkan kata2 “Awas Kongkong!” tangannya itu meluncur kearah pundak sebelah kanan Ciu Pek Thong. Si tua jenaka Ciu Pek Thong waktu melihat cara menyerang Yo Him, dia telah berseru:’ Bagus! Bagus! Rupanya kecil2 engkau telah memiliki kepandaian yang tinggi! Hemm . . . . jika demikian kau telah memiliki lwe-kang yang cukup bisa diandalkan! Siapa yang mengajarkan engkau kepandaian ini?” Cin Pek Thong sambil mengoceh terus dengan gerakan tubuhnya yang gesit dia mengelakkan diri dari setiap serangan yang dilancarkan oleh Yo Him. Yo Him tadinya menyerang dengan setengah hati. karena dia mengetahui bahwa Ciu-Pek Thong adalah sahabat ayah ibunya. Tetapi setelah beberapa kali dia menyerang tetap tidak mengenai sasarannya, dengan sendirinya membuat Yo Him jadi terkejut. Dari kedua telapak tangan Yo Him telah mengalir keluar angin serargan yang sangat kuat. Yo Him juga mempergunakan jurus “Giok Lie Kun Hoat” atau. Ilmu pukulan Tangan Bidadari” yang diterimanya dari ayah ibunya beberapa waktu yang lalu. Ciu Pek Thong mengeluarkan seruan kaget dan cepat menggeser kaki kanannya kesamping dan juga menggeser tangannya yang ditekan pada dadanya, lalu tangan yang satunya lagi dilonjorkan menghantam Yo Him. Gerakan yang dilakukan Ciu pek Thong merupakan jurus2 Sin Liong Ciu Hay” atau Naga Sakti Keluar dari Lautan”, dimana tangannya, menyusul mencengkeram pada Yo Him. Yo Him terkejut melihat mencengkeram Ciu Pek Thong karena kakek tua yang jenaka itu memang memiliki kepandaian yang sangat tinggi sekali. Dan sebagai adik seperguruan Oei Cong Yang yang pernah dipilih sebagai seorang jago yang luar biasa dan dia ini kepandaiannya melebihi Oey Yok Su Auyang Hong, Ang Cit Kong dan Ie Teng Tatsu. Tidak mengherankan jika serangan Ciu Pek Thong telah membuat Yo Him jadi gelagapan. Memang Yo Him telah menerima pelajaran yang bermacam2, dia telah memperoleh didikan Lie Bin Hap, kemudian didikan kedua orang tuanya. Tetapi yang masih kurang bagi Yo Him adalah pengalaman. Maka begitu menghadapi serangan yang hebat dari Ciu Pek Thong, agak gugup. Sebetulnya serangan Ciu Pek Thong itu bisa saja dihadapi dengan gerakan “Bidadari Menyuguhkan Arak”, tetapi memang Yo Him kurang pengalaman, dengan sendirinya menghadapi serangan seperti itu membuat Yo Him jadi gelagapan dan tidak bisa melakukan sesuatu, tahu2 lengannya telah kena dicekal, dan dengan sekali mengeluarkan teriakan ‘Rubuh!” tubuh Yo Him telah terpental dan ambruk di atas tanah dengan keras. Tetapi Yo Him tidak menjerit kesakitan bahkan cepat sekali dia bengun berdiri pula. Sedangkan Ciu Pek Thong telah ber-tepuk2 tangan kegirangan, karena dia merasa bangga telah berhasil merubuhkan Yo Him dengan waktu yang singkat sekali. Seperti juga seorang anak kecil yang menerima hadiah yang menggembirakanny a. „Apa aku bilang, engkau sama sekali tidak memiliki kepandaian apapun juga…..!” kata Ciu Pek Thong sambil tertawa geli. Yo Ko, Siauw Liong Lie, Kwee Siang, Phang Khui In, dan Siauw Goat Lan, telah tersenyum saja melihat kelakuan Ciu Pek Thong yang jenaka, Walaupun usianya telah lanjut, tetapinya tanya Ciu Pek Thong masih juga membawa sikap seperti anak kecil saja. Yo Him yang telah dirubuhkan oleh kakek tua yang jenaka itu jadi penasaran. Cepat sekali dia bangkit berdiri pula sambil katanya : „Kongkong Ciu, mari kita bertanding lagi?” kata Yo Him sambil tersenyum. „Tidak kapok kau telah kurubuhkan?” tanya Ciu Pek Thong tertawa. „Aku bukan dirubuhkanmu, tetapi aku sengaja menjatuhkan diri….” “Apa? „Aku bukan dirubuhkan oleh kau?” Mendengar jawaban yang terakhir dari Yo Him Ciu Pek Thong jadi berdiri tertegun tampaknya dia jadi penasaran sekali. .,Jelas2 tadi engkau berhasil kulemparkan dan engkau telah terbanting, bagai mana engkau bisa mengatakan bahwa itu bukan dirubuhkan olehku…..?” Tetapi Yo Him yang cerdik telah menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. ,,Bukan….. bukan! Sama sekali bukan disebabkan seranganmu aku jatuh….. tetapi memang aku sengaja menjatuh tubuh untuk meloloskan diri dari seranganmu! Sebetulnya kalau memang aku hendak memberikan perlawanan. belum tentu engkau bisa memenangkan diriku, Ciu Kongkong.:.. !” Ciu Pek Thong jadi mendongkol, dan dalam keadaan mendongkol seperti itu. tampaknya Ciu Pek Thong jenaka sekali, dengan mulutnya yang ber-gerak2 tidak hentinya, seperti seorang anak kecil yang tengah menggumam tidak senang hatinya „Ayo Ciu Kongkong, seranglah aku lagi…!” kata Yo Him menantang, dengan sendirinya telah membuat Ciu Pek Thong semakin penasaran sekali. Memang Yo Him sengaja ingin memancing kemarahan Ciu Pek Tong agar orang tua she Ciu yang jenaka itu menyerang dirinya lagi. Yang pasti Ciu Pek Thong tidak mungkin berani membinasakannya, karena Ciu Pek Thong telah mengetahui Yo Him adalah anaknya Yo Ko dan Siauw Liong Lie. Tetapi jika Ciu Pek Thong melancarkan serangan dengan sungguh2, Yo Him yang cerdik tentu bisa melihat cara menyerangnya Ciu Pek Thong, berarti dia akan bisa mempelajari gerakan2 itu kelak. Ciu Pek Thong yang telah termakan umpan yang disebar Yo Him, telah menoleh kepada Yo Ko, Katanya: „Yo Ko lihatlah anakmu ini kurang ajar Sekali! Dia jelas2 telah kurubuhkan, tapi dia tidak mengaku…” Yo Ko tersenyum! „Justru engkau yang salah….” katanya. „Aku yang salah?” „Ya, engkau yang salah..,:” kata Yo Ko kemudian dengan suara yang amat keras sambil diiringi suara tertawanya yang bergelak-gelak! „Aku salah apa?” Ciu Pek Thong tampaknya jadi penasaran sekali, sehingga dia lelah mengawasi dengan mata yang dipentang lebar2 menatap Yo Ko. „Kau ingin tahu kesalahanmu ?” „Cepat katakan, beritabukan kepadaku !” kata Ciu Pek Thong tidak sabar. „Aku pasti akan memberitahukan kepada mu, tetapi sekarang yang terpenting engkau sendiri mengakui dirimu salah atau tidak ?!” „Aku bersalah …!” Ciu Pek Thong jadi menatap Yo Ko dan Siauw Liong Lie bergantian dengan mimik muka seperti orang yang kebingungan, tetapi kemudian dia tertawa ber-gelak2. „Aku tahu….! Aku telah tahu….!” kata Ciu Pek Thong setelah berdiam diri sejenak. ,,Engkau tentu ingin mengatakan aku bersalah karena tidak meminta ijin dari kalian berdua sebagai orang tua dari anak itu, dan telah melakukan penyerangan, bukan ?” ,,Ohh…. bukan itu, bukan itu…!” kata Yo Ke cepat. „Bukan itu kesalahanmu..’!” Ciu Pek Thong jadi semakin penasaran, dia memang seorang yang tidak sabaran dan selalu mengerjakan apa2 hanya menuruti kehendak hati kecilnya saja! “Cepat kau beritahukaa padaku … cepat ! Kalau tidak aku akan menangis . . . !” kata Ciu Pek Thong sambil membanting2an kakinya. „Kau ingin menangis ?’ tanya Yo Ko sambil tersenyum lebar. „Ya kalau engkau mempermainkan aku, aku akau segera menangis”, menyahuti Ciu Pek Thong sambil mementang matanya lebar2 dan mem-banting2 kakinya. “Kalau memang engkau ingin menangis, menangislah !” kata Yo Ko sambil tertawa. Sedangkan yang lainnya, telah tersenyum2 karena menganggap kelakuan Ciu Pek Thong memang lucu sekali ke-kanak2an. Saat itu Yo Him telah berkata pula : „Ciu Kongkong, hayo kita mulai main main lagi……!” “Tunggu dulu bocah cilik aku ingin minta keterangan ayahmu mengapa dia mengatakan aku yang bersalah!” dan setelah berkata begitu Ciu Pek Thong menoleh lagi kepada Yo Ko, lalu memandang kepada Siauw Liong Lie yang saat itu tengah mengawasinya juga dengan tersenyum2. “Nyonya yang baik hatinya, yang pemurah hati….. coba tolong engkau jelaskan apa maksud suamimu yang mengatakan bahwa aku ini bersalah….” Siauw Liong Lie mengangkat bahunya, dia telah tertawa kemudian katanya: “Aku mana tahu ….!” Lalu Siauw Liong Lie menoleh kapada suaminya. “Ko-he katakanlah apa yang kau ketahui itu, jangan membuat Ciu Koko jadi begitu gelagapan.” “Benar, benar,” kata Ciu Pek Thong. “Jangan membuat aku gelagapan…. Apakah engkau tidak kasihan kepadaku si tua ini….!” dan kata2 Ciu Pek Thong ditujukan kepada Yo Ko. Keruan saja lainnya jadi tertawa geli karena menganggap sikap Ciu Pek Thong memang benar2 jenaka sekali. Yo Ko setelah puas tertawa, baru berkata : “Lo Boan Thong, apakah engkau tidak merasakan bahwa dirimu bersalah ?” Ciu Pek Thong menggelengkan kepalanya cepat2 beberapa kali. „Aku merasa tidak melakukan kesalahan. Jika tadi anakmu itu kulemparkan juga bukan dengan maksud jahat, karena tenaga lemparan itu telah kuperhitungkan sehingga tidak membahayakan jiwa anak kalian itu, sibocah licik….!” Yo Ko tersenyum lagi, „Loo Boan Thong. engkau adalah orang dari golongan tua. bahkan jauh lebih tua dari kami, lebih tinggi tingkat derajatmu, dan sekarang engkau ingin bertempur dan menghina seorang anak kecil seperti Him-jie ? Bukankah dengan merubuhkan Him-jie engkau tidak bisa membanggakan kemenanganmu itu, karena Him-jie merupakan golongan Boanpwee yang. tidak memiliki kepandaian berarti apa-apa…. nah, dengan demikian bukankah engkau telah melakukan kesalahan yang tidak tahu malu? Apa yang bisa dibanggakan jika engkau memperoleh kemenangan dari kaum Boanpwe seperti Yo Him? Mendengar perkataan Yo Ko, Ciu Pek Thong tertegun sejenak, matanya terbuka lebar tampaknya dia kaget, sampai akhirnya ketika dia tersadar dari bengongnya, dia telah menepuki keningnya. ,,Akhhh, memang aku yang konyol dan tidak tahu malu ! Memang benar apa yang kau katakan saudara Yo …… . !” seru Ciu Pek Thong setelah memukul keningnya beberapa kali. Yo Ko dan yang lainya jadi tertawa geli melihat kelakuan Ciu pek Thong. Sedangkan Yo Him telah beseru lagi “Ciu Kongkong, ayo mulai main2 lagi …. bukankah aku belum dirubuhkan olehmu ‘?” “Tidak mau ! Tidak mau !” bentak Ciu Pek Thong sambil menggeleng2kan Kepalanya . . . !. lalu tiba2 saja dia membungkukkan tubuhnya menjura kepada Yo Him. „Engko kecil”, kata nya lagi. “Biarlah aku disebut orang tua yang tidak bisa merubuhkan engkau, karena aku tidak mau jika nanti disebut situa menghina sikecil . . . ! Biarlah aku membatalkan saja maksudku untuk bertanding denganmul” Semua orang yang mendengar perkataan Ciu Pek Thong jadi tidak bisa menahan perasaan geli dihati mereka. Tetapi Ciu Pek Thong tidak memperduliken semua orang yang telah mentertawakan dirinya, karena dia memang seorang yang jenaka dan periang. Waktu itu Ciu Pek Thong juga telah menoleh kepada Yo Ko, tanyanya; “Mengapa yang lainnya belum datang ?” “Mungkin mereka agak terlambat, biarlah kita tunggu saja beberapa saat lagi mungkin besok mereka akan tiba . . . !” menjelaskan; YoKo. Sedangkan Siauw Liong Lie hanya tersenyum saja waktu melihat Ciu Pek Thong membantmg2 kakinya, seperti seorang anak kecil vang tengah ngambul. „Aku terburu-buru- kemari, karena takut terlambat. Tetapi sekarang, buktinya mereka itu belum juga datang…..! Jika aku mengetahui akan demikian, lebih baik aku tidak perlu ter gesa2 kemari.” Jengkel sekali tampaknya Ciu Pek Thong, mukanya juga murung, Yo Ko tersenyum. “Loo Boan Theng; tepatnya engkau datang lemari merupakan suatu kebanggaan untukmu. Bukankah engkau tidak mempergunakan waktu karet dan terlamkat datang seperti lainnya? Maka dari itu engkau berarti bisa menepati janji dengan tepat sekali.” Terhibur juga hati Ciu Pek Thong mendengar perkataan Yo Ko! Tetapi baru saja Ciu Pek Thong mau berkata lagi, muka Yo Ko telah berobah, dia memben isyarat agar semuanya berdiam diri! Siauw Liong Lie yang memiliki pendengran tajam seperti Y o Ko. telah mendengar juga sesuatu. „Suara langkah2 kaki orang.” kata Siauw Liong Lie dengan suara perlahan, „Mungkin mereka telah datang… didengar dari suara langkah kakinya yang ringan, tentu mereka yang merniliki kepandaian tinggi. Hemm, nanti aku akan mentertawakan mereka yang datang terlambat seperti itu.” kata Cui Pek Thong seperti juga gembira sekali mengingat dia yang telah tiba lebih dulu. Suara2 langkah kaki itu terdengar semakin, mendekat. Yo Ko heran sekali. Iangkah kaki itu walaupun menunjukkan bahwa orang2 yang tengah mendatangi itu adalah orang yang memiliki ginkang tinggi, namun kenyataannya tidak setinggi ginkang orang2 yang telah diundangnya, seperti Oey Yok Su, It Teng dan jago2 lainnya. Terlebih lagi memang dari sekian banyak suara langkah2 kaki itu menunjukkan bahwa yang tengah mendatangi banyak sekali mungkin lebih dari lima puluh orang. Yo Ko mengerutkan sepasang alisnya. Tiba2 terdengar suara orang membentak . „Monyet2 kecil, apa maksud kalian mendaki Hoan-san….?!” Suara itu dikenal oleh Yo Ko dan Ciu Pek Thong maupun Siauw Liong Lie karena mereka tahu bahwa kata2 itu diucapkan oleh Oey Yok Su majikan dari pulau Tho ho at to, Yo Ko cepat2 berdiri, lalu menghampiri kearah dari mana suara Oey Yok Su didengarnya. begitu juga yang lainnya telah cepat2 menyusul Yo Ko. Waktu mereka tiba dihutan kecil„ mereka seorang lelaki berpakaian hijau, berusia telah lanjut dengan topinya yang berwarna hijau pula, Tengah berdiri membelakangi mereka menghadang puluhan orang, mungkin lebih dari lima puluh orang yang berpakaian ber-macam2. Ada yang berpakaian ringkas sebagai busu, garu silat, ada juga yang berpakaian seperti tojin. Salah seorang dari orang banyak itu telah menjura sambil katanya dengan suara yang ramah: „Kami mendengar berita bahwa Capgo di bulan ini akan diadakan penemuan orang2 gagah di Hoasan, maka kami tertarik untuk ‘ikut menyaksikan pertemuan orang gagah dari tempat yang jauh kami telah datang kemari. Kami harap para enghiong tidak keberatan untuk kehadiran kami ini. !” Tetapi Oey Yok Su yang memang terkenal sangat aseran telah berkata dengan suara yang dingin. „Hemm. aku tidak mau perduli apa maksudmu, tetapi yang jelas kalian telah penuhi datang ke Hoa-san untuk menyaksikan Enghiong Taihwee (pertemuan para jago), tentunya kalian memiliki kepandaian yang tinggi dan cukup bisa kalian andalkan. Nah, sekarang siapa yang ingin meneruskan niatnya, silahkan maju, jika orang itu bisa sepuluh jurus bertahan dari seranganku, tentu aku akan memberikan hak padanya untuk ikut hadir.” Kwee Siang saat itu yang melihat Oey Yok Su tengah menghadang orang-orang itu, dia sudah tidak bisa mempertahankan perasaannya lagi, dia telah berlari menghampiri sambil berseru : „Yaya….” dan kakeknya itu telah dirangkulnya dengan manja sekali. Oey Yok Su meng-usap2 kepala cucunya itu dengan penuh kasih sayang. „Cucuku, engkau berada disini ?” tanyanya dengan sabar sekali “Oey pepek (paman Oey), aku Yo Ko menghunjuk hormat,” kata Yo Ko sambil menggerakkan tangan kiri tunggalnya itu memberi hormat kepada Oey Yok Su. Siauw Liong Lie, Phang Kui In dan Yo Hiat bergantian memberi hormat kepada Oey Yok Su. Sedangkan para orang2 gagah yang semula ingin datang menghadiri Enghiong Taihwe di Hoa San jadi berdiri diam saja, karena mereka melihatnya bahwa di tempat itu sekarang telah berkumpul orang2 kuat. seperti Yo Ko, Siauw Liong Lie dan yang lain-lainnya. “Syukurlah bahwa kalian telah bisa berkumpul pula! Dan kau Yo Hujien, selama belasan tahun lamanya Yo Him sangat menderita mencari-cari kau,” dan Oey Yok Su tersenyum, karena dia melihat betapa Kwee Siang telah semakin dewasa dan tampak jauh lebih matang. Sedangkn Siauw Liong Lie yang digoda oleh Oey Yok Su jadi menundukkan kepalanya karena malu. Setelah itu, Oey Yok Su berdiri menghadapi rombongan orang2 persilatan itu sambil katanya: „Nah. sekarang siapa ingin memulainya. silahkan maju! Jika dapat bertahan sepuluh jurus dari seranganku, maka aku yang mengijinkan orang itu naik kepuncak Hoasan!” Semua orang itu jadi rsgu2, karena mereka mengetahui benar bahwa Oey Yok Su merupakan jago tua yang sudah sulit dicari tandingannya. „Hayo… siapa yang ingin memulainya?” tanya Oey Yok Su lagi. „Aku akan mencobanya!” kata seseorang yang telah melangkah maju, seorang lelaki berusia empat puluh tahun dengan bentuk mukanya yang segi tiga seperti muka tikus. „Aku Bian Sin Wan, ingin meminta petunjuk2 dari Oey Loenghiong.” Lalu orang tersebut, yang mengaku bernama Bian Sin Wan telah memberi hormat, „Malailah, jangan terlalu banyak peradatan..!” kata Oey Yok Su dengan muka yang dingin. Bian Sin Wan rupanya telah nekad untuk menghadapi sepuluh jurus serangan Oey Yok Su karena jika dia berhasil tentu dia akan diperbolehkan menonton pertemuan besar para orang gagah. Sepuluh jurus pikir Bian Sin Wan bukanlah terlalu banyak, jika dia bertahan terus untuk dapat membela diri dari sepuluh kali serangan Oey Yok Su, tentu dia akan lolos dari ujian itu. Oey Yok Su sebagai tokoh yang rnemiliki nama sangat besar dalam rimba persilatan, tentu tidak akan menarik kembali janjinya itu. “Aku sudah Oey Locianpwe….” kata Bian Sin Wan sambil memasang kuda2 yang sangat kokoh sekali. Oey Yok Su tertawa dingin, dia maju satu tindak dengan sikap yang tenang, kemudian dia menggerakan tangan kirinya perlahan sekali, tetapi angin yang berhamburan dari telapak tangannya itu telah menghantam orang she Bian tersebut. Bian S.n Wan juga termasuk jago pertengahan yang memiliki sepandaian cukup tinggi, maka melihat dirinya diserang dengan pukulan “Pek Ciang” (Pukulan Udara Kosong), dia cepat2 menggeser kaki kanannya setengah lingkaran, lalu dengan jurus “Pian Hoa Sin Hito” atau “Arwah Sakti Merobah Ujud”, maka serangan Oey Yok Su sekali ini telah gagal mengenai dirinya. Tetapi Oey Yok Su tidak berhenti hanya sampai disitu saja, dia telah mengeluarkan suara bentakan : “Inilah jurus yang kedua!” dan Oey Yok Su telah menyerang dengan jari telunjuknya seperti sedang menulis diudara dari ujung jari telunjuknya meluncur angin serangan yang kuat sekali. Kali ini Bian Sin Wan tidak bisa mengelakannya, karena serangan Oey Yok Su yang disertai tiga bagian tenaga dalamnya telah menerjang dirinya dan tahu2 Bian Sia Wan telah mengeluarkan suara jeritan kesakitan, tubuhnya terpental dan ambruk diatas tanah dalam keadaan pingsan. Semua orang yang menyaksikan hal itu jadi berdiri bengong, karena mereka melihat kawan mereka yang seorang itu hanya dalam dua jurus saja telah berhasil dirubuhkan oleh Oey Yok Su. Sedangkan Yo Ko, Siauw Liong Lie. Siauw Goat Lan, Yo Him dan yang lain2nya berdiri kagum menyaksikan Oey Yok Su hanya dalam dua jurus, bahkan jurus keduanya hanya mempergunakan jari telunjuknya saja, seperti ilmunya It Teng Taisu yaitu It Yang Cie, sijari tunggal, telah bisa merubuhkan lawannya yang tidak lemah itu. „Siapa yang ingin mencoba lagi ?” tanya Oey Yok Su dengan suara yang dingin. Rombongan orang yang berjumlah kurang lebih lima puluh orang itu, telah bungkam tidak ada yang menyahuti. Tetapi selang sejenak, tiba2 orang yang berpakaian tojin telah melangkah maju sambil katanya : „Oey Locianpwe, pinto Sung Kian Cinjin ingin coba2 merasakan tanganmu, harap Locianpwe tidak berlaku terlalu keras padaku !” „Hemm,” Oey Yok Su hanya mendengus dingin saja. Kemudian Sung Kian Cinjin mengebutkan hudtimiya sambil berkata : „Pinto telah siap, Locianpwe….!” Oey Yok Su tidak menyahuti, dia hanya berkata dengan suara halus kepada Kwee Siang : ,,Minggirlah cucuku, biarlah aku rnemberi pelajaran kepada monyet tengik ini !” Muka Sung Kian Cinjin jadi berobah merah, walaupun dia mengetahui Oey Yok Su sangat tinggi sekali kepandaiannya, tetapi dia jadi mendongkol dan marah dirinya disebut sebagai seekor monyet yang tengik. Namun karena Oey Yok Su merupakan dedengkot dari jago2 dirimba persilatan, dia berusaha tidak memperlihatkan kemendoogkolannya itu, hanya diarn2 dia lelah memperkuat kedudukan kuda2 kedua kakinya. Oey Yok Su menghampiri per-lahan2, dan kemudian waktu jarak mereka terpisah dua tombak, Oey Yok Su berkala: „Sebetulnya kepandaianmu itu tidak ada artinya, engkau hanya mengenal kepandaian dasarnya saja. Dalam satu jurus saja engkau akan bisa kurubuhkan.. !” Mendengar perkataan Oey Yok Su, Sung Kian Cinjin jadi tambah mendongkol. Begitu juga kawan2nya yang berjumlah lima puluh orang lebih itu jadi mendongkol juga, mereka mengangap bahwa Oog Yok Su terlalu sombong. Sung Kian Cinjin telah menjura dan katanya dengan suara yang tawar: “Memang kepandaian pinto yang bodoh sangat rendah sekali…. itulah sebabnya maka pinto bermaksud untuk meminta petunjuk dari Locianpwe.” “Hemmm, hatimu tentu tidak senang mendengar aku mengatakan dalam satu jurus bisa mengalahkanmu, bukan?” kata Oey Yok Su yang seperti dapat membuka perasaan si tojin. Sung Kian Cinjin telah mengangguk sambil katanya:” Itu terserah pada Oey Locianpwe, jika memang Oey Locianpwe berlaku keras, berarti pinto akan buruk dengan bercacad.” Itulah kata2 yang merendahkan diri, tetapi didalam kata2 itu terdapat ejekan untuk Oey Yok Su, karena imam itu ingin menyatakan jika saja Oey Yok Su, gagal merubuhkaanya dalam satu jurus, berarti Oey Yok Su akan kehilangan muka. Sedangkan Sung Kian Cinjin sendiri yakin, jika hanya satu jurus tentu dia bisa mengadakan pembelaan dan penjagaan diri yang ketat agar tidak sampai rubuh ditangan Oey Yok Su. Yo Ko dan yang lain2nya menyadari bahwa Oey Yok Su bukan bicara besar, karena tokoh tua persilatan itu memang memiliki kepandaian yang telah sempurna sekali. Jangankan Sung Kian Cinjin, sedangkan Yo Ko atau Siauw Liong Lie belum tentu dapat menghadapi sebanyak seratus jurus jika bertempur dengan jago tua she Oey yang menjadi pemilik pulau Tho boa-to tersebut. “Hayo mulai!” kata Oey Yok Su dengan suara yang dingin. Sung Kian Cinjin juga sudah tidak berlaku sungkan2 lagi, dengan mengeluarkan suara yang perlahan: „Jangan terlalu keras menjatuhkan tanganmu, Oey Locianpwe….”, imam itu telah menggerakkan tangan kanannya akan mencengkeram bahu Oey Yok Su, sedangkan tangan kirinya menghantam kearah perut Oey Yok Su. Cara menyerang imam itu memang merupaKan serangan yang cukup nekad. karena dengan menyerang seperti itu dia harus mempertaruhkan keselamatan jiwanya, sebab dia melancarkan serangan tersebut tanpa mengadakan suatu penjagaan dirinya. Tetapi jika menghadari seorang jago yang berkepandaian berimbang dengan kepandaiannya mungkin tojin itu bisa merubuhkan lawannya. Justru sekarang yang dihadapinya adalah Oey Yok Su. tokoh dan dedengkot dari rimba persilatan. Walaupun tojin itu telah berlaku nekad. mana bisa dia merubuhkan Oey Yok Su. Bahkan ketika tangan kirinya hampir menghantam perut Oey Yok Su dan tangan kanannja belum lagi sempat mencapai pundak tokoh she Oey itu, dengan gerakan yang sangat ringan sekali Oey Yek Su tabu2 melejit kesamping dan telah berada dibelakangnya si tojin. Sebelum Sung Kian Cinjin sempat menyadari akan kegagahan itu dengan jurus Ju Coan Swie Jin” atau “Pukulan Menembus Air” Oey Yok Su telah menolak punggung tojin itu. Cara menolak dari tangan Oey Yok Su tampaknya perlahan sekali, tetapi kesudahannya sangat hebat, tubuh Sung Kian Cinjin jadi terjerembab ketanah, mukanya menghantam batu kerikil yang ada ditanah, sehingga giginya rontok dua buah!! Waktu tojin itu bangun, mulutnya telah membengkak. Semua orang yang menyaksikan kejadian seperti ini benar2 jadi takluk dan kagum atas kepandaian Oey Yok Su. Karena Sung Kian Cinjin sebetulnya bukan jago sembarangan, tetapi dalam satu jurus saja ternyata Oey Yok Lu telah bisa merubuhkannya. Tidak kecewa Oey Yok Su diakui sebagai seorang guru besar dirimba persilatan. Lima puluh orang lebih kawan siimam jadi ciut nyalinya, tidak seorangpun yang berani untuk maju men-coba2 kepandaiannya. Sung Kian Cinjin telah merangkak bangun dan dengan muka merah padam karena malu dan marah, dia kembali kerombongan kawan2nya tanpa mengatakan sesuatu apapun juga. „Sungguh kepandaian yang sangat indah dan menakjubkan!” tiba2 terdengar suara nyaring yang telah memuji. Waktu semua orang menoleh, dari balik batang pohon telah melangkah per-lahan2 seorang hweeshio tua yang herusia lanjut dengan jenggotnya yang berwarna putih, sedang berjalan menghampiri kearah mereka. Yo Ko dan yang lainnya jadi girang, bahkan Ciu Pek Thong telah me-lompat2 sambil tertawa kemudian disusul dengan kata2nya : „Tua bangka It Teng, ternyata engkau datang terlambat.. ..lihat, aku telah datang lebih dulu !!” Orang yang baru muncul itu memang It leng Taisu, pendeta dari selatan. Dengan tersenyum ramah tampak It Teng Taisu merangkapkan sepasang tangannya, dia telah berkata sabar : ,,Ya, memang Lolap datang terlambat…. maafkan Ciu Enghiong!” Mendengar dirinya disebut sebagai Ciu Enghiong, pendekar gagah she Ciu, bukan seperti biasanya dipanggil situa bangka Loo boantong, dengan sendirinya Ciu Pek Thong jadi kegirangan dan telah melompat2. „Lihat, aku si Loo-Boan Thong telah memperoleh kemenangan, dapat menepati janji tidak datang terlambat!” dan dia tertawa ber-gelak2. It Teng Taisu telah menjura memberi hormat kepada Oey Yok Su, sambil katanya: “Oey heng, apakah sudah hadir semuanya?” dia memanggil Oey Yok Su dengan sebutan Oey heng, yaitu Saudara she Oey. „Apapun baru sampai, jika memang engkau ingin bertanya, tanyakan saja kepada Yo Ko …!” aseran dan tawar sekali suara Oey Yck Su. Saat itu Yo Ko, Siauw Liong Lie dan yang lainnya telah menghampiri It Teng Tiat su dan memberi hormat. Waktu mengetahui Yo Him adalah putera dari Yo Ko dan Siauw Liong Lie, dan kini telah meningkat besar hampir dewasa malah sekarang bisa- kumpul dengan ayah bundanya, maka It Teng Taisu jadi girang bukan main. „Bagus! Bagus! Mudah2an setelah pertemuan besar yang kita adakan ini. Semuanya akan memperoleh nasib baik! OmitohuJ! Omitohud! Alangkah menggembirakan sekali kalian telah bisa bertumpu!!” kata It Teng Taisu, „Eh, pendeta tua bangka, apakah engkau telah ber-siap2 untuk memulai pertemuan kita ini?” tanya Oey Yok Su deagan suara menegur. It Teng Taisu tertawa. „Oey-heng, engkau tidak perlu kesusu, kau bereskan dan selesaikan urusanmu dengan kelima puluh orang itu…,!” kata It Teng Taisu. Oey Yok Su tertawa dingin. “Tidak ada seorang pun diantara mereka yang boleh mendaki puncak Hoasan. karena mereka bukan manusia2 yang ada artinya, hanya kurcaci dan para bu-beng-siauw-cut (maling kecil dan rendah tidak memiliki nama)!” Mendengar perkataan Oey Yok Su maka kelima puluh orang lebih itu telah berobah! Mereka mendongkol dan marah, tetapi apa yang bisa mereka lakukan terhadap tokoh persilatan she Oey yang memang memiliki kepandaian sangat tinggi dan sempurna sekali. Disaat itu tampak Oey Yok Su telah menghadapi kelima puluh orang itu dengan sikap yang angkuh sekali, seperti juga dia memandang rendah dan menjemukan. Kemudian dia menggerakan tangan kanannya yang dikebutkan perlahan dengan angkuh. “Kalian cepat menggelinding pergi” Muka kelima puluh orang gagah itu. yang terdiri dari para jago2 yang memiliki nama didalam rimba persilatan jadi berobah, mereka mendongkol sekali sampai ada diantara. mereka yang tersinggung, tetapi tidak memiliki keberanian untuk menentang Oey Yok Su, telah membalikkan tubuhnya ingin turun gunung kembali. Tetapi saat itu It Teng Taisu telah berkata dengan suara yang sabar. „Siancai! siancai! Mengapa mereka dilarang untuk sekedar menyaksikan? Bukankah» mereka tidak bermaksud mengambil bagian dalam pertemuan kita ini.,.. mereka hanya ingin menyaksikan untuk menambah pengalaman saja…..” „Hmmm……” mendengus Oey Yok Su dengan suara yang aseran sekali. “Dengan adanya mereka, tentu akan mengganggu pertemuan kita! Apa untungnya mereka berada di Hoa San, hanya mengganggu pencurahan perhatian kita dan juga pertemuan kita tentu terganggu dengan adanya mereka!” Setelah berkata begitu Oey YoK Su telah mendelikkan matanya kepada rombongan para jago2 itu, sambil bentaknya:” Mengapa kalian tidak cepat2 menggelinding pergi? Apakah ingin aku yang melempar2kan kalian kebawah gunung?” Waktu berkata begitu, wajah Oey Yok Su tampaknya kejam dan dingin sekali, tidak memantulkan perasaan kasihan sedikitpun juga. Kelima puluh lebih orang2 itu memang gentar dan hati mereka tergetar karena melihat sikap Oey Yok Su yang galak. Namun dalam keadaan seperti itu, tiba2 terdengar suara bergelak2 dari rombongan orang tersebut, suaranya sangat keras dan nyaring. “Sungguh gagah! Sungguh gagah!” kata suara itu kemudian sambil melompat keluar dari rombongan para jago tersebut. Waktu Yo Ko dan yang lainnya melibat orang yang melompat keluar itu, muka mereka jadi berobah, bahkan Yo Ko dengan sengit telah berkata : „Oh kiranya engkau ?’ „Benar! Benar! Memang aku! Memang aku yang ingin mengambil bagian dalam pertempuran dan pertemuan di Hoasan ini…!”, menyahuti orang itu. Dialah Tiat To Hoat-ong. Siauw Liong Lie sendiri yang teringat betapa dulu dia telah didesak oleh pendeta lhama dari Mongol ini sampai jatuh kedalam lembah dan terpisah dengan anaknya, Yo Him, jadi marah sekali waktu melihat Tiat To Ho-at-ong. Tetapi disaat itu Siauw Liong Lie teringat sedang berkumpul orang2 gagah yang menjadi tokoh dan dedengkot persilatan, seperti Oey Yok Su dan It Teng Taisu, maka Siauw Liong Lie hanya bisa menahan kemarahan hatinya dan berdiri diam saja dengan mata mengawasi Tiat To Hoat-ong dengan sorot mata mengandung kebencian. Tiat To Hoat-ong telah memperdengarkan suara tertawanya lagi. “Botehkah aku ikut mengambil bagian dalam pertemuan di Hoa-san ini ?” tanyanya kemudian sambil matanya memandang kepada It Teng Taisu, kemudiai Oey Yok Su. lalu Yo Ko, Siauw Liong Lie, seperti juga dia ingin meminta kepastian dari orang2 tersebut. Oey Yok Su yang terkenal memiliki adat sangat aneh telah memperdengarkan suara tertawa menyersamkan, dia berkata dengan suara yang dingin. „Jika engkau bisa menyambut sepuluh jurus seranganku, engkau diperbolehkan ikut mengambil bagian dalam pertemuan di Hoa-san ini….!. Dingin sekali suara Oet Yok Su, dia juga seperti memandang rendah kepada Tiat To Hiat ong. Pendeta Lhama diri Mongolia itu telah mengeluarkan suara tertawa mengejek kemudian katanya: “Jika sekarang aku harus berhadapan denganmu, berarti pertemuan para orang2 gagah di Hoa-san ini telah dibuka bukan?” Licik sekali kata2 Tiat To Hoat-ong karena dia berkata dengan alasan yang kuat. Dia memang hendak mengelakan diri dari bentrokan dengan Oey Yok Su, maka sengaja dia mengajukan pertanyaan seperti itu. „Mengapa harus telah dibuka pertemuan para orang gagah di Hoa-san ini? Syarat yang kuajukan itu merupakan syarat pribadiku, tidak ada hubungannya dengan pertemuan para orang gagah di Hoa-san. Jika memang engkau bisa menghadapi sepuluh jurus seranganku berarti engkau ada harganya untuk ikut ambil bagian dalam perteman di Hoa-san ini dimana nanti kami akan mengadu kepandaian untuk menentukan siapa yang terpandai! Sekarang jika engkau gagal menerima sepuluh jurus seranganku, apa artinya manusia seperti engkau turut ambil bagian, hanya bisa mengacau saja!!” Mendengar perkataan Oey Yok Su muka Tiat To Hoat ong jadi berobah. „Belum tentu dalam sepuluh jurus engkau bisa merubuhkan aku!” kata hati kecilnya. Tetapi dengan tersenyum mulutnya berkata lain. “Justru kalau bertempur dulu berarti aku telah turut ambil bagian untuk penemuan orang2 gagah di Hoasan ini! Terlebih lagi, memang aku diutus oleh Kaisar Kublai Khan untuk mengadakan kontak dengan pihak kalian, para jago didaratan Tionggoan ini,…” Oey Yok Su yang memiliki adat aneh tetapi cerdas telah berkata: „Kalau begitu belasan tahun yang lalu di mana kami masing2 menerima sepucuk surat undangan ke Iloasan dengan memalsukan nama kami, pekerjaan kau juga?” „Benar!” mengangguk Tiat To Hoat-ong sambil tertawa. “Memang aku telah perintahkan orangku yang akhli menjiplak huruf dan tanda tangan untuk mamancing kalian berkumpul di Hoasan, agar kami bisa mengadakan hubungan. Tetapi apa yang terjadi ternyata berlainan dengan apa yang kami kehendaki, kalian telah saling berpisah…. maka sekarang adalah kebetulan yang menggembirakan sekali, Kita bisa saling bertemu dan berkumpul, bukankah ini merupakan urusan yang menyenang kan sekali?” „Kau…. diperintahkan oleh Kaisar Mongol itu?” bentak Oey Yok Su yang sikapnya menjadi ber-sungguh2. „Tentu! Justru aku diutus untuk mengadakan kontak dengan kalian, para pendekar gagah perkasa…” mengangguk Tiat Hoat ong. Mendengar sampai disitu, Oey Yok Su rupanya tidak bisa menahan kemarahan yang bergolak dicarinya dengan mengeluarkan bentakan: “Manusia rendah…..” tangan kirinya telah bergerak dengan gerakan yang melintang mempergunakan jurus “Liong Heng Coan Ciang” atau Naga Menembus Tangan”, kemudian disusul dengan kakinya bergerak kearah kempolan Tiat To Hoat ong dengan tendangan Lian Hoan Tui atau tendangan berantai. Tiat To Hoat ong telah ber-siap2 sejak tadi, maka ia tidak menjadi terkejut melihat datangnya serangan seperti itu. Dia telah mengeluarkan suara hentakkan yang sangat keras sekali, dan memutar tubuhnya agak miring kekanan, tangan kirinya diangkat seperti juga akan mencengkeram, dan perutnya dikempiskan dan dimiringkan kebelakang sedikit, tangan kanannya dipergunakan untuk menotok jalan darah di pinggul Oey Yok Su. Gerakan yang dilakukannya itu merupakan gerakan yang sangat manis sekali, karena dia telah mempergunakan jurus “Lie Kong Sia Ciok” atau ”Lie Kong Memanah Batu”, gerakan itu cepat sekali. Oey Yok Su tidak gentar melihat cara menyerang lawannya, dengan mengeluarkan dengusan „hmmm,” tampak tangan kanannya diangkat, dia telah melancarkan serangan dengan jurus “Ging Hong Tan Tim” atau “Menyambut angin dengan menyentakkan debu”, walaupun hanya dengan jari tangannya, tetapi gerakan jari tangan Oey Yok Su membawa angin yang men-deru2. Terpaksa Tiat To Hoat-ong melompat mundur menjauhi diri, sambil bergerak mundur Tiat To Hoat-ong telah berkata : ,.Tahan… aku ingin bicara !” Oey Yok Su memperdengarkan suara tertawa mengejek, tetapi tangannya tidak tirggal diam, dia telah melancarkan serangan susulan dua kali ber-turut2 dengan jurus “Hun Kin Co Kut” atau “Memecahkan Otot-Memindahkan Tulang”, lalu disusul gerakan “Hui Hong. Pay Liu” atau “Angin Meniup Pohon Liu “ Tiat To Hoat-ong jadi mengeluarkan seruan kaget, karena ia tidak menyangka Oey Yok Su merupakan seorang tokoh rimba persilatan yang sulit sekali diajak bicara. Tetapi Tiat To Hoat-ong juga tidak berarti berlaku lambat, cepat sekali dia telah mengeluarkan suara bentakan yang sangat keras sambil kedua telapak tangannya ditepukkan satu dengan yang lainnya, karena dia memang melatih ilmu Yoga, dengan sendirinya lwekang dari Tiat To Hoat-ong juga merupakan tenaga dalam yang tinggi dan aneh sekali. Waktu dia menepuk kedua tangannya itu, dia telah memusatkan kekuatan inti tenaga dalamnya itu, sehingga tubuhnya jadi kedot, karena ilmu Yoga yang dipergunakannya kali ini hampir mirip dengan ilmu silat kebal didaratan Tiong-goan yang bernama Tiat Po San. „Dik, duk, duk!” tiga kali tubuh Tiat To Hoat-oog terserang oleh gempuran tangan Oey Yok Su, tubuhnya hanya tergetar sedikit saja dan merasakan napasnya agak sesak. Oey Yok Su sendiri waktu melihat serangannya telah berhasil mengenai sasarannya, semula dia menduga bahwa Tiat To Hoat-ong akan mengeluarkan suara jeritan dan tubuhnya terlempar keras. Namun yang dilihatnya sebaliknya, justru disaat itu tubuh Tiat To Hoat ong hanya tergetar sedikit saja dan mukanya tetap tenang memperlihatkan senyum. Tiat Tiat To-ong memang tidak mau mempelihatkan kelemahannya, dia jadi tersenyum sambil disusuli dengan kataknya: „Hayo menyerang lagi..,.! Hayo….!” katanya dengan suara yang menantang. „Mengapa bengong,” tegur Tiat To Hoat-ong, meluap darah Oey Yok Su. Penasaran bukan main dia tidak berhasil merubuhkan Tiat To Hoat ong. Sedangkan Ciu Pek Thong telah berseru dengan suara yang nyaring- „Tua bangka she Oey, engkau jika rubuh ditangan sigundul kerbau Mongol itu, jangan mempergunakan namamu lagi…” dan setelah berkaca begitu Ciu-Pek Thong tertawa bergelak2. Oey Yok Su jadi semakin mendongkol saja, dia telah mengeluarkan suara bentakan, „Jika aku kalah ditangan sigundul dari Mongol ini, biarlah akan kugorot leherku dengan pedang dan berhenti menjadi manusia.” Mendengar perkataan Oey Yok Su, Ciu Pek Thong memperdengarkan suara tertawanya lagi, kemudian kepada Yo Ko Ciu Pek Thong telah berkata: „Kita lihat saja buktinya, dia akan menepati janjinya atau tidak!” -oo0dw0ooTiraikasih Website http://kangzusi.com/ JILID 29 MENDONGKOL sekali hati Oey Yok Su, dan kemendongkolannya itu telah ditimpahkan kepada Hiat To Hoat ong. Dengan gerakan “Pek Ho Ciong Thian” atau “Burung Bangau Futih Menembus Awan”, cepat sekali kedua tangannya bergerak dengan bersilang, tubuhnya agak maju sedikit, dan tahu tahu tangan kirinya menerobos penjagaan Hiat To Hoat ong akan meremas perutnya, bukan digempur seperti tadi. Tiat t o Hoat-ong juga mengenal jurus yang dipergunakan Oey Yok Su, jurus itu memang merupakan gerakan yang sederhana sekali, tetapi dipergunakan oleh seorang tokoh persilatan seperti Oey Yok Su, dengan sendirinya menjadi hebat luar biasa. Dengan mengeluarkan suara teriakan yang sangat nyaring, Tiat To Hoat-ong tidak berani seperti tadi. menyambut serangan lawannya. Dengan menggunakan kedua tangannya mendorong kedepan, dari kedua telapak tangauya itu mengalir keluar arus angin yang sangat kuat sekali, dan tampak kedua kaki Tiat To Hoat ong telah melompat mundur sejauh dua tombak lebih menjauhi diri dari Oey Yok Su Serangan yang dilancarkan Oey Yok Su jadi mengenai tempat kosong. Tetapi Oey Yok Su memang telah mendongkol dan bertekad di hatinya ingin menghajar Tiat To Hoat ong dan melampiaskan kemendongkolannya karena diejek Ciu pek Thong kepada pendeta Mongol ini. Maka begitu lawannya melompat mundur, segera Oey Yok Su melompat dan meneruskan serangannya beruntun runtun tiga jurus, yaitu dengan gerakan “Tiang Coa Cu Tong” atau “Ular keluar Dari Liang”, disusul lagi dengan gerakan “Hong Hong Tian Tauw” atau “Burung Hong Menganggukan Kepala”, dan jurus yang ketiga dia mempergunakan gerakan “Tui Cung Bong Goat” atau “Mendorong Jendela Melihat Bulan”. Sekaligus diserang tiga jurus dari tiga jurusan oleh Oey Yok Su, Tiat To Hoat-ong jadi terkejut sekali. Ia memang mengetahui Oey Yok Su merupakan tokoh persilatan yang sangat ternama dan disegani didaratan Tiong-goan. Tetapi Tiat To Hoat ong tidak menyangkanya bahwa dia justru harus menghadapi orang she Oey itu dengan kepandaiannya yang benar-benar sangat hebat. Coba kalau tadi diserang tiga jurus dengan beruntun oleh Oey Yok Su dan dia bergerak kurang cepat, niscaya dia akan menemui kematian, atau setidak-tidaknya akan terluka parah. Tetapi Tiat To Hoat-ong sebagai tokoh yang menjagoi di Mongolia dan merupakan orang kepercayaan Kublai Khan, dengan sendirinya dia memiliki kepandaiaa yang tidak lemah. Walaupun memang kepandaian Tiat To Hoat-ong tidak setinggi kepandaian Oey Yok Su, namun bagi Oey Yok Su juga tidak mudah, untuk merubuhkan Tiat To Hoat-ong hanya dalam waktu yang singkat. Cepat sekali Tiat To Hoat ong mengeluarkan ilmu latihan Yoganya, dia hanya menggerak2kan kedua tangannya, yang diputarnya cepat sekali sehingga kedua tangannya itu melindungi tubuhnya. Gerakan yang diakukan oleh Tiat To Hoat ong ini sebetulnya di Tionggoan memiliki ilmu yang serupa dengin ilmu dari pendeta tersebut, yaitu jurus atau ilmu Tiat See Ciang atau telapak tangan pasir besi, yang sangat berbahaya, apa lagi memang Tiat To Hoat ong mempergunakan ilmunya itu dengan memutar sepasang tangannya, maka jika sampai lawannya melancarkan serangan juga dari mereka saling bersentuhan, niscaya lawannya akan menderita kerugian yang tidak kecil: Tetapi bagi Oey Yok Su gerakan tangan Tiat To Hoat-ong merupakan jurus yang tidak begitu sulit untuk dihadapi. Dengan menentang kelima jari tangan kirinya dan juga tangan kanannya melakukan, pukulan dengan jurus Ju Can Swie Jim atau pukulan menembus air. Maka bagimanapun tapatnya penjagaan diri dari Tiat To Hoat Ong tentu dapat diterjang dengan serangan yang dilakukan oleh Oey Yok Su. Beberapa kali diantara derai serangan ke dua tangan Oey Yok Su, Tiat To Hoat Ong memutar otaknya untuk mencari karena pendeta ini menyadari, jika mereka bertempur terus seperti itu, tidak sampai seratus jurus dirinya akan dapat dirubuhkan Oey Yok Su, maka dari itu dalam keadaan seperti ini Tiat To Hoat Ong telah mencari jalan keluar. Dia telah mengeluarkan suara bentakan-bentakan sambil menangkis serangan-serangan Oey Yok Su dengan tangannya itu yang dikebutkan untuk mendesak Oey Yok Su. Tetapi Oey Yok Su sama sekali tidak mau memberikan kesempatan bernapas kepada» Tiat To Hoat Ong, tidak terus mengepung rapat tubuh pandeta ini. dengan sepasang tangannya. Disaat itulah, diotak Tiat To Hoat Ong berkelebat serupa ingatan. Tahan! Orang she Oey, tahan dulu!” teriak Tiat To Hoat ong “Atau kata katamu memang tidak bisa dipergunakan dan tak ada harganya?” Oay Yok Su terkejut dia juga segera teringat sesuatu, sehingga dia jadi begitu mendongkol dan membanting-banting kakinya dengan wajah yang muram. „Telah lima belas jurus, atau mungkin lebih engkau melancarkan serangan’ Tetapi engkau tidak berhasil merubuhkan diriku. ‘Hemmm. mana itu kesombonganmu?” Muka Oey Yok Su berobah rnerah. „Baik engkau menang!” katanya dengan mendonglol meluap-luap. Kelak engkau boleh ikut dalam pertemuan di Hoa san’ retapi sekarang, justru secara pribadi aku ingin meminta petunjuk petunjukmu pendeta besar yang sangat terhormat….!” Setelah berkata mengejek begitu. Oey Yok Su telah melompat dan ingin melancarkan serangan pula kepada lawannya. Tetapi Tiat To Hoat melompat mundur dia berseru: “Tahan! Sekarang aku tidak memiliki waktu untuk bermain-main denganmu! Nanti setelah selesainya pertemuan di Hoasan. barulah kita main-main. Engkau ingin bertempur seberapa ratus jurus juga akan kulayani.” Oey Yok Su jadi bcrdiri dengan muka yang muram, karena dia tidak bisa mengendalikan kemendongkolannya, itu yang tidak memperoleh kesempatan untuk melampiaskannya. Saat itu Siauw Liong Lie sudah tidak bisa mempertahankan keinginan di hatinya untuk menghajar Tiat To Hoat ong, maka dia telah melompat maju sambil memberi hormat kepada Oey Yok Su. “Oey lociampwe lebih baik kerbau gundul seperti dia jangan dilayani, mana pantas menyembelih ayam harus mempergunakan golok babi? Maka biarlah aku yang maju memberikan hajaran padanya.” Oey Yok Su masih diliputi kemendongkolan hanya mendengus. “Hmm,” tanpa memberi komentar dia berdiam diri dengan muka yang dingin sekali, karena dihatinya telah bertekad, nanti untuk menghajar Tiat To Hoat-ong habishabisan setelah ada kesempatan. Tiat To Hoat-Ong juga mengetahui kegusaran Oey Yok Su. dia bahkan mentertawainya sambil katanya: Engkau benarTiraikasih Website http://kangzusi.com/ benar seorang tokoh persilatan yang bisa dipegang katakatanya, nanti setelah urusan di Hoasan selesai, barulah kita main-main tiga hari tiga malam. Kau setuju bukan?” Oey Yok Su mengetahui bahwa itu ejekan untuknya, dimana Tiat To Hoat-ong menganggap dirinya setingkat dengan dia. Kemarahan yang bergolak dihatinya hampir saja tidak bisa disabarnya, tetapi untung saja Siauw Liong Lie telah cepat-cepat menghadapi Tiat To Hoat-ong dan berkata; “Engkau dulu pernah memaksa aku dengan keroyokan sehingga aku terjerumus kedalam jurang disebuah lembah gunung Kun Lun, sekarang aku ingin melihat berapa tinggi kepandaian yang kau peroleh setelah belasan tahun kita tak bertemu …” Tiat To Hoat-ong tertawa mengejek. „Engkau sendiri yang terjun kedalam jurang, kawankawanku Turkichi dan Talengki tentu akan membenarkan perkataanku, Bahwa engkau sendiri yang telah terjun kedalam jurang, jadi bukan kesalahan kami! Hemn, sekarang engkau terhindar dari kematian dan telah berada disini juga, maka apakah kesempatan ini engkau ingin pergunakan ? Majulah,..” Tantangan yang diajukan oleh Tiat To Hoat ong membuat muka nyonya Yo Ko itu berobah merah. Dia memang telah menaruh kebencian kepada Tiat To Hoat ong, justru sekarang orang menghina dia dengan perkataan yang menantang itu, dengan sendirinya telah membuat Siauw Liong Lie tidak bisa mempertahankan diri lagi. Dia telah mengeluarkn suara seruan yang sangat keras, dan menggerakkan kedua tangannya dari kiri dan kanan. Kini Siauw Liong Lie telah memperoleh kepandaian yang lebih tinggi dari masa lalu, serangan kedua tangannya yang kosong tidak mempergunakan senjata tajam, jauh lebih hebat dibandingkan jika dulu Siauw Liong Lie menyerang dengan rnemakai pedang dan mempergunakan jurus-jurus dari Sian Lit Kiam Hoat. Tiat To Hoat otg sendiri tidak menyangka bahwa kepandaian Siauw Liong Lie semakin sempurna dibandingkan dengan yang lalu, maka begitu diserang, belum lagi kedua tangan Siauw Liong Lie yang digerakkan serentak dari jurusan kiri dan kanan itu tiba, angin serangannya telah meluncur sangat hebat dan kuat. Waktu itu Yo ko baru melihat kepandaian istrinya ini dia sangat kagum sekali. Yo Ko hanya menduga, mungkin selama berada didalam lembah Siauw Liong Lie memperdalam kepandaiannya Tetapi melihat gerakan dan jurus yang dipergunakan oleh Siauw Liong Lie, Yo Ko jadi berdiri tertegun karena , herannya, dia melihat jurus jurus yang dipergunakan Siauw Liong Lie berbeda dengan jurus jurus Sian Lie Kiam hoat -atau ilmu Kouw Bok Pay yang biasa mereka latih berdua. Tiat To Hoat Ong tidak berani berdiam diri atau berayal melihat cara menyerang yang dilakukan oleh Siauw Liong Lie, disamping itu dia juga heran sama sekali, namun Tiat To Hoat Ong tidak sempat berpikr gerakan-gerakan kedua tangan Siauw Liong Lie sangat aneh sekali, dia seperti melancarkan serangan kekiri tetapi tahu-tahu tangannya telah menyambar kekanan, dan waktu tangan yang satunya menyambar kearah atas, tahu-tahu inceran sasaran yang sesungguhnya kebawah. Hal ini telah membuat Tiat To Hoat-ong harus memasang mata baik-baik, karena sekali saja dia terserang, niscaya dirinya akan mengalami bahaya yang tidak kecil. Siauw Liong Lie juga telah mempergunakan ilmu yang diperolehnya didalam lembah, untuk merubuhkan diri Tiat To Hoat-ong. Yo Ko sendiri jadi heran. Ciu Pek Thong berulang kali menggeleng-gelengkan kepala sambil mendesah-desah menyatakan kekagumannya atas kepandaian yang dimiliki Siauw Liong Lie. Sedangkan Yo Him jadi berdiri tertegun dengan hati yang berdebar-debar keras, karena justru dia melihat ibunya memiliki kepandaian yang tinggi sekali, mendatangkan perasaan bangga dihatinya. Disaat itu Tiat To Hoat ong mati-matian mengeluarkan kepandaiannya dan baru bisa mengimbangi permainan dan serangan kedua tangan Siauw Liong Lie. It Teng Taisu sendiri telah menyaksikan, betapa Siauw Liong Lie memiliki kepandaian yang tinggi sekali, bahkan hati kecilnya mau menduga bahwa kepandaian Siauw Liong Lie berada diatasnya, atau setidak-tidaknya berimbang, jauh berbeda dengan dulu, diimana kepandaian Siauw Liong Lie masih berada dibawah kepandaiannya. Yang berdiri heran adalh Oey Yok Su dia tidak mengerti Siauw Liong Lie ki telah memiliki kepandaian yang benar benar sangat tinggi dan aneh. Kedua tangannya bergerak semakin lama jadi semakin perlahan, tetapi semakin lambatnya gerakan tangan Siauw Liong Lie semakin kuat tenaga yang menindih Tiat To Hoat ong. Pendeta utusan Mongolia itu jadi kelabakan juga, dia heran bertambah gagah. Karena kepandaian Siauw Liong Lie sekarang berada diatasnya, walaupun Tiat To Hoar ong telah mengeluarkan seluruh kepandaian yang dimilikinya, tetapi. kenyataannya dia terdesak hebat oleh Siauw l,iong Lie. Tangan Siauw Liong Lie sebentar mengincar bagian bawah dan sebentar lagi mengincar bagian aras. Tetapi setiap serangannya itu tidak bisa diduga dulu, karena selalu berobahrobah. Tiat To Hoat-ong juga melihat kepandaian yang dipergunakan Siauw Liong Lie bukan ilmu pukulan pada belasan tahun yang lalu. Pukulan pukulan tangan yang dilakukan Siauw Liong Lie kali ini sangat taggguh dan hebat. Hebat dalam pengertian karena memang Siauw Liong’ Lie telah mendesaknya terus marerus. Waktu Tiat To Hoat ong tengah mempergunakan jurus “Yan Cu Sam Ciauw Sui” atau “Burung walet Tiga Kali Menyambar Air”, disaat itulah Siauw Liong Lie telah menyambuti serangan itu dengan gerakan tubuh yang dimiringkan kesampiug kanan,. lalu dibarengi lagi dengan gerakan kebasan, disusul lagi dengan gerakan tangan kanannya yang digerakkan kebawah, disusul lagi dengan ancaman tangan kirinya, ditangannya itu akan mencengkeram. Tiat To Hoat ong telah menyerang dengan kuat sekali, sehingga tidak bisa ditarik kembali, walaupun dia melihat ancaman tengah mendatangi kedirinya. Cepat bukan main, tampak Tiat To Hoat ong membuang diri kekanan tanpa sempat menarik pulang pukulannya, karena jika dia tidak mengambil tindakan seperti ini, pasti dirinya akan mengalami celaka ditangan Siauw Liong Lie. Melihat lawannya bergulingan ditanah, Siauw Liong lie tidak tinggal diam, dia telah mengeluarkan suara bentakan keras dan kedua kakinya bergantian menendang dengan jurus tendangan “Lian Hoan Tai” dia menendang beberapa jalan darah terpenting ditubuh Tiat To Hoat-ong. Pendeta Mongolia itu jadi tambah terkejut saja, dia sampai mengeluarkan teriakan yang sangat nyaring dan telah melompat berdiri dengan gerakan Tai Po Lian Hoat atau Mundur berantai. Dengan caranya itu Tiat To Hiat ong dapat menghindar dan mundur beberapa langkah. Sambil bertempur, Tiat To Hiat ong telah memperhatikan cara bersilat dan menyerang Siauw Liong Lie. Tiat To Hiat ong sementara waktu hanya membela diri saja dari seranganserangan yang dilakukan Siauw Liong Lie. Namun Siauw Liong Li yang mendongkol karena melihat lawannya, setelah lewat banyak jurus tetap saja ticlak bisa dirubuhkan, membuat dia jadi mengerahkan tenaganya dan mengempos lwekangnya lalu dengan gerakan Ging Hong Tan Tim atau Menyambut Angin dengan Menyentil debu, tangannya monotok kearah tulang iga Tiat To Hoat-ong. Tetapi sekali lagi pendeta itu bisa mengelakan! dia mengandalkan ilmu Yoganya sehingga tubuhnya licin seperti belut. Diantara berkesiuran angin serangan kedua orang yang tengah bertempur itu, tampak semua jago yang berada di tempa ini memandang dengan kagum, mereka memandang tertegun kearah Siauw Liong Lie. karena setiap jurus ilmu pukulan tangan kosong yang dilancarkannya sangat dahsyat dan membingungkan lawannya. Yo Ko melihat cara bertempur isterinya’ telah memandang dengan mata terbuka lebar lebar, seperti juga dia tidak mau mempercayai bahwa isterinya memiliki kepandaian setinggi itu. It Teng taisu memandang diam saja, karena hatinya tengah berpikir keras. Untuk mengetahui entah ilmu apa yang dipergunakan oleh Siauw Liong Lie. Begitu pula Oey Yok Su, dia coba memperhatikan baik-baik setiap serangan yang dilakukan Siauw Liong Lie kepada lawannya, dia heran sekali karena tidak satu juruspun yang dikenalinya dan diketahuinya merupakan ilmu silat dari aliran mana. Sebagai seorang tokoh sakti rimba persilatan, Oey Yok Su mengenal hampir seluruh ilmu silat dari berbagai cabang perguruan, dia sangat beepengalaman sekali, tetapi sekali ini ternyata dia tidak bisa mengetahui ilmu silat apa yang dipergunakan Siauw Liong Lie. Waktu itu Yo Him telah memegang tangan Phang Kui In. Phang Kui In menggangguk. “Ya, ilmu pukulan Siauw Liong Lie luar biasa menakjubkan. Jika kelak engkau memperoleh didikan langsung dari ayah dan ibumu, tentu engkau menjadi seorang pendekar yang memiliki kepandaian sangat tinggi sekali. Di saat itu tampak Siauw Liong Lie secara beruntun telah mempergunakan jurus dari “Hian Kie Ciang Hoat” atau “Ilmu Pukulan Tangan Kosong dari Hian Kie”, Oey Yok Su tiba tiba teringat sesuatu. “Hemmm. pasti ilmu dia!” katanya didalam hatinya, yang menduga kepada seseorang. Sedangkan Ciu Pek Thong bertepuk tepuk tangan kegirangan, sambil terus mengoceh tidak hentinya: “Ya, manusia busuk sererti itu memang harus dihajar adat.. .’!” Sedangkan Siauw Liong Lie memperhebat setiap serangannya. Angin gempuran kedua tangannya telah berseliweran kuat sekali, dan membawa hawa maut. Tetapi justru disaat itu, dari rombongan orang-orang yang berjumlah lima puluh orang lebih telah melompat dua sosok bayangan. „Turkichi! dan kau Talengki!” berseru Siauw Liong Lie dengan suara mengandung kemarahan.” Kebetulan, hayo cepat maju, biar kalian bertiga kubereskan hari ini!” Talengki dan Turkichi telah mengeluarkan suara tertawa mengejek. „Rupanya Thian masih melindungimu sehingga engkau perempuan siluman masih bisa panjang umur….!”mengejek Talengki. ,,Ya. tetapi sekarang kalian tentu tidak bisa melakukan apa apa lagi.. !” kata Siauw Liong Lie.”Lihat serangan.” Sambil mengeluarkan suara bentakan, tampak Siauw Liong Lie beruntun melancarkan dengan kedua tangannya silih berganti. Dia menyerang dengan jurus-jurus yang membingungkan dan juga dia mendesak cepat sekali kepada Tiat To Hoat Ong. Sedangkan Tiat To Hoat Ong yang didesak begitu gencar oleh Siauw Liong Lie membuat dia jadi terdesak cukup hebat, karena jika saja dia berlaku lengah, niscaya jiwanya akan mengalami bencana yang tidak kecil, bisa bisa bisa dia berhenti menjadi manusia. Talengki dan Turkichi, keduanya melompat menerjang kepada Siauw Liong Lu ditangan mereka masing-masing menggenggam pedang, diwaktu melompat mereka telah mencabut senjata itu. Kedua batang pedang itu dengan serentak telah meluncur akan menusuk dan menikam Siauw Liong Lie. Yo Ko melihat itu jadi terkejut karena dia kuatir jika dikeroyok seperti itu isterinya nanti teiluka. Dengan mengeluarkan suara bentakan Yo Ko telah melompat maju. Lengan baju sebelah kanan yang kosong terjuntai itu disalurkan lwekangnya, sehingga lengan baju itu telah melibat dan melingkari pedang Turkichi, setelah itu Yo Ko mengeluarkan suara bentakan menarik pedang lawan. Tetapi Turkichi walahpun kaget dan melihat pedangnya telah dilibat oleh lengan baju Yo Ko, dia tidak menjadi takut, atau juga gugup, dengan mengeluarkan suara bentakan, dia menyalurkan tenaga murni dari lwekangnya kepada pedangnya, maka pedang itu tidak bisa direbut oleh Yo Ko, mereka jadi saling tarik. Tetapi Yo Ko tidak membuang-buang waktu, dengan cepat dia telah menggerakkan lengan kirinya, dengan jurus “Ya Ma Hun Ciang” atau “Kuda Liar Membilaskan bulu surinya,” disaat itu muka Turkichi telah dihantam keras sekali. Untung saja Turkichi bergerak cepat dan gesit, sehingga sebelum lengan baju sebelah kiri Yo Ko menghantam mukanya, dia telah melompat kesamping mengelaklan dari lengan baju Yo Ko hanya menyerempet sedikit tetapi karena kuatnya tenaga dalam yang terkandung dipangkal lengan baju itu, menyebabkan Turkichi terhuyung seperti akan rubuh. Cepat sekali Turkichi membenarkan kedudukan kakinya, dia mengeluarkan suara seruan perlahan dan telah menubruk diri Yo Ko. Serangan yang dilakukannya dengan mempergunakan tangan kirinya, dia menghantam dengan kepalan tangannya karena pedangnya masih terlibat lengan baju kanan Yo Ko. Yo Ko mengeluarkan suara dengusan dingin, lalu menggerakkan tangan kirinya. Kepalan tangan kiri dari lwekang telah disambut dengan kepalan tangan kiri Yo Ko, maka tidak ampun lagi tubuh Turkichi telah terlempai di tanah. Cekalan pada pedangnya telah terlepas, dan pedang Turkichi yang terlepas itu meluncur dan menancap dalam sekali dibatang sebuah pohon yang terpisah lima tombak lebih. Turkichi terlempar ambruk di tanah tanpa daya. karena begitu tubuhnya hampir menyentuh tanah, tangan kanannya telah menghantam bumi, dan tubuhnya meletik lagi dengan gerakan ikan gabus meletik. Kemudian waktu tubuhnya tengah melayang diudara dengan menggunakan jurus Coa Cu Tong atau Ular keluar dari liang, kedua tangannya itu seperti juga ular yang bergerak cepat sekali menyambar ke dada dan pundak Yo Ko. Tubuh Yo Ko telah berkelebat-keilebat bagaikan bayangan untuk melepas serangan Turkichi. Kemudian Yo ko menggunakan tangan kirinya mencengkeram pergelangan tangan Turkichi dan berseru sambil melontarkan Turkichi. Tubuh Turkichi ambruk di tanah dengan keras. Kali ini ia sudah tidak bisa mengelak dan waktu dia ingin melompat, tangan Yo Ko bergerak memukul dadanya. “Bukk” dada Turkichi terhantam tepat sekali dan tubuhnya jtuh terguling lagi di tanah. Tetapi Turkichi memang jago pilihan dari Kublai Khan yang bertugas untuk memupuk kekuatan pasukan Mongolia untuk menyerbu Tionggoan. Tiat To Hoat ong dengan orang-orang yang berhasil dikumpulkannya akan menyambutnya dari dalam. Memang Tiat To Hoat-ong telah berhasil menghubungi beberapa orang jago-jago kenamaan didaratan Tionggoan, tetapi banyak yang masih belum bisa dihubungi atau ditundukannya untuk bekerja pada kekuasaan Khan yang agung itu. Maka dari itu, Tiat To Hoat-ong telah menerima perintah dari Kublai Khan. jika dia tidak berhasil membujuk jago jago luar biasa didaratan Tionggoan, Tiat To Hoat-ong harus mempergunakan kekerasan untuk membinasakan mereka. Karena jika tidak, kelak tentara Mongol ia akan mengalami gangguan dan hambatan. Kelima puluh lebih jago jago yang datang ke Hoa-san memang merupakan kaki tangan Tiat To Hoat-ong, jago jago yang telah menekuk kaki berlutut kepada kaisar Kublai Khan. Maka kedatangan mereka ke Hoa-san adalah untuk mengacau dan ngeroyok Oey Yok Su dan jago jago utama lainnya, jika saja mereka itu menolak untuk bekerja pida Kublai Khan Sekarang Turkichi telah terguling beberapa kali ditangan Yo Ko, sehingga dia dapat membayangkan berapa tinggi kepandaian Yo Ko. Jika mau dibandingkan, tentu dia masih berada dibawah tingkat Yo Ko. Tetapi Turkichi sangat licik dan dia adalah jago yang tidak sembarangan, menghadapi jago sehebat Yo Ko, Turkichi masih bisa mempergunakan otaknya, dia telah bergulingan di atas tanah, kemudian dia membalikan tubuhnya dan menyelusup kedalam rombongan orang banyak. Yo Ko tidak mengejar. Turkichi menyadari jika dia bertempur terus dengan Yo Ko, tentu dia yang akan rugi, maka dari itu, dia menyelinap diantara teman-temannya itu untuk mengatur pernapasannya , mempersiapkan diri. Jika saja jago jago di Housan ini tidak mau menuruti perintah Kublai Khan tentu mereka akan menyerbu dan membinasakan jago jago itu. Disaat itu Yo Ko telah menoleh melihat kearah Siauw Liong Lie. Dia melihat istrinya telah mendesak Tiat To Hoat ong dengan gerakan yang mantap dan kuat, sehingga Tit To Hoat ong benar-benar untuk menghadapinya. Tanpa memperdulikan legi perasaan malu tampak Tiat To Hoat ong telah mencabut keluar golok hitamnya. Dengan mencekal goloknya itu kuat-kuat, dan kemudian diputarnya dengan keras, maka Siauw Liong Lie tidak bisa melakukan’ penyerangan yang terlalu mendesak dirinya. Siauw Liong Lie telah merobah cara, bertempurnya, jika tadi dia memaag banyak menyerang dengan jarak yang cukup jauh. Tentu saja cara menyerangnya harus dilakukannya dengan tenaga dalam yang kuat, tanpa memiliki tenaga dalam yang sempurna, niscaya akan menyebabkan Siauw Liong Lie terkena oleh bacokaa atau tabasan golok lawannya. Tiat To Hoat-ong yang melihat Siauw Liong Lie mulai mengendurkan penyerangannya dia jadi girang dan terbangun semangatnya. Diiringi suara bentakannya yang sangat keras, tampak Tiat To Hoat-ong telah menggerakan goloknya, .dia memutar goloknya secepat titiran sehingga tampak tubuh Tiat To Hoat ong seperti tergulung oleh semacam lingkaran golok yang bergulung-gulung. Seperti biasanya, To hoat (ilmu golok) harus dipergunakan dengar cara melintang atau juga dengan cara menabas keras boleh ke bawah. Tetapi berlainan dengan Tiat To Hoat ong, karena dia memang telah meyakinkan ilmu goloknya itu sampai mendalam benar, maka dia tidak menyerang dengan menabas atau-juga memotong, dia hanya menikam bagaikan tengah mempergunakan pedang, dan waktu sudah dekat dengan sasarannya, tampak Tiat To hoat Ong merobah kedudukan tangannya, maka golok itu baru menabas. Cara menyerang yang dilamarkan oleh Tiat To Hoat ong memang agak membingungkan Siauw Liong Lie, sulit menerka kearah mana serangan itu ditujukan. . Dalam keadaan demikian, tampak Tiat To Hoat-ong telah mengeluarkan seruan seruan nyaring beberapa kali dan melancarkan serangan yang beruntun. Disaat seperti itu Yo Ko tidak bisa ber diam diri. dia telah berseru: “Liong-jie, biar aku yang menghadapinya!” „Jangan!” mencegah Siauw Liong Lie sambil membungkukkan tubuhnya mengelakan serangan Tiat To Hoat-ong. “Biar aku yang . menghadapinya!” Dan sambil berkata begitu, Siauw Liong Lie telah melepaskan sebatang peniti, dengan peniti yang telah ditekuk menjadi memanjang dia mempergunakan benda tersebut untuk menghadapi serangan serangan golok Tiat To Hoat Ong. Semua orang yang menyaksikan apa yang dilakukan oleh Siauw Liong Lie jadi terkejut. ,,Akh, Liong-jie keterlaluan lagi mengapa dia demikian ceroboh memandang rendah pada lawannya? Bukankah dengan demikian bisa mencelakai dirinya sendiri.. .?’ pikir Yo Ko. Disaat itu, Siauw Liong Lie tengah berkelit dari serangan lawannya. Dia telah berkelit dengan tubuh yang dimiringkan, dan dalam keadaan demikian peniti ditangan kanannya telah meluncur akan menikam urat nadi dipergelangan lawannya. Tiat To Hoat ong terkejut, dia mengeluarkan seruan kaget dan cepat cepat menarik pulang goloknya karena jika dia meneruskan serangannya, niscaya dia sendiri yang akan celaka, karena disaat itu jika goloknya baru berhasil menempel dibahu Siauw Liong Lie justru tusukan jarum peniti dari nyonya Yo itu akan sampai lebih dulu, berarti akan melenyapkan tenaga penyerangannya dan juga akan menyebabkan dia menjadi lumpuh. Disaat itu, dengan tidak membuang buang waktu, dengan jurus “Pek Coa Touw Sia” atau Ular Putih mengeluarkan Lidah” tampak jurus Siauw Liong Lie meluncur lagi menuju urat darah yang terpenting dibawah dagu leher. Waktu itu memang terlihat gerakan Siauw Liong Lie tidak akan membawa bahaya apa-apa, bukan hanya sebatang peniti saja? Tetapi bagi Tiat To Hoat ong sendiri yang bersangkutan langsung telah mengetahui bahwa tusukan, yang dilakukan Siauw Liong Lie itu akan merupakan serangan mematikan, karena jalan darah Cie tu-hiai yang diincar dileher Tiat To Hoat ong merupakan jalan darah yang mematikan jika kena tertusuk benda tajam. Tiat To Hoat-ong menggeser kakinya untuk menjauhi diri dari Siauw Liong Lie. Tetapi gerakannya itu membuat dia hampir terguling digaet kaki Siauw Liong Lie, untuk itu Tiat To Hoat-ong harus mempergunakan gerakan ‘Naga Melingkar Ditiang” agar dia bisa menguasai tubuhnya tidak sampai terguling ditarah. Semua orang, jago-jago dan tokoh-tokon persilatan seperti Yo Ko, Oey Yok, Su, Ciu Pek Thong, It Teng Taisu, dan beberapa orang tokoh persilatan kawannya Tiat To Hoat-ong telah mengetahuinya bahwa kepandaian Siauw Liong Lie memang berada diatas Tiat To Hoat ong. Jika pendeta jubah merah ini lerus menerus bertahan diri, tidak sampai seratus jurus tentu dia akan dapat dikalahkan oleh Siauw Liong Lie. Tiat To Hoat-ong juga menyadari keadaannya yang berbahaya itu dengan mengeluarkan seruan keras, dia memutar goloknya dengan cepat, sehingga dirinya diselubungi oleh sinar hitam dari goloknya yang bergulung-gulung. Dengan caranya itu, dia bisa mencegah desakan Siauw Liong Lie berikutnya. Tetapi tentu saja Tiat To Hoat-ong tidak bisa melakukan gerakan membela diri itu terus menerus, karena tokh akhirnya dia akan lemas dan kehabisan tenaga sendirinya. Disaat itu, diantara berkesiuran golok Tiat To Hoat-ong.- tampak Yo Ko telah melompat kearah Siauw Liong Lie, dia menggerakan pedang hitamnya yang merupakan senjata pusakanya itu. “Tranggg….!” segera terdengar suara benturan yang keras sekali. Yo Ko mencekal pedangnya ditangan kiri, dia menangkis golok Tiat To Hoat-ong dengan tangkisan “Badai Bergelombarg di Laut” di mana pedang Yo Ko telah menindih golok Tiat To Hoat ong. Gerakan yang dilakukan oleb Yo Ko memang membantu banyak pada Siauw Liong Lie. Karena waktu golok Tiat To Hoat ong tertangkis oleh pedang Yo Ko maka gerakan golok itu menjadi tertunda, berarti juga penjagaan dari Tiat To Hoat ong jadi kendor dan lowong. Dengan mengeluarkan suara bentakan perlahan: “Atas serangan….!” tangan kanan Siauw Liong Lie bergerak dengan cepat sekali, jarumnya itu telah mengincar jalan darah “Mei tu hiat” nya Tiat To Hoat ong. Pendeta itu jadi terkejut bukan kepalang, dia telah berseru keras sambil menarik goloknya dari tindihan pedang Yo Ko yang berat itu Tetapi usahanya tidak berhasil. maka hatinya jadi tercekat kaget, apa lagi dia melihat sendiri Siauw Liong Lie hanya terpisah beberapa dim saja, maka jika sampai jarum itu mengenai sasarannya dengan cepat, tentu Tiat T o Hoat ong akan menemui ajalnya. Segera Tiat To Hoat ong melepaskan goloknya dia telah melompat kebelakang. Dengan demikian dia telah mengorbankan senjatanya untuk menyelamatkan jiwanya. Yo Ko tertawa dingin: “Dengan kepandaian serendah itu kau berani datang untuk mengacau didataran Tionggoan . . . ?” bentak Yo Ko mengejek. .,Ya, ya,” berseru Ciu Pek Thong dengan suara yang nyaring. ,,Tanganku juga tengah gatal ingin ikut meramaikan keadaan.” Muka Tiat To Hoat-ong telah berobah pucat, dia bimbang sendirinya, karena dilihatnya semua jago-jago yang berkumpul di Hoa-san memiliki kepandaian yang sangat menakjubkan Maka dia telah metigambil keputusan untuk mencari jalin agar dapat membujuk mereka untuk menghentikan pertempuran ini. Waktu itu tampak Siauw Liong Lie telah melompat kedekat Tiat To Hoat ong, dia menyerang pendeta ini lagi dengan mempergunakan jarum ditangan kanannya, gerakannya dilakukan secepat kilat sehingga membuat dia jadi kelabakan. Kembali Tiat To Hoat-ong melompat mundur untuk mengelakkan diri dari serangannya Siauw Liong Lie. Hal itu memang telah diduga oleh Siauw Liong Lie, maka dia tidak menarik tusukan jarumnya itu. melainkan dia telah melompat kedepan Tiat To Hoat ong dan melakukan tusukan jarumrya lebih cepat lagi. Tiat To Hoat ong yang sudah tidak memiliki senjata, karena goloknya tadi telah dilepaskannya membuat dia agak gugup juga. Menangkis serangan jarum Siauw Liong Lie dengan mempergunakan tangan saja, tentu akan membahayakan dirinya, berarti juga Siauw Liong Lie bisa merobah serangannya mengincer jalan darah mematikan ditangannya. Maka dari itu jalan satu satunya bagi Tiat To Hoat ong hanyalah melompat kebelakang lagi untuk mengelakkan diri dari serangan Siauw Liong Lie. Yo Ko juga telah melompat kedekat pendeta Mongolia itu, dia menggerakan pedangniya untnk menikam. Pedang hitam milik Yo Ko itu meropakan pedang istimewa. Pedang mustika itu memiliki bobot yang berat sekali. Jika memang sesecang yang memiliki Iwe-kang yang tanggung tanggung, tentu tidak akan dapat menggerakkan pedang hitamnya itu dengan ringan. Waktu itu Tiat To Hoat ong telah mengeluarkan suara tertawa mengejek. ,,Aku tidak menyangka bahwa jago jago didaratan tionggoan yang disiarkan sebagai tokoh tokoh sakti yang memiliki harga diri, tidak tahunya hanya jago jago berjiwa “tahu! Mana mungkin seorang tokoh yang memiliki harga diri mau melancarkan serangan kepada lawannya dengan cara yang mengeroyok?” Itulah memang sindiran yang sengaja diajukan oleh Tiat To Ho.it ong, karena dia telah terdesak sekali. Dia . memang licik, maka dengan meminjam perkataan hohan, pendekar gagah, dia mengejek lawannya. Yo- Ko tertegun sejenak, kemudian melompat mundur menjauhi lawannya, karena Yo Ko berpikii memang ada benarnya juga bahwa dia telah mengeroyok Tiat To Hoat ong. Walaupun apa saja alasannya, tentu hal itu hanya akan menjatuhkan nama baiknya saja. Sambil tertawa mengejek, Tiat To Host ong telah berkata kepada Siauw Liong Lie: „Sebetulnya aku tidak sampai hati harus bertempur dengan seorang wanita secantik engkau. Dulu pun di Kun Lun San, kami hanya mendesak meminta engkau untuk meryerah, tetapi engkau sendiri yang menerjunkan diri kedalam lembah itu. Bukankah begitu ?” Siauw Liong Lie jadi gusar diingatkan peristiwa dipuncak Kun Lun San itu. Dengan mengeluarkan seruan nyaring Siauw Liong Lie menyambitkan penirinya itu. Peniti itu meluncur dengan cepat sekali karena disambit dengan disertai oleh tenaga Iwekang yang kuat sekali, tanpaknya Siauw Liong Lie juga ingin melayani lawannya dengan bertangan kosong, maka dia telah menimpukkan penitinya. Memang telah diduganya bahwa peniti itu akan dapat dielakan oleh Tiat To Hoat ong, Maka begitu Hoat ong sedang memiringkan tubuhnya menggelakan diri dari samberan peniti yang runcing itu, dengan cepat sekali tampak Siauw Liong Lie mengeluarkan suara seruan, dia telah menggerakan tangan kirinya menyerang pundak Tiat To Hoat ong dengan jurus-jurus ‘Garuda Mencakar pohon Lau” jurus itu! merupakan suatu cengkeraman yabg agak aneh gerakannya, karena Siauw Liong Lie melancarkan cengkeram dengari gerakan yang sulit diduga, mana tangan kanannya seperti menyambar bagian kiri tetapi sesungguhnya serangan jang sebenarnya dari sebelah kanan. Tiat To Hoat ong agak bingung juga menghadapi serangan-serangan seperti itu. Diantara berkesiuran angin serangan yang. begitu kuat karena masing masing mempergunakan lwekang tingkat tinggi, maka abu dan daun-daun kering telah beterbangan keudara. Semakin lama gerakan tubuh kedua orang itu semakin cepat sedangkan Tiat To Hoat ong juga jadi sibuk untuk mempertahankan diri dari serangan serangan gencar yang dilakukan oleh Siauw Liong Lie. Kepandaian Siauw Liong Lie sekarang memang lebih tinggi dari Tiat To Hoat ong hanya saja pendeta dari Monggolia itu memliki ilmu kebal sehingga tubuhnya menjadi licin sekali. Diam-diam Tiat To Hoat ong juga memutar otak mencari jalan dengan cara apa dia bisa meloloskan diri dari seranganserangan Siauw Liong Lie, agar dia bisa memaksa lawannya mundur, tetapi Siau Liong Lie yang tengah marah dan mendongkol karena dulu Tiat To Hoat -Ong pernah bersamasama dengan Talengti dan Turkichi telah memaksa dia, sehingga ia terjun kedalam jurang dan berpisah dengan anaknya, maka sekarang dia melancarkan serangan tanpa sungkan-sungkan lagi, Siauw liong Lie mengeluarkan seluruh ilmu silat yang dimilikinya untuk merubuhkan Tiat To Hoatong. Tubuh kedua orang yang tengah bertempur itu berkelebatkelebat, Hanya memperhhatkan ujud dari gumpalan warnawarni belaka. Dalam keadaan seperti ini, dilihatnya oleh para tokoh tokoh sakti yang berada disitu, dalam seratus jurus lagi Tiat To Hoatong akan dapat dirubuhkan oleh Siauw Liong Lie. Tiat To Hoat ong sendiri juga menyadari akan hal itu, jika dia bertempur dengan cara ini lebih lama lagi, tokh akhirnya dia yang akan rubuh sebagai pecundang. Sebagai seorang yang licik dan memang selalu memakai akal bulus menghadapi lawan-lawannya yang tangguh, maka kali ini juga Tiat To Hoat ong telah memikirkan suatu cara untuk mengalihkan perhatian Siauw Liong Lie. „Perempuan iblis, engkau hanya berani di kandang saja! Dulu waktu dipuncak Kun Lun San kita bertempur engkau begitu pengecut telah melompat kedalam jurang hanya ingin menghindarkan dirimu dari kami. Hemmm,-hemm, aku tidak heran jika sekarang engkau berani melawan diriku, karena memang engkau telah memiliki pembantu pembantu yang banyak! Hahahaha, jika memang kelak aku terjatuh ditangan kalian, jago jago daratan Tionggoan. yang katanya memiliki nama basar, aku tidak perlu malu…. sungguh gagah sekali jago jago daratan Tionggoan yang hanya bisa main keroyok saja!” Semula ejekan dari Tiat To Hoat ong tidak diacuhkan oleh Siauw Liong Lie, tetapi lama kelamaan darahnya jadi meluap. Apa lagi dia diingatkan peristiwa yang terjadi di puncak Kun Lun San, dia jadi marah sekali. Dengan mengeluarkan suara bertahan kedua tangannya bergerak menuju kesasaran di dada dan perut Tiat To Hoat ong dergan gerakaa “Sian Koan Cee He” atau “Sepasang Pembuluh Mancur Berbareng”‘. sehingga siasat mengejutkan Tiat To Hoat ong, sampai pendeta turun itupun mengeluarkan suara jeritan tertahan. Diwaktu itu, dengan mengeluarkan suara bentakan yang nyaring tampak Siauw Liong Lie telah mengulangi lagi serangan “Sepasang Pembuluh Mancur Berbareng” itu sebanyak tiga jurus pecahnya, kedua tangannya itu telah bergerak dengan cepat sekali Tiat To Hoat ong yacg melihat serangan Siaw Liong Lie semakin hebat. dia tidak menjadi takut, karena ia justru merasa girarg telah berhasil memancing kemarahan lawannya. Harus diketahui, didalam suatu pertempuran seseorang tidak boleh terlalu dikuasai oleh perasaan marahnya, karena justeru persiapan dirinya agak berkurang dan perhatiannya terpecah. Memang serang-serangan selanjutnya dari Siauw Liong Lie semakin dahsyat, tetapi karena dia dalam keadaan marah, tentu saja perhatiannya untuk penjagaan dirinya jadi berkurang banyak, dan dia tidak bisa mengendalikan dirinya lagi, dimana secara beruntun Siauw Liong Lie telah melancarkan serangan serangan yang sangat cepat sekali, sehingga memperlemah pertahanan dirinya. Tiat To Hoat-ong telah mementang mulutnya lagi: “Sayang sekali wanita secantik engkau harus menjadi isteri dari seorang manusia bercacad tangannya buntung! Hemmm, coba kalau engkau belum menikah, tentu Hudya (pendeta agnng) ingin sekali mengambil kau sebagai isterinya! Sayang! Sayang!” Muka Siauw Liong Lie jadi merah padam dia telah membentak: “Apanya yang sayang?” „Sayang sekali engkau telah menjadi nyonya sibuntung, kalau belum, tentu aku yang melamarmu!! “menyahuti Tiat To Hoat-ong. Muka Yo Ko yang mendengar itu jad’ berobah merahpadam’ tetapi dia tidak melompat maju sebab kualir nanti lawan mengatakan bahwa mereka main keroyok, apalagi Yo Ko telah melihatnya bahwa kepandaian Siauw Liong Lie berada di atas kepandaian Tiat To Hoat-ong. Hanya yang dikuatirkan Yo Ko dan yang lainnya, Siauw Liong Lie tampaknya lengah dikuasai oleh kemarahan, yang meluap-luap. Tentu saja hal itu akan membuat Siauw Liong Lie sendiri yang menderita kerugian. Begitulah seterusnya sambil berkelit dari seranganserangan Siauw Liong Lie, Tiat To Hoat-ong terus mengejek dengan kata-kata yang kotor. Kemarahan yang telah memuncak dihati Siauw Liong Lie membuat nyonya Yo itu jadi bertekad untuk mengambil jiwa Tiat To Hoat ong. „Pendeta bermulut busuk ! Engkau memakai jubah pendeta hanya untuk kedok belaka… topeng dari kejahatanmu yang ditutupi dengan kependetaanmu itu ! Hemm, Hemm. engkau harus dibinasakan, karena manusia seperti engkau tidak ada gunanya untuk dibiarkan hidup terus “ Disaat itu tampak Tiat To Hoal-one telah tertawa bergelakgelak tubuhnya dimiringkan kekanan doyong ajak kebelakang. karena dia telah mengelakan salah satu serangan Sauw Liong Lie. Kemudian dia berkata dengan suara yang nyaring : „Nyonya yang manis, jika engkau mau bercerai dari sibuntung, aku masih mau menerimamu untuk menjadi selirku kelak jika Khan yang agung telah berhasil menaklukkan daratan Tiojggoan ini……”‘ Terlalu menyakitkan telinga Siauw Liong Lie kata-kata itu, maka dengan mengeluarkan suara bentakan yang sangat nyaring, tahu-tabu tubuh Siauw Liong Lie telah melompat ketengah udara, dia telah mempergunakan jurus-jurus “Ya Ma Hun Cong” atau “Kuda Liar Mengibaskan Bulusurinya” maka tangan kirinya bergerak akan menotok jalan darah Pai sie hiatnya Tiat To Hoat ong. Jalan darah yang diincar Siauw Liong Lie itu bukan merupakan jalan darah yang terlalu penting, tetapi jika jalan darah itu kena di cotok tentu orang yang menjadi kerban totokan itu akan lemas tidak memiliki tenaga untuk sejenak lamanya. Maka jika sampai jalan darah itu tertotok oleh Siauw Liong. Lie, tentu saja Tiat To Hoat-otsg akan tewas tidak bertenaga dan dengan mudah pasti Tiat To Hoat-ong akan dapat dibinasakan oleh Siauw Liong Lie. Maka cepat cepat Tiat To Hoat-ong melompat mundur. Serangan-serangan Siauw Liong Lie memang semakin lama jadi semakin kuat dan menuju kearah bagian-bagian yang mematikan ditubuh sipendeea Mongolia. Tetapi Siauw Liong Lie juga bukan tidak menderita kerugian, bahkan dengan cara menyerang seperti itu, pertahanan dirinya berkurang banyak. Tiat To Hoat-ong memang sengaja memancing kemarahan Siauw Liong Lie dengan ocehan dan makian-makian yang kotor dan hal itu telah merugikan benar Siauw Liong Lie. Semakin dia marah dan mengikuti hawa penasaran dan mendongkolnya, maka lobang-lobang kelemahan yang ada pada dirinya semakin besar. Tiat To Hoat ong saatf itu telah berkata lagi: “Jika engkau memang jatuh cinta kepadaku, katakanlah terus terang , . . jika aku mengetahui pasti diriku dicintai olehrnu, maka biarlah sibuntung aku binasakan agar tidak menimbulkan kerewelan.’” Yang dimaksudkan sibuntung, adalah Yo ko. Dada Yo Ko terasa seperti akan meledak Tetapi dia masih berdiri diam ditempatnya dengan tubuh agak menggigil menahan marah. Siauw Liong Lie sendiri merasakan matanya beikunangkunang karena terlalu dilipiti kemarahannya. “Jika aku tidak bisa membinasakan dirimu dan merobek mulutmu yang kotor itu hm hmm, aku bersumpah tidak, akan hidup lagi!” Dan membarengi dengan perkataannya itu tampak Siauw Liong Lie telah mempergunakan tangan kirinya untuk mencengkeram pundak Tiat To Hoat-ong sedangkan tangan kanannya dipakai menggempur kedada lawannya, dengan serangan yang sangat cepat dan mematikan. Yo Ko yang melihat keadaan ini telah berkata: “Liong jie kau tidak usah mengejar kemarahanmu! Tadi engkau telah beberapa kali melewatkan kesempatan ba’k …..!” Mendengar teriakan Yo Ko, Siauw Liong Lie segera tersadar. Dengan mengempos semangatnya, Siauw Liong Lie telah melompat kebelakang. sejauh tiga tombak dari tempat Tiat To Hoat-ong berada. Waktu itu, Tiat To Hoat ong telah mengeluarkan kata-kata yang mengejek lagi. tetapi Siauw Liong Lie sudah tidak mau mengacuhkan. Dengan cepat dia berhasil menindih kemarahannya dan mengembalikan ketenangan. Dalam keadaan demikian tampak Siauw Liong Lie telah bersiap-siap akan melompat menerjang ke arah Tiat To Hoat-ong lagi. Tetapi Ciu Pek Thong yang sejak tadi tidak bisa berdiam diri, telah berulang kali berteriak: “Eh, nona manis, kau minggir, biar aku Loo boan-Thong yang menghajar sigundul itu ….! Yo hujin, cepat engkau mundur, tanganku sudah gatal nih…. !” Siauw Liong Lie bukannya melompat mundur, bahkan dia menjejakan kakinya: tubuhnya telah mencelat dengan cepat sekali ke dua tangannya bergerak menyerang pula kepada pendeta dari-Mongolia itu…. Pendeta dari Mongolia ini benar benar sangat terdesak sekali, dan rupanya dia menyadari jika keadaan seperti ini berlangsung sampai dua puluh jurus lagi, kemungkinan besar dia tidak bisa mempertahan diri pula dari serangan-serangan yang dilancarkan Siauw Liong Lie. Waktu dia berhasil mengelakan sekali lagi serangan Siauw Liong Lie, Tiat To Hoat-ong telah berseru: „Maju semuanya….” dan kelimapuluh orang orang yang tengah berkumpul itu serentak mencabut senjata mereka masing-masing, ada yang bersenjata golok, ada yang mencekal pedang, toagkat. poankoan- pit, sam-cio, dan lain-lainnya. Mereka telah meluruk akan mengeroyok Siauw Liong Lie. Tetapi Yo Ko, It Teng Taisu, Oey Yok Su, Loo Boan Tong, Yo Him, Phang Kui In dan Siauw Goat telah mencabut senjata dan menerjang maju. Seketika terjadi pertempuran yang ramai sekali diantara orang-orang itu. Tetapi menghadapi tokoh-tokoh persilatan seperti Oey Yok Su, Loo Boan Thong Cui Pek Tong dan yang lain-iainnya mana bisa jago jago yang memiliki nama pertengahan didalam rimba persilatan itu menghadapi mereka ? Yo Ko juga sudah bergerak gesit sekali. Dia tidak mencekal senjata, tubuhnya dengan lincah sekali telah melempar kesana. kemari, setiap pukulan kepalan tangannya sampai, selalu rubuhlah seorang lawannya. Yo Ko yang diam-diam memperhatikan putranya itu, jadi gembira bercampur heran, karena dia gembira melihat putra tunggalnya itu telah memiliki kepandaian yang sangat tinggi. Heran karena Yo ko menduga duga entah siapa yang telah mengajari Yo Him ilmu-ilmu kelas tinggi itu. Waktu itu Siauw Goat Lan juga telah menyerang dengan pedangnya. Dia merupakan murid tunggal Siauw Liong Lie, selama belasan tahun memperoleh gemblengan dan didikan Siauw Liong Lie, maka pedangnya itu menyambar nyambar dengan gesit sekali mengancam lawan lawannya, Oey Yok Su yang memiliki lwekang telah sempurna, setiap kali dia mengebutkan lengan bajunya, maka berjumpalitanlah seorang musuhnya. Begitu juga dengan Ciu Pek Thong yang nakal, dia telah melompat kesana kemari sambil mencabuti rambut dari lawan-lawannya, maka ramai pulalah suara jeritan-jeritan kesakitan dari rombongan kawannya. Tiat To Hoat ang yang rambutnya dijenggut begitu keras oleh Ciu Pek Thong. Dalam pertempuran yang agak kacau balau itu, Tiat To Hoat-ong melihat bahwa pihaknya tidak memperoleh angin, dan dalam waktu yang tidak lama lagi niscaya mereka akan dapat ditumpas habis oleh rombongan Oey Yok Su. Sebagai seorang yang licik, tampak Tiat To Hoat-ong telah mengeluarkan jurus-jurus simpanannya, sehingga dia memaksa Siauw Liong Lie harus melompat mundur menjauhi diri. Mempergunakan kesempatan seperti itu! Tiat To Hoat ong telah melompat mundur sejauh mungkin, dan dengan tidak mengeluarkan kata kata apapun juga dia telah memutar tubuhnya, dengan gerakan yang gesit sekali dia telah berlari mempergunakan gingkangnya, meninggalkan tempat itu. „Mau kubur kemana kau?!” bentak Siauw Liong Lie dengan suara yang berang sekali. Dia telah menjejak kakinya, tubuhnya melambung tinggi sekali dan diwaktu tubuhnya sedang melayang ditengah udara, dengan cepat Siauw Liong Lie telah menggerakkah kedua~tangannya’ dengan jurus”Tiong Coa Cut Tong” atau “Ular Keluar Dari Goa”, dan kedua tangannya itu telah meluncur ke jalan darah Pai siang hiat dipunggung Tiat To Hoat ong. Tiat To Hoat ong memang sudah memutuskan untuk menyelamatkan diri dari kepungan Siauw Liong Lie dan jago jago lainnya, dia telah berlari terus, hanya jubahnya saja yang dikebutkan kebelakang, dan waktu tenaga mereka saling bentur, Tiat To Hoat ong dengan -meminjam tenaga benturan itu, tubuhnya meluncur lebih cepat lagi karena seperti didorong oleh kekuatan lwekang Siauw Liong Lie. Siauw Liong Lie tidak mengejar terus hanya dengan kesal dia telah mengomel. “Pendeta pengecut…..” Saat itu Oey Yok Su dan jago jago lainnya tengah terlibat dalam pertempuran yang kalut. Talengki dan Turkichi juga rnencoba beberapa kali untuk meloloskan diri. Yang menghadapi mereka berdua adalah Yo Him, pemuda yang gagah perkasa itu. Dia seperti seekor rajawali muda yang berkelebat kesana kemari melancarkan serangan dengan telapak tangannya. Gelaran sebagai Sin Tiauw Thian Lam memang sesuai untuk dirinya, karena disaat itu dia telah berkelebat kelebat bagaikan seekor burung rajawali yang menerjang.kesana kemari dengan gerakan yang sangat cepat disamping mengandung kekuatan lwekang yang dahsyat. Tetapi berhubung lawan lawannya merupakan dua orang jago yang memiliki kepandaian dan pengalaman yang cukup luas seperti Talengli dan Tutkichi dengan sendirinya Yo Hirn tidak bisa memperoleh kemenangan dalam waktu yang singkat sekali. Siauw Goat Lan telah menggerakkan pedangnya yang berkelebat kesana kemari kediri empat orang lawannya yang mengurung, dirinya. Tiga orang berpakaian sebagai busu, sedangkan yang seorang berpakaian sebagai To-jin, pendeta agama To yang memelihara konde. Sebagai murid tunggal Siauw Liong Lie. memang tidak kecewa Siauw Goat Lan memperoleh didikan dari gurunya itu, karena pedangnya telah berkelebat kelebat dengan cepat, angin serangannya berkesiur dan mendapatkah rasa jerih kepada lawannya. Siauw Goat Lan telah mengeluarkan ilmu pedang Siauw Liong Lie Kiam hoat, dia memutar pedangnya kekiri dan kekanan dengan gerakan yang cepat sekali. Sehingga memaksa keempat orang lawannya sebentar sebentar harus melompat mundur untuk menyelamatkan diri mereka dari ancaman pedang sigadis kecil ini. Sebagai murid Siauw Liong Lie nampak Siauw Goat Lan mewarisi sifat sifat gurunya yang selalu membawa sikap dingin. Sewaktu bertempur dengan lawan-lawannya ini maka Siauw Goat Lan tidak memancarkan perasaan apapun juga! Sekejap mata saja tampak Siauw Goat Lan telah berhasil mendesak keempat orang lawannya itu dengan bertubi-tubi, bahkan dalam suatu kesempatan, disaat kedua orang lawannya tengah melompat mundur, dengan jurus. “Pek Ho Ciong Thian” atau Burung Bangau Putih menembus Awan” tampak pedang Siauw Goat Lan telah menyambar datang dengan gerakan yang cepat sekali menyontek kearah kepala to jin yang ada di sebelah kanannya. Tojin itu terkejut, dia sampai mengeluarkan suara seruan tertahan saking kagetnya, dengan cepat dia membungkukkan tubuhnya untuk mengelakkan diri dari serangan pedang Siauw Goat Lan, tetapi gerakannya itu terlambat dan tahu-tahu ujung pedang Siauw Goat Lan telah menyontek konde rambut si tojin, sampai rambut itu terpapas putus sebagian. Muka tojin itu jadi berobah pucat, dia juga telah melompat mundur setelah mengeluarkan jeritan kaget, kemudian dengan marah sekali dia melakukan tendangan berantai kepada Siauw Goat Lan. Dengan gerakan seperti itu tojin tersebut berhasil menyelamatkan dirinya dari ancaman maut, coba kalau dia tidak melancarkan tendangan berantai seperti itu, berarti mta pedang Siauw Goat Lan akan menyambat menembusi dadanya. Tendangan-tendangan yang datangnya begitu cepat memaksa Siauw Goat Lan harus menjauhi diri dan membatalkan serangan pedangnya kepada tojin itu. Disaat itu lawan-lawan yang melayani Oey Yok Su paling parah, Karena setiap kali Oey Yok Su menggerakkan tangan kanannya, segera lawannya itu terjungkel dengan tulang iga atau tulang pergelangan tangan yang pada patah. Belasan lawan yang mengurung Oey Yok Su itu berguguran rubuh seorang demi seorang, suara rintihan mereka karena terluka parah, walaupun tidak sampai mati, ramai sekali terdengar. Yo Ko juga telah turun tangan tidak tanggung-tanggung, pedang hitamnya yang merupakan senjata mustika itu, telah bergerak-gerak menabas putus lengan atau kaki dari lawanlawannya. Dalam waktu yang sangat singkat sekali, Yo Ko telah berhasil merubuhkan belasan orang lawannya. Sisa lawannya yang melihat keadaan seperti ini, jadi ciut nyalinya. Mereka berusaha untuk melarikan diri. Tetapi menghadapi Yo Ko, mereka mana bisa berbuat sekehendak hati ‘? Walaupun Yo Ko memiliki tangan kiri saja, tetapi dia merupakan tokoh sakti yang berkepandaian telah sempurna. Dengan mengeluarkan suara bentakan perlahan, Yo Ko kembali berhasil merubuhkan dua orang lawannya. Yang lain lainnya seketika menekuk kaki mereka, tanpa malu-malu lagi mereka telah merengek meminta ampun. “Ampunkanlah kami,…. kami memiliki anak dan istri, jika kami dibinasakan atau dicelakai. tentu anak istri kami terlantar…!” sesambatlah mereka sambil rnenangis meminta ampun dari Sin Tiauw Taihiap Yo Ko. Yo K o telah mendengus, katanya dengan suara yang perlahan tetapi tegas: “Kalian telah berusaha untuk menjadi pengkhianat dengan bekerja sama dengan orang orang Mongol, seharusnya kalian dibinasakan! Tetapi kali ini mau aku mengampuni jiwa kalian tetapi jika kelak bertemu kembali denganku dan kalian masih tetap bekerja sama dengan pihak Mongol, hemm, hemmm, disaat itu aku tentu tidak akan berlaku segan segan lagi untuk membinasakan kalian ….!” Dan setelah berkata begitu Yo Ko mengebutkan tangan kirinva memerintahkan oraog orang itu berlalu. Sedangkai sisa orang orangnya Tiat To Hoat ong yang lainnya telah berlutut juga kepada Oey Yok Su atau Ciu Pek Thong, mereka meminta ampun. Karena melihat mungkin masih bisa merobah watak dan sifat mereka, dan juga memang tidak terdapat permusuhan apa-apa, tokoh-tokoh persilatan membebaskan orang orang itu dari kematian. Pharg Kui In juga telah membiarkan tiga orang lawannya yang tadi mengepungnya itu untuk berlalu. Turkichi dan Talengki yang siat itu tengah bertempur dengan seru, waktu melihat kawan-kawannya melarikan diri, mereka juga cepat-cepat memutar tubuh dan berlari sekuat tenaga mereka seperti dikejar hantu saja! Siauw Liong Lie telah menghela napas, sambil katanya : „Mereka merupakan manusia-manusia rendah yang tidak memiliki harga diri, seharusnya pengkhianat-pengkhianat seperti mereka dimusnahkan…..!” kata nyonya Yo tersebut. „Biarlah !” kata Yo Ko. „Kali ini kita mengampuninya tetapi jika mereka masih tetap bekerja kepada pihak Mongol, disaat itu kita harus membinasakan mereka tanpa pandang bulu lagi….. kukira pelajaran kali ini akan menyadari mereka agar tidak menjadi penghianat! Yang penting, kita harus mengadakan pengejaran kepada Tiat To Hoat-ong. Dia bukan merupakan musuh pribadi kita, tetapi justru dia bisa mencelakai kita semuanya, dimana dia bekerja untuk tentara Mongol. Maka dari itu, jika dia tidak’ disingkirkan, maka rakyat Tiong goan, bisa mengalami bencana yang tidak kecil.” Oey Yok Su dan yang lainnya telah mengangguk membenarkan. „Ya, orang orang Mongolia itu yang harus kita musnahkan…..!” kata Oey Yok Su. „Aku tadi sesungguhnya tidak ingin membebaskan mereka….. tetapi apa boleh buat….. aku tidak, tega untuk membasmi dan melakukan pembunuhan begitu banyak jiwa.” „Tetapi demi keselamatan rakyat Tiong goan dan kerajaan Song, kita harus mengejar orang orang Mongol yang telah menyelusup kedaratan Tionggoan ini…..!” kata Yo ko ..Bagaimana dengan pertemuan di Hoa-san ini? Apakah akan kita. langsngkan terus? Jika memang. tidak kita sudah kepalang tanggung berdatangan kemari dari tempat yang cukup jauh …” “Pertemuan di Hoa-san akan kita langsungkan terus, nanti setelah pcrtemuan ini selesai kita melakukan pengejaran kepada orang orang Mongol itu lagi. Yo Ko telah mengangguk angguk dengan sikap yang sabar. Disaat itu Siauw Liong Lie telah berkata lagi: ,,Jika memang kita tidak melakukan pengejaran terhadap mereka, tentu orang-orang seperti Tiat To Hoat ong, Turkich maupun Talengkie, akan membuat keonaran didaratan Tionggoan. Kepandaian mereka memang tidak lemah, namun dalam keadaan seperti sekarang ini tidak dapat mereka biarkan berkeliaran di daratan Tionggoan, karena tentu mereka akan menghubungi banyak sekali orang-orang atau penjabat penjabat kerajaan Song untuk berkhianat …..!!” Yang lainnya mengiyakan. „Tetapi pertemuan di Hoa-san ini kita lanjutkan saja, setelah itu barulah kita mencurahkan seluruh perhatian kita untuk melakukan pergejaran kepada mereka! Kerajaan Song tengah terancam kemusnahan, sedangkan para menteri dan Kaisar tengah hidup berfoya-foya, sehingga mereka tidak menyadari bahwa kerajaan tengah terancam bahaya. Dalam keadaan seperti ini memang harus kita menggerakkan para orang-orang gagah yang cinta tanah air untuk membendung masuknya musuh kedaratan Tionggoan, Telah enambelas tahun sejak tentara Mongolia itu terpukul mundur dan gagalnya mereka menyerang kota Siangyang, sekarang tentunya mereka telah memupuk kekuatan lagi, menurut berita terakhir, justru Kublai Khan jauh lebih cerdik dari Mangu, kakaknya. ..Tetapi,” katu Oey Yok Su. „Jika dilihat secara keseluruhan, tahun ini kerajaan Song sudah sulit untuk diselamatkan…., karena orang2 pemerintahan dikerajaan Song sudah tidak acuh terhadap ancaman itu, di-samping banyak pengkhianatpengkhianat yang bekerja untuk kerajaan Mongolia. yang akan menyambut dari sebelah dalam Itulah penyakit yang sulit untuk diobati…” Yo Ko menghela napas dengan muka yang berduka, dia bilang: “Ya, jika sampai begitu, dan kerajaan Song sampai jatuh lalu tentara penjajah itu yang berkuasa didaratan Tionggoan aku sudah tidak berselera untuk berkecimpung dalam keduniawian lagi, lebih baik aku mencari tempat yang sunyi dan sepi melewati hari hari tua ………..” -oo0dw0oo- Jilid : 30 COCOK berseru Ciu Pek Tong dengan suara yang sangat nyaring. “Akupun ber pikir begitu. Jika memang Kerajaan Song sampai terjatuh kedalam tangan Mongolia, akupua akan mengasingkan diri dan tidak mau mencampuri lagi urusanurusan duniawi, mengasingkan diri melewati hari hari tua sampai akhir nan, aku terbang melayang menghadap Giam Lo Ong “ Berkata sampai disitu, Ciu Pek Tong telah tertawa bergelak gelak. Yang lainnya juga jadi tersenyum mendengar gurauan dari Ciu Pek Tong. Saat ini Siauw Liong Lie telah melambaikan tangannya memanggil Yo Him. Cepat cepat Yo Him menghampiri ibunya. “Dari mana engkau memperoleh kepandaian yang setinggi itu? Tadi aku menyaksikan engkau telah dapat mempergunakan sekaligus dan berbarengan antara tenaga Yang dengan tenaga Im yang berlawanan itu. Siapa orang yang telah mendidikmu?” Yo Him segera menceritakan pengalamannya. Yang lainnya mendengar cerita Yo Him dengan tertarik sekali. Dan Kwee Siang telah menyatakan juga bahwa Yo Him memiliki kecerdikan yang luar biasa. Semua orang mengangguk angguk mengakui bahwa Yo Him memang memiliki bakat yang luar biasa dan tulang tulang yang baik untuk mempelajari ilmu silat dan tenaga sakti. Julukan yang telah engkau terima yaitu “Sin Tiauw Thian Lam” (Rajawali Sakti dari Langit Selatan) dapat engkau pergunakan terus. Enam belas tahun yang lalu kota Siangyang telah berhasil meloloskan diri dari kepungan orang orang Mongol, dan kini, setelah enam belas tahun justru tentara Mongol itu tampaknya akan segera melancarkan serangan lagi. Kita harus menyelamatkan daratan Tionggoan dari caplokan mereka, tetapi jika melihat keadaan pasukan Tentara Song tentu kerajaan Song tidak mungkin bisa lolos dari kehancuran…..!” dan setelah berkata begitu Yo Ko menghela napas berulang kali. Dihari itu juga mereka mengadakan perundingan ilmu silat. Perundiugan ilmu silat itu memakan waktu selama enam hari. Dan Yo Him, Kwee Siang, Siauw Goat Lan, Phang Kui Ih, banyak sekali memetik manfaat yang mereka peroleh dengan mendengarkan perundingan ilmu silat itu. Terutama sekali Yo Him dimana dia merupakan seorang anak yang cerdas sekali, setiap jurus ilmu silat yang didengarnya dapat disimpannya dalam hatinya. Apa lagi secara bergantian Oey Yok Su, Ciu Pek Thong, Yo Ko dan isterinya, yaitu Siauw Liong Lie, telah menurunkan ilmu andalan mereka. It Teng Taisu juga telah menurunkan dan mewariskan kepandaian istimewanya, yaitu It Yang Cie, jari tunggal yang keramat itu. Walaupun waktu berkumpul mereka sangat singkat. Sehingga Yo Him hanya menerima teorinya saja. tetapi dengan memperoleh petunjuk petunjuk seperti itu dari jago jago yang menjadi tokoh di rimba persilatan, telah membuat Yo Him memperoleh kemajuan yang sangat puas. Disuatu malam kedelapannya, Ciu Pek Tong mengajak Yo Him untuk berlatih. Mereka telah pergi kesebuah bukit kecil, terpisah dari yang lain lainnya. “Mengapa kita harus mencari tempat terpencil seperti ini, Ciu locianpwe ?” tanya Yo Him. “Sudah kukatakan bebetapa kali, engkau jangan memanggil aku Ciu locianpwe. Apa itu locianpwe-an ? Hemmmm, panggil saja Loo Boan Tong, seperti ibu dan ayahmu memanggilku…..!” “Tetapi……” “Apanya yang tetapi ? Lidahmu kaku tidak bisa menyebut Loo Boan Tong ?” “Locianpwe……” “Eh, engkau memanggil Locianpwe lagi !” Ciu Pek Tong, “tidak dengarkah engkau» sudah kukatakan engkau memanggilku dengan sebutan Loo Boan Tong saja ?” “Baiklah Loo…’Loo Boan Tong,” kata Yo Him kemudian. ,Nah begitu baru menyenangkan, bukankah kita bisa bersahabat lebih intim?” kata Ciu Pek Tong sambil berkata lebar. Yo Him juga menyenangi orang she Ciu ini yang sangat jenaka. Walaupun Ciu Pek Tong telah tua sekali dengan jenggotnya yang telah panjang memutih itu. namun Ciu Pek Tong memang jenaka dan membawa sikap yang selalu kekanak kanakan saja. Disaat saat seperti ini, justru dia telah memaksa Yo Him untuk memanggilnya dengan Loo Boan Tong saja dan tidak mau dipanggil dengan sebutan Locianpwe (orang yang tingkatannya lebih tinggi atau tua). „Nah, sekarang aku mau menjelaskan kepadamu, mengapa aku mengajakmu ketempat yang terpencil ini…..” kata Ciu Pek Tong kemudian. ..Ya, justru itu yang ingin kuketahui. Loo….Loo Boan Tong…!” menyahuti Yo Him. „Hem, mengetahui? Ingin mengetahui? Jika aku tidak menceritakannya apakah engkau bisa mengtahui ?” kata Ciu Pek Thong dengan jenaka. “Bukan mengetahui, hanya ingin mengetahui,” menjelaskan Yo Him sambil tersenyum, karena dia melihat mimik muka Ciu Pek Thong tampaknya lucu sekali. Waktu itu tampak Ciu Pek Thong telah duduk numprah diatas tanah. ,,Hayo duduk disini jika engkau ingin mendengar penjelasanku…!” kata Ciu Pek Thong. Yo Him jadi kewalahan juga menghadapi sikap yaug kekanak-kanakkan dari Ciu Pek Thong. Sambil tersenyum dia hanya menuruti saja kehendak Ciu Pek Thong, dia telah duduk, di tanah juga berhadapan dengan Ciu Pek Tong. „Maksudku mengajakmu kemari untuk memberikan penjelasan, yaita mengenai ilmu silat …!” kata Ciu Pek Thong. „Kalau untuk urusan itu, tentu saja aku sangat berterima kasih….karena kepandaian Loo….Loo Boan Thong sangat tinggi, tentu aku bisa memperoleh kepandaian yang istimewa dari kau.. !” Ciu Pek Thong mengangguk. “Ya …….. kepandaian si Loo Boan Tong tidak kalah kalau dibandingkan dengan si gundul It Teng Tausu, juga ayah ibumu belum tentu dapat menundukkan kepandaian. Tetapi aneh sekali, aneh ya, aku mengapa bisa takluk dan tunduk kepada ayah dan ibumu .,…!” Setelah berkata begitu, Ciu Pek Tong duduk terpekur dia memandarg bengong kearah depan tanpa berkedip matanya. Yo Him jadi bingung juga melihat sikap Ciu Pek Tong, yang dianggapnya sulit diterka itu. Lama Ciu Pek Tong bengong begitu tanpa mengacuhkan Yo Him, sampai akhirnya Yo Him habis sabar dan menepuk paha Ciu Pek Thong sambil katanya: “Mengapa kau diam saja Loo Boan Tong…….?” “Oya ! Oya ! ada engkau disini ! Aku lagi memikirkan mengapa aku bisa takluk kepada ayah dan ibumu, padahal kepandaianku tidak berada di sebelah bawah mereka. Nah sekarang aku ingin bertanya kepadamu, kau harus menjawabnya dengan jujur…..!” “O Pasti ! pasti aku akan menjawabnya dengan jujur. Mengapa aku harus tidak jujur sedangkan kau sendiri tampaknya terbuka sekali… !” “Begini, aku ingin mendengar jawabanmu, jika engkau melihat kepandaianku. dibandingkan dengan kepandaian kedua orang tuamu siapa yang lebih tinggi?” Yo Him jadi serba salah memperoleh pertanyaan seperti itu, dia berdiam diri seperi berpikir untuk mencari jawaban yang enak didengar oleh Ciu Pek Tong, asal tidak menyinggung perasaan orang she Ciu ini dan juga jangan sampai merendahkan derajat kedua orang tuanya. Menurut apa yang dilihatnya, bahwa kepandaian kedua orang tuanya, Yo Ko dan Siauw Liong Lie berada diatas Ciu Pek Tong, karena kepandaian Yo Ko dan Siauw Liong Lie selain merupakan kepandaian yang murni, juga mereka telah melatih diri sampai dipuncak kesempurnaannya. Sedangkan Ciu Pek Tong memiliki kepandaian yang sempurna juga, namun jika dibandingkan dengan Yo Ko dan Siauw Liong Lie, kepandaiannya hanya terpaut sedikit saja, dan yang dimenangkan oleh Ciu Pek Tong adalah latihan tenaga dalamnya yang diperoleh dari kakak sepeguruannya, yang pernah merajai persilatan, yaitu Ong Tiong Yang. “Hayo jawab…! kata Ciu Pek Tong waktu dia melihat Yo Him hanya berdiam diri saja. “Mengapa engkau bengong begitu saja?” Ditegur begitu, Yo Him cepat cepat me-nyahutinya: ,,Kalau menurut penglihatanku, kepandaianmu Loo Boan Tong sangat tinggi sekali, mungkin berimbang dengan kepandaian kedua orang tuaku….!” ..Celaka! Celaka!” tiba-tiba Ciu Pek Tong telah melompat berdiri sambil berjingkrak-jingkrak tidak hentinya. Y o Him jadi terkejut, dia telah bertanya dengan suara tertegun: ”Apa yang terjadi Loo.. Loo Boan Tong?” Ciu Pek Tong masih berseru seru; “Celaka! Celaka’ Ini bisa celaka!” “Kenapa, Loo-Boan Tong,” Yo Him telah mengulangi lagi perkataannya. „Kau mengatakan kemungkinan kepandaianku dengan kedua orang tuamu itu berimbang. Bukan begitu?” tanya Loo- Boan Tong sambil mengawasi Yo Him. “Benar .. tetapi mengapa justeru kau mengatakan celaka, celaka begitu…?” „Tentu saja celaka … coba kau bayangkan kau mengatakan ‘kemungkinan’ bahwa kepandaianku berimbang dengan kedua orang tuamu apakah itu bukan suatu pengadu domba antar, aku dengan kedua orang tuamu?” „Heh.?” Yo Him jadi terkejut. „Benar tidak, coba kau pikirkan, dengan engkau mengatakan ‘Kemungkinan’ kepandaianku berimbang dengan kedua orang tuamu itu, berarti juga engkau ingin mengadu dombakan aku dengan kedua orang tuamu. Tanpa ada kepastian, berarti aku harus piebu dengan kedua orang tuamu….. nah. itu bukannya suatu anjuran agar aku piebu dengan mereka….?” Mendengar pekataan Ciu Pek Tong seperti itu. telah membuat Yo Him jadi tertegun tetapi kemudian dia berkata: “Loo Boan Tong engkau jangan salah penafsiran atas perkataanku itu….. ketahuilah, bahwa engkau memiliki kepandaian yang sangat tinggi, maka jika engkau meminta pertimbangan dariku yang tidak memiliki kepandaian yang berarti, mana bisa aku menjawabnya dengan benar? Bukan aku mengatakan kemungkinan kepandaianmu itu berimbang dengan ayah dan ibuku, atau memang engkau memiliki kepandaian yang lebih tinggi dari mereka?” Mendengar perkataan Yo Him yang terakhir iiu, Ciu Pek Tong jadi mengawasi Yo Him dengan pandangan mata tertegun. ,,A … apa?’ katanya kemudian dengan suara tertegun. „Mungkin juga kepandaian yang kau miliki itu jauh berada diatas kepandaian kedua orang tuaku….!” menyahuti Yo Him. Mendengar perkataan Yo Him yang terakhir itu telah membuat Ciu Pek Tong jadi tertawa bergelak-gelak. Melihat sikap Ciu Pek Tong, yang bisa kaget dan kelabakan, atau sekarang bisa tertawa bergelak gelak kesenangan. Yo Him jadi tidak mengerti sendirinya, ada seorang jago tokoh persilatan yang telah lanjut usianya bisa memiliki sifat kekanak-kanakan seperti itu. ,,Nah, sekarang kita kembali kesoal yang sesungguhnya mengapa aku mengajakmu ketempat ini! Aku ingin mengajari engkau ilmu silat simpananku, tetapi engkau harus tutup mulut tidak boleh menceritakan! kepada siapapun juga ! Cara untuk memperoleh kepandaian itu, engkau harus menemaniku bermain kelereng…..,.. setiap kali engkau memperoleh kemenangan dalam permainan kelereng itu, aku akan menurunkan satu jurus kepandaian kepadamu…. begitu seterusnya!” Yo Him tertawa mendengar syarat dari Ciu Pek Tong itu. “Yo Him aku yang kalah dalam permainan kelereng itu ?” tanya Yo Him kemudian “Engkau harus menggendong aku sejauh satu Lie, engkau jadi kuda-kudaan……! Bagaimana, setujukah engkau ?’ tanya Ciu Pek Tong. “Setuju !” mengangguk Yo Him sambil tertawa, dia tertarik mendengar permainan yang agak aneh dari tokoh persilatan yang seorang ini. Ciu Pek Tong telah merogoh sakunya, dia mengeluarkan dua belas kelereng kecil’ Diberikannya kepada Yo Him enam butir, kemudian dia melemparkan lima butir kelereng ke tanah. “Ayo, engkau juga melemparkan kelima kelereng ……!” Ciu Pek Tong menganjurkan, Yo Him hanya menuruti saja. Ciu Pek Tong telah berjongkok dan mempergunakan kelereng yang satu ditangannya itu. disentilkan kepada kelima kelereng lainnya yang berada berpisah satu dengan yang lainnya. Tetapi cara menyentil Ciu Pek Tong sangat luar biasa, karena dia menyentil satu kelereng, kemudian dari satu kelereng itu, terpental menyentuh kelereng yang lainnya, begitu seterusnya, sampai empat kali benturan, Dia dengan demikian, Yo Him baru sekali sentil dapat mengendalikan kelereng itu sebanyak lima kali, baru dia memperoleh kemenangan. Yo Him tersenyum, itulah karena disertai lwekang, maka Ciu Pek Tong bisa mengendalikan kelerengnya saling bersentuhan satu dengan yang lainnya. Yo Him telah berjongkok dan mengikuti gerakan yang tadi dilakukan oleh Ciu Pek Tong, dia telah menyentil kelerengnya itu, pada jari telunjuknya dia dikerahkan tenaga It Yang Gie jari tunggal yang sakti, yang telah diperolehnya dari It Teng Taisu. Kelereng itu meluncur, menghantam kelereng yang ada disebelah kanan, tetapi sentuhan itu mencong kekiri, dan menghantam kelereng yang satunya lagi, dan sentuhan itu membuat kelereng itu menyentuh yang lainnya yang ada didekatnya, tetapi gagal untuk menyentuh kelereng yang keempat. Ciu Pek Tong yang sejak tadi mengawasi dengan tegak telah berlompat-lompat kegirangan, dia bersorak sorak – “Aku menang ! Aku menang ! Aku yang menang dan engkau harus menjadi kudaku !!” Yo Him tersenyum, dia diberi setengah berjongkok, katanya : “Ayo aku menjalani hukuman itu ………” Ciu Pek Tong telah menaiki merangkul di belakang Yo Him. Yo Him juga berlari lari sambil menggendong Ciu Pek Tong. Dia dilakukan hukuman tersebut selama dia berlari lari satu lie jauhnya. Setelah satu Lie, Ciu Pek Tong melompat turun sambil tertawa. “Kau berani bertaruh lagi ‘!” tanyanya. “Berani!” mengangguk Yo Him Disaat itu Ciu Pek Tong telah berlari-lari menghampiri tempat dimana tadi dia telah meninggalkan kelerengnya. Dia telah berjongkok menyentil kelereng itu lagi, dan kembali hanya dia bisa menyentil saling bersentuhan empat kali saja. Yo Him kemudian menyentil juga. Dan kali ini tetap hanya tiga kali yang berhasil disentuh oleh Yo Him, kembali dia harus menjadi kudanya Ciu Pek Tong, menggendong sejauh satu lie. Begitu diulangi terus permainan itu, sampai waktu kelima kalinya, Yo Him bisa menyentil keempat kelereng, sedangkan Ciu Pek Tong hanya bisa mengenai tiga kelereng saja. Ciu Pek Tong telah banting-banting kakinya dengan sikap yang jengkel. “Akh, akh…!” katanya dengan suara seperti menyesal. “Kenapa Loo Boan Tong,” tanya Yo Him sambil tersenyum. “Aku setua bangka bisa kalah dengan seorang anak kecil seperti kau……!” kata Ciu Pek Tong kemudian. “Kebetulan saja itu, Loo Boan Tong…!” kata Yo Him, “Aku hanya kebetulan bisa memenangkan engkau :” Padahal memang Yo Him telah mempergunakan It Yang Cienya berulang kali, dan semakin bisa menguasai teknik menyentilnya, yang membuat dia akhirnya lebih bisa menguasai meluncurnya kelerengnya itu. Saat itu Ciu Pek Thong memang menepati janjinya dia telah mengajari Yo Him satu jurus ilmu silat bertangan kosong. Kemudian setelah Yo Him menguasai jurus itu, dia mengajak Yo Him termain kelereng lagi. Begitulah, setiap kali Yo Him kalah, tentu dia menjadi ‘kuda’ mcnggendong Ciu Pek Tong. Tetapi semakin lama semakin jarang Yo Him kalah. Seringkali mereka sama-sama berhasil menyentil mengenai lima kelereng lainnya, sehingga mereka anggap berimbang dan mengulang-ulangi lagi permainan. Tetapi jika Yo Him semakin lama semakin menguasai cara permainan kelereng itu, sedangkan Ciu Pek Tong semakin mengendor, karena dia sering jadi sengit sendirinya jika kalah dalam permainan itu. Semakin sengit, semakin jarang Ciu Pek Tong bisa mengenai kelima kelereng lainnya itu. Yo Him semakin lama semakin jitu centilannya, selalu berhasil menyentuh kelima kelereng itu dengan menyalurkan It Yang Cie ke telunjuk tangannya. Berulang kali dan beruntun Yo Him telah berhasil memenangkan sepuluh kali permainan kelereng itu. sehingga dia telah memperoleh belasan jurus ilmu pukulan dan Ciu Pek Tong. Waktu itu, hari mulai mendekati sore, Yo Him mengajak Ciu Pek Tong untuk kembali dimana Yo Ko dan yang lain-lainnya berkumpul. Keesokan paginya, Ciu Pek Tong mengajak Yo Him untuk melanjutkan permainan kelereng mereka. Hal ini disebabkan Ciu Pek Tong semakin lama semakin penasaran saja, membuatnya jadi memaksa Yo Him untuk bermain terus sampai sore hari lagi, Dan satu harian itu justru semua permainan dimenangkan oleh Yo Him, dia bisa memperoleh dua puluh empat jurus dari ilmu pukulan istimewa Ciu Pek Tong, si tua yang jenaka itu. Hari ketiganya juga tampak Ciu Pek Tong menderita kekalahan, sehingga dia harus mengajari Yo Him ilmu pukulan sebanyak belasan jurus. Dihari keempat akhirnya Ciu Pek Thong yang menderita kekalahan terus menerus telah ngambek tidak mau bermain kelereng lagi. Yo Ko dan yang lainnya yang mengetahui hal itu hanya tersenyum senyum saja, mereka memang telah mengenal adat dan watak Ciu Pek Tong, sehingga mereka tidak merasa aneh lagi. Begitulah, pertemuan di puncak Hoa San telah selesai, karena mereka bukan pibu seperti biasanya, hanya merundingkan ilmu silat mereka belaka dan mencari kelemahan masingi masing untuk dapat mengurangi kelemahan kelemahan tersebut. Dengan adanya perundingan ilmu silat seperti itu diartara tokoh tokoh persilatan tersebut, mereka jadi semakin sempurna kepandaiannya. Yo Ko teleh mengatakan maksud hatinya guna melakukan pengejaran kepada Tiat To Hoat ong. Yang lainnya juga menyetujuinya. Tetapi mereka beranggapan jika mereka melakukan perjalanan dengan rombongan, tentu akan mendatangkan kecurigaan dipihak kerajaan Song, kemungkinan pula bisa terjadi salah sesuatu pengertian. Dan jupa tentu orang orang Mongolia yang telah menyelusup kedaratan Tionggoan akan bersiap sedia jika melihat rombongan para tokoh tokoh persilatan itu. Maka mereka memutuskan untuk melakukan perjalanan dengan memencar ke berbagai daerah untuk menyelesaikan tugas mereka, guna mencari dan mengejar orang-orang Mongolia yang telah sempat menyelusup ke daerah Tionggoan. Mereka hanya menjanjikan, dibulan keempat dan tanggal lima belas, mereka akan berkumpul di Siangyang. Yo Ko juga menjuruh Phang Kui In, untuk menggabungi pihak Pek Liong Kauw, guna meminta mereka untuk membantu, serta mengumpulkan orang orang yang cinta pada tanah air untuk bergabung dengan mereka. ==oodwoo== Yo Him, Yo Ko dan Siauw Liong Lie melakukan perjalanan bertiga, merek telah melakukan perjalanan ke utara. Sedangkan Siauw Goat Lan, murid Siauw Liong Lie, melakukan perjalanan bersama It Teng Taisu, karena It Teng Taisu melihat bahwa Siauw Goat Lan memiliki bakat yang baik untuk diwarisi kepandaiannya maka dia telah meminta ijin kepada Siauw Liong Lie guna mengajak Siauw Goat Lan dalam perjalanan, untuk dididik ilmu dan kepandaiannya. Tentu saja Siauw Liong Lie girang sekali, dia segera mengijinkan, Siauw Goat Lau sendiri tidak hentinya menyampaikan terima kasihnya kepada pendeta yang baik hati dari negeri Tailie ini. Waktu ilu, Phang Kui In telah melakukan perjalanan ke Timur, untuk menghubungi orang-orang Pek Liong Kauw, guna bergabung dan mengadakan pembelaan tanan air terhadap ancaman orang orang Mongolia. Oey Yok Su sendiri menyatakan bahwa dia bermaksud untuk pelesir saja, tidak mau mencampuri urusan tersebut. „Aku sudah tua, dan aku hanya ingin nikmati hari tuaku di pulau Tho hoa to.” Diminta oleh Yo Ko untuk pergi menghubungi Kwee Ceng dan Oey Yong, ayah dan ibunya itu untuk memberi tahukan situasi yang terakhir itu dan meminta mereka untuk berkumpul di Siangyang. Begitulah para pendekar itu telah berpencar untuk menyelesaikan tugas mereka masing-masing. Sepanjang perjalanan, Yo Him banyak sekali menerima petunjuk dari kedua orang tuanya. Dengan sendirinya pula, kepandaian Yo Him telah maju pesat dibandingkan beberapa saat yang lalu. Ada suatu keluarbiasaan Yo Him, karena dia memiliki kecerdikan yang bukan main, melebihi dari kecerdikan anak anak yang lainnya, dan juga dia memiliki kelainan dalam latihan tenaga Im dan Yang yang telah bisa dicampur adukannya berkat petunjuk Kwee Siang. Sekarang dengan menerima petunjuk Yo Ko dan Siauw Liong Lie secara langsung, kedua tokoh sakti dari rimba persilatan itu, membuat Yo Him tertempa menjadi jago yang memiliki kepandaian jarang tandingannya. Kepandaiannya juga bermacam-ragam, jurus-jurus yang diperolehnya dari Ciu Pek Tong, It Teng Taisu, Yo Ko dan ibunya, yaitu Siauw Liong Lie dikumpulkan menjadi satu. Kepandaian yang beraneka macam itu meycbabkan Yo Him menjadi pendekar yang memiliki kesaktian melebihi dari yang lainnja. Hanya adi satu kekurabgannya, yaitu Yo Him masih kurang pengalaman, dan juga kurang latihan. Jika di saat mendatang Yo Him bisa memiliki waktu untuk melatih diri, mungkin dia dapat melebihi kepandaian dari tokoh2 persilatan yang lainnya. Yo Ko dan Siauw Liong Lie girang luar biasa melihat perkembangan dan kemajuan Yo Him yang memperoleh kemajuan sangat pesat sekali. Maka dari itu, Siauw Liong Lie jadi semakin bersemangat menuruni seluruh kepandaiannya kepada putra tunggalnya itu. Setelah melakukan perjalanan selama satu bulan Yo Ko bertiga tiba di kota Han siu kwan. Mereka singgah dirumah makan yang berada ditengah tengah kota dan merupakan rumah makan yang teramai dan paling, mewah. Mereka memilih kursi yang masih kosong dan memesan makanan untuk mereka. Tetapi di saat itu justru Yo Him melihat seseorang yang sedang tergesa-gesa untuk meninggalkan ruangan makan itu. “Thia (ayah),” kata Yo Him perlahan kepada Yo Ko yang duduk disampingnya.” Lihatlah, bukankah itu Turkichi…..?” Yo Ko dan Siauw Liong lie telah menoleh, mereka mengenali orang yang tengah bergesa-gesa meninggalkan ruangan makan itu memang Turkichi. Rupanya, Turkichi tadi melihat Yo Ko bertiga memasuki rumah makan tersebut, dimana dia sedang bersantap. Maka dia cepat-cepat menundukkan kepala dalam2 agar Yo Ko bertiga tidak melihatnya. Dan begitu Yo Ko duduk mengambil tempat masing2, dia meninggalkan ruang makan itu dengan tergesa-gesa dan menundukkan kepalanya dalam-dalam. Tetapi sayang sakali, Yo Him mengambil sebatang sumpit lalu dilontarkan ke arah Turkichi. Timpukan itu meluncur sangat cepat sckali, membawa angin serangan yang sangat kuat. Turkichi mendengar suara menyambarnya sumpit itu, dia mandek dan mengangkat jari tangannya, menyentil sumpit itu. Sehingga dia jadi terlambat keluar dari ruangan rumah makan itu, karena dia telah tertunda langkahnya dan tahu tahu Yo Ko dan S«auw Liong Lie telah melompat menghadang dihadapannya. “Kebetulan sekali kau ada-disini, hmmm engkau harus memberikan keterangan selengkap-lengkapnya apa yang akan dilakukan oleh tentara Mongolia…..!” kata Yo ko sambil menguIurkan tangannya bermaksud akan mencengkeram pergelangan tangan Turkichi., Turkichi mengelakan diri dengan cepat kesamping kanan, dia telah mengeluarkan seruan perlahan karera terkejut. Belum lagi dia bisa berdiri tetap justru tangan kanan Siauw Liong Lie telah meluncur akan menotok jalan darah Paicing hiatnya ditulang iga kedelapan. Turkichi mengelakan diri lagi dengan cepat dan berusaha menerjang untuk keluar. Namun, kaki kanan Y o Ko telah melayang menendang punggung Turkichi yang mengenai tepat sekali, sehingga tubuh Turkichi terhuyung terjerunuk kedepan. Namun Turkichi bukan seorang yang memiliki kepandaian rendah, walaupun dia tidak bisa menandingi Yo Ko atau Siauw Liong Lie hanya dia tetap merupakan jago Mongolia yaig memiliki kepandaian cukup tinggi. Belum lagi dia terjerunuk mencium bumi justru kcdua tangnnya telah diulurkan menyentuh tanah, dan tubuhnya berjumpalitan ke tengah udara, kemudian meluncur turun di luar ruang rumah makan itu. Yo Ko dan Siauw Liong Lie mengejarnya, tetapi tangan kanan Turkichi telah bergerak menimpukkan sesuatu tampak meluncur beberapa titik sinar terang menyambar kearah Yo Ko dan Siauw Liong Lie, karena Tuikichi telah menimpukkan paku-paku beracun Yo Ko mandek dan mengelakan diri dari sambaran paku paku beracun itu. Sedangkan Siauw Liong Lie menggerakan tangan kanannya untuk merabuh paku paku beracun itu, sehingga dia terhindar dari samberan paku itu. Namun dengan adanya timpukan paku paku beracun itu, telah membuat Turkichi sempat kabur agak jauh. Yo Him yang semula tidak ikut menyerang Turkichi. waktu melihat orang tersebut bisa meloloskan diri, cepat seperti seekor elang tubuh Yo Him telah melompat keluar ruang rumah makan itu. Sambil tubuhnya masih melayang ditengah udara, tangan kanannya bergerak dengan jurus “Ju Coan Swie Jiu”‘atau “Pukulan Menembus Air “, menghantam punggung Turkichi. Turkichi mendengar samberan angin serangan yang deras dan kuat, dia bermaksud mengelakan diri. Tetapi terlambat, serangan Yo Him lebih dulu tiba dipunggungnya, “Bukkkkk tabuh Turkichi telah terhantam cepat sekali, dia sampai rubuh begulingan ditanah beberapa tombak jauhnya. Dengan menahan sakit Turkichi telah berusaha untuk merangkak bangun. Namun waktu itu Yo Him yang tengah meluncur turun telah menendangkan kedua kakinya dengan jurus Lian Hoan Tui atau Tendangan Berantai, menghantam punggung Tutkichi sampai dia terguling beberapa tombak. Waktu Yo Him ingin menerjang maju lagi, disaat itu Turkichi telah berguling ditanah sambil menimpukkan paku2 beracunnya. Yo Him tidak bisa menerjang terus, dia harus mengelakkan diri dulu dari timpukan paku2 beracun itu. Dengan mempergunakan kesempatan itu. Turkichi telah melompat berdiri dan melarikan diri. Yo Ko, Siauw Liong Lie dan Yo Him mengejar terus, Turkichi yang mengetahui dirinya dikejar oleh lawan-lawannya telah mengerahkan seluruh gingkangnya untuk berlari sekeras mungkin. Turkichi memang akhli Gingkang nomor satu di Mongolia! maka dia bisa bertari dengan cepat melebihi kecepatan angin. Namun justru kali ini yang mengejarnya juga adalah tokoh tokoh persilatan sakti seperti Siauw Liong Lie dan Yo Ko, maka dia tidak bisa menghindarkan diri dari pengejaran itu. Walaupun Yo Him masih berusia muda, tetapi diapun memiliki kepandaian yang jangat tinggi berkat ajaran dari beberapa tokoh persilatan yang sakti sakti. Sin Tiauw Thian Lam Yo Him merupakan jago muda yang memiliki kepandaian sangat tinggi sekali dan bermacam ragam, memaksa Turkichi tidak bisa menghindarkan diri dari kejaran lawan-lawannya itu. Diantara orang orang yang banyak dijalan raya itu, semua hanya memandang terheran-heran atas pengejaran yang terjadi itu, tampak Turkichi telah menuju kepintu kota sebelah barat. Tetapi Yo Ko bertiga tetap tidak mau melepaskan dan mengejar terus. Siauw Liong Lie yang ingat bahwa Turkicbi merupakan salah seorang yang enam belas tahun lalu telah meadesaknya sampai harus terjun kejurang dilembah Kun Lun San dan menyebabkan dia terpisah dengan Yo Him, darahnya meluap lagi. Dengan mengerahkan ginkangnya dia berlari secepat angin, dan waktu tiba dipintu kota sebelah barat, Siauw Liong Lie mengejar berada paling dekat dengan Turkichi, hanya terpisah belasan tombak lagi. Turkichi mengetahui itu jadi panik, dia mengempos semangatnya dan melarikan diri terus. Setelah kejar mengejar itu berada diluar kota yang sepi, mereka tampak seperti juga terbang, hanya berkelebat kelebat dalam bentuk bayangan saja. Yo Him melihat ginkang ayah dan ibunya sempurna sekali. Dia tidak bisa belari bersamaan dengan Yo Ko dan Siauw Liong Lie, selalu tertinggal dibelakang kedua orang tuanya. Sesungguhnya Yo Him tela h memiliki bahan yang baik sekali, dia juga memiliki bermacam-macam ilmu kepandaian, hanya yang kurang padanya adalah latihan dan pengalaman. Setelah mengejar ratusan tombak lagi Siauw Liong Lie bisa memperpendek jarak dia. dengan Turkichi, banya terpisah beberapa tombak saja. Turkichi melontarkan sesuatu kebelakangnya, menyerang dengan paku beracunnya. Siauw Liong Lie menjejakkan kakinya, tubuhnya telah melompat dengan ringan dan paku paku beracun itu telah lewat dibawah kakinya. Tetapi karena demikian, jaraknya dengar Turkichi terpisah agak jauh lagi. Tentu saja hal ini membuat Siauw Liong Lie kian penasaran. Dia berlari sambil membungkukkan tubuhnya, dari meraup batu2 kerikil kecil. Kemudian dengan mengeluarkan suara bentakan yang sangat keras sekali, dia telah menggerakkan tangannya melontarkan batu batu kerikil itu, sehingga memaksa Turkichi harus mengelakkan sambaran batu batu kerikil kecil itu, disamping itu juga batu2 tersebut mengincar jalan darah jalan darah yang mematikan. Waktu itulah Siauw Liong Lie telah tiba tangan kanan nyonya Yo ini telah diulurkan untuk mencengkeram pergelangan tangan Turkichi, menyusul lagi kakinya juga telah bergerak dengan cepat melakukan tendangan yang bisa menghancurkan tulang didada Turkichi. Serangan yang dilakukan Siuw Liong Lie bukan sekedar serangan pancingan atau gertakan, dalam keadaan penasaran dan marah Siuw Liong telah manyerang dengan jurus yang bisa mematikan lawannya. Turkichi ciut nyalinya, karena dia kini bukan hanya sekedar menghadapi Siauw Liong Lie disamping nyonya itu masih ada Yo Ko dan Yo Him yang kepabdaiannya juga sangat tinggi sekali. Setelah berhasil mengelakkan diri dengan membuang dirinya bergulingan diatas tanah, Turkichi berusaha melompat bangun untuk melarikan diri. Tetapi Siauw Liong Lie telah melancarkan serangan yang beruntun beberapa kali. sehingga mendatangkan angin yang menderu-deru. Turkichi terpaksa melawan nyonya yang tengah diliputi kemarahan ini. Serangan serangan Siauw Liong Lie telah menghambat Turkichi melarikan diri. dan waktu itu Yo Ko dan Yo Him telah tiba juga. Tanpa mengucapkan apa apa Y o Ko telah melompat maju tangan tunggalnya itu telah diulurkan dan “Wuttttt!” dia berhasi1 mencekal tangan Turkichi, dan sekali dia menggentak, maka dia telah membuat Turkichi jadi jumpalitan bergulingan ditanah. Yo Ko, Siauw Liong Lie dan Yo Him berhenti menyerang, mereka telah memandang Turkichi dengan sikap mengancam. ,Engkau harus memberikan keterangan selengkapnya kepada kami, berapa banyak orang orang Mongolia yang telah menyelusup masuk kedalam daratan Tionggoan?” kata Yo Ko dengan suara yang dingin. Sedangkan Siauw Liong Lie hanya mendengus bebetapa kali, dia telah berkata kemudian dengan suara yang perlahan: “Enam belas tahun yang lalu disebabkan engkau sebagai! salah satu penyebabkannya telah membuat kami ibu dan anak harus berpisah….. maka sekarang jika engkau tidak mau bicara dengan segera dan mempersulit kami. hemmm, hemmml hemmm, aku tidak akan segan segan untuk membinasakanmu! Katakan, di mana berkumpulnya Tiat To Hoat-ong dan yang lainnya?” „Tiat-to Hoat-ong….Tiat To Hoat Oog… …” suara Turkichi tergagap. „Jsngan engkau mempersulit dirimu sendiri, kami bisa saja memaksa. cngkau bicara dengan berbagai jalan ! Jika engkau tidak mau mengatakannya, kami bisa memaksanya dengan cara kami !” ancaman Yo Ko waklu melihat Turkichi ragu2. “Dan engkau jangan sekali2 bermaksud untuk berdusta. !” Muka Turkichi menjadi pucat dan dia tampaknya kebingungan. Untuk menghadapi Siauw Liong Lie, Yo Ko dan Yo Him jelas dia tidak akan sanggap, dan dia tengah terkepung seperti ini tentu saja membuat dia jadi bingung. Meloloskan diri tidak bisa dan sekarang dia dipaksa untuk bicara mengenai keadaan kawan kawannya, memang dia tengah terdesak sekali. Di saat itu Yo Him telah ikut berkata: “Jika dia tidak mau bicara Thia (ayah), sudah patahkan saja tangannya biar aku yang melakukannya, ..!” dan sambil berkata begitu, Yo Him melangkah miju untuk menghampiri Turkichi. Turkichi jadi semakin pucat. Dia tahu, apa yang dikatakan oleh Yo Him bukan gertak sambel belaka, tetapi memang merupakan kenyataan’yang bisa saja di lakukan oleh Yo Him mengingat usia pemuda ini yang masih muda dan memiliki tekanan darah panas. Tetapi Yo Ko telah mengulurkan tangannya, dia mencekal pergelangan tangan Yo Him, sambil katanya: “Biar lihat dulu dia mau bicara atau tidak….!” Turkichi benar2 telah terjepit, dan dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya. “Cepat beritahukan, dimana berkumpulnya kawan kawanmu, termasuk Tiat To Hoit Ong.:..!”bentak Siauw Liong Lie „Kami berpisah beberapa hari yang lalu….” menyahuti Turkichi kemudian. “Dan kami telah mengambil arah yang berlawanan, maka kami tidak mengetahuinya…. dimana Tiat To Hoat Ong berada kini. Dia berangkat menuju ke Mongolia untuk memberi laporan kepada Khan kami…!” Meudengar perkataan Turkichi itu, Yo Ko tertawa dingin. . „Kau kira kami ini bocah2 ingusan yang mudah kau akali begitu saja?” tanya Yo Ko dengan suara yang dingin dan mukanya memperlihatkan kemarahan. “Jika engkau masih mau main2 dengan dustamu itu, hemmm, aku tidak akan segan-segan turunkan tangan jahat kepa damu….!” Turkichi ragu2 lagi, dia coba membela diri sambil katanya”‘ Aku….aku telah bicara dari hal yang sebenarnya…!” „Aku akan menghitungnya sampai tiga-..!” kata Yo Ko. “Jika engkau masih tidak mau bicara, jangan persalahkan jika kami membawa cara kami sendiri untuk memaksa engkau bicara…..!” „Hemmm, sekarang memang kalian berada diatas angin. Aku telah bicara dari hal yang sebenarnya, tetapi kalian menganggap aku berdusta. Dalam hal isi aku memang tidak berdaya, terserah kepada kalian saja…,!” tantang Turkichi akhirnya dengan nekad. Yo Ko tertawa dingin. „Hemmm, aku mau lihat engkau mau bicara atau tidak sekarang ini …..!” dan Yo Ko bukan hanya sekedar berkata saja, dia telah mergulurkan tangan kanannya, tahu tahu dia telah menotok jalan darah Ju-siang-hiat dibelikat bahu Turkichi. Bcgitu tertotok jalan darahnya, segera Turkichi meraung kesakitan, karena dia merasakan seluruh tubuhnya seperti juga digerayangi semut. Dengan cepat Turkichi menjerit “Bebaskan aku dari totokanmu…. bebaskan aku….’ aku akan bicara…. aku akan bicara. . .!” „Bicara, nanti aku membebaskan!” kata Yo Ko dengan nada yang dingin. “Beri tahukan kepada kami, dimana sekarang beradanya Tiat To Hoat-ong dan kawan kawanmu yang lainnya?!” ,,Yang…. aku ketahui mereka akan menyambut pasukan Khan dikota Siargyang….! menyahuti Turkichi. “Aduhhh…. aduhhh.. bebaskan totokanmu itu…. bukankah aku telah bicara….” Dan sambil berkata begitu, Turkichi te lab bergulingan di atas tanah, karena dia merasakan betapa sekujur tubuhnya sakit sakit, Dia meraung raung dengan suara yang menyayatkan. ‘Bunuh saja aku . ..bunuh saja aku, jangan menyiksa aku dengan cara seperti ini …. bunuh saja aku ….!” teriak Turkichi dengan suara yang sangat menyayatkan, rupanya perasaan sakit yang dideritanya itu sudah tidak sanggup untuk diatasi dan ditahannya. Tetapi Yo Ko telah berkata lagi : “Kau bicara dulu, baru aku akan membebaskan engkau ! Bicara dulu seluruhnya keterangan yang kami butuhkan. . . , . . !’” “Ya. ya aku akan bicara . .. aku aku akas bicara, aduhh aduh….!” Berseru seru Turkichi sambil bergulingan. Melihat itu Siauw Liong Lie telah berkata pada Yo Ko, suaranya perlahan : “Ko-jie bebaskan dulu dia, biarlah dia bicara dulu, kalau memang dia hendak mempermainkan kita dengan keterangan palsunya, maka disaat itu barulah kita menyiksa dia dengan berbagai cara dan membinasakannya…..!” Yo Ko mengangguk, dia mengambil sebutir batu kerikil dan melontarnya mengenai tepat sekali jalan darah Su sie hiat, sehingga totokan Yo ko- tadi telah terbuka dan terbebaslah Turkichi dan pengaruh totokan yang begitu menyakitkan. “Sekarang bicaralah ingat sekali saja engkau berpikir untuk main gila mendustai kami hemmm. hemmm, disaat itu aku tidak akan tanggung tanggung lagi turun tangan !”‘ Turkichi menarik napas dalam-dalam, tampaknya dia baru bisa bernapas lega, tidak merasakan sakit seperti pada waktu beberapa sa at yang lalu. “Keterangan apa yang kalian hendak tanyakan !” tanya Turkichi kemudian dengan muka yang pucat. Jelaskan seluruh rencana dari Khan Mongolia itu, apa yang akan dilakukannya dan apa yang sedang dikerjakannya sekarang ini……!” Turkichi ragu ragu, dia bimbang, sekali. “Cepat katakan, sekali saja aku menggerakkan tanganku, maka engkau akan tersiksa lagi seperti tadi, bahkan lebih hebat … ..!” bentak Yo Ko. “Khan. . Khan kami bermaksud menyerang kerajaan Song ini….. diakhir tahun ini’” kata Turkichi kemudian. “Dan, berapa bcsar kekuatan yang akan di kerahkan ?” tanya Yo Ko lagi. “Ha! ini aku tidak mengetahuinya ….. karena aku hanya diberi tugas untuk mencari kontak saja dengan jago-jago daratan Tionggoan agar kami bisa bekerja sama dan menyambut kedatangan Khan….. !’ “Berapa banyak jago-jago yang telah sempat kau hubungi dan bersedia untuk berkhianat dan juga siapa-siapa saja nama mereka ? Ditanya begitu, Turkichi benar benar ragu ragu, dia sampai berdiam diri sekian lama. “Engkau ingin keras kepala seperti tadi ?” bentak Yo Ko. Ditanya begitu, muka Turkichi jadi tambah pucat, dengan sikap masih ragu-ragu dia telah berkata ; “Mereka itu … mereka itu. Tetapi baru saja Turkichi berkata sampai disitu, terdengar suara tertawa bergelak-gelak yang panjang sekali. Yo ko mengerutkan alisnya, nada suara tertawa itu mengandung nada kesesatan. Dan muka Turkichi seketika bersinar, tampaknya dia girang mendengar suara ketawa itu, yang mungkin dikenalnya sebagai suara kawan kawannya. Yo Ko, Siauw Liong Lie dan Yo Him telah melihat perobahan wajah Turkichi, maka Yo Ko telah mendengus dingin: “Siapa kawanmu itu? Jika dia datang, jangan harap engkau bisa tertolong, karena isteriku akan melayaninya., sedangkan aku tetap akan menyiksamu .. !” “Tidak semudah itu! Tidak semudah itu!’ terdengar suara orang berkata dengan nada yang angkuh sekali. Yo Ko bertiga terkejut juga, karena suara itu terdengar dan jarak yang cukup jauh, namun bisa terdengar jelas oleh mereka, maka hal itu telah membuktikan bahwa orang yang bicara itu adalah seorang yang telah memiliki lwekang sempurna. Yo Ko mengempos semangatnya, kemudian dia berkata dengan suara yang disertai lwekangnya: “Siapa orang yang hanya berani memperdengarkan suara tetapi menyembunyikan ekor? Keluarlah mari kita bicara….!” „Ha, ha, ha, aku bukan menyembunyikan ekor, jika aku keluar memperlihatkan diri, tentu kalian akan terkejut dan mati karena kaget… !” terdengar suara jawaban dari arah yang jauh sekali, tetapi setiap patah kata terdengar sangat jelas sekali. Dan berbareng dengan habisnya suara itu tampak dari kejauhan sesosok tubuh yang tengah berlari lari dengan gerakan yang gesit sekali. Dan dalam sekejap mata, sosok tubuh itu, yang berukuran tinggi besar, telah berada. dihadapan Yo Ko bertiga. Dialah seorang asing, jika dilihat wajah tentunya orang Mongolia dengan! hidungnya yang mancung, muka yang kasar dan juga tubuhnya yang tinggi besar itu, memperlihatkan tenaga dan semangatnya sangat kuat. Namun yang mengherankan, biasanya jika seorang akhli gwakang (akhli luar) memang memiliki ukuran tubuh yang besar dan berotot kuat. Namun orang ini justeru bentuk tubuhnya seperti seorang akhli gwakang sedangkan sesungguhnya dia seorang akhli lweekhe. akhli tenaga dalam, tenaga lunak. Yo Ko tidak mengenal siapa orang ini, hanya melihat orang tersebut telah berdiri di hadapan mereka, dengan suara yang dingin Yo Ko telah bertanya: “Siapa namamu, mengapa engkau berkeliaran didaratan Tionggoan tentu engkaupun oranya Khan kalian, bukan?” Ditegur begitu, oratig yang bertubuh tinggi besar itu tertawa bergelak gelak, tampaknya dia memandang rendah dan meremehkan Yo Ko bertiga, yang seperti tidak dipandang sebelah mata. „Tepat! Sungguh tepat perkataanmu! Memang aku orang kepercayaan dari Khan yang agung, Khan kami yang memiliki kekuasaan yang sangat besar….! Aku Ciu Tie Tamitai dan memang aku ingin berkeliaran didaratan Tionggoan! Katakan, jika aku ingin beikeliaran begitu, apa yang hendak kalian lakukan’?” Yo Ko jadi mendongkol melibat sikap orang yang ugal ugalan „Apakah engkau kira semudah itu untuk berkeliaran didaratan Tionggoan dengan maksud menimbulkan kekacauan dan huru hara?” „Eh, engkau terlalu banyak bicara saja, buntung,” kata orang itu sambil mengebutkan lengan jubahnya. Dan lengan jubahnya itu meluncur angin yang sangat kuat, membuat Yo Ko jadi terkejut,.Yo Ko menancapkan kedua kakinya dengan kuda2 seribu kali, untuk berdiam diri terus ditempatnya, tetapi kibasan dari orang itu telah membuat tubuh Yo Ko terhuyung sedikit kebelakang. Hal itu bukan mengejutkan Yo Ko saja bahkan Siauw Liong Lie dan Yo Him juga jadi terkejut. Mereka mengetahui bahwa Yo Ko merupakan tokoh sakti yang sulit dicari tandingannya lagi dimana-mana. Tetapi orang Monggolia itu, yang mengaku bernama Ciu Tie Tamtai, dengan hanya mengebut perlahan saja telah bisa menggugurkan kuda-kuda kaki Yo Ko, sudah merupakan kejadian yang langka dan jarang terjadi. Yo Ko sendiri telah berobah mukanya, dia berkata dengan dingin : “Hebat ! Rupanya engkau memang memiliki sedikit kepandaian, sehingga berani membrutal didaratan Tionggoan ….!” dan setelah berkata begitu, tampak Yo Ko telah menggerakkan lengan tunggalnya, dia mengebut sama seperti halnya orang itu, dimana Ciu Tie Tamtai merasakan gelombang angin mendorong dia sangat kuat. Tetapi orang Monggol ini telah tertawa bergelak gelak, dia merangkapkan kedua tangannya, dan tubuhnya tidak bergeming sedikitpun juga, dia malah menerima serangan Yo Ko dengan kekerasan. Tubuh Yo Ko kembali tergoncang, walau pun tidak sampai mundur seperti tadi. Hal itu lelah membuktikan bahwa ketuatan lwekang orang Mongolia itu tidak berada dibawah Yo Ko, kemungkinan berada diatasnya. Siauw Liong Lie cepat2, bersiap sedia untuk membantu suaminya jika Yo Ko terdesak oleh Ciu Tie Tamtai. Tetapi Yo Ko setelah tubuhnya terguncang, mengeluarkan suara tertawa . tahu2 tubuhnya bergerak cepat sekali, dia telah melompat sambil mengayunkan tangan kirinya itu melancarkan serangan dengan jurus “Naga keluar dari liang,” untuk menghajar bahu Ciu Tie Tamtai. Tetapi Ciu Tie Tamtai tidak bergeser sedikitpun. dari tempat berdirinya. Melihat datangnya serangan Yo Ko, justru dia berdiri tegak, dan dia menyambuti serangan itu dengan mengangkat tangan kirinya menangkis dengan kekerasan. „Bukkk….!” kali ini bukan Yo Ko yang terhuyung, tetapi justru Ciu Tie Tamtai yang telah tergoncang dari tempat berdirinya dan mundur tiga langkah. Belum dia sempat untuk berdiri tetap, Yo Ko telah menerjang lagi dengan dua jurus serangan yaitu “Naga merebut mutiara”, dibarengi dengan jurus “Naga Mengibas ekor” Tangan kirinya menyambar akan mencengkeram dada lawan, sedangkan tangan kanannya yang buntung, hanya mempergunakan lengan bajunya saja untuk mengebut keatas kepada Ciu Tie Tamtai. Kebutan lengan baju tangan kanan Yo Ko yang kosong itu bukan gerakan yang sembarangan karena pada kain lengan baju itu telah diselubungi oleh kekuatan lwekang yang hebat sekali, sehingga lengan baju itu telah berubah keras seperti baja. Maka jika lengan baju kanan Yo Ko berhasil mengenai kepala Ciu Tie Tamtai jangan harap dia bisa selamat, batu saja akan hancur bila terserang lengan baju kanan dari Yo Ko. Ciu Tie Tamtai juga tampaknya terkejut menyaksikan serangan Yo Ko itu. Tadi ia menduga Yo Ko tentu berada disebelah bawah kepandaiannya. Dia merupakan guru dari Kim Lun Hoat ong dan Tiat To Hoat ong. yang semula sudah tidak mau mencampuri urusan duniawi lagi, dimana dia hidup menyendiri disebuah daerah yang sepi sekali ditanah Mongolia dan disebut sebagai “Manusia Sakti Tanpa Ujud”, karena kepandaiannya yang telah mencapai tarap yang sangat tinggi sekali. Bisa dibayangkan, jika Kim Lun Hoat ong (yang telah binasa didalam Sin Tiauw Hiap Lu) dan Tiat To Hoat ong sudah begitu tinggi dan sulit untuk dihadapi, apalagi guru dari kedua pendeta itu. Manusia sakti tanpa Ujud Ciu Tie Tamtai itu memang memiliki adat yang aneh, Kedua muridnya itu menjadi pendeta, tetapi dia sendiri tidak terikat oleh segala sesuatu apapun juga, dimana yang dia senangi pasti akan dikeluarkannya. Tetapi karena dia memang sudah tidak pernah muncul didalam pergaulan masyarakat ramai, dengan sedirinya namanya akhirnya dilupakan orang. Hanya selelah Kim Lun Hoat-ong binasa dan Tiat To Hoat ong telah mengirim berita itu kepada. Kublai Khan, Khan yang baru ini telah mengutus orang mengundang Manusia sakti Tanpa Ujud ini untuk datang menghadap ke istana, dan memberitahukan kematian Kim Lun Hoat Ong sambil memberikan kata-kata yang ‘membakar’ yang membuat Manusia Sakti Tanpa Ujud Ciu Tie Tamtai diliputi kemarahan dan meminta kepada Khan yang agung itu agar memberikan perintah kepadanya untuk mengacak-acak daratan Tionggoan. Kublai Kban memang jauh lebih cerdik dari Mangu (kaisar Mongolia yang mati tertimpuk batu oleh Yo Ko), dan dia telah memberi printah dan kekuasaan kepada Ciu Tie Tamtai, dimana Ciu Tie Tamtai diberikan kekuasaan untuk mengatur seluruh orang orang Mongolia yang berada didaratan Tionggoan yang berhasil menyusup, agar dihimpun dan dipimpinnya. Dengan kekuasaan besar tiada taranya itu Ciu Tie Tamtai jadi terbangun semangatnya dia jadi ingin melihatnya berapa banyak jago2 yang ada didaratan Tionggoan. Berangkatlah dia kedaratan Tionggoan, dan bertemu dengan Tiat To Hoat ong, yang kebetulan waktu itu tengah melarikan diri dari Hoa san. Mendengar keterangan dari Tiat To Hoat ong, yang juga menambah nambahkan bumbu pada ceritanya, telah membuat sang guru semakin bergelora semangatnya untuk bertemu dengan jago jago daratan Tionggoan. Kebetulan hari ini justru dia melihat Turkichi salah seorang anak buahnya tengah disiksa oleh Yo Ko dan dia sudah bisa menerkanya orang yang lengan tangan kanannya buntung itu tentunya Sin Tiauw Taihiap Yo Ko yang sangat terkenal itu. Sekarang dia telah merasakan hebatnya tenaga dalam Yo Ko, diam2 dia jadi terkejut, tetapi dia tidak mau. memperlihatkan suara tertawa dingin, katanya tawar: “Bagus! Bagus! Rupanya engkau memang memiliki kepandaian yang lumayan dan layak menjadi lawanku…!” dan setelah berkata begitu, dengan cepat Ciu Tie Tamtai mengeluarkan suara erangan perlahan, dan kemudian dia mengeluarkan tangan kananrya, dari mana telah meluncur angin serangan yang kuat sekali, dibarengi dengan itu tangan kirinya juga telah bergerak akan mencengkeram batok kepala Yo Ko. Dua serangan yang berlainan arah itu tetapi datangnya serentak cukup mengejutkan Yo Ko. Dengan gesit Yo Ko mengelakkan diri dari terjangan itu, dengan gerakan “Naga mengibas Ekor,” tampak tangan kirinya telah menyampok kearah kepala Ciu Tie Tamtai lagi. Terpaksa Ciu Tie Tamtii melompat mundur untuk mengelakkan diri dan batalkan kedua serangannya. Ciu Tie Tamtai jadi semakin penasaran, dia mengeluarkan suara erangan lagi, dan melancarkan serangan yang lebih kuat dari tadi, bahkan dengan gerakan seperti jurus didaratan Tionggoan yang biasanya dinamakan: “Memandang Rembulan Dari Loteng” dengan kecepatan yang sulit diikuti oleh pandangan mata, tampak Ciu Tie Tamtai telah melancarkan serangan-serangan yang memiliki kekuatan bisa menghancurkan besi atau batu gunung. Tetapi Yo Ko mana mau membiarkan dirinya diserang terus terusan. Cepat-cepat dia menggeser kaki kirinya, ditekuk sedikit dan dia mempergunakan gerakan “Naga Melingkari Tiang”, dimana dia telah membebaskan diri dari serangan lawannya dan juga balas menyerang jurus jurus “Naga Melompat Diawan”, disusul dengan jurus-jurus “Naga Mengeluarkan Lidah”, kedua jurus itu telah meluncur dahsyat sekali menghantam lawannya. Ciu Tie Tamtai memang yakin bahwa dirinya seorang sakti yang sudah tidak ada tandingannya, maka walaupun dia melihat serangan Yo Ko hebat sekali, dia tidak berusaha berkelit, hanya dia menyambut dengan kekekerasan. Waktu tangan Yo Ka yang kiri membentur tangan lawannya, Ciu Tie Tamtai jadi terkejut sekali, dia sampai mengeluarkan suara seruan tertahan karena heran. Tangan atau serangan Yo Ko lunak tidak mengandung kekuatan apapun juga, sehingga waktu tangan Ciu Tie Tamtai beradu dengan tangan Yo Ko, dia seperti menggempur tumpukan kapas. lenyaplah kekuatan tenaga serangannya. Dan diwaktu dia tengah terheran heran tahu tahu bergelombang keluar dan telapak tangan kiri Yo Ko. Kekuatan angin yang benar-benar dahsyat menerjang kepada Ciu Tie Tamtai. Memang kedua orang yang kali ini saling mengadu kepandaian dan kekuatan, merupakan dua orang tokoh persilatan yang masing masing merupakan jago tersakti dari dua negeri. Jika yang seorang merupakan super sakti dari daratan Tionggoan, sedangkan yang seorangnya lagi merupakan jago sakti tidak terkalahkan dari Mongolia. Maka pertempuran mereka berdua kali ini seperti juga sepasang naga yang saling menerjang memperebutkan mustika. Mereka bertempur dengan gerakan gerakan yang semakin lama semakin cepat. Yo Him sendiri yang menyaksikan pertempuran itu sampai berkunang kunang matanya, karena dia melibat ayahnya dan Ciu Tie Tamtai bertempur bergerak-gerak dengan cepat sekali, tubuh mereka seperti juga dua sosok tubuh yang merupakan gumpalan warna baju saja. Saat itu, tiba-tiba Siauw Liong Lie telah membentak : “Mau lari kemana kau dan tubuh Siauw Liong Lie telah melompat cepat sekali, dengan gerakan “Walet Menerjang Air” dia telah meluncur menghantam punggung Turkichi. Rupanya, disaat semua orang tengah tercurah perhatiannya pada pertempuran yang terjadi antara Yo Ko dengan Ciu Tie Tiamtai, kesempatan itu dipergunakan oleh Turkichi sebaik baiknya. Mula mula dia menggeser kedudukan kakinya, setelah dua tombak lebih, dia membalikan tubuhnya untuk melarikan diri dari tempat tersebut. Tetapi sayangnya, biarpun Siauw Liong Lie tengah mcmperhatikan suaminya yang bertempur dahsyat dengan Ciu Tie Tamtai, tokh pendekar wanita ini tetap memasang mata kepada Turkichi. Turkichi merasakan dari arah belakangnya yelah menyambar kuat sekali angin serangan maka dia memutar tubuhnya untuk menangkis karena kalau dia meneruskan larinya, niscaya dia akan terhajar punggungnya oleh serangan yang kuat dari Siauw Liong Lie. Siauw Liong Lie te!ah mempergunakan juru.”WaIet Menerjang Air”, dan pukulan yang dipergunakan itu mengandung kekuatan lwekang yang akan mematikan jika mengenai sasarannya. Diantara berkesiuran angin serangan itu, nampak tangan Turkichi telah menangkis serangan Siauw Liong Lie. Karena Turkichi menangkisnya dengan tergesa-gesa, maka ia tidak menggunakan seluruh tenaga lwekangnya. Begitu tangannya saling bentur, tubuh Turkichi terpental dua tombak lebih dan bergulingan di atas tanah. Siauw Liong Lie melompat dan meluncur lagi dan melancarkan serangan kepada Turkichi. Tetapi tiba-tiba dari arah samping meluncur sebutir batu yang akan menghantam pinggang pendekar wanita itu. Batu kerikil itu meluncur bukan dengan tenaga yang ringan, karena batu itu telah menimbulkan suara yang berkesiuran keras sekali. Siauw Liong Lie kaget dan cepat cepat membatalkan maksudnya untuk melancarkan gempuran kepada Turkichi, dia telah rnemutar tanganya dan menyambut batu itu dengan kedua jari tangannya. Kemudian dari arah samping dari mana tadi datangnya batu itu, tampak melompati keluar sesosok tubuh, seorang pendeta Mongolia. „Kau?” kata Siauw Liong Lie dengan kemarahan yang seketika meluap. “Kebetulan! sekali, justru kami memang tengah mencari-cari kau….!” Pendeta yang baru datang itu telah mengeluarkan suara tertawa bergelak gelak dia tak lain dari Tiat To Hoat-ong. „Guru, mereka inilah yang telah membinasakan Kim Lun dan juga telah merubuhkan aku. Mereka juga yang mengatakan bahwa] Manusia Sakti Tanpa Ujud Ciu Tie Tamtai merupakan manusia tahu yang tidak punya guna…..!” ternyata Tiat To Hoat-ong yang cerdik itu telah mempergunakan kesempatan ini untuk membakar gurunya. Ciu Tie Tamtai mengeluarkan suara gerengan keras. Dia makin marah sekali kepada Yo ko serangannya jadi jauh lebih kuat lagi. Yo Ko agak kewalahan menerima serangan2 yang dilakukan oleh lawannya yang tangguh ini. Kepandaiannya memang mungkin berimbang tetapi ada suatu yang dimenangkan diatas kepandaian Yo Ko, yaitu Ciu Tie Tamtai memiliki latihan lwekang yang kuat dan sempurna dicampur dengan tenaga yoga, sehingga kekuatannya menjadi lebih hebat. Diserang bertubi tubi dengan disertai tenaga lwekang yang jauh lebih kuat dari semula, Yo Ko jadi sibuk juga. Berulang kali dia harus mengelakkan diri dan memperhatikan cara lawannya itu melancarkan serangan, karena Yo Ko ingin mencari kelemahan lawannya. Siauw Liong sendiri tidak mau memberi kesempatan kepada Tiat To Hoat ong. waktu pendeta itu tengah berkata-kata kepada gurunya, justru Siauw Liong Lie telah menyerang pendeta itu dengan mempergunakan jurus ‘Awan Menutup matahari,” tangan kanannya meluncur dengan setengah ditekuk, dia telah meluncurkan tangan kirinya untuk mencengkeram perut lawannya. Tiat To Hoat Hong tidak jeri, dia malah mengeluarkan suara tertawa mengejek: Melihat datangnya serangan tangan kanan Siauw Liong Lie yang setengah tertekuk begitu, dia telah mendekkan diri dan perutnya dikempiskan, sehingga jarak antara tangan Siauw Liong Lie dengan perutnya jadi terpisah, sedangkan tangan kiri pendeta itu telah bergerak; melancarkan serangan yang memiliki kekuatan tidak kalah dibandingkan dengan serangan Siauw Liong Lie. Siauw Liong Lie penasaran sekali melihat lawannya, berhasil mengelakkan diri dari serangannya itu, dia mengeluarkan suara bentakan dan tangan kirinya telah mengulangi serangannya. Kali ini Tiat To Hoat ong tidak bisa mengelakkan diri, sehingga dia harus menangkis dengan tangan kanannya, kedua tenaga saling bentur dengan kuat sekali menimbulkan suara menggelegar keras dan menulikan pendengaran, karena selain Siauw Liong Lie mempergunakan kekuatan tenaga yang sangat hebat, juga Tiat To Hoat-ong dalam menangkisnya telah mempergunakan lwekangnya sebanyak sembilan bagian. Turkichi yang melihat munculnya Tiat To Hoat ong, jadi girang. Jika tadi dia ingin melarikan diri, karena dia belum begitu yakin bahwa Ciu Tie Tamtai akan memperoleh kemenangan melawan Yo Ko. Tetapi sekarang disaat Siauw Liong Lie tengah dilibat oleh Tiat To Hoat-ong, Turkichi jadi besar hatinya. Dia tidak bermaksud untuk melarikan diri lagi, melainkan dia telah berdiri menyaksikan jalannya pertempuran diantara dua pasang jago-jago yang memiliki kepandaian sempurna itu. Yo Him juga telah melihat, betapa kedua pasang orang yang tengah bertempur itu merupakan pertempuran dari tokoh-tokoh kelas tinggi yang sulit dicari bandingannya. Tangannya jadi gatal juga, dia melirik ke arah Turkichi kemudian dengan cepat dia melompat mendekati Turkichi sambil katanya “Mari kita juga main.” Dan Yo Him bukan hanya sekedar berkata saja, karena dia telah menyerang dengan jurus” Naga keluar dari liang,” disusul lagi dengan gerakan “Naga merangsang maju memasuki liang,” dia telah melancarkan serangan saling susul dengan dahsyat sekali, karena memang Yo Him memiliki keistimewaan dimana dia bisa menggabungkan tenaga Yang dan Im (panas dan dingin) menjadi satu, dia hanya kurang latihan, tetapi kekuatan lwekangnya telah mencapai taraf yang cukup tinggi. Tuikichi melihat usia Yo Him yang masih muda, dia tidak memandang sebelah mata. Dia menduga, anak semuda ini mana bisa memiliki kepanlaian yang tinggi? Maka waktu melihat datangnya dua jurus serangan yang saling susul oleh Yo Him, Turkishi telah mengerahkaa kekuatan lwekangnya dan menangkisnya. “Bukkkkkk !” memang Turkichi berhasil menangkisnya, tetapi tubuhnya segera terlempar melayang ditengah udara dan terbanting ditanah terus pingsan tidak sadarkah diri dengan mulut dan hidung mengeluarkan darah segar ! TIAT TO HOAT ONG yang melihat apa yang dialami oleh Turkichi jadi terkejut, ia mengeluarkan suara meraung dan mempergunakan kedua telapak tangannya untuk menghantam kepada Siauw Liong Lie, Gerakan yang dilakukannya itu merupakan serangan yang bisa mematikan, karena pendeta tersebut telah mempergunakan sembilan bagian dari kekuatan tenaga lwekang yang dimilikinya. Dan membarengi waktu Sianw Liong Lie berkelit dari samberan tangannya, tampak pendeta Mongolia tersebut telah menggerakkan tangan kanannya, dimana tahu-tahu dia telah mencabut goloknya yang bsrwarna hitam itu, secerah sinar hitam berkelebat menyambar kearah batang leher Siauw Liong Lie. Bacokan yang dilakukan oleh Tiat To Hong dengan golok pusakanya tersebut merupakan bacokan yang memiliki gerakan aneh sekali. karena goloknya itu berkelebat kelebat kesana kemari dengan sasaran yang sulit diduga. Walaupun tampaknya mata golok pusaka tersebut menyambar kearah leher Siauw Liong Lie, namun ia sebenarnya hendak menebas batang leher Siauw Liong Lie, karena waktu terpisah empat dim dari sasarannya Tiat To Hoat-ong telah menggetarkan tangan kanannya itu golok hitam tersebut bagaikan kilat cepatnya tahu tabu telah membacok menurun, mulai dari dada kearah paha. -oo0dw0ooTiraikasih Website http://kangzusi.com/ Jilid : 31 SIAUW LIONG LIE jadi terkejut, karena semula ia menduga bacokan itu hanya menuju kebatang lehernya dan ia bermaksud berkelit sambil membalas melontarkan pukulan telapak tangannya. Tetapi melihat perobahan pada cara membacok pendeta Mongolia tersebut, membuat Siauw Liong Lie dalam waktu hanya beberapa detik tersebut harus merobah gerakannya. Dengan mcnjejakan kedua kakinya, tubuhnya melambung ketengah udara dengan ringan, dan ia mempergunakan kedua telapak tangannya untuk menghantam kepala Tiat To Hoat ong. Karena lawan yang tengah dihadapi tersebut merupakan tokoh Mongolia yang memiliki kekosenan yang tengah, dengan sendirinya Siauw Liong Lie dalam memukul tersebut berlaku tidak sungkan2 lagi. Tiat To Hoat ong melihat bacokannya yang aneh itu gagal, cepat cepat hendak menarik pulang goloknya, tetapi baru saja dia memiringkan tubuhnya menghindar dari pukulan telapak tangan Siauw Liong Lie dan hendak menarik pulang goloknya, diwaktu itulah tangan kiri Siauw Liong Lie menyambar menurun, tahu tahu telah menjepit tepian punggung golok dari Tiat To Hoat-ong. Jepitan jari tangan Siauw Liong Lie pada golok Tiat To Hoat-ong tersebut bukan sekedar jepitan biasa, karena melebihi kekuatan japit besi. Tiat To Hoat-ong juga merasakan goloknya itu tidak bisa digerakan, walaupun ia telah menarik pulang dengan mengerahkan tenaga lwekangnya. Kedua orang ini jadi saling tarik. Siauw Liong Lie menjepit golok lawannya dengan mempergunakan tenaga sinkangnya, sehingga, golok itu tidak bisa bergeming. Sedangkan Tiat To Hoat-ong bermaksud hendak menarik pulang goloknya melepaskan jepitan jari tangan Siauw Liong Lie. Dengan demikian, kedua tokoh persilatan yang masing2 memiliki kepandaian dan sinkang yang tinggi tersebut, telah saling memusatkan dan mempergunakan tenaga lwekang mereka guna saling menarik, agar dapat menguasai lawannya. Siauw Liong Lie mendengus dingin tahu tahu nyonya Yo Ko tersebut telah menjejakkan kakinya pula, tubuhnya melompat ringan sekali ketengah udara dengan jari tangan menjepit golok lawannya. Dan tangan kirinya digerakan menghantam kebatok kepala Tiat To Hoat ong. Itulah hantaman yang hebat sekali. Goloknya tengah dijepit oleh jari tangan Siauw Liong Lie, sehingga Tiat To Hoat ong tidak bisa berkelit dengan leluasa, apa lagi pukulan telapak tangan kiri Siauw Liong Lie menyambar begitu kuat dan juga sangat cepat. Tetapi sebagai seorang ahli silat, yang memiliki kepandaian sangat tinggi, dengan sendirinya Tiat To Hoat ong tidak mau menyerah begitu saja. Ia pun tidak mau melepaskan golok hitamnya tersebut dia memusatkan kekuatan tenaga yoga-nya pada batok kepalanya untuk membuat kepalanya itu keras melebihi besi, kemudian dingin mengeluarkan suara erangan keras, tanpa menantikan datangnya serangan yang dilakukan Siauw Liong Lie, ia telah menundukan kepalanya dan menyundul kearah perut dari Yo Hujin tersebut. Apa yang dilakukan oleh Tiat To Hoat ong tersebut merupakan perbuatan yang nekad, karena ia seperti juga ingin binasa bersama. Dengan demikian, terlihat, ia sama sekali tidak memperhatikan pukulan telapak tangan kiri Siauw Liong Lie yang bisa mematikannya, yang terpenting baginya iapun bisa menyeruduk perut dari nyonya Yo tersebut, agar dapat merusak isi perut nyonya tersebut. Siauw Liong Lie terperanjat, karena ia menyadari tidak ada keuntungan buatnya jika mereka terbinasa bersama. Tanpa menanti serudukan Tiat To Hoat ong tiba, nyonya Yo tersebut telah melepaskan jepitan jari tangannya pada golok lawannya, dan membatalkan pukulan telapak tangan kirinya, tubuhnya terjumpalitan kebelakang, berpoksay sampai tiga tombak jauhnya. Tiat To Hoat ong juga telah menghentikan serudukan kepalanya waktu melihat Siauw Liong Lie melepaskan jepitan jari tangan pada goloknya itu dan niembatalkan pukulan telapak tangan kirinya, Namun disebabkan tadi Tiat To Hoat ong telah menyeruduk dengan kekuatan yang penuh, tubuhnya terhuyung juga, tidak bisa ia berdiri tetap dan rnenghentikan serudukannya itu tiba-tiba begitu. Siauw Liong Lie tidak mau membuang-buang waktu lagi, ketika melihat Tiat To Hoat ong belum bisa berdiri tetap, ia telah menjejakan kakinya, disaat kakinya itu meluncur turun akan menginjak tanah, ia menotol dengan keras. tubuhnya melambung lagi ketengah udara, meluncur kebelakang Tiat To Hoat ong. Berbareng dengan gerakannya itu, ia menghantam lagi dengan kuat kearah punggung Tiat To Hoat ong. Pendeta Mongolia itu waktu merasakan sambaran angin yang berkesiuran keras sekali dibelakang punggungnya, memaksa ia harus mengelakkan diri lagi, waktu itu kuda-kuda kedua kakinya belum bisa diperbaiki dan tubuhnya tengah terhuyung, maka jalan satu-satunya menyelamatkan dirinya adalah melompat maju kedepan hampir satu tombak, sambil berbuat begitu dia memutar tubuhnya dan mempergunakan goloknya menabas ke belakang, maka selarik cahaya hitam telah meluncur kearah perut Siauw Liong Lie. Hal itu memaksa Siauw Liong Lie batal meneruskan pukulannya. Mempergunakan kesempatan yang banya beberapa detik itu tampak Tiat To Hoat ong telah cepat-cepat memperbaiki kedudukan kuda-kuda kedua kakinya, ia telah mengerahkan lwekangnya pada kedua kakinya, memutar tubuhnya menghadapi Siauw Liong Lie lagi dengan golok hitam tercekal ditangan kanannya siap untuk melakukan bacokan dan tabasan pula. Diam-diam Tiat To Hoat ong berpikir keras, karena ia melibat bahwa kepandaian yang dimiliki Siauw Liong Lie telah mengalami banyak kemajuan, dimana kini tenaga sin-kangnya seperti lebih kuat dibandingkan dulu dengan demikian telah membuat Tiat To Hoal ong tidak bisa meremehkannya dan dia harus berlaku waspada sekali. Kalau sekali saja terkena gempuran telapak tangan Siauw Liong Lie tentu ia bisa cidera berat ataupun terbinasa. Petempurannya dengan Siauw Liong Lie bukanlah pertempuran main-main, karena ia memang seperti tangah mempertaruhkan jiwanya. Siauw Liong Lie sendiri melihat Tiat To Hoat-ong juga telah memperoleh kemajuan yang banyak sekali dimana selain ilmu goloknya yang memang memiliki gerakan yang aneh, pun kekuatan lwekang yang dimiliki pendeta Mongolia tersebut terlebih lagi dicampur dengan ilmu yoganya membuat Tiat To Hoat-ong merupakan lawan yang tangguh sekali. Dengan demikian Siauw Liong Lie harus berpikir keras jalan dan cara untuk merubuhkan pendeta tersebut. Setelah menarik napas dalam-dalam, dan memusatkan kekuatan tenaga dalamnya pada kedua telapak tangannya Siauw Liong Lie menjejakkan kakinya dan berturut-turut melontarkan pukulan yang mengandung kekuatan yang bisa mematikan. Begitulah. kedua orang tersebut terlibat kembali dalam pertempuran yang semakin lama semakin seru. Walaupun Tiat To Moat ong mempergunakan senjata tajam pusakanya, yaitu golok hitam itu, dan Siauw Liong Lie hanya bertangan kosong. namun keduanya seperti juga seekor naga dan seekor singa betina yang tengah bertarung dengan hebat sekali. Keduanya tidak mengenal mundur, malah telah mengeluarkan seluruh kepandaian yang mereka miliki. Yo Ko yang telah bertarung dengan Ciu Tie Tamtai juga berlangsung dengan seru. Karena keduanya tengah saling memusatkan kesaktian dan kekuatan mereka, guna saling tindih. Sebagai seorang pendekar silat yang diakui oleh jago2 Tionggoan, sebagai jago nomor wahid Yo Ko memang memiliki kepandaian yang sempurna sekali. Hanya ia memperoleh kesulitan, yaitu Cui Tie Tamtai sering mempergunakan ilmu Yoganya, sehingga tubuhnya itu jadi kecil seperti belut, dan setiap kali pukulan dari Yo Ko mengenai tubuh dari Ciu Tie Tamtai tersebut, selalu molejit tidak berhasil menghantam dengan tepat. Dengan demikian berulang kali Yo Ko gagal dengan serangannya. Kepandaian silat dari Ciu Tie Tamtai juga luar biasa tingginya, boleh dibilang tidak berada di sebelah bawah dari kepandaian silat yang dimiliki Yo Ko. Maka dari itu, mereka telah terlibat dalam pertarungan yang kian lama kian menentukan mati hidupnya mereka. Keduanya semakin lama telah mempergunakan sinkang mereka semakin kuat, malah Yo Ko sendiri telah mempergunakan sinkangnya delapan bagian. Seumur hidupnya, jarang sekali Yo Ko mempergunakan sinkangnya sampai begitu besar, karena jika ia tidak sedang berhadapan dengan lawan yang benar2 tangguh seperti Ciu Tie Tamtai tentu ia tidak mau mempergunakan sinkang begitu besar. Perlu diketahui, bahwa seseorang ahli silat yang telah sempurna tenaga sinkangnya. jika ia mempergunakan sinkangnya berlebihan dan mengeluarkannya terlampau banyak, mengempos dengan diiringi oleh napsu yang berkobar dihatinya, akan merusak dirinya, dan juga akhirnya ia akan kehabisan tenaga. Jika pertempuran itu bisa dimenangkan olehnya, tokh akhirnya ia akan kehabisan tenaga dalamnya, dan berarti ia membutuhkan tiga tahun untuk memulihkan semangat murninya tersebut. Dengan demikian jarang sekail ada seorang pendekar persilatan yang mempergunakan seluruh dari sinkangnya. Dan Yo Ko mempergunakan sampai delapan bagian sinkang yang dimilikinya itu karena ia dalam keadaan terpaksa, dimana lawannya memang benar benar tangguh sekali. Yo Him yang menyaksikan pertandingan itu dari luar gelanggang, melihat betapa butir butir keringat memenuhi wajah dan tubuh ayahnya tersebut. Dan juga Ciu Tie Tamtai telah basah oleh keringat yang membanjir keluar membasahi tubuhnya. Diam-diam Yo Him jadi menguatirkan keselamatan ayahnya, karena ia melihat bahwa kepandaian yang dimiliki Ciu Tie Tamtai memang merupakan kepandaian yang telah sempurna dan tidak berada disebelah bawah dari ke pandaian Yo Ko. Dengan demikian, pertempuran yang tengah berlangsung antara Yo Ko dengan Ciu Tie Tamtai merupakan pertempuran untuk menentukan mati hidup mereka. Sedangkan pertempuran antaia Siauw Liong Lie dengan Tiat To Hoat ong juga merupakan pertempuran yang mendebarkan hati Yo Him. Untuk maju membantui kedua orang tuanya itu jelas Yo Him belum memiliki kemampuan untuk melakukan hal itu. Dengan demikian, ia hanya bisa menyaksikan saja dengan hati berkuatir dan mata yang terpentang lebar-lebar. Semakin lama Yo Ko menggerakkan tangan tunggalrya itu semakin perlahan. Sekali2 lengan baju kanannya yang kosong itu juga berkibaran dengan kuat sekali, memancarkan sinkangnya yang benar-benar tangguh, terkadang lengan baju tangan kanannya yang kosong itu sebentar lemas dan tidak lama kemudian berubah keras, sering mengancam akan melibat pergelengan tangan dari lawannya. Aneh pula cara bertempur dari Ciu Tie Tamtai, karena ia berulang kali belakangan ini mempergunakan cara yang benar benar mengherankan, yaitu kedua targannya ditepuk kedalam, kesepuluh jari tangannya dipentang seperti juga sikap seekor kera, kedua kakinya juga sering ditekuk, sehingga ia berjongkok rendah sekali, dan ia memiringkan tubuhnya kekiri dan kekanan berulang kali. Tetapi hebat adalah angin sinkang pukulan yang dilakukan oleh Ciu Tie Tamtai, karena berkesiuran dengan kuat sekali menerjang bagian-bagian yang mematikan ditubuh Yo Ko. Tidak jarang pula Ciu Tie Tamtai melompat berjungkir balik dengan tangan kirinya ia menahan tubuhnya, dengan kepala dibawah dan kedua kaki menjulang keatas langit, dan tangan kanannya telah digerakan meluncur berulang kali menghantam bagian penjagaan di bawah tubuh Yo Ko. Cara Yoga yang dipergunakan oleh Ciu Tie Tamtai, yang dicampur dengan ilmu silat yang tinggi sekali, merupakan cara yang benar-benar sangat tangguh. Membuat Yo Ko berulang kali terdesak mundur dengan cara berkelahi orang tersebut. Sesungguhnya Yo Ko hendak menghadapi cara bertempur lawannya itu dengan mempergunakan ilmu Ha-mo-kang, yaitu ilmu Kodok, yang telah diperoleh dari Auwyang Hong, namun kenyataannya Yo Ko masih belum melakukannya, karena ia ingin melihat dulu kelemahan dari lawannya yang belum berhasil ditemukannya, sehingga ia menunda niatnya tersebut. Dia terus juga melayani dengan tangan tunggalnya sambil berurang kali mengelakkan diri. Dan selama itu ia pun memperhatikan benar2 cara bertempur dari Ciu Tie Tamtai, untuk mencari kelemahan lawannya tersebut. Tetapi desakan yang dilancarkan oleh Ciu Tie Tamtai datang ber tubi2 dan cara bertempurnya juga semakin aneh sekali. Sehingga suatu kali, Yo Ko terpaksa melompat melambung ketengah udara berjumpalitan mengelakan diri dari terjangan kekuatan tenaga lwekang yang melancarkan pada pukulan kedua telapak tangan Ciu Tie Tamtai. yang menerjang seperti seekor harimau garang dan ganas sekali. Sambil berjumpalitan ditengah udara, Yo Ko telah menyabut dengan lengan baju lagian yang kosong, ia menghantam kearah kepala dari Ciu Tie Tamtai, dimana lengan bajunya tersebut birobah keras seperti baja, menimbulkan angin yang berkesiuran kuat sekali. Jika saja lengan baju tersebut berhasil menghantam tepat kepala dari Ciu Tie Tamtai, niscaya kepala lawannya itu akan terpukul pecah, karena jangankan kepala manusia , sedangkan batu gunung yang besar sekalipun, jika terkena hantaman lengan baju yang telah disaluri oleh kekuatan sinkang yang memang sangat dahsyat tersebut, tentu akan hancur menjadi tepung! Ciu Tie Tamsai yang waktu itu sesungguhnya hendak membarengi melontarkan serangan pula, jadi terkejut melihat ancaman yang tengah menuju kearah dirinya itu. Beberapa kali ia telah mengeluarkan suara seruan sambil berkelit, namun lengan baju Yo Ko seperti juga memiliki mata, kemana saja Ciu Tie Tamtai mengelak, maka lengan baju itu telah menyambar dengan cepat dan kuat sekali. Ciu Tie Tamtai akhirnya tidak bisa mengelit lebih jauh lagi, waktu lengan baju itu menyambar terus dengan cepat kebatok kepalanya. sedangkan tangan kiri Yo Ko juga telah menghantam dengan kuat sekali kedadanya, maka terpaksa Ciu Tie Tamtai telah mengeluarkan suara raungan yang keras sekali, dan balas menyerang. Ia bukan menangkis dengan mempergunakan kekerasan, karena justru dengan menghantam begitu ia memaksa Yo Ko untuk menarik pulang serangannya, karena jika tidak mereka tentu akan terbinasa bersama, dimana memang mereka berdua memiliki kekuatan sinkang yang berimbang dan ilmu yang sama tingginya. Tetapi Yo Ko sebagai jago silat yang memang telah sempurna sekali ilmunya dan memiliki banyak pengalaman, tidak mau begitu saja mundur, melihat kenekadan lawannya. Tiba2 tubuhnya telah terjungkir balik, dengan tangan kirinya ia telah menghantam kearah dada lawannya, tubuhnya meluncur terus turun, tahu2 kepalanya membentur tanah, dan tubuh Sin Tiauw Taihiap tersebut telah berputar dengan cepat sekali seperti gangsing. Dan dengan berputar begitu, lengan bajunya yang kanan, yang kosong itu, telah berputar seperti titiran, dan membentuk sebuah lingkaran yang cukup luas, dimana ruang lingkup untuk menyingkirkan diri dari Ciu Tie Tamtai jadi sempit sekali, kemana saja ia berkelit maka kesitu pula lengan baju Yo Ko menyambar dengan kuat dan bisa mematikan. Bukan main mendongkol dan murkanya Ciu Tie Tamtai, sampai tubuhnya gemetaran dan ia berulang kali mengeluarkan suara seruah yang nyaring sekali. Dengan nekad ia juga telah memutar kedua tangannya seperti juga tangannya itu telah berobah menjadi puluhan pasang tangan. yang melindungi sekujur tubuhnya. Gerakan yang dilakukannya itu merupakan jurus membela diri, yaitu melindungi tubuhnya dengan sinkangnya sehingga terjangan tenaga gempuran yang dilancarkan oleh Yo Ko terbentur dan tidak bisa menerobos pertahanan dari Ciu Tie Tamtai. Jurus demi jurus telah lewat lagi cepat sekali, dimana kedua tokoh persilatan yang masing-masing memiliki kepandaian sangar tinggi itu, akhirnya terlibat dalam suatu pertempuran yang menentukan sekali, karena dilihat dari cara bertempur mereka, jelas salah seorang diantara mereka akan jatuh sebagai korban. Yo Him yang menyaksikan jalannya pertempuran antara Yo Ko dengan Ciu Tie Tamtai, dan juga Siauw Liong Lie dengan Tiat To Hoat ong tersebut, semakin lama jadi semakin kuatir, karena ia melihatnya jika saja kedua orang tuanya itu berlaku lambat atau lengah sedikit saja, tentu akan celaka ditangan lawan-lawan mereka. Siauw Liong Lie sendiri mulai tidak sabar, karena beberapa kali ia telah mulai menyerang dengan ilmu2 simpanannya. Setiap serangan dari kepalan maupun telapak tangannya, temua itu mengandung tenaga maut yang bisa mematikan, Dengan demikian membuat Tiat To Hoat ong semakin lama semakin sibuk untuk menghadapinya, dimana tampak ia semakin terdesak. Telah belasan jurus lagi yang dilewati mereka, dan masing masing telah mempergunakan lwekang mereka pada tingkat yang tertinggi. Bertempur dengan mempergunakan sinkang sesungguhnya merupakan pertempuran yang bisa membawa celaka untuk orang yang bersangkutan. Karena cara bertempur dari para akhli silat yang telah mahir lwekangnya, tentu sekali hantam bisa membinasakan lawannya hanya mengandalkan angin serangan. Berbeda dengan mempergunakan senjata tajam, mungkin hanya terluka. Tetapi justru dengan lwekang, sekali lambat mengelakkan diri, berarti akan merusak bagian dalam tubuh. Lawan dari orang yang bertempur dengan mempergunakan lwekang pun harus dapat mengendalikan diri dalam hal menggerakan lwekang membendung desakan dari tenaga menyerang lawan, karena jika tidak, ia bisa dirusak oleh kekuatan lwekang sendiri, dimana akan bisa membuatnya lumpuh saja kalau lwekang itu seperti senjata makan majikan. Hal itu juga seperti diketahui dengan baik oleh Siauw Liong Lie maupun Tiat To Hoat ong. Maka walaupun Siauw Liong Lie telah mendesaknya begitu kuat dengan lwekang dan juga ilmu simpanannya, Tiat To Hoat ong hanya membatasi diri dengan berkelit dan membendung tenaga serangan lawannya. Sejauh itu ia belum sedia untuk menghadapi dengan keras dilawan keras, karena ia kuatir k’alau kalau begitu ia mempergunakan lwekangnya, tenaga dalamnya itu belum bisa memadai kekuatan lawannya. Itulah sebabnya, selama itu ia hanya memperhatikan cara Siauw Liong Lie melancarkan gempuran2 kepadanya. Setelah lewat lagi sepuluh jurus, barulah Tiat To Hoat ong mengeluarkan suara bentakan keras sambil mempergunakan kedua tangannya yang dirangkapkan dan telah mendorong kuat sekali, Siauw Liong Lie merasakan angin gempuran yang menyambar kuat sekali kepadanya, tenaga serangannya pada saat itu seperti tertolak balik kepadanya, dan juga dadanya dirasakan seperti tertekan oleh suatu kekuatan yang membuat napasnya menjadi sesak. Segera ia mengebutkan tangan kanannya, berusaha untuk membuyarkan tenaga menekan dari lawannya. Tiat To Hoat ong tidak membuang-buang waktu lagi, ia mengeluarkan suara bentakan beberapa kali dibarengi dengan kedua tangannya menghantam berulang kali, seperti juga angin serangannya itu telah berkesiuran dengan hebat menerjang Siauw Liong Lie. Tubuh Siauw Liong Lie terhuyung sampai satu tombak lebih, ia merasakan betapa kuda2 kedua kakinya seperti tergempur. Dan bersamaan dengan itu, sudah tidak ada jalan lain untuk Siauw Liong Lie menyingkirkan diri, ia mengeluarkan suara teriakan nyaring dan menghantam dengan kedua tangannya. Tanpa saling sentuh tangan mereka masing-masing, kedua kekuatan Siauw Liong Lie dan Tiat To Hoat ong telah saling bentur dengan keras sekali, menggelegar seperti juga memekakkan anak telinga yang bagaikan mendengar suara petir yang meledak di tepi telinga mereka. Tiat To Hoat ong tampak tergoncang tubuhnya, sampai ia mundur beberapa langkah kebelakang dengan wajah yang pucat dan juga napasnya yang memburu keras. Matanya terpentang lebar-lebar, dan ia berdiri ditempatnya sambil berusaha mengatur pernapasannya, karena ia merasakan betapa seluruh isi tubuhnya bagaikan tergoncang dan teraduk2. Dan Siauw Liong Lie telah terhuyung dua langkah, tetapi nyonya Yo tersebut membawa sikap yang tenang, dalam waktu yang singkat ia telah berhasil meluruskan pernapasannya. Melihat Tiat To Hoat ong yang masih berdiri ditempat tersebut berdiam diri saja, dengan wajah yang pucat seperti itu, ia tidak mau membuang buang waktu lagi, cepat bukan main, tubuhnya telah meloncat melayang ditengah udara menerjang Tiat To Hoat ong. Gerakan yang dilakukan oleh Siauw Liong Lie yang sangat cepat sekali, dan juga tenaga serangan dari kedua telapak tangannya itu sangat kuat, menyambar kearah dada Tiat To Hoat ong. Pendeta Mongolia tersebut kaget bukan main, semangatnya seperti terbang meninggalkan raganya waktu melihat cara menyerang Siauw Liong Lie seperti itu. Namun karena ia terdesak demikian rupa, ia sudah tidak memiliki pilihan lain lagi, hanya mempergunakan golok hitamnya tersebut dikibaskan kepada lawannya dengan gerakan membacok melintang, dan membarengi dengan itu tangan kirinya juga telah menghantam lagi dengan seluruh sisa tenaga yang ada padanya. Rupanya cara membela diri dari Tiat To Hoat ong benar2 merupakan pembelaan diri yang sangat kuat sekali, memaksa Siauw Liong Lie harus membatalkan serangannya itu, Karena jika ia meneruskan, tenaga tangan kiri dari Tiat To Hoat ong itu bisa dihadapinya, namun bahayanya adalah golok hitam pusaka dari pendeta Mongolia tersebut, yang mungkin bisa merobek perutnya. Dengan cepat Siauw Liong Lie mengerahkan sinkangnya, memberati tubuhnya seribu kati, dan tubuhnya itu meluncur turun dengan demikian tebasan golok dari pendeta Mongolia tersebut telah mengenai tempat kosong. Dan bersamaan dengan itu, ia juga cepat sekali menekuk kedua kakinya, dalam keadaan posisi tubuh yang jauh lebih rendah dari Tiat To Hoat ong, ia mengerakkan tangan kanannya menghantam keatas. Angin gempuran terdengar berkesiuran kuat sekali, dan diwaktu itu pula tubuh Tiai To Hoat ong sudah tidak berhasil lolos dari gempuran tersebut, bagian pinggangnya terhantam telak sekali. Suara jeritan keras dari Tiat To Hoat ong terdengar menggema ditempat tersebut, tubuhnya juga terlontarkan dengan kuat sekali ketengah udara, dimana tubuhnya meluncur akan terbanting ditanah. Namun Tiat To Hoat ong sebagai seorang koksu negara yang memiliki kepandaian sangat tinggi, merupakan seorang yang pandai menguasai keadaan dengan cepat, waktu tubuhnya tengah meluncur akan terbanting seperti itu, ia telah menyedot hawa udara dengan cara yoga, dan tubuhnya waktu terbanting, ia berguling dengan mempergunakan cara jago gulat, sehingga tubuhnya waktu menyentuh tanah ia bergelinding beberapa kali sejauh satu tombak lebih dan kemudian mencelat melompat bangun kembali. Siauw Liong Lie girang melihat kali ini serangannya telah berhasil mengenai tepat pada sasarannya, dan ia telah menyusul kepada pendeta Mongolia itu, dan kembali melancarkan gempuran. Sama sekali ia tidak mau memberikan kesempatan bernapas kepada pendeta tersebut. Tetapi Tiat To Hoat ong yang telah melihat bahwa dirinya bukan tandingan dari nyonya Yo tersebut, terlebih lagi disebabkan tubuhnya telah tergempur oleh serangan Siauw Liong Lie tadi, sehingga ia terluka di dalam dan tenaga sinkangnya tergempur, membuat ia cepat-cepat menjauhi diri, tidak bersedia melayani gempuran yang dilancarkan Siauw Liong Lie. Namun Siauw Liong Lie sama sekali tidak mau memberikan kesempatan kepada Tiat To Hoat ong, dengan cepat ia mengulangi lagi gempurannya. Dan jurus demi jurus telah dilewatkan dalam kedalam demikian Tiat To Ho at ong telah terdesak hebat. Tiat To Hoat ong jadi terdesak terus menerus, dan akan membuat Tiat To Hoat ong bercelaka, kalau saja ia terlambat mengelakkan diri dari gempuran Siauw Liong Lie, karena satu kali saja ia terkena serangan itu, niscaya akan membuat Tiat To Hoat ong terluka didalam, yang akan membawa kecelakaan yang tidak kecil buat Tiat To Hoat ong senditi. Tetapi untuk menghadapi gempuran Siauw Liong Lie dengan kekerasan, ia pun belum bisa, karena tenaga sinkangnya belum pulih. Jalan satu-satunya buat Tiat To Hoat ong hanyalah mengelakkan diri berulang kali, dan beruntun ia telah melompat kesana kemari degan gerakan yang gesit sekali. Siauw Liong Lie nendesak terus, sejurus demi sejurus serangannya semakin kuat, dan tenaga sinkang yarg dipergunakannya juga semakin kuat. Dengan demikian, segera juga tampak napas Tiat To Hoat ong semakin sulit, dimana ia merasakan dadanya seperti tertindih oleh sesuatu kekuatan yang ratusan kali. Jika saat itu ia masih bisa berkelit kesana kemari, itulah di sebabkan ia memang seorang akhli silat yang memiliki lwekang yang sempurna. Dengan demikian, dalam keadaan terluka didalam, ia masih bisa untuk mengeluarkan sisa tenaganya untuk menyelamatkan dirinya dari setiap serangan yang dilancarkan oleh Siauw Liong Lie. Tetapi Tiat To Hoat ong juga menyadarinya bahwa ia tidak bisa bertindak begitu terus menerus, diapun bagaimana ia harus dapat mengatasi lawannya ini. Yang terlalu mendesaknya terus menerus. Segera terlihat Tiat To Hoat ong telah menggerakkan golok hitamnya, dan bersamaan dengan itu dengan disertai suara teriakan mengguntur, segera mendorong dengan telapak tangan kirinya dan tubuhnya melompat menerjang Siauw Liong Lie, ia telah mengulurkan kedua tangannya, merangkulnya dengan cepat kearah pinggang Siauw Liong Lie. Melihat cara orang melancarkan serangan seperti itu, Siauw Liong Lie menyadari bahwa Tiat To Hoat Ong tengah nekad, ia mengeluarkan suara tertawa dingin, dan menepuk kearah kepala Tiat To Hoat ong. Pukulan telapak tangan ini bukan main-main, karena jika kepala Tiat To Hoat ong kena ditepuk oleh telapak tangan Siauw Liong Lie, tentu akan membuat kepala Tiat To Hoat ong terhajar hancur. Tiat To Hoat ong rupanya sama sekali sudah tidak memperdulikan serangan Siauw Liong Lie, ia tidak menangkis tepukan tangan Siauw Liong Lie melainkan serangannya pinggang Siauw Liong Lie kena dipeluknya dan golok hitamnya cepat sekali telah menempel pada pakaian Siauw Liong Lie. Sedangkan tangan Siauw Liong Le juga telah tiba didekat kepala dari Tiat To Hoat ong, hanya terpisah bebetapa dim saja, Dengan demikian, keduanya terancam bahaya kematian. Jika memang Siauw Liong Lie meneruskan tepukan telapak tangannya itu, kepala Tiat To Hoat ong tidak akan hajar pecah dan binasa, tetapi juga Siauw Liong Lie tidak akan lolos dari kematian juga. Dengan dipeluknya pinggangnya, maka Siauw Liong Lie tidak mungkin mengelakkan diri dari golok pusaka Tiat To Hoat ong, berarti mereka juga akan binasa bersama sama. Siauw Liong L«e tercekat hatinya, ia kaget bukan main. Tentu saja Siauw Liong Lie tidak mau binasa dengan pendeta Mongolia tersebut, karena itu tidak bersedia untuk mati dengan cara begitu konyol. Ia membatalkan tepukkan tangannya pada kepala pendeta tersebut, mengempiskan perutnya dan cepat bukan main, tahu2 tangan kirinya menyentil golok hitam Tiat To Hoat ong. dan membarengi itu tangan kanannya mendorong kuat sekali. Tubuh Tiat To Hoat ong terhuyung mundur beberapa langkah. Dau kesempatan seperti iiu dipergunakan Siauw Liong Lie untuk melompat menjauhi diri. Mereka jadi terpisah tiga tombak lebih. Kedua orang ini saling mengawasi, dan kesempatan itu dipergunakan Tiat To Hoat ong untuk mengatur jalan pernapasannya. Ber-angsur2 ia berhasil mengatur pernapasannya menjadi lurus kembali. Sedangkan matanya tetap mengawasi tajam kepada Siauw Liong Lie, dimana ia menantikan serangan berikutnya dari Siauw Liong Lie. Siauw Liong Lie juga tidak segera melancarkan serangannya lagi, ia hanya berdiri diam, dan melirik kepada suaminya yang tengah berhadapan dengan Ciu Tie Tamtai. Dengan demikian, ia melihat betapa Yo Ko dan Ciu Tie Tamtai seperti juga tengah bertempur mengadu jiwa, dari kepala kedua orang itu seperti mengepul uap yang tipis naik tinggi sekali, keringat telah memenuhi wajah dan tubuh mereka. Dan juga, disaat itu, sepasang kaki mereka masing2 telah melesak masuk kedalam tanah, kurang lebih lima dim. Melihat hal itu, Siauw Liong Lie jadi terkejut. Pertempuran antara Yo Ko dengan Ciu Tie Tamtai merupakan pertempuran yang menentukan sekali antara mati dan hidup, karena mereka tengah mempergunakan lwekang yang tertinggi yang mereka miliki, Sekali saja mereka tergempur, disaat itu juga akan terbinasa tanpa ampun lagi. Dengan begitu, Siauw Liong Lie akhirnya berdiri diam saja mengawasi dengan bersiap sedia untuk membantui Yo Ko, jika sualu saat kelak suaminya mengalami ancaman bahaya dari lawannya. Ciu Tie Tamtai sendiri mulai merasakan tekanan tekanan dari tenaga lwekang Yo Ko. Karena itu ia telah beberapa kali sesungguhnya berusaha untuk dapat memisahkan diri dari lawannya tersebut. Tetapi karena mereka lelah terlibat dalam pertarungan mengadu kekuatan tenaga dalam yang dahsyat, dengan sendirinya tidak mudah buat Ciu Tie Tamtai memisahkan diri dari lawannya. Yo Ko maupun Ciu Tie Tamtai telah terlibat dalam pertempuran yang memaksa mereka semakin lama harus mengeluarkah seluruh kekuatan lwekang yang mereka miliki. Dengan demikian, akhirnya keduanya telah mencapai batas kemampuan yang tertinggi yang mereka miliki, dimana tubuh mereka tergetar dan juga tangan mereka masing2 telah bergerak semakin lambat. Diwaktu itu tampak tubuh kedua orang ini juga seperti sering terhuyung bagaikan hendak rubuh terguling, bergoyang kesana kemari. Siauw Liong Lie telah melihat bahwa kekuatan lwekang Ciu Tie Tamrai tidak berada di sebelah bawah suaminya, maka ia telah mendekati kedua orang yang tengah saling mengerahkan kekuatan sinkang mereka. Matanya telah mengawasi tajam, dan jika saja Yo Ko telah tidak kuat menghadapi lawannya itu, ia akan menyelak untuk menghadapi Ciu Tie Tamtai. Siauw Liong Lie telah mempersiapkan tenaga sinkang pada telapak tangannya. Terapi waktu itu Siauw Liong Lie tidak bisa segera turun tangan, karena jika ia menyelak dalam keadaan Yo Ko dan Ciu Tie Tamtai tengah terlibat dalam mengadu kekuatan sin-kang tingkat tinggi, jelas akan membahayakan Yo Ko juga. Karena begitu ada kekuatan pihak ketiga yang menyelak ditengah tengah mereka, tentu dua kekuatan tenaga sinkang dari Ciu Tie Tamtai dan juga Yo Ko akan tergoncang dan boleh jadi kedua orang tersebut yang akan tergempur sendiri oleh tenaga lwekang mereka masing-masing. Dan belum berarti bahwa Siauw Liong Lie sendiri terlolos dari bahaya karena diwaktu itu boleh jadi mereka tidak sanggup menerima gencetan dari dua kekuatan tenaga lwekang dri dua orang itu, yang memiliki lwekang kuat sekali. Dengan sendirinya, jika Siauw Liong Lie melakukan suatu kesalahan kecil saja dalam menyelak diantara dua kekuatan raksasa tersebut, niscaya akan membuat ia terluka-dalam juga. Maka dari itu Siauw Liong Lie hanya berdiri diam menantikan perkembangan selanjutnya saja, ia berwaspada mengawasi suaminya. Ciu Tie Tamtai juga tidak luput dari tekanan Yo Ko, semakin lama samakin terdesak dan merasakan kedua kakinya mulai bergoyang-goyang, dimana suatu saat tentu kedua kakinya tersebut akan menjadi lemah dan kuda-kuda pertahanan kakinya akan tergempur. Ia mengerahkan kekuatan lwekangnya sambil otaknya bekerja kesana. kemari mencari jalan untuk dapat menundukkan lawannya itu. Ketegangan yang diliputi tempat tersebut semakin terasa, dan Siauw Liong Lie sendiri merasakan hatinya berdebar keras. Yo Him telah menghampiri ibunya, dan berdiri disisi ibunya tersebut. Sedangkan Tiat To Hoat Ong sendiri telah berdiam diri saja, ia mengawasi saja pertempuran yang tengah berlangsung antara Yo Ko dengan Ciu Tie Tamtai. sambil iapun memusatkan lwekangnya; berusaha untuk menyembuhkan luka dipinggangnya akibat gempuran Siauw Liong Lie tadi. Dalam keadaan seperti itu, dimana sekitar tempat tersebut hanya terdengar suara menderu dari angin serangan antara Yo Ko dengan Ciu Tie Tamtai, maka diwaktu itulah terdengar suara orang tertawa panjang sekali, suara tertawa tersebut terdengar jauh dan samar2, tetapi cepat sekali telah terdengar jelas dan juga diwaktu itu sesosok tubuh telah tiba ditempai tersebut. ,,Loo Boao Tong…!” berseru Siauw Liong Lie girang. Ternyata orang yang baru datang sambil mengeluarkan suara tertawa itu tidak lain Ciu pek Thong, situa berandalan yang jenaka itu. Yo Him telah menyambut kedatangan orang tua jenaka itu, ia memberi hormat. “Aku tidak menyangka bahwa disini terjadi suatu pertemuan yang akan menggembirakan. Hai, hai, pertunjukan yang menarik hati… pertunjukan yang menarik hati …..!” berseru Ciu Pek Thong sambil tertawa keras lagi, dan mengusap-usap jenggotnya, “Yo Hujin, sudah lamakah kalian disini?” Siauw Liong Lie menunjuk kepada Yo Ko dan Cin Tie Tamtai, yang tengah terlibat dalam mengadu kekuatan tenaga lwekang. Kami ingin membereskan mereka dulu!” kata Siauw Liong Lie sambil kemudian melirik kepada Tiat To Haot ong. Sedangkan pendeta Mongolia tersebut, ketika melihat munculnya Ciu Pek Thong. jadi mengeluh. Karena situa berandalan tersebut merupakan seorang jago yang memiliki ilmu silat tidak berada disebelah bawah kepandaian Yo Ko dan Siauw Liong Lie. Dengan munculnya situa berandalan tersebut, berarti ia bersama Ciu Tie Tamtai dan Turkichi, akan memperoleh kesulitan yang tidak kecil. Waktu itulah tampak Ciu Pek Thong telah berkata kepada Tiat To Hoat ong. „Inilah kesempatan yang baik sekali untuk kita saling mengadu ilmu….! “kita akan main-main sampai sepuas hati…!” katanya sambil tertawa keras, dan membarengi dengan itu, tampak tubuhnya telah melompat kedepan Tiat To Hoat-ong. Tiat To Hoat-ong waktu itu telah tergempur pinggangnya oleh serangan tangan Siauw Liong Lie dengan demikian jalan pernapasannya belum pulih seluruhnya. Dan tentu saja sekarang ia ditantang demikian rupa oleh Ciu Pek Thong, dimana tentunya pertempuran di antara mereka tidak mungkin dielakan, dengan sendirinya akan membuat dirinya yang menderita kerugian. Namun sebelum dia mengambil keputusan dan menyahuti perkataan Ciu Pek Thoag, di waktu itulah Ciu Pek Thong telah melompat dan menggerakan tangannya akan menarik jenggot Tiat To Hoat-ong. Gerakan yang dilakukan situa berandalan yang jenaka ini gesit sekali, dimana ia menggerakan tangannya itu secepat kilat. Tiat To Hoat-ong telah mengelakan tangan orang dengan memiringkan kepalanya, dan golok hitamnya telah digerakkan menyilang. Tabasan golok itu memang berbahaya menuju kearah dada Ciu Pek Thong, namun kenyataannya Ciu Pek Thong dengan diiringi tertawanya, telah menyentil golok tersebut, sehingga golok itu tergetar keras. Dan tangan Ciu Pek Thong yang satunya tetap diulurkan untuk mencabut jenggot dari pendeta Mongolia tersebut. Tiat To Hoat-ong gusar bukan main, ia mengeluarkan suara seruan nyaring, dan bersamaan dengan itu, ia menendang dengan kaki kanannya. Tetapi Ciu Pek Thong benar-benar gesit, ia berhasil menghindarkan diri dari tendangan orang, sedangkan tangannya masih juga diulurkan akan mencabut jenggot Tiat To Hoat-ong. Pendeta Mongolia itu jadi kewalahan juga, karena ia melihat bahwa ia tidak mungkin menghindarkan diri dari serangan Ciu Pek Thong kali ini. Dan baru saja ia ingin mengelakkan diri dari jambretan tangan Ciu Pek Thong, diwaktu itulah situa berandalan tersebut telah menaikkan sedikit tangannya, tahu tahu bukannya menarik jenggot Tiat To Hoat mg, justru dia telah memilin kumisnya Tiat To Hoatong dan kemudian menariknya. Seketika Tiat To Hoat ong merasakan kesakitan bukan main, pedih sekali, sampai ia mengeluarkan air mata, Ia telah meraung dengan suara yang keras dan seperti kalap tampak golok hitamnya itu telah berkelebat-kelebat menyambar kearah Ciu Pek Thong. Menerima serangan seperti itu, Ciu Pek Tbong malah tertawa haha, hehe, dimana ia telah melompat kesana kemari dengan, gerakan yang cepat dan gesit. Malah dalam suatu kesempatan, kaki kanannya telah mendupak pinggul dari pendeta Mongolia tersebut. “Bukkkkkk,,…..!” tubuh Tiat To Hoat ong telah terhuyung terjerunuk hampir saja pendeta Mongolia tersebut terjerembab. Untung saja Tiat To Hoat ong cepat cepat menguasai kudakuda kedua kakinya, sehingga ia bisa mempertahankan tubuhnya tidak sampai terjerunuk. Tetapi Ciu Pek Thong memang dasarnya seorang berandalan dan jenaka, melihat keadaan lawannya seperti itu. timbul kegembiraan untuk mempermainkan Tiat To Hoat ong. Sambil tertawa-tawa, tampak tubuhnya telah melompat dengan ringan sekali, kedua tangannya telah digerakkan dengan berbareng, tetapi justru cara menyerang itu berbeda satu dengan yang lain, yaitu tangan kirinya mempergunakan jurus “Sitolol mengangsurkan Arak,” kemudian tangan kanannya dilancarkan, dengan jurus “Anjing Kurap Menggaruk Pantat”. Dua gerakan jenaka tersebut merupakan jurus silat yang dimiliki keampuhan luar biasa. Memang dari nama jurus2 tersebut seperti juga jurus silat main2an yang tidak berarti, sesungguhnya dibalik dari nama jurus2 tersebut yang jenaka, terdapat kekuatan tenaga lwekang yang sangat dahsyat, karena jurus tersebut disertai oleh sinkang yang kuat, tidak mungkin bisa dipunahkan oleh sembarangan jago silat. Tiat To Hoat ong sendiri heran melihat cara menyerang Ciu Pek Thong seperti itu, karena itu ia merandek sejenak mengawasi, baru pertama kali ini ia menyaksikan cara menyerang Ciu Pek Thong seperti itu karena dulu waktu mereka pernah bertempur, Ciu Pek Thong justru tidak mempergunakan ilmunya tersebut. Tetapi Tiat To Hoat-ong juga tidak bisa terlalu lama berdiam begitu, karena kedua tangan Ciu Pek Thong telah menyambar dekat sekali. Dengan cepat Tiat To Hoat ong menggerakkan golok hitamnya berulang kali, dibolang-balingkan kesekujur tubuhnya, melindungi bagian tubuh yang terpenting. Namun Ciu Pek Thong benar-benar lihay dan gesit sekali, melihat golok hitam lawannya diputar seperti itu, ia telah menarik pulang tangannya, dan tahu-tahu dengan gerakan tubuh seperti orang yang terjerunuk ke depan, seperti menubruk kearah golok Tiat to Hoat-ong, cepat sekali ia telah menggerakkan kedua tangannya lagi. Diwaktu itu ia telah menarik pula kumis dari pendeta tersebut. Tiat To Hoat-ong mengeluarkan suara jerit kesakitan pula. Segera terlihat betapa ia melompat dan berjingkrakan tidak keruan dengan diliputi kemarahan yang sangat. Pendeta Mongolia itupun mencaci maki dengan suara yang keras, mengandung kemendongkolan dan penasaran. Ciu Pek Thong malah tertawa keras, mentertawai sikap dan kelakuan dari lawannya itu. Disaat itu terlihat Siauw Liong Lie tersenyum menyaksikan Ciu Pek Thong tengah mempermainkan Tiat To Hoat ong. Yo Him sendiri telah ber-tepuk2 tangan karena ia gembira sekali dan puas melihat Tiat To Hoat ong yang jenaka tersebut. Ia bahkan telah berseru-seru menganjurkan Loo Boan Tong mempermainkan terus Tiat To Hoat ong. Ciu Pek Thong juga telah memperdengarkan suara tertawa yang keras “Aku akan membuat dia mati perlahan lahan!” serunya itu dibarengi dengan gerakan tubuhnya yang berkelebat kesana kemari. Tiat To Hoat ong benar2 kewalahan menghadapi Ciu Pek Thong, kerena justru waktu itu ia tengah terluka didalam. Jika saja tadi ia belum banyak terlalu menggunakan tenaga sinkangnya, tentu ia bisa melayani berimbang diri si berandalan jenaka ini. Tetapi karena dia telah tergempur oleh serangan Siauw Liong Lie, membuat tenaga dalamnya jadi berkuras maka ia bargerak tidak begitu leluasa. Diwaktu itulah, Ciu Pek Thong tanpa membuang-buang waktu, telah bergerak kesana kemari dan setiap kali ada kesempatan, ia telah mengulurkan tangannya untuk mencabut kumis atau jenggot dari Tiat To Hoat ong. Berulang kali Tiat To Hoat-ong harus berjingkrak-jingkrak karena marah dan mendongkol, namun tetap saja ia tidak memiliki kesempatan untuk memberikan perlawatan pada Ciu Pek Thong. Ciu Pek Thong sendiri tampaknya tidak puas dengan hasil yang telah diperolehnya, ia mempermainkan terus lawannya, membuat Tiat To Hoat-ong semakin lama semakin kalap. „Jika aku tidak mengaju jiwa dengan kau, aku tidak akan menginjakkan kaki pula didaratan Tionggoan… !” berteriak Tiat To Hoat-ong karena murka yang meluap. Ciu Pek Thong malah tertawa. „Baik, baik, mari kau mengadu jiwa, aku akan melayaninya sebaik mungkin….!” menyahuti Ciu Pek Thong. „Awas kumismu….!” dan membarengi dengan perkataannya itu, tangan kanan Ciu Pek Thong telah bergerak lagi, dia telah menarik kumis pendeta Mongolia tersebut. Tiat To Hoat ong berusaha mengelakan diri, tetapi ia gagal kumisnya kcmbali ditarik oleh Ciu Pek Tbone, sehingga ia merasa pedih dan sakit bukan main dan ia menjerit jerit dengan murka. Ciu Pek Thong berjingkrak-jingkrakan sambil bertepuk tangan. Tampaknya situa berandalan ini merasa puas telah bisa mempermainkan koksu negara Mongolia itu. „Engkau harus hati-hati menjaga kumis dan jengrotmu. karena sekarang aku bukan hanya menaiik, tetapi aku akan mencabutnya, biar engkau menjadi pendeta yang kelimis…!” Dan sehabisnya berkata begitu, tubuh Ciu Pek Thong telah bergerak lagi dengan gesit dan tangan kanannya telah menyambar kumis Tiat To Hoat-ong. Gerakan yang dilakukannya itu sangat cepat, biarpun Tiat To Hoat-ong telah berusaha untuk mengelakan diri, menyelamatkan kumisnya dari tangan Ciu Pek Thong tokh dia gagal. Malah lima atau enam helai kumisnya lelah kena ditarik copot, sehingga ia merasa kesakitan bukan main dan berteriak, teriak kalap. Ciu Pek Thong tidak memperdulikan kemarahan lawannya, ia terus juga menggodai pendeta Mongolia tersebut dengan berulang kali mencabuti kumis dan jenggot dari Tiat To Hoat ong, sehingga kini kumis dan jenggot Tiat To Hoat-ong sudah tidak rata lagi, karena telah cukup banyak yang ditarik copot oleh siberandalan jenaka itu dengan demikian kumis dan jenggotnya jadi malang melintang, seperti kumis kucing, dan jenggotnya sepeiti juga jenggot duri yang kaku dan hanya beberapa helai saja. Bukan main mendongkol dan murkanya Tiat To Hoat ong. sampai dia mencaci maki kakek moyangnya Ciu Pek Thong dengan kata kata yang kotor. Tetapi Ciu Pek Thong tetap dengan sikapnya yang jenaka itu, karena itu berulang kali ia sambil tertawa-tawa dengan suara yang keras, iapun telah melompat kesana lemari masih mencabuti kumis dan jengiot Tiat To Hoat ong. Sesungguhnya pendeta Mongolia tersebut dalam kalapnya telah menggerakkan golok hitamnya untuk menyerang, namun selalu gagal. Semakin keras amarahnya, semakin sembarangan gerakan goloknya tersebut, sehingga akhirnya ia berusaha menenangkan diri dan berkelit kesana kemari saja dari serangan Ciu Pek Thong. Bersamaan dengan itu, tampak Yo Ko dengan Ciu Tie Tamtai yang tengah saling mengukur kekuatan, mulai mencapai titik yang menemukan. Karena dari tubuh mereka yang mengeluarkan uap itu dan tergetar, telah tersalurkan seluruh kekuatan sinkang yang mereka miliki. Dengan demikian, segera terlihat, bahwa mereka benar-benar telah mencapai tingkat mengadu jiwa. Ciu Tie Tamtai sendiri menyadarinya, bahwa ia tidak boleh lengah sedikit pun juga. Yo Ko serdiri telah mengerahkan seluruh kekuatan yang ada padanya, selain tangan kirinya yang bergerak lambat namun memiliki kekuatan sinkang tangguh sekali, juga lengan baju kanannya telah bergerak gerak terus, bagaikan seekor naga yang berusaha membelit lawannya. Gangguan dari lengan baju sebelah kanan Yo Ko tersebut yang membuat perhatian Ciu Tie Tamtai sering terpecahkan. Lwekang Yo Ko memang lebih kuat seurat dibandingkan Ciu Tie Tamtai. Jika Ciu-Tie Tamtai lebih unggul dalam hal kekedotan tubuhnya yang dibantu oleh latihan tenaga Yoganya, justru untuk tenaga sinkang sejati Yo Ko menang sedikit. Dimana ia merupakan seorang tokoh persilatan daratan Tionggoan yang nomor wahid disaat ini. Seperti diketahui, waktu lengan kanan Yo Ko dibacok kutung oleh Kwee Hu, maka sejak saat itulah Yo-Ko telah melatih tangan kirinya dengan golok pusakanya ditepi laut, melatih diri dengan gelombang laut, dengan petunjuk petunjuk dari Sin Tiauw, burung rajawali sakti yang menjadi sahabatnya. Dan diwaktu itu pula Yo Ko telah berhasil menciptakan semacam tenaga lwekang yaog benar-benar tangguh. Terlebih lagi sekarang, setelah berselang puluhan tahun, dengan demikian lwekang yang dimiliki Yo Ko telah mencapai puncak kesempurnaannya. Walaupun ia hanya memiliki tangan kiri saja, tokh kekuatan lwekangnya itu tidak berkurang manfaatnya. Dan juga lengan baju sebelah kanan itu tidak kurang berbahayanya dibandingkan dengan tangan biasa. Itulah sebabnya, walaupun dinegerinya Ciu Tie Tamtai merupakan jago yang terpandai dan memiliki ilmu yang tinggi sekali, namun disebabkan sekarang ini ia harus berhadapan dengan Yo Ko yang memiliki kepandaian sangat tinggi dan – tidak berada disebelah bawah dari kepandaiannya, maka ia jadi tidak bisa berbuat banyak. Yo Ko juga telah melihat, bahwa mereka tidak mungkin memisahkan diri pula, dan mereka tentu akan terluka bersama, atau juga binasa bersama. Dan pertempuran mereka kali ini merupakan pertempuran mengadu jiwa. Siauw Liong Lie mulai berkuatir menyaksikan keadaan sudah berlangsung demikian dengan begitu, ia sudah tidak bisa berayal dan berdiam diri saja. Ia melompat dan sudah berdiri ditengah tengah sisi dari kedua orang tersebut. Dengan memusatkan seluruh kekuatan lwekangnya, tiba2 Siauw Liong Lie telah mengebutkan kedua tangannya, dan diwaktu itu terdengar suara menggeleger yang keras sekali. Tubuh Yo Ko dan Ciu Tie Tamtai terpental berjumpalitan. Tenaga mereka yang tengah saling dorong itu, dan kemudian dihantam oleh kekuatan Siauw Liong Lie yang menerjang dari tengah, membuat mereka seperti juga dihantam oleh sesuatu yang sangat kuat luar biasa. Dengan demikian, segera terlihat betapa keduanya telah terjungkir balik beberapa kali ditengah udara. Siauw liong Lie berhasil memisahkan kedua orang tersebut tetapi tidak urung ia pun merasakan napasnya jadi sesak. Dia berdiri diam ditempatnya beberapa saat lamanya mengatur jalan pernapasannya tersebut sehingga akhirnya ia berhasil memulihkan semangat dan tenaga dalamnya. Selangkan Yo Ko waktu tubuhnya terpental ketengah udara, telah berusaha untuk mengatur tubuhnya sehingga jatuh dengan kedua kaki lebih dulu. Tetapi karena tadi ia terpental begitu keras, dengan sendirinya ia terhuyung beberapa langkah kebelakang. Muka Yo Ko agak pucat, dan juga napasnya memburu. Ia menyadari dengan dipisahkan begitu oleh istrinya, jelas Siauw Liong Lie telah menyelamatkan jiwanya dan juga jiwa Ciu Tie Tamtai. Ciu Tie Tamtai juga tenaga dalamnya tadi tergempur hebat, maka waktu tubuhnya terpental dan meluncur jatuh, ia jatuh dengan duduk numprah, untuk sejenak lamanya ia tidak bisa bangkit: Napasnya memburu keras, segera ia memusatkan seluruh latihan sinkangnya dicampur juga dengan aturan napas dari Yoga, dengan demikian ia bisa cepat sekali memulihkan semangatnya. Begitu merasa kesegaran tubuhnya pulih tampak Ciu Tie Tamtai telah melompat berdiri lagi, sambil memperdengarkan suara tertawanya yang keras. “Aku tidak menyangka bahwa hari ini aku akan dapat berhadapan dengan lawan yang seimbang dengan kepandaianku, sehingga aku bisa main-main dengan sepuas hati, Sungguh memuaskan sekali! Sungguh memaskan sekali! Memang telah kulihat, bahwa Sin Tiauw Taihiap bukan bernama kosong belaka……!” Yo Ko juga telah menengadahkan kepalanya dan tertawa ber-gelak2 panjang sekali suara tertawanya itu. sehingga seperti juga sambung menyambung terus menerus dan bergema disekitar tempat itu. Setelah puas tertawa, Yo Ko berkata dengan suara yarg nyaring: “Terima kasih atas pujianmu ! Tetapi kita akan segera meneruskan permainan kita yang tertunda tadi.., !”dan setelah berkata begitu, ia mengebutkan tangan bajunya yang sebelah kanan, dari mana telah menyambar kekuatan yang dahsyat sekali menerjang kearah Ciu Tie Tamtai. Sebagai seorang akhli silat yang memiliki kepandaian tinggi sekali, dengan bertempur tadi, Ciu Tie Tamtai menyadari bahwa mereka berdua, memang merupakan lawan yang berimbang, dan jika meneruskan pertempuran mereka ini, mereka bisa rusak dua-duanya. Tetapi karena melihat Yo Ko telah melancarkan serangannya kembali seperti itu, dimana gempuran tersebut tidak bisa dibuat main-main, Ciu Tie Tamtai telah mengeluarkan suara bentakan yang nyaring sekali, dan menyusul kedua telapak tangannya telah didorong dengan kuat sekali. Dari kedua telapak tangannya itu telah meluncur keluar angin gempuran yang tidak kalah hebatnya dengan kekuatan dari tenaga serangan Yo Ko. Dua kekuatan tenaga lwekang yang hebat itu telah saling bentur. “Bukkk…:!” pasir dan debu telah beterbangan keatas. Tubuh Ciu Tie Tamtai terhuyung mundur beberapa langkah, Yo Ko sendiri terpental melayang ketengah udara, dan kemudian meluncur turun dengan kedua kaki hinggap terlebih dulu. Diwaktu itu Siauw Liong Lie telah melompat kedepan Ciu Tie Tamtai, ia berkata nyaring: “Aku hendak minta petunjuk sambil tangan kanannya bergerak akan mencengkeram kearah jalan darah “Lung tie biat” didekat tulang belikat Ciu Tie Tamtai. Gerakan yang dilakukan oleh Siauw Liong Lie selain cepat juga bisa mematikan. Jalan darah “Lung tie hiat” tersebut merupakan jalan darah terpenting, kalau sampai jalan darah itu kena dicengkeram, tentu akan membuat orang yang bersangkutan seketika menjadi lumpuh dan tenaga dalamnya menjadi buyar. Ciu Tie Tamtai yang melihat cara menyerang Siauw Liong Lie, mana mau membiarkan dirinya dicengkeram begitu? Dengan cepat ia telah mengeluarkan suara bentakkan yang sangat keras sekali, dan kemudian menangkis dengan tangan kirinya. Tangan Siauw Liong Lie dan tangan Ciu Tie Tamtai telah saling bentur, dan seketika itu juga terlihat betapa tubuh kedua orang tersebut terpental beberapa tombak, Tetapi Siauw Liong Lie masih kumpul tenaganya, maka begitu dia bisa berdiri tetapi segera dia melompat melancarkan serangan lagi kepada Ciu Tie Tamtai. Berbeda dengan Ciu Tie Tamtai yang tadi telah kehabisan tenaga karena ia telah bertempur mati-matian dengan Yo Ko, maka ia tidak memiliki kekuatan tenaga yang sepenuhnya lagi. Begitu tubuhnya terhuyung ia tidak bisa segera mengendalikan dirinya, dan disaat itu justru serangan Siauw Liong Lie telah menyambar kejalan darah ,.Bun-kie hiat” nya. Tiada jalan lain lagi buat Ciu Tie Tamtai, dengan terpaksa ia menangkis lagi. Ketika dua kekuatan saling bentur, seketika Ciu Tie Tamtai telah terpental keras dan kemudian dia ambruk ditanah tidak bisa berdiri, dari mulutnya telah memuntahkan darah segar. Sedangkan Siauw Liong Lie yang melihat keadaan lawannya sudah demikian rupa tidak mau memberikan kesempatan lagi, dengan cepat dan ringan, tubuhnya telah melompat dan melancarkan serangan-serangan yang kuat sekali. Dimana ia telah menggerakkan kedua tangannya saling susul. Kepandaian yang dimiliki Siauw Liong Lie tidak berada disebelah bawah dari kepandaian Yo Ko, dengan sendirinya, sekarang dia melancarkan serangan yang beruntun dan mempergunakan ilmu simpanannya, jelas telah membuat Ciu Tie Tamtai jadi kelabakan bukan main. Mati-matian tampak Ciu Tie Tamtai telah berusaha mengelakan diri. Dia menyadarinya, kalau saja dia menangkis dengan mempergunakan kekerasan, maka diwaktu itulah dirinya akan celaka sendirinya, karena, justru kekuatan tenaga lwekangnya itu tengah buyar dan tidak bisa dipergunakannya secara penuh. ,,Habislah aku kali ini…!” berpikir Ciu Tie Tamtai dan ia berusaha untuk mengelakkan diri dengan bergulingan diatas tanah. Serangan Siauw Liong Lie jatuh ditempat kosong, dan baru saja ia hendak menyusul dengan serangan berikutnya, diwaktu itulah terlihat betapa nyonya Yo tersebut merasakan napasnya sesak, dan kepalanya menjadi pusing Siauw Liong Lie kaget sendirinya, dia mengempos semangatnya dan menyalurkan kebagian Tan-tiannya, tetapi matanya malah jadi berkunang-kunang. Dengan mengeluarkan suara keluhan perlahan, tubuh Siauw Liong Lie jadi terhuyung seperti akan rubuh. Namun Siauw Liong Lie masih berusaha mengerahkan tenaga sinkangnya untuk menguasai tubuhnya yang tengah terhuyung itu, agar tidak sampai terjerambab. Rupanya Siauw Liong Lie tidak berhasil dengan usahanya tersebut, dengan mengeluarkan suara keluhan lagi, tubuhnya telah terguling rebah ditanah. Yo Ko yang melihat hal itu segera melompat kedekat istrinya, memeriksa keadaannya. Begitu juga Yo Him. telah melompat dengan cepat, dimana ia telah ikut memeriksa keadaan ibunya.- Sepasang mata, Siauw Liong Lie terpejamkan rapat-rapat, dan kemudian napasnya tersendat sendat, tampaknya sesak dan sulit sekali baginya untuk bernapas dengan lancar. Yo Ko bingung bukan main, ia merasakan denyutan nadi istrinya itu tidak beraturan Dan dalam keadaan seperti itu, rupanya jalan pernapasan Siauw Liong Lie telah mengalami sesuatu yang tidak benar. Hanya saja yang membingungkan, justru tadi Siauw Liong Lie segar, bugar dan mendadak ia bisa “penyakit” seperti ini, yang aneh dan mendadak sekali terjadinya. Ciu Pek Thong yang tengah mempermainkan Tiat To Hoat ong telah menoleh juga waktu mendengar Yo Him mengeluarkan seruan kaget. Ia cepat cepat meninggalkan Tiat To Hoat-ong dan memburu mendekati Yo Ko. Waktu melihat keadaan Siauw Liong Lie seperti itu, situa berandalan tersebut telah berjingkrak sambil mengeluarkan suara seruan tertahan. „Apa yang terjadi pada diri Yo Hujin ?” tanya Ciu Pek Thong dengan suara kaget. „Entahlah… akupun tidak mengetahuinya. Ciu Toako… mendadak sekali… tiba tiba ia terguling dan seperti pingsan….!” Ciu Tie Tamtai waktu itu tengah duduk bersila melancarkan jalan pernapasannya, dan setelah lewat beberapa saat lamanya, ia melompat berdiri sambil berkata ; “Aha. akhirnya aku akan berhasil membinasakan kalian semua….!” Dan Ciu Tie Tamtai telah tertawa terbahak-bahak dengan suara yang keras, wajahnya memancarkan kepuasan. Yo Ko gusar bukan main, ia melompat kedekat Ciu Tie Tamtai. “Akal licik apa yang telah kau pergunakan untuk mencelakai isteriku?” bentak Yo Ko. “Hemmm, aku baru mempergunakan salah satu dari ketiga bubuk pusaka yang kumiliki” menyahuti Ciu Tie Tamtai dengan suara yang nyaring, wajahnya tidak memperlihatkan perasaan jeri sedikitpun juga. “Itu baru kupergunakan bubuk “Capsah Hun” (Tiga Belas Arwah), istrimu didalam waktu dua hari akan terus menerus dengan keadaan itu, yaitu pingsan tidak sadarkan diri, selewatnya itu, ia tidak akan bernapas lagi..!” Dan setelah berkata begitur Ciu Tie Tamtai mengeluarkan suara tertawa yang bergelak gelak keras sekali. Muka Yo Ko merah padam karena murka. Ia menjejakkan kakinya, tangan kirinya telah menyambar akan menghantan Ciu Tie Tamtai. Namun Ciu Tie Tamtai telah bersiap siaga sejak tadi, melihat datangnya gempuran dari Yo Ko, ia berkelit dengan cepat. Tetapi Yo Ko waktu melihat gempuran tangan kirinya tersebut tidak berhasil mengenai sasarannya, ia tidak segera berhenti, berbareng lengan bajunya yang sebelah kanan yang kosong itu telah bergerak akan melibat batang leher Ciu Tie Tamtai. Gerakan yang dilakukan oleh Yo Ko sangat gesit dan cepat sekali, karena waktu itu Tiu Tie Tarniui belum lagi bisa berdiri tetap, karena baru saja mengelakan dari dari serangan tangan kirinya Yo Ko dan serangan tangan baju sebelah kanan itu telah menyambar dekat sekali kelehernya, akan melibat. Dan lengan baju sebelah kanan dari Yo Ko tersebut bukanlah merupakan tangan baju biasa, karena pada tangan baju yang kosong tersebut berisikan tenaga sinkang yang kuat sekali Dengan demikian, Ciu Tie Tamtai tidak berani berayal, sambil mengeluarkan suara serak-kan marah, ia melompat kebelakang lagi beberapa tindak dan membarengi dengan itu, jari telunjuk tangan kanannya telah menyentil dan Yo Ko segera membaui sesuatu yang tidak sedap. Rupanya memang Ciu Tie Tamtai telah rnempergunakan sejenis racun yang hebat daya kerjanya. Ia tadi begitu terdesak oleh Siauw Liong Lie. sehingga dalam keadaan antara mati dan hidup ia telah mempergunakan racun “Capsah hun,” yaitu racun tiga belas arwah. Bubuk racun itu terlalu halus, dan jika tidak diperhatikan benar benar, maka tidak akan terlihat oleh mata manusia biasa. Itulah sebabnya, karena racun yang disebunyikan pada kuku tangan Ciu Tie Tamtai tersebut, telah tercium oleh Siauw Liong Lie, nyonya Yo tersebut telah terjungkal rubuh dengan keaadannya yang menguatirkan sekali. Kini Yo Ko mencium hal yang aneh terkejut, tidak berayal lagi, ia menutup pernapasannya. Tetapi karena ia telah mencium sedikit hawa racun tersebut, tidak urung Yo Ko merasakan kepalanya agak pening. Namun Sin Tiauw Taihiap telah memusatkan tenaga lwekangnya, dan kemudian ia mengatur jalan pernapasannya mendesak hawa kotor tersebut untuk keluar dari pori pori kulitnya. Yo Ko juga tidak tinggal diam, melihat Ciu Tie Tamtai tengah melompat mundur menjauhi diri, ia telah menjejakkan kakinya tubuhnya mencelat dengan cepat sekali, tangan dirinya kembali melancarkan gempuran kepada Ciu Tie Tamtai. Ciu Tie Tamtai waktu itu merasa girang semula ia menduga bahwa serangan racunnya itu berhasil. Namun kenyataannya Yo Ko tidak berhasil dicelakainya. Demikian ia telah mengeluarkan seruan kaget disaat tenaga gempuran Yo Ko telah tiba didekatnya. Apa lagi Yo Ko juga bukan menyerang dengan satu jurus saja, dimana tangan bajunya yang sebelah kanan telah digerakkan juga maka Ciu Tie Tamtai telah diserang dari dua jurusan, dari tangan kirinya mengalir kekuatan lwekang yang keras dan kuat, yang bisa menghancurkan batu gunung yang berukuran besar juga dari lengan baju Yo Ko yang sebelah kanan itu telah, meluncur kekuatan lwekang yang dikombinasikan antara tenaga Im dan Yang, yaitu tenaga lunak dan tenaga keras. Dengan demikian, segera juga tubuh Ciu Tie Tamtai jadi terhuyung huyung mundur agak gugup, karena ia merasakan desakan tenaga dalam Yo Ko yang merangseknya. Matimatian Ciu Tie Tamtai telah memusatkan singkangnya untuk menangkis tetapi usahanya itu gagal. Dalam gusarnya Yo Ko telah mempergunakan ilmu simpanannya yang paling hebat, yaitu ilmu gabungan antara lt Yang Cie dengan ilmu pukulan telapak tangan tunggal. Yo Ko juga menyerang degan mengerahkan sembilan bagian tenaga lwekangnya. Tidak ampun lagi tubuh Cin Tie Tamtai yang terkena gempuran itu melayang ketengah udara seperti layang layang yang putus talinya dan kemudian tubuhnya telah ambruk terbanting diatas tanah . Walaupun tidak sampai pingsan, tetapi Ciu Tie Tamtai juga tidak bisa segera bangkit dari rebahnya, ia pun mengerang-erang, karena ada tiga tulang rusuk yang telah patah akibat gempuran Yo Ko . Ciu-pek Thong bersorak dengan suara yang nyaring : “Bagus. . . ! Bagus. . .. ! ” dan ia melompat mendekati Ciu Tie Tamtai, segera ia menggerakan kaki kanannya untuk menendang. Tubuh Ciu Tie Tamtai telah berhasil di tendangnya melambung ketengah udara, sehingga tubuh Ciu Tie Tamtai kembali meluncur terbanting diatas tanah dengan keras. Dengan mengeluarkan suara jeritan kesakitan tubuh Ciu Tie Tamtai jadi meringkuk diatas tanah, ia tidak bisa untuk bangkit berdiri , bergerak saja sulit. Ciu Pek Thong telah melangkah mendekati dan ia menggerakkan kakinya pula, cepat bukan main , kakinya menendang lagi. Seketika, tubuh Ciu Tie Tamtai tertendang pula, dan ketika terbanting diatas tanah, seketika ia menjadi pingsan tidak sadarkan diri. Ye Ko melompat kedekat tubuh Ciu Tie Tamtai, dan ia berjongkok merogoh saku orang untuk mencari obat penawar racun. Dari dalam saku Ciu Tie Tamtai di jumpainya beberapa macam barang dan juga uang yang tidak begitu banyak, dan diwaktu itu, ia juga melihat tiga macam botol yang berukuran kecil, terbuat dari beling berwarna hijau. Segera Yo Ko membuka tutup botol yang satunya mendekati mulut botol kehidungnya dan menciumnya. Setelah menciumi ketika botol tersebut bergantian, akhirnya Yo Ko memilih botol yang satunya, yang dibawa kedekat Siauw Liong Lie, ia menuang isi botol tersebut, yang merupakan bubuk halus, kemudian memasukan kedalam mulut Siauw Liong Lie. Dengan bantuan air ludah, akhirnya obat bubuk tersebut tertelan. Tetapi bola mata Siauw Liong Lie masih terbalik dan napasnya juga menyesak, namun wajahnya tidak sepucat tadi, Dengan penuh kekuatiran Yo Ko dan Ciu Pek Thong juga Yo Him telah mengawasi Siauw Liong Lie, dan berangsur-angsur muka Siauw Liong Lie merah kembali, dan juga bola matanya telah putih seperti biasa. Setelah napas Siauw Liong Lie tidak tersendat sendat lagi, ia bangun untuk duduk, dengan dibantu oleh Yo Ko. “Mana… mana manusia jahat itu ?” tanya Siauw Liong Lie begitu ia membuka suara, “Aku… aku telah dicelakainya dengan semacam racun jahat olehnya ..!” Yo Ko menoleh, ia melihat Ciu Tie Tam tai menggeletak ditanah masih pingsan tidak sadarkan diri. Tetapi diwaktu itu Yo Ko, dan juga kemudian Ciu Pek Thong serta Yo Him, jadi mengeluarkan seruan tertahan, karena Tiat To Hoat-ong dan Turkichi, telah tidak berada ditempat tersebut. „Mereka telah melarikan diri disaat kita tidak memperhatikan..!” kata Ciu Pek Thong mendongkol. Yo Ko menghela napas. „Biarlah nanti juga kita akan bertemu lagi dengan mereka…!” katanya. Setelah Siauw Liong Lie bisa berdiri, waktu itu Yo Ko telah menghampiri Ciu Tie Tamtai. Ia telah menotok beberapa jalan darah dari Ciu Tie Tamtai, dan kemudian menendang jalan darah “Ma-liong” yang terletak didekat punggung, seketika Ciu Tie Tamtai tersadar dari pingsannya Namun ia hanya bisa membuka matanya, tanpa bisa menggerakkan tubuhnya, dari mulutnya terdengar suara rintihan yang perlahan sekali. Beberapa kali Ciu Tie Tamtai menggerakkan kaki dan tangannya, namun selalu gagal. Waktu itu Yo Ko telah berkata dengan suara yang dingin:” Engkau harus bicara yang sebenarnya dan menjawab pertanyaan2 ku dengan jujur. Sekali saja engkau berdusta, hemm, hemm aku tidak akan memberi ampun lagi ke padamu. .!” Mata Ciu Tie Tamtai telah memandang Yo Ko dengan sinar yang tajam, kemudian dengan suara seperti mengerang, ia berkata perlahan: “Apa yarg hendak kau tanyakan?” „Berapa jauh tentara Mongolia telah menyelusup masuk kedaratan Tionggoan” tanya Yo Ko kemudian sambil mengawasi tajam pada Ciu Tie Tamtai. Cm Tie Tamtai tidak segera menjawab, dia berdiam diri sesaat lamanya. “Katakan yang sebenarnya… berapa kekuatan tentara Mongolia yang akan menyerbu kedaratan Tionggoan, dan berapa banyak jago yang dikerahkan. Dan juga ceritakan kepadaku, sudah berapa jauh tentara Mongolia merencanakan penyerbuannya kekota Siayang.., !” Ciu Tie Tamtai menghela napas, Ia telah terjatuh ditangan musuhnya, dan juga dalam keadaan tertotok, sehingga ia tidak berdaya apa-apa maka setelah berdiam lagi beberapa lama, ia berkata dingin : “Jika engkau hendak membinasakan aku, bunuhlah….. aku tidak akan bicara, Tetapi yang pasti, akan banyak sekali jago jago Mongolia yang turun kedaratan Tionggoan untuk melampiaskan sakit hatiku ini…!” Mendengar perkataan Ciu Tie Tamtai, seketika Yo Ko tertawa dingin. “Hemmmmm……katanya dengan tawar. “Jika demikian aku terpaksa harus mengorek keterangan dari mulutmu dengan mempergunakan caraku…..!” -oo0dw0oo- Jilid 32 WAKTU itu, Siauw Liong Lie dan Ciu Pek Thong telah melangkah kedekat YoKo. Siauw Liong Lie berkata, perlahan “Dia tentu mengetahui jelas tentang pasukan tentara Mongolia yang akan menyerbu masuk kedaratan Tionggoan, jangan dibinasakan dulu, terlebih baik kita mengorek keterangannya dulu dari mulut dia…!” Dan setelah berkata begitu, Siauw Liong Lie berjongkok didekat Ciu Tie Tamtai. „Apakah benar benar engkau tidak mau bicara secara baik baik? “tanya Siauw Liong Lie. „Hemmm, engkau hendak membunuhku!” kata Ciu Tie Tamtai dengan suara yang nyaring mengandung marah dan penasan. “Tetapi jangan kalian harap bisa mcmperoleh suatu keterangan dari mulutku…!” Siauw Liong Lie mendengus, kemudian tertawa dingin, tangan kirinya segera bekerja menotok beberapa jalan darah ditubuh Ciu Tie Tamtai. Memang buru-buru Ciu Tie Tamtai tidak merasakan apa apa atas totokan tersebut- teta pi lewat sejenak lamanya, seketika tubuhnya terasa kejang kejang dan juga disekujur tubuhnya seperti juga dijalani oleh ribuan semut. Dan yang menyiksa lagi dirinya, ia merasakan pada siku dan sambungan tulang-tulangnya tetasa ngilu sekali, seperti juga ditusuk-tusuk oleh besi yang tajam, menimbulkan perasaan nyeri dan sakit bukan main. Selelah bertahan beberapa lamanya, akhirnya Ciu Tie Tamtai telah mengerang dengan suara yang menyayatkan. Siauw Liong Lie tertawa dingin, katanya, “Jika engkau tetap tidak mau bicara, aku akan menotok jalan darah “Pai-cie hiat” mu…. Aku mau lihat, apakah setelah itu engkau mau bicara yang benar atau tidak…. !” Muka Ciu Tie Tamtai ketika mendengar akan ditotok jalanan darah “Pai cie-hiatnya berobah jadi pucat pias, ia menggidik ngeri sebab ia mengetahui apa artinya jika saja jalan darah”Pai cie-hiat” nya kena ditotok oleh Siauw Liong Lie. Pai cie hiat merupakan jalan darah yang terletak antara persimpangan jalan darah ” Ku lung hiat ‘, dan jalan darah “Tu lie hiat “, kedua jalan darah yang terletak antara pinggang dan pinggul, jika saja jalan darah Pai cie hiat kena ditotok oleh lawan, niscaya korban totokan tersebut akan menderita kesakitan selama empat puluh hari empat puluh malam, dan tenaga dalamnya buyar kepandaian silatnya punah. Dengan demikian, seumur hidup dia akan menjadi bercacat . Maka hebat ancaman yang diberikan oleh Siauw Liong Lie, karena jika sampai jalan darah Pai cie hiat-nya ditotok tidak ada ampunnya lagi ia akan menjadi manusia bercacat. Sebagai seorang yang telah memiliki kepandaian tinggi, buat Ciu Tie Tamtai kematian bukanlah merupakan hal yang perlu ditakuti. Tetapi justru yang membuat dia kuatir kalau kalau ia menjadi manusia yang lemah: Karena itu. takutnya jadi berkecamuk didalam hatinya. Melihat muka Ciu Tie Tamtai berobah pucat pias seketika Siauw Liong Lie memperdengarkan suara tertawa dingin, katanya:” Hemm engkau tentu tidak mau jika jalan darah “Pai cie hiat” ditubuhmu ditotok olehku, bukan?” Akhirnya Ciu Tle Tamtai telah menghela napas dengan sikap berputus asa. „Baiklah,” katanya kemudian. “Jika memang begitu, berarti aku sudah tidak bisa mengatakan apa-apa…!” „Ternyata engkau seorang yang bijaksana bisa melihat selatan…” kata Siauw Liong Lie girang.” Nah. sekarang katakanlah, rencana apa yang telah disusun oleh Khan-mu?? „Hemm, untuk menceritakan semua itu sangat panjang dan tidak akan habis satu harian…!”wajahnya Ciu Tie Tamtai.”Tetapi sekarang yang penting, kalian harus membebaskan aku dari totokan kalian…!” „Hemm, tentu saja kami akan membebaskan seluruh rencana yang disusun oleh Khan kalian…!” menjawab Siauw Liong Lie sambil tertawa dingin. “Tetapi bagaimana aku bisa menceritakan segalanya jika aku dalam keadaan tertotok seperti ini?” kata Ciu Tie Tamtai gusar. „Bukankah engkau bercerita dengan mulutmu ?” tanya Siauw Liong Lie. „Dengan rebah disitu saja, tentu engkau bisa menceritakan segalanya….!” Habis daya Ciu Tie Tamtai, akhirnya ia menceritakan juga rencana dari Kublai Khan, dimana Khan nya tersebut akan menyerbu Siangyang, untuk merebut daratan Tionggoan. Begitu juga rahasia kekuatan dari angkatan perangnya Kublai Khan telah diceritakannya dengan lengkap, berikut berapa banyak orang-orang gagah yang pandai ilmu silat bergabung didalamnya. Setelah mendengar selesai cerita Ciu Tie Tamtai, Siauw Liong Lie membebaskan totokannya. Pada waktu itu Ciu Tie Tamtai telah letih bukan main, tenaganya seperti telah habis, dan ia ngeloyor pergi meninggalkan tempat tersebut tanpa mengucapkan sepatah kata pun juga. Sedangkan Yo Ko bersama Siauw Liong Lie, Yo Him dan Ciu Pek Thong kembali ke rumah penginapan, setelah beristirahat satu malaman, akhirnya mereka melanjutkan perjalanannya ke Siangyang. Waktu mereka tiba di Sianyang, ternyata kota tersebut, kota terdepan untuk pertahanan dari tentara Song menghadapi pasukan Mongolia yang akan menyerbu masuk kedaratan Tionggoan, tampak kesibukan para laskar dan tentara Song yang tengah bersiap siap mengadakan penjagaan. Begitu pula para penduduk Siangyang yang telah ikut membantu pera tentara kerajaan Song tersebut sibuk dengan berbagai pekerjaan mereka. Yang pria sibuk melatih mempergunakan tombak dan berbagai senjata tajam lainnya, sedangkan yang wanita sibuk untuk memasak para tentara kerajaan Song tersebut. Di Siangyang, akhirnya Yo Ko berkumpul dengan It Teng Taisu, dan para orang2 gagah lainnya, termasuk Phang Kui In. Sebagai seorang tokoh sakti yang memiliki nama sangat terkenal dan dihormati, Yo Ko telah diangkat untuk memimpin mereka dalam hal menyusun kekuatan, membantu pihak tentara kerajaan Song menghadapi ancaman serangan tentara Mongolia. Yo Ko juga tidak menolak jabatan yang diberikan kepadanya. Karena ancamau serangan tentara Mongolia yang akan menyerbu kedaratan Tionggoan tampaknya tidak akan lama lagi, maka Yo Ko dan orang-orang gagah lainnya telah berusaha untuk menghimpun kekuatan guna kelak dipergunakan membantu para tentara kerajaan Song menghadapi pasukan kerajaan Mongolia. Kwee Ceng dan Oey Yong juga telah datang ke Siangyang. Dan mereka saat itu telah berusia lanjut, tetapi semangat dan kegagahan mereka masih menyala-nyala. Enam belas tahun yang telah lalu Kwee Ceng lah yang memimpin para orang-orang gagah bantu mempertahankam Siangyang dari serangan orang-orang Mongolia, maka kini iapun banyak bantu memberikan petunjuknya. Sesungguhnya telah beberapa kali Yo Ko meminta pada Kwee Ceng agar mau menjabat kedudukan sebagai pemimpin para orang gagah di Siangyang untuk menghimpm kekuatan, sebab menurut Yo Ko, Kwee Ceng tentunya lebih berpengalaman dari dia. Tetapi Kwee Ceng telah menolaknya. Dan dengan demikian Yo Ko yang tetap menjadi pemimpin dari para orang orang gagah tersebut. Sedangkan Phang Kui In dan orang-orang gagah yang bekerja keras siang dan malam untuk melatih para penduduk pria kota Siangyang, agar mereka bisa mengerti ilmu perang ataupun ilmu mempergunakan senjata tajam, telah berhasil menghimpun cukup banyak laskar rakyat tersebut. Hampir tiga ribu orang pria dari penduduk kota Siangyang tersebut yang telah berhasil dilatih mereka, sehingga memiliki kepandaian mempergunakan senjata tajam yang mengagumkan. Yo Ko selama itu telah menyebar beberapa orang-orang panjai untuk menyelidiki keadaan diperbatasan, untuk mencari tahu sampai berapa jauh gerakan yang telah dilakukan oleh tentara Mongolia. Dalam keadaan seperti itu, dimana negara tengah terancam bahaya perang, maka seluruh penduduk Siangyang siang dan malam telah mempersiapkan diri untuk dapat berbuat sekuat dan semampu mereka membantu para tentara kerajaan Song. Rupanya pihak Mongolia juga telah menyebar orang orangnya yang memiliki kepandaian silat yang lumayan tingginya, unttk menyelusup kedalam Siangyang, guna melakukan penyelidikan. Tetapi karena ketatnya Yo Ko dan kawan-kawannya melakukan penjagaan, dengan demikian akhirnya mereka berhasil’ menangkap empat orang Mongolia yang telah menyelusup ke dalam kota Siangyang, memata-matai mereka. Dari mulut para mata-mata Mongolia tersebut Yo Ko berhasil mengorek keterangan yang mereka perlukan. Dengan demikian bertambah banyak pula keterangan keterarangan yang bisa dikumpulkan oleh pihak tentara Song. Kwee Ceng pernah suatu kali menganjurkan Yo Ko agar mengirim beberapa orang sahabat mereka pergi melakukan penyelidikan digaris depan, guna mengawasi gerak-gerik tentara musuh. Maka Yo Ko telah mengutus Yo Him dan Phang Kui In. untuk menyelidiki keadaan digaris depan. Yo Him yang menerima perintah tersebut dari ayahnya, jagi girang bukan main, Begitu pula Phang Kui In, ia jadi begitu semangat. Pada malam harinya, keduanya telah meninggalkan Siangyang. Untuk mencapai perbatasan, mereka memerlukan waktu dua hari perjalanan. Dan mereka tiba digaris depan waktu hari menjelang magrib. Dlwaktu itulah, Yo Him dan Phang Kui In telah mencari rumah penduduk, untuk menginap. Setelah beristirahat satu harian, mereka telah menyelidiki, keadaan garis depan tersebut. Pekerjaan menyelidiki, yang mereka lakukan tersebut tidak begitu sulit, karena memang mereka memiliki kepandaian yang cukup tinggi Dan juga tentara Mongolia yang bertemu dengan kedua orang ini. hanya menduga babwa mereka adalah rakyat jelata bangsa Han yang bertempat tinggal disekitar tempat tersebut. Yo Him dan Phang Kui In memang berpakaian sederhana dan sengaja mengotori muka mereka dengan debu .Disamping itu mereka pun membawa masing-masing sebatang kampak. Sepintas lalu, mereka memang merupakan penduduk perbatasan tersebut, yang kebanyakan menuntut penghidupan sebagai penebang pohon. Tetapi waktu malam telah menyelimuti daerah perbatasan tersebut, Yo Him dan Phang Kui telah menyelusup kedaerah yang dikuast oleh tentara Mongolia. Mereka memiliki gingkang yaag tinggi, dengan mudah mereka berhasil melewatkan penjagaan dari tentara Mongolia tersebut. Dengan demikian mereka bisa melaksanakan tugas mereka dengan baik, Dan juga Yo Him bersama Phang Kui In telah menyelidiki berapa kekuatan pasukan kuda dari tentara Mongolia tersebut, disamping kekuatan dari pasukan panah musuh. Seperti diketahui bahwa tentara Mongolia ahkli sekali dalam hal menunggang kuda, dan juga mereka terkenal akan keampuhan dan ketangguhan pasukan panahnya. Dengan demikian, kedua macam pasukan tersebut yang paling diandalkan sekali oleh Khan Mongolia. Terlebih lagi sekarang Kublai Khan telah melihat kegagalan, yang diderita oleh kakaknya, yaitu Mangu (Hiang Cong), dengan mendirinya pelajaran pahit itu Kublai Khan bertindak lebih hati-hati. Selama enam belas tahun lamanya, ia telah melatih tentaranya sebaik mungkin, di-mana ia meningkatkan keterampilan dari pasukan perangnya. Memang Kublai Khan berhasil dengan baik, dimana angkatan perang Mongolia waktu itu telah bertambah besar dan kuat. Dan selama enam belas tahun ini, Kublai Khas telah mengumpulkan banyak sedikit data data mengenai kelemahan pihak kerajaan Song. Dan setelah ia merasa tiba di waktunya, kini ia mulai menyerbu kembali ke daratan Tionggoan. guna menaklukkan, kerajaan tersebut, meraih daratan Tionggoan yang ingin dikuasai. Yo Him dan Phang Kui In yang tiba di tangsi terdepan dari pasukan muka Kublai Kban tersebut, melibat bahwa pasukan tentara Mongolia yang diam digaris depan tersebut berjumlah lebih dari 7000 orang. Penjagaan digaris tangsi depan tersebut kuat sekali, dan juga diantara tangsi yang memenuhi tempat tersebut, terdapat sebuah tenda yang indah menarik, berukiran besar sekali. Dibangun dengan tiang2 kayu dan balok yang berukuran-besar, mirip dengan sebuah bangunan gedung yang besar. Hawa udara pada waktu itu panas sekali, Yo Him dan Phang Kui In telah bersembunyi disebelah kanan dari tenda besar tersebut. Mereka menduga, tentunya tenda tersebut merupakan tenda dari komandan pasukan tentara Mongolia yang berada digaiis depan tersebut. Tetapi waktu Yo Him dan Phang Kui In tengah berjongkok ditempat itu, tiba-tiba ada yang membentak: “Siapa disitu ?” suaranya kasar dan keras. Yo Him dan Phang Kui In terkejut, tetapi cepat sekali mereka bisa menguasai diri, waktu mereka melirik dilihatnya dua orang berpakaian sebagai tentara Mongolia tengah mendatangi kearah mereka. Yo Him mengedipkan matarya kepada Phang Kui In lalu tanpa mengucapkan sepatah perkataan juga tubuhnya telah melompat cepat sekali. Gerakan tubuhnya begitu ringan, melayang menyambar salah seorang dari kedua tentara Mongolia tersebut. Gerakan yang dilakukan Yo Him sesungguhnya sangat cepat ia yakin akan berhasil mencekal lengan tentara Mongolia yang seorang itu, yang akan dibantingnya. Tetapi kesudahannya justru lain sama sekali karena diwaktu orang Mongolia tersebut dengan mudah dapat mengelakkan diri. Melihat ini Yo Him jadi mengeluarkan seruan heran, namun ia tidak menarik pulang tangannya, melainkan terus juga ia melanjutkan cengkeramnya itu kearah dada lawan, yang waktu itu telah melompat kesamping kanan. Tetapi sekali lagi orang Mongolia tersebut berhasil mengelakan diri. Phang Kui In yang melihat dua kali Yo Him tidak berhasil mencekal badannya, segera menjejakan kakinya, tubuhnya seperti seekor burung rajawali menyambar kelinci telah melayang dengan gesit sekali, menghantami kearah kepala dari tentara Mongolia yang seorang lagi . Phang Kui In juga tidak berlaku segan-segan untuk menurunkan tangan keras, dimana pada telapak tangannya itu telah dikerahkan tenaga lwekangnya, sehingga jika ia berhasil memukul tentara Mcngolia yang seorang itu, tentu orang tersebut akan terbinasa. Hal ini dilakukan oleh Phang Kui ln karena ia kuatir jika mereka berlaku- lamban tentu kedua orang tersebut akan menimbulkan suara berisik dan kelak akan menyebabkan tentara Mongolia yang lainnya berdatangan. Tetapi Phang Kui In memukul angin, karena tentara Mongolia yang seorang itupun telah berhasil mengelakan diri dari pukulan orang she Phang tersebut . Maka tentara Mongolia yang seorang ini telah mengulurkan tangannya dengan cepat sekali in telah mencengkeram kearah dada Phang Kui In, dan ia juga telah menarik dengan kuat sekali, maksudnya hendak membanting Phang Kui In. Dan itulah cara gulat yang memang dimiliki mahir sekali oleh tentra Mongolia tersebut. Seperti diketahui bahwa rakyat Mongolia gemar sekali melatih ilmu gulat, dan hampir setiap pria Mongolia juga menguasai ilmu gulat tersebut. Phang Kui In yang merasakan baju dibagian dadanya telah dicekal oleh tangan lawannya, terkejut dan mengeluarkan suara seruan keras, dan waktu tubuhnya akan ditarik dan dibanting cepat bukan main, nampak Phang Kui In menggerakkan kaki kanannya menendang, maka cepat sekali mengenai pundak dari lawannya. Seketika tentara Mongolia yang seorang tersebut mengeluarkan suara keluhnya yang perlahan, tubuhnya telah terhuyung dan tangannya terasa semper tidak bertenaga lagi, sehingga cekalannya pada pakaian Phang Kui In jadi terlepas. Yo Him sendiri yatg melihat dua kali ia menyerang, dua kali ia menemui kegagalan, dengan demikian membuat ia penasaran. Ia mengetahui bahwa tentara Mongolia yang diserangnya itu memang memiliki ilmu dan kepandaian gulat yang cukup tinggi, disamping itu juga tentara Mongolia tersebut memiliki ginkang atau ilmu meringankan tubuh yang cukup gesit, sehingga dua kali ia melancarkan pukulan dan cengkeraman, tentara Mongolia tersebut bisa mengelakkan diri. Maka serangan, tidak berlaku lambat lagi, cepat luar biasa, tangan kirinya digerakan akan menghantam muka orang, sedangkan tangan kanannya meluncur akan menotok. Tentara Mongolia, tersebut melihat betapa tangan kiri Yo Him menyambar kearah mukanya, maka ia telah mengeluarkan suara seruan kaget dan melompat mundur. Tetapi begitu dia bergerak, segera jari tangan kanan dari Yo Him telah singgah dijalan darah Lung cie hiat nya, maka tidak ampun lagi tubuhnya telah terjungkel rubuh, karena diwaktu itu ia merasakan betapa seluruh tenaganya telah lenyap. Yo Him setelah membereskan lawannya! yang seorang ini. segera melompat lagi kepada tentara Mongolia yang seorang itu, yang tangannya telah semper akibat tendangan kaki Phang Kui In. Tanpa mengucapkan sepatah perkataan, tampak tangan kanan Yo Him telah bergerak, dan ia menotok jalan darah Ciang-kie hiat” dari tentara Mongolia yang seorang itu tampa ampun lagi tubuh tentara Mongolia yang seorang itupun terjungkal rubuh, dan tidak bisa berkutik kembali. Phang Kui In dan Yo Him cepat menyelinap kebagian lain dari tenda tersebut. Dan mereka telah menyelinap masuk kebagian dalamnya. Ternyata didalam tenda tersebut, yang terbagi dalam tiga ruangan, terjaga kuat sekali. Didalam tenda itu tampak belasan tentara Mongolia yang melakukan penjagaan, tetapi sebagian dari mereka telah ada yng meringkuk diatas tanah belasan kulit kerbau, tengah tertidur nyenyak. Yang tertinggal yang masih melakukan penjagaan hanya lima orang penjaga belaka. Yo Him dan Phang Kui In saling pandang sejenak, lalu keduanya telah mengangguk. Kemudian dengan serentak, keduanya telah melompat kepada kelima penjaga tersebut. Dengan gesit mereka telah mengerakkan tangan dan kaki mereka dengan begitu tidak bersuara lagi, kelima penjaga yang tengah lengah dan terkantuk-kantuk tersebut, telah rubuh terguling, rebah tidak bisa berkutik lagi karena mereka telah tertotok. Phang Kui In dan Yo Him telah melompat memasuki ruangan yang lainnya, yang terhalang oleh selapis kulit yang lebar. Disitu mereka melihat empat orang Mongolia yang bertubuh tinggi besar, dan berpakaian lain dengan para penjaga tadi, mungkin para perwira Mongolia, tengah tertidur nyenyak. Dengan perlahan dan langkah kaki yang tidak menimbulkan suara, Yo Him telah menghampiri keempat perwira Mongolia tersebut, kemudian menotoki merela, sehingga waktu, keempat orang itu terbangun, mereka tidak bisa bergerak lagi. Karena jalan darah mereka telah tertotok. Yo Him bekerja cepat, bersama Phang. Kui ln dia menggeledah tubuh keempat perwira Mongolia tersebut. Yo Him dan Phang Kui In berhasil memperoleh beberapa gulung surat, yang tanpa dilihat lagi telah mereka masukkan ke dalam saku masing-masing. Mereka yakin, tentunya gulungan surat tersebut merupakan rencana yang tertulis dan tersusun buat para perwira tersebut melakukan penyerbuannya ke Siangyang. Kemudian Yo Him dan Phang Kui In melakukan penyelidikan dibeberapa tempat lainnya. Tetapi waktu mereka hendak berlalu dari tempat itu, tiba2 berkelebat sesosok tubuh, yang gerakannya begitu ringan dan juga membentak dengan suara yang dalam : “Tahan….!” Yo Him dan Phang Kui In menghentikan langkah kaki mereka, dan telah melompat mundur dua langkah waktu orang tersebut telah berada didekat mereka, terlalu dekat sekali, hanya terpisah sejengkal tangan saja. Hal itu disebabkan wajah orang tersebut sangat aneh, yaitu wajahnya mirip dengan seekor lutung, dan tubuhnya kurus kering agak membunguk. Cara berpakaiannya sebagai perwira Mongolia. “Kalian berdua rupanya mata-mata dari kerajaan Song !” kata orang tersebut dengan suara yang bengis, “Hemmm, ditempat ini ada aku Mongolinggo jangan harap engkau seenaknya keluar masuk ditempat kami ! Untuk masuk ke dalam memang mudah, tetapi untuk berlalu, hemm, hemm, jangan harap engkau bisa angkat kaki dari tempat ini….!” dan membarengi dengan perkataannya itu, orang bertubuh kurus bungkuk dan bermuka seperti lutung itu telah mengebutkan tangan kanannya, yang kurus dan jari tangannya lancip-lancip. Tetapi angin yang meluncur keluar dari tangan kurus itu bukan main hebatnya, menderu-deru keras sekali. Yo Him dan Phang Kui In waktu itu telah menduga bahwa orang tersebut tentu memiliki kepandaian yang tinggi, karena tubuhnya tadi telah bergerak begitu ringan sekali, dan waktu kedua kakinya menginjak tanah, tidak menimbulkan suara, hal itu membuktikan bahwa ginkang orang itu memang tinggi. Tetapi belum lagi mereka tahu apa-apa dan waktu mereka melihat tangan Molinggo telah digerakkan akan mengebut kearah mereka angin dari telapak tangan Molinggo telah mendesir kuat sekali, menghantam mereka dengan dahsyat. Yo Him dan Phang Kui In mengeluarkan suara tertawa dingin, tahu-tahu tubuh mereka telah bergerak cepat sekali, untuk menerjang kearah Molinggo. Dengan demikian, Molmggo telah diserarg berbareng oleh Yo Him dan Phang Kui In. Yo Him telah melancarkan totokan-totokan dengan mempergunakan ilmu totokan It yang-cie, yang pernah diperolehnya dari It Teng Taisu. Diserang dengan ilmu menotok It Yang Cie tersebut, telah membuat Molinggo jadi kelabakan, karena ilmu totokan jari tunggal tersebut, merupakan ilmu yang benar-benar ampuh. Walaupun hanya menyerang dan menotok dengan mempergunakan jari telunjuk saja, namun dari jari telunjuk itu justru telah mengeluarkan kekuatan tenaga sinkang yang sangat dahsyat dan bisa menghancurkan batu maupun besi, terlebih lagi tubuh manusia. Selain akan tertotok, juga akan membuat bagian anggota tubuh yang tertotok akan menjadi hancur karenanya. Dengan demikian, Molinggo, yang rupanya memiliki pengalaman sangat luas, telah bisa melihat bahwa It Yang Cie bukanlah ilmu yang sembarangan. Phang Kui In juga telah melancarkan pukulan yang benubitubi dan gencar sekali, setiap seranganaya selalu membawa angin pukulan yang benar benar sangat kuat. Dengan demikian, telah membuat Molinggo dikurung dari dua jurusan, oleh Yo Him dan Phang Kui In. Tetapi Molinggo sama sekali tidak merasa jeri, karena ia memang memiliki kepandaian yang tinggi. Karena itu, beberapa kali ia telah berusaha untuk mengelakan serangan serangan yang dilancarkan Yo Him dan Phang Ku In, membarengi dengan mana iapun balas menyerang dengan ilmu gulatnya yang dia latih cukup mahir. Yo Him dan Phang Kui In walaupun masing-masing mempergunakan kepandaiannya yang hebat, namun mereka tidak berani sembarangan terlalu mendesak lawannya, karena mereka melihat, sekali saja mereka melakukan serangan yang gagal, niscaya diri mereka sendiri yang akan menjadi korban dari akhli gulat tersebut. Dengan demikian, telah membuat mereka jadi bersiap sedia dari setiap uluran tangan dan cengkeraman tangan Molinggo. Maka dari itu, walaupun dikurung oleh Yo Him dan Phang Kui ln berdua, tokh kenyataannya Molinggo masih dapat melayaninya dengan baik. Dan setiap serangan ilmu gulatnya itu, memiliki keampuhan yang tidak bisa dibuat main2. Beberapa kali tangan Yo Him maupun Phang Kui In hampir kena dicekalnya, namun disebabkan Yo Him dan Phang Kui In bergerak sangat gesit mereka selalu bisa meloloskan diri. Semakin lama Molinggo rupanya semakin gusar, dia juga penasaran sekali. Beberapa kali ia memperhebat cengkeraman tangannya. Dan begitu juga, kedua kakinya telah bermain ikut menendang, menggaet, mengangkat dan juga berbagai tipu gulat lainnya. Diwaktu ketiga orang ini terlibat dalam pertempuran yang cukup panjang, tiba2 tampat dari arah kegelapan di sebelah kann, berkelebat sesosok tubuh yang tinggi besar, diiringioleh suara bentakan mengguntur: “Siapa yang membuat kegaduhan di malam buta rata ini !?” Yo Him dan Phang Kui Inr jadi tercekat hati mereka, karena di saat itu justeru Phang Kui In dan Yo Him telah mengenalinya bahwa orang yang baru datang itu tidak lain dari Tiat To Hoat ong. Tiat To Hoat ong sendiri, begitu tiba di tempat tersebut, telah melibat Yo Him dan Phang Kui in, maka segera ia tertawa bergelak-gelak . “Oho, rupanya kalian ….!” katanya dengan suara yang keras parau. ”Bagus bagus.. … ! “ Dan belum lagi suaranya itu habis, tubuhnya yang tinggi besar itu telah melompat menerjang kearah Yo Him dan Phang Kui In. Gerakan Tiat To Hoat ong sangat cepat sekali, ia telah mengibaskan tangannya dua kali, dan telapak tangannya mendera angin Iwekang yang sangat kuat sekali, tubuh Yo Him dan juga Phang Kui In seperti diterjang angin topan yang sedang mengamuk. Diwaktu itulah tubuh kedua orang tersebut telah terlempar ketengah udara. Dengan mengeluarkan suara tertahan, Yo Him dan Phang Kui In terbanting diatas tanah, keras sekali. Hebat cara menyerang Tiat To Hoat ong, karena sekali saja ia menggerakkan tangannya, ia telah berhasil membuat Yo Him dan Phang Kui In terpental. Sedangkan Molinggo ketika mengetahui siapa yang datang, cepat2 memberi hormat, sambil katanya melapor “Hoat-ong, kedua orang ini menyerbu ke daerah kita.,.,.mereka harus ditangkap !” Tiat To Hoat ong menganggukkan kepalanya, malah sahutnya : “Ya aku kenal mereka ang seorang puteranya Sin Tiauw Taihiap Yo Ko, itu sibuntung tengik yang terlalu bertingkah dan yang seorang ini lagi adalah kawannya …!” Dan tanpa menantikan selesai perkataannya itu, segera Tiat To Hoat-ong menjejakan kakinya tubuhnya telah meloncat dengan gerakan yang sangat ringan sekali, dimana ia telah menjulurkan kedua tangannya bermaksud menekuk Yo Him dan Phang Km In. Waktu itu sesungguhnya mata dari Yo Him dan Phang Kui In masih berkunang-kunang maka ketika mereka hendak brrdiri dan melihat datangnya serangan Tiat To Hoat ong mereka cepat-cepat mengelakkan diri namun gerakan mereka tidak secepat gerakan Tiat To Hoat ong, tidak ampun lagi tubuh mereka kena dicekuk. Begitu pundak mereka masing-masing kena dicengkeram Tiat To Hoat ong, mereka seperti mati kutu, dan tidak bisa bergerak lagi. Tiat To Hoat ong telah mengeluarkan suara tertawa yang sangat keras sekali. Dan ia telah mengangkat tubuh Yo Him dan Phang Kui In dengan gerakan yang kuat sekali, kemudian membantingnya diatas tanah, lalu kaki kanannya dipergunakan menendang jalan darah “Lung-cie hiat” ditubuh Yo Him, dan juga jalan darah ”Liang-siang-hiat” pada tubuh Phang Kui In. Seketika tubuh Phang Kui In dan Yo Him jadi kaku dan tidak bisa bergerak, malah mereka menderita kesakitan yang cukup hebat. Tetapi baik Yo Him maupun Phang Kui In sama sekali tidak merintih, mereka berdiam diri menahan sakit dan butir-butir keringat saja yang mengucur keluar dari sekujur tubuh mereka. Tiat To Hoat ong telah mementang matanya lebar-lebar dan mengawasinya dengan pandangan mata yang tajam sekali. Kemudian pendeta Mongolia tersebut telah membentak : “Kalian rupanya tengah memata-matai kami, bukan ? Hemmm, hemmm. baiklah, sekarang aku akan meninggalkan tanda mata pada tubuh kalian !” Sehabis berkata begitu, Tiat To Hoat ong melirik kepada Monlinggo. ia telah berkata perlahan : “Buka pakaian mereka !” Molinggo menurut dengan segera, dan ia telah membuka pakaian Yo Him dan Phang Kui In. Diwaktu itulah, Tiat To Hoat ong telah mengeluarkan golok hitamnya. “Hemmmm, nanti setelah aku beri tanda mata pada tubuh kalian, barulah waktu itu kalian akan membebaskan untuk kembali ketempat kalian. Bersiap-siaplah…,!” dan sehabis berkata, begitu ia telah menggerakkan goloknya, akan menggores perut Phang Kui In, dimana mata golok tersebut telah digerakkan berulang kali. menggerat beberapa huruf. Phang Kui In merasakan perutnya sangat, pedih, tetapi ia tidak merintih, Namun belum lagi Tiat To Hoat ong menyelesaikan tulisannya tersebut, dimana dia mempergunakan goloknya menulis kata- kata menantang ditubuh Phang Kui In dan darah juga telah bercucuran dari tubuh yang tergores golok hitam tersebut, mendadak sekali terdengar suara seseorang yang tertawa jenaka. “Heh heh heh,”kata sosok tubuh yang baru datang itu.”Sungguh permainan yang tidak sedap dilihat…!” Tiat To Hoat ong segera menoleh, dan dia melihatnya bahwa orang tersebut tidak lain dari Ciu Pek Thong. Muka Tiat To Hoat ong jadi berobah merah padam, karena segera dia teringat betapa beberapa saat yang lalu Ciu Pek Thong telah mencabuti kumis dan jenggotnya, yang kini tumbuh tidak rata. “Kau. ..?” bentak Tiat To Hoat ong dengan murka. Dan tanpa mengeluarkan sepatrah perkataan lagi, tahu2 tubuhnya telah melompat ketengah udara, golok hitamnya tersebut telah berkelebat menyambar kearah Ciu Pek Thong, Rupanya Tiat To Hoat ong karena terlalu murka telah menerjang dan sekalian melancarkan bacokan yang begitu cepat kepada Ciu Pek Thong. Sakit hatinya teringat betapa kumis dan jenggotnya telah dipereteli oleh situa berandalan ini. Tetapi Ciu Pek Thong memiliki ginkang yang tinggi luar biasa, situa berandalan tersebut telah mengeluarkan suara haha hehe yang tidak hentinya, beruntun telah mengelakkan diri dari empat bacokan golok Tiat To Hoat-ong. sambil berkelit dia juga menggerakkan tangan kanannya. „Wuttt..!” telapak tangan kanannya itu telah melayang akan menampar. Tiat To Hoat-ong yang bermaksud mengelakkan tamparan itu jadi terkejut, karena disaat itulah Ciu Pek Thong membatalkan tamparan tangan kanannya, yang rupanya hanya merupakan serangan ancamannya, tahu-tahu tangan kirinya telah bergerak cepat sekali menghantam kearah pundak Tiat To Hoat-ong. Pendeta Mongolia tersebut, yang kaget bukan main, cepatcepat menghindar lagi. Namun terlambat. Keras sekali, pundaknya telah kena di hantam oleh Ciu Pek Thong. Tubuh Tiat To Hoat-ong jadi terhuyung-huyung dan akan rubuh. Tiat To Hoat-ong gusar dan penasaran bukan main, untuk membela diri dan melindungi tubuhnya dari serangan Ciu Pek Thong berikutnya, ia telah memutar golok hitamnya dengan cepat, sehingga tubuhnya terbungkus oleh gulungan cahaya hitam golok pusakanya yang melindungi dirinya dari serangan2 Ciu Pek Thong. Tetapi Ciu Pek Thong memang memiliki kepandaian yang telah mencapai pancak kesempurnaan, dimana selama tahuntahun belakanpan ini situa berandalan tidak pernah jemu melatih diri terus menerus. Selain gingkangnya yang telah sempurna sehingga ia bisa bergerak ringan seperti terbang, juga sinkangnya telah mencapai kesempurnaan yang menakjubkan sekali. Melihat Tiat To Hoat ong memutar golok hitamnya tersebut seperti itu, maka tampak Ciu Pek Thong sambil tertawa keras telah memutar kedua tangannya, dimana kedua tangannya itu seperti juga mengiringi berputarnya golok hitam tersebut. Dengan demikian, segera juga terlihat betapa golok hitam Tiat To Hoat ong seperti diikat terus oleh kedua tangan Ciu Pek Thong. Malah beberapa saat kemudian, Ciu Pek Thong berkata: “Lepas !” jari telunjuknya telah menyentil dengan kuat sekali. Dan seketika itu juga golok hitam ditangan Tiat To Hoat ong telah bertempur dan terlepas dari cekalannya. Luar biasa kuatnya tenaga sentilan jari telunjuk Ciu Pek Thong, sehingga begitu dia menyentil, segera golok tersebut terpental dan telapak tangan Tiat To Hoat-ong terasa pedih sekali. Tiat To Hoat ong kaget bukan main, dia masih sempat melirik betapa golok hitamnya itu telah menancap diatas tanah. Ciu Pek Thong tidak berdiam sampai disitu saja, karena Molinggo sambil sambil mengeluarkan bentakan bengis telah menerjang maju! Manusia yang mukanya seperti lutung tersebut telah melancarkan cengkeraman dengan ilmu gulatnya. Hampir saja Ciu Pek Thong kena dicengkeram pada bagian punggungnya. Ciu Pek Thong telah memiringkan pundaknya, dan tanpa menoleh ia mengibaskan tangannya kebelakang. Tangannya saling bentur dengan tangan Molinggo yang kurus kering itu dan berjari lancip-lancip. Tidak ampun lagi, segera tubuh Molinggo terlempar keras dan melayang ditengah udara. Tetapi sebagian seorang akhli gulat yang memang benar-benar mahir, dengan sendirinya waktu tubuhnya terbanting, Molinggo dengan cepat sekali telah menggelinding dengan cara gulatnya. Dengan begitu, ia tidak perlu sampai patah tulang pada anggota tubuhnya. Ciu Pek Thong tertawa keras sekali, tubuhnya melayang kedekat Tiat To Hoat ong. Tiat To Hoat ong melihat Ciu Pek Thong mendatangi, tampa membuang waktu lagi, ia telah melompat untuk menerjang kearah lawannya tersebut. Ciu Pek Thong tertawa mengejek dan kemudian menggerakkan tangan kanannya menghantam lagi kepada Tiat To Hoat ong. Waktu itu Tiat To Hoat ong telah mengerahkan sebagian besar dari kekuatan tenaga dalamnya, maka waktu tangan mereka saling bentur, seketika itu juga tubuh Hiat To Hoat ong tergoncang terhuyung, beberapa langkah ke belakang. Sedangkan Ciu Pek Thong merasakan tubuhnya seperti diterjang oleh sesuatu kekuatan yang dahsyat, namun ia tidak sampai terhuyung, hanya tubuhnya tergoyang-goyang saja. Kembali Ciu Pek Thong telah menyerang pula dengan telapak tangannya. ,,Plakkk, plakkk!” dua kali Ciu Pek Thong berhasil menempiling muka Tiat To Hoat ong. Rupanya, Tiat To Hoat ong yang belum bisa menguasai kuda2 kedua kakinya, ketika menerima tamparan tangan Ciu Pek Thong, berusaha untuk mengelakkan diri, namun kenyataannya dia terlambat, sehingga wajahnya itu menjadi sesaran dari tempilingan Tiat To Hoat ong. Dengan meraung mengeluarkan suara seruan yang mengandung kemarahan, tampak Tiat To Hoat-ong dengan kalap telah melompat melancarkan tubrukan untuk merangsek Ciu Pek Thong. Tetapi Ciu Pek Thong dapat menghindar dengan mudah tubrukan dari Tiat To Hoat-ong, dan sambil menghindar, kaki kanannya telah menendang punggung lawannya sehingga tidak ampun lagi Tiat To Hoat ong terjerunuk, dan hidungnya telah mencium tanah. Dari hidungnya seketika mengucur darah segar, yang membuat muka Tiat To Hoat-ongi jadi berlepotan darah dan tambah menyeramkan. Dengan kalap, dia telah melompat untuk menerjang lagi dia telah mengulurkan kedua tanganya untuk mencengkeram tubuh Ciu Pek Thong. Tetapi memang situa berandalan jenaka itu merupakan seorang tokoh persilatan yang benar-benar gemar berguyon, maka setelah menghindarkan diri beberapa kali dari tubrukan Tiat To Hoat ong, tiba-tiba ia telah melompat tinggi ketengah udara. Sambil melambung tinggi seperti itu kedua tangan Ciu Pek Thong telah menghantam dengan kuat sekali. “Bukkk,. ..!” tubuh Tiat To Hoat ong berhasil dihantamnya kembali. Sepeti juga sebuah bola yang menggelinding, maka seketika itu juga tubuh Tiat To Hoat ong telah menggelundung diatas tanah. Dan dalam keadaan demikian, pandangan mata Tiat To Hoat ong juga telah berkunang-kunang, tampaknya Tiat To Hoat ong tidak bisa mempertahankan diri lagi, karena begitu dia bangkit untuk berdiri, justru dia telah memuntahkan darah segar. Darah yang dimuntahkannya itu cukup banyak, dan bergenang diatas tanah. Muka pendeta Mongolia tersebut telah pucat pias. Molinggo yang melihat Tiat To Hoat Ong terluka berat seperti itu, dengan nekad dia telah melancarkan gempuran dengan kedua telapak tangannya. Kepandaian Tiat To Hoat ong sesungguhnya jauh lebih hebat dan juga liehay melebihi Moliggo, tetapi justru Tiat To Hoat ong tidak bisa menyerang Ciu Pek Thong, maka sekarang apalagi Molinggo. Begitu dia menyerang, segera dia menghantam tempat kosong, dengan cepat sekali Ciu Pek Thong dapat menghindarkan diri dari pukulan yang dilancarkan Molinggo. Dengan penasaran Molinggo beberapa kali telah melancarkan cengkeraman dan pukulan lagi. Namun selalu gagal. Dan setelah lima kali menghantam dan mengulurkan tangannya untuk mencengkeram, namun selalu mengenai tempat kosong, akhirnya Molinggo sudah tidak bisa menguasai keseimbangan tubuhnya waktu tangan kanan Ciu Pek Thong dengan cepat telah menghantam tepat sekali perutnya, menyusul mana, diwaktu tubuh Molinggo terbungkukbungkuk, Ciu Pek Thong menghantam punggung lawannya, maka seketika itu juga tubuh Molinggo telah terjerunuk, mukanya menghantam tanah dan dia pingsan seketika itu juga ! Tiat To Hoat-ong masih mengerang berusaha untuk. bangun, dan di waktu itulah, segera terlihat pendeta tersebut menggerakkan tangan kanannya. Tahu-tahu tiga cercah sinar kuning telah menyambar kearah Ciu Pek Thong. Samberan ketiga sinar kuning tersebut bukan main cepatnya, mengeluarkan suara mendengung yang sangat keras sekali, menunjukkan bahwa tenaga menimpuk dari Tiat To Hoat-ong masih kuat sekali. Segera terlibat ketiga sinar kuning itu yang menyambar tiga bagian dari anggota tubuh Ciu Pek Thong, yaitu dada, perut dan paha dari situa berandalan tersebut telah dekat sekali pada sasarannya. Tetapi Ciu Pek Thong malah tertawa tawa, dan dengan mudah ia telah menangkap senjata rahasia yang dilontarkan oleh Tiat To Hoat-ong, yang terdiri dari tiga buah mata uang logam yang terbuat dari emas. Ciu Pek Triong sambil menimang – nimang uang logam tersebut, telah berkata. “Aha, aku memperoleh uang ! Tetapi aku tidak membutuhkannya ! Nih, aku kembalikan …..!” dan selelah bertata begitu, justru Ciu Pek Thong telah menggerakkan tangannya, maka ketiga mata uang logam tersebut telah menyambar cepat sekali kepada Tiat To Hoat ong. Namun menyambarnya ketiga mata uang logam emas tersebut kuat sekali melebihi tenaga menimpuk yang dilakukan oleh Tiat To Hoat ong. Melihat menyambarnya ketiga senjatanya yang seperti akan memakan majikan sendiri, Tiat To Hoat-ong jadi mengeluarkan suara teriakan kaget dan berkuatir, mati-matian dengan sisa tenaga yang ada padanya ia menggelinding pergi menjauhi diri. Ketiga mata uang logam tersebut telah menyambar tempat kosong, namun segera menancap masuk kedalam tanah, dan tidak tampak lagi. Hebat cara menimpuk Ciu Pek Thong, dia menimpuk seperti perlahan sekali, namun hebat kesudahannya, dimana mata uang tersebut telah amblas dan lenyap kedalam tanah. Tanpa memperdulikan Tiat To Hoat ong, Ciu Pek Thong menghampiri Yo Him dan Phang Kui In. Ia telah menggendong kedua orang itu, dia mengempitnya dengan kedua tangannya, kemudian dengan mengeluarkan suara yang nyaring sekali, ia telah menjejakkan kakinya, tubuhnya telah berlari dengan cepat meninggalkan tempat itu. Dalam waktu sekejap mata saja, ia telah lenyap dari pandangan mata Tiat To Hoat ong. Tiba2 dari kejauhan terdengar suara ramai2, rupanya keributan di tempat tersebut telah didengar oleh para penjaga ditempat tersebut, yang segera berdatangan sambil berteriakteriak: “Tangkap penjahat! Tangkap penjahat !” tapi mereka mana bisa menangkap Ciu Pek Thong. Tiat To Hoat ong yang gusar bukan main, begitu berdiri ia telah menggerakkan tangan kanannya tahu-tahu ia telah menghantam kepala salah seorang tentara Mongolia tersebut. „Bukkk..!” kepala tentara itu telah pecah berantakan, dan polohnya telah mengalir keluar bercampur darah, tanpa sempat mengeluarkan suara gerengan lagi, tubuhnya telah terkulai di saat itu juga. Rupanya Tiat To Hoat Ong melampiaskan kemarahan kemendongkolan hatinya dengan mempergunakan pukulan yang kuat seperti itu, sehingga sekali hantam kepala orang tersebut telah pecah berantakan dan terbinasa. Dengan menggumam perlahan Tiat To Hoat-ong telah ngeloyor pergi meninggalkan tempat tersebut, untuk memberikan laporan kepada Kublai Khan. ==oo0dw0oo== CIU PEK THONG ternyata kelika mengetahui Yo Him dan Pang Kui In menerima perintah Yo Ko untuk pergi menyelidiki keadaan digaris depan, segera menyatakan keinginannya pada Yo Ko, untuk pergi kegaris depan, guna melihat-lihat keadaan di sana. Yo Ko memberikan ijinnya. Dan itulah sebabnya Ciu Pek Thong bisa tiba tepat disaat Phang Kui In dan Yo Him hampir saja celaka ditangannya Tiat To Hoat ong. Dengan munculnya Ciu Pek Thong, maka jiwa Yo Him dan Phang Kui In bisa diselamatkan. Begitulah, telah membawa Yo Him dan Phang Kui In ke Siangyang, Ciu Pek Thong menceritakan apa yang telah terjadi dan menimpah diri dari kedua orang ini pada Yo Ko dan para orang orang gagah lainnya. Gulungan surat yang ada disakunya Yo Him ternyata merupakan surat-surat penting dari rencana pihak Mongolia yang merencanakan kapan dan bagaimana mereka akan menerobos penjagaan di Siangyang. Rupanya keempat perwira yang tengah tertidur di tangsi mereka, dan juga telah dicuri surat-surat pentingnya tersebut, merupakan perwira-perwira yang akan memimpin penyerangan pembukaan. Dengan berhasilnya Yo Him memperoleh surat-surat penting itu maka pihak tentara kerajaan Song berhasil menyusun kekuatan yang jauh lebih sempurna dimana bagianbagian yang merupakan tempat-tempat yang lemah dan menjadi inceran dari pasukan tentara Mongolia yang akan menyerbu masuk, telah ditempatkan pasukan tentara Song yang lebih banyak jumlahnya. Begnu juga Yo Ko bersama Kwee Ceng, It Teng Taisu dan orang-orang gagah lainnya, telah mempersiapkan segala keperluan untuk kekuatan mereka, dimana pihak tentara kerajaan Song telah dikerahkan dua ratus lie dari Siangyang. Kwee Ceng juga menganjurkan agar tentara laskar dari penduduk pria Siangyang yang telah dilatih, hanya menjaga didalam kota Siang-yang. Mereka akan dikerahkan jika pasukan prajurit Song kekurangan tenaga, dimana mereka merupakan tenaga cadangan belaka. Begitulah, dengan berhasilnya Yo Him memperoleh sebagian dari rahasia rencana pihak Mongolia tersebut, dengan demikian pihak tentara Song bisa menutupi kelemahan-kelemahan dipihak mereka. Setelah mengatur segala yang perlu, Yo Ko dan Kwee Ceng beristirahat. Namun menjelang tengah malam, Yo Ko terbangun dari tidurnya karena mendengar suara ribut-ribut. Dengan ringan tampak Yo Ko telah melompat dari pembaringannya, dan melewati jendela kamar ia telah melompat keatas genting. Bangunan dimana Yo Ko beristirahat, terdiri dari gedung bertingkat dua, dan diatas genting dari tingkat kedua itu tampak beberapa sosok bayangan yang tengah berkelebatkelebat bertempur. Yo Ko telah datang dengan cepat, dan segera ia melihat Kwee Ceng dan juga It Teng Taisu, tengah bertenpur dengan empat orang yang berpakaian sebagai orang Han, namun wajah mereka lebih mirip orang Mongolia. Dengari demikian, Yo Ko segera/ menyadari bahwa keempat orang tersebut tentunya merupakan empat orang mata-mata dari pihak Mongolia. Usia keempat orang itu rata-rata telah enam puluh tahun, wajah mereka juga bengis sekali, dengan kumis dan jenggot yang kasar disamping itu hidung mereka juga mancung dan bibir mereka dower. waktu itu kesmpat orang tersebut tengah berusaha menghadapi serangan Kwee Ceng dan It Teng Taisu. dimana mereka tampaknya kelabakan dan sibuk sekali berkelit kesana-kemari. Gerakan mereka cukup gesit, tetapi menghadapi dua orang tokoh sakti yang sangat tinggi kepandaiannya seperti It Teng Taisu dan Kwee Ceng, keempat orang itu benar-benar tidak berdaya untuk balas menyerang, mereka hanya bisa berkelit kesana kemari saja. Dengan begitu, segera terlihat, tidak lama lagi tentu keempat orang tersebut akan bisa dirubuhkan It Teng Taisu. Yo Ko mengerutkan alisnya waktu melihat bertempur keempat orang terebut, ia memperhatikan ilmu silat yang dipergunakan oleh empat orang itu. Walaupun tidak sesempurna ilmu silat It Teng Taisu dan juga Kwee Ceng, namun kenyataannya keempat orang tersebut memiliki kepandaian yang cukup tinggi dan bukan sembarangan. „Siapakah mereka?” berpikir Yo Ko di dalam hati. “Ternyata pihak Mongolia memiliki cukup banyak jago-jago yang memiliki kepandaian tinggi . . . . “ Waktu itu It Teng Taisu mulai menggerakkan tangan kanannya, menyerang dengan ilmu lt Yang Cie-nya, gerakannya perlahan, tetapi dari jari telunjuk It Teng Taisu seperti juga mengalir suaru kekuatan yang mirip aliran listrik, yang menyambar-nyambar, membuat lawannya merasakan sekujur tubuhnya seperti terkurung oleh selapis kekuatan yang dahsyat tanpa bisa dilihatnya, memperlambat setiap gerakan dari mereka. Keempat orang tersebut sesungguhnya memang merupakan jago-jago yang sangat terkenal di Mongolia, mereka memiliki kepandian yang berimbang dengan Tiat To Hoat ong. Malah menurut akhli-akhli silat di Mongolia mungkin kepandaian keempat orang ini menangi seurat dari Tiat To Hoat ong. Cuma saja disebabkan keempat orang tersebut jarang sekali menampakkan diri, dan lebih banyak hidup mengasingkan diri di sebuah tempat, yang sunyi jauh dari keramaian, dengan demikian, membuat mereka kurang terkenal dibandingkan dengan Tiat To Hoat ong. Terlebih lagi sekarang mereka telah turun tangan berempat sekaligus, menggabungkan kepandaian mereka untuk menghadapi It Teng Taisu dan Kwee Ceng dengan serentak, itulah sebabnya, walaupun sangat tangguh, namun kenyataan Kwee Ceng dan It Teng Taisu tidak bisa cepat2 merubuhkan mereka. Keempat orang tersebut masing2 bernama Cieluna, Cieluni, Cieluka dan Cieluti, keempat orang tersebut telah diundang langsung oleh Kublai Khan. untuk membantu pasukan Mongolia dalam rangka menyerbu kedaratan Tionggoan. Sesungguhnya, keempat jago Mongolia tersebut hendak menolak, namun setelah Kublai Khan membujuk mereka dengan panjang lebar, akhirnya keempat orang tersebut menerima undangan Kublai Khan, untuk membantu pihak Mongolia menghadapi jago-jago daratan Tiong-goan. Karena terjadinya peristiwa Yo Him dan Phang Kui In yang berhasil mencuri surat rahasia dari rencana penyerbuan mereka, dengan begitu Khublai telah mengutus keempat orang tersebut untuk pergi ke Siangyang, guna menyelusup dan menyelidiki kekuatan lawan. Cieluna, Cieluka. Cieluti dan Cieluni, telah berangkat dan dengan mudah mereka telah berhasil menyelusup masuk ke kota Siangyang, melewati penjagaan kota tersebut, Mereka memang memiliki kepandaian yang tinggi, dengan mudah mereka berkeliaran dikota Siangyang pada malam itu. Apa lagi mereka telah menyamar dengan memakai pakaian orang Han. Namun tanpa disengaja mereka justru telah berlari-lari diatas genteng dari kamar It Teng Taisu, yang waktu itu tengah bercakap-cakap dergan Kwee Ceng, walaupun hari lelah larut malam. Sebagai seorang yang lelah memiliki kepandaian sempurna dan pendengaran yang sangat tajam, It Teng Taisu dan Kwee Ceng segera mendengar suara langkah kaki dari keempat orang jago Mongolia itu dimana walaupun mereka berempat memiliki ginkang yang tinggi, tokh It Teng Taisu dan Kwee Ceng tetap berhasil mendengar suara langkah kaki mereka. Dengan ringan It Teng Taisu dan Kwee Ceng melompat keluar dari kamar mereka dan menghadang jalan larinya keempat orang Mongolia itu. Dengan begitu mereka jadi bertempur. Tetapi setelah bertempur sekian lama, ternyata kepandaian It Teng Taisu dan Kwee Ceng memang benar-benar sangat tinggi, walaupun keempat orang itu telah memberikan perlawanan yang mati-matian dan bersungguh-sungguh, namun lambat laun mereka terdesak juga. Semakin lama keempat orang itu semakin terdesak dan akhirnya mereka memberikan tanda dengan saling berseru satu dengan yang lainnya menggunakan bahasa mereka, dimana mereka saling memberitahukan jurus apa yang akan digunakan untuk mengepung It Teng Taisu dan Kwee Ceng. Itulah sebanya Yo Ko mendengar suara ribut-ribut tersebut. It Teng Taisu dan Kwee Ceng waktu melihat kedatangan Yo Ko. telah mengeluarkan suara yang girang, malah Kwee Ceng telah berkata.”‘Yojie, cepat bekuk keempat orang ini, mereka mata-mata Mongolia….! Yo Ko tidak menyahuti, tetapi tubuhnya dengan gesit telah melompat ketengah gelanggang pertempuran itu, sambil lengan bajunya yang kanan telah mengebut akan menerpah tangan Cieluna. Gerakan yang dilakukan Yo Ko sangat cepat sekali, dan juga sinkang yang tersalurkan itu luar biasa dahsyatnya, sehingga membuat Cieluna yang menerima serangan seperti itu, terpaksa harus menangkis dengan mengerahkan sebagian besar tenaga dalamnya. Namun tidak urung tubuh Cieluna telah terhuyung, dan kemudian kakinya tergelincir waktu menginjak tepian genting, dan ia terjerembab, meluncur jatuh dari atas genting itu. Dan saat itu Cieluka, Ciekti dan Cieluni telah mengeluarkan suara seruan marah waktu melihat Cieluna telah tergelincir jatuh dari atas genting, ketiga orang ini mengeluarkan suaru teriakan nyaring, serentak mereka meluruk melancarkan pukulan telapak tangaanya masing-masing. Ketiga jago Mongolia ini menjagoi dunia persilatan Mongolia dengan ilmu andalan mereka yang diberi nama ”Pukulan Telapak Tangan Biruang Putih”, sekarang menghadapi Yo Ko, It Teng Taisu dan juga Kwee Ceng. Mereka telah mempergunakan ilmu pukulan telapak tangan yang mereka andalkan tersebut. Yo Ko yang begitu menerjang maju telah berhasil merubuhkan Cieluna, telah memperlihatkan bahwa kepandaiannya memang sangat tinggi sekali dan kini menerima terjangan dari Cieluka dan Cieluti, dimana kedua orang Mongolia ini telah melancarkan serangan-serangan yang beruntun kepadanya, ia menghadapinya dengan tenang. Sedangkan Cielani tengah menyerang It Teng Taisu, dan waktu itu pendeta dari Tailie tersebut telah menggerakkan tangan kanannya memunahkn serangan Cieluna dengan It yang cienya. Segera terlihat, betapa tubuh Cirluni telah bergoyanggoyang seperti juga diterjang oleh suatu kekuatan yang tidak tampak, namun dahsyat sekali. Dengan demikian tampak jelas, bahwa tenaga It yang-cie yang dipergunakan oleh It Teng Taisu sangat luar biasa, karena pendeta tua tersebut telah mempergunakan sembilan bagian tenaga dalamnya. Dan dengan bersuara ” wutttt…..!” segera tampak tubuh Cieluni telah terpental dan seperti Cieluna tadi, seketika itu juga tubuhnya meluncur jatuh. Cieluka dan Cieluti yang tengah bertempur dengan Yo Ko, juga bukannya menghadapi lawan yang ringan, karena dua kali mereka melancarkan serangan, namun Yo Ko berhasil berkelit. Dan setelah itu tampak Yo Ko telah mengebutkan lengan bajunya menghantam dada Cieluka. Dengan mengeluarkan suara jeritan yang sangat nyaring, tubuh Cieluka telah terlempar ketengah udara dan kemudian jatuh terbanting keatas tanah. Berbeda dengan Cieluna dan Cieluni yang tidak terluka didalam, justru Cieluka ini telah terhantam begitu kuat oleh serangan Yo Ko, sehingga ia terluka didalam yang cukup berat. Cieluti yang waktu itu masih ingin melancarkan serangan nekad kepada Yo Ko, telah dihantam oleh Kwee Ceng, yang menghantam dengan tangan kanannya. Tampak telapak tangan Kwee Ceng yang berisi tenaga lwekang sebanyak tujuh bagian bergerak secepat kilat, Cieluti yang bermaksud akan menangkis sudah tidak keburu lagi, tubuhnya segera ambruk menghantam genting, sehingga beberapa genting pecah berantakan. dan tubuhnya meluncur turun. Cieluna dan Cieluni telah melompat memeriksa keadaan Cieluka dan Cieluti. Mereka melibat kedua saudara mereka tersebut terluka didalam . “Asap mengepul…’” teriak Cieluka dengan suara yang cukup nyaring kepada Cieluna dan Cieluni, maksudnya meminta kepada dua saudaranya yang belum terluka itu melarikan diri. Cieluna dan Cieluni tanpa banyak bicara, telah menggendong tubuh Cieluka dan Cieluti. Mereka memang bermaksud akan melarikan diri. Tetapi baru beberapa kali lompatan, diwaktu itulah Yo Ko telah melompat kearah Cieluna sambil bentaknya: “Berhenti!” Dan Yo Ko juga bukan hanya membentak begitu saja, ia telah mengerahkan tangan kirinya, menghantam kearah punggung dari Cieluna. Pukulan yang dilakukan oleh Yo Ko membawa sambaran angin yang menderu. Maka Cieluna tidak berani memandang remeh, terpaksa ia menghentikan larinya dengan berjongkok ia telah menekuk tangan kanannya, menyodok kearah perut Yo Ko. Cieluna bergerak cukup gesit, selain dia berkelit dari pukulan Yo Ko dengan sodokan siku tangannya, membalas nyerang kepada Yo Ko. Yo Ko mendengus perlahan, tangan kirinja yang mengenai tempat kosong itu diputar, dia tidak menarik pulang, hanya diturunkan, . dan menghantam lagi dengan tepat pada punggung Cieluka yang berada dalam gendongan Celuna. “Dukkk…” pukulan itu hinggap keras sekali, Cieluka telah mengeluarkan suara jeritan. Dan pukulan tersebut juga membuat tubuh Cieluna jadi terhuyung mundur beberapa langkah. Dengan begitu, hampir saja dia bersama. Cieluka rubuh terbanting. Yo Ko telah tertawa dingin, dia berkata: “Apa maksud kalian menyelusup kemari? Cepat serahkan diri!” Cieluka telah mengatur jalan pernapasannya, ia mengerahkan seluruh tenaganya, dan melirik kesekitar tempat itu. Ia melihatnya betapa ditempat tersebut telah berkumpul banyak sckali jaro-jago persilatan. Ciu Pek Thong sendiri yang terbangun, dari tidurnya waktu mendengar suara ribut-ribut telah keluar dan melompat keatas genting. Waktu itu kebetulan Cieluni tengah berlari ingin meninggalkan tempat tersebut dergan membawa Cieluti. Disaat itulah Ciu Pek Thong sambil tertawa jenaka telah berkata dengan suara yang dingin: “Hemm, hemmm, mau kemana kau?” Sambil berkata begitu, tangan kanan Ciu Pek Thong cepat sekali terulur akan mencengkeram punggung Cieluni. Cieluni mana mau membiarkan punggungnya kena dicengkeram seperti itu. Cepat-cepat ia .melompat kesamping kiri lalu melompat lagi ke wuwungan gentirg yang lainnya. Tetapi Ciu Pek Thong telah melompat mengejarnya, dan dalam waktu yang singkat ia telah berhasil berada didekat Cieluni. Dengan cepat ia mempergunakan tangan kanannya menghantam lagi. Pukulan yang dipergunakan oleh Ciu Pek Thong bernama “Lutung Menggaruk pinggul”’, dan diwaktu itulah ia telah menghantam kedekat pinggang Cieluni. Hantaman yang dilancarkan oleh Ciu Pek Thong itu memiliki tenaga lwekang yang sangat kuat sekali, dan menyambar dengan dahsyat, sehingga membuat Cieluni jadi tidak bisa mengelakkan lagi menghantam tepat sekali pada pinggulnya, membuat dia mengeluarkan suara pekikan yang nyaring, bersama-sama dengan Cieluni, ia telah meluncur jatuh kebawah, terbanting diatas tanah. Belum sempat dia merangkak untuk bangun kembali ia diserang lagi oleh Ciu Pek Thong yang tiba didekatnya dengan cepat sekali, malah Ciu Pek Thong sambil menyerang, kaki kanannya juga menendang. Cieluni mau mengelakkan diri, tetapi terlambat, jalan darah Go sie hiat-nya telah kena ditotok tepat sekali, tubuhnya segera terjungkel rubuh . Cieluti yang berada dalam gendongannya juga telah terlepas dan terbanting. Diwaktu itulah tampak Cieluni berusaha untuk menggerakkan kedua tangan dan kakinya, namun dia merasakan kedua tangan dan kakinya kaku tidak bisa digerakan, sehingga ia jadi mengeluh berputus asa. Sedangkan Cieluti yang menggelinding jatuh dari gendongan Cieluni, berusaha merangkak bangun ia telah terluka di dalam sebagian tenaga dalamnya telah punah. Tetapi diwaktu itu, sebelum Cieluti sempat untuk berdiri, Ciu Pek Thong sambil mengelurkan suara tertawa yang nyaring, telah menotok lagi tepat mengenai pada jalan darah Sunglie hiat-nya, maka tidak ampun lagi tubuh Cieluti telah terkulai rubuh tidak bisa bergerak pula. Cui Pek Thong tertawa bergelak-gelak dengan suara yang sangat nyaring sekali. Dalam keadaan seperti itu segera terlihat Yo Ko telah tiba di bawah juga telah berhasil merubuhkan Cieluna yang juga ditotoknya. Seketika itu datang belasan tentara kerajaan Sung, yang menjaga tempat tersebut dan segera membawa keempat orang mata-mata Mongolia itu untuk dipenjarakan guna nanti diperiksa dikorek keterangan dari mulut mereka. Para orang gagah yang berpihak pada kerajaan Song tersebut dibawah pimpinan Yo Ko, segera mengadakan perundingan. Mereka membicarakan hal yang penting, dalam rfangka menghadapi serbuan dari tentara Mongolia, yang mereka duga tentu tidak akan lama lagi terjadi. Ancaman serbuan dari tentara Mongolia itu memang sangat berbahaya, karena waktu itu kerajaan Song tengah dalam keadaan lemah. Kaisar mereka gemar berfoya-foya dan berpelesiran, karena itu negri tidak dapat diaturnya dengan baik. Disamping itu, Yo Ko juga memiliki kekuatan tentara yang tidak begitu besar, hanya disebabkan memperoleh bantuan para orang orang gagah yang umumnya mencintai negeri dan memiliki kepandaian sangat tinggi, maka Yo Ko masih memiliki harapan akan dapat menghadapi ancaman serbuan dari tentara Mongolia. Sedangkan Kublai Khan telah berhasil menghimpun kekuatan yang luar biasa besarnya, karena selama enam belas tahun Kublai Khan memang telah berusaha memupuk kekuatan. untuk kembali menyerang dan menaklukan Tionggoan. Ketidak seimbang kekuatan tersebutlah yang membuat para orang-orang gagah yang mencintai negri tersebut, dibawah pimpinaa Yo Ko, harus mencari jalan yang sebaikbaiknya, kelak jika sampai tentara Mongolia tersebut menyerbu ke daerah Tionggoan, mereka bisa menghadapinya sebaik mungkin. ==oo0dw0oo== RUPANYA saat-saat yang dikuatirkan oleh Yo Ko dan para orang-orang gagah lainnya yang mencintai negeri itu, telah tiba juga, karena pasukan tentara Mongolia dibawah pimpinan Kublai Khan telah menyerbu dengan kekuatan yang berlimpah-limpah. Selama tiga bulan lamanya, tentara Song yang dintu oleh para orang-orang gagah tersebut mengadakan perlawanan, namun akhirnya mereka tidak berhsil melindungi kota Siangyang tersebut yang mulai bobol oleh terobosan pasukan lawan. Dua pintu kota Gu-moy dan Cie Khu telah berhasil direbut oleh tentara Mongolia. Dan hanya enam pintu Siangyang yng masih diduduki oleh tentara Song. Kublai Khan yang memimpin penyerbuan tersebut telah mengadakan penyerbuan yang benar-benar hebat, pasukan Mongolia bagaikan gelombang laut yang sudah tidak terbendung lagi, telah menyerbu terus-menerus siang dan malam, berusaha merebut Siangyang. Begitu juga, terpisah beberapa lie dari Siangyang, Kublai Khan telah mendirikan sebuah perbentengan darurat. Tanpa mengurangi kekuatan tentaranya yang melakuKan penyerbuan itu, Kublai Khan telah mempersiapkan perbentengan itu selama dua bulan, dan begitu perbentengan darurat tersebut selesai, seluruh inti kekuatan dari pasukan tentara Mongolia ditempatkan disitu. Penyerbuan dari pasukan tentara Mongolia tersebut dibagi tiga jurusan. Yaitu sayap kanan dipimpin oleh beberapa orang keponakan Kublai Khan, sedangkan sayap kiri telah dipimpin oleh beberapa orang jenderalnya, dan barisan tengah, yang merupakan barisan inti dan pendobrak, dipimpin sendiri oleh Kublai Khan, dimana ia juga didampingi oleh jago jagonya selain para panglimanya Tiat To Hoat ong selalu mendampingi Khan-nya tersebut. Disamping Tiat To Hoat ong masih terdapat belasan orang jago-jago yang memiliki kepandaian tinggi sekali. Peperangan yang terjadi dan tergah bergolak di Siangyang tersebut, merupakan peperargan yang kalut sekali, karena., tentara kera jaan Song berulang kali telah berhasil dipukul mundur dan pecah berantakan pertahanannya. Sedangkan pasukan tertara Mongolia yang melakukan penyerbuan dengan besar-besaran, dan bagaikan gelombang laut yang tidak terbendung itu, siang dan malam menggempur terus kota Siangyang, dengan tidak memperdulikan korban jiwa yang berjatuhan sangat banyak sekali. Rupanya memang Kublai Khan telah bertekad, bahwa penyerbuan kali ini harus berhasil. Karena dia telah mempersiapkan segalanya selama enam belas tahun, ia telah mengaturnya dengan seksama dan teliti sekali. Maka dari itu, bagaikan tidak ada habis-habisnya tentara Mongolia tersebut bagaikan semut terus maju membanjiri Siangyang. Jatuh atau tidaknya Siangyang, memang terletak dari kekuatan yang dihimpunnya. Karena kegagalan Mangu waktu melakukan penyerbuan ke Siangyang tersebut, merupakan pelajaran pahit buat Kublai Khan. Dan selama enam belas tahun ia mempelajari sebab musabab dari kegagalan tersebut. Itulah sebabnya Kublai Khan telah berhasil meneliti dengan sebaik-baiknya cara yang paling ampuh unruk dapat merebut Siang-yang. Tetapi disebabkan tentara kerajaan Song tersebut yang bertahan di Siangyang dibantu oleh para orang gagah yang memiliki kepandaian umumnya tinggi disamping itu juga mereka umumnya memiliki kecerdasan dan kepandaian mengatur posisi dan kedudukan mereka. membuat Kublai Khan tidak bisa begitu mudah saja merebut Siang-yang. Jika saja tentara Song tersebut tidak memperoleh dukungan dan bantuan dari para orang-orang gagah pencinta negeri tersebut, jelas mungkin hanya dalam satu atau dua bulan saja Siangyang akan jatuh ketangan Mongolia. Namun Kublai Khan tidak turun semangatnya waktu melihat betapa tentaranya diwaktu tiga bulan lebih masih belum bisa menundukkan pihak lawan. Walaupun mereka telah mengadakan penyerbuan besar-besaran, tokh kenyataan Siangyang belum berhasil dijatuhkan mereka. Jatuh atau tidaknya kerajaan Song oleh serbuan- serbuan tentara Mongolia itu memang tergantung dari jatuh atau tidaknya kota Siangyang tersebut. Jika Siangyang berhasil direbut oleh Kublai Khan, niscaya kerajaan Song akan porak-poranda direbut oleh Kublai Khan. Tetapi ketika telah lewat sebulan lagi; waktu memauki bulan kelima, telah tiga buah pintu kota Siangyang yang terjatuh ditangan pasukan Kublai Khan, yaitu pintu sebelah timur, tenggara dan barat. Dengan berhasilnya Kublai Khan merebut lima pintu kota. posisi dari tentara kerajaan Song telah terpojokkan dan dengan demikian, pertahanan mereka semakin melemah juga.dan diwaktu itulah Kublai Khan telah memperhebat terjangan dan serbuannya. Yo Ko dan para orang-orang gagah yang membantu tentara kerajaan Song tersebut, mulai melihat bahwa mereka tidak mungkin bisa bertahan lebih lama lagi. Paling tidak hanya satu bulan lagi. Siangyang akan terjatuh ketangan musuh. Hal itu disebabkan kerena tentara kerajaan Song semakin berkurang jumlahnya, jika semula meliputi 100.000 tentara, kini hanya tertinggal tidak lebih dari 20.000 prajurit saja. Dan juga para laskar, yaitu tentara cadangan yang terdiri dari penduduk pria Siangyang tersebut, telah banyak yang berjatuhan sebagai korban. Terlebih lagi pasukan tentara laskar dan tentara kerajaan Song tersebut telah menurun sekali semangat tempurnya sebab melihat telah banyak kawan-kawan mereka yang berguguran di tangan musuh. Untuk membangkitkan semangat bertempur dari para tentara yang telah kehilangan semangat juang itu, Yo Ko dan para orang-orang gagah lainnya telah turun ke medan laga dan memimpin langsung tentara Song itu. Tetapi sejak kematian jenderal Kiang Cu Gie dimana jenderal tersebut telah terpanah musuh waktu memimpin pertempuran di pintu barat, maka tentara kerajaan Song sudah kacau balau. Terlebih lagi, walaupun Kwee Ceng, Yo Ko dan orang-orang gagah lainnya yang mencinta negeri tersebut memiliki kepandaian sangat tinggi dan kecerdikan dalam mengatur posisi kedudukan mereka, tokh mereka bukan termasuk orang peperangan, dengan demikian, dengan demikian mereka telah diliputi kepanikan waktu melihat pertahanannya mulai berantakan. Dengan demikian, Yo Ko dan It Teng Taisu bersarra dengan para orang2 gagah lain-nya, sering mengadakan perundingan siang dan malam, untuk mengadakan perembukan mengatasi persoalan tersebut. Mengingat akan jumlah kekuatan mereka yang semakin menyusut, akhirnya mereka membentuk barisan berani-mati. dimana mereka telah menyusunnya terdiri dari sisa para tentara kerajaan Song yang ada dan juga para orang2 gagah yang memiliki kepandaian cukup tinggi. Tetapi pasukan berani mati tersebut hanya berhasil membobolkan penyerbuan tentara Kublai Khan sebanyak dua kali tetapi korban yang jatuh pada pihak pasukan berani mati tersebut juga banyak sekali jumlahnya. Dergan begitu, akhirnya waktu selama lima hari siang dan malam Kublai Khan mengerahkan seluruh kekuatan pasukannya melancarkan serangan yang paling hebat, Siangyang sudah tidak bisa dipertahankan lagi. Banyak tentara Mongolia yang telah berhasil menyerbu masuk kedalam Siangyang. menyebar api, membakar apa saja, gedung dan bangunan yang termakan api menimbulkan kepanikan bagi para laskar dan wanita2 dikota tersebut. Akhirnya Siangyang berhasil direbut oleh Kublai Khan. Didalam sejarah memang tercatat, enam belas tahun sejak kegagalan Mangu merebut Siangyang, maka Kublai Khan berhasil munguasai Siangyang dan kemudian merebut dan menundukan kerajaan Song tersebut. Sedangkan para orang-orang gagah yang tidak berhasil untuk bantu melindungi Siangyang akhirnya telah terpencar dalam kekacauan yang terjadi di medan peperangan tersebut. Kekalutan yang terjadi karena terjatuhnya Siangyang ketangan Kublai Khan, telah membuat orang-orang gagah itu tercerai berai dan kemudian mereka baru bisa bertemu setelah peperangan usai. Yo Ko, Siauw Liong Lie, Yo Him, Ciu Pek Thong, dan It Teng Tiatsu, berada dalam satu rombongan. Sedangkan Kwee Ceng, Oey Yong, Phang Kui In, dan beberapa tokoh persilatan lainnya, tergabung dalam satu rombongan pula . Dan begitu juga masih terdapat banyak para pendekar rimba persilatan lainnya yang tergabung dalam rombongan lainnya. Sedangkan sisa dari tentara kerajaan Song, telah berceraiberai dan mereka tidak mengetahui harus kemana. Terlebih lagi empat bulan kemudian, kerajaan Song telah runtuh dan seluruh daratan Tionggoan telah terjatuh kedalam tangan Kublai Khan, yang berkuasa penuh didaratan Tionggoan. dan juga diwaktu itulah Kublai Khan telah mengatur pemerintahannya dengan tangan besi selama tiga bulan, barulah negeri menjadi aman kembali. ==oo0dw0oo== SETELAH lewat satu tahun, Yo Ko dan beberapa orangorang gagah lainnya, berhasil bertemu satu dengan yang lainnya. Tetapi mereka sangat berduka dengan jatuhnya Siangyang dan berkuasanya Kublai Khau, bangsa asing di tanah air mereka. Setelah berunding, mereka memutuskan untuk berkumpul di Tho Hoa To, untuk memberitahukan juga perkembangan yang terjadi pada tocu Tho Hoa To tersebut. Yo Ko disamping itu juga mendidik Yo Him dengan segala ilmu yang ada padanya; begitu pula Siauw Liong Lie dan tokoh-tokoh persilatan lainnya. Ciu Pek Thong memang dasar berandalan dan nakal, ia selalu bermain dengan Yo Him. Tetapi Yo Him memperoleh suatu keuntungan juga dari pergaulannya yang akrab dengan Ciu Pek Thong, karena diwaktu itu justru Ciu Pek Thong telah mewarisi seluruh kepandaian yang dimilikinya kepada Yo Him. Ciu Pek Thong walaupun berandalan dan juga jenaka, ia merupakan seorang yang berpikiran panjang. Ia telah berpikir usianya mulai lanjut dan mungkin dalam beberapa tahun mendatang ia akan masuk lobang kubur. Itulah sebabnya, karena ia tidak memiliki seorang muridpun juga ia telah mewarisi seluruh kepandaiapnya kepada Yo Him. Dengan menerima warisan dari berbagai tokoh sakti yang menurunkan, berbagai ilmu yang hebat2; dengan demikian Yo Him benar-benar telah tertempa menjadi seorang yang memiliki kepandaian sangat tinggi sekali. Bahkan akhir2 ini Yo Him merupakan seorang jago muda yang memiliki kepandaian jarang ada tandingannya. Yo Him juga telah diberikan nasihat nasehat oleh para orang-orang gagah tersebut, agar ia mempergunakan kepandaiannya itu untuk kebaikan, dimana harus membela pihak yang lemah dan benar dari tindasan sikuat namun jahat. Oey Yok Su. tocu dari Tho Hoa To tersebut, yang memang memiliki perangai aneh sekali, telah merasa sayang pada Yo Him. Dia menyukai pemuda tersebut. Memang Oey Tocu tersebut memiliki seorang putri, yaitu Oey Yong. yang telah diwarisi seluruh kepandaiannya, namun Oey Yong tetap seorang wanita. Sekarang . dihari tuanya. ia tidak memiliki orang yang cocok untuk mewarisi seluruh kepandaiannya. Memang dulu Oey Yong Su pernah menerima beberapa orang murid, seperti Bwee Tiauw Hong, Ko Seng Hong dan lain lainnya, tetapi akibat perbuatan Bwee Tiauw Hong yang telah mencuri kitab Kin Im Cin Keng membuat Oey Yok Su mengumbar kemarahannya dengan menghajar patah kaki dari seluruh muridnya. Maka sejak saat itu, hanya Oey Yong dan cucu-cucunya, yaitu Kwee Hu dan Kwee Siang, yang telah menerima sebagian dari ilmunya. Tetapi mereka umumnya tidak menerima seluruh kepandaiannya. Disebabkan itu pula, akhirnya Oey Yok Su telah memutuskan, untuk mewariskan seluruh kepandaiannya kepada Yo Him. Maksud hatinya itu telah disampaikan kepada Yo Ko dan orang2 gagah yang, berada di pulau Tho Hoa To tersebut. Semuanya menyambut hasrat dari tokoh persilatan yang memiliki kepandaian luar biasa itu dengan hati yang girang sekali. Begitulah, upacara pengangkatan guru dan murid telah dipersiapkan. Dengan bersembahyang, Oey Yok Su telah diangkat menjadi guru oleh Yo Him, dan sejak saat itulah Yo Him menerima didikan langsung dari Oey Yok Su, dimana seluruh kepandaian Oey Yok Su telah diturunkan kepada pemuda tersebut. Karena Yo Him telah memiliki kepandaian yang tinggi dari berbagai aliran, maka ia tidak memperoleh kesulitan waktu menerima pelajaran ilmu silat dari Oey Yok Su. Tetapi walau pun demikian, masih memakan waktu dua tahun. Selama itu, telah banyak para orang2 gagah yang pamitan kepada Oey Tosu. mereka ingin kembali ketempat mereka masing2. Yo Ko dan Siauw Liong Lie juga telah kembali ketempat pengasingan mereka, dengan hanya, didampingi Siauw Goat Lan, putri angkat Siauw Liong Lie dan Yo Ko. Kwee Ceng dan Oey Yong telah berdiam sebulan lagi lamanya dipalau Tho Hoa To dan akhirnya mereka pun kembali ketempat kediaman mereka, meninggalkan pulau tersebut. Yo Him akhirnya hanya ditemani oleh Ciu Pek Thong selama ia menuntut ilmu pada Oey Yok Su. Dengan adanya Ciu Pek Thong, hati Oey Yok Su agak terhibur juga. Karena dalam melewati hari tua-nya itu. ia sempat bergembira bermain catur dengan Loo Boan Tong. Terlebih lagi waktu Loo Boan Tong, situa jenaka tersebut, yang mulai lenyap keberandalannya disaat hari-hari tuanya tersebut, menyatakan bahwa ia ingin melewati hari tuanya dengan tenang mendampingi Oey Yok Su dipulau Tho Hoa To tersebut. Oey Yok Su segera meluluskan permintaan Ciu Pek Thong, yang meminta diijinkan untuk selanjutnya berdiam di pulau tersebut. ,,Loo Boan Tong, ternyata sikap jenakamu masih belum juga lenyap…!” kata Oey Yok Su sambil tertawa.”Engkau tentu tidak akan betah berdiam ditempat sunyi seperti ini. Kukira ada baiknya engkau memikirkannya dua kali. Untuk aku, memang dengan sepasang tangan terbuka mengijinkan engkau untuk menetap di pulau Tho Hoa To ini, tetapi engkau sendiri, apakah engkau akan sanggup selanjutnya melewati hari tuamu di pulau yang sepi ini?” Ciu Pek Thong tertawa. “Oey Losu, untuk persoalan ini, kukira sebelum aku meminta ijin darimu, aku telah memikirkannya masak-masak, dan juga memang aku pun telah berkeputusan tetap, untuk melewati hari-hari tuaku dalam mendampingimu setiap hari bermain catur sambil minum arak. Bukankah hal itu merupakan kejadian yang menggembirakan sekali?” Oey Yok Su tersenyum lebar, ia mengangguk. “Baiklah, sukur jika memang engkau bermasud hendak menemani aku melewati hari-hari tua ditempat sunyi ini. Coba jika dulu engkau mengatakan untuk menetap di pulau Tho Hoa To ini, tentu engkau akan kukurung lagi di dalam goa dekat kuburan isteriku….” Kedua tokoh persilatan yng masing-masing memang telah lanjut sekali Memang dengan adanya Ciu Pek Thong ditempat tersebut Oey Yok Su, Si tua yang sesat dan memiliki perangai yang aneh sekali tidak perlu merasa kesunyian lagi… ==oo0dw0oo== TELAH dua tahun Yo Him menuntut ilmu pada Oey Yok Su, dan akhirnya seluruh kepandaian Oey Yok Su telah berhasil diwarisinya dengan baik. Sebagai seorang pemuda yang menerima pelajaran ilmu silat dari berbagai aliran, dan juga dari tokoh2 persilatan yang tangguh disamping itu sebagai putra dari Sin Tiauw Taihiap Yo Ko dan Siauw Liong Lie yang memiliki kepandaian luar biasa tingginya, Yo Him memang merupakan seorang pemuda yang beruntung sekali, dimana ia kini telah menjadi seorang pendekar muda yang mungkin tidak ada duanya. Yo Him juga rajin sekali melatih diri. dan dia telah berhasil merampungkan seluruh pelajaran yang diberikan oleh Oey Yok Su. Setelah lewat satu bulan lagi, Oey Yok Su memerintahkan Yo Him untuk mengembara, meninggalkan Tho Hoa To.. ”Engkau masih muda usia,” kata Oey Yok Su waktu Yo Him menyatakan keberatan guna melaksanakan perintah gurunya tersebut. „Dan engkau masih memiliki masa depan yang panjang… disamping itu, engkau juga perlu sekali untuk mencari pengalaman, memperdalam kepandaianmu….. Kepandaian-kepandaian yang engkau telah terima, semua itu merupakan ilmu nomor wahid, tetapi tanpa pengalaman dan latihan-latihan jangan harap engkau bisa memperoleh kesempurnaan…….!” Akhirnya Yo Him tidak bisa menolak juga perintah dari gurunya tersebut. Waktu tiga hari kemudian ia akan berangkat meninggalkan Tho Hoa To, Yo Him telah berpelukan dan bertangisan dengan Ciu Pek Thong. Begitu juga Ciu Pek Thong, situa berandalan yang mulai alim tersebut, ia telah berkata dalam sesenggukannya: “Adikku….engkau harus baik-baik membawa diri… dan jika memang engkau memiliki kesempatan dan waktu luang, sering-sering engkau menengoki Toako dan suhumu……” Yo Him mengangguk. „Adikku berjanji. Toako…!” kata Yo Him kemudian. Begitulah, dengan diantar oleh Ciu Pek Thong dan Oey Yok Su, maka Yo Him telah mempergunakan sebuah perahu untuk belayar mengarungi lautan. Pulau Tho Hoa To akhirnya telah semakin jauh ditinggalkannya dan akhirnya lenyap dari pandangan matanya. Yo Him telah mengembara keberbagai kota di daratan Tionggoan. Diapun mengunjungi tempat-tempat yang indah, dimana ia telah pesiar sambil mengunjungi ahli2 silat ternama, untuk menghunjuk hormatnya. Tetapi yang membuat Yo Him tidak puas hatinya, dia melihat betapa banyak sekali rakyat jelata yang hidup dalam kemelaratan. Itulah akibat yang ditinggalkan oleh peperangan, dengan demikian membuat Yo Him jadi tidak puas menyaksikan semua itu, dan dia berusaha untuk mencari kekayaan dari para hartawan jahat untuk dibagikan kepada rakyat jelata yang hidup dalam kemiskinan tersebut. Dengan perbuatannya itu, telah membuat nama Yo Him semakin terkenal, dimana Sin Tiauw Thian Lam sangat ditakuti oleh para hartawannya, tetapi sangat dimuliakan dan disanjung oleh rakyat jelata. Dan ada satu lagi yang membuat Yo Him tidak puas. Sejak Kublai Khan menguasai daerah Tionggoan, yang terkenal sebagai kerajaan Boan-ciu, maka seluruh rakyat didaratan Tionggoan telah diwajibkan mengepang rambutnya, yang dikuntir panjang. Memang pertama kali peraturan tersebut dikeluarkan banyak rakyat Tionggoan yang menentangnya, karena mereka tidak mau mengikuti cara menghias rambut mereka dengan cara orang2 Boan-ciu. Namun Kublai Khan mengeluarkan peraturannya tersebut dengan tangan besi, dimana jika terdapat orang yang tidak mematuhinya, segera ditangkap dan dihukum pancung kepala, dengan demikian, akhirnya semua orang-orang yang semula menentang peraturan tersebut, terpaksa mereka menuruti dan mematuhinya. Begitulah, sejak itu kebiasaan mengkuncir rambut, yang dikepang panjang, dijalin seperti taucang, telah menjadi kewajiban untuk setiap pria didaratan Tionggoan. Tetapi Yo Him sendiri tidak mau mengkepang rambutnya ia telah memakai pengikat kepala, dimana rambutnya tetap dikonde. Di samping itu, Yo Him juga telah melakukan banyak sekali perbuatan2 mulia dan diatas keadilan; sehingga nama Sin Tiauw Thian Lam Yo Him semakin terkenal saja. Terlebih lagi memang kepandaian Yo Him yang luar biasa tingginya, dan selama itu belum juga pernah menemui tandingnya. Sampai disini selesailah kisah “Sin Tiauw Thian Lam”, dan untuk selanjutnya para pembaca dapat mengikuti lanjutan cerita ini dalam kisah “BIRUANG SALJU”. TAMAT SEBAGAI kelanjutan dari kisah Sin Tiauw Thian Lam yang telah tamat, maka ikutilah cerita “Biruang Salju”, dimana akan diceritakan berbagai peristiwa pengalaman Yo Him, dan jago2 rimba persilatan dijamannya tahun2 pertama berkuasanya kerajaan Boanciu, yang menjajah daratan Tionggoan, Disamping akan muncul banyak sekali tokoh2 persilatan yang memiliki ilmu mujijat, juga didalam kisah ini akan ditemui bermacam-macam peristiwa aneh, jenaka dan percintaan yang halus. ———————– TAMAT ————————-

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s