Sin Tiauw Thian Lam (Jilid : 23-24)

JILID 23

DIA telah berseru nyaring, sambil membanting kakinya
yang kanan ketanah, dia telah berkata garang : “Engkau
jangan sekali2 coba mempermainkan aku…!! Cepat serahkan
uang yang seratus tail itu padaku…jika engkau ber-lama2.
jangan salahkan aku mengambil tindakan keras.. !”
„Tetapi seperti tadi kuakatakan, aku membeli perahu itu
hanya dengan harga seratus tail lebih sedikit, jika sekarang
aku harus membayar seharga seratus tail kepadamu, lebih
baik kubiarkan saja perahu tersebut diletakkan disitu saja, jika
tidak hilang itu namanya nasib kami yang baik, tetapi jika
hilang ya, bisa saja kami membeli perahu yang baru !”
„Benarkah engkau tidak mau membayar , uang sewa
menaruh perahu itu?” tanya orang orang itu dengan muka
yang garang. „Aku Hek Sin Ho (Rase Hitam yang Sakti) tidak
akan berlaku segan2 lagi …”
„Tidak segan2 itu apa maksudmu?” tanya Phang Kui In
dengan suara mengejek.
“Ya, tentu saja aku tidak segan-segan mengambil tindakan
keras kepada kalian . . .!”
,,Tindakan keras bagaimana?”
„Tindakan kekerasan untuk membinasakan kalian!” teriak
Hek Sin Ho habis sabar, dan dia menggerakkan kedua
tangannya, kepalan tangannya yang besar itu telah meluncur
akan menghantam dada Phang Kui In.
Tampak kepalan tangan orang itu, Hek Sin Ho, datang
dengan cepat sekali, dan juga. mengeluarkan angin yang
berkesiuran dahsyat sehingga semua orang yang melihat ini
jadi terkejut sekali.
Wuuttt . . .

Angin serangan itu telah menyambar keras tetapi waktu
Phang Kui In menggeser sedikit kaki kirinya dan memiringkan
tubuhnya, kepalan tangan lawannya itu tidak berhasil
mengenai sasaran.
Bahkan Waktu tangan Hek Sin Ho lewat disisi dadanya,
secepat kilat Phang Kui In telah mengangkat tangan kanannya
yang diangkat mengarah keatas, sedangkan tangan kirinya
diturunkan menumbuk pergelangan tangan Hek Sin Ho.
sehingga tangan Hek Sin Ho seperti juga telah dikunci dan
digunting. Tidak ampun lagi tulang pergeiangan tangan
hancur!
Peristiwa ini baru pertama kali dialami oleh Hek Sin Ho,
maka disamping kesakitan dan terkejut dia juga jadi tidak
habis mengerti, mengapa orang yang dilihatnya tidak begitu
tegap bisa memiliki kepandaian begitu tinggi? Phang Kui In
telah berkata pada saat itu ” Apakah engkau tidak mau cepat2
angkat kaki? Atau memang engkau menghendaki tangan yang
satunya itu dihancurkan pula ?”
Muka Hek Sin Ho telah berubah pucat. Dia berdiri ragu2
ditempatnya.
“Bolehkah aku mengetahui siapa hohan (orang gagah :
pendekar) sebenarnya ” tanya Hek Sin Ho kemudian dengan
suara yang tidak begitu lampias, karena dia menahan
perasaan sakit pada pergelangan tangannya yang telah hancur
tulangnya itu.
„Tidak perlu kau mengetahuinya . . tetapi yang terpenting
mulai hari ini engkau harus baik2 menjaga diri agar tidak
melakukan perbuatan2 jahat atau memeras orang! Jika di lain
waktu aku mendengar engkau masih melakukan pekerjaan
tersebut, tentu engkau akan kubinasakan tanpa mengenal
ampun.
Hek Sin Ho telah mengangguk.

„Baiklah, memang aku juga ingin memilih pekerjaan yang
halal dan baik, tetapi sayangnya. aku tidak pernah dipercaya
orang, sehingga terpaksa aku mengambil jalan singkat yang
bisa mendatangkan uang banyak dengan cara yang mudah!”
Phang Kui In tersenyum. „Jika engkau ber-sungguh2 dan
bertekad untuk merobah perbuatanmu, maka engkau tentu
mudah mencari pekerjaan walaupun gajimu tentu saja tidak
sebesar yang kau kehendaki, tetapi jika engkau hidup baik2
dan sederhana tentu lebih dari cukup. Umpamanya saja
engkau menjadi piauwsu (pengawal barang berharga), atau
menjadi buruh dari toko2 dan perusahaan yang memerlukan
tenaga yang sangat besar . . .
Mendengar perkataan Phang Kui In. tampak Hek Sin Ho
telah menghela napas dalam2, kemudian dia telah bilang:
“Baiklah, terimakasih atas nasehatmu ! Aku akan berusaha
melamar Pekerjaan sebagai piauwsu !”
“Bagus ! Nah ini hadiah dariku untuk bekal sebelum
memperoleh pekerjaan….!” sambil berkata begitu, Phang Kui
In telah merogoh Sakunya dan mengeluarkan lima tail perak
yang diberikan kepada Hek Sin Ho.
Hek Sin Ho mengucapkan terima kasihnya berulang kali,
kemudian dia membalikkan tubuhnya untuk berlalu setelah
memberi hormat kepada Yo Him dan juga Kwee Siang.
Phang Kui In menggeleng2 kepalanya sambil menghela
napas.
“Sesungguhnya kepandaian orang itu tidak lemah, jika dia
memiliki watak yang baik tentu tidak sulit baginya untuk
mencari pekerjaan yang bisa menghasilkan uang cukup
banyak dan hidup dengan berkecukupan, seandainya saja dia
mau bekerja dengan rajin dan tekun, dan juga mau bekerja
sebagai Piauwsu atau juga centeng pengawal para pegawai.
Bukankah dia akan menerima gaji yang cukup besar ?”

Kwee Siang yang mendengar perkataan Phang Kui In dia
membenarkannya. Begitulah mereka telah memasuki kota
untuk mencari rumah makan.
Su po Kwan merupakan kota yang sangat padat
penduduknya dan sepanjang waktu ramai sekali, tidak perduli
malam hari, karena pelabuhan Su-po-kwan merupakan
pelabuhan yang. menampung para pedagang yang mengambil
jalan air untuk mendatangi kota2 di sekeliling Su po kwan
Phang Kui In mengajak Yo Him dan Kwee Siang memasuki
sebuah rumah makan yang bertingkat dua tampaknya mewah
sekali.
Waktu itu dia telah berkata: „Masakan rumah makan ini
sangat enak dan terkenal sekali . . . kita bersantap dulu, dan
nanti kita bisa menanyai pelayan mengenai ayahmu itu,
Himjie”’
Yo Him girang bukan main dan Kwee Siang juga setuju
saran yang diberikan Phang Kui In. Hati gadis ini juga
berdebar. Telah bertahun2 dia menyelidiki dimana adanya Yo
Ko, dan selama bertahun2 itu juga dia telah berusaha untuk
mencari jejak Yo Ko dan Siauw Liong Lie. Dia telah
mengembara dan juga sampai Siauw Lim Sie pernah
didatanginya dua kali Tetapi selama itu dia tidak berhasil
menemui jejak Yo Ko,
Kini Phang Kui In berkati kapada dirinya bahwa Yo Ko
pernah datang bahkan sering muncul dikota ini, dan tentunya
sebagai seorang sakti yang memiliki kepandaian sangat tinggi
disamping itu juga memiliki tangan tunggal tentu saja mudah
sekali Yo Ko dikenali orang, jika dari hasil penyelidikan ini
mereka bisa bertemu dengan Yo Ko, Kwee Siang bertekad
tidak mau berpisah dengan Yo Ko pula.
Memang waktu perpisahan yang terakhir dengannya, Yo Ko
pernah berkata “tiada pesta yang tidak bubar, tiada
pertemuan tanpa perpisahan .. dan memang benar apa yang

diucapkan Yo Ko, tiada pertemuan yang tiada berpisah, karena
itu Kwee Siang dari tahun ketahun sejak perpisahannya
dengan Yo Ko hanya jadi merana.
Kwee Siang mencintai Yo Ko tanpa disertai dengan hawa
nafsu kotor, dan Yo Ko maupun Siauw Liong Lie sangat
mencintainya. Perasaan cinta yang diperlihatkan dan muncul
dihati Kwee Siang merupakan cinta yang tulus dan murni
tanpa disertai oleh pikiran2 kotor. Dia memang mencintai Yo
Ko, tetapi cintanya itu bukan untuk menguasai Yo Ko,
melainkan untuk berada berdekatan saja dengan pria yang
dicintainya itu, dia sudah puas. Hal itu disadari juga oleh
Siauw Liong Lie, maka nyonya Yo itu tidak merasa dengki atau
cemburu kepada Kwee Siang.
Begitu pula halnya dengan Kwee Siang sendiri, walaupun
dia mengetahui bahwa Yo Ko sudah menjadi suami Siauw
Liong Lie, tetapi disebabkan dia memang memiliki cinta
yang tulus dan murni, maka persoalan suami isteri dari kedua
orang yang dicintainya itu tidak menimbulkan perasaan
cemburu sedikitpun dihatinya. Yang dikehendaki Kwee Siang
adalah keinginan yang sederhana sekali, yaitu ingin berada
berdekatan dengan kedua orang yang dicintainya itu. Cinta
yang dilimpahkan Kwee Siang lebih mirip merupakan cinta
persaudaraan…….
Sekarang dengan perantara Phang Kui In, dia kemungkinan
besar bisa berjumpa dengan orang yang dikasihinya itu, tentu
saja hatinya jadi berdebar tidak hentinya.
Didalam rumah makan itu cukup banyak tamu, Phang Kui
In telah memesan beberapa macam sayur. Mereka bersantap
dengan lahap sekali selesai berantap mereka telah
mengelilingi kota Su Po Kwan, menyaksikan betapa kota ini
luas dan besar, disamping itu bangunan2 yang terdapat dikota
tersebut sangat besar dan umumnya bertingkat. Banyak
rumah2 yang tingkat bawah dibuka sebagai toko dan tingkat
atas dipergunakan sebagai tempat tinggal.

Sehingga Yo Him dan Kwee Siang tidak hentinya memuji
akan kemewahan kota tersebut.
Waktu itu tampak Phang Kui In telah menghampiri sebuah
toko kelontong, pemiliknya seorang lelaki tua setengah baya
memelihara jenggot dan kumis yang panjang. lalu mereka
telah bicara bisik2, dan Yo Him maupun Kwee Siang melihat
pemilik toko itu telah menggeleng geleng kepala.
Phang Kui In kemudian menghampiri Yo Him dan Kwee
Siang yang menantikannya diseberang lainnya.
“Sayang sekali akhir2 ini Sin Tiauw Taihiap Yo Ko tidak
pernah datang kekota ini lagi, hampir dua tahun ini Sin Tiauw
Taihiap tidak pernah kelihatan…! Pemilik toko kelontong itu
merupakan sahabat Sin Tiauw Taihiap, karena setiap kali Sin
Tiauw Taihiap datang kekota ini, tentu akan singgah atau
menginap dirumah pemilik toko kelontong itu.”
Yo Him dan Kwee Siang tampak jadi kecewa, bahkan Yo
Him telah menundukkan kepala dalam2.
„Jangan putus asa, Him-jie,’” kata Phang Kui In. Kita bisa
menyelidikinya lagi dibeberapa tempat…!’
Yo Him mengangguk lesu, begitu juga Kwee Siang tampak
mukanya muram tidak memancarkan kegembiraan.
Phang Kui In menyarankan agar mereka, bermalam satu
malaman dikota Su-po-kwan ini.
Tengah malam, Yo Him tidak bisa tidur dengan nyenyak,
dia gulak gulik dengan gelisah.
Phang Kui In yang menyaksikan sikap anak ini, jadi
menghela napas dalam2.
Kwee Siang sendiri dikamar, lainnya rebah gelisah tanpa
bisa tidur, karena dia selalu memikirkan Yo Ko dan Siauw
Liong Lie

Semula dia mengharapkan dikota Su Po kwan ini mereka
bisa bertemu dengan Yo Ko dan Siauw Liong Lie. tetapi
kenyataannya sekarang, mereka tidak berhasil menjumpai
orang2 yang dicintainya itu.
Tengah malam telah tiba, dikelarutan malam, terdengar
suara kentongan dua kali.
Tetapi Kwee Siang belum juga bisa tidur, dia masih diliputi
kegelisahan. Walaupun dipejamkan matanya kuat,2 tetapi
tetap saja dia tidak bisa tertidur nyenyak.
Waktu itu Phang Kui In sedang duduk terpekur dikursi
dengan tangan berada diatas meja bertopang dagu,
tampaknya dia juga kecewa sekali. Semula Phang Kui In
mengharapkah dapat mencari kabar berita mengenai Sin
Tiauw Taihiap. Jika tidak juga berhasil, dia bisa mencarinya
ketempat yang kebetulan dia pernah bertemu dengan Sin
TiauwTaihiap beberapa waktu yang lalu. Tetapi sekarang
setelah dia menyelidiki Sin Tiauw Taihiap telah dua tahun ini
tidak pernah berkunjung kekota Su Po Kwan.
Phang Kui In juga telah melihat betapa kecewanya Yo Him
dan Kwee Siang. Hal ini membuat Phang Kui In jadi tidak
gembira.
Sedang Phang Kui In diliputi oleh kekecewaan dan duduk
seperti terpekur seperti itu. tiba2 dia mendengar suara berisik
perlahan di atas genting.
Sebagai seorang pendekar yang memiliki kepandaian tinggi
dan pendengaran yang tajam, Phang Kui In segera
mengetahui bahwa ada orang pejalan malam yang sedang
lewat diatas gentingnya.
Tetapi Phang Kui In tidak mau usil dengan urusan itu, dia
menduga mungkin ada pejalan malam yang tengah mencari
seseorang dan Phang Kui in juga telah berkeyakinan bahwa
dia tidak memiliki musuh dikota ini. Maka dia hanya menduga

mungkin pejalan malam itu kebetulan saja lewat diatas
gentingnya.
Tetapi suara berkelisik itu telah diam tidak terdengar lagi.
Phang Kui In jadi heran, Dia bergerak perlahan mendekati
jendela kamarnya dan mendengarkannya dengan baik.
Terdengar desah napas orang yang perlahan sekali. Segera
Phang Kui In yang telah berpengalaman itu mengetahui
bahwa orang yang menjadi pejalan malam Itu telah berada
didekat jendelanya dan tengah memasang telinga.
Cepat2 Phang Kui In menghampiri meja dengan langkah
kaki yang ringan sekali, meniup api penerangan kamar, dan
melompat ke dekat pembaringan, Dia telah menggoyanggoyangkan
tubuh Yo Him, meminta anak itu bangun.
Yo Him terkejut waktu terbangun kamar mereka gelap, dan
belum lagi dia bertanya, Phang Kui In telah berbisik
ditelinganya: ,,Hati-hati ada musuh pejalan malam yang
tengah mengintai kamar kita!”
Yo Him segera mengerti, dia telah mementang matanya
untuk memperhatikan kegelapan dalam kamarnya. Akhirnya
selang sejenak, pemuda ini telah biasa dan bisa melihat
dengan samar2 keadaan dikamar itu.
Waktu itu, tampak Phang Kui In berindap indap mendekati
jendela. Dia berdiri diam sejenak, tahu2 tangannya itu telah
mendorong terbuka daun jendela dengan gerakan yang tiba2
sekali.
berbareng dengan terbukanya daun jendela, tampak Phang
Kui In telah melompat keluar sambil berseru : „Penjahat kecil
tidak bernama manakah yang berani men-curi2 lihat kamar
kami ?”
Dan tangannya telah digerakkan untuk menjaga
keselamatan tubuhnya dari serangan gelap dan tiba2 dari
lawannya. Apa yang dilakukan oleh Phang Kui In memang

kuat sekali, angin yang meluncur keluar dari kedua telapak
tangannya yang digerakkan itu ternyata telah berhasil
melindungi tubuhnya, sehingga jika ada senjata rahasia yang
menyambar datang, tentu tidak bisa mencapai sasaran
ditubuhnya, sebab terbendung oleh kekuatan angin serangan
yang begitu dahsyat.
„Ihhh…!” terdengar suara seruan yang sangat perlahan dari
seseorang.
Waktu itu Yo Him telah melompat keluar juga, dia telah
berdiri disamping Phang Kui In.
Mereka telah melihat seseorang yang berdiri tegak
dihadapan mereka. Keduanya jadi mengeluarkan seruan
tertahan waktu melihat muka orang itu, yang rusak seperti
juga muka hantu. Hidungnya tidak ada, matanya yang sebelah
kiri berlobang seperti mata tengkorak, dan rambutnya hanya
tumbuh dibelakang kepalanya orang itu berdiri diam dengan
mulutnya yang lebar dan suwing tampak barisan giginya,
membuat Yo Him dan Phang Kui In tergetar sejenak hatinya.
,Siapa kau ? mengapa kau main sembunyi2 seperti itu ?
tegur Phang Kui In.
„Aku datang ingin menyampaikan kabar kepadamu. kepada
kalian menyahuti orang bermuka buruk itu dengan suara yang
tetap, tidak memperlihatkan perasaan terkejut.
“memberitahukan apa ?” tanya Phang Kui In lagi.
“memberitahukan hal yang cukup luar biasa !”
„Cepat katakan !”
„Sabar ! Tadi siang engkau mencari berita mengenai Sin
Tiauw Taihiap, bukan?” tanya orang itu lagi.
Muka Phang Kui In dan Yo Him jadi berobah mendengar
pertanyaan orang itu.
Tetapi Phang Kui In telah mengangguk membenarkan.

,,Ya, memang kami sedang mencari Sin Tiauw Taihiap.”
menyahuti Phang Kui In akhirnya.
„Untuk keperluan apa?” tanya orang bermuka buruk itu
lagi.
Pnang Kui In jadi habis kesabarannya, dengan suara keras
dia membentak: „Tidak perlu banyak cerewet, sekarang
katakanlah apa maksudmu?”
“Orang bermuka buruk itu telah tertawa dengan sikap yang
mengerikan, karena wajahnya yang rusak itu terlampau buruk.
Waktu itu rembulan bersinar penuh dengan hawa udara
dingin sekali. Lewat cahaya rembulan itulah Phang Kui In
berdua Yo Him bisa melihat jelas muka orang yang buruk dan
tidak menimbulkan kesan baik.
Mendengar perkataan orang bermuka buruk itu. habislah
kesabaran Phang Kui ln. Dia telah berkata dengan suara yang
dingin: „Jika engkau tidak mengatakan terus terang, apa
maksudmu, sekarang juga aku akan menganggap bahwa
engkau ini adalah pencuri yang hina dan aku akan
melancarkan serangan!”
Simuka buruk itu tertawa dingin
„Kukira tidak mudah untuk menyerang diriku !” serunya
tegas,
“Mengapa ?” tanya Phang Kui In saking herannya
mendengar perkataan orang itu.
“Belum tentu kepandaianmu cukup untuk merubuhkan
diriku “ Dan setelah berkata begitu tampak si muka buruk
telah mengawasi Yo Him.
“Anak ini tampaknya memiliki tulang yang bagus dan
berbakat untuk melatih ilmu silat…..!” katanya kemudian
dengan suara yang tawar.
“Siapa namamu, nak !”

“Aku …. aku …” jawab Yo Him ragu2, dia telah melirik
kepada Phang Kui In, dimana orang she Phang itu telah
menggelengkan kepalanya perlahan.
“Dia belum menjawab pertanyaan kita dan belum
mengetahui apa maksudnya, maka tidak perlu kita
memperkenalkan diri kita padanya !” kata Phang Kui In,
Dan Yo Him jadi membatalkan apa yang hendak
dijawabnya dia telah berkata :”Sayang sekali kau main
belakang dan tidak pernah mau menjawab pertanyaan Phang
Susiok, maka kami pun keberatan untuk memperkenalkan
diri!”
„Kau akan menyesal dengan tindakanmu ini!” kata orang
bermuka buruk itu, „Mengapa?” tanya Yo Him.
„Karena engkau akan mati dengan penasaran . . !.”
menyahuti orang itu.
Tetapi Yo Him tidak bisa digertak, dia telah menjawab
marah: „Belum tentu juga engkau bisa mencelakai kami!”
Orang muka buruk itu telah tertawa dingin, lalu katanya
lagi: „Kaliankah yang telah merubuhkan Hek Sin Ho?”
tanyanya.
„Benar!” menyahuti Phang Kui In dengan suara yang tegas.
„Dan engkaukah yang telah menghancurkan pergelangan
tangan Hek Sin Ho?” tanya orang itu lagi.
„Benar!” mengangguk Phang Kui In dengan berani sekali.
„Hemm, sekarang jawab dulu satu pertanyaanku, apa
keperluan dan kepentingan kalian mencari Sin Tiauw Taihiap
Yo Ko?”
„Itu urusan kami tidak ada sangkut pautnya dengan kau!”
menyahuti Phang Kui In.

“Sudah tentu ada hubungannya dengan aku karena akupun
tengah mencari Sin Tiauw Taihiap Yo Ko itu !”
“Apa ?” tanya Phang Kui In agak terkejut. ” Apa
keperluanmu mencari Sin Tiauw Taihiap ?”
“Itu nanti akan kujelaskan, karena engkau sendiri belum
mau menjawab pertanyaanku ada kepentingan apa kalian
mencari Sin Tiauw Taihiap ?”
Phang Kui In telah memutar otak, dan cepat sekali dia telah
menjawabnya : ” Kami sahabat2 Sin Tiauw Taihiap dan ingin
nienyambanginya. Kami mendengar berita terakhir bahwa Sin
Tiauw Taihiap sering berkunjung ke Su Kwan, maka kami telah
datang kemari untuk mencari ….!”
“Hemm, manusia macam kalian ini merupakan sahabat2
dari Sin Tiauw Taihiap? Sungguh perkataan kosong yang
terlampau berani ! Tahukah engkau, dengan mengaku aku
sebagai.sahabat Sin Tiauw Taihiap, maka kalian juga akan
menerima bahaya yang tidak kecil ?”
Setelah berkata begitu, dengan cepat sekali tampak orang
bermuka buruk itu telah mengeluarkan suara tertawa dingin
sambil mengerang perlahan.
Phang Kui In dan Yo Him jadi heran melihat sikap muka
buruk yang terakhir itu.
,,Kami telah menjawab pertanyaanmu, nah sekarang
giliranmu untuk menjelaskan apa perlunya engkau juga
mencari2 Sin Tiauw Taihiap?” kata Phang Kui In.
,,Aku hendak membinasakannya!” menyahuti orang
bermuka buruk itu dengan suara yang dingin. „Nah, kalian
lihatlah!” Sambil berkata begitu, orang bermuka buruk itu
menunjuk kearah mukanya sendiri.
Rembulan bersinar terang benderang dan tidak tertutup
awan. cahayanya yang gemilang itu menyinari muka buruk
orang aneh ini sehingga dengan bentuk muka yang rusak dan

buruk seperti itu, ditambah dengan sinar rembulan kepada
wajahnya, membuat muka siburuk itu semakin menakutkan
sekali.
Yo Him sendiri sampai tidak berani memandang lama2,
hanya sekejap saja dia memandang kemudian telah
menundukkan kepalanya.
„Nah, kalian telah melihatnya, bukan?” tanya orang
bermuka buruk itu kemudian sambil menyeringai
menyeramkan, suaranya juga mengandung kekejaman,
kemarahan dan juga kekecewaan: „Inilah hadiah dari Sin
Tiauw Taihiap! Maka dari itu, setelah aku mempelajari ilmu
silatku lebih mendalam selama tujuh tahun, kukira telah cukup
untuk menandingi kepandainnya dan setelah berkata begitu,
orang bermuka buruk tersebut telah berkata dengan suara
yang perlahan tetapi menakutkan. ,,Bersiap2lah menghadapi
serangan.”
Yo Him dan Phang Kui In segera menduga, mungkin orang
ini terganggu syarapnya karena dia tampaknya bicara dengan
lagak yang tidak beres.
Disaat itu, orang bermuka buruk itu telah berkata lagi: „Aku
sudah mendidik Hek Sin Ho bersusah payah dan sebagai
murid tunggalku aku mengharapkan dia kelak bisa mewarisi
seluruh kepandaianku . . . tetapi engkau relah merusak
menghancurkan tulang pergeiangan tangannya . . maka
dengan cacad seperti itu tentu saja dikemudian hari dia tidak
bisa diharapkan lagi pergelangan tangan merupakan bagian
terpenting dari anggota tubuh yang bisa dipergunakan untuk
bertempur…!”
Setelah berkata begitu, tahu2 mulut orang itu
dimonyongkan, dan “Fuiii ! Fuiii !” tahu2 ada beberapa butir
biji buah Lay yang menyambar datang dengan cepat sekali.
Jika biji buah Lay itu menyambar dengan cepat, memang tidak
mengherankan, tetapi yang aneh walaupun biji itu berukuran
kecil sekali seperti kwaci, tetapi dia bisa menyemburkannya

mendatangkan samberan angin yang sangat kuat. Bahkan
yang agak luar biasa biji buah Lay itu telah menyambar dua
jalan darah terpenting ditubuh Phang Kui In.
Tetapi Phang Kui In juga memiliki kepandaian yang tidak
lemah, cepat sekali dia menggeser tubuhnya dan menyingkir
dari ke dua biji buah Lay itu. Kedua biji buah Lay itu telah
lewat disisi pinggangnya.
Baru saja Phang Kui In hendak ber-kata2 menegur orang
itu, justru kedua biji buah Lay itu telah menyambar datang
lagi seperti juga bisa dikendalikan, membalik menyambar
kearah punggung Phang Kui In.
Inilah peristiwa yang agak aneh dan luar biasa, karena
biasanya jika seseorang melancarkan serangan dengan
senjata rahasia atau apa saja yang ditimpukkan, jika sudah
tidak mengenai sasaran tentu akan jatuh ditanah. Tetapi
justru sekarang telah terjadi yang sebaliknya, karena waktu
itu biji buah Lay yang tidak berhasil mengenai sasaran, telah
memutar kembali menyerang punggung Phang Kui In dengan
tenaga samberan yang tidak berkurang. Yang diincer oleh
kedua biji buah Lay itu adalah jalan darah Ciang kie hiat dan
Lu-sung-hiat.
Phang Kui In karena terkejut telah mengeluarkan suara
seruan tertahan dan melompat kesamping lagi.
Tetapi biarpun Phang Kui In bergerak sangat cepat,
disebabkan dia tidak menduga akan datangnya serangan
aneh seperti itu, lengannya telah kena diterjang oleh biji buah
Lay yang satunya.
Waktu lengannya itu terbentur dengan biji buah Lay itu,
Phang Kui In merasakan lengannya kesemutan, tetapi tidak
sampai cidera.
„Manusia licik !” berseru Phang Kui In dengan suara yang
mengandung kemarahan. „Engkau merupakan manusia hinadina
yang perlu memperoleh pengajaran!!”

Dan setelah berkata begitu dengan cepat Phang Kui In
mencabut goloknya.
„Ha, ha, ha! Sudah kukatakan, engkau mencari mati sendiri
!” kata orang bermuka buruk itu. „Aku Thian San Hok Mo (Iblis
Kodok dari Thian San) Cu Cu Ciang tidak akan berlaku kasihan
lagi dan akan melancarkan serangan2 yang sekaligus bisa
mematikanmu ! Jika aku kelak tidak berhasil membalas
dendamku kepada Yo Ko, berarti dendamku telah berkurang
banyak, sebab telah berhasil membinasakan kawannya orang
she Yo itu…!”
Setelah berkata begitu, dengan cepat dia mengelakkan diri
dari samberan golok Phang Kui In, karena orang she Phang itu
telah melancarkan bacokan dengan tenaga yang kuat sekali.
Waktu golok itu menyambar, menimbulkan angin yang
berkesiuran sangat keras sekali.
Dengan mudah orang bermuka buruk itu mengelakkan diri
dari samberan golok orang she Phang tersebut, kemudian
dengan mengeluarkan suara teriakan yang sangat keras, dia
telah berkata dengan garang : „Nah, jagalah serangan !”
sambil berkata begitu tampak. Cu Cu Ciang telah memutar
kedua tangannya, tubuhnya dimiringkan kekanan, tangan
kirinya mengibas kearah golok Phang Kui In yang menyambar
datang, lalu dengan gerakan yang sangat cepat sekali tangan
kanannya telah menerobos masuk penjagaan Phang Kui In,
menghantam jitu sekali dada Phang Kui In, sampai
mengeluarkan suara benturan ‘bukkk !’ yang sangat keras
sekali, sehingga tidak ampun lagi tubuh Phang Kui In terpental
dan bergulingan ditanah beberapa tombak.
Yo Him yang menyaksikan ini jadi terkejut sekali, dia telah
mengeluarkan teriakan perlahan, dan melompat mendekati
Phang Kui In yang saat itu tengah merangkak untuk berdiri.
„Paman Phang, kau tidak apa2…?” tanya Yo Him
kemudian.

“ Mundurlah Him-jie, biar aku menerima pelajaran lagi dan
dia !” kata Phang Kui In dengan marah.
Tetapi waktu dia ingin merangkak bangun, disaat itu
mukanya meringis menahan kesakitan yang sangat didadanya
yang terpukul oleh Cu Cu Ciang.
Cu Cu Ciang telah tertawa dengan suara yang ber-gelak2
dia berkata dengan suara yang takabur: “Nah sekarang
marilah kita betempur lagi!” tantangnya. “Aku jamin dalam
dua tiga jurus engkau sudah dapat kumampuskan!!”
Kembali Cu Cu Ciang telah tertawa bergelak gelak dengan
suara yang nyaring sekali.
Yo Him habis sabar, dia berkata kepada Pbang Kui In :
„paman, kau diamlah beristirahat mengatur pernapasanmu….
biar aku menghadapi orang sombong itu !!” dan tidak menanti
persetujuan dari Phang Kui In, tampak Yo Him telah melompat
dengan gerakan yang gesit sekali kehadapan Cu Cu Ciang.
„Orang she Cu !” bentak Yo Him kemudian. ”Mari kau
menyerang lagi, aku yang akan menerima pelajaranmu !” ,
Melihat yang maju itu adalah seorang pemuda yang belum
dewasa Cu Cu Ciang jadi tertegun sejenak tetapi kemudian dia
telah tertawa bergelak gelak.
Waktu Cu Cu Ciang telah mendesis dengan suara yang
sangat dingin dan kejam: “Engkaupun tidak boleh dibiarkan
hidup. Baiklah sekarang terimalah serangan dariku ini!”
Dan dengan bergerak yang cepat sekali dia telah
menerjang kedepan sambil menggerakan sekaligus kedua
tangannya melancarkan gempuran kepada Yo Him.
Yo Him telah mengejek dia, melihat memang serangan
orang she Cu ini sangat kuat tetapi dia tidak takut. Dengan
gerakan lincah Yo Him telah melompat kesamping. Dengan
latihan selama dua tahun dibawah petunjuk gurunya, yaitu Lie
Bun Hiap, maka Yo Him memiliki kepandaian yang tidak

berada disebelah bawah phang Kui In apalagi diapun juga
memiliki lwekang yang sempurna, karena Kwee Siang telah
membuka seluruh jalan darahnya dan lweekangnya itu
merupakan tenaga dalam yang mujijat. Maka jika ingin
diperbandingkan kepandaian Yo Him masih berada diatas
kepandaian Phang Kui In dan Kwee Siang, dia hanya bekal
pengalaman saja,
Maka waktu melihat datangnya serangan Cu Cu Ciang, dia
telah berkelit dengan jurus “Capung Melompati Sungai”,
gerakannya manis sekali, tangan kanannya juga telah
meluncur dengan cepat mencengkeram punggung Cu Cu
Ciang waktu kepalan tangan lawan ini meluncur lewat
disampingnya.
Cu Cu Ciang juga tidak menyangka bahwa lawannya yang
demikian muda bisa memiliki kepandaian yang lebih tinggi dari
kepandaian Phang Kui In. Maka waktu tadi dia melancarkan
serangan, dia tidak mempergunakan seluruh kekuatan
lwekangnya, dia hanya mempergunakan enam bagian tenaga
dalamnya.
„Hem, tidak seberapa kepandaianmu !” kata Yo Him
mengejek setelah mengelakkan serangan lawannya dan
tangannya berhasil mencengkeram pundak lawannya dengan
kuat.
Cu Cu Ciang jadi kaget dan kesakitan, sampai dia
mengeluarkan suara seruan yang sangat keras, tetapi sebagai
seorang yang memiliki kepandaian tinggi, dia tidak menjadi
gugup walaupun baju dipunggungnya berikut kulit
punggungnya kena dicengkeram kuat oleh Yo Him, dia telah
menggerakkan tangan kanannya tahu2 menotok kearah
pinggang Yo Him.
Itulah serangan yang sangat kuat dan berbahaya, “karena
dalam keadaan terjepit seperti itu, Cu Cu Ciang telah
menggunakan jurus “Pa Kong Jo Cu” atau “Pa-Kong Merebut
Mustika” dan memang jalan darah yang ingin ditotoknya

adalah jalan darah “Su-siang hiat” yakni jalan darah yang
terpenting sekali ditubuh manusia. Jika sampai jalan darah Su-
Siang-hiat tertotok, maka korban totokan itu jangan harap
bisa hidup, karena seluruh peredaran darahnya akan menjadi
kacau balau dan dalam satu hari saja akan terbinasa.
Waktu itu Yo Him juga menyadari bahaya yang mengancam
dirinya. Dia telah mengeluarkan suara seruan yang nyaring
dan menggerakan tangan kirinya untuk menghantam pundak
lawannya, cekalannya dilepaskan.
„Bukkk . . .!” kuat-sekali tenaga serangan itu, yang telah
menyebabkan tubuh Cu Cu Ciang jadi terjerembab jatuh
ketanah bergulingan.
Tetapi sebagai jagoan yang memiliki kepandaian tinggi,
dengan sendirinya Cu Cu Ciang bisa bangkit dengan cepat.
Dengan muka yang merah padam, dan Wajah yang seperti
itu, keadaan
Cu Cu Ciang lebih menyeramkan lagi, diapun telah
memperlihatkan sikap yang mengancam.
Yo Him tidak gentar melihat sikap musuhnya ini, dia telah
mengeluarkan suara mengejek. Sambil katanya kemudian
dengan nada sinis “Hayo majulah menyerang lagi, mengapa
diam begitu saja seperti seekor kura2 ?”
Diejek demikian tentu saja Cu Cu Ciang jadi sangat marah,
dia telah menurunkan tangan kirinya dengan siku menempel
pada pinggang, lalu tangan kanannya dilonjorkan dengan
keras menerjang maju.
Yo Him lebih cepat.lagi dengan mengeluarkan suara jeritan
keras, tubuh iblis kodok dari Thian San terpental lima tombak
lebih mukanya juga pucat sekali waktu dia merangkak
bangun.
“Mau diteruskan !” ejek Yo Him.

Tetapi Cu Cu Ciang tidak menyahuti, dia hanya meringis
dan matanya mengawasi bengis. Dia merasakan dadanya itu
sangat sakit sekali.
Dengan mengeluarkan seruan menahan sakit akhirnya Cu
Cu Ciang telah berhasil berdiri, tetapi untuk sejenak lamanya
dia tidak bisa berdiri diam, terhuyung huyung juga ingin jatuh
kembali.
Melihat keadaan lawannya itu timbul perasaan kasihan
dihati Yo Him. Dia tidak melancarkan serangan lagi, lalu dia
berkata:” Sekarang kau pergilah! Tetapi jika dilain hari aku
bertemu dengan kau dan engkau masih melakukan kejahatan,
hemmm, hemmm, tentu disaat itu aku tidak bisa mengampuni
lagi jiwamu !” Cu Cu Ciang tidak segera menyahuti dia hanya
mengawasi dengan muka meringis, karena dadanya dirasakan
masih sakit sekali. Dia telah mengangkat kepalanya, kemudian
dengan suara ter-sendat2 menahan sakir didadanya, Cu Cu
Ciang telah berkata,
„Beritahukan namamu, tentu suatu hari nanti aku akan
mencarimu untuk meminta pengajaran lagi…!” katanya sambil
matanya mendelik bengis dan mukanya yang buruk itu ber
tambah menyeramkan, sedangkan tangan kirinya meng-usap2
dadanya yang tadi tergempur oleh Yo Him.
Cu Cu Ciang menyadari bahwa kepandaiannya masih
berada dibawah kepandaian Yo Him, maka walaupun dia
merasa dendam kena dirubuhkan oleh Yo Him, tetapi dia tidak
berani, menyerang lagi. Dan itulah sebabnya dia menanyakan
nama Yo Him, maksudnya jika kelak dia teiah melatih diri lebih
giat lagi, dia ber maksud akan mencari pemuda tanggung ini
untuk membalas dendam.
Yo Him ragu2 sejenak, tetapi kemudian dia telah berkata :
„Baiklah ! Aku she Yo dan bernama Him !”
„She Yo ?” tanya Cu Cu Ciang dengan muka yang berobah
menjadi pucat.

„Benar !”
„Masih ada hubungan apa engkau dengan Sin Tiauw taihiap
Yo Ko ?”
„Beliau adalah ayahku !”
„Kau….?”
„Mengapa ? Ada sesuatu yang tidak beres dan membuat
engkau terkejut ?” tanya Yo Him mengejek.,
„Hemm…pantas ! Pantas !”
„Apanya yang pantas ?”
„Pantas” engkau memiliki kepandaian yang tinggi !” kata Cu
Cu Ciang kemudian.
„Sekarang kau pergilah, jangan sampai aku berobah pikiran
pula ! Engkau tidak perlu memiliki dendam kepadaku,karena
dendam itu merupakan hasutan iblis yang akan merusak
dirimu sendiri!”
Cu Cu Ciang telah berdiam diri sejenak tidak menyahuti
perkataan Yo Him, tampaknya dia tengah berpikir keras.
“Lebih baik engkau membuka sebuah pintu perguruan dan
menerima murid2 yang kau didik baik2…bukankah dengan
bekerja baik2 seperti itu engkau akan menerima hasil yang
baik pula ?”
Cu Cu Ciang tiba2 telah merangkapkan sepasang
tangannya, dia menjura sambil berkata kepada Yo Him: „Aku
berterima kasih dan kagum padamu, Siauw-enghiong.!
Walaupun usiamu masih demikian muda, tetapi ternyata
engkau telah memiliki pandangan hidup yang jauh sekali!
Tidak kecewa Sin Tiauw Taihiap Yo Ko memiliki anak seperti
engkau…dan sekarang aku telah menyadari, akan sia2lah jika
aku menaruh dendam terus menerus kepada Sin Tiauw
Taihiap Yo Ko, karena puteranya saja tidak bisa kutandingi…
tentu kepandaian Sin Tiauw Taihiap sekarang ini jauh lebih

sempurna lagi dari yang lalu…! Terima kasih Siauw
Enghiong…aku akan berusaha untuk hidup baik2…!”
Setelah berkata begitu, Cu Cu Ciang telah merangkapkan
tangannya memberi hormat lagi kepada Yo Him, lalu menjura
kepada Phang Kui In : „Maafkan aku tadi telah berlaku
ceroboh, untung saja Siauw Enghiong ini memiliki pandangan
yang luas sehingga telah mengampuni jiwaku ! Jika tidak, tadi
dia tentu telah mempergunakan tenaga sepenuhnya dan aku
akan terbinasa, Terima kasih untuk pengampunan jiwaku yang
buruk ini, dan aku ber janji untuk hari2 mendatang aku akan
hidup baik2. Aku minta diri…!”
Dan sebelah berkata begitu, Cu Cu Ciang telah memutar
tubuhnya, dan berlalu.
Phang Kui In girang sekali melihat Yo Him benar2 telah
menjadi seorang pendekar yang memiliki kepandaian melrbihi
dirinya sendiri. Tadi saja Phang Kui In telah kena dirubuhkan
lawannya dan tidak berdaya memberikan perlawanan kepada
Cu Cu Ciang, tetapi justru Yo Him hanya dalam beberapa jurus
saja telah berhasil menghajar lawan yang tangguh itu.
„Bagus! Bagus! Memang luar biasa kepandaianmu, Him-te
(adik Him)!” tiba2 terdengar orang memuji dengan suara yang
nyaring, suaranya seorang wanita.
Yo Him dan Phang Kui In menoleh terkejut, mereka melihat
dikejauhan berdiri seorang wanita, yang tidak lain dari Kwee
Siang.
„Sejak kedatangan orang she Cu itu, aku telah keluar
memperhatikan gerak-geriknya, tetapi karena aku melihat Yo
Him bisa menghadapinya aku membiarkan saja tanpa
memperlihatkan diri.”
Phang Kui In telah menjura dan katanya: „Terima kasih
atas perhatian nona Kwee, juga tidak percuma Yo Him
menjadi anaknya

Sin Tiauw Taihiap, lihat saja dalam usia semuda ini dia
telah berhasil merubuhkan seorang lawan setangguh Cu Cu
Ciang. Menurut pendengaran, Cu Cu Ciang yang bergelar
Thian San Hok Mo itu sangat tinggi sekali kepandaiannya! Dan
tadi memang telah terbukti, betapa aku telah dirubuhkannya
dengan mudah sekali olehnya ! Maka hal itu bisa dijadikan
ukuran bahwa kepandaianku masih berada dibawah
kepandaian Him-jie, sebab orang yang berhasil merubuhkan
aku itu telah dipukul rubuh pula oleh Yo Him hanya dalam
beberapa jurus saja. Bukankah itu sangat menggembirakan
sekali ? Tentu Sin Tiauw Taihiap jika mengetahui hal ini akan
girang sekali…!”
Mendengar disinggungnya nama Sin Tiauw Taihiap, maka
Kwee Siang jadi berobah muram.
„Sayang kita tidak berhasil menemui jejak Yo koko…!” kata
Kwee Siang seperti juga menggumam kepada dirinya sendiri.
Phang Kui In yang melihat sikap sigadis telah menghela
napas.
„Tetapi jika kita sabar mencarinya, suatu saat kita akan
bertemu dengan Yo Taihiap. .!” katanya menghibur.
Kwee Siang mengangguk.
Baru saja mereka mau kembali kekamar masing2, tiba2
terdengar suara seseorang berkata dengan sabar: „Kalian
tengah mencari Yo Taihiap, apakah keperluan kalian?” suara
itu ternyata adalah suara seorang wanita.
Semuanya menoleh, dan mereka melihat tidak jauh dari
tempat mereka berdiri, tampak berdiri seorang wanita
berwajah cantik se kali, memakai gaun berwarna hijau dengan
pita yang kuning. Usianya mungkin baru dua puluh tiga tahun.
Phang Kui In merangkapkan tangannya memberi hormat
kepada wanita itu.

„Siapakah nona, bolehkah kami mengetahui nama dan
gelaran nona yang harum?’”
„Aku Kim Lian, she (marga) Thang, menyahuti gadis itu
dengan suara yang tetap halus dan sabar. ..Tadi aku telah
bertanya ada persoalan apa kalian ingin mencari Sin Tiauw
Taihiap Yo Ko?”
„Kami memiliki sedikit urusan dengan Yo Taihiap!”
menyahuti Phang Kui In.
.,Oya? Memang dengan mencari seseorang tentunya
memiliki urusan ! Tidak mungkin kalian tidak memiliki urusan
dengan Yo Taihiap lalu kalian men cari2nya dan setelah
bertemu hanya bengong saja?”
Ditanggapi begitu, muka Phang Kui In jadi berobah merah.
“Benar apa yang dikatakan nona, kami memang memiliki
sedikit urusan yang sulit dijelaskan disini, terima kasih atas
perhatianmu nona Thang !”
Sigadis telah senyum lagi sikapnya sangat sabar.
“aku tahu apa maksudmu mencari Yo Taihiap” kata gadis
itu sambil tetap tersenyum.
Muka Phang Kui In bertiga jadi berobah bahkan karena
heran dan ingin tahu telah bertanya “nona mengetahui
maksud kami mencari Yo Taihiap ?”
“ Ya “
“Coba nona katakan, jika benar aku akan membenarkan,
jika salah akupun akan memberitahukan bahwa dugaan nona
meleset”
Kata Phang Kui In.
“Hemm. Kalian tentunya penasaran dan tidak percaya
bahwa aku mengetahui apa tujuan dan maksud kalian mencari
Yo Taihiap bukan ?” tanya si gadis.

“Ya katakanlah ! jika memang terkaan nona tepat, tentu
kami akan kagum dan menghormati akan kelihayan nona….!”
menyahuti Kui In.
,,Kalian mencari Sin Tiauw Tayhiap karena ingin
memperkenalkan engko kecil itu adalah anaknya Yo Taihiap
bukan?” tanya sigadis
Terkaan yang tepat seperti itu membuat Phang Kui In
bertiga sementara waktu menjadi tertegun karenanya.
Kemudian Kwee Siang telah berkata: ,,Cici hebat benar
terkaanmu, tepat sekali! Dari mana engkau mengetahuinya?”
Thang Kim Lian tertawa kecil, lalu katanya, „Aku memiliki
ilmu meramal”
Kwee Siang memandang setengah percaya dan setengah
tidak. Begitu juga Phang Kui In dan Yo Him Mereka menduga
bahwa gadis ini telah bersembunyi cukup lama ditempat
tersebut waktu mereka sedang berurusan dengan Thian San
Hok Mo Cu Cu Biang sehingga dia telah mendengar semua
pembicaraan Cu Cu Ciang dengan Yo Him,
„Tentunya encie Thang mencari kami memiliki urusan juga,
bukan?” tanya Kwee Siang kemudian.
„Oh, tentu, tentu! jika aku tidak memiliki urusan aku tidak
akan mencari kalian.”
menyahuti sigadis dengan suara yang nyaring, lebih tinggi
dari nada sebelumnya, „ Aku diutus oleh pemimpin kami untuk
mencari kalian, mengundang agar singgah dimarkas kami.”
Perkataan wanita she Thang ini membuat Phang Kui In
bertiga bertambah heran.
“Peminipinmu mengundang kami?” tanya Phang Kui In
masih belum bisa menerkanya “Benar …..” gadis itu telah
mengangguk cepat sekali „Aku sebagai atusan untuk
mengundang kalian singgah dimarkas kami!” dan dia telah

tersenyum manis lagi.wajahnya yang cantik jadi semakin
gemilang dibawah cahaya rembulan dimalam hari itu.
“Apa nama perkumpulanmu nona ? Dan siapakah ketuamu
itu ? tanya Phang Kui In.
“Nanti jika kalian telah bertemu dengan pemimpinku,
engkau baru mengetahuinya ” sahut sigadis.
„Mana mungkin kami pergi, sedangkan orang yang
mengundang kami itu tidak kami ketahui siapa adanya “
membantah Phang Kui In.
„tidak perlu gelisah dan ragu, kalian ikut saja denganku,
dan nanti setelah bertemu dengan pemimpin kami, kalian
akan mengetahuinya siapa kami…”.
Phang Kui In berdiri ragu2 dan dia telah memandang
kepada Yo Him dan Kwee Siang seperti ingin meminta
pendapat kedua kawannya itu.
Tetapi Yo Him dan Kwee Siang juga tidak bisa memberikan
tanggapan apa2, mereka menyerahkan segalanya kepada
Phang Kui In untuk memutuskannya.
Saat itu sigadis telab bertanya lagi : „Bagaimana keputusan
kalian, menerima undangan ini atau tidak ?”
Phang Kui In cepat2 merangkapkan tangannya, dia berkata
dengan suara yang sabar : „Maafkan nona, bukan kami tidak
menghargai undangan yang diberikan ketuamu ini… tetapi
sayang sekali kami tidak mengenal dan tidak mengetahui.
siapa pemimpin kalian itu dan apa tujuannya…!”
Mendengar perkataan Phang Kui In, sigadis telah
tersenyum lebar.
„Ya., kalian memang agak ragu tampaknya ! Baiklah aku
memberitahukan juga, kami dari perkumpulan Tiauw pang dan
pemimpin kami, Ciong Lam Cie mengundang Kalian..”

Sigadis bicara dengan suara yang perlahan dan sekata demi
sekata dengan mulut tersenyum dan wajah yang berseri tidak
memperlihatkan tanda2 dia tengah mengundang seorang yang
memiliki kepandaian, atau setidak tidaknya perasaan
bermusuhan dengan pangcu Tiauw Pang.
“Tiauw Pang ?” tanya Phang Kui In dengan suara terkejut.
Begitu juga Yo Him dan Kwee Siang jadi sangat terkejut,
mereka telah mengawasi wanita she Thang itu dengan sorot
mata yang tajam.
“Benar aku dari Tiauw Pang dan menerima tugas dari
Pangcu kami untuk mengundang kalian…..!!”
“Hem,” kalau begitu engkau bukan manusia baik2 !” kata
Phang Kui In yang akhirnya jadi berobah tidak gembira dan
tidak menghormat lagi pada gadis she Thang itu. Sampaikan
kepada pangcumu itu, tidak dapat, kami terima..!” Setelah
berkata begitu Phapg.Kui In berhenti sejenak, kemudian dia
telah berkata lagi, “Hemm, perlakuannya beberapa saat yang
lalu telah cukup membuat kami menderita, kau pergilah,
jangan memancing kemarahanku !”
Thang Kim Lian tampak tenang2 saja, dia telah berkata
dengan suara yang tawar : „Jika kalian tidak mau menerima
undangan secara baik2 seperti sekarang ini, tentu kelak kalian
akan menerima perlakuan yang tidak enak menerima
undangan secara paksa. Maka sekarang aku anjurkan lebih
baik kalian memilih undangan dengan cara yang baik seperti
sekarang ini . . !’
Muka Kwee Siang bertiga jadi berobah merah padam,
karena mereka telah diliputi kemarahan. Dengan di
jelaskannya bahwa Thang Kim Lian ini adalah anggota dari
perkumpulan Tiauw Pang yang dipimpin oleh Ciong Lam Cie,
mereka jadi teringat perlakuan yang diterima mereka oleh
ketua Perkumpulan Rajawali itu beberapa waktu yang lalu

„Kami sudah mengatakan dengan jelas bahwa kami tidak
bisa menerima undangan pangcu kalian, sekarang silahkan
…!” waktu berkata „silahkan” itu, tampak Pang Kui In
memperlihatkan sikap seperti sedang mempersilahkan tamu
untuk berlalu.
Muka Thang Kim Lan telah berobah tidak seperti tadi,
lembut dan manis. Sekarang justru mukanya memperlihatkan
sikap yang sungguh2 dan keras.
„Hemm, baiklah! Kalian sendiri yang menolak undangan
secara baik2 ini…walaupun aku telah berusaha memberikan
pengertian kepadamu, bahwa kalian lebih baik memilih jalan
yang baik itu, dengan memenuhi undangan yang diajukan
oleh Pangcu kami, namun….kalian kepala batu ! Baiklah ! Aku
akan melihat sampai berapa tinggikah kepandaian mu bertiga
sehingga kalian berani jual lagak begitu tinggi dan berani
menolak undangan pangcu kami….!”
Dan setelah berkata begitu, Thang Kim Lian melepaskan
angkin (pengikat pinggang) yang berwarna kuning itu, dia
mengedutnya dan ikat pinggang itu seperti juga cambuk
mengeluarkan suara menggeletar ditengah udara. Itulah
menunjukkan lwekang Thang Kim Lian bukan kepandaian
yang sembarangan, dengan hanya memegang satu dari ujung
angkin itu, dia telah bisa menyalurkan lwekangnya, maka
angkin yang lemas itu bisa berobah menjadi tegang kaku
seperti lempengan besi dan bisa menjadi lemas seperti juga
seekor naga yang tengah melingkar lingkar.
Keadaan demikian telah membuat Phang Kui In jadi
terkejut juga. Dia menyadari bahwa kepandaian .wanita ini
tidak berada disebelah bawahnya. Mungkin juga berada diatas
kepandaiannya, karena dengan sehelai ankin saja dia telah
bisa mempergunakannya sebagai senjata yang sanggup
diandalkannya.
“Nah, sekarang siapa yang ingin menerima pelajaran dariku
?, apakah sekaligus bertiga kalian mengeroyok diriku ?” itulah

kata2 menghina yang keterlaluan dan membangkitkan
kemarahan Phang Kui In bertiga.
“Phang susiok, biar aku yang menghadapinya !” seru Yo
Him.
Phang Kui In dan Kwee Siang yang telah mengetahui
bahwa kini Yo Him memiliki kepandaian yang tinggi, maka
mereka percaya dengan majunya Yo Him memang lebih baik,
dibandingkan jika mereka yang maju. Karena kepandaian Yo
Him sekarang sudah berada di atas mereka, walaupun usia Yo
Him itu masih muda sekali.
„Baiklah Himjie, hati2 menghadapinya, dia seorang ahli
lwekeh”
Phang Kui In telah memperingati Yo Him.
Yo Him hanya mengangguk saja dan telah melangkah maju
mendekati Thang Kim Lian.
“Nona Thang” kata Yo Him sambil merangkapkan kedua
tangannya, dia telah menjura memberi hormat “silahkan nona
menyerang, siauwte hanya akan menuruti saja apa yang
hendak dilakukan olehmu, nona ..”
“hemmm, memang engkau sebagai putera Yo Ko tidak
percuma. Dan sekarang engkaupun baru saja memperoleh
sebuah gelaran bukan ?”
Yo Him mengangguk perlahan, dia tidak mau berdusta.
“Ya, gelaran itu kuperoleh dari seorang sahabatku “
sahutnya.
„Aku tidak bertanya mengenai sahabatmu itu, tetapi aku
katakan sekarang engkau telah memiliki gelaran, yaitu sebagai
Sin Tiauw Thian Lam (si Rajawali Sakti dari Langit Selatan),
bukan ?”
Yo Him kembali mengangguk.

“Tidak salah !”
„Dan sebagai putra dari Sin Tiauw Taihiap memang engkau
sesuai sekali memakai gelaran Sin Tiauw Thian Lam ! Tetapi
tahukah engkau bahwa antara pangcu kami dengan ayahmu
itu terdapat ganjalan dengan hati yang tidak kecil?”
„Aku telah tahu, Ciong Lam Cie sendiri yang telah
mengatakannya kepada kami.!”
„Bagus, bagus !” kata Thang Kim Lian. Jika memang
engkau telah mengetahuinya itulah lebih baik lagi….! Tetapi
disamping itu kau juga harus hati2, angkinku ini tidak
bermata, sewaktu waktu bisa melibat batang lehermu dan
engkau akan binasa…,.!”
Dan setelah berkata begitu, dengan cepat sigadis
mengedut angkin kuningnya itu, sehingga menggeletar di
tengah udara. Lalu dia berkata lagi “Mari kita mulai ! Engkau
yang lebih muda silahkan menyerang aku tiga jurus lebih dulu,
dan selama tiga jurus itu aku akan mengalah !” Yo Him
merasa terhina dengari kata2 terakhir sigadis she Thang itu.
dia telah menggelengkan kepalanya.
“Cara itu Kurang baik , .!” katanya. Lebih baik kita
menyerang berbareng saja .”
Muka Thang Kim Lian jadi berubah tidak senang.
“Bocah, engkau terlalu sombong! Aku sengaja mengalah
membiarkan engkau tiga jurus melancarkan serangan
kepadaku, tetapi nyatanya engkau terlalu besar kepala!
Baiklah, jika engkau tidak mau menerima kebaikan hatiku itu,
biarlah terimalah seranganku ini….!”
Sambil mengakhiri perkataannya itu sigadis she Thang
telah menghentakan tali ikat pinggangnya, dan disaat itulah
terdengar suara memgeletar ditengah udara. Tampak angkin
itu meliuk liuk seperti seekor ular yang panjang, ujungnya
akan menotok jalan darah didada Yo Him.

Kwee Siang yang melihat ini telah keterlepasan berteriak “
Adik Him, hati2 …!”
Yo Him mengiyakan.
tetapi dia tidak bisa memecahkan perhatiannya, karena
saat itu ikat pinggang Thang Kim Lian telah menyambar
datang dengan cepat sekali, menjurus kearah lehernya, akan
melibas lehernya pemuda tersebut.
Yo Him mana mau membiarkan lehernya dilibat oleh angkin
Thang Kim Lian.
Dengan mengeluarkan suara seruan perlahan, dia melejit
kesamping sambil membungkukkan tubuhnya. Maka angkin itu
telah lewat diatas kepalanya.
Mempergunakan kesempatan itu, tampak Yo Him telah
menggerakan tangannya yang kiri dengan kelima jari tangan
terbuka.
Itulah satu jurus dari Pek Kong Ciang (Pukulan udara
kosong).
Thang Kim Lian terkejut melihat cara Yo Him menyerang.
Jurus pukulan yang dipergunakannya itu memang merupakan
jurus yang biasa saja. Tetapi dipergunakan oleh Yo Him
ternyata dari jurus Pek Kong Ciang itu jadi hebat luar biasa.
Angin pukulannya itu men-deru2 seperti runtuhnya gunung,
karena Yo Him mempergunakan jurus itu sambil disertai oleh
tenaga lweekang Kui Im Cin Kang dan juga
menggabungkannya dengan ilmu pukulan yang diajarkan oleh
Lie Bun Hap.
„Ihhh…..!” Thang Kim Lian telah mengeluarkan suara
seruan tertahan, dia menjejakkan kaki, tubuhnya telah
melompat dengan gesit ketika tubuhnya masih berada
ditengah udara dia telah menggerakkan angkinnya yang
segera menyambar kepergelangan tangan kanan Yo Him.

Tentu saja hal itu membuat Yo Him jadi terkejut sekali,
tubuhnya sedang membungkuk kedepan dan sekarang
lawannya dari tengah udara melancarkan serangan yang
mendadak dengan angkinnya yang meluncur bagaikan ular
kepergelangan tangan Yo Him.
Phang Kui In dan Kwee Siang telah memandang jalannya
pertempuran itu dengan mata yang terbuka lebar2, karena
mereka menguatirkan sekali keselamatan Yo Him
Waktu ujung angkin menyamber dekat sekali dengan
pergelangan tangan, Yo Him menarik pulang tangan, dia telah
mengeluarkan suara seruan yang sangat kuat sekali :
„Rubuh!” dan sambil berteriak begitu dia telah melancarkan
gempuran dengan kedua telapak tangan nya
„Suttttt !” angin serangan itu terdengar tajam sekali. Thang
Kim Lian tidak berani. menangkis dengan kekerasan, maka dia
telah ber jumpalitan sambil menarik pulang angkinnya.
Gerakan Thang Kim Lian memang cepat, tetapi Yo Him
bergerak lebih cepat sekali, tahu-tahu telapak tangan Yo Him
telah menghantam punggung kanan dari Thang Kim Lian
waktu gadis itu baru saja menginjak tanah.
„Bukkk ….!” terdengar suara hajaran yang tepat itu, dan
Thang Kim Lian telah ter huyung2, kemudian tubuhnya rubuh
ditanah, waktu gadis ini merangkak bangun, dia telah
memuntahkan darah segar sebanyak tiga kali.
Muka Thang Kim Lian tampak pucat pias, dia telah berkata
dengan suara yang tidak lancar : „Terima kasih..atas
petunjuk kalian..terima kasih……” dan dia telah memutar
tubuhnya, dengan ginkangnya dia berlari pergi meninggalkan
tempat itu.
„Hem, Ciong Lam Cie rupanya melakukan pengejaran terus
menerus kepada kita…..!”

kata Phang Kui In sambil menarik napas dalam2, karena
dimana saja mereka tiba, tentu akan diganggu oleh orang2
pangcu Tiauw Pang itu.
„Mulai sekarang, kita harus lebih hati2…. …!” kata Kwee
Siang.
„Karena kemungkinan besar pangcu dari Tiauw Pang itu
telah menyebar orang2nya untuk mengikuti jejak kita !”
Phang Kui In mengangguk
„Jika dilain waktu kita bertemu dengan anggota Tiauw
Pang, kita tidak perlu main kasihan2 lagi. kita binasakan, saja
untuk menggertak Pangcu Tiauw Pang. agar dia menghentikan
pengejarannya kepada kita…”
Yo Him setuju, tetapi Kwee Siang tidak. „Yang melakukan
kesalahan adalah pangcunya, bukan anak buahnya. Anak
buahnya hanya menuruti perintah dari pangcunya maka
mereka tak bersalah! Jika memang kita memiliki kesempatan,
biarlah kita cari pangcu Tiauw-pang itu untuk mengadakan
perhitungan dengannya, Sekarang yang terpenting kita harus
mencari Yo Taihiap.. .
Phang Kui In membenarkan pendapat sigadis, begitu juga
Yo Him
„Benar cici Siang, memang itu cara yang cukup bijaksana.!”
kata Yo Him,
Begitulah! mereka kemudian kembali kekamar masing2
KEESOKAN paginya Phang Kui In telah meninggalkan
rumah penginapannya seorang diri, sedangkan Yo Him bercakap2
asyik sekali berdua dengan Kwee Siang. Karena Yo
Him merasakan bahwa hati Kwee Siang lembut dan memiliki
kasih sayang sebagai seorang kakak, sehingga dia
menyenangi sigadis itu.

Sedangkan Kwee Siang sendiri karena mengetahui Yo Him
adalah putera dari pria yang dikagumi dan dipujanya, yaitu Sin
Tiauw Taihiap, maka dia memperlakukan Yo Him dengan
lemah lembut dan sabar, seperti sikap seorang kakak terhadap
adiknya.
Phang Kui In telah mengelilingi kota itu, ber-tanya2 kepada
orang2, apakah mereka itu melihat Sin Tiauw Taihiap Yo Ko
beberapa saat yang lalu. Sedangkan ciri2 dari orang yang
dicarinya itu disebutkan, yaitu buntung tangan kanannya.
Tetapi umumnya orang2 itu menyatakan telah dua tahun
lebih mereka tidak pernah melihat Sin Tiauw Taihiap singgah
dikota ini. Dulu memang mereka suka bertemu karena sering
kali Sin Tiauw Taihiap berkunjung kekota Su-po Kwan ini.
Setelah ber-tanya2 lebih dari seratus orang, Phang Kui In
jadi lemas dan putus asa, dia segera menyadari untuk mencari
Sin Tiauw Taihiap sangat sulit sekali.
Menjelang sore hari Phang Kui ln baru kembali kerumah
penginapan, dia melihat Yo Him dan Kwee Siang tengah
gelisah menantikan dia kembali, untuk makan malam.
„Maafkan aku pulang terlambat…!” kata Phang Kui In
sambil duduk dikursi yang satu nya.
„Berhasilkah usahamu itu, paman Phang?” tanya Yo Him
dengan hati yang berdebar.
„Ya, berhasilkah usahamu. Lo-enghiong ?” tanya Kwee
Siang juga.
Phang Kui In menggelengkan kepalanya dengan lesu, dia
telah berkata : „Tidak…telah dua tahun lebih penduduk kota
ini tidak pernah melihat lagi datangnya Sin Tiauw Taihiap !
Mungkin juga Sin Tiauw Taihiap tengah menyelesaikan suatu
urusan yang besar sehingga tidak pernah berkunjung ke Supo-
kwan selama dua tahun terakhir ini.”

Yo Him dan Kwee Siang jadi murung, mereka kecewa
sekali.
„Tetapi nanti kita akan menyelidikinya terus, melalui mulut
orang2 rimba persilatan tentu kita bisa mencari keterangan
yang lebih jelas….!” kata Phang Kui In menghibur Yo Him dan
Kwee Siang.
Setelah ber-cakap2 sebentar lagi. Phang Kui In memesan
santapan untuk mereka.
Dan waktu malam belum begitu larut, mereka telah masuk
kekamar masing2 dan tidur dengan nyenyak.
Keesokan paginya mereka bertiga telah berlayar kembali
meninggalkan kota Su-po kwan.
Dua hari mereka berlayar tanpa menemui daratan dan
mereka mengarahkan kapal nya kearah selatan.
Waktu itu angin berhembus perlahan sekali dan ombak2
kecil bagaikan kemilaunya permata, beriak gelombang kecil2,
Indah sekali suasana laut disaat itu, karena air laut yang
begitu luas dan sejauh mata memandang antara kaki langit
dengan laut bertemu, hanya warna biru belaka yang bening
dan menyegarkan pandangan mata.
Dalam keadaan seperti ini, Yo Him telah duduk melamun
memandangi keluasan laut itu
Pikiran pemuda ini melayang2 memikirkan ayahnya, dia
juga membayang bayangkan ayah nya, menduga duga entah
bagaimana rupa wajah dan keadaannya.
Disaat Yo Him tengah duduk melamun seorang diri seperti
itu, Kwee Siang telah menghampiri dan duduk disebelah Yo
Him mengawasi laut yang luas itu.
.Adik Him …. apa yang sedang kau pikirkan ?” tanya Kwee
Siang.

Yo Him menghela napas. ,,Aku sedang memikirkan
ayahku….!” kata Yo Him kemudian.
“Akupun selalu ingin cepat2 bertemu dengan ayahmu itu
tetapi keadaan rupanya tidak memungkinkan . . . !” kata
Kwee Siang dengan suara yang dalam, mengandung
kesedihan juga .” Entah Yo Koko berada dimana ….dan
bagaimana keadaan encie Siauw Liong Lie…. sampai
demikian lama, beberapa tahun kulewati dengan perasaan
yang selalu kesepian, karena selalu pula aku gagal mencari
mereka…….!”
Setelah berkata begitu! tampak Kwee Siang telah menghela
napas lagi.
Keduanya jadi berdiam diri, mereka hanya mengawasi air
yang beriak gelombang perlahan karena sentuhan perahu
yang meluncur dengan perlahan juga.
Phang Kui In yang memegang kemudi telah berteriak
kepada Yo Him dengan suara yang nyaring : „Him-jie, engkau
tidak perlu memikirkan segala itu, dan engkau juga tidak perlu
terlalu memusingkan hal2 yang belum tentu itu, yang
terpenting kita harus berusaha mencari ayah kau itu !”
Yo Him mengiyakan.
Tetapi anak ini masih juga duduk termenung. Kwee Siang
sendiri telah beberapa kali menarik napas karena merasa
sedih dan jengkel,
Angin laut sepoi2 basah itu karena mendekati sore hari,
telah membuat mereka semakin tenggelam dalam kekalutan
pikiran,
MEREKA berlajar enam hari tanpa berjumpa daratan
untung saja mereka membawa bekal cukup banyak, sehingga
bisa dipergunakan sampai dua bulan.

Kapal meluncur terus dengan pesat. Phang Kui In
bermaksud untuk menuju kelautan Tang Hay. Dari tempat itu
tentu mereka mudah mendatangi kota2 seperti Bu-cie-kwan,
Liong-cu-kwan atau kota2 lain2nya yang ber dekatan dengan
tempat tersebut karena Phang Kui In bermaksud untuk menyerap2i
kabar mengenai keadaan Sin Tiauw Taihiap dikotakota
itu.
Lautan hari itu tenang tanpa gelombang dan badai, udara
cerah sekali.
Yo Him duduk digeladak, mengawasi air laut yang diterjang
kapal, tetapi belum juga berhasil menemui jejak ayahnya.
Sehingga perasaan rindu dihati Yo Him jadi semakin kuat
saja.
Tetapi apa daya, Justru orang yang dirindukannya itu tidak
diketahui berada dimana.
Sedang Yo Him termenung begitu, tiba2 dia melihat dua
buah kapal tengah meluncur mendatangi, semakin lama
semakin besar.
„Paman Phang…..ada dua kapal yang sedang mengejar
kita …mungkin orang2nya Tiauw pang” kata Yo Him dengan
suara nyaring.
Kwee Siang cepat2 menghampiri Yo Him dan dia memang
melihat ada dua kapal yang tengah mendatangi.
Phang Kui In mengerutkan alisnya, dia berkata perlahan :
.,Bukan ! Bukan kapal orang2 Tiauw pang . . . mereka . . .
kalau tidak salah merupakan orang asing, lihatlah bentuk
kapal mereka itu yang agak luar biasa, berukiran singa . . .
mereka kalau bukan dari India tentu nya orang Persia ….!”
Mendengar keterangan Phang Kui In. Yo Him dan Kwee
Siang jadi heran.

„Orang India ? Orang Persia ?” tanya mereka hampir
berbareng.
,,Ya, tidak salah lagi, mereka tentu rombongan orang2
Persia . . . memang akhir2 ini banyak orang Persia yang
datang kedaratan Tionggoan untuk berdagang . . . !”
Diwaktu mereka tengah ber-cakap2 begitu kedua kapal
asing yang bentuknya sangat aneh, dengan dikepala kapal itu
terukir kepala singa yang besar, telah mendatangi lebih dekat.
Dan akhirnya kapal mereka saling berjajar, kapal Phang Kui In
diapit oleh kedua kapal asing itu, ditengah2.
Dari samping geladak kapal yang sebelah kiri, telah muncul
dua orang pendeta yang memakai jubah merah. Itulah
Hweeshio atau Lhama dari Tibet. Kepala mereka gundul dan
tubuh mereka tegap besar sekali, mengenakan pakaian yang
berwarna merah sehingga tampaknya kontras sekali.
„Kami mohon bertanya l’ kata seorang diantara kedua
pendeta itu. ‘„Apakah lautan yang sedang kami layari ini
adalah lautan Tang Hay
Yo Him kagum sekali, walaupun kedua pendeta Lhama itu
merupakan orang asing, tetapi mereka dapat ber-kata2
dalam bahasa Han yang baik dan halus. Itulah suatu
kelebihan dari orang2 asing ini.
Phang Kui In merangkapkan sepasang tangannya menjura
sambil menyahuti ,Benar tidak salah lautan disekitar ini adalah
lautan Tang Hai…”
„Dan, kami mohon bertanya lagi apakah kalian mengetahui
dimana pusat dari Agama Beng Kauw ?”
„Kami kurang begitu mengetahuinya, maafkanlah Taisu !”
menyahuti Phang Kui In.
Hweeshio itu tidak menjadi marah atau mendongkol, dia
telah mengangguk.

„Baiklah…terima kasih atas keterangan kalian itu !”
katanya.
„Tunggu dulu Taisu, tampaknya Taisu datang dari Tibet
bukan ?” tanya Phang Kui In ingin mengetahui.
„Bukan !” menyahut sipendeta itu.
,,Bukan ? Lalu Taisu dari mana ?”
„Kami memang Budha-budha hidup dari Tibet, tetapi sudah
sepuluh tahun kami bekerja untuk Persia……!” menyahuti
pendeta itu.
„Ohh……..!”
„Dan sekarang kami tengah melaksanakan tugas yang
diberikan raja kami Persia, untuk menangkap seseorang…….!”
„Menangkap seseorang ?” Phang Kui In menjadi terkejut.
Pendeta itu mengangguk.
Benar ! Kami tengah membawa tugas yang berat sekali,
yaitu harus menangkap tokoh persilatan didaratan
Tionggoan……..yaitu. Yo …..”
JILID 24
SUTEE.. jangan kau banyak bicara!” tiba2 lhama yang
seorangnya lagi telah membentak Dan rupanya sang sutee,
adik seperguruan itu, menyadari dengan cepat
kecerobohannya itu.
“Maafkan kami harus berangkat lagi…..terima kasih atas
keterangan kalian..!” kata sang sutee itu sambil ingin memutar
tubuhnya.
Tetapi Phang Kui In telah terkejut sekali waktu mendengar
orang yang ingin ditangkap lhama merah itu seorang tokoh

persilatan dan memiliki she Yo, maka dia jadi tegang
sendirinya.
Melihat orang itu ingin membalikkan tubuh, Phang Kui In
cepat2 berteriak memanggilnya : ,,Taisu, apakah boleh aku
bertanya sedikit ?”
Lhama itu batal membalikkan tubuhnya, sambil tersenyum
dia lalu berkala . „Omitohud ! Tanyakanlah ! Jika memang aku
mengetahui, tentu aku akan memberitahukannya…!”.
Phang Kui In jadi ragu2 sejenak, tetapi kemudian dia telah
berkata lagi :
“Tadi Taisu mengatakan orang yang Taisu cari itu she Yo
…. apakah yang dimaksudkan oleh Taysu adalah Sin Tiauw
Tiahiap Yo Ko ?” „Tepat !” berseru pendeta itu .
„Sutee …. !” tiba2 sikakak seperguruannya, yaitu hweshio
lhama yang seorangnya lagi, telah membentaknya dan sang
Sute jadi tersadar dengan cepat, dia telah menahan kata2
lainnya yang baru saja ingin diucapkannya .
„Maafkan aku harus meninggalkan kalian …. !” kata
pendeta itu kemudian sambil membalikan tubuhnya.
Sedangkan sang suheng, kakak seperguruan itu, telah melirik
sedikit kepada Phang Kui In, Yo Him dan Kwee Siang
bergantian, lalu tanpa memperlihatkan muka manis, dia telah
memutar tubuhnya dan lenyap dibalik ruangan kapal itu.
Phang Kui In masih berdiri tegak ditempatnya, tampaknya
dia tegang sekali.
Yo Him telah menarik ujung bajunya.
„Paman Phang .” panggilnya,
“Apakah mereka sedang mancari ayah untuk
menangkapnya ? Apa kesalahan ayahku itu ?”
„Aku sendiri belum mengetahui apa sebabnya…memang
didalam rimba persilatan terdapat banyak sekali peristiwa2

yang membingungkan. Maka kita harus mengikuti mereka,
yang pasti mereka itu memusuhi ayahmu, yaitu Sin Tiauw
Taihiap Yo Ko…!”
Yo Him jadi gelisah.
„Kita harus mengikuti mereka, Phang Susiok !! “ katanya
kemudian.
“Ya, kita ikuti saja mereka, kita lihat saja nanti apa yang
hendak mereka lakukan dengan menangkap ayahmu itu !
Tetapi terus terang saja kusampaikan sekarang kepadamu,
bahwa kepandaian kedua lhama tadi, mungkin di dalam kapal
itu masih banyak lhama lainnya, adalah manusia2 yang
memiliki kepandaian sangat tinggi sekali…karena dari Persia
mereka berani datang ke daratan Tionggoan untuk mencari
ayahmu berarti mereka memiliki kepandaian yang tinggi
sekali…! Waktu aku mengantarkan engkau dan akhirnya kita
bentrok dengan pihak Tiauw-pang yang mengakibatkan kita
terdampar dipulaunya Lie Bun Hap, sesungguhnya Sin Tiauw
Taihiap tengah sibuk untuk mencari musuhnya yang telah
mencelakai ibumu, yaitu Siauw Liong Lie…!”
“ibuku dicelakai orang ? Siapa orang itu paman Phang ?”
tanya Yo Him dengan kaget.
“Orang yang menjadi biang keladinya adalah Tiat To Hoat
ong maka Sin Tiauw Taihiap bermaksud menangkap Tiat To
Hoat Ong untuk membalas sakit hatinya itu…. !”
Tiba2 Yo Him jadi menangis keras sekali dia jadi berduka
bukan main.
Kwee Siang jadi sibuk membujuknya.
Setelah puas menangis, Yo Hirn mengangkat kepalanya, dia
telah memandang kepada Phang Kui In dengan mata yang
merah basah.

“Paman Phang, katakanlah terus terang ibuku dicelakai Tiat
To Hoat-ong itu, lalu apakah dia hanya dilukai atau memang
telah terbinasa…..!”
“Inilah yang sulit untuk dikata juga, karena ibumu waktu
bertempur dengan Tiat To Hoat Ong, disaat itu kau baru
dilahirkan berusia diantara lima puluh hari….. dan ibumu
dikeroyok oleh Tiat To Hoat Ong bersama kawan2nya,
sehingga ibumu terdesak, akhirnya ketika tiba di tepi jurang,
karena sudah tidak ada jalan lain, terpaksa ibumu melompat
masuk kejurang dipegunungan Kun Lun San …. karena ibumu
tidak mau terjatuh ditangan musuh, yang tentu akan
menyiksanya !” Mendengar cerita Phang Kui In, kembali Yo
Him jadi menangis sedih.
Setelah tangisnya mereda, dia bertanya lagi :
“Lalu ayah tidak mengambil tindakan apa2 ?”
„Waktu itu ibumu diculik terpisah dari ayah mu sehingga
ayahmu sulit sekali mencari jejak penculik ibumu. Maka dari
itu, sampai sekarang ini mungkin ayahmu masih sibuk men
cari2 Tiat To Hoat ong.”
„Dan pendeta lhama merah itu juga musuh ayah ?” tanya
Yo Him lagi.
“Dilihat dari cara dan sikap mereka waktu menyebut nama
ayahmu, kemungkinan besar mereka itu lawan2 ayahmu juga
. . . . “
“Kalau begitu kita ikuti saja mereka ….!” kala Yo Him.
„Memang, akupun bermaksud untuk mengikuti mereka
siapa tahu lebih mengetahui dimana beradanya ayahmu !”
menyahuti Phang Kui In.
„Akupun berpikir begitu,” kata Kwee Siang menyetujui juga
untuk mengikuti rombongan lhama merah itu.
Kapal kedua lhama merah itu berlayar dengan cepat.

Sedangkan Phang Kui In mengikuti dari kejauhan saja.
Setelah berlayar dua hari lagi, tampaklah dihadapan mereka
daratan.
„Itulah pelabuhan kota Kong-nam, kemungkinan besar
rombongan lhama merah itu akan berlabuh disitu ……!”
menjelaskan Phang Kui in.
Dan terkaan Phang Kui In memang tidak meleset….. kedua
kapal rombongan lhama merah yang mengaku bekerja pada
raja Persia itu telah berlabuh.
Phang Kui In juga telah melabuhkan kapaklnya, setelah itu
mereka bertiga turun dari kapal.
Rombongan lhama merah itu ternyata ber jumlah sangat
banyak sekali, karena yang turun kedarat saja meliputi jumlah
sampai empat puluh orang, suara mereka berisik sekali karena
semuanya mengenakan jubah warna merah, dengan
sendirinya menarik banyak per hatian penduduk kota itu.
Sedangkan yang tinggal dikapal masih berjumlah sangat
banyak, berdiri dipinggir kapal mereka sambil melambai2kan
tangan.
Jumlah mereka keseluruhannya mungkin meliputi seratus
orang lebih.
Dirombongan lhama merah yang turun kedarat itu, tampak
seorang lhama berpakaian jubah putih. Dengan mengenakan
jubah putih maka dia lebih menarik perhatian dari ketiga puluh
sembilan lhama lainnya. Rupanya lhama berjubah putih itu
adalah seorang lhama yang menjadi pemimpin mereka.
Dan apa yang diduga oleh Phang Kui In benar adanya,
ketiga puluh sembilan orang lhama merah telah berbaris dan
lhama berbaju putih itu telah berkata “kita membagi diri
masing2 dua orang. Kita menyebar keseluruh kota ini, dan jika
ada salah seorang diantara kita melihat si buntung she Yo itu
dia harus memberikan isyarat dengan panah api !”

Ketiga puluh sembilan lhama itu telah mengiyakan dan
memencar membagi diri. Mereka ber dua2 memisahkan diri,
menyabar keseluruh kota itu.
Lhama putih yang menjadi pemimpin mereka telah
melakukan penyelidikan bersama seorang Lhama merah
lainnya.
Phang Kui In mengajak Yo Him dan Kwee Siang untuk
mengikuti Lhama berjubah putih itu, karena sebagai pemimpin
dari Lhama merah itu, tentu dia akan lebih banyak mengetahui
segala hal. Dan laporan anak buahnya itu tentu akan jatuh
pada dirinya,
Sedangkan Lhama berjubah putih itu dan seorang Lhama
merah, tidak menyadari bahwa mereka tengah dikuntit karena
Phang Kui In mengikutinya dengan hati2 dan jarak terpisah
cukup jauh.
Lhama merah yang berjalan dengan Lhama putih itu.
adalah Lhama yang diatas kapal ditengah laut Waktu bertemu
dengan Phang Kui in. dipanggil sebagai suheng, Dia
merupakan seorang Lhama merah yang pendiam dan selama
jalan dengan pemimpinnya itu. dia tidak banyak bicara.
Ketika mereka tiba dimuka sebuah rumah makan, kedua
Lhama itu telah memasuki rumah makan itu. Mereka
memesan teh dan sayur2 tidak berjiwa. Kemudian mereka
bersantap dengan lahap.
Selesai makan si lhama jubah putih telah memanggil
pelayan rumah makan itu, dia telah memberikan uang seberat
lima tail perak. kemudian dia bertanya: ” Apakah engkau
pernah melihat seorang lelaki berusia diantara tiga puluh
tahun lebih dengan lengan kanannya yang buntung ?”
Pelayan itu seperti ber pikir2, sedangkan sesungguhnya
hati pelayan itu tengah kegirangan karena telah memperoleh
hadiah yang demikian besar, belum pernah dia mengalami
menerima hadiah dari tamu sebesar itu.

“Cepat katakan, kau pernah melihat atau tidak ?” tanya
lhama jubah putih itu tidak sabar.
Sipelayan telah tersenyum menyeringai: “Begini Taisu,
orang yang lengan kanannya buntung memang banyak sekali,
hampir setiap hari kami menerima kunjungan dari orang2
seperti itu dan aku mana mengetahui orang buntung yang
mana telah dicari oleh Taisuhu ?”
Tampak pendeta jubah putih itu telah meng geleng2kan
kepalanya perlahan rupanya dia mendongkol berurusan
dengan pelayan ini yang tampaknya agak licik.
,,Yang kami cari itu adalah Sin Tiauw Taihiap Yo Ko !” kata
si lhama jubah merah dengan jengkel.
,,Sin Tiauw Taihiap Yo Ko ? Ah, baru saja kurang lebih satu
jam yang lalu dia meninggalkan rumah makan kami ini, tadi
dia bersantap disini !!” kata sipelayan rumah makan itu
dengan gembira.
Kedua pendeta itu melompat berdiri, mereka tampaknya
tidak berselera untuk makan lagi.
“Cepat katakan, kearah mana perginya si buntung itu?”
tanya si lhama putih.
„Tadi Sin Tiauw Taihiap Yo Ko mengambil jalan yang
menuju kebarat.. !” menjelaskan si pelayan.
Pendeta Lhama putih itu cepat2 memutar tubuhnya untuk
berlalu.
Tetapi pendeta lhama merah telah menahannya.
„Tunggu dulu…!” kata lhama merah itu. „Kita belum
menanyakan kepadanya mengapa dia bisa mengetahui bahwa
itu adalah Sin Tiauw Taihiap Yo Ko. bukankah keadaan
demikian sangat aneh sekali ?”
Lhama jubah putih itu rupanya baru tersadar, dia cepat2
menahan langkah kakinya, dia menoleh kepada pelayan itu,

katanya dengan muka yang bengis : ,,Engkau jangan
berdusta, benar atau tidak engkau bertemu dengan Sin Tiauw
Taihiap. Mengapa engkau mengetahui orang itu Sin Tiauw
Taihiap…?”
Pelayan itu jadi ketakutan melihat sikap sipendeta dia
sampai mundur kebelakang, kemudian dengan suara ter-bata2
dia telah berkata gugup „Aku…aku memang mengetahui dia
adalah Sin Tiauw Taihiap. yang tangan kanannya telah
buntung itu…!”
Mendengar jawaban pelayan itu, tentu saja kedua lhama
tersebut jadi tambah curiga. Dia telah berkata lagi dengan
sikap yang lebih bengis : „Engkau jangan berbohong kepada
kami, jika memang tidak kenal engkau bilang tidak kenal, jika
tidak engkau harus berlaku jujur mengatakan tidak ! Nah.
cobalah bagaimana roman muka dan tubuh Sin Tiauw
Taihiap..”
„Sin Tiauw Taihiap ?” tanya sipelayan tampaknya semakin
gugup. „Tangan kanannya buntung, tubuhnya pendek gemuk
dan gesit, hidungnya besar … matanya bersinar tajam dan
…dan…dan.. .”
„Plaakkk! Plookkk !”‘ dua kali muka pelayan yang
tampaknya sedang berpikir itu di tempeleng oleh si lhama
putih.
,,Ngaco belo kau !! ” bentak si lhama putih. ,,Sekali lagi jika
dilain waktu engkau membohongi kami seperti sakarang,
kepalamu akan kami pukul pecah !”
Pelayan itu ter-aduh2, akhirnya dia mengatakan sambil
meringis kesakitan. ..Aku .aku memang tidak tahu siapa itu Sin
Tiauw Tai-hiap adanya, hanya tadi Taisuhu menyebutkannya
Sin Tiauw Taihiap Yo Ko maka aku bermaksud untuk membuat
engkau bergembira, Taisuhu..!”
„Kurang ajar kau !” kata pendeta itu dengan suara
mendongkol.

Kedua pendeta itu tidak jadi meninggalkan rumah makan
dan melanjutkan makan mereka.
Phang Kui In, Yo Him dan Kwee Siang yang mengintai serta
menyaksikan semua kejadian itu jadi tersenyum geli
sendirinya.
Setelah kenyang bersantap, kedua pendeta itu telah
meninggalkan rumah makan dan menyusuri jalan demi jalan,
dia menanyakan kepada orang2 yang kebetulan berpapasan
dengan mereka mengenai Sin Tiauw Taihiap Yo Ko.
Tetapi semua yang ditanyakannya itu tidak seorangpun
tahu siapa itu Sin Tiauw Ta-hiap,
„Aneh sekali !” menggumam lhama putih itu. „Kita terakhir
kali sebulan yang lalu menerima berita dari mata2 kita bahwa
Sin Tiauw Taihiap Yo Ko berada dikota ini! Tetapi sekarang
tidak seorangpun yang mengetahui akan diri pendekar
Rajawali Sakti itu.”
„Kita cari saja per-lahan2. tentu akan dapat kita temui
jejaknya terlebih lagi kita datang dalam jumlah yarg banyak,
seratus dua puluh jago, mana bisa dia meloloskan diri dari kita
lagi.. ..?” nada suara dari lhama merah itu angkuh sekali.
Sedangkan si Lhama pulih itu telah men dengus dingin,
katanya: „Hemm,. kalau bisa ditemukan jejaknya kalau tidak?
Kita yang celaka! Bukankah kita telah dipesan berulang kali
oleh baginda raja, agar berusaha menangkapnya hidup2 dan
membawanya ke Persia.. !”
„Benar ! Tetapi sesungguhnya di Persia tidak kurang tenaga
yang memiliki kepandaian tinggi seperti dia, mengapa baginda
Raja justru menghendaki dia juga yang memimpin dan
membimbing Bengkauw ?”
„Aku sendiri tidak mengetahui apa sebabnya !” menyahuti
Lhama jubah putih itu.

„Sebetulnya kepandaian Sin Tiauw Taihiap belum tentu bisa
menindih kepandaian kita” kata lhama merah itu. Tampaknya
penasaran sekali.
„Namun kita harus melaksanakan perintah Baginda Raja
sebaik mungkin .. !” kata lhama jubah putih itu.
“Ya, memang benar apa yang kau katakan itu, tetapi
didalam persoalan ini kita harus menguji dulu kepandaian dari
sitangan buntung itu !” rupanya lhama merah itu masih
penasaran sekali.
Lhama putih itu telah mengangguk saja, tanpa memberikan
komentar lagi.
Phang Kui In bertiga yang mendengar pembicaraan itu jadi
terkejut.
“Jadi orang2 dari Persia ini ingin menangkap Yo Ko untuk di
serahi menjadi pemimpin dari golongan Bengkauw. Hal ini
agak luar biasa karena lhama itu datang dalam jumlah yang
sangat banyak sekali maka Yo Him bertiga berkuatir kalau2
nanti ayahnya itu dianiaya dan diperlakukan tidak baik oleh
lhama ini.
Waktu itulah tampak si lhama putih telah mengangkat
kepalanya sambil berseru „Lihat ! Itu tanda dari kawan kita,
panah api bersuara….!”
Lhama merah itu juga telah menoleh dan memandang
kearah yang ditunjuk oleh lhama putih itu. Diapun telah
melihat panah api yang bersuara itu.
Dalam keadaan demikian, mereka sudah tidak berpikir apa2
lagi, karena dengan adanya tanda panah api itu tentu
kawan2 mereka yang melepaskan tanda rahasia itu berhasil
menemui jejak Yo Ko.
Cepat seperti terbang kedua pendeta itu telah ber-lari2
kearah barat, dari mana panah api terlihat. Setelah berlari

sesaat lamanya mereka telah tiba di sebuah tanah lapang
yang luas, yang hanya ditumbuhi rumput2 hijau.
Ditengah tanah lapang itu tampak dua orang Lhama merah
sedang berdiri tegak mengawasi kearah segundukan tanah
kuburan yang belum lagi kering masih merah.
Lhama putih dan kawatnya dengan cepat menghampiri.
„Mana dia sibuntung itu?” tanya lhama pulih dengan mata
yang memandang kesekelilingnya.
Kedua lhama merah itu telah berkata sambil menunjuk
kekuburan itu. „Dia berada didalam kuburan itu. Tadi kami
secara kebetulan melihat nya disebuah jalan dalam kota. kami
mengikutinya. Dan dia menuju kemari lalu memegang batu
nisan itu (bongpai) permukaan kuburan itu terbuka dan dia
masuk kedalamnya….Waktu kami memburu kemari ternyata
kuburan itu telah tertutup kembali. Kami tidak berani lancang
untuk membukanya, maka dari itu kami melepaskan anak
panah itu untuk memanggil kawan2…..”
Waktu dia berkata sampai disitu, lhima-lhama lainnya telah
tiba disitu.
lhama putih itu menunjuk kepada kuburan itu tanpa
mengucapkan sepatah katapun juga. dia telah menghampiri
dan me megang2 Bongpai kuburan itu.
Di cari2nya alat rahasia yang bisa membuka kuburan itu.
tetapi tidak ada sesuatu yang mencurigakan dan tidak ada
tanda2 alat rahasia.
Saking kesal dan jengkelnya, tampak lhama ber jubah putih
itu merah padam mukanya Tetapi akhirnya dia memperoleh
suatu akal, dia telah berjalan menjauhi kuburan itu kemudian
melambaikan tangannya memanggil lhama2 yang lainnya.
Setelah mereka berkumpul, lharna putih itu berkata kita
duduk bersemadhi mengurung kuburan itu untuk menunggu si
buntung keluar dari dalam kuburan … “

Semua lhama merah itu mengiyakan lalu dengan hati2 dan
langkah kaki yang perlahan agar tidak menimbulkan suara
mereka duduk mengelilingi kuburan itu mengambil sikap
mengurung.
Seandainya kuburan itu terbuka dan Sin Tiauw Taihiap
yang tengah mereka cari2 itu keluar dari sebelah kanan,
keadaan disitu telah dikepung, begitu pula dari arah lain.
Dengan demikian tidak mungkin orang yang mereka cari itu
akan dapat meloloskan diri….!
Lhama itu dengan sabar telah bersemadhi mengurung
kuburan itu, sampai menjelang malam kuburan itu belum juga
terbuka.
Si lhama putih telah tidak sabar, katanya kepada lhama
merah yang ada disampingnya.
„Apakah kita gempur saja kuburan itu lalu menerjang
masuk….?” katanya mengemukakan sarannya.
Tetapi lhama merah itu menggeleng sambil katanya: ,,Dia
memiliki kepandaian yang tinggi jika kita yang menerjang
kedalam, kita rugi keadaan, karena dengan ruangan yang
sempit tentu dia bisa memberikan perlawanan yang gagah dan
leluasa, tetapi kita ditempat yang sempit tentu saja tidak bisa
mengeroyoknya dengan jumlah banyak.”
„Benar juga perkataanmu itu, “kata lhama putih sambil
menggangguk. „Biarlah kita menantikan saja dia keluar, disaat
itu barulah kita melancarkan serangan kepadanya….”
Begitulah dengan sabar para lhama itu telah menantikan
munculnya orang yang tengah dicari.
Tetapi Sin Tiauw Taihiap Yo Ko masih juga belum muncul2.
Malam telah larut, menjelang tengah malam, tiba2 batu
bongpai itu bergerak perlahan.

Si lhama putih dan ketiga puluh sembilan kawannya,
lhama2 merah jadi tegang sendirinya. Mata mereka telah
terbuka lebar2 mengawasi kearah kuburan itu. .
Disaat itu, tampak batu nisan tersebut telah bergerak lebih
keras, disusul dengan suara ‘plakkk’ dan kuburan itu seperti
terbelah dua.
Rupanya kuburan itu merupakan kuburan rahasia yang
memiliki pintu untuk keluar masuk.
Dari dalam kuburan itu kemudian tampak me!ompat keluar
sesosok tubuh dengan gerakan yang ringan sekali. Orang itu
memakai jubah putih, tangan kanannya kosong dimana
jubahnya ber-goyang2 lemas tertiup angin malam. Dialah Sin
Tiauw Taihiap Yo Ko, yang tengah mereka cari !
Yo Ko sendiri jadi bingung juga, karena begitu dia
melompat keluar, dia melihat empat puluh pendeta itu
mengambil posisi mengurung padanya. Sedangkan dia sendiri
tidak mengetahui apa maksud dari pendeta2 asing itu
mengurung dirinya.
Lhama jubah putih telah melompat berdiri, dan berkata
dengan suara yang dingin : „Engkaulah yang bernama Yo Ko
?”
Yo Ko diam sejenak tidak menyahut , sampai akhirnya dia
telah berkata : „Benar , . . aku she Yo dan bernama Ko”.
„Dan engkau yang bergelar Sin Tiauw Taihiap ?” tanya
lhama putih itu.
Yo Ko cepat2 merangkapkan tangannya memberi hormat,
sampai akhirnya. dia telah berkata : „Tidak berani aku
memakai gelar itu, jika orang2 menyebut demikian tentunya
hanya bergurau saja . . . !” kata Yo Ko merendah.
„Hemm, kami datang dari luar lautan, dari Persia. Kami
telah lama mendengar. nama besarmu yang terkenal itu sama
dengan kepandaianmu……!!” setelah berkata begitu, Lhama

putih itu membungkukkan tubuhnya seperti juga ingin
memberi hormat, tetapi sesungguhnya dari kedua tangannya
itu telah meluncur keluar tenaga yang sangat kuat sekali, yang
langsung menyerang kearah Yo Ko.
Yo Ko tidak terkejut diserang begitu, dia telah tertawa
sambil katanya kemudian: “Jangan main2 Taisu !”
„Aku bukan sedang main2 dengan kau ! Kami bersungguh2.
Lihatlah, kami dari tempat yang jauh telah datang
kemari, untuk melihat berapa tinggikah kepandaian yang
engkau miliki…!”
Selesai berkata, Lhama putih itu telah menjulurkan tangan
kanannya, dia bermaksud untuk mencengkeram dada Yo Ko.
„Tunggu dulu, Taisu..!” kata Yo Ko sambil mengelakkan
serangan itu.
„Tunggu apa lagi Keluarkan kepandaianmu !” bentak si
lhama putih.
Yo Ko jadi mendongkol juga, orang telah melancarkan
serangan berulang kali kepadanya, dan serangan2 si lhama
putih itu meiupakan serangan2 yang mematikan, maka Yo Ko
bermaksud untuk men-coba2 beberapa jurus bertempur
dengan lhama putih yang galak ini.
Begitu lhama putih itu melancarkan serangan dengan Siang
Cie Tian Hoat (totokan sepasang jari), tampak telah
mengeluarkan suara siulan dan mengebaskan lengan jubah
tangan kanannya yang kosong, karena tangan kanannya itu
buntung, tampak lengan baju itu telah melibat lengan kanan
dari lawannya, sekali saja Yo Ko menarik dan menghentaknya,
maka pendeta lhama putih itu jadi terkejut dan dengan tangan
kirinya dia menyerang akan menotok biji mata Yo Ko.
Yo Ko melepaskan libatan lengan jubahnya sambil
melompat kebelakang.

„Cukup !” kata Yo Ko. „Kepandaianmu tinggi sekali, taysu,
percuma engkau mempertaruhkan jiwa hanya untuk urusan
kecil seperti itu, yaitu hanya soal nama saja dan tempat yang
jauh taysu ramai2 telah melakukan perjalanan yang panjang
untuk melihat dan menentukan siapa yang lebih tinggi
kepandaian nya diantara kita ! Bukankah itu merupakan hal
yang sangat lucu sekali ?”
Tetapi Lhama puiih itu telah berkata dengan suara yang
dingin :
„Aku datang kemari dengan membawa firman dari raja
kami …. tetapi sebelumnya kami ingin membuktikan diri
benarkah engkau ini seorang jago besar dijaman ini ! Nah
terimalah seranganku . . . !” Dan setelah berkata begitu
dengan cepat sekali tampak Lhama putih itu telah
menggerakkan tangan kanannya, angin serangannya itu
berdesir menerjang kearah Yo Ko.
Tetapi Yo Ko mana bisa digertak dengan serangan seperti
itu, sambil berseru keras dia mengibaskan lengan tangan
kanannya yang buntung itu dan juga tangan kirinya telah
bergerak menampar pergelangan tangan lawannya.
„Aduhhh ! Aduhhh !” Lhama putih itu jadi menjerit
kesakitan, sambil menarik pulang tangannya dia melompat
mundur kebelakang. tangan kirinya telah memegangi dan
menguruti pergelangan tangannya yang dirasakan demikian
sakit.
Ketiga puluh sembilan lhama merah lainnya jadi terkejut
sekali melihat pemimpin mereka kena dibuat celaka oleh Yo
Ko.
Dengan cepat cepat mereka memencar diri mengurung Yo
Ko, mereka masing2 telah mencabut sebatang pedang pendek
yang tadinya mereka sisipkan di pinggang.
Melihat Lhama merah yang memiliki kepandaian tentunya
tidak rendah itu telah mulai mengurung dirinya, Yo Ko bingung

juga karena walaupun bagaimana dengan dikepung ber-lapis2
oleh keempat puluh Lhama itu tidak mudah dia bisa
meloloskan diri.
Tetapi Yo Ko memiliki kepandaian yang benar2 telah
sempurna, dia bisa mempergunakan tangan kirinya yang
tunggal itu sebaik mungkin.
Melihat dirinya dikepung begitu rapat. Yo Ko tidak menjadi
jeri, dia hanya memikirkan betapa lamanya dia harus
membuang tenaga dan waktunya untuk menghadapi
lawan2nya yang berjumlah banyak dan tampaknya rata2
memiliki kepandaian cukup tinggi.
Saat itu pendeta jubah putih itu telah berkurang rasa sakit
pada pergelangan tangannya, dia telah melangkah maju
sambil ber seru:
,,Hari ini aku ingin mengadu jiwa dengan kau ! Jika aku
belum dapat kau binasakan, aku akan terus menyerang
kepadamu ! Kata2 itu diucapkan dengan suara yang bengis,
sekali diapun telah menjejakan kaki kanannya, tubuhnya
meloncat cukup tinggi, waktu tubuh nya melambung ketengah
udara itu, tampak lhama putih itu telah mengulurkan tangan
kirinya menerjang Yo Ko, sedangkan tangan kanannya meraba
pinggangnya, kemudian dengan cepat ditangan kanannya itu
telah mencekal sebatang pedang pendek yang terus
ditikamkan kearah tenggorokan Yo Ko.
Yo Ko juga terkejut melihat cara menyerang pendeta itu
yang tampaknya nekad sekali Dia mengeluarkan suara siulan
nyaring, dengan kaki tunggal, yaitu dengan gerakan ,,Kim Kee
Tok Pit” atau “Ayam Emas Berdiri Di kaki Tunggal”, dia telah
memutar tubuhnya, dan waktu pedang lawan lewat disamping
lehernya Yo Ko mengulurkan tangan kirinya dia telah
menyentil pedang itu !

Hebat kesudahannya dari sentilan itu karena pedang
lawannya tergetar seperti juga akan terlepas dari cekalan
tangan lhama putih itu.
Lhama putih itu jeri sekali karena dia merasakan telapak
tangannya itu pedih bukan main akibat getaran sentilan
tangan lawannya.
Ketiga puluh sembilan lhama merah yang menjadi anak
buah lhama putih itu telah mengeluarkan suara seruan yang
disusul dengan serangan pedang mereka masing2.
Menghadapi lawan yang demikian banyak dan melancarkan
serangan ber tubi2 kearah dirinya, Yo Ko kuatir juga, Karena
tidak mungkin dengan tangan kiri tunggalnya dia menghalau
sekaligus pedang2 yang tengah menyambar kedirinya. Maka
jalan satu2nya Yo Ko telah menjejakan kakinya, tubuhnya
meloncat sejauh lima tombak itulah kegesitannya yang jarang
sekali dimiliki orang2 rimba persilatan masa kini,
Keempat puluh orang lhama itu tampak merasa kagum
juga melihat ginkang Yo Ko yang telah mencapai tingkat
begitu tinggi dan sempurna.
Yo Ko bukan hanya sekedar melompat ke atas saja, dia
telah mengeluarkan kepandaiannya. Tangan kirinya bergerak
kesekeliling tubuhnya, untuk melakukan totokan2 yang gencar
kediri lhama2 itu. Itulah salah satu jurus dari It Yang Cie yang
telah dtrobahnya sedemikian rupa, sehingga jadi lebih hebat
dari yang sebenarnya.
„Aduhhh…! Aduhhh ..!” lima orang lhama telah
mengeluarkan suara jeritan tertahan mengandung kesakitan,
dan lhama2 yang lainnya jadi tertegun sejenak, mereka tidak
berani menerjang dulu, karena mereka melihat dengan
mempergunakan satu jari saja Yo Ko bisa merubuhkan kelima
kawan mereka.
Tetapi Lhama putih itu menjadi penasaran sekali, dia telah,
berseru dengan marah: „Hari ini aku akan mengadu jiwa

dengan engkau, buntung….!” dan lhama putih itu tidak hanya
berkata saja. Karena dia telah menggerakkan pedangnya
untuk menikam kearah Yo Ko.
“Tunggu dulu, sabar. Jelaskan dulu mengapa kalian
demikian nekad mencari urusan denganku ? mengapa kalian
memusuhi aku, sedangkan kita tidak pernah saling bertemu ?”
“Jangan banyak bertanya, terimalah serangan !”
Dan pedang lhama putih telah meluncur terus akan
menikam bahu Yo Ko.
Tetapi semua serangan lhama itu dihadapi dengan baik
oleh Yo Ko menggerak-gerakkan tangan kirinya dengan jurusjurus
It Yang Cie, dan juga lengan baju kanannya yang
kosong itu di-kibas2kannya pula kesegala penjuru. Kibasan
lengan jubah itu bukan kibasan sembarangan, karena
mengandung kekuatan yang sangat tinggi sekali, yaitu disaluri
lwekang yang tangguh, maka jika ada lawan yang terkena
sabetan lengan tangan baju Yo Ko, tentu orang itu akan
tergempur hebat seperti dihantam lempengan besi.
Karena melihat lhama2 itu merupakan rombongan manusia
yang sulit diajak bicara, kali ini Yo Ko juga tidak bersikap
segan2 lagi, dia mempergunakan lwekangnya, yang telah
dilatih mencapai puncaknya, untuk menghadapi semua
serangan yang dilakukan lawan2 nya itu.
Si Lhama putih yang saat itu sedang kalap, kembali dia
melancarkan serangan dengan jurus “Dewi Manyajikan Arak
Untuk Sang Buddha”, maka pedangnya meluncur pesat tanpa
memikirkan keselamatan dirinya lagi ! Yo Ko heran melihat
kenekadan pendeta itu. Pendeta2 yang mengurung dirinya
umumnya merupakan jago2 yang melatih ilmu Yoga.
————————————-
========

Yo Ko juga cepat menjura memberi hormat.
Jangan berkata begitu taysu. Didalam dunia ini tidak ada
perkataan tinggi dan rendah. Setiap orang yang mempelajari
ilmu silat, tidak boleh sekali2 merasakan dirinya telah
mencapai puncaknya. Karena jika dia berpikir begitu niscaya
akan menyebabkan orang tersebut tidak mengalami kemajuan
lagi ..! orang yang memiliki kepandaian tinggi, tentu akan ada
yang lebih tinggi lagi, dan begitupun seterusnya…!”
Lhama putih itu telah menjura lagi, katanya : “Omitohud !
Pinceng benar2 merasa kagum dan tunduk ! terima kasih atas
nasehat taihiap !”
Setelah berkata begitu lhama putih itu mengibaskan tangan
kirinya memberi isyarat kepada kawan2nya, agar menyimpan
pedang mereka. Kemudian ketiga puluh sembilan orang lhama
merah itu menekuk satu kaki mereka berlutut dihadapan Yo
Ko. Begitu juga dengan lhama putih. Telah berlutut dengan
kaki satu, sehingga membuat Yo Ko tambah bingung saja.
“Taihiap baginda Raja telah berpesan agar dengan cara
apapun, aku harus dapat mengundang Taihiap..,.jika kami
gagal, tentu kami akan menerima hukuman yang sangat berat
dari raja kami….”
Yo Ko tersenyum sabar.
„Kembalilah kenegerimu dan ceritakanlah yang sebenarnya,
tentu rajamu itu akan mau mengerti dan juga akan
mengampuni kalian. Aku berjanji, begitu urusanku didaratan
Tiong goan ini selesai, aku segera akan berkunjung ke Persia “
„Tetapi Taihiap,….”
„Menyesal sekali aku tengah mengejar musuh yang telah
menculik isteriku, tentunya Taisu semua mau mengerti
kesulitanku ini!”

„Hmm” tiba2 Lhama putih itu telah mem perlihatkan sikap
ber sungguh2. “Jika Taihiap menolak undangan kami ini,
berarti kami terpaksa harus mengadu jiwa denganmu….karena
jika kami pulang dengan tangan kosong, itupun percuma saja
..berarti kami akan menerima hukuman mati . . dan lebih baik
kami mempertaruhkan jiwa kami disini saja . . !!!”
Yo Ko tersenyum sabar, dia telah berkata dengan suara
menghibur : „Kepandaian para taysu memang sangat tinggi,
mungkin dalam satu dua jurus aku bisa bertahan dari
serangan2 kalian. tetapi setelah itu dengan mudah aku tentu
dapat dirubuhkan kalian.
Itulah kata2 yang merendah dari Sin Tiauw Taihiap.
walaupun sekarang ini dia terhitung sebagai pendekar super
sakti yang tiada lawannya tokh dia masih membawa sikap
yang manis tidak takabur atau congkak.
Rombongan lhama itu jadi malu sendirinya, tetapi mereka
serba salah, mundur tidak bisa maju pun tidak dapat. Jika
mereka mengundurkan diri dan kembali ke Persia dengan
tangan kosong, selain akan menderita malu juga mereka
tentunya akan menerima hukuman dari raja mereka. Tetapi
jika maju untuk menempur Yo Ko, jelas pula mereka tidak
memiliki kesanggupan sampai kearah itu, tentu dalam
beberapa jurus saja mereka akan dapat dirubuhkan oleh
pendekar super sakti itu, hampir tidak bisa diterima oleh akal
sehat !
„Taihiap. . apakah sungguh2 Taihiap tidak bisa ikut
bersama kami ke Persia?” tanya lhama putih itu kemudian.
„Orang yang menculik isteriku itu merupakan jago dari
Mongolia bergelar Tiat To Hoat ong. Dan aku sungguh2
menyesal harus mengecewakan kalian Taysu, memang
sesungguhnya aku tidak bisa ikut disaat seperti sekarang ini.
Tolong sampaikan salamku kepada raja kalian, dan percayalah
dalam satu atau dua tahun mendatang, jika urusanku telah
selesai, aku akan berangkat ke Persia untuk menghunjuk

hormat kepada raja kalian, dan juga untuk mengunjungi kalian
agar kita bisa bertukar pikiran.”
Lhama putih itu ragu2 sejenak, tetapi a-khirnya dia
mengangguk juga. Memaksa Sih Tiauw Taihiap ikut mereka ke
Persia sama saja dergan melakukan pekerjaan yang sia2,
walaupun bagaimana tidak mungkin mereka bisa menandingi
kepandaian Sin Tiauw Taihiap.
„Baiklah Taihiap…nanti kami menantikan kedatangan
Taihiap, dan kunjungan Taihiap
========
========
Dengan Kwee Siang, gadis ini seperti sudah tidak sabar lagi
dan hendak keluar dari tempat persembunyiannya. Namun
Phang Kui In telah memberikan isyarat agar mereka menahan
perasaan mereka, karena disaat itu masih terdapat keempat
puluh pendeta yang menjadi utusan raja Persia itu, tentu bisa
menimbulkan urusan lainnya. Kwee Siang dan Yo Him
menuruti isyarat Phang Kui In. Mereka telah berdiam diri
memandang kearah Yo Ko dengan mata ber kaca2 sedangkan
tubuh Kwee Siang sering menggigil karena begitu girang
terharu dan berduka, bermacam2 perasaan berkecamuk
didalam hati gadis itu.
Sekarang setelah Yo Ko berkata begitu, Yo Him dan Kwee
Siang tidak bisa menahan perasaannya juga, mereka telah
melompat keluar dari tempat persembunyiannya.
“Ayah… !” berseru Yo Him dengan suara yang nyaring, dan
menjatuhkan diri berlutut dikaki Yo Ko sambil menangis ter
isak2.
Sedangkan Kwee Siang dengan terharu juga telah berseru

,,Engko Yo !” dan gadis itu sudah tidak bisa ber-kata2 lebih
lanjut, karena air matanya telah mengucur deras sekali.
Yo Ko jadi berdiri tertegun melihat Yo Him berlutut
dihadapannya, seorang pemuda tanggung yang mungkin baru
berusia lima atau enam belas tahun. Dia tidak mengenali
pemuda ini, tetapi pemuda yang tidak dikenalnya itu telah
memanggil dia dengan sebutan “Ayah!”, keruan saja Yo Ko
jadi berdiri ter mangu seperti sedang bermimpi.
Dan yang lebih menakjubkan hatinya dicampur perasaan
heran, dia melihat Kwee Siang yang muncul sambil menangis
terharu juga.
Kemudian tidak lama disusul dengan munculnya Phang Kui
In, yang segera dikenal oleh Yo Ko.
„Adik Siang…kau ada disini ? Dan kau saudara
Phang…mengapa kalian bisa berada ber-sama2 ?” tanya Yo
Ko masih dalam keheranan yang sangat.
Phang Kui In maju mendekati Yo Ko, dia telah
merangkapkan kedua tangannya memberi hormat kepada
pendekar sakti itu.
“Yo enghiong, apakah selama ini kau sehat2 saja ?” tanya
Phang Kui In.
„Terima kasih saudara Phang …tetapi yang membuat aku
jadi heran adalah kalian yang bisa berada ber-sama2 !, Apa
yang terjadi. Dan engko kecil ini telah memanggil aku dengan
sebutan “Ayah!” siapakah anak ini sebenarnya ?”
Phang Kui In tersenyum sambil berkata : Memang mungkin
sudah tiba waktunya kalian dipertemukan oleh Thian, maka
terjadilah peristiwa hari ini ! Tidakkah Yo enghiong
mengetahui siapa adanya engko kecil ini ! Dia bernama
tunggal Him dan she Yo !”

Yo Him,? ah, itulah nama yang sangat bagus sayangnya
aku tidak mengetahui dimana adanya istriku itu mengapa bisa
terjadi demikian kebetulan ?”
“Engko Yo. seharusnya engkau berterima kasih dan
bergirang kepada Phang Enghiong, karena Phang Enghiong
lah yang telah berusaha untuk mempertemukan kalian ayah
dan anak . . Yo Him adalah puteramu yang diperoleh dari
Encie Siauw Liong Lie … !”
,,A . . apa ?” tanya Yo Ko kaget sekali seperti disambar
petir.
„Adik kecil ini….. anakku?,”
Yo Him yang sudah tidak bisa menahan harunya, menangis
meng-gerung2 sambil memeluki kedua kaki Yo Ko.
„Ayah, anakmu menundukan hormat….!” kata Yo Him
diantara isak tangisnya.
Yo Ko segera berjongkok, dia telah memperhatikan Yo Him
sejenak lamanya, dan dia melihat wajah Yo Him mirip dengan
wajah dia seusia Yo Him. Disamping itu mata dan hidungnya
itu mirip dengan Siauw Liong Lie.
“Anakku…,!” tiba2 Yo Ko telah mengulurkan tangan
tunggalnya itu untuk merangkul Yo Him, dan pendekar sakti
yang super itu telah menangis terharu. „Mana ibumu.,..mana
ibumu, nak?”
Sambil menangis Yo Him menceritakan segala apa yang
diingatnya, dia menceritakan dirinya dirawat oleh seekor
burung rajawali yang besar sekali, dan dia tidak mengetahui
dimana adanya sang ibu, karena Yo Him hanya tahu bahwa
dia dibesarkan rajawali itu, sampai akhirnya dia telah
diterbangkpn keatas lembah dan diangkat anak oleh penduduk
dikampung itu.
Mendengar semua itu Yo Ko jadi menghela napas dalam2,
tampaknya dia berduka sekali: „Kasihan ibumu itu nak, dalam

keadaan hamil justru kami menerima cobaan2 yang tidak
ringan, yaitu Tiat To Hoat ong selalu mencari urusan dengan
kami bahkan akhirnya ibumu telah kena diculiknya oleh
pendeta jahat itu “
Setelah berkata begitu. Yo Ko menghela napas berulang
kali dan memandang jauh.
Phang Kui Siang tersenyum terharu, mereka girang melihat
pertemuan ayah dan anak ini, dimana pertemuan ini
merupakan yang per tama kali sejak Yo Him dilahirkan.
Setelah melepaskan rindunya kepada anak kandungnya itu,
Yo Ko menoleh kepada Kwee Slang.
„Adik Siang mengapa kalian bisa ber-sama2 ?” tanyanya,
Kwee Siang menceritakan pengalamannya, dan YoKo jadi
terharu mendengar gadis ini belasan tahun telah berkelana
dalam kalangan Kang ouw hanya sekedar, untuk bertemu
dengan dia dan Siauw Liong Lie.
„Terima kasih atas perhatianmu kepada kami, adik Siang”
kata Yo Ko Kemudian.
Phang Kui In juga menceritakan pengalamannya. Dan
sepasang alis Yo Ko jadi mengkerut dalam2 waktu mendegar
ketua Tiauw Pang yang bernama Ciong Lam Cie itu menawan
mereka bertiga dan hendak menganiaya Yo Him.
„Memang orang she Ciong ini terlalu sekali !” kata Yo Ko
kemudian setelah menghela napas lagi “Dan orang seperti itu
memang harus diberikan pelajaran. Jika tidak tentu orang she
Ciong itu akan melakukan hal2 yang tidak2.
Waktu itulah tampak Phang Kui In melanjutkan ceritanya
pula, dimana dia telah mengatakan bahwa mereka setelah
tertawan oleh orang2 Tiauw Pang itu, mereka berhasil
meloloskan diri dan hanyut terbawa oleh user2 air.

Kembali Yo Ko menghela napas lagi, dia mendengarkan
terus cerita Phang Kui In.
„Setelah kami pingsan tak sadarkan diri. ternyata kami
telah dibawa oleh user2 air itu ketepi pantai sebuah pulau,
disana kami bertemu dengan seorang jago tua yang memiliki
kepandaian tinggi, hanya sayang kedua kakinya bercacad,
sehingga dia tidak bisa bergerak leluasa walaupun
kepandaiannya…..”
„Siapakah jago yang buntung kedua kakinya itu?” tanya Yo
Ko tertarik sekali.
„Dia she Lie, bernama Bun Hap. Dia juga telah mengangkat
Yo Him sebagai muridnya….selama dua tahun kami berdiam
dipulau itu, di mana Yo Him telah meyakinkan ilmu yang
diturunkan Lie Bun Hap Lo-enghiong.”
Yo Ko girang mendengar itu.
„Jadi kepandaian Him-jie telah lumayan, juga?” katanya.
„Baiklah….jika kelak urusan kita telah selesai, yaitu mencari
jejak pembunuh atau penculik dari isteriku itu, maka kita akan
pergi ke Persia untuk memenuhi undangan raja itu, sekarang
kita lebih baik pergi ke Kun Lun San untuk melihat apakah
terdapat tanda2 bahwa istriku itu berada disana .. !”
Mendengar itu Yo Him cepat2 merogoh sakunya, dia
mengeluarkan secarik kain berkembang. Diberikannya kain
putih berkembang itu kepada Yo Ko.
“Ayah .. waktu Sin Tiauw ingin menghabiskan hidupnya
dengan terjun kedalam jurang, sebelumnya dia telah
menunjukkan kepadaku sebuah kuburan kecil yang ketika
kubuka terdapat kain2 ini !”
Yo Ko menerima carikan kain itu dan memperhatikan
sejenak dan diwaktu itulah dalam keadaan hening dan semua
orang membungkam menutup mulut, terdengar isak tangis Yo
Ko.

„Benar.. ini adalah pakaian ibumu, pecahan dari bajunya…
kalau begitu … kalau begitu……ah, Yong jie, engkau telah
mendahului aku ! Walau bagaimana penasaranmu itu harus
dibalas, aku akan mencari Tiat To Hoat ong untuk
mengadakan perhitungan dengan nya.”
Dan setelah berkata begitu tampak Yo Ko mendekap
carikan kain dari baju isterinya itu kedadanya sambil
menanggis keras ter-isak2.
Yo Him bertiga tidak berani ber kata2, mereka hanya
berdiam menundukkan kepalanya saja, diliputi perasaan haru
melihat seorang pendekar sakti Seperti Yo Ko bisa menangis
dengan keras ter-isak2 seperti anak kecil saja.
Setelah puas menangis, tiba2 Yo Ko telah mengeluarkan
suara meraung yang keras dan panjang, sampai sekitar
tempat itu tergetar keras. Yo Him bertiga jadi tambah terkejut,
karena merasakan tubuh masing2 menggigil,
Yo Ko tertawa dengan suara yang sambung menyambung,
dan tiba2 dengan diiringi suara bentakannya, tampak
tubuhnya telah jongkok ditanah dan tangan tunggalnya itu
telah bergerak cepat sekali.
“Siuttt, bukkk !” telapak tangan Yo Ko telah menghantam
batang pohon besar yang terdapat disitu, sehingga
memperdengarkan suara benturan yang keras sekali, disusul
lagi dengan suara ‘krekkk !’ yang nyaring, maka batang pohon
itu telah patah rubuh ! Itulah ilmu pukulan Hamokang, ilmu
pukulan kodok yang diterima Yo Ko dari Auwyang Hong !
Tidak mengherankan jika batang pohon itu tumbang seketika
begitu terkena pukulan tangan Yo Ko, sedangkan batu gunung
yang besarpun jika terkena gempuran seperti itu akan lumat
hancur.
Phang Kui In dan Kwee Siang yang melihat hebatnya
tenaga serangan dari Yo Ko yang sekaligus bisa
menumbangkan batang pohon itu, jadi meleletkan lidah

mereka. Sedangkan Yo Him sendiri telah memandang dengan
wajah ber seri2, karena dia bangga sekali memiliki seorang
ayah yang demikian tangguh ilmu pukulannya.
Waktu itulah Yo Ko telah menghentikan tangisnya, karena
dia telah berhasil melampiaskan kemendongkolan, dan juga
dendam dihatinya
lewat pukulan keras pada batang pohon itu
Cepat sekali dia menoleh kepada Yo Him tangan anaknya
itu dicekal keras.
„Ayah ….!” berseru Yo Him dengan suara tertahan karena
dia kaget sekali begitu pergelangan tangannya kena dicekal
oleh Yo Ko ayahnya, mendatangkan perasaan sakit bukan
main, pergelangan tangannya itu seperti juga kena dijepit oleh
jepitan besi.
Dalam hal ini memang Yo Ko telah mempergunakan tenaga
yang cukup kuat dan sekali dia membentak “Rubuhlah”, maka
disaat itu juga tubuh Yo Him jadi terlempar tinggi sekali.
,,Engko Yo …!” berseru Kwee Siang, karena dia kuatir Yo
Ko dalam kedukaan yang begitu mendalam telah
mempergunakan tenaga yang besar dan diluar kesadarannva
mencelakai anaknya sendiri.
“Yo Taihiap !” Phang Kui In juga berteriak dengan suara
yang gugup, karena dia melihat betapa tubuh Yo Him telah
terlempar begitu keras.
Tetapi Yo Ko seperti tidak memperdulikannya, dia telah
melompat lagi dengan cepat, dan tubuh Yo Him yang tengah
meluncur turun itu telah disamber, baju dibagian
punggungnya telah dicengkeram keras oleh sang ayah ini dan
tampak Yo Ko menghentak lagi, tangannya maka disaat itulah
tubuh Yo Him terlontar kembali dengan kuat, terlontar dengan
lemparan yang mengandung kekuatan sulit diukur.

Yo Him sendiri kaget dirinya tahu2 di lemparkan begitu
rupa oleh ayahnya. Tetapi sebagai seorang yang telah
memiliki kepandaian cukup banyak yang diperolehnya dari
beberapa orang, termasuk Lie Bun Hap, cepat sekali Yo Him
bisa mengendalikan kaki dan tangannya berjumpalitan
beberapa kali diudara dan meluncur turun ketanah dengan
kedua kakinya terlebih dahulu.
Disaat itu Yo Ko tidak menerjang maju lagi, dia berdiri
tegak sambil tertawa ber-gelak2 dengan keras, sehingga
kembali tubuh Phang Kui In dan Kwee Siang tergetar
menggigil dipengaruhi suara tertawa yang luar biasa itu.
Yo Him sendiri merasakan jantungnya tergoncang keras
sekali ketika mendengar suara tertawa ayahnya itu, dia cepat2
mempergunakan tangannya untuk menutupi kedua telinganya.
Lama juga Yo Ko tertawa seperti itu sampai akhirnya dia
telah berhenti sendiri.
Diawasinya Yo Him yang saat itu masih menutupi kedua
telinganya.
“Anak baik, ternyata engkau benar2 telah memiliki ilmu
yang lumayan Dengan memiliki dasar seperti itu tentu tidak
sulit lagi buatku menurunkan semua kepandaian yang kumiliki.
Mari, kemarilah nak … !”
Yo Him baru mengerti bahwa ayahnya hanya menguji
kepandaian saja, hatinya jadi tenang kembali dan dia
membuka tutupan kedua tengannya pada kedua
telinganya.Lalu dia menghampiri ayahnya.
Yo Ko mengulurkan tangannya yang kiri itu untuk
mengusap usap kepala anaknya.
„Saudara Phang !” kata Yo Ko kepada Phang Kui In .
Cepat2 Phang kui In menghampirinya. „Ada apa Taihiap ?”
tanya orang she Phang itu.

Yo Ko telah menggerakkan tangan kirinya untuk memberi
hormat, kemudian katanya: „Terima kasih atas usaha dan
bantuanmu sehingga kami ayah dan anak bisa berkumpul
kembali ! Kami sangat berterima kasih sekali padamu, saudara
Phang, dan katakanlah jika engkau memiliki suatu permintaan,
aku tentu akan memenuhinya…!”
Phang Kui In cepat2 merangkapkan kedua tangannya
memberi hormat, dengan rendah hati dia telah berkata: „Mana
berani aku yang rendah memikirkan hal yang tidak2! Asal
kalian ayah dan anak telah berkumpul kembali, itupun telah
membuat hatiku puas. .!”
Yo Ko sekali lagi mengucapkan sukur dan terima kasihnya.
„Mari kita mencari rumah penginapan. di sana nanti kita
bisa ber-cakap2 dengan leluasa.. !” kata Yo Ko,
Yang lainnya menyetujui dan mereka telah kembali kekota
dan mencari sebuah rumah penginapan yang tidak begitu
besar.
Yo Ko banyak mendengarkan cerita Yo Him, betapa
terharunya Yo Ko waktu mendengar penderitaan Yo Him
sebagai anak yang jauh dari kedua orang tuanya. Tetapi
betapa bangganya hati Yo Ko waktu mendengar Yo Him
mengikat tali persaudaraan dengan Wie Tocu. Betapa
hebatnya anak ini dalam usia sekecil itu telah bisa mengikat
tali persahabatan dengan tokoh persilatan yang ternama
seperti Wie Tocu.
„Memang engkau merupakan anak yang hebat, Him jie !”
memuji Yo Ko
Phang Kui In juga banyak bercerita mengenai kegagahan
Yo Him. Phang Kui In menceritakan kepandaiannya sendiri.
Diceritakan juga oleh Phang Kui In pertempuran2 mereka
yang cukup hebat menghadapi orang2nya Tiauw Pang .

Mereka ber cakap2 sampai jauh malam, dan ketika
kentongan telah dipukul dua kali, disaat malam telah larut
mereka baru masuk tidur.
Yo Ko, Yo Him dan Phang Kui In tidur dalam sebuah kamar,
sedangkan Kwee Siang tidur dikamar lainnya. Sebelum tidur,
Kwee Siang juga bercakap2 lama sekali dengan Yo Ko.
Dia merasakan kerinduannya kepada pendekar sakti she Yo
itu agak berkurang dengan adanya pertemuan ini.
Keesokan paginya sambil dahar makanan pagi, mereka
telah ber-cakap2 lagi. Banyak dan ada2 saja yang diceritakan,
oleh mereka. Bahkan Yo Ko telah menceritakan, sejak dia
kehilangan isterinya yang diculik oleh Tiat To Hoat-ong,
hidupnya jadi serba sepi dan sengsara. Telah dijelajahinya
seluruh daratan Tionggoan, dan selama itu pula Yo Ko tidak
henti nya mengalami banyak pertempuran.
„Mungkin tahun ini pasukan Kublai Khan akan menyerbu
kedaratan Tionggoan untuk memukul kerajaan Song. Dua
tahun terakhir ini aku sibuk sekali menghimpun jago2 yang
cinta tanah air untuk bantu mempertahankan negeri. Tetapi
Kublai Khan memiliki banyak sekaii orang2 pilihan, maka
kemungkinan kami bisa mempertahankan daratan Tionggoan
dari injakan kaki orang Mongolia itu tipis sekali….” dan setelah
berkata begitu Yo Ko menghela napas berulang kali.
Phang Kui In bersama Yo Him dan Kwee Siang jadi
berdiam diri saja, mereka telah memandang kearah
YoKodengan sorot mata yang seperti, meminta keterangan
lebih jauh.
Waktu itu Yo Ko telah memandang jauh keluar jendela.
Kemudian sambil menghela napas sekali lagi dia berkata :
“Sesungguhnya, jika aku memusatkan seluruh perhatianku
untuk mencari jejak musuh besarku itu yang telah mencuiik
Yong-jie bisa saja aku menemui jejaknya tanpa bersusah
payah. tetapi justru urusan pribadi itu masih kurang penting

jika dibandingkan dengan keselamatan negeri, maka dari itu
aku telah menghabiskan waktu belasan tahun untuk
menggalang para orang gagah untuk membela negara …
tentu saja jika tentara mongolia sempat memasuki daratan
Tionggoan, habislah harapan kita untuk selamanya kita akan
menjadi negeri jajahan.
Phang Kui in jadi terharu. Betapa besarnya jiwa pendekar
sakti ini, karena urusan pribadinya bisa dikesampingkan, dan
dia bersedia untuk mengorbankan urusan pribadinya demi
membela tanah air. Phang Kui In jadi menghormati Yo Ko.
Kwee Siang telah berkata : „Sungguh manusia yang jahat
sekali Tiat To Hoat-ong… dan mengapa encie Liong bisa
diculik oleh Tiat To Hoat-ong bukankah kepandaian enci Liong
itu berimbang dengan kepandaian engko Yo?”
Yo Ko menghela napas dalam2.
„Kukira didalam urusan ini terselip sesuatu, yaitu pihak
musuh melakukan perbuatan hina-dina dengan akal licik untuk
merubuhkan Liong-jie,..tetapi…tetapi jika memang Liong-jie
binasa,. tentu dia tidak akan bisa melahirkan dan
kenyataannya Yo Him kini telah berusia lima belas tahun, dan
memiliki secarik kain baju ibunya, dengan demikian berarti
Siauw Liong Lie bisa meloloskan diri dari penculiknya itu,
karena dia masih sempat melahirkan Yo Him. Dugaanku Liongjie
tentu bisa meloloskan diri dan selamat, hanya dia entah
bersembunyi dimana….. Jika menurut Yo Him dia dirawat oleh
rajawali sakti, dan akhirnya setelah berusia enam tahun dia
dibawa naik dari lembah dan diangkat anak oleh seorang
penduduk dikampung dekat kaki Kun Lun San. Hai Hai Liongjie,
entah apa yang telah terjadi pada dirimu !”
“Bagaimana jika sekarang kita menuju ke Kun Lun San.
untuk me lihat2 keadaan didalam lembah itu tanya Kwee
Siang. “Bukankah dengan demikian kita bisa mencari jejak dari
encie Liong. Sehingga kita bisa memperoleh kepastian, yaitu

encie Liong itu telah meninggal atau memang masih hidup dan
hanya bersembunyi disuatu tempat….. “
Saran yang diberikan oleh Kwee Siang merupakan saran
yang baik dan disetujui oleh Yo Ko dan Phang Kui In.
„Tetapi jarak dan tempat ini menuju ke Kun Lun San masih
terpisah jauh, mungkin memakan waktu perjalanan hampir
setengah tahun ….!” kata Yo Ko lagi kemudian.
„Hal itu tidak menjadi persoalan yang terpenting kita bisa
mencari tahu apa yang telah terjadi didiri encie Liong….”
„Benar !” Phang Kui In juga ikut bicara „Lebih baik kita
memeriksa keadaan dilembah dimana Yo Him pernah
dibesarkan oleh burung rajawali itu …ditempat itu kita bisa
menyelidiki sesungguhnya apa yang telah terjadi didiri Siauw
Liehiap.
Tiba2 Yo Him yang disamping ayahnya, telah teringat pada
segundukan tanah kuburan yang memiliki pintu rahasia
sehingga Yo Ko bisa keluar dan masuk kedalam kuburan itu.
„Ayah, sebetulnya untuk apakah kuburan rahasia
itu….Maukah ayah menjelaskannya?”‘ kata Yo Him.
Yo Ko jadi berobah murung dan menghela napas dengan
wajah yang berduka, dia telah berkata: „Itu adalah sebuah
kuburan untuk kenang2an dan sengaja kubuat untuk
mengenang Liong jie. ibumu….dulu waktu aku masih kecil,
banyak orang yang menghina, hanya ibumu yang tidak
menghina dan memperlakukan aku dengan baik, bahkan aku
telah diijinkan tinggal didalam kuburan Mayat Hidup, di mana
ibumu yang mengurusnya. Dan aku juga telah dididik ilmu
silat tingkat tinggi, sampai akhirnya aku bisa memiliki
kepandaian yang sangat tinggi seperti sekarang ini! Untuk
mengenang kebaikan! ibumu itu, sengaja aku membuat
kuburan ini dan jika aku tengah rindu terkenang kepada
ibumu, aku ber semadhi didalam kuburan, untuk
menenangkan hati yang sering tergoncang…!”

Mendengar perkataan ayahnya, hati Yo Him jadi terharu
sehingga dia menitikkan air mata.
Sedangkan Kwee Siang dan Phang Kui In juga jadi terharu
dan semakin menghormati. Rupanya cinta Yo Ko kepada
isterinya itu sangat suci dan murni.
Waktu itu mereka telah merencanakan esok hari untuk
berangkat ke Kun Lun San.
Malam itu mereka tidur dengan nyenyak.
Waktu matahari baru terbit diufuk Timur justru mereka
telah siap untuk berangkat. Setelah membayar ongkos sewa
kamar dan barang makanan yang mereka makan, Yo Ko
bersama Yo Him, Kwee Siang dan Phang Kui In telah membeli
empat ekor kuda. Yang mereka pergunakan masing2 itu
merupakan kuda2 pilihan, yang bisa berlari seribu lie dalam
satu hari, karena selain tinggi besar dan tegap, juga kuda
mereka itu merupakan kuda dari Mongolia yang terkenal
sangat kuat.
Tanpa mengenal istirahat mereka telah melakukan
perjalanan, dan setengah bulan mereka melakukan
perjalanan, keempat orang ini telah sampai dikota Kiang-ciekwan,
sebuah kota yang tidak begitu besar, tetapi padat
penduduk nya.
Yo Ko mengajak Yo Him dan Kwee Siang bersama Phang
Kui In untuk bermalam dikota ini.
„Telah belasan hari melakukan perjalanan tanpa mengenal
waktu. Dikota ini kita beristirahat dua hari dulu, untuk
memulih tenaga kita . . . !” kata Yo Ko. Yang lainnya setuju.
Mereka memilih rumah makan yang tidak begitu besar.
Sebagai kota kecil, rumah makan ini juga tidak begitu ramai .
Waktu Yo Ko, dan yang lainnya melangkah masuk, ada
seseorang didalarn rumah makan itu tengah berseru keras :”
Memang aku tanpa tanding! Siapa yang bilang aku takut untuk

menghadapi Sin Tiauw Sibuntung itu ? Hmmm, Taihiap!
Taihiap apa sekali kugerakkan kedua tanganku dia akan
segera dapat kumampuskan …. !” dan kemudian disusul
dengan suara tertawa ber gelak2 dari orang itu.
Yo Ko telah menatap kearah dalam, dia melihat orang yang
mengeluarkan kata2 sombong itu adalah seorang pemuda
pelajar yang memiliki raut muka sangat kasar sekali, dengan
kumis jenggot yang kasar dan kaku. Dilihat dari bentuk
tubuhnya, tentunya dia seorang akhli gwakee (tenaga luar).
Tanpa memperdulikan orang itu, walaupun mengetahui
dirinya yang dimaksudkan oleh orang itu dengan perkataan
Sin Tiauw si buntung
Yo Ko telah mengajak Phang Kui In, Kwee Siang dan Yo
Him duduk dikursi yang didekat jendela, terpisah cukup jauh
dengan pemuda pelajar bermuka kasar itu.
Saat itu, pelajar bermuka kasar itu telah berkata kepada
kawannya yang ada dihadapannya, yaitu seorang tojin berusia
diantara enam puluh tahun: “Sekarang juga engkau cari
sibuntung itu, aku akan melayaninya, tunggu disini…..!”
Tojin itu telah tersenyum sabar.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s