Sin Tiauw Thian Lam (Jilid : 21-22)

JILID 21

KARENA heran dan tidak mengerti. Phang Kui In dan Kwee
Siang hanya berdiam diri saja dengan sikap tertegun.
Waktu itu Kwee Siang telah meluruskan pernapasannya dia
telah berhasi! memulihkan semangat dan tenaganya.
Kemudian Kwee Siang telah berdiri dengan perlahan2. Phang
Kui In telah ber-siap2 kalau2 Kwee Siang rubuh kembali,
seperti yang dialami oleh orang she Phang itu tadi tetapi Kwee
Siang telah bisa berdiri tetap, dia menoleh kepada Phang Kui
In sambil katanya : „Terima kasih atas pertolongan Phang
Loenghiong…!!”.

Phang Kui ln cepat2 mengeluarkan kata2 yang merendah !.
Disaat itu Kwee Siang mengajak Phang Kui In untuk
menyusuri pedalaman pulau itu untuk mencari Yo Him.
Ajakan itu disetujui oleh Phang Kui In, mereka telah
memasuki hutan kecil dimana tadi mereka telah mendengar
suara yang perlahan dari deheman seseorang.
Hutan itu walaupun tampaknya merupakan hutan kecil,
namun cukup luas. Diluar hutan itu tampak jarang ditumbuhi
pohon2 yang besar. Namun waktu Phang Kui In dan Kwee
Siang menyusuri terus memasuki hutan itu mereka melihat
pohon2 yang bertumbuhan disitu selain rapat dan besar2, juga
tinggi sekali. Maka dari itu Kwee Siang telah menarik ujung
jubah Phang Kui In, sambil katanya : „Kita harus hati2 Phang
Loenghiong…..jika ada seseorang yang bersembunyi ditempat
ini, tentu kita bisa saja diserang secara menggelap !”.
Phang Kui In mengangguk. Dia membenarkan perkataan
Kwee Siang, karena tadipun dia telah dipermainkan oleh
seseorang yang tidak mau memperlihatkan dirinya. Keadaan
dipedalaman hutan itu jadi agak gelap, karena cahaya
matahari tidak bisa menerobos masuk sepenuhnya terhalang
oleh daun2 yang rimbun.
Waktu Phang Kui In dan Kwee Siang tengah melangkah
hati2 memasuki terus hutan itu, tiba2 mereka mendengar
suara langkah kaki dibelakang mereka.
Cepat luar biasa Phang Kui In memutar tubuhnya, dia telah
memandangnya dengan mata yang dibukanya lebar2. Tetapi
tidak ada seorang manusiapun juga.
„Aneh!” menggumam Kwee Siang dengan penasaran dan
mendongkol, dia juga telah memutar tubuhnya untuk melihat,
kenyataannya disekitar tempat itu tidak terdapat orang lain
selain mereka berdua saja.

„Wahai orang yang-berjiwa pengecut, mengapa kau main
kucing2an seperti ini?” teriak Phang Kui In dengan suara
mengandung kemendongkolan dan penasaran.
„Hemmm !’ tiba2 terdengar suara orang mendehem kuat
dibelakang mereka. Dengan cepat sekali Phang Kui In dan
Kwee Siang telah memutar tubuh mereka untuk melihat siapa
orang yang mempermainkan mereka. Dan waktu itu, mereka
telah memutar tubuh mereka cepat dan gesit sekali, karena
belum lagi suara ‘Hemmm!’ itu lenyap, mereka telah berhasil
memandang keadaan dibelakang mereka.
Tetapi tetap tidak terlihat seorang manusiapun juga. Diam2
Kwee Siang jadi diliputi perasaan heran disamping juga
perasaan takut, karena dia merasa ngeri ketika
membayangkan bisa saja terjadi orang yang mempermainkan
mereka itu bukan manusia melainkan hanya hantu yang
tengah mempermainkan mereka.
Phang Kui In yang kecele waktu membalikkan tubuhnya
dan tidak berhasil melihat orang yang mempermainkan
mereka, telah memandang kepada Kwee Siang.
Begitu pula pendekar wanita ini telah memandang kepada
Phang Kui In dengan sorot mata ber-tanya2.
Tetapi sekarang Phang Kui In yakin, bahwa orang yang
mempermainkan mereka itu tentunya memiliki kepandaian
yang sangat tinggi sekali, karena orang itu bisa bergerak
begitu cepat dan gesit, sehingga tidak terlihat ujudnya,
bahkan bayangannya pun tidak tampak !
Segera Phang Kui In telah merangkapkan kedua
tangannya, dia membungkukkan tubuh-nya menjura sambil
berkata kearah gerombolan pohon2 dihadapannya.
,,Locianpwee manakah yang hendak memberikan petunjuk
kepada kami berdua ?” katanya kemudian dengan suara yang
nyaring „Kami memang telah lancang berada dipulau ini, dan
mungkin kesalahan kami itu tidak terlalu berat, karena kami

berdua telah terdampar di sini terhindar dari gulungan air
user2an laut…!”.
Baru saja Phang Kui In berkata sampai di situ, telah
terdengar suara tertawa yang bergema disekitar tempat itu,
tapi tidak terlihat orangnya.
Muka Kwee Siang berobah tegang, begitu pula Phang Kui
In telah berdebaran.
“Memang kalian bersalah ! Siapa yang mengatakan bahwa
kalian benar ? Hemmm, hemmm, aku tidak segera turun
tangan membinasakan kalian, itu sudah merupakan suatu
peruntungan yang tidak kecil untuk kalian …! Tetapi kau, hai
lelaki sialan, engkau me-maki2ku tidak hentinya tadi ..!!”.
Phang Kui In cepat2 merangkapkan tangannya dan berkata
sambil membungkuk memberi hormat: „Maafkanlah, tadi
karena kami tidak mengetahui ada seorang dari tingkatan tua
ingin memberikan petunjuk. untuk itu aku Phang Kui Ih
memohon maaf dari kau, locianpwe !”.
„Enak saja kau bicara!” terdengar suara itu menggema
pula, tetapi orang yang bersuara itu tidak terlihat. „Enak saja
kau menggoyangkan lidah.. apakah maaf yang kau minta itu
akan diberikan begitu mudah hanya dengan goyang bibir saja
?”.
Mendongkol juga Phang Kui In dan Kwee Siang mendengar
perkataan orang tersebut. Walaupun Phang Kui In
menyadarinya bahwa orang itu tentunya seorang tokoh
persilatan yang sangat lihay sekali…….
Lalu apa yang dikehendaki locianfnve ?” tanya Phang Kui In
mulai tidak sabar.
“Kalau aku membutuhkan jiwa kalian berdua apakah kalian
akan memberikan dengan rela, ?” tanya suara yang tidak
terlihat ujudnya itu.

Phang Kui In dan Kwee Siang jadi melenggak. mereka
kaget bercampur penasaran dan mendongkol. Bagaimana
orang yang tengah ber sembunyi itu bisa bergurau demikian
macam? Apakah boleh jadi mereka memberikan jiwa mereka
berdua untuk orang itu ? Bukankah itu suatu kematian…”
Kwee Siang yang telah habis sabar ikut berkata :
„Locianpwee, kita tidak pernah saling kena! dan memang tidak
memiliki urusan…mengapa cianpwe menghendaki jiwa kami ?
Jika memang terdamparnya kami di pantai ini dianggap
berdosa dan bersalah, .silahkan menghukum kami tetapi
jangan mengajukan permintaan yang tidak2….!”.
,,Seorang nona yang galak !” kata orang yang tidak terlihat
ujudnya. „Kulihat dari sinar matamu, bahwa engkau agak
tersesat sedikit ! Dan kalau tidak salah, melihat dari
gerakanmu tadi, engkau tentunya memiliki hubungan dengan
pemilik pulau Tho-hoa-to, yaitu si tua bangta Oey Yok Su,
bukan ?”.
Kwee Siang dan Phang Kui In jadi terkejut mendengar
pertanyaan orang itu. Hebat sekali pandangan matanya yang
segera dapat menduka dengan tepat dan jitu siapa adanya
Kwee Siang.
“Benar !” menyahut Kwee Siang sambil mengangguk
“majikan pulau Tho Hoa To adalah kakekku..!”
“Pantas, ! Pantas.. !” berseru orang itu, Memang aku telah
melihatnya. Tetapi karena sekarang aku telah mengetahui
bahwa engkau memiliki hubungan dengan Oey Yok Su, justru
aku semakin tidak mau melepaskan engkau ! Engkau harus
merelakan jiwamu kuambil.. !”
“Apa !……. Apa ! kau bilang …….?” tanya Kwee Siang
dengan amarah telah meluap dihatinya.
“Aku menginginkan jiwamu ! Jiwa dia juga lelaki sialan itu..
!,. kalian berdua harus bersedia memberikan jiwa kalian
kepadaku !”

“hemmm, suatu permintaan sialan !” seru Kwee Siang jadi
marah sekali.
Tetapi belum lagi suaranya itu habis terdengar, tiba2
terdengar suara “Bum !” maka berkelebatlah setitik hitam
yang kecil, cepat sekali menyambar kearah mata Kwee Siang
yang kiri.
Kwee Siang jadi terkejut. Benda yang tengah menyambar
datang itu sangat kecil bentuknya, seperti biji dari buah2an.
Tetapi angin yang ditimbulkan oleh samberan biji buah2an itu
telah membuat Kwee Siang merasakan kulitnya pedih, itupun
biji yang disembur orang yang tidak terlihat ujudnya itu belum
lagi mengenai biji matanya.
Mati2an Kwee Siang telah berkelit kesamping kanan,
dengan gerakan yang sangat cepat sekali. Dan ternyata dia
berhasil mengelakkan diri dari serangan itu. Dimana biji
buah2an dari orang itu telah menghantam sebatang pohon
yang cukup besar.
„Tukk, kreekk!” aneh sekali, batang pohon yang besar itu
telah patah tumbang terbentur oleh biji buah2an itu.
Muka Kwee Siang jadi pucat dan tubuhnya menggigil ngeri,
karena segera dia menyadari, jika tadi dia tidak berhasil
mengelakkan diri dari serangan lawannya itu, niscaya batok
kepalanya akan hancur karenanya.
Maka cepat sekali Kwee Siang telah berseru nyaring dengan
suara yang lantang : ,,Engkau seorang dari golongan tua,
tetapi engkau tidak bisa menghormati dirimu sendiri, dimana
kau bermaksud menghina golongan muda…!”.
„Siapa yang bilang aku ingin menghina golongan muda.?”
kata orang itu dengan nada meninggi, tampaknya orang
yang bersembunyi itu terpancing marah oleh perkataan Kwee
Siang.

“Justru aku hanya ingin menguji kepandaianmu, sampai
berapa tinggi kepandaian yang engkau miliki sebagai cucunya
situa bangka Oey Yok Su itu …!”.
Kwee Siang jadi nekad karena walaupun dia menyadari
bahwa musuh yang tengah bersembunyi itu memiliki
kepandaian yang tinggi, tetapi tidak senang hatinya
mendengar berulang kali kakeknya disebut dengan perkataan
tua bangka, dan juga tampaknya orang yang tengah
bersembunyi itu sangat tekebur sekali, karena dia seperti juga
memandang rendah Oey Yok Su.
“Jika engkau memiliki kepandaian yang tinggi, keluarlah
perlihatkan dirimu agar kita bisa menguji kepandaian masing2
!” teriak Kwee Siang.
Phang Kui In telah ber-siap2 untuk menghadapi sesuatu
yang diluar dugaan, karena melihat menyambarnya biji
buah2an tadi, walaupun kecil, tetapi mengandung kekuatan
yang sangat dahsyat sekali. Phang Kui In menyadari musuh itu
tentunya seorang yang pandai sekali, yang telah cukup
sempurna latihan tenaga lwekangnya
Waktu itu terdengar suara ber-gelak2 yang nyaring sekali
dari arah gerombolan pohon.
,,Ha, ha, ha ! Engkau berani bertempur denganku ?” tanya
orang yang tidak terlihat ujudnya itu.
,,Ya, keluarlah !” menyahuti Kwee Siang singkat sekali, dia
telah mencabut juga pedangnya, menggenggam gagang
pedang itu kuat2, bersiap sedia untuk menghadapi segala
kemungkinan yang bisa saja muncul disaat itu.
Tetapi orang yang tengah bersembunyi itu justru telah
tertawa lagi bergelak2 dengan suara yang nyaring.
“Tidak percuma situa bangka Oey Yok Su memiliki cucu
seperti engkau, bersemangat dan tampaknya pemberani !

Bagus ! Bagus, bagus ! Memandang muka terang kakekmu,
engkau tidak akan kubinasakan !”.
„Keluarlah kau ! Mari kita main2 beberapa jurus !” seru
Kwee Siang dengan suara yang nyaring.
„Tentu. Tentu saja. Aku tentu keluar,” menyahuti orang itu
dengan suara yang nyaring. Dan membarengi dengan
habisnya perkataan itu, tampak sesosok tubuh berkelebat
keluar dari balik gerombolan pohon.
Phang Kui In dan Kwee Siang tidak bisa melihat dengan
jelas gerakan orang itu, karena terlalu, gesit dan lincah, hanya
tahu2 telah berada dihadapan mereka berdua.
Kwee Siang dan Phang Kui In waktu melihat jelas orang itu
keduanya jadi terkejut.
„Bagaimana ?” tanya orang itu dengan suara yang
mengejek. „Sekarang aku telah muncul memperlihatkan diri,
apa yang kalian kehendaki ? Adu tenaga ? Adu pedang ? Atau
adu apa saja ?”.
Suara orang itu tinggi sekali dan juga nadanya sangat
tajam luar biasa. Dia telah meng-geleng2kan kepalanya
perlahan bagaikan mengejek Phang Kui In dan Kwee Siang.
Yang membuat Phang Kui In dan Kwee Siang jadi terkejut
bukanlah kegesitan tubuh orang tersebut, tetapi justru
potongan tubuh orang itu yang aneh dan janggal sekali. Orang
itu memiliki tubuh tidak lebih dari empat kaki, dimana
sepasang kakinya tidak ada, hanya dua batang tongkat yang
dikempit diketiaknya itu yang menunjang tubuhnya tidak
sampai rubuh. Muka orang bercacad pada kedua kakinya itu
memiliki raut muka yang bulat dan juga tidak enak dipandang.
Hidungnya besar seperti hidung babi, keningnya tinggi dan
lanang, sebagian kepalanya itu ditutup oleh ikat kepala yang
berwarna hijau, dan bajunya yang terbuat dari bahan kasar itu
berwarna hijau.

Melihat warna yang disenangi orang itu, Kwee Siang jadi
teringat kepada kakeknya Oei Yok Su, yang juga senang sekali
mengenakan pakaian warna hijau.
„Ayo, apa yang kalian inginkan jika aku memperlihatkan diri
? Mengapa bengang-bengong disitu saja ! Jika memang
engkau tidak senang, hayo mulai melancarkan serangan !”
Kwee Siang sudah tidak bisa mempertahankan diri lagi dari
kemarahan, Dia telah mengeluarkan suara bentakan nyaring
tahu2. pedangnya telah menusuk kearah dada sebelah kiri
lawannya. Gerakan yang dilakukan Kwee Siang sangat luar
biasa, pedangnya digetarkan dan dia telah mempergunakan
jurus “Bidadari menari”, dimana pedangnya itu ber kelebat2
merupakan sinar putih gemilang.
Orang cacad kedua kakinya itu mengeluarkan suara
teriakan mengejek, tahu2 tubuhnya telah lenyap dari
pandangan mata Kwee Siang.
Dan belum lagi Kwee Siang bisa mengendalikan tubuhnya
yang terjerunuk kedepan karena kehilangan sasarannya,
tahu2 punggungnya telah diketuk perlahan oleh tongkat orang
bertubuh pendek tidak berkaki itu.
Dengan kaget Kwee Siang telah memutar cepat2 tubuhnya,
dia melihat lawannya tengah memandang kepadanya dengan
mulut tersenyum senyum.
Phang Kui In sendiri takjub dan kagum melihat kegesitan
orang yang berkaki buntung itu, yang diduga beusia enam
puluh tahun lebih, karena waktu Kwee Siang tadi melancarkan
serangan kepada orang tersebut. Ternyata orang itu telah
mencelat dengan gesit sekali sehingga Phang Kui In tidak bisa
melihat jelas gerakan orang itu, hanya melihat segumpal
warna hijau yang menerjang didekatnya membuat Phang Kui
In harus melompat menjauhkan diri.
Jika memang orang berpakaian serba hijau itu bermaksud
jahat untuk mencelakai Kwee Siang, tentu semuanya itu

mudah saja dilakukannya. Tetapi kenyataannya orang itu tidak
bermaksud jahat, dia hanya mengetuk perlahan sekali pada
bahu sigadis.
Tetapi akibat ketukan tongkat orang aneh itu, Kwee Siang
merasakan bahunya seperti juga telah terhajar oleh alu yang
besar sekali, daging tubuhnya seperti hancur tertumbuk !,
itulah membuktikan bahwa tenaga lwekang orang tersebut
sangat tinggi dan sempurna, karena dengan ketukukan yang
perlahan itu dia berhasil menghantam keras sekali kepada
lawannya,
Kwee Siang terhuyung maju dua langkah, kemudian cepat2
pendekar wanita ini memutar tubuhnya. untuk dapat
menghadapi dan bersiap sedia dari segala serangan susulan
lawannya.
Orang yang kedua kakinya bercacat itu telah tertawa
mengikik tidak sedap didengar, dia telah berkata dengan suara
yang sangat perlahan sekali, “Apakah kau ingin main2 pula
beberapa jurus denganku ?”
Kwee Siang merasakan mukanya berobah jadi merah dan
panas karena walaupun lawan nya itu bertanya sambil
tersenvum, namun Kwee Siang menyadari bahwa lawannya
sedang mengejek dia.
Sambil mengeluarkan seruan “Awas pedang !” tampak
Kwee Siang telah melompat kearah lawannya dan waktu
tubuhnya masih terapung ditengah udara, pedangnya itu
ditusukkan kearah tenggorokan lawannya dengan jurus Hud
Pay Kuan In atau menyembah sang dewi Kuan Im, gerakan
yang dilakukan Kwee Siang bukan main kuatnya.
Orang itu juga terkejut waktu menyaksikan pedang sigadis
tergetar dan mata pedang itu seperti bertambah menjadi
sembilan, menyamhar kesembilan jurusan, mata,
tenggorokan, dada, perut, lutut dan paha, serta beberapa

bagian tubuh lainnya yang berbahaya. Itulah semacam
kepandaian ilmu pedang yang jarang sekali dimiliki orang.
„Bagus !” berseru orang bercacad kedua kakinya itu sambil
mengelakkan diri. Dan cepat sekali tongkat kanannya telah
diketukkan pada bumi, maka tubuhnya telah meluncur dengan
cepat sekali, menangkis kearah pedang sigadis.
Phang Kui In jadi heran dan terkejut melihat apa yang
dilakukan oleh orang bercacad kakinya itu, karena serangan
yang dilakukan itu merupakan serangan yang terlalu berani.
Seperti diketahui bahwa pedang sudah diakui sebagai raja dari
berbagai senjata, karena disamping bobotnya yang ringan,
juga pedang memiliki ukuran yang panjang, sehingga
sipemakainya bisa mempergunakannya seleluasa mungkin,
sehingga jika telah mencekal pedang orang tersebut seperti
memiliki tambahan dari bagian anggota tubuhnya untuk
melakukan penyerangan.
Dan orang bercacad kedua kakinya itu memang menyadari
akan hebatnya pedang Kwee Siang, terlebih lagi dia telah
mengetahui bahwa Kwee Siang adalah cucunya Oey Yok Su,
dengan sendirinya kepandaian gadis ini tentu hebat sekali dan
tidak boleh dipandang lemah.
Phang Kui In telah berteriak “Kwee Liehiap, hati2, jangan
terlalu ceroboh !”.
Orang she Phang itu berteriak memperingati, karena dia
kuatir Kwee Siang lupa diri dan melancarkan serangan2
membabi buta tanpa memperdulikan keselamatan dirinya
sendiri.
Kwee Siang juga terkejut sekali waktu mendengar
peringgatan dari Phang Kui In. Cepat2 dia memperbaiki
kedudukan dirinya, kemudian dia memutar pedangnya dengan
cepat, sehingga sinar putih berkilau dari pedang itu
merupakan bundaran putih yang mengurung dan melindungi
tubuh Kwee Siang dari segala macam bentuk serangan.

Tetapi orang itu telah menjadi penasaran. Dia
mengeluarkan suara tertawa mengejek, sambil katanya „Aku
ingin lihat, berapa tinggi kepandaian yang kau warisi dari
kakek mu.,.!” dan menyusuli perkataannya itu, tampak orang
bercacad kedua kakinya itu telah mengeluarkan suara
bentakan yang sangat keras sekali, sampai menulikan anak
telinga.
Diantara berkesiuran angin serangan pedang Kwee Siang,
tongkat ditangan kirinya ber gerak2 dengan kecepatan yang
luar biasa. Gerakan2 tongkat itu juga tampaknja aneh sekali,
sebentar kesamping kanan, sebentar menyambar kesamping
kiri, kebawah, keatas dan ketengah mengincar perut Kwee
Siang.
Keadaan demikian membuat Kwee Siang jadi gelagapan
dan cepat2 menarik pulang pedangnya, dia telah berkata
dengan suara mengandung penasaran : „Aku akan adu jiwa
dengan kau…lihatlah pedang…!” dan sambil berkata begitu,
tampak Kwee Siang telah menggerakkan pedangnya dalam
bentuk segi delapan. Dia telah mengeluarkan jurus simpanan
yang dimilikinya, yang tidak akan dipergunakannya kalau tidak
bertemu dengan lawan berat. Nama jurus itu : “Sian Sian
Kong Lie”, yaitu “Dewa-dewi Dihormati”, dan tampak
pedangnya itu ber-gerak2 menurut aturan Pat-kua, yaitu
delapan segi. Ilmu ini diciptakan oleh Kwee Siang setelah dia
memeras pikiran selama setengah tahun, dimana dia telah
merubahnya dari salah satu jurus yang terdapat dari kitab Kiu
Im Cin Keng.
Orang bercacad kedua kakinya itu jadi ter kejut, karena
matanya jadi silau melihat sinar pedang berkilauan dari segala
jurusan menyambar kearah dirinya. Dia sampai mengeluarkan
pujian : „Bagus !” dan tongkatnya ditarik pulang, sedangkan
tongkat yang satunya telah ditotokkan keras ketanah,
sehingga dengan meminjam tenaga totolan itu tubuh orang
tersebut telah mencelat dengan gesit sejauh tiga tombak.

Kwee Siang tengah bernafsu dan ingin menerjang lagi
untuk melancarkan serangan, pedangnya juga telah
berkesiutan menyambar dahsyat kepada lawannya.
„Tahan !” teriak orang berbaju hijau itu sambil berdiri
diatas kedua tongkatnya. „Aku hendak bicara !”
Kwee Siang menahan pedangnya, dia telah menatap
dengan penuh kemarahan kepada lawannya : „Apa yang
hendak kau katakan ?” ,
„Engkau sungguh2kah cucunya Oey Yok Su ?” tanya orang
itu.
„Apakah pendengaranmu tuli ? Tadi aku telah
memberitahukan bahwa kakekku adalah majikan pulau Thohoa-
to” teriak Kwee Siang keras, karena dia memang tengah
diliputi kemarahan yang luar biasa. Apakah perlu aku
memberitahukan sekali lagi ?”.
„Tunggu dulu, sabar, jangan galak seperti nenek2 !” kata
orang berpakaian hijau itu sambil tertawa. „Dengarlah ! Ilmu
silat Oey Yok Su aku ketahui dengan baik, yaitu bersumber
dari Kiu Im Cin Keng dan Kiu Yang Cin Keng ! Bukankah
begitu ?”
Kwee Siang ragu2, dia telah mengangguk, katanya
kemudian dengan suara yang cukup keras : ,,Benar ! Setelah
engkau tahu dan mengenal kakekku, mengapa engkau ingin
mengganggu diri kami ?”.
„Nanti dulu, engkau dengar baik2 ! Aku heran mendengar
engkau adalah cucu Oey Yok Su situa bangkotan itu ! Hal ini
karena berlawanan sekali dengan keadaanmu ! Sebagai cucu
dari Oey Yok Su, tentunya engkau harus, mempergunakan
ilmu2 ciptaan Oey Yok Su situa bangkotan itu…..namun sejak
tadi aku melihat engkau mempergunakan semacam ilmu yang
belum pernah kukenal dan aku yakin ilmu itu tentunya bukan
milik situa bangka Oey Yok Su. Benarkah begitu ?”.

Kwee Siang tertawa dingin.
„Hmm, jika memang aku berhasil memiliki ilmu silat
kakekku, tentunya dalam satu dua jurus engkau telah berhasil
kurubuhkan ! Ilmu yang tadi kupergunakan adalah ilmu silat
ciptaanku sendiri……
„Pantas ! Pantas !” berseru orang tua berbaju hijau
tersebut dengan suara yang sangat nyaring
„Apanya yang pantas ?”.
„Pantas saja engkau tidak bisa memiliki kepandaian yang
tinggi, rupanya Oey Yok Su situa bangkotan itu tidak sayang
pada cucunya !”
“Jangan bicara sembarangan …!” teriak Kwee Siang dengan
suara mengandung kemarahan.
„Sembarangan? Mengapa sembarangan ? Bukankah engkau
sendiri yang memberitahukan bahwa engkau tidak
mempelajari ilmu silatnya si jago bangkotan Oey Yok Su itu ?”
Waktu bertanya begitu, orang berpakaian hijau itu telah
mementang matanya lebar2.
Kwee Siang jadi tambah mendongkol dan marah, tetapi
tentu saja dia menyadari bahwa kepandaiannya tidak bisa
menandingi kepandaian lawannya.
„Baiklah ! Sekarang katakanlah apa maksudmu dan siapa
namamu ?” tanya Kwee Siang kemudian sambil menahan
kemarahan dihati-nya.
„Kau ingin mengetahui namaku ? ingin mengetahui juga
apa maksudku ?”, tanya orang itu.
Kwee Siang mengangguk.
„Hemmm, itu mudah ! Engkau bisa saja memanggilku
dengan sebutan si Buntung, karena memang seluruh jago2
dalam rimba persilatan selalu menyebutku dengan perkataan

Si Buntung itu. Dan engkau boleh memanggilku dengan
sebutan Si Buntung juga”.
Waktu itu Kwee Siang jadi memandang heran, karena
umumnya orang yang bercacad tangan maupun kakinya,
paling pantang mendengar seseorang me-nyebut2
kekurangannya itu. Tetapi sekarang orang berpakaian baju
hijau yang kedua kakinya buntung itu, menganjurkan agar
Kwee Siang memanggilnya dengan sebutan sibuntung !
Dalam keadaan demikian, tampak Kwee Siang ragu2
sejenak, sampai akhirnya dia telah berkata lagi dengan suara
yang bimbang „Tetapi…tetapi…apakah engkau tidak akan
marah jika aku memanggilmu dengan sebutan si…si…si
Buntung ?”.
„Mengapa harus marah ? Bukankah memang kenyataannya
bahwa kedua kakiku ini telah buntung dan bercacad !”.
Ditanya begitu, Kwee Siang terpaksa tersenyum tidak bisa
menyembunyikan perasaan lucu mendengar perkataan orang
itu, yaitu si Buntung.
,,Mungkin juga,” kata Kwee Siang kemudian setelah dia
melihat si Buntung itu berdiam diri mengawasi dia. „Si
Buntung itu merupakan gelaran belaka !”.
„Memang !”.
“Lalu siapa namamu ?”.
“Engkau ingin tahu ?”
„Ya!”
„Aku she Lie dan bernama Bun Hap !”
“ Lie Bun Hap, aku seperti pernah mendengar nama itu
disebut seseorang” mengangguk Kwee Siang sambil
mengawasi orang she Lie tersebut.

“Mungki situa bangkotan Oey Yok Su yang telah menyebut2
namaku ?” si Buntung mencoba memberikan terkaannya
kepada Kwee Siang.
“Bukan !”
“Lalu siapa ?“
“Entahlah aku tidak ingat, tetapi dalam hal ini memang aku
pernah mendengar disebutnya nama Lie Bun Hiap itu .. !”
Tiba2 si Buntung telah mengeluarkan suara tertawa yang
sangat keras sekali, dia telah memandang kearah Kwee Siang.
Sikap yang diperlihatkan si buntung membuat Kwee Siang
jadi tersinggung.
„Apa yang kau tertawakan ?” tanyanya dengan suara
mendongkol.
„Ada yang lucu ! Ada yang lucu ! Jika tidak mengapa aku
harus tertawa ? Dengan tertawanya aku, tentu saja ada
sesuatu yang lucu !”.
„Yang lucu bagaimana ?” tanya Kwee Siang menegasi.
„Lucu sekali ! Engkau tadi sok galak, tetapi sekarang untuk
mengingat sepatah nama saja telah begitu sibuk dan tidak
tahu…sikapmu yang belakangan ini seperti anak gadis yang
bodoh !”.
Kwee Siang berobah mukanya menjadi merah, karena dia
mendongkol sekali.
„Mulutmu terlalu lancang !” katanya kemudian.
„Lancang ?” tanya si Buntung dengan suara yang
mengandung ejekan.
„Ya, engkau sebagai orang tingkatan tua telah bersikap
tidak tahu malu ingin mempermainkan yang muda !” kata
Kwee Siang dengan berani sekali.

Muka orang tua itu telah berobah merah padam, tetapi
hanya sejenak saja, kemudian dia telah pulih sebagaimana
biasanya.
„Ya, memang aku dari tingkatan tua, kaum cianpwe, dan
kalian berdua adalah kaum boanpwe, tetapi tidak salah kalau
kaum cianpwe memberikan pelajaran kepada kaum boanpwe
yang tengik dan kurang ajar…!”.
Halus suara orang itu dan tampaknya si buntung tidak
marah oleh perkataan Kwee Siang, namun nadanya yang
halus itu berlainan dengan makna yang termaksud dala
kata2nya itu. Yaitu dia ingin menghajar Kwee Siang dan Phan
Kui In babak belur.
Kwee Siang sendiri berdebar hatinya, karena dia agak
binggung juga, jika tadi dia berkata begitu, hanya untuk
memancing kemarahan si Buntung, dan jika dia marah dan
mempertahankan kedudukan dirinya sebagai golongan
cianpwe tentu akan perintahkan Kwee Siang dan Phang Kui In
berlalu tanpa diganggunya pula. Tetapi siapa tahu si buntung
itu berkepala batu, semakin lawannya keras kepala justru dia
lebih keras kepala juga.
“Lalu apa yang kau kehendaki ?” tanya Kwee Siang waktu
melihat Lie Bun Hap hanya tertawa mengejek saja tanpa
memperdulikan kemarahannya.
„Tentu saja mengajar adat Kepada kalian berdua” kata Lie
Bun Hap dengan suara yang tegas
Kwee Siang dan Phang Kui In jadi menghela napas, karena
mereka menyadari sulit untuk mengharapkan bisa lolos dari
tangan lawan yang keras kepala dan memiliki kepandaian
yang demikian tinggi.
Dalam keadaan demikian, tampak Phang Kui In telah maju
selangkah, dia merangkapkan kedua tangannya menjura
memberi hormat kepada Lie Bun Hap.

„Lie Locianpwe…seharusnya kami memang dihukum, tetapi
dengan memandang muka terangnya Oey Locianpwe pemilik
pulau Tho-hoa to, ampunilah kami. .kami akan segera
meninggalkan pulau ini…!”.
Mendengar perkataan Phang Kui In, muka Lie Bun Hap jadi
berobah hebat, dia telah berkata dengan suara yang dingin :
„Permintaan ampunmu itu datangnya terlambat ! Dan
sekarang, kalian berdua orang2 golongan boanpwee yang
kurang ajar, harus kuajar adat…!”
Dan setelah berkata begitu, diangkatnya tongkat ditangan
kanannya, dia telah berkata lagi : ,,Bersiap2lah, aku akan
segera menyerang. .!”.
Kwee Siang dan Phang Kui In menyadari bahwa mereka
tidak mungkin terlepas dari cengkeraman tangan orang aneh
ini, maka mereka jadi nekad.
Dengan mengeluarkan suara seruan : „Silahkan menyerang
!”, Kwee Siang telah menggerakkan pedangnya menabas
udara kosong, sehingga suara pedang itu berkesiuran.
Phang Kui In juga telah berdiri tegak bersiap2 untuk
menerima segala serangan yang akan dllancarkan oleh
lawannya. Dan dia telah bertekad untuk melindungi Kwee
Siang, karena dia mengetahui bahwa Kwee Siang memiliki
kepandaian tinggi, dan dia harus dapat diselamatkan, terlebih
lagi Kwee Siang merupakan cucu bungsu dari Oey Yok Su. Jika
sampai terjadi sesuatu didiri gadis pendekar ini, niscaya Oey
Yok Su tidak akan mau mengerti, walaupun hanya seujung
rambut saja yang terganggu, tetapi pasti Oey Yok Su akan
mencari Lie Bun Hap untuk membalas sakit hati.
„Locianpwe …!” kata Phang Kui In lagi dengan suara yang
disabar2kannya. „Dengarlah dulu keteranganku ini !”.

„Keterangan apa lagi yang hendak kau katakan ? Cepat
katakan !!” kata Lie Bun Hap memperlihatkan sikap yang tidak
sabaran.
Phang Kui In telah merangkapkan tangannya menjura
memberi hormat lagi kepada Lie Bun Hap.
„Lie Locianpwe … ketahuilah, bahwa kami terdampar
dipulau ini tanpa kami sengaja dan tanpa kami kehendaki !
Kami telah menerima nasib yang buruk ditawan bajak laut,
dan kami disimpan dalam kamar tahanan. Untung kami bisa
meloloskan diri dengan melobangi dinding kamar tahanan itu
dan berenang keluar dari kapal tersebut. Tetapi sayang,
rupanya kami harus menerima percobaan lagi. kami telah dipusing2kan
dalam putaran user2 air laut yang akhirnya
membuat kami pingsan. Waktu kami tersadar, ternyata kami
telah menggeletak ditepi pantai palau ini. Maka dengan
memandang muka terang dari Oey Locianpwe, kami mohon
Lie Locianpwe mengampuni kami dan kami akan segera
meninggalkan pulau ini tidak berani mengganggu Lie
Locianpwe lagi…”
Manis cara berkata Phang Kui In, dan diapun ber-kata2
dengan sikap yang hormat sekai. Lie Bun Hap untuk sejenak
jadi diam! tertegun.
Tetapi kemudian sambil mengetukkan ujung tongkat
disebelah kirinya ketanah, dia telah berkata „Tadi kau
mengatakan bahwa kalian ditawan oleh bajak laut, tahukah
engkau siapa bajak laut itu ?”.
Phang Kui In menggelengkan kepalanya.
„Sayang kami tidak mengetahui siapa mereka yang telah
membajak kami. Namun kami ketahui nama pemimpin mereka
adalah Ciong Lam Cie. Hanya itu yang kami ketahui”.
„Ciong Lam Cie ?” tanya Lie Bun Hap dengan mata terbuka
lebar2, tampaknya dia sangat terkejut.

„Ya !”.
„Orang she Ciong itu masih hidup ?”.
„Entahlah. kami tidak mengenalnya dan hanya mengetahui
namanya Ciong Lam Cie, dia sendiri yang menyebutkannya.”
Mendengar perkataan Phang Kui In yang terakhir, Lie Bun
Hap telah berdiri diam tercenung. Tampaknya ada sesuatu
yang tengah dipikirkannya.
„Besarkah jumlah mereka ?” tanya Lie Bun Hap lagi.
„Cukup banyak, bahkan anak buahnya itu semuanya
mengerti ilmu silat yang cukup tinggi …!”.
„Hemmm … kalian telah dirubuhkannya ?” tanya Lie Bun
Hap.
“Oleh ketuanya atau hanya kaki tangannya yang
merubuhkanmu ?”.
„Kami dirubuhkan oleh orang she Ciong itu sendiri !!”
menyahut Phang Kui In dengan pipinya yang berobah menjadi
merah.
„Hemmm, orang she Ciong itu rupanya tengah mencari
lawan2nya …!” menggumam Lie Bun Hap.
„Tidak salah Lie Locianpwe. ..!” kata Phang Kui In.
„Memang dia tengah mencari seseorang…! Bahkan kalau
dilihat caranya, dia bukan hanya mencari seorang saja, justru
dia tengah menyelidiki beberapa orang yang hendak
dibinasakannya.
„Tahukah engkau siapa2 saja yang tengah dicari Ciong Lam
Cie ?” tanya orang tua itu.
Phang Kui In menggelengkan kepalanya perlahan,
kemudian dia berkata lagi : “Kami tidak mengetahui jelas,
tetapi jika tidak salah orang she Ciong itu juga memusuhi
Kwee Ceng Taihiap suami isteri. yaitu ayah ibu dari Kwee

Liehiap ini…dan ada seorang lainnya yang dimusuhinya juga,
yaitu…”
Berkata sampai disitu, Phang Kui In berhenti bicara, seperti
juga dia bimbang menerus kan kata2nya itu.
„Siapa orang yang lainnya itu. .?” tanya Lie Bun Hap
mendesak, matanya juga telah memandang kepada Phang Kui
In dengan terpentang lebar.
„Jika tidak salah dengar, diapun ingin mencari Yo Ko Sin
Tiauw Taihiap…!” Akhir nya Phang Kui In memberikan
penjelasannya juga.
„Apa…apa ?” tanya Lie Bun Hap seperti terkejut dan
melompat satu tombak lebih. „Engkau bicara jangan main2 !
Cepat katakan yang sebenarnya…!”.
„Aku telah bicara dari hal yang sebenarnya !” menyahuti
Phang Kui In.
„Tetapi…tidak mungkin Ciong Lam Cie akan
memberitahukan padamu dia tengah mencari Sin Tiauw
Taihiap Yo Ko …! “.
“Mengapa tidak? Sekarang setiap orang yang lewat
diperairan yang berada dalam kekuasaannya tentu akan
ditangkapnya. Dan jika orang itu, setelah diperiksa, tidak
memiliki sangkut paut dengan orang2 yang sedang dicarinya
maka akan dibebaskan. Tetapi jika ternyata orang itu memiliki
sangkutan dengan orang2 yang tengah dicarinya, tentu akan
dikurungnya, ditawannya !”
“tetapi … ?” tanya Lie Bun Hap dengan ragu2 mengawasi
Phang Kui In.
“tetapi kenapa locianpwe, tanya Phang Kui In sambil
mengawasi jago she Lie itu.

“tetapi mengapa engkau juga ditawan, apakah engkau
memiliki hubungan dekat dengan musuh2 orang she Ciong itu
?”
Phang Kui In menghela napas.
“Memang peristiwa yang terjadi begitu adanya !”
Kata Phang Kui In, “karena Kwee Lihiap telah mengakui
terus terang bahwa dia adalah puteri dari Kwee Ceng Taihiap,
sedangkan kawan kami yang seorang lagi, Him-jie (anak Him)
justru mengakui bahwa dia adalah puteranya Sin Tiauw taihiap
!!”
„Sin ….Sin Tiauw Taihiap Yo Ko ada puteranya ?” tanya Lie
Bun Hap seperti juga tidak percaya apa yang didengarnya.
„Ya”, mengangguk Phang Kui In dengan cepat, wajahnya
segera tergambar perasaan menyesal dan sedih. „Dia telah
lenyap waktu kami meloloskan diri dari kapal orang itu.
Semula Him-jie aku gendong dan rangkul kedua kakinya
kuat2, tetapi waktu tubuh kami terserang user2 air laut yang
berputar, kami telah pingsan dan satu dengan yang lainnya
sudah tidak bisa mengetahui, sampai akhirnya ketika aku
tersadar dari pingsan kami telah tergeletak dipasir tepi pantai.
Hanya Kwee Uehiap yang kujumpai, sedangkan Him-jie tidak
diketahui berada dimana…!” setelah berkata begitu, Phang Kui
In jadi menghela napas berulang kali.
„Apakah., apakah puteranya Sin Tiauw Tai hiap Yo Ko itu
seorang anak lelaki berusia dua belas tahun atau tiga belas
tahun ?” tanya Lie Bun Hap sambil mengawasi Phang Kui In
dengan sorot mata yang sangat tajam sekali.
„Tepat !” berseru Phang Kui In dengan suara terkejut
bercampur girang, disamping itu juga wajahnya ber-seri2,
karena ada harapan lain baginya untuk bertemu dengan Yo
Him.

„Aku semalam telah menemukan seorang anak lelaki yang
berusia diantara dua belas tahun mengeletak tidak sadarkan
diri. Anak lelaki itu memiliki tubuh yang lemas dan tampan
sekali mukanya. Aku senang padanya, aku bawa kerumahku.
Apakah mungkin dia itu puteranya Yo Taihiap ?
Phang Kui In telah berjingkrak saking gembiranya.
“Lie Locianpwe, bisakah locianpwe mengantar kami untuk
menjenguknya ?” tanya Phang Kui In.
Kwee Siang juga jadi berobah mukanya, berseri2 cerah
sekali, dia merangkapkan kedua tangannya menjura kepada
orang tua berkaki buntung itu setelah menympan kembali
pedangnya.
“Maafkan atas kecerobohan dan kekurang ajaran boanpwe
!” kata Kwee Siang dengan suara yang sabar tidak
mengandung permusuhan lagi.
Phang Kui In juga telah menjura sambil katanya”kami tentu
tidak akan melupakan budi kebaikan Locianpwe !!’ .
Tetapi Lie Bun Hap menggelengkan kepalanya perlahan, dia
telah berkata dengan suara yang tawar „Aku memberitahukan
kepada kalian bahwa aku menemukan anak itu, bukan berarti
aku bersedia untuk membiarkan kalian bertemu! Aku telah
bertekad untuk mengambil dia menjadi muridku ! Selama
puluhan tahun aku tidak memiliki murid, maka melihat bakat
dan tulang baik dari anak itu, aku ingin mengambilnya sebagai
murid tunggal !” Hem. mana mungkin aku membiarkan kalian
bertemu muka lagi, yang bisa memberantakkan
rencanaku…!”.
Setelah berkata begitu, muka Lie Bun Hap jadi berobah
bengis lagi, dia telah meneruskan perkataannya : “Cepat kau
katakan, kearah mana yang diambil Ciong Lam Cie…?”.

„Kau sendiri tidak mau mempertemukan kami dengan Himjie
dan sekarang kau mendesak kami untuk memberikan
keterangan. Itu lah urusan yang tidak cengli…!”.
„Kau ingin aku memaksa dengan kekerasan ?” bentak Lie
Bun Hap yang bergelar si Buntung itu.
„Tetapi jika locianpwe menyiksa kami, berarti untuk
selamanya kau tidak bisa memperoleh keterangan apapun
mengenai dirinya bajak laut Ciong Lam Cie itu…!” Kwee Siang
telah ikut menimbrung bicara dengan nada yang dingin.
„Hemm, enak saja engkau bicara ! Bukan kah masih ada Yo
Him, putera Sin Tiauw Tai hiap Yo Ko ? Bukankah diapun
mengalami hal dan peristiwa itu ber-sama2 dengan kalian ?”.
Setelah berkata begitu, tampak Lie Bun Hap tertawa bergelak2,
Phang Kui In dan Kwee Siang merasakan telapak tangan
mereka jadi dingin.
Memang tidak salah, jika Yo Him berada ditangan orang
she Lie ini. tentunya dia bisa saja mendesak Yo Him, atau
memancing anak itu dengan berbagai jalan, agar Yo Him
menceritakan apa yang dialaminya. Dan setelah itu, tentunya
segala urusan menjadi jelas dan terang.
Waktu itu Lie Bun Hap telah berkata lagi dengan suara
yang dingin : „Apakah kalian tetap tidak mau menceritakan
kepadaku perihal ketua Tiauw-pang (Perkumpulan Rajawali)
Ciong Lam Cie itu ?”.
Phang Kui In menghela napas dengan lesu.
„Mereka menempuh jalan air yang menuju kearah Timur
tenggara…!” katanya kemudian.
„Hemmm, jika Ciong Lam Cie mengambil arah Timur
tenggara tentu tidak akan sampai ditempat ini, justru tempat

ini terletak di Barat Selatan. Ha, ha, ha! Kukira cukup
keterangan yang kau berikan …!”.
Setelah berkata begitu Lie Bun Hap telah mengibaskan
tongkat yang ditangan kanannya, seperti sikap
mempersilahkan tamunya untuk pergi. „Kalian bebas untuk
meninggalkan pulau ini, aku tidak akan mengganggunya !”.
Tetapi Phang Kui In dan Kwee Siang mana mau berlalu dari
pulau ini setelah mengetahui bahwa Yo Him masih selamat
dan berada dalam rawatan orang tua she Lie itu, yang tertarik
ingin mengangkat Yo Him sebagai murid tunggalnya itu.
„Locianpwe…” suara Phang Kui In tidak lampias,
tampaknya dia bingung sekali.
,,Apa lagi ? Aku telah membebaskan kalian tanpa diberi
tanda mata sedikitpun ditubuh kalian, apakah itu masih belum
cukup sehingga kalian berdua tampaknya, tidak puas ?”
Tajam suara dari Lie Bun Hap waktu dia menegur begitu,
karena dia mendongkol sekali tampaknya. Dan bibirnya yang
kemudian terkatup rapat itu memperlihatkan bahwa dia
menaban amarah dihatinya !
Phang Kui In cepat2 menjura lagi sambil katanya dengan
suata yang halus : „Locianpwe kasihanilah kami, ajaklah kami
menemui Yo Him…! Kami sesungguhnya tengah menerima
tugas yang cukup berat, yaitu membawa Yo Him menemui
ayah kandungnya ! Kami kira tentunya Locianpwe tidak
keberatan bukan untuk melepaskan Yo Him sementara waktu,
dan kelak jika telah bertemu dengan ayah kandung nya tentu
kami akan mengajaknya kemari lagi untuk menemui
Locianpwe, guna mengadakan pengangkatan guru dan murid.”
Waktu itu muka Lie Bun Hap telah berobah semakin tidak
enak dilihat, dia mengetukkan ujung tongkatnya ketanah
sebanyak empat kali, mukanya juga merah padam, giginya
yang menggigit keras2 itu terdengar ber-kereot2

„Kau bicara seperti anak kecil saja!” bentak Lie Bun Hap
akhirnya. „Hemmm, apa kah engkau kira dengan bicara
begitu, dengan me-nyebut2 nama Sin Tiauw Taihiap Yo Ko
aku akan takut dan gentar, lalu cepat2 menyerahkan anak itu
kepada kalian ? Hemmm, enak saja kau bicara. Sekarang
begini saja singkatnya : kalian mau pergi meninggalkan pulau
ini atau mau aku mampusi saja ?”.
Keras nada perkataan dari Lie Bun Hap, dia tampaknya
tidak senang dengan sikap Phang Kui In yang seperti mengulur2
waktu.
Disaat itulah tampak Kwee Siang telah berkata dengan
suara ragu2 :
„Locianpwe… maukah locianpwe mengasihani kami bertiga
dengan memandang muka ayah dan ibuku ?!” kata Kwee
Siang. „Nanti kepada ayah dan ibu aku akan menceritakan
segalanya perihal Locianpwe yang telah melepas budi kepada
kami…”.
Mendengar perkataan Kwee Siang, Lie Bun Hap telah
tertawa ber-gelak2 dengan keras.
,,Hemm, engkau bicara seperti juga bermimpi !” katanya
dingin. ,.Apa harganya ayah, ibumu harus kupandang ?
Hemm, jika Kwee Ceng dan Oey Yong sendiri yang datang
memohon! agar aku melepaskan Yo Him. belum tentu aku
akan melayaninya, bahkan bisa2 mereka kumampusi
sekalian…!”.
Kaget Kwee Siang mendengar perkataan Lie Bun Hap yang
terakhir itu. Ternyata orang she Lie ini sama sekali tidak
memandang muka terang dan kepopuleran nama Kwee Ceng,
dan Oey Yong. Disamping itu, orang she Lie ini terlalu
sombong dan takabur sekali, maka hal ini tidak
menggembirakan hati Kwee Siang, dan Phang Kui ln.
,,Lalu apa maunya Locianpwe ?” tanya Kwee Siang
menahan kemarahan hatinya.

„Kalian pergi menggelinding dari pulauku dan jangan coba2
berani datang kemari iagi karena jika aku bertemu kembali
dengan kalian, aku tentu akan menurunkan tangan maut
membinasakan kalian, dan kalian tidak bisa mengatakan lagi
aku terlalu kejam, sebab sekarang ini aku telah membebaskan
kalian dengan cara yang enak tanpa syarat”.
Muka Kwee Siang dan Phang Kui ln jadi berobah merah.
Mereka tersinggung sekali.
Walaupun bagaimana Kwee Siang dan Phang Kui In
merupakan jago2 yang memiliki nama tidak kecil didalam
rimba persilatan dan kalangan kangouw, tetapi sekarang Lie
Bun Hap memperlakukan mereka sekehendak hatinya,
menghina mereka habis2an.
Tetapi Phang Kui In telah menjura lagi sambil menahan
kemarahan dihatinya.
Lie locianpwe walaupun bagaimana kami harus menemui
Yo Him dulu, nanti kami menanyakan langsung kepadanya,
apakah dia bersedia untuk menjadi muridmu, jika memang dia
bersedia untuk mengangkat guru padamu kamipun tidak bisa
berbuat apa2.”
“Kalian terlalu cerewet seperti nenek2 dan kakek2 !” teriak
Lie Bun Hap dengan suara yang keras sekali.
“Dengarlah dulu Lie locianpwe !”
Tetapi belum lagi suara Phang Kui In selesai diucapkan
disaat itu tampak Lie Bun Hap telah mengibaskan tongkat
ditangan kanannya sambil berkata “Cepat menggelinding pergi
sebelum aku melakukan tindakan kekerasan melemparkan
kalian ke tengah2 laut… !”
Suaranya bengis sekali mengandung hawa pembunuhan,
tetapi Kwee Siang dan Phang Kui In tidak takut melihat sikap
mengancam dari Lie Bun Hap. Bahkan mereka telah
mempersiapkan besi2 yang kuat pada kedua kaki mereka,

dengan sikap yang ber-hati2 karena mereka menyadari Lie
Bun Hap bukan hanya sekedar mengancam saja, tetapi bisa
saja orang she Lie itu melancarkan serangan sungguhan.
Melihat Kwee Siang dan Phang Kui In mengambil sikap
seperti menantang, muka Lie Bun Hap jadi berobah merah
padam, dengan suara bentakan yang keras dia telah bilang :
“Bagus, bagus ! Memang kalian rupanya mencari penggebuk
!”.
Dan membarengi dengan perkataannya itu, tampak Lie Bun
Hap telah mengeluarkan suara bentakan yang nyaring sekali,
dia telah menggerakkan tongkat ditangan kanannya memukul
udara kosong, kemudian tongkatnya meluncur kearah
tenggorokan Phang Kui In.
Orang she Phang itu jadi terkejut, dia sampai
mengeluarkan suara teriakan tertahan karena kaget, sebab
datangnya serangan tongkat Lie Bun Hap sangat cepat sekali.
Dan belum lagi dia sempat memikirkan untuk menangkis atau
berkelit dengan jurus apa, tahu2 ujung tongkat lawannya
telah berobah arah lagi, menusuk kearah lambungnya !.
Cepat2 Phang Kui In membuang dirinya kelain arah untuk
mengelakkan serangan tongkat itu.
Namun belum lagi dia berhasil mengelakkan diri dari
tongkat Lie Bun Hap, dan belum lagi tubuhnya menyentuh
tanah, kaki kiri Lie Bun Hap telah melayang cepat sekali
menendang kempolan Phang Kui In.
,,Dukk” terdengar keras tendangan Lie Bun Hap mengenai
sasarannya dengan tepat, sehingga tidak ampun lagi Phang
Kui In jadi terlempar dan terguling diatas tanah, dia
merasakan kempolannya sakit sekali.
Lie Bun Hap tidak tinggal diam hanya sampai disitu saja,
dengan cepat dia mendekati Phang Kui In, terlihat tongkatnya
yang ditangan kanan telah melayang akan menusuk kearah
perut Phang Kui ln yang saat itu tengah rebah terlentang.

Phang Kui In jadi mengeluh, dia bisa membayangkan
betapa dahsyatnya tenaga menyodok tongkat itu kepada
perutnya, dan jiwanya bisa melayang jika sampai tertusuk oleh
ujung tongkat tersebut.
Bukan hanya Phang Kui In saja yang terkejut Kwee Siang
juga jadi terperanjat.
Dengan mengeluarkan suara bentakan nyaring dan tidak
membuang2 waktu lagi, tampak Kwee Sian telah menjejakkan
kakinya, tubuh
„Siuuttt…!” pedang itu meluncur secepat kilat dan
mengandung tenaga lwekang yang luar biasa kuatnya. Sinar
putih tampak meluncur terus kearah pundak kanan Lie Bun
Hap. Tetapi orang she Lie itu sama sekali tidak memperdulikan
serangan pedang Kwee Siang, dia hanya mengeluarkah suara
dengusan sambil meneruskan serangan ujung tongkatnya
yang hendak ditusukkan keperut Phang Kui In.
“Tranggg…!” ketika mata pedang Kwee Siang berhasil
mengenai pundak orang she Lie itu, dia merasa menikam
semacam benda keras, dan pedangnya itu telah melejit,
sehingga Lie Bun Hap tidak terluka sama sekali.
Sedangkan Phang Kui In menyaksikan kejadian yang
berlangsung hanya satu, dua detik itu. tambah terkejut.
Mati2an dia telah menekan tanah dengan kedua tangannya,
meminjam tenaga tekanan itu, tubuh Phang Kui In telah
meloncat kesamping, bergulingan menjauhan diri dari
lawannya.
Tongkat Lie Bun Hap telah meluncur cepat dan menghujam
tanah, masuk cukup dalam. Gusar sekali Lie Bun Hap, sampai
dia berjingkrak, marah ketika mengetahui lawannya telah
berhasil menyelamatkan diri.
Untuk melampiaskan kemarahannya itu, Lie Bun Hap tidak
berdiam diri saja waktu serangannya kepada Phang Kui In
telah gagal mengenai sasarannya, dengan cegat sekali

tongkatnya yang tercekal ditangan kiri telah menyambar
dahsyat kearah perut Kwee Siang.
“Wutt…!.” tongkat ditangan kiri Lie Bun Hap telah
menyambar mengejutkan Kwee Siang. Tetapi sebagai seorang
jago muda yang memiliki kepandaian tinggi, dan puteri dari
jago2 ternama Kwee Ceng dan Oey Yong, disamping itu
sebagai cucu dari Oey Yok Su, maka dia tidak menjadi gugup
menghadapi keadaan seperti itu.
Dengan mengeluarkan suara bentakan yang mengguntur,
tampak Lie Bun Hap telah memperhebat serangan tongkatnya
kepada Kwee Siang, agar berhasil mengenai Sasarannya.
Tetapi Kwee Siang juga dapat bergerak lincah, dengan
cepat pedangnya berputar dan menangkis serangan tongkat
orang she Lie itu
“Tranggg !” suara benturan antara pedang dengan tongkat
terjadi sampai Lie Bun Hap terkejut karena telapak tangannya
dirasakan sakit sekali, sehingga dia mengeluarkan suara
seruan kaget !. untung saja tongkatnya itu tidak sampai
terlepas dari cekatannya, dan tubuhnya tidak sampai roboh
terjungkel.
Kwee Siang telah mengeluarkan suara tertawa dingin. Tadi
dia bukannya tidak terkejut waktu senjata mereka saling
bentur, Kwee Siang merasakan telapak tangan kanannya
pedih dan panas sekali, disamping itu juga pedangnya tergetar
keras hampir saja akan terlepas dari cekalan tangannya.
Untung Saja Kwee Siang merupakan pendekar wanita dijaman
itu yang memiliki Kepandaian tinggi dan hampir setingkat
dengan kepandaian ibunya, Oey Yong, dan Kwee Siang hanya
kalah pengalaman saja.
Maka dengan mencekal keras2 gagang pedangnya, dia
sengaja telah memperdengarkan suara tertawa dingin untuk
menutupi keterkejutannya itu.

„Hayo seranglah lagi !! “ kata Kwee Siang dengan suara
nyaring.
Lie Bun Hap telah gusar sekali, dia mengeluarkan seruan
marah, tahu2 tongkatnya telah menotok tanah dan tubuhnya
melambung beberapa tombak tingginya meminjam tenaga
totolan dari tongkat tersebut.
Dan waktu tubuh Lie Bun Hap terapung ditengah udara,
dengan cepat sekali dia menggerakkan tongkatnya, dan dia
telah melancarkan pukulan “Pek Kong Ciang” (Pukulan Udara
Kosong). Sebetulnya ilmu Pek Kong Ciang itu hanya khusus
untuk ilmu pukulan tangan kosong. Tetapi karena Lie Bun Hap
mempergunakan sepasang tongkat, dan tidak mungkin dia
melepaskan tongkatnya yang bisa dipergunakan menunjang
tubuhnya itu, dia telah merobah pukulan Pek Kong Ciang itu
menjadi pukulan udara kosong yang dilakukan sekaligus
dengan kedua tongkatnya itu.
„Wutt, siuutt…!” be-runtun2 kedua senjata tongkat itu telah
meluncur gencar kearah Kwee Siang.
Puteri Kwee Ceng dan Oey Yong itu jadi kaget bukan main,
dia telah merasakan sambaran angin serangan yang kuat
sekali walaupun serangan lawan belum tiba, masih terpisah
setengah tombak.
Tetapi sebagai Siauw-sia, sisesat kecil, yang menuruni sifatsifat
kakeknya, sisesat tua Oey Yok Su, maka Kwee Siang
tidak pernah mengenal perasaan ‘takut’. Walaupun dia melihat
serangan yang dilakukan oleh lawannya itu merupakan
serangan yang kuat dan hebat, tetapi Kwee Siang tidak
mundur setapakpun juga, dia hanya memutar pedangnya berruntun2
dia telah mempergunakan jurus “lima kali berlutut
menyembah Budha” lalu disusuli lagi dengan “bidadari
mempersembahkan arak”, kemudia waktu lawannya
melancarkan serangan lagi, saat itulah tampak Kwee siang
telah mendahului menyerang kearah dada Lie Bun Hap
dengan gerakan yang sangat manis, yang mempergunakan

jurus ‘jie liong in cu’ atau sepasang naga berebut mustika”,
pedangnya itu berkesiuran mencaplok dan mengigit dada
lawannya.
Lie Bun Hap mengeluarkan suara tertawa mengejek tanpa,
memperdulikan pedang Kwee Siang yang menyambar kearah
dadanya, dia menggerakkan kedua tongkatnya untuk
membarengi melancarkan serangan lagi. Gerakannya itu
membuat Kwee siang terkejut, karena tadi dia telah
mengalami betapa kulit punggung lawannya tidak tertembus
oleh mata pedang. Maka melihat kali ini lawan tidak berusaha
mengelakkan diri dari tusukan pedangnya, Kwee Siang bisa
menduga bahwa lawannya tentunya mengenakan pakaian
lapis baja atau besi, sehingga tidak mempan oleh tikaman
atau tusukan pedangnya.
Kwee siang cerdik sekali, dia tidak mau dibodohi musuhnya
lagi, dia teiah menarik pulang pedangnya, kemudian
dibaliknya pedang itu meluncur kesamping untuk menangkis
sekaligus kedua batang tongkat Lie Bun Hap yang tengah
menyambar kearah dirinya.
“Trangggg !” kembali pedang Kwee siang tergetar dan dia
merasakan telapak tangannya sakit dan pedih, dia baru
menyadari bahwa tongkat Lie Bun Hap bukan tongkat kayu,
melainkan tongkat besi hitam yang terkenal kekuatannya.
Lie Bun Hap juga tidak tinggal diam, karena begitu tongkat
hitamnya terbentur dengan pedang Kwee siang dia telah
mengeluarkan suara bentakan yang garang, lalu tongkatnya
menyambar dengan pesat akan menotok dada kanan sigadis.
Tetapi Kwee siang telah memiliki latihan yang cukup
sempurna dalam pelajaran Kiu Im Cin Keng dan kakeknya
yang memanjakannya sebagai cucu terkecil itu, telah
menurunkan banyak sekali pelajaran ilmu simpanannya.
Dengan demikian walaupun dirinya tengah terancam bahaya
yang tidak kecil, namun Kwee Siang bisa menghadapinya
dengan baik, dia menghadapi gempuran tongkat Lie Bun Hap

dengan dua kali memiringkan tubuhnya, dan telah berhasil
melompat kebelakang.
Tetapi Lie Bun Hap rupanya tidak mau melepaskannya
begitu saja, begitu serangan tongkatnya gagal, dia
membarengi melancarkan serangan serentak dengan kedua
tongkatnya.
Gerakan yang dilakukan Lie Bun Hap tidak bisa diremehkan,
karena pada kedua tongkatnya itu telah tersalurkan kekuatan
tenaga lwekang yang hebat, yang bisa menghancur leburkan
sebungkah batu jika terserang oleh tongkatnya itu.
Kwee Siang juga merasakan berkesiuran angin serangan
dari kedua tongkat lawannya yang tangguh ini, dia cepat2
menarik napas dalam2, lalu menyalurkan kekuatannya
kedalam telapak tangannya yang terus kesalur masuk kedalam
pedangnya. Mata pedangnya ditundukkan menghadap bumi,
sedangkan kedua lengannya mencekal pedangnya itu seperti
juga tengah memberi hormat.
Lie Bun Hap terkejut.
„Itulah Sian Lie Sin Kiam Sut !” berpikir Lie Bun Hap dalam
hatinya. „Sian Lie Sin Kiam Sut berarti ilmu Pedang Bidadari
sakti”
“Trangg !” benturan antara tongkat Lie Bun Hap dengan
pedang Kwee Siang tidak bisa dielakkan lagi sehingga
terdengar suara benturan logam yang kuat sekali, disamping
menimbulkan lelatu api.
“Hebat nona Kwee itu .” diam2 Phang Kui In jadi berpikir
didaiam hatinya. „Jika aku yang menghadapi Lie Bun Hap,
tentu siang2 aku telah binasa ditangannya…!”.
Apa yang dipikirkan oleh Phang Kui In memang benar,
karena waktu antara tongkat dengan pedang saling bentur,
bukan hanya Kwee Siang belaka yang terhuyung mundur
sampai empat tombak dengan muka yang berobah pucat,

tetapi Lie Bun Hap juga telah ter huyung2 mundur kebelakang
dengan mengeluarkan suara seruan tertahan, dia telah
terdorong mundur empat tombak juga oleh dorongan tenaga
tangkisan yang dilakukan oleh Kwee Siang.
Phang Kui In berdiri mengawasi pertempuran itu denpan
hati berdebar.
dia tidak berani melompat maju untuk membantui Kwee
Siang, karena dia menyadari, jika dia melibatkan dirinya dalam
pertempuran dengan mereka berarti dirinya akan celaka,
karena justru Lie Bun Hap dan Kwee Siang masing2 tengah
mengeluarkan kepandaian mereka yang paling kuat.
Itulah sebabnya Phang Kui In hanya berdiri tertegun saja
dengan muka sebentar2 pucat.
„Nah, kau sudah melihatnya, bukan ?” tanya Kwee Siang,
waktu pendekar wanita itu berhasil berdiri tetap. „Bukan
hanya engkau saja yang berhasil memiliki kepandaian yang
tinggi ! Untung saja hari ini engkau hanya bertemu dengan
aku, coba kalau engkau bertemu dengan kedua orang tuaku,
tentu bukan kakimu saja yang tidak ada, sepasang tanganmu
mungkin akan dikutungkannya juga, karena engkau seorang
yang sangat kejam dan jahat sekali! Hemmm, apalagi kalau
engkau bertemu dengan kakekku, tentu engkau tidak akan
memiliki harapan untuk hidup terus!”.
Mendengar perkataan seperti itu, muka Lie Bun Hap jadi
berobah merah padam, tetapi dia tidak melancarkan serangan
lagi, melainkan dia telah mengeluarkan suara tertawa bergelak2
yang sangat nyaring sekali.
Kwee Siang jadi heran dan mengawasi dengan tertegun,
dia telah melihat bahwa lawannya tadi. selama bertanding
bukanlah lawan yang lunak. Bahkan jika dilihat cara2
menyerangnya, kepandaian Lie Bun Hap lebih tinggi satu
tingkat dari dia, dan juga lebih menang pengalaman, karena

dari usianya yang telah setengah baya itulah membuat Lie Bun
Hap kenyang oleh pengalaman2nya.
Tetapi ada satu kelebihan yang dimiliki Kwee Siang, yaitu
dia memiliki Ginkang (ilmu meringankan cubuh) yang tinggi
sekali, sehingga walaupun tenaga Iwekangnya masih kalah
dibandingkan dengan Lie Bun Hap, tetapi dia bisa menghadapi
lawannya dengan baik. Juga ilmu pedang yang dimiliki oleh
Kwee Siang merupakan ilmu pedang ciptaannya sendiri, yang
digubahnya dari pelajaran Kiu Im Cin Keng dan Kiu Im Siankiam-
sut.
Setelah puas tertawa, Lie Bun Hap telah memandang
kearah Kwee Siang dengan sorot mata yang tajam sekali, dia
juga telah berkata dengan nada suara perlahan dan dalam !
„Anak yang manis, engkau memang harus diberikan pelajaran
agar mengerti tingginya langit…!”.
Dan berkata sampai disitu, tampak Lie Bun Hap telah
mengeluarkan suara mendesis, tahu2 tongkat ditangan
kanannya diangkat tinggi melewati kepalanya, sehingga dia
hanya berdiri dengan bantuan tongkat tunggal ditangan
kirinya. Sikapnya memperlihatkan ketegangan, dan disamping
itu juga tampaknya Lie Bun Hap tengah mengerahkan tenaga
dalamnya kedalam tongkat ditangan kanannya. Gerakan yang
dilakukan itu merupakan gerakan yang mengerikan, karena
bagi orang2 yang mengerti dan mengetahui, mereka tentu
akan bergidik. Rupanya Lie Bun Hap tengah menyalurkan
kekuatan lwekang ribuan kati untuk melancarkan serangan
kepada Kwee Siang.
Kwee Siang yang celah memiliki kepaadaian tinggi, tentu
saja menyadari bahaya yang tengah mengancam dirinya. Dia
tidak berani berlaku ayal, dengan mata tetap mengawasi dan
sikap yang berwaspada sekali, tampak Kwee Siang juga
mengangkat pedangnya dilintangkan didepan dadanya. Dia
telah menyalurkan sembilan bagian tenaga lwekangnya
kepedangnya.

„Hemmm, sekarang kau terimalah seranganku !” berseru
Lie Bun Hap.
,,Hati2 Kwee Liehiap !!” teriak Phang Kui In dengan kuatir
sekali.
Tetapi Kwee Siang tetap tenang, berdiri tegak dengan
bibirnya tersungging senyuman.
„Jangan kualir, Phang Lo-engbiong, orang ini memang
harus diberi hajaran agar dia mengetahui dalamnya lautan dan
tingginya langit …!” kata Kwee Siang dengan suara perlahan
dan dia telah mengawasi terus kepada lawannya, karena
sedikitpun juga Kwee Siang tidak berani berlaku lengah.
Dalam keadaan seperti ini, terlihat Lie Bun Hap telah
menotolkan tongkat tangan kirinya, membarengi tongkat
ditangan kanannya bergerak akan menusuk jalan darah Tan
Tian Hiatnya Kwee Siang.
,,Siutt…!” tongkat yang dipergunakan menyerang dengan
tenaga yang sangat kuat itu telah menimbulkan suara desiran
angin yang sangat tajam, dan mata tongkat itu telah
menyambar dengan pesat sekali.
Kwee Siang merasa kagum atas kepandaian ilmu tongkat
Lie Bun Hap yang benar2 mengagumkan, dia menanti sampai
serangan Lie Bun Hap hanya terpisah beberapa cie dari
dadanya, barulah dia menangkis dengan, jurus “Burung Hong
melebarkan sayap” dan terlihat betapa pedangnya menahan
meluncurnya tongkat lawan.
Dalam keadaan demikian, tampak Lie Bun Hap sama sekali
tidak bermaksud menarik pulang pukulannya. Dengan gerakan
“Pat Sian Ie Ie” atau “Delapan Dewa berada dalam hujan”, dia
meneruskan serangannya, beruntun mata tongkatnya itu telah
ber-gerak2 dengan sikap yang mengancam.
Disaat itu tampak Kwee Siang juga tidak tinggal diam, dia
telah melancarkan serangan dari jurus2 ilmu pedang yang

sangat hebat sekali. Ilmu pedang gabungan dari kedua orang
tuanya dan kakek luarnya, yaitu Oey Yok Su yang digabung
dengan ilmu pedang yang diperoleh dari pelajaran ilmu Kiu im
Kiam-sut yang didapatnya dari Kak Wan Taisu.
Sinar pedang yang berkilauan gemerlapan itu seperti juga
segulungan bundar sinar putih yang mengurung tubuh Kwee
Siang, sehingga Lie Bun Hap tidak berdaya untuk menyerang
dan mendesak terus menerus kepada Kwee Siang. Dia harus
memperhitungkan dan mempertimbangkan setiap serangan
yang hendak di lakukannya. Dalam waktu yang singkat kedua
orang itu telah terlibat dalam suaiu pertempuran yang sangat
seru sekali, hampir enam puluh jurus…tetapi sebegitu jauh
mereka bertempur, belum ada juga yang tampak terdesak.
Tampaknya mereka berimbang.
Lie Bun Hap yang merupakan tokoh golongan tua. tentu
saja jadi semakin penasaran, karena dia tidak berhasil untuk
menundukkan gadis dari golongan muda itu.
Phang Kui In melihat dikening Kwee Siang telah ber-manik2
keringat. Disamping itu juga dari atas kepala Kwee Siang
seperti mengepul mengeluarkan semacam uap putih yang
tipis.
Rupanya gadis she Kwee itu telah letih sekali, Lie Bun Hap
juga bukannya tidak mengalami kerugian dengan pertempuran
tersebut, sebab setiap serangan yang dilancarkannya harus
memakai banyak sekali tenaganya. Tidak mengherankan jika
disaat itu Lie Bun Hap juga telah lelah sekali. Kepalanya
mengeluarkan uap putih tipis juga.
Melihat keadaan kedua orang yang sedang bertampur itu,
Phang Kui In jadi berkuatir sekali, karena dia menyadari
sedikit saja salah seorang diantara merena itu berbuat lengah,
tentunya hal itu akan membahayakan jiwanya. Dalam keadaan
demikian dengan mengeluarkan suara seruan yang keras
sekali, keduanya berulang kali telah melompat mundur.

Tetapi mereka hanya mengambil napas sejenak, lalu
keduanya telah saling terjang lagi.
“Walaupun bagaimana aku harus membantu Kwee Lihiap.
Orang she Lie itu bukan orang baik2, diapun dari golongan
tua, maka tidak perlu aku malu mengeroyoknya… !”
Dengan tidak memikirkan lagi apa akibatnya, tampak Phang
Kui In telah menjejakkan kakinya tubuhnyha meloncat
mendekati kedua orang yang tengah baku hantam dengan
senjata masing2.
Sambil meloncat begitu, dia telah mencabut keluar
goloknya, dan mengeluarkan bentakan : “Jaga serangan !”
tampak tangan kanannya yang memegang senjata tajam itu
telah bergerak dengan cepat sekali, sehingga angin desiran
dari golok yang membacok itu mengejutkan Lie Bun Hap.
Tetapi sebagai jago yang memiliki kepandaian yang sangat
tinggi, dia sama sekali menjadi gugup. Tanpa menoleh lagi dia
telah menangkis golok yang tengah meluncur kedirinya
dengan tongkatnya yang ditangan kiri.
„Trang…!” golok Phang Kui In berhasil ditangkisnya.
Orang she Phang itu jadi mengeluarkan suara teriakan
tertahan bercampur kesakitan.
Yang hebat, waktu goloknya itu telah di tangkis oleh
tongkat lawannya, tampaknya tangkisan itu perlahan sekali,
tetapi kesudahannya cukup parah untuk Phang Kui In.
Waktu goloknya itu kena ditangkis oleh tongkat lawannya,
Phang Kui In merasakan tangannya pedih bukan main,
goloknya itu tergetar, dan terlepas dari cekalannya,
menyambar kearah sebatang pohon, dan menancap di situ
dalam sekali !
Muka Phang Kui In jadi berobah merah dan pucat
bergantian. Orang she Phang ini merasa marah dan

mendongkol bercampur aduk menjadi satu. Dengan nekad
akhirnya dia menyerang lagi dengan tangan kosong.
Per tama2 begitu terlepas goloknya, Phang Kui In telah
melancarkan serangan kepalan tangannya dengan jurus
,Memukul mati Harimau Hutan’ tangan kanannya ditekuk
sedikit dan tangan kirinya dilonjorkan kedepan. Kakinya lalu
menyerampang bhesi2 kedua kaki Lie Bun Hap. Kemudian
waktu itu Lie Bun Hap berhasil mengelakkan diri, dengan
cepat Phang Kui In menyusuli lagi dengan serangan kedua
tangannya yang hendak menjambak punggung lawan itu
dengan jurus ‘cengkeraman rajawali merobek hati’ itulah
semacam jurus eng jiauw kang (ilmu kuku garuda), yang
mengandalkan kekuatan jari2 tangan yang bisa dipergunakan
mencengkeram lengan kuat sekali. Hanya jurus yang
dipergunakan oleh Phang Kui In ada Kelebihannya jika
dibandingkan dengan Eng-jiauw kang, karena dia bisa saja
menarik pulang tangannya jika keadaan tidak mengijinkan,
sedangkan Eng-jiauw-kang sekali menyambar datang kepada
lawan, serangan itu tidak bisa dibatalkan.
Kwee Siang juga tidak tinggal diam, dia telah
menggerakkan pedangnya ber-tubi2 melancarkan tikaman dan
tabasan kepada Lie Bun Hap.
Dangan jurus “Dewi Mempersembahkan Buah”, kemudian
disusul dengan “Dewi Menari Ditaman”, terulang kali
pedangnya berkelebat-kelebat dengan cepat sekali. Serangan2
yang dilancarkannya itu sangat sulit untuk dijaga oleh
pertahanan yang bagaimanapun ketatnya. Namun Lie Bun Hap
justru saat itu masih sempat untuk menangkis dengan
tongkatnya yang satunya lagi, walaupun disaat itu dia tengah
menangkis serangan Phang Kui In.
Tetapi dengan melakukan penangkisan terhadap dua
serangan yang berlainan arah, Lie Bun Hap telah melakukan,
suatu kesalahan yang besar. Begitu pedang Kwee Siang
ditangkisnya segera dia merasakan pundatnya sakit bukan

main, sampai Lie Bun Hap mengeluarkan jerit kesakitan tanpa
diinginkannya. Dia telah meraung dari memutar tongkatnya,
sehingga untuk sejenak Phang Kui In dan Kwee Siang tidak
bisa melancarkan serangan lagi ketika melihat kekalapan
lawan mereka itu.
Ternyata punggung Lie Bun Hap telah kena dicengkeram
oleh Phang Kui In, sehingga kulit punggungnya pecah dan
tertarik copot oleh cengkeraman jari2 tangan Phang Kui In.
Dengan mengeluarkan suara raungan yang luar biasa
kuatnya tampak Lie Bun Hap telah melancarkan kemplangan
tongkatnya kepada Phang Kui In dengan seluruh tenaga
lwekangnya..
Phang Kui In jadi terbang semangatnya. Tidak mungkin dia
menangkis serangan sehelat itu dari lawannya, karena jika
Phang Kui In memaksakan diri menangkis juga, berarti dirinya
akan terluka berat dan mati. Sedangkan untuk meloloskan diri
juga sudah tidak keburu, tongkat Lie Bun Hap telah
menyambar datang dekat sekali. Mati2an Phang Kui In telah
membuang dirinya kesamping kiri, dia telah bergulingan
dengan cepat sekali. Namun tidak urung tangan kirinya
terkena oleh angin serangan itu, sehingga Phang Kui In
mengeluarkan jerit kesakitan, tulang lengan kirinya itu telah
hancur remuk terserang oleh gempuran yang sangat kuat itu !
Kwee Siang terkejut.
Dia melompat ingin menghampiri Phang Kui In. Tetapi
belum lagi Kwee Siang sempat melaksanakan apa yang
diinginkannya, tiba2 sepasang tongkat dari Lie Bun Hap telah
menyambar datang kepadanya dengan cepat sekali.
Kwee Siang terpaksa membatalkan maksudnya untuk
melihat keadaan Phang Kui In, dan menangkis kedua tongkat
yang tengah menyambar kedirinya itu.
Kemudian Kwee Siang telah membalas menyerang juga,
sehingga mereka terlibat kembali dalam pertempuran yang

mati2an, sebab masing2 telah mengeluarkan seluruh
kepandaiannya.
Phang Kui In yang semula menggeletak ditanah, telah
berusaha untuk bangun, tangan kanannya menegangi tangan
kirinya dengan muka meringis menahan sakit. Bisa
dibayangkan betapa menderitanya Phang Kui In dengan
hancurnya tulang lengannya itu.
Waktu itu Kwee Siang terdesak sekali oleh amukan
sepasang tongkat Lie Bun Hap. Beberapa kali Kwee Siang
hampir terserang oleh senjata lawan. Untung saja dia memiliki
kepandaian Delapan Patkwa, yang diajarkan oleh ibunya, ilmu
keturunan keluarga Oey, maka Kwee Siang tidak sampai
dirubuhkan oleh lawannya. .
Pedang Kwee Siang me-nyambar2 bagaikan seekor naga
putih yang meluncur. dengan cepat dan mengincar bagian2
yang bisa membinasakan lawannya.
Dalam keadaan seperti itu Kwee Siang juga telah memutar
otak untuk mencari jalan keluar guna menaklukkan musuhnya
itu ! Jika terpaksa Kwee Siang juga bermaksud akan
membinasakan lawannya tersebut, karena dia telah
melihatnya bahwa Lie Bun Hap merupakan seorang yang
kejam dan tidak memiliki perikemanusiaan.
Tetapi disebabkan kepandaian lawannya cukup tinggi,
mungkin berada diatas kepandaiannya, tidak mudah bagi
Kwee Siang untuk membinasakannya.
Lie Bun Hap juga mengeluh dalam hatinya, karena selama
ini telah ratusan jurus mereka bertempur, belum ada tanda2
dia berhasil mendesak Kwee Siang. Dan juga jadi kuatir kalau2
nanti dirinya dirubuhkan Kwee Siang, tentu namanya yang
terkenal dan dipupuk selama puluhan tahun itu akan sirna dan
runtuh…. nama baiknya akan tercemar dengan rubuhnya dia,
yang pasti akan ditertawai oleh orang2 rimba persilatan…….!

Waktu itu Phang Kui In telah bisa berdiri walaupun
tubuhnya masih ber-goyang2 tidak bisa berdiri tetap, namun
rasa sakit dilengan kirinya itu sudah berkurang banyak. Tulang
lengan kirinya itu hancur, tetapi sebagai seorang jago yang
memiliki nama, tentu saja Phang Kui In tidak mau menyerah
dengan keadaan seperti itu.
Dengan mengeluarkan suara raungan yang tiba2 sekali
tampak Phang Kui In telah melompat melancarkan serangan
kepunggung Lie Bun Hap dengan kepalan tangan kanannya.
Angin serangan itu berkesiuran sangat kuat sekali, sebab
Phang Kui ln melancarkan serangannya dengan
mempergunakan seluruh kekuatan tenaga lwekang yang ada
padanya Dan waktu itu Lie Bun Hap hanya mendengar suara
berkesiuran angin serangan orang she Pharg itu, dan dia
tanpa menoleh telah menggumam dengan suara dingin :
„Apakah engkau menghendaki hancurnya kembali tulang
lengan kananmu…?” ejeknya. Dan bukan hanya ejekan yang
dilontarkan Lie Bun Hap, karena dia telah mengeluarkan
tongkat kanannya yang disertai tenaga dalam yang dahsyat,
menyampok pergelangan tangan Phang Kui ln dengan
mempergunakan jurus “Tongkat Sakti Mengemplang Kera”,
gerakannya bukan main dahsyatnya.
JILID 22
Dalam sekejab mata saja tampak serangan2 yang
menyambar dengan kuat itu hampir mengenai pergelangan
tangan Phang Kui In Tetapi jago she Phang ini yang telah
mengetahui kehebatan tongkat lawan telah cepat2 menarik
pulang tangannya.
Gerakan Phang Kui In sangat cepat. tetapi tongkat dari
lawannya bergerak jauh lebih cepat lagi, sehingga dapat
menyerempet bahu Phang Kui In.

Tampaknya serempetan tongkat itu perlahan sekali, tetapi
kesudahannya Phang Kui In terjungkel rubuh pingsan !
Walaupun pundaknya tidak patah, karena hanya serempetan
yang sedikit saja itupun telah cukup membuat Phang Kui In
jadi tidak sadarkan diri.
Kwee Siang terkejut melihat Phang Kui In kembali kena
dirubuhkan oleh Lie Bun Hap. Dengan tidak mem-buang2
waktu lagi tampak Kwee Siang telah meloncat kedekat Lie Bun
Hap sambil berseru : „Lihat pedang !” pedang ditangannya
menyambar dengan jurus ‘Pelangi delapan arah”, dimana dia
telah melancarkan serangan kepada Lie Bun Hap dengan
tikaman2 beruntun dari delapan penjuru arah.
Lie Bun Hap melihat perobahan cara menyerang Kwee
Siang, dia jadi lebih ber-hati2.
Apa yang dilakukan oleh Kwee Siang memang ingin
mengalihkan perhatian Lie Bun Hap dari diri Phang Kui In, dan
usaha sigadis memang berhasil.
Dengan mengeluarkan suara raungan yang sangat keras,
Lie Bun Hap telah melompat melancarkan serangan dengan
kedua tongkatnya.
„Serrr, serrr,” beberapa kali “terdengar berkesiuran angin
serangan tongkat Lie Bun Hap.
Kwee Siang melihat lawannya melancarkan serangan nekad
seperti itu, jadi mengeluh didalam hatinya. Karena gadis ini
merasakan tekanan2 berat dari kedua tongkat lawannya itu.
Dalam sekejap mata mereka telah bertempur beberapa
puluh jurus lagi.
Waktu Lie Bun Hap ingin melancarkan serangan pula,
disaat itulah terdengar suara yang nyaring, suara seorang
anak kecil : Tahan…! Hentikan…!”
Kwee Siang mengelakkan kemplangan tongkat kanan Lie
Bun Hap, dan menusuk dengan pedangnya keperut lawannya.

Gerakannya itu memaksa Lie Bun Hap harus melompat
mundur mengelakkan diri. Kesempatan, itu dipergunakan
Kwee Siang untuk melirik.
Hatinya jadi meluap gembira.
„Yo Him ? Kau sehat2 saja ?” teriak Kwee Siang dengan
suara penuh kegembiraan.
„Hentikan encie Siang…justru lopehpeh (paman) itu yang
telah menolongi aku…!” kata Yo Him sambil berlari
menghampiri.
Kwee Siang bernapas lega waktu melihat Yo Him tidak
mengalami cidera apa2.
Yo Him berlari menghampiri Phang Kui In yang masih
menggeletak pingsan ditanah.
„Paman Phang ! Paman Phang !” berseru anak itu dengan
suara sedih waktu melihat keadaan Phang Kui In.
„Totok jalan darah Tu-lie-hiat didekat tulang piepe, dia
akan segera sadar kembali !” Kwee Siang telah memberikan
petunjuk kepada Yo Him.
Yo Him menuruti petunjuk yang diberikan oleh Kwee Siang,
dia menotok jalan darah Tu lie-hiat dari paman Phangnya itu.
Lie Bun Hap saat itu tengah berdiri tegak dengan sikap
tidak gembira, wajahnya juga murung sekali. Dia hanya
memperhatikan sikap Yo Him dengan sebentar2 mengeluarkan
suara dengusan mengandung kemendongkolan.
Totokan Yo Him memang benar2 telah menyadarkan
paman Phangnya itu dari keadaaa pingsannya yang cukup
lama itu, begitu membuka kelopak matanya, Phang Kui In
melihat Yo Him berada dihadapannya.
Kegembiraannya jadi meluap. Lupa akan luka ditangan
kirinya, dia mengulurkan kedua tangannya untuk mencekal
tangan Yo Him.

“Tetapi begitu tangan kirinya digerakkan, dimana tulang
lengannya telah hancur, Phang Kui In menjerit kesakitan,
tangan itu seperti juga lumpuh tidak memiliki kekuatan apa2
lagi. Mukanya juga jadi berobah pucat menahan perasaan
sakit.
Yo Him terkejut. „Kenapa kau, paman Phang ?”. „Lenganku
sakit…”. „Lengan kiri ?”.
„Ya, tulang lengan kiriku telah dihancurkan oleh iblis
buntung itu…!” sambil berkata begitu tampak Phang Kui In
telah memandang kepada Lie Bun Hap dengan sorot mata
mengandung kebencian dan dendam.
Tetapi Lie Bun Hap tidak mengacuhkan sikap Phang Kui In,
dengan suara yang tawar dia telah berkata kepada Yo Him.
,,Yo Him, kemarin engkau telah berjanji bahwa engkau
tidak akan membantah perkataanku, bukan ?”.
Yo Him mengangguk cepat. „Ya, aku telah berjanji tidak
akan membantah perintah dari Lopehpeh, yang telah
menyelamatkan jiwaku dari kematian…. ditolong dari
terjangan ombak.”
„Bagus, bagus !” kata Lie Bun Hap dengan suara yang
tetap dingin, bahkan disudut bibirnya tampak seulas
senyuman bergaris sinis. ,,Sekarang juga aku perintahkan
engkau kembali kerumahku dan tinggalkan manusia tidak
punya guna itu !”.
„Lo pehpeh ?!” Yo Him terkejut. „Kukatakan, kini engkau
kuperintahkan untuk kembali kerumahku!”.
„Tapi lopehpeh, paman Phangku int telah menderita luka
cukup serius yang harus cepat2 ditolong…!” kata Yo Him.
Mata Lie Bun Hap jadi berkilat bengis, dia telah
berkata.dengan suara yang dingin :

„Tadi kau baru menyatakan akan menuruti setiap
perintahku, tetapi belum lagi janjimu itu lenyap dari telingaku,
kau telah melanggarnya sendiri !”.
Yo Him jadi serba salah, dia telah berkata dengan suara
yang ragu2,
„Tapi Lopehpeh, paman Phang sudah kuanggap sebagai
orang tuaku. Dan enci Siang sebagai cici kandungku,..!
Bagaimana aku bisa membiarkan mereka menderita ?
Lopehpeh, silahkan memerintahkan kepadaku untuk
melakukan pekerjaan lainnya saja, walaupun harus terjun
kedalam kobaran api atau minyak panas, aku tidak akan
menampiknya…!”;
“Sungguh kata2 yang takabur sekali !” kata Lie Bun Hap.
„Apakah kata2mu yang sekarang ini bisa dipegang
kebenarannya ?”.
Yo Him mengangguk cepat tanpa ragu2
“Benar lopehpeh, perintahkanlah apa saja asal kau tidak
mengganggu paman Phang dan encie Siang, aku akan
melakukan semua perintah itu sebaik mungkin !” tegas waktu
Yo Him berkata begitu, dia juga memperhatikan sikap bersungguh2.
Phang Kui In jadi berkuatir sekali, disamping itu diapun jadi
berduka. Dia mengetahui sejak kecil Yo Him telah menerima
banyak kesengsaraan dan juga dia selalu menderita dibawah
tekanan2 yang terjadi pada keluarganya, dimana sejak
dilahirkan Yo Him belum pernah melihat ayah kandungnya.
Dan begitu juga dia dengan ibunya, ketika masih berusia tidak
lebih dua bulan, harus berpisah dengan ibu kandungnya.
Sekarang demi kepentingan dan keselamatan Phang Kui In
dan Kwee siang dia bersedia menjadikan dirinya sebagai
tumbal, tentu saja hal itu telah membuat Phang Kui In jadi
terharu sekali. Sampai dia menitikkan air matanya. Dan disaat

itu tangan kanannya yang tidak mengalami cidera telah
diulurkan dan mencekal tangan anak itu.
“Him jie engkau jangan memikirkan kami, pergilah dan
ikutilah loenghiong itu, tentu engkau akan menjadi murid yang
pandai dan kelak memiliki kepandaian yang tinggi … !”
Saat itu Lie Bun Hap telah tertawa dengan suara yang
nyaring, katanya “sekarang mari engkau buktikan kata2mu itu
! Aku akan memberikan perintah diluar dari kepentingan
kedua orang tolol itu, tetapi jika perintahku kali ini ditampik
olehmu, hemm, hemm, kau tidak perlu bicara lagi, orang itu
akan kubinasakan !”
Kemudian Lie Bun Hap telah bertanya lagi “Tadi engkau
mengatakan tidak takut untuk terjun kedalam minyak panas
atau terjun kedalam kobaran api, bukankah begitu ?”.
Yo Him mengangguk cepat, sedikitpun dia tidak
memperlihatkan ke ragu2an.
„Tepat ! Perintah apa saja yang akan diberikan lopehpeh
akan kulaksanakan, asal lopehpeh mau mengampuni jiwa
paman Phangku ini dan juga membebaskan encie Siang…!”.
Lie Bun Hap telah tertawa gelak2 dengan suara yang
sangat mengerikan, dia telah menggerakkan kedua
tongkatnya, dimana tubuhnya memang mengandalkan kedua
tongkat tersebut untuk berjalan karena dia tidak memiliki
sepasang kakinya lagi.
Waktu tiba didekat sebatang pohon, dia menoleh kepada
Yo Him.
„Nah, sekarang engkau siapkan kayu2 kering, kumpulkan
cukup banyak…!!”, kata Li Bun Hap kemudian.
Yo Him menuruti perintah itu, walaupun hatinya ber-debar2
karena dia dapat menduganya apa yang akan dihadapinya
nanti.

Tetapi tidak urung anak yang besar hati dan tabah ini
melaksanakan perintah Lie Bun Hap, dia mengumpulkan
cabang dan ranting kering, yang ditumpuknya menjadi cukup
tinggi.
Selesai mengumpulkan ranting2 itu Yo Him menoleh
kepada Lie Bun Hap.
”Apa yang harus kulakukan lagi ?” tanyanya kemudian.
“Nyalakan api pada ranting2 kering itu” perintah Lie Bun
Hap pula.
Him jie, jangan kau turuti perintah gila dari manusia tidak
mengenal perikemanusiaan ini !” teriak Kwee Siang ketika
menyaksikan semua itu dan dapat menduga apa yang hendak
diperintahkan Lie Bun Hap kepada Yo Him.
Yo Him menoleh kepada Kwee Siang sambil katanya “
“Encie Siang, bukankah seorang kuncu tidak akan menjilat
kembali ludahnya yang telah dibuang ?. bukankah kata2
seorang kuncu merupakan kuda yang dicambuk dan tidak bisa
ditarik mundur pula ?, sudahlah encie Siang asal lopehpeh ini
mau mengampuni kalian, apa saja yang diperintahkannya
akan kulaksanakan !”
Muka Kwee Siang berubah menjadi pucat.
“Yo Him, kau …. ?”
Tetapi belum habis suara Kwee Siang, disaat itu tampak Lie
Bun Hap telah tertawa ber gelak2, menyeramkan sambil
mengawasi kearah Phang Kui In yang duduk numprah dengan
muka yang pucat pias.
Sedangkan Yo Him telah mulai menyalakan api pada
tumpukan ranting itu. Sebentar saja api telah berkobar tinggi.
Lie Bun Hap berhenti tertawa. Kemudian katanya dengan
suara yang nyaring : ,,Sekarang aku perintahkan kepadamu.
Him jie, untuk terjun kedalam kobaran api…!”.

Muka Yo Him pucat seketika, dia memang telah menduga
akan menerima perintah seperti itu, tetapi dia tidak yakin
bahwa Lie Bun Hap benar2 tidak memiliki perikemanusiaan
dan ingin membuktikan kata2nya dengan perintahkan dia
terjun kedalam kobaran api itu.
Tetapi perobahan dimuka Yo Him hanya sejenak, kemudian
sambil tersenyum tabah dia telah berkata kepada Lie Bun Hap:
„Lopehpeh, aku akan membuktikan bahwa janjiku bukan
main2, dan aku akan menuruti perintah yang diberikan
Lopehpeh, tetapi lopehpeh juga harus menepati janjimu tidak
akan mengganggu lagi encie Siang dan paman Phang, mereka
harus dibebaskan,..!”.
„Oh, tentu, tentu kata Lie Bun Hap dengan suara yang
keras. Kemudian dia tertawa, lalu melanjutkan kata2nya lagi :
„Aku akan membebaskan jika mereka telah melihat engkau
membuktikan perkataanmu itu !”,
“Jangan Him-jie !” teriak Phang Kui In dengan suara
gemetar dan berusaha untuk bangkit. „Biar aku yang binasa,
engkau tidak perlu mengorbankan jiwa untuk kami…!”.
„benar Him-jle, jangan kau lakukan perbuatan gila seperti
itu…!” teriak Kwee Siang sambil melompat akan menolongi
dan mencegah Yo Him terjun dalam kobaran api.
Suara tertawa Lie Bun Hap terdengar nyaring sekali, dia
tertawa mengejek.
Yo Him karena kuatir nanti dicegah dan dihalangi oleh
Kwee Siang, tanpa berpikir lagi dia telah menjejakkan kakinya,
tubuhnya melompat kedalam kobaran api sambil berteriak :
„Selamat tinggal paman Phang ! Selamat tinggal Encie Siang
!”.
“Phang Kui In dan Kwee Siang masing2 mengeluarkan
suara jeritan ngeri menyaksikan itu. Mereka telah
mengeluarkan suara teriakan yang sangat menyayatkan,

bahkan Kwee Siang telah menutup mukanya dengan kedua
telapak tangannya.
“Tetapi waktu tubuh Yo Him melunur atau terjun dalam
kobaran api yang sangat besar itu, sesosok bayangan yang
tidak jelas ujudnya telah bergerak cepat sekali, disusuli
dengan kata2 : „Anak yang baik ! Engkau memang berbakat
menjadi muridku !”
Dan bayangan itu bukan hanya sekedar ber-kata2 saja,
tetapi telah mempergunakan sebatang tongkat untuk
menahan lajunya tubuh Yo Him, karena tongkat itu telah
melemparkan Yo Him, sehingga tubuh anak itu terpental dan
bergulingan ketanah, terpisah cukup jauh dari kobaran api.
Dengan merangkak Yo Him telah bangkit kembali, mukanya
telah dilumuri darah yang mengucur keluar dari hidungnya
yang terantuk batu.
„Him-jie..!” teriak Kwee Siang kagr dan cepat2 lompat
menghampirinya. “ Kau.. kau tidak apa2 ?”.
„Him…!” Phang Kui In juga telah memanggilnya sambil
berjalan dengan bersusah payah karena memang tenaganya
seperti telah habis dan luka di tangan kirinya itu menyebabkan
kelumpuhan sebelah tubuhnya yang kiri.
Yo Him telah menggelengkan kepalanya perlahan.
„Aku tidak apa2 encie Siang dan paman Phang, kalian tidak
usah berkuatir begitu !”
dan setelah berkata begitu Yo Him menoleh kepada Lie Bun
Hap, katanya : „Lopehpeh, mengapa engkau melakukan hal
itu, memukul perutku dengan tongkatmu sehingga aku tidak
bisa melaksanakan perintahmu terjun kedalam api ?”.
Memang yang tadi berkelebat adalah Lie Bun Hap yang
bergerak sangat gesit sekali, dan dia mempergunakan
tongkatnya untuk menahan lajunya tubuh Yo Him. Tadi dia
hanya ingin menguji hati Yo Him belaka, sesungguhnya dia

merasa sayang kepada anak ini, yang dilihatnya memiliki otak
yang cerdas dan juga memiliki bakat yang baik.
„Aku tadi hanya ingin melihat kesungguhanmu terhadap
janjimu sendiri. Aku lihat engkau anak yang baik yang selalu
menepati janjimu ! Baiklah ! Kalian bertiga kubebaskan untuk
meninggalkan pulau ini”.
Yo Him cepat2 berlutut menyatakan terima kasihnya. Phang
Kui In juga telah mengangguk dengan sorot mata berterima
kasih, walaupun Lie Bun Hap tadi telah mencelakai dirinya,
yaitu tangan kirinya yang jadi lumpuh karena telah hancur
tulang lengannya.
Kwee Siang memasukkan pedangnya kedalam
serangkanya, kemudian merangkapkan kedua tangannya, dia
telah memberi hormat sambil berkata “Terima kasih atas
kebaikan locianpwe…!”.
„Hemm, seharusnya bukan kepadaku kalian menyatakan
terima kasih tetapi kalian harus berterima kasih kepada Yo
Him. Karena anak inilah yang telah menyelamatkan jiwa kalian
dari kematian”.
Yo Him cepat2 mengeluarkan kata2 merendah.
„Anak Him. .” kata Lie Bun Hap lagi, “Apakah kau bersedia
menjadi murudku ?”.
Mendengar tawaran seperti itu, Yo Him jadi serba salah,
tapi akhirnya dia telah berkata : „Maafkan lopehpeh
sebetulnya kami melakukan perjalanan untuk menemui
seseorang yang sangat besar artinya untukku,yaitu ayah
kandungku Sin Tiauw Taihiap Yo Ko. Maka dari itu alangkah
sulitnya bagiku untuk belajar ilmu silat sekarang2 ini !”
„Aku ingin menurunkan seluruh kepandaianku, dan engkau
bisa mempelajarinya nanti setelah engkau memiliki waktu
yang luang. Kulihat engkau seorang anak yang cerdas sekali ..
maka aku akan membacakan Kauwkoat ilmu silatku itu selama

satu bulan, setelah itu kalian boleh melanjutkan perjalanan
kalian.”
Waktu berkata begitu, sikap Lie Bun Hap bersungguh2 dan
Yo Him tidak tega untuk menolak permintaan tersebut. Dia
telah mengangguk. Lalu menoleh kepada Phang Kui In dan
Kwee Siang.
“Bagaimana baiknya paman Phang dan encie Siang ?”
tanya Yo Him kemudian.
“Terserah padamu sendiri !” jawab Phang Kui In sambil
tersenyum girang, karena dengan orang tua she Lie itu
menurunkan kepandaiannya kepada Yo Him, walaupun baru
kauwkoatnya saja, tetapi tentu memiliki faedah yang tidak
kecil buat Yo Him.
“Dan engkau encie Siang ?” tanya Yo Him kepada Kwee
Siang juga, waktu melihat Kwee Siang masih berdiam diri.
“Jika memang engkau tidak keberatan untuk belajar, ya
kami hanya menanti saja sampai kau selesai menerima ajaran
locianpwe itu dan kita melanjutkan pula perjalanan kita !”
Mendengar sampai disitu, hati Yo Him telah tetap, Tahu2
dia telah paykui berlutut dihadapan Lie Bun Hap, sambil
katanya “Suhu, tecu memberi hormat” katanya.
Lie Bun Hap cepat2 membangunkan anak itu berdiri.
„Bangunlah muridku, sejak saat ini engkau menjadi murid
tunggalku.Sebagai murid satu2nya, yang pertama dan juga
penutup ! Kuharap saja engkau bisa belajar dengan tekun dan
baik, sehingga kelak engkau bisa menjadi pendekar yang
berdiri dikeadilan membela yang lemah. Watakmu tentu tidak
buruk, aku yakin anak dari pendekar besar Sin Tiauw Taihiap
Yo Ko tentu saja memiliki sifat2 baik seperti ayahnya. Dan
juga kelak jika kau telah bertemu dengan ayah kandungmu,
Him-jie, engkau bisa minta dituruni ilmu2nya yang hebat2…!”

„Terima kasih suhu” kata Yo Mim dengan suara berterima
kasih. ,,Tecu (murid) akan berusaha sedapat mungkin untuk
belajar dari menghapal semua ilmu yang diturunkan suhu!”
,,Bagus !” kata Lie Bun Hap. ,,Sekarang mari kita obati dulu
tulang paman Phangmu itu, agar segera dapat sembuh, Disaat
engkau belajar ilmu silat padaku paman Phangmu itu bisa
beristirahat, dan sebulan lagi tentunya paman Phangmu itu
telah sembuh”,
Begitulah sejak hari itu Phang Kui In dan Kwee Siang
bersama Yo Him telah menetap dipulau itu.
Lie Bun Hap ternyata memiliki obat yang sangat mujarab
sekali, dia telah mengobati tulang Phang Kui In yang semula
hancur.
lewat lima belas hari tangan kiri Phang Kui In sudah dapat
dipergunakan dan di gerak2kan lagi.
Sedangkan Kwee Siang selama itu melatih diri dengan giat,
dan dia telah memperoleh kemajuan yang pesat sebab Lie Bun
Hap yang sangat berpengalaman, walaupun kepandaiannya
mereka berimbang, dapat melihat beberapa kelemahan didiri
Kwee Siang dan dia telah memberitahukannya agar
merobahnya.
Dibawah petujuk2 seorang jago yang memiliki kepandaian
setinggi Lie Bun Hap dengan sendirinya Kwee Siang
memperoleh kemajuan yang pesat. Terlebih lagi memang
kepandaian yang diberikan oleh kedua orang tuanya dan
kakek luarnya, Oey Yok Su telah cukup dikuasainya dan juga
dia pernah menerima petunjuk2 langsung dari Yo Ko.
Yo Him telah menerima didikan dari Lie Bun Hap, dimana
anak ini telah diberikan teori2 ilmu silat Kelas satu dia juga
diajarkan gerakan2 untuk melatih diri.
Betapa terkejutnya Lie Bun Hap waktu melihat Yo Him
memiliki kepandaian yang luar biasa, yaitu kepandaian tenaga

dalam yang mujijat sekali. Dengan demikian tampak Lie Bun
Hap melatih Yo Him jadi lebih bersemangat lagi.
Tanpa terasa telah lewat dua bulan…
Tetapi ilmu yang diturunkan oleh Lie Bun Hap belum juga
selesai, karena jago she Lie ini memiliki kepandaian yang
tinggi sekali dan bermacam ragam.
Akhirnya lewat lagi tiga bulan…dan atas saran Phang Kui
In, yang girang melihat Yo Him bisa memperoleh ilmu2 yang
hebat itu, merasa sayang jika memang harus meninggalkan
pulau itu, dia menganjurkan agar Yo Him meneruskan
pelajarannya sampai selesai.
Semakin dipelajari, semakin tertarik hatinya, karena jurus
demi jurus akhirnya dipelajari bukan hanya kauwkoatnya saja,
tetapi juga prakteknya, dimana Yo Him telah melatihnya dua
atau tiga hari untuk setiap jurusnya.
Dalam keadaan seperti itu, Yo Him akhir2nya tidak
menyadari telah satu tahun lebih dia berada dipulau terpencil
tersebut.
Phang Kui In juga membiarkan Yo Him belajar terus, begitu
pula dengan Kwee Siang, karena mereka melihatnya bahwa
dalam satu tahun saja Lie Bun Hap berhasil mendidik Yo Him
memiliki kepandaian yang tinggi.
Walaupun belum bisa menandingi kepandaian Kwee Siang
atau Phang Kui In tetapi jika berhadapan dengan lawan yang
memiliki kepandaian biasa saja Yo Him tidak mungkin kalah !
Selesailah sudah Lie Bun Hap melatih Yo Him ilmu silat
tangan kosong, mempergunakan delapan belas macam
senjata tajam dan juga menurunkan pelajaran tenaga
Lwekang yang berasal dari tingkat tinggi, sehingga dalam
setahun saja Yo Him telah memiliki kepandaian lwekang yang
berimbang dengan Kwee Siang dan Phang Kui In. Telah dua
tahun tidak terasa mereka menetap dipulau itu, dan kini Yo

Him sudah menjadi seorang pemuda berusia lima belas tahun
yang memiliki paras sangat tampan.
Yo Him rajin sekali mempelajari ilmu silat yang diturunkan
Lie Bun Hap, dan lewat setengah tahun lagi, waktu pemuda ini
telah berusia enam belas tahun, selesailah pelajarannya.
Suatu hari Phang Kui In mengingatkan Yo Him bahwa
mereka harus segera meninggalkan pulau ini karena harus
mencari Sin Tiauw Taihiap.
Maka pada pagi itu Yo Him telah menemui gurunya, dia
menceritakan keinginannya untuk berkelana mencari jejak
ayahnya. Dengan perasaan sedih dan berat, Lie Bun Hap
meluluskan juga keinginan muridnya.
„Engkau harus baik2 menjaga diri. dan juga harus berlatih
terus, agar kepandaianmu bertambah baik, dan ingat, engkau
hanya boleh mempergunakan kepandaian itu untuk membela
keadilan saja, tidak boleh dipergunakan se mau2nya saja…!”.
„Tecu akan menjunjung pesan Suhu !” kata Yo Him
kemudian.
Begitulah, keesokan harinya Kwee Siang, Phang Kui In dan
Yo Him telah pamitan kepada jago tua Lie Bun Hap. Yo Him
berjanji jika kelak dia telah berhasil bertemu dengan ayahnya,
tentu akan sering2 datang kepulau ini untuk menjenguk
gurunya.
Dengan mempergunakan sebuah perahu yang buatannya
sederhana sekali, mereka bertiga melakukan pelayaran.
Sedangkan Lie Bun Hap telah mengantarkan mereka sampai
ditepi pantai.
Dua hari dua malam mereka berlayar terus tanpa hentinya.
Dan selama itu mereka tidur dengan bergantian. Untung saja
selama dalam pelayaran itu mereka tidak menderita gangguan
angin topan atau badai, sehingga mereka bisa sampai
dipinggiran kota Mu-ting-kwan, sebuah kota yang sangat

ramai. Telah sepuluh hari lamanya mereka melakukan
perjalanan yang meletihkan sekali, maka Phang Kui In
bermaksud mengajak Yo Him dan Kwee Siang beristirahat
dikota tersebut.
Kota Mu ting kwan merupakan kota yang cukup besar,
karena kota yang terletak ditepi laut itu merupakan bandar
perdagangan yang banyak dikunjungi orang dari berbagai
kota.
Phang Kui In mengajak Kwee Siang dan Yo Him memasuki
sebuah rumah makan, yang mewah sekali. Tamu2 juga
banyak memenuhi ruangan makan itu.
Phang Kui In bertiga memilih sebuah meja yang masih
kosong, lalu mereka memesan makanan kegemaran mereka,
yaitu kodok salju yang dicah, ditambah lagi dengan beberapa
macam sayur2 lainnya.
Ketika pelayan mempersiapkan pesanan mereka, ketiga
orang ini makan dengan lahap. Selama sepuluh hari mereka
berada ditengah laut, tentu Saja hal itu membuat mereka
mengiler dan lahap sekali menghadapi makanan sedap seperti
itu.
Suara tawa dari teriak yang ramai dari para tamu2 lainnya
yang memenuhi ruangan makan itu tidak diperdulikan oleh
mereka, karena mereka tengah menikmati sayur2 dan nasi
dimangkok masing2.
Phang Kui In sampai menghabiskan tiga mangkok nasi,
sedangkan Kwee Siang hanya satu mangkok saja, begitu juga
dengan Yo Him yang makan tidak begitu banyak.
Phang Kui In sambil makan menceritakan perihal orang2
Kang-ouw yang senang berkelana, setiap tiba disebuah kota,
tentu akan mencicipi makanan khas dari kota yang
bersangkutan. Menarik sekali cerita Phang Kui In, sehingga
menambah selera makan mereka. Waktu Phang Kui In ingin
memanggil pelayan untuk minta tambah nasi semangkok lagi,

tiba2 terpisah tiga meja dari mereka, ada seseorang yang
berkata dengan suara yang nyaring : ,,Ha ha, ha ! Apakah
kalian tidak melihat monyet gunung yang sedang makan ?”.
Muka Phang Kui In jadi berobah merah, karena dia
mengetahui kata2 itu tentunya di tujukan kepadanya, ketika
dia menoleh segera dilihatnya orang yang duduk terpisah tiga
meja dari dia, telah memandangi dia sambil tertawa. Kelima
orang kawannya juga telah tertawa ber-gelak2.
Mereka mengenakan pakaian mewah sekali, menunjukkan
bahwa mereka itu berasal dari keluarga berada dan kaya.
„Lihat ! Lihat ! Monyet hutan itu jika marah, sangat
menakutkan sekali” kata orang yang tadi membuka suara.
Segera riuh suara tertawa kelima orang kawannya.
Sedangkan tamu2 lainnya juga telah ikur tertawa.
Muka Phang Kui In jadi berobah kian merah. Sedangkan Yo
Him dan Kwee Siang ikut menoleh, mereka melihatnya bahwa
orang itu memang tengah meng olok2 Phang Kui In. Darah
mereka jadi meluap juga.
Phang Kui In telah membanting mangkok nasinya keatas
meja “Pranggg” mangkok itu telah pecah hancur ber keping2.
kemudian dia telah meloncat berdiri dengan penuh
kemarahan.
Tuan2 kami tidak saling mengenal dengan kalian, tetapi
mengapa mulut kalian begitu lancang menyebut bahwa diriku
sebagai monyet hutan ?” teguran Phang Kui In pedas sekali,
diapun berani, sama sekali tidak gentar walaupun melihat
orang yang mengejek dirinya itu berjumlah enam orang.
Orang yang tadi ber kata2, yang usianya kurang lebih tiga
puluhan tahun, telah tertawa terus sambil kemudian dia
berkata dengan suara yang dingin : „Lalu apa maumu ? Mau
minta dihajar ? Hemmm…jika memang engkau meminta

penggebuk silahkan maju kemari !”.
Dan benar2 orang itu memasang sikap menantang, berdiri
tegak dan wajahnya memantulkan sikap mengejek.
Sedangkan salah seorang kawannya telah berkata : ,,Benar
Han Twako, monyet hutan memang harus digebuk, jika tidak,
bisa semakin kurang ajar! Biarlah Han Twako, aku Cie Siung
Hu yarg mewakilimu menggebuk monyet hutan itu,..!”.
„Boleh! Boleh! kata Han Twako dengan suara disertai
tertawanya. „Jika monyet hutan itu telah digebuk barulah kita
pesta pora Untuk merayakannya !”.
„Setuju ! Setuju !” teriak kawan2nya yang lain.
Muka Phang Kui In jadi berobah tambah merah. Inilah
penghinaan yang belum pernah diterimanya. Dia telah
melangkah maju lebih dekat tahu2 baju dibagian dada dari
kawan Han Twako itu, yang menyebut dirinya bernama Cie
Siung Hu itu, telah kena dicengkeram keras.
Tetapi waktu Phang Kui In ingin menghentaknya untuk
menghantam kepala orang she Cie tersebut, tiba2 Cie Siung
Hu telah menggerakan tangan kanannya, dan “tukk !” dada
Phang Kui In telah tertotol jitu sekali. Sesungguhnya
kepandaian Phang Kui In tidak berada dibawah kepandaian
lawannya, namun karena dia tidak bersiap siaga dan berlaku
ceroboh, maka dia telah kena tertotok yang membuat dia
akhirnya terjungkel rubuh tidak dapat bergerak lagi.
Waktu itu Kwee Siang dengan cepat telah melompat sambil
mencabut pedangnya.
“kalian manusia usil dan jahat !” katanya sambil membaling
balingkan pedangnya itu.
Han twako tertawa dingin, dia telah berkata dengan suara
yang congkak.

„Nona manis, engkau ingin main2 dengan ku ?” tanyanya
kemudian dengan ceriwis sekali , Baik ! Baik ! mari aku
menemanimu untuk main2. Jangan takut, aku, Han Pu Sian
bukan sebangsa manusia jahat..!”
„Orang she Han, engktu keterlaluan sekali, cepat
perintahkan pembantumu itu untuk membebaskan kawan
kami yang tertotok itu !” kata Kwee Siang dengan berang.
“Hemmm, jadi engkau keberatan jika kawanmu itu
tertotok? Nah jika begitu, kau bebaskanlah.” tantangan itu
nadanya tengik sekali.
Tetapi Kwee Siang yang diliputi kemarahan melihat sikap
cerengesan dari lawannya itu, sambil menabas udara kosong
dengan pedangnya dia telah berkata : “Baik, kau siapkanlah
Senjatamu…!”.
„Senjata ?”.
„Ya, senjatamu !”.
,,Seumurku belum pernah mempergunakan senjata tajam.
Baiklah jika memang nona bersedia untuk main2 dengan aku,
Han Twakomu ini akan menemanimu!”.
Bukan main mendongkolnya Kwee Siang dia merasakan
pipinya sampai berobah panas memerah, Sambil
menggerakkan pedangnya menikam kearah paha lawannya
yang cerengesan itu, tampak sigadis juga telah berseru “Lihat
pedang…!”.
Han Twako itu mengeluarkan seruan sambil tertawa centil,
katanya : „Nona manis yang galak ! Sungguh menakutkan !
Tetapi wajahmu… amboi, wajahmu itu demikian cantik, dan
menarik, terlebih lagi dalam keadaan marah seperti itu.”
Dan sambil mengejek, tampak Han Twako itu telah berkelit
kesamping dengan gesit, gerakannya tidak bisa dilihat oleh
mata orang biasa.

Bahkan untuk kagetnya Kwee Siang, jari telunjuk orang
telah mencolek pipinya, menambah kemarahan Kwee Siang.
Dia melihat kepandaian Han Pu Sian tidak lebih tinggi dari
kepandaiannya, hanya orang she Han itu memiliki lwekang
yang lebih kuat sehingga membuat Kwee Siang jadi kelabakan
juga. Telah sepuluh kali Kwee Siang melancarkan tikaman dan
tusukan pedangnya, beruntun2 dia mempergunakan jurus
“Buddha tersenyum melambaikan tangan”, disusul pula
dengan “Kupu2 terbang menotol air”, lalu jurus2 hebat lainnya
yang menyambar gencar kepada orang she Han itu. Tapi
dengan mengandalkan kegesitan tubuhnya, orang she Han itu
selalu berhasil mengelakkan diri.
“Jagalah seranganku !” kata Han Pu Sian dengan suara
yang nyaring ketika suatu kali dia telah mengelakkan diri dari
serangan Kwee Siang. Dia melancarkan cengkeraman tangan
kearah dada sigadis dengan sikap ceriwis sekali, dengan jurus
“Menangkap ikan menghalau Air” Itulah penyerangan yang
dilakukannya dengan gerakan yang biasa, tetapi karena dia
telah sempurna ginkangnya, dengan sendirinya dia dapat
melaksanakan serangannya itu secepat kilat.
Waktu itu Kwee Siang jadi tambah gusar saja, karena dia
melihat semakin lama Han Pu Sian itu semakin kurang ajar.
Pedangnya diputar melindungi tubuhnya dan sinar pedang
yang putih gemerlapan itu telah mengurung dirinya, sehingga
tidak ada satu serangan pun yang berhasil menembus
penjagaannya yang ketat itu.
Han Pu Sian melihat betapa serangannya tidak berhasil,
bahkan sigadis mengadakan penjagaan diri begitu rapat, jadi
semakin penasaran. Beberapa kali dia melancarkan serangan
lagi.
Waktu itulah Yo Him telah berteriak nyaring : „encie Siang,
mundurlah, biarlah aku yang menghadapi orang ceriwis itu !!”.

Kwee Siang sebetulnya tidak setuju dengan tawaran jasa
Yo Him, tetapi karena mengingat Yo Him baru saja
menyelesaikan. pelajarannya pada gurunya, yaitu Lie Bun
Hap, dia ingin melihat sampai dimana Yo Him bisa
menghadapi lawan yang cukup berat ini.
„Baik adik Him…tetapi engkau harus hati2…!” kata Kwee
Siang sambil menikam kepada lawannya dan waktu Han Pu
Sian melompat mundur, disaat itulah dia telah membarengi
melompat kebelakang.
Sedangkan Yo Him telah loncat maju mendekati Han Pu
Sian sambil berkata :
„Aku yang akan mewakili ercie Siang untuk mengajar adat
padamu, lelaki hidung belang… !” kata Yo Him.
Semula Han Pu Sian dan kawan2nya heran dan tertegun
melihat pemuda dihadapannya.
„Engkau Sedang bergurau atau ber-sungguh2 kawan kecil
?” tegur Han Pu Sian dengan suara yang dingin, disertai
dengan suara tertawa yang meremehkan sekali.
,,Aku ber-sungguh? ! Majulah! Kau tidak mempergunakan
senjata, akupun akan menghadapimu dengan bertangan
kosong !” kata Yo Him.
Bola mata Han Pu Sian jadi ber-gerak2 bermain tidak
hentinya, karena dia jadi diliputi kemarahan yang bukan main.
„Kau…kau terlalu menghinaku !” kata Han Pu Sian
mendongkol. „Dan engkau jangan menyesal jika kelak aku
menurunkan tangan keras padamu. .!’.
„Silahkan !” kata Yo Him sambil tersenyum tenang.
Kemudian Yo Him telah membenarkan ke dudukan kakinya,
memperkuat bhesi2 kedua kakinya

„Silahkan menyerang….! katanya menantang lagi. Karena
gusar sekali telah membuat Han Pu Sian tertawa gelak2
dengan suara yang mengandung hawa pembunuhan.
„Baik! Baik! Aku akan melancarkan serangan kepadamu!
engkau jagalah!!” dan Han Pu Sian dalam gusarnya sudah
tidak memperdulikan nanti akan ada yang mengatakan situa
menghina sikecil, yang terpenting dia harus dapat
merubuhkan anak muda ini.
Tangan kirinya telah digerakkan me-lingkar2 seperti juga
seekor ular saja, kemudian tangan kanannya juga telah bergerak2
lagi dengan cepat. Dalam waktu yang sangat singkat
sekali, dia telah meluncurkan empat gempuran dari empat
penjuru.
Tetapi Yo Him yang sekarang bukan Yo Him beberapa saat
yang lalu. Yo Him sekarang telah merupakan seorang pemuda
yang tangguh dan gagah. Kepandaiannya tidak berada
disebelah bawah kepandaian Kwee Siang atau Phang Kui In,
dia hanya masih kalah pengalaman dibandingkan dengan
kedua orang itu.
Sekarang melihat lawannya melancarkan serangan
kepadanya, tampak Yo Him masih berdiri tegak menantikan
saja, sampai akhirnya setelah kepalan kedua tangan Han Pu
Sian hampir tiba didada dan lambungnya, disaat itu juga
tampak Yo Him telah mengerakkan kedua tangannya seperti
gunting japit, dan dia ingin mengunci tangan lawannya.
Namun karena memang baru kali ini Yo Him berkelahi
mempergunakan tenaga latihannya, maka dia masih kurang
pengalaman. Dia telah berhasil menjapit dan menggunting
kedua tangan lawannya serta sikuncinya, tetapi waktu dia
harus menekan kebawah agar tangan lawannya it patah, Yo
Him tidak sampai hati dan dia melepaskan kunci tangannya itu
kembali.

Han Pu Sian yang semula telah putus asa dan terkejut
waktu kedua tangannya terkunci tangan lawan, dan mengeluh
dalam hati, akhirnya jadi bernapas lega waktu merasakan
kedua tangannya terbebaskan dari jepitan tangan Yo Him.
Tanpa membuang kesempatan yang ada tampak Han Pu
Sian telah meluncurkan tangan kanannya kearah lambung Yo
Him.
“Dukk” Yo Him yang tidak menyangka bahwa lawannya
bisa berlaku curang seperti itu telah kena digempur
lambungnya, sampai dia mengeluarkan jerit tertahan dan telah
terguling, tetapi cepat sekali dia telah bangkit pula.
Kwee Siang yang menyaksikan hal itu jadi marah sekali, dia
telah membentaknya : „Kau seorang pengecut yang tidak tahu
malu !”.
Baru saja Kwee Siang ingin melancarkan serangan kepada
lawannya, tiba2 Yo Him yang telah melompat berdiri lagi telah
berseru :
„Mundur encie Siang, biar aku mewakilimu menghajar adat
padanya…!” teriaknya sambil melompat kedepan Kwee Siang.
Kwee Siang ragu2, tetapi setelah berkata : „Hati2 adik
Him… dia licik sekali !” lalu dia mengundurkan diri.
„Ya, aku telah merasakannya tadi….manusia seperti dia
tidak perlu dikasihani…!” mengangguk Yo Him.
Dan kali ini Yo Him tidak meminta lawannya menyerang,
sambil menjejakkan kakinya tampak tubuh Yo Him telah
meloncat cepat sekali, kedua tangannya telah bergerak
melancarkan pukulan2 yang dahsyat.
Dalam sekejap mata saja sepuluh jurus sudah berlalu, dan
Han Pu Sian telah terdesak sementara waktu. Walaupun dia
memiliki ginkang yang tinggi tetapi karena dia diserang
dengan gencar dan memang Yo Him tengah marah sekali,

maka dia jadi sibuk sendirinya.
Tetapi Han Pu Sian cepat sekali berhasil mengendalikan
keadaan dengan mengeluarkan suara bentakan yang nyaring
beruntun dua kali dia telah menggerakkan kedua tangannya
untuk membalas serangan2 YoHim Gerakan2 yang
dilakukannya ternyata bisa menindih juga tenaga serangan Yo
Him.
„Pergunakan jurus2 Kim-ie Kun Hoat (ilmu pukulan tangan
kosong Ikan Emas) ” teriak Kwee Siang ketika melihat Yo Him
agak gugup dikurung oleh serangan2 kedua tangan lawannya.
Yo Him baru teringat kepada jurus ilmu pukulan tangan
kosong yang diajarkan oleh gurunya, yaitu Lie Bun Hap
Kemudian dia telah merobah cara menyerangnya. Dengan
menjejakkan kakinya, tubuhnya cepat sekali meloncat
ketengah udara dengan meletik seperti seekor ikan, tubuhnya
melengkung dan meluncur turun menyambar kepada
lawannya dengan kedua tangan dijulurkan.
Waktu itu. tampak Han Pu Sian telah mengeluarkan
kegesitannya melompat kebelakang, ingin mengelakkan diri
dari serangan yang dilancarkan Yo Him.
Tetapi gerakan Yo Him tidak kalah gesitnya, begitu
serangannya gagal, dia mengulangi lagi dengan serangan
berikutnya. ,
Kali ini kedua tangan Yo Him menyambar dengan cepat
sekali, mengandung kekuatan lwekang yang murni, angin
serangan berdesir halus, tetapi memiliki kekuatan yang
dahsyat sekali.
„Dukk !” tidak dapat Han Pu Sian mengelakkan diri dari
serangan itu. Dan dia telah terjungkel bergulingan diatas
tanah.

Ketiga orang kawannya telah melompat menyerang kepada
Yo Him dengan mempergunakan senjata masing2, yaitu
sebatang golok panjang. Sedangkan kawan Han Pu Sian yang
Seorangnya lagi telah melompat kesampihg Han Pu Sian untuk
memeriksa keadaan kawan nya yang seorang ini.
Tetapi Yo Him dengan berani telah melayani ketiga orang
lawannya.
Kwee-Siang tidak senang melihat lawan2nya melakukan
penyerangan secara mengeroyok, maka dia telah
mengeluarkan suara bentakan sambil melompat menghampiri
kegelanggang pertempuran dan memutar pedangnya.
Ketiga orang kawan Han Pu Sian itu mana bisa menghadapi
serangan Yo Him dan Kwee Siang. Baru berlangsung sepuluh
jurus saja tampak dua orang diantara mereka telah tergempur
dadanya oleh kepalan tangan Yo Him, rubuh pingsan tidak
sadarkan diri. Sedangkan yang seorangnya lagi telah terkena
tikaman pedang Kwee Siang, rubuh pingsan juga setelah
merintih beberapa kali.
Kawan Han Pu Sian yang seorang lagi, yang tadi telah
menotok jalan darah Phang Kui In jadi ketakutan setengah
mati, cepat2 dia pentang langkah lebar untuk melarikan diri.
Sedang kan Han Pu Sian telah merangkak untuk bangun.
„Kau harus binasa jika tidak mau membuka totokan
kawanmu itu pada sahabat kami…” kita Kwee Siang
mengancam sambil mendelikkan matanya.
„Aku akan membukanya…aku akan membukanya…” kata
Han Pu Sian dengan ketakutan dan merintih menahan sakit
pada dadanya.
Dengan bersusah payah dia telah berjongkok disamping
Phang Kui In dan menguruti beberapa jalan darahnya,
sehingga dalam waktu yang singkat Phang Kui In telah
tersadar dari pingsannya.

Han Pu Sian tanpa mengatakan sesuatu telah membalikkan
tubuhnya dan berlari meninggalkan tempat itu.
Sedangkan saat itu Phang Kui In telah berdiri sambil
mencaci maki kecurangan lawan nya itu.
Seorang pelayan yang sejak tadi bersembunyi ketakutan
ber-sama2 dengan kawan2nya menghampiri Phang Kui In.
„Loya (tuan besar), kalian harus ber-hati2…tentu, bajingan
she Han itu tidak mau sudah…!” kata pelayan itu. „Lebih baik
Loya bertiga pergi saja dari sini, untuk mencegah kerewelan”.
Phang Kui In tertawa dingin.
„Hemm, berapa hebatnya sih kepandaian orang she Han itu
?” kata Phang Kui In.
„Bukan soal kepandaiannya, juga kawannya yang
berjumlah banyak masih tidak apa2 tetapi justru dia
merupakan putera Han Tetok seorang yang paling berkuasa
dikota ini”.
Han Tetok berarti Gubernur she Han.
,.Oh pantas kalau begitu…!” kata Phan Kui In sambil
senyum sinis. „Pantas dia berani bertindak sewenang2
ditempat ini…!”.
„Itulah Loya… sebentar lagi dia tentu akan datang kembali
bersama anak buah ayahnya .. jalan yang paling selamat lebih
baik Loya bertiga cepat2 berlalu saja…!”.
Tetapi Phang Kui In malah menggelengkan kepalanya.
„Tidak…aku justru ingin melihat bagaimanakah anak
buahnya Han Tetok itu ! Jika mereka berlaku se-wenang2,
hemm, hemm, nanti kami menghajar mereka tidak
tanggung2…!” dan setelah berkata begitu, tampak Phang Kui
In mendengus beberapa kali dengan penuh kemarahan.

Pelayan itu jadi tidak berdaya membujuk ketiga orang
tamunya itu.
Terlebih lagi Yo Him juga telah berkata : ,Justru
kesempatan ini yang harus kita pergunakan untuk membasmi
manusia2 jahat seperti Han Tetok dan puteranya itu…
bukankah begitu paman Phang dan encie Siang?”.
Phang Kui In dan Kwee Siang telah menganggukkan
kepalanya. Dan mereka telah perintahkan pelayan untuk
mempersiapkan makanan untuk mereka.
Para pelayan yang tadi telah menyaksikan kehebatan Yo
Him bertiga, jadi sangat menghormat sekali, dan mereka
melayaninya dengan telaten sekali. Mereka mempersiapkan
semua makanan dan minuman untuk ketiga orang tamu
tersebut.
Waktu itu Yo Him telah makan pula menghabiskan satu
mangkok nasi. Sedangkan Phang Kui In yang memang gemar
makan itu menghabiskan dua mangkok nasi lagi. Hanya Kwee
Siang yang tidak makan nasi, hanya sekali2 mencobai
makanan yang terdiri dari beberapa rupa masakan itu.
Pelayan2 rumah makan itu seperti juga ketakutan dan
bercampur kuatir, karena mereka telah mengetahui siapa itu
Han Tetok, ayah dari Han Pu Sian.
„Tentu akan ramai nanti.,.!” bisik beberapa orang tamu
yang memiliki sedikit keberanian dan tetap berada diruangan
itu.
„Ya, Han Tetok tentu akan mengirim orang2nya, dia
bermaksud akan menangkap ketiga orang yang telah
menghinanya, seperti yang terjadi beberapa saat yang lalu
ada orang yang ditangkap dan dijebloskan kepenjara hanya di
sebabkan berkelahi dengan anaknya Tetok itu!”
„Benar, kita akan menyaksikan keramaian…!” bilang yang
lainnya.

Tiba2 dari arah luar rumah makan itu terdengar suara hiruk
pikuk, muka para pelayan rumah makan itu telah berubah
pucat, tubuh
mereka menggigil.
Begitu juga tamu2 yang masih berada diruangan itu telah
jadi ketakutan. Suara hiruk pikuk itu makin terdengar jelas dan
semakin lama semakin berisik disusul dengan melangkah
masuknya beberapa orang berpakaian tentara yang
berseragam.
“Mana yang tadi telah menghina tuan muda kami ?”
Teriak beberapa orang diantara mereka saling susul.
Dengan berani Yo Him berdiri, karena Yo Him tidak mau
kalau nanti pemilik rumah makan dan pelayannya akan
menjadi korban dari pasukan Han Tetok.
“Aku tadi yang menghajar Han Pu Sian” menyahut Yo Him
dengan suara nyaring.
Pasukan tentara berseragam itu telah memandang kearah
Yo Him, dengan bengis. Tetapi kemudian sinar mata mereka
memancarkan keheranan, karena mereka tidak bisa percaya,
bahwa yang mengaku telah menghajar Han Pu Sian tidak lain
seorang pemuda tanggung yang mungkin baru berusia
diantara lima belas tahun.
„Kau… kau yang telah menghina Han Siauwjin kami tegur
salah seorang diantara mereka.
Yo Him mengangguk.
„Benar” dia mengangguk pasti. „Memang tadi aku yang
telah menghina majikan mudamu itu…! Tidak ada sangkut
pautnya dengan orang lain”.
Muka para pasukan berseragam itu berobah hebat, mereka
memandang bengis, sampai akhirnya yang menjadi pemimpin
mereka itu telah berdiri sambil katanya : „Baik ! Karena !

engkau telah mengaku jujur dan berterus terang, engkau
kubebaskan dari hukuman dipukuli rotan ! Tetapi kau harus
ikut kami menemui Han Tetok Taijin, untuk mendengar
keputusan Han Tetok ! Kau kami tangkap…!”.
Yo Him tertawa dingin.
„Apakah kau tidak salah bicara ?” tanya Yo Him tawar.
„Apanya yang salah ?”. „Tadi kau ingin menangkap aku !”.
„Benar, engkau kami tangkap karena engkau telah berani
menghina majikan muda kami…!”.
„Aku bukan menghinanya, justru dia merupakan gentong
kosong yang tidak punya guna !” menyahuti Yo Him dengan
mengejek.
Perwira pasukan itu jadi gusar, dia melangkah mendekati
Yo him.
“Anak muda kurang ajar. tahukan kau, bahwa kami bisa
merobek mulutmu yang telah berani mengeluarkan kata2 yang
tidak baik itu?”.
Yo Him tidak gentar oleh ancaman seperti itu, dia tertawa
dingin.
“kukira tidak semudah itu untuk menangkap aku !” katanya
kemudian tawar sekali. „Jika kalian tidak percaya, silahkan
kalian maju dan aku akan melayanimu”
“Anak muda congkak dan tekebur !” bentak perwira
berseragam itu dengan marah, dia mengangkat tangan
kanannya, untuk mengisyaratkan kepada anak buahnya agar
maju menangkap Yo Him.
Tetapi Yo Him tidak menjadi takut, dia tetap berdiri dengan
sikap yang tegak dan bibirnya tersungging seulas senyuman
mengejek,

waktu dua orang dari pasukan tentara Tetok itu
menghampiri dekat dan mengulurkan tangannya untuk
mencengkeram pergelangan tangan pemuda ini telah
menggeser sedikit kedudukan kaki kanannya, dia membuat
setengah lingkaran dengan jari tangannya menengadah
sehingga seperti juga ingin menotok pergelangan tangan dari
kedua tentara pasukan Tetok itu.
Tentu saja tentara itu jadi terkejut dan cepat2 menarik
pulang tangan mereka, dan melompat mundur. Gerakan yang
dilakukan Yo Him tadi merupakan gerakan membela diri,
karena jika kedua orang tentara Tetok itu memaksakan diri
untuk melancarkan serangan mereka, berarti mereka juga
tidak akan luput dari totokan yang dilancarkan Yo Him.
Kedua tentara Tetok itu masih menguatirkan keselamatan
mereka sendiri, itulah sebabnya mereka membatalkan
maksudnya untuk me lancarkan serangan dan telah menarik
pulang tangan mereka masing2.
Tetapi Yo Him mana mau melepaskan mereka begitu saja,
secepat kilat kedua tangannya telah bekerja, tangan yang kiri
telah melayang kearah dada dari salah seorang lawannya dan
mencengkeramnya dengan kuat dan keras, sedangkan tangan
yang satunya lagi bergerak menghantam dada lawannya yang
lain.
,,Dukkk!” terdengar suara tinju Yo Him singgah didada
korbannya, dan orang itu mengeluarkan suara jeritan keras,
tubuhnya terapung, kemudian terbanting dilantai tidak
bergerak lagi sebab jatuh pingsan.
Sedangkan lawan Yo Him yang seorang lagi, yang kena
dicengkeram dadanya oleh tangan kiri Yo Him. tampaknya
benar2 menderita kesakitan dan ketakutan, kesakitan karena
kulit dadanya kena dicengkeram oleh Yo Him. Sedangkan
ketakutan karena dia kuatir dirinya akan mengalami nasib
yang sama seperti yang dialami kawannya.

Yo Him melakukan segalanya tanpa membuang waktu,
hanya dalam beberapa detik itu, selesai menghantam rubuh
lawannya yang seorang, tenaga dalamnya segera disalurkan
kedada lawannya yang sedang dicengkeram, kemudian
mengangkatnya dan membantingnya kelantai…..
„Bukkk!” tubuh orang itu telah kena terbanting keras sekali,
dan dia mengeluarkan suara jeritan yang sangat
menyayatkan hati
Sedangkan Yo Him telah mengibaskan bajunya beberapa
kali dengan sikap yang angkuh. sehingga membuat perwira
pemimpin rombongan tentara Tetok itu tambah mendongkol.
„Maju, tangkap dia !” kata pemimpin perwira itu.
Sisa tentara Tetok yang berjumlah belasan orang itu telah
mengiyakan dan mereka mengurung Yo Him dengan ditangan
masing2 telah tercekal sebatang golok.
Tetapi para tentara Tetok itu tidak berani berbuat
sembarangan, karena tadi mereka telah menyaksikan betapa
dua orang rekan mereka telah berhasil dirubuhkan Yo Him
dengan mudah, hanya dengan satu gebrakan saja kedua
orang Tetok itu jatuh pingsan. Maka tentara2 Tetok yang
lainnya ini tidak mau mengalami nasib seperti kedua
kawannya.
Yo Him tidak takut walaupun dia dikurung di-tengah2
ancaman para tentara Tetok itu.
Perwira yang menjadi pemimpin dari pasukan Tetok telah
mengeluarkan teriakan2 menganjurkan anak buahnya segera
mulai melancarkan serangan.
Karena teriakan2 dari perintah perwira atasannya,
walaupun hati masing2 merasa takut menghadapi Yo Him,
tokh pasukan tentara Tetok itu telah menyerbu serentak.
Golok mereka ber-kelebat2 menyilaukan mata disamping
mengerikan sekali.

Tetapi belum lagi Yo Him mengelakkan diri atau membalas
menyerang, bersamaan waktunya dengan itu tiga orang
tentara Tetok telah terpental keras dan terbanting dilantai
sambil mengeluarkan suara jeritan, karena mereka telah kena
dibuat terpental oleh tendangan kaki Phang Kui In.
Begitu pula Kwee Siang telah melompat dan memutar
pedangnya melancarkan serangan kepada tentara Tetok itu.
Setiap sinar putih dari pedangnya itu menyambar, maka disaat
itu pula tampak seorang tentara Tetok rubuh terguling
dilantai, binasa dan ada juga yang hanya terluka berat dengan
paha yang terpotong atau tangan yang buntung.
Dalam sekejap mata saja terdengar suara jeritan2
kesakitan yang ramai sekali.
Perwira yang menjadi pemimpin pasukan tersebut jadi
terkejut dan ketakutan. Bukannya dia ikut menerjang maju
guna membantui anak buahnya, justru dia telah memutar
tubuhnya dengan maksud ingin mengambil langkah seribu.
Waktu itu Kwee Siang bertindak cepat sekali, dia telah
mengeluarkan suara nyaring, tahu2 tubuhnya telah melompat
melambung ketengah udara menyusul perwira yang menjadi
pemimpin pasukan itu. dan mata pedangnya telah menempel
ditengkuk perwira yang menjadi pemimpin pasukan tentara
Tetok itu.
“Jika kau berusaha melarikan diri, pedangku tidak akan
kenal kasihan dan akan menusuk masuk dagingmu !”
Ancam Kwee Siang dengan suara sungguh2
Perwira itu ketakutan bukan main, tetapi dia berusaha
untuk menyembunyikan perasaan takutnya dan telah
membalikkan tubuhnya menatap tajam pada Kwee Siang,
sambil bentaknya dengan suara bengis : “Apakah kau seorang
wanita berani menghina hamba negeri !, apakah engkau tidak
takut akan dihukum pancung dengan perbuatanmu ini ?”

“Menghinamu ? hemm, justru engkau sendiri yang telah
mengajak anak buahmu untuk mengacau ditempat ini !
hemm, jika dalam urusan ini engkau masih berusaha membela
diri, baik, baik !, cabutlah pedangmu. Mari kita bertempur
untuk menentukan siapa yang kalan dan siapa yang menang
!”
Dingin sekali suara Kwee Siang, dai telah berkata-2 dengan
wajah tidak memperlihatkan perasaan apa2. hati perwira itu
jadi ciut sendirinya, tetapi dalam keadaan terjepit seperti itu
telah membuat dia terpaksa mencabut keluar goloknya yang
sejak tadi tergantung dipinggangnya.
„Bagus! Aku memberikan kesempatan padamu untuk
melancarkan serangan terlebih dulu !” kata Kwee Siang. „Nah
mulailah!”.
Ditantang dan didesak terus menerus dengan cara seperti
itu, perwira yang menjadi pimpinan pasukan Tetok itu telah
menggerakkan goloknya, dengan mengeluarkan suara seruan
yang sangat bengis, tahu2 goloknya telah bergerak dengan
mempergunakan jurus2 ilmu golok perguruan Cin su pay,
sebuah perguruan yang cukup punya nama didaerah barat
daratan Tionggoan.
Golok itu menyambar dengan menimbulkan suara kesiutan
yang sangat kuat dan keras sekali, mennyambar kearah Kwee
Siang dengan gerakan yang aneh sekali, seperti juga
menikam. Seperti juga menabas, sehingga sulit diterka arah
sasaran mana yang dipilihnya,
„Hmmm ! Rupanya dia akhli ilmu To-hoat (ilmu silat golok)
yang memiliki kepandaian cukup lumayan.” pikir Yo Him
didalam hatinya, tetapi dia tidak menjadi takut karenanya!
Waktu golok itu menyambar dengan cepat sekali kearah
dadanya, tampak Yo Him telah menggerakkan tangan kirinya,
tahu2 dia telah menjepit golok lawan, kemudian sekali

menghentak, patahlah golok itu menjadi tiga potongan yang
dua potongan jatuh menimbulkan suara berisik dilantai.
Sedangkan tangan kanan Yo Him juga tidak tinggal diam,
dia telah memukulkan kepalannya tangan kanannya kearah
dada perwira tentara tetok itu,
“Bukk !” jitu sekali serangan itu mengenai sasarannya
sehingga perwira itu merasakan dadanya seperti juga akan
melesak hancur.
Dalam keadaan demikianlah, dengan adanya peristiwa
seperti itu, walaupun siperwira itu bermaksud mengelakkan
diri dan menyelamatkan jiwanya, Sudah tidak bisa sebab
begitu kepalan tangan Yo Him menghantam segera tubuhnya
terpental keras dan ambruk diatas lantai dengan
mengeluarkan suara gedebugan yang keras, jiwanya juga
telah melayang tubuhnya hanya sempat berkelejetan
beberapa kali, kemudian diam, untuk selama2nya.
Waktu itu Yo Him dan Kwee Siang tengah sibuk melayani
tentara
Tetok yang berjumlah cukup banyak itu Kembali Yo Him
telah berhasil merubuhkan dua orang lagi. Sedangkan pedang
Kwee Siang juga telah berhasil melukai tiga orang tentara
Tetok itu. Sisanya yang kurang lebih hanya tinggal enam
orang, jadi ketakutan.
Juga diwaktu itu mereka melihat pemimpin mereka telah
terpental dan binasa ditangan Yo Him. Phang Kui In sendiri
dengan mengeluarkan suara seruan yang sangat nyaring telah
mengibaskan golok dan tangan kirinya berulang kali, dalam
sekejap mata saja keenam tentara Tetok itu telah dapat
dihabiskan semuanya, yang menggeletak merintih kesakitan.
„Apakah kalian tidak ingin cepat2 angkat kaki ?” bentak
Phang Kui In kepada tentara Tetok yang hanya terluka dan
tengah merintih kesakitan.

Yo Him menghampiri dua orang tentara Tetok yang tengah
berjongkok kesakitan karena paha mereka kena tertabas
goloknya Phang Kui In.
“Kalian ingin mati seperti pemimpin kalian ?” tanyanya
dengan suara yang bengis. Kedua orang tentara itu tentu saja
jadi ketakutan mereka menangis sesambatan meminta ampun.
“Hemmm, kalian ingin diampuni oleh kawan2ku…tetapi
ingat, jika dilain saat kalan masih melakukan perbuatan yang
sewenang2 tentu aku tidak akan berlaku setengah hati dan
akan membinasakan kalian tanpa mengenal kasihan lagi !
Nah, sekarang pergilah, bawa pula itu mayat kawan2mu…!”.
Kedua orang tentara Tetok itu berulangkali telah
menyatakan terima kasihnya sambil berlutut mengangguk2kan
kepalanya.
Phang Kui In dan Kwee Siang jadi berterima kasih, sekali,
karena mereka telah tertolong justru dengan adanya Yo Him.
Coba kalau mereka berdua saja, Kwee Siang dan Phang Kui
In tentunya tidak akan semudah itu memperoleh
kemenangan, karena tentara Tetok itu umumnya memiliki
kepandaian yang tinggi dan terlatih.
„Him-jie, hebat sekali kepandaianmu itu. Tidak sia2 engkau
belajar pada Lie Bun Hap Locianpwe !”
„Benar adik Him, engkau hebat sekali, aku yang telah
melatih diri puluhan tahun, ternyata tidak bisa melebihi
kepandaianmu yang hanya berlatih selama dua tahun itu !
Benar2 kau hebat sekali..!”
Yo Him cepat2 mengeluarkan kata2 merendah, dia juga
merasa malu.
Para tentara Tetok yang terluka dan tengah membereskan
mayat2 kawan mereka mendengar percakapan Kwee Siang
bertiga. Mereka jadi berpikir: „Entah siapa pemuda tampan ini

yang memiliki kepandaian demikian tinggi walaupun usianya
masih demikian muda” pikir mereka.
Salah seorang dari tentara tetok telah memberanikan diri
mendekati Yo Him, kemudian dia berlutut memberi hormat
sambil bertanya takut2 ,,Siauw enghiong, bolehkan kami
mengetahui namamu yang besar dan gelaranmu yang harum
?”.
Yo Him jadi kikuk sendirinya
,,Aku bukan enghiong, aku juga tidak memiliki kepandaian
apa2. namaku Yo Him tidak memiliki gelaran apapun…” sahut
Yo Him akhirnya.
„Siauw Enghiong she Yo ” tanya tentara tetok itu.
Yo Him mengangguk.
,,Benar., apakah yang dibuat heran oleh kau?” tanya Yo
Him sambil mengawasi tentara itu dengan sorot mata yang
tajam.
„Bukan begitu Siauw enghiong… justru mendengar Siauw
Enghiong she Yo. maka aku teringat kepada seorang, seorang
pendekar yang paling terkenal dan merupakan super sakti
dalam persilatan, yaitu Sin Tiauw Taihiap Yo Ko.”
“Beliau ayahku ..!” menjelaskan Yo Him.
„Ohh…!” berseru tentara itu sambil memperlihatkan sikap
terkejut dan girang. „Dulu dua puluh tahun yang lalu. semasa
dalam peperangan yang hebat dengan tentara .Mongolia aku
pernah menerima pertolongan Sin Tiauw Taihiap Yo Ko
sehingga aku terhindar dari injakan kaki kuda..!”.
„Kau pernah bertemu dengan ayahku ?” tanya Yo Him jadi
tertarik mendengar orang me-nyebut2 perihal pertemuannya
dengan ayahnya.
„Pernah dua kali, kedua kalinya pertemuan itu terjadi dikota
Siang yang..,!” kata tentara Tetok tersebut. Waktu itu dia

telah menghela napas panjang, katanya kemudian : „Dan
sekarang, saya menyesal sekali, karena aku tidak mematuhi
petunjuk2 yang diberikan oleh Sin Tiauw Taihiap Yo Ko agar
aku rajin2 melatih diri tiga jurus yang diberikan, kata Sin
Tiauw Taihiap Yo Ko, jika aku bisa menguasai benar2 ketiga
jurus itu, dimedan pertempuran tentu tidak ada tentara musuh
yang bisa melawan kepandaianku…! Sayang sekali aku bodoh,
dan otakku pun tumpul…aku tidak bisa menangkap benar
ketiga jurus itu, akhirnya membuat aku malas melatih diri, dan
sekarang aku telah lupa sama sekali ketiga jurus itu…!”
Setelah berkata begitu, tentara Tetok yang seorang ini
telah mengawasi Yo Him dengan sorot mata yang tajam, lalu
sambungnya lagi “Yo Siauw enghiong, apakah benar2 engkau
tidak memiliki gelaran ?’ .
Yo Him mengangguk.
„Aku tidak memiliki kepandaian bagaimana aku bisa
mempergunakan gelaran yang hanya bisa membuat aku
congkak dan sombong…untuk apakah gelaran itu ?”.
,,Maaf dan ampunkan, Siauw enghiong jika memang Siauw
enghiong belum memiliki gelaran, apakah tidak ada baiknya
untuk mengenang jasa2 ayah Siauw-enghiong yang pernah
berhasil mengusir musuh dan mempertahankan kota
Siangyang. Didaerah selatan maka Siauw-enghiong boleh
mengambil setengah gelaran dari ayahmu lalu ditambah
setengah lagi. Bagaimana kalau engkau bergelar Sin Tiauw
Thian Lam (Rajawali sakti dari langit selatan) maafkan jika itu
kurang baik dan maafkan juga akan kelancanganku
memberikan gelaran “
“Bagus !” berseru Phang Kui In.
Yo Him jadi heran, dia memandang kepada paman
Phangnya itu.
“Apanya yang bagus paman Phang?” tanya Yo Him sambil
mengawasi terus paman Phangnya ini.

“Gelaranmu itu yang bagus” kata Phang Kui In “Gelaranmu
itu yang baik sekali ! untuk selanjutnya engkau bisa
mempergunakan gelaranmu itu, yaitu Sin Tiauw Thian Lam Yo
Him ! Nah terimalah ucapanku ini, dimana telah lahir seorang
pendekar sakti Sin Tiauw Thian Lam Yo Him !” dan setelah
berkata begitu tampak Phang Kui In telah merangkapkan
sepasang tanganya untuk memberi hormat kepada Yo Him.
Keruan saja Yo Him jadi gugup dan kikuk dia cepat2
membalas hormat dari Phang Kui In.
Kwee Siang juga telah memberikan selamat padanya
dengan memberi hormat.
Tentara Tetok yang seorang itu yang telah berikan gelaran
kepada Yo Him, tampaknya gembira sekali.
“Siapakah namamu !” tanya Phang Kui In sambil tersenyum
pada tentara itu.
,,Siauwjin she Bian dan bernama Tung Pah. Nanti jika
kalian bertemu dengan Yo Ko Taihiap, tolong sampaikan
salamku…!”.
„Terima kasih engkoh Bian !” kata ¥o Him sambil
membungkukkan tubuhnya memberi hormat. „Engkau telah
menghadiahkan aku gelaran yang baik, bahkan disetujui oleh
paman Phang dan encie Siang Aku yakin, beradanya engkau
dalam pasukan Tetok hanyalah terpaksa saja, karena dalam
hal ini engkau tentu hanya menuruti perintah atasan saja,
bukan…?’”.
Bian Tung Pah menganggukkan kepalanya beberapa kali
dia telah membenarkan perkataan Yo Him.
„Dan aku telah memikirkan untuk mengundurkan diri dari
pekerjaanku sebagai alat negara, karena terkadang aku
menerima perintah untuk melakukan pekerjaan yang tidak
menurut isi hatiku…. maka dari itu, nanti aku minta pensiun
saja dan hidup dengan berdagang kecil2an”.

„Bagus ! itu bagus sekali…!” kata Phang Kui ln. „Itulah cara
yang terbaik, sehingga engkau tidak perlu korban
perasaan…!”
Bian Tung Pah juga menyatakan terima kasihnya atas
perlakuan Yo Him bertiga. Kemudian ber-sama2 dengan
kawan2nya yang hanya terluka mengangkat mayat2 kawan
mereka.
Semua tentara Tetok yang masih hidup itu bergidik
sendirinya setelah mengetahui bahwa Yo Him adalah
puteranya Yo Ko.
Sedangkan pelayan rumah makan telah membersihkan
darah dan merapihkan bangku kursi dan meja yang telah
pada terbalik itu. sedangkan noda sarah dilantai segera
dihapus dengan kain pembasuh. Dalam sekejap mata saja
ruangan rumah makan itu telah rapih lagi.
Sedangkan Yo Him bertiga telah Makan2 lagi…. mereka
tidak memperdulikan tamu2 berdatangan dan kasak kusuk
membicarakan mereka.
Setelah puas makan minum Yo Him bertiga meninggalkan
rumah makan itu.
Banyak orang2 penduduk Kota itu yang berdatangan ingin
melihat rupa dan wajah dari putera Sin Tiauw Taihiap, tapi Yo
Him bertiga
Telah melarikan diri dengan cepat sekali meninggalkan
tempat itu Mereka mem perguna kan ginkang yang telah
semparna, hanya dalam beberapa detik mereka sudah jauh
meninggalkan rumah makan dan penduduk kota tersebut. Hal
ini dilakukan karena mereka tidak ingin dipersulit dengan
berbagai pertanyaan dan sanjung puji dari penduduk kota itu.
Waktu itu, Yo Him telah berkata kepada Phang Kui In,
disaat mana mereka telah berada diluar kota sebelah timur.

“Phang Susiok….apakah kita melanjutkan perjalanan kita
lagi ?” tanyanya.
Phang Kui In mengangguk membenarkan. Maka mereka
telah menghampiri perahu mereka dan telah melompat naik
keatas perahu tersebut.
Perahu itupun berlayarlah meninggalkan tempat itu.
Setelah berlayar selama empat hari lagi, mereka tiba
dipelabuhan kota Mu-sing-kwan. Tetapi mereka hanya singgah
untuk makan dan minum mengisi perut, lalu melanjutkan
perjalanan mereka pula.
Berlayar lagi sebelas hari tentu kita akan tiba dikota Su-pokwan,
dikota itu kita bisa meminta keterangan dari orang2
yang pernah melihat Sin Tiauw Taihiap…karena Sin Tiauw
Taihiap pernah ber-kali2 datang dikota tersebut…!”.
Yo Him girang bukan main mendengar hal itu, dia serasa
ingin cepat2 bertemu dengan ayah kandungnya, bertemu
muka. Dan juga Kwee Siang, begitu rindu ingin bertemu
dengan Pendekar Super Sakti tersebut.
Benar saja, setelah mereka berlayar sebelas hari, disaat itu
mereka telah tiba dikota Su-po-kwan, kota perdagangan yang
ramai sekali dan memiliki penduduk yang padat.
,.Kita telah sampai !” menjelaskan Phang Kui In waktu
mereka telah tiba dipelabuhan kota tersebut.
Dengan tidak sabar Yo Him telah melompat kedermaga dan
berjalan dengan langkah lebar.
“Tunggu dulu Himjie !” teriak Phang Kui In yang sedang
mengikat perahunya. „Nanti kau tersesat…!”.
Yo Him sudah tidak Sabar sekali.
„Cepat sedikit paman Phang…!” katanya dengan suara
tidak sabar.

Kwee Siang yang melihat kelakuan Yo Him jadi tersenyum,
dia pun merasakan hatinya tergoncang keras sekali.
Waktu itu Phang Kui In telah selesai mengikat perahunya,
tetapi ketika dia ingin menghampiri Yo Him dan Kwee Siang
untuk meninggalkan tempat tersebut, tiba2 dari arah ujung
dermaga yang satunya, telah berjalan seseorang dengan
langkah kaki yang lebar. Dan orang itu juga sambil
menghampiri telah berteriak2 dengan suara yang sangat
nyaring : „Hei tunggu dulu ! Tunggu dulu !”.
Phang Kui In mengerutkan alisnya, karena dia melihat
bahwa orang itu memiliki wajah yang kurang berkesan baik,
tampaknya mata orang itu bersinar tajam dan jahat.
„Ada urusan apakah, hengtai (saudara)” tanya Phang Kui In
berusaha bersikap semanis mungkin, karena dia menyadari
dirinya merupakan pelancongan belaka.
Kalian memakai perahu ? Dan perahu kalian ini diikatkan
didermaga ini ! Kalian harus membayar seratus tail perak !”
kata orang itu setelah datang dekat. Dan Phang Kui In saat itu
juga telah bisa melihat jelas wajah orang itu yang
berpotongan empat persegi dan mata nya memandang tajam
menyeramkan. Ukuran kedua matanya itu tampaknya lebih
besar dari mata orang dewasa yang wajar. Kumis, dan
jenggotnya yang tumbuh kaku itu menambah wajahnya
semakin tidak enak dilihat, dengan lobang hidung yang
dongak keatas.
„Apa…apa kau biang ?” tanya Phang Kui In tergagap,
karena dia terkejut atas permintaan orang itu. Mana ada uang
sewa titip perahu sebesar seratus tail perak seperti yang
diminta orang itu ? Sedangkan paling tidak hanya satu atau
dua cie saja !
„Aku mengatakan jika kau ingin menitipkan perahu
didermaga ini. maka kalian harus menyerahkan uang sewanya

sebesar seratus tail perak? Tidak dengar ? Seratus tail perak!
Sudah dengar ? Seratus tail perak !”
Mendengar perkataan orang itu tentu saja Yo Him bertiga
jadi tidak menyukai orang ini.
“Hemm, mungkin dia ini seorang buaya darat yang
menguasai daerah ini, sehingga leluasa baginya untuk
melakukan pemerasan2 terhadap orang yang lemah.” pikir
Phang Kui In.
Karena berpikir begitu, sikap Phang Kui In jadi tenang
kembali dan lenyap dari perasaan herannya. Sengaja dia
memperlihatkan senyuman sabar „Cukupkah uang sewanya
sebesar seratus tail perak ?” tanyanya.
„Jika engkau mau menambahkannya, itu lebih bagus lagi,
tentu perahumu akan kujagakan sebaik mungkin, agar tidak
dirusak orang atau dicuri hilang oleh orang yang banyak
berkeliaran ditempat ini ! Ketahuilah dipelabuhan ini banyak
sekali pemeras2.
Mendengar perkataan orang itu, Phang Kui In kembali
tersenyum.
„Lucu ! Lucu sekali !” katanya.
„Apanya yang lucu ?” tanya orang itu tidak mengerti.
„Aku membeli perahu itu hanya dengan harga seratus
sepuiuh tail ! Tetapi sekarang, ingin menitipkan perahu itu,
harus membayar seharga seratus tail perak ! Bukankah itu
merupakan suatu kejadian yang lucu sekali…?”.
Mendengar perkataan Phang Kui In, muka orang
berewokan itu jadi berobah merah padam, karena dia
menyadarinya bahwa kata2 Phang Kui In itu hanya ditujukan
untuk menyindir dirinya.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s