Sin Tiauw Thian Lam (Jilid : 2)

Sin Tiauw Thian Lam JILID 2

LEMBUT sekali nyanyian wanita sinting; itu sehingga Kun
Hong jadi terharu. Betapa tidak, wanita ini memang, benar
sinting, tetapi sepotong hati didadanya yang masih dimilikinya
telah hancur, dan terluka oleh per buatan. biadab perampokperampok
yang telah merusak rumah tangganya
membinasakan suaminya dan membunuh anaknya. Betapa
tidak pedih hati wanita ini.
Hati Kun Hong jadi lemah akhirnya, dia membiarkan wanita
itu. memegangi tangannya terus.
„Anak” tiba-tiba wanita itu telah memecahkan kesunyian
yang menghanyutkan. „Engkau kini sudah besar, cakap,
tampan, betapa bahagia hati ibu.”
Tetapi setelah berkata begitu, tiba-tiba kumat lagi gilanya,
dia tahu-tahu telah tertawa haha hihi dan mengulurkan
tangannya mengusap lembut pipi Kun Hong disertai kata-kata
gilanya. „Anak cakap… anak manis, jangan tinggalkan ibu….
hahaha-hihihi…..”

Kun Hong menggigil menggidik setidak-tidaknya dia merasa
jijik bukan main. Tetapi mengingat wanita ini gila karena
kematian anak dan suami nya, dan gilanya itu karena
kehancuran rumah tangganya. Kun Hong ” jadi tidak tega untuk
melukai hatinya, dia membiarkan wanita itu mengusap
pipinya !
Tetapi melihat pemuda itu tidak berusaha mengelak dari
usapannya, justru wanita sinting itu telah menjatuhkan dirinya
duduk numprah dilantai, dan dia menangis keras sekali,
terisak-isak tidak hentinya
Di muka jendela, tampak telah banyak kepala manusia
yang menyaksikan semua peristiwa itu sambil tertawa
hahaihihihi karena mereka anggap sebagai pertunjukan yang
lucu menggeli kan hati. Tentu saja Kun Hong jadi gusar
muncul sifat ksatrianya „Kalian manusia-manusia tidak
bermartabat dan kejam!. Lihatlah oleh kalian Wanita ini harus
dikasihani dia telah terganggu syarafnya, tetapi bukannya
menghibur dan diobati justru kalian mempermainkannya.
Begitu tegakah kalian?”
Mendengar makian Kun Hong, rupanya orang-orang yang
berkumpul diluar jendela menjadi malu sendirinya dan telah
bubar.
Kun Hong berjongkok disamping wanita sinting itu,
katanya; ,Peebo (bibi) engkau terlalu letih, pergilah
beristirahat. Biarlah aku pergi membelikan pakaian untukmu,
nanti kau salin pakaianmu itu!”
Tetapi wanita sinting itu tiba-tiba mendelik ke arahnya dan
tertawa menyeringai mengerikan.
„Ohhh. kalian manusia-manusia bangsat kalian, pembunuh,
kalian manusia bejat., hahhaai hihi’. Dan wanita itu telah
menerobos membuka pintu dan berlari-lari keluar.

Kun Hong tidak mengejar, dia menghela napas panjang
entah mengapa kini dia merasa kasihan terhadap nasib wanita
itu.
Setelah mencuci muka, Kun Hong sengaja keluar dari
kamarnya untuk mencari wanita sinting itu. Tetapi tidak
melihatnya bayangan wanita sinting itu, begitu pula waktu
dia mencari-cari dijalan raya, wanita sinting itu tidak terlihat
mata hidungnya.
Menjelang tengah malam, Kun Hong baru kembali
kerumah penginapannya.
KEESOKAN paginya. disaat Kun Hong baru terbangun dari
tidurnya, justru disaat itu dia mendengar suara tangisan.
Itulah suara tangisan wanita sinting yang kemarin, yang telah
kematian suami dan putranya. Suara tangisan itu berasal dari
kamarnya, mungkin wanita yang bernasib malang itu tengah
dipermainkan oleh para pelayan rumah penginapan itu lagi.
Kun Hong melompat turun dari pembaringannya dan cepatcepat
mencuci muka. Dia telah bersalin pakaian, dan keluar
dari kamarnya.
Benar saja, dugaan Kun Hong tidak meleset dia melihat
beberapa orang pelayan tengah mengodai wanita sinting itu
yang tengah duduk numprah didekat pintu rumah
penginapan tersebut, sambil memperdengarkan suara
isak tangisnya yang cukup keras.
Kun Hong cepat-cepat menghampiri dan pelayan-pelayan
yang tengah menggodai wanita sinting itu waktu melihat
Kun Hong cepat-cepat menyingkir.
Kun Hong dengan suara yang sabar dan lembut ramah
“Apakah kau sudah makan? Jika belum makanlah! Aku
yang akan membayar semuanya”. Tetapi wanita sinting
itu tidak menyahuti, dia tetap menangis tidak hentinya,
hanya kepalanya digeleng-gelengkan kesana sini, dia
tengah tenggelam dalam kesedihan yang luar biasa.

Kun Hong berusaha membujuknya beberapa kali,
tetapi wanita sinting itu tetap dengan tangisannya.
disaat itulah, dari arah jalan raya diluar rumah
penginapan terdengar suara derap langkah kaki kuda.
Dan tiga ekor kuda tunggangan berhenti dimuka rumah
penginapan. Tiga orang tua yang bertubuh tinggi tegap
itu, memakai baju ringkas dan wajah yang ditumbuhi brewok
yang tebal kasar menyeramkan karena garang telah
melangkah masuk kedalam ruangan penginapan itu.
Waktu ingin melewati pintu, justru wanita sinting itu
menghalangi jalan mereka, dengan duduknya dia disitu.
Dengan gusar salah seorang diantara ketiga orang itu, yang
ditengah telah menggerakan kaki kanannya menendang keras
sekali disertai dengan makinya: „Perempuan sial……? Anfing
geladak mana yang mengotori tempat ini?”
Tendangan itu hebat sekali dan tubuh wanita yang bernasib
malang tersebut segera saja terpental ambruk dilantai sebelah
dalam. Tangisnya jadi semakin keras juga.
Menyaksikan kekasaran orang yang baru datang itu, tentu
saja Kun Hong jadi gusar bukan main, darahnya jadi meluap.
Cepat sekali permuda itu telah berdiri dengan mata yang
terpentang lebar. Dia juga telah membentak dengan penuh
kemarahan.
„Kalian manusia-manusia tidak tahu malu yang telah
menghina manusia lemah tidak berdaya……!”.
Mendengar makian seperti itu, ketiga lelaki bertubuh tegap
berewok itu telah tertegun sejenak, kemudian mereka telah
saling pandang satu dengan yang lainnya diantara mereka
bertiga diakhiri dengan suara tertawa bergelak dari mereka.
„Ohh, pemuda bau kencur, apakah kau tidak mengenal
kami ini bertiga siapa ? Kami adalah Cauwcong (kakek
moyang) mu !” bentak lelaki berewok yang tadi telah
menendang wanita sinting itu.

Kun Hong tertawa dingin dia tidak memandang sebelah
mata ketiga orang itu, sedikitpun dia tidak takut, terlebih lagi
melihat perbuatan ketiga orang itu yang tidak pada
tempatnya.
„Aku tidak perlu mengenal manusia-manusia bejat moral
seperti kalian… !” bentak Kun Hong dengan suara yang dingin.
„Disamping itu, memang kenyataannya kalian hanya pantas
menjadi Cauwcong dari kucing atau anjing”
Hebat ejekan yang dilontarkan oleh Kun Hong. membuat
muka ketiga orang itu jadi berubah merah padam karena
gusar.
„Ohh pemuda tidak tahu diuntung dan tidak mengenal
mampus !” memaki ketiga orang itu hampir serentak. „Kami
Sam Kiam Hun (Arwah tiga pedang) tidak pernah menerima
kata-kata hinaan seperti itu ! Walaupun tubuhmu dirobekrobek,
belum dapat membayar lunas hinaanmu itu !”.
Dan membarengi dengan perkataannya itu, lelaki berewok
yang seorang tersebut telah mementang langkahnya dan dia
telah menghampiri Kun Hong, dan kedua tangannya telah
dipentang untuk menyambar mencengkeram lengan pemuda
she Cu tersebut.
Cu Kun Hong yang memang sejak tadi telah bersiap sedia
penuh kewaspadaan, telah memperdengarkan suara tertawa
dingin kemudian dia telah menggeser kakinya sedikit lalu
berkelit ke-samping. loloslah cengkeraman tangan orang
berewok itu.
Tentu saja orang itu. Sam Kiam jadi mengearkan seruan
murka disertai juga oleh serangan berikutnya, Tangan kirinya
menghantam kuat kedepan, sedangkan tangan kanannya
telah mencengkeram. Itulah gerakan “Jie Liong Cut Hay”
Sepasang Naga Keluar dan Lautan, gerakannya gesit dan dia
juga memiliki tenaga latihan gwake yang bukan main
besarnya”,

Dengan sendirinya, serangan itu jika mengenai sasarannya
dengan tepat, niscaya tubuh lawannya akan terpental dan
hancur seluruh tulang rusuknya.
Tetapi walaupun demikian, Kun Hong tidak merasa takut
sedikitpun juga. “Dengan mendengus dingin, Kun Hong tidak
berusaha berkelit dengan mempergunakan tenaga dalam yang
telah disalurkan kepada kedua lengannya, dia telah
melancarkan serangannya itu dengan kibasan.
“Trakkk!” tangan mereka telah saling bentur dengan kuat
sekali dan disusul juga oleh suara seruan tertahan dari orang
berewok itu. karena dia merasakan betapa tangannya tergetar
dan kuda-kudanya tergempur. Kalau orang berewok itu tidak
cepat-cepat mengempos semangatnya, niscaya tubuhnya akan
terdorong kebelakang terjengkang kelantai.
Sedangkan Kun Hong juga kaget bukan main karena dia
merasakan tenaga serangan yang dilancarkan oleh lelaki
berewok itu tidak bisa di remehkan, tenaga itu beratnya
hampir tiga ratus kati, dan kalau saja dia tidak menangkisnya
dengan baik tentu bisa menyebabkan Kun Hong terluka dalam.
Kenyataan seperti ini, membuat Kun Hong bersikap jauh
lebih hati-hati lagi. Dan disaat melihat si lelaki berewok itu
bersiap-siap untuk melancarkan serangan pula, Kun Hong
mengawasi dengan penuh waspada
Sedangkan kedua lelaki berewok lainnya, telah menerjang
maju, mereka melihat Kun Hong memiliki kepandaian yang
lumayan dan saudaranya itu tidak bisa merubuhkan dengan
mudah dan cepat, maka karena mereka tidak ingin
membuang-buang waktu, keduanya telah menerjang maju
untuk membantui kawannya itu.
Dengah majunya kedua lelaki berewok itu, memang Kun
Hong kini sekaligus menghadapi tiga lawan yang tidak ringan.
Dia telah bersiap-siap untuk menyambut serangan. Karena dia

gusar sekali melihat tindakan lelaki berewok itu yang telah
main tendang kepada wanita sinting itu.
Tetapi, disamping itu, Kun Hong bukannya tidak menyadari
akan bahaya yang tengah mengancam dirinya. Dan walaupun
bagaimana dengan sekaligus menghadapi ketiga orang
lawannya itu. berarti dia harus lebih hati-hati dan
mencurahkan seluruh perhatiannya. Lengah sedikit saja,
berarti dia akan berurusan dengan eLMAUT.
Ketiga orang lelaki berewok itu telah menerjang
melancarkan serangan dari tiga jurusan, serangan juga
merupakan serangan yang mematikan dan merupakan
serangan yang mengincar bagian-bagian yang sekaligus bisa
membuat lawan menjadi mati atau bercacad seumur hidup, “
Dengan diserang dari tiga bagian, dari depan, pinggir kiri dan
kanan, maka Kun Hon harus memecahkan perhatiannya.
Tetapi dia sedikitpun tidak takut. Dengan mempergunakan
gerakan Tui Hong Soat Ie ( Mengejar Angin Memakai
baju Es ), tangannya telah berputar-putar dengan gerakan
yang cepat sekali.
Pukulan dan tangkisan-tangkisan yang dilancarkan oleh
Kun Hong merupakan gerakan yang tidak ringan dan
juga tidak dapat diremehkan, karena, sekali saja
mengenai sasaran, berarti bisa mendatangkan maut
untuk lawan-lawannya tersebut.
Jurus demi jurus telah berlangsung dengan cepat
sekali, sebentar saja telah belasan jurus. Tetapi
walaupun dikeroyok tiga orang seperti itu, kenyataannya
Kun Hong sama sekali tidak terdesak, dan dia telah
berhasil memberikan perlawanan yang gigih dan tangguh
sekali.
Ketiga lelaki berewok itu semakin lama jadi semakin
penasaran, mereka telah melancarkan serangan semakin
gencar dan hebat sekali disertai oleh maki-makiannya
yang kotor.

Pelayan dan kuasa rumah penginapan itu jadi panik,
berulang kali mereka berteriak-teriak memohon kepada
orang-orang yang tengah bertempur itu agar bertempur
diluar saja, sebab ia mengatakan modalnya kecil, jika
terjadi pertempuran seperti ini didalam ruangan, tentu
akan mendatangkan kerusakan dan berarti amblasnya
usahanya. Tetapi orang-orang yang tengah bertempur
itu mana melayani teriakan kuasa rumah penginapan,
mereka telah bertempur dengan hebat sekali dan
semakin lama gerakan mereka semakin cepat, sehingga
orang– y-ang menyaksikan jalannya pertempuran itu
jadi kabur dan berkunang-kunang, karena tubuh mereka
itu seperti juga tiga sosok bayangan yang bergerakgerak
mengaburkan pandangan mata.
Saat itu Kun Hong mengeluh juga didalam hatinya
karena dia merasakan tekanan dari serangan ketiga
lawannya semakin berat dan semakin sulit dapat
menangkis serangan lawannya.
Tetapi lawan-lawan Kun Hong juga terkejut karena
walaupun mereka telah melancarkan serangan dengan
ilmu silat simpanan mereka, kenyataannya Kun Hong
berhasil bertahan dengan baik.
Disaat pertempuran itu tengah berlangsung disertai oleh
teriakan yang memekakkan anak telinga, tampak sesosok
bayangan yang berkelebat kearah keempat orang yang tengah
ber tempur itu, lalu disusul oleh suara jerit kesakitan dan
suara gedebag gedebug tidak hentinya.
Tampaklah suatu peristiwa yang mengejutkan, karena
ketiga lawan Kun Hong ternyata telan terlontar keluar dari
rumah penginapan itu, jatuh bergelimpangan dijalan raya.
Dengan cepat ketiga orang itu melompat bangun dan
mengawasi orang yang TELAH melemparkan mereka kejalan
raya.

Kun Hong juga menoleh kearah orang yang telah
menolongnya, dan hatinya jadi kaget bukan main, karena
orang yang telah merubuhkan ketiga lelaki berewok itu
dengan hanya sekali menggerakkan tangan tidak lain dari
wanita sinting… saat itu siwanita sinting tersebut telah tertawa
haha-hehe, dan telah duduk numprah sambil mempermainkan
ujung bajunya yang telah robek-robek.
Itulah ilmu „Kim Na Ciu” ilmu menangkap dan melempar,
yang luar biasa.
Dengan adanya peristiwa seperti itu, ternyata wanita
sinting itu memiliki kepandaian yang tinggi dan lwekang
yang sempurna sekali.
Kun Hong saking takjubnya telah memandang tertegun
ditempatnya.
Sedangkan ketiga lelaki berewok tersebut, yang telah
menerima pengalaman pahit yang tidak menggembirakan
seperti itu, telah mengawasi dengan murka, tetapi untuk maju
lagi mereka jeri.
Tunggulah, kami akan segera datang lagi !
“Sam Kiam Hun tidak pernah membiarkan begitu saja
setiap hinaan !” kata salah seorang diantara ketiga lelaki
berewok tersebut, lalu mereka telah memutar tubuh dan
melompat naik keatas kuda mereka segera dilarikan dengan
cepat sekali.
Sedangkan si wanita sinting itu seperti juga tidak
memperdulikan kepergian ketiga lelaki berewok itu Kun Hong
juga tidak mengejar atau menahannya, dia hanya mengawasi
saja kepergian ketiga lelaki berewok itu dengan hati yang
diliputi oleh berbagai perasaan.
Dengan lesu Kun Hong telah menghampiri wanita sinting
itu dan dia telah menjura,

„Terima kasih atas pertolongan yang diberikan oleh peebo!”
kata Kun Hong sambil membungkukkan tubuhnya. Tetapi
wanita sinting itu tidak melayani dia, hanya terus juga
mempermainkan ujung bajunya, sekali-kali terdengar dia
bersenandung perlahan ;. „Pasangan Wanyoh …. Mega
biru….. Laut bergelombang ….. ikan Leehi berpasangan; ….
Aduhai anak, aduhai anak …..”.
Kun Hong telah memilih kata-kata untuk menarik perhatian
Wanita sinting itu, untuk diajak bercakap-cakap, karena Kun
Hong menyadari bahwa wanita tersebut tentunya seorang
wanita yang luar biasa, setidak-tidaknya kini muncul perasaan
kagum dihati Kun Hong, karena dengan hanya sekali
menggerakkan tangannya saja, ternyata wanita sinting itu
telah dapat melempar serentak ketiga lelaki berewok itu.
Namun belum lagi Kun Hong sempat mengucapkan katakatanya,
wanita sinting itu telah mengangkat kepalanya dan
memandang keluar pintu, wajahnya luar biasa sepasang
alisnya berkerut dan bibirnya bergetar.
„Ya.. . ya…., hanya dia yang dapat menolongku”
menggumam wanita itu perlahan sekali tetapi suaranya
mengesankan sekali.
„”Siapa …..?” tanya Kun Hong yang jadi tertarik, walaupun
dia yakin wanita itu memang sinting dan kata-katanya tentu
tidak keruan, namun karena cara bicara dari wanita itu, dia
ingin mengetahui siapakah, orang yang dimaksudkan oleh
wanita sinting itu, yang katanya hanya orang itu yang dapat
menolongnya. Wanita sinting itu tidak menoleh kearah, Kun
Hong hanya mulutnya bergerak-gerak menyebutkan
serangkaian kata-kata yang mengejutkan Kun Hong. „Sin
Tiauw Taihiap Yo Ko …! Ya, Sin Tiauw Taihiap Yo Ko …!
Hanya dia yang dapat menolongi aku ,. . hanya dia yang bisa
membunuh dan membalas sakit hatiku terhadap manusiamanusia
biadab itu. ya hanya Sin Tiauw Taihiap”

Kun Hong menghela napas panjang. karena dia mengetahui
bahwa wanita sinting ini tentu ingin mengartikan jika ada Sin
Tiauw Taihiap Yo Ko yang bersedia membantunya, tentu sakit
hatinya terhadap orang-orang yang telah membunuh suami
dan anaknya itu dapat dibalas.
Tetapi kemana dia harus mencari Sin Tiauw Taihiap, karena
seluruh orang-orang gagah rimba persilatan umumnya
mengetahui setelah membinasakan Kaisar Mangu di
Siangyang, yang akhirnya merupakan kemenangan bagi pihak
tentara Song Yo Ko bersama orang-orang gagah lainnya
menghilang. Bersama-sama dengan Kwee Ceng, Oey Yong,
Oey Yok Su, It Teng Taisu, Ciu Pek Thong dan jago-jago
lainnya Yo Ko memang telah mendatangi gunung Hoa San
untuk menyambangi kuburan See Tok Auwyang Hong dan Pak
Kay Ang Cit Kong.
Dari Hoa San orang-orang gagah itu telah berpisah
mengambil jalannya masing-masing, Yo Ko dan Siauw Liong
Lie tidak terdengar kabarnya lagi, begitu juga Tong Shia Oey
Yok Soe maupun Lam Ceng It Teng Taisu, mendadak
semuanya seperti lenyap hilang dari dunia persilatan dan tidak
pernah terlihat lagi oleh siapapun juga. Peristiwa
berkumpulnya orang-orang gagah di Hoa San yang terakhir itu
telah terjadi tiga tahun yang lalu, dari sebegitu lama Kun Hong
belum pernah bertemu dengan orang-orang gagah itu, dan
hanya Kwee Ceng dan Oey Yong yang kemarin telah berhasil
dijumpainya secara kebetulan,
Kun Hong tidak bisa berpikir lebih lama lagi, karena
dilihatnya wanita sinting itu telah lompat berdiri dan berlari
keluar rumah penginapan sambil tertawa hahahihi. Pemuda
pelajar she Cu tersebut tidak bisa melakukan apa-apa selain
menghela napas panjang. hatinya terharu sekali memikirkan
nasib buruk wanita sinting itu. Jika tidak, tentu wanita itu
merupakan seorang pendekar wanita yang memiliki
kepandaian tinggi dan mengagumkan sekali.

Sambil duduk dikursinya menghadapi araknya Kun Hong
jadi berpikir juga, jika memang wanita sinting itu berhasil
ditunjuki jalan sehingga berhasil bertemu dengan Sin-Tiauw
Taihiap Yo Ko, tentu penyakit sinting wanita itu dapat
disembuhkan jago besar dijaman ini dengan mempergunakan
ilmu tunggal Tan Cie Sin Thong dan lwekang Yo Ko yang
sudah tiada taranya disaat ini,
Kun Hong jadi tidak berselera untuk berdiam lebih lama
diperkampungan tersebut, setelah menyelesaikan pembayaran
sewa kamarnya pemuda itu telah melanjutkan perjalanannya.
Dengan menunggang kudanya perlahan-lahan Kun Hong
mengambil arah barat. Angin dipagi itu sejuk dan matahari
belum naik tinggi, setelah berjalan belasan lie, dia tiba dlmuka
sebuah tegalan dan Kun Hong membiarkan kudanya
memamah rumput, sedang dia menikmati keindahan disekitar
tempat itu. Tetapi dalam kesunyian tempat itu tiba-tiba telinga
Kun Hong yang tajam telah mendengar benturan senjata
disertai oleh suara bentakan-bentakan.
Kun Hong jadi heran entah siapa yang tengah melakukan
pertempuran itu, Cepat-Cepat dia melarikan kudanya menuju
kearah suara benturan senjata tajam itu dan ketika dia tiba
disebuah tikungan dibalik sebungkah batu gunung yang cukup
tinggi, disebuah tanah datar tampak beberapa sosok tubuh
tengah berkelebat dengan gesit dan suara berkontrangan
benda logam yang semakin keras. Kun Hong melompat turun
dari kudanya dan memperhatikan dengan heran.
Terlebih lagi setelah dia memperoleh kenyataan seorang
lelaki tua berjenggot panjang menutupi sampai keperutnya
dan telah putih semuanya itu, tengah melompat kesana
kemari lincah luar biasa menghadapi serangan belasan orang
bertubuh tinggi tegap. Dengan suara jenaka laki-laki tua itu
telah berseru nyaring, „Maju ayoh maju. kalau sekarang kalian
bermaksud melarikan diri itupun sudah tidak bisa akan kujamu

kalian seorangnya dengan secawan air kencing !” Jenaka
sekali cara berkata-kata orang tua berjenggot panjang itu :
Yang luar biasa adalah gerakannya yang selalu dapat
mengelakkan dengan mudah serangan dari lawannya. Tanpa
mempergunakan senjatanya orang tua berjenggot itu
melompat kesana kemari dengan sekali-kali menyentil senjata
lawan lawannya, sehingga senjata itu saling bentur sendirinya
diantara lawan-lawannya. Suara berkontrangan berasal dari
saling benturan senjata belasan orang lawan sikakek tua
berjenggot panjang itu amat berisik sekali.
Kun Hong mengerutkan alisnya, dia berdiri heran bukan
main melihat kepandaian sikakek yang begitu luar biasa.
Walaupun belasan orang lawan sikakek itu seperti dapat
dipermainkan oleh kakek itu dengan mudah, kenyataannya
kepandaian belasan orang itu bukan kepandaian yang rendah,
Kun Hong melihatnya, mungkin jika dirinya menghadapi satu
atau dua orang dari lawan kakek itu, dia tidak akan sanggup.
„Dengan kepandaian seperti ini kalian mau mengadu
kepandaian dengan merundingkannya di Hoa San benar-benar
bukan urusan yang lucu ! Ayo aku Loo Boan Tong akan
memperlihatkan kepada kalian apa yang disebut ilmu kucing !
Dan membarengi dengan perkataannya itu, kakek tua itu
dengan sikap yang luar biasa dengan sepasang tangan
diangkat sebatas bahunya dan mimik muka yang jenaka serta
memperdengarkan suara “meoong”, tahu-tahu kedua
tangannya mencakar kesana kemari, dan yang lebih luar biasa
beberapa orang lawannya telah terpental dan senjata mereka
jatuh ketanah tanpa berdaya untuk bertahan, tubuh keempat
orang yang terpental itu bergulingan ditanah dengan
mengeluarkan suara jeritan kaget bercampur kesakitan.
Kakek tua itu telah tertawa bergelak-gelak, sedangkan sisa
lawan-lawannya mengawasinya dengan pancaran mata bengis
mengandung kemurkaan bukan main.

„Loo Boan Tong, tidak perlu kau terlalu sombongkan diri
dengan kepandaianmu itu, karena kami belum tentu akan
menyerah !” bentak salah seorang diantara lawannya yang
memakai pakaian sebagai seorang petani, bahkan telah
melancarkan serangannya dengan mempergunakan garunya
yang akan menggaruk kepala Loo Boan Tong, kakek tua
berjenggot yang jenaka itu.
Dengan disertai tertawanya yang jenaka, Loo Boan Tong
melejit kesamping, tahu-tahu tangan kanannya mencakar dan
mencengkeram garu orang itu. „Takk !” patahlah garu itu
menjadi tiga. Dan disaat orang itu belum lenyap kagetnya,
tahu-tahu kakek tua berjenggot itu telah mengibaskan
tangannya, maka tanpa ampun lagi orang yang berpakaian
seperti petani itu merasakan dadanya seperti, dihantam oleh
tenaga yang ratusan kati, tanpa ampun lagi dia rubuh
terjengkang kebelakang.
Untung saja orang itu memiliki kepandaian yang tinggi,
sebab dia telah berhasil berdiri tetap lagi:
Kun Hong yang menyaksikan semua itu jadi berdiri
bengong, hatinya tergoncang. Dia mendengar disebutsebutnya
“Loo Boan Tong” maka dia jadi teringat seseorang.
Bukankah orang tua berjenggot panjang iti Ciu Pek Thong.
Loo Boan Tong situa jenaka yang kini telah memperoleh
kedudukan sebagai salah seorang jago diantara Ngo Ciat (lima
jago luar biasa) ?
Bukankah kini disamping Oey Yok Su yang duduk sebagai
Tong Shia, It Teng Taisu sebagai Lam Ceng (pendeta Selatan)
sebelum pertemuan terakhir It Teng Taisu duduk sebagai Lam
Tee (Kaisar dari selatan) Yo Ko duduk sebagai See Kong
menggantikan kedudukan See Tok Auwyang Hong „ Kwee
Ceng sebagai Pak Hiap menggantikan Pak Kay Ang Cit Kong,
dan Ciu Pek Thong sebagai Tiong Boan Tong. Tentu saja,
dengan disejajarkan sebagai salah seorang dari kelima jago

luar biasa dljaman itu, bisa dimengerti kepandaian Loo Boan
Tong bukan main hebatnya.!
Disamping itu, karena sikapnya yang usil dan nakal, Ciu Pek
Thong seringkali menemui berbagai kesulitan. Memang
pertemuannya dengan Eng Kauw telah membawa perobahan
sedikit didiri Ciu Pek Thorg, namun jago tua ini tetap saja tidak
bisa melenyapkan sifat ke kanak-kanakannya.
Hari itu, Ciu Pek Thong tengah melakukan perjalanan ke
Hoa San untuk mencari Sin Tiauw Taihiap Yo Ko dan Siauw
Liong Lie, yang telah berjanji dengannya untuk bertemu
disana guna menyembayangi kuburan Auwyang Hong dan Ang
Cit Kong, Tetapi ditengah perjalanan justru dia menemui
kejadian yang membuat hatinya jadi mendongkol bukan main,
yang telah meng kilik-kilik hatinya, yang nakal. Disebuah kedai
arak dikota Siang bun kwan secara kebetulan Ciu Pek Thong
mendengar percakapan belasan orang-orang yang tengah
makan minum dengan suara yang berisik sekali.
Semula Ciu Pek Thong tidak mengacuhkan mereka, namun
akhirnya disaat diantara belasan orang itu telah menyebutnyebut
nama Sin Tiauw Taihiap Yo Ko dan Kwee Ceng Taihiap
dengan suara yang lantang, maka Ciu Pek Thong jadi tertarik.
„Hemmm, dulu memang mereka bisa disebut sebagai jagojago
tiada tara di jagat ini namun sekarang…? Yang sudah
pasti gelombang dibelakang mendorong gelombang yang
didepan jelas bukan ?. Maka kini dari angkatan muda telah
muncul jago-jago yang memiliki kepandaian tidak dibawahnya
Yo Ko dan Kwee Ceng.
Kita akan merundingkan ilmu silat di Hoa San, dan kelak
kita akan perlihatkan hasil perundingan itu, siapa
sesungguhnya yang tinggi dan siapa yang rendah” kata salah
seorang diantara belasan orang itu dengan suara yang
nyaring.

Kawan-Kawannya tertawa bahkan salah seorang di antara
mereka telah menimpalinya „Benar! Tepat! Jika kita telah
selesai mengadakan perundingan ilmu di Hoa San kita boleh
menantang Yo Ko dan Kwee Ceng, atau kalau perlu Oey Yok
Su dan It Teng Taisu biarlah mereka melihat siapa
sesungguhnya yang memiliki kepandaian tertinggi dijaman ini.
Kata-Kata itu diakhiri dengan seruan-seruan dan tetaawa
gembira diantara belasan orang itu. Bahkan ada juga yang
terkebur merendah-rendahkan Yo Ko dan orang gagah lainnya
yang dipandang rendah inilah urusan yang luar biasa bagi Loo
Boan Tong karena umumnya orang rimba persilatan telah
mengetahui bahwa kepandaian Yo Ko, It Teng, Oey Loshia,
Kwee Ceng dan para jago lainnya dalam golongan Ngo Ciat
dan semuanya merasa takluk. Tetapi hari ini juga justru Ciu
Pek Thong mendengar belasan orang tersebut seperti tidak
memandang sebelah mata dan meremehkan jago-jago dari
golongan Ngo Ciat itu; bukankah suatu peristiwa yang luar
biasa? Siapakah belasan orang yang tidak mengetahui
tingginya langit dan dalamnya bumi itu? Dan yang terutama
sekali membuat tangan Ciu Pek Thong jadi gatal justru
namanya tidak di sebut-sebut Bukankah kini dia merupakan
salah satu dari Ngo Ciat ? Bukankah dia sebagai Tiong Boan
Tong?
Disaat itulah Ciu Pek Thong telah mengambil keputusan
untuk mempermainkan belasan orang tersebut. Dengan
tenang Ciu Pek Thong telah melanjutkan meneguk araknya
perlahan-lahan Dihitung-hitungnya dia menjanjikan Yo Ko dan
Siauw Liong Lie untuk bertemu di Hoa San di harian Cit Gwe
Ce-Sah ( tanggal tiga bulan tujuh ) dan hari itu baru Lak-Gwe
Cap-Go ( Tanggal Lima belas bulan enam ) maka dia masih
memiliki waktu delapan belas hari. Sedangkan dari kota
Siang-bun kwan untuk mencapai Hoa San hanya
memerlukan sebelas atau dua belas hari, maka berarti
Ciu Pek Thong masih memiliki waktu luang lima enam
hari.

Dia bermaksud untuk main-main dulu, untuk
mempermainkan belasan orang yang seperti ingin
menaklukan langit itu, karena Ciu Pek Thong penasaran
sekali mendengar percakapan mereka itu, ingin sekali ia
melihatnya sesungguhnya berapa tinggi kepandaian yang
dimiliki belasan orang-orang tersebut yang berani
menyatakan bahwa Yo Ko dan jago-jago golongan Ngo
Ciat berada dibawah mereka ?.
Belasan orang itu masih terus makan dan minum
dengan gembira, suara mereka berisik sekali.
Semakin mendengar percakapan mereka hati Ciu Pek
Thong semakin di kilik-kilik. karena selama itu tetap juga
dia tidak pernah mendengar namanya disebut walapun
hanya satu kali.
Hal itu membuat Ciu Pek Thong Sangat penasaran sekali
dan dia menduga mungkin belasan orang itu menganggap Ciu
Pek Thong adalah manusia yang tidak layak dibicarakan
karena kepandaiannya yang rendah.
Karena penasaran, akhirnya muncul sifat jailnya.
Diambilnya tahang arak, yang sebesar tiga kepalan tangan,
lalu dibawa kekolong meja. Perlahan-lahan dia menuangkan
arak kedalam guci itu keatas lantai; sehingga guci arak itu
kering. Dibuka tali celananya dan Ciu Pek Thong kencing
kedalam guci itu, setelah guci itu penuh oleh air kencingnya
dia mengikat kembali tali celananya, dengan tenang Ciu Pek
Thong bangkit dari duduknya menghampiri meja belasan
orang itu.
„Sahabat-Sahabat aku, si tua Sejak muda gemar sekali ilmu
silat. walaupun tidak pernah mempelajarinya, namun senang
untuk mendengarinya.
Tadi lohu (aku si tua) mendengar para enghiong dan hohan
(orang gagah) membicarakan masalah kalangan Kangouw,
betapa kagumnya aku situa, sebab tentunya Enghiong dan

Hohan merupakan jago-jago luar biasa… sebab Yo ko, Kwee
Ceng atau yang lainnya tidak ada dimata kalian. Ingin sekali
aku memberi hormat dengan masing-masing secawan arak.”
Tentu saja belasan orang itu girang mendengar pujian Ciu
Pek Thong, mereka meng angguk-angguk dengan sombong.
„Siapa namamu, tua bangka ?” tegur salah seorang
diantara belasan orang itu dengan suara yang sombong sekali,
karena dia menduga Ciu Pek Thong sebagai kakek-kakek tua
yang gila basa untuk urusan ilmu silat, dan tadi orang tua itu
telah memanggil mereka dengan sebutan enghiong dan
hohan, orang-orang gagah, tentu saja mereka semakin
sombong dan karena kesombongan mereka itu telah melewati
takaran, tidak mengherankan jika salah seorang diantaranya
mereka sampai ada yang menyebut Ciu Pek Thong dengan
sebutan ,tua bangka’
Waktu pertama kali mendengar panggilan „tua bangka”
seperti itu, Ciu Pek Thong tertegun, hatinya mendongkol
bukan main tetapi kakek tua ini bukan Loo Boan Tong jika dia
tidak jenaka cepat-cepat dia nyengir sambil manggut-manggut
kan kepalanya.
„Namaku buruk sekali, seperti yang tadi enghiong
sebutkan, yaitu Lauw La ( tua bangka ) kata Ciu Pek Thong.
Keruan saja belasan orang itu jadi tertawa geli. Dengan
mendongkol Ciu Pek Thong berpikir, „Lihat saja nanti setelah
kalian minum arak istimewaku !”
Dengan cepat Ciu Pek Thong mempersiapkan cangkircangkir
itu.
Begitu ,,arak istimewa” Ciu Pek Thong mengisi penuh
cawan-cawan tersebut, seketika itu juga harum semerbak
yang „halus” menerjang disekitar tempat tersebut. Tetapi
karena belasan orang itu, tepatnya keempat belas orang itu,
tengah bergirang oleh pujian situa yang nakal ini, mereka

tidak memperlihatkan ..harum semerBak” dari arak
istimewanya Ciu Pek Thong.
„Silahkan, silahkan” kata Ciu Pek Thong cepat, „Untuk
kegagahan kalian enghiong dan hohan…!”
Dengan serentak keempat belas orang itu telah
mengangkat cawan mereka masing-masing, sekali gus
meneguk isinya. Tetapi begitu arak istimewa itu berpindah
keperut, keempat belas orang “gagah” itu jadi berobah, mata
mereka mendelik, dan „Uahh !” semuanya berusaha
memuntahkan kembali apa yang telah mereka minum tadi.
Ciu Pek Thong tidak tanggung-tanggung mempermainkan
keempat belas orang tersebut, dia tidak tertawa, bahkan
memperlihatkan sikap terkejut.
„Ihh, ada yang tidak beres?” tanyanya memperlihatkan
sikap terheran-heran.
„Arak……… arak apa yang kau berikan kepada kami ?”
tegur, dua orang diantara keempat belas orang itu yang telah
berhasil memuntahkan sebagian arak istimewa yang telah
mereka minum”
„Arak apa ? Tentu saja arak istimewa, arak nomor satu
didunia’ menyahuti Ciu PekA Thong.
„Tetapi mengapa arak ini berbau demikian macam ?” tanya
orang itu sambil mengerutkan alisnya dan melirik kearah
beberapa orang kawannya yang tengah muntah-muntah.
„Bau apa Taihiap ?” tanya Ciu Pek Thong. „Se……..seperti
bau …….” tetapi orang itu ragu-ragu untuk menyebutkannya.
Seorang kawannya yang baru saja muntah telah berteriak
gusar ; „Seperti bau air kencing?”
Seketika itu juga Ciu Pek Thong tidak bisa menahan
tertawanya lagi, meledaklah tertawa situa yang nakal ini.

„Benar ! Benar ! Aku sudah tua dan pikun ! Memang aku
salah mengambil guci, ternyata guci ini terisi air kencingku.
Maaf, aku tua ternyata telah salah memberikan hormat……”
Keruan saja muka keempat belas orang itu jadi berobah
merah padam karena murka. Dengan bengis dua orang itu
diantara mereka telah menerjang kedepan Ciu Pek Thong
dengan maksud mencengkeram dan menghajar situa.
Tetapi Ciu Pek Thong tetap tertawa dan berdiri
ditempatnya disaat kedua orang itu telah menyambar dekat,
dengan gerakan seenaknya tangannya telah digerakkan dan
tidak ampun lagi kedua orang itu terpental dan bergulingan
ambruk dilantai.
Kedua belas kawan-kawannya jadi terkejut, tetapi
kemudian mereka tersadar dengan murka dengan cepat
beberapa orang diantara mereka telah mencabut senjata
mereka, ada yang mencekal golok dan pedang, dengan bengis
menabas dan membacok Ciu Pek Thong.
Tetapi situa nakal yang memang sengaja hendak
mempermainkan keempat belas orang tersebut, tidak ingin
menimbulkan kegaduhan didalam rumah makan tersebut,
sambil tetap tertawa geli ter pingkal-pingkal, Ciu Pek Thong
telah menjejakan kakinya kelantai, tubuhnya bagaikan seekor
burung telah melompat keluar. Hal ini di lakukan oleh Ciu Pek
Thong disebabkan dua soal. Persoalan pertama untuk
mencegah kerugian pihak rumah makan jika terjadi kerusakan
rumah makan itu oleh pertempuran, kedua memang Ciu Pek
Thong ingin memancing belasan orang itu kesuatu tempat
yang sepi, untuk menghajar mereka sepuas hati.
Kejar….jangan biarkan dia lolos!” berseru belasan orang itu
dengan murka dan mereka telah melompat mengejar
secepatnya.

Ciu Pek Thong sengaja tidak berlari cepat dia sengaja agar
keempat belas orang itu tetap dapat mengikutinya dan tidak
kehilangan jejak.
„Hemmm, dengan memiliki kepandaian cakar kucing
seperti itu ingin menjagoi?” menggumam sikakek sambil
berlari seenaknya. ,Sungguh tidak tahu tingginya langit dan
dalamnya bumi….. !”
Walaupun Ciu Pek Thong berlari seenaknya tetapi keempat
belas orang yang telah dipermainkannya itu tetap saja tidak
berhasil mengejar mendekatinya.
Tentu saja keempat belas orang itu jadi penasaran bukan
main, dengan mengeluarkan seruan-seruan bengis mereka
berusaha untuk mengejar! lebih dekat lagi.
Dalam sekejap mata saja mereka telah berlari belasan lie,
tetapi Ciu Pek Thong tetap tidak menghentikan larinya.
„Tua bangka, jika kau tidak mau berhenti juga, kami jangan
dipersalahkan menurunkan tangan terlalu kejam.,.!” teriak
beberapa orang di antara pengejarnya itu.
Ciu Pek Thong hanya memperdengarkan suara tertawa
mengejek sambil berlari terus kemudian disusul oleh katakatanya.
,,aku Lauw Lo memang sudah hampir mampus jika
memang kalian ingin membuat Lauw Lo ini pergi ke Giam
Lo Ong silahkan, silahkan”
Tentu saja keempat belas orang itu semakin penasaran
saja, karena walaupun bagaimana mereka merasakan
diri mereka sebagai jago-jago yang memiliki Kepandaian
tinggi, dimana mereka merupakan murid-murid pandai
dari beberapa pintu perguruan yang memiliki nama
terkenal dalam kalangan Kangouw. Tetapi kini dengan
demikian mudah mereka telah dipermainkan oleh
seorang tua bangkotan seperti itu, bahkan merekapun
telah terlanjur meneguk ‘arak istimewa’ air kencingnya
Ciu Pek Thong. Malu yang diderita oleh mereka tentu saja

tidak akan terhapus jika tidak oleh kematian si tua yang
nakal itu, Mati-Matian mereka tetap mengejarnya dan
berusaha menangkap Ciu Pek Thong.
Disebuah tanah datar itulah Ciu Pek Thong baru
menghentikan larinya dan melabrak serta
mempermainkan belasan orang tersebut. Dengan mudah
Ciu Pek Thong telah menghajar pulang pergi keempat
belas orang itu, yang tidak berdaya sesuatu apapun juga
untuk melakukan serangan membalas.
Waktu Ciu Pek Thorg me nyebut-nyebut Loo Boan Tong.
muka keempat belas orang itu berubah, Kun Hong melihat
tampaknya lawan-lawan Ciu Pek Thong terkejut bukan main,
bahkan mereka telah melompat mundur dan mengawasi Ciu
Pek Thong dengan mata terpentang lebar-lebar.
„Kau…kau Loo Boan Tong, Ciu Pek Thong” tanya beberapa
orang diantara mereka dengan suara yang agak gugup. Ciu
Pek Thong tertawa nakal.
„Benar, justru akupun situa bangka memang ingin pergi ke
Hoa San untuk menemui sahabatku, Yo Ko dan isterinya, Kami
telah berjanji untuk bertemu disana dan kebetulan sekali
kalian memang ingin berkumpul di Hoa San untuk
merundingkan ilmu silat, mari, mari kita melakukan perjalanan
ber sama-sama aku agar tidak akan kesepian lagi.
Muka keempat belas orang itu jadi berubah pucat mereka
telah mundur beberapa langkah dan salah seorang diantara
mereka yang berpakaian sebagai petani, telah menjura
memberi hormat.
“Ciu Locianpwe, kami benar-benar tidak memiliki
pengetahuan dan walaupun memiliki mata namun kami
buta tidak bisa melihat tingginya gunung Thian San. Biarlah
hari ini kami telah menerima petunjuk locianpwe, kelak kami
akan meminta lagi petunjuk-petunjuk locianpwe…!” dan
setelah berkata begitu, dia telah memberi isyarat kepada

kawan-kawannya, tanpa menantikan jawaban Loo Boan Tong
mereka telah memutar tubuh dan berlari meninggalkan
tempat tersebut.
Loo Boan Tong tertawa bergelak karena puas dan
gembira telah mempermainkan keempat belas orang yang
besar mulut itu.
Tetapi disaat Kun Hong bermaksud untuk menghampiri dan
belajar kenal dengan jago tua yang luar biasa itu, tiba-tiba
ditengah udara terdengar suara berkesiuran yang keras
dicampur oleh dengung yang cukup menyakitkan anak telinga,
sebatang anak panah tampak melayang ke tengah udara
tinggi sekali, lalu disusul dikejauhan tampak seorang
penunggang kuda yang tengah melarikan kuda
tunggangannya itu dengan cepat.
Ciu Pek Thong yang melihat itu, jadi mengerutkan alisnya,
dia men duga-duga entah siapa penunggang kuda yang
tengah menghampirinya itu. Dilihat dan cara orang itu
melepaskan anak panahnya ketengah udara dengan kekuatan
lempar yang demikian kuat tentunya penunggang kuda itu
bukan orang sembarangan.
Dengan cepat penunggang kuda itu telah tiba dihadapan
Ciu Pek Thong, kudanya berhenti ketika tali lesnya digentak
keras.
Kun Hong terkejut ketika melihat betapa penunggang kuda
itu berpakaian agak luar biasa. Begitu juga halnya dengan Ciu
Pek Thong, karena penunggang kuda itu berpakaian sebagai
seorang pendeta, dan jubahnya yang lebar itu memperlihatkan
dia adalah seorang pendeta Mongolia
Inilah yang luar biasa. Sejak kekalahan pasukan perang
tentara Mongolia yang terpukul mundur dari kota Siangyang
sudah memaksa Kublai menarik pasukannya mundur pulang
kenegerinya, tidak pernah ada orang Mongolia yang

berkeliaran diudara Tionggoan. Mungkin pendeta inilah, yang
pertama berani menginjakkan kakinya didaratan Tionggoan.
Pakaiannya sudah luar biasa, muka pendeta Mongolia itu
lebih luar biasa lagi. Sepasang alisnya hitam tebal, raut wajahnya
persegi empat, matanya yang besar tampak bersinar
tajam dan agak licik, hidungnya mancung dan bibirnya tipis.
Pendeta ini memelihara jenggot tipis didagunya dan lengannya
berbulu. Waktu kudanya itu berdiri dihadapan Ciu Pek Thong,
justru pendeta Mongolia itu telah melompat turun dengan
gerakan yang ringan dan GESIT.
Melihat cara pendeta itu melompat turun Ciu Pek Thong
jadi terkejut, karena dia melihat waktu sepasang kaki pendeta
Mongolia itu menyentuh tanah, sedikitpun tidak menimbulkan
suara; Tentu saja hal itu telah membuktikan bahwa ilmu
meringankan tubuh dari pendeta tersebut sempurna sekali.
Dan yang membuat Ciu Pek Thong memandang tertegun
justru pendeta asing tersebut mengingatkan Ciu Pek Thong ke
pada Kim Lun Hoat-ong, pendeta Mongolia yang telah
menemui kematian didasar jurang.
Dengan jubah yang besar longgar dan cupu diatas
kepalanya yang gundul, benar-benar merupakan kesan yang
kuat untuk mengingat Kim Lun Hoat ong.
„Eh monyet”, bentak pendeta asing itu dengan suara yang
garang waktu melihat Ciu Pek Thong hanya tertegun
menatapnya. „Hudya ingin bertanya sesuatu kepadamu”.
Ciu Pek Thong seperti baru tersadar dari bengongnya, dia
jadi tertawa sendiri mengingat bahwa dia bisa kesima karena
teringat kepada Kim Lun Hoat-ong, Tetapi mendengar dirinya
dipanggil dengan sebutan “monyet” darahnya jadi meluap.
„Boleh, boleh” menyahuti Ciu Pek Thong cepat, “Urusan
apakah yang ingin ditanyakan oleh Hud ong (Budha hidup)?”.
„Tiga tahun yang lalu telah terjadi pertempuran antara
pasukan Song dengan tentara perang Mongolia yang besar,

dalam pertempuran itu ikut serta adik seperguruan Hudya,
yang ber gelar Kim Lun Hoat-ong, yang sampai kini belum
kembali ke utara, Apakah kau pernah dengar mengenai adik
seperguruan Hudya itu”.
Melihat pendeta itu memiliki kepandaian tinggi dan
sempurna, terlebih lagi kini mengetahui bahwa pendeta itu
adalah kakak seperguruan Kim lun Hoat-ong. yang pasti
kepandaiannya hebat sekali maka Ciu Pek Thong berlaku hatihati.
Tetapi memangnya Loo Boan Tong nakal dia tetap saja
ingin mempermainkan pendeta itu, sama halnya ketika
beberapa tahun yang lalu dia pernah mempermainkan Kim
Lun Hoat-ong.
„Pernah, pernah, aku simonyet memang pernah mendengar
tentang Kim Lun Hoat-org!” kata Ciu Pek Thong kemudian.
Muka pendeta itu tampak berubah terang sambil tersenyum
agak menyeramkan, suara yang agak menurun lunak dia telah
bertanya lagi „Cepat kau katakan, dimana sekarang ini adik
seperguruanku itu berada, Hudya akan memberikan hadiah
kepadamu lima tail emas’
„Tetapi Hud ong, aku simonyet benar-benar takut, untuk
mengatakannya, nanti Hud ong Kim Lun Hoat-ong murka,
kata Ciu Pek Thong Sambil memperlihatkan sikap seperti
ketakutan dan bimbang.
„Katakan aku jamin tidak nantinya adik seperguruanku itu
akan bergusar oleh keterangan mu, bahkan mungkin juga dia
akan gembira dan senang sekali melihat aku menjemputnya
untuk pulang ke-utara dan akan menghadiahkan beberapa tail
emas lagi”, kata sipendeta lagi.
„Benar-Benarkah Hud-ong sebagai kakak seperguruan Kim
Lun Hoat ong!” tanya Ciu Pek Thong
Muka pendeta itu jadi berobah.

“Rewel benar kau?” bentaknya. „Mustahil Hudya ingin
mendustai monyet buduk seperti kau ini ? Hudya bergelar Tin
To Hoat Ong cepat kau sebutkan dimana beradanya adik
seperguruan Hudya, jangan membuat Hudya bergusar”.
“Mana berani, mana berani aku simonyet buduk
menggusarkan Hudya ? Sesungguhnya sejak tiga tahun yang
lalu Kim Lun Hoat-ong hanya berpelesiran setiap hari
didampingi oleh wanita cantik”
Mendengar Ciu Pek Thong berkata sampai disitu. sipendeta
yang mengaku sebagai kakak seperguruan Kim Lun Hoat-ong
dan bergelar Tjat To atau Golok Besi Hoat-ong, telah meng
geleng-kan kepalanya dengan sikap jengkel.
„Lwekangnya tentu akan mengalami kemunduran yang
hebat jika Kim Lun selalu mendekati wanita . . “
menggumam pendeta itu dengan suara yang perlahan
kemudian dia telah menoleh kepada Ciu Pek Thong dan
telah berkata lagi dengan suara yang agak keras: „Cepat
katakan bagaimana keadaannya!”
“Tentu saja keadaan Hud-ong Kim Lun Hoat Ong
sangat nyaman, dia tidak perlu makan tidak perlu
minum, tidak perlu berpakaian, dan tidak perlu
memikirkan uang atau segalanya.”
„Maksudnya adik seperguruanku ini dilayani
sedemikian baiknya oleh wanita-wanita cantik itu” tanya
Tiat To Hoat-ong tidak sabar.
Tepat, Bahkan disamping wanita-wanita cantik yang
melayani Kim Lun Hoat-ong terdapat juga manusiamanusia
berkepala kerbau dan kuda. . . semua nya patuh
sekali melayani.
„Ihhh . berseru pendeta itu heran bukan main. Dia
bicara dengan bahasa Han yang kaku, sekarang dia
tengah kaget, tentu saja suaranya jadi lucu terdengar,
„Manusia berkepala kuda dan berkepala kerbau!”

„Benar, itulah keadaan yang menyenangkan sekali.”
„Kau tahu tempatnya? Cepat antarkan aku kesana!” kata
Tiat To Hoat-ong tidak sabar.
„Tunggu dulu, jika Hud-ong yang hendak pergi kesana, aku
tentu saja tidak berani melarang, silahkan…tetapi …..tetapi
jika aku diajak ke sana, tunggu dulu, tidak nantinya aku mau
karena aku simonyet buduk memang masih doyan makan
nasi.”
„Memangnya tempat itu tempat apa sehingga kau tidak
mau kesana?” tegur Tiat To Hoat-ong mulai curiga melihat
sikap Ciu Pek Thong.
„Orang-Orang biasanya menyebutnya sebagai tempat
berpulang manusia-manusia yang sudah „bosan makan nasi,
tempat duduk, bersemayamnya Giam-loo-ong” menyahuti Ciu
Pek Thong perlahan, tetapi sikapnya sungguh-sungguh.
„Apa?” teriak Tiat To Hoat-ong gusar, „kau,…. kau
maksudkan neraka?”
„Begitulah kurang lebih artinya…” menyahuti Ciu Pek
Thong dengan sikap yang tenang sekali.
„Jadi .. adik seperguruanku itu telah dibunuh seseorang ?”
Suara Tiat To Hoat ong jadi meninggi.
„Bisa diartikan begitu juga.” menyahuti Ciu Pek Thong
jenaka. „Bukankah tadi aku simonyet buduk telah
memberitahukan bahwa Kim Lun Hoat ong kini sudah tidak
perlu sibuk-sibuk makan nasi dan tidak perlu sibuk-sibuk
berpakaian?”
Muka Tiat To Hoat-ong tampak merah padam, rupanya dia
murka bukan main. Dengan menggeluarkan suara seruan
mengguntur yang menyeramkan, dia telah mengangkat
tangan kanannya, akan menghamtam. kepala Ciu Pek Thong
dengan hantaman yang kuat.

Ciu Pek Thong memang telah bersiap sedia dan
berwaspada sejak tadi; karena dia menyadari bahwa pendeta
tersebut memiliki kepandaian yang luar biasa sekali dan tidak
bisa dipermainkan serangannya. Waktu telapak tangan
pendeta dari Mongol itu turun kearah kepalanya, Ciu Pek
Thong merasakan tekanan tenaga serangan meliputi ribuan
kati.
Itulah kekuatan tenaga dalam yang benar-benar terlalu luar
biasa, hati Ciu Pek Thong sendiri tergetar, karena dia
memperoleh kenyataan bahwa kepandaian dan tenaga dalam
Tiat To Hoat Ong jauh lebih sempurna dari adik
seperguruannya.
Ciu Pek Thong mengetahui itu, yang karena dia pernah
bertempur dengan Kim Lun Hoat ong, yang tenaganya telah
dijajakinya; dan kini dia bisa memperbandingkan dengan
kekuatan tenaga dalam Tiat To Hoat-ong, yang tentunya jauh
lebih hebat, sehingga mengejutkannya. Tanpa berani berayal
Ciu Pek Thong, mengempos tenaga dalamnya kepundaknya,
dan dengan tangan kanannya dia menyentil.
Tangan Tiat To Hoat-ong yang berukuran besar dan
bertulang kasar, disamping lebat ditumbuhi bulu dan meluncur
dengan kekuatanya yang luar biasa, tentu saja bukan
merupakan, serangan yang sembarangan. Kun Hong yang
menyaksikan peristiwa tersebut dari kejauhan jadi terkejut
waktu melihat Ciu Pek Thong hanya menyambuti dengan
sentilan jarinya belaka. Tentu akan celakalah Ciu Pek Thong
kalau tidak berhasil mengelakkan serangan dahsyat itu.
Namun Ciu Pek Thong justru tidak takut walaupun dia
melihat lawannya memiliki kepandaian yang hebat seperti itu.
Dia sambil menyentil masih sempat untuk berjenaka mengejek
pendeta itu. ”Eittt, jangan menyentuh tubuh simonyet
budukan, nanti kau ketularan dan menjadi budukan pula.”
Tentu saja Tiat To Hoat-ong tambah murka, terlebih lagi
telapak tangannya yang terkena sentilan jari telunjuk Loo

Boan Thong seperti ditusuk oleh semacam tenaga yang halus,
namun menusuk sampai keulu hatinya disamping itu sasaran
telapak tangannya jadi miring dan menghantam tempat
kosong. Ciu Pek Thong masih berdiri tegak ditempatnya.
Keruan Tiat To Hoat ong jadi memandang tertegun. Semula
dia menduga Ciu Pek Thong adalah seorang penduduk biasa
didaerah tersebut tetapi melihat cara Ciu Pek Thong
memusnahkan serangannya itu, dia segera mengetahui bahwa
Ciu Pek Thong memiliki kepandaian yaag tidak berada di
bawahnya.
Bagi jago-jago kelas satu, dalam segebrakan saja
sudah dapat untuk mengukur kekuatan lawan. Maka
begitu juga dengan Tiat To Hoat-ong, yang telah
mengeluarkan suara tertawa mengejeknya dan disertai
dengan bentakan, tahu-tahu tangan kirinya diulurkan
dengan cara mencengkeram yang aneh licin seperti
belut, karena, dia mempergunakan jurus Yoga
sedangkan tangan kanannya telah meluncur akan
menotok jalan darah su-sie-hiat dipinggang Ciu Pek
thong.
Ciu Pek Thong tidak takut sedikitpun juga walaupun
dia mengetahui bahwa lawannya ini sangat hebat sekali
kepandaiannya. Bahkan Loo-BoanTong girang sekali bisa
menemui lawan berat seperti Tiat To Hoat ong. Dia
memang sudah lama tidak pernah menemui tandingan
yang setimpal, sehingga tangannya terasa gatal sekali
dengan berhadapan lawan seperti Tiat To Hoat ong,
terbangkitlah semangatnya.
Melihat Tiat To Hoat Ong melancarkan serangan yang
hebat seperti itu, dengan menggerakkan kedua kakinya
seperti orang menari, tahu-tahu Ciu Pek Thong telah
berada disisi Tiat to Hoat-ong, dan tangan kanannya
disalurkan untuk menjambak jalan darah Tiang-bu-hiat
di punggung sipendeta.

Tentu saja pendeta itu jadi mengeluh murka, karena dia
merasa dirinya dipermainkan oleh lawannya. Dinegerinya, dia
selain sebagai Guru Negara dan diakui sebagai jago nomor
satu, juga sebagai penasehat raja. Kim Lun Hoat-ong sendiri
masih berada dibawahnya beberapa tingkat dan sering
meminta petunjuk-petunjuk ilmu Yoga sebelum adik
seperguruannya itu ikut rombongan Mangu kedaratan
Tionggoan.
Kini seorang kakek tua seperti Ciu Pek Thong ternyata bisa
mempermainkan dirinya demikian rupa, dimana setiap
serangannya telah gagal, tentu saja. membuat pendeta
Mongolia itu jadi murka sekali.,
Selama dua puluh tahun terakhir ini, selama Tiat To Hoatong
berada dinegerinya, jarang sekali dia turun tangan untuk
bertempur dengan jago-jago manapun juga. Tetapi jika
muncul jago yang tidak terkalahkan dan terpaksa dia turun
tangan sendiri, tentu tidak lebih dari tiga jurus dia akan
berhasil merubuhkan jago itu. Maka tidak mengherankan jika
nama Tiat To Hoat-ong sangat dihormati dan disegani oleh
seluruh jago-jago di Mongolia, bahkan Kim Lun Hoat-ong
patuh sekali terhadap kakak seperguruannya ini.
Disamping Tiat To Hoat-ong telah menguasai ilmu
Yoga dengan sempurna benar, diapun te lah mengubah
semacam ilmu golok yang digubahnya dari ilmu golok
asal India, tidak. mengherankan, disamping sombong
dan tidak pernah memandang sebelah mata kepada jago
manapun juga, Tiat To Hoat ong selalu bertindak,
sekehendak hatinya. Rajanya pun tidak berani melarang
sesuatu apapun, bahkan untuk mencegah Tiat To Hoat
ong menimbulkan kerusuhan, sengaja Tiat To Hoat-ong
telah diangkat sebagai Koksu (Guru negara penasehat
raja).
Waktu tiga tahun yang lalu Kublai telah mengajak
pasukan tentara perangnya pulang kenegerinya diutara,

Tiat to Hoat-ong tidak melihat Kim Lun Hoat ong Dia
menanyakan ke Kublai dan memperoleh penjelasan
bahwa Kim Lun Hoat ong waktu itu tengah mengobrak
abrik jago-jago dataran tionggoan. dan mungkin saja dua
tahun lagi Kim Lun Hoat-ong baru kembali kenegerinya
tersebut.
Senang hati Tiat To mendengar itu sehingga lenyap
kekuatirannya terhadap adik seperguruannya itu.
Tetapi setelah di tunggu-tunggu selama tiga tahun sang
adik seperguruan belum juga muncul, maka muncul kembali
kecurigaan dan kekuatirannya dia akhirnya menghadap ke
Kublai untuk meminta ijin, karena dia bermaksud pergi
kedaratan Tionggoan untuk mencari adik seperguruan nya itu.
Mempergunakan kesempatan ini, Kublai yang mengetahui
akan hebatnya kepandaian Tiat To Huat-ong. pendeta yang
menjadi Koksu negara tersebut, dialah diberikan juga perintah
rahasia untuk melakukan sesuatu didataran Tionggoan.
Tetapi disaat Tiat To Hoat ong tiba didaratan Tionggoan,
dia tidak berhasil mencari jejak adik seperguruannya itu,
sehingga dia semakin berkuatir saja. Selama dua bulan dia
berputar kayuh mengelilingi daerah-daerah selatan untuk
mencari Kim Lun Hoat ong, yang ingin diajak pulang keutara
namun tetap saja hasilnya nihil. Dan hari itu, secara kebetulan
dia bertemu dengan Loo Boan Tong yang usil yang bersedia
melayani ketemberangan dan keangkuhan pendeta Mongolia
itu sehingga terjadi pertempuran hebat diantara kedua jago
yang luar biasa tersebut.
Disamping itu, Ciu Pek Thorg juga memiliki maksud
tersendiri dengan melayani pendeta dari Mongolia itu.
Waktu mendengar Tiat To Hoat-ong adalah kakak
seperguruan Kim Lun Hoat-ong; seketika itu juga dia
menduga pasti tiat To Hoat-ong memiliki maksud-maksud
tidak baik Terhadap daratan Tionggoan, dan Ciu Pek Thong

justru kuatir kalau-kalau kedatangan Tiat To Hoat-ong
kedaratan tionggoan ini atas perintah Kublai.
Memang Ciu Pek Thong, walaupun sifatnya angin-anginan
dan sering uring-uringan, otaknya cukup encer dan polos
jujur maka dia segera berkuatir kalau Kublai telah
mempersiapkan tentaranya untuk menerjang masuk
kedaratan Tionggoan lagi Saat itu, Tiat To Hoat ong telah
melancarkan serangannya yang ketiga. Disaat dia berhasil
mengelakkan diri dari cengkeraman Ciu Pek Thong
dipunggungnya, dengan mengerahkan tenaga dalamnya
kepundak, sehingga bahunya licin seperti berminyak dan Ciu
Pek Thong gagal dengan usahanya, tahu-tahu pendeta
Mongolia ini telah memutar kedua tangannya dengan
serentak bersamaan dengan tubuhnya yang berputar juga.
Tidak mengherankan, jika serangkum angin serangan yang
dahsyat telah menggempur Ciu Pek Thong.
Tetapi Ciu Pek Thong juga tidak tinggal diam, dengan
memusatkan kekuatan tenaga dalamnya, sebagai adik
seperguruan Ong Tiong Yang, yang merupakan pewaris ilmu
„It Yang Cie” tenaga dalam Ciu Pek Thong memang luar biasa
sekali, dengan mengeluarkan seruan yang sangat nyaring
justru Ciu Pek Thong tidak berkelit atau mengelakkan diri dari
serangan itu dia telah menangkisnya dan keras dilawannya
dengan keras.
„Bukk!” terdengar suara yang keras bukan main, yang
dahsyat sekali, bumi seperti bergetar karena kuatnya benturan
yang terjadi antar dua kekuatan raksasa tersebut. Kun Hong
yang berdjri terpisah belasan tombak dari gelanggang
pertempuran, telah terhuyung hampir rubuh terjengkang oleh
getaran benturan tenaga itu, untung pemuda ini cepat-cepat
memegang dinding batu yang terdapat didekatnya.
Kuda pemuda itu juga meringkik nyaring, rupanya
binatang tunggangan itu kaget. Bukan main kagumnya Kun
Hong sehingga dia sekarang menyadari, walaupun dia belajar

dua puiuh tahun lagi, belum tentu dia bisa memiliki kekuatan
tenaga dalam seperti kedua orang jago itu.
Yang disaksikan Kun Hong kali ini adalah sebuah
pertempuran yang benar-benar luar biasa sekali dan lain dari
yang lain. Walaupun kepandaian Kun Hong tidak ada
sepersepuluh dari kepandaian kedua orang itu, namun karena
pemuda pelajar she Cu tersebut memiliki dan mengerti ilmu
silat, dia bisa merasakan dan melihat bahwa pertempuran
diantara kedua jago itu merupakan pertempuran antara mati
dan hidup.
Ciu Pek Thong sendiri semakin lama jadi semakin kaget
melihat kenyataan bahwa lawan nya memiliki kepandaian yang
lebih liehay dari kepandaian Kim Lun Hoat ong. setidaktidaknya
memang Tiat To Hoat ong kakak seperguruan dari
Kim Lun Hoat-ong namun dengan kepandaian seperti itu jelas
dia bisa berbuat sesuka hatinya. Memang benar Ciu Pek
Thong tidak mungkin dapat dirubuhkan oleh Tiat To Hoat-ong
namun jangan harap pula Ciu Pek Thong dapat merubuhkan
lawannya itu.
Jika tadi Ciu Pek Thong masih bisa bergurau dengan
melayani serangan lawannya, tetapi kini mau tidak mau
memang Ciu Pek Thong harus mencurahkan semangat dan
seluruh perhatiannya terhadap lawannya yang liehay.
Mereka bertempur semakin lama jadi semakin berat,
gerakan tangan mereka seperti berat dan lambat sekali
gerakannya. Tetapi bagi ahli silat kelas satu, hal itu
membuktikan bahwa ke dua orang yang tengah bertempur itu
memang sedang mempergunakan tenaga kelas satu. Sedikit
saja mereka salah perhitungan, berarti akan terbinasa
ditangan lawannya. Ciu Pek Thong sendiri heran. karena dia
melihat sipendeta asing memiliki ilmu kebal akibat
sempurnanya latihan ilmu Yoga juga pendeta itu memiliki
tenaga lm dan Yang sangat sempurna sekali, dia dapat
mempergunakan tenaga dalamnya itu sekehendak hatinya

bisa lunak, dan bisa keras dengan tiba-tiba, sehingga dijurus
berikutnya Ciu Pek Thong lebih sering tertipu oleh cara licik
lawannya yang main ulur tenaga dalamnya yang di ganti-ganti
sifat itu,
Sesungguhnya sebagai seorang ahli Yoga yang telah
terlatih pada puncak kesempurnaannya, maka pendeta
tersebut disamping memiliki ilmu kebal (weduk), juga
bisa menguasai dan memberikan perintah sekehendak
hatinya terhadap seluruh otot disekujur tubuhnya.
Walaupun bagaimana kenyataan seperti itu, memang
telah membuat Tiat To Hoat-ong bisa menjagoi
dinegerinya dengan ilmunya tersebut. Belum lagi ilmu
golok yang digubahnya, yang hebat luar biasa.
Ciu Pek Thong melihat kenyataan seperti ini, kalau
memang dia bertempur terus menerus dengan keadaan
tidak berobah, niscaya akhirnya dia yang akan kalah ulet,
berarti dirinya yang bisa celaka.
itulah sebabnya terpaksa dia harus dapat merubah
cara bertempurnya untuk berusaha meuguasai lawannya.
Sulitnya Tiat To Hoat-ong seperti bisa membaca jalan
permikiran Ciu Pek Thong sehingga dia selalu melibatkan
Ciu Pek Thong dengan serangan-serangan yang hebat
sekali, yang tidak memungkinkan Loo Boan Tong
memiliki kesempatan merubah cara bertempurnya itu.
Dengan gusar Ciu Pek Thong mengeluarkan seruan
dan dia menggerakkan tangannya kebawah dengan
gerakan meminta, kemudian dengan cepat sekali tangannya
yang kiri menyusul akan menotok mata sipendeta. Itulah
gerakan “Bin Bu Jin Sek (Dimuka tidak ada cahaya manusia),
yang pernah diperolehnya dari Yo Ko.
Hebat sekali serangan tersebut, Tiat To Hoat ong
mengeluarkan seruan tertahan karena terkejut dan dengan
gerakan yang gesit dia mengelakkan diri. Tetapi Ciu Pek

Thong dalam gusarnya telah melancarkan lima serangan
lainnya secara beruntun pukulan “Bo Beng Kie Miauw” (Tidak
mengetahui apa keindahannya), disusul dengan “Jiak Yu So
Sit” (Seperti Kehilangan sesuatu), lalu dengan hebat Ciu Pek
Thong membarengi dua serangan susulan dengan “Heng Sie
Cauw Jiok” (Mayat Berjalan), dan To Heng Gek Sie” (Jalan
Jungkir Balik).

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s