Sin Tiauw Thian Lam (Jilid : 19-20)

JILID 19

MENGAPA engkau tidak segera kembali kekursimu ? bentak
Pangcu kecil itu dengan suara yang dingin. „Aku sudah tidak
membutuhkanmu…!”.
Phang Kui In seperti baru tersadar dari lamunannya, dia
mengundurkan diri dan kembali duduk dikursinya.
Pangcu itu melambaikan tangannya. lagi dia memanggil
Kwee Siang,
„Kemari kau…!” suaranya juga dingin, tidak bedanya
seperti tadi dia memanggil Phang Kui In.
Kwee Siang terkenal sebagai Siauwsia, si sesat atau sianeh
kecil, yang adatnya sangat aneh menyaingi Oey Losia,
kakeknya. Jika seseorang memperlakukan dia dengan sikap
yang baik, tentu adat anehnya itu tidak akan timbul. Tetapi
jika seseorang memperlakukan dia dengan kasar dan sikap
yang keras, maka disaat itulah adat anehnya akan muncul !
Pangcu dari Tiauw Pang memperlakukan dia dengan sikap
seperti itu, tentu saja telah membuat Kwee Siang jadi
mendongkol, dan adatnya yang aneh juga segera
memperlihatkan ujudnya.

„Jika engkau ingin bicara, bicaralah ! Mengapa aku harus
datang dekat2 ketempatmu itu ? Apakah kau kira telingaku tuli
atau menang suaramu yang seperti banci sehingga tidak bisa
bicara keras ?”
„Derrrr…..!” darah Yo Him dan Phang Kui In jadi mendesir
kaget.
Terlebih lagi Phang Kui In, semula dia masih
mengharapkan bahwa mereka bertiga bukan orang yang dicari
Pangcu cilik itu, maka kemungkinan mereka dibebaskan.
Tetapi dengan perkataannya yang keras seperti itu, dimana
Kwee Siang menuruti adatnya, bukankah urusan akan menjadi
runyam ?
Saat itu muka semua anggota Tiauw Pang telah berobah
jadi menyeramkan memandang kearah sigadis, termasuk wakil
Pangcu itu telah menatap bengis.
Tetapi Pangcu kecil itu telah tertawa kecil, mukanya tidak
berobah, tetap dingin.
„Hebat! Hebat! Aku memang memiliki suara yang kecil, dan
mungkin juga telingamu tuli! Kuperintahkan engkau maju
kemari ! Maju !”
Kwee Siang mana takut ?
Dia telah tertawa dingin dan duduk seenaknya dengan
sikap menantang.
„Jika aku tidak mau menuruti perintahmu, apa yang bisa
kalian lakukan terhadapku ?” tanyanya dengan suara
menantang dan mengandung nada yang keras.
Muka pangcu itu kini agak berobah, tetapi cepat sekali pulih
sebagai mana biasa, kemudian dia telah berkata : „Memang
kami tidak bisa melakukan suatu apapun juga kepadamu,
tetapi engkau akan menyesal nona manis, engkau akan
menyesali sikap2mu itu ! Maju kemari!”

Disaat itu dua orang dari pengawal ruangan telah
mencabut golok mereka, dan keduanya telah menandelkan
golok mereka dipunggung sigadis.
Kwee Siang jadi mendongkol sekali. dengan mengeluarkan
seruan gusar, tahu2 tangan kanannya bergerak cepat.
,,Wutt…plakk, plakk !” kedua orang pengawal ruangan
tersebut telah berhasil dihajarnya dengan keras, tubuh mereka
telah terpental dan ambruk ditempat itu juga dengan
mengeluarkan suara rintihan.
Semua orang Tiauw Pang yang hadir di ruang tersebut jadi
terkejut, mereka kemudian menjadi marah.
Tetapi Pangcu cilik itu telah mengangkat tangannya, dia
telah berkata : “Tahan…!”.
Dan perintah dari Pangcu cilik itu menyebabkan orang2
Tiauwpang tidak berani bergerak lebih jauh.
Pangcu dari Tiauw Pang itu telah berkata lagi dengan suara
yang dingin: ,,Aku memang mengetahui engkau memiliki
kepandaian yang tinggi, tetapi tidak perlu engkau
memamerkan kepandaianmu itu dihadapanku. Lebih baik
engkau maju kemari untuk mendengarkan perintahku secara
baik2…karena jika tidak, engkau tentu akan menyesal.”
Kwee Siang sebetulnya ingin menghajar lagi dua orang
anak buah Tiauw Pang yang mendekatinya, tetapi dia
membatalkan maksudnya, dia hanya tertawa ber-gelak2
mengejek.
„Terserah kepadamu ! Engkau yang ingin bertanya, bukan
? Jika engkau tidak mau bertanya, aku pun tidak akan
menjawab, Kedatanganku kemari karena ‘diundang’, bukan
atas kehendak kami, tetapi jika sebagai tamu kami
diperlakukan tidak baik, tentunya kamipun bisa membawa
cara kami sendiri….”.

tegas sekali perkataan Kwae Siang, dia telah
memperlihatkan sikap anehnya, adat kukoay-nya……
Pangcu cilik dari Tiauw Pang telah mengerutkan alisnya, dia
melihat sikap Kukoay dari Kwee Siang, jadi mendongkol sekali.
Tetapi walaupun usianya masih sekecil itu, tetapi anehnya dia
bisa mengendalikan kemarahan hatinya, bahkan dia telah
tertawa ramah.
Jika yang lainnya tengah memandang Kwee Siang dengan
sorot mata yang sangat bengis, justru Pangcu itu telah
berkata ramah : „Baiklah ! Jika engkau ingin bicara dari
tempat itupun tidak apa2, memang bicara sambil duduk kukira
cara yang paling baik ! Sekarang jawablah pertanyaanku :
„Siapa namamu ?”, maksudku she dan nama apa yang di
berikan oleh orang tuamu ! Kuharap saja engkau tidak
berdusta…”.
Kwee Siang tertawa dingin.
„Engkau menanyakan she dan namaku, apakah engkau
ingin melamarku kepada kedua orang tuaku untuk kau ambil
sebagai isterimu ?” tegur Kwee Siang dengan mendongkol,
Sigadis memang merupakan Siauwsia, dengan sendirinya dia
bisa saja mengucapkan kata2 yang menyindir seperti itu.
Keruan saja Pangcu itu jadi berobah mukanya merah
padam karena malu dan gusar sekali.
„Aku bukan sedang bergurau denganmu ! Ingatlah, bahwa
engkau berada diatas kapal Tiauw Pang, sekali saja aku
acungkan tanganku, jiwamu sulit dilindungi lagi !” mengancam
Pangcu itu.
Semakin digertak begitu, sifat kukoay dari Kwee Siang jadi
semakin muncul.
“Aha, lucu sekali !. jangan kata baru berada dikapal Tiauw
Pang, sedangkan berada dikapal dari istana rajapun aku tidak
takut ..!, engkau jangan membawa sikap seperti seorang

kaisar, potonganmu dan tubuhmu tidak ada potongan
bangsawan, engkau lebih mirip jika menjadi anaknya seorang
pengangon kerbau !”
Inilah hebat.
Kata2 yang diucapkan Kwee Siang sangat pedas sekali, dia
mengejek terlampau tandas.
Tentu saja Pangcu dari Tiauw Pang jadi gusar sekali
dengan mata yang memancarkan kebencian kepada Kwee
Siang dia telah bertanya dengan suara yang dingin : “Siapa
namamu ?”
“Hemmm, aku tidak pernah menyembunyikan she dan
nama, tetapi terhadap manusia seperti engkau apa gunanya
dibicarakan soal nama dan she ? Apakah keuntungannya
untuk diriku ?”
Pangcu cilik itu menjadi semakin marah, dia telah menegur
lagi : “sekali lagi kuperingati, bahwa aku bukan sedang
bergurau denganmu ! Katakan yang sebenarnya, siapa
namamu ?!”
„Sesungguhnya manusia seperti engkau tidak pantas
mendengar namaku, karena mungkin nanti engkau akan mati
disebabkan kaget ! Tetapi baiklah ! Jika aku tidak
menyebutkan namaku, nanti engkau menduga bahwa aku
takut kepadamu ! Aku she Kwee dan bernama Siang ! Kau
sudah mendengar jelas ? Aku Kwee Siang!”
Mendengar Kwee Siang menyebutkan namanya, muka
Pangcu itu jadi berobah, dia telah tertegun sejenak, begitu
juga wakil Pangcu itu yang duduk tertegun dan anak buahnya
mengawasi Kwee Siang dengan sorot mata yang tajam sekali.
„Pantas saja engkau sangat keras kepala ” kata Pangcu itu
kemudian dengan suara yang perlahan „Rupanya engkau
puteri dari seorang pendekar nomor satu dijaman ini, yaitu
Kwee Ceng, dan sinenek cerewet Oey Yong ! Bagus! Bagus.

Memang dalam hal ini engkau termasuk salah seorang yang
tengah kucari !”
Muka Phang Kui in jadi berobah hebat. inilah bukan urusan
main2.
kalau sampai Pangcu itu telah mengatakan bahwa Kwee
Siang merupakan salah seorang yang dicarinya tentu mereka
akan menghadapi kesulitan yang tidak kecil.
Dengan sendirinya hal ini akan membawa kesulitan untuk
mereka bertiga.
Saat itu, Kwee Siang telah berkata dengan suara dingin dan
sikap seenaknya.
“Engkau tadi mengatakan bahwa aku termasuk salah
seorang yang tengah kau cari, apa maksudmu ?” tanya Kwee
Siang dengan berani. “Apakah kau bermaksud ingin berguru
kepadaku ?”
Rupanya Pangcu dari Tiauw Pang sudah tidak dapat
menahan marahnya lagi, dia telah tertawa ber-gelak2 dengan
suara yang sangat nyaring sekali.
“Tepat ! Tepat !. Aku memang hendak berguru kepadamu !
Aku ingin meminta kau mencatat seluruh kepandaian ilmu
silatmu !. Setelah kau memenuhi permintaanku itu aku akan
membebaskan engkau !”
Dan setelah berkata begitu, dia mengibaskan tangannya.
Yang maju bukan anak buah dari pengawal ruangan,
melainkan wakil Pangcu yang telah berkata : “Bun Tiong Yang,
tangkap kelinci itu !”
Dari luar terdengar penyahutan mengiyakan, dan tampak
Bun Tiong Yang, sigemuk pendek yang tadi telah mengangkat
ketiga tamunya dengan mempergunakan seutas tambang,
telah melangkah masuk dengan tindakan kaki yang lebar.
Mukanya tampak menyeramkan dan bengis sekali, dia telah

berkata : ,,Atas nama Pangcu, engkau wanita hina yang
bermulut lancang harus kutangkap !”
Dan membarengi dengan perkataannya itu, dengan cepat
sekali tampak Bun Tiong Yang telah mengeluarkan suara
bentakan yang sangat keras, tahu2 tangan kanannya telah
bergerak akan mencengkeram pundak Kwee Siang.
Puteri Kwee Ceng memperdengarkan suara tertawa dingin,
dia telah berkata dengan suara yang mengejek, katanya
dengan tawar, ,,Bagus ” tetapi tubuhnya tidak bergerak
sedikitpun dari tempat duduknya, dia telah mengeluarkan
suara seruan yang nyaring, tahu2 sikut tangan kanannya
bergerak kearah tenggorokan sipendek gemuk. Kwee Siang
tidak melakukan penangkisan, dia hanya melancarkan
serangan dengan sikutnya keleher sigemuk pendek, maka jika
sigemuk pendek meneruskan serangannya, berarti
tenggorokannya akan kena digempur hebat sekali oleh sikut
tangan Kwee Siang, dimana sikutnya itu telah disaluri oleh
tenaga lwekang yang dahsyat, yang dapat menghancurkan
batu kali menjadi berkeping2.
Sigemuk pendek Bun Tiong Yang jadi marah sekali, dia
telah menggerakkan tangan kanannya untuk melindungi
tangan kirinya yang menahan sikut tangan Kwee Siang lalu
jari2 tangan kanannya itu bergerak lagi akan menotok jalan
darah Pai-tu-hiat didekat pinggang Kwee Siang.
Namun Kwee Siang tetap duduk dikursinya tanpa bergerak
sedikitpun juga, sama sekali dia tidak mengacuhkan serangan
yang dilancarkan oleh lawannya, Walaupun dia mengetahui
bahwa Bun Tiong bukan lawan yang lemah. Maka dari itu,
walaupun dia hanya berduduk diam dikursinya, tetapi
tangannya dengan cepat sekali telah bergerak, dia telah
melancarkan serangan yang cepat sekali, menangkis
gempuran tangan kanan si pendek gemuk she Bun dengan
kibasan tangannya, membarengi dengan itu, tahu2 sikutnya
telah bekerja lagi, „Dukkk !” keras sekali, tampak dada

sebelah kiri dari Bun Tiong Yang telah kena disikutnya dengan
keras, maka tubuh Bun Tiong Yang jadi terhuyung mundur.
Tetapi Bun Tiong Yang benar2 hebat, walaupun dadanya
telah terkena gempuran dari sikut tangan Kwee Siang, namun
dia tidak terluka berat, karena dadanya itu telah dilindunginya
terlebih dulu oleh tenaga dalamnya.
Cepat sekali dia mengeluarkan suara raungan dan
melancarkan serangan dengan mempergunakan kedua
tangannya sekaligus. Dengan kekerasan Kwee Siang juga
menyambuti kedua tangan musuhnya itu dengan kedua
tangannya pula.
Gerakan yang dilakukan oleh Kwee Siang sangat cepat
sekali, sehingga sulit diikuti oleh pandangan mata manusia
biasa.
Dalam keadaan demikian, Bun Tiong Yang juga tidak
menarik pulang tenaga serangannya maka dua kekuatan
tenaga dalam yang dahsyat telah saling bentur keras sekali.
,,Bukk !” tubuh Kwee Siang telah terdorong dengan keras,
hampir saja kursinya itu terjengkang kebelakang, untung
Kwee Siang berlaku gesit sekali, sehingga sebelum kursinya
rubuh dia telah melompat berdiri.
Sedangkan Bun Tiong Yang tidak mau mem-buang2 waktu
lagi, dia telah melancarkan serangan2 yang gencar dengan
mempergunakan delapan bagian tenaga lwekangnya Namun
Kwee Siang dapat mengimbangi gerakan2 dari Bun Tiong
Yang dengan tidak kalah hebatnya, sehingga mereka telah
bertempur dengan seru sekali.
Diam2 Pangcu dari Tiauw Pang telah mengerutkan
sepasang alisnya, dia heran melihat Kwee Siang sanggup
menghadapi Bun Tiong Yang, karena Pangcu dari Tiauw Pang
ini mengetahui bahwa Bun Tiong Yang merupakan seorang
bawahannya yang memiliki kepandaian yang cukup tinggi.

Phang Kui In sendiri mengawasi jalannya pertempuran itu
dengan berkuatir, Tadi dia telah melihat kekuatan tenaga Bun
Tiong Yang, yang dengan sehelai tambang telah berhasil
menghentak mereka kuat sekali, sekarang dia sedang marah
dan telah melancarkan serangan dengan dahsyat sekali,
sehingga angin serangan itu men-deru2, dengan keras sekali,
membuat Kwee Siang harus mempergunakan kegesitannya
untuk menghadapi serangan2 Bun Tiong Yang itu.
Saat itu wakil pangcu dari Tiauw Pang telah mendengus
dingin.
„Hemm, hanya sebegitu saja kepandaian pateri dari Kwee
Ceng, kepandaiannya tidak ada artinya sama sekali ….!”.
Mendengar perkataan terakhir dari wakil Pangcu itu, Kwee
Siang jadi gusar sekali.
„Baik, aku akan memperlihatkan kepandaianku dimuka
matamu !!” teriak Kwee Siang membawa adatnya lagi.
Dan membarengi dengan selesainya perkataannya itu.
Tahu2 Kwee Siang telah merobah cara menyerangnya, kedua
tangannya telah digerakkan tetapi dia bukan melancarkan
serangan dengan mempergunakan telapak tangannya atau
juga dengan kelima jari tangannya, melainkan dengan kedua
jari telunjuknya saja. Jari telunjuk tangan kanannya bergerak
menyambar2 tidak hentinya, sedangkan jari telunjuk tangan
kirinya telah mengancam akan menotok kejalan darah
mematikan ditubuh Bun Tiong Yang.
Walaupun Kwee Siang melancarkan serangan2 dengan
mempergunakan gerakan jari telunjuk saja, tetapi dia telah
mempergunakan ilmu Tan Cie Sin Thong, kepandaian andalan
Oey Yok Su. Kakek luarnya untuk merubuhkan musuhnya itu.
Sehingga serangan2 Kwee Siang yang mempergunakan ilmu
Tan Cie Sin Thong yang dikombinasikan dengan serangan2 It
Yang Cie dari It Teng Taisu, telah membuat sipendek gemuk
jadi kelabakan seperti kebakaran jenggot.

Berulang kali dia melompat mundur untuk mengelakkan
diri, tetapi selalu pula serangan yang dilancarkan Kwee Siang
telah tiba lebih dulu.
,,Tukk !” suatu kali Bun Tiong Yang tidak bisa mengelakkan
diri dari serangan Kwee Siang, sehingga waktu jalan darah
Liang-ma-hiatnya didekat tulang iga tingkat kedelapan telah
tertotok, dia merasakan sekujur tubuhnya ngilu dan nyeri,
dengan mengeluarkan suara teriakan tertahan, dia telah
melompat mundur, namun kedua kakinya seperti sudah tidak
memiliki kekuatan lagi, dengan mengeluarkan suara keluhan,
tampak dia telah terguling rubuh dilantai perahu tanpa bisa
bangkit pula.
Muka Pangcu Tiauw Pang dan wakilnya jadi berobah hebat,
karena mereka terkejut sekali.
Sedangkan anggota2 dari Tiauw Pang juga telah menjerit
kaget, karena melihat kepandaian yang dikeluarkan oleh Kwee
Siang, mereka yakin bahwa mereka bukan merupakan lawan
dari sigadis yang hebat ini.
Namun Pangcu dari Tiauw Pang dengan cepat telah dapat
menguasai goncangan hatinya. Dia telah bertepuk tangan,
“Bagus Bagus !” kata Pangcu dari Tiauw Pang itu dengan
suara yang nyaring, diiringi kemudian dengan suara
tertawanya. “Engkau bisa merubuhkan Bun Tiong Yang, orang
kami yang cukup pandai, menunjukkan kepandaianmu
lumayan. Pelayan cepat berikan hadiah arak satu
cawankepada nona Kwee !!”
Terdengar suara mengiyakan dari si pelayan, saat itu Kwee
Siang telah duduk kembali dikursinya, dia hanya mengawasi
Pangcu dan wakilnya dengan sorot mata yang sangat tajam.
Kemudian dengan suara yang dingin dia telah berkata : „Aku
tidak mau hadiah arak….. arak kalian bau dan asam tidak
sedap!!” kata Kwee Siang mengejek.

Tetapi Pangcu itu benar2 hebat, walaupun dia kelihatannya
masih berusia muda, namun ternyata dia bisa menguasai diri
dan keadaan.
Sambi! tertawa dia telah bertanya : .Hadiah apa yang
dikehendaki oleh nona Kwee ?”
„Kepalamu …..!” kata Kwee Siang,
Muka Pangcu itu berobah hebat, sedangkan wakil pangcu
dan anak buah. Tiauw Pang yang lainnya jadi mengeluarkan
suara seruan marah mendengar perkataan sigadis yang
dianggapnya sangat kurang ajar sekali.
„Nona Kwee keterlaluan sekali ! Jika kelak memang nona
Kwee ber hasil mengalahkan seluruh orang2ku, tentu aku rela
menyerahkan batok kepalaku…!” kata Pangcu muda itu
dengan suara yang dingin sekali.
,,Hemm, orang2mu tidak punya guna, lihat saja orang
kepercayaanmu sigemuk pendek itu, hanya dalam beberapa
jurus saja telah dapat kurubuhkan ! Lebih baik engkau saja
yang turun kegelanggang untuk melayaniku!”
Sigadis telah menantang begitu karena dia melihat pangcu
ini masih terlalu muda, mungkin dia menjabat kedudukan
Pangcu itu hanya sebagai boneka saja.
Tetapi tidak terduga, justru Pangcu itu telah mengangguk,
sambil katanya : „Baik ! Baik ! Tetapi terimalah
penghormatanku ini dulu !”.
Dan setelah berkata begitu, dengan cepat tangan kanannya
mengibas, maka dari telapak tangan kanannya meluncur angin
yang kuat sekali.
Saat itu sipelayan yang tadi masuk, telah membawa
secawan arak, yaitu sebuah tengkorak kepala manusia,
didalamnya terisi arak yang penuh didalam tempurung kepala
manusia itu ….. itulah ‘cawan’ yang sangat aneh dan juga
mengerikan. Dan bertepatan dengan itu, angin serangan dari

kibasan tangan Pangcu itu telah menyampok tengkorak
manusia ditangan sipelayan, sehingga ‘cawan’ yang
mengerikan itu telah tersampok ‘terbang’ dan hinggap tepat
dihadapan Kwee Siang, tanpa tumpah setetespun arak
didalamnya.
Kwee Siang menyambuti ‘cawan’ mengerikan itu, tetapi
dasarnya dia memang memiliki adat yang aneh, melihat
‘cawan’ yang aneh ini, dia jadi tertarik, sambil mengeluarkan
suara tertawa keras, dia telah berkata : „Terima kasih ! Terima
kasih !” lalu tanpa ragu2 dia telah mengangkat cawan aneh itu
dan telah meneguk arak didalam cawan kepala tengkorak
manusia itu !
Yo Him dan Phang Kui In yang melihat keadaan itu hampir
saja muntah karenanya.
Tetapi Kwee Siang telah meneguk habis isi ‘cawan’
mengerikan itu sampai kering.
„Terima kasih !” dia bilang setelah mengeringkan arak
didalam tempurung kepala manusia itu, kemudian
membarengi dengan selesainya perkataannya, Kwee Siang
telah melemparkan ‘cawan’ mengerikan itu, sehingga cawan
itu telah terlontarkan dan tepat sekali memasuki kepala
sipelayan yang tadi membawanya, sehingga tampaknya
pelayan itu memakai topi yang terbuat dari tengkorak kepala
manusia !
Melihat kejadian ini, walaupun dalam keadaan tegang,
Phang Kui In dan Yo Him jadi tertawa ber-gelak2, karena
mereka merasa lucu atas kejenakaan sigadis.
Sedangkan muka Pangcu cilik itu dan orang2nya jadi
berobah tidak sedap dipandang, mereka telah mengeluarkan
suara seruan marah.
Kemudian Kwee Siang telah berkata lagi dengan suara yang
dingin : „Sekarang siapa yang engkau ingin majukan kedepan
? Apa kah memang benar2 engkau ingin maju sendiri ?”

Waktu bertanya begitu. Kwee Siang telah berlaku hati2,
karena dia tadi merasakan betapa hebatnya kibasan tangan
Pangcu itu., yang memiliki kekuatan tenaga dalam luar biasa
dahsyatnya. Diam2 Kwee Siang juga jadi heran, mengapa
dalam usia semuda itu Pangcu tersebut bisa memiliki lwekang
yang dahsyat, seperti juga lwekangnya itu telah mengalami
latihan selama tiga puluh tahun …..
Saat itu wakil Pangcu telah melompat berdiri, dia menjura
kepada Pangcunya, katanya : „Memotong bebek, mengapa
harus mem pergunakan golok babi ?” katanya dengan dingin.
„Maka ijinkanlah aku yang turun tangan menangkapnya!”
Pangcu cilik itu mengibaskan tangannya.
„Biar aku saja yang menangkapnya, karena dia meminta
aku yang menghadapinya, jika tidak tentu dia akan penasaran
sekali, bukan ?” dan sambil berkata begitu, Pangcu cilik ini
telah bangkit berdiri, dia mengawasi sigadis dengan sorot
mata yang sangat tajam, kemudian katanya dengan suara
yang dingin.
„Apakah kita mulai sekarang saja ?” tanyanya dengan suara
yang dingin.
„Boleh ! Boleh ! Jika bukan sekarang. apakah engkau
menantikan sampai engkau berusia empat puluh tahun ?”
mengejek..Kwee Siang dengan suara yang dingin.
Mendengar ejekan itu, Pangcu Tiauw Pang telah
mengeluarkan suara tertawa yang keras sekali.
„Oh, oh, engkau menduga aku ini masih berusia sangat
kecil, bukan ? Hahahaha sungguh lucu, engkau memiliki mata,
tetapi engkau tidak memiliki bijinya…! Aku telah berusia enam
puluh tahun ! Siapa yang mengatakan aku masih kecil ?”.
Mendengar perkataan Pangcu itu, tentu saja Kwee Siang
jadi kaget bukan main.

Bukan hanya Kwee Siang saja. sedangkan Phang Kui In dan
Yo Him juga jadi kaget sekali. Jelas2 mereka melihat Pangcu
itu berusia paling tidak tiga belas tahun, bentuk tubuhnya juga
pendek kecil ! Tetapi menurut pengakuannya itu. dia telah
berusia enam puluh tahun ! inilah hebat !.
“Apakah pangcu itu awet muda ?”
Memang jika dilihat dari kekuatan lwekang yang telah
diperlihatkan tadi, boleh jadi juga Pangcu itu telah berusia
tinggi dan tubuhnya hanya pendek tidak bisa tinggi atau
memang dia memiliki ilmu awet muda, sehingga tampaknya
dia masih seperti anak2.
“Nah, silahkan engkau dari golongan muda melancarkan
serangan kepadaku ! jika tidak nanti orang2 persilatan akan
menuduh aku telah menghina simuda !”
Mendengar perkataan Pangcu itu, tentu saja Kwee Siang
jadi geli. Bahkan dia tidak bisa menahan rasa lucunya dan
telah tertawa ter-pingkal2.
Kata2 yang diucapkan Pangcu itu seperti sikap seorang dari
tingkatan cianpwe, tetapi nyatanya tubuh dan mukanya
memperlihatkan dia seperti baru berusia diantara tiga belas
tahun ! Maka tidak bisa ditahan lagi Yo Him juga ikut tertawa,
karena dia menyaksikannya jadi lucu seperti tengah menonton
sandiwara anak2 yang membawa peran sebagai orang
tua…..!
Saat itu Pangcu dari Tiauw Pang tampak2nya jadi gusar
sekali, dengan mengeluarkan suara bentakan yang keras,
tahu2 dia telah menggerakkan tangan kanannya.
„Wuttt…!” angin serangan dari telapak tangan kanannya itu
telah menyambar dengan kuat sekali kediri Kwee Siang.
Tetapi Kwee Siang tidak takut atau berkuatir, dia sama
sekali tidak gugup. Bahkan dengan cepat sekali dia telah
mengibaskan tangan kanannya untuk menangkis, karena

Kwee Siang bermaksud untuk mempergunakan keras dilawan
keras.
Maka bisa dibayangkan, apabila kedua kekuatan itu saling
bentur tentu akan memekakkan anak telinga orang2 yang
menonton pertempuran itu.
Namun waktu kedua tenaga itu saling bentur, Kwee Siang
jadi terkejut sekali, dia sampai mengeluarkan seruan tertahan
dan telah melompat mundur, karena dia merasakan desakan
tenaga serangan yang dilancarkan oleh Pangcu Tiauw Pang itu
sangat dahsyat sekali, hampir saja kuda2 kakinya itu
tergempur.
Cepat2 Kwee Siang memusatkan tenaga dalamnya dikedua
kakinya, kemudian disaat serangan tenaga lawannya
menyambar datang lagi, Kwee Siang telah mempergunakan
ilmu Tan Cie Sin Thong, dimana hawa halus telah mengalir
dengan cepat menerobos masuk kedalam tenaga gempuran
dari Pangcu itu. Tentu saja Pangcu Tiauw Pang tadi sangat
terkejut, cepat2 dia telah menarik pulang tangannya, karena
dia mengerti bahaya yang mengancam dirinya. Kemudian dia
mengeluarkan suara bentakan penasaran dan melanjuti pula
serangannya.
Gerakan yang dilakukan Pangcu Tiauw Pang kali ini sangat
cepat luar biasa, juga serangannya itu disertai oleh tenaga
lwekang yang dahsyat sekali. Terlihatlah serangan2 itu datang
menyambar saling beruntun dalam sekejap mata saja Kwee
Siang telah terdesak oleh Pangu Tiauw Pang tersebut.
tetapi Kwee Siang sama sekali tidak merasa takut atau
gugup, dia memandang sinis kepada serangan2 yang datang
menyambar kearah dirinya. Dengan gerakan yang sangat
cepat, Kwee Siang telah mempergunakan Tan Cie Sin Thong
yang sering dicampurkan dan diseling dengan serangan2 It
Yang Cie ilmu jari tunggal sakti itu, maka hebat cara dia
membalas serangan2 yang dilancarkan oleh Pangcu Tiauw

Pang itu. Beberapa kali Pangcu itu juga harus membatalkan
serangan2nya kalau dia tidak ingin menemui maut, karena
kedua ilmu sakti itu, yaitu It Yang Cie dan Tan Cie Sin Thong
selalu menuju ke-jalan2 darah mematikan ditubuh lawannya.
Pangcu Tiauw Pang itu berusaha untuk mengimbangi
serangan2 Kwee Siang, dia telah mengeluarkan seluruh ilmu
simpanannya untuk mempertahankan diri dari rangsekan2
Kwee Siang. Begitulah kedua orang ini jadi bertempur dengan
seru sekali, karena setiap serangan yang mereka pergunakan
selalu menuju bagian2 yang mematikan ditubuh lawannya.
Dalam keadaan seperti ini Phang Kui In jadi bimbang dan
berkuatir sekali. Dia takut kalau2 nanti Kwee Siang tidak
sanggup menghadapi Pangcu itu, berarti mereka bisa
menghadapi bencana.
Jika memang Pangcu itu bisa dirubuhkan, berarti Pangcu
itu bisa ditekan dan diancam untuk mengundurkan anak
buahnya. Namun bagaimana kalau Kwee Siang yang
dirubuhkan. Bukankah didalam Tiauw Pang banyak sekali anak
buah yang sangat tangguh dan rata2 memiliki kepandaian
yang sangat tinggi. Sedangkan anak buah Tiauw Pang dikapal
yang satunya lagi belum muncul dan Phang Kui In tidak
mengetahui entah berapa banyak jumlah anak buah dari kapal
itu, yang tentunya terisikan anak buah dari Tiauw Pang juga.
Kelihatannya Kwee Siang memang agak sibuk juga
menghadapi serangan2 balasan yang dilancarkan Pangcu itu.
Namun Kwee Siang telah melatih diri dalam ilmu ciptaannya,
sebagai pendiri Go Bie Pay tentu saja dia memiliki kepandaian
yang bisa diandalkan untuk menghadapi musuh yang tangguh.
Ilmu pedang Go Bie Kiam Hoat nya juga belum
dipergunakannya, dia menghadapi Pangcu itu dengan tetap
bertangan kosong,
Wakil Pangcu dan Tiauw Pang telah memandang dengan
sorot mata yang sangat tajam sekali. Dalam keadaan

demikian, kalau memang wakil Pangcu itu tidak takut nanti
akan ditegur Pangcunya, tentu dia sudah akan melompat
maju, karena dia sudah tidak Sabar ingin cepat2 membekuk
Kwee Siang. tetapi karena Pangcunya tengah terjalin dalam
pertempuran yang sangat seru dan masing2 saling
melancarkan serangan dengan cepat sakali, sehingga wakil
Pangcu itu jadi ragu2 untuk melancarkan serangan kepada
Kwee Siang.
Disaat itu, dengan mengeluarkan suara bentakan yang
sangat keras sekali, tampak Pangcu dari Tiauw Pang. telah
melancarkan serangan yang sangat kuat sekali dengan telapak
tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya telah bergerak
cepat akan mencengkeram tulang piepe dibahu sigadis.
Kwee Siang melihat cara menyerang lawannya, telah
mengeluarkan suara tertawa mengejek, dia tidak takut
sedikitpun juga, bahkan dengan cepat sekali dia menangkis
telapak tangan kiri Pangcu itu dengan tangan kirinya pula,
sedangkan tangan kanan dari Pangcu itu yang telah meluncur
akan mencengkeram pundaknya tidak dielakkannya, hanya
dengan jari telunjuk tangan kanannya, Kwee Siang telah
mengancam akan menotok pergelangan tangan lawannya.
Gerakan yang dilakukan Kwee Siang itu sangat ganas sekali
karena jika jalan darah utama dipergelangan tangan Pangcu
itu, yaitu jalan darah Ma Liang Hiatnya kena ditotok, niscaya
akan menyebabkan Pangcu itu menemui kematiannya.
Dalam keadaan demikian, dengan cepat sekali tampak
Pangcu dari Tiauw Pang itu telah menarik pulang tangannya,
dia telah melompat mundur dan dengan gerakan tubuh yang
sangat gesit dia menjauhi diri dari Kwee Siang, tetapi hatinya
penasaran dan mendongkol sekali.
Kembali dengan gencar Kwee Siang telah melancarkan
serangan susulan. Kali ini serangan yang dilancarkannya
mempergunakan delapan bagian tenaga lwekangnya, juga
meluncurnya bagaikan kilat saja kediri Pangcu itu, sehingga

kali ini Pangcu dari Tiauw Pang itu jadi sibuk sekali untuk
menangkisnya.
„Bukk….!” dua kekuatan itu telah saling bentur dengan
dahsyat sekali. Tampak tubuh kedua orang yang saling
bertempur itu telah tergetar, lalu terdorong mundur beberapa
langkah oleh getaran tenaga tangkisan lawan masing2.
Ketua dari Tiauw Pang jadi terkejut dan heran. Semula dia
menyangka bahwa kepandaian Kwee Siang biasa saja. Dia
tidak menyangka bahwa kepandaian Kwee Siang memang
benar2 tangguh. Maka dia tidak berani berlaku ayal lagi,
dengan mengerahkan seluruh kekuatan dikedua telapak
tangannya dia telah melancarkan serangan yang lebih kuat
lagi.
Sebentar terdengar suara “wutt” dan “dukk”, dan tubuh
kedua orang yang tengah saling bertempur ini juga telah
saling tergoncang keras sekali, sampai ter-huyung2 mundur
kebelakang beberapa langkah.
Terlihat Kwee Siang juga telah membalas melancarkan
serangan2 yang gencar sekali, setiap serangannya
mengandung tenaga maut
yang mengincar jiwa lawannya.
Tetapi Pangcu Tiauw Pang yang tampaknya seperti anak
kecil belasan tahun itu, ternyata lebih matang pengalaman
dan latihan lwekangnya. Waktu melihat Kwee Siang ber-usaha
mendesaknya, tiba2 dia tertawa keras katanya : „Cukuplah
kiranya aku mengalah!!” dan membarengi dengan habisnya
perkataannya itu, dengan cepat sekali terlihat Pangcu dari
Tiauw Pang itu telah menggerakkan tangan kanannya, dia
menekuk sedikit sikut tangannya itu, lalu dia telah
mengulurkan tangan kanannya untuk mencengkeram
pergelangan tangan Kwee Siang. Dan dengan gerakan yang
sangat cepat, tangan kirinya juga telah diulurkannya untuk
menotok.

Hebat sekali cara menyerang Pangcu dari perkumpulan
Tiauw Pang itu, sehingga Kwee Siang tidak sempat untuk
menangkis atau mengelakkan diri.
Pergelangan tangan Kwee Siang telah berhasil dicekalnya
dan dengan cepat sekali totokan jari tangannya telah
mengenai jalan darah Pai-tu-hiat nya, sehingga seketika itu
juga Kwee Siang mengeluarkan suara keluhan perlahan dan
tubuhnya terkulai rubuh tidak dapat bergerak lagi.
„Bawa dia kesamping…!” perintah Pangcu dari Tiauw Pang
sambil melangkah menuju ke kursinya kembali.
Phang Kui In dan Yo Him waktu melihat Kwee Siang dapat
dirubuhkan oleh ketua Tiauw Pang, jadi terkejut bukan main,
dengan mengeluarkan suara bentakan marah, tampak Phang
Kui In telah melompat kesamping Kwee Siang, maksudnya
akan melindungi sigadis yang dalam keadaan tertotok itu.
Tetapi tahu2 dipunggungnya telah menempel dua mata
golok, yang ditekankan agak keras.
Phang Kui In menyadarinya bahwa dirinya tidak bisa
bergerak lebih jauh, sebab kalau dia meneruskan gerakannya,
niscaya akan menyebabkan dia terluka oleh kedua golok milik
anak buah Tiauw Pang itu.
Disaat itu juga telah terdengar bentakan perlahan dari
kedua anak buah Tiauw Pang itu : „Jangan bergerak, kembali
kekursimu…!”
Phang Kui In jadi mengeluh, dia telah kembali kekursinya,
sedangkan disaat itu, tampak dua orang anak buah Tiauw
Pang yang lainnya telah menghampiri Kwee Siang dan
mengangkat tubuh sigadis yang dibawa kepinggir ruangan.
Phang Kui In hanya bisa menyaksikan saja tanpa berdaya
untuk memberikan pertolongan.
Tetapi yang cukup melegakan hati Phang Kui In dan Yo
Him, justru dia melihat bahwa Kwee Siang tidak dibawa pergi

keluar dari ruangan itu, hanya diletakkan dipinggir ruangan
untuk menantikan, keputusan berikutnya dari ketua Tiauw
Pang tersebut.
Kemudian ketua Tiauw Pang yang mukanya seperti anak
belasan tahun itu, dengan bentuk tubuhnya yang pendek
kecil, telah duduk kembali dikursinya, dia telah berkata
dengan suara yang dingin :
„Nah, sekarang giliranmu !” katanya sambil menunjuk
kearah Yo Him.
Muka Yo Him kala itu merah padam, karena dia gusar sekali
melihat encie Siangnya itu telah ditawan oleh ketua Tiauw
Pang dalam keadaan tertotok seperti itu.
„Engkau membawa sikap seperti seorang Kaisar saja !”
bentak Yo Him dengan mendongkol. „Sesungguhnya apa yang
kau kehendaki ?”.
Ditanya begitu oleh Yo Him, ketua Tiauw Pang itu telah
tertawa ber gelak2 dengan suara yang nyaring sekali,
suaranya mengandung nada mengejek.
„Hahahaha, seumur hidupku, selama aku hidup enam puluh
tahun, aku Ciong Lam Cie baru kali ini mengalami ditegur
orang sampai dua kali ! Per-tama2 tadi oleh perempuan tidak
tahu diri itu, sekarang oleh seorang bocah ingusan ! Sungguh
membuat aku tidak mengerti, mengapa hari ini aku apes
benar?”
Dan setelah berkata mengejek begitu, dia telah
mengeluarkan suara tertawa ber-gelak2 yang sangat keras
sekali, dan telah bertanya dengan suara yang dingin : „Siapa
namamu ?”.
„Namaku Yo Him, dan kini engkau telak mendengar dan
mengetahui namaku, bebaskan kami, karena kami masih
memiliki urusan penting dan harus melanjutkan perjalanan
kami!”

„Sabar…!” kata ketua Tiauw Pang itu dengan sikap yang
mengejek. „Tidak perlu terlalu ter-gesa2. Dalam hal ini engkau
tidak perlu ter-buru2 ! Kita ber-cakap2 dulu dengan sikap yang
manis dan baik2, bukankah itu jauh lebih baik dibandingkan
kita, harus bicara dengan mata saling mendelik ?”.
Mendengar perkataan ketua Tiauw Pang itu, Yo Him telah
tertawa dingin.
„Hemm, engkau mengakui dirimu sebagai seorang ketua
dari sebuah perkumpulan, tetapi cara2mu benar2
memperlihatkan bahwa engkau hanya merupakan seorang
manusia rendah tidak memiliki budi pekerti…”.
Mendengar perkataan Yo Him yang nadanya keras, seketika
itu juga Ciong Lam Cie telah tertawa ber-gelak2 dengan suara
yang sangat keras, diapun telah berkata dengan suara yang
nyaring : „Baik ! Baik ! Engkau telah berani memakiku begitu
kasar ! Apakah engkau memiliki kepandaian yang tinggi
sehingga engkau berani berlaku demikian kurang ajar ?”.
Yo Him telah tertawa dingin. „Walaupun aku tidak memiliki
kepandaian, tetapi terhadap manusia seperti engkau, perlu
apa aku takut? Apakah engkau kira dengan mempergunakan
kekerasan bisa menindas seseorang menjadi takut ? Ingat,
didalam dunia, manusia hanya takut kepada perasaan malu,
karena jika seseorang telah merasa malu, maka dia akan takut
untuk melakukan pekerjaan yang dilarang oleh keadilan.
Tetapi jika manusia itu hanya tertekan oleh perasaan takut,
suatu waktu dia bisa nekad jika memang telah dalam keadaan
tertindas, dan dia bisa saja menjadi nekad dan berontak untuk
memberikan perlawanan. Seperti sekarang aku, walaupun aku
sebagai seorang anak kecil yang tidak mengerti ilmu silat,
tetapi sedikitpun juga aku tidak merasa takut kepadamu !
Engkau bisa saja membinasakan diriku, tetapi justru aku tidak
merasa takut !”

Ketua Tiauw Pang itu, yaitu Ciong Lam Cie, telah
memandang Yo Him sejenak, tampaknya dia tertegun, tetapi
kemudian dia telah tertawa lagi.
„Sungguh seorang anak yang ajaib !” katanya dengan suara
yang dingin. „Baiklah! Baiklah ! Sekarang justru aku jadi ingin
mengetahui, apakah jika engkau menghadapi kematian,
engkau akan merasa takut atau tidak …!”.
Dan Ciong Lam Cie, ketua Tiauw Pang yang potongan
tubuhnya kate itu, telah melompat dengan gerakan lubuh
yang sangat cepat sekali, dia telah melompat sambil
menghadiahkan Yo Him satu pukulan yang tidak begitu keras.
Yo Him berusaha mengelakkan diri, tetapi karena dia
memang tidak menguasai ilmu meringankan tubuh dengan
sempurna, begitu tubuhnya terserang, segera dia terjungkel
rubuh bergulingan diatas lantai.
Tetapi tenaga dalamnya, yang telah terpusat diseluruh
otot2 disekujur tubuhnya, dimana semua jakan darahnya telah
dibuka itu, telah bekerja sendirinya. Waktu tubuhnya akan
terbanting, justru tenaga itu telah menolak juga, sehingga
tubuh Yo Him tidak sampai terbanting keras, bahkan telah
meletik dan berdiri lagi !
Tentu saja Ciong Lam Cie jadi tertegun sejenak, dia melihat
anak kecil dihadapannya ini seperti tidak mengerti ilmu
meringankan tubuh, tadi saja waktu diserang, dia sudah tidak
keburu mengelakkan diri.tetapi mengapa kini waktu tubuhnya
terbanting dilantai, dia telah bisa melompat dengan gesit
sekali untuk berdiri kembali ?.
Ciong Lam Cie jadi mengawasi Yo Him dengan sorot mata
yang sangat tajam. Kemudian dia telah berkata “Tadi kau
mengatakan namamu kalau tidak salah Yo Him benarkan itu ?”
“Benar”
“Jadi engkau she Yo ?” tanya Ciong Lam Cie lagi.

“Benar”
“Apakah kau memiliki hubungan dengan Yo Ko si buntung
celaka itu ?”
Muka Yo Him jadi berobah merah padam.
“Engkau jangan menghina ayah kandungku itu !”
bentaknya dengan penuh kemarahan. Ciong Lam Cie jadi
tertegun sejenak. Dia mengawasi Yo Him dengan sorot mata
yang tajam, kemudian meledak suara tertawanya yang bergelak2.
„Jadi engkau putera dari sibuntung celaka Yo Ko itu ?”
tanyanya.
„Jangan kau menghina ayahku ! Sekali lagi engkau
menghina, walaupun aku tidak memiliki kepandaian, aku akan
mengadu jiwa denganmu!” mengancam Yo Him dengan
kemarahan yang me-luap2.
Tentu saja ancaman itu dianggap sepi oleh Ciong Lam Cie,
dia telah tertawa ber-gelak2 dengan suaranya yang sangat
keras sekali, dia telah tertawa terus, suara tertawanya itu
seperti ingin memecahkan ruangan kamar kapal ini.
„Sungguh kebetulan ! Sungguh kebetulan ! Belasan tahun
aku men-cari2 jejak dari sibuntung celaka itu ! Tidak tahunya
disini aku bisa bertemu dengan anaknya ! Hemm, sejak tadi
waktu melihat mukamu, aku telah menduganya bahwa engkau
tentu ada hubungannya dengan Yo Ko, sibuntung celaka itu.
Mukamu memang mirip dengan dia! Tetapi, Hahahaha,
memang inilah namanya rejeki yang diantarkan oleh Tuhan !
Baik ! Baik! Engkaupun harus kutahan agar kelak Yo Ko
datang sendiri kemari, untuk menggantikan dirinya sebagai
tawananku dan engkau baru ku bebaskan!” .
Mendengar perkataan Ciong Lam Cie, Yo Him jadi gusar
bukan main, karena berulang kali dia harus mendengar ayah

kandungnya itu disebut sibuntung celaka, maka waktu Ciong
Lam Cie baru saja menyelesaikan perkataannya dengan cepat
sekali Yo Him telah melompat dan dia telah melancarkan
gempuran dengan kuat sekali kearah dada Ciong Lam Cie.
Tetapi bagi seorang ahli silat kelas utama seperti Ciong
Lam Cie, dimana Kwee Siang saja dia bisa rubuhkan, tentu
saja Ciong Lam Cie tidak memandang sebelah mata terhadap
serangan Yo Him.
„kau beristirahatlah !” katanya seenaknya, sambil
mengibaskan lengan bajunya.
Dia mengibas dengan mempergunakan dua bagian tenaga
dalamnya, tenaga itu meluncur akan membuat Yo Him
terpelanting. Namun saat itu Yo Him juga tengah melancarkan
serangan, sehingga otot2 ditubuhnya dalam keadaan bersiap2
dan tegang, maka begitu angin serangan dari kibasan
lengan baju Pangcu itu mengenai tubuh Yo Him, bukannya
tubuh Yo Him yang terhuyung, justru tubuh Ciong Lam Cie
yang terserang oleh tenaganya yang berbalik menghantam
dirinya jadi ter-huyung2 kebelakang,
Tentu saja hal ini telah membuat Ciong Lam Cie jadi
terkejut bukan main, dia telah merasakan angin serangan itu
menghantam tepat sekali kearah dadanya.
Walaupun tenaga serangan. itu tidak kuat, tetapi justru
menyambarnya kebagian yang sangat tepat sekali dibagian
jalan darah Tai Tiong Hiatnya, sehingga terpaksa Ciong Lam
Cie jadi harus mengelakkannya.
„Kau …?’’ katanya dengan suara tergagap, karena dia
heran, mengapa Yo Him yang diserang, tetapi serangan itu
berbalik menghantam dirinya.
Yo Him yang tidak mengetahui peristiwa tersebut telah
mengeluarkah suara makian dan telah berteriak : „Aku akan
mengadu jiwa dengan manusia buruk dan rendah pribudi
seperti engkau…!” Dan sambil berteriak begitu, tampak Yo

Him telah melompat melancarkan serangan dengan cepat
sekali, kepalan tangannya telah bergerak dan menghantam
lagi.
Gerakan yang dilakukannya itu tidak begitu bertenaga,
karena memang Yo Him belum memiliki kekuatan atau tenaga
yang bisa dikendalikan. Seperti lwekang yang telah dimilikinya
secara mujijat namun disebabkan Yo Him belum melatih diri
dan belum bisa mengendalikannya, telah membuat dia
terpaksa harus menyerang dengan mempergunakan tenaga
yang biasa saja.
Dalam keadaan demikian, tampak Ciong Lam Cie jadi
penasaran sekali, dia telah mengeluarkan suara bentakan lagi,
dan mengibaskan lengan bajunya.
Kali ini sengaja Ciong Lam Cie telah mengibas dengan
mempergunakan delapan bagian tenaga dalamnya.
Bisa dibayangkan betapa hebatnya tenaga serangan itu,
karena dengan delapan bagian tenaga dalam dari seorang
tokoh persilatan seperti Ciong Lam Cie itu, walaupun batu kali
tentu akan dapat dihancurkannya dengan mudah.
Phang Kui In yang melihat dahsyatnya serangan tersebut,
telah mengeluarkan suara seruan berkuatir, keringat dingin
juga telah mengucur deras dari kening dan tubuhnya, karena
dia menguatirkan sekali keselamatan Yo Him.
Tetapi disebabkan dibelakang tengkuknya itu tertandel dua
mata golok, Phang Kui In tidak bisa berbuat apa2, dia hanya
bisa menyaksikan Yo Him terancam oleh serangan tenaga
kibasan tangan Ciong Lam Cie itu.
Dalam keadaan seperti ini, tampak Ciong Lam Cie bersungguh2
waktu mengibaskan tangannya, karena kali ini dia
sudah tidak memikirkan perihal usia Yo Him yang masih terlalu
kecil, Ciong Lam Cie hanya dikuasai oleh perasaan penasaran.
Maka dia telah melancarkan serangan dengan tidak mengenal
perasaan kasihan lagi.

Tetapi Yo Him yang tidak menyadari bahaya yang tengah
mengancam dirinya, telah menerjang maju terus, dia sudah
memukul sekenanya dengan ilmu2 yang pernah diperoleh nya.
Serangan2 itu tidak mengandung tenaga yang berarti, dan
disaat itulah tenaga serangan Ciong Lam Cie telah tiba, namun
dengan cepat sekali tenaga tersebut telah memperoleh reaksi
dari otot2 disekujur tubuh Yo Him.
Sehingga tenaga serangan yang dahsyat itu tahu2 telah
membalik menghantam kearah Ciong Lam Cie.
Tentu saja Ciong Lam Cie jadi terkejut setengah mati, dia
sampai mengeluarkan suara teriakan kaget dan cepat2
berusaha mengelakkan diri.
Tetapi gerakannya itu terlambat, karena kuatnya tenaga
serangan yang berbalik itu menerjang dirinya, dengan disertai
oleh suara teriakan yang tertahan, tampak tubuh Ciong Lam
Cie telah terpental, hanya saja tidak sampai terguling dilantai,
dan dia telah bisa berdiri kembali dengan muka yang agak
pucat. Dia memandang Yo Him dengan sorot mata yang
mengandung perasaan heran dan aneh, seperti juga dia
tengah memandang hantu disiang hari tampak sinar matanya
memperlihatkan perasaan takut yang luar biasa, dihatinya
juga dia berpikir : „Hemm, tidak percuma dia menjadi
puteranya Sin Tiauw Taihiap ternyata sekecil ini dia telah
memiliki kepandaian yang luar biasa, yang bisa menolak
tenaga serangan lawan ! Inilah sulit ! Jika setiap kali
menyerang tenaga seranganan akan berbalik, tentu akan
merepotkan penyerangnya! Hebat ! Sin Tiauw Taihiap Yo Ko
ternyata telah berhasil menciptakan ilmu semacam itu untuk
puteranya…!”.
Tetapi dimukanya Ciong Lam Cie tidak memperlihatkan
perasaan kagumnya itu, bahkan dia memperlihatkan mimik
muka yang bengis sekali.

Sedangkan wakil Pangcu dan anak buah yang lainnya
waktu melihat Pangcu mereka terpental begitu rupa,
semuanya jadi terkejut dan berkuatir sekali. Tetapi waktu
mereka memperoleh kenyataan Pangcu mereka tidak
mengalami suatu cidera apa2, dengan sendirinya telah
membuat mereka menjadi tenang kembali.
Saat itu, Pangcu Tiauw Pang telah berkata dengan
suaranya yang dingin “Hemm, pantas saja engkau berkepala
besar dan bertingkah! Tidak tahunya engkau memiliki sedikit
ilmu ! Baik ! Baik ! aku ingin melihat apakah engkau bisa
menghadapi serangan2ku berikutnya. !”
Sambil berkata begitu Ciong Lam Cie telah menghampiri Yo
Him lebih dekat dengan sikap yang mengancam.
Phang Kui In waktu itu sesungguhnya tengah girang bukan
main, dia melihat dua kali Ciong Lam Cie telah melancarkan
serangan kepada Yo Him bahkan yang terakhir dia telah
melancarkan serangan dengan tenaga yang hebat sekali, dan
nyatanya Yo Him bisa menolak kekuatan tenaga serangan itu.
Tetapi waktu melihat ancaman dari Ciong Lam Cie yang
akan melancarkan serangan berikutnya, Phang Kui In jadi
tergoncang lagi hatinya.
Dia telah mementang kedua matanya lebar2, karena dia
ingin memperhatikan baik2 apakah Yo Him akan bisa
melindungi dirinya dari serangan Pangcu Tiauw Pang itu, jika
memang Yo Him terancam bahaya kematian, tentu saja Phang
Kui In tidak akan memperdulikan ancaman golok kedua anak
buah dari Tiauw Pang itu, dia pasti akan menerjang Pangcu
dari perkumpulan itu, untuk mengadu jiwa dan melindungi Yo
Him.
Yo Him sendiri yang menduga tadi ketua Tiauw Pang itu
terhuyung akibat serangan2 tangannya, maka dia jadi tambah
berani dan girang, bahkan semangat bertempurnya jadi
terbangun.

Dengan berani dia menantikan serangan yang akan
dilancarkan oleh ketua Tiauw Pang, sepasang matanya telah
dipentang lebar2.
Disaat itu tampak Ciong Lam Cie telah melangkah semakin
dekat, dia mengangkat kedua tangannya keatas, tahu2 tangan
kanannya telah bergerak.
„Serr…!” tetapi serangan tangannya itu menimbulkan angin
gempuran yang halus sekali, tidak keras seperti tadi.
Muka Phang Kui In seketika jadi pucat pias, karena dia jadi
terkejut sekali waktu melihat cara menyerang dari Pangcu
Tiauw Pang itu.
Ternyata ketua Tiauw Pang itu telah mempergunakan
gempuran dengan mempergunakan tenaga serangan. Im
(lunak), sehingga dia melancarkan gempuran tanpa
menimbulkan angin serangan.
Inilah berbahaya tenaga serangan itu memang sama
besarnya dengan tenaga serangan yang dipergunakan
dengan gempuran tenaga Yang (keras), tetapi dalam keadaan
demikian, berarti otot dan urat ditubuh Yo Him, yang
seharusnya dapat menolak setiap tenaga yang menyerang
dirinya, tidak akan berfungsi lagi, sebab ketua Tiauw Pang itu
melancarkan serangan tanpa mempergunakan tenaga
kekerasan bahkan lunak seperti kapas.
Tampak Yo Him yang tidak merasakan desakan tenaga
serangan lawannya, jadi tambah berani, dengan
mengeluarkan suara tertawa dingin, Yo Him telah melangkah
maju, dia telah mengayunkan telapak tangan kanannya
melancarkan serangan dengan cepat sekali.
Tentu saja hal ini telah membuat Phang Kui In jadi
mengeluarkan seruan tertahan, karena Yo Him tentu akan
terserang oleh tenaga gempuran yang dilancarkan ketua
Tiauw Pang itu.

Ciong Lam Cie sendiri jadi girang, dia mengempos
semangatnya, didalam gempuran Yang lunak itu ternyata
mengandung tenaga serangan yang mematikan.
Dia menduga, dengan Yo Him tidak mengetahui sifat2
pukulannya yang seperti ini tentu Yo Him tidak akan keburu
melakukan penangkisan.
Tetapi ketua Tiauw Pang itu sama sekali tidak mengetahui
bahwa sesungguhnya Yo Him tidak memiliki ilmu untuk
menolak tenaga serangan lawan.
Hanya secara kebetulan saja seluruh jalan darah dan otot
Yo Him telah berhasil dibuka oleh Kwee Siang, sehingga otot2
dan urat2 ditubuhnya itu memiliki daya menolak setiap tenaga
yang mendesak kearah tubuh Yo Him.
Maka walaupun ketua Tiauw Pang itu melancarkan
serangan dengan mempergunakan gempuran tenaga yang
lunak, dan serangan itu Tidak terlihat membawa angin
serangan yang kuat, tetapi waktu tiba disasarannya, serangan
itu memiliki kekuatan tenaga dalam yang sangat hebat sekali.
„Bukkkk !” kuat luar biasa, tenaga itu menggempur tubuh
Yo Him.
Tetapi inilah suatu kesalahan besar yang dilakukan oleh
Ciong Lam Cie, karena dia tidak mengetahui bahwa otot dan
urat ditubuh Yo Him justru baru bekerja jika terserang oleh
tenaga dari luar.
Begitu tenaga serangan dari Ciong Lam Cie menghantam
dengan keras, disaat itulah tenaga menolak dari otot dan urat
besar ditubuh Yo Him mulai bekerja.
Betapa terkejutnya Ciong Lam Cie waktu merasakan tenaga
serangannya itu tertolak dan menghantam dirinya lagi.
Karena tidak menduga akan terjadi demikian lagi, Ciong
Lam Cie jadi terperanjat bukan main, dia sampai
mengeluarkan seruan tertahan dan mati2an menggerakkan

tangan kanannya, dia harus dapat menangkis tenaga
serangannya sendiri yang berbalik menghantam dirinya.
,,Bukk ‘” tenaga serangan itu telah menghantam dengan
kuat sekali, tetapi telah berhasil ditangkis oleh Ciong Lam Cie,
dan begitu tertangkis, segera dia melompat mundur dengan
muka yang pucat.
Benar2 Ciong Lam Cie jadi tidak mengerti, mengapa Yo Him
bisa memiliki ilmu seaneh itu, dimana setiap serangan2 yang
dilancarkannya bisa ditolaknya oleh anak itu tanpa terlihat Yo
Him menggerakkan tangannya.
Itulah yang membingungkan Ciong Lam Cie.
Dengan cepat Ciong Lam Cie telah membentak : „Anak
setan, ilmu apa yang engkau pergunakan ?”.
„Anak setan ? Hemm, engkau yang siluman ! Usiamu telah
enam puluh tahun, tetapi ternyata engkau kate dan mirip
seorang anak belasan tahun ! Bukankah itu berarti engkau
merupakan manusia siluman ?”.
Disanggapi begitu oleh Yo Him, tentu saja tubuh Ciong Lam
Cie jadi gemetar menahan marah.
„Kau…kau benar2 ingin mampus !” katanya dengan suara
yang dingin.
„Hemm. mungkin juga !” kata Yo Him. „Kalau memang
engkau memiliki kesanggupan untuk membinasakan diriku,
mungkin aku akan mampus ditanganmu ! Tetapi yang jelas,
beberapa kali engkau melancarkan serangan, tetapi engkau
sendiri tidak berhasil dengan serangan2mu itu…!”.
Berulang kali diejek oleh Yo Him, keruan saja darah Ciong
Lam Cie naik sampai kekepala.
Tetapi dia teringat, jika dia melancarkan serangan kepada
Yo Him, berarti dia akan menyerang dengan tenaga yang kuat

dan tenaga itu jika berbalik menghantam dirinya, niscaya akan
menyebabkan dia terserang sendirinya.
Maka dari itu, Ciong Lam Cie telah berdiam diri saja, dia
tidak melayani ejekan dari Yo Him.
Kemudian Pangcu dari Tiauw Pang ini telah menoleh
kepada wakilnya.
„Ciu Toako, kau majulah !” perintahnya. Orang yang
dipanggil Ciu Toako itu, wakil Pangcu, yang nama lengkapnya
Ciu Ie Ling, telah mengiyakan dengan suara yang serak.
“Baik Pangcu, aku akan membereskan bocah siluman itu !”
katanya dengan bersemangat sekali.
Dan dia telah melompat menghampiri Yo Him, dan „Srengg
!” cepat sekali dia telah mencabut keluar sebatang pedang.
„Cabut senjatamu l’” perintah wakil Pangcu itu dengan
suara yang sangat bengis, matanya memandang mengancam.
„Tidak perlu engkau mempergunakan senjata tajam ! Jika
memang engkau memiliki keberanian, majulah, mari kita
bertempur dengan tangan kosong ! Aku tidak biasa
mempergunakan senjata tajam !”
Mendengar perkataan Yo Him, Ciu Ie Ling telah tertawa
mengejek.
„Hemmm ! Kalau engkau tidak mau mempergunakan
senjata, baiklah ! Terpaksa aku tidak segan2 akan
menikammu dengan pedangku ini untuk melenyapkan ilmu
silumanmu!”
dan membarengi dengan perkataannya itu, Ciu Ie Ling
berlagak ingin melancarkan serangan.
Yo Him jadi berpikir keras.
Dia telah berpikir, jika dia melawan dengan tangan kosong,
dia tidak memiliki kesanggupan apa2, sedangkan bertempur

dengan mempergunakan pedang, diapun tidak memiliki ilmu
pedang. Memang dia telah mempelajari seluruh kouwkoat
(teori) dari ilmu pedang Go Bie Kiamhoat yang diturunkan oleh
Kwee Siang, tetapi belum sempat dilatihnya.
Namun Yo Him jadi nekad juga, dia telah berteriak “Tahan
!”
“Apalagi ? “ tanya Ciu Ie Ling.
,,Baiklah ! Akupun akan mempergunakan pedang
menghadapimu “
Dan setelah berkata begitu Yo Him telah melangkah
menghampiri Kwee Siang, dia berkata : „Encie Siang,
maafkanlah, aku ingin meminjam pedangmu !”.
Dan setelah berkata begitu, dia mencabut pedang Kwee
Siang, sedangkan Kwee Siang tidak bisa ber-kata2, karena dia
dalam keadaan tertotok.
Saat itu, dengan cepat sekali, Yo Him telah melangkah
kembali kehadapan Ciu Ie Ling.
„Mulailah!” tantangnya dengan suara yang dingin.
Ciu Ie Ling sebagai wakil Pangcu dari Tiauw Pang
sebetulnya sangat dihormati oleh orang2 rimba persilatan,
karena kiam-hoatnya, ilmu pedangnya memang dahsyat
sekali.
Tetapi sekarang, anak lelaki kecil seperti Yo Him berani
memandang remeh kepadanya dengan sendirinya telah
membuat dia jadi gusar bukan main.
Karena kemarahannya telah me-luap2, dia mengeluarkan
suara bentakan yang sangat keras sekali, dan telah
melancarkan tikaman dengan pedangnya.
Yo Him menangkis serangan itu sekenanya saja, dengan
mempergunakan salah satu jurus ilmu pedang Go Bie Kiam
Hoat.

Tetapi hasilnya luar biasa, pedang ditangan Yo Him
bukannya menangkis serangan yang dilancarkan lawannya,
justru telah meluncur akan menikam tenggorokan lawannya.
Tentu saja Ciu Ie Ling jadi terkejut sekali, karena untuk
melindungi tenggorokannya dari tikaman mata pedang Yo
Him, terpaksa Ciu Ie Ling harus melompat kebelakang.
Harus diketahui waktu menciptakan ilmu pedang Go Bie
Kiamhoat, Kwee Siang telah memikirkan berbagai kelemahan
yang ada di bagian2 tubuh lawannya.
Karena dipersiapkan ilmu pedang Go Bie Kiamhoat khusus
untuk kaum wanita, maka diutamakan adalah kegesitan,
bukan kekuatan.
Sehingga Kwee Siang telah berusaha mencari kemungkinan
tidak melayani serangan lawan dengan kekerasan, dan dia
telah menciptakan setiap serangan lawan dilawan dengan
serangan lagi. tetapi setiap serangan Go Bie Kiamhoat selalu
mengincar bagian2 yang berbahaya ditubuh lawan sehingga
bisa mematikan.
Dengan demikian, tentu lawannya akan terdesak dan
serangannya akan gagal.
Cepat sekali gerakan dari serangan2 ilmu pedang Go Bie
Pay itu, maka dengan sendirinya tanpa mengadu kekuatan
tenaga, bisa saja murid Go Bie Pai mendesak lawannya.
Sedangkan Ciu Ie Ling yang melihat cara bersilat Yo Him
dengan pedangnya yang ber-gerak2 aneh itu, tentu saja telah
membuat dia terkejut sekali.
Dia jadi berpikir keras, entah siapa sebenarnya Yo Him,
mengapa memiliki ilmu pedang yang demikian aneh ?
Dengan penasaran Ciu Ie Ling telah melancarkan
serangan2 lagi dengan tikaman2 pedangnya, gerakan yang
dilakukannya itu sangat cepat sekali dan juga mengandung
kekuatan yang dahsyat.

Tetapi Yo Him tidak memperhatikan datangnya serangan
lawannya, karena dia jadi sibuk melakukan penyerangan2 juga
dengan ilmu pedang Go Bie Kiam Hoat.
Setiap pedang Ciu Ie Ling menyambar datang, maka Yo
Him bukannya menangkis, justru dia menggerakkan
pedangnya itu mengincar bagian2 yang mematikan ditubuh
lawannya.
Dengan sendirinya, telah membuat Ciu Ie Ling selalu harus
menarik pulang pedangnya membatalkan serangannya.
Semakin lama Ciu Ie Ling jadi semakin sengit. sehingga dia
berjingkrak beberapa kali dengan gusar.
Kemudian disertai suara bentakan yang sangat bengis
sekali, Ciu Ie Ling telah melancarkan serangan lagi dengan
tikaman2 yang gencar sekali. Gerakan2 yang dilakukannya
selain cepat sekali, juga mengincar bagian2 yang mematikan
ditubuh Yo Him.
Dalam sekejap mata saja, tampak sinar pedang Ciu Ie Ling
telah ber-kelebat2 dengan kecepatan luar biasa, membuat Yo
Him jadi kewalahan untuk menghadapi serangan2 itu, karena
dia hanya mengerti teori ilmu pedang Go Bie Pai dan belum
pernah melatihnya. Dengan sendirinya, jadi sangat repot
menghadapi serangan2 seperti itu, dia telah mengeluarkan
suara bentakan yang nyaring sekali, dan memutar pedangnya
dengan gerakan „San Hoa Kiam Sut” atau „Ilmu pedang
menyebar bunga”.
Gerakan2 yang dilakukan oleh Yo Him ternyata bisa
menyelamatkan juga diri dan jiwanya, karena pedang
ditangannya telah ber-putar2 dengan sangat cepat sekali,
telah mengancam ke-bagian2 tempat yang berbahaya ditubuh
Ciu Ie Ling.
Tentu saja Ciu Ie Ling dibuat terkejut lagi oleh serangan2
Yo Him itu.

Berulang kali Ciu Ie Ling telah mengeluarkan suara teriakan
gusar dan membatalkan serangannya, karena dia harus
menyelamatkan jiwanya dari ujung pedang Yo Him.
Dalam keadaan demikian, tampaknya Yo Him juga tidak
tinggal diam, dia memang memiliki latihan ilmu pedang Go Bie
Pai, tetapi dia memiliki hati yang tabah, sehingga dia bisa saja
berlaku nekad dengan melancarkan serangan2 yang sangat
cepat dan gesit sekali, dengan jurus2 Go Bie Pai yang luar
biasa aneh nya.
Go Bie Kiamhoat baru saja diciptakan oleh Kwee Siang,
dengan sendirinya ilmu pedang itu jarang sekali yang lihat,
dan merupakan ilmu pedang yang baru, maka Ciu Ie Ling
sendiri jadi sibuk sekali, dia sampai mengeluarkan suara
seruan2 kaget setiap kali hampir
terserang oleh tikaman2 yang dilancarkan Yo Him.
Yo Him dengan beruntun telah mempergunakan jurus2 ilmu
pedang Go Bie Pai, dan gerakan2 yang sangat cepat itu
tambah membingungkan diri Ciu Ie Ling saja.
Tetapi, setelah lewat sepuluh jurus, akhirnya Ciu Ie Ling
telah melihatnya bahwa Yo Him sesungguhnya tidak
menguasai ilmu pedangnya itu, karena dia hanya bisa
menggerakkan pedangnya itu dengan gerakan2 biasa saja,
walaupun aneh, kenyataannya ilmu pedang itu tidak
mengandung tenaga yang cukup dahsyat untuk menjatuhkan
musuhnya.
Tentu saja Ciu Ie Ling jadi heran melihat keadaan seperti
itu, karena Yo Him tampaknya memiliki tenaga yang tidak
berarti, namun dia bisa memiliki ber-macam2 ilmu silat dan
ilmu pedang yang sangat aneh2.
Tadi Ciu Ie Ling memang telah mendengar bahwa Yo Him
adalah puteranya Yo Ko, maka diam2 dia jadi berpikir :

„Hemm, pantas saja dia memiliki iimu2 yang demikian
hebat, memang jelas dia putera dari sibuntung keparat itu !
dan setelah berpikir begitu, Ciu Ie Ling mengawasi lagi kepada
serangan2 dan tikaman2 pedang Yo Him.
,,Tetapi…mengapa dia tidak memiliki kekuatan lwekang
sedikitpun juga ? Setiap tikamannya selalu kosong dan tidak
mengandung tenaga yang mematikan ?”.
Karena berpikir begitu, dengan cepat Ciu Ie Ling telah
mengeluarkan suara bentakan yang keras, waktu suatu kali
pedang Yo Him menyambar kearahnya, tampak pedang itu
telah dikibas oleh pedang Ciu Ie Ling.
Gerakan itu mengandung kekuatan tenaga mengibas yang
sangat kuat sekali, karena Ciu Ie Ling telah mengibas dengan
maksud untuk menjatuhkan pedang itu terlepas dari cekalan
tangan Yo Him.
JILID 20
TRANGG….! memang pedang ditangan Yo Him berhasil
ditangkis oleh Ciu Ie Ling dan tampak sebatang pedang
meluncur terbang ke tengah udara terlepas dari cekalan
namun pedang itu adalah pedangnya Ciu Ie Ling.
Sedangkan Ciu Ie Ling telah melompat keluar gelanggang
pertempuran dengan muka yang berobah pucat.
Saat itu rupanya waktu Ciu Ie Ling menabas dengan
pedangnya menangkis pedang Yo Him, telah terjadi suatu
peristiwa aneh lagi bagi Ciu Ie Ling, begitu pedangnya
menangkis pedang Yo Him karena dia mempergunakan
kekuatan tenaga yang sangat kuat disaat itu otot di telapak
tangan Yo Him telah bekerja dengan sendirinya dan menolak
dengan kuat, berimbang dengan tekanan2 gempuran atau
tangkisan pedang Ciu Ie Ling sendiri.

Maka bukannya pedang Yo Him yang terlepas dari
cekalannya, justru pedang Ciu Ie Ling yang telah terpental
dari cekalannya dan telah terlempar ketengah udara. Keruan
saja hal ini telah membuat Ciu Ie Ling dan jago2 Tiauw Pang
yang lainnya jadi terkejut sekali mereka jadi takjub dan
menganggap Yo Him benar2 luar biasa sekali.
Sedangkan ketua Tiauw Pang juga jadi kaget bukan main,
dia tidak menyangka sama sekali, bahwa sekecil itu Yo Him
benar2 telah memiliki ber-macam2 ilmu mujijat
Tadi dia telah melancarkan serangan berulang kali kepada
Yo Him dengan mempergunakan tangan kosongnya, tetapi
selalu pula tenaga serangannya itu berbalik menghantam
kepadanya.
Dan sekarang Ciu Ie Ling telah gagal menghadapi Yo Him
dengan pedang, maka peristiwa ini merupakan peristiwa yang
jarang sekali terjadi dan belum pernah dialami oleh orang2
Tiauw Pang itu.
Apa lagi Pangcu dari Tiauw Pang dan Ciu Ie Ling juga
bukan manusia2 yang lemah sehingga dengan adanya
peristiwa seperti ini, telah membuat mereka tidak mengerti,
anak sebesar Yo Him bisa memiliki kepandaian yang demikian
tinggi.
Kemudian Pangcu dari Tiauw Pang ini telah mengerahkan
seluruh tenaga, lwekangnya dia telah mengulurkan tangannya,
dengan maksud akan mencengkeram bahu dari Yo Him.
Gerakan yang dilakukan oleh Pangcu dari Tiauw Pang ini
sangat cepat sekali, di samping itu angin serangan yang
ditimbulkan oleh telapak tangannya itu mengandung kekuatan
tenaga yang sangat hebat sekali.
Dalam keadaan demikian Yo Him juga tidak bisa berdiam
diri.

Lawannya bukan melancarkar serangan dengan memukul
atau menghantam, justru lawannya itu telah melancarkan
serangan dengan mempergunakan cengkeraman tangan.
Jika sampai bahunya atau tubuhnya bagian yang lain kena
dicengkeiam oleh ketua dari Tiauw Pang, niscaya akan
menyebabkan dia mengalami kecelakaan yang tidak kecil,
karena sepuluh jari2 tangan itu memiliki kekuatan
yang sangat dahsyat yang dapat niencengkeram hancur
tulang2 di tubuh Yo Him.
Tetapi Yo Him tidak merasa takut, dengan cepat dia telah
menyingkir kesamping.
Gerakan yang dilakukan oleh Yo Him memang tidak begitu
cepat, sehingga Pangcu dari Tiauw Pang itu telah sempat
mengulangi serangannya lagi untuk mencengkeram
punggungnya Yo Him.
Dan kali ini Yo Him tidak bisa mengelakkan diri dari
serangan tersebut, karena itu dengan hebat punggungnya
telah kena dicengkeram oleh ketua Tiauw Pang itu.
„Brettt …!” pakaian dibagian punggung Yo Him telah robek
kena dicengkeram, karena Yo Him masih sempat untuk
menjauhi diri. dengan sendirinya dia bisa selamat dari terluka
ditangan ketua Tiauw Pang itu.
Namun bajunya yang telah robek itu menyebabkan Phang
Kui ln yang menyaksikannya jadi mengeluarkan seruan
tertahan karena terkejut.
Tetapi Yo Him dengan cepat telah menghadapi ketua Tiauw
Pang itu lagi. Berani dan tabah sekali anak ini.
Sedangkan Ciong Lam Cie tambah bersemangat waktu
melihat dia telah berhasil merobek pakaian Yo Him.

Dengan cepat dia telah melompat dan melancarkan
serangan pula, dia mengulurkan tangannya untuk
mencengkeram lagi.
Gerakannya kali ini dilakukannya lebih cepat dari pada
gerakan yang tadi dan tangannya telah diulurkan untuk
mencengkeram dengan kuat sekali
Yo Him akhirnya melihat bahwa dirinya tidak mungkin bisa
menghadapi tokoh persilatan seperti Ciong Lam Cie, karena
walaupun dia telah memiliki lwekang yang mujijat dan aneh,
tetapi Ciong Lam Cie telah mengetahui kelemahannya itu,
sehingga dia telah melancarkan serangan2nya dengan hanya
mempergunakan jari tangan belaka, yang dipergunakan untuk
mencengkeram.
Maka tenaga yang meluncur dari jari tangannya itu hanya
berseliweran perlahan sekali, menyebabkan tenaga memantul
dari otot maupun urat jalan darah ulama ditubuh Yo Him
tidak berarti apa2 untuk Ciong Lam Cie,
Dengan mengeluarkan suara bentakan yang sangat keras,
berulang kali Yo Him telah diserang oleh Ciong Lam Cie.
Walaupun dalam keadaan tertotok, tetapi Kwee Siang bisa
melihatnya bahwa keadaan Yo Him sangat terancam oleh
serangan2 yang dilancarkan oleh Ciong Lam Cie.
Tetapi dia dalam keadaan tertotok, tidak bisa dia
memberikan bantuan maupun pertolongannya.
Sehingga Kwee Siang jadi berkuatir dan bingung sekali.
Dengan mempergunakan kekuatan tenaga dalamnya,
beberapakali Kwee Siang berusaha membuka toiokan
ditubuhnya, namun gagal. Tampaknya cara menotok yang
dilakukan oleh Ciong Lam Cie merupakan totokan yang aneh
dan luar biasa sekali, sehingga sulit sekali untuk dibuka
dengan kekuatan sendiri.

Dengan gagalnya Kwee Siang berusaha membuka totokan
ditubuhnya, gadis ini jadi mengeluh beberapa kali dan benar2
berkuatir sekali, karena dia tidak berdaya untuk menolong Yo
Him, walaupun dia melihat Yo Him dalam tekanan dan
ancaman bahaya yang tidak kecil di tangan ketua Tiauw Pang.
Disaat itu, angin serangan ketua Tiauw Pang telah
berseliweran kuat dan lunak bergantian, untuk mengelabuhi
lwekang aneh yang dimiliki Yo Him.
Sampai akhirnya Yo Him tidak berdaya waktu pergelangan
tangannya dicekal oleh ketua Tiauw Pang. Tubuhnya telah
dilontarkan ketengah udara.
Waktu tubuhnya meluncur turun, justru jari tangan ketua
Tiauw Pang itu telah bergerak menotok jalan darah Yo Him,
maka tubuhnya segera terbanting dilantai tanpa bisa bergerak
lagi, karena Yo Him telah dalam keadaan tertotok.
Phang Kui In waktu melihat apa yang telah dialami oleh Yo
Him jadi mengeluarkan suara seruan tertahan dan telah
melompat ketengah gelanggang tanpa nemperdulikan lagi
ancaman mata golok dari kedua anggota Tiauw Pang itu.
Tetapi ketua Tiauw Pang itu telah tertawa ber-gelak2
dengan suara yang nyaring sekali, dia telah berkata dengan
suara yang bengis: „Engkau mana bisa melayani aku ? Lebih
baik engkau kembali duduk ditempatmu agar engkau tidak
mengalami peristiwa dan penderitaan seperti mereka berdua
itu. Kembali kekursimu!!”.
Tetapi Phang Kui In telah nekad benar, dengan
mengeluarkan bentakan : „Aku akan mengadu jiwa dengan
kau !” dia telah melompat dan melancarkan serangan2 dengan
mempergunakan kedua tangannya.
Tubuhnya telah meluncur menerjang ketua Tiauw Pang itu,
gerakannya sangat cepat sekali, juga kedua telapak tangannya

yang dipergunakan untuk menghantam itu mengandung
kekuatan yang cukup dahsyat.
Tetapi Ciong Lam Cie telah mengeluarkan suara tertawa
mengejek, dia telah menggerakkan kedua tangannya untuk
menangkis serangan yang dilancarkan oleh lawannya itu.
„Takkk !” kedua telapak tangan Phang Kui In telah
ditangkis oleh ketua Tiauw Pang dan tubuh Phang Kui In telah
terpental keras sekali terbanting dilantai perahu.
Phang Kui In merasakan pergelangan tangannya itu sakit
sekali. Dada sebelah kiripun dirasakan nyeri dan ngilu sekali,
mungkin dia telah terluka didalam.
Tetapi dengan penasaran dan nekad sekali, Phang Kui ln
telah melompat dengan gerakan yang sangat gesit sekali, dia
telah mengeluarkan suara bentakan mengguntur dan telah
menerjang maju lagi.
sambil menerjang kedua tangannya disilangkan, dia telah
melancarkan gempuran yang sangat kuat sekali, karena Phang
Kui In dalam nekadnya itu telah memusatkan seluruh
kekuatan tenaga dalamnya di kedua tangan nya itu.
Dia bermaksud akan mengadu jiwa dengan Ciong Lam Cie,
maka Phang Kui ln melancarkan gempuran itu tanpa
memikirkan keselamatan dirinya lagi
Angin serangannya itu berkesiuran dengan keras sekali,
dan juga angin serangan tersebut telah menggempur kuda2
Ciong Lam Cie.
Tetapi Ciong Lam Cie walaupun muka dan bentuk tubuhnya
yang kecil itu seperti seorang anak kecil, namun Pangcu Tiauw
Pang ini merupakan seorang ahli silat yang telah
berpengalaman sekali.
Sama sekali kuda2nya tidak tergoyahkan oleh serangan
yang dilancarkan oleh Phang Kui In, bahkan Ciong Lam Cie
menantikan sampai tenaga serangan yang dilancarkan Phang

Kui In telah dekat dengannya, disaat itulah dengan,
mengeluarkan suara seruan yang sangat panjang sekali, Ciong
Lam Cie telah menangkis gempuran Phang Kui In.
„Brukkk….bukkk !” dua kekuatan tenaga dalam yang
dahsyat sekali telah saling bentur dengan keras, dan dengan
tenaga saktinya Ciong Lam Cie telah membuat tubuh Phang
Kui In terpental dan terbanting dilantai perahu, terus tidak
bergerak lagi, karena Phang Kui In telah pingsan tidak
sadarkan diri.
Ciong Lam Cie telah tertawa dingin, sikapnya angkuh sekali.
„Bawa mereka kekamar tahanan…!” perintahnya dengan
suara yang congkak sekali.
„Kami menerima perintah !” teriak beberapa orang
pengawal ruangan, yang segera menggotong tubuh Kwee
Siang, Yo Him dan Phang Kui In kekamar tahanan.
Ketiga orang tawanan Tiauw Pang itu telah dibawa
keruangan bawah kapal itu, dan kemudian dimasukkan
kedalam sebuah ruangan yang gelap tidak memiliki
penerangan sedikitpun juga.
Kwee Siang walaupun dalam keadaan tertotok, matanya
bisa menyaksikan segala apa.
Dia melihat, bahwa mereka bertiga telah tertawan oleh
pihak Tiauw Pang, berarti sulit sekali bagi mereka untuk
melarikan diri, terlebih lagi dirinya bersama Yo Him dalam
keadaan tertotok, sedangkan Phang Kui In dalam keadaan
pingsan, mungkin juga tengah terluka didalam yang parah
sekali….
Saat itu, Yo Him juga telah tersadar dari pingsannya, tetapi
tubuhnya dalam keadaan tertotok seperti Kwee Siang, dia
tidak bisa menggerakkan tubuhnya.

Keadaan di sekitar tempat itu gelap sekali, karena
ruangannya tertutup, sehingga tidak setitik sinar pun yang
menembus masuk.
Sedangkan Yo Him baru saja tersadar dari pingsannya,
maka melihat sekelilingnya yang gelap pekat seperti itu, dia
menduga bahwa dirinya telah berada di dalam neraka.
Dia telah mengawasi sejenak keadaan disekitarnya, sampai
akhirnya waktu Yo Him mendengar suara napas seseorang,
dia telah memanggil perlahan : „Paman Phang….? Encie Siang
?”.
Yo Him memanggilnya dengan perlahan, dengan suara
yang ditekankan, karena dia ragu2 kalau dia masih hidup
didalam dunia, sebab begitu dia siuman dari pingsannya,
justru sekitar dirinya gelap pekat, sehingga untuk melihat
tubuhnya sendiri saja tidak bisa.
Apa lagi saat itu Yo Him merasakan tubuhnya kaku tidak
bisa bergerak, maka dia menduga dirinya telah meninggal
dunia dan telah dikubur didalam tanah….
Keadaan seperti ini telah membuat Yo Him jadi ragu2,
maka waktu dia memanggil Phang Kui ln dan Kwee Siang,
dia memanggilnya dengan suara yang perlahan sekali.
Kwee Siang mendengar suara Yo Him, dia jadi girang
sekali.
,,Aku disini, adik Him …!” kata Kwee Siang dengan cepat.
„Apakah engkau sehat2 saja ? Tidak terlukakah tubuhmu ?”.
Yo Him menghela napas.
„Encie Siang, rupanya kita berdua telah mati, bukan ?”
tanya Yo Him.
„Telah mati ? Mengapa begitu ?” tanya Kwee Siang tidak
mengerti.

,,Bukankah sekarang ini kita berdua berada dalam
timbunan tanah, kita telah dikubur ? Tubuh kita tidak bisa
digerakkan karena tertimbun tanah, bukan ?”.
Kwee Siang tertawa kecil.
„Tidak, kita masih hidup!” kata Kwee Siang cepat.
„Bukankah kita masih bisa bernapas ? Dan masih dapat bercakap2
? .Kita hanya tertahan oleh pihak Tiauw Pang dan
berada dalam keadaan tertotok, sehingga tubuh kita tidak bisa
bergerak”.
Mendengar perkataan Kwee Siang hati Yo Him jadi agak
lega.
„Lalu..lalu mengapa keadaan di sekeliling kita ini gelap
sekali ? Semula aku menduga bahwa kita telah berada dalam
tanah atau dineraka…!”
kata Yo Him lagi. „Dan…di mana paman Phang ?”.
„Kita dikurung didalam, ruangan yang rapat dan tidak
memiliki sinar sedikit pun juga, kita berada dalam ruangan
tawanan, maka dari itu, kita harus berusaha meloloskan diri.
Sedangkan paman Phang mu dalam keadaan pingsan, karena
telah dirubuhkan ketua Tiauw Pang itu…! Yang terpenting
bagaimana aku bisa membuka totokan ditubuhku…jika
totokan ditubuhku bisa dibuka, aku bisa memikirkan lebih
lanjut cara bagaimana kita bisa meloloskan diri…!”.
„Apakah aku tidak bisa membuka totokan ditubuhmu, encie
Siang ?” tanya Yo Him.
„Kau ?” dan Kwee Siang berdiam sejenak, tampaknya dia
tengah berpikir keras.
Tetapi kemudian dia telah berseru girang.
„Adik Him ! Kita akan tertolong !” teriaknya. „Kau bisa
membuka totokan di tubuhku mempergunakan jalan
pernapasanmu yang aneh itu .! Kini engkau harus berusaha

membuka totokan ditubuhmu sendiri dulu, kau turuti
petunjukku !”
“Baik encie Siang !” menyahuti Yo Him, yang juga ikut
girang.
Setelah itu, Kwee Siang berkata dengan suara yang tidak
begitu keras karena dia kuatir di luar ruangan kamar tahanan
itu adda anak buah Tiauw Pang.
„Kau salurkan pernapasanmu kejalan darah Wie-cing-hiat
didekat pundakmu.!” kata Kwee Siang memberikan
petunjuknya bagaimana Yo Him harus menyalurkan jalan
pernapasannya untuk membuka totokan ditubuhnya.
Yo Him menuruti dia merasakan pundaknya ngilu.
“Pundakku ngilu dan sakit sekali !”
Kata Yo Him memberitahu keadaannya itu.
“Biar … tidak apa? engkau tahan dulu!” Kata Kwee Siang.
“Sekarang engkau salurkan pernapasanmu itu ke jalan
darah Hai-tiong-hiat, lalu memutar setengah lingkaran, tiga
dim dari Hai Tiong-hiat, yaitu kejalan darah Pie liahg hiat”.
Yo Him menuruti terus petunjuk2 yang diberikan Kwee
Siang.
Setelah dia menyalurkan pernapasannya sampai kejalan
darah Pie liang hiat, seketika itu juga terasa hawa hangat
bergolak diperutnya.
Kuat sekali golakan hawa panas itu. seperti juga bola api
yang ber-putar2 dan semakin lama jadi semakin panas juga.
Yo Him segera memberitahukan keadaan nya itu kepada
Kwee Siang.
„Cepat kau salurkan jalan pernapasanmu kejalan darah
Sim-touw-hiat…!” perintah Kwee Siang, nada suaranya girang
bukan main. Yo Him menuruti.

Dan seketika itu juga Yo Him merasakan bola api yang
panas didalam perutnya itu seperti buyar dan sekejap mata
saja dia sudah terlepas dari totokan yang dilakukan oleh Ciong
Lam Cie, karena dia telah berhasil menggerakkan kaki dan
tangannya.
Rupanya tenaga totokan itu telah buyar oleh kekuatan
napas dari Yo Him.
Segera YoHim bangkit, dia jalan me raba2
“Kau dimana encie Siang ?” tanya Yo Him .
„Ya, kekanan, aku berada disini, dua langkah lagi !” kata
Kwee Siang memberitahukan nya.
Harus diketahui, jika Yo Him memang tidak memiliki latihan
mata, sedangkan Kwee Siang justru telah terlatih matanya,
walaupun berada dalam ruangan yang sangat gelap pekat, dia
masih bisa melihat cukup jelas.
Yo Him menuruti petunjuk Kwee Siang maka dia bisa
sampai disamping sigadis.
„Kini per-tama2 engkau harus menotok jalan darah Baosiang
hiatku. .!”
Kata Kwee Siang. „Cepat, jangan ragu2…!”
Memang Yo Him jadi ragu2, karena dengan menotok tubuh
si gadis berarti tangannya akan bersentuhan dengan tubuh
sigadis.
Tetapi dibentak begitu oleh Kwee Siang, Yo Him jadi tidak
ragu2 lagi, dia telah menggerakkan tangannya untuk menotok
jalan darah Ban Siang Hiat Kwee Siang.
„Ya, tepat totokanmu itu, kini hati2, engkau harus menotok
yang tepat jalan darah Bun Cie Hiat, tiga dim dipinggul,
jangan meleset, karena terpisah satu dim terdapat jalan darah
Bian-to-hiat, jalan darah yang bisa mematikan…!”.

Yo Him melaksanakan perintah Kwee Siang dengan hati2.
Dia memang telah mengerti letak jalan darah, karena waktu
Kwee Siang mengajari dia dasar2 ilmu lwekang, dia telah
memperoleh petunjuk mengenai letak jalan darah itu.
Sebagai seorang anak yang cerdas sekali, maka Yo Him
bisa mengingatnya dengan baik letak jalan darah itu.
Setelah itu, Kwee Siang memberi petunjuk lagi agar Yo Him
menotok beberapa jalan darah lainnya.
Yo Him melakukannya dengan tepat sekali.
Waktu Yo Him terakhir kali menotok jalan darah Sung-kohiat
didekat pundak sigadis. maka Kwee Siang telah dapat
melompat bangun.
„Ya, bebaslah kini aku dari totokan orang she Ciong itu i”
kata Kwee Siang.
Yo Him juga jadi girang, tetapi belum lagi Yo Him sempat
.ber-kata2, Kwee Siang telah berkata kepadanya : „Adik Him
engkau tentu heran bukan, mengapa aku yang memiliki
kepandaian yang tinggi tidak bisa membuka sendiri totokan
ditubuhku, sedangkan engkau yang belum memiliki
kepandaian yang berarti telah bisa membuka totokanmu itu
sendiri ?”.
„Benar, encie Siang …!” seru Yo Him dia memang heran,
mengapa justru tadi Kwee Siang mengetahui dan memberikan
petunjuk kepadanya agar jalan pernapasannya itu disalurkan
dari jalan darah yang satu kejalan darah yang lainnya, tetapi
mengapa Kwee Siang tidak bisa membuka sendiri jalan
darahnya yang tertotok itu.
„Sesungguhnya, disini letak kemujijatan dari kekuatan
tenaga dalammu yang luar biasa itu…!” berkata Kwee Siang.
„Seperti engkau juga telah mengetahui bahwa engkau telah
memperoleh kekuatan lwekang yang hebat sekali, lwekang

yang mengandung kemujijatan. sehingga bisa memukul balik
kembali setiap
tenaga yang menghantam ketubuhmu, karena otot dan
jalan darah utamamu itu akan bekerja begitu diserang dari
luar. Maka aku jadi yakin bahwa engkau bisa membuka sendiri
totokan di tubuhmu dengan mempergunakan pernapasanmu
yang aneh itu…! Dan dugaanku ternyata tepat, engkau
berhasil ! Bahkan dengan totokan2 jari tanganmu itu, yang
mengandung lwekang yang mujijat itu, engkau telah, berhasil
menolongku ! Maka dari itu, ini telah membuktikan bahwa
engkau memiliki lwekang yang dahsyat sekali, sayangnya
engkau belum mengetahui cara untuk menyalurkannya ! Jika
memang nanti kita telah berhasil meloloskan diri dari orang2
Tiauw Pang,. dan telah bertemu dengan ayahmu, kita mencari
tempat yang sepi, aku akan memberikan petunjuk2-
kepadamu, begitu pula engkau boleh meminta petunjuk
ayahmu “jika saja engkau mengetahui cara2 untuk menguasai
dan mengendalikan pernapasanmu tentu engkau akan
memiliki suatu kekuatan yang sulit dilawan..!’ Yo Him jadi
girang sekali.
„Terima kasih encie.,.!.” katanya.
“Walaupun aku memiliki lwekang yang tinggi, tetapi
lwekangku itu saja, tidak mempunyai kemujijatan yang seperti
engkau miliki, aku memperoleh lwekangku ini berkat latihan,
maka walaupun aku telah mengerahkan lwekangku itu untuk
membuka totokan Ciong Lam Cie, kenyataannya aku gagal,
karena totokan orang she Ciong itu sangat aneh sekali ! Tetapi
dengan lwekangmu yang aneh dan sangat mujijat itu, ternyata
totokanku dapat digempur buyar …!”.
Mendengar keterangan yang diberikan oleh Kwree Siang,
tentu saja telah membuat Yo Him jadi bertambah girang.
Kemudian tampak Kwee Siang telah berkata lagi : „Mari kita
melihat keadaan paman Phang-mu itu …!!”.

Yo Him baru teringat kepada Phang Kui In, kembali
perasaan kuatir menguasai dirinya. Dengan dituntun oleh
Kwee Siang, Yo Him diajak menghampiri Phang Kui In.
Saat itu mata Yo Him juga telah terbiasa di tempat gelap,
sehingga dia bisa melihat samar2 paman Phang-nya itu
menggeletak dilantai tanpa bergerak,
Kwee Siang telah berjongkok, dia telah memeriksa keadaan
Phang Kui In.
,,Hemmm, paman Phangmu telah terluka di dalam, urat
besar didada kirinya, yaitu urat besar Bian-tiang-hiatnya, telah
tergeser….!” menjelaskan Kwee Siang setelah memeriksa
tubuh Phang Kui In.
Yo Him jadi tambah berkuatir, hampir saja dia menangis
karena bingung,
Disaat itu Kwee Siang telah sibuk menguruti tubuh Phang
Kui In, dan dia berusaha, mengembalikan urat besar didada
kiri Phang Kui In yaitu urat besar Bian-tiang-hiatnya. keposisi
yang semula.
Tetapi pekerjaan itu tidak mudah dan urutan tangan Kwee
Siang tidak sanggup menggeser urat itu dengan baik.
Tiba2 Kwee Siang telah teringat sesuatu, dia mengeluarkan
seruan tertahan yang perlahan sekali.
Yo Him jadi terkejut.
Tadi dia dengan tegang sedang memandangi Kwee Siang
yang sibuk menguruti dada paman Phangnya itu, dan dia jadi
terkejut ketika melihat Kwew Siang mengeluarkan suara
seruan tertahan seperti itu.
“Ada apa encie Siang?’” tanya Yo Him dengan berkuatir
sekali.
“Hemm, rupanya paman Phang-mu ini bisa ditolong oleh
kau pula, adik Him!!” kata Kwee Siang. Dengan lwekangmu

yang mujijat itu urat besar itu bisa dikembalikan keposisinya
yang semula.”
Mendengar itu tentu saja Yo Him jadi sangat girang, dan
dia mengiyakan berulangkali.
“Cepatlah encie Siang bagaimana caranya aku bisa
menolong paman Phang, tolong kau beritahukan kepadaku !”
kata Yo Him tidak sabar.
“ tenang, tidak akan terlambat, walaupun terluka akibat
tergesernya urat besar didada kirinya, namun paman
Phangmu itu tidak mengalami ancaman kematian…..jangan
membuat suara berisik, nanti menarik perhatian anak buah
dari orang she ciong itu …!”.
Yo Him meleletkan lidahnya, dia baru teringat bahwa
mereka memang sedang berada dikamar tahanan musuh,
maka dia telah menutup mulut tidak ber-kata2 lagi.
Sedangkan Kwee Siang telah memberikan petunjuknya, dia
meminta kepada Yo Him agar duduk didekat tubuh Phang Kui
ln, duduk disebelah kanannya.
Dengan suara yang perlahan sekali Kwee Siang
memberikan petunjuk2nya apa yang harus dilakukan oleh Yo
Him. Jalan darah yang harus ditotok oleh Yo Him ternyata
banyak jumlahnya, karena setiap kali Kwee Siang
menyebutkan nama jalan darah yang harus ditotok di tubuh
Phang Kui In, Yo Him harus menotok dengan mempergunakan
tenaga mujijatnya. “Sie-tung-hiat, Mie-ko-hiat, urut perlahan
jalan daerah Liu-bong-hiat, kemudian totok lagi jalan darah
Kie-mui-hiat didekat lutut, kau harus mengurut jalan darah
Ma-siang-hiat, dan kini urutlah jalan darah Lu-cing Hiat … “.
Begitulah Kwee Siang telah menyebutkan terus menerus
jalan darah yang harus ditotok oleh Yo Him. jumlah jalan
darah yang harus ditotok oleh Yo Him ditubuh Phang Kui In
ternyata sangat banyak jumlahnya.

Peluh yang besar2 telah memenuhi kening dan tangan Yo
Him, keringat itu menunjukkan bahwa Yo Him telah lelah
sekali. Tetapi Kwee Siang menyadari bahwa pertolongan yang
tengah diberikan kepada Phang Kui In tidak boleh tertunda,
karena jika sampai tertunda, berarti akan menyebabkan
bahaya yang tidak kecil untuk Phang Kui In, karena jalan2
darah yang telah terbuka itu akan kemasukan hawa kotor
yang belum lagi dilenyapkan. Maka dari itu Kwee Siang
meneruskan petunjuknya tanpa memperdulikan bahwa Yo Him
telah lelah sekali.
Yo Him juga menguatkan hatinya untuk dapat melakukan
terus tugasnya, demi keselamatan paman Phangnya ini.
Walaupun kepalanya mulai pusing dan juga matanya mulai
ber-kunang2, tetapi Yo Him tidak berani beristirahat. Setiap
kali Kwee Siang menyebutkan jalan darah yang harus
ditotoknya, segera juga Yo Him melakukannya dengan cepat.
Setelah menotok lebih dari seratus jalan darah di tubuh
Phang Kui In, barulah orang she Phang itu menggeliat
perlahan dan tersadar dari pingsannya, terdengar dia
mengeluarkan suara keluhan pendek.
„Phang Susiok !” berseru Yo Him gembira melihat paman
Phangnya telah tersadar,
„Sssttt !” Kwee Siang memperingati Yo Him agar tidak
menimbulkan suara berisik, karena bisa menarik perhatian
orang diluar kamar tahanan ini, berarti mereka bisa celaka,
karena mereka bertiga dalam keadaan yang lemah.
Yo Him juga menyadari bahaya yang bisa timbul oleh
kecerobohannya itu, maka anak ini teiah meleletkan lidahnya
dengan sikap yang lucu, sehingga mau atau tidak Kwee Siang
ikut tersenyum oleh sikap anak itu.
„Ayo kita mulai lagi membersihkan pengaruh kotor ditubuh
paman Phangmu, masih ada puluhan jalan darah lagi yang
harus ditotok olehmu…!” kata Kwee Siang yang kemudian

menyebutkan satu persatu jalan darah yang harus ditotok oleh
Yo Him dengan mempergunakan tenaga mujijat yang ada
padanya.
Keadaan seperti itu berlangsung terus sampai beberapa
saat lamanya, dan tampak Phang Kui In telah tersadar dari
pingsannya dan dia telah berhasil menggerakkan tubuhnya,
berusaha untuk duduk.
Yo Him dan Kwee Siang yang melihat telah cepat2
mengulurkan tangan mereka, untuk membantu paman Phang
tersebut duduk dengan tubuh yang masih lesu.
,.Phang Susiok, akhirnya kau bisa diselamatkan juga !” kata
Yo Him sambil tersenyum.
„Ya, kau juga harus merasa berterima kasih pada Kwee
Liehiap, karena Kwee Liehiap yang telah menyelamatkan kita.
Coba kalau tidak ada Kwee Liehiap, bukankah berarti aku akan
menemui bencana dan meninggal, dan engkau pun akan terus
dalam keadaan tertotok tidak berdaya…….?”
„Tunggu dulu Phang Lo-enghiong, bukan aku yang telah
menolongimu… justru aku pun telah ditolong oleh seseorang
…! kata Kwee Siang cepat memotong perkataan orang she
Phang itu.
Phang Kui In jadi tertegun, dia memandang dengan sorot
mata terkejut, katanya dengan ragu2 : „Ada seorang pendekar
sakti lainnya yang telah menolongi kita ?”:
Kwee Siang mengangguk.
„Ya, Phang Lo-enghiong dan Siauw-moy (aku) telah
ditolong oleh Yo Him…!” menjelaskan Kwee Siang.
„Hah ?” tentu saja Phang Kui In jadi tambah terkejut.
„Yo Him per-tama2 membuka totokan ditubuhnya menurut
ilmu tenaga dalam seperti yang kuberikan, kemudian setelah
berhasil membebaskan dirinya dari totokan, barulah dia

membuka totokan ditubuhku dengan mudah lalu menotok pula
jalan darah jalan darah Phang Lo-enghiong, sehingga kita jadi
dapat selamat dari pengaruh totokan si jahat she Ciong itu!”
„Sungguh luar biasa dan sulit bisa dipercaya !” kata Phang
Kui In sambil geleng2kan kepalanya mengawasi kearah Yo
Him, bagaikan ada sesuatu yang telah menakjubkan hatinya.
Yo Him mengangguk, katanya ; „Benar Phang Susiok, tadi
Ciecie Siang telah memberikan petunjuk2nya, jalan darah
yang mana harus ditotok olehku menurut encie Siang aku
memiliki lwekang yang mujijat, yang melebihi lwekangnya
sendiri yang telah dilatihnya selama belasan tahun ! Menurut
Encie Siang bahwa di tubuhku terdapat suatu keistirnewaan
pada jalur2 jalan darahku”.
Setelah tertegun sejenak lagi, tiba2 Phang Kui In tertawa
ber-gelak2 dengan keras.
Untung saja Kwee Siang bergerak cepat. Gadis ini terkejut
sekali waktu melihat Phang Kui In tertawa keras, tanpa pikir
panjang lagi Kwee Siang telah mengulurkan tangannya
membekap mulut jago she Phang itu.
„Hati2 Phang Lo-enghiong”. Kita bisa celaka, suara
tertawamu itu bisa memancing kedatangan lawan…!” Kwee
Siang telah memperingati.
Phang Kui In jadi terkejut, dia baru teringat bahwa diri
mereka tengah berada dalam kekuasaan musuh. Maka dari itu
dengan penuh penyesalan Phang Kui In mengangguk.
Sedangkan Kwee Siang telah menarik pulang tangannya
kembali.
„Sekarang yang perlu kita pikirkan”, kata kwee Siang lagi,
tindakan apa yang harus kiia lakukan untuk meloloskan diri
dari tangan orang she Ciong itu ?”.
Phang Kui In juga tampaknya bingung sekali.

,,Ciong Lam Cie memiliki kepandaian yang tinggi dan diatas
kepandaian kita tampaknya tidak mudah kita melarikan diri
dari jaringan anak buahnya yang berjumlah cukup banyak dan
juga masing2 memiliki kepandaian yang tinggi. Maka kita tidak
boleh berlaku ceroboh, sekali saja mereka mengetahui kita
sudah terbebas dari tolokan mereka dan juga sekali saja
mereka mengetahui kita akan melarikan diri, tentu diri kita
akan dianiaya lebih berat dan lebih menyakitkan. Atau
kemungkinan juga kita bertiga akan dibinasakan.”
“benar Phang Loenghiong akupun berpikir begitu, kita
harus merencanakan sebaik mungkin cara yang terbaik untuk
bisa meloloskan diri dari tangan orang she Ciong itu !.”
„Atau kita pecahkan dinding kapal ini untuk menerobos
keluar, kedalam air laut dan berenang meninggalkan kapal ini
?” Phang Kui In telah memberikan sarannya.
,,Bagaimana jika kita sekarang ini sedang berada ditengah
lautan yang jauh dari daratan. bukankah berarti kita
membinasakan jiwa kita sendiri, membunuh diri dengan cara
seperti itu ?” bantah Kwee Siang.
Phang Kui In jadi tertegun lagi memandang kosong dalam
kegelapan seperti itu.
„Memang serba sulit…!” menggumam Phang Kui In
kemudian dengan suara yang perlahan, seperti juga dia
tengah berkata kepada dirinya sendiri.
„Ya dalam hal ini kita seperti juga terjepit dalam dua
pilihan. Pertama, kita membiarkan berdiam diri saja ditawan
oleh orang she Ciong itu dan kita lihat apa yang
dikehendakinya nanti…atau kita menempuh bahaya mengadu
untung menjebolkan dinding perahu ini dan kemudian
berenang keluar…!” setelah berkata begitu, Kwee Siang
menghela napas berulang kali.

Phang Kui In bertiga jadi bingung juga dan mereka serba
salah dalam menentukan sikap dan langkah2 bagaimana yang
harus mereka ambil.
Waktu itu tampak Yo Him telah berkata dengan suara yang
ragu2
“Bagaimana jika kita mengadu nasib dengan menjebolkan
dinding kapal dan berenang keluar ? Bukankah dengan
langkah demikian kita masih. memiliki harapan kalau2
sekarang ini kapal tengah berlayar dan berada tidak jauh
dengan daratan ?”.
Phang Kui In dau Kwee Siang tidak segera menyahutinya,
mereka telah saling pandang sejenak kemudian terdengar
Kwee Siang berkala : „Ya, itupun memang cukup baik. Lebih
baik kita binasa di lautan dari pada kelak kita akan diperhina
terus menerus oleh Ciong Lam Cie, si cebol itu …!”.
Phang Kui In melihat Kwee Siang telah menyetujui untuk
mengambil jalan merusak dinding kapal dan menerobos keluar
berenang di lautan, diapun mengangguk.
„Ya, aku pun lebih condong mengambil jangkah yang
seperti itu …!” katanya.
Phang Kui In kemudian berunding dengan Kwee Siang,
tindakan apa yang per-tama2 harus mereka lakukan. Dan
siapa yang harus memecahkan dinding kapal itu. ..Yang jelas,
kita harus merusak dinding kapal tanpa bersuara. Jika kita
menghajarnya dengan kekerasan dan suara gaduh itu
terdengar oleh anak buah Ciong Lam Cie, kemungkinan besar
rencana kita akan gagal sama sekali..!”.
Phang Kui In mengangkat tangan kanannya
memperlihatkan ibu jari tangannya, memuji akan kecerdasan
dan ketelitian dari jago wanita she Kwee ini.
„Aku akan memukul dengan serangan Pukulan Kapas,
sehingga pukulan itu waktu tiba dikayu dinding kapal ini, tidak

menimbulkan suara yang berisik, tetapi kayu dinding kapal
akan rusak hancur karenanya !”.
Phang Kui In hanya mengangguk saja, karena dia
menyadari walaupun usia Kwee Siang masih muda, tetapi dia
memiliki kekuatan yang boleh diandalkan dan kecerdikan yang
bisa di puji tinggi.
Kwee Siang duduk menghadapi dinding kapal, dia duduk
dengan sikap yang tegak, kedua tangannya diangkat perlahan2
sambil menarik napas dalam2. Kemudian dengan
perlahan dia memukul kedepan, seperti juga mengusap
dinding kapal itu karena perlahannya pukulan tersebut. Lalu
dia mengeluarkan suara siulan yang nyaring, disertai suara
‘krekk!’ pecahnya dinding kapal dalam lingkaran yang besar,
setombak lebih. Air juga telah berhamburan menerobos
masuk, mengejutkan Phang Kui In dan Yo Him, tubuh Kwee
Siang sendiri telah terdorong oleh serbuan air itu, sampai
terguling. Tetapi pendekar wanita ini memiliki kegesitan, cepat
sekali dia telah berhasil untuk menguasai diri.
„Biarkan air itu masuk dulu sampai memenuhi ruangan ini,
sehingga kita menyelam dan berenang keluar tanpa perlu
menghadapi terjangan air…!” kata Kwee Siang.
Phang Kui In mendengar itu memuji akan kecerdikan
sigadis, karena memang jika mereka berusaha keluar disaat
itu juga, berarti mereka harus melawan terjangan air yang
menerobos masuk kedalam ruangan, tenaga air sangat kuat
dan mereka tidak mungkin berhasil menerobos keluar. Tetapi
jika air mulai menggenangi kamar itu dan tinggi air didalam
ruang bawah kapal itu telah melewati tepian lobang didinding
kapal, mereka bisa berenang keluar tanpa perlu diterjang oleh
air pula.
Saat itu juga telah terdengar suara berisik diatas kapal,
rupanya suara siulan Kwee Siang yang nyaring dan juga suara
air yang menerobos masuk ke ruangan dalam kapal dengan
cepat dan keras, telah menyebabkan anak buah Ciong Lam Cie

jadi terkejut dan mereka ter-gesa2 berlari untuk melihat
ruangan dibawah, dari arah mana suara berisik itu datang.
Alangkah terkejutnya anak buah Ciong Lam Cie waktu
melihat ruangan bawah itu telah digenangi penuh air laut, dan
mereka ber teriak2 dengan suara yang keras : „Tawanan
melarikan diri ! Tawanan melarikan diri ! Dan dinding kapal
telah di rusaknya ! Kapal kita akan segera tenggelan !!”
Teriakan itu datangnya sangat keras sekali, karena yang berteriak2
itu lebih dari belasan anak buah Ciong Lam Cie yang
tengah diliputi perasaan panik bukan main.
Saat itu Phang Kui In bertiga dengan Yo Him dan Kwee
Siang telah berenang keluar dari liang didinding kapal itu.
Memang mereka tidak menemui rintangan dan juga tidak
terhalang oleh terjangan air yang menerobos masuk, karena
air itu telah menerobos masuk menggenangi lebih dari tepian
diatas lobang yang dibuat oleh Kwee Siang.
Dengan menggendong Yo Him, Phang Kui In berenang
dengan cepat.
Kwee Siang juga mengikuti dari belakang, pendekar wanita
ini memang pandai berenang, maka dalam waktu yang cepat
sekali mereka telah berenang meninggalkan kapal itu sejauh
puluhan tombak.
Kwee Siang berenang mendahului Phang Kui In dan Yo
Him, dia menggerakkan tangan kanannya menunjuk kearah
kanan, menganjur kan agar Phang Kui In berenang kearah
kanannya.
Phang Kui In mengerti apa yang dikehendaki oleh sigadis,
maka dia berenang kearah kanan, arah yang berlawanan
dengan kapalnya Ciong Lam Cie.
Sedangkan kapal yang telah kemasukan air itu mulai
tenggelam, membuat anak buah Ciong Lam Cie jadi panik
sekali. Begitu juga Ciong Lam Cie sendiri jadi marah dan
penasaran, tetapi dia menyadarinya bahwa dirinya tidak bisa

mengumbar kemarahan hatinya, yang terpenting adalah
menyelamatkan kapalnya dari ketenggelaman itu.
Kurang lebih empat puluh anak buah Ciong Lam Cie segera
bekerja. Mereka telah menerobos keruangan bawah yang
telah digenangi air, kemudian dengan cepat mereka
menambal lobang dinding kapal itu dengan kain2 yang tebal,
ditambah dengan kayu yang dipantekan untuk menutupi
lobang tersebut. Beberapa orang diantara mereka segera
mempergunakan gayung yang ber ukuran besar menyendoki
air yang telah masuk kedalam kapal untuk dibuang kelaut
kembali.
Cukup lama juga mereka bekerja, namun akhirnya mereka
bisa juga menyelamatkan kapal mereka dari karam yang
cukup mengerikan.
Ciong Lam Cie telah perintahkan anak buahnya untuk
mencari Phang Kui ln bertiga. Belasan anak buah Ciong Lam
Cie telah menurunkan beberapa buah perahu kecil, dan
dengan mempergunakan perahu kecil itu mereka berkeliling
disekitar kapal mereka mencari jejak Phang Kui In bertiga.
Mereka yakin bahwa Phang Kui In bertiga tidak bisa
melarikan diri terlalu jauh. Dan mereka bertiga juga tidak
mungkin menyelam terus menerus, walaupun bagaimana
mereka tentu akan muncul kepermukaan air mengambil udara
segar.
Tetapi walaupun belasan orang anak buah Ciong Lam Cie
telah berputar2 sekian lama. Ketiga orang buruan mereka itu
tidak juga terlihat batang hidungnya.
Akhirnya dengan penuh kemendongkolan dan kemarahan
dihatinya, Ciong Lam Cie memanggil pulang anak buahnya itu.
Mereka meneruskan perjalanan dengan cepat. Betapa
kecewanya Ciong Lam Cie karena ketiga tawanan itu
sesungguhnya merupakan tawanan penting bagi nya seTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
tidak2nya Yo Him tentunya bisa dipergunakan untuk
memancing kedatangan Sin Tiauw Taihiap Yo Ko.
Tetapi kini ketiga orang tawanannya itu berhasil ‘terbang’
dari telapak tangannya. Namun Ciong Lam Cie masih terhibur
juga bahwa dia telah mengetahui Yo Ko memiliki seorang
putera, yaitu Yo Him. Maka kelak jika me reka telah berada
didaratan, Ciong Lam Cie akan menyebarkan anak buahnya
yang umumnya memiliki kepandaian tinggi, untuk mencari Yo
Him.
Waktu itu tampak kapal Ciong Lam Cie berlayar beriringan
dengan cepat sekali. Tetapi baru saja mereka berlayar tidak
jauh, air laut bergolak dan ber-putar2 cepat, bagaikan ada
angin topan yang menerjang, kapal sulit untuk dikendalikan.
Air laut yang ber-putar2 itu kuat bukan main, untung, saja
Ciong Lam Cie dan anak buahnya telah mengenal sifat2 air
laut, mereka telah terbiasa menghadapi berbagai mara bahaya
dilautan, maka mereka tidak menjadi gugup dan telah
mempergunakan cara yang cukup baik guna menguasai kapal
mereka itu dari terjangan gulungan air laut. Seluruh anak
buahnya dikerahkan, dan kapal telah berlayar dengan pesat
sekali…..
PHANG KUI IN bertiga wakiu berenang dari liang dinding
kapal yang dilobangi oleh Kwee Siang merasakan mereka tidak
mungkin menyelam terus menerus didalam air. Se tidak2nya
mereka tentu harus sering2 muncul di permukaan air
Terlebih lagi Phang Kui In yang menggendong Yo Him
dipunggungnya, dia membutuhkan udara segar untuk
menambah kekuatan tenaganya
Mereka be-runtun2 telah dua kali muncul di permukaan air
laut dan melihat sekeliling mereka hanya tampak air laut yang
ke-biru2an dan luas sekali. Hal itu memperlihatkan bahwa
mereka berada ditengah lautan dan sulit untuk mengharapkan

bisa bertemu dengan daratan. Phang Kui In jadi mengeluh
tanpa di kehendakinya, karena dengan berada ditengah lautan
seperti itu tentu saja mereka tidak memiliki harapan untuk
hidup terus. Karena mereka hanya sanggup bertahan hidup
beberapa saat lagi dan kemudian mereka akan kehabisan
tenaga dan mati tenggeiam.
Kwee Siang juga menyadari bahaya yang mengancam jiwa
mereka bertiga.
Jika saat itu mereka berhasil dua kali muncul di permukaan
air, berarti mereka memang masih memiliki kesempatan itu,
sebab anak buah Ciong Lam Cie tengah sibuk mengurusi
tubuh kapal mereka yang berlobang, dan sedang berusaha
mencegah kapal mereka tenggelam.
Namun jika anak buah Ciong Lara Cie telah berhasil
menguasai keadaan, dan juga telah berhasil menambal
dinding kapal yang bocor itu, tentu mereka akan melakukan
pengejaran, berarti merekapun akan menghadapi bahaya tidak
kecil.
Waktu ketiga orang ini tengah diliputi perasaan yang tidak
keruan, yaitu perasaan sedih, penasaran dan marah, karena
disebabkan Ciong Lam Cie maka mereka jadi terancam bahaya
yang tidak kecil ini, tiba2 sekali Kwee Siang mengeluarkan
suara seruan kaget.
Belum lagi lenyap suara seruannya itu. Phang Kui In juga
telah mengeluarkan suara seruan tertahan.
Yo Him jadi heran sekali, dia telah bertanya dengan penuh
kekuatiran :
“Ada apa Phang Susiok ?”.
„Ada user2 air…..!” menjelaskan Phang Kui In.
Yo Him jadi terkejut juga, karena user2 air adalah air laut
yang menerjang dengan bergulung!, sama sifatnya dengan
gulungan angin topan.

Belum lagi Kwee Siang bertiga mengetahui apa yang harus
mereka lakukan dalam keadaan terancam seperti ini, tampak
air laut telah bergolak. Waktu Phang Kui In ingin meneriaki
Kwee Siang agar menyelam dan berenang kearah yang
berlawanan dengan user2 air laut itu, justru disaat itulah telah
menerjang kearah mereka suatu kekuatan memutar dan
menghisap mereka masuk kedalam lautan !.
Phang Kui In tidak sempat mengeluarkan teriakan,
tubuhnya telah terhisap dan ber-putar2. Tetapi Phang Kui In
merangkul sepasang kaki Yo Him kuat2, dia telah berusaha
untuk mempertahankan agar anak itu tidak terlepas dari
gendongannya. Siapa tahu user2 air itu hanya sebentar saja,
dan nanti mereka bisa menyelamatkan diri ?
Kwee Siang juga telah berseru keras berusaha
mengerahkan lwekangnya melawan daya menghisap dari
user2 air laut itu, namun Kwee Siang mana sanggup
menghadapi daya menghisap yang begitu kuat dari user2 air
laut !
Kwee Siang mengeluh pendek, sedangkan tubuhnya telah
tenggelam kembali Kedalam lautan, dan ber-putar2
memusingkan kepalanya.
Dia juga sudah tidak bisa melihat sesuatu, dia tidak
mengetahui bagaimana nasib Phang Kui In dengan Yo Him.
Dalam keadaan seperti inilah, tampak tubuh Kwee Siang
telah lemas tidak bertenaga, kerena dia telah pingsan dan
tubuhnya seperti juga sehelai daun yang ringan, di-putar2
oleh user2 air laut.
Lama juga terjadinya gulungan user2 air laut, dan disaat itu
juga dia sudah tidak mengetahui dirinya berada dimana,
karena dalam keadaan pingsan seperti itu, tubuhnya terseret
terus oleh air laut yang ber gulung2 itu.
Phang Kui ln memang hendak mempertahankan diri agar
tidak pingsan, dengan terus memegangi sepasang kaki Yo

Him, supaya anak itu tidak terpisah dari dirinya, namun
walaupun dia berusaha bagaimana kuatnya, tetap saja dia
tidak sanggup bertahan terus, karena akhirnya dia jatuh
pingsan, dan tidak bisa me megangi terus lagi kedua kaki Yo
Him yang juga telah pingsan lebih dulu sejak tadi.
Dengan pandangan mata yang gelap dan kepala pening,
Phang Kui In telah jatuh pingsan, dan tubuh mereka bertiga
telah dipermainkan oleh gulungan air, yang memiliki semacam
tenaga menghisap yang sangat kuat sekali, sehingga mereka
tidak mengetahui lagi apa yang terjadi pada diri masing2,
karena mereka sudah tidak sadarkan diri……
SEKUJUR tubuh Phang Kui In terasa sakit2 dan tulang2
disekujur tubuhnya seperti juga bercopotan terlepas dari
tubuhnya, tubuhnya seperti telah terpukul sesuatu yang keras.
dada, perut, pundak, siku tangan, kepalanya, semuanya
dirasakan sakit bukan main. tenaganya, juga seperti telah
lenyap dari tubuhnya, dia sudah tidak memiliki kekuatan lagi.
Dengan mengeluarkan suara erangan perlahan karena
kesakitan, tampak Phang Kui ln telah membuka matanya.
Per-tama2 yang dilihatnya adalah sinar matahari yang
sangat terang menyilaukan pandangab matanya,
menyebabkan Phang Kui In jadi memejamkan sepasang
matanya pula.
„Apakah aku telah mati,..? Apakah aku kini berada dineraka
?” berpikir Phang Kui In.
„Dan bagaimana nasib Kwee Liehiap dengan Yo Him ?”
Karena berpikir begitu, Phang kui ln telah membuka lagi
pelupuk matanya perlahan2 Walaupun cahaya matahari masih
seperti tadi dan menyilaukan, tetapi kenyataannya tidak begitu
memedihkan mata Phang Kui In lagi. Dia menggerakkan
tubuhnya, perasaan sakit segera menyelinap kesekujur

tubuhnya, sehingga Phang Kui In tidak berani menggerakkan
badan nya lagi, dia hanya berdiam diri rebah diatas tumpukan
pasir yang lembut sekali.
Phang Kui In sekarang baru mengetahui bahwa dia berada
ditepi pantai. Pasir2 putih yang lembut itulah menunjukkan
kepadanya bahwa dia tengah rebah ditepi pantai, Mungkin
user2 air telah melempar tubuh Phang Kui In terdampar
dipantai yang tidak dikenalnya ini.
Mata Phang kui In ber-gerak2 perlahan kekiri dan kanan,
men-cari2 barangkali Yo Him dan Kwee Siang pun berada
ditempat yang sama dengannya, terdampar di tepi pantai ini.
Tetapi dia kecewa. Dipasir tepi pantai itu tidak terlihat
lainnya selain dari kulit kerang dan pasir yang putih halus
lembut itu. tidak dilihatnya Yo Him dan Kwee Siang. Dia telah
menghela napas panjang, dia mengeluh sendirinya dan
perasaan kecewa jadi meliputi dihatinya.
Untuk apa aku hidup jika mereka berdua terbinasa ? Apa
artinya ? Bukankah justru yang terpenting adalah Him-jie,
yang harus bertemu dengan ayahnya ?. Mengapa justru
aku yang tetap hidup seorang diri. Sambil menggumam
begitu, Phang Kui In menghela napas dalam2. Dia jadi kecewa
dan malu, karena tidak bisa melaksanakan tugasnya dengan
baik guna membawa Yo Him bertemu dengan ayah
kandungnya, yaitu Sin Tiauw Taihiap Yo Ko.
Phang Kui In telah menggeliat lagi perlahan dengan
menderita kesakitan tidak kepalang, dia merintih perlahan,
tetapi kemudian mengeraskan hati, dia telah bergerak terus
untuk duduk.
Akhirnya Phang Kui In berhasil duduk ditumpukan pasir
ditepi pantai itu, walaupun usahanya itu diliputi perasaan sakit
disekujur tubuhnya.
Dilihatnya sekelilingnya hanyalah pasir yang terbentang
luas dan juga hanya terlihat air laut yang sangat luas, dimana

gelombang air laut tengah menyambar2 dengan gelombang
kecil dan lembut. Suara air laut yang membentur batu2 karang
juga telah menyebabkan Phang Kui ln mengeluh, karena dia
segera memperoleh kenyataan bahwa hanya dia seorang diri
berada ditempat itu. tidak terlihat Yo Him maupun Kwee
Siang.
Setelah duduk diam beberapa saat sambil mengatur jalan
pernapasannya, Phang Kui In memandang kesekelilingnya, dia
telah mengawasi keadaan pulau dimana dia terdampar.
Pulau itu ternyata hanya sebuah pulau yang kecil tidak
terlalu besar, hanya ditumbuhi oleh pohon2 yang sedikit sekali
yang banyak hanya batu2 karang. Dan juga ketika Phang Kui
In menyusuri perlahan tepi pantai pulau itu dia melihat
keadaan disekitar tempat itu sunyi dan pulau ini tidak
berbukit.
Tetapi waktu Phang Kui In menghela napas dan ingin
memutar tubuhnya kembali ketempat tadi dimana dia
terdampar, tiba2 matanya melihat sesuatu diatas tumpukan
pasir ditepi pantai sebelah selatan. Dia melihat sesosok tubuh
yang rebah tidak sadarkan diri.
Untuk girangnya, Phang Kui ln segera mengenali sosok
tubuh yang tengah menggeletak diatas tumpukan pasir ditepi
pantai itu adalah Kwee Siang.
Dengan kegirangan yang me-luap2 dan tidak hentinya
mengucapkan syukur kepada Thian. Phang Kui In berlari
menghampiri tubuh Kwee Siang.
Tetapi baru saja dia berlari empat atau lima langkah,
tubuhnya telah terjungkel rubuh diatas tumpukan pasir, dia
juga mengeluarkan suara keluhan kesakitan dan meng-erang2
perlahan tanpa bisa segera bangkit berdiri lagi.
Rupanya dalam kegembiraan yang meluap seperti itu,
Phang Kui In lupa diri, dia lupa sama sekali, bahwa tubuhnya
sendiri masih lemah, disamping itu juga dia tengah menderita

sakit2 disekujur tubuhnya. Itulah sebabnya Phang Kui ln jadi
terguling rubuh diatas pasir.
Waktu itu, tampak Phang Kui In dengan mengerang
perlahan telah merangkak untuk bangun berdiri lagi. Kembali
dia gagal, dirasakan pinggangnya sakit bukan main, dia
merintih lagi dengan suara tidak jelas, untuk sejenak lamanya
Phang Kui In rebah diam tidak bergerak. Waktu dia merasakan
sakitnya mulai berkurang dan tenaganya telah pulih, Phang
Kui In bangun per-lahan2, dengan langkah satu2
menghampiri Kwee Siang, yang masih rebah disitu tanpa
bergerak.
Phang Kui In menghampiri Kwee Siang dan telah
memeriksanya dengan segera.
Dia jadi girang sekali waktu memperoleh kenyataan Kwee
Siang masih bernapas dan hanya pingsan saja. Segera
timbullah harapan di hati Phang Kui In bahwa Yo Him
tentunya terdampar di pulau ini juga.
Setelah melihat Kwee Siang tidak terluka dan jiwanya tidak
terancam bahaya apa2, sehingga dia bisa ditinggalkan
sementara waktu, untuk ia mencari Yo Him.
Dengan langkah yang tidak begitu cepat Phang Kui In
menyusuri tepi pantai itu.
Dia memandang sekeliling tempat yang dilaluinya, mencari2
dengan harapan Yo Him terdampar dipulau ini juga.
Tetapi setelah Phang Kui In mengelilingi pulau yang tidak
begitu besar, dia tidak berhasil menemui Yo Him.
„Ha”, menghela napas Phang Kui In dengan suara yang
sedih. „Rupanya kami berdua, aku dan Kwee Siang saja yang
selamat, sedangkan Yo Him…” dan Phang Kui In tidak
meneruskan perkataannya itu. dia menunduk sedih dan dari
ujung kedua sudut matanya telah menitik turun butir2 air

mata yang bening, karena dia merasa kecewa dan sedih tidak
berhasil menemui Yo Him.
Disaat Phang Kui In tengah diliputi perasaan sedih, tiba2
dia mendengar sesuatu, suara ber keresek yang perlahan
sekali.
Tetapi sebagai seorang jago silat yang memiliki kepandaian
cukup tinggi dan juga pendengaran yang sangat tajam, Phang
Kui ln segera dapat menduga ada seseorang yang tengah
mengintainya di-dekat2 tempat itu.
Phang Kui In menarik napas dalam2, dia menyalurkan
pernapasannya, untuk memulihkan tenaganya. Karena dia
kuatir kalau2 orang yang tengah mengintainya itu yang
menimbulkan suara keresekan patahnya ranting2 yang
terpijak itu, melancarkan serangan kepadanya.
Dalam keadaan seperti itu, Phang Kui In telah melirik dari
arah mana datangnya suara berkeresek tadi. Didalam hatinya
ada sedikit harapan dan berdoa agar orang yang menimbulkan
suara berkeresek itu adalah Yo Him.
“Him-jie, engkaukah itu …? “ Phang Kui In telah bertanya
ragu2.
Tidak terdengar jawaban. Phang Kui In jadi yakin bahwa
orang yang tengah bersembunyi itu tentunya bukan Yo Him.
Karena jika orang itu Yo Him, tentunya waktu ditegur begitu
olehnya. Yo Him akan keluar untuk memperlihatkan diri.
Tampak Phang Kui In telah mengayunkan langkahnya perlahan2
ingin meninggalkan tempat tersebut.
“ Krekk …! “ kembali Phang Kui In mendengar suara
patahnya ranting kering yang terpijak sesuatu dibelakangnya.
Phang Kui In mengerutkan alisnya, tiba2 sekali dia
memutar tubuhnya.

Dengan berbuat demikian, orang yang dibelakangnya tidak
mungkin dapat bersembunyi lagi, karena Phang Kui In telah
memutar tubuhnya dengan cepat sekali. Namun waktu Phang
Kui In memutar tubuhnya, tetap saja dia tidak melihat seorang
pun manusia ditempat itu, hanya dia seorang diri. Angin laut
telah berkesiuran dengan lembut dan juga, di saat itu air
laut yang menerjang pantai mempermainkan pasir2 dipantai
yang lembut itu.
Phang Kui In jadi habis kesabarannya, dia telah berkata
dengan suara yang nyaring sekali : ,,Siapakah yang tengah
bersembunyi ? Jika memang bukan seorang Bu Beng Siauwcut
(Maling kecil tidak bernama), keluarlah perlihatkan diri dengan
berterang dan gagah, jangan main sembunyi2an seperti itu”.
Suara Phang Kui In tidak memperoleh sahutan, hanya
suara itu saja yang menggema, di susul dengan suara
mendamparnya gelombang, laut yang menerjang batu2
karang ditepi pantai tersebut.
Phang Kui In jadi penasaran dan mendongkol, karena dia
merasa dirinya seperti dipermainkan oleh seseorang. Diulangi
kembali perkataannya tadi dengan seruan yang jauh lebih
keras dan kuat.
Tetapi Phang Kui In tetap tidak berhasil melihat seorang
lainnya pun, hanya suaranya itu yang kembali menggema.
Karena penasaran sekali, tampak Phang Kui In telah
melangkahkan kakinya menghampiri tepi hutan kecil yang ada
ditepi pantai itu untuk melikat apakah ditempat tersebut
bersembunyi orang yang telah mempermainkan dirinya,
Karena tadi telah mendengar suara berkeresek itu datangnya
dari hutan kecil itu.
Namun makin Phang Kui In telah sampai dihutan kecil itu,
dia tetap tidak melihat seorang manusiapun juga.
Hal ini membuat Phang Kui In jadi tambah binggung dan
heran sekali.

apakah aku telah bertemu dengan setan penunggu pulau
ini ?” katanya dengan suara perlahan, ditujukan untuk dirinya
sendiri.
,,Heran !” baru saja dia menyelesaikan kata2nya itu dia
telah mendengar suara mendehem mengejek dari arah
belakangnya.
Cepat dia memutar tubuhnya dengan gesit, dia telah
memandang sekelilingnya. Tetapi tidak dilihatnya seorang
manusiapun juga.
Keadaan disekitar tempat tersebut sunyi sekali tidak terlihat
ada seorang manusiapun. Hanya dikejauhan tampak tubuh
Kwee Siang yang masih menggeletak di pasir tepi pantai tanpa
bergerak, rupanya pendekar wanita itu dalam keadaan
pingsan.
„Benar2 aku bertemu dengan hantu !” berpikir Phang Kui In
didalam hatinya dengan perasaan takut mulai menyelinap
kedalam hatinya. ,,Jelas2 tadi aku mendengar suara orang
mendehem, yang datangnya dari belakangku, tetapi mengapa
sekarang tidak terlihat sesosok tubuhpun juga ? Sedangkan
keadaan ditepi pantai ini lapang dan luas, hanya terhampar
pasir belaka, tidak ada tempat yang bisa dipergunakan untuk
bersembunyi. Maka walaupun bagaimana sempurnanya
ginkang (ilmu meringankan tubuh) orang itu, tentu dia tidak
bisa ‘lenyap’ begitu saja dalam waktu yang sangat singkat.
Siapakah orang yang pandai itu ? Atau memang benar2 hari
ini aku tengah dipermainkan oleh hantu penunggu pulau ini
?!!”.
Setelah berpikir begitu, tampak Phang Kui In berjalan lagi
cepat2 menghampiri Kwee Siang.
Gadis itu masih menggeletak tidak sadarkan diri, dia masih
pingsan diam tidak bergerak. Maka Phang Kui In melupakan
larangan seorang pria menyentuh bagian tubuh wanita, dia

telah menotok beberapa kali jalan darah Kwee Siang untuk
menyadarkan gadis itu dari pingsannya.
Setelah dia menotok jalan darah Mie-lu hiat, Sie-tiang-hiat,
Tian-tan-hiat, dan Pai cing-hiat maka Kwee Siang merintih
perlahan dan membuka pelupuk matanya. Tetapi ketika dia
menggeliat menggerakkan tubuhnya, justru dia merasakan
kesakitan yang bukan main pada pinggang dan sekujur
tubuhnya, sehingga Kwee Siang mengeluarkan suara teriakan
kesakitan.
„Tenang liehiap !” kata Phang Kui In menghiburnya
“Perasaan sakit itu tidak lama lagi akan lenyap, karena kita
telah terbawa oleh user2 air laut yang kuat sekali, sehingga
menimbulkan sakit2 disekujur tubuh kita…!”.
Kwee Siang membuka matanya dan melihat Phang Kui In
tengah berjongkok di sampingnya dia telah berkata dengan
suara yang lemah : “Apakah kita masih hidup dan berada
didunia ?” tanyanya.
Phang Kui In mengangguk membenarkan.
„Ya, kita masih dilindungi Thian …!” katanya dengan suara
yang berduka, karena Phang Kui In teringat kepada Yo Him
yang belum diketahui jejaknya.
Waktu itu, tampak Kwee Siang per-lahan2 menggerakkan
tubuhnya berusaha untuk duduk.
Phang Kui In melihat gadis itu meringis seperti menahan
sakit, cepat2 Phang Kui In telah memegang lengan sigadis,
membantunya untuk duduk.
Setelah bersusah payah menahan perasaan sakit
ditubuhnya, Kwee Siang bisa juga duduk. Dia memandang
sekelilingnya, kemudian mengucapkan terima kasihnya. Saat
itu dia seperti teringat sesuatu : „Mana adik Him ?” tanyanya
lagi. Phang Kui In telah menggeleng perlahan.

,,Hanya kita berdua yang terdampar dipulau ini …!” dia
menjelaskannya.
„Aku tadi telah mengelilingi pulau ini, tetapi tidak berhasil
menemui Him-Jie !”.
Mendengar perkataan Phang Kui In sampai disitu, tiba2
Kwee Siang menangis dengan sedih.
„Adik Him ternyata harus menerima nasibnya yang buruk
itu…! Mengapa justru kita berdua yang selamat dan adik Him
tidak ?” dan kembali Kwee Siang telah menangis dengan suara
yang keras sekali.
Phang Kui In juga ikut bersedih, tetapi dia masih bisa
mengendalikan goncangan hati dan kesedihannya, dia
menghibur Kwee Siang agar menghentikan tangisnya.
,,Nanti kita mencarinya lagi, siapa tahu kita bisa menemui
Him-jie…tadi aku mengelilingi pulau ini hanya terbatas ditepi
pantainya saja, nanti kita memasuki hutan itu untuk mencari
kembali jejak Him-jie…!”.
Kwee Siang mengangguk dan dia telah mengiyakan sambil
menyusut air matanya.
Kemudian Phang Kui In telah berdiri, baru saja dia ingin
mengatakan sesuatu kepada Kwee Siang, telinganya yang
tajam, kembali telah mendengar suara patahnya ranting
kering dan langkah2 kaki yang perlahan.
Muka Phang Kui In jadi berobah, dia melirik kepada Kwee
Siang, dan dia meiihat wajah sigadis juga telah berobah,
ternyata Kwee Siang juga telah mendengar suara ranting
patah itu.
„Ada orang-..,!” kata Kwee Siang dengan suara yang
berbisik dan memandang kepada Phang Kui In.
„Ya .!” mengangguk Phang Kui In dengan suara yang
perlahan juga, membenarkan perkataan sigadis. „Aku telah

mendengarnya sejak tadi, tetapi aku tidak berhasil menemui
seorang manusiapun juga”.
„Siapakah orang itu ! Musuh atau kawan ?” menggumam
Kwee Siang.
„Entahlah kita lihat saja nanti, karena orang itu main
sembunyi2 tidak memperlihatkan diri”
Kwee Siang menghela napas. Dia menyadari, dengan
mendengar dari suara langkah kaki yang ringan dan dapat
lenyap dengan cepat, berarti orang itu telah memiliki ginkang
yang sangat tinggi sekali. Maka Kwee Siang telah mengawasi
lagi kesekelilingnya.
Waktu itu Phang Kui In telah mengeluarkan suara siulan
yang sangat nyaring.
„Wahai orang yang bersembunyi itu, keluarlah
memperlihatkan dirimu ! Bukan perbuatan seorang hohan
dengan main sembunyi seperti itu !“
Suara Phang Kui In telah menggema disekitar tempat itu.
mengema menggetarkan keadaan disekitar pantai tersebut.
Namun tetap saja orang yang tengah mempermainkan dirinya
itu tidak mau memperlihatkan dirinya.
Baru saja dia ingin berteriak pula, disaat itulah terdengar
suara “hmm!” dari arah belakangnya,
Phang Kui In jadi terkejut bukan main dia telah memutar
tubuhnya cepat2.
Tetapi tidak dilihatnya seorang manusia pun juga, dan dia
semakin bertambah penasaran Kwee Siang yang telah
menoleh juga, tidak melihat seorang manusiapun dipantai itu.
„Aneh sekali !” kata Kwee Siang seperti kepada dirinya
sendiri. „Tempat ini lapang dan luas, tidak ada tempat yang
bisa dipergunakan bersembunyi. Jelas2 tadi aku mendengar
suara tertawa mendehem itu dari arah sebelah kiri.

tetapi mengapa tidak terlihat orangnya ! Seharusnya,
walaupun tinggi sekali ginkang orang itu, dia tentunya tidak
bisa menyembunyikan diri dalam waktu yang demikian singkat
!”
Phang Kui In telah mengangguk. „Justru aku telah ketiga
kalinya dengan yang sekarang, ini dipermainkan orang ini.
Entah mengapa dia tidak mau memperlihatkan diri secara
berterang…!”.
Setelah berkata begitu Phang Kui In menghela napas.
Kwee Siang juga telah berdiam diri saja dia tidak mengerti
entah manusia macam apa yang tengah mempermainkan
mereka. Kwee Siang tidak percaya adanya hantu, maka dia
yakin yang tadi mendehem itu adalah seorang manusia biasa,
sama seperti mereka. Hanya yang membuat dia tidak habis
mengerti adalah kecepatan orang itu yang bisa bersembunyi,
padahal ditepi pantai yang berpasir lapang itu, tidak ada
tempat yang bisa dipergunakan untuk bersembunyi. Apakah
orang itu memiliki kepandaian untuk masuk keperut bumi ?.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s