Sin Tiauw Thian Lam (Jilid : 17-18)

JILID 17
YO HIM menggeleng perlahan katanya kemudian dengan
suara yang perlahan : ,,Tetapi hatiku mengatakan pasti akan
terjadi sesuatu yang hebat…!” dan setelah berkata begitu Yo
Him menoleh kepada Phang Kui In, tanyanya lagi “Paman
Phang, masih jauhkah tempat dimana kita bisa bertemu
dengan ayahku ?”

“Mungkin masih membutuhkan waktu perjalanan satu bulan
lagi….!”.
“Mari kita kembali saja keperahu..! kata Yo Him yang
mengajak agar Phang Kui In bersama dia kembali keperahu
mereka,
Tetapi Phang Km In menggaleng perlahan.
“Besok pagi saja…justru kini akupun merasakan ada
sesuatu yang agak aneh.. !” kata Phang Kui In.
Yo Him jadi memandang tegang kepada Phang Kui In,
kemudian dia telah berkata Lagi : “Baiklah, jika memang
paman belum bersedia kembali keperahu, akupun tidak bisa
memaksanya !…”.
Tetapi baru saja Yo Him berkata sampai disitu tiba2
terdengar suara siulan yang panjang.
Suara siulan itu disusul dengan suara siulan lainnya, yang
saling susul. Didengar dari suara siulan itu, mungkin orang
yang sedang mendatangi itu berjumlah belasan orang.
Phang Kui In berobah mukanya, dia telah menarik tangan
Yo Him untuk menyelinap kebalik gerombolan pohon untuk
bersembunyi disitu.
Tidak lama kemudian setelah Phang Kui In dan Yo Him
memasang mata mereka melihat beberapa sosok tubuh
berkelebat disekitar tempat tersebut.
“Siapakah mereka ?” tanya Yo Him dengan suara berbisik
dipinggir telinga Phang Kui In.
„Aku belum dapat mengenalinya, karena tidak seorangpun
yang kukenal.” menyahuti Phang Kui In dengan suara yang
berbisik juga
Saat itu rombongan orang yang saling mengeluarkan suara
siulan itu telah tiba didekat tempat dimana Yo Him dan Phang
Kui in menyembunyikan diri.

Mereka terdiri dari berbagai orang persilatan, karena
pakaian mereka juga bercampur ragam, ada yang berpakaian
sebagai Hweeshio, ada yang berpakaian sebagai Tojin, ada
pula yang berpakaian sebagai busu dan ada juga yang
berpakaian sebagai siucai. Tetapi yang mengherankan justru
mereka bergerak dengan lincah dan gesit sekali, membuktikan
bahwa kepandaian mereka sangat tinggi sekali.
Disaat itu. tampak Phang Kui In telah memperhatikan baik2
orang yang datang dalam bentuk rombongan, walaupun
mereka datang dari berbagai jurusan tetapi akhirnya telah
berkumpul ditempat tersebut dalam rombongan berjumlah
belasan orang.
Tiba2 salah seorang diantara mereka, seorang hweeshio
yang kepalanya gundul lanang mengkilap, telah berkata
,Apakah semua-nya telah datang ?”.
„Belum ! Masih ada yang belum hadir!’ menyahuti beberapa
orang.
,,Satu, dua, tiga…!” hweshio itu telah menghitung
orang yang hadir ditempat tersebut, dia menghitung sampai
jumlah ketujuh belas.
Jadi jumlah yang berkumpul ditempat itu semuanya
berjumlah tujuh belas orang.
„Masih kurang tiga orang siapakah mereka itu?” dan si
Hweshio telah memperhatikannya semua orang2 itu. sampai
akhirnya, dia berseru : “Akhh, kiranya Sam Hengte (tiga
bersaudara) dari keluarga Ang !”,
„Benar !” menyahuti salah seorang diantara mereka.
„Memang Ang Sam Hengte itu merupakan manusia2
pemalas dan tidak bisa menepati janji ! Bukankah sebelumnya
telah ditegaskan bahwa pertemuan yang akan diadakan kali ini
sangat penting sekali, tidak boleh gagal, tetapi mereka selalu

meremehkan urusan dan tidak mau datang lebih dulu dari
kita…!
Benar kepandaian mereka sangat tinggi ilmu pedang
mereka merupakan ilmu pedang yang mengagumkan, tetapi
sehurusnya mereka tidak boleh berbuat sekehendak hati
seperti itu” sambil mengoceh begitu, sihweshio yang
tampaknya jengkel sekali atas keterlambatan ketiga orang
yang disebutnya tiga bersaudara Ang itu, dia telah
membanting2 kakinya beberapa kali.
Dari rombongan orang itupun terdengar beberapa orang
diantara mereka yang telah menggumam menggerutu tidak
senang.
Tetapi disaat itu terdengar suara siulan yang panjang
sekali, yang saling sahut dari tiga jurusan.
„Itu mereka datang !” beberapa orang telah berseru
perlahan.
,,Ya, itu Sam Hengte she Ang yang telah datang !”
membenarkan sihweshio.
Baru perkataannya sampai disitu ditempat tersebut telah
bertambah tiga orang lainnya yang semuanya bertubuh kurus
jangkung dan mukanya mirip satu dengan yang lainnya seperti
kembar tiga, baik cara berpakaiannya maupun cara berjalan
mereka, sikapnya semua sama.
Phang Kui In yang melihat kedatangan ketiga orang itu
yang diduganya adalah Ang sam hengte, jadi terkejut sekali
disebabkan dengan melihat cara tibanya ketiga orang itu
membuktikan bahwa ilmu meringankan tubuh ketiga orang itu
sangat hebat sekali. Tadi mereka bersiul dalam jarak yang
cukup jauh tetapi dalam waktu yang demikian singkat ternyata
mereka telah bisa tiba ditempat itu.
Ditangan salah seorang dari ketiga orang itu membawa
sesosok tubuh lainnya. Dan dengan kasar sosok tubuh itu

telah dilemparkan diatas tanah. Sehingga tubuh itu terbanting.
Namun sosok tubuh yang dilempar itu tidak bergerak dan
nampaknya dia tengah dalam keadaan tertotok.
Phang Kui In memperhatikan sosok tubuh itu, ternyata
seorang gadis berusia diantara belasan tahun.
Yo Him juga telah melihat gadis kecil itu hampir saja dia
mengeluarkan suara teriakan tertahan karena kaget bukan
main.
Dia mengenalnya gadis kecil yang menjadi tawanan Ang
Sam-hengte, itulah Siangkoan Peng, puterinya Siangkoan Lin
Lie. Untung saja Phang Kui In yang melihat sikap Yo Him telah
sempat mengulurkan tangannya membekap mulut Yo Him.
„Jangan bersuara…” berbisik Phang Kui In dengan suara
yang perlahan sekali. „Mereka orang2 berkepandaian tinggi
dan tentunya memiliki pendengaran yang sangat tajam sekali.
Sedikit saja kita bersuara, tentu mereka akan mengetahui
kehadiran kita ini…!”.
Yo Him mengangguk, dan Phang Kui In telah melepaskan
bekapan tangannya dimulut Yo Him.
„Aku kenal gadis yang ditawan mereka…!” bisik Yo Him
perlahan juga. „Dialah Siangkoan Peng, puteri Siangkoan Lin
Lie Lopehpeh…!”
Phang Kui In juga mengangguk.
„Ya, sejak tadi aku sedang memperhatikan dan merasa
pernah melihatnya. Sekarang aku ingat pernah bertemu
dengannya dipulau Ang Hwa To, bukan ? Dimarkasnya Pek
Liong Kauw ?”.
Yo Him mengangguk.

“Kita harus menolongnya kata Yo Him dengan gusar,
karena walaupun bagaimana dia mendongkol sekali melihat
Siangkoan leng diperlakukan begitu kasar.
,,Ya. ya, kita akan menolonginya, tetapi kita harus
menantikan dulu waktunya yang tepat…mereka berjumlah
banyak jika kita bertindak ceroboh tentu membahayakan kita
sendiri.
Yo Him bisa diberi pengertian dan dia mengangguk saja.
Maka merekapun telah memperhatikan apa yang akan
dilakukan oleh rombongan orang itu.
Saat itu sihweshio yang tampaknya menjadi pemimpin
rombongan tersebut, telah berkata “Bagus, ! Akhirnya kalian
telah datang juga Ang Sam hengte. Tetapi siapakah gadis kecil
yang kalian bawa2 ini ?”
Salah seorang dari Ang Sam-hengte telah berkata perlahan
„Dia kami tawan karena mengikuti kami terus menerus…!” dan
menoleh memandang kearah Siangkoan Peng, sambil katanya
suaranya dingin : “Dia juga menyebut2 perihal Sin Tiauw
Taihiap Yo Ko. Tetapi setelah kami tawan, dia tidak mau
membuka mulut untuk bicara, walaupun kami telah
memaksanya…….!”
,,Hemmm, apakah gadis kecil ini mengetahui Perihalnya Sin
Tiauw Taihiap Yo Ko ? Aneh sekali ! Hampir tidak masuk
dalam akal……!” menggumam si hweeshio.
Begitu juga beberapa orang dalam rombongan itu telah
terdengar berbisik2, banyak dugaan yang telah mereka
kemukakan.
„Memang kamipun heran, tetapi justru kami mendengarnya
sendiri, dia telah bertanya kepada pelayan rumah makan
dimana kebetulan kami berada ditempat itu juga. Apakah
pelayan itu pernah melihat Sin Tiauw Taihiap Yo Ko ? Diapun
menanyakan, apakah Sin Tiauw Taihiap pernah lewat ditempat
tersebut…… ! Maka kami telah menangkapnya untuk

mengorek keterangan dari mulutnya, namun gadis cilik yang
merupakan setan kecil ini tidak mau bicara lagi, dia keras
kepala, walau Pun kami telah menyiksanya, dia tetap tidak
mau bicara. Maka Mie An Siansu, aku membawanya
kepadamu agar kau dan kawan2 lainnya memikirkan cara
yang baik untuk mengorek keterangan dari mulut setan kecil
ini !”.
,,Bagus ! Bagus !” berseru si Hweshio Mie An Siansu.
„Inilah namanya rejeki. Kita memang tengah mencari jejaknya
sitangan buntung keparat itu, dan dari mulut sisetan kecil ini
mungkin kita bisa mengorek keterangan yang kita
butuhkan…!”.
Dan setelah berkata begitu cepat Mie An Siansu
menghampiri sigadis yang menggeletak ditanah.
Gadis kecil itu memang Siangkoan Peng dia berani sekali,
waktu melihat sihweshio mendatangi, walaupun tubuhnya
tidak bisa bergerak namun dia telah mendelikkan matanya.
Si Hweshio menatap bengis.
„Setan kecil, lebih baik kau bicara secara baik2, sehingga
kami tidak perlu bersusah payah menyiksamu ! Jika engkau
berkepala batu tentu yang rugi dan menderita adalah dirimu
sendiri…!”.
Tetapi Siangkoan Peng tetap menutup mulut. dia tidak
menyahuti pertanyaan sihweshio.
hanya matanya tetap menatap berani kepada Mie An
Siansu,
„Baiklah !” kata Mie An Siansu dengan suara yang dingin,
menyeramkan sekali. „Tampaknya engkau memang harus
memperoleh perlakuan yang kasar, !”.
Dan selesai dengan perkataannya itu, tampak Mie An
Siansu berjongkok disamping sigadis kecil, kemudian

mengulurkan tangannya menjambak rambut Siangkoan Peng,
yang digentaknya dengan keras sekali.
Yo Him yang menyaksikan sikap dan perlakuan Mie An
Siansu terhadap Siangkoan Peng, hampir saja tidak bisa
mempertahankan diri, untuk melompat keluar menerjang ke
arah hweshio tersebut.
Untung saja Phang Kui In yang selalu berlaku cermat telah
melihat gerakan Yo Him, dan mencekal keras sekali tangan Yo
Him.
„Sabar…!” Bisiknya. „Kita tidak boleh bertindak ceroboh,
karena bukan saja kita akan gagal menolongi gadis kecil itu,
kitapun akan membahayakan Siangkoan Peng kalau kehadiran
kita ini diketahui mereka…!”.
Yo Him mengangguk berdiam diri saja hanya matanya terus
mengawasi kearah Mie An Siansu dengan sorot mata yang
mengandung kemarahan yang hebat. Dia tidak menyangka
bahwa seorang pendeta yang seharusnya memiliki sifat2 welas
asih dan penyayang, ternyata merupakan manusia yang kejam
dan jahat.
Saat itu Siangkoan Peng sangat kesakitan dan kepalanya
pusing sekali, karena kepalanya telah di-gentak2 keras sekali,
jambakan tangan Mie An Siansu dirambutnya juga sangat kuat
sekali.
„Cepat bicara, engkau ada hubungan apa dengan Sin Tiauw
Taihiap Yo Ko, si buntung jelek itu ?! Dan dimana sekarang
tempat tinggalnya dari sitangan buntung itu ?”
Tetapi Siangkoan Peng tetap tidak mau membuka mulut,
malah tahu2 dia telah meludahi muka Mie An Siansu.
Si Hweeshio terkejut sekali, dia mengelakkanludah sigadis
kecil dengan memiringkan kepalanya, namun percikan air
ludah toh masih mengenai mukanya.

Bagaikan kalap, Mie An Siansu telah memperkeras
jambakan dirambut gadis kecil itu.
„Binatang kurang ajar yang mencari mampus !” bentaknya
dengan bengis. „Rupanya engkau benar2 mencari mati !” dan
dia telah mengayunkan tangan kanannya, terdengar suara
‘plakk, piokk !’ berulang kali.
Tetapi Siangkoan Peng sama sekali tidak mengeluarkan
suara jeritan atau mengeluh. Tabah sekali gadis kecil itu.
Justru Yo Him yang melihat perlakuan yang diberikan oleh
Mie An Siansu, merupakan perlakuan yang melukai hatinya.
Kalau lengannya tidak dipegang keras oleh Phang Kui In tentu
Yo Him akan menerjang keluar
Disaat itu. Mie An Siansu teiah berkata lagi : „Jika engkau
tidak mau bicara baik2 biarlah aku akan menyiksamu dengan
cara yang baik sekali…!” dan setelah berkata begitu, dengan
cepat sekali si hweshio menggerakkan tangannya, dia telah
menotok jalan darah Uh-thian-hiat didekat bahu sigadis kecil
itu.
Seketika Siangkoan Peng merasakan pundaknya lemas dan
sekujur tubuhnya seperti digigit ribuan semut.
Tanpa bisa ditahannya lagi, dia jadi merintih.
“Engkau mau bicara atau tidak ?” bentak Mie An Siansu
dengan suara yang bengis.
Tetapi Siangkoan Peng hanya merintih tanpa membuka
mulut sepatah katapun juga:
Tentu saja hal ini telah membuat Mie An siansu tambah
mendongkol dan penasaran. Namun baru saja dia ingin
menyiksa lebih lanjut, disaat itulah telah maju salah seorang
dari Ang Sam-hengte.
„Sudah, kita jangan layani dia dulu, biarkan dia dalam
keadaan tertotok. Nanti jika urusan yang akan kita bicarakan

telah rampung, baru kita menyiksanya lagi untuk mengorek
keterangan dari mulutnya ! Jika memang dia tidak mau bicara
juga nanti, mudah saja, -sreett,- lehernya kita potong…!”.
Mie An Siansu tampaknya mau mengerti, dia telah
mengangguk, dan membebaskan totokannya. Tetapi totokan
dari Ang Sam-heng te masih tetap belum terbuka, walaupun
sudah tidak menderita kesakitan lagi tetapi Siangkoan Peng
belum bisa menggerakkan tubuhnya.
Saat itu romhongan orang tersebut yang kini telah genap
berjumlah dua puluh orang, telah berkumpul dalam bentuk
lingkaran, semuanya duduk bersemadhi. Sedangkan Mie An
Siansu telah duduk di-tengah2 lingkaran itu menghadapi
semua orang.
„Nah, kini kita telah berkumpul!” kata Mie An Siansu
membuka pertemuan itu. „Dan aku telah datang tepat pada
waktunya, dimana sahabat2 juga rupanya memang bersungguh2
dalam persoalan ini ! Sejak dua belas tahun yang
lalu aku telah dikeluarkan dari Siauw Lim Sie, maka sejak saat
itu aku telah bersumpah bahwa selama aku masih memiliki
kesanggupan dan kepandaian, aku akan menganggap seluruh
murid2 Siauw Lim Sie dari berbagai tingkatan sebagai musuh
besarku…!”
Mendengar perkataan Mie An Siansu, rombongan orang itu
berdiam diri saja, sunyi sekali keadaan disekitar tempat itu.
Sedangkan Phang Kui In jadi terkejut sekali. Yo Him tidak
mengetahui apa itu yang disebut Siauw Lim Sie, tetapi Phang
Kui In mengetahui jelas, karena Siauw Lim Sie merupakan
pintu perguruan silat yang tertua didaratan Tionggoan.
Sejak datangnya Tat-mo Cauwsu, pendiri kuil Siauw Lim Sie
itu, maka aliran silat siauw Lim Sie telah tersebar luas dan
boleh dianggap dalam persilatan didaratan Tionggoan Siauw
Lim Sie merupakan pintu perguruan nomur satu.

Murid2 Siauw Lim Sie dari berbagai kalangan juga dalam
jumlah yang luar biasa banyaknya, tersebar luas diseluruh
daratan Tionggoan.
Phang Kui In jadi memperhatikan terus perkataan Mie An
Siansu.
„Dan kini, setelah selama dua belas tahun aku melatih diri,
aku telah berhasil menciptakan semacam ilmu yang akan
kupergunakan untuk membinasakan setiap murid Siauw Lim
Sie ! Tetapi disamping itu, pangkal persoalan dikeluarkannya
aku dari pintu perguruan Siauw Lim Sie juga semuanya
berpangkal dari pengaduan yang diberikan oleh Yo Ko,
sibuntung celaka itu …….. !”
Kembali Phang Kui In jadi heran dan tertarik untuk
mengetahui terus persoalan tersebut, dia memperhatikan
baik2. Sedangkan hati Yo Him jadi tergoncang sebab
mendengar beberapa kali nama ayahnya disebut2.
„Waktu itu, meiang kuakui telah melakukan suatu
kesalahan, kesalahan yang seharusnya tidak begitu besar,
yaitu aku telah memperkosa seorang gadis kecil dikampung
yang terpisah seribu lie dari kuil Siauw Lim Sie …. …. dan
peristiwa itu diketahui oleh Yo Ko celaka itu, dia telah
menghajar aku habis2an, bahkan ingin membuat aku
bercacad. Tetapi akhirnya dia telah merobah jalan pikirannya
dan membawa aku menemui Ciangbunjin Siauw Lim Sie dan
Hongthio menjatuhkan hukuman kepadaku dibuang dari kaum
Siauw Lim Sie, Mengingat selama berada didalam Siauw Lim
Sie aku bekerja baik, belajar dengan tekun dan baik serta
cerdas, maka Hong thio merasa sayang jika harus
membinasakan atau meubuat aku bercacat ……! Tetapi hatiku
sakit sekali ! Walaupun bagaimana sakit
hati ini harus dibalas ! Dan kini sahabat2 telah memenuhi
undanganku untuk menghadapi Siauw Lim Sie, maka dengan

ini aku mengucapkan terima kasih se-besar2nya, dengan
bantuan saudara2 semua, tentu urusan ini akan dapat
diselesaikan…!”:
„Jangan kuatir Taisu, aku Ban Siong Long akan membantu
sekuat tenagaku…!” teriak seseorang dari rombongan itu.
„Ya, akupun akan berdiri dipihak Taisu !” teriak yang
lainnya.
„Kita binasakan setiap murid Siauw Lim Sie !”.
„Ya, kita mampusi mereka semua “.
„Dengan kerja sama seperti ini, tentu dunia persilatan akan
gempar, karena murid2 siauw Lim Sie akan bergelimpangan
mampus ditangan kita…Hahahaha !” teriak yang lainnya lagi.
„Kami Ang Sam-hengte bersedia membantu Taisu, asalkan
Taisu juga bersedia untuk membantu kami membekuk
sibuntung celaka Yo Ko !” kata Ang Sam-hengte hampir
berbareng.
Mereka memang merupakan anak kembar tiga. Mereka
memiliki wajah yang mirip satu dengan yang lainnya dan juga
memiliki kepandaian yang sangat tinggi. Yang tertua, ber
nama Ang Cie Sian, sedangkan yang kedua Ang Cie Bun, dan
yang terkecil bernama Ang Cie Liong; Mereka sulit sekali
dibedakan satu dengan yang lainnya, sebab baik pakaiannya
maupun wajah mereka mirip satu dengan yang lainnya. Tentu
saja sulit bagi orang yang belum mengenal benar akan diri
mereka, untuk membedakan yang mana Cie Sian, mana Cie
Bun dan mana Cie Liong…! Tetapi sesungguh nya ketiga jago
kembar itu memiliki ciri2 yang bisa memperkenalkan diri
mereka. Jika Cie Sian memiliki tahi lalat yang sangat besar di
telapak tangan kanannya, Cie Bun memiliki mata yang tidak
sempurna, yaitu juling, sedang kan Cie Liong memiliki kaki
yang jauh lebih pendek dari kedua saudaranya, bahkan jalan
nya juga agak pincang, karena kaki kirinya lebih panjang dari
kaki kanannya.

Jika ciri2 ketiga orang itu diperhatikan, maka dengan
mudah orang dapat membedakan mereka bertiga.
Disaat itu Ang Cie Sian telah berkata lagi : ,,Kami memiliki
dendam sedalam lautan dengan Yo Ko keparat itu…! Jika
memang Taisu bisa membantu kami menangkap dan
membinasakannya, maka budi itu tidak bisa kami lupakan dan
jika kelak kami diminta untuk terjun dalam minyak panas atau
api berkobar, semua itu tidak akan kami tolak…!”.
„Benar !” kata Cie Bun dengan matanya yang ber-gerak2
juling. „Kami tentu akan ber terima kasih dan bersyukur jika
telah berhasil membalas dendam kami itu…!”.
„Yo Ko keparat itu memang keterlaluan, sepuluh tahun
yang lalu kami telah dihinanya, kami bertiga telah dihajarnya
habis2an, walaupun kami tidak bersalah, hanya karena
mengambil sedikit uang milik seorang penduduk dikampung
Bian-bo-cung. Tetapi Yo Ko keparat yang sok pahlawan itu,
telah menghajat kami. Waktu itu kepandaian kami belum lagi
setinggi sekarang. Coba kalau sekarang, hemmm. hemmm,
kami tentu akan mematahkan batang lehernya…!”.
Mendengar perkataan Ang Cie Liong yang terakhir itu,
hampir saja Phang Kui In tidak bisa menahan tertawanya.
Karena perkataan yang terkebur itu benar2 terlalu sombong.
Sin Tiauw Taihiap Yo Ko merupakan seorang pendekar sakti
nomor wahid dalam persulatan didaratan Tionggoan, mana
bisa ditandingkan dengan mereka ?
Mie An Siansu telah tersenyum, dia telah berkata perlahan:
„Baik! Baik! Tentu kami juga akan menbantu kalian
menghadapi Yo Ko keparat itu ! Dengan menyerang dia secara
mengeroyok dan mempergunakan tipu muslihat yang rapi,
walaupun Yo Ko sibuntung keparat itu memilili sayap, jangan
harap dia bisa meloloskan diri dari kematian ditangan kita…….
!”

Segera terdengar suara tepuk tangan dari rombongan
orang2 itu, tampaknya mereka tengah dilambungi khayalan
yang tidak2 dan terlalu muluk2.
Tetapi waktu Mie An Siansu ingin berkata lagi, disaat itu
mereka telah mendengar suara tiupan seruling, yang
mengalun lembut dari arah kejauhan Kemudian suara seruling
itu lenyap.
Mie An Siansu dan yang lainnya jadi saling pandang mereka
men duga2 entah siapa peniup seruling itu.
Tetapi tidak lama kemudian mereka juga telah mendengar
suara seorang wanita yang bersenandung dengan suara yang
mengandung kecintaan yang sangat dalam :
Cinta abadi itu
Adakah dalam dunia ?
Perasaan dan hati
Itukah cinta ?
Dia pergi untuk lenyap tidak kembali,
Pertemuan manis telah berakhir,
Kemana harus mencari mereka ?
Kemana harus berjumpa dengannya lagi ?
Bagai burung terbang kian kemari,
Tetapi hanya seorang diri.
Karena dia telah pergi …..
Wahai engko, wahai engko,
Dengarkah engkau akan suaraku ini ?
Angin coba membawa suaraku,

Teapi sang anginpun takut bermu denganmu.
Awan berkata,
Ingin membawa aku bertemu denganmu.
Tetapi sang awan kuatir untuk bertemu denganmu juga.
Bagaimana aku harus mencarimu ?
Burung yang berkicau.
Selalu menghiburku : „Jangan bimbang,
jangan menangis,
Engko akan juga datang….
Tetapi bila ?
Tetapi kapan ?
Sekarang, nanti ?
Juga tidak bertemu lagi…..
Suara senandung itu demikian menyedihkan, tampaknya
wanita yang membawakan lagunya itu seperti tengah
mengalami patah hati. Dan suara senandung itu semakin lama
semakin terdengar jelas dan dekat.
Tidak lama kemudian, dari balik sebatang pohon telah
muncul seorang gadis yang berusia diantara dua puluh empat
tahun, wajahnya manis, rambutnya dikuncir dua, dan ditangan
kanannya membawa sebatang seruling, sedang pinggangnya
tergantung sebatang pedang.
Mukanya yang cantik manis mungil itu memancarkan
kesedihan yang sangat.
Phang Kui In mengerutkan alisnya, dia men duga2 entah
siapa gadis yang tengah merana itu. Yo Him juga merasa iba
terhadap gadis itu. Karena dia mengerti bahwa si encie itu
sedang bersusah hati.

Siapa dia, paman Phang ?” tanya Yo Him dengan suara
berbisik.
aku sendiri tidak mengenalnya …. tetapi tampaknya dia
seorang pendekar wanita yang berkepandaian tinggi dari
golongar pulih…!”
Saat itu. sigadis telah melihat rombongan orang yang
tengah berkumpul bermusyawarah.
Mie An Siansu waktu melihat gadis itu, mukanya jadi
berobah seketika itu juga, dan dia mengeluarkan suara seruan
tertahan.
Gadis itu juga mengerutkan sepasang alis nya, tampaknya
dia kenal dengan Mie An Siansu.
„Mie An Taisu !” katanya dengan suara yang dingin „Apa
yang tengah engkau lakukan bersama orang2 ini ? Apakah
kalian sedang merencanakan suatu perbuatan jahat lagi ?”.
Mie An Siansu tampaknya telah berhasil menguasai
goncangan hatinya. Dengan gesit dia telah melompat berdiri,
kemudian terdengar suara tertawanya yang ber-gelak2.
Orang2 yang lainnya, termasuk Ang Sam hengte telah
melompat berdiri juga, semua nya mengawasi gadis itu
dengan sorot mata yang tajam dan kurang ajar sekali.
,,Kwee Liehiap…engkau ada disini !” tanya Mie An Siansu
dengan sikap yang tengik sekali. „Kebetulan sekali !
Bagaimana keadaan Thio Kun Po, yang waktu itu melarikan
diri bersama engkau dan Kak-wan Siansu ?”.
Muka sigadis itu tetap dingin, dia telah memandang tajam
kepada sipendeta.
„Mie An Siansu, aku tidak bicara main2. Apa yang sedang
kau lakukan ! Beberapa saat yang lalu, engkau telah dihukum
oleh Hong thio Siauw Lim Sie, dan disaat itu seharusnya
engkau menyadari kesalahanmu untuk tidak melakukan

kejahatan lagi, tetapi akhir2 ini justru seringkali kudengar
bahwa engkau mulai mengumbar lagi sifat2 burukmu,
menggangu anak isteri orang…… ! Dan …… !” berkata sampai
disitu, tampak sigadis telah menatap kepada Siangkoan Peng.
„Gadis itu juga engkau tawan …..! Sungguh pendeta
celaka…… !” walaupun memaki begitu, suara sigadis
terdengar halus sekali.. ..
“Gadis yang belum lagi berusia lebih dari tiga belas tahun,
telah engkau ganggu …. !”
„Ohhh, Kwee Liehiap salah paham ! Itu bukan perbuatanku
! Justru gadis kecil itu mengikuti Ang Sam hengte, ketiga
sahabatku itu. karena jengkel dan sigadis itu juga diusir tidak
mau pergi, maka akhirnya ketiga sahabatku itu terpaksa
menotoknya agar gadis itu tidak mengganggu lebih jauh
lagi…… !”
Sigadis mengerutkan alisnya, tampaknya dia tidak
mempercayai keterangan si hweeshio..
„Dan kini apa yang sedang kalian rundingkan ? tanya
sigadis.
Mie An Siansu telah tetapkan hatinya yang tadi tergoncang,
dia telah berpikir, walaupun, bagaimana tingginya kepandaian
gadis itu, tetapi dia berada ber-sama2 dengan, kawan2nya
dalam jumlah yang banyak. Maka dia merasa tidak perlu takut,
dia. telah tertawa ber-gelak2 dengan suara yang sangat
nyaring dan bengis sekali.
„Kwee Siang !” katanya kemudian setelah puas tertawa.
,,Engkau jangan terlalu ber tingkah dan membawa sikap
sebagai seorang Locianpwe menegur kaum Boanpwe ! Apa
kedudukanmu ? Apa kepandaianmu ? Hemmnn mungkin jika
Hongthio Siiuw Lim Sie bertemu denganku, dia tidak akan
memperlihatkan sikap seperti itu ! Jika engkau masih tidak
mau cepat2 berlalu dan masih banyak cerewet biarlah

engkaupun akan kami tangkap dan tawan, karena memang
kamipun menghendaki suatu keterangan dari mu !”.
Gadis itu, yang tidak lain dari Kwee Siang, puteri bungsu
dari Kwee Ceng dan Oey Yong, telah tertawa tawar, sikapnya
tenang sekali.
„Enak saja engkau bicara, waktu dulu engkau tidak
dibinasakan oleh engko Yo, itupun karena engko Yo merasa
kasihan dan mau mengampuni jiwa bangsatmu, tetapi
ternyata bangsat tetap saja bangsat…! Baiklah ! Apa yang
hendak kau tanyakan kepadaku ?”.
“Justru kami ingin mengetahui tempat persembunyiannya
Yo Ko, sibuntung celaka itu !” kata Mie An Siansu dengan
suara yang bengis.
Muka Kwee Siang jadi berobah.
Harus diketahui, dia sangat menghargai dan menghormati
sekali Sin Tiauw Taihiap Yo Ko (baca : Sin Tiauw Hiap Lu),
maka kini dia mendengar Mie An Siansu menyebut Yo ko
dengan perkataan Yo Ko sibuntung celaka tentu saja Kwee
Siang jadi gusar sekali.
„Srengg…!” tahu2 Kwee Siang telah mencabut pedangnya.
“Lidahmu yang kurang ajar itu tampaknya memang harus
dipotong !” kata Kwee Siang dengan suara mengandung
kemarahan, Mukanya yang montok berobah merah, sedang
tangannya telah bergerak, pedangnya itu telah menyambar
kearah Mie An Siansu, dan “serrrr !”, mata pedang itu telah
menyambar kearah dada sihweshio.
„Siuttt…!” mata pedang mengenai sasaran yang salah,
karena Mie An Siansu cepat mengelak kesamping.
Disaat itu Kwee Siang yang tengah mendongkol mendengar
Yo Ko disebut sebagai ‘sibuntung celaka’, telah menyerang lagi
dengan gerakan yang cepat sekali, pedangnya telah

berkelebat menyambar dengan mengeluarkan suara
mengaung.
,,Sirrrrgg ! “ pedang itu menyambar sulit dilihat oleh mata
orang biasa, disusul dengan suara ‘breett !’ ujung lengan
jubah pendeta itu telah kena dilubangi oleh mata pedang
sigadis she Kwee.
Mie An Siansu ter-huyung2 mundur dengan tubuh yang
agak bergetar dia mukanya pucat, karena dia kaget bukan
main telah diserang seperti itu, untung saja dia masih sempat
untuk berkelit sehingga hanya lengan jubahnya saja yang
berlobang. Coba jika dia terlambat berkelit, niscaya dadanya
yang akan berlobang.
Ang Samhengte dan jago2 lainnya yang melihat itu jadi
terkejut bercampur marah. Dengan cepat mereka telah
berpencar dan mengurung sigadis. Tetapi Kwee Siang tidak
takut sedikilpun, dia berdiri tegak dengan tenang sambil
mencekal pedangnya. Walaupun saat itu dia telah terkurung
oleh kedua puluh orang tersebut.
“Kalian majulah semua !, rupanya kalian memang bukan
manusia baik2” tantang Kwee siang dengan suara nyaring.
Mie an siansu yang lengan jubahnya telah berlobang oleh
mata pedang Kwee siang itu mendongkol bukan main, dia
telah mengeluarkan suara bentakan yang sangat keras sekali,
lalu telah melancarkan serangan2 dengan cepat dan dahsyat.
Tetapi Kwee siang mana memandang sebelah mata
serangan itu, dia berkelit dengan indah mempergunakan jurus
Bidadari Menari dimana tubuhnya bergerak lemas gemulai
kekiri dan kekanan, maka lawannya tidak berhasil
melancarkan serangan kepadanya.
Waktu Kwee Siang ingin menggerakkan pedangnya untuk
melancarkan serangan, justru disaat itulah tampak pedang
salah seorang pengepungnja yang berpakaian sebagai

seorang tojin (pendeta agama To) telah meluncur dengan
cepat kearah punggungnya.
Kwee Siang jadi batal untuk melancarkan serangan kepada
Mie An Siansu, dia bergerak dengan jurus “Naga Perkasa
Muncul Dari Lautan”, pedang Kwee Siang ber-gerak2
berbentuk setengah lingkaran kearah belakangnya bagaikan
seekor naga yang tengah menggeliat, menyambar kearah si
Tojin.
,,Trangg !” kedua pedang itu saling bentur dengan keras
dan kuat, disaat itulah dengan cepat sekali Kwee Siang telah
menurunkan pedangnya, melepaskan kaitan dari pedang
lawannya dengan gerakan yang sangat manis dan indah
dipandang, kemudian dia telah melancarkan tikaman susulan
kearah paha si Tojin dengan jurus “Hujan Bunga Dimusim
rontok”, dan pedangnya ber-kelebat2 membingungkan lawan.
Tetapi Tojin itu rupanya seorang akhli kiam-khek, akhli
pedang ternama, dari itu dalam keadaan demikian dia berhasil
mengelakkan serangan Kwee Siang.
Gerakan yang dilakukan oleh Tojin itu sangat lincah sekali,
disusul juga dengan pedangnya yang menyambar kearah mata
Kwee Siang. Jika Kwee Siang meneruskan serangannya berarti
matanya juga akan menjadi korban serangan pedang si Tojin,
berarti juga akan menjad buta.
Terpaksa Kwee Siang menarik pulang pedangnya dan
dalam keadaan demikian Ang Cie Bun telah melancarkan
serangan kepada Kwee Siang dengan mempergunakan Poan
Koan Pitnya.
Ang Sam Hengte merupakan tiga orang bersaudara kembar
yang mempergunakan poan koan pit sebagai senjata andalan
mereka. Dan poan koan pit memang merupakan senjata
andalan mereka. Dan poan-koan pit memang merupakan alat
senjata vang bisa dipergunakan untuk menotok jalan darah.
Maka serangan2 dari Ang Cie Bun selalu mengincer jalan

darah ditubuh Kwee Siang, dimana poan koan pit tersebut
ber-gerak2 keatas, kebawah atau menyambar lurus ditengah.
mengincer jalan darah sigadis.
Begitu juga dengan Ang Cie Liong dan Ang Cie Sian, telah
ikut melancarhan serangan dengan poan-koan-pit mereka
saling susul. Ang Cie Liong telah menyerang dengan jurus
,,Bunga Rontok Sehelai”, disusul lagi dengan totokan
mempergunakan jurus „Harimau Lepas Taring”, poan-koanpitnya
me-nyambar2 keras menimbulkan angin berkesiuran.
Dan jurus2 yang dipergunakan oleh Ang Cie Liong bertiga
sesungguhnya merupakan Ilmu silat aliran Tionggoan Timur.
Kwee Siang tidak jeri bahkan sama sekali tidak merasa
takut menghadapi keroyokan seperti itu.
Dengan mengeluarkan suara teriakan yang sangat nyaring
Kwee Siang memutar pedangnya.
Kali ini Kwee Siang mempergunakan jurus „Biruang Kecil
Menerjang Menggigit”, tampak pedangnya menyambar dalam
jarak pendek2 dan cepat sekali be-robah2 sasaran dan arah
serangan.
Gerakan yang dilakukan Kwee Siang dengan memutar
pedangnya keberbagai arah itu sangat mengejutkan
lawan2nya. Jangan kata serangan dari pihak musuh,
sedangkan jika saat itu Kwee Siang disiram dengan segayung
air, tidak setetes airpun yang akan dapat menerobos masuk.
Maka semua serangan lawan2nya selalu tertangkis dan tidak
bisa menerobos kepertahanan yang dilakukan Kwee Siang.
Dalam keadaan demikian, Mie An Siansu yang telah marah,
telah mengeluarkan suara bentakan yang sangat keras sekali,
dia telah melancarkan gempuran2 yang sangat hebat
mempergunakan kedua telapak tangannya itu, karena dia
melatih semacam ilmu pukulan tangan kosong.
Pukulan yang dilancarkannya mempergunakan sekaligus
kedua telapak tangannya dengan jurus “Naga Berjumpalitan

Diawan”. di mana kedua telapak tangan itu berkesiuran keras
dan kuat menyambar kearah Kwee Siang, karena pukulan itu
merupakan salah satu jurus dari Tek Kong Ciang (Pukulan
Udara Kosong). Maka tanpa perlu menyentuh bagian anggota
tabuh lawan serangan itu bisa mematikan.
Kwee Siang tengah memutar kuat2 pedangnya, ketika
tahu2 dia merasakan desakan kuat menerjang kedirinya,
membuat dia mengeluarkan seruan tertahan dan mundur
bebepa langkah kebelakang seperti juga rubuh terguling.
Untung saja Kwee Siang, memiliki lwekang cukup tinggi dan
kegesitan telah mencapai puncaknya, dia berhasil manguasai
dan mengendalikan tubuhnya tidak sampai rubuh terguling,
dalam sekejap mata dia telah berhasil berdiri tegak kembali.
Melihat kesempatan itu Ang Cie Liong telah mengeluarkan
suara bentakan yang sangat bengis, tampak dia telah
meloncat sambil menggerakkan poan-koan-pitnya yang akan
menotok jalan darah Pai-tie-hiat didekat dada sebelah kiri dari
sigadis. Serangan yang dia lakukannya itu sangat cepat sekali
membawa angin serangan yang tajam berseliweran dan di
saat itu juga dengan cepat Kwee siang memutar tubuhnya
dengan gesit. Dengan sangat manis, tahu2 dia telah berdiri
dipinggir dan membiarkan serangan poan-koan-pit itu lewat di
sisi dadanya.
Namun Kwee Siang bukan hanya membiarkan serangan
lawannya lewat dan berdiam diri saja, cepat sekali pedangnya
digerakkan melancarkan tikaman kearah dada Cie Liong
dimana mata pedang menusuk lurus.
Ang Cie Liong mengeluarkan suara teriakan tertahan
melompat mundur dengan muka pucat. Dia juga telah menarik
pulang poan koan-pitnya untuk menangkis pedang Kwee
Siang.
„Trangg…!” poan-koan-pit itu berhasil menangkis pedang
sigadis dengan keras sekali.

Dalam keadaan demikian Ang Cie Liong kembali terhuyung,
karena waktu melancarkan serangan menangkis, disaat itu
tenaganya tidak terkumpul semuanya, dan Kwee Siang telah
melancarkan serangan pedang menusuk dengan disertai
getaran tenaga lweekang Kiu Im Cin Keng, yang pernah
diperolehnya dari Kak Wan Siansu dari Siauw Lim Sie.
Disaat itu sebetulnya Kwee Siang telah berhasil
menciptakan semacam ilmu pedang yang hebat sekali
berdasarkan keterangan kitab Kiu Im Cin Keng yang dibacakan
oleh Kak Wan Siansu.
Jika Thio Kun Po telah mengubah ilmu pedang dan ilmu
silat ciptaannya dengan mengandalkan Kiu Yang Cinkeng dan
mendirikan partai persilatan sendiri yang bernama Bu Tong
Pay, dimana kemudian Thio Kun Po merubah namanya
menjadi Thio Sam Hong, maka juga Kwee siang telah berhasil
mendirikan sebuah pintu perguruan silat yang diberi nama
perguruan Go Bie Pay
Disaat itu nama perguruan Go Bie Pay belum lagi terkenal,
karena baru saja didirikan. Dan waktu mendengarkan Kak
Wan siansu membacakan Kiu Im Cinkeng dan Kiu Yang
Cinkeng, justru hanya Thio Kun Hong dan Kwee siang berdua
yang sempat mendengarnya. Dibelakang hari Bu Tong Pay
telah menjadi sebuah pintu perguruan yang besar dan jaya.
Selewatnya Thio sam Hong justru Bu Tong Pay lebih populer
dibandingkan dengan siauw Lim sie, bahkan pendekar2
didikan Bu Tong Pay lebih populer dibandingkan dengan Siauw
Lim Sie, bahkan pendekar2 didikan Bu Tong Pay umumnya
memiliki kepandaian yang tinggi dan budi pekerti yang baik
serta luhur.
Go Bie Pay walaupun kelak merupakan salah satu pintu
perguruan yang sama populernya dengan Bu Tong Pay dan
siuw Lim, tetapi masih berada dibawah satu tingkat dari ke
populeran nama kedua pintu perguruan itu.

Sekarang walaupun dikeroyok dua puluh orang lawannya
namun Kwee Siang tidak merasa takut, sebab dia memiliki
ilmu pedang dan lwekang yang telah sempurna. Memang ilmu
pedang yang diciptakannya untuk kaum wanita, karena itu
kelak Go Bie Pay lebih dikenal oleh umum sebagai pintu
perguruan wanita.
Karena pendiri Go Bi Pay adalah seorang wanita (Kwee
Siang), maka ilmu pedang itupun tidak mengandung
kekerasan tetapi mengandal kan kegesitan dan perobahan2
yang aneh yang bisa membingungkan lawan
Waktu melihat kedua puluh orang lawannya yang
mengeroyoknya dengan tidak mengenal malu, tampak Kwee
Siang telan mengeluarkan siulan yang panjang dan
menggerakkah pedangnya me-lingkar2 bagaikan seekor naga
dan tubuhnya melompat kesana kemari dengan gesit. Itulah
jurus „Bie Sian Kiam-hoatl (Bidadari cantik bermain pedang)
yang sangat tangguh dan membingungkan lawannya.
Gerakan2 dari ilmu pedang yang dipergunakan Kwee siang
memaksa lawan2nya tidak bisa terlalu mendesak dan tidak
berdaya untuk melancarkan serangan2 yang dekat, bahkan
jagoan2 itu terpaksa harus ber-hati2 sekali setiap kali Ingin
melancarkan serangan kepada Kwee Siang.
Mie An yang menyaksikan ini jadi marah sekali dan telah
mengeluarkan suara bentakan berulang kali, tubuhnya telah
menerjang dengan kedua tangannya yang berisi tenaga
lwekang yang kuat. Dia telah mengeluarkan ilmu simpanannya
yaitu ilmu silat Cap Pek Lo Han Kun atau ilmu pukulan delapan
belas arhad.
Dua belas tahun yang lalu, Mie An Siansu,merupakan murid
Siauw Lim Sie tingkat ketiga dan waktu dia dikeluarkan dari
kaum-nya, kepandaian Mie An Siansu memang teiah mencapai
taraf yang tinggi.
Hong-thio Siauw Lim Sie tidak menghukum mati kepada
Mie An Siansu waktu mengetahui Mie An Siansu memperkosa

seorang gadis, karena disebabkan Hongthio itu merasa sayang
atas kecerdasan yang dimiliki oleh Mie An Siansu.
Sekarang walaupun dia telah dikeluarkan oleh pihak Siauw
Lim Sie, tetapi selama dua belas tahun Mie An Siansu telah
melatih diri dengan giat sehingga ilmu pukulannya telah
semakin hebat dan lwekangnya telah memperoleh kemajuan
yang pesat sekali.
Terlebih lagi dia memang seorang yang cerdas bukan main,
selain dia melatih ilmu yang pernah diperolehnya dari
perguruan Siauw Lim pay, diapun telah, berhasil menciptakan
semacam ilmu silat „Pukulan Tangan Kosong” yang dari kedua
telapak tangannya itu bisa menyambar angin serangan yang
panas dan kuat sekali yang bisa membinasakan lawan2nya.
Tetapi Kwee Siang juga tidak lemah, dia bisa memberikan
perlawanan dengan sama dahsyatnya.
Melihat keroyokannya bersama kawan2nya yang berjumlah
cukup banyak dan berilmu tinggi belum berhasil juga
merubuhkan Kwee Siang, membuat Mie An Siansu tambah
penasaran. Berulang kali Mie An Siansu telah mengeluarkan
bentakan2 bengis melancarkan serangan2 yang mengincer
bagian2 mematikan ditubuh sigadis, dan begitu juga
kawan2nya mengepung rapat tidak memberikan kesempatan
pada Kwee Siang untuk bernapas. Lalu Mie An Siansu telah
menyedot napas dalam2, dan telah menggempur lagi dengan
mempergunakan delapan bagian tenaga dalamnya,
menimbulkan kesiuran angin yang kuat sekali. Dengan jurus
“Lonceng Bergoyang Sepuluh Kali” kedua tangannya
menyerang sekaligus bergantian kesepuluh bagian tempat
jalan darah mematikan ditubuh Kwee Siang.
Tetapi Kwee Siang gesit sekali, dia selalu berhasil
menyelamatkan diri. Disamping itu juga Kwee Siang selalu
ber-hati2 menghadapi serangan lawan2nya yang lainnya, dia
berusaha mengendalikan diri dan membatasi ruang geraknya,

menunggu kesempatan terbuka untuk menyerang bagian2
yang lemah ditubuh lawan2nya.
Selama melancarkan gempuran2nya, Mie An Siansu telah
ber-teriak2 menganjurkan kawan2nya agar melancarkan
serangan lebih berat dan keras, dia berusaha membangkitkan
semangat bertempur kawan2nya.
Tetapi Kwee Siang kinipun tidak berlaku segan2 lagi,
dengan gerakan yang sangat cepat sekali tampak Kwee Siang
telah menggetarkan pedangnya, yang ber-kelebat2
menyilaukan mata lawan2nya.
Setiap serangan yang dilancarkan oleh Kwee Siang kali ini
merupakan serangan dari ilmu pedang simpanannya, diapun
mempergunakan jurus2 yang pernah memperoleh petunjuk
dari Sin Tiauw Taihiap Yo Ko disaat itu pedangnya berkelebat2
menimbulkan desiran angin yang sangat kuat sekali.
Dalam keadaan demikian, terlihat jelas betapa pedangnya
telah meluncur dalam gerakan yang sangat cepat sekali,
sehingga samberan angin serangan pedang itu telah menderu2
dengan dahsyat, telah menyerang setiap jalan darah
dari lawannya yang bisa mematikan.
Setelah lewat lima jurus, terdengar suara jeritan yang
menyayatkan hati, karena itulah suara jerit kematian.
Kwee Siang telah berhasil merubuhkan dua orang lawannya
yang menggeletak tidak bernapas lagi.
Tojin yang menjadi kawan Mie An Siansu jadi marah sekali,
dengan mengeluarkan suara bentakan bengis dan nafsu
membunuh, dia telah melompat dan menggerakkan pedang
ditangannya, yang dengan ganas telah menikam ketubuh
Kwee Siang. Disamping itu, si Tojin juga telah membarengi
dengan mengibas mempergunakan Hudtimnya, gerakan itu
telah membuat Kwee Siang harus mengelakkan serangan itu
dengan cepat sekali.

Dalam sekejap mata tampak Kwee Siang telah berkelit tiga
kali.
Dan dalam kesempatan itulah Kwee Siang baru memiliki
kesempatan untuk melancarkan serangan membalas.
Gerakan yang dilakukan Kwee Siang benar2 luar biasa, kaki
kanannya diulur kedepan, ditekuk sedikit, dan kemudian
dengan cepat sekali dia telah menikam dengan tubuh yang
didoyongkan kedepan.
,,Sringgg…!” pedang meluncur dengan cepat sekali secepat
kilat dan “Cepppp!” terdengar benda logam masuk menerobos
dan daging kemudian terdengar suara teriakan menyayatkan
dari Tojin itu, tubuhnya menggelepar dan terhuyung mundur,
dari dadanya mengucur darah merah yang segar, mata tojin
itu terbuka lebar2 dan dia mengeluh perlahan dengan mulur
terbuka, dari tenggorokannya terdengar suara berkerogokan
dan kemudian tubuhnya terjengkang kebelakang, napasnya
terhenti.
Mie An siansu dan kawan2nya jadi terkejut bukan main, dia
telah melihat betapapun Kwee siang memang tangguh dan
memiliki kepandaian yang hebat luar biasa, kepandaian yang
sulit sekali dilawan.
Tetapi Mie an siansu masih penasaran, dia
berpikir,walaupun Kwee siang memiliki kepandaian yang
sangat tinggi, tetapi jika dia diserang terus menerus, niscaya
gadis itu akan cepat letih sehingga dengan mudah dia akan
dapat dirubuhkan.
Maka dari itu Mie An Siansu telah melancarkan serangan2
dan gempuran2 yang tidak hentinya, setiap serangan telapak
tangannya itu meluncur dengan hebat, bahkan telah beberapa
jurus lagi tampak Mie an siansu telah mencabut golok yang
tergemblok di punggungnya.
Dengan goloknya itu dia telah melancarkan serangan yang
sangat hebat sekali, goloknya telah me nyambar2 dengan

hebatnya, sehingga Kwee siang telah berhasil dipaksa mundur
beruntun berulang kali.
Belum lagi kawan2 sihweshio yang telah melancarkan
serangan juga.
Makin lama makin terlihat tampak Kwee siang hanya dapat
membela diri saja dan tidak dapat melancarkan serangan2
balasan.
Yo Him dan Phang Kui In yang menyaksikan jalannya
pertempuran itu telah memandang dengan tegang, sedangkan
Yo Him telah berbisik perlahan disamping telinga Phang Kui
In, “apakah tidak lebih baik paman Phang muncul memberikan
bantuan kepada enci itu, Bukankah dengan bantuan paman
Phang berarti gadis itu akan memperoleh bantuan yang tidak
kecil dan meringankan bebannya yang bisa menyebabkan dia
bisa mengambil napas dua dan mengadakan perlawanan yang
lebih gigih kepada musuh2nya ?”
Phang Kui In berdiri ragu sejenak ditempat
persembunyiannya, tetapi kemudian dia telah mengangguk.
„Benar !” katanya perlahan. „Dan memang gadis itu
merupakan puteri dari tokoh persilatan Kwee Ceng dan Oey
Yong !!”
Mendengar perkataan itu, Yo Him jadi terkejut dan gugup:
„Kalau demikian, cepatlah paman Phang memberikan
pertolongan …. bukankah paman Kwee dan Oey Pehbo sangat
baik ? Waktu aku berada di Ang Hwa To, paman Kwee dan
Oey Pehbo telah memperlakukan aku sangat baik sekali…… !”
Phang Kui In memang sejak tadi bermaksud untuk
melompat keluar dari tempat persembunyiannya untuk
memberikan pertolongan kepada Kwee Siang. Tetapi yang
membuat dia ragu2 adalah jumlah musuh yang demikian
besar, maka Phang Kui In bermaksud untuk menantikan waktu
sejenak lagi sampai musuh2nya itu letih. Tetapi melihat Kwee
Siang mulai agak sibuk menerima serangan 2 gencar dari

lawan2nya, tentu saja telah membuat Phang Kui In harus
mengambil tindakan yang tegas. Dia telah melompat keluar
dari tempat persembunyiannya sambil membentak keras
„Manusia tidak tahu malu ! Manusia rendah yang tidak
punya perasaan ! Melancarkan serangan secara mengeroyok
seperti itu !”
Dan setelah berkata begitu dengan cepat Phang Kui In
mencabut senjatanya, yaitu sepasang Samcio, senjata yang
memiliki tiga cagak (trisula), dengan mengeluarkan suara yang
nyaring sekali, tampak samcio itu telah meluncur menyerang
salah seorang lawan yang terdekat dengannya. Yaitu Ang Cie
Bun.
Tentu saja Ang Cie Bun tidak menduga akan adanya
serangan dari orang yang muncul dari tempat yang tidak
terduga seperti itu jadi sibuk sekali mengelakkan diri. Berulang
kali dia telah terdesak mundur kebelakang beberapa langkah
kemudian dia teiah menangkis dengan poan-koan pitnya.
Tetapi Phang Kui In telah mempergencar serangan2nya,
dengan jurus Ban Hoa Hong Ie” (Hujan puluhan ribu bunga),
trisulanya bagaikan gugurnya bunga2 dari pohon telah
menotok ke-jalan2 darah mematikan ditubuh Ang Cie Bun,
juga dengan cepat sekali trisula itu telah meluncur kearah diri
Ang Cie Sian yang berada disebelah kanannya.
Gerakan2 yang dilakukan oleh Phang Kui In menyebabkan
Ang Cie Bun dan Ang Cie Sian jadi sibuk sekali mengelakan diri
dari serangan2 Samcio itu. Walaupun mereka bersenjata Poan
Koan Pit, namun gerakan Samcio itu sangat cepat sekali, maka
membuat mereka harus bergerak cepat lagi untuk
mengelakkan diri dan menyelamatkan jiwa mereka dari
ancaman Samcio itu.
Dalam keadaan demikian, tampak Phang Kui In telah
memperhebat terus serangan2nya, dia masih memiliki tenaga
penuh, maka tidak mengherankan jika tenaga serangan
Samcio-nya juga me-nyambar2 dengan hebat sekali.

Dalam waktu yang sangat singkat sekali, Ang Cie Sian dan
Ang Cie Bun telah terpisah dari gelanggang pertempuran itu,
sehingga menyebabkan Kwee Siang jadi bisa bernapas atas
berkurangnya lawan2 yang mengepungnya.
Melihat datangnya bala bantuan yang tiba tepat pada
waktunya, walaupun Kwee Siang tidak mengenal dan tidak
mengetahui siapa
sesungguhnya Phang Kui In, tetapi gadis ini jadi girang
bukan main.
Dia telah mengeluarkan suara siulan, semangat
bertempurnya jadi terbangun, dengan cepat sekali dia telah
melancarkan kembali serangan2nya dengan dahsyat.
Karena datangnya bala bantuan itu, suasana pertempuran
semakin seru saja, ketika lawan2nya sedang terkejut atas
munculnya Phang Kui In dan bergerak agak lambat. Maka
pedang Kwee Siang telah menyambar dengan cepat sekali,
sehingga tampaklah dua tubuh telah menggeletak lagi rubuh
ditanah, sambil mengeluarkan suara jeritan yang menyayatkan
hati, karena itulah suara jerit kematian.
Mie An Siansu yang melihat keadaan mulai tidak
menguntungkan rombongannya, jadi terkejut dan marah. Dia
sangat penasaran sekali, karena sejak tadi dia bersama
dengan kawan2nya yang berjumlah dua puluh orang, ternyata
tidak berhasil merubuhkan Kwee Siang yang hanya seorang
diri. Bukankah hal itu sangat memalukan sekali.
Dengan cepat dia memperhebat serangan2nya.
Tetapi waktu pertempuran itu tengah berlangsung dengan
serunya, tiba2 disaat itu telah terdengar teriakan dari suatu
arah : “Di sini.. ! Mereka sedang bertempur disini ! Sigundul
lanang Mie An Siansu juga berada disini. kita tangkap dan kita
cingcang, percuma saja jika kita tidak bisa menangkap
mereka, karena jumah kita yang seratus orang, tentu akan
dapat dan berhasil membekuk mereka semua ! Seorangpun

jangan dilepaskan…! Tangkap dan kita binasakan semuanya,
karena mereka merupakan manusia2 laknat.. !”.
Tentu saja perkataan yang nyaring itu didengar oleh Mie An
Siansu dan kawan2nya.
Mereka jadi terkejut sekali, dan menduga bahwa
rombongan orang yang datang itu tentunya jago2 kawannya
Phang Kui In.
Muka Mie An Siansu dan sisa kawan2nya jadi berobah
pucat, mereka telah merasa ber-kuatir juga, dan dengan cepat
Mie An Siansu mengambil suatu keputusan.
„Angin keras ……!” teriaknya dengan suara yang sangat
nyaring. Mie An Siansu kemudian kabur dengan menyambar
tubuh Siang koan Peng.
Maka disaat itulah kawan2nya telah melompat mundur,
memutar tubuh dan segera melarikan diri, karena merekapun
memiliki perasaan yang sama seperti Mie An Siansu, dan
mengetahui jika mereka dikepung oleh musuh2nya dalam
jumlah yang banyak, yang mereka duga adalah kawan2nya
Phang Kui In, tentu saja hal itu akan membuat mereka
terdesak hebat, karena mereka telah letih akibat pertempuran
yang memakan tenaga ketika melawan Kwee Siang dan Phang
Kui In.
Maka jalan yang paling selamat adalah melarikan diri
menyelamatkan jiwa mereka masing2. Disaat itu dengan
cepat sekali Kwee siang telah melancarkan serangan
pedangnya kepada salah seorang lawannya yang terlambat
melarikan diri, Orang itu mengelakkan diri, tetapi tidak urung
bahunya telah terluka oleh goresan pedang, maka dengan
mengeluarkan suara jeritan kesakitan, dia pun juga telah
melarikan diri mementang kakinya lebar2

Tentu saja hal ini telah membuat Kwee Siang tertawa geli,
dia tidak mengejarnya. hanya Kwee Siang sesalkan tidak bisa
menolong Siangkoan Peng yang dibawa kabur Mie anSiansu.
Phang Kui In juga tidak mengejarnya karena dia mengenali
justru tadi yang berkata itu adalah Yo Him.
Memang Yo Him sengaja telah mempergunakan
gertakannya itu untuk ‘mengusir’ lawan2nya Kwee Siang.
Dan dia berhasil, karena Yo Him hanya seorang diri, dan
dia menyebut dalam jumlah. seratus orang, sehingga Mie An
Siansu dan kawan2nya yang tidak mendengar suara langkah
kaki, maka mereka sebagai jago-jago berpengalaman dalam
persilatan justru berbalik mengira bahwa orang2 yang tengah
bersembunyi itu merupakan jago2 yang memiliki ilmu
meringankan tubuh yang telah sempurna. Bukankan suara
langkah kakinya saja tidak terdengar ?.
Karena itu dengan tepat sekali rencana gertakan Yo Him
memberikan hasil yang baik, dimana lawan2 Kwee siang
termasuk juga Mie an siansu telah melarikan diri ….
Phang Kui In tertawa tergelak2 dia memuji akan
kecerdasan Yo Him.
Saat itu Kwee siang telah menghampiri kepadanya dan
telah membungkukkan tubuhnya, kemudian dia menjura
memberi hormat dengan sikap yang sangat ramah.
“Terima kasih atas bantuan yang diberikan oleh Kiesu,
bolehkab siauwmoay, mengetahui nama besar dari Kiesu ?.
dan jika memang tidak keberatan siauwmoay juga ingin
menanyakan gelaran Kiesu yang harum untuk dikenang,
bahwa siauwmoay pernah menerima budi besar dari Kiesu….!”
kata Kwee siang.
Phang Kui In cepat2 membalas penghormatan sigadis. dia
telah tertawa lebar.

,,Sesungguhnya kita bukan orang luar ….kita masih orang
dalam juga………!” kata Phang Kui In dengan suara yang
ramah. „Aku she Phang dan bernama Kui In, tidak memiliki
julukan apa2 karena kepandaianku yang rendah…! Sedangkan
beberapa saat yang lalu dipulau Ang Hwa To, aku telah
bertemu dengan ayah bundamu, yaitu Kwee Taihiap dan Oey
Liehiap.
,,Oh, ya ?” tanya Kwee Siang dengan mata bersinar
cemerlang sekali! „Bagaimana keadaan mereka ? Apakah
mereka sehat2 saja ?”
„Sehat2 saja, tetapi karena ada suatu urusan yang sangat
penting, maka Kwee Taihiap dan Oey Liehiap ber-sama2
dengan orang2 gagah lainnya, bermaksud untuk
memberitahukan kepada para pencinta negeri agar
mengetahui, bahwa tidak lama lagi akan ada ancaman
serbuan dari tentara Mongolia !”.
Muka Kwee Siang berobah, dia menghela napas panjang.
„Hai, hai,” katanya dengan suara yang dalam dan
menundukkan kepalanya. „Memang aku keterlaluan sekali.
Telah beberapa tahun aku tidak menjenguk orang tuaku itu…!
Juga encie Hu (Kwee Hu) belum kutenggoki !, mengapa aku
jadi demikian ?, Mengapa aku harus mengenang terus
kepadanya ?. tetapi engko Yo juga kejam sekali, dia tidak mau
bertemu denganku satu kalipun juga !” waktu ber kata2 begitu
suaranya sedih bukan main, mukanya juga murung sekali,
tampak hatinya sangat berduka.
Disaat itu Phang Kui In telah tertawa.
“Kwee lihiap justru kami sedang melakukan perjalanan
untuk menemui Yo Taihiap” katanya.
Muka Kwee Siang seketika berobah jadi tegang dan girang
dia telah bertanya dengan suara yang tidak lancar :

„Kau…Kiesu…kau mengetahui dimana beradanya Engko Yo
Ko?” „Dimana sekarang engko Yo berada ?” tanya Kwee
Siang dengan suara tidak sabar. „Dan engkau Kiesu,
mengatakan perkataan “kami”, apakah engkau membawa
sahabat2mu yang tadi belum muncul itu ?”
„Itu hanya sandiwara dari engko kecil kawanku, untuk
mengertak Mie An Siansu dan kawan2nya…….!” kata Phang
Kui In. Dan setelah berkata begitu, dia telah berkata: ,,Adik
kecil, kau keluarlah untuk berkenalan dengan Kwee Liehiap,
karena Kwee Liehiap sahabat ayahmu………”
Yo Him telah melangkah keluar, dia menghampiri Kwee
Siang dia telah menjura.
„Apa kabar encie Kwee ?” tanyanya dengan ramah, dia
memanggil encie Kwee, karena sejak tadi dia telah mendengar
sigadis memang she Kwee dan bernama Siang.
Kwee Siang untuk sejenak berdiri ditempatnya dengan
tertegun, sampai dia lupa untuk membalas hormat dari Yo
Him, karena hatinya saat itu tergoncang hebat sekali.
Dilihatnya muka Yo Him mirip sekali dengan Sin Tiauw
Taihiap Yo Ko, dan dia seperti juga melihat Sin Tiauw Taihiap,
maka tidak, mengherankan jika hati gadis ini jadi tergoncang
keras sekali.
Dalam keadaan demikian, tampak Yo Him telah berkata
lagi; „Encie Kwee, apakah engkau tengah mencari ayahku ?”
„Kau….. kau puteranya Sin Tiauw Taihiap Yo Ko ?”
tanya Kwee Siang dengan suara tergagap.
„Benar !” kata Phang Kui In. „Justru kami berdua tengah
melakukan perjalanan untuk menemui Sin Tiauw Taihiap Yo
Ko…” dan Phang Kui In telah menceritakan perihal
pertemuannya dengan Yo Ko, menceritakan semua
pengalamannya yang tiba dipulau Ang Hwa To dan kemudian
sampai mereka melakukan perjalanan untuk menyusul Yo Ko.

Kwee Siang berulang kali mengeluarkan seruan2 girang.
Dia telah menghampiri Yo Him, tangan anak itu telah
dicekalnya kuat2.
Yo Him merasa terharu, ketika melihat di mata Kwee Siang
menitik beberapa butir air mata, sedangkan tangannya yang
mencekal pergelangan tangannya, dirasakan dingin sekali.
Karena Kwee Siang sedang berada dalam keadaan tegang dan
juga girang.
„Belasan tahun aku mencari Engko Yo, ai, ai, dia seperti
juga selalu mengelakkan diri dari pertemuan kita…! Aku
sangat kagum dan menghormatinya, begitu juga dengan
ibumu, adik Him, yaitu encie Siauw Liong Lie…! Ai, mengapa
kami tidak bisa berkumpul selama nya, mengapa aku harus
mencarinya tanpa menemui jejak selama belasan tahun.”
Mendengar itu, tentu saja Yo Him jadi semakin terharu
saja.
Diapun menceritakan pengalamannya, bahwa
sesungguhnya dia belum pernah bertemu satu kalipun dengan
ayah dan ibunya. Dia menceritakan seluruh pengalamannya.
Kwee Siang jadi kaget dan terharu.
,,Oh Yo Him, engkau tampaknya menderita sekali ! Biarlah
kita mencarinya sampai kalian ayah dan anak bisa berkumpul
kembali, lalu mencari ibumu…! Sungguh malang sekali
nasibmu !” dan sambil berkata begitu Kwee Siang merangkul
Yo Him dengan penuh kasih sayang, tangannya meng-elus2
rambut sianak she Yo itu dengan sikap seperti seorang kakak
terhadap adiknya.
Yo Him juga jadi terharu sekali, dia sampai mengucurkan
air matanya juga. Yo Him merasakan walaupun dirinya hidup
sengsara dan menderita jauh dari orang tua, tetapi dia telah
dirawat oleh sepasang suami isteri yang baik hati, sehingga
dia bisa mencapai usia beberapa tahun ini, sedangkan Kwee
Siang yang menaruh kagum dan juga menghormati ayahnya,

justru telah meninggalkan kebahagiaan untuk dirinya sendiri,
meninggalkan ayah bundanya, meninggalkan keluarga dan
lingkungannya, setiap hari hanya berkelana untuk mencari Sin
Tiauw Taihiap. Bukankah hal itu sangat menderita sekali ?
Kwee Siang memang mencintai Yo Ko dari dasar hati dan
setulus hati.
Tetapi dia mencintai tanpa terdapat setitik noda sedikitpun,
bahkan diapun mencintai Siauw Liong Lie. Dan Kwee Siang
hanya menghendaki dapat berkumpul bertiga…tetapi
keinginan itu hanya merupakan impian belaka, sebab sekarang
Siauw Liong Lie dan Yo Ko tidak pernah dijumpai jejaknya,
sehingga dia harus berkelana belasan tahun tanpa berhasil
menemui jejak kedua orang sakti yang dikaguminya itu…!
Jika Oey YokSu, sang kakek dari Kwee Siang memperoleh
gelaran Losia (sisesat tua), maka Kwee Siang justru dalam
persilatan teiah memperoleh gelaran Siauw-sia (sisesat kecil),
sehingga bisa dibayangkan bahwa sifat dan perangai Kwee
Siang sangat aneh. Dia memiliki cita2 yang berlainan dari
setiap orang umumnya, dia memiliki sifat yang ramah.,
lembut, tetapi bisa keras dan melakukan banyak keanehan?
dalam penghidupannya. Bahkan seringkali dia melakukan
perbuatan2 diluar dugaan dari manusia umumnya, sehingga
banyak orang2 persilatan yang melihat sikap Kwee Siang,
menduga Siauwsia ini sebagai pendekar wanita muda yang
telah terganggu syarafnya, telah sinting.
JILID 18
OEY YOK SU sesungguhnya seringkali meminta cucunya
yang terkecil ini agar berdiam di To Hoa To, menemaninya
sampai nanti dia menutup mata. Karena Kwee Siang sebagai
cucunya yang t terkecil dimana dia dilahirkan waktu kota
Siang Yang tengah bergolak hebat dalam pertempuran,

sedangkan ayah dan bundanya yaitu Kwee Ceng dan Oey
Yong, juga sibuk sekali mengatur pasukan tentara Song
menghadapi serangan2 dari tentara Mongolia, maka Oey Yok
Su menganggap bahwa Kwee Siang pantas jika menemani dia
dipulau To Hoa To sebagai pewarisnya, yang kelak akan
menjadi majikan To Hoa To.
Namun Kwee Siang telah menolak keinginan kakeknya itu,
karena dia bermaksud untuk mencari jejak Yo Ko dan Siauw
Liong Lie.
Itulah sangat mengherankan dan aneh sekali. Banyak
orang2 gagah dalam persilatan yang bersedia untuk
menyiksa dirinya sendiri dan melakukan apa saja, asal bisa
diterima menjadi murid oleh Oey Yok Su dan menerima
warisan ilmu Oey Yok Su yang sangat luar biasa. Oey Losia
merupakan manusia aneh dalam persilatan, diantara jago2
tua, dialah sekarang yang terhebat kepandaiannya, karena
Auwyang Hong dan juga Ang Cit Kong, yang kepandaiannya
hampir berimbang dengannya, telah menutup mata. Begitu
juga dengan Ong Tiong Yang, telah menghembuskan
napasnya yang terakhir. Ciu Pek Thong dan yang lainnya
memang memiliki kepandaian yang tinggi, tetapi tidak ada
yang sehebat Oey Losia. Maka itu dengan berdiamnya dia
menutup diri melewati usia tuanya di pulau To Hoa To, maka
Oey Yok Su dianggap oleh orang2 persilatan sebagai manusia
setengah dewa.
Tidak ada seorangpun yang mengetahui sepak terjang Oey
Yok Su selanjutnya, karena disamping Oey Yok Su tidak
pernah menunjukkan diri dalam pergaulan umum, dan tidak
pernah keluar dari pulau To Hoa To, juga tidak ada seorang
jagopun dalam rimba persilatan yang berani mendatangi
pulau To Hoa To ……..
Kini Kwee Siang telah mendengar jejak perihal Yo Ko tentu
saja telah membuatnya jadi girang bukan main, dia sampai
mengucapkan syukur berulang kali kepada Thian.

Phang Kui In dan Yo Him yang melihat kegembiraan sigadis
she Kwee ini, jadi turut gembira.
Begitulah, mereka memutuskan untuk melakukan
perjalanan bertiga. Phang Kui In telah mengajak mereka untuk
kembali keperahunya.
„Mudah2an saja Sin Tiauw Taihiap belum meninggalkan
Kun Lun San…..!” kata Phang Kui In waktu mereka telah
berada diperahu.
Kwee Siang mengatakan dengan penuh harapan, dan
sepanjang berlayar dilautan, Kwee Siang ber-cakap2 dengan
Yo Him. Ada saja yang mereka percakapkan.
Yo Him juga senang kepada gadis ini karena sang enci ini
tampaknya demikian ramah dan menyayangi dia. Maka Yo
Himpun ber-cakap2 dengan asyik sekali, dengan sendirinya
lupalah Yo Him akan kesedihannya. Dan begitu juga dengan
Kwee Siang, lupa pula untuk sementara akan kesepian dan
kedukaan hatinya…karena Yo Him sebagai pengganti pelipur
laranya., muka Yo Him yang mirip dengan Yo Ko, memberikan
kesan dan mengurangi akan rindunya…rindu terhadap Yo Ko
maupun Siauw Liong Lie.
Bahkan dalam perjalanan itu, Kwee Siang telah bertanya
kepada Yo Him.
,,Apakah adik Him telah mengerti ilmu silat ?” tanyanya
kemudian. .
„Sedikit!….!” menyahuti Yo Him.
,,Coba kau jalankan dihadapanku, nanti aku bisa
memberitahukan kelemahan2mu…!” kata Kwee Siang
menganjurkan sambil tersenyum.
Yo Him juga berpikir untuk mengisi waktu2 senggangnya
memang ada baiknya dia melatih diri.

Maka Yo Him telah menjalankan ber-macam2 ilmu silat
yang telah dipelajarinya.
Kwee Siang kagum sekali. „Engkau dalam usia demikian
muda, telah berhasil menghafal semua ilmu silat milik
ayahmu, dan berbagai ilmu silat lainnya…..! Hemm, yang
kurang hanya latihan dan tenaganya saja ! Baiklah, sekarang
engkau perhatikan, aku ingin menurunkan Kiu Im Cinkeng
kepadamu ! Jika sekarang engkau belum bisa menangkap
keseluruhannya, itupun tidak apa2, asalkan kau ingat baik2
didalam hati, agar kelak bisa kau melatihnya jika engkau telah
dewasa….!”.
Yo Him jadi girang sekali.
Dia juga telah menyatakan terima kasih nya, dan segera
Kwee Siang menurunkan ilmu pedang Go Bie Kiam-hoat dan
juga Kiu Im Cinkeng.
Tentu saja Yo Him bisa menangkap semua keterangan itu
dengan mudah, yang telah dicatat dalam ingatannya, karena
dia memang sangat cerdas sekali. Waktu Kwee Siang meminta
dia menjalankan ilmu pedang Go Bie Kiam-hoat, Yo Him bisa
membawakannya dengan mudah, walaupun dia hanya
mengerti gerakan2nya dan serangannya belum mengandung
tenaga dalam, tetapi seluruh jurus telah dijalankannya dengan
sempurna.
Kwee Siang jadi girang sekali.
“adik Him, ternyata engkau cerdas sekali seperti ayahmu !”
kata Kwee Siang memuji.
Diperbandingkan dengan ayahnya, Yo Him jadi bangga.
Segera dia menanyakan perihal ayahnya itu kepada Kwee
Siang Dan Kwee Siang tidak keberatan untuk menceritakan
mengenai diri Yo Ko dan Siauw Liong Lie selama yang
dikenalnya.

Yo Ko tertarik sekali mendengar cerita sigadis, dia juga
menjadi kagum sewaktu mendengar kegagahan ayahnya yang
diceritakan oleh Kwee Siang.
Phang Kui In mengetahui peraturan dunia Kangouw, maka
setiap kali Kwee Siang tengah menurunkan ilmunya Kepada Yo
Him, dia selalu menyingkir keujung perahu, tidak mau
mendengarnya.
Begitulah setiap hari Kwee Siang telah menurunkan sejurus
demi sejurus ilmu pedang Go Bie Kiamhoat yang telah
diciptakannya sendiri, juga dia telah menurunkan tenaga
dalam Kiu Im Cinkeng.
Memang Yo Him mempelajarinya karena jugaq ilmu pedang
si gadis. Dia tidak mau mengecewakan Kwee Siang yang baik
hati itu, maka dia menganggap asal mempelajari, tetapi
seperti diketahui saat itu sesungguhnya Yo Him tengah
menerima latihan tenaga dalam nomor satu didalam dunia !
Seperti diketahui, waktu Tat-Mo Cauwsu datang kedaratan
Tionggoan, dan mendirikan perguruan siauw Lim sie dengan
itu yang menjagoi rimba persilatan adalah siauw Lim sie. Dan
Yo Him telah mewarisi tenaga dalam nomor satu di dunia
persilatan yang sukar dicari tandingannya, yaitu Kiu Yang
Cinkeng dan Kiu Im Cinkeng.
Justru kedua macam kitab latihan lwekang nomor satu itu
ditemukan oleh Kak Wan siansu yang telah sempat
membacanya, karena justru Kak Wan siansu merupakan
pendeta penjaga kamar perpustakaan. Lalu kedua macam ilmu
tenaga dalam itu telah diturunkan kepada Thio Kun Po
(muridnya) dan Kwee Siang, yang kebetulan datang ke Siauw
Lim Sie untuk mencari Sin Tiauw Taihiap Yo Ko.
Secara kebetulan itu pula yang menyebabkan Thio Kun Po
akhirnya merupakan pendiri salah sebuah cabang perguruan
silat didaratan Tionggoan yang akhirnya sangat terkenal,
berimbang dengan keagungan nama Siauw Lim Sie, yaitu

pintu perguruan Bu Tong Pai. Sedangkan nama Thio Kun Po
dilupakan orang, karena saat itu sampai kini, yang diingat dan
tercatat dalam sejarah, pendiri Bu Tong Pai adalah Thio Sam
Hong, nama selanjutnya dari Thio Kun Po.
Sedangkan Kwee Siang sendiri, yang sempat mendengar
dibacakannya intisari dari ilmu tenaga dalam yang sakti itu
oleh Kak Wan Siansu dari Siauw Lim Sie, telah mendirikan pula
sebuah cabang perguruan silat lainnya, yaitu Go Bie Pai. Dan
dia telah memperoleh nama yang sangat tenar juga, karena
dikemudian hari murid2 Go Bie Pai memiliki kepandaian yang
hebat2. Bahkan dalam dunia persilatan kelak, dikenal tiga
perguruan silat utama, yaitu, Siauwn Lim Sie, Bu Tong Pai dan
yagn ketiga adalah Go Bie Pai.
Walaupun Bu Tong Pai dan Go bie Pai dikemudian hari
merupakan perguruan silat yang berdiri sendiri. tidak memiliki
hubungan dengan Siauw Lim Sie namun se-tidak2nya ilmu
silat dari kedua pintu perguruan itu memang bersumber dari
Siauw Lim Sie juga……..
Sekarang Kwee Siang baru menciptakan ilmu pedangnya
itu belum terlalu lama tetapi justru yang diturunkan kepada
Yo Him adalah inti sari dari ilmu pedangnya itu, Jika kelak
murid2 Go Bie Pai bisa mengangkat nama dalam dunia
persilatan didaratan Tionggoan, karena mereka
mempergunakan ilmu pedang Go Bie Pai dengan segala
kombinasinya yang ditambahkan disana-sini. Maka Hebat
adalah Yo Him, yang langsung menerima ilmu pedang Go Bie
Pai itu dari pendirinya (penciptanya) yaitu Kwee Siang.
Begitu juga dengan ilmu tenaga dalam Kiu Im Cinkeng,
diterima langsung dari Kwee Siang. Jika Kwee Siang waktu
mendengarkan berdua dengan Thio Kun Po, hweshio dari
Siauw Lim Sie, yaitu Kak Wan Siansu menghafalkan bunyinya
Kiu Im Cin Keng dan Kiu Yang Cinkeng, itulah hanya
merupakan sekelebatan bacaan belaka, dan Kwee Siang
maupun Thio Kun Po harus memeras otak dan pikiran untuk

menjernihkan pelajaran itu, menyalurkan satu persatu dan
akhirnya telah dapat disusun dalam bentuk pelajaran latihan
tenaga dalam yang sempurna.
Maka sekarang Yo Him telah menerima latihan Kiu Im Cin
Keng yang telah disaring oleh Kwee Siang, dengan mudah dia
dapat menangkap dan menghafalnya, tanpa perlu memeras
otak dan bisa langsung melatih dirinya sendiri. Sehingga diluar
kesadarannya, Yo Him Sesungguhnya telah menerima warisan
ilmu tenaga dalam yang dahsyat sekali.
Tetapi Yo Him hanya menduga apa yang dilatihnya itu
merupakan latihan untuk olah raga menyehatkan tubuh
belaka. Maka dia melatihnya ber sungguh2 untuk
menggembirakan hati Kwee Siang.
Kwee Siang sangat gembira sekali melihat Yo Him memiliki
kecerdasan yang luar biasa.
Yang membuat Kwee Siang gembira itu bukan semangat Yo
Him melatih diri, tetapi kemajuan yang diperoleh Yo Him
tanpa anak she Yo itu mengetahuinya.
Suatu kali, sampai pelajaran jurus keseratus empat puluh
empat, Kwee Siang meminta Yo Him menempelkan telapak
tangannya ketelapak tangan dia. Kedua tangan dari Yo Him
telah melekat dikedua telapak tangan Kwee Siang, lalu perlahan2
Kwee Siang menyalurkan tenaga murninya, dia telah
membuka satu persatu jalan darah Mie-tiong-hiat, San lianghiat,
Tan Tian hiat dan berbagai jalan darah lainnya.
Yo Him merasakan dari telapak tangan Kwee Siang seperti
meluncur sebaris hawa yang hangat, halus seperti sutra
menerobos masuk kedalam telapak tangannya, dan hawa
hangat itu seperti berjalan masuk melalui kedua lengannya,
dan Yo Him merasakan beberapa bagian dari urat besar
ditubuhnya ber-denyut2 setiap kali sumbatannya dibuka oleh
kekuatan tenaga murni Kwee Siang sehingga bagian2
tubuhnya itu berkedutan tidak hentinya.

Semakin lama Yo Him merasakan tubuhnya semakin panas
sampai dari kepalanya dirasakan seperti mengepul uap yang
tipis sekali. Tetapi Yo Him tidak mau memperlihatkan
kelemahannya, walaupun tubuhnya panas seperti dibakar oleh
kobaran api, keringat mengucur deras dari kedua telapak
tangan, muka dan lengannya, namun Yo Him tetap berdiam
diri saja.
Dia tidak mau mengecewakan Kwee Siang, ,,Aku tidak
boleh memperlihatkan kelemahanku dihadapan encie Siang !
Karena jika aku meminta kepadanya untuk beristirahat dulu
tentu encie Siang akan mentertawai aku ? Bukankah ayahku
Sin Tiauw Taihiap Yo Ko adalah seorang pendekar nomor satu
dalam rimba persilatan ? Mengapa aku harus berlaku lemah ?
Walaupun akan mati kepanasan, aku harus tetap
bertahan……., !”
Karena berpikir begitu, Yo Him telah berdiam diri saja,
walaupun tubuhnya semakin panas seperti terbakar oleh api,
atas bekerjanya tenaga dalam yang disalurkan oleh Kwee
Siang, dan disaat itu tampak kepalanya juga semakin
mengepulkan asap yang tebal…. tubuh Yo Him juga telah
menggigil seperti kedinginan, tetapi dia keraskan kepala untuk
tetap bertahan.
Kwee Siang melihat keadaan Yo Him. sesungguhnya hati
sigadis tidak tega untuk meneruskan saluran tenaga murninya.
Tetapi dalam keadaan yang genting, dimana tinggal empat
buah jalan darah utama ditubuh Yo Him yang harus
dibukanya, agar kelak Yo Him bisa menyalurkan seluruh
kekuatan murninya ke sekujur tubuhnya.
Dalam keadaan demikian, jika Kwee Siang menarik pulang
tenaga murninya, justru akan mencelakai Yo Him.
„Engkau masih bisa bertahan terus, adik Him ?” tanyanya
dengan berkuatir. „Tidak lama lagi, hanya empat jalan
darahmu yang perlu dibuka lagi…!”.

Yo Him mengangguk sambil menggigit bibirnya, dia sudah
tidak bisa menjawabnya.
Kembali Kwee Siang telah menyalurkan lagi kekuatan
murninya, dia membuka jalan darah Tan To Hiat didekat urat
pusar tiga dim, dan setelah diterobos oleh gempuran2 tenaga
murni Kwee siang, maka jalan darah itu terbuka, dan dapat
menyalurkan kekuatan murni dari pusar Yo Him kesekujur
tubuhnya.
„Kerahkan tenagamu dikedua pangkal lengan…… atur
napasmu sekali2 dengan teratur, tenangkan pikiran,
kosongkan hati dan otak, jangan berpikir apa2, Kiu dan Im,
Yang dan Keng, disaat ini engkau pasrah diri, kedua tangan
dilemaskan, kedua kaki dikakukan, kedua mata dipejamkan,
kedua telinga dipasang, mulut terbuka, hidung tertutup, maka
engkau akan mencapai Im Yang Kut-liong (Tulang Naga positif
dan negatif) !”
Memang jika Yo Him berhasil melaksanakan semua
petunjuk Kwee Siang, niscaya tulang2 Yo Him akan menjadi
kuat, dia seperti baru dilahirkan kembali, dan seperti telah
digodok untuk menjadi seorang anak manusia memiliki
tulang2 ditubuhnya seperti tulang naga……. dimana .bisa
dipergunakan untuk menghadapi serangan lunak dari lawan,
bisa juga menghadapi serangan kekerasan dari lawannya. Jika
serangan lawannya kelak lunak, tentu dia bisa
mempergunakan tenaga Imnya, tetapi jika dia hendak
menindih lawannya dengan gerakan kekerasan, dia bisa
mempergunakan Yang tenaga positif.
Tiba2 Kwee siang merasakan tenaga menolak berulang kali
dari telapak tangan Yo Him, walaupun tidak keras tetapi
tanda2 seperti itu telah menyebabkan Kwee siang jadi girang
sekali, karena hal ini menunjukkan bahwa Yo Him telah
menuruti petunjuknya dan kini anak itu telah memiliki tenaga
melawan terhadap tenaga dari luar.

Saat itu Kwee siang telah mengumpulkan semangatnya
untuk mengempos tenaga murninya dikedua telapak
tangannya, dia telah menyalurkan dengan kuat untuk
membuka jalan darah Pai Liang Hiat, kemudian setelah
berhasil, menyusul jalan darah su Kong hiat, dan terakhir jalan
darah Ban Liong hiat, jalan darah sepuluh ribu naga…. itulah
jalan darah yang paling sulit dibuka, dan waktu berhasil
terbuka justru Yo Him telah mengeluarkan suara keluhan,
karena seluruh tubuhnya seperti diceburkan kedalam minyak
panas, dia telah rebah pingsan tidak sadarkan diri !
Untung saja waktu itu dia belum pingsan, Kwee Siang telah
berhasil membuka jalan darah itu, sehingga walaupun Yo Him
te!ah jatuh pingsan tidak sadarkan diri, tetapi dia tidak
mengalami ancaman bahaya apa2.
Dengan cepat Kwee Siang melompat berdiri, dia telah
mengeluarkan suara tertawa ber gelak2 dengan keras dan
panjang sekali.
Tentu saja hal ini telah membuat Phang Kui In yang berada
diburitan perahunya jadi terkejut, dan cepat2 mendatangi.
Waktu dia memasuki kamar perahu itu, dia melihat Kwee
Siang sedang berdiri tegak dan tertawa ber-gelak2, sedangkan
Yo Him menggeletak dilantai perahu tanpa bergerak, dia jadi
mengeluarkan suara seruan kaget dan cepat2 menghampiri
untuk memeriksa keadaan Yo Him.
Kwee Siang telah berhenti dari tertawanya, katanya dengan
ter-gesa2 „Jangan dipegang, biarkan dia teristirahat !”.
Phang Kui In segera tersadar dengan cepat dari
kekeliruannya.
Hampir saja dia melakukan suatu kesalahan yang besar,
karena jika dia menghampiri Yo Him dan menyentuh tubuh Yo
Him, saat itu dia bisa merobah letak jalan darah ditubuh Yo
Him, dan bahaya yang mengancam untuk Yo Him sangat
hebat.

Sebagai seorang yang mengerti ilmu silat dan telah
berpengalaman, Phang Kui In menyadarinya bahwa seluruh
jalan darah Yo Him telah dibuka oleh Kwee Siang, maka jika
dia menyentuh tubuh Yo Him dan jalan darah itu terbuka,
disamping jalan darah yang telah dibuka akan tertutup
kembali, juga akan membahayakan jiwa anak itu yang bisa
binasa disaat itu juga.
Itulah sebabnya walaupun melihat Yo Him jatuh pingsan,
Kwee Siang tidak menghampirinya, membiarkan tubuh Yo Him
menggeletak, menantikan sampai waktu nya tiba di saat mana
jalan darah jalan darah yang dibukanya itu telah bisa bekerja
dengan baik, barulah dia akan menghampiri Yo Him.
Kwee Siang tadi mengeluarkan suara ter tawa ber-gelak2,
karena dia sangat puas dan girang, setelah dia berhasil
membuka seluruh jalan darah Yo Him dengan selamat tanpa
menemui rintangan apa2, sehingga berarti dia telah
‘menciptakan’ sebuah bibit baru untuk seorang pendekar besar
dijaman ini…! Kwee Siang berani mengatakan bahwa Yo Him
merupakan ‘bibit’ pendekar besar dijaman ini, karena dia
melihat Yo Him memiliki tulang yang baik, dan daya ingatan
yang luar biasa sekali. Hanya dalam dua minggu mereka
melakukan perjalanan air, Yo Him telah berhasil menerima
seluruh pelajaran kepandaian Kwee Siang, bahkan telah
berhasil menerima dan menjalankan jurus2 ilmu pedang Go
Bie Kiam hoat dengan baik sekali.
Tadi Yo Him baru bisa menjalankan seluruh jurus2 itu tanpa
memiliki kekuatan untuk membinasakan lawannya, karena dia
kurang latihan dalam hal lwekang.
Namun kini setelah Kwee Siang berhasil membuka seluruh
jalan darahnya, maka jika Yo Him kelak melancarkan serangan
kepada lawannya, walaupun dia tidak bermaksud untuk
mengerahkan tenaganya, namun tenaga itu sendiri yang akan
meluncur keluar berimbang dengan tekanan tenaga serangan
dari lawannya. Jika kelak Yo Him telah melatihnya, bukan saja

dapat mengimbangi kekuatan tekanan tenaga serangan dari
lawannya, tetapi Yo Him bisa mengendalikan tenaganya itu
untuk menghancurkan besi dan batu dengan hanya sekali
sentilan jari telunjuknya saja !
Kwee Siang melihat, jika Yo Him memperoleh bimbingan
yang baik dari seorang akhli, Yo Him bisa jauh lebih hebat dari
dia, karena ditubuh Yo Him terdapat suatu kelainan. Sebagai
bukti saja, tampak waktu Kwee Siang membuka seluruh jalan
darah Yo Him, dia hanya memerlukan waktu dalam setengah
harian saja. Sesungguhnya bagi manusia umumnya, jika ingin
dibuka seluruh jalan darahnya, tentu harus memakan waktu
yang cukup lama ! Dari perbedaan waktu saja, telah
membuktikan bahwa Yo Him memiliki kelainan yang luar
biasa.
Harus diketahui setiap satu jalan darah dibuka, jika hal itu
terjadi didiri seorang manusia biasa yang tidak memiliki
kelainan seperti Yo Him, tentu orang itu akan menderita
demam selama satu minggu dan selama satu bulan dia harus
mengasoh, baru nanti dibuka kembali satu jalan darah lainnya.
Maka jika menuruti keadaan seperti itu, seorang manusia
biasa harus memakan waktu lima tahun baru bisa terbuka
seluruh jalan darahnya. Semakin banyak jalan darah yang
dibukanya, semakin hebat penderitaan demam orang itu.
Tetapi berbeda dengan seorang yang memiliki kekuatan
yang agak besar dan memiliki daya tahan yang cukup kuat,
maka mungkin dalam dua tahun seluruh jalan darahnya bisa
dibuka.
Namun Yo Him justru bisa bertahan dengan kuat sekali,
karena dia memang telah memiliki dasar2 kepandaian yang
luar biasa dari Sin Tiauw, juga telah menerima petunjuk dari
jago2 hebat, termasuk In Lap Siansu dan lain2nya.
Maka dari itu, waktu Kwee Siang membuka jalan darahnya
yang pertama, yaitu Siauw Cie Hiatnya, Yo Him hanya tenang2
saja seperti tidak terjadi sesuatu apapun juga. Dan Kwee

Siang jadi meneruskan usahanya membuka jalan darah kedua,
yaitu Siang Liang hiat, tetapi keadaan Yo Him tetap tidak
memperlihatkan perobahan.
Itulah sebabnya Kwee Siang telah meneruskan
pekerjaannya membuka seluruh jalan darah Yo Him, yang
seluruhnya berjumlah seratus tiga puluh delapan jalan darah
utama, dan seratus dua puluh jalan darah besar.
Kwee Siang dalam setengah hari saja bisa membuka
seluruh jalan darah dari Yo Him dan tanpa menemui rintangan
apa2. persoalan ini merupakan persoalan yang tidak pernah
terjadi didalam rimba persilatan, maka telah membuat Kwee
Siang girang luar biasa.
Dia jadi tertawa ber-gelak2. Dan juga yang paling
menggembirakan hatinya, yaitu dengan terbukanya seluruh
jalan darah Yo Him hanya dalam waktu setengah hari itu,
telah memperlihatkan bahwa Yo Him sebagai calon pendekar
yang luar biasa sekali ! Kemungkinan besar menurut Kwee
Siang, jika Yo Him memiliki gemblengan yang teratur, dan
memperoleh bimbingan yang baik dari jago2 yang hebat
seperti Sin Tiauw Taihiap, Oey Yok Su. yaitu kakeknya, juga
ayah ibunya dan beberapa jago2 lainnya yang memiliki latihan
tenaga dalam yang murni dan lurus, tidak termasuk golongan
sesat, niscaya Yo Him akan memiliki kepandaian yang melebihi
dari jago itu sendiri.
Kwee Siang telah menarik tangan Phang Kui In menuju
keburitan kapal dan segera dia menceritakan apa yang telah
dialaminya, dimana dia telah berhasil membuka seluruh jalan
darah ditubuh Yo Him.
Phang Kui In jadi kaget bercampur girang, dia sampai berjingkrak2
seperti anak kecil.
Dengan hati yang tegang, akhirnya Kwee Siang dan Phang
Kui In menantikan sampai Yo Him tersadar dari pingsannya.

Selama satu hari satu malam Yo Him menggeletak diam,
dengan napas yang berjalan lancar dan lurus, sehingga
walaupun dia pingsan dalam keadaan yang demikian lama,
tetapi Phang Kui In dan Kwee siang jadi tenang karena
melihat napas Yo Him lurus dan teratur.
Tetapi malam itu setelah dua puluh empat jam Yo Him
menggeletak pingsan, mukanya ber angsur2 menjadi merah
padam dan sekujur tubuhnya mengepul uap panas yang luar
biasa.
Kwee siang dan Phang Kui In yang berdiri setombak lebih
jauhnya dari tempat mengeletaknya Yo Him masih bisa
merasakan samberan uap panas itu.
Kwee siang dan Phang Kui In jadi berkuatir sekali.
“apakah … apakah tidak akan terjadi sesuatu yang tidak
diinginkan ?” tanya Phang Kui In dengan gelisah.
Kwee siang juga mulai ragu2.
Perkembangan yang terjadi didiri Yo Him mendatangkan
kekuatiran juga untuk dirinya.
Dia telah mengawasi Yo Him tajam2 tanpa menyahut
pertanyaan Phang Kui In.
“Kwee lihiap .. apakah adik Him tidak akan mengalami
sesuatu yang tidak diinginkan ?” tanya Phang Kui In lagi,
karena dia sangat berkuatir sekali. „Apakah ada sesuatu yang
harus kita lakukan untuk dia ?”
Saat itu Kwee Siang juga mulai diliputi keraguan dan
kekuatiran, dia telah menghampiri lebih dekat kesamping Yo
Him.
Karena jaraknya dengan Yo Him semakin dekat, maka
Kwee Siang merasakan samberan hawa panas dari tubuh Yo
Him yang semakin kuat.

Waktu Kwee Siang ingin berjongkok disampingnya untuk
memeriksa keadaan Yo Him, tiba2 Yo Him mendadak sekali
telah mengeluarkan suara teriakan yang nyaring memekakkan
anak telinga, tubuhnya seperti seekor ikan Lee-ie (ikan gabus)
telah melompat ke-tengah udara, dan kedua tangan dan
kakinya ber-gerak2 membawa gerakan Go Bie Kiam hoat,
walaupun ditangannya tidak mencekal pedang !
Kwee Siang jadi terkejut sekali, dia berseru: „Adik
Him…..Adik Him !!” teriaknya sambil mengulurkah tangannya
untuk mencekal tangan Yo Him, maksudnya untuk
menyadarkan Yo Him dari gerakan2 diluar sadarnya itu.
Tetapi ketika tangan Kwee Siang diulurkan, “saat itu
telapak tangan Yo Him telah mengibas dengan jurus Ciang Lie
Kiam Sut” atau “Bidadari Cantik mempergunakan pedang”.
tahu2 dari telapak tangan Yo Him menyambar kekuatan yang
panas sekali, “werr”, dan Kwee Siang mengeluarkan suara
jeritan tertahan karena tubuhnya telah terlempar keras sekali,
sampai terbanting sejauh dua tombak dilantai perahu.
Phang Kui In juga jadi terkejut tanpa berpikir lagi dia telah
menubruk kearah Yo Him, dia termaksud untuk mencegah Yo
Him bergerak lebih jauh, yang mungkin bisa membahayakan
dirinya. Tetapi belum lagi Phang Kui ln sempat merangkul Yo
Him justru disaat itu tangan Yo Him telah bergerak mengibas
kearahnya, tahu2 telapak tangannya menghantam pundak
Phang Kui In, sehingga Phang Kui In merasakan pundaknya
itu sakit luar biasa, seperti tulang Piepenya akan patah hancur,
dan tubuhnya terpental keras sekali keluar dari ruangan kamar
perahu.
Tubuhnya terbanting ditepian lantai perahu, hampir saja
Phang Kui In tercebur kedalam laut, jika saja tangan kanannya
tidak cepat2 mencekal tepian. perahu itu.
Saat itu Yo Him telah ber-teriak2 dengan suara yang
nyaring : „Panas ! Panas ! Panas !” suaranya sambung
menyambung, karena suara itu terdengarnya aneh sekali,

nyaring dan keras, bagaikan teriakan seorang akhli Lweekhe
(akhli tenaga dalam) yang sudah mahir, sehingga suaranya
bisa menggema diudara bebas seperti itu. Juga tubuh Yo Him
telah ber-jingkrak2 dengan keras dan tinggi. Dia telah berlari
keluar dari ruangan kamar perahu itu, dan dengan tidak
terduga tahu2 dia telah melompat kedalam laut !
Tentu saja Phang Kui In dan Kwee Siang jadi terkejut
bukan kepalang, mereka merasakan darah mereka seperti
berhenti mendesir, jantung mereka seperti copot rasanya.
„Adik Him! Adik Him !” teriak Kwee Siang seperti kalap.
Gadis ini telah berlari dengan cepat sekali kearah tepi
perahu, dia bermaksud akan melompat kedalam laut untuk
menolongi Yo Him.
Phang Kui In juga kaget setengah mati, dia ber-teriak2: „Yo
Him! Him-jie !!” dan dia memburu juga ketepi perahu itu,
dengan maksud ingin melompat kelaut juga, untuk menolongi
Yo Him.
Tetapi disaat itu telah terlihat suatu peristiwa yang aneh
luar biasa yang hampir tidak bisa dipercayai oleh Phang Kui In
dan Kwee Siang, dimana keduanya sampai memejamkan
matanya berulang kali, me-ngucek2nya, karena mereka
merasa seperti dalam mimpi melihat peristiwa aneh itu.
Yo Him ternyata tadi telah mencebur keair laut, tetapi sama
sekali tidak kelelap, tubuhnya itu timbul tenggelam dengan
gerakan yang cepat sekali. Waktu itu laut tengah tenang tidak
bergelombang, tetapi tubuh Yo Him sebentar melompat keatas
permukaan laut, dan sebentar pula menyelam lenyap,
kemudian timbul lagi melompat tinggi keluar dari permukaan
air laut. Dengan sendirinya keadaan seperti ini telah membuat
Kwee Siang dan Phang Kui In jadi heran sekali.
Setiap kali melompat tinggi dari permukaan air laut, kedua
tangan Yo Him ber-gerak2 seperti orang yang tengah bersilat,

tentu saja telah membuat Phang Kui In dan Kwee Siang
memandang takjub.
Walaupun bagaimana mereka tidak mengerti, mengapa Yo
Him bisa timbul tenggelam dengan gerakan2 yang begitu
lincah, bagai dia sedang me-lompat2 diatas tanah datar.
Mengapa Yo Him, yang tidak bisa berenang bisa tidak
tenggelam ?
Sesungguhnya ada sebab2nya.
Karena seluruh jalan darah ditubuhnya telah dibuka oleh
Kwee Siang dan juga jalan darah Ban Liong Hiatnya telah
dibuka juga, dengan sendirinya tubuhnya itu jadi
memantulkan uap panas, yang menguap dalam tekanan udara
yang halus setelah lewatnya dua puluh empat jam dia berada
dalam keadaan pingsan.
Maka dari itu waktu dia menceburkan diri kelaut. justru
tekanan dari tenaga menguap itu membuat tubuhnya jadi
terpental keatas pula menurut bobot dan berat jatuhnya tubuh
Yo Him.
Seperti dibagian atas telah dijelaskan, jika sekarang Yo Him
belum bisa mengendalikan dan menguasai tenaga murninya
maka dengan dibuka seluruh jalan darahnya itu, dia hanya
bisa menolak serangan tenaga lawannya, dimana lawannya
menyerang satu tail beratnya, maka tenaga menolaknya
sebesar satu tail juga. Begitu lawannya menyerang sepuluh
kati, maka akan sepuluh kati pula tenaga menolak yang
meluncur keluar dari tubuh Yo Him.
Kini dia telah melompat kedalam laut, air laut merupakan
benda cair yang padat, begitu tubuhnya melayang turun,
dengan bobot tubuhnya ditambah berat meluncurnya tubuh
itu, maka begitu menyentuh permukaan air laut, seketika dari
tubuhnya segera muncul hawa menolak yang sama berat dan
kuatnya dengan tenaga membentur tubuh Yo Him dengan
permukaan air laut. Sehingga dia telah terpental keatas lagi.

Begitu jatuh, begitu tertolak lagi keatas. Maka keadaan seperti
itu berlangsung terus, dimana Yo Him masih di kuasai oleh
alam dibawah sadarnya.
Sedangkan saat itu, tampak tubuh Yo Him berulang kali
melambung keatas. Dan selanjutnya yang membuat Phang Kui
In dan juga Kwee Siang jadi kagum luar biasa, karena mereka
menyaksikan Yo Him berjalan hilir mudik dipermukaan air laut
ber lari2 seperti juga dia tidak memiliki berat dan bobot tubuh,
dari jauh dia seperti sedang berlari2 diatas permukaan tanah !
Itulah pemandangan yang menakjubkan sekali !
Sesungguhnya karena Yo Him dalam keadaan pingsan dan
belum sadarkan diri setiap gerakan yang dilakukannya itu
dikuasai oleh alam dibawah sadarnya, dan juga gerakan
tubuhnya itu menyebabkan seluruh otot dan jalan darah yang
telah dibuka bekerja dengan sendirinya, karena memang Yo
Him belum bisa mengendalikannya dan baru bisa
membiarkan kekuatan murni ditubuhnya bekerja
sekehendaknya menurut tekanan! dari luar.
Waktu itu Yo Him telah ber-lari2 diatas permukaan air laut
karena dia tengah berada dibawah alam sadarnya, sehingga
dia mengira seperti tengah berlari ditanah datar.
Setiap gerakan telapak tangannya memiliki tenaga
menekan, maka tenaga menekan itu menerima reaksi pula
dari tendangan tenaga yang memantl dari kekuatan yang
muncul dari kedua telapak kakinya itu membuat tubuhnya
tetap berada diatas permukaan air laut itu, karena terdorong
kembali oleh kekuatan tenaga membalik dari sumber tenaga
murninya dari bawah telapak kakinya.
Begitu dia melangkah begitu dia menerima tenaga
menolak, maka sebab itulah dia bisa melangkah terus tanpa
kakinya tenggelam kedalam air laut.
Kwee siang dan Phang Kui In jadi tidak mempercayai apa
yang mereka lihat itu, keduanya sampai menahan napas

sesaat lamanya. Mereka sendiri tidak mungkin bisa melakukan
apa yang dilakukan oleh Yo Him.
Saat itu Yo Him telah berlari2 sejenak lamanya, tetapi
akhirnya dia telah berhenti berlari karena ber-angsur2 alam
sadarnya telah pulih, dan dia melihat bahwa dirinya berada ditengah2
air laut.
Namun disaat itu karena dia tidak melakukan suatu gerakan
apa2, kedua kakinya ber diam saja, maka bobot badannya itu
telah menekan kebawah tertarik oleh gaya tarik bumi, yang
bersumber dari dalam laut, maka tubuh Yo Him jadi
tenggelam !
Yo Him yang baru tersadar dari pingsannya jadi terkejut
bukan main, dia sampai mengeluarkan suara seruan kaget dan
telah ber ulang kali mengeluarkan suara teriakan meminta
tolong, kedua tangannya telah ber-gerak2, begitu juga dengan
kedua kakinya. Dari kedua telapak kakinya dan tangannya
meluncur pula kekuatan otomatis dari setiap otot dan jalan
darah ditubuhnya, tubuh Yo Him terpental pula.
Hal itu berlangsung beberapa kali, membuat Yo Him gugup
luar biasa, dan saat itu Phang Kui In telah bergerak cepat
sekali, dia telah mengayuh perahunya untuk menghampiri Yo
Him. Begitu juga Kwee Siang menjadi binggung, dia telah
membantu mengayuh perahu dengan cepat menghampiri
tempat dimana Yo Him tengah me-lompat2 diair laut dengan
cara yang aneh itu.
waktu perahu telah menghampiri dekat, justru disaat itu
tubuh Yo Him sedang melambung ketengah udara, dan jatuh
tepat didalam perahu !. Maka dengan cepat sekali Kwee Siang
telah melompat lari menangkap tubuh Yo Him.
Seketika Yo Him lemas dalam rangkulan Kwee Siang,
tenaganya habis dan dia telah rebah tertidur nyenyak sekali.
Phang Kui In menatap Yo Him dengan muka yang pucat
dan berkuatir sekali.

,,Apakah tidak akan terjadi sesuatu apapun juga terhadap
dirinya ?” tanya Phang Kui In kepada Kwee Siang, suaranya
mengandung kekuatiran.
,,Tidak !” menyahuti Kwee siang. ,,Tadi kita telah
menyaksikan betapa dia telah memiliki semacam ilnu yang
luar biasa sekali…!”
Lalu mereka telah menunggui dengan penuh perhatian, dan
perahu telah berlayar terus.
Selama dua puluh empat jam lagi Yo Him tertidur, sampai
akhirnya setelah lewat sehari semalam lagi, dia baru tersadar
dari tidurnya.
Seluruh tulang2 dibadannya terasa sakit ngilu dan dia
merintih perlahan.
„Kau tidak apa2, adik Him …… besok lusa kesehatan
tubuhmu akan pulih sebagaimana biasa, bahkan akan lebih
hebat lagi, karena kini engkau telah memiliki semacam
kekuatan lwekang yang benar2 luar biasa-” hibur Kwee Siang.
„Ya, engkau benar2 hebat, Himjie !” Phang Kui In ikut
menghiburnya.
Yo Him mengangguk perlahan sambil ter senyum lemah,
dia letih bukan main.
Kemudian Kwee Siang telah memasakkan bubur untuk Yo
Him, yang memakannya dengan lahap.
Begitulah, hari demi hari telah lewat dan mereka lalui
dengan cepat dalam pelayaran tersebut.
Tiga hari kemudian, kekuatan dan kesehatan Yo Him telah
pulih. Dia telah bisa berjalan dan berdiri ditepi perahu untuk
menangkapi ikan2 yang berada ditepi perahu tersebut.
Luar biasa cara Yo Him menangkap ikan itu.

Karena dengan mempergunakan telapak tangannya, yang
dihantamkan kepermukaan air laut, dimana kebetulan seekor
ikan dilihat nya lewat, maka ikan itu akan menggelepar dan
bukannya tenggelam, justru melompat seperti juga terhisap
ketelapak tangan Yo Him, sehingga puluhan ekor ikan telah
ditangkap Yo Him untuk teman lauk makan mereka.
Yo Him menyadari juga, bahwa didirinya kini telah
terpendam semacam ilmu lwekang yang luar biasa, dia
berterima kasih sekali kepada Kwee Siang.
Kwee Siang dan Phang Kui In juga menjadi girang, mereka
melihat bahwa Yo Him telah memiliki kekuatan lwekang yang
dahsyat sekali. Mungkin kekuatan dan kemujijatan yang
dimiliki Yo Him berada diatasnya, dan juga merupakan suatu
kepandaian yang sangat langka sekali. Sayangnya Yo Him
belum memiliki latihan yang sempurna, sehingga belum bisa
memanfaatkan hebatnya tenaga dalam itu, yang belum bisa
dikendalikan dan dipergunakan sepenuh hatinya.
Disaat itu tampak Yo Him telah ber-cakap2 dengan Kwee
Siang asyik sekali, karena dia menganggap encie Siangnya ini
sangat baik sekali. Bahkan tenaga dalam yang hebat dan
sekarang dimilikinya itu berasal dari encie Siangnya tersebut.
Phang Kui In selalu memuji bahwa Yo Him memiliki
kepandaian yang hebat dan calon pendekar yang dahsyat,
kalau saja dia kelak telah bertemu dengan Sin Tiauw Taihiap
dan sang ayah itu akan membimbingnya.
Yo Him jadi girang sekali, dia juga berjanji berulang kali
dihadapan Kwee Siang dan Phang Kui In, jika memang dia
bisa memiliki kepandaian yang tinggi, tentu kepandaiannya itu
akan dipergunakan untuk menolongi orang2 yang tertindas
dan lemah, bahkan dia pun ingin menyumbangkan tenaganya
untuk membantu pemerintah Song mempertahankan negeri
dengan para pencinta negeri lainnya, untuk mengusir
ancaman serbuan tentara Mongolia yang dipimpin Kublai
Khan.

„Engkau masih terlalu kecil, Him-jie…!” kata Phang Kui In.
„Walaupun kepandaianmu hebat, engkau belum bisa berpikir
terlampau jauh mengenai kekotoran dunia persilatan dan juga
dalam soal peperangan antara negara. Maka yang terpenting
engkau baik2lah melatih diri, jika kelak telah bertemu dengan
ayah mu, engkau harus tekun mempelajari setiap ilmu silat
yang diturunkannya. Kelak jika engkau telah dewasa, tentu
engkau akan dapat melakukan banyak perbuatan mulia…!”.
„Terima kasih paman Phang…ini semua berkat bimbingan
paman Phang dan juga encie Siang. Jika tidak ada Encie
Siang, tentu akupun tidak akan memiliki kepandaian lwekang
seperti sekarang”.
Mendengar Yo Him mengucapkan kata2 merendah seperti
itu, Kwee Siang telah tertawa.
„Adik Him, walaupun aku menurunkan seluruh
kepandaianku, tetapi jika kuturunkan kepada manusia
umumnya yang biasa saja tidak memiliki suatu kelainan dan
kemujijatan ditubuhnya seperti yang engkau miliki, walaupun
aku mendidiknya sepuluh tahun, belum tentu bisa
memperoleh hasil seperti yang sekarang engkau peroleh !
Maka dari itu aku girang sekali, tidak sia2 aku mendidikmu
hanya dalam baberapa hari saja ternyata engkau telah dapat
melatih diri dengan sempurna, yang kurang hanyalah tenaga
dalam yang harus dilatih pula, agar bisa kau kuasai dan
kendalikan sekehendak hatimu……. dengan demikian tentunya
engkau akan menjadi seorang pendekar muda yang sulit dicari
tandingannya ! Terlebih lagi jika kelak engkau telah bertemu
dengan ayahmu memperoleh petunjuk2 dan Latihan2 dibawah
bimbingannya, tentu engkau akan memperoleh kemajuan
yang pesat sekali ……. karena ayahmu dimasa ini merupakan
seorang pendekar nomor Wahid…….!”
Yo Him menjadi girang, berulang kali dia mengucapkan
terima kasihnya.

Disaat itu perahu terus juga meluncur mengarungi
samudera. Dan selama ber-hari2 mereka melakukan
pelayaran.
Setelah melakukan perjalanan air selam setengah bulan,
tengah hari itu mereka singgah dipelabuhan yang terdapat
dipinggir kota Bun Hian Kwan. Sebuah kota yang cukup besar,
dan jika melakukan perjalanan darat dari kota tersebut ke Kun
Lun San tentu memakan waktu setengah bulan lagi, maka
Phang Kui In memutuskan untuk melakukan pelayaran dengan
perahu saja dulu. Nanti setelah tiba dipelabuhan kota Kiang
Yang Kwan barulah mereka akan melakukan perjalanan darat.
Dari kota Kiang
Yang Kwan hanya dua hari untuk mencapai Kun Lun San.
Maka dengan cepat sekali mereka telah melakukan
pelayaran tanpa singgah dikota Bun Hian Kwan.
Tetapi waktu mereka melakukan pelayaran selama dua
hari, disaat itulah mereka menghadapi suatu urusan yang
memaksa mereka barus menghadapi persoalan yang cukup
rumit.
Waktu itu langit cerah, air laut tampak tenang saja, dan
juga burung2 camar tampak berterbangan didekat perahu
mereka. Dengan adanya burung2 camar itu, maka Phang Kui
In memberitahukan Kwee Siang dan Yo Him, bahwa mereka
berada diperairan yang dekat dengan daratan.
Belum lagi Phang Kui In selesai menceritakan sesuatu yang
lainnya, telah terlihat dikejauhan dua buah titik hitam, yang
semakin lama semakin membesar menghampiri mereka.
„Dua buah kapal berukuran besar!” kata Phang Kui In
dengan suara terkejut setelah memperhatikan kedua titik
hitam itu yang semakin besar. „Kita harus cepat2 menyingkir
karena air laut yang akan bergelombang hebat

membahayakan perahu kita. kedua kapal itu tampaknya
berukuran besar…….!” maka Phang Kui In telah mengayuh
perahunya agak menjauh, disaat. itu terlihat kedua kapal yang
berukuran sangat besar itu mendatangi semakin dekat.
Dalam keadaan demikian, Phang Kui In berusaha
mengayuh perahunya lebih kuat dengan pengerahan tenaga
lwekangnya, sehingga perahunya itu melesat diatas
permukaan air laut.
Kwee Siang juga telah membantui mengayuh, tetapi kedua
kapal berukuran besar itu dengan cepat telah mendatangi,
sehingga menimbulkan air laut yang bergelombang keras.
Walaupun Phang Kui In berusaha menjauhi perahunya dari
jalur lintas kedua kapal itu, namun kedua kapal berukuran
besar itu terus mengejar mereka.
Dipuncak tiang dari kapal2 itu, tampak terpasang masing2
sehelai bendera berwarna merah, ditengah2nya terdapat
gambar burung rajawali yang sedang mementang sayap, dan
tertulis satu huruf Tiauw (Rajawali).
„Celaka !” berseru Phang Kui In waktu melihat bendera itu
dengan jelas. Mereka merupakan rombongan dari
perkumpulan Tiauw pang… perkumpulan Rajawali, yang
memiliki ribuan anak buah dan biasanya mengganas di lautan,
merajai lautan setiap kapal pedagang akan dirampoknya.
Mereka juga memiliki banyak anak buah yang memiliki
kepandaian yang tinggi, sebab banyak orang2 gagah dari
kalangan Liok lim (rimba hijau, perampok) didaratan
Tionggoan, yang menghamba diri kepada perkumpulan Tiauwpang
itu. Tetapi selama ini perkumpulan itu tetap menjadi
perkumpulan rahasia yang tidak diketahui jelas dimana
markasnya, merupakan suatu teka-teki dan bayangan maut
bagi para pedagang, sedangkan pihak pemerintah juga tidak
berdaya untuk memberantas mereka, karena tidak
mengetahui jelas markas mereka..!”.

Waktu menjelaskan begitu, muka Phang Kui In agak pucat,
tampaknya dia tengah diliputi perasaan takut, berkuatir dan
gelisah.
Kwee Siang jadi heran, begitu juga dengan Yo Him, waktu
melihat Phang Kui In seperti ketakutan, karena mereka
mengetahui bahwa Phang Kui In memiliki kepandaian yang
cukup tinggi, walaupun tidak setinggi kepandaian Kwee Siang.
Apa lagi sekarang dia sedang didampingi Kwee Siang, yang
kepandaiannya hebat sekali dan jarang bisa dihadapi oleh
jago2 biasa saja, maka walaupun pihak Tiauw Pang itu
memiliki banyak anak buah, tetapi belum tentu rombongan
perampok itu bisa merubuhkan mereka.
Phang Kui In telah berteriak nyaring kepada Kwee Siang :
“Cepat ! Cepat ! Kita harus menyingkir dari mereka!”
Melihat kekuatiran dan kegelisahan didiri Phang Kui In,
Kwee Siang jadi tidak banyak bertanya, dia telah bantu
mengayuh perahu mereka itu.
Tetapi perahu Phang Kui In telah disilang oleh kedua kapal
tersebut, sehingga perahu mereka tidak bisa melarikan diri
lebih jauh untuk lolos dari kepungan itu, karena air laut yang
bergelombang besar akibat terjangan kapal2-besar itu,
membuat phang Kui In dan Kwee Siang sulit mengendalikan
perahunya.
Waktu kapal besar yang satunya hampir dekat dengan
perahu Phang Kui In, tahu2 dari atas kapal itu telah
menyambar datang semacam benda bulat putih. Menyambar
dengan kuat dan cepat sekali, sampai memperdengarkan
suara ‘unggg……..!’.
Kwee Siang melihat menyambarnya benda putih itu, yang
berukuran sebesar kepala manusia, telah mengulurkan
tangannya, dia menyambutinya.
„Tapp !” Kwee Siang berhasil menyambuti benda itu, tetapi
begitu dia melihat barang yang sudah ada ditangannya, Kwee

Siang mengeluarkan suara jeritan ngeri dan melepaskannya
benda putih itu jatuh kelantai perahu, menggelinding
mengeluarkan suara kelutuk, kelutuk, kelutuk’.
Phang Kui In terkejut bukan main, begitu juga Yo Him,
karena mereka kuatir kalau2 Kwee Siang telah menyambut!
benda beracun.
Tetapi waktu mereka menegasi benda putih yang telah
menggeletak diatas lantai perahu, kembali mereka jadi
terkejut lagi, karena setelah terlihat jelas ternyata benda itu
adalah sebuah tengkorak kepala manusia yang tulangnya
berwarna putih, sedang menggeletak menyeringai.
Pantas saja waktu Kwee Siang melihat benda itu dia telah
mengeluarkan suara jeritan kaget dan telah melemparkan
kembali benda yang telah berhasil ditangkapnya.
Phang Kui In menghampiri tengkorak kepala manusia itu,
dia melihatnya diatas kening dari tengkorak yang licin putih
itu terdapat tulisan berwarna hitam : „Kalian kami undang
kekapal kami untuk dijamu, jangan menolak, karena kematian
mengejar kalian. Menerima undangan, kebahagiaan
menunggu !”
Phang Kui In menghela napas panjang, dia telah
memperlihatkan tulisan itu kepada Kwee Siang, dan juga telah
melirik kearah kepala kapal itu, dimana tampak barisan orang2
bertubuh tinggi besar dengan muka yang bengis tengah
mengawasi kearah mereka.
Kwee Siang telah membaca ‘surat undangan’ itu, dan
akhirnya dia menggumam perlahan : „Aneh sekali cara orang2
Tiauw-pang ini memberikan undangan…..!”
„Ya, lebih aneh lagi nanti sikap mereka kita masih belum
tentu bisa lolos dari kematian ditangan mereka…..!”
menggumam Phang Kui In dengan suara yang perlahan.
„Tetapi tidak ada jalan lain lagi, biarlah kita memenuhi
undangan mereka ! Yang aneh sekali, mengapa mereka

mengincar kita, sedang kita hanya memakai perahu kecil,
yang tentunya tidak seharusnya mereka mengetahui bahwa
kita orang2 persilatan !”
“biarlah kita lihat saja “ kata Kwee Siang yang jadi tertarik
hatinya girang sekali.
Seperti diketahui, jika kakeknya Oey Yok Su adalah situa
sesat, justru Kwee Siang merupakan Siauwsia, si sesat muda.
maka dari itu jika dia menghadapi suatu urusan yang aneh
tentu hatinya sangat tertarik sekali dan diapun akan
memperoleh kegembiraan, sebab jiwanya disamping berani
sekali dan tabah juga senang akan urusan2 yang sangat aneh.
Saat itu Phang Kui In telah memusatkan tenaga dalamnya
yang disalurkan kedalam suaranya, dia telah berkata dengan
suara yang nyaring. “Baiklah ! undangan kami terima !”.
Terdengar suara tertawa ber gelak2 yang nyaring dan
menusuk telinga, sehingga mengejutkan Kwee Siang dan
Phang Kui In maupun Yo Him.
Karena suara tertawa itu terdengar jelas, walaupun jarak
mereka terpisah jauh, dan suara itu mengalun panjang
bagaikan tidak ter putus2.
Setelah suara itu merendah, maka terdengar perkataan
seseorang dari arah kapal itu ! ,,Sungguh sikap seorang gagah
dan seorang Hohan sejati…! Sungguh harus dipuji ! Sungguh
harus dipuji !”.
Dan setelah berkata begitu, tampak dari arah kapal itu
diturunkan sebuah tali yang besar. Namun hanya sehelai saja,
dan tidak memiliki kaitan lainnya, bukan tali tangga yang biasa
dipergunakan oleh kapal2 besar umumnya.
„Bisakah kalian mempergunakan tali jalur ini untuk datang
berkunjung kemari ?” mengejek sekali suara pertanyaan itu.

Phang Kui In jadi mendongkol, begitu juga Kwee Siang.
„Kita terima undangan itu.!” kata Kwee Siang perlahan. „Adik
Him biar kugendong..!”.
Phang Kui In bimbang sejenak, karena yang dipikirkan
adalah Yo Him.
Tetapi akhirnya hatinya jadi tetap juga, dia telah berteriak
pula dengan disertai lwekangnya, “Kami menerima undangan
ini …… dan kami sudah berterima kasih atas tangga istimewa
yang kalian berikan……!”
Dan Kwee Siang telah perintahkan Yo Him menggemblok di
punggungnya, dia menghampiri tepian perahu, mencekal
ujung tambang yang berukuran besar itu.
“Pegang leherku kuat2, adik Him !” pesan Kwee Siang,
kemudian dengan suara nyaring dia telah berteriak : „Ya,
kalian boleh angkat !”
Tetapi Tambang itu bukan dikerek naik, melainkan digentak
dengan keras dari atas perahu. Gentakan itu dilakukan oleh
seorang bertubuh gemuk pendek, mukanya empat persegi, dia
menghentak sambil menyeringai menyeramkan.
tentu saja karena dihentak begitu, tubuh Kwee Siang jadi
terhentak naik. Untung saja Kwee Siang telah memiliki
kepandaian meringankan tubuh yang sempurna, waktu
tubuhnya tertarik dengan gentakan begitu, kedua kakinya
telah membantu menjejak lantai perahu, tubuhnya melayang
naik keatas seperti terbang, dan dengan dua kali
berjumpalitan, kemudian mempergunakan ujung kakinya
menotok ujung tambang yang dicekalnya, tubuhnya melompat
lebih tinggi dan hinggap diujung kepala kapal itu !
„Bagus ! Bagus !” berseru beberapa orang yang berada
dikepala kapal itu. Sedangkan tambang itu telah diturunkan
kembali.

Phang Kui In yang telah menyaksikan bahwa tambang tidak
akan dikerek, tetapi akan digentak keras oleh sigemuk pendek
itu, telah bersiap2. Begitu dia mencekal keras tambang itu, dia
menunggu sampai tali itu digentak.
Dan benar saja, tambang itu telah dihentak keras, tubuh
Phang Kui In seperti ditarik keras sekali, tambang melayang
ketengah udara, karena tambang itu dihentak dengan disertai
kekuatan tenaga dalam yang telah sempurna.
Tubuh Phang Kui In telah melambung ketengah udara,
tetapi Phang Kui In bergerak cepat sekali, dia telah
mempergunakan kekuatan ditangannya untuk menarik
tambang itu, sehingga tali itu menegang dan disaat itulah
dengan meminjam tenaga tarikan itu, tubuh Phang Kui In
telah meluncur kearah kepala kapal itu, dan dia hinggap tepat
disisi Kwee Siang dan Yo Him.
„Bagus !” berseru sigemuk pendek sambil tertawa
menyeringai, tetapi sikapnya itu mengejek dan meremehkan
sekali. Dia telah melemparkan, tambang itu kepada salah
seorang anak buahnya disisi kanannya, katanya kemudian :
„Tidak percuma kami mengundang kalian, karena memang
kalian memiliki kepandaian yang lumayan ! Mari ! Mari kita
menemui Pangcu kami ……..!”
Phang Kui In dan Kwee Siang jadi berdebar, sedangkan Yo
Him jadi berkuatir.
Sigemuk ini ternyata hanya orang bawahan belaka, tetapi
telah memiliki kepandaian yang demikian tinggi.
Bagaimana kelak kepandaian Pangcunya, jika dia
memamerkan kepandaiannya, mereka masih men-duga2nya.
Disaat itulah Phang Kui In telah mengangguk.
“Terima kasih atas undangan ini, kalau boleh kami tahu,
siapakah nama besar dari Kiesu ?” tanya Phang Kui In.

„Aku Bun Tiong Yang, hanya pengawal kapal utama
belaka…jika hendak bicara nanti didalam, karena aku hanya
memiliki wewenang mengundang tamu dan mengantarkan
kepada pemimpin2 kami…!”.
Phang Kui In dan Kwee Siang tambah terkejut. Sebagai
pengawal kapal utama, ternyata kedudukan sipendek gemuk
ini tidak terlalu tinggi, merupakan pangkat dan kedudukan
yang biasa saja. Namun tenaga dan kepandaiannya begitu
hebat, maka membuktikan bahwa Tiauw Pang merupakan
perkumpulan yang hebat sekali, karena entah berapa banyak
orang pandai yang mereka miliki.
Kemudian sigemuk pendek telah memimpin Phang Kui In
dan Kwee Siang untuk masuk kedalam kamar kapal yang
berukuran luas. Waktu mereka akan melangkah masuk
melewati pintu segi empat, tampak seorang anak buah Tiauw
Pang yang memakai baju warna merah telah memukul
tambur, keras sekali bunyi tambur itu. Begitu bunyi tambur
berhenti, terdengar suara seorang anak buah lainnya berteriak
nyaring: „Tamu telah hadir….!” Semula Phang Kui In bertiga
menduga diruangan dalam kamar kapal itu telah menanti
Pangcu dari perkumpulan tersebut, lengkap berikut pemimpin2
lainnya, Tetapi begitu mereka melangkah masuk, mereka jadi
heran, mereka hanya melihat ruangan kosong yang luas sekali
dan penuh dengan meja dan kursi yang teratur rapih.
„Silahkan duduk! Silahkan duduk! Pangcu kami sebentar
lagi akan datang ……!”
Phang Kui In dan Kwee Siang maupun Yo Him bertiga
duduk dengan hati men-duga2, karena mereka tidak
mengetahui apa yang dikehendaki oleh orang2 Tiauw Pang
terhadap mereka. Dengan dikerahkannya sampai dua kapal
besar dengan lengkap pula jago2-nya dan juga Pangcu dari
perkumpulan itu hadir dikapal ini, membuktikan bahwa Tiauw
Pang mengandung maksud yang penting terhadap mereka.

„kapal ini merupakan milik Tiauw Pang menjelaskan
sigemuk pendek sebelum berlalu.
„Kalian tidak perlu kuatir akan perahu dan barang2mu,
karena ada sebutir beras kalian yang lenyap atau berkurang,
maka kapal ini akan dipergunakan sebagai penggantinya !.
Kami akan merawat dan menjagai perahu kalian maka kalian
tidak perlu memikirkannya.
„Terima kasih…!” kata Phang Kui dengan mendongkol, dia
telah mengangguk dan tidak mengeluarkan banyak komentar
apa2 lagi.
Ruangan besar itu telah sunyi dan tidak terlihat seorang
manusiapun juga, karena sigemuk pendek dengan anak
buahnya telah keluar meninggalkan mereka, pintu keluar juga
telah ditutup kembali.
Mendengar dari suara besi yang saling bentur, maka Phang
Kui In yang telah berpengalaman segera mengetahui bahwa
pintu kapal itu telah dikunci dari luar.
Tetapi Phang Kui In telah bertekad, untuk menghadapi
segala apapun juga yang terjadi. Karena untuk meloloskan diri
lebih sukar dari berdiam diri, dia bermaksud akan
mempergunakan akal guna meloloskan diri dari orang2 Tiauw
Pang ini.
Tiba2 kesunyian itu telah dipecahkan oleh suara tambur,
disusul oleh suara yang berteriak nyaring, “Para Sianlie Pangcu
akan keluar.. !”
Benar saja waktu tirai merah dari sudut ruang sebelah
kanan tersingkap, telah melangkah dua belas gadis cantik
bertubuh semampai elok sekali yang melangkah masuk
keruangan. Kemudian mereka membagi diri menjadi dua
barisan, yaitu barisan sebelah kiri kursi enam orang, disebelah
kanan enam orang, lagi mereka membentuk barisan yang
sangat rapi sekali.

Semuanya berdiam diri dan mereka memakai pakaian
berwarna putih, sehingga benar2 menyerupai seperti bidadari,
karena wajah merekapun cantik cemerlang.
Suara tambur lenyap dan keadaan sunyi lagi, kedua belas
wanita yang disebut sebagai “Sianlie” dari Pangcu Tiauw Pang
itu telah berdiam diri saja.
Phang Kui In telah memandangi rombongan wanita itu,
sebagai seorang yang berpengalaman, dia bisa melihat kedua
belas wanita itu juga memiliki kepandaian yang cukup tinggi,
karena mata mereka semuanya memancarkan sinar yang
sangat tajam sekali.
Saat itu terdengar suara tambur telah di pukul lagi
beruntun.
Kemudian disusul dengan suara teriakan : „Wakil Pangcu
akan hadir…!”.
Dan suara tambur itu semakin keras dan beruntun.
Tampak tirai telah terbuka dan seorang lelaki berwajah
kurus pucat dengan pakaian yang sangat kebesaran
ukurannya, telah melangkah masuk. Tetapi dilihat dari
sikapnya, dia angkuh sekali. Sama sekali dia tidak melirik
kepada Phang Kui In bertiga, hanya duduk ditempatnya,
disamping kursi utama.
Salah seorang wanita ‘sianlie’ itu telah menarikkan kursinya
dengan sikap yang hormat sekali.
Sedangkan wakil dari Pangcu itu telah duduk diam dengan
muka yang dingin tanpa mengucapkan sepatah kata menegur
tamu2nya.
Kemudian tambur telah terdengar lagi dengan suara yang
ber-talu2, disertai suara teriakan : „Pasukan pengawal Pangcu
akan datang.. ! “

Dan disaat itulah tampak dua puluh orang lelaki berpakaian
seragam telah memasuki ruangan kamar itu.
Lalu dua orang diantara dari kedua puluh pengawal itu
telah menghampiri wakil Pangcu, dengan berlutut mereka
memberikan laporan „Kami dua puiuh pengawal ruangan
telah hadir…! “
Wakil Pangcu itu hanya mengangguk dan mengibaskan
tangannya.
Kedua orang itu telah mengundurkan diri, mereka
kemudian berkata, “Ketempat masing2. .!”.
Maka kedua puluh orang pengawal ruangan itu telah
memecah diri, kesebelah kiri sepuluh orang, termasuk salah
seorang dari kedua orang yang tadi melapor kepada wakil
Pangcu, sedangkan yang sepuluh orang lagi telah berbaris
disebelah kanan. Mereka berbaris dengan rapi dan agung
sekali, karena itu kelihatannya mereka angker bukan main,
dipinggang masing2 tersoren sebatang golok.
Tentu saja Phang Kui In dan Kwee Siang jadi kagum juga,
tampaknya Pangcu dari perkumpulan ini mengatur
peraturannya dengan disiplin yang keras, sehingga untuk
kehadiran seorang pangcu dari perkumpulan Tiauw Pang saja,
sama seperti menanti hadirnya seorang kaisar.
Sedangkan Yo Him yang belum begitu mengerti keadaan
dalam rimba persilatan, yang memiliki banyak sekali keanehan
dan peristiwa2 yang berada diluar dugaan, telah memandang
bengong saja.
Tiba2 terdengar tambur telah dipukul pula dengan suara
yang sangat nyaring : „Pangcu akan hadir, semuanya berdiri
dan memberi hormat.. !”
Wakil Pangcu telah berdiri, begitu juga semua yang hadir
berdiri dengan sikap menghormat, seperti menantikan
kedatangan seorang kaisar.

Phang Kui In, Kwee Siang dan Yo Him tetap duduk
ditempatnya.
Kepala pasukan pengawal ruangan yang disebelah kanan
telah menghampiri :
„Kami meminta untuk berlaku hormat jika kalian ingin
dihormati…!” katanya dingin.
Phang Kui In yang tidak ingin mencari keributan, telah
mengajak Kwee Siang dan Yo Him untuk berdiri.
Kemudian mereka mengawasi kebalik tirai itu.
Tetapi disaat suara tambur masih terdengar terus menerus
tirai itu tidak terbuka atau tersingkap.
Cukup lama, akhirnya papan lantai dari kamar kapal itu
bergerak sebagian, kemudian menjeblak terbuka, maka
tampak serombongan orang yang melangkah keluar.
Jalan dimuka adalah seorang anak lelaki berusia dua belas
atau tiga belas tahun dengan sikap yang agung, dengan
kopiah kebesaran dikepalanya, dan jalannya itu angkuh sekali,
matanya juga menatap lurus kedepan tidak melirik kepada
ketiga tamunya.
Dibelakangnya mengikuti belasan orang dan mereka semua
berpakaian sebagai akhli2 silat yang merupakan golongan
kelas utama.
Disaat itu, Pangcu itu yang ternyata anak kecil berusia
diantara tiga belas tahun itu telah duduk dikursi utama, dia
telah memukul meja di hadapannya dengan sikap sebagai
Kaisar cilik saja.
,,Semua kembali ketempatnya masing2 !” itulah merupakan
perintah, karena wakil Pang cu telah duduk kembali.
Sedangkan pasukan pengawal ruangan juga telah berdiri biasa
lagi, tidak setegak tadi, walaupun sikap mereka tampak tetap
menghormat sekali.

Phang Kui In, Kwee Siang dan Yo Him juga telah duduk
kembali.
Hanya yang membuat mereka jadi bengong tertegun,
justru Pangcu perkumpulan “Tiauwpang” yang dihormati oleh
semua anak buahnya, bahkan nama Pangcu itu
‘menggentarkan’ hati orang2 persilatan, hanya merupakan
seorang anak kecil belasan tahun.
Pangcu cilik itu telah mengawasi ‘ketiga tamu’nya dengan
sorot mata yang jeli dan terbuka lebar2. dia mengawasi
tanpa berkata apa2.
Kemudian dia menunjuk kearah Phang Kui In, dia telah
melambaikan tangannya.
„Kemari kau !!” suaranya perlahan, tetapi entah mengapa
memiliki kekuatan seperti memerintah, sehingga Phang Kui In
yang memiliki banyak pengalaman didalam rimba persilatan,
entah mengapa kali ini telah menuruti saja perintah itu,
walaupun hatinya tidak rela dipanggil secara begitu oleh
seorang anak lelaki sebesar Pangcu Tiauw Pang itu.
Phang Kui In telah bangkit berdiri, dia telah menghampiri
kedekat meja Pangcu itu.
„Siapa namamu ?”
„Phang Kui In….” menyahuti Phang Kui In ragu2.
Apa gelaranmu ?” dingin suara pangcu itu.
„Tidak ada……”
„Hemm, orang she Phang, engkau bukan orang yang
sedang kucari!” kata Pangcu itu „Kembalilah kekursimu, nanti
kau boleh pergi meneruskan perjalananmu…….!”
Phang Kui In girang, rupanya Pangcu ini bersama
orang2nya tengah mencari seseorang. Jadi tidak ada
persoalan apa2. Tetapi waktu dia teringat akan Kwee Siang
dan Yo Him, dia jadi berkuatir, Jika Kwee Siang ditanyai

Pangcu itu dan bicara sejujurnya puteri dari Kwee Ceng dan
Oey Yong, bisa memancing urusan baru pula. Bukankah
mereka belum mengetahui sesungguhnya Pangcu dari Tiauw
Pang ini termasuk golongan mana ?
Begitu juga dengan Yo Him…jika dia mengatakan dia
sebagai puteranya Sin Tiauw Taihiap Yo Ko, tentu bisa
memancing persoalan baru pula.
Tetapi untuk membisiki kedua orang kawannya itu, Phang
Kui In sudah tidak memiliki kesempatan.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s