Sin Tiauw Thian Lam (Jilid :15-16

JILID 15
TIDAK apa2, itu semua hanya salah pengertian belaka
tadipun antara aku dengan Wie Kiam Kauwcu hampir saja
timbul salah pengertian…!”.

„Mana…ayahku ?” tanya Yo Him akhirnya dengan suara
yang ragu2, hatinya saat itu tergoncang keras sekali.
„Dalam waktu yang tidak lama lagi, tentu ayahmu itu akan
segera tiba dipulau ini, kini tengah ada suatu persoalan yang
perlu diselesaikan, maka dalam beberapa saat ayahmu Sin
Tiauw Taihiap Yo Ko belum pula dapat berkunjung ke pulau ini
!”.
Yo Him meng-angguk2 beberapa kali, kemudian dia telah
bertanya dengan suara yang masih ragu2, karena hatinya
masih saja tergoncang keras. „Sesungguhnya…sesungguhnya
bagaimana sih rupa dan keadaan ayahku itu ?”
Wie Kiam Kauwcu dan juga Phang Kui In jadi terharu
sekali, mereka mengerti bahwa anak ini sejak dilahirkan
sampai dia memasuki usia seperti sekarang ini, belum pernah
melihat ayah kandungnya.
„Tidak lama lagi tentu engkau akan melihat ayahmu
itu…….” kata Phang Kui In kemudian.
„Ya…… tentu Sin Tiauw Taihiap Yo Ko akan berkunjung
kemari dalam waktu2 yang tidak lama lagi……..!” kata Wie
Kiam Kauwcu.
„Bagaimana jika Yo Siauwko (Engko kecil she Yo) ini
kubawa menjumpai Sin Tiauw Taihiap, agar Taihiap Yo Ko
menjadi tenang dan memiliki pegangan mengenai urusan isteri
dan anaknya ini ?” tiba2 Phang Kui In te!ah memberikan
sarannya. „Aku berjanji, akan menjaganya baik2 selama dalam
perjalanan ! Tentu Sin Tiauw Taihiap masih berada dikaki
gunung Kun Lun San, karena selama ini tentunya Tiat To
Hoatong hanya akan menyembunyikan diri disekitar kaki
gunung itu…!”.
Wie Kiam Kauwcu tampak ragu2, dia telah berkata
perlahan. “Bagaimana jika urusan ini kita rundingkan dulu
dengan Kwee Taihiap Kwee Ceng, dengan jago2 golongan tua
lainnya, yang kebetulan menjadi tamu kami ?”.

„Kwee Taihiap berada disini juga ?” tanya Phang Kui In
terkejut bercampur girang.
„Bukan hanya Kwee Taihiap saja, tetapi juga Taihiap Ciu
Pek Thong, Liehiap Oey Yong, dan lain2nya berada disini.
Begitu pula dengan It Teng Taisu, telah berada dipulau
ini….maka jika engkau.bermaksud untuk bertemu dengan
mereka, mari ikut bersamaku ! Mengenai kepergianmu yang
hendak mengajak Yo Him, saudara Phang bisa kita rundingkan
nanti…!”
Phang Kui In menyetujui saran Wie Kiam Kauwcu, segera
mereka menuju kemarkas Pek Liong Kauw.
Disaat itu tampak jago2 golongan tua telah berkumpul
diruangan itu, mereka juga telah belajar saling kenal dengan
Phang Kui In.
Berulang kali Phang Kui In menyatakan kegembiraannya,
karena dia merasa beruntung sekali bisa bertemu dengan
tokoh2 persilatan yang ternama itu.
Setelah Wie Kiam Kauwcu mengemukakan semua uraian
yang terjadi diluar dari pulau Ang Hwa To yang te!ah
mengejutkan semua orang2 gagah itu, maka Wie Kiam
Kauwcu juga telah mengemukakan usul dari Phang Kui In,
untuk mengajak Yo Him menemui Sin Tiauw Taihiap yang
sedang berada dikaki gunung Kun Lun San.
„Itupun merupakan jalan yang cukup baik…!” kata Kwee
Ceng dengan sabar setelah berpikir sejenak. „Kita bisa
menyebar orang untuk menyampaikan pesan Yo Ko kepada
semua para pendekar pencinta negeri…sedangkan Phang Kui
In bertugas uatuk mengajak Yo Him menemui Kojie (anak Yo,
karena Kwee Ceng memang biasa memanggil Yo Ko dengan
sebutan Kojie.). Nah, bagaimana pendapat It Teng
Cianpwe…?”.
It Teng Taisu telah mengangguk.

„Ya, aku menyetujui saja…!” katanya kemudian.
Begitu juga dengan orang2 gagah lainnya. Hanya Oey Yong
yang menambahkan. “Apakah tidak lebih baik jika seandainya
Phang Kiesu (orang gagah she Phang) ini membawa Yo Him
ber-sama2 ditemani beberapa orang kawan kita ? “
„Jangan !” kata It Teng Taisu „Tentu akan mendatangkan
kecurigaan belaka .! Dengan melakukan perjalanan berdua
saja, mereka bisa menyamar ! Bukankah begitu, Phang Kiesu
? Dengan demikian kalian tentu bisa melakukan perjalanan
yang jauh lebih mudah ……… !”
Disaat itu tampak yang lainnya menyetujui, dan Phang Kui
In juga telah mengiyakan.
Menurut orang2 gagah itu, memang Phang Kui In seorang
yang mengetahui tempat dimana adanya Sin Tiauw Taihiap Yo
Ko, maka dengan diajaknya Yo Him oleh Phang Kui In,
tentunya pertemuan ayah dan anak itu dapat berlangsung
tanpa adanya kesulitan2 lagi……….
Begitulah, Wie Kiam Kauwcu telah perintahkan kepada
orang2nya untuk mempersiapkan meja perjamuan untuk
menjamu Phang Kui In.
Sedangkan Phang Kui In sendiri merasa girang bukan main,
karena disamping dia berhasil bertemu dengan orang-orang
gagah golongan tua yang menjadi tokoh persilatan, juga
telah berhasil membawa Yo Him Untuk dipertemukan dengan
Sin Tiauw Taihiap, berarti dia akan dapat membalas budi dari
Pendekar Burung Rajawali Sakti yang merupakan tokoh nomor
wahid dunia persilatan ini.!
Maka telah direncanakan, besok pagi Phang Kui In dan Yo
Him berdua akan meninggalkan pulau Ang Hwa To.
Malam itu Siangkoan Peng. menangis tidak hentinya karena
dia merasa berat harus berpisah dengan Yo Him, sehingga dia
dijadikan bahan tertawaan dari para pendekar2 gagah perkasa

itu, yang menganggap sikap Siangkoan Peng sangat lucu
sekali.
Karena ditertawakan Siangkoan Peng telah cemberut dan
berlari kekamarnya, kemudian mengunci pintu kamarnya.
Sedangkan Siangkoan Lin Lie hanya tertawa saja melihat sikap
puterinya yang dianggap lucu.
Banyak yang diceritakan oleh Phang Kui In mengenai
perkembangan dalam rimba persilatan, terutama sekali
peristiwa2 yang terjadi diluar pulau Ang Hwa To, dimana
negara Song tengah terancam oleh serangan dan penyerbuan
dari tentara Mongolia.
Tentu saja peristiwa tersebut merupakan peristiwa yang
sangat genting dan gawat sekali. Maka para pendekar itupun
tidak berani berlaku lambat atau ayal2an…merekapun
bermaksud besok mulai menyebar diri selama satu bulan,
untuk memberitahukan kepada para pendekar gagah
mengenai situasi yang panas dari ancaman pasukan tentara
Mongolia itu.
BEGITULAH Phang Kui In telah mengajak Yo Him berangkat
meninggalkan pulau Ang Hwa To dengan mempergunakan
perahu kecilnya, yang kemarin telah dipergunakannya untuk
datang ke pulau ini.
Keberangkatan Yo Him dan Phang Kui In diantar oleh
semua orang gagah, dan mereka mendoakan agar Yo Him
berhasil bertemu dengan Sin Tiauw Taihiap Yo Ko, juga
mengharapkan agar Sin Tiauw Taihiap Yo Ko belum pergi dari
kaki gunung Kun Lun San.
Ditengah laut, Yo Him banyak menanyakan perihal ayahnya
yang memang belum pernah dilihatnya.
Phang Kui In dengan senang hati menceritakan seluruh
pengalamannya waktu bertemu dengan Sin Tiauw Taihiap.

Yo Him tertarik sekali mendengarkan cerita dari Phang Kui
In.
Dia kagum, bercampur perasaan bangga waktu mendengar
ayahnya itu memiliki kepandaian yang hebat sekali, karena
Phang Kui In yang tampaknya memiliki kepandaian demikian
tinggi, tidak berdaya sama sekali menghadapi ayahnya itu.
Tentu saja hal itu telah membuat hati Yo Him semakin
keras untuk cepat2 dapat bertemu dengan ayahnya.
Dalam keadaan demikian, tampak Yo Him telah
mengatakan. „Apakah ayahku itu belum pergi dari kaki
gunung Kun Lun San ? Bukankah sejak paman Phang
berangkat menuju pulau Ang Hwa To, dan perjalanan kita
kesana, memakan waktu hampir tiga bulan ?”
„Mudah2an saja, Sin Tiauw Taihiap belum berlalu dari
tempat itu ! Memang kita harus melakukan perjalanan yang
cepat, dan semoga saja diperjalanan kita tidak menemui
rintangan apa2″
Yo Him juga mengharapkan demikian.
Perahu telah meluncur dengan cepat sekali membelah
gelombang.
Waktu hari ketiga sejak mereka berlayar, terjadi badai dan
gelombang yang besar sekali, perahu itu seperti sehelai daun
yang diombang ambingkan kesana kemari.
Yo Him jadi ketakutan melihat keganasan alam yang ada,
dia sampai ber-seru2 berulang kali dengan ketakutan sekali.
Disaat itu, tampak Phang Kui In telah berusaha uatuk
mengendalikan perahunya, dan akhirnya dia berhasil juga
mengendalikan perahunya itu, walaupun ada sebagian dari
persediaan bahan makanan mereka yang telah terlempar
kelaut.

Yo Him sangat letih sekali, setelah badai lewat, dia tertidur
nyenyak sekali.
Waktu anak kecil ini tertidur nyenyak, Phang Kui In telah
duduk terpekur mengawasinya. Di lihatnya Yo Him tidur
nyenyak sekali, mukanya tampan dan juga tampaknya dia
memang menarik hati.
Dalam keadaan seperti ini, Phang Kui In menghela napas
berulang kali, hatinya merasa iba dan terharu atas nasib Yo
Him.
„Kasihan nasib anak ini, sejak dilahirkan dia belum pernah
bertemu dengan ibu dan ayah kandungnya…dan menurut
cerita In Lap Siansu dan Wie Kiam Kauwcu. Yo Him selalu
menderita dan bersengsara dalam usia yang demikian
kecil…!”.
Perahu terus juga meluncur dengan cepat.
Setelah melakukan perjalanan hampir sepuluh hari,
akhirnya mereka telah tiba dipelabuhan kota Man-siang-kwan.
Yo Him mengajak Phang Kui In untuk singgah dikota
tersebut, karena selama sepuluh hari berada ditengah laut,
merupakan hal yang sangat membosankan sekali.
Phang Kui In sesungguhnya ingin melakukan perjalanan
yang cepat, tetapi karena dia tidak sampai hati menolak
permintaan Yo Him dia meluluskannya dengan segera.
Begitu turun kedarat dan setelah mengirim perahu mereka
kepada salah seorang nelayan di pelabuhan tersebut, Phang
Kui In dan Yo Him telah berkeliling kota.
Mereka telah berjalan mengelilingi kota yang sangat ramai
itu, Yo Him berulang kali memuji keindahan kota tersebut,
karena dia telah banyak menyaksikan keramaian.

Dipinggir jalan dekat pintu utara dari kota. tersebut,
tampak serombongan orang yang tengah menyaksikan penjual
silat.
Seorang gadis, berusia diantara dua puluh lima tahun,
tengah bersilat. Sedangkan seorang lelaki tua, yang
tampaknya adalah ayahnya, telah menabuh tambur dengan
keras, disertai oleh teriakan2 bersemangat.
Sigadis bersilat dengan sebatang pedang, sehingga sinar
pedang itu berkelebat2 dengan cepat menyilaukan mata.
Yo Him memuji permainan silat atau ilmu pedang sigadis.
Saat itu Phang Ku In mengajak Yo Him meninggalkan tempat
itu.
„Biasanya ditempat, keramaian seperti itu dimana ada
penjual silat yang tengah mempertunjukkan ilmu silatnya,
akan muncul peristiwa2 keributan, mari kita berangkat!.
Karena dia mempertunjukkan ilmu silatnya itu. Penjual ilmu
silat itu bisa mendatangkan perasaan tidak senang dari
buaya2 darat di-kota2 yang disinggahinya…!”.
Yo Him hanya menuruti saja ajakan Phang Kui In, dan
mereka telah mengelilingi kota itu lagi beberapa saat lamanya,
sampai akhirnya mereka telah sampai dipintu kota sebelah
barat, dan mereka melihat keadaan ditempat itu sangat ramai
sekali.
Tetapi, Phang Kui Ia tiba2 menghentikan langkah kakinya,
mukanya jadi berobah merah padam karena gusar. Yo Him
juga telah berhenti melangkah, karena dia melihat seorang
gadis berusia dua belas tahun tengah menangis ter-isak2,
menjerit2 kesakitan, sebab dua orang pengemis berusia
diantara dua puluh tahun tengah memukuli gadis itu.
Tentu saja gadis kecil itu tidak berdaya sama sekali, dia
hanya bisa menangis sambil menjerit2 saja.

„Sungguh perbuatan biadab ! Entah anggota mana
pengemis2 tidak tahu diuntung itu ? Apakah mungkin didalam
Kaypang terdapat manusia2 seperti mereka ?” menggumam
Phang Kui In dengan gusar.
Lalu Phang Kui In telah menoleh kepada Yo Him, katanya
„Mari kita tolongi gadis itu!”
Tanpa menantikan sahutan Yo Him, Phang Kui In telah
melangkah menghampiri kedua pengemis yang tengah
memukuli gadis kecil itu.
„Takkk ! Takk !” tahu2 tangan Phang Kui In telah
menyampok kedua tangan dari pengemis itu, dan kedua
pengemis tersebut meraung ke sakitan, mereka telah
melompat akan mundur, tetapi keseimbangan tubuh mereka
telah lenyap, sehingga mereka ter-huyung2 dan terjungkal
rubuh kebelakang.
Sigadis kecil yang ditolongi itu telah berlari sambil
menangis, ketepi jalan. Banyak orang yang tadi menyaksikan
gadis itu dipukuli oleh kedua pengemis itu, yang tidak ada
seorangpun berani menolonginya, telah mengeluarkan suara
sorakan girang melihat kedua pengemis itu telah terpental
demikian rupa.
Disaat itu, tampak Phang Kui In telah berkata dengan
bengis.
„Pengemis2 tidak tahu diuntung. mengapa kau menyiksa
seorang gadis yang tidak berdaya itu !”
Mata kedua pengemis itu mencilak, mereka telah
merangkak berdiri dengan sikap yang galak dan telah
membalas menatap kepada Phang Kui In.
Bahkan salah seorang diantara mereka berdua telah ada
yang membentak
“siapa kau ? Tidak tahukah engkau bahwa kami dari
Kaypang ! tanyanya dengan suara yang angkuh sekali.”

engkau tidak perlu meminjam keangkeran Kaypang untuk
menggertakku !” kata Phang Kui In dengan suara yang
dingin. Tetapi yang terpenting justru perbuatan kalian yang
telah melakukan penyiksaan terhadap gadis kecil yang tidak
berdaya itu, baru kalian pertanggungkan ! Bahkan aku berpikir
Kaypang yang sangat terkenal, yang selalu berjuang untuk
keadilan mana mungkin memiliki anggota2 cabang yang bejat
seperti engkau ? jika Pangcu mengetahui perbuatan kalian ini,
bukankah kalian akan menerima hukuman ?”
Dan setelah berkata begitu Phang Kui In berulang kali
memdengus mengejek, dengan muka yang dingin dan bengis.
MUKA kedua pengemis itu jadi berubah hebat, mereka
tampaknya sangat marah sekali, dengan cepat salah seorang
telah membentak sambil melompat mengayunkan tangan
kanannya, dia telah melancarkan serangan yang cepat sekali.
Phang Kui In hanya mengawasi saja serangan yang
dilancarkan pengemis Itu waktu kepalan tangan pengemis
tersebut hampir tiba didadanya dengan kecepatan yang luar
biasa Phang Kui In mengulurkan tangan kanannya, dia telah
mencekal pergelanggan tangan sipengemis, kemudian kepalan
tangan kirinya menerobos masuk keketiak pengemis tersebut.
„Bukkkkkkk !” disaat itu juga ketiak pengemis itu telah
terserang hebat, sehingga dia merasakan tulang iga didekat.
ketiaknya seperti akan hancur, dia sampai mengeluarkan
suara teriakan kesakitan, dan tubuhnya telah terlempar keras,
karena Phang Kui In telah melepaskan cekalan dipergelangan
tangan sipengemis.
Pengemis yang seorangnya lagi jadi terkejut bukan main,
dia sampai mengeluarkan suara seruan tertahan dan dalam
keadaan kaget dan gusar, dia telah melompat melancarkan
serangan juga kepada Phang Kui ln.

Tetapi seperti juga dengan kawannya, pengemis yang
seorang inipun telah terpental keras oleh hantaman tangan
Phang Kui In, yang mengenai tepat sekali didada sipengemis !.
sehingga pengemis itu mengeluarkan suara erangan. Dan
tubuhnya telah ambruk diatas tanah sambil menggeliat2
mengeluarkan suara rintihan.
Yo Him melihat cara Phang Kui In memberikan hajaran
kepada kedua pengemis itu jadi kagum sekali.
Begitu juga dengan orang2 yang telah berkerumun itu, jadi
mengeluarkan suara sorakan yang riuh dan ramai sekali,
tampaknya mereka girang sekali melihat kedua pengemis itu
telah dihajar oleh Phang Kui In,
Kedua pengemis tersebut juga telah membalikan tubuhnya,
mereka telah melarikan diri dengan cepat sekali.
Phang Kui In tidak mengejarnya, dia telah membalikan
tubuhnya melangkah menghampiri gadis kecil itu.
„Anak, kenapa engkau dipukuli kedua pengemis itu!” tanya
Phang Kui In dengan sabar.
Gadis kecii itu masih menangis saja, kemudian dia telah
menyahuti dengan suara yang ter sendat2 „Ibu menyuruh aku
kepasar… dan aku membawa tiga tail perak, tetapi kedua
pengemis itu, seperti minggu kemarin, dia ingin mengambil
uangku itu. Tentu saja kali ini aku tidak memberikannya,
sehingga mereka memukuliku “
Mendengar keterangan gadis kecil itu, walaupun tidak jelas,
Phang Kui In mulai mengerti duduknya persoalan.
Tetapi yang mengherankan Phang Kui In, justeru kedua
pengemis itu mengaku sebagai anggota Kaypang. Biasanya,
anggota Kaypang tidak penah melakukan perbuatan rendah
seperti itu sehingga dia tidak dapat mengerti mengapa kedua
pengemis itu bisa melakukan perbuatan seperti itu.

Hal itu telah membuat Phanh Kui In jadi berpikir keras. Dia
mau menduga apalah mungkin bahwa kedua pengemis itu
hanya menjual nama Kaypang saja, untuk menggertak ?
Karena berpikir begitu, akhirnya Phang Kui In telah berkata
kepada sigadis : „Baiklah, jika memang uangmu tidak hilang
pergilah engkau kepasar. Nanti paman akan mengancam
mereka agar di-hari2 mendatang engkau tidak diganggu
lagi……!”
“Terima kasih paman…!” kata gadis kecil itu girang sambil
menyusut air matanya, dia telah berlalu.
Disaat itu salah seorang yang tadi menyaksikan dipinggiran
jalan, telah menghampiri Phang Kui In. Dialah siorang lelaki
tua berusia diantara empat puluh lima tahun. Katanya dengan
suara yang sabar, „Sesungguhnya, memang Kaypang kota
ini merupakan cabang Kaypang yang paling buruk, mungkin
paling jahat! Karena mereka umumnya melakukan banyak
sekali kejahatan2, pencurian2 dan perampasan, semuanya itu
tidak diambil tindakan tegas oleh ketua cabang dari Kaypang
setempat. Tentu saja penduduk kota ini jadi menaruh
perasaan tidak senang terhadap Kaypang.
Dan setelah berkata begitu, tampak orang tua itu memutar
tubuhnya akan berlalu, karena dia takut berdiam lama2
ditempat tersebut, takut kalau pembicaraannya itu didengar
oleh orang2 Kaypang.
Tiba2 Phang Kui In mengulurkan tangannya. dia mencekal
pergelangan tangan Orang tua itu untuk menahan
kepergiannya.
„Tunggu dulu saudara…,aku ingin menanyakan dimanakah
letak markas Kaypang!” tanyanya.
„Di..dipintu selatan, sebelah kiri dari lorong panjang dan
kemudian menikung kekanan rumah kelima….!” menjelaskan
orang tua itu, dia meronta melepaskan cekalan tangan Phang
Kui In,. dan dengan cepat dia telah berlalu

Kemudian Phang Kui In telah mengajak Yo Him untuk
meninggalkan tempat tersebut, tetapi belum lagi mereka
berjalan terlalu jauh, tiba2 telah terdengar suara seseorang
yang telah berkata dengan suara seperti orang bersajak?
“Siapakah orang yang berani membentur Kaypang, Tentu
kepalanya sudah, keras seperti baja?. Siapa yang tidak tahu
diri ? Tentu saja harus dibinasakan”
Suara itu nyaring sekali, dan tampak Phang Kui In telah
membalikkan tubuhnya.
Dihadapannya berdiri dua orang pengemis tua berusia
setengah baya.
Sedangkan Yo Him memandang tidak senang kepada
pengemis tua itu yang dipunggungnya membawa empat
karung, yang menunjukkan bahwa mereka merupakan
anggota tingkat keempat di Kaypang.
Disaat itu tampak Phang Kui In telah bertanya dengan
suara yang ramah: „Jika tidak salah mata, tentunya jiewie
Hengtai (saudara berdua) adalah anggota Kaypang?”
“Tepat! Tepat!” kata salah seorang pengemis itu sambil
mengangguk dan telah tertawa dingin „Memang kami anggota
Kaypang, dan kami sedang mencari seseorang yang telah
menghina dua orang anggota muda kami”
„Apakah dua oraag pengemis berusia dua puluhan?” tanya
Phang Kui In.
„Benar ! Mereka telah dihina orang, dan hinaan seperti itu
harus diberi hajaran pula ..!” menyahuti pengemis itu.
„Akulah yang memberikan ganjaran kepada kedua
pengemis itu…jika memang kalian penasaran, bisa saja kalian
berurusan denganku… !” kata Phang Kui In berani sekali.

„Kedua pengemis golongan muda anggota Kaypang itu
sangat jahat, mereka telah menyiksa seorang gadis kecil
berusia dua belas tahun, yang ingin dirampas uangnya! Itu
masih tidak menjadi soal tetapi kedua pengemis anggota
kalian itu bertangan ringan, mereka telah memukuli gadis kecil
itu….!”
Kedua pengemis itu telah tertawa dingin hampir berbareng.
Salah seorang telah berkata. „Jika memang ada anggota
Kaypang yang melakukan suatu kesalahan, masih ada kami
dari golongan tua yang bisa menghukum mereka, bukan orang
luar yang harus turun tangan menghukum mereka. . . !”
Phang Kui In telah tertawa dingin, dia jadi mendongkol
sekali mendengar perkataan pengemis itu.
Memang itu merupakan peraturan rimba persilatan, orang
luar tidak boleh mencampuri urusan rumah tangga dari
sebuah pintu perguruan tetapi tampaknya pihak Kaypang
kurang begitu teratur mengatur murid2nya, dan kurang segala
persiapan2 agar murid2nya itu tidak menyeleweng … !
Hemmm, dalam persoalan ini, tampaknya kalian juga perlu
diberikan teguran, agar dilain saat dapat memperhatikan lebih
baik murid-muridnya anggota Kaypang!” Kedua pengemis tua
itu telah tertawa dingin mereka telah berkata dengan suara
yang tawar. “Benar ! Benar ! Jika kami berhasil dirubuhkan
olehmu, jatuh ditanganmu, tentu aku akan menuruti peritah
perintah dan petunjuk2mu, Locianpwe!”
Dan setelah berkata begitu, salah seorang diantara mereka,
yang tampaknya memiliki muka berpotongan empat persegi
dan kejam, telah menerjang, melancarkan serangan-serangan
dengan mempergunakan tangan kanannya, serangan itu
mengandung tenaga lweekang yang cukup dasyat. Tentu saja,
serangan yang dilakukan oleh pengemis ini, berbeda dengan
serangan sipengemis muda, sebab jika sipengemis muda itu
hanya merupakan anggota biasa yang belum berhasil memiliki
karung satu helaipun juga, maka mereka tidak mengerti

terlalu dalam ilmu silat Kaypang dan hanya merupakan
anggota persiapan, tapi berbeda dengan pengemis yang
menggemblok empat helai karung dipunggungnya ini,
pengemis ini telah memiliki kepandaian yang cukup tinggi dan
memiliki lwekang cukup lumayan.
Serangannya itu mendatangkan angin serangan yang kuat
sekali, telah meluncur akan menggempur dada Phang Kui In.
Tetapi Phang Kui In tidak tinggal diam dia mengangkat
tangan kirinya menangkis, sehingga diwaktu kedua tangan itu
saling bentur, disaat itu juga terdengar suara “Bukkk” yang
sangat keras, tubuh mereka sama berdiri tegak, dan tampak
Phang Kui In telah menggerakan tangan kanannya, dia telah
melancarkan serangan lagi dengan hebat.
Dalam keadaan seperti itu tampak sipenggemis juga tidak
tinggal diam.
Dia telah melompat kekiri dan kekanan bergantian,
kemudian telah melancarkan serangan2 dengan
mempergunakan kedua tangannya.
Angin serangan ysng dilancarkan ini cukup hebat, sehingga
dalam keadaan demikian tampak dua kekuatan tenaga, dari
kedua orang yang sama2 memiliki kepandaian yang sudah
tinggi itu, telah menerjang datang.
„Bukkkkl” maka dua kekuatan lweekang yang tidak tampak
telah beradu diudara, terlihatlah tubuh Phang Kui In
tergoncang keras seperti juga ingin rubuh.
Tetapi dengan cepat Phang Kui In telah ber hasil
mengimbangi kedudukan kedua kakinya., kembali dia telah
melancarkan serangan lagi.
Serangan yang dilakukan oleh Phang Kui In disambuti oleh
pengemis itu dengan mudah dan pengemis tersebut juga telah
melancarkan serangan balasan.

Mereka berdua telah saling melancarkan serangan silih
berganti, dan angin serangan2 itu telah menyambar dengan
hebat.
Di detik2 seperti itu, tampak Phang Kui In memang
berimbang menghadapi sipengemis tua tersebut, tetapi yang
menjadi pemikirannya, justru jika pengemis yang seorang itu
lagi ikut mengeroyok dirinya, tentu dia akan kewalahan dan
kehabisan tenaga.
Maka Phang Kui In telah mengerahkan seluruh kekuatan
tenaga dalamnya, dia berusaha secepat mungkin untuk
merubuhkan pengemis yang menjadi lawannya, agar kelak dia
bisa menghadapi pengemis yang seorangnya lagi dengan
mudah.
Dalam keadaan demikian, tampak Phang Kui In
mengeluarkan Suara siulan yang sangat nyaring sekali,
berulang kali dia telah melancarkan gempuran2 yang sangat
dahsyat.
Memang cara menyerang yang dilakukan oleh Phang Kui In
merupakan serangan2 yang bisa mematikan, kalau saja
mengenai tepat sasarannya.
Tetapi disebabkan pengemis itu juga tampaknya memiliki
kepandaian cukup tinggi, dengan sendirinya setiap serangan
yang dilancarkan oleh Phang Kui In dapat dielakkannya
dengan mudah. bahkan serangan2 yang dilakukannya itu tak
kalah kuatnya dibandingkan dengan serangan2 yang
dilancarkan oleh Phang Kui In.
Begitulah, kedua orang tersebut telah ber tempur dengan
hebat dan juga keduanya masing2 telah mengeluarkan
kepandaian mereka, untuk saling menindih tenaga lweekang
dari lawan masing2.
Sebagai seorang yang memiliki kepandaian telah tinggi,
kawan sipengemis yang seorang, yang belum lagi turun
tangan dan hanya berdiri disamping saja, telah melihatnya

bahwa kepandaian Phang Kui In tidak bisa dipandang rendah.
Maka dia telah ber-siap2 jika memang kawannya nanti
terdesak atau terancam oleh serangan-serangan yang
dilakukan oleh Phang Kui In dia akan segera menerjang maju
untuk membantui.
Yo Him hanya berdiri tertegun ditempatnya dia
menguatirkan sekali akan keselamatan Phang Kui In. Jika
sampai kepandaian Phang Kui In dapat ditindih oleh lawannya,
atau kawan sipengemis yang seorang itu ikut maju
mengeroyok berdua, tentu akan membahayakan jiwa Phang
Kui In.
Walaupun Yo Him kurang begitu mengerti mengenai
keadaan didalam rimba persilatan, namun dia juga telah
banyak mendengar, bahwa umumnya orang2 persilatan
sangat kasar, dan tidak akan segan2 menurunkan tangan
keras untuk membuat lawannya jadi bercacad.
Tetapi Yo Him tidak berdaya untuk memberikan bantuan
apa2.
Tiba2 Yo Him teringat sesuatu, sehingga dia hanya
tersenyum dan berdiri diam saja. Dia teringat kepada
Kimpaynya Wie Tocu, tetapi dalam kegembiraannya. Yo Him
jadi ingin menyaksikan pertempuran itu lebih jauh. Jika
memang Phang Kui In nanti terdesak oleh lawannya dia baru
akan mengeluarkan Kimpay tersebut, untuk menundukkan
kedua pengemis itu.
Saat itu, sipengemis yang sedang bertempur dengan Phang
Kui In telah melancarkan serangan dengan mempergunakan
jurus “Anjing menggerakkan ekornya,” dan dengan tangannya
itu ia telah mengibaskan dengan sangat kuat sekali, karena
dia telah mempergunakan lweekangnya yang disalurkan
dikedua telapak tangannya, untuk menggempur kearah dada
Phang Kui In.

Tetapi Phang Kui In tidak takut menghadapi gempuran
seperti itu, dengan cepat diapun telah menyalurkan kekuatan
tenaga dalamnya, dengan gerakan „Yangliu Piauw Piauw” atau
„Pohon Yang Liu Sepoi2″, tampak kedua tangannya bergerak
lemas. Walaupun gerakannya perlahan dan seperti tengah
menari, namun tenaga dalam yang terkandung dikedua
telapak tangannya itu luar biasa sekali.
„Bukkkk !” dua kekuatan yang bukan main hebatnya, telah
saling bentur.
Bahkan benturan yang terjadi itu telah menggetarkan
sekitar tempat tersebut, dan juga menulikan pendengaran,
karena benturan itu terjadi justru merupakan saling benturnya
dari dua kekuatan yang saling menyerang dan menindih. Yo
Him sendiri merasakan betapa tanah yang dipijaknya itu
tergetar keras.
„Kalau demikian, tampaknya pengemis ini bukan jago
sembarangan !” berpikir Phang Kui In di dalam hatinya.
„Tampaknya dia memiliki kepandaian yang tinggi dan telah
cukup ternama Tetapi mengapa anggota Kaypang demikian
ceroboh ?. Hanya disebabkan dua orang anggota muda nya
belaka dia bisa melancarkan gempuran2 mengadu jiwa
denganku. Rupanya pengemis ini juga bukan pengemis baik2..
!”
Karena berpikir begitu, hati Phang Kui In jadi mantap, dia
telah memberikan perlawanan tanpa segan2 lagi, setiap
serangan yang dilancarkannya juga mengandung kekuatan
yang cukup keras. Angin serangan itu mendesir tidak
hentinya.
Si pengemis melihat perobahan cara menyerang dari
lawannya jadi terkejut.
Tetapi perasaan kagetnya itu tidak diperlihatkan
diwajahnya, bahkan pengemis ini telah mendengus
mengeluarkan suara dingin.

„Hemm. Engkau ingin mengadu kekuatan denganku
mempergunakan kekerasan ?” ejeknya.
Dan pengemis itupun telah mengeluarkan pukulan2 yang
dahsyat sekali. Rupanya pengemis ini merupakan seorang ahli
Gwakang (Tenaga luar) .
Harus diketahui, bahwa seorang ahli tenaga Gwakang
berbeda dengan seorang akhli lweekang. Jika Gwakang
dipelajari untuk melatih jasmani, memiliki kekuatan yang
hebat atas kesanggupan tubuh, karena Gwakang lebih mirip
dengan tenaga kasar. Seorang ahli tenaga Gwakang bisa
mengangkat seekor gajah dengan mudah, dengan
mengandalkan kekuatan tenaganya. Sedangkan seorang ahli
tenaga lweekang merupakan seorang yaog memiliki latihan
untuk tenaga dalam, dimana tenaga sakti yang berasal dari
Tantian telah dilatihkannya secara teratur, sehingga ahli
lweekang bisa menyalurkan kekuatan tenaga saktinya, dapat
dipergunakan untuk menggempur sesuatu tanpa terlihat.
Dan juga bagi seorang ahli lweekang, dia bisa mengangkat
seekor gajah namun dengan menggunakan cara yang halus,
yaitu dengan mempergunakan gerakan memancing. yaitu
dengan meminjam tenaga dan botot berat tubuh gajah itu
sendiri.
Jika seorang ahli lweekang telah mencapai kesempurnaan
dalam latihan lweekangnya, tentu dia bisa mengeluarkan
kekuatannya untuk melakukan segala apapun juga. Sebab jika
kesempurnaan telah mencapai puncaknya, tentu dia akan
dapat menyalurkan tenaganya itu untuk menindih lawannya
dengan tenaga yang tidak tampak, dan dengan
mempergunakan serangan yang halus, bisa merubuhkan
lawannya tanpa menggerakan tangannya sedikitpun juga.
Jika Phang Kui In memang mengkhususkan diri melatih
lweekang, maka lawannya sipengemis merupakan seorang ahli

tenaga Gwakang. Maka dari itu, setiap gerakan2 yang
dilakukan oleh mereka saling bertentangan. Yang seorang
melancarkan serangan2 kasar dengan mempergunakan
kekuatan yang sangat hebat, sedangkan yang seorang lainnya
lagi mempergunakan tenaga halus namun dahsyat sekali
untuk melawannya, sehingga kadang2 terdengar suara
benturan2 yang sangat keras.
karena Phang Kui In juga telah menyalurkan kekuatan
tenaga dalamnya itu, mempergunakan kekerasan melawan
serangan lawan yang keras,.Tetapi tidak jarang juga Phang
Kui In mempergunakan tenaga yang lunak, dia telah
menangkis dengan mudah, dengan meminjam tenaga
serangan lawannya, merubuhkan lawannya tersebut karena
seorang ahli tenaga lwekang dapat mempergunakan taktik
meminjam tenaga lawan, dengan hanya mempergunakan satu
tail merubuhkan seribu kati !.
Semakin lama mereka bertempur semakin keras saja,
karena sipengemis yang menjadi lawan Phang Kui In jadi
semakin penasaran.
Berulang kali sipengemis tersebut telah mengeluarkan
suara bentakan ! yang sangat bengis tubuhnya berjingkrak
karena gusar, lalu kembali dia telah menyerang ber-tubi2.
Tetapi selama itu Phang Kui In selalu berhasil
menghadapinya dengan baik.
Hanya yang dikuatirkan sekali oleh Phang Kui In jika
pengemis yang seorangnya lagi ikut melancarkan serangan
mengeroyok dirinya. Kekuatiran itu disebabkan sipengemis
yang menjadi lawannya Itu memiliki kepandaian yang hampir
berimbang dengannya, jika pengemis yang satunya lagi juga
bukan seorang yang lemah, dan jika dia maju melancarkan
serangan juga berarti Phang Kui In harus menghadapi dua
orang lawan yang memiliki tenaga yang cukup dahsyat.

Berulang kali Phang Kui In mengeluarkan suara bentakan
juga, dia telah berusaha untuk dapat merubuhkan lawannya
dalam waktu yang cepat dan singkat
Tetapi disebabkan kepandaian mereka hampir berimbang
dengan sendirinya mereka saling menyerang dengan kekuatan
yang hampir bersamaan kuatnya.
Dengan kelincahan yang menakjubkan ditambah lagi
dengan kekuatan gwakangnya tampak si pengemis berusaha
untuk dapat merubuhkan Phang Kui In juga.
Tetapi semakin lama, karena latihan lweekang Phang Kui In
lebih sempurna dari latihan Gwakang pengemis itu, maka
sipengemis telah mulai terdesak. Dia jadi sibuk mengelakkan
dari setiap serangan2 yang dilancarkan oleh Phang Kui In.
Kedua tangan Phang Kui In tampak ber-gerak2, walaupun
jarak pisah diantara mereka berdua cukup jauh, namun
tenaga serangan dalam bentuk angin terjangan yang keluar
dari tangan Phang Kui In telah mendesak pengemis itu.
Dengan terpisahnya mereka, dalam jarak yang cukup jauh,
hampir dua tombak telah membuat sipengemis yang rugi
sendirinya, karena dalam jarak yang jauh seperti itu jarak
jangkau tangannya tentu saja tidak sampai, dan berulang kali
dia telah berusaha untuk melancarkan serangan dan
gempuran, namun terjangan2 dari lweekang Phang Kui In
selalu memaksa dia harus menyingkir dan mengelakkan diri
berkelit dari terpahan angin serangan yang mengincar bagian2
yang berbahaya ditubuhnya.
Phang Kui In telah melihat lawannya mulai terdesak,
semangat bertenpurnya jadi terbangun.
Dia telah mengerahkan semangat dan tenaganya jauh lebih
kuat.
Namun tiba2 sipengemis yang seorangnya lagi, yang sejak
tadi hanya menyaksikan saja, tidak dapat menahan sabar dan
telah mengeluarkan suara teriakan : “Toako jangan takut !

Aku datang membantuimu ! !” dan disertai bentakannya itu,
tubuh sipengemis telah melompat dengan gerakan yang
sangat cepat sekali, dan waktu tubuhnya sedang melayang di
tengah udara, justru tenaga sipengemis telah bergerak saling
susul, dia telah melancarkan serangan serangan yang
beruntun.
Rupanya pengemis yang kedua ini, memiliki latihan tenaga
lwekang, karena walaupun tubuhnya belum lagi tiba
digelanggang pertempuran itu, tetapi angin serangannya telah
menyambar dengan dahsyat kearah Phang Kui In.
Dengan sendirinya Phang Kui In jadi terkejut dan telah
cepat-cepat menyingkir.
Gerakan tubuhnya itu membuat penjagaan diri Phang Kui
In jadi lowong, dia telah membuka lowongan yang tidak kecil
dibagian dadanya.
Sipengemis yang dipanggil dengan sebutan “Toako” kakak
tua telah melihat kesempatan itu.
Dengan cepat dia telah mengeluarkan suara bentakan yang
sangat keras sekali. Dia telah melancarkan gempuran yang
sangat hebat sekali, dengan mempergunakan kedua telapak
tangannya yang didorong kearah dada Phang Kui In.
Tentu saja Phang Kui In jadi tambah terkejut. karena angin
serangan si pengemis yang baru ikut melancarkan serangan
itu telah menyambar terus kearah perutnya, dan kini tenaga
serangan dari kedua telapak tangan sipengemis yang di
panggil “Toako” itu juga meluncur akan menggempur
dadanya.
Keruan saja dalam waktu hanya beberapa detik itu. Phang
Kui In harus mempergunakan pikirannya dengan cepat, dia
mencari jalan yang terbaik untuk menyingkirkan dirinya.

Sebagai seorang ahli lwekang yang telah ber pengalaman
dan memiliki latihan cukup sempurna Phang Kui In tidak
menjadi gugup karenanya.
Dengan cepat, tangan kanannya ditekuk, jari tangannya
saling jepit dengan jari tangan kirinya. Dan sikapnya seperti
orang yang sedang memberi hormat.
Tubuhnya agak membungkuk kedepan, dengan gerakan
tersebut Phang Kui In telah melindungi dadanya dengan
kekuatan tenaga lwekangnya dari serangan dan gempuran
pengemis yang dipanggil “Toako” itu. Sedangkan bagian
perutnya yang diserang hebat oleh si pengemis yang seorang
lagi telah dihadapinya dengan perut dikempiskan, lalu kaki
kanannya diangkat ditekuk agak lurus, mengancam akan
menggempur urat nadi di pergelangan tangan sipengemis,
urat nadi Ma hiong meh, yang merupakan urat nadi terpenting
bagi setiap manusia karena jika urat nadi itu tergempur oleh
lutut Phang Kui In, jika tidak binasa tentu pengemis tersebut
akan bercacad seumur hidupnya. Keruan saja sipengemis yang
kedua itu jadi terperanjat. Dia mengetahui bahwa ancaman
yang akan diterimanya itu sangat hebat sekali.
Maka tanpa membuang Waktu lagi dia telah menarik
kembali kedua tangannya, gerakan yang dilakukannya sangat
cepat bukan main, dan dia telah berhasil mengelakkan
benturan lutut dari Phang Kui In, sehingga selamatlah dia dari
bencana yang bisa menimpa dirinya.
Sedangkan serangan dari sipengemis yang dipanggil ‘toako’
itu telah tiba, dan tertangkis oleh rangkapan tangan Phang Kui
In. sehingga tenaga membentur yang keras sekali seketika
terjadi.
„Bukkkl” tubuh sipengemis terhuyung mundur beberapa
langkah sedangkan tubuh Phang Kui In tergoncang keras,
namun disebabkan dia telah menancapkan kakinya dengan
kuat sekali ditanah, maka dia telah berhasil menerima
serangan itu dengan tubuh yang tidak bergeming selain ber

goyang2 belaka. Kedua telapak kakinya tidak tergeser
sedikitpnn juga.
Saat itu. tampak Phang Kui In telah merentangkan kedua
tangannya, dia telah membalas melancarkan serangan justru
disaat tubuh sipengemis “toako” itu sedang terhuyung. Angin
serangan yang dilancarkan Phang Kui In berkesiuran keras.
“Wuuttt !” dahsyat sekali.
Si Toako tertawa tawar, walaupun tadi dia telah terdorong
mundut seperti itu, namun dia memiliki kepandaian yang
tinggi dan latihan tenaga Gwakang yang cukup sempurna.
Dengan sendirinya dia berhasil untuk menangkisnya.
Begitulah kedua pengemis inipun telah melancarkan
serangan2nya yang serentak.
Karena mengetahui bahwa Phang Kui In merupakan
seorang ahli lweekang yang cukup tangguh maka kedua
pengemis itu tidak segan2 untuk melakukan pengeroyokan.
„Manusia2 rendah !” mengutuk Phang Kui In dengan
sengit, dia telah menggerakkan kedua tangannya untuk
melancarkan serangan2 balasan dan menangkis maupun
mengelakkan diri dari cecaran kedua pengemis itu.
Gerakan2 yang dilakukan oleh Phang Kui In sangat gesit,
namun karena dikeroyok kedua pengemis itu, dia jadi sibuk
sekali.
Yo Him yang melihat ini. Dimana dia melihat keringat telah
membasahi pakaian Phang Kui In dan mukanya juga telah
dipenuhi butir2 keringat, dengan sendirinya mendatangkan
perasaan kuatir bukan main dihati Yo Him.
„Berhenti ! Berhenti ! teriak Yo Him setelah berpikir
sejenak. „Aku hendak bicara !”
Phang Kui In heran, entah apa yang. hendak dilakukan oleh
Yo Him.

Tetapi sebagai putranya Sin Tiauw Taihiap Yo Ko tentu
saja Yo Him diperlakukan hormat sekali oleh Phang Kui In
yang menaruh rasa segan kepada anak ini.
Begitu mendengar teriakan Yo Him, segera Phang Kui In
melompat kebelakang beberapa tombak jauhnya, memisahkan
diri dari kedua pengemis itu,
Sedangkan kedua pengemis itu, Si Toako dan kawannya,
telah memandang dengan sorot mata bengis sekali kepada Yo
Him.
„Apa yang hendak kau katakan. bocah ingusan !” bentak
sipengemis toako itu.
„Sesungguhnya, telah lama kudengar,” kata Yo Him dengan
suara yang sabar dan tenang sekali, sikapnya juga sengaja
diperlihatkan seperti seorang tokoh persilatan sedang bicara,
sehingga membuat kedua pengemis itu yang melihat lagak
anak kecil she Yo ini merasakan dada mereka seperti ingin
meledak karena merah sekali.
„Bahwa dalam perkumpulan Kaypang terdapat peraturan
yang sangat keras sekali, yaitu “dilarang melakukan pekerjaan
jahat, jahat itu terbagi luas dalam berbagai bidang, yaitu
termasuk pencurian, pemerasan dan perbuatan menyiksa yang
lemah tanpa salah, tentu saja yang penting, semua pekerjaan
jahat telah dilarang oleh perkumpulan Kaypang ! setahuku,
bahwa kalian dari Kaypang, mengapa kalian bertindak
sewenang-wenang “
Muka kedua pengemis itu jadi merah padam karena mereka
gusar sekali.
“Budak busuk !” bentak mereka hampir berbareng, „Apakah
engkau menyadari bahwa perkataanpun bisa mendatangkan
kematian untuk seseorang?”.

“Apakah kalian maksudkan bahwa perkataanku itu bisa
menyebabkan aku mati ditangan kalian?” tanya Yo Him
dengan berani.
„Tidak salah!” menyahuti pengemis itu dengan suara yang
keras “Sedikitpun tidak salah memang kau, akan mati juga.
karena telah begitu lancang mengeluarkan perkataan yang
tidak keruan. !”
Dan si Toako setelah berkata begitu, telah melompat untuk
melancarkan serangan mematikan kepada Yo Him.
Tetapi Yo Him telah membentak dengan suara yang
nyaring : „Tahan dulu, aku masih ingin bicara !”
Si Toako telah menahan gerakan tubuhnya matanya
mendelik lebar2, bentaknya ,,Cepat katakan !”
“Apakah kalian benar2 anggota dari Kaypang?” tanya Yo
Him lagi,
„Ada urusan apa dengan kau, apakah kami ini termasuk
anggota Kaypang atau bukan, bukan menjadi urusanmu !”
bentak si Toako tambah beringas, karena dia marah sekali
ditegur oleh seorang bocah cilik seperti Yo Him.
“Ohh, tentu saja ada hubungannya denganku !” kata To
Him “Terlebih lagi memang kalian benar2 anggota Kaypang !”
Mata sipengemis toako itu telah mencilak-cilak, sedangkan
si pengemis yang seorangnya lagi telah mengeluarkan suara
geraman yang bengis, tampaknya diapun mulai tidak sabat
ingin melancarkan serangan yang bisa mematikan Yo Him.
“Benar ! Kami memang anggota Kaypang. Tentunya kau
mengetahui betapa hebatnya Kaypang, yang tersebar
diseluruh daratan Tionggoan, bukan ?”
“Hemmmm, aku mengetahui dan menghargai nama harum
Kaypang. Dan kalian termasuk anggota Kaypang Cabang
daerah bukan ?”

“Benar !” menyabut pengemis ‘toako’ itu. “Apakah engkau
memandang rendah Kaypang cabang daerah ?”
“Oh, tidak ! tidak ! Kaypang pusat atau Kaypang daerah
sama saja, bukankah Kaypang memiliki nama yang harum
disegani kawan dan lawan ?”
“Hemmmm, rupanya engkau mengetahui juga keangkeran
Kaypang walaupun usiamu masih bau pupur !” kata
sipengemis toako itu angkuh sekali.
„Tetapi aku justru memiliki satu pertanyaan, apakah
anggota Kaypang cabang daerah akan mematuhi setiap
perintah dari pusat ?” tanya Yo Him.
pengemis „toako’” itu tidak segera menyahuti, karena
tampaknya berpikir sejenak namun akhirnya dia telah berkata:
“‘Ya, memang itu peraturan dalam rumah tangga Kaypang !
untuk apa kau menanyakan itu, heh? Apakah engkau orang
tua Kaypang ?”
Yo Him membawa sikap yang tenang dan sabar, dia telah
berkata lagi “Baiklah! Jika memang ada anggota Kaypang
dari pusat yang kedudukannya lebih tinggi darimu, apakah
engkau akan menghormatinya ?”
Ditegur demikian, kedua pengemis itu jadi tertegun untuk
sejenak, mereka telah memandang dengan mata menyelidik
kepada Yo Him sampai akhirnya salah seorang diantara
mereka si Toako telah bertanya ragu2 mengandung
kemarahan: “Siapa yang engkau maksudkan anggota Kaypang
itu?”
“tidak perlu kalian mengetahui dulu, Sekarang jawablah
pertanyaanku: „Apa kedudukanmu dalam keanggotaan
Kaypang Cabang daerah?”
Kedua pengemis itu jadi tambah ragu2, tetapi kemudian si
toako itu telah balik bertanya.

“apakah yang engkau maksudkan dengan anggota Kaypang
dari pusat adalah dirimu sendiri, setan kecil ?” setelah berkata
begitu, sipengemis tertawa tergelak.
Yo Him tidak melayani sikap pengemis ini dia telah berkata
lagi. “Jawab dulu pertanyaan ku, apa kedudukan kalian dalam
keanggotaan Kaypang cabang daerah ?”
„Kami merupakan pemimpin golongan muda dari anggota
Kaypang cabang daerah !” menyahut sipengemis kawannya si
toako itu. “setiap anggota muda harus berada dibawah
pengawasan kami “
“Hmm, hanya jadi bagian golongan anggota Kaypang yang
muda, jadi bukan keseluruhan dari keanggotaan Kaypang
cabang daerah kota ini bukan ?”
„Tetapi kami bisa melaporkan kepada wakil dan ketua kami
dicabang daerah ini. Kami memiliki suara.” menyahuti si Toako
dengan sengit „Dan engkau telah berani bicara mengenai
perkumpulan kami maka jika kelak engkau ternyata tidak
memiliki sangkut paut apapun juga, kepalamu itu akan
kupisahkan dari batang lehermu… !”
Itulah ancaman yang cukup hebat, ancaman yang diliputi
kemarahan. Tetapi tampaknya Yo Him tidak takut, bahkan
telah tertawa tawar dan sikapnya tenang sekali.
„Baik ! Itupun boleh !” kata Yo Him. „Jika kelak aku tidak
memiliki hubungan apa2 dengan Kaypang kalian boleh
menghukumku dengan cara apa saja.”
Dan setelah berkata begitu, Yo Him merogoh sakunya.
Kedua pengemis itu mengawasi dengan sorot mata yang
tajam, mereka men duga2 entab apa yang akan dikeluarkan
oleh Yo Him.
„Nah, kenalkah kalian dengan benda ini ?” tanya.Yo Him
sambil mengacungkan Kimpay Wie Tocu.

Mata kedua pergemis tersebut terpentang lebar2 dan muka
mereka berobah jadi pucat,
Tampaknya mereka kaget bukan main.
“Kenalkah kalian dengan benda ini ?” tanya Yo Him dengan
suara yang keras mengulangi pertanyaannya.
“Hmm !” si toako telah mendengus mengejek, dia sudah
bisa mengendalikan goncangan hatinya. “engkau mencuri dari
mana benda berharga milik dari salah seorang pemimpin
pusat kami itu ?”
Dia tidak mempercayai bahwa Yo Him bisa memiliki benda
berharga itu. yang mereka kenali sebagai lambang kebesaran
wakil Pangcu dari pusat, yaitu Wie Tocu. Tetapi disebabkan
yang memegang lambang kekuasaan tersebut hanya Yo Him,
seorang anak yang belum lagi berusia lebih dari sepuluh
tahun, tentu saja mereka jadi ragu2.
Itulah sebabnya kedua pengemis ini tidak segera berlutut
memberi hormat seperti umumnya setiap anggota pengemis
menghadapi lambang kekuasaan dari pemimpin mereka.
Yo Him juga mendongkol melihat kedua pengemis tua itu
tidak segera menghormati lambang kekuasaan pemimpin
mereka !.
„Mengapa kalian tidak cepat2 berlutut, eh?” bentak Yo Him
dengan suara yang meninggi, „Apakah kalian berpikir hal ini
kuberitahukan kepada Wie Tocu, jiwa kalian bisa di perhatikan
terus? Kekurang ajaran kalian ini bisa menyebabkan kalian
dihukum berat…!”
Kedua pengemis itu saling pandang, sedangkan si Toako
diam2 telah berpikir;
„Inilah berbahaya, jika anak ini benar memiliki hubungan
dengan Wie Tocu dan memberitahukan sikap kami berdua,
tentu pusat akan mengirimkan orangnya untuk menghukum
kami. Lebih baik jiwa anak ini kami habiskan saja…!”

Dan setelah berpikir begitu, sipengemis yang dipanggil
Toako itu telah melirik kepada kawannya.
Rupanya pengemis yang seorangnya lagi juga memiliki
pikiran yang sama dengan kawannya, diapun telah tersenyum
sinis mengandung arti waktu si Toako melirik kepadanya.
Keduanya lalu berlutut dihadapan Yo Him sambil katanya:
“Kami benar2 harus dihukum mati, tidak melihat tingginya
gunung Thay-san …. !” kata kedua pengemis itu hampir
berbareng.
“Maafkanlah atas kekurang ajaran kami ..!”
“Siapa nama kalian berdua ?” tanya Yo Him dengan suara
yang agak lunak.
Kedua pengemis itu jadi terkejut, mereka menyadari jika
mereka menyebutkan nama mereka, tentu dengan mudah Yo
Him memberitahukan kepada Wie Tocu perihal mereka.
Melihat kedua pengemis itu ragu2 Yo Him telah berkata lagi
: “Jika memang kalian mengakui perbuatan kalian ini salah
dan berjanji dihari hari mendatang kalian tidak akan
melupakan perbuatan yang buruk lagi membela pihak yang
salah, dan membiarkan anggota2 yang dipimpin kalian
melakukan kejahatan terhadap orang-orang yang lemah
tidak berdaya, aku bersedia untuk memberikan pengampunan
bagi kalian …. aku berjanji tidak akan memberitahukan
kepada Wie Toako … “
Mendengar Yo Him menyebut Wie Liang Tocu dengan
sebutan Wie Toako, kakak Wie, tentu saja kedua pengemis
itu jadi tambah terkejut dan ragu2.
„Cepat katakan, siapa nama kau ” tanya Yo Him lagi.
Si Toako rupanya saat itu telah mengambil suatu keputusan
nekad, dia telah melompat dengan tiba2, tangannya meluncur
akan menghajar kepala Yo Him, yang ingin dipukulnya pecah
berantakan.

Phang Kui In yang sejak tadi mengawasi saja dengan
heran, betapa Yo Him memiliki Kimpay, lambang lencana dari
emas yang merupakan lambang kekuasaan tertinggi dari salah
seorang pemimpin Kaypang, yang di sebut2 dengan panggilan
Wie Toako, tentu saja jadi terkejut. Dia telah berpikir keras,
apakah mungkin Wie Tocu itu Wie Liang Tocu adanya, karena
memandang Yo Him adalah putera dari Sin Tiauw Taihiap Yo
Ko, maka telah memberikan lambang kekuasaannya itu
kepada Yo Him, agar kelak jika Yo Him sedang menghadapi
kesulitan maka dia bisa meminta bantuan pihak Kaypang ?
Tetapi diluar dugaan Yo Him, justru Kaypang cabang
daerah kota tersebut merupakan cabang yang murtad, dan
dibawah pimpinannya Ban Ban Cie Kay, seorang pengemis tua
yang berusia diantara delapan puluh tahun, yang memiliki
sifat2 yang buruk, anggota2 Kaypang cabang daerah tersebut
ini tidak memiliki tanggung jawab yang baik. Bahkan
memperoleh pimpinan yang buruk sekali dari pemimpinnya,
atau ketua cabang daerah, dengan sendirinya semua anggota
Kaypang cabang daerah ini dari golongan yang tertinggi,
sampai golongan yang termuda, telah melakukan banyak
kejahatan. Tentu saja seperti yang dialami oleh kedua
pengemis itu yang sedang berhadapan dengan Yo Him, waktu
mengetahui Yo Him memiliki hubungan dengan salah seorang
pemimpin tertinggi mereka dipusat mereka jadi berkuatir dan
ketakutan, maka merekapun jadi nekad, berusaha menutup
mulut Yo Him.
Itulah sebabnya, si Toako ini telah melompay dan
melancarsan gempuran yang sangat kuat sekali dengan
telapak tangannya memukul kearah kepala Yo Him karena dia
bermaksud sekali hantam akan pecahlah kepala anak kecil ini,
sehingga selanjutnya rahasia mereka tetap tertutup, asalkan
nanti dia juga membinasakan Phang Kui In.

Tetapi Phang Kui In mana mau membiarkan sipengemis itu
menghantam Yo Him disaat tangan itu meluncur dengan cepat
tampak Phang Kui In telah melompat juga.
Yo Him saat itu sangat terkejut, karena merasakan
samberan angin serangan yang kuat sekali kearah kepalanya.
Dia sampai mengeluarkan suara seruan kaget dan ingin
menyampok dengan Kimpay dltangannya.
Tetapi belum lagi serangan sipengemis itu tiba di sasaran,
tangannya telah disampok oleh kibasan tangan Phang Kui In,
yang menangkisnya dengan kuat sekali sehingga terdengar
suara “Bukkk !” yang keras sekali disusul tubuh pengemis itu
terhuyung mundur tiga langkah begitu juga tubuh Phang Kui
In telah terhuyung mundur dua langkah, tetapi saat itu Phang
Kui In telah berteriak dengan suara yang nyaring. „Jangan
menghina anak lecil ! Jika memang engkau memiliki
kepandaian dan keberanian, hadapilah aku.”
Sedangkan pengemis yang dipanggil toako itu telah
mengeluarkan suara erangan, dengan cepat dia telah
melompat dan melancarkan serangan dengan sekuat
tenaganya.
Sedangkan pengemis yang seorangnya lagi, telah ikut
menyerang Phang Kui In diapun melancarkan gempuran yang
tidak tanggung2, maka angin serangannya itu telah mendesir
dengan dahsyat menyebabkan Phang Kui In ber goyang2
waktu menyambuti tenaga serangan kedua lawannya itu.
BEGITULAH mereka jadi bertempur kembali dengan
mengeluarkan seluruh kesanggupannya, dan setiap serangan2
yang dilancarkannya di sertai dengan pengerahan tenaga
lwekang dan gwakang yang kuat.
Disaat ketiga orang itu sedang terlibat didalam suatu
pertempuran yang hebat sekali dengan disaksikan oleh Yo
Him, tiba2 muncul seseorarg dari luar kampung, yang berjalan

dengan sepatu yang agak diseret, dengan pakaian sebagai
seorang pelajar, berusia diantara tiga puluh tiga tahun,
dengan pakaian yang agak kotor dan juga dengan kopiah
pelajarnya.
„Angin malam yang berhembus lembut,
Sang Dewi yang telah datang melambai,
Angin yang menyentuh hangat dihati,
Mengapa pula harus saling bertempur mati ?
Bukankah kebahagiaan yang ada telah mendatangkan
kegairahan ?
Mengapa pula harus mendatangkan keresahan ?
Dewi telah tersenyum, dan Dewi telah tertawa,
Semuanya cerah, Janganlah melewatkan kebahagiaan
itu…!”.
Dan sambil bernyanyi seperti itu, tampak pelajar itu telah
melangkah dengan tindakan kaki yang diseret, semakin lama
semakin mendekat, tampaknya dia tenang sekali, wajahnya
juga tampan, karena itu dia sangat menarik hati. Ditangan
kanannya tampak tercekal sebuah kipas, yang digerakan perlahan2,
seperti juga sedang mengipas debu.
Dengan cepat dia telah sampai disisi Yo Him, dan berkata
perlahan. ,,Ihh…Dewi telah datang, Dewi telah tertawa cerah,
mengapa mereka bertempur ? Adakah yang mempersulit hati
mereka ? Apakah ada sesuatu yang mendukakan mereka ?
Ataukah ada persoalan yang tidak bisa diselesaikan dengan
baik dan damai ?” menggumam pelajar itu dengan suara yang
perlahan sekali, tampaknya dia heran, tetapi Yo Him mengerti

bahwa pelajar itu seperti juga sedang mengejek Phang Kui In
bertiga dengan pengemis itu.
Saat itu Yo Him telah menoleh, dia telah memandangi
pelajar tersebut.
„Siapakah engkau, koko ?” tanyanya kemudian dengan
suara yang ramah. „Tampaknya engkau mengerti ilmu silat
juga…!”.
Pelajar itu tertawa.
„Adik kecil…!” katanya dengan suara yang cerah. „Matamu
tampaknya tajam sekali…! Memang aku mengerti sedikit2
ilmu olah raga untuk menyehatkan tubuh, tetapi bukan untuk
berkelahi ……….. !”
Setelah berkata begitu, sipelajar telah memandang kearah
Yo Him sejenak, kemudian dia telah berkata lagi dengan suara
yang perlahan.
„Dan…. engkaupun tampaknya gemar sekali menyaksikan
orang berkelahi.. ?!”
„Bukan gemar menyaksikan orang berkelahi…..tetapi justru
paman Phang telah diganggu oleh kedua pengemis jahat itu
l” menjelaskan Yo Him.
„Ihhhh …… !”berseru pelajar itu dengan suara tertahan,
tampaknya dia heran. “Jika mataku yang mulai lamur ini tidak
salah lihat, bukankah kedua pengemis itu merupakan
pengemis2 dari Kaypang !”
„Memang ! Tetapi mereka jahat sekali” menjelaskan Yo
Him. Dan Yo Him kemudian telah menceritakan
pengalamannya tadi, dimana seorang gadis kecil telah dipukuli
oleh dua orang pengemis kecil, kemudian kedua pengemis
kecil itu diajar adat oleh Phang Kui In, untuk menolongi gadis
kecil itu. Dan datanglah kedua pengemis yang memiliki
kepandaian yang tinggi ini untuk membela kedua pengemis

kecil itu, dan minta ganti rugi untuk menghajar Phang Kui In
pula.
Mendengar cerita Yo Him, muka pelajar itu jadi berobah
sejenak.
Tetapi kemudian pelajar tersebut telah tertawa lagi, dia
telah berkata. „Sungguh merupakan suatu kejadian yang
memalukan aku tidak menyangkanya bahwa didalam Kaypang
terdapat anggota2 yang demikian kotor dan jahat. Jika
memang benar apa yang kau ceritakan tentu nama Kaypang
akan ternoda dan nama harum dari perkumpulan pengemis,
yang sangat besar dan anggotanya tersebar diseluruh daratan
Tionggoan, akan menjadi bahan tertawaan dari orang2 gagah
kaum rimba persilatan…!”
Yo Him mengangguk.
„Tetapi tokoh2 dari pemimpin Kaypang memiliki jiwa yang
luhur dan budi pekerti yang baik ! Namun kedua pengemis ini
memang nampaknya marupakan manusia2 jahat yang sulit
sekali disadari dari kesalahan mereka…!”.
„Hemm, manusia2 seperti itu tidak perlu dilayani.! tetapi
jika memang paman Phangmu bermaksud untuk memberikan
pengajaran kepada kedua pengemis jahat itu, paman
Phangmu itupun tidak bisa disalahkan !” dan setelah berkata
begitu sipelajar telah menghela napas beberapa kali.
,,Cu Kun Hong ! Cu Kun Hong !” menggumam pelajar itu
lagi beberapa kali. „Rupanya engkau kalah mulia bila
dibandingkan dengan paman Phang dan engko kecil ini !
Engkau selalu bermasa bodoh terhadap urusan, tidak demikian
dengan paman Phang dari engko kecil ini, yang selalu
membela pihak yang lemah dan bersedia untuk menghadapi
pertempuran yang sulit untuk menghadapi manusia2 jahat
seperti kedua pengemis tersebut.”

Mendengar sampai disitu. tentu saja Phang Kui In yang
sedang bertempur jadi merandek sejenak, dia telah melirik.
Segera dia melihat pelajar itu, dan hatinya jadi ber-tanya2.
entah siapa adanya pelajar tersebut.
Sedangkan pelajar tersebut tidak lain dari Cu Kun Hong,
yang pernah kita kenal dibagian pertama dari cerita ini. Dan
dia memang pernah bertemu dengan Sin Tiauw Taihiap Yo Ko,
dan pernah dilukai oleh Tiat To Hoat-ong, sehingga dirawat
sampai sembuh oleh Sin Tiauw Taihiap Yo Ko.
Sejak saat itu, Cu Kun Hong telah berkelana didalam rimba
persilatan Karena perasaan kagumnya yang meluap2 terhadap
Sin Tiauw Taihiap Yo Ko, dan merasa bahwa Sin Tiauw Taihiap
merupakan manusia yang patut dihormati sedalam2nya maka
Cu Kun Hong telah berjanji didalam hatinya, bahwa diapun
ingin melakukan banyak perbuatan amal kebaikan untuk
membela keadilan.
Jilid 16
SETIAP dia tiba disuatu tempat, jika menghadapi suatu
urusan yang tidak wajar dan tidak layak maka Cu Kun Hong
turun tangan untuk membelai pihak lemah yang tertindas.
per-lahan2 namanya mulai dikenal oleh orang2 rimba
persilatan.
Begitu juga kepandaiannya telah mengalami banyak
kemajuan, karena Cu kun Hong sangat rajin sekali melatih diri,
sehingga dibandingkan dengan kepandaiannya yang dulu
maka kepandaian Cu Kun Hong yang sekarang berbeda jauh
sekali.
Kipas ditangannya yang selalu di-bawa2 dan ipergunakan
sebagai senjata itu, merupakan senjata yang ampuh sekali.

Setiap dalam suat pertempuran Cu Kun Hong selalu
mempergunakan kipasnya sebagai senjata.
Karena Cu Kun Hong telah melatih diri dengan giat sekali,
dia melatih ilmu pukulan dan ilmu pedang yang dirobahnya
dengan mempergunakan kipasnya.
Maka dari itu, tidak terlalu mengherankan jika dalam waktu
delapan tahun, Cu Kun Hong telah memperoleh kemajuan
yang sangat pesat sekali.
Hari ini, secara kebetulan dia lewat ditempat tersebut, dan
menyaksikan pertempuran yang terjadi antara Phang Kui In
dengan kedua pengemis itu. Maka dia jadi tertarik Untuk
bergurau, sengaja dia telah menyanyi dengan lirik yang
menyindir, yaitu lagu “Dewi”, dan dia telah menghampiri
tempat pertempuran itu.
Semula, ketika Cu Kun Hong mengenali bahwa kedua
pengemis itu adalah dua orang anggota Kaypang, yang bisa
dikenalinya dari tumpukan karung yang ada dipunggung
mereka, maka Cu Kun Hong ingin membantui pihak kedua
pengemis itu, untuk melabrak Phang Kui In. Namun setelah
mendengar keterangan Yo Him, Cu Kun Hong jadi berbalik
membenci kedua pengemis itu.
Dilihatnya Phang Kui In telah terdesak oleh serangan yang
ber-tubi2 dari kedua lawan nya, sedangkan kedua pengemis
itu, karena mengandalkan tenaga berdua, telah melancarkan
serangan2 yang gencar, menyebabkan Phang Kui In selalu
sibuk untuk mengelakkan diri dari gempuran2 yang bisa
mematikan.
Dalam saat2 seperti inilah, Cu Kun Hong telah menggumam
lagi: „Sungguh tidak pantas ! Dua orang melawan seorang!
Sungguh tidak pantas ! Sungguh tidak sedap dilihat
pengeroyokan yang tidak tahu malu ini…….!”

Dan setelah berkata begitu, dengan langkah kaki yang
tenang, tampak Cu Kun Hong telah melangkah menghampiri
gelanggang pertempuran.
Dia telah mengeluarkan sedikit tenaganya kipasnya
digerakkan untuk mengetuk tangan salah seorang dari kedua
lawan Phang Kui In.
„Tukkkk !” pergelangan tangan sipengemis yang biasa
dipanggil toako itu telah kena diketuknya dengan keras,
sehingga suara ketukan tersebut juga terdengar jelas.
Bahkan pengemis itupun telah mengeluarkan suara jeritan
tertahan. dia telah melompat mundur dengan gesit sekali,
matanya telah mendelik mengawasi Cu Kun Hong.
„Siapa kau ?” bentaknya dengan suara yang galak sekali,
“Mengapa usil mencampuri urusan kami !”
Sedangkan pengemis yang seorangnya lagi juga telah
melompat mundur, Dia berdiri disamping kawannya,
mengawasi Cu Kun Hong dengan sorot mata yang tajam.
Cu Kun Hong membawa sikap yang sabar dan tersenyum
mengejek, dia telah berkata dengan suara yang perlahan,
tetapi diiramakan : „Aku bukan usil !” katanya, “tetapi justru
tadi aku telah mendengar dari engko kecil itu, bahwa kalian
merupakan dua bandit kecil yang tidak tahu malu dan jahat
sekali ! Maka dari itu, aku bermaksud iseng2 untuk
memberikan didikan agar kelak kalian mengerti akan
tatakrama kesopanan dan tahu diri…!”.
Tentu saja perkataan Cu Kun Hong membuat kedua
pengemis itu jadi gusar sekali, keduanya telah berjingkrak
dengan marah sekali.
„Jangan marah dulu” kata Cu Kun Hong dengan suara yang
mengejek. „Jika engkau marah, tentu engkau dengan mudah
akan di rubuhkan lawan ! Bukankah didalam persilatan
terdapat suatu pantangan, jika sedang bertanding

menghadapi lawan, pantangan yang terutama sekali adalah
tidak boleh mengumbar kemarahan hati. Jika kalian melanggar
pantangan itu, niscaya diri kalian sendiri yang akan menderita
kerugian ! Tentunya kalian juga telah mengetahui akan
pantangan itu. bukan ?”.
Mendengar ejekan Cu Kun Hong yang terakhir, walaupun
kedua pengemis itu memang mengetahui akan pantangan itu,
namun mereka bukannya berusaha untuk mengendalikan diri,
malah mereka bertambah gusar.
„Katakan namamu, agar kau mampus jangan tidak
bernama !” bentak pengemis yang biasa dipanggil toako itu.
“Hemmm .. namaku ?” tanya Cu Kun Hong tenang. „Aku
selama tidak pernah mengganti she dan nama, aku she Cu
dan bernama Kun Hong. Dan jika memang kalian merasakan
diri kalian merupakan lelaki sejati sebutkan juga nama kalian,
karena akupun pantang sekali membinasakan manusia kecil
yang tidak memiliki nama…..!”
Muka kedua pengemis itu jadi merah padam, bahkan
dengan berang pengemis ‘toako’ itu telah berkata dengan
lantang: „Aku Kim Ji Kay (anak pengemis emas), dan ini
adikku Gan Ho Kay ……!” tetapi baru berkata sampai disitu,
Kim Jie Kay tampaknya jadi terkejut sendirinya, karena dia
telah terlanjur menyebutkan nama mereka.
Keduanya dengan serentak telah menoleh kepada Yo Him,
yang saat itu sedang mengawasi kearah mereka dengan bibir
tersungging senyuman.
„Bagus, Bagus !” kata Cu Kun Hong “Mari kita main2
sebentar! kulihat kalian masing2 membawa empat helai
karung ! itu bukan tingkat yang rendah ! Didalam Kaypang,
empat karung merupakan empat tingkat, tingkat dari pangkat
kalian, tentunya kalian memiliki kepandaian yang tidak rendah.
!”

Dan setelah berkata begitu dengan cepat Cu Kun Hong
telah mengibaskan kipasnya, dia bersiap2 untuk menerima
serangan kedua pengemis itu.
“saudara tunggu dulu !” kata Phang Kui In yang sejak tadi
berdiam diri saja. Cu Kun Hong menoleh.
“Engkau ingin mengatakan bahwa kita kebagian
seorangnya satu, bukan ?”. tanya Cu Kun Hong sambil
tertawa. “Tidak usah, tidak perlu !, menghadapi anjing2 kurap
seperti dia ini, mengapa kita harus sungkan2 ?, biar aku yang
menggebuknya saja, sama dengan ilmu tongkat mereka, ilmu
tongkat penggebuk anjing !”
mendengar perkataan Cu Kun Hong yang mengandung
ejekan dan sikapnya yang meremehkan mereka, tentu saja
telah membuat kedua pengemis itu jadi marah sekali. Dengan
mengeluarkan suara bentakan keras, mereka sudah tidak bisa
mempertahankan diri lagi, keduanya telah melompat dengan
gerakan yang gesit sekali. Dan telah melancarkan gempuran2
yang sangat kuat kearah Cu Kun Hong.
Tetapi Cu Kun Hong tetap berdiri tenang ditempatnya,
sama sekali dia tidak memperdulikan serangan2 yang
dilancarkan oleh kedua lawannya itu.
Kipas yang dicekal ditangan kanannya, telah digerakkan
dengan seenaknya, dia telah menggerakkannya dengan kuat
sekali, sehingga angin dari kipas itu berkesiuran.
Kibasan kipas itu bukan merupakan kibasan biasa saja,
kibasan kipas itu merupakan kibasan yang luar biasa kuatnya,
maka tenaga yang menggempur juga dahsyat bukan main.
Maka dalam keadaan demikian, kedua lawannya jadi terkejut,
karena mereka merasakan pergelangan tangan mereka nyeri
sekali, seperti tertusuk ribuan jarum.
Dengan mengeluarkan suara teriakan kaget, mereka telah
melompat mundur dengan gerakan tubuh yang cepat sekali.

Mereka telah menduga bahwa Cu Kun Hong mempergunakan
senjata rahasia.
Tetapi baru saja mereka ingin memaki, justru disaat itu
mereka melihat perasaan nyeri itu berasal dari angin serangan
kibasan kipas.
Dengan sendirinya mereka jadi tambah terkejut, sampai
mengeluarkan suara teriakan perlahan, dan kemudian dengan
serentak keduanya telah melompat melancarkan serangan2
pula dengan gerakan yang sangat cepat dan lebih kuat dari
serangan mereka pertama tadi.
Walaupun kedua pengemis ini telah letih melakukan
pertempuran yang cukup lama dengan Phang Kui In, tetapi,
nyatanya mereka masih memiliki kekuatan yang cukup hebat
untuk melancarkan serangan2 kepada Kun Hong.
Sedangkan Phang Kui In yang melihat Cu Kun Hong
menghadapi kedua lawannya itu, diam2 jadi kagum sekali dia
jadi memuji didalam hatinya.
Dia telah melihat betapa lwekang Cu Kun Hong telah
sempurna latihannya, dan angin serangan tersebut telah
menerjang dengan kuat sekali, kearah kedua pengemis yang
mengeroyoknya,
Setiap serangan yang dilancarkan oleh Cu Kun Hong selalu
memaksa kedua lawannya harus mengundurkan diri dari
tempat mereka masing2, kadang2 tenaga dalam itu meluncur
dalam kecepatan yang sulit diikuti oleh pandangan mata.
Dengan sendirinya hal ini telah membuat kedua pengemis
itu, Kim Jie Kay dan Gan Ho Kay, sering mengeluarkan seruan
kaget, karena beberapa kali hampir saja mereka terkena
kibasan kipas Cu Kun Hong.
Harus dimengerti juga bahwa kipas yang dipergunakan oleh
Cu Kun Hong bukan merupakan kipas yang sembarangan,
bukan terbuat, dari kertas biasa.

Kipas itu memiliki kekuatan yang dahsyat, karena bisa
dipergunakan untuk menotok jalan darah lawan, dan terbuat
dari besi murni, sehingga tidak mudah dipotong oleh pedang
dan golok.
Tampaknya kedua pengemis itu jadi kewalahan juga
menghadapi Cu Kun Hong, walau pun mereka baru bertempur
beberapa jurus saja.
Cu Kun Hong telah, tertawa mengejek, lalu dia berkata
dengan suara yang dingin: „Jika kalian benar2 memiliki
kepandaian yang tinggi dan sempurna, mengapa tidak
dikeluarkan !, Mengapa hanya mempergunakan kepandaian
cakar bebek seperti ini ?”
Ditegur begitu, tentu saja telah membuat kedua pengemis
itu menjadi marah. Bahkan Kim Jie Kay telah berteriak dengan
kalap:
„Kami akan mengadu jiwa dengan manusia besar mulut
seperti engkau !” teriak pengemis itu, sambil melancarkan
serangan2 kalap.
Kedua pengemis itu telah nekad, karena bukan hanya Kim
Jie Kay saja yang melancarkan serangan ber-tubi2 juga Gan
Ho Kay telah menerjang maju, dia telah melancarkan
gempuran2 yang dahsyat.
Gerakan2 itu mendatangkan angin yang berkesiuran seperti
angin puyuh.
Cu Kun Hong telah mengeluarkan jurus2 yang bisa
mematikan lawannya, tetapi kedua pengemis ini tampaknya
seperti sudah tidak mau mengacuhkan lagi ancaman
serangan2 yang dilancarkan oleh Cu Kun Hong. Bahkan
mereka telah bertempur dengan mengeluarkan seluruh
tenaganya, karena itu serangan yang dilakukan oleh mereka
merupakan gerakan2 yang luar biasa kuatnya, jangankan
manusia, sedangkan batu maupun batang2 pohon yang
terkena serangan itu akan terhajar hancur Sehingga Cu Kun

Hong juga harus bersikap hati2, karena dia melihat kedua
lawannya itu telah melancarkan gempuran2 dengan
kenekadan yang benar2 mengerikan, seperti juga ingin
mengajak Cu Kun Hong untuk binasa bersama.
Sedangkan Phang Kui In dan Yo Him yang menyaksikan
dari pinggir, jadi menguatirkan keselamatan Cu Kun Hong.
Walaupun mereka tidak mengenal siapa adanya pelajar itu,
tetapi justru Cu Kun Hong telah bertempur dengan kedua
pengemis itu disebabkan membela Phang Kui In.
Maka dari itu, Phang Kui In juga telah bersiap sedia, jika
memang Cu Kun Hong menghadapi bencana, tentu dia akan
segera turun tangan untuk menolonginya.
Cepat bukan main, angin serangan dari ketiga orang yang
sedang bertempur itu meluncur dan men-desir2, disaat seperti
itulah telah terdengar bentakan keras : „Kalian sedang
bertempur dengan siapa, Kim Jie Kay ?”
Mendengar suara itu, tampaknya Kim Jie Kay dan Gan Ho
Kay jadi sangat girang, mereka juga telah mengeluarkan
seruan nyaring, di samping itu muka keduanya telah ber-seri2,
hampir serentak mereka telah menyahut !. “Sam Tocu, kami
sedang dihina pelajar gila ini !”
Mendengar dirinya disebut pelajar ‘gila’, Cu Kun Hong
menjadi marah, darahnya dirasakan naik sampai ke-ubun2
kepalanya, bahkan disaat itu terlihat dia telah menggerakkan
kipas yang tercekal di tangan kanannya, yang bisa dilipat
untuk melancarkan totokan2 kearah jalan darah yang
berbahaya ditubuh kedua pengemis itu.
Dalam keadaan demikian Kim Jie Kay dan Gan Ho Kay tidak
berani menyambuti serangan itu. mereka telah melompat
mundur, dan telah menyingkir jauh2 memisahkan diri dari Cu
Kun Hong.
Tiba2 ditempat tersebut telah bertambah satu orang.
Seorang pengemis tua berusia diantara lima puluh lima tahun,

jenggotnya telah memutih semuanya, matanya memancar
tajam, tubuhnya kurus.
Dia telah mengawasi Cu Kun Hong dengan sorot mata yang
tajam, tampaknya tidak senang, tadi dia menyaksikan betapa
Kim Jie Kay dan Gan Ho Kay telah diserang dan didesak begitu
hebat.
„Siapakah engkau wahai anak muda yang tampan ?” tanya
lelaki tua itu.
Disaat itu Cu Kun Hong telah melipat kipasnya, dengan
tenang dia telah menyahut.
„Tentu saja aku tidak berani berdusta dihadapan Sam Tocu
dari Kaypang, Aku she Cu dan bernama Kun Hong, dan
kebetulan sekali kedua anak buahmu itu kurang ajar
melakukan perbuatan yang tidak tahu diri, maka aku mewakili
Sam Tocu untuk memberikan hajaran kepadanya !”
Sam Tocu itu adalah wakil dari pemimpin Kaypang cabang
daerah tersebut, dia telah memiliki kepandaian yang tinggi,
adatnya juga berangasan sekali, walaupun hatinya tidak
begitu jahat.
Tetapi disebabkan seluruh anggota dari Kaypang cabang
daerah semuanya melakukan perbuatan yang tidak baik, maka
sam Tocu ini juga tidak bisa mengatakan apa2, dia tidak bisa
melarangnya.
Ketika itu sam Tocu telah berkata dengan suara yang
dingin,
“Rupanya engkau mengenali aku sebagai sam tocu dari
Kaypang cabang daerah ini” katanya dengan suara yang
angkuh.
“Hemm, mengapa engkau hendak memberi ajaran kepada
kedua anak buahku itu ?”.

“tentu saja ada sebabnya !”menyahuti Cu Kun Hong
dengan berani, tidak terlihat sedikitpun perasaan takut
diwajahnya, dia malah menghadapi Sam tocu dengan bibir
tersungging senyuman, kemudian Cu Kun Hong telah
menceritakan seluruh apa yang didengarnya tadi dari Yo Him.
Mendengar itu, muka Sam Tocu telah berobah merah,
tetapi dia tidak menegur Kim Jie Kay dan Gan Ho Kay, malah
dia telah berkata dingin terhadap Cu Kun Hong: „Hemm, jika
memang benar2 mereka bersalah, itupun masih ada yang bisa
mengurusnya, dan mengajar adatnya, tidak perlu orang luar
yang mencampuri urusan rumah tangga Kaypang…..!”
ternyata nada dan suara perkataannya itu, merupakan
suatu pembelaan untuk kedua anak buahnya tersebut.
Cu Kun Hong jadi mendongkol karenanya, sebab dia
melihat Sam Tocu telah membela kedua anggotanya yang
bersalah, yang membuktikan bahwa Sam Tocu juga bukan
manusia baik2. Maka dengan suara yang lantang Cu Kun Hong
telah menyahuti dengan berani: „Benar ! Memang benar apa
yang di-katakan oleh Sam Tocu ! Jika saja yang mengatakan
itu adalah salah seorang dari pemimpin Kaypang dipusat,
tentu saja aku akan mempercayai sepenuhnya, bahwa
anggota2 Kay pang yang bersalah akan dihukum sepantasnya
! Tetapi, justru sekarang, yang mengatakan hal itu hanyalah
seorang anggota cabang belaka !”
Muka Sam Tocu jadi berobah merah padam karena marah
sekali, dia telah membentak dengan suara yang bengis.
“Dengan berkata begitu sama juga kau mengartikan bahwa
perkataanku tidak ada harganya bukan ?” Sahutnya dengan
suara tergetar.
Kemudian dengan cepat sekali, dia telah melangkah maju
mendekati Cu Kun Hong, tampaknya dia telah bersiap sedia
akan melancarkan serangan2.

Tetapi Cu Kun Hong sama sekali tidak takut dia telah
memandang dengan tatapan mata yang tajam.
„Bukankah jika seorang pemimpin yang baik, begitu
mendengar ada anggotanya yang melakukan suatu perbuatan
salah, maka akan melakukan penyelidikan benar atau tidak
akan hal itu dan akan memeriksa dengan bijaksana kedua
anak buahnya ! Bukan seperti sikapmu itu !”
Ketus sekali kata2 Kun Hong „Maka dari itu, mana bisa aku
menghargai
akan hati dan harga dirimu ?”.
Sam Tocu telah berjingkrak karena marahnya, diapun telah
mengeluarkan suara bentakan yang mengguntur, kemudian
secepat kilat dia telah melancarkan serangan2 yang dahsyat
kepada Cu Kun Hong.
Serangan yang dilakukan oleh pengemis wakil ketua dari
cabang Kaypang itu ticak bisa disamakan dengan kedua
pengemis bawahannya tadi, namun Cu Kun Hong tidak takut.
Dengan tetap berdiri tegak ditempatnya, tampak Cu Kun
Hong telah mengawasi tiba nya serangan yang dilancarkan
oleh pengemis tua ini. Waktu telapak tangan Sam Tocu hampir
tiba disasaran, dengan mengeluarkan suara tertawa
mengejek, Cu Kun Hong telah menggerakkan kipasnya, dia
telah mengibas dengan mempergunakan enam bagian tenaga
dalamnya dan bermaksud akan mempergunakan ujung
kipasnya untuk menotok pergelangan tangan Sam Tocu.
Tentu saja Sam Tocu menjadi terkejut, dia sampai
mengeluarkan suara seruan tertahan dan telah menarik
pulang tangannya, kemudian dia telah mengeluarkan tenaga
yang jauh lebih besar dan mengulangi pula serangannya
dengan hati penasaran sekali.

Cu Kun Hong tetap menghadapinya dengan tenang, dia
telah mengawasi datangnya serangan itu dengan tatapan
mata yang sangat tajam.
,,Kau keterlaluan sekali, Sam Tocu !! kata Cu Kun Hong
dengan suara mengejek. “Engkau memang bukan seorang
bijaksana dan tidak perlu dihormati !!”
Dan setelah mengejek begitu, dengan cepat sekali tampak
Cu Kun Hong telah menggerakkan kipasnya berulang kali, dan
kipasnya itu sebentar terbuka dan sebentar tertutup.
Itulah cara menyerang yang sangat hebat sekali, karena
serangan2 seperti tu memiliki dua macam cara untuk
merubuhkan lawannya. Cara yang pertama jika kipas terbuka,
akan merupakan lempengan yang biasa dipergunakan untuk
menghajar kepala lawan dan bagian2 lainnya yang berbahaya.
Tetapi jika memang kipas itu tertutup, maka ujung kipas dapat
dipergunakan seperti Poan Koan Pit untuk menutuk jalan
darah ditubuh lawan nya, dibagian yang sangat berbahaya
sekali.
Maka dari itu walaupun Sam Tocu melancarkan serangan2
yang sangat hebat, namun dia tidak berani terlalu mendesak.
Cepat sekali, angin serangan kipasnya itu telah men-deru2,
dan gerakan2 yang dilakukan oleh Cu Kun Hong sering
memaksa Sam Tocu harus menarik pulang serangannya
sendiri, karena kalau tidak, tentu dia akan ter-totok oleh ujung
kipas Cu Kun Hong.
Tetapi Cu Kun Hong tidak berlaku segan2 lagi, dia telah
melancarkan serangan2 yang gencar. Setiap kali melancarkan
gempuran2nya kipasnya itu telah ber-kelebat2 mengandung
kekuatan yang membawa maut. Sekali saja kipas Cu Kun
Hong bisa mengenai sasarannya dengan tepat, tentu Sam
Tocu akan menemui ajalnya.

Tentu saja Cu Kun Hong juga harus bersikap hati2, karena
diapun menyadari akan hebatnya tenaga serangan yang
dilancarkan oleh Sam Tocu.
Setiap serangan Sam Tocu mengandung kekuatan yang
sangat dahsyat, karena disertai oleh tenaga lwekang yang
cukup tinggi, disamping itu Sam Tocu juga memiliki ginkang
yang boleh diandalkan.
Maka terasalah angin serangan dari Cu Kun Hong dan Sam
Tocu saling berseliweran tidak hentinya, saling samber dan
saling menerjang
Namun selama itu tampaknya mereka memang berimbang,
dan kekuatan tenaga dalam yang mereka miliki itu merupakan
tenaga dalam sejati, aliran dari golongan bersih dan bukan
dari golongan sesat. Sehingga telah membuat keduanya
terlibat dalam suatu pertempuran yang sangat hebat sekali.
Beruntun beberapa kali, tampak Cu Kun Hong terdesak oleh
gempuran2 telapak tangan Sam Tocu, tetapi selama itu Cu
Kun Hong telah berhasil menyelamatkan diri, sehingga
membuat Sam Tocu semakin lama jadi semakin penasaran
sekali.
Beberapa kali dengan mengeluarkan suara bentakan2 yang
sangat bengis, Sam Tocu telah memperhebat serangan2nya
dengan menambah tenaga lwekangnya untuk memukul rubuh
lawannya.
Dalam melancarkan serangan2nya itu, tampak betapapun
juga, Sam Tocu memang bernafsu sekali untuk merubuhkan
Cu Kun Hong.
Cu Kun Hong memang agak terdesak juga, namun sengaja
untuk mrmbangkitkan kemarahan dari pengemis yang
menjadi ketua cabang Kaypang daerah ini, beberapa kali Cu
Kun Hong telah mengeluarkan kata2 ejekan.

Semakin lama memang Sam Tocu jadi semakin gusar saja,
dia telah berusaha untuk cepat2 menyelesaikan pertempuran
ini.
Tetapi Cu Kun Hong tetap dapat bertahan.
Phang Kui In yang melihat keadaan Cu Kun Hong,
disamping kagum atas kepandaian yang dimiliki Cu Kun Hong,
diapun jadi menguatirkan sekali keselamatan Cu Kun Hong.
Disaat itu Phang Kui In bermaksud akan melompat
ketengah gelanggang, untuk turun tangan memberikan
bantuan kepada Cu Kun Hong.
Namun tangan Phang Kui In telah dicekal oleh Yo Him.
“Tunggu dulu paman Phang,” kata Yo Him
“Coba kita lihat dulu !, tadi kedua pengemis itu tidak mau
mematuhi Kimpaynya Wi Tocu, entah bagaimana dengan
tokoh dari Kaypang cabang daerah ini !”.
“Baiklah !” katanya kemudian.
“Engko Cu !” teriak Yo Him memanggil Kun Hong.
„Coba berhenti sejenak !”.
Kun Hong mendengar suara teriakan Yo Him dengan jelas,
dia jadi heran, entah apa maunya anak sekecil Yo Him itu.
tetapi sebagai seorang yang selalu ingin mengetahui dan juga
memang dia tengah terdesak, sehingga Cu Kun Hong,
bermaksud untuk beristirahat. Dia telah melompat mundur
tiga tombak lebih dengan gesit sekali, waktu Sam Tocu
sedang melancarkan serangan kepadanya.
Sam Tocu jadi terkejut karena tahu2 sasarannya telah
lenyap dari depan matanya, dengan mengeluarkan suara
teriakan keras dia bermaksud mengejarnya untuk mengulangi
lagi serangannya.

Tetapi saat itu Yo Him telah berteriak „Tahan ! Aku ingin
bicara !!”
Dalam marahnya, Sam Tocu telah membentak dengan
suara yang sangat bengis: ,,Apa yang hendak engkau katakan,
monyet kecil ?”
Yo Him tidak marah mendengar dirinya dipanggil dengan
sebutan monyet kecil, dia telah memandang dengan berani,
tangannya telah mengacungkan Kimpay.
„Aku akan bicara atas nama Kimpay ini… …!” katanya
kemudian dengan suara yang nyaring.
Mata Sam Tocu jadi terpentang lebar2 waktu melihat
Kimpay ditangan Yo Him, tampak jelas sekali dia terkejut
bukan main, mukanya juga telah berobah pucat.
„Kau …. dari mana engkau mencuri Kim pay itu ?”
tegurnya, dengan suara yang ragu2.
Yo Him telah berkata dengan suara yang dingin:
„Setelah engkau melihat Kimpay ini apakah engkau tidak
segera berlutut untuk menerima perintah ?”
Muka Sam Tocu jadi berubah juga, dia telah berkata
dengan suara yang ragu2.
“Memang sudah menjadi peraturan, bahwa setiap orang
yang membawa Kimpay harus diperlakukan sama dengan
pemilik Kimpay itu sendiri, karena Kimpay merupakan lambang
kekuasaan dari pemimpin kami, tetapi engkau, engkau dalam
usia demikian kecil apakah mungkin engkau bisa memperoleh
sebuah Kimpay dari salah seorang pemimpin kami ? terlebih
lagi Kimpay itu tampaknya milik Wie Liang Tocu dari pusat,
wakil pemimpin kami dipusat.
Yo Him telah tertawa dingin.
“apakah kau telah menerima pelajaran mengenai peraturan
Kaypang, jika Kimpay dipegang oleh seorang anak kecil maka

Kimpay itu tidak berlaku ?. Dan juga apakah memang didalam
Kaypang terdapat peraturan pemegang Kimpay itu harus
dipandang dalam usia ? Hemm. Kimpay merupakan lambang
kekuasaan tertinggi dari orang yang bersangkutan yang
menjadi pemimpin kalian yang harus kalian hormati adalah
Kimpay itu sendiri, bukan orang yang membawanya…!”.
Mendengar perkataan Yo Him, kembali Sam Tocu diliputi
ke-ragu2an yang sangat, diapun telah berkata bimbang :
„Tetapi…tetapi…”.
Namun Sam Tocu tidak meneruskan perkataannya,
sehingga membuat Yo Him jadi tambah mendongkol saja.
„Apanya yang tetapi, tetapi ? Apakah engkau ingin
mengatakan bahwa Kimpay ini merupakan Kimpay palsu ?”.
„Tidak berani ! Tidak berani “ Justru aku mengenali jelas
sekali bahwa Kimpay itu adalah milik Wie Liang Tocu, wakil
Pangcu dipusat….!”.
„Hemm, mengapa engkau tidak segera melakukan upacara
menerima Kimpay ?” tanya Yo Him dengan nada suara
menegur.
„Baiklah ! Aku harus menjelaskan kepadamu !
Sesungguhnya kami menghormati sekali pemimpin2 kami
dipusat, tetapi sangat disesalkan sekali justru pemimpin2 kami
itu kurang teliti ! Buktinya Kimpay yang demikian berharga
telah begitu mudah diberikan kepada seorang anak sebaya
engkau ! Bukankah jika terjadi sesuatu, akan membahayakan
sekali ? bukankah anak sebaya engkau bisa saja diperalat oleh
orang2 jahat dan dengan mempergunakan kekuasaan Kimpay
itu, anggota Kay pang akan dikendalikan oleh tangan jahat,
dipinjam untuk melakukan kejahatan ? Tidak ! Tidak ! Aku
tidak bisa menerima kenyataan seperti ini …….. !”
Memang apa yang dikatakan oleh Sam Tocu memang
masuk dalam akal sehat. Apa yang dibilangnya itu juga
beralasan kuat sekali.

Namun walaupun bagaimana Yo Him berusaha meyakinkan
bahwa Kimpay ini diberikan oleh Wie Liang Tocu sebagai
hadiah kepadanya.
„Ketahuilah, bahwa antara aku dengan Wie Toako memang
telah mengikat tali persaudaraan, kami telah angkat saudara,
dimana Wie Tocu telah menjadi Toakoku ! Sebagai adik
angkatnya, maka aku telah dihadiahkan sebuah Kimpay……
Inilah Kimpaynya itu …..!”
Semula Sam Tosu masih ragu2 mengenai diri Yo Him,
tetapi mendengar perkataan Yo Him yang terakhir itu, keragu2an
dihatinya jadi lenyap, bahkan dia telah tertawa bergelak2
dengan, suara yang nyaring sekali.
„Bagus ! Bagus !” katanya dengan suara yang keras sekali.
„Tampaknya engkau memang seorang anak yang pandai
berdusta ! Semula aku masih mau mempercayai bahwa
engkau memperoleh Kimpay itu dari tangan Wie Tocu, tetapi
sekarang mendengar kalian mengangkat saudara, aha, aha,
tentu saja hal itu tidak masuk dalam akal sehatku ! Bagaimana
mungkin anak sekecil engkau bisa mengangkat saudara
dengan Wie Tocu ? Hemmm, dalam keadaan seperti ini
tampaknya engkau juga ingin berdusta ! Banyak orang2
persilatan yang ingin menjadi sahabat Wie Tocu, tetapi jarang
yang pantas untuk menjadi sahabatnya ! Maka, mana bisa aku
mempercayai justru engkau sebagai adik angkatnya ?”.
Dan setelah berkata begitu, Sam Tocu telah membentak
dengan tubuh yang bergerak cepat kearah Yo Him.
„Berikan Kimpay itu kepadaku…!” dan dia telah
mengulurkan tangannya, untuk merebut Kimpay itu dari
tangan Yo Him.
Yo Him jadi terkejut sekali, karena Sam Tocu telah
bergerak sangat cepat sekali, dia telah mengulurkan
tangannya untuk merebut Kim pay itu, karena dia bermaksud

untuk mengembalikannya kelak kepada Wie Liang Tocu
dipusat.
Jika memang ternyata Wie Tocu kehilangan Kimpaynya dan
Sam Tocu bisa mengembalikannya, bukankah hal itu
menunjukkan dia telah melakukan pahala yang cukup besar
untuk Kaypang ? Bukankah dia akan naik tingkat ju ga?
Maka dari itu, Sam Tocu tidak segan2 dalam gerakannya,
dia mengulurkan tangan kanan nya untuk merebut Kimpay itu
dari tangan Yo Him, sedangkan tangan kirinya telah
diluncurkan untuk menyerang kearah dada Yo Him.
Gerakan itu dimaksudkan per-tama2 tangan kanannya ingin
merebut Kimpay, sedangkan tangan kirinya akan menghantam
binasa anak itu.
Yo Him mana berdaya untuk mengelakan diri dari serangan
Sam Tocu ? Phang Kui In yang melihat gerakan Sam Tocu jadi
terkejut bukan main, dia bermaksud mengulurkan tangannya
untuk menangkis serangan didada Yo Him, karena baginya
yang terpenting menyelamatkan jiwa Yo Him dulu, maka
walaupun Kimpay nanti kena direbut oleh Sam Tocu, hal itu
mudah diurus dibelakang harinya.
Sedang Cu Kun Hong yang melihat sikap Sam pocu, jadi
marah sekali.
,,Manusia hina yang tidak tahu malu !” memaki Cu Kun
Hong, dan pelajar ini bukan hanya membentak begitu saja,
karena dengan cepat sekali dia telah melompat dengan
gerakan yang sangat gesit dan tangan kanannya mencekal
kipas telah bergerak. Dia sama sekali bukan bermaksud
menangkis serangan Sam Tocu yang dilancarkan kepada Yo
Him, hanya mengancam akan menolok jalan darah Pai-konghiat
dipunggung Sam Tocu.
Tentu saja hal itu telah membuat Sam Tocu jadi terkejut
karena dia menyadari bahwa Pai-kong-hiat merupakan jalan
darah terpenting dan merupakan jalan darah utama.

=============== hal 33 hilang
================
mengeluarkan suara bentakan yang mengguntur, tampak
dia telah menggerakkan kedua tangannya dengan saling susul
dan serentak. Ge rakan yang dilakukannya sangat cepat
sekali, sehingga tampaknya sulit bagi Cu Kun Hong untuk
mengelakkan diri, karena waktu dia sedang mengulurkan
tangannya dan belum menarik serangan kipasnya, sehingga
ketiaknyalah yang menjadi inceran dari serangan Sam Tocu.
Kalau serangan Sam Tocu mengenai sasarannya, niscaya
akan menyebabkan tulang iga Cu Kun Hong akan remuk
berantakan, karena Sam Tocu telah menyalurkan tenaga
lwekangnya sebanyak delapan bagian dikedua tangannya itu,
sehngga angin serangan itu men-deru2 datang nya…..
Tetapi Cu Kun Hong tidak menjadi gugup karenanya,
walaupun dia telah diserang dengan gempuran2 yang begitu
kuat dan keras. Dengan mengeluarkan suara siulan yang
cukup nyaring tampak Cu Kun Hong telah menjejak kakinya,
tubuhnya telah melompat ketengah udara dengan gerakan
yang sangat cepat sekali ia melayang berjumpalitan beberapa
kali, sehingga berhasil menjauhi diri dari Sam Tocu.
Tetapi Sam Tocu sangat penasaran, dengan mengeluarkan
suara bentakan yang keras, dia telah melompat dan mendesak
Cu Kun Hong dengan serangan2 yang jauh lebih kuat lagi.
Dengan gerakan „Kim Hong Sam Tiauw” yakni ‘Cendrawasih
Emas Mengangguk Tiga Kali’ , kedua tangannya menyambar
saling susul tiga kali menimbulkan kesiuran angin yang keras,.
Setelah mana disusuli pula oleh Jie Liong Po Cu atau Sepasang
Naga memperebutkan mustika, kedua tangannya itu
menyambar2 dengan hebat, membuat Cu Kun Hong jadi
terkejut bukan main.

Dalam keadaan demikian Cu Kun Hong tidak berani
meremehkan serangan2 yang di lancarkan oleh pengemis
tersebut dengan mengeluarkan suara bentakan keras dan kuat
tampak Cu Kun Hong menggerakkan kipasnya “Serrrr …. “
kipas tersebut menyambar dengan jurus „Ong Lui Thian Te”
atau „Raja Petir Mendatangkan Hujan dari Langit”. Gerakan2
hebat seperti itu menyebabkan serangan2 Sam Tocu
tertangkis dan gagal sama sekali. bahkan tangkisan itu karena
terlalu kuat, menimbulkan suara benturan yang menulikan
telinga.
Sam Tocu dalam kemarahan yang membakar hati, telah
mengulangi lagi serangan2nya. Rupanya pengemis ini telah
mengeluarkan seluruh kekuatan tenaga dalamnya, sampai
otot2 dan urat dimukanya bertonjolan jelas.
Angin serangan, itu berkesiuran kuat dan memaksa Sam
Tocu harus bersikap jauh lebih ber-hati2 dibandingkan dengan
beberapa saat yang lalu, karena jika serangan2 yang kali ini
dilancarkannya itu tidak berhasil menemui sasaran yang tepat
ditubuh lawannya, tentu ia sendiri yang pasti akan terluka
didalam oleh tenaga dalamnya sendiri yang akan berbalik
menghantamnya.
Semakin lama Cu Kun Hong jadi semakin sibuk menghadapi
gempuran2 lawannya yang agak nekad ini dan beberapa kali
ia telah mengeluarkan suara seruan2 sangat keras dan juga
diselingi oleh seruan2 kaget karena dirinya berulang kali
hampir terkena serangan2 Sam Tocu.
Untung saja Sam Tocu dalam melancarkan serangan2nya
itu masih mempertimbangkan keselamatan dirinya, coba kalau
tidak Cu Kun Hong tentu telah dapat dirubuhkannya.
Atau setidak2nya mereka akan terluka bersama.
Cu Kun Hong menyadarinya bahwa tocu dari partai
pengemis ini memang memiliki kepandaian yang tinggi sekali
disamping memiliki dasar tenaga dalam yang terlatih kuat.

Sam Tocu telah menduduki tingkat yang tinggi dalam
perkumpulan Kaypang cabang daerah dan tampaknya iapun
takut menderita malu dihadapan kedua orang bawahannya
jika harus kalah ditangan Cu Kun Hong, dimana Kim Jie Kay
dan Gan Ho Kay tengah mengawasi jalannya pertempuran itu
dengan mata terpentang lebar2. Beruntun Sam Tocu telah
melancarkan serangan2 dengan jurus „Pek Lui Thian Mui” atau
„Petir Putih Dari Pintu Langit”, dan seperti juga samberan
kilat, tangannya itu berkesiuran kuat menyambar kelawannya
dengan mengeluarkan suara berkesiutan tidak hentinya.
Serangan2 kedua jago yang tengah saling gempur dalam
pertarungan yang begitu menakjubkan, menimbulkan angin
yang menderu2 dan daun2 kering maupun debu telah
beterbangan karena terjangan dan terpahan angin serangan
diseputar gelanggang pertempuran itu.
Phang Kui In yang menyaksikan pertempuran diantara
kedua jagoan itu, diam2 jadi menghela napas panjang.
,,Beruntun2 aku telah melihat kepandaian yang sangat
tinggi dari beberapa orang persilatan dan kini tampaknya Sam
Tocu dari Kaypang pun bukan memiliki kepandaian yang
lemah. Begitu pula sipelajar she Cu itu tampaknya bukan
orang sembarangan. Namun siapa sebenarnya Cu Kun Hong
itu ? Mengapa selama ini aku tidak pernah mendengar nama
nya didalam rimba persilatan ?”.
Waktu Phang Kui In sedang berpikir begitu, Cu Kun Hong
yang telah terdesak terus menerus oleh serangan2 yang
dilancarkan lawannya jadi gusar sekali. Ia telah mengeluarkan
suara bentakan marah yang keras. Waktu Sam Tocu
melancarkan serangan kepalan tangannya dengan jurus
“Kwan Im Lian-kiam” atau “Dewi Kwan Im duduk Diteratai
Emas” mengincer dada Cu Kun Hong, tahu2 kipas si pelajar
telah dilintangkan didepan dadanya. „Serr…!” kipas itu telah
terbuka lebar seperti perisai, untuk menyambuti serangan
yang di lancarkan Sam Tocu.

„Bukk… pranggg…!” terdengar kipas itu terpukul oleh
kepalan tangan Sam Tocu, tetapi karena kipas itu terbuat dari
besi murni dengan sendirinya kuat sekali daya tahannya.
Mempergunakan kesempatan ini tangan kiri Cu Kun Hong
telah bergerak dan dia telah melancarkan gempuran hebat
sekali menghantam lambung lawannya dengan jurus “Ma Lim
Cut Cu” atau “Kuda Hutan Mengeluarkan Mutiara” Gerakan
yang dilakukan pelajar ini cepat dan lincah disamping
mengandung tenaga lwekang yang kuat. Dan bersamaan
dengan itu kim Tocu juga tengah meluncurkan tangan
kanannya kearah dada Cu Kun Hong dengan tubuh yang
doyong kedepan, sulit sekali dia berkelit atau mengelakkan diri
dari gempuran sipelajar she Cu itu. Walaupun hatinya terkejut,
tetapi Sam Tocu masih bisa mengendalikan diri, cepat2 dia
telah memusatkan tenaga dalamnya melindungi bagian
lambungnya.
,,Bukk !” Serangan telapak tangan kiri Cu Kun Hong yang
tidak bisa dielakkannya lagi itu telah diterimanya dengan
mempergunakan kekuatan lwekang disekitar lambungnya dan
gempuran pelajar itu membuat tubuh Sam Tocu terhuyung
mundur dua langkah, namun tokoh Kaypang tersebut tidak
terluka karenanya.
Cu Kun Hong semula girang melihat serangannya itu tidak
dapat dihindarkan oleh lawannya, tetapi waktu telapak
tangannya mengenai sasaran dilambung sipengemis, tampak
Cu Kun Hong juga terkejut karena merasakan tangannya
seperti juga menggempur lempengan besi yang keras bukan
main sampai ia merasakan telapak tangannya sakit sekali.
Disaat itu dengan cepat sekali Cu Kun Hong merobah posisi
tubuhnya dan kipasnya dihentakkan dalam keadaan tertutup
melancarkan serangan lagi kearah pundak Sam Tocu dengan
maksud untuk menotok jalan darah sipengemis,
Gerakan yang dilakukan Cu Kun Hong mempergunakan
jurus “Jie Lay Kiu Mui” atau “Sang Buddha Dengan Sembilan

Pintu” memaksa sipengemis mundur beberapa langkah karena
jika dia bergerak terlambat tentu dirinya akan menjadi korban
totokan ujung kipas itu.
„Bagaimana apakah kita meneruskan pertempuran ini ?”
tanya Cu Kun Hong dengan suara mengejek dan menatap
tajam kepada sipengemis, mulutnya tersenyum sinis.
Sam Tocu baru saja berhasil mengendalikan goncangan
hatinya karena nyaris tadi dia terserang oleh pelajar yang
memiliki kepandaian tidak berada di sebelah bawah
kepandaiannya, Namun mendengar pertanyaan Cu Kun Hong
dia jadi marah sekali.
“Tentu saja diteruskan !” teriak Sam Tocu dengan suara
mengerang marah disusul dengan lompatan tubuhnya
menerjang maju. melancarkan gempuran2 lagi kepada Cu Kun
Hong.
Tangan Sam Tocu telah meluncur ketulang Pie-pie (tulang
selangka) dibahu Cu Kun Hong.
Cu Kun Hong tidak berani berdiam diri saja, ia mengibaskan
kipasnya dengan cepat dan bergerak lincah sekali. „Takkkk!”
kipasnya telah menyampok pergelangan tangan kanan Sam
Tocu. Tetapi Sam Tocu menggerakkan terus tangan kirinya
membuat Cu Kun Hong jadi terkejut. Mati2an Cu Kun Hong
menggeser kaki kirinya dengan tubuh yang didoyongkan
kearah kiri. Tetapi disaat itu telah terdengar suara ‘breettt’
yang cukup nyaring, baju bagian bahu Cu Kun Hong telah
robek terkena cengkeraman jari2 tangan Sam Tocu.
Bukan main girangnya hati Sam Tocu yang cepat2
menyusuli lagi dengan serangan2 yang berangkai, setiap
serangannya membawa angin serangan yang mengandung
maut. Memang cara menyerangnya yang saling susul dan
berangkai itu sengaja dilakukannya, agar tidak memberikan
kesempatan kepada Cu Kun Hong memperkuat besi atau
kuda2 kakinya.

Dalam keadaan demikian Cu Kun Hong yang merasakan
pundaknya pedih dan nyeri sebab tadi terluka sedikit akibat
cakaran jari tangan Sam Tocu, telah membuat ia harus
menahan perasaan nyeri itu dan mengelakkan diri dari
serangan susulan yang dilancarkan Sam Tocu.
Setiap gerakan yang dilakukan Cu Kun Hong merupakan
gerakan pertahanan yang sangat kuat sekali. Tetapi
serangan2 Sam Tocu semakin lama bukannya semakin
berkurang tenaga menekannya, bahkan semakin kuat dan bisa
mematikan jika berhasil mengenai sasaran dari korban
serangan ini.
Cu Kun Hong lebih banyak berkelit dan menghindar saja
dari serangan2 yang dilakukan sipengemis, karena Cu Kun
Hong memang tengah mengawasi kelemahan2 dari lawannya,
untuk mencari kelemahan didiri Sam Tocu.
Tetapi selama itu Cu Kun Hong tidak berhasil melihat
kelemahan didiri pengemis yang sakti ini. Bahkan semakin
lama Sam Tocu telah melancarkan serangan2nya dengan
pengerahan lwekang yang lebih kuat lagi.
Dalam waktu yang sangat singkat sekali, tampak mereka
telah bertempur lebih dari seratus jurus.
Phang Kui In yang menyaksikan dari samping, jadi berdiri
diam mematung, karena dia merasa kagum atas kepandaian
yang dimiliki ke dua orang yang tengah bertempur itu.
Yo Him sendiri sambil menyaksikan jalannya pertempuran
itu, berulang kali telah melirik kearah Kimpay ditangannya. Dia
heran juga mengapa kali ini Kimpay dari Wie Liang Tocu tidak
memperlihatkan kekuasaannya ?
Disaat Cu Kun Hong dan Sam Tocu sedang bertempur,
tiba2 terdengar suara orang menggumam perlahan :
„Bertempur merupakan pekerjaan yang
menggembirakan…memang bertempur merupakan pekerjaan
yang sangat menyenangkan ! Dulu aku semasa muda juga

gemar sekali berkelahi, sampai kepalaku benjol2 dan pulang
kerumah dipukuli ibu…!”.
Waktu Yo Him dan Phang Kui In menoleh, mereka melihat
munculnya seorang pengemis tua dengan tubuh yang
bungkuk, dengan muka yang telah peyot dan kumal sekali,
pakaiannya juga kotor sekali, dipunggungnya yang berpunuk
itu tampak tergemblok sebuah hiolo tempat arak.
Phang Kuiln dan Yo Him jadi terkejut.
Dengan munculnya pengemis tua itu, tentu saja berarti
bertambahnya seorang lawan.
Phang Kui In cepat2 ber-siap2 dan waspada, jika memang
pengemis itu bermaksud untuk menyerang Cu Kun Hong, dia
yang akan menghalanginya.
Tetapi pengemis itu, yang tampaknya lelah sekali
melakukan perjalanan, telah menghampiri sebatang pohon,
dia telah duduk dibawah pohon itu, untuk menyaksikan
pertempuran sambil meloloskan ikatan hiolonya, dan meneguk
isinya. Bau arak segera tersiar disekitar tempat itu.
Cu Kun Hong dan Sam Tocu yang tengah terlibat dalam
pertempuran yang seru sekali, sudah tidak sempat untuk
menoleh, karena mereka sedang mencurahkan perhatian
masing2 untuk berusaha merubuhkan lawannya.
Dalam keadaan seperti ini, tampak Sam Tocu yang paling
bernafsu sekali berusaha untuk dapat merubuhkan lawannya.
Sedangkan kedua pengemis yang membawa empat helai
karung, Kim Jie Kay dan Gan Ho Kay, telah memperhatikan
pengemis lua itu.
Muka kedua pengemis ini jadi berobah he bat, tampaknya
mereka terkejut sekali.
„Kimciu Sin kay !” bisik mereka hampir berbareng.

Tetapi pengemis tua itu, yang mereka sebut sebagai Kimciu
Sinkay (pengemis sakti Arak Emas), telah ter- senyum2,
menyaksikan terus pertempuran itu, sambil meneguk perlahan2
arak didalam hiolonya.
„Aha, aha, salah salah . Itulah cara menyerang yang salah
!” teriak sipengemis tua itu. „Kalian bertempur seperti juga
dua orang anak berusia lima tahun, hanya bisa menggerak2kan
tangan belaka…!”.
Disaat pengemis tua itu tengah ber-teriak2 begitu, tampak
Kim Jie Kay dan Gan Ho Kay telah menghampirinya, kedua
pengemis itu telah berlutut dihadapan pengemis tua itu.
„Locianpwe, kami Kim Jie Kay dan Gan Ho Kay memberi
hormat…!” kata mereka hampir berbareng.
Pengemis tua itu jadi menoleh dan memandang sinis
kepada kedua pengemis yang sedang berlutut itu.
Sedangkan hati Phang Kui In dari Yo Him waktu melihat
Kim Jie Kay dan Gan Ho Kay berlutut memberi hormat kepada
pengemis tua itu hati mereka jadi tergoncang, karena
wakaupun bagaimana memang kenyataannya pengemis tua
itu kaum dari Kaypang.
Phang Kui In jadi ber-siap2 untuk menghadapi segala
kemungkinan.
Disaat itu, tampak pengemis tua itu telah bertanya dengan
suara yang tawar : „Kalian hanya mengganggu perhatianku
saja ! Lihatlah ! Aku jadi tidak bisa menikmati kesenanganku
untuk menyaksikan perkelahian kedua anak kecil itu…!” dan
setelah berkata begitu, tangan kanannya tampak digerakkan
perlahan sekali, tetapi tahu2 Kim Jie Kay dan Gan Ho tay telah
mengeluarkan suara jerit kesakitan, tubuh mereka telah
terpental keras melambung ketengah udara, dan terbanting
keras sekali. Phang Kui In dan Yo Him jadi berdiri tertegun,
Karena jika pengemis tua itu merupakan sahabat atau orang
dari Kaypang juga, mengapa memperlakukan Kim Jie Kay dan

Gan Ho Kay begitu macam ?. Tampaklah Kim Jie Kay dan Gan
Ho Kay telah merangkak untuk bangun berdiri.
Muka mereka tampak bengkak merah, karena rupanya
masing2 telah diberi hadiah satu tamparan yang keras.
Tetapi Kim Jie Kay dan Gan Ha Kay tidak berani
memperlihatkan perasaan marah atau mendongkol, mereka
hanya berdiri dengan kepala tertunduk dalam2, kedua tangan
diturunkan, tampaknya mereka ketakutan sekali.
Sedangkan Kimciu Sinkay telah menyaksikan jalannya
pertempuran lagi antara Sam Tocu dengan Cu Kun Hong,
sedangkan mulutnya tidak henti2nya mengoceh saja, dan
juga telah meneguk araknya.
Dalam keadaan demikian, tampaknya Sam Tocu tadi telah
mendengar suara jeritan dari Kim Jie Kay dan Gan Ho Kay. Dia
telah melirik sejenak kepada pengemis tua Kimciu Sin kay,
waktu dia berhasil membuat Cu Kun Hong mundur dua tindak
kebelakang. Dan begitu mengenali pengemis tua itu, hatinya
terguncang mukanya menjadi pucat, dan telah melompat
mundurdengan cepat dan menghampiri pengemis tua itu.
Waktu sampai dihadapan pengemis tua itu dia telah
berlutut memberi hormat.
“Tecu (murid) benar2 tidak mengetahui kedatangan
locianpwe. Sehingga tidak mengadakan penyambutan !”
katanya dengan suara ketakutan sekali.
Cu Kun Hong yang Semula heran melihat sikap Sam Tocu,
kini jadi berdiri dengan hati tergoncang, karena dia melihat
Sam Tocu telah berlutut begitu, dan tampaknya pengemis tua
Kimciu sinkay merupakan pengemis yang sakti dan memiliki
tingkatan tinggi di dalam Kaypang. Buktinya saja, Sam Tocu
yang memiliki kepandaian yang tinggi, telah berlaku begitu
hormat dan ketakutan sekali.

Cepat2 Cu Kun Hong ber siap2 untuk menghadapi sesuatu,
sedangkan hatinya jadi berkuatir juga karena dia melihat
bahwa kepandaian Sam Tocu sudah begitu tinggi dan boleh
dibilang tadi dia telah terdesak. Terlebih lagi sekarang,
tampaknya pengemis tua itu dihormati sekali oleh Sam Tocu.
Tentunya Kimciu Sinkay itu memiliki kepandaian yang sangat
tinggi sekali.
Maka segera Cu Kun Hong telah memusatkan seluruh
kekuatan tenaga dakamnya dikedua telapak tangannya,
karena dia ber-siap2 kalau sampai Kimciu Sinkay melancarkan
serangan, dia bisa segera menghadapi.
Tetapi pengemis tua itu sama sekali tidak melakukan
gerakan apa2.
Kimciu Sinkay telah memandang sinis kepada Sam Tocu.
„Percuma engkau diangkat sebagai Tocu cabang daerah,
karena engkau tidak bisa melakukan tugasmu dengan baik…!”
kata Kimciu Sin kay.
Dia ber-kata2 dengan suara yang biasa saja, tidak
memperlihatkan tanda2 bahwa dia tengah marah. Namun
kenyataannya, Sam Tocu jadi ketakutan sekali.
„Bukan main! Bukan main !” berkata Kimciu Sinkay lagi.
„Engkau telah memiliki kepandaian, tetapi kepandaian itu
bukan untuk dipergunakan melakukan perbuatan yang tidak2
!”
Sam Tocu tampak jadi tambah ketakutan saja, dia sampai
berlutut sambil meng angguk2kan kepalanya.
„Tecu memang bersalah” katanya dengan suara yang
tersendat
„Tecu memang benar2 bersalah, dan patut menerima
hukuman !”

“jika engkau mengatakannya sekarang, semuanya telah
terlambat, karena engkau masih berani melawan kekuasaan
Kimpay. Hal itu sudah merupakan suatu ingkar yang luar
biasa, berarti engkau sudah tidak. memandang sebelah mata
terhadap pemimpin Kaypang dipusat, berarti juga engkau
sudah secara langsung menghina kekuasaan Kaypang !”
Sam Tocu jadi tambah ketakutan saja, dia telah gemetaran
keras dan berulang kali dia mengangguk-anggukkan
kepalanya sampai keningnya menghantam tanah, terdengar
suara “tuk tuk” karena kepalanya itu telah menghantam
tanah. Dalam keadaan demikian, tampak Sam Tocu benar2
seperti seorang persakitan yang menantikan hukuman. Tentu
saja keadaan Sam Tocu membuat Phang Kui In dan yang
lainnya jadi heran. Mereka segera mau menduga bahwa
pengemis tua itu pasti dari Kay pang pusat.
Saat itu tampak Sam Tocu telah berkata dengan suara yang
ragu2 „Sesungguhnya…. apakah kesalahanku …….!? Aku
telah berusaha untuk membela anak buah atau anggota
Kaypang cabang daerah, agar mereka memiliki pelindung,
jangan sampai dihina orang. …..namun kenapa aku yang telah
dipersalahkan ……!” Dengan berkata begitu, tampaknya
Sam Tocu ingin membela diri, karena diapun merasakan
bahwa tindakannya yang membela anggota Kaypang
merupakan pekerjaan yang tidak salah.
Tetapi Kimciu Sinkay telah tertawa dingin, dia telah berkata
dengan suara yang keras: „Hemmm, tampaknya memang
engkau merupakan seorang yang terlalu kepala batu ! Selama
dua tahun terakhir ini, dipusat telah menerima laporan bahwa
anggota Kaypang cabang daerah yang kalian pimpin
merupakan momok yang menakutkan bagi penduduk daerah
ini, karena kalian selalu melakukan kejahatan. Sebagai
pemimpin kau, dan ketua cabang daerah mengumbar anggota
Kaypang melakukan kejahatan2 belaka, tanpa mengambil
perduli…!”.

Dan berkata sampai disitu, tampak Kimciu Sinkay telah
memperlihatkan muka yang serius dan angker, kata2nya juga
telah meninggi „Dan aku datang untuk menghukum kalian,
anggota2 yang telah melakukan kesalahan yang bisa
merugikan nama Kaypang… !”.
Muka Sam Tocu jadi berobah pucat seketika itu juga, dia
masih dalam keadaan berlutut, kemudian katanya dengan
suara yang perlahan „Ampunilah…kami akan merobah
kelakuan kami..!”.
Waktu itu Kim Jie Kay dan Gan Ho Kay telah berlutut juga,
mereka juga telah memohon : „Kamipun berjanji akan
merobah kelakuan kami…! Ampunilah jiwa kami, Locianpwe!”
Tetapi Kimciu Sinkay telah tertawa dingin.
„Apakah begitu mudah mengampuni manusia2 berdosa”
katanya dengan suara yang dingin.
Muka Sam Tocu jadi berobah tambah pucat, begitu pula
tubuh Kim Jie Kay dan Gan Ho Kay jadi menggigil karena
mereka ketakutan bukan main.
„Sekarang kalian ber-siap2lah untuk menerima hukuman !”
kata Kimciu Sin Kay dengan suara yang lebih dingin lagi.
Phang Kui In, Yo Him dan Cu Kun Hong jadi mengawasi
saja dengan heran. Mereka tidak mengetahui entah
kedudukan apa yang dimiliki pengemis tua Kimciu Sinkay
sehingga dia bisa menjatuhkan hukuman kepada anggota
Kaypang yang melakukan kesalahan. Mereka juga tidak
mengetahui entah hukuman apa yang akan dijatuhkan oleh
Kimciu Sinkay kepada ketiga anggota Kaypang itu.
Kimciu Sinkay telah berdiri dari duduknya, dia telah
mengikat hiolonya kembali di-punggungnya yang berpunuk,
lalu dengan berdiri diam2 dia mengawasi ketiga pengemis itu.
Sam Tocu bertiga jadi tambah ketakutan mereka seperti
tengah menghadapi malaikat el maut saja.

„Nah, sekarang tiba saatnya kalian akan menjalani
hukuman masing2…!” kata Kimciu Sinkay dengan suara yang
dingin dan dia merogoh sakunya, tahu2 di tangannya telah
tercekal tiga ekor ular.
Muka Sam Tocu bertiga berobah tambah pucat dan
ketakutan, keringat dingin juga telah mengucur deras sekali
dikening dan dimukanya.
“Locianpwe…?!” suara Sam Tocu bertiga tergetar keras.
Kimciu Sinkay telah melemparkan tiga ekor ular itu keatas
tanah.
Ular tersebut berukuran tidak besar, hanya berukuran satu
jengkal dengan besarnya sebesar ibu jari tangan. Waktu
dilemparkan keatas tanah ketiga ekor ular itu telah melingkar2
ditanah dengan gerakan yang lamban sekali.
Warnanya hijau ke-kuning2an.
“Jalankan hukuman kalian !” Bentak Kimciu Sinkay dengan
suara yang angker sekali. Sam Tocu tampak ragu2, begitu
juga dengan Kim Jie Kay dan Gan Ho Kay. Tetapi waktu
melihat sorot mata Kimciu Sinkay mereka jadi mengeluh,
karena tampaknya mereka bertiga menyadari jika mereka
ayal2an melaksanakan hukuman itu niscaya akan
menyebabkan mereka menerima hukuman yang jauh lebih
berat lagi dari Kimciu Sinkay. Maka akhirnya mereka telah
menghampiri ketiga ular itu, masing2 telah mengambil seekor,
Phang Kui In, Yo Him dan Cu Kun liong memandang heran
tanpa mengerti, akhirnya mereka hampir mengeluarkan suara
jeritan tertahan karena merasa ngeri. Sebab Sam Tocu bertiga
telah membawa ular ditangan masing2 kemuka mereka
sehingga ular itu telah mengulurkan lidahnya, dan pipi Sam
Tocu bertiga telah digigitnya.
Sam Tocu bertiga menjerit, tetapi ular itu tetap mereka
pegangi terus.

Dan berulang kali ular itu telah memagut kan pipi Sam
Tocu bertiga tidak hentinya, maka dalam waktu yang singkat
sekali, puluhan gigitan telah diterima Sam Tocu bertiga. Setiap
kali pipi mereka digigit, mereka mengeluarkan suara raungan
kesakitan.
Darahpun telah mengucur deras dari luka gigitan itu dan
setelah dua puluh kali gigitan ular itu Kimciu Sinkai telah
berkata perlahan “Cukup”. Sam Tocu dengan muka yang
berlumuran darah telah menghampiri Kimciu Sinkay,
menyerahkan ular ditangannya. Begitu pula dengan Kim Jie
Kay dan Gan Ho Kay telah mengembalikan ular itu kepada
Kimciu Sinkay dengan sikap yang menghormat sekali, mereka
pun telah menyatakan terima kasihnya.
Phang Kui In mengerutkan alisnya, karena dia mengetahui
bahwa ular itu adalah Kim Tok Coa (ular racun emas), yang
sangat berbisa sekali, racun ular itupun sangat hebat sekali,
walaupun tidak bisa mematikan namun setiap korbannya akan
menderita demam hebat. Dan kini sam tocu bertiga telah
digigiti mukanya sebanyak dua puluh kali, mereka pasti akan
menderita demam yang hebat, walaupun masing2 memiliki
tenaga lwekang yang cukup kuat.
Dan yang lebih mengerikan sekali justru muka mereka yang
akan bercacad, akan menjadi buruk sekali jika kelak luka2 itu
telah mengering. Phang Kui In sendiri sampai bergidik melihat
cara hukuman tersebut.
„Hebat cara Kaypang mengatur anak buah nya, tampaknya
Sam Tocu sama sekali tidak berani membantah hukuman yang
harus diterima oleh mereka” berpikir Cu Kun Hong. „Entah apa
pangkat Kimciu Sinkay dalam Kaypang?”.
Saat itu Kimciu Sinkay telah tertawa perlahan, tampaknya
dia puas.
„Nah kini kalian pergilah, tetapi kalian, harus melaporkan
apa yang kalian terima ini kepada pemimpin kalian, agar

pemimpin kalian besok tepat jam dua belas tengah malam,
menemui aku…! Tempatnya dikuil Bong-sie-am, di luar pintu
sebelah barat…!”.
„Baik, terima kasih atas kemurahan hati Locianpwe…i” kata
Sam Tocu bertiga hampir berbareng, lalu dengan kepala yang
tertunduk dalam2, mereka telah membalikkan tubuh dan
berlalu meninggalkan tempat itu.
Sedangkan Kimciu Sinkay menghampiri Yo Him, tahu2 dia
menekuk sebelah kakinya.
“Tecu Kimciu Sinkay menghadap Kimpay”. Katanya dengan
suara yang nyaring.
Yo Him jadi terkejut. begitu juga Phang Kui In dan Cu Kun
Hong.
Cepat2 Yo Him mengangkat Kimpay di tangannya, karena
dia menyadari yang dihormati bukan dirinya melainkan Kimpay
itu.
“Ada perintah apakah untuk Tecu ?” tanya Kimciu Sinkay
lagi dengan suara yang sabar.
“Boanpwe hanya ingin meminta agar Locianpwe
menyelesaikan keadaan Kaypang didaerah ini, karena Kaypang
cabang daerah ini tampaknya tidak beres…!” kata Yo Him
yang telah membahasakan dirinya dengan sebutan boanpwe
golongan muda.
“Baik Tecu akan memperhatikan perintah ini. Tecu akan
mengadakan pembersihan didalam Kaypang…!”.
“Baiklah. Boanpwe tidak memiliki persoalan lainnya lagi !”
kata Yo Him sambil, memasukan Kimpay kedalam sakunya.
“Tetapi bisakah Boanpwe mengetahui, kedudukan apakah
yang dijabat oleh Locianpwe…?”.
„Bicara mengenai kedudukan, Tecu tidak memiliki
kedudukan apa2, karena Tecu hanya diperintahkan oleh

Pangcu sebagai penilik saja, memperhatikan cabang2 daerah
dari Kaypang. Jika memang ada anggota yang melanggar
tata-tertib peraturan dari Kaypang, harus mengambil tindakan
atau jika perlu melaporkan kepada Pangcu……!”
„Hemmm, jika demikian baiklah. Tentu persoalan Kaypang
didaerah ini bisa diselesaikan oleh Locianpwe ……!”
„Tecu menerima perintah itu, dan tolong sampaikan salam
Tecu kepada Wie Tocu …. !”
„Baik!” kata Yo Him. „Kami akan segera berlalu.”
„Bisakah Tecu mengetahui siapakah adanya Siauw
Enghiong ?” tanya Kimciu Sinkay lagi.
„Aku she Yo dan bernama Him,” menjelaskan Yo Him.
„Aku jadi teringat seseorang……..!” kata Kimciu Sinkay.
„Masih pernah apakah dan ada hubungan apakah diantara
Siauw Enghiong dengan Sin Tiauw Taihiap Yo Ko?”
„Itulah ayah dari Yo Siauw enghiong ini !” menyelak Phang
Kui In menjelaskan.
Muka Cu Kun Hong jadi berobah, cepat2 dia menghampiri
Yo Him, dan telah membungkukkan tubuhnya memberi
hormat sambil katanya : „Tidak tahunya yang ada
dihadapanku ini adalah puteranya Yo Taihiap…! Sungguh
menggembirakan sekali ! Dulu aku pernah ditolong oleh Yo
Taihiap, dan budi Yo Taihiap tidak akan kulupakan ! Jika Yo
Siauw enghiong memiliki kesulitan apa2, tidak perlu segan2
memberikan perintah kepada Hakseng (murid, kata2
merendah dari seorang pelajar)”.
Yo Him membalas hormat Cu Kun Hong.
„Tadipun kami belum mengucapkan terima kasih atas
bantuan Cu Siucai terhadap paman Phang dan diriku, jika
tidak ada Cu Siucai tentu kami telah dicelakai oleh Sam
Tocu…!”.

Dan setelah berkata begitu, Yo Him telah memberi hormat
dengan bungkukkan tubuh yang dalam. „Terima kasih atas
bantuan itu…! Dan kami akan segera berlalu…!” lalu bersama2
dengan Phang Kui In, Yo Him membalikkan tubuhnya
meninggalkan Cu Kun Hong dan Kimciu Sinkay.
Sedangkan Cu Kun Hong dan Kimciu Sinkay berdiri tertegun
sejenak, tampaknya mereka takjub sekali karena mereka tidak
menduga sebelumnya bahwa Yo Him adalah putera dari
seorang pendekar sakti seperti Sin Tiauw Taihiap Yo Ko.
Semula memang Kimciu Sinkay masih ingin menanyakan
dari manakah Yo Him memperoleh Kimpay milik Wie Tocu.
Tetapi kini setelah mengetahui bahwa Yo Him adalah putera
Sin Tiauw Taihiap Yo Ko maka dia mau menduga bahwa
mungkin Wie Tocu telah memberikan Kimpay miliknya itu
disebabkan dia merasa kagum dan hormat sekali kepada Sin
Tiauw Taihiap Yo Ko.
Dan tidak pernah diduga oleh Kimciu Sinkay dan Cu Kun
Hong, bahwa sesungguhnya Wie Liang Tocu sama sekali tidak
mengetahui bahwa Yo Him adalah puteranya Sin Tiauw
Taihiap. Justru antara Wie Ling Tocu dan Yo Him telah terjalin
hubungan yang baik sekali, antara mereka berdua telah saling
mengangkat saudara.
Cu Kun Hong kemudian memberi hormat kepada Kimciu
Sinkay dan lalu meminta diri. Begitu pula Kimciu Sinkay telah
meninggalkan tempat itu, sebab dia memang perlu mengurusi
anggota2 cabang daerah tempat ini.
Tempat tersebut telah menjadi sunyi kembali….
PADA sore yang mendung tampaknya akan turun hujan. Yo
Him dan Phang Kui In telah tiba disebuah tempat yang rimbun
sekali oleh pohon2 dan rumput yang tumbuh tinggi sehingga
tampaknya tempat tersebut jarang sekali didatangi orang.

„Dimana kita akan bermalam, paman Phang ?” tanya Yo
Him.
„Kita melakukan perjalanan lagi beberapa saat, jika
memang tidak berhasil menemui rumah penduduk, biarlah kita
bermalam dialam terbuka saja..” kata Phang Kui In.
„Tetapi paman Phang.. !” kata Yo Him ragu-ragu.
„Kenapa ?” tanya Phang Kui In.
„Tampaknya tempat ini bukan tempat yang baik…lihatlah
semak belukar dan tampaknya agak mengerikan…!” kata Yo
Him lagi.
„Jangan kuatir, biar nanti aku yang mengaturnya !” kata
Phang Kui In. „Jika ada orang jahat bukankah akupun
sanggup menghadapinya…?”.
„Bukan begitu Phang Susiok (paman Phang tetapi aku
merasakan adanya sesuatu yang membuat hati tidak
tenang…entah mengapa saja tadi begitu memasuki daerah ini
aku merasakan jantungku tergoncang terus menerus tidak
hentinya…
„Itu mungkin hanya perasaanmu saja…..!
kata Phang Kui In. „Percayalah, tidak mungkin terjadi
sesuatu apapun juga”.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s