Sin Tiauw Thian Lam (Jilid :13-14)

JILID 13
SAAT itu Yo Him telah berkata dengan suara yang tenang
sekali.
„Baiklah. Bisakah kalian membuktikan bahwa mereka
bertiga telah mencuri pusaka kalian itu ?” tanyanya dengan
yang dingin.

Muka siberewok jadi berobah tidak senang, mereka yang
juga telah mengeluarkan suara bentakan gusar.
„Hemm. kau setan kecil, apa maksudmu ikut mencampuri
urusan kami “Apalah kau ingin ikut mampus juga! “
Ditegur begitu, Yo Him bukannya takut malah telah tertawa
dingin.
„Untuk mati memang mudah, untuk hidup juga belum
tentu. Tetapi bagi seorang manusia harus dapat membedakan,
mana perbuatan buruk dan mana perbuatan baik ?”.
Muka si berewok jadi berobah semakin tidak sedap dilihat.
„Jadi kau ingin mengatakan bahwa dirimu bisa
membedakan mana yang baik dan mana perbuatan yang
buruk, bukan ?” tanyanya mengejek.
„Sama sekali aku tidak berani mengucapkan perkataan
seperti itu !” kata Yo Him dengan suara tidak kalah dinginnya,
karena diapun tengah mendongkol bukan main. „Tetapi yang
jelas kini kalian telah mempergunakan jumlah banyak untuk
menindas jumlah yang sedikit !”
„Siancai! Siancai !!” berkata In Lap Siansu, yang
mengucapkan kebesaran sang Buddha beberapa kali. Rupanya
si Jieko ini merasa disindir, dia juga mengakui kebenaran atas
perkataan Samtenya itu. Maka dari itu dia telah merobah
pikirannya.
„Apa yang dikatakan oleh Samteku itu memang benar .’”
kata pendeta itu kemudian. „Apakah kalian tidak bisa
mengerti, bahwa ketiga orang itu adalah pihak yang lemah ?
Mana mungkin mereka melakukan pencurian, sedangkan
mereka bertiga hanya merupakan manusia lemah Lolap bukan
hendak berpihak kemana seperti apa yang tadi telah
dikatakan oleh Samteku itu, bahwa kita harus pandai
membedakan, yang mana perbuatan baik dan yang mana
perbuatan buruk !”.

„Bukk !” tahu2 tangan siberewok telah menghantam ujung
perahunya sendiri, sampai mengeluarkan suara benturan yang
keras sekali.
„Kurang ajar !” bentaknya dengan suara yang berteriak
keras. „Rupanya kalian juga memang sengaja ingin
mempermainkan Toaya kalian heh ?”.
„Mana berani ? Mana berani ?” berkata In Lap Siansu
dengan cepat.
Disaat itulah dengan cepat sekali siberewok telah
memberikan isyarat kepada keenam orang kawannya.
Dengan masing2 ditangan tercekal sebatang golok, wajah
keenam orang bertubuh tinggi besar itu sangat mengerikan
sekali.
Mereka telah melompat kearah In Lap Siansu sebanyak tiga
orang, sedangkan kekapalnya sikakek bersama anak gadisnya
yang masih kecil itu, sebanyak tiga orang lagi.
Siberewok masih berdiri diujung perahunya dengan sikap
yang angkuh sekali. berulang kali dia telah memperdengarkan
suara tertawa dingin mengejeknya.
„Serang !” perintah siberewok. „Perlihatkan kepada mereka,
siapa sesungguhnya Pek Liong Kauw !”.
Keenam orang yang menyeramkan sekali itu telah
mematuhi perintah itu.
Dengan mengeluarkan suara bentakan yang sangat
menyeramkan, mereka telah menubruk melancarkan serangan
dengan hebat sekali, menabas dengan golok masing2.
Sedangkan In Lap Siansu yang melihat ketiga orang
pengeroyoknya itu melancarkan serangan dengan golok
masing2, jadi mendongkol bukan main.

Dengan mengucapkan beberapa kali kebesaran Sang
Buddha, tampak In Lap Siansu telah menggerakkan sepasang
tangannya.
Dengan gerakan yang manis sekali, pendeta itu telah
berhasil merebut ketiga batang golok dari ketiga lawannya itu.
Dengan segera In Lap Siansu telah membuang ketiga
batang golok itu kesungai.
Sedangkan ketiga orang pengeroyoknya disaimping kaget,
juga jadi gusar dan penasaran sekali.
Dengan mengeluarkan suara teriakan yang mengandung
hawa pembunuhan, tampak mereka menubruk.
Tetapi ln Lap Siansu telah menggerakkan sepasang tangan
dan sepasang kakinya.
Maka tanpa ampun lagi ketiga orang itu terpukul dan
tertendang, dan mereka telah tercebur kedalam sungai.
Hebat sekali cara In Lap Siansu melancarkan serangannya
itu, sehingga semuanya itu ber-langsung tidak lebih dari
beberapa detik saja.
Didalam pihak sigadis kecil bersama dengan ayah ibunya
dan Yo Him, mengalami ancaman bahaya dari ketiga orangnya
si berewok.
Sedangkan Yo Him tidak mengerti ilmu silat, ayah sigadis
cilik tampaknya sangat lelah sekali, karena hampir seharian
penuh dia telah mengayuh perahunya keras2 dan kuat2,
sedangkan istrinya hanya merupakan wanita tua yang lemah
dan putrinya yang masih kecil itu, hanya memiliki kepandaian
tidak seberapa.
Maka dengan mudah ketiga orang itu mengayunkan
goloknya untuk menabas kepala lelaki tua dan ketiga orang
lainnya.

In Lap Siansu yang menyaksikan itu, jadi mengeluarkan
seruan gusar.
Dengan menjejakkan kakinya, tubuhnya segera melambung
tinggi ketengah udara.
Disaat tubuhnya tengah melayang itulah, diatelah
mengibaskan kedua lengan jubahnya yang besar yang
memancarkan kekuatan tenaga dalam yang dahsyat.
Maka tanpa ampun lagi ketiga orang bertubuh tinggi besar
itu seperti dihajar oleh suatu yang hebat sekali, yang tidak
dapat dilihat oleh mata.
Dengan mengeluarkan suara jeritan yang mengenaskan
sekali, tampak ketiga orang itu telah tercebur kedalam sungai,
dan juga air sungai telah menjadi merah, karena dari mulut
mereka masing2 telah memuntahkan darah segar. Rupanya
kibasan lengan jubah dari sipeadeta yang begitu kuat, telah
menggempur hebat sekali bagian dalam tubuhnya, sehingga
mereka terluka di dalam.
Walaupun tidak sampai mati jika memang mereka tertolong
tentunya mereka bertiga akan menjadi cacad seumur hidup.
Rupanya dalam keadaan kaget dan gusar, In Lap Siansu
jadi lupa, dia telah menurunkan tangan yang keras sehingga
ketiga orang itu menderita hebat sekali.
Yo Him yang menyaksikan itu jadi bergidik sendirinya,
karena dia melihat air sungai telah tercampur dengan darah
yang merah . . .
Sedangkan dihati Kecilnya Yo Him juga ber pikir, jika In Lap
Siansu tidak merubuhkan mereka, kemungkinan juga ketiga
orang itu tanpa mengenal kasihan akan nKmhmatakan mereka
berempat, yaitu Yo Him, sigadis kecil itu, kedua orang yang
menjadi ayah ibu sigadis kecil itu.
maka dari itu Yo Him jadi berdiam diri.

Muka siberewok jadi berobah pucat. tubuhnya tergetar
karena dia diliputi kemarahan yang sangat hebat, jenggot dan
kumis kasarnya itu seperti berdiri semuanya, kaku seperti
kawat duri.
Dengan mengeluarkan suara ledakan yang mengguntur,
tampak tubuhnya telah melompat ke arah perahunya sigadis
kecil. Dan sambil melompat begitu, tangannya juga telah
mencabut keluar sepasang Siangpiannya, yaitu sepasang
cambuknya.
Gerakan dari siberewok memperlihatkan bahwa dia sangat
hebat ilmu meringankan tubuhnya, dan juga tentunya memiliki
kepandaian yang tidak bisa diremehkan.
Belum lagi sepasang kakinya itu menginjak lantai perahu
sepasang tangannya itu telah digerakkan, dia telah
mencambuk kearah In Lap Siansu kiri dan kanan, dari atas
kepala dan perut.
Tentu saja In Lap Siansu tidak berani memandang rendah
lawannya.
Disamping itu juga dia melihat angin cambukan itu kuat
sekali, mata cambuk yang lemas itu tajam bukan main, karena
diujungnya disertai oleh tenaga dalamnya dahsyat sekali.
Kalau memang sipendeta itu berkelit dengan cara
melompat niscaya Yo Him yang berada didekatnya yang akan
menjadi korban cambukkan itu.
Maka sengaja Lo Lap Siansu tidak mau berkelit dari
cambukan tersebut, dia hanya menantikan ketika hampir tiba
pada sasarannya, sipendeta telah mengunakan kedua
tangannya, dia telah mencekal ujung kedua cambuk itu.
disertai oleh pengerahan tenaga dalam yang dahsyat sekali,
dan juga membentak nyaring. „Pergilah !”
Sambil membentak begitu, tampak In Lap Siansu telah
menghentak kuat ujung cambuk itu, Maka seperti juga disaluri

oleh tenaga dalam yang kuat sekali, ujng yang satunya lagi
dari cambuk itu. yang dicekal oleh siberewok itu telah
terangkat, dan tubuh siberewok jadi terpental ketengah udara.
Tetapi siberewok memang hebat sekali. Maka dari itu
walaupun tubuhnya dilemparkan oleh lawannya dengan
mempergunakan tenaga dalam yang dahsyat sekali, dia tidak
menjadi gugup, bahkan dia telah berjumpalitan ditengah
udara dan telah mengeluarkan suara siulan. Sedikitpun juga
dia tidak menjadi gugup.
Di saat itulah dengan serentak ia telah menggerakkan
kedua cambuknya itu, dia telah melancarkan serangan lagi
dengan cepat sekali.
„Tarrr, Tarrr,” dua kali suara cambukan itu terdengar
memenuhi sekitar tempat itu.
Dari suara cambukan itu dapat diduga bahwa kekuatan
mencambuk yang dilancarkannya Itu memang sangat hebat
sekali.
Maka tidak mengherankan jika In Lap Siansu tidak berani
menyambuti dengan cekalan tangannya lagi.
Dengan cepat sekali In Lap Siansu telah menyambar
pinggang Yo Him, dia telah membawa sianak she Yo yang
menjadi Samte nya itu, untuk melompat kesamping.
Ujung kedua cambuk itu telah menghantam tepi perahu
tersebut.
„Tarrrrkkkk I” terdengar suara yang keras sekali, dan tepi
perahu itu telah sempal.
Maka bisa dibayangkan betapa dahsyat tenaga sambaran
ujung perahu itu.
Disaat itu tubuh siberewok tengah meluncur turun, dia
melihat bahwa serangannya telah gagal mengenai sasarannya
dengan tepat. Maka dia telah menghentak tangannya. ujung

kedua cambuk itu bagaikan memiliki mata telah menyambar
lagi kepada In Lap Siansu.
Hebat sekali cara menyambar dari ujung ke dua cambuk
itu, karena ujung kedua cambuk itu telah menyambar dari
kedua jurusan.
Tenaga cambuk itu juga bukan main kuatnya, disamping itu
kedua ujung cambuk itu juga telah mengincar bagian tubuh
yang mematikan dibadan In Lap Siansu.
Diam2 ln Lap Siansu jadi terkejut juga, karena kini dia telah
melihatnya bahwa ilmu cambuk dari siberewok memang bukan
ilmu cambuk biasa.
Siangpian yang berada ditangan siberewok ber gerak2
terus menerus saling susul.
Didalam waktu yang sangat singkat sekali, belasan jurus
telah lewat.
Kemudian tampak serangan cambuk dari siberewok telah
menyambar lagi dengan kecepatan yang bukan main
dahsyatnya.
Sambil mengeluarkan suara teriakan mengguntur, tampak
In Lap Siansu telah mengibaskan tangan kanannya.
„Bukkkk !” tampak dada dari siberewok itu telah terhajar
jitu sekali oleh telapak tangan In Lap Siansu.
Tetapi In Lap Siansu juga sama sekali tidak lolos dari
serangan cambuk itu.
Karena bahu kirinya telah terhajar jitu oleh ujung cambuk,
sehingga baju sipendeta telah robek, berikut kulit bahunya
yang mengucurkan darah dengan deras.

Disaat itu Yo Him juga tidak tinggal diam dia meronta
melepaskan diri dari pelukan sipendeta, dia telah menyingkir
kesamping silelaki tua yang menjadi ayah sigadis cilik itu.
Hal ini dilakukan oleh Yo Him karena dia sengaja tidak mau
menjadi beban dari In Lap Siansu, agar pendeta Itu dapat
melayani siberewok dengan leluasa.
Dan siberewok yang terserang dadanya, telah
memuntahkan darah segar, tubuhnya telah tercebur kesungai.
Tetapi rupanya dia sangat kuat sekali, kerena dengan cepat
luar biasa dia telah dapat melompat pula naik keatas
perahunya sigadis kecil itu.
Dia bukan hanya melompat saja sambil menggerakkan
kedua cambuknya itu dengan cepat sekali diapun telah
melancarkan serangan yang ber-tubi2.
In Lap Siansu terpaksa melayaninya dengan kegesitan dan
kekuatan tenaga dalam yang ada padanya, karena terlambat
sedikit saja, niscaya tubuhnya akan robek oleh samberan
ujung cambuk.
Yo Him yang menyaksikan kehebatan kepandaian
siberewok yang demikian tinggi, jadi berdiri tertegun dan
tegang bukan main karena dia berkuatir sekali akan
keselamatan diri In Lap Siansu. Tetapi dia hanya bisa
menyaksikan sajabetapa serangan2 yang saling susul diantara
In Lap Siansu dan siberewok itu sekali, angin serangan itu me
nyambar2 silih berganti tiada hentinya.
Dalam Waktu yang sangat singkat sekali, sebentar saja
telah puluhan jurus yang lewat.
Tampaknya semakin lama siberewok jadi tambah
penasaran, dia melancarkan serangan makin hebat saja.
Sedangkan In Lap Siansu jadi harus ber sungguh2 melayani
serangan lawannya itu jika memang dia tidak ingin celaka
ditangan lawannya itu.

Saat itu perahu sigadis cilik ini telah ber goyang2 karena
bergeraknya In Lap Siansu dan siberewok yang semakin lama
jadi semakin cepat dan juga tubuh kedua orang yang tengah
bertempur itu hanya menyerupai bayangan belaka yang tidak
bisa dilihat lagi dengan jelas bentuk dan rupanya…
Itulah karena sempurnanya ilmu meringankan tubuh yang
mereka miliki.
Tetapi laki2 tua dan wanita setengah baya yang menjadi
orang tua Sigadis cilik itu. tampak makin lama jadi bertambah
gelisah saja, walaupun mereka melihat bahwa In Lap Siansu
memiliki kepandaian yang cukup tinggi, tetapi wajah mereka
tetap pucat dan tubuhnya sering mengigil, tampaknya mereka
tengah ketakutan.
Yo Him heran melihat sikap mereka. Diapun melihat kedua
orang tua gadis cilik itu memandang kearah tempat yang jauh,
diujung sungai sebelah seberangnya.
Kenapa, lojinkee?” tanya Yo Him akhirnya, karena dia tidak
bisa menahan perasaan ingin tahunya.
Musuh akan segera datang dalam jumlah yang banyak !”
menjelaskan lelaki tua itu.
„Mereka umumnya merupakan jago2 yang jauh lebih hebat
dari siberewok ini . . . !”
Yo Him kaget sekali.
„Benarkah itu ?” tanyanya dengan suara yang gugup juga.
„Akhh, mereka pasti tidak akan melepas kan jiwa tuaku!”
kata lelaki tua tersebut.
„Sesungguhnya apa yang terjadi ?” tanya Yo Him,
„Mengapa mereka memusuhi lojinkee sekeluarga?”

„Hemm, mereka manusia2 jahat yang mengakui diri
mereka sebagai pendekar gagah budiman… sesungguhnya
hati mereka jahat dan berbisa sekali !”
“Apakah mereka sering membunuh orang?” tanya Yo Him
yang masih kurang begitu memahami urusan didalam rimba
persilatan.
„Bukan.” menyahuti orang tua itu. „Kalau hanya membunuh
saja. itu urusan biasa! Tetapi justeru mereka itu telah
bersekutu dan bekerja sama dengan pihak Mongolia untuk
menjual negara,”
„Akhhh!” betapa terkejutnya Yo Him. dia sampai
memandang kearah orang tua itu dengan mata yang
terpentang lebar2
„Benar!” mengangguk orang tua itu. „Dan mereka itu
manusia-manusia yang tak tahu malu!”
Karena rahasia mereka, itu kuketahui, maka mereka
bermaksud membinasakan diriku agar mereka bisa menutup
rahasia. !”
Setelah berkata begitu, orang tua itu menghela napas
berulang kali.
Tampaknya dia berduka bukan main, dan wajahnya juga
murung sekali.
In Lap Siansu yang tengah bertempur hebat dengan
siberewok semakin lama jadi semakin seru saja melancarkan
serangan2nya karena keduanya telah mengeluarkan seluruh
ilmu simpanan mereka.
Angin serangan kedua orang yang tengah bertempur ini
luar biasa kuatnya, menyebabkan perahu itu bergoyanggoyang,
juga memaksa keempat orang yang menyaksikan,
yaitu Yo Him, sigadis kecil dan kedua orang tuanya itu
terpaksa mundur kebelakang beberapa langkah.

Rupanya apa yang dikuatirkan oleh orang tua itu benar
adanya.
Karena tidak lama kemudian dari kejauhan tampak sebuah
kapal berukuran cukup besar telah mendatangi dengan cepat
sekali, air sungai seperti dibelah dan juga telah membuat
perahu dimana Yo Him dan yang lainnya berada itu ber
goyang2 semakin keras.
„Ihhh!” berseru orang tua Sigadis kecil itu dengan muka
yang bertambah pucat.
Diatas tiang dari kapal tersebut, tampak berkibar sebuah
bendera merah, yang tersulam seekor naga berwarna
putih…itulah kapalnya Pek Liong Kauw, yang tengah
mendatangi ke tempat siorang tua yang menjadi ayah dari
sigadis kecil itu berada…
Melihat ini Yo Him jadi tambah berkuatir dia juga menyesal
mengapa dia tidak memiliki kepandaian sehingga dia tidak bisa
membantu In Lap Siansu Untuk menghadapi musuh.
Sedangkan siberewok telah melihat kedatangan kapal yang
cukup besar itu, wajahnya jadi ber-seri2 terang dan juga
tampaknya dia terbangun semangatnya, karena dengan cepat
dia telah merobah cara bertempurnya, di mana dia
menggerakan sepasang cambuknya semakin cepat saja.
Berbeda dengan siberewok. maka In Lap Siansu jadi
terkejut melihat lawannya memperoleh bala bantuan
sebanyak itu.
Karena terkejut tentu saja perhatiannya terpecah dan dia
jadi terdesak.
Saat itu kapal yang berukuran besar itu telah semakin
dekat. Diatas ujung kapal itu berdiri puluhan orang dengan
sikap dan pakaian yang gagah mentereng.
Dimuka sekali tampak seorang lelaki tua kurus dengan
jenggotnya yang panjang dan matanya yang sipit seperti mata

tikus, telah menyaksikan jalannya pertempuran antara
siberewok dan In Lap siansu.
„ T A H A N ! “ tiba2 orang tua kurus diujung perahu itu
telah membentak dengan suaranya yang sangat keras sekali.
Siberewok telah menghentikan serangan cambuknya, dia
telah melompat mundur. Begitu pula In Lap siansu telah
berhenti melancarkan serangan dia telah memandang kearah
kapal besar itu.
„Hemm, kukira siapa, tidak tahunya In Lap Siansu yang ikut
mengacaukan urusan !” berkata lelaki tua berjenggot itu
dengan suara yang dingin. „Mari ! Mari ! silahkan ! Kami
mengundang kalian pindah kekapal kami !”
Orang tua yang bertubuh kurus dan bermata Sipit itu me
nyebut2 mengundang kekapal, sesungguhnya dia ingin
mengartikan bahwa orang itu akan ditawan olehnya. Jika In
Lap Siansu dan yang lainnya membandel, barulah dia akan
turun tangan untuk membekuknya dengan kekerasan.
In Lap Siansu menyadari bahaya yang tengah mengancam
dirinya, disamping itu In Lap Siansu juga telah
memperhitungkan dirinya tidak mungkin melawan rombongan
Pek Liong Kauw itu hanya berseorang diri. Maka akhirnya dia
mengambil keputusan untuk mengalah saja dulu, nanti dia
baru akan memikirkan untuk mencari jalan meloloskan diri.
Dia menoleh dan mengedipkan mata kepada kedua orang
tuanya sigadis cilik, yang juga mengerti maksudnya.
Siberewok telah beberapa kali memperdengarkan suara
tertawa mengejek.

Tetapi In Lap Siansu tidak melayani sikap orang itu, dia
hanya merangkapkan sepasang tangannya menjura kepada
lelaki tua kurus berjenggot itu ;
„Bukankah Lolap tengah berhadapan dengan Song Lu
Wuan ?” tanyanya. “Pendekar besar untuk jaman ini ???”
Kakek tua berjenggot panjang itu tertawa mengejek
dengan muka yang berobah merah.
Dia memang Song Lu Wuan, tetapi sengaja In Lap Siansu
menambahkannya dengan perkataan “Pendekar besar untuk
jaman ini” sehingga merupakan ejekan untuk silelaki she Song
itu, yang telah datang dengan rombongannya yang berjumlah
besar, walaupun hanya uutuk menangkap beberapa orang
saja.
„Tepat ! Sama sekali tidak salah !” kata Song Lu Wuan.
„Dan silahkan….!”
Segera diturunkan tangga tambang, dan In Lap Siansu
telah naik terlebih dahulu, kemudian Yo Him, lalu sigadis kecil
itu, menyusul kedua orang tuanya dan baru siberewok.
Waktu berada diatas kapal itu, In Lap Siansu baru melihat
bahwa diatas kapal itu berkumpul lebih dari seratus orang.
Sehingga lenyaplah harapannya untuk dapat meloloskan diri
dari tangan orang she Song tersebut.
Terlebih lagi In Lap Siansu melihat diantara seratus orang
lebih orang2 itu, terdapat yang berpakaian sebagai guru silat,
dengan sendirinya mereka jelas memiliki kepandaian yang
tinggi sekali.
Sedangkan Song Lu Wuan telah mengundang In Lap Siansu
dan yarg lainnya memasuki sebuah kamar dikapal itu, dan
masing2 mengambil tempat duduk.
Orang she Song tersebut telah mengisyaratkan dengan
tangannya, maka beberapa orang pelayan telah datang

menyediakan arak dan barang makanan. Hanya dalam sekejap
mata saja diatas meja itu telah penuh oleh barang hidang?an.
“Mari silahkan makan ….. tidak ada apa-apa yang dapat
kami suguhkan. tetapi sekedarpelenyap haus den lapar !”
kata orang she Song itu.
In Lap siansu tidak segan-segan lagi, dia memang telah
bertempur dalam waktu yang cukup lama dan telah
mempergunakan tenaga yang sangat besar, maka dia telah
mulai makan dan minum dengan lahap sekali.
Yo Him juga telah melahap makanannya. Hanya sigadis
kecil dan kedua orang tuanya yang berdiam diri saja.
„Siangkoan Lin Lie. mengapa kalian tidak makan ? Dan kau
Siang koan Hujin, mengapa tidak dahar ? dan nona siangkoan,
bukankah kau sudah lapar ?’ akhh sayang jika makanan ini
dibiarkan dingin !” berkata orang she Song itu sambil tertawa.
Tetapi lelaki tua Siangkoan Lin Lie beserta isterinya
maupun puterinya yang masih kecil itu telah berdiam dir saja.
Mereka tidak menyahut sepatah perkataanpun juga.
Song Lu Wuan juga tidak melayani mereka lagi, hanya
sambil mengunyah, dia tertawa dan berkata kepada In Lap
Siansu.
„Sudah lama aku orang she Song mendengar kegagahan In
Lap Taisu, dan sungguh beruntung bahwa hari ini aku Orang
she Song bisa bertemu dengan Taisu… !” katanya.
„Akupun begitu, telah lama aku kagum mendengar nama
besar dari Song Taihiap hanya tidak ada kesempatan untuk
kita saling bertemu, Maka dihari ini kita bisa saling bertemu,
bukankah itu merupakan suatu kejadian yang sangat
menggembirakan sekali ?”
Dan setelah berkata begitu, In Lap Siansu telah mengunyah
terus makanannya.

Yo Him heran juga. Biasanya In Lap Siansu tidak makan
barang berjiwa, dia hanya makan sayur2an belaka. Tetapi kali
ini In Lap Siansu telah memakan makanan berjiwa, bahkan
dengan lahap sekali, hal ini sangat membingungkan Yo Him.
„Rupanya Jieko memang tidak pantangan !” berpikir Yo Him
kemudian.
Saat ini Seng Lu Wu n telah melirik kearah Yo Him, dia
memperhatikan sejenak, kemudian katanya sambil disertai
tertawanya, “Sungguh hebat engko kecil ini, siapakah dia,
Taisu ? tampaknya dia memiliki bakat dan tulang yang baik
sekali.
“Dia adikku ! Samte, Inilah Song Lu Wuan Taihiap yang
sangat terkenal sekali didaerah Selatan” memperkenalkan In
Lap siansu.
Tentu saja orang she Song itu jadi kaget bukan main
mendengar bahwa Yo Him yang baru berusia belum sampai
sepuluh tahun itu adalah adik ketiga dari In Lap Siansu.
„Apakah diapun memiliki ilmu silat?” berpikir orang she
Song itu didalam hatinya. Tetapi tidak mungkin, Tidak
mungkin !, walaupun dia belajar ilmu silat semenjak didalam
kandungan ibunya, tidak nantinya dia bisa memiliki
kepandaian yang berarti apa2 !”
„Siapakah namanya?’ tanya orang she Song itu sesaat
kemudian setelah meneguk Araknya.
„Samteku she Yo dan bernama Him.. .!” menjelaskan In
Lap Siansu.
„Ihhh !” tiba2 muka Song Lu Wuan berubah hebat,
sumpitnya yang tengah dibawa kemulutnya jadi tergantung
ditengah udara. „Siauw Kiesu (pendekar muda) ini she Yo ?
Masih ada hubungan apakah dengan Sin Tiauw Taihiap Yo Ko
?”

Waktu menyebut perkataan “sintiauw taihiap Yo Ko”, suara
Song Lu Wuan tergetar.
„Dialah anaknya … !” menyahuti In Lap Siansu
sembarangan.
„Hah ?” kaget bukan main orang she Song dan beberapa
orang jago lainnya yang berada ditempat itu.
Dan bukan hanya mereka belaka yang terkejut, karena Yo
Him sendiri juga kaget sekali.
Tetapi sebagai seorang anak yang Cerdas, maka Yo Him
segera mengerti apa maksud dari In Lap Siansu yang
sebenarnya.
„Be—-benarkah Siauw Kiesu puteranya Yo Taihiap ?” tanya
Song Lu Wuan dengan suara tergagap.
„Benar !” mengangguk Yo Him. „Sin Tiauw Tai Hiap Yo Ko
adalah ayahku, dan Siauw Liong Lie Liehiap adalah ibuku !”
Seketika itu juga paniklah orang2 Pek Liong Kauw tersebut.
Bahkan Song Lu Wuan telah meletakkan sumpitnya diatas
meja.
Dia memandang tajam kepada Yo Him, yang
diperhatikannya dengan baik baik dan seksama.
„Memang mirip, mirip sekali dergan wajah Yo Taihiap.
Tetapi . . , kami belum pernah mendengar Sin Tiauw Taihiap
memiliki anak . . !”
menggumam Song Lu Wuan dengan suara yang tidak
begitu jelas.
Dia telah memperhatikan baik2 paras Yo Him, dan telah
melihat bahwa wajah anak ini mirip sekali dengan muka Yo
Ko.

Maka hatinya jadi tergoncang keras, tetapi diapun masih
ragu2.
Melihat Song Lu Wuan ragu2 begitu, Yo-Him segera
mengetahui bahwa Sin Tiauw Taihiap Yo Ko sangat dihormati
sekali oleh orang orang Pek Liong Kauw ini.
Hanya saja disebabkan usia Yo Him memang masih
terlampau kecil, dan yang memperkenalkan bahwa dia adalah
puteranya Sin Tiauw Taihiap Yo Ko itu adalah In Lap Siansu,
dengan sendirinya mereka jadi ragu2.
Sebagai anak yang cerdik, segera juga Yo-Him teringat
akan sesuatu. Dan dia bermaksud akan mempermainkan
orang2 Pek Liong Kauw tersebut, karena Yo Him menganggap
dia sudah kepalang tanggung diperkenalkan oleh In Lap-
Siansu sebagai puteranya Sin Tiauw Taihiap.
„Pernahkah para locianpwee melihat dan menyaksikan
sebagian ilmu dari ayah dan ibuku !” tanya Yo Him akhirnya
sambil terus mengunyah nasinya, sikapnya tenang sekali,
walaupun otak nya tengah bekerja keras sekali.
„Ya, ya, kami seringkali melihat Yo Taihiap bertempur,
maka sebagian dari kepandaiannya itu bisa kami kenali !”
menyahuti Song Lu Wuan, yang segera bisa menduga bahwa
Yo Him ingin mempertunjukkan kepandaiannya.
„Baiklah! Menurut Song Locianpwe, kepandaian ayahku itu
dibagian mana yang paling menonjol ?” tanyanya lagi.
„Yo Taihiap semua mempelajari ilmunya dari Kiu Im Cin
Keng ciptaan Tat Mo Cauwsu dan juga Giok Lie Kiam Hoat
bersama ibumu, yaitu Siauw Liong Lie Liehiap, merupakan
pasangan pendekar dijaman ini yang tiada taranya !”
„Tepat !” berseru Yo Him. „Dan kini Boanpwe (dari
tingkatan muda). ingin memperlihatkan kebodohan, harap

jangan ditertawai ?” Dan setelah berkata begitu Yo Him
berdiri.
Sedangkan Song Li Wuan yang mengerti maksud anak ini,
segera memberikan isyarat kepada orang2nya, untuk
menggeser meja tetapi.
Didalam Waktu yang singkat sekali, telah terbentang
sebuah lapangan yang cukup luas.
Yo Him melangkah kegelanggang. setelah menjura
memberi hormat kesekelilingnya, maka dia mulai menjalankan
ilmu silat yang diturunkan Sin Tiauw kepadanya, yang
menurut In Lap Siansu adalah Kiu Im Cin Keng dan Giok Lie
Kiam Hoat.
Diwaktu anak ini bersilat, semua orang2 gagah yang
berada ditempat itu jadi mengawasi dengan mata yang
terpentang lebar-lebar dan hati yang tergoncang.
Karena yang tengah dimainkan oleh Yo Him memang
jurus2 dari Kiu Im Cin Keng dan Giok Lie Kiam Hoat, kedua
macam ilmu silat yang luar biasa, yang dimiliki oleh Sin Tiauw
Taihiap Yo Ko dan Siauw Liong Lie.
Keruan saja Song Lu Wuan jadi ciut nyalinya, dan disaat Yo
Him telah selesai membawakan jurus-jurus kedua macam ilmu
silat itu, yang semula dianggap olehnya sebagai latihan olah
raga penyehat tubuh belaka, Song Lu Wuan telah
membungkukkan tubuhnya memberi hormat kepada Yo Him.
„Kiranya memang orang sendiri !” berseru Song Lu Wuan
sambil tertawa.
Yo Him cepat2 membalas hormat orang she Song tersebut.
Didalam hatinya dia geli sendiri nya, dan dia merasa kagum
atas kecerdikan In Lap Siansu yang telah bisa berpikir begitu
cepat.

Coba kalau tidak, jika mereka tetap dianggap sebagai pihak
musuh, niscaya mereka akan diperlakukan dengan sikap yang
tidak enak dan tidak manis.
„Sesungguhnya aku sudah lama ingin mengikuti ayah
berkelana, tetapi selama itu belum diijinkan, baru tahun ini
ayah mengijinkan aku untuk ikut berkelana . . . dan harap
loocianpwe menerima hormat boanpwe.!”
“Sebenarnya masih ada hubungan apakah antara Yo Kiesu
dengan Siangkoan Lin Lie, ?’ tanya Song Lu Wuan sambil
melirik kepada Siang koan Lin Lie, yang saat itu tengah
mengawasi Yo Him dengan sorot mata yang takjub.
„Dialah pamanku !” menyahuti Yo Him. „Paman ?” tanya
Song Lu Wuan ragu2 matanya juga bersinar aneh.
Seketika itu juga Yo Him menyadari bahwa dia telah
melakukan suatu kecerobohan, karena sebagai seorang yang
sangat terkenal semua urutan keluarga Yo Ko diketahui oleh
orang2 gagah di rimba persilatan, Terlebih lagi suatu
kemungkinan bahwa Song Lu Wuan memang bersahabat
dengan Yo Ko.
„Paman jauh, . . . !” kata Yo Him memperbaiki
kesalahannya „Dari pihak ibuku . . . !”
„Oh begitu ?” kata Song Lu Wuan yang telah lenyap
kecurigaannya.
Saat itu Yo Him telah berkata ; „Paman Siangkoan,
sesungguhnya ada Urusan apakah antara kalian dengan pihak
Pek Liong Kauw ?”
„Sesungguhnya urusan kecil, kami kehilangan kitab pusaka
kami, kebetulan Siangkoan Kie su berada ditempai kami, maka
dari itu kami menduga bahwa dialah yang telah mencurinya !
Untuk tuduhan yang tidak beralasan itu, kami mengucapkan
maaf se besar2nya !” dan setelah berkata begitu, Song Lu

Wuan menghampiri Siangkoan Lin Lie, dia menjura untuk
meminta maaf.
Tentu saja Siangkoan Lin Lie jadi girang bukan main,
karena persengketaannya dengan pihak Pek Liong Kauw telah
dapat diselesaikan oleh Yo Him.
Hanya saja yang membuatnya agak heran, mengapa Yo
Him mengakui dia pernah paman.
Dan mereka semua telah kembali makan pula.
Kali ini Song Lu Wuan telah memperlakukan mereka
dengan sikap yang manis.
Malah In Lap Siansu telah ber cakap2 akrab sekali dengan
Song Lu Wuan dan beberapa orang gagah yang berada
dikapal tersebut.!
Banyak persoalan rimba persilatan yang telah mereka
bicarakan termasuk akan ancaman dari pasukan tentara
perang Mongolia.
„Memang banyak orang gagah yang menuduh kami bekerja
sama dan takluk kepada bangsa Mongolia….. tetapi
sesungguhnya kami sebaliknya tengah bekerja keras untuk
membongkar tipu licik bangga Mongolia itu !” menjelaskan
Song Lu Wuan akhirnya. „Kami mendengar bahwa bangsa
Mongolia telah mulai mempersiapkan pasukannya untuk
menerjang masuk kedaratan Tionggoan lagi, bahkan Kublay
Khan, Kaisar Mongolia sekarang, adik Kaisar Mangu yang
binasa ditangan Sin Tiauw Taihiap Yo Ko telah perintahkan
beberapa orang kepercayaannya dan jago2nya untuk
menyelusup kedaratan Tionggoan, guna mencelakai jago2
didaratan Tionggoan. Peristiwa itu terjadi delapan tahun yang
lalu, perbuatan busuk mereka mulai diketahui. Kami
sayangnya agak terlambat mendengar berita itu. Karena baru
empat tahun yang lalu kami mendengar kejadian seperti itu.
Maka Kauwcu (ketua) kami telah perintahkan beberapa
orang2 kami Untuk pergi ke Mongolia guna melakukan

penyelidikan. Jika memang apa yang kami dergar itu benar
dan juga ada bukti buktinya kami akan mengerahkan orang2
pandai kami Untuk pergi ke Mongolia untuk membinasakan
Kublai Khan. Dengan terbunuhnya Kaisar itu, tentu ancaman
dapat dilenyapkan !, Tetapi siapa sangka, pengiriman orang2
gagah kami ke Mongolia itu telah bocor entah bagaimana
caranya, banyak Orang gagah didaratan Tionggoan yang telah
mendergar hal itu, sehingga mereka menduga bahwa kami ini
telah berkhianat dan bekerja sama dengan pihak Mongol.
mereka jadi mencurigai kami, termasuk Siangkoan Lin Taihiap
ini…. !”
Siangkoan Lin Lie cepat2 menjura dan meminta maaf.
Begitu juga Song Lu Wuan telah membalas hormat orang she
Siangkoan tersebut.
In Lap siansu baru mengerti mengapa telah terjadi
persengketaan antara Siangkoan Lin Lie dengan pihak Pek
Liong Kauw. Hweshio tua tersebut jadi meng-angguk2an
kepalanya.
„Dan dipusat, kami telah mengatur persiapan untuk
melakukan pekerjaan besar, untuk membela tanah air!” Song
Lu Wuan telah melanjutkan ceritanya lagi. „Tidak kami sargka
justeru Sin Tiauw Taihiap Yo Ko telah berkunjung datang
bersama beberapa orang pendekar besar lain nya, termasuk
Kwee Ceng Taihiap, It Teng Taisu, Ciu Pek Thong, Lo Boan
Tong dan Oey-Yong Lihiap…! Hanya yang kami sayangkan,
justru kami tidak memiliki rejeki besar, dimana Yo Hujien,
yaitu Liehiap siauw Liong Lie tidak ikut hadir.. !”
Mendengar orang she Song itu bercerita sampai disini, hati
Yo Him jadi tergoncang.
Begitu juga dengan In Lap Siansu, hatinya jadi kaget bukan
main.
Dengan berlayarnya kapal Pek Liong Kauw ini. mereka
tengah menuju kemarkas besar dari kumpulan Itu.

Dan jika memang mereka tiba dimarkas besar dari
perkumpulan itu, bukankah berarti rahasia mereka akan
terbongkar? Bukankah disana tengah berkumpul Yo Ko dan
jago besar lain-nya?
Yo Him jadi gugup sendirinya, hampir, saja sumpit
ditangannya terlepas.
Song Lu Wuan yang matanya awas. telah dapat melihat
kegugupan yang dialami Yo Him.
„Kenapa kau Siauw Kiesu? Tanyanya dengan berkuatir
sekali, karena dia menduga Yo Him mabok akibat menumpang
kapal air ini.
Yo Him cepat2 menggelengkan kepalanya sebagai anak
yang cerdas segera juga dia bisa memberikan jawabannya.
„Tidak apa2, tidak apa2. aku hanya girang mendengar ayah
telah berada disana, tentu tidak lama lagi kami ayah dan anak
bisa bertemu !”
Song Lu Wuan telah meng-angguk2, dia berhasil didustai,
karena dia berpikir memang wajar jika siorang anak
merindukan ayahnya mengharapkan pertemuan dengan
ayahnya.
In Lap Siansu juga memuji akan kecerdikan Yo Him yang
cepat sekali bisa memilih jawaban yang tepat.
Tetapi untuk selanjutnya Yo Him tidak bisa menangkap
keseluruhannya dari cerita Song-Lu Wuan, karena hatinya
tengah gelisah dan pikirannya tengah kalut.
Dia tengah memikirkan jika nanti dia bertemu dengan Sin
Tiauw Taihiap dlmarkas Pek-Liong Kauw, dan rahasianya yang
mengakui dirinya adalah puteranya Sin Tiauw Taihiap itu
terbuka, bukanlah disamping dia akan membuat Sin Tiauw
Taihiap menjadi marah ?
itulah sebabnya mengapa Yo Him jadi sangat gugup.
Pikirannya jadi bekerja terus, walaupun mulutnya terus makan

dar minum, Meskipun dia cerdik namun tidak urung anak ini
tidak bisa mencarikan jalan yang baik untuk menghadapi
persoalan ini.
Yo Him menyadari bahwa kali ini dia tengah
mempermainkan pendekar besar dalam rimba persilatan, jika
rahasianya terbongkar, bukan kah dirinya bisa celaka?
Sedangkan In Lap siansu hanya gugup sejenak, karena
tidak lama kemudian dia telah tenang kembali. Didalam dirinya
hweshio tua itu telah berpikir bahwa Yo Ko maupun Kwee
Ceng, Oey Yong, It Teng Taisu dan Ciu Pek Thong adalah
pendekar2 besar berhati mulia, tidak mungkin akan
mencelakai Yo Him hanya karena mengakui dirinya sebagai
anaknya Yo Ko. Maka dari itu In Lap siansu dapat makan
minum terus dengan tenang.
Dan ketika Song Lu Wuan telah menutup pesta nakan
minum itu mempersilahkan tamu2nya untuk beristirahat dan
tidur, maka In Lap siansu tidur dengan nyenyak sekali, suara
mendengkurnya benar2 membuat Yo Him jadi mendongkol
sekali karena Yo Him yang sekamar dengan In Lap Siansu
yang menjadi jiekonya itu tengah bergelisah tidak bisa tidur,
sedangkan sipendeta telah tidur dengan nyenyak sekali seperti
tidak berpikir apa2 terhadap urusan yang akan mereka hadapi.
KAPAL orang Pek LiOng Kauw tersebut berlayar terus
menuju kearah selatan-barat-daya. Setelah berlayar dua hari,
telah tiba dimuara dan lepas lautan. Rupanya pelayaran seperi
itu memang merupakan pekerjaan biasa bagi orang2 Pek
Liong Kauw, Kapal itu berlayar cepat melawan ombak.
Selama dalam perjalanan Song Lu Wuan selalu
memperlakukan kelima Orang tamunya dengan ramah.
Rupanya, dengan mengakunya Yo Him sebagai puteranya Yo
Ko, orang2 Pek Liong Kauw jadi menghormati mereka.

Tetapi Yo Him selalu diliputi oleh tanda tanya.
Sesungguhnya siapakah Sin Tiauw Taihiap Yo Ko dan Siauw
Liong Lie ? Tampaknya kedua pendekar besar itu memiliki
nama yang sangat luar biasa terkenalnya dan disegani oleh o
rang orang rimba persilatan.
Disamping itu Yo Him juga jadi Selalu memikirkan, siapakah
sesungguhnya kedua orang tuanya ?
Dia she Yo begitu pula Yo Ko, tetapi apakah mungkin dia
putera dari seorang pendekar seperti itu? Karena berpikir
begitu, Yo Him jadi menghela napas tidak hentinya, karena dia
yakin bahwa dirinya tidak memiliki rejeki begitu besar untuk
menjadi putera seorang Pendekar besar dijaman itu.
Sedangkan dia sejak kecil telah yatim dan tidak ada orang
yang merawatnya, selain Sin Tiauw yang baik hati itu.
setengah bulan kemudian mereka telah sampai ditempat
tujuan yaitu sebuah pulau yang besar sekali,
Anak buah Pek Liong Kauw mengeluarkan sorak-sorai
gemuruh sekali waktu pulau itu mulai tampak.
Yo Him bersama yang lainnya telah Ketuar dia melihat
pulau itu sangat besar dan luas sekali sehingga ujungnya tidak
terlihat.
Waktu kapal merapat, tampak beberapa orang lelaki
bertubuh gagah dan tegap telah menyambut kedatangan Song
Lu Wuan. Setelah adat istiadat dilakukan dengan saling
memberi hormat, rombongan tersebut telah memasuki pulau
untuk pergi kemarkas Pek Liong Kauw, guna menemui Kauwcu
Pek Liong Kauw.
Yo Him, In Lap Siansu dan Siangkoan Lin Lie, isterinya dan
anak gadisnya, telah ditempatkan disebuah ruangan. Dan
tidak lama kemudian mereka telah diajak kesebuah bangunan
gedung yang sangat besar serta megah sekali.

Yo Him yang melihat gedung itu jadi tercengang, karena
dia melihat bahwa bangunan tersebut disamping megah dan
besar juga sangat mewah sekali, melebihi istana2 Kaisar.
Didepan gedung yang mirip istana itu tampak berdiri
berbaris ratusan orang, yang menyambut kedatangan tamu2
tersebut dengan anggukan dan rangkapkan tangan memberi
hormat.
Ternyata yang disebut sebagai Kauwcu dari Pek Liong
Kauw merupakan seorang lelaki berusia lima puluh tahun,
berwajah tampan walaupun usianya telah lanjut, disamping
itu tubuhnya juga tegap.
Dialah Wie Kiam Kauwcu dari Pek Liong Kauw. yang
bergelar Hui Thian Sin Kiam (Pedang Sakti), yang namanya
menggetarkan rimba persilatan.
Namun Kauwcu Wie Kiam ternyata membawakan sikap
yang ramah sekali, dia telah menyambut tamu2nya itu dengan
perjamuan yang besar.
„Loohu mendengar bahwa diantara tamu2 kita terdapat
puteranya Yo Taihiap” kata Wie Kiam berselang sejenak
setelah tamu2nya mengambil tempat duduk masing2.
„Dapatkah Lohu berkenalan dengan Siauw Kiesu itu?”
Yo Him yang sejak tadi memasuki gedung ini dengan hati
yang berdebar kini merdengar perkataan Wie Kiam membuat
jantungnya tambah tergoncang.
Cepat2 Yo Him bangkit berdiri, dia memberi hormat dan
memperkenalkan diri.
Lama Wie Kiam mengawasi Yo Him dengan sorot mata
yang tajam, tentu saja membuat Yo Him tambah tergoncang
hatinya, sehingga ia tak berani memandang Kauwcu dari Pek
Liong Kauw tersebut, hanya menundukkan kepalanya saja.

In Lap Siansu juga telah berdebar hatinya, pendeta ini
adalah seorang Kangouw yang telah berpengalaman, tetapi
tetap saja hatinya berdebar, karena dia takut rahasia Yo Him
terbongkar.
Tetapi untuk menutupi kegelisahannya, sengaja ln Lap
Siansu telah meneguk araknya berulang kali.
Setelah mengawasi Yo Him sejenak lamanya, Wie Kiam
tertawa.
„Bagus! Betapa miripnya wajahmu dengan ayahmu, Siauw
Kiesu !” kata Wie Kauwcu dengan suaranya yang keras
„Ayahmu mungkin sore ini baru kembali, karena Yo Taihiap
sekarang tengah mengejar seseorang !”
Yo Him menghela napas sambil membungkuk memberi
hormat, untuk menutupi perobahan wajahnya yang merah
karena dia merasa agak tenang mendengar Yo Ko tidak
berada dimarkas Pek Liong Kauw tersebut.
Begitu juga halnya dengan In Lap Siansu, diam2 didalam
hatinya pendeta tersebut memuji kebesaran sang Buddha.
„Tetapi, Taihiap2 lainnya, seperti Kwee Ceng Tayhiap, Oey
Yong Liehiap, It Teng Tai-su dan Ciu Pek Thong Loo Boan
Tong Locianpwe, Semuanya ada disini ! Tunggulah sebentar,
Lohu akan perintahkan orang untuk memanggilnya !”
Mendengar perkataan Kauwcu Pek Liong Kauw tersebut
yang terakhir, Yo Him merasakan kepalanya seperti disiram air
dingin panas, hangat.
Sedangkan Kauwcu Pek Liong Kauw itu telah mengibaskan
tangannya, mengisyaratkan kepada orangnya untuk
mengundang jago2 tua itu.
Yo Him telah kembali ketempat duduknya dengan hati yang
ber debar2.

Tidak lama kemudian terdengar suara langkah kaki dari
beberapa orang, dan semua mata, termasuk Yo Him dan In
Lap Siansu telah mengawasi kearah pintu yang bisa
menembus keruang dalam itu.
Mereka mengawasi dengan perasaan tegang dan agak
gelisah sekali, sedangkan Kauwcu Pek Liong Kauw itu telah
tertawa saja dengan sikapnya yang angker.
Tidak lama kemudian dari balik tirai muncul orangnya Wie
Kauwcu, diikuti beberapa orang gagah. Ternyata beberapa
Orang yang muncul itu tidak lain dari Kwee Ceng, Oey Yong,
Ciu Pek Thong, It Teng Taisu dan dua orang pengawal Pek
Liong Kauw.
Setelah mereka memberi hormat kepada kauwcu Pek Liong
Kauw, masing2 mengambil tempat disamping kauwcu itu.
„Nah para locianpwee, seperti yang telah boanpwe katakan,
bahwa hari ini kebetulan sekali kita telah menerima kunjungan
seorang tamu luar biasa, yaitu puteranya Yo Taihiap ..” kata
kauwcu dari Pek Liong Kauw itu dengan suara yang nyaring.
Muka orang2 gagah itu jadi berobah. mereka telah
mengikuti jari telunjuk kauwcu she-Wie itu menunjuk kearah
Yo Him dan memperhatikan anak itu baik2.
Namun tidak ada seorangpun diantara Oey Yong dan yang
lainnya yang membuka mulut, semua diam saja sambil
mengawasi sehingga membuat Yo Him jadi tidak enak hati,
segera Yo Him bangkit berdiri, dia telah menghampiri ke
empat orang gagah itu, kepada mereka dia telah
memperlihatkan hormatnya.
Apakah locianpwe semuanya dalam keadaan baik ?
tanyanya.
Tiba2 Ciu Pek Thong telah berkata sambil tertawa “anak
yang manis, anak yang manis”

Oey Yong bertiga dengan It Teng Taisu dan Kwee Ceng
hanya mengangguk2kan kepalanya !.
Tiba2 Ciu Pek Thong telah menoleh kepada Wie Kauwcu
“mana ayahnya apa belum pulang ?”
Wie Kauwcu menyahuti sambil menggelengkan kepalanya
“belum “
“Hemm, anak mana ibumu ?” tanya Oey Yong.
Ditanya soal ibunya, tentu saja Yo Him jadi kelabakan.
Orang2 gagah itu masih mau mempercayai bahwa Yo Him
adalah puteranya Yo Ko karena wajahnya memang mirip
dengan Yo Ko, apalagi Kwee Ceng dan Oey Yong yang pernah
merawat Yo Ko. Mereka hampir delapan tahun mencari2 siauw
Liong Lie yang lenyap tidak ada kabar beritanya itu.
Namun hasilnya nihil. Yo Ko selalu diliputi kedukaan yang
bukan main. teringat pula bahwa isterinya itu tengah hamil.
Maka sekarang, ada seorang anak berusia di antara tujuh
delapan tahun mengakui dirinya sebagai anak Yo Ko, tentu
saja orang2 gagah itu menduga mungkin Siauw Liong Lie telah
melahirkan seorang anak lelaki dan menceritakan kepada
sianak siapa ayahnya sehingga kini Yo Him mencari ayahnya
itu.
Itulah sebabnya mengapa Oey Yong telah menanyakan ibu
sianak ini.
Melihat Yo Him gugup, Oey Yong jadi heran.
„Apakah telah terjadi sesuatu didiri ibumu ?” tanyanya lagi.
Yo Him menggelengkan kepalanya. „Bukan…!” sahutnya
kemudian.
„Lalu dimana ibumu ?”
„Aku sendiri tidak mengetahuinya …”
„Ihhh !” berseru kaget orang2 gagah itu.

„Maafkanlah Locianpwe, sesungguhnya aku telah berdusta,
Boanpwe bukan puteranya Sin Tiauw Taihiap Yo Ko !”
mengaku Yo Him berterus terang karena anak ini berpikir, jika
dia berdusta terus maka rahasianya akan terbongkar juga.
„Hmmmm. lalu siapa kau ?” tanya Oey Yong sambil
mengerutkan alisnya.
Sedangkan muka Wie Kauwcu telah berobah diliputi
kemendongkolan yang sangat. Song Lu Wuan juga kaget
bukan main. berulang kali dia memperdengarkan suara tidak
jelas.
Karena Song Lu Wuan yang telah mengajak anak ini
kemarkas mereka dan memberitahukan kepada kauwcunya
bahwa anak ini adalah putranya Yo Ko. Maka sekarang disaat
sianak itu mengakui terus terang. Bahwa dia bukan anaknya
Sin Tiauw Taihiap. bisa membayangkan perasaan kaget dari
orang she Song tersebut.
Yo Him telah memberi hormat kepada orang2 yang berada
disitu, dia memberi hormat dengan tiada hentinya.
,,Sesungguhnya aku memang pantas menerima hukuman
mati karena telah berani mengakui diriku sebagai puteranya
Yo Ko Tayhiap. Sebenarnya akupun tidak mengetahui siapa
ayahku dan siapa pula ibuku !”
Oey Yong dan iainnya jadi tambah heran, „Mengapa begitu
?” tanya Oey Yong. „Karena sejak kecil aku tidak pernah
melihat mereka, yaitu kedua orang tuaku!”
„Lalu siapa yang membesarkan engkau?” „Rajawali . . .
seekor rajawali!”
Mendengar itu muka Oey Yong jadi berseri-seri sejenak,
diapun telah berseru :
„Sintiauw . . . !” Kemudian Oey Yong menanyakan
bagaimana bentuk rajawali yang telah merawat Yo Him.

Dengan sejujurnya Yo Him menceritakan keadaan burung
rajawali itu,
„Benar dia ! Benar dia !” berseru Oey Yong sambil melirik
kesuaminya. „Tetapi … dimana Sintiauw itu kini berada ?”
„Akupun tidak mengetahui, karena sejak dia terbang turun
kejurang itu. maka selamanya aku tidak pernah melihat lagi …
” kata Yo Him, Dia telah menceritakan bagaimana dia ditinggal
oleh Sin Tiauw dipintu kampung dikaki gunung Kun Lun, dan
rajawali itu telah terbang berputar2 ditengah udara, kemudian
menukik kejurang yang biasa mereka tempati.
Kemudian Sintiauw itu tidak pernah muncul lagi.
“Apakah kau tidak memiliki sesuatu barang yang
ditinggalkan ibumu ?” tanya Oey Yong.
Yo Him menggeleng.
“Tidak! Sejak kecil akupun tidak pernah melihat ibuku,
hanya Sintiauw telah memberikan, ber macam2 barang2
kepadaku!”
Dan setelah berkata begitu, Yo Him membuka buntalannya,
dia telah mengeluarkan barang2 milik Siauw Liong Lie yang
telah diberikan oleh Sintiauw disaat burung rajawali itu akan
menghembuskan napasnya yang terakhir,
Melihat barang2 itu, muka Oey Yong dan ketiga orang
gagah lainnya, jadi. berobah. Mereka mengenali itulah
barang2 milik Siauw Liong Lie.
„Akhh, jika demikian, memang benar2 engkau puteranya
Yo Ko !” berseru Oey Yong sambil melompat dan telah
merangkul Yo Him. „Dimana ibumu nak? Dimana dia?”
Yo Him menggeleng saja dengan heran.
„Itulah barang milik ibumu, apakah mungkin dia, telah… “
dan berkata sampai disitu, Oey Yong tidak meneruskan
perkataannya.

„Doa telah kenapa. Yongjie?” tanya Kwee Ceng ingin tahu.
„Apakah dia telah dicelakai seseorang? Apakah Tiat To Hoat
ong yang mencelakainya? Bukankah barang2nya ini sudah
berada disini?”
Muka Kwee Ceng, It Teng Taisu dan Ciu Pek Thong jadi
berubah muram.
Merekapun berpikir begitu.
„Sayang Kojie tidak berada disini” menggumam Kwee Ceng
perlahan.
„Besok pagi dia akan tiba kembali” kata Wie Kauwcu yang
sejak tadi berdiam diri sajal
Oey Yong menuntun tangan Yo Him katanya dengan
lembut dan sabar. „Anak, engkau harus menunggu ayahmu
sampai kembali ditempat
ini. Nanti kita tanyakan, jika memang benar barang2 ini
adalah milik Siauw Liong Lie, yang tentunya masih menjadi
ibumu itu maka disaat itu kita akan berangkat ke Kun Lun San
untuk melihat apakah disana ada sesuatu yang bisa
dipergunakan untuk membuka rahasia dirimu ! Tetapi jika
memang engkau bukan puteranya Yo Ko, kau juga tidak perlu
takut, karena kalau kau benar2 anak yatim, kami pun tidak
keberatan merawatmu !”
Senang Yo Him mendengar itu.
Demikian juga dengan In Lap Siansu, sambil mengucapkan
kata2 yang memuji sang Buddha, dia telah meng angguk2an
kepalanya.
Karena gembiranya, In Lap Siansu telah mengucurkan air
mata.
Saat itu Yo Him telah menjura sambil mengucapkan terima
kasih kepada Oey Yong. setelah itu dia kembali kekursinya.

Pesta makan minum itu telah dilanjutkan terus, kemudian
Oey Yong berempat telah mengajak Wie kauwcu untuk
berunding.
Mereka membicarakan persoalan Yo Him dan
merundingkan bagaimana caranya menyelidiki tempat,
beradanya Siauw Liong Lie.
Hampir delapan tahun mereka berkelana di dalam rimba
persilatan untuk mencari Siauw Liong Lie, dengan meminta
bantuan orang2 rimba persilatan juga tetapi usaha mereka
nihil dan kosong.
Sejak diculiknya Siauw Liong Lie oleh Tiat To hoat-ong, baik
Siauw Liong Lie maupun pendeta itu telah lenyap tidak
meninggalkan bekas.
Dan hanya jago2 Mongol lainnya yang telah muncul
didaratan Tionggoan
Maka Yo Ko dan jago2 lainnya tidak pernah turun tangan
ringan kepada mereka. Jago2 Mongol itu selalu dibinasakan
atau dibikin bercacad berat untuk memperoleh keterangan
dari mereka.
Tetapi walaupun banyak orang2 Mongol yang telah mereka
tangkap dan menanyai perihal Tiat To Hoat ong, namun
mereka tidak pernah memperoleh keterangan yang mereka
inginkan.
Waktu setahun yang lalu mereka mendengar bahwa Tiat To
Hoat-ong ada yang lihat berkeliaran di Utara. Maka jago2 itu
telah berangkat keutara. namun tetap saja mereka tidak
berhasil mencari pendeta mongol yang kepandaiannya hebat
itu.
Akhirnya dengan putus asa mereka telah kembali keselatan
dan disaat itulah Oey Yong menganjurkan kepada Yo Ko agar
mereka meminta bantuan Pek Liong Kauw, untuk mencari
jejaknya pendeta mongol itu.

Saran yang diberikan oleh Oey Yong disetujui oleh Yo Ko,
maka mereka ramai2 telah pergi kemarkas besarnya Pek Liong
Kauw dan kepada Wie Kiam Kauwcu mereka menyampaikan
keinginan mereka yang hendak meminta bantuan Pek Liong
Kauw untuk mencari jejak Tiat To Hoat ong yang telah
menculik Siauw Liong Lie.
Pihak Pek Liong Kauw menyanggupi untuk membantu, dan
telah menggirimkan orang2nya ke pelbagai pelosok didaratan
Tionggoan untuk menyelidiki dimana bersembunyinya Tiat To
Hoat ong.
tetapi hampir setahun itu tetap saja mereka belum
memperoleh hasil apa2, sehingga selama itu pula Sin Tiauw
Taihiap dan jago2 lainnya berdiam dipulau Ang-hwa-to
tersebut, pulau bunga merah….
Dan kini tiba2 sekali muncul Yo Him, yang mengaku
sebagai puteranya Sin Tiauw Taihiap. Bukankah hal itu
merupakan urusan yang meng gembirakan sekali ?
Song Lu Wuan sendiri bersyukur sekali dia bisa bertemu
dengan putera Sin Tiauw Taihiap Yo Ko, yang tentunya akan
membuktikan bahwa Pek Liong Kauw telah berhasil membantu
pendekar besar untuk jaman ini.
Apa lagi Song Lu Wuan juga telah melihat Yo Him
membawakan jurus2 dari Kiu Im Cin Keng dan Giok Lie Kiamhoat,
tentu saja dia tambah yakin dan girang…!”
Wie Kiam Kauwcu juga girang waktu Song Lu Wuan
menyampaikan bahwa dia telah berhasil menemukan
puteranya Sin Tiauw Taihiap Yo Ko. Karena dengan
berhasilnya pihak Pek Liong Kauw membantu Sin Tiauw
Taihiap Yo Ko berarti kelak Pek Liong Kauw memiliki tulang
punggung yang kuat sekali, sebab pihak Pek Liong Kauw telah
melepas budi kepada Yo Ko dan pasti jika kemudian kelak
pihak Pek Liong Kauw mengalami suatu ancaman dari pihak
lain, Sin Tiauw Taihiap Yo Ko juga tidak akan tinggal diam.

Diwaktu Yo Him masih duduk termenung, dia tidak
mengerti sepenuhnya perkataan Oey Yong sedangkan barang2
peninggalan Siauw Liong lie yang diberikan oleh Sin Tiauw
rajawali sakti yang telah meninggal itu, disimpannya kembali
baik2.
Yo Him sama sekali tidak mengetahuinya bahwa
sesungguhnya ibunya, siauw Liong Lie telah lenyap dilembah
gunung Kun Lun san itu oleh desakan Tiat To Hoat Ong
berempat dengan Chilaon, Talengkie dan Turkichi.
Setelah Oey Yong beruntun dengan Kwee Ceng It Teng
Taisu, Ciu Pek Thong dan Wie kiam Kauwcu mengundurkan
diri maka pesta itupun telah dibubarkan.
Yo Him dan tamu2 lainnya ditempatkan disebuah ruangan
yang besar, sedangkan untuk kamar tidur mereka masing2
diberi sebuah kamar untuk setiap orangnya…
Sebelum meninggalkan ruangan tengah itu, Oey Yong telah
menarik tangan Yo Him, lalu katanya dengan suara yang
sabar. „Tidurlah yang nyenyak, jangan kau memikirkan yang
tidak2 Dalam waktu yang tidak lama lagi ayahmu tentu pulang
dan kalian bisa bertemu…!”.
Yo Him yang sejak kecil belum pernah memperoleh kasih
sayang seorang ibu, kini mendengar nada suara Oey Yong
yang begitu lembut dan sabar, mengandung kasih sayang dan
penuh pengertian akan jiwa seorang anak, hatinya jadi
tergoncang dan terharu Tanpa disadarinya disaat dia
mengangguk, dua butir air mata telah menitik turun
membasahi pipinya.
Oey Yong tersenyum, dia mengusap rambut anak ini.
„Ayahmu tidak secengeng engkau !” katanya kemudian.
„Bahkan ayahmu merupakan seorang pendekar besar yang
gagah perkasa dan tabah, menghadapi penderitaan hidup…!”.

Yo Him jadi merasa malu sendirinya, dia hanya mengiyakan
perkataan Oey Yong.
Di dalam kamarnya, Yo Him jadi terpekur saja, sama sekali
dia tidak bisa mententeramkan hatinya, dia tidak bisa tidur
dengan nyenyak.
Akhirnya dia keluar dari kamarnya dan mencari In Lap
Siansu untuk diajak ber-cakap2.
Ternyata In Lap Siansu tengah ber-cakap2 dengan Siang
koan Lin Lie, dengan nyonya Siang koan dan puterinya yang
baru belasan tahun, yang akhirnya diketahui oleh Yo Him
bahwa gadis yang biasa dipanggilnya dengan sebutan Encie
itu ternyata bernama Peng. Dengan Siang koan Peng, Yo Him
memang merasa senang dan menyukainya, kerena gadis itu
lincah dan periang. Bahkan Siangkoan Peng sering mengajak
Yo Him main2 dengan dia ditaman bunga, karena bosan juga
baginya mendengari terus pembicaraan diantara kedua orang
tuanya dengan In Lap Siansu yang tidak dimengerti olehnya.
Pulau Ang Hwa To merupakan sebuah pulau yang sangat
luas, dimana markas besar Pek Liong Kauw menancapkan kaki
dan kekuasaannya karena disana telah dibangun ratusan
gedung untuk perumahan seluruh anggota perkumpulan
tersebut. Belum lagi beberapa kota didaratan Tionggoan
terdapat berbagai cabang dari perkumpulan tersebut.
Pek Liong Kauw juga memiliki jago2 yang sangat hebat
kepandaiannya. Banyak yang memiliki ilmu dan kesaktian yang
hebat, sehingga nama Pek Liong Kauw terangkat sendirinya
berkat hasil kerja dari orang2nya yang liehay2 itu. Tetapi
sebagai tokoh2 persilatan, anggota2 dari perkumpulan
tersebut memiliki sifat2 yang aneh dan ber-macam2 tabiatnya.
Walaupun kepandaian Kauwcu perkumpulan tersebut, yaitu
Wie Kiam, tidak sehebat Sin Tiauw Taihiap, namun dia
memiliki ilmu pedang yang sangat luar biasa sekali, sehingga
mengentarkan orang2 kalangan rimba hijau, baik lawan

maupun kawan, karena kauwcu ini paling benci kejahatan.
Dan namanya yang sangat terkenal itu menggetarkan rimba
persilatan sehingga dia sangat dihormati.
Bahkan Wie Kiam Kauwcu telah diberikan gelaran „Hui
Thian Sin Kiam” yaitu Pedang Sakti Dari Langit.
In Lap Siansu juga sering menganjurkan Yo Him agar pergi
bermain bersama dengan Siangkoan Peng, puterinya
Siangkoan Lin Lie, karena In Lap Siansu mengetahui Yo Him
perlu hiburan juga agar dia tidak merasa kesepian.
Bukankah Siangkoan Peng lincah dan periang ? Setidak2nya
bisa mengurangi kesedihan dihati Yo Him atau
mengurangi juga ketegangan2 yang selama ini meliputi hati
dan jiwanya anak dari pendekar besar Yo Ko itu.
In Lap Siansu sendiri telah dipanggil oleh Kwee Ceng dan
Oey Yong, yang menanyakan banyak sekali perihal Yo Him.
In Lap Siansu menceritakan apa yang diketahuinya dan
diapun menyatakan bahwa Yo Him telah diangkat sebagai adik
oleh Wie Tocu dari Kaypang, serta memperoleh sebuah
Kimpay dari toakonya itu. Tentu saja pemberitahuan In Lap
Siansu itu telah mengejutkan, bahkan meng girangkan sekali
hati Kwee Ceng dan Oey Yong. Dia membayangkan,
betapapun juga Yo Him telah memiliki suatu keluar biasaan
lain jika di bandingkan dengan pemuda2 lainnya yang sebaya
dengan dia. Misalnya saja Bu Heng-te (dua orang saudara Bu),
diwaktu mudanya, mereka sama sekali tidak berarti apa2 dan
tidak mengalami sesuatu yang luar biasa didalam persilatan,
sampai akhirnya salah seorang dari Bu Hengte
Itu telah menikah dengan Kwee Hu, anak dari Kwee Ceng –
Oey Yong.
Tetapi Yo Him, justru dalam usia demikian muda. ternyata
telah berhasil untuk mengangkat tali persaudaraan dengan
seorang tokoh persilatan seperti Wie Tocu dari Kaypang Kwee
Ceng dan Oey Yong memang mengetahui dan sering

mendengar bahwa Wie Tocu adalah seorang tokoh persilatan
yang sangat hebat sekali kepandaiannya, dia merupakan
orang terkemuka dalam persilatan.
Wie Tocu sesungguhnya bernama Wie Liang, merupakan
wakil pangcu dari Kaypang. Maka dari itu agak luar biasa jika
Kimpay miliknya itu justru telah diberikan kepada Yo Him
karena Kimpay Wie Tocu merupakan lambang dari kekuasaan
yang luar biasa tingginya.

——————————————————-

JILID 14
Setiap Kimpay itu dikeluarkan, maka seluruh anggota
pengemis yang berada didaratan Tionggoan harus tunduk
siapa saja yang memegang Kimpay dari Wie Tocu itu adalah
merupakan wakil langsung dari Wie Tocu. tiap pengemis dari
tingkat mana saja yang menghadapi Kimpay tersebut harus
menganggap bahwa wakil Wie Tocu itu sebagai Wie Tocu
mendiri.
Tidak mengherankan jika berita yang didengar oleh Kwee
Ceng dan Oey Yong sangat mengejutkan sekali hati mereka.
Setelah lewat satu hari, ternyata Yo Ko tidak muncul seperti
yang telah direncanakan, sehingga orang2, gagah itu
menantikan lagi beberapa hari lamanya dipulau Ang Hwa To
tersebut, dengan hati diliputi oleh berbagai dugaan. Karena
Sin Tiauw Taihiap memang telah berjanji bahwa dia akan
berkunjung kepulau Ang Hwa To ber-sama2 dengan beberapa
orang gagah lainnya. Dan jika kedatangannya itu tidak
terlaksana, tentu didirinya terdapat suatu persoalan atau
urusan yang agak luar biasa.
Yo Him juga tidak sabar ingin melihat, sesungguhnya
bagaimana rupa dan wajah dari Sin Tiauw Taihiap, pendekar
besar dijaman ini. Walaupun sering terlihat Yo Him tengah

bermain dan bergurau dengan Siangkoan Peng ditepi pantai
dipesisir pulau tersebut, namun pikiran Yo Him sering melayang2
membayangkan wajah dari Sin Tiauw Taihiap….
Siangkoan Peng memang seorang gadis kecil yang lincah,
diapun sering memperlihatkan senyum dan tawanya. Sikapnya
yang periang sekali, selalu cerah dan ramai oleh gelak tawa
memaksa Yo Him untuk melenyapkan pikiran kesal dan
jengkelnya.
Sebagai seorang gadis yang periang, tentu saja dia dapat
menghibur Yo Him, walaupun tidak keseluruhannya.
Yo Him memang merupakan seorang anak lelaki yang sejak
kecil mengalami banyak sekali tekanan2 pada jiwanya,
sehingga seringkali dia bersikap murung dan bersedih hati.
Tetapi Siangkoan Peng telah dapat menghiburnya, karena
dia telah mengetahui Yo Him memiliki sifat2 yang pendiam
dan menghadapi sesuatu persoalan selalu dengan bersungguh2
dia tekun sekali.
Suatu hari, disaat mereka tengah ber-main2 dipesisir pantai
disebelah selatan dari pulau itu, tampak sebuah perahu
berukuran kecil tengah meluncur cepat sekali mendekati
pantai, menghampiri pulau tersebut.
Tentu saja Yo Him yang melihat perahu itu lebih dulu,
hatinya jadi terguncang keras, karena dia menduga bahwa
yang datang itu tentunya Yo Ko, pendekar besar yang tengah
dinantikan semua orang, yang menurut orang2 gagah yang
berada dipulau tersebut, Sin Tiauw Taihiap itu adalah
ayahnya.
Dalam waktu yang sangat singkat sekali, perahu itu telah
merapat dipantai dan tampak dari dalam perahu melompat
turun seorang lelaki bertubuh tinggi tegap, hanya saja
jalannya agak pincang, karena kaki kanannya lebih pendek
dari kaki kirinya.

Yo Him jadi heran dan telah mengawasi orang itu.
sedangkan Siangkoan Peng yang juga tidak mengenal orang
itu, telah mengawasi juga dengan hati yang men-duga2.
Orang yang berjalan pincang itu tampaknya, telah melihat
Yo Him dan Siangkoan Peng, dia telah menghampiri sambil
mengangguk tersenyum, katanya dengan suara yang sabar.
„Anak2, apakah Wie Kiam Kauwcu berada ditempat…?”.
Siangkoan Peng yang periang telah berkata dengan suara
yang cepat, menyahuti pertanyaan itu. „Ada ! Ada ! Siapakah
Lopeh (paman) ?”.
„Lohu (aku orang tua), she Phang dan bernama Kui In. Aku
bermaksud menemui Wie Kiam Kauwcu untuk
memberitahukan sesuatu kepadanya…!”.
„Oh…jika demikian, silahkan Lopeh langsung pergi
kemarkas besar itu saja, tentu Lopeh akan menemui Wie Kiam
Kauwcu…!”.
„Terima kasih anak2…!” kata Phang Kui In.
Dan dengan langkah kaki yang ter-pincang2 dia telah
menyusuri pantai itu.
Tetapi, yang membuat Yo Him dan Siangkoan Peng jadi
terkejut, justru jalannya Phang Kui In begitu cepat dan lincah
sekali. Memang tampaknya dia berjalan dengan kaki yang
terpincang2, namun kenyataannya tubuhnya dapat bergerak
dengan sangat cepat sekali, tubuhnya seperti juga me-layang2
dan kakinya bagaikan tidak menginjak pasir.
Yo Him jadi memujinya tanpa dikehendaki nya. „Itulah ilmu
meringankan tubuh yang sangat hebat sekali ! Sungguh
mengagumkan sekali ! Sungguh menakjubkan sekali !”.
Mendengar perkataan Yo Him yang cukup nyaring, yang
merupakan pujian, rupanya Phang Kui In telah mendengarnya,
dia lalu menghentikan langkah kakinya dan menoleh

kebelakang, kemudian menghampiri Yo Him dan Siangkoan
Peng lagi.
„Anak, tampaknya engkau mengerti ilmu silat…!” katanya
sambil tersenyum.
Dan Siangkoan Peng jadi terkejut, karena tahu2 tangan
orang she Phang itu telah bergerak, dia telah mengulurkan
tangannya itu untuk mencengkeram pergelangan tangan
Siangkoan peng.
Cepat2 Siangkoan Peng berkelit dan dia dapat
menghindarkan diri dari cekalan tangan orang itu.
“Hahahahahaha .. .” tertawa orang she Phang itu
dengan suara yang nyaring sekali. Tampaknya engkau
mempunyai kepandaian yang lumayan, sungguh baik ! baik !
usia kalian masih muda tetapi kalian telah dapat memiliki ilmu
meringankan tubuh yang cukup tinggi.
Yo Him tidak senang melihat Phang Kui In memperlakukan
begitu kepada siangkoan Peng, Dia telah menegurnya dengan
suara yang tidak senang.
“ Mengapa harus turunkan tangan kasar begitu lopeh ?”
Ditegur Yo Him, orang she Phang itu jadi melengak, dia
sampai memandang dengan tatapan mata tertegun. Tapi
dengan cepat dia telah berkata lagi “ ha ha ha, aku tidak
bermaksud buruk, adik kecil ! sungguh ! aku hanya ingin
melihatnya, apakah kalian memiliki ilmu meringankan tubuh
dan kepandaian.!”
Dan setelah berkata begitu, dengan cepat sekali Phang Kui
In telah bergerak lagi, dia telah mengulurkan tangan
kanannya dengan cepat luar biasa kearah Yo Him.
Serangan yang dilancarkannya sangat cepat berbeda
dengan gerakan yang dilakukannya tadi terhadap Siangkoan
Peng.

Yo Him terkejut, tetapi kepandaian yang di miliki Yo Him
juga tidak lemah. Walaupun dia tidak mengerti ilmu silat
secara mendalam, namun dia memiliki kepandaian yang
merupakan ilmu yang dahsyat sekali, sehingga dia selalu
dapat bergerak dengan sangat ringan dan cepat sekali.
Setiap serangan2 yang dilancarkannya itu sangat hebat dan
gesit sekali, maka tidaklah terlalu mengherankan, disaat
tangan orang tersebut tengah menyambar datang, dan belum
lagi jari tangan dari Phang Kui In mengenai pergelangan
tangannya, justru Yo Him telah memutar tangannya, dan telah
berhasil meloloskan diri dari cekalan tangan Phang Kui In.
Gerakan yang dilakukan oleh Yo Him sangat lincah dan
manis sekali. Tetapi karena Yo Him jadi penasaran oleh sikap
Phang Kui In yang seperti ingin menguji kepandaiannya. dia
telah meneruskan dengan membalas menyerang.
Phang Kui In mengeluarkan suara seruan tertahan karena
terkejut, karena tadi waktu dia mengulurkan tangannya untuk
mencekal pergelangan tangan Yo Him, dia telah
melakukannya dengan cepat sekali, dan jika memang
serangan tersebut dilancarkan kepada jago2 dari tingkatan
yang keempat atau kelima, tentu jago2 itu tidak mungkin bisa
meloloskan diri,
Tetapi Yo Him kini ternyata berhasil mengelakan diri dari
cekalannya itu, dan juga berhasil untuk membarengi dengan
melancarkan serangan membalas. tentu saja hal itu
merupakan suatu kejadian yang sangat aneh sekali.
Cepat sekali Yo Him telah mengeluarkan suara bentakan
dan kembali dia telah melancarkan serangan dengan
mengerahkan tenaga dalamnya sehingga Phang Kui In mau
tidak mau harus bergerak cepat.
Walaupun tenaga serangan dari Yo Him belum
mengandung tenaga menyerang yang bisa mematikan, tetapi
serangan2 itu telah menimbulkan angin yang cukup dahsyat,

Phang Kui In lekas2 berkelit, karena terlambat sedikit saja,
tentu ia akan rubuh ditangan Yo Him.
Dalam waktu yang sangat singkat, tampak serangan2 Yo
Him telah menyambar datang dengan gencar sekali, dan silih
berganti Yo Him melancarkan serangan2 dengan lincah dan
gesit luar biasa.
Tetapi Phang Kui In telah mengeluarkan suara tertawa dan
pujian kagum berulang kali.
„Bagus ! Bagus ! Tampaknya engkau memiliki bakat untuk
mempelajari ilmu yang sangat hebat, anak yang baik !” dan
setelah berkata begitu, dengan cepat Phang Kui In telah
mengelakkan serangan jari telunjuk tangan Yo Him, dia telah
mengelakkannya sambil mengayunkan tangan kanannya yang
mengibas dengan keras.
Kibasan tangannya telah mengeluarkan suara mendesir dan
samberan angin yang kuat. Dengan mengeluarkan seruan
tertahan, tampak tubuh Yo Him telah terpelanting diatas pasir.
„Bukk !” bukan main kerasnya tubuh Yo Him yang
terbanting diatas pasir.
Untung saja serangan yang dilakukan oleh Phang Kui In
memang telah diperhitungkan, maka serangan itu tidak
membahayakan diri Yo Him. walaupun dia telah terbanting
dipasir tetapi bantingan itu tidak menimbulkan perasaan sakit
apa2.
Dengan muka yang berobah merah, tampak Yo Him telah
melompat berdiri.
Baru saja YoHim ingin menegur, Phang Kui In telah
berkata, “Dengan adanya kenyataan seperti ini, ternyata Pek
Liong Kauw memang bukannya memiliki nama kosong belaka !
Hebat sekali, Hebat sekali ! Anak seusia seperti engkau ini
ternyata memiliki kepandaian yang sangat hebat sekali, dan
benar2 menimbulkan perasaan kagum dihatiku. dan setelah

berkata begitu Phang Kui In telah ber-tepuk2 tangan beberapa
kali.
Tanpa menantikan jawaban Yo Him ataupun Siangkoan
Peng, dia telah membalikkan tubuhnya, dan telah ber-lari2
cepat sekali, gerakannya seperti terbang. Phang Kui In telah
meninggalkan Yo Him dan Siangkoan Peng, dimana gadis kecil
itu berdiri diam tertegun dengan membisu.
Tetapi waktu mereka telah tersadar dari terkejutnya itu,
dengan cepat Yo Him dan Siangkoan Peng telah melompat
berlari untuk mengikuti Phang Kui In, karena mereka jadi ingin
mengetahui apa yang akan dilakukan oleh Phang Kui In, dan
siapakah orang yang berkaki pincang itu.
Tetapi, rupanya suara teriakan, atau yang lebih tepat lagi
adalah pekik kaget dari Yo Him telah menyebabkan beberapa
orang2 Pek Liong Kauw mendengarnya, dan mereka telah
berdatangan dengan cepat.
Gerakan mereka memang gesit dan dalam waktu yang
singkat lima orang anak buah Pek Liong Kauw yang bertugas
untuk menjaga keamanan ditempat bagian tersebut, telah
menghadang dihadapan Phang Kui In.
„Berhenti !” bentak salah seorang diantara mereka dengan
suara yang cukup nyaring.
Phang Kui In telah menghentikan larinya, dia berdiri
mengawasi sejenak kepada kelima orang yang menghadang
dirinya dengan bibir yang tersenyum, dan kemudian dia telah
berkata dengan suara yang cukup nyaring dan ramah”.
„Maafkan, maafkanlah, atas kelancanganku ini ……”
Sesungguhnya kedatanganku ini memang sangat ceroboh
sekali, tanpa meminta ijin telah menginjakan kaki dipulau ini
…… ! Semua ini disebabkan aku membawa suatu berita
sangat penting sekali untuk Wie Kauwcu ……..”

“Siapakah Hengtai ?” tanya orang yang tadi menegur,
suaranya lebih ramah dari tadi, karena dia melihat sikap
Phang Kui In cukup ramah dan tidak memperlihatkan tanda2
behwa kedatangannya itu mengandung maksud buruk. „Untuk
keperluan apakah ingin menemui Wie Kauwcu kami……..?”
Phang Kui In telah tertawa lagi, dia telah berkata dengan
suara yang lembut. „Sesungguhnya dalam keadaan demikian
sulit untuk kujelas kan persoalan itu, sebab urusan ini aku
harus sampaikan kepada Wie Kauwcu dengan empat
mata………!”
Kelima orang yang menghadang Phang Kui In jadi berdiri
ragu. Lalu salah seorang yang tadi telah menegur Phang Kui
In, telah bertanya kepada temannya”. „Sesungguhnya, apakah
dia bermaksud baik atau tidak ?” bisik orang itu kepada
temannya.
„Kita belum bisa menentukan.,” jawab kawannya dengan
suaranya yang perlahan. “atau kita Laporkan saja perihal
orang ini kepada Wie Kauwcu “
Kawannya mengangguk.
„Begitupun baik engkau saja yang pergi melaporkan !” Kata
kawannya.
Orang itu mengiyakan, kemudian dia telah menoleh lagi
kepada Phang Kui in, katanya dengan suara yang cukup
ramah. Jika memang demikian, tunggulah sebentar disini.
aku ingin memberitahukan kedatangan Hengtai kepada Kauw
cu.. !”.
Phang Kui In mengangguk mengiyakanm dia telah berkata
“Baik ! Baik ! hanya saja aku telah merepotkan kalian !”
Dan orang itu telah meninggalkan keempat orang
kawannya, dia telah ber-lari2 untuk melaporkan perihal
kedatangan Phang Kui In kepada kauwcunya.

Disaat itu Phang Kui In telah bertanya kepada keempat
orang anggota Pek Liong Kauw tersebut.
„Apakah selama ini kalian belum menerima kedatangan
tamu ? tanyanya dengan suara yang ramah”
Keempat orang itu telah menggelengkan kepala perlahan
seperti juga mereka segan untuk ber cakap2 dengan Phang
Kui In, karena mereka memang belum mengetahui siapakah
adanya orang yang di hadapan mereka ini, Apakah kawan
ataukah lawan ?”
Maka dari itu keempat orang anggota dari Pek Liong Kauw
tersebut bermaksud ingin ber diam diri saja dahulu.
Tidak lama kemudian dari arah markas besar Pek Liong
Kauw telah datang serombongan orang, yang jalan dimuka
adalah Wie Kiam Kauwcu diiringi oleh In Lap siansu dan
beberapa orang anggota Pek Liong Kauw.
Sedangkan orang yang tadi pergi melapor, telah menunjuk
kearah Phang Kui In, samar2 telah terdengar suaranya yang
cukup nyaring. „Orang itulah yang ingin bertemu dengan
Kauwcu !”
Wie Kiam sejak melihat Phang Kui In. Telah mengerutkan
alisnya, dia tidak mengenal orang she Phang itu.
„Siapakah dia ?” pikir Wie Kiam didalam hatinya, dia heran
bukan main. „Mengapa dia ingin menemuiku ?”
Dan setelah berpikir begitu, saat itu dia telah tiba
dihadapan Phang Kui In. Phang Kui In telah melihat Wie Kiam,
cepat2 dia merangkapkan kedua tangannya, dan telah
menjura memberi hormat, katanya. „Tentunya yang ada
dihadapan Siauwte (adik) adalah Wie Kiam Kauwcu yang
sangat terkenal sekali bukan?”
Wie Kiam mengangguk sambil cepat2 membalas
penghormatan tamunya itu, walaupun dia masih belum
mengetahui siapa adanya tamunya itu.

„Benar…….!’” dia telah membenarkan. „Dan siapakah
Hengtai ? Ada urusan apakah Hengtai mencariku ?”
„Siauwte she Phang dan bernama Kui In, dan
sesungguhnya memiliki suatu urusan yang cukup penting,
yang akan Siauwte sampaikah hanya empat mata dengan Wie
Kiam Kauwcu….. “
Wie Kiam tampak jadi heran dan bimbang. Dia bukan kuatir
nanti orang she Phang ini melakukan tipu daya untuk
mencelakai d’irinya, karena Wie kiam juga memiliki
kepandaian yang sangat tinggi dan tentu bisa mengatasinya
jika sampai Phang Kui In bermaksud tidak baik.
Tetapi yang mengherankan sekali, mengapa Phang Kui In
telah meminta agar mereka berbicara empat mata saja
dengan dia.
Tetapi sebagai seorang kauwcu yang memiliki
kebijaksanaan, maka dia telah berkata dengan suara yang
sabar „Apakah urusan yang akan disampaikan oleh Hengtai
merupakan urusan yang sangat penting ?”
Phang Kui In telah mengangguk sambil mengiyakan
„Urusan itu hanya bisa dibicarakan dengan anda dibawah
empat mata, Wie Kauwcu” kata Phang Kui In kemudian.
„Hemm, jika memang demikian, aku tidak keberatan !” kata
Wie Kiam Kauwcu. „Tetapi sekarang katakanlah dulu,
menyangkut persoalan apakah urusan yang ingin disampaikan
oleh Heng tai”
Phang Kui In tampak ragu2 tetapi kemudian dia telah
berkata dengan suara yang perlahan ‘Menyangkut masalah
keselamatan pulau Ang Hwa To…!”.
„Menyangkut keselamatan pulau Ang Hwa To ?” tanya Wie
Kiam kauwcu dengan suara terkejut, karena walaupun
bagaimana perkataan yang dinyatakan oleh Phang Kui In
merupakan suatu pernyataan yang sangat lancang sekali.

„Hemm…memang agak luar biasa, apakah ada seseorang
yang bermaksud akan melanggar pulau Ang Hwa To kami ?
Melanggar Pek Liong Kauw ?” tanyanya kemudian dengan
suara yang dingin sekali.
„Bukan begitu, bukan begitu.,.!” kata Phang Kui In cepat;
.„Tetapi masalah ini menyangkut urusan yang sangat besar
sekali, dan termasuk ke selamatan Pek Liong Kauw…!’Akhh,
urusan demikian penting, tidak bisa aku menyampaikannya
dihadapan banyak orang ! Jika memang kauwcu bersedia
mendengar laporanku hanya dibawah empat mata, maka aku
akan menyampaikannya. tetapi jika kauwcu keberatan, biarlah
aku tidak akan mengatakannya…!”.
Wie Kiam Kauwcu jadi agak ragu2, dia telah berdiam diri
sejenak, tetapi kemudian sambil menghela napas dia telah
berkata. „Baiklah ! Mari silahkan ikut denganku !”.
Dan setelah berkata begitu. Wie Kiam menoleh kepada
seseorang yang disampingnya, dia bicara bisik2, kemudian
melangkah meninggalkan rombongannya agak jauh.
Sedangkan Phang Kui In setelah melihat kauwcu itu telah
melangkah akan meninggalkan rombongannya, dia telah
mengikutinya dari belakang.
Setelah berjalan puluhan tombak, Wie Kiam menoleh dan
bentaknya kepada Phang Kui In ; „Apakah sekarang dapat
engkau bicara dengan tenang disini ?”.
Phang Kui In telah memandang kesekelilingnya, dia telah
melihat keadaan disekitar tempat itu memang sepi dan tidak
terlihat seorangpun juga.
Maka akhirnya Phang Kui In telah mengangguk dengan
cepat, dia telah berkata dengan suara yang sabar sekali
„Benar ! Memang tempat ini cocok untuk kita ber-cakap2 !”.
„Sekarang katakanlah, apa yang ingin kau bicarakan ?”
tanya Wie Kiam Kauwcu kemudian.

„Urusan ini sesungguhnya Urusan yang sangat penting
sekali, jika disaat sekarang ini kauwcu belum mendengarnya,
karena urusan ini sangat dirahasiakan sekali, maka walaupun
Pek Liong Kauw memiliki banyak orang2nya yang tersebar
didaratan Tioaggoan, tetapi perihal peristiwa ini tentunya tidak
didengar oleh Kauwcu……….. !”
„Urusan apakah itu ?” tanya Wie Kiam Kauwcu dengan
suara yang tidak sabar,
„Urusan ini merupakan urusan yang sangat penting sekali,
yaitu urusan dengan munculnya seorang tokoh dipersilatan
yang diperalat oleh pemerintah Mongolia …… !” kata Phang
Kui In kemudian dengan suara yang sabar. „Tokoh persilatan
itu memiliki kepandaian yang sangat hebat sekali. Jika sampai
sekarang Kauwcu belum mengetahuinya, karena tokoh
persilatan itu bekerja secara diam2, dan juga mengatur
orang2 nya dengan segala kepandaiannya yang ada secara
sembunyi2, untuk memberantas orang2 gagah didalam rimba
persilatan……… ! Dan yang kuketahui, justru Pek Liong Kauw
merupakan salah satu nama yang terdaftar, dimana harus
dibasmi habis. Karena jika orang2 gagah berdiri dipihak
pemerintah, tentunya waktu orang2 Mongolia itu melakukan
penyerbuan, dengan sendirinya akan mempersulit mereka.
Karena itu mereka ingin membasmi dulu orang2 gagah
didaratan Tionggoan, baru kelak melakukan penyerangan dan
menyerbu masuk ketapal batas…!”.
Kauwcu dari Pek Liong Kauw itu jadi terkejut juga
mendengar perkataan Phang Kui In. dia sampai memandang
tertegun. Sama sekali dia tidak menyangka bahwa urusan
menyangkut masalah pemerintahan.
Tetapi sebagai seorang kauwcu yang telah seringkali
mengalami banyak peristiwa dan urusan2 yang sangat penting
dan besar, maka dia cukup tenang untuk menghadapinya.
Dengan tersenyum sabar, kemudian Wie Kiam Kauwcu telah

bertanya. „Sesungguhnya, darimanakah mereka itu
mengetahui perihal Pek Liong Kauw ?”.
Phang Kui In tertawa ber-gelak2 dengan nada yang tinggi,
katanya kemudian. „Lucu ! Lucu sekali !” katanya. “Mungkin
kauwcu memang meragukan perkataanku itu dan mengira
keteranganku itu hanyalah suatu keterangan yang palsu
belaka.
Wie Kiani Kauwcu telah menggelengkan kepalanya, dia
telah berkata. „Bukan, bukan begitu !” katanya cepat.
„Sesungguhnya didalam persoalan ini yang dipentingkan
adalah fakta dan kenyataan dari bukti2 yang harus kau
kemukakan, jika tidak terdapat bukti2, bagaimana aku bisa
mempercayai keteranganmu itu ?”.
Mendengar perkataan “Wie Kiam Kauwcu, sejenak Phang
Kui In berdiam diri, kemudian dia telah berkata. „Baiklah Jika
memang kauwct» hendak meminta bukti dariku, aku tidak
akan keberatan, aku akan mengeluarkannya ! Di samping itu,
jika kauwcu masih ingat! tentu kauwcu akan membenarkan
perkataanku. Semuanya harus dilakukan dengan jujur ! Pertama2,
kauwcu harus mengiyakan jika memang pertanyaanku
itu benar, dan menolak jika tidak benar ! Bagaimana, apakah
kauwcu bersedia untuk melakukan nya ?”.
„Bersedia..!” mengangguk Wie Kiam Kauwcu. „Kau
tanyakanlah…!”.
Mendengar perkataan Wie Kiam Kauwcu yang tampaknya
begitu yakin, Phang Kui In menjadi senang sekali, dia telah
berkata. „Nah, kini katakanlah yang jujur, Wie Kauwcu,
bukankah Sin Tiauw Taihiap berjanji akan datang berkunjung
ke Ang Hwa To ini ?”.
Mendengar perkataan dari Phang Kui In yang terakhir ini,
tentu saja Wie Kiam Kauwcu jadi tertegun, kembali dia jadi
ragu2, karena walau pun bagaimana dia memang tidak dapat
mengatakan „Ya !” atau “Tidak”. Per-tama2, jika dia

mengatakan Ya, berarti dia membongkar suatu urusan yang
sangat penting karena persoalan Sin Tiauw Taihiap Yo Ko
akan berkunjung ke Ang Hwa To merupakan urusan yang
dirahasiakan sekali. Dan jika dia membenarkan, bukankah hal
itu melancangkan Sin Tiauw Taihiap Yo Ko ? Tetapi jika dia
mengatakan tidak, tentu saja dia pun tidak bisa
melakukannya, karena memang Wie Kiam Kauwcu tidak
biasanya berdusta.
Kenyataan seperti ini telah membuat Wie Kiam Kauwcu jadi
berada dalam posisi yang serba sulit. Tetapi setelah berdiam
diri sejenak dia telah berkata dengan suara ragu2. „Dalam hal
ini, tidak bisa aku membicarakannya…karena memang
persoalan ini bukan merupakan masalah yang biasa……!
Sedangkan aku belum lagi mengenal benar siapa diri anda !
Maafkan, untuk ini aku tidak bisa menjawabnya…….!”
Mendengar perkataan Wie Kiam Kauwcu, tentu saja hal ini
telah membuat Phang Kui In tertawa ber-gelak2.
„Bukankah tadi Kauwcu telah berjanji, akan bicara dari hal
yang sejujurnya ?” tanyanya.
„Benar……. tetapi jika memang masalahnya menyangkut
perihal keselamatan Ang Hwa To.” jawab Kauwcu dari Pek
Liong Kauw ini. „Jika memang dalam masalah lain, itu bukan
wewenang ku !”
Mendengar perkataan terakhir dari Wie Kiam Kauwcu, tentu
saja Phang Kui In jadi memperoleh sedikit kesulitan, dia telah
berkata lagi dengan suara ragu2. „Dalam persoalan ini,
walaupun menyangkut orang luar dari Pek Liong Kauw, tetapi
juga akhirnya memiliki sangkut paut dengan Pek Liong Kauw !
Maka dari itu, jika memang Kauwcu memberikan jawaban
yang meyakinkan dan jujur, aku akan menjelaskan seluruhnya
dengan benar dan jelas……. !”

„Tetapi masalah Sin Tiauw Taihiap Yo Ko, pendekar agung
itu, bukanlah merupakan suatu persoalan yang mudah untuk
dijadikan bahan percakapan yang tidak ada artinya…!”.
Mendengar perkataan Wie Kiam Kauwcu, Phang Kui In
telah berkata lagi. „Kenyataannya memang Sin Tiauw Taihiap
Yo Ko bermaksud akan datang berkunjung ke Ang Hwa To ini,
tetapi sekarang sampai detik ini. bukankah Sin Tiauw Taihiap
Yo Ko belum lagi terlihat batang hidungnya..?”
Mendengar perkataan Phang Kui In seketika itu juga
semangat Wie Kiam Kauwcu seperti terbang meninggalkan
raganya, mukanya telah berobah menjadi pucat, bahkan dia
telah berkata lagi dengan suara yang dingin. „Apakah didalam
persoalan ini, memang benar2 engkau datang untuk
menyampaikan persoalan yang memiliki sangkut paut dengan
diri Sin Tiauw Taihiap Yo Ko ?”.
„Tepat ! Sejak tadi aku telah mengatakan, bahwa urusan ini
malah menyangkut keselamatan pulau Ang Hwa To !”
menyahuti Phang Kui In.
“Tetapi… tetapi..!”.
„Yang jelas kini, jika sampai Sin Tiauw Taihiap Yo Ko tidak
menepati janjinya untuk berkunjung kepulau ini, lalu dalam
persoalan tersebut apakah tidak terdapat kejanggalan ? Tentu
saja ada ! Karena Sin Tiauw Taihiap sendiri tengah
menghadapi suatu kesulitan yang sukar dihadapi olehnya……..
!”
Wie Kiam Kauwcu tampaknya jadi agak bingung, dia
menghela napas beberapa kali, kemudian tanyanya. „Jadi
dalam persoalan ini tampaknya engkau ber sungguh2 ingin
menyampaikan masalah yang jauh lebih penting dari urusan
Sin Tiauw Taihiap, dan juga engkau tidak terdesak oleh
tekanan2 untuk membuktikan akan keadaan dirimu dan
kebenaran dan keteranganmu itu, yang tentunya engkau tidak

akan meminjam nama Sin Tiauw Taihiap Yo Ko. Bukankah
begitu ?”
„Tentu saja….. tentu saja ….. !” mengangguk Phang Kui In.
„Memang dalam persoalan ini tentu saja akupun memiliki
suatu kepentingan yang saling berpegangan erat dengan
persoalan yang menyangkut dengan keadaan yang dihadapi
Pek Liong Kauw kelak …… .”
Kauwcu dari Pek Liong Kauw telah mengerutkan sepasang
alisnya, dia telah bertanya dengan suara yang dingin dan
tatapan mata yang sangat tajam sekali. „Sesungguhnya,
darimanakah engkau memperoleh sumber2 seperti itu ?”.
„Maksud kauwcu sumber keterangan2 yang telah
kuberikan, bukan ?” tanya Phang Kui In kemudian.
Wie Kiam Kauwcu telah mengangguk cepat, dia telah ber
tanya lagi dengan suara yang tetap dingin dan tatapan mata
yang tetap tajam.
„Nah dalam persoalan ini, jika engkau dapat membuktikan
dan meyakinkan diriku, tentu aku akan mempercayai penuh
akan keteranganmu itu…!”.
Mendengar perktaaan Wie Kiam Kauwcu. Phang Kui In jadi
tertawa ber-gelak2 dengan suara yang nyaring sekali dan dia
telah berkata dengan suara yang lantang, „Jika dalam
persoalan ini kauwcu tetap tidak dapat mempercayai diri dan
keteranganku, hal itupun tidak menjadi persoalan, karena
akupun tidak akan terlalu memaksanya…! Nah, sesungguhnya
kauwcu bermaksud untuk mendengar keterangan dariku atau
tidak ?”.
Wie Kiam Kauwcu telah tertawa dingin „Jika engkau belum
bisa membuktikan secara meyakinkan bahwa engkau berasal
dari mana dan memperoleh sumber keterangan seperti itu dari
siapa, maka aku belum ingin bicara denganmu cara
terbuka…!”.

„Hemm, tampaknya memang kauwcu masih mencurigai
keadaan diriku !” kata Phang Kui In kemudian. „Tetapi dengan
melihat saja bahwa aku dapat mengetahui jelas bahwa Sin
Tiauw Taihiap telah berjanji akan datang berkunjung kepulau
Ang Hwa To, hal itu sudah merupakan suatu persoalan yang
cukup mengherankan kauwcu. bukan ? Dan itupun sudah
merupakan bukti bahwa aku mengetahui urusan itu dengan
jelas sekali…Dan juga, dalam keadaan seperti sekarang, jika
persoalan itu merupakan persoalan biasa saja, dari mana aku
bisa mengetahui bahwa Sin Tiauw Taihiap akan berkunjung ke
Ang Hwa To ?”.
Mendengar pertanyaan Phang Kui In yang terakhir Wie
Kiam Kauwcu jadi bimbang sendiri nya.
Memang apa yang dikatakan oleh Phang Kui In
merupakan hal yang sebenarnya, karena dalam persoalan ini
tentu tidak akan ada orang yang mengetahui maksud
kunjungan Sin Tiauw Taihiap kepulau Ang Hwa To, karena
persoalan itu dirahasiakan benar, hanya beberapa orang saja
dari orang kepercayaannya yang mengetahui rencana
kunjungan Sin Tiauw Taihiap.
Dalam persoalan ini mungkin Sin Tiauw Taihiap tengah
menghadapi suatu persoalan yang rumit sekali, karena jika
memang tidak tentu dia akan tiba tepat dalam waktu yang
telah dijanjikannya ……. !
Dan kini sampai sekarang Sin Tiauw Taihiap tidak juga
muncul, sehingga Sin Tiauw Taihiap telah gagal dengan
janjinya yang telah lewat beberapa hari.
Maka Wie Kiam Kauwcu jadi semakin digeluti oleh perasaan
ragunya.
„Baiklah ! Memang benar Sin Tiauw Taihiap telah berjanji
ingin berkunjung kepulau Ang Hwa To ……. ! Nah,
sekarang engkau katakan, dari mana engkau mengetahui
persoalan itu ?”

„Aku mengetahuinya dari Sin Tiauw Taihiap sendiri !!” kata
Phang Kui In dengan suara yang nyaring.
„Hah ?” tentu saja Wie Kiam Kauwcu jadi terkejut, dan dia
memandang tidak percaya kepada Phang Kui In,
„Jika kauwcu masih tidak bisa mempercayai diriku, hal itu
juga sulit sekali dibilang..!” kata Phang Kui In kemudian.
„Memang dalam persoalan ini terdapat urusan yang penting,
keselamatan dari puluhan ribu anggota Pek Liong Kauw…!
Dengan sendirinya, jika dalam persoalan ini kauwcu bertindak
ceroboh, tentunya akan membuat anak buah dari Pek Liong
Kauw itu, secara keseluruhannya akan menerima bencana
yang tidak kecil…!”.
Mendengar perkataan Phang Kui In yang terakhir, tentu
saja Wie Kiam Kauwcu jadi digeluti oleh kebimbangan yang
sangat, karena memang tepat apa yang dikatakan oleh Phang
Kui In, jika dalam persoalan ini dia berlaku ceroboh tentu
keselamatan dari seluruh anggota Pek Liong Kauw akan
terancam !
Karena itu Wie Kiam Kauwcu telah menghela napas.
„Aneh juga, engkau selalu bicara dengan suara yang sangat
dirahasiakan sekali, dengan kata2 yang terlalu ber-belit2,
sehingga sulit untuk aku mempercayai dengan penuh
keyakinan seluruh ke teranganmu itu ! Bagaimana aku bisa
mengajakmu bicara dengan hati terbuka ?”. Phang Kui In
telah berkata dengan suara yang berubah menjadi lemah.
„Baiklah…memang dalam persoalan ini aku yang telah
bersalah, bicara terlalu ber-hati2 ! Sekarang begini saja, aku
pernah ditawan, dan justru aku dimasukkan kedalam kamar
tahanan, dimana didalam kamar tahanan itu terdapat Sin
Tiauw Taihiap Yo Ko ..!”
„Hah..?” berseru Wie Kiam Kauwcu dengan suara yang
terkejut, karena dia merasa kaget mendengar Sin Tiauw
Taihiap Yo Ko telah tertawan oleh seseorang. sedangkan

dalam persoalan tersebut Wie Kiam Kauwcu juga tidak bisa
mempercayai sepenuhnya, karena walaupun bagaimana sulit
dipercaya Sin Tiauw Taihiap Yo Ko telah tertawan oleh
seseorang, sedangkan kepandaian yang dimiliki Sin Tiauw
Taihiap Yo Ko sudah mencapai puncak kesempurnaannya,
sehingga sulit sekali dipercaya bahwa dia telah berhasil
dirubuhkan begitu saja.
Karenanya Wie Kiam Kauwcu jadi memandang dengan
tatapan mata yang tidak mempercayai, akhirnya dia telah
berkata dengan suara yang tawar. „Jika memang engkau
mengatakan bertemu dengan Sin Tiauw Taihiap, hal itu
mungkin masih bisa kupercayai …….. tetapi jika engkau
mengatakan bertemu dengan Sin Tiauw Taihiap dalam kamar
tahanan, dimana Sin Tiauw Taihiap Yo Ko telah tertawan, hal
itu merupakan suatu dusta yang menimbulkan tertawa geli
dihati…!”
“Tetapi hal ini benar2 telah terjadi !” berkata Phang Kui In
dengan wajah ber-sungguh2.
„Baiklah, teruskan ceritamu …… !”
„Aku ditawan oleh salah seorang Mongolia yang
memelihara jenggot dan kumis lebat sekali, dia begitu hebat
kepandaiannya, hanya dalam beberapa jurus saja aku telah
berhasil dirubuhkan ! Aku telah ditawan dan dimasukan
kedalam kamar tahanan batu yang rapat sekali, kemudian dia
telah mengunci kembali pintu batu itu dengan
mempergunakan alat rahasia. Sedangkan dalam saat2 seperti
itu, aku telah mulai biasa dengan keadaan yang gelap pekat,
aku mulai dapat melihat seseorang disudut dinding tengah
duduk ber semedhi”.
“Sin Tiauw Taihiap Yo Ko” menyahuti Phang Kui In. „Tetapi
waktu itu aku belum mengetahui bahwa orang itu adalah Sin
Tiauw Taihiap Yo Ko…aku telah menghampirinya dan bertanya
dengan suara yang ragu2. “Siapakah engkau ? Apakah engkau
ditawan di sini juga ?” dan orang itu telah mengawasiku

dengan tatapan mata yang sangat tajam sekali, dia telah
berkata dengan suara yang dingin. “Tidak perlu tahu..! Engkau
di tawan di tempat ini, karena dalam parsoalan ini engkau
tidak gagah !” dan perkataan itu mengandung nada yang
sangat angkuh sekali, tentu saja telah membuat aku jadi
mendongkol sekali. Aku segera berkata. „Jika memang aku
tidak perlu tahu keadaanmu, tentu engkau juga tidak perlu
tahu keadaanku” Mendengar perkataanku itu. nampaknya
orang tersebut jadi gusar. Dia telah berkata. “Aku mengetahui
bahwa engkau ditawan, Engkau telah ditangkap dan
dimasukkan kedalam kamar tahanan ini! Dan seperti aku
katakan, bahwa engkau memang tidak memiliki kepandaian
yang tinggi, sehingga engkau telah berhasil ditangkap
demikian rupa….! Hemm. tetapi sebaliknya, aku justru bukan
ditawan, tetapi aku memang hendak berdiam disini tidak mau
pergi…!” Aku jadi heran mendengar perkataan orang itu,
sehingga aku mengawasinya dengan tatapan mata yang
sangat tajam sekali, aku telah bertanya. „Mengapa begitu ?”
dan orang itu telah menyahuti. „Jika aku sudah mengatakan
aku tidak mau pergi dari tempat ini, itupun sudah jauh lebih
baik dari segala persoalan yang ada. karena engkau telah
mengetahui, maka engkau tidak perlu banyak bertanya.
Nasibmu sangat beruntung, karena aku bersedia untuk
membantu kau melarikan diri jika memang engkau ingin
melarikan diri ! Maukah engkau ?” Saat itu aku ragu2, karena,
walaupun bagaimana memang dalam persoalan ini telah
membuat aku kuatir kalau2 orang ini justru orangnya dari
orang Mongolia yang telah menangkapku, yang sengaja
memancingku..! Aku telah mengawasinya dengan tajam dan
memperhatikan keadaan orang itu, segera aku telah
melihatnya, orang itu duduk bersila dengan tubuh yang tegap,
dengan muka yang tampan dan juga dengan tangan kanan kiri
yang di turunkan. Yang mengejutkan, justru tangan kanannya
yang buntung, dimana lengan jubahnya itu terjuntai lemas
tidak ada isinya…tentu saja hal ini telah membuat aku jadi
heran, dan teringatlah aku akan seseorang…sedangkan orang

itu telah berkata dengan suara yang dingin. „Engkau rupanya
teringat kepada seseorang, bukan ?” tanyanya.
„Ya, memang benar…!” jawabku kemudian sambil
mengangguk dan telah membenarkan pertanyaannya itu.
Sedangkan orang itu telah berkata lagi ; „Memang benar, aku
Sin Tiauw Taihiap Yo Ko. Dan aku ingin membantumu jika
memang engkau ingin melarikan diri dari tempat ini…! tetapi
saat itu aku masih ragu2, dan hanya memandanginya saja.
Dan orang itu, yang mengaku sebagai Sin Tiauw Taihiap Yo Ko
telah tertawa dingin. Dia telah berdiam diri saja. Aku jadi
serba salah, dan akupun telah duduk disudut. dinding lainnya
untuk mengasoh…”.
Wie Kiam Kauwcu telah mendengarkan dengah penuh
perhatian.
„Bagaimana wajahnya ?” tanyanya kemudian.
„Muda dan tampan sekali, seperti juga seorang pemuda
dua puluh lima tahun …… !” menjelaskan Phang Kui In.
Mendengar itu tentu saja Wie Kiam Kauwcu jadi terkejut
lagi. kerena memang Sin Tiauw Taihiap walaupun telah
berusia hampir empat puluh tahunan lebih, tetapi masih
memiliki paras muka yang tampan dan seperti seorang
pemuda yang berusia dua puluhan tahun, karena dia memiliki
lwekang yang sangat sempurna sekali, sehingga membuat Sin
Tiauw Taihiap Yo Ko jadi awet muda.
Saat itu tampak Phang Kui In telah melanjutkan
ceritanya.„Aku telah berdiam diri cukup lama, sampai akhirnya
aku tidak bisa menahan kesabaranku lagi. „Menurut cerita
orang, Taihiap Yo Ko selalu berada berdua dengan isterinya,
yaitu Liehiap Siauw Liong Lie, tetapi engkau hanya seorang
diri, bagaimana aku bisa mempercayainya bahwa engkau
adalah Sin Tiauw Taihiap Yo Ko ?” Mendengar itu, Sin Tiauw
Taihiap Yo Ko jadi tertegun, dia telah memandang dengan
sorot mata yang tajam kepadaku, namun sepatah perkataan

juga tidak diucapkannya. Tetapi berselang lama juga, dia telah
bertanya dengan suara yang dalam. „Engkau memiliki
kepandaian yang cukup tinggi, jika tadi kukatakan engkau
memiliki kepandaian yang tidak sempurna, karena engkau
harus menghadapi orang Mongolia itu, yang merupakan jago
dari Kublai Khan! Maka dari itu. jika menghadapi jago2 biasa,
engkau tentu dapat menghadapinya dengan baik sekal. Dan
jika sekarang engkau masih penasaran, dengan kepandaian
yang engkau miliki itu, cobalah engkau serang diriku !” dan
setelah berkata begitu, orang tersebut, yang mengaku sebagai
Sin Tiauw Taihiap, telah ber-siap2 duduk tegak menantikan
serangan dariku”.
„Aku ragu2, tetapi kemudian disebabkan aku memang ingin
membuktikan bahwa orang ini benar atau bukan merupakan
jago nomor wahid masa kini, yaitu Sin Tiauw Taihiap Yo Ko,
aku telah bangkit berdiri, aku menghampirinya dan
mengulurkan tanganku, dan disaat itulah aku telah
menggempurnya dengan mempergunakan telapak tangan
kananku, sambil membentak. „Jagalah serangan…!” dan cepat
bukan main, telapak tanganku itu telah meluncur dengan
cepat sekali, untuk menghantam keras sekali kearah dadanya”
„Tetapi Sin Tiauw Taihiap itu tenang2 saja duduk ditempatnya,
dia hanya mengawasi datang nya telapak tangan dari
seranganku itu, dia telah menatap dengan tatapan mata yang
tajam sekali. Dan disaat itulah terlihat ketika telapak tangan
ku yang tengah menyambar hanya terpisah beberapa dim,
dengan gerakan yang sangat cepat, dia telah menggerakkan
telapak tangan kanannya, dia telah mengibas dengan kuat
sekali, maka seketika itu juga meluncur angin kibasan yang
sangat kuat sekali, dan se-konyong2 tubuhku jadi terlempar
melayang ketengah udara, dan itupun sangat membingungkan
sekali bagiku, karena aku tidak melihat dia menggerakkan
tangan kirinya, dan juga aku tidak melihat dia mengibas
dengan jubah tangan kanannya yang kosong. Tetapi mengapa
tubuhku bisa terpental begitu ?”,

„Cepat2 aku telah memusatkan tenagaku, dan telah
berusaha mengendalikan tubuhku, tetapi di-saat2 seperti
itulah, dengan cepat sekali tubuhku telah melayang meluncur
terbanting dilantai. Keras sekali bantingan itu, sehingga aku
merasakan kepalaku pusing, mata nanar dan gelap. Aku jadi
mengeluh dan merangkak bangun.” Ketika itu, Yo Taihiap
telah berkata dengan suara yang dingin “ayo seranglah diriku
lagi !” perkataan itu merupakan ejekan, maka secepat kilat
aku telah menggerakan kakiku, wuttttt !” cepat bukan main
kaki kananku itu telah melayang menyambar kearah dadanya
dan dengan segera aku mengincar jalan darah Ma Tung
Hiatnya, yang akan kutendang agar segera terbinasa. Dalam
keadaan demikian, tampaknya Yo Taihiap yang tengah duduk
bersemedi seperi itu sulit sekali mengelakan diri dari
tendangan yang aku lakukan. Dan aku yakin tendangan
tersebut akan mengenai sasarannya. Tetapi diwaktu kakiku.
mengenai dadanya. Dan menendang dengan tepat sekali jalan
darah Ma Tung Hiatnya, disaat itu juga aku merasakan seperti
menendang lapisan baja dan aku merasakan kakiku seperti
terkilir, sakit luar biasa, sehingga dalam waktu sekejab mata
saja, telah menyebabkan aku meng aduh2 kesakitan sambil
memegangi kakiku, mukaku tentu saja meringis, dan Yo
Taihiap telah mengawasiku dengan sikapnya yang acuh tak
acuh, dia juga telah berkata dengan suara yang dingin. „Ayo
serang lah lagi…!” Dan aku merasakan bahwa perkataan nya
itu merupakan ejekan belaka, dengan memaksa diri aku telah
merangkak bangun untuk berdiri, tetapi tidak segera
melancarkan serangan, karena aku jadi berpikir keras, dengan
cara apa aku harus melancarkan serangan kepadanya…”.
Wie Kiam Kauwcu yang mendengarkan cerita Phang Kui In
jadi mengawasi dengan tertarik sekali, dia mendengarkan
dengan ber-sungguh2.
Sedangkan anggota dari Pek Liong Kauw. yang terpisah
puluhan tombak, telah mengawasi saja kauwcu mereka
tengah ber-cakap2 dengan ‘tamu’ tidak diundang tersebut,

mereka tidak mendengar apa yang diucapkan oleh sang ‘tamu’
itu, yang mulutnya telah berkemak-kemik tidak hentinya,
sedangkan Wie Kiam Kauwcu tampaknya telah berdiri diam
mengawasi saja dengan mata yang terpentang lebar2.
Disaat itu Yo Him dan Siangkoan Peng juga telah tiba
didekat rombongan anggota Pek Liong Kauw, tetapi mereka
berdiri diam tidak berani mengucapkan sepatah perkataanpun
juga tampaknya kedua anak ini diliputi tanda tanya yang
membinggungkan karena mereka telah menyaksikan
rombongan anggota dari Pek Liong Kauw telah berdiri diam
saja dengan jarak terpisah yang cukup jauh dengan Kauwcu
mereka, yang tengah mendengarkan cerita dari Phang Kui
In….
Tentu saja hal ini telah membuat Yo Him men-duga2,
bahwa dalam persoalan ini tentunya terdapat suatu pestiwa
yang sangat iuar biasa… maka Yo Him dan Siangkoan Peng
telah berdiam diri saja, untuk menyaksikan peristiwa
berikutnya.
“Sebetulnya siapakah dia adik Him ?” tanya Siangkoan Peng
sambil mengawasi bimbang kepada Phang Kui In yang tengah
ber kata2 terus kepada Kauwcu dari Pek Liong Kauw itu,
karena mulutnya tampak ber gerak2 terus, walaupun mereka
yang jaraknya terpisah begitu jauh tidak mendengarnya.
„Aku sendiri mana tahu ! hanya saja, dia sangat nakal dan
kasar, dia telah menjatuhkan diriku dengan mudah
membanting sehingga aku menderita kesakitan .. ….. , Tetapi
mengapa Wie Kiam Locianpwe menerimanya untuk bertemu
begitu rupa ? Mengapa tampaknya Wie Kiam Locianpwe
tengah mendengarkan tertegun keterangannya ? Apakah
memang dalam persoalan ini terdapat suatu peristiwa yang
hebat ? Dan…apakah kedatangan orang itu membawa
bencana…?”.
Tetapi Yo Him dan Siangkoan Peng mana bisa mengetahui
urusan apa yang akan terjadi ? Sedangkan anggota2 Pek

Liong Kauw dari golongan tua yang berada ditempat itu saja
juga masih tidak mengetahui, sesungguhnya urusan apakah
yang tengah dibicarakan oleh kauwcu mereka terhadap ‘tamu’
yang mengaku bernama Phang Kui In itu, yang katanya
membawa berita hebat, yang hanya bisa disampaikan kepada
Wie Kiam Kauwcu secara empat mata…?
Saat itu Phang Kui In telah melanjutkan pula ceritanya,
katanya. „Aku memang tengah ragu2 untuk melancarkan
serangan lagi kepadanya, karena aku kuatir, jika aku
melancarkan serangan lagi kepadanya, diriku sendiri yang
akan celaka dipersakiti olehnya…! Jika dilihat dalam dua
gebrakan itu saja, memang telah terbukti bahwa kepandaian
orang itu, yang mengaku sebagai Sin Tiauw Taihiap,
merupakan kepandaian yang sangat hebat sekali…dengan
sendirinya, hal ini telah membuat aku jadi berpikir dua kali
untuk melaksanakan serangan2 berikutnya!”,
„Lalu apakah orang itupun, Sin Tiauw Taihiap Yo Ko,
berdiam diri saja ?” tanya Wie Kiam Kauwcu penuh perhatian.
„Ya, selama itu dia hanya berdiam diri saja, karena
memang dia sama sekali tidak pernah menggerakkan
tangannya, untuk menyambuti serangan2ku sebanyak dua kali
itu. Tetapi anehnya, yang sangat mengherankan sekali, justru
di-saat2 seperti itu. aku telah terpental setiap kali melancarkan
serangan kepadanya. Mungkin juga Sin Tiauw Taihiap telah
mempergunakan tenaga dalamnya yang kuat sekali untuk
melancarkan gempuran2 yang sangat kuat sekali, yang
membuat setiap tenaga seranganku itu terpukul mental
membalik dan menghantam diriku sendiri !”
Wie Kiam Kauwcu telah mengangguk beberapa kali,
kemudian katanya ; „Ya, memang Sin Tiauw Taihiap Yo Ko
memiliki kepandaian yang sempurna sekali, dan latihan
lwekangnya sudah mencapai puncak kesempurnaan, sulit
sekali untuk dilawan……..tidak ada orang kedua seperti Sin
Tiauw Taihiap dalam saat sekarang ini…..!

Phang Kui ln telah mengangguk, dia telah berkata dengan
suara yang sangat dalam, mengandung kekaguman. „Benar!
Aku sendiri mulai mempercayai bahwa dia sesungguhnya Sin
Tiauw Taihiap Yo Ko……….karena jika dibandingkan dengan
kehebatan dari kepandaian yang diperlihatkannya itu,
kepandaianku tidak ada artinya sama sekali, tidak bisa
dibandingkan dengan kepandaiannya yang sangat sempurna
itu……….!!”
Dan setelah berkata begitu, Phang Kui In menghela napas
beberapa kali, dia juga telah menggumam dengan suara yang
perlahan. “Dan akhirnya memang aku mengetahuinya serta
yakin bahwa orang itu benar2 Sin Tiauw Taihiap Yo
Ko………… dan adanya Sin Tiauw Taihiap Yo Ko diruang
kamar tahanan tersebut, bukan disebabkan dia ditawan,
hanya karena Sin Tiauw Taihiap Yo Ko sendiri yang tidak mau
pergi meninggalkan tempat itu, dia ingin duduk terus ditempat
itu, sehingga membuat pihak lawannya, orang2 Mongolia jadi
kewalahan. Beberapa kali jago2 Mongolia yang berkepandaian
tinggi berusaha mengusirnya, tetapi Yo Taihiap selalu berkeras
tidak mau pergi bahkan telah terjadi beberapa kali
pertempuran yang hebat sekali dan selalu dimenangkan oleh
Sin Tiauw Taihiap Yo Ko. Maka dengan sendirinya orang2 dari
Kublai Khan itu sama sekali tidak dapat mengusirnya…!”
„Tetapi bagaimana kesudahannya dari seranganmu yang
kedua kalinya, yang telah gagal itu?” tanya Wie Kiam Kauwcu
dengan suara mengandung perasaan ingin tahu.
„Ya, disaat itu aku masih berdiri ragu2, tetapi kemudian aku
telah berkata, „Baiklah, jika memang engkau menghendaki
aku melancarkan serangan2 lagi, akupun tidak bisa
menolaknya !” Dan setelah berkata begitu, dengan cepat
sekali aku telah mengeluarkan suara bentakan yang sangat
keras, dan aku telah mengumpulkan seluruh kekuatan tenaga
dalamku dikedua telapak tangan ku itu, lalu dengan gencar,
silih berganti aku melancarkan serangan ketubuh Sin Tiauw

Taihiap Yo Ko. Angin seranganku itu berkesiuran dengan
dahsyat sekali menggempur dada Sin Tiauw Taihiap”.
Namun disaat itu. Yo Taihiap hanya mengeluarkan suara
dengusan yang perlahan saja, dia telah menganggukkan
kepalanya beberapa kali, dan masih sempat kudengar suara
menggumamnya yang sangat perlahan. Kepandaian yang baik,
merupakan aliran pulih dan tidak tesesat Bagus ! Bagus !”.
„Dan Sin Tiauw Taihiap Yo Ko sama sekali tidak
menggerakkan kedua tangannya, dia tidak melancarkan
tangkisan atas serangan yang di lakukan olehku, tetap duduk
bersemedhi dengan kedua tangannya yang diturunkan itu,
yaitu tangan kirinya yang masih utuh, dan tangan kanan nya
yang telah kosong tidak berisi itu, sehingga jubah itu terjuntai
lemas…”.
„Tetapi yang luar biasa sekali justru tenaga seranganku
yang hebat itu seperti tidak di pandang sebelah mata, bahkan
belum lagi angin serangan itu berhasil mengenai sasarannya,
ternyata tenaga dalamku itu telah membalik menghantam
diriku dengan kekuatan diluar dugaanku, lebih hebat dari
tenaga seranganku yang semula. Aku sampai mengeluarkan
suara teriakan kaget, dan telah cepat2 melompat mundur,
kemudian mengerakkan tangan kananku untuk menangkis
lagi. Tetapi gerakanku telah terlambat, karena dalam saat2
seperti itu tampak tubuhku telah terlontarkan dan dengan
cepat sekali terbanting keras diatas lantai sehingga untuk
sejenak lamanya aku tidak bisa segera bangkit berdiri…,
pandangan mataku jadi gelap ber-kunang2, kepalaku pusing
bukan main “
Dalam keadaan demikian tampak Sin Tiauw Taihiap telah
mengeluarkan suara tertawa yang bening dan bersih sekali.
„Kulihat, engkau bukan termasuk manusia jahat ! Engkau
merupakan golongan yang lurus dan bersih. Tetapi
dalam persoalan ini, engkau masih kurang berpengalaman
dalam bertempur, karena engkau masih sering dikuasai oleh

emosi, sehingga tenaga murnimu itu sering terpecah menjadi
tiga bagian, yaitu mengikutinya tekanan darah tinggi, sering
mengikuti nafsu, sering kurang perhitungan. Ketiga faktor
itulah yang telah membuat kau selalu terbanting oleh
seranganmu sendiri ! Coba jika engkau melakukan
penyerangan dengan lebih tenang, melenyapkan nafsu untuk
merubuhkan aku, memusatkan pemikiran hanya untuk
melakukan penyerangan saja, dan juga melenyapkan tekanan
darah tinggimu yang bisa mendatangkan kemarahan dan
kemurkaan, maka engkau bisa melakukan penyerangan2
secara hebat dan bisa lebih baik melindungi dirimu dari
gempuran2 membalik dari tenaga seranganmu !” Mendengar
perkataan Sin Tiauw Taihiap Yo Ko, seketika aku tersadar,
pikiranku jadi jernih, dan itulah petuah yang sangat berharga,
sama berharganya dengan latihanku selama sepuluh tahun
dalam ilmu silat! Tanpa petuahnya itu, walaupun aku melatih
diri sepuluh tahun lagi, tidak nantinya aku menerima
kemajuan yang hebat dan belum tentu aku bisa memecahkan
teka-teki mengapa aku selalu terpental setiap kali
melancarkan serangan kepada nya. Dan karena itu, aku
sangat bersyukur dan berterima kasih, yakinlah aku disaat itu,
bahwa orang ini memang Sin Tiauw Taihiap Yo Ko, cepat2 aku
telah merangkak bangun, aku telah menghampirinya dan telah
menekuk kedua lututku, bersujud dihadapannya. „Maafkanlah
aku, yang telah berlaku lancang melancarkan serangan2
kepada Locianpwee…” kataku kemudian. Tetapi Sin Tiauw
Taihiap telah berkata dengan suara yang bening sekali sabat
nadanya, sikapnya berbeda sekali dengan sikapnya beberapa
saat yang lalu, dia telah mengatakan Bangun ! bangun !
berdirilah jangan melakukan begitu ! aku tidak mau menerima
penghormatan yang berlebihan ! Semuanya harus wajar !
Sesuatu yang berlebihan tentu akan membawa kerusakan dan
malapetaka ! Tahukah engkau sikap menghormat yang
terlampau berlebihan, akan membawa celaka ?” Ditanya
begitu, aku hanya menggeleng saja, karena aku memang
tidak mengetahuinya, jika sikap pemberian hormat yang

berlebihan bisa men celakai orang yang dihormati itu, karena
disamping akan berkepala besar dan sombong, juga akan
melalaikan kemajuan dirinya sendiri. Maka dari itu aku telah
berdiam diri saja, karena aku menduga bahwa Yo Taihiap
tentunya memiliki petuah lainnya. melihat aku menggeleng Yo
Taihiap telah tertawa kecil, dia telah berkata dengar suara
yang sabar sekali, katanya. „Ya memang dalam persoalan ini
engkau tentunya belum mengetahui secara menyeluruh,
bahwa sikap menghormat yang diberikan secara berlebihan
bisa membawa celaka, yaitu kepada orang yang
bersangkutan, baik kepada yaag menghormati, maupun bagi
yang dihormati. Bagi orang yang menaruh hormat terhadap
seseorang, hormat itu memang baik. Terlebih lagi untuk
golongan yang lebih tua dan tinggi tingkatannya. Tetapi jika
saja pemberian hormat itu berlebihan, tentu saja akan
menyiksa bathin orang itu sendiri, maka selanjutnya, baik dia
melakukan pekerjaan benar atau salah, dia tidak akan berani
membantah. Dan hal itu berarti juga telah lenyapnya
keyakinan diri sendiri, telah lenyap ke percayaan diri sendiri…!
Bukankah hal itu membawa celaka ? Dengan lenyapnya
kepercayaan diri sendiri, berarti orang itu menghadapi
malapetaka yang sangat besar, karena dia tidak akan
menerima kemajuan yang diharapkan, dan seumur hidupnya
dia tidak akan memperoleh kemajuan apa2…! Sedangkan bagi
orang yang dihormati secara berlebihan, tentu akan
mengalami celaka juga ! Per-tama2, sebagai seorang manusia,
tentu saja semua orang gemar dihormati, Coba saja, jika ada
seorang pemuda yang berlaku kurang ajar terhadap orang
yang tingkatannya lebih tinggi, tentu orang dari golongan tua
itu akan marah, karena menganggap anak muda itu kurang
ajar ! Sedangkan juga saat itu memang merupakan batas
tingkat dari golongan, maka cukup jika dihormati secara wajar
saja…! Kalau sampai pemberian hormat dilakukan dengan ber
lebihan, tentu saja akan membuat orang itu jadi kebelinger
dan membuat dia jadi berkepala besar, sombong, angkuh,
lupa diri dan sering melakukan perbuatan2 diluar dari

kebiasaannya, dan memiliki keinginan (ambisi) yang
berlebihan, yang bisa mencelakai dia ! Bukankah sesuatu yang
berlebihan akan mendatangkan celaka ? Bukankah kita makan
sesuatu terlalu banyak akan membuat kitapun akan
muntah….? Itulah sebab nya, engkau jangan menghormati
diriku terlalu berlebihan, disamping bisa mencelakai dirimu,
juga bisa mencelakai diriku ! Itulah yaag tidak kuhendaki….!”
Setelah berkata begitu, Taihiap Yo Ko telah menatapku
dengan tajam, saat itu aku telah duduk diam dihadapannya,
duduk dengan sikap bersemadhi”.
„Sudah kukatakan tadi bahwa mata Sin Tiauw Taihiap Yo
Ko memiliki sinar yang sangat tajam sekali, membuat aku
tidak berani membalas menatapnya dan hanya menundukkan
kepala saja. Di saat itu Sin Tiauw Taihiap telah berkata lagi.
„Engkau ditawan karena kepandaianmu tidak mencukupi
untuk melawan lawanmu itu, tetapi dalam keadaan demikian,
aku bisa membantumu untuk meloloskan diri…! Maukah
engkau ?” Aku masih duduk diam, ragu2, tetapi kemudian
aku mengangguk. „Jika memang Taihiap bersedia untuk
menolongku, aku sangat berterima kasih sekali !” dan tampak
Sin Tiauw Taihiap telah meng angguk dan disaat itu dia telah
menggerakkan tangan kirinya, dia telah memukul dinding batu
itu. “Brukkk !” batu tersebut telah pecah berlobang besar.
„Nah, keluarlah…!” katanya kemudian dengan suara yang
sabar. Aku tentu saja girang, aku telah mengucapkan terima
kasih, dan telah membungkukkan tubuh berulang kali
bersujud kepadanya. „Entah dengan cara apa aku bisa
menyatakan terima kasihku ini, dan entah dengan bagaimana
aku bisa membalas budi kebaikan Locianpwe…!”, tetapi Sin
Tiauw Taihiap telah tertawa, dia telah berkata. „Cukup jika
engkau sampaikan salamku kepada Wie Kiam Kauwcu dari Pek
Liong Kauw dipulau Ang Hwa To,
katakan kepadanya, bahwa aku meminta maaf karena tidak
bisa menepati janjiku untuk berkunjung kepadanya. dan juga
dalam persoalan ini akupun sangat menyesal sekali tidak bisa

menyampaikan suatu urusan yang sangat penting!!.
Mendengar itu, aku segera menyatakan, bersedia mewakilinya
untuk pergi menemui Wie Kiam Kauwcu dari Pek Liong Kauw
untuk menyampaikan pesannya mengenai urusan yang
dianggapnya luar biasa itu. Dan Sin Tiauw Taihiap setelah
ragu2 sejenak, kemudian menceritakan urusannya itu …….. !”
Dan bercerita sampai disitu, tampak Phang Kui In telah
berhenti sejenak, dia telah berkata dengan suara yang lebih
perlahan. „Ternyata urusan yang disampaikan oleh Sin Tiauw
Taihiap merupakan urusan yang sangat besar dan luar biasa
sekali…….. !”
Wie Kiam Kauwcu jadi tergoncang hatinya, sekarang
sebagian besar dia mulai mempercayai orang she Phang ini.
„Urusan apakah itu ?” tanya Wie Kiam Kauwcu kemudian.
Phang Kui telah menghela napas, dan telah berkata lagi.
„Sesungguhnya, persoalan ini menyangkut keselamatan
negeri kita, yaitu daratan Tionggoan Karena telah
direncanakan oleh Kublai Khan, dalam beberapa tahun
mendatang untuk melancarkan penyerbuan kedaratan
Tionggoan lagi, terlebih lagi kini tentara pemerintah Song
telah lemah, dengan sedirinya ini membahayakan sekali.
Menurut Sin Tiauw Taihiap dia telah berhasil melakukan
penyelidikan bahwa kekuatan yang didusun Kublai Khan jauh
lebih kuat dari susunan tentara yang dibentuk oleh Mangu
beberapa tahun yang lalu, disaat Mangu sebelum meninggal
ditangan Sin Tiauw Taihiap ……maka dari itu, Sin Tiauw
Taihiap ingin menyampaikan berita penting itu kepada para
pendekar gagah seperti Taihiap Kwee Ceng dan lain2nya agar
ber-siap2, karena banyak jago2 dari Mongolia yang mulai
dikirim secara diam2 dan secara sembunyi2, untuk mengacau
kedaratan Tionggoan, untuk membinasakan semua jago2
persilatan dari daratan Tionggoan yang setia kepada
pemerintah Song. dan menurut Sin Tiauw Taihiap, jika para

pendekar didaratan Tionggoan yang cinta negara bergabung,
tentu maksud dari Kublai Khan itu dapat dibendung..!”.
Wie Kauwcu terkejut bukan main.
Urusan ini bukan merupakan urusan yang bisa dibuat
main2 dan diremehkan.
Karena itu dia telah mengangguk berulang kali, dia telah
berkata dengan suara yang sangat perlahan dan ragu2.
Memang hebat sekali urusan ini. oleh karena itu kita harus ber
siap2!” dan sambil menggumam begitu, tampak Wie
Kauwcu telah mengangkat kepalanya, dia telah menatap
tajam sekali kepada Phang Kui In „Lalu ada pesan apa lagi
yang disampaikan oleh Yo Taihiap ?”
„Yo Taihiap hanya berpesan supaya aku meminta Kepada
Wie Kauwcu agar menyampaikan persoalan itu kepada semua
orang2 gagah didaratan Tionggoan. Menurut Yo Taihiap, Pek
Liong Kauw memiliki puluhan ribu anggota dan kekuatannya
sangat luas, banyak orang2nya didaratan Tionggoan, untuk
menyampaikan berita ini secara merata kepada orang2 gagah
dalam persilatan dataran Tionggoan memang bukan
merupakan urusan yang sulit…!”.
„Baiklah, Aku sekarang mengerti !” mengangguk Wie Kiam
Kauwcu kemudian. „Hanya saja, masih ada satu yang
membuat aku jadi heran…!”.
„Apakah itu kauwcu ?” tanya Phang Kui In sambil menatap
kauwcu itu.
„Mengapa Sin Tiauw Taihiap duduk berdiam diri saja
didalam ruang kamar tahanan itu, bukankah jika dia ingin
melarikan diri meninggalkan tempat itu, dengan mudah dia
dapat melakukannya, seperti halnya dia membantumu untuk
melarikan diri ?” tanya Wie Kiam Kauwcu kemudian.
Phang Kui In mengangguk cepat.

„Memang semula aku juga heran oleh sikap nya itu, tetapi
setelah Sin Tiauw Taihiap menjelaskannya, aku baru mengerti
! Sesungguhnya Sin Tiauw Taihiap tengah mencari seseorang,
yaitu Tiat To Hoat Ong, jago utama dari Mongolia, karena
hasil penyelidikannya membuktikan bahwa Tiat To Hoat-ong
yang telah mencelakai isterinya, yaitu Liehiap Siauw Liong Lie,
yang beberapa tahun yang lalu tengah hamil…! Sampai
sekarang Sin Tiauw Taihiap Yo Ko belum pernah bertemu
dengan isterinya itu, dan juga dia tidak mengetahui apakah
isterinya meninggal atau telah melahirkan ?. Jika memang
isterinya terbinasa ditangan Tiat To Hoat-ong, berarti isterinya
telah meninggal, bersama janin bayinya. Tetapi kalau isterinya
berhasil meloloskan diri dari kematian, berarti kini dia telah
melahirkan. dan Yo Taihiap masih ragu2 akan hal itu, Karena
dia masih berpikir keras, apakah dia akan bertemu dengan
anak isterinya itu ?”
Wie Kiam Kauwcu telah bertanya lagi. Lalu dengan duduk
berdiam diruang kamar tahanan itu, apa maksud dari Sin
Tiauw Taihiap ?”
“Menurut Yo Taihiap, dia ingin memaksa Tiat To Hoat-ong
keluar memperlihatkan diri, karena Yo Taihiap mengetahuinya
bahwa Tiat To Hoat ong berada ber-sama2 dengan orang2
Mongolia itu tetapi sebegitu jauh, Tiat To Hoat-ong belum
mau memperlihatkan diri ……..”
“Tetapi yang mengherankan, mengapa justru Sin Tiauw
Taihiap mau menyiksa diri seperti itu ? Bukankah dia bisa saja
memaksa dengan kekerasan agar jago utama dari Mongolia
itu keluar memperlihatkan dirinya ?”.
„Sudah dilakukan oleh Sin Tiauw Taihiap. Bahkan menurut
keterangan Sin Tiauw Taihiap, dia telah membunuh lebih dari
lima puluh jago2 Mongolia itu. tetapi sayangnya, Tiat To Hoatong
merupakan manusia pengecut, dia tetap
menyembunyikan diri terus…!”.

„Kalau memang Sin Tiauw Taihiap melakukan sikap duduk
diam tidak mau meninggalkan tempat itu, bukankah pihak
Mongolia itu sendiri bisa meninggalkan tempat itu,
meninggalkan Sin Tiauw Taihiap seorang diri ?”.
„Tidak bisa! Karena telah tercantum dalam rencana
rombongan dari jago2 Mongolia itu, bahwa kedatangan
mereka di tempat tersebut, yaitu didekat kaki gunung Kun Lun
San, merupakan tempat yang akan disinggahi oleh Kublai
Khan. Karena dalam tahun ini Kublai Khan akan datang
menyelusup masuk kedaratan Tionggoan, untuk meninjau dan
mengawasi situasi yang ada, dengan melihat situasi yang ada
dan juga dengan melihat keadaan tempat2 yang bisa
dipergunakan sebagai markas utamanya, kelak dia lebih
mudah mengatur penyerangan2 dari pasukannya yang akan
dipimpin menyerbu masuk….!”,
„Akhhh !” Wie Kiam Kauwcu telah meugeluarkan seruan
tertahan. „Inilah urusan yang cukup besar dan tidak bisa
diremehkan..!”.
„Benar ! Begitupun menurut pendapat. Sin Tiauw Taihiap,
urusan ini memang perlu sekali diselesaikan secepat mungkin,
untuk disampaikan kepada para pendekar didaratan
Tionggoan… Tetapi disebabkan Sin Tiauw Taihiap sendiri
tengah terlibat dalam persoalan mengejar musuh besarnya,
yaitu Tiat To Hoat-ong, sehingga dia memperoleh kesulitan
dan dia belum dapat untuk mengerahkan perhatiannya untuk
persoalan tersebut. Sin Tiauw Taihiap juga mengemukakan,
memang urusan pribadi bisa dikesampingkan, demi urusan
negara dan tanah air untuk keselamatan negara Song. Tetapi
karena mengingat Tiat To Hoat ong yang mengetahui
ditempat mana dia mencelakai Siauw Liong Lie, maka Sin
Tiauw Taihiap. ingin memaksanya agar dia memberitahukan
tempat itu, agar kelak Sin Tiauw Taihiap bisa mencari jejak
isterinya itu. Syukur kalau memang Siauw Liong Lie tidak
tercelaka ditangannya Tiat To Hoat-ong, sehingga dengan

mudah Sin Tiauw Taihiap akan mencari jejaknya, walaupun
telah berselang banyak tahun ….. dan itu justru yang
diharapkan oleh Sin Tiauw Taihiap, dia menghendaki agar
Siauw Liong Lie selamat melahirkan anak pertama
mereka………. yang tentunya telah
berusia diantara sembilan tahun ……… !”
Mendengar perkataan Phang Kui In sampai di situ, Wie Kian
Kauwcu telah berkata. „Ya memang dalam persoalan ini Sin
Tiauw Taihiap tidak perlu berkuatir, karena kami telah berhasil
menemukan puteranya, yang kini berada ber-sama2 kami !
Sedangkan mengenai Liehiap Siauw Lie, masih belum
diketahui jejaknya. Tetapi yang pasti, Liehiap Siauw Liong Lie
tentunya belum terbinasa, karena jika telah terbunuh oleh Tiat
To Hoat-ong, tentu mayatnya akan di jumpai oleh Yo Him,
putera mereka itu.
Muka Phang Kui In jadi girang bukan main, dia sampai
mengeluarkan suara seruan girang.
„Jika saja persoalan ini didengar oleh Sin Tiauw Taihiap,
tentunya pendekar besar itu sangat girang sekali!” serunya
dengan suara yang nyaring, karena kegembiraan yang meluap
luap.
Wie Kiam Kauwcu telah mengangguk, dan kemudian dia
menoleh kepada rombongan anggota Pek Liong Kauw, dia
telah melihat Yo.Him dan Siangkoan Peng berada diantara
rombongan orang2 Pek Liong Kauw itu.
„Kau tunggu sebentar !” kata Wie Kiam Kauwcu kemudian
sambil membalikkan tubuhnya dia telah melangkah cepat
menghampiri Yo Him.
Dituntunnya tangan anak itu, sambil katanya ramah. „Mari
nak, aku ingin memperkenakkan kau kepada seseorang…!”

Yo Him tengah ter-heran2, tetapi disaat itu dia hanya
mengikuti saja dia membiarkan tangannya dicekal oleh Wie
Kiam Kauwcu.
Saat itu Wie Kiam Kauwcu telah sampai di hadapan Phang
Kui In.
„Saudara Phang, inilah puteranya Sin Tiauw Taihiap Yo Ko
!” memperkenalkan Wie Kiam Kauwcu. „Dan Him-jie, inilah
paman Phang Kui In, utusan ayahmu.!”.
Muka Phang Kui In jadi berobah seketika dan dia
tampaknya jadi menyesal sekali.
„Oh, engko kecil, ternyata engkau putera dari tuan
penolongku ! Maafkanlah tindakanku yang kasar tadi…aku
tidak bermaksud buruk !”, kata Phang Kui In cepat sekali,
bahkan dia juga telah merangkapkan kedua tangannya, tanpa
segan2 dia telah memberi hormat dengan membungkukkan
tubuh kepada Yo Him.
Yo Him semula juga terkejut mendengar Phang Kui In
adalah utusan ayahnya, dia jadi tertegun. Dan anak ini jadi
tambah kaget waktu melihat Phang Kui In merangkapkan
kedua tandannya sambil menjura memberi hormat kepadanya.
Tentu saja dia jadi likat dan malu sendirinya. Cepat2 Yo Him
telah membalas pemberian hormat itu.
„Akupun meminta agar paman Phang memaafkan aku,
karena tadi aku telah lancang melancarkan serangan kepada
paman Phang, dan telah memiliki dugaan yang tidak2…!”.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s