Sin Tiauw Thian Lam (Jilid : 12)

JILID 12

Cepat luar biasa pengemis yang nekad itu telah melompat,
dia mempergunakan kesempatan disaat si pendeta tengah
terhuyung itu untuk menghajar kepalanya.
Tentu saja Yo Him jadi kaget sekali, dia melihat In Lap
Siansu seperti sudah tidak bisa berdiri tetap dan dengan
sendirinya sulit bagi dia untuk dapat menangkis serangan
sipengemis.
Sipengemis girang melihat serangan yang dilancarkannya
kali ini akan berhasil mengenai sasarannya, dan dia telah
berseru keras sekali sambil mengempos semangatnya
menambah tenaga serangan.
Mati2an In Lap Siansu mengangkat tangannya menangkis.
Suara benturan keras terdengar, tetapi tubuh In Lap Siansu
terhuyung kemudian terguling diatas tanah.
Sedangkan sipengemis hanya terhuyung sedikit, dia sudah
bersiap untuk melancarkan serangan lagi.
„Tahan !” tiba2 Yo Him yang melihat keadaan sihweshio
sudah tidak bisa menahan diri.
Sipengemis jadi merandek, dia menoleh dengan penasaran.
Waktu melihat yang menahannya adalah seorang anak kecil
yang tadi bersama sihweshio, dia jadi tambah gusar.
„Setan cilik” bentaknya. „Engkau juga ingin turut campur ?”
sambil membentak begitu dia telah melangkah menghampiri
Yo Him.
„Apakah kau tidak malu menganiaya orang yang sudah
tidak berdaya seperti Taisu itu ?” bentak Yo Him mendongkol
sekali.
Pengemis tua itu tertawa dingin.
Tanpa mengucapkan sepatah katapun juga, dia telah
melangkah mendekati Yo Him, diayunkan tangannya, dan
„plaakk !” muka Yo Him telah. ditempilingnya dengan keras,

sehingga anak itu berputar seperti gangsing, pipinya bengkak
dan dia rubuh bergulingan ditanah.
Bukan main gusarnya Yo Him, tetapi diapun jadi takut
melihat pengemis tua itu demikian ganas.
Namun memikirkan keselamatan In Lap Siansu yang baik
hati itu, Yo Him jadi melupakan sakitnya dan telah cepat2
merangkak berdiri.
„Walaupun kau membunuh mati diriku, tetap aku tidak
ijinkan kau membunuh Taisu itu!” teriak Yo Him.
Sipengemis tertegun, tetapi kemudian dia tertawa.
„Hebat ! Hebat !” katanya. „Jadi kau ingin mati juga
membela pendeta busuk itu ? Hemm, bagus ! Aku akan
menuruti keinginanmu, sebelum menghajar mampus pendeta
itu, lebih dulu aku akan mengirimkan kau ke Giam-lo-ong !”.
Dan setelah berkata begitu kembali tangan dan kakinya
bergerak, maka terdengar suara gedebak-gedebuk dimana
tubuh Yo Him dihajar pulang pergi sehingga tubuh sianak she
Yo ini seperti sebuah bola yang meng-gelinding2 diatas tanah.
Semula Yo Him tidak mengeluarkan jeritan, dia berusaha
menahan perasaan sakit itu.
Tetapi waktu melihat darah yang mulai mengucur dan
membasahi salju, tentu saja sianak she Yo ini mulai
ketakutan. Namun Yo Him menggeretekkan giginya, dia telah
berusaha menahan serangan sipengemis tua itu.” Waktu
kepalan tangan sipengemis menghantam lagi, maka disaat
itulah Yo Him tidak bisa menahan perasaan sakitnya, dia
merasakan mata nya jadi brr-kunang2 gelap dan matanya
juga gelap disamping itupun kepalanya pusing, tanpa ampun
lagi tubuhnya bergulingan ditanah dengan disertai jeritannya
yang menyayatkan hati.
Tubuh In Lap Siansu jadi gemetaran keras menahan
kemarahan yang sangat.

Dia telah melompat berdiri sambil berseru; „Binatang,
mengapa kau menyiksa anak kecil ? Sungguh tidak tahu malu
!”.
Sipengemis tua itu telah tertawa ber-gelak2 dengan suara
yang keras sekali, dia telah berkata kemudian ;
„Hem…engkaupun telah menghina murid Kaypang yang masih
kecil-kecil….bakankah sama saja ?”.
Muka In Lap Siansu jadi berobah merah padam.
„Baik, mari kita adu jiwa ! Anak itu tidak salah apa-apa,
urusan ini tidak ada sangkut paut dengannya, kau tidak bisa
mengganggunya, karena semua perbuatanku adalah tanggung
jawabku !”.’
„Kaypang bukan perkumpulan yang mudah diperhina !
Kami tidak pernah menghina orang lain, tetapi kamipun tidak
mau dihina…!”.
Dan setelah berkata begitu dengan cepat dan angkuh sekali
dia menghampiri sihweshio, dengan diiringi oleh suara
bentakannya yang sangat keras, dia telah melancarkan
serangan dengan ganasnya.
Tenaga serangan yang dilancarkannya hebat sekali,
sehingga angin serangan itu men-deru2.
Sesungguhnya In Lap Siansu merasakan tubuhnya semakin
lemah saja, disamping itu juga dia merasakan luka didalam
tubuhnya cukup parah.
Maka dari itu dengan cepat sekali dia telah mengempos
semangatnya, mati-matian dia menyambuti serangan
sipengemis tua itu.
Tetapi dia tidak sanggup membendung kekuatan tenaga
menyerang dari pengemis tua itu.
Tubuh sipendeta telah terpental keras sekali, dan ambruk
diatas tanah.

Hebat kesudahan dari pukulan sipengemis karena
sihweshio hanya merintih ditanah tidak bisa segera bangkit
kembali seperti semula.
Walaupun In Lap Siansu beberapa kali telah berusaha
untuk bangkit namun dia gagal, karena matanya gelap dan
berkunang-kunang, tenaganya seperti telah lenyap…
Dalam keadaan seperti inilah dengan cepat sekali
sipengemis tua telah melompat maju, untuk melancarkan
serangan terakhir kepada sihweshio.
Yo Him yang baru saja merangkak bangun dengan kepala
yang masih pusing, jadi kaget melihat serangan sipengemis
terhadap In Lap Siansu.
Dia berseru kaget sambil memutar otak untuk menolongi
jiwa pendeta itu.
„jangan mencelakai Taisu itu !” membentak Yo Him dengan
suara yang keras sekali.
Tetapi sipengemis tidak mengacuhkan,
„Jika kau bisa menolongi pendeta ini, tolongilah !”
mengejek sipengemis sambil tangannya tetap meluncur turun
akan menghantam dada si pendeta itu yang tengah dalam
keadaan rebah.
Tentu saja Yo Him jadi putus asa, karena walaupun hatinya
ingin sekali menolongi pendeta itu, tetapi apa daya dia
memang tidak memiliki
kesanggupan apa apa.
Maka akhirnya dalam putus asanya itu, dia telah berseru
sekenanya ;
“Jika kau membinasakan Taisu itu, jiwamu tidak akan
kuampuni !” dan seruannya itu keras sekali mengandung
kemarahan dan penasaran yang bukan main.

Sipengemis itu menjadi kaget sendirinya, dia merandek dan
menahan tangannya yang tengah meluncur itu.
Setelah merandek sejenak dan tertegun segera dia tersadar
dari herannya dan menjadi gusar sekali.
“ha ha ha” dia tertawa tergelak dengan suara
menyeramkan sekali. Setan kecil seperti dirimu berani
menggertak Souw Cie Kay seperti diriku begitu rupa.
“hmm, aku tidak mau tahu siapa engkau, tetapi jika kau
mencelakai Taisu itu, jiwamu tidak akan lolos dari kematian !”
kata Yo Him yang jadi nekad. Karena sudah tidak ada jalan
lain, dia sengaja bicara besar seperti itu untuk memancing
kemarahan sipengemis untuk mengulur waktu saja, dengan
harapan In Lap Siansu dapat berdiri dan tenaganya pulih
kembali.
Tetapi sipengemis yang tengah marah itu rupanya sudah
tidak bisa menahan diri, dia telah mengeluarkan suara
bentakan bengis, tubuhnya telah melompat dan dengan cepat
sekali dia mengulurkan tangannya mencengkeram bahu Yo
Him mengangkat tubuh anak itu ketengah udara.
Yo Him meringis kesakitan, dia merasakan tulang bahunya
seperti juga akan copot dan terlepas, menimbulkan perasaan
sakit yang luar biasa.
Dengan keras pengemis tua Souw Cie Kay menggoncanggoncangkan
tubuh Yo Him dengan penasaran sekali.
„Manusia kerdil seperti engkau ini ingin membinasakan
diriku, heh ? Ingin membunuh aku ?” bentaknya dengan
bengis dan penasaran sekali.
Yo Him tidak bisa menyahuti, karena dia merasakan tulang
bahunya sakit luar biasa.
Dengan penuh kemarahan Souw Cie Kay telah mengangkat
Yo Him keatas, maksudnya ingin membantingnya, sekali
banting tentu binasalah anak kecil itu.

“Habislah jiwaku !” mengeluh Yo Him di dalam hatinya
dengan penasaran.
Si pendeta In Lap Siansu juga telah melihat peristiwa
tersebut, tetapi dia tengah terluka berat maka tidak dapat
melakukan apa-apa untuk menolongi Yo Him.
Sihweshio hanya mengeluh saja.
Saat itu tangan pengemis tua Souw Cie Kay telah
mengangkat Yo Him tinggi sekali dan baru saja dia ingin
membantingnya, tiba-tiba dari saku Yo Him jatuh semacam
benda.
Benda itu menimbulkan suara nyaring dan berkilauan
kuning.
Waktu melihat benda itu mata Souw Cie Kay jadi
terpentang lebar lebar dia telah mengawasi tertegun kearah
benda itu dengan sepasang tangannya yang mengangkat
tubuh Yo Him itu tetap ditengah udara.
Setelah berselang sejenak, dia menurunkan tubuh Yo Him
sambil disertai bentakannya. „Setan kecil, dimana kau mencuri
Kimpay itu ?”
Suara bentakan itu mengguntur dan bengis sekali,
sedangkan tangan yang satunya itu telah diulurkan untuk
mengambil Kimpay yang terjatuh ditanah.
„Jika kau menyentuh Kimpay itu, jiwamu sulit untuk
dilindungi lagi !” bentak Yo Him dengan suara yang nyaring.
Souw Cie Kay kaget, dia menarik pulang tangannya yang
tadi diulurkannya itu.
Untuk sejenak dia telah berdiri ragu-ragu.
Namun akhirnya dia telah bertanya. „Kau telah mencuri
Kimpay itu, bukan ?”.

„Hemmm, apakah aku memiliki potongan sebagai pencuri
?” bentak Yo Him berani sekali, dan melihat Kimpay itu hatinya
jadi girang bukan main. Tadi dia lupa kepada Kimpay tersebut,
coba kalau tidak, siang-siang urusan In Lap Siansu sudah
dapat diselesaikan.
„Jadi….jadi kau ingin maksudkan bahwa Kim pay itu
milikmu ?” tanya sipengemis dengan suara yang tergagap dan
tidak lancar, tetapi sinar matanya itu yang masih tetap bengis
memperlihatkan bahwa dia tidak mempercayai perkataan Yo
Him. Namun untuk menuduh bahwa Yo Him yang mencuri
Kimpay itu juga merupakan urusan yang tidak mungkin,
karena pemilik Kim pay tersebut seorang tokoh hebat didalam
Kay pang, tidak mungkin Kimpaynya itu dapat dicuri seorang
anak sebesar Yo Him.
„Kimpay itu milik kakak angkatku…aku telah
dihadiahkannya….!” kata Yo Him dengan suara yang lantang
sekali.
„Hemm…” Souw Cie Kay telah mendengus dengan suara
yang dingin. Dia tidak percaya pemilik Kimpay yang sangat
terkenal sebagai tokoh didalam Kaypang mau mengangkat
adik kepada anak sebesar Yo Him. „Siapa nama kakak
angkatmu itu ?”.
Sebetulnya Souw Cie Kay telah mengetahui nama orang
yang menjadi pemilik.Kimpay itu, namun sengaja dia
memancing begitu karena jika memang Yo Him dapat
menyebutkannya, berarti memang benar sianak ini tidak
berdusta, tetapi kalau Yo Him tidak bisa menyebutkan nama
tokoh Kaypang itu, tentu Yo Him telah berbohong.
Yo Him telah tertawa dingin, dia membungkukkan
tubuhnya mengambil Kimpay itu.
Diangkatnya Kimpay itu tinggi2, kemudian bentaknya
dengan suara yang lantang. „Apakah engkau masih tidak mau
berlutut melihat Kim pay ini ?”

Muka pengemis itu jadi pucat, tetapi dia masih ragu-ragu
karena tidak mengetahui siapa anak kecil ini.
Sedangkan orang-orang yang menyaksikan di tepi jalan
akan peristiwa tersebut juga jadi heran. Mereka umumnya
mengetahui siapa Souw Cie Kay, yaitu raja pengemis dikota
ini.
Tetapi kali ini berhadapan dengan seorang anak kecil
sebesar Yo Him, tampaknya raja pengemis yang terkenal
bertangan besi dan juga gagah itu jadi begitu ragu-ragu.
Sedangkan In Lap Siansu juga jadi heran sekali melihat
pengemis itu dan sikap Yo Him, sehingga dia hanya
mengawasi saja.
„Sebutkan dulu siapa nama kakak angkatmu itu.kata Souw
Cie Kay dengan suara ragu2.
„Hemm, tidak kusangka bahwa perkataan Wie Tocu tidak
tepat ! Wie Tocu mengatakan, siapa saja anggota Kaypang
jika melihat Kimpay ini tentu akan menghormatinya ! Hemm,
sungguh benda tidak punya guna !” menggerutu Yo Him dan
dia telah mengangkat Kimpay itu untuk di bantingnya.
Mendengar disebutnya nama „Wie Tocu”, lemaslah kedua
lutut Souw Cie Kay, pucat pula mukanya dan menggigili
tubuhnya, gemetaran keras. Dia telah menjatuhkan diri
berlutut dihadapan Yo Him sambil mengangguk-anggukkan
kepalanya dengan keras, sehingga keningnya itu telah
menghantam tanah dengan keras.
„Tecu (murid) memang sungguh kurang ajar tidak cepatcepat
menyambut kedatangan Kim pay !” berseru Souw Cie
Kay bsrulang kali, dia juga membahasakan dirinya dengan
sebutan murid. „Sungguh dosa yang sangat besar ! Sungguh
dosa yang tidak terampuni lagi….!”.

Dia mengatakan dosa yang sangat besar dan dosa tidak
terampuni lagi, dimaksudkan olehnya ialah dirinya tidak bisa
memperoleh pengampunan lagi.
Bahkan tadi dia tidak mau cepat-cepat menyambut Kimpay,
sehingga Kimpay itu hampir saja dibanting Yo Him. Jika
memang tadi Kimpay itu sampai dibanting Yo Him, walaupun
dia memiliki sepuluh jiwa, tentu dia harus mati sepuluh kali !
Maka kini bukan main ketakutannya, karena jika sampai
perbuatannya itu diceritakan Yo Him kepada Wie Tocu, bukan
saja kedudukannya sebagai ketua cabang dari perkumpulan
Kaypang akan terlepas dari tangannya, dimana dia akan
dipecat, juga dirinya akan disidang dan menerima hukuman
yang berat, jika tidak kematian tentu sedikitnya hukuman
yang bisa membuat dia bercacad.
Dan sambil berlutut begitu, Souw Cie Kay juga telah
menangis ketakutan sekali.
Tentu saja semua orang yang menyaksikan jadi heran
bukan main.
Lebih-lebih In Lap Siansu.
Semuanya jadi memandang bengong saja.
„Hemm, tadi kulihat engkau bersikap begitu garang, dan
menyamakan jiwa manusia seperti jiwa kacoa !” kata Yo Him
kemudian. „Apakah kau anggap bahwa dirimu sudah berkuasa
penuh didalam dunia ini ?”.
Murid memang sugguh picik dan tidak memiliki pendidikan,
mohon kongcu mengampuni !. memang murid sangat
berdosa, dosa yang tidak terampun lagi !” dan sambil berkata
begitu. Tahu-tahu dia telah mengayunkan tangannya
menempilingi mukanya sendiri, sehingga terdengar suara
ketepak ketepok berulang kali.
Song Cie Kay menghantam mukanya sendiri bukan sekedar
memukul tetapi dia menempiling dengan mengerahkan

seluruh tenaganya, maka dari itu tidak mengherankan setiap
kali telapak tangannya itu hinggap dimukanya, maka seketika
itu juga giginya copot, sepuluh kali dia memukul, maka
sepuluh gigi yang telah copot dan jatuh diatas salju.
Dengan mengambil gigi-giginya yang telah copot itu dia
mengacungkan dengan mempergunakan kedua tangannya
kepada Yo Him, sikapnya ketakutan dan menghormat sekali.
„Murid menerima salah dan sangat berdosa, dengan
menghadiahkan gigi ini mungkin Kongcu bersedia
mengampuni jiwaku !” kata sipengemis.
Dengan perkataannya itu dia sesungguhnya ingin meminta
Yo Him agar tidak menceritakan urusan itu kepada Wie Tocu.
Sedangkan Yo Him telah memasukkan Kimpay kedalam
sakunya, dia telah mengibaskan tangannya, katanya juga;
„Kini jika kau bisa memberikan obat yang mujarab dan
menyembuhkan luka In Lap Siansu, maka jiwamu
kuampuni…!”.
„Terima kasih kongcu ! Terima kasih kongcu !” kata
pengemis itu sambil memanggut-manggutkan kepalanya
berulang kali tidak hentinya.”
Kemudian dia menepuk tangannya, dari sudut-sudut jalan
tampak muncul beberapa orang pengemis.
Mereka segera dibisiki oleh Souw Cie Kay, maka seketika itu
juga pengemis-pengemis itu berlarian.
Didalam waktu yang sangat singkat, mereka telah
membawa bungkusan obat dan peralatan untuk menggodok
obat itu.
Souw Cie Kay yang telah memasak sendiri obat itu,
kemudian dia telah memberikan kepada In Lap Siansu dengan
sikap menghormat sekali.

In Lap Siansu yang sejak tadi diliputi perasaan heran dan
bingung telah berdiam diri saja.
Dia menerima obat itu dan meminumnya.
Memang pendeta itu meresakan napasnya agak lapang dan
sesak didadanya mulai lega.
Dia menghela napas,
„Terima kasih…!” katanya kepada Souw Cie Kay. dengan
sikap yang canggung.
“Tidak berani aku yang rendah menerima ucapan terima
kasih dari Taisu, sungguh, aku sirendah ini harus menerima
hukuman dari Taisu ! Dalam dua hari Taisu akan sembuh,
maka disaat itu aku sirendah melaksanakan hukuman potong
tangan atau potong kaki”
Mendengar perkataan Souw Cie Kay, muka in Lap Siansu
jadi berubah.
„Mengapa harus begitu ?” tanyanya heran.
„Aku sirendah tidak memiliki mata melanggar Taisu, telah
melakukan Kesalahan besar, maka dari itu aku hanya
menantikan hukuman Taisu!”
„Jika memang engkau telah menyadari bahwa apa yang
telah kau lakukan itu salah dan bertobat untuk apa engkau
menjalani hukuman pula ?” tanya sipendeta.
„Oh terima kasih Taisu !” kata sipengemis tua Souw Cie Kay
dengan girang. „Taisu telah memberikan kelonggaran
kepadaku sirendah”.
Kemudian dia melambaikan tangannya memanggil seorang
pengemis kecil, dia mengambil golok yang diacungkan
kepadanya.
In Lap Siansu hanya mengawasi, karena dia sama sekali
tidak mengerti apa yang ingin dilakukan oleh pengemis itu.

Tetapi, dengan tidak terduga, sipengemis telah
mengacungkan goloknya, menggerakkan membacok lututnya
sendiri.
Tentu saja In Lap Siansu jadi kaget setengah mati, dia
ingin mengulurkan tangannya untuk menolongi lutut
sipengemis tua itu..
Tetapi karena dia memang dalam keadaan terluka dan.
belum sembuh, gerakannya jadi lambat dan apa yang ingin
dilakukannya itu tidak kesampaian.
Tanpa mengeluarkan jeritan bahkan dengan mulut masih
tersenyum dan berulang kali mengucapkan terima kasih, lutut
kiri dari sipengemis tua itu telah tertabas putus oleh goloknya
sendiri, darah juga segera mengucur.
Tanpa memperlihatkan perasaan sakit, sipengemis telah
melambaikan tangannya, seorang pengemis kecil telah
membawakan kain pembalut.
Luka dilututnya itu telah dibalutnya.
Kemudian dengan cepat dia telah berlutut lagi, menyatakan
terima kasih kepada In Lap Taisu.
Lalu dengan dipayang oleh beberapa orang pengemis, dia
menghadapi Yo Him, katanya. “Kongcu, aku telah berterima
kasih kongcu mau mengampuni jiwaku si Souw rendah ini,
tetapi untuk ini, walaupun kongcu memerintahkan aku harus
terjun dilautan api, tidak nantinya aku menolak, karena budi
kongcu tidak mungkin terbalas dengan jiwaku saja…!”.
Melihat demikian patuhnya orang-orang Kay pang, yang
demikian ketakutan jika melakukan suatu kesalahan, bukan
main perasaan kagum di hati Yo Him.
Dia hanya merasa menyesal mengapa Souw Cie Kay harus
membuntungi kakinya sendiri.

Yo Him sama sekali tidak mengetahuinya, bahwa
sesungguhnya memang sudah menjadi peraturan didalam
Kaypang, setiap anggota yang melakukan suatu perbuatan
salah, tentu harus menerima hukuman yang berat.
Dan jika memang orang itu diampuni, tentu orang tersebut
tidak akan tenang, maka dengan melakukan perbuatan seperti
yang dilakukan Souw Cie Kay, barulah hatinya menjadi
tenang. Itupun dia masih berterima kasih bahwa jiwanya telah
diampuni oleh Yo Him…!
Setelah itu dengan dipayang oleh pengemis-pengemis
lainnya, Souw Cie Kay berlalu meninggalkan tempat itu.
In Lap Siansu menghela napas berulang kali, dia jadi
menyesal bukan main atas terjadinya urusan seperti ini.
Berulang kali dia telah menggeleng-geleng kan kepalanya
sambil mengucapkan kebesaran sang Buddha.
Saat itu Yo Him telah menghampiri In Lap Siansu.
„Bagaimana Taisu, apakah lukamu tidak membahayakan ?”
tanya Yo Him dengan suara yang ramah,
Sihweshio berusaha tersenyum.
„Untung saja ada kau, adik kecil !” katanya dengan suara
yang bersyukur, „kalau tidak tentu aku telah binasa !”.
„Tetapi semua itu terjadi hanya disebab kan oleh suatu
kesalahan pengertian belaka !” kata Yo Him. „Dan celakanya
justru aku tidak ingat sejak siang-siang bahwa aku memiliki
hadiah kimpay dari Wie Tocu.coba kalau memang semula aku
mengeluarkannya, tidak sampai Taisu harus menderita luka
seperti ini….!”.
“Sudahlah !” kata In Lap Siansu. „Tetapi siapakah Wie
Tocu yang kau katakan itu ?”.

Yo Him menggeleng.
„Akupun tidak tahu !” katanya. „Kami hanya bertemu
secara kebetulan dan Wie Tocu mengajak aku untuk angkat
saudara, sehingga untuk selanjutnya aku memanggil Wie Tocu
dengan sebutan Wie Toako, sedangkan dia memanggil aku Yo
Hiante ! Hemm, sebagai kenang-kenangan, di hadiahkannya
kepadaku sebuah kimpay ini…!”.
Kemudian Yo Him menceritakan pengalamannya itu,
dimana dia telah bertemu dengan Wie Tocu.
Bukan main kagumnya In Lap Siansu. „Siancai ! Siancai !
Rupanya bukan hanya Lolap yang melihat bahwa kau adil kecil
adalah seorang yang luar biasa !” kata sipendeta. Lihatlah,
sampai Wie Tocu bersedia mengangkat kau sebagai adiknya
dan menghadiahkan lencana kebesarannya itu, yang
menunjukkan kekuasaan yang sangat besar di kalangan
pengemis !”
Yo Him cepat-cepat mengeluarkan kata-kata merendah.
Sedangkan In Lap Siansu telah berdiam diri termenung
seperti ada yang dipikirkan. Sedangkan orang-orang yang tadi
ramai menyaksikan perkelahian telah bubar.
„Apa yang tengah Taisu pikirkan tanya Yo Him kemudian
waktu melihat sikap pendeta itu.
„Tidak ada apa-apa yang kupikirkan… hanya saja,
sangatlah memalukan jika aku menyampai kan isi hatiku !”
kata sihweshio.
„Mengapa begitu ?” tanya Yo Him jadi heran sekali.
„Karena justru disaat ini aku tengah memikirkan untuk,
mengajakmu mengangkat saudara…” kata sihweshio
kemudian.
„Hah ?” tanya sianak she Yo terkejutTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
„Nah, tadi Lolap telah mengatakan, betapa memalukan
sekali urusan tersebut, jika sampai adik kecil menolaknya.!”
kata In Lap Siansu.
Yo Him kemudian tertawa.
„Justru aku yang Kaget mendengar orang sehebat Taisu
bersedia angkat saudara denganku !” Kata Yo Him. „Apa
kebisaanku ?”.
“Wie Tocu merasa bersyukur memiliki adik seperti kau,
maka terlebih aku !” kata In Lap siansu.
Sedangkan saat itu Yo Him telah mengangguk.
“Baiklah Taisu, mari kita angkat saudara kepada langit dan
bumi “ kata Yo Him.
Dan setelah berkata begitu Yo Him telah berlutut sambil
menyoja, dan begitu pula In Lap Siansu telah berlutut juga.
Dengan disaksikan oleh langit dan bumi mereka telah angkat
saudara.
Masing2 mengeluarkan sumpahnya.
„Karena usiaku lebih muda dari Wie Tocu maka kau bisa
memanggil aku sebagai Jieko (kakak kedua) saja !” kata
sipendeta dengan sabar.
“Dan kau Hiante. engkau menjadi Samte adik ketiga.. !”
Yo Him girang sekali, dan dia juga telah berkata, “urusan
yang menggembirakan ini harus cepat2 diberitahukan kepada
Toako !”
„Benar !”.
“Hanya saja, belum tentu kita bisa bertemu pula !”.
„Mengapa begitu ?”.
„Karena justru aku ingin berkelana dulu, merantau seorang
diri”.

„Ahhhh, Samte, kita berkelana berdua saja!” saran
sipendeta.
“Jika memang Jiko tidak memiliki urusan apa2, apa
salahnya ? Bukankah lebih menggembirakan ?” menyahuti Yo
Him.
Maka dengan gembira mereka telah memasuki rumah
makan itu lagi.
Mereka makan dan minum sepuasnya, seperti juga tengah
merayakan hari pengangkatan saudara itu.
Rupanya, yang satu kecil dan yang seorang nya tua
bangka, namun diantara mereka terdapat kecocokan yang
serasi sekali.
Mereka berdua telah ber-cakap2 dengan asyik sekali
sampai lupa waktu.
Disaat hari telah larut malam, barulah mereka memesan
sebuah kamar dan tidur sepembaringan !
Keesokan paginya barulah mereka melanjutkan perjalanan
lagi.
DENGAN adanya In Lap Siansu sebagai kawan
seperjalanannya, maka Yo Him dapat melakukan perjalanan
dengan gembira, karena ada kawan yang bisa diajak bercakap2.
Selama dua bulan mereka telah menjelajahi puluhan
kampung dan belasan kota.
Selama itu pula In Lap Siansu telah melihatnya bahwa Yo
Him sama sekali tidak mengerti ilmu silat.
Tentu saja pendeta ini jadi heran.
Begitulah pada suatu hari, disaat mereka berada dikamar
penginapan yang terletak dikota kecil Fang-cia-kwan, disaat

mana In Lap Siansu akan mulai menceritakan keadaan
didalam rimba persilatan seperti hari2 yang lalu, pendeta itu
sengaja telah bertanya kepada Yo Him ;
„Samte, menurut penglihatan Jiekomu, tampaknya kau
sama sekali tidak tertarik untuk mempelajari ilmu
silat…Benarkah itu ?”.
Yo Him mengangguk.
„Untuk mendengar pengalaman2 Jieko .mengenai rimba
persilatan, aku tertarik sekali…tetapi untuk mempelajari ilmu
silat, itulah urusan lain…aku sama sekali tidak tertarik”.
„Kenapa ?’ tanya In Lap. Siansu tertarik. Yo Him
menceritakan pengalamannya yang pernah menyaksikan
tanpa sengaja, dimana pendeta2 dari Kun Lun Pai yang telah
dibinasakan oleh empat orang Mongolia. Ratusan orang gagah
dan imam2 dari Kun Lun Sie itu semuanya mengerti ilmu silat,
tetapi mereka telah terbunuh dengan cara yang begitu
mengenaskan sekali.
In Lap Siansu juga terkejut mendengar peristiwa hebat
yang telah menimpa imam-imam Kun Lun Pai.
Se-tidak2nya urusan itu baru didengarnya, dan dia heran
sekali pendeta2 Kun Lun Pay yang lihay2 itu, bahkan.Ma Liang
Cinjin. yang berada diatas kepandaiannya, bisa dibinasakan
oleh pendeta, Mongolia bersama ketiga kawannya itu.
„Siapakah orang2 Mongolia yang hebat2 itu ?” tanya In Lap
Siansu dengan heran sekali.
„Entahlah, aku pun tidak mengetahuinya ! Hanya sejak saat
itulah aku jadi berpikir bahwa seseorang yang mempelajari
ilmu silat, tentu akan menghadapi bahaya yang tidak kecil
disetiap saat”
„Tetapi salah, Samte pandanganmu itu i Justru disebabkan
ilmu silat mereka kurang sempurna, maka imam2 Kun Lun Pai
dan orang2 gagah itu telah dibinasakan olen orang2 Mongol

itu ! Coba mereka memiliki kepandaian yang sempurna,
bukankah mereka akan berhasil membinasakan keempat
orang Mongol jahanam itu…!” Yo Him menggeleng perlahan.
„Tetapi aku sama sekali tidak tertarik untuk mempelajari ilmu
silat…” katanya.
„Jika memang demikian, akupun tidak ingin memaksanya”
kata sipendeta.
Dan mulailah In Lap Siansu menceritakan perihal keadaan
Kangouw.
Ber-macam2 cerita yang dikisahkannya, dan memang Yo
Him juga tertarik benar akan cerita ceritanya itu.
Terlebih lagi jika In Lap Siansu tengah menceritakan sepak
terjang orang2 gagah didalam rimba persilatan, yang
umumnya membela pihak yang lemah dan memberantas
sikuat jahat.
„Memang jika didalam kalangan Kang-ouw terdapat banyak
orang2 gagah, tentu kejahatan semakin sedikit !” kata Yo Him
setelah mendengar cerita sipendeta.
In Lap Siansu tertawa.
„Samte, itulah sebabnya Jiekomu ini memaksa engkau
untuk mempelajari ilmu silat ! Sekali lagi Jiekomu rewel
menganjurkan kau mempelajari ilmu silat, agar kelak kau bisa
menjadi salah seorang hohan dan enghiong untuk
memberantas sijahat ! Dengan demikian, bukankah engkau
akan membantu berlaksa manusia yang ber sengsara ?”.
Yo Him tersenyum sambil menggeleng.
„Sudah kukatakan Jieko, bahwa aku tidak tertarik untuk
mempelajari ilmu silat “Tetapi aku pernah mempelajari ilmu
olah raga untuk menyehatkan tubuh…..!”.
„Ilmu menyehatkan tubuh ? Apakah itu ?” tanya In Lap
Siansu tertarik.

Dan Yo Him telah turun dari pembaringan, dia meng
gerak2kan tangan dan kakinya.
Gerakannya perlahan, dan lembut sekali, tetapi gerakan2
tangan dan kaki Yo Him yang seperti anak2 yang tengah main
petak itu justru telah membuat mata In Lap Siansu jadi
terpentang lebar2.
Dia memandangi Yo Him dengan mulut yang terpentang
lebar dan muka pucat disamping juga matanya tetap ter buka
besar2.
Yo Him telah menyelesaikan latihannya, dan ketika melihat
keadaan kakak angkatnya yang kedua itu dia jadi kaget bukan
main.
“jieko, kenapa kau ?” tanya Yo Him kemudian sambil
menepuk bahu kakak angkatnya itu.
„Kau . kau…?” suara In Lap Siansu tidak lancar.
Tentu saja Yo Him tambah heran.
“Jieko !” panggilnya lebih keras.
In Lap Siansu menghela napas, dia menyebut kebesaran
sang Buddha berulang kali.
Kemudian dengan sikap yang luar biasa, In Lap Siansu
telah berkata.
“Samte, bicaralah terus terang, siapakah engkau
sesungguhnya ?” tanya In Lap Siansu.
Yo Him jadi tertegun, tapi kemudian tertawa.
“Akhh, Jieko kau ini benar2 aneh !” kata Yo Him kemudian.
“bukan aneh, bukan aneh” kata In Lap siansu dengan suara
ber-sungguh2
“telah berbulan bulan engkau berhasil menyembunyikan
kepandaian kelas satu dari mataku !”

“Kepandaian Kelas satu ?” tanya Yo Him dengan nada
kaget dan heran.
„Apa maksudmu Jieko?” sipendeta menghela napas.
“Pantas saja kau tidak mau mempelajari ilmu silat lain yang
tidak ada artinya, ternyata engkau telah memiliki ilmu mujijat
yang luar biasa sekali ! sungguh hebat !, sungguh hebat !,
kepandaian yang kumiliki tidak ada seperseratusnya! Dengan
hanya memutar jari telunjukmu saja, engkau bisa
membinasakan aku !. Pantas saja Wie Tocu begitu bersyukur
memiliki adik angkat seperti kau ! Tetapi aku., aku mana
pantas menjadi kakak angkatmu !”.
Dan kembali hweshio itu telah berulang kali me-nyebut2
kebesaran sang Budha.
Yo Him jadi bingung sekali melihat sikap sihweshio,
akhirnya dia telah bertanya dengan memperlihatkan sikap
yang ber-sungguh2.”
„Jieko, mari kita bicara yang sesungguhnya, jangan kau
membuat adikmu menjadi bingung tidak keruan !” kata Yo
Him. „Sesungguhnya apa maksudmu itu ?”.
„Kau ternyata memiliki kepandaian yang hebat sekali, Yo
Samte ! Kau telah menipu kakakmu ini, kau tidak mau
memberitahukan kepadaku bahwa kau memiliki ilmu yang luar
biasa, sehingga aku selamanya menganggap kau tidak
memiliki kepandaian apa2″.
„Aku memang sesungguhnya tidak memiliki kepandaian
apa2…dan juga belum pernah mempelajari ilmu silat !” kata
Yo Him ber-sungguh.2.
„Akhh, engkau masih berkata begitu, adikku ?” tanya In
Lap Siansu dengan suara agak keras. „Tadi jurus2 dari ilmu
pedang nomor satu tiada taranya dijagad ini, yaitu Giok Lie
Kiamhoat dan ilmu pukulan dari Kiu Im Cin Keng telah kau

mainkan dengan baik ? Bukankah ilmu itu merupakan ilmu2
silat nomor satu yang tiada taranya dikolong langit ini ?”
Yo Him jadi tertegun.
“Apa maksudmu Jieko ?” tanyanya.
“Kau masih pura2 tidak mengerti > atau engkau
menganggap Jiekomu terlalu tolol sehingga kau bisa
perbodohi terus menerus ?”
„Tetapi aku sungguh2 tidak mengerti ilmu silat apa-apa !”.
In Lap Siansu tersenyum, katanya sabar “Kau memang luar
biasa Samte ! Baiklah ! Kalau memang kau keberatan untuk
menceritakan asal usul dirimu, mungkin ada sesuatu yang sulit
kau jelaskan, Jiekomu juga tidak akan mendesak terus. Tetapi
yang terpenting, kau mengakui bukan bahwa kau memiliki
ilmu tanpa tandingan dibawah langit ini ?”
” Ilmu apa ?”
“ Kiu Im Cin Keng dan Giok Lie Kiam Hoat !”
„Akh ? “
Benar-benar Yo Him binggung sekali Akhir nya setelah
berpikir sejenak, karena diapun cerdas maka dia bisa
menduga-duga mengapa kakak angkatnya itu bersikap
demikian.
„Apakah ilmu yang tadi kuperlihatkan ? Ya itu ilmu olah
raga untuk menyehatkan tubuh !” tanya Yo Him akhirnya.
„Sungguh luar biasa ! Ilmu sehebat itu yang tiada duanya
dikolong langit ini kau sebut sebagai ilmu menyehatkan tubuh
!”.
„Sungguh Jieko, aku mempelajari ilmu itu justru dari seekor
rajawali !”.

„Hah ?” muka In Lap Siansu jadi berobah pucat, kemudian
dengan suara perlahan dia telah menggumam. „Benar, Benar,
dugaanku!..benar dia….!”.
Yo Him jadi heran dan penasaran.
„Jieko,. kau jangan bersikap begitu, karena selain
membingungkan juga diliputi teka-teki ! Tidak bisakah kau
bicara terus terang ?”.
Sipendeta telah mengawasi Yo Him dengan sorot mata
dalam-dalam, kemudian dengan tiba-tiba sekali dia “menepuk
lututnya keras-keras.
„Engkau she Yo, bukan ?” tanyanya cepat.
„Benar, kau sudah mengetahuinya sejak beberapa bulan”
yang lalu, Jieko !” menyahuti Yo Him.
Dan dengan tidak terduga In Lap Siansu telah bangkit
berdiri, dia telah merangkapkan sepasang tangannya, dia
telah membungkukkan tubuhnya memberi hormat.
„Samte, terimalah hormat dari Jiekomu, dan apakah Sin
Tiauw Taihiap baik-baik saja ?” tanya In Lap Siansu dengan
suara menghormat sekali.
„Sin Tiauw Taihiap ? Siapa dia ?” tanya Yo Him akhirnya
bertambah bingung, dia juga jadi sibuk untuk menghindar dari
penghormatan pendeta itu.
„Yo Samte, kau jangan begitu !” kata In Lap Siansu.
„Jangan kau memungkiri terus bahwa kau adalah puteranya
Sin Tiauw Taihiap Yo Ko dan Liehiap Siauw Liong Lie !”.
„Akhh !” mata Yo Him terpentang lebar2.
Sihweshio melihat Yo Him dalam keadaan tertegun dan
heran seperti itu, dan kembali In Lap Siansu tambah heran
juga.

„Apakah benar-benar engkau tidak mengenal siapa Sin
Tiauw Taihiap dan Siauw Liong Lie Liehiap, sepasang
pendekar besar di jaman ini ?” tanyanya bersungguh-sungguh.
Yo Him menggeleng.
„Mendengarnya saja baru kali ini…!” menyahuti Yo Him.
„Engkau she Yo, juga memiliki kepandaian. Kiu Im Cin Keng
dan Giok Lie Kiam Hoat, ilmu2 yang dimiliki Sin Tiauw Taihiap
Yo Ko dan Liehiap Siauw Liong Lie….maka heranlah jika
engkau mengatakan antara dirimu tidak ada hubungannya
dengan mereka…?”‘ Penasaran sekali suara sihweshio, dia
berkatapun sambil mengawasi tajam sekali kepada Yo Him.
Yo Him jadi mengerutkan sepasang alisnya dalam-dalam,
dia heran bukan main mendengar In Lap Siansu, si Jieko itu,
berkeras bahwa dia ada hubungan dengan Sin Tiauw Taihiap
Yo Ko dan Siauw Liong Lie.
Sedangkan kedua orang itu memang tidak di kenalnya,
mendengar namanya saja baru kali ini.
Tetapi sebagai seorang anak yang cerdas, mengingat
bahwa dia sejak bayi dirawat oleh seekor burung rajawali,
yang juga tampaknya cerdik serta sakti sekali, maka mungkin
juga antara Sin Tiauw Taihiap Yo Ko dengan rajawali sakti (Sin
Tiauw) yang merawatnya itu ada hubungannya. Atau boleh
jadi juga dirinya memiliki hubungan yang erat dengan Sin
Tiauw Taihiap Yo Ko dan Siauw Liong Lie. bukankah diapun
she Yo ?
Karena berpikir begitu, maka Yo Him jadi tertarik sekali
menghadapi persoalan seperti ini.
Segera juga dia menanyakan kepada In Lap Siansu,
siapakah sesungguhnya Sin Tiauw Taihiap Yo Ko itu ? Dan
siapa pula Siauw Liong lie.
In Lap Siansu setelah berdiam sejenak, segera
menceritakan sepak terjang Yo Ko, pendekar nomor satu

dijaman ini. Bagaimana Yo Ko telah membela yang lemah dari
tindasan sikuat jahat, bagaimana Yo Ko juga telah membantu
pemerintahan Song untuk mengusir pasukan perang tentara
Mongolia dengan membinasakan Kaisar Mangu.
Mendengar semua itu, Yo Him. jadi merasa kagum kepada
pendekar besar itu.
Walaupun dia belum pernah melihat bagaimana rupa dari
pendekar Sin Tiauw Taihiap Yo Ko itu, namun dia
membayangkannya dari bayang2 yang digambarkan oleh In
Lap Siansu, seorang pendekar gagah yang bermuka tampan
memiliki tangan tunggal, yaitu tangan kirinya, dengan seekor
burung rajawali saktinya….Dan juga mengenai kegagahan
Siauw Liong Lie dengan Giok Lie Kiam Hoatnya membuat Yo
Him benar2 menaruh hormat akan sifat kesatrianya pendekar
wanita itu.
„Seperti kau lihat, mereka itu memiliki kepandaian yang
sempurna sekali, maka mereka dapat melakukan pekerjaan
besar. Tetapi jika mereka memiliki pendirian seperti kau yang
tidak ingin mempelajari ilmu silat, bagaimana mereka bisa
melakukan pekerjaan besar seperti itu ?” kata In Lap Siansu
mengakhiri ceritanya.
Yo Him jadi duduk terpekur ditempatnya, dia tengah
membayangkan kegagahan Yo Ko dan Siauw Liong Lie.
Betapa kagumnya dia mendengar juga perihal kegagahan
Oey Yok Su, Kwee Ceng dan Oey Yong. Begitu pula dia kagum
mendengar kehebatan kepandaian Loo Boan Tong.
Banyak orang2 gagah dimasa itu yang diceritakan oleh In
Lap Siansu, termasuk juga See Tok, Pak Kay, yaitu Ang Cit
Kong, dan yang lainnya lagi.
“dan jika melihat she yang kau pergunakan, yaitu she Yo
juga, dan ilmu yang kau perlihatkan tadi adalah ilmu simpanan
dari kedua pendekar besar itu, yaitu Sin Tiauw Taihiap Yo Ko

dan Siauw Liong Lie, maka aku yakin kau memiliki hubungan
yang erat dengan mereka… !”
Yo Him hanya berdiam diri saja, sedangkan pikirannya
tengah bekerja dengan keras.
Akhirnya Yo Him menceritakan kepada In Lap Siansu, justru
dia berkelana seperti sekarang ini adalah untuk menyelidiki
asal usulnya. Karena itu dia tidak mengetahui siapa dirinya
yang sesungguhnya. Siapa ayahnya dan siapa ibunya ! sejak
kecil dia hanya dirawat oleh Sin Tiauw itu yang akhirnya telah
lenyap didekat jurang tidak pernah muncul kembali.
Mendengar cerita Yo Him, sepasang alis In Lap siansu
mengerut.
Setelah mengucapkan beberapa kali kebesaran sang
Budha, akhirnya In Lap Siansu berkata.
Akhir2 ini memang Jiekomu sering mendengar bahwa
diselatan telah muncul beberapa orang jago yang hebat2,
menurut keterangan sementara orang yang telah kembali dari
sana, menyatakan orang2 yang memiliki jiwa kesatria itu tidak
lain dari Sin Tiauw Taihiap Yo Ko, Oey Yong, Kwee Ceng, It
Teng Taisu. Hanya saja yang membuat Lolap kurang
mempercayai keterangan itu, justru tidak di-sebut2nya Siauw
Liong Lie”.
„Dimana ada Yo Ko, tentu ada isterinya, yaitu Siauw Liong
Lie. Maka dari itu, aneh sekali jika hanya ada Yo Ko. Sampai
Lolap juga ingin menduga apakah orang itu ingin menjual
nama Sin Tiauw Taihiap Yo Ko, untuk malang melintang
didunia persilatan ?”.
„Apakah Jieko telah pergi keselatan untuk menyelidikinya ?”
tanya Yo Him tertarik.
„Semula memang Lolap bermaksud pergi ke sana, tetapi
setelah Lolap berpikir-pikir secara masak2, percuma saja.
Karena kepandaian yang dimiliki Lolap sangat rendah sekali.

Jika memang benar orang2 gagah itu Yo Ko adanya bersama
Kwee Ceng, Oey Yong dan It Teng Taisu ataupun Ciu Pek
Thong, tentu Jiekomu tidak akan mengalami suatu ancaman
bahaya apa2, tetapi jika mereka hanya menjual nama Sin
Tiauw Taihiap untuk kepentingan diri pribadi mereka sendiri,
dan mereka merupakan penjahat2 murahan, bukankah lolap
akan menghadapi bahaya yang tidak kecil ?, jelas lolap tidak
akan dapat mempertahankan diri membiarkan orang merusak
nama baik Sin Tiauw Taihiap Yo Ko dan lainnya, tetapi untuk
melawan mereka juga tidak akan sanggup, sebab menurut
cerita orang2 yang pernah melihat mereka bertempur,
kepandaian orang itu luar biasa sekali, dan sulit untuk
diukur…. !”
Yo Him menghela napas panjang.
“bagaimana kalau kita pergi keselatan untuk melihat benar
atau tidaknya berita itu ?” tanya Yo Him kemudian mamajukan
sarannya.
Sihweshio bimbang sejenak, tetapi kemudian dia telah
mengangguk.
„Jika memang Samte bermaksud begitu maka Jiekomu
hanya menurut saja” kata sihweshio. Hanya, Samte belum
menjelaskan, sesungguhnya ada hubungan apakah antara
Samte dengan Sin Tiauw Taihiap Yo Ko dan Siauw Liong Lie
?”.
“Apa yang telah adikmu jelaskan, semuanya itu tidak
dusta…!” kata Yo Him „Nanti jika memang orang2 gagah yang
berada di selatan itu benar2 terdapat Sin Tiauw Taihiap Yo Ko,
kita boleh menanyakannya, mungkin pendekar besar itu jauh
lebih tahu mengenai keadaan diriku, yang kebetulan she Yo
juga dan dirawat oleh seekor burung rajawali ! Hanya yang
hampir tidak masuk dalam pikiran, justru aku dibesarkan di
Utara, sedangkan saat sekarang mereka berkumpul diselatan,
itulah tempat yang sangat berlainan satu dengan yang lainnya
!”.

In Lap Siansu juga telah menghela napas.
„Didalam dunia memang sering terjadi urusan yang aneh
dan hampir tidak bisa dibayangkan atau tidak bisa masuk
dalam akal sehat ! Kita lihat saja nanti, mudah2an asal usul
dirimu, Samte, akan dapat diketahui dengan jelas !”.
Yo Him akhirnya teringat kepada beberapa macam barang
yang disimpannya, dimana barang-barang itu adalah
pemberian rajawali sebelum hari terakhir kematiannya itu.
Semula Yo Him bermaksud untuk memperlihatkan benda2
itu, namun akhirnya dia membatalkan. Walaupun In Lap
Siansu telah mengangkat saudara dengannya, tetapi jika
urusan keturunannya belum jelas, mengapa dia harus
memperlihatkan barang2 itu ? Dia bermaksud baru
memperlihatkannya nanti kepada Sin Tiauw Taihiap Yo Ko,
yang kebetulan sekali juga she Yo pula.
Begitulah, mereka telah memutuskan untuk berangkat
menuju kearah selatan…
KALANGAN jago2 rimba persilatan. umum nya memang
sering merantau untuk mencari pengalaman dan juga pesiar
di-tempat2 yang indah.
Begitu juga dengan In Lap Siansu. Pendeta ini adalah
seorang pendeta perantauan yang gemar sekali berkelana
dari kota yang satu kekota yang lainnya.
Kini dia melakukan perjalanan bersama Yo Him, maka itu
hatinya jadi gembira sekali disaat mereka telah tiba didaerah
selatan tersebut.
Tujuan mereka adalah Kanglam, dimana tempat tersebut
terkenal akan keindahannya, terkenal akan kecantikan
gadis2nya, terkenal juga sebagai tempat yang seringkali
dikunjungi pujangga dan penyair.

Bahkan Kanglam pernah menjadi tempat dan daerah
kekuasaan Kanglam Citkoay, guru2nya Kwee Ceng, dimana
ketujuh Manusia Aneh itu adalah keturunan dari daerah
tersebut,
Disamping Kanglam Cit-koay! Kanglam memang merupakan
tempat yang banyak sekali di datangi pendekar2 silat kelas
utama, yang akhirnya memilih tempat tersebut sebagai
kampung halaman mereka.
Pemandangan yang ada disekitar daerah Kang lam indah
sekali, walaupun musim dingin mulai tiba. Salju yang turun
ringan dan tipis2 itu ternyata menimbulkan pemandangan
yang sejuk dengan warnanya yang putih cemerlang.
Betapa sucinya salju2 itu, yang putih bagaikan putihnya
kapas dan lembut selembut sutera…
Yo Him tidak hentinya memuji akan keindahan daerah
selatan tersebut, terlebih lagi ketika mereka tiba dimuka
kampung Liang-kuang cung, sebuah daerah pinggiran dikota
Kanglam tersebut.
Pohon2 yang mulai gundul itu tidak menyebabkan rusaknya
keindahan didaerah Kanglam.
Gadis-gadisnya yang terkenal dengan kulitnya yang halus
lembut dengan sikap dan gerak gerik mereka yang menawan,
telah terkenal sekali.
In Lap Siansu telah mengatakan kepada Yo Him „Jika saja
kita berhasil menemui jago jago itu, dan mereka memang Sin
Tiauw Taihiap Yo Ko dan pendekar-pendekar lainnya, maka
Lolap telah puas, ,mati dapat dengan mata yang meram. Sulit
sekali untuk menjumpai mereka…bertemu saja sulit sekali”.
Yo Him girang bukan main, sebagai seorang anak berusia
delapan tahun, tetap saja Yo Him masih sering memiliki sifat
kekanak-kanakan, karena walaupun bagaimana dia masih
gemar bermain dan bersenang-senang.

Maka disaat In Lap Siansu mengajaknya untuk bermainmain
perahu, Yo Him segera menyetujuinya.
Dengan menyewa sebuah perahu, mereka telah berlayar
perlahan-lahan di sungai-sungai yang banyak terdapat di
sekitar daerah Kanglam Harus diketahui, jika didarat orang
mempergunakan kuda sebagai binatang pengangkut maka
justru perahu merupakan alat pengangkutan penting sebagai
kendaraan air…maka dari itu, tidak mengherankan setiap
sungai selalu penuh oleh perahu yang hilir mudik.
Sambil meneguk teh mereka yang hangat, In Lap Siansu
dan Yo Him menikmati keindahan disekitar sungai dimana
perahu mereka berlayar.
Sedangkan dipinggir tepi sungai itu, tampak pohon2
Yangliu yang mulai gundul dan sebagian tertutup oleh lapisan
salju.
Saat itu Yo Him tiba-tiba menunjuk kearah depannya.
„Jieko…kau lihat !”.
In Lap Siansu telah menoleh dan dia melihat dua buah
perahu tengah saling kejar.
Mereka masih terpisah dalam jarak yang cukup jauh, tetapi
In Lap Siansu telah cepat-cepat mengayuh perahunya ketepi,
karena dia kuatir kalau-kalau nanti perahunya ditabrak oleh
kedua perahu yang tengah saling kejar itu.
Kedua perahu itu memang tengah saling kejar dengan
cepat, dan ketika kedua perahu itu meluncur semakin dekat,
In Lap Siansu dan Yo Him mulai mendengar suara bentakanbentakan
yang keras dan bengis sekali.
„Siangkoan Linlie !, Hentikan perahumu ! Jika tidak kalian
jangan menganggap aku keterlaluan !” teriak seorang lelaki
bercambang berewok kasar diperahu yang lainnya yang
mengejar.

Tetapi perahui yang didepan tetap saja meluncur dengan
cepat sekali tanpa memperdulikan ancaman dan teriakan
orang bermuka kasar itu.
Rupanya orang yang berewok kasar itu sudah habis sabar,
dari dalam perahunya dia telah mengeluarkan sebuah jangkar
besi yang tampaknya beratnya seribu kati lebih. Tetapi
jangkar besi itu telah diangkatnya dengan mudah dan ringan
sekali, tampaknya lelaki berewok itu sama sekali tidak
mengeluarkan tenaga untuk mengangkat jangkar besi
tersebut.
Hal itu telah membuktikan bahwa tenaga yang dimiliki
orang berewok itu sangat besar dan luar biasa sekali,
menyebabkan In Lap Siansu jadi kagurn bukan main.
“Hebat orang itu, jangkar besi seribu kati lebih dapat
diangkatnya dengan begitu mudah dan ringan !” bisik ln Lap
Siansu kepada Yo Him.
Yo Him hanya mengangguk sambil mengawasi terus.
„Tampaknya akan terjadi perkelahian ! Rupanya mereka
saling kejar mengejar bukan tengah bermain perahu, tetapi
untuk saling bertempur!” kata Yo Him kemudian.
„Benar !” mengangguk In Lap; „Tampaknya orang yang
berada diperahu didepan itu tidak mau melayaninya, atau
memang kepandaiannya masih berada dibawah kepandaian
orang berewok itu. Maka dia bermaksud melarikan diri,
menjauhkan perahunya dari perahu siberewok itu”.
Yo Him mengangguk.
„Tetapi tidak lama lagi tentu akan dapat dikejar !” bisik In
Lap lagi.
Yo Him melihat perahu yang kedua itu telah meluncur
semakin mendekati perahu yang pertama itu. Rupanya orang
yang menggerakkan penggayuh perahu kedua itu sangat kuat

sekali, setiap kayu penggayuh itu digerakkan, perahu seperti
terbang meluncur dipermukaan air.
Sedangkan orang yang berada diperahu pertama itu, yang
tengah dikejar, tampaknya telah menjadi gugup sekali, dia
sampai memperdengar kan seruan tertahan.
Saai itu jarak perahu Yo Him dengan perahu yang tengah
dikejar oleh lelaki berewok itu sudah makin dekat jaraknya,
dan Yo Him mau pun In Lap Siansu sudah dapat melihat jelas
wajah orang yang mendiami perahu pertama itu.
Ternyata didalam perahu itu terdapat tiga orang. Seorang
lelaki berusia setengah baya, kurang lebih berusia lima puluh
tahun, tengah menggerakkan penggayuh perahunya dengan
tergesa dan cepat2 sekali, mukanya pucat, jenggotnya yang
pendek sebagian telah putih. Dua orang lainnya yang berada
diperahu itu dua orang wanita. Seorang wanita yang berusia
empat puluh tahun lebih dan gadis kecil berusia sebelas dua
belas tahun,
Sigadis kecil itulah yang berdiri di buritan perahu sambil
sebentar2 menoleh kebelakang sambil berseru “Musuh telah
datang dekat…musuh telah dekat…!”
Tentu saja teriakan sigadis cilik itu telah membuat silelaki
setengah baya itu jadi semakin gugup.
„Walaupun bagaimana kita harus dapat meloloskan diri dari
kejaran mereka!” kata wanita berusia empat puluhan itu, yang
rupanya menjadi ibu sigadis kecil itu, mukanya juga pucat,
tubuhnya tampak sering menggigil, matanya liar ketakutan
bukan main.
Sigadis kecil itu telah berteriak lagi. „Mereka telah
mempergunakan jangkar besi, yang siap untuk ditimpukkan
kearah perahu kita…cepat ayah cepat ayah, kita harus
berusaha menjauhi, kalau jangkar besi itu menimpah perahu
kita,

celakalah kita…!”.
Sambil ber-teriak2 begitu, sigadis cilik itu tampaknya
gugup sekali.
Sedangkan lelaki berusia lima puluhan, yang memelihara
jenggot pendek yang sebagian telah putih itu, semakin cepat
dan kuat menggayuh perahunya.
Dan ibu sigadis cilik itu juga telah membantui menggayuh.
Tampaknya mereka bertiga memang tengah ketakutan
sekali, keringat tampak menitik dari kening silelaki dan wanita
tua itu, sedangkan si gadis cilik masih terus ber-teriak2
memberitahukan keadaan dan perkembangan musuh..!
Yo Him yang melihat ketiga orang itu dalam ketakutan, dan
juga melihat silelaki berewok yang mengejar dibelakang itu
memegang jangkar besi,
mengancam akan menimpuk, dia jadi merasa kasihan dan
iba kepada ketiga buronan itu.
In Lap juga telah mengerutkan sepasang alis nya.
“lni urusan dunia Kang-ouw, kita tidak boleh
mencampuri…!” Bisik In Lap Siansu kepada Yo Him. disaat dia
melihat Yo Him menoleh kepadanya, seperti ingin membuka
mulut menganjurkan agar In Lap Siansu menolongi ketiga
orang itu.
„Tetapi mereka terancam, Jieko, jika saja jangkar besi itu
menimpah perahu mereka, niscaya mereka akan terbalik dan
terluka…..!”.
,,Akhh, kau belum mengerti peraturan dunia Kang-ouw,
Samte, didalam rimba persilatan selalu terdapat urusan yang
berbelit. Semula, pihak yang kita duga jahat, bisa menjadi
pihak yang benar dan baik, sedangkan pihak yang semula kita
duga baik, malah kenyataannya lain seperti ular beracun!”

„Tetapi ketiga orang itu, sigadis kecil dengan kedua orang
ibu dan ayahnya, tentunya bukan orang jahat ! Kau harus
menolongi mereka, Jieko !”.
In Lap Siansu tidak menyahuti, dia hanya mengawasi
dalam2 dan tajam sekali kepada kedua perahu yang tengah
saling kejar itu dan telah berada dekat sekali dengan perahu
mereka.
„Siangkoan Lin Lie !” terdengar lelaki berewok itu telah
berteriak lagi dengan suara yang bengis sekali. „Jika memang
kau tetap tidak mau menghentikan perahu kalian, lihatlah,
kami akan segera melempar…!”.
Sambil berteriak begitu, si berewok telah meng-gerak2kan
jangkarnya.
„Celaka !” mengeluh lelaki tua yang sedang mengayuh
perahunya. „Kita akan kelebuh !”.
„Ya, inilah hebat !” berseru wanita disampingnya. Muka
mereka pucat.
Sedangkan sigadis cilik yang berdiri diburitan telah berseru
lantang. „Ayah, ibu Lihat mereka sudah ber-siap2 untuk
melontarkan jangkar besi itu !”.
Suaranya tetap keras, tetapi didalam nadanya tergetar,
menunjukkan bahwa gadis kecil ini dalam keadaan panik dan
ketakutan.
Lelaki dan wanita yang menjadi ibu sigadis. kecil itu telah
mengayuh semakin cepat saja.
Tetapi walaupun bagaimana perahunya itu tidak berhasil
menjauhi perahu pengejarnya.
Bahkan ketika perahu sigadis cilik itu berjajar dengan
perahu Yo Him dan In Lap Siansu justru disaat itu pula lelaki
berewok itu telah melontarkan jangkarnya kearah perahu
sigadis cilik.

Suara menderu dari beratnya jangkar itu melayang
ditengah udara menyeramkan sekali.
Sigadis cilik mengeluarkan suara seruan tertahan,
sedangkan lelaki tua dan wanita setengah baya itu putus asa
dengan muka mereka yang pucat.
„Celaka !” berseru In Lap Siansu. „Kita pun akan bercelaka
! Jika jangkar itu menghantam perahu mereka, berarti akan
menimbulkan gelombang hebat dan akan menyebabkan
perahu kitapun akan terbalik atau ikut terhajar remuk oleh
jangkar itu !”.
Yo Him jadi kaget, dia memasang mata tajam2, dilihatnya
jangkar telah menyambar datang dan hanya terpisah
beberapa tombak lagi saja.
Hati Yo Him jadi tercekat, namun disaat itu juga In Lap
Siansu telah mengempos seluruh tenaganya dikedua
pundaknya, dia telah melompat berdiri diujung perahunya,
diapun mengangkat kedua tangannya, kemudian ber-siap2
dengan kuda2 kedua kakinya untuk menyambuti jangkar yang
berat itu.
„Wutt…!” jangkar besi itu telah berhasil diterima oleh In
Lap Siansu dengan mempergunakan kedua tangannya.
Tubuh In Lap Siansu tergetar keras, dan kakinya agak
gemetar.
Ujung perahu juga agak tertekan dan masuk kedalam
permukaan air.
Inilah celaka !
Jika sampai terlambat untuk mengimbangi keseimbangan
yang ada, niscaya perahu In Lap Siansu akan terbalik!
Untung saja lelaki tua yang tadinya sudah berputus asa,
yang tadi mengayuh perahunya gadis cilik itu, ketika melihat
ada seorang hweshio yang telah menolonginya menyambuti

jangkar besi itu dan melihat ujung perahu dimana kedua kaki
sihweshio berpijak itu agak melesak kedalam air dan ujung
yang satunya terangkat, tanpa mengucapkan sepatah
perkataan dia telah melompat keujung yang satunya dan
berdiri disitu dengan mengerahkan kekuatan kaki seribu kati.
Dengan cara demikian, perahu In Lap Siansu bisa
diselamatkan.
Dengan cepat In Lap Siansu mengerahkan tenaganya, dia
memusatkan dikedua lengannya lalu disertai oleh suara
seruan, ini kukembalikan kepadamu!”, Jangkar itu telah
didorongnya keras sekali, kembali meluncur, ketuannya !
Dengan mudah lelaki berewok itu telah menyambuti
jangkar itu
Dangan muka yang merah padam dia telah mengawasi In
Lap Siansu.
„Keledai gundul !” bentak siberewok dengan suara yang
bengis. siapa kau ? Mengapa kau demikian usil mencampuri
urusan kami ? Apakah, kau tidak mengenal peraturan
Kangouw sehingga berani mencampuri urusan ?”
Ditegur begitu, In Lap Siantu telah merangkapkan kedua
tangannya, dia telah menjura sambil berkata. „Maafkan, bukan
maksud Lolap ingin membantui orang yang tidak Lolap kenal,
tetapi justru jangkar itu telah mengancam keselamatan perahu
dan Lolap sendiri. Maka terpaksa Lolap harus menyambuti !
Siapakah siecu, mengapa harus mempergunakan kekerasan
kepada ketiga orang itu ?”.
Muka siberewok telah berobah tidak sedap dilihat, dia telah
yakin bahwa hweshio yang tengah dihadapinya ini adalah
seorang beribadat yang memiliki kepandaian yang tinggi dan
tidak boleh dibuat main2.
Maka sebelum dia ber-kata2, siberewok telah mengibaskan
tangannya, dari arah belakang perahunya muncul enam lelaki

yang umumnya memiliki muka bengis dan tubuh yang tinggi
dan tegap. Mereka masing2 mencekal sebatang golok.
Disaat itu In Lap Siansu jadi terkejut.
Dia melihat setiap dada dari keenam lelaki itu terdapat
sebuah sulaman naga yang berukuran kecil, maka dia telah
berseru ; „Akhh, kira nya kalian dari Pek Liong Kauw !”
„Tepat !” mengangguk siberewok. „Rupanya Taisu
mengetahui juga Pek Liong Kauw (perkumpulan naga putih)
kami ?.
“memang telah lama lolap mendengar nama besar Pek
Liong Kauw, dan telah lama pula Lolap merasa kagum akan
sepak terjang Pek Liong Kauw yang merupakan gerakan
enghiong dan hohan (orang2 gagah) ..! Tetapi sekarang,
mengapa justru kini Lolap bisa menyaksikan peristiwa yang
tidak begitu enak dilihat ?”
Siberewok itu ternyata cerdik dan telinganya tipis, dia
mengetahui bahwa dirinya tengah disindir oleh sipendeta,
tetapi karena hweshio itu bicara mempergunakan aturan yang
dengan sendirinya siberewok juga tidak bisa main labrak.
“Baiklah, Taisu mungkin belum mengetahui urusan yang
sesungguhnya !, Ayah dan anak itu, berikut wanita siluman
itu, telah mencuri kitab pusaka kami !”
„Akh ?” terkejut In Lap Siansu. Jika memang dalam urusan
curi mencuri, itu adalah urusan kedua belah pihak.
Pihak yang pertama adalah pihak yang mencuri, dia harus
mempertanggung jawabkan perbuatannya, sedangkan pihak
kedua adalah pihak yang dicuri, jika memang dia memiliki
kepandaian yang tinggi, tentu dia akan melakukan
pengejaran, tetapi jika kurang tinggi kepandaiannya tentu
akan meminta bantuan sahabat 2 dari rimba persilatan.

Maka dari itu didalam rimba persilatan juga telah terdapat
peraturan yang tidak tertulis, bahwa urusan dendam, urusan
pencurian, ataupun urusan membalas sakit hati, tidak boleh di
campuri oleh pihak luar.
Tetapi tidak jarang pula, didalam urusan2 seperti itu.
terselip urusan penasaran !
Namun kini, sipendeta mendengar bahwa si gadis cilik
bertiga dengan ayah dan ibunya itu telah mencuri kitab
pusaka dari pihak Pek Liong Kauw, sudah tentu In Lap Siansu
tidak bisa untuk mencampurinya, karena walaupun bagaimana
tidak bisa dia membawa adat untuk mencampuri terus, setidak2nya
dia yang akan bentrok dengan pihak Pek Liong
Kauw. sedangkan sipencuri dengan mudah akan angkat kaki.
„Bohong !” teriak sigadis cilik dengan suara yang lantang
waktu dilihatnya sipendeta yang menjadi tuan penolong
mereka itu: ragu2. ..Kami tidak mencuri apa2…hanya mereka
yang telah menuduh secara sembrono dan tidak2 !”.
Benar2 membingungkan jika urusan seperti itu ingin
dicampurinya, maka In Lap Siansu yang memang mengerti
peraturan Kang-ouw, telah cepat2 merangkapkan tangannya.
„Silahkan kalian urus sendiri…Lolap tidak bisa
mencampurinya…”
Dan setelah berkata begitu, dia mengayuh perahunya,
maksudnya untuk melanjutkan perjalanan nya. Sedangkan Yo
Him jadi kaget.
„Jieko…mengapa kau hanya menolong setengah2 ?”
tanyanya.
In Lap Siansu telah meng-geleng2kan kepalanya.
„Kita jangan mencampuri ! Itulah terbaik!” katanya
kemudian.
„Mengapa ?’ tanya Yo Him penasaran. : „Karena urusan
didalam kalangan Kang-ouw sangat banyak sangkut kaitnya,

tidak mudah kita berpihak kepada salah satu pihak, karena
belum tentu pilihan kita itu benar !”.
„Hemm, tetapi bagaimana nasib ketiga orang itu ?
Sedangkan siberewok yang tampaknya jahat itu bertujuh !”.
„Biarlah mereka selesaikan urusan curi mencuri itu !
Bukankah Samte telah mendengarnya, dari pihak gadis cilik itu
telah membantah, sedangkan dari. pihak Pek Liong Kauw
telah menuduh mereka, sehingga kita tidak mengetahui, pasti
harus berdiri di pihak mana, Jika kita mesti bantui sigadis kecil
itu, berarti kita membela pihak pencuri, tetapi jika kita berdiri
dipihak Pek Liong Kauw, tahu2 tuduhan mereka kosong,
bukankah kita kesalahan tangan ?”
Yo Him jadi bingung, apalagi dia melihat gadis cilik itu
bersama dengan ayah ibunya tengah memandang kearah
mereka dengan sorot mata meminta untuk ditolong.
Karena dalam keadaan terdesak seperti itu Yo Him tidak
bisa berpikir lama2, dia jadi ne kad, akhirnya dengan cepat
disaat perahu In Lap Siansu akan menjauh, dan ujung perahu
saling berdekatan satu dengan yang lainnya, Yo Him telah
melompat keperahu gadis cilik itu.
,,Yo Samte ! Apa yang ingin kau lakukan ? teriak In Lap
Siansu kaget.
Tetapi Yo Him sudah tidak melayani lagi Jiekonya itu, dia
telah berdiri diujung perahu sambil bertolak pinggang
menghadapi perahunya siberewok.
„Kalian bertujuh, sedangkan mereka hanya bertiga
disamping itu juga mereka adalah seorang gadis yang masih
kecil, selain itu juga yang seorangnya telah berusia lanjut dan
seorang lagi wanita lemah, Apa yang kalian inginkan tegur Yo
Him dengan suara yang lantang.

Semula waktu melihat Yo Him menegurnya dengan suara
seperti itu, siberewok jadi tertegun. Tetapi sesaat kemudian
dia telah tertawa ber gelak2.
„Katakan kepada mereka, yang terpenting mereka
mengembalikan kitab pusaka kami, maka jiwa kacoa mereka
itu akan kami ampuni !”
„Kami tidak pernah mencuri barang kalian!” teriak gadis
cilik itu dengan gusar
„Hemm, bukan kalian ? Lalu siapa ?” tanya siberewok
dengan gusar sekali.
„Jika kalian terus juga menuduh kami. lalu apa yang ingin
kami katakan ?” tanya silelaki tua itu.
Walaupun bagaimana memang dia menyadari diri mereka
bertiga sulit sekali untuk meloloskan diri dari kepungan dan
kejaran orang2 Pek Liong Kauw tersebut.
Sedangkan In Lap Siansu sudah tidak memperdulikan
urusan mereka.
Disamping itu Yo Him masih terlampau kecil dan tentunya
belum memiliki kepandaian apa2.
Maka dari itu lenyaplah harapan mereka dan juga mereka
jadi berputus asa.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s