Sin Tiauw Thian Lam (Jilid : 11)

JILID 11

Ketiga pengemis kecil itu jadi girang bukan main, mereka
telah berlutut sambil menganggukkan kepalanya berulang kali.
„Terima kasih atas kemurahan hati Wie Tocu .. . !” kata
mereka dan segera ketiganya telah pergi meninggalkan
tempat itu. Sedangkan buntalan Yo Him tampak menggeletak
tanpa ada perobahan apa2.
Tentu saja Yo Him gembira sekali waktu melihat
barang2nya utuh, dan Wie Tocu telah mengambil buntalan itu
serta menyodorkan kepada Yo Him.
„Periksalah olehmu, apakah ada barang dan uangmu yang
hilang?” katanya.
Yo Him memeriksanya, ternyata tidak satu chi pun
uangnya terganggu.
„Tidak ada Lojinke…. dan Lojinke jangan marah, ini untuk
terima kasihku atas bantuan lojinke…..” sambil berkata begitu,
Yo Him telah mengangsurkan dua tail perak kepada
penolongnya.
Muka We Tocu jadi berubah, tampaknya dia jadi tidak
senang.
„Aku mencari2 ketiga anak itu bukan hanya sekedar
menolongi dirimu, tetapi juga menolongi nama baik Kaypang,
perkumpulan kami !” kata Wie Tocu dengan suara yang keras.
„Walaupun kami kaum pengemis, tetapi kami tidak kemaruk
uang !”.
Yo Him saat itu jadi kaget melihat sipengemis mendongkol
begitu cepat2 dia meminta maaf dan menyimpan uangnya
kembali.
Wie Tocu telah menghela napas.
„Aku tahu kau memberikan uangmu itu bukan, sekali2
dengan maksud menghina” katanya. „Kau memang
memberikan setulusnya karena tidak mengetahui peraturan
Kaypang”

Yo Him heran sekali.
“Kaypang itu sesungguhnya perkumpulan apa, Lojinke”
tanya Yo Him.
„Itulah sebuah perkumpulan pengemis,yang sudah berusia
berabad abad. Kami memiliki, peraturan yang keras sekali,
yaitu tidak boleh mencuri, tidak,boleh memaksa, tidak boleh
melakukan kejahatan, tidak boleh menipu,tidak boleh bersikap
rendah.. “
Mendengar perkataan sipengemis yang biasa dipanggil
kawan2nya itu dengan sebutan Wie Tocu ini, hati Yo Him jadi
kagum.
Se tidak2nya Wie Tocu telah memperlihatkan bahwa
pengemis itu belum tentu rendah atau hina, karena
merekapun memiliki hati yang agung.
„Tetapi mengapa ketiga anak ini bisa datang
mengembalikan barang2ku?” tanya Yo Him dengan perasaan
heran.
„Seperti telah kukatakan, di dalam Kaypang kami terdapat
pantangan mencuri, merampas atau juga. menghina orang
yang lemah ….,maka di saat mereka mendengar dari
pengemis2 yang lainnya bahwa aku tengah mencarinya,
mereka jadi ketakutan dan mereka datang menemuiku untuk
mengembalikan barang2mu.”
Yo Him jadi kagum sekali. „Mereka mendengar bahwa
Lojinke ..tengah., mencari mereka justru mereka ketakutan.
Tetapi mereka tidak menyembunyikan diri bahkan mereka
telah mencari Wie Tocu untuk mengakui kesalahan mereka.
Bukan main! Itulah lambang jiwa kesatria!”
Wie Tocu tersenyum mendengar perkataan Yo Him.
„Kau terlalu memuji !” katanya kemudian. „Memang sudah
menjadi peraturan rumah tangga kami karena itu semua yang
terjadi bukan suatu persoalan yang luar biasa.. !”

Setelah Yo Him mengetahui, Wie Tocu memiliki kekuasaan
dan kedudukan yang tinggi sekali dalam Kaypang, maka dari
itu tidak meng herankan, waktu ketiga pengemis kecil itu
mendengar bahwa Wie Tocu tengah mencari mereka, mereka
telah menggigil ketakutan setengah mati, karena mereka telah
melakukan perbuatan berdosa yang menjadi pantangan dari
perkumpulan mereka … .
„Nah anak manis, kini pergilah kau melanjutkan
perjalananmu! Ake wakili ketiga anak nakal itu menyatakan
maaf !” kata Wie Tocu sambil menjura.
Tentu saja Yo Him jadi terkejut cepat2 dia menyingkir.
„Tidak berani aku menerima penghormatan begitu berat
dari Lojinke.” katanya,
Dan Yo Him juga telah mengatakan terima kasih kepada
Wie Tocu,
Sedangkan Wie Tocu setelah tersenyum lagi dia memutar
tubuhnya meninggalkan Yo Him.
Yo Him mengawasi kepergian Wie Tocu, sampai bayangan
sipengemls lenyap,
Disaat itu. dari sudut sudut jalan yang gelap tahu2 telah
melompat tiga sosok tubuh kecil. Tentu saja Yo Him jadi
terkejut sekali. Terlebih lagi dia mengenali bahwa ketiga sosok
bayangan itu tidak lain dari ketiga pengemis itu.
„Apakah mereka ingin membalas sakit hati karena aku telah
membongkar rahasia mereka kepada Wie Tocu mereka itu?.”
berpikir Yo Him ngeri, karena dia takut justeru dirinya akan
dipukuli terus menerus lagi oleh ketiga pengemis itu yang
usianya memang jauh lebih besar dari dia.
Tetapi siapa sangka ketiga pengemis itu tahu2 telah
berlutut dihadapannya.

„Kongcu (tuan muda) harap mau memaafkan dosa kami,
harap kau mau mengampuni kami …” sesambatan ketiga
pengemis kecil itu sambil menangis.
Tentu saja Yo Him jadi tertegun, dia memandang melengak
kepada ketiga pengemis kecil itu. Tidak sepatah perkataanpun
juga yang keluar dari mulutnya.
Ketiga pengemis kecil itu waktu melihat Yo Him berdiam
diri saja, jadi menangis lebih keras.
“Harap Kongcu mau mengampuni dan menolong kami l”
kata mereka dengan menangis lebin keras.
Tentu saja kelakuan ketiga pengemis kecil itu membuat Yo
Him tambah bingung.
„Menolong kalian ? Apakah kalian menghendaki aku
menderma satu dua tail perak kepada kalian?” tanya Yo Him
yang menduga bahwa pengemis2 kecil itu meminta derma
padanya.
“Ohhh, kami mana berani menerimanya ?” cepat sekali
ketiga, pengemis kecil itu telah berkata sambii menghapus air
mata, juga mereka masih dalam keadaan berlutut.
“kami hanya memohon agar kongcu memintakan
pengampunan untuk kami bertiga kepada Wie Tocu !”.
“ahh !”, Yo Him jadi mengeluarkah suara seruan tertahan,
„Bukankah Wie Tocu kalian itu sudah mengampuni, bukankah
tadi Wie Tocu ketika itu telah perintahkan kalian pergi ?”
“Benar tetapi menurut peraturan partai, besok kami akan
disidang dan dijatuhi hukuman !” menyahut ketiga pengemis
itu terisak.
Tentu saja Yo Him jadi heran.
“Tadi kelian telah menyiksa diri sendiri sampai muka kalian
babak belur dipukul oleh kalian sendiri, mana mungkin kalian
akan dijatuhi hukuman lagi ?” tanya Yo Him tidak mengerti.

Ketiga pengemis itu tetap berlutut sambil mengangguk2kan
kepalanya.
Tangisan ketiga pengemis itu juga bertambah keras dan
menyayatkan hati.
Tentu saja Yo Him tambah bingung dan gugup, tidak tahu
dia apa yang harus dilakukannya.
„Sesungguhnya…apa yang kalian kehendaki? Apa yang
kalian inginkan, dan apa yang harus kulakukan untuk kalian
bertiga ?” tanya Yo Him akhirnya.
„Kami hanya memohon kerelaan Kongcu untuk
mengampuni kami dan memohonkan pengampunan kami
kepada Wie Tocu…” kata ketiga pengemis itu.
„Apakah didalam perkumpulan Kaypang kalian memang
terdapat peraturan begitu ?”.
„Kalau tidak, besok begitu kami disidang dan dijatuhi
hukuman, sedikitnya kami akan menerima hukuman yang
membuat kami bercacad seumur hidup !”.
„Akhh ?” Yo Him berseru kaget. „Apakah ada peraturan
yang begitu kejam ?”
“Itu merupakan hukuman yang sangat ringan, dan kalau
kami terbukti berdosa besar, berarti kami akan menerima
hukuman mati !”.
Mendengar perkataan ketiga pengemis kecil itu, Yo Him
jadi berdiri tertegun. Dia telah memandangi sejenak kepada
ketiga pengemis itu dengan wajah yang pucat, karena dia jadi
ngeri mendengar bahwa di Kaypang terdapat hikuman yang
begitu berat.
“Tolonglah kami, kongcu. tolonglah kami !”, sesambatan
ketiga pengemis kecil itu.
Yohim jadi tambah binggung saja.

“Aku mana bisa menolongi kau? Wie Tocu tentu tidak akan
mengindahkan kata2ku…”.
„Tetapi justru yang menjadi korban kami adalah Kongcu,
maka asal kongcu, mau membuka satu dua patah kata
memohonkan pengampunan untuk kami, Wie Tocu tentu akan
meluluskan…”
„Dimana aku harus menemui Wie Tocu ? tanya Yo Him
ragu2.
„Mari ikut kami, kami yang akan menunjukan tempat
dimana Wie Tocu biasa berdiam,” kata ketiga pengemis itu
serentak.
Dihati Yo Him tiba2 sekail muncul kecurigaan lagi terhadap
ketiga pengemis kecil ini.
Tadi ketiga pengemis ini yang telah mencelakai dan
merampas buntalannya.
Bukan sekarang mereka tengah mengatur rencana untuk
mencelakai dirinya lagi? Bukankah ketiga pengemis ini tengah
berusaha mengajak Yo Him ketempat yang sepi dan nanti
membunuhnya sambil merampas buntalannya? Dengan
demikian bukankah mereka tidak meninggalkan jejak.
Yo Him jadi ketakutan ketika berpikir begitu.Dia telah
menggeleng keras2.
„Tidak! Aku tidak mau ikut kalian” katanya kemudian
dengan suara nyaring. „Aku ada urusan penting, aku harus
pergi cepat”.
Ketiga pengemis kecil itu semula girang mendengar Yo Him
bersedia menolongi mereka.
tetapi waktu mendengar Yo Him merubah pikirannya,
wajah ketiga pengemis itu jadi pucat.
Serentak mereka telah menjatuhkan diri berlutut dihadapan
Yo Him.

„Kongcu, tolonglah jiwa kami sekali ini …!” sesambatan
mereka sambil menangis keras.
Yo Him jadi ragu2 lagi.
Dilihat dari sikap mereka bertiga, ketiga pengemis kecil itu
bukan sedang bersandiwara, karena tampaknya ketiga
pengemis kecil itu memang tengah ketakutan.
Akhirnya setelah bimbang sejenak, Yo Him mengangguk.
„Baiklah !” Kalian tunjukan dimana aku bisa menemui Wie
Tocul” katanya.
Keruan Saja ketiga pengemis kecil itu jadi girang bukan
main.
Mereka berulang kali telah menyatakan terima kasih yang
tak terhingga.
Dengan hati yang diliputi oleh tanda tanya dan ke ragu2an,
Yo Him mengikuti ketiga pengemis kecil itu.
Ketiga pengemis kecil itu mengajak Yo Him melalui
beberapa lorong yang penuh oleh pengemis2 dari berbagai
usia dan tingkat umur.
Semua pengemis2 yang berpapasan hanya menghela
napas, bahkan ada yang menggumam.
„Salah mereka bertiga juga, yang telah berani melakukan
perbuatan hina seperti itu…!”
Tentu saja Yo Him mengetahui bahwa yang dimaksudkan
oleh orang itu adalah ketiga pengemis kecil tersebut.
Disaat itulah Yo Him baru menyadari bahwa ketiga
pengemis kecil itu memang benar2 tengah ketakutan oleh
ancaman hukuman berat dan benar2 membutuhkan
pertolongannya.
Maka Yo Him mempercepat langkahnya, agar lebih cepat
dapat menjumpai Wie Tocu.

Disaat itu ketiga pengemis kecil tersebut telah mengajak Yo
Him kesebuah tikungan jalan yang gelap.
Yo Him melihat dikejauhan tampak duduk Wie Tocu
disebuah undakan anak tangga dimuka bangunan rumah yang
sudah tua.
Cepat2 ketiga pengemis kecil itu telah menunjuk kearah
Wie Tocu sambil katanya perlahan; „Wie Tocu berada disana
kami menanti di sini”.
Yo Him mengerti.
Dengan langkah lebar, Yo Him telah menghampiri Wie
Tocu, yang ternyata tengah duduk sambil setengah rebah,
memejamkan matanya rapat2.
„Wie Tocu” panggil Yo Him.
Wie Tocu seperti tidak mendengarnya.
„Wie Tocu … aku datang ingin mengganggu mu sebentar”.
Tetapi Wie Tocu seperti tidak mendengar perkataan Yo
Him, karena pengemis dengan kumis dan jenggot yang kaku
tidak beraturan itu, tetap memejamkan matanya.
„Wie Tocu. . . ” panggil ! Yo Him dengan suara sengaja
diperkeras.
Per lahan2 Wie Tocu membuka sepasang matanya, dan
ketika melihat yang memanggilnya bukan seorang pengemis,
melainkan Yo Him, dia jadi terkejut, karena itu dia telah duduk
tegak dengan cepat dan wajahnya yang tadi angker telah
dihiasi senyuman.
„Akhh, kau belum pergi ?, kukira siapa, tidak tahunya kau
!” kata Wie Tocu “Ada urusan apa lagi”.
Yo Him ragu2 sejenak tetapi akhirnya dia telah berkatga
juga.

„Aku ingin meminta pertolongan sedikit dari Wie Tocu,
bolehkah aku bicara terus ?” tanya Yo Him.
„Katakanlah,” kata Wie Tocu
„Sesungguhnya, kedatanganku ini untuk memintakan
pengampunan…” kata Yo Him,
„Meminta pengampunan?” „Ya,” mengangguk Yo Him
“Pengampunan apa”
„Pengampunan dari hukuman”
“Kau bersalah apa ?”
„Bukan, untukku, tetapi untuk orang lain “
„Untuk orang lain?”
„Ya, untuk orang lain “
Sepasang alis Wie Tocu jadi mengkerut
„Adik kecil, aku merasa tertarik ketika pertama kali aku
melihatmu aku juga merasa kasihan ketika melihat kau
mengalami nasib buruk karena barangmu telah dirampas oleh
anak2 Kaypang. Tetapi jangaa kau berpikir yang tidak2 untuk
meminta segala macam persoalan yang bukan menjadi
urusanmu! Yang terpenting sekali kau tidak boleh usil
mencampuri urusan orang lain…”
Yo Him jadi berobah merah mukanya.
„Tetapi Wie Tocu aku benar2 membutuhkan sekali
pertolonganmu!” kata Yo Him kemudian
„Mengapa begitu?”
„Aku bermaksud menyelamatkan tiga orang anak buahmu
dari hukuman.”
Mendengar perkataan Yo Him sampai disitu, muka Wie
Tocu telah berobah menjadi merah padam.

“Kau maksudkan ketiga pengemis kecil?” tanyanya dengan
suara dingin
Yo Him ragu2 sejenak melihat wajah Wie Tocu begitu rupa,
tetapi akhirnya dia jadi nekad dan telah menganggukkan
kepalanya.
„Benar!” menyahuti Yo Him.
„Plakk !” tahu2 Wie Tocu telah mengayunkan tangannya,
dia telah menghantam pilar batu, sehingga pilar itu sempal
dan sebagian menjadi bubuk. Tentu saja hal itu telah
membuat Yo Him jadi tertegun kaget, hatinya jadi ngiris
sekali.
„Kau keterlaluan sekali !” berkata Wie Tocu dengan suara
yang dingin. „Kau baru saja kutolong untuk mencari pulang
barang2mu. Kini barang2 dan uangmu telah kembali
ketanganmu, bukannya pergi membawa dirimu, engkau malah
mau usil mencampuri urusan rumah tangga dari perkumpulan
kami !”.
Waktu berkata begitu, wajah Wie Tocu tampak dingin dan
juga suaranya tidak mengandung perasaan, ditekan dalam
sekali.
Yo Him jadi takut, tetapi teringat betapa ketiga pengemis
kecil itu mengalami ancaman hukuman yang katanya bisa
membuat mereka bercacad. dengan sendirinya mau tidak mau
membuat Yo Him bertekad harus menolonginya.
Setelah berpikir sejenak, tahu2 Yo Him menekuk kedua
kakinya.
Yo Him telah berlutut dihadapan Wie Tocu sambil katanya :
„Lojinke…jika memang kau mau mengampuni ketiga orang
anak buahmu itu aku bersedia untuk bekerja kepadamu satu
bulan lamanya ! Atau sebagai imbalannya kau sebutkan saja,
asal aku dapat melakukannya, pasti aku akan melakukannya
menuruti permintaanmu!”

Wie Tocu sama sekali tidak menduga bahwa Yo Him bisa
berlutut dihadapannya hanya sekedar ingin menolongi ketiga
orang pengemis kecil itu, Justeru yang ingin ditolong Yo Him
adalah pengemis2 kecil yang telah mengganggu-nya.
Untuk sejenak Wie Tocu jadi tertegun, saat itu sebetulnya
dia tengah mendongkol dan gusar tetapi dengan adanya
peristiwa yang tidak diduganya ini, dimana Yo Him berlutut
dihadapannya dengan hati tulus itu untuk menolong ketiga
orang pengemis kecil yang menjadi anak buahnya, kemarahan
dan kemendongkolan Wie Tocu seketika meiosot delapan
bagian…
Dengan mengibaskan lengan bajunya. Wie Tocu telah
membentak : „Berdirilah kau !”.
Aneh sekali. Yo Him yang tengah berlutut merasakan
betapa ada serangkum kekuatan tenaga yang hebat sekali
mendorong bahunya, dan tanpa bisa ditahannya lagi tubuhnya
jadi berdiri, menuruti perintah dari Wie Tocu.
Wie Tocu mengawasi Yo Him sejenak, sampai akhirnya dia
berpikir :
„Biarlah aku menguji sampai berapa besar jiwa kesatria
yang dimilikinya…” dan setelah berpikir begitu, tampak Wie
Tocu memperlihatkan muka yang bengis dan telah berkata ;
„Apakah engkau benar2 memang ingin menolong ketiga
pengemis kecil yang pernah mengganggumu itu”
Yo Him mengangguk dengan pasti, tanpa ragu2 sedikitpun
juga.
„Benar l” sahutnya.
„Hemm, tahukah engkau bahwa didalam perkumpulan kami
terdapat peraturan yang keras, yang akan menghukum anak
buahnya yang melakukan pelanggaran. Maka dari itu hukuman
akan dijatuhkan oleh sidang yang akan kami adakan besok,
tidak bisa dibantah oleh siapapun juga! Jika memang

siterhukum meminta keringanan, maka dia harus mencarikan
wakilnya, yaitu orang lain yang bersedia berkorban untuk
mereka!”
Dan setelah berkata begitu, tampak Wie Tocu telah
menggerakan tangannya, dia telah mengibas lagi,
„Pergilah kau!” katanya. „Aku sudah mengatakan bahwa
kau tidak mungkin bisa mewakili mereka.
Yo Hijn jadi berdiri ragu2
„Sesungguhnya hukuman apakah yang akan diterima
mereka bertiga?” tanya Yo Him kemudian.
Mereka akan dipatahkan kedua kaki dan ke dua
tangannya!” kata Wie Tocu „Akkhhh!”
Memang hukuman yang disebut oleh Wie-Tocu telah
mengejutkan sekali Yo Him,
Tubuh anak itu juga telah tergetar menggigil menahan
perasaan terkejutnya, Tetapi Wie Tocu telah tertawa dingin.
„Jika memang engkau ingin mewakili ketiga pengemis kecil
itu, berarti kau harus mewakili mereka, dipatahkan kaki dan
tanganmu . . bahkan disebabkan mereka tiga orang, maka kau
harus menjalankan hukuman itu sebanyak tiga kali!”
„Sebuah cara menghukum yang kejam sekali !”
menggumam Yo Him dengan suara yang serak.
„Hemmm… bukan kejam, tetapi peraturan kami dijalankan
dengan keras. Kalau kami sendiri tidak menjunjung tinggi
peraturan kami, lalu siapa yang akan mentaatinya?”
Mendengar begitu, tentu saja Yo Him jadi berdiri
mematung sesaat lamanya.
Mana mungkin dia mewakili ketiga pengemis kecil itu,
untuk dipatahkan kedua kaki dan kedua tangannya?

Bahkan Untuk mewakili ketiga pengemis kecil itu, berarti
dia harus menjalani hukuman seperti itu sebanyak tiga kali !
Bukanlah itu merupakan Urusan yahg terlampau gila???
Melihat muka Yo Him telah berobah pucat dan berdiri
dengan tubuh yang kaku,seperti itu Wie Tocu mengeluarkan
suara tertawa dingin, kemudian Wie Tocu merebahkan
tubuhnya lagi dia telah memejamkan matanya seperti tidak
mengacuhkan lagi kepada Yo Him.
Yo Him berdiri diam ditempatnya agak lama, sampai
akhirnya dia memanggil „Wie Tocu…”
Tetapi Wie Tocu tidak menyahut, dia tetap memejamkan
matanya
„Wie Tocu… !” Yo Him telah memanggil lagi.
Wie Tocu membuka matanya tanyanya dengan suara yang
dingin.
„Apa lagi?”
„Aku ingin bertanya kepada lojinke, seumpama kata aku
mewakili mereka menjalankan hukuman, apakah ketiga
pengemis kecil itu akan bebas dari hukuman yang harus
mereka terima?”
„Oh jelas….!”
Yo Him menggigit bibirnya keras2, kemudian dengan
nekad dia berkata. “Baiklah! Baiklah..Biarlah aku yang
mewakili mereka menerima hukuman itu!”
Muka Wie Tocu jadi berobah, sepasang alis nya ber-gerak2.
„Kau ber-sungguh2?” tanyanya dengan suara tidak lancar,
„Mengapa aku harus berdusta?” tanya Yo Him lagi:
„Seorang lelaki tentu tidak akan bohong”.

„Bagusi Apakah kau tidak takut kalau harus menjalankan
tiga kali hukuman seperti itu’” tanya Wie Tocu lagi.
„Mengapa harus takut! Hukuman berat dan kejam itu
diciptakan oleh manusia, untuk menghukum manusia juga,
maka walaupun manusia bersalah itu telah bertobat dan
memohon pengampunan, hukuman itu harus tetap mereka
jalankan. Dan ketiga pengemis kecil itu berjumlah tiga orang,
sedangkan aku hanya satu orang. Biarlah, dari pada mereka
bertiga harus celaka semuanya, bukankah lebih baik aku
seorang saja yang berkorban?”
„Tetapi walaupun engkau mewakili mereka engkau tetap
harus menerima tiga kali hukuman itul” kata Wie Tocu
menegasi. „Bukankah engkau mewakili tiga pengemis kecil
itu?”
„Ohh. memang begitu !” menyahut Yo Him cepat „Memang
aku telah bersiap sedia untuk menerima tiga kali hukuman
kejam itu. Bukankah menerima satu kali atau sepuluh kali
akan sama saja ? maka daripada ketiga pengemis kecil itu
mesti bercacad bertiga lebih baik hanya aku saja yang
bercacad, sama bukan ?”
Bukan main kagumnya hati Wie Tocu, dia sampai
mengawasi Yo Him dengan mata yang terpentang lebar2 dan
meng-geleng2kan kepalanya.
“bukan main” katanya beberapa kali dengan suara yang
perlahan “Engkau hebat sekali adik kecil, hebat sekali !”
Yo Him mengawasi Wie Tocu, dia heran melihat sikap Wie
Tocu seperti itu.
“Kau jangan memandang sinis kepadaku seperti itu !” kata
Yo Him mendongkol.
“Walau pun hukuman itu bukan hukuman yang ringan,
tetapi kukira masih dapat kutahan !”
Wie Tocu telah memperlihatkan ibu jarinya

“Hebat !” serunya nyaring. “Engkau hebat adik kecil !”.
Dan Wie Tocu telah tertawa gelak2 dengan suara
tertawanya yang keras sekali.
Yo Him tidak mengerti sikap Tocu itu, dia telah mengawasi
saja.
„Untuk menolongi ketiga anak kecil yang telah merampas
barang2mu, bahkan yang telah memukulimu juga, kini engkau
membelai mereka, bersedia untuk berkorban sedemikian rupa
mewakili hukuman untuk mereka, benar2 merupakan urusan
yang jarang sekali kusaksikan dalam usia sudah setua ini ….”
dan Wie Tocu telah tertawa lagi ber-gelak2 dengan keras.
Tentu Saja Yo Him belum mengerti maksud perkataan dari
Wie Tocu, tetapi dia telah melihat bahwa muka Wie Tocu
sudah tidak sedingin tadi, bahkan telah tertawa keras dan
begitu lapang.
„Baiklah !” kata Wie Tocu kemudian. „Aku membebaskan
ketiga pengemis kecil itu ….Mereka kubebaskan dari hukuman
yang seharusnya mereka terima…… dan begitu pula kau
kubebaskan juga dari hukuman itu”
Setelah berkata begitu, dengan cepat Wie Tocu
menghampiri Yo Him, sambil katanya “Mari kita mengikat tali
persahabatan… !”
Inilah suatu peristiwa yang benar2 luar biasa dan jarang
terjadi, karena sebagai orang penting di Kaypang. luar biasa
sekali dia mengajak seorang anak kecil Yo Him untuk
mengikat tali persahabatan.
Yo Him jadi memandang tertegun sejenak, tetapi kemudian
ikut tertawa.
„Lojinke engkau luar biasa juga!” kata nya „Engkau telah
mau memenuhi permintaanku untuk membebaskan ketiga
orang pengemis kecil itu dari hukuman yang seharusnya
mereka terima, sudah merupakan urusan yang

menggembirakan sekali. Bagaimana aku berani begitu kurang
ajar untuk menjadi sahabat Lojinke?” Mendengar perkataan
Yo Him, kembali Wie Tocu telah tertawa ber-gelak.
„Hahaha. dalam mengikat tali persahabatan, tidak
tergantung dari usia, tidak melihat dari tingkat dan kedudukan
! dalam mengikat tali persahabatan sejati adalah dua potong
hati yang cocok dan merasa saling menghormati! Bukankah
sebagai sahabat, kita harus tolong menolong dan menaruh
hormat dan segan ? Aku telah melihatnya, walaupun usiamu
masih demikian muda, namun engkau memiliki hati yang
benar2 gagah dan kesatria.” Cepat2 Yo Him menjura.
„Lojinke terlalu memuji berat sekali” katanya.,
Tetapi Wie Tocu telah tertawa lagi. dia me narik tangan Yo
Him.
„Mari, mari! Aku akan mentraktir kau makan dan minum!”
katanya.
Yo Him ingin menolak, tetapi cekalan tangan Wie Tocu
sangat kuat, tubuhnya juga telah ditarik. Maka dari itu Yo Him
akhirnya terpaksa hanya ikut saja, kalena jika dia bertahan
tentu dirinya akan terseret dan jatuh.
Saat itu Wie Tocu telah mengajak Yo Him kesebuah rumah
arak, dia telah memilih sebuah meja dan duduk disitu sambil
memukul meja. „Mana pelayan?” teriaknya.
Dua orang pelayan segera, mendatangi dengan sikap yang
menghormat sekali.
„Wie Tocu ingin dahar dan minum apa?” Pelayan itu
dengan sikap yang sangat hormat sekali, sehingga membuat
Yo Him kembali merasa kagum kepada Wie Tocu. Karena
Walaupun dia seorang pengemis, namun kenyataannya dia
sangat dihormati sekali oleh pelayan rumah arak itu.
„Lima kati arak dan empal kati daging bakar!” kata Wie
Tocu nyaring.

Setelah pelayan pergi, Wie Tocu menunjuk kursi
dihadapannya.
„Kau duduk disitu, adik kecil.” katanya, kemudian, karena
dia melihat Yo Him masih saja berdiri ditempatnya tidak
bergerak.
Yo Him ragu2 sejenak tetapi karena dia takut Wie Tocu
tersinggung dan marah, akhirnya dia telah duduk juga.
„Akhhhh…” berkata Wie Tocu itu lagi “Dan kau selanjutnya
tidak perlu merasa segan kepada sahabatmu! Karena usiaku
lebih tua banyak dari kau untuk selanjutnya akulah si kakak,
maka kau panggil aku dengan sebutan Toako, sedangkan kau
siadik, yaitu si Hiante !”
Yo Him yang tengah tertegun mendengar dan melihat sikap
Wie Tocu hanya diam mematung saja.
„Nah, Yo Hiante, kau dengar bukan perkataanku?” tanya
Wie Tocu itu sambil mengawasi Yo Him dengan disertai
tertawanya yang lebar,
Yo Him mengangguk.
„Terima kasih Lojinte … ” kata Yo Him dengan gugup.
„Mengapa masih memanggil dengan sebutan Lojinke? Aku
begini2 juga belum terlalu tua sekali untuk menjadi kakakmu!”
berkata Wie Tocu sambil tertawa. „Sebagai orang berjiwa ke
satria, apa susahnya sih mengucapkan Kata 2 Toako?”
„Baiklah Wie Toako !” mengangguk Yo Him akhirnya.
Mendengar dia dipanggil Toako, Wie Tocu telah tertawa
ber-gelak2 keras sekali, tampaknya dia girang bukan main.
„Terima kasih Hiante ! Terima kasih Yo Hiante! Ternyata
kau tidak memandang rendah aku sipengemis butut ini”.

Mana berani adikmu memandang rendah Toako?” cepat2
Yo Him telah mengimbangi. Segera juga keduanya jadi asyik
ber cakap2.
Waktu pelayan mengantarkan arak dan daging bakar. Wie
Tocu telah memaksakan Yo Him meneguk satu cawan arak.
Semula Yo Him menolak, tetapi akhirnya karena didesak
terus, terpaksa dia menuruti juga perintah kakaknya itu.
Begitulah mereka telah ber cakap2 banyak sekali. Tetapi
yang pasti adalah si kakak angkat itu yang telah banyak
berbicara
Dengan mendengarkan ceritanya Wie Tocu, maka Yo Him
jadi mengetahui sedikit gambaran mengenai penghidupan
jago2 didalam rimba persilatan.
Dan disaat itu Yo Him teringat peristiwa yang telah terjadi
di kuil Kun Lun San.
Segera juga Yo Him menceritakan pengalamarnya itu
kepada Wie Toakonya itu.
„Akkhhh ” berseru Wi Tocu. „Apakah ada peristiwa hebat
seperti itu? Sebelumnya tidak pernah aku mendengarnya !”
Tampaknya Wie Tocu benar2 kaget, muka nya juga telah
berobah pucat.
„Dan Yo Hiante tahukah kau nama keempat orang Mongol
yang telah mencelakai imam2 dari Kun Lun Pay itu.”
Yo Him menggelengkan kepalanya.
“Sayang adikmu tidak mengetahui apa2 katanya
kemudian.
„Aneh sekali, Siapakah pendeta itu?” menggumam Wie
Tocu.
Tetapi akhirnya Wie Tocu menghela napas panjang.

„Sudahlah, urusan imam2 Kun Lun Pai itu nanti akan
kuselidiki. Nanti akan kuperintahkan beberapa orang Kaypang
untuk pergi kekuil Kun Lun Sie untuk menyelidiki urusan itu.
Dan setelah berkata begitu Wie Tocu telah merogoh
sakunya, dia telah mengeluarkan sebuah Kimpay yaitu sebuah
lencana emas.
Sambil memperlihatkan Kimpay itu, Wie-Tocu telah berkata
;
„Yo Hiante, kau lihatlah…” katanya „Walaupun aku dari
perkumpulan pengemis tetapi pay kami terbuat dari emas.
Nah. Kau peganglah Kimpay ini, kelak tentu banyak
kegunaannya untukmu. Aku menghadiahkan kenang2an
untukmu karena Toako mu di-saat sekarang ini tidak memiliki
barang lainnya Untuk dihadiahkan kepadamu !”.
„Toako ?” Yo Him ragu2, karena dia melihat Kimpay itu
terbuat dari emas dan ukurannya juga agak besar.
„Terimalah, jangan kau menolak, karena jika kau menolak,
berarti menghina Toakomu !” kata sipengemis.
Dengan sikap masih ragu2 Yo Him telah menyambuti Kim
Pay itu. Dia memasukkan kedalam sakunya.
“Yo hiante kau dengarlah. Diseluruh daratan Tionggoan
tersebar anggota Kaypang” kata Wie Tocu. „Setiap propinsi,
setiap kecamatan setiap kampung dan setiap kota, pasti
terdapat anggota Kaypang. Kakakmu bukan bicara besar,
tetapi memang sesungguhnya Kaypang memiliki anggota yang
sangat banyak jumlahnya. Walaupun belum bisa disebut
sebagai perkumpulan nomor satu, tetapi tidak mudah orang
menghina Kaypang. Jika kelak suatu saat kau menemui
kesulitan, kesulitan apa saja, kau temuilah seorang anggota
Kaypang setempat dan perlihatkan Kimpay itu sambil
menyebutkan dan menceritakan kesulitanmu. maka dengan
segera kesulitanmu itu akan teratasi, walaupun dalam bentuk
apa saja kesulitan itu…!”

„Begitu hebatkah pengaruh Kimpay yang Toako hadiahkan
kepadaku?” tanya Yo Him.
Wie Tocu telah mengangguk meyakinkan, sambil katanya.
„Sekarang begini saja kau mungkin belum percaya perkataan
Toakomu, kau perlu bukti. Sekarang pergilah kau keluar, kau
pilih pengemis mana saja yang kau kira belum pernah
bertemu dengan kau, setelah kau panggil ,segera kau
perlihatkan Kimpay ini apa yang akan segera dilakukan oleh
pengemis itu pasti akan membuktikan perkataan Toakomu
yang terkebur ini…”.
Yo Him jadi ragu2, tetapi karena diapun ingin mengetahui
kasiat dari Kimpay itu, akhirnya mau juga dia menuruti
perkataan kakak angkatnya itu. Namun baru saja dia berdiri,
Yo Him telah merangkapkan sepasang tangannya, dia telah
memberi hormat kepada Wie tocu.
„Jika adikmu menuruti perkataanmu, Toako, berarti adikmu
ini tidak tahu diri, tidak mempercayai perkataanmu” kata Yo
Him kemudian. „Bukankah sebagai seorang kakak, engkau
tidak akan mendustai adikmu ?” dan setelah berkata begitu Yo
Him duduk kembali di kursinya.
Wie Tocu berterima kasih atas sikap Yo Him.
Mereka telah ber-cakap2 banyak sekali, akhirnya mereka
berpisahan, karena Yo Him ber maksud melanjutkan
perjalanannya.
Semula Wie Tocu menahan Yo Him, agar bermalam dikota
tersebut, tetapi Yo Him telah menolaknya sambil menyatakan
terima kasihnya. Menurut Yo Him, dia telah terlalu banyak
merepotkan sang kakak. „Mungkin kau takut diminta tidur
diemperan toko dan ditepi jalan, bukan?” tanya Wie Tocu
sambil tertawa: „Jangan takut aku pasti akan memintakan
kamar kelas satu dirumah penginapan kelas satu !”
„Aku percaya Toako, tetapi tidak mau merepotkan Toako
lebih jauh.!” menyahuti Yo Him sambil tertawa.

Dan ber pisahlah mereka, Saat itu mendekati fajar, dimana
matahari hampir muncul memperlihatkan dirinya.
Yo Him telah melanjutkan perjalanannya meninggalkan
kota itu.
Ketika berjalan belasan lie, Yo Him telah tiba disebuah
kampung yang tidak begitu besar, dia telah menginap dirumah
seorang penduduk,
Setelah puas tidur, akhirnya Yo Him melanjutkan perjalanan
lagi.
Waktu itu sudah mendekati awal musim dingin, disaat
mana semua pohon telah gundul karena pohon itu telah
melepaskan bunga dan daunnya gugur semua… salju juga
mulai turun tipis2.
Walaupun udara belum terlalu dingin, namun nyatanya
orang jarang melakukan perjalanan dalam udara seburuk itu.
Yo Him telah membeli sebuah jubah tebal, dengan itu dia
melindungi tubuhnya dari serangan hawa dingin. Dan Yo Him
terus juga melanjutkan perjalanan.
Anak ini sama sekali tidak memiliki tujuan, dia hanya
berjalan kemana kakinya membawanya…
Waktu Yo Him tiba di kota Phui-sie-kwaan anak ini tertarik
melihat kota yang padat penduduknya dan ramai sekali,
walaupun musim dingin mulai tiba.
Waktu Yo Him memasuki pintu kota, tiba tiba dia
mendengar suara ramai. Dilihatnya banyak orang berdiri
berkerumun seperti juga tengah menyaksikan sesuatu.
Yo Him jadi tertarik, dia segera mendekati dan menyelinap
diantara orang ramai itu.
Segera juga dia mengetahui bahwa yang dikerumuni orang
itu tidak lain dari dua orang yang tengah bertempur hebat.

Kedua orang itu masing2 berusia empat puluh tahun lebih,
mereka berkelahi seru sekali dengan mempergunakan kedua
tangan mereka.
Muka mereka telah babak belur, karena keduanya telah
saling terpukul.
Yang hebat justeru adalah mereka tidak mau berhenti dari
pertempuran itu, walaupun hidung dan mulut mereka telah
mengucurkan darah,
Sedangkan belasan orang yang berkerumun itu telah
mengeluarkan suara sorakan yang ramai sekali, mereka
seperti menyaksikan dua ayam jago yang tengah diadu.
Yo Him jadi mengerutkan sepasang alisnya, dia melihat
kedua orang itu seperti manusia2 tolol yang mau diadu begitu
saja.
Saat itu salah seorang diantara keduanya telah
mengulurkan tangannya, lalu mencekik leher lawannya
dengan keras.
Tetapi lawannya itu tidak mau mengalah, dia telah
mempergunakan sikut tangan kanannya menyodok perut
lawannya.
Hebat sekali sikutannya itu. sehingga menimbulkan suara
yang nyaring.
Tubuh lawan yang disikut juga terdorong kebelakang, jatuh
terjengkang hingga cekikannya tidak bisa dipertahankan.
Sedangkan orang yang telah berhasil dengan sikutannya
itu, telah memutar tubuhnya sambil menubruk dan
menghantami muka lawannya.
Hebat sekali pukulannya itu, sehingga darah mengucur
deras dari hidung dan mulut lawannya.

Tetapi orang itu juga meronta2 dengan kedua kaki dan
tangannya, sampai akhirnya dia berhasil meloloskan diri dan
terbalik menghantam kelawannya.
Begitulah keduanya telah berkelahi terus tanpa
memperdulikan darah yang telah mengucur deras.
Orang2 yang berkerumun menyaksikan perkelahian itu,
telah ber-sorak2 riuh sekali, mereka justru menganjurkan agar
kedua orang itu terbangkit semangatnya untuk bertempur
terus.
Salju dikaki kedua orang yang tengah berkelahi itu telah
banyak yang merah oleh siraman darah, tetapi kedua orang
itu seperti tidak memperdulikannya, mereka terus juga saling
baku hantam tidak hentinya.
Tetapi, disaat orang2 yang menyaksikan perkelahian itu
tengah ber-sorak2 bergemuruh berisik sekali, tahu2 telah
melompat seorang hweshio, yang tubuhnya kurus tinggi
dengan kepala yang gundul dan jubah pendeta yang berwarna
kuning. Gerakannya begitu cepat dan gesit sekali, karena
begitu kedua kakinya hinggap, begitu kedua tangannya
bekerja.
Tahu2 pendeta itu telah mencengkeram punggung kedua
orang itu,
„Pergilah !” bentak hweshio itu. Seketika itu juga tubuh
kedua orang yang tengah bertempur itu terpelanting
bergulingan.
Mereka berdua juga mengeluarkan suara jeritan kaget.
Sedangkan orang2 yang menyaksikan perkelahian itu telah
berhenti bersorak, keadaan jadi sepi sekali.
Yo Him juga heran melihat kedatangan hweshio itu, yang
tanpa bicara dan tanpa mengucapkan sepatah kata, telah
melontarkan kedua orang yang tengah berkelahi itu.

Sedangkan kedua lelaki yang tadi bertempur telah bangun
berdiri.
Muka mereka merah padam diliputi kegusaran yang bukan
main. Dengan darah berlepotan dimuka, mereka telah
memandang bengis kepada si hweshio.
„Siapa kau kerbau gundul ?” bentak salah seorang diantara
mereka.
„Apa maksudmu begitu usil mencampuri urusan kami ?”.
Hweshio kurus itu tersenyum sabar, dia telah
merangkapkan sepasang tangannya
„Siancai ! Siancai ! Justru Lolap heran melihat kalian
berkelahi begitu rupa. Apakah yang kalian perebutkan ?” tanya
sihweshio
“Buka urusanmu ! Tetapi kau telah melemparkan aku,
engkau harus mempertanggung jawabkannya!” teriak yang
seorang, yang memakai baju bulu warna abu2 dengan suara
yang bengis.
„benar ! engkau juga telah melontarkan aku maka
engkaupun harus kuhajar !” teriak yang memakai baju biru.
Lalu seperti telah berjanji, kedua orang itu serentak
melompat menerjang kearah si hweshio dia telah melancarkan
serangan pukulan yang kuat sekali.
Tetapi hweshio Itu sama sekali tidak takut sikapnya juga
tenang sekali.
Hweshio itu hanya mengawasi saja, serangan tangan kedua
orang itu yang tengah meluncur kearah muka dadanya, ketika
serangan hampir tiba, si hweshio tahu2 menggeser kakinya,
dan luar biasa sekali, tahu2 dia telah lenyap dari hadapan
kedua orang yang menyerangnya.
Tahu2 tangan si hweshio telah menepuk punggung kedua
orang itu cukup keras tepukannya, karena menimbulkan suara

“Buuukkkkk! Buukkkkk!” yang nyaring walaupun si hweshio
menepuknya perlahan sekali.
Disaat itu kedua orang tersebut tengah kehilangan
keseimbangan tubuhnya, karena sasaran mereka lenyap tiba2
dan tubuh mereka tengah menyelonong kedepan. Maka ketika
punggung mereka kena ditepuk begitu rupa, dengan sendiri
nya tidak ampun lagi mereka terjerembab dan mencium tanah
bersalju.
Merekapun telah mengeluarkan suara jeritan, karena dari
hidung mereka telah mengucur darah yang cukup banyak.
Dengan gusar kedua orang itu telah melompat berdiri lagi.
Bagaikan harimau yang terluka, keduanya telah melompat
menerjang kearah si hweshio.
Berulang kali mereka menyerang, berulang juga mereka
terjungkal rubuh kembali, seperti dipermainkan oleh si
hweshio dengan mudah.
Setelah beberapa kali mengalami kejadian .seperti itu.
akhirnya kedua orang tersebut tidak meneruskan serangan
mereka lagi, keduanya hanya berdiri mengawasi si hweshio
dengan tatapan mata takjub.
„Sudah cukup ?” mengejek sihweshio sambil tersenyum
sabar.
„Siapa kau sesungguhnya ?” bentak kedua lelaki itu hampir
berbareng.
„Lolap bergelar In Lap Siansu ….” menjelaskan hweshio itu.
„Kebetulan sekali disaat Lolap lewat ditempai ini, Lolap
menyaksikan jie wie sicu tengah saling baku hantam seperti
tidak memikirkan keselamatan diri lagi. Sesungguhnya urusan
apakah yang telah menyebabkan jie wie sicu (tuan2 berdua)
saling serang seperti itu ?”.
Muka kedua laki2 itu tiba2 berobah merah.

Ternyata kedua lelaki itu adalah dua orang penduduk kota
Phui-sie-kwan. Mereka berdua sebetulnya merupakan sahabat
yang cukup akrab.
Tetapi tadi malam mereka telah mengunjungi rumah bunga
hidup, yaitu tempat pelacuran , secara kebetulan mereka jatuh
hati terhadap pelacur yang sama, maka setelah terjadi
keributan, mereka akhirnya berkelahi.
Akhirnya oleh pihak keamanan tempat pelacuran itu
mereka dipisahkan. Namun hari ini, disaat bertemu dipintu
kota, mereka telah saling sindir dan akhirnya berkelahi lagi …
Mendengar pengakuan seperti itu, sihweshio telah meng
geleng2kan kepalanya.
„Apakah bisa dipersamakan nilai persahabatan dengan nilai
seorang pelacur?. Mengapa hanya disebabkan seorang wanita
pelacur, kalian rela untuk merusak persahabatan ?” tegur si
hweshio kemudian.
Muka kedua lelaki itu jadi berobah semakin merah. Karena
mereka mengetahui bahwa hweshio ini bukanlah hweshio
sembarangan dan memiliki kepandaian yang tinggi sekali,
maka mereka jadi menghormati.
Keduanya telah merangkapkan tangan dan memberi
hormat.
„Kami memang berpikiran cupat, Taisu…kami mengaku
bersalah !” kata mereka serentak, Kemudian keduanya saling
memberi hormat, saling meminta maaf.
Si Hweshio tampak senang melihat kedua orang itu berhasil
didamaikan.
Setelah mengucapkan kebesaran sang Budha beberapa
kali, si hweshio yang mengaku bergelar In Lap Siansu itu telah
memutar tubuhnya dan berlalu.

Yo Him tadi telah menyaksikan, betapa hweshio itu hebat
sekali kepandaiannya, juga hweshio itu sangat sabar dan
manis budi.
Karena memang tidak mempunyai tujuan yang tetap,
akhirnya Yo Him telah mengikuti hwesio itu secara diam2.
Dilihatnya In Lap Siansu memasuki sebuah rumah makan,
maka Yo Him pun memasuki rumah makan itu. Didalam hati
Yo Him merasa kagum atas kehebatan ilmu silat hweshio dan
kebijaksanaannya dalam menyelesaikan urusannya dua lelaki
itu.
Dilihatnya in Lap Siansu telah duduk di sebuah meja,
tengah menikmati tehnya.
Dia duduk membelekangi pintu, sehingga kedatangan Yo
Him tidak dilihatnya.
Cepat2 Yo Him telah memilih meja yang berjauhan dengan
sihweshio itu. sehirgga dia bisa mengawasi gerak gerik
hweshio yarg luar biasa itu.
Semula In Lap Siansu meneguk tehnya dengan berdiam diri
saja, tetapi akhirnya dia menggumam perlahan ;
„Akhh, akhh, persahabatan!” perlahan sekali suaranya, dia
juga telah meneguk tehnya lagi.
Tentu saja Yo Him jadi heran sekali melihat perlakuan
hweshio itu, yang membuat Yo Him semakin memperhatikan
In Lap Siansu,
Saat itu sihwesbio telah menggumam „Persahabatan
memang sangat berharga jika memang ingin bersahabat,
mengapa harus sembunyi2 seperti seekor tikus?. Bukankah
mengikat tali persahabatan sangat berharga sekali !”
Yo Him mendengar jelas sekali perkataan sihweshio, tetapi
dia tidak mengetahui entah perkataan In Lap Siansu itu
ditujukan untuk siapa.

Tatapi sebagai seorang anak yang sangat cerdik sekali, Yo
Him dapat meraba sedikit banyak kata2 itu merupakan
sindiran untuk dirinya,
Rupanya In Lap Siansu telah mengetahui bahwa dirinya
diikuti olehnya!
Teringat akan itu muka Yo Him jadi berobah merah
sendirinya dan diapun jadi merasa malu!
Tetapi sebagai seorang anak yang berjiwa besar. walaupun
usianya masih kecil sekali, Yo Him telah bangkit dari duduknya
dia telah menghampiri meja In Lap Siansu.
Setelah berada dihadapan, Yo Him telah merangkapkan
tangannya, dia telah memberi hormat sambil katanya: „Taisu,
kepandaianmu sangat hebat sekali, benar2 aku kagum
melihatnya!”
In Lap Siansu mengawasi Yo Him yang berdiri
dihadapannya,
„Duduklah!” katanya kemudian ramah sambil menunjuk
kursi kosong dihadapannya,
Yo Him segera duduk tanpa merasa segan lagi, karena dia
melihatnya bahwa si hweshio memiliki jiwa yang sangat
bebas.
„Siapa namamu nak ?” tanya hweshio itu. „Dan kulihat kau
tadi merasa tidak senang menyaksikan perkelahian diantara
kedua lelaki itu dipintu kota, bukan ?”
„Aku she Yo dan bernama Him” menjelaskan Yo Him. „Dan
apa yang dikatakan oleh Taisu memang benar, alangkah
memuakkan kedua orang itu berkelahi tanpa mengenal malu
saling baku hantam ditontoni oleh orang banyak Terlebih
memalukan sekali adalah urusan yang menyebabkan mereka
berkelahi …”.

Mendengar perkataan Yo Him, In Lap Siansu tersenyum
lebar sambil meng-angguk2kan kepalanya dan berulang kali
memuji akan kebesaran sang Buddha.
“Bemar !” kata In Lap Siansu akhirnya.
„justru Lolap turun tangan memisahkan mereka adalah
disebabkan memandang mukamu, anak ..”.
„Ihh !” Yo Him berseru kaget.
„Mengapa begitu ?” tanyanya tidak mengerti.
„Justru Lolap memisahkan mereka disebabkan melihat kau
sebagai seorang anak dibawah umur saja telah merasa muak
melihat kelakuan kedua lelaki itu! Hanya anehnya justru Lolap
melihat orang2 lain yang menyebut dirinya telah dewasa itu
justru sama sekali tidak memperlihatkan perasaan seperti kau,
mereka bahkan girang sekali, mereka telah ber-sorak2 dan
menganjurkan kedua lelaki itu terus berkelahi, seperti juga
dua ekor ayam yang tengah diadu …!”
Yo Him mengangguk.
„Itulah yang telah membuat aku jadi heran mengapa kedua
orang itu mau diadu dan dipertandingkan hanya dengan suara
sorak sorai belaka?” kata Yo Him. Sihweshio telah tersenyum
sabar lagi.
„Ya, begitulah sifat manusia?. yang selalu ingin
dibangkitkan emosinya” katanya. Dan setelah berkata begitu,
In Lap Siansu mengawasi Yo Him sejenak lamanya, tatapan
matanya memancarkan sinar yang sangat tajam.
„Sifatmu sangat hebat sekali nak” kata In Lap Siansu
akhirnya. „Umurmu tidak lebih dari delapan tahun, tetapi dari
sinar matamu, kau memiliki sifat2 yang jauh lebih luas dari
manusia2 yang menamakan dirinya telah dewasa”
„Taisu terlalu memuji” kata Yo Him sambil menggeleng.
„Mana bisa aku memiliki peruntungan yang begitu baik ?”.

Sambil berkata begitu, Yo Him juga telah mengambil cawan
tehnya dan meneguknya beberapa kali.
In Lap Siansu telah tertawa dengan sikapnya yang sabar.
“Lolap tidak pernah mencela dan tidak pernah memuji, apa
adanya yang akan Lolap katakan dengan sesungguhnya.
Mengapa harus mencela ? Mengapa harus memuji ? Akhh,
memang kenyataan yang ada engkau merupakan seorang
anak yarg agak luar biasa. Tentu saja, sebagai seorang
manusia, Lolap bisa saja salah mata, tapi kenyataan yang ada
membuat Lolap kagum atas Kecerdasan dan juga pandangan
luas darimu”
„Dari mana Taisu bisa mengetahui bahwa aku memiliki
kecerdasan dan pandangan luas?” tanya Yo Him sambil
tersenyum, karena dia menganggap bahwa hweshio itu
memang hendak memujinya belaka.
„Hemmmm, dari sinar matamu telah memperlihatkan
bahwa engkau seorang anak agak luar biasa! Seperti tadi
waktu kau menyaksikan kedua lelaki itu saling kerkelahi satu
dengan yang lainnya, ternyata engkau telah mengawasinya
dengan sikap tidak senang. Lolap melihat sepasang alismu
mengkerut dalam, disamping itu juga kau tidak terpengaruh
seperti anak anak umumnya yang senang menyaksikan
keramaian dan juga senang sekali menyaksikan orang
berkelahi. Maka dari itu dengan adanya peristiwa seperti itulah
Lolap telah turun tangan untuk memisahkan kedua orang
lelaki yang tengah ber kelahi itu.”
Yo Him menunduk, dia jadi malu sendiri karena hweshio itu
terlalu memuji dirinya.
„Sesungguhnya ingin pergi kemanakah Taisu?” tanya Yo
Him kemudian.
„Langit merupakan genting rumah Lolap, bumi merupakan
rumah Lolap, maka dimana Lolap berada, disitulah Lolap akan

menetap. Lolap hanyalah seorang pendeta pengembara yang
tidak tentu tempat tinggalnya.” menyahuti pendeta itu.
“Ohhh ….!” dan Yo Him meng-angguk2 sedangkan didalam
hatinya dia telah berkata. „Sesungguhnya nasib kita hampir
serupa.”
Disaat itu diantara beberapa orang tamu yang memasuki
ruang rumah makan tersebut, tampak seorang pengemis tua
berusia diantara tujuh puluh tahun, tengah memandang
kesekeliling ruangan dengan sinar matanya yang sangat
tajam. Pakaiannnya compang-camping dan dipunggungnya
menggemblok lima helai karung.
Ketika melihat si hweshio, mukanya telah berobah jadi
bengis. Wajahnya yang semula memang sudah tidak enak
dilihat itu jadi semakin tidak sedap dipandang.
Maka dari itu, dengan cepat Yo Him menundukkan
kepalanya, dia takut. kalau2 sipengemis tersinggung jika
dipandangi terus olehnya.
Tetapi siapa sangka, justru pengemis itu telah menghampiri
mejanya, malah ketika telah berada dekat dengan meja Yo
Him dan In Lap Siansu, pengemis itu telah mengeluarkan
suara tertawa dingin yang menyeramkan.
„Keledai gundul! Rupanya kau bersembunyi disini !”
katanya dengan suara yang menyeramkan sekali.
In Lap Siansu memperlihatkan sikap yang tenang sekali,
sama sekali dia tidak gugup atau takut melihat wajah
sipengemis yang menyeramkan itu.
„Siapakah sicu atau saudara?” tanyanya kemudian dengan
suara yang sabar. „Menurut Lolap, belum pernah kita
berkenalan?”
„Hemm, kau telah menghajar babak belur dua orang murid
Kaypang, apakah kau bermimpi akan dapat meninggalkan kota
ini dengan mudah begitu saja ?” mengejek pengemis itu.

„Benar, Lolap memang tadi pagi telah mengajar adat
kepada kedua Siauwkay (pengemis kecil) yang ingin coba2
mencuri uang dari seorang nyonya ! Maka jika memang Sicu
tidak senang, katakanlah dengan cara bagaimana Lolap harus
menyatakan maaf.
Sabar sekali pendeta itu, walaupun dia di bentak2 begitu
oleh sipengemis tetapi dia masih bisa bersenyum dan ber
kata2 dengan suara yang sabar sekali, dengan menanyakan
juga dengan cara apa dia bisa mengajukan permintaan
maafnya kepada pengemis itu.
Tetapi si pengemis tua itu telah mendengus dengan mata
tetap terpancar bengis,
„Hemm ….tidak akan semudah itu meminta maaf atas
dosamu,” kacanya dengan dingin „Engkau seenaknya
menghajar dua murid Kaypang setelah mereka babak belur
kau tinggalkan begitu saja! Kini disaat tempat
persembunyianmu diketahui olehku, justeru kau pura2 alim
dengan menanyakan cara bagaimana untuk meminta maaf.
Sungguh kau keledai gundul yang tidak tahu malu !”’
dan setelah berkata begitu dengan cepat sekali dengan
gerakan yang sukar diikuti pandangan mata dia telah
mengulurkan tangannya mencekal batang leher sipendeta.
Sambil mengulurkan tanggannya, dia juga berkata lantang
“mari kita keluar !”.
Dengan maksud mencengkeram baju si Pendeta tentu saja
si pengemis bermaksud untuk menarik dan menyeret si
hweshio keluar dari ruangan rumah makan itu. Dia merupakan
salah seorang anggota Kaypang yang membawa karung lima
lembar, berarti dia menduduki tingkat kelima, dan tingkat
kelima dalam urutan kaypang sudah merupakan tokoh
diperkumpulan tersebut. Hanya lima tingkat dibawah Pangcu
atau Ketua Kaypang itu.

Tidak mengherankan jika pengemis ini juga memiliki
kepandaian yang tinggi sekali. Tetapi sihweshio juga tak mau
berdiam diri saja untuk dibuat malu oleh pengemis itu. Maka
dia telah mengelakkan dengan memiringkan sedikit kepalanya,
dia sama sekali tidak bangun dari duduknya.
Tentu saja hal itu membuat Yo Him terikejut sekali, karena
tidak keruan juntrungannya sipengemis main serang begitu
macam.
Melihat cengkeramannya gagal, dengan penasaran sekali
sipengemis telah mergibaskan tangannya, maksudnya akan
menghantam muka si hweshio.
tetapi dengan tenang sekali sihweshio telah mendorong
dengan tangan kanannya, sambil katanya : „Mari kita bicara
diluar saja”
Dan setelah berkata begitu, disaat tubuh si pengemis
terhuyung oleh dorongan tangannya, maka In Lap Siansu
telah bangkit dari duduknya, dia melangkah keluar dari
ruangan rumah makan itu.
Yo Him mengetahui maksud dari sihweshio yaitu sipendeta
ingin bertanding diluar saja, mengelakkan kerusakan dirumah
makan itu.
Tentu saja Yo Him jadi kagum sekali atas sikap hweshio itu,
dia telah berdiam diri dan telah bersikap sabar hanyalah
untuk menghindarkan pertandingan yang tidak karuan, yang
bisa merusak ruangan rumah makan tersebut.
Sedangkan sipengemis tua telah mengikuti melangkah
keluar dengan langkah lebar dan muka yang menyeramkan
sekali.
Yo Him juga telah cepat bangun berdiri dia ingin melihat
apa sesungguhnya yang ingin dilakukan oieh sipengemis.
Ketika si hweshio telah melangkah keluar, disaat, itu
rupanya si pengemis sudah tidak dapat menahan sabar lagi,

dengan cepat dia telah menggerakkan tangan kanannya, dia
ingin mencengkeram bahu si hweshio.
Tetapi In Lap Siansu memang memiliki Kepandaian yang
cukup tinggi, merasakan sambaran angin serangan dari arah
belakangnya, dia telah melangkah maju sambil
membungkukkan tubuhnya maka serangan itu telah mengenai
tempat kosong.
Disaat pengemis tua itu lewat menyambar tempat kosong
kesempatan itu telah dibarengi oleh si hweshio dengan
mengibaskan lengan jubahnya kebelakang, sehingga serangan
itu yang mengandung tenaga dalam sangat kuat telah
mendorong tubuh sipengemis dengan kuat sekali, sehingga
tubuh pengemis itu terhuyung karena dia sama sekali tidak
menduga bahwa dirinya akan diserang begitu rupa.
Tetapi pengemis tua tersebut juga memiliki kepandaian
cukup tinggi, tadi dia sampai terserang terhuyung begitu
karena dia tidak menyangka si hweshio akan mengambil sikap
seperti itu dan juga memang dia tidak ber waspada, sehingga
dia telah terdorong.
Tetapi sekarang ketika si hweshio telah melancarkan
serangan berikutnya lagi yang mengandung tenaga serangan
yang kuat sekali, maka sipengemis berhasil menangkis atau
mengelakkannya dengan gerakan yang cepat sekali.
Begitulah dalam waktu yang sangat singkat sekali, kedua
orang ini telah saling serang menyerang dan telah melewati
belasan jurus.
Ternyata kepandaian si hweshio ataupun kepandaian
sipengemis memang berimbang.
Bahkan sipengemis yang tengah gusar itu, telah
melancarkan serangan lebih sering dan lebih gencar
dibandingkan dengan si hweshio yang lebih banyak mengelak
dan melompat mundur menjauhkan diri.

Tentu saja sikap sihwesio membuat sipengemis tambah
penasaran sekali.
Dia telah berusaha memperhebat serangan2nya, setiap
serangannya tentu mengandung kekuatan tenaga yang bisa
mematikan. Sihweshio semakin lama jadi semakin kewalahan
melihat bahwa lawannya menyerang dia dengan nekad seperti
itu,
Maka dari itu cepat2 sihweshio telah memutar kedua
tangannya dengan cepat sekali, dia telah melindungi dirinya
dengan kedua tangannya itu dengan rapat sekali.
Sehingga sipengemis tambah mendongkol saja.
„Sreeet!” tahu2 ditangannya telah tercekal sebatang
pedang pendek yang menyerupai badik.
Dengan mempergunakan senjatanya sipengemis
melancarkan serangan dengan gencar.
Dengan adanya serangan senjata tajam seperti itu, maka
sihweshio juga tidak bisa main tangkis saja dengan tangan
kosong, bisa2 tangannya kelak terluka oleh serangan senjata
lawan.
Segera diapun telah merobah cara bersilatnya, dia main
pukul dengan mempergunakan kedua telapak tangannya,
gerakannya itu bukan main cepat dan dahsyatnya, tenaga
pukulannya juga gencar, sehingga membendung sipengemis
untuk melancarkan serangan lebih jauh.
Dari itu sipengemis juga menjadi kalap lagi, karena dia
tidak bisa memperoleh hasil apa2 walaupun dia sudah
mempergunakan senjata tajamnya.
Dengan mengeluarkan suara seruan yang sangat keras
sekali, tahu2 kedua tangan sipengemis telah bergerak, tangan
kanannya yang mencekal pisau pendeknya itu menyambar
dengan cara menyimpang dari samping, sedangkan tangan

kirinya telah menghantam dengan telapak tangannya seperti
juga dia ingin menghantam batok kepala si hweshio, yang
ingin dipukulnya hancur.
Serangan itu telah memaksa si hweshio melompat mundur
untuk mengelakkan diri.
Tetapi sipengemis tampaknya memang sengaja
melancarkan serangan tersebut untuk memancing. karena itu
tidak mengherankan jika serangan yang dilancarkannya itu
mengincar bagian yang berbahaya, tetapi cepat ditarik pulang
dan kemudian dia melancarkan serangan yang sesungguhnya
mengincar bagian yang mematikan, yaitu tepat dijurusan ulu
hati, dimana mata pedang pendeknya itu telah menyambar
secepat kilat.
Tetapi In Lap Siansu juga memiliki kegesitan. Dia memang
terkejut waktu melihat mata pedang pendek itu telah
mengincar ulu hatinya, tetapi dia tidak menjadi gugup, de
ngan cepat sekali dia menggeser tubuhrya dan
menghantamkan telapak kanannya.
Namun serangan telapak tangan kanan si-hweshio telah
disambut dengan tangkisan telapak tangan kiri sipengemis,
sedangkan, pedang pendek itu telah meluncur terus dengan
cepat, sehingga kulit dada sihweshio berhasil dilukai darahnya
mengucur, sehingga tubuh In Lap Siansu terhuyung dan akan
rubuh.
Pengemis itu juga tidak lolos dari akibat serangan telapak
tangan si hweshio, karena dengan cepat sekali tenaga dalam
yang kuat dari pendeta itu menggempur bagian dalam
tubuhnya, membuat pengemis itu telah terhuyung mundur.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s