Sin Tiauw Thian Lam (Jilid : 10)

JILID 10
Mereka bertiga merupakan tiga tokoh dari Kun Lun Pai dan
nama mereka menggetarkan rimba persilatan dengan ilmu
pedang Kun Lun Kiam Hoat yang telah sempurna.
Munculnya ketiga tokoh Kun Lun Pai tersebut disambut oleh
semua tamu dengan sorakan memuji akan kebesaran
pemimpin Kun Lun Pai tersebut.
Sedangkan Ma Liang Cinjin telah membungkukkan
tubuhnya membalas hormat semua orang itu.
Dengan per-lahan2 dan sikap yang angker dan agung,
tampak Ma Liang Cinjin bertiga telah menuju ketempat yang

disediakan untuk mereka, seperti sebuah mimbar berukuran
tidak begitu besar.
Semua tamu kemudian berdiam diri untuk memberikan
kesempatan kepada Ma Liang Cinjin memberikan kata2
sambutannya.
„Sahabat2 dari rimba persilatan !” berseru Ma Liang Cinjin
dengan suaranya yang halus dan sabar, dia berkata sambil
menyapu semua tamunya lalu dengan sorot mata yang
lembut, namun memancarkan sinarnya yang tajam sekali,
memperlihatkan bahwa lwekangnya telah sempurna. “Kami
dari pihak Kun Lun Pai menyatakan terima kasih se-besar2nya
kepada sahabat2 yang telah mencapai lelah bersedia
memenuhi undangan untuk ikut merayakan ulang tahun
berdirinya Kun Lun Pai ditahun yang keempat ratus ini…!
Sebagai pintu perguruan silat yang berusia tua, dan kebetulan
disaat jatuhnya hari ulang tahun yang keempat ratus ini,
justru tengah dipimpin oleh Pinto, maka alangkah baiknya jika
kita bertukar pikiran mengenai ilmu silat !”
Dan setelah berkata begitu tampak Ma Liang Cinjin telah
memberi hormat lagi.
„Dengan memberaniku diri kami bermaksud
memperlihatkan kebodohan didepan sahabat2 semoga tidak
ditertawakan !”
Dan setelah berkata begitu, tampak Ma Liang Cinjin
mengibaskan tangannya, maka dua murid Kun lun Pai telah
melompat kedepan mimbar membungkukkan tubuhnya,
memberi hormat kepada Ciangbunjin mereka.
„Kami Thio In dan Thio Bun ingin meminta petunjuk
Couwsu” kata mereka serentak.
Kedua imam murid Kun Lun Pai Ini adalah keturunan
tingkat kelima, dan itulah sebab nya dia memanggil Ma Liang
Cinjin dengan sebutan Couwsu (kakek guru), karena guru
mereka itu adalah Bung Hong Cinjin dari tingkat ketiga.

Ma Liang Cinjin telah tertawa kecil, ramah sekali sikapnya,
diapun telah berkata sabar „Nah, kini kalian perlihatkan
kebodohan diantara sahabat2…… !”
Dan sambil berkata begitu dia telah mengibaskan
tangannya, memberikan isyarat agar kedua murid Kun Lun
Pai itu mulai memperlihatkan kepandaian ilmu pedang
masing2.
Kedua murid Kun Lun Pay itu, Thio In dan Thio Bun, telah
merangkapkan tangannya untuk sekali lagi memberi hormat,
kemudian dengan saling berhadapan mereka telah berdiri
untuk memberi hormat kepada para tamu disusul dengan
kata2 mereka;
„Kami yang bodoh ingin memperlihatkan keburukan kami,
harap tidak ditertawakan oleh sahabat dan cianpwe…!”
Dan setelah berkata begitu. Thio In dan Thio Bun saling
serang memperlihatkan ilmu pedang mereka.
Luar biasa ilmu pedang yang mereka perlihatkan, karena
ilmu pedang itu ber-kelebat2 dengan cepat sekali, dengan
gerakan yang ringan dan juga gesit mengancam tempat2
berbahaya.
Itulah suatu pertunjukan permainan ilmu pedang yang luar
biasa indahnya, dan setiap serangan yang mereka lancarkan
itu menimbulkan angin yang dahsyat sekali.
Tetapi ilmu silat yang diperlihatkan olen kedua murid Kun
Lun Pay itu hanya indah dibagian luarnya saja karena mereka
bersilat dengan cepat dan gesit, tetapi isinya masih kurang
sempurna.
Bagi jago2 yang berkepandaian sedang2 saja memang ilmu
pedang itu menimbulkan perasaan kagum, tetapi bagi jago2
yang memiliki kepandaian sempurna, kepandaian kedua murid
Kun Lun Pai tersebut masih jauh dari sempurna karena banyak
bagian2nya yang lemah.

Sehingga telah membuat beberapa orang jago yang ikut
menyaksikan ilmu pedang itu telah saling berbisik „Hanya
sebegini saja ilmu pedang Kun Lun Pai”.
Tetapi bagi Tiang Hu dan Yo Him yang menyaksikan ilmu
pedang itu, merupakan suatu kejadian yang luar biasa.
Mereka melihat pedang ber-kelebat2 dengan cepat dan
tampaklah suatu pemandangan yang mendebarkan hati,
karena gerakan pedang itu yang cepat sekali telah berkelebat2
membuat pandangan mata mereka jadi kabur berkunang2.
„Akhhh— !” berseru Ciangbunjin Kun Lun Pai akhirnya,
suaranya nyaring. „Ilmu pedang Kun Lun Kiam Hoat kurang
diyakini dengan baik oleh kalian, banyak kesalahan2 yang
telah dilakukan oleh kalian…”.
Kedua murid Kun Lun itu, Thio In dan Thio Bun, jadi
menghentikan gerakan pedang mereka.
Keduanya membungkuk memberi hormat kepada Couwsu
mereka.
„Kami minta petunjuk …!” kata mereka dengan suara yang
perlahan.
„Banyak kesalahan yang kalian lakukan !” kata Couwsu itu
dengan sabar. „Kalian harus banyak melatih diri dan meminta
petunjuk kepada guru kalian !”
“Kami akan memperhatikan baik2 petunjuk Couwsu”, kata
kedua murid Kun Lun Pai tersebut.
Dan mereka sudah ber-siap2 hendak mengundurkan diri.
Tetapi belum lagi mereka meninggalkan gelanggang
pertandingan itu, justru dari arah rombongan tamu undangan
dibarisan belakang, telah terdengar suara seorang berkata
dengan suara yang dingin:

„ilmu butut, murid butut !” kata suara itu dengan nada
yang mengejek. “Bukan main ! Bukan main ! Ilmu pedang
rombengan seperti itu dipertunjukkan, sehingga membuat
mata jadi sakit melihatnya”.
Tentu saja kata2 seperti itu kurang ajar sekali, membuat
semua orang telah terkejut dan menoleh kearah datangnya
suara itu.
Ma Liang Cinjin dan yang lainnya juga telah mengawasi
kearah suara itu.
Dari arah belakang tampak telah melompat gesit sekali
sesosok tubuh ketengah gelanggang.
Gerakannya itu luar biasa cepatnya dan juga ringan sekali
tubuhnya, waktu kedua kakinya menyentuh lantai tidak
menimbulkan suara.
Semua orang mengawasi, dan mereka segera dapat
melihat jelas.
Orang itu bertubuh tinggi besar dan tegap sekali, dialah
seorang pendeta Mongolia yang wajahnya bengis dan juga
matanya bersinar tajam.
Wajahnya itu memperlihatkan keangkuhan yang sangat.
„Hudya” Tiat To Hoat ong hendak melihat berapa tinggi
kepandaian ilmu pedang Kun Lun Kiam Hoat! Bisakah
Ciangbunjin memperlihatkan sendiri ilmu pedang itu dan
memberi petunjuk kepada Hudya ?”
Kata2 itu memang seperti merendah tetapi didalam kata2
itu mengandung tantangan untuk Ma Liang Cinjin.
Tetapi Ma Liang Cinjin sabar sekali, dia mengawasi sejenak
kepada pendeta Mongol itu.
„Siapakah Taisu itu ?” akhirnya dia telah bertanya.
„Pendapat Pinto, Taisu tentunya datang tanpa membawa
kartu undangan . . . !”

Pendeta Mongoi itu yang memang tidak lain dari Tiat To
Hoat ong telah tertawa mengejek.
„Memang. Memang. Justru nama Kun Lun Kiam Hoat yang
menarik Hudya kemari … ! Apakah itu suatu kelancangan ?”
balik tanya Tiat To Hoat-ong.
Ma Liang Cinjin telah tersenyum sabar. Segera dia
mengetahui bahwa sipendeta Mongoi ini jelas datang dengan
maksud untuk menimbulkan kerusuhan belaka.
“Baiklah! Taisu dari pintu perguruan mana?” tanya Ma
Liang Cinjin.
„Tidak perlu kau ketahui.”
„Mengapa begitu?”
„Yang terpenting Hudya hanya datang untuk melihat
sampai berapa tinggi ilmu pedang Kun Lun Kiam Hoat.”
„Hemmm. . . baiklah!” kata Ma Liang Cinjin sambil
menggerakkan tangannya, dia ingin memberikan isyarat
kepada sutenya agar siadik seperguruannya itu melayani Tiat
To Hoat-ong.
Namun kenyataannya Tiat To Hoat-ong yang melihat itu
segera juga telah berkata ; „Dan kedatangan Hudya bukan
untuk melayani yang lain. . . maka dari itu Hudya minta agar
Totiang sendiri yang melayani kami!!”
Dan setelah begitu, dengan cepat sekali Tiat To Hoat ong
telah mulai menggerakkan tangannya dan kedua kakinya, dia
mulai berdiri dengan kuda2nya yang kuat, mulai bersiap untuk
menerima serangan.
Dengan sikapnya itu berarti gerakannya tersebut
merupakan tantangan untuk Ma Liang Cinjin.
Sebagai Ciangbunjin dari Kun Lun Pai yang memiliki nama
sangat terkenal, sesungguhnya Ma Liang Cinjin tidak bisa

sembarangan menerima tantangan orang, karena derajatnya
yang tinggi.
Tetapi karena Tiat To Hoat-ong telah menantangnya
demikian rupa sehingga jika dia tidak melayaninya niscaya
akan menjatuhkan nama Kun Lun Pai.
Maka dari itu cepat sekali Ma Liang Cinjin berdiri dari kursi
didepan mimbarnya, lalu katanya dengan suara yang sabar :
“Sungguh terpaksa sekali Pinto harus memperlihatkan
kebodohan Pinto !” katanya kemudian.
Dan setelah berkata begitu Ma Liang Cinjin melonpat
ketengah gelanggang.
Sesungguhnya kedua sute dari Ma Liang Cinjin hendak
mencegah Ciangbunjin mereka turun tangan sendiri, tetapi
sudah terlambat, Ma Liang Cinjin telah berhadapan dengan
Tiat To Hoat-ong.
“Hahaha !” tertawa Tiat To Hoat-ong dengan suara yang
nyaring sekali. „Bukankah Totiang mengadakan pertemuan ini
justru ingin memperkenalkan kepada orang2 rimba persilatan,
bahwa ilmu pedang Kun Lun Pai memiliki kepandaian yang
hebat sekali”
Disaat itu tampak Ma Liang Cinjin juga sudah tidak
mengambil sikap yang segan2 lagi, karena dia menyadari
bahwa tamu tidak diundang ini memang sengaja datang untuk
menimbulkan kerusuhan belaka.
Cepat sekali diapun telah merangkapkan sepasang
tangannya, dia telah melancarkan serangan pembukaan
sebagai tanda hormat.
Tetapi Tiat To Hoat ong berdiam diri saja dia tidak berkelit
atau menangkis.
Karena serangan yang dilancarkan oleh Ma Liang Cinjin
memang merupakan jurus pembukaan, dengan sendirinya hal

itu merupakan serangan yang tidak sungguh2 dan juga telah
menyebabkan serangan tersebut jatuh ditempat kosong.
Namun dengan cepat sekali Tiat To Hoat ong tidak ingin
membuang waktu, dia juga telah mengibaskan lengan
jubahnya sebagai serangan pembukaan.
Keduanya melompat mundur dan mulailah piebu, adu
kepandaian itu dibuka.
Tangan kanan Ma Liang Cinjin meraba kepunggungnya,
mencekal gagang pedang.
Gerakannya itu sabar dan tenang sekali, dan ketika
pedangnya dicabut maka sinar yang berkilauan terlihat
menerangi sekitar tempat itu. Itulah pedang mustika.
Sedangkan Tiat To Hoat-ong tertawa dengan suaranya
yang tidak sedap didengar.
„Cabutlah senjata Taisu !” kata Ma Liang Cinjin yang sudah
tidak ingin banyak bicara.
Tiat To Hoat-ong menggelengkan kepalanya.
„Sesungguhnya Hudya biasa mempergunakan golok, tetapi
biarlah untuk menghadapi Kun Lun Kiamhoat yang hebat,
Hudya akan mempergunakan kedua tangan ini saja untuk
menyambutinya!”
Bukan main mendongkol dan murkanya murid2 dari Kun
Lun Pai, karena mereka merasa Ciangbunjin mereka
diremehkan dan dihina.
Tetapi justru Ma Liang Cinjin membawa sikap yang tenang
sekali, dia telah tersenyum.
„Memang terkadang senjata tajam kalah hebat dengan
kedua telapak tangan manusia !” katanya sabar. „Nah, ,Taisu,
terimalah serangan Pinto …… inilah kebodohan yang
selayaknya ditertawakan.”

Dan membarengi dengan perkataannya itu tampak Ma
Liang Cinjin menggerakkan pedang nya, dia telah menikam
lurus2 kearah dada Tiat To Hoat-ong yang saat itu berdiri
dengan sepasang kaki agak tertekuk,
Tentu saja hal itu telah membuat semua orang jadi terkejut
karena cara menyerang Ma Liang Cinjin akan membahayakan
diri Ma Liang Cinjm sendiri, sebab dengan cara menyerang
seperti itu, berarti Ma Liang Cinjin membuka bagian lowong
didirinya.
Sedangkan Tiat To Hoat Ong yang melihat serangan tiba,
dia mandekkan tubuhnya dengan kaki tetap tertekuk dia telah
melancarkan serangan membalas dengan telapak tangannya
yang menyampok dari samping.
Angin sampokan tangan Tiat To Hoat-ong ternyata bukan
main kuatnya.
Angin serangan itu justru telah menyampok miring pedang
Ma Liang Cinjin.
Keruan saja Ma Liang Cinjin jadi terkejut sekali. dia Sampai
mengeluarkan seruan tertahan.
Hebat luar biasa tampak Tiat To Hoat ong bukan hanya
melancarkan serangan dengan sampokan saja, dia juga telah
meluncurkan tangan kirinya mengancam kearah kepala Ma
Liang Cinjin.
Tentu saja Ma Liang Cinjin tidak bisa tinggal diam. cepat
sekali dia telah menarik pulang pedangnya.
Dia juga menarik pulang pedangnya bukan untuk
mengelakan serangan Tiat To Hoat-ong, melainkan telah
membarengi untuk melancarkan serangan lagi.
Gerakan itu luar biasa hebatnya, karena ujung pedang itu
digetarkan sehingga mata pedang seperti juga telah
menyambar kebeberapa bagian ditubuh Tiat To Hoat ong
bagian yang semuanya berbahaya dan bisa mematikan.

Tetapi pendeta Mongol Tiat To Hoat-ong seperti tidak
memandang sebelah mata ilmu pedang Kun Lun, dia telah
mengeluarkan suara tertawa yang nyaring, mengempos
semangatnya di dadanya, dan dia telah berdiri tegak menantikan
serangan tiba, kemudian disambutnya ujung pedang itu
dengan dadanya.
Semua orang terkejut, bahkan ada yang telah
mengeluarkan seruan karena kaget.
Dan disaat itulah dalam keadaan yang cukup menegangkan
ketika mata pedang menyentuh kulit dada dari Tiat To Hoatong,
namun anehnya mata pedang tidak bisa menikam masuk
kulit tubuh itu melainkan telah melejit.
Membarengi disaat Ma Liang Cinjin tengah kaget, maka Tiat
To Hoat-ong telah melancarkan pukulan lurus dengan telapak
tangannya.
„Bukkk!” Ma Liang Cinjin tidak sempat mengelakkan diri
dan tubuhnya jadi terhuyung dengan pucat.
Sebagai seorang Ciangbunjin dari sebuah partai persilatan
ternama seperti Kun Lun Pai sampai terserang seperti itu,
sesungguhnya benar2 merupakan urusan yang luar biasa dan
mengherankan juga.
Tiat To Hoat ong telah tertawa ber-gelak2 keras sekali, dia
telah melancarkan beruntun tiga kali serangan lagi, pukulan
telapak tangannya menimbulkan angin serangan sekuat
runtuhnya gunung.
Tentu saja Ma Liang Cinjin tidak berani berlaku lambat,
dengan tidak berayal lagi dia telah memutar pedangnya itu
dengan cepat seperti juga titiran.
Diantara suara deru angin itu, tampak Ma Liang Cinjin juga
mengempos semangat dan tenaga dalamnya, sehingga angin
serangan pedang nya selain mengincar bagian2 yang
mematikan dari jalan darah ditubuh Tiat To Hoat ong. juga

mengandung kekuatan tenaga yang dahsyat, yang dapat
menindih serangan tenaga dari Tiat To Hoat-ong.
Kenyataan seperti ini telah mengejutkan Tiat To Hoat ong
juga, dia sampai mundur dua langkah dan berobah cara
bertempurnya.
Dengan gerakan yang cepat sekali, silih berganti kedua
tangannya itu telah melancarkan pukulan yang dahsyat dan
mematikan, semakin lama semakin kuat dan mengurung
tenaga serta pedang Ma Liang Cinjin.
Tentu saja Ma Liang Cinjin jadi terkejut dan mengucurkan
keringat dingin.
Dia merasakan tenaga Tiat To Hoat ong seperti juga
menghisap tenaganya, semakin lama tenaga Ma Liang Cinjin
semakin tersedot.
Ma Liang Cinjin mati2an telah berusaha untuk meloloskan
pedangnya itu dari libatan tenaga dalam sipendeta Mongol.
Berulang kali Tiat To Hoat-ong telah mengeluarkan suara
tertawa bergelak, dan berulang kali pula dia melancarkan
serangan yang semakin lama semakin hebat, yang memaksa
Ma Liang Cinjin akhirnya hanya dapat bertempur dengan main
kelit dan main mundur.
Murid2 Kun Lun Pai yang melihat keadaan Ciangbunjin
mereka, semuanya jadi berkuatir sekali.
Disaat itulah dengan cepat sekali Ma Liang Cinjin memutar
dan menghentak pedangnya dengan mempergunakan jurus
kesembilan belas dari Kun Lun Kiam Hoat, dengan
menggetarkan pedangnya tampak Ma Liang Cinjin telah
menjejakkan kakinya, untuk melompat kebelakang menjauhi
diri dari lawannya.
Tetapi Tiat To Hoat-ong tidak ingin memberikan
kesempatan kepadanya

Dia telah melancarkan serangan dalam bentuk pukulan
yang kuat sekali. Dan serangannya itu telah menghantam
pinggul Ma Liang Cinjin, sehingga tulang pinggul dari
Ciangbunjin Kun Lun Pai itu menjadi remuk dan tubuhnya
terhuyung tidak bisa berdiri tetap.
Uh Pie Cinjin dan Tui Ho Cinjin, kedua sute dari Ma Liang
Cinjin jadi terkejut sekali, muka mereka jadi berobah pucat
seketika.
Dan mereka telah melompat untuk melindungi kakak
seperguruan mereka.
Gerakan mereka itu sangat cepatnya, dan bertepatan disaat
Tiat To Hoat-ong melancarkan serangan berikutnya kepada
Ciangbunjin Kun Lun Pai tersebut.
Gerakan mereka itu telah menolong Ma Liang Cinjin dari
kematian, karena serangan Tiat To Hoat-ong telah berhasil
ditangkisnya.
„Bukk!” tubuh Uh Pie dan Tui Ho Cinjin berhasil digempur
Tiat To Hoat ong sampai terpental.
Tetapi kedua sute Ma Liang Cinjin dengan cepat telah
melompat dan melancarkan serangan lagi kepada Tiat To Hoat
ong. guna melindungi Ciangbunjin mereka.
Saat itu beberapa orang murid kepala Kun Lun Pai lainnya
telah menyerbu untuk mengepung Tiat To Hoat-ong, sambil
beberapa orang melindungi Ma Liang Cinjin, yang akan
dibawanya kedalam.
Namun Tiat To Hoat-ong rupanya bertindak tidak
tangguug2.
Dengan cepat sekali tangannya telah menjambret baju dari
kedua murid kepala Kun Lun yang berada terdekat dengannya
dan melemparkannya. Setelah itu dengan ujung jubahnya
yang panjang, tampak Tiat To Hoat ong telah mengibas,

sehingga dua orang murid Kun Lun lainnya telah terlempar
dan terbanting.
Dengan Caranya itu Tiat To Hoat Ong seperti mengamuk
ingin membuka kepungan lawannya Dan memang dia telah
menimbulkan perasaan jeri dihati murid2 Kun Lun tersebut.
Gerakan yang mereka lakukan itu memang merupakan
gerakan yang dahsyat, tetapi menghadapi Tiat To Hoat ong
yang memiliki kepandaian yang telah sempurna dan juga
tenaga yang kuat, mau tidak mau murid2 Kun Lun Pai yang
berjumlah banyak itu tidak berdaya.
Begitu juga Tui Ho Cinjin maupun Uh Pie Cinjin, kedua tojin
yang liehay itu tampaknya jadi tidak berdaya menghadapi
pendeta Mongol yang luar biasa ini.
Dalam sekejap mata saja pertempuran hebat telah terjadi
ditempat itu.
Sedangkan Tui Ho Cinjin telah berhasil di hajar dadanya,
sampai imam itu meringkuk dilantai dengan memuntahkan
darah segar.
Dalam melancarkan serangannya Tiat To Hoat-ong sama
sekali tidak mau berlaku lunak !.
Setiap pukulannya tentu mengandung tenaga menggempur
yang bisa mematikan.
Maka tidak mengherankan ketika dia telah melancarkan
serangan yang ber-tubi2 dan juga serangan itu datangnya
bagaikan angin badai, telah membuat murid2 Kun Lun Pai
tidak berani mendekatinya. Saat itu dengan nekad Uh Pie
Cinjin telah mengeluarkan teriakan yang nyaring, dia telah
memutar pedangnya menyerbu kearah Tiat To Hoat-ong.
Maksud imam ini adalah untuk mengadu jiwa dengan Tiat
To Hoat ong agar binasa bersama. Tetapi hasrat hatinya itu
tidak kesampaian.

Hal itu disebabkan Tiat To Hoat ong liehay sekali, dia sama
sekali tidak bermaksud untuk mengelakkan serangan
lawannya, dia menerima tikaman dari siimam tetapi ujung
pedang itu telah melejit tidak berhasil menembus kulitnya
yang licin dan kebal itu.
Mempergunakan kesempatan disaat Uh Pie Cinjin tengah
terkejut begitu, disaat itulah Tiat To Hoat ong telah
melancarkan pukulan dahsyat dengan telapak tangannya,
„Bukkkl” batok kepala iman itu telah berhasil dipukulnya
dengan jitu sekali.
Tanpa sempat menjerit lagi tubuh Uh Pie Cinjin
menggeletak dilantai.
Napasnya juga telah putus…!
Semua murid Kun Lun lainnya jadi panik, mereka telah
menyerbu dengan nekad dan gusar mengepung Tiat To Hoatong.
Saat itu Tiat To Hoat-ong telah mengeluarkan suara siulan
yang nyaring, maka dari arah belakang barisan tamu,
melompat beberapa sosok tubuh.
Ternyata yang melompat muncul tidak lain dari Chiluon,
Talengkie dan Turkichi.
Mereka telah ikut mengamuk.
Kepandaian ketiga orang Mongoi inipun hanya berada satu
tingkat, dibawah Tiat To Hoat-ong. maka tidaklah
mengherankan jika mereka dengan cepat telah berhasil
merubuhkan murid Kun Lun Pai, Gerakan yang mereka
lakukan juga selalu mendatangkan korban.
Murid2 Kun Lun Pai yang melihat kehebatan ketiga orang
itu jadi menggidik. Walaupun bagaimana mereka memang merasa
sangat jeri dan takut berurusan dengan ke empat orang
yang berkepandaian sempurna itu.

Mereka telah melihatnya bahwa kepandaian yang mereka
miliki tidak mungkin dapat menandingi kepandaian empat
orang Mongol itu.
Tetapi Tiat To Hoat-ong berempat terus juga mengamuk
menghantam kesana kemari.
Tampaknya keempat orang Mongoi itu memang sengaja
tidak ingin melepaskan seorangpun murid Kun Lun terlolos
dari kematian.
Disaat itu dengan kecepatan bagaikan kilat, Talengkie
berulang kali menggerakkan tangannya.
Paku2 beracunnya telah berhamburan membinasakan
belasan orang tamu.
Keruan saja tamu2 yang merupakan jago2 dari berbagai
pintu perguruan silat itu jadi panik dan kalut.
Dengan cepat beberapa orang diantara mereka telah
menerjang maju untuk membantu pihak tuan rumah.
Tetapi bantuan mereka itu rupanya sama sekali tidak
memberikan hasil.
Dengan mudah sekali Tiat To Hoat-ong telah melakukan
serangan yang selalu membinasakan lawannya.
Jago2 yang lainnya disamping jeri juga sangat gusar sekali
melihat sepak terjang Tiat To Hoat-ong berempat dengan
kawannya.
Ramai2 mereka telah melompat kegelanggang
pertempuran, mereka telah melancarkan serangan dengan
serentak untuk mengeroyok pendeta Mongol ini.
Tetapi Tiat To Hoat ong dan keempat kawannya itu
tangguh sekali, mereka telah membinasakan satu persatu
lawannya, sehingga didalam waktu yang sangat singkat sekali
puluhan jiwa telab melayang.

Dan sisanya telah cepat2 memutar tubuh melarikan diri
untuk meloloskan diri dari kematian. Tiat To Hoat-ong telah
tertawa ber-gelak2 puas.
Saat itu mayat2 melintang tidak keruan di lantai, keadaan
sangat mengerikan sekali. Di-ruangan tersebut yang masih
segar dan hidup hanyalah Tiat To Hoat-ong berempat, tidak
terlihat orang lainnya.
Tiang Hu dan Yo Him yang bersembunyi dibalik tirai, lagi
menggigil keras ketakutan.
„Tadi tadi telah kukatakan, agar kita jangan kemari !” bisik
Yo Him ketakutan. „Kau lihat, iblis2 itu menakutkan sekati !”
Tiang Hu tidak bisa menyahuti, dia hanya berdiam diri
belaka.
Ketakutan yang meliputi hati Tiang Hu bukan main
hebatnya, sampai anak ini tidak bisa mengeluarkan perkataan.
Dilihatnya betapa mayat2 itu melintang tidak keruan dan
mengerikan sekali. Saat itu keadaan sepi sekali. Tetapi mata
Tiat To Hoat-ong yang tajam telah melihat tirai yang bergoyang
itu.
Cepat2 dia telah menghampirinya, sekali hantam tirai itu
tersingkap dan dua sosok tubuh kecil menggelinding keluar.
Tentu Saja saking ketakutan Tiang Hu telah menangis dan
berlutut meminta ampun.
Sedangkan Yo Him hanya diam memandang dengan sinar
mata ketakutan, tetapi dia tidak berlutut seperti yang
dilakukan oleh Tiang Hu.
„Ihh !” berseru pendeta Mongol itu karena terkejut dan
heran melihat kedua anak itu,
Talengkie telah melompat maju, dia mencengkeram baju
Yo Him dan Tiang Hu.

Diangkatnya tubuh kedua anak itu, lalu dibantingnya
dengan keras keatas lantai sehingga menimbulkan suara
gedebukan yang keras.
Mata Yo Him dan Tiang Hu jadi ber-kunang2 dan kepala
mereka pusing, disamping itu mereka juga menderita
kesakitan yang sangat hebat.
Tiang Hu yang sangat ketakutan, telah menangis sambil
sesambatan meminta ampun.
Sedangkan Yo Him hanya merintih perlahan karena dia
menderita kesakitan yang sangat.
„Siapa kau ?” bentak Talengkie dengan suara yang bengis.
„Mengapa kalian berada disini?”
„Kami … kami ingin menyaksikan keramaian” kata Tiang
Hu dengan suara yang parau antara isak tangisnya.
Tetapi berbeda dengan Tiang Hu, Yo Him telah memutar
otak sejak tadi dan kini dia telah memperoleh pikiran yang
dianggapnya baik.
Maka dari itu. dia telah berkata lantang „Kami datang untuk
mengambil sisa makanan karena ditempat ini tengah diadakan
keramaian, tidak kami sangka …tidak kami sangka justru
adanya peristiwa seperti ini …”
„Hmm …..kalian dua pengemis cilik rupanya?” bentak
Talengkie.
„Benar.”
„Cepat menggelinding pergi?” bentak Talengkie dengan
suara yang bengis.
Tentu saja hal itu menggirangkan hati Yo Him dan Tiang
Hu mereka cepat2 melangkah untuk pergi meninggalkan
tempat yang menyeramkan itu,

„Tahan !, bentak Tiat To Hoat-ong, Tentu saja kedua anak
itu jadi ketakutan mereka menahan langkah kaki mereka tidak
berani bertindak terus.
Yo Him telah menoleh, tanyanya dengan ragu2: ,Ada. . ada
apa lagi, Taisu?” suaranya dibuat setenang mungkin. Mata
Tiat To Hoat ong bersinar tajam.
Berbeda dengan Talengkie, yang berhasil ditipu oleh Yo
Him, tetapi Tiat To Hoat-ong yang cerdik itu telah
memperhatikan kedua anak itu dalam2.
Dia telah melihatnya bahwa kedua anak ini tidak mungkin
dua orang pengemis kecil.
Maka timbullah kecurigaannya. Dia telah melihat pakaian
Yo Him dan Tiang Hu bersih dan juga tidak ada tambalannya,
maka tidak mungkin Yo Him dan Tiang Bu ini dua anak
pengemis. Tetapi, jika bukan pengemis, lalu mengapa kedua
anak tersebut bisa berada di tempat ini? Itulah sebabnya Tiat
To Hoat-ong bermaksud ingin menyelidikinya.
„Kalian bicara terus terang, sesungguhnya siapa kalian
berdua?” bentak Tiat To Hoat-ong dengan suara yang bengis
sekali.
„Kami. .kami memang pengemis kecil di kampung ini!”
menyahuti Yo Him dengan suara agak tergetar, karena dia
ketakutan melihat sinar mata Tiat To Hoat-ong yang tajam
dan menyeramkan itu.
„Hemm, jika engkau masih tidak ingin bicara terus terang,
biarlah kami akan membunuh kalian juga?” mengancam Tiat
To Hoat-ong sambil melangkah maju.
Semula Yo Him ingin berkeras dengan dustanya itu, bahwa
mereka adalah dua orang pengemis kecil, dia yakin jika
mereka tetap mengakui diri mereka sebagai pengemis kecil
tentu mereka akan dibebaskan.

Tetapi siapa sangka karena ketakutan bukan main melihat
ancaman Tiat To Hoat-ong, dengan tubuh yang menggigil
keras Tiang Hu telah berlutut sambil meng angguk2kan
kepalanya sampai keningnya itu telah menghantam lantai
berulang kali.
„Ampun Taisu..kawanku tadi memang telah berbohong.
kami memang bukan pengemis kami hanya dua orang anak
penduduk kampung dibawah kaki gunung ini…kami
….kami…kami,”
Tiat To Hoat-ong telah tertawa dingin. „Kami, kami, kenapa
?” bentaknya dengan suara yang semakin bengis saja.
„Kami hanya ingin menyaksikan keramaian …!” kata Tiang
Hu sambil menangis.
Tiat To Hoat ong telah mendelik kepada Yo Him.
„Hemm, engkau kecil2 sudah pandai berbohong !”
bentaknya. „Baiklah, kami akan memberikan sedikit pelajaran
kepada kalian !”.
Tentu saja Yo Him dan Tiang Hu jadi ketakutan sekali.
Tubuh mereka menggigil keras, namun belum lagi mereka
mengetahui apa2 telah berkelebat bayangan hitam, tahu2
punggung mereka sakit dan tubuh mereka menjadi ringan
seperti melayang.
Ternyata Tiat To Hoat ong telah mencengkeram punggung
kedua anak itu.
Kemudian dengan keras dia telah melempar nya keluar kuil.
Tidak mengherankan jika Yo Him dan Tiang Hu terbanting
keras diatas tanah, bahkan Tiang Hu telah menghantam batu
kerikil dengan kuningnya, membuat kening anak itu jadi
berlumuran darah…

Dengan merangkak, tanpa berani menoleh lagi Yo Him dan
Tiang Hu segera berlari menuruni gunung itu, mereka berlari
untuk pulang.
Tiat To Hoat ong tertawa gelak2 dengan suara yang keras
sekali.
Dan disaat itu Chiluon, Talengkie dan Turkichi telah
mengajak Tiat To Hoat ong untuk berlalu.
„Kita telah melaksanakan tugas kita dengan baik ! Hari ini
kita telah membinasakan lebih seratus jago2 silat Tionggoan !
Untuk selanjutnya pihak Kun Lun Pai tidak bisa mengangkat
nama mereka” berkata Tiat To Hoat ong dengan suara yang
angkuh.
„Benar ” menyahuti Chiluon. „Dan berarti berkurangnya
tenaga jago didaratan Tionggoan ! Seperti perintah Khan yang
agung, kita harus berusaha sebanyak mungkin membinasakan
jago2 daratan Tionggoan, disamping untuk membuktikan
bahwa jago2 Mongolia tidak ada tandingan nya, juga untuk
mempersedikit jago2 yang membantu pemerintahan Song,
sehingga jika kelak Khan yang agung itu menerjang kedaratan
Tiong goan, tentu tidak akan menemui rintangan lagi !”
Dan keempat orang jago Mongol itu telah tertawa keras
sekali, tampaknya mereka puas bukan main. Suara tertawa
mereka keras sekali menggetarkan tempat itu, lalu dengan
mempergunakan ilmu meringankan tubuh mereka, jago2
Mongol itu telah meninggalkan tempat tersebut.
YO HIM dan Tiang Hu yang ber lari2 ketakutan, akhirnya
telah tiba dirumah masing2,
Ciang Pehunya yang mengambil Yo Him sebagai anak
angkatnya, jadi kaget sekali melihat Yo Him ketakutan seperti
itu.

„Ada apa?” tanya Ciang Pehu tersebut. Dengan hati masih
tergoncang hebat dan menahan perasaan sakit, Yo Him telah
menceritakan pengalamannya.
Sedangkan Tiang Hu juga telah mengejutkan ibu dan
ayahnya dengan keadaan seperti itu.
Sambil membersihkan darah yang mengucur deras dari
keningnya, kedua orang tua Tiang Hu menanyakan sebab2nya
putera mereka bisa babak belur begitu.
Sambil terus menangis, Tiang Hu telah menceritakan
pengalamannya.
Tentu saja kedua orang tuanya jadi terkejut bukan main.
Mereka memang merupakan penduduk lama dikampung ini,
maka dari itu mereka pun mengetahui jelas bahwa Kun Lun
Pai merupakan sebuah pintu perguruan silat yang luar biasa
hebatnya, dengan sendirinya pintu perguruan silat itupun
merupakan tempat pemujaan yang disegani oleh penduduk
kampung di sekitar gunung Kun Lun San tersebut.
Kini mereka mendengar pendeta2 dari kuil itu telah
dibinasakan orang asing, bahkan jumlah korban meliputi
ratusan jiwa, keruan saja telah membuat merekapun jadi
ketakutan dan berulang kali memuji akan kebesaran Thian
untuk meminta berkah dan perlindungan terhadap
keselamatan keluarga mereka.
Dan setelah dua hari, barulah orang2 kampung yang telah
digemparkan oleh peristiwa itu berani naik keatas gunung,
untuk mendatangi kuil Kun Lun Sie.
Dan mereka jadi berdiri dengan hati tergoncang keras
diliputi ketakutan, karena dari jauh mereka telah mencium bau
busuk dari mayat dan amisnya darah tersiar dari kuil itu.
Beberapa orang penduduk kampung yang memiliki nyali
agak besar telah memberanikan diri untuk melihat kedalam
kuil itu, mereka melihat mayat2 yang malang melintang.

Maka dari itu mereka jadi menghela napas, karena didalam
kuil tidak terlihat seorang imam pun juga.
Semuanya hanya mayat2 yang mengerikan sekali, dengan
tubuh yang rusak dan darah yang menggenang serta telah
membeku menyiarkan bau busuk dan amis.
Setelah melihat disekitar tempat itu tidak ada orang Mongol
yang di-sebut2 oleh Yo Him dan Tiang Hu, merekapun
mengumpulkan mayat sambil menggali tanah untuk mengubur
korban2 itu.
Peristiwa itu tentu saja merupakan peristiwa yang pertama
kali terjadi menimpa perguruan silat Kun Lun Pai.
Dan penduduk kampung itu, untuk satu tahun lebih tidak
berani naik keatas gunung, mereka takut diganggu oleh
setan2 penasaran.
Yo HIM setelah mengalami peristiwa seperti itu, kini jadi
sering melamun karena walaupun bagaimana dia telah
terpengaruh oleh peristiwa tersebut, yang tentunya
memberikan bayang-bayang yang tidak menggembirakan
hatinya.
Dia telah melihat betapa jiwa manusia di bunuh seperti
juga tidak ada harganya, bagaikan jiwa kecoa, dan juga
disamping itu walaupun dia masih berusia kecil dia cerdik
sekali, maka Yo Him berpikir jauh sekali yaitu dia
perbandingkan peristiwa tersebut dengan Ilmu silat.
Tentunya korban2 itu. yaitu peristiwa dari terjadinya
pertempuran tersebut, berawal pangkal dari ilmu silat.
Kalau mereka tidak mengerti ilmu silat jelas mereka tidak
akan memperoleh bencana seperti itu .
Dan Yo Him jadi tidak menyukai ilmu silat . . . dia berpikir
didalam hatinya yang masih polos dan suci itu bahwa dia
untuk selama2nya tidak ingin mempelajari ilmu silat.

Tetapi walaupun bagaimana kepandaian seperti ini telah
membuat Yo Him tergempur jiwa nya, suatu gempuran yang
tidak kecil.
Dia telah menyaksikan betapa manusia yang dibunuhbunuhi
seperti juga menjagal hewan dati darah telah
berhisabi>*a-i. Pembunuhan itu bukan terjadi didiri seorang
atau dua orang manusia, melainkan ratusan jiwa . . . maka se
tidak-nya telab merusak jiwa anak ini.
Ciang Pehunya yang melihat Yo Him akhir2 ini sering
melamun begitu, jadi menguatirkan sekali kesehatannya, dia
sering memberikan nasehat2nya.
Yo Him sering menyatakan kepada Ciang Pehunya, bahwa
dia ingin pergi kesebuah tempat yang jauh . . . jauh sekali . .
Betapa sedihnya Ciang Pehunya itu karena dia sangat
menyayangi Yo Him sama seperti putera kandung mereka
sendiri.
Lebih2 Ciang Pebo, isteri Ciang Pehunya Yo Him, telah
menangis selama dua hari dua malam mereka kuatir kalau2
anak angkat mereka itu akan benar2 membuktikan
perkataannya, yaitu pergi jauh meninggalkan mereka. . .
MALAM itu sepi dan sunyi sekali, dan hanya terdengar
suara binatang malam yang berdendang, sedangkan Yo Him
terlentang di pembaringannya tanpa bisa memejamkan
matanya.
Dia telah melihatnya, betapa manusia hidup didalam dunia
seperti juga tengah membawakan peranan diatas panggung
sandiwara, bisa hidup gembira, bisa menderita, dan bisa mati
disetiap saat.
Maka didalam usia yang sedemikian kecil, ternyata Yo Him
telah dirasuki oleh berbagai

pikiran yang tidak2, yang telah merusak jiwanya sendiri.
Entah mengapa Yo Him juga jadi membenci sekelilingnya,
membenci dirinya membenci juga ketidak mampuannya.
Waktu dia melihat imam2 dari Kun Lun Pai itu dibinasakan
oleh Tiat To Hoat-ong dan kawan2nya, sesungguhnya hatinya
penasaran dan marah sekali, dia ingin sekali untuk
membantui.
Namun justru dia tidak memiliki kepandaian apa2, diapun
masih kecil dan tidak memiliki tenaga, dan disamping itu
diapun dalam ketakutan yang sangat hebat, maka apa yang
bisa dilakukannya?
Diam2 Yo Him jadi mengutuki dirinya sendiri yang tidak
punya guna, yang hanya bisa menyaksikan betapa manusia
telah dijagal begitu rupa oleh jago2 Mongol.
Didalam jiwanya yang masih belum bisa menentukan
sesuatu apapun itu, dia telah merasakan bahwa dirinya harus
pergi merantau, dia tidak dapat hidup terus menerus disebuah
perkampungan kecil itu.
Berbagai ingatan segera muncul mengganggu hatinya, dia
teringat kepada Sintiauw, burung rajawali yang sangat sayang
kepadanya, yang telah merawatnya sejak bayi. sampai dia
berusia tujuh tabun, dan dia teringat juga kepada Ciang Pehu
dan Ciang Pebonya yang telah melimpahkan kasih sayangnya
untuk dia. maka dari itu kini jika dia pergi meninggalkan Ciang
Pehu dan Pebonya itu, dia pun tidak tega.
Tetapi Yo Him sudah tidak bisa menahan keinginan hatinya
untuk pergi merantau.
Dia telah membuka pintu kamarnya, dilihatnya pintu kamar
Pehu dan Pebonya tertutup rapat.
Cepat2 dan hati2 Yo Him membereskan beberapa potong
bajunya, lalu dibuntalnya menjadi satu.

Ber-indap2 dia telah keluar dari kamarnya, membuka pintu
luar, dia telah melangkah ketaman dari rumah tersebut. Tetapi
waktu Yo Him ingin membuka pintu taman itu, tahu2
dibelakangnya ada orang yang menegur halus: „Him jie (anak
Him) malam2 seperti ini kau hendak pergi kemana?”
Yo Him terkejut, dia menoleh pada Ciang Pehunya berdiri
dihadapannya dengan muka yang muram. Cepat2 Yo Him
menjatuhkan dirinya berlutut dihadapan Ciang Pehunya itu
dengan hati yang sedih. Dia menceritakan keinginannya untuk
pergi merantau, karena dia ingin mencari pengalaman. Ciang
Pehunya jadi berduka sekali, mukanya jadi tambah muram.
Dengan sabar dia telah membangunkan Yo Him dari
berlututnya, di-usap2 rambut anak itu.
„Dengarlah Himjie, kami sangat sayang kepadamu,” kata
Ciang Pehunya itu. „Kau masih terlalu kecil, belum ada yang
bisa kau lakukan… ! Jika memang kau ingin merantau guna
mencari pengalaman, kami tentu akan melepaskan dan
mengizinkannya asalkan kau telah dewasa, tetapi sekarang?
Usiamu masih terlampau kecil dan kami kuatirkan kau akan
mengalami bencana !.”
Yo Him menggeleng lemah.
„Memang Himjie anak yang Put-hauw Put gie (tidak
berbakti dan tidak berbudi), sehingga melupakan kebaikan
Pehu dan Pebo…. tetapi Him jie tentu akan menengoki Pehu
dan Pebo.”
„Apakah perlakuan kami kurang baik?” tanya Pehu itu
dengan suara yang sabar. „Apakah ada perlakuan kami yang
melukai perasaanmu sehingga kau ingin pergi meninggalkan
kami?”
Ditanya begitu, Yo Him cepat2 menggeleng sambil
mengucurkan air mata, dia telah memeluk Pehunya itu,

„Bukan ! Bukan Pehu, kalian baik sekali terlalu baik,” kata
Yo Him kemudian. „Justru disebabkan sikap kalian yang
terlampau baik. membuat Himjie tidak dapat menerimanya,
Him jie malu menerima budi Pehu dan Pebo terus menerus ….
biarlah Himjie pergi merantau, jika kelak Himjie telah berhasil
menjadi manusia maka Himjie akan datang kemari untuk
mencari Pehu dan Pebo gura membalas budi kalian yang
besar….!”
Ciang Pehu itu menghela napas dalam2, kemudian berkata.
„Baiklah! rupanya ada sesuatu persoalan yang tidak ingin kau
katakan dan tetap kau sembunyikan !”
Ciang Pehu itu berkata demikian, karena dia melihat Yo
Him seperti menyembunyikan suatu rahasia.
Sedangkan dugaan Ciang Pehu itu memang tepat, karena
Yo Him tengah digeluti oleh semacam perasaan, dimana dia
sering diganggu oleh pertanyaan : „Siapa ayah ? Siapa ibu ?”
Dan pertanyaan seperti itu mengganggu sekali hatinya. Dia
sering berpikir : „Ayahku atau ibuku tidak pernah ku
lihat….apapun tidak kuketahui tentang mereka, Siapa ayahku
? Siapa ibuku ? Akhhh.. akulah sianak yatim piatu yang tidak
mengerti apa2 !”
Dan maksud Yo Him ingin merantau adalah untuk mencari
ayah dan ibunya !
Setelah barlutut lagi dihadapan Ciang Pehu nya itu,
akhirnya Yo Him telah membalikkan tubuhnya, dia berlari
dengan cepat untuk menyembunyikan air matanya yang telah
menitik turun.
Sedangkan Ciang Pehunya juga telah mengawasi kepergian
Yo Him dengan air mata ber-linang2.
Sengaja Ciang Pehu tidak membangunkan isterinya, dia
takut kalau2 isterinya itu bertambah sedih menyaksikan
keberangkatan Yo Him..

SETELAH melakukan perjalanan sampai menjelang fajar, Yo
Him sampai dikampung Pu-cung cung, sebuah kampung yang
masih berada didaerah kaki Gunung Kun Lun, terpisah kurang
lebih dua ratus lie dari perkampungannya Ciang Pehunya itu.
Tetapi Yo Him tidak bermaksud Untuk singgah dikampung itu,
dia telah meneruskan perjalanannya.
Dia bermaksud merantau kemana kedua kakinya
membawanya, karena dia memang tidak memiliki tujuan dan
tempat yang akan dituju.
Hanya yang menjadi pemikiran Yo Him, dia akan berusaha
untuk menyelidiki siapakah sebenarnya ayahnya, siapakah
sesungguhnya ibunya.
Pernah Yo Him menanyakannya kepada Ciang Pehunya
atau Ciang Pebonya, tetapi kedua orang itupun tidak
mengetahui apa2 mengenai asal usul Yo Him.
Mereka, kedua pasangan suami isteri she Ciang yang baik
hati itu hanya mengatakan bahwa Yo Him seringkali dibawa
terbang oleh Rajawali sakti, yang diturunkan dipintu kampung
sehingga Yo Him bisa bermain dengan anak2 kampung
lainnya, kemudian disore hari Sintiauw telah menjemputnya
lagi membawa Yo Him terbang masuk kedalam jurang yang
dalam sekali. Kini Sintiauw sudah tidak pernah dilihatnya
setelah yang terakhir kali rajawali itu terjun ke dalam jurang
dan tidak pernah muncul lagi.
Sehingga Yo Him sudah tidak bisa bertanya kepada
siapapun juga mengenai asal usulnya.
Siang itu Yo Him telah tiba dipintu sebuah kota yang tidak
diketahui namanya, Yo Him hanya melihat kota itu merupakan
sebuah kota kecil yang sedikit sekali penduduknya.
Disaat itu perut Yo Him telah berkeruyukan karena lapar,
dia memasuki kedai arak dan memesan nasi dengan dua
macam lauknya yang sederhana.

Anak ini telah memakannya dengan lahap, sampai dua
mangkok nasi dihabiskan. Setelah membayar harga barang
makanan itu, Yo Him melanjutkan perjalanannya lagi.
Tetapi sebagai seorang anak yang baru berusia tujuh
tahun, mana bisa dia merantau seorang diri ? Segala apapun
dia tidak tahu, bahkan ketika dia melihat keramaian dikota
tersebut, Yo Him sering berhenti untuk menyaksikannya.
Seperti penjual silat, pedagang barang2 mainan, dan macam2
lagi.
Dan disaat dia telah melangkah pula untuk melanjutkan
perjalanannya, tidak hentinya Yo Him menghela napas.
Dia merasakan dirinya hidup tidak wajar, sebagai seorang
anak yang berusia demikian kecil dia sudah tidak memiliki
ayah ibu, sudah tidak mengenal siapa ayahnya dan siapa
ibunya, maka diapun merasakan bahwa dirinya merupakan
seorang anak yatim piatu yang hidup dalam penderitaan.
Sedang pikiran Yo Him menerawang dibawa oleh
lamunannya, tiba2 dia mendengar suara teriakan2 nyaring,
disertai oleh suara tertawa yang nyaring.
Yo Him mengangkat kepalanya, dia melihat dari arah
depannya tampak seorang pengemis berusia belasan tahun
tengah berlari sambil ter tawa2, dikejar oleh tiga orang
pengemis lainnya lagi.
Mereka rupanya tengah main kejar2an sebab merekapun
ter tawa2 dengan riang.
Disaat pengemis yang dikejar oleh ketiga kawannya telah
berada dekat dengan Yo Him, dia berlari terus seperti ingin
menubruk Yo Him, cepat2 Yo Him menyingkir kesamping.
Tetapi gerakan Yo Him kurang cepat, sehingga bahunya
terbentur oleh tubrukan tubuh pengemis itu, sehingga tubuh
Yo Him maupun pengemis yang seorang itu bergulingan diatas
tanah.

Dengan menahan sakit Yo Him bangun berdiri untuk
menegur dan memarahi pengemis yang ceroboh itu,
Tetapi alangkah kagetnya Yo Him karena disaat dia belum
membuka mulut, justru pengemis yang seorang itu telah
berdiri tolak pinggang mengawasi Yo Him dengan mata
mendelik lebar2, mukanya galak sekali.
„Setan kecil, mengapa kau sengaja menghadang jalannya
tuan besarmu hah?” bentak pengemis itu dengan suara yang
nyaring.
Saat itu ketiga pengemis yang tadi mengejarnya telah tiba
ditempat itu, merekapun ter-tawa2 sambil mengurung Yo Him.
Tentu saja Yo Him jadi tertegun, lalu tanyanya tergagap :
„Menghadangmu? justru aku tengah berjalan baik2 telah
dilanggar olehmu sehingga aku terjatuh, bagaimana kau bisa
mengatakan bahwa aku yang telah menghadang jalanmu?
Lihatlah tanganku telah terluka!”
Sambil berkata begitu Yo Him telah mengulurkan
tangannya untuk memperlihatkan luka di tangannya, luka
terbeset. Pengemis itu mendengus galak.
„Hemmm engkau rupanya orang asing di-tempat ini dan
datang dikota ini ingin main jago2an?” bentaknya.
Muka Yo Him jadi berobah, dia jadi gugup melihat sikap
pengemis yang tidak keruan itu. „Aku sama sekali tidak usil
kepada kalian ……. minggirlah, aku mau melanjutkan
perjalanan ku !” kata Yo Him.
„Hemm, apakah begitu enak saja ingin pergi ?” bentak
pengemis itu dengan galak.
Yo Him mengerutkan sepasang alisnya.
“lalu apa yang diinginkan kalian ?” tanya nya. „Kalau
memang kalian menganggap aku bersalah, maafkanlah !”

„Hemm, begitu mudah untuk meminta maaf ? Kau harus
memberikan uang sepuluh tail kepada kami, sebagai ganti rugi
!”
„Benar !” teriak ketiga pengemis kecil lain nya dengan
suara yang nyaring, dengan muka sengaja dibuat agar terlihat
galak „Jika dia tidak mau ganti rugi , kita hajar saja biar babak
belur !”
Hati Yo Him jadi mendongkol, namun nyalinya ciut. Mana
bisa dia melawan pengemis yang lebih besar usianya dari dia ?
Terlebih lagi pengemis2 kecil itu berjumlah empat orang.
„Aku tidak memiliki uang sebanyak itu jika kalian mau, aku
bersedia membagi kalian satu tail…!” kata Yo Him kemudian.
Tetapi pengemis itu telah tertawa mengejek tahu2
tangannya telah menyambar buntalan pakaian Yo Him yang
kemudian dibawa lari dengan cepat sekali.
„Hei, hei, jangan mengambil barangku?” teriak Yo Him
gugup sekali, sambil berusaha mengejar.
Tetapi ketiga pengemis kecil lainnya telah meng halang2i
Yo Him, disaat Yo Him memaksa untuk menerobos lewat,
ketiga pengemis itu tahu2 telah mengayunkan tangan2
mereka memukuli Yo Him.
Bahkan salah seorang diantara ketiga pengemis itu telah
mendorong Yo Him, sampai anak she Yo ini telah rubuh diatas
tanah dan tubuh nya diduduki oleh dua orang pengemis yang
menghajarinya pulang pergi, sehingga muka Yo Him matang
biru dan babak belur.
Pengemis yang seorang lagi mempergunakan kakinya
menendangi muka Yo Him.
Setelah puas menyiksa Yo Him yang menjerit kesakitan,
ketiga pengemis kecil itu pun segera angkat kaki karena
mereka takut kalau suara jeritan Yo Him nanti mengundang
datangnya orang banyak.

Dengan merangkak Yo Him telah berdiri, Dia melihat
pengemis2 kecil itu sudah lenyap tidak terlihat bayangannya
lagi.
Keadaan dijalan yang seperti lorong itu sepi sekali. Yohim
merasakan seluruh tubuhnya pada sakit akibat pukulan dan
tendangan ketiga pengemis kecil itu. Disusutnya darah yang
mengucur dari mulut dan hidungnya dia berjalan dengan
tubuh yang lesu, dengan pakaian yang kotor dan pecah
sebagian, tindakan kakinya lemah dan lesu, sambil menahan
sakit yang diderita disekujur tubuhnya.
Ketika orang2 melihat keadaan Yo Him mereka hanya
menduga bahwa Yo Him adalah
seorang anak nakal yang baru berkelahi dengan anak2
sebayanya, sehingga mukanya jadi babak belur begitu.
Sedikitpun keadaan Yo Him tidak menarik perhatian orang2
disekitarnya.
Tentu saja Yo Him jadi bingung kini bajunya telah robek
dan kotor, sedangkan buntalan pakaian dan uangnya telah
dibawa lari oleh Pengemis2 kecil itu.
Maka seperti seorang pengemis kecil Yo Him telah
mengelilingi kota itu untuk mencari pengemis kecil yang telah
merampas buntalannya itu.
Tetapi sampai sore, disaat hari mulai gelap tetap saja Yo
Him tidak berhasil mencari pengemis2 itu. Bahkan celakanya,
perut Yo Him juga telah berkeruyukan lapar.
„Akhhh, inilah disebabkan kecerobohanku yang tidak berhati2,
sehingga uang dan bajuku telah dirampas oleh
pengemis2 kurang ajar itu” berpikir Yo Him didalam hatinya.
Dengan tubuh yang lesu, dan menahan lapar Yo Him telah
berjalan tanpa arah dan tujuan.

Akhirnya ketika dia tiba didekat pintu sebelah utara dari
kota tersebut, bahunya ditepuk seseorang. Tentu saja Yo Him
jadi terkejut.
Ketika dia menoleh, ternyata orang yang menepuknya itu
tidak lain dari seorang pengemis juga, usianya telah empat
puluh tahun, pakaiannya compang-camping dan kumis
maupun jenggotnya yang kasar itu tumbuh tidak teratur.
Melihat orang yang menepuknya seorang pengemis, hati Yo
Him sudah tidak senang, karena dia telah mengalami betapa
pergemis2 kecil yang tadi telah mengganggunya dan
merampas barang2nya.
Maka dari itu Yo Him telah menduga mungkin pengemis
inipun ingin mengganggunya juga.
„Anak, mengapa keadaanmu seperti ini ?” Sapa pengemis
itu dengan itu dengan suara ramah.
Sebetulnya Yo Him sudah tidak ingin melayani pengemis
itu, namun mendengar suara sipengemis yang ramah den
sabar, maka dia telah menyahuti juga. „Aku telah dihina oleh
pengemis2 sebangsamu !”
„Ihh ? !” pengemis itu mengeluarkan seruan karena
terkejut, rupanya jawaban yang diberikan Yo Him tidak pernah
diduga sebelumnya „Aku dipukuli dan juga barang2ku telah di
rampas mereka …. !” kata Yo Him lagi.
Dengan muka yang muram dan sepasang alis yang
dikerutkan, pengemis itu telah bertanya sabar ; „Apakah kau
mengetahui nama mereka ??”
„Mana tahu ? Sedang lihat saja baru tadi!” kata Yo Him
mendongkol
„Hemm, apakah ada peristiwa seperti ini?” menggumam
pengemis itu. „Apakah kau tidak berdusta?”

„Untuk apa aku membohongimu ? Apakah dengan
menceritakan pengalamanku itu kau bisa mengembalikan
barangku ? Hemm, itulah memang sudah nasibku yang buruk
!” mengeluh Yo Him sambil memutar tubuhnya, maksudnya
ingin berlalu.
“Tunggu dulu adik kecil …….!” kata pengemis itu mencegah
kepergian Yo Him.
„Ada apa lagi yang ingin kau ketahui ?” tanya Yo Him tidak
sabar.
„Aku masih ingin menanyakan kau perihal uang dan
pakaianmu yang telah dirampas itu …….”
“ Percuma . . . “
„Mengapa percuma! Katakanlah, bagaimana wajah
pengemis yang telah mengganggumu ?”
“Semuanya ada tiga orang !”
„Ihh !” kembali pengemis itu mengeluarkan suara seruan
heran. „Tiga orang ?”
„Ya,” mengangguk Yo Him „Mereka baru pertama kali
kulihat dan dengan sengaja telah menubrukku, disaat itu
mereka menaduh aku justru yang telah menghadang jalan
mereka, sehingga salah seorang diantara mereka terjungkel
ditanah ! Tetapi sebenarnya bukan salahku, justru memang
mereka sengaja menubrukku…!” Pengemis itu tertawa.
„Baiklah, kini kau jelaskan wajah mereka mungkin aku bisa
bantu carikan barangmu yang telah lenyap itu.”
„Ohhh, benarkah ?” tanya Yo Him girang. „Maka dari itu.
cepat kau ceritakan.” kata pengemis itu lagi. „Mudahkan saja
barang itu belum dipergunakan mereka.”
Mendengar itu, tentu saja Yo Him jadi girang dia
menceritakan peristiwa yang telah dialaminya dan juga
menceritakan wajah ketiga pengemis kecil itu.

Mendengar cerita Yo Him pengemis itu telah menghela
napas dalam2. semula dia menduga bahwa yang menggangu
Yo Him adalah pengemis dewasa, dan kini dia baru
mengetahui yang mengganggu Yo Him adalah pengemis2 kecil.
„Hemmm, aku tidak menyangka ada juga anak2 kami yang
nakal…” kata pengemis itu sambil menghela napas. „Mari ikut
aku, kita cari mereka!”
Yo Him ragu2, tetapi tangannya telah dicekal oleh
pengemis itu.
„Keadaanmu seperti ini, padahal kau bukan pengemis, Jika
baju dan uangmu itu tidak dicari sampai pulang kembali,
bagaimana engkau bisa bersalin pakaian dan membeli
makanan mengisi perut yang lapar?” kata pengemis itu,
Yo Him berpikir memang apa yang dikatakan pengemis itu
ada benarnya juga. Maka dia mengangguk.
„Baiklah…jika memang benar2 Lojinkee (kau siorang tua)
bisa mencarikan uang dan bajuku, tentu aku sangat berterima
kasih sekali.” kata Yo Him.
„Itu urusan nanti yang terpenting kini kau harus mencari
baju dan uangmu ! Mari kita cari ketiga arak2 itu !” Dan
setelah itu sipengemis. mengajak Yo Him memasuki lorong
yang kotor dan sepi sekali.
Lorong2 itu jarang sekali dilalui orang dan dikedua pinggir
lorong itu tertutup juga oleh dinding2 tinggi dari tembok2
bangunan rumah. Disitupun tidak jarang terlihat menggeletak
pengemis2 yang tengah tertidur nyenyak.
Disaat memasuki lorong yang satu2nya tampak banyak
pengemis yang tengah duduk berkerumun.
„Akhh, Wie Tocu ( pemimpin Wie ) datang !” berseru
beberapa orang pengemis itu sambil berdiri dan
merangkapkan tangannya memberi hormat.

Melihat sikap mereka, pengemis2 itu tampaknya
menghormati sekali pengemis yang mengajak Yo Him, yang
disebutnya sebagai Wie Tocu.
Dengan muka yang muram, Wie Tocu telah berkata dengan
suara yang tawar : „Sesungguhnya memang memalukan
diantara kita terdapat anak2 nakal yang main rampas dan
main pukul! Mereka tiga orang pengemis berusia belasan
tabun telah mengganggu adik kecil ini! Apakah diantara kalian
ada yang mendengar siapa yang telah melakukannya?!”
Pengemis2 itu menggelengkan kepalanya, semuanya
mengatakan tidak tahu.
Dengan kesal Wie Tocu telah menuntun tangan Yo Him
memasuki lorong itu.
Kepada beberapa orang pengemis lainnya. Wie Tocu
menanyakan lagi perihal ketiga anak itu tetap saja tidak ada
yang mengetahui.
Dengan sendirinya Yo Him jadi putus asa dan dia berpikir
mungkin sipengemis yang dipanggil Wie Tocu ini sengaja ingin
mempermainkan dirinya atau memperdayakan dirinya agar
menjadi pengikutnya, yaitu jadi pengemis.
Setelah melalui beberapa lorong dan ber-tanya2 kepada
beberapa orang kelompok pengemis lainnya serta tetap tak
berhasil memperoleh petunjuk kepada ketiga anak pengemis
yang mengganggu Yo Him. Wie Tocu itu telah menawarkan Yo
Him kuwe kering.
„Untuk mencegah lapar….” katanya ramah. „Kau jangan
kuatir, walaupun bagaimana barangmu pasti kembali …”
Tetapi sebegitu jauh kau ber-tanya2 kepada kawan2mu,
tidak seorangpun yang mengetahui …” kata Yo Him bimbang.
Sipengemis tersenyum.

„Tetapi akhirnya akan diketahui juga….!” yakin sekali suara
pengemis itu. “kami memang tersebar diseluruh kota, maka
dari itu mau atau tidak kita harus mencarinya dengan
berkeliling! Percayalah nanti kita akan berhasil mencari
mereka! sekarang kau tenangkan hatimu, makanlah kue
kering itu ….!”
Yo Him memakan kue kering yang diberikan sipengemis,
tetapi dia kurang berselera, dia hanya memakan satu potong.
„Makan lebihan, nanti kau masuk angin!” membujuk
pengemis itu.
„Sesungguhnya, siapakah kau sebenarnya?” tanya Yo Him
akhirnya. ,.Tadi aku melihat semua pengemis menghormati
Lojinke.. .?!” Sipengemis tersenyum.
„Akupun pengemis biasa seperti mereka” sahutnya seperti
ingin menyembunyikan sesuatu, Yo Him juga tidak mendesak
lebih jauh, dan mereka telah berkeliling lagi, dari lorong yang
satu kelorong yang lain,
Disaat mereka tengah berjalan menanyai pengemispengemis
yang mereka jumpai, justru di saat itu mereka
melihat dari arah belakang mereka ber-lari2 tiga sosok tubuh.
Ketika telah dekat, tampak tiga orang pengemis kecil yang ber
lari2 kearah mereka.
,,Itu mereka …. mereka yang telah mengambil barangku !”
kata Yo Him sambil menunjuk kearah ketiga pengemis kecil
itu.”
Sedangkan ketiga orang pengemis kecil itu telah tiba
dihadapan Yo Him dan Wie Tocu.
Mereka tiba2 sekali menjatuhkan diri berlutut dihadapan
Wie Tocu dan Yo Him.
„Kami memohon ampun, kami telah melakukan dosa …… !”
berkata ketiga pengemis kecil itu.

Tentu saja perbuatan ketiga pengemis itu telah membuat
Yo Him jadi heran sekali, dia sampai mengawasi tertegun saja.
Wie Tocu tampak memandang ketiga pengemis kecil itu
dengan muka yang merah padam karena gusar.
„Kalian telah melanggar larangan, telah berani merampas
milik orang lain, lalu mengapa kalian melakukan dosa lainnya
dengan mengeroyok, dan memukuli engko kecil ini ?” bentak
Wie Tocu dengan suara yang bengis.
ketiga pengemis kecil itu berlutut sambil me-manggut2kan
kepalanya tidak hentinya, sampai kening mereka menghajar
tanah dan kening itu terluka serta mengeluarkan darah.
Merekapun menangis sedih sekali.
„Kami memang pantas menerima hukuman yang berat,
tetapi kami mohon kemurahan hati Wie Tocu untuk
mengampuni kami, mengampuni jiwa kami ..”
Dan setelah berkata begitu, ketiga pengemis kecil itu tetap
dalam keadaan berlutut, telah menggerakkan kedua tangan
mereka menghajari muka mereka dengan keras, menghantam
muka sendiri dangan tempilingan yang gencar sehingga
terdengar suara ketepak-ketepok tidak hentinya.
Keruan saja Yo Him tambah heran. Sedangkan Wie Tocu
hanya menyaksikan dengan berulang kali tertawa dingin.
Dan kemudian setelah dia melibat muka ke tiga pengemis
kecil itu babak belur, barulah Wie Tocu puas, dia mengibaskan
lengan bajunya.
„Pergilah kalian…!” katanya dengan suara yang dingin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s