Shn Tiauw Thian Lam (Jilid : 7)

JILID 7
Yo Ko jadi terkejut, cepat2 dia menjura memberi hormat.
„Mana berani aku melakukan perbuatan kurang ajar kepada
hujin” katanya cepat. „Tadi… aku hanya bermaksud untuk
memberikan bantuan jikalau hujin terluka didalam”.
Nyonya itu telah mendengus dingin, dia kemudian menoleh
kepada kuburan Auwyang Hong yang telah dibongkar
seseorang dan kosong itu. tatapan matanya mendelong dan
nanar seperti tidak mengandung perasaan kasihan kepada
nyonya tersebut, baru saja dia ingin mengeluarkan kata2
hiburan, menyenangkan hati nyonya itu. Cek Thian telah
melompat berdiri.
Namun, tubuhnya masih ber-goyang2 seperti akan rubuh
dan disaat itu Phujie telah menghampiri ibunya.
,.Ma, kenapa kau ?’ tanya anak lelaki itu dengan suara
kuatir. „Apakah kau dihina sibuntung itu ?” Kata2 yang
terakhir itu ditujukan untuk Yo Ko, diapun telah mengawasi Yo
Ko dengan mata mendelik.
Tentu saja Yo Ko dan Ciu Pek Thong jadi mendongkol
bukan main, tetapi mereka tidak bisa marah kepada anak kecil
itu.
„Mari kita pergi, Phujie, nanti kita cari penjahat yang telah
menghina ayahmu……!. Urusan ini harus diselesaikan,

penasaran ayahmu harus dibereskan ..!” dan nyonya setengah
umur itu telah berlalu sambil menuntun tangan anak lelaki itu,
memutar tubuhnya dan melangkah dengan tubuh yang bergoyang2
seperti akan rubuh.
Yo Ko jadi mengawasi dengan pandangan mata tertegun,
dia juga menghela napas berulang kali.
Yo Ko pun mengetahui bahwa nyonya itu tentu telah
terluka didalam akibat menerima gempurannya, namun
nyatanya nyonya itu keras hati dan angkuh, tidak mau dia
menerima budi Yo Ko, sehingga dia menolak maksud baik Yo
Ko yang ingin membantunya dengan mempergunakan
lwekang untuk memulihkan kesehatannya…
,,Dia hebat sekali kepandaiannya, dan juga ilmu yang
digunakannya sama dengan yang pernah digunakan Tee Tok
semasa hidupnya—! Siapakah dia sebenarnya ? Bukankah Tee
Tok telah mampus cukup lama ?” Berkata Ciu Pek Thong
sambil geleng2 kepalanya.
„Entah siapa nyonya dan anak itu ! Keadaan mereka luar
biasa sekati ! Menilai kepandaian yang dimilikinya, dia pasti
bukan orang sembarangan, lebih2 dia memiliki kepandaian
turunan dari keluarga Auwyang, jelas dia masih memiliki
hubungan yang rapat dengan ayah angkat ku. Tetapi siapakah
dia ? Mengapa aku belum pernah bertemu ? Dan mengapa
disaat dia mengetahui bahwa aku Yo Ko, segera sikapnya
begitu garang dan melancarkan serangan2nya yang
mematikan tanpa mengenal kasihan?”
Tetapi semua tanda-tanya itu hanya sempat bersarang
dihati Yo Ko dan Ciu Pek Thong, karena mereka berdua tidak
berhasil menjawabnya.
Sedangkan saat itu, udara mulai panas dan terik, karena
cahaya matahari semakin panas dan hari sudah menjelang
lohor.

Yo Ko dan Ciu Pek Thong menantikan kedatangan It Teng
Taisu dan jago2 lainnya yang menjadi sahabat mereka
dikuburan Auwyang Hong dan Ang Cit Kong, yang telah
kosong…!
000O000
IT TENG TAISU yang telah ber-lari2 sekian lama, akhirnya
berhasil mencapai kota Tiang Lu-kwan. Waktu itu hari sudah
mendekati fajar dan sudah banyak penduduk kota yang
terbangun dari tidurnya dan bersiap2 untuk berangkat ke
tempat pekerjaan mereka.
Namun It Teng Taisu tidak berbasil mencari Tiat To Hoat
ong, Bahkan ketika It TengTaisu menanyakannya kepada
beberapa orang penduduk, tidak ada seorangpun yang
mengetahuinya, Akhirnya, dengan putus asa It Teng Taisu
telah memasuki sebuah rumah makan, dia memesan dua kati
air teh, dan menangsal perut dengan bakpauw tanpa isi.
Disaat It Teng Taisu tengah menghirup air tehnya, disaat
itulah dia mendengar suara orang berkata; „Engko ceng, kita
mengasoh disini saja dulu, besok baru kita lanjutkan pula
perjalanan kita. Kukira masih belum terlambat untuk
mencapai Hoa San tepat pada waktunya..”
Tentu saja It Teng Taisu girang luar biasa karena dia
mengenali bahwa suara itu adalah suara sinyonya nakal Oey
Yong. Kwee Hujin. Dan dengan sebutan “Engko Ceng” itu,
jelas Oey Yong tengah ber cakap2 dengan Kwee Ceng.
Benar juga dugaan It Teng Taisu, dari luar melangkah
masuk Oey Yong dan Kwee Ceng.
Kedua orang tersebut juga kaget bercampur girang waktu
melihat It Teng Taisu. Mereka telah cepat2 menghampiri dan
memberi hormat, yang cepat2 dibalas oleh It Teng Taisu.

„Taisu, apakah keadaanmu selama ini baik2 saja?” tanya
Oey Yong sambil tersenyum. “Tampaknya taisu sekarang agak
gemuk sedikit di bandingkan dengan tiga tahun yang lalu….!”
„Siancai ! Itulah berkat berkah Sang Buddha !” kata It Teng
Taisu sambil tersenyum lebar. „Tetapi, ai, ai, sungguh
memang aku si tua It Teng tidak diijinkan untuk hidup tenteram
menganut penghidupan yang tenang damai. Akhir2 ini
telah muncul urusan besar yang memaksa aku harus
mencampurinya pula….!”
Dan setelah berkata begitu, It Teng Taisu menghela napas
sambil mengawasi Kwee Ceng dan Oey Yong bergantian. Lalu
katanya : „Dan kalian berdua, sesungguhnya ingin pergi ke
mana,?”
Kwee Ceng dan Oey Yong memperlihatkan sikap seperti
keheranan, mereka saling pandang, dan Kwee Ceng yang
tidak pandai berkata2, hanya berdiam diri dengan
memandangi It Teng Taisu saja, tetapi Oey Yong telah
menyahuti ; „Bukankah Taisu yang telah mengundang kami
agar segera datang ke Hoa San ?”
It Teng Taisu menatap tertegun mendengar pertanyaan
Oey Yong, kemudian menepuk lututnya perlahan.
„Akhhh, inilah aneh ! Aneh sekali !” kata It Teng Taisu.
Oey Yong cerdik luar biasa segera menyadari bahwa
didalam persoalan ini pasti terdapat sesuatu yaag agak luar
biasa.
„Apakah Taisu tidak merasa pernah mengirim surat kepada
kami ?” tanya Oey Yong tidak bisa menahan sabar.
Hweshio tua dari selatan itu telah meng-geleng2kan
kepalanya,
„Inilah urusan yang aneh sekali !” kata It Teng Taisu.
„Siauwceng belum pernah mengirim surat kepada siapapun
selama tiga tahun terakhir ini, bahkan sebulan yang lalu Lolap

menerima sepucuk surat dari Oey Loshia yang meminta agar
Lolap mau datang ke Hoa San untuk menyelesaikan suatu
urusan yang cukup penting. “
„Akhh ?” Oey Yong mengeluarkan seruan kaget mendengar
nama ayahnya, Oey Yok Su di-sebut2. Jadi . . . surat yang
kami terima itu ditulis oleh siapa . . . ?”
„Maksudmu surat yang diterima oleh kalian itu ditanda
tangani oleh Lolap ?” tanya It Teng Taisu.
Oey Yong mengangguk Kwee Ceng mengiyakan.
„Aneh sekali ! Lolap tidak merasa pernah mengirim surat
kepada kalian ! Jika kalian menerima sepucuk surat Lolap
tentunya kalian bisa mengenali huruf2 itu ditulis oleh lolap
atau bukan?”
„Justru kami telah memperhatikan dengan Cermat huruf2
itu, satu hurufpun surat itu tidak mendatangkan kecurigaan,
bahkan kami mengenali tulisan Taisu—-!”
It Teng Taisu menyebut kebesaran Sang” Buddha beberapa
kali, sedangkan Kwee Ceng telah mengeluarkan sepucuk surat
lalu diberikan kepada It Teng Taisu.
Sipendeta tua dari Selatan itu telah menyambuti dan
membaca surat itu, lalu memperhatikan huruf2 yang terdapat
dikertas itu.
It Teng Taisu jadi memandang bengong surat tersebut,
karena justru dia mengenali huruf2 diatas kertas itu adalah
hasil tulisannya, tidak ada perbedaannya.
Tetapi yang lebih aneh lagi justru dia tidak pernah menulis
surat seperti itu. Tanda tangannya pun sama serta tidak ada
bedanya baik garis nya, maupun tekukan2 huruf itu.
„Luar biasa! Siapa yang telah sedemikian liehay
memalsukan surat dengan

memakai nama lolap ?” menggerutu sipendeta dari
Selatan.
„Jadi surat itu memang bukan ditulis Oleh Taisu?” tanya
Oey Yong menegasi.
It Teng Taisu menggeleng perlahan, dan dia memandang
keluar jendela
„Inilah aneh surat ini bukan ditulis Olehku tetapi ada
seseorang yang telah menjual namaku dan memalsukan
huruf2 yang begitu sama dengan tulisanku.. ! Luar biasa
sekali, siapakah orangnya itu?”
Oey Yong dan Kwee Ceng jadi tertegun dan mengawasi
sipendeta dengan tatapan mata mengandung tanda tanya,
„Lolap pun menerima sepucuk surat yang. bunyinya hampir
serupa dengan ini. tetapi ditulis oleh ayahmu, Kwee hujin…”
kata It Teng Taisu.
Dan Lam Ceng telah merogoh sakunya, mengeluarkan
sepucuk surat, yang diangsurkan kepada Kwee Ceng, dan
Oey Yong ikut membacanya.
Bunyi surat itu hampir mirip dengan surat yang diterima
oleh Kwee Ceng dan Oey Yong, hanya saja huruf2 surat itu
ditulis oleh Oey Yok Su.
Oey Yong dan Kwee Ceng kenal dengan baik tulisan Oey
Loshia, maka dari itu tidak mengherankan jika mereka menjadi
kaget dan heran. „Apakah mungkin ayah yang sengaja telah
bergurau ?” berpikir Kwee Hujin.
Tetapi Oey Yong mengetahui benar tabiat ayahnya, Oey
loshia. sisesat tua, tidak mungkin Oey Yok Su bergurai dengan
cara demikian.
Huruf2 surat itu ditulis oleh Oey Loshia bukan ?” tanya It
Teng Tai-su setelah melihat Oey Yong dan Kwee Ceng selesai
membaca surat itu.

„Benar ……..tetapi’ suara Oey Yong jadi tidak lancar.
Dia sesungguhnya sangat cerdik, (seperti didalam Sia
Tiauw Enghiong, Sin Tiauw Hiap Lu, telah diceritakan
kecerdikan Oey Yong yang selalu berhasil memecahkan
berbagai persoalan yang berat bagaimanapun), tetapi
menghadapi persoalan tersebut, tidak dapat Oey Yong segera
memutuskan karena menyangkut urusan ayahnya.
“Tetapi kenapa?” tanya Kwee Ceng yang melihat isterinya
seperti ragu2.
„Aku yakin surat ini bukan ditulis oleh ayah!” kata Oey Yong
kemudian. ,,Coba kau lihat Engko Ceng , apakah surat ini
sesungguhnya ditulis oleh ayah?”
Kwee Ceng yang polos telah mengangguk.
“Jika dilihat dari huruf2nya memang tulisan ayah..!”
katanya.
“Akhh…..“ Oey Yong mengeluh jengkel. “Justru huruf2
menyerupai tulisan ayah. tetapi aku yakin bahwa surat ini
bukan ditulis oleh ayah! Hanya saja orang yang membuat
surat ini hebat sekali, dia bisa memalsukan huruf2 ayah
dengan baik sekali, tanpa ada sedikitpun yang salah…!”
„Aneh sekali … apakah kau mau mengartikan bahwa surat
itu surat palsu?”‘ tanya Kwee Ceng. Oey Yong menganguk.
„Ya, menurut Lolap juga demikian. Setelah melihat surat
kalian, yang merupakan surat palsu, yang menjual nama
Lolap, berarti ada sekelompok orang yang bermaksud untuk
mempermainkan kita !”
„Benar !’ mengangguk Oey Yong cepat. “Jika kita
memperbandingkan dengan peristiwa yang kita alami ini,
Taisu, tentunya kedua surat ini ditulis oleh tangan yang sama,
hanya yang satu menjual nama Taisu, sedangkan yang lainnya
menjual nama ayah !”

„Tetapi, apa maksud orang itu dengan perbuatannya ini ?”
tanya It Teng Taisu sambil mengerutkan alisnya. „Dan apa
maksudnya dengan perkataannya bahwa di Hoa-san baru
akan di jelaskan duduk persoalan dari peristiwa yang besar
dan penting itu ?”
Oey Yong tidak bisa menjawab dia tampak seperti berpikir
keras. Sampai akhirnya dia menepuk meja.
“Aku tahu !” kata Oey Yong kemudian.
Tetapi nyonya Kwee itu tidak meneruskan pertanyaannya,
sehingga Kwe Ceng jadi tidak sabar dan bertanya : „Tahu apa
?”
„Tentu ada seseorang yang tengah mempersiapkan suatu
perangkap untuk menjerat golongan kita, yang khususnya
ditujukan kepada Ngo Ciat .. !”
„Hemm”, Kwee Ceng telah mendengus. „Tetapi dengan
diundangnya kita ke Hoa-san, walaupun disana telah dipasang
jebakan yang hebat sekali, dengan jala langit dan jala bumi,
apakah Ngo Ciat akan jeri ?”
Benar Ngo Ciat tidak jeri, tetapi orang yang sengaja
memalsukan nama ayah dan It Teng Taisu, jelas telah
memperhitungkan segalanya. Orang itu tentu telah
mengetahui siapa Ngo Ciat dan betapa sempurna
kepandaiannya yang jelas akan diperhitungkannya dengan
masak Tetapi disamping itu, tentunya orang tersebut telah
memiliki kepandaian yang hebat, telah memasang perangkap
dan telah diperhitungkannya dengan masak, sehingga dia
tidak jeri untuk memancing Ngo Ciat. Jika dugaanku ini
benar, tertunya Kojie dan Siauw Liong Lie akan diundang pula.
Entah undangan itu dengan menjual nama siapa . . . ?”
It Teng Taisu mengerutkan sepasang alisnya dan dia
merasakan bahwa urusan yang tengah mereka hadapi itu
bukanlah urusan yang bisa diremehkan.

Untuk sementara, ketiga orang tersebut ber diam diri,
karena masing2 tenggelam dalam pikirannya masing2.
Sedangkan It Teng Taisu sekali2 meneguk tehnya per
lahan2.
Tiba2 Oey Yong telah berkata lagi; „Engko Ceng, apakah
kau sudah bisa menduga siapa yang melakukan ?” Kwee Ceng
menggeleng.
„Dan kau sudah mengetahuinya ?” tanya sisuami sambil
mengawasi Oey Yong dengan penuh tanda tanya. Oey Yong
mengangguk.
„Tetapi aku belum berani memastikan secara
keseluruhannya —!” menyahuti Oey Yong
„Siapa?” tanya It Teng Taisu dan Kwe Ceng hampir
Serentak.
„Nanti akan kujelaskan sekarang lebih baik kita
memperhatikan dulu kedua surat ini, mencari persamaan
diantara huruf2 itu ……..!”
Dan tanpa menantikan persetujuan kedua orang itu. Oey
Yong telah membeber kedua surat tersebut dipermukaan
meja.
Dengan tekun, Oey Yong telah meneliti kedua pucuk surat
itu. It Teng Taisu hanya mengawasi saja, sedangkan Kwee
Ceng ikut memandangi surat itu, tetapi pikirannya yang polos
serta sederhana tidak bekerja seperti yang dikehendakinya;
dia tidak menemui sesuatu persamaan dari kedua surat itu,
yang bisa membuktikan bahwa penulis kedua sarat itu hanya
satu orang;
Tetapi berbeda dengan Oey Yong, sejak kecil nyonya ini
Cerdik luar biasa disamping sangat nakal. Diapun telah
memperhatikan dengan penuh ketekunan sekali, dan akhirnya
setelah memperhatikan selama seperminum teh, tiba2 Oey
Yong menepuk pinggir meja.

„Aku telah menemuinya!” serunya girang.
Kwee Ceng dan It Teng Taisu mengawasinya menunggu
keterangan dari Oey Yong.
Tetapi Oey Yong telah menundukkan kepalanya pula, dia
masih terus meneliti kedua surat tersebut.
Tentu saja Kwee Ceng dan It Teng Taisu jadi tidak sabar,
mereka jadi tegang sendirinya.
Bahkan Kwee Ceng yang sudah tidak berhasil menahan hati
maupun perasasaan ingin tahunya, telah bertanya; „Yong-jie
kau telah menemui apa?”
„Tunggu dulu…” menyahuti Oey Yong tanpa menoleh dan
terus juga mengawasi kedua surat itu. Sampai akhirnya dia
menghela napas dengan lega dan duduk lurus.
„Nah kini coba kalian lihat, setiap huruf “She” (persoalan)
terdapat persamaan yang tidak bisa dilenyapkan, walaupun
huruf “She” yang satu memakai garis coretan huruf It Teng
Taisu, sedangkan “She” lainnya memakai coretan gaya tulisan
ayah.
Kwee Ceng dan It Teng Taisu segera mengawasi. Tetapi
setelah mengawasi sekian lama. mereka tidak bisa melihat
adanya persamaan di antara kedua huruf itu.
It Teng Taisu hanya mengerutkan alisnya sambil berdiam
diri saja. Tetapi tidak demikian dengan Kwee Ceng.
„Dibagian mananya yang bersamaan?” tanyanya kemudian.
Oey Yong tertawa, sambil mengulurkan tangannya untuk
menunjuk.
Ternyata yang ditunjuk oleh Oey Yong adalah garis
lekukkan kedua dari huruf “She” tersebut. Kwee Ceng
memperhatikannya dengan seksama dan akhirnya dapat juga
dilihatnya persamaan yang dimaksud oleh Oey Yong, yaitu seTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
tiap sudutnya membulat dengan ditengahnya terdapat sebuah
titik kecil.
„Akhhh!” Kwee Ceng mengeluarkan seruan perlahan.
„Ternyata kedua surat itu memang di tulis oleh tangan yang
sama.”
It Terg Taisu menghela napas.
Persoalan ini yang kita hadapi bukan persoalan yang
mudah, pasti didalam persoalan ini terselip urusan yang luar
biasa,” katanya. ,,Untuk memperoleh kepastian. kita harus
cepat2 pergi ke Hoa San untuk melihat apa sesungguh nya
yang terjadi! Dan baru2 ini Lolap baru saja mengalami suatu
peristiwa yang cukup meng herankan ….!”
Dan It Teng Taisu lalu menceritakan pengalamannya yang
telah bertemu dengan Tiat To Hoat ong, telah bertempur
dengannya, dan telah mengetahui pula bahwa tawanan Tiat
To Hoat ong tidak lain dari Siauw Liong Lie, isteri Yo Ko. dan
juga Sin Tiauw. Oey Yong dan Kwee Ceng jadi gusar, kumis
Kwee Ceng seperti berdiri.
„Akhhh. mereka ternyata telah mengirm orangnya untuk
membuat huru hara dan onar lagi di Tionggoan!”
menggumam Kwee Ceng perlahan; yang dimaksudkannya
dengan „meraka,” adalah bangsa Mongolia.
Oey Yong seperti berpikir keras, akhirnya dia telah
memukul perlahan ujung meja. Pasti peristiwa penculikan
Siauw Liong Lie dengan surat ini ada hubungannya.
“Mari kita cepat cepat berangkat, mungkin kita bisa
memperoleh jawabannya di Hoa San!”
Kwee Ceng dan It Teng Taisu menyetujui usul Oey Yong,
mereka segera berangkat meninggalkan Tiang-lu-kwan
melakukan perjalanan cepat menuju Hoa San.
Hoa San tidak jauh lagi dari Tiang- lu-kwan, setelah
melakukan perjalanan satu hari satu malam tibalah It Teng

Taisu bertiga dikaki gunung itu. Waktu itu langit mulai gelap
karena malam akan segera menjelang datang. Tetapi ketiga
orang gagah tersebut melakukan perjalanan mereka dengan
cepat mendaki gunung itu.
Ketika mereka tiba didekat kuburan Auwyang Hong dan
Ang Cit Kong, disaat itu It Teng Taisu telah mendengar suara
berkeresek yang perlahan, waktu pendeta tua tersebut
menoleh, tampak dua sosok tubuh berdiri tidak jauh dari
tempatnya berada.
Oey Yong dan Kwee Ceng juga telah melihat kedua sosok
tubuh itu, dan mereka bertiga jadi girang sekali.
„Yo Ko !” berseru Oey Yong girang. „Dan kau Loo Boan
Tong ?”
Memang kedua orang itu tidak lain dari Yo Ko dan Ciu Pek
Thong. Keduanya juga girang bertemu dengan ketiga orang
gagah ini, mereka telah maju memberi salam kepada It Teng
Taisu bertiga.
“Kami memang tengah menantikan Taisu,” kata Yo Ko
kemudian. “Hanya sayang, telah terjadi peristiwa yang kurang
menggembirakan didiri kami …. Liongjie telah dicelakai oleh
seseorang !”
Yo Ko segera menceritakan pengalamannya, sehingga
menambah perasaan heran ketiga orang itu. Begitu pula Yo Ko
dan Ciu Pek Thong yang tambah heran waktu It Teng Taisu
menjelaskan bahwa surat undangan yang diterima Yo Ko
bikan ditulis olehnya. Dan Oey Yong juga membantu
membenarkan keterangan It Teng Taisu.
“Lalu siapa yang menulis surat itu” tanya Yo Ko seperti
kepada dirinya sendiri „Apakah dalam persoalan ini terselip
urusan yang luar biasa ?”
„Siancai” It Teng Taisu telah memuji kebesaran Buddha.
„Jika kita men duga2, urusan itu memang masih gelap, tetapi

kita tunggu saja peristiwa apa yang akan muncul, bukankah
besok adalah hari yang dijanjikan.
Yang lainnya setuju. Dan It Teng Taisu, Oey Yong dan
Kwee Ceng jadi gusar sekali waktu melihat betapa kuburan
Auwyang Hong dan Ang Cit Kong telah dibongkar orang.
Kumis It Teng Taisu yang telah memutih itu jadi ber-gerak2,
pendeta tua ini menjadi murka, berulang kali dia menyebut
“Omitohud” perlahan sekali.
Malam itu dilewati orang2 gagah ini dengan hati jengkel
diliputi kegelisahan juga, dan mereka tidak banyak ber
cakap2. Hanya mereka bertekad, jika saja mereka berhasil
mengetahui orang yang membongkar kuburan itu, tentu
mereka akan memberikan hajaran keras kepadanya.
Semuanya memiliki dugaan yang hampir sama, yaitu
dugaan bahwa didalam persoalan ini pasti ada sangkut
pautnya dengan Tiat To Hoat ong.
It Teng Taisu juga telah menceritakan pengalamannya
bertemu dengan Tiat To Hoat ong sehingga Yo Ko gusar
bercampur kuatir. Gusar kepada pendeta yang liehay itu,
berkuatir terhadap keselamatan isteri dan Sin Tiauwnya.
Malam itu lewat dengan cepat, dan keesokan harinya,
mereka diliputi ketegangan, karena hari inilah dimana
persoalan tersebut akan terjawab
Yo Ko dan Ciu Pek Thong sering memandang kebawah
gunung, tetapi semuanya sepi dan tidak terlihat seorang
manusiapun juga. Suasana begitu lenggang. Dan Yo Ko jadi
bertambah ber kuatir, kalau hari ini urusan tidak terjawab, dan
orang yang sengaja mengundang mereka, atau tepatnya
memancing mereka, untuk datang ke-Hoa San itu tidak
memperlihatkan diri, berarti kian terlambat saja dia ditinggal
Tiat To Hoat-ong. ,

Yang dikuatirkan Yo Ko justru kalau Tiat To Hoat-ong
membawa Siauw Liong Lie ke Mongolia ! sin Tiauw Tai Hiap ini
telah bertekad bulat, walaupun
keujung langit sekalipun, dia akan mengejar pendeta
Mongolia itu.. ..
Mendekati lohor masih tidak terjadi sesuatu, dan orang2
gagah tersebut mulai tidak sabar. Terlebih Ciu Pek Thong
yang sudah tidak bisa duduk diam.
sebentar2 dia telah mengawasi kearah lobang kuburan
kosongnya Auwyang Hong dan Ang Cit Kong.
Semua pengalaman yang telah dialami oleh orang2 gagah
itu diliputi tanda tanya dan belum bisa terjawab, keanehan
dari peristiwa yang mereka alami itu benar2 membuat mereka
tidak mengetahui sesungguhnya urusan apa yang akan terjadi.
Sedangkan Kwee Ceng dan Oey Yong memiliki urusan
tersendiri pula, pengalaman yang cukup mengherankan.
Waktu mereka berada di Kamsiok dalam perjalanan menuju ke
Hoa San untuk memenuhi undangan „surat” yang dikirim It
Teng Taisu itu, justru mereka telah bertemu seorang lelaki tua
kurus seperti gala yang tubuh nya selalu ber-goyang2 jika
tengah berjalan
Orang itu mengenakan pakaian yang sederhana, tetapi
matanya yang seperti mata tikus itu menmancarkan sinar
yang tajam, sehingga menimbulkan kecurigaan Oey Yong.
Dan justeru disaat Oey Yong dan Kwee-Ceng berada
dikamar penginapannya, mereka baru mengetahui bahwa
barang mereka didalam kamar telah lenyap! Keruan saja Oey
Yong dan Kwee Ceng gusar. Mereka segera keluar dari kamar
mereka, dan melihat lelaki kurus jangkung itu, yang mereka
curigai sebagai pencurinya, tengah melangkah akan pergi.
Kwee Ceng dan Oey Yong meneriakinya agar dia
menghentikan langkahnya, tetapi malah orang itu

mempercepat larinya, sehingga pasangan suami isteri itu
cepat2 mengejarnya. Yang luar biasa, ilmu meringankan tubuh
orang itu sempurna sekali, walaupun Kwee Ceng dan Oey
Yong telah mengejarnya terus, namun mereka tidak berhasil
menyandaknya, bahkan akhirnya mereka telah kehilangan
jejak.
Yo Ko dan yang lainnya waktu mendengar cerita
pengalaman Kwee Ceng dan Oey Yong jadi tambah heran,
mereka tidak bisa men duga2 siapa orang yang kurus
jangkung itu, karena waktu Oey Yong menggambarkan bentuk
muka orang itu, dan potongan tubuhnya, mereka merasakan
bahwa orang tersebut bukan orang daratan Tionggoan !.
Disaat mereka tengah ber cakap2 seperti itu, tiba2 dari
kejauhan terdengar suara siulan yang nyaring, melengking
tinggi sekali, kemudian disusul dengan Suara Seruling yang
terdengar dibawa oleh desiran angin.
Muka Yo Ko dan yang lainnya jadi berobah, mereka cepat2
bersiap, bahkan Ciu Pek Thong telah memandang kebawah
gunung:
Suara seruling dan siulan itu hebat sekali! karena
mengandung tenaga dalam yang telah sempurna,
Dan hebat pula ilmu meringankan tubuh dari orang yang
mengeluarkan suara siulan dan suara seruling itu, karena tidak
lama kemudian begitu suara siulan dan seruling itu berhenti,
sudah terlihat orangnya, dan dengan beberapa kali lompatan,
tahu2 telah berdiri diatas reruntuhan bongpai Auwyang Hong
dan Ang Cit Kong, dua orang yang berpakaian yang aneh
sekali! Yang satu memiliki Wajah yang hitam seperti pantat
kuali, tubuhnya gemuk pendek, dengan matanya yang
mencilak memandang sekelilingnya sambil tidak hentinya
memperdengarkan suara tertawa yang tidak sedap didengar.

Dia berpakaian aneh sekali hanya memakai baju bulu Tiauw
yang pendek, sebatas lututnya rambutnya juga digelung
tinggi.
Keadaan orang itu memang sudah agak luar biasa, tetapi
yang lebih luar biasa lagi adalah yang seorangnya lagi, yang
ditangan kanannya meng-gerak2kan seruling pendek bercagak
dua Orang ini bertubuh tinggi, kulitnya putih, matanya sipit
seperti mata elang giginya tonggos dan telinganya lebar.
Pakaiannya sama dengan kawannya terbuat dari bulu
Tiauw yang berwarna putih, diapun tengah mengeluarkan
tertawa sambil menyapu orang gagah dihadapannya dengan
tatapan mata yang tajam sekali.
It Teng Taisu telah maju dua langlah, dan merangkapkan
kedua tangannya,
Ujarnya, „Siancai, Siancai, Siancai, siapakah jiewie berdua?”
Kedua orang itu tidak segera menyahuti, hanya sihitam
pendek itu telah menggerakkan kaki kanannya, dia telah
menghentakkan kesisi batu bongpai yang diinjaknya, tanpa
mengeluarkan suara, sisa batu bongpai itu tahu2 meluruk
menjadi abu. Sedangkan sihitam pendek telah melompat
berdiri diatas tanah datar.
Yo Ko dan yang lainnya terkejut, dengan perbuatannya itu
sipendek hitam telah memperlihatkan bahwa tenaga dalamnya
sempurna sekali.
Sedangkan sijangkung putih telah tertawa terkekeh,
kemudian dengan suara yang sumbang seperti suara
menyalaknya serigala dia telah berkata dengan nada
Tionggoan yang kaku sekali, „Kami biasa disebut Hek Pek
Siangsat (Sepasang Penjahat Hitam dan Putih)”
„Kami datang dari Persia, telah lama kami mendengar dan
tertarik atas nama besar jago2 daratan Tionggoan……!”
setelah berkata begitu,

sambil menatap tajam kearah lengan Yo Ko yang kanan,
yang buntung dan hanya lengan jubahnya yang ber-goyang2
terhembus angin.
Pek Siangsat (Iblis Putih) itu telah melanjutkan
perkataannya yang semakin tidak enak didengar: „Dan,
engkau tentunya Sin Tiauw Taihiap, bukan ?”.
Yo Ko tertawa dingin, tidak senang dia melihat sikap orang
itu. Terlebih lagi dia tengah marah melihat Hek Pek ini tadi
berdiri dikedua sisa bongpay dari Auwyang Hong dan Ang Cit
Kong.
„Tepat” menyahuti Yo Ko. ,ada keperluan apakah jiewie
datang kemari ?”.
„Untuk mengambil kepalanya Ngo Ciat (lima jago) !”
menyahuti sipendek hitam mewakili si Putih.
„Benar, untuk membawa pulang lima batok kepala Ngo Ciat
!” menambahkan si Putih, menimpali perkataan si Hitam.
Ciu Pek Thong berjingkrak karena gusar sekali.
„Baik ! Baik ! Akulah salah seorang diantara Ngo Ciat itu !
Mari, mari kita coba2 siapa yang tinggi dan siapa yang rendah
!”.
Dan sambil berkata begitu, Ciu Pek Thong ber-siap2 untuk
bertempur. Tetapi si Putih dan si Hitam itu membawa sikap
acuh tak acuh.
sedikitpun dia tidak memandang sebelah mata ke pada Ciu
Pek Thong.
„Hemmm, sabar, tidak akan terlambat jika kini kepalamu itu
kami titipkan dulu dilehermu !” kata si Putih dengan suara
dingin. Kemudian dia juga telah menoleh kepada It Teng Taisu
sambil katanya lagi : „Dan kau pendeta, tentunya kau yang
disebut Lam Ceng ( pendeta dari Selatan ) si It Teng kepala
gundul, bukan ?”

„Benar,” menyahuti It Teng Taisu dengan sabar, walaupun
hatinya mendongkol sekali melihat sikap kurang ajar dari
kedua orang aneh itu.
„Dan kalian tentunya Kwee Ceng dan Oey Yong, bukan ?”
tanya si Putih sambil memandang tajam kepada Kwee Ceng
dan isterinya. Kwee Ceng hanya mendengus „Hemmm !” saja,
tetapi Oey Yong yang tengah gusar telah menyahuti : „Benar,
memang kami Kwee Ceng dan Oey Yong Hanya sayangnya,
kami tidak memiliki rejeki yang sebaik kalian untuk menjadi
kodok hitam dan bangau putih !”
Si Putih tertawa mengejek, sedikitpun dia tidak melayani
ejekan Oey Yong, hanya dengan matanya yang memancarkan
sinar yang tajam dia telah berkata lagi. „Kami telah banyak
mendengar, bahwa Kaisar Mangu dibinasakan oleh Sin Tiauw
Taihiap, maka kami tertarik sekali untuk melihat berapa tinggi
sesungguhnya kepandaian pendekar besar itu !”
Yo Ko tidak dapat menahan sabar lagi. tahu-tahu dia telah
menjejakkan kakinya, tubuh nya telah melompat dan tangan
kiri tunggalnya tahu2 mengibas dengan cepat sekali.
Gerakannya itu luar biasa cepatnya, dia bermaksud akan
menotok jalan darah Pek-kut-hiat dibahu si Putih.
Tetapi aneh sekali, si Putih sama sekali tidak mengelakkan
serangan itu, dia hanya menanti disaat tangan Yo Ko hampir
tiba disasaran, dia mengulurkan tangan kanannya, tahu2 dia
telah menangkis serangan itu, dan yang luar biasa justru
tubuh Yo Ko terhuyung mundur dua langkah! Kuat sekali
tenaga menangkis dari si Putih.
Yo Ko mengeluarkan seruan tertahan, jago2 yang lainnya
juga mengeluarkan seruan kaget ketika memperoleh
kenyataan bahwa lwekang si Putih itu telah demikian
sempurna.
Serangan yang dilancarkan oleh Yo Ko tadi bukanlah
serangan yang ringan, sebagai pendekar besar, walaupun Yo

Ko tampaknya menggerakkan tangan kirinya dengan ringan,
namun tenaga serangannya itu meliputi ribuan kati. Maka luar
biasa sekali si Putih menangkisnya begitu mudah, bahkan
berhasil mendorong tubuh Yo Ko terhuyung dua langkah.
“Sabar, untuk mengadu kepandaian tidak perlu sekarang,
nanti juga belum terlambat”, berkata si Putih, sedangkan si
Hitam pendek itu tertawa terkekeh, menertawai Yo Ko yang
terhuyung mundur dua langkah itu. “Kami berdua telah
menerima perintah untuk mengukur kepandaian dari pendekar
daratan Tionggoan, maka siapa yang akan maju lebih dulu
untuk menghadapi kami ?”
Mata Ciu Pek Thong jadi bersinar tajam, dia murka sekali,
kumis dan jenggotnya Sampai ber-gerak2 menahan
kemarahan yang bergolak di hati nya.
Dengan mengeluarkan teriakan nyaring, tahu-tahu Ciu Pek
Thong telah menerjang maju.
dia memendekkan tubuhnya, kedua tangannya diulurkan,
yang satu akan mencengkeram pergelangan si Putih,
sedangkan tangan kirinya akan menghantam dada sijangkung
itu.
Tetapi memang luar biasa, dengan menggerakkan perlahan
tubuhnya yang dimiringkan kekanan, maka serangan Ciu Pek
Thong telah berhasil dikelit oleh si Putih.
„Engkau tidak sabar, jenggot !” kata si Putih sambil
mengejek.
Tetapi dia tidak bisa meneruskan perkataan nya, karena Ciu
Pek Thong yang telah gusar itu dengan cepat telah
menggerakkan kepalanya, jenggotnya yang panjang itu telah
menyambar kearah dada lawannya. Ciu Pek Thong tadi waktu
melihat serangannya dapat dielakkan lawan-nya, telah
penasaran sekali, dia telah mengerah kan lwekang ke
jenggotnya, dan dengan disertai lwekang yang sempurna,

serangan jenggotnya itu bukanlah serangan yang
sembarangan.
Si Putih juga kaget melihat cara menyerang Ciu Pek Thong,
tidak bisa dia main main lagi.
dengan merangkapkan kedua tangannya, tahu2 dia telah
mengayunkan kedua tangannya yang dirangkapkan itu
menjepit jenggot Ciu Pek Thong.
Memang luar biasa, lwekang yang dimiliki si Putih hebat
sekali, jenggot Ciu Pek Thong tidak berdaya sama sekali.
Bahkan situa nakal itu jadi sibuk sekali jenggotnya dijepit
seperti itu, berarti dia tidak bisa menariknya pula.
Dengan murka dia telah membarengi dengan tangan
kanannya menghajar keleher lawannya sehingga si Putih
terpaksa memiringkan kepala nya, tetapi jepitan kedua
tangannya itu tidak di lepaskan.
Yo Ko melompat untuk menghantam punggung si Putih,
tetapi dia dipapak oleh si Hitam yang melompat sambil
mengibaskan tangan kiri nya.
„Ternyata jago2 Tionggoan hanya pandai mengeroyok saja
! berseru si Hitam.
Atas kibasan tangan si Hitam, serangan Yo Ko jadi
terhalang dan tidak dapat dia melanjutkan serangannya
kepada si Putih, terlebih lagi si Hitam juga telah melancarkan
serangan dengan gencar.
Saat itu, si Hitam sambil melancarkan serangan yang bertubi2
kepada Yo Ko. telah mengeluarkan suara siulan yang
panjang dan tinggi nadanya, dari arah bawah gunung itu telah
terlihat belasan bayangan yang tengah ber-lari2 mendaki
keatas. Dilihat dari gerakan belasan orang itu jelas mereka
terdiri dari orang2 pandai. karena mereka dapat berlari
dengan gesit sekali, didalam waktu yang singkat sekali mereka
telah berada dekat dengan tempat tersebut.

It Teng Taisu dan yang lainnya jadi terkejut, begitu juga
Oey Yong yang jadi mengerutkan alisnya. Mereka melihat,
bahwa orang2 yang tengah mendatangi itu bukanlah lawan
yang ringan.
Sambil tetap melancarkan serangan2 yang hebat kepada Yo
Ko, si Hitam telah mengeluarkan suara tertawa yang nyaring.
„Nanti kita dapat menentukan apakah jago jago dari Persia
yang lebih tinggi atau memang orang2 Tionggoan yang lebih
rendah,” katanya kemudian.
Hek Pek Siangsat itu merupakan sepasang pendekar dari
Persia. Dinegerinya mereka merupakan jago nomor satu dan
selalu membawa sikap yang ugal2an.
Mereka memiliki latihan tenaga Yoga yang dicampur
dengan ilmu Barat, yang telah dilatihnya dengan sempurna
sekali. Keduanya memang memiliki adat yang aneh disamping
sikap mereka yang angin2an itu, keduanya tidak boleh
mendengar ada seseorang yang memiliki kepandaian yang
tinggi dan sempurna, sebab mereka pasti akan datang untuk
menguji kepandaiannya.
Dinegerinya mereka sudah tidak ada tandingannya dan
disegani oleh ahli2 silat disana ! Dan disaat seperti itulah,
mereka ternyata telah dimanfaatkan oleh pihak Mongolia,
dimana keduanya telah ditarik berdiri dipihak Mongol,
Kublai Khan memang terkenal sebagai pemimpin Mongolia
yang cerdik sekali.
Kecerdikan Kublai memang melebihi Mangu maupun
Jenghis Khan, kakeknya. Itulah sebab nya, pemimpin besar
Mongol tersebut berhasil menguasai jago2 dari Arab, Persia,
Nepal, India dan beberapa negara lainnya, yang semua
bekerja untuk kepentingannya.
Yo Ko yang penasaran dan dalam keadaan gusar, tahu2
telah menggerakkan tangan kirinya itu dengan gerakan

secepat kilat, dia telah menyentil dengan kuat
mempergunakan Tan Cie Sin Tong, dia menyerang jalan darah
Wie kian hiat nya si Hitam.
Tetapi si Hitam sama sekali tidak berkelit, dia membiarkan
serangan Yo Ko, hanya tangannya yang pendek itu telah
mengincer mata Yo Ko.
Keruan saja Yo Ko jadi kaget, dia kaget karena justru
lawannya tidak berusaha berkelit dari totokannya yang begitu
hebat:
“Tukkkk” terdengar suara yang nyaring, disusul oleh suara
„Bukkkkl” lalu tampak tumbuh Yo Ko terhuyung diiringi suara
tertawa si Hitam.
Ternyata waktu jari tangan kiri Yo Ku menyentuh tepat
jalan darah lawannya, serangan itu tidak memberikan hasil
sedikitpun juga, karena si Hitam pendek itu ternyata memiliki
ilmu kebal, yang tubuhnya tidak bisa dilukai sekalipun oleh
senjata tajam. Sedangkan Yo Ko yang terkejut menyaksikan
serangannya yang gagal, jadi lebih kaget lagi melihat
datangnya serangan si Hitam yang mengincar matanya.
Tentu saja dia jadi mengeluarkan seruan kaget dan cepat2
menggerakkan lengan baju kanan nya yang kosong itu, yang
dikibaskannya me-nyampok tangan si Hitam.
Namun tak urung panggungnya telah kena dihantam telak
oleh si Hitam sehingga tubuh Yo Ko jadi terhuyung.
Saat itu belasan sosok tubuh itu telah tiba ditempat
tersebut. It Teng Taisu dan yang lainnya segera dapat melihat
jelas, mereka tidak lain dari belasan orang pendeta Lhama
yang semua nya memiliki tubuh tegap dan tinggi besar
dengan muka yang garang.
Lhama itu yang memakai jubah merah merupakan
pendeta2 Budha yang berpusat di Lha-sa, dan mereka

merupakan penghuni dari Istana Potala yang dipimpin oleh
seorang Budha Hidup.
Umumnya pendeta2 Lhama dari Lhasa itu terkenal karena
memiliki ilmu yang tinggi dan sempurna serta aneh2
Seperti diketahui, bahwa Tat Mo Couwsu pendiri Siauw Lim
Sie dan pencipta dari Kiu lm Cin Keng dan Kiu Yang Cin Keng
berasal dari India, dan juga Ilmu itu telah diolah dari ilmu
yang berasal dari India, namun setelah tiba didaratan
Tionggoan, lewat ribuan tahun ilmu itu telah diolah dan
menjadi ilmu tenaga dalam yang tersendiri.
Tetapi di Lhasa, di mana pendeta Buddha dari istana Potala
itu, umumnya mempelajari ilmu silat yang sejati dari ilmu silat
India dan mereka umumnya mengkhususkan diri mempelajari
ilmu silat tanpa ingin mencampuri urusan duniawi, tidak
mengherankan jika pendeta2 Buddha di Lhasa itu memiliki
kepandaian yang sempurna sekali. Namun di sebab kan
mereka membatasi diri tidak ingin mencampuri urusan
duniawi, dengan sendirinya mereka menempuh kehidupan dan
penghidupan dengan cara2 seperti setengah dewa.
Inilah yang telah mengherankan It Teng Taisu dan yang
lainnya, karena melihat Lhama itu bisa muncul ditempat ini,
bahkan dalam jumlah yang demikian banyak.
Entah urusan hebat yang bagaimana akan terjadi nanti
sedangkan Oey Yong juga jadi mengerutkan alisnya dengan
berkuatir.
Jika dilihat yang muncul kini merupakan jago2 luar yang
memiliki kepandaian yang tinggi, tentu saja nanti masih ada
jago2 lainnya yang akan menyusul datang. Dan Oey Yong juga
menyadarinya ancaman yang ada itu tidaklah kecil. Nyonya
Kwee jadi berwaspada.
Jumlah Lhama yang datang itu lima belas orang, mereka
tiba untuk kemudian berdiri di dekat kuburan Auwyang Hong
dan Ang Cit Kong.

dengan berbaris rapi, mereka tidak mengeluarkan sepatah
perkataanpun juga.
„Bagus!” berseru si putih sambil melompat mundur
melepaskan jepitan tangannya di jenggot Ciu Pek Thong
Sedangkan si Hitam juga telah malah melompat berdiri
disamping si Putih, si Hitam tidak melayani Yo Ko lagi.
Ber kobar2 amarahnya Ciu Pek Thong dan Yo Ko tetapi
merekapun telah melihat hadir nya kelima belas pendeta
Lhama tersebut yang mereka lihat tidak berkepandaian
rendah.
It Teng Taisu telah merangkapkan tangannya tanyanya
dengan sabar : „Apa maksud kalian datang dinegerinya ini?”
Apakah kalian diutus oleh Buddha Hidup?” Kelima belas
Lhama itu tetap berdiam diri tidak memberikan jawaban atas
pertanyaan It Teng Taisu. Hanya si Putih yang telah
menyahuti dengan suara yang nyaring; „Apakah jika Buddha
Hidup yang perintah mereka datang itu, kalian akan
menjamu?” tegurnya.
Muka It Teng Taisu jadi muram, dia melihat kekurang
ajaran si Putih semakin men jadi2.
“Baiklah, kini jelaskan yang terang, apa sesungguhnya yang
kalian kehendaki?” katanya lagi sabar.
„Kami menghendaki batok kepala Ngo Ciat!” menyahuti si
Putih. „Tadi kami sudah menjelaskan, dan kami kira urusan
telah terang”. “Siancai. siancai, sayangnya yang hadir hanya
Sie Ciat (empat jago), sayang seorang diantara Ngo Ciat
belum hadir…” kata It Teng Taisu sambil tetap
memperlihatkan sikap yang sabar.
Si Putih telah tertawa seperti suara menyalaknya serigala,
dia bilang; „Kini yang hadir disini Lam Ceng, Pak Hiap. See
Kong dan Tiong pin Tong Ciu Pek Thong! Dari Ngo Ciat yang
kurangnya itu pasti Tong Shia Oey Yok Su, bukan?”

„Benar!” mengangguk It Teng Taisu.
„Tidak lama lagi, pasti Tong Shia tiba disini.” kata si Putih
sambil tetap tertawa. tidak sedap didengar.
Oey Yong dan lainnya setengah percaya setengah tidak.
Tong Shia telah hidup mengasing kan diri dipulau Tho Hoa To,
dan tidak ber maksud untuk meninggalkan pulau itu pula.
Tetapi merekapun berpikir, suatu kemungkinan juga bahwa
Oey Yok Su akan datang, karena seperti juga halnya mereka,
yang telah dipancing dengan sepucuk surat palsu …!
Sebetulnya, dengan beradanya Ngo Ciat di Hoa San, mereka
tidak perlu takut terhadap siapapun juga. Namun kenyataan
yang ada, Siauw Liong Lie yang kepandaiannya tidak berada
disebelah bawah Yo Ko ternyata telah tertawan oleh Tiat To
Hoat ong itulah kenyataan yang terlampau pahit sekali.
„Apakah Tiat To Hoat-ong termasuk dalam rombongan
kalian?” tanya Yo Ko yang teringgat kepada pendeta Mongolia
yang telah menawan isteri dan Sin tiauwnya.
„Tidak salah! Hanya Hoat ong tengah memiliki urusannya
sendiri, maka untuk mengambil lima batok kepala Ngo Ciat
diserahkan kepada kami!” menyahuti si Putih dengan sikap
yang kurang ajar.
Habislah kesabaran Yo Ko, dengan mengeluarkan seruan
mengguntur, dia telah menjejak kan kakinya, tubuhnya telah
melompat dengan ringan, dan tangan kirinya melancarkan
serangan dengan mempergunakan jurus2 yang luar biasa
dahsyatnya. Salah satu jurus yang dipergunakannya adalah
Giok Lie Kun-hoat ( pukulan Bidadari ).
Seperti diketahui Giok Lie Kiam Hoat merupakan ilmu
pedang yang luar biasa, dan selama mengasingkan diri
dilembah Siauw Hong, Yo Ko maupun Siauw Liong Lie telah
menciptakan ilmu pukulan yang diberi nama Giok Lie Kun
Hoat, yang hebat luar biasa, Setiap kali melatih ilmu tersebut,

Yo Ko ditemani oleh Sin tiauw, burung rajawali yang memiliki
kekuatan luar biasa itu.
Serangan yang dilancarkan Yo Ko dahsyat sekali, hal ini
dapat dirasakan oleh si Putih.
Tetapi Pek-sat tersebut tidak takut, begitu juga sikapnya
tetap tenang, dia telah menyambuti serangan Yo Ko.
Sin Tiauw Taihiap telah mengerahkan enam bagian dari
tenaga dalamnya dan setiap seranngannya selain mengincar
bagian2 yang mematikan ditubuh lawan, juga angin
serangannya menderu keras.
Tetapi setiap Serangan itu berhasil dielakkan oleh si Putih,
bahkan berulang kali seruling pendek bercagak dua yang
tercekal ditangan nya si Putih itu ber gerak2 hebat sekali,
beberapa kali hampir menotok jalan darah penting di tubuh Yo
Ko.
Hek-sat, siiblis Hitam itu, telah mengeluarkan suara siulan
nyaring, kemudian dia berkata mengejek, “Hari ini kita akan
jadi jagal yang menerima upah mahal Hahahaha Ngo Ciat
yang di-bangga2kan itu ternyata hanya memiliki nama kosong.
Kwee Ceng yang memiliki sifat pendiam dan polos, sudah
tidak bisa menahan kesabarannya lagi. Dengan mengatakan.
„Jaga serangan, Kwee Ceng telah melompat melancarkan
serangan ke arah si hitam.
Bisa dibayangkan betapa hebatnya tenaga serangan yang
dilancarkan Kwee Ceng, karena sebagai pendekar yang
memiliki nama menggetarkan rimba persilatan dan juga dia
dalam keadaan gusar sekali, maka tenaga serangan yang dipergunakannya
sangat hebat.
Tenaga hantamannya itu terlalu hebat, sehingga si hitam
yang merasakan tenaga serang itu mendatangkan kesiuran
angin yang dahsyat sekali, dia tidak berani menyambuti,
dengan cepat dia berkelit kesamping.

Tetapi Kwee Ceng tidak mau melepaskan musuhnya itu,
dengan lincah sekali dia menyusuli serangan lainnya.
Beberapa kali si hitam mengelakkan serangan tersebut, dan
beruntun Kwee Ceng menyusuli dengan serangan2
berikutnya.
Dalam saat seperti itu, si Putih mengeluarkan teriakan
dengan perkataan yang asing sekali untuk Kwee Ceng, Yo Ko
dan yang lainnya.
Atas teriakannya itu, maka kelima belas Lhama yang sejak
tadi berdiam diri dengan berbaris itu, telah bergerak,
mengambil posisi dengan bentuk lingkaran mengurung Yo Ko,
Kwe Ceng, It Teng Taisu, Oey Yong dan Ciu Pek Thong.
Kelima jago luar biasa dari Tionggoan tersebut telah
dikepung rapat, dan Lhama itu telah maju per-lahan2 dengan
sikap mengancam.
Yo Ko dan yang lainnya berbareng telah mengeluarkan
suara teriakan yang mengguntur dan dengan cepat sekali
mereka juga bergerak untuk menghadapi kepungan itu.
Si Hitam dan si Putih juga telah ikut mengepung jago2 itu.
Mereka rupanya ingin mempergunakan jumlah banyak untuk
memperoleh kemenangan.
Yo Ko mempergunakan waktu disaat mereka belum
dikepung rapat, telah menggerakkan tangan kirinya dibantu
oleh kibasan lengan baju nya yang kosong itu. Berulang kali
dia telah menyerang kearah lawan2nya yang mendekat.
Tetapi kelima belas Lhama itu mengambil cara bertempur
yang aneh sekali, mereka hanya mengepung belaka dengan
rapat, tetapi mereka tidak membalas setiap serangan, yang
selalu hanya dikelit atau dielakkan.
Beberapa kali hantaman tangan kiri Yo Ko mengenai tubuh
beberapa orang Lhama itu, tetapi serangannya itu seperti

mengenai tubuh ber minyak, sehingga pukulan Yo Ko melejit
dan tidak memberikan hasil apa2.
Tentu saja Yo Ko jadi semakin penasaran dan dengan
mengeluarkan seruan yang nyaring, suatu kali Yo Ko telah
melompat ketengah udara, sambil melompat begitu,
tangannya diulurkan untuk menangkap lengan salah seorang
Lhama yang terdekat dengannya.
Namun Lhama itu berhasil berkelit dari cengkeramannya,
dan dia telah melompat mundur, sedang Lhama yang lainnya
tahu2 telah melancarkan serangan kearah punggung Yo Ko,
sehingga memaksa Yo Ko menarik pulang serangannya yang
sedang mendesak Lhama yang satu itu.
Keadaan seperti itu terjadi berulang kali.
It Teng Taisu yang diserang oleh beberapa orang lhama
juga telah mempergunakan It Yang Cie untuk menghadapinya,
dan walaupun ilmu itu hebat luar biasa tetap saja seperti tidak
memberikan hasil apa2, sehingga membuat It Teng Taisu jadi
kaget sekali, sebab Lhama2 itu seperti dapat bergerak secepat
angin dan tubuh mereka seperti kebal atas serangan apapun
juga.
Si Hitam dan si Putih telah berulang kali mengeluarkan
suara ejekannya. dan disaat itu beberapa kali mereka
mengeluarkan kata2 yang tidak dimengerti Oleh jago2
daratan Tionggoan itu,
Kelima belas Lhama itu setiap kali menyahuti dengan
perkataan yang sama seperti yan diucapkan oleh Hek Pek
Siangsat dan yang sangat mengherankan sekali justeru kelima
belas Lhama itu semakin lama melancarkan kepungan mereka
semakin hebat, dan merekapun mulai membalas menyerang.
Yo Ko dan yang lainnya jadi teikejut sekali, karena mereka
merasakan kelima belas Lhama itupun telah memiliki
kepandaian yang tidak rendah, di samping lwekang mereka
yang menakjubkan.

Suatu kali, disaat Yo Ko tengah mendesak seorang Lhama
yang berada terdekat dengannya, dengan mempergunakan
jurus “Mencengkeram Hati” tangan kirinya diulurkan akan
mencengkeram dada Lhama itu, disaat itulah dengan cepat
sekali dua orang Lhama telah menghantam kan telapak
tangannya tanpa menimbulkan suara kearah punggung Yo Ko.
Karena serangan itu datangnya dengan sangat tiba2 sekali,
juga serangan itu tidak menimbulkan suara angin serangan,
tahu2 bahu Yo Ko telah berhasil digempur hebat oleh tangan
kedua Lhama itu.
Yo Ko mengeluarkan seruan nyaring, tubuhnya ter-huyung2
seperti akan rubuh. Dan disaat tubuhnya terhuyung seperti itu
si Putih tampak melompat menubruknya melancarkan
serangan yang hebat sekali kearahr jalan darah dipinggang Yo
Ko.
Kuda2 kedua kaki Yo Ko saat itu tengah tergempur. dia
belum berhasil untuk berdiri tetap, dan membarengi dengan
keadaannya yang berbahaya, serangan si Putih telah
menyambar datang.
Yang diserang si Putih justru jalan dari Tiong-tie-hiat
dipinggang jalan yang merupaki jalan darah yang mematikan.
Yo Ko mengeluarkan seruan tertahan, dia mengibas dengan
lengan baju kanannya itu.
Namun tenaga serangan dari si Putih hebat luar biasa
walaupun lengan baju kanan Yo Ko berhasil melibatnya,
tangan si Putih terus juga meluncur, walaupun tenaga
serangannya jadi agak berkurang.
Tepat sekali jalan darah Tiong-tie-hiat di pinggang Yo Ko
kena dihantam, sehingga tubuh pendekar Rajawali Sakti itu
terhuyung dan kemudian rubuh ditanah. Namun Yo Ko cepat
sekali melompat berdiri.
Namun, It Teng Taisu dan yang lainnya jadi kaget sekali.

Belum pernah terjadi Yo Ko mengalami peristiwa seperti
itu, karena jago2 itu telah mengetahui betapa sempurnanya
kepandaian Yo ko.
Dengan berhasilnya si Putih menghantam tubuh Yo Ko,
walaupun Yo Ko akhirnya dengan cepat dapat berdiri pula
tentu saja hal itu telah memperlihatkan bahwa si Putih telah
memiliki, kepandaian yang sukar diukur tingginya.
Yo Ko berdiri dengan muka yang pucat ke hijau2an, dia
murka sekali.
Dengan tidak memperdulikan lagi suatu apa, dia telah
bergerak cepat sekali, Gerakannya seperti kilat, tahu2
tubuhnya telah menubruk si Putin, dan telapak tangan kiri Yo
Ko telah menghantam dengan tepat sekali dada si Putih.
Tadi waktu si Putih melihat Yo Ko berhasil dirubuhkan, dia
girang sekali, tetapi perasaan girangnya itu hanya sebentar,
karena tahu2 dia telah diserang dengan hebat oleh Yo Ko.
Mati2 an dia berusaha mengelak, namun gagal. Akhir nya dia
terpaksa menangkis.
Belum lagi tangkisannya itu dilancarkan, tahu2 tubuhnya
telah dipukul terpental oleh Yo Ko, dada si Putih berhasil
digempur oleh telapak tangan kiri Yo Ko.
Dengan mengeluarkan suara jeritan menyayatkan, tubuh si
Putih melayang ditengah udara ambruk ditanah dengan keras.
Beberapa orang Lhama berbareng telah melancarkan
serangan kepada Yo Ko, untuk mencegah Yo Ko melancarkan
serangan lebih jauh kepada si Putih.
Dengan adanya serangan2 dari beberapa orang Lhama itu,
telah membuat Yo Ko batal mendesak si Putih lebih jauh.
Sedangkan si Putih telah bangun berdiri dengan muka yang
pucat, tubuhnya masih ber-goyang2 seperti akan rubuh
kembali.

„Uaahh !” tahu2 si Putih telah memuntah kan darah segar,
mukanya semakin pucat.
Si Hitam yang melihat keadaan si Putih jadi kaget sekali.
Dia telah melompat kesamping si Putih. „Toako, kenapa
kau ?” tanyanya dengan mengandung kekuatiran yang sangat.
„Tidak apa apa……Cepat kau bantui mereka……” kata si
Putih. Yang dimaksudnya dengan perkataan ‘mereka’ oleh si
Putih, adalah ke lima belas Lhama itu.
Si Hitam bimbang sejenak, tetapi kemudian dia
mengangguk. Tangannya tahu2 telah merabah pinggangnya,
dan dia telah mengeluarkan sebatang pisau kecil, seperti
badik, kemudian dengan gerakan tubuh yang cepat sekali, dia
melompat masuk kedalam gelanggang lagi.
Sambil memutar badiknya itu, dia juga mengeluarkan
bentakan2 gusar dan nekad. Serangan badiknya itu dahsyat
luar biasa, dan juga serangan yang dilancarkannya itu
mengandung tenaga serangan yang mematikan.
Yang lebih luar biasa lagi justru badik itu merupakan
barang mustika yang tajam sekali.
Yo Ko melihat lawannya ini berlaku nekad seperti itu, dia
melayaninya dengan cepat., dua orang Lhama yang berada
didekatnya tahu2 telah ditendangnya, sehingga mereka ter
guling ditanah, kemudian dengan cepat sekali tangan kirinya
diulurkan mencengkeram jubah salah seorang Lhama yang
berada dikirinya, dan melemparkannya, sehingga Lhama itu
terbanting ditanah dengan keras.
Tanpa membuang waktu lagi, Yo Ko telah melompat kearah
si Hitam yang tengah melancarkan serangan badiknya kearah
It Teng Taisu.
Lam Ceng sesungguhnya tidak jeri menghadapi serangan2
seperti itu, tetapi dia selalu gagal menyerang Lhama lhama
yang memiliki ilmu yang aneh2 dan luar biasa, yang selalu

membuat serangannya tidak berhasil mengenai sasarannya
dengan tepat, karena selalu melejit.
Dan kini dia pun diserang hebat ber-tubi2 oleh si hitam,
yang mempergunakan badik mustika itu, yang dapat
memotong emas dan baja. Maka walaupun lwekang It Teng
Taisu telah sempurna dan dia tidak takuti lagi senjata tajam,
namun terhadap badik mustika yang tajam luar biasa itu tidak
bisa dipermainkannya. Dengan sendirinya, It Teng Taisu saat
itu agak terdesak oleh serangan badik tersebut.
Namun, untung saja saat itu Yo Ko telah menghantam telak
sekali punggung si Hitam, sehingga si Hitam yang tubuhnya
pendek itu bergulingan ditanah bagaikan sebuah bola dengan
mengeluarkan suara jeritan keras.
Yo Ko terus mengamuk dengan cepat. Serangan2 yang
dilancarkannya juga luar biasa.
Sedangkan Oey Yong telah turun tangan juga dia telah
memotes sebatang cabang pohon yang dipergunakan sebagai
pengganti tongkat Tauw-kauw-pang. Dia mempergunakan
ilmu tongkatnya Ang Cit Kong untuk melabrak Lhama
tersebut.
Kwee Ceng juga tengah melancarkan serangan ber tubi2
kepada lawannya.
Namun seperti halnya It Teng Taisu setiap serangannya
selalu jatuh ditempat kosong jika kepalan tangannya atau
totokannya yang mengandung tenaga serangan yang hebat
itu berhasil mengenai sasarannya, tetapi itupun telah gagal
kembali, disebabkan melejitnya kepalan tangan atau jari
tangannya ter sebut, karena tubuh lhama-lhama itu seperti
mengandung minyak dan licin sekali bagaikan tubuh belut.
Sebagai seorang yang pendiam, dan juga selalu rajin
melatih ilmu silatnya sehingga mencapai puncak
kesempurnaannya, seharusnya Kwee Ceng dapat menghadapi
lhama-lhama itu. Hanya saja, disebabkan dia telah menduga

bahwa lhama-lhama itu memiliki kepandaian yang luar biasa,
sehingga dia melancarkan serangan2nya dengan keras.
Sesungguhnya kepandaian kelima belas orang lhama itu
tidak berada di sebelah atas dari kelima jago Tionggoan itu,
merekapun belum memiliki lwekang yang sempurna, hanya
saja mereka memang meyakinkan semacam ilmu kebal, yang
berasal dari India, yaitu semacam ilmu yang mirip ilmu Yoga.
Maka dari itu, mereka selalu berhasil menghindar dari
serangan dahsyat lawannya.
Si Putih yang berdiri diam saja, merasakan dadanya sakit
dan napasnya sesak.
Waktu dia menarik napas dalam, dia merasakan diulu
hatinya seperti tertusuk jarum. Seketika itu juga dia menyadari
bahwa dirinya telah terluka.
Maka si Putih telah berpikir untuk meninggalkan tempat
tersebut.
„Menyingkir” tiba2 dia berteriak nyaring, disusul dengan
beberapa patah perkataan asing yang tidak dimengerti oleh
jago2 Tionggoan tersebut.
Dengan serentak kelima belas Lhama Itu telah melompat
mundur dalam bentuk barisan pula, begitu pula halnya dengan
si Hitam yang telah menggelinding meninggalkan gelanggang
pertempuran.
Ciu Pek Thong mana mau membiarkan lawan2nya itu
angkat kaki begitu saja.
Sejak tadi Ciu Pek Thong telah bertempur dengan hati yang
panas sekali.
Terlebih lagi setiap serangannya selalu melejit tidak
mengenai sasarannya, membuat dia jadi tambah penasaran.
Melihat lawannya itu melompat mundur, dengan cepat
sekali Ciu Pek Thong telah menghajarnya, sambil mengejar

diapun telah menggerak gerakkan kedua tangannya. Luar
biasa caranya itu, dari kedua telapak tangannya meluncur ke
luar angin serangan yang dahsyat sekali, dan dengan disusul
oleh dua kali suara „buk !” tampak dua sosok tubuh dari dua
orang Lhama itu telah bergulingan ditanah.
Tetapi kedua Lhama itu dengan cepat dapat bangkit berdiri
kembali. Disaat itu kelima belas orang Lhama itu telah
melompat lebih jauh pula dengan diikuti oleh si Hitam dan si
Putih.
Gerakan mereka cepat sekali, dalam waktu yang singkat
mereka telah melompat puluhan tombak.
Yo Ko den Ciu pek Thong bermaksud mengejar tetapi It
Teng Taisu telah meneriakinya „Biarkan mereka pergi !”
Saat itu, Ciu Pek Thong rupanya masih penasaran, dia
berjongkok mengambil sebutir batu, kemudian dia telah
menimpuk kuat sekali kearah salah seorang Lhama yang lari
paling belakang. Batu itu menyambar dan menghantam jitu
punggung Lhama itu, membuatnya terguling.
Tetapi Lhama itu bangkit dengan cepat sambil melarikan
diri menyusul kawan2nya.
Dalam waktu yang singkat, mereka telah turun gunung dan
tidak terlihat bayangannya lagi.
It Teng Taisu telah menghela napas dengan wajah yang
muram. Diapun telah berkata; „Lo lap tidak menyangka bahwa
telah berdatangan banyak sekali jago dari luar. jika dilihat demikian
badai dan topan akan melanda Tionggoan kembali… !”
„Tampaknya Kublai Khan memang bermaksud untuk
menerobos masuk kedaratan Tionggoan pula, kini dia telah
mengumpulkan demikian banyak jago2 dari berbagai bangsa,
tampaknya tidak mudah bagi kita untuk mengatasinya terlebih
lagi pembesar Song umumnya gentong nasi semuanya!”
berkata Oey Yong.

It Teng Taisu mengangguk, kemudian kata nya dengan
sabar. „Persoalan itu bisa kita bicarakan nanti, dan sekarang
yang terpenting kita harus mencari Yo Hujin! Pendeta
Mongolia itu harus kita tangkap dan membebaskan Yo Hujin
dari tangannya!”
Yo Ko juga teringat akan isteri dan Sin-tiauwnya,
mendengar perkataan It Teng Taisu, dia sangat berterima
kasih dan bersyukur.
Sedangkan jago2 yang lainnya telah menyetujuinya.
„Tunggu dulu…..!” kata Ciu Pek Thong tiba2, waktu It
Teng Taisu mengajak mereka berlalu. ‘
„Ada apa lagi, Loo Boan Tong?” tanya Oey Yong sambil
tertawa; karena nyonya Kwee tersebut teringat beberapa
pengalaman lucunya dengan kakek jenaka ini.
„Bukankah tadi „Sikapur Putih itu mengatakan bahwa Oey
Loshia akan datang kemari juga?” tanyanya

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s