Jalinan Cinta Yang Membentuk Segitiga

Mencintai perempuan itu suci dan agung.Jika kita menyaksikam atau merenungkan Tuhan dalam diri wanita merupakan jenis kesaksian paling sempurna yang diberikan kepada manusia.[1] Bagaimana kita tidak mencintai perempuan, kalau manusia termulia pun begitu mencintai perempuan. Dalam sebuah hadis, rasulullah Muhammad Saw berkata, “Tiga hal dari dunia ini dibuat memikat padaku: kaum wanita, parfum dan kesejukan mataku ketika Shalat.”

Cinta yang dirasakan Nabi terhadap kaum wanita adalah wajib bagi semua pria sebab nabi adalah contoh kesempurnaan yang harus ditiru. Seperti kita tahu, Nabi takkan melakukan suatu perbuatan yang dapat menjauhkan dirinya dari Allah. Karena itulah perempuan dibuat memikat bagi Nabi. Kecintaan pada perempuan itu Ilahiah, karena perbuatan ini adalah warisan Nabi dan kecintaan Ilahi.

Seorang pencari tuhan, untuk dapat menyingkap makna kedekatan dengan Tuhan harus melalui jalan ini, mencintai perempuan. Tanpa ini, perjalanan pencari tuhan akan menemui titik buntu. Di sini berarti, para wanita membantu para pencari Tuhan untuk memahami hakikat penyingkapan.

Tentu saja, pernikahan menjadi sunah dalam perjalanan setiap hamba-Nya. dalam keindahan perkawinan, manusia dikuasai oleh kekuatan akan kesenangan, dan dengan jalan itu dapat mecicipi kebahagiaan dari hubungan surgawi dengan Tuhan. Kesenangan ini mewujudkan kekuatan Tuhan (qahr), yang biasanya disejajarkan dengan kelembutan-Nya (luthf). Hubungan antara keduanya adalah hubungan antara kebesaran dan keindahan, kemurkaan dan belas kasih. Sebagaimana Islam yang menuntut kepasrahan kepada Tuhan sebagai syarat kesempurnaan seorang manusia, maka, dalam perkawinan, penyerahan diri total pada kekuatan tidak menuntut pada pemisahan dan kemurkaan, melainkan pada kegembiraan yang tiada tara.

Walau begitu, ada juga orang-orang yang menganggap perkawinan adalah nafsu hewani. Berkebalikan dengan para kekasih allah, yang memandang perkawinan sebagai suatu yang terpuji dan sangat surgawi.

Dalam Islam, hubungan seksual adalah salah satu bentuk kesenangan terbesar di surga. Para Nabi Saw dan kekasih Tuhan telah mengalami kesenangan surgawi ini di kehidupan dunia. Perkawinan manusia di dunia adalah cetak biru perkawinan orang-orang saleh di surga. Bahkan, melahirkan anak-anak dalam aktivitas seksual bukan tujuan utama. Tujuan utama dari aktivitas seksual adalah kesenangan, jika kebetulan anak-anak dilahirkan sebagai akibatnya, tidak menjadi masalah.

So, mengapa kita bisa mencintai perempuan? Ibn Al-‘Arabi mengatakan bahwa kaum wanita adalah bagian dari Rasul, yang paling sempurna di antara semua pria. Maka, “Kaum wanita dibuat memikat baginya –maka dia merindukan mereka—hanya karena keseluruhan merindukan bagian-bagiannya.”

Bagi Ibn Al-‘Arabi, kerinduan pria kepada wanita merupakan cermin kerinduan Tuhan kepada manusia. Akar kerinduan Ilahi kepada manusia terdapat dalam firman-Nya, “Aku tiupkan ke dalam dirinya ruh-Ku sendiri.” (QS 15:

Pada hakikatnya, wanita terwujud dari pria, maka dia seperti menjadi bagian darinya. Wanita terpisah dan terwujud dalam bentuk feminim. Maka, kerinduan Nabi kepada mereka merupakan jenis kerinduan dari keseluruhan kepada bagiannya.

Sampai di titik ini, aku merenungkan tentang dua kutub penafsiran cinta yang menurutku salah kaprah. Pertama, golongan yang sangat protektif terhadap rasa cinta. Golongan ini bahkan menabukan pengikutnya untuk jatuh cinta. Dan yang Kedua, golongan yang sangat bebas dan sangat hewani dalam menyalurkan rasa cinta ini. Menurutku, Kedua-duanya tidak tepat.

Kita harus mampu menempatkan rasa cinta dan rindu ini dalam proporsi yang diharapkan oleh Allah. Jangan membuat patokan sendiri. Karena, formasi ini demi keseimbangan jalinan cinta yang sangat Robbaniah tersebut. Kalau digambarkan, jalinan cinta itu membentuk segitiga tiga cinta, masing-masing sudut menunjukkan hubungan yang tak dapat dipisah-pisahkan antara Allah, Pria, dan Wanita.

Allah Swt adalah eksistensi cinta tertinggi. Kemudian, allah menciptakan Adam dari ruh-Nya yang ditiupkan. Adam adalah bagian yang merindukan keseluruhan (Allah Swt). Kemudian, Allah Swt menciptakan Hawa sebagai bagian dari Adam. Maka, hawa pun merindukan Adam sebagai bagian merindukan keseluruhan. Adam merindukan Hawa sebagaimana keseluruhan merindukan bagian. Wanita menjadi manifestasi Allah Swt yang akan membawa kesempurnaan pengenalan pada Allah Swt jika keduanya bersatu.

Itulah sepotong pengungkapan risalah cinta dan rindu. Semoga kau dapat menangkap makna ini. Jazakillah jika mau merenungkannya. Maka, sejak awal aku katakan bahwa mencintai adalah aktivitas Rabbaniyah para Nabi Saw dan orang-orang saleh. Mengikuti jalan ini adalah sesuatu yang wajib bagi setiap insan. Semoga kita dapat memahami hal ini. Dan semoga, kita juga dijaga Allah Swt dari tipu daya syaitan yang terkutuk. Wallahua’lam

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s